0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan21 halaman

Gambar Kucing dan Rabies

Rabies adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Lyssavirus, menyerang sistem saraf pusat dan memiliki tingkat kematian 100% pada manusia. Penularan terjadi melalui gigitan hewan terinfeksi atau kontak dengan air liur yang terkontaminasi, dan gejala awal meliputi nyeri, demam, dan kecemasan. Di Indonesia, rabies masih endemis di 24 provinsi, dengan upaya pengendalian untuk mencapai 'Indonesia Bebas Rabies 2020'.

Diunggah oleh

-
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan21 halaman

Gambar Kucing dan Rabies

Rabies adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Lyssavirus, menyerang sistem saraf pusat dan memiliki tingkat kematian 100% pada manusia. Penularan terjadi melalui gigitan hewan terinfeksi atau kontak dengan air liur yang terkontaminasi, dan gejala awal meliputi nyeri, demam, dan kecemasan. Di Indonesia, rabies masih endemis di 24 provinsi, dengan upaya pengendalian untuk mencapai 'Indonesia Bebas Rabies 2020'.

Diunggah oleh

-
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT RABIES

Kelompok 3

Nama Anggota :

1. Dewa Rizqi Ashila Reka (10011281823051)

2. Okta Mayasari (10011181823009)

3. Regina Sri Utami (10011381823125)

4. Ridhatul Aulia Putri (10011281823053)

5. Tiara Deskila Dewi (10011381823103)

6. Wira Wasistha (10011281823056)

Mata Kuliah : Epidemiologi Penyakit Menular

Dosen pengampu : Anggun Budiastuti [Link] [Link]

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

TAHUN AJARAN 2019/2020


PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN RABIES

Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh
virus, bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat. Hewan berdarah panas dan
manusia. Rabies bersifat zoonosis artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan
ke manusia dan menyebabkan kematian pada manusia dengan CFR (Case Fatality
Rate) 100%. Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan yang terinfeksi dan
disebarkan melalui luka gigitan atau jilatan.

B. ETIOLOGI

Virus rabies merupakan virus RNA, termasuk dalam familia Rhabdoviridae,


genus Lyssa. Virus berbentuk peluru atau silindris dengan salah satu ujungnya
berbentuk kerucut dan pada potongan melintang berbentuk bulat atau elip (lonjong).
Virus tersusun dari ribonukleokapsid dibagian tengah, memiliki membran selubung
(amplop) dibagian luarnya yang pada permukaannya terdapat tonjoloan (spikes) yang
jumlahnya lebih dari 500 buah. Pada membran selubung (amplop) terdapat
kandungan lemak yang tinggi. Virus berukuran panjang 180 nm, diameter 75 nm,
tonjolan berukuran 9 nm, dan jarak antara spikes 4-5 [Link] peka terhadap sinar
ultraviolet, zat pelarut lemak, alkohol 70 %, yodium, fenol dan klorofrom. Virus
dapat bertahan hidup selama 1 tahun dalam larutan gliserin 50 %. Pada suhu 600 C
virus mati dalam waktu 1 jam dan dalam penyimpanan kering beku (freezedried) atau
pada suhu 40 C dapat tahan selama bebarapa tahun.
C. PATOGENESIS

Cara penularan melalui gigitan dan non gigitan (aerogen, transplantasi, kontak
dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa). Cakaran oleh
kuku hewan penular rabies adalah berbahaya karena binatang menjilati kuku-
kukunya. Saliva yang ditempatkan pada permukaan mukosa seperti konjungtiva
mungkin infeksius. Ekskreta kelelawar yang mengandung virus rabies cukup untuk
menimbulkan bahaya rabies pada mereka yang masuk gua yang terinfeksi dan
menghirup aerosol yang diciptakan oleh kelelawar. Penularan rabies melalui
transplan kornea dari penderita dengan ensefalitis rabies yang tidak didiagnosis pada
resipen/penerima sehat telah direkam dengan cukup sering. Penularan dari orang ke
orang secara teoritis mungkin tetapi kurang terdokumentasi dan jarang terjadi.

