KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya sehingga saya bias mengerjakan makalah ini.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada
dosen mata kuliah PKDK yang telah memberikan kami tugas membuat makalah
[Link] juga mengucapkan terima kasih kepada pihak pihak yang turut membantu
dalam pembuatan makalah ini.
Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan masih terdapat
banyak kesalahan dan [Link] karena itu,keterbatasan waktu dan
kemampuan saya,maka kritik dan saran yang membangun senantiasa kami
harapkan semoga makalah I I dapar berguna bagi saya dan yang lain.
Bandar Lampung, …………….. 2024
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iii
DAFTAR TABEL................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
2.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 3
2.1 Pengertian Atom Actinium ............................................................................ 3
2.2 Sifat-sifat Atom Actinium ............................................................................. 4
2.3 Senyawa Kimia Atom Actinium .................................................................... 5
2.4 Isotop Atom Actinium ................................................................................... 6
BAB III. METODE ................................................................................................. 9
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................11
4.1 Hasil..............................................................................................................11
4.2 Pembahasan ................................................................................................. 13
BAB V. KESIMPULAN ....................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. v
ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Actinium..........................................................................................................4
Gambar 2. Structur Atomic Actinium............................................................................5
Gambar 3. Pemisahan pertukaran kation pemisahan radium/barium menggunakan
pH sitrat 0,32 M 5,5 dengan (A) 1 mL, (B) 2 mL, dan (C) 3 mL resin AG 50WX8.
Pada C, radium dielusi dengan 6 M HNO3. Garis yang diplot hanya panduan
mata. ................................................................................................................................11
Gambar 4. Skema pemisahan 225Ac akhir dengan pemulihan isotop radium......13
iii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Data Senyawa Atom Aktinium.....................................................................5
Tabel 2. Data Isotop Radioaktif..................................................................................7
iv
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Atom terdiri dari nucleus (inti atom), dan dikelilingi oleh electron yang
memiliki muatan [Link] inti atom,terdapat proton yang bermuatan positif
dan neutron yang tidak memilik muatan (netral).Atom memiliki diameter sekitar 6-
30 [Link] partikel seperti proton ,neutron dan electron terikat dengan atom
oleh karena adanya suatu gaya elektromagnetik (Malaka, 2019).
Inti atom yang memiliki nomor massa besar memiliki energy ikat in ti yang
relatif [Link] inti atom yang memiliki nomor massa besar cenderung tidak
stabil dan dapat memancarkan energy dalam bentuk sinar [Link] atom yang
tidak stabil akan selalu memancarkan sinar radioaktif secra spontan,sehingga
akhirnya akan diperoleh inti atom yang [Link] ini disebut dengan
radioaktivitas atau peluruhan radioaktif (Anggraeni, 2019).
Terdapat banyak atom di dunia ini salah satu nya yaitu [Link]
merupakan sebuah unsur kimia radioaktif dengan lambing atom Ac dan nomor atom
89 yang ditemukan pada tahun [Link] merupakan unsur radioaktif non-
primordial pertama yang diisolasi polonium,radiumdan radon diamati sebelum
actinium,namun baru diisolasi tahun [Link] memberi nama pada deret
aktinida,golongan yang berisi 15 unsur serupa antara actinium dan lawrencium pada
table [Link] ini juga kadang dianggap sebagai logam transisi periode ke
7yang pertama,wlaupun lawrencium kurang umum berada di posisi tersebut (Dhea,
2023).
1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, beberapa rumusan masalah yang muncul
adalah:
1. Apa yang dimaksud atom actinium?
2. Bagaimana sifat atom actinium?
3. Bagaimana senyawa atom actinium?
4. Bagaimana isotop atom actinium?
2.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui apa itu atom actinium.
