0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika SMP

Penelitian ini mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika realistik siswa kelas VIII menggunakan langkah Polya di SMP Negeri 3 Surakarta. Hasil menunjukkan bahwa siswa mencapai nilai baik pada semua indikator kemampuan pemecahan masalah, dengan skor tertinggi pada indikator menyusun rencana penyelesaian. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif, melibatkan 27 siswa dan analisis data melalui tes tertulis dan wawancara.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika SMP

Penelitian ini mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika realistik siswa kelas VIII menggunakan langkah Polya di SMP Negeri 3 Surakarta. Hasil menunjukkan bahwa siswa mencapai nilai baik pada semua indikator kemampuan pemecahan masalah, dengan skor tertinggi pada indikator menyusun rencana penyelesaian. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif, melibatkan 27 siswa dan analisis data melalui tes tertulis dan wawancara.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

E-ISSN : 2579-9258 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika

P-ISSN : 2614-3038 Volume 07, Nomor 02, April - Juli 2023, pp. 1416-1426

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Realistik dengan Langkah


Polya Pada Siswa SMP

Tsaltsa Tamami Rahma1, Sri Sutarni2


1, 2 Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani, Mendungan, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo
a410190188@[Link]

Abstract
Mathematical education has a crucial goal that must be accomplished, namely the ability to solve problems.
The study has intended to describe eighth grade students’s proficiency with Polya steps for solving real world
mathematics issues. The research location is at substation 3 surakarta. The subject used in this study were an
VIII.1 student of 27. The methodology employed in this research was qualitative, and his research design was
descriptive. Based on data obtained, good results were obtained. Students are able to achieve all indicators of
problem solving ability with evidence of obtaining scores of 77.77 and 79.63 for indicators of understanding
problems. Values of 97.53 and 95.06 for indicators of preparing a resolution plan, while for solving problems
according to planning have values of 81.48 and 72.84, and 87.03 and 75.92 for indicators re-examining the
results obtained.
Keywords: Problem solving abilities, realistic mathematics education, Polya

Abstrak
Pada pembelajaran matematika terdapat tujuan penting yang harus dicapai, yaitu kemampuan memecahan
masalah. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika
realistik dengan langkah Polya pada siswa kelas VIII. Lokasi dilakukannya penelitian ini adalah SMP Negeri 3
Surakarta. Peneliti menggunakan subjek siswa kelas VIII.1 dengan total 27 siswa. Metodologi yang digunakan
untuk melakukan penelitian yaitu menggunakan penelitian kualitatif serta desain penelitiannya adalah
deskriptif. Menurut perolehan data penelitian, mendapat kesimpulan jika siswa mendapatkan hasil yang
memuaskan atau baik. Siswa mampu mencapai seluruh indikator kemampuan pemecahan masalah dengan
adanya bukti perolehan nilai 77,77 dan 79,63 untuk indikator memahami masalah. Nilai 97,53 dan 95,06 untuk
indikator menyusun rencana penyelesaian, sedangkan untuk menyelesaikan masalah sesuai perencanaan
memiliki nilai 81,48 dan 72,84, serta 87,03 dan 75,92 untuk indikator memeriksa kembali hasil yang diperoleh.
Kata kunci: Kemampuan pemecahan masalah, RME, Polya

Copyright (c) 2023 Tsaltsa Tamami Rahma, Sri Sutarni


 Corresponding author: Tsaltsa Tamami Rahma
Email Address: a410190188@[Link] (Jl. A. Yani, Mendungan, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo)
Received 12 April 2023, Accepted 16 May 2023, Published 22 May 2023
DoI: [Link]

