100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan50 halaman

Modul Pembelajaran Deep Learning SMK

Modul pelatihan ini membahas pembelajaran Deep Learning sebagai pendekatan inovatif dalam pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa melalui pengalaman belajar yang mendalam dan bermakna. Peserta diharapkan dapat mengimplementasikan teknik-teknik Deep Learning serta memahami tantangan dan manfaatnya dalam konteks pendidikan. Modul ini juga menekankan pentingnya berpikir kritis dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran.

Diunggah oleh

sekolah smk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan50 halaman

Modul Pembelajaran Deep Learning SMK

Modul pelatihan ini membahas pembelajaran Deep Learning sebagai pendekatan inovatif dalam pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa melalui pengalaman belajar yang mendalam dan bermakna. Peserta diharapkan dapat mengimplementasikan teknik-teknik Deep Learning serta memahami tantangan dan manfaatnya dalam konteks pendidikan. Modul ini juga menekankan pentingnya berpikir kritis dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran.

Diunggah oleh

sekolah smk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL PELATIHAN

PEMBELAJARAN
DEEP LEARNING
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................. 2
INFORMASI MODUL................................................... 3
PENDAHULUAN.......................................................... 4
TUJUAN............... ....................................................... 5
MANFAAT.................................................................... 6
BAGIAN 1.................................................................... 7
BAGIAN 2...................................................................17
BAGIAN 2.................................................................. 24
KESIMPULAN............................................................ 44
EVALUASI................................................................. 45

2
INFORMASI MODUL

Judul Modul: Pembelajaran


Deep Learning

Penyusun Modul:
Bidang Jabatan Fungsional

Instansi:
BPSDMD Provinsi Jawa
Tengah

Tahun
2025

3
PENDAHULUAN
Dalam beberapa tahun terakhir, Deep Learning telah
menjadi salah satu pilar utama dalam kemajuan teknologi
kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Teknik ini telah
merevolusi berbagai bidang seperti pengenalan wajah,
pemrosesan bahasa alami, kendaraan otonom, hingga
diagnosis medis. Keunggulan Deep Learning terletak pada
kemampuannya untuk secara otomatis mengekstraksi fitur
dan pola kompleks dari data besar dengan presisi yang
tinggi.
Modul ini disusun sebagai panduan komprehensif bagi
peserta yang ingin memahami dan mengimplementasikan
teknik-teknik dasar hingga lanjutan dalam Deep Learning.
Materi dalam modul ini mencakup konsep pembelajaran
deep learning, penerapan dan tantangan pembelajaran
deep learning, dan desain pembelajaran deep learning.
Dengan pendekatan praktis dan berbasis proyek, peserta
diharapkan tidak hanya memahami teori di balik algoritma
Deep Learning, tetapi juga mampu mengaplikasikannya
dalam pemecahan masalah nyata.

4
TUJUAN PELATIHAN
Setelah mempelajari modul ini, Anda akan mampu:
1. Menjelaskan konsep pembelajaran deep learning
2. Menjelaskan perkembangan deep learning dalam
pendidikan
3. Memahami pentingnya deep learning
4. Mengimplementasikan pedagogi baru untuk
deep learning
5. Memahami keuntungan dan tantangan deep
learning
6. Mengaplikasikan kerangka kerja deep learning
untuk pembelajaran
7. Membuat pembelajaran deep learning

5
MANFAAT PELATIHAN
Dengan mempelajari modul ini manfaat yang bisa
diambil oleh peserta pelatihan adalah:
1. Menguasai pembelajaran menggunakan deep
learning
2. Menguasai ketrampilan pedagogi baru untuk
menyusun pembelajaran deep learning
3. Mampu memberikan solusi jika ada tantangan
dalam deep learning
4. Menguasai ketrampilan untuk membuat
pembelajaran deep learning
5. Mengoptimalkan penerapan pembelajaran deep
learning

6
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
A. Definisi Pembelajaran Deep Learning
Deep learning dalam konteks pendidikan merujuk pada
pendekatan pembelajaran yang ditujuakan untuk
meningkatkan pemahaman siswa melalui pengalaman belajar
yang lebih kuat dan berarti. Istilah ini lebih umum digunakan
dalam bidang teknologi kecerdasan buatan, yang mengacu
pada model jaringan neuron buatan yang berupaya
menyerupai cara berpikir dan belajar manusia, sehingga
memungkinkan pengolahan data dalam volume besar secara
efisien dan tepat. Beberapa bukti dominasi istilah
pembelajaran mendalam dalam ranah kecerdasan buatan
dapat dilihat melalui pencarian di basis data Scopus yang
menghasilkan artikel-artikel terkait kecerdasan buatan.
Makna harfiah dari deep learning adalah pembelajaran yang
dalam. Apabila istilah ini digunakan dalam konteks pendidikan
dan belajar, maka itu merujuk pada pendekatan atau metode
yang mengedepankan pemahaman yang mendalam terhadap
materi ajar dengan didasarkan pada perkembangan proses
berpikir kritis. Singkatnya, deep learning sangat bergantung
pada faktor berpikir kritis atau 'critical thinking'.

7
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Berpikir Kritis (Critical Thinking)
Istilah berpikir kritis telah menjadi populer sejak abad ke-20.
Filsuf asal Amerika, John Dewey, merujuk pada konsep ini
sebagai berpikir reflektif, yang menekankan pentingnya
pemikiran yang aktif dan kritis ketika mempertimbangkan
keyakinan dan pengetahuan yang ada. Ia berpendapat bahwa
berpikir kritis adalah elemen yang sangat penting dalam
pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan individu
menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan mereka
sehari-hari.
Berpikir kritis memiliki beberapa komponen utama yang saling
terkait, meliputi:
1) Analisis: Kemampuan untuk memecah informasi menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil agar bisa memahami struktur
dan hubungan antar bagian tersebut.
2) Evaluasi: Menilai sejauh mana kredibilitas sumber informasi
dan kekuatan argumen yang diajukan.
3) Interpretasi: Memahami arti dari informasi atau argumen
yang disampaikan.
4) Sintesis: Menggabungkan berbagai informasi untuk
menghasilkan pandangan atau argumen yang baru.
5) Refleksi: Memikirkan kembali proses berpikir sendiri dan
mengevaluasi bias serta asumsi yang dimiliki.

8
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Mengadopsi Paradigma Konstruktivisme
Deep learning dalam konteks pendidikan menekankan bahwa
pengetahuan diperoleh atau dibentuk melalui pengalaman-
pengalaman yang sudah ada sebelumnya. Dari sudut pandang
epistemologi, ide ini dikenal sebagai konstruktivisme. Dalam
pendekatan ini, siswa belajar dengan menggabungkan
pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada,
sehingga pemahaman mereka tentang realitas berangsur-
angsur berubah.
Menekankan Pencarian Makna yang Dalam
Ide ini juga menyoroti pencarian pemahaman yang mendalam
melalui rangkaian kegiatan belajar yang intensif. Dalam
konteks ini, makna tidak diberikan secara paksa atau diajarkan
melalui metode langsung, tetapi diungkapkan melalui kegiatan
pembelajaran yang mendalam yang mengilustrasikan arti dari
konsep-konsep abstrak dalam materi pelajaran. Siswa
menjalani proses belajar dengan tujuan untuk memahami dan
menemukan makna. Kegiatan belajar dirancang dengan
memperhatikan proses yang dapat memicu dan mendorong
siswa untuk menerapkan pemikiran kritis dalam mencari
hubungan antara materi dan menafsirkan pengetahuan yang
diperoleh, berdasarkan struktur pengetahuan dan pengalaman
yang sudah dimiliki sebelumnya.

