kBAB I
ANALISIS KARAKTERISTIK MADRASAH
A. Analisis Karakteristik Peserta Didik
1. Latar Belakang Ekonomi Orang tua peserta didik
Table 1 Rekapitulasi Data Pekerjaan Orang Tua Peserta Didik
NO Uraian Jumlah Persentase %
1 PNS 6 0,025%
2 Pegawai Swasta 22 0,092%
3 Pedagang 38 0,159%
4 Petani 2 0,008%
5 Nelayan 2 0,008%
6 Buruh 41 0,172%
7 Wiraswasta 127 0,533%
2. Latar Belakang sosial budaya orang tua peserta didik
Table 2. Rekapitulasi Data Suku Bangsa Orang Tua Peserta Didik
NO Suku Bangsa Jumlah Persentase %
1 Melayu 14 0,058%
2 Jawa 88 0,369%
3 Minang 5 0,021%
4 Batak 12 0,050%
5 Banjar 112 0,470%
6 Sunda 3 0,012%
7 Aceh 1 0,004%
8 Madura 1 0,004%
9 Karo 1 0,004%
10 China 1 0,004%
3. Latar Belakang pendidikan sebelumnya
Tabel 3. Rekapitulasi Data Pendidikan Peserta Didik
NO Jenjang Pendidikan Jumlah Persentase %
1 RA 167 0,701%
2 TK 59 0,247%
3 Tidak RA/TK 12 0,050%
4. Jenjang Lanjutan setelahnya
Table 4. Rekapitulasi Jenjang Pendidikan Lanjutan
NO Jenjang Pendidikan Jumlah Persentase %
1. SMP 13 0,054%
2. MTS 4 0,016%
3. Pesantren 6 0,025%
5. Potensi kognitif (IQ)
Tabel 5. Rekapitulasi IQ Peserta Didik
NO Potensi Kognitif Jumlah Persentase %
1. Tinggi 103 0,432%
2. Sedang 107 0,449%
3. Rendah 26 0,109%
4. PDBK 2 0,008%
6. Gaya Belajar Siswa
Table 6. Rekapitulasi Gaya Belajar
NO Potensi Kognitif Jumlah Persentase %
1 Visual 102 0,428%
2 Auditori 81 0,340%
3 Kinestetik 55 0,231%
7. Minat dan Bakat Peserta Didik termasuk prestasi yang pernah diraihnya
Table 7. Rekapitulasi Minat dan Bakat Peserta Didik
N Uraian Jumlah Prestasi Persentase %
O
1 Spasial 1 - 0,004%
2 Linguistik 45 - 0,189%
Logika 41 - 0,172%
3
Matematika
4 Natural 7 - 0,029%
5 Interpersonal - - -
6 Intrapersonal - - -
7 Kinestetik 69 - 0,289%
8 Musikal 75 - 0,315%
8. Hambatan belajar peserta didik
Tabel 8. Rekapitulasi Hambatan Belajar Peserta Didik
N Faktor Factor Jumla
Jumlah Persentase % Persentase %
O Internal Eksternal h
1 Psikologis 24 0,100% Keluarga 6 0,025%
2 Kecerdasan 37 0,155% Masyarakat 17 0,071%
3 Kesehatan 20 0,084% Madrasah 9 0,037%
Tdk ada dll
4 125 0,525% - -
hambatan
9. Kemampuan awal bidang keagamaan
Tabel 9. Rekapitulasi Awal Bidang Keagamaan
Jumla
No Al Qur’an Jumlah Persentase % Sholat Persentase %
h
Sangat Baik 54 0,226% Sangat Baik 61 0,256%
Baik 88 0,369% Baik 90 0,378%
Cukup 79 0,331% Cukup 76 0,319%
Kurang 17 0,071% Kurang 11 0,046%
10. Karakter atau kepribadian peserta didik
Table 10. Rekapitulasi Kepribadian Peserta Didik
NO Kepribadian Jumlah Persentase %
1 Dominance 58 0,243%
2 Influence 51 0,214%
3 Steadiness (konsistensi) 78 0,327%
4 Complience 51 0,217%
B. Analisis Guru dan Tenaga kependidikan
Kondisi di Madrasah dipotret berdasarkan standar Tendik
Table 11 Kualifikasi Guru dan Tendik
NO Nama Kualifikasi Jabatan
1 SITI MARYAM,[Link] MI
S1 Kepala Madrasah
196510271987032004
2 KHAIRANI, [Link] MI
S1 Guru Kelas
196802292000032002
3 HANDAYANI, [Link] MI