PENDAHULUAN
Matematika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang konsep, logika, bentuk, susunan,
dan besaran. Menurut Wahyudi, matematika adalah ilmu yang bersifat disiplin, belajar mengenai
sistem imajiner yang bisa terbentuk berdasarkan dari unsur-unsur imajiner dan unsur tersebut tidak
bisa dideskripsikan pada arah atau urutan secara nyata (Annurwanda & Nurhana Friantini, 2019).
Tujuan krusial yang wajib dimiliki oleh setiap siswa saat melakukan proses belajar matematika, yaitu
memiliki kemampuan dalam memahami konsep, berfikir secara kritis serta memiliki kemampuan
dalam menyelesaikan permasalahan. Menurut Permendiknas, terdapat tujuan dari pembelajaran
matematika, antara lain siswa dapat melakukan pemecahkan suatu permasalahan, yang isinya terdapat
pemahaman permasalahan, merancang suatu model matematika, peyelesaian masalah, dan penjabaran
solusi (Sriwahyuni & Maryati, 2022). Memecahkan suatu masalah didefinisikan sebagai kemampuan
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Realistik dengan Langkah Polya pada Siswa SMP, Tsaltsa Tamami
Rahma, Sri Sutarni 1417

pada pembelajaran matematika yang harus dipahami dengan baik oleh siswa (Riastini & Mustika,
2017). Pada saat belajar matematika, tingkat kreativitas siswa dalam melakukan rencana pemecahan
permasalahan dapat menjadi kemampuan dasar siswa (Hidayat & Sariningsih, 2018). Menurut
(Siswanto et al., 2018) dengan adanya kemampuan memecahkan masalah dapat menjadikan siswa
mampu berpikir secara logis untuk mengambil suatu keputusan serta mampu meningkatkan daya
pikirnya dalam menghadapi persoalan yang belum pernah ditemui.
(Kurniawati et al., 2020) mengatakan pada penelitiannya jika memecahkan
permasalahan (problem-solving) bisa dilaksanakan melalui cara berpikir yang logis atau pemikiran
pada konsep matematika dan bisa melaksanakan rekayasa bentuk matematika seperti
menyederhanakan, identifikasi, dan melakukan analisis terhadap bagian-bagian yang termasuk ke
dalam pemecahan suatu masalah yang mencakup matematika ataupun pada keseharian kita dalam
menjalani suatu kehidupan. Siswa yang mengalami suatu kesulitan saat memecahkan masalah dapat
akan terbantu jika memiliki kemampuan dasar pemecahan masalah (Miladina & Rejeki, 2018). Dalam
menyelesaikan permasalahan matematika dibutuhkan keterampilan dalam memecahkannya. Siswa
harus mampu memahami permasalahan tersebut dan bagaimana cara penyelesaiannya. Salah satu
langkah pemecahan masalah matematis ditemukan oleh George Polya. Menurut Polya (1973: 5),
terdapat beberapa urutan yang bisa dilakukan untuk melakukan pemecahan masalah, yaitu (1)
memahami masalah, (2) merencanakan pemecahan masalah, (3) melaksanakan pemecahan masalah,
dan (4) memeriksa kembali hasil yang telah didapatkan. Langkah polya dapat dijadikan alternatif
siswa dalam melakukan suatu pemecahanan masalah. Menurut (Sepriyanti et al., 2020) penggunaan
langkah Polya dapat membantu memudahkan siswa dalam pemecahan suatu permasalahan. Melalui
implementasi keempat langkah Polya, siswa dituntun dalam memahami suatu masalah sampai
menyimpulkan hasil pekerjaan. Pemecahan masalah menggunakan langkah Polya mampu tertata
secara runtut serta praktis, hingga dapat memudahkan siswa (Arifin & Aprisal, 2020).
Ulandari et al., 2019 mengungkapkan jika kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
terbilang belum memenuhi berdasarkan apa yang diinginkan. Rendahnya kemampuan pemahaman
dan penyelesaian soal matematika menyebabkan pengaruh terhadap kualitas pembelajaran
matematika. Kemampuan siswa dalam memecahan masalah dikatakan kurang, dibuktikan dengan
penelitian yang sudah dilaksanakan (Fitria et al., 2018), yang menunjukkan jika siswa SMP 1
Pasundan Cimahi kelas VIII memiliki persentase yang rendah dalam melaksanakan upaya
menyelesaian permasalahan. Kurangnya kemampuan siswa dalam pemecahan masalah adalah karena
siswa berminat mengingat teori matematika (Damianti & Afriansyah, 2022). Kemampuan pemecahan
masalah mempunyai tujuan utama pada kegiatan belajar mengajar matematika. Proses pembelajaran
yang belum tercapai dapat menjadikan siswa memiliki semangat yang kurang untuk mempelajari
matematika. Hal ini bisa saja diakibatkan oleh guru yang dalam pembelajarannya kurang cakap dalam
menerapkan metode sesuai dengan materi yang diajarkan. Guru sebagai tenaga pendidik harus
1418 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume Volume 07, Nomor 02, April - Juli 2023, pp. 1416-1426