9
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Metakognisi dan Discovery Learning
Metakognisi adalah kemampuan seseorang untuk menyadari
dan mengatur proses berpikir yang mencakup cara belajar,
berpikir, dan menyelesaikan masalah. Pembelajaran
penemuan, di sisi lain, menekankan metode belajar yang
berfokus pada penyelesaian masalah, yang mendorong siswa
untuk berpikir secara kritis dan kreatif. Istilah pembelajaran
penemuan biasanya dipakai dalam konteks yang memerlukan
pemahaman tentang konsep-konsep yang sulit atau tidak jelas,
karena ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mengaitkan pengetahuan yang baru diperoleh dengan
pengalaman yang relevan. Salah satu keuntungan utama dari
pembelajaran penemuan adalah bahwa hal ini dapat
meningkatkan partisipasi para siswa dan memperdalam
pemahaman mereka, karena mereka tidak hanya menerima
informasi secara pasif tetapi berkontribusi aktif dalam
membangun pengetahuan mereka sendiri. Dari penjelasan
tersebut, terlihat bahwa peran pengajar dalam konteks ini
bukanlah sebagai sumber informasi, tetapi sebagai fasilitator
yang membantu dan mengarahkan peserta didik dalam
pencarian makna berdasarkan rangkaian kegiatan belajar.

10
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Peran teknologi Kecerdasan Buatan (AI) semakin terlihat di
banyak sektor, termasuk pendidikan. Kehadiran teknologi AI
telah mengubah kurikulum pendidikan, terutama di area
teknologi, sains, matematika, dan teknik. AI juga akan
merevolusi keseluruhan konsep pendidikan. Pertumbuhan
yang signifikan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan
akan teknologi AI di kalangan para pendidik.
Para pakar memperkirakan bahwa fasilitator virtual dan
lingkungan belajar yang didukung oleh AI akan menjadi
segmen pasar terbesar di sektor pendidikan global. Oleh
karena itu, berbagai inovasi dalam teknologi AI ini dirancang
untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam belajar secara
mandiri dan di rumah. Wilayah Asia Pasifik, termasuk
Indonesia, diprediksi akan menjadi pasar utama untuk
permintaan dan layanan pendidikan yang berbasis AI di masa
mendatang. Menurut Arifudin (2021), model pendidikan di
masa depan akan semakin terhubung dengan teknologi dalam
implementasinya. Metode dan cara belajar yang menggunakan
teknologi AI ini akan terus berkembang hingga apa yang saat
ini dianggap fiksi atau imajinasi akan menjadi kenyataan. Saat
ini, sudah banyak layanan hasil pengembangan teknologi AI
yang sudah kita kenali dan gunakan dalam kehidupan sehari-
hari. Menurut Mayasari (2021), seorang pendidik di masa yang
akan datang perlu mempersiapkan diri dan terus
mengembangkan pengetahuan untuk dapat mengikuti
kemajuan teknologi, terutama dalam hal pengembangan
kurikulum pendidikan.

12
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
B. Perkembangan Deep Learning dalam Pendidikan
Beberapa tahun belakangan ini, perkembangan kecerdasan
buatan (Artificial Intelligence) berjalan dengan cepat. Masalah-
masalah yang sebelumnya sangat sulit diatasi oleh manusia
kini bisa diselesaikan dengan lebih mudah berkat kecerdasan
buatan. Kecerdasan buatan (AI) sangat menarik dan penting
untuk dipelajari serta diterapkan, karena memiliki kemampuan
belajar mirip dengan jaringan saraf di otak manusia. Istilah
kecerdasan buatan semakin terkenal setelah Presiden Jokowi
mengusulkan penggantian PNS/ASN Eselon 3 dan 4 dengan
teknologi tersebut. Secara umum, saat ini kecerdasan buatan
terdiri dari dua komponen, yaitu Deep Learning dan Machine
Learning.
Menurut (MF AK, 2021), kecerdasan buatan menandai transisi
menuju era digital, di mana teknologi memainkan peranan
yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mata
pelajaran sistem kontrol cerdas, yang umumnya disebut
kecerdasan buatan, kita dapat menemukan berbagai bidang,
termasuk jaringan saraf tiruan dan algoritma genetika.
Kecerdasan buatan sering diterapkan untuk menyelesaikan
berbagai jenis masalah, seperti dalam bidang robotika,
pemrosesan bahasa alami, matematika, permainan,
pengenalan, diagnosis medis, teknik, analisis keuangan,
analisis ilmiah, dan penalaran (Knight, 1991).

11
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Deep Learning merupakan salah satu aspek dari kecerdasan
buatan dan pembelajaran mesin yang merupakan evolusi dari
neural network bertingkat untuk mencapai akurasi dalam
tugas-tugas seperti pengenalan objek, pengenalan suara,
penerjemahan bahasa, dan lainnya (Putra, 2018). Deep
Learning adalah teknik pembelajaran yang menggunakan
jaringan saraf buatan yang memiliki beberapa lapisan.
Jaringan Saraf Buatan ini dirancang menyerupai otak manusia,
di mana neuron-neuron saling terhubung satu sama lain
sehingga membentuk jaringan neuron yang sangat kompleks.

Perkembangan Deep Learning

13
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
C. Pentingnya Pembelajaran Deep Learning
Pendekatan Deep Learing dalam dunia pendidikan yang
diajukan oleh Mendikdasmen mencakup tiga komponen utama,
yaitu Pembelajaran Bermakna, Pembelajaran Sadar, dan
Pembelajaran Menyenangkan. Setiap komponen ini memiliki
fungsi penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang
lebih substansial dan berharga bagi para siswa.
1) Pembelajaran bermakna (Meaningfull learning)
Pembelajaran yang Bermakna menekankan bahwa proses
belajar harus memiliki arti dan hubungan dengan kehidupan
nyata siswa. Dalam metode ini, siswa tidak sekadar menghafal
fakta, melainkan juga memahami konsep yang dipelajari serta
dapat mengaitkannya dengan situasi sehari-hari.
Ciri-ciri Pembelajaran yang Bermakna:
a. Materi yang diajarkan relevan dengan pengalaman serta
lingkungan siswa.
b. Siswa dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan yang telah ada.
c. Pembelajaran yang berorientasi pada proyek dan studi
kasus sering digunakan untuk memperdalam pemahaman
konsep.
d. Memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan menerapkan
pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

14
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Contoh:
Ketika mempelajari tentang ekosistem, siswa tidak hanya
menghafal berbagai jenis rantai makanan, tetapi juga
mengevaluasi dampak penebangan hutan terhadap
keseimbangan ekosistem dan mencari cara untuk menjaga
kelestarian lingkungan.
2) Pembelajaran sadar dan aktif (Mindfull learning)
Pembelajaran yang penuh kesadaran dan aktif menekankan
pentingnya perhatian dalam proses belajar. Siswa didorong
untuk terlibat secara aktif, melakukan refleksi, serta memiliki
kemauan dan motivasi secara internal untuk meningkatkan
pemahaman dan kemampuan mereka.
Karakteristik Mindfull learning:
a. Siswa berperan sebagai peserta aktif dalam proses belajar,
bukan sekadar penerima informasi pasif.
b. Mendorong siswa untuk berpikir kritis, mengajukan
pertanyaan, dan menemukan jawaban secara mandiri.
c. Menggunakan pendekatan reflektif agar siswa lebih
memahami cara belajar mereka dan bagaimana menerapkan
strategi yang efektif.
d. Mengembangkan rasa ingin tahu yang besar, sehingga
siswa belajar tidak hanya untuk ujian, tetapi juga untuk
perkembangan pribadi.

