PERAN KOMNAS PEREMPUAN DALAM MENANGANI KEKERASAN SEKSUAL
TERHADAP PEREMPUAN
Sofia Lulu Azmi
UIN Syarif Hidayatullah
Jl. Ir. H. Djuanda No.95, Ciputat, Tangerang Selatan
Email: luluazmi998@[Link]
Suci Az-Zahra.R
UIN Syarif Hidayatullah
Jl. Ir. H. Djuanda No.95, Ciputat, Tangerang Selatan
Dzikri Ramadhani Issan
UIN Syarif Hidayatullah
Jl. Ir. H. Djuanda No.95, Ciputat, Tangerang Selatan
Nurlaili Rahmawati
UIN Syarif Hidayatullah
Jl. Ir. H. Djuanda No.95, Ciputat, Tangerang Selatan
Email: rnurlaili086@[Link]
Naskah dikirim: 11/12/2023, direvisi: 15/01/2024, diterima: 28/01/2024
Abstract
This article aims to discuss the role of the National Commission on Violence
Against Women in dealing with sexual violence against women, using normative
juridical research. Sexual violence is an act that violates moral norms and violates
human rights , cases of sexual violence often happen to women . Komnas
Perempuan as a state institution concerned with the protection of women plays an
important role in efforts to prevent, protect and treat sexual violence against
women . With the existence of the National Commission on Violence Against
Women , women in Indonesia There is no need to worry about complaining or
reporting violence against women that occurs in society. The hope of this journal
is to provide a deeper understanding of the important role of Komnas Perempuan
in addressing violence against women and how their efforts will bring positive
change in the future. Komnas Perempuan needs to provide outreach to the
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
community, especially women as vulnerable creatures, collaborate , provide
education about preventive efforts against sexual violence , and collaboration
between parties , as well as build safer and more inclusive communities for all
and policy makers are more aware of policies that are pro towards women.
Keywords : Sexual Violence, Human Rights, Women, National Commission on
Violence Against Women
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk membahas peran komnas perempuan dalam
menangani kekerasan seksual terhadap perempuan, dengan menggunakan
jenis penelitian yuridis normatif. Kekerasan seksual adalah suatu tindakan yang
melanggar norma kesusilaan dan melanggar hak asasi manusia, kasus
kekerasan seksual seringkali menimpa kepada peremuan. Komnas Perempuan
sebagai lembaga negara yang concern dibidang perlindungan perempuan
berperan penting dalam upaya pencegahan, perlindungan, dan pengobatan
terhadap kekerasan seksual yang terjadi terhadap perempuan. Dengan adanya
Komnas Perempuan, para perempuan di Indonesia tidak perlu khawatir untuk
mengadukan atau melaporkan suatu kekerasan terhadap perempuan yang
terjadi dalam masyarakat. Harapan dari jurnal ini adalah untuk memberikan
pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya peran Komnas
Perempuan dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana
upaya mereka membawa perubahan positif di masa depan. Komnas perempuan
perlu memberikan sosialisasi kepada masyarakat khususnya perempuan
sebagai makhluk rentan, melakukan kerja sama, memberikan pendidikan
tentang upaya preventif terhadap kekerasan seksual, dan kolaborasi antar
pihak, serta membangun komunitas yang lebih aman dan inklusif untuk semua
serta pembuat kebijakan lebih aware terhadap kebijakan yang pro terhadap
perempuan.
Kata Kunci: Kekerasan Seksual, HAM, Perempuan, Komnas Perempuan
A. Pendahuluan
Kekerasan seksual merupakan isu yang sering kali kita dengar di kalangan
masyarakat. Isu ini sangat serius dan memperhatinkan, terutama ketika
perempuan menjadi korban. Isu ini tidak hanya melukai fisik dan emosional,
tetapi juga melanggar hak asasi manusia. Pada dasarnya, kekerasan seksual
tidak hanya terjadi pada perempuan saja, melainkan laki-laki juga kerap
menjadi objek hal tersebut, Namun, mayoritas kekerasan seksual terjadi pada
44
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
perempuan.1 Jumlah pelecehan yang terjadi pada perempuan tertulis sebanyak
431.471 kasus dengan rincian 421.752 kasus berasal dari permasalahan yang
ditangani Pengadilan Agama, dan 14.719 bersumber dari kejadian yang telah
ditangani lembaga mitra pengadalayanan di sepertiga provinsi di Indonesia dan
1419 masalah dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR).2
Karena hal itu, komnas perempuan sangat penting untuk memberi
perlindungan, pencegahan kepada masyarakat. Pemerintah juga harus
bertindak tegas terhadap tindakan kekerasan seksual. Dengan memahami
kebijakan pemerintah dalam menangani kekerasan seksual pada perempuan,
disemogakan dapat memberikan wawasan yang lebih baik tentang upaya yang
telah dilakukan serta mengidentifikasi area yang masih perlu diperbaiki. Upaya
terus-menerus untuk memperkuat kebijakan dan program yang ada ini sangat
penting agar keadaan perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual
dapat diperbaiki secara signifikan.
