0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan12 halaman

PBL Tingkatkan Pemahaman Matematika SD

Dokumen ini membahas penerapan model Problem Based Learning (PBL) dengan media konkret untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam operasi hitung bilangan bulat di SDN 4 Ketringan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam nilai siswa dari pre-test ke post-test, dengan 76,25% peningkatan dalam kategori baik. Kesimpulan menyatakan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan keterlibatan siswa.

Diunggah oleh

sripurnomowati76
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan12 halaman

PBL Tingkatkan Pemahaman Matematika SD

Dokumen ini membahas penerapan model Problem Based Learning (PBL) dengan media konkret untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam operasi hitung bilangan bulat di SDN 4 Ketringan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam nilai siswa dari pre-test ke post-test, dengan 76,25% peningkatan dalam kategori baik. Kesimpulan menyatakan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan keterlibatan siswa.

Diunggah oleh

sripurnomowati76
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI KASUS

Oleh:

NAMA : ….., [Link]


NO UKG : ….
NIM : ….

Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

PPG DALJAB
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2024
PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA SOAL OPERASI
HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PROBLEM
BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA KONKRIT DI SDN 4
KETRINGAN KECAMATAN JIKEN
TAHUN 2023/2024

A. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
(Sentosa Sambiring, 2012). Dengan adanya pendidikan maka proses
belajar akan terjadi. Belajar adalah suatu proses memperoleh pengetahuan
dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan
bereaksi yang relatif permanen atau menetap karena adanya interaksi
individu dengan lingkungannya (Rifqi Festiawan, 2020).
Kurikulum adalah seperangkat atau suatu sistem rencana dan
pengaturan mengenai bahan pembelajaran yang dapat di pedomani dalam
aktivitas belajar mengajar. Kurikulum berfungsi sebagai landasan yang
memberikan arah dan tujuan pendidikan, serta isi yang harus dipelajari,
sedangkan pembelajaran adalah proses yang terjadi dalam interaksi belajar
dan mengajar antara guru dan siswa. Salah satu isi dari kulum satuan
Pendidikan sekolah dasar adalah mata Pelajaran matematika. Pembelajaran
matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru
untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa, serta dapat
meningkatkan kemampuan mengkontruksi pengetahuan baru sebagai
upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika.
Untuk memperoleh hasil belajar yang baik, maka siswa harus
memiliki minat belajar ataupun motivasi dalam belajar. Menurut Leni
Marlina ( 2021) motivasi merupakan hal yang penting dan haus dimiliki
oleh setiap siswa agar seorang siswa semangat dalam belajar. Berkaitan
dengan kondisi yang menjadi latar belakang masalah dalam pembelajaran,
kondisi siswa yang rendah dalam hasil pembelajaran disebabkan kondisi
sebagai berikut:
1. Saat pembelajaran berlangsung peserta didik terlihat diam dan enggan
untuk melakukan aktifitas pembelajaran sesuai dengan arahan dari
guru.
2. Siswa sering melihat ke luar ruangan.
3. Saat pembelajaran berlangsung siswa mendengarkan penjelasan guru
tetapi ketika diberikan pertanyaan siswa belum bisa menyampaikan
jawaban dengan tepat .
4. Siswa sering bermain sendiri saat pembelajaran.
5. Siswa cenderung tidak memperhatikan ketika guru sedang
memberikan penjelasan materi.
6. Saat guru menjelaskan konsep materi operasi hitung (penjumlahan dan
pengurangan) bilangan bulat siswa sulit memahami dikarenakan
operasi hitung (penjumlahan dan pengurangan) bilangan bulat
merupakan hal yang abstrak.
7. Siswa kesulitan mengerjakan soal-soal operasi hitung bilangan bulat.
8. Guru belum menyampaikan konsep materi operasi hitung
(penjumlahan dan pengurangan) bilangan bulat dengan bantuan media
konkret.