2. Mengetahui sifat atom actinium.
3. Mengetahui senyawa atom actinium.
4. Mengetahui isotop atom actinium.
2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Atom Actinium
Aktinium adalah sebuah unsur kimia radioaktif dengan lambang Ac dan nomor
atom 89. Ia adalah unsur kimia radioaktif yang ditemukan tahun 1899. Ia adalah
unsur radioaktif non-primordial pertama yang diisolasi: polonium, radium dan
radon diamati sebelum aktinium, namun baru diisolasi tahun 1902. Aktinium
memberi nama pada deret aktinida, golongan yang berisi 15 unsur serupa antara
aktinium dan lawrencium pada tabel periodik. Ini juga kadang-kadang dianggap
sebagai logam transisi periode ke-7 yang pertama, walaupun lawrencium kurang
umum berada pada posisi itu.
Sebagai logam radioaktif lunak, berwarna putih keperakan, aktinium bereaksi
cepat dengan oksigen dan uap air di udara membentuk lapisan putih aktinium
oksida yang mencegah oksidasi lebih lanjut. Seperti kebanyakan lantanida dan
aktinida, aktinium memiliki tingkat oksidasi +3 di hampir semua senyawa
kimianya. Aktinium hanya ditemukan dalam jumlah renik di bijih uranium dan
thorium sebagai isotop 227Ac, yang meluruh dengan waktu paruh 21,772 tahun,
dengan didominasi emisi partikel beta dan kadang-kadang alfa, dan 228Ac, yang
beta aktif dengan waktu paruh 6,15 jam. Satu ton uranium alami dalam bijihnya
mengandung sekitar 0,2 miligram aktinium-227, dan satu ton torium alami
mengandung sekitar 5 nanogram aktinium-228. Kemiripan sifat fisika dan kimia
aktinium dan lantanum membuat pemisahan aktinium dari bijihnya menjadi tidak
praktis. Sebagai gantinya, unsur ini disiapkan, dalam jumlah miligram, dengan
iradiasi neutron 226Ra dalam sebuah reaktor nuklir. Karena kelangkaannya,
harganya yang tinggi dan radioaktivitasnya, aktinium tidak memiliki kegunaan
industri yang signifikan. Aplikasinya saat ini termasuk sumber neutron dan zat
untuk radioterapi yang menyasar sel kanker di dalam tubuh.
3
Gambar 1. Actinium
(Source: Wikimedia Comons)
2.2 Sifat-sifat Atom Actinium
Actinium adalah unsur logam radioaktif yang lunak, berwarna putih keperakan.
Diperkirakan modulus gesernya serupa dengan timbal. Karena radioaktivitasnya
yang kuat, aktinium bercahaya dalam gelap dengan cahaya biru pucat, yang berasal
dari udara sekitarnya yang terionisasi oleh partikel energik yang dipancarkan.
Aktinium memiliki sifat kimia yang serupa dengan lantanum dan lantanida lainnya,
dan oleh karena itu unsur-unsur ini sulit dipisahkan saat mengekstraksinya dari bijih
uranium. Ekstraksi pelarut dan kromatografi ion adalah metode pemisahan yang
biasa digunakan.
Unsur pertama dari aktinida, aktinium digunakan untuk nama golongannya,
seperti lantanum untuk lantanida. Golongan unsur ini lebih beragam daripada
lantanida dan oleh karena itu pada tahun 1928 Charles Janet mengusulkan
perubahan yang paling signifikan pada tabel periodik Dmitri Mendeleev sejak
pengakuan lantanida, dengan memperkenalkan aktinida, sebuah gerakan yang
disarankan ulang pada tahun 1945 oleh Glenn T. Seaborg.
Aktinium bereaksi cepat dengan oksigen dan uap air di udara membentuk
lapisan putih aktinium oksida yang menghambat oksidasi lebih lanjut. Seperti
kebanyakan lantanida dan aktinida, aktinium berada pada keadaan oksidasi +3, dan
ion Ac3+ tidak berwarna dalam larutan. Keadaan oksidasi +3 berasal dari
konfigurasi elektron aktinium [Rn]6d17s2, dengan tiga elektron valensi yang
mudah dilepaskan untuk memberikan struktur kelopak tertutup gas mulia radon
4
yang stabil. Keadaan oksidasi +2 yang langka hanya dikenal untuk aktinium
dihidrida (AcH2); bahkan ini sebenarnya adalah senyawa elektrida seperti
kongenernya yang lebih ringan LaH2.
