[Link] [Link].
id
BAB II
. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Tinjuan terkait perjanjian
a. Pengertian Perjanjian
Menurut Subekti, Perjanjian adalah suatu persitiwa dimana
seseorang berjanji kepada orang lain, atau dimana dua orang saling
berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal (Subekti. 2001: 36). R.
Setyawan menyebutkan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan hukum
dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling
mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih (R. Setyawan 1987:
49). Sedangkan menurut Pasal 1313 KUH Perdata, perjanjian adalah
suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang lain atau lebih.
b. Unsur – Unsur Perjanjian
Menurut pendapat Setiono, ada beberapa unsur – unsur yang
terkandung dalam sebuah perjanjian, antara lain:
1) Essentialia
Dalam suatu perjanjian yang pokok, tanpa unsur essential maka
perjanjian tersebut tidak akan ada. Misalnya dalam perjanjian jual
beli, hal- hal seperti harga barang dan jumlah barang adalah unsur
essential
2) Naturalia
Unsur yang oleh undang – undang ditetapkan sebagai unsur ketentuan
yang sifatnya mengatur. Contohnya seperti dalam sebuah berjanjian
jual beli, terdapat jaminan terhadap adanya cacat tersembunyi dan
barang.
3) Accidentalia
Salah satu unsur yang oleh para pihak ditambahkan dalam suatu
commit to
perjanjian karena ketentuan user tidak ada didalam undang –
tersebut
12
[Link] [Link]
13
undang. Contohnya dalam sebuah perjanjian jual beli rumah, lampu –
lampu yang terdapat didalam rumah tidak termasuk ke dalam hal –hal
yang diperjanjikan (Setiono 2012 : 71).
c. Asas-Asas Perjanjian
Menurut Maris Feriyadi (2007), terdapat 5 asas yang terkandung dalam
sebuah perjanjian, antara lain:
1) Asas Kebebasan Berkontrak
Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan
kebebasan kepada para pihak untuk membuat atau tidak membuat
suatu perjanjian, mengadakan suatu perjanjian dengan pihak manapun,
membuat ketentuan mengenai isi perjanjian, pelaksanaan, dan
persyaratannya, membuat ketentuan mengenai bentuk suatu perjanjian
yaitu tertulis atau lisan.
2) Asas Konsensualisme
Asas konsensualisme adalah asas yang berhubungan dengan lahirnya
suatu perjanjian yang memiliki arti bahwa perjanjian terjadi sejak saat
tercapainya kesepakatan antara pihak-pihak mengenai pokok
perjanjian.
3) Asas Pacta Sunt Servanda
Berdasarkan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata menyatakan semua
perjanjian yang telah dibuat secara sah berlaku sebagai undang-
undang bagi mereka yang membuatnya. Sehingga kedua belah pihak
dalam perjanjian wajib mentaati dan melaksanakan apa yang telah
disepakati dalam perjanjian sebagaimana mentaati undang-undang.
Maka dari itu, akibat dari asas pacta sunt servanda adalah perjanjian
tersebut tidak dapat ditarik kembali tanpa persetujuan dari pihak lain.
Selain itu, dalam Pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata juga menyatakan
bahwa suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan
sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh
undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.
4) Asas Itikad Baik commit to user
[Link] [Link]
14
Dalam hukum perjanjian, terdapat dua pengertian mengenai asas
itikad baik antara lain itikad baik dalam artian subyektif, yaitu rasa
jujur yang mendasari seseorang dalam melakukan suatu perbuatan
hukum yang terletak pada sikap batin seseorang saat diadakan
perbuatan hukum. Itikad baik dalam artian subyektif ini diatur dalam
Pasal 531 Buku II KUH Perdata. Selain itikad baik dalam artian
subyektif, terdapat itikad baik dalam artian obyektif yaitu suatu
perjanjian dilaksanakan harus didasarkan pada norma kepatutan yang
dianut dalam kehidupan bermasyarakat. Itikad baik dalam artian
obyektif diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata.
5) Asas Kepribadian
Asas Kepribadian adalah asas yang berhubungan dengan subyek yang
terikat dalam suatuperjanjian. Asas ini diatur dalam KUH Perdata
Pasal 1340 ayat (1) yang menyatakan bahwa suatu perjanjian hanya
berlaku antara pihak yang membuatnya. Artinya suatu perjanjian
hanya berlaku bagi mereka yang membuat perjanjian itu sendiri
([Link]
[Link] diakes pada Jumat 9 Oktober 2020 pk 14.00)
d. Syarat Sahnya Perjanjian
Menurut Subekti (2003: 330), berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata
terdapat 4 (empat) syarat sahnya sebuah perjanjian, antara lain:
1) Kata Sepakat
Kata sepakat dalam perjanjian memiliki arti bahwa pertemuan
kehendak antara para pihak didalam suatu perjanjian. Seseorang
memberikan kesepakatan dalam suatu ketentuan perjanjian apabila ia
menghendaki apa yang disepakatinya.
2) Kecapakan untuk membuat suatu perjanjian
Cakap dalam hal ini artinya dalam membuat suatu perjanjian orang
tersebut harus cakap menurut hukum. Orang-orang yang dinilai tidak
cakap menurut hukum berdasarkan Pasal 1330 KUH Perdata antara
lain: commit to user
[Link] [Link]
15
a) Orang yang belum dewasa
Aturan hukum yang mengatur tentang batas usia dewasa di
Indonesia, antara lain :
(1)Menurut Pasal 330 KUH Perdata, usia 21 (dua puluh satu)
Tahun atau sudah menikah.