Komnas Perempuan adalah organisasi pemerintah independen yang
melindungi hak asasi perempuan di Indonesia. Komnas Perempuan didirikan
sebagai respon atas kejadian kekerasan seksual yang terjadi pada kerusuhan
Mei 1998. Berdirinya Komnas Perempuan berdasarkan Keputusan Presiden No.
181 Tahun 1998 dan diperkuat dengan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2005.
Tujuan dari dibentuknya lembaga Komnas Perempuan adalah menciptakan
kondisi yang mendorong penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap
perempuan dan penghormatan terhadap hak asasi perempuan di Indonesia,
serta memperkuat cara pencegahan, pencegahan dan penanggulangan segala
bentuk kekerasan. Oposisi terhadap perempuan dan perlindungan hak asasi
perempuan.
Amanat dan mandat Komnas Perempuan antara lain meningkatkan
kesadaran terhadap segala bentuk kekerasan terhadap perempuan di Indonesia
1 Prianter Jaya Hariri, “Problem Kekerasan Seksual: Menelaah Arah Kebijakan Pemerintah
Dalam Penanggulangannya”, Jurnal Negara Hukum: Vol. 6, No. 1, Juni 2015, hlm. 2
2 Jakarta, 25 Oktober 2010 ([Link]) diakses pada tanggal 13 Oktober 2023
45
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
dan mencari cara untuk mencegah, membalikkan, dan menghilangkan segala
bentuk kekerasan terhadap perempuan. Melakukan penelitian terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berbagai instrumen
internasional yang melindungi hak asasi perempuan. Melakukan pemantauan,
termasuk menyelidiki dan mendokumentasikan kekerasan terhadap
perempuan dan pelanggaran hak asasi perempuan, menyebarluaskan hasil
pemantauan kepada masyarakat, dan mengambil langkah-langkah untuk
meningkatkan akuntabilitas. Pemerintah, otoritas legislatif, yudikatif dan
organisasi masyarakat dalam pengembangan dan ratifikasi kerangka hukum
dan kebijakan untuk mencegah dan mengatasi segala jenis kekerasan terhadap
perempuan dan untuk mendukung upaya menjaga, melindungi dan memajukan
hak asasi Perempuan.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak
Asasi Manusia, yang selanjutnya disebut UU HAM, mendefinisikan bahwa hak
asasi manusia adalah segala hak yang melekat pada manusia yang diberikan
Tuhan kepada manusia sejak lahir sampai mati, oleh karena itu negara wajib
menghormati, melindungi, dan mempertahankan hak tersebut. melalui jalur
hukum mereka. Hak asasi manusia berasal dari Tuhan sebagai pencipta dan
negara wajib melindunginya karena berhak mengeluarkan peraturan untuk
melindungi hak asasi manusia tersebut.3
Setiap orang berhak atas perlindungan, perlakuan adil, dan kepastian
hukum. Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia dan
kebebasan mendasar tanpa diskriminasi dan rasisme. Pemerintah saat ini
sudah membuat undang-undang terkait tentang perlindungan HAM. Dalam
Pasal 3 UU HAM menyatakan bahwa “setiap orang dilahirkan merdeka,
sederajat dan mempunyai harkat dan martabat kemanusiaan yang sama, serta
3 Sukirno Muh. Afif Mahfud, Erlyn Indarti, ‘Hak Atas Tanah Bagi Masyarakat Tradisional Di
Pantai: Perspektif Hak Asasi Manusia’, Mimbar Hukum, 31.3 (2019), 352–67. Hlm. 358.
