0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan44 halaman

Proses Pengolahan Minyak Mentah Pertamina

Dokumen ini menjelaskan proses pengolahan minyak mentah di PT. Pertamina RU III, termasuk sumber bahan baku, spesifikasi, dan proses produksi yang melibatkan berbagai unit penyulingan dan bahan penunjang. Minyak mentah yang diolah berasal dari Sumatera Selatan dan harus memenuhi spesifikasi kadar air sebelum diproses. Selain itu, terdapat juga penjelasan mengenai produk non-BBM yang dihasilkan dari pengolahan tersebut.

Diterjemahkan oleh

ScribdTranslations
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan44 halaman

Proses Pengolahan Minyak Mentah Pertamina

Dokumen ini menjelaskan proses pengolahan minyak mentah di PT. Pertamina RU III, termasuk sumber bahan baku, spesifikasi, dan proses produksi yang melibatkan berbagai unit penyulingan dan bahan penunjang. Minyak mentah yang diolah berasal dari Sumatera Selatan dan harus memenuhi spesifikasi kadar air sebelum diproses. Selain itu, terdapat juga penjelasan mengenai produk non-BBM yang dihasilkan dari pengolahan tersebut.

Diterjemahkan oleh

ScribdTranslations
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

URAIAN PROSES

2.1 Bahan Baku


2.1.1 Bahan Baku Produksi
Bahan baku yang diolah PT. Pertamina (Persero) RUIII berupa minyak
mentah yang diperoleh dari daerah Sumatera Bagian Selatan. Sebagai pasokan
utama, minyak mentah disalurkan melalui pipa dari lapangan disekitar wilayah
Sumatera Selatan dan melalui kapal. Adapun perbandingannya adalah 70%
minyak mentah melalui pipa dari lapangan dan 30% minyak mentah melalui
kapaltanker. Jalur Penyaluran minyak mentah tersebut adalah :
1. Minyak mentah yang dikirim melalui sistem perpipaan adalah :
[Link] Palembang Selatan (SPD) dari DOH Prabumulih
[Link] Akar Pendopo Oil(TAP) dari DOH Prabumulih
[Link] Aspal Jambi (Minyak Parafin)
[Link]
[Link] Minyak Mentah (RCO) dari DOH Jambi
2. Minyak mentah yang dikirim menggunakan kapal tanker adalah :
a. Geragai Minyak Mentah (GCO) dari SantaFe, Jambi

b. Bula/ Klamono (BL/KL) dari Irian Jaya


[Link] Minyak Mentah(KSCO)
[Link] CrudeOil(SPO)
[Link] LightCrude(SLC)
[Link] Minyak Mentah (DCO)

Setiap minyak mentah dari sumber yang berbeda tersebut akan ditampung
Dahulu di dalam tangki penampungan. Minyak mentah tersebut sering kali
masih mengandung kadar air yang cukup tinggi, baik dalam bentuk emulsi
maupun air bebas. Adanya kandungan air dapat menyebabkan gangguan
dalam unit-unit pengolahan sehingga sebelum dimasukkan ke dalam unit CD
(Penyuling Kasar), minyak mentah harus dipisahkan dari air terlebih dahulu

16
17

[Link] minyak mentah yang boleh diumpankan ke dalam unit CD adalah


di bawah 0,5%-vol air.
Setelah memiliki kandungan air yang sesuai spesifikasi, minyak mentah
tersebut diumpankan ke Unit Distilasi Minyak Mentah dan Redistilasi yang berbeda sesuai

dengan komposisi dan sifat minyak tersebut. Minyak tersebut akan dijadikan
umpan pada Unit Proses Utama (Tabel 3) dan Unit Proses Sekunder (Tabel
4).
Tabel 3. Umpan Proses Utama
Satuan Kapasitas Pengolahan Sumber minyak bumi
CD-II 16,2 MBSD Kaji, Jene, SPD, TAP
CD-III 30,0 MBSD Ramba, Kaji, Jene
CD-IV 30,0 MBSD Ramba, Kaji, Jene
CD-V 35,0 MBSD SPD, TAP
CD-VI 15,0 MBSD Geragai, Bula, Klamono
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011
Tabel 4. Umpan Unit Proses Sekunder
Unit Sumber minyak bumi
HVU Sisa panjang
Minyak Gas Vakum Sedang
RFCCU (Minyak Gas Vakum Tinggi), dan sisa panjang
BB (Butana-Butilen) Unstab retak, kompresi, gas kondensat, dan
Penyuling gas residu
StabilizerC/A/B SR-Tops (Straight Run-Tops)
Unit Polimerisasi FreshBB (Butana-Butena)
Unit Alkilasi FreshBBdariBBDistiller
RawPP (Propanaee-Propilena) dari RFCCU
Pabrik Polipropilena (Unit Katalitik Patahan Cair Riser)
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011

2.1.2 Bahan Penunjang


Selain bahan baku utama, proses pengolahan juga membutuhkan bahan-
bahan penunjang lain (Tabel 5 dan 6), seperti katalis, solvent, dan bahan aditif yang
supporting the process of processing raw materials into products.
18

Tabel 5. Bahan-Bahan Penunjang


Material Unit Fungsi
H2SO 4 Alkilasi Katalis
BB Perawatan& Untuk proses perawatan untuk
NaOH Perlakuan Kaustik menghilangkan
sulfur senyawa
Silika alumina RFCCU Katalisperengkahan
Katalis Titanium Polipropilena Katalis utama
Tri Etil Alumunium(AT kat) Polipropilena Ko-katalis
CMMS Polipropilena Adjuvan katalis
Heksana Polipropilena Pelarut katalis
Ekstraktor padapurifikasiraw
DEA Polipropilena Propana propilen
AE-Stab, AH-Stab, AI-Stab
HA-Stab, HD-Stab, SA- Polipropilena Aditif penstabil
Stab, SB-Stab, SC-Stab
Gas N2 Polipropilena gas buang
Bahan bakar untuk
Minyak bakar, gas bakar Semua unit pembakaran dalam furnace
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011 unit

6
Bahan Kegunaan
Gas
Amoniak (NH3) Sebagai zat anti korosi pada sistem overhead
kolom distilasi.
2. Gas Panas Sebagai regenerator pengeringpada satuan
Polipropilena.
3. N2 Sebagai pendingin.
Sebagai pemutus dan penyambung rantai
4. H2 Polipropilena.

Aditif
MTBE dan TEL Untuk menaikkan bilangan oktan dari bensin.
2. Aditif Untuk memperbaiki sifat Polipropilena sehingga
sesuai dengan sifat yang diinginkan.
3. Topanol A Antioksidan aditif untuk polimer mogas unit
polimerisasi, aditif untuk produk Perawatan Tanaman
distilator crude bagian.
Sumber: Pertamina RU III Plaju, 2011
19

Tabel [Link] Bahan-Bahan Penunjang (Continuation)


Bahan Kegunaan
Bahan Kimia
H2JADI4 Sebagai katalis unit alkilasi.
2. Zeolit As a catalyst in RFCCU.
3. NaOH Sebagai perlakuan kaustik pada unit CD&L
alkilasi dan pengolah LPG.
4. P2O5 Sebagai katalis unit polimerisasi.
5. Al2(SO4)3, klorin air, Sebagai penjernih air pada unit utilitas.
koagulan asam, karbon
aktif, resin penukar ion
6. DEA Sebagai DEA ekstraktor pada unit
Polipropilena.
[Link] berat Sebagai oil (absorben) pada unit BB
distilasi.
8. LCGO Sebagai minyak (penyerap) pada unit
ujung ringan FCCU
9. Propana Sebagai regenerator dan pendingin pada DEA
sistem ekstraksi dancaustic, serta
sebagaichilling systempada unit alkilasi.
10. Katalis berbahan dasar Ti Sebagai katalis utama pada unit
Polipropilena.
11. Katalis TK,AT,OF As a ko-katalis pada unit
polipropilena.
12. Gel Silika Sebagai saringan molekul pada unit
Polipropilena.
[Link] Korosi Sebagai zat pencegah atau penghambat
korosi.
Inhibitor Skala Sebagai zat pencegah atau penghambat
pembentukan kerak.
[Link] Sebagai zat pencegah atau penghambat
tumbuhnya lumut, ganggang, dll.
Sumber: Pertamina RU III Plaju, 2011

2.1.3 Bahan Baku Produk Non BBM


Selain mengolah minyak mentah, kilang musi juga mengolah produk
antara/intermediate, berupa :
1. Bahan baku Naften (Bitumen Feed Stock) dari Cilacap.
2. Komponen mogas beroktan tinggi (HOMC) untuk pencampuran bensin motor
dari Cilacap dan Dumai.
[Link]-Propane-Propylen dari unit RFCCU untuk bahan baku produksi
Polipropilena.
20

2.2 Proses Produksi


2.2.1 Unit Penyulingan Minyak Mentah dan Pabrik Gas (CD-GP)
PT. Pertamina RU III memiliki 6 Penyulingan Minyak Mentah yaitu Penyulingan Minyak Mentah

(CD) II, III, IV, V, dan Redistiller I/II. Keenam unit tersebut terletak di kilang
Plaju. Pada unit ini juga terdapat unit Stabilizer C/A/B dan Straight Run Motor
Kompresor Gas (SRMGC), sedangkan di Pabrik Gas terdapat unit Butana-
Kompressor Gas Motor Butilen (BBMGC), Distilator Butana-Butilen (BB), Unit
Polimerisasi dan Unit Alkilasi. Selain itu terdapat unit-unit seperti
BBTreater, Caustic Treater, dan Sulfuric Acid Unit (SAU).
Proses yang dilakukan pada CD II, III, IV, V, dan Redistiller I/II disebut
proses primer yang bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen minyak
mentah secara fisik dengan cara distilasi. Pada awalnya Redistiller I/II berfungsi
untuk mendistilasi kembali minyak sloop (minyak tumpahan dan produk yang tidak memenuhi spesifikasi)

serta minyak mentah dengan spesifikasi khusus, tetapi kemudian diubah fungsinya
sehingga menjadi sama seperti CD.
Proses-proses yang dilakukan pada unit Polimerisasi, Alkilasi, Stabilizer
C/A/B, SRMGC, BBMGC, dan BBDistiller disebut proses sekunder. Proses ini
bertujuan menghasilkan produk-produk yang bernilai tinggi hasil dari proses
penuntun
Proses perlakuan dilakukan pada unit BBTreater, Caustic Treater dan SAU.
BBTreater bertujuan mengurangi kandungan sulfur pada Butana-Butilena.
Caustic Treater bertujuan mengurangi kandungan sulfur dan merkaptan pada
produkGasoline. SAU bertujuan meningkatkan konsentrasi asam sulfat ex katalis
unit alkilasi sehingga dapat digunakan lagi sebagai katalis pada proses alkilasi.

