LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA RISIKO
BUNUH DIRI
DISUSUN OLEH :
PUTU ELYSIA YONICA PUTRI
NIM. 2514901027
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS KESEHATAN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI TAHUN 2025
LAPORAN PENDAHULUAN RISIKO BUNUH DIRI
I. Kasus (masalah utama)
Risiko Bunuh Diri
II. Proses terjadinya masalah
A. Definisi
Risiko bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami
resiko untuk menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat
mengancam nyawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai
perilaku destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah
pada kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk aktivitas
bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai
sesuatu yang diinginkan. Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak
dicegah dapat mengarah pada kematian. Bunuh diri adalah ide, isyarat dan usaha
bunuh diri, yang sering menyertai gangguan depresif dan sering terjadi pada
remaja (Aulia et al., 2019).
Bunuh diri menurut Videbeck (2011) dalam (Litaqia & Permana, 2019)
merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh seseorang untuk
mengakhiri [Link] bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan
secara sengaja untuk membunuh diri [Link] diri dapat melibatkan
ambivalensi antara keinginan untuk hidup dan keinginan untuk [Link]
bunuh diri terdiri dari tiga tingkatan yaitu berupa ide/isyarat bunuh diri, ancaman
bunuh diri, dan percobaan bunuh diri.
B. Etiologi
Menurut Fitria, Nita, 2009 dalam (Valentina & Helmi, 2016) etiologi
dari resiko bunuh diri adalah :
a. Faktor Predisposisi
Lima factor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif-diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut :
1. Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan
cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan
jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk melakukan
tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat,
dan skizofrenia.
2. Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya
resiko bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
3. Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya
adalah pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial,
kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan,
atau bahkan [Link] dukungan social sangat penting
dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih
dahulu mengetahui penyebab masalah, respons seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
4. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan
factor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
tindakan bunuh diri.
5. Faktor Biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri
terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak sepeti
serotonin, adrenalin, dan [Link] zat tersebut dapat
dilihat melalui ekaman gelombang otak Electro Encephalo
Graph (EEG).
b. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup
yang [Link] lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat
atau membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri
ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal
tersebut menjadi sangat rentan.
c. Perilaku Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan
dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara
sadar memilih untuk melakukan tindakan bunuh [Link] bunuh diri
berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor social maupun
[Link] social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau
bahkan mendorong klien melakukan perilaku bunuh [Link] social
dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang
untuk melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan
masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka
bunuh diri. Aktif dalam kegiatan keagamaan juga dapat mencegah
seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
d. Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping
yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial,
rasionalization, regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan
diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping
alternatif.
C. Tanda dan Gejala
Menurut Fitria (2009) dalam Prabowo (2014) tanda dan gejala risiko bunuh
diri yaitu:
1) Mempunyai ide untuk bunuh diri.
2) Mengungkapkan keinginan untuk mati.
3) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
4) Impulsif.
5) Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat
patuh).
6) Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
7) Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang
obat dosis mematikan).
8) Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah
dan mengasingkan diri).
9) Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang
depresi, psikosis danmenyalahgunakan alcohol).
10) Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau
terminal).
11) Pengangguaran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karier).
12) Konflik interpersonal.
13) Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil.’
14) Klien tampak murung
15) Klien tidak bergairah
16) Klien tampak banyak diam
17) Ditemukan adanya bekas percobaan bunuh diri
D. Patofisiologi
Individu yang mengalami masalah interpersonal, dipermalukan didepan
umum, menderita penyakit kronis menahun, menerima ancaman hukuman,
bahkan kehilangan pekerjaan dapat memicu permasalahan psikologis.
Masalah yang dihadapi membutuhkan mekanisme kopingnya tersendiri.
Individu yang memiliki koping tidak efektif dalam menghadapi permasalahan
dapat beresiko melakukan tindakan bunuh diri. Ide bunuh diri yang dimiliki
individu akan timbul dan membuat ia akan memberikan isyarat untuk
melakukan tindakan bunuh diri. Tindakan tersebut dapat berupa verbal
maupun nonverbal yang ditujukan untuk memberikan ancaman perilaku
bunuh diri. Mereka yang melalui proses ini akan memiliki kondisi berbeda-
beda yang membuat upaya bunuh diri dilakukan.