(2)Menurut UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, batas
kedewasaan seorang pria adalah umur 19 tahun dan wanita
umur 16 tahun
([Link]
b7/perbedaan-batasan-usia-cakap-hukum-dalam-peraturan-
perundang-undangan, diakses tanggal 10 Oktober 2020 Pukul
12.00 WIB)
b) Orang yang ditaruh di bawah pengampuan.
Menurut ketentuan Pasal 433 KUH Perdata, ada 3 (tiga) alasan
untuk pengampuan, yaitu:
(1)Orang yang boros (verkwisting)
(2)Lemah akal budinya (zwakheid van vermogen), misalnya
imbisil atau ebisil
(3) Kekurangan daya berpikir: sakit ingatan (krankzinnigheid),
dungu (onnozelheid), dan dungu disertai sering mengamuk
(razernij).
c) Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh
undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian
tertentu. Namun ketentuan ini menjadi hapus dengan berlakunya
Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Karena Pasal 31 undang-undang ini menentukan bahwa hak dan
kedudukan suami istri adalah seimbang dan masing-masing
berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
3) Suatu hal tertentu.
Menurut Pasal 1333 ayat 1 KUHPerdata suatu hal atau objek tertentu
commit to user
artinya dalam membuat perjanjian apa yang diperjanjikan harus jelas
[Link] [Link]
16
sehingga hak dan kewajiban para pihak bisa ditetapkan.
4) Suatu sebab yang halal.
Menurut Pasal 1337 KUHPerdata suatu perjanjian adalah sah bila
tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban
umum
e. Bentuk Perjanjian Kredit Bank Konvensional dan Bank Syariah
Terdapat perbedaan dalam bentuk klausul perjanjian kredit yang ada
pada bank konvensional dan bank syariah. Adapun bentuk kalusul
perjanjian kredit yang terdapat pada bank konvensional adalah sebagai
berikut: (Dariana. 2014 : 618).
1) Syarat dalam penarikan kredit pertama kali (Predisbursement Clause),
klausul ini menyangkut:
a) Pembayaran provisi, premi asuransi kredit, dan asuransibarang
jaminan serta biaya pengikatan barang jaminan secara tunai.
b) Penyerahan barang jaminan dan dokumennya serta pelaksanaan
pengikatan barang jaminan tersebut.
c) Pelaksanaan penutupan asuransi barang jaminan, dan asuransi
kredit dengan tujuan untuk memperkecil resiko yang terjadi di
luar kesalahan debitur maupun kreditur.
2) Maksimum kredit (Amount Clause), yang memiliki beberapa arti
sebagai berikut :
a) Obyek dari perjanjian kredit sehingga apabila ada perubahan
dalam materi ini akan menimbulkan konsekuensi diperlukannya
pembuatan perjanjian baru sesuai yang diatur dalam Pasal 1381
butir 3 dan Pasal 1413 KUHPerdata).
b) Batas kewajiban pihak kreditor seperti penyediaan dana selama
commit tokredit.
tenggang waktu perjanjian user
[Link] [Link]
17
c) Penetapan besarnya nilai agunan yang harus diserahkan dengan
berdasarkan perhitungan penetapan provisi atau commitment fee.
d) Merupakan batas dikenakannya denda kelebihan tank (overdraft).
3) Klausul mengenai jangka waktu kredit. Hal penting yang diatur dalam
klausul ini adalah :
a) Merupakan batas waktu bagi bank, kapan keharusan menyediakan
dana sebesar maksimum kredit berakhir dan sesudah dilewatinya
jangka waktu itu sehingga menimbulkan hak tagih/ pengembalian
kredit dari nasabah.
b) Merupakan batas waktu kapan bank boleh melakukan teguran-
teguran kepada debitur bila tidak memenuhi kewajiban tepat pada
waktunya.
c) Merupakan suatu masa yang tepat bagi bank untuk melakukan
review, analisis kembali apakah fasilitas kredit tersebut perlu
diperpanjang atau perlu segera ditagih kembali.
4) Klausul mengenai bunga pinjaman
Klausul ini diatur secara tegas dalam perjanjian kredit dengan maksud
untuk:
a) Memberikan kepastian mengenai hak bank untuk memungut
bunga pinjaman dengan jumlah yang sudah disepakati bersama
karena bunga merupakan penghasilan bank yang baik secara
langsung maupun tidak langsung akan diperhitungkan dengan
biaya dana untuk penyediaan fasilitas kredit tersebut.
b) Pengesahan pemungutan bunga diatas 6 % (enam persen) per
tahun. Dengan mendasarkan pada pedoman keterangan Pasal
1765 dan Pasal 1767 KUHPerdata yang memungkinkan
pemungutan bunga pinjaman di atas 6 % (enam persen) per tahun
asalkan diperjanjikan secara tertulis.
5) Klausul mengenai barang agunan kredit
Klausul ini bertujuan agar pihak debitur tidak melakukan penarikan
commit to user
atas penggantian barang jaminan secara sepihak, tetapi arus ada
[Link] [Link]
18
kesepakatan dengan pihak bank.
6) Klausul asuransi (Insurance Clause)
Klausul ini bertujuan untuk pengalihan resiko yang mungkin terjadi,
baik atas barang agunan maupun atas kreditnya [Link]
materinya perlu memuat mengenai maskapai asuransi yang ditunjuk,
premi asuransinya, keharusan polis asuransi untuk disimpan di bank
dan sebagainya.
7) Klausul mengenai tindakan yang dilarang oleh bank (Negative Clause)
Klausul ini terdiri atas berbagai macam hal yang mempunyai akibat
yuridis dan ekonomi bagi pengamanan kepentingan bank sebagai
tujuan utama. Adapun contoh tindakan yang tidak diperkenankan
dilakukan debiturdiantaranya, adalah:
a) Larangan meminta kredit kepada pihak lain tanpa seizin bank.
b) Larangan mengubah bentuk hukum perusahaan debitur tanpa
seizin bank.
c) Larangan membubarkan perusahaan tanpa seizin bank.