Luka gigitan biasanya merupakan tempat masuk virus melalui saliva, virus
tidak bisa masuk melalui kulit utuh. Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan,
maka selama 2 minggu virus tetap tinggal pada tempat masuk dan didekatnya,
kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukkan
perubahan-perubahan fungsinya. Bagian otak yang terserang adalah medulla
oblongata dan annon’s hoorn.

Sesampainya di otak virus kemudian memperbanyak diri dan menyebar luas


dalam semua bagian neuron, terutama mempunyai predileksi khusus terhadap sel-sel
sistem limbik, hipotalamus dan batang otak. Setelah memperbanyak diri dalam
neuron-neuron sentral, virus kemudian ke arah perifer dalam serabut saraf eferen dan
pada saraf volunter maupun saraf otonom. Dengan demikian virus ini menyerang
hampir tiap organ dan jaringan didalam tubuh dan berkembang biak dalam jaringan -
jaringan seperti kelenjar ludah, ginjal dan sebagainya. Gambaran yang paling
menonjol dalam infeksi rabies adalah terdapatnya badan negri yang khas yang
terdapat dalam sitoplasma sel ganglion besar.
Semua hewan berdarah panas rentan dengan Rabies. Penyakit Rabies secara
alami terdapat pada:

a) Anjing
b) Kucing
c) Kera
d) Kelelawar
e) Karnivora liar

D. GAMBARAN KLINIS

a) Nyeri, bengkak, rasa terbakar, rasa gatal di sekitar luka atau goresan
b) Demam
c) Nyeri kepala
d) Lemas, lemah, lesu, lelah
e) Nafsu makan menurun
f) Mual, muntah
E. FAKTOR RISIKO
Rabies adalah penyakit yang dapat menyerang semua orang dari berbagai
kelompok usia dan ras. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan
risiko seseorang terkena penyakit,[Link] satu atau semua faktor risiko bukan
berarti Anda dapat dipastikan akan terserang penyakit [Link] pula kemungkinan
kecil seseorang terkena penyakit ini meskipun tidak memiliki faktor risiko satupun.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu munculnya penyakit


ini:
[Link] di negara-negara berkembang
Apabila Anda berdomisili di negara-negara berkembang, terutama di daerah
dengan fasilitas kesehatan serta pemahaman yang kurang memadai,risikoAnda untuk
terserangpenyakitinilebihtinggi.
[Link] daerah dengan kasus kejadian yang tinggi
Jika Anda bepergian atau mengunjungi negara-negara dengan angka kejadian
penyakit yang cukup besar, seperti negara di Afrika dan Asia Tenggara, peluang
Andauntuk tertular virus lebih besar.
[Link] kegiatan outdoor
Melakukan kegiatan yang memungkinkan Anda berhubungan dengan hewan
liar, seperti menjelajah gua yang terdapat banyak kelelawar, atau berkemah tanpa
melakukan pencegahan masuknya hewan liar, dapat meningkatkan risiko terkena
penyakit ini.
[Link] sebagai dokter hewan atau sering menangani hewan
Jika Anda adalah dokter hewan, atau Anda memiliki pekerjaan yang
memungkinkan Anda melakukan kontak dengan hewan seperti penjaga kebun
binatang, peluang Anda untuk terinfeksi virus lebih besar.
5. Bekerja di laboratorium untuk meneliti virus rabies
Apabila Anda pekerja laboratorium yang sedang melakukan penelitian pada
rhadovirus, risiko Anda untuk terinfeksi lebih tinggi.
[Link] binatang peliharaan atau ternak yang belum divaksin
Apabila Anda mempunyai hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, atau
hewan ternak seperti sapi dan kambing, pastikan Anda sudah memberikan vaksin
pada hewan-hewan tersebut.
F. SITUASI RABIES DI INDONESIA

Di Indonesia sebanyak 86 orang meninggal karena rabies pada tahun 2016.