Distilator Mentah II (CD-II)


CD-II memiliki kapasitas 2600 ton/hari. Fungsi CD-II ini adalah untuk
memisahkan fraksi-fraksi tertentu pada minyak mentah. Umpan unit berasal dari
Sumatera Light Crude (SLC) dan Jene Crude.
Unit ini terdiri atas 5 kolom fraksionator dan 1 kolom Evaporator yang
bekerja pada kondisi operasi masing-masing (Tabel 8). Umpan dipanaskan pada
furnaceI dan dimasukkan pada kolom evaporator. Fasa gas akan masuk pada
21

kolom I dan fasa cair masuk ke Furnace II untuk dipanaskan yang selanjutnya
masuk ke kolom [Link] atas kolom I masuk ke kolom V,side streammasuk
ke kolom II, sedangkan produk bawah ditampung ke Side Striper (LCT stripper)
Produk atas kolom II dimasukkan tangki Akumulator 8-7 yang sebagian
dikembalikan ke kolom I sebagai reflux dan sebagian lagi sebagai produk gas.
Produk bawah kolom II dikondensasikan dan keluar sebagai produk LKD (Cahaya
Kondensat kerosene). Produk atas kolom V dikondensasikan dan ditampung pada
tangki akumulator 8-8. Aliran gas yang tidak terkondensasi dibagi menjadi dua.
Aliran pertama sebagai produk gas, sedangkan aliran lainnya dikondensasikan
kembali sehingga menghasilkan Crude Residual (CR) Butane. Gas yang tidak
terkondensasi dijadikan sebagai produk gas. Produk atas kolom V yang
tertampung pada tangki Akumulator 8-8 sebagian dikembalikan ke kolom V
sebagairefluxdan sebagian keluar sebagai produk atasStraight Run(SR).Side
streamkolom V masuk ke kolom III. Produk bawah kolom V dikembalikan ke
kolom I sebagai reflux. Kolom III yang memiliki umpan dari side stream kolom V
menghasilkan produk bawah berupa Naphta II/III dan produk atas berupa gas
yang dikembalikan ke kolom [Link] atas kolom IV didinginkan dan
dimasukkan ke tangki akumulator 8-6. Dari tangki ini, sebagian di-reflux dan
sebagian dimasukkan ke kolom I. Side stream kolom IV dimasukkan ke LCT
Stripper bersama-sama dengan produk bawah kolom I. Produk bawah kolom IV
didinginkan dan menghasilkan produk Long Residue. Produk bawah kolom I dan
aliran samping kolom IV yang tertampung pada LCT Stripper sebagian dimasukkan
kembali ke kolom IV sebagai reflux dan sebagian sebagai produk Light Cold Test
untuk Gas Oil (LCT), yang merupakan komponen produk solar (Tabel 9).
Tabel 8. Kondisi Operasi Kolom CD II
Temperatur °C Tekanan
Peralatan
Atas Bawah (kg/cm2)
Kolom-I 95 155 2
Kolom-II 145 141 0,5
Kolom-IV 230 350 1.2
Kolom-V 71 169 0.3
OutletF-I 266 - -
Sumber: Pertamina RU III Plaju, 2011
22

Tabel 9. Produk CD II
Produk %wt
Gas (ke unit SRMGC) 0,9
Butana Kasar 1.2
SRTops 1.14
NapthaII 10.40
LKD 7.35
LCT 23.02
Sisa Panjang 50,91
Sumber: Pertamina RU III Plaju, 2011

[Link] Kasar III (CD-III)


Umpan masuk CD III berupa campuran JeneCrude Oil, RambaCrude Oil
dan SLCCrude [Link]-III memiliki kapasitas 4000 ton/[Link] ini terdiri dari
tiga kolom distilasi dan satu Stabilizer yang bekerja pada kondisi masing-masing
(Tabel 10). Sebelum diproses, dilakukan peningkatan temperatur umpan (pre-heat)
dengan empat buah Heat Exchanger. Umpan pertama kali masuk ke Stabilizer 1
4. Produk atas Stabilizer 1-4 didinginkan sehingga terbentuk dua fasa, yaitu cair
dan gas. Aliran fasa cair dibagi dua, sebagian masuk kembali ke Stabilizer1-4
sebagairefluxdan sebagian sebagai produk Crude Butane. Fasa gas sebagai
produk, dialirkan ke unit SRMGC. Produk bawahstabilizer1-4 masuk sebagai
umpan kolom I-1. Reboiling pada Stabilizer 1-4 dilakukan menggunakan Furnace
I yang sama-sama digunakan oleh kolom [Link] atas kolom I-1 sebagian
menjadi umpan kolom I-3 dan sebagian dikembalikan sebagai reflux. Side stream
kolom I-1 masuk ke Side Stripper 2-5. Dari Side Stripper sebagian keluar sebagai
produk berupa Naphta III dan sebagian masuk kembali ke kolom I-1. Reboiling
pada kolom I-1 dilakukan oleh Furnace I yang juga merupakan Reboiler pada
StabilizerI-4. Produk bawah kolom ini sebelum masuk sebagai umpan kolom I-2
dipanaskan oleh Furnace II yang juga merupakan Reboiler kolom I-2. Produk atas
kolom I-3 didinginkan dan dimasukkan ke tangki akumulator 8-3. Dari tangki ini
sebagian dikeluarkan sebagai produk SRtops dan sebagian sebagai gas. Produk
atas kolom I-2 didinginkan dan kemudian ditampung pada tangki akumulator 8-2.
Dari tangki akumulator 8-2 aliran dibagi menjadi dua. Aliran pertama
dikembalikan sebagai reflux dan aliran lainnya sebagai produk LKD. Pada kolom
23

I-2 ini terdapat 3 aliranside stream yang masing-masing mengalami 2 proses


pendinginan dan masing-masing menghasilkan produk. Aliran sisi kolom
I-2 paling atas berupa Heavy Kerosene Distillate (HKD), Light Cold Test Gas Oil
(LCT) dan Heavy Cold Test Gas Oil (HCT). Produk bawah kolom I-2 ini
menghasilkan residu panjang yang dikirim ke Unit Vakum Tinggi (HVU). Reboiling
kolom I-2 dilakukan menggunakan Furnace II yang juga digunakan untuk
memanaskan umpan kolom I-2.

[Link] Kasar IV (CD IV)


Unit CD IV memiliki sistem pemrosesan produk serta perolehan (Tabel
11) produk yang sama dengan CD III. Namun penggunaan umpan di keduacrude
distillerini [Link] IV hanya menggunakan umpan RambaCrude Oildan
SLCCrude Oilsaja.
Tabel 10. Kondisi Operasi CD III dan CD IV

Temperatur0C Tekanan
Peralatan
Atas Bawah ([Link]-2)

Kolom I 143 273 1,5


Kolom II 234 336 0,3
Kolom III 93 - 1,8–2,2
Stabilizer 97 185 2,8
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011

Tabel 11. Produk dan Perolehan CD III dan IV


Hasil (%bb)
Produk
CD-III CD-IV
Gas 0,520 2.140
CRButana 0,500 1.100
SRTops 3.040 5.840
Naphta-II 5.020 8.900
Naphta-III 1.700 4.930
LKD 15,70 9.980
HKD 7.610 7.460
LCT 7.690 8.810
HCT 3.370 2.830
Sisa 54,45 47,77
Kehilangan 0,900 0,250
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011
24

4. Penyuling Kasar V (CD V)


Umpan dari unit ini adalah minyak mentah yang berasal dari Selatan
Distrik Palembang (SPD) dan Talang Akar Pendopo (TAP). Unit ini mengolah
minyak mentah sehingga menghasilkan beberapa produk (Tabel 12).
Tabel 12. Produk dan Perolehan CD V
Produk Hasil (%Wt)
Gas 1,33
SRTops 1,74
Naphta-I 8,19
Naphta-II 7,50
Naphta-IV 2,96
LKD 5,27
HKD 6,82
LCT 6,77
HCT 8,19
Sisa 50,91
Kehilangan 0,32
Sumber: Pertamina RU III Plaju, 2011
Minyak mentah dari tangki R dibagi menjadi dua aliran. Aliran pertama
dibagi kembali menjadi dua aliran dan mengalami sejumlah pemanasan kemudian
masuk ke dalam kolomflashdengan kondisi operasi (Tabel 13) yang telah di
desain. Fasa gas dari kolomflash masuk sebagai umpan kolom 1-1 pada tray 10
dan fasa cairnya dipanaskan dengan menggunakan FurnaceF2C1 dan masuk juga
sebagai umpan padatray6. Aliran kedua dari tangki R dipanaskan pada
preheaterdanFurnaceF2C1. Setelah mengalami pemanasan aliran digabungkan
dengan aliran fasa cair keluaran kolom flash sebagai umpan kolom 1-1. Produk
atas kolom 1-1 masuk ke kolom 1-3 sebagai umpan (Tabel 10). Side stream kolom
1-1 yang keluar dari tray30 dipompa dan didinginkan untuk kemudian
dikembalikan sebagai inter volume reflux (pump around). Side stream dari tray 20
masuk keside [Link] gas dikembalikan ke kolom 1-1 sebagai refluks,
sedangkan fasa cair didinginkan sebagai produk LKD. Produk bawah kolom 1-1
dipanaskan oleh FurnaceF2C2 dan dialirkan sebagai umpan kolom 1-2. Produk
atas kolom 1-3 dikondensasikan dan masuk ke tangki akumulator [Link] yang
tidak terkondensasikan dijadikan sebagai produk gas, sedangkan sebagian
kondensat direfluks dan sebagian dipompakan sebagai umpan kolom [Link]
25

streamkolom ini masuk keside [Link] gas dikembalikan ke kolom dan


fasa cair didinginkan kemudian dijadikan produk Naphta II. Produk bawah kolom
1-3 didinginkan sebagai produk Naphta IV. Produk atas kolom 1-2 ditampung
pada tangki akumulator kolom 8-3 dan dijadikan produk HKD. Side stream yang
keluar dari tray 3-2 didinginkan dan sebagian dikembalikan sebagai inter vol.
Refluxdan sebagian menjadi produk BGO (BandungGas Oil) atau SGO (Special
Gas Oil). Aliran samping yang keluar dari tray 24 masuk ke side stripper 2-1. Fasa

gas direfluks kembali dan fasa cair didinginkan sebagai produk [Link] stream
yang keluar dari tray 17 masuk ke side stripper 2-3. Fasa gas direfluks kembali
dan fasa cair didinginkan sebagai produk HCT. Produk bawah didinginkan
dengan sejumlah HE dan dijadikan Long Residue, sebagian masuk HVU, sebagian
sebagai (Low Sulphuric Waxy Residue) LSWR. Produk atas kolom 1-4
dikondensasi. Produk yang tidak terkondensasi dijadikan produk gas untuk
kemudian masuk SRMGC, sedangkan kondensat sebagian dikembalikan ke kolom
1-4 dan sebagainya dijadikan produk SR TOP. Produk bawah dijadikan produk Naptha.
Saya.
Tabel 13. Kondisi Operasi CD V
Suhu0C Tekanan
Peralatan
Atas Dasar ([Link]-2)
Kolom I 150 243 1,5
Kolom II 200 340 0,2
Kolom III 105 160 0,8
Kolom V 70 100 0,8
Sumber: Pertamina RU III Plaju, 2011

5. Redistiller I/II
Re-DistillerI/II awalnya dibangun tahun 1937 (Red-I) dan 1940 (Red-II)
dengan kapasitas masing-masing 600 ton/hari untuk mengolah produk off-spec.
Kemudian dilakukan modifikasi untuk mengubah fungsinya untuk mengolah
minyak mentah. Kedua kolom ini digabung dimana Red-I sebagai kolom-1 dan
Red-II sebagai kolom-2. Kapasitas pengelolahannya adalah 1435 ton/hari.
Umpan unit ini berasal dari SPD dan SLC yang menghasilkan produk beserta
perolehan dari Re-DistillerI/II (Tabel 14).
26

Tabel 14. Produk dan Perolehan Re-DistillerI/II


Produk %-berat
Gas 1.49
Naphta 14,99
Avtur 7,80
Solar (ADO) 14,89
Sisa Panjang 60,83
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011

Umpan minyak mentah mengalami sejumlah pemanasan (pre-heating)


sebelum masuk ke Furnace-I (F1C1) untuk menaikkan temperatur menjadi 258°C
dan masuk ke Kolom 1-1. Produk atas akan didinginkan dan masuk ke tangki
akumulator 8-1. Gas yang tak terkondensasi dijadikan produk Gas, sedangkan
yang terkondensasi sebagian di-reflux dan sebagian sebagai produk Naphta.
stream yang keluar dari tray 19/20/21/22 masuk ke Avtur Side Striper 2-1 dengan
5 tray untuk memperbaiki flash point produk Avtur. Avtur Stripper dilengkapi
dengan Reboiler E-4. Produk Stripper ini adalah Avtur. Reboiling Kolom 1-1
dilakukan pada Furnace-I (F1C2). Sedangkan produk bawahnya masuk sebagai
umpan pada Kolom 1-2 pada tray-13. Produk atas Kolom 1-2 didinginkan dan
masuk pada tangki akumulator 8-2 dengan totalreflux. Aliran dari tangki
akumulator 8-2 sebagian direflux dan sebagian sebagai produk Automotive Diesel
Minyak (ADO). Reboiling dilakukan pada Furnace-II (F2C2). Sedangkan produk
bawah kolom ini adalah Sisa Panjang.

Pabrik Gas
a. Bahan Bakar Motor Butana-Butilen (BBMGC)
Unit ini berfungsi untuk meningkatkan tekanan umpan BB-Distiller
menjadi 20 kg/cm2Umpan berupa gas yang berasal dari SRMGC masuk ke
tank 1201. Fasa cair (kondensat) akan ditingkatkan tekanannya dengan dan
dijadikan umpan Absorber 1-1 pada unit BB Distiller, sedangkan fasa gas dari
Tangki 1201 akan ditingkatkan tekanan dari 4 kg/cm2menjadi 22 kg/cm2
menggunakan Kompressor. Kemudian aliran didinginkan pada Coolers setelah
mengalami peningkatan temperatur pada Kompresor, selanjutnya aliran masuk
ke Tangki Akumulator 8-1/2/3/4. Gas dari Tangki Akumulator 8-1/2/3/4 akan
27

disatukan sebagairesidual gas, umpan dari unit BB-Distiller. Produk cair yang
terbentuk akibat penurunan temperatur masuk ke Tangki Akumulator 8-5, dimana
produk gas dari tangki ini akan digabungkan ke dalam unit SRMGC.

[Link] (Butana-Butilena) Distilator


Unit ini berfungsi untuk memisahkan gas hidrokarbon ringan ex CD. Unit
ini terdiri dari kolomAbsorber1-1, Depropanizer1-2, Debuthanizer1-3, Dan
[Link] yang berasal dari gas residual (BBMGC), komprimat,
kondensat, danunstab. Retak masuk dalam Kolom Absorber 1-1. Tekanan
operasi kolom ini adalah 20 kg/cm2, sedangkan temperatur bawah kolom 110°C
dan temperatur atas 40°C. Sebagai Absorber digunakan lean oil yang merupakan
produk bawah kolom Stripper 1-4. Tekanan operasi kolom ini tinggi agar proses
absorpsi C3dan fraksi berat lain dapat berjalan baik mengingat semakin tinggi
tekanan semakin besar daya serap gas. Selain itu agar Propane dapat
dipisahkan pada kolom Depropanizer 1-2 berikutnya. Gas C 3dan yang lebih berat
diabsorbsi oleh lean oil dan keluar dari bagian bawah Absorber, masuk ke Surge
Tank9-1, sedangkan gas C 1dan C2tidak terabsorb dan masuk ke Surge Tank9-4
Sebagai gas penyulingan. Dari Tangki Surge 9-1 aliran akan masuk ke kolom.

Depropanizer1-2. Aliran dari kolom 1-1, 1-2, 1-3, dan 1-4 berjalan berdasarkan
beda tekan yang ada pada masing-masing kolom. Tekanan kolom 1-2 ini adalah
17 kg/cm2dengan temperatur bawah 120°C dan atas 42°C. Pada kondisi ini
makaliquidPropana(C3) dapat dipisahkan sebagai produk atas. Gas yang
terbentuk pada akumulator 8-11 akan digunakan sebagai refinery gas. Komponen
C4dan yang lebih berat akan keluar sebagai produk bawah dan diumpankan ke
[Link] operasiDebutanizeradalah pada tekanan 6
kg/cm2dan temperatur bawah 120°C sedangkan temperatur atas 50°C. Pada
kondisi ini, butana dan i-C 4(FBB) akan didapatkan sebagai produk atas
sedangkan komponen-komponen C 5dan yang lebih berat akan keluar sebagai
produk bawah dan masuk ke [Link] KolomStripperdengan
tekanan 0,7 kg/cm2, maka sebagian fraksi, terutama pentana, akan menguap
menjadi produkStabCRTOPS(sebagai LOMC). Produk bawah kolomStripper
28

adalah minyak yang digunakan untuk mengabsorb umpan pada kolom Absorber (lean
Produk-produk yang dihasilkan pada unit ini adalah :
1. Refinery gas sebagai bahan bakar furnace
2. Propana cair sebagai LPG
3. FBB (Butanedan i-C 4) sebagai LPG
[Link]. CR TOPS sebagai LOMC

[Link] (Butana-Butilena) Perawatan


Butane-Butylene Treater berfungsi untuk mengurangi kandungan
merkaptan dan amina pada Butana-Butilena Segar ex Distilator Butana-Butilena
dan Butana-Butilena ex Stabilisator-3 FCCU Sungai Gerong. Merkaptan dan amina
tersebut merupakan racun bagi katalis pada proses polimerisasi.
Umpan Butana-Butilen dari Distilator Butana-Butilen atau FCCU
dicampur dengan Soda Kaustik (NaOH) untuk kemudian dialirkan ke Kaustik
Pendatang. Di sini merkaptan akan bereaksi dengan NaOH dengan reaksi seperti
berikut :
RSH + NaOH RSNa + H2O

Caustic Soda yang masih memiliki konsentrasi tinggi akan berada di bagian
bawah Caustic Settle yang kemudian akan disirkulasi dan sebagian dibuang. Dari
bagian atasCaustic SettlerkeluarButane-Butylene, yang kemudian masuk ke
dalam Water Settler untuk dikurangi kandungan airnya. Setelah masuk ke dalam
Dua buah Water Settler BB siap digunakan baik untuk proses polimerisasi, alkilasi
atau langsung sebagai komponen LPG.

2.2.2 Unit Penyulingan Minyak Mentah dan Hasil Ringan (CD-L)

Secara garis besar, seksi CD & L mempunyai dua fungsi utama, yaitu :
a. CD & L berfungsi dalam penyiapan produk BBM dan Petrokimia,
khususnyayaitu produk atau bahan dalam bentuk setengah jadi.
b. CD & L berfungsi sebagai koordinator Gas Campuran.
CD & L terdiri dari 4 (empat) komponen utama, yaitu Crude Distiller-VI
(CD-VI), Unit Vakum Tinggi II (HVU-II), Riser-Katalitik Crackin yang Terfluidisasi

Unit (RFCCU), dan Light End Unit.


29

Distilator Kasar VI (CD-VI)


CD-VI ini digunakan untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak bumi yang
berasal dari Ramba, berdasarkan destilasi [Link] pengolahan CD-
VI ini adalah 15.000.000 barrel per hari kalender (15MBCD). Produk yang
Dihasilkan adalah gas, Naptha, Kerosene, ADO, dan Long Residue. Di dalam unit
CD-VI terdapat Sub-Unit Redistiller III/IV. Redistiller III/IV ini digunakan untuk
mengolah ulang produk minyak yang tidak memenuhi spesifikasi. Saat ini
Redistiller telah dimodifikasi untuk dapat mengolah minyak mentah Sumatera
Minyak Mentah Ringan (SLC). Modifikasi ini terjadi karena menurunnya jumlah minyak yang

terbuang atau tidak memenuhi spesifikasi.


[Link] Vakum Tinggi II (HVU II)
HVU II ini digunakan untuk mendapatkan kembali fraksi ringan yang
terdapat dalam Long Residue yang berasal dari CDU dan RDU. Tekanan yang
digunakan sekitar 70 [Link] produksi HVU II adalah 54 MBCD,
dengan produk sebagai berikut :
a. Produk atas berupa Light Vacuum Gas Oil (LVGO) yang digunakan sebagai
komponen motor gas.
b. Produk tengah berupa Medium Vacuum Gas Oil (MVGO) dan Heavy Vacuum
Gas Oil (HVGO). Produk tengah ini merupakan umpan RFCCU.
c. Produk bawah berupa Residue Lilin Sulfur Ringan (LSWR).

3. Unit Pemecahan Katalitik Cair Riser (RFCCU)


Tujuan utama proses cracking adalah mengkonversi Medium Vacuum Gas
OildanHeavy Vacuum Gas Oil(M/HVGO) dari HVU dan minyak berat (long
residu) menjadi produk minyak ringan yang memiliki nilai lebih tinggi. Produk
utama yang dihasilkan keluaran dari RFCCU adalah :
a. Propana-Propilen Mentah, sebagai bahan baku polipropilen.
b. Propan dan Butana, sebagai komponen LPG.
[Link](HOMC).
Selain itu, RFCCU juga menghasilkan produk sampingan, yaitu :
[Link] kering bahan bakar penyulingan.
[Link] Cycle Oil, sebagai thinner dan komponen blending LSWR.
30

[Link] sebagai komponen utama LSWR.


[Link], yang terdeposit pada katalis.

Deskripsi proses dari unit RFCCU dapat dilihat dari penjelasan berikut ini :
Sistem Pakan
Umpan RFCCU terdiri dari campuran antara VGO dan Residue Panjang
dengan perbandingan 165.000 BPSD VGO dan 4.000 BPSD Long Residue. VGO
yang berasal dari HVU dengan temperatur 2200C dipompakan ke vessel bersama-
sama dengan Long Residue dari CD II/III/IV/V Plaju dengan temperatur 1500C.
Untuk mencapai temperatur yang sesuai untuk reaktor umpan maka umpan tersebut
dipanaskan di Furnace FC F-2 sehingga mencapai temperatur 331 0C. sebelum
masukReactor, umpan diinjeksi dengan Antimonydengan kecepatan 0,75–2,1
kg/jam untuk mencegah adanya pengaruh kandungan logam dalam umpan terhadap
Katalis. Konten logam tersebut dapat menyebabkan deaktivasi katalis.

b. Reaktor dan Regenerator


Umpan dengan kapasitas 120.600 kg/jam dan temperatur 3310C
diinjeksikan ke dalam Riser menggunakan 6 buah injector untuk direaksikan
dengan katalis dari Regenerator pada temperatur 650–7500C. Reaksi terjadi pada
seluruh bagian Riserdengan temperatur [Link] memperoleh sistem
fluidisasi dan densitas yang baik, maka Riser diinjeksikan dengan MP Steam. Di
atasfeed injectordipasang tiga buah MTCInjector Oil(HCO) atauHeavy
Naphha. HCO digunakan untuk menambah terbentuknya Cokepada katalis.
sehingga dapat menaikkan temperatur Regenerator, sedangkan Heavy Naphta
diperlukan untuk menaikkan selektivitas cracking. Tiga buah Cyclone mempunyai
satustagedipasang pada Reactordengan Existing Plenum Chamberuntuk
meminimalkan terbawanya katalis ke kolom fraksionasi. Uap stripping
diinjeksikan ke daerah Stripper untuk mengurangi kadar minyak dalam katalis
sebelum disirkulasikan ke Regenerator. Hasil cracking yang berupa uap
hidrokarbon dialirkan dari reaktor ke Main Fractionator untuk dipisahkan fraksi-
Fraksinya. Katalis yang telah digunakan dari reaktor disirkulasikan ke Regenerator yang dikontrol.
oleh Valve Geser yang Dibelanjakan (SSV) untuk diregenerasi. Untuk memperlancar aliran
31

katalis yang dihabiskan dan pipemaka dialirkan Control Air Blower (CAB) dengan laju
alir 7.000 kg/jam dengan tekanan 2,49 kg/[Link] katalis dilakukan
dengan mengoksidasi kepada katalis dengan udara yang disuplai oleh Main
Air Blower (MAB). Gas buang hasil pembakaran kemudian masuk ke lima buah
Cyclone yang memiliki dua stage untuk memisahkan partikel-partikel katalis yang
terbawa. Gas Buang dengan temperatur 6760C yang keluar dari stack tersebut
dimanfaatkan panasnya di Flue Gas Cooler untuk membangkitkan steam HHP.
Temperatur fase encer sedikit lebih tinggi daripada temperatur fase padat, yang
disebabkan oleh adanya reaksi oksidasi CO. dengan adanya kondisi tersebut,
maka perlu diperhatikan konsentrasi oksigen sebagai udara pembakar. Semakin
banyak kandungan oksigen atau berkurangnya Cokeyang terbentuk, maka akan
tercapai kondisi temperatur fase encer yang tinggi (>7000C) sehingga terjadi
kondisi setelah pembakaran yang menyebabkan meningkatnya temperatur secara
mendadak sehingga dapat merusak peralatan dan catalyst lost melalui stack.

c. Fraksionator Utama
Gas hasil cracking dengan temperatur 5200C dialirkan ke bawah kolom
Fraksionator Utama (FC-T1). Produk bawah dari Fraksionator Utama yang
berupaslurry oilditarik dengan pompa FC P-4 menuju ke HE FC E-2 untuk
memanaskan umpan. Produk atas (uap di atas) dari Fractionator Utama
ditransfer ke kolom Sekunder Fraksinator FC T-20. Produk bawah
Fraksi Sekunder yang berupa (Light Crude Oil) LCO dibagi menjadi dua
aliran yaitu internal reflux dan sebagai umpan pada kolom Stripper FC T -
2. Reflux internal dikembalikan ke kolom Primary Absorber yang dikontrol oleh
LIC 2005. Tujuh sisi aliran dari kolom Fraksionator Sekunder digunakan
sebagai reflux dan Total Pump Around (TPA). Reflux dikembalikan ke Sekunder
Fraksionari yang dikontrol oleh level control LIC 2006. Sedangkan TPA
dipompakan ke Sponge Absorber FLRS T-402 sebagai Lean Oilyang sebelumnya
didinginkan oleh HE FLRS E-405. Aliran TPA dikontrol oleh FIC 2003,
sedangkan temperatur dikontrol oleh TIC 2004 dengan mengoperasikan Kipas Udara
CoolerFC E-21 (Pendingin Pompa Atas). TPA kemudian dikembalikan ke
puncak kolom Sekunder Fraksionator setelah dicampur dengan minyak kaya dari
32

Sponge Absorber. Uap overhead dari kolom Fraksinasi Sekunder yang


berupa gas dan Gasolinedikondensasikan dengan Partial Condenser setelah
dicampur dengan air cuci. Cairan terkompresi dan uap kemudian ditampung
dalam drum FC D-20. Setelah dipisahkan dari kandungan air, cairan terkondensasi
dan vapor tersebut ditampung dalam Distillate Drum FC D-7. Setelah dipisahkan
airnya, makacair terkompresi (bensin yang tidak distabilkan) ditarik dengan pompa dan
dipisahkan menjadi dua aliran, yaitu sebagai overhead reflux dan produk Gasoline
yang kemudian dikirim ke Penyerapan Utama FLRS T-401. Reflux overhead
dikontrol oleh temperatur kontrol TIC-3 pada puncak Sekunder Fraksionator.
Tekanan Rendah Vapor (gas basah) dari Drum Distilat FC D-7 ditransfer ke Wet
Kompresor Gas FLRS C-101 dan akan dipisahkan kondensatnya di vessel
drum hisap kompresi FLRS D-401. Tekanan Fraksionator Utama dikontrol
oleh PIC-1 yang dipasang pada Jalur Gas Basah.

Unit Akhir [Link]


Flue gasyang berasal dari FLRS D-401 dihisap dengan Gas Basah
CompressorC-101 dan dimasukkan ke dalam vessel interstage receiver (FLRS D-402).
Sebagian gas keluaran compressor stage I disalurkan ke inlet Partial Condenser
FC E-4 untuk mengatur tekanan keseimbangan gas keluar Reaktor dari FLRS D-402
dengan temperatur 380C dan tekanan 3,72 kg/cm2g dihisap oleh tahap kompresor
II dengan temperatur 1100C dan tekanan 15 kg/cm2g kemudian bergabung
dengan aliran-aliran :
[Link] Atas StripperFLRS T-403,
2. Produk kolom bawah Primary Absorber FLRS T-401, dan
3. Cuci air dari VesselBottom FLRS D-402.
Gabungan keempat aliran tersebut dengan temperatur 720C sebelum masuk
Penerima Tekanan Kapal Tinggi FLRS D-404 didinginkan terlebih dahulu
dengan Kipas Pendingin Air FLRS E-401 (suhu outlet 560C) dancoolerFLRS E-
402 hingga diperoleh temperatur akhir [Link] dari Vessel FLRS D-404 dengan
temperatur 380C dan tekanan 14,7 kg/cm2g, diumpankan ke kolomPrimary
AbsorberFLRS T-401 dengan menggunakan Naphta dari Distillate Drum FC D-7
sebagai Absorber. Gas dari overhead kolom Primary Absorber FLRS T-401
33

selanjutnya dimasukkan ke Sponge Absorber FLRS T-402. Sebagai Absorber


digunakan Lean Oil (dari Secondary Fractionator). Liquid dari vessel FLRS D-404
dialirkan dengan pompa menuju ke kolom Stripper FLRS T-403. Sebelum masuk
kolom fluida tersebut dipanaskan terlebih dahulu di HE FLRS E-406 hingga
temperaturnya menjadi [Link] dari kolom Stripper FLRS T-403 dengan
temperatur 1220C dan tekanan 12 kg/cm2g, diumpankan ke kolom Debutanizer
FLRS T-102 untuk dipisahkan antara LPG dan Naphta. Umpan tersebut masuk ke
kolom Debutanizer dipanaskan dulu oleh HE FLRS E-106 hingga temperatur
[Link] kesempurnaan pemisahan maka pada bottom kolomDebutanizer
dipasang Reboiler FLRS E-107 sehingga temperatur bottom adalah
[Link] kolomDebutanizerFLRS T-102 dengan tekanan 11
kg/cm2g dan temperatur 650C didinginkan dengan kondenser parsial FLRS E-108
dan ditampung di akumulator FLRS D-103. Fluida dari akumulator tersebut
sebagian digunakan sebagai reflux, sebagian lainnya didinginkan lagi dan
dialirkan ke Stabilizer Feed Drum LS D-1. Bottom dari Stabilizer Feed Drum LS
D-1 diumpankan ke kolom Stabilizer LS T-1 dengan temperatur 78 0C. Biaya Tidak Langsung
produk dari kolom Stabilizer LS T-1 didinginkan dalam kondenser parsial LS E-4
dan ditampung di akumulator LS D-2 dengan kondisi tekanan 19,6 kg/cm 2g dan
520C. Gas yang tidak terkondensasi kemudian digunakan sebagai bahan bakar
gas, sedangkan cairan yang terbentuk (Propana-Propilena) digunakan sebagai
refluks dan sebagai umpan untuk unit Polipropilena Plaju. Produk bawah dari
kolomStabilizerLS T-1 yaitu C4akan di-treatinglebih [Link] mempertajam
pemisahan, bottom dari LS-T-1 ditarik dengan pompa LS-P-2 AB dimasukkan ke
Reboiler LS-E-6 untuk memperoleh pemanasan, agar fraksi Propane Propylene
dapat naik puncak menara. Sebagian aliran dari bottom menara adalah fraksi LPG
(C4dan derivatnya) setelah didinginkan di Cooler LS-E-5 AB dialirkan ke
mericham LPG Treater untuk dicuci dengan Caustic Soda agar senyawa belerang
dalam LPG dapat dihilangkan/diturunkan.
34

2.2.3 Unit Produksi PolyPropylene


Unit PP di PERTAMINA RU-III Plaju mengolah RPP menjadi biji plastik
dengan kapasitas produksi biji plastik/politam (pellets) sebesar 45.200 ton/tahun.
Biji Plastik/politam (pellet) yang dihasilkan di PERTAMINA dibagi menjadi
lima jenis sesuai dengan sifat fisiknya yaitu Melt Flow Rate (MFR) dan
fungsinya, yaitu :
a. Kualitas Pencetakan Injeksi (PI), kapasitas 5,7 ton/jam,
b. Film grade (PF), kapasitas 5,7 ton/jam,
[Link] grade(PY), kapasitas 5,7 ton/jam, dan
d. Kualitas molding tiup, kapasitas 4,5 ton/jam.

1. Deskripsi Proses Unit Polipropilen


Bahan baku PP adalah RPP yang dihasilkan dari pengolahan minyak
mentah di CD&GP dan CD&L. Minyak mentah didestilasi dalam Penyulingan Mentah
Unit(CDU) di CD&GP. Fraksi berat CDU adalah residu yang kemudian
diumpankan ke dalam HVU di CD&L. Produk bawah HVU direngkah secara
katalitik dalam FCCU di CD&L sehingga menghasilkan beberapa produk, salah
satunya adalah RPP. RPP yang dihasilkan dari FCCU mengandung komposisi 74%
Propilena, 17% Propana, dan sisanya adalah pengotor yang berupa CO, CO2,
H2S, merkaptan, dan air. RPP diumpankan ke dalam unit purifikasi dengan laju
alir 9 ton/jam. Unit purifikasi terdiri atas :
Ekstraktor Deethanol Amine (DEA) untuk menghilangkan CO dan H2S.
b) Ekstraktor yang berisi NaOH untuk menghilangkan CO2.
c) Pengering untuk menghilangkan kandungan air hingga kurang dari 7 ppm.
d) Distilasi, sehingga menghasilkan Propana sebagai produk bawah yang
diumpankan kembali ke CD&L, dan Propylenesebagai produk atas dengan
kemurnian 99,6%. Propylene ini kemudian diumpankan ke unit polimerisasi
dengan laju alir 6 ton/jam.
Unit polimerisasi terdiri dari Unit Penghapusan Impuritas, reaktor, dan Pengering.
Di dalam Unit Penghilangan Impuritas terdapat Stripper untuk menghilangkan
MetanedanEtane, dehidrator untuk menghilangkan kadar air hingga kurang dari
35

1 ppm, COSAdsorber, dan Arsine Adsorber. Dari Arsine Adsorber, Propylene


yang telah bersih dari pengotor dipolimerisasi di dalam reaktor.
Ada dua reaktor yang digunakan, yaitu Reaktor Utama yang merupakan
reaktor fasa cair dengan tekanan 32 kg/cm2pengukur suhu 70oC, dan
Reaktor sekunder yang merupakan reaktor fasa gas dengan tekanan 18 kg/cm2
gauge dan temperatur 80oC. Reaksi polimerisasi ini berlangsung dengan bantuan
katalis, yaitu TiCl3yang merupakan MainCatalyst(MC), katalis AT berbahan
dasar alumunium yang berfungsi sebagai pendukung katalis, dan katalis OF yang
berfungsi untuk menyesuaikan Isotactic Index pada polimer yang akan dihasilkan.
Ketiga katalis berbentuk serbuk, sehingga dibutuhkan pelarut heksana untuk
mempermudah reaksi. Bahan lain yang digunakan dalam reaksi polimerisasi
adalah Hidrogen untuk memecahkan ikatan rangkap, dan mengatur MFR.
Katalis MC dan OF dilarutkan dengan heksana, kemudian diumpankan
together with Hydrogen and liquid Propylene into the Primary Reactor. After that

diumpankan pula katalis AT ke dalam reaktor. Laju alir Propilen yang


diumpankan harus tinggi agar kecepatan reaksi berjalan lebih cepat dibandingkan
laju polimerisasi untuk mencegah terjadinya penggumpalan. Pengadukan
dilakukan selama reaksi berlangsung. Produk reaktor adalah Slurrydan gas
hidrogen. Slurry yang terbentuk dimasukkan ke Fine Separator. Fungsi Fine
Separator adalah untuk memisahkan slurrydari gas hidrogen yang terbawa. Gas
hidrogen tersebut dimasukkan kembali ke dalamReaktorPrimer. Gas hidrogen
keluaranPrimaryReactordiumpankan ke bagian atasSecondaryReactor, yang
kemudian dikeluarkan untuk dipompakan ke bagian bawah reaktor sekunder
setelah dilewatkan pada kompresor. Slurry yang berasal dari partikel halus
separator masuk ke bagian bawah secondary reactor, dan akan terfluidisasi dengan
bantuan pengadukan dan udara bertekanan yang masuk dari bagian bawah reaktor.
Hasil reaksi berupa bubuk yang kemudian dimasukkan ke dalam kondensor drum.
Gas yang tidak terkondensasi diumpankan lagi ke dalam Reaktor Sekunder,
sedangkan bubuk PP yang masih mengandung heksana dikeringkan dalam Dryer.
Bubuk PP dengan laju alir 6 ton/jam dimasukkan bersama aditif seperti pewarna,
dan anti koagulan ke dalam Extruderyang berputar dengan kecepatan 1000 rpm.
36

Dengan putaran dan pemanasan, maka terbentuklah resin yang langsung dipotong
dengan standar ukuran tertentu begitu keluar dari ujung ekstruder. Setelah
pemotongan, resin PP dikontakkkan dengan air sehingga membeku, dan
terbentuklah biji plastik. Biji plastik tersebut dimasukkan ke dalam Screener
untuk memastikan ukuran biji plastik sesuai dengan spesifikasi produk. Biji
plastik tadi ditransportasikan dengan batuan N2yang berasal dari penanam itu sendiri
di unit PP, ke dalam silo sebelum dilakukan pengepakan. Setiap kantong
Pengepakan berisi 25 kg PP.

2.2.4 Laboratorium
Laboratorium
a. Laboratorium Analisis dan Gas
Laboratorium analisis berfungsi untuk menganalisa sifat kimia produk
minyak, limbah dan lingkungan perairan. Maka dari itu, laboratorium ini
dilengkapi dengan alat-alat sebagai berikut :
1. Spektrofotometri Adsorpsi Atom untuk menganalisis logam dalam sampel.
2. Sinar UV untuk memeriksa kandungan bahan non logam dalam sampel.
[Link] X-Ray untuk menganalisa kandungan sulfur dalam minyak mentah dan
produk.
4. meter pH.
5. Kromatografi Gas.
6. Pengukur BOD konvensional.
7. Pengukur kadar garam konvensional.
8. Penganalisa TEL konvensional.

b. Laboratorium Pengamatan
Laboratorium ini berfungsi untuk mengamati sifat penampakan produk dan
membandingkan hasilnya dengan spesifikasi produk. Jenis analisa yang dilakukan
dengan menggunakan sampel produk. Analisa lain yang digunakan dalam
laboratorium ini yang tidak dilakukan dalam laboratorium R&D adalah analisa
37

Angka Oktan dan Angka Cetane, dan juga Uji Dokter dengan menggunakan
Pb untuk mengetahui kandungan merkaptan.
c. Laboratorium Petrokimia
Laboratorium ini menganalisa bahan baku dan produk PP. Analisa
dilakukan pada MFR, Konten Abu, Indeks Isotaktik, Kehilangan Volatil, Kepadatan Massal
warna, pH, kadar air, dan penampakan luar bahan. Alat yang digunakan untuk
melakukan analisa tersebut antara lain GC, AAS, Spektrofotometer,
Polarograf, danColorLC.

d. Laboratorium Penelitian dan Pengembangan


Laboratorium ini berfungsi mengevaluasi mutu minyak mentah yang akan
dibeli serta melakukan pengembangan-pengembangan untuk menemukan produk-
produk terbaru.

2.2.5 Rekayasa Proses (PE)


Struktur organisasi PE Pertamina RU III (Gambar 9.3), dimana pimpinan
tertinggi dari bagian Teknik Proses adalah seorang Teknik Proses
Bagian Headyang biasa disebut sebagai kepala PE (Rekayasa Proses).
Rekayasa Proses (PE) berada langsung di bawah dan bertanggung jawab
kepada Manajer Rekayasa & Pengembangan. Kepala bagian PE membawahi
beberapa seksi yaitu :
ahli proses utama
[Link] utama proses
Insinyur utama lingkungan kebakaran dan keselamatan

[Link] utama kontrol proses


Insinyur utama proses sekunder
f. Ahli proses sekunder.
PE bertugas untuk memastikan proses berjalan sesuai dengan yang
diharapkan. Selain memastikan proses berjalan dengan baik, PE juga bertugas
untuk mengembangkan proses agar efisiensinya meningkat. Proses pengembangan
tersebut dapat berupa :
Melakukan studi yang bertujuan untuk pengembangan kilang RU-III.
38

Melakukan sourcing yang meliputi bahan-bahan kimia serta katalis-katalis


baru.
Menyelesaikan masalah-masalah teknis harian yang bersifat kontinu (bukan
just a daily issue) together with the operations part.
Memberikan pengarahan serta saran kepada bagian operasi dalam hal
perbaikan maupun hal yang bersifat perubahan agar tercapainya kondisi proses
optimum.
Melakukan modifikasi proses sehingga dapat dihasilkan kondisi operasi yang
optimum, efisien, serta ekonomis.

2.3 Produk-Produk yang dihasilkan di PT. Pertamina (Persero) RU III


Produk yang dihasilkan oleh PT. Pertamina (Persero) RU III dibagi menjadi 5
jenis, yaitu :
1. Produk Bahan Bakar Minyak (BBM)
a. Premium
Premium (Bensin Motor) digunakan sebagai bahan bakar kendaraan
bermotor.
[Link] atau minyak tanah
Kerosene (Distilat Air Limbah) digunakan sebagai bahan bakar kompor
minyak tanah.
c. Minyak Diesel Otomotif (ADO)
Minyak Diesel Otomotif (ADO) atau yang biasa disebut solar, biasa digunakan
sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel.
d. Minyak Diesel Industri (IDO)
Minyak Diesel Industri (IDO) digunakan sebagai bahan bakar mesin industri
dan kapal angkutan.
[Link] Bakar

Umumnya, Bahan Bakar Minyak digunakan sebagai bahan bakar di industri-industri.

2. Produk Non Bahan Bakar Minyak (NBBM)


a. LPG (Gas Minyak Bumi yang Dihidratkan)
39

b. LNG (Gas Alam Cair)


[Link]-1/Minasol-2
Minasol-2 merupakan bahan kimia pelarut sejenis naphtaringan,
berbentuk liquid, berwarna bening, stabil, dan tidak korosif. Minasol-2 juga
merupakan salah satu hasil produksi Kilang RU III Plaju dengan trayek didih
antara 400C s/d [Link]-2 digunakan sebagai :
Bahan pelarut untuk industri thinner, cat dan vernis.
2. Bahan pelarut untuk industri tinta cetak.
3. Bahan kimia penunjang industri farmasi.
4. Preparasi dari industri Meubel, sepatu, dan pemoles lantai.
5. Pembersih logam dan industri
Sedangkan Petrasol-1 merupakan hidrokarbon yang biasa diaplikasikan
atau digunakan sebagai pelarut untuk cat, pernis, dan vernis. Produk ini juga
biasa digunakan sebagai pelarut pada industri tinta cetak.
d. Musi Cool
MusiCool digunakan sebagai bahan pendingin yang merupakan alternatif
pengganti freon yang ramah terhadap lingkungan, biasa digunakan pada pendingin
ruangan atau AC (Air Conditioner). Refrigeran dengan bahan dasar hidrokarbon
alam dan termasuk dalam kelompok Refrigerantramah lingkungan, dirancang
sebagai alternatif pengganti Refrigerant Sintetik. Kelompok hidrokarbon CFC :
R-12, HCFC : R-22 dan HFC : R123a yang masih memiliki keunggulan-
keunggulan dibandingkan dengan Refrigerant Syntetic, diantaranya beberapa
parameter memberikan indikasi data lebih kecil seperti kerapatan bahan (density),
rasio tekanan kondensasi terhadap evaporasi dan kondisi bahan lebih besar seperti
refrigerasi, COP, kalor laten dan konduktivitas bahan.
e. Musi Hijau
MusiGreenhampir sama dengan Musi Cool, bedanya adalah tingkat
kemurnian dari Propana dan Isobutana, dan dibedakan sesuai tipe-tipe mesin
Refrigeran yang ada di pasar. Musi Cool dan Musi Green merupakan merk
perdagangan.

3. Produk Petrokimia
40

Polytam(PolipropelenPERTAMINA).
Polytam digunakan sebagai bahan baku pembuat plastik rumah tangga.
4. Produk Bahan Baku Khusus
[Link] (Bensin Penerbangan).
[Link] (Turbine Penerbangan).
c. Pertamax
5. Produk Lain-lain
a. Naphta Menengah.
b. Sisa Lilin Sulfur Rendah (LSWR).
C. Lilin Sulfur Rendah Sisa digunakan sebagai bahan setengah jadi untuk
keperluan ekspor.
d. Sisa Vakum.
Produk-produk yang dihasilkan PT. Pertamina (Persero) RU III memiliki
spesifikasi tertentu pada masing-masing produknya (Terlampir).

2.4 Unit Utilitas


Dalam proses pengolahan bahan baku menjadi produk, mulai dari tahap
penyiapan umpan sampai dengan tahap pengemasan, serta tahap pengolahan
limbah selama proses produksi berlangsung, dibutuhkan unit-unit dan bahan-
bahan pendukung seperti air, nitrogen, generator listrik.
Unit-unit dan bahan-bahan pendukung yang dibutuhkan untuk mendukung
keberlangsungan proses tersebut terintegrasi dalam sebuah sistem, yaitu sistem
utilitas.
Unit-unit proses utilitas PT. Pertamina (Persero) RU III (Tabel 15) terdiri
Unit Pengolahan Air, Pabrik Demineralisasi, Menara Pendingin, Air Minum
Tanaman Air, Tanaman Udara,N2Pabrik, Ketel, Turbin Gas dan Rumah Pompa Air.

