0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan621 halaman

Rencana Pembangunan Pariwisata Tana Toraja

Dokumen ini adalah Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja (RIPPARDA) untuk periode 2021-2030, yang mencakup analisis potensi kepariwisataan, kebijakan pengembangan, dan infrastruktur yang diperlukan. Laporan ini bertujuan untuk memberikan panduan bagi pengembangan pariwisata di daerah tersebut, dengan mempertimbangkan aspek budaya, alam, dan ekonomi. Selain itu, laporan ini juga mengajak partisipasi dari semua pihak terkait untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih baik.

Diunggah oleh

fmusralianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan621 halaman

Rencana Pembangunan Pariwisata Tana Toraja

Dokumen ini adalah Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja (RIPPARDA) untuk periode 2021-2030, yang mencakup analisis potensi kepariwisataan, kebijakan pengembangan, dan infrastruktur yang diperlukan. Laporan ini bertujuan untuk memberikan panduan bagi pengembangan pariwisata di daerah tersebut, dengan mempertimbangkan aspek budaya, alam, dan ekonomi. Selain itu, laporan ini juga mengajak partisipasi dari semua pihak terkait untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih baik.

Diunggah oleh

fmusralianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)

TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME, atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Antara / Fakta dan Analisis
Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja ini dan semoga rangkaian kegiatan pada
proses ini selalu didalam bimbingannya.

Laporan Fakta dan Analisis memuat substansi pokok tentang data-data


kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja meliputi Gambaran Umum Potensi Wilayah,
Kebijakan Pengembangan Pariwisata Nasional dan Provinsi Sulawesi Selatan
terhadap Pariwisata Tana Toraja, Daya Tarik Wisata, Perkembangan Kunjungan
Wisatawan, Sarana dan Prasarana utama, penunjang dan pendukung Pariwisata,
Usaha pariwisata, Kajian Analisis dan Potensi Kepariwisataan, dan lain sebagainya.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam proses penyusunan Laporan ini hingga dapat selesai
dengan waktu yang ditentukan. Tak lupa pula kami menghaturkan permohonan
maaf jika terdapat kekeliruan dalam penulisan laporan ini. Kami juga meminta
masukan dan saran kepada pihak terkait demi tercapainya pelaksanaan kegiatan
kedepannya dengan lebih baik.

Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat bagi seluruh stakeholders, atas segala
bantuan dan dukungan yang telah diberikan semua pihak dalam penyelesaian
laporan ini, kami mengucapkan terimakasih.

Makale, 2020

Tim Penyusun

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) i


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................. ii
DAFTAR TABEL ............................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................ ix

BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG .................................................................... I-1
1.2. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN ............................................. I-6
1.3. KELUARAN ............................................................................... I-7
1.4. RUANG LINGKUP...................................................................... I-7
1.4.1. Lingkup Wilayah............................................................ I-7
1.4.2. Lingkup Materi .............................................................. I-7
1.4.3. Lingkup Kegiatan .......................................................... I-8
1.5. JANGKA WAKTU PERENCANAAN ............................................... I-8
1.6. DASAR HUKUM ........................................................................ I-8
1.6.1 Undang-undang ............................................................ I-8
1.6.2 Peraturan Pemerintah ................................................... I-10
1.6.3 Peraturan Menteri ......................................................... I-11
1.6.4 Peraturan Daerah.......................................................... I-12
1.7. PENGERTIAN UMUM ................................................................ I-13
1.8. SISTEMATIKA LAPORAN ........................................................... I-16

BAB II KABUPATEN TANA TORAJA DALAM KEBIJAKAN PEMBANGUNAN


KEPARIWISATAAN
2.1 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL.......................... II-1
2.2 STRATEGI PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR TERPADU
KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA PEGUNUNGAN DAN
BUDAYA KSPN TORAJA ............................................................ II-8
2.2.1 Ultimate Kawsan Strategis Pariwisata Pegunungan dan
Budaya Toraja .............................................................. II-10
2.2.2 Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN
Toraja Yang Akan Dikembangkan .................................. II-12

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) ii


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.2.3 Pengembangan Investasi Kawasan Wisata Pegunungan


(Agroindustri Kopi Dan Produk Pertanian Unggulan
Lainnya) ....................................................................... II-16
2.2.4 Strategi Pengembangan Destinasi Wisata dan Simpul-
simpul Produksi Industri Kreatif dan Agroindustri ........... II-17
2.2.5 Penetapan Kawasan Inkubasi Kepariwisataan................. II-19
2.2.6 Penataan Inftastruktur Kota Penunjang Pariwisata di
KSPN Toraja ................................................................. II-19
2.2.7 Pentahapan Pengembangan KSPN Toraja ...................... II-19
2.2.8 Rencana Infrastruktur Strategis ..................................... II-20
[Link] Kebutuhan Infrastruktur Pendukung di KSPN
Toraja ............................................................. II-20
[Link] Kawasan Prioritas Pengembangan di KSPN
Toraja ............................................................. II-21
[Link] Arahan Pengembangan Infrastruktur PUPR
Berdasar Kebijakan Spasial ............................... II-24
[Link] Strategi Pengembangan Infrastruktur Non PUPR II-31
[Link] Rencana Strategis Infrastruktur KSPN Toraja .... II-34
2.2.9 Anjungan Cerdas KSPN Toraja ....................................... II-35
[Link] Konsep Pengembangan Anjungan Cerdas ......... II-35
[Link] Pengelolaan Anjungan Cerdas .......................... II-38
2.3 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN PROVINSI SULAWESI
SELATAN ................................................................................. II-40
2.3.1 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan
Provinsi Sulawesi Selatan .............................................. II-41
2.3.2 Posisi dan Peran Kabupaten Tana Toraja Dalam
Pengembangan Kepariwisataan Sulawesi Selatan ........... II-42
2.4 KEPARIWISATAAN DALAM RPJPD KABUPATEN TANA TORAJA ... II-43
2.4.1 Isu Strategis Daerah ..................................................... II-44
2.4.2 Visi dan Misi Pembangunan Daerah ............................... II-45
2.4.3 Arah Kebijakan Dalam Sektor Kepariwisataan ................. II-50
2.4.4 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah II
(2015-2020) Akselerasi dan Penendalian Untuk
Kepariwisataan ............................................................. II-52
2.4.5 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah III
(2020-2025) Pemantapan.............................................. II-52
2.4.6 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah IV
(2025-2030) Konsolidasi, Monitoring dan Evaluasi .......... II-54
2.4.7 Sasaran Pembangunan Jangka Panjang Pembangunan
Kepariwisataan ............................................................. II-55

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) iii


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.4.8 Grand SWOT Analisis Terhadap Sektor Kepariwisataan ... II-57


2.4.9 Program-Program Kepariwisataan Urusan Pemerintahan
pada Dinas Pariwisata ................................................... II-59
2.5 KEPARIWISATAAN DALAM RTRW KABUPATEN TANA TORAJA.... II-60
2.5.1 Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang ............ II-60
2.5.2 Rencana Struktur Ruang................................................ II-62
2.5.3 Rencana Pola Ruang Kawasan Peruntukan Pariwisata..... II-63
2.5.4 Rencana Pola Ruang Kawasan Peruntukan Lainnya yang
menunjang Kegiatan Kepariwisataan.............................. II-67
2.5.5 Kawasan-kawasan Strategis Wilayah Kabupaten............. II-67

BAB III KONDISI WILAYAH KABUPATEN MENDUKUNG


KEPARIWISATAAN
3.1 ADMINISTRASI DAN GEOGRAFIS WILAYAH .......................... III-1
3.2 KONDISI FISIK WILAYAH ..................................................... III-4
3.2.1 Kondisi Topografi dan Kelerengan.............................. III-4
3.2.2 Geologi ..................................................................... III-5
3.2.3 Kondisi Iklim dan Curah Hujan................................... III-6
3.2.4 Kondisi Hidrologi ....................................................... III-6
3.3 SEJARAH DAN BUDAYA SEBAGAI POTENSI PARIWISATA ...... III-7
3.3.1 Identitas Etnis........................................................... III-7
3.3.2 Sejarah ..................................................................... III-8
3.3.3 Bahasa ..................................................................... III-10
3.3.4 Kearifan Lokal ........................................................... III-11
3.3.5 Masyarakat dan Keluarga .......................................... III-12
3.3.6 Kebudayaan Tongkonan ............................................ III-13
3.3.7 Ukiran Kayu .............................................................. III-16
3.3.8 Upacara Adat ............................................................ III-17
[Link] Upacara Rambu Tuka’ atau Upacara Rampe
Mataallo....................................................... III-17
[Link] Alukna Rampanan Kapa’, Sangka’na
Passullean Allo ............................................. III-17
[Link] Upacara Rambu Solo’ atau Upacara Rampe
Matampu ..................................................... III-18
[Link] Upacara Disilli’ ............................................. III-21
3.3.9 Musik dan Tarian....................................................... III-22
[Link] Tari Pa’gellu................................................. III-23
[Link] Tarian Ma’ Badong ....................................... III-23
[Link] Tarian To Mangnganda’............................... III-23
[Link] Tarian To Manimbong .................................. III-24
[Link] Tarian Ma’randing ........................................ III-24

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) iv


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

[Link] Tarian Boneballa’/Ondo Samalele ................. III-24


[Link] Tarian Pa’Bondesan...................................... III-25
[Link] Tarian Pa’papangngan.................................. III-25
[Link] Tarian Burake .............................................. III-25
[Link] Tarian Dao Bulan ......................................... III-26
[Link] Tarian Ma’nani ............................................. III-26
[Link] Tarian Ma’Katia ............................................ III-26
3.3.10 Kerajinan untuk Souvenir .......................................... III-26
[Link] Ukiran ......................................................... III-26
[Link] Patung (Tau-tau) ......................................... III-27
[Link] Pertenunan .................................................. III-28
[Link] Miniatur ....................................................... III-28
3.4 KEKAYAAN EKOLOGI SEBAGAI POTENSI PARIWISATA .......... III-29
3.4.1 Kawasan Lindung ...................................................... III-29
3.4.2 Potensi Sumber Daya Alam........................................ III-32
3.5 PEREKONOMIAN DAERAH .................................................... III-33
3.6 SARANA PELAYANAN UMUM ................................................. III-36
3.6.1 Sarana Pendidikan .................................................... III-37
3.6.2 Sarana Kesehatan ..................................................... III-38
3.6.3 Sarana Peribadatan ................................................... III-38
3.7 TRANSPORTASI, ENERGI DAN KOMUNIKASI ......................... III-39
3.7.1 System Transportasi.................................................. III-39
3.7.2 Energi dan Komunikasi .............................................. III-44

BAB IV KABUPATEN TANA TORAJA SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA


4.1 POTENSI DAYA TARIK WISATA ............................................ IV-1
4.1.1 Daya Tarik Wisata Alam ............................................ IV-2
4.1.2 Daya Tarik Wisata Budaya ......................................... IV-14
4.1.3 Daya Tarik Wisata Buatan ......................................... IV-45
4.2 FASILITAS UMUM PENDUKUNG PARIWISATA........................ IV-57
4.2.1 Pusat Informasi Pariwisata ........................................ IV-57
4.2.2 Fasilitas/Sarana Transportasi ..................................... IV-57
4.2.3 Fasilitas Perbankan ................................................... IV-58
4.2.4 Akomodasi ................................................................ IV-60
4.2.5 Usaha Jasa Pariwisata ............................................... IV-68
4.2.6 Usaha Pariwisata Pendukung Lainnya ........................ IV-70
4.2.7 Fasilitas Kesehatan.................................................... IV-73
4.2.8 Fasilitas Pendidikan ................................................... IV-73
4.2.9 Fasilitas Peribadatan ................................................. IV-74
4.3 AKSESIBILITAS PENDUKUNG PARIWISATA ........................... IV-74

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) v


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.4 PRASARANA UMUM PENDUKUNG PARIWISATA ..................... IV-75


4.4.1 Prasarana Perhubungan ............................................ IV-75
4.4.2 Pelayanan Energi Kelistrikan ...................................... IV-77
4.4.3 Jaringan Prasarana Telekomunikasi ........................... IV-78
4.5 PENDUDUK SEBAGAI POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA
PARIWISATA........................................................................ IV-78
4.5.1 Jumlah Penduduk...................................................... IV-79
4.5.2 Pertumbuhan Penduduk ............................................ IV-80
4.5.3 Kepadatan Penduduk ................................................ IV-81
4.5.4 Struktur Penduduk Menurut jenis Kelamin .................. IV-82
4.5.5 Struktur Penduduk Menurut Kelompok Umum ............ IV-83
4.6 JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI ..................................... IV-11

BAB V ANALISIS PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN


5.1 PENCERMATAN KARAKTERISTIK PARIWISATA ...................... V-1
5.1.1 Analisis Kebijakan ..................................................... V-1
5.1.2 Analisis Suplay and Demand ...................................... V-5
[Link] Analisis Supply ............................................. V-5
[Link] Analisis Demand .......................................... V-13
5.2 PENCERMATAN INDUSTRI PARIWISATA ............................... V-16
5.2.1 Usaha Penyediaan Akomodasi ................................... V-17
[Link] Analisis Penggunaan Akomodasi Wisata ........ V-17
[Link] Analisis Penyediaan Akomodasi .................... V-24
[Link] Khusus Non Hotel ........................................ V-25
5.2.2 Jasaboga dan Restoran ............................................. V-28
5.2.3 Komponen Pengembangan Kawasan Wisata Lainnya .. V-29
5.3 PENCERMATAN PASAR PARIWISATA .................................... V-35
5.3.1 Segmentasi Pasar...................................................... V-35
5.3.2 Sasaran Pasar Wisata ................................................ V-42
5.4 KAJIAN PERWILAYAHAN PARIWISATA .................................. V-44
5.4.1 Sinergitas Antar Perencanaan .................................... V-45
5.4.2 Pembagian Wilayah Wisata (Cluster).......................... V-50
5.5 ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA ............. V-59

BAB VI PENUTUP
6.1 KESIMPULAN ....................................................................... VI-1
6.2 KEGIATAN SELANJUTNYA..................................................... VI-3

DAFTAR PUSTAKA

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) vi


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Luas Wilayah Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 ................. III-2
Tabel 3.2 Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 .. III-6
Tabel 3.3 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku
Kabupaten Tana Toraja, 2015-2019 ........................................ III-35
Tabel 3.4 Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2019 ........................................................................... III-37
Tabel 3.5 Ruas-ruas Jalan di kabupaten Tana Toraja .............................. III-40
Tabel 4.1 Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2020 ........................................................................... IV-4
Tabel 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2020 ........................................................................... IV-20
Tabel 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2020 ........................................................................... IV-49
Tabel 4.4 Fasilitas Perbankan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020..... IV-59
Tabel 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana
Toraja, Tahun 2020................................................................ IV-63
Tabel 4.6 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 IV-69
Tabel 4.7 Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana
Toraja, Tahun 2020................................................................ IV-70
Tabel 4.8 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 .......... IV-79
Tabel 4.9 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2019 ........................................................................... IV-81
Tabel 4.10 Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten
Tana Toraja, Tahun 2018 ....................................................... IV-83
Tabel 4.11 Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten
Tana Toraja, Tahun 2018 ....................................................... IV-83
Tabel 5.1 Dukungan Program Pembangunan Kepariwisataan Nasional dan
Provinsi di Kabupaten Tana Toraja.......................................... V-3
Tabel 5.2 Matriks Analisis Supply (Penawaran) Wisata ............................ V-7
Tabel 5.3 Matriks Analisis Demand (Permintaan) .................................... V-14
Tabel 5.4 Kriteria Mutlak Standar Hotel Berbintang................................. V-19
Tabel 5.5 Kriteria Mutlak Standar Hotel Non Berbintang.......................... V-20

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) vii


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel 5.6 Akomodasi Jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 V-22
Tabel 5.7 Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-30
Tabel 5.8 Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-31
Tabel 5.9 Rangkuman Kajian Komponen Industri Pariwisata Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-33
Tabel 5.10 Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010
– 2019 ................................................................................... V-39
Tabel 5.11 Kunjungan Wisatawan Nusantara di Kabupaten Tana Toraja
Tahun 2009 – 2019 ................................................................ V-40
Tabel 5.12 Kunjungan Wisatawan Mancanegara di Kabupaten Tana Toraja
Tahun 2010 – 2019 ................................................................ V-41
Tabel 5.13 Potensi Kawasan Destinasi Wisata Kabupaten Tana Toraja ...... V-50
Tabel 5.14 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-61
Tabel 5.15 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-64
Tabel 5.16 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana
Toraja.................................................................................... V-67
Tabel 5.17 Matriks Analisis SWOT Industri Pariwisata Kabupaten Tana
Toraja.................................................................................... V-70
Tabel 5.18 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata
Kabupaten Tana Toraja .......................................................... V-72
Tabel 5.19 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan dan SDM Pariwisata
Kabupaten Tana Toraja .......................................................... V-74
Tabel 5.20 Keterkaitan Alternatif Strategi Terhadap Unsur Pariwisata ....... V-76

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) viii


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARDA)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Toraja-Lorelindu


dan Sekitarnya ................................................................ II-5
Gambar 2.2 Peta Sebaran 50 DPN, 222 KPPN dan 88 KSPN ................. II-8
Gambar 2.3 Peta Strategi Pengembangan Pariwisata KSPN Toraja ....... II-18
Gambar 2.4 Peta Rencana Kawasan Strategis Kabupaten .................... II-68
Gambar 3.1 Peta Administrasi Kabupaten Tana Toraja ........................ III-3
Gambar 3.2 Peta Kelerangan Kabupaten Tana Toraja .......................... III-4
Gambar 3.3 Peta Ketinggian Wilayah Kabupaten Tana Toraja .............. III-5
Gambar 3.4 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Tana Toraja ............ III-31
Gambar 3.5 Peta Jaringan Jalan Kabupaten Tana Toraja ..................... III-43
Gambar 4.1 Peta Sebaran Daya Tarik Wisata Alam .............................. IV-6
Gambar 4.2 Peta Kawasan Agrowisata Pango Pango ........................... IV-8
Gambar 4.3 Peta Sebaran Daya Tarik Wisata Budaya .......................... IV-23
Gambar 4.4 Peta Sebaran Akomodasi Pariwisata ................................. IV-67
Gambar 4.5 Situasi Terminal Makale ................................................... IV-76
Gambar 4.6 Situasi Perkembangan Pembangunan Bandara Buntu Kuni IV-77
Gambar 4.7 Grafik Jumlah Penduduk Tiap Kecamatan di Kabupaten
Tana Toraja, 2019 ........................................................... IV-80
Gambar 5.1 Konsep Pengembangan Pasar dan Pemasaran Pariwisata .. V-35
Gambar 5.2 Grafik Persentase Perkembangan Kunjungan Wisatawan
ke Tana Toraja, 2009-2019.............................................. V-37
Gambar 5.3 Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke
Kab. Tana Toraja, 2009-2019 .......................................... V-38
Gambar 5.4 Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kab.
Tana Toraja, 2009-2019 .................................................. V-38
Gambar 5.5 Konsep Struktur Ruang pariwisata.................................... V-51
Gambar 5.6 Illustrasi Potensi Pengembangan Perwilayahan Pariwisata
Kabupaten Tana Toraja ................................................... V-56

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) ix


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DAFTAR PUSTAKA

Literatur Buku:

1. Alastair M. Morrison. (2010). Hospitality & Travel Marketing. Usa : Delmar


Cengange Learning;
2. Badan Pusat Statistik. 2020. Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka. Makale.
3. Burkart, A.J. dan Medlik, S. 1987. Tourism, Past, Present, and Future. London;
4. Bungin, Burhan. 2015. Komunikasi Pariwisata (Tourism Communication)
Pemasaran dan Brand Destinasi. Jakarta: Prenadamedia Group.
5. Hainim Bem, Pengantar Pariwisata, STIEPAR, Bandung;
6. Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka
Pelajar Yogyakarta;
7. Kementerian PUPR. 2016. Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu
Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya KSPN Toraja. Jakarta;
8. Kusudianto Hadinoto, 1996, Perencanaan Pengembangan Destinasi
Pariwisata, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta;
9. Kotler Philip, Amstrong Gary. 2013. Prinsip-prinsip Pemasaran, Edisi ke-12.
Penerbit Erlangga.
10. Marpaung. H, 2002, Pengetahuan Kepariwisataan, Penerbit Alfabeta,
Bandung;
11. Pitana, I Gde, 2005, Sosiologi Pariwisata, Penerbit Andi, Yogyakarta
12. Rudana, Nyoman. 2008. Strategi Pengembangan Pariwisata Bali. Jakarta:
Lembaga Administrasi Negara;
13. Salah Wahab, 1988, Pemasaran Pariwisata, PT. Pradnya Pramita, Jakarta;
14. Yoeti, Oka, A. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa.
15. ________. 1997. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Pradnya
Paramita. Jakarta;
16. ________. 2003. Tours and Travel Marketing. Pradnya Paramita. Jakarta;
17. ________. 2008. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta:
Pradnya Paramita;

LAPORAN ANTARA (FAKTA & ANALISIS)


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Perundang-Undangan:
1. UU. No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
2. UU. No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;
3. UU. No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang;
4. PP. No. 50 Tahun 2011 tentang RIPPARNAS Tahun 2010-2025;
5. Perpres No. 14 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden
Nomor 64 Tahun 2014 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor
Penyelenggaraan Kepariwisataan
6. Permendagri. No. 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pembangunan Ekowisata
Di Daerah;
7. Permenpar. No. 37 Tahun 2007 tentang Kriteria Destinasi Unggulan;
8. Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 Tahun 2016 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan
Kabupaten/Kota;
9. Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi
Pariwisata Berkelanjutan;
10. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 53
Tahun 2013 tentang Standar Usaha Hotel
11. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 27 Nomor 2014
Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;
12. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 9 Tahun 2014 Tentang
Standar Usaha Pondok Wisata;
13. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 14 Tahun 2014 Tentang
Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata;
14. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 17 Tahun 2014 Tentang
Standar Usaha Kawasan Pariwista;
15. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 27 Tahun 2014 Tentang
Standar Usaha Taman Rekreasi;
16. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang
RIPPARPROV Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030;
17. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Tentang RPJMD Kabupaten Tana
Toraja;
18. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja No. 12 Tahun 2011 Tentang RTRW
Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031;

LAPORAN ANTARA (FAKTA & ANALISIS)


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1
1.1 LATAR BELAKANG
Pariwisata merupakan kegiatan multi dimensional yang menyentuh berbagai aspek
kehidupan baik politik, hukum, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya
masyarakat. Pengembangan kepariwisataan tidak hanya mempunyai tujuan akhir
berupa output ekonomi atau nilai finansial yang diperoleh tetapi juga menyangkut
persoalan sosial, agama, budaya dan keamanan yang bahkan menjadi nilai utama
pariwisata untuk dieksploitasi menjadi daya tarik wisata yang mempunyai daya jual
tinggi.

Dalam era modern seperti sekarang ini, pariwisata telah menjadi komponen katalis
perkembangan fisik kawasan (tidak merupakan penyebab utama, namun
memberikan kontribusi pada percepatan pertumbuhan dan perubahan kawasan)
baik berupa perkembangan fisik, ekonomi maupun sosial budaya masyarakat.
Industri pariwisata merupakan alternatif kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan
sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
sehingga dituntut untuk berkembang dengan baik dan menghasilkan produk yang
dapat diunggulkan. Hal ini dapat dicapai dengan kemauan politik pemerintah yang
memberikan landasan hukum serta kesadaran masyarakat untuk dapat
berintegrasi serta melibatkan diri sebagai bagian dalam proses sehingga dapat
menghasilkan produksi unggulan dalam seluruh kegiatan industri pariwisata.

Bagi sebagian daerah, pariwisata dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk
meningkatkan kinerja pembangunannya. Namun demikian, untuk mencapai hal
tersebut memerlukan suatu kerja ekstra dari berbagai pihak (stakeholders) baik

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-1


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pemerintah, swasta dan masyarakat untuk mampu menggali semua potensi-


potensi yang ada dengan berupaya semaksimal mungkin untuk menekan dampak
negatif yang mungkin timbul mengingat pariwisata juga mempunyai energi dobrak
cukup kuat dalam memetamorpose berbagai aspek kehidupan atau bahkan dapat
dipandang sebagai ‘musuh’ yang mengancam pelestarian budaya dan lingkungan.

Salah satu upaya yang dapat mengantisipasi hal tersebut adalah melalui
perencanaan yang matang dan komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak
untuk merumuskan masalah-masalah yang timbul pada proses pengembangan
dan harus dapat menampung dan menanggapi aspirasi-aspirasi masyarakat serta
berusaha menggali potensi-potensi yang terkandung didalamnya. Atas dasar
tersebut, maka konsep pengembangan yang merupakan penentu kebijakan
pengembangan suatu pariwisata dapat disusun. Dengan kata lain konsep rencana
pengembangan kepariwisataan selain merupakan suatu penuntun didalam
menanggulangi berbagai kendala yang muncul diharapkan juga menjadi kerangka
tindak lanjut dalam pemenuhan tuntutan dan kebutuhan serta keinginan bagi
wisatawan dimasa yang akan datang dengan memperhatikan tingkatan budaya,
sejarah dan ekonomi dari daerah tujuan wisata.

Di samping itu, perencanaan juga diharapkan dapat membantu tercapainya


kesesuaian (match) antara ekspektasi pasar dengan produk wisata yang
dikembangkan tanpa harus mengorbankan kepentingan masing-masing pihak.
Mengingat masa depan penuh perubahan, maka perencanaan diharapkan dapat
mengantisipasi perubahan-perubahan lingkungan strategis yang dimaksud dan
menghindari sejauh mungkin dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan-
perubahan lingkungan tersebut.

Kabupaten Tana Toraja yang dikenal sebagai ikon pariwisata di Provinsi Sulawesi
Selatan, memiliki berbagai potensi wisata yang cukup prospektif untuk
dikembangkan. Pembangunan kepariwisataan didaerah ini cukup pesat dalam
mengembangkan kawasan-kawasan wisata yang dianggap menjadi daya tarik
wisata yang cukup diminati oleh wisatawan. Hal ini perlu didukung dengan
perencanaan yang komperhensif dan berkelanjutan terhadap potensi
kepariwisataan yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja. Pembangunan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-2


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

kepariwisataan tentunya membawa dampak yang menyeluruh terhadap sektor-


sektor lain yang ada disuatu daerah, oleh karena itu dibutuhkan perencanaan yang
matang sehingga hal tersebut dapat tercapai dengan maksimal.

Pembangunan kepariwisataan tidak dapat dilakukan secara parsial, namun harus


menyeluruh terutama dalam pembangunan kawasan-kawasan wisata sehingga
diharapkan dapat menimbulkan “gravitasion effek” terhadap objek wisata lain.
Beberapa obyek dan daya tarik wisata yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat
dan wisatawan di Tana Toraja, sejumlah atraksi budaya dan kesenian yang sangat
unik ini diharapkan dapan menjadi potensi yang tidak hanya berkembang pada
DTW unggulan saja, namun diharapkan dapat menjadi pemicu berkembangnya
data tarik wisata lain yang tersedia, serta dukungan manajemen kepariwisataan
dan sistem pelayanan (akomodasi, transportasi, peran swasta dan masyarakat, dll)
yang menadai. Hal ini dapat dilakukan melalui rencana ini yang memuat tentang
pokok-pokok pembangunan kepariwisataan yang diantaranya strategi-strategi dan
program pembangunan industri, destinasi, pemasaran dan kelembagaan
kepariwisataan yang menjadi pedoman bagi pembangunan kawasan-kawasan
wisata secara bertahap dan bekesinambungan di Kabupaten Tana Toraja.

Tingginya potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja menunjukkan


bahwa masa depan pengembangan pariwisata didaerah ini merupakan prospek
yang sangat cerah. Data yang dikutip dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana
Toraja, kunjungan wisatawan nusantara periode 2009 – 2017 sangat pesat
pertumbuhannya, dimana pada tahun 2009 kunjungan wisatawan hanya sebanyak
5.499 wisatawan meningkat tajam sampai pada tahun 2017 sebanyak 1.173.183
wisatawan. Kualitas daya tarik wisata merupakan salah satu unsur penentu agar
menarik wisatawan untuk datang ke suatu lokasi. Pada umumnya, kualitas
tersebut terdiri dari unsur-unsur yang saling tergantung, yaitu atraksi dan daya
tarik, fasilitas wisata, infrastruktur, transportasi dan pelayanan. Secara khusus
adalah kualitas obyek wisata itu sendiri, apakah layak dikunjungi dan dapat
memberikan kepuasan. Atraksi menarik wisatawan untuk datang kesuatu lokasi,
fasilitas menyediakan kebutuhan wisatawan selama berada jauh dari tempat
tinggalnya, infrastruktur dan transportasi diperlukan untuk memudahkan
wisatawan mengunjungi tempat-tempat tujuan wisata, sedangkan pelayanan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-3


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

menunjukkan cara dan bagaimana memberikan pelayanan kepada wisatawan.


Usaha-usaha dalam meningkatkan kualitas obyek wisata ini dapat menarik
wisatawan untuk datang ke kawasan itu dan pada akhirnya akan memberikan
income dan kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitarnya. Potensi dan berbagai
unsur-unsur kepariwisataan tersebut menjadi bagian yang sangat penting dalam
pembangunan kepariwisataan yang maju di Kabupaten Tana Toraja. Oleh karena
itu, diperlukan dorongan semua sektor didaerah untuk bersama-sama memajukan
kepariwisataan Tana Toraja kedepannya karena pariwisata juga merupakan
aktivitas yang beragam dilakukan tidak hanya terfokus pada kegiatan pariwisata,
tetapi aktivitas-aktivitas tersebut berhubungan dengan aktivitas atau kegiatan
sosial kemasyarakatan, bisnis, dan pemerintahan.

Berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah merupakan titik tolak yang sangat


strategis untuk dapat mengoptimalkan dengan menggali, mengembangkan dan
mengelola asset-aset dan sumberdaya yang dimiliki sehingga dapat memberikan
kontribusi bagi perkembangan pembangunan dan perekonomian. Oleh karena itu,
setiap daerah harus mencermati sektor-sektor strategis dan potensial untuk
dikembangkan sehingga produktif dan dapat membantu menopang Pembangunan
Daerah, memberikan nilai manfaat serta menghasilkan produktifitas yang tinggi
bagi Pembangunan Daerah maupun Peningkatan Kesejahteraan. Dalam
mendukung program pemerintah pusat yang ingin menjadikan beberapa daerah di
Nusantara ini menjadi daerah unggulan dalam sektor pariwisata yang mempunyai
daya tarik tersendiri maka masing-masing daerah dituntut untuk mengembangkan
sektor pariwisata unggulan masing-masing daerah. Tidak dapat dipungkiri lagi
bahwa sektor parwisata merupakan salah satu penghasil devisa Negara yang
sangat besar. Upaya tersebut dapat dilaksanakan dengan mengembangkan
daerah/kawasan wisata secara terpola, terpadu dan dengan rencana program yang
baik. Hal ini dimaksudkan agar target pengembangannya dapat dicapai dalam
waktu yang cepat dan dari segi pembiayaan dapat lebih efisien. Salah satu
program yang perlu dilaksanakan agar dapat merealisasikan upaya diatas adalah
dengan membuat suatu Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten
yang dapat digunakan sebagai pedoman pengembangan pariwisata didaerah
sehingga acuan pengembangannya menjadi lebih jelas dan terarah.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-4


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pasca diundangkannya UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan sebagai


pengganti UU No. 9 tahun 1999, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Nasional (RIPPARNAS) Tahun 2010 – 2025, mau tidak mau daerah harus
menyesuaikan diri tentang pengaturan dan pengelolaan bidang kepariwisataan.
Disisi lain, bagi pemerintah sendiri yang diharapkan usaha pariwisata dapat
memberikan kontribusi bagi pendapatan negara/daerah, baik dalam bentuk pajak,
retribsi dan lain sebagainya.

Rencana Pembangunan kepariwisataan mencakup 2 (dua) aspek, yaitu aspek


spasial dan aspek non-spasial. Aspek spasial menyangkut hal-hal yang terkait
dengan perencanaan kawasan-kawasan wisata/daya tarik wisata termasuk, serta
keterkaitan antar kawasan dan keterhubungan atau aksesibilitasnya. Rencana
Induk Pariwisata juga membuat aspek non spasial, khususnya yang terkait dengan
pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan, mekanisme kerjasama
antar lembaga dan hal-hal lainnya yang non spasial, termasuk keterkaitan antar
sector dalam mendukung pengembangan pariwisata.

RIPPAR-KAB Tana Toraja adalah pemanfaatan ruang parawisata yang disusun


untuk penyiapan perwujudan rencana pembangunan kepariwisataan yang
berkualitas serasi, optimum sesuai dengan kebijakan pembangunan daerah, serta
memujudkan kesesuaian antara kebutuhan pembangunan dan kemampuan daya
dukung lingkungan melalui pemanfaatan pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya buatan. Selain itu, dalam penyusunan-nya, RIPPAR-KAB Tana Toraja
merupakan rencana yang mempunyai keterkaitan dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Nasional (RIPPARNAS) Tahun 2010 – 2025 yang telah menetapkan beberapa
potensi unggulan pariwisata di Provinsi Sulawesi Selatan, RIPARP-ROV Sulawesi
Selatan Tahun 2015-2030 dalam Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2015 ini yang
salah satunya menetapkan Toraja sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Daerah
(KSPD) pada DPD Kawasan Utara yaitu KSPD Toraja dan sekitarnya, yang juga
dapat menjadi masukan dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-5


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dengan demikian, maka RIPPAR-KAB Tana Toraja perlu disusun agar sesuai
dengan kondisi kekinian sehingga seluruh potensi daya tarik wisata dapat
dikembangkan dengan baik dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata, mendorong peningkatan ekonomi
masyarakat dari sektor pariwisata, serta pemanfaatan sumber daya alam yang
optimal.

1.2 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN


Maksud dari pekerjaan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten (RIPPAR-KAB) Tana Toraja adalah Menyusun perencanaan
pengembangan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja tahun 2021 – 2040.

Sedang tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Sebagai pedoman dan arah kebijakan pembangunan kepariwisataan Tana
Toraja.
2. Memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai pengembangan potensi
kepariwisataan yang meliputi daya tarik wisata, usaha sarana wisata, usaha
jasa wisata dan usaha lain pendukung pariwisata.
3. Menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan ( stakeholders)
kepariwisataan di Tana Toraja agar dapat bersinergi secara positif dalam
pengembangan kepariwisataan.

Adapun sasaran yang harus dicapai untuk mewujudkan tujuan dari pekerjaan
Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA)
Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berikut:

1. Mengarahkan pengembangan jalannya pariwisata;


2. Mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat
dan konkrit sesuai dengan tata ruang dan konsep kepariwisataan;
3. Melengkapi aturan daerah tentang pembangunan kepariwisataan;
4. Menjamin implementasi pembangunan kepariwisataan agar sesuai dengan
aspirasi dan kebutuhan masyarakat; dan
5. Menjamin terpeliharanya objek/kawasan wisata.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-6


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1.3 KELUARAN
Output dari kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10
Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota, dengan muatan rencana diantaranya
sebagai berikut:
1. Pendahuluan;
2. Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Kebijakan Pembangunan
Kepariwisataan;
3. Kondisi Wilayah Kabupaten Tana Toraja Dalam Mendukung Pembangunan
Kepariwisataan;
4. Kabupaten Tana Toraja Sebagai Destinasi Pariwisata;
5. Industri Pariwisata;
6. Pasar pariwisata;
7. Kelembagaan Pariwisata;
8. Prinsip dan Konsep Pembangunan Kepariwisataan;
9. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan;
10. Rencana Pengembangan Perwilayahan Pariwisata; dan
11. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan.

1.4 RUANG LINGKUP


1.4.1 Lingkup Wilayah
Wilayah kajian Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja yaitu seluruh wilayah administrasi Kabupaten Tana Toraja.

1.4.2 Lingkup Materi


RIPPARKAB Tana Toraja memuat potensi dan permasalahan pembangunan
kepariwisataan, isu-isu strategis yang harus dijawab, posisi pembangunan
kepariwisataan dalam kebijakan pembangunan wilayah dan kepariwisataan, visi,
misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi, rencana, dan indikasi program
pembangunan kepariwisataan. Rumusan rencana dalam RIPPARKAB Tana Toraja

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-7


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

difokuskan pada rencana pembangunan perwilayahan pariwisata yang merupakan


penjabaran teknis dari strategi pembangunan destinasi pariwisata.

1.4.3 Lingkup Kegiatan


Lingkup kegiatan pada Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja didasarkan pada
Kerangka Acuan Kerja yang terdiri dari :
1. Kajian dan Penyusunan Laporan Pendahuluan;
2. Kajian dan Penyusunan Laporan Fakta dan Analisis; dan
3. Kajian dan Penyusunan Laporan Akhir/Rencana.

1.5 JANGKA WAKTU PERENCANAAN


Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 8
disebutkan bahwa pembangunan kepariwisataan yang dilakukan berdasarkan
rencana induk pembangunan kepariwisataan, merupakan bagian integral dari
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional. Oleh karena itu, jangka waktu
perencanaan RIPPARPROV dan RIPPARKAB/KOTA juga menyesuaikan dengan
periode waktu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten/Kota
yang tentu saja sama dengan periode waktu Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN). Periode waktu untuk RPJPD Kabupaten Tana Toraja
dalam Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2012 yaitu tahun 2010 – 2030, dengan
demikian jangka waktu untuk RIPPARKAB Tana Toraja adalah 10 tahun (tahun
2021-2030).

Evaluasi terhadap implementasi rencana dan perubahan-perubahan yang terjadi,


baik perubahan pada kebijakan pembangunan nasional maupun daerah (provinsi
atau kabupaten) dan dinamika internal daerah yang mempengaruhi
pengembangan kepariwisataan dapat dilakukan setiap 5 (lima) tahun.

1.6 DASAR HUKUM


Ketentuan hukum/peraturan yang mendasari Kegiatan Penyusunan RIPPARDA
Kabupaten Tana Toraja ini adalah sebagai berikut:
1.6.1 Undang-Undang
1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-8


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam


Hayati Dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990
Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3470);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4988);
5. Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4966);
6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
7. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5168);
8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah
terakhir kalinya dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
perubahan kedua atas Undang-Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
9. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Jalan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 132);
10. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 308, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5613);

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I-9


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

11. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);
12. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan
Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025);
13. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospatial
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5214);
14. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5280);
15. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 190, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 6405);

1.6.2 Peraturan Pemerintah


1. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata
Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman
Wisata Alam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 25,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3550);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan
dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4593);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 473);

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I - 10


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk


Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5262);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2012 tentang Sertifikasi Usaha dan
Kompetensi;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan
Hutan.
9. Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pengawasan dan
Pengendalian Kepariwisataan;
10. Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2014 tentang Koordinasi Lintas Sektor
Kepariwisataan;
11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2018 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2014 tentang
Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Kepariwisataan;
12. Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan
Kebudayaan dan Pariwisata;

1.6.3 Peraturan Menteri


1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman
Pembangunan Ekowisata Di Daerah;
2. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 37 Tahun 2007 tentang Kriteria Destinasi
Unggulan;
3. Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 Tahun 2016 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan
Kabupaten/Kota;
4. Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016
Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I - 11


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5. Peraturan Menteri PU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Kawasan Rawan


Bencana Longsor;
6. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 01 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi;
7. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
27 Nomor 2014 Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;
8. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
9 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Pondok Wisata;
9. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
14 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata;
10. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
17 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Kawasan Pariwista;
11. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
19 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Jasa Konsultan Pariwisata;
12. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
27 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;

1.6.4 Peraturan Daerah


1. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Provinsi Sulawesi
Selatan Tahun 2015-2030;
2. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tana Toraja;
3. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 12 Tahun 2011 Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031;
4. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pajak
Hotel;
5. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2012 tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 3 Tahun
2011 tentang Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame,
Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batubara, Pajak
Parkir, dan Pajak Air Minum;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I - 12


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 2 tahun 2016 tentang


Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 tentang
Retribusi Jasa Umum;
7. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2016 tentang
Perlundingan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

1.7 PENGERTIAN UMUM


1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan
rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata
yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai
fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha,
pemerintah, dan pemerintah daerah.
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata
dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud
kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan
masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah,
dan pengusaha.
5. Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten yang selanjutnya
disebut dengan RIPPAR-KAB adalah dokumen perencanaan pembangunan
kepariwisataan kabupaten untuk periode 15-25 tahun.
6. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan,
dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil
buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
7. Daerah Tujuan Pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata
adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah
administratif yang didalamnya terdapat Daya Tarik Wisata, Fasilitas Umum,
Fasilitas Pariwisata, aksesibilitas serta masyarakat yang saling terkait dan
melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I - 13


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

8. Pemasaran Pariwisata adalah serangkaian proses untuk menciptakan,


mengkomunikasikan, menyampaikan produk wisata dan mengelola relasi
dengan wisatawan untuk mengembangkan kepariwisataan dan seluruh
pemangku kepentingannya.
9. Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait
dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan
wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata;
10. Kelembagaan Kepariwisataan adalah kesatuan unsur beserta jaringannya
yang dikembangkan secara terorganisasi meliputi Pemerintah, Pemerintah
Daerah, swasta dan masyarakat, sumber daya manusia, regulasi dan
mekanisme operasional yang secara berkesinambungan guna menghasilkan
perubahan ke arah pencapaian tujuan di bidang kepariwisataan.
11. Fasilitas Umum adalah sarana pelayanan dasar fisik suatu lingkungan yang
diperuntukkan bagi masyarakat umum dalam melakukan aktifitas kehidupan
keseharian.
12. Fasilitas Pariwisata adalah semua jenis sarana yang secara khusus ditujukan
untuk mendukung penciptaan kemudahan, kenyamanan, keselamatan
wisatawan dalam melakukan kunjungan ke destinasi pariwisata.
13. Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi
pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata.
14. Usaha Kawasan Pariwisata adalah usaha pembangunan dan/atau pengelolaan
kawasan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.
15. Pengusaha Pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan
kegiaatan usaha pariwisata.
16. Usaha pusat penjualan makanan adalah usaha penyediaan tempat dan
fasilitas untuk restoran, rumah makan, dan/atau kace dilengkapi meja dan
kursi.
17. Usaha Pondok Wisata adalah penyediaan akomodasi berupa bangunan rumah
tinggal yang dihuni oleh pemiliknya dan dimanfaatkan sebagian untuk
disewakan dengan memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk
berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari pemiliknya.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I - 14


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

18. Usaha Angkutan Jalan Wisata adalah penyediaan angkutan orang untuk
kebutuhan dan kegiatan pariwisata..
19. Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata adalah rumusan kualifikasi Usaha
Angkutan Jalan Wisata dan/atau klasifikasi Usaha Angkutan Jalan Wisata yang
mencakup aspek produk, pelayanan dan pengelolaan Usaha Angkutan Jalan
Wisata.
20. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya,
dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan
keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.
21. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia,
baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau
bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan
kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
22. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam
atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding
dan/atau tidak berdinding, dan beratap.
23. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang
mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau
Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian
pada masa lalu.
24. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs
Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan
ciri tata ruang yang khas.
25. Desa Wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan
fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan
masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.
26. Pemberdayaan masyarakat adalah menciptakan/meningkatkan kapasitas
masyarakat baik secara individu maupun berkelompok dalam memecahkan
berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan
kesejahteraannya.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I - 15


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1.8 SISTEMATIKA LAPORAN


Sistematika Laporan Pendahuluan dalam Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja,
mencakup susunan pokok-pokok pembahasan tiap Bab dan Sub-Bab, mulai dari
Bab I sampai dengan Bab VI. Berikut ini rinciannya.

BAB 1 : PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran,
ruang lingkup, dasar hukum kegiatan, istilah dan definisi, dan
sistematika laporan pendahuluan.

BAB 2 : KABUPATEN TANA TORAJA DALAM KEBIJAKAN


PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Pada Bab ini menguraikan tentang masukan beberapa kebijakan
pembangunan baik nasional, provinsi maupun kabupaten yang
mendukung pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja.

BAB 3 : KONDISI WILAYAH DALAM MENDUKUNG KEPARIWISATAAN


Pada Bab 3 ini, Menguraikan tentang potensi-potensi wilayah
kabupaten yang mendukung kepariwisataan baik kondisi fisik dasar
wilayah, kependudukan dan Sumber Daya Manusia (SDM),
ketersediaan sarana dan prasarana, potensi ekonomi wilayah, serta
kebudayaan.

BAB 4 : KABUPATEN TANA TORAJA SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA


Menguraikan tentang potensi sumberdaya pariwisata berupa daya tarik
wisata, sumberdaya manusia pariwisata, sarana dan prasarana
pariwisata, kelembagaan, maupun sumberdaya lain yang merupakan
sub-subsistem yang berperan langsung terhadap perkembangan dan
pembangunan kepariwisataan.

BAB 5 : ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN


Menguraikan tentang kajian-kajian mendasar yang menjadi acuan
dalam perumusan rencana pembangunan kepariwisataan kabupaten
Tana Toraja diantanya Analisis Karakteristik Pariwisata meliputi
kebijakan, dan suplay anda demand, selanjutnya Analisis

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I - 16


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pengembangan yang mengkaji tentang perwilayahan destinasi wisata,


tipe aktivitas wisata, serta aksesibilitas, dan analisis keterkaitan,
analisis SWOT dalam merumuskan strategi pengembangan.

BAB 6 : PENUTUP
Menguraikan tentang Kesimpulan Laporan Fakta dan Analisis sebagai
dasar dalam perumusan konsep rencana serta arahan pelaporan
selanjutnya yaitu Laporan Rencana.

DAFTAR PUSTAKA

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) I - 17


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2
2.1 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL
Pembangunan kepariwisataan nasional tercermin pada Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2009, yang menyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan nasional
diselenggarakan berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan yang
meliputi perencanaan pembangunan industri pariwisata, destinasi pariwisata,
pemasaran pariwisata, dan kelembagaan kepariwisataan, dan terdiri atas
RIPPARNAS, RIPPAR-PROV, dan RIPPAR-KAB/KOTA.

Landasan normatif ini menjiwai substansi pembangunan pariwisata yang


diinterpretasikan sebagai upaya untuk mengembangkan dan mengamanatkan
objek dan daya tarik wisata yang terwujud, antara lain, dalam bentuk kekayaan
alam yang indah, keragaman flora dan fauna, kemajemukan tradisi dan seni
budaya, serta peninggalan sejarah purbakala yang dimiliki bangsa Indonesia.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, pengembangan
kepariwisataan, memiliki:

1. Makna politis, sebagai upaya memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa guna
menggalang persatuan dan kesatuan;
2. Makna ekonomis, sebagai upaya untuk memperkuat perekonomian negara;
3. Makna sosial budaya, sebagai upaya untuk mempertinggi kesadaran dan
kesediaan untuk mempertahankan kebudayaan dan kepribadian bangsa.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 1


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dalam pengembangan kepariwisataan, ada asas-asas yang harus diperhatikan,


yaitu:
1. Asas manfaat, bahwa pengembangan kepariwisataan harus dapat
memberikan manfaat sebesar-besarnya baik secara langsung maupun tidak
langsung;
2. Asas usaha bersama dan kekeluargaan, artinya penyelenggaraan
kepariwisataan harus diarahkan dalam rangka pencapaian cita-cita dan
aspirasi bangsa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk kepentingan
bersama dan dijiwai semangat kekeluargaan;
3. Asas adil dan merata, pengembangan kepariwisataan nasional harus
menghasilkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat di pelosok tanah air;
4. Asas perikehidupan dan keseimbangan, kepariwisataan nasional harus dapat
mewujudkan perikehidupan yang seimbang materiil dan spiritual baik dalam
hubungan antara sesama manusia dengan lingkungan dan antara manusia
dengan Tuhannya;
5. Asas kepercayaan pada diri sendiri, kepariwisataan nasional harus mampu
meningkatkan dan menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga
secara keseluruhan dapat meningkatkan jati diri bangsa Indonesia.

Kebijakan-kebijakan dan strategi yang telah dirumuskan untuk mencapai target


sektor pariwisata, adalah sebagai berikut:
1. Pemasaran
Strategi pemasaran diarahkan pada hal-hal berikut:
a. Peningkatan efektifitas promosi melalui kampanye promosi pariwisata
pada daerah asal wisatawan yang potensial, terutama di kawasan Asia
Pasifik.
b. Peningkatan kegiatan promosi terpadu antara sektor pariwisata,
perdagangan dan investasi serta jasa tenaga kerja dalam wadah Badan
Promosi Indonesia serta peningkatan hubungan antar negara (bilateral,
sub-regional dan regional).

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 2


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Produk Wisata
Produk wisata diutamakan pada dua kegiatan berikut:
a. Pemantapan pengembangan produk wisata di daerah wisata Kawasan
Barat Indonesia dengan melakukan usaha-usaha ekstensifikasi,
intensifikasi dan konsolidasi produk.
b. Peningkatan daya saing produk wisata di pasar internasional, melalui
inovasi dan diversifikasi (misalnya pengembangan wisata bahari,
agrowisata, ecotourism, dan wisata minat khusus lainnya), upaya
standarisasi dan pemantauan mutu produk.
3. Prasarana dan Aksesibilitas
a. Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana umum seperti jaringan
jalan, jaringan listrik, jaringan air bersih, dan jaringan telekomunikasi
untuk mempercepat pengembangan objek dan daya tarik wisata dan
kawasan pariwisata.
b. Peningkatan aksesibilitas (udara, laut, dan darat) ke dan dari negara
sumber wisatawan dan antar daerah di Indonesia melalui percepatan
perluasan fasilitas bandara, pelabuhan laut, dan terminal darat di lokasi
tertentu melalui kemitraan swasta.
c. Swastanisasi atau aliansi penerbangan nasional dengan penerbangan
asing untuk meningkatkan kapasitas tempat duduk.
4. Investasi
a. Pengarahan investasi pada pengembangan pariwisata ke Kawasan Timur
Indonesia melalui pemberian insentif dan kemudahan sesuai dengan
kondisi masing-masing daerah dengan tetap mendorong peningkatan
investasi di Kawasan Barat Indonesia, agar pengembangan pariwisata
merata di setiap kawasan.
b. Pengupayaan percepatan penyelesaian penataan ruang dan peruntukan
tanah yang pasti untuk mendukung kemudahan dan keamanan investasi
pariwisata.
5. Perwilayahan
a. Penyesuaian pembangunan daerah tujuan wisata, dengan potensi
masing-masing dengan mempertimbangkan sasaran pasar utama yang

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 3


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

akan diraih dan pertimbangan terhadap tahap perkembangan daerah


tujuan wisata, yaitu pada tahap lemah, tumbuh, kuat dan terancam.
b. Pemantapan keterpaduan dan komplementaritas pengembangan antara
daerah yang satu dengan daerah lain, dan yang didukung oleh
pengembangan jaringan perhubungan.
6. Lingkungan
a. Pembangunan pariwisata mengacu pada peningkatan kualitas dan ramah
lingkungan serta melibatkan peranserta masyarakat setempat.
b. Penerapan ketentuan-ketentuan mengenai daya dukung lingkungan
dalam pengelolaan dan pembangunan sarana kepariwisataan.
7. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Peningkatan kualitas informasi kepariwisataan dan sistem pelayanan melalui
komputerisasi dan teknologi komunikasi serta pemanfaatan jaringan informasi
global (internet, computer reservation system, dan lainlain).
8. Bina Masyarakat Sadar Wisata
Penggalangan kampanye nasional sadar wisata secara berkelanjutan guna
mendorong dan meningkatkan koordinasi dan peran serta masyarakat dalam
pembangunan kepariwisataan perlu terus dilakukan.
9. Sumberdaya Manusia
a. Peningkatan keterampilan profesionalisme tenaga kerja pariwisata melalui
diklat pariwisata dengan mengacu pada kurikulum yang standar,
sertifikasi, dan akreditasi.
b. Peningkatan kemampuan aparat pembina kepariwisataan di semua
jajaran pemerintah, khususnya di Kabupaten/Kota.
c. Peningkatan peran pihak swasta dalam usaha peningkatan sumber daya
manusia dalam penyelenggaraan diklat pariwisata.
10. Kelembagaan dan Pengaturan
a. Pemantapan sistem informasi dan manajemen disetiap unit untuk
mendukung efektivitas proses pengambilan keputusan.
b. Penyesuaian produk pengatuan berdasarkan perkembangan dan
tantangan yang akan dihadapi pada perekonomian terbuka dan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 4


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

perdagangan bebas pada masa yang akan datang dengan berlakunya


AFTA, APEC dan GATS/WTO.

Gambar 2.1 Peta Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Toraja-Lorelindu dan Sekitarnya
(Sumber: PP 50 tahun 2011 tentang RIPPARNAS, Lampiran II)

Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam konstelasi nasional sangat dikenal


sebagai salah satu destinasi yang mendunia dengan khas daya tarik wisata yang
menampilkan keanekaragaman budaya dan sejarah serta potensi alam yang
dikemas dalam sumberdaya pariwisata yang sangat memukau, mendapat bagian
yang penting dalam pembangunan kepariwisataan nasional. Hal ini diwujudkan
dalam RIPPARNAS yang menjadikan Tana Toraja sebagai salah satu bagian
wilayah pengembangan kepariwisataan diantara 222 KPPN (Kawasan
Pengembangan Pariwisatan Nasional) yaitu KPPN Toraja dan sekitarnya serta
dengan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) TORAJA–LORELINDU dan sekitarnya.

Dalam penjelasan PP Nomor 50 Tahun 2011 itu disebutkan, bahwa RIPPARNAS


menjadi sangat penting bagi pembangunan kepariwisataan Indonesia karena (1)
memberikan arah pengembangan yang tepat terhadap potensi kepariwisataan dari

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 5


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

sisi produk, pasar, spasial, sumber daya manusia, manajemen, dan sebagainya
sehingga pariwisata Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara postif dan
berkelanjutan bagi pengembangan wilayah dan kesejahteraan masyarakat, (2)
mengatur peran setiap stakeholders terkait baik lintas sektor, lintas pelaku,
maupun lintas daerah/wilayah agar dapat mendorong pengembangan pariwisata
secara sinergis dan terpadu.

PP Nomor 50 Tahun 2011 memuat visi pembangunan kepariwisataan nasional


adalah terwujudnya Indonesia sebagi negara tujuan pariwisata berkelas dunia,
berdaya saing, berkelanjutan dan mampu mendorong pembangunan daerah dan
kesejahteraan rakyat.

Untuk mewujudkan visi tersebut ditempuh 4 (empat) strategi pembangunan


kepariwisataan, yang meliputi destinasi pariwisata yang aman, nyaman, menarik,
dan mudah dicapai; pemasaran pariwisata yang sinergis, unggul dan bertanggung
jawab; industri pariwisata yang berdaya saing; dan organisasi pemerintah, Pemda,
swasta dan masyarakat yang efektif dalam mendorong terwujudkan pembangunan
kepariwisataan berkelanjutan.

Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam PP No. 50 Tahun 2011 adalah
meningkatkan: 1) jumlah kunjungan wisatawan mancanegara; (2) jumlah
pergerakan wisatawan nusantara; (3) jumlah penerimaan devisa dari wisatawan
mancanegara; (4) jumlah pengeluaran wisatawan nusantara; dan (5) produk
domestic bruto di bidang kepariwisataann.

PP No. 50 Tahun 2011 ini menegaskan arah pembangunan kepariwisataan nasional


yang menjadi dasar arah kebijakan, strategi, dan indikasi program kepariwisataan
nasional dalam kurun waktu 2010-2025 yang meliputi pembangunan: (1) Destinasi
Pariwisata Nasional (DPN); (2) Pemasaran Pariwasata Nasional; (3) industri
pariwisata nasional; (4) Kelembagaan Kepariwisataan Nasional.

PP No. 50 Tahun 2011 ini juga membagi perwilayahan DPN, yaitu 50 DPN yang
tersebar di 33 provinsi, dan 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang
tersebar di 50 DPN. Adapun syarat untuk menjadi DPN dan KSPN secara rinci
dijelaskan dalam ayat 1 dan 2 pasal 10 PP No. 50/2011, diantaranya yaitu DPN
ditentukan dengan kriteria:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 6


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah provinsi dan/atau


lintas provinsi yang didalamnya terdapat kawasan-kawasan pengembangan
pariwisata nasional, yang diantaranya merupakan KSPN;
2. memiliki Daya Tarik Wisata yang berkualitas dan dikenal secara luas secara
nasional dan internasional, serta membentuk jejaring produk wisata dalam
bentuk pola pemaketan produk dan pola kunjungan wisatawan;
3. memiliki kesesuaian tema Daya Tarik Wisata yang mendukung penguatan
daya saing;
4. memiliki dukungan jejaring aksesibilitas dan infrastruktur yang mendukung
pergerakan wisatawan dan kegiatan Kepariwisataan; dan
5. memiliki keterpaduan dengan rencana sektor terkait.

Sedangkan KSPN ditentukan dengan kriteria sebagai berikut:


1. memiliki fungsi utama pariwisata atau potensi pengembangan pariwisata;
2. memiliki sumber daya pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata
unggulan dan memiliki citra yang sudah dikenal secara luas;
3. memiliki potensi pasar, baik skala nasional maupun khususnya internasional;
4. memiliki posisi dan peran potensial sebagai penggerak investasi;
5. memiliki lokasi strategis yang berperan menjaga persatuan dan keutuhan
wilayah;
6. memiliki fungsi dan peran strategis dalam menjaga fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup;
7. memiliki fungsi dan peran strategis dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan
aset budaya, termasuk di dalamnya aspek sejarah dan kepurbakalaan;
8. memiliki kesiapan dan dukungan masyarakat;
9. memiliki kekhususan dari wilayah;
10. berada di wilayah tujuan kunjungan pasar wisatawan utama dan pasar
wisatawan potensial nasional; dan
11. memiliki potensi kecenderungan produk wisata masa depan.

Berdasarkan pada kriteria-kriteria tersebut diatas, maka Tana Toraja


dikembangkan sebagai salah satu KSPN yang meliputi wilayah Kabupaten Tana
Toraja dan berbatasan dengan Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang,
Kabupaten Pinrang, Kabupaten Luwu.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 7


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Gambar 2.2. Peta Sebaran 50 DPN, 222 KPPN dan 88 KSPN


(Sumber: PP 50 tahun 2011 tentang RIPPARNAS, Lampiran II)

Secara keseluruhan, Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional 2010 –


2015 ini mencakup: (1) Pembangunan Kepariwisataan Nasional; (2) Pembangunan
Destinasi Pariwisata; (3) Pembangunan Pemasaran Pariwasata Nasional; (4)
Pembangunan Industri Pariwisata Nasional; (5) Pembangunan Kelembagaan
Kepariwisataan Nasional; (6) Indikasi Program Pembangunan Kepariwisataan
Nasional; dan (7) Pengawasan dan Pengendalian RIPPARNAS.

2.2 STRATEGI PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR TERPADU KAWASAN


STRATEGIS PARIWISATA PEGUNUNGAN DAN BUDAYA KSPN TORAJA
Sebagai implikasi atau tindaklanjut dari kebijakan pembangunan kepariwisataaan
nasional, pemerintah pusat telah menyusun sejumlah perencanaan-perencanaan
dalam mewujudkan pembangunan pariwisata pada wilayah-wilayah yang termasuk
dalam kawasan-kawasan pariwisatan nasional. Peraturan Pemerintah No. 50 tahun
2011 tentang Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Nasional telah
menetapkan 50 Destinasi Pariwisata Nasional (DPN), 88 Kawasan Strategis
Pariwisata Nasional (KSPN), dan 222 Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional
(KPPN). Di dalam konsep WPS, salah satu yang diharapkan dapat menjadi engine
of growth adalah KSPN dengan tipologi kawasan pariwisata pegunungan dan
budaya. Output yang diharapkan adalah peningkatan kinerja dan daya tarik pada
kawasan pariwisata pantai yang diintervensi oleh infrastruktur, yang pada akhirnya
akan menjadi engine of growth perekonomian di destinasi pariwisata.

Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu KSPN Toraja merupakan salah satu


program pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR), telah didorong beberapa panduan perencanaan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 8


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

infrastruktur yang akan dilakukan dalam perwujudan keterpaduan sektor


kepariwisataan.

Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan


dan Budaya meliputi Kawasan Strategis
Toraja (terletak di Kabupaten Tana Toraja
dan berbatasan dengan Kabupaten Toraja
Utara, Kabupaten Enrekang, Kabupaten
Pinrang, Kabupaten Luwu).

Kawasan tersebut dinilai sangat strategis


pada pengembangan di bidang pariwisata.
Posisi strategis ini dapat dipandang sebagai peluang dan potensi pasar, oleh
karena itu kawasan ini dipandang perlu didukung oleh berbagai rencana
pengembangan infrastruktur dalam upaya meningkatkan potensi pariwisata di
kawasan tersebut. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
(Kementerian PUPR) telah menyusun konsep percepatan pengembangan Kawasan
Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya, agar mendorong pertumbuhan
ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan disekitarnya.

Dalam rangka percepatan pengembangan kawasan tersebut, perlu disusun


Rencana Pengembangan (development plan) yang meliputi rencana jalan akses
antarpusat kawasan, penyiapan infrastruktur pendukung kawasan, dan penyiapan
rencana pengembangan pusat-pusat pertumbuhan, serta prasarana/sarana sektor
lainnya dalam rangka pengembangan kawasan untuk keg iatan sektor pariwisata.

Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Kementerian Pekerjaan Umum dan


Perumahan Rakyat telah menyusun konsep percepatan pengembangan kawasan
tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, dibutuhkan kegiatan untuk
menindaklanjutinya dengan penyusunan rencana pembangunan Kawasan
Pariwisata Pegunungan dan Budaya. Kegiatan rencana pembangunan Kawasan
Pariwisata tersebut diharapkan dapat memberi arahan pembangunan dan
perwujudan struktur ruang di kawasan tersebut yang sesuai dengan daya dukung
dan daya tampung serta potensi ekonomi kawasan tersebut.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 9


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dalam melakukan kajian Rencana Pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata


Nasional Tana Toraja, maka perlu adanya sektor-sektor potensi wilayah sekitar
yang mendukung akan pengembangan serta pengembangan ruang dikawasan
tersebut. Perencanaan pengembangan kawasan tersebut harus dikembangkan
dengan dengan prinsip transparan, responsif, efisien, efektif, akuntabel,
partisipatif, terukur, berkeadilan dan berkelanjutan.
2.2.1 Ultimate Kawsan Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya
Toraja
Ultimate ini dibuat untuk mendukung tercapainya sasaran KSPN Toraja sebagai
Kawasan Wisata Budaya Etnik/Tradisi, pada prinsipnya KSPN ini dipersiapkan
untuk mendorong pertumbuhan wisata bagian tengah-selatan sehingga dapat
mengurangi disparitas dan kesenjangan antara wilayah yang masuk KSPN Toraja
dengan Wilayah Pusat perekonomian sulawesi selatan dan juga dengan wilayah
pariwisata yang sudah maju sebelumnya seperti Bali, Lombok, maupun Danau
Toba. Arahan ultimate untuk Wilayah ini di Kabupaten Tana Toraja sebagai berikut:
1. Terbangunnya Amenity wisatawan berupa Hotel/penginapan/homestay
dengan jumlah yang cukup banyak yaitu sekitar 3000 kamar, sehingga mampu
menampung dan melayani target pencapaian wisman sebanyak 250.000
orang dan wisnus sebanyak 1 juta pertahunnya, perlu menggaet pihak
investor di sektor pariwisata yang profesional di bidang perhotelan.
2. Tercapainya Pemenuhan Infrastuktur PUPR dan NON PUPR Pada Jalur Back
Bone yang Handal di tahun 2025, dari sektor energi maka optimalisasi PLTD
Makale sebesar 25 MW dan Rencana pembangunan PLTA Makale, PLTA Sungai
Sadang, dan Rencana Pembangunan PLTA Sungai Makalo serta sumber-
sumber listrik dari pembangkit listrik EBTKE yang sifatnya Off Grid yang
nantinya berfungsi secara penuh dapat menjadi penggerak seluruh kegiatan
Pariwisata, perikanan, pertanian, dan sektor-lainnya di kawasan KSPN Toraja.
3. Terbangunnya Industri Agrowisata Kopi Toraja yang sudah mendunia di
samping sebagai tulang punggung pembangunan Agrowisata di KSPN Toraja
juga mampu berorientasi export sebagai market driven dibidang komoditi
Agroindustri, terutama dengan terbangunnya konektivitas logistik
internasional melalui bandara baru Buntu Kuni.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 10


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4. Terbangunnya Fasilitas atau infrastruktur penyediaan air minum dan air bersih
sebesar 100 lps untuk masing masing kabupaten yang masuk ke KSPN Tana
Toraja, dimana teknisnya masing-masing SPAM terbagi dengan Kapasitas @20
lps, dengan total layanan masing, masing 10.000 pelanggan untuk Kabupaten
Tana Toraja dan 10.000 pelanggan.
5. Pengembangan 16 Destinasi pariwisata Prioritas KSPN Toraja menjadi
destinasi Wisata berkelas Dunia lengkap dengan sarana sanitasi,
lapangan parkir yang memadai, kios kios penjual souvenir yang tertata apik,
dan gapura masuk destinasi wisata yang bagus dan menarik dimana terdiri
dari 9 kawasan Wisata Prioritas di Kabupaten Tana Toraja dan 9 Destinasi
Wisata Prioritas di Kabupaten Toraja; dan
6. Pembangunan Jalur Kereta Api Trans Sulawesi yang merupakan jalur logistik
dan jalur transportasi wisatawan, bagi wisatawan yang mendarat di Makasar
dan melanjutkan ke KSPN Toraja menggunakan Jalur darat.
7. Pengembangan Pelabuhan Pare Pare dan Pelabuhan Mamuju sebagai sarana
transportasi moda laut yang membawa wisatawan baik dari Kalimantan
maupun dari wilayah barat pulau Sulawesi lainnya, atau sebagai jalur logistik
komoditas potensial KSPN Tana Toraja seperti Kopi dan Padi.
8. Pengembangan Pelabuhan Pelayaran Yacth di Palopo sebagai alternatif moda
transportasi wisatawan mancanegara yang menggunakan kapal yacth/pesiar
selama berkunjung di kawasan perairan wisata di sekitar sulawesi selatan dan
tenggara.
9. Program Ketahanan Pangan untuk mendukung aktivitas pariwisata dan
aktivitas masyarakat dengan melakukan program O & P bangunan jaringan
Irigasi Teknis yang ada di KSPN Toraja.
10. Handalnya Kondisi jalan Poros Enrekang-Makale-Rotenpao-Palopo untuk
mendukung kelancaran aktivitas wisatawan dan aktivitas logistik komoditas
unggulan KSPN Toraja.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 11


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.2.2 Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN Toraja


Yang Akan Dikembangkan
1. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek pendukung:
▪ Gua alam
▪ Museum
▪ Monumen Penginjilan
▪ Panorama Alam
▪ Rumah Adat
▪ Kuburan Batu Tondon Makale
▪ Kuliner 8) Kereta gantung
▪ Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
▪ Kolam Alam Assa
▪ Pasar Hewan
2. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjang :
▪ Permandian Air Panas Makula
▪ Pekuburan batu Suaya
▪ Kuburan Bayi/Passilliran Kambira’
▪ Kuburan Gua Alam Tampang Allo
▪ Gua Alam Sullukan
▪ Tongkonan Banua Kasalle Bau
▪ Museum Buntu Kalando
▪ Atraksi Seni Budaya
▪ Rante Tongko Sarapung
3. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek penunjang:
▪ Sassa’
▪ Perkampungan Adat Sillanan
▪ Kawasan Hutan Mapongka.
4. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek
penunjang :
▪ Potok Tengan
▪ Panorama alam Buntu Kandora
▪ Banua Puan
▪ Liang Lo’ko’ Randanan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 12


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Panjat Tebing
▪ Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring.
5. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
▪ Permandian alam Tilanga’
▪ Makam adat Sirope
▪ Tongkonan Mandetek
▪ Agrowisata Rante Lingkua’
▪ Makam Bayi –Passilliran Alla
6. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek pendukung:
▪ Rumah Adat Pattan
▪ Talion
▪ Benteng Pongtiku, Boronan
▪ Likunna Makuyo
▪ Atraksi Budaya
▪ Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’
7. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakadeng dengan objek
pendukung:
▪ Air terjun Salu Bitu
▪ Permandian Air Panas Ratte Buttu
▪ Liang pahat
▪ Permandian Air Panas Bake’
▪ Panorama Alam.
8. Kawasan Batu Tallu Simbuang di Simbuang dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Kolam Alam Limbong Deata
▪ Tedong-tedong
▪ Liang pahat
▪ Kolam Alam Kondo Dewata
▪ Batu Sittene
9. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek pendukung:
▪ Agrowisata Bolokan
▪ Hutan Wisata

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 13


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Permandian Air Panas


▪ Rumah Adat
▪ Air terjun Ratte Sarambu
10. Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan; dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Tracking
▪ Sepeda Gunung
▪ Wisata Berkuda
▪ Monumen Ampang Banu’
▪ Atraksi seni budaya
▪ Agrowisata.
11. Kawasan Wisata Alam tondok To Bugi’di Masanda ;dengan objek pendukung:
▪ Panorama Alam
▪ Atraksi Seni Budaya
▪ Air Terjun Sarambu Sengo’
▪ Permandian Air Panas
▪ Batu Tindak Sarira
▪ Sakean
▪ Bulu Pala’
▪ Lando Tekka.
12. Kawasan Wisata Barereng di Kurra dengan objek pendukung :
▪ Rafting/Arung Jeram
▪ Air Terjun
▪ Kolam Pemancingan
▪ Tracking
▪ Panorama
13. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’ dengan objek
pendukung:
▪ Air terjun
▪ Hutan Wisata
▪ Perkemahan
▪ Atraksi seni budaya

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 14


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Kuburan Batu
▪ Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
14. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek
penunjang:
▪ Desa Wisata
▪ Rumah Adat
▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
▪ Benteng To Pada Tindo
▪ Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
▪ Passiliran Kambisa
▪ Kerajinan seni ukir
15. Kawasan Desa Wisata Kete Kesu di Kec. Kete: dengan objek penunjang:
▪ Desa Wisata
▪ Rumah Adat
▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
▪ Goa Alam
▪ Kerajinan seni ukir
16. Kawasan Wisata Batutumonga; dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Tracking
▪ Sepeda Gunung
▪ Wisata Berkuda
▪ Atraksi seni budaya
▪ Agrowisata.
17. Kawasan Wisata Lolai; dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Tracking
▪ Sepeda Gunung
▪ Wisata Berkuda
▪ Atraksi seni budaya
▪ Agrowisata.
▪ Pasar Hewan Bolu; dengan objek pendukung :

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 15


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Pasar Hewan Kerbau


▪ Pasar Hewan babi

2.2.3 Pengembangan Investasi Kawasan Wisata Pegunungan


(Agroindustri Kopi Dan Produk Pertanian Unggulan Lainnya)
Kopi Toraja masuk dalam jajaran lima besar kopi terenak di dunia. Para ahli
meneyepakati bahwa kopi mulai diperkenalkan di Toraja mulai abad 16 oleh para
pedagang dari kerajaan Gowa. Dokumen penguatnya adalah Lontaraq Bilang
(catatan harian kerajaan Gowa), dalam literatur itu diceritakan bahwa orang Gowa
berlayar membawa kopi ke [Link] yang awal mulanya diperkenalkan oleh
para pedagang dari Arab sebagai minuman kekuatan dan penambah vitalitas,
membuat mata tetap terjaga. Untuk membiakkannya dibutuhkan tempat tinggi
dan bersuhu dingin, dan Toraja memenuhi kreteria tersebut.

Terdapat dua jenis dari kopi Toraja yaitu, kopi jenis arabica dan kopi jenis robusta.
Kedua kopi ini memiliki ciri khasnya sendiri dan sama-sama memiliki rasa yang
enak. Kopi Toraja arabica memiliki rasa yang kaya, selain itu kopi jenis ini juga
memiliki rasa yang kuat sehingga banyak orang yang menyukai kopi ini. Semua
kopi mempunyai rasa pahit tersendiri, namun kopi ini memiliki keunggulan di
banding dengan kopi yang lain. Kopi arabica memang juga memiliki rasa pahit,
namun asa pahit yang dimilikinya ini akan cepat hilang seiring kopi yang kita minum
tertenggak.
Kopi Toraja jenis arabica ini merupakan kopi yang berasal dari Indonesia. Kopi ini
sungguh membanggakan Indonesia karena dapat diterima di pasar internasional.
Eksistensinya di kancah luar negeri nampaknya tidak main- main. Hal ini terbukti
dengan masuknya kopi arabica sebagai jejeran tiga besar kopi yang terbaik,
bahkan mayoritas produksi kopi Toraja jenis arabica di ekspor semua ke beberapa
negara peminum kopi seperti: Jepang, Taiwan, Amerika Serikat dan beberapa
negara di Eropa.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 16


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.2.4 Strategi Pengembangan Destinasi Wisata dan Simpul-simpul


Produksi Industri Kreatif dan Agroindustri
Pada Strategi pengembangan kepariwisataan KSPN Toraja, maka ada 2 hal penting
yang harus dilakukan yaitu:
1. Meningkatkan level Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui Pembangunan
bandara baru Buntu Kuni yang mampu menerbangkan wisatawan
Mancanegara dan wisatawan Nusantara langsung dari Bali sebagai darah
transit utama wisman dan daerah daerah lain di indonesia menuju kawasan
pariwisata Toraja, sehingga wisman dan wisnus tidak perlu lagi melakukan
perjalanan darat yang panjang dan melelahkan selama hampir 8 jam dari
Makassar menuju Makale. Selain itu juga menjadikan jalan poros Enrekang-
Makale-Ratenpao-Palopo menjadi jalan dengan status handal dan mampu
mendukung aktivitas trasnportasi wisatawan dengan jumlah besar, yang
terakhir adalah membangun dan memperlebar jalan menuju destinasi wisata
yang saat ini masih kurang mendukung aktivitas wisatawan yaitu dengan lebar
jalan hanya 3 – 3,5 meter, dan masih banyak yang dalam bentuk konstruksi
pemadatan dengan agregat.
2. Harus ada konektifitas antar destinasi wisata satu dengan destinasi wisata
lainnya berupa infrastruktur jalan.
3. Membangun venue dan destinasi wisata di KSPN Toraja menjadi destinasi
wisata berkelas dunia dengan segala macam amenitas dan infratsruktur
pendukung yang mampu memanjakan wisatawan di dalam menikmati daerah
wisata yang di tawarkan.
4. Selain itu juga perlu di bangunnya venue venue baru yang mampu
memperkaya jumlah aktraksi yang di tawarkan kepada wisatawan.
5. Mengajak dunia usaha perhotelan untuk membangun hotel/penginapan/
homestay untuk menanamkan uangnya membangun sarana hotel dan
penginapan bagi wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara.
6. Menyediakan infratsruktur pendukung kepariwisataan seperti sarana toilet
umum, penyediaan air bersih dan suplai listrik yang memadai untuk destinasi
wisata.
7. Secara kewilayahan dan dukungan dengan provinsi sulawesi selatan , maka
perlu di bangun dan kembangkan pelabuhan- pelabuhan yang ada seperti di

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 17


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Mamuju, Pare-pare dan Palopo menjadi Pelabuhan yang mampu menampung


pendaratan kapal- kapal pesiar yang berasal dari destinasi utama wisata baik
di sekitar sulawesi selatan seperti, Wakatobi, pulau selayar, pulau bali,pulau
kalimantan, maupun kapal pesiar yang berasal langsung dari luar negeri,
sehingga para wisman yang mendarat bisa di arahkan untuk menikmati wisata
di KSPN Toraja terlebih dahulu.
8. Usulan pertimbangan akses masuk ke KSPN Toraja memalui Palu (Moda darat
Palu–Pasang Kayu–Toraja Utara) dengan perkiraan waktu tempuh ± 2,5–3
jam.
9. Pengembangan Desa Wisata yang perlu mendapatkan perhatian khusus
seperlu Desa Wisata di Kec. Parupu
10. Pengembangan Event dan Atraksi budaya sebagai daya Tarik pariwisata perlu

dikembangkan, seperti Maraton Tour 2 hari 2 malam di Bulan September.


11. Perlu adanya perhatian pemerintah untuk memelihara keaslian/ originalitas
destinasi wisata baik fisik maupun budaya. (contoh: rumah tongkonan dan
lingkungan sekitarnya.

Gambar 2.3. Peta Strategi Pengembangan Pariwisata KSPN Toraja

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 18


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.2.5 Penetapan Kawasan Inkubasi Kepariwisataan


Penempatan kawasan inkubasi dan anjungan cerdas di wilayah KSPN Toraja seperti
telah dipertimbangkan melalui aspek bisnis dan tantangan yang harus dihadapi
akan diusulkan tersebut yang berjarak kurang lebih 7 km dari Jalan Poros Utama
Makale-Rotenpao dan 500 meter dari Jalan Jalan Poros Utama Makale-Rotenpao,
sehingga aksesibilitas terhadap kedatangan wisatawan serta akses bahan baku dan
terhadap transportasi/pengangkutan hasil produksi menuju kota-kota utama di
Indonesia dan mancanegara menjadi lebih baik. Dalam layout/pra rencana
kawasan inkubasi diusulkan tata letak penempatan setiap bangunan, formasi jalan
akses, jaringan kelistrikan untuk industri pengolahan, pergudangan, posisi
anjungan cerdas yang berfungsi sebagai etalase dari produk–produk yang di
hasilkan oleh industri pengolahan yang ada didalam kawasan inkubasi.
1. Agrotourism Pango Pango; dan
2. Wisata Baru Lolai “Negeri di Atas Awan”;

2.2.6 Penataan Inftastruktur Kota Penunjang Pariwisata di KSPN Toraja


Salah satu yang harus di tata dalam rangka meningkatkan daya tarik wisatawan
baik wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara adalah dengan menata
infrastruktur kota yang nyaman bagi wisatawan. Pada penataan infrastruktur kota
yang di sasar oleh konsultan sebagai upaya untuk menarik wisatawan adalah
dengan membangun sarana pedestrian/pejalan kaki yang indah dan nyaman bagi
wisatawan dan masyarakat di wilayah KSPN Toraja. Konsep yang di pergunakan
adalah konsep Green Infrastruktur.

2.2.7 Pentahapan Pengembangan KSPN Toraja


1. KSPN Toraja dikembangkan berdasarkan tahapan sesuai prioritasnya
ditetapkan tiga tahap pengembangan yaitu:
a. Pengembangan tahun 2018,
b. Pengembangan jangka menengah secara bertahap mulai dari 2018
hingga 2023,
c. Pengembangan jangka Panjang sesuai dengan Ultimate Goals hingga
tahun 2026.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 19


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Untuk tahapan pengembangan tahun 2018 dan pengembangan jangka


menengah diprioritaskan kepada penyiapan infrastruktur pendukung bagi
kegiatan-kegiatan sektor yang akan dilaksanakan di tahun 2017 hingga tahun
2022.
Persiapan-persiapan yang dilakukan pada infrastruktur pendukung, baik PUPR
maupun non PUPR akan disesuaikan dengan urgensinya sehingga dapat
mendukung ultimate goals dan pertumbuhan wilayah 10 tahun kedepan.
2. Berikut tahapan yang akan dilakukan pada tahun 2018 seperti di lihat pada
daftar dan digambarkan pada gambar berikut :
a. Pembangunan Bandara Buntu Kuni,
b. Pembangunan TPA Rantetayo,
c. Pembangunan IPLT Makale,
d. Pembangunan IPLT Rotenpao,
e. Pembangunan 2 buah Spam di KSPN Toraja,
f. Pembangunan 16 Destinasi Wisata di KSPN Toraja,
g. Peningkatan Jalan Poros Enrekang-Makale-Rotenpao-Palopo,
h. Pembangunan Jalan Menuju Bandara Baru Buntu Kuni,
i. Peningkatan Kualitas Jalan ke 16 Destinasi KSPN Toraja di Kab. Tana
Toraja,
j. Peningkatan Jalan Lingkar Pariwisata Kab. Toraja Utara,
k. Pembangunan Smart Traveller Plaza di KSPN Toraja,
l. Pemeliharaan bangunan irigasi di Daerah Irigasi di dalam Lingkup KSPN
Toraja,
m. Pembangunan Trotoar di Pusat Kota Makale,
n. Pembangunan Trotoar di Pusat Kota Rotenpao,
o. Pembangunan TPST 3R di Kawasan Pariwisata KSPN Toraja,
p. Pembangunan SPAM Pedesaan 2-5 Lt/dt Pedesaan

2.2.8 Rencana Infrastruktur Strategis


[Link] Kebutuhan Infrastruktur Pendukung di KSPN Toraja
Pengembangan KSPN Toraja sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional
sedang berkembang diarahkan untuk menjadi destinasi wisata unggulan di

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 20


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Indonesia sejajar dengan daerah lain yang telah maju seperti Bali di samping
pengembangannya untuk mengurangi disparitas serta kesenjangan pertumbuhan
antara Bagian selatan atau kota makasar – Bagian utara (Toraja-Toraja Utara-
Enrekang-Luwu) khususnya juga selain mengembangkan KSPN Toraja dan
sekitarnya juga Mengoptimalkan potensi SDA dan mengolahnya di industri
pengolahan yang direncanakan pada kawasan prioritas. Untuk menjelaskan
tentang kebutuhan infrastruktur di KSPN Toraja berikut diberikan deskripsi
kebutuhan per Kawasan prioritas dan simpul produksi yang diharapkan dapat
terpenuhi atau terlayani pada tahun 2026.

[Link] Kawasan Prioritas Pengembangan di KSPN Toraja


Identifikasi dan analisa terhadap isu, hambatan dan peluang apa saja yang memicu
kebutuhan infrastruktur untuk pengembangan KSPN Toraja, seperti yang ada di
daftar berikut ini:
1. Pengembangan Destinasi Wisata Prioritas, dimana dari hasil analisa dan hasil
FGD dengan para pemangku kepentingan baik di tingkat pemerintah daerah
tingkat 1 dan pemerintah tingkat II serta para pemangku kepentingan lainnya
yang terkait dengan KSPN Toraja, maka di putuskan ada 16
Destinasi/Kawasan Pariwisata Prioritas yang akan di kembangkan pada masa
2018 – 2026
2. Target market Wisman yang masuk menggunakan 3 Pintu Masuk Utama yaitu:
▪ Pintu Masuk Bandara Sultan Hasanudin di Makasar,
▪ Pintu Masuk Bandara Buntu Kuni di Kabupaten Tana Toraja,
▪ Pintu Masuk Bandara Utama di Kabupaten Palu Provinsi Sulawesi Tengah.
3. Pelebaran jalan Poros Nasional Enrekang- makale-Rotenpao-Palopo dari
semua 5 meter menjadi 7 meter akan meningkatkan kehandalan konetivitas
transportasi wisatawan maupun logistik masuk dan keluar KSPN Toraja.
4. Terbukanya lapangan kerja baru untuk 1000 TK per destinasi akibat
operasionalisasi setiap Destinasi yang ada di KSPN Tana Toraja sehingga
secara Total mampu membangkitkan Tenaga Kerja sejumlah 1500 tenaga
kerja sampai tahun 2019.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 21


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5. Target Pengembangan KSPN Toraja yang mencapai 250.000 wisatawan asing,


dan 1 juta wisatawan domestik (Wisatawan Mancanegara di dominasi berasal
dari wisatawan yang berangkat dari provinsi Bali).
6. Pembukaan jalur konektivitas baru dari Wisman yang di arahkan untuk
mendarat di bandara di Kota Palu kemudian melanjutkan dengan jalur Darat
ke Rotenpao yang mempunyai waktu tempuh 2,5 jam perjalanan, melewati
wilayah pegunungan yang asri dan indah.
7. Pembangunan dan pengembangan fasilitas di dalam kawasan atau di destinasi
yang perlu di bangun sebagai destinasi kelas dunia dengan semua fasilitas
pendukung nya seperti jalan akses masuk kawasan destinasi, lahan parkir
yang luas, fasilitas sanitasi yang memadai dan indah serta fasilitas
kepariwisataan lainnya
8. Perkebunan Kopi yang luas yang menghasilkan kopi Toraja khususnya Kopi
Arabika Toraja yang sudah di kenal luas di mancanegara dengan tingkat
produksi mencapai angka 18.000 ton pertahun dimana di kelola baik secara
tradisional maupun modern, yang memerlukan prasarana infrastruktur
pertanian perkebunan yang memadai.
9. Luas nya lahan pertanian padi di wilayah KSPN Toraja baik di wilayah
Kabupaten Tana Toraja maupun Kabupaten Toraja Utara memerlukan
infrastruktur irigasi pertanian yang memadai sehingga kebutuhan air untuk
pertanian bisa di penuhi.
10. Belum tersedia SPAM di 8 Kecamatan di wilayah yang memiliki destinasi
pariwisata prioritas .
11. Kebutuhan Air Baku untuk masyarakat untuk setiap spam kapasitas 10 lps -
20 lps
12. Infrastruktur sanitasi dan air bersih yang masih tidak memadai di kawasan
destinasi wisata sehingga menyebabkan wisatawan enggan untuk kembali
datang (repetitive) ke KSPN Toraja.
13. Kondisi Infrastruktur Jalan Backbone KSPN Toraja yang belum memadai
mendukung aktivitas Industri Pariwisata.
14. Kondisi Sanitasi Masyarakat Pedesaan di wilayah destinasi wisata maupun
desa / lembang di sekitar destinasi wisata yang masih belum baik.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 22


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

15. Sistem TPA eksisiting tidak mampu mendukung penangann timbulan sampah
akibat aktivitas masyarakat dan akibat aktivitas wisatawan, dimana TPA
eksisting masih menggunakan sistem “Open Dumping” dimana kedepannya di
harapakan adanya TPA sanitary Landfill pada sistem Landfill nya dengan luas
masing-masing kabupaten di KSPN Toraja adalah seluas 6 Ha di lengkapi
infrastruktur TPA yang lengkap dengan konsep 3 R.
16. Belum adanya Infrastruktur IPLT guna penanganan Limabh Tinja yang di
akibatkan dari aktivitas masyarakat dan aktivitas wisatawan dimana di masing-
masing kabupaten di rencanakan dalam waktu dekat akan di bangun IPLT
dengan kapasitas 30 M3/hari
17. Masih di buangnya limbah atau kotoran hewan ke sungai, sehingga
memerlukan suatu infrastruktur pengolahan air Limbah ternak dengan
kapasitas + 5 M3/hari, terutama di lokasi pasar Bolu.
18. Normalisasi sungai dimana di fungsikan saat ini sebagai sumber air irigasi dan
sumber air baku masyarakat.
19. Kebutuhan Infrastruktur jalan yang mampu mendukung Distribusi produk kopi
dan produk pertanian serta perkebunan lainnya untuk keperluan eksport
keluar negeri maupun pemenuhan kebutuhan dalam negeri
20. Kebutuhan Infrastruktur Energi Listrik untuk mendukung aktivitas masyarakat
dan aktivitas kepariwisataan sebesar 40-50 MWatt.
21. Kebutuhan Infrastruktur Pelabuhan di Palopo, Mamuju, dan Pelabuhan Pare-
Pare yang mampu mendukung aktivitas kedatangan wisman yang
menggunakan kapal pesiar dan yatch
22. Infrastruktur non PUPR, Perhubungan
a. Untuk melayani trasnportasi laut menuju Kawasan KSPN Toraja,
dibutuhkan dermaga dan fasilitas pendukungnya, Sistim kepelabuhanan
di Palopo, Mamuju dan Pare-Pare digunakan untuk melayani
persinggahan kapal pesiar dengan frekwensi sekitar 2 kapal/hari, dengan
draft Depth antara 8 – 15 meter
b. Untuk melayani kunjungan wisatawan melalui udara dibutuhkan Bandar
udara yang dapat menampung pesawat jet komersial sekelas Boeing atau
Airbus dengan panjang landasan 2000 m - 2200 m , program ini telah

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 23


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dibuat oleh Kementrian Perhubungan melaluiDirektorat Jenderal


Perhubungan Udara .
c. Rencana Pembangunan Terminal Type B di Ratenpao yang di harapkan
mampu menampung aktivitas transportasi penumpang wisatawan
maupun masyarakat yang menggunakan moda darat dari daerah selatan
KSPN Toraja menuju KSPN Toraja
d. Infrastruktur non PUPR: Ketenaga Listrikan
e. Kebutuhan untuk kawasan pariwisata disekitarnya termasuk masyarakat
pada tahun 2019 diperkirakan sekitar 50 Mw dan diharapkan dapat
dipasok dari PLTD Makale yang saat ini telah beroperasi dengan kapasitas
produksi 25 Mw, dan suplay dari beberapa power plant On Grid maupun
Off Grid yang rencana akan di bangun sampai tahun 2019
f. Infrastruktur non PUPR: Telekomunikasi merupakan prasarana yang vital
di sebuah Kawasan wisata integratif seperti KSPN Toraja, Kebutuhan
untuk kawasan pariwisata disekitarnya pembangunan infrastruktur
telekomunikasi dengan jaringan fiber optic (8 core), dimana
infrastrukturnya nantinya akan disiapkan Operator Telekomunikasi seperti
PT. Telkom, PT. Telkomsel, PT. Indosat.

[Link] Arahan Pengembangan Infrastruktur PUPR Berdasar Kebijakan


Spasial
1. Rencana Pengembangan Tingkat Nasional
KebijakanPengembangan Infrastruktur PUPR didasarkan atas:
▪ Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional 2008-2028;
▪ Rencana Strategis Kementerian PUPR tahun 2015-2019;
Seluruh Kebijakan yang tertuang didalam rencana-rencana tersebut yang
berkaitan dengan wilayah pengembangan Strategis KSPN Toraja merupakan
arahan bagi pengembangan pengembangan KSPN Toraja.
a. Kebijakan Berdasarkan RTRWN
Di dalam Pasal 5 PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional disebutkan kebijakan yang terkait dengan Struktur
Ruang Nasional.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 24


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan


ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki; dan
▪ Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana
transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu
dan merata di seluruh wilayah nasional.
Kebijakan Berdasarkan Rencana Strategis Kementerian PUPR tahun 2015-
2019. Tema besar pengembangan wilayah Pulau Jawa adalah:
▪ Sebagai lumbung pangan nasional;
▪ Sebagai salah satu pintu gerbang destinasi wisata terbaik dunia;

b. Rencana Pengembangan Tingkat Provinsi


Strategi pengembangan infrastruktur tingkat Provinsi diuraikan menurut
Provinsi Sulawesi Selatan:
1) Rencana Pengenbangan Provinsi Sulawesi Selatan
Terkait dengan pengembangan infrastruktur di KSPN Toraja di
wilayah provinsi sulawesi selatan, Strategi untuk peningkatan kualitas
pelayanan dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi,
energi, telekomunikasi, sumber daya air yang merata di seluruh
wilayah Provinsi Sulawesi Selatan meliputi:
▪ meningkatkan jaringan prasarana transportasi dan keterpaduan
pelayanan transportasi darat, laut, dan udara;
▪ meningkatkan jaringan energi listrik dengan pengembangan
pembangkit tenaga listrik melalui memanfaatkan sumber energi
terbarukan dan tidak terbarukan secara optimal;
▪ mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan jaringan
energi/kelistrikan termasuk jaringan pipa dan kabel dasar laut;
▪ mengembangkan prasarana telekomunikasi yang dapat
menjangkau seluruh wilayah;
▪ meningkatkan kuantitas dan kualitas jaringan prasarana serta
mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumber daya air.
▪ mewujudkan interaksi infrastruktur jaringan transportasi (jalan
dan kereta api) di Provinsi Sulawesi Selatan yang nyaman sesuai
ketentuan teknis, dan terhubung dengan sistem jaringan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 25


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

prasarana wilayah provinsi/kabupaten/kota dan simpul


transportasi antar moda di Kota Makasar, Pare-Pare dan kota yang
emndukung konektivitas KSPN Toraja. melalui pembangunan
jaringan jalan nasional yang handal; dan Kebijakan
pengembangan kawasan pariwisata, diarahkan pada kawasan
yang memiliki objek dengan daya tarik wisata dengan mendukung
upaya pelestarian budaya, keindahan alam dan lingkungan.
Pengembangan kawasan pariwisata di Sulawesi Selatan meliputi
pengembangan kawasan pariwisata alam (TWA) yang
mengandalkan potensi dan kekayaan alam diarahkan pada TWA
yang berada di kabupaten Luwu Timur, Gowa, Bone, Soppeng,
Pangkep, Kepulauan Selayar, Maros, Takalar, Jeneponto, Wajo,
Enrekang, Tana Toraja, Sinjai, dan Kota Palopo serta Kota
Makassar, pengembangan pariwisata budaya dan sejarah (TWB)
yang mengandalkan kekayaan alam, adat, sejarah dan budaya
pada kawasan permukiman dan perdesaan tradisional maupun
kawasan peninggalan kerajaan, serta situs peninggalan sejarah
diarahkan pada kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara, Sinjai,
Bone, Bulukumba, Gowa, Bulukumba serta Kota Makassar dan
Kota Palopo. Pengembangan kawasan pariwisata dilakukan
dengan menunjuk pada peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2011
Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional
(RIPARNAS) yang telah menetepkan Daerah Pariwisata Nasional
(DPN) Makassar-Takabonerate dan sekitarnyakemudian DPN
Toraja-Lorelindu dan sekitarnya yang telah meliputi 7 Kawasan
Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) yaitu: Maros (karst),
Kota Makassar, Sengkang, Sinjai, Bulukumba, Selayar, dan Palopo
dan 2 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yaitu: Toraja
dan Takabonerate.
▪ Strategi pengembangan struktur ruang nasional diarahkan untuk
meningkatkan kualitas dan jangakuan pelayanan jaringan
prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 26


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

air yang terpadu dan merata diseluruh wilayah nasional. Sebagai


upaya mewujudkan strategi pengembangan wilayah nasional,
Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Pulau Sulawesi yang
mengemban peran sebagai lumbung pangan nasional, pusat
pegembangan ekonomi kelautan dan pusat pertambangan mineral
dan panas bumi didukung oleh keberadaan jaringan jalan arteri
primer, jaringan jalan kolektor primer, jaringan jalan bebas
hambatan, rencana pembangunan jaringan jalur kereta api antar
kota lintas Pulau Sulawesi dan jaringan penyeberangan lintas
antar provinsi di dalam wilayah Pulau Sulawesi. Jaringan
transportasi di Provinsi Sulawesi Selatan juga didukung oleh
jaringan transportasi laut, jaringan energy guna mendukung
pengembangan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan meliputi
pengembangan depo bahan bakar minyak/gas bumi dan jaringan
pipa gas dan minyak bumi, dan system jaringan energy yang
handal. Pengembangan jaringan telekomunikasi di Sulawesi
Selatan berupa jaringan terrestrial, dan pengembangan jaringan
mikro analog dan digital.
2) Rencana Pengembangan Tingkat Kabupaten di Kabupaten Tana
Toraja
Strategi pengembangan infrastruktur:
▪ Program pengembangan sistem penanganan jalan dan jembatan
▪ Program pembangunan kawasan destinasi pariwisata dan wisata
alam
▪ Program pembangunan infrastruktur perdesaan, sentra produksi
dan pertumbuhan wilayah
▪ Program peningkatan fasilitas sarana pemerintahan dan umum
▪ Program perencanaan tata ruang dan kawasan
▪ Program pemetaan dan pemanfaatan ruang dan pengelolaan areal
pemakaman
▪ Program peningkatan fasilitas keselamatan transportasi,
▪ Program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan,

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 27


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Program pengembangan promosi dan pemasaran pariwisata,


▪ Program pengembangan informasi dan komunikasi,
▪ Program pelestarian dan penelusuran nilai budaya dan situs-situs
budaya,
▪ Program pengembangan kerjasama/kemitraan pariwisata,
▪ Program peningkatan kesiagaan mitigasi, penanggulangan
bencana alam dan tanggap darurat,
▪ Program lingkungan sehat perumahan dan permukiman,
▪ Program peningkatan pelayanan angkutan,
▪ Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja,
▪ Program peningkatan penyediaan fasilitas sarana olahraga,
▪ Program pengelolaan areal sarana umum,
▪ Program peningkatan kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah
dan ruang terbuka hijau,
▪ Program peningkatan pasar tradisional, pasar modern dan pasar
hewan,
▪ Program peningkatan penyediaan fasilitas ketenaga listrikan dan
telekomunikasi,
▪ Program pemeliharaan dan penanganan darurat,
▪ Program pengembangan pengelolaan air baku, air bersih dan air
limbah,
▪ Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam,
▪ Program pengembangan kinerja pengelolaan persampahan,
▪ Program perencanaan pengembangan wilayah,
▪ Program pengembangan agrowisata, wisata alam, air terjun, arum
jeram dan wisata alam lainnya,
▪ Program pembangunan kawasan destinasi pariwisata,
▪ Program pengembangan kerjasama/ kemitraan pariwisata,
▪ Program pembangunan jembatan beton, rangka beton, jembatan
gantung dan jembatan darurat sepanjang 500 m,
▪ Program pemeliharaan infrastruktur,
▪ Program revitalisasi permukiman dan perumahan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 28


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

c. DukunganTerhadap Kawasan Hinterland


Sesuai dengan usulan pada ultimate goals KSPN Toraja bawa
pengembangan pertanian dan perkebunan di kabupaten Tana Toraja dan
Kabupaten Toraja Utara di sentra-sentra pertanian dan perkebunan
terutama produk padi , palawija dan produk perkebunan kopi arabika dan
robusta adalah untuk mendukung program ketahanan pangan Republik
Indonesia, perlu dilakukan studi lebih lanjut terhadap kelayakannya.
Meskipun sekarang telah banyak lahan-lahan persawahan yang
terkonsentrasi di bagian utara kabupaten- kabupaten itu, juga
perkebunan dan peternakan untuk meningkatkan ketahanan pangan
maka potensi kabupaten yang saat ini masih belum dikembangkan secara
optimal perlu dipacu serta ditingkatkan dari sisi kualitas kuantitas dan juga
manajemen yang baik. Pemerintah juga harus mempersiapkan
infrastruktur pendukung berupa saluran irigasi, jaringan jalan pedesaan
serta pasokan listrik yang cukup dan ini juga harus dihitung berdasarkan
studi kelayakan dan nilai keekonomisan kegiatan integrated farming
tersebut. Untuk Provinsi banten ada 6 bendung yang dimanfaatkan untuk
pengembangan pertanian dan perkebunan, yaitu:
▪ Bendung Tebang Kab. Tanatoraja Kapasitas 273 M3,
▪ Bendung Nonongan Kab. Tana Toraja Kapasitas 231 M3,
▪ Bendung Tawai Kab. Tanatoraja Kapasitas 231 M3,
▪ Bendung Saluratte Kab. Tanatoraja Kapasitas 303 M3,
▪ Bendung Waedalle Kab. Tanatoraja Kapasitas 55 M3,
▪ Bendung Batualang Kab. Tana Toraja Kapasitas 135 M3.

Konsep rencana pembangunan pengelolaan sumber daya air WS, yaitu :


▪ Melakukan konservasi vegetatif di lahan kritis yang luasnya mencapai
6.517 km²;
▪ Pembangunan check dam dan prasarana pengendali sedimen untuk
perlindugan kawasan permukiman, sawah, dan kebun di seluruh DAS
di WS Saddang terutama di Sungai Lancirang, Sungai Lampoko, Sungai
Tabo- Tabo;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 29


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Melakukan pembangunan bangunan pengendali sedimen di bagian


hulu dan tengah Sungai Lancirang, Lampoko, dan Tabo-Tabo;
▪ Menyusun Peraturan Daerah pada sungai-sungai strategis terutama di
perkotaan dan penetapan Peraturan Daerah tentang batas dan
peruntukan sempadan sungai dan waduk;
▪ Melakukan upaya penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran
ileggal logging di kawasan konservasi;
▪ Pembangunan bendungan, bendung, waduk, embung, dan check dam
diseluruh WS Saddang. Prioritas utama adalah Bendungan Buttu Batu
(Bendungan Saddang) yang memiliki potensi irigasi sebesar 63.000 ha.
Bendungan ini direncanakan memiliki potensi listrik sebesar 90 MW
▪ Pembangunan bendungan yang difungsikan sebagai PLTA yaitu
Bakkaru, Bendungan Poko, Bendungan Malea, dan Bendungan Bojo;
▪ Pembangunan jaringan irigasi permukaan di WS Saddang terutama di
DI Saddang seluas 60% dari potensi luasannya.
▪ Pengembangan jaringan irigasi DI Banteng dan DI Tabo-Tabo.
▪ Melakukan O & P, rehablitasi, upgrading prasarana irigasi baik bendung
dan jaringannya yaitu DI Matajang, DI Talung, DI Saddang, DI Kalola
Kalosi, DI Tabo-Tabo, DI Rajang. Melalui rehabilitasi diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas DI sebesar 70% selama 20 tahun
mendatang;
▪ Melakukan O & P, rehabilitasi, upgrading prasarana air baku untuk air
minum dan jaringan distribusi air minum untuk suplai kebutuhan
Kabupaten Enrekang, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Pinrang,
Kabupaten Sidrap, Kota Pare-Pare;
▪ Pembangunan check-dam dan prasarana pengendali sedimen untuk
perlindugan kawasan permukiman, sawah, dan kebun di seluruh DAS
di WS Saddang terutama di Sungai Lancirang, Sungai Lampoko, Sungai
Tabo- Tabo;
▪ Normalisasi Sungai Saddang dan Sungai Mataallo;
▪ Pembangunan prasarana pelindung pantai diseluruh DAS di WS
Saddang terutama Pantai Pallameang, Pantai Bojo, Pantai Lero, Pantai

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 30


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Suppa, Pantai Pangkep, Pantai Watuwoe, Pantai Barru, Pantai


Lapakaka, Pantai Wiringtasi, Pantai Cilellang, yang dimulai dalam
jangka pendek;
▪ Pembangunan prasarana pengendali banjir diseluruh DAS di WS
Saddang terutama pembuatan tanggul dan perkuatan tebing di Sungai
Saddang, Sungai Bottoe, Sungai Kiru-Kiru, Sungai Saddang Hulu,
Sungai Pangkajene, Sungai Ala Karajae, Sungai Saddang Hilir, Sungai
Balusu;
▪ Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dalam kegiatan
pemeliharaan jaringan irigasi;
▪ Peningkatan Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) dan
kemampuan tenaga Sumber Daya Manusia.

[Link] Strategi Pengembangan Infrastruktur Non PUPR


1. Rencana Induk Perkereta Apian Nasional
Salah satu strategi konektivitas KSPN Toraja adalah memanfaatkan
keberadaan dan rencana pembangunan jaringan kereta Api Trans Sulawesi
yang saat ini baru sampai kota Pare-pare dimana Strategi pengembangan
perkeretaapian nasional terdiri dari 6 (enam) strategi yaitu:
▪ Strategi pengembangan jaringan dan layanan perkeretaapian;
▪ Strategi peningkatan keamanan dan keselamatan perkeretaapian;
▪ Strategi Alih Teknologi dan Pengembangan Industri;
▪ Strategi Pengembangan sumber daya manusia perkeretaapian;
▪ Strategi Pengembangan Kelembagaan; dan
▪ Strategi Investasi dan Pendanaan.
Investasi (Trilyun
Program Jarak (KM) Periode
Rp)
Makassar-Pare-Pare 128 3,84 2016-2020
Makassar-Takalar-Bulukumba 128 3,84 2021-2025
Manado-Bitung 48 1,44 2021-2025
Makassar 160 4,8 2016-2019
Manado 150 4,5 2021-2024
Pel. Bitung (Sulut) - - 2016-2019
Pel. Makassar (Sulsel) - - 2021-2024

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 31


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Strategi yang terkait dengan penyediaan infrastruktur perkeretaapian adalah


strategi yang pertama “Strategi pengembangan jaringan dan layanan
perkeretaapian”. Strategi pengembangan jaringan untuk Pulau Sulawesi
difokuskan pada jaringan kereta api antar kota yang memiliki pelabuhan dan
yang merupakan koridor logistik untuk mendukung layanan angkutan
penumpang dan barang. Untuk mencapai sasaran pengembangan jaringan dan
layanan perkeretaapian akan ditempuh kebijakan-kebijakan seperti :
▪ Meningkatkan kualitas pelayanan, keamanan dan keselamatan
perkeretaapian;
▪ Meningkatkan peran kereta api perkotaan dan kereta api antar kota;
▪ Mengintegrasikan layanan kereta api dengan moda lain dengan
membangun akses menuju bandara,pelabuhan dan kawasan industri; dan
kawasan Pariwisata strategis;
▪ Meningkatkan keterjangkauan (aksesibilitas)masyarakat terhadap
layanan kereta api melalui mekanisme kewajiban pelayanan publik
(publicservices obligation).
Dalam kaitannya dengan pengembangan KSPN Toraja maka peran dari
infrastruktur perkereta apian dapat diusulkan sebagai alternatif untuk
mendukung transportasi baik manusia maupun barang dari dan menuju
kawasan-kawasan strategis yang diusulkan dalam ultimate KSPN Toraja ini.
Pengembangan dan Pemantapan Jaringan Kereta Api untuk mendukung
kebutuhan pengembangan WPS 9 yang diusulkan dalam sinkronisasi program
berdasarkan RTRW Provinsi,jaringan rel kereta api Bagian strategi Konektivitas
KSPN Toraja adalah pengembangan Track Makasar – Pare- Pare, Terkait
dengan KSPN Toraja , terutama pada kawasan-kawasan simpul produksi dan
simpul pariwisata yang ditetapkan pada ultimate goals, pelayanan jaringan
kereta api diusukan dibangun untuk melayani; Kawasan Pariwisata dan Produk
komoditas unggulan seperti Padi, Kopi dan hasil peternakan dimana jalur
kereta api itu harus dapat terkoneksi dengan stasiun pusat di pare pare
menggunakan moda darat dengan kendaraan trucking dan bus dan kemudian
di lanjutkan dengan kereta api ke kota kota besar yang di lintasi oleh jalur
trans Sulawesi.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 32


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Rencana Induk Ketenaga Listrikan Nasional


▪ Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani
Pertumbuhan Kebutuhan Tenaga Listrik.
▪ Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit
Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk
memenuhi pertumbuhan beban yang direncanakan, dan pada beberapa
wilayah tertentudiutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga
listrik. Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk
meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan, dengan mengutamakan
pemanfaatan sumber energi setempat, terutama energi terbarukan. Untuk
sistem kelistrikan sulawesi, PLN telah merencanakan beberapa pembangunan
pembangkit listrik baru. Di bawah ini beberapa power plant eksisting maupun
rencana yang masuk kedalam grid listrik nasional di provinsi sulawesi selatan
khususnya yang terkait dengan kabupaten toraja,kabupaten Toraja Utara,
Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Luwu, dimana terdiri dari :
▪ PLTP Bittuang, dan Sangalla PLTM Kadundung : SUTT
▪ PLTA Buntu Batu PLTP Sulili : SUTT
▪ PLTM Batu Sitanduk, Rante Bala : SUTT
▪ PLTP Parara : SUT
▪ PLTD Makale
Dalam rangka pengembangan kapasitas pembangkit yang akan mendukung
KSPN Toraja Ke LIMA Pembangkit Listrik ini direncanakan untuk mendukung
pasokan listrik grid Sulawesi khusunya Sulawesi Selatan dan dimasukkan
dalam sistim interkoneksi Sulawesi.
3. Rencana Strategis Kementerian Perhubungan
Arahan strategis dan kebijakan Kementerian Perhubungan yang terkait
dengan strategi konektivitas KSPN Toraja adalah pembangunan Pelabuhan
Samudera Pare Pare dan Pembangunan Pelabuhan Nasional Mamuju dan
Pelabuhan Palopo. Sedangkan untuk sektor perhubungan laut untuk wilayah
selatan difokuskan kepada peningkatan layanan, baik pelabuhan dan jumlah
kapal yang melintasinya. Strategi Kementerian Perhubungan diuraikan sebagai
berikut:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 33


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Melakukan upaya keseimbangan antara transportasi yang berorientasi


nasional dengan transportasi yang berorientasi lokal dan kewilayahan;
▪ Membangun sistem dan jaringan transportasi yang terintegrasi untuk
mendukung investasi pada Koridor Ekonomi, Kawasan Industri Khusus,
Kompleks Industri, dan pusat-pusat pertumbuhan lainnya di wilayah
nonkoridor ekonomi.

[Link] Rencana Strategis Infrastruktur KSPN Toraja


1. Peningkatan Kualitas Permukiman Perkotaan
Pembangunan pemukiman perkotaan lebih cepat dibanding di pedesaan yang
merupakan kosentrasi penduduk suatu wilayah yang berperan sebagai pusat
pelayanaan dan pusat pemasaran bagi wilayah yang dipengaruhinya, secara
fisik cenderung berkembang ke daerah pinggiran kota yang sangat
dipengaruhi adanya kegiatan ekonomi, kondisi wilayah dan fungsi kawasan
yang demikian seperti aktivitas perdagangan industri dan transportasi.
Masalah kawasan kumuh perkotaan (kota Makale) belum tertangani dengan
baik, baru sebagian kecil melalui Program P2KP. Sedangkan pembangunan
pemukiman pedesaan ditangani secara stimulan melalui program
pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP) program pengembangan
kecamatan (PPK) / PNPM Mandiri pedesaan serta Program PAMSIMAS. Dalam
perkembangannya diperhadapkan berbagai masalah sosial seperti timbulnya
kawasan kumuh, air bersih, dan kebutuhan prasarana dan sarana lingkungan
lainnya Program yang dianjurkan untuk Peningkatan Kualitas Lingkungan
Perkotaan pada kawasan- kawasan kumuh ini adalah RTBL Kawasan
Perkotaan, SPPIP Kabupaten yang dilanjutkan dengan RPKPP. Sehingga dapat
diketahui berapa kebutuhan infrastruktur yang akan diperbaiki atau dibuat
khususnya drainase, air limbah, air bersih, sanitasi dan jalan- lingkungan.
2. Keterpaduan Infrastruktur PUPR dan Non PUPR dengan Sektoral dan Daerah
Setiap adanya kegiatan pembangunan di kabupaten/kota tentu juga
berdampak terhadap kebtuhan infrastruktur baik PUPR maupun non PUPR,
keterpaduan disini untuk melihat apakah ada sinkronisasi program ke- PUPR-
an dan non PUPR yang berdampak terhadap kabupaten/ kota yang dituju.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 34


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Konektivitas antara kegiatan di KSPN Toraja. Pada simpul-simpul


pertumbuhan di kspn Toraja ini akan di usulkan sistim konektivitas antar
kawasan dan simpul kegiatan
▪ Sistim Permukiman pada kawasan perkotaan dan pedesaan
▪ Persebaran kegiatan pada simpul Industri, Pariwisata, Perikanan
Pertambangan Pertanian, perkebunan dan Peternakan
▪ Kesiapan infrastruktur PUPR dan Non PUPR sebagai pelayanan antar
kawasan.

2.2.9 Anjungan Cerdas KSPN Toraja


[Link] Konsep Pengembangan Anjungan Cerdas
Konsep pengembangan Anjungan Cerdas pada Kawasan Strategis Pariwisata
yang ada di beberapa lokasi di Backbone Jalan Nasional di Masing-Masing
Kawasan Strategis Pariwisata baaik itu KSPN Toraja mempunyai konsep
Pengelolaan “ Rest Area” Berbasis Komunitas dengan Tema Industri
Kepariwisataan dan Industri Kreatif”
Berangkat dari pikiran tersebut terciptalah sebuah pra desain Anjungan
Cerdas yang menggambarkan suatu fasilitas yang menyediakan tempat
beristirahat yang nyaman dan layanan berkualitas lainnya bagi pengguna
jalan dengan melibatkan peran serta masyarakat/komunitas lokal dengan
tujuan untuk memberikan kontribusi terhadap keselamatan dan
kenyamanan di jalan serta mempromosikan produk-produk dan aktivitas
[Link]-syarat pembangunan Anjungan Cerdas antara lain:
1. Lokasi terdapat di tepi jalan raya dan mudah di akses oleh pengguna
jalan;
2. Keindahan Gardu pandang merupakan hal yang penting menjadi
perhatian di dalam pengembangan Anjungan Cerdas dimasing-masing
KSPN;
3. Pelayanan meliputi tempat parkir, toilet, telepon umum, ruang
informasi;
4. Konfigurasi layout dari anjungan cerdas yang coba di desain antara lain
terdapat tempat parkir yang luas yang bisa digunakan pengendara

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 35


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

secara gratis, toilet yang bersih, ruang informasi yang menyediakan


mengenai informasi lalu lintas dan komunitas serta fasilitas penunjang
seperti restoran, mini market yang menyediakan produk-produk lokal
seperti produk pertanian, kerajinan dan lain-lain yang di operasikan oleh
masyarakat/komunitas lokal;
5. Penanggung jawab fasilitas yang dioperasikan oleh komunitas adalah
pemerintah daerah atau lembaga kemasyarakatan;
6. Pertimbangan pendirian Anjungan Cerdas adalah tersediannya akses
yang mudah baik oleh anak-anak, orang dewasa, orang tua maupun
difable serta memperhatikan tata ruang setempat.
7. Toko yang menjual produk-produk lokal Setiap operator anjungan
cerdas wajib memenuhi standar berikut untuk memastikan pemberian
pelayanan yang berkualitas tinggi bagi penggunanya:
8. Perawatan fasilitas secara keseluruhan, misalnya adalah toilet harus
selalu bersih dan dapat digunakan secara aman dan nyaman;
9. Membantu pemerintah dalam hal mengumpulkan dan menyebarkan
informasi lalu lintas;
10. Mendidik dan melatih staff humas dengan tujuan meningkatkan kualitas
informasi yang ditawarkan;
11. Membuat kolaborasi yang saling menguntungkan untuk meningkatkan
fungsi dan fasilitas Michino-eki secara keseluruhan. Produk pertanian
/perikanan /kerajinan/ produk kreatif masyarakat setempat.

Anjungan cerdas yang di usulkan memiliki konsep pengelolaandengan bentuk


kerjasama pemerintah dengan swasta dimana masyarakat/komunitas lokal dapat
berperan secara independen dalam pengelolaannya khususnya didaerah pinggiran
dan perdesaan yang dilalui oleh jalan raya. Peran masyarakat antara lain dalam
penyediaan layanan seperti restoran, stan yang menjual produk-produk lokal
seperti produk pertanian, makanan tradisional, barang-barang kerajinan, barang
kebutuhan pengendara selama dalam perjalanan dan lain-lain.

Hal ini berarti bahwa Anjungan Cerdas yang diusulkan pembangunannnya


sepanjang Backbone KSPN Masing-masing Lokasi akan memberikan pengendara
suatu pengalaman unik dan berciri khas lokal selama beristirahat, sementara disisi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 36


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

lain masyarakat lokal mendapatkan keuntungan komersial melalui penjualan


produk.

Dikarenakan Tema Anjungan Cerdas dimaksudkan untuk kawasan wisata, maka


harus di buat semenarik dan senyaman mungkin bagi wisatawan sehingga
dibangun dengan investasi yang cukup besar dibandingkan dengan pembangunan
rest area secara konvensional dan melibatkan peran serta aktif dari masyarakat
setempat, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan dan
pengetahuan masyarakat lokal, sehingga diharapkan tujuan pemberdayaan
masyarakat lokal dan penciptaan lapangan kerja baru dapat terwujud.

Suatu fasilitas dikatakan sebagai Anjungan Cerdas bilamana memenuhi prinsip-


prinsip sebagai berikut:
1. Pemberdayaan masyarakat.
Anjungan Cerdas memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk
berpartisipasi dalam kegiatan usaha dan pelayanan;
2. Fungsi Inkubasi.
Anjungan Cerdas menyediakan wahana pembinaan, pengembangan dan
dukungan kemitraan untuk percepatan pertumbuhan ekonomi dan pariwisata;
3. Pertukaran Informasi, Pengetahuan dan Komoditas.
Anjungan Cerdas menyediakan informasi infrastruktur dan sarana promosi
bagi komoditas dan budaya lokal, yang didukung oleh fasilitas Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK).
4. Keselamatan Pengguna Jalan.
Anjungan Cerdas meningkatkan keselamatan pengguna jalan dengan
menyediakan fasilitas tempat istirahat.

Anjungan Cerdas menyediakan fungsi-fungsi sebagai berikut :


1. Tempat istirahat untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan nasional
yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas layanan;
2. Gardu pandang pada berbagai infrastruktur PUPR berestetika tinggi dan
keindahan lingkungan fisik sekitar;
3. Sarana pengenalan dan pemasaran berbagai produksi dan budaya lokal
kepada pengguna jalan nasional;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 37


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4. Pusat informasi berbagai Produk dan Potensi daerahdi sekitar lokasi;


5. Pusat informasi infrastruktur PUPR terutama di sekitar lokasi;
6. Area inkubasi untuk destinasi wisata baru, secara mandiri maupun sebagai
bagian dari destinasi utama;
7. Pusat informasi cerdas, dengan penyediaanfasilitas wifi, informasi lalu lintas,
informasi infrastruktur PUPR.

[Link] Pengelolaan Anjungan Cerdas


Tahap awal dalam pengelolaan Anjungan Cerdas adalah pembentukan
lembaga pengelola. Lembaga Pengelola Anjungan Cerdas dapat dikelola
oleh:
1. Pemerintah Pusat maupun Daerah
Lembaga Pengelola Anjungan Cerdas yang dikelola oleh Pemerintah
Pusat atau Daerah dapat berbentuk:
▪ Badan Layanan Umum (BLU), ketentuan pengelolaan Anjungan
Cerdas oleh BLU merujuk kepada PP No. 23 Tahun 2005 tentang
Badan Layanan Umum.
▪ BLU adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan
barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari
keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada
prinsip efisiensi dan produktivitas. Pengelolaan Keuangan BLU
mengikuti Pola Pengelolaan Keuangan BLU (PPK−BLU) yaitu pola
pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa
keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat
untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini, sebagai
pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan negara pada
umumnya. Pendapatan BLU bersumber dari:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 38


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ APBN atau APBD;


▪ Pendapatan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan
kepada masyarakat dan hibah tidak terikat yang diperoleh dari
masyarakat atau badan lain merupakan pendapatan operasional
BLU; dan
▪ Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha
lainnya merupakan pendapatan bagi BLU.
2. Pemerintah Bekerja sama dengan Badan Usaha yaitu Kerjasama
Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dalam penyediaan Infrastruktur,
ketentuan pengelolaan Anjungan
Cerdas dalam bentuk KPBU ini merujuk kepada PerPres RI No. 38 Tahun 2015
tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dalam
Penyediaan Infrastruktur. Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha
yang selanjutnya disebut sebagai KPBU adalah kerjasama antara
pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur untuk
kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah
ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala
Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang
sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha
dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak. Badan
Usaha adalah Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah,
badan usaha swasta yang berbentuk Perseroan Terbatas, badan hukum
asing, atau koperasi. KPBU dilakukan berdasarkan prinsip:
▪ Kemitraan, yakni kerjasama antara pemerintah dengan Badan
Usaha dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan persyaratan yang mempertimbangkan kebutuhan
kedua belah pihak;
▪ Kemanfaatan, yakni Penyediaan Infrastruktur yang dilakukan oleh
pemerintah dengan Badan Usaha untuk memberikan manfaat sosial
dan ekonomi bagi masyarakat;
▪ Bersaing, yakni pengadaan mitra kerjasama Badan Usaha dilakukan
melalui tahapan pemilihan yang adil, terbuka, dan transparan, serta

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 39


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

memperhatikan prinsip persaingan usaha yang sehat;


▪ Pengendalian dan pengelolaan risiko, yakni kerja sama Penyediaan
Infrastruktur dilakukan dengan penilaian risiko, pengembangan
strategi pengelolaan, dan mitigasi terhadap risiko;
▪ Efektif, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur mampu
mempercepat pembangunan sekaligus meningkatkan kualitas
pelayanan pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur; dan
▪ Efisien, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur mencukupi
kebutuhan pendanaan secara berkelanjutan dalam penyediaan
Infrastruktur melalui dengan dana swasta.

2.3 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM


PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN PROVINSI SULAWESI SELATAN
RIPPARPROV dan RIPPARKAB/KOTA adalah pedoman utama bagi perencanaan,
pengelolaan, dan pengendalian pembangunan kepariwisataan di tingkat provinsi
dan kabupaten/kota yang berisi visi, misi, tujuan, kebijakan, strategi, rencana, dan
program yang perlu dilakukan oleh para pemangku kepentingan dalam
pembangunan kepariwisataan. Oleh karena itu, pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja tidak terlepas dari kebijakan kepariwisataan pada tingkat
nasional dan Provinsi Sulawesi Selatan, yang didalamnya mengemban perwujudan
tujuan pembangunan kepariwisataan secara berhirarki.

Kontribusi sektor Pariwisata Sulawesi Selatan dalam Pembangunan ekonomi


daerah sebagai salah instrumen peningkatan perolehan pendapatan asli daerah
yang signifikan. Perolehan devisa dari kehadiran wisatawan mancanegara ke
Sulawesi Selatan dalam beberapa tahun terakhir ini juga turut memberikan
konstribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat.

Sementara itu, dari perspektif pembangunan sumber daya manusia, Pariwisata


mempunyai potensi untuk dijadikan instrumen dalam meningkatkan kualitas hidup
masyarakat, khususnya penduduk sekitar Destinasi Pariwisata. Dengan demikian,
Pariwisata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan saja
kesejahteraan material dan spiritual, tetapi juga sekaligus meningkatkan
kesejahteraan kultural dan intelektual. Ditilik dari perspektif bangsa yang lebih

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 40


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

luas, Pariwisata mempunyai potensi yang jauh lebih besar dan juga lebih mulia,
yaitu dapat meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia dan antarbangsa
sehingga terjalin saling pengertian yang lebih baik, sikap saling menghargai,
persahabatan, solidaritas, bahkan perdamaian.

RIPPARDA diperlukan sebagai acuan operasional pembangunan Pariwisata bagi


pelaku Pariwisata dan pelaku ekonomi, sosial dan budaya, baik di provinsi maupun

kabupaten/kota, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan


pembangunan kepariwisataan daerah. RIPPARDA menjadi sangat penting, karena:
1. Menjadi pedoman untuk arah pengembangan yang tepat terhadap potensi
Kepariwisataan dari sisi produk, pasar, spasial, sumber daya manusia,
manajemen, dan sebagainya sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara
positif dan berkelanjutan bagi pengembangan wilayah dan kesejahteraan
masyarakat.
2. Mengatur peran serta setiap stakeholders terkait baik lintas sektor, lintas
pelaku, maupun lintas daerah/wilayah agar dapat mendorong pengembangan
Pariwisata secara terpadu dan sinergis.

2.3.1 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan Provinsi


Sulawesi Selatan
1. Kebijakan
d. Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan
antarbangsa;
e. Mengembangkan tata nilai kehidupan dan budaya daerah sebagai bentuk
kearifan lokal;
f. Memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam;
g. Mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan Pendapatan Asli
Daerah; dan
h. Memelihara keamanan, ketertiban, dan ketenteraman.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 41


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Strategi
Strategi RIPPARDA sebagai berikut:
a. Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran
penting pariwisata dalam peningkatan kualitas kehidupan bangsa dalam
memasuki era globalisasi;
b. Mendorong partisipasi aktif masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan
dalam rangka peningkatan pendapatan yang berimplikasi positif pada
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah dan kontribusi sektor Pariwisata
terhadap pembangunan Daerah dan nasional;
c. Menjaga dan mengembangkan budaya lokal yang beraneka ragam
sebagai aset wisata Daerah, sesuai dengan tata nilai dan kelembagaan
yang secara turun temurun dipraktikkan dan dipelihara;
d. Meningkatkan kualitas produk, sumber daya pariwisata, dan lingkungan
secara integral berdasarkan prinsip kesinambungan dan apresiasi
terhadap norma dan nilai yang berlaku;
e. Menjadikan Destinasi Pariwisata Daerah sebagai daerah tujuan wisata
unggulan nasional dan internasional dengan orientasi pengembangan
kearah Pariwisata alam dan Pariwisata budaya, serta menempatkan jenis
Pariwisata yang lain sebagai penunjang utama berdasarkan
keseimbangan antara permintaan pasar dengan potensi yang tersedia;
f. Menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan antara manusia
dengan lingkungannya untuk meningkatkan kualitas SDM Pariwisata.

2.3.2 Posisi dan Peran Kabupaten Tana Toraja Dalam Pengembangan


Kepariwisataan Sulawesi Selatan
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja sebagaimana arahan RIPPARNAS, mejadi
acuan pemerintah Privinsi Sulawesi Selatan yang secara berhirarki
mengembangkan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja sebagai bagian
pembangunan pariwisata diwilayah provinsi. Hal ini diwujudkan dalam RIPPARNAS
yang menjadikan Tana Toraja sebagai salah satu bagian wilayah pengembangan
kepariwisataan diantara 222 KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisatan Nasional)
yaitu KPPN Toraja dan sekitarnya serta dengan Destinasi Pariwisata Nasional
(DPN) TORAJA–LORELINDU dan sekitarnya. yang selanjutnya dituangkan dalam

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 42


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang RIPPAR-
PROV Sulawesi Selatan sebagai Destinasi Pariwisata Daerah (PDP) Kawasan Utara
yaitu Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) Toraja dan Sekitarnya.

Penetapan Destinasi Pariwisata Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dalam peraturan


tersebut, dilakukan dengan mempertimbangkan aspek:

1. kawasan geografis yang di dalamnya terdapat pengembangan kawasan


pariwisata;
2. keterpaduan baik dari segi potensi, keterkaitan nilai budaya, maupun dalam
rangka pengembangannya;
3. jejaring aksesibilitas dan infrastruktur;
4. Daya Tarik Wisata dengan membentuk jejaring produk wisata dan paket
pemasaran serta pola kunjungan wisata baik domestik maupun internasional;
5. daya dukung dan penguatan daya saing.

Penetapan KSPD dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria diantaranya (a).


memiliki fungsi utama Pariwisata atau potensi pengembangan Pariwisata; dan (b).
memiliki sumber daya pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata
unggulan dan memiliki citra yang sudah dikenal secara luas. Setiap KSPD dapat
disusun dan difokuskan pada kawasan pusat pertumbuhan ekonomi berdasarkan
Master Plan.

2.4 KEPARIWISATAAN DALAM RPJPD KABUPATEN TANA TORAJA


RPJPD adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah periode 20 (dua
puluh) yang ditetapkan dengan maksud sebagai arah dan acuan pelaku
pembangunan daerah untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan
didaerah yang sesuai dengan visi, misi dan arah pembangunan daerah yang lebih
efektif, efisien, terpadu, berkesinambungan dan saling melengkapi dalam pola
sikap dan tindak bagi pelaku pembangunan.

Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 3


Tahun 2012 Tentang RPJPD Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010-3030, menjadi
dasar pembangunan daerah jangka panjang yang meliputi seluruh aspek

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 43


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

kehidupan yang mampu berkontribusi memajukan Tana Toraja sebagai salah satu
daerah otonom di Provinsi Sulawesi Selatan.

RPJPD Kabupaten Tana Toraja merupakan penerjemahan visi, misi dan arah
kebijakan pembangunan daerah yang memiliki keterkaitan dan sinergi dengan
RPJP Nasional dan RPJP Provinsi yang menjadi arahan setiap perencanaan
pembangunan berikutnya. Kehadiran RPJPD Kabupaten Tana Toraja menjadi
sangat penting mengingat dalam melaksanakan pembangunan dibutuhkan suatu
tindakan yang tepat serta mempertimbangkan kebutuhan daerah dan kemampuan
sumber daya yang ada. Dengan adanya RPJPD dihapkan agar Pemerintah Daerah
dapat melaksanakan pembangunan yang rasional dan realistik.

Kabupaten Tana Toraja sebagai icon kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan


tentunya mengambil bagian penting dari perencanaan jangka panjang didaerah
ini. Berbagai program pembangunan kepariwisataan yang digalakkan dalam kurun
waktu 20 tahun kedepan menjadi dasar dalam perumusan kebijakan dan strategi
pembangunan kepariwisataan kabupaten yang diharapkan dapat bersinergi untuk
sama-sama mewujudkan pembangunan daerah yang lebih baik kedepannya.

Sebagai bagian dari perencanaan pembangunan daerah, kepariwisataan di


Kabupaten Tana Toraja sesuai arahan perundangan yang berlaku, masa berlaku
perencanaan juga mengacu pada jangka waktu RPJPD sehingga masukan-
masukan dalam RPJPD sangat penting menjadi bagian dari perencanaan ini.

2.4.1 Isu Strategis Daerah


Melihat permasalahan diatas maka isu strategis yang perlu diatasi secara bertahap,
berkesinambungan dalam dua puluh tahun mendatang di Kabupaten Tana Toraja
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pertumbuhan penduduk dan penyebarannya.
2. Kualitas dan aksibilitas pendidikan dan kesehatan
3. Pengangguran dan ketenagakerjaan
4. Peran serta masyarakat terhadap budaya daerah dan penenganan masalah
sosial.
5. Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
6. Kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 44


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

7. Kualitas lingkungan dan kesadaran masyarakat.


8. Kualitas demokrasi dan pemerintahan daerah.

2.4.2 Visi dan Misi Pembangunan Daerah


Visi Kabupaten Tana Toraja yang berpijak pada kondisi masyarakat dan
lingkungannya sangat terkait erat dengan pembangunan kepariwisataan. Hal ini
cukup jelas dalam kalimat visi tersebut yaitu ”Tana Toraja, daerah wisata
indah berbudaya yang menakjubkan, tempat tinggal masyarakat
beriman yang kreatif dan sejahtera”.

Totalitas Tana Toraja mampu ditampilkan dalam kalimat Visi yang pendek.
Pemimpin Tana Toraja adalah mereka yang mendambakan masyarakatnya yang
religius dan sangat kreatif dalam menciptakan kesejahteraannya, dalam suatu
lingkungan wisata yang indah dan menakjubkan, dengan dukungan
budaya yang semarak.

Dalam mewujudkan Visi Pembangunan Kabupaten Tana Toraja tersebut maka


dirumuskan misi sebagai berikut :
1. Mewujudkan Masyarakat Tana Toraja yang unggul dengan mengedapankan
pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya
saing melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, penguasaan
iptek.
2. Melestarikan kebudayaan daerah Tana Toraja dengan memperkuat jati diri
dan adat istiadat masyarakat Tana Toraja melalui pemberdayaan
kelembagaan, pemantapan aktivitas seni budaya dan penerapan
nilai-nilai agama.
3. Mewujudkan ketentraman daerah dan masyarakat Tana Toraja yang
berkeadilan serta demokratis dengan memperkuat system keamanan,
meningkatkan peran masyarakat sipil, kesetaraan gender, budaya hukum,
politik, dan memantapkan pelaksanaan otonomi daerah, serta
penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
4. Mewujudkan masyarakat Tana Toraja sejahtera dengan meningkatkan
pembangunan bidang ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan
pengangguran serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 45


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5. Mewujudkan pembangunan Tana Toraja yang lestari, handal dan


merata dengan meningkatkan keseimbangan sumber daya alam dan
kelestarian lingkungan hidup, mengurangi kesenjangan pembangunan antar
wilayah dan antar sektor, serta meningkatkan pembangunan infrastruktur
termasuk kesiagaan menghadapi bencana alam.

Nilai-nilai adalah pedoman yang mengatur tindakan dan perilaku seseorang dalam
bekerja menuju pencapain Visi. Nilai-nilai yang dianut dalam penyelenggaraan
pembangunan Kabupaten Tana Toraja harus diangkat dari nilai- nilai agama
budaya tradisional yang bersumber dari Tongkonan, seperti yang tercermin dalam
ungkapan dibawah ini :
1. Tongkonan ditimba uainna artinya : uai berarti air dan ditimba artinya ditimba.
Yang mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan makanan
bagi warganya.
2. Tongkonan dikalette’ tanananna : dikelette’ artinya dipetik, dan tanananna
berarti tanaman. Yang mengandung arti bahwa Tongkonan sebagai sumber
bahan makanan bagi warganya.
3. Tongkonan dire’tok kayunna artinya : dire’tok artinya ditebang, dan kayunna
berarti kayu. Yang mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber
bahan bangunan bagi warganya.
4. Tongkonan di kumba’ litakna : litakna artinya tanah milik tongkonan
pemanfaatannya berfungsi sosial dalam arti kata seluas – luasnya.
5. Tongkonan dipoada’ ada’ na, dipoaluk alukna : ada’ artinya adat istiadat, aluk
artinya agama (religius) yang mengandung makna bahwa segala tindakan,
tata kelakuan, pola hubungan sosial, norma–norma dan aturan–aturan dalam
kehidupan bersama bersumber dari Tongkonan yang dilandasi oleh nila-nilai
keagamaan.
Disamping nilai–nilai budaya tradisional yang bersumber dari Tongkonan tersebut
diatas, nilai yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Tana
Toraja juga dikombinasikan dengan cara pandang yang dianut secara global. Nilai
berfungsi sebagai rambu–rambu/koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas
pembangunan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 46


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Nilai–nilai Tongkonan yang dikombinasikan dengan cara pandang secara global


dan yang akan menjadi koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas pembangunan
di Kabupaten Tana Toraja sebagai berikut :
1. Karapasan
Nilai ini bersumber dari falsafah Tongkonan yaitu usaha mempertahankan dan
memelihara kedamaian, kerukunan dengan sesama warga masyarakat agar
tetap tercipta kehidupan yang harmonis bahkan mengorbankan harta benda
demi terciptanya keharmonisan seperti dalam ungkapan unnalli melo
(membeli kebaikan) atau la’biran tallan tu barang apa kela sisarak mira tu rara
buku (orang rela mengorbankan harta bendanya, dari pada mengorbankan
persaudaraan). Nilai ini juga mengandung makna bahwa segala rencana,
kegiatan dan permasalahan dalam kehidupan bersama harus diselesaikan
melalui kombongan (musyawarah) yang memberi kesempatan kepada semua
anggota mengemukakan pendapat/aspirasi dalam menentukan arah, tujuan
dan makna dari kehidupan bersama.

2. Kerja Keras, Jujur dan Bertanggung Jawab


Nilai ini berbasis pada falsafah Tongkonan yang menempatkan kerja keras
sebagai salah satu nilai utama. Proses mengumpulkan kekayaan harus
dilakukan melalui usaha kerja keras mulai dari kecil sampai besar, seperti
memiliki Ayam menjadi Babi, dari Babi menjadi Kerbau dan dari Kerbau
menjadi sawah. Nilai kerja keras ini terungkap dari ungkapan seperti la’biran
mamma’–mamma’ na iatu leppeng, la’ bimelo tu ma’dokko–dokko na iatu
mamma’bang, mandu melo opa iatu sumalong–sumalong na iatu ma’dokko–
dokko, apa la’bi’ melo iatu mengkarang na iatu sumalong–malong. Artinya
lebih baik tidur–tiduran dari pada tidur nyenyak, lebih baik duduk dari pada
tidur–tiduran, jauh lebih baik jalan–jalan dari pada duduk – duduk, tetapi lebih
baik lagi bekerja dari pada jalan–jalan atau lebih baik berbuat sedikit dari
pada tidak berbuat sama sekali. Nilai kerja keras ini juga dilambangkan dalam
lukisan pa’bareallo dan manuk londong – manukna Lapandek dalam ukiran
Toraja’ matahari terbit dan Ayam Jago.

Nilai kerja keras ini harus dilandasi oleh kejujuran dan rasa tanggung jawab
yang tinggi baik kepada sesama manusia, lingkungan dan kepada Tuhan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 47


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

seperti dalam ungkapan maleko lolang dao kuli’na padang male ulleanni buntu
unlambanni tasik kalua’. Osokko rakka’ sangpulomu anna to’do tu ma’pu’mu
anna sa’dingngi nene’ Pong Tulak Padang diong Tokengkok na tunduiko
mangando langngan Puang Matua anna ra’pak passakkena anna membura
ra’ka’ sangpulomu. Apa lamukilalai iatu pa’barang–barangan lino dilese
didudung. Suleko ma’tangke patomali umpellambi’ lamunan lolomu dio
Tongkonan anna sende paiman lo’dok to kayangan to ma’rara buku to ma’rapu
tallang, to sangka’ponan ao’ umpudi Puang titanan tallu tirindu batu lalikan
dao langi’ ma’gulung – gulunganna.

3. Siangga’, Siporannu, Sipopa’di’


Nilai ini berbasis pada falsafah Tongkonan yaitu menjalin kerja sama dan
kebersamaan berdasarkan penghormatan terhadap keberadaan dan jati diri
setiap anggota kelompok. Nilai ini diungkapan dengan longko’, siri’ : siri’
adalah perkara malu, dipermalukan, sedang longko’ adalah sikap yang
dimotivasi oleh perasaan takut dan segan menyinggung perasaan orang lain,
atau menyangkut harga diri seperti dalam ungkapan tae’na ditossok matanna
bale artinya pantang mempermalukan orang didepan umum dan menghargai
perbedaan pendapat.

4. Misa’ Kada dipotuo pantan kada dipomate, sangkutu’ banne sangboke


amboran
Ungkapan tersebut dan hal ini bermakna bahwa keberhasilan pembangunan
hanya dapat diraih jika semua komponen yang ada menjalin hubungan yang
kuat sehingga tercipta persatuan dan kesatuan dalam kebinekaan.

5. Tallu Bakaa, mencakup Kinaa / Manarang, Sugi’, Barani


▪ Kinaa/Manarang artinya bijaksana, mempunyai komitmen moralitas yang
tinggi, berkepribadian, rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi,
menjunjung tinggi, supremasi hukum dan memiliki kualitas intelektual.
▪ Sugi’ artinya kaya dalam arti yang luas, kaya dalam pengetahuan, kaya
dalam moralitas dan keimanan, kaya dalam materi.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 48


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Barani artinya berani mengambil keputusan, berani bertanggungjawab,


terbuka, jujur, sportif baik dalam hubungan dengan sesama manusia,
lingkungan dan kepada Tuhan.
6. Tallu Lolona, mencakup lolo tau, Lolo Tanaman, dan Lolo Patuoan
Falsafah Tallu Lolona mencakup hubungan timbal balik antara makhluk
ciptaan Tuhan yaitu manusia, tanaman, dan hewan yang harus terpelihara
secara serasi dan seimbang yang memungkinkan terciptanya kelestarian
lingkungan dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan.
7. Kebinekaan
Menghargai kebinekaan sosial budaya masyarakat dan menyakini bahwa
keragaman merupakan kekayaan sosial budaya yang menjamin
terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan.

8. Kesadaran Kosmologis
Manusia adalah bagian integral dari alam semesta oleh karena itu harus
senantiasa menjaga interkoneksitas harmonis dengan alam semesta
berdasarkan kepercayaan dan kecintaan kepada Sang Pencipta.

9. Kualitas;
Kami ingin memberikan layanan yang bermutu, di rumah sakit, di kantor, di
toko, pada objek-objek pariwisata, dan pada setiap kesempatan.

10. Lingkungan;
Kami bertekad memelihara lingkungan demi untuk menciptakan masyarakat
yang sehat.

11. Komitmen untuk Pelayanan; Kami bertekad untuk segera memberi respon
terhadap setiap masalah yang disampaikan oleh warga masyarakat.
12. Akuntabilitas; Kami bertekad untuk memberi jawaban atas setiap tindakan
kami demi untuk mempertanggung jawabkan pelayanan kami.

Point-point penting yang menjadi landasan/rujukan perencanaan Kepariwisataan


Kabupaten Tana Toraja sebagaimana arahan visi, misi dan nilai-nilai yang
terkandung didalamnya, diantaranya:
1. Menjadikan kepariwisataan Tana Toraja sebagai wujud dari pelestarian
kebudayaan masyarakat, yang berkelanjutan dan berkontribusi terhadap

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 49


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakatnya sebagaimana visi


daerah;
2. Memberdayakan kelembagaan serta pengembangan seni budaya dan nilai-
nilai keagamaan dalam memperkuat jati diri dan adat istiadat;
3. Membangun kepariwisataan Tana Toraja yang lestari, handal dan merata
untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap menjaga
keberlanjutan lingkungan hidup;
4. Memupuk persatuan dan kesatuan serta kesetaraan gender;

2.4.3 Arah Kebijakan Dalam Sektor Kepariwisataan


1. Arah pembangunan Tana Toraja dipusatkan pada dua sektor utama yaitu
pariwisata dan pendidikan.
2. Kepariwisataan dijadikan sebagai arah pembangunan, karena memang
didukung oleh kondisi internal alam dan masyarakatnya. Bahkan seluruh
wilayah Tana Toraja dapat dikategorikan sebagai “Taman Wisata” dan karena
itu layak pula dijadikan salah satu dari “Taman Wisata Nasional.” Seluruh
kelompok pengusaha batu misalnya, bahkan menjadi objek wisata karena para
wisatawan dapat langsung menyaksikan orang-orang desa terlibat langsung
dalam pengelolaan batu-batu sawah, batu sungai dan batu gunung menjadi
bahan bangunan yang indah-indah.
3. Untuk mendukung kebijakan itu maka pendidikan, mulai dari pendidikan
dasar sampai pendidikan tinggi, perlu memperkaya anak didiknya dengan
nuansa kepariwisataan, sehingga mulai dari kecil mereka sendirilah yang kelak
akan melanjutkan memajukan kepariwisataan itu. Malahan sebagai wisatawan
domestik mereka akan melebihi jumlah wisatawan manca Negara.
4. Kombinasi pariwisata dan pendidikan bermutu itu akan memberi kontribusi
yang besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Tana Toraja
5. Dalam sektor produktif, hendaknya pembangunan diarahkan pada produk-
produk unggulan yang memiliki keunggulan kompetitif, mampu bersaing pada
pasar global, misalnya padi varietas unggul, kopi “Arabica Toraja”, dan produk
lain dalam bidang peternakan, pertanian, perkebunan, kerajinan rumah

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 50


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

tangga, dan pariwisata sendiri, yang semuanya disesuaikan dengan kondisi


iklim dan geografis Toraja.
6. Arah pembangunan kepariwisataan menjadikan pembangunan infrastruktur
sebagai salah satu persyaratan mutlak.
7. Rencana pembangunan dalam sektor kepariwisataan dan pendidikan hanya
dapat berhasil jika ditopang dengan komitmen, terutama komitmen untuk
menegakkan hukum (law enforcement) baik bagi masyarakat, maupun bagi
birokrasi, dan para aktor pembangunan lainnya. Hal ini berkaitan erat dengan
pelaksanaan “Good Governance” (kepemerintahan yang baik) secara
bertanggung jawab yang akan didukung oleh komitmen pemerintah daerah
dalam melaksanakan “reformasi birokrasi”. Untuk keperluan itu, maka Pemda
akan menyusun kerangka regulasi dan perizinan yang efisien, efektif, dan non-
diskriminatif; menjaga, mengembangkan, dan melaksanakan iklim persaingan
usaha secara sehat serta melindungi konsumen. Pemda juga sebagai
fasilitator, regulator, sekaligus sebagai katalisator pembangunan daerah akan
menggalakkan dan meningkatkan daya saing usaha kecil dan menengah
(UKM) di berbagai kecamatan, serta merancang kebijakan pasaran kerja.
8. Arah pembangunan perlu juga memperhatikan relasi antara pembangunan
“agribisnis”, “arboretum”, dan “resort wisata” dengan kemungkinan
diperlukannya relokasi penduduk. Ini juga dimaksudkan untuk pemerataan
penyebaran penduduk. Selain itu perlu pula pendidikan dan pelatihan khusus
kepada para pimpinan desa dan kelurahan dalam melakukan pencatatan
penduduk secara akurat dan berkesinambungan masing-masing desa dan
kelurahan. Itu dimaksudkan untuk memudahkan membuat perencanaan
dalam berbagai sektor pembangunan, misalnya Pemilihan Umum,
pembangunan sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, peternakan,
kehutanan, dll.
9. Pemda akan berusaha membuat “Masterplan” di berbagai sektor produktif
untuk menarik investasi baik nasional maupun investasi asing. Antara lain,
Masteplan Pariwisata, Masterplan Pertanian dan Kehutanan, Masterplan air
bersih (terutama dalam menaati pendekatan tanggap kebutuhan- demand
responsive approach), masterplan jaringan transportasi, Masterplan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 51


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pendidikan, dll. Disadari bahwa tanpa masterplan, para investor akan kurang
tertarik untuk menanam modalnya, karena khawatir akan masalah keamanan,
tanah, dan jaminan terhadap iklim usaha yang kondusif.
10. Untuk dapat merespon arus wisatawan, baik mancanegara maupun
nusantara, perlu dipersiapkan jalur transportasi yang menyenangkan.

2.4.4 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah II (2015-


2020) Akselerasi dan Penendalian Untuk Kepariwisataan
Prioritas utama dalam tahap ini ialah “Melanjutkan sisa pembangunan Tahap I”
karena aktifitas itu merupakan aktifitas multi-years yang kalau tidak diberi
prioritas, bisa menjadi terbengkalai dan tidak dapat memberikan hasil sesuai
dengan yang diharapkan bersama.

Dalam kaitannya dengan program pembangunan kepariwisataan, pada tahap II


yang diharapkan telah terwujud yaitu Menyusul pembangunan Pusat Informasi
Daerah, Pusat Informasi Pariwisata, Pusat aktifitas seni dan budaya, serta jaringan
komunikasi elektronik secara terintegrasi. Keempat komponen ini baru dikerjakan
pada Tahap II, karena segala sesuatu yang akan menjadi isi dari komponen-
komponen tersebut, sudah harus dipersiapkan pada Tahap I.

Filosofi RPJMD II ialah bahwa daya saing perekonomian akan nampak apabila
didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang prima termasuk pengembangan
kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan

2.4.5 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah III (2020-


2025) Pemantapan
Tahap ini merupakan tahap memantapkan hasil kerja selama Tahap II, yang
mencakup antara lain, pemeliharaan (maintenance), melanjutkan apa yang tersisa
dari tahap-tahap sebelumnya. Sekalipun pemeliharaan baru diberi prioritas pada
tahap ini, terutama sesudah banyak aktifitas pembangunan yang telah selesai,
tetapi perumusan “sistem pemeliharaan” (maintenance system) sudah perlu
digarap dari [Link] lagi, kebanyakan aktifitas pembangunan lebih merupakan
aktifitas multi-years daripada proyek single-year.

Pekerjaan-pekerjaan non-fisik seperti penyebaran berbagai macam informasi


kepada masyarakat, dan yang sejenis, penyusunan sarana promosi objek

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 52


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

wisata, penetapan pusat pengembangan komoditas unggulan, penugasan


tim khusus untuk menyusun “maintenance system” secara integral, sudah harus
digarap sejak RPJMD I sekalipun tidak dimasukkan sebagai prioritas
pembangunan. Demikian juga berbagai kegiatan sebagaimana diuraikan dalam
Sasaran Pembangunan Jangka Panjang.

Filosofi RPJMD II ialah bahwa daya saing kompetitif perekonomian akan menjadi
kenyataan apabila apabila didukung dengan keunggulan sumber daya alam dan
sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus
meningkat.

Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang semakin mantap dicerminkan oleh


terjaganya daya dukung lingkungan dan kemampuan pemulihan untuk
mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi, seimbang, dan
lestari; terus membaiknya pengelolaan dan pendayagunaan sumber daya alam
yang diimbangi dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup dan didukung
oleh meningkatnya kesadaran, sikap mental, dan perilaku masyarakat; serta
semakin mantapnya kelembagaan dan kapasitas penataan ruang di seluruh
wilayah Indonesia.

Ketersediaan infrastruktur yang sesuai dengan rencana tata ruang ditandai oleh
berkembangnya jaringan infrastruktur transportasi; terpenuhinya pasokan tenaga
listrik yang handal dan efisien sesuai kebutuhan sehingga elektrifikasi rumah
tangga dan elektrifikasi perdesaan dapat tercapai, serta mulai dimanfaatkannya
tenaga nuklir untuk pembangkit listrik dengan mempertimbangkan faktor
keselamatan secara ketat; terselenggaranya pelayanan pos dan telematika yang
efisien dan modern guna terciptanya masyarakat informasi Indonesia;
terwujudnya konservasi sumber daya air yang mampu menjaga keberlanjutan
fungsi sumber daya air dan pengembangan sumber daya air serta terpenuhinya
penyediaan air minum untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Selain itu,
pengembangan infrastruktur perdesaan akan terus dikembangkan, terutama untuk
mendukung pembangunan pertanian. Sejalan dengan itu, pemenuhan kebutuhan
hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh
masyarakat terus meningkat karena didukung oleh sistem pembiayaan perumahan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 53


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

jangka panjang dan berkelanjutan, efisien, dan akuntabel. Kondisi itu semakin
mendorong terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh.

2.4.6 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah IV (2025-


2030) Konsolidasi, Monitoring dan Evaluasi
Tahap konsolidasi, monitoring dan evaluasi merupakan tahapan yang menekankan
bahwa semua pelaku pembangunan dituntut untuk dapat mengkonsolidasikan dan
mensinkronkan aktivitas-aktifitas pembangunan yang telah dan yang masih akan
dilakukannya secara komprehensif dengan aktivitas pembangunan yang dilakukan
oleh pihak lain, agar jaringan tali temali antar semua aktivitas pembangunan dapat
dinampakkan secara jelas.

Pada tahap ini tetap tersedia kesempatan dan ruang untuk meneruskan aktifitas-
aktivitas pembangunan yang belum sempat dirampungkan pada tahap-tahap
sebelumnya. Monitoring dan evaluasi dilakukan agar sungguh-sungguh siap dan
mampu memasuki saat mendebarkan, yaitu mendekatkan diri pada Visi 2030. Visi
Kabupaten sebagaimana dibentangkan dalam uraian Visi, mungkin saja tidak dapat
direalisasikan 100%. Semua itu disebabkan antara lain, oleh tidak terdeteksinya
sejumlah pengaruh global yang kemungkinan dapat saja menerobos
penyelenggaraan aktifitas pemerintahan secepat kilat. Sejumlah peluang yang
dibawa oleh arus global, khususnya pengaruh kemajuan dalam bidang teknologi
informasi dan teknologi komunikasi yang muncul bagaikan halilintar, dapat saja
berubah menjadi ancaman jika tidak dicermati dan diantisipasi secara dini.

Keempat pentahapan ini tidak memiliki kemutlakan, tergantung pada munculnya


peluang atau bahkan ancaman dari lingkungan eksternal. Dapat saja suatu aktifitas
pembangunan dalam suatu Tahap yang tidak dijadikan prioritas, tetapi karena
hadirnya “Peluang dadakan” (emerging strategy), maka aktifitas itu harus
dimasukkan sebagai prioritas. Begitu sebaliknya, suatu aktifitas harus dihilangkan
(ousted strategy) jika “Ancaman” tiba-tiba tampil memporakporandakan suatu
Tahap tertentu. Hal yang termaksud terakhir ini akan terjadi jika potensi atau
kokuatan yang kita miliki tidak terkengola dan termanfaatkan dengan baik untuk
menangkal setiap ancaman arus globalisasi.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 54


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Filosofi RPJMD ialah bahwa dengan mantapnya pembangunan secara menyeluruh


di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif
perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya
manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat;
dan sejalan dengan kondisi aman dan damai yang makin mantap di seluruh
wilayah, kemampuan pertahanan nasional dan keamanan dalam negeri makin
menguat yang ditandai dengan terbangunnya profesionalisme institusi pertahanan
dan keamanan negara serta meningkatnya kecukupan kesejahteraan prajurit serta
ketersediaan alat utama sistem persenjataan TNI dan alat utama Polri melalui
pemberdayaan industri pertahanan nasional, maka kehiupan demokrasi bangsa
makin mengakar dalam kehidupan masyarakat.

2.4.7 Sasaran Pembangunan Jangka Panjang Pembangunan


Kepariwisataan
Bertolak dari uraian Visi Tana Tana Toraja tahun 2030 kiranya dapat
dikristalisasikan apa yang ingin dicapai dalam jangka panjang 2030 pada sektor
kepariwisataan. Secara garis besar sasaran itu dikelompokkan dalam beberapa
bidang:
1. Geomorfologi dan Lingkungan Hidup
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang geomorfologi dan
lingkungan hidup yaitu:
a. Peta wilayah secara lengkap dan baku selalu siap untuk dimanfaatkan
guna keperluan bidang pertanian, kehutanan, perkebunan, perbatasan
wilayah, pariwisata, dll.
b. Membangun arboretum yang juga akan berfungsi sebagai hutan wisata.
c. Kesadaran penduduk dan murid sekolah akan pemeliharaan lingkungan
dan kebersihan kota, rumah tangga, kantor, gedung pertemuan, sekolah,
rumah ibadah, acara pesta rambu tuka’ dan acara kedukaan rambu solo’,
pasar, jalan raya, objek wisata, dll. sangat tinggi.
2. Demografi
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang kependudukan ditandai
dengan adanya perkawinan antar ras juga meningkat sebagai dampak dari
kemajuan dalam sektor pariwisata.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 55


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. Ekonomi dan Sumber Daya Alam


Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang ekonomi dan sumber daya
alam yaitu:
a. Pembukaan berbagai resor kepariwisataan seperti “resor bulan madu”
“resor manula”, agrowisata, “arboretum”, dll, telah mampu mengundang
wisatawan secara meyakinkan.
b. Sentra-sentra agribisnis dalam konsep kawasan terpadu berkembang
seiring dengan tumbuhnya “hutan wisata”-arboretum.
c. Mobilitas penduduk sangat tinggi sebagai dampak dari majunya
perekonomian pembangunan dan meningkatnya kesejahteraan
masyarakat.
4. Prasarana dan Sarana
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang prasarana dan sarana
wilayah yaitu:
a. Jaringan jalan pariwisata, jalan ekonomi, transportasi dan komunikasi
telah mampu meningkatkan mobilitas penduduk.
b. Membangun dan membenahi jalan pariwisata, jalan ekonomi serta
jembatan.
c. Mendirikan Pusat Pelatihan dan Ketrampilan
d. Fasilitas teknologi informasi di berbagai Lembaga pemerintahan dan
swasta, lembaga pendidikan, Pusat pelatihan dan ketrampilan, telah
mampu meningkatkan kompetensi aparat pemerintahan dan komponen
pelaku pembangunan.
e. Air bersih dan energi listrik termasuk sumber-sumber energi alternatif
dinikmati hingga masyarakat pedesaan.
5. Sumber Daya Manusia
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang sumber daya manusia
yaitu:
a. Penyelenggaraan pendidikan profesi terutama yang berkaitan dengan
pengelolaan Pariwisata, sumberdaya pertanian, perkebunan, kehutanan,
tambang dan mineral, meningkat.
b. Kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia (medis, paramedis dan non
medis)dan pemerataan distribusinya meningkat

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 56


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

c. Kuantitas dan kualitas sarana pelayanan kesehatan meningkat yang


berdampak pada menurunnya frekuensi kunjungan ke Puskesmas,
menambah jumlah tenaga kerja yang sehat.

2.4.8 Grand SWOT Analisis Terhadap Sektor Kepariwisataan


Tana Toraja memiliki kekayaan akan potensi kepariwisataan serta situs-situ budaya
yang menarik dan tersebar di semua penjuru. Kekuatan ini memiliki kemampuan
untuk menangkap Peluang berupa minat wisatawan mancanegara dan
wisatawan nusantara serta wisatawan lokal yang sangat tinggi untuk
menjelajah zone-zone kepariwisataan alam dan budaya yang menarik.

Kekuatan ini juga akan mampu mengundang calon investor serta dana yang
tersedia untuk berbagai jenis program pembangunan daerah di sejumlah
departemen. Apabila peluang-peluang itu dapat ditangkap, maka jumlah
pengunjung wisatawan akan terus menerus bertambah. Ini akan berdampak pada
peningkatan penerimaan Negara dari devisa, termasuk pendapatan daerah dari
berbagai kegiatan masyarakat akan meningkat, sekaligus memperbaiki taraf hidup
masyarakat.

Sayang, Peluang tadi dihambat oleh Kelemahan besar yang dimiliki oleh
daerah, yaitu prasarana jaringan jalan raya menuju atau melalui objek
wisata, sarana transportasi, dan rendahnya kualitas manajemen objek-
objek wisata, serta rendahnya volume APBD Tana Toraja. Jalan
pariwisata sesungguhnya identik dengan jalan ekonomi, karena jalan
yang menuju sentra-sentra produksi, justru melalui objek-objek wisata.

Kelemahan lain yang menghambat datangnya Peluang yang digambarkan diatas,


antara lain, Masih rendahnya ketrampilan birokrasi termasuk kemampuan
membuat Proposal dan Rencana maupun untuk mengadakan lobby, di samping
masih rendahnya kemampuan menjalin jaringan (networking) yang
tersebar di berbagai tempat. Bukan saja itu, juga masih rendahnya kualitas
pendidikan dan ketrampilan masyarakat, turut berkontribusi terhadap kemampuan
menangkap Peluang.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 57


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Beberapa Kekuatan lain yang dapat diidentifikasi ialah tersedianya sejumlah


warga Toraja yang memiliki keahlian khusus dalam bidang-bidang
pembangunan yang dibutuhkan daerah. Di samping itu, dengan fundasi
“Tongkonan”, kerukunan dan kekokohan persatuan masih nampak
dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan ini berpotensi menciptakan keamanan
dan perdamaian, yang akan mendorong minat wisatawan mengunjungi
Tana Toraja.

Bahkan juga Kekuatan ini dilihat sebagai asset yang telah terbukti berhasil di masa
lampau menghindari Ancaman (Threat).

Kekuatan lain seperti kopi Arabica sesungguhnya sejak lama telah mampu
menembus pasar di negara-negara Scandinavia akan mampu menangkap Peluang
pasar di Jepang, khususnya, yaitu keinginan orang kaya tampil beda dengan
menikmati kopi Arabica Toraja yang mahal tetapi nikmat.

Kelemahan-kelemahan yang diuraikan sebelumnya, harus diubah menjadi


kekuatan. Oleh sebab itu Pemerintah Daerah hendaknya berusaha keras mendesak
pemerintah Pusat melalui berbagai Departemen untuk menyediakan anggaran
bagi pembangunan jaringan transportasi dan prasarana jalan raya
pariwisata/jalan ekonomi. Untuk itu maka perlu dipersiapkan tenaga yang
dapat membuat proposal meyakinkan kepada berbagai lembaga pemerintahan dan
lembaga donor. Di samping itu, perbaikan kualitas pendidikan hendaknya
disemarakkan di semua lini lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi.

Apabila Peluang tadi sudah bisa ditangkap, maka ini akan mendorong
meningkatnya pembangunan di sektor lain.

Kelemahan lain yang sangat dirasakan oleh Tana Toraja ialah, masih rendahnya
kualitas sebagian besar sumber daya manusia di berbagai sektor pembangunan
tak terkecuali dalam kalangan Legislatif dan Eksekutif, ketrampilan manajemen,
dll.

Strategi untuk memperbaiki kelemahan itu antara lain dengan merancang


pelatihan dan ketrampilan dengan mendirikan “Pusat Pelatihan dan
Ketrampilan” yang akan beroperasi setiap hari sepanjang tahun.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 58


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Sejumlah Kelemahan Sektoral lainnya secara garis besar dapat diidentifikasi sbb:
1. Sarana dan prasarana berbagai sektor pembangunan masih minim
2. Minat mengembangkan peternakan babi dan kerbau secara luas makin
menurun, ditambah dengan belum tersedianya Masterplan peternakan.
3. Benih ikan tawar makin langka, bahkan ada spesis yang mulai hilang
4. Anggaran yang disediakan untuk masing-masing sektor jauh dari kebutuhan
riil.
5. Kualitas produk industri rumah tangga masih rendah.
6. Penegakan hukum (Law enforcement) masih jauh dari harapan yang berakibat
pada rendahnya tingkat disiplin masyarakat dan aparat.
7. Angka tingkat kejahatan dan pelanggaran hukum masih tinggi.
8. Masih terpendamnya beberapa potensi sumber daya pertambangan.
9. Pelayanan bermutu dalam berbagai sektor, misalnya bidang kesehatan yang
belum mampu menjamin kualitas hidup sehat, dan sektor lain, masih pada
tingkat rendah
10. Manajemen kepariwisataan masih bersifat tradisional.
11. Secara umum, tingkat homepay aparat masih belum mampu membiayai
kesejahteran keluarga yang semakin tertekan oleh kemajuan teknologi
komunikasi dan informasi.

2.4.9 Program-Program Kepariwisataan Urusan Pemerintahan pada


Dinas Pariwisata
1. Penetapan kebijakan tentang Kebudayaan dan Pariwisata (Perda ttg
Kepariwisataan, Homestay, penggunaan simbol-simbol budaya, dll)
(Pemerintahan, Hukum dan Politik);
2. Pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan (Geomorpologi dan
Lingkungan Hidup)
3. Pelibatan semua masyarakat dalam program pariwisata (Demografi)
4. Pembinaan Kepariwisataan berbasis budaya, Pengembangan wisata alam,
wisata agro, wisata pendidikan, wisata religi, dll, dan Pembuatan Calender of
Events (Ekonomi dan Sumberdaya Alam)
5. Pembinaan kebudayaan (Sosial dan Budaya)

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 59


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6. Penyiapan / pembangunan prasarana dan sarana pariwisatan ((IT, Pusat


Informasi, pariwisata, dll), serta Pembangunan museum budaya (Prasarana
dan Sarana)

2.5 KEPARIWISATAAN DALAM RTRW KABUPATEN TANA TORAJA


Tata ruang wilayah merupakan wujud susunan dari suatu tempat kedudukan yang
berdimensi luas dan isi dengan memperhatikan struktur dan pola dari tempat
tersebut berdasarkan sumber daya alam dan buatan yang tersedia serta aspek
administratif dan aspek fungsional untuk mewujudkan pembangunan yang
berkelanjutan demi kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang
(Kodoatie dan Sjarief, 2010). Aspek-aspek yang mempengaruhi dalam penataan
ruang dapat meliputi, aspek teknis, ekonomi, sosial, budaya, hukum, kelembagaan
dan lingkungan. Oleh karena itu, rencana tata ruang wilayah menjadi salah satu
instrumen pembangunan yang harus dijadikan acuan oleh setiap daerah sesuai
dengan amanat UU 26 tahun 2007 tentang penataan ruang.

2.5.1 Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang


Kabupaten Tana Toraja melalui Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2011 tentang
RTRW Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031, pada berbagai substansi muatan
rencana yang ada, sangat jelas menggambarkan fokus pembangunan
kepariwisataan. Hal ini terlihat dari rumusan tujuan penataan ruang kabupaten
yang menjadikan kepariwisataan daerah sebagai lokomotif pembangunannya
dengan rumusan tujuan sebagai berikut:

Mewujudkan tatanan ruang wilayah kabupaten Tana Toraja, yang


nyaman, aman, produktif, asri dan lestari, melalui peningkatan fungsi
kawasan lindung, pengembangan pariwisata budaya dan alam, serta
pemanfaatan potensi-potensi pertanian, perkebunan, peternakan dan
perikanan, yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan
masyarakat secara berkelanjutan
Kebijakan penataan ruang dalam pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana
Toraja yaitu Kebijakan Pengembangan Potensi Pariwisata, melalui strategi sebagai
berikut:
1. Strategi peningkatan fungsi kawasan lindung untuk kepentingan
kepariwisataan yaitu mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan
lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budidaya,

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 60


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

termasuk reboisasi di jalur lingkar wisata Tana Toraja dengan menarik


partisipasi para wisatawan, dalam rangka mewujudkan dan memelihara
keseimbangan ekosistem wilayah kabupaten.
2. Strategi peningkatan sumber daya lahan pertanian, perkebunan, peternakan
dan perikanan untuk kepentingan kepariwisataan yaitu mengembangkan
sektor perikanan yang terpadu dengan kegiatan wisata serta memenuhi
kebutuhan kawasan lain diluar wilayah.
3. Strategi pengembangan potensi pariwisata, terdiri atas :
1) Pengembangan industri pariwisata budaya dan alam yang ramah
lingkungan untuk mendukung fungsi Kabupaten Tana Toraja sebagai
Kawasan Strategis Nasional kepentingan Sosial Budaya.
2) meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap nilai budaya lokal yang
mencerminkan jati diri komunitas lokal yang berbudi luhur;
3) mengembangkan penerapan ragam nilai budaya lokal dalam kehidupan
masyarakat;
4) melestarikan situs warisan budaya komunitas lokal masyarakat Tana
Toraja;
5) mempertahankan kawasan situs budaya dan mengembangkan obyek
wisata sebagai pendukung daerah tujuan wisata yang ada;
6) mengembangkan jalur jalan lingkar wisata yang menghubungkan obyek-
obyek wisata di wilayah Kabupaten Tana Toraja dan terpadu juga dengan
obyek-obyek wisata di Kabupaten Toraja Utara;dan
7) mengembangkan promosi dan jaringan industri pariwisata secara global.
4. Strategi pengembangan potensi pertambangan untuk kepentingan
kepariwisataan yaitu melakukan kajian, ekplorasi sampai ke eksploitasi blok
minyak Enrekang yang kawasannya termasuk hampir seluruh wilayah
Kabupaten, dengan menghindari kemungkinan rusaknya situs dan obyek-
obyek wisata budaya dan alam, dengan pertimbangan manfaat bagi rakyat
Daerah dan Nasional, menjaga kelestrian lingkungan, dan mengutamakan
pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) Daerah maupun Nasional
dengan peningkatan kompetensi dan kapasitas SDM dengan pendidikan
prakerja maupun melalui program alih pengetahuan dan teknologi;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 61


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5. Strategi pengembangan potensi industri untuk kepentingan kepariwisataan


yaitu mengembangkan industri kerajinan penunjang pariwisata, seperti
ukiran, lukisan, patung, anyaman, miniatur rumah adat Toraja, T-shirt dan
tenun;
6. Strategi pengembangan potensi perdagangan untuk kepentingan
kepariwisataan yaitu penataan ulang kawasan perdagangan di PKL Makale
dengan (i) peremajaan kawasan perdagangan lama di pusat kota Makale; (ii)
pemindahan pasar Kota Makale agar terpadu dengan kawasan terminal; dan
(iii) pembangunan pasar seni yang terpadu dengan pusat seni dan informasi
pariwisata;
7. Strategi pengembangan potensi pendidikan untuk kepentingan kepariwisataan
yaitu menyelenggarakan pendidikan sebagai pusat ilmu pengetahuan
terutama guna mendukung pengembangan sektor kehutanan, pertanian,
industri kerajinan, perdagangan dan pariwisata;
8. Strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk kepentingan
kepariwisataan yaitu membangun kompetensi dan kapasitas baik melalui
pendidikan formal maupun non formal bagi angkatan kerja di sektor-sektor
kehutanan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pariwisata,
industri, perdagangan, permukiman, sarana, prasarana dan pemerintahan;

2.5.2 Rencana Struktur Ruang


Terdapat sejumlah rencana pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten
Tana Toraja baik berupa pusat-pusat pelayanan maupun rencana jaringan
prasarana yang memiliki peran dalam membangun kepariwisataan didaerah,
diantaranya sebagai berikut:
1. Mengembangkan Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) yaitu Kawasan
Perkotaan Bittuang yang potensiil dikembangkan sebagai gerbang wisata
penghubung kawasan wisata Budaya di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi
Barat dengan kawasan wisata Tana Toraja; dan kawasan perkotaan sekitar
bandara baru Ge’tengan Kecamatan Mengkendek, yang potensil
dikembangkan menjadi kota simpul transportasi udara.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 62


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Mengembangkan Jaringan jalan kolektor primer dan jaringan jalan lokal yang
merupakan sistem jaringan jalan kabupaten yang ada di Kabupaten Tana
Toraja terdiri atas : jalan kolektor primer lingkar wisata Tana Toraja; dan jalan
lokal primer penghubung jalan kolektor primer ke obyek wisata;
3. Mengembangkan Jaringan layanan lalu lintas yaitu trayek angkutan
penumpang diantaranya adalah pengembangan terminal Makale – Rantepao
ke obyek wisata (OW) Makam Adat Lemo;
4. terminal Makale – Tongkonan Layuk Kaero – Tongkonan Salembe dan Mapissa
di Galingtua – Rante di Tongko Sarapung – Tongkonan Solo – Tongkonan
Buntu Tongko, ruas jalan Suaya – Rante di Tongko Sarapung – jalan
penghubung Leatung – Makula;
5. terminal Mengkendek – jalan lingkar wisata – batas Toraja Utara;
6. pengembangan jaringan-jaringan prasarana utama dan prasarana lainnya
yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada
pembangunan kepariwisataan daerah.

2.5.3 Rencana Pola Ruang Kawasan Peruntukan Pariwisata


Kawasan peruntukan pariwisata yang dikembangkan dalam rencana tata ruang
wilayah Kabupaten Tana Toraja diantaranya:
1. Kawasan Wisata Ecopolis dan Meeting, Information, Convention Exebition
(MICE) Makale;
2. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale ; dengan objek pendukung :
1) Gua alam
2) Museum
3) Monumen Penginjilan
4) Panorama Alam
5) Rumah Adat
6) Kuburan Batu Tondon Makale
7) Kuliner
8) Kereta gantung
9) Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
10) Kolam Alam Assa

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 63


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

11) Pasar Hewan.


3. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ : dengan objek penunjang :
1) Permandian Air Panas Makula
2) Pekuburan batu Suaya
3) Kuburan Bayi /Passilliran Kambira’
4) Kuburan Gua Alam Tampang Allo
5) Gua Alam Sullukan
6) Tongkonan Banua Kasalle Bau
7) Museum Buntu Kalando
8) Atraksi Seni Budaya
9) Rante Tongko Sarapung.
4. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan ; dengan objek penunjang :
1) Sassa’
2) Perkampungan Adat Sillanan
3) Kawasan Hutan Mapongka,
5. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek
penunjang ;
1) Potok Tengan
2) Panorama alam Buntu Kandora
3) Banua Puan
4) Liang Lo’ko’ Randanan
5) Panjat Tebing
6) Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring
6. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek
penunjang:
1) Permandian alam Tilanga’
2) Makam adat Sirope
3) Tongkonan Mandetek
4) Agrowisata Rante Lingkua’
5) Makam Bayi –Passilliran Alla’
7. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon ; dengan objek pendukung:
1) Rumah Adat Pattan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 64


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2) Talion
3) Benteng Pongtiku, Boronan
4) Likunna Makuyo
5) Atraksi Budaya
6) Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’
8. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakadeng ; dengan objek
pendukung :
1) Air terjun Salu Bitu
2) Permandian Air Panas Ratte Buttu
3) Liang pahat
4) Permandian Air Panas Bake’
5) Panorama Alam
9. Kawasan Batu Tallu Simbuang di Simbuang ; dengan objek pendukung :
1) Panorama Alam
2) Kolam Alam Limbong Deata
3) Tedong-tedong
4) Liang pahat
5) Kolam Alam Kondo Dewata
6) Batu Sittene
10. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang; dengan objek pendukung :
1) Agrowisata Bolokan
2) Hutan Wisata
3) Permandian Air Panas
4) Rumah Adat
5) Air terjun Ratte Sarambu
11. Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan ; dengan objek pendukung:
1) Panorama Alam
2) Tracking
3) Sepeda Gunung
4) Wisata Berkuda
5) Monumen Ampang Banu’
6) Atraksi seni budaya

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 65


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

7) Agrowisata.
12. Kawasan Wisata Alam tondok To Bugi’di Masanda ;dengan objek pendukung:
1) Panorama Alam
2) Atraksi Seni Budaya
3) Air Terjun Sarambu Sengo’
4) Permandian Air Panas
5) Batu Tindak Sarira
6) Sakean
7) Bulu Pala’
8) Lando Tekka
13. Kawasan Wisata Barereng di Kurra; dengan objek pendukung :
1) Rafting/Arung Jeram
2) Air Terjun
3) Kolam Pemancingan
4) Tracking
5) Panorama
14. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’; dengan objek
pendukung :
1) Air terjun
2) Hutan Wisata
3) Perkemahan
4) Atraksi seni budaya
5) Kuburan Batu
6) Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
15. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek
penunjang :
1) Desa Wisata
2) Rumah Adat
3) Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
4) Benteng To Pada Tindo
5) Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
6) Passiliran Kambisa

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 66


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

7) Kerajinan seni ukir.

2.5.4 Rencana Pola Ruang Kawasan Peruntukan Lainnya yang


menunjang Kegiatan Kepariwisataan
1. Kawasan peruntukan hutan;
2. Kawasan peruntukan perikanan;
3. Kawasan peruntukan pertanian;
4. Kawasan peruntukkan industri rumah tangga yaitu kawasan peruntukkan
industri kerajinan ditetapkan di seluruh kawasan wisata;
5. Kawasan aglomerasi industri rumah tangga ditetapkan di Kecamatan Makale,
Kecamatan Bittuang, dan Kecamatan mengkendek.
6. Kawasan peruntukan lainnya.

2.5.5 Kawasan-kawasan Strategis Wilayah Kabupaten


1. Kawasan Strategis Nasional yaitu kawasan Tana Toraja dan sekitarnya yang
merupakan kawasan strategis nasional dengan sudut kepentingan sosial
budaya.
2. Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dengan sudut kepentingan sosial budaya,
adalah kawasan wisata budaya Tana Toraja;
3. KSK kawasan strategis dengan sudut kepentingan lingkungan hidup, terdiri
atas :
a. kawasan wisata alam hutan Pango-Pango di Kecamatan Makale Selatan;
b. kawasan wisata alam dan budaya terpadu di sepanjang jalur jalan lingkar
wisata Tana Toraja di Kecamatan Makale Selatan, Gandangbatu Sillanan,
Rano, Bonggakaradeng dan Malimbong Balepe;
c. Air Terjun Patongloan di Kecamatan Bittuang; dan
d. Kawasan wisata alam permandian Tilangga di Kecamatan Makale Utara;
4. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) dengan sudut kepentingan sosial budaya
terdiri atas :
a. kawasan wisata Kuburan Adat Lemo di Kecamatan Makale Utara;
b. kawasan wisata Kaero di Kecamatan Sangalla;
c. kawasan wisata Sillanan di Kecamatan Gandangbatu Sillanan;
d. kawasan wisata papa batu Tumakke di Kecamatan Rembon;
e. Kawasan Wisata Potok Tengan di Kecamatan Mengkendek;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 67


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

f. Kawasan Wisata Buntu Burake di Kecamatan Makale;


g. Kawasan Wisata Liang Ba’ba Saratu Ollon di Kecamatan Banggakaradeng;
h. Kawasan Wisata Batu Tallu Simbuang di Kecamatan Simbuang;
i. Kawasan Wisara Sarambu Assing di Kecamatan Bittuang;
j. Kawasan Wisata Panorama Tondok To Bugi’ di Kecamatan Masanda;
k. Kawasan Wisata Pango-pango di Kecamatan Makale Selatan;
l. Kawasan Wisata Barereng di Kecamatan Kurra;
m. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Kecamatan Malimbong Balepe; dan
n. Kawasan Wisata Desa Adat Bebo’ Tumbang Datu di Kecamatan Sangalla
Utara.

Gambar 2.4. Peta Rencana Kawasan Strategis Kabupaten


(sumber: RTRW Kabupaten Tana Toraja)

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) II - 68


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

KONDISI WILAYAH
Bab 3
KABUPATEN MENDUKUNG
KEPARIWISATAAN

3.1 ADMINISTRASI DAN GEOGRAFIS WILAYAH


Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian
utara Provinsi Sulawesi Selatan dan beribukota Makale dengan luas 2.054,30 km²
persegi dengan elevasi ketinggian 400-3.075 mdpl yang meliputi 19 kecamatan,
47 Kelurahan dan 112 Lembang dimana Kecamatan Malimbong Balepe dan
Kecamatan Bonggakaradeng merupakan dua kecamatan terluas dengan luas
masing-masing adalah 211,47 Km2dan 206,76 Km2, sedangkan wilayah
kecamatan dengan luas terkecil adalah Kecamatan Makale Utara dan Kecamatan
Sangala Utara dengan luas masing-masing adalah 26,08 km2 dan 27,96 Km2.

Kabupaten Tana Toraja adalah sebuah Kabupaten yang dalam peta administratif
masuk ke dalam wilayah Sulawesi Selatan. Kabupaten Tana Toraja adalah salah
satu Kabupaten Dalam Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di
Makale. Kabupaten Ini Terletak antara 2°-3° Lintang Selatan dan 119° - 120°'
Bujur Timur. Letak Kabupaten Tana Toraja berbatasan dengan :
▪ Sebelah Utara berbatasan Kabupaten Toraja Utara dan Provinsi Sulawesi
Barat
▪ Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu
▪ Sebelah Selatan berbatasan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
▪ Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 1


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 2.054,30 Km2 yang meliputi 19
(Sembilan Belas) kecamatan, dimana Kecamatan Malimbong Balepe merupakan
kecamatan yang terluas dengan luas 211,47 Km2. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada table berikut.

Tabel: 3.1 Luas Wilayah Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019


Luas Kecamatan
No. Kecamatan Desa Kelurahan
Km2 %
1. Bonggakaradeng 206,76 10,06 5 1
2. Simbuang 194,82 9,48 5 1
3. Rano 89,43 4,35 5 -
4. Mappak 166,02 8,08 5 1
5. Mengkendek 196,74 9,58 13 4
6. Gandang Batu Sillanan 108.63 5,29 9 3
7. Sangalla 36,24 1,76 3 2
8 Sangalla Selatan 47,80 2,33 4 1
9 Sangalla utara 27,96 1,36 4 2
10 Makale 39.75 1,93 1 14
11 Makale Selatan 61.70 3,00 4 4
12 Makale Utara 26.08 1,27 - 5
13 Saluputti 87,54 4,26 8 1
14 Bituang 163,27 7,95 14 1
15 Rembon 134,47 6,55 11 2
16 Masanda 134,77 6,56 8 -
17 Malimbong Balepe 211,47 10,29 5 1
18 Rantetayo 60,35 2,94 3 3
19 Kurra 60,50 2,94 5 1
Total 2.054,30 100.00 112 47
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 2


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 3


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.2 KONDISI FISIK WILAYAH


3.2.1 Kondisi Topografi dan Kelerengan
Kabupaten Tana Toraja yang berada pada daerah perbukitan yang cukup tinggi
merupakan limitasi dalam pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Tana
Toraja. Kondisi geomorfologi di Kabupaten Tana Toraja dalam 5 tahun terakhir
terus mengalami perubahan. Tingginya frekwensi bencana alam seperti gempa
bumi dan tanah longsor telah banyak mengubah kondisi geomorfologi dan
lingkungan hidup di kabupaten ini. Selain oleh alam, perubahan kondisi
geomorfologi dan lingkungan hidup juga turut dipicu oleh pemanfaatan sumber
daya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah konservasi yang telah menyebabkan
penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan. Kondisi ini antara lain terlihat
dari terus berkurangnya luas areal hutan dan bertambahnya luas lahan kritis.
Problematika tersebut turut memicu terjadinya banjir dan longsor.
Kabupaten Tana Toraja
mempunyai topografi yang
relatif bergelombang dan
berbukit, sedangkan
topografi datar relatif
sedikit. Kawasan yang
mempunyai kemiringan
lahan datar (0-8%) pada
umumnya berada di daerah
di sebelah timur dan lahan-
Gambar 3.2. Peta Kelerangan Kabupaten Tana Toraja
lahan sepanjang jalan Sumber: Dirjen Penataan Ruang Kementerian PU.

poros. Selanjutnya kawasan yang mempunyai kemiringan lahan 8-15% tersebar


di seluruh wilayah Kabupaten Tana Toraja, sedangkan kemiringan lahan di atas
40% pada umumnya berada di sebelah barat Kecamatan Simbuang, Kecamatan
Bonggakaradeng, Kecamatan Masanda dan beberapa kecamatan lainnya
merupakan kawasan lindung.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 4


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Gambar 3.3. Peta Ketinggian Wilayah Kabupaten Tana Toraja


(Sumber: Dirjen Penataan Ruang Kementerian PU.)

3.2.2 Geologi
Struktur geologi batuan Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakteristik
geologi yang kompleks dicirikan oleh adanya jenis satuan batuan yang bervariasi
akibat pengaruh struktur geologi. Beberapa jenis batuan yang dapat ditemukan
di Kabupaten Tana Toraja pada umumnya antara lain:
▪ batuan epiklastik gunungapi (batupasir andesitan, batulanau, konglomerat
dan breksi
▪ batugamping kelabu hingga putih berupa lensa-lensa besar
▪ batugamping terumbu
▪ batupasir hijau, grewake, napal, batulempung dan tuf, sisipan lava
bersisipan andesit-basal
▪ batupasir, konglomerat, tufa, batulanau, batulempung, batugamping, napal
▪ batusabak, kuarsit, filit, batupasir kuarsa malih, batulanau malih dan pualam,
setempat batulempung malih
▪ granit, granodiorit, riolit, diorit, dan aplit

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 5


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ hasil erupsi parasit


▪ konglomerat, sedikit batupasir glokonit dan serpih
▪ lava andesit dan basal, dan latit kuarsa
▪ lava, breksi, tufa, konglomerat
▪ Napal diselingi batulanau gampingan dan batupasir gampingan
▪ napal, kalkarenit, batugamping koral bersisipan dengan tuf dan batupasir,
setempat dengan konglomerat
▪ serpih coklat kemerahan, sepi napalan kelabu, batugamping, batupasir
kuarsa, konglomerat, batugamping dan setempat batubara

3.2.3 Kondisi Iklim dan Curah Hujan


Kondisi iklim Kabupaten Tana Toraja menunjukkan curah hujan terbanyak pada
tahun 2014 terjadi pada bulan Desember yaitu sekitar 393,5 mm dan banyaknya
hari hujan yang terjadi pada tahun 2014 terbanyak terjadi pada bulan Desember
yaitu sebanyak 29 hari.
Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja,
Tabel: 3.2
Tahun 2019
No. Bulan Hari Hujan Curah Hujan
1. Januari 13,0 203,8
2. Februari 11,0 397,3
3. Maret 9,0 154,5
4. April 9,0 147,5
5. Mei 11,0 356,3
6. Juni 22,0 605,8
7. Juli 17,0 259,5
8 Agustus 10,0 186,7
9 September 14,0 305,3
10 Oktober 8,0 79,0
11 November 12,0 209,0
12 Desember - -
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

3.2.4 Kondisi Hidrologi


Keadaan Hidrologi di Kabupaten Tana Toraja umumnya dipengaruhi oleh sumber
air yang berasal dari Sungai Sa’dan, Salu Tapparan, Sungai Saluputti, Sungai
Mataallo, Sungai Masuppu’dan anak sungai serta mata air dengan debit yang
bervariasi. DAS Hulu Sungai Sa’dan merupakan sungai terpanjang di Sulawesi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 6


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Selatan berada di Kabupaten Tana Toraja merupakan urat nadi yang vital bagi
pengembangan pertanian dan PLTU Bakaru di Kabupaten Pinrang. Keberadaan
sungai-sungai tersebut pada umumnya digunakan untuk irigasi perdesaan,
sumber PLTMH dan sangat potensial dikembangkan bagi kepentingan pariwisata,
misalnya arum jeram dan wisata rafting. Kondisi hidrologi Kabupaten Tana Toraja
secara umum adalah sebagai berikut:
▪ Air tanah, air tanah pada umumnya terdapat pada kedalaman 40-100 meter.
▪ Air permukaan, air permukaan pada umumnya berupa sungai dan genangan-
genangan.

3.3 SEJARAH DAN BUDAYA SEBAGAI POTENSI PARIWISATA


3.3.1 Identitas Etnis
Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan.
Populasinya diantaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara,
dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen
sementara sebagian memeluk agama Islam dan kepercayaan animisme yang
dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah memeluk kepercayaan
ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

Kata Toraja berasal dari Bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam
di negeri atas”. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun
1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat Tongkonan dan
ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang
penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa
hari. Sebelum abad ke-20, Suku Toraja tinggal di desa-desa otonom, mereka
masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal
tahun 1990-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen.
Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, Kabupaten
Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indinesia. Tana Toraja dimanfaatkan
oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja
sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya dari masyarakat
kepercayaan tradisional dan agraris menjadi masyarakat yang mayoritas
beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 7


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai
sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan
masa pengkristenan, Suku Toraja, yang tinggal didaerah dataran tinggi dikenal
berdasarkan desa mereka dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama.
Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan diantara desa-desa da banyak
keragaman dalam dialek, hirarki sosial, dan berbagai praktik ritual dikawasan
dataran tinggi Sulawesi. Toraja (dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan
Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran
rendah untuk penduduk dataran tinggi. Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih
banyak memiliki hubungan berdagang dengan orang luar seperti suku Bugis dan
Suku Makassar yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi
Selatan daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris
Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah
Sa’dan Toraja dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di
Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama
yaitu Suku Bugis, Suku Makassar, Suku Mandar, dan Suku Toraja.

3.3.2 Sejarah
Asal kata Toraja berawal dari bahasa Bugis Sidendreng yaitu “ to ri aja”, yang
berarti “orang pegunungan” atau “orang hulu sungai”. Orang Luwu menyebut
Toraja sebagai “to riajang” yang berarti “orang yang berdiam di sebelah barat”.
Menurut bahasa Makassar, Toraja juga bisa berarti “ to = tau” dan “raja =
maraya”, “to atau tau” berarti “orang”, sedangkan “raja atau maraya” dapat
berarti “utara atau besar”, maka Toraja dapat berarti “orang dari utara” atau
“orang besar/bangsawan”. Seiring dengan berjalannya waktu, pada abad ke 20
dikenal nama Toraja yang semakin diperkuat oleh pemerintah kolonial Belanda,
dengan memperkenalkan Toraja pada tahun 1909. Penambahan kata Tana, yang
berarti negeri tempat pemukiman suku Toraja, membuat wilayah Toraja
kemudian lebih dikenal dengan sebutan Tana Toraja.

Menurut hasil penelitian seorang antropolog, Dr. C. Cryut, suku Toraja berasal
dari Indo Cina di sekitar Teluk Tongkin. Mereka merupakan imigran yang
meninggalkan negerinya menuju Asia Tenggara dalam tiga gelombang
keberangkatan. Leluhur suku Toraja merupakan rombongan pelayaran

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 8


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

gelombang terakhir, mereka mendarat di bagian daratan Pulau Sulawesi yang


sebagian pulaunya masih terendam lautan. Tempat pendaratannya yaitu di
sekitar hulu sungai yang diperkirakan berlokasi di daerah Enrekang. Kedatangan
para leluhur suku Toraja ini berbekal aturan keagamaan yang dimilikinya. Salah
satunya yaitu pada arsitektur rumah yang dibangun mirip perahu dan selalu
menghadap ke Utara untuk mengingatkan daerah asal mereka. Proses panjang
akulturasi antara penduduk suku Melayu lokal di Sulawesi dengan imigran
dipercaya merupakan asal suku Toraja. Proses imigrasi yang terus berlanjut
membuat penduduk yang sudah berakulturasi makin terdesak dan kemudian
pindah ke daerah pedalaman bagian atas, yang merupakan wilayah Tana Toraja
sekarang. Menurut cerita lisan turun temurun, disebutkan bahwa leluhur orang
Toraja berasal dari Nirwana (surga). Mereka turun dari langit setelah diciptakan
oleh Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa) dengan cara mengambil bahan
emas murni dengan menggunakan sepasang embusan yang disebut Sauan
Sibarrung. Para leluhur ini kemudian turun ke bumi dengan menggunakan
”tangga dari langit” atau ”eran di langi”. Tangga tersebut juga berfungsi sebagai
jalur komunikasi antara Puang Matua sebagai Sang Pencipta dengan ciptaannya
yaitu umat manusia. Leluhur yang diturunkan ke bumi dibekali dengan aturan
keagamaan yang disebut aluk.

Pada sumber lain, sebagaimana yang dijelaskan dalam dokumen rencana


pembangunan infrastruktur terpadu kawasan strategis pegunungan dan budaya
Toraja. Sumber tersebut menjelaskan bahwa Toraja aslinya mempunyai nama
tua yang dikatakan dalam literatur kuno mereka sebagai “Tondok Lepongan
Bulan Tana Matari’ Allo” yang berarti negeri dengan pemerintahan dan
masyarakat berketuhanan yang bersatu utuh bulat seperti bulatnya matahari dan
bulan. Agama asli nenek moyang mereka adalah Aluk Tadolo yang berasal dari
sumber Negeri Marinding banua Puan yang dikenal dengan sebutan Aluk Pitung
Sa’bu Pitung Pulo. Ketika Belanda masuk, agama Aluk Todolo tergeser oleh
missionaris Kristen yang menyebarkan agama diwilayah ini. Namun adat istiadat
yang berakar pada konsep Aluk Todolo hingga kini masih berjalan, seperti
pertunjukan upacara kematian masyarakat Toraja sebagai pengaruh kuat dari
agama nenek moyang mereka.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 9


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Menurut data sejarah, [enduduk yang pertama-tama menduduki/mendiami


daerah Toraja pada zaman purba adalah penduduk yang bergerak dari arah
selatan dengan perahu. Mereka datang dalam bentuk kelompok yang dinamai
Arroang (kelompok manusia). setiapArroan dipimpin oleh seorang pimpinan yang
dinamai Ambe’ Arroang (Ambe’ = bapak, Arroan = kelompok). Setelah itu datang
pengasa baru yang dikenal dalam sejarah Toraja dengan nama Puang Lembang
yang artinya pemilik perahu, karena mereka datang dengan mempergunakan
perahu menyusuri sungai-sungai besar. Pada waktu perahu mereka sudah tidak
dapat diteruskan karena derasnya air sungai dan bebatuan, maka mereka
memongkar perahunya untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Tempat
mereka menambatkan perahunya dan membuat rumah pertama kali dinamai
Bamba Puang yang artinya pangkalan pusat pemilik perahu sampai sekarang.
Hingga kini kita melihat disekitar Rantepao terdapat beberapa Bamba Puang milik
keluarga-keluarga paling berpengaruh dan terkaya disitu yang mendirikan
Tongkonan beserta belasan lumbung padinya. Setiap Tongkonan satu keluarga
besar dihiasi oleh puluhan tanduk kerbau yang dipakai untuk menjelaskan status
sosial dalam strata masyarakat adat. Tongkonan itulah yang menjadi atraksi
budaya dan menjadi objek foto wisatawan yang mendatangi Toraja.