15
BAGIAN 1
KONSEP PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Contoh:
Dalam pembelajaran sejarah, siswa tidak hanya membaca
buku pelajaran, tetapi juga melakukan penelitian, berdiskusi,
dan membuat presentasi mengenai kejadian sejarah dari
berbagai perspektif.
3) Pembelajaran menyenangkan (Joyfull Learning)
Pembelajaran yang menyenangkan menekankan bahwa
proses belajar harus menjadi pengalaman yang mengasyikkan
dan menarik bagi mahasiswa. Dengan lingkungan belajar yang
positif, siswa memiliki dorongan yang lebih tinggi untuk terus
menjelajahi pengetahuan dan memperdalam pemahaman
mereka.
Ciri-ciri Joyfull Learning:
a. Pembelajaran yang berfokus pada pengalaman,
penggunaan permainan, dan pendekatan yang kreatif.
b. Lingkungan kelas yang interaktif dan berbasis kolaborasi.
c. Siswa merasa lebih terbuka untuk melakukan eksplorasi,
bertanya, dan mencoba hal-hal baru tanpa rasa takut akan
kesalahan.
d. Peran guru sebagai fasilitator yang mendukung dan
membimbing siswa sesuai dengan minat serta kemampuan
yang dimiliki.
Contoh:
Dalam pembelajaran matematika, guru menerapkan
permainan dan simulasi interaktif untuk membantu siswa
memahami konsep aljabar dengan cara yang menyenangkan.

16
BAGIAN 2
PEDAGOGI BARU, KEUNTUNGAN DAN
TANTANGAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
A. Pedagogi Baru untuk Deep Learning
Para guru, pemimpin, dan pembuat kebijakan menghabiskan
waktu berjam-jam untuk mendiskusikan dan memperdebatkan
apa yang penting dan khas bagi siswa untuk diketahui, dapat
dilakukan, dan yang terpenting, menjadi seperti warga negara
manusia. Hasil dari pekerjaan kami adalah identifikasi enam
kompetensi global yang menggambarkan keterampilan dan
atribut yang dibutuhkan agar peserta didik dapat berkembang
sebagai warga dunia. Pembelajaran mendalam (Deep
Learning) adalah proses memperoleh enam kompetensi global
ini: karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi,
kreativitas, dan pemikiran kritis. Kompetensi ini mencakup
kasih sayang, empati, pembelajaran sosial-emosional,
kewirausahaan, dan keterampilan terkait yang dibutuhkan
untuk berfungsi dengan baik di alam semesta yang kompleks.
Deep learning adalah proses memperoleh enam kompetensi
global ini: karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi,
kreativitas, dan pemikiran kritis.

17
BAGIAN 2
PEDAGOGI BARU, KEUNTUNGAN DAN
TANTANGAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING

18
BAGIAN 2
PEDAGOGI BARU, KEUNTUNGAN DAN
TANTANGAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Pembelajaran yang mendukung 6 kompetensi global:
1) Melibatkan proses kognitif tingkat tinggi untuk mencapai
pemahaman yang mendalam tentang konten dan isu-isu di
dunia kontemporer
2) Melibatkan keterlibatan dalam menangani area atau isu
yang seringkali bersifat lintas disiplin
3) Mengintegrasikan kemampuan akademis dan pribadi
4) Aktif, autentik, menantang, dan berpusat pada siswa
5) Seringkali dirancang untuk memberi dampak pada dunia,
baik secara lokal maupun lebih luas
6)Berlangsung dalam berbagai pengaturan dan semakin
banyak menggunakan teknologi digital dan konektivitas.
B. Keuntungan dan Tantangan Pembelajaran Deep
Learning
Keuntungan Pelaksanaan Deep Learning dalam Pendidikan di
Indonesia Pelaksanaan Deep Learning dalam sistem
pendidikan di Indonesia tidak hanya berorientasi pada
peningkatan pemahaman akademis, tetapi juga pada
pengembangan keterampilan penting untuk menghadapi
tantangan di abad ke-21.
Menurut laporan dari World Economic Forum (WEF),
pendekatan ini sangat sesuai dengan konsep Keterampilan
Abad Ke-21, yang mencakup tiga aspek utama:
1)Literasi Dasar – Kemampuan dasar seperti membaca,
berhitung, sains, teknologi, dan keuangan yang membentuk
landasan penting untuk siswa dalam memahami lingkungan
sekitar.
19
BAGIAN 2
PEDAGOGI BARU, KEUNTUNGAN DAN
TANTANGAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Dengan mengimplementasikan pendekatan Deep Learning,
diharapkan siswa dapat memahami konsep dengan lebih
mendalam, menjadi pelajar yang aktif, serta termotivasi tinggi
dalam menjalani proses belajar. Pendekatan ini juga
memberikan kesempatan bagi guru untuk berfungsi sebagai
pemandu yang mendorong penjelajahan dan penyelesaian
masalah, bukan hanya sekadar penyampaikan informasi. Jika
diterapkan dengan benar, Deep Learning dapat menjadi salah
satu cara untuk menghasilkan generasi yang lebih siap
menghadapi masa depan, baik di ranah akademis maupun di
tempat kerja yang terus berubah.
Meskipun deep learning memiliki banyak keuntungan dalam
pembelajaran, namun ada beberapa tantangan yang harus di
hadapi dalam penerapan deep learning, yaitu:
1) Kesenjangan akses teknologi
Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan deep learning
dalam pendidikan adalah kesenjangan akses terhadap
teknologi.
Tidak semua pelajar, khususnya yang tinggal di lokasi terpencil
atau kurang berkembang, mendapat kesempatan yang setara
untuk memperoleh perangkat keras dan perangkat lunak yang
diperlukan demi memaksimalkan pemanfaatan teknologi ini.

20
BAGIAN 2
PEDAGOGI BARU, KEUNTUNGAN DAN
TANTANGAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Alat-alat seperti komputer, tablet, atau koneksi internet yang
cepat sangat krusial untuk mengakses platform pembelajaran
yang menggunakan deep learning. Namun, kenyataannya,
banyak pelajar tidak memiliki fasilitas tersebut, baik karena
keterbatasan ekonomi, infrastruktur yang tidak memadai, atau
bahkan rendahnya literasi teknologi.
literasi teknologi.
Kesenjangan ini dapat semakin memperburuk ketidakadilan
dalam pendidikan, di mana siswa dari daerah atau lingkungan
dengan kondisi sosial ekonomi yang kurang beruntung akan
semakin tertinggal dalam hal kualitas pembelajaran yang
mereka dapatkan.
Sebagai ilustrasi, sistem pembelajaran adaptif yang didasarkan
pada deep learning dan membutuhkan perangkat teknologi
yang memadai tidak dapat diakses oleh siswa yang tidak
memiliki perangkat atau koneksi internet yang handal. Ini
menciptakan perbedaan yang lebih mencolok antara siswa
yang memiliki akses ke teknologi dan mereka yang tidak,
sehingga memperparah ketidaksetaraan pendidikan yang
sudah ada sebelumnya.

21
BAGIAN 2
PEDAGOGI BARU, KEUNTUNGAN DAN
TANTANGAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
2) Privasi dan keamanan data
Tantangan lain yang harus diperhatikan adalah masalah
privasi dan perlindungan data. Pemanfaatan deep learning di
bidang pendidikan seringkali melibatkan pengumpulan dan
pengolahan informasi pribadi siswa.
Agar dapat menawarkan pengalaman belajar yang lebih
individual, sistem perlu mengumpulkan informasi mengenai
interaksi siswa dengan materi dan hasil atau performa mereka
dalam tugas dan ujian. Walaupun hal ini sangat bermanfaat
untuk menyediakan pembelajaran yang disesuaikan, informasi
pribadi yang dikumpulkan bisa menimbulkan masalah jika tidak
dijaga dengan baik. Penyalahgunaan informasi, kebocoran
data pribadi, atau pengumpulan tanpa izin yang jelas dapat
menjadi ancaman serius. Oleh karena itu, sangat penting untuk
memastikan bahwa informasi siswa tidak hanya dilindungi
dengan sistem keamanan yang modern, tetapi juga diterapkan
secara etis.
Solusi untuk mengatasi masalah akses teknologi yang tidak
merata, sejumlah langkah perlu dilakukan, di antaranya adalah
usaha untuk memperbaiki infrastruktur teknologi di wilayah
yang belum berkembang, serta menyediakan perangkat keras
yang lebih terjangkau atau bahkan program bantuan yang
dapat memfasilitasi siswa dalam memperoleh perangkat yang
diperlukan.