Kebutuhan bahan penunjang tersebut dipenuhi oleh unit utilitas Pertamina RU III
yang dibagi kedalam tiga Stasiun Pembangkitan (PS) berdasarkan lokasinya.
41

Tabel 15. Pembangkit Listrik dan Unit Utilitas di Pertamina RU III


Stasiun Pembangkit 1 Stasiun Listrik 2 Stasiun Daya 3

Tanaman udara Tanaman udara Tanaman udara


Ketel Boiler Menara pendingin
RPA 1-3 DPW Pabrik demineralisasi
WTP (Bagus Kuning) Menara pendingin DWP 2
Pabrik demineralisasi RPA 5-6
Pabrik Nitrogen WTU
Pembangkit listrik
RPA 4
WTU

Sumber : Proses Unit Produksi Utilitas, Pertamina 2004


Power Station2 didirikan tahun 1985 untuk mengontrol operasinya telah
memakai Sistem Kontrol Terdistribusi (DCS). Orientasi pada unit utilitas dibagi
menjadi dua seksi yaitu :
[Link] Auxiliary, terdiri dari :
[Link] Pengolahan Air/WTU (rumah pompa air, klarifier)
b. Pabrik Air Minum / DWP
c. Menara Pendingin
pabrik denim
e. Kompresor
p. Pabrik Nitrogen
Tanaman Udara
2. Seksi Pusat Pembangkit Tenaga Listrik dan Uap (PPTL&U) terdiri dari :
a. Paket Boiler
b. WHRU (Unit Pemulihan Panas Terbuang)
c. Turbin Gas

2.4.1 Unit Pengolahan Air (WTU)


Water Treating Unit adalah sebuah unit untuk merawat atau meresirkulasi
Air bekas pakai yang telah digunakan oleh industri. Air mentah berasal dari sungai.
Komering yang dihisap dengan pompa untuk dialirkan ke Clarifier (Gambar 4),
42

yang sebelumnya disuntikkan Al2(JADI4)3sebagai koagulan dan chlor sebagai


bactericidal sehingga akan membentuk flokulasi dengan kondisi operasi
masing-masing (Tabel 16). Dalam Clarifier ini diinjeksikan Koagulan Aids
Polielektrolit untuk mempercepat koagulasi. Setelah gumpalan mengendap, laju
air jernihnya dialirkan ke saringan pasir untuk disaring. Pada saringan pasir terjadi
pemisahan gumpalan kecil dan kotoran yang masih terbawa didalam air. Setelah
itu diinjeksikan dengan larutan NaOH untuk mengatur pH (Potensial dari
Hidrogen). Udara yang telah diproses ditampung di clear well dengan pH 5,6-6,2
dan siap untuk didistribusikan seperti: untuk feed pada demin plant, make up
Air Pendingin, air minum dan Air Servis.

Tabel 16. Kondisi Operasi WTU


Kondisi Operasi Besaran
Kapasitas unit Clarifier 1067 m3/jam
Kapasitas masing–masing Filter 266,5 m3/jam
Kapasitas tangki sumur yang jelas 5000 m3/jam
Dosis Al2(SOempat)3 20-80 ppm
Dosis poli-elektrolit 2 ppm
Dosis gas klorin 0-10 kg/jam
Dosis 10-30 ppm

PE, NaOH, Cl2

agitator
talang
air jernih

zona pencampuran

tambang

endapanfloc
pengaduk penyisir

lumpur

pengambilan air baku

alum

10 - 20 m

Sumber: Proses Unit Produksi Utilitas, Pertamina


Gambar 5. Skema Clarifier
Rumah Pompa Air (RPA)
43

Rumah Pompa Air atau yang disebut dengan RPA berfungsi untuk
memompa air untuk kebutuhan air minum, air proses, air pendingin, dan air
umpan boiler. PT Pertamina RU III memiliki enam buah unit RPA yang tersebar
yakni RPA 1-4 yang berlokasi di Plaju, RPA 5 yang berlokasi di Bagus Kuning
dan Sungai Gerong dan RPA 6 yang juga berlokasi di Sungai Gerong. Air mentah
yang juga digunakan sebagai air pendingin sekali jalan diambil oleh RPA 1-3,
RPA 5 Sungai Gerong, dan RPA 6 dari sungai Komering. Kapasitas air yang
dihisap oleh pompa RPA dari sungai Komering mencapai 15.000 ton/hari. RPA 4
berfungsi untuk mengumpan air mentah ke unit WTU (Water Treatment Unit).
RPA 5 Bagus Kuning digunakan untuk mengalirkan air mentah ke unit WTP. Air
yang diambil dari sungai komering ini kemudian akan terbagi ke dalam dua jalur
yakni jalur untuk pasokan Air Api dan Air Mentah. Air sungai yang digunakan
terlebih dahulu melewati pra-perawatan pada clarifier dan filter pasir. Hasilnya
didistribusikan untuk berbagai penggunaan, yaitu make-up air pendingin, umpan
pabrik demineralisasi, dan air layanan (air pencuci). Air demin digunakan
untuk make-up BFW, pelarut bahan kimia, dan digunakan dalam unit hidrogen
Tanaman. Air pendingin digunakan sebagai media transfer panas pada kompresor.
kondensor, dan unit polypropylene. Air minum digunakan untuk fasilitas sanitasi,
air minum, shower keselamatan, dan stasiun pencucian mata.

Sumber: Proses Unit Produksi Utilitas, Pertamina


Gambar 6. Skema Pemrosesan Air Mentah

2.4.3 Pabrik Air Minum (DWP)


DWP berfungsi untuk mengolah air bersih menjadi air minum, pengolahan
ini dilakukan dengan cara melewatkan air tersebut pada Filter Karbon Aktif
yang berfungsi untuk menghilangkan bau, rasa, warna, Chlorine yang tersisa. Air
44

yang diolah di unit DWP yang memenuhi persyaratan kesehatan baik secara kimia
fisika dan biologi.
PT. Pertamina (Persero) RU III memiliki dua unit Pabrik Air Minum,
yaitu di Sungai Gerong dan Bagus Kuning. DWP yang terdapat di Sungai Gerong
beroperasi dengan kapasitas 150 ton/jam. Umpan untuk DWP yang terdapat di
Bagus Kuning hanya dioperasikan untuk memproduksi air minum.

2.4.4 Menara Pendingin


Cooling Tower adalah sebuah alat atau dalam kondisi operasi pabrik
adalah sebuah menara, yang memiliki fungsi untuk mendinginkan
aliran fluida yang memiliki suhu yang tinggi.
Ada dua sirkulasi pada air pendingin, yaitu :
1. Sirkulasi terbuka (Cooling Tower), yaitu sistem sirkulasi
terbuka, yang berarti Cooling Water selalu didistribusikan dan dikembalikan
lagi keMenara Pendingin.
2. Once Trough, yaitu sistem sirkulasi Cooling Water yang hanya dipakai satu
kali.
Air pendingin ex-unit PP dan penggunaan UTL dikoyakkan dengan udara
yang dihasilkan dari Fan, sehingga uap/gas panas keluar melalui vent. Pada saat itu
diinjeksikan zat anti korosi pada peralatan. Selain itu juga diinjeksikan dengan
NaOH untuk mengatur pH. Sebelum didistribusikan, air diinjeksikan dengan klorin.
agar tidak terbentuk lumut pada peralatan. Jenis Cooling Water yang digunakan
adalah Menara Aliran Silang dengan kemiringan 30o.

2.4.5 Pabrik Demin


Unit ini berfungsi untuk menghilangkan kandungan garam mineral yang
terkandung dalam air hasil olahan dari unit WTU. Unit Demin Plant mengolah air
yang berasal dari RWC I dan WTU SG. PT. Pertamina (Persero) RU III memiliki
dua buah Demin Plant, yaitu Demin Plant Plaju berkapasitas 320 m3/jam dan
Pabrik Demin Sungai Gerong berkapasitas 45 m3/jam. Selain untuk kebutuhan
produksisteam, Pabrik Demineralisasi juga berfungsi untuk memenuhi
45

kebutuhan pasokan air untuk BFW (Air Pakan Boiler), air minum, serta
Pabrik Hidrogen.
Unit Pemurnian Air Demineralisasi terdiri dari :

a. Filter Karbon Aktif, berfungsi untuk mengadsorpsi zat organik, filtrasi, dan
dekomposisi Cl2menjadi ion Cl-, serta menghilangkan warna, rasa, dan bau.
[Link] penukar, berfungsi untuk demineralisasi ion positif (kation).
[Link] anion, berfungsi untuk demineralisasi ion negatif (anion).
[Link] campuran, berfungsi untuk mempolis sisa kation dan anion yang tidak tertukar
dikatakan dan anion exchanger untuk memperoleh air demin yang mendekati
murni.

Air yang diolah

Air minum Air demineralisasi


Diaktifkan Kation Anion Tempat Tidur Campuran
Filter karbon Penukar Penukar

Sumber: Dibuat oleh visio


Gambar 7. Unit Penukar Ion Pabrik Demineralisasi

Demin plant menggunakan resin penukar ion (Gambar 6) berupa polimer


stirena dan divinil benzena (DVB). Air yang diolah dariclear welldilewatkan pada
filter karbon aktif, air dapat digunakan sebagai air minum. Selanjutnya, air
dilewatkan pada penukar kation, di mana terjadi pertukaran ion Na+, Ca2+, Mg2+
dengan H dari resin sehingga menghasilkan air yang bersifat asam. Selanjutnya,
air dilewatkan pada penukar anion, di mana terjadi pertukaran antara ion negatif
46

dengan ion OH dari resin. Sebagai tahap terakhir, air dilewatkan melalui campuran
bed. Reaksi yang terjadi pada ketiga penukar ion adalah:
Kation RH + NaCl RNa + HCl
Anion ROH + HCl RCl + H2O
Setelah digunakan berulang kali, penukar ion akan menjadi jenuh sehingga
perludi regenerasi. Tujuan regenerasi adalah untuk menghilangkan ion garam yang
ada pada resin. Regenerasi penukar kation menggunakan larutan asam sulfat,
sedangkan regenerasi penukar anion menggunakan larutan kaustik.

2.4.6 Kompresor
Kompressor merupakan alat yang berfungsi untuk mengkompres udara.
tekan yang ,udara instrument dan service air. Di Pertamina digunakan empat buah
kompresor yang bertekanan mencapai 9,5 kg/cm2pada suhu 40oC lalu ditampung
menyerap logam-logam kecuali O 2dan N2Media adsorben berupa padatan,
seperti Molekular Sieve dan Alumina Aktif.

Spesifikasi udara instrumen :


a. Bertekanan mantap, bebas debu dan kotoran.
b. Kering (dalam dryer) sehingga tidak merusak peralatan.

Udara bertekanan berfungsi untuk :


a. Membuka dan menutup kerangan (valvedi kilang).
b. Untuk berkedip.

2.4.7TanamanNitrogen
Umpan Nitrogen Plant berupa udara kering berasal dari air plant. Unit ini
menghasilkan nitrogen berfasa gas dan cair. Nitrogen berfase gas digunakan
sebagai konveyor di unit Polipropilena dan pelepasan gas pada saat start-up plant
pabrik nitrogen ditutup. Pabrik nitrogen memproduksi nitrogen cair dengan kapasitas

sebesar 500 Nm3/jam dan nitrogen gas dengan kapasitas sebesar 1200 Nm3/jam.