mampu mengetahui apa saja metode dalam mengajar, agar pembelajaran yang dilakukan dapat
mengembangkan intelektual siswa dan sinkron dengan tujuan dari pembelajaran yang akan diraih.
Realistic Mathematics Education yang disebut juga dengan RME adalah jenis metode
pengajaran dalam matematika yang berdasarkan dengan fakta atau kenyataan dari lingkungan di
sekeliling siswa. (Papadakis et al., 2021) mengungkapkan jika pembelajaran menggunakan model
RME berhubungan dengan teori dasar matematika, keterampilan dalam berpikir secara kritis, selalu
memiliki ide dalam berpikir, serta menyelesaikan permasalahan. Model pembelajaran RME mampu
memberi kesempatan kepada para siswa agar dapat membentuk pemahaman tentang ilmu mereka
sendiri dengan cara langkah pemecahan masalah yang telah diberikan. Dalam penelitiannya, Surya
menyatakan jika melibatkan kehidupan sehari-hari pada penciptaan pemahaman pemecahan masalah
matematis dapat mendatangkan manfaat bagi siswa (Azif Amalia et al., 2022).
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang telah dilaksanakan oleh (Handayani et al., 2017)
dengan subjek yang digunakan adalah siswa kelas VII, mengungkapkan pada penelitian jika dengan
menggunakan langkah Polya memberikan pengaruh sebanyak 82% terhadap pemecahan masalah.
Pencapaian yang dilakukan dalam kemampuan pemecahan sebuah permasalahan menggunakan
pendekatan problem solving model Polya dikatakan lebih baik daripada menggunakan pembelajaran
yang dilaksanakan secara langsung. Dari sebuah penelitian terdahulu belum ada yang melakukan
pemecahan soal menggunakan metode RME dengan Langkah Polya. Peneliti ingin mendeskripsikan
terkait kemampuan pemecahan masalah matematika realistic dengan langkah Polya pada setiap
indikatornya. Harapan peneliti dengan hasil penelitian ini bisa menjadi aspek pertimbangan dalam
mengasah kemampuan pemecahan masalah bagi pengajar dan siswa.

METODE
Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif. Salah satu jenis metodologi
penelitian yang dapat memberi gambaran sebuah fenomena atau kejadian melalui deskripsi dalam
bentuk kalimat dinamakan penelitian kualitatif. Desain deskriptif dipilih peneliti karena memiliki
tujuan guna mendekripsikan kejadian nyata atau tentang fenomena yang sedang diteliti. Tujuan dari
penggunaan metode ini adalah peneliti ingin memberikan pandangan tentang kemampuan
memecahkan permasalahan matematika realistik dengan langkah-langkah Polya.
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 3 Surakarta. Penelitian ini dimulai dengan pemberian
soal kepada 27 siswa yang berasal dari kelas VIII.1. Dua siswa dipilih secara acak yang akan
digunakan sebagai subjek penelitian. Peneliti akan melakukan wawancara dengan kedua subjek
tersebut berdasarkan hasil pekerjaannya.
Tes tertulis serta wawancara dengan penggunaan instrumen tes kemampuan pemecahan
masalah matematika secara realistik merupakan teknik pengumpulan data yang diperlukan dalam
penelitian. instrument penelitian yang digunakan yaitu 2 permasalahan matematika dengan
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Realistik dengan Langkah Polya pada Siswa SMP, Tsaltsa Tamami
Rahma, Sri Sutarni 1419

menggunakan bab sistem persamaan linier dua variabel yang telah dilakukan validasi oleh validator.
Soal tes disusun atas dasar indikator kemampuan pemecahan masalah yang terdapat pada Tabel 1.

