Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No.
1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
PENERIMAAN DAERAH SEBAGAI ASPEK PENTING PENENTU BELANJA
MODAL PEMERINTAH: STUDI PADA PEMERINTAH BANYUWANGI
Fandi Prasetya
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia
[Link]@[Link]
Abstract
This study aims to obtain information about whether regional revenue in PAD, DAU, and DAK
influences the allocation of capital expenditures. The research method used in this research is
quantitative research methods. The data used is secondary data in the form of the Budget Realization
Report (LRA) of the Banyuwangi Regency Government for 2011-2018. The data obtained were then
analyzed using multiple linear regression analysis. The results showed that the determination of
capital expenditure did not come from Local Own Revenue (PAD) & DAK. However, DAU influences
the amount of capital expenditure. This research is expected to be used as a basis for the Banyuwangi
Regency Government to increase its regional revenue sources so that it can be used to finance capital
expenditures.
Keywords: PAD; DAU; DAK; Capital Spending
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh infomasi mengenai apakah Pendapatan Daerah yang
berupa PAD, DAU, serta DAK memiliki pengaruh pada alokasi belanja modal. Metode penelitian
yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Data yang digunakan adalah
data sekunder yang berupa Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi
periode 2011-2018. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi
linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan besarnya belanja modal tidak
dipengaruhi oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) & DAK. Namun, DAU memiliki pengaruh pada
penentuan besarnya belanja modal. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar bagi Pemerintah
Kabupaten Banyuwangi untuk lebih meningkatkan sumber penerimaan daerahnya agar dapat
digunakan untuk membiayai belanja modal.
Katakunci: PAD; DAU; DAK; Belanja Modal
Cronicle of Article: Received (Januaru); Revised (March); and Published (June).
©2021 Jurnal Kajian Akuntansi Lembaga Penelitian Universitas Swadaya Gunung Jati.
Profile and corresponding author: Fandi Prasetya is from Accounting Study Program, Faculty of Economics
and Business, Airlangga University, Surabaya, Indonesia. Corresponding Author:
[Link]@[Link]
How to cite this article: Prasetya,F. (2021). Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja
Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi. Jurnal Kajian Akuntansi, 5(1), 69-85.
Page 69
Fandi Prasetya
Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi
PENDAHULUAN lainnya kepada pihak-pihak yang telah
Tahun 1999, Sistem Pemerintah Republik memenuhi kewajibannya (Putra &
Indonesia mengalami peralihan dari jaman Hidayat, 2016). Pendapatan Asli Daerah
orde baru ke era reformasi. Di era merupakan indikator keuangan daerah
reformasi, Pemerintah Indonesia (Wang et al., 2019) oleh karena itu
mengeluarkan kebijakan desentralisasi. beberapa potensi yang dimiliki oleh
Berbagai kalangan meyakini bahwa pemerintah daerah harus lebih
dengan adanya desentralisasi maka hal ini ditingkatkan.
merupakan suatu langkah pengelolaan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sejak
negara dengan memberikan kesempatan tahun 2014 sampai tahun 2018 realisasi
bagi pemerintah daerah untuk mengurus penerimaan PAD mengalami peningkatan.
aktivitas daerahnya berdasarkan asas Realisasi PAD tahun 2014 sebesar
otonomi daerah (Canavire-Bacarreza et al., Rp283.[Link], tahun 2015
2020). sebesar Rp346.[Link], tahun
Pemberian wewenang kepada pemerintah 2016 sebesar Rp367.[Link],
daerah pada dasarnya merupakan suatu tahun 2017 sebesar
langkah dalam memberdayakan daerah Rp388.[Link], tahun 2018
untuk mengelola pembangunan yang ada sebesar Rp446.[Link]. Sedangkan
didaerahnya (Pan et al., 2020; Zhang et al., untuk realisasi belanja modal Pemerintah
2019). Otonomi daerah merupakan bentuk Kabupaten Banyuwangi sejak tahun 2014
dari penerapan teori keagenan. Hubungan sampai tahun 2017 mengalami
baik diantara pemerintah pusat dengan peningkatan tetapi realisasi belanja modal
pemerintah daerah sangat diperlukan untuk tahun 2017 sampai tahun 2018 megalami
memberikan pelayanan yang maksimal penurunan. Tahun 2014 realisasi belanja
bagi publik. Kemandirian serta inovasi modal di Kabupaten Banyuwangi
yang dimiliki oleh setiap daerah sangat mencapai Rp558.546.677.147,73, tahun
diperlukan sehingga dapat mengurangi 2015 sebesar Rp699.[Link],
ketergantungan dari pemerintah pusat tahun 2016 sebesar
(Qiao et al., 2019). Tidak hanya Rp895.[Link], tahun 2017
memberikan kebebasan dalam pengelolaan sebesar Rp657.[Link], tahun
pembangunan yang ada didaerahnya 2018 sebesar Rp462.[Link].
namun juga termasuk dalam kemandirian Mayoritas pemerintah daerah yang ada di
keuangan daerah dengan memanfaatkan Indonesia masih bergantung kepada
potensi yang dimilki untuk kepentingan pemerintah pusat untuk mendukung
pelayanan kepada publik (Mabillard & pendanaan pembangunan di daerahnya
Pasquier, 2015). Oleh karena itu, masing-masing (Putra & Hidayat, 2016).
penggunaan anggaran harus lebih Dengan latar belakang tersebut maka
diperuntukkan bagi kepentingan memotivasi peneliti untuk melihat
masyarakat (Ke et al., 2020) atau publik bagaimana pemerintah daerah khususnya
salah satunya adalah belanja modal (Kasdy Kabupaten Banyuwangi dalam
et al., 2019). Tingkat kemandirian memberikan pelayanan kepada publik.
keuangan yang dimiliki oleh pemerintah Seperti yang kita ketahui luas daratan
daerah dapat dilihat dari kemampuan Kabupaten Banyuwangi mencapai 5.782,5
pemerintah daerah di dalam mendanai km dan menjadikan kabupaten ini menjadi
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kabupaten terluas di Jawa Timur dengan
pelayanan kepada masyarakat seperti jumlah desa sebanyak 217 desa yang
pembangunan infrasturktur, pemberian terbagi di 25 kecamatan. Luasnya wilayah
layanan kesehatan (Behera & Dash, 2019; dan banyaknya desa di Kabupaten
Olanubi & Osode, 2017) dan kepentingan Banyuwangi maka potensi untuk
Page 70
Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No. 1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
mendapatkan Pendapatan Asli Daerah penelitian mereka bahwa pendapatan yang
dapat dikatakan cukup besar apalagi sektor dihasilkan oleh daerah (PAD)
pariwisata menjadi sumber pendapatan mempengaruhi besarnya alokasi belanja
utama bagi Kabupaten Banyuwangi (Zen modal. Hasil yang sama juga disimpulkan
& Wulandari, 2016). Dengan potensi, luas dalam penelitian Purbarini & Masdjojo,
daratan, dan kondisi geografis dari (2015). Nurlis, (2016) dan Purbarini &
Kabupaten Banyuwangi maka pemerintah Masdjojo, (2015) setelah mereka
daerah perlu untuk memikirkan melakukan penelitian, mereka
peningkatan pelayanan kepada publik menyebutkan bahwa pendapatan yang
dengan peningkatan pengalokasian belanja dihasilkan oleh daerah (PAD) mempunyai
modal (Kasdy et al., 2019). Pelayanan pengaruh yang negatif pada belanja daerah
kepada publik atau masyarakat sangat khususnya adalah belanja modal. Rusmita,
bergantung dari alokasi belanja modal atau (2016) dalam penelitiannya mengatakan
aset tetap yang dialokasikan pemerintah bahwa pendapatan yang dihasilkan oleh
daerah untuk melayani masyarakat daerah (PAD) tidak berpengaruh kepada
(Baihaqi & Khotimah, 2009). Berdasarkan belanja daerah. Hasil penelitian Panetir
data yang diperoleh dari [Link] Bungkes, Nardisyah, (2016) memberikan
[Link]., rasio penentuan kesimpulan yang sama dengan hasil
besaran belanja modal dengan total belanja penelitian Rusmita, 2016 dimana dalam
daerah di Kabupaten Banyuwangi penelitiannya mengatakan besarnya
mengalami fluktuatif sejak tahun 2011 belanja modal tidak dipengaruhi oleh
hingga tahun 2018. Tahun 2011, rasio pendapatan asli yang ada di setiap daerah.