Gambar 2. Structur Atomic Actinium
(Source: Science Photo Libray)
2.3 Senyawa Kimia Atom Actinium
Hanya sedikit senyawa aktinium yang diketahui termasuk AcF3, AcCl3,
AcBr3, AcOF, AcOCl, AcOBr, Ac2S3, Ac2O3 dan AcPO4. Kecuali AcPO4,
semuanya serupa dengan senyawa lantanum yang sesuai. Mereka semua
mengandung aktinium dalam tingkat oksidasi +3. Secara khusus, konstanta kisi dari
analog senyawa lantanum dan aktinium berbeda hanya beberapa persen.
Tabel 1. Data Senyawa Atom Aktinium
dens
simbol
Rum sime kelompo N a (p b (p c (p itas,
warna Pearso Z
us tri k ruang o m) m) m) g/cm
n 3
Ac keperakan fcc[23] Fm3m 225 cF4 531,1 531,1 531,1 4 10,07
tidak
AcH2 kubik[23] Fm3m 225 cF12 567 567 567 4 8,35
diketahui
trigonal[2
Ac2O3 putih[16] 6] P3m1 164 hP5 408 408 630 1 9,18
5
dens
simbol
Rum sime kelompo N a (p b (p c (p itas,
warna Pearso Z
us tri k ruang o m) m) m) g/cm
n 3
Ac2S3 hitam kubik[27] I43d 220 cI28 778,56 778,56 778,56 4 6,71
heksago
AcF3 putih[28] P3c1 165 hP24 741 741 755 6 7,88
nal[25][26]
heksago
AcCl3 putih P63/m 165 hP8 764 764 456 2 4,8
nal[25][29]
heksago
AcBr3 putih[25] P63/m 165 hP8 764 764 456 2 5,85
nal[29]
AcOF putih[30] kubik[25] Fm3m 593,1 8,28
tetragon
AcOCl putih 424 424 707 7,23
al[25]
tetragon
AcOBr putih 427 427 740 7,89
al[25]
AcPO4·0 tidak heksago
721 721 664 5,48
.5H2O diketahui nal[25]
2.4 Isotop Atom Actinium
Aktinium yang terjadi secara alami tersusun dari
dua isotop radioaktif; 227Ac (dari keluarga radioaktif 235U)
dan 228Ac (cucu dari 232Th). 227Ac meluruh terutama sebagai pemancar
beta dengan energi yang sangat kecil, tetapi sebanyak 1,38% dari kejadian
peluruhan, ia memancarkan partikel alfa, sehingga dapat mudah diidentifikasi
melalui spektrometri alfa. Sebanyak tiga puluh enam radioisotop telah
diidentifikasi, yang paling stabil adalah 227Ac dengan waktu paruh 21,772
tahun, 225Ac dengan waktu paruh 10 hari dan 226Ac dengan waktu paruh 29,37
jam. Seluruh isotop radioaktif yang tersisa memiliki waktu paruh kurang dari 10
jam dan mayoritas dari mereka memiliki waktu paruh kurang dari satu menit. Isotop
6
aktinium dengan umur terpendek adalah 217Ac (waktu paruh 69 nanodetik) yang
meluruh melalui peluruhan alfa dan tangkapan elektron. Aktinium juga memiliki
dua keadaan meta (meta state) yang diketahui. Isotop yang paling signifikan untuk
kimia adalah 225Ac, 227Ac, dan 228Ac[11]
227Ac yang dimurnikan berada dalam kesetimbangan dengan produk
peluruhannya setelah sekitar setengah tahun. Ia meluruh sesuai waktu paruhnya
(21,772 tahun) dengan memancarkan mayoritas partikel beta (98,62%) dan
beberapa partikel alfa (1,38%); produk peluruhan yang berturutan adalah bagian
dari deret aktinium. Mengingat jumlah yang tersedia rendah, energi partikel beta-
nya juga rendah (maksimum 44,8 keV), dan intensitas radiasi alfanya juga
rendah, 227Ac sulit dideteksi langsung melalui emisinya dan oleh karena itu
ditelusuri melalui produk peluruhannya.] Isotop aktinium memiliki kisaran berat
atom dari 206 u (206Ac) sampai 236 u (236Ac).