Saat ini terdapat sembilan provinsi di Indonesia dinyatakan sebagai daerah bebas
rabies, sedangkan sebanyak 24 provinsi lainnya masih endemis.
Dari 9 provinsi tersebut, sebanyak lima provinsi di antaranya bebas historis (Bangka
Belitung, Kepulauan Riau, NTB, Papua Barat, dan Papua), dan kemudian 4 provinsi
lainnya dinyatakan bebas rabies (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan DKI
Jakarta). Seluruh provinsi di Indonesia diminta untuk berkomitmen dalam
pengendalian dan penanggulangan rabies demi mencapai “Indonesia Bebas Rabies
2020”.

Rabies dilaporkan pertama kali oleh Esser pada tahun 1884, yaitu pada seekor
kuda di Bekasi, Jawa Barat. Selanjutnya kasus rabies pada kerbau dilaporkan pada
tahun 1889, kemudian rabies pada anjing dilaporkan oleh Penning tahun 1890 di
Tangerang. Kasus rabies pada manusia dilaporkan oleh E.V. de Haan pada seorang
anak di Desa Palimanan, Cirebon tahun 1894. Selanjutnya rabies dilaporkan semakin
menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia.

Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya


pengendalian rabies yaitu, kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), kasus yang
divaksinasi dengan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan kasus yang positif rabies dan mati
berdasarkan uji Lyssa. Penentuan suatu daerah dikatakan tertular rabies berdasarkan
ditemukannya positif hasil pemeriksaan laboratorium terhadap hewannya,
kewenangan ini ditentukan oleh Kementerian Pertanian.

Berdasarkan data dari Ditjen P2P Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor
Zoonotik terdapat 64.774 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang
dilaporkan.
Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa pada tahun 2013 terjadi penurunan kasus
GHPR dibandingkan tahun 2012 dari 84.750 kasus menjadi 69.136 kasus pada tahun
2013 dan meningkat perlahan selama dua tahun kemudian serta kembali menurun
pada tahun 2016 menjadi 64.774 kasus GPHR. Sedangkan kasus kematian akibat
rabies (Lyssa) cenderung mengalami penurunan selama lima tahun terakhir. Pada
tahun 2016 terdapat kasus Lyssa sebanyak 86 kasus.

Berdasarkan tabel tersebut terlihat provinsi dengan kasus kematian akibat penyakit
rabies (Lyssa) tertinggi selama tiga tahun berturut-turut yaitu Sulawesi Utara. Pada
tahun 2016, hampir seperempat kasus Lyssa terjadi di provinsi tersebut.

G. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT RABIES

1. Agent
Rhadovirus dari genus Lyssavirus. Semua anggota genus ini mempunyai
persamaan antigen, namun dengan teknik antibodi monoklonal dan nucleotide
sequencing dari virus menunjukkan adanya perbedaan tergantung spesies binatang
atau lokasi geografis darimana mereka berasal. Virus yang mirip dengan rabies yang
ditemukan di Afrika (Mokola dan Duvenhage) jarang menyebabkan kesakitan pada
manusia mirip seperti rabies dan jarang yang fatal. Lyssavirus baru telah ditemukan
pertama kali pada tahun 1996, pada beberapa spesies dari Flaying fox dan kelelawar
di Australia dan telah menyebabkan dua kematian pada manusia dengan gejala
penyakit seperti rabies. Virus ini untuk sementara diberi nama “Lyssavirus kelelawar
Australia”
2. Host

Hewan-hewan yang terkena virus rabies seperti anjing, kucing, monyet, musang dan
juga manusia.

3. Environtment

Penyakit ini sering terjadi di lingkungan dimana anjing lebih banyak daripada orang
yang tinggal di daerah tersebut

H. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT

1. Tahap Prepatogenesis

Pada tahap ini individu berada dalam keadaan normal/sehat tetapi mereka
pada dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agent penyakit,
seperti gigitan hewan ataupun air liur yang terkontaminasi virus rabies.(stage of
suseptibility). Walau demikian pada tahap ini sebenarnya telah terjadi interaksi antara
pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih terjadi di luar tubuh, dalam
arti bibit penyakit masih ada diluar tubuh pejamu dimana para kuman
mengembangkan potensi infektifitas, siap menyerang pejamu.

