NASKAH SENI JATI DIRI
Bagian 1 :
Penjelasan mengenai Juna dan keluarganya
Latar: Kamar Juna
Narator: Juna adalah seorang anak laki-laki yang bercita-cita menjadi aktor. Namun, ia adalah
harapan terakhir yang kebanyakan, di dalam keluarganya menjadi seorang dokter. Akankah ia
bisa menggapai cita-citanya yang terasa sulit itu?
kedekatan Juna & Ririn
Latar: Kelas Juna
Suasana: Ramai dengan suara murid dan guru yang menjelaskan.
Narator: Bel telah berbunyi 1 kali, menandakan jam pelajaran Bu Esih, seorang guru Mtk yang
sudah berjalan selama 1 jam.
Ririn: “Stt!! Jun, ajarin dong. Aku gak ngerti soal nomor 5." Menunjukkan ekspresi kesal dan
bingung. /duduk di kursi sambil menggenggam pulpen dan menatap Juna/
Juna: Menghampiri Ririn dan menjelaskan caranya, ekspresi tersenyum. "Oh, ini gampang.
Tinggal lihat rumus sebelumnya dan cari akar pangkatnya.
/Menunjuk soal yang susah dan berdiri di samping bangku Ririn/
Gilang: /Fokus pada soal yang ditugaskan dan tak sengaja melihat Juna dan Ririn membuat ia
kesal/ Berbicara dalam hati: "Ririn ngapain sama Juna? Biasanya dia minta bantuan aku.”
Suasana: Sedikit romantis, lagu romantis diputarkan kencang. Tetapi tetap ada suara murid.
Pengenalan pertemanan Juna
Latar: Kelas ke Kantin
Suasana: Berhagia, ramai dengan murid yang berlalu lalang.
Narafor: Saat ini waktunya para murid untuk istirahat. Murid berbondong-bondong memasuki
kantin, begitu pula dengan Juna, Gilang, dan Ririn. Mereka adalah tiga sekawan yang lengket
seperti lem tikus. Jika ada Gilang di kantin, maka ada Juna dan Ririn. Jika ada Ririn di ruang
guru, maka ada Gilang dan Juna. Ketiganya sudah berteman sejak berada di sekolah dasar.
Namun, tak ada yang sadar bahwa perasaan Gilang terhadap Ririn bukan lagi perasaan sayang
seorang teman kepada temannya, melainkan kepada pujaan hatinya.
Ririn & Juna: /Mengobrol sambil melewati koridor/
Gilang: /Menatap datar mereka; berada di samping Ririn/
Latar: kantin
Suasana: Romantis, ramai
Mereka duduk di kursi, Ririn sesekali mengejak bicara Gilang.
Gilang: "Aku ke perpus ya?! Mau lanjutin belajar meteri, tadi.” Ekspresi kesal
Juna: /Tersenyum & tertawa/ “Siap Lang, hati-hatidi jalan. Kan fans kamu banyak, iya gak Rin?
Ririn: /Terkikik/ "lya tuh, temen kita yang satu ini kan artis papan atas!! Hahaha.”
Juna dan Ririn tertawa, Gilang melenggang pergi.
Bagian 2 Konflik
Salah paham antara Gilang dan Juna
Narator: Selama beberapa hari, hubungan Gilang dengan teman-temannya merenggang.
Karena Gilang yang sangat berambisi memasuki sekolah kedinasannya, mereka bertiga hanya
bisa berinteraksi ketika bel masuk terdengar, dan saat pulang sekolah. Ririn dan Juna
beranggapan bahwa alasan Gilang menjauh dari mereka hanya karena alasan itu saja, padahal
tidak. Gilang cemburu dengan Juna yang terus berdekatan dengan Ririn, ia menghindar karena
tak mau melihat interaksi mereka yang menurutnya lebih dekat.
Latar: Kelas
Suasana: Ramai sekali
Mapel jam kosong, Juna, Gilang, Ririn duduk berhimpun bersama.