46
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
mempunyai akal dan hati nurani untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara dalam semangat persaudaraan”
Namun tidak hanya Indonesia yang menerapkan kebijakan terkait
perlindungan hak asasi manusia. Berbagai instrumen hukum nasional dan
internasional telah dikembangkan untuk perlindungan hak asasi manusia. Hal
ini menunjukkan bahwa seluruh masyarakat di seluruh dunia sadar bahwa hak
asasi manusia merupakan hal yang urgent untuk dilindungi dan berharga,
sehingga harus dilindungi dan dihormati.4
Jurnal ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi fenomena
kekerasan seksual pada perempuan, tugas dan kewenangan komnas
perempuan serta sejauh mana peran komnas perempuan dalam menyelesaikan
kekerasan seksual terhadap perempuan.
Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif atau studi pustaka
dengan menggunakan pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan
perundang-undangan (statute approach). Data yang digunakan dalam dalam
penelitian normatif berupa data sekunder baik peraturan perundang-undangan,
buku, jurnal, dan berita online yang membahas tentang kekerasan seksual yang
terjadi pada perempuan dan peran komnas perempuan. Data yang
dikumpulkan kemudian diolah dan dideskripsikan secara kualitatif untuk
menjelaskan tugas dan kewenangan Komnas Perempuan, serta memberikan
gambaran tentang peran dan fungsi Komnas Perempuan dalam menangani
kekerasan terhadap perempuan di Indonesia untuk mendukung analisis dan
kesimpulan yang dihasilkan.
4 Mohamad Taufiq Zulfikar Sarson Fence M Wantu, ‘Legal Protection of Women as Victim of
Domestic Violence (Case Study of Women and Children Service Units, Criminal Unit of
Gorontalo City Police)’, Indonesian Journal of Advocacy and Legal Services, 1.2 (2020), 243–
258.
47
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
B. Hasil dan Pembahasan
B.1. Fenomena Kekerasan Seksual Pada Perempuan
Kejahatan kesusilaan atau kejahatan moral dan pelecehan seksual atau
Sexual harassment merupakan dua bentuk pelanggaran kesusilaan yang tidak
hanya menjadi masalah hukum dalam negeri saja, namun merupakan masalah
hukum di seluruh negara di dunia atau menjadi masalah global.5 Kekerasan
seksual terhadap perempuan bukan hanya menjadi masalah di Indonesia,
namun menjadi masalah di seluruh dunia. Jane Robert Chapman (pendiri
Center for Women’s Policy Studies) dalam Harkristuti Harkrisnowos
“mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tersebar luas di
semua budaya dan negara.”6
Berbagai kasus pelecehan seksual dan amoralitas yang melibatkan
berbagai kelompok sosial di beberapa negara maju kerap diberitakan di media
Barat, di negara-negara yang dikenal sangat terbuka. Mulai dari kasus Michael
Jackson, Mike Tyson, hingga Keluarga Kerajaan Inggris dan calon presiden
Amerika (Gary Hart), semuanya membuktikan masalah pelecehan seksual dan
kejahatan kebobrokan moral.7
Pelecehan seksual adalah tindakan seksual melalui sentuhan fisik
maupun non fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban.
Tindakan-tindakan yang termasuk dalam pelecehan seksual misalnya main
mata, siulan, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang
bersifat seksual sehingga menimbulkan rasa tersinggung, merasa tidak
nyaman, merendahkan martabat, bahkan sampai menyebabkan masalah
5 Romli Atmasasmita, Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, Mandar Maju, Bandung,
1995, hlm. 103.
6 Elizabeth Siregar, Dessy Rakhmawaty, and Zulham Adamy Siregar, “Kekerasan Seksual
Terhadap Perempuan: Realitas Dan Hukum,” PROGRESIF: Jurnal Hukum 14, no. 1 (2020): 1–
14.