3.3.3 Bahasa
Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja dengan Sa'dan
Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi
bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.

Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala'
, dan Toraja- Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari
bahasa Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi
membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya
pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh
oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa
penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa
Toraja.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 10


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.3.4 Kearifan Lokal


Sesuai data yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun
2017, Penduduk Kabupaten Tana Toraja sebagian besar beragama Kristen
Protestan yaitu 222.549 jiwa, Katolik 54.149 jiwa, Hindu 5.794 jiwa, Islam 46.014
jiwa dan Budha 1.194 jiwa, Khonghucu 5 jiwa, Kepercayaan 37 [Link]
keagamaan di Tana Toraja memperlihatkan karakter dari suatu masyarakat
Pancasila dan kegotongroyongan yang sering ditandai dalam [Link]
kekeluargaan seperti pada upacara Rambu Solo' dan Rambu Tuka' (upacara
kedukaan dan upacara syukuran).

Adat istiadat masyarakatnya bervariasi yang dipengaruhi oleh lingkungan


kesatuan adat masing-masing wilayah. Kebudayaan Toraja adalah segala sesuatu
yang terakumulasi dalam bentuk Aluk-Ada'-Pemali atau Aluk Sanda Pitunna,
Rambu Tuka'-Rambu Solo' yang dinyatakan dalam pergaulan dan kehidupan
orang Toraja sehari-hari seperti dalam kehidupan pribadi, sosial, ekonomi, politik,
kesenian dan agama.

Adanya keteraturan dalam mengelola alam dan lingkungan tempat membangun


Tongkonan, memelihara ternak, sumber mates air, tempat upacara dan kegiatan
sehari-hari. Tongkonan berfungsi sebagai sumber norma, sebagai pelaksana
pemerintahan dan sebagai penghimpun kcluarga/kerabat. Mempelajari sejarah
perkembangan pembangunan Tongkonan terlihat bahwa orang Toraja berasal
dari Tongkonan Banua Puan, Tongkonan Kaero, Tongkonan Kesu', Tongkonan
Sesean, merupakan Kesatuan Tongkonan makes wajarlah bila orang Toraja tetap
bersatu dan menggalang kesatuan dalam menghadapi segala macam kegiatan
pembangunan Tana Toraja secara kekeluargaan. Tegasnya antara Makale-
Rantepao dan sekitarnya tetap membina keutuhan sebagai satu keluarga
[Link]' Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate, artinya Bersatu Kita Teguh
Bercerai Kita Runtuh.

Kebudayaan Toraja merupakan penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai


insani untuk manusiakan diri dalam lingkungannya baik fisik maupun social
Memahami kebudayaan Toraja harus dimulai dari ajakan Alu’ Todolo yaitu ajaran
kepercayaan yang diajarkan oleh leluhur orang Toraja. Aluk Todolo mengandung

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 11


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dua gagasan atau pokok pikiran yang sangat prinsipil yaitu : (1). Pandangan
terhadap alam semesta, Macro-Cosmos. (2). Pandangan terhadap manusia,
Micro-Cosmos.

3.3.5 Masyarakat dan Keluarga


Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap
desa adalah suatu keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang
dijadikan sebagai nama desa. Keluarga ikut memelihara persatuan desa.
Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan seterusnya) adalah
praktek umum yang memperkuat hubungan kekerabatan. Suku Toraja melarang
pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk
bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta. Hubungan kekerabatan
berlangsung secara timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling
menolong dalam pertanian, berbagi dalam ritual kerbau, dan saling
membayarkan hutang.

Kelas Sosial
Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas
sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak
(perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda).
Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk menikahi
perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi
perempuan dari kelas yang lebih tinggi, ini bertujuan untuk meningkatkan status
pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat
jelata masih dipertahankan hingga saat ini karena alas an martabat keluarga.

Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di


tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana
(pondok bambu yang disebut banua). Budak tinggal di gubuk kecil yang
dibangun di dekat tongkonan miik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi
siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam
keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak
dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada
kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang dapat

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 12


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan jumlah


kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.

Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-


kadang orang Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya
dengan cara menjadi budak. Budak bisa dibawa saat perang, dan perdagangan
budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan mereka, tetapi anak-
anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan memakai
perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka,
atauberhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi
pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati.

3.3.6 Kebudayaan Tongkonan


Rumah Adat Toraja disebut Tongkonan. Tongkonan sendiri mempunyai arti
tongkonan “duduk”, tempat “an” bisa dikatakan tempat duduk tetapi bukan
tempat duduk arti yang sebenarnya melainkan tempat orang di desa untuk
berkumpul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah-masalah adat. Hamper
semua rumah orang Toraja menghadap ke arah utara, menghadap ke arah
Puang Matua sebutan orang toraja bagi Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu untuk
menghormati leluhur mereka dan dipercaya akan mendapatkan keberkahan di
dunia ini. Daerah Tana Toraja umumnya merupakan tanah pegunungan kapur
dan batu alam dengan ladang dan hutan yang masih luas, dilembahnya terdapat
hamparan persawahan. Tongkonan sendiri bentuknya adalah rumah panggung
yang dibangun dari kombinasi batang kayu dan lembaran papan. Kalau diamati,
denahnya berbentuk persegi panjang mengikuti bentuk praktis dari material
kayu. Material kayu dari kayu uru, sejenis kayu lokal yang berasal dari Sulawesi.
Kualitas kayunya cukup baik dan banyak ditemui di hutan-hutan di daerah
Toraja. Kayu dibiarkan asli tanpa di pelitur atau pernis. Rumah Toraja/Tongkonan
ini dibagi menjadi 3 bagian yang pertama kolong (Sulluk Banua), kedua ruangan
rumah (Kale Banua) dan ketiga atap (Ratiang Banua). Pada bagian atap,
bentuknya melengkung mirip tanduk kerbau. Di sisi barat dan timur bangunan
terdapat jendela kecil, tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 13


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Memiliki latar belakang arsitektur rumah tradisional Toraja menyangkut falsafah


kehidupan yang merupakan landasan dari kebudayaan orang Toraja itu sendiri.

Dalam pembangunan rumah adat Tongkonan ada hal-hal yang mengikat atau hal
yang di haruskan dan tidak boleh dilanggar, yaitu Rumah harus menghadap ke
utara, letak pintu di bagian depan rumah, dengan keyakinan bumi dan langit
merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi dalam 4 penjuru mata angin, yaitu:

1. Utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia di mana Puang Matua berada
(keyakinan masyarakat Toraja).
2. Timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan
atau kehidupan.
3. Barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan
atau kehidupan, yaitu kesusahan atau kematian.
4. Selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat
melepas segala sesuatu yang tidak baik / angkara murka.

Pembangunan rumah tradisional Toraja biasanya dilakukan secara gotong


royong. Rumah Adat Toraja di bedakan menjadi 4 macam:
1. Tongkonan Layuk, rumah adat tempat membuat peraturan dan penyebaran
aturan-aturan.
2. Tongkonan Pakamberan atau Pakaindoran, rumah adat tempat melaksanakan
aturan- aturan. Biasanya dalam satu daerah terdapat beberapa tongkonan,
yang semuanya bertanggung jawab pada Tongkonan Layuk.
3. Tongkonan Batu A’riri, rumah adat yang tidak mempunyai peranan dan
fungsi adat, hanya sebagai tempat pusat pertalian keluarga.
4. Barung-barung, merupakan rumah pribadi. Setelah beberapa turunan
(diwariskan), kemudian disebut Tongkonan Batu A’riri.

Bangsawan Toraja yang memiliki Tongkonan umumnya berbeda dengan


Tongkonan dari orang biasanya. Perbedaan ini bisa kita lihat pada bagian rumah
terdapat tanduk kerbau yang disusun rapi menjulang ke atas, semakin tinggi
atau banyak susunan tanduk kerbau tersebut semakin menukjukkan tinggi dan
penting status sosial si pemilik rumah.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 14


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kenapa harus tanduk Kerbau? bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan
ternak mereka juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu
tanduk atau tengkorak kepala kerbau di pajang dan disimpan di bagian rumah
karena sebagai tanda bawasannya keberhasilan si pemilik rumah mengadakan
sebuah upacara / pesta.

Struktur Kepemimpinan Tongkonan

Struktur Tongkonan dapat dilihat di bawah ini menggambarkan Tongkonan KESU'


sebagai Panta'nakan Lolo atau sebagai pemimpin Kaparengngesan /
Kapeindoran, yaitu Tongkonan Banua Sura', di To' Bubun, bertindak sebagai
ketua Badan Musyawarah. Sedangkan Rinding Batu, Tongkonan Kua, di Pao,
menangani masalah Pertahanan. Pesungan Banne, Tongkonan Komba di Angin-
angin, bertugas mengurus kesejahteraan dan [Link] Uai,
Tongkonan Baliu', Tadongkon, bertugas sebagai [Link] Katua',
Tongkonan Banua Lando, di La'bo', mengurus masalah [Link] itu
yang bertugas melaksanakan keputusan adalah Pa'palumbangan, Tongkonan
Tallunglanta' di Randanbatu sebagai Pelindung, bertindak Petionganan
Tongkonan Nonongan di [Link] yang bertindak sebagai Penasehat, pa
paelean, adalah Tongkonan Bamba di [Link]-siapa yang menghuni
Tongkonan tersebut di atas, dia pulalah yang menjadi pemangku dan
penanggung jawab adat.

Tongkonan di Sangalla', Ma'kale, Mengkendek secara umum menuruti peraturan


adat dari Tongkonan Kesu', Panta'nakan [Link] kelancaran pemerintahan di
daerahnya masing-masing diciptakanlah di Sangalla' 4 daerah kuasa adat.

Makale dan Mengkendek mengenal fungsi Tongkonan yaitu Tongkonan Banua


Puang yang terdiri atas (1) Tongkonan Puang, sebagai pelaksana dan
penanggungjawab Adat, dan (2) Tongkonan Tomakaka, sebagai pelaksana
[Link] perkembangan Tongkonan begitu pula sejarah perkembangan
manusia Toraja.

Rambu Tuka' dan Rambu Solo' mengakumulasi sejumlah nilai, pandangan,


pikiran, aktifitas, perilaku, atraksi yang telah terseleksi dari pengalaman masa

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 15


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

lampau dan dijadikan pegangan dan pedoman bertingkah laku dalam kehidupan
bermasyarakat seperti;
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan Puang Matua.
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan sesama manusia.
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan alam semesta.
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan binatang.

3.3.7 Ukiran Kayu

Melihat Rumah Adat Tongkonan Toraja, yang sangat menarik adalah variasi
gambar dan simbol yang diukir menghiasi semua bagiannya. Ukiran-ukiran
tersebut untuk menunjukkan konsep keagamaan dan sosial suku Toraja yang
disebut Pa’ssura (Penyampaian). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan
perwujudan budaya Toraja. Pola yang terukir memiliki makna dengan presentase
simbol tertentu dari pemilik atau rumpun keluarga yang punya nilai magis.
Ukiran-ukiran Toraja itu diyakini memiliki kekuatan alam atau supranatural
tertentu.

Diperkirakan, tidak kurang dari 67 jenis ukiran dengan aneka corak dan makna.
Warna- warna yang dominan adalah merah, kunig, putih dan hitam. Semua
sumber warna berasal dari tanah liat yang disebut Litak kecuali warna hitam
yang berasal dari jelaga atau bagian dalam pisang muda. Pencipta awal mula
ukiran- ukiran magis ini diyakini dari Ne’ Limbongan yang mana simbolnya adalah
berupa lingkaran berbatas bujur sangkar bermakna mata angin. Setiap pola
ukiran abstrak punya nama dan kisah antara lain motif “empat lingkaran yang
ada dalam bujur sangkar” biasanya ada di pucuk rumah yang melambangkan
kebesaran dan keagungan. Makna yang terkandung dalam simbol-simbol itu
antara lain simbol kebesaran bangsawan (motif paku), simbol persatuan (motif
lingkaran 2 angka delapan), simbol penyimpanan harta ( motif empat lingkaran
berpotongan dan bersimpul) dll. Selain motif- motif abstrak itu, beragam pula
pola-pola yang realistis mengikuti bentuk binatang tertentu antara lain burung
bangau (motif Korong), motif bebek (Kotte), Anjing (motif Asu), Kerbau
(Tedong), Babi (Bai) dan ayam (Pa’manuk Londong).

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 16


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan
tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma
air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan.
lambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga
memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak,
sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam
kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak
bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan
kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang
bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan
keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.

Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja,
selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan
sebagai dasar ukiran dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi
dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika
dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja
membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja
menggunakan bambu untuk membuat jelas ornamen geometris tersebut.

3.3.8 Upacara Adat


[Link] Upacara Rambu Tuka’ atau Upacara Rampe Mataallo
Upacara Rambu Tuka atau Upacara Rampe Matallo memiliki arti secara harfiah
yang berarti, “Rambu = Asap” dan “Tuka = Naik”, serta “Rampe = bagian
sebelah” dan “Mataallo = Timur”. Upacara ini merupakan rangkaian upacara
yang dilakukan masyarakat Toraja semasa hidupnya di dunia untuk tujuan
keselamatan dari kehidupan dan juga untuk memuja pencipta, pemelihara alam
semesta serta para leluhurnya. Adapun jenis upacara yang termasuk ke dalam
Upacara Rambu Tuka’ atau Upacara Rampe Mataal.

[Link] Alukna Rampanan Kapa’, Sangka’na Passullean Allo


Adalah upacara perkawinan adat. Perkawinan dalam tradisi masyarakat Toraja
dipandang sebagai sebuah ikatan yang suci, sakral dan juga mengandung nilai
hukum yang tidak hanya bagi kedua mempelai, namun juga bagi seluruh

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 17


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

keluarga besar mempelai. Adapun rangkaian upacara perkawinan adat Toraja


terdiri dari: - Peminangan, - Pembicaraan untuk menentukan ikatan hukum
(dikapa’i) antara kedua belah pihak keluarga, - Pelaksanaan perkawinan. Besar
kecilnya upacara perkawinan ditentukan oleh kesepakatan kedua belah pihak
keluarga, yang tentunya tidak terlepas dari status sosial kedua mempelai.

[Link] Upacara Rambu Solo’ atau Upacara Rampe Matampu


pacara Rambu Solo’ atau Upacara Rampe Matampu memiliki arti secara harfiah
yang berarti, “Rambu = Asap” dan “Solo = Turun”, serta “Rampe = bagian
sebelah” dan “Matampu = barat”. Upacara Rambu Solo’ atau Upacara Rampe
Matampu merupakan upacara yang berkaitan dengen kematian dan pemakaman
jenazah. Pada jenis upacara ini hanya terdapat tingkatan upacara berdasarkan
status sosial kemasyarakatan di Toraja.

Di Tana Toraja tradisi menghormati kematian dikenal dengan upacara Rambu


Solo'. Persamaan dari ketiganya: ritual upacara kematian dan penguburan
jenazah. Di Tana Toraja sendiri memiliki dua upacara adat besar yaitu Rambu
Solo' dan Rambu Tuka. Rambu Solo' merupakan upacara penguburan, sedangkan
Rambu Tuka, adalah upacara adat selamatan rumah adat yang baru, atau yang
baru saja selesai direnovasi.

Rambu Solo' merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena
memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Upacara ini biasanya
dilaksanakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan
biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa sampai dua minggu untuk
kalangan bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di
ketinggian bukit batu. Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo (kepercayaan
masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam) di
kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan,
maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.

Upacara ini bagi masing-masing golongan masyarakat tentunya berbeda-beda.


Bila bangsawan yang meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan dipotong
untuk keperluan acara jauh lebih banyak dibanding untuk mereka yang bukan
bangsawan. Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 18


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah


diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi, dan lama
upacara sekitar 3 hari.

Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan
sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara
Rambu Solo' maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit
karena statusnya masih 'sakit' maka orang yang sudah meninggal tadi harus
dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti
menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal- hal
yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya.

Jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan


tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan
1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma'tinggoro Tedong,
yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang
dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada
sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-
potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir.

Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu


keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak
ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan
di tongkonan yang pertama, yaitu penyembelihan kerbau dan dagingnya akan
dibagi-bagikan kepada orang- orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.

Seluruh prosesi acara Rambu Solo' selalu dilakukan pada siang hari. Siang itu
sekitar pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita), kami semua tiba di
tongkonan barebatu, karena hari ini adalah hari pemindahan jenazah dari
tongkonan barebatu menuju rante (lapangan tempat acara berlangsung).

Jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan


duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di
depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh
para wanita dalam keluarga itu).

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 19


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Prosesi pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante dilakukan


setelah kebaktian dan makan siang. Barulah keluarga dekat arwah ikut
mengusung keranda tersebut. Para laki-laki yang mengangkat keranda tersebut,
sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba.

Dalam pengarakan terdapat urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan


pertama kita akan lihat orang yang membawa gong yang sangat besar, lalu
diikuti dengan tompi saratu (atau yang biasa kita kenal dengan umbul- umbul),
lalu tepat di belakang tompi saratu ada barisan tedong (kerbau) diikuti dengan
lamba- lamba dan yang terakhir barulah duba-duba.

Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante (lapangan khusus tempat prosesi


berlangsung), di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari
bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai
tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Karena selama acara
berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi
menginap di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.

Iring-iringan jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di


lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung).
Menara itu merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang
yang ada di rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk
rumah adat Toraja. Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan
dikubur. Di rante sudah siap dua ekor kerbau yang akan ditebas.

Setelah jenazah sampai di lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu,


yaitu sanak saudara yang datang dari penjuru tanah air. Pada sore hari setelah
prosesi penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga
dan para tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma'pasilaga
tedong (adu kerbau). Bukan main ramainya para penonton, karena selama
upacara Rambu Solo', adu hewan pemamah biak ini merupakan acara yang
ditunggu-tunggu.

Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan
agenda acara berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua
tamu-tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 20


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

di rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan
yang digemari oleh orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari
penguburan. Baik itu yang dikuburkan di tebing maupun yang di patane'
(kuburan dari kayu berbentuk rumah adat).

[Link] Upacara Disilli’


Yaitu upacara pemakaman bersyarat yang merupakan upacara terendah dan
upacara pemakaman yang sangat sederhana. Upacara ini berlaku untuk
masyarakat yang memiliki ekonomi lemah (kelas hamba sahaya). Contoh salah
satu kesederhanaannya adalah pada saat penguburan, hanya dilakukan dengan
memukul tempat makan babi (palungan), yang dikenal dengan istilah didedekan
palungan bai. Selain itu, Upacara Disilli diberlakukan bagi bayi dan anak kecil
yang belum memiliki gigi. Pada upacara bayi yang baru lahir dan meninggal
dunia, penguburan dilakukan dengan plasentanya dan tanpa upacara
keagamaan. Sedangkan anak kecil yang belum memiliki gigi dikuburkan bersama
dalam pohon kayu besar yang disebut kayumate. Mereka dipercaya masih belum
berdosa (masih suci) sehingga dikembalikan lagi pada alam asalnya melalui
pohon, yang dikenal dengan istilah passiliran. Upacara seperti ini berlaku untuk
semua strata kehidupan masyarakat Toraja.

Dari seluruh upacara maupun ritual adat yang ada di Toraja, upacara
pemakaman merupakan upacara sakral terbesar dan termahal diantara upacara
yang lainnya. Semakin tinggi strata sosial yang dianut orang Toraja, maka
semakin besar dan mahal pula upacara yang dilaksanakannya. Kewajiban dalam
melaksanakan upacara pemakaman dibebankan kepada keluarga yang
ditinggalkan, maka sering upacara pemakaman dilakukan beberapa tahun setelah
orang tersebut meninggal. Kondisi ini memberikan kesempatan kepada keluarga
yang ditinggalkan untuk mencari sejumlah dana yang dibutuhkan bagi upacara
pemakaman tersebut. Oleh karena itu, pembalsaman bagi jenazah perlu
dilakukan agar jenazah masih dalam kondisi yang baik sampai tiba saat upacara
pemakamannya. Jenazah tersebut diletakkan di dalam tongkonan dan dianggap
masih hidup bersama dengan keluarganya.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 21


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.3.9 Musik dan Tarian


Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara
penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk
menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan
menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria
membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk
menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma'badong). Ritual tersebut
dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakama. Pada hari
kedua pemakaman, tarian prajurit Ma'randing ditampilkan untuk memuji
keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian
dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai
ornamen lainnya. Tarian Ma'randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa
dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara,
para perempuan dewasa melakukan tarian Ma'katia sambil bernyanyi dan
mengenakan kostum baju berbulu. Tarian Ma'akatia bertujuan untuk
mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah
penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan
bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma'dondan.

Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama
musim panen. Tarian Ma'bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan
Syukur dan tarian Ma'gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang
menumbuk beras. Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang
dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma'dandan oleh perempuan.
Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian
yang disebut Ma'bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'bua adalah
upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau
dan menari di sekeliling pohon suci.

Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa'suling. Suling
berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian
Ma'bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari
dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 22


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

alat musik lainnya, misalnya Pa'pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan
pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.

[Link] Tari Pa’gellu


Gellu‟ Pangala‟ adalah salah satu tarian tradisional dari Tana Toraja yang
dipentaskan pada acara pesta “Rambu Tuka”. Setiap gerakan dalam tarian ini
merupakan simbol-simbol dari falsafat orang toraja. Tetapi tarian ini tabu atau
pamali dipentaskan pada acara “Rambu Solo”. Tarian Ini terdapat di Kecamatan
Makale, Mangkendek dengan jarak (5 Km), Makale Utara dengan jarak (8 Km),
Makale Selatan dengan jarak (10 Km), Malimbong Balepe dengan jarak (11 km).

[Link] Tarian Ma’ Badong


Tarian ini dilakukan pada upacara kematian dan biasanya berlangsung
berjamjam, bahkan sering berlangsung semalaman. Tarian yang terbuka untuk
umum ini, ditarikan dengan saling mengkaitkan jari-jari kelingking dalam
lingkaran yang bergerak seiring gerakan langkah dan dibawakan oleh wanita
maupun pria setengah baya. Biasanya penari memakai pakaian serba hitam
sembari silih berganti melantunkan lagu kadong badong, yang syairnya berisikan
riwayat manusia dari lahir sampai mati, serta doa-doa agar arwah dapat diterima
di dunia arwah (Puya). Tarian Ma’badong ini hanya dilakukan pada upacara
pemakaman kaum bangsawan, yang lamanya minimal 3 (tiga) hari dan 3 (tiga)
malam. Tarian ini berada di Kecamatan Saluputti dengan jarak (19 Km).

[Link] Tarian To Mangnganda’


Tarian ini dipentaskan oleh kaum pria yang mempergunakan tanduk kerbau dan
hiasan uang-uang logam kuno sebagai hiasan kepala ditambah dengan kain
mawa‟ tua terjumbai ke belakang. Para penari menggunakan juga lonceng/bel
kecil yang selalu dideringkan pada saat menari dan bunyinya sangat merdu dan
ritmik. Gerakan tarinya sering dibarengi lengking teriakan yang mengejutkan
penonton Tarian Manganda‟ adalah tarian pemujaan yang dipentaskan pada
upacara Merok atau Ma‟Bua‟. Tarian Terdapat di Kecamatan Makale Utara
dengan jarak (7 Km).

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 23


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

[Link] Tarian To Manimbong


Tarian Manimbong juga merupakan tarian pemujaan dan doa pada upacara
syukuran. Perbedaannya ialah tarian ini hanya ditarikan oleh kaum pria. Pakaian,
hiasan dan perlengkapan mereka terdiri dari pakaian khusus untuk pria yaitu
Bayu Pokko‟ dan Seppa Tallu Buku dan berselempangkan kain tua/antik yakni
Mawa‟ serta mengenakan hiasan kepala yang terbuat dari bulu burung bawan
atau bulu ayam yang cantik. Perlengkapan mereka yaitu parang kuno (la‟bo‟
pinai) dan sejenis tameng bundar kecil yang bermotif ukiran Toraja. Gerakan
mereka juga diiringi dengan syair lagu khusus. Tarian Manimbong sering
dikombinasikan dengan Tarian Ma‟dandan dengan gerakan yang diiringi oleh
irama yang sama, walaupun tempat penari pria dan wanita saling bertukaran
tempat ke depan dan ke belakang, berdiri dan berlutut, dengan diiringi sentakan
gerakan-gerakan kaki. Tarian ini terdapat pada Kecamatan Bittuang dengan jarak
(25 Km).

[Link] Tarian Ma’randing


Tarian ini khusus untuk menghormati para pahlawan perang yang akan pergi
berperang atau baru tiba dari medan perang. Tarian ini terdapat pada Kecamatan
Sangala Selatan dengan jarak (15 km).

[Link] Tarian Boneballa’/Ondo Samalele


Tarian ini adalah tarian kegembiraan yang biasa dipentaskan sebagai
ucapan syukur kepada Sang Pencipta, terkait dengan mampunya
sebuah keluarga besar menyelesaikan renovasi tongkonannya maupun
selesainya penyelenggaraan Upacara Rambu Solo’ yang besar (mangrapai’/
sapurandanan). Tarian Boneballa’ ini dibawakan oleh wanita dan remaja
putri yang berasal dari tongkonan yang telah direnovasi. Tarian ini diiringi
oleh irama gendang yang dikenal dengan sebutan oni tumburaka dan oni
tuntunpitu, selain itu juga diiringi lagu berupa syair-syair pemujaan
kepada Tuhan ( passengo). Rangkaian tarian ini ditutup dengan tari
massal yang diikuti oleh seluruh keluarga. Tarian ini berada di
Kecamatan Sangala Utara dengan Jarak 10 Km.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 24


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

[Link] Tarian Pa’Bondesan


Tarian Pa’bodesan merupakan tarian penyembuhan terhadap penyakit
cacar yang mewabah. Tarian ini khusus dibawakan oleh kaum pria
dengan bertelanjang dada. Para penari menggunakan kuku palsu yang
disebut kuku setan ( kanuku bombo) dan hiasan kepala yang khas dari
bambu yang penuh dengan guntingan kertas (pangngarru’). Gerakan
tarian ini senantiasa berputar ditempatnya dengan diiringi oleh alunan
irama suling yang khusus ditiup oleh 4 (empat) orang pemain suling.
Tarian ini berada di Kecamatan Masanda dengan Jarak (19 Km).

[Link] Tarian Pa’papangngan


Merupakan tarian penerimaan tamu yang dipentaskan oleh para
gadis dengan pakaian adat Toraja lengkap berwarna gelap (hitam).
Gerakan tarinya melambangkan ucapan selamat datang dan
penyuguhan sekapur sirih (pangngan) dan diakhiri dengan ucapan
terima kasih serta kemudian para penari berpamitan. Tarian
terdapat di Kecamatan Makale Utara dengan jarak (8 Km).

[Link] Tarian Burake


Tarian ini berasal dari bagian Barat Tana Toraja yaitu Kecamatan
Bonggakaradeng. Tarian ini merupakan tarian pemujaan kepada Puang
Marua can Deata (Aluk Todolo). Ditarikan oleh gadis-gadis bangsawan
dengan iringan musik yaitu suling lembang, musik gesek yaitu geso‟-
geso‟, gendang tangan yang kecil yaitu Kamaru (Garapung) dan
gendang besar yaitu Gandang Boro. Tarian ini diantar dengan sebuah
lagu berjudul: Kamma‟-kamma‟ku To Lino (Lagu khusus pemujaan).
Pakaian yang digunakan sangat spesifik yaitu Bayu Nene‟ Barandilau,
Basserarang, Dodo orang. Perhiasannya terdiri dari Sa‟pi‟ Ulu, Tida-tida,
Ponto Kati, Sassang, Rara‟ dan Orang-orang serta hiasan khas yaitu
Kanuku Deata (kuku dewa-dewi). Untuk kaum lelaki menggunakan
Seppa‟ Todolo/Seppa‟ Tallubuku, Bayu Pokko‟ Muane, Sambu‟, Talingka‟
sapu‟, La‟bo Pinai, semuanya adalah bagian dari tradisional lelaki

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 25


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

ditambah hiasan dari manik-manik. Tarian ini terdapat Pada Kecamatan


Makale, dan Kecamatan Masanda dengan jarak (35 Km).

[Link] Tarian Dao Bulan


Tarian bersal dari Kecamatan Bonggakaradeng, tarian ini menggambarkan
kehidupan masyarakat pedesaan dalam menyambut bulan purnama. judul
Dao Bulan Da‟mu mallun len, yang berarti permohonan kepada sang
Pencipta agar berkatNya senantiasa dilimpahkan pada umat manusia
sama seperti terangnya bulan yang senantiasa bersinar.

[Link] Tarian Ma’nani


Tarian ini dilakukan sebagai sarana hiburan yang di sertai dengan upacara
penyambutan selamat datang dan rasa hormat kepada pejuang pada
zaman penjajahan.

[Link] Tarian Ma’Katia


Tarian ini adalah tarian duka tradisional untuk menyambut keluarga dan kerabat
yang datang untuk menghadiri upacara pemakaman seorang bangsawan. Tarian
diiringi dengan lagu duka untuk menyampaikan penghiburan kepada keluarga
yang ditinggalkan bahwa mereka juga turut berduka. Tarian ini dilaksanakan
pada saat rombongan keluarga dan kerabat (totongkon) memasuki area
penerimaan tamu (lantang karampoan). Tarian ini berada di Kecamatan Rembon
dengan jarak (10 km).

3.3.10 Kerajinan untuk Souvenir


[Link] Ukiran
Ukiran-ukiran yg jadi Simbol kepercayaan hidup bagi masyarakat Tana Toraja yg
terukir di Banua Tongkonan (Rumah Adat Tana Toraja) dan Lumbung Padi yaitu:
dengan melihat penjelasan motif pada gambar di samping, mulai dari urutan
pertama atau pengusunan motif dari atas rurun ke bawah. Sebagaimana
penjelasan berikut:
1. Pa‟ Bare‟ Allo (terletak paling diatas berbentuk Bulan dan Matahari) Pa‟Bare
Allo adalah perlambang dari suatu Tatanan aturan tingkah laku seperti bulan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 26


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dan matahari yang sudah tetap ada terbit dan terbenam matahari dipakai
sebagai acuan waktu.
2. Pa‟ Londong ( ukiran Ayam Jantan yg bertengger diatas Pa‟Bare‟ Allo) Pa‟
Londong adalah perlambang dari Keadilan karena salah satu dari sembilan
cara memutus permasalahan atau sengketa adalah dengan mengadu ayam
apabila pemimpin dalam kelompok sulit memutuskan pihak mana yg benar
atau salah.
3. Pa‟ Tedong (ukiran berbentuk Kepala Kerbau). Pa‟ Tedong adalah
Perlambang kesejahteraan karena kerbau merupakan hewan yang punyai
nilai ekonomi terutama utk corak tertentu.
4. Sebenarnya ada ukiran ke 4 yg berada paling bawah berbentuk garis-garis
vertikal dan horisontal namun kadang tidak terlalu diperhatikan, ini
sebenarnya ukiran yg pertama dikenal dan dianggap yg tertua (ada cerita
tersendiri untuk ini) yang merupakan perlambang hubungan horisontal
dengan sesama manusia dan vertikal dengan Tuhan.

[Link] Patung (Tau-tau)


Tau-tau adalah patung yang menggambarkan almarhum. Pada pemakaman
golongan bangsawan atau penguasa/pemimpin masyarakat salah satu unsur
Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatann Tau-tau. Tau-tau
dibuat dari kayu nangka yang kuat dan pada saat penebangannya dilakukan
secara adat. Mata dari Tautau terbuat dari tulang dan tanduk kerbau. Pada
jaman dahulu kala, Tau-tau dipahat tidak persis menggambarkan roman muka
almarhum namun akhir-akhir ini keahlian pengrajin pahat semakin berkembang
hingga mampu membuat persis roman muka almarhum. Tau-tau ini di jadikan
sebagai soevienir dan di pasarkan di kios-kios di Kabupaten Tana Toraja,
sehingga wisatawan yang datang mengunjungi obyek-obyek wisata akan dapat
membelikannya sebagai cendera mata. Namun ada tau-tau yang tidak di perjual
belikan di simpan di pemakaman diletakkan menghadap keluar. Rupanya menarik
perhatian dan minat banyak fihak, sehingga sering hilang, oleh sebap itu dibuat
kerangkeng untuk melindungi dari pencurian tau-tau dan ada petugas khusus

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 27


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

yang menjaganya sehingga tau-tau dapat dilindungi. Untuk itu perlu adanya
perhatian khusu dari pemerintah setempat.

[Link] Pertenunan
Awalnya corak tenun ini hanya berupa garis lurus yang berwarna selang seling.
Namun, kini tercipta berbagai motif yang semakin menarik. Perkembangan ini
tidak terlepas dari kemampuan para pengrajin menggunakan jenis benang yang
lebih modern. Tetapi tetap ditenun dengan khas Toraja, menggunakan alat tenun
tradisional, bukan mesin.

Pada tiga sentra kerajinan tenun itu, terdapat puluhan kios. Bersanding dengan
tongkonan-tongkonan yang berdiri dengan megahnya. Keistimewaannya,
wisatawan tidak hanya disuguhi berbagai motif yang cantik, tapi juga dapat
menyaksikan demo pembuatan tenun yang dilakukan oleh para pengrajin yang
mahir mengayun balida, alat tenun tradisional. Harga itu tergantung kainnya.
Ada yang terbuat dari sutra. Tapi bahan dasar kain umumnya adalah benang
kapas yang dipintal secara tradisional. Pewarna untuk memperkaya motif berasal
dari kulit pelepah, biji bijian, serta dedaunan. Warna yang sering ditampakan
adalah warna merah, kuning, hitam, hijau dan biru dan putih.

[Link] Miniatur
Miniatur Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung
menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan
menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau.
Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan
juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan berasal dari kata
tongkon (artinya duduk bersamasama).

Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (stara


sosial Masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang
disebut „alang„. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem
(bangah) saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat
berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan
simbol untuk menyelesaikan perkara. Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 28


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Lembangna) yang dikenal dengan istilah Ma'duangtondok terdapat tongkonan


yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan A'pa'(empat
rumah tongkonan) yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar.

3.4 KEKAYAAN EKOLOGI SEBAGAI POTENSI PARIWISATA


3.4.1 Kawasan Lindung
Kawasan lindung sebagaimana dalam PERDA RTRW Kabupaten Tana Toraja
terdiri dari:
1. Kawasan lindung
Kawasan hutan lindung di Kabupaten Tana Toraja yaitu seluas 92.824, yang
terdiri atas :
a. kawasan hutan lindung di Kecamatan Bittuang dengan luas kurang lebih
20.055,86 ha;
b. kawasan hutan lindung di Kecamatan Bonggakaradeng dengan luas
kurang lebih 18.390,39 ha;
c. kawasan hutan lindung di Kecamatan Gandang Batu Silanan dengan
luas kurang lebih 5,890 ha;
d. kawasan hutan lindung di Kecamatan Makale Selatan dengan luas
kurang lebih 18,480 ha;
e. kawasan hutan lindung di Kecamatan Malimbong Balepe dengan luas
kurang lebih 4.969,98 ha;
f. kawasan hutan lindung di Kecamatan Mappak dengan luas kurang lebih
6.759,95 ha;
g. kawasan hutan lindung di Kecamatan Masanda dengan luas kurang lebih
13.478,78 ha;
h. kawasan hutan lindung di Kecamatan Mengkendek dengan luas kurang
lebih 5.866,65 ha;
i. kawasan hutan lindung di Kecamatan Rano dengan luas kurang lebih
3.984,48 ha;
j. kawasan hutan lindung di Kecamatan Rembon dengan luas kurang lebih
1.140,89 ha;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 29


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

k. kawasan hutan lindung di Kecamatan Sanggalla Selatan dengan luas


kurang lebih 1.183,68 ha; dan
l. kawasan hutan lindung di Kecamatan Simbuang dengan luas kurang
lebih 16.970,69 ha;

2. Kawasan perlindungan setempat


Kawasan perlindungan setempat terdiri dari kawasan sempadan sungai,
kawasan kearifan lokal, dan RTH, yang meliputi:
a. Kawasan sempadan sungai, berupa sempadan sungai spanjang bantaran
Sungai Saddang, Sungai Masuppu, Sungai Noling dan Sungai Mamasa,
terdiri atas :
▪ daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul diluar
kawasan permukiman dengan lebar 100 (seratus) meter dari tepian
sungai
▪ daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul diluar
kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh)
meter dari tepian sungai; dan
▪ untuk sungai dikawasan permukinan berupa sempadan sungai yang
diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 meter.
b. Kawasan kearifan lokal, ditetapkan pada semua kawasan sistem
kehidupan tongkonan yang mempunyai nilai sejarah yang diakui
keberadaannya oleh masyarakat adat pada setiap wilayah persekutuan
adat.
c. Kawasan ruang terbuka hijau, berupa Ruang Terbuka Hijau Kawasan
Perkotaan (RTHKP) yang ditetapkan menyebar dan seimbang dengan
memperhatikan fungsi ekologis, sosial budaya, estetika, dan ekonomi
dengan ketentuan TRH publik paling sedikit 20% dan RTH privat paling
sedikit 10% dari luas kawasan perkotaan yaitu PKL, PKLp dan PPK.

3. Kawasan rawan bencana

a. kawasan rawan tanah longsor ditetapkan di Kecamatan Bittuang, dan


Kecamatan Makale Selatan. dan

b. kawasan rawan banjir, ditetapkan di Kecamatan Makale.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 30


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4. Kawasan lindung geologi


a. Kawasan cagar alam geologi, berupa kawasan keunikan bentang alam
ditetapkan di:
▪ kuburan Adat Lemo di kecamatan Makale Utara;
▪ kuburan batu Sillanan dan situs purbakala Silanan di Kecamatan
Gandang Batu Sillanan;
▪ kuburan Batu Pattan di Kecamatan Saluputti;
▪ kuburan dan Gua Tua Saluallo di Kecamatan Sangalla’ Utara;
▪ kuburan batu Mumy Bayi di Kecamatan Gandangbatu Sillanan;
▪ kuburan alam Sirope di Kecamatan Makale Utara; dan
▪ situs purbakala Potok Tengan dan situs purbaka Sassa’di kecamatan
Mengkendek.
b. Kawasan rawan bencana alam geologi, berupa kawasan rawan gempa
bumi ditetapkan di Kecamatan Bittuang, Kecamatan Makale Selatan dan
Kecamatan Masanda.

Gambar 3.4. Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Tana Toraja


(sumber: RTRW Kabupaten Tana Toraja)

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 31


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.4.2 Potensi Sumber Daya Alam


1. Pertanian Tanaman Pangan
Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu penghasil tanaman pangan di
Provinsi Sulawesi Selatan. Tanaman pangan mempunyai konstribusi sebesar
8,29% dalam pembentukan PDRB Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2019.
Komoditas terbesar tanaman pangan adalah padi, dengan produktivitas 4,53
ton/Ha dengan luas panen sebesar 21.401 Ha yang menghasilkan 96.935
ton. Angka produksi ini mengalami penurunan 27,54% dari tahun 2019.
Faktor cuaca memiliki andil yang besar dalam penurunan produksi padi
karena jenis sawah yang diminan adalah sawah tadah hujan yang
mengandalkan hujan untuk pengairan. Selain padi, jagung juga merupakan
komoditas dengan produksi cukup tinggi tercatat sebesar 2.535 ton di tahun
2019. Kecamatan Rano dan Bonggakaraeng merupakan daerah penghasil
jagung terbanyak di Kabupaten Tana Toraja.

2. Tanaman Perkebunan
Luas areal tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Tana Toraja pada
tahun 2018 secara keseluruhan sebesar 62.509 ha, dari luas ini sebesar
56.633,48 hektar merupakan luas tanaman perkebunan rakyat yang
menghasilkan. Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Tana Toraja
selama 2010 yang terbesar produksinya adalah tanaman kakao dan kelapa
dalam masing-masing sebesar 27.938,30 ton dan 18.808,27 ton.

Kabupaten Tana Toraja terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi
terbaik. Produksi kopi mencapai 2.410,8 ton yang tidak jauh berbeda dengan
tahun sebelumnya. Selain kopi, Kabupaten Tana Toraja juga merupakan
daerah penghasil kakao dengan produksi kakao sebesar 2.410,8 ton. Selain
kopi dan kakao, kelapa juga merupakan hasil perkebunan di Kabupaten Tana
Toraja. Pada tahun 2018 produksi Kelapa sebesar 19,1 ton dengan luas
tanaman sebesar 245 Ha.

3. Kehutanan
Luas kawasan hutan di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2019 seluas
51,801 ha yang terdiri dari 27.464 ha hutan negara. Hutan negara di

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 32


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kabupaten Tana Toraja didominasi oleh pohon pinus yang beradap di


perbukitan/pegununga. Sementara itu lahan yang di tanami pohon
penduduk/hutan rakyat adalah 24.337 ha. Produksi hasil hutan terdiri dari
kayu dan non kayu (seperti bambu).

4. Peternakan
Kerbau dan babi adalah hewan ternak yang dapat dijumpai dengan mudah di
Tana Toraja karena populasinya cukup banyak. Hampir setiap rumah tangga
di Tana Toraja beternak kerbau ataupun babi. Kedua hewan ternak ini selalu
digunakan masyarakat dalam setiap Acara Pesta, Upacara Adat serta
keagamaan seperti Rambu Solo atau upacara kematian. 26.275 ekor adalah
jumlah Populasi kerbau tahun 2018, jumlahnya mengalami peningkatan
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 0,69%. Sedangkan jumlah populasi
babi tahun 2018 naik 2,40% dari tahun lalu menjadi 306.156 ekor. Jumlah
ini meningkat karena adanya babi dari daerah lain yang didatangkan untuk
memenuhi kebutuhan pesta adat. Ayam kampung mendominasi jumlah
populasi ungags di Tana Toraja sebanyak 995.603 ekor.

5. Perikanan
Kegiatan perikanan di Kabupaten Tana Toraja cukup kecil. Selain merupakan
daerah pegunungan, jumlah Rumah tangga Usaha Perikanan (RUTP) juga
kecil. Pada tahun 2018 jumlah RUTP tercatat sebanyak 1.763 ruta. Usaha
perikanan di Tana Toraja didominasi oleh perikanan budidaya yang di kolam
dan sawah (mina padi) yang produksinya hanya sekitar 469,77 ton. Untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat atas hasil perikanan maka pasokan ikan
lainnya didatangkan dari daerah terdekat seperti Kota palopo.

3.5 PEREKONOMIAN DAERAH


Produk Domestik Regional (PDRB) merupakan salah satu pencerminan kemajuan
ekonomi suatu daerah, yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah
barang dan jasa yang dohasilkan dalam satu tahun di wilayah tersebut. Nilai
PDRB Tana Toraja atas dasar dasar harga berlaku pada tahun 2019 mencapai
7,48 triliun rupiah. Secara nominal, nilai PDRB ini mengalami kenaikan sebesar

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 33


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

0,65 triliun rupiah dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencapai 6,82 triliun
rupiah. Naiknya nilai PDRB ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di
sebagian besar lapangan usaha dan adanya inflas. Berdasarkan harga konstan
2010, angka PDRB juga mengalami kenaikan, dari 4,25 triliun rupiah pada tahun
2018 menjadi 4,56 triliun rupiah pada tahun 2019. Hal ini menunjukkan selama
tahun 2019 Tana Toraja mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 7,22 persen,
lebih rendah 0,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan PDRB ini
murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di sebagian besar lapangan
usaha, tidak dipengaruhi inflasi.

Konstribusi terbesar dalam embentukan PDRB Tana Toraja pada tahun 2019
dihasilkan oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yaitu
mencapai 23,11 persen (mengalami penurunan dari tahun 2015 yang sebesar
26,20 persen). Kontribusi lapangan usaha ini mengalami fluktuasi namun
cenderung menunjukan trend menurun terhadap PDRB Tana Toraja. Menurunnya
kontribusi lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan disebabkan
karena peningkatan nilai yang cukup signifikan pada kategori Perdagangan Besar
dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sehingga kontribusi kategori ini
terhadap perekonomian juga meningkat. Selain itu, berkurangnya produksi
tanaman pangan padi akibat cuaca ekstrim yang terjadi pada tahun 2019 dan
lambatnya kenaikan harga komoditi pada lapangan usaha tersebut dibandingkan
produk lain juga menjadi penyebab turunnya kontribusi lapangan usaha ini.

Berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019
meningkat dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh
meningkatnya nilai produksi di hamper semua lapangan usaha tanpa dipengaruhi
perubahan harga. Nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019 atas dasar harga
konstan 2010, mencapai 4,56 triliun rupiah. Angka tersebut naik dari 4,25 triliun
rupiah pada tahun 2018. Hal tersebut menunjukkan bahwa selama tahun 2019
terjadi pertumbuhan ekonomi yang positif sebesar 7,22 persen, namun melambat
0,67 persen jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya
yang mencapai 7,89 persen.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 34


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Sedangkan angka PDRB perkapita diperoleh/diturunkan dari angka PDRB. PDRB


per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala PDRB
Per kapita kurang tepat bila digunakan sebagai ukuran tingkat kesejahteraan
penduduk disuatu wilayah. Dengan kata lain, PDRB per kapita ini belum mampu
menggambarkan tingkat kemerataan distribusi pendapatan yang diterima
penduduk di suatu wilayah. PDRB Per kapita lebih tepat digunakan sebagai
ukuran keterbandingan yang menggambarkan potensi ekonomi antar wilayah.
Nilai PDRB per kapita Tana Toraja atas dasar harga berlaku sejak tahun 2015
hingga 2019 selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2015 PDRB per kapita
tercatat sebesar 21,43 juta rupiah. Secara nominal terus mengalami kenaikan
hingga tahun 2019 mencapai 31,96 juta rupiah (lihat tabel 3.3). Kenaikan angka
PDRB per kapita yang cukup tinggi ini masih dipengaruhi oleh faktor inflasi.

Sedangkan terkait dengan indeks pembangunan manusia Kabupaten Tana Toraja


tahun 2018 berada pada level 67,66 (status “Sedang”) dan mengalami
pertumbuhan sebesar 1,25 persen dibandingkan tahun 2017. IPM Tana Toraja
tahun 2018 berada pada peringkat 18 dibandingkan dengan Kabupaten/Kota se-
Sulawesi Selatan (tidak berubah dibandingkan dua tahun sebelumnya).

Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku


Tabel: 3.3
Kabupaten Tana Toraja, 2015-2019
No. Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019
1. Pertanian, Kehutanan,
dan
1285,70 1435,01 1561,59 1712,90 1728,64
Perikanan/Agriculture,
Forestry, and Fishing
2. Pertambangan dan
Penggalian/Mining and 71,97 81,21 88,22 94,57 102,91
Quarrying
3. Industri
Pengolahan/Manufacturi 356,45 415,97 479,12 513,22 603,24
ng
4. Pengadaan Listrik dan
4,52 5,76 6,83 8,07 8,62
Gas/Electricity and Gas
5. Pengadaan Air,
Pengelolaan Sampah,
Limbah, dan Daur
Ulang/Water Supply, 4,80 5,05 5,68 6,26 6,83
Sewerage, Waste
Management, and
Remediation Activities
6. Konstruksi/Construction 600,11 688,75 776,98 889,40 1004,92
7. Perdagangan Besar dan
Eceran, Reparasi Mobil 801,23 906,14 1021,60 1191,73 1341,10
dan Sepeda

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 35


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku


Tabel: 3.3
Kabupaten Tana Toraja, 2015-2019
No. Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019
Motor/Whalesale and
Retail Trade, Repair of
Motor Vehides and
Motorcycles
8 Transportasi dan
Perdugangan/Transporta 125,55 136,81 149,80 167,84 188,92
ion and Stroge
9 Penyediaan Akomodasi
dan Makan
Minum/Accommodation 77,56 86,12 97,39 110,09 122,76
and Food Service
Activities
10 Informasi dan
Komunikasi/Information 192,92 210,83 237,51 269,56 301,93
and Communication
11 Jasa Keuangan dan
Asuransi/Financial and 144,29 171,95 186,21 207,42 222,64
Insurance Activities
12 Real Estat/Real Estate
246,64 295,41 315,36 340,21 373,67
Activities
13 Jasa
Perusahaan/Business 4,20 4,60 5,08 5,77 6,21
Activities
14 Administrasi Pemerintah,
Pertahanan, dan
Jaminan Sosial
Wajib/Public
478,53 466,55 503,41 602,35 670,50
Administration and
Defence,
CompulsorySocial
Security
15 Jasa
264,47 289,11 326,63 368,45 417,18
Pendidikan/Education
16 Jasa Kesehatan dan
Kegiatan Sosial/Human
135,13 153,59 171,57 197,06 220,82
Health and Social Work
Activities
17 Jasa Lainnya/Other
95,59 107,51 121,93 139,99 158,89
Services
Total 4907,68 5460,91 6054,91 6824,87 7479,77
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

3.6 SARANA PELAYANAN UMUM


Ketersediaan sarana pelayanan umum merupakan salah satu faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam upaya pengembangan sektor pariwisata pada suatu
daerah yang dapat menjadi suatu faktor pendukung ataupun faktor penghambat
dalam pengembangannya sebagai salah satu wadah dalam meningkatkan
sumber daya manusia. Dengan demikian, diharapkan dengan tersedianya

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 36


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

berbagai sarana sosial yang ada dapat memberikan konstribusi yang besar serta
nilai-nilai budaya dengan kondisi keamanan yang kondusif. Berikut ini akan
diuraikan data kondisi sarana sosial masyarakat Kabupaten Tana Toraja, antara
lain; sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan, dan kondisi
keamanan, serta budaya masyarakat.

3.6.1 Sarana Pendidikan


Pembangunan bidang pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu negara akan
menentukan karakter dari pembangunan ekonomi dan sosial, karena manusia
adalah pelaku aktif dari seluruh kegiatan tersebut. Dari tahun ke tahun partisipasi
seluruh masyarakat dalam dunia pendidikan di Kabupaten Tana Toraja semakin
meningkat, hal ini berkaitan dengan berbagai program pendidikan yang
dicanangkan pemerintah dalam meningkatkan kesempatan masyarakat untuk
mengenyam bangku pendidikan. Peningkatan partisipasi pendidikan untuk
mencapai bangku pendidikan tertentu harus diikuti dengan berbagai peningkatan
penyediaan sarana fisik pendidikan dan tenaga pendidik yang baik.

Sarana pendidikan juga memiliki peranan penting dalam mengembangkan


potensi sumber daya manusia untuk bereksplorasi dalam berbagai disiplin ilmu.
Sarana pendidikan yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja secara universal
terdiri dari Taman kanak-kanak 119 unit, Sekola Dasar 213 unit, SLTP 82 unit,
SMU/SMK 47 unit.

Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja,


Tabel: 3.4
Tahun 2019
Jenjang Pendidikan
No. Kelompok Umur
TK SD SMP SMA PT
1. Bonggakaradeng - 10 5 2 -
2. Simbuang 1 10 4 2 -
3. Rano 2 8 2 - -
4. Mappak 3 11 5 3 -
5. Mengkendek 24 25 10 6 1
6. Gandang Batu Sillanan 13 15 8 8 -
7. Sangalla 7 6 3 4 -
8 Sangalla Selatan 7 9 3 - -
9 Sangalla utara 3 9 1 - -
10 Makale 17 16 5 11 2
11 Makale Selatan 5 11 5 2 -

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 37


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja,


Tabel: 3.4
Tahun 2019
Jenjang Pendidikan
No. Kelompok Umur
TK SD SMP SMA PT
12 Makale Utara 7 9 3 5 -
13 Saluputti 3 9 2 2 -
14 Bituang 3 19 5 1 -
15 Rembon 6 17 7 - -
16 Masanda 1 10 2 - -
17 Malimbong Balepe 2 9 5 - -
18 Rantetayo 11 11 4 - -
19 Kurra 3 9 3 - -
Total 119 213 82 47 3
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019

3.6.2 Sarana Kesehatan


Sarana kesehatan merupakan wadah untuk meningkatan derajat kesehatan
masyarakat, dengan tujuan menciptakan kesehatan masyarakat yang baik
Tersedianya sarana kesehatan merupakan wujud daripada pemenuhan akan
kebutuhan kesehatan masyarakat yang terjangkau sebagai penunjang
berkembangnya kegiatan wisata. Berdasarkan data yang ada, banyaknya fasilitas
kesehatan di Kabupaten Tana Toraja adalah 733 unit yang terdiri atas Rumah
Sakit 4 unit diantaranya RSU 3 unit dan RS. Bersalin 1 unit, kemudian Puskesmas
sebanyak 21 unit, Posyandu 328 unit. Dapat dikatakan bahwa penyebaran
fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Toraja untuk saat sekarang ini sudah
tersebar secara merata disetiap wilayah kecamatan.

3.6.3 Sarana Peribadatan


Sarana peribadatan merupakan wadah untuk melakukan aktifitas yang wajib
dilaksanakan oleh setiap umat beragama. Keberadaan fasilitas peribadatan
merupakan salah satu pendorong dan bentuk kepatuhan terhadap Sang Pencipta
serta sebagai keberagaman suku dan agama. Berdasarkan data tahun 2018,
sarana peribadatan yang ada di Kabupaten Tana Toraja sebanyak 1.017 unit,
yang terdiri atas, sarana Mesjid 45 unit, Mushallah 4 unit, Gereja Khatolik 161
unit, Gereja protestan 704 unit. Keberadaan fasilitas tersebut didominasi oleh
Gereja protestan, hal tersebut disebabkan penganut Agama Kristen Protestan
sangat dominan di Kabupaten Tana Toraja. Selain itu, dari hasil survey lapangan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 38


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

keberadaan akan fasilitas peribadatan tersebut sudah mampu memenuhi


kebutuhan masyarakat.

3.7 TRANSPORTASI, ENERGI DAN KOMUNIKASI


3.7.1 System Transportasi
Sistem transportasi merupakan salah satu aspek utama yang dapat memberikan
konstribusi yang sangat besar dalam perkembangan kegiatan ekonomi ataupun
industri pariwisata, sehingga ketersediaan sarana dan prasarana transportasi
sangat diperlukan dalam pengembangan kegiatan-kegiatan perkotaan ataupun
wilayah. Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu wilayah yang mampu
mengembangkan daerahnya karena didukung oleh potensi sumberdaya alam
yang dimiliki. Salah satu potensi yang dimiliki yaitu sebagai salah satu daerah
tujuan wisata, sehingga ketersediaan akan sarana dan prasarana transportasi,
khususnya transportasi darat dan udara sangat dibutuhkan. Adapun prasarana
dan sarana transportasi di Kabupaten Tana Toraja, sebagaimana pada
pembahasan berikut;
1. Transportasi Darat
Jalan merupakan sarana angkutan darat yang sangat penting untuk
memperlancar kegiatan perekonomian. Panjang jalan yang terdapat di
Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018 menurut data startistik mencapai
1.252 km. Panjang jalan pada tahun 2018 mengalami peningkatan
sepanjang 199,62 km dari tahun sebelumnya. Jika dilihat dari jenis
permukaan jalan maka terdapat 352,67 km jalan yang telah diaspal, tidak
diaspal mencapai 888,79 km, sedangkan sisanya 210,56 km jenis permukaan
lainnya. Jika ditinjau dari kondisi jalan maka, masih banyak jalan dengan
kondisi rusak berat sepanjang 306,69 km dan rusak 210,90 km.
Dibandingkan tahun lalu panjang jalan kondisi baik meningkat 52,17 persen
sepangjang 582,19 km.

Sedangkan berdasarkan RTRW Kabupaten Tana Toraja, jaringan jalan yang


diklasifikasikan berdasarkan hirarki yang menunjukkan kewenangan-
kewenangan pengelolaan jalan, diantaranya meliputi ruas jalan kolektor

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 39


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

primer, ruas jalan kolektor sekunder, ruas jalan lokal, dan jalan-jalan
lingkungan, sebagaimana ditunjukan pada tabel berikut.

Tabel: 3.5 Ruas-ruas Jalan di kabupaten Tana Toraja


No. Nama Jalan Fungsi/Hirarki Panjang (Km)
1 Jl. Poros Enrekang-Toraja Kolektor 10.70
2 Jl. Poros Tongkonan Pantan Lokal Sekunder 0.88
3 Jl. Tarrung Lokal Sekunder 1.66
4 Jl. Surakan Lokal Sekunder 11.82
5 Jl. Sepak Boyo-Boyo Lokal Sekunder 0.33
6 Jl. Sandangan Lokal Sekunder 0.94
7 Jl. Poros Rembon-Palesan Kolektor 7.01
8 Jl. Poros Malimbong-Rembon Lokal Primer 11.88
9 Jl. Pongtiku Kolektor 9.12
10 Jl. Nusantara Kolektor 1.03
11 Jl. Kayuosing-Panggala Lokal Primer 2.99
12 Jl. Kayuosing Lokal Primer 0.66
13 Jl. Buntu Pantan Lokal Sekunder 0.71
14 Jl. Buisun Lokal Sekunder 1.01
15 Jl. Ampera Lokal Sekunder 0.67
16 Jl. Tongkonan Ada' Lokal Sekunder 0.24
17 Jl. Kampung Patane Lokal Sekunder 3.65
18 Jl. Ua' Saruran Lokal Sekunder 3.56
19 Jl. Tombang Lokal Sekunder 2.00
20 Jl. Sultan Hasanuddin Lokal Sekunder 0.54
21 Jl. Stone Grave Lokal Sekunder 0.50
22 Jl. SMP Muhamadiyah Lokal Sekunder 0.14
23 Jl. SMP 2 Sangalla' Lokal Sekunder 0.18
24 Jl. Pusat Diklat Gereja Toraja Lokal Sekunder 0.17
25 Jl. Poros Simbuang Kolektor Primer 33.26
26 Jl. Poros Sangalla' Lokal Primer 19.95
27 Jl. Poros Saluputti Kolektor Primer 10.03
28 Jl. Poros Rembon Kolektor Primer 3.67
29 Jl. Poros Rano Tengah Lokal Primer 4.11
30 Jl. Poros Mebali-Buntu Lokal Primer 16.59
31 Jl. Poros Mebali Lokal Primer 0.49
32 Jl. Poros Mappak Kolektor Primer 16.48
33 Jl. Poros Mamasa Kolektor Primer 9.26
34 Jl. Poros Makula Kolektor Primer 2.04
35 Jl. Poros Bonggakaradeng Kolektor Primer 9.07
36 Jl. Petani Tapokko Lokal Sekunder 0.50
37 Jl. Pemanukan Lokal Sekunder 0.61
38 Jl. Pasar Baru Lokal Sekunder 1.88
39 Jl. Pantan Lokal Sekunder 0.29

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 40


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 3.5 Ruas-ruas Jalan di kabupaten Tana Toraja


No. Nama Jalan Fungsi/Hirarki Panjang (Km)
40 Jl. Musa Lokal Sekunder 0.37
41 Jl. M. R. Andilolo Lokal Primer 9.08
42 Jl. Lingkar Rano Lokal Primer 0.35
43 Jl. Kilap Remaja Lokal Sekunder 0.96
44 Jl. Jend. Sudirman Lokal Primer 0.71
45 Jl. Ichwan Lokal Primer 0.64
46 Jl. Barana Lokal Sekunder 1.25
47 Jl. SMPN 1 Sangalla Lokal Sekunder 0.28
48 Jl. Pelita Lokal Sekunder 0.21
49 Jl. Kuburan Kambira Lokal Sekunder 0.40
50 JL. GT. Jem Gerizim Ariang Lokal Sekunder 0.12
51 Jl. Bayangkara Lokal Sekunder 0.41
52 Jl. Tritura Kolektor Primer 2.56
53 Jl. Tongkonan Buttu Lokal Sekunder 0.75
54 Jl. Taleppon Lokal Sekunder 1.13
55 Jl. Sitarda Baru Lokal Sekunder 0.54
56 Jl. Setapak Lokal Sekunder 16.04
57 Jl. Saba Lokal Sekunder 0.92
58 Jl. Ro'po Lokal Sekunder 1.60
59 Jl. Propinsi Kolektor Primer 13.51
60 Jl. Poros Buntao Lokal Primer 3.79
61 Jl. Pasar Rembon Lokal Sekunder 0.25
62 Jl. Lion Lokal Sekunder 2.63
63 Jl. Kambo Lokal Sekunder 0.59
64 Jl. Koa Lokal Sekunder 0.13
65 Jl. Kambisa Lokal Sekunder 1.59
66 Jl. Kalo'tok Lokal Sekunder 0.81
67 Jl. Bone Lokal Sekunder 1.28
68 No Name Lokal Sekunder 1.962.61
Total 2.226,12
Sumber: RTRW Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2012

2. Terminal
Keberadaan terminal sebagai titik simpul pergerakan arus kendaraan, orang
dan barang adalah penting untuk diamati. Jumlah terminal di Kabupaten
Tana Toraja hanya 1 lokasi, yaitu terminal Makale dengan terminal bertype
C. Lokasi terminal Makale tersebut telah dimanfaatkan sebagai simpul utama
pergerakan angkutan. Kondisi terminal type C Makale saat ini terdiri atas
pelataran-pelataran angkutan umum dan dilengkapi bangunan-bangunan
halte untuk menumpang dengan kondisi belum maksimal.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 41


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pemanfaatan terminal tersebut melayani angkutan kota berupa AKDP dan


AKAP. Hal ini memperlihatkan bahwa kategori terminal Makale sudah tidak
layak dengan type terminal Type C. Oleh karena itu, di perlukan peningkatan
status terminal dan pengembangan terminal baru seiring dengan
bertambahnya alat transportasi darat.

3. Transportasi Udara
Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan udara
ke Tana Toraja. Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang berangkat dari
Bandara Pongtiku sebanyak 1.030 orang. Penerbangan di Tana Toraja
melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar pulau sulawesi.
Bandar udara ini direlokasi karena tidak bisa dikembangkan karena aspek
geologi tidak memadai. Bandara Buntu Kuni disiapkan sebagai pengganti
Bandara Pongtiku, dengan landasan pacu sepanjang 2.600 meter dengan
nama Toraja International Airport yang diharapkan bisa memacu
pertumbuhan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dengan jarak ± 5 km dari jalan Poros akan memudahkan wisatawan dalam


menjangkau tempat-tempat wisata di Toraja. Dalam pengembangan KSPN
Toraja, salah satu strategi pengembangannya adalah meningkatkan level
Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui Pembangunan bandara baru Buntu
Kuni yang mampu menerbangkan wisatawan Mancanegara dan wisatawan
Nusantara langsung dari Bali sebagai darah transit utama wisman dan
daerah daerah lain di indonesia menuju kawasan pariwisata Toraja, sehingga
wisman dan wisnus tidak perlu lagi melakukan perjalanan darat yang
panjang dan melelahkan selama hampir 8 jam dari makasar menuju Makale.
Selain itu juga menjadikan jalan poros Enrekang-Makale-Ratenpao-Palopo
menjadi jalan dengan status handal dan mampu mendukung aktivitas
trasnportasi wisatawan dengan jumlah besar.
Alur penerbangan Bandara Buntu Kunik (BBK) diharapkan menjadi alur
penerbangan regional meliputi :
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar – Bali - Jogya
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Manado - Bali.
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar –Singapura – Jepang.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 42


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 43


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.7.2 Energi dan Komunikasi


Dari segi komunikasi, masih ada beberapa daerah yang tidak terjangkau sinyal
telpon salah satunya di Kecamatan Mappak. Selain itu kegiatan komunikasi
menggunakan surat masih berlangsung melalui jasa pos. Jumlah fasilitas
pelayanan pos di Kabupaten Tana Toraja hingga tahun 2019 meliputi dua kantor
pos. Masing-masing satu kantor pos di Kecamatan Mengkendek, dan Kecamatan
Makale.

Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana energi di Kabupaten Tana


Toraja, terdiri atas Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang
bersumber dari Sungai Saddang dan beberapa anak sungai lainnya. Untuk tujuan
pengembangan energi dan telekomunikasi, maka direncanakan pengembangan
sistem jaringan telekomunikasi Kabupaten Tana Toraja yang meliputi:
1. Pengembangan sistem jaringan penyediaan kebutuhan listrik masyarakat
diarahkan pada pengembangan listrik dengan tenaga surya, PLTMH dan
PLN, yang lebih diarahkan pada wilayah/daerah khusus;
2. Rencana telepon nirkabel berupa lokasi menara Base Transceiver Station
(BTS) dikembangkan penggunaannya secara bersama dan tidak
mengganggu aktifitas disekitarnya termasuk kegiatan penerbangan.
3. Pengembangan pelayanan jasa telekomunikasi diarahkan pada
pembangunan Tower terutama pada wilayah/daerah khusus.
4. Pengembangan pelayanan sistem interkoneksitas secara terpadu lebih
diarahkan pada sistem e-government dan e-library.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) III - 44


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4
4.1 POTENSI DAYA TARIK WISATA
Indonesia istilah daya tarik wisata disamaartikan dengan objek wisata yang
merujuk pada istilah tourist attraction. Dari sejumlah definisi mengenai daya Tarik
wisata dapat difahami bahwa daya tarik wisata pada dasarnya berupa segala
sesuatu yang dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Secara legal
formal, batasan pengertian tentang daya tarik wisata tertuang dalam Undang-
Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, yakni
segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa
keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi
sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Berdasarkan pengertian tersebut,
maka potensi daya tarik wisata dapat diartikan sebagai segala sumberdaya alam,
budaya, dan buatan manusia yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daya
tarik wisata.

Penjabaran tentang jenis-jenis daya tarik wisata tertuang dalam Peraturan


Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk
Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010 – 2025, yang terdiri dari Daya
Tarik Wisata Alam, Daya Tarik Wisata Budaya, dan Daya Tarik Wisata Buatan.
sebagai berikut.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 1


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.1.1 Daya Tarik Wisata Alam


Secara garis besar jenis-jenis daya tarik wisata alam dapat dibedakan atas (1).
daya tarik wisata alam yang berbasis potensi keanekaragaman dan keunikan
lingkungan alam diwilayah perairan laut; dan (2). daya tarik wisata alam yang
berbasis potensi keanekaragaman dan keunikan lingkungan alam diwilayah
daratan. Masing-masing daya tarik wisata alam tersebut dapat dijabarkan secara
lebih rinci lagi sebagai berikut.
1. Daya tarik wisata alam yang berbasis potensi keanekaragaman dan keunikan
lingkungan alam diwilayah perairan laut, yang berupa antara lain (a). bentang
pesisir pantai; (b). bentang laut, baik perairan disekitar pesisir pantai maupun
lepas pantai yang menjangkau jarak tertentu yang memiliki potensi bahari;
dan (c). kolam air dan dasar laut.
2. Daya tarik wisata alam yang berbasis potensi keanekaragaman dan keunikan
lingkungan alam diwilayah daratan, yang berupa antara lain (a). Pegunungan
dan hutan alam/taman nasional/taman wisata alam/taman hutan raya; (b).
perairan sungai dan danau; (c). perkebunan; (d). pertanian; dan (e). bentang
alam khusus, seperti gua, karst, padang pasir, dan sejenisnya.

Di Kabupaten Tana Toraja sesuai dengan karakteristik wilayahnya yaitu berada


pada daerah pegunungan, maka daya tarik wisata alam yang dimilikinya
merupakan DTW yang berbasis pada keanekaraaman dan keunikan lingkungan
alam diwilayah daratan yang berupa DTW alam pegunungan, sungai, perkebunan,
pertanian, dan bentang alam.

Tana Toraja yang dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang menonjolkan
keunikan budaya dan adat istiadat sebagai daya tarik wisata ternyata memiliki
berbagai kawasan-kawasan wisata yang berbasis pada alam. Keanekaragaman
daya tarik wisata alam Tana Toraja tersebut dijumpai dalam berbagai jenis baik
itu bentang alam, perkebunan/agrowisata, perairan, maupun gua-gua yang juga
merupakan bagian dari kebudayaan dan adat istiadat masyarakat setempat dalam
menjalankan ritual-ritualnya.

Menurut data yang dihimpun, baik melalui data sekunder maupun tinjauan
lapangan terhadap keberadaan dan potensi-potensi yang dimiliki setiap daya tarik

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 2


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

wisata alam maupun ketersediaan prasarana dan sarana yang telah tersedia serta
bentuk-bentuk pengelolaan kawasan wisata tersebut. DTW alam di Tana Toraja
dewasan ini menjadi salah satu fokus pengembangan pariwisata pemerintah
setempat yang diupayakan menjadi variasi DTW yang dikenal lebih menonjolkan
DTW budaya. Berdasarkan data yang dihimpun melalui observasi lapangan
maupun data-data sekunder dari berbagai sumber, paling sedikit terdapat 22
(duapuluh satu) DTW alam yang telah berkembang maupun masih bersifat potensi
(belum dikembangkan).

Dari sejumlah DTW alam tersebut, terdapat beberapa daya tarik wisata yang cukup
diminati oleh wisatawan dan menjadi fokus pengembangan yang dilakukan oleh
pemerintah dan masyarakat, diantaranya Agrowisata Pango Pango, Gunung
Kandora, Permandian Alam Tilangnga, Rurak, Sarambu Assing, Sarambu Ratte,
Perkebunan Kopi Tiroan, Talondo Tallu, Lo'ko Tongko, dan Arum Jeram, serta
bebrapa lainnya. Daya tarik yang disuguhkan beranekaragam sesuai spesifik daya
tariknya masing-masing. DTW tersebut umumnya dikelola oleh pemerintah
kabupaten dan sebagian oleh masyarakat yang masih bersifat potensi yang belum
secara optimal dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata.

Untuk mewadahi kegiatan wisata didalam setiap kawasan dan daya tarik wisata,
pemerintah maupun pengelola DTW lain telah melakukan pengembangan dan
pembangunan sejumlah sarana dan prasarana wisata baik sarana utama maupun
penunjang dan pendukung kegiatan wisata seperti pembangunan akses jaringan
jalan dalam kawasan, pembangunan gazebo-gazebo, tempat-tempat selfie, villa,
toilet, serta pengembanan daya tarik lain seperti penataan kawasan, penyediaan
rambu-rambu wisata, pembangunan gedung-gedung serbaguna, pengembangan
komoditas-komoditas perkebunan dalam kawasan agrowisata dari berbagai jenis
tanaman, dan lain sebagainya. Berikut rincian tabulasi DTW Alam yang tersedia di
Kabupaten Tana Toraja.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 3


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.1 Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
1 Agrowisata Pango-Pango Tosapan Makale Selatan Kawasan Agrowisata dikelilingi pohon pinus dan kebun kopi,
tamarillo, strawbery dll, pemandangan alam yang indah dan
udara yang dingin
2 Permandian Alam Tilangnga Sarira Makale Utara Kolam Alam untuk rekreasi tirta, Belut Yang Hidup Didalam
Kolam
3 Rurak Ke'pe' Tinoring Mengkendek Goa Alam yang dijadikan kuburan pada zaman yang lalu dan
kuburan tersebut sudah berumur ratusan tahun
4 Sarambu Assing Patongloan Bittuang Air Terjun
5 Sarambu Ratte Balla Bittuang Air Terjun
6 Talondo Tallu Balepe' Malimbong Air Terjun
Balepe
7 Perkebunan Kopi Tiroan Tiroan Bittuang Perkebunan Kopi dan Pemandangan Alam dengan Udara yang
Dingin
8 Lo'ko Tongko Tongko Sarapung Sangalla Goa Alam
9 Arum Jeram Maroson Padakka Kurra Arum Jeram (sungai mai'ting), Panorama Alam
10 Danau Assa’ Lembang Turunan Sangalla Danau alami, panorama, dan batu hamil.
11 Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek Panorama Alam Gunung Karst
12 Panjat Tebing Kandora Mengkendek Tebing Karst Vertikal
13 Panorama Bukit Sion Bombongan Makale Pemandangan Kota Makale
14 Air terjun ratte sarambu L. Potongloan Bittuang -Air terjun
assing -Pemandian alam
15 Alloan Marinding Mengkendek Panorama Alam
16 Air Panas Balla Balla Bittuang Mata air panas
17 Air Terjun (Sarambu) Tipali Uluwai Mengkendek Air Terjun

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 4


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.1 Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
18 Air Terjun (Sarambu) Simbuang Mengkendek Air Terjun
Marintang
19 Bumi Perkemahan Simbuang Mengkendek Kolam Pemancingan, Perkemahan
Marintang
20 Ollon Poton Bonggakaradeng Pannorama Alam/Savana
21 Permandian Air Panas Tokesan Sangalla’ Permandian Air Panas Alam
Makula
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 5


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

GAMBAR.... PETA DTW ALAM

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 6


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dari berbagai DTW alam yang tersedia, potensi daya tarik wisata alam yang di
Kabupaten Tana Toraja cukup menarik dan telah terkenal diberbagai wilayah
nusantara maupun mancanegara. Hal ini dilihat dari adanya kunjungan wisatawan
dari berbagai penjuru yang telah menikmati keindahan alam Tana Toraja.
Beberapa diantaranya telah ditata dengan baik oleh pemerintah serta telah
dilakukannya perencanaan secara rinci dalam bentuk masterplan-masterplan
pengembangan kawasan wisata. Berikut uraian beberapa potensi daya tarik wisata
alam yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja.
1. Agrowisata Pango Pango
Kawasan Agrowisata Pango Pango
merupakan salah satu destinasi wisata
yang memadukan dua unsur pariwisata
yaitu daya tarik wisata alam daya tarik
wisata agro yang menyediakan
beranekaragam sajian wisata yang dapat
dinikmati oleh para wisatawan. Kawasan
Agrowisata Pango-Pango terletak di Kecamatan Makale, Kabupaten Tana
Toraja, menurut arahan pengembangan kawasan memiliki luas sekitar
±190,91 hektar yang mencangkup diantaranya sebagian Kelurahan Pasang
seluas ±116,24 hektar, sebagian Kelurahan Tosapan seluas ±70,63 hektar,
dan sebagian Lembang Randan Batu seluas ±4,04 hektar (sumber: Masterplan
Agrowisata Pango Pango, 2018).

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 7


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Gambar 4.2. Peta Kawasan Agrowisata Pango Pango


(sumber: Masterplan Pengembangan Kawasan, 2018)

Jarak kawasan perencanaan ini adalah sekitar 7 kilometer dari Kota Kabupaten
atau rata-rata waktu tempuh sekitar 15 menit, yang dapat diakses dengan
kendaraan roda 4 dan roda 2 melalui prasarana jalan beton dan aspal dengan
kondisi baik.

Fasilitas rekreasi yang dapat dinikmati pengunjung diantaranya panorama


pegunungan dengan berbagai karakteristik dan pada waktu tertentu seperti
pagi hari kawasan ini di tutupi oleh keindahan awan, selain itu daya tarik wisata
dalam kawasan yaitu dengan adanya wahana permainan seperti flying fox,
outbound, rumah hobbit yang secara visual merupkan bentuk dari kesukaan
anak-anak, namun tempat ini juga berfungsi sebagai tempat menginap atau
tidur, dan konsep agrowisata dengan ragam perkebunan seperti kopi,
strawberry dan lainnya yang juga diusahakan oleh masyarakat seperti jagung.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 8


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pemerintah telah membuat fasilitas untuk menunjang kenyamanan dari para


wisatawan tersebut, diantaranya yaitu membangun Gazebo untuk ditempati
duduk bersama dan menikmati kesejukan alam sekitar (Total ada 27 Gazebo),
selain itu, ada juga faslitas MCK (Wc), tempat parkir dan beragam fasilitas
lainnya, bahkan dalam kawasan ini disediakan pula tempat-tempat
pembuangan sampah agar terjaga kebersihan kawasan walaupun dalam
kawasan hutan.

Untuk keamanan kawasan, terdapat satu unit pos keamanan yang terletak di
Gerbang masuk Kawasan sekaligus berfungsi sebagai pos retribusi masuk
kawasan. Beberapa fasilitas lain yang merupakan fasilitas umum dan fasilitas
kegiatan wisatawan yaitu Rumah Kaca, panggung Pentas Seni, Rumah Kelinci,
Villa, dan tempat Selfie.

2. Sarambu Assing
Daya tarik wisata alam Sarambu Assing
merupakan salah satu DTW yang
cukup menarik di Tana Toraja, dengan
potensi daya tariknya yaitu Air Terjun,
serta panorama alam disekitarnya.
DTW tersebut terletak di Kecamatan
Bittuang yaitu di Lembang Patongloan, dengan jarak tempuh menuju Sarambu
Assing dari Kota Makale sekitar 40 kilometer atau sekitar 1 jam perjalanan
menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua melalui jalan utama

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 9


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

propinsi yang menjadi penghubung antara


Kabupaten Mamasa dan Kabupaten Tana
Toraja. Untuk akses masuk menuju DTW ini
dilalui dengan berjalan kaki, namun saat ini
pemerintah setempat sedang melakukan
pembanguan akses jalan agar wisatawan
dapat dengan mudah dan lebih dekat berjalan
kaki menuju DTW. Air Terjun Sarambu Assin
masih sangat alami dan hawa sejuk
disekitarnya yang ditumbuhi oleh pepohonan
pinus dan jauh dari permukiman penduduk
sehingga kealamiannya masih sangat terjaga. Untuk menikmati daya tarik
wisata ini, pemerintah telah mewadahi beberapa sarana dan prasarana wisata
selain akses masuk kawasan, juga telah tersedia fasilitas berupa WC/KM yang
dapat digunakan wisatawan.

3. Permandian Alam Tilangnga


Wisata alam Tilangnga yang terletak
dikelurahan Sarira kecamatan Makale
Utara memiliki jarak tempuh dari Kota
Makale sekitar 30 menit atau sekitar 13
kilometer. Daya tarik utama Tilangnga
adalah keberadaan beberapa ekor Moa
atau belut berkuping yang hidup
didalam kolam alami. Kolam ini sering digunakan pengunjung untuk berenang
bahkan ada yang datang hanya untuk melihat belut raksasa yang ada dikolam
tersebut.

Moa atau Belut Raksasa kerap keluar


dari celah-celah bebatuan gamping
yang mengelilingi kolam tersebut.
Hanya saja, Moa yang dalam bahasa
Toraja disebut "Masapi" tidak mudah
keluar setiap saat. Menurut warga

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 10


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

sekitar lokasi Tilangnga bahwa untuk memunculkan belut dari celah bebatuan
dilakukan melalui ritual tertentu.

Keindahan dan keunikan wisata alam


Tilangnga cukup memberikan suasana
yang berbeda dengan objek lainnya.
Suasana di sekitar kolam Tilangnga cukup
teduh dan berudara sejuk. Di sekeliling
kolam tumbuh pepohonan jati putih dan
bambu. Air kolam juga sangat dingin dan
jernih. wisatawan diperbolehkan untuk
berenang di kolam, namun tidak
diperbolehkan menggunakan bahan-
bahan kimia seperti sabun dan shampo
untuk menjaga kelangsungan hidup Moa.

4. Talondo Tallu
DTW Tolondo Tallu sama halnya dengan DTW Sarambu Assing yang memiliki
daya tarik wisata berupa air terjun. Talondo Tallu terletak di Kecamatan
Malimbang Balepe dengan keindahan alam yang menarik wisatawan serta di
kelilingi oleh vegetasi tumbuhan yang hijau. Obyek wisata ini juga di kelilingi
oleh flora dan fauna yang sangat menajubkan bagi wisatawan.

Air Terjun Talondo Tallu memiliki tiga cabang yang membuatnya tampak lebih
unik dibandingkan air terjun lain pada umumnya. Percabangan tersebut terjadi
karena aliran air dari Sungai Pekalian dan Rabung, yang kemudian bertemu
dan menjadi Sungai Talondo. Pemandangan yang tersaji juga begitu unik,
meski untuk mencapai lokasi ini pengunjung harus berjalan kaki selama
kurang lebih delapan kilometer. Tepat di pertemuan tiga aliran terdapat
sebuah kolam dengan air yang begitu jernih. Biasanya pengunjung yang
datang akan menghabiskan waktu untuk berenang dan menyegarkan diri dari
panasnya cuaca sekitar. Tak hanya itu, udara di kawasan ini juga sangat
segar.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 11


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Selain indah, Air Terjun Talondo Tallu menyimpan sejumlah kisah menarik
bernuansa mistis. Menurut penuturan penduduk sekitar, didalam kolam air
terjun terdapat sejenis belut berukuran besar yang disebut dengan istilah
Masapi. Hewan tersebut tidak boleh ditangkap apalagi dimakan sehingga perlu
dilindungi sebagai salah satu daya tarik bagi wisatawan yang datang ke
tempat ini. Akses jalan menuju DTW ini masuh cukup sulit karena masih
berupa tanah, disamping itu, sarana penunjang wisata di DTW juga belum
dikembangkan dengan baik untuk kebutuhan wisatawan sehingga dapat
memberikan kenyamanan berwisata serta dapat membawa keuntungan bagi
masyarakat sekitarnya.

5. Gunung Kandora
Gunung Kandora terletak sekitar 1.130 mdpl tepatnya di Kecamatan
Mengkendek. Nama asli dari Gunung Kandora adalah Buntu Kandora, dalam
bahasa Toraja Buntu berarti gunung dan Kandora berarti Karst/batuan kapur.
Sesuai dengan namanya, DTW Gunung Kandora sebagai salah satu destinasi
wisata alam unggulan di Tana Toraja memiliki berbagai daya tarik yang dapat
dinikmati oleh wisatawan, bahkan DTW ini telah banyak dikunjungi wisatawan.

Daya tarik wisata yang ada di Gunung Kandora ini diantaranya panorama alam
dengan keberadaan pegunungan karst dan keindahan alam disekitarnya.
Keberadaan Karst dapat juga dimanfaatkan wisatawan terutama bagi pecinta
adrenalin untuk melakukan pendakian untuk mencapai puncak Gunung
Kandora. Jalur pendakian ke Gunung Kandora dapat ditempuh dari berbagai
wilayah, di antaranya jalur dari Kecamatan Sangalla, jalur Desa Palipu’, dan
jalur via Villa Kandora. Selain itu, terdapat juga jalur via tangga besi namun
jalur ini membutuhkan skill tinggi dan peratan memanjat yang safety serta
pengalaman tentunya.

Pemandangan dari puncak Gunung Kandora sangat indah, disebelah barat


wisatawan dapat menyaksikan Kota Makale, hamparan wilayah Toraja Barat
dan deretan Pegunungan Buntu Karua yang memeiliki ketinggian 2.750 mdpl
dan masih termasuk dalam deretan Pegunungan Quarles. Diarah selatan
terlihar gunung-gunung batu di kecamatan Mengkendek. Dibawah kaki

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 12


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

gunung terdapat villa yang tersedia bagi wisatawan yang ingin menginap
dibawah Kaki Gunung Kandora ini.

6. Danau Assa’
Salah satu kolam alami yang juga
berada di Tana Toraja adalah kolam
alam Assa yang terletak di Desa
Kalembang, Kecamatan Sanggalla.
Kolam alam Assa ini sebenarnya lebih
luas dari kolam alam Tilanga’ sehingga
tidak jarang disebut sebagai danau
kecil. Danau kecil ini terbentuk secara alami dan memberikan pemandangan
yang sangat indah serta masih alami dan segar. Hal ini dikarenakan danau ini
berada di tebing gunung.

Kolam alam ini juga banyak


menyimpan cerita seperti di Tilanga’
yang mempunyai belut raksasa atau
yang disebut dengan Moa. Namun,
tidak jarang kolam alam ini sering
menyisakan korban jika pengunjung yang datang untuk berenang tidak
mematuhi norma yang berlaku. Keunikan disisi lain lagi bahwa pada musim
kemarau danau ini akan benar-benar kering dan hanya menyisakan hamparan
rumput hijau. Pada bagian lain kawasan, terdapat daya tarik yang unik yaitu
Batu Hamil yang juga sakral. Hingga saat ini masih banyak wisatawan yang
belum mengenal objek danau assa’ ini bahkan pengelolaan dari pemerintah
juga masih kurang.

Di Danau Assa’ yang terbentuk secara alami ini, terdapat panorama alam yang
cukup indah, dan juga keunikan lain terdapat Batu Hamil yang memiliki cerita
tersendiri yang terkait dengan masyarakat setempat. Berdasarkan hasil
kunjungan tim, DTW ini walaupun sudah dikenal sebagaian wisatawan, namun
belum adanya penataan kawasan yang terlihat dengan baik.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 13


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pada bagian kawasan terdapat


bangunan gazebo yang dibangun
pemerintah, namun kondisinya sudah
rusak berat. Masyarakat setempat
memanfaatkan lahan sekitar kawasan
dengan berbagai usaha pertanian dan
perkebunan seperti tanaman sayuran,
perkebunan durian, cengkeh, dan rambutan yang sebenarnya merupakan
salah satu potensi daya tarik wisata dikawasan tersebut. Dokumentasi
dibawah ini merupakan kondisi DTW pada saat musim kemarau, sehingga
danau tersebut tidak terdapat air didalamnya.

4.1.2 Daya Tarik Wisata Budaya


Daya Tarik Wisata budaya adalah daya tarik wisata berupa hasil olah cipta, rasa
dan karsa manusia sebagai makhluk budaya. Daya tarik wisata budaya dapat
dibedakan atas daya tarik yang bersifat berwujud ( tangible) dan tidak berwujud
(intangible). Daya tarik wisata budaya yang bersifat berwujud antara lain berupa:
1. Cagar budaya, yang meliputi:
▪ Benda cagar budaya, yaitu benda alam dan/atau benda buatan manusia,
baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok,
atau bagian-bagiannya, atau sisasisanya yang memiliki hubungan erat
dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia, seperti
angklung, keris, gamelan, dan sebagainya;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 14


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Bangunan cagar budaya, yaitu susunan binaan yang terbuat dari benda
alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang
berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap;
▪ Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda
alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang
kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk
menampung kebutuhan manusia;
▪ Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air
yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya,
dan/atau struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti
kejadian pada masa lalu; dan
▪ Kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki 2
(dua) situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau
memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.
2. Perkampungan tradisional dengan adat dan tradisi budaya masyarakat yang
khas, seperti Kampung Naga, perkampungan Suku Badui, Desa Sade, Desa
Penglipuran, dan sebagainya; dan
3. Museum, seperti Museum Nasional, Museum Bahari, dan sebagainya.

Sedangkan jenis-jenis daya tarik wisata budaya yang bersifat tidak berwujud
antara lain berupa berupa Kehidupan adat dan tradisi masyarakat dan aktivitas
budaya masyarakat yang khas di suatu area/tempat, seperti upacara rambu solo,
dan sebagainya, serta Kesenian-kesenian tradisional.

Keunikan budaya yang ada di Tana Toraja sudah bukan menjadi hal yang asing
lagi di kalangan masyarakat, bahkan sudah menjadi pembahasan di kalangan
wisatawan mancanegara, hal ini ditunjukkan dengan beberapa situs purbakala
yang ada di Tana Toraja sudah menjadi aset dari UNESCO. Keunikan tradisi budaya
masyarakat Tana Toraja secara khusus jika tradisi tersebut berkaitan dengan
upacara rambu solo’ (pemakaman) yang biasanya diadakan selama beberapa hari
dan menghabiskan biaya yang tidaklah sedikit, sama halnya juga dengan upacara
rambu tuka’ (upacara syukuran). Tradisi tersebut masih menjadi salah satu adat
isti adat yang tetap dijaga oleh orang Toraja hingga saat ini. Hal tersebut bisa

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 15


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dilihat dengan beberapa wisata yang masih tetap terjaga dengan baik dan
merupakan bentuk fisik dari tradisi yang ada.

Daya tarik wisata budaya merupakan ciri khas kepariwisataan Kabupaten Tana
Toraja. Jumlah kawasan wisata budaya yang tersebar diwilayah ini sangat banyak,
berdasarkan hasil observasi dan data sekunder lainnya terdapat paling sedikit 35
(tigapuluh lima) kawasan wisata berbasis daya tarik wisata budaya yang telah
berkembang di Kabupaten Tana Toraja. Keseluruhan daya tarik tersebut sebagian
besar telah berkembang dan dikunjungi oleh wisatawan baik nusantara maupun
mancanegara. Bahkan 3 (tiga) situs budaya telah terdaftar sebagai cagar budaya
peringkat nasional dalam situs Data Referensi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan diantaranya 1 (satu) situs cagar budaya di Kecamatan Makale yaitu
Kuburan Batu dan Rumah Adat Lemo, dan 2 (dua) situs cagar budaya di
Kecamatan Sangalla diantaranya Pemakaman Raja-raja Sangala, Tampang Allo,
dan satu museum yaitu Museum Buntu Kalando.

Selain itu, dalam Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu Kawasan Strategis


Pegunungan dan Budaya Toraja, Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di
KSPN Toraja Yang Akan Dikembangkan terdapat cukup banyak DTW yang
diprioritaskan yang diramu dalam satu kesatuan kegiatan wisata beserta daya
tarikwisata pendukungnya yang terintegrasi, diantaranya sebagai berikut:
1. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek pendukung:
▪ Gua alam
▪ Museum
▪ Monumen Penginjilan
▪ Panorama Alam
▪ Rumah Adat
▪ Kuburan Batu Tondon Makale
▪ Kuliner
▪ Kereta gantung
▪ Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
▪ Kolam Alam Assa
▪ Pasar Hewan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 16


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjang :


▪ Permandian Air Panas Makula
▪ Pekuburan batu Suaya
▪ Kuburan Bayi/Passilliran Kambira’
▪ Kuburan Gua Alam Tampang Allo
▪ Gua Alam Sullukan
▪ Tongkonan Banua Kasalle Bau
▪ Museum Buntu Kalando
▪ Atraksi Seni Budaya
▪ Rante Tongko Sarapung
3. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek penunjang:
▪ Sassa’
▪ Perkampungan Adat Sillanan
▪ Kawasan Hutan Mapongka.
4. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek
penunjang:
▪ Potok Tengan
▪ Panorama alam Buntu Kandora
▪ Banua Puan
▪ Liang Lo’ko’ Randanan
▪ Panjat Tebing
▪ Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring
5. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
▪ Permandian alam Tilanga’
▪ Makam adat Sirope
▪ Tongkonan Mandetek
▪ Agrowisata Rante Lingkua’
▪ Makam Bayi –Passilliran Alla.
6. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek pendukung:
▪ Rumah Adat Pattan
▪ Talion
▪ Benteng Pongtiku, Boronan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 17


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Likunna Makuyo
▪ Atraksi Budaya
▪ Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’
7. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakaradeng dengan objek
pendukung:
▪ Air terjun Salu Bitu
▪ Permandian Air Panas Ratte Buttu
▪ Liang pahat
▪ Permandian Air Panas Bake’
▪ Panorama Alam.
8. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek pendukung:
▪ Agrowisata Bolokan
▪ Hutan Wisata
▪ Permandian Air Panas
▪ Rumah Adat
▪ Air terjun Ratte Sarambu
9. Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan; dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Tracking
▪ Sepeda Gunung
▪ Wisata Berkuda
▪ Monumen Ampang Banu’
▪ Atraksi seni budaya
▪ Agrowisata.
10. Kawasan Wisata Barereng di Kurra dengan objek pendukung :
▪ Rafting/Arung Jeram
▪ Air Terjun
▪ Kolam Pemancingan
▪ Tracking
▪ Panorama
11. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’ dengan objek
pendukung:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 18


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Air terjun
▪ Hutan Wisata
▪ Perkemahan
▪ Atraksi seni budaya
▪ Kuburan Batu
▪ Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
12. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek
penunjang:
▪ Desa Wisata
▪ Rumah Adat
▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
▪ Benteng To Pada Tindo
▪ Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
▪ Passiliran Kambisa
▪ Kerajinan seni ukir

Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu di KSPN Toraja diatas, menjadi


salah satu masukan dalam pembentukan perwilayahan destinasi pariwisata yang
sangat penting dalam mengintegrasikan berbagai program-program
pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja yang diharapkan secara
bersama-sama dapat mendorong kepariwisataan daerah dan nasional secara
umum.

Potensi-potensi daya tarik wisata budaya Tana Toraja berdasarkan setiap DTW
yang tersebar memiliki keunggulan masing-masing dan diperlukan adanya variasi
daya tarik wisata yang dapat memberikan kenyamanan berwisata bagi wisatawan
sehingga diharapkan wisatawan dapat lebih lama tinggal dan menikmati setiap
suguhan daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja yang tersedia. Untuk lebih
jelasnya, potensi daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja yang berbasis budaya
dapat dilhat pada tabel dan uraian beberapa potensi daya tarik wisata potensi
sebagai berikut.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 19


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
1 Desa Wisata Bebo' Tumbang Tumbang Datu, Bebo Sangalla Utara Rumah Adat Toraja/ Tongkonan dan Alang Yang
Datu Masih Asli
2 Papa Batu - Rembon Rumah Adat Toraja/ Tongkonan yang Beratap Batu
3 Sassa' Gasing Menkendek Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan
kehidupan masyarakat yang masih tradisional
4 Perkampungan Adat Sillanan Sillanan Gandang Batu Sillanan Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan
kehidupan masyarakat yang masih tradisional,
Kuburan Batu, Rante (tempat upacara kematian)
5 Tampang Allo Tongko Sarapung Sangalla’ Goa Alam dengan peti mati kuno dan patung
patung milik bangsawan yang berada di dalam peti
mati yang sudah berumur ratusan tahun
6 Suaya Kaero Sangalla’ Erong, Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/
Patung orang mati
7 Kambira Baby Grave Tongko Sarapung Sangalla’ Passiliran (Kuburan Bayi yang disimpan di pohon
hidup dengan cara di lubangi)
8 Potok Tengan Tengan Mengkendek Situs Purba Bersejarah dan Rumah Adat Toraja/
Tongkonan
9 Pattan Pattan Saluputti Rumah Adat Toraja/ Tongkonan, Kuburan Batu dan
Tau-Tau/ Patung Orang Mati
10 Kawasan Wisata Buntu Tengan Mengkendek Rumah Adat, Sejarah Orang Toraja, Panorama
Kandora Alam, Gunung/ Batu Kars dan Monyet Asli Toraja
11 Liang Lo'ko Randanan Ke'pe Tinoring Mengkendek Gowa Alam
12 Tongkonan Banua Kasalle Kaero Sangalla’ Tongkonan Cagar Budaya

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 20


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
13 Buntu Tondon Tondon Mamullu Makale Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang
mati
14 Perkuburan Kuno Gandang Gandangbatu Gandangbatu Sillanan Cagar Vudaya Prasejarah / Megalitik Kuburan Batu
Batu
15 Lo'ko Wai (Kuburan Bayi Sillanan Gandangbatu Sillanan Patane khusus mayat bayi purba
Purba)
16 Liang Saratu’ Bau Bonggakaradeng Kuburan Batu Pahat
17 Kampung Tenun Malimbong Balepe Kerajinan Tenun/Tongkonan
18 Tengko Batu Kamali Makale Situs Cagar Budaya, Batu keramat
pentalluan
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Rea Saluputti Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang
mati
20 Sanduni (Liang) Banga' Banga Rembon Kuburan Batu/ Liang Pahat
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Ke'pe Tinoring Mengkendek Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang
mati
22 Liang Pahat Rano Utara Rano Utara Rano Kuburan Batu Pahat
23 Goa Sullukan Tokesan Sangalla Gowa Alam
24 Sirope' Lion Tondok Iring Makale Utara Kuburan Batu/ Liang Pahat, Erong
25 Saluliang Kole Sawangan Balepe Kuburan Batu Pahat
26 Mapongka Marinding Mengkendek Hutan Pinus dan Panorama
27 A'pa' Pamanukan Pamanukan Gandangbatu Sillanan Tongkonan
28 To' Puang Rante Alang Sangalla’ Selatan -Tongkonan
-Batu bersejarah
29 Kuburan Batu Ullin Ullin Rembon Kuburan Batu Pahat

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 21


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
30 Batususu Talion/ Sarapeang Sarapeang Rembon
31 Ma'dandan (himpuan erong)
32 Batu Kapak (Batu Talla) Malimbong Balepe
33 Babakanaan Palipu Mengkendek
34 Kuburan Batu Lemo Lemo Makale Utara Liang/ Lobang Pahat untuk peti mati dan Tau-Tau/
Patung orang mati yang di masukkan kedalam
liang/ lobang pahat
35 Museum Buntu Kalando Tongko Sarapung Sangalla’ Tongkonan Puang Sangalla' dan Museum Mini
36 Sa’pak bayobayo Saluallo Sangalla Utara ▪ Kampung tenun,
▪ wisata religi Sa'pak Bayo-bayo
▪ Gowa Alam
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 22


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

GAMBAR.... PETA DTW ALAM

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 23


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. Desa Wisata Bebo' dan Tumbang Datu


Kawasan wisata Bebo dan Tumbang Datu memiliki keragaman daya tarik
wisata yang umumnya belum dikembangkan sebagai salah satu destinasi
wisata di Kabupaten Tana Toraja. Keragaman Daya tarik wisata tersebut
menjadi perhatian pemerintah daerah sehingga dilakukan perencanaan ini.
Kawasan Wisata Bebo dan Tumbang Datu terdapat 2 (dua) jenis daya tarik
wisata didalamnya yaitu daya tarik wisata alam dan daya tarik wisata budaya.
DTW tersebut antara lain yaitu bangunan tongkonan, kawasan pekuburan
batu, kawasan religi/kepercayaan Aluk Todolo, kawasan kampung monyet,
kawasan rante, dan kawasan gua kelelawar.

Menurut administrasi wilayah desa/lembang di Kawasan Bebo yang terletak di


Lembang Bebo terdapat daya tarik wisata berupa Kawasan Kampung Monyet
yang merupakan daerah hutan yang berkembang habitat Monyet, sedangkan
daya tarik lain pada uraian diatas terletak di Lembang Tumbang Datu. Secara
umum, Tempat wisata ini merupakan salah satu perkampungan adat yang
letaknya di kecamatan Sangalla utara. Disana terdapat banyak bangunan
rumah adat tongkonan, tempat untuk upacara adat, pemakaman purba
masyarakat Toraja, kuburan bayi pada pohon, ada mata air, benteng
pertahanan jaman purba serta beberapa tempat menarik lainnya yang
berhubungan dengan masyarakat Toraja jaman dahulu. Dengan adanya
peninggalan budaya serta adat yang unik dari jaman purba tersebut membuat
destinasi wisata yang satu ini menjadi semakin menarik untuk dikunjungi.
Sebab banyak destinasi wisata di dalamnya yang masih dijaga dengan baik
oleh masyarakat Toraja hingga saat ini. Bahkan tradisi atau adat masyarakat
jaman dahulu masih dipegang teguh oleh masyarakat sekitar.

Bahkan tidak jauh dari kawasan wisata tersebut, pengunjung akan


menemukan puncak bukit, dimana terdapat pohon cendana di puncak bukit
tersebut dan dijadikan sebagai penanda untuk memperingati perjanjian antar
suku yaitu Basse Kasalle. Rumah adat ini di hiasi dengan gading atau tanduk
tedong yang umurnya sudah puluhan tahun.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 24


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

a. Bangunan Tongkonan
Pengembangan Kawasan Bebo dan
Tumbang Datu, sebelumnya telah
dilakukan sosialisasi oleh
pemerintah daerah dalam rangka
meningkatkan peran serta
masyarakat dalam pembangunan
dan pengembangan pariwisata
Tana Toraja yang digelar di
Tongkonan Karuaya Lembang
Tumbang Datu, pada tahun 2017
lalu. Sosialisasi kesiapan
masyarakat dalam menerima
pariwisata ini digelar dalam rangka penetapan Tongkonan Karuaya oleh
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu destinasi
pariwisata baru berupa Perkampungan Adat.

Bangunan Tongkonan di Tumbang


Datu merupakan kumpulan
bangunan yang dikembangkan
sebagai daya tarik wisata
Perkampungan Adat. Karakteristik
bangunan Tongkonan pada
perkampungan adat ini memiliki nilai sejarah dengan deretan rumah adat
Toraja yang merupakan bagian dari wilayah Tongkonan tertata rapih.
Masyarakat sekitar Tumbang Datu Bebo’ masih sangat memegang teguh
tradisi dan melakukan upacara adat.

b. Kawasan Pekuburan Batu


Salah satu objek daya tarik wisata Kuburan Batu juga terdapat di kawasan
Bebo dan Tumbang Datu yang merupakan variasi dari destinasi wisata
yang ada di Kecamatan Sangalla Utara tepatnya di Kelurahan Bebo
sebagai salah satu fasilitas pemakaman yang berbasis budaya dan
dijadikan sebagai destinasi wisata dalam kawasan perencanaan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 25


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

c. Kawasan Religi/Kepercayaan Aluk Todolo


Kepercayaan Aluk Todolo bukan hanya sistem keyakinan, tetapi juga
merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk Todolo
mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual
keagamaan. Tata cara Aluk Todolo bisa berbeda antara satu desa dengan
desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual
kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa
ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya
digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama
pentingnya.
Aluk Todolo pernah menjadi tali pengikat masyarakat toraja yang begitu
kuat, bahkan menjadi landasan kesatuan sang torayan yang sangat kokoh
sehingga kemanapun orang toraja pergi akan selalu ingat kampung
halaman, dan rindu untuk kembali kesana. Ikatan batin yang Sangtorayan
yang begitu kokoh tentu saja antara lain adalah buah-buah dari tempaan
Aluk Todolo itu. Karena itu patut prihatin bila aluk todolo itu kini nyaris
lenyap diterpa arus dunia modern.
Tradisi Aluk Todolo masih kuat diyakini masyarakat Tana Toraja sebagai
warisan sakral. Tata krama yang terdapat didalamnya masih tetap
diindahkan bukan saja oleh generasi tua tetapi juga generasi muda yang
masih yakin bahwa tradisi Aluk Todolo bisa membawa kebahagiaan dan
sekaligus juga bisa membawa malapetaka jika tidak diindahkan. Adat
istiadat Aluk Todolo masih amat ampuh mempersatukan masyarakat Tana
Toraja, meskipun anggota masyarakatnya sudah menganut agama formal
yang berbeda-beda. Dalam satu keluarga di Tana Toraja, lazim dijumpai
beberapa agama. Boleh jadi dalam satu rumah ada yang beragama
Kristen, ada yang beragama Katolik, dan ada juga beragama Islam.
d. Kawasan Kampung Monyet
Sebagai salah satu habitat yang dilindungi di Indonesia, Monyet
merupakan binatang yang cukup langka yang tidak ditemui dibanyak
daerah. Oleh karena itu, keberadaan habitat ini menjadi salah satu daya
tarik bagi wisatawan karena kelangkaan tersebut. Kawasan Kampung

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 26


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Monyet yang teridentifikasi dalam kawasan perencanaan di Lembang


Tumbang Datu menjadi bagian dari kawasan perencanaan mengingat
jenisdaya tarik wisata tersebut masih cukup langkah didaerah Toraja
sehingga memiliki kekuatan menarik wisatawan apabila dikembangkan.
Pada umumnya kumpulan habitat alam yang dilindungi oleh Negara
seperti Monyet ditetapkan sebagai kawasan lindung yaitu lindung suaka
marga satwa atau taman nasional, dimana kawasan tersebut tidak
diperuntukkan bagi kawasan budidaya namun dapat dimanfaatkan
dengan fungsi lain selama tidak merubah atau menghilangkan fungsi
utamanya tersebut.
e. Kawasan Tongkonan dan Rante
Beberapa tinggalan khas budaya megalitik dapat ditemukan di Tana
Toraja saat ini, seperti batu tegak (menhir), kubur batu, lumpang batu,
umpak batu, dan tempayan batu. Dari berbagai jenis tersebut, menhir
yang dalam istilah lokal disebut simbuang merupakan tinggalan yang
mendominasi temuan megalitik di Tana Toraja salah satunya di Bebo
Tumbang Datu.
Rante
Simbuang didirikan dalam rangkaian upacara penguburan sekaligus
sebagai monumen agar generasi penerus tetap menghormati dan
melanjutkan tradisi mengagungkan para leluhur. Bentuk menhir
umumnya persegi panjang atau bulat oval dan meruncing diatasnya.
Bentuk tersebut ada yang diperoleh secara alami, namun kebanyakan
dibentuk dengan cara dipahat sampai menjadi bentuk yang diinginkan.
Menhir di Toraja hampir selalu berada di rante, yakni sebuah tempat
khusus yang diperuntukkan sebagai tempat upacara kematian satu
marga.

Setiap keluarga besar memiliki rante masing-masing, sehingga rante


sering dianggap sebagai perkampungan kecil. Rante menjadi bagian
integral dari tiga komponen penting dalam pemukiman tradisional Toraja,
yaitu rante (tempat upacara), liang (kuburan) dan tongkonan (rumah
adat). Setiap upacara kematian harus dilakukan di rante agar arwah dapat

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 27


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

mencapai kesempurnaan. Hal ini juga terlihat secara fisik dikawasan


perencanaan, dimana lokasi rante berdekatan dengan bangunan
tongkonan yaitu di Tongkonan Karuaya.
Tongkonan
Dikawasan Bebo Tumbang Datu
terdapat 3 (tiga) rumah tongkonan
yang tersebar pada tempat yang
berbeda. Ketiga tongkonan tersebut
diantaranya Tongkonan Karuaya,
Tongkonan Bebo dan Tongkonan
Tumbang Datu.
Tongkonan Karuaya memiliki seni arsitektur masih sangat tradisional,
beratap bambu yang disusun sedemikian rupa. Di bagian depan
tongkonan, ada alang sura', tempat menyimpan bahan-bahan makanan,
terutama padi, gabah, dan beras, sebanyak 6 bangunan. Tiang-tiangnya
terbuat dari batang pohon palem yang licin sehingga tikus tidak dapat
naik ke dalam bangunan. Pada sebuah tiang penyangga depan rumah,
puluhan tanduk kerbau dipajang rapi dari atas ke bawah yang
melambangkan kemampuan ekonomi pemilik rumah saat upacara
penguburan anggota keluarganya. Makin banyak tanduk yang terpasang,
makin tinggi pula status sosial keluarga pemiliknya. Selain itu, di sisi kiri
dan kanan rumah juga terdapat rahang kerbau dan rahang babi. Di
sebatang kayu yang melintang di bagian depan rumah, dekat atap,
terlihat sejumlah tengkorak manusia yaang merupakan tengkorak para
musuh yang dikalahkan saat perang antarsuku, menunjukkan bahwa
masyarakat desa itu kuat, gagah, dan berani.

Keunikan lain rumah adat ini terlihat dari ukiran berwarna merah, hitam,
dan kuning. Motif hewan dan tanaman melambangkan kebajikan.
Tanaman gulma air serta hewan seperti kepiting dan kecebong misalnya,
diyakini melambangkan kesuburan. Ada pula ukiran kerbau yang
melambangkan kekayaan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 28


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Selain itu juga terdapat Tongkonan Bebo dan Tongkonan Tumbang Datu,
yang terletak di bagian utara dan selatan kawasan perencanaan. Setiap
tongkonan tersebut merupakan perwakilan dari setiap rumpun/keluarga
yang ada dikawasannya.

2. Papa Batu
Tongkonan Papa Batu yang diprediksi
sudah berumur 417 tahun dan sudah
tercatat sebagai salah satu budaya
warisan dunia oleh UNESCO.
Tongkonan Papa Batu artinya rumah
adat yang beratapkan batu, dan
merupakan satu-satunya Tongkonan yang beratap batu. Sebagai satu-satunya
bangunan Tongkonan beratap batu, tentunya merupakan daya tarik wisata
yang sangat menarik yang ada di Toraja. Seluruh bagian bangunan kecuali
atap menggunakan bahan kayu. Seperti halnya bangunan Tongkonan lain di
Toraja, Papa Batu disakralkan oleh keluarga dan masyarakat setempat
sehingga untuk kepentingan kunjungan wisatawan, diharuskan mendapat izin
dari pemilik jika wisatawan ingin naik ke atap rumah untuk melihat keunikan
bangunan tersebut.

3. Sassa'
Pada Kawasan Sassa’ terdapat salah satu tongkonan yang konon katanya
merupakan Tongkonan Tertua di Tana Toraja, Tongkonan Sassa’ diperkirakan
sudah 500 tahun usianya ini, sudah dikenal sebagai salah satu objek wisata di
Tana Toraja. Selain dari keberadaaan Tongkonan Tertua Kawasan Sassa’ juga
menawarkan keindahan dan panorama alam Tana Toraja yang khas dan unik.
Karena selain secara history Tongkonan ini unik dan cukup tua usianya,
pemandangan alam di Tongkonan ini sungguh luar biasa. Berada di area
perbukitan, dari Tongkonan ini kita bisa memandang ke segala penjuru.
Pemandangan alam persawahan dan perbukitan di bawahnya terlihat begitu
mengagumkan. Dari Tongkonan Sassa’’ wisatawan dapat menyaksikan Patung
Yesus Memberkati di Buntu Burake di kejauhan. Jika tidak terpapar sinar
matahari, patung ini terlihat cukup jelas. Bukit Kandora yang mempersona,

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 29


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

terkadang diselimuti kabut, juga terlihat anggun dari tempat ini. Belum lagi
atap-atap Tongkonan (rumah adat Toraja) di sela-sela pepohonan di
kejauhan.

DTW ini merupakan tempat rumah adat atau tongkonan tertua di Kecamatan
Mengkendek dan sekitarnya, tongkonan Sassa’’ ini sebagai tempat tinggal
Tangdilatuk yang membuat aturan adat dan kepercayaan Sumio’ Sukaran Aluk
di kampung/negeri Pangrorean juga kuburan bayi di pohon besar, perkebunan
kopi dan markisa sehingga memberikan suhu yang sejuk. Objek wisata ini
terletak di Lembang Gasing Kecamatan Mengkendek. Untuk sampai di
Tongkonan Sassa’’ tidaklah sulit. Jarak tempat ini dari Makale, ibukota
Kabupaten Tana Toraja hanya sekitar 20 kilometer, dengan kondisi jalan yang
cukup bagus. Kendaraan roda dua maupun empat, bisa menjangkau tempat
ini. Bagi pengunjung yang datang ke sana, hanya perlu mengarahkan
kendaraan dari Makale menuju ke arah Mengkendek tepatnya di Lembang
Gasing.

4. Perkampungan Adat Sillanan


Objek wisata Perkampungan Adat
Sillanan adalah kampung yang dibuat
berdasarkan ciri khas masyarakat
Toraja. Daya tarik tersendiri yang dapat
ditemukan di tempat ini adalah
bangunan yang mencirikan khas
masyarakat Toraja. Perkampungan
Adat Sillanan berada di Kecamatan Mengkendek Lembang Sillanan dengan
jarak ± 15 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 30


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tongkanon ini memiliki ukiran warna


yang di buat berdasarkan ciri khas
budaya di Kabupaten Tana Toraja,
tongkanon ini juga memiliki daya tarik
tersendiri pada bangunan yang
mencirikhas kultur atau budaya
masyarakat Tana Toraja.

Objek ini adalah salah satu situs


peninggalan purbakala berupa
perkampungan adat dengan tradisinya
dan juga sebagai daerah yang dikelilingi
dengan perkebunan kopi, sayur-sayur,
dan buah-buahan. Tempat ini terkenal dengan perkampungan adatnya.

Disini terdapat beberapa tongkonan yang memiliki fungsinya masing-masing


dalam pemerintahan, juga liang pahat atau kuburan buatan di tebing- tebing
gunung batu yang terjal dan menjulang tinggi, erong (peti jenazah purba di
Tana Toraja dari kayu), sumur alam, sumur mata air dan pancuran yang tidak
pernah kering, terbuat dari susunan batu gunung. Tempat ini terkenal dengan
panorama alam yang mempesona, disertai dengan hamparan perkebunan
rakyat, fauna dan flora berupa anggrek, kopi dan vanili. Objek wisata ini
terletak di Lembang Sillanan Kecamatan Gandang Batu Sillanan.

Di tempat ini juga terdapat bangunan-bangunan megalit berupa menhir


maupun kubur batu yang berkaitan dengan tradisi dan upacara-upacara adat
masyarakat Toraja yang hingga kini masih diselenggarakan. Dari upacara-
upacara adat tersebut, pengunjung akan mendapatkan gambaran mengenai
fungsi dan peranan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut terhadap
kehidupan masyarakat setempat. Beberapa rumah tongkonan dan lumbung
padi yang berusia sangat tua masih bisa ditemukan disini, sementara
beberapa diantaranya sudah direnovasi akibat termakan usia. Tidak semua
Tongkonan dapat dikunjungi, kecuali Tongkonan yang memang secara khusus
dijadikan obyek wisata. Sementara Tongkonan milik keluarga Tana Toraja

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 31


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

hanya boleh dikunjungi oleh anggota keluarga saja. Wisatawan bisa


menanyakan tetua adat atau penduduk mengenai Tongkonan mana yang
boleh dikunjungi.

Pada Kawasan Sillanan Bubunna, Tintiri


Buntu merupakan aset terbaik yang
dimiliki oleh desa Sillanan. Mata air ini
berbeda dari mata air pada umumnya.
Sumur ini akan membuat siapa saja yang
mencoba akan merasakan kesejukan air
awet muda dan umur panjang. Di
kampung Sillanan juga terdapat
peninggalan sejarah berupa benteng Pertahanan Sillanan yang bernama
Tangdi Rompo di puncak bukit batu Sillanan. Benteng ini menurut Pak Rante
terbuat dari batu gunung asli yang disusun rapi. Benteng-benteng ini
digunakan masyarakat Sillanan untuk mempertahankan diri dari serangan
musuh, baik saat perang antar suku di Toraja maupun perang melawan
pasukan dari luar Toraja termasuk Belanda. Untuk mencapai lokasi benteng
ini harus menempuh satu hari satu malam berjalan kaki dari desa Sillanan.

Desa Sillanan juga menawarkan pemandangan alam yang indah dan


agrowisata kopi dan sayur mayur. Sillanan dapat dicapai dengan
menggunakan angkutan umum Makale – Mebali, selanjutnya perjalanan bisa
dilanjutkan dengan angkutan Mebali -Sillanan, naik ojek atau berjalan kaki.
Disekitar perkampungan ini, terdapat juga pemondokan untuk wisatawan.
Sementara enam kilometer dari Sillanan, terdapat hotel bintang tiga. Usia
sumur ini diperkirakan sama dengan usia perkampungan adat tua Sillanan.

5. Tampang Allo
Daya tarik wisata Tampang Allo ini
terletak 19 km dari Rantepao dan 12 km
dari Makale. Tampang Allo berupa gua
alam tempat dimakamkannya salah satu
penguasa Sangalla, yaitu Puang Manturino dan istrinya, Rangga Bulaan yang

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 32


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

wafat sekitar pertengahan abad ke-16. Diceritakan jenazah Puang Manturino


menghilang dari erongnya, setelah dikuburkan terpisah dengan istrinya yang
meninggal terlebih dulu, Rangga Bulaan, dan dikuburkan di Gua Tampang Allo.
Menurut cerita jenazah Puang Manturino kemudian ternyata ditemukan telah
bersatu dengan jenazah istrinya di Gua Tampang Allo. Sejak saat itu
keturunan-keturunan mereka juga kemudian dimakamkan di gua ini bersama
dengan pasangannya sebagai perwujudan perjanjian dan sumpah suami istri:
”sehidup semati, satu kubur kita berdua”. Objek ini memiliki daya tarik adalah
Liang Lo‟ko Tau-tau dan tau-tau, terletak di Lembang Turunan Kecamatan
Sangalla.

Untuk mencapai Kawasan ini jalur yang ditempuh melalui Makale dengan 2
rute yang dapat dalam waktu sekitar 15 menit alternative lain bisa dari Makale-
Tetebassi – Sangalla- Kondoran- Suaya jaraknya sekitar 13 km atau yang dari
Kota Rantepao Kabupaten Toraja Utara bisa melalui Ke’te kesu - La’bo –
Randanbatu – Sangalla – Kondoran - Suaya jaraknya mungkin sekitar 17 km.
Objek wisata ini dekat dengen beberapa objek wisata Suaya King Grave,
Kambira Baby Grave, Museum Buntu Kalando, Sa'pak Bayo-Bayo.

Selain Goa dan perkuburan batu,


Kawasan Tampang Allo juga terdapat
Kawasan Tongkonan dan
perkampungan Adat serta keindahan
panorama alam yag terbentuk dari bebatuan karts yang alami, dari ketinggian
dapat melihat keindahan panorama alam sekitar.

Untuk mencapai puncak bebatuan karst


tersebut, telah dibangun anak tangga
bagi wisatawan yang ingin melihat
panorama alam dari ketinggian
kawasan tersebut.

6. Sanduni (Liang) Banga'


Objek wisata Sandini (liang) merupakan tempat kuburan masyarakat Tana
Toraja. Objek ini memiliki daya tarik dengan keindahan alam serta di kelilingi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 33


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

oleh flora dan fauna, pepohonan yang rindang dan sejuk sehingga wisatawan
dapat menikmatinya dengan baik.

7. To'bai (Liang Tau-Tau)


Objek wisata To‟bai (liang tau- tau) merupakan tempah patung- patung orang
yang suda meninggal di Kabupaten Tana Toraja. Tau-tau ini di merupakan
kreatifitas masyarakat dengan dengan hasil kreasi yang sangat unik. Tau-tau
ini di buat berdasarkan jenis kelamin orang yang sudah meninggal.

8. Suaya
Objek wisata Suaya merupakan tempat
penyimpanan mayat atau makam para
raja-Raja Sangalla dan di lengkapi oleh
Makam Raja Pantunuan yang
kedudukannya berada di atas batu
besar, mayat-mayatnya di susun
bereretan di lobang batu. Objek wisata
ini memiliki keunikan terdendiri dengan panorama alam serta dikelilingi oleh
pepohonan dan letaknya berada diatas pegunungan sehinggah wisatawan
yang mengunjungi dapat melihat jelas pamandangan di daerah tersebut.
Tempat ini terletak di Kecamatan Sangalla kelurahan Ka‟ero dengan jarak ±
10 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja. Objek ini memiliki daya tarik
adalah Liang Lo‟ko‟, Tau tau dan tau-tau.
Untuk mengunjungi DTW Suaya, telah
tersedia sarana wisata berupa tempat
parkiran yang dikelilingi oleh sejumlah
toko-toko souvenir dan makan minum.
Akses menuju kawasan ini dapat
ditempuh dengan mudah karena
berada pada ruas jalan utama kawasan
dengan kondisi aspal dan masih sangat baik untuk dilalui.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 34


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

9. Buntu Tondon
Objek wisata Buntu Tondon adalah kuburan bangsawan yang ditempatkan di
lubang batu yang dipahat oleh masyarakat untuk meletakkan tau–tau (Patung
Orang yang sudah mati). Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan ditempat
ini adalah liang pa‟a (Kuburan batu pahat) yang dikelilingi batuan alam. Untuk
mengunjungi tempat ini wisatawan akan menemukan kuburan para
bangsawan masyarakat Toraja.

Pada awalnya di dinding pekuburan tersebut terdapat beberapa tau tau.


Namun seiring dengan meningkatnya pencurian tau-tau, maka pihak keluarga
kemudian memindahkannya ke rumah mereka. Akibatnya balkon-balkon yang
dulu diisi tau-tau, kini kosong. Daya Tarik Wisata Utama adalah Liang Pa‟a.
Objek wisata ini terletak di Kecamatan Makale Utara Kelurahan Tondon
Mamulu.
10. Potok Tengan
Kawasan Wisata Alam Budaya Potok
Tengan yang berada di Kelurahan
Tengan Kecamatan Mengkendek. Pada
kawsan ini terdapat beberapa destinasi
wisata berupa hamparan alam tebing
karts, permukiman adat dan perkampungan tua khas toraja dengan
beberaapa bangunan tongkonan didalamnya. Serta pemandangan alam di
atas bukit kandora yang alami dan eksotis khas toraja.

Objek wisata Potok Tengan adalah tempat


perkampungan Adat dengan bangunan-
bangunan yang didirikan diatas areal batu-
batu besar yang di susun dengan rapi. Daya
tarik tersendiri yang dapat ditemukan di
tempat ini adalah batu unik yang menyerupai
kelamin laki-laki dan perempuan yang di
yakini memiliki kekuatan magis (gaib). objek
wisata Potok Tengan merupakan situs

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 35


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

purbakala atau peninggalan bersejarah yang di dalamnya terdapat barang-


barang bersejarah. Objek wisata Potok Tengan memiliki daya tarik arsitektur
dengan ukiran pada bangunan dengan warna yang khas akan budaya
masyarakat Tana Toraja. Objek wisata Potok Tengan terletak di kecamatan
Mengkendek kelurahan Tengan dengan jarak ± 8 Km dari pusat kota Makale.

Kawsan wisata ini juga sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai daya tarik
wisata minat khusus pendidikan antropologi sejarah dan adat serta budaya
khas sehingga sangat penting situs-situs tersebut dikembangkan dengan lebih
komprehensive agar dapat dijadikan percontohan sebagai bahan penelitian
sekaligus berwisata.

11. Perkuburan Kuno Gandang Batu


Objek wisata Perkuburan kuno Gandang Batu berada di Kecamatan Gandang
Batu Sillanan Kelurahan Gandang Batu dengan jarak ± 20 km dari pusat kota
Kabupaten Tana Toraja. Kuburan kuno ini memiliki daya tarik yang unik dilihat
berdasarkan kondisinya serta di kelilingi oleh hijaunya pepohonan dan
keindahan alam yang natural.

12. Pattan
Di lokasi ini daya tarik berupa tongkonan
atau perkampungan tradisonal Toraja
yang memiliki strata kultur/budaya yang
sangat di junjung tinggi serta terdapat
Liang atau kuburan dan tau-tau yang
memiliki daya tarik tersendiri serta kondisi
alam yang sangat natural sehingga
daerah ini memiliki kenyamanan dan
keaslian yang sangat memuaskan. Objek wisata ini terletak di Kelurahan
Kelurahan Pattan Kecamatan Suluputti.

13. Kawasan Wisata Buntu Kandora


Objek wisata Gunung Kandora memiliki daya tarik yang sangat indah. Gunung
Kandora memiliki potensi wisata yang sangat baik untuk di kembangkan,
dengan adanya daya tarik serta keindahan alam yang membentang di

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 36


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

sekelilinginya serta marga satwa yang berada dilokasi. Dilihat dari tata
letaknya dengan kondisi alam yang berbukit - bukit serta panorama alam yang
berada di sekitarnya, pepohonan yang rindang, hijaunya alam sehingga
memiliki nilai estetika yang sangat menarik.

Di bawah objek wisata gunung Kandora terdapat tanaman persawahan dan


permukiman warga, serta bukit-bukit yang melintang sehingga wisatawan
yang berada di puncak gunung dapat melihat pemandangan yang
menakjubkan. Objek wisata gunung kandora berada di Kecamatan
Mengkendek kelurahan Kandora dengan jarak ± 7 Km dari pusat kota Tana
Toraja. Untuk itu perlu adanya pemeliharaah hutan serta adanya reboisasi
kembali sehingga dapat mempertahankan keaslian objek tersebut.

14. Liang Lo'ko Randanan


Objek wisata Liang Lo‟Ko‟ Randanan adalah tempat pemakaman berupa
goa alam dimana tulang-tulang manusia berserakan. Hal ini menandakan
bahwah tempat ini telah dimanfaatkan sebagai tempat pemakaman sejak
ratusan tahun yang lalu.

Liang ini berada di dalam gua. Untuk melakukan penguburan harus


menggunakan obor. Di kaki gunung gua diperkirakan dahulunya terendam air
laut dengan adanya serpihan fosil karang laut yang melekat pada batu di
sekitarnya. Hal ini di lakukan berdasarkan kultur masyarakat yang di bawahi
oleh para leluhur sejak dibentuk. Dengan adanya penguburan mayat pada
lubang-lubang batu yang terdapat di dalam gua menunjukan keunikan
tersendiri bagi daerah ini. Lokasi objek wisata liang lo‟ko randanan terletak di
kecamatan Mengkendek kelurahan Randanan dengan jarak ± 5 Km dari ibu
kota Kabupaten Tana Toraja

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 37


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

15. Salu Liang


Salu Liang merupakan sebutan
masyarakat setempat terhadap kuburan
batu yang terletak di Desa Malimbong
tepatnya di Sawangan disekitar area
persawahan. Nama Salu Liang sendiri
berasal dari bahasa Toraja yaitu: Salu
yang berarti sungai dan Liang yang
berarti kuburan batu/liang/goa, sehingga Salu Liang artinya kuburan yang
sangat banyak. Di tempat ini banyak terdapat batu-batu besar yang dibuat
kuburan/liang/goa oleh orang-orang dari Mareali. Lalu dibeli oleh masyarakat
setempat untuk dijadikan pemakaman menurut silsilah keluarga. Kuburan ini
dibuat sekitar tahun 1918 pada Perang Dunia 1.

Kuburan batu sebagai karakteristik budaya masyarakat Toraja dalam ritual


penguburan jenazah dan umumnya dapat dijumpai diberbagai bagian wilayah
kabupaten, namun Salu Liang ini dapat dikatakan cukup unik karena sebaran
bebatuan besar yang dijadikan sebagai kuburan jenazah tidak seperti
umumnya ditempat lain. Berdasarkan wawancara dengan tokoh masyarakat
setempat, kuburan liang ini terdapat 107 lubang. Batu-batu tersebut
umumnya bukan bebatuan besar dan tinggi seperti di Londa Toraja Utara dan
lainnya. Keunikan lain yaitu dengan bentuk dan karakteristik Salu Liang ini
sehingga memberikan ruang bagi wisatawan untuk dapat menikmati
keindahan alan disekitarnya berupa hamparan persawahan dan pegunungan
yang jauh. Kondisi Salu Liang saat ini masih belum terawat dengan baik untuk
kepentingan wisata.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 38


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

16. Tongkonan Banua Kasalle


Objek wisata Tongkonan Banua Kasalle adalah bangunan rumah tradisional
masyarakat Toraja. Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan di tempat ini
adalah tempat tumbuh dan berkembangnya sosial budaya masyarakat Toraja,
mengunjungi tempat ini kita akan menemukan barang barang warisan
keluarga masyarakat Toraja.