S1 Guru Kelas
198204272005012005
4 WAHIDAH, [Link] I
S1 Guru Bidang Study
197911162009012005
5 SITI AISAH, [Link] I S1 Guru Kelas
6 ZEMA, [Link] S1 Operator
7 SITI HAFSYAH, [Link] I S1 Guru Kelas
8 SUPRIADI, [Link] I S1 Guru Bidang Study
9 RIDHA ARISMA, [Link] I S1 Guru Kelas
10 NURWAHIDA AYU LESTARI, [Link] S1 Guru Kelas
11 ANAS MUNAWAR, [Link] S1 Guru Bidang Study
12 SUTIAR NINGSIH, [Link] S1 Guru Kelas
13 NANI SAFITRI SIREGAR, [Link] S1 Guru Kelas
14 EDI SETIAWAN, [Link] S1 Guru Bidang Study
15 IMPIAN SRI WARDANA SMA Guru Kelas
C. Analisis Sarana dan Prasarana
1. Sarana dan Prasarana mengacu pada Standar Sarana dan Prasarana
a. Ruang Kelas
MI Amal Bhakti memiliki enam ruang kelas dengan kondisi permanen lengkap
dengan pentilasi udara yang cukup. Dilengkapi dengan meja kursi yang cukup
untuk semua siswa hanya saja kapasitas melebihi jumlah standar yang
seharusnya maksimal 28 siswa perkelas. MI Amal Bhakti memiliki kekurangan
ruang kelas dan menjadi kendala utama yang sampai saat ini masih terus
mencari jalan penyelesaian dengan melakukan pembangunan secara bertahap,
bekerja sama dengan wali murid untuk menggalang dana guna terlankasananya
pembangunan ruang kelas baru.
b. Ruang Kantor
MI Amal Bhakti memiliki satu ruang kantor kepala sekolah, menyatu dengan
ruang Adminis trasi Tata usaha lengkap dengan pasilitasnya seperti komputer
dan mesin printer. Dokumen perstasi sekolah juga dilektakkan di ruang kantor
seperti tropi, pagam dan lainnya. MI Amal Bhakti juga memiliki satu ruang
guru, hanya saja ukuran ruangan masih terlalu kecil sehingga tidak semua guru
terpasilitasi dengan meja kursi yang cukup.
c. Ruang Ibadah
MI Amal Bahkti Memiliki satu ruang ibadah yang digunakan siswa dalam
kegiatan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaah, hanya saja ukuran ruangan
yang kecil tidak mencukupi untuk menampung semua siswa melaksanakan
shalat berjamaah secara bersamaan. Oleh karena itu shalat berjamaah dilakukan
secara bergantian setiap kelas.
d. Toilet dan Kebersihan
MI Amal Bhakti memiliki Toilet yang mencukupi disesuaikan dengan
perbandingan siswa yang ada, ada tiga toilet untuk perempuan dan dua toilet
untuk laki-laki. Dalam menjaga kebersihan dilakukan secara terjadwal diambil
dari siswa kelas V dan VI secara bergantian dengan dikorodinir oleh guru piket
setiap harinya.
e. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
MI Amal Bhakti memiliki fasilitas jaringan wifi, satu komputer, dua mesin
printer dan 7 leptop yang digunakan operator dan guru. Dilengkapai dengan dua
proyektor lengkap. Jaringan wifi digunakan dalam proses penilaian dan
pendataan serta sebagai alat penunjang dalam mengeklplorasi sumber belajar.
f. Fasilitas Olahraga dan Kesenian
MI Amal Bhakti memiliki fasilitas lapangan olahraga volly dan badminton
lengkap. Untuk kesenian MI Amal Bahkti memiliki dua set rebana sebagai
penunjang dalam kegiatan pentas seni.