22
BAGIAN 2
PEDAGOGI BARU, KEUNTUNGAN DAN
TANTANGAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Di samping itu, kebijakan pendidikan yang mendukung
penguasaan keterampilan digital untuk siswa dan guru juga
sangat krusial, agar seluruh pihak dapat memanfaatkan
teknologi dengan optimal. Selain itu, untuk menangani isu
privasi data, sangat penting untuk menerapkan pedoman yang
jelas terkait pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan
data pribadi siswa.
Pemerintah dan institusi pendidikan wajib memastikan adanya
peraturan yang melindungi data siswa, termasuk menjamin
bahwa data tersebut hanya digunakan untuk tujuan pendidikan
yang sah dan dengan izin yang eksplisit dari orang tua siswa.

23
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
A. Kerangka Kerja Deep Learning

Kerangka kerja pembelajaran mendalam mendukung


penyebaran pembelajaran mendalam secara cepat dengan
serangkaian alat dan proses yang dapat disesuaikan agar
sesuai dengan berbagai konteks sekolah, distrik, dan sistem,
namun tetap menyediakan cara konkret untuk mengubah
praktik.
Lapisan 1: Pembelajaran mendalam, yang didefinisikan
sebagai 6C (Character, citizenship, collaboration,
communication, creativity, critical thinking), adalah hasil
yang diharapkan.

24
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Lingkaran dukungan pertama di pusat kerangka kerja adalah
pembelajaran mendalam, yang diwakili oleh enam kompetensi
global: karakter, kewarganegaraan, kreativitas, pemikiran kritis,
kolaborasi, dan komunikasi. Deep learning di definisikan
sebagai proses memperoleh enam kompetensi global ini, yang
juga dikenal sebagai 6C. Kompetensi ini menggambarkan
meningkatnya kompleksitas pemikiran dan pemecahan
masalah, kecanggihan keterampilan kolaboratif, pengetahuan
diri, dan tanggung jawab yang mendasari karakter dan
kemampuan untuk merasakan empati dan mengambil tindakan
yang menjadikan seseorang sebagai warga global.
Membangun kejelasan tentang hasil pembelajaran di lapisan
ini diperlukan jika guru, siswa, dan keluarga ingin membangun
bahasa dan harapan yang sama. Untuk mengukur kemajuan,
kami mengembangkan serangkaian atribut dan keterampilan
yang lebih kuat untuk setiap kompetensi dan alat yang disebut
perkembangan pembelajaran.
Lapisan 2: ·Empat elemen desain pembelajaran (praktik,
kemitraan, lingkungan, dan digital) berfokus pada
pengembangan pengalaman instruksional untuk mencapai
hasil. Lapisan kedua dari kerangka kerja mendukung
proses desain pembelajaran. Keempat elemen tersebut
mendorong desain pembelajaran yang lebih baik dengan
menghadirkan intensionalitas dan ketepatan pada integrasi
praktik pedagogi, kemitraan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pemanfaatan digital.

25
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Guru dan siswa memperhatikan keempat elemen ini untuk
memastikan bahwa pengalaman belajar menggabungkan
kompleksitas dan kedalaman yang memfasilitasi pertumbuhan
dan membangun keterampilan dan pemahaman prasyarat
untuk memaksimalkan keberhasilan. Selain itu, elemen-elemen
tersebut mengarah pada intensionalitas dalam membangun
hubungan baru antara guru, siswa, dan keluarga serta
menggunakan digital untuk memfasilitasi dan memperkuat
pembelajaran. Alat-alat khusus, termasuk Diagnostik Penilaian
Diri Guru, Rubrik Desain Pembelajaran, dan Protokol Desain
Pembelajaran, mendukung guru untuk menciptakan
pengalaman belajar yang mendalami setiap elemen pedagogi
baru.
Lapisan 3: Kondisi untuk rubrik pembelajaran mendalam
mendukung sekolah, distrik, dan sistem untuk mendorong
pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam tidak
seharusnya hanya diserahkan kepada beberapa guru,
kepala sekolah, dan sekolah yang inovatif, sehingga
lapisan atau lingkaran dukungan ketiga menggambarkan
kondisi yang memobilisasi pembelajaran mendalam untuk
menyebar secara eksponensial di seluruh sekolah dan
sistem. Rangkaian kondisi ini berkaitan dengan seluruh
sistem pada tiga tingkat: sekolah, distrik atau gugus, dan
negara bagian. Pertanyaannya adalah kebijakan, strategi,
dan tindakan apa yang paling baik untuk mendorong
pengembangan 6C dan empat elemen desain
pembelajaran mendalam.

26
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Guru dan siswa memperhatikan keempat elemen ini untuk
memastikan bahwa pengalaman belajar menggabungkan
kompleksitas dan kedalaman yang memfasilitasi pertumbuhan
dan membangun keterampilan dan pemahaman prasyarat
untuk memaksimalkan keberhasilan. Selain itu, elemen-elemen
tersebut mengarah pada intensionalitas dalam membangun
hubungan baru antara guru, siswa, dan keluarga serta
menggunakan digital untuk memfasilitasi dan memperkuat
pembelajaran. Alat-alat khusus, termasuk Diagnostik Penilaian
Diri Guru, Rubrik Desain Pembelajaran, dan Protokol Desain
Pembelajaran, mendukung guru untuk menciptakan
pengalaman belajar yang mendalami setiap elemen pedagogi
baru.
Lapisan 3: Kondisi untuk rubrik pembelajaran mendalam
mendukung sekolah, distrik, dan sistem untuk mendorong
pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam tidak
seharusnya hanya diserahkan kepada beberapa guru,
kepala sekolah, dan sekolah yang inovatif, sehingga
lapisan atau lingkaran dukungan ketiga menggambarkan
kondisi yang memobilisasi pembelajaran mendalam untuk
menyebar secara eksponensial di seluruh sekolah dan
sistem. Rangkaian kondisi ini berkaitan dengan seluruh
sistem pada tiga tingkat: sekolah, distrik atau gugus, dan
negara bagian. Pertanyaannya adalah kebijakan, strategi,
dan tindakan apa yang paling baik untuk mendorong
pengembangan 6C dan empat elemen desain
pembelajaran mendalam.

27
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Lapisan 4: Penyelidikan kolaboratif meliputi seluruh
perusahaan karena pembelajaran mendalam memerlukan
pembelajaran berkelanjutan di semua tingkatan. Terakhir,
lingkaran luar kerangka kerja menggambarkan proses
penyelidikan kolaboratif yang mendasari pekerjaan dan
mendorong efek interaksi dari semua lapisan. Meskipun
digambarkan sebagai lingkaran luar, ini bukanlah langkah
terakhir tetapi lebih meresap ke setiap lingkaran dengan
menciptakan percakapan yang kuat di setiap tahap
pengembangan. Proses penyelidikan kolaboratif dapat
digunakan oleh guru untuk merancang pengalaman
pembelajaran yang mendalam, oleh tim untuk memoderasi
pekerjaan dan pertumbuhan siswa, dan oleh guru dan
pemimpin untuk menilai kondisi yang dibutuhkan untuk
mendorong pembelajaran yang mendalam di tingkat
sekolah dan sistem.
B. Merancang Pembelajaran Deep Learning
Dalam merancang pembelajaran deep learning, penerapan 6
kompetensi global di kelas dapat dipercepat dengan
menggunakan desain pembelajaran yang terdiri dari empat
elemen. Dalam praktiknya, keempat elemen desain
pembelajaran terintegrasi dan saling memperkuat.