8) Tigger Clause atau Opeisbaar Clause
Klausul ini mengatur hak bank untuk mengakhiri perjanjian kredit
secara sepihak walaupun jangka waktu perjanjian kredit tersebut
belum berakhir.
9) Klausul mengenai denda (Penalty Clause)
Klausul ini dimaksudkan untuk mempertegas hak-hak bank untuk
melakukan pungutan baik mengenai besamya maupun kondisinya.
10) Expence Clause
Klausul ini mengatur mengenai beban biaya dan ongkos yang timbul
sebagai akibat pemberian kredit, yang biasanya dibebankan kepada
nasabah meliputi antara lain: biaya pengikatan jaminan, pembuatan
akta-akta perjanjian kredit, pengakuan hutang dan penagihan kredit.
11) Debet Authorization Clause
Pendebetan rekening pinjaman haruslah dengan izin debitur.
commit to user
12) Representation and Warranties
[Link] [Link]
19
Klausul ini sering juga disebut dengan istilah material adverse change
clause. Maksudnya ialah pihak debitur menjanjikan dan menjamin
bahwa semua data dan informasi yang diberikan kepada bank adalah
benar dan tidak diputarbalikkan.
13) Klausul ketaatan pada ketentuan bank
Klausul ini dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan bila terdapat
hal-hal yang tidak diperjanjikan secara khusus tetapi dipandang perlu,
maka sudah dianggap diperjanjikan secara umum.
14) Miscellaneous atau Boiler Plate Provision
Pasal-pasal tambahan.
15) Dispute Settlement (Alternative Dispute Resolution)
Klausul mengenai metode penyelesaian apabila terjadi sengketa atau
perselisihan antara kreditor dan debitor.
16) Pasal penutup
Pasal penutup memuat eksemplar perjanjian kredit yang maksudnya
mengadakan pengaturan mengenai jumlah alat bukti dan tanggal
mulai berlakunya perjanjian kredit serta tanggal penandatanganan
perjanjian kredit.
Sedangkan bentuk klausul dalam perjanjian kredit di Bank
Syariah dapat dilihat dari Syarat tertentu dituangkan dalam klausula-
klausula akad pembiayaan yang dicantumkan dalam akad pembiayaan
murabahah di bank syariah, antara lain:
1) Syarat-syarat penarikan kredit pertama kali (predisbursement clause)
Klausul ini menyangkut:
a) Syarat-syarat dan cara penarikan fasilitas pembiayaan.
b) Penyerahan dokumen-dokumen nasabah, penandatanganan akad
pembiayaan dan perjanjian-perjanjian jaminan yang disyaratkan
oleh bank.
c) Penyerahan barang jaminan dan dokumennya serta pelaksanaan
pengikatan barang jaminan tersebut.
commit
d) Pembukaan rekening to user oleh nasabah.
pembiayaan
[Link] [Link]
20
e) Biaya dan pajak.
2) Klausul mengenai harga dan fasilitas pembiayaan yang dalam
perjanjiankredit maksimum kredit (Amount Clause)
Berbeda dengan perjanjian kredit di bank konvensional, dalam akad
pembiayaan bank syariah diatur harga perolehan, margin, harga jual,
pembiayaan bank, piutang murabahah.
3) Klausul mengenai pembayaran kembali dan denda
Dalam ketentuan ini diatur mengenai jangka waktu pembayaran
kembali kewajiban nasabah, dan denda atas keterlambatan
pengembalian kewajiban pembayaran nasabah kepada bank.
4) Klausul mengenai barang agunan kredit
Klausul ini bertujuan agar menjamin ketertiban pembayaran lunas
hutang/kewajiban nasabah kepada bank. Dalam klausul ini di atur
mengenai penyerahan barang agunan oleh nasabah kepada bank, cara
pengikatan jaminan, pengembalian bukti kepemilikan barang agunan
kepada nasabah.
5) Klausul mengenai tindakan yang dilarang oleh bank (Negative Clause)
Klausul ini terdiri atas berbagai macam hal yang mempunyai akibat
yuridis dan ekonomi bagi pengamanan kepentingan bank sebagai
tujuan utama. Adapun contoh tindakan yang tidak diperkenankan
dilakukan debitur diantaranya, adalah:
a) Larangan meminta kredit kepada pihak lain tanpa seizin bank.
b) Larangan mengubah bentuk hukum perusahaan debitur tanpa
seizin bank.
c) Larangan membubarkan perusahaan tanpa seizin bank.
6) Klausul mengenai Resiko
Dalam klausul ini diatur mengenai kewajiban nasabah untuk
melakukan pemeriksaan fisik dan keabsahan barang yang dibeli dan
peralihan resiko kepada nasabah.
7) Klausul mengenai denda (Penalty Clause)
commituntuk
Klausul ini dimaksudkan to user
mempertegas hak-hak bank untuk
[Link] [Link]
21
melakukan pungutan baik mengenai besamya maupun kondisinya.
8) Expence Clause
Klausul ini mengatur mengenai beban biaya dan ongkos yang timbul
sebagai akibat pemberian kredit, yang biasanya dibebankan kepada
nasabah meliputi antara lain: biaya pengikatan jaminan, pembuatan
akad pembiayaan syariah, pengakuan hutang dan penagihan kredit.
9) Representation and Warranties
Klausul ini sering juga disebut dengan istilah material adverse
change clause. Maksudnya ialah pihak debitur menjanjikan dan
menjamin bahwa semua data dan informasi yang diberikan kepada
bank adalah benar dan tidak diputarbalikkan.