Tabel 1. indikator Tes Kemampuan Pemecahan Masalah


indikator Kemampuan
No indikator Soal
Pemecahan Masalah
Memahami Masalah 1.1 Siswa mampu memahami dan menuliskan informasi
yang diketahui
1
1.2 Siswa dapat memahami dan menuliskan informasi
yang ditanyakan
Menyusun Rencana Penyelesaian 2.1 Siswa mampu menyusun rencana pemecahan
masalah.
2
2.2 Siswa mampu memilih langkah penyelesaian sesuai
dengan pertanyaan.
Menyelesaikan Masalah Sesuai 3.1 Siswa mampu menyelesaikan permasalahan dengan
Perencanaan langkah penyelesaian secara benar.
3
3.2 Siswa mampu menuliskan kesimpulan sesuai dengan
masalah yang ditanyakan.
Memeriksa Kembali Hasil Yang 4.1 Siswa mampu memvalidasi kebenaran hasil atau
4
Diperoleh jawaban

Metode interaktif adalah teknik menganalisis sebuah data yang diperlukan pada penelitian ini.
Metode interaktif terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil tes yang
telah didapatkan lalu dianalisa agar sinkron dengan indikator kemampuan pemecahan masalah.
Adapun pedoman penskoran menurut (Ariani et al., 2017) yang digunakan pada penelitian ini
dipaparkan pada tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2. Pedoman Skor Kemampuan Pemecahan Masalah


Aspek Yang
Keterangan Nilai
Dinilai
Tidak menjawab sama sekali 0
Memahami masalah Menuliskan yang diketahui dan ditanyakan tetapi salah 1
dalam memahami informasi
Menuliskan informasi dan memahami soal dengan tepat. 2
Tidak menjawab sama sekali. 0
Menuliskan langkah-langkah penyelesaian akan tetapi 1
Menyusun rencana kurang tepat.
penyelesaian Menuliskan langkah penyelesaian dengan jawaban yang 2
benar tetapi tidak lengkap.
Menuliskan langkah penyelesaian dengan benar. 3
Tidak menjawab sama sekali. 0
Menuliskan penyelesaian soal sesuai dengan langkah yang
Menyelesaikan telah direncanakan serta menulis kesimpulan, tetapi salah 1
rencana dalam menghitung jawaban.
penyelesaian Menuliskan penyelesaian soal sesuai dengan langkah yang
telah direncanakan dengan benar, tetapi tidak menuliskan 2
kesimpulan.
1420 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume Volume 07, Nomor 02, April - Juli 2023, pp. 1416-1426

Menyelesaikan persoalan sesuai dengan langkah yang sudah


direncanakan, melakukan perhitungan dengan benar dan 3
menulis kesimpulan dengan tepat.
Tidak menjawab sama sekali. 0
Memeriksa
Melakukan pengecekan dengan kurang tepat. 1
Kembali
Melakukan pengecekan jawaban dengan tepat. 2

Dibawah ini merupakan kualifikasi penilaian dalam kemampuan pemecahan permasalahan


menurut teori dari Wancat dan Oreovocz dalam jurnal (Sari et al., 2020) yang sudah dilakukan
modifikasi dapat dinyatakan pada tabel 3.
Tabel 3. Kualifikasi Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah
Nilai Kriteria Predikat
85,00 – 100 Sangat Baik A
71,00 - 84,99 Baik B
58,00 – 70,99 Cukup C
44,00 – 57,99 Kurang D
0 – 43,99 Sangat Kurang E