7 ibid
48
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
kesehatan dan keselamatan.8 Sedangkan dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual macam macam
kekerasan seksual yaitu pelecehan seksual fisik dan non fisik, pemaksaan
kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan
seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual serta kekerasan seksual
berbasis elektronik.9
Sebelum disahkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang
Tindak Pidana Kekerasan Seksual, hukum di Indonesia tidak mengetahui istilah
kekerasan terhadap perempuan, walaupun fakta ini muncul semakin naik dan
meningkat di berbagai wilayah Indonesia.10 Saat itu belum ada undang-undang
di Indonesia yang secara khusus mengatur penghapusan segala bentuk
kekerasan terhadap perempuan. KUHP dan UU No. 23/2004 tentang
Pemberantasan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Banyak sekali
kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, sebut saja “Tragedi Mei 1998”,
yang konon merupakan salah satu catatan sejarah yang menunjukkan
pelanggaran HAM terhadap perempuan yang luar biasa [Link] pada
bulan itu diduga terjadi beragam bentuk sistemikasi, transparansi serta
vulgarisasi kejahatan kekerasan dan pelecehan seksual.11
Sekitar tahun tujuh puluhan, masyarakat Indonesia sangat prihatin
dengan kasus pemerkosaan terhadap Sumi, seorang penjual jamu di wilayah DI
Yogyakarta. Peristiwa “Yellow Sum” cukup menggoncangkan kesadaran
masyarakat akan nasib suram korban pemerkosaan. Pemerkosaan cukup
populer di masyarakat sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual terhadap
perempuan, meskipun cara pandang terhadap kasus ini tetap bersifat
8 Ani Purwanti dan Marzellina Hardiyanti, “Strategi Penyelesaian Tindak Kekerasan Seksual
Terhadap Perempuan dan Anak Melalui RUU Kekerasan Seksual”, Masalah-Masalah Hukum,
Jilid 47 No. 2, April 2018, hlm. 142
9
Pasal 4 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual
10 Rita Serena Kalibonso, Kekerasan terhadap perempuan Dalam Rumah Tangga Sebagai
Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Alumni, Bandung, 2000, hlm-99.
11 Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual,
Refika Aditama, Bandung, 2001, hlm-14-15.
49
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
prasangka patriarki, yaitu kecenderungan yang memandang korban sebagai
pemrakarsa peristiwa tersebut. Kekerasan seksual sebenarnya bukan sekedar
pemerkosaan, namun sangat bervariasi dan cara kerjanya tidak sesederhana
yang dibayangkan. Kekerasan seksual adalah perlakuan negatif yang
berkonotasi seksual (penindasan, pemaksaan, penindasan, dan sebagainya)
yang menimbulkan kerugian bagi seseorang.12
Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja terdapat laki-laki dan
perempuan atau dalam komunitas yang homogen. Pelecehan seksual juga
sering terjadi di tempat kerja. Pelecehan seksual biasanya dilakukan oleh atasan
atau rekan kerja. Pasalnya, hubungan antara laki-laki dan perempuan di
tempat kerja cukup intens dan suasana kerja memungkinkan terjadinya
pelecehan seksual. Namun pelecehan seksual juga dapat terjadi di luar tempat
kerja atau di tempat umum, bahkan tidak jarang pelakunya adalah orang yang
tidak dikenal oleh korban, seperti pelecehan seksual di bus umum, jalan raya,
pasar, dan lain-lain.
Perempuan di seluruh dunia terus mengalami kekerasan dan pelecehan
seksual dari orang-orang yang mempunyai wewenang untuk melakukan hal-hal
tersebut, seperti petugas polisi, otoritas sipil dan militer, suami, paman, guru,
pacar, dll. Perempuan korban kekerasan, seperti halnya pelaku, dapat berasal
dari berbagai latar belakang, usia, pendidikan, tingkat sosial ekonomi, agama,
dan etnis. Kekerasan terhadap perempuan merupakan ancaman terus-menerus
terhadap perempuan di seluruh dunia, meskipun diketahui bahwa tingkat
kekerasan terhadap laki-laki lebih tinggi dibandingkan terhadap perempuan.
Namun perlu diingat bahwa di beberapa belahan dunia status perempuan tidak
dianggap setara dengan laki-laki, sehingga permasalahan ini menjadi wabah
bagi perempuan. Selain itu, ketakutan perempuan terhadap kejahatan jauh
lebih besar dibandingkan laki-laki. Pernyataan ini berlaku di mana pun di
dunia, tanpa memandang batas geografis atau waktu. Kenyataannya adalah
12Elli Nur Hayati, Kekerasan Seksual, Program Gender dan Seksualitas FISIP UI bekerjasama
dengan Ford Foundation, Jakarta, 2004, hlm. 139.