MI Amal Bhakti memiliki fasilitas yang mendukung kegiatan belajar, administratif, dan
ekstrakurikuler dengan beberapa kekuatan, seperti ventilasi ruang kelas, fasilitas
teknologi, dan area olahraga. Namun, ada juga kelemahan terkait kapasitas, ukuran
ruang, dan keterbatasan perangkat yang perlu diatasi untuk meningkatkan kualitas dan
efisiensi fasilitas di sekolah.
D. Analisis Lingkungan Madrasah
1. Potensi bentang alam yang dominan di sekitar Madrasah;
Sebelah kanan, kiri, depan dan belakang dari madrasah terdapat perumahan penduduk y
ang cukup padatat. Lokasi sekolah berada di kawasan datar jauh dari aliran sungai da
n pegunungan sehingga kecil mejadi sasaran bencana banjir. Lokasi yang mudah dija
ngkau angkutan umum namun tidak berada dipusat jalur lalulintas sehingga jauh da
ri polusi udara kendaraan, keadaan lingkungan sangat tenang dan nyaman membuat
kegiatan belajar siswa akan lebih kondusif.
2. Karakteristik masyarakat di sekitar Madrasah;
MI Amal Bhakti memiliki peluang berkembang cukup besar. Lingkungan
masyaratkat sekitar lebih dominan bersuku Banjar yang dikenal memiliki
kehidupan agama yang lebih kental. Namun dibalik itu semua ada ancaman yang
perlu dipertimbangkan di lingkungan MI Amal Bhakti, bersumber dari pengaruh
perkembangan teknologi yang tanpa batas, pergeseran nilai budaya yakni adanya
kecenderungan sikap hidup metropolis dengan meniru budaya luar mulai melanda
kehidupan peserta didik, menirukan perilaku sosial yang tidak jelas tetapi dianggap
sesuatu yang baru walaupun sebenarnya menyimpang dari norma yang sebenarnya.
Oleh karena itu, kegiatan pembentukan budi pekerti dan melestarikan seni budaya
tradisional sangat dioptimalkan melalui kegiatan pembiasaan. Menyikapi kondisi
ini, MI Amal Bhakti melakukan upaya nyata berupa peningkatan mutu pendidik
dan tenaga kependidikan, melengkapi sarana dan prasarana, menjalin kerja sama
yang harmonis dengan orang tua peserta didik/wali peserta didik dan mengadakan
kegiatan pembiasaan dengan mengutamakan pembentukan karakter dengan
mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dan masyarakat.
3. Kekhasan/tradisi yang cukup kuat di Madrasah
Di madrasah, terutama dalam konteks pendidikan Islam, terdapat beberapa kekhasan
dan tradisi yang cukup kuat yang berperan penting dalam membentuk identitas dan
budaya madrasah. Di madrasah, kurikulum pendidikan biasanya mengintegrasikan
pelajaran agama Islam dengan pendidikan umum. Misalnya, selain mempelajari
mata pelajaran umum seperti matematika, sains, dan bahasa, siswa juga mempelajari
mata pelajaran agama seperti Al-Qur'an, Hadis, Fiqh (ilmu fiqh), dan Akidah
(keimanan).
Kegiatan belajar mengajar diawali dengan pembacaan dan hafalan Al-Qur'an,
Madrasah sering melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan secara rutin, seperti
shalat berjamaah, santunan anak yatim setiap bulan muhaaram, buka bersama ,
khatam Al-Qur'an dan shalawatan secara berjamaah. Selain itu, madrasah juga
mengadakan perayaan hari-hari besar Islam maulid nabi dan isra’ wal mi’raj, tradisi
ini menciptakan keseimbangan antara pendidikan duniawi dan ukhrawi (akhirat),
yang merupakan ciri khas dari madrasah.
