CHAPTER REPORT
EDUCATIONAL TERM:
LEARNING THROUGH STORIES
By:
Wardahthul Jannah : 1714050003
Lecture :
Haryudi Nizar [Link],[Link]
JURUSAN TADRIS BAHASA INGGRIS (A)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
1441 H/ 2019 M
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan yaitu suatu proses pembelajaran pengetahuan,kemampuan serta keterampilan
yang dilihat dari kebiasaan setiap orang, yang menjadi bahan warisan dari orang sebelumnya
hingga sekarang. Arti pendidikan berasal dari bahasa inggris yaitu education dimana dari bahasa
latin yaitu [Link] arti kata “E” yairu sebuah proses perkembangan dari dalam keluar
kemudian kata “Duco” dengan yang sedang berkembang.
Jadi pendidikan adalah prose kemampuan serta keahlian diri yang terus berkembeng terus
menerus secara individual.
Penggunaan cerita-cerita dalam pendidikan bahasa telah dibuktikan. Cerita juaga dapat
digunakan diseluruh kurikulum untuk mengajarkan subjek konten. Hidup itu sendiri penuh
dengan cerita cerita diberitahu untuk menginformasikan,menghibur,menghargai,cerita tentang
kebahagian,kesedihan dan banyak lagi. Cerita dapat digunakan dalam mengembangkan bahasa.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan cerita dan tema
2. Bagaimana susunan cerita
3. Apa saja bahasa yang digunakan dalam cerita
4. Cara mengunakan sebuah cerita
5. Bagaimana Pengembangan tugas sekitar cerita
BAB II
Pembahasan
1. Cerita dan Tema
Cerita dan tema ditempatkan bersama karena mereka mewakili pendekatan holistic untuk
pengajaran dan pembelajaran bahasa yang sangat ditekankan pada keterlibatan anak-anak dalam
menggunakan bahasa asing yang kaya dan otentik. Cerita-cerita menawarkan dunia rekaan yang
utuh, yang diciptakan oleh bahasa,dimana anak-anak dapat masuk dan menikmati ,belajr bahasa
sambil melakukanya. Tema dimulai dari topic atau gagasan yang dapat dikembangkan kebanyak
arah yang berbeda, kemungkinan anak-anak untuk mangejar kepentingan pribadi melalui bahasa
asing.
Ceria-cerita sering kali dinyatakan mendatnagkan banyak manfaat bagi kelas-kelas pelajar
muda,termasuk pengembangan bahasa(Wright 1997;Garvie 1990). Kisah-kisah dapat menjadi
metafora bagi bagi masyarakat atau jiwa kita yang paling dalam(Bettleheim 1976).
2. Susunan Cerita
Menceritakan kisah adalah sebuah kegiatan lisan,dan cerita-cerita memiliki bentuk yang
mereka lakukan karena mereka dirancang untuk didengarkan dan ,dalam banyak situasi berperan
serta di [Link] utama lainnya dar organisasi cerita adalah tematis mereka struktur yaitu
ada beberapa factor minat utama (tema) yang berubah dari skala waktu dari cerita. Struktur
cerita-cerita khas ini dianalisis oleh prop dan bayak cirri yang sama telah ditemukan dalam
analisis tentang bagaimana orang-orang menceritakan kisah-kisah dalam percakapan mereka
(Labov 1972). Fitur prototype cerita adalah:
a. Pemebukaan “Dahulu kala”
b. Pengenalan karakter
c. Uraian tentang latarnya
d. Pengentar problem
e. Penyelesaian masalah
f. Penutup
g. Moral
3. Bahasa digunakan dalam cerita
a. Paralelisme
Pola pengulangan atau paralelisme menciptakan cara cerita teh bagi para
pendengar yang aktif, yang secara alami memberikan dukungan alami untuk
pembelajaran bahasa
b. Kaya kosa kata
Karena cerita dirancang untuk menghibur, para penulis dan teller memilih dan
menggunakan kata-kata dengan hati-hati agar hadirin tetap berminat. Jadi, cerita
bisa mencakup kata-kata yang tidak lazim, atau kata-kata memiliki kandungan
fonologi yang kuat, dengan irama atau bunyi yang menarik, yaitu onomatopoeik.