50
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
mayoritas korban kejahatan adalah laki-laki, namun dapat dimengerti bahwa
kerentanan alami perempuan (dalam arti fisik) meningkatkan ketakutan
mereka terhadap kejahatan. Penderitaan perempuan, baik selama maupun
setelah kekerasan, sebenarnya jauh lebih traumatis dibandingkan penderitaan
laki-laki.13
B.2. Tugas dan Kewenangan Komnas Perempuan
Komnas Perempuan atau Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap
Perempuan, adalah sebuah badan pemerintah independen yang bertujuan
untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan
menciptakan kondisi yang kondusif bagi penegakan hak asasi perempuan di
Indonesia. Komnas Perempuan dibentuk berdasarkan Keputusan PERPRES
Nomor 181 Tahun 1998 pada tanggal 9 Oktober 1998. Setelah itu, pada tahun
2005, pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 65 Tahun 2005
yang mengatur mengenai landasan hukum dibentuknya Komnas Perempuan.
Melawan Wanita. Pembentukan Komnas Perempuan bertujuan untuk mencegah
dan menanggulangi masalah kekerasan terhadap perempuan serta menghapus
segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan.14
Komnas perempuan memiliki hak untuk memberi saran kepada pemerintah
legislative dan lembaga operadilan yang bertujuan untuk mendorong
pengembangan dan ratifikasi kerangka hukum dan kebijakan yang mendorong
upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual terhadap
perempuan.
Tugas Komnas Perempuan sebagai lembaga perlindungan bagi korban
kekerasan seksual. Menurut Keputusan Presiden Nomor 65 Tahun 2005, tujuan
dibentuknya Komisi Nasional Perempuan adalah15:
13 Saparinah Sadli, Hak Asasi Perempuan adalah Hak Asasi Manusia, Alumni, Bandung, 2000,
hlm-1
14
Pasal 1 Keputusan Presiden Nomor 65 Tahun 2005.
15 Perpres RI No. 65 Tahun 2005 Tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.
51
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
(1) menciptakan kondisi yang mendorong penghapusan segala kekerasan
terhadap perempuan dan penghormatan terhadap hak asasi perempuan
di Indonesia;
(2) Meningkatkan sumber daya untuk mencegah dan mengatasi segala
bentuk kekerasan terhadap perempuan dan melindungi hak asasi
[Link] perempuan lahir dari keinginan masyarakat,
terutama bagi kaum wanita. Tujuan dari tuntutan ini sebagai upaya
meminta tanggung jawab terhadap negara terkait perlindungan hak asasi
manusia dalam menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan.
Komnas perempuan didirikan untuk menegakan hak asasi manusia
perempuan Indonesia.
Kewenangan komnas perempuan 16:
(1) mengembangkan pemahaman tentang segala bentuk kekerasan kepada
perempuan di Indonesia dan upaya mencegah, mengatasi dan
menghilangkan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.
(2) Melakukan penelitian terhadap berbagai peraturan perundang-undangan
yang ada dan berbagai dokumen internasional terkait perlindungan hak
asasi perempuan
(3) Pengawasan, termasuk mencari dan mendokumentasikan informasi
mengenai kekerasan terhadap perempuan dan pelanggaran hak asasi
perempuan, serta menyebarluaskan hasil pemantauan kepada masyarakat
dan menerapkan langkah-langkah untuk mendorong akuntabilitas dan
[Link] Komnas Perempuan bagi masyarakat Indonesia adalah
sebagai pengawas dan pelapor tentang pelanggaran HAM berbasis gender
dan kondisi pemenuhan hak perempuan korban, pusat pengetahuan tentang
hak asasi manusia, pemicu perubahan serta perumusan kebijakan.
Dalam menjalankan tugas dan mandatnya, Komnas Perempuan melibatkan
berbagai pemangku kepentingan, khususnya komunitas korban, lembaga hak-
16 [Link] Diakses Pada 27 Oktober 2023
52
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
hak perempuan, lembaga hak asasi manusia pada umumnya, organisasi
masyarakat sipil (CSO), pemerintah, badan legislatif dan yudikatif.
B.3. Peran Komnas Perempuan dalam Menangani Kekerasan Seksual pada
Perempuan
Peran Komnas Perempuan dapat kita lihat dari visi dan misi yang
diciptakan oleh lembaga ini, visi Komnas Perempuan adalah : “menciptakan
ketertiban, hubungan sosial dan juga model perilaku masyarakat yang
mengedepankan melawan kekerasan terhadap [Link]
keberagaman yang ada dan takut terhadap segala perilaku atau tindakan yang
bersifat mengancam atau diskriminatif untuk mewujudkan kehidupan
bermasyarakat yang bebas sehingga perempuan juga dapat menikmati hak
asasinya sebagai sesama umat manusia.