Dari analisi tersebut dapat dideskripsoskan kekuatan dan kelemahan yang dihadapi
yaitu :
Kekuatan:
1. Keamanan: Terhindar dari risiko bencana banjir karena lokasi datar.
2. Lingkungan: Terletak di area tenang dan bebas polusi, mendukung suasana belajar.
3. Potensi Religius: Masyarakat bersuku Banjar yang religius mendukung nilai-nilai pe
ndidikan agama.
4. Upaya Pengembangan: Fokus pada peningkatan mutu pendidikan dan pelestarian bu
daya.
5. Integrasi Kurikulum: Kombinasi pendidikan agama dan umum menciptakan keseim
bangan.
6. Kegiatan Keagamaan: Tradisi keagamaan seperti shalat berjamaah memperkuat ident
itas madrasah.
Kelemahan:
1. Kepadatan Penduduk: Lokasi di perumahan padat dapat menambah risiko gangguan
sosial.
2. Kurangnya Aktivitas: Tidak berada di pusat aktivitas bisa membatasi akses ke fasilit
as tambahan.
3. Pengaruh Negatif Teknologi: Perubahan budaya dan teknologi dapat mempengaruhi
norma sosial.
4. Perubahan Sosial: Gaya hidup metropolitan mengancam nilai-nilai tradisional.
5. Keseimbangan Pendidikan: Penekanan pada kegiatan keagamaan mungkin mengura
ngi waktu untuk pengembangan keterampilan lain.
6. Penerapan Tradisi: Tantangan dalam menyeimbangkan antara pendidikan agama dan
umum.
E. Analisis Kemitraan Madrasah
Dalam rangka meningkatkan layanan kepada pelajar dan mengatasi kelemahan serta kendala
yang dialami oleh madrasah, maka MI Amal Bhakti melakukan berbagai upaya, antara lain
menjalin kerjasama dengan berbagai pihak sebagai berikut.
1. Dinas Kesehatan
Salah satu kerjasama yang dilakukan MI Amal Bhakti dengan dengan sangat baik yang ada
di tingkat kecamatan yaitu Puskesmas Kec Binjai dalam bidang Usaha Kesehatan Sekolah
(UKS). Tujuan utama UKS MI Amal Bhakti yaitu meningkatkan kemampuan hidup sehat
dan menciptakan lingkungan yang sehat. Serata mengikuti setiap program dari puskesmas
kecamatan seperti melakukan imunisasi pada setiap jadwal yang telah diprogramkan.
1. Perpustakaan Daerah
Salah satu kerjasama yang dilakukan MI Amal Bhakti dengan dengan sangat baik dengan
perpustakaan daerah adalah dengan hadirnya perpustakaan keliling pada waktu yang telah
mereka jadwalkan, serta megikuti program Dinas Perpusda seperti lomba cerita rankyat.
2. Pemerintah Desa
MI Amal Bhakti juga selalu membnagun kerjasama yang baik dengan Pemerintah Desa
seperti terkait pemanfaatan sumber daya manusia secara mutualisme, sekolah memanfaatkan
sumber daya manusia di masyarakat dan sebaliknya, masyarakat memanfaatkan sumber daya
yang dimiliki sekolah. Apalagi MI Amal Bhakti adalah yayasan yang berdiri atas Perjuangan
masyarakat sehingga kerjasama dengan pemerintah desa tentu sangat berpengaruh.
3. MTs/SMP di Kecamatan Binjai sebagai estapet untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi.
Dari analisi tersebut dapat dideskripsoskan kekuatan dan kelemahan yang dihadapi
yaitu :
Kekuatan:
1. Meningkatkan kesehatan siswa melalui program UKS dan imunisasi.
2. Kerjasama efektif dan rutin dengan Puskesmas.
3. Memperluas akses siswa ke bahan bacaan dan program literasi.
4. Meningkatkan minat baca dan partisipasi siswa.
5. Memanfaatkan sumber daya secara mutualisme dengan masyarakat.
6. Dukungan komunitas yang kuat karena sejarah yayasan yang didirikan oleh masyara
kat.
7. Memudahkan transisi siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
8. Menyediakan jalur yang jelas untuk kelanjutan pendidikan.
Kelemahan:
1. Terbatas pada program kesehatan, tidak mencakup aspek lain seperti kesehatan ment
al.