Ririn: "Bentar lagi kan ujian kelulusan nih, kalian ada rencana mau masuk ke mana?” Tanya
Ririn, /duduk di kursi yang berada di di antara Juna dan Gilang/
Juna: /Menghela napas kasar; ekspresi sedih/ "Aku pengen masuk SMK 10 Rin...”
Ririn heran, lalu menatap Juna.
Ririn: "Bukannya itu SMK seni, ya? kamu yakın?"
Gilang: /Terus menulis di bukunya/
Juna: /Mengangguk/
Ririn: /Menghela napas/ "Semoga sukses deh!!” /tersenyum lebar/ “Kayaknya Gilang udah
mateng banget, siap mantap, ya... Udah seminggu kerjaan dia kencan sama buku."
Gilang: /Menatap Ririn, menghentikan kegiatannya/ “Aku gak mau gagal, katanya kamu suka
orang yang bekerja keras." /Bahagia, tersenyum lebar/ Ririn & Juna terkekeh.
Ririn: "lyain aja deh!!" /kembali terkekeh/
Ririn: /Ririn menghampiri teman perempuannya yang lain/
Suasana: hening beberapa saat, lalu juna mencoba membuka topik
Juna: "Lang..." /karena tak ada respon dari Gilang, Juna pun menepuk pelan bahu Gilang/
“Lang... lo kenapa sih dari kemarin? /tanya Juna dengan raut kesal sekaligus khawatir/
Gilang: /Gilang mendecak, lalu menengok. Raut kesal terpampang jelas di wajahnya/
Gilang: “Apasih, Jun? ganggu aja lo dari tadi.”
Juna: /Mendengar bentakan Gilang, membuat Juna terheran-heran/ "Tuh, kan. Ada yang salah
dari lo. Kenapasih sebenernya? Kenapa ga mau cerita ke kita? atau gue?"
Gilang: /Gilang yang tak bisa menahan kekesalannya, lalu menggebrak meja/
Juna: /Juna ikut berdiri di hadapan Gilang/
Gilang: /menghampiri Juna lalu mendorong bahu Juna/ “lo suka sama si Ririn?!! Ngaku
aja!!” /ekspresi marah/
Juna: "Maksud lo gimana, nuduh-nuduh?!!" /sambil menarik kerah baju Gilang/
Gilang: "kenapa lu deket-deket sama Ririn?!! Lo mau nikung gue?!! /Gilang membalas menarik
kerah baju Juna/
Suasana: beberapa saat hening, lalu siswa mulai berkerumun (improvisasi dari pemeran) KM
yang melihat mencoba melerai pertikaian itu karena tak kunjung berhenti ia berinisiatif
memanggil guru.
Narator: Setelah Pertikaian itu terjadi, mereka berdua berakhir diruang BK, kedua orang tua
mereka dipanggil kesekolah untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Restu orang tua & Perdebatan Panjang
Latar: kamar Juna
Suasana: Hening hanya terdengar suara Hp Juna.
Narator: Hari semakin larut, juna berdiam diri di kamar sambil menonton serial Film
kesukaannya.
Juna: /duduk di kursi meja belajarnya, sambil tersenyum/
Mamah: /memasuki kamar Juna dengan tenang/ “Juna kasepna mamah, keur naon?”
Juna: /Juna menoleh keibunya, dan mematikan tontonannya/ “keur nonton mah, aya naon
gitu?
Mamah: /Ibu terlihat berpikir/ "Rék ka sakola mana adek teh? mamah ngarep-ngarep pisan
nurutan omongan mamah, sangkan bisa siga Kang Dimas."
Juna: /Tertegun sejenak / “Juna hayang jadi aktor mah..."
Mamah: /terkejut mendengar perkataan Juna/ "Dek teh yakin? Jadi aktor teu merta
kasuksésan dek, langkung saé pikeun Juna janten dokter sapertos Kang Dimas, langkung
dijamin tibatan aktor.
Juna: “Tapi Juna boga impian sorangan, Mah. Teu salawasna kudu kawas Kang Dimas." /Sedikit
kecewa dengan ibu/
Mamah keluar dari kamar Juna seraya menghela napasnya, menghiraukan perkataan Juna.