Dan dari misi yang telah dibuat oleh Komnas Perempuan dapat kita
simpulkan beberapa peran penting Komnas Perempuan dalam pembentukan
tatanan sosial yang menimbulkan rasa aman dalam bermasyarakat secara
luas, misi-misi yang dibentuk oleh Komnas Perempuan adalah :
(1) Meng-upgrade segala usaha pencegahan dan penanggulangan bentuk-
bentuk kekerasan terhadap perempuan dan mendorong terwujudnya hak-
hak korban atas kebenaran, keadilan, dan restitusi dalam berbagai bidang
seperti ekonomi, sosial, politik, dan juga budaya berdasarkan asas hak.
kelengkapan .
(2) Mendorong masyarakat untuk memahami bahwa hak-hak perempuan juga
merupakan hak asasi manusia dan bahwa kekerasan terhadap perempuan
merupakan pelanggaran hak asasi manusia.
(3) Perjuangan untuk mengaktifkan peraturan perundang-undangan dan
kebijakan serta meningkatkan sinergi dengan lembaga negara dan lembaga
publik lainnya untuk memenuhi tanggung jawab negara dalam
pemberantasan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.
53
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
(4) Mengembangkan sistem pemantauan, pendokumentasian dan evaluasi
kekerasan terhadap perempuan dan pelanggaran hak asasi perempuan
dalam aktivitas lembaga negara dan masyarakat dalam mewujudkan hak-
hak perempuan khususnya korban kekerasan.
(5) pelopor desain kajian yang memfasilitasi dan mendukung pemenuhan
amanat Komnas Perempuan.
(6) Memperluas dan memperkuat jaringan dan solidaritas antara komunitas
korban dan pembela hak asasi manusia, terutama di tingkat lokal, nasional,
dan internasional.
(7) Memperkokoh kelembagaan Komnas Perempuan sebagai komite nasional
yang independen, demokratis, efektif, efisien, bertanggung jawab dan
responsif terhadap perlindungan hak asasi perempuan.
Berdasarkan data dari catatan tahunan Komnas Perempuan, jumlah
kekerasan terhadap perempuan selama 10 tahun terakhir (pada tahun 2012-
2022) mengalami tren kenaikan, namun pada tahun 2022 mengalami sedikit
penurunan dibanding tahun 2021. Bisa dilihat dalam gambar 1 dibawah ini.17
Gambar 1
Pengaduan Kekerasan terhadap Perempuan selama Tahun 2012-2022.
17
Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2023.
54
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
Data tersebut merupakan kekerasan terhadap perempuan yang
dilaporkan, namun tentunya masih banyak kekerasan perempuan yang tidak
dilaporkan karena masyarakat tidak tahu apa yang harus dilakukan dan
kemana harus melakukan pengaduan ketika mengalami kekerasan seksual.
Sedangkan bentuk kekerasan yang dialami perempuan sepanjang tahun 2022,
sejumlah 32% merupakan kekerasan fisik, 30% kekerasan seksual, 24%
kekerasan psikis, 8% kekerasan ekonomi sebagaimana tergambar dalam
gambar 2.
Gambar 2
Bentuk Kekerasan berdasrkan data Komnas Perempuan dan Lembaga
Layanan Tahun 2022.
Menyikapi pengaduan terkait kekerasan yang terjadi kepada perempuan,
komnas perempuan menyelesaikan masalah ini dengan bentuk memberikan
surat rujukan, surat keterangan melapor, surat klarifikasi, surat rekomendasi,
surat pemantauan, serta tanggapan kasus melalui surat elektronik (email).
Sikap yang diberikan komnas perempuan terhadap aduan pada tahun 2022
mengalami peningkatan dibanding tahun 2021.18
18
Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2023
55
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
Komnas Perempuan sebagai lembaga negara yang concern dibidang
perempuan mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung isu-isu
terhadap perempuan. Peran tersebut diantaranya adalah
1. Advokasi dan Edukasi: Komnas Perempuan sangat mengadvokasi kebijakan
yang mendukung perlindungan perempuan dari kekerasan. Mereka juga
berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan yang dirancang untuk
menyadarkan masyarakat akan masalah kekerasan terhadap perempuan.
