0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan26 halaman

Laporan Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen ini membahas risiko bunuh diri, termasuk definisi, etiologi, tanda dan gejala, serta patofisiologi yang terkait. Risiko bunuh diri dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan presipitasi, serta mekanisme koping yang tidak efektif. Rencana keperawatan untuk menangani risiko bunuh diri mencakup observasi, intervensi terapeutik, edukasi, dan kolaborasi dengan layanan kesehatan mental.

Diunggah oleh

putu yonica
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan26 halaman

Laporan Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen ini membahas risiko bunuh diri, termasuk definisi, etiologi, tanda dan gejala, serta patofisiologi yang terkait. Risiko bunuh diri dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan presipitasi, serta mekanisme koping yang tidak efektif. Rencana keperawatan untuk menangani risiko bunuh diri mencakup observasi, intervensi terapeutik, edukasi, dan kolaborasi dengan layanan kesehatan mental.

Diunggah oleh

putu yonica
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA RISIKO

BUNUH DIRI

DISUSUN OLEH :
PUTU ELYSIA YONICA PUTRI

NIM. 2514901027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS KESEHATAN


INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI TAHUN 2025
LAPORAN PENDAHULUAN RISIKO BUNUH DIRI

I. Kasus (masalah utama)


Risiko Bunuh Diri
II. Proses terjadinya masalah
A. Definisi
Risiko bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami
resiko untuk menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat
mengancam nyawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai
perilaku destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah
pada kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk aktivitas
bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai
sesuatu yang diinginkan. Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak
dicegah dapat mengarah pada kematian. Bunuh diri adalah ide, isyarat dan usaha
bunuh diri, yang sering menyertai gangguan depresif dan sering terjadi pada
remaja (Aulia et al., 2019).
Bunuh diri menurut Videbeck (2011) dalam (Litaqia & Permana, 2019)
merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh seseorang untuk
mengakhiri [Link] bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan
secara sengaja untuk membunuh diri [Link] diri dapat melibatkan
ambivalensi antara keinginan untuk hidup dan keinginan untuk [Link]
bunuh diri terdiri dari tiga tingkatan yaitu berupa ide/isyarat bunuh diri, ancaman
bunuh diri, dan percobaan bunuh diri.

B. Etiologi
Menurut Fitria, Nita, 2009 dalam (Valentina & Helmi, 2016) etiologi
dari resiko bunuh diri adalah :
a. Faktor Predisposisi
Lima factor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif-diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut :
1. Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan
cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan
jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk melakukan
tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat,
dan skizofrenia.
2. Sifat Kepribadian

Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya


resiko bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
3. Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya
adalah pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial,
kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan,
atau bahkan [Link] dukungan social sangat penting
dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih
dahulu mengetahui penyebab masalah, respons seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
4. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan
factor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
tindakan bunuh diri.
5. Faktor Biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri
terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak sepeti
serotonin, adrenalin, dan [Link] zat tersebut dapat
dilihat melalui ekaman gelombang otak Electro Encephalo
Graph (EEG).
b. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup
yang [Link] lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat
atau membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri
ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal
tersebut menjadi sangat rentan.
c. Perilaku Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan
dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara
sadar memilih untuk melakukan tindakan bunuh [Link] bunuh diri
berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor social maupun
[Link] social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau
bahkan mendorong klien melakukan perilaku bunuh [Link] social
dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang
untuk melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan
masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka
bunuh diri. Aktif dalam kegiatan keagamaan juga dapat mencegah
seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
d. Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping
yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial,
rasionalization, regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan
diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping
alternatif.

C. Tanda dan Gejala


Menurut Fitria (2009) dalam Prabowo (2014) tanda dan gejala risiko bunuh
diri yaitu:
1) Mempunyai ide untuk bunuh diri.
2) Mengungkapkan keinginan untuk mati.
3) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
4) Impulsif.

5) Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat


patuh).
6) Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
7) Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang
obat dosis mematikan).
8) Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah
dan mengasingkan diri).
9) Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang
depresi, psikosis danmenyalahgunakan alcohol).
10) Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau
terminal).
11) Pengangguaran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karier).
12) Konflik interpersonal.
13) Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil.’
14) Klien tampak murung
15) Klien tidak bergairah
16) Klien tampak banyak diam
17) Ditemukan adanya bekas percobaan bunuh diri

D. Patofisiologi
Individu yang mengalami masalah interpersonal, dipermalukan didepan
umum, menderita penyakit kronis menahun, menerima ancaman hukuman,
bahkan kehilangan pekerjaan dapat memicu permasalahan psikologis.
Masalah yang dihadapi membutuhkan mekanisme kopingnya tersendiri.
Individu yang memiliki koping tidak efektif dalam menghadapi permasalahan
dapat beresiko melakukan tindakan bunuh diri. Ide bunuh diri yang dimiliki
individu akan timbul dan membuat ia akan memberikan isyarat untuk
melakukan tindakan bunuh diri. Tindakan tersebut dapat berupa verbal
maupun nonverbal yang ditujukan untuk memberikan ancaman perilaku
bunuh diri. Mereka yang melalui proses ini akan memiliki kondisi berbeda-
beda yang membuat upaya bunuh diri dilakukan.
E. Rentang Respon Protektif Diri

Adaptif Maladaptif

Peningkatakan Pengambilan Destruktif Pencederaan


diri risiko yang diri tak diri
meningkatkan langsung
pertumbuhan
destruktif
Bunuh Diri

Keterangan :
1. Peningkatan diri yaitu seorang individu mempunyai pengharapan,
keyakinan, dan kesadaran diri meningkat. Seseorang dapat meningkatkan
proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang
membutuhkan pertahanan diri.
2. Pengambilan risiko yang meningkatkan pertumbuhan merupakan posisi
pada rentang yang masih normal dialami oleh seorang individu yang
sedang dalam perkembangan perilaku.
3. Destruktif diri tak langsung merupakan pengambilan sikap yang kurang
tepat (maladaptif) terhadap situasi pemertahanan diri. Perilaku ini
melibatkan setiap aktivitas yang merusak kesejahteraan fisik individu dan
dapat mengarah kepada kematian, seperti perilaku merusak, mengebut,
berjudi, tindakan kriminal, terlibat dalam rekreasi yang berisiko tinggi,
penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang secara sosial, dan
perilaku yang menimbulkan stres.
4. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri
yang dilakukan dengan sengaja. Pencederaan dilakukan terhadap diri
sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk
melukai tubuh.
5. Bunuh diri, yaitu tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri
untuk mengakhiri kehidupan.

III. a. Pohon Masalah


Bunuh Diri
effect

Risiko Bunuh Diri core problem

Koping tak efektif cause

b. Data yang perlu dikaji


1. Risiko Bunuh Diri
a) Data Subjektif :
1) Merasa hidupnya tak berguna lagi
2) Ingin mati
3) Pernah mencoba bunuh diri
4) Mengancam bunuh diri
5) Merasa bersalah, sedih, marah, putus asa, tidak berdaya
b) Data Objektif :
1) Ekspresi murung
2) Tak bergairah
3) Banyak diam
4) Ada bekas percobaan bunuh diri
2. Koping tidak efektif
a) Data Subjektif
1) Mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah

b) Data Objektif

1) Tidak mampu memenuhi peran yang diharapkan (sesuai


usia)
2) Menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai

IV. Diagnosa Keperawatan


a. Risiko Bunuh Diri
b. Koping tidak efektif
NO. SDKI SLKI SIKI
Risiko Bunuh Diri DDalam rencana keperawatan yang akan Pencegahan Bunuh diri (I. 14538)
1. Observasi:
Definisi diharapkan control diri meningkat
1 Identifikasigejala risiko bunuh diri
Beresiko menyakiti diri sendiri untuk dengan kriteria hasil: (L.09076) ([Link] mood, halusinasi,
mengakhiri hidup
1. Verbalisasi ancaman kepada orang delusi,panik, penyalahgunaa zat,kesedihan,
gangguan kepribadian)
lain berkurang
2. Verbalisai umpatan berkurang 2 Identifikasi keinginan dan pikiran rencana
bunuh diri
3. Perilaku menyerang berkurang
4. Perilaku malukai diri 3 Monitor lingkungan bebas bahaya secara
rutin ([Link] pribadi, pisau cukur,
sendiri/orang lain berkurang jendela)
5. Perilaku merusak lingkungan
4 Monitor adanya perubahn mood atau
sekitar berkurang perilaku
6. Perilaku agresif/amuk berkurang
Terapeutik:
7. Suara keras berkurang 5 Libatkan dalam perencanaan perawatan
8. Bicara ketus berkurang mandiri

6 Libatkan keluarga dalam perencanaan


perawatan

7 Lakukan pendekatan lamgsung dan tidak


menghakimi saat membahas bunuh diri
8 Berikan lingkungan dengan pengamanan
ketat dan mudah dipantau ([Link] tidur
dekat dengan ruang perawat)

9 Tingkatkan pengawasan pada kondidi


tertentu (missal,rapat staf, pergantian
shift)

10 Lakukan intervensi perlindungann


([Link] area, pengekangan
fisik), jika perlu

11 Hindari diskusi berulang tentang bunuh


diri sebelumnya, diskusi berorientasi
pada masa sekarang dan masa depan

12 Diskusikan rencana menghadapi ide


bunuh diri dimasa depan (mis orang
yang dihubungi, kemana mencari
bantuan )

13 Pastikan pbat ditelan

Edukasi
14 Anjurkan mendiskusikan perasaan yang
dialami kepada orang lain

15 Anjurkan menggunkaan sumber


pendukung ([Link] spiritual,
penyedia layanan)
16 Jelaskan tindakan pencegahan bunuh diri
kepada keluarga atau orang terdekat

17 Informasikan sumber daya masyarakat


dan program yang tersedia

18 Latih pencegahan risiko bunuh diri


([Link] asertif, relaksasi otot
progresif)

Kolaborasi
19 Kolaborasi pemberian obat antiansietas,
atau antipsikotik, sesuai indikasi

20 Kolaborasikan tindakan keselamatan


kepada PPA

21 Rujuk kepelayanan kesehatan Mental,


jika perlu.

Manajemen mood
Observasi:
22 Identifikasi mood (mis, tanfa, gejala,
riwayat penyakit)

23 Identifikasi risiko keselamatan diri atau


orang lain
24 Monitor fungsi kognitif([Link],
memori,kemampuan membuat
keputusan)

25 Monitor aktivitas dan tingkat stimulasi


lingkungan

Teraupetik:
26 Fasilitasi pengisian kuesioner self-report
([Link] depression inventory, skala
status fungsional), jika perlu

27 Berikan kesempatan untuk


menyampaikan perasaan dengan cara
yang tepat ([Link], terapi seni,
aktivitas fisik)

Edukasi
28 Jelaskan tentang gangguan mood dan
penanganannya

29 Anjurkan berperan aktif dalam


pengobatan dan rehabilitasi, jika perlu

30 Anjurkan rawat inap sesuai indikasi


([Link] keselamatan, deficit
perawatan diri, social)

31 Ajarkan mengenali pemicu gangguan


mood (mis. Situasi stress, masalah fisik)
32 Ajarkan memonitor mood secara mandiri
([Link] tingkat 1-10, membuat jurnal
)