yang tercatat sebesar 19,8%, tahun 2012, Nurlis, (2016) dalam penelitiannya
rasio yang tercatat sebesar 21,1%, tahun mengatakan bahwa DAU tidak
2013 rasio yang tercatat sebesar 22,6, mempunyai pengaruh apapun terhadap
tahun 2014 rasio yang tercatat sebesar 25,4 penentuan besarnya belanja modal. Tetapi
%, tahun 2015 rasio yang tercatat sebesar hasil penelitian Hairiyah et al., (2017)
27,7%, tahun 2016 rasio yang tercatat menjelaskan bahwa besarnya belanja
sebesar 29,2 %, tahun 2017 rasio yang modal dipengaruhi secara positif oleh
tercatat sebesar 30,9%, dan pada tahun besarnya DAU. Kemudian untuk DAK,
2018 rasio yang tercatat sebesar 17,9 %. Nurlis, (2016) dalam penelitiannya
Dari rasio yang tercatat, rasio belanja menunjukkan besarnya belanja modal
modal paling kecil terjadi di tahun 2018 dipengaruhi oleh DAK, Juniawan &
yaitu sebesar 17,9 %. Rasio tersebut turun Suryantini, (2018) menyimpulkan bahwa
sebesar 13% dari tahun 2017. Penurunan besarnya belanja modal dipengaruhi secara
perbandingan antara belanja modal dengan positif oleh DAK. Sugiyanta, (2016) dan
belanja daerah menggambarkan bahwa Juniawan & Suryantini, (2018) dalam
anggaran yang dialokasikan untuk belanja penelitiannya juga menunjukkan hasil
modal jumlahnya masih sangat terbatas yang sama mengenai keterkaitan DAK
dari total belanja daerah padahal indikator dengan besarnya belanja [Link],
dari peningkatan pelayanan yang diberikan (2016) dalam penelitiannya menyimpulkan
kepada masyarakat berasal dari jumlah belanja modal tidak dipengaruhi secara
alokasi belanja modal. Penelitian yang signififkan oleh DAK. Adanya hasil
dilakukan oleh Fatimah et al., (2020) penelitian yang bervariasi membuat
menyimpulkan bahwa belanja daerah peneliti termotivasi untuk mengetahui
dipengaruhi secara signifikan oleh apakah PAD, DAU, &DAK berpengaruh
pendapatan yang dihasilkan oleh daerah itu pada besarnya penentuan belanja modal
sendiri (PAD). Penelitian Juniawan & Pemerintah Kabupaten Banyuwangi?
Suryantini, (2018) menyimpulkan dalam
Page 71
Fandi Prasetya
Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi
KAJIAN PUSTAKA pengeluaran ini memiliki dampak yang
Teori Keagenan cukup besar (Ilzetzki, 2011; Ilzetzki et al.,
Jensen & Meckling, (1976a) dalam 2011). Keuntungan dari adanya belanja
teorinya yang dikenal sebagai teori modal akan menambah aset yang dimiliki
keagenan membahas tentang adanya oleh suatu daerah serta akan meningkatkan
perbedaan kepentingan antara prisipal dan aktivitas belanja daerah yang bersifat rutin
agen. Prinsipal dan agen merupakan yang dapat dipergunakan untuk beberapa
hubungan keagenan dan didalam aktivitas belanja yang bersifat sebatas
hubungan tersebut, agen bertindak untuk administrasi umum. Untuk menentukan
kepentingan prinsipal setelah itu agen akan alokasi penggunaan belanja modal maka
mendapatkan imbalan tertentu dari apa sangat diperlukan adanya perencanaan
yang sudah dilakukannya (Jensen & yang baik dalam penentuannya (Dabla-
Meckling, 1976; F. Yusuf et al., 2018). Norris et al., 2011). Dalam memberikan
Hubungan keagenan akan terjadi ketika pelayanan kepada masyarakat yang ada
agen diberikan wewenang untuk didaerahnya maka sangatlah penting bagi
mengambil keputusan oleh prinsipal jika pemerintah daerah untuk memiliki aset
memang berada dalam kondisi yang tetap.
diperlukan (Jensen & Meckling, 1976b). Penambahan aset tetap dalam APBD
Permasalahan yang terjadi dalam direalisasikan dalam bentuk belanja modal
hubungan keagenan ini terkadang (Eika et al., 2020; Prabawati & Wany,
menghasilkan informasi yang asimetris 2018). Semakin meningkat belanja modal
serta menciptakan adanya konflik yang dianggarkan maka akan menambah
kepentingan (Nurlis, 2016). Untuk besarnya penentuan belanja modal untuk
menunjang penyediaan pelayanan kepada kepentingan masyarakat atau publik dalam
masyarakat serta membantu pemerintah bentuk infrastruktur ataupun sarana
daerah dalam hal pemenuhan pembiayaan lainnya (Olurankinse Felix, 2012).
operasionalnya maka pemerintah daerah Penggunaan belanja modal untuk
dibantu pemerintah pusat. Kerjasama kepentingan pembangunan infrastruktur
diantara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi suatu kebutuhan yang
daerah adalah salah satu contoh dari sangat penting hal ini dikarenakan setiap
implementasi hubungan keagenan. daerah memiliki kondisi geografis yang
Masyarakat bertindak sebagai prinsipal produktif serta mobilitas penduduk yang
memiliki beberapa potensi untuk tinggi maka kebutuhan infrastruktur
dimanfaatkan dalam upaya peningkatan merupakan kebutuhan yang tidak dapat
pendapatan milik daerahnya. Potensi itu terhindarkan lagi. Contoh belanja modal
diantaranya adalah dapat berupa ikut adalah belanja untuk pembelian kendaraan
berpartisipasi dalam pembayaran pajak, dinas, proyek elektrifikasi, pengeluaran
pembayaran retribusi, dan sebagainya. untuk pendidikan, pengeluaran untuk
(Nurlis, 2016). kesehatan (Liang & Tussing, 2019), dan
Belanja Modal pengeluaran lainnya (Mohammed et al.,
Bentuk pembiyaan yang dapat 2015). Optimalisasi alokasi belanja daerah
dimanfaatkan oleh pemerintah daerah ke belanja modal menjadi hal yang sangat
untuk membiayai aktivitas operasional diperlukan karena dampak dari belanja
sehari-hari (Jalles, 2020) seperti modal ini akan berdampak pada pelayanan
pembiayaan pengadaan aset tetap publik.
berwujud yang umur manfaatnya panjang Pendapatan Asli Daerah (PAD)
atau lebih dari satu periode, pengadaan Pemasukan yang diperoleh dari otoritas
fasilitas umum serta pembangunan publik untuk pemerintah daerah dan
infrastruktur daerah merupakan definisi berlandaskan pada peraturan serta
dari komponen belanja modal. Efek merupakan kontribusi dari badan atau
Page 72
Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No. 1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
perorangan untuk membiayai pengeluaran kebijakan (Irandoust, 2019). Peningkatan
merupakan definisi dari pendapatan. belanja daerah untuk kepentingan
Pendapatan ini digunakan oleh pemerintah masyarakat (Daniel & Gao, 2015)
untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang merupakan dampak dari meningkatnya
dapat menunjang pelayanan kepada pendapatan asli daerah itu sendiri (Adriani
masyarakat. Pedapatan ini dapat berasal & Yasa, 2015). Fatimah et al., (2020)
dari lembaga pemerintah, kegiatan dalam penelitiannya juga menyebutkan
penggalangan dana, iuran anggotan belanja daerah dipengaruhi secara
ataupun investasi keuangan (Kwaji & signifiikan oleh pendapatan asli daerah.