HASIL DAN DISKUSI


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Surakarta dengan
bab sistem persamaan linier dua variabel. Peneliti memperoleh data hasil dari penelitian yang dapat
ditunjukkan berupa hasil pekerjaan siswa dalam mengerjakan soal tentang kemampuan pemecahan
permasalahan matematika yang diikuti 27 siswa. Pada setiap indikator kemampuan siswa dalam
memecahkan suatu permasalahan akan di analisa menggunakan perhitungan rumus
jumlah skor siswa
nilai =  100 . Dari perhitungan rumus yang telah dilakukan, akan dipaparkan
jumlah skor total
pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah
No Soal Memahami Menyusun Menyelesaikan Memeriksa
Masalah Rencana Masalah Sesuai Kembali Hasil
Penyelesaian Perencanaan Yang Diperoleh
1. Nomor 1 77,77 97,53 81,48 87,03
(Kategori) (Baik) (Sangat Baik) (Baik) (Sangat Baik)
2. Nomor 2 79,63 95,06 72,84 75,92
(Kategori) (Baik) (Sangat Baik) (Baik) (Baik)

Berdasarkan Tabel 3 tersebut, bisa terlihat jika untuk indikator pertama dari soal pertama,
yaitu memahami masalah dengan nilai sebesar 77,77 dan pada soal nomor 2 mendapat nilai sebesar
79,63, keduanya termasuk dalam kategori baik. Pada indikator kedua, yaitu menyusun rencana
penyelesaian mendapatkan Nilai sebesar 97,53, serta pada soal nomor dua dengan persentase 95,06
yang keduanyapun masuk kedalam kategori sangat baik. Sementara itu, pada indikator menyelesaikan
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Realistik dengan Langkah Polya pada Siswa SMP, Tsaltsa Tamami
Rahma, Sri Sutarni 1421

masalah sesuai perencanaan dengan perolehan nilainya adalah 81,48 dan pada soal kedua mendapat
72,84 dengan kedua mendapatkan kategori baik. indikator yang keempat, yaitu memeriksa kembali
hasil yang diperoleh dengan nilai soal nomor 1 adalah 87,03 dengan kategori sangat baik dan soal
nomor 2 dengan 75,92 dengan kategori baik. Dibawah ini merupakan uraian hasil jawaban siswa yang
dipilih secara acak dalam mengerjakan soal tes beserta hasil wawancara siswa.
Memahami Masalah

Gambar 1. Hasil Jawaban subjek A Untuk Soal Nomor 1a

Peneliti : Apa saja informasi dan masalah pada permasalahan soal nomor 1?
Subjek A : informasinya adalah diketahui dua kali umur Dedi ditambah umur ayah sama
dengan 66, 3 tahun lalu, umur ayah dikurangi 3× umur Dedi sama dengan 7 tahun,
yang ditanyakan umur Dedi serta Ayah?
Pada bagian memahami masalah yang merupakan indikator pertama, siswa diharapkan
mampu memahami dan menuliskan data-data yang diketahui oleh siswa pada soal serta menyebutkan
yang ditanyakan. Berdasarkan gambar diatas dan hasil wawancara subjek A, terlihat bahwa subjek A
mampu menuliskan jawaban dengan tepat dan memenuhi indikator kemampuan memecahkan
permasalahan.

Gambar 2. Hasil Jawaban Subjek B Pada Soal Nomor 2a


Peneliti : Apa saja informasi dan masalah pada permasalahan soal nomor 2?
Subjek B : Yang diketahui pada soal adalah tiket 2 orang dewasa ditambah 3 anak-
anak adalah Rp 28.000,00 sedangkan 3 orang dewasa ditambah 4 anak-anak
adalah Rp 40.000,00. Yang ditanyakan adalah tiket 2 orang dewasa dan 2 anak-
anak. Lalu misal orang dewasa adalah x dan anak-anak adalah y .

Peneliti : Apakah didalam soal diketahui orang dewasa adalah x dan anak-anak adalah y ?
Subjek B : Tidak bu
Peneliti : Jadi, apakah itu termasuk informasi pada soal tersebut?
Subjek B : Tidak bu
1422 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume Volume 07, Nomor 02, April - Juli 2023, pp. 1416-1426

Dari gambar diatas dan hasil wawancara kepada subjek B, terdapat kesalahan pada
menuliskan informasi, yaitu subjek B menuliskan permisalan pada hasil jawabannya. Subjek B kurang
dapat menuliskan data-data yang diketahui pada soal.
Menyusun Rencana Penyelesaian

Gambar 3. Hasil jawaban Subjek A Pada Soal Nomor 1b


Peneliti : Bagaimana cara saudara menyusun langkah-langkah penyelesaian?
Subjek A : Langkah pertama saya membuat permisalan, lalu membuat persamaan dan yang
terakhir mengeliminasi.
Berdasarkan gambar 3 dan hasil wawancara, subjek A dapat menyusun tahap-tahap
penyelesaian dengan tepat, sehingga dapat memenuhi indikator kedua, yaitu membuat rencana
penyelesian.

Gambar 4. Hasil Jawaban Subjek B Pada Soal Nomor 2b


Peneliti : Bagaimana cara saudara menyusun langkah-langkah penyelesaian?
Subjek B : Langkah pertama saya membuat permisalan, lalu membuat persamaan,
menyamakan variabel dan yang terakhir mengeliminasi persamaan.
Pada gambar diatas dan hasil dari wawancara kepada subjek B, tampak terlihat bahwa subjek
B dapat menyusun langkah penyelesaian secara benar seperti indikator pada kemampuan pemecahan
masalah.
Menyelesaikan Masalah Sesuai Perencanaan

Gambar 5. Hasil Jawaban Subjek A Pada Soal Nomor 1c


Peneliti : Bagaimana cara saudara melakukan langkah-langkah penyelesaian untuk
memperoleh hasil?
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Realistik dengan Langkah Polya pada Siswa SMP, Tsaltsa Tamami
Rahma, Sri Sutarni 1423

Subjek A : Yang pertama saya memisalkan dedi itu x dan ayah itu y , lalu dibuat

persamaannya yang pertama 2 x + y = 66 dan persamaan kedua

( y − 3) − 3 ( x − 3) = 7 atau − 3x + y = 1 , terus 2 x + y = 66 dieliminasi dengan


− 3x + y = 1 didapatkan 5 x = 65 dan x = 13 , lalu χ nya dimasukkan ke persamaan
pertama yaitu, 2 x + y = 66 , 2.(13) + y = 66 , 26 + y = 66 , maka y adalah 40.
Pada indikator menyelesaiakan masalah sesuai dengan perencanaan yang mana siswa
diharapkan dapat melaksanakan permasalahan seperti langkah yang telah dirancang dengan benar dan
menuliskan kesimpulan berdasarkan dengan permasalahan yang perlu diselesaikan. Dapat terlihat
gambar diatas serta hasil wawancara, Subjek A mampu melakukan penyelesaian masalah seperti
rencana yang telah diciptakan serta mampu menghitung jawaban dengan tepat, akan tetapi subjek A
tidak menyertakan kesimpulan dari persoalan yang ditanyakan.

Gambar 6. Hasil Pengerjaan Subjek B Pada Soal Nomor 2c


Peneliti : Bagaimana cara saudara melakukan langkah-langkah penyelesaian untuk
memperoleh hasil?
Subjek B : Membuat persamaan pertama yaitu 2 x + 3 y = 28.000 dan persamaan kedua

3x + 4 y = 40.000 , persamaan 2 x + 3 y = 28.000 dikalikan dengan 3 dan


persamaan 3x + 4 y = 40.000 dikalikan dengan dua didapatkan hasil pada

persamaan pertama yaitu 6 x + 9 y = 84.000 dan persamaan kedua yaitu

6 x + 8 y = 80.000 , lalu kedua persamaannya di eliminasi dan ditemukan hasil


y = 4000 , lalu mencari x dengan cara memasukkan y ke persamaan 2x+3y=28.00
dan ditemukan hasil x = 8.000 , sehingga total untuk 2 anak-anak dan 2 orang
orang dewasa adalah 24.000. Tadi seharusnya permisalannya ditulis pada bagian 2c
ya bu?
Peneliti : iya benar sekali.
Berdasarkan pada gambar 6 dan hasil wawancara kepada subjek B, terdapat kesalahan dalam
pengerjaan, yaitu belum menuliskan permisalan, akan tetapi subjek B menyadari apabila ia belum
1424 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume Volume 07, Nomor 02, April - Juli 2023, pp. 1416-1426

menuliskan permisalan pada jawaban. Subjek B mampu menyelesaiakan jawaban dengan benar dan
tepat serta menuliskan kesimpulan.