2. Tahap Patogenesis
1. Tahap Inkubasi

Virus menyerang susunan saraf pusat. Rata-rata masa inkubasi membutuhkan waktu
3-12 minggu atau 1-3 bulan.

2. Tahap Penyakit Dini

Timbul gejala seperti nyari, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka
kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap
rangsangan sensoris.

3. Tahap Penyakit Lanjut


Tonus otot-otot akan aktivitas simpaik menjadi meninggi dengan gejala berupa
eksitasi atau ketakutan berlebih, rasa haus, ketakutan terhadap rangsangan cahaya,
tiupan angin atau suara keras. Umumnya selalu merinih sebelum kesadaran hilang.
Penderita menjadi bingung, gelisah rasa tidak nyaman dan tidak beraturan.
Kebingungan menjadi semakin hebat dan berkembang menjadi agresif, halusinasi,
dan selalu ketakutan. Tubuh gemetar atau kaku kejang.

3. Tahap Pasca Patogenesis

Kematian, sembuh sempurna, cacat dan kronis.

Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadang-kadang


ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang
bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang
memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernapasan.

I. VARIABEL EPIDEMIOLOGI

A. Orang
1. Umur

Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan


epidemiologi. 40% dari orang yang digigit oleh hewan gila adalah anak-anak
dibawah 15tahun.

2. Lingkungan

Lingkungan yang banyak memelihara hewan-hewan penyebar penyakit rabies,


lingkungan disekitar rumah ataupun didalam rumah sendiri.

3. Kelas Sosial

Kelas sosial adalah variabel yang sering dilihat hubungannya dengan angka kesakitan
atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas
sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur, seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan,
dan banyak contoh ditentukan pula tempat tinggal.

4. Golongan Etnik
Berbagai golongan etnik di dalam kebiasaan makan, susunan genetikanya, gaya hidup
dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan di angka kesakitan atau
kematian.

B. Tempat

Rabies tersebar luas diseluruh dunia, antara lain: Rusia, Argentina, Brasilia,
Australia, Israel, Spanyol, Afghanistan, Amerika Serikat, Indonesia dan sebagainya.

C. Waktu

Rabies bisa terjadi disetiap musim atau iklim.

J. UKURAN EPIDEMIOLOGI

Sesuai data dari World Health Organization (WHO) tahun 2013, diperkirakan
55.000 kematian di dunia disebabkan oleh penyakit ini. Indonesia selama 4 tahun
terakhir rata-rata sebanyak 143 kematian per tahun (2013)

Sulawesi Utara dengan 2.795 kasus gigitan dan 30 kematian. Sulawesi Utara
merupakan Provinsi tertinggi kasus kematian penyakit rabies. (Subdit Pengendalian
Zoonsis, Kemenkes 2014). Pada tahun 2013 kasus gigitan hewan penular rabies
sebanyak 414 dengan 2 kematian (Dinas Kesehatan Kota Bitung,2013)

K. MEKANISME PENULARAN RABIES

[Link] udara

Udara yang mengandung partikel virus rabies dapat terhirup oleh manusia
lalu masuk melalui selaput lendir dalam rongga mulut atau hidung dan menginfeksi
sistem pernafasan. Udara merupakan media paling mudah sebagai cara penularan
rabies terhadap manusia. Contohnya gua tempat kelelawar atau menyentuh dan
berinteraksi dengan bangkai hewan yang mati dalam kondisi terinfeksi virus rabies.

[Link] gigitan

Melalui gigitannya hewan apapun yang telah terinfeksi rabies dapat cepat
memindahkan virus rabiesnya untuk segera masuk dalam jaringan kulit yang telah
luka dan terkoyak melalui air liurnya. Cara penularan rabies melalui gigitan dapat
menyebabkan gangguan saraf dan kerusakan sumsum tukang belakang dan menuju
jaringan otak.

[Link] cairan liur

Cara penularan rabies bukan hanya melalui udara ataupun gigitan hewan saja
melainkan bisa terjadi ketika seseorang memiliki luka terbuka yang tidak dibalut
perban terkena air liur hewan yang telah terinfeksi virus rabies kendati hewan
tersebut tidak melakukan agresi penyerangan berupa cakaran ataupun gigitan. Cairan
liur dapat masuk meresap kebagian luka dan langsung menginfeksi jaringan luka
tersebut untuk kemudian mempengaruhi otot otot gerak.