28
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
B. Merancang Pembelajaran Deep Learning
Dalam merancang pembelajaran deep learning, penerapan 6
kompetensi global di kelas dapat dipercepat dengan
menggunakan desain pembelajaran yang terdiri dari empat
elemen. Dalam praktiknya, keempat elemen desain
pembelajaran terintegrasi dan saling memperkuat.

Empat Elemen Pembelajaran Deep Learning

29
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
1) Lingkungan belajar
Elemen pertama dalam desain pembelajaran adalah suasana
belajar. Aspek ini memfokuskan pada berbagai keputusan
yang bertujuan menciptakan “area belajar modern yang
mencakup ruang baik fisik maupun virtual, tetapi yang paling
utama adalah ruang untuk budaya dan interaksi” (Miller, 2017).
Para peneliti dan praktisi dari banyak bidang—pendidikan anak
usia dini, psikologi, ilmu kognitif, arsitektur sekolah, dan desain
—menggambarkan suasana belajar sebagai “pengawas
ketiga” yang mampu meningkatkan tipe pembelajaran yang
memaksimalkan kemampuan siswa untuk merespons
tantangan masa depan dengan cara yang kreatif dan
bermakna atau sebaliknya menguranginya. Dua aspek
suasana belajar sangat krusial dan saling berhubungan. Yang
pertama berfokus pada pengembangan budaya belajar yang
dapat mengeluarkan potensi siswa dan orang dewasa,
sedangkan yang kedua membahas rancangan ruang fisik dan
virtual yang dapat memaksimalkan pencapaian kompetensi.
Membuat dinding kelas menjadi transparan bukan hanya
tentang mendesain ulang ruang, tetapi juga memerlukan
inventarisasi cara-cara agar kita dapat terhubung di dalam dan
di luar kelas. Jika kita ingin siswa mencari pakar di komunitas
dan sekitarnya serta membangun pengetahuan dari berbagai
bidang, kita perlu mengidentifikasi cara-cara untuk
menghubungkan keterampilan untuk membedakan dengan
tepat dan cara-cara untuk membangun hubungan di dunia
yang beragam.

30
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Jika kita ingin siswa kita menjadi kolaborator yang ingin tahu
dan terhubung, kita perlu menyediakan ruang multidimensi
yang menawarkan fleksibilitas untuk kolaborasi kelompok
besar dan kecil, tempat yang tenang untuk refleksi dan kognisi,
area aktif untuk investigasi, penyelidikan, komunikasi, dan
dokumentasi, dan sumber daya yang kaya yang dapat diakses
secara transparan. Lingkungan belajar yang inovatif muncul di
seluruh dunia. Di Coachella Valley Unified, distrik tersebut
memarkir bus yang dilengkapi dengan Wi-Fi di lingkungan
dengan tingkat kemiskinan tinggi untuk meningkatkan akses
digital bagi siswa dan keluarga. Di Derrimut Public School,
ruang belajar diatur menjadi gua untuk saat siswa perlu
berpikir mendalam tentang sesuatu, tempat minum saat
mereka perlu berbagi informasi dan berkolaborasi, dan api
unggun untuk berbagi perjalanan belajar.
2) Budaya pembelajaran
Bagaimana kita mengubah kelas tradisional menjadi budaya
belajar yang menumbuhkan energi, kreativitas, rasa ingin tahu,
imajinasi, dan inovasi? Sebelumnya kita telah membahas
pentingnya memenuhi kebutuhan dasar siswa akan otonomi,
kompetensi, dan keterhubungan. Otonomi dipupuk saat siswa
memiliki pilihan, dan kompetensi berkembang saat mereka
ditantang sedikit melampaui kemampuan mereka saat ini
(Tough, 2016). Ryan dan Deci (2017) menyimpulkan bahwa
saat kompetensi, otonomi, dan keterkaitan dipupuk, motivasi
intrinsik tumbuh subur, motivasi ini dapat memainkan peran
yang lebih besar dalam pengalaman siswa yang kurang
beruntung.

31
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Meskipun tidak ada satu resep untuk menciptakan kelas yang
mendorong pembelajaran mendalam, dibawah ini beberapa
karakteristik umum untuk pendidik yang bergerak menuju
pembelajaran mendalam atau deep learning.
a. Siswa mengajukan pertanyaan. Mereka memiliki
keterampilan dan bahasa untuk melakukan penyelidikan dan
tidak secara pasif menerima jawaban dari guru.
b. Pertanyaan dinilai di atas jawaban. Proses belajar,
menemukan, dan menyampaikan sama pentingnya dengan
hasil akhirnya.
c. Berbagai model [Link] pendekatan
disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa. Siswa
didukung untuk meraih tantangan berikutnya.
d. Koneksi eksplisit ke aplikasi dunia nyata. Desain
pembelajaran tidak diserahkan begitu saja pada
keberuntungan, tetapi disusun dan dibangun berdasarkan
relevansi dan makna.
e. Kolaborasi. Siswa memiliki keterampilan untuk berkolaborasi
di dalam kelas dan di luar kelas.
f. Penilaian pembelajaran yang tertanam, transparan, dan
autentik. Siswa menentukan tujuan pribadi, memantau
kemajuan menuju kriteria keberhasilan, dan terlibat dalam
umpan balik dengan teman sebaya dan orang lain. (Fullan &
Quinn, 2016, hlm. 97).

32
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
3) Memanfaatkan digital
Dunia digital memengaruhi setiap aspek kehidupan, dan
sekolah tidak terkecuali. Meskipun perangkat telah hadir di
sekolah selama beberapa dekade, potensinya belum pernah
terwujud.
Desain pembelajaran deep learning perlu menjawab dua
pertanyaan:
a. Bagaimana teknologi digital dapat dimanfaatkan sehingga
pembelajaran dapat difasilitasi, diperkuat, dan dipercepat
seiring dengan berkembangnya pembelajaran yang berpusat
pada siswa?
b. Peluang pembelajaran transformatif apa yang disediakan
oleh pendekatan digital yang tidak dapat dipenuhi dengan
pendekatan tradisional.
Penggunaan digital yang efektif memfasilitasi kemitraan
pembelajaran mendalam dengan siswa, keluarga, anggota
masyarakat, dan para ahli terlepas dari lokasi geografis dan
mendukung kapasitas siswa untuk mengendalikan
pembelajaran mereka sendiri baik di dalam maupun di luar
dinding kelas. Sementara digital adalah akselerator, keempat
elemen pedagogi baru bersama-sama merupakan pendorong
hasil pembelajaran mendalam. Penekanan kami dalam NPDL
bukanlah pada kompleksitas alat digital itu sendiri tetapi pada
bagaimana alat tersebut dapat dimanfaatkan dalam
pengembangan langsung pembelajaran mendalam.