Menurut cerita yang diyakini masyarakat Toraja, tongkonan pertama dibangun


di surga oleh Puang Matua, dengan empat tiang utama dan atap yang terbuat
dari kain. Leluhur Toraja kemudian meniru bentuk tongkonan untuk
rumah tinggal mereka. Tongkonan dibangun mirip perahu dan selalu
menghadap ke utara sebagai simbol penghormatan pada Puang Matua serta
untuk mengingatkan daerah asal leluhur suku Toraja. Setiap tongkonan
dilengkapi dengan Alang Sura’ atau lumbung padi yang juga berbentuk
menyerupai tongkonan dengan ukuran yang lebih kecil. Alang Sura’ yang
berfungsi sebagai tempat menyimpan padi atau barang-barang warisan
keluarga ini ditempatkan di depan dan saling berhadapan dengan tongkonan.
Objek wisata Tongkonan Banua Kasalle ini terletak di kecamatan Sangalla
Lembang Bulian Masa‟bu dengan jarak ± 6 Km dari pusat kota Kabupaten Tana
Toraja.

17. Lo'ko Wai (Kuburan Bayi Purba)


Objek wisata ini merupakan tempat pemakaman bayi purba yang usianya
sudah puluhan tahun dengan keunikan yang menajubkan serta daya tarik
dilihat berdasarkan kondisi alamiah serta vegetasi yang hijau di sekelilingnya,
objek wisata ini memiliki nilai historis tersendiri bagi masyarakat Tana Toraja.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 39


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Objek wisata ini terletak di Kelurahan Mebali Kecamatan Mangkendek dengan


jarak ± 28 Km dari pusat Kota Kabupaten Tana Toraja.

18. Kambira Baby Grave


Pemakaman bayi pada sebatang pohon
dalam bahasa Toraja disebut Passilliran.
Tradisi ini pun hanya dilakukan oleh
masyarakat Toraja yang menganut Aluk
Todolo (kepercayaan terhadap leluhur).

DTW Kambira Baby Grave merupakan


salah satu pemakaman bayi yang digunakan untuk mengubur bayi atau anak-
anak yang belum tumbuh giginya, berupa sebatang pohon kayu Tarra‟. Pohon
itu sendiri diperkirakan telah berumur lebih dari 300 tahun. Orang Toraja
percaya bahwa bayi belum bisa menaiki tedong (kerbau) yang akan
membawanya ke puya (surga). Untuk itu, maka ia dikuburkan dengan cara
yang berbeda dengan orang dewasa yaitu dimasukkan dalam posisi berlutut
menghadap keluar.

Selama prosesi pemakaman semua pengantar mayat baik laki-laki maupun


perempuan dilarang untuk berbicara sampai seluruh prosesi pemakaman
selesai. Di pohon tarra‟ yang memiliki getah ini mereka dimakamkan
sementara. Getah berwarna putih dari pohon ini merepresentasikan air susu
ibu. Selanjutnya, lubang ini ditutup dengan menggunakan ijuk pohon enau.
Dalam prosesi ini, masyarakat Toraja yakin jika bayi yang mereka kuburkan
seperti kembali pada rahim ibunya. Uniknya lagi, meskipun jasad bayi-bayi ini
dikuburkan tanpa pembungkus, tak tercium bau apapun dari pohon tersebut.

Penempatan jenazah bayi di pohon ini, sesuai dengan strata sosial


masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak
bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra. Bayi yang meninggal dunia
diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 40


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Objek wisata Pasiliran panurusan ini


terletak di Kecamatan Sangalla dengan
jarak ± 9 Km dari pusat kota Kabupaten
Tana Toraja, dan berdekatan dengan
DTW Tampang Allo sehingga dapat
dijadikan satu kesatuan kunjungan
wisatawan. Di DTW ini juga telah
dibangun fasilitas untuk kegiatan wisata,
diantaranya tangga turun ke Baby
Grave, serta pembuatan sejenis talud
atau pondasi penahan tanah agar tidak
terjadi longsor disekitar pohon tersebut.
19. Kampung Tenun
Selain alam yang memanjakan mata
dengan panorama perbukitan kars-nya,
keunikan budaya, dll. Toraja juga
memiliki keunikan tradisi lainnya yaitu
Kain Tenun Toraja, Warna alam dan
motif yang khas, membuat tenun Toraja
sebagai salah satu tenun yang banyak
dicari wisatawan yang berkunjung disana. Kawasan Kampung tenun yang
terletak di Malimbong Balepe ini cukup unik karena para pengrajin melakukan
aktivitasnya dirumah-rumah tongkonan. Selain itu, kawasan ini telah
dikembangkan secara swadaya pembentukan kelompok sadar wisata, namun
dibutuhkan perhatian atau campur tangan pemerintah dalam pengembangan
tersebut agar dapat berjalan dengan optimal.

20. Tengko Batu


Objek wisata Tengko Batu merupakan batu keramat yang memiliki nilai
historis tersendiri. Objek ini juga memiliki kesakralan yang dijadikan sebagai
tempat permintaan/doa untuk mengabulkan keinginan masyarakat
berdasarkan keyakinan. Objek ini memiliki daya tarik dengan keindahan alam
serta di kelilingi oleh pepohonan yang rindang sehingga wisatawan dapat

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 41


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

menikmati kesejukan dan keindahan di objek tersebut. Objek wisata ini


terletak di Kelurahan Kamli Pantalluang Kecamatan Makale.

21. Pa'bakka (Liang Tau-Tau)


Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah menjadi manusia
(manusia="tau" dalam bahasa Toraja) sesungguhnya dalam konteks
masyarakat Toraja. Filosofi tau memiliki empat pilar utama yang
mengharuskan setiap masyarakat Toraja untuk menggapainya, antara lain: -
Sugi (Kaya) - Barani (Berani) - Manarang (Pintar) - Kinawa (memiliki nilai-nilai
luhur, agamis, bijaksana) Keempat pilar di atas tidak dapat di tafsirkan secara
bebas karena memiliki makna yang lebih dalam daripada pemahaman kata
secara bebas. Seorang Toraja menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia
telah memiliki dan hidup sebagai Tau. Objek ini berada di Kecamatan Sulluputi
Kelurahan Ulusalu.

22. Liang Pahat Rano Utara


Objek wisata liang pahat merupakan tempat pemakaman masyarakat Tana
Toraja yang di letakan di dalam lubang batu. Liang ini di buat oleh masyarakat
dengan cara pemahatan di tebing atau batu besar dengan ukuran lubang yang
dapat menampung jenazah atau orang yang sudah mati. Daya tarik pada
objek ini adalah keindahan alam serta di kelilingi oleh flora dan fauna yang
menakjubkan. Objek wisata ini terletak di Kelurahan Rano Kecamatan Rano
dengan jarak ± 40 Km dari pusat Kota Kabupaten Tana Toraja.

23. Goa Sullukan


Objek wisata Goa alam Sullukan berada di kecamatan Sangalla Selatan
kelurahan Lembang To Kesan dengan jarak ± 11 Km dari ibu kota Kabupaten
Tana Toraja. Objek wisata ini memiliki keunikan yang sangat indah di
dalamnya serta di depan pintu masuk terdapat bunga-bungaan yang menarik
di pandang mata dan di kelilingi oleh pepohonan serta hijau, objek wisata
alam Sullukan ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal ketika hari libur.
Dengan adanya keterbatasan sarana penunjang serta jalan tanah yang
ditumbuhi rumput, perlu adanya perhatian dari pemerintah kabupaten agar

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 42


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dapat dikelola dengan baik serta perlu adanya promosi kepada publik agar
dapat menambah devisa bagi daerah Kabupaten Tana Toraja.

24. Sirope'
Keterkaitan antara budaya dan bentang alam Tana Toraja ditunjukkan juga
dengan budaya penguburan jenazah didalam maupun digantung pada tebing
atau gua batuan karst. Jenazah dalam peti yang dikuburkan di dalam tebing
batu yang dilubangi pada umumnya berasal dari keluarga yang berstatus
sosial tinggi. Lubang kuburan pada tebing batu dinamakan Liang Pa’a. Objek
wisata Kuburan Alam Sirope ini terletak di kecamatan Makale Utara kelurahan
Lion Tondok dengan jarak ± 6 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.

25. To' Puang


Objek wisata ini merupakan tempat rumah/perkampungan tradisonal Toraja
(tongkanon) yang memiliki struktur bangunan yang unik serta ukiran kayu,
rona warna yang khas dengan ciri khas budaya masyarakat Tana Toraja serta
batu bersejarah yang memiliki keunikan serta nilai historis yang sangat
mengagumkan. Objek wisata ini terletak di Lembang Rentealang Kecamatan
Sangalla Selatan.

26. Kuburan Batu Lemo


Objek wisata Lemo adalah kuburan liang pahat yang suda tua dalam liang-
liang lereng di tempatkan jasad yang usianya sudah ratusan tahun. Daya tarik
tersendiri yang dapat ditemukan ditempat ini adalah pemandangan
pepohonan-pepohonan bambu yang tumbuh disekitarnya, mengunjungi
tempat ini kita akan menemukan kuburan yang mengesankan ketenangan
serta merupakan bentuk nyata tradisi sejak dahulu.

Kawasan ini sudah mulai menarik kunjungan wisatawan sejak tahun 1960.
Kompleks pemakaman ini disebut Lemo karena kuburan/liang batu tersebut
secara keseluruhan berbentuk seperti buah jeruk bundar dan berbintik-bintik.
Menurut cerita rakyat setempat, kuburan yang tertua di Lemo berumur 500
tahun, seorang tetua adat bernama Songgi Patalo. Di tempat ini terdapat
sekitar 50 tau-tau sebagai lambang prestise, status, peran dan kedudukan
para bangsawan di Desa Lemo.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 43


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Areal ini merupakan kompleks pemakaman terbesar dengan sekitar 30 gua


alam yang juga digunakan sebagai tempat pemakaman. Daya tarik tersendiri
yang dapat ditemukan di tempat ini adalah pemandangan pepohonan-
pepohonan bambu yang tumbuh di sekitarnya, mengunjungi tempat ini kita
akan menemukan kuburan yang mengesankan ketenangan serta merupakan
bentuk nyata tradisi sejak dahulu. Objek wisata ini terletak di Kecamatan
Makale Utara Kelurahan Lemo dengan jarak dari pusat kota Kabupaten Tana
Toraja adalah ± 9 Km.

27. Museum Buntu Kalando


Objek wisata Museum Buntu Kalando adalah tempat penyimpanan barang–
barang peningggalan para leluhur yang usianya sudah ratusan tahun. Daya
tarik tersendiri yang dapat ditemukan di tempat ini adalah Tongkonan Sangalla
dan Meseum Mini, kerajaan Sangalla‟, terletak 10 km dari Kota Makale. Kini
tongkonan tersebut telah beralih fungsi menjadi museum dan homestay.

Di Buntu Kalando ini terdapat tongkonan dari keluarga Puang Sangalla‟. Puang
Sangalla‟ adalah pemimpin dari kerajaan Sangalla‟, terletak 20 km dari kota
Rantepao. Kini tongkonan tersebut telah beralih fungsi menjadi museum dan
homestay. Objek ini memiliki daya tarik adalah Tongkonan Puang Sangalla
dan Museum mini.

28. Sa’pak bayobayo


Sa'pak Bayo-Bayo adalah objek wisata yang masih sangat minim akan
informasi tidak sepopuler dengan objek wisata lain di Toraja. DTW Sa'pak
Bayo-Bayo merupakan sebuah objek wisata yang masih sangat alami tidak
seperti objek wisata lain yang ramai akan kunjungan wisatawan objek wisata
ini masih sangat sepi bahkan bisa dikatakan yang mengunjungi tempat ini
hanya orang-orang tertentu karena belum ada sumber yang menyediakan
informasi tentang objek wisata ini bahkan dinas pariwisata toraja sekalipun.

Sama seperti objek wisata kuburan lainnya, di Sa'pak Bayo-Bayo banyak


dijumpai tulang belulang, tengkorak manusia dan erong (peti mayat) yang
sudah mulai hancur termakan usia, yang membedakan sa'pak bayo-bayo
ketika kita mengunjunginya adalah suasana yang masih sangat alami jauh

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 44


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

berbeda dengan objek wisata lain yang sudah ramai dengan wisatawan. Pada
gua alam ini terdapat 4 buah lubang gua, masyarakat Toraja menyebutnya
dengan nama lo'ko' yaitu Lo'ko' Ne' Pendang, Lo'ko' Tarru', Lo'ko' Bekak dan
Lo'ko' Kalumpini.

Lo'ko' Bekak merupakan gua yang paling


besar dan luas di banding ketiga gua
lainnya bentuknya pun sedIkit berbeda.
untuk masuk kedalam gua ini kita harus
turun melewati tumpukan erong yang
berserakan bersama tulang belulang
yang akan membuat suasana sedikit berbeda ditambah udara yang sedikit
lembab. Di Sa'pak Bayo Bayo terdapat sebuah sumur keramat yang terletak
di pinggir sungai yang menjadi muara gua tersebut.

29. Ma’dandan (Himpunan Erong)

Erong adalah semacam peti mati yang


terbuat dari kayu yang keras dan kuat.
Bagian luar erong ditatah dengan ukiran
yang indah. Objek wisata Ma‟ dandan
(himpunan erong) berada di kecamatan
Gandang Batu Sillanan kelurahan Patudu.
Objek ini merupakan tempat
perkumpulan erong (kuburan kuno) yang yang memiliki usia sudah puluhan
tahun. Himpunan erong ini memiliki daya tarik dengan keindahan alam serta
dikelilingi oleh vegtasi yang hijau. Erong ini memiliki ukuran yang berbeda-
beda dilihat berdasarkan usia jenazah pada masyarakat Tana Toraja.

4.1.3 Daya Tarik Wisata Buatan


1. Buntu Burake
Daya tarik wisata buatan ini digolongkan sebagai daya tarik wisata khusus
yang merupakan kreasi artifisial (artificially created) dan kegiatan-kegiatan
manusia lainnya di luar ranah wisata alam dan wisata budaya. Daya Tarik

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 45


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Wisata hasil buatan manusia/khusus, selanjutnya dapat dijabarkan meliputi


antara lain:
1. Fasilitas rekreasi dan hiburan atau taman bertema, yaitu fasilitas yang
berhubungan dengan motivasi untuk rekreasi, hiburan (entertainment)
maupun penyaluran hobi, seperti taman bertema (theme park)/taman
hiburan (kawasan Trans Studio, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini
Indonesia Indah);
2. Fasilitas peristirahatan terpadu (integrated resort), yaitu kawasan
peristirahatan dengan komponen pendukungnya yang membentuk
kawasan terpadu, seperti Kawasan Nusa Dua Resort, Kawasan Tanjung
Lesung, dan sebagainya; dan
3. Fasilitas rekreasi dan olahraga, seperti Kawasan rekreasi dan olahraga
Senayan, kawasan padang golf, dan area sirkuit olahraga.

Salah satu DTW Buatan unggulan di Kabupaten Tana Toraja yang berbasis
religi dan alam yaitu Kawasan Buntu Burake yang merupakan wilayah
perbukitan batu gamping (kars) pada ketinggian 900 – 1.129,9 mdpl terletak
di Keluarahan Buntu Burake, Kecamatan Makale. Secara geografis Obyek
Wisata Buntu Burake terletak antara 119°51’ – 119°52’ BT dan 03°05’ – 03°06’
LS. Luas kawasan Buntu Burake ± 152,36 hektar dengan variasi vegetasi lokal
dan satwa liar dari kelas burung dan beberapa mamalia jenis monyet ekor
panjang menjadikan kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan
menjadi kawasan wisata untuk reat-reat, kamping, jalur-jalur trekking, dan
lain-lain. Kawasan Obyek Wisata Buntu Burake dikelilingi oleh 4 kampung
yaitu: Kampung Buisun di sebelah Utara, Kampung Lea di sebalah Timur,
Kampung Limbong di sebelah Selatan dan Kampung Burake di sebelah Barat.

DTW Buntu Burake ini telah dilakukan pengembangan dan merupakan salah
satu DTW andalan di Tana Toraja. Bentuk pengembangan kawasan tersebut
dibagi menjadi beberapa zona atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik
lingkungan yang spesifik, antara lain :

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 46


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Zona Inti (sanctuary zone) berfungsi


untuk perlindungan monumen dan
pelataran Patung Yesus Memberkati
(kawasan patung Yesus Kristus
memberkati), Kawasan Pelataran
Patung , Kaca Ardrenalin dan Spot Foto
▪ Zona Penyangga (buffer zone) berupa
goa purba yang telah dijadikan Goa
Bunda Maria, area kuliner, area
souvenir, parking area, dan publik area
pada kawasan kars Burake.
▪ Zona Pengembangan (development zone) yakni Lombok Sumpu, hamparan
lembah di sebelah timur, Buntu Sirrang, Buntu Sundallak, Buntu Panduang,
Buntu Pangngumba’, dan lain-lain.
▪ Zona Permukiman dan Desa Wisata di sekitar kawasan Buntu Burake.

Sampai pada tahun 2019 pembangunan sangat gencar dilakukan pemerintah


daerah diantaranya pembangunan akses jalan yang lebar, sarana dan
prasarana pendukung, penataan kawasan pada pelataran, reling bangunan
landasan dan patung, pelataran kaca adrenalin, jalan-jalan setapak, dan lain-
lain sehingga DTW ini sangat layak menjadi unggulan pariwisata Kabupaten
Tana Toraja kedepannya. Berbagai variasi daya tarik wisatapun dibangun
untuk mendukung kegiatan wisatawan yang sangat memadai.

2. Taman Hiburan Plaza Kolam Makalle


Taman Hiburan Plaza Kolam Makale berada di pusat Kota Makale. Taman ini
merupakan landmark Kota Makale yang memiliki keindahan yang sangat
eksotis, karena penataan objek wisata ini sudah dikembangkan dengan baik.
Di lokasi ini terdapat bangunan gereja di atas ketinggian serta gedung DPRD
Kabupaten Tana Toraja dan bangunan-bangunan lain di sekelilinginya. Objek
wisata ini terletak di kecamatan Makale kelurahan Makale yang berada pada
pusat kota. Hampir setiap orang yang datang ke Makale mengabadikan
moment perjalanannya ke Tana Toraja dengan berfoto menjadikan taman ini
sebagai identitas kunjungannya.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 47


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. Barereng
Kawasan Barereng merupakan perpaduan jenis daya tarik wisata alam dan
buatan dengan potensi yaitu taman rekreasi, kolam pemancingan ikan, dan
kawasan perkemahan, panorama, air terjun, tracking, dan arum jeram.
Kawasan Barereng yang terletak di Lembang (Desa) Rante Limbong,
kecamatan kura, sangat berpotensi karena telah berkembang disekitarnya
perkebunan holtikultura dan panorama yang indah.

Daftar lengkap daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja yang disajikan dalam
tabel berikut.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 48


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
Daya Tarik Wisata Alam (Nature Tourism)
1 Agrowisata Pango-Pango Tosapan Makale Selatan ▪ Pepohonan pinus Pemda Sudah
▪ Perkebunan agro (kopi, Kabupaten beroperasi
tamarillo, strawbery dll)
▪ Pemandangan alam yang
indah dan udara yang
dingin.
2 Permandian Alam Sarira Makale Utara ▪ Kolam Alam Keluarga (Non Sudah
Tilangnga ▪ Belut Yang Hidup Didalam Yayasan) beroperasi
Kolam
3 Rurak Ke'pe' Tinoring Mengkendek Goa Alam yang dijadikan Keluarga (Non Belum
kuburan pada zaman yang Yayasan) beroperasi
lalu dan kuburan tersebut
sudah berumur ratusan
tahun
4 Sarambu Assing Patongloan Bittuang Air Terjun Pemda Belum
Kabupaten beroperasi
5 Sarambu Ratte Balla Bittuang Air Terjun Pemda Belum
Kabupaten beroperasi
6 Talondo Tallu Balepe' Malimbong Air Terjun Pemda Belum
Balepe Kabupaten beroperasi
7 Perkebunan Kopi Tiroan Tiroan Bittuang ▪ Perkebunan Kopi dan Keluarga Belum
▪ Pemandangan Alam beroperasi
dengan Udara yang
Dingin

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 49


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
8 Lo'ko Tongko Tongko Sarapung Sangalla Goa Alam Keluarga Belum
beroperasi
9 Arum Jeram Maroson Padakka Kurra ▪ Arum Jeram (sungai Pemda Belum
mai'ting) Kabupaten beroperasi
▪ Panorama Alam
10 Danau Assa’ Lembang Turunan Sangalla ▪ Danau alami Pemda Belum
▪ panorama, dan Kabupaten beroperasi
▪ batu hamil.
11 Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek Panorama Alam Gunung Pemda Belum
Karst Kabupaten beroperasi
12 Panjat Tebing Kandora Mengkendek Tebing Karst Vertikal Pemda Belum
Kabupaten beroperasi
13 Panorama Bukit Sion ▪ Pemandangan Kota Pemda Sudah
Bombongan Makale Makale Kabupaten beroperasi
▪ Panorama Alam
14 Air terjun ratte sarambu L. Potongloan Bittuang ▪ Air terjun LKMD Potongloan Sudah
assing ▪ Pemandian alam beroperasi
15 Alloan Marinding Mengkendek Panorama Alam Keluarga Belum
beroperasi
16 Air Panas Balla Balla Bittuang Mata air panas Pemda Belum
beroperasi
17 Air Terjun (Sarambu) Uluwai Mengkendek Air Terjun Pemda Belum
Tipali beroperasi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 50


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
18 Air Terjun (Sarambu) Simbuang Mengkendek Air Terjun Pemda Belum
Marintang beroperasi
19 Bumi Perkemahan Simbuang Mengkendek ▪ Kolam Pemancingan Keluarga Sudah
Marintang ▪ Perkemahan beroperasi
20 Ollon Poton Bonggakaradeng Pannorama Alam/Savana Pemda Belum
beroperasi
21 Permandian Air Panas Tokesan Sangalla’ Permandian Air Panas Alam Keluarga Sudah
Makula beroperasi

Daya Tarik Wisata Budaya


1 Desa Wisata Bebo' Tumbang Datu, Sangalla Utara ▪ Rumah Adat Toraja/ Sudah
Tumbang Datu Bebo Tongkonan dan beroperasi
▪ Alang Yang Masih Asli
2 Papa Batu - Rembon Rumah Adat Toraja/ Keluarga Belum
Tongkonan yang Beratap beroperasi
Batu
3 Sassa' Gasing Menkendek ▪ Rumah Adat Tongkonan, Keluarga Belum
▪ Panorama Alam dan beroperasi
▪ kehidupan masyarakat
yang masih tradisional
4 Perkampungan Adat Sillanan Gandang Batu ▪ Rumah Adat Tongkonan, Keluarga Belum
Sillanan Sillanan Panorama Alam dan beroperasi
▪ kehidupan masyarakat
yang masih tradisional,
▪ Kuburan Batu,

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 51


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
▪ Rante (tempat upacara
kematian)
5 Tampang Allo Tongko Sarapung Sangalla’ ▪ Goa Alam dengan peti Keluarga Sudah
mati kuno dan (Keluarga beroperasi
▪ patung patung milik passanan tengko
bangsawan yang berada
di dalam peti mati yang
sudah berumur ratusan
tahun
▪ Panorama Alam
6 Suaya Kaero Sangalla’ Erong, Kuburan Batu/ Liang Keluarga (non Sudah
Pahat, Tau-Tau/ Patung Yayasan) beroperasi
orang mati
7 Kambira Baby Grave Tongko Sarapung Sangalla’ Passiliran (Kuburan Bayi Keluarga Sudah
yang disimpan di pohon (yayasan beroperasi
hidup dengan cara di mangunda’pa)
lubangi)
8 Potok Tengan Tengan Mengkendek ▪ Situs Purba Bersejarah Belum
▪ Rumah Adat Toraja/ beroperasi
Tongkonan
9 Pattan Pattan Saluputti ▪ Rumah Adat Toraja/ Keluarga Belum
Tongkonan beroperasi
▪ Kuburan Batu dan
▪ Tau-Tau/ Patung Orang
Mati

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 52


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
10 Kawasan Wisata Buntu Tengan Mengkendek ▪ Rumah Adat, Sejarah Pemda Belum
Kandora Orang Toraja beroperasi
▪ Panorama Alam,
▪ Gunung/ Batu Kars dan
▪ Monyet
11 Liang Lo'ko Randanan Ke'pe Tinoring Mengkendek Gowa Alam Keluarga Belum
beroperasi
12 Tongkonan Banua Kasalle Kaero Sangalla’ Tongkonan Cagar Budaya Keluarga Belum
beroperasi
13 Buntu Tondon Tondon Mamullu Makale Kuburan Batu/ Liang Pahat, Keluarga Belum
Tau-Tau/ Patung orang mati beroperasi
14 Perkuburan Kuno Gandang Gandangbatu Gandangbatu Cagar Vudaya Prasejarah / Keluarga Belum
Batu Sillanan Megalitik Kuburan Batu beroperasi
15 Lo'ko Wai (Kuburan Bayi Sillanan Gandangbatu Patane khusus mayat bayi Pemda Berhenti
Purba) Sillanan purba beroperasi
16 Liang Saratu’ Bau Bonggakaradeng Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum
beroperasi
17 Kampung Tenun Malimbong Balepe Kerajinan Tenun/Tongkonan Keluarga
18 Tengko Batu Kamali Makale ▪ Situs Cagar Budaya, Keluarga Belum
pentalluan ▪ Batu keramat beroperasi
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Rea Saluputti Kuburan Batu/ Liang Pahat, Keluarga Belum
Tau-Tau/ Patung orang mati beroperasi
20 Sanduni (Liang) Banga' Banga Rembon Kuburan Batu/ Liang Pahat Keluarga Belum
beroperasi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 53


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Ke'pe Tinoring Mengkendek Kuburan Batu/ Liang Pahat, Keluarga Belum
Tau-Tau/ Patung orang mati beroperasi
22 Liang Pahat Rano Utara Rano Utara Rano Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum
beroperasi
23 Goa Sullukan Tokesan Sangalla Gowa Alam Keluarga Belum
beroperasi
24 Sirope' Lion Tondok Iring Makale Utara Kuburan Batu/ Liang Pahat, Keluarga
Erong
25 Saluliang Kole Sawangan Balepe Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum
beroperasi
26 Mapongka Marinding Mengkendek ▪ Hutan Pinus Pemda Belum
▪ Panorama beroperasi
27 A'pa' Pamanukan Pamanukan Gandangbatu Tongkonan Keluarga Belum
Sillanan beroperasi
28 To' Puang Rante Alang Sangalla’ ▪ Tongkonan Keluarga Belum
Selatan ▪ Batu bersejarah beroperasi
29 Kuburan Batu Ullin Ullin Rembon Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum
beroperasi
30 Batususu Talion/ Sarapeang Rembon
Sarapeang
31 Ma'dandan (himpuan Patudu Gandang Batu ▪ Perkumpulan erong Belum
erong) Silanan (kuburan kuno) beroperasi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 54


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
▪ keindahan alam serta
dikelilingi oleh vegtasi
yang hijau.
32 Batu Kapak (Batu Talla) Malimbong Balepe
33 Babakanaan Palipu Mengkendek
34 Kuburan Batu Lemo Lemo Makale Utara Liang/ Lobang Pahat untuk Keluarga Sudah
peti mati dan Tau-Tau/ beroperasi
Patung orang mati yang di
masukkan kedalam liang/
lobang pahat
35 Museum Buntu Kalando Tongko Sarapung Sangalla’ Tongkonan Puang Sangalla' Sudah
dan Museum Mini beroperasi
36 Sa’pak bayobayo Saluallo Sangalla Utara ▪ Kampung tenun, Keluarga Sudah
▪ wisata religi Sa'pak Bayo- beroperasi
bayo
▪ Gowa Alam

Daya Tarik Wisata Buatan


1 Objek Wisata Religi Buntu Burake Makale ▪ Patung Yesus Pemda Sudah
Burake ▪ Jembatan Kaca beroperasi
▪ Andrenalin
▪ Panorama Alam
2 Barereng Rante Limbong Kurra ▪ Taman Wisata Keluarga Belum
▪ Kolam pemancingan ikan beroperasi
▪ kawasan perkemahan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 55


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
3 Taman Hiburan Plaza Bombongan Makale Kolam dan air mancur Pemda Sudah
Kolam Makalle beroperasi
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 56


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.2 FASILITAS UMUM PENDUKUNG PARIWISATA


Sarana Pariwisata (tourism superstructures) adalah perusahaan-perusahaan yang
memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak
langsung dan hidup serta kehidupan perusahaan tersebut sangat tergantung pada
kedatangan wisatawan. Maju mundurnya sarana kepariwisataan tergantung pada
jumlah kunjungan wisatawan sehingga setiap subsistem yang bekerja dalam
kepariwisataan saling berhubungan satu dengan lainnya.
4.2.1 Pusat Informasi Pariwisata
Pusat Informasi Pariwisata (Tourism Information Center/TIC) merupakan fasilitas
pendukung untuk membantu wisatawan menerima informasi seputar destinasi
yang hendak mereka kunjungi. Pusat Informasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
telah diresmikan pada tahun 2019, yang terletak di kompleks pasar Seni pusat kota
Makale Ibukota Kabupaten Tana Toraja.

TIC menjadi sumber segala informasi yang berkaitan dengan Pariwisata Tana
Toraja mulai dari informasi objek wisata, penginapan transportasi, restoran dan
lain sebagainya agar setiap wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja dapat
mengakses informasi dengan mudah. Selain itu, TIC ini juga dapat berfungsi
sebagai administrasi kepariwisataan yang mendata setiap kunjungan wisatawan
serta tujuan-tujuan ke daya tarik tertentu sehingga Pemerintah Kabupaten Tana
Toraja kedepannya akan mendapat gambaran perkembangan wisatawan serta
kawasan-kawasan wisata mana saja yang menjadi unggulan kunjungan
wisatawan.

4.2.2 Fasilitas/Sarana Transportasi


Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dan bahan untuk
mencapai maksud dan tujuan dari suatu proses produksi. Sementara prasarana
adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya
produksi. Dengan demikian, sarana atau fasilitas transportasi yaitu moda yang
digunakan untuk mencapai atau perpindahan dari tempat asal ke tepat tujuan.

Secara eksternal wilayah, Kabupaten Tana Toraja dilayani oleh moda angkutan
darat dan udara (tahap pengembangan bandara). Moda angkutan darat yang
digunakan dari dan ke Tana Toraja dapat dicapai dengan berbagai jenis kendaraan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 57


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

baik roda dua maupun roda empat dan bus. Kabupaten Tana Toraja dilalui oleh
ruas jalan nasional sehingga dapat ditempuh dari berbagai arah, khususnya dari
Kota Makassar, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan umum bus dari
berbagai perusahaan transportasi yang tersedia seperti Litha and Co, Manggala
Tran, Metro Permai, Bintang Prima, dll yang perwakilannya sudah ada di Kota
Makale dan sekitarnya. Untuk jalur udara saat ini telah dilakukan uji coba
penerbangan dan tahap pengembangan bandara Buntu Kuni telah mencapai tahap
akhir sehingga kedepannya transportasi udara menuju Tana Toraja akan menjadi
moda yang sangat efisien melakukan perjalanan ke Tana Toraja.

Secara internal, sarana transportasi yang dapat digunakan oleh wisatawan menuju
ke tempat-tempat wisata dengan menggunakan jasa travel dan bus-bus pariwisata
yang telah tersedia, serta kendaraan-kendaraan sewa yang disediakan oleh
perusahaan maupun perorangan di Tana Toraja baik roda dua maupun roda
empat.

4.2.3 Fasilitas Perbankan


Sebagai salah satu fasilitas penting didalam kegiatan pariwisata yang sangat
dibutuhkan oleh wisatawan yaitu ketersediaan fasilitas perbankan serta
sebarannya. Di Kabupaten Tana Toraja terdapat beberapa bank diantaranya: Bank
BNI, Bank BRI, Bank BTN, Bank BTPN, Bank Danamon, Bank Mandiri, Bank Pundi,
dan Bank Sulsel (Bank Sulselbar).

Sebagai salah satu fasilitas penting dalam kegiatan kepariwisataan didaerah,


perbankan bukan hanya sebagai wadah aliran dana, namun juga dapat berperan
aktif dalam promosi dan kerjasama lain dalam pengembangan pariwisata di
Kabupaten Tana Toraja. Oleh karena itu, pemerintah daerah dengan berbagai
skema kerjasama dapat merangkul pihak perbankan terutama BUMN dalam upaya
tersebut yang diharapkan juga membawa dampak positif bagi kegiatan perbankan
di Kabupaten Tana Toraja. Berikut rincian perbankan yang tersedia di Kabupaten
Tana Toraja:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 58


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 4.4 Fasilitas Perbankan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020


No. Bank/ATM Nama Kantor Alamat
1. BNI ATM SPBU BOLU TORAJA JL. PASAR BOLU TORAJA
ATM KANTOR PKK KAB. Jl. Ampera
TATOR
ATM CAPEM TORAJA JL. AHMAD YANI NO. 64, TANA
TORAJA
ATM KLN TANA TORAJA 2 JL. AHMAD YANI NO. 64, TANA
TORAJA
ATM KCP TANA TORAJA JL. PANGERAN DIPONEGORO NO.
25
ATM RS. ELIM JL. JEND Sudirman
ATM KAMPUS I UKI JL. NUSANTARA NO. 12 MAKALE
ATM RS. LAKIPADADA JL. POROS RANTEPAO - MAKALE
ATM KK MAKALE JL. MERDEKA NO. 10, MAKALE,
TANA TORAJA
KK MAKALE JL. MERDEKA NO. 10, MAKALE,
TANA TORAJA
KCP TANA TORAJA JL. DIPONEGORO NO. 25
2 BRI UNIT SALUBARANI JL. RAYA SALUBARANI
UNIT PANGLI JL. RAYA PANGLI PALLAWA
UNIT MAKALE JL. PONGTIKU
UNIT RANTELEMO MAKALE JL. Poros Rantepao Makale Km 8
UNIT BOMBONGAN Jl. Veteran No. 3, Kel. Bombongan,
Kec. Makale
UNIT MENGKENDEK Jl. Poros Makale Rantepao, Kel.
Rante Kalua
UNIT SALU ALLO Jl. Psr Lama Sangalla No. 69,
Katumbang
TERAS PASAR MAKALE Jl. Pasar Baru No. 18, Kel. Tondong
UNIT SALUPUTTI Jl. Poros Makale Simbuang,
Lingkungan Simbuang
UNIT SALUBARANI Jl. Poros EnrekangToraja, Kel.
Salubarani
UNIT MAKALE Jl. Poros Makale, Kel. Pantan, Kec.
Makale
KK BRI Res Tana Toraja Jl. Bhayangkara No. 1 Makale
KC MAKALE JL. JEND. A. YANI NO. 96
UNIT BOMBONGAN JL. VETERAN NO 3
TERAS BRI KELILING Jl. Veteran No. 3, Kel. Bombongan
KCP BRI Tana Toraja Jl. Musa, Kel. Bombongan, Kec.
Makale
UNIT MENGKENDEK Jl. Raya Getengan Poros Makale-
MAKALE Mengkendek
UNIT SALU ALLO MAKALE Jl. Buntu Masakke No. 56
4 Danamon TANA TORAJA-PASAR JL. PASAR BARUTANA TORAJA
MAKALE
ATM MAKALE 2 JL. MERDEKA NO. 26
5 BTN Makale Jl. Hasanuddin No. 1

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 59


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 4.4 Fasilitas Perbankan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020


No. Bank/ATM Nama Kantor Alamat
6 BTPN MAKALE Paku Pentalluan, Kel. Kamali
Pentalluan
7 Mandiri ATM/ADM Apotik Sinar Jl. Nusantara
Kasih
KCp Toraja Makale Jl. Sultan Hasanuddin No. 2
8 Sulselbar ATM/ADM Syariah. Office Jl. Ampera No. 40
Channelling Cabang Makale
Cabang Makale Jl. Ampera No. 40
9 Bank KCP Makale -
Papua
Sumber: Tana Toraja Archives, Infomasi Bank, 2020

4.2.4 Akomodasi
Akomodasi wisata merupakan hal penting dalam memenuhi kebutuhan wisatawan
yang sedang berwisata. Para wisatawan cenderung membutuhkan akomodasi
yang memiliki beragam varian harga maupun macamnya. Bentuk akomodasi
primer yang dibutuhkan wisatawan yaitu adanya tempat untuk menginap saat
mereka melakukan perjalanan wisata. Setzer Munavizt menyatakan bahwa
“Akomodasi adalah sesuatu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan,
misalnya tempat menginap atau tempat tinggal sementara bagi orang yang
bepergian.” Lebih jauh Munavizt menyatakan bahwa akomodasi wisata dapat
berupa tempat dimana wisatawan dapat beristirahat, menginap, mandi, makan,
minum serta menikmati jasa pelayanan yang disediakan.

Undang-Undang Kepariwisataan yang mengatur tentang mekanisme pelaksanaan


kegiatan pariwisata di Indonesia mengatur tentang usaha-usaha yang dapat
dilakukan di bidang pariwisata. Tidak diaturnya pengertian tentang akomodasi
wisata dalam Undang-Undang Kepariwisataan membuatnya tidak adanya
pengertian akomodasi wisata tersebut. Aturan yang melandasi pentingnya
pengadaan jasa akomodasi wisata terdapat pada Pasal 14 UU Kepariwisataan
mengenai usaha-usaha wisata. Usaha-usaha yang diatur pada Pasal 14 Ayat (1)
menyebutkan bahwa : “Usaha pariwisata meliputi : (a) daya tarik wisata; (b)
kawasan pariwisata; (c) jasa transportasi wisata; (d) jasa perjalanan wisata; (e)
jasa makanan dan minuman; (f) penyediaan akomodasi; (g) penyelenggaraan
kegiatan hiburan dan rekreasi; (h) penyelenggaraan pertemuan, perjalanan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 60


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

insentif, konferensi, dan pameran; (i) jasa informasi pariwisata; (j) jasa konsultan
pariwisata; (k) jasa pramuwisata, (l) wisata tirta; dan (m) spa.” Penyediaan
akomodasi sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 14 Ayat (1) huruf (a) UU
Kepariwisataan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan akomodasi wisata
merupakan hal yang perlu disediakan oleh penyedia jasa pariwisata bagi
wisatawan untuk menunjang kegiatan wisatawan selama berlibur di tujuan wisata.

Kegiatan pariwisata yang didasari kegiatan bisnis disebut dengan akomodasi


komersil. Akomodasi komersil dibidang pariwisata bertujuan mencari keuntungan
dengan menawarkan barang maupun jasa kepada wisatawan untuk mendapatkan
keuntungan (profit). Setzer Munavizt menyatakan, terdapat beberapa jenis
akomodasi wisata yang biasa dipakai untuk tujuan komersil, yaitu Hotel, Motel
(motor hotel), Hostel, Cottage dan Bungalow, Iin, dan Guest House.

Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan di
Indonesia, peran akomodasi pariwisata sangat penting peranannya dalam
mewadahi kebutuhan wisatawan. Peran pihak swasta dalam penyediaan sarana
akomodasi sangat tergantung pada perkembangan investasi didaerah, dimana
Kabupaten Tana Toraja dilihat sebagai salah satu potensi yang dapat berkembang
akomodasi baik bagi kepentingan pariwisata maupun kepentingan lainnya.

Bagi kepentingan pariwisata, keberadaan akomodasi wisata dapat dibagi menjadi


2 kategori berdasarkan pemanfaatannya, yaitu akomodasi umum dan akomodasi
khusus. Akomodasi umum yaitu fasilitas akomodasi yan disediakan bagi berbagai
kepentingan sebagai tempat penginap, beristirahat, dan lain sebagaimana
pengertian akomodasi secara umum yang pada umumnya tersedia di pusat-puusat
aktivitas wilayah seperti perkotaan, sekitar, perkantoran. Sedangkan akomodasi
khusus yaitu jenis akomodasi yang khusus disediakan bagi kegiatan wisatawan dan
terletak dikawasan-kawasan wisata serta dalam berbagai bentuk akomodasi
seperti hotel, penginapan, goest house, villa, dan sebagainya.

Dalam pembahasan ini, secara umum akan diuraikan potensi akmodasi yang
tersedia di Kabupaten Tana Toraja yang juga merupakan bagian dari akomodasi
pariwisata. Kota Makale sebagai pusat informasi pariwisata/TIC merupakan pilihan
investasi dalam bidang perhotelan, sehingga sebaran hotel-hotel dan akomodasi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 61


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

lainnya lebih cenderung berada di Kota Makale dan sekitarnya. Berdasarkan hasil
observasi lapangan, terdapat kurang lebih sekitar 8 unit hotel, 4 unit penginapan,
dan 6 unit Wisma, Home Stay 8 unit serta fasilitas akomodasi lain seperti villa-villa
yang tersedia di DTW.

Hotel yang tersedia dengan berbagai tingkatan dari tingakat melati sampai dengan
hotel berbintang 3 (tiga) yaitu Sahid Hotel yang terletak di Kelurahan Rante Kalua
Kecamatan Mengkendek, kemudian ada Hotel Pantan dengan kelas bintang 2 (dua)
terletak di Kota Makale. Selain akomodasi umum, beberapa DTW juga telah
tersedia penginapan dan villa-villa terutama DTW-DTW alam yang mempunyai
daya tarik pada waktu-waktu tertentu dan jarak yang cukup jauh dari pusat kota
seperti DTW Pango Pango yang juga memiliki daya tarik pemandangan alam pada
pai hari.

Berdasarkan rincian data akomodasi yang dikumpulkan melalui Dinas Pariwisata


dan beberapa diantaranya dilakukan tinjauan kelapangan, data tersebut jika dilihat
dari tingkat hunian, menunjukkan bahwa keberadaan akomodasi di Tana Toraja
masih cukup kecil pemanfaatannya dimana tingkat hunian umumnya masih
dibawah 50% dari ketersediaan fasilitas yang ada disetiap jenis akomodasi, bahkan
ada yang hanya mencapai 20%. Kondisi ini menunjukkan bahwa kegiatan
wisatawan jika dibandingkan dengan kunjungan wisatawan terdapat beberapa
kemungkinan yang terjadi sehingga tingkat hunian masih relatif rendah,
diantaranya wisatawan yang berkunjung boleh jadi tidak menginap di Tana Toraja,
kemungkinan lain memanfaatkan tempat tinggal sanak saudara wisatawan, serta
kemungkinan data yang belum terhimpun. Berikut rinciannya.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 62


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020

Nama dan Jenis Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat


No. Alamat Fasilitas Ket.
Akomodasi Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
1 Hotel Sahid*** Getengan Kec. ▪ 24 jam room service 16 36 850.000 - 30% Bintang
Mengkendek. Jl ▪ Restaurant 3
Jurusan Makassar ▪ Swiming pool
▪ Metting room
2 PantanToraja Makale. Jl Pongtiku ▪ Laundry 6 31 500.000 500.000 45% Bintang
Hotel** No. 116 ▪ Swimming Pool 2
▪ Restaurant
▪ Room Service
▪ Wifi
▪ Tv/Kamar
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room
Kapasitas 50 s/d 300
3 Hotel Sangalla' Makale. Jl Pongtiku ▪ Meeting Room 14 7 200.000 200.000 20% Melati II
No. 509 ▪ Wi-fi 150.000 150.000
▪ 8 kamar Tv
▪ Restoran
4 Hotel Grand Metro Makale. Jl Pongtiku ▪ AC, TV, Air Panas 14 12 380.000 650.000 20% Hotel
Permai No. 445 ▪ Restoran
5 Hotel Batupapan Makale. Jl Pongtiku ▪ wi-fi 1 18 330.000 330.000 20% Melati
No. 130 ▪ Tv /kamar 220.000 220.000 III
110.000 110.000
6 Puri Artha Suites Makale. Jl Pongtiku ▪ Tv, Kulkas, Shower, 8 24 310.000 275.000 30% Melati
Hotel Toraja No. 114 Air Panas 400.000 350.000 III

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 63


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020

Nama dan Jenis Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat


No. Alamat Fasilitas Ket.
Akomodasi Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
▪ Meeting Room
▪ Restoran
7 Makula Hotel Sangalla Selatan Kolam Air Panas 3 3 100.000 100.000 20% Melati
No.37 III
8 Hotel Gosyen Efata Jl. Poros Rantepao- - - - - - - -
Makale, Sarira,
Makale Utara.
9 Wisma Louise Lestari Makale. Jl Pongtiku - 11 3 200.000 200.000 40% Melati II
No. 130
10 Wisma Kota Jaya Makale. Jl Pongtiku. - - 15 - 100.000 45% Melati
11 Wisma Litha Makale. Jl Pongtiku - 5 4 30.000 80.000 50% Melati
No. 97
12 Wisma Bungin Makale. Jl - - 13 - 50.000 50% Melati
Nusantara
13 Wisma Merry Makale. Jl Pongtiku - - 5 - 150.000 40% Melati
14 Wisma Yani Makale. Jl - 1 6 50.000 75.000 20% Melati
Randanan Nusantara
15 Lemo HomeStay Makale Utara ▪ Air Panas / Dingin 4 - 250.000 - 20% Home
▪ Tv Ruang Tamu stay
16 Home Stay Buntu Makale. Jl. Buntu - 20 4 150.000 250.000 30% Home
Pantan Pantan No. 52. stay
17 Villa Manggasa Jl. Landa-landa Tv/Kamar 13 - - - 20% Melati
18 Ghitari Lodge Sangalla - - - - - - Melati
Homestay

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 64


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020

Nama dan Jenis Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat


No. Alamat Fasilitas Ket.
Akomodasi Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
19 HomeStay Sangalla Utara - - - - - 40% Home
Kalembang Indah stay
Sangalla
20 Homestay Anugrah JL. Makale - 30 - 150.000 - 10% Home
Rufus Makassar stay
21 Santung Mamullu JL. Makale - 6 - - - 10% Home
Homestay Makassar stay
22 Homestay Pioner JL. Makale - 10 - - - - Home
Makassar Km. 16 stay
23 Penginapan Joni Makale. JL. Wolter - - - - - - Home
Tandi wongsidi no. 106A stay
24 Homestay Wilem Makale Utara. Lemo - - - - - - Home
Somalinggi stay
25 Villa Pango Pango Makale Utara. Kel. - 4 - - - 10% Home
Topasan stay
26 Penginapan Mangga Mengkendek. Kepe - 1 4 100.000 - - Home
Tinoring stay
27 Penginapan Micel Makale. Mandetek - - 6 100.000 - - Melati
Samar Pasak
28 Villa Tengan Palipu, Mangkendek - - - - - - -
29 Bukit Indah Rintho 7 Jl Merdeka Km 1, - - - - - - -
Jaya Tondon Mamullu,
Makale

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 65


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020

Nama dan Jenis Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat


No. Alamat Fasilitas Ket.
Akomodasi Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
30 Masokan Homestay Jl. Tritura No. 83, - - - - - - -
Kamali Pentalluan,
Makale
31 Wisma Elsindoe Jl. Nusantara, - - - - - - -
Makale
32 Karatuan Homestay Sallualo, Sangalla - - - - - - -
Utara
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 66


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 67


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.2.5 Usaha Jasa Pariwisata


Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa
pariwisata atau menyediakan/mengusahakan objek wisata dan daya tarik wisata,
usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang terkait dengan bidang tersebut. Objek
dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata.
Kawasan wisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau
disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.

Soekadijo (2000) mendefinisikan pariwisata sebagai segala kegiatan dalam


masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. Pariwisata memberikan
peluang kepada masyarakat untuk berusaha atau berwirausaha, jenis-jenis usaha
yang ada kaitannya dengan pariwisata tergantung dari kreativitas para pengusaha
swasta baik yang bermodal kecil maupun besar untuk memberikan jasa atau
menawarkan produk yang sekiranya diperlukan oleh wisatawan. Usaha pariwisata
secara menyeluruh dapat dikatakan sebagai industri pariwisata, tetapi tidak
diibaratkan sebagai pabrik yang mengolah barang mentah menjadi barang jadi,
serta ada produknya. Industri pariwisata adalah keseluruhan usaha-usaha yang
dapat dinikmati wisatawan semenjak awal mula proses ketertarikan untuk
berwisata, menikmati lokasi daerah tujuan wisata sampai pada proses akhir
wisatawan tersebut pulang menginjakkan kakinya sampai di rumah, kemudian
mengenangnya.

Usaha jasa pariwisata adalah suatu bisnis yang kegiatan utamanya menjual jasa-
jasa pariwisata kepada para wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Agen
Perjalanan, Biro Perjalanan dan Tour Operator (Usaha Jasa Perjalanan) : Kegiatan
Biro Perjalanan lebih luas lagi dibandingkan dengan Biro Perjalanan. Selain usaha
daya tarik wisata, akomodasi, serta transportasi, jenis usaha pariwisata lain dapat
berupa Usaha Perjalanan Wisata, Usaha Makanan dan Minum, penyelenggaraan
Kegiatan Hiburan dan Rekreasi, SPA, Pertemuan, dll.

Kabupaten Tana Toraja telah tersedia cukup banyak usaha-usaha yang


mendukung kegiatan kepariwisataan didaerah tersebut. Setidaknya terdapat 10
(sepuluh) agen/biro perjalanan wisata dari berbagai perusahaan yang telah
beroperasi dari tahun 2012 sampai sekarang, sementara agen-agen perjalanan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 68


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

wisata lain terkait dengan perjalanan wisata ke Tana Toraja juga tersedia di Kota
Makassar sebagai TIC Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut rincian beberapa agen
perjalanan wisata yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja yang dihimpun dari
Dinas Pariwisata Kabupaten.

Tabel: 4.6 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tahun
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
Beroperasi
1 AGEN PERJALANAN TRAVEL MORIA JL. PONGTIKU PANTAN
2012
WISATA MAKALE
2 USAHA PENYEDIAAN CV. BINA JL. NUSANTARA NO. 35
AKOMODASI BUNGIN MAKALE 2012
SEJAHTERA
3 BIRO PERJALANAN CV. BINA JL. NUSANTARA NO. 35
WISATA BUNGIN MAKALE 2012
SEJAHTERA
4 TOURS & TRAVEL PT. RANTELEMO KEL.
KHATULISTIWA SARIRA, KEC. MAKALE
2013
NUSANTARA UTARA
HIJAU
5 BIRO PERJALANAN CV. MEGA JL. PELITA NO. 83 KEL.
WISATA PERMAI BOMBONGAN, KEC. 2014
MAKALE
6 BIRO PERJALANAN CV. MELONA JL. PASAR BARU NO. 52
2015
WISATA GRASIA
7 JASA BIRO PT. MANTING MAMULLU
PERJALANAN JAYA ANUGRAH 2015
WISATA
8 JASA BIRO PT. CELEBES [Link]
PERJALANAN BALI WISATA 2015
WISATA
9 BIRO PERJALANAN KARTINI SALUPUTTI
2018
WISATA TRAVEL
10 BIRO PERJALANAN TONDON MAMULLU
AMOS TRAVEL 2019
WISATA
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 69


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.2.6 Usaha Pariwisata Pendukung Lainnya


Usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan
perlengkapan untuk proses pembuatan,penyimpanan dan/atau penyajiannya
merupakan standar usaha makanan dan minuman untuk kegiatan wisata.
Kabupaten Tana Toraja memiliki banyak usaha-usaha makanan dan minum yang
tersebar dan sebagian besar tersedia di Kota Makale.
Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana
Tabel: 4.7
Toraja, Tahun 2020
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
1. Rumah Makan Restourant BatuKila Hotel Ge'tengan No.1 Kec. Mengkendek. Jl.
Sahid Toraja Jurusan Makassar
2. Restourant Restourant Pantan Toraja Jl. Pongtiku Makale
Hotel
3. Rumah Makan Warung Panorama Jl. Sangalla' Makale
4. Rumah Makan Warung Makan Kawanua Jl. Poros Makale-Rantepao
5. Rumah Makan Warung Makan Hj. Idaman Jl. Merdeka No. 46. Makale
6. Restourant Restouran dan Permandian Sangalla Selatan No. 37
Air Panas Makula
7. Rumah Makan Rumah Makan Solata Jl. Poros Makale- Mks Km. 2 Makale
8 Restourant Restourant Hotel Sangalla Makale Jl. Pongtiku
9 Restourant Restourant Puri Artha Makale Jl. Pongtiku No. 114
10 Rumah Makan Lesehan Putri Makale. Jl. Makale-Rantepao
11 Rumah Makan Rumah Makan Depot 99 Makale Jl. Pongtiku
12 Rumah Makan Rumah Makan Mitra Fatma Jl. Ampera Makale
13 Rumah Makan Rumah Makan Setia Kawan Jl. Km2. poros Makassar Toraja
14 Rumah Makan Café Resto Botang Jl. Poros Makale Makassar/Botang
15 Rumah Makan Café Bambu Jl. Poros Makale Makassar/Botang
16 Rumah Makan Rumah Makan Tepi Sawah Jl. Poros Makale Makassar
Mengkendek
17 Rumah Makan Restoran/Café Kandean Jl. Makale Rantepao Km.8 Kel. Lemo
Kec. Makale Utara
18 Rumah Makan Buli-Buli Café Jl. Pongtiku, No. Pantan
19 Rumah Makan Astrini Jl. Pongtiku . Makale Utara
20 Rumah Makan Burake Hill Resto Jl. Buntu Burake
21 Rumah Makan Rumah Makan Pango-Pango Kel. Botang Km.3
22 Restourant café & resto Jl. Sultan hasanuddin no 9
23 Rumah Makan Rumah Makan Almas Jl. Pongtiku
24 Rumah Makan Rumah Makan 52 Jl. Pongtiku No. 52
25 Rumah Makan Rumah Makan Sikamali Makale
26 Rumah Makan Rumah Makan Bukit Indah Jl. Merdeka Makale
27 Rumah Makan Fearly Resto & Café Jl. Tritura No 80
28 Rumah Makan Warung Pojok Agung Jl. MERDEKA NO 23
29 Rumah Makan Kedai Mamie Jl. Jendral Sudirman No. 22
30 Rumah Makan Bakso babi alang2 Jl, Merdeka
31 Rumah Makan Kios Ujung Pandang Kec Makale Utara
32 Rumah Makan Lesehan Topal Kec Makale Utara

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 70


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana


Tabel: 4.7
Toraja, Tahun 2020
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
33 Rumah Makan Rumah Makan Krita Kec Makale Utara
34 Rumah Makan Rama Indah
35 Rumah Makan Harapan Barto
36 Rumah Makan Rumah Makan Marannu Kec Makale Utara
37 Rumah Makan Warung Kopi Kebun Kec. Sangalla Selatan
38 Rumah Makan Warung Kopi Wala Kec. Sangalla Selatan
39 Rumah Makan Rumah Makan Rahmat Kec. Rantetayo
40 Rumah Makan Warung Makan Ma Isas Kec. Rantetayo
41 Rumah Makan Rumah Makan Ma Dewi Terminal To Ao Makale
42 Mendoe Selatan, Kel. Tambunan, Kec.
rumah Makan WARUNG TIGA SEKAWAN
Makale Utara
43 Rumah Makan WARUNG MAKAN VITRA JL. JEND. SUDIRMAN
44 Rumah Makan WARUNG WESTI PASAR BARU
45 Rumah Makan WARUNG MAKAN BERKAT LINGKUNGAN TARA'PA'
INDAH
46 Rumah Makan WARUNG MAKAN LADIVA [Link] BARU NO.52
47 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WARUNG GALAMPANG NO.11
48 Rumah Makan WARUNG MAKAN TONDON PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/3
49 Rumah Makan WARUNG MAKAN PANTAN JALAN PONGTIKU PANTAN
50 Rumah Makan WARUNG MAKAN 31 PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG
LINGKAR/31
51 Rumah Makan WARUNG MAKAN LESTARI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG
LINGKAR
52 Rumah Makan RUMAH MAKAN IDAMAN JL. MERDEKA
53 Rumah Makan WARUNG MAKAN TIUR PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
F2/12
54 Rumah Makan WARUNG MAKAN SE'PON SE'PON
55 Rumah Makan RUMAH MAKAN KURNIA JL. PASAR BARU NO.53
SUBUR
56 Rumah Makan RUMAH MAKAN AROMA JL. MERDEKA NO.22
TORAJA
57 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. [Link] NO.166
58 Rumah Makan WARUNG MAKAN MAMA JL. POROS BATUPAPAN
ISAS
59 Rumah Makan WARMIE MARENDENG JL. PONGTIKU
60 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WARUNG LINGKAR NO.05
61 Rumah Makan WARUNG MAKAN PAULINA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WARUNG LINGKAR NO.02
62 Rumah Makan STAND WARUNG MAKAN PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG
YULI LINGKAR NO.8
63 Rumah Makan RUMAH MAKAN REGINA JL. POROS KM.6 MENGKENDEK
64 Rumah Makan DEPOT CHRISTO JL. NUSANTARA
65 Rumah Makan WARUNG MAKAN PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
SEDERHANA WARUNG LINGKAR/15

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 71


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana


Tabel: 4.7
Toraja, Tahun 2020
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
66 Rumah Makan WARUNG BAKSO SOLO PASAR BARU SALUALLO
67 Rumah Makan WARUNG MAKAN PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
FRANSISKA WARUNG LINGKAR NO.17
68 Rumah Makan WARUNG MAKAN ICHAL BURAKE
69 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM WONG JL. PONGTIKU NO.23
SOLO
70 Rumah Makan WARUNG MAKAN SUNAN PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
DRAJAT WARUNG LINGKAR NO.30
71 Rumah Makan WARUNG MAKAN WARMEL PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
F2/08
72 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM BAKSO PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WONG SOLO WARUNG MAKAN/29
73 Rumah Makan RUMAH MAKAN JL. NUSANTARA
BAMBAPUANG
74 Rumah Makan RUMAH MAKAN BOTANG KM. 3 BOTANG
75 Rumah Makan WARUNG MAKAN KAMALI
SAMANTHA
76 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. NUSANTARA NO.47
77 Rumah Makan ALMAS "BAKSO BABI" JL. PONGTIKU PANTAN
78 Rumah Makan WARUNG SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WARUNG LINGKAR NO.7
79 Rumah Makan WARUNG MKN SABAR TO'KALUKU
80 Rumah Makan CITRA DEANY Jl. Tritura No 27
81 Rumah Makan RUMAH MAKAN EMILIANA
82 Rumah Makan Pioner Tampo
83 CAFE LARUNA CAFÉ JL. JURUSAN MAKALE NO. 9
84 CAFE TEPIAN CAFÉ JL. PONGTIKU KM. 3 SE'PON MAKALE
85 CAFE PRO CAFÉ & BAR JL. PONTIKU NO.49 MAKALE
86 CAFE MASAGENA KARAOKE SE'PON MAKALE
87 CAFÉ/KARAOKE CAFÉ SAHID JL. RAYA GE'TENGAN NO.7 KEC.
MENGKENDEK
88 CAFÉ CAFÉ KANDORA JL. POROS MAKALE- MAKASSAR KM.7
TENGAN
89 CAFÉ SENDANA CAFÉ JL. PASAR BARU NO. 165 MAKALE
90 Cafe Harvin cristine Jl. Pongtiku
91 Cafe café early Jl. TRITURA
92 Café, dan
rumah MASAGENA CAFÉ Jl. Pongtiku, Kel. Pantan, Kec. Makale
bernyanyi
93 RESTAURAN RESTAURAN KAMPUNG JL. PONGTIKU MANDETEK KEC.
WISATA ASTRINI MAKALE UTARA
94 SPA PERAWATAN WAJAH TENGAN
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 72


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.2.7 Fasilitas Kesehatan


Fasilitas kesehatan yang dimaksud sebagai pendukung kegiatan pariwisata adalah
ketersediaan fasilitas yang dapat digunakan salah satunya untuk mendukung atau
menjamin keberadaan wisatawan tetap mendapat pelayanan kesehatan
khususnya pada kondisi darurat. Data statistik Kabupaten Tana Toraja, banyaknya
fasilitas kesehatan adalah 733 unit yang terdiri atas Rumah Sakit 4 unit diantaranya
RSU 3 unit dan RS. Bersalin 1 unit, kemudian Puskesmas sebanyak 21 unit,
Posyandu 328 unit. Dapat dikatakan bahwa penyebaran fasilitas kesehatan di
Kabupaten Tana Toraja untuk saat sekarang ini sudah tersebar secara merata
disetiap wilayah kecamatan.

Potensi tersebut secara umum dapat dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan


bagi wisatawan, namun yang terpenting dalam mendukung kegiatan wisatawan
yaitu ketersediaan fasilitas kesehatan disetiap DTW khususnya yang telah
dikembangkan oleh pemerintah, masyarakat, swasta maupun kerjasama
diantaranya. Fasilitas yang wajib disediakan yaitu sejenis klinik pengobatan pada
DTW untuk kebutuhan darurat kesehatan bagi wisatawan yang berkunjung ke
DTW yang tersedia.

4.2.8 Fasilitas Pendidikan


Pentingnya fasilitas pendidikan dalam mendukung kegiatan pariwisata didaerah
bukan hanya dengan ketersediaan fasilitas pendidikan umum saja, namun
diharapkan tersedia fasilitas pendidikan yang mengembangkan program-program
studi yang berbasis pada kepariwisataan khususnya pada tingkat pendidikan tinggi
seperti sekolah pariwisata, program studi pariwisata, program studi pendidikan
seni dan budaya, perhotelan, pengembangan wilayah, tata boga, bahasa asing,
dan lainnya sehingga secara mandiri Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dapat
mengembangkan sumberdaya manusia bidang kepariwisataan didaerahnya.

Salah satu fasilitas pendidikan tinggi di Kabupaten Tana Toraja yaitu Sekolah
Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Toraja yang terletak di Rante Kalua
Kecamatan Mengkendek, telah merencanakan mengembangan program studi yang
berbasis kepariwisataan dan budaya yang dapat mendukung pengembangan
kepariwisataan Tana Toraja. Bahkan STAKN telah melakukan usulan transformasi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 73


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dari sekolah tinggi menjadi institut dengan Nama Institut Agama Kristen Negeri
(IAKN) yang disertai dengan usulan-usulan pengembangan program studi yang
ada serta membuka beberapa program studi yang sangat mendukung
pembangunan kepariwisataan Tana Toraja.

4.2.9 Fasilitas Peribadatan


Berdasarkan data tahun 2018, sarana peribadatan yang ada di Kabupaten Tana
Toraja sebanyak 1.017 unit, yang terdiri atas, sarana Mesjid 45 unit, Mushallah 4
unit, Gereja Khatolik 161 unit, Gereja protestan 704 unit. Keberadaan fasilitas
tersebut didominasi oleh Gereja protestan, hal tersebut disebabkan penganut
Agama Kristen Protestan sangat dominan di Kabupaten Tana Toraja. Selain itu,
dari hasil survey lapangan keberadaan akan fasilitas peribadatan tersebut sudah
mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Untuk kepentingan pariwisata, pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam


pengembangan setiap daya tarik wisatanya terutama DTW yang telah
dikembangkan umumnya telah menyediakan fasilitas peribadatan seperti
mushallah.

4.3 AKSESIBILITAS PENDUKUNG PARIWISATA


Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melalui berbagai program pembangunan
infrastruktur yang didukung oleh pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi
Sulawesi Selatan tengah gencar membangun sejumlah prasarana wilayah yang
mendukung peningkatan aksesibilitas pelayanan kegiatan pariwiisata didaerah.
Salah satu perwujudan tersebut dilakukan dengan pengembangan ruas-ruas jalan
yang selain untuk mengakomodasi aktivitas masyarakat, juga diharapkan menjadi
sarana untuk kegiatan pariwisata yang memiliki daya tarik wisata tersebar
diberbagai bagian wilayah Kabupaten Tana Toraja.