E. Rentang Respon Protektif Diri
Adaptif Maladaptif
Peningkatakan Pengambilan Destruktif Pencederaan
diri risiko yang diri tak diri
meningkatkan langsung
pertumbuhan
destruktif
Bunuh Diri
Keterangan :
1. Peningkatan diri yaitu seorang individu mempunyai pengharapan,
keyakinan, dan kesadaran diri meningkat. Seseorang dapat meningkatkan
proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang
membutuhkan pertahanan diri.
2. Pengambilan risiko yang meningkatkan pertumbuhan merupakan posisi
pada rentang yang masih normal dialami oleh seorang individu yang
sedang dalam perkembangan perilaku.
3. Destruktif diri tak langsung merupakan pengambilan sikap yang kurang
tepat (maladaptif) terhadap situasi pemertahanan diri. Perilaku ini
melibatkan setiap aktivitas yang merusak kesejahteraan fisik individu dan
dapat mengarah kepada kematian, seperti perilaku merusak, mengebut,
berjudi, tindakan kriminal, terlibat dalam rekreasi yang berisiko tinggi,
penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang secara sosial, dan
perilaku yang menimbulkan stres.
4. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri
yang dilakukan dengan sengaja. Pencederaan dilakukan terhadap diri
sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk
melukai tubuh.
5. Bunuh diri, yaitu tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri
untuk mengakhiri kehidupan.
III. a. Pohon Masalah
Bunuh Diri
effect
Risiko Bunuh Diri core problem
Koping tak efektif cause
b. Data yang perlu dikaji
1. Risiko Bunuh Diri
a) Data Subjektif :
1) Merasa hidupnya tak berguna lagi
2) Ingin mati
3) Pernah mencoba bunuh diri
4) Mengancam bunuh diri
5) Merasa bersalah, sedih, marah, putus asa, tidak berdaya
b) Data Objektif :
1) Ekspresi murung
2) Tak bergairah
3) Banyak diam
4) Ada bekas percobaan bunuh diri
2. Koping tidak efektif
a) Data Subjektif
1) Mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah
b) Data Objektif
1) Tidak mampu memenuhi peran yang diharapkan (sesuai
usia)
2) Menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai
IV. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko Bunuh Diri
b. Koping tidak efektif
NO. SDKI SLKI SIKI
Risiko Bunuh Diri DDalam rencana keperawatan yang akan Pencegahan Bunuh diri (I. 14538)
1. Observasi:
Definisi diharapkan control diri meningkat
1 Identifikasigejala risiko bunuh diri
Beresiko menyakiti diri sendiri untuk dengan kriteria hasil: (L.09076) ([Link] mood, halusinasi,
mengakhiri hidup
1. Verbalisasi ancaman kepada orang delusi,panik, penyalahgunaa zat,kesedihan,
gangguan kepribadian)
lain berkurang
2. Verbalisai umpatan berkurang 2 Identifikasi keinginan dan pikiran rencana
bunuh diri
3. Perilaku menyerang berkurang
4. Perilaku malukai diri 3 Monitor lingkungan bebas bahaya secara
rutin ([Link] pribadi, pisau cukur,
sendiri/orang lain berkurang jendela)
5. Perilaku merusak lingkungan
4 Monitor adanya perubahn mood atau
sekitar berkurang perilaku
6. Perilaku agresif/amuk berkurang
Terapeutik:
7. Suara keras berkurang 5 Libatkan dalam perencanaan perawatan
8. Bicara ketus berkurang mandiri
6 Libatkan keluarga dalam perencanaan
perawatan
7 Lakukan pendekatan lamgsung dan tidak
menghakimi saat membahas bunuh diri
8 Berikan lingkungan dengan pengamanan
ketat dan mudah dipantau ([Link] tidur
dekat dengan ruang perawat)
9 Tingkatkan pengawasan pada kondidi
tertentu (missal,rapat staf, pergantian
shift)
10 Lakukan intervensi perlindungann
([Link] area, pengekangan
fisik), jika perlu
11 Hindari diskusi berulang tentang bunuh
diri sebelumnya, diskusi berorientasi
pada masa sekarang dan masa depan
12 Diskusikan rencana menghadapi ide
bunuh diri dimasa depan (mis orang
yang dihubungi, kemana mencari
bantuan )
13 Pastikan pbat ditelan
Edukasi
14 Anjurkan mendiskusikan perasaan yang
dialami kepada orang lain
15 Anjurkan menggunkaan sumber
pendukung ([Link] spiritual,
penyedia layanan)
16 Jelaskan tindakan pencegahan bunuh diri
kepada keluarga atau orang terdekat
17 Informasikan sumber daya masyarakat
dan program yang tersedia
18 Latih pencegahan risiko bunuh diri
([Link] asertif, relaksasi otot
progresif)
Kolaborasi
19 Kolaborasi pemberian obat antiansietas,
atau antipsikotik, sesuai indikasi
20 Kolaborasikan tindakan keselamatan
kepada PPA
21 Rujuk kepelayanan kesehatan Mental,
jika perlu.