2. Pendampingan dan bantuan hukum: Dalam proses peradilan, Komnas
Perempuan memberikan pendampingan terhadap korban kekerasan dan
memberikan bantuan hukum untuk menjamin terpenuhinya hak-hak
korban.
3. Pengumpulan data dan dukungan kebijakan: Mereka juga aktif
mengumpulkan data terkait isu kekerasan terhadap perempuan, yang
menjadi dasar dukungan kebijakan yang lebih efektif.
4. Kerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya: Komnas Perempuan
berkolaborasi dengan berbagai organisasi seperti lembaga pemerintah,
lembaga hukum, LSM, dan masyarakat sipil untuk mendorong upaya
pemberantasan kekerasan terhadap perempuan. Penting untuk dipahami
bahwa upaya Komnas Perempuan merupakan langkah awal yang penting,
namun dibutuhkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk
menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Peran aktif instansi
pemerintah, kesadaran masyarakat dan tindakan kooperatif sangat penting
untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan.
C. Penutup
Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah serius yang
mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kasus kekerasan
terhadap perempuan, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan) berperan penting dalam upaya pencegahan,
56
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
perlindungan, dan pengobatan. Dengan adanya Komnas Perempuan, para
perempuan di Indonesia tidak perlu khawatir untuk mengadukan atau
melaporkan suatu kekerasan terhadap perempuan yang terjadi dalam
masyarakat. Pemerintah sudah menyediakan tempat pengaduan dan layanan
kepada masyarakat yang telah menjadi korban untuk menindak lanjut terkait
kasus kekerasan terhadap perempuan.
Harapan dari jurnal ini adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih
mendalam mengenai pentingnya peran Komnas Perempuan dalam mengatasi
kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana upaya mereka membawa
perubahan positif di masa depan. Komnas perempuan perlu memberikan
sosialisasi kepada masyarakat khususnya perempuan sebagai makhluk rentan,
melakukan kerja sama, memberikan pendidikan tentang upaya preventif
terhadap kekerasan seksual, dan kolaborasi antar pihak, serta membangun
komunitas yang lebih aman dan inklusif untuk semua. Selain itu pemerintah
lebih aware dalam membuat kebijakan yang pro terhadap perempuan.
57
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
Daftar Pustaka
Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan
Seksual, Refika Aditama, Bandung, 2001
Ani Purwanti dan Marzellina Hardiyanti, “Strategi Penyelesaian Tindak
Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak Melalui RUU Kekerasan
Seksual”, Masalah-Masalah Hukum, Jilid 47 No. 2, April 2018.
Elli Nur Hayati, Kekerasan Seksual, Program Gender dan Seksualitas FISIP UI
bekerjasama dengan Ford Foundation, Jakarta, 2004.
Elizabeth Siregar, Dessy Rakhmawaty, and Zulham Adamy Siregar, “Kekerasan
Seksual Terhadap Perempuan: Realitas Dan Hukum,” PROGRESIF: Jurnal
Hukum 14, No. 1 2020.
Luh Made Khristianti Weda Tantri, Perlindungan Hak Asasi Manusia Bagi
Korban Kekerasan Seksual di Indonesia, Media Iuris Vol. 4 No. 2, Juni 2021.
Rifa’ Rosyaadah; Rahayu, Perlindungan Hak Asasi Manusia Perempuan
Terhadap Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Indonesia Dalam
Perspektif Hukum Internasional, Vol 12, No. 2, Agustus 2021.
Rita Serena Kalibonso, Kekerasan terhadap perempuan Dalam Rumah Tangga
Sebagai Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Alumni, Bandung, 2000.
Romli Atmasasmita, Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, Mandar
Maju, Bandung 1995.
Saparinah Sadli, Hak Asasi Perempuan adalah Hak Asasi Manusia, Alumni,
Bandung, 2000.
58
Legacy : Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Vol 4 No 1 - Maret 2024
Utami Zahirah Noviani, Rifdah Arifah, Mengatasi dan Mencegah Tindak
Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dengan Pelatihan Asertif, Vol 5,
No. 1. 2018.
Peraturan Perundang-Undangan
UUD NRI 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi
Manusia.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan
Seksual
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 Tentang Komisi
Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.
website
986 ([Link])
59