10) Klausul keberlakuan ketentuan hukum
Dalam klausul ini diatur ketentuan mengenai pelaksanaan perjanjian
yang tunduk kepada ketentuan perundang-undangan yang berlaku
dan ketentuan syariah, termasuk di dalamnya Peraturan Bank
Indonesia, Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
11) Klausul ketaatan pada ketentuan bank
Klausul ini dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan bila terdapat
hal-hal yang tidak diperjanjikan secara khusus tetapi dipandang
perlu, maka sudah dianggap diperjanjikan secara umum.
12) Dispute Settlement (Alternative Dispute Resolution)
Klausul mengenai metode penyelesaian apabila terjadi sengketa atau
perselisihan antara kreditor dan debitor.
13) Pasal penutup
Pasal penutup memuat eksemplar perjanjian kredit yang maksudnya
mengadakan pengaturan mengenai jumlah alat bukti dan tanggal
mulai berlakunya perjanjian kredit serta tanggal penandatanganan
perjanjian kredit (Dwi. 2014 : 133).
commit to user
[Link] [Link]
22
2. Tinjauan terkait Kredit
a. Pengertian Kredit
Definisi kredit menurut Thomas adalah kepercayaan atas kemampuan
pihak debitur atau penerima kredit untuk membayar sejumlah uang pada
masa yang akan datang (Ismail 2013: 13). Sedangkan pengertian kredit
dalam buku Seri Manajemen Bank No. 5 adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan
atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain yang
mewajibkan peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu
tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.
Selain kedua pengertian diatas, kredit juga bisa diartikan sebagai
kemampuan untuk melakukan atau mengadakan suatu pembelian atau
pinjaman dengan sistem pembayarannya akan diakukan pada jangka
waktu yang telah disepakati oleh para pihak yang terlibat.
b. Prinsip Kredit
Dalam pelaksanaan pemberian kredit dikenal dengan 5C prinsip antara
lain:
1) Character, dalam pemberian kredit harus berdasarkan atas
kepercayaan dan keyakinan dari pihak Bank atau pemberi kredit
bahwa peminjam memiliki moral dan watak yang positif, kooperatif,
dan juga memiliki rasa tanggung jawab dalam aspek kehidupannya
sebagai manusia.
2) Capacity, dalam pemberian kredit pihak Bank dapat menilai
kemampuan calon debiturnya dalam melunasi kewajiban –
kewajiban dari kegiatan usaha yang dilakukannya atay kegiatan
usaha yang akan dilakukan yang akan dibiayai oleh Bank.
3) Capital, adalah besaran modal dan dana sendiri yang dimiliki oleh
calon debitur
commit to user
[Link] [Link]
23
4) Collateral, adalah jaminan yang diserahkan oleh peminjam atau
debitur berupa barang – barang jaminan atas kredit yang telah
diterimanya
5) Condition of economy, yaitu keadaan dan kondisi sosial, politik,
ekonomi, budaya, dan lain – lain yang dapat mempengaruhi keadaan
perekonomian suatu negara pada saat atau kurun waktu tertentu yang
memiliki kemungkinan akan dapat mempengaruhi kelancaran dalam
pemberian atau pelunasan kredit (Lydia Retno Gunarsih 2008 : 43).
c. Klasifikasi Kredit
Jenis – jenis kredit dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain sebagai
berikut:
1) Berdasarkan Tujuan dan Kegunaannya :
a) Kredit Konsumtif adalah kredit yang digunakan untuk kebutuhan
sendiri bersama keluarganya
b) Kredit modal kerja adalah kredit yang digunakan untuk
menambah modal usaha debitor
c) Kredit investasi adalah kredit yang digunakan untuk sebuah
investasi yang produktif tetapi hasil yang diperoleh baru dapat
dirasakan dalam jangka waktu yang relatif lama (Dewi Prasetywi
Lestari 2016: 176).
2) Berdasarkan jangka waktu :
a) Kredit jangka waktu pendek adalah kredit yang jangka waktunya
paling lama hanya satu tahun.
b) Kredit jangka waktu menengah adalah kredit yang jangka
waktunya antara satu sampai tiga tahun.
c) Kredit jangka panjang adalah kredit yang jangka waktunya lebih
commit to user
dari tiga tahun.
[Link] [Link]
24
3) Berdasarkan macamnya :
a) Kredit aksep adalah kredit yang diberikan oleh bank yang pada
dasarnya hanya merupakan pinjaman uang biasa sebanyak plafon
kreditnya.
b) Kredit penjual adalah kredit yang diberikan penjual kepada
pembeli yang mana barang telah diterima oleh pembeli namun
proses transaksinya baru diselesaikan kemudian hari.
c) Kredit pembeli adalah pembayaran dilakukan terlebih dahulu oleh
pembeli namun barang belum diterima atau pembayaran telah
dilakukan terlebih dahulu dengan uang muka.
4) Berdasarkan sektor perekonomian :
a) Kredit pertanian adalah kredit yang diberikan pada sektor
perkebunan, peternakan, dan perikanan
b) Kredit perindustrian adalah kredit yang diberikan kepada
beberapa macam sektor industri baik kelas besar, menengah
maupun kecil
c) Kredit Pertambangan adalah kredit yang diberikan kepada
berbagai macam pertambangan
d) Kredit ekspor – impor adalah kredit yang disalurkan kepada
eksportir atau importer berbagai barang
e) Kredit koperasi adalah kredit yang disalurkan kepada berbagai
jenis koperasi
f) Kredit Profesi adalah kredit yang disalurkan kepada berbagai jenis
profesi.
5) Menurut jaminannya
commit to user
[Link] [Link]
25
a) Kredit tanpa jaminan atau kredit blangko adalah kredit yang
diberikan tanpa adanya jaminan fisik yang hanya diberikan secara
selektif kepada nasabah besar yang bonafid.
b) Kredit dengan jaminan adalah kredit yang diberikan selain atas
dasar rasa kepercayaan kepada kemampuan debitur tetapi juga
memerlukan jaminan fisik (Muhammad Djumhana 2003).
d. Fungsi Kredit
Kredit memiliki beberapa fungsi yang besar dalam sektor perekonomian
dan sektor perdagangan, adapun beberapa fungsi kredit adalah sebagai
berikut:
1) Meningkatkan daya guna uang
2) Meningkatkan perkreditan dan lalu lintas uang
3) Meningkatkan daya guna dan peredaran barang
4) Salah satu alat stabilitas ekonomi
5) Meningkatkan kegairahan usaha
6) Meningkatkan pemerataan pendapatan
7) Meningkatkan hubungan internasional (Thomas Suyatno 1995 :
14).
e. Unsur – unsur pemberian kredit
Berdasarkan beberapa penjelasan kredit diatas, pemberian kredit pada
intinya mengutamakan unsur kepercayaan. Namun jika ditinjau lebih
lanjut terdapat beberapa unsur – unsur lainnya dalam pemberian kredit,
antara lain:
1) Kesepakatan para pihak artinya kesepakatan antara pemberi kredit
dan penerima kredit yang dituangkan dalam bentuk perjanjian
dimana pemberi kredit dan menerima kredit menyetujui hak dan
kewajiban dalam perjanjian tersebut.
commit to user
[Link] [Link]
26
2) Jangka waktu, bahwa dalam pemberian kredit telah disepakati antara
debitur dan kreditur kapan waktu debitur mengembalikan
pinjamannya baik dalam jangka waktu pendek, menengah maupun
panjang.
3) Resiko, bahwa dalam pemberian kredit, pihak kreditur sudah
mempertimbangkan kemungkinan resiko yang akan terjadi dimasa
depan, seperti resiko kredit, resiko investasi, likuiditas, operasional,
penyelewengan dan resiko fiducia.
4) Balas jasa, yaitu keuntungan yang didapat atas pemberian kredit oleh
bank sebagai balas jasa yang didapatkan dalam bentuk bunga dan
administrasi kredit yang merupakan keuntungan bank konvensional,
sedangkan bank syariah keuntungan yang didapatkan dalam bentuk
bagi hasil.
5) Pertukaran nilai, bahwa dalam pemberian kredit jika tanpa
perhitungan dalam bentuk pertukaran nilai ekonomi maka tidak
dapat disebut transaksi, karena jika tidak ada pertukaran nilai
ekonomi maka tidak terdapat kesinambungan nilai sehingga ada
pihak yang dirugikan (Abdulkadir Muhammad 2000).
f. Kolektibilitas Kredit
Untuk menentukan suatu fasilitas kredit termasuk dalam kredit lancar
atau tidak, maka dapat didasarkan pada kondisi fasilitas kredit yang
disalurkan. Kondisi fasilitas kredit tersebut dapat dilihat berdasarkan ciri-
ciri yang terjadi pada fasilitas kredit dimana hal tersebut telah diatur
dalam Pasal 12 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 7 / 2 / PBI / 2005
tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Berdasarkan ketentuan
commit to user
[Link] [Link]
27
Pasal 12 ayat (3) tersebut maka kualitas suatu kredit dapat dibagi menjadi
5 (lima) kolektibilitas yaitu :
1) Kredit Lancar yaitu apabila memenuhi kriteria:
a) Pembayaran angsuran pokok/bunga tepat;
b) Memiliki mutasi rekening yang aktif;
c) Bagian dari kredit yang dijamin agunan tunai.
2) Kredit dalam perhatian [Link] memenuhi kriteria sebagai
berikut:
a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang belum
melampaui 90 hari atau;
b) Kadang–kadang terjadi cerukan atau;
c) Mutasi rekening relatif rendah atau;
d) Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan
atau;
e) Didukung oleh pinjaman baru.
3) Kredit kurang lancar,yaitu apabila memenuhi kriteria:
a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah
melampaui 90 (sembilanpuluh) hari atau;
b) Sering terjadi cerukan atau;
c) Frekuensi mutasi rekening relatif rendah atau;
d) Terjadi pelanggaran kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90
(sembilan puluh) hari atau;
e) Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur atau;
f) Dokumentasi pinjaman yang lemah.
4) Kredit yang diragukanya itu apabila memenuhi kriteria:
a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah
melampaui 180 (seratus delapan puluh hari) atau;
b) Sering terjadi cerukan yang bersifat permanen atau;
c) Terjadi wanprestasi lebih dari 180 (seratus delapan puluh hari).
5) Kredit macet yaitu apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
commit to user
[Link] [Link]
28
a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah
melampaui 270 (dua ratus tujuh puluh) hari atau;
b) Kerugian operasional ditutup dengan perjanjian baru atau;
c) Dari segi hukum maupun pasar, jaminan tidak dapat dicairkan
dengan nilai wajar. (Asrin. 2018 : 730)
g. Sistem Pemberian Kredit Bank Syariah
Dalam pemberian kredit, bank syariah melarang adanya transaksi
yang mengandung unsur – unsur riba, makruh dan beberapa transkasi yang
tergolong haram. Prinsip ini dilakukan oleh bank syariah dengan tujuan
untuk mengatur dan memberikan arahan tentang dunia perbankan agar
sesuai dengan aturan Islam dan agar dapat menjadi acuan untuk
membedakan mana transaksi haram dan halal. Muhammad (2005 : 14)
menjelaskan bahwa prinsip yang diterapkan oleh bank syariah adalah
sebagai berikut :
1) Mudharabah
Mudharabah adalah akad dalam perjanjian antara pemilik dana dan
para nasabah dengan nisab bagi hasil menurut apa yang telah
disepakati diawal. Secara umum mudharabah dibagi menjadi dua
yaitu Mudharabah Mutlaqah yaitu bentuk kerja sama antara bank
dengan nasabah yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh
spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah. Yang kedua adalah
Mudharabah Muqayyadah yaitu nasabah dibatasi dengan batasan
jenis usaha, berbanding terbalik dengan Mudharabah Mutlaqah.