33
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Akses terhadap pengetahuan tidak lagi terbatas pada buku
atau guru, tetapi terus berkembang. peran guru menjadi salah
satu untuk memastikan siswa memiliki keterampilan dan
kompetensi untuk membedakan, menilai secara kritis,
menemukan, dan menciptakan pengetahuan baru
menggunakan serangkaian sumber daya yang hampir tak
terbatas yang tersedia secara daring. Pembelajaran mendalam
difokuskan pada penggunaan digital di mana-mana sebagai
bagian yang mulus dari pembelajaran daripada menyoroti
aplikasi atau perangkat lunak minggu ini. Di masa lalu, kami
kebanyakan meminta siswa untuk memecahkan masalah yang
telah dipecahkan.
Beragamnya pilihan ini menciptakan titik-titik keputusan
penting bagi guru untuk membuat keputusan tentang
penggunaan media digital yang bijaksana, termasuk media
sebagai bagian integral dari pembelajaran. Kisaran pilihan
bertambah setiap hari, jadi kami tidak mencoba untuk
membuat katalognya di sini. Sebaliknya, kami menyadari
bahwa dalam proses desain pembelajaran, guru perlu memilih
bentuk digital yang paling tepat dari berbagai pilihan dan
memastikan bahwa siswa memiliki keterampilan untuk tidak
hanya menggunakannya tetapi juga untuk memilah-milah cara
mereka menggunakannya untuk membangun pengetahuan,
berkolaborasi, atau menghasilkan dan berbagi pembelajaran
baru. Dalam praktiknya, kami melihat ini sebagai area di mana
siswa sering kali memimpin dalam mengidentifikasi dan
memilih penggunaan digital terbaik untuk meningkatkan
pembelajaran.

34
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
4) Praktek Pedagogis
Seperti yang kita catat dalam contoh sebelumnya, kita melihat
guru yang merangkul pembelajaran mendalam mulai berpikir
dalam hal menciptakan pengalaman pembelajaran mendalam
dan unit pembelajaran yang lebih kaya yang menyediakan
waktu untuk mengembangkan kompetensi dan sering
menggunakan model pengajaran seperti penyelidikan,
berbasis masalah, berbasis proyek, dan multidisiplin. Model-
model ini paling sering mengharuskan guru untuk mengambil
peran sebagai penggerak dan bagi siswa untuk terlibat dalam
pilihan dan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka.
Pengalaman belajar yang lebih lama ini paling sering
melibatkan siswa dalam masalah atau simulasi yang autentik
dan relevan di mana pembelajaran diterapkan. Paling sering
kombinasi pilihan ini.
Guru tidak perlu memulai dari awal dalam memilih model,
tetapi dapat memanfaatkan sejarah pendekatan pembelajaran
mendalam yang kaya. Konstruktivisme, pilihan siswa, dan
pembelajaran autentik bukanlah konsep baru; pada
kenyataannya, banyak pendidik telah lama menganjurkan
pendekatan yang menempatkan siswa di pusat dan
memberikan kesempatan yang bermakna dan menantang
untuk tumbuh. Beberapa dekade yang lalu, Piaget (1966)
memperkenalkan empat tahap perkembangan kognitifnya dan
gagasan tentang pembelajar yang membangun pemahaman
mereka sendiri.

35
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Seymour Pappert (1994) membangun konsep konstruktivisme
dan juga melihat komputer sebagai alat alami untuk
pembelajaran berbasis masalah yang akan digunakan secara
integral yang menjadi mulus.
Guru perlu mengembangkan keterampilan dalam
memanfaatkan berbagai model untuk mempersiapkan siswa
yang akan menjadi pembelajar seumur hidup. Pembelajaran
adalah proses yang berkelanjutan dan kini terjadi dalam
berbagai cara—melalui komunitas praktik, jaringan pribadi, dan
penyelesaian tugas yang terkait dengan pekerjaan.
Penggunaan teknologi mengubah atau mengubah susunan
otak kita, dan banyak proses yang sebelumnya ditangani oleh
teori pembelajaran (terutama dalam pemrosesan informasi
kognitif) kini dapat dialihkan ke, atau didukung oleh, teknologi.
Model pembelajaran terus berkembang, dan guru memerlukan
berbagai praktik yang luas.

Perbandingan Pedagogi Baru untuk Pembelajaran Mendalam

36
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Ada pedagogi lama yang baik (misalnya, konstruktivisme),
pedagogi lama yang buruk (misalnya, ceramah guru),
pedagogi baru yang buruk (misalnya, penggunaan digital tanpa
tujuan), dan pedagogi baru yang baik (misalnya, kemitraan
pembelajaran). Pembelajaran mendalam adalah tentang
menemukan dan mengembangkan pedagogi lama dan baru
yang paling ampuh, baik itu harta karun dari masa lalu atau di
garis depan pembelajaran.
Tidak ada satu pendekatan yang sama untuk memfasilitasi
pembelajaran mendalam. Keempat elemen yang
dikombinasikan dengan 6C membantu ribuan guru
mengajukan pertanyaan desain yang kritis dan lebih tekun
dalam mengembangkan pengalaman belajar yang menantang
dan memperluas pembelajaran agar lebih mendalam.

37
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Penggunaan placemat organizer telah menyebar di tujuh
negara sebagai cara untuk mempertimbangkan keempat
elemen desain dan menggabungkannya secara visual.
penyebaran global yang alami merupakan validasi kuat bahwa
guru menghargai suatu kerangka kerja untuk pemikiran
mereka.
Berfokus pada empat elemen telah menjadi landasan upaya
desain dan menyediakan titik awal untuk perencanaan
kolaboratif dan individual. Seperti yang dicatat oleh seorang
pemimpin kelompok, “Kekuatannya adalah mampu berbicara
tentang dan mengidentifikasi kedalaman, melihat bagaimana
kita telah berkembang selama setahun, dan mengatakan di
mana kita berada pada kontinum empat kuadran kerangka
pedagogi baru. Di situlah kita membangun kekuatan”
(komunikasi pribadi, Juli 2016). Kejelasan tentang 6C yang
dikombinasikan dengan bahasa yang sama, pemahaman, dan
pedagogi yang kuat membantu guru mengidentifikasi pedagogi
baru dalam tindakan. Ketepatan yang berkembang dalam hasil
dan proses pembelajaran ini menciptakan kondisi bagi
pembelajaran mendalam untuk lepas landas dalam skala
besar.
Agar penerapan Deep Learning bisa berhasil di sekolah,
diperlukan beberapa langkah strategis, antara lain:
1) Pengenalan konsep Pembelajaran Mendalam kepada
para guru, siswa, dan orang tua.

38
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
2) Pelatihan bagi guru untuk menggunakan metode ini dalam
proses belajar mengajar.
3) Penyediaan infrastruktur yang mendukung, seperti sumber
pembelajaran yang lebih interaktif dan fleksibel.
4) Pengintegrasian teknologi digital ke dalam pembelajaran
untuk meningkatkan pengalaman belajar.
5) Monitoring dan evaluasi secara rutin untuk memastikan
bahwa penerapan Deep Learning di sekolah efektif.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengharapkan bahwa pendekatan
Deep Learning yang lebih berfokus pada manusia ini dapat
membantu dalam mengembangkan delapan dimensi profil
lulusan yang sesuai dengan tuntutan masa depan, yaitu
keimanan dan ketakwaan, kewargaan, pemikiran kritis,
kreativitas, kerja sama, kemandirian, kesehatan, dan
komunikasi.
Penerapan Deep Learning di dalam kelas
Penerapan Deep Learning dalam sektor pendidikan
membutuhkan perencanaan yang baik dan pendekatan yang
menyeluruh. Untuk menerapkan metode ini dengan sukses,
ada empat aspek utama yang harus diperhatikan dalam desain
pembelajaran. Masing-masing aspek ini berperan dalam
menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam,
adaptif, dan relevan untuk siswa.

39
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Untuk menerapkan Deep Learning, berikut adalah empat
elemen desain pembelajaran yang perlu diperhatikan:
1) Kerjasama dalam Pembelajaran
Kerjasama dalam pembelajaran menekankan pentingnya
kolaborasi yang erat antara berbagai pihak yang terlibat dalam
pendidikan, termasuk guru, siswa, dan masyarakat. Peran guru
tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai
fasilitator yang membantu siswa untuk mengembangkan
pemahaman yang lebih dalam tentang suatu konsep melalui
diskusi, penjelajahan, dan refleksi. Lebih dari itu, partisipasi
orang tua dan komunitas dalam proyek pembelajaran siswa
dapat memperkaya pengalaman belajar. Contohnya, siswa
bisa berkolaborasi dengan komunitas lokal dalam proyek
penelitian atau menciptakan solusi berbasis teknologi untuk
mengatasi masalah nyata. Ini tidak hanya meningkatkan
keterampilan berpikir mereka, tetapi juga membangun rasa
empati dan tanggung jawab sosial.
2) Lingkungan belajar
Lingkungan pembelajaran yang kondusif menjadi elemen
krusial dalam implementasi Deep Learning. Ruang kelas perlu
dirancang sedemikian rupa agar memberikan kesempatan
untuk eksplorasi, inovasi, dan interaksi yang aktif. Ini dapat
tercapai melalui penciptaan ruang fisik yang adaptable, seperti
kelas yang bisa disusun ulang sesuai dengan kebutuhan
aktivitas belajar, serta penggunaan teknologi digital untuk
memperkaya pengalaman belajar.

40
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Pemanfaatan ruang digital juga dapat mempermudah siswa
mengakses sumber daya pembelajaran yang lebih beragam.
Contohnya, penggunaan platform e-learning, simulasi berbasis
virtual reality (VR), dan alat kolaborasi dapat memberikan
pengalaman belajar yang lebih interaktif dan kustom. Dengan
demikian, siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif,
tetapi juga terlibat secara aktif dalam eksplorasi, percobaan,
dan pencarian solusi dari berbagai tantangan yang mereka
hadapi selama proses belajar.
3) Pemanfaatan digital
Teknologi digital di dalam pendidikan bukan hanya sebagai
alat bantu, melainkan juga sebagai sarana untuk mendukung
penemuan pengetahuan dan peningkatan keterampilan yang
diperlukan di abad ke-21. Namun, sangat penting untuk
memastikan bahwa teknologi dimanfaatkan dengan cara yang
tepat dan tidak hanya sebagai tambahan yang tidak memiliki
tujuan yang jelas.
Penggunaan platform digital sebaiknya direncanakan sehingga
siswa bisa memanfaatkannya dalam proyek belajar yang
berfokus pada penyelesaian masalah. Contohnya, siswa bisa
memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menganalisis data
dalam studi mereka, menggunakan perangkat lunak desain
untuk membuat prototipe produk yang inovatif, atau
memanfaatkan media interaktif agar dapat menyampaikan
gagasan dengan cara yang lebih menarik.

41
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
4) Praktek Padagogis
Penerapan cara pembelajaran yang kreatif menjadi hal yang
sangat penting dalam mendukung pembelajaran mendalam di
kelas. Para pengajar harus mengintegrasikan berbagai strategi
yang dapat meningkatkan semangat siswa dan memberikan
pengalaman belajar yang lebih berharga. Beberapa
pendekatan yang bisa diterapkan meliputi:
a. Pembelajaran berbasis proyek (project based learning) di
mana murid mendapatkan pengalaman langsung dengan
menyelesaikan proyek yang relevan dengan situasi nyata.
b. Gamifikasi, yang melibatkan penggunaan elemen permainan
dalam proses belajar untuk meningkatkan partisipasi dan
motivasi siswa.
c. Pengkodean (Coding) yang bisa diajarkan sejak usia dini
untuk memfasilitasi pengembangan cara berpikir logis dan
kemampuan memecahkan masalah.
Dengan memadukan pendekatan-pendekatan ini, siswa akan
lebih terlibat dalam proses belajar, memiliki kesempatan untuk
menjelajahi berbagai sudut pandang, serta mengembangkan
keterampilan yang bisa mereka gunakan dalam beragam
konteks kehidupan.

42
BAGIAN 3
PENERAPAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Contoh penerapan deep learning dalam pendidikan di
Indonesia
Materi: Pelestarian Lingkungan
SD: Siswa diajak untuk mengamati lingkungan sekolah dan
membuat poster tentang cara menjaga kebersihan serta
pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
SMP: Siswa melakukan penelitian sederhana tentang dampak
pencemaran di sekitar sekolah dan membuat kampanye kecil,
seperti gerakan “Sehari Tanpa Plastik”.
SMA: Siswa mengembangkan solusi berbasis teknologi
sederhana, seperti pengelolaan sampah organik atau
kampanye digital untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

43
KESIMPULAN
Deep learning dalam pendidikan adalah pendekatan
pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam,
berpikir kritis, serta pembelajaran yang aktif, sadar, dan
menyenangkan. Berakar dari paradigma konstruktivisme,
pembelajaran ini mengaitkan pengetahuan baru dengan
pengalaman sebelumnya. Pendekatan ini mendukung
pengembangan enam kompetensi global (6C): karakter,
kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan
pemikiran kritis.
Penerapan deep learning membutuhkan desain pembelajaran
yang memperhatikan lingkungan belajar, budaya
pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, dan praktik
pedagogis yang inovatif. Keuntungannya meliputi peningkatan
keterampilan abad ke-21, namun tantangannya mencakup
kesenjangan akses teknologi dan isu privasi data. Untuk
berhasil, diperlukan pelatihan guru, infrastruktur yang
mendukung, serta kebijakan yang berpihak pada pembelajaran
berbasis teknologi dan humanistik.

44
EVALUASI
Kerjakan soal pilihan ganda dibawah ini, untuk menguji
pemahaman Anda tentang pembelajaran deep learning.
1. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran mendalam
(deep learning) dalam konteks pendidikan?
a. Proses belajar dengan menghafal materi
b. Pembelajaran yang difokuskan pada kecepatan
mengerjakan soal
c. Pendekatan belajar berbasis berpikir kritis dan pemahaman
yang mendalam
d. Metode mengulang materi secara berulang

2. Berpikir kritis menurut John Dewey didefinisikan sebagai


a. Cara berpikir cepat dan efisien
b. Berpikir reflektif dalam mempertimbangkan pengetahuan
dan keyakinan
c. Proses penghafalan berulang
d. Strategi meniru jawaban guru

3. Salah satu komponen berpikir kritis adalah...


a. Penghafalan cepat
b. Menerima informasi tanpa kritik
c. Evaluasi terhadap kekuatan argument
d. Pemilihan jawaban yang popular

4. Apa peran utama guru dalam pendekatan pembelajaran


mendalam?
a. Sumber utama informasi
b. Fasilitator pembelajaran dan penemuan makna
c. Pemberi hukuman jika siswa salah
d. Pemberi nilai akhir
45
EVALUASI
5. Dalam paradigma konstruktivisme, pengetahuan diperoleh
melalui...
a. Hafalan dan tes
b. Ceramah guru
c. Pengalaman yang membangun pengetahuan baru dari yang
lama
[Link] computer

6. Apa tujuan utama dari pembelajaran penemuan (discovery


learning)?
a. Menghafal informasi sebanyak-banyaknya
b. Memperoleh nilai tinggi tanpa pemahaman
c .Menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman
yang relevan
d. Menyelesaikan tugas dengan cepat

7. Salah satu keuntungan utama dari pembelajaran penemuan


adalah...
a. Murid cepat menyelesaikan ujian
b. Siswa pasif dalam menerima informasi
c. Peningkatan partisipasi dan pemahaman
d. Penekanan pada hafalan