Dabari, 2017). Berubahnya jumlah Juniawan & Suryantini, (2018) dalam
pendapatan akan mempengaruhi pola penelitiannya menyimpulkan besarnya
konsumsi (Auzina & Počs, 2010; Baker & belanja modal dapat dipengaruhi
Yannelis, 2017). Peningkatan pendapatan Pendapatan Asli milik Daerah. Purbarini &
yang dihasilkan sendiri akan berdampak Masdjojo, (2015) juga menghasilkan
positif terutama untuk mengurangi kesimpulan penelitian yang sama.
ketergantungan terhadap pendanaan- Berdasarkan penjelasan diatas maka,
pendanaan yang berasal dari eksternal. rumusan hipotesisnya yaitu:
Pemerintah daerah menganggap semua H1: PAD mempunyai pengaruh atas
penerimaan kas yang didapatkan dalam Belanja Modal
satu periode anggaran sebagai kekayaan Dana Alokasi Umum (DAU)
bersih yang bertambah dan pemerintah Pemberian anggaran kepada pemerintah
tidak mempunyai kewajiban untuk daerah oleh pemerintah pusat melalui
membayarnya kembali merupakan definisi mekanisme alokasi APBN bertujuan untuk
dari Pendapatan yang dihasilkan oleh mengurangi ketidaksamaan kemampuan di
daerah (PAD) (Idris, 2016).Berdasarkan setiap daerah untuk melaksanakan
teori keagenan masyarakat sebagai kebijakan desentralisasi. Berdasarkan
prinsipal mempunyai beberapa potensi Teori Keagenan, pemerintah pusat dalam
dapat digunakan untuk menambah jumlah hal ini bertindak sebagai prinsipal
pendapatan (PAD). Pajak yang dikelola memberikan alokasi dana berupa DAU
daerah, pungutan daerah, hasil pemisahan kepada Pemerintah Kabupaten atau
pemanfaatan kekayaan daerah, serta Pemerintah Kota. Perbedaan kapasitas dan
pendapatan sah lainnya yang dihasilkan kebutuhan fiskal pemerintah
oleh daerah merupakan contoh dari kabupaten/kota dapat diatasi dengan
pemasukan yang diterima pemerintah memberikan DAU (Prabawati & Wany,
daerah (Rusmita, 2016). 2018). Besarnya penentuan DAU kepada
Kontribusi pendapatan yang dimiliki oleh suatu daerah tidak terlepas dari adanya
daerah terhadap APBD menandakan determinan politik (Batzilis, 2020).
bahwa ketergantungan pemerintah daerah Pemerintah daerah dapat memakai dana
terhadap bantuan yang dianggarkan oleh transfer yang berupa DAU untuk
pemerintah pusat semakin sedikit sebagai memberikan fasilitas dan pelayanan
pengaruh dari implementasi otonomi kepada masyarakat. Semakin meningkat
daerah (Rinaldi, 2013). Berbagai rencana jumlah DAU oleh pemerintah pusat untuk
pengeluaran daerah untuk kepentingan diberikan ke pemerintahan yang ada di
perolehan barang atau jasa dapat setiap daerah akan berdampak kepada
menggunakan pendapatan yang dihasilkan meningkatnya pemberian pelayanan atau
oleh pemerintah daerah itu sendiri. pengadaan fasilitas umum melalui alokasi
(Mohammed et al., 2015). Hubungan belanja modal (Juniawan & Suryantini,
penerimaan dan pengeluaran pemerintah 2018). Hairiyah et al., (2017) juga
memiliki peran yang penting bagi pembuat menyimpulkan bahwa besarnya belanja
Page 73
Fandi Prasetya
Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi
modal dipengaruhi oleh DAU. H3: DAK memiliki pengaruh terhadap
Berdasarkan penjelasan diatas maka, belanja modal.
rumusan hipotesisnya yaitu: Belanja Modal.
H2: DAU memiliki pengaruh pada Pengeluaran pemerintah merupakan suatu
penentuan besarnya jumlah belanja modal langkah penting pada berapapun tingkat
Dana Alokasi Khusus (DAK) pendapatan (Shen et al., 2018). Beberapa
Pendanaan pemerintah pusat dan berasal sumber pembiayaan yang dapat digunakan
dari APBN lalu kemudian disalurkan oleh pemerintah daerah dapat berasal dari
untuk masing-masing Pemerintah beberapa penerimaan daerah PAD, DAU
Kabupaten/Kota serta bertujuan untuk dan DAK. Meningkatknya penerimaan
mendanai keperluan khusus daerah suatu daerah akan membuat jumlah
tertentu dan merupakan kebutuhan yang pemberian anggaran belanja untuk modal
sudah menjadi prioritas nasional mengalami peningkatan dan dapat
merupakan definisi dari Dana Alokasi digunakan untuk kepentingan
Khusus (Juniawan & Suryantini, 2018). pembangunan di daerahnya (Asnawi &
Pemberian transfer untuk pemerintah Ulan, 2018; Konstantinou & Partheniou,
daerah dari pemerintah pusat merupakan 2019). Pemerintah daerah juga harus
bentuk jaminan atas tercapainya standar memiliki kemampuan dan kompetensi
pelayanan minimum yang ada dalam suatu untuk mengelola berbagai sumber dana
negara. (Juniawan & Suryantini, 2018). yang diperoleh untuk dialokasikan kepada
Pemakaian DAK untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang berdampak kepada
beberapa aktivitas daerah memiliki sifat kepentingan masyarakat terutama beberapa
khusus & memiliki kesesuaian dengan sektor pelayanan publik. Pembangunan
kepentingan nasional (Asnawi & Ulan, jalan, saluran irigasi, pendidikan dan
2018). Berdasarkan Teori Keagenan, infrastruktur lainnya adalah salah satu
pemerintah pusat sebagai prinsipal contoh dari penggunaan anggaran untuk
mengalokasikan anggaran DAK melalui belanja modal (Buchheim & Fretz, 2020;
APBN, selanjutnya DAK diberikan Dissou et al., 2016). Pengeluaran
kepada pemerintah yang ada di setiap pemerintah untuk barang dan jasa yang
daerah selaku agen yang dimaksudkan memiliki fungsi untuk meningkatkan
untuk meningkatkan fasilitas publik produktivitas akan berdampak pada
melalui penggunaan belanja modal pertumbuhan ekonomi (Makin &
(Juniawan & Suryantini, 2018). Ratnasiri, 2015). Namun disisilain para
Keterkaitan antara DAK dan belanja peneliti meyakini bahwa pengeluaran
modal didukung oleh penelitian yang konsumsi tidak mendukung pertumbuhan
dilakkan oleh Nurlis, (2016) ekonomi (Wu et al., 2017). Pengeluaran
menyimpulkan bahwa DAK memiiki yang dilakukan pemerintah dalam bentuk
pengaruh terhadap belanja modal. belanja modal akan lebih menguntungkan
Juniawan & Suryantini, (2018) dalam jangka waktu yang panjang
menyimpulkan bahwa DAK mempunyai dibandingkan dengan beberapa
pengaruh positif atas belanja modal. pengeluaran pemerintah lainnya (Attari &
Penelitian Sugiyanta, (2016) serta Javed, 2013). Berdasarkan penjelasan
Juniawan & Suryantini, (2018) juga diatas maka desain penelitiannya sebagai
menunjukkan hasil yang sama. berikut
Berdasarkan penjelasan diatas maka, dapat
diambil hipotesis penelitian ini yaitu:
Page 74
Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No. 1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
Gambar 1. Kerangka Konseptual
METODE PENELITIAN (Prabawati & Wany, 2018): PAD =
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk Pendapatan Pajak Daerah + Pendapatan
jangka waktu 2011-2018 merupakan dari Retribusi Daerah + Pendapatan dari
populasi dari penelitian ini. Seluruh Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
populasi dalam penelitian ini menjadi Dipisahkan + PAD lainnya yang sah.