Dari beberapa hal yang dialami tersebut, penulis memilih dan
menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
berbantuan media konkrit agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan
baik dan pemahaman siswa diharapkan dapat meningkat.
Menurut Auliah Sumitro, Dkk (2019) untuk membuat siswa mencapai
hasil belajar yang baik, rasa ingin tahu mereka harus terangsang dan
berkelanjutan; instruksi harus dianggap relevan dengan nilai-nilai pribadi
atau instrumental untuk mencapai tujuan yang diinginkan; mereka harus
memiliki keyakinan pribadi bahwa mereka akan sanggup untuk berhasil
dan konsekuensi dari pengalaman belajar harus konsisten dengan pribadi
insentif dari peserta didik.
Menurut Teguh Wicaksana, Dkk (2022) Model pembelajaran yang
dapat digunakan untuk meningktkan hasil belajar siswa dalam belajar dan
memberikan solusi pemecahan masalah berdasarkan pengetahuannya
adalah model belajar berbasis masalah (PBL). Problem Based Learning
(PBL) adalah model pembelajaran yang mampu mendorong siswa untuk :
1. Siswa aktif untuk mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif
yang telah dimiliki siswa (meaningfull learning);
2. Belajar dalam kelompok untuk mencari solusi dari permasalahan
dunia nyata (real world);
3. Mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dengan
bantuan berbagai sumber belajar
Dalam rangka menumbuhkan perolehan hasil belajar yang baik bagi
siswa, salah satu teknik dalam mengembangkan kemampuan dan kemauan
belajar. Salah satu cara yang logis dalam pembelajaran adalah mengaitkan
pengalaman belajar dengan motivasi siswa. Menurut Yuberty (2019),
untuk meningkatkan hasil belajar upaya yang harus dilakukan adalah:
1. Menarik perhatian (Gaining Attention);
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran (informasi learning of
adjectives);
3. Mengingatkan konsep atau prinsip yang telah dipelajari (stimulating
recall or prior learning);
4. Menyampaikan materi pelajaran (presenting the stimulus);
5. Memberikan bimbingan belajar;
6. Memperoleh kinerja atau penampilan siswa (exciting performanced);
7. Memberikan balikan (providing feedback);
8. Menilai hasil belajar (assessing performance).
Dari sinilah peran media pembelajaran sebagai alat bantu pelaksanaan
pembelajaran model PBL digunakan. Media pembelajaran yang dipilih
adalah media konkrit. Media konkrit alat yang dijadikan sebagai perantara
atau pengantar informasi yang digunakan oleh pendidik untuk disampaikan
kepada siswa dengan alat yang benar-benar nyat, dapat dilihat, diraba,
dipegang dan digunakan oleh siswa.
Tujuan dari pelaksanan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
a. Untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan metode
pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran
Matematika materi Operasi Hitung Campuran di sekolah dasar.
b. Menganalisis dampak penerapan metode PBL dalam
pembelajaran Matematika terhadap kreatifitas dan pemahaman
belajar siswa di sekolah dasar.
2. Tujuan kusus
a. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam menyelesaikan berbagai
macam persoalan pembelajaran matematika materi Operasi Hitung
Bilangan.
b. Meningkatkan pemahaman belajar Matematika materi Operasi
Hitung bilangan.
Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti juga dibantu berbagai pihak.
Pihak pihak yang terlibat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kepala Sekolah
Kepala sekolah sebagai pemegang kendali penuh pelaksanaan
pembelajaran di sekolah menjadi faktor penting untuk sukses tidaknya
menjadikan anak berprestasi. Dalam kegiatan ini kepala sekolah
sebagai pengontrol dalam pelaksanaan praktik pembelajaran
memotivasi guru dalam melaksanakan pembelajaran dan memotivasi
siswa agar aktif dalam belajar.
2. Rekan sejawat
Rekan sejawat adalah sumber belajar dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Adanya keterbatasan saya maka rekan sejawat menjadi sumber belajar

yang paling dekat dengan saya. Wawancara ataupun observasi yang

dilakukan teman sejawat banyak memberikan masukan dan dorongan

terhadap pelaksanaan aksi.