Salah satu ruas jalan misalnya yang dikembangkan yaitu ruas jalan lingkar
pariwisata yang dibangun untuk mengakomodasi perjalanan wisatawan serta
membuka keterisolasian beberapa bagian wilayah kabupaten. Sebagaimana telah
diuraikan dalam bab sebelumnya, perkembangan jaringan transportasi darat
(jalan) di Kabupaten Tana Toraja cukup pesat pertumbuhannya. Sejumlah ruas-

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 74


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

ruas jalan menuju DTW telah dibangun dan pemeliharaan fisik seperti di Pango
Pango, Buntu Burake, dan lain-lain.

Penyebaran daya tarik wisata yang sangat banyak di Tana Toraja menuntut adanya
pengembangan akses yang layak bagi kegiatan pariwisata. Salah satu keunggulan
dari sebaran daya tarik wisata didaerah ini yaitu sebagian besar DTW-DTW
merupakan bagian dari perkampungan-perkampungan yang sekaligus merupakan
bagian dari pelayanan dasar terhadap masyarakat. Secara umum, aksesibilitas
terhadap jangkauan DTW di Tana Toraja terlayani cukup baik dan umumnya
dibangun jalan-jalan beton dan aspal yang dapat menjangkau sampai ke kawasan-
kawasan wisata, bahkan penataan akses internal kawasan wisata telah banyak
dilakukan untuk mendukung kegiatan wisatawan didalam setiap DTW.

4.4 PRASARANA UMUM PENDUKUNG PARIWISATA


4.4.1 Prasarana Perhubungan
1. Transportasi Darat
Jalan merupakan sarana angkutan darat yang sangat penting untuk
memperlancar kegiatan perekonomian. Panjang jalan yang terdapat di
Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018 menurut data startistik mencapai
1.252 km. Panjang jalan pada tahun 2018 mengalami peningkatan sepanjang
199,62 km dari tahun sebelumnya. Jika dilihat dari jenis permukaan jalan
maka terdapat 352,67 km jalan yang telah diaspal, tidak diaspal mencapai
888,79 km, sedangkan sisanya 210,56 km jenis permukaan lainnya. Jika
ditinjau dari kondisi jalan maka, masih banyak jalan dengan kondisi rusak
berat sepanjang 306,69 km dan rusak 210,90 km. Dibandingkan tahun lalu
panjang jalan kondisi baik meningkat 52,17 persen sepangjang 582,19 km.

2. Terminal
Keberadaan terminal sebagai titik simpul pergerakan arus kendaraan, orang
dan barang adalah penting untuk diamati. Jumlah terminal di Kabupaten Tana
Toraja hanya 1 lokasi, yaitu terminal Makale dengan terminal bertype C. Lokasi
terminal Makale tersebut telah dimanfaatkan sebagai simpul utama
pergerakan angkutan. Kondisi terminal type C Makale saat ini terdiri atas

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 75


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pelataran-pelataran angkutan umum dan dilengkapi bangunan-bangunan


halte untuk menumpang dengan kondisi belum maksimal.

Gambar 4.5. Situasi Terminal Makale


(sumber: Dokumentasi Survey, 2020)

Pemanfaatan terminal tersebut melayani angkutan kota berupa AKDP dan


AKAP. Hal ini memperlihatkan bahwa kategori terminal Makale sudah tidak
layak dengan type terminal Type C. Oleh karena itu, di perlukan peningkatan
status terminal dan pengembangan terminal baru seiring dengan
bertambahnya alat transportasi darat.

3. Transportasi Udara
Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan udara ke
Tana Toraja. Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang berangkat dari
Bandara Pongtiku sebanyak 1.030 orang. Penerbangan di Tana Toraja
melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar pulau sulawesi. Bandar
udara ini direlokasi karena tidak bisa dikembangkan karena aspek geologi
tidak memadai. Bandara Buntu Kuni disiapkan sebagai pengganti Bandara
Pongtiku, dengan landasan pacu sepanjang 2.600 meter dengan nama Toraja
International Airport yang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kunjungan
wisatawan domestik maupun mancanegara.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 76


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Gambar 4.6. Situasi Perkembangan Pembangunan Bandara Buntu Kuni


(sumber: Dokumentasi Survey, 2020)

Dengan jarak ± 5 km dari jalan Poros akan memudahkan wisatawan dalam


menjangkau tempat-tempat wisata di Toraja. Dalam pengembangan KSPN
Toraja, salah satu strategi pengembangannya adalah meningkatkan level
Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui Pembangunan bandara baru Buntu
Kuni yang mampu menerbangkan wisatawan Mancanegara dan wisatawan
Nusantara langsung dari Bali sebagai darah transit utama wisman dan daerah
daerah lain di indonesia menuju kawasan pariwisata Toraja, sehingga wisman
dan wisnus tidak perlu lagi melakukan perjalanan darat yang panjang dan
melelahkan selama hampir 8 jam dari makasar menuju Makale. Selain itu juga
menjadikan jalan poros Enrekang-Makale-Ratenpao-Palopo menjadi jalan
dengan status handal dan mampu mendukung aktivitas trasnportasi
wisatawan dengan jumlah besar. Perkembangan terakhir terkait
pengembangan bandara Buntu Kuni ini belum lama ini telah dilakukan uji coba
penerbangan.

Alur penerbangan Bandara Buntu Kunik (BBK) diharapkan menjadi alur


penerbangan regional meliputi :
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar – Bali - Jogya
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Manado - Bali.
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar –Singapura – Jepang

4.4.2 Pelayanan Energi Kelistrikan


Energi listrik sudah menjadi kebutuhan setiap orang dan pemenuhan kebutuhan
listrik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 77


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pembangunan di sektor kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja. Kebijakan


Pemerintah Daerah Kabupaten Tana Toraja dalam mengatasi masalah kelistrikan
di daerah perbatasan adalah dengan membangun PLTHM dan PLTS yang akan
melayani kebutuhan listrik masyarakat dan kebutuhan pengembangan pariwisata
didaerah.

4.4.3 Jaringan Prasarana Telekomunikasi


Kemajuan dibidang informasi dan komunikasi telah mendorong munculnya
globalisasi dengan berbagai perspektifnya. Perkembangan tersebut diikuti dengan
berkembangnya sarana dan prasarana komunikasi seperti wartel, warnet, maupun
informasi dalam bentuk pameran.

Rasio wartel/warnet terhadap penduduk di Tana Toraja untuk tahun 2010 adalah
sebesar 0,00010. Angka rasio warnet/wartel tahun 2014 menurun dibanding tahun
2010 karena kebutuhan akan akses internet saat ini sudah sangat mudah, antara
lain melalui free hotspot dan modem GSM/CDMA dengan biaya relatif murah.
Jumlah jaringan telepon seluler di Kabupaten Tana Toraja mengalami peningkatan
yaitu pada tahun 2010 hanya ada 3 jaringan sedangkan pada tahun 2014
meningkat menjadi 6 jaringan. Untuk tujuan pengembangan telekomunikasi,
direncanakan pengembangan sistem jaringan Kabupaten Tana Toraja yang
meliputi:
1. Rencana telepon nirkabel berupa lokasi menara Base Transceiver Station
(BTS) dikembangkan penggunaannya secara bersama dan tidak mengganggu
aktifitas disekitarnya termasuk kegiatan penerbangan.
2. Pengembangan pelayanan jasa telekomunikasi diarahkan pada pembangunan
Tower terutama pada wilayah/daerah khusus.
3. Pengembangan pelayanan sistem interkoneksitas secara terpadu lebih
diarahkan pada sistem e-government dan e-library.

4.5 PENDUDUK SEBAGAI POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA PARIWISATA


Penduduk merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan suatu wilayah,
karakteristik penduduk merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
pengembangan atau pembangunan suatu wilayah dengan mempertimbangkan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 78


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pertumbuhan penduduk, komposisi struktur kepedudukan serta adat istiadat dan


kebiasaan penduduk. Dengan demikian karakteristik penduduk sangat diperlukan
dalam Penyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten
(RIPPAR-KAB).

Maju dan berkembangnya suatu wilayah atau kawasan adalah merupakan peran
dari orang atau manusia yang ada didalamnya, sebab pada prinsipnya
sesungguhnya dengan kemapaman atau skill dari setiap manusia tersebutlah yang
mampu mengelola serta melakukan pamnfatan yang bijak serta mapan bagi
daerah tersebut. Kabupaten Tana Toraja dengan segala kekayaan alamnya yang
melimpah serta memiliki jumlah penduduk yang terbilang cukup padat akan
semakin mampu bersaing dalam era globalisasi ini apabila kondisi alam mampu
diseimbangkan dengan kondisi SDM yang memadai pula.

4.5.1 Jumlah Penduduk


Jumlah penduduk Di Kabupaten Tana Toraja total sebanyak 234.002 jiwa yang
tersebar pada 19 kecamatan, penduduk terbesar berada pada kecamatan Makale
yaitu 35.892 jiwa atau Sekitar 15,34% dan di susul Kecamatan Mengkendek yaitu
sebanyak 28.073 jiwa atau sekitar 12,00%, sedangkan jumlah penduduk yang
paling terkecil adalah pada Kecamatan Kurra yang hanya berjumlah 5.484 jiwa
atau sekitar 2,34%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel: 4.8 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019


No. Kecamatan Jumlah Penduduk Persentase
1. Bonggakaradeng 7.434 3,18
2. Simbuang 6.487 2,77
3. Rano 6.359 2,72
4. Mappak 6.002 2,56
5. Mengkendek 28.073 12,00
6. Gandang Batu Sillanan 20.120 8,60
7. Sangalla 6.969 2,98
8 Sangalla Selatan 7.725 3,30
9 Sangalla utara 7.698 3,29
10 Makale 35.892 15,34
11 Makale Selatan 13.208 5,64
12 Makale Utara 12.300 5,26
13 Saluputti 7.792 3,33
14 Bituang 15.315 6,54

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 79


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 4.8 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019


No. Kecamatan Jumlah Penduduk Persentase
15 Rembon 19.085 8,16
16 Masanda 6.834 2,92
17 Malimbong Balepe 9.917 4,24
18 Rantetayo 11.308 4,83
19 Kurra 5.484 2,34
Total 234.002 100,00
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

40000.0
35000.0
30000.0
25000.0
20000.0
15000.0
10000.0
5000.0
.0

Gambar : 4.7
Grafik Jumlah Penduduk Tiap Kecamatan di Kabupaten Tana Toraja, 2019

4.5.2 Pertumbuhan Penduduk


Perkembangan atau pertumbuhan penduduk merupakan indeks perbandingan
jumlah penduduk pada suatu tahun terhadap jumlah penduduk pada tahun
sebelumnya. Perkembangan jumlah penduduk dalam suatu wilayah dipengaruhi
oleh faktor kelahiran dan kematian (pertambahan alami), selain itu juga
dipengaruhi adanya faktor migrasi penduduk yaitu perpindahan keluar dan masuk.
Pada dasarnya tingkat pertumbuhan jumlah penduduk, dapat digunakan untuk
mengasumsikan prediksi atau meramalkan perkiraan jumlah penduduk dimasa
yang akan datang. Prediksi perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang
dilakukan dengan pendekatan matematis dengan pertimbangan pertumbuhan
jumlah penduduk 5 tahun terakhir.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 80


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Data jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja 5 tahun terakhir menunjukkan


jumlah penduduk pada tahun 2015 sebanyak 228.984 jiwa, sedangkan pada tahun
2019 mencapai 234.002 jiwa. Hal tersebut memperlihatkan adanya perkembangan
jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya. Pertambahan penduduk dari
tahun 2018 ke tahun 2019 yaitu sebanyak 1.181 jiwa.

4.5.3 Kepadatan Penduduk


Distribusi penduduk terkait dengan jumlah penduduk yang mendiami suatu
wilayah atau pengelompokan jumlah penduduk yang didasarkan pada batasan
administrasi wilayah yang bersangkutan. Jumlah penduduk yang terdistribusi pada
suatu wilayah, akan mempengaruhi tingkat konsentrasi pelayanan sarana dan
prasarana yang dibutuhkan untuk melayani kebutuhan penduduk pada wilayah
tersebut.

Jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja pada akhir tahun 2019 berjumlah
234.002 jiwa yang terditribusi pada 19 kecamatan, dengan tingkat persebaran
yang tidak merata pada setiap kecamatan. Distribusi jumlah penduduk terbanyak
terdapat berada pada kecamatan Makale yaitu 35.892 jiwa dengan kepadatan 903
jiwa/km2 dan di susul Kecamatan Mengkendek yaitu sebanyak 28.073 jiwa dengan
kepadatan 143 jiwa/km2, sedangkan jumlah penduduk yang terkecil adalah pada
Kecamatan Kurra yang hanya berjumlah 5.484 jiwa dengan kepadatan penduduk
91 jiwa/km2. Jumlah penduduk tiap bagian wilayah di Kabupaten Tana Toraja ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya luas wilayah dan statu administrasi
kecamatan, secara rinci diuraikan pada tabel :

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun


Tabel: 4.9
2019
Jumlah Luas Wilayah Kepadatan
No. Kecamatan
Penduduk (jiwa) (Km2) (jiwa/Km2)
1. Bonggakaradeng 7.434 206,76 36
2. Simbuang 6.487 194,82 33
3. Rano 6.359 89,43 71
4. Mappak 6.002 166,02 36
5. Mengkendek 28.073 196,74 143
6. Gandang Batu Sillanan 20.120 108.63 185
7. Sangalla 6.969 36,24 192
8 Sangalla Selatan 7.725 47,80 162

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 81


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun


Tabel: 4.9
2019
Jumlah Luas Wilayah Kepadatan
No. Kecamatan
Penduduk (jiwa) (Km2) (jiwa/Km2)
9 Sangalla utara 7.698 27,96 275
10 Makale 35.892 39.75 903
11 Makale Selatan 13.208 61.70 214
12 Makale Utara 12.300 26.08 472
13 Saluputti 7.792 87,54 89
14 Bituang 15.315 163,27 94
15 Rembon 19.085 134,47 142
16 Masanda 6.834 134,77 51
17 Malimbong Balepe 9.917 211,47 47
18 Rantetayo 11.308 60,35 187
19 Kurra 5.484 60,50 91
Total 234.002 2.054,30 114
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

Secara kuantitas tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Tana Toraja


dipengaruhi oleh perbandingan jumlah penduduk yang mendiami setiap
kecamatan terhadap luasan (perubahan luas) wilayah kecamatan. Sedangkan
secara keruangan, pada dasarnya distribusi dan kepadatan penduduk di
Kabupaten Tana Toraja dipengaruhi oleh sistem pelayanan dan penyediaan sarana
dan prasarana penunjang, serta kemudahan aksesibilitas, sehingga distribusi
penduduk lebih terkonsentrasi pada wilayah tertentu berdekatan dengan kota.

4.5.4 Struktur Penduduk Menurut jenis Kelamin


Struktur penduduk menurut jenis kelamin merupakan perbandingan yang
memperlihatkan selisih antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan.
Berdasarkan sumber data yang diperoleh, dapat diuraikan bahwa jumlah penduduk
di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari laki-laki kurang lebih 117.573 jiwa dan jumlah
penduduk perempuan kurang lebih 115.248 jiwa.

Dari jumlah penduduk tersebut, dapat dilihat bahwa penduduk untuk jenis kelamin
laki-laki terbesar berada di Kecamatan Makale yaitu 17.666 jiwa, sedangkan
Kecamatan Kurra hanya memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.872 jiwa yang
berjenis kelamin laki-laki. Secara rinci struktur penduduk menurut usia diuraikan
pada tabel berikut:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 82


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten


Tabel: 4.10
Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Kelamin
No. Kecamatan Jumlah Sex Ratio
Laki-laki Perempuan
1. Bonggakaradeng 3.873 3.482 7.355 111
2. Simbuang 3.263 3.197 6.460 102
3. Rano 3.214 3.114 6.328 103
4. Mappak 3.113 2.841 5.954 110
5. Mengkendek 14.133 13.895 28.028 102
6. Gandang Batu Sillanan 10.040 10.010 20.050 100
7. Sangalla 3.490 3.447 6.937 101
8 Sangalla Selatan 3.837 3.858 7.695 99
9 Sangalla utara 3.804 3.862 7.666 98
10 Makale 17.666 18.009 35.675 98
11 Makale Selatan 6.634 6.500 13.134 102
12 Makale Utara 6.110 6.147 12.257 99
13 Saluputti 3.912 3.846 7.758 102
14 Bituang 7.886 7.326 15.212 108
15 Rembon 9.645 9.364 19.009 103
16 Masanda 3.517 3.264 6.781 108
17 Malimbong Balepe 4.897 4.916 9.813 100
18 Rantetayo 5.667 5.588 11.255 101
19 Kurra 2.872 2.582 5.454 111
Total 117.573 115.248 232.821 102
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019

4.5.5 Struktur Penduduk Menurut Kelompok Umum


Kajian tentang struktur penduduk menurut usia dimaksudkan untuk mengetahui
jumlah pada setiap kelompok umur tertentu, terutama kelompok umur yang
berkaitan dengan usia sekolah, usia kerja, dan usia produktif atau usia angkatan
kerja. Secara rinci struktur penduduk menurut usia diuraikan pada tabel berikut:

Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten


Tabel: 4.11
Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Kelamin
No. Kelompok Umur Jumlah Sex Ratio
Laki-laki Perempuan
1. 0 – 4 12.792 12.297 25.093 111
2. 5 – 9 13.499 12.818 26.317 102
3. 10 – 14 12.700 11.897 24.597 103
4. 15 – 19 11.321 9.606 20.927 110
5. 20 – 24 8.387 7.469 15.856 102
6. 25 – 29 7.208 6.999 14.207 100
7. 30 – 34 7.639 7.437 15.076 101

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 83


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten


Tabel: 4.11
Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Kelamin
No. Kelompok Umur Jumlah Sex Ratio
Laki-laki Perempuan
8 35 – 39 7.786 7.541 15.327 99
9 40 – 44 7.598 7.036 14.634 98
10 45 – 49 6.472 6.329 12.801 98
11 50 – 54 5.230 6.266 11.496 102
12 55 – 59 5.109 5.634 10.743 99
13 60 – 64 4.136 4.563 8.699 102
14 65 + 7.692 9.356 17.048 108
Total 117.573 203.021 232.821 102
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) IV - 84


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5
5.1 PENCERMATAN KARAKTERISTIK PARIWISATA
Analisis karakteristik pariwisata ini bertujuan untuk mengetahui segala potensi dan
permasalahan wisata daerah berdasarkan fakta dan data yang ditemukan
dilapangan. Selain itu, analisis ini diharapkan dapat menggambarkan karakteristik
maupun kondisi, baik dari segi kebijakan yang mendukung kegiatan sektor
pariwisata dan karakteristik dari daya tarik wisata kabupaten.

Potensi dan permasalahan wisata dapat diketahui dengan mempergunakan dua


tahapan analisis, yaitu analisis yang bertujuan untuk menggali potensi pariwisata
serta analisis yang bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan
kepariwisataan. Pada analisis potensi dan permasalahan kepariwisataan, terdiri
dari analisis kebijakan sektor pariwisata, analisis supply demand, sedangkan
analisis yang mengidentifikasi permasalahan pariwisata, terdiri dari analisis akar
masalah dan tujuan.

5.1.1 Analisis Kebijakan


Analisis kebijakan merupakan analisis yang mereview beberapa kebijakan yang
terkait dengan pariwisata, seperti RIPPARNAS dan rencana rincinya, RTRW,
maupun RPJMD serta pengembangan kawasan-kawasan wisata yang telah
dilaksanakan didaerah. Analisis ini diharapkan dapat menghasilkan gambaran
tentang keselarasan kebijakan wisata yang dituangkan pemerintah dengan fungsi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-1


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dan peran Daerah sebagai daerah Wisata serta upaya pengembangan wisata yang
ada di lapangan.

Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja tidak terlepas dari kepentingan nasional


dan Provinsi Sulawesi Selatan dalam membangun kepariwisataan sebagai salah
satu destinasi wisata unggulan. Hal tersebut jelas tertuang dalam perencanaan
kepariwisataan nasional dan provinsi. RIPPARNAS dan RIPPARPROV Sulawesi
Selatan dalam pengembangannya mengarahkan sejumlah program pembangunan
pariwisata yang menyatukan kepariwisataan di Tana Toraja sebagai destinasi yang
berpotensi menunjang pertumbuhan pariwisata nasional. Tindaklanjut dari
Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk
Kepariwisataan Nasional yaitu Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu
Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya (KSPN Toraja), dan dalam
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 5 Tahun 2015 tentang
RIPPARPROV Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030 yang perlu diserasikan
perencanaannya dengan RIPPARKAB Tana Toraja ini sehingga terintegrasi dengan
baik dan saling mendukung pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
kedepannya.

Perencanaan-perencanaan tersebut mengembangkan berbagai unsur pariwisata


yang ada di Kabupaten Tana Toraja sebagaimana telah diuraikan dalam bab II
tentang Kebijakan Pembangunan Mendukung Kepariwisataan Tana Toraja, namun
dalam pembahasan analisis disini lebih menekankan pada kajian pengembangan
unsur-unsur kepariwisataan yang dapat dilakukan daerah kabupaten untuk
menunjang program-program nasional dan provinsi tersebut. Agar terjalinnya
singkronisasi program pembangunan kepariwisataan, maka berikut ini diuraikan
sejumlah program pemerintah pada level atas yang diperuntukan di Kabupaten
Tana Toraja dalam matriks tabulasi berikut ini.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-2


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dukungan Program Pembangunan Kepariwisataan Nasional


Tabel: 5.1
dan Provinsi di Kabupaten Tana Toraja
No. Program Pembangunan Ket.
RIPPARNAS (DPN Toraja – Lorelindu dan sekitarnya)
I. Tahap Pengembangan Tahun 2018
1 Pembangunan Bandara Buntu Kuni
2 Pembangunan TPA Rantetayo,
3 Pembangunan IPLT Makale,
4 Pembangunan IPLT Rotenpao,
5 Pembangunan 2 buah Spam di KSPN Toraja,
6 Pembangunan 16 Destinasi Wisata di KSPN Toraja,
7 Peningkatan Jalan Poros Enrekang-Makale-Rotenpao-Palopo,
8 Pembangunan Jalan Menuju Bandara Baru Buntu Kuni,
9 Peningkatan Kualitas Jalan ke 16 Destinasi KSPN Toraja di Kab. Tana
Toraja,
10 Peningkatan Jalan Lingkar Pariwisata Kab. Toraja Utara,
11 Pembangunan Smart Traveller Plaza di KSPN Toraja,
12 Pemeliharaan bangunan irigasi di Daerah Irigasi di dalam Lingkup
KSPN Toraja,
13 Pembangunan Trotoar di Pusat Kota Makale,
14 Pembangunan Trotoar di Pusat Kota Rotenpao,
15 Pembangunan TPST 3R di Kawasan Pariwisata KSPN Toraja,
16 Pembangunan SPAM Pedesaan 2-5 Lt/dt Pedesaan

II. Ultimate Kawsan Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya Toraja


1. Pengembangan 16 Destinasi pariwisata Prioritas KSPN Toraja
menjadi destinasi Wisata berkelas Dunia
2. Terbangunnya Industri Agrowisata Kopi Toraja sebagai tulang
punggung pembangunan Agrowisata dan mampu berorientasi
export
3. Optimalisasi PLTD Makale sebesar 25 MW
4. Rencana pembangunan PLTA Makale
5. PLTA Sungai Sadang
6. Rencana Pembangunan PLTA Sungai Makalo
7. Terbangunnya Amenity wisatawan berupa
Hotel/penginapan/homestay dengan jumlah yang cukup banyak
yaitu sekitar 3000 kamar, (target wisman 250.000 dan wisnus 1
juta pertahun)

III. Pengembangan Simpul-simpul Destinasi Wisata Prioritas


1 Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale
2 Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’
3 Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan
4 Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-3


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dukungan Program Pembangunan Kepariwisataan Nasional


Tabel: 5.1
dan Provinsi di Kabupaten Tana Toraja
No. Program Pembangunan Ket.
5 Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara
6 Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon
7 Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakadeng
8 Kawasan Batu Tallu Simbuang di Simbuang
9 Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang
10 Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan
11 Kawasan Wisata Alam tondok To Bugi’di Masanda
12 Kawasan Wisata Barereng di Kurra
13 Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’
14 Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara

IV. Rencana Infrastruktur Strategis


1 Pengembangan Destinasi Wisata Prioritas, (ada 16 Destinasi/Kawasan
Pariwisata Prioritas yang akan di kembangkan pada masa 2018 –
2026)
2 Target market Wisman yang masuk menggunakan 3 Pintu Masuk
Utama termasuk Bandara Buntu Kuni.
3 Pelebaran jalan Poros Nasional Enrekang- makale-Rotenpao-Palopo
dari semua 5 meter menjadi 7 meter
4 Terbukanya lapangan kerja baru untuk 1000 TK per destinasi. secara
Total mampu membangkitkan Tenaga Kerja sejumlah 1500 tenaga
kerja sampai tahun 2019.
5 Target Pengembangan KSPN Toraja yang mencapai 250.000
wisatawan asing, dan 1 juta wisatawan domestik
6 Pembangunan dan pengembangan fasilitas di dalam kawasan atau di
destinasi yang perlu di bangun sebagai destinasi kelas dunia
7 Perkebunan Kopi yang luas yang menghasilkan kopi Toraja khususnya
Kopi Arabika Toraja yang sudah di kenal luas di mancanegara dengan
tingkat produksi mencapai angka 18.000 ton pertahun dimana di
kelola baik secara tradisional maupun modern
8 Kebutuhan Infrastruktur jalan yang mampu mendukung Distribusi
produk kopi dan produk pertanian serta perkebunan lainnya untuk
keperluan eksport keluar negeri maupun pemenuhan kebutuhan dalam
negeri
9 Kebutuhan Infrastruktur Energi Listrik untuk mendukung aktivitas
masyarakat dan aktivitas kepariwisataan sebesar 40-50 MWatt

V. Arahan Pengembangan Infrastruktur Berdasarkan RTRWN


1 Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan
ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-4


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dukungan Program Pembangunan Kepariwisataan Nasional


Tabel: 5.1
dan Provinsi di Kabupaten Tana Toraja
No. Program Pembangunan Ket.
2 Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana
transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu
dan merata di seluruh wilayah nasional

VI. Rencana Pengembangan Tingkat Kabupaten di Kabupaten Tana Toraja


1 Program pengembangan sistem penanganan jalan dan jembatan
2 Program pembangunan kawasan destinasi pariwisata dan wisata alam
3 Program perencanaan tata ruang dan kawasan
4 Program pemetaan dan pemanfaatan ruang dan pengelolaan areal
pemakaman
5 Program pengembangan promosi dan pemasaran pariwisata
6 Program pelestarian dan penelusuran nilai budaya dan situs-situs
budaya
7 Program pengembangan kerjasama/kemitraan pariwisata
8 Program pengembangan agrowisata, wisata alam, air terjun, arum
jeram dan wisata alam lainnya
9 Program pembangunan kawasan destinasi pariwisata
10 Program pengembangan kerjasama/ kemitraan pariwisata

VII. Pembangunan Anjungan Cerdas di Tana Toraja (Batas Enrekang -Toraja)


Lokasi = Batas Enrekang -Toraja. Didaerah Getengan.
Biaya dengan lahan = Rp. [Link],00
Biaya tanpa lahan = Rp. [Link],00

VIII. Pembangunan Kawasan Inkubasi


Lokasi = Kawasan Agrowisata Pango Pango

RIPPARPORV SULSEL (KSPD Toraja dan sekitarnya)


Masterplan KSPD Toraja dan sekitarnya Belum
Masterplan Kawasan Wisata Gunung Kandora Proses
Sumber: Hasil Telaah Tim, Tahun 2020

5.1.2 Analisis Suplay and Demand


[Link] Analisis Supply
Analisis pada sisi penawaran/produk (Supply) pariwisata bertujuan untuk
memenuhi karakter dan kondisi produk pariwisata, sehingga nantinya akan lebih
jelas pangsa pasar pariwisata yang menjadi sasaran dan pemasarannya.
Aspek supply atau penawaran berupa potensi dan daya tarik objek wisata Daerah
yang dapat dijabarkan dalam beberapa faktor sebagai berikut ini:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-5


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. Kondisi keanekaragaman wisata


Kondisi keanekaragaman wisata merupakan penjelasan tentang potensi
kawasan wisata yang menyediakan atau terdapat daya tarik wisata lain selain
daya tarik utama kawasan wisata maupun adanya keunggulan kawasan yang
dapat dimanfaatkan sebagai keanekaragaman wisata.
2. Kondisi aksesibilitas daerah wisata
Aksesibilitas DTW merupakan uraian potensi terkait pencapaian terhadap DTW
secara eksternal maupun aksesibilitas didalam DTW yang tersedia, baik sarana
maupun prasarana aksesibilitas yang dapat berupa jaringan jalan menuju
DTW, jaringan jalan wisata didalam DTW maupun moda angkutan yang dapat
digunakan menuju DTW maupun aktivitas didalam DTW.
3. Kondisi pembangunan fasilitas penunjang
Respon terkait pembangunan fasilitas penunjang merupakan ketersediaan
fasilitas wisata yang telah tersedia didalam DTW yang mewadahi kegiatan
wisatawan serta adanya potensi pengembangan fasilitas penunjang untuk
mendukung kegiatan wisata tersebut.
4. Kondisi struktur sosial budaya masyarakat
Yaitu dukungan masyarakat dalam kegiatan wisatawan maupun
pengembangan DTW serta adanya potensi lain yang berhubungan dengan
kegiatan wisatawan di DTW seperti pola kehidupan masyarakat setempat yang
menambah daya tarik wisata didalam maupun sekitar DTW.
5. Kondisi lingkungan
Yaitu terkait dengan keutuhan DTW baik kealamian pada DTW alam, keaslian
kebudayaan lokal pada DTW budaya, maupun kebersihan dan kualitas
lingkungan pada DTW buatan dan DTW lainnya.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-6


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.2 Matriks Analisis Supply (Penawaran) Wisata


Supply
No. Ragam Wisata Keterangan
DTW Atraksi Wisata
DTW Alam
1 Agrowisata Pango-Pango ▪ Hutan pinus
▪ Perkebunan agro (kopi, tamarillo, Kondisi keanekaragaman
wisata:
strawbery dll)
▪ Pengebangan daya tarik sebagai
▪ Wahana Flying Fox penunjang daya tarik utama di
▪ Bangunan Rumah Hobbit DTW tertentu.
Pentas seni
▪ Pembibitan Kopi ▪ Adanya perpaduan DTW alam
▪ Panggung Pentas Seni dengan DTW budaya yang variatif
▪ Taman ▪ Keaslian/keutuhan alam masih
cukup terjaga sbg daya tarik lain.
▪ Pemandangan alam yang indah
▪ Kondisi alam/suhu masih cukup
▪ Gejala alam / Suhu udara yang dingin.
baik.
2 Permandian Alam Tilangnga ▪ Kolam Alam ▪ Potensi agro disekitar DTW sangat
▪ Habitat Belut Yang Hidup Didalam - mendukung.
Kolam Kondisi aksesibilitas daerah
3 Rurak Goa Alam - wisata:
4 Sarambu Assing Air Terjun - ▪ Umumnya DTW dapat dijangkau
5 Sarambu Ratte Air Terjun - dengan ketersediaan jalan wisata
6 Talondo Tallu Air Terjun - Kondisi pembangunan fasilitas
7 Perkebunan Kopi Tiroan ▪ Perkebunan Kopi dan penunjang:
▪ Pemandangan Alam dengan Udara yang - ▪ Adanya pengembangan fasilitas
Dingin wisata pada beberapa DTW
8 Lo'ko Tongko Goa Alam - unggulan.
9 Arum Jeram ▪ Arum Jeram (sungai mai'ting) ▪ Adanya kegiatan wisata penunjang
- lain yang dikembangkan sebagai
▪ Panorama Alam
daya tarik penunjang.
10 Danau Assa’ ▪ Danau alami -

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-7


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.2 Matriks Analisis Supply (Penawaran) Wisata


Supply
No. Ragam Wisata Keterangan
DTW Atraksi Wisata
▪ panorama, dan ▪ Masih dibutuhkan pengembangan
▪ batu hamil. fasilitas penunjang dalam tiap DTW
11 Gunung Kandora Panorama Alam Gunung Karst Panjat tebing Kondisi struktur sosial budaya
12 Panjat Tebing Tebing Karst Vertikal Panjat tebing masyarakat:
13 Panorama Bukit Sion ▪ Pemandangan Kota Makale ▪ Masyarakat sekitar DTW sangat
- terbuka;
▪ Panorama Alam
▪ Adanya pelibatan masyarakat
14 Air terjun ratte sarambu ▪ Air terjun
- sekitar DTW dalam pengembangan
assing ▪ Pemandian alam potensi agro
15 Alloan Panorama Alam -
Kondisi lingkungan:
16 Air Panas Balla Mata air panas -
▪ Kondisi alam masih cukup terjaga
17 Air Terjun (Sarambu) Tipali Air Terjun -
▪ Habitat terlindungi pada beberapa
18 Air Terjun (Sarambu) Air Terjun
- DTW
Marintang
19 Bumi Perkemahan Marintang ▪ Kolam Pemancingan
-
▪ Perkemahan
20 Ollon Pannorama Alam/Savana -
21 Permandian Air Panas Makula Permandian Air Panas Alam -

DTW Budaya
1 Desa Wisata Bebo' Tumbang ▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan dan Pentas seni dan
Datu ▪ Alang Yang Masih Asli budaya Kondisi keanekaragaman
wisata:
2 Papa Batu Rumah Adat Toraja/ Tongkonan yang
- ▪ Pengebangan daya tarik sebagai
Beratap Batu
penunjang daya tarik utama di
3 Sassa' ▪ Rumah Adat Tongkonan,
- DTW tertentu.
▪ Panorama Alam dan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-8


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.2 Matriks Analisis Supply (Penawaran) Wisata


Supply
No. Ragam Wisata Keterangan
DTW Atraksi Wisata
▪ kehidupan masyarakat yang masih ▪ Adanya perpaduan jenis DTW
tradisional budaya dengan DTW alam yang
4 Perkampungan Adat Sillanan ▪ Rumah Adat Tongkonan, variatif
▪ Keaslian/keutuhan budaya masih
▪ Panorama Alam
Pentas seni dan terjaga dengan baik.
▪ kehidupan masyarakat tradisional
budaya Kondisi aksesibilitas daerah
▪ Kuburan Batu
wisata:
▪ 5Rante (tempat upacara kematian)
▪ Umumnya DTW dapat dijangkau
5 Tampang Allo ▪ Goa Alam dengan peti mati kuno dengan ketersediaan jalan wisata
▪ Patung-patung milik bangsawan dalam
- Kondisi pembangunan fasilitas
peti umur ratusan tahun
penunjang:
▪ Panorama Alam ▪ Adanya fasilitas perdagangan/jasa
6 Suaya Erong, Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau- penjualan hasil kerajinan lokal
-
Tau/ Patung orang mati ▪ Adanya pengembangan fasilitas
7 Kambira Baby Grave Passiliran (Kuburan Bayi yang disimpan di wisata pada beberapa DTW
-
pohon hidup dengan cara di lubangi) unggulan.
8 Potok Tengan ▪ Situs Purba Bersejarah ▪ Adanya fasilitas perdagangan/jasa
-
▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan penjualan hasil kerajinan lokal
9 Pattan ▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan Kondisi struktur sosial budaya
▪ Kuburan Batu dan Tau-Tau/ Patung - masyarakat:
Orang Mati ▪ Masyarakat sekitar DTW sangat
10 Kawasan Wisata Buntu ▪ Rumah Adat, Sejarah Orang Toraja terbuka
Kandora ▪ Panorama Alam, ▪ Adanya bentuk pemberdayaan
Panjat tebing masyarakat sekitar DTW atau
▪ Gunung/ Batu Kars dan
pemilik kawasan/keluarga.
▪ Monyet
11 Liang Lo'ko Randanan Gowa Alam - Kondisi lingkungan:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V-9


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.2 Matriks Analisis Supply (Penawaran) Wisata


Supply
No. Ragam Wisata Keterangan
DTW Atraksi Wisata
12 Tongkonan Banua Kasalle Tongkonan Cagar Budaya ▪ Kondisi alam masih cukup terjaga
13 Buntu Tondon Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/
-
Patung orang mati
14 Perkuburan Kuno Gandang Cagar Budaya / Megalitik Kuburan Batu
-
Batu
15 Lo'ko Wai (Kuburan Bayi Patane khusus mayat bayi purba
-
Purba)
16 Liang Saratu’ Kuburan Batu Pahat -
17 Kampung Tenun Kerajinan Tenun/Tongkonan Penyajian cara
tenun.
18 Tengko Batu ▪ Situs Cagar Budaya,
-
▪ Batu keramat
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/
-
Patung orang mati
20 Sanduni (Liang) Banga' Kuburan Batu/ Liang Pahat -
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/
-
Patung orang mati
22 Liang Pahat Rano Utara Kuburan Batu Pahat -
23 Goa Sullukan Gowa Alam -
24 Sirope' Kuburan Batu/ Liang Pahat, Erong -
25 Saluliang Kuburan Batu Pahat -
26 Mapongka ▪ Hutan Pinus
-
▪ Panorama
27 A'pa' Pamanukan Tongkonan -
28 To' Puang ▪ Tongkonan
-
▪ Batu bersejarah
29 Kuburan Batu Ullin Kuburan Batu Pahat -

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 10


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.2 Matriks Analisis Supply (Penawaran) Wisata


Supply
No. Ragam Wisata Keterangan
DTW Atraksi Wisata
30 Batususu Talion/ Sarapeang - -
31 Ma'dandan (himpuan erong) ▪ Perkumpulan erong (kuburan kuno)
▪ keindahan alam serta dikelilingi oleh -
vegtasi yang hijau.
32 Batu Kapak (Batu Talla) - -
33 Babakanaan - -
34 Kuburan Batu Lemo Liang/ Lobang Pahat untuk peti mati dan
Tau-Tau/ Patung orang mati yang di -
masukkan kedalam liang/ lobang pahat
35 Museum Buntu Kalando Tongkonan Puang Sangalla' dan Museum
-
Mini
36 Sa’pak bayobayo ▪ Kampung tenun
▪ wisata religi Sa'pak Bayo-bayo -
▪ Gowa Alam

DTW Buatan
1 Objek Wisata Religi Buntu ▪ Patung Yesus Kondisi keanekaragaman
Burake ▪ Jembatan Kaca Andrenalin wisata:
▪ Panorama Alam ▪ Pengebangan daya tarik sebagai
2 Barereng ▪ Taman Wisata penunjang daya tarik utama.
▪ Kolam pemancingan ikan Andrenalin ▪ Adanya perpaduan jenis DTW
▪ Perkemahan
Kondisi aksesibilitas daerah
3 Taman Hiburan Plaza Kolam ▪ Kolam dan air mancur wisata:
Makalle ▪ Dapat dijangkau dengan mudah
-
Kondisi pembangunan fasilitas
penunjang:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 11


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.2 Matriks Analisis Supply (Penawaran) Wisata


Supply
No. Ragam Wisata Keterangan
DTW Atraksi Wisata
▪ Adanya fasilitas perdagangan/jasa
penjualan hasil kerajinan lokal
▪ Adanya fasilitas perdagangan/jasa
penjualan hasil kerajinan lokal
Kondisi struktur sosial budaya
masyarakat:
▪ Masyarakat sekitar DTW sangat
terbuka
Kondisi lingkungan:
▪ Kondisi alam masih cukup terjaga
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 12


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Selanjutnya proses yang ditempuh dalam melakukan analisis supply adalah


menentukan karakteristik wisata kabupaten berdasarkan kondisi eksisting wisata,
baik ragam dan atraksi wisata yang ditawarkan pada masing-masing objek,
aksesibilitas yang menuju lokasi wisata, ketersediaan dan kelengkapan fasilitas
wisata, maupun kebersihan dan kelestarian lingkungan serta karakter masyarakat
(keakraban dan keramahtamahan). Kondisi eksisting ini diperoleh atas dasar
observasi dan wawancara terhadap wisatawan yang berkunjung ke Daerah.

Berdasarkan hasil uraian potensi dalam matriks supply diatas, maka akan
dirumuskan sebagai bahan masukan dalam pengembangan strategi kemajuan
pariwisata di Kabupaten Tana Toraja secara umum.

[Link] Analisis Demand


Analisis demand merupakan analisis yang melihat permintaan atau keinginan
wisatawan terhadap DTW Daerah, sehingga dapat diperoleh segmentasi pasar
dengan pertimbangan perbedaan usia yang berpengaruh terhadap harapan dan
perilaku wisatawan pada segmen pasar usia muda, serta wisatawan dari luar
negeri dan seterusnya. Adapun faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam
melakukan analisis permintaan antara lain:
1. Lama Tinggal Wisatawan
Lama tinggal wisatawan yang berkunjung ke Daerah diketahui berdasarkan
hasil wawancara dan kuesioner kepada wisatawan. Lama tinggal wisatawan
terbagi atas empat klasifikasi, yaitu 1-6jam, >6jam, satu hari, >1 hari. Hasil
wawancara yang menyebutkan lama tinggal wisatawan kemudian
ditabulasikan dalam tabel frekuensi yang didalamnya tercantum jumlah dan
persentase wisatawan yang menjawab berdasarkan klasifikasi jawaban yang
telah disediakan kemudian digambarkan pada diagram lingkaran.

2. Tipe Aktivitas Wisatawan


Aktivitas wisatawan berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan oleh wisatawan
selama berkunjung ke Daerah dengan memanfaatkan ragam dan daya tarik
yang ada pada objek wisata, serta fasilitas penunjang yang tersedia. Tipe
aktivitas wisatawan dapat diketahui melalui wawancara dan kuesioner kepada
wisatawan, yang kemudian ditabulasikan dalam tabel frekuensi dalam bentuk

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 13


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

jumlah wisatawan yang berpendapat dan nilai persentase dari masing-masing


klasifikasi pendapat.

3. Kesan Wisatawan
Kesan wisatawan ditentukan berdasarkan pendapat wisatawan berkaitan
dengan kondisi objek wisata yang disampaikan melalui jawaban kuesioner
dengan alternatif sangat memuaskan, memuaskan, cukup memuaskan, biasa
saja, kurang memuaskan, dan tidak memuaskan. Kesan ini diperoleh setelah
wisatawan berkunjung ke suatu lokasi DTW.

Pada kajian ini, analisis Demand lebih difokuskan pada permintaan atau keinginan
wisatawan terhadap DTW Daerah dengan mengidentifikasi tujuan dan motivasi
wisatawan melakukan perjalanan wisata ke Daerah, frekuensi kunjungan
wisatawan ke Daerah, aktivitas wisata yang biasa dilakukan oleh wisatawan selama
berada di Daerah, serta penilaian wisatawan terhadap atraksi dan daya tarik objek
wisata yang menunjukkan tingkat kepuasan wisatawan terhadap objek wisata.
Permintaan/keinginan wisatawan tersebut diketahui melalui wawancara langsung
yang mengambil sampel pada beberapa DTW yang diobservasi dan studi lain yang
telah dilakukan melalui sebaran kuesioner maupun wawancara langsung serta tim
penyusun dan tenaga lainnya sebagai responden dalam kajian ini, yang
diruntutkan berdasarkan variabel kajian.

Tabel: 5.3 Matriks Analisis Demand (Permintaan)


No. Ragam DTW Demand Ket.
1 DTW Alam ▪ Perlunya pengembangan fasilitas pendukung
sesuai ketersediaan daya tarik alam penunjang
dalam DTW
▪ Perlu adanya pengembangan perkebunan agro
pada DTW alam berbasis agro
▪ Perlunya pemeliharaan dan perawatan ruas-ruas
jalan menuju DTW
▪ Perlu dilakukan rekayasa fisik pada ruas jalan
yang dapat mengancam keselamatan wisatawan
▪ Perlunya mengembangan fasilitas inap bagi DTW
tertentu yang memiliki daya tarik pada waktu
tertentu seperti malam dan pagi hari
▪ Perlu adanya penyediaan fasilitas keselamatan
wisatawan.
▪ Perlu adanya pemandu wisata

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 14


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.3 Matriks Analisis Demand (Permintaan)


No. Ragam DTW Demand Ket.
▪ Perlu penyediaan rambu-
rambu/penanda/penunjuk arah untuk
mempermudah sirkulasi wisatawan dalam DTW
2 DTW Budaya ▪ Perlunya pengembangan fasilitas pendukung
sesuai ketersediaan DTW penunjang sebagai
kombinasi.
▪ Perlunya pemeliharaan dan perawatan ruas-ruas
jalan menuju DTW
▪ Perlu dilakukan rekayasa fisik pada ruas jalan
yang dapat mengancam keselamatan wisatawan
▪ Perlunya mengembangan fasilitas inap bagi DTW
tertentu yang memiliki daya tarik pada waktu
tertentu seperti malam dan pagi hari
▪ Perlu adanya penyediaan fasilitas keselamatan
wisatawan.
▪ Perlu adanya pemandu wisata
▪ Perlu penyediaan rambu-
rambu/penanda/penunjuk arah untuk
mempermudah sirkulasi wisatawan dalam DTW.
▪ Perlunya pengembangan bangunan tongkonan
sebagai fungsi penginapan bagi DTW yang ingin
mendalami keunikan budaya dalam DTW
tertentu.
▪ Perlu adanya pengembangan atraksi budaya
sesuai karakteristik DTW budaya tertentu.
▪ Perlu adanya pembangunan sanggar-sanggar seni
dan budaya.
3 DTW Buatan ▪ Perlunya pengembangan fasilitas pendukung
sesuai ketersediaan DTW penunjang sebagai
kombinasi.
▪ Perlunya pemeliharaan dan perawatan ruas-ruas
jalan menuju DTW
▪ Perlu adanya penyediaan fasilitas keselamatan
wisatawan.
▪ Perlu penyediaan rambu-
rambu/penanda/penunjuk arah untuk
mempermudah sirkulasi wisatawan dalam DTW.
▪ Perlunya penyediaan fasilitas wisata bagi usia
anak.
▪ Perlunya penyediaan fasilitas khusus kaum
disabilitas.

Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 15


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5.2 PENCERMATAN INDUSTRI PARIWISATA


Industri pariwisata mempunyai fungsi yang penting untuk memperluas dan
memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, juga mempunyai fungsi
sebagai sarana pendorong bagi pembangunan daerah, memperbesar pendapatan
nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran raykat serta
memupuk rasa cinta tanah air, memperkaya kebudayaan nasional dan
memantapkan pembinaannya dalam rangka memperkokoh jati diri suatu daerah
maupun bangsa. Sehubungan dengan itu, perlu adanya langkah-langkah
pengaturan yang mampu mewujudkan keterpaduan dalam kegiatan
penyelenggaraan kepariwisataan, serta memelihara kelestarian dan mendorong
upaya peningkatan mutu lingkungan hidup serta obyek dan daya tarik wisata.

Industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam
rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan
wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata (Undang-Undang Pariwisata no 10
tahun 2009). Dengan kata lain, Industri Pariwisata dapat diartikan sebagai
sehimpunan bidang usaha yang menghasilkan berbagai jasa dan barang yang
dibutuhkan oleh mereka yang melakukan perjalanan wisata. Menurut S. Medlik,
setiap produk, baik yang nyata maupun maya yang disajikan untuk memenuhi
kebutuhan tertentu manusia, hendaknya dinilai sebagai produk industri. Jika
sejemput kesatuan produk hadir diantara berbagai perusahaan dan organisasi
sedemikian sehingga memberi ciri pada keseluruhan fungsi mereka serta
menentukan tempatnya dalam kehidupan ekonomi, hendaknya dinilai sebuah
industri.

Sebagaimana yang dikemukakan UNWTO (United Nations World Tourism


Organiation) dalam the International Recommendations for Tourism Statistics
2008, Industri Pariwisata meliputi; Akomodasi untuk pengunjung, Kegiatan
layanan makanan dan minuman, Angkutan penumpang, Agen Perjalanan Wisata
dan Kegiatan reservasi lainnya, Kegiatan Budaya, Kegiatan olahraga dan hiburan.
UNWTO merupakan Badan Kepariwistaan Dunia dibawah naungan PBB.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 16


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5.2.1 Usaha Penyediaan Akomodasi


Akomodasi pariwisata sebagai tempat bagi seseorang untuk tinggal sementara,
dapat berupa hotel, losmen, guest house, pondok, Villa, Penginapan, cottage inn,
perkemahan, caravan, bag packer dan sebagainya. Saat ini telah berkembang lebih
jauh kearah tuntutan pemenuhan kebutuhan manusia lainnya seperti makan,
minum rekreasi, olah raga, konvensi, pertemuan-pertemuan profesi dan asosiasi
perjamuan-perjamuan pernikahan dan lainnya. Oleh karena itu, dengan kemajuan
teknologi dan perkembangan zaman juga dapat mempengaruhi jenis, macam dan
banyaknya fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan dan harus disediakan oleh pengusaha
pada bidang akomodasi.

Usaha penyediaan pelayanan penginapan untuk wisatawan yang dapat dilengkapi


dengan pelayanan pariwisata lainnya. Hotel adalah penyediaan akomodasi secara
harian berupa kamar-kamar di dalam 1 (satu) bangunan, yang dapat dilengkapi
dengan jasa pelayanan makan dan minum, kegiatan hiburan dan/atau fasilitas
lainnya. Bumi perkemahan adalah penyediaan akomodasi di alam terbuka dengan
menggunakan [Link] karavan adalah penyediaan tempat untuk
kendaraan yang dilengkapi fasilitas menginap di alam terbuka dapat dilengkapi
dengan kendaraannya. Vila adalah penyediaan akomodasi berupa keseluruhan
bangunan tunggal yang dapat dilengkapi dengan fasilitas, kegiatan hiburan serta
fasilitas lainnya. Pondok wisata adalah penyediaan akomodasi berupa bangunan
rumah tinggal yang dihuni oleh pemiliknya dan dimanfaatkan sebagian untuk
disewakan dengan memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk berinteraksi
dalam kehidupan sehari-hari pemiliknya.
[Link] Analisis Penggunaan Akomodasi Wisata
Diantara bermacam-macam bentuk jasa kepariwisataan yang terpenting dan
terlengkap ialah fasilitas hotel atau sering disebut sebagai ”akomodasi wisata”
(turist acomodation). Pada umumnya jasa perhotelan tumbuh dengan adanya
orang untuk bepergian dan memerlukan jasa untuk makan dan menginap. Dalam
praktek kegiatan pariwisata dewasa ini, adalah fasilitas yang menyediakan jasa
yang paling lengkap untuk wisatawan yang berkunjung atau yang menginap
disuatu tempat. Dalam sistem sosial kepariwisataan, hotel adalah jasa yang berupa
bangunan atau kompleks bangunan yang secara komersial memberi fasilitas

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 17


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

tempat tinggal sementara kepada umum yang memenuhi syarat. Karena jasa itu
diberikan secara komersial, maka dalam rangka konsep industri pariwisata hotel
juga disebut perusahaan penjual jasa.

Penyediaan jenis akomodasi Hotel sebagai bagian dari pelayanan pariwisata telah
dipandu oleh ketentuan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
6 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif Nomor 53 Tahun 2013 tentang Standar Usaha Hotel, dimana ketentuan ini
menjadi acuan bagi daerah yang secara khusus mengembangkan kepariwisataan
sebagai salah satu sektor utama dalam pengembangan wilayahnya.

Syarat-syarat fasilitas yang terpenting mengenai bentuk, fungsi, dan mutu. Bentuk
dan desain fasilitas hotel harus dapat dikenal (recognizable). Seperti hal-hal lain
dalam praktek kepariwisataan bentuk fasilitas itu harus sesuai dengan gaya
kepariwisataan, misalnya mengadopsi bentuk rumah adat atau sesuai dengan adat
dan budaya di Tana Toraja. Hal tersebut dalam mengembangkan sektor
kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja, dengan pembangunan berbagai
akomodasi pariwisata, maka bentuk desain harus sesuai dengan adat istiadat yang
berlaku, sehingga memiliki ciri khas tersendiri.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 18


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.4 Kriteria Mutlak Standar Hotel Berbintang


No. Aspek No. Unsur No. Subunsur
1 Produk 1 Bangunan 1 Tersedia suatu bangunan hotel
2 Penanda Arah 2 Tersedia papan nama hotel
3 Parkir 3 Tersedia tempat parkir dan pengaturan lalulintasnya
4 Lobby 4 TersediaLobby dengan sirkulasi udara dan pencahayaan
5 Toilet Umum 5 Tersedia toilet umum
6 Front Office 6 Tersedia Gerai atau meja kursi
7 Fasilitas Makan dan Minum 7 Tersedia ruangmakan dan minum dengan sirkulasi udara dan
pencahayaan
8 Kamar Tidur Tamu 8 Tersedia kamar tidur dengan perlengkapannya, termasuk kamar mandi
9 Tersedia denah lokasi kamar dan petunjuk penyelamatan diri
9 Dapur/Pantry 10 Tersedia dapur dengan perlengkapanya dan tata letak sesuai dengan
kebutuhan
10 Kantor 11 Tersedia Ruang Pimpinan Hotel
12 Tersedia Ruang Karyawan
11 Utilitas 13 Tersedia Instalasi Air Bersih
12 Pengelolaan limbah 14 Tempat penampungan sampah sementara
15 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
2 Pelayanan 13 Kantor Depan 16 Tersedia pelayanan pemesanan kamar, pendaftaran, penerimaan dan
pembayaran
14 Tata Graha 17 Pelayanan pembersihan fasilitas tamu, fasilitas publik dan fasilitas
karyawan
15 Area Makan dan Minum 18 Tersedia pelayanan penyajian makanan dan minuman
16 Keamanan 19 Tersedia pelayanan keamanan
17 Kesehatan 20 Tersedia pelayanan kesehatan
3 Pengelolaan 18 Organisasi 21 Hotel memiliki struktur oganisasi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 19


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.4 Kriteria Mutlak Standar Hotel Berbintang


No. Aspek No. Unsur No. Subunsur
22 Hotel memiliki peraturan perusahaan/PKB
19 Manajemen 23 Hotel memiliki program pemeriksaan kesehatan karyawan
24 Pemeliharaan sanitasi, hygiene dan lingkungan
20 Sumber Daya Manusia 25 Hotel melaksanakan sertifikasi kompetensi karyawan
Jumlah Subunsur Aspek Produksi 15
Jumlah Subunsur Aspek Pelayanan 5
Jumlah Subunsur Aspek Pengelolaan 5
JUMLAH TOTAL SUBUNSUR 25
Sumber: Lampiran Permen. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014.

Tabel: 5.5 Kriteria Mutlak Standar Hotel Non Berbintang


No. Aspek No. Unsur No. Subunsur
1 Produk 1 Bangunan 1 Tersedia suatu bangunan hotel dengan papan nama dan fasilitas parkir
2 Area Penerima Tamu 2 Tersedia area penerima tamu dengan kelengkapannya
3 Toilet Umum 3 Tersedia toilet umum
4 Kamar Tidur Tamu dan Kamar 4 Tersedia kamar tidur dan kamar mandi tamu dengan perlengkapannya
Mandi
5 Kantor 5 Tersedia ruang pengelola hotel dan sarana karyawan
6 Utilitas 6 Tersedia Air Bersih
7 Pengelolaan limbah 7 Tempat penampungan sampah sementara dan pengelolaan air limbah
8 Front Office 8 Tersedia pelayanan registrasi dan pembayaran
2 Pelayanan 9 Kantor Depan 9 Pelayanan pembersihan fasilitas tamu dan public
10 Tata Graha 10 Tersedia pelayanan makanan dan minuman
11 Makan dan Minum 11 Tersedia petugas keamanan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 20


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.5 Kriteria Mutlak Standar Hotel Non Berbintang


No. Aspek No. Unsur No. Subunsur
12 Kesehatan 12 Tersedia Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)
3 Pengelolaan 13 Organisasi 13 Hotel memiliki struktur oganisasi dan tata tertib perusahaan
14 Pemeliharaan Kesehatan dan 14 Hotel melaksanakan pemeriksaan kesehatan karyawan
Lingkungan 15 Pelaksanaan kebersihan hotel dan lingkungan
15 Sumber Daya Manusia 16 Hotel memiliki karyawan yang bersertifikat kompetensi
Jumlah Subunsur Aspek Produksi 7
Jumlah Subunsur Aspek Pelayanan 5
Jumlah Subunsur Aspek Pengelolaan 4
JUMLAH TOTAL SUBUNSUR 16

Sumber: Lampiran Permen. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 21


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Menurut data yang dihimpun, akomodasi jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja
terdiri dari 8 (delapan) unit, diantaranya Hotel Sahid, PantanToraja Hotel, Hotel
Sangalla', Hotel Grand Metro Permai, Hotel Batupapan, Puri Artha Suites Hotel
Toraja, Makula Hotel, dan Hotel Gosyen Efata. Hotel-hotel tersebut terdapat juga
yang memiliki sejumlah fasilitas yang cukup memadai jika dilihat dari tebel dibawah
ini. Hotel Sahid dan Pantan Toraja Hotel berdasarkan data tersebut sudah
merupakan hotel dengan kelas bintang 3 (tiga) dan bintang 2 (dua) sehigga sudah
pasti memiliki keunggulan dari fasilitas dan pelayanan serta manajemen yang lebih
baik.

Jika dilihat dari tingkat hunian terhadap keberadaan akomodasi jenis hotel ini,
masih cukup kecil yaitu rata-rata hanya sebesar 26%, hanya Hotel Pantan yang
memiliki persentase tingkat hunian yang besar dibanding yang lain bahkan lebih
dari Hotel Sahid yaitu hanya 45% dan Hotel Sahid sendiri dengan tingkat hunian
hanya 30%.

Tabel: 5.6 Akomodasi Jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020

Tingkat
No. Nama Hotel Fasilitas Ket.
Hunian
1 Hotel Sahid*** ▪ 24 jam room service 30% Bintang 3
▪ Restaurant
▪ Swiming pool
▪ Metting room
2 Pantan Toraja ▪ Laundry 45% Bintang 2
Hotel** ▪ Swimming Pool
▪ Restaurant
▪ Room Service
▪ Wifi
▪ Tv/Kamar
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room Kapasitas 50 s/d 300
3 Hotel Sangalla' ▪ Meeting Room 20% Melati II
▪ Wi-fi
▪ 8 kamar Tv
▪ Restoran
4 Hotel Grand ▪ AC, TV, Air Panas 20% Hotel
Metro Permai ▪ Restoran
5 Hotel ▪ wi-fi 20% Melati III
Batupapan ▪ Tv /kamar

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 22


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.6 Akomodasi Jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020

Tingkat
No. Nama Hotel Fasilitas Ket.
Hunian
6 Puri Artha ▪ Tv, Kulkas, Shower, Air Panas 30% Melati III
Suites Hotel ▪ Meeting Room
Toraja ▪ Restoran
7 Makula Hotel Kolam Air Panas 20% Melati III
8 Hotel Gosyen - - -
Efata
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020

Perbandingan tersebut jika dikaitkan dengan jumlah kunjungan wisatawan di


Kabupaten Tana Toraja sehingga dapat tergambarkan eksistensi akomodasi jenis
hotel tersebut terhadap penggnaannya oleh wisatawan baik nusantara maupun
mancanegara. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata Kabupaten
Tana Toraja 10 (sepuluh) tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan tahun 2019
di daerah ini berjumlah 1.041.347 wisatawan yang terdiri dari 10.526 wisatawan
nusantara, dan sebanyak 1.030.821 wisatawan mancanegara, yang lebih kecil
dibandingkan tahun sebelumnya (2018) sebanyak 1.375.701 atau sekitar -24%.

Pada umumnya setiap bulan di tahun 2019 tersebut rata-rata kunjungan sebanyak
86.779 wisatawan, dimana jumlah kunjungan terbesar pada Bulan Desember yaitu
sebesar 325.510 kunjungan wisatawan dan Bulan April merupakan jumlah
kunjungan terkecil yaitu hanya sebanyak 14.925 wisatawan. Data perhitungan
tersebut menggambarkan cukup kecilnya penggunaan hotel yang tersedia. Dari
beberapa sumber yang diwawancara dari wisatawan nusantara, salah satu faktor
adalah wisatawan tidak menginap (pulang-pergi), waktu yang digunakan yaitu dari
pagi sampai sore kemudian langsung meninggalkan Tana Toraja, dan
memanfaatkan sanak saudara dan kerabat sebagai tempat menginap.

Namun demikian, akomodasi yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja bukan hanya
hotel, namun terdapat juga beberapa jenis akomodasi lainnya yaitu penginapan,
goest house, wisma, homestay, dan villa yang keseluruhannya berjumlah 32 unit
akomodasi tersebar, namun umumnya tingkat hunian cenderung sama dengan
hotel yaitu dibawah 40%.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 23


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dengan demikian, dibutuhkan kajian kecenderungan pemanfaatan akomodasi


wisata di Kabupaten Tana Toraja agar dapat mendapatkan gambaran serta
langkah-langkah strategi dalam pengembangan akomodasi yang tentunya
mempengaruhi investasi penyediaan akomodasi untuk meningkatkan pelayanan
kepada wisatawan sekaligus manfaat kepada pemerintah, swasta dan masyarakat
di Tana Toraja. Upaya lama tinggal atau menahan wisatawan didaerah tujuan
wisatawan merupakan fokus yang perlu dipertimbangkan dalam meramu setiap
daya tarik wisata pada kawasan-kawasan wisata yang tersedia agar wisatawan
cenderung akan lebih lama tinggal didaerah.

[Link] Analisis Penyediaan Akomodasi


Analisis kebutuhan akan akomodasi, terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap
tingkat kebutuhan kamar dan tempat tidur, sebagaimana pada analisis berikut;
1. Kebutuhan Fasilitas Kamar
Berdasarkan analisis pasar yang memprediksi kunjungan wisatawan hingga
tahun 2030, dengan karakteristik, seperti jenis wisatawan, asumsi lama
tinggal, sehingga fasilitas pelayanan dapat dianalisis lebih lanjut. Adapun
pendekatan analisis yang digunakan adalah;

Jumlah wisatawan (per periode Waktu) X rata-rata lama tinggal (malam)


Jumlah malam (per periode waktu) X tingkat isian akomodasi

Berdasarkan persamaan matematis tersebut diatas, maka estimasi kebutuhan


kamar tidur diakhir tahun perencanaan 2030 yakni; 12.825 unit kamar tidur.
Jika berdasarkan kebutuhan normal (data kunjungan tahun 2019) sesuai daya
tampung kamar maka kebutuhan jumlah kamar adalah sebanyak 2.853 unit
kamar, dengan asumsi satu kamar dihuni oleh 2 wisatawan.

Mengenai jumlah akomodasi yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan


kapasitas daya tampung akomodasi itu sendiri, namun pembangunannya
diupayakan dapat disebarkan ke pusat-pusat pelayanan (ibukota kabupaten
dan kecamatan atau pada sub pusat pelayanan pariwisata yang akan
ditentukan dalam analisis berikutnya).

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 24


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Analisis Spasial Kebutuhan Akomodasi


Berdasarkan dari hasil analisis secara spasial kebutuhan akomodasi di setiap
wilayah kecamatan, maka dilihat dari syarat lokasi pembangunan hotel
tersebut, yang terdiri dari syarat lingkungan semua kecamatan memenuhi,
namun pembangunannya dapat disesuaikan dengan arahan pengembangan
sistem perkotaan dalam RTRW Kabupaten Tana Toraja yaitu pada PKW (Pusat
Kegiatan Wilayah), PKL (Pusat Kegiatan Lokal) dan PPK (Pusat Pelayanan
Kawasan), agar terarah sejalan dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten
Tana Toraja.