2) Sistem Bunga atau Keuntungan
Pada bank syariah, keuntungan diperoleh dengan melalui bagi hasil
antara pihak bank dengan debitur yang mengajukan pembiayaan.
Bagi hasil ini adalah hasil dari kesepakatan diawal antara pihak bank
dan debitur. Perjanjian yang dilakukan di awal transaksi merupakan
kesepakatan untuk menentukan presentase bagi hasil antara bank
commit to user
[Link] [Link]
29
dengan debitur, baik kerugian maupun keuntungan akan ditanggung
bersama.
3) Pengikatan kontrak dan perjanjian
Pada bank syariah terdapat pengikatan kontrak dan perjanjian sesuai
kesepakatan di awal berupa perhitungan jumlah bagi hasil pihak
bank dan debitur. Pada awal perjanjian telah disepakati bahwa
keuntungan dan kerugian akan ditanggung bersama
4) Pertimbangan dalam pemberian kredit
Dalam pemberian kreditnya, bank syariah mewajibkan kepada
nasabah bahwa transaksi yang melatarbelakangi adanya pemberian
kredit haruslah transaksi yang halal. Apabila debitur memiliki usaha
atau pekerjaan yang tergolong dalam usaha yang haram akan
dipandang sebagai usaha yang lebih banyak mudharat-nya daripada
manfaatnya sehingga tidak dapat dilakukan pembiayaan oleh
perbankan syariah. (Achasih. 2013 : 17)
Kredit Bermasalah
Kredit bemasalah atau non-performing loan merupakan resiko
yang terkandung dalam setiap pemberian kredit oleh bank. Resiko
tersebut berupa keadaan dimana kredit tidak kembali tepat pada
waktunya (Jamal Wiwoho,20011:100).
Adanya kredit bermasalah yaitu apabila kredit yang diberikan
tersebut tidak memenuhi kriteria lancar, kurang lancar, dan diragukan
atau memenuhi kriteria diragukan, tetapi dalam jangka waktu 21 bulan
sejak digolongkan diragukan belum ada pelunasan atau usaha
penyelamatan kredit atau kredit tersebut penyelesaiannya telah
diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang Negara
(BUPN), atau telah diajukan penggantian ganti rugi kepada perusahaan
asuransi kredit (Muhammad Djumhana,1996: 267).
Pengertian kredit commit to user
bermasalah adalah kredit yang diklasifikasikan
[Link] [Link]
30
pembayarannya tidak lancar,yang dilakukan oleh debitur yang
bersangkutan. Dalam hal ini mengandung arti bahwa suatu keadaan
dimana seorang debitur atau nasabah tidak mampu membayar lunas
kredit bank tepat pada waktunya, maka dari itu kredit macet harus
secepatnya diselesaikan agar kerugian yang lebih besar dapat dihindari
(Malayu Hasibuan,2002:115).
Kredit bermasalah yaitu apabila diketahui bahwa debitur tidak
mampu melaksanakan prestasinya sesuai jangka waktu yang telah
ditentukan dalam perjanjian maka dapat dikatakan sebagai kredit
bermasalah. Sehingga konsekuensi yuridis bagi debitur yang telah
melakukan wanprestasi tersebutadalah wajib membayar ganti kerugian
kepada krediturnya (Tan Kamello,2007:4).
3. Tinjauan terkait Kredit Pemilikan Rumah
a. Pengertian Kredit Pemilikan Rumah
Kredit Pemilikan Rumah atau KPR adalah sebuah pinjaman yang
diberikan kepada pembeli rumah dengan mekanisme pembiayaan sampai
dengan presentase tertentu dari harga rumah atau properti
([Link] diakses Jumat 9
Oktober pk 16.00)
KPR di Indonesia disediakan oleh perbankan. Pemerintah bekerja
sama dengan Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) seperti bank
BTN, BNI, BRI, dan Mandiri untuk membiayai subsidi. Selain bank,
pemerintah juga bekerja sama dengan pihak swasta atau developer.
Pemerintah memberi batasan – batasan dalam penentuan harga dan
kualitas bangunan rumah agar tetap terjangkau dan memadai bagi
masyarakat yang memerlukan.
b. Jenis KPR commit to user
[Link] [Link]
31
Progam KPR yang dibuat oleh pemerintah menghasilkan dua jenis
KPR yaitu KPR Subsidi dan KPR Non-subsidi atau komersil. KPR
subsidi adalah kredit pemilikan rumah yang diperuntukkan untuk
masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah berdasarkan bukti
penghasilan yang telah dicantumkan dengan memberi batasan jumlah
maksimum kredit yang akan diberikan. Ketentuan – ketentuan dan syarat
dalam pengajuan KPR subsidi telahditetapkan oleh Pemerintah, dimana
debitur dapat memilih antara subsidi untuk meringankan kredit atau
subsidi untuk penambahan dana pembangunan atau perbaikan rumah.
Sedangkan KPR non-subsidi atau KPR komersil adalah kredit pemilikan
rumah yang diperuntukkan bagi seluruh kalangan dan lapisan masyarakat
dengan ketentuan – ketentuan dan persyaratan kredit yang telah
ditetapkan oleh bank termasuk didalamnya adalah besarnya jumlah kredit
dan suku bunga pinjaman.
c. Syarat Pengajuan KPR
1) Pemohon adalah WNI berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah.