Manajemen mood
Observasi:
22 Identifikasi mood (mis, tanfa, gejala,
riwayat penyakit)
23 Identifikasi risiko keselamatan diri atau
orang lain
24 Monitor fungsi kognitif([Link],
memori,kemampuan membuat
keputusan)
25 Monitor aktivitas dan tingkat stimulasi
lingkungan
Teraupetik:
26 Fasilitasi pengisian kuesioner self-report
([Link] depression inventory, skala
status fungsional), jika perlu
27 Berikan kesempatan untuk
menyampaikan perasaan dengan cara
yang tepat ([Link], terapi seni,
aktivitas fisik)
Edukasi
28 Jelaskan tentang gangguan mood dan
penanganannya
29 Anjurkan berperan aktif dalam
pengobatan dan rehabilitasi, jika perlu
30 Anjurkan rawat inap sesuai indikasi
([Link] keselamatan, deficit
perawatan diri, social)
31 Ajarkan mengenali pemicu gangguan
mood (mis. Situasi stress, masalah fisik)
32 Ajarkan memonitor mood secara mandiri
([Link] tingkat 1-10, membuat jurnal
)
33 Ajarkan keterampilan koping dan
penyelesaian masalah baru
34 Kolaborasi pemberian obat, jika perlu
35 Rujuk untuk psikoterapi ([Link],
hubungan interpersonal, keluarga,
kelompok), jika perlu
Koping Tidak Efektif Dalam rencana keperawatan yang akan Dukungan Pengambilan Keputusan
2. (I.09265)
ketidakmampuan menilai dan merespons diharapkan status koping
stresor dan/atau ketidakmampuan Observasi:
menggunakan sumber-sumber yang ada [Link] kriteria hasil: 1 Identifikasi persepsi mengenai masalah
untuk mengatasi masalah (L.09076) dan informasi yang memicu konflik
1. Kemampuan memenuhi peran Terapeutik
sesuai usia meningkat
2 Fasilitasi mengklarifikasi nilai dan
2. Perilaku koping adaptif harapan yang membantu membuat
meningkat pilihan
3. Verbalisasi kemampuan 3 Diskusikan kelebihan dan kekurangan
mengatasi masalah meningkat dari setiap solusi
4 Fasilitasi melihat situasi secara realistic
4. Verabalisasi pengakuan 5 Motivasi mengungkapkan tujuan
masalah meningkat perawatan yang diharapkan
5. Verbalisasi kelemahan diri 6 Fasilitasi pengambilan keputusan secara
kolaboratif
meningkat
6. Perilaku asertif meningkat 7 Hormati hak pasien untuk menerima atau
menolak informasi
7. Verbalisasi menyalahkan
orang lain menurun 8 Fasilitasi menjelaskan keputusan kepada
orang lain, jika perlu
8. Verbalisasi rasionalisasi
kegagalan menurun 9 Fasilitasi hubungan antara pasien,
keluarga, dan tenaga Kesehatan lainnya
9. Hipersensitif terhadap kritik
menurun Edukasi
10 Jelaskan alternatif solusi secara jelas
11 Berikan informasi yang diminta pasien
Kolaborasi
12 Kolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain
dalam memfasilitasi pengambilan
keputusan
Dukungan Penampilan Peran (I.13478)
Observasi:
13 Identifikasi berbagai peran dan periode
transisi sesuai tingkat perkembangan
14 Identifikasi peran yang ada dalam
keluarga
15 Identifikasi adanya peran yang tidak
terpenuhi
Teraupetik:
16 Fasilitasi adaptasi peran keluarga
terhadap perubahan peran yang tidak
diinginkan
17 Fasilitasi bermain peran dalam
mengantisipasi reaksi orang lain
terhadap perilaku
18 Fasilitasi diskusi perubahan peran anak
terhadap bayi baru lahir, jika perlu
19 Fasilitasi diskusi tentang peran orang
tua, jika perlu
20 Fasilitasi diskusi tentang adaptasi peran
saat anak meninggalkan rumah, jika
perlu
21 Fasilitasi diskusi harapan dengan
keluarga dan peran timbal balik
Edukasi
22 Diskusikan perilaku yang dibutuhkan