Konteks yang diciptakan melalui cerita, pola atau peristiwa serta bahasa, dan
gambarnya yang dapat diramalkan, semuanya bertindak untuk mendukung
pemahaman pendengar akan kata-kata yang tidak lazim. Anak-anak akan
menghafal kata-kata yang mereka sukai dan, dengan demikian, cerita-cerita
membuka peluang bagi perkembangan kosa kata mereka.
c. Aliterasi
Pengulangan adalah penggunaan kata yang memiliki konsonan awal yang sama.
Untuk misalnya, red riding dan big bad. Hal ini dapat menawarkan sumber untuk
mengembangkan pengetahuan bunyi surat.
d. Kontras
Cerita-cerita untuk anak-anak sering kali berisikan perbandingan yang kuat antara
karakter atau tindakan atau tatanan. Menempatkan gagasan-gagasan dalam
pertentangan yang sedemikian jelasnya dapat sangat membantu pemahaman anak-
anak mengenai kisah itu secara keseluruhan. Untuk pembelajaran bahasa, benda-
benda lexis yang digunakan sehubungan dengan setiap gagasan juga akan
membentuk set yang berbeda, yang dapat membantu kita memahami dan
mengingat kembali.
e. Metafora
Bettleheim (1976) menyarankan bahwa pengalaman pertama kita dengan peta
dongeng tunduk pada pengalaman-pengalaman dunia nyata, dan menjadi
gambaran untuk kehidupan kita. Pengakuan akan kekuatan semacam itu untuk
mengarang cerita-cerita tersebut membawa kita jauh melampaui kelas bahasa
asing, meskipun ada individu-individu berbakat yang telah menggunakan
'pembuatan cerita' untuk pengembangan pendidikan dan pribadi (e. G Marshall
1963).
f. intertekstual
adalah istilah yang digunakan untuk dercribe membuat referensi dalam satu teks
ke aspek-aspek dari teks lain yang telah menjadi bagian dari pengetahuan budaya
yang dibagikan. Ketika anak-anak mulai menulis cerita mereka sendiri, atau
drama kecil, mereka mungkin, seperti yang dilakukan penulis dewasa, melibatkan
tokoh-tokoh atau potongan-potongan bahasa tak asing dari kisah-kisah yang
mereka kenal. Penyesuaian suara seorang penulis merupakan bagian integral dari
perkembangan bahasa pertama (Bakhtin 1981), dan dapat membantu
pembelajaran bahasa asing juga.
g. Narative/dialog
dalam suatu cerita, kita dapat membedakan dua penggunaan utama bahasa: untuk
narasi dan untuk dialog. Teks naratif menyangkut rangkaian peristiwa, sedangkan
dialog menggunakan bahasa sebagaimana digunakan oleh tokoh-tokohnya
4. Cara menggunakan sebuah cerita
1. Mengevaluasi kesempatan pembelajaran bahasa dari cerita tersebut Jawaban
terhadap pertanyaan dari bagian sebelumnya membantu bekerja ke arah kegiatan.
2. Tugas mempelajari bahasa menggunakan cerita
-Kegiatan persiapan: kosa kata yang suka berdiskusi
- Kegiatan inti: membaca ceritanya
-Menindaklanjuti kegiatan: kosakata pembelajaran
5. Mengembangkan tugas sekitar cerita
1. Mendengarkan keterampilan
2. Keterampilan khotbah
BAB III
Penutup
[Link]
Dalam mengajarkan bahasa kepada pelajar muda, kita dapat menggunakan cerita, atau
cerita pendek, untuk membantu anak-anak memahami mengenai bahasa baru, tema dan simbol,
serta memperkenalkan kepada pelajar cara bercerita. Cerita-cerita menawarkan dunia rekaan
yang utuh, yang diciptakan oleh bahasa, dimana anak-anak dapat masuk dan menikmati, belajar
bahasa sambil melakukannya. Mempelajari kosakata baru tidak menimbulkan banyak kesulitan
serius. Sebenarnya, guru harus kreatif ketika mereka berada di jalan cerita. Jangan membuat
anak-anak bosan, membuat kelas yang menarik.
Referensi:
EARLY CHILDHOOD EDUCATION STUDY PROGRAM
TEACHER TRAINING AND EDUCATION FACULTY
UNIVERSITY OF MUHAMMADIYAH MAGELANG
2015
Cameron, Lynne. 2001. Teaching Languages To Young Learners.
Cambridge: Cambridge University Press