Memeriksa Kembali Hasil Yang Diperoleh

Gambar 7. Hasil Pengerjaan Subjek A Pada Soal Nomor 1d


Peneliti : Bagaimana cara saudara memeriksa hasil yang telah diperoleh?
Subjek A : memasukkan x = 13 kedalam persamaan kedua yaitu − 3x + y = 1 , sehingga

menjadi − 3.(13) + y = 1 , − 39 + y = 1 , maka y = 40


Berdasarkan indikator mengecek kembali hasil yang diperoleh, subjek A mampu memeriksa
jawaban dengan cara memasukkan nilai x kedalam persamaan kedua. Hal tersebut dapat terlihat pada
gambar diatas dan hasil wawancara.

Gambar 8. Hasil Pengerjaan Subjek B Pada Soal Nomor 2d

Peneliti : Bagaimana cara saudara memeriksa hasil yang telah diperoleh?


Subjek B : Memasukkan x = 8.000 dan y = 4000 kedalam persamaan yang pertama,
sehingga didapatkan hasil 24.000
Peneliti : Apakah jawaban saudara sudah benar?
Subjek B : Benar, Bu
Peneliti : apakah benar 16.000 + 12.000 itu hasilnya 24.000?
Subjek B : oh iya bu, yang benar hasilnya 28.000
Berdasarkan pada gambar 8, subjek B belum mampu menjawab pertanyaan dengan tepat, hal
ini ditandai dengan kesalahan dalam perhitungan yang dilakukan oleh subjek B. Namun, saat
melakukan wawancara, subjek B mampu membenarkan bagian yang salah. indikator kemampuan
pemecahan masalah dapat dicapai secara baik walaupun terdapat beberapa indikator yang masih
belum tercapai. Berdasarkan dari hasil penjabaran diatas, subjek A dan Subjek B melakukan
kesalahan yang berbeda dengan kata lain kesalahan bersifat variatif tergantung dengan kemampuan
setiap siswa.
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Realistik dengan Langkah Polya pada Siswa SMP, Tsaltsa Tamami
Rahma, Sri Sutarni 1425

KESIMPULAN
Kemampuan pemecahan masalah matematika realiastik pada siswa kelas VIII yang berjumlah
27 siswa dengan langkah Polya berada pada kategori yang bervariasi, yaitu baik dan sangat baik.
Perolehan tersebut dapat dibuktikan dari nilai untuk setiap indikator. Pada indikator memahami
masalah mendapat 77,77 dan 79,63, keduanya dikategorikan baik. Pada indikator menyusun rencana
penyelesaian mendapat perolehan nilai, yaitu 97,53 dan 95,06 yang masuk kedalam kategori sangat
baik, sedangkan untuk menyelesaikan masalah sesuai perencanaan diperoleh sebesar 81,48 dan 72,84
yang termasuk dalam kategori baik. Pada indikator yang terakhir yaitu memeriksa kembali hasil yang
diperoleh pada kategori sangat baik dengan perolehan nilai adalah 87,03 dan 75,92 dengan kategori
baik. Dengan adanya penggunaan metode RME ini siswa menjadi lebih memahami soal serta
memudahkan dalam pengerjaan. Langkah Polya juga mampu menjadi salah satu solusi dalam
melakukan penyelesian masalah.

REFERENSI
Annurwanda, P., & Nurhana Friantini, R. (2019). Efektivitas Penerapan Metode Round Table Dan
Ekspositori Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Kemampuan Awal. in
Riemann Research of Mathematics and Mathematics Education (Vol. 1, Issue 1).
Ariani, S., Hartono, Y., & Hiltrimartin, C. (2017). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
Siswa Pada Pembelajaran Matematika Menggunakan Strategi Abduktif-Deduktif Di Sma
Negeri 1 indralaya Utara. Jurnal Elemen, 3(1). Https://[Link]/10.29408/Jel.V3i1.304
Arifin, S., & Aprisal, A. (2020). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Checks
Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Jurnal Pendidikan Matematika,
11(1). Https://[Link]/10.36709/Jpm.V11i1.9974
Azif Amalia, N., Wanabuliandari, S., Rahayu, R., Lkr Utara, J., Kulon, K., Kudus, K., & Tengah, J.
(2022). Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Pengembangan Ethno-Virtual Card
Berbasis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Dan Rasa ingin Tahu. 11(2).
Http://[Link]/[Link]/Mosharafa
Damianti, D., & Afriansyah, E. A. (2022). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Dan
Self-Efficacy Siswa Smp. Jurnal inovasi Pendidikan Dan Pembelajaran Matematika, 8(1).
Fitria, N. F. N., Hidayani, N., Hendrian, H., & Amelia, R. (2018). Analisis Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematik Siswa Smp Dengan Materi Segitiga Dan Segiempat. Edumatica, 08(1).
Handayani, S. P., Ramlah, & Utami, M. R. (2017). Pengaruh Pendekatan Problem Solving Model
Polya Terhadap Kemampuan. Prosiding Seminar Nasional Matematika Dan Pendidikan
Matematika (Sesiomadika).
Hidayat, W., & Sariningsih, R. (2018). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Dan Adversity
Quotient Siswa Smp Melalui Pembelajaran Open Ended. Diterima: 16 Maret, 2(1), 109–118.
1426 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume Volume 07, Nomor 02, April - Juli 2023, pp. 1416-1426

Kurniawati, R. P., Gunawan, I., & Marlina, D. (2020). Mathematic Literation Abilities Based on
Problem Solving Abilities in First Class 4 of Elementary School.
Https://[Link]/10.2991/Assehr.K.201112.033
Miladina, F., & Rejeki, S. (2018). Pembelajaran Matematika Deengan Strategi Student Teams
Achievement Division Dan Two Stay Two Stray Ditinjau Dari Kemampuan Pemecahan
Masalah. in Prosiding Konferensi Nasional Penelitian Matematika Dan Pembelajarannya
(Knpmp) Iii 2018.
Papadakis, S., Kalogiannakis, M., & Zaranis, N. (2021). Teaching Mathematics with Mobile Devices
and The Realistic Mathematical Education (Rme) Approach in Kindergarten. Advances in
Mobile Learning Educational Research, 1(1), 5–18.
Https://[Link]/10.25082/Amler.2021.01.002
Riastini, Pt. N., & Mustika, I. Kd. A. (2017). Pengaruh Model Polya Terhadap Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas V SD International Journal of Elementary
Education, 1(3). Https://[Link]/10.23887/Ijee.V1i3.11887
Sari, D. S. M., Fatih ’Adna, S., & Mardhiyana, D. (2020). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah
Siswa Berdasarkan Teori Wankat Dan Oreovocz. Jurnal Pendidikan Matematika Undiksha,
11(2).
Sepriyanti, N., Trinova, Z., & Susanto, A. (2020). The Application of The Polya’s Steps Reviewed
From Problem-Solving Ability in Two-Variable Linear Equation System (Spldv). Tarbiyah :
Jurnal Ilmiah Kependidikan, 9(1). Https://[Link]/10.18592/Tarbiyah.V9i1.3543
Siswanto, R. D., Akbar, P., & Bernard, M. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Auditorial, intelectually, Repetition (Air). Journal on Education, 1(1).
Sriwahyuni, K., & Maryati, I. (2022). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Pada
Materi Statistika.
Ulandari, L., Amry, Z., & Saragih, S. (2019). Development of Learning Materials Based on Realistic
Mathematics Education Approach to Improve Students’ Mathematical Problem-Solving
Ability and Self-Efficacy. international Electronic Journal of Mathematics Education, 14(2).
Https://[Link]/10.29333/Iejme/5721

Anda mungkin juga menyukai