bagian dari sampel penelitian (teknik Dana Alokasi Umum (DAU)
sampel jenuh). Data yang digunakan Pemberian anggaran kepada pemerintah
adalah Laporan Realisasi Anggaran (LRA) daerah oleh pemerintah pusat melalui
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tahun mekanisme alokasi APBN bertujuan untuk
pelaporan 2011–2018. Data ini didapat mengurangi ketidaksamaan kemapuan di
dari website setiap daerah untuk melaksanakan
[Link] kebijakan desentralisasi. Besarnya alokasi
Variabel Dependen DAU Pemerintah Kabupaten Banyuwangi
Belanja Modal dapat dilihat dalam LRA dari tahun 2011-
Merupakan penggunaan dana untuk 2018.
mendapatkan aset tetap serta mempunyai Dana Alokasi Khusus (DAK)
masa kegunaan > 1 tahun. Besarnya DAK merupakan bentuk pendanaan negara
belanja modal Pemerintah Kabupaten dalam hal ini adalah APBN yang
Banyuwangi dapat terlihat pada LRA dari diperuntukkan masing-masing Pemerintah
tahun 2011-2018. Kabupaten/Kota dan bertujuan untuk
Variabel Independen mendanai keperluan khusus daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertentu dan merupakan kebutuhan yang
Pemasukan yang diperoleh dari otoritas sudah menjadi prioritas nasional
publik untuk pemerintah daerah dan (Juniawan & Suryantini, 2018). Besarnya
berlandaskan pada peraturan serta pengalokasian DAK untuk Pemerintah
merupakan kontribusi dari badan atau Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat
perorangan untuk membiayai pengeluaran dalam Laporan Realisasi Anggaran 2011-
adalah definisi dari PAD. Perhitungan 2018.
PAD dapat dilakukan dengan cara
Page 75
Fandi Prasetya
Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi
TEKNIK ANALISIS DATA autokorelasi pada persamaan regresi
Uji Asumsi Klasik (Suliyanto, 2011).
Pengujian menggunakan program SPSS Uji Heteroskedastisitas
16. Sebelum dilakukan regresi, model Pengujian menggunakan Uji Glejser, jika
regresi tersebut harus menghasilkan besarnya probabilitasnya > nilai (5%)
persamaan terbaik yang tidak bias. Untuk maka tidak ada heteroskedastisitas
menghasilkan Best Linear Unbiased (Suliyanto, 2011).
Estimator maka beberapa syarat harus Pengujian Linieritas
terpenuhi antara lain data harus normal, Pengujian apakah model regresi linear atau
tidak terdapat multikolinearitas, tidak tidak maka kita dapat mengunakan uji
terdapat autokorelasi, tidak terjadi linearitas. Pengujian linieritas dalam
heteroskedastisitas, serta model yang penelitian ini dilakukan dengan melihat
dibuktikan harus linier. print out Scatter Plot yang dihasilkan
Pengujian Normalitas software SPSS for Windows. Jika print out
Pengujian normalitas bertujuan untuk tidak membentuk suatu pola yang acak
menguji kenormalan nilai residual yang atau tidak beraturan maka model regresi
diteliti. Pengujian normalitas adalah linear (Suliyanto, 2011).
menggunakan analisis Kolmogorov – Analisis Regresi Linear Berganda
Smirnov. Residual dikatakan normal jika Persamaan regresi linier berganda:
asymptotic significance > 0,05 (alpha) atau Y = a + b1X1+b2X2+b3X3+e
nilai kolmogorov – smirnov Z ≤ Z tabel Keterangan:
(Suliyanto, 2011) Y = Belanja Modal
Pengujian Multikolinearitas X1 = PAD
Pengujian ini bertujuan untuk mencari tahu X2 = DAU
apakah ada hubungan diantara variabel X3 = DAK
independen. Untuk menentukannya a = Konstanta
dengan melihat nilai dari tolerance value b1, b2, b3 =Koefisien Regresi
dan Variance Inflation Factor (VIF). e = residual
Berikut adalah persamaan VIF (Suliyanto,
2011): HASIL PENELITIAN
1 Hasil Uji Asumsi Klasik
TOL j Pengujian Normalitas
VIF = dimana Hasil pengujian terletak dalam tabel 1
TOL (1 R j )2
berikut:
Keterangan : Tabel 1. Hasil Uji Normalitas
VIF = variance inflation factor Standardized Residual
TOL = tolerance
N 8
R 2j
= koefisien determinasi dari regresi Asymp. Sig 0.957
X (2-Tailed)
antara j dengan remaining regressor
Kriteria pengujian Variance Inflation Sumber: SPSS 16, 2020 (diolah penulis)
Factor yaitu jika :
a) VIF > 10 maka menandakan adanya Pada diatas, nilai [Link] (2 –Tailed)
multikolinearitas sebesar 0.957. Apabila nilai
b) VIF < 10 maka menandakan tidak ada Signifikansinya > alpha (5%) maka data
multikolinearitas. dapat dikatakan normal (Suliyanto, 2011).
Pengujian Autokolerasi Oleh karena hasil dari pengolahan data
Pengujian menggunakan run test. Apabila diperoleh signifikansi 0.957 > 5%
signifikansinya > α (15%) maka tidak ada sehingga data terdistribusi secara normal.
Uji Multikolinearitas
Page 76
Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No. 1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
Pengujian Multikolinearitas menggunakan
tolerance value dan VIF yang dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 2. Hasil Uji Multikolinearitas
Model Colinearity Statistic
Tolerance VIF
1 (constant)
PAD 0.312 3.209
DAU 0.340 2.938
DAK 0.433 2.308
Sumber: SPSS 16, 2020 (diolah penulis)
Pada Tabel 2, nilai VIF < 10 sehingga
tidak terjadi multikolinearitas. Gambar 2. Scatterplot Standardized
Pengujian Autokorelasi Residual
Hasil pengujian menggunakan Run Test
dapat dilihat di tabel 3: Pola Scatterplot dari output software SPSS
Tabel 3. Hasil Uji Autokorelasi 16 menunjukkan plot tidak membentuk
Unstandardized suatu pola tertentu (acak) atau dengan kata
Residual lain model regresi berbentuk linear.