untuk pengembangan peran
23 Diskusikan perubahan peran yang
diperlukan akibat penyakit atau
ketidakmampuan
24 Diskusikan perubahan peran dalam
menerima ketergantungan orang tua
25 Diskusikan strategi positif untuk
mengelola perubahan peran
26 Ajarkan perilaku baru yang dibutuhkan
oleh pasien/orang tua untuk memenuhi
peran
Kolaborasi
27 Rujuk dalam kelompok untuk
mempelajari peran baru
Promosi Koping (I.09312)
Observasi
28. Identifikasi kegiatan jangka pendek
dan Panjang sesuai tujuan
29. Identifikasi kemampuan yang
dimiliki
30. Identifikasi sumber daya yang
tersedia untuk memenuhi tujuan
31. Identifikasi pemahaman proses
penyakit
32. Identifikasi dampak situasi terhadap
peran dan hubungan
33. Identifikasi metode penyelesaian
masalah
34. Identifikasi kebutuhan dan keinginan
terhadap dukungan sosial
Terapeutik
35. Diskusikan perubahan peran yang
dialami
36. Gunakan pendekatan yang tenang
dan meyakinkan
37. Diskusikan alasan mengkritik diri
sendiri
38. Diskusikan untuk mengklarifikasi
kesalahpahaman dan mengevaluasi
perilaku sendiri
39. Diskusikan konsekuensi tidak
menggunakan rasa bersalah dan rasa
malu
40. Diskusikan risiko yang
menimbulkan bahaya pada diri
sendiri
41. Fasilitasi dalam memperoleh
informasi yang dibutuhkan
42. Berikan pilihan realistis mengenai
aspek-aspek tertentu dalam
perawatan
43. Motivasi untuk menentukan harapan
yang realistis
44. Tinjau Kembali kemampuan dalam
pengambilan keputusan
45. Hindari mengambil keputusan saat
pasien berada dibawah tekanan
46. Motivasi terlibat dalam kegiatan
sosial
47. Motivasi mengidentifikasi sistem
pendukung yang tersedia
48. Damping saat berduka (mis:
penyakit kronis, kecacatan)
49. Perkenalkan dengan orang atau
kelompok yang berhasil mengalami
pengalaman sama
50. Dukung penggunaan mekanisme
pertahanan yang tepat
51. Kurangi rangsangan lingkungan
yang mengancam
Edukasi
52. Anjurkan menjalin hubungan yang
memiliki kepentingan dan tujuan
sama
53. Anjurkan penggunaan sumber
spiritual, jika perlu
54. Anjurkan mengungkapkan perasaan
dan persepsi
55. Anjurkan keluarga terlibat
56. Anjurkan membuat tujuan yang
lebih spesifik
57. Ajarkan cara memecahkan masalah
secara konstruktif
58. Latih penggunaan Teknik relaksasi
59. Latih keterampilan sosial, sesuai
kebutuhan
60. Latih mengembangkan penilaian
obyektif
V. Diagnosa Medis
a. Pengertian
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo “yang artinya retak atau
pecah (split), dan “frenia“yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang
yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa
atau keretakan kepribadian (Nita Fitria, 2009).
Schizofrenia merupakan gangguan psikotik yang merusak yang dapat
melibatkan gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi
(halusinasi), pembicaraan, emosi dan perilaku. Keyakinan irasional tentang
dirinya atau isi pikiran yang menunjukkan kecurigaan tanpa sebab yang jelas,
seperti bahwa orang lain bermaksud buruk atau bermaksud mencelakainya
(Carolina, 2009).
b. Etiologi
Teori tentang penyebab skizofrenia, yaitu (Carolina, 2009):
1. Diathesis-stres model
Teori ini menggabungkan antara faktor biologis, psikososial, dan
lingkungan yang secara khusus mempengaruhi diri seseorang sehingga
dapat menyebabkan berkembangnya gejala skizofrenia. Dimana ketiga
faktor tersebut saling berpengaruh secara dinamis.