8. Pendekatan deep learning dalam pendidikan menurut


Mendikdasmen mencakup komponen berikut, kecuali:
a. Pembelajaran bermakna
b. Pembelajaran sadar
c. Pembelajaran menyenangkan
d. Pembelajaran kompetitif

46
EVALUASI
9. Karakteristik dari pembelajaran bermakna adalah...
a. Tidak relevan dengan kehidupan nyata siswa
b. Siswa hanya menghafal
c. Relevansi materi dengan pengalaman siswa
d. Menitikberatkan pada ujian nasional

10. Pembelajaran mindful learning menekankan...


a. Menghafal tanpa memahami
b. Keterlibatan aktif dan refleksi diri
c. Penyampaian materi sepihak
d. Penyelesaian soal latihan sebanyak mungkin

11. Joyful learning bertujuan untuk menciptakan suasana


belajar yang...
a. Serius dan tegang
b. Menyenangkan dan interaktif
c. Fokus pada ujian
d. Membosankan

12. Enam kompetensi global dalam deep learning dikenal


sebagai...
a. 6M
b. 6D
c. 6C
d. 6T

47
EVALUASI
13. Kompetensi dalam 6C tidak mencakup...
a. Kolaborasi
b. Konsumerisme
c. Karakter
d. Komunikasi

14. Salah satu tantangan dalam penerapan deep learning


adalah...
a. Motivasi siswa tinggi
b. Ketersediaan teknologi yang merata
c. Kesenjangan akses teknologi
d. Kemudahan infrastruktur

15. Privasi data menjadi isu penting karena...


[Link] semua siswa menyimpan data
[Link] pribadi siswa bisa disalahgunakan
c. Data tidak diperlukan dalam deep learning
d. Guru tidak memiliki akses data

16. Elemen penting dalam desain pembelajaran deep learning


antara lain, kecuali...
a. Praktek pedagogis
b. Lingkungan belajar
c. Kemitraan belajar
d. Pendekatan hapalan

48
EVALUASI
17. Lingkungan belajar yang mendukung deep learning harus...
a. Tertutup dan statis
b. Hanya tersedia secara daring
c. Adaptif, kolaboratif, dan fleksibel
d. Dipenuhi dengan hafalan

18. Teknologi digital dalam pembelajaran deep learning


digunakan untuk...
a. Mengganti peran guru
b. Alat bantu tambahan yang tidak terintegrasi
c. Mempercepat, memperkuat, dan memfasilitasi pembelajaran
d. Mengurangi kebutuhan kolaborasi

19. Salah satu bentuk praktik pedagogis yang dianjurkan


dalam deep learning adalah...
a. Ceramah monoton
b. Latihan soal pilihan ganda
c. Pembelajaran berbasis proyek
d. Menghafal definisi

20. Contoh implementasi deep learning dalam pendidikan


adalah...
a. Murid hanya mencatat buku teks
b. Siswa membuat kampanye digital tentang pelestarian
lingkungan
c. Guru membaca teks tanpa diskusi
d. Semua siswa mengerjakan soal yang sama tanpa diskusi

49
49

Common questions

Didukung oleh AI

Pendekatan pembelajaran yang berfokus pada manusia dalam deep learning dapat membantu mengembangkan kompetensi siswa di masa depan dengan memprioritaskan dimensi keimanan, ketakwaan, kewarganegaraan, pemikiran kritis, kreativitas, kerja sama, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Dengan demikian, siswa akan dibekali dengan profil lulusan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan masa depan, mampu bertindak sebagai warga global yang bertanggung jawab .

Kelebihan utama dari teknik deep learning terletak pada kemampuannya untuk secara otomatis mengekstraksi fitur dan pola kompleks dari data besar dengan presisi yang tinggi. Teknik ini mempengaruhi berbagai bidang, seperti pengenalan wajah yang membutuhkan kemampuan untuk mengenali dan membedakan fitur wajah dalam berbagai kondisi, dan diagnosis medis yang memerlukan analisis mendalam terhadap data pasien untuk mengidentifikasi penyakit .

Dalam konteks deep learning, konsep metakognisi berperan dengan membantu siswa menyadari dan mengatur proses berpikir mereka, yang meliputi cara belajar dan menyelesaikan masalah. Sementara discovery learning memfokuskan pada metode pembelajaran berbasis penyelesaian masalah yang memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Keduanya berkontribusi terhadap peningkatan partisipasi dengan mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam membangun pengetahuan dan aplikasi pengetahuan dalam situasi yang relevan .

Tantangan utama dalam penerapan pembelajaran deep learning di sekolah termasuk penguasaan keterampilan digital oleh guru dan siswa, serta masalah privasi data siswa. Strategi untuk menghadapinya meliputi pelatihan bagi guru untuk menggunakan metode ini, penyediaan infrastruktur yang mendukung, pengintegrasian teknologi digital, dan penerapan kebijakan yang jelas mengenai pengumpulan dan penggunaan data. Pemerintah dan institusi pendidikan juga harus memastikan perlindungan data siswa .

Penggabungan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada penting dalam meningkatkan pemahaman siswa karena metode ini didasarkan pada paradigma konstruktivisme, di mana pengetahuan dibentuk melalui pengalaman-pengalaman sebelumnya. Proses ini memungkinkan perubahan pemahaman siswa terhadap realitas secara bertahap, yang mendukung pencarian makna mendalam dan relevansi pengetahuan baru dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari .

Peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mengubah kurikulum pendidikan adalah dengan menyediakan peluang untuk menyempurnakan metode pembelajaran, terutama di bidang teknologi dan sains. AI dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih personal dengan analisis data besar dan implementasi algoritma yang mendukung eksplorasi konsep-konsep yang kompleks .

Pendekatan deep learning dalam pendidikan dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa dengan mengedepankan pembelajaran yang bermakna dan aktif. Siswa didorong untuk terlibat secara aktif, melakukan refleksi, dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah ada. Dengan menggunakan proyek dan studi kasus, siswa dapat mempelajari konsep dalam konteks dunia nyata yang relevan bagi mereka, sehingga meningkatkan motivasi dan kemampuan berpikir kritis .

John Dewey mendefinisikan berpikir kritis sebagai berpikir reflektif yang menekankan pada pemikiran aktif dan kritis dalam mempertimbangkan keyakinan dan pengetahuan yang ada. Menurut teori konstruktivisme, berpikir kritis sangat penting karena pendidikan bertujuan untuk mempersiapkan individu agar mampu menghadapi berbagai tantangan dengan membentuk pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman yang relevan sebelumnya .

Konsep '6C' dalam kerangka kerja deep learning meliputi karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan pemikiran kritis. Ini menggambarkan kompetensi global yang diharapkan sebagai hasil dari pembelajaran mendalam. Untuk mengukur perkembangan pembelajaran, serangkaian atribut dan alat seperti Diagnostik Penilaian Diri Guru dan Rubrik Desain Pembelajaran digunakan guna memastikan bahwa pengalaman belajar mengintegrasikan kompleksitas dan kedalaman yang diperlukan untuk pertumbuhan keterampilan dan pemahaman .

Empat elemen desain pembelajaran deep learning yang perlu diperhatikan adalah: 1) lingkungan belajar yang kondusif untuk studi yang intensif, 2) praktik yang mengintegrasikan pengajaran agar lebih bermakna, 3) kemitraan pembelajaran untuk membangun hubungan kolaboratif antara guru dan siswa, dan 4) pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung proses pembelajaran. Elemen-elemen ini harus dipertimbangkan bersama untuk menciptakan pengalaman belajar yang memfasilitasi pemahaman mendalam dan relevansi materi .

Anda mungkin juga menyukai