3. Siswa
Siswa dalam hal ini adalah siswa Kelas 4 di SD Negeri 4 Ketringan
Kecamatan Jiken Kabupaten Blora.

B. PEMBAHASAN
1. Sintaks Model Problem Based Learning
a. Mengorientasi siswa Pada Masalah
1) Siswa menyimak video youtube tentang Operasi Hitung
Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan
2) Siswa diberi pertanyaan :
- Apa saja yang dibahas dalam video?
3) Siswa menyampaikan tanggapan ataupun pendapat dengan
cara tunjuk jari
b. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
1) Siswa dikelompokkan secara heterogen (Collaboration)
2) Siswa dibagikan LKPD berbasis PBL (
3) Siswa membaca dan mencermati LKPD (mengidentifikasi
masalah atau pemecahan masalah)
4) Siswa dibantu guru memahami tugas apa yang harus
diselesaikan oleh masing masing kelompok
5) Siswa berdiskusi membagi tugas dan menyiapkan alat tulis.
c. Membimbing Penyelidikan Kelompok
1) Siswa mengamati video untuk mencari informasi sebelum
berdiskusi menyelesaikan masalah.
2) Siswa mendapat bimbingan dari guru dalam mencari
informasi
d. Mengembangkan dan Menyajikan Hasil
1) Siswa mendapat pantauan secara berkeliling dari guru dalam
berdiskusi untuk mencari solusi permasalahan/ pertanyaan di
LKPD.(guru memberikan pertanyaan pancingan jika diskusi
belum berjalan lancer).
2) Siswa mendapat bimbingan dari guru mengolah hasil diskusi
sebagai solusi masalah untuk selanjutnya menuliskan di
LKPD
e. Menganalisis dan Mengevaluasi Hasil
1) Siswa secara kelompok diminta mempresentasikan dan
menyampaikan hasil diskusi kelompok
2) Siswa dari kelompok lain diminta memberikan tanggapan
3) Siswa yang presentasi menuliskan kesimpulan sesuai
masukan yang diperoleh dari kelompok lain di LKPD
4) Siswa mendapat apresiasi dan umpan balik dari guru setelah
melakukan presentasi
5) Siswa mendapat reward tepuk tangan karena selesai
melakukan presentasi
6) Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang operasi hitung
bilangan

2. Data Hasil Penelitian


Penilaian ranah pengetahuan dalam pembelajaran Operasi Hitung
Bilangan di SD Negeri 4 Ketringan dilakukan selama 2 (dua) kali
yaitu sebelum pelaksanaan pembelajaran (Pre-Test) dan setelah
penyajian materi memalui penerapan model Problem Based Learning
berbantuan media konkrit (Post-Test).
Dalam pelaksanaan pre-test, pembelajaran dilakukan diwaktu lain
sebelum aksi dilaksankan, dan tidak bersamaan dengan pelaksanaan
penelitian. Penilaian ini dilakukan dengan berpedoman pada
instrumen lembar evaluasi, Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM)
yang diambil adalah 70. Pengkatagorian penilaiannya adalah :
 <70 adalah nilai kurang;
 70-80 adalah nilai cukup;
 81-90 adalah nilai baik dan;
 91-100 adalah nilai sangat baik
Hasil penilaian pengetahuan pada pembelajaran inovasi kompetensi
Operasi Hitung Bilangan adalah sebagai berikut :
a. Evaluasi Pre-Test
Dari 16 siswa yang melaksanakan pre-test diperoleh hasil sebagai
berikut :
 Kurang berjumlah 12
 Cukup berjumlah 2
 Baik berjumlah 1 dan
 sangat baik berjumlah 1;
Perolehan nilai ini secara lebih jelas, disajikan pada grafik
berikut ini :