2) Memiliki NPWP dan SPT pribadi sesuai UU yang berlaku.
3) Telah bekerja memiliki usaha minimal 1tahun.
4) Memiliki penghasilan yang cukup untuk membayar angsuran
hingga lunas.
5) Pemohon dan pasangan belum memiliki rumah
6) Pemohon belum pernah menerima subsidi dari pemerintah atau
kepemilikan rumah.
d. Persyaratan Dokumen KPR
1) Formulir untuk aplikasi pembayaran yang disertai dengan poto diri dan
pasangan.
2) Fotokopi KTP permohon dan pasangan,copy surat nikah atau copy
surat cerai.
3) Slip gaji asli 3 bulan terakhir dan SK pegawai atau surat keterangan
bekerja.
commit to user
[Link] [Link]
32
4) Surat keterangan penghasilan atau surat keterangan usaha dari pihak
terkait.
6) Fotokopi rekening tabungan 3 bulan terakhir
4. Tinjauan terkait Jaminan Kredit
a. Pengertian Jaminan
Jaminan adalah pemberian kepercayaan dan keyakinan kepada
pihak kreditur atas pembayaran utang-utang yang telah diberikannya
kepada pihak debitur, hal itu terjadi karena adanya hukum dari suatu
perjanjian yang bersifat assessoir terhadap perjanjian pokoknya berupa
perjanjian yang menerbitkan utang-piutang (Munir Fuadi 2013: 8). Istilah
jaminan juga dapat diartikan sebagai agunan seperti yang tercantum
didalam Pasal 1131 KUHPerdata diartikan jaminan secara umum
ditetapkan bahwa segala hak kebendaan debitur baik yang bergerak
maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang akan ada
di kemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatannya dan
penjelasan Pasal 1 Angka 23 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor dan Tahun 1992
Tentang Perbankan.
Menurut SK Direksi Bank Indonesia Nomor 23/KEP/DIR tanggal
28 Februari 1991 pengertian jaminan adalah “Suatu Keyakinan kreditur
bank atas kesanggupan debitur untuk melunasi kredit sesuai dengan yang
diperjanjikan”. Sedangkan pengertian jaminan sesuai yang telah
dinyatakan oleh [Link] bahwa jaminan adalah sesuatu hal yang telah
diterima oleh pihak kreditur dan diserahkan kepada pihak debitur untuk
menjamin suatu utang piutang didalam masyarakat ([Link]
2002:148).
b. Jenis Jaminan
commit to user
[Link] [Link]
33
Menurut ketentuan yang diatur dalam KUHPerdata, jaminan kredit dapat
dibedakan menjadi dua bentuk berdasarkan sifatnya yaitu :
1) Jaminan umum, sesuai yang diatur dalam Pasal 1131 KUHPerdata
“bahwa segala kebendaan si berutang baik yang bergerak maupun
tidak bergerak baik yang sudah ada maupun akan ada di kemudian
hari menjadi tanggungan untuk segala perikatan perorangan.” Jaminan
ini adalah jaminan yang sudah ditetapkan oleh undang-undang yang
tanpa diperjanjikan pun secara otomatis telah mengikat para pihak.
2) Jaminan khusus, sesuai yang diatur dalam Pasal 1820-1850
KUHPerdata bahwa jaminan ini lahir karena diperjanjikan oleh para
pihak berupa jaminan kebendaan maupun jaminan perorangan.
c. Pengertian Hak Tanggungan
Menurut Munir Fuadi, hak tanggungan adalah suatu hak
kebendaan yang dalam pembuatannya harus dengan akta otentik dan
harus didaftarkan serta bersifat accesoir dan eksekutorial, yang diberikan
oleh debitor kepada kreditor sebagai jaminan atas pembayaran utang-
utangnya dengan objeknya adalah tanah dengan atau tanpa segala sesuatu
yang ada diatas tanah tersebut, yang memberikan hak prioritas kepada
pemegangnya untuk mendapatkan pembayaran utang terlebih dahulu
daripada kreditur lainnya walaupun tidak harus mendapatkan yang
pertama namun yang dapat dieksekusi melalui pelelangan umum atau
bawah tangan atas tagihan-tagihan dari pihak kreditur pemegang hak
tanggungan, dan yang mengikuti benda objek jaminan kemanapun objek
hak tanggungan itu akan dialihkan (Munir Fuadi 2013:69).
Menurut Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996
tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang
Berkaitan Dengan Tanah, Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang
dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Nomor 5 Tahun commit
1960 totentang
user Peraturan Dasar Pokok-Pokok
[Link] [Link]
34
Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu
kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang
memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu
terhadap kreditor-kreditor lain.
d. Objek Hak Tanggungan
Objek hak tanggungan adalah benda atau hak apapun yang dapat
dikaitkan dengan hak tanggungan, antara lain:
1) Hak milik atas tanah
2) Hak guna usaha
3) Hak guna bangunan
4) Hak pakai atas tanah negara, sepanjang hak pakai tersebut telah
didaftarkan dan hak pakai tersebut memiliki sifat yang dapat dialihkan
5) Hak pakai atas tanah hak milik
6) Hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan hasil karya yang telah
ada atau yang akan ada yang merupakan satu kesatuan dengan tanah
tersebut
7) Rumah susun dan hak milik atas satuan rumah susun
8) Bawah tanah, sepanjang secara fisik ada hubungannya dengan
bangunan yang ada di atas tanah. (Munir Fuadi 2012: 72)
e. Karakteristik Hak Tanggungan
Berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang No 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan, apabila debitor cidera janji, pemegang Hak Tanggungan
pertama mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas
kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan
piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Jadi hak tanggungan selalu
memberikan kedudukan utama kepada pemegang pertamanya.