2. Tergantung pada jadwal dan sumber daya dari Puskesmas.
3. Kehadiran perpustakaan keliling mungkin tidak cukup sering.
4. Program literasi mungkin terbatas pada jadwal yang ada.
5. Ketergantungan pada dukungan pemerintah desa.
6. Potensi koordinasi yang kurang optimal antara sekolah dan masyarakat.
7. Risiko ketidaklancaran dalam transisi pendidikan.
8. Perbedaan kurikulum dapat menjadi kendala bagi siswa.
F. Analisis Pembiayaan Madrasah
Seluruh pembiayaan MI Amal Bhakti diambil dari dana BOS. Baik dari penyediaan
sarana dan prasarana seperti meja kursi, buku Pelajaran dan perlengkapan lainnya
termasuk gaji guru non PNS semuanya bersumber dari dana BOS.
Dari analisi tersebut dapat dideskripsoskan kekuatan dan kelemahan yang dihadapi
yaitu :
Kekuatan:
1. Kepastian Dana: Dana BOS memberikan aliran dana yang stabil untuk kebutuhan da
sar sekolah.
2. Efisiensi Pengelolaan: Menyederhanakan pengelolaan keuangan dengan cakupan ya
ng luas.
3. Fokus pada Kebutuhan Dasar: Mencakup sarana, prasarana, buku pelajaran, dan gaji
guru non-PNS.
4. Akuntabilitas: Penggunaan dana BOS terpantau dan harus dilaporkan secara transpar
an.
5. Kualitas Pendidikan: Mendukung peningkatan kualitas pendidikan di MI Amal Bhak
ti.
Kelemahan:
1. Keterbatasan Anggaran: Dana BOS mungkin tidak cukup untuk semua kebutuhan at
au pengeluaran tak terduga.
2. Ketergantungan: Risiko jika ada perubahan kebijakan atau penurunan alokasi dana.
G. Landasan pengembangan Kurikulum
1. Landasan Yuridis
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
c. Peraturan Pemerintah RI Nomor 4 Tahun 2022 Perubahan Atas Peraturan Pemer
intah Nomor 57 Tahun 2021 Tentang Standar Nasional Pendidikan;
d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 Tentang Perub
ahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru;
e. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 82
Tahun 2015 Tentang Pencegahan Tindak Kekerasan;
f. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 6 Ta
hun 2018 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah;
g. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Ind
onesia Nomor 5 Tahun 2022 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pada Pendidi
kan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menen
gah;
h. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Ind
onesia Nomor 7 Tahun 2022 Tentang Standar Isi Pada Pendidikan Anak Usia Di
ni, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah;
i. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Ind
onesia Nomor 21 Tahun 2022 Tentang Standar Penilaian Pendidikan Pada Pendi
dikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Mene
ngah;
j. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Ind
onesia Nomor 16 Tahun 2022 Tentang Standar Proses Pada Pendidikan Anak U
sia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Dan Jenjang Pendidikan Menengah;
k. Keputusan Mentri Agama Nomor 450 tahun 2024 tentang Pedoman Implementa
si Kurikulum Merdeka pada Madrasah
l. SK Dirjen Pendis Nomor 3302 tahun 2024 tentang Capaian pembelajaran PAI
dan Bahasa Arab
m. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Ind
onesia Nomor 12 Tahun 2024 Tentang Kurikulum Pada Pendidikan Anak Usia
Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Dan Jenjang Pendidikan Menengah;
n. Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan
Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor
32/H/KR/2024 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini,
Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum
Merdeka;
o. Panduan Pengembangan Kurikulum Operasional Madrasah (KOM);
p. Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pe
lajar Rahmatan lil Alamin pada RA, MI, MTs, MA/MAK.