Grafik Nilai Pre-Test

sangat
baik

baik

cukup

kurang

0 2 4 6 8 10 12

Jumlah Siswa Series1

Persentase dari nilai pre-test diatas adalah :


 12 siswa = 75% nilai kurang;
 2 siswa = 12,5% nilai cukup;
 1 Siswa = 6,25% baik dan;
 1 Siswa 6,25% nilai sangat baik.
Simpulan evaluasi pre-test pada pembelajaran operasi
hitung bilangan, dapat dikategorikan sebagai nilai kurang, hal
ini sesuai keadaan bahwa 75% nilai siswa rendah.
b. Evaluasi Post-Test
Dari 16 siswa yang melaksanakan evaluasi post-test hasilnya
adalah sebagai berikut:
 Kurang berjumlah 1
 Cuku berjumlah 0
 Baik berjumlah 14
 sangat baik berjumlah 1;
Perolehan nilai ini dapat diperjelas pada grafik berikut ini :

Grafik Nilai Post-Test

sangat
baik

baik

cukup

kurang

0 2 4 6 8 10 12 14

Jumlah Siswa Series1

Persentase perolehan nilai post-test dari pelaksanaan


pembelajaran, kompetensi operasi hitung bilangan adalah :
 1 siswa = 6,25% nilai kurang;
 0 siswa = 0% nilai cukup;
 14 Siswa 87,5% baik dan;
 1 Siswa = 6,25% nilai sangat baik.
Perbandingan nilai baik dari pre-test dan post-test dapat
dilihat pada grafik dibawah ini :
Nilai Kategori Baik

15
10
5
0
Kategori baik Pre-test Post-Test

Dari grafik di atas diketahui nilai baik pada pre-test


berjumlah 1 siswa dan nilai baik pada saat post-test berjumlah 14
siswa. Berdasarkan perbandingan ini, perbandingan persentasenya
adalah sebagai berikut :

6.25

1 2

87.5

Nilai baik pada pre-test adalah 6,25% dan post-test 82,5%.


Dari sinilah terjadi perubahan yang sangat signifikan perolehan
nilai dalam kategori baik. Selisihnya adalah 76,25%.

3. Peran model problem Based Learning Berbantuan Media Konkrit


Dari data di atas dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan
pembelajaran inovasi operasi hitung bilangan dengan menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan
perbantuan media konkrit hasilnya adalah :
1. Meningkatkan perolehan nilai dari pre-test ke post-test
2. Peningkatan nilai pre-test ke post-test selisihnya adalah 76,25%
3. Dengan adanya peningkatan ini dapat dikatakan bahwa
pemahaman siswa meningkat.
4. Hasil Refleksi
Dari pelaksanaan pembelajaran inovasi terjadi peningkatan
pemahaman belajar siswa, maka pembelajaran Problem Based
Learning dengan berbantuan media konkrit kompetensi operasi hitung
bilangan dapat dikatakan efektif, ini ditunjukkan siswa mampu untuk :
a. Melakukan pengamatan atau peyelidikan
b. Membaca dengan aktif
c. Mendengarkan dengan aktif
d. Berfikir kreatif, dan kritis
e. Mengemukakan pendapat
f. Menyimpulkan pembelajaran
g. Menjelaskan, berdiskusi, presentasi dan memajang lembar kerja
h. Memperbaiki kekurangan dalam pembelaaran berbasis masalah

C. KESIMPULAN
Pembelajaran yang dapat diambil dari keseluruhan proses
pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning berbantuan media Augmented Reality adalah :
1. Nilai sikap dalam kategori baik;
2. Meningkatkan hasil belajar siswa;
3. Pembelajaran berpusat pada siswa;
4. Siswa dapat menemukan sendiri masalah pembelajaran sesuai tujuan
yang diinginkan.
5. Siswa menggali informasi dan dapat menyampaikan apapun
temuannya;
6. Siswa mendapatkan pembelajaran bermakna.

Anda mungkin juga menyukai