Potensi lain yang dapat diupayakan sebagai strategi pengembangan


akomodasi pariwisata yaitu dengan memanfaatkan bangunan Tongkonan
sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam upaya menahan
wisatawan, namun konsekuensi dari konsep tersebut yaitu menyediakan
berbagai kegiatan wisata pada DTW-DTW tertentu maupun kelompok DTW
dalam satu destinasi atau perwilayahan pariwisata yang dapat menimbulkan
animo wisatawan untuk dapat tinggal lebih lama atau menginap.

[Link] Khusus Non Hotel


Dalam kegiatan pariwisata dewasa ini kebutuhan hidup wisatawan di lokasi wisata
tidak hanya ditampung dalam akomodasi yang berbentuk hotel. Ada akomodasi-
akomodasi non hotel, seperti; tempat berkemah (camping site), rumah penduduk
dan sebagainya. Diversifikasi akomodasi itu termasuk perkembangan baru dalam
pariwisata dan sebenarnya merupakan upaya untuk lebih menyempurnakan
komplementaritas antara kebutuhan wisatawan dan jasa kepariwisataan. Oleh
karena itu, di Kabupaten Tana Toraja dalam mengembangkan kepariwisataan,
dimana tidak hanya terbatas pada pembangunan hotel, akan tetapi juga pada
tempat-tempat selain hotel, yang dapat memberikan rasa kenyamanan bagi
wisatawan khususnya ditempat-tempat daya tarik wisata.
1. Dusun Wisata (Holiday Village)
Dusun wisata adalah salah satu bentuk akomodasi wisata, dimana bentuk
bangunannya sering meniru bentuk bangunan setempat, disesuaikan dengan
kebutuhan dan merupakan sebuah kompleks, seperti; dusun ataupun bagian

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 25


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

terkecil dari kampung. Sesuai dengan maksud dan sifatnya, dusun wisata itu
biasanya memilih tempat di gunung dan daerah adat mengadakan olahraga,
dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan alam. Karena dusun
wisata itu sedikit banyak merupakan masyarakat tertutup, maka hubungannya
dengan dunia luar juga dapat dikatakan terputus. Kabupaten Tana Toraja yang
terdiri atas 19 wilayah kecamatan, dengan potensi wisata yang dimiliki, maka
pembangunan Dusun Wisata sangat prospek dikembangkan, khususnya
ditempat-tempat wisata tersebut. Dengan demikian, maka arahan
pembangunan dusun wisata diarahkan pada bagian wilayah yang
dikembangkan sebagai Desa-Desa Wisata, DTW-DTW berbasis Alam dan
Budaya.
2. Wisma Peristirahatan
Dibandingkan dengan hotel, dimana wisma peristirahatan menunjukkan
perbedaan dan persamaan dengan hotel. Dilihat dari bangunannya yang lebih
sederhana, sering rumah biasa, kapasitasnya untuk menerima tamu juga lebih
kecil. Fasilitas dan pelayanannya lebih sederhana, sehingga kenyamanannya
juga tidak seperti di hotel. Akan tetapi sebaliknya wisama peristirahatan lebih
memberi rasa leluasa, karena lebih banyak hal-hal yang tidak diatur, maka
selera dan kegiatan diserahkan kepada tamu itu sendiri serta tarifnya pun
rendah. Jelaslah bahwa wisma peristirahatan itu termasuk dalam jenis
kegiatan ‘wisata sosial’ dan termasuk bagian yang amat penting. Di lokasi-
lokasi wisata tertentu, terutama di daerah-daerah dengan iklim dan panorama
alam yang indah yang tersedia di Tana Toraja, maka sangat baik
pembangunan wisma.
3. Pondok Liburan (Vacante Kolonie)
Pondok liburan juga semacam wisma peristirahatan, akan tetapi khusus untuk
anak sekolah pada waktu liburan. Pondok liburan semacam itu tujuannya
bersifat pendidikan dan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada
anak-anak sekolah untuk berekreasi dan mengisi liburannya dengan kegiatan-
kegiatan yang bermanfaat. Pondok liburan seperti itu biasanya
diselenggarakan oleh badan sosial atau badan pendidikan maupun
pemerintah. Meskipun diselenggarakan secara nonkomersial, akan tetapi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 26


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

tarifnya pada umumnya begitu rendah, disesuaikan dengan biaya


penyelenggraannya, sehingga pondok liburan termasuk kegiatan wisata
sosial.
4. Homestay
Homestay merupakan salah satu akomodasi pariwisata yang penting untuk
dikembangkan. Homestay itu juga bukan milik atau diselenggarakan oleh
badan atau lembaga tertentu, akan tetapi milik perorangan dengan
menggunakan bangunan pribadi yang sebetulnya tidak dimaksudkan untuk
menampung wisatawan, seperti rumah tinggal atau sebagian dari rumah yang
didiami sendiri. Melihat pentingnya akan akomodasi pariwisata tersebut, maka
perlu dilakukan pembangunan homestay di beberapa kawasan wisata yang
dinggap strategis dan cukup menarik.
5. Perkemahan
Kawasan perkemahan merupakan tempat yang dianggap sangat penting serta
sebagai salah satu atraksi wisata. Tujuan utama dari perkemahan adalah
bagaimana berinteraksi dengan alam bebas, sehingga dapat memberikan
kenyamanan dan kepuasan tersendiri. Selain itu, perkemahan juga merupakan
wadah dalam pembinaan wisata remaja. Kabupaten Tana Toraja, untuk saat
sekarang ini perkemahan sudah berkembang pada beberapa DTW seperti di
Pango Pango, Kondora dll, namun belum terakomodir dengan baik oleh
pemerintah dan pengelola DTW yang masih cenderung hanya menyediakan
area namun fasilitas perkemahan belum disediakan, sehingga melihat hal
tersebut sangat penting dimasa mendatang perlu dibangun kawasan-kawasan
perkemahan dengan menyediakan fasilitas perkemahan tersebut sehingga
dapat memberikan minat wisatawan untuk berkemah didalam kawasan
wisata. Berdasarkan kriteria perkemahan tersebut, maka arahan
pembangunan perkemahan ditujukan pada daya tarik wisata alam yang
memiliki aksesibilitas rendah namun keunggulan daya tariknya sangat menarik
untuk dikunjungi.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 27


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5.2.2 Jasaboga dan Restoran


Jasa boga dan restoran merupakan industri yang bergerak dalam bidang
penyediaan makanan dan minuman, yang dikelola secara komersial. Jenis usaha
ini dapat dibedakan dalam manajemennya, yaitu cara pengelolaannya, apakah
dikelola secara mandiri maupun terkait dengan usaha lain. Industri yang bergerak
dalam bidang makanan dan minuman ini merupakan industri yang paling
menjanjikan karena seperti dikatakan banyak orang dalam berwisata, orang boleh
menahan diri untuk tidak membeli pakaian atau jenis sandang lainnya tetapi tidak
ada wisatawan yang dapat menahan untuk mencicipi makanan dan miunuman.
Disamping itu pula industri makanan dan minuman ini juga banyak dikonsumsi
atau dibeli untuk kenangan sebagai ole-ole dan buah tangan menandakan telah
melakukan wisata.

Usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan
perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpana dan/atau penyajiannya.
Jasa boga adalah usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi
dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan dan
penyajian, untuk disajikan di lokasi yang diinginkan oleh pemesan. Pusat penjualan
makanan adalah usaha penyediaan tempat untuk restoran, rumah makan dan/atau
kafe dilengkapi dengan meja dan kursi.

Didalam bidang restoran, perhatian antara lain dapat diarahkan pada kualitas
pelayanan, baik dari jenis makanan maupun teknik pelayanannya. Disamping itu,
dari segi kandungan gizi, kesehatan makanan dan lingkungan restoran serta
penemuan makanan-makanan baru dan tradisional baik resep, bahan maupun
penyajiannya yang bias dikembangkan secara nasional, regional bahkan
internasional.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa hotel menyediakan jasa memenuhi
kebutuhan wisatawan akan makanan dan minum. Akan tetapi jasa untuk makan
dan minum juga banyak disediakan diluar hotel, dalam benyak rumah makan dan
berbagai fasilitas lainnya. Rumah makan di kota besar biasanya tidak
diselenggarakan khusus untuk wisatawan, bahkan pendapatannya berasal dari
penduduk setempat. Rumah makan atau restoran yang khusus memberikan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 28


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

jasanya kepada orang yang dalam perjalanan letaknya diluar kota, ditepi jalur
lintas yang penting.

Di Kabupaten Tana Toraja berdasarkan hasil survey terdapat rumah makan serta
warung yang masih terpusat dikawasan pusat Kota Makale dan kawasan
perdagangan. Dalam pembangunan sarana pariwisata tersebut, maka perlu
diperhatikan bagi para pemiliki rumah makan dan warung pada masa yang akan
datang ketika sektor pariwisata sudah berkembang adalah kebersihan, menu yang
bervariasi serta karakter pemilik rumah makan ataupun warung yang ramah dalam
menyambut para pengunjung. Selain itu, perlu mengikuti peraturan pemerintah
yang berkaitan dengan usaha rumah makan dan tetap mempertahankan image
sesuai dengan karakter/ciri dari rumah makan tersebut.

5.2.3 Komponen Pengembangan Kawasan Wisata Lainnya


Pada tahap analisis ini akan diuraikan komponen-komponen dalam pengembangan
daya tarik wisata dengan melihat sejauh mana hubungan antar komponen wisata
di Kabupaten Tana Toraja yang merupakan lanjutan dari analisis sebelumnya
diatas. Komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam pengembangan daya
tarik wisata pada dasarnya dipengaruhi oleh karakteristik demand dan supply
industri pariwisata itu sendiri. Faktor yang akan melekat dari industri ini
dipengaruhi oleh faktor supply yang harus diberikan daya tarik wisata. Faktor
demand yang dimaksud disini adalah (i) atraksi wisata (ii) aksesibilitas dan (iii)
sarana dan prasarana, sedangkan faktor supply berupa daya tarik utama (inti) dan
daya tarik pendukung (sub inti) yang ada dikawasan-kawasan wisata tersebut.
1. Atraksi wisata (tourism atraction)
Daya tarik utama dari suatu kawasan wisata adalah daya tarik jenis atraksi
wisata (tourism atraction) yang dapat diberikan. Faktor ini menjadi faktor yang
primer yang harus dimiliki oleh suatu kawasan wisata. Adapun komponen yang
terkait dengan atraksi wisata (tourism atraction) adalah; fasilitas atraksi wisata
dan pusat informasi wisata.
2. Aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan faktor penting dalam merencanakan dan
mengembangkan sebuah kawasan wisata mengingat pentingnya memberikan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 29


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

kemudahan bagi pengunjung dalam melakukan aktivitas wisata sangat


penting. Faktor ini merupakan pendukung bagi kawasan wisata, mengingat
faktor ini sangat mempengaruhi tingkat intensitas pengunjung suatu kawasan
wisata. Komponen yang terkait dengan aksesibilitas daya tarik wisata antara
lain; terminal angkutan, dan bandar udara.
3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana wisata juga merupakan faktor yang perlu direncanakan
dalam pengembangan daya tarik wisata. Sarana dan prasarana yang lengkap
akan membantu wisatawan dalam melakukan aktivitasnya. Komponen sarana
dan prasarana diklasifikasikan berdasarkan tingkat kepentingannya, yaitu
komponen utama (primer) dan komponen pendukung (sekunder).
4. Komponen Primer (Associated Tourism)
Komponen ini merupakan fasilitas yang harus disediakan pada kawasan
wisata. Fasilitas-fasilitas tersebut terhubung langsung dengan kebutuhan
wisatawan dalam melakukan kegiatan wisata, antara lain fasilitas transportasi,
infrastruktur dasar (air bersih, listrik, telepon dan sebagainya) agen travel,
akomodasi, fasilitas makan (restoran dan rumah makan) dan fasilitas bagi
atraksi wisata.
5. Komponen Sekunder (Help Tourism)
Komponen ini merupakan fasilitas yang sifatnya membantu wisatawan dan
memberi nilai tambah bagi para wisatawan dalam melakukan kegiatan wisata.
Fasilitas yang dimaksud antara lain; perbankan, asuransi, fasilitas hiburan,
bahan bakar, public sector service dan sebagainya.

Untuk lebih jelasnya kategori komponen pariwisata secara garis besar dari hasil
analisis dapat diklasifikasikan berdasarkan komponen wisata tersebut,
sebagaimana pada tabel berikut dan hubungan antar komponen wisata.
Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana
Tabel: 5.7
Toraja
Kategori Komponen
No. Komponen Wisata
Utama Pendukung
1 Atraksi Wisata
▪ Ruang atraksi wisata X
▪ Pusat Informasi wisata X
2 Aksesibilitas X
▪ Terminal angkutan X

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 30


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana


Tabel: 5.7
Toraja
Kategori Komponen
No. Komponen Wisata
Utama Pendukung
▪ Bandar Udara X
3 Sarana dan Prasarana perdagangan
▪ Restoran X
▪ Toserba X
▪ Perdagangan retail X
▪ Pusat perbelanjaan X
▪ SPBU X
4 Jasa
▪ Penginapan X
▪ Travel agen X
▪ Tempat Ibadah X
▪ Money Cahanger X
▪ Asuransi X
▪ Penyewaan kendaraan X
▪ Pusat hiburan X
▪ Pusat Kebugaran X
5 Lain-lain
▪ Kantor pemerintah X
▪ Kantor Polisi X
Sumber; Hasil Analisis Tim, 2020

Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana


Tabel: 5.8
Toraja
No Komponen Wisata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
1 Atraksi Wisata
 Ruang atraksi wisata (1) 1 1 1 2 3 2 2 1 3 1 3 2 1 1 3 1
 Pusat Informasi wisata (2) 3 3 2 1 1 2 1 3 3 3 3 2 3 2 1
2 Aksesibilitas
 Terminal angkutan (3) 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 1 1
 Bandar Udara (4) 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 1 1
3 Sarana Prasarana perdagangan
 Restoran (5) 3 3 3 1 3 1 3 1 1 1 2 2
 Toserba (6) 3 3 1 2 1 1 2 1 1 1 1
 Perdagangan retail (7) 3 1 2 1 1 2 1 1 1 1
 Pusat perbelanjaan (8) 1 2 1 1 2 1 1 1 1
 SPBU (9) 1 1 2 1 1 2 1 1
4 Jasa
 Penginapan (10) 3 3 2 2 3 3 3
 Travel agen (11) 2 3 3 3 2 2
 Tempat Ibadah (12) 2 2 2 1 1
 Money Cahanger (13) 3 3 2 1
 Asuransi (14) 2 1 1
 Penyewaan kendaraan (15) 1 1
 Pusat hiburan (16) 2
 Pusat Kebugaran (17)
Sumber; Hasil Analisis Tim, 2020
[Link] Kurang Erat 2. Hubungannya Erat
3. Hubungannya sangat Erat

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 31


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Terkait dengan ulasan beberapa komponen industri pariwisata di Tana Toraja


tersebut diatas, yang menjadi tulang punggung kepariwisataan didaerah yaitu
DTW atau kawasan wisata itu sendiri. Secara teoritis keberadaan dan
perkembangan industri pariwisata, sangat bergantung pada daya tarik wisata yang
ditawarkan serta kelengkapan sarana dan prasarananya, oleh karena suatu daya
tarik wisata harus memenuhi tiga kriteria agar kawasan wisata tersebut diminati
pengunjung, yaitu:
1. Something to see adalah obyek wisata tersebut harus mempunyai sesuatu
yang bisa dilihat atau dijadikan tontonan oleh pengunjung wisata. Dengan
kata lain obyek tersebut harus mempunyai daya tarik khusus yang mampu
untuk menyedot minat dari wisatawan untuk berkunjung di obyek tersebut;
2. Something to do adalah agar wisatawan dapat melakukan sesuatu yang
berguna untuk memberikan perasaan senang, bahagia, relax berupa fasilitas
rekreasi, baik itu arena bermain ataupun tempat makan, terutama makanan
khas dari tempat tersebut sehingga mampu membuat wisatawan lebih betah
untuk tinggal di DTW tertentu; dan
3. Something to buy adalah fasilitas untuk wisatawan berbelanja yang pada
umumnya adalah ciri khas atau icon dari daerah tersebut, sehingga bisa
dijadikan sebagai oleh-oleh.

Ketiga unsur diatas mengandung makna bahwa pengembangan daya tarik wisata
bukan hanya menampilkan potensi daya tariknya suatu kawasan saja, namun lebih
dari itu perlu dilengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan lain sesuai perkembangan
kepariwisataan secara global. Hal ini sangat perlu dilakukan mengingat
karakteristik wisatawan yang memiliki hobi berwisata tentunya sudah mempunyai
referensi-referensi daya tarik wisata yang banyak dan untuk menentukan
pilihannya tentu akan mengacu pada ketiga variabel tersebut diatas yang lebih
layak dikunjungi atau yang belum pernah dikunjungi dari apa yang sudah pernah
dikunjunginya, dalam hal ini wisatawan cenderung selalu mencari hal-hal unik yang
jarang atau belum pernah ditemui.

Kabupaten Tana Toraja dewasa ini telah merespon perkembangan kepariwisataan


global yaitu dengan mulai mengembangkan jenis-jenis daya tarik wisata lain yang
berpotensi didaerah seperti alam pegunungan, dan agrowisata serta panorama-

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 32


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

panorama unik dan menarik lainnya. Perkembangan penataan daya tarik wisata
tersebut tentu akan berjalan dengan baik apabila didukung dengan
pengembangan unsur industri pariwisata lainnya sehingga minat wiatawan akan
semakin berkembang dan bertambah kunjungan wisatawan didaerah.

Kondisi sebagaimana kajian beberapa komponen penting industri pariwisata


diatas, menemukenali beberapa keunggulan dan juga kendala serta permasalahan
yang tengah terjadi. Secara ringkas hasil kajian komponen industri pariwisata di
Kabupaten Tana Toraja tersebut diuraikan sebagai berikut:
Rangkuman Kajian Komponen Industri Pariwisata Kabupaten
Tabel: 5.9
Tana Toraja
Komponen Industri
No. Keunggulan / Potensi Kendala/Masukan masalah
Pariwisata
1 Akomodasi ▪ Jumlah akomodasi cukup ▪ Tingkat hunian masih cukup
banyak telah tersedia rendah dibanding dengan
dengan berbagai jenis dan kunjungan wisatawan
kelas. ▪ Masih terfokus di Kota
▪ Kelas akomodasi sudah Makale
sampai berbintang dua dan ▪ Kualifikasi akomodasi masih
tiga. perlu dilakukan.
▪ Umumnya hotel ▪ Masih dominan jenis
menampilkan karakteristik akomodasi yaitu wisma dan
lokal dari bangunan, homestay.
makanan, dan ▪ Belum menampilkan adanya
pelayanannya. kerjasama terkait
▪ Dapat mengembangkan pemasaran DTW melalui
jenis akomodasi yang perkenalan paket wisata, dll
berkarakter lokal.
2 Biro Perjalanan dan ▪ Telah didukung oleh ▪ Sesuai fungsinya, belum
dan Agen Perjalanan sejumlah biro perjalanan signifikan menyusun dan
Wisata baik di Tana Toraja maupun menyelenggarakan paket
Kota Makassar. wisata di Tana Toraja.
▪ Peluang investasi cukup ▪ Masih dibutuhkan peran
terbuka dengan adanya pemesanan akomodasi,
rencana pengembangan restoran dan sarana lainnya.
simpul-simpul daya tarik ▪ Masih perlu kerjasama
unggulan maupun yang intens dengan pemerintah
telah tersedia didaerah. maupun pihak lain yang
menyediakan usaha daya
tarik wisata.
▪ Penyediaan jasa layanan
perjalanan wisata salah satu
kendala terkait karakteristik
wilayah dalam
pengembangan infrastruktur
menuju destinasi wisata.
▪ Bisnis online travel yang
berkembang cukup memberi
tantangan agen-agen
perjalanan wisata.
▪ Kemajuan teknologi
informasi dalam penyediaan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 33


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Rangkuman Kajian Komponen Industri Pariwisata Kabupaten


Tabel: 5.9
Tana Toraja
Komponen Industri
No. Keunggulan / Potensi Kendala/Masukan masalah
Pariwisata
perjalanan wisata cukup sulit
diadopsi oleh wisatawan.
▪ Kendala belum merata
penyediaan fasilitas makan
dan minum pada DTW.
3 Transportasi dan ▪ Akan segera dibuka ▪ Masih adanya DTW yang
Aksesibilitas penerbangan langsung ke belum terkoneksi antar DTW
Tana Toraja melalui Bandara yang bisa diakses dengan
Buntu Kuni. baik.
▪ Akses darat sangat lancar. ▪ Masih ada ruas-ruas jalan
▪ Umumnya akses menuju tertentu yang sulit dilalui
DTW yang telah oleh kendaraan.
dikembangkan telah ▪
tersedia.
▪ Jasa transportasi lokal cukup
mudah diakses, roda 2
maupun roda 4.
4 Jasa Boga dan ▪ Umumnya tersedia di hotel- Penyediaan tempat-tempat
Restoran hotel dan restoran lain. makan masih cukup minim
tersebar disekitar DTW.
5 Money Changer / ▪ Telah tersedia fasilitas -
Tempat Penukaran perbankan
Uang dan Perbankan
6 Atraksi Wisata ▪ Cukup banyak atraksi ▪ Masih minim atraksi wisata
budaya yang dapat eksplor pada DTW khususnya DTW
▪ Masyarakat cukup terbuka budaya sebagai ciri khas.
terkait kebudayaan. ▪ Fasilitas atraksi budaya dan
kesenian belum berkembang
signifikan di DTW.
7 Oleh-Oleh Atau ▪ Beberapa DTW telah ▪ Pada DTW alam berbasis
Cindera Mata berkembang dan dikenal agro belum cukup tersedia
tempat penjualan cindera fasilitas penjualan hasil
mata. perkebunan masyarakat.
▪ Potensi keanekaragaman ▪ Diperlukan penataan fasilitas
kerajinan sangat banyak perbelanjaan di DTW.
tersedia.
Sumber: Hasil Kajian Analisis Tim, Tahun 2020

Agar suatu daya tarik wisata dapat dijadikan sebagai salah satu kawasan wisata
yang menarik, maka faktor yang sangat menunjang adalah kelengkapan dari
sarana dan prasarananya. Karena sarana dan prasarana juga sangat diperlukan
untuk mendukung dari pengembangan DTW, diantaranya 1) Perhubungan: jalan
raya, udara, dan terminal; 2) Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih;
3) Sistem telekomunikasi, baik itu telepon, telegraf, radio, televise, kantor pos; 4)
Pelayanan kesehatan baik itu puskesmas maupun rumah sakit; 5) Pelayanan
keamanan baik itu pos satpam penjaga DTW maupun pos-pos polisi untuk

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 34


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

menjaga keamanan di sekitar DTW; 6) Pelayanan wistawan baik itu berupa pusat
informasi ataupun kantor pemandu wisata; dan lain-lain.

5.3 PENCERMATAN PASAR PARIWISATA


Setiap pemasaran termasuk pemasaran pariwisata pada awalnya dimulai dengan
membuat analisis pasar wisata. Analisis ini meliputi analisis persepsi dan preferensi
wisatawan. Pada umumnya calon wisatawan menginginkan suatu produk wisata
tertentu. Faktor sosiodemografi dan psikografi memiliki peran yang sangat besar
dalam memilih macam produk dan destinasi pariwisata. Berawal dari data inilah
bagaimana pemasaran harus dilakukan.

Pemasaran sebagai suatu proses social an manajerial dimana individual maupun


kelompok mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui penciptaan dan
pertukaran produk dan nilai secara bebas dengan pihak lain. Dari pengertian ini
jelas bahwa dalam proses pemasaran pihak pemilik produk harus bisa
menyesuaikan dengan keinginan wisatawan atau menyesuaikan dengan segmen
wisatawan yang berminat pada jenis produk yang dimilikinya.

Gambar 5.1. Konsep Pengembangan Pasar dan Pemasaran Pariwisata


(sumber: Morrison, 2013)

5.3.1 Segmentasi Pasar


Pemasaran pada destinasi pariwisata merupakan salah satu faktor kunci dalam
kesuksesan pembangunan suatu destinasi pariwisata. Pemasaran pariwisata
merupakan ujung tombak dalam penciptaan awareness dan image pada

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 35


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja sehingga pada akhirnya peningkatan


arus kunjungan wisatawan. Pemasaran pariwisata pada dasarnya terdiri dari dua
aspek pokok yaitu produk yang berperan sebagai supply side dan pasar yang
berperan sebagai demand side. Pemahaman terhadap kedua hal diatas sangat
penting dalam menjalankan fungsi pemasaran pariwisata.

Pemasaran pariwisata di Kabupaten Tana Toraja sebagai destinasi wisata dapat


berperan melalui penetapan pasar sasaran, serta penanganan dan pengembangan
pasar melalui penciptaan, pendistribusian, dan pengkomunikasian nilai destinasi
wisata. Pentingnya membangun nilai destinasi mengharuskan pemasaran
pariwisata Tana Toraja untuk selalu outward looking dan bersikap proaktif
terhadap setiap perubahan lingkungan (Pro-Active Marketing). Pentingnya
orientasi pasar diterapkan secara konsisten adalah dalam rangka meningkatkan
kemampuan pemahaman terhadap kemampuan sumber daya untuk diselaraskan
dengan preferensi konsumen. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar maka
pariwisata Tana Toraja harus mampu menerjemahkan perilaku maupun kebutuhan
wisatawan secara menyeluruh untuk dapat mengetahui dan memahami harapan
dan preferensi wisatawan, agar dapat disesuaikan dengan kesediaan produk yang
ditawarkan (product-market matching). Aspek-aspek pasar yang berfungsi sebagai
demand side dalam pemasaran destinasi pariwisata di Kabupaten Tana Toraja.

Jumlah kunjungan wisatawan tahun 2019 di Kabupaten Tana Toraja berjumlah


1.041.347 wisatawan yang terdiri dari 10.526 wisatawan mancanegara, dan
sebanyak 1.030.821 wisatawan nusantara, yang lebih kecil dibandingkan tahun
sebelumnya (2018) sebanyak 1.375.701 atau sekitar -24%. Pada umumnya setiap
bulan di tahun 2019 tersebut rata-rata kunjungan sebanyak 86.779 wisatawan,
dimana jumlah kunjungan terbesar pada Bulan Desember yaitu sebesar 325.510
kunjungan wisatawan dan Bulan April merupakan jumlah kunjungan terkecil yaitu
hanya sebanyak 14.925 wisatawan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 36


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1200%

1000% 1,000%

800%

600%

400%

200% 79%
36% 38% 15%
30% 11%
22% -24.30%
0% 0%
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
-200%
Gambar 5.2.
Grafik Persentase Perkembangan Kunjungan Wisatawan ke Tana Toraja, 2009-2019

Kunjugan wisatawan di Kabupaten Tana Toraja dalam waktu 10 tahun terakhir


menunjukkan peningkatan yang sangat pesat, tahun 2010 jumlah kunjungan
hanya sebesar 18.265 wisatawan, dan meningkat di tahun 2019 mencapai
1.041.347 kunjungan wisatawan, atau terjadi peningkatan jumlah sebesar
1.023.82 kunjugan wisatawan. Jika diamati perkembangan dari tahun ke tahun
selama periode tersebut sebagaimana ditunjukkan pada grafik diatas, walaupun
terjadi peningkatan secara akumulasi 10 tahun diatas, namun setiap tahunnya
cukup fluktuatif peningkatan kunjungan wisatawan.

Terjadinya penurunan jumlah kunjungan wisatawan yang fluktuatif yang dimaksud


adalah perbandingan terhadap jumlah kunjungan dengan setiap tahun
sebelumnya. Wisatawan nusantara yang melakukan perjalanan wisatanya ke Tana
Toraja terjadi penurunan hanya pada tahun 2019 terhadap tahun 2018. Sedangkan
untuk kunjungan wisatawan mancanegara terjadi penurunan pada tahun 2015,
tahun 2018 dan tahun 2019 terhadap tahun-tahun sebelumnya. Jika diamati
perkembangan tersebut, penurunan angka kunjungan lebih besar pada wisatawan
mancanegara yaitu rata-rata sebesar -31,6% dan nusantara sebesar -24% (2018-
2019).

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 37


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

80
60
60 50
43
40 29 28

20
4
-
-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
(25)
(20)
(22) (46)
(40)

(60)

Gambar 5.3.
Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kab. Tana Toraja, 2009-2019

1,400
1,186
1,200

1,000

800

600

400

200 103
26 31 42 37 11 16
- (24)
-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
(200)

Gambar 5.4.
Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kab. Tana Toraja, 2009-2019

Berikut tabel rincian kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke


Kabupaten Tana Toraja tahun 2009-2019.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 38


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.10 Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010 – 2019
Tahun
No. Bulan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 1.776 1.192 2.784 2.410 2.089 3.288 122.049 149.334 125.506 212.095
2 Februari 1.133 1.049 2.878 1.988 1.599 4.264 66.845 63.191 59.294 37.279
3 Maret 1.182 1.228 1.578 2.462 2.323 2.387 54.454 53.179 67.879 20.868
4 April 1.295 1.125 1.523 2.564 2.114 2.985 40.408 52.681 63.668 14.924
5 Mei 1.561 1.067 1.985 3.246 1.385 4.253 53.124 49.414 45.686 44.314
6 Juni 1.261 1.224 1.915 2.931 2.586 2.854 49.573 74.373 28.305 121.498
7 Juli 2.116 1.286 2.818 10.443 12.023 12.885 144.265 82.656 108.548 130.442
8 Agustus 1.210 1.421 3.479 12.152 16.940 21.613 51.840 49.999 75.873 46.434
9 September 1.502 1.829 2.412 4.127 7.423 6.267 104.057 40.789 42.244 15.551
10 Oktober 917 1.885 3.244 3.364 3.622 1.973 106.745 35.500 55.467 35.423
11 November 1.312 4.551 3.803 2.544 9.696 10.536 66.479 69.761 246.993 37.009
12 Desember 3.000 7.025 5.949 13.412 18.436 24.590 217.020 478.225 456.238 325.510
Jumlah 18.265 24.882 34.368 61.643 80.236 97.895 1.076.859 1.199.102 1.375.701 1.041.347
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 39


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.11 Kunjungan Wisatawan Nusantara di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2009 – 2019
Tahun
No. Bulan
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 1.137 1.574 925 2.126 1.154 1.524 1.639 120.914 146.402 123.876 211.056
2 Februari 780 832 761 2.130 1.251 1.062 3.425 65.485 60.692 58.300 36.336
3 Maret 200 725 892 1.015 1.345 1.942 1.509 53.218 52.065 66.908 20.375
4 April 208 893 869 1.063 1.450 1.412 1.987 39.112 50.898 62.852 14.188
5 Mei 647 1.016 825 1.229 1.700 911 2.986 51.742 47.271 44.276 43.709
6 Juni 173 757 865 1.292 1.980 1.334 1.692 47.555 72.840 26.921 120.611
7 Juli 392 1.271 968 1.392 7.650 9.650 10.987 142.135 80.223 105.700 129.024
8 Agustus 369 528 685 1.371 9.066 12.585 18.893 49.239 46.349 73.879 45.321
9 September 775 1.088 1.015 1.052 2.087 4.015 4.642 101.746 38.433 39.806 14.567
10 Oktober 67 510 875 1.677 1.775 1.985 1.289 105.573 34.169 55.128 34.567
11 November 72 966 2.512 2.434 1.512 7.998 9.870 65.297 68.037 245.234 36.567
12 Desember 679 2.471 4.675 4.055 11.349 15.651 23.245 214.576 475.804 453.399 324.500
Jumlah 5.499 12.631 15.867 20.836 42.319 60.069 82.164 1.056.592 1.173.183 1.356.279 1.030.821
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 40


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAANKABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.12 Kunjungan Wisatawan Mancanegra di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010 – 2019
Tahun
No. Bulan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 202 267 658 1.256 565 1.649 1.135 2.932 1.630 1.039
2 Februari 301 288 748 737 537 839 1.360 2.499 994 943
3 Maret 457 336 563 1.117 381 878 1.236 1.114 971 493
4 April 402 256 460 1.114 702 998 1.296 1.783 816 736
5 Mei 545 242 756 1.546 474 1.267 1.382 2.143 1.410 605
6 Juni 504 359 623 951 1.252 1.162 2.018 1.533 1.384 887
7 Juli 845 318 1.426 2.793 2.373 1.898 2.130 2.433 2.848 1.418
8 Agustus 682 736 2.108 3.086 4.355 2.720 2.601 3.650 1.994 1.113
9 September 414 814 1.360 2.040 3.408 1.625 2.311 2.356 2.438 984
10 Oktober 407 1.010 1.567 1.589 1.637 684 1.172 1.331 339 856
11 November 346 2.039 1.369 1.032 1.698 666 1.182 1.724 1.759 442
12 Desember 529 2.350 1.894 2.063 2.785 1.345 2.444 2.421 2.839 1.010
Jumlah 5.634 9.015 13.532 19.324 20.167 15.731 20.267 25.919 19.422 10.526
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 41


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5.3.2 Sasaran Pasar Wisata


Identifikasi pasar wisata dapat dilakukan dengan mempertimbangkan fakta pasar
dan kecenderungannya untuk dapat merasionalisasikan ke dalam penetapan pasar
sasaran. Data perkembangan kunjungan wisatawan tersebut menunjukkan bahwa
pariwisata di Kabupaten Tana Toraja lebih cenderung diminati oleh wisatawan
nusantara dengan selisih yang cukup besar yaitu hanya 10.526 kunjungan
wisatawan mancanegara, sedangkan wisatawan nusantara mencapai 1.030.821
kunjungan. Dengan demikian, pencermatan terhadap kecenderungan pasar
pariwisata Tana Toraja dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Wisatawan Nusantara
Pengamatan terhadap kunjungan wisatawan nusantara berdasarkan data
tabel diatas, memiliki kecenderungan berbeda dengan wisatawan
mancanegara yang lebih cenderung stabil setiap bulan dalam setahun. Hal ini
menunjukkan bahwa kesiapan pemerintah daerah dalam mengelola pariwisata
harus selalu dilakukan dan berkembang karena perkembangan informasi
terkait daya tarik wisata, pelayanan jasa pariwisata, akomodasi dan lainnya
akan menjadi incaran calon wisatawan yang sangat cepat terkoreksi. Target
nasional terhadap kunjungan wisatawan nusantara di Tana Toraja yaitu
sebesar 1.000.000 kunjungan di tahun 2019, dimana target nasional telah
melebihi capaian hanya di tahun 2019 yang telah mencapai 1.030.821
kunjungan wisatawan bahnkan di tahun 2018 sebanyak 1.356.279 wisnus.
Oleh karena itu, pasar pariwisata yang sangat berpotensi yaitu pada
wisatawan nusantara.
2. Wisatawan Mancanegara
Wisatawan mancanegara sebagai target utama bagi pembangunan
kepariwisataan baik pada tingkat nasional maupun daerah, terutama di
Kabupaten Tana Toraja yang dikembangkan sebagai salah satu destinasi
pariwisata nasional, pemerintah pusat melalui pengebangan KSPN Toraja
menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara didaerah ini sebanyak
250.000 wisatawan di tahun 2019, namun pada tahun tersebut hanya
mencapai 10.526 kunjungan wisman.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 42


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kondisi ini tentu perlu dilihat secara konperhensif terhadap karakteristik


wisatawan mancanegara dalam melakukan perjalanan wisatanya pada
destinasi wisata yang terkait dengan penyediaan sarana prasarana penunjang
dan pelengkap pariwisata, keunggulan dari daya tarik wisata yang ditawarkan,
serta pengelolaannya.

Kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja dewasa ini mengalami perkembangan


yang sangat pesat terutama dari segi destinasi pariwisatanya. Hal ini ditandai oleh
beberapa faktor yang dapat menjadi indikator berkembangnya destinasi pariwisata
sebagai salah satu tolak ukur penting dalam melihat pasar yang berkembang
dewasa ini, yaitu adanya pembenahan-pembenahan terhadap sejumlah daya tarik
wisata, adanya perencanaan-perencanaan pembangunan daya tarik wisata
unggulan, adanya pengembangan infrastruktur pariwisata didaerah, serta adanya
pembangunan dan rencana pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah pusat
maupun provinsi.

Namun demikian, terdapat pula kecenderungan yang dapat menjadi kendala


apabila perkembangan tersebut tidak barengi dengan pemahaman tentang minat
wisatawan yang terus berubah/berkembang dan adanya keseragaman daya tarik
wisata didaerah lain yang dapat mempengaruhi melemahnya pasar pariwisata di
Kabupaten Tana Toraja serta unsur pariwisata lain yang harus dibenahi seperti
akomodasi, pemanfaatan atraksi-atraksi budaya, pembenahan terhadap
kelembagaan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan inovasi-
inovasi yang dapat menangkap peluang pasar terhadap perkembangan pariwisata
nasional maupun global kedepannya.

Pemasaran industri pariwisata harus memutuskan segmen mana dan berapa


segmen wisata yang akan dilayani. Pemerintah daerah diharapkan dapat berperan
mengevaluasi jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Tana Toraja guna
melakukan strategi pengembangan wisata yaitu mengindentifikasi segmen pasar
wisata untuk setiap obyek wisata yang tersedia, mengembangkan produk wisata
untuk memperluas segmen pasar wisata, dan meningkatkan akses ke seluruh
kawasan dan obyek daerah tujuan wisata di Kabupaten Tana Toraja guna
meningkatkan lama tinggal wisatawan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 43


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Berdasarkan data yang diperoleh terhadap kunjungan wisatawan pada DTW yang
dikembangkan di Kabupaten Tana Toraja dalam upaya menentukan segmen pasar,
pada dasarnya belum tersedia secara keseluruhan, namun terdapat beberapa DTW
yang telah tersedia diantaranya DTW Lemo, Burake, Pango Pango, Kambira,
Tilangnga’, Makula, dan Tampang Allo, dan yang paling banyak dikunjungi yaitu
DTW Burake (data tahun 2017), namun data tersebut belum dirinci menurut
daerah asal wisatawan (wisnus dan wisman).

5.4 KAJIAN PERWILAYAHAN PARIWISATA


Perwilayahan destinasi pariwisata adalah perwujudan dalam bentuk sub-sub
pengembangan Pariwisata daerah dan Destinasi Parawisata unggulan.
Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja adalah merupakan kawasan
geografis yang berada dalam satu wilayah administratif yang di dalamnya terdapat
daya tarik wisata daerah. Perwilayahan destinasi pariwisata kabupaten ditentukan
dengan kriteria sebagai berikut:
1. Merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah kabupaten dan/atau
lintas kabupaten yang didalamnya terdapat kawasan-kawasan pengembangan
pariwisata daerah, yang diantaranya merupakan Peruntukan Kawasan
Pariwisata Kabupaten;
2. Memiliki Daya Tarik Wisata yang berkualitas dan dikenal secara luas secara
regional, nasional maupun internasional, serta membentuk jejaring produk
wisata dalam bentuk pola pemaketan produk dan pola kunjungan wisatawan;
3. Memiliki kesesuaian tema Daya Tarik Wisata yang mendukung penguatan
daya saing;
4. Memiliki dukungan jejaring aksesibilitas dan infrastruktur yang mendukung
pergerakan wisatawan dan kegiatan Kepariwisataan; dan
5. Memiliki keterpaduan dengan rencana sektor terkait.

Sedangkan perwilayahan destinasi pariwisata ditentukan dengan potensi dan


kriteria spesifik sebagai berikut:
1. Memiliki fungsi utama pariwisata atau potensi pengembangan pariwisata;
2. Memiliki sumber daya pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata
unggulan dan memiliki citra yang sudah dikenal secara luas;

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 44


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. Memiliki potensi pasar, baik skala regional, nasional maupun khususnya


nasional;
4. Memiliki posisi dan peran potensial sebagai penggerak investasi;
5. Memiliki lokasi strategis yang berperan menjaga persatuan dan keutuhan
wilayah;
6. Memiliki fungsi dan peran strategis dalam menjaga fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup;
7. Memiliki fungsi dan peran strategis dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan
aset budaya, termasuk di dalamnya aspek sejarah dan kepurbakalaan;
8. Memiliki kesiapan dan dukungan masyarakat;
9. Memiliki kekhususan dari wilayah;
10. Berada diwilayah tujuan kunjungan pasar wisatawan utama dan pasar
wisatawan potensial kabupaten, provinsi dan nasional; serta
11. Memiliki potensi kecenderungan produk wisata masa depan.

5.4.1 Sinergitas Antar Perencanaan


Struktur ruang pariwisata sangat terkait dengan pengembangan pusat-pusat
pelayanan baik tata ruang dalam RTRW Kabupaten Tana Toraja, maupun KSPN
Toraja yang dikembangkan oleh pemerintah pusat dalam rencana simpul-simpul
destinasi wisata unggulan serta rencana-rencana yang telah dilakukan pemerintah
daerah sendiri. Untuk itu, dalam pembentukan struktur ruang pariwisata
Kabupaten Tana Toraja ini perlu diintegrasikan seluruh kepentingan tersebut
sehingga dapat bersinergi dengan baik berikut akan diuraikan pertimbangan
tersebut.
1. Rencana Simpul-Simpul Pariwisata Unggulan Nasional
Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu Kawasan Strategis Pegunungan
dan Budaya Toraja, Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN
Toraja Yang Akan Dikembangkan terdapat 17 (tujuhbelas) simpul destinasi
pariwisata yang diprioritaskan dalam satu kesatuan kegiatan wisata beserta
daya tarik wisata pendukungnya yang terintegrasi, 12 (duabelas) dari seluruh
simpul tersebut berada di Kabupaten Tana Toraja, diantaranya sebagai
berikut:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 45


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1) Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek


pendukungnya (Gua alam, Museum, Monumen Penginjilan, Panorama
Alam, Rumah Adat, Kuburan Batu Tondon Makale, Kuliner, Kereta
gantung, Taman Hiburan Plasa kolam Makale, Kolam Alam Assa, dan
Pasar Hewan).
2) Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjangnya
(Permandian Air Panas Makula, Pekuburan batu Suaya, Kuburan
Bayi/Passilliran Kambira’, Kuburan Gua Alam Tampang Allo, Gua Alam
Sullukan, Tongkonan Banua Kasalle Bau, Museum Buntu Kalando, Atraksi
Seni Budaya, Rante Tongko Sarapung.
3) Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek
penunjangnya (Sassa’, Perkampungan Adat Sillanan, Kawasan Hutan
Mapongka).
4) Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan
objek penunjangnya (Potok Tengan, Panorama alam Buntu Kandora,
Banua Puan, Liang Lo’ko’ Randanan, Panjat Tebing, Kuburan Batu Ke’ Pe’
dan Tinoring).
5) Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek
penunjangnya (Permandian alam Tilanga’, Makam adat Sirope,
Tongkonan Mandetek, Agrowisata Rante Lingkua’, Makam Bayi –
Passilliran Alla).
6) Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek
pendukungnya (Rumah Adat Pattan, Talion, Benteng Pongtiku, Boronan,
Likunna Makuyo, Atraksi Budaya, Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’).
7) Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakaradeng
dengan objek pendukungnya (Air terjun Salu Bitu, Permandian Air Panas
Ratte Buttu, Liang pahat, Permandian Air Panas Bake’, Panorama Alam).
8) Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek
pendukungnya (Agrowisata Bolokan, Hutan Wisata, Permandian Air
Panas, Rumah Adat, Air terjun Ratte Sarambu).

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 46


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

9) Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan; dengan objek


pendukungnya (Panorama Alam, Tracking, Sepeda Gunung, Wisata
Berkuda, Monumen Ampang Banu’, Atraksi seni budaya, Agrowisata).
10) Kawasan Wisata Barereng di Kurra dengan objek pendukungnya
(Rafting/Arung Jeram, Air Terjun, Kolam Pemancingan, Tracking,
Panorama).
11) Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’ dengan objek
pendukungnya (Air terjun, Hutan Wisata, Perkemahan, Atraksi seni
budaya, Kuburan Batu, Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk).
12) Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara:
dengan objek penunjangnya (Desa Wisata, Rumah Adat, Tradisi
Kehidupan Masyarakat Sehari-hari, Benteng To Pada Tindo, Goa Alam
Sa’pak Bayo-Bayo, Passiliran Kambisa, Kerajinan seni ukir).

Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu di KSPN Toraja diatas, menjadi


salah satu masukan dalam pembentukan perwilayahan destinasi pariwisata
yang sangat penting dalam mengintegrasikan berbagai program-program
pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja yang diharapkan
secara bersama-sama dapat mendorong kepariwisataan daerah dan nasional
secara umum. Potensi-potensi daya tarik wisata budaya Tana Toraja
berdasarkan setiap DTW yang tersebar memiliki keunggulan masing-masing
dan diperlukan adanya variasi daya tarik wisata yang dapat memberikan
kenyamanan berwisata bagi wisatawan sehingga diharapkan wisatawan dapat
lebih lama tinggal dan menikmati setiap suguhan daya tarik wisata Kabupaten
Tana Toraja yang tersedia.

2. Rencana Tata Ruang Wilayah


RTRW Kabupaten Tana Toraja sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah
Nomor 12 tahun 2011 mengembangkan struktur ruang wilayah yang
diantaranya terdiri dari rencana pusat-pusat pelayanan dan rencana jaringan
prasarana wilayah. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam kaitannya dengan
pengembangan struktur ruang pariwisata merupakan bagian yang penting
untuk dipertimbangkan, sebab dalam rencana pusat pelayanan kabupaten
yang berhirarki memiliki fungsi-fungsi pengembangan setiap pusat sesuai

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 47


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

perkembangannya masing-masing yang disertai dengan arahan pengebangan


pusat pelayanan tersebut.

Dalam konteks kepariwisataan, pusat-pusat pelayanan pelayanan tersebut


dapat menjadi kekuatan dalam memanfaatkan pengembangan sarana dan
prasarana yang juga merupakan bagian dari fasilitas pariwisata baik
penunjang maupun pendukung. Oleh karena itu, pusat pelayanan dalam
RTRW menjadi pertimbangan dalam pembentukan struktur ruang pariwisata
di Kabupaten Tana Toraja, pusat-pusat tersebut yaitu:

a. PKL (Pusat Kegiatan Lokal) yaitu PKL yang telah ditentukan dalam
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang
RTRW Sulawesi Selatan adalah kawasan perkotaan Makale.

b. PKLp yaitu Kawasan Perkotaan Bittuang yang potensiil dikembangkan


sebagai gerbang wisata penghubung kawasan wisata Budaya di
Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat dengan kawasan wisata Tana
Toraja; dan kawasan perkotaan sekitar bandara baru Ge’tengan
Kecamatan Mengkendek, yang potensil dikembangkan menjadi kota
simpul transportasi udara.

c. PPK (Pusat pelayanan Kawasan), terdiri atas ibukota-ibukota kecamatan


yang tidak termasuk PKL atau PKLp, yang terdiri atas PPK- PPK :
1) Kawasan Perkotaan Rante Kurra di Kecamatan Kurra
2) Kawasan Perkotaan Padang Iring di Kecamatan Rantetayo
3) Kawasan Perkotaan Pattan Ulu Salu di Kecamatan Saluputti
4) Kawasan Perkotaan Leatung di Kecamatan Sangalla’ Utara
5) Kawasan Perkotaan Bullian Massa’bu di Kecamatan Sangalla’
6) Kawasan Perkotaan Malolin di Kecamatan Rano
7) Kawasan Perkotaan Ratte Buttu di Kecamatan Bonggakaradeng
8) Kawasan Perkotaan Kondo Dewata di Kecamatan Mappak
9) Kawasan Perkotaan Buntu Benteng Ambeso di Kecamatan Gandang
Batu Sillanan
10) Kawasan Perkotaan Batualu di Kecamatan Sangalla’ Selatan
11) Kawasan Perkotaan Tiromanda di Kecamatan Makale Selatan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 48


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

12) Kawasan Perkotaan Lion Tondok Iring di Kecamatan Makale Utara


13) Kawasan Perkotaan Talion di Kecamatan Rembon
14) Kawasan Perkotaan Malimbong di Kecamatan Malimbong Balepe;
15) Kawasan Perkotaan Pondingao’ di Kecamatan Masanda; dan
16) Kawasan Perkotaan Lekke’ di Kecamatan Simbuang.

d. PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan), meliputi pusat-pusat permukiman


yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa, terdiri atas PPL-
PPL:
1) Bau dan Buntu Limbong di Kecamatan Bittuang;
2) Poton, Bau Bonggakaradeng di Kecamatan Bonggakaradeng;
3) Salubarani, Gandangbatu, Mebali, Tangatondok, Perindingan di
Kecamatan Gandangbatu Sillanan;
4) Tabang di Kecamatan Kurra;
5) Pantan, Kamali Pentalluan di Kecamatan Makale;
6) Pa’tekke, di Kecamatan Makale Selatan ;
7) Rantelemo dan Mandetek di Kecamatan Makale Utara;
8) Balepe’ di Kecamatan Malimbong Balepe’;
9) Tondok Banga di Kecamatan Mappak,
10) Sangratte dan belau di Kec. Masanda;
11) Uluway, Marinding, Tampo di Kecamatan Mengkendek;
12) Pangalloan di Kecamatan Rano
13) Madandan di Kecamatan Rantetayo;
14) Batusura', Palesan di Kecamatan Rembon;
15) Tolange di Kecamatan Saluputti;
16) Kaero di Kecamatan Sangalla’;
17) Kandeapi di Kecamatan Sangalla’ Selatan;
18) Saluallo di Kecamatan Sangalla’ Utara;
19) Makkodo di Kecamatan Simbuang.

3. Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata Daerah


Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam kebijakan pembangunan kawasan
wisata juga telah menetapkan 15 (limabelas) kawasan wisata sebagai daya
tarik wisata unggulan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 49


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.13 Potensi Kawasan Destinasi Wisata Kabupaten Tana Toraja


No. Lokasi Jenis DTW
1 Kawasan Objek Patung Kristus Burake Kec. Wisata Religi/Alam
Makale
2 Kawasan Objek Wisata Pango-Pango Kec. Wisata Agro/Alam
Makale Selatan
3 Kawasan Objek Wisata Sarira (Kolam Alam Wisata Tirta
Rekreasi) Kec. Makale Utara
4 Kawasan Objek Wisata Suaya (Erong, Liang Paa, Wisata Alam/ Budaya
dan Tau-tau) Kec. Sangalla
5 Kawasan Wisata Tumbang Datu Bebo’ (Desa Wisata Alam/Budaya
Wisata) Kec. Sangalla’ Utara
6 Kawasan Objek Wisata Lemo (Liang Paa, Tau- Wisata Alam/ Budaya
tau, Bangunan Sarana Budaya) Kec. Makale
Utara
7 Kawasan Objek Wisata Air Terjun Sarambu Wisata Alam/Tirta
Assing Kec. Bittuang
8 Kawasan Wisata Ollon Kec. Bonggakaradeng Wisata Alam
9 Kawasan Wisata Rumah Adat Sillanan Wisata Budaya
Kecamatan Gandang Batu Sillanan
10 Kawasan Taman Wisata Rekreasi Barereng Kec. Wisata Tirta
Kurra
11 Kawasan Objek Wisata Kambira’ Passiliran Kec. Wisata Agro/ Alam
Sangalla’
12 Kawasan Objek Wisata To’puang, (Liang Paa, Wisata Alam /Budaya
Tongkonan, Batu Bersejarah) Kec. Sangalla
Selatan
13 Objek Wisata Buntu Tondon (Liang Paa) Kec. Wisata Alam
Makale
14 Kawasan Objek Wisata Makula’ (Permandian Air Wisata Tirta
Panas Alam) [Link] Selatan
15 Kawasan Objek Wisata Buntu Kalando Wisata Budaya
(Tongkonan dan Museum Mini) Kec. Sangalla
Sumber: BAPPEDA Kab. Tana Toraja, 2020

5.4.2 Pembagian Wilayah Wisata (Cluster)


Analisis cluster merupakan salah satu langkah analisis yang bertujuan untuk
membagi DTW kedalam beberapa wilayah pengembangan. Pembagian tersebut
didasarkan pada variasi keragaman wisata (wisata budaya, alam, dan buatan),
aktivitas wisatawan, lama kunjungan dan aksesibilitas. Selain itu, output dari
analisis cluster wisata diharapkan dapat berupa suatu paket perjalanan wisata

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 50


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

yaitu suatu perjalanan wisata ke DTW-DTW yang telah ditentukan dengan tujuan
agar kunjungan wisata menjadi suatu perjalanan wisata yang menyenangkan dan
terfokus pada DTW yang sudah terkenal, sehingga pengembangan kepariwisataan
di Kabupaten Tana Toraja lebih optimal.

Fenomena perkembangan destinasi wisata akan senantiasa terus tumbuh secara


dinamis bergantung pada keterkaitan antara sistem aktivitas pengunjung, sistem
jaringan, sistem pergerakan, sistem infrastruktur, sistem lingkungan dan sistem
kelembagaan yang saling terkait (inter conektion sistem) struktur ruang pariwisata.

Struktur ruang pariwisata terbentuk sebagai akibat adanya sinergis sistem yang
terjadi dalam setiap daya tarik wisata pada tiap bagian wilayah tertentu. Tahapan
pembentukan dalam strukturnya dipengaruhi oleh sistem aktivitas, sistem
transportasi, sistem infrastruktur dan sistem prasarana wisata lainnya, sehingga
membentuk suatu sistem terpadu yang mampu memanfaatkan potensi wisata
Kabupaten Tana Toraja yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing setiap
obyek wisata dalam wilayah Kabupaten Tana Toraja.

Gambar 5.5. Konsep Struktur Ruang pariwisata

Guna memaksimalkan struktur ruang pariwisata sehingga dapat membentuk suatu


sistem terpadu yang mampu memanfaatkan potensi setiap daya tarik wisata di

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 51


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kabupaten Tana Toraja yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing, maka
dibutuhkan hirarki tingkatan pusat dan sub pusat pengembangan ini, nantinya
berfungsi untuk melayani aktivitas setiap DTW. Tiap pusat-pusat yang terbentuk
mempunyai ciri karakteristik dan fungsi yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Pembentukan cluster pariwisata diharapkan dapat mempromosikan kawasan-


kawasan wisata yang kurang diminati, sehingga mampu mendorong
perkembangan kawasan wisata. Untuk dapat melakukan analisis tersebut, selain
mempertimbangkan dasar kebijakan diatas, terdapat beberapa variabel yang
dapat menjadi pengukuran dan pembagian wilayah wisata didaerah. Variabel
tersebut yakni sebagai berikut:
1. Tipe Aktivitas Wisatawan
Keanekaragam DTW di Kabupaten Tana Toraja berpengaruh terhadap tipe
aktivitas wisatawan yang dilakukan selama berkunjung di DTW tersebut.
Aktivitas yang dilakukan oleh wisatawan selama berkunjung ke DTW
mempengaruhi perjalanan wisatawan dari kawasan wisata yang satu menuju
kawasan wisata yang lain. DTW-DTW yang mampu memberikan atraksi yang
dapat menghabiskan waktu kunjungan yang lama, sehingga wisatawan sudah
tidak berminat lagi untuk melanjutkan perjalanan ke DTW yang lain
dikarenakan kelelahan.

Kedekatan antar objek wisata yang satu dengan yang lain belum tentu
menjadikan suatu perjalanan wisata yang dapat dilakukan dalam satu hari.
Dengan pertimbangan-pertimbangan yang telah dikemukakan, maka tipe
aktivitas wisatawan menjadi salah satu faktor dalam penentuan cluster wisata
yang dikembangkan. Dengan menjadikan tipe aktivitas wisatawan menjadi
salah satu pertimbangan, dalam penentuan cluster diharapkan mampu
meningkatkan pengembangan dan pembangunan pariwisata daerah ke arah
yang lebih baik. Sebagai indikator keberhasilan pengembangan.

Pada dasarnya, aktivitas wisatawan yang tercermin dalam jenis daya tarik
wisata yang tersebar di Kabupaten Tana Toraja dapat diklasifikasikan menjadi
4 (empat) tipe yaitu (1) kegiatan wisata alam, (2) kegiatan wisata Alam dan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 52


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Budaya, (3) kegiatan wisata Budaya, dan (4) kegiatan wisata Buatan, Alam
dan Budaya.

Aktivitas wisata di Tana Toraja belum cukup memperlihatkan adanya formulasi


pengembangan kluster menurut aktivitas yang terselenggara masih
bergantung pada keinginan wisatawan. Perjalanan wisatawan belum memiliki
arahan kunjungan yang ditetapkan oleh pemerintah setempat sehingga
menyebabkan adanya DTW-DTW yang dapat diakses namun memiliki
keunggulan daya tarik belum terekspose dengan baik belum signifikan
menjadi bagian dari rencana perjalanan wisatawan, walaupun perkembangan
pembangunan infrastruktur terutama aksesibilitas antar DTW telah banyak
dikembangkan oleh pemerintah daerah. Oleh karenanya sangat dibutuhkan
adanya rambu-rambu yang ditetapkan oleh pemerintah mengarahkan
perjalanan wisatawan ke DTW yang lain dan menjadikan salah satu atau
beberapa DTW unggulan sebagai inkubator perjalanan wisatawan.

Disisi lain, pemerintah secara detail dalam pengembangan tiap kawasan


wisata dibutuhkan adanya desain akses yang secara internal dan eksternal
diupayakan agar tidak melakukan perjalanan pada akses yang sama, sehingga
waktu dan kesempatan menikmati DTW disekitarnya dan memberi peluang
kepada wisatawan untuk melanjutkan perjalanannya ke DTW lain dan
diupayakan bersinergi dengan variasi jenis DTW lain tersebut.

Pengembangan desa-desa wisata juga menjadi salah satu peluang yang


sangat berpotensi, ketersediaan DTW alam dan budaya dapat dipadukan pada
beberapa kawasan atau desa yang memiliki sejumlah daya tarik wisata dapat
dikembangkan menjadi desa wisata melalui pembentukan kelembagaan dan
pembinaan pengembangan dan penataan daya tarik wisata dan atraksi wisata
yang tersedia. Salah satu kawasan yang telah dikembangkan seperti Desa
Wisata Bebo’ Tumbang Datu, namun diperlukan adanya penguatan
kelembagaan desa wisata yang kuat agar masyarakat setempat dapat
berperan aktif dalam mengembangkan pariwisatanya dengan dukungan
kelembagaan-kelembagaan adat dan pemerintah. Potensi lain yang dapat
dikembangkan yaitu Perkampungan Adat Sillanan, dan beberapa lainnya perlu

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 53


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

didukung agar perjalanan wisatawan sedapat mungkin tidak mejadikan Kota


Makale sebagai tempat akhir atau menginap setelah melakukan perjalanan
wisata atau tempat transit. Hal ini sangat perlu agar dapat memicu
perkembangan wilayah-wilayah kecamatan di Tana Toraja terutama yang
memiliki potensi dan aksesibilitas yang cukup jauh dari Kota Makale.
Pemanfaatan bangunan-bangunan budaya dan pembangunan akomodasi
akan berkembang pada simpul-simpul tertentu yang secara langsung
berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

2. Aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan salah satu faktor perkembangan suatu wilayah
maupun kawasan. Semakin mudah pencapaian/akses suatu tempat, maka
semakin besar peluang berkembangnya suatu wilayah/kawasan. Aksesibilitas
dalam analisis ini dipakai sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam
pengembangan cluster wisata yaitu dengan mempertimbangkan aspek jarak
dan waktu tempuh antara satu lokasi DTW dengan DTW lainnya. Hal ini
dipakai dalam pengembangan cluster wisata ini disebabkan karena lokasi daya
tarik wisata yang tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten Tana Toraja
dengan kondisi karakteristik pegunungan, sehingga adanya perlakuan khusus
terhadap beberapa DTW yang lokasinya jauh dan kondisi jalan yang menanjak
sehingga memerlukan waktu yang lebih lama.

Dengan adanya pengembangan akses jalan lingkar pariwisata yang


dikembangkan di Tana Toraja yang dapat menjadi pemicu berkembangnya
pariwisata sangat strategis karena akses yang dikembangkan dapat juga
menghubungkan ke wilayah kabupaten disekitarnya dengan simpul
transportasi yang tersedia. Oleh karena itu, segala upaya dalam
pengembangan pariwisata Tana Toraja perlu dilakukan agar dapat menahan
wisatawan dengan tujuan ke wilayah kabupaten sekitarnya misalnya yang
melalui Bandara Buntu Kuni pada jalan lingkar pariwisata bagian timur
kabupaten. Namun demikian, secara umum pada ruas-ruas jalan lingkar
pariwisata tersebut cukup banyak DTW yang telah dikembangkan serta
memiliki keunggulan ketersediaan sarana umum dan sarana pariwisata yang
dapat menjadi keunggulan daerah. Selain itu, Tana Toraja sangat berpotensi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 54


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dalam pengembangan pariwisata karena memiliki keterkaitan dalam


penyediaan aksesibilitas lintas kabupaten yang dapat diakses dari beberapa
bagian wilayah kabupaten.

3. Analisis Keterkaitan (Linkage System)


Analisis linkage dilakukan dengan mengidentifikasikan perkembangan
pariwisata Tana Toraja dan mengklasifikasikannya sesuai dengan potensi dan
ragam wisata yang ditawarkan yang diupayakan adanya hubungan antara
potensi dan ragam yang sudah ada dengan konsep pengembangan wisata
Tana Toraja. Selain itu, untuk mengetahui keterkaitan antara lokasi DTW dan
pengelolaan pariwisata secara umum.

Pengembangan klaster pariwisata ini tentunya diupayakan dapat


menghidupkan perjalanan wisatawan yang bukan hanya menikmati daya tarik
wisata yang tersedia, namun lebih jauh wisatawan dapat berinteraksi dengan
masyarakat sekitar DTW melalui strategi menahan wisatawan untuk dapat
melakukan perjalanan pada simpul atau klaster yang dibentuk lebih dari satu
hari dan membutuhkan tempat untuk menginap/bermalam. Setiap klaster
diupayakan adanya studi lebih lanjut terkait potensi daya tarik wisata dan
atraksi serta jenis-jenis daya tarik yang dapat dikembangkan pada setiap DTW
dan hubungannya dengan DTW lain dalam satu satuan perjalanan wisatawan.

Keragaman daya tarik wisata sebagai destinasi pariwisata nasional, perwilayahan


pariwisata Tana Toraja sangat bergantung pada keunggulan atraksi dan daya tarik
pendukung dalam satu kawasan wisata sangat diperlukan karena umumnya daya
tarik wisata yang tersedia cukup seragam pada DTW alam dan DTW budaya.
Kombinasi dari keseragaman ini perlu mempertimbangkan keunggulan dari daya
tarik wisata yang ada didaerah sekitarnya sehingga diperlukan inovasi dalam
pengembangan sarana prasarana penunjang serta atraksi wisata dalam kawasan
wisata yang menjadi khas dalam suatu perjalanan wisatawan.

Berdasarkan uraian instrumen pembentuk perwilayahan pariwisata di Kabupaten


Tana Toraja tersebut diatas, pemanfaatan aksesibilitas, keterkaitan antar DTW dan
potensi pengembangan sarana prasarana penunjang kegiatan wisata,
pengembangan atraksi budaya dan pemanfaatan kesenian dan kerajinan serta

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 55


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

penataan kawasan wisata baik alam, buatan maupun budaya menjadi fokus dalam
pengembangan destinasi pariwisata yang tersedia serta merangsang pertumbuhan
dan menggali potensi lain yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Sebagai illustrasi potensