Nama Sekolah : SMA N 1 Be;imbing
Nama Penyusun : Joni Witarza, S. PdI
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu : 1 kali pertemuan @3JP
Tahun Pelajaran : 2025-2026
Peserta Didik :
Sebelum memulai pembelajaran, identifikasi kesiapan peserta didik dapat dilakukan sebagai berikut:
● Pengetahuan Awal: Peserta didik telah memiliki pemahaman dasar tentang kritik, saran, atau ungkapan ketidaksetujuan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Guru akan melakukan asesmen
awal untuk menggali pengalaman peserta didik dalam menyampaikan atau menerima kritik.
● Minat: Peserta didik memiliki minat terhadap isu-isu sosial, politik, atau budaya yang dekat dengan kehidupan mereka. Mereka juga mungkin tertarik pada bentuk-bentuk humor atau satire yang sering digunakan di media sosial atau
media massa untuk menyampaikan kritik. Guru dapat memancing minat dengan contoh-contoh kritik humoris yang relevan.
Identifikasi ● Latar Belakang: Peserta didik berasal dari latar belakang umum dan tidak memiliki kesulitan khusus dalam mencerna dan memahami materi ajar. Mereka mungkin memiliki pengalaman berbeda dalam menerima atau menyampaikan
kritik, yang dapat dijadikan bahan diskusi.
● Kebutuhan Belajar:
○ Auditori: Kebutuhan belajar auditori akan dipenuhi dengan menyajikan contoh teks anekdot/kritik humoris dalam bentuk audio/video, diskusi kelompok, dan guru memodelkan cara membaca yang ekspresif.
○ Visual: Kebutuhan belajar visual akan dipenuhi dengan menyajikan teks anekdot tertulis, menampilkan gambar/video karikatur atau meme kritik, serta penggunaan presentasi visual.
○ Kinestetik: Kebutuhan belajar kinestetik akan dipenuhi melalui kegiatan bermain peran (role-play), presentasi kelompok, atau simulasi penyampaian kritik humoris.
Materi Pelajaran : MENGUNGKAPKAN KRITIK LEWAT SENYUMAN
Dimensi Profil Lulusan :
1. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia: Melalui diskusi mengenai etika dalam menyampaikan kritik, menghindari fitnah, ujaran kebencian, dan menjaga kesantunan, serta menghargai
perbedaan pendapat sebagai bentuk toleransi dan akhlak mulia.
2. Bernalar Kritis: Peserta didik mampu menganalisis isu-isu sosial yang relevan untuk dikritisi, mengidentifikasi kritik tersirat dalam teks anekdot, mengevaluasi efektivitas penggunaan humor dalam menyampaikan kritik, dan
menggunakan logika dalam membangun argumen.
3. Kreativitas: Peserta didik mampu menghasilkan anekdot dengan ide-ide orisinal dan humor yang cerdas, serta berinovasi dalam memilih media dan cara mempresentasikan kritik melalui anekdot.
4. Kolaborasi/Bergotong Royong: Peserta didik bekerja sama dalam kelompok untuk menganalisis contoh anekdot, mendiskusikan isu yang akan dikritisi, dan saling memberikan masukan terhadap karya anekdot yang dibuat.
5. Kemandirian: Peserta didik mampu secara individual menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot, serta menyusun draf anekdot sesuai dengan ide-ide mereka.
6. Komunikasi: Peserta didik mampu menyampaikan kritik secara lisan dan tertulis dengan bahasa yang efektif, persuasif, dan humoris, serta memahami audiens dalam menentukan gaya penyampaian kritik.
Capaian Pembelajaran :
○ Mengenali Anekdot dan Kritik dalam Humor
Lintas Disiplin Ilmu :
● Sosiologi/Ilmu Sosial: Memahami isu-isu sosial, fenomena masyarakat, dan masalah-masalah publik yang sering menjadi objek kritik.
Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua • Hal. 38
● Pendidikan Kewarganegaraan: Membahas hak dan kewajiban warga negara dalam menyampaikan pendapat, serta pentingnya kritik yang membangun dalam demokrasi.
● Seni (Sastra, Karikatur, Komedi): Mengapresiasi dan menganalisis anekdot sebagai salah satu bentuk karya sastra, serta memahami unsur humor dalam karikatur atau pertunjukan komedi yang relevan dengan kritik sosial.
● Ilmu Komunikasi: Mempelajari strategi komunikasi yang efektif, cara menyampaikan pesan persuasif, dan memahami audiens.
Tujuan Pembelajaran : Pertemuan 1: Mengenali Anekdot dan Kritik dalam Humor (3 JP)
● Menyimak dan Membaca:
○ Mengidentifikasi ide pokok dan ide-ide penting yang disajikan dalam anekdot yang disimak.
Desain ○ Mengidentifikasi informasi penting dari paparan lisan tentang anekdot.
● Berbicara dan Mempresentasikan:
Pembelajaran
Menemukan kritik atau saran yang tersirat dalam anekdot yang disimak
Topik Pembelajaran :
● Pengertian, Fungsi, dan Ciri-Ciri Anekdot: Memahami karakteristik anekdot sebagai media kritik humoris.
● Kritik Langsung dan Tidak Langsung: Membedakan cara menyampaikan kritik dan memilih metode yang paling efektif.
● Struktur Teks Anekdot: Menganalisis bagian-bagian anekdot dan peran masing-masing dalam membangun cerita.
● Unsur Kebahasaan Teks Anekdot: Mengidentifikasi dan menggunakan kaidah bahasa yang mendukung humor dan kritik.
● Menulis Teks Anekdot: Menerapkan langkah-langkah penulisan anekdot berdasarkan isu sosial atau fenomena yang relevan.
● Mempresentasikan Anekdot: Menyajikan anekdot secara efektif, santun, dan humoris.
Praktik Pedagogis :
○ Model Pembelajaran: Berbasis Teks (Text-Based Approach) dan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning).
○ Pendekatan: Deep Learning (Mindful Learning, Meaningful Learning, Joyful Learning)
■ Mindful Learning: Peserta didik belajar fokus dalam menganalisis detail anekdot (struktur, kebahasaan), menyimak kritik tersirat, dan merenungkan isu-isu sosial yang relevan. Ini melatih kesadaran mereka terhadap konteks dan pesan
yang disampaikan.
■ Meaningful Learning: Pembelajaran menjadi bermakna karena peserta didik menghubungkan anekdot dengan isu-isu nyata di sekitar mereka, menggunakan anekdot sebagai alat untuk menyampaikan pendapat secara konstruktif dan
etis. Mereka juga memahami bahwa humor bisa menjadi jembatan komunikasi yang efektif.
■ Joyful Learning: Pembelajaran dirancang menyenangkan melalui analisis anekdot lucu, kegiatan menulis kreatif, diskusi tentang topik yang menarik, serta kesempatan untuk mengekspresikan diri secara humoris dalam presentasi. Guru
juga memberikan ruang untuk eksperimen dalam penulisan dan penyajian.
○ Metode Pembelajaran: Diskusi kelompok, tanya jawab, analisis teks, bermain peran, presentasi, dan penugasan.
○ Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi:
■ Diferensiasi Konten: Menyediakan beragam contoh teks anekdot (dari berbagai sumber, dengan tingkat humor dan kompleksitas isu yang bervariasi); menyediakan contoh karikatur atau meme kritik sebagai bahan analisis visual.
■ Diferensiasi Proses: Mengatur kelompok berdasarkan minat atau gaya belajar; menyediakan panduan penulisan anekdot yang berbeda levelnya (dari kerangka sederhana hingga panduan detail); memberikan pilihan aktivitas analisis
(misalnya, membuat peta pikiran, tabel, atau esai singkat).
■ Diferensiasi Produk: Memberikan kebebasan memilih media presentasi anekdot (lisan, tulisan, visual, audio); memungkinkan peserta didik menyajikan anekdot dalam berbagai format (teks, komik, video pendek, rekaman podcast
monolog).
Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua • Hal. 39
Kemitraan Pembelajaran :
○ Lingkungan Sekolah: Pemanfaatan fasilitas sekolah (perpustakaan, ruang diskusi) untuk mencari referensi atau berlatih presentasi.
○ Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Mengajak peserta didik mengamati isu-isu sosial di lingkungan masyarakat sekitar (misalnya, melalui berita di media massa) sebagai inspirasi kritik.
○ Mitra Digital: KBBI daring dan tesaurus daring untuk mencari informasi dan memahami kata baru. Aplikasi/platform digital seperti Google Docs, Canva, YouTube, TikTok, Spotify untuk menulis, mendesain, atau mempublikasikan
anekdot.
Lingkungan Pembelajaran :
○ Ruang Fisik: Ruang kelas yang fleksibel untuk diskusi kelompok dan presentasi. Papan tulis/whiteboard untuk memvisualisasikan struktur anekdot atau poin-poin penting.
○ Ruang Virtual: Akses internet untuk mencari contoh anekdot, referensi isu sosial, dan penggunaan aplikasi digital untuk penulisan serta publikasi karya.
○ Budaya Belajar: Mendorong budaya saling menghargai pendapat, berani menyampaikan kritik secara konstruktif, mengembangkan empati terhadap isu-isu sosial, dan menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi.
Pemanfaatan Digital :
○ Perpustakaan Digital/Sumber Daring: Komputer/Laptop dan akses internet untuk mencari contoh-contoh anekdot, artikel berita terkait isu sosial, atau referensi penulisan humor.
○ Alat Penulisan/Desain Digital: Google Docs untuk kolaborasi menulis, Canva untuk membuat infografis atau komik visual, aplikasi edit video/audio untuk membuat video pendek atau podcast anekdot.
○ Platform Publikasi: YouTube, TikTok, atau Spotify (jika memungkinkan dan relevan) untuk mempublikasikan karya anekdot multimodal.
Langkah-Langkah Pembelajaran
AWAL Prinsip pembelajaran yang digunakan, berkesadaran, bermakna, menggembirakan.
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
○ Pembukaan: Guru membuka pelajaran dengan salam, doa, dan mengecek kehadiran.
○ Apersepsi (Mindful Learning): Guru menampilkan beberapa gambar karikatur politik, meme lucu, atau potongan video stand-up comedy yang mengandung kritik. Guru bertanya: "Apa yang kalian lihat/dengar dari tayangan ini?"
"Menurut kalian, apa tujuan orang membuat hal-hal seperti ini?"
○ Pertanyaan Pemantik: Guru mengaitkan tayangan dengan konsep kritik dan humor. "Apakah kalian pernah merasa ingin menyampaikan kritik, tapi takut menyinggung perasaan orang lain?" "Bagaimana caranya kita bisa
menyampaikan kritik dengan cara yang santun dan bahkan lucu?"
○ Motivasi (Meaningful Learning): Guru menyampaikan bahwa dengan mempelajari anekdot, peserta didik akan dibekali keterampilan untuk menyampaikan kritik secara cerdas dan diterima, sebuah keterampilan komunikasi yang
sangat berharga dalam kehidupan bermasyarakat.
○ Penyampaian Tujuan Pembelajaran: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini (mengidentifikasi ide pokok, informasi penting, dan kritik tersirat dalam anekdot).
INTI 30 Menit
Pengalaman Pada tahap ini, siswa aktif terlibat dalam pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Guru menerapkan prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, menyenangkan untuk
Belajar mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar tidak harus dilaksanakan dalam satu kali pertemuan.
Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua • Hal. 40
Memahami
Asesmen Diagnostik (Assessment as Learning): Guru melakukan asesmen awal dengan menggali pengalaman peserta didik dalam menyampaikan atau menerima kritik. Contoh: "Ceritakan pengalamanmu saat menyampaikan
kritik kepada teman atau menerima kritik dari orang lain. Bagaimana perasaanmu saat itu?". Guru mencatat respons untuk memetakan pemahaman awal.
Mengaplikasi
Eksplorasi Konsep (Mindful Learning): Guru menyajikan sebuah teks anekdot yang relevan dengan kehidupan peserta didik (buku siswa, hlm. 16-17). Peserta didik diajak membaca dan menyimak dengan saksama.
Diskusi Kelompok (Kolaborasi & Bernalar Kritis): Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok. Setiap kelompok mendiskusikan ide pokok dan ide-ide penting yang disajikan dalam anekdot tersebut. (Diferensiasi proses:
Guru dapat memberikan panduan pertanyaan yang berbeda untuk kelompok dengan tingkat pemahaman awal yang berbeda).
Mengidentifikasi Kritik Tersirat (Bernalar Kritis): Setiap kelompok menganalisis anekdot untuk menemukan kritik atau saran yang tersirat di dalamnya. Guru membimbing diskusi agar peserta didik dapat mengidentifikasi
kritik yang tidak disampaikan secara langsung.
Presentasi Kelompok (Komunikasi): Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka, kemudian kelompok lain memberikan tanggapan atau pertanyaan.
Penguatan Konsep: Guru memberikan penguatan tentang pengertian, fungsi, dan ciri-ciri anekdot, serta perbedaan kritik langsung dan tidak langsung, berdasarkan hasil diskusi peserta didik.
Pembelajaran Berdiferensiasi:
■ Konten: Menyediakan anekdot dalam format teks, audio, atau visual (kartun/meme) sesuai preferensi belajar peserta didik.
■ Produk: Peserta didik dapat menyajikan hasil identifikasi ide pokok dalam bentuk daftar poin, peta konsep sederhana, atau presentasi lisan singkat.
Merefleksi
Refleksi (Mindful Learning): Peserta didik diajak merefleksikan pembelajaran: "Apa hal baru yang kalian pelajari hari ini tentang anekdot?" "Mengapa penting bagi kita untuk bisa menyampaikan kritik dengan cara yang santun?"
"Bagaimana perasaan kalian setelah mencoba mengidentifikasi kritik dalam anekdot?".
PENUTUP 5 Menit
○ Rangkuman: Guru bersama peserta didik merangkum materi yang telah dipelajari.
○ Tindak Lanjut: Guru memberikan tugas rumah untuk mencari contoh anekdot lain dari berbagai sumber (koran, majalah, internet) sebagai persiapan pertemuan berikutnya.
○ Penutup: Guru menutup pelajaran dengan salam dan doa.
○ Tanya Jawab: "Ceritakan pengalamanmu saat menyampaikan kritik kepada teman atau menerima kritik dari orang lain. Bagaimana
Asesmen pada Awal Pembelajaran: perasaanmu saat itu?" untuk menggali pengalaman dan pemahaman awal tentang kritik.
○ Kuis Singkat: Kuis singkat tentang pengertian dasar kritik atau humor melalui lisan/tertulis.
Asesmen ○ Tanya Jawab: Seputar materi yang sedang dibahas, seperti "Apa ide pokok anekdot ini?", "Di bagian mana krisis terjadi?".
Pembelajaran Asesmen pada Proses Pembelajaran: ○ Diskusi Kelompok: Penilaian partisipasi dan kontribusi peserta didik dalam diskusi mengidentifikasi ide pokok, kritik tersirat,
struktur, dan kebahasaan anekdot (menggunakan Rubrik Penilaian Diskusi Kelompok).
○ Latihan Soal/LKPD:
■ "Identifikasi kritik tersirat dalam anekdot yang disajikan!".
■ "Jelaskan fungsi dari setiap bagian struktur anekdot (abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, koda)!".
■ "Temukan setidaknya tiga unsur kebahasaan dominan dalam anekdot ini dan berikan contohnya!".
Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua • Hal. 41
○ Observasi: Pengamatan guru terhadap kemampuan peserta didik dalam menganalisis teks, menyampaikan pendapat, dan bekerja sama
Asesmen pada Akhir Pembelajaran: dalam kelompok.
○ Produk (Proses):
■ Draf kerangka anekdot.
■ Draf awal teks anekdot.
■ Catatan ide-ide kritik humor.
Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua • Hal. 42