Tabel 2. Data Isotop Radioaktif
Isotop Produksi Peluruhan Waktu paruh
221 232
Ac Th(d,9n)→225Pa(α)→221Ac α 52 milidetik
222 232
Ac Th(d,8n)→226Pa(α)→222Ac α 5,0 detik
223 232
Ac Th(d,7n)→227Pa(α)→223Ac α 2,1 menit
224 232
Ac Th(d,6n)→228Pa(α)→224Ac α 2,78 jam
232
225 Th(n,γ)→233Th(β−)→233Pa(β−)→233U(α)→229T
Ac α 10 hari
h(α)→225Ra(β−)→225Ac
α, β−
226 226 226
Ac Ra(d,2n)→ Ac electron 29,37 jam
capture
7
227 235
Ac U(α)→231Th(β−)→231Pa(α)→227Ac α, β− 21,77 tahun
228 232
Ac Th(α)→228Ra(β−)→228Ac β− 6,15 jam
229 228
Ac Ra(n,γ)→229Ra(β−)→229Ac β− 62,7 menit
230 232
Ac Th(d,α)→230Ac β− 122 detik
231 232
Ac Th(γ,p)→231Ac β− 7,5 menit
232 232
Ac Th(n,p)→232Ac β− 119 detik
8
BAB III. METODE
Metode ini menggunakan pendekatan tiga kolom untuk pemisahan isotop
radium dari matriks thorium iradiasi proton, menambahkan hanya satu kolom
tambahan ke skema pemisahan 225Ac. Manfaat untuk proses ini atas proses yang
diterbitkan sebelumnya adalah penghapusan volume besar limbah organik
radioaktif22. Limbah campuran (larutan organik radioaktif) adalah batasan untuk
banyak fasilitas karena tingginya biaya dan kesulitan pembuangan.
Salah satu perhatian untuk memisahkan isotop radium dari produk fisi adalah
potensi kontaminasi dengan isotop stron-tium; 89Sr dan 90Sr. Isotop ini menjadi
perhatian karena waktu paruh yang panjang (masing-masing 50,6 hari dan 28,8
tahun) dan kurangnya garis gamma yang kuat untuk deteksi. Strontium dan barium
keduanya menunjukkan kompleksasi yang lebih kuat dengan sitrat daripada
radium25. Pemisahan strontium, barium, dan radium dengan media sitrat telah
dilakukan oleh Thompson et al. dan ditunjukkan bahwa strontium terelusi sebelum
barium, yang pada gilirannya terelusi sebelum radium26. Oleh karena itu
menggunakan metode ini akan secara efektif menghilangkan isotop strontium yang
terkontaminasi sebelum elusi radium.
Pentingnya memasok radionuklida dengan kemurnian tinggi dan aktivitas
spesifik, terutama radi-oisotop terapeutik, semakin relevan di bidang kedokteran
nuklir. Hasil yang dijelaskan dalam menunjukkan bahwa isotop radium dapat
diperoleh sebagai produk sampingan dari produksi 225Ac dengan kemurnian
radiokimia rata-rata ≥99,9% sebagaimana ditentukan oleh aktivitas. Perkiraan hasil
menetapkan bahwa jumlah hingga 0,3 Ci dari 223Ra dan 0,1 Ci dari 225Ra13 dan
0,2 Ci dari 224Ra16 dapat dibuat dan dipulihkan dari target thorium bersamaan
dengan produksi skala Ci 225Ac yang diantisipasi di fasilitas isotop LANL atau
BNL. Selanjutnya, aliran asam sitrat melalui dari kolom penukar kation dapat
9
diproses ulang 21 hari setelah pemurnian awal untuk mendapatkan 223Ra dari
peluruhan 227Th. Kuantitas setinggi 4 Ci dari 223Ra akan tersedia selama
pemrosesan kedua ini13. Karena pemulihan radium dilakukan di hilir proses
pemulihan 225Ac, tidak ada efek pada waktu pemrosesan atau hasil 225Ac.