[Link] manusia ke manusia

Virus rabies tidak serta merta hanya ditularkan melalui udara, Hewan ataupun
terkena air liur hewan secara tidak sengaja melainkan dapat pula melalui cara
penularan rabies antara satu manusia ke manusia lain. Manusia yang telah terjangkit
rabies dapat menularkan virusnya melalui air liurnya. Maka hindarilah memakai
barang barang secara bergantian dengan penderita rabies atau menyantap makanan
dalam satu sendok yang sama.

[Link] Penyakit Rabies Pada Manusia

Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi Rabies meliputi 4 stadium:

1. Stadium Prodromal: Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita
tidak khas, menyerupai infeksi virus pada umumnya yang meliputi demam, sulit
makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening, dan lain sebagainya.

2. Stadium Sensoris: Dalam stadium sensori penderita umumnya akan mengalami


rasa nyeri pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak
air liur, pupil membesar, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.

3. Stadium Eksitasi: Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget,
kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada
udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air
(hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang
mengatur proses menelan dan pernapasan. Hidrofobia yang terjadi pada
penderita Rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa di kala
berusaha menelan air.

4. Stadium Paralitik: Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium


sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda
kelumpuhan dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif.

Karena durasi penyebaran penyakit yang cukup cepat maka umumnya keempat
stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan jelas. Gejala-gejala yang tampak jelas
pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka bekas gigitan dan ketakutan pada
air, udara, dan cahaya, serta suara yang keras.

[Link] RABIES

Pencegahan infeksi virus rabies adalah dengan mengurangi risiko terpapar dengan
hewan yang terinfeksi virus ini. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

[Link] Primer
[Link] memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing,
kucing,keradan hewan sebangsanya di daerah bebas rabies.
2. Memusnahkan anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya yang masuk tanpa izin
ke daerah bebas rabies.
[Link] melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerah-daerah
bebas rabies.
[Link] vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing dan kera, 70% populasi
yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus.
[Link] tanda bukti atau pening terhadap setiap kera, anjing, kucing yang telah
divaksinasi.
[Link] jumlah populasi anjing liar atan anjing tak bertuan dengan jalan
pembunuhan dan pencegahan perkembangbiakan.
[Link] peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus didaftarkan ke
Kantor Kepala Desa/Kelurahan atau Petugas Dinas Peternakan setempat.
[Link] harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari 2 meter.
Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat dengan rantai tidak lebih
dari 2 meter dan moncongnya harus menggunakan berangus (beronsong).
[Link] dan melaksanakan observasi hewan tersangka menderita rabies, selama
10 sampai 14 hari, terhadap hewan yang mati selama observasi atau yang dibunuh,
maka harus diambil spesimen untuk dikirimkan ke laboratorium terdekat untuk
diagnosa.
[Link] dengan ketat lalu lintas anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya
yang bertempat sehalaman dengan hewan tersangka [Link] Sumatera
Utara
[Link] dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies sekurang-
kurangnya 1 meter.
[Link] Sekunder
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko
tertularnya rabies adalah mencuci luka gigitan dengan sabun atau dengan deterjen
selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Kemudian luka diberi alkohol 70%
atau Yodium tincture. Setelah itu pergi secepatnya ke Puskesmas atau Dokter yang
terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari
rumah observasi hewan. Resiko yang dihadapi oleh orang yang mengidap rabies
sangat besar. Oleh karena itu, setiap orang digigit oleh hewan tersangka rabies atau
digigit oleh anjing di daerah endemic rabies harus sedini mungkin mendapat
pertolongan setelah terjadinya gigitan sampai dapat dibuktikan bahwa tidak benar
adanya infeksi rabies.
[Link] Tersier.
Tujuan dari tiga tahapan pencegahan adalah membatasi atau menghalangi
perkembangan ketidakmampuan, kondisi, atau gangguan sehingga tidak berkembang
ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan intensif yang mencakup pembatasan
terhadap ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi. Apabila hewan yang
dimaksud ternyata menderita rabies berdasarkan pemeriksaan klinis atau
laboratorium perternakan, maka orang yang digigit atau dijilat tersebut harus segera
mendapatkan pengobatan khusus (Pasteur Treatment) di Unit Kesehatan yang
mempunyai fasilitas pengobatan Anti Rabies dengan lengkap.
[Link] RABIES