Asymp. Sig (2- 0.703 ANALISIS REGRESI LINEAR
Tailed) BERGANDA
Sumber: SPSS 16, 2020 (diolah penulis) Analisis regresi menggunakan program
SPSS. Hasil dari nilai kofisien regresi
Nilai signifikansi yang terdapat pada tabel variabel-variabel independen terdapat di
3 bernilai 0.703. Nilai signifikansi 0.703 > tabel 7:
5% maka tidak terjadi autokorelasi.
Uji Heteroskedastisitas Tabel 5. Hasil Perhitungan Koefisien
Hasil pengujian menggunakan Uji Glejser Regresi Linear Berganda
terletak pada tabel 4: Variabel Koefisien Regresi
Konstanta -6.760E11
Tabel 4. Hasil Uji Heteroskedastisitas PAD -0.971
Model t Sig DAU 1.210
1 (Constant) 0.629 0.564 DAK 0.502
PAD 0.747 0.496 R 0.921
DAU -0.205 0.848 R2 0.848
DAK -1.125 0.324 Adjusted R2
0.734
Sumber: SPSS 16, 2020 (diolah penulis) Sumber: SPSS 16, 2020 (diolah penulis)
Pada Tabel 4, nilai signifikansi masing- Berdasarkan diatas, maka persamaan
masing variabel adalah > 5% sehingga regresi nya adalah berikut ini:
berdasarkan hasil yang tertera pada tabel 4 Y = -6.760E11-0.971X1+ 1.210X2 +0.502
dapat disimpulkan tidak terjadi X3
heteroskedastisitas. Dari persamaan pada halaman sebelumnya
Uji Linearitas menunjukkan bahwa konstanta pada model
Hasil Uji Linearitas dengan menggunakan regresi bernilai -6.760E11 berarti bahwa
melihat print out Scatter Plot hasil belanja modal Pemerintah Kabupaten
pengolahan menggunakan software SPSS Banyuwangi akan bernilai – 6.760E11
for Windows sebagai berikut:
Page 77
Fandi Prasetya
Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi
persen jika variabel PAD, DAU, dan DAK PEMBAHASAN
bernilai nol. Nilai koefisien regresi untuk Pengaruh PAD (Pendapatan Asli
PAD (X1) dengan tanda koefeisien Daerah) Terhadap Belanja Modal
regresinya negatif. Hal ini menunjukkan Nilai signifikansi PAD untuk Belanja
PAD memberikan suatu pengaruh yang modal adalah sebesar 0.103. Angka ini >
bersifat negatif pada belanja modal. 5%. Oleh karena itu berdasarkan data yang
Berdasarkan hasil pengujian memberikan diperoleh maka PAD tidak mempunyai
gambaran semakin tinggi pendapatan pengaruh atas belanja modal, dengan hasil
daerah yang berasal dari PAD maka akan ini maka, H1 ditolak. Hasil penelitian ini
semakin memiliki pengaruh pada sama seperti penelitian yang dilakukan
rendahnya belanja modal di Pemerintah oleh Panetir Bungkes, Nardisyah, (2016)
Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan untuk dan Rusmita, (2016). Dalam Agency
koefisien regresi variabel DAU sebesar Theory, hubungan keagenan antara
1.210 serta memiliki tanda koefisien pemerintah daerah dengan masyakarat
regresi positif. Hal tersebut menunjukkan dapat terlihat dari kesanggupan pemerintah
variabel DAU memiliki pengaruh positif daerah serta tanggungjawabnya untuk
pada belanja modal. Artinya jika DAU melayani publik khususnya masyarakat
mengalami peningkatan maka belanja dalam upaya untuk peningkatan
modal Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kesejahteraan masyarakat melalui
akan meningkat. Nilai koefisien regresi pengalokasian belanja modal. Bentuk dari
untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah belanja modal dapat berupa penyediaan
0.502 dan memiliki tanda koefisien regresi fasilitas-fasilitas yang sudah dianggarkan
positif. Berdasarkan hasil tersebut maka dan tertuang dianggaran belanja modal.
DAK memiliki pengaruh positif pada Berdasarkan data yang tercantum di
belanja modal. Intepretasi dari bentuk Laporan Realisasi Anggaran periode 2011
Regresi Linear Berganda meliputi sampai dengan 2018, anggaran Pendapatan
beberapa hal yaitu: Asli Daerah (PAD) Kabupaten
Adjusted R Square Banyuwangi mengalami peningkatan.
Nilai koefisien regresi yang berada di tabel Begitu juga dengan anggaran belanja
nomor 7 menunjukkan nilai Adjusted R modal. Namun sejak tahun 2016 sampai
Square sebesar 73,4%. Oleh karena itu dengan tahun 2018 anggaran anggaran
variabel belanja modal Pemerintah untuk belanja modal mengalami
Kabupaten Banyuwangi dapat diterangkan penurunan. Anggaran belanja modal di
oleh variabel PAD, DAU, dan DAK. Kabupaten Banyuwangi besarnya adalah
Sedangkan 26,6 % atau 0.26 diterangkan <50% dari total anggaran belanja daerah.
oleh beberapa variabel diluar penelitian Di tahun 2018 anggaran belanja modal
ini. berbanding dengan total belanja daerah
Uji Hipotesis justru mengalami penurunan sebesar 13%
Hasil perhitungan uji hipotesis dapat dari tahun 2017 (30,9%). Tingginya PAD
dilihat di tabel 8. belum tentu memiliki belanja modal yang
Tabel 6. Uji Hipotesis tinggi. Salah satu penyebabnya adalah
Model t Signifikansi mayoritas pendapatan yang diterima oleh
1 (Constant) -1796 0.147 pemerintah daerah digunakan untuk
PAD -2.103 0.103 keperluan pembiayaan lain seperti
DAU 3.140 0.035 kegiatan operasional & belanja
DAK 1.652 0.174 pegawainya (Adyatma & Oktaviani,
Sumber: SPSS 16, 2020 (diolah penulis) 2015). Beberapa jenis belanja daerah di
Kabupaten banyuwangi antara lain belanja
tidak langsung, belanja pegawai, belanja
hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi
Page 78
Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No. 1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan Pengaruh Dana Alokasi Umum
pemerintah desa, belanja tidak terduga, Terhadap Belanja Modal
belanja langsung. Beberapa jenis belanja Angka signifikansi DAU atas belanja
daerah ini digunakan untuk menunjang modal sebesar 0.035. Angka ini < 5%.
pemberian pelayanan kepada masyarakat Sehingga DAU berpengaruh pada belanja
selaku sebagai prinsipal. Berdasarkan data modal. Dalam Agency Theory,
realisasi PAD Kabupaten Banyuwangi pendelegaisan wewenang pembuatan
sejak 2011 sampai 2018 mengalami keputusan kepada agen dari prinsipal
kondisi yang fluktuatif dalam hal realisasi untuk melakukan beberapa kegiatan yang
pendapatan asli daerah namun meningkat berkaitan dengan kepentingan mereka
secara signifikan pada tahun 2014. Tahun (Adyatma & Oktaviani, 2015).