33 Ajarkan keterampilan koping dan


penyelesaian masalah baru

34 Kolaborasi pemberian obat, jika perlu

35 Rujuk untuk psikoterapi ([Link],


hubungan interpersonal, keluarga,
kelompok), jika perlu

Koping Tidak Efektif Dalam rencana keperawatan yang akan Dukungan Pengambilan Keputusan
2. (I.09265)
ketidakmampuan menilai dan merespons diharapkan status koping
stresor dan/atau ketidakmampuan Observasi:
menggunakan sumber-sumber yang ada [Link] kriteria hasil: 1 Identifikasi persepsi mengenai masalah
untuk mengatasi masalah (L.09076) dan informasi yang memicu konflik
1. Kemampuan memenuhi peran Terapeutik
sesuai usia meningkat
2 Fasilitasi mengklarifikasi nilai dan
2. Perilaku koping adaptif harapan yang membantu membuat
meningkat pilihan
3. Verbalisasi kemampuan 3 Diskusikan kelebihan dan kekurangan
mengatasi masalah meningkat dari setiap solusi

4 Fasilitasi melihat situasi secara realistic


4. Verabalisasi pengakuan 5 Motivasi mengungkapkan tujuan
masalah meningkat perawatan yang diharapkan

5. Verbalisasi kelemahan diri 6 Fasilitasi pengambilan keputusan secara


kolaboratif
meningkat
6. Perilaku asertif meningkat 7 Hormati hak pasien untuk menerima atau
menolak informasi
7. Verbalisasi menyalahkan
orang lain menurun 8 Fasilitasi menjelaskan keputusan kepada
orang lain, jika perlu
8. Verbalisasi rasionalisasi
kegagalan menurun 9 Fasilitasi hubungan antara pasien,
keluarga, dan tenaga Kesehatan lainnya
9. Hipersensitif terhadap kritik
menurun Edukasi

10 Jelaskan alternatif solusi secara jelas

11 Berikan informasi yang diminta pasien

Kolaborasi

12 Kolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain


dalam memfasilitasi pengambilan
keputusan

Dukungan Penampilan Peran (I.13478)


Observasi:
13 Identifikasi berbagai peran dan periode
transisi sesuai tingkat perkembangan

14 Identifikasi peran yang ada dalam


keluarga

15 Identifikasi adanya peran yang tidak


terpenuhi

Teraupetik:

16 Fasilitasi adaptasi peran keluarga


terhadap perubahan peran yang tidak
diinginkan

17 Fasilitasi bermain peran dalam


mengantisipasi reaksi orang lain
terhadap perilaku

18 Fasilitasi diskusi perubahan peran anak


terhadap bayi baru lahir, jika perlu

19 Fasilitasi diskusi tentang peran orang


tua, jika perlu

20 Fasilitasi diskusi tentang adaptasi peran


saat anak meninggalkan rumah, jika
perlu
21 Fasilitasi diskusi harapan dengan
keluarga dan peran timbal balik

Edukasi
22 Diskusikan perilaku yang dibutuhkan
untuk pengembangan peran

23 Diskusikan perubahan peran yang


diperlukan akibat penyakit atau
ketidakmampuan

24 Diskusikan perubahan peran dalam


menerima ketergantungan orang tua

25 Diskusikan strategi positif untuk


mengelola perubahan peran

26 Ajarkan perilaku baru yang dibutuhkan


oleh pasien/orang tua untuk memenuhi
peran

Kolaborasi
27 Rujuk dalam kelompok untuk
mempelajari peran baru

Promosi Koping (I.09312)