Ketika rabies telah di tahap menimbulkan gejala, kondisi tersebut sudah berbahaya
dan berpotensi besar menyebabkan kematian. Hingga saat ini, belum ada metode untuk
mengobati rabies pada tahap tersebut.
Rabies dapat dicegah dengan melakukan penanganan setelah tergigit hewan
yang berisiko menularkan virus, seperti memberikan penanganan awal pada luka
gigitan dan menerima serum serta vaksin anti rabies. Pada luka gigitan, penanganan
awal yang dimaksud meliputi:

 Membersihkan area luka dengan sabun.


 Pemberian antiseptik, seperti alkohol atau povidone iodine.
 Segera ke fasilitas kesehatan terdekat.

Jika memungkinkan, pasien harus melakukan pengamatan pada hewan yang


menggigit. Pengamatan dilakukan dengan mengurung hewan selama 10-14 hari, dan
melihat ada atau tidaknya gejala rabies pada hewan tersebut. Hal tersebut ditujukan
untuk menilai perlu atau tidaknya pemberian serum atau vaksin anti [Link]
pengamatan terhadap hewan yang menggigit, dokter juga akan menilai luka yang
dialami pasien. Penilaian terhadap luka, juga menentukan perlu atau tidaknya
seseorang mendapatkan vaksin atau serum anti rabies. Luka yang berisiko tinggi dan
perlu mendapatkan vaksin atau serum anti rabies adalah luka yang terletak di bagian
tubuh yang memiliki banyak saraf seperti leher, kepala, wajah, serta ujung jari tangan
dan kaki, atau luka tersebut cukup dalam dan jumlahnya lebih dari 1.

Apabila luka berisiko rendah dan hewan yang menggigit tidak menimbulkan
gejala rabies selama proses observasi, maka pasien tidak memerlukan serum atau
vaksin anti rabies. Namun, apabila luka yang dialami adalah luka berisiko tinggi,
serta hewan yang menggigit tidak dapat diobservasi atau selama observasi hewan
menimbulkan gejala rabies, pasien perlu menerima serum atau vaksin. Pemberian
serum dan vaksin anti rabies bertujuan untuk menetralkan virus rabies yang ada di
luka dan di dalam tubuh.

O. PENANGGULANGAN RABIES

a. Aturan Perundangan

Upaya pencegaan dan pengendalian rabies telah dilakukan sejak lama, di


Indonesia dilaksanakan melalui kegiatan terpadu secara lintas sektoral antara lain
dengan adanya Surat Keputusan Bersama 3 Menteri yaitu Menteri Kesehatan,
Menteri Pertanian, dan Menteri Dalam Negeri No: 279A/MenKes/SK/VIII/1978; No:
522/Kpts/Um/8/78; dan No: 143/[Link] aturan perundangan ini perlu
ditegakkan, agar pelaksanaan di lapangan lebih efektif dan secara tegas memberikan
otoritas kepada pelaksana untuk melakukan kewajibannya sesuai dengan aturan
perundangan yang ada, baik tingkat nasional, tingkat kawasaan, maupun tingkat
lokal.

b. Surveilans

Pelaksanaan surveilans untuk rabies merupakan dasar dari semua program


dalam rangka pengendalian penyakit ini. Data epidemiologi harus dikumpulkan
sebaik mungkin, dianalisis, dipetakan, dan bila mungkin segera didistribusikan
secepat mungkin. Informasi ini juga penting untuk dasar perencanaan,
pengorganisasian, dan pelaksanaan program pengendalian.

c. Vaksinasi Rabies

Untuk mencegah terjadinya penularan rabies, maka anjing, kucing, atau kera
dapat diberi vaksin inaktif atau yang dilemahkan (attenuated). Untuk memperoleh
kualitas vaksin yang efektif dan efisien, ada beberapa persyaratan yang harus dipenui,
baik vaksin yang digunakan bagi hewan maupun bagi manusia, yakni :

- Vaksin harus dijamin aman dalam pemakaian.