2011 prosentase anggaran PAD dengan Berdasarkan data Laporan Realisasi
realisasi sebesar 106,8%, tahun 2012 Anggaran 2011 sampai dengan 2018,
sebesar 105%, tahun 2013 sebesar 106,2%, DAU yang didapatkan Pemerintah
2014 sebesar 125,9%, 2015 sebesar Kabupaten Banyuwangi dari Pemerintah
114,2%, 2016 sebesar 104,2%, 2017 Pusat bertujuan untuk membantu keuangan
sebesar 85,5%, 2018 sebesar 71,5%. pemerintah daerah demi terlaksananya
Tahun 2017 & 2018 menunjukkan desentralisasi dengan mengalokasikan
kurangnya penerimaan daerah dari potensi belanja modalnya. Tahun 2011 sampai
yang dimiliki daerah tersebut. Seharusnya dengan tahun 2016 anggaran Dana Alokasi
peningkatan penerimaan PAD dapat lebih Umum (DAU) di Kabupaten Banyuwangi
ditingkatkan kembali melalui upaya mengalami peningkatan, namun tahun
peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat 2017 & tahun 2018 terjadi penurunan
dengan menggali potensi yang dimiliki anggaran.
oleh daerah tersebut. Sedangkan untuk Tahun 2011 DAU mencapai Rp
realisasi belanja modal dari tahun 2011 [Link], Tahun 2012 sebesar
hingga tahun 2018 tidak mencapai 100%, Rp1.[Link], tahun 2013
prosentase realiasasi tertinggi untuk mencapai Rp1.[Link], tahun
belanja modal hanya terjadi di tahun 2012 2014 mencapai Rp1.[Link],
sejumlah 90,2% dan terendah pada tahun tahun 2015 mencapai
2018 sejumlah 71,46%. Dengan prosentase Rp1.[Link], tahun 2016
realisasi belanja modal yang tidak mencapai Rp1.[Link], tahun
mencapai 100% menunjukkan bahwa 2017 mencapai Rp1.[Link],
kurang efektifnya pemanfaatan alokasi tahun 2018 sebesar Rp1.[Link].
belanja modal untuk meningkatkan Keberadaan DAU dari pemerintah pusat
pelayanan kepada masyarakat. Sebagian sangat diperlukan pemerintah daerah untuk
besar pengeluaran pemerintah pada kepentingan pemberian pelayanan kepada
umumnya digunakan untuk tujuan lainnya masyarakat agar lebih baik terutama dalam
dibandingkan digunakan untuk peningkatan fasilitas publik serta fasilitas
meningkatkan produktivitas yang dapat infrastruktur untuk menunjang
mendukung program dan tujuan pembanguan daerah. Meningkatnya DAU
pemerintah pemerintah dalam memberikan yang diperoleh maka akan berdampak
layaan kepada publik (Erauskin & kepada semakin meningkatnya alokasi
Turnovsky, 2020). Panetir Bungkes, pemerintah daerah untuk belanja modalnya
Nardisyah, (2016) dan Rusmita, (2016) (Prabawati & Wany, 2018). Hal ini terlihat
menghasilkan juga menghasilkan dari adanya peningkatan anggaran belanja
kesimpulan penelitian yang sama. modal untuk tahun 2011 sampai dengan
tahun 2016 tetapi DAU cenderung
menurun pada tahun 2017-2018. Tahun
Page 79
Fandi Prasetya
Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi
2011 anggaran belanja modal sebesar Rp [Link] namun hanya
322. 301.313.850, tahun 2012 sebesar Rp Rp357.337.495.217 atau hanya 53,88%
[Link], tahun 2013 sebesar saja, tahun 2017 anggaran DAK mencapai
Rp474.784.457.818, tahun 2014 sebesar Rp400.488.612.000 sedangkan
Rp648.519.714.340, tahun 2015 sebesar realisasinya hanya sebesar Rp
Rp [Link], tahun 2016 sebesar [Link] atau 86,11%, dan
Rp1.[Link], tahun 2017 sebesar anggaran DAK di tahun 2018 mencapai
Rp [Link], dan tahun 2018 Rp [Link] dan realisasinya
sebesar Rp544.412.189.746. Kebutuhan hampir 100% atau sekitar 95,74%
Dana Alokasi Umum oleh suatu daerah di (Rp423.717.990.705). Penggunaan DAK
beberapa tingkatan pemerintahan pada tahun 2014 sampai dengan tahun
ditentukan oleh kebutuhan fiskal masing- 2018 realisasi DAK tidak mencapai 100%
masing tingkatan pemerintahan daerah selain itu kebutuhan untuk belanja modal
atau dengan kata lain tujuan dari DAU pemerintah kabupaten sebagian besar
adalah untuk mengantisipasi adanya sudah dipenuhi dengan menggunakan
kondisi dimana kebutuhan daerah melebihi DAU dan hal ini dapat dilihat dari
potensi jumlah penerimaan yang ada terealisasinya anggaran yang sudah
didaerah tersebut (Adyatma & Oktaviani, ditetapkan di setiap tahunnya (Asnawi &
2015). Hairiyah et al., (2017) juga Ulan, 2018). Yusuf, (2016) dalam
menghasilkan kesimpulan yang sama. penelitiannya menyimpulkan hasil yang
Pengaruh Dana Alokasi Khusus sama bahwa belanja modal tidak
Terhadap Belanja Modal dipengaruhi oleh DAK.
Angka signifikansi DAK terhadap belanja
modal sebesar 0.174. Angka ini > 5%. KESIMPULAN DAN SARAN
Sehingga DAK tidak mempunyai Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan
pengaruh pada Belanja Modal. Dalam maka dapat disimpulkan bahwa belanja
Agency Theory, agen diminta oleh modal tidak dipengaruhi oleh PAD dan
prinsipal untuk melakukan aktivitas atau DAK. Sedangkan untuk Dana alokasi
tindakan yang berkaitan dengan yang bersifat umum mempunyai pengaruh
kepentingan prinsipal melalui pada Belanja Modal di Pemerintah
pendelegasian wewenang pengambilan Kabupaten Banyuwangi. Hasil peneitian
keputusan kepada agen (Adyatma & ini menunjukkan bahwa pemberian
Oktaviani, 2015). DAK yang didapatkan pelayanan kepada masyarakat dalam
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dari bentuk penggunaan belanja modal masih
Pemerintah Pusat berdasarkan data membutuhkan bantuan dari pemerintah
Laporan Realisasi Anggaran periode tahun pusat yang di kemas dalam bentuk
2011 sampai dengan tahun 2018, realisasi pemberian DAU. Oleh karena itu
penggunaan anggaran anggaran DAK hubungan keagenan yang baik harus
mengalami penurunan sejak tahun 2015. terjaga antara pemerintah pusat dengan
Tahun 2011 sampai dengan 2013 pemerintah daerah demi kelancaran proses
prosentasi anggaran dengan realisasi desentraliasi berdasarkan asas otonomi
mencapai 100% namun tahun 2014 daerah. Pemerintah Kabupaten
realisasi hanya 75% dari total anggaran Banyuwangi harus lebih mendorong
sebesar Rp [Link] atau hanya peningkatan penerimaan Pendapatan Asli
Rp48.040.230.000 DAK yang terealisasi di Daerah dengan menggerakan
tahun 2014, tahun 2015 dari anggaran perekonomian yang berada di daerahnya
sebesar Rp [Link] hanya dengan memanfaatkan kemampuan yang
terealisasi sebesar Rp [Link] dimiliki salah satunya adalah natural
atau hanya 89,17% saja, tahun 2016 capital. Pemanfaatan natural capital
anggaran DAK mencapai Rp dengan tetap memperhatikan lingkungan
Page 80
Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No. 1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
(Zasada et al., 2018). Dengan demikian 67. [Link]
peningkatan pelayanan kepada publik 5671(13)00010-5
dapat tercapai tanpa bergantung kepada Auzina, A., & Počs, R. (2010). Impact of
bantuan dari pemerintah pusat. income changes on private
Keterbatasan Penelitian dan consumption expenditure and its
Rekomendasi Penelitian Berikutnya structure. July, 579–585.