Udara dari Pendingin Dingin


Kompresor Adsorber
atmosfer pendingin kotak

Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011


Gambar 8. Diagram Blok Pabrik Nitrogen
47

Prinsip kerja di Pabrik Nitrogen meliputi tiga tahap, yaitu pemurnian udara,
pemisahan udara dan penampungan produksi. Secara keseluruhan proses yang
berlangsung di Pabrik Nitrogen berlangsung secara kriogenik.
Pada tahap pemurnian, udara dari atmosfer disaring dengan Inlet
AirFilter(Gambar 6), untuk memisahkan partikel padat. Udara yang telah disaring
dengan Filter Udara Inlet, selanjutnya dikompresi dan didinginkan sampai dengan
suhu 5oC dengan refrigeran propana di dalam Chiller, kemudian udara dingin
tersebut dilewatkan kedalam kolom Adsorber. Kolom Adsorber terdiri dari dua
tabung yang saling berhubungan dan berisi Saringan Molekuler. Kedua tabung
Adsorber tersebut dioperasikan bergantian secara siklus. Adsorber ini berfungsi
untuk menyerap uap air, CO2dan kotoran lain dengan memanfaatkan Molekuler
Saringan.
Pada tahap pemisahan udara, udara yang telah dibersihkan, selanjutnya
didinginkan hingga mendekati titik didih N2yaitu–166 oC menggunakan proses
pertukaran panas dengan produk dan gas limbah di dalam Penukar Udara.
Exchanger yang digunakan merupakan tipe Plant-fin Heat Exchanger dengan
material aluminium. Pada proses pendinginan ini, sebagian udara mencair.
Campuran udara cair dan gas kemudian dimasukkan ke dalam kolom distilasi
bertekanan tinggi. Umpan masuk dari bawah kolom dan suhu pada bagian bawah
kolom akan turun menjadi -175oC. Pada kolom ini udara akan
terpisahkan, sehingga N2murni akan dihasilkan di overhead, O2murni akan
dihasilkan di bawah. Nitrogen murni yang telah dihasilkan akan mengalir ke
Condenser untuk dikondensasikan. Proses kondensasi ini dilakukan dengan
memanfaatkan panas pada O2murni yang masuk melalui Expansion Valve dan di
flashke dalam Reboiler. Sebagian dari nitrogen murni yang telah dikondensasi
akan dikembalikan sebagai refluks, sedangkan sebagian lagi diambil sebagai
produk cair dan disimpan. Limbah gas dingin di dalam Air Exchanger yang
digunakan untuk mendinginkan udara keluaran Adsorber. Fungsi gas buang dingin
Di dalam Air Exchanger adalah untuk membantu proses pendinginan udara.
sebelum masuk ke dalam kolom distilasi.
48

Pada tahap penampungan produksi, gas nitrogen murni yang diperoleh


Sebagai overhead, diambil dan dialirkan langsung ke penampungan. Plant dapat
memproduksi nitrogen dalam bentuk cair yang sebanding dengan gas yang
diperlukan. Dalam transportasi fluida proses menggunakan pipa, digunakan warna
pipa berbeda untuk jenis fluida yang berbeda (Tabel 17).
Tabel 17. Warna Pipa untuk Transportasi Fluida
Warna Fluida yang dialirkan
Merah Air pemadam kebakaran
Kuning Gas bahan bakar

Hijau Udara Instrumen


Biru Air
Ungu Zat kimia
Abu-abu Cairan Proses
Sumber : Proses Produksi Utilitas, Pertamina

2.4.8Tanaman Udara

Air Plant berfungsi untuk menghasilkan udara bertekanan dengan bahan


baku berupa udara dari atmosfer. Udara bertekanan ini dapat digunakan untuk
keperluan pembersihan peralatan.
Alat utama yang digunakan dalam Air Plant adalah kompresor. Air Plant
yang dimiliki oleh Pertamina RU III memiliki kapasitas 26100 Nm3/jam yang
tersebar di tiga PS yaitu PS 1 dan 2 di Plaju dan PS 3 di Sungai Gerong. Udara
bertekanan yang dihasilkan oleh air plant ini selanjutnya digunakan untuk
beberapa kebutuhan antara lain :
[Link] Udara
Udara bertekanan digunakan sebagai elemen pengendali akhir yaitu untuk
mengatur bukan valve. Udara bertekanan yang digunakan untuk keperluan
Instrument udara harus memiliki syarat-syarat tertentu, antara lain:
a. Tekanan mencukupi dan stabil
b. Jumlah yang cukup
c. Kualitas memenuhi syarat
49

[Link] Air
Udara bertekanan digunakan untuk keperluan pembersihan peralatan proses dan
keperluan transportasi produk.
3. Umpan Pabrik Nitrogen
Udara bertekanan digunakan sebagai bahan baku produksi nitrogen.

2.4.9
Pembangkit listrik yang terdapat di Pertamina RU III antara lain :
[Link] turbin A,B dan C dengan kapasitas masing-masing sebesar 31,1
MW.
2. Turbin uap kapasitas 3,2 MW.
[Link] Diesel kapasitas 0,75 MW.
Pertamina RU III memiliki tiga buah Turbine Gas yaitu GT 2015 UA, GT
2015 UB dan GT 2015 UC. Turbin Gas, Turbin Uap dan Generator Diesel
ini berfungsi untuk memproduksi listrik dengan frekuansi 50 Hz untuk
dimanfaatkan di kilang dan perumahan.
Bahan bakar yang digunakan untuk mengoperasikan Turbine Gas adalah
Bahan bakar gas yang diperoleh dari Prabumulih dikirim melalui pipa dan diolah di Light
Unit Selesai. Hanya pada start-up saja, bahan bakar yang digunakan berupa diesel
Minyak. Gas keluaran turbin memiliki suhu 507oC. jikaGas Turbine
Dioperasikan dengan boiler, efisiensi yang dihasilkan adalah sebesar 25%.

Turbine Uap digunakan untuk memproduksi listrik dengan


memanfaatkan steamer bertekanan 8,5 kg/cm2Turbine Uap baru akan
dioperasikan jika terjadi kegagalan pada Turbin Gas. Sedangkan Diesel
Generatordioperasikan jika terjadi kegagalan pada kedua pembangkitGas
Turbine Uap

2.4.10 Penghasil Steam


Unit pembangkit tenaga uap utilitas PS II Plaju dan unit Package Boiler,
masing-masing kapasitas 50 ton/jam dengan tekanan 42,2 kg/cm 2dengan
temperatur 3900C serta tiga unit WHRU (Unit Pemulihan Kalor Limbah) dengan
50

masing-masing kapasitas 60 ton/jam, dengan tekanan 42,2 kg/cm 2dengan


temperatur 3900C.
WHRU tersebut dimanfaatkan panas yang berasal dari gas bekas Turbin
Gas, di mana kapasitas WHRU didasarkan atas beban Generator, dengan beban
maksimum 32,1 MW. Suhu gas bekas dari Turbine Gas tersebut masih
cukup tinggi 5600C, sehingga mampu untuk membangkitkan steam tergantung
dari beban Turbine Gas. WHRU dapat digunakan bila dikehendaki untuk
memproduksi steam yang cukup tinggi dengan beban Turbine Gas yang rendah.
Kegunaan dari steam antara lain, yaitu :
1. Sebagai pembangkit untuk menggerakkan pompa,
2. Pemanasan Generator dan Compressor, dan
3. Untuk produksi Polipropilena.
Umpan dari Boilerdan pembangkit steam lainnya, misalkan WHRU
merupakan air yang sebelumnya telah diolah melalui proses demineralisasi
DeaeratordanPengolahan [Link] Demineralisasi seperti telah
disebutkan sebelumnya berfungsi untuk menghilangkan kandungan mineral. Hal
ini disebabkan kandungan mineral terutama silika dengan mengakibatkan
timbulnya deposit silika pada Superheater. Hal ini dapat menyebabkan hotspot
yang akan menyebabkan kegagalan pada tabung. Selain itu, silika yang terbawa pada aliran

dapat menyebabkan deposit pada turbin yang akan menurunkan efisiensi dan
menyebabkan ketidakseimbangan.

Deaerator bertujuan menurunkan kandungan O2dan CO2terlarut dalam air


yang dapat menyebabkan masalah korosi pada peralatan Boiler dan turbin. Pada
proses ini air dipanaskan sampai temperatur 110oC yang akan menyebabkan
kelarutan O2dan CO2dalam air akan turun, sehingga gas-gas tersebut terpisahkan.
Perawatan Kimia dilakukan dengan penginjeksian Hydrazine, Fosfat
danMorpholine. Penginjeksian hydrazine bertujuan untuk pelunakan yaitu
mengurangi kadar ion-ion, terutama Ca 2+dan Mg2+yang dapat menyebabkan
kesadahan.
Terdapat tiga jenis pembangkit steam yang digunakan pada unit ini, yaitu :
[Link] Paket
51

Paket Boilerada tiga buah yang digunakan adalah PB 2011 UA, PB 2011 UB,
PB 2011 [Link] Boilerdiperoleh dari PS 2 Plaju dan kemudian digunakan
untuk menghasilkan tekanan tinggi 40 kg/cm2efisiensinya sebesar 81%.
Ketel
Kettle ini ada sembilan buah yang terletak di PS I Plaju. Kettle yang digunakan
adalahBoilernomor 2,3,4,5,6,7,8,9,10 dan 11. Bahan bakar digunakan berupa
gas campuran. Umpan untuk Kettle diperoleh dari PS IPlaju dengan kapasitas 110
ton/jam. Produk yang dihasilkan adalah Uap Tekanan Menengah 15 kg/cm2dan
memiliki efisiensi sebesar 60%.
[Link] Pemulihan Panas Terbuang (WHRU)

Unit Pemulihan Panas Buang ada tiga buah yang mana digunakan untuk
memanfaatkan gas turbin flue gas, yang masih memiliki temperatur sekitar 4000C.
Pemulihan Panas Sisa yang digunakan adalah WHRU 2010 UA, WHRU
2010 UB dan WHRU 2010 UC; Umpan WHRU diperoleh dari PS 2 dan
menghasilkan Uap Bertekanan Tinggi 40 kg/cm2.

2.4.11 Sistem Bahan Bakar


Di samping penyediaan tenaga, listrik dan energi lain, unit utilitas PS II
juga bertugas menyediakan berbagai bahan bakar, antara lain :
[Link] Gas Bakar
Sistem Gas Bahan Bakar terbagi menjadi dua: Tekanan Tinggi dan Tekanan Rendah, di mana

sumber bahan bakar gas didapat dari lapangan eksplorasi Prabumulih dengan tekanan 10
kg/cm2Setelah melalui Knock Out Drum, dibagi menjadi dua sistem. Sistem
yang pertama tekanannya dinaikkan menjadi 19 kg/cm2dengan menggunakan
Kompresor sentrifugal. Sistem yang kedua yaitu setelah melalui Step Down
Kontrol, tekanannya menurun menjadi 3 kg/cm2dan digunakan untuk bahan bakar
di unit WHRU (2010 U, A/B/C), Paket Boiler, 2011(A/B).
Minyak Bakar Berat
Minyak Bakar Berat diperoleh dari kilang dan ditampung pada tangki 2075˚F, dari
Tangki ini dipompakan ke unit yang membutuhkan setelah melalui Stainler dan
Pemanas. Sistem ini dilengkapi dengan akumulator untuk menjaga agar minyak bahan bakar aman.
52

tetap mengalir jika pompa berhenti. Akumulator ini hanya mampu mengalirkan
minyak bakar selama lima menit.
[Link] Bakar Diesel

Diesel Fuelsama dengan Heavy Fuel, diperoleh dari kilang dan ditampung pada
Tangki 2074 F. Diesel Fuelini digunakan untuk start-up Turbine Gas Generator
dan sebagai backup atau pengganti gas lapangan bila terjadi gangguan pada
supply gas dari lapangan.
Selain untuk keperluan turbin gas, bahan bakar diesel juga digunakan untuk
bahan bakar pompa air bakaran yang digerakan oleh mesin Diesel dan Emergency
Generator. Diesel fuel ini dilengkapi dengan akumulator yang berfungsi untuk
menjaga agar bahan bakar diesel tetap mengalir bila pompa distribusi bahan bakar berhenti.