Pengotor isotop radium tidak dapat dipisahkan secara kimia, namun, ada
banyak kegunaan untuk isotop radium yang tidak memerlukan kemurnian isotop.
Misalnya, 225Ac murni dapat diperoleh dari sumber ini setelah 18 hari berlalu.
Setelah 225Ac tumbuh, pemisahan dari isotop radium dapat diperoleh dengan
menggunakan kolom TEHDGA seperti yang ditunjukkan pada Gambar. 2. Selain
itu, karena 223Ra disetujui FDA untuk radioterapi, ada minat dalam
mengembangkan kelat radium untuk digunakan dalam terapi alfa yang
ditargetkan27. Untuk tujuan merancang dan menguji kelat, bentuk murni isotop
223Ra tidak diperlukan. Selain itu, kepentingan non-medis 225Ra untuk
pengukuran momen dipol listrik atom juga tidak memerlukan 225Ra murni
[Link] yang dipulihkan dari pemrosesan 225Ac dapat memberikan
pasokan radium yang konsisten untuk tujuan ini (Mastren et al.,2017).
10
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Target logam torium diproduksi di Los Alamos National Laboratory (LANL).
Potongan-potongan kecil logam torium (kemurnian >99% sebagaimana ditentukan
melalui spektroskopi fluoresensi sinar-X) diperoleh dari inventaris internal LANL.
Bahan bakunya dilebur dan digulung menjadi lembaran dengan ketebalan rata-rata
0,50 ± 0,02 mm untuk digunakan sebagai target berkas proton. Semua percobaan
dilakukan dalam rangkap tiga kecuali dinyatakan lain. Semua bahan kimia
digunakan tanpa pemurnian lebih lanjut. Asam nitrat dan asam klorida, keduanya
kelas Optima, dibeli dari Fisher Scientific (Pittsburgh, PA, USA). Asam sitrat
(99,9%) diperoleh dari Sigma-Aldrich (St Louis, MO, USA), dan air deionisasi
(≥18 MΩcm) disiapkan di lokasi dengan sistem pemurnian air Millipore. Resin
penukar kation AG 50WX8, 200–400 mesh, diperoleh dari Biorad (Hercules, CA,
USA). Resin DGA bercabang (N, N, N ′, N ′-tetrakis-2-ethylhexyldiglycolamide;
disingkat TEHDGA) 100-150 μm, dibeli dari Eichrom Inc. (Lisle, IL, USA)
11
Gambar 3. Pemisahan pertukaran kation pemisahan radium/barium menggunakan
pH sitrat 0,32 M 5,5 dengan (A) 1 mL, (B) 2 mL, dan (C) 3 mL resin AG 50WX8.
Pada C, radium dielusi dengan 6 M HNO3. Garis yang diplot hanya panduan
mata.
Detektor Germanium dengan efisiensi relatif 20%. Penganalisis multisaluran
berbasis PC yang memanfaatkan perangkat lunak Canberra Genie 2000
digabungkan ke detektor. Resolusi detektor yang diukur adalah 2,0 keV pada 1,33
MeV. Kalibrasi energi dan efisiensi diselesaikan menggunakan sumber sinar γ yang
dapat dilacak ke National Institute of Standards and Technology (NIST). Waktu
pengumpulan spektrum bervariasi dari hitungan satu jam untuk pengenceran
sampel awal hingga hitungan 36 jam untuk sampel yang sangat membusuk. Sampel
untuk geometri detektor bervariasi untuk mengurangi waktu mati detektor di bawah
5%. Setiap puncak dalam spektrum sinar γ dipasang menggunakan metode non-
linear least squares fit (Canberra, 2009). Bila memungkinkan, beberapa puncak
sinar γ digunakan untuk mengukur aktivitas pada akhir bom-bardment (EOB) untuk
setiap radioisotop melalui metode rata-rata tertimbang (Mastren et al.,2017).