2. Faktor biologis
Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamin yang menyatakan
bahwa skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang
berlebihan di bagian kortikal otak dan berkaitan dengan gejala positif dari
skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya
neurotransmitter lain termasuk serotonin, norepinefrin, glutamate, dan
GABA. Selain perubahan yang sifatnya neurokimiawi, penelitian
menggunakan CT scan ternyata ditemukan perubahan anatomi otak
seperti pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks atau atrofi otak kecil
(cerebellum) terutama pada penderita skizofrenia kronis.
3. Genetika
Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Resiko masyarakat
umum 1%, pada orang tua resiko 5%, pada saudara kandung 8%, dan pada
anak 12% apabila salah satu orang tua menderita skizofrenia, walaupun
anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir, anak dari kedua orang
tua skizofrenia 40%. Pada kembar monozigot 47%, sedangkan untuk
kembar dizigot sebesar 12%.
4. Faktor psikososial
a) Teori perkembangan
Ahli teori Sullivan dan Erikson mengemukakan bahwa kurangnya
perhatian yang hangat dan penuh kasih saying di tahun-tahun awal
kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya identitas diri,
salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan
social pada penderita skizofrenia.
b) Teori belajar
Menurut ahli teori belajar (learning theory), anak-anak yang
menderita skizofrenia mempelajari reaksi dan cara berpikir irasional
orang tua yang mungkin memiliki masalah emosional yang
bermakna. Hubungan interpersonal yang buruk dari penderita
skizofrenia akan berkembang karena mempelajari model yang buruk
selama anak-anak.
c) Teori keluarga
Tidak ada teori yang terkait dengan peran keluarga dalam
menimbulkan skizofrenia. Namun beberapa penderita skizofrenia
berasal dari keluarga yang disfungsional.
c. Klasifikasi
Secara umum skizofrenia dibagi dalam 5 tipe atau kelompok yang
mempunyai spesifikasi masing-masing, kriteria pengelompokannya sebagai
berikut (Damayanti, 2012) :
1. Tipe Hebefrenik
Tipe ini disebut juga disorganized type atau kacau balau yang dimulai
dengan gejala-gejala antara lain:
a) Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa
maksudnya. Hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang diucapkan
tidak ada hubungannya satu dengan yang lain.
b) Alam perasaan (mood, effect) yang datar tanpa ekspresi serta tidak
serasi (incongrose) atau ketolol-tololan (silly).
c) Perilaku dan tertawa kekanak-kanakan (giggling), senyum yang
menunjukan rasa puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
d) Waham (delusion) tidak jelas dan tidak sistimatik (terpecah) tidak
terorganisir suatu satu kesatuan.
e) Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisir
sebagai satu kesatuan.
f) Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-
gerakan aneh, berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang
dan kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan
sosial.
2. Tipe Katatonik
a) Stupor katatonik, yaitu suatu pengurangan hebat dalam reaktivitas
terhadap lingkungan dan atau pengurangan dari pergerakkan atau
aktivitas spontan sehingga nampak seperti patung, atau diam
membisu (mute).
b) Ekolalia atau ekopraksia (pembicaraan yang tidak bermakna).
c) Negativisme katatonik yaitu suatu penolakkan yang nampaknya tanpa
motif terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan
bagian tubuh
dirinya.
d) Kekakuan (rigidity) katatonik yaitu mempertahankan suatu sikap
kaku
terhadap semua upaya untuk menggerakkan bagian tubuh dirinya.
e) Kegaduhan katatonik, yaitu kegaduhan aktivitas motorik (otot alat
gerak) yang nampaknya tak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh
rangsang luar.
f) Sikap tubuh katatonik yaitu sikap (posisi tubuh) yang tidak wajar atau
aneh.
3. Tipe paranoid
a) Waham (delucion) kejar atau waham kebesaran, misi atau utusan
sebagai penyelamat bangsa dunia atau agama, misi kenabian atau
mesias, atau perubahan tubuh. Waham cemburu seringkali juga
ditemukan.
b) Halusinasi yang berisi kejaran atau kebeseran.
c) Gangguan alam perasaan dan perilaku, misalnya kecemasan yang
tidak menentu, kemarahan, suka bertengkar dan berdebat kekerasan.