- Vaksin harus memiliki potensi daya lindung yang tinggi.
- Vaksin harus mampu memberikan perlindungan kekebalan yang lama.
- Vaksin arus mudah dalam cara aplikasinya.
- Vaksin harus stabil dan menghasilkan waktu kadaluwarsa yang lama.
- Vaksin harus selalu tersedia dan mudah didapat sewaktu-waktu dibutuhkan.

V. REGULASI TERKAIT

1. Regulasi Nasional

Peraturan perundangan yang menjadi landasan program pemberantasan Rabies antara


lain:
 Undang-undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan
Hewan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 84,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5015);
 Undang-undang Nomor 4 tahun 1982 tentang Wabah Penyakit Menular.
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3273);
 Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3482);
 Undang-undang Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan
Tumbuhan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495);
 Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3482);
 Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);
 Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 1973 tentang Pembuatan Persediaan,
Peredaran dan pemakaian Vaksin, Sera dan Bahan-bahan Diagnostika
Biologis Untuk Hewan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1973
Nomor 23);
 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 1977 tentang Pembuatan Penolakan,
Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan. (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 20, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3101);
 Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat
Veteriner. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 28,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3253);
 Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah
Penyakit Menular. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor
49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3447);
 Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 1992 tentang Obat Hewan. (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 129, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3509);
 Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagaian urusan
Pemerintahan Anatar pemritahana Daerah provinsi dan Pemerintahan
Kabupaten/Kota. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
 Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan.
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 161, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4002);
 Keputusan Bersama Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Menteri
Pertanian Republik Indonesia dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia
Nomor 279A/[Link]/SK/VIII/1978, Nomor 522/Kpts/UM/8/78 Nomor 143
Tahun 1978 tentang Peningkatan, Pemberantasan dan Penanggulangan
Rabies.
 Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Nomor
487/Kpts/UM/6/1981 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan
Penyakit Hewan Menular.
 Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Nomor
363/Kpts/UM/5/1982 tentang Pedoman Khusus Pencegahan dan
Pemberantasan Rabies.
 Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Nomor
1096/Kpts/TN.120/10/1999 tentang Pemasukan Anjing, Kucing, Kera dan
hewan Sebangsanya ke wilayah/Daerah Bebas Rabies di Indonesia.
 Intruksi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Nomor 32 Tahun 1982
tentang Koordinasi Bagi Pencegahan, Pemberantasan dan [enanggulangan
Rabies di Daerah.
 Intruksi Panglima ABRI Nomor ST/292/1993 tanggal 6 Oktober Tahun 1993
tentang peran serta ABRI Dalam Program pemberantasan Rabies.
 Intruksi Panglima ABRI Nomor ST/26/1994 tanggal 12 Februari Tahun 1994
tentang Tindak Lanjut ABRI dalam Mendukung keberhasilan Program
Pemberantasan Rabies Di Seluruh Indonesia.
 Surat Keputusan Bersama 3 Direktur Jenderal tahun 1989 ([Link] PUOD
no.443.4-531, Dirjennak No 24. Dirjen PPM dan PLP No.
Agno.366.I/PD.03.04) tentang Pelaksanaan Kegiatan Pembebesan Rabies di
Pulau Jawa dan Kalimantan, diperbahurui pada tahu 1993 untuk perpanjangan
kegiatan pembeebasan Rabies Se-Pulau Jawa dan Kalimanatan sekaligus
Pembebasan Pulau Sumatera dan Sulawesi kemudian diperbahurui lagi
dengan Surat Keputusan Bersama 3 Direktur Jenderal tahun 1999 (Dirjen
PPM dan PLP [Link].00-01-1.1554, Direjennak No 999, Dirjen POUD No
443.2-270) tentang Pelaksanaan Kegiatan Pembebesan dan Mempertahankan
Daerah Bebas Rabies DI Wilayah Republik Indonesia.
 Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan Nomor
59/Kpts/PD.610/05/2007 tahun 2007 tentang Jenis-Jenis Penyakit Hewan
Menular yang mendapat Prioritas Pengendalian dan atau Pemberantasannya.
 Surat Keputusan Direktur Jenderal Produksi Peternakan Nomor
95/TN.120/Kpts/DJP/DEPTAN tahun 2000 tentang Pedoman Teknis
Pemasukan Anjing, Kucing Kera dan Hewan sebangsanya dari Negara,
Wilayah/Daerah tidak bebas Rabies ke Wilayah Wilayah/Daerah bebas
Rabies.