Observasi
28. Identifikasi kegiatan jangka pendek
dan Panjang sesuai tujuan

29. Identifikasi kemampuan yang


dimiliki

30. Identifikasi sumber daya yang


tersedia untuk memenuhi tujuan

31. Identifikasi pemahaman proses


penyakit

32. Identifikasi dampak situasi terhadap


peran dan hubungan

33. Identifikasi metode penyelesaian


masalah

34. Identifikasi kebutuhan dan keinginan


terhadap dukungan sosial

Terapeutik

35. Diskusikan perubahan peran yang


dialami

36. Gunakan pendekatan yang tenang


dan meyakinkan
37. Diskusikan alasan mengkritik diri
sendiri

38. Diskusikan untuk mengklarifikasi


kesalahpahaman dan mengevaluasi
perilaku sendiri

39. Diskusikan konsekuensi tidak


menggunakan rasa bersalah dan rasa
malu

40. Diskusikan risiko yang


menimbulkan bahaya pada diri
sendiri

41. Fasilitasi dalam memperoleh


informasi yang dibutuhkan

42. Berikan pilihan realistis mengenai


aspek-aspek tertentu dalam
perawatan

43. Motivasi untuk menentukan harapan


yang realistis

44. Tinjau Kembali kemampuan dalam


pengambilan keputusan

45. Hindari mengambil keputusan saat


pasien berada dibawah tekanan
46. Motivasi terlibat dalam kegiatan
sosial

47. Motivasi mengidentifikasi sistem


pendukung yang tersedia

48. Damping saat berduka (mis:


penyakit kronis, kecacatan)

49. Perkenalkan dengan orang atau


kelompok yang berhasil mengalami
pengalaman sama

50. Dukung penggunaan mekanisme


pertahanan yang tepat

51. Kurangi rangsangan lingkungan


yang mengancam

Edukasi

52. Anjurkan menjalin hubungan yang


memiliki kepentingan dan tujuan
sama

53. Anjurkan penggunaan sumber


spiritual, jika perlu

54. Anjurkan mengungkapkan perasaan


dan persepsi
55. Anjurkan keluarga terlibat

56. Anjurkan membuat tujuan yang


lebih spesifik

57. Ajarkan cara memecahkan masalah


secara konstruktif

58. Latih penggunaan Teknik relaksasi

59. Latih keterampilan sosial, sesuai


kebutuhan

60. Latih mengembangkan penilaian


obyektif
V. Diagnosa Medis
a. Pengertian
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo “yang artinya retak atau
pecah (split), dan “frenia“yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang
yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa
atau keretakan kepribadian (Nita Fitria, 2009).
Schizofrenia merupakan gangguan psikotik yang merusak yang dapat
melibatkan gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi
(halusinasi), pembicaraan, emosi dan perilaku. Keyakinan irasional tentang
dirinya atau isi pikiran yang menunjukkan kecurigaan tanpa sebab yang jelas,
seperti bahwa orang lain bermaksud buruk atau bermaksud mencelakainya
(Carolina, 2009).
b. Etiologi
Teori tentang penyebab skizofrenia, yaitu (Carolina, 2009):
1. Diathesis-stres model
Teori ini menggabungkan antara faktor biologis, psikososial, dan
lingkungan yang secara khusus mempengaruhi diri seseorang sehingga
dapat menyebabkan berkembangnya gejala skizofrenia. Dimana ketiga
faktor tersebut saling berpengaruh secara dinamis.
2. Faktor biologis
Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamin yang menyatakan
bahwa skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang
berlebihan di bagian kortikal otak dan berkaitan dengan gejala positif dari
skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya
neurotransmitter lain termasuk serotonin, norepinefrin, glutamate, dan
GABA. Selain perubahan yang sifatnya neurokimiawi, penelitian
menggunakan CT scan ternyata ditemukan perubahan anatomi otak
seperti pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks atau atrofi otak kecil
(cerebellum) terutama pada penderita skizofrenia kronis.
3. Genetika
Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Resiko masyarakat

umum 1%, pada orang tua resiko 5%, pada saudara kandung 8%, dan pada
anak 12% apabila salah satu orang tua menderita skizofrenia, walaupun
anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir, anak dari kedua orang
tua skizofrenia 40%. Pada kembar monozigot 47%, sedangkan untuk
kembar dizigot sebesar 12%.
4. Faktor psikososial
a) Teori perkembangan
Ahli teori Sullivan dan Erikson mengemukakan bahwa kurangnya
perhatian yang hangat dan penuh kasih saying di tahun-tahun awal
kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya identitas diri,
salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan
social pada penderita skizofrenia.
b) Teori belajar
Menurut ahli teori belajar (learning theory), anak-anak yang
menderita skizofrenia mempelajari reaksi dan cara berpikir irasional
orang tua yang mungkin memiliki masalah emosional yang
bermakna. Hubungan interpersonal yang buruk dari penderita
skizofrenia akan berkembang karena mempelajari model yang buruk
selama anak-anak.
c) Teori keluarga
Tidak ada teori yang terkait dengan peran keluarga dalam
menimbulkan skizofrenia. Namun beberapa penderita skizofrenia
berasal dari keluarga yang disfungsional.
c. Klasifikasi
Secara umum skizofrenia dibagi dalam 5 tipe atau kelompok yang
mempunyai spesifikasi masing-masing, kriteria pengelompokannya sebagai
berikut (Damayanti, 2012) :
1. Tipe Hebefrenik
Tipe ini disebut juga disorganized type atau kacau balau yang dimulai
dengan gejala-gejala antara lain:
a) Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa
maksudnya. Hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang diucapkan
tidak ada hubungannya satu dengan yang lain.
b) Alam perasaan (mood, effect) yang datar tanpa ekspresi serta tidak
serasi (incongrose) atau ketolol-tololan (silly).
c) Perilaku dan tertawa kekanak-kanakan (giggling), senyum yang
menunjukan rasa puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
d) Waham (delusion) tidak jelas dan tidak sistimatik (terpecah) tidak
terorganisir suatu satu kesatuan.
e) Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisir
sebagai satu kesatuan.
f) Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-
gerakan aneh, berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang
dan kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan
sosial.
2. Tipe Katatonik
a) Stupor katatonik, yaitu suatu pengurangan hebat dalam reaktivitas
terhadap lingkungan dan atau pengurangan dari pergerakkan atau
aktivitas spontan sehingga nampak seperti patung, atau diam
membisu (mute).
b) Ekolalia atau ekopraksia (pembicaraan yang tidak bermakna).
c) Negativisme katatonik yaitu suatu penolakkan yang nampaknya tanpa
motif terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan
bagian tubuh
dirinya.
d) Kekakuan (rigidity) katatonik yaitu mempertahankan suatu sikap
kaku
terhadap semua upaya untuk menggerakkan bagian tubuh dirinya.
e) Kegaduhan katatonik, yaitu kegaduhan aktivitas motorik (otot alat
gerak) yang nampaknya tak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh
rangsang luar.
f) Sikap tubuh katatonik yaitu sikap (posisi tubuh) yang tidak wajar atau
aneh.
3. Tipe paranoid