Menurut Pasal 7 Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan, dijelaskan commit
bahwa to user
hak tanggungan juga selalu mengikuti
[Link] [Link]
35
objek yang ditanggungkan kepada tangan siapapun pemegangnya
sehingga mudah untuk dilakukan eksekusi.
f. Pemberian Akta Hak Tanggungan
Menurut Pasal 11 Ayat (2) Undang-Undang No 4 Tahun 1996 tentang
Hak Tanggungan dapat dicantumkan janji-janji, antara lain:
1) Janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan untuk
menyewakan obyek Hak Tanggungan dan/atau menentukan atau
mengubah jangka waktu sewa dan/atau menerima uang sewa di muka,
kecuali dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak
Tanggungan.
2) Janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan untuk
mengubah bentuk atau tata susunan obyek Hak Tanggungan, kecuali
dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak
Tanggungan.
3) Janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak
Tanggungan untuk mengelola obyek Hak Tanggungan berdasarkan
penetapan Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi
letak obyek Hak Tanggungan apabila debitor sungguh-sungguh cidera
janji.
4) Janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak
Tanggungan untuk obyek Hak Tanggungan, jika hal itu diperlukan
untuk pelaksanaan eksekusi atau untuk mencegah menjadi hapusnya
atau dibatalkannya hak yang menjadi obyek Hak Tanggungan karena
tidak dipenuhi atau dilanggarnya ketentuan undang-undang.
5) Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak
untuk menjual atas kekuasaan sendiri obyek Hak Tanggungan apabila
debitor cidera janji.
6) Janji yang diberikan oleh pemegang Hak Tanggungan pertama bahwa
obyek Hak Tanggungan tidak akan dibersihkan dari Hak Tanggungan.
commit to user
7) Janji bahwa pemberi Hak Tanggungan tidak akan melepaskan haknya
[Link] [Link]
36
atas obyek Hak Tanggungan tanpa persetujuan tertulis lebih dahulu
dari pemegang Hak Tanggungan.
8) Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh
atau sebagian dari ganti rugi yang diterima pemberi Hak Tanggungan
untuk pelunasan piutangnya apabila obyek Hak Tanggungan
dilepaskan haknya oleh pemberi Hak Tanggungan atau dicabut haknya
untuk kepentingan umum.
9) Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh
atau sebagian dari uang asuransi yang diterima pemberi Hak
Tanggungan untuk pelunasan piutangnya, jika obyek Hak Tanggungan
di asuransikan.
10) Janji bahwa pemberi Hak Tanggungan akan mengosongkan obyek
Hak Tanggungan pada waktu eksekusi Hak Tanggungan (Alvin.
2017 : 63).
g. Hapusnya Hak Tanggungan
Menurut Pasal 18 Ayat (1) UU No 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan, Hak Tanggungan hapus karena hal-hal sebagai berikut:
1) Hapusnya utang yang dijamin dengan Hak Tanggungan.
2) Dilepaskannya Hak Tanggungan oleh pemegang Hak Tanggungan.
3) Pembersihan Hak Tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh
Ketua Pengadilan Negeri.
4) Hapusnya hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan
commit to user
[Link] [Link]
37
B. Kerangka Pemikiran
Debitur Kreditur
(Nasabah BTN (Bank BTN
Syariah Cabang Syariah Cabang
Karanganyar)) Karanganyar)
Perjanjian
Kredit
KPR Komersil KPR
Bersubsidi
Keputusan Menteri
PUPR No.
242/KPTS/M/2020
Apakah pelaksanaan Kendala yang dihadapi
pemberian KPR dalam pemberian kredit
Bersubsidi selama KPR Bersubsidi selama
pandemi sudah sesuai pandemi pada Bank BTN
dengan Keputusan Syariah Cabang
Menteri PUPR No. Karanganyar
242/KPTS/M/2020
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Keterangan:
Kerangka pemikiran ini menjelaskan alur pemikiran penulis dalam
menggambarkan, menjabarkan, dan menemukan jawaban atas penelitian
hukum mengenai Pelaksanaan Pemberian KPR Rumah Bersubsidi Selama
Pandemi Ditinjau Dari Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan
commit to user
[Link] [Link]
38
Rakyat Republik Indonesia No. 242/KPTS/M/2020 di Bank Tabungan Negara
Syariah Cabang Karanganyar. Hubungan hukum yang terjalin antara Bank
Tabungan Negara Syariah Cabang Karanganyar dengan kreditur atau
nasabahnya harus diawali dengan perjanjian, dalam hal ini adalah perjanjian
kredit, khususnya kredit pemilikan rumah. KPR sendiri adalah program yang
dibuat oleh pemerintah untuk masyarakat agar dapat memiliki rumah dengan
berbagai kemudahan yang disediakan. KPR terdapat dua jenis yaitu KPR
Bersubsidi dan KPR Komersil. Pada bulan April 2020, disahkanlah Keputusan
Menteri No. 242/KPTS/M/2020 mengenai peraturan dalam pengajuan KPR
yang baru. Ada beberapa kebijakan baru yang dibuat oleh pemerintah dalam
pengajuran kredit pemilikan rumah. Namun di masa pandemi ini banyak
menyebabkan dampak yang cukup besar dalam bidang ekonomi, sehingga
banyak perjanjian kredit perbankan yang mengalami kendala dalam
pembayarannya. Maka dari itu penulis tertarik dan bermaksud untuk meneliti
apakah mekanisme pemberian kredit KPR Bersubsidi di BTN Syariah Cabang
Karanganyar selama pandemi sudah sesuai dengan Keputusan Menteri PUPR
No. 242 dan apa saja kendala yang dihadapi dalam pemberian KPR Bersubsidi
di BTN Syariah Cabang Karanganyar.
commit to user