2. Regulasi Internasional

Secara global tidak ada landasan hukum atau regulasi yang mengatur tentang
Pencegahan, pengendalian pemberantasan Rabies, tetapi terdapat Pedoman atau
referensi yang bersifat internasional. Referensi ini dikeluarkan oleh The World
Organisation for Animal Health atau lebih dikenal dengan sebutan Office
International des Epizooties (OIE). OIE merupakan organisasi antar pemerintah di
dunia (mempunyai anggota 176 negara dan territorial) dengan maksud untuk
melawan penyakit hewan pada level [Link] mengeluarkan referensi dan
pedoman (manual) yang dijadikan referensi bagi negara-negara angoota WTO
(termasuk Indonesia) dalam melakukan perdagangan internasional berkaitan dengan
hewan dan produk hewan (termasuk ikan).

Adapun referensi atau manual yang bersifat Internasional mengenai Rabies


terdapat pada Terestrial Animal Health Code dari OIE (TAHC OIE). TAHC OIE
adalah referensi untuk negara-negara anggota WTO untuk memastikan keamanan
dalam perdagangan internasional untuk hewan yang berada didarat (terestrial animal)
dan produk-produknya (termasuk produk peternakan dan produk-produk lainnya).
Code atau pedoman ini dibuat dengan memberikan arahan tentang tindakan-tindakan
berkaitan dengan kesehatan untuk digunakan oleh lembaga otoritas veternier suatu
negara dalam melaksanakan eksport dan import dengan negara-negara anggota WTO
lainnya dengan maksud untuk menghindari transfer agen pathogen kepada hewan
atau [Link] mengenai Rabies secara detail pada TAHC OIE tahun 2009 di
sebutkan pada Volume 2 tentang Recommendations applicable to OIE Listed
diseases and other diseases of importance to international trade pada Section 8 untuk
Multispecies Diseases.
BAB II

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh
virus, bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat. Hewan berdarah panas dan
manusia. Rabies bersifat zoonosis artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan
ke manusia dan menyebabkan kematian pada manusia dengan CFR (Case Fatality
Rate) 100%. Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan yang terinfeksi dan
disebarkan melalui luka gigitan atau jilatan.

Gejala rabies pada manusia biasanya diawali dengan demam, nyeri kepala, sulit
menelan, hipersalivasi, takut air, peka terhadap rangsangan angin dan suara,
kemudian diakhiri dengan kematian. Biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari
setelah terinfeksi.

Saran

Untuk mencegah penyakit ini dapat kita lakukan vaksinasi terhadap hewan-
hewan seperti Anjing, Monyet, Kucing, Musang, dll. Dan apabila terkena gigitan
hewan tersebut ada beberapa langkah untuk terhindar dari penyakit rabies diantaranya
sebagai berikut: Segera cuci luka dengan sabun atau deterjen dan bersihkan dengan
air bersih yang mengalir. Pencucian dilakukan berulang-ulang selama 5-10 menit
kemudian keringkan luka yang sudah bersih dan diberi betadine,obta merah atau
alkohol 70% .Tutuplah luka dengan kasa [Link] bawa ke puskesmas untuk
mendapatkan pengobatan [Link] dan bawalah hewan yang menggigit itu
ke dinas peternakan untuk diperiksa apakah hewan itu terkena penyakit rabies atau
tidak.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
%20rabies%[Link]

[Link]

[Link]

[Link]
gila/amp/.

[Link]

Anda mungkin juga menyukai