Penelitian ini masih memiliki keterbatasan [Link]
karena hanya meneliti di satu objek saja 7
dengan rentang waktu atau periode selama Baihaqi, & Khotimah, H. (2009).
8 tahun sehingga untuk topik penelitian Hubungan Belanja Modal Dengan
selanjutnya dapat meneliti ruang lingkup Belanja Pemeliharaan Pada
yang lebih luas dan lebih lama rentang Pemerintah Kabupaten/Kota. 7(3),
waktu objek yang diteliti. Selain itu masih 1–27.
terdapat 26,6 % variabel lainnya yang Baker, S. R., & Yannelis, C. (2017).
dapat diteliti oleh penelitian selanjutnya. Income changes and consumption:
Evidence from the 2013 federal
REFERENSI government shutdown. Review of
Adriani, N., & Yasa, I. (2015). Pengaruh Economic Dynamics, 23, 99–124.
Pendapatan Asli Daerah Dan Dana [Link]
Perimbangan Terhadap Tingkat 9.005
Pengangguran Melalui Belanja Batzilis, D. (2020). The political
Tidak Langsung Pada determinants of government
Kabupaten/Kota Di Provinsi Bali. spending allocation and growth.
E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Research in Economics, 74(3),
Universitas Udayana, 4(11), 1328– 213–220.
1356. [Link]
Adyatma, E., & Oktaviani, R. M. (2015). 7.001
Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Behera, D. K., & Dash, U. (2019).
dan Dana Alokasi Umum Terhadap Prioritization of government
Belanja Modal Dengan expenditure on health in India: A
Pertumbuhan Ekonomi Sebagai fiscal space perspective. Socio-
Pemoderasi. Jurnal Dinamika Economic Planning Sciences,
Akuntansi, Keuangan Dan 68(October 2018), 100667.
Perbankan, 4(2), 190–205. [Link]
Asnawi & Ulan, S. U. (2018). 11.004
PENGARUH PENDAPATAN Buchheim, L., & Fretz, S. (2020). Parties,
ASLI DAERAH (PAD), DANA divided government, and
ALOKASI UMUM(DAU), DAN infrastructure expenditures:
DANA ALOKASI KHUSUS Evidence from U.S. states.
(DAK) TERHADAP BELANJA European Journal of Political
MODAL PADA KABUPATEN Economy, 61(September 2019),
DAN KOTA DI PULAU JAWA. 101817.
Jurnal Education and Economics [Link]
(JEE), 1(4), 438–449. 019.101817
Attari, M. I. J., & Javed, A. Y. (2013). Canavire-Bacarreza, G., Martinez-
Inflation, Economic Growth and Vazquez, J., & Yedgenov, B.
Government Expenditure of (2020). Identifying and
Pakistan: 1980-2010. Procedia disentangling the impact of fiscal
Economics and Finance, 5(13), 58– decentralization on economic
Page 81
Fandi Prasetya
Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi
growth. World Development, 127, Perimbangan terhadap Belanja
104742. Daerah. Equity, 22(2), 197.
[Link] [Link]
2019.104742 936
Dabla-Norris, E., Brumby, J., Kyobe, A., Hairiyah, Malisan, L., & Fakhroni, Z.
Mills, Z., Papageorgiou, C., Berg, (2017). Pengaruh DAU, DAK dan
A., Bredenkamp, H., Collier, P., PAD terhadap Belanja Modal.
Deverajan, S., Desruelle, D., Kinerja, 14(2), 85–91.
Guerguil, M., Gupta, S., [Link]
Hausmann, R., Kim, D., Knack, S., 2483
Kraay, A., Pritchett, L., Radifer, L., Idris, I. F. (2016). Potential Increase In
Zanna, F., … Pierre, J. (2011). Revenue Collection BPHTB Tax
Investing in Public Investment: An District Musi Banyuasin. European
Index of Public Investment Journal of Accounting, Auditing
Efficiency;IMF Working Paper And Finance Research, Vol.4
11/37; February 1,. IMF Working No.1(1), 28–42.
Papers. Ilzetzki, E. (2011). Fiscal Policy and Debt
Daniel, B. C., & Gao, S. (2015). Dynamics in Developing Countries.
Implications of productive May.
government spending for fiscal [Link]
policy. Journal of Economic ook/10.1596/1813-9450-5666
Dynamics and Control, 55, 148– Ilzetzki, E., Mendoza, E. G., & Végh, C.
175. A. (2011). How Big (Small?) are
[Link] Fiscal Multipliers? by Ethan
04.004 Ilzetzki, Enrique G. Mendoza and
Dissou, Y., Didic, S., & Yakautsava, T. Carlos A. Végh; IMF Working
(2016). Government spending on Paper 11/52; March 1, 2011. 66.
education, human capital [Link]
accumulation, and growth. s/WP/Issues/2016/12/31/How-Big-
Economic Modelling, 58, 9–21. Small-are-Fiscal-Multipliers-24699
[Link] Irandoust, M. (2019). Wagner on
2016.04.015 government spending and national
Eika, L., Mogstad, M., & Vestad, O. L. income: A new look at an old
(2020). What can we learn about relationship. Journal of Policy
household consumption Modeling, 41(4), 636–646.
expenditure from data on income [Link]
and assets? Journal of Public 019.02.003
Economics, 189, 104163. Jalles, J. T. (2020). Dynamics of
[Link] government spending cyclicality.
020.104163 Economic Modelling, February.
Erauskin, I., & Turnovsky, S. J. (2020). [Link]
Financial globalization and its 2020.04.010
consequences for productive Jensen & Meckling. (1976a). Theory of
government expenditure. Journal The Firm: Managerial Behavior,
of Macroeconomics, 66(August). Agency Costs and Ownership
[Link] Structure. Journal of Financial
20.103244 Economics, 3, 305–360.
Fatimah, N. N., Nopiyanti, A., & Jensen & Meckling. (1976b). Theory of
Mintoyuwono, D. (2020). Pengaruh The Firm: Managerial Behavior,
Pendapatan Asli Daerah dan Dana Agency Costs and Ownership
Page 82
Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No. 1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
Structure. Journal of Financial GOVERNMENT IN NIGERIA.
Economics, 305–360. European Journal of Accounting,
Jensen, M. C., & Meckling, W. H. (1976). Auditing and Finance Research,
Theory of The Firm: Managerial 5(2), 1–11.
Behavior, Agency Cost and Liang, L. L., & Tussing, A. D. (2019). The
Ownership Structure. Journal of cyclicality of government health
Financial Economics 3, 1976, 305– expenditure and its effects on
360. population health. Health Policy,
Juniawan, M. A., & Suryantini, N. P. S. 123(1), 96–103.
(2018). Pengaruh Pad, Dau Dan [Link]
Dak Terhadap Belanja Modal Kota 2018.11.004
Dan Kabupaten Di Provinsi Bali. Mabillard, V., & Pasquier, M. (2015).
E-Jurnal Manajemen Universitas Transparency and Trust in
Udayana, 7(3), 1255. Government : A Two-Way
[Link] Relationship Transparency and
018.v7.i03.p05 Trust in Government : A Two-Way
Kasdy, L. M., Nadirsyah, N., & Fahlevi, Relationship. November 2018.