Latar: Ruang makan (Dapur).
Narator: Juna dan keluarganya makan bersama di meja makan, setelah kegiatan selesai, dan
Bapak pun membuka pembicaraan. Biasanya Bapak, Mamah, Juna, Suci, dan Elia berbincang-
bincang seputar hari ini di sana setelah makan.
Bapak: /Mengumpulkan piring bekas makan menjadi satu tumpukan/ “Bapak hoyong ngobrol
ngeunaan hal anu penting ayeuna." /Muka datar/
Suci: /Menatap Bapak bertanya-tanya/ “Ngeunaan sakola Juna?”
Bapak: /Berdehem, lalu menatap Juna tajam/ "Kumaha,
Jun? Sakola mana anu Juna pikahoyong?”
Juna: /Menghela napas kecil/ "SMK 10, Pak...." /Dengan
penuh percaya diri/
Elia dan Suci terkejut.
Mamah: /Menatap malas Juna/ "Bejakeun ka anak anjeun, kuring parantos masihan naséhat
pikeun asup ka SMK 7 supados anjeunna tiasa janten dokter."
Bapak: /Dengan ekspresi marah; Ia berdiri dari kursi sambil menunjuk-nunjuk Juna/ "Bapak
pasihan maneh 2 pilihan, aih maneh milih pilihan katilu? Hoyong janten brandalan maneh
teh?" /Lalu menggebrak meja/
Suci: /Menghela napas kasar, menatap Juna Sinis/
Bapak: “Maneh teu isin gelut nepi ka asup ka BK, jeung ayeuna rék ngalawan paménta
Kuring?" /Marah dengan suara tinggi sambil menunjuk diri sendiri dengan emosi/
Mamah: "Nyatana, kuring henteu kantos ngira yén anak anjeun gelut pikeun awéwé."
/Judes/.
Juna: /Menatap Mamah dengan ekspresi keheranan/ "Juna henteu ngalawan kusabab awéwé
Mah, ngan Gilang salah paham." /Berpaling menatap ke arah Ayah/ "Bapak, Juna mohonnya??
Juna hayang jadi Aktor. Juna ngarasa Juna teu boga bakat jadi Dokter kawas Anjeun." /Dengan
sabar menjelaskan/
Bapak: "Tapi Dimas tiasa, Juna!!" /Membentak Juna/
Juna: /Mulai merasa kesal/ "Kang Dimas sanes Juna, anjeunna berbakat sareng hoyong janten
dokter. Éta anu ngajantenkeun anjeunna suksés ayeuna."
Suci: /Menatap tajam Juna/ "Kami parantos Dokter turun-tumurun, upami Anjeun hoyong
janten Aktor, Anjeun lahir dina kulawarga Aktor…"
Bapak: /Berdiri/ "Abdi bakal masihan Anjeun sababaraha waktos dugi rapat kulawarga ageung
sumping. Mun ari keukeah mah Bapak teu hayang ngaurusan Juna deui!! Anjeun
mangrupikeun harepan ageung Bapak, Bapak ngan ukur hoyong anu pangsaéna pikeun
Anjeun!!”
/Meninggalkan ruang makan/
Lalu Mamah, Suci dan Elia beranjak dari meja makan juga, dengan Juna terdiam diri beberapa
detik. Ruangan hening.
Kepercayaan dan tanggung jawab besar
Latar: Kamar Juna
Suasana: Suram
Narator: Juna kembali ke dalam kamarnya dengan perasaan kesal, marah, dan sedih. la
bertanya-tanya mengapa tidak boleh mengikuti keinginannya. heran la kepada keluarganya,
mengapa terus mengatur ngatur dan beranggapan Juna seperti boneka yang hanya bisa diam
menuruti keinginan mereka.
Juna: /Duduk di meja belajar sambil menundukkan kepala, meratapi nasib. Terlihat murung/
Elia: /Menghampiri Juna/ "Jun..."
Juna: /Menengok ke pada Elia/ "Aya naon, Teh?"
Elia: "Sabar, jangan masukin ke hati perkataan ayah titik teteh akan cari solusi buat jurnal biar
bisa masuk SMK 10. Maaf teteh nggak bisa bantu banyak." /Berucap dengan lemah lembut,
lalu tersenyum tipis./
Juna: /menghela nafas/ "Iya, The. Lagian Juna nggak akan menyerah buat dapetin restu Bapak
dan Mamah untuk sekolah di SMK 10."
Elia: /Tersenyum/ "Ya udah Teteh ke kamar dulu, ya..."
Juna mengangguk, lalu Elia keluar dari kamar.
KEPERCAYAAN & TANGGUNG JAWAB BESAR
Latar: Ruang makan
Suasana: Hari dimana keluarga besar Juna berkumpul pun datang. Bapak, Mamah, kedua
Teteh juga, Paman dan Bibi, beserta sepupu Juna duduk dikursi meja makan. Sesekali bertukar
kabar satu sama lain.
Paman: "Juna makin tinggi aja paman liat lihat, padahal kita gak ketemu cuman 4 bulan.
Allhamdulilah sekarang bisa bertemu dan kumpul-kumpul seperti ini. /Tersenyum senang/
Juna: /Tersenyum dan salim kepada tangan Pamannya/ "Ehehe, iya Paman. Beberapa bulan ini
Juna nyoba olahraga dikit-dikit lah, biar Juna bisa tes pemeran utama di drama yang diadakan
di SMK Juna nanti!" /duduk disebelah paman/
Paman: /Sedikit terkejut/ "Loh, Juna jadi masuk SMK 10?"
Juna: /tersenyum senang/ "Iy…"
Bapak: "HEUNTEU! Juna bapak teu ngizinin." /Ucap Bapak dengan tegas/
Juna: /Ekspresi masam/
Paman: /Bertanya tanya/ "Kok nggak diizinin? Kayaknya anakmu itu lumayan berbakat dalam
bersandiwara, nggak papa lah. Supaya keluarga kita nggak cuma pakai jas putih doang, Saya
bosan lihatnya." /Tersenyum kearah Juna/
Bapak: "Saya ingin Juna menjadi seperti Dimas.” /Bapak menengok ke arah Dimas/ “Dimas,
Paman minta tolong sama kamu, untuk ajarkan Juna beberapa materi jurusanmu di SMK 7."
/Tersenyum lembut/
Dimas: /Mengangguk dan membalas senyuman Bapak/
Elia: /Merengut melihat Juna/ "Kenapa Bapak selalu memaksakan keinginan Bapak pada
Juna? /Elia menatap serius Juna/ “Juna, jangan biarkan Bapak terus mengatur hidup Kamu."
Juna: /Merasa tertekan dan frustasi/ "Aku ingin menjadi Aktor, bukan jadi Dokter, Pak!"
/Dengan nada marah/
Bapak: /marah/ "Jangan mulai lagi, Juna! Kamu harus dengar kata Bapak!"
Mamah: /Menatap Juna/ "Maafkan Bapak, Juna. Bapak hanya ingin yang terbaik untuk
Kamu."
Paman: /Mengulurkan tangan ke Juna/ "Juna, Paman mengerti impianmu. Saran Paman,
jangan biarkan impianmu pupus begitu saja."
Bapak: /Marah, menatap Paman tajam/
Dimas: /Mengangguk setuju/ "Akang selalu dukung Juna."
Bapak: /Menatap Dimas/ "Jangan ikut campur, Dimas." /Dimas tetap tersenyum walau tipis/
Juna: /Menghiraukan Bapak; menatap Paman dan Dimas/ "Makasih, Paman dan Akang."
Narator: Suasana memanas dengan perdebatan Bapak, Paman, Juna dan Elia. Diakhiri dengan
keputusan akhir Juna diizinkan untuk bersekolah di SMK 10. Tetapi, Bapak akan memotong
uang jajan Juna setiap harinya. Biaya kegiatan sekolah Juna pun ayah hanya ia sudi dibayarnya
sebanyak 70%, membuat Juna harus menabung setiap hari dan jarang membeli jajanan saat
jam istirahat.