a) Waham (delucion) kejar atau waham kebesaran, misi atau utusan


sebagai penyelamat bangsa dunia atau agama, misi kenabian atau
mesias, atau perubahan tubuh. Waham cemburu seringkali juga
ditemukan.
b) Halusinasi yang berisi kejaran atau kebeseran.
c) Gangguan alam perasaan dan perilaku, misalnya kecemasan yang
tidak menentu, kemarahan, suka bertengkar dan berdebat kekerasan.
Seringkali ditemukan kebingungan tentang identitas jenis kelamin
dirinya (gender identity) atau ketakutan bahwa dirinya diduga sebagai
seorang homoseksual atau merasa dirinya didekati oleh orang-orang
homoseksual.
4. Tipe Residual
Tipe ini merupakan sisa-sisa (residu) dari gejala skizofrenia yang tidak
begitu menonjol. Misalnya alam perasaan yang tumpul dan mendatar
serta tidak serasi (innappropriate), penarikan diri dari pergaulan sosial,
tingkah laku eksentrik, pikiran tidak logis dan tidak rasional atau
pelonggaran asosiasi pikiran.
5. Tipe tak tergolongkan
Tipe ini tidak dapat dimasukkan dalam tipe-tipe yang telah diuraikan
hanya ganbaran klinisnya terdapat waham, halusinasi, inkoherensi atau
tingkah laku kacau.
d. Penatalaksanaan
Obat antipsikotik digunakan untuk mengatasi gejala psikotik (misalnya
perubahan perilaku, agitasi, agresif, sulit tidur, halusinasi, waham, proses
piker kacau). Obat-obatan untuk pasien skizophrenia yang umum diunakan
adalah sebaga berikut:
1) Pengobatan pada fase akut
a) Dalam keadaan akut yang disertai agitasi dan hiperaktif diberikan
injeksi :
1. Haloperidol 3x5 mg (tiap 8 jam) intra muscular.
2. Clorpromazin 25-50 mg diberikan intra muscular setiap 6-8 jam
sampai keadaan akut teratasi.

3. Kombinsi haloperidol 5 mg intra muscular kemudian diazepam


10 mg intra muscular dengan interval waktu 1-2 menit.
b) Dalam keadaan agitasi dan hiperaktif diberikan tablet :
1. Haloperidol 2x1,5 – 2,5 mg per hari.
2. Klorpromazin 2x100 mg per hari
3. Triheksifenidil 2x2 mg per hari
2) Pengobaan fase kronis Diberikan dalam bentuk tablet :
a) Haloperidol 2x 0,5 – 1 mg perhari
b) Klorpromazin 1 x 50 mg sehari (malam)
c) Triheksifenidil 1- 2x 2 mg sehari
3) Efek dan efek samping terapi
a) Klorpromazine
Efek : mengurangi hiperaktif, agresif, agitasi

Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, sedasi,


hipotensi ortostatik.
b) Haloperidol
Efek : mengurangi halusinasi
Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, sedasi,
hipotensi ortostatik.
DAFTAR PUSTAKA

Aulia, N., Yulastri, Y., & Sasmita, H. (2019). Analisis Hubungan Faktor Risiko Bunuh Diri
dengan Ide Bunuh Diri pada Remaja. Jurnal Keperawatan, 11(4), 307–314.
[Link]
Budiarto, E. (2021). Analisis Perilaku Percobaan Bunuh Diri pada Klien Skizofrenia
dengan Pendekatan Model Adaptasi Roy: Studi Kasus. Jurnal Ilmiah Kesehatan,
14(1), 44. [Link]
Litaqia, W., & Permana, I. (2019). Peran Spiritualitas dalam Mempengaruhi Resiko
Perilaku Bunuh Diri: A Literature Review. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta,
6(2), 615. [Link]
Maulana, I., Eriyani, T., & Shalahuddin, I. (2021). Intervensi Keperawatan untuk
Pencegahan Klien Risiko Bunuh Diri: Telaahan Literature. Jurnal Keperawatan Jiwa,
9(3), 569–578.
Nurjanah, S. (2020). Gangguan Mental Emosional Pada Klien Pandemi Covid 19 di Rumah
Karantina. Journal Ilmu Keperawatan Jiwa, 3(3), 329–334.
Palupi, D. N., Ririanty, M., & Nafikadini, I. (2019). Karakteristik Keluarga ODGJ dan
Kepesertaan JKN Hubungannya dengan Tindakan Pencarian Pengobatan bagi ODGJ.
Jurnal Kesehatan, 7(2), 82–92. [Link]
Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin. (2016). Panduan Asuhan Keperawatan pada Pasien
Resiko Bunuh Diri. 10.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi
dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.
Valentina, T. D., & Helmi, A. F. (2016). Ketidakberdayaan dan Perilaku Bunuh Diri: Meta-
Analisis. Buletin Psikologi, 24(2),
123–135. [Link]

Anda mungkin juga menyukai