H. (2019). Pengaruh Pendapatan [Link]
Asli Daerah, Dana Perimbangan, Makin, A. J., & Ratnasiri, S. (2015).
Dan Sisa Lebih Perhitungan Competitiveness and government
Anggaran Terhadap Belanja Modal expenditure: The Australian
Dan Implikasinya Pada Realisasi example. Economic Modelling, 49,
Belanja Modal Pada Pemerintahan 154–161.
Kabupaten/Kota Di Indonesia. [Link]
Jurnal Perspektif Ekonomi 2015.04.003
Darussalam, 4(1), 1–18. Mohammed, A., Ahmed, B. B., & Salihu,
[Link] A. M. (2015). Expenditure and
10916 Internally Generated Revenue
Ke, X., Lin, J. Y., Fu, C., & Wang, Y. Relationship: An Analysis of Local
(2020). Transport infrastructure Governments in Adamawa State,
development and economic growth Nigeria. Journal of Arts Science &
in China: Recent evidence from Commerce, 6(3), 67–77.
dynamic panel system-GMM Nurlis. (2016). The Factors Affecting of
analysis. Sustainability the Capital Expenditure Allocation
(Switzerland), 12(14). Case : The Local Government of
[Link] Indonesia. Research Journal of
Konstantinou, P. T., & Partheniou, A. Finance and Accounting, 7(1),
(2019). The Effects of Government 107–113.
Spending Over the Business Cycle: Olanubi, S. O., & Osode, O. E. (2017).
A Disaggregated Analysis for The efficiency of government
OECD and Non-OECD Countries. spending on health: A comparison
Quarterly Review of Economics of different administrations in
and Finance. Nigeria. Journal of Policy
[Link] Modeling, 39(1), 79–98.
09.017 [Link]
Kwaji, S. F., & Dabari, I. J. (2017). 016.12.002
EMPIRICAL ANALYSIS OF Olurankinse Felix. (2012). Analysis of the
TAX REVENUE COLLECTION effectiveness of capital expenditure
BY THE FEDERAL budgeting in the local government
Page 83
Fandi Prasetya
Penerimaan Daerah Sebagai Aspek Penting Penentu Belanja Modal Pemerintah: Studi Pemerintah Banyuwangi
system of Ondo State, Nigeria. Jambi. Jurnal Perspektif
Journal of Accounting and Pembiayaan Dan Pembangunan
Taxation, 4(1), 1–6. Daerah, 3(4), 243–256.
[Link] blob:[Link]
Pan, X., Li, M., Guo, S., & Pu, C. (2020). [Link]/b3066ec5-8984-
Research on the competitive effect 4adf-8545-5ce59b4a70c4
of local government’s Qiao, M., Ding, S., & Liu, Y. (2019).
environmental expenditure in Fiscal decentralization and
China. Science of the Total government size: The role of
Environment, 718, 137238. democracy. European Journal of
[Link] Political Economy, 59(April), 316–
020.137238 330.
Panetir Bungkes, Nardisyah, S. A. (2016). [Link]
PENGARUH DANA 019.04.002
PERIMBANGAN, Rinaldi, U. (2013). Kemandirian
PENDAPATAN SENDIRI DAN Keuangan Dalam Pelaksanaan
PENERIMAAN PEMBIAYAAN Otonomi Daerah. Jurnal EKSOS,
TERHADAP BELANJA MODAL 8(22), 105–113.
(Studi pada Pemerintahan [Link]
Kabupaten/Kota di Aceh). Jurnal [Link]
Administrasi Akuntansi, 5(3), 50– Rusmita, S. (2016). Pengaruh Dana
59. Alokasi Umum (DAU) dan
Prabawati, P. S. S., & Wany, E. (2018). Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, terhadap Belanja Daerah di
Dana Alokasi Umum Dan Dana Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal
Bagi Hasil Terhadap Alokasi Ekonomi Bisnis Dan
Belanja Modal Dengan Kewirausahaan, 5(3), 237.
Pertumbuhan Ekonomi Sebagai [Link]
Variabel Moderating Pada 19083
Pemerintah Daerah Shen, W., Yang, S. C. S., & Zanna, L. F.
Kabupaten/Kota Provinsi Jawa (2018). Government spending
Timur Tahun 2013-2015. effects in low-income countries.
Equilibrium: Jurnal Ekonomi- Journal of Development
Manajemen-Akuntansi, 1. Economics, 133(November 2015),
[Link] 201–219.
m.v0i0.414 [Link]
Purbarini, E., & Masdjojo, G. N. (2015). 18.02.005
Flypaper Effect on Operating Sugiyanta, S. (2016). Analisis Belanja
Expenditure and Capital Modal Dan Faktor-Faktor Yang
Expenditure of the City Mempengaruhinya Pada
Government in Indonesia. Jurnal Pemerintah Kabupaten/Kota Di
Ekonomi Pembangunan: Kajian Indonesia. Jurnal Akuntansi
Masalah Ekonomi Dan Universitas Jember, 14(1), 19.
Pembangunan, 16(1), 75. [Link]
[Link] 2504
939 Suliyanto. (2011). EKONOMETRIKA
Putra, R., & Hidayat, S. (2016). Tingkat TERAPAN: Teori & Aplikasi
Kemandirian Keuangan Daerah dengan SPSS (S. Suyantoro (ed.)).
dan Hubungannya Dengan Penerbit ANDI.
Pertumbuhan Ekonomi Provinsi
Page 84
Jurnal Kajian Akuntansi, Vol. 5 No. 1 2021, 69-85
e2579-9991, p2579-9975
[Link]
Wang, C., Zhang, X., Ghadimi, P., Liu, Q., Provinsi Jawa Timur). Jurnal
Lim, M. K., & Stanley, H. E. Ilmiah Mahasiswa FEB
(2019). The impact of regional Universitas Brawijaya, 5(2).
financial development on economic Zasada, I., Weltin, M., Reutter, M.,
growth in Beijing–Tianjin–Hebei Verburg, P. H., & Piorr, A. (2018).
region: A spatial econometric EU’s rural development policy at
analysis. Physica A: Statistical the regional level—Are
Mechanics and Its Applications, expenditures for natural capital
521, 635–648. linked with territorial needs? Land
[Link] Use Policy, 77(January), 344–353.
9.01.103 [Link]
Wu, S., Li, B., Nie, Q., & Chen, C. (2017). .2018.05.053
Government expenditure, Zen, M. H., & Wulandari, D. (2016).
corruption and total factor Development Strategy of The
productivity. Journal of Cleaner Tourism Industry in Banyuwangi
Production, 168, 279–289. Regency (Case Study: Natural Park
[Link] Ijen Crater Banyuwangi). IOSR
17.09.043 Journal of Business and
Yusuf, F., Yousaf, A., & Saeed, A. (2018). Management, 18(08), 41–47.
Rethinking agency theory in [Link]
developing countries: A case study 1808014147
of Pakistan. Accounting Forum, Zhang, J., Qu, Y., Zhang, Y., Li, X., &
42(4), 281–292. Miao, X. (2019). Effects of FDI on
[Link] the Efficiency of Government
8.10.002 Expenditure on Environmental
Yusuf, M. H. (2016). ANALISIS Protection Under Fiscal
FAKTOR-FAKTOR YANG [Link]. International
MEMPENGARUHI REALISASI Journal of Environmental Research
BELANJA MODAL and Public Health, 16, 2496.
PEMERINTAH DAERAH (Studi
pada Kabupaten dan Kota di
Page 85