Untuk percobaan pemisahan, spektrometri sinar gamma dilakukan
menggunakan sistem detektor EG&G Ortec Model GMX-35200-S HPGe yang
dikombinasikan dengan Canberra Model 35-Plus multichannel analyzer. Diameter
detektor adalah 50, 0 mm; panjang detektor 53, 5 mm; Jadilah ketebalan jendela 0,
5 mm; ketebalan lapisan mati luar 0,3 μm. Penentuan dan evaluasi fungsi respons
detektor dilakukan dengan menggunakan standar campuran radionuklida yang
mengandung 241Am, 109Cd, 57Co, 139Ce, 203Hg, 113Sn, 137Cs, 88Y, 60Co,
dapat dilacak ke National Institute Standar dan Teknologi (NIST) dan dipasok oleh
Eckert & Ziegler, Atlanta, GA, AS. Detektor tersebut adalah detektor HPGe tipe Al
tipe p dengan FWHM terukur pada 1333 keV sekitar 2,2 keV dan relative efisiensi
sekitar 10%. Total ketidakpastian aktivitas sumber relatif berkisar antara 2,6%
hingga 3,3%. Menghitung waktu mati dijaga di bawah 10% (Mastren et al.,2017).
12
Gambar 4. Skema pemisahan 225Ac akhir dengan pemulihan isotop radium.
4.2 Pembahasan
Target logam thorium, massa 10 g, ketebalan massa 640 mg / cm2, diiradiasi
di Fasilitas Produksi Isotop (IPF), Laboratorium Nasional Los Alamos (LANL,
NM, AS). Target dikemas dalam kelongsong Inconel dan ditempatkan ke dalam slot
"A" energi tinggi (energi insiden 90 MeV) dari perakitan target IPF. Target IPF dan
pendinginan air 4π telah dijelaskan sebelumnya28, 29. Target diiradiasi dalam
berkas proton dengan intensitas rata-rata 230 μA selama 22,5 jam. Target kemudian
diangkut ke Fasilitas Hot Cell IPF di mana ia dikeluarkan dari cangkang Inconel
dan dikirim ke Oak Ridge National Laboratory (ORNL) untuk pemrosesan kimia
(Mastren et al.,2017).
Kolom pertukaran kation. Pemisahan kimia diadaptasi sebagai berikut dari
pekerjaan sebelumnya untuk mengekstrak isotop radium dengan dampak kecil pada
pemulihan 225Ac 12, 24, 30. Bahan target 10 g yang diiradiasi dilarutkan dalam
200 mL 10 M HCl dan 250 μL 2 M HF dengan pemanasan (~ 70 °C) selama kurang
lebih 2 jam. Tiga alikuot dari target terlarut digunakan untuk membubuhi tiga
larutan terpisah ~1 g logam ke-232 yang dilarutkan dalam 40 mL 10 M HCl yang
13
dibubuhi dengan 40 μL 2 M HF. Setiap alikuot mewakili campuran semua
radionuklida yang sebelumnya diidentifikasi dalam target12 dan setiap larutan
diproses secara independen sesuai dengan langkah-langkah berikut. Larutan dibawa
mendekati kekeringan dan dibentuk kembali dalam 205 mL 1 M sitrat, pH 2, dan
melewati kolom pertukaran kation yang mengandung 5 mL AG50 × 8 resin, 200-
400 mesh, yang dikondisikan sebelumnya dengan larutan 1 M sitrat, pH 2. Eluat
dari kolom dikumpulkan, fraksi 1, kemudian tambahan 50 mL 1 M sitrat, pH 2,
digunakan untuk mencuci kolom, fraksi 2. Kolom tersebut kemudian dicuci dengan
asam nitrat 10 mL 1 M untuk menghilangkan sisa sitrat, fraksi 3 (5 mL) dan 4 (5
mL). Dua puluh lima mililiter asam nitrat 6 M kemudian ditambahkan ke kolom
dan dikumpulkan dalam fraksi 5 (Mastren et al.,2017).