2. Landasan Sosiologis
Dari semua analisis karakteristik madrasah landasan sosiologis yang dapat diambil
adalah :
a. Teori Pendidikan Transformasional (Kumar & Sharma, 2019):
Menggambarkan bagaimana pendidikan dapat menjadi alat untuk transformasi
sosial dan kesejahteraan. Pendidikan yang dirancang dengan
mempertimbangkan kebutuhan sosial dan emosional siswa dapat berkontribusi
pada perubahan positif dalam masyarakat.
b. Teori Neuroplastisitas Sosial (Gloor et al., 2018): Menjelaskan bagaimana
pengalaman sosial dan lingkungan belajar mempengaruhi struktur dan fungsi
otak. Teori ini menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan yang positif dapat
memfasilitasi perubahan otak yang mendukung kemampuan belajar dan
adaptasi.
c. Teori Globalisasi dan Pendidikan (Appadurai, 2021): Menggambarkan
dampak globalisasi terhadap pendidikan dan budaya lokal. Teori ini
menekankan bagaimana globalisasi mempengaruhi sistem pendidikan dan nilai-
nilai budaya, serta cara-cara baru siswa berinteraksi dengan pengetahuan dan
budaya global.
d. Teori Pengembangan Keterampilan Sosial (Durlak et al., 2019):
Menjelaskan pentingnya pengembangan keterampilan sosial dan emosional
dalam konteks pendidikan. Teori ini menunjukkan bahwa keterampilan sosial
yang kuat berkontribusi pada keberhasilan akademik dan hubungan
interpersonal yang sehat.
e. Teori Minat Kognitif dan Affective (Linnenbrink-Garcia & Pekrun, 2019):
Menggambarkan bagaimana minat kognitif dan afektif mempengaruhi motivasi
dan pencapaian akademik. Memahami bagaimana minat berkembang dan
mempengaruhi pengalaman belajar siswa dapat membantu dalam merancang
strategi pengajaran yang lebih efektif.
f. Teori Hambatan Pendidikan Berbasis Kultural (Lee & Cerezo, 2022):
Menggambarkan bagaimana hambatan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor
budaya dan sosial. Memahami konteks budaya siswa membantu dalam
mengidentifikasi dan mengatasi hambatan yang mungkin tidak terlihat dalam
pendekatan pendidikan yang lebih umum.
g. Teori Gaya Belajar dan Neurodiversitas (Beard et al., 2019): Menjelaskan
bagaimana variasi dalam gaya belajar berhubungan dengan konsep
neurodiversitas, yang mengakui perbedaan kognitif sebagai bagian dari
spektrum normal. Pendekatan ini membantu dalam memahami dan mendukung
berbagai gaya belajar siswa dengan cara yang inklusif.
h. Teori Kapasitas Ekonomi Keluarga (Ferguson, 2021): Menggambarkan
bagaimana latar belakang ekonomi keluarga mempengaruhi akses pendidikan
dan kualitas yang diterima anak. Keluarga dengan kapasitas ekonomi yang
rendah sering mengalami kesulitan dalam menyediakan sumber daya pendidikan
yang memadai, mempengaruhi peluang akademik dan sosial anak.
i. Teori Globalisasi dan Pendidikan Kultural (Appadurai, 2021):
Menggambarkan dampak globalisasi terhadap pendidikan dan budaya lokal.
Globalisasi mempengaruhi nilai-nilai budaya siswa dan pola pendidikan,
menimbulkan tantangan dalam mempertahankan budaya lokal sambil
beradaptasi dengan pengaruh global.
j. Teori Pendidikan Berbasis Kapabilitas (Sen, 1999) yang Diperbarui
(Gibson & Bowers, 2020): Menggambarkan bagaimana pendidikan awal
membentuk kapabilitas siswa untuk berfungsi secara efektif dalam masyarakat.
Pendidikan yang inklusif dan aksesibel di jenjang awal berkontribusi pada
kesiapan siswa untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan lebih baik.
k. Teori Mobilitas Sosial dan Pendidikan (Holland & Sayers, 2007) yang
Diperbarui (Vanneman et al., 2022): Menjelaskan bagaimana pendidikan
berfungsi sebagai alat untuk mobilitas sosial. Pendidikan yang berkelanjutan
membuka peluang bagi siswa untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi
mereka.