Seringkali ditemukan kebingungan tentang identitas jenis kelamin
dirinya (gender identity) atau ketakutan bahwa dirinya diduga sebagai
seorang homoseksual atau merasa dirinya didekati oleh orang-orang
homoseksual.
4. Tipe Residual
Tipe ini merupakan sisa-sisa (residu) dari gejala skizofrenia yang tidak
begitu menonjol. Misalnya alam perasaan yang tumpul dan mendatar
serta tidak serasi (innappropriate), penarikan diri dari pergaulan sosial,
tingkah laku eksentrik, pikiran tidak logis dan tidak rasional atau
pelonggaran asosiasi pikiran.
5. Tipe tak tergolongkan
Tipe ini tidak dapat dimasukkan dalam tipe-tipe yang telah diuraikan
hanya ganbaran klinisnya terdapat waham, halusinasi, inkoherensi atau
tingkah laku kacau.
d. Penatalaksanaan
Obat antipsikotik digunakan untuk mengatasi gejala psikotik (misalnya
perubahan perilaku, agitasi, agresif, sulit tidur, halusinasi, waham, proses
piker kacau). Obat-obatan untuk pasien skizophrenia yang umum diunakan
adalah sebaga berikut:
1) Pengobatan pada fase akut
a) Dalam keadaan akut yang disertai agitasi dan hiperaktif diberikan
injeksi :
1. Haloperidol 3x5 mg (tiap 8 jam) intra muscular.
2. Clorpromazin 25-50 mg diberikan intra muscular setiap 6-8 jam
sampai keadaan akut teratasi.
3. Kombinsi haloperidol 5 mg intra muscular kemudian diazepam
10 mg intra muscular dengan interval waktu 1-2 menit.
b) Dalam keadaan agitasi dan hiperaktif diberikan tablet :
1. Haloperidol 2x1,5 – 2,5 mg per hari.
2. Klorpromazin 2x100 mg per hari
3. Triheksifenidil 2x2 mg per hari
2) Pengobaan fase kronis Diberikan dalam bentuk tablet :
a) Haloperidol 2x 0,5 – 1 mg perhari
b) Klorpromazin 1 x 50 mg sehari (malam)
c) Triheksifenidil 1- 2x 2 mg sehari
3) Efek dan efek samping terapi
a) Klorpromazine
Efek : mengurangi hiperaktif, agresif, agitasi
Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, sedasi,
hipotensi ortostatik.
b) Haloperidol
Efek : mengurangi halusinasi
Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, sedasi,
hipotensi ortostatik.
DAFTAR PUSTAKA
Aulia, N., Yulastri, Y., & Sasmita, H. (2019). Analisis Hubungan Faktor Risiko Bunuh Diri
dengan Ide Bunuh Diri pada Remaja. Jurnal Keperawatan, 11(4), 307–314.
[Link]
Budiarto, E. (2021). Analisis Perilaku Percobaan Bunuh Diri pada Klien Skizofrenia
dengan Pendekatan Model Adaptasi Roy: Studi Kasus. Jurnal Ilmiah Kesehatan,
14(1), 44. [Link]
Litaqia, W., & Permana, I. (2019). Peran Spiritualitas dalam Mempengaruhi Resiko
Perilaku Bunuh Diri: A Literature Review. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta,
6(2), 615. [Link]
Maulana, I., Eriyani, T., & Shalahuddin, I. (2021). Intervensi Keperawatan untuk
Pencegahan Klien Risiko Bunuh Diri: Telaahan Literature. Jurnal Keperawatan Jiwa,
9(3), 569–578.
Nurjanah, S. (2020). Gangguan Mental Emosional Pada Klien Pandemi Covid 19 di Rumah
Karantina. Journal Ilmu Keperawatan Jiwa, 3(3), 329–334.
Palupi, D. N., Ririanty, M., & Nafikadini, I. (2019). Karakteristik Keluarga ODGJ dan
Kepesertaan JKN Hubungannya dengan Tindakan Pencarian Pengobatan bagi ODGJ.
Jurnal Kesehatan, 7(2), 82–92. [Link]
Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin. (2016). Panduan Asuhan Keperawatan pada Pasien
Resiko Bunuh Diri. 10.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi
dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.
Valentina, T. D., & Helmi, A. F. (2016). Ketidakberdayaan dan Perilaku Bunuh Diri: Meta-
Analisis. Buletin Psikologi, 24(2),
123–135. [Link]