Untuk pemisahan radium/barium, metode oleh Power et al. diadaptasi seperti
yang dijelaskan di bawah ini31. Fraksi 6–8 dari masing-masing pengulangan
dibawa ke kekeringan, dibentuk kembali dalam 5 mL 0,1 M HNO3 dan kemudian
melewati kolom kation yang mengandung 1 mL (diameter dalam 0,8 cm), 2 mL
(diameter dalam 0,8 cm), atau 3 mL (diameter dalam 0,8 cm) resin AG 50WX8,
200–400 mesh, dan efiuen dikumpulkan, fraksi 14 (5 mL). Untuk kolom 1 mL,
tambahan 5 mL 0,1 M HNO3 ditambahkan untuk mencuci kolom, rekahan 15,
diikuti oleh lima fraksi 0,32 M sitrat pH 5,5, fraksi 16-20 (masing-masing 5 mL).
Untuk kolom 2 mL, dua pencucian 5 mL tambahan 0,1 M HNO3 ditambahkan ke
kolom dan dikumpulkan untuk menghasilkan fraksi 15 (5 mL) dan 16 (5 mL),
diikuti oleh delapan fraksi 5 mL 0,32 M sitrat pH 5,5 (fraksi 17-24, masing-masing
5 mL). Untuk kolom berukuran volume 3 mL, tiga pencucian 5 mL tambahan 0,1
M HNO3 ditambahkan ke kolom dan dikumpulkan: fraksi 15–17, diikuti oleh tujuh
fraksi 5 mL 0,32 M sitrat pH 5,5, fraksi 18–24. Radium dielusi dari kolom 3 mL
menggunakan dua fraksi 5 mL 6 M HNO3, fraksi 25 dan 26. Semua fraksi yang
dikumpulkan diukur menggunakan spektrometri HPGe untuk mengidentifikasi
spesies radionuklidik yang ada (Mastren et al.,2017).
14
BAB V. KESIMPULAN
Atom actinium adalah unsur kimia dengan lambang Ac dan nomor atom 89.
Secara alami, ia ditemukan dalam mineral uranium, dan merupakan salah satu unsur
radioaktif dalam tabel periodik. Sifat atom actinium termasuk radioaktif, memiliki
waktu paruh sekitar 21,8 tahun, dan secara umum cenderung mengalami peluruhan
alfa menjadi torium. Senyawa atom actinium jarang terjadi dalam lingkungan alam,
tetapi beberapa senyawa telah dipelajari dalam konteks penelitian ilmiah.
Contohnya adalah AcCl3 dan Ac(NO3)3, yang biasanya digunakan dalam
penelitian kimia dan penelitian terkait radioaktivitas. Adapun isotop atom actinium,
isotop paling stabil adalah Ac-227, yang juga digunakan dalam berbagai aplikasi
ilmiah dan industri. Dengan demikian, actinium adalah unsur yang menarik untuk
diteliti dalam konteks kimia nuklir dan aplikasi terkait radiokimia.
15
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, D. F. (2019). Analisis Paparan Radiasi Eksternal dari RESRAD-
BUILD. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Dhea. (2023, 7 10). Wikipedia. Retrieved 3 5, 2024, from Aktunium:
[Link]
Djokorayono, R., & dkk. (2023). Desain Prototipe Spektroskopi Gamma untuk
mengidentifikasi Unsur Radioaktif. Jurnal Internasional Ilmu Pengetahunan
Alam, 433-443.
Malaka, M. (2019). Dampak Radiasi Radioaktif . Jurnal Kajian Pendidikan dan
Keislaman, 199-211.
Mastren, T., Radchenko, V., Owens, A., Copping, R., Boll, R., Griswold, J. R., ... &
Fassbender, M. E. (2017). Simultaneous separation of actinium and radium
isotopes from a proton irradiated thorium matrix. Scientific reports, 7(1),
8216.
Putri, M. K., & dkk. (2021). Peluruhan unsur radioaktif deret aktinium. Jurnal
Pembelajaran Fisika, 22-28.