Berikut ini merupakan peralatan-peralatan yang dipakai pada proses di RU


III (Tabel 18–20) :
53

Jenis dan Fungsi Peralatan Proses di RU–III


Nama Alat Fungsi Unit Pengguna
Aki Sebagai tangki pengumpul kondensat CDU, BBMGC,BB
dari kolom destilasi (distiller cair, Stab C/A/B,
reservoir). Dari akumulator Unit Alkilasi, Unit
kondensat dapat direfluks atau Polimerisasi, Unit
diambil sebagai produk atas. Polipropilena, SRMGC
Penghembus Mentransportasikan dan menekan RFCCU,
gas untuk menghasilkan gas dengan UnitPolypropylene
tekanan sedang.
Tangki Penyangga Untuk memisahkan kondensat yang SRMGC
terbawa aliran fasa gas.
Korosif Tempat penjumputan suatu senyawa Unit Alkilasi
Pioneer certainly for example, sulfur and BBTreater
merkaptan, dengan penambahan soda
kaustik.
Siklon Memisahkan padatan dari campuran RFCCU
padat-gas. Alat ini menggunakan
gaya sentrifugal. PutaranSiklon
menyebabkan partikel padatan
menabrak dinding dan jatuh ke bawah
karena gravitasi. Digunakan untuk
memisahkan katalis dari gas hasil
retak.
Dehidrator Mengurangi kadar air pada suatu Unit Polipropilena
larutan dengan suatu penambahan
absorben.
Pengering Mengurangi kadar air dalam suatu Unit Polipropilena
padatan. Padatan yang akan
dikeringkan dilewatkan pada aliran
udara kering.
Evaporator Mengurangi kadar cairan dalam CD II, BBMGC
suatu cairan atau memekatkan
larutan.
Sumber: Pertamina RU III Plaju, 2011
54

Tabel 19. Jenis dan Fungsi Peralatan Proses di RU–III (Lanjutan)


Nama Alat Function Unit Pengguna
Ekstruder Mencetak polimer dengan menjadi UnitPolypropylene
bentuk tertentu.
Ejektor Mempertahankan kondisi vakum. HVU
Campuran Pakan Tangki pencampur umpan sebelum Unit Alkilasi
masuk reaktor.
Saring Memisahkan padatan terlarut dari Unit Polypropylene
fluida menggunakan media berpori.
Penyelesaian Akhir Penjumputan akhir suatu campuran BB Treater
dari pengotor-pengotor yang tidak
diinginkan.
Pemanas Memanaskan temperatur aliran, biasa CDU
digunakan untuk memanaskan
umpan yang akan masuk reaktor.
Pemanasan dengan pertukaran panas
dengansteamatau dengan produk
reaksi.
Panas Mempertukarkan panas antara fluida Semua unit
Penukaran panas dan dingin. Digunakan sebagai
pemanasan awal umpan dan
pendinginan produk atas kolom
distilasi
Kolom Memisahkan gas dan cairan dengan FCCU, Distilasi BB
absorpsi prinsip absorpsi. BBMGC, SARU
Kolom Memisahkan komponen-komponen CDU, Redistiller,
distilasi dalam suatu campuran berdasarkan BBDistiller, Unit
Kompresor perbedaan titik didih. Alkilasi, Stabilisator
Mentrasportasikan dan menekan gas, C/A/B, RFCCU
untuk menghasilkan gas dengan RFCCU, Gas Plant,
tekanan yang lebih tinggi. BBMGC, SRMGC
Kondensor Mengembunkan uap jenuh yang CDU, Penyuling
dihasilkan oleh bagian atas kolom BBDistiller, Unit
distilasi. Alkilasi, Stabilizer
C/A/B, RFCCU
Pompa Mentransportasikan fluida pada seluruh unit
sistem perpipaan.
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011
55

Tabel 20. Jenis dan Fungsi Peralatan Proses di RU–III (Lanjutan)


Nama Alat Function Unit Pengguna
Reaktor Tempat terjadinya reaksi. Unit Alkilasi,
Unit Polimerisasi, Unit
Polipropilena, RFCCU

Regenerator Meregenerasi katalis yang telah RFCCU


digunakan melalui reaksi pembakaran
-Cola.
Pembersih Untuk menangkap partikel-partikel Unit Alkilasi,
padatan dari gas-gas yang akan Unit Polypropylene
dibuang ke atmosfer.
Pemisah Memisahkan fase cair dan fase gas. CDU, Penstabil, BB
Distilator, Alkilasi

Reaktor Tempat terjadinya reaksi. Unit Alkilasi


Unit Polimerisasi, Unit
Polipropilena, RFCCU
Regenerator Meregenerasi katalis yang telah RFCCU
dipakai melalui reaksi pembakaran
coca-cola
Pembersih Untuk menangkap partikel-partikel Unit Alkilasi,
padatan dari gas-gas yang akan Unit Polypropylene
dibuang ke atmosfer.
Pemisah Memisahkan fasa cair dan fasa gas. CDU, Stabilizer, BB
Penyuling, Alkilasi

Source: Pertamina RU III Plaju, 2011

2.5 Pengelolahan Limbah


Potensi Limbah
Proses pengelolahan limbah sangat diperlukan oleh suatu industri
karena, bila tidak diolah dengan benar, limbah yang berbentuk padat, cair dan gas
tersebut dapat mencemari lingkungan dan memberikan dampak yang buruk pada
lingkungan tersebut. Berikut ini adalah berbagai macam jenis limbah yang
terdapat di Pertamina RU III :
a. Limbah Cair
1. Air buangan CDU dan Katalitik Crack
2. Air buangan Caustic Treater
3. Air kondensat dari HVU yang menggunakan Steam Ejector
56

[Link] pembuangan pompa akumulator

Air pendingin
[Link] Boiler
7. Air Pendingin
Pabrik Pengolahan Air
[Link] Air Demint Backwash
b. Limbah Gas
1. Gas Bahan Bakar dari pembakaran di Furnace I, Boiler

2. Buangan gas dari gas turbin


[Link] Api

4. Injeksi Markapan LPG


5. Tangki Asam Asetat
c. Limbah Padat
Coca-Cola
2. Lumpur Minyak dari Tangki

3. Lumpur Flotasi Udara Terlarut


4. Katalis yang Terpakai

5. Sludge Pemisah
2. Pengelolaan Limbah
Bila tidak diolah dengan benar, limbah dapat merusak dan mencemari
[Link] ini adalah beberapa metode pengelolahan limbah yang
berguna untuk mengurangi potensi kerusakan lingkungan oleh limbah tersebut :
a. Pengelolaan Limbah Cair
Limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir dilakukan perlakuan
supaya tidak memberikan dampak yang merugikan lingkungan. Penanganan
limbah dan sistem pembuangan suatu industri yang akan dibangun harus
direncanakan sejak awal dan sedini mungkin. Pengelolaan limbah cair terbagi
dalam 2 pengolahan yaitu;
Perawatan Fisik, antara lain: Pemisah, Filtrasi, Adsorpsi, Pengendapan,
Siklon.
[Link] kimia, antara lain: aerasi, flotasi udara terlarut.
57

Tabel 21. Sistem Pengelolaan Limbah


Kandungan Minyak dalam Air Limbah Sistem/Proses
(ppm)
1000-5000 APISeparator
30-1000 CPISeparator
5-30 Pengapungan Udara
1-10 Sludge Teraktivasi
0-5 Karbon Aktif
Proses Unit Produksi Utilitas, Pertamina 2007
Pemisahan minyak dan air atas dasar perbedaan kerapatan atau gravitasi
(Perawatan Fisik)(Tabel 21) untuk perangkap minyak, Pemisah API dan Pemisah CPI.
Dikilang Plaju/Sungai Gerong dikenal dengan nama Oil Caycher/Oil Separator.
Sebelum air buangan tersebut mengalir ke saluran pembuangan yang ada dan selanjutnya dibuang

kesungai melalui Oil Cather, air buangan yang mengandung minyak dialirkan ke
CPI (Korbos Plakat Interceptor) yang sudah terpasang di CDU.
Pada CPI minyak yang terkandung di dalam Oil Water tersebut dipisahkan oleh
Skimmer, kemudian dialirkan ke Oil Sump. Minyak yang telah terpisah
dipompakan ke tangki Slop Oil untuk diolah kembali. sedangkan air yang berada
di bawah akan dibuang ke Sungai Komering atau Sungai Musi. Kilang Plaju
memiliki delapan OC dan kilang Sungai Gerong memiliki dua oil separator (OS).
Limbah ini memiliki standar bahan baku mutu (Tabel 22) sebelum dibuang ke
lingkungan atau dikirim untuk diolah lebih lanjut.
Tabel 22. Standar bahan Baku Mutu Limbah Cair
Parameter Kadar Max Beban Pencemaran Max
BOD 1000 mg/L 120 g/cm3
COD 200 mg/L 240 g/cm3
Minyak dan Lemak 25 mg/L 30 g/cm3
Sulfida 1 mg/L 1,2 g/cm3
Phenol Total 1 mg/L 1,2 g/cm3
Cr6 0,5 mg/L 0,6 g/cm3
NH3-N 10 mg/L 1,2 g/cm3
pH 6-9
Sumber: Proses Unit Produksi Utilitas, Pertamina 2007
b. Pengelolahan Limbah Gas
58

Kadar CO dapat dikurangi dengan jalan memperbaiki sistem pembakaran,


dilakukan menggunakan udara yang melebihi kebutuhan (excess air), sehingga
pembakaran berlangsung sempurna.
Reaksi : CO + O2 CO2
Partikula dapat diambil dengan bantuan peralatan, antara lain: Debu,
Pengumpul, Siklon, Penyaring, Filter atau pun Pendorong Elektrostatik. Sebagai
salah satu contoh di FCCU telah terpasang unit Regenerator Cyclonedi
Reaktor yang berfungsi untuk mengurangi emisi partikulat.
c. Pengelolahan Limbah Padat
Penanganan lumpur dan slop mengacu SK Pertamina
No.Kpts70/C0000/91-B1 tanggal 1 Maret 1991 bahwa :
Sludge yang mengandung minyak perlu diadakan proses pemisahan
minyaknya terlebih dahulu dengan pemanasan dan filtrasi bertekanan, minyak
yang terpisah dari sludge tersebut dapat diproses kembali atau dicampur
dengan minyak mentah atau minyak slop.
[Link] Umum (Tabel 23).
Tabel 23. Macam-macam Sampah Umum
Jenis limbah Penanganan limbah Pelaku Pengelolah
Aki/Baterai
Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
bekas
Kartrid, pita
Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
dan toner bekas
Isolasi Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
Resin / Bertindak
Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
Karbon
Filter bekas Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
Tabung Gas
Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
Detektor
Additivedan
Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
Bulu
SpentDEA Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
Tanah
Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
terkontaminasi
Drum bekas Dikirim ke pihak ketiga PT. Wastec Internasional
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011
59

Tabel 24. Sumber dan Upaya Pengelolaan Limbah PT. Pertamina RU III
Sumber Faktor Bobot dan Tolak Upaya Pengelolahan
Dampak Lingkungan yang Ukur Dampak Lingkungan
Terkena Dampak

Emisi gas Kualitas udara Emisi gas masih Pengendalian kadar S


TIDAKx, CO, ambien di terkendali di bawah dan N dalam minyak mentah
JADIx, dan Komperta S. baku mutu
partikulat dari Gerong, Plaju &
stackRFCCU pemukiman Sei
Rebo.

Wastewater Bahan cemaran - PKM II memperkecil - Pemasangan CPI


debit dan BOD beban cemaran dan to reduce
kualitas air minyak dan fenol dispersi minyak beban cemaran
limbahoutlet kilang Musi tetapi total kilang BOD, COD, dan
PKM II, yaitu melampaui baku Musi masih melebihi minyak pada OS-
OS-IV Sungai mutu standar kualitasnya. Saya/II, OS-IV, OC-2/3,
Gerong dan Dispersi minyak OC-6, OC-8.
OC-8 Plaju Sungai Komering
dan berlanjut ke
Sungai Musi
menaikkan kadar
minyak 0.6-1.4
mg/L
Suhucooling Rencana
Dispersi termal di
towerterkendali pembangunan
Sungai Komering
tidak melebihi 3oC menara pendingin
tidak melebihi 50 m
di atas suhu berkapasitas 2x5000
dari keluaran
ambien. m3/jam

Limbah padat Kekhawatiran Rembesan Dijual ke pabrik


berupa sisa terjadinya diperkirakan tidak semen Baturaja
katalis rembesan Ni dan V melebihi 225 m sebagai aditif semen
RFCCU dalam air limbah di atau dimanfaatkan
area pembuangan. untuk bahan
konstruksi bangunan.

Sludgeminyak Kekhawatiran Minyak dalam tanah Membangun lumpur


terjadinya mengalami pemulihan minyak
rembesan minyak biodegradasi disesuaikan dengan
ke dalam air tanah. PKM II

Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2011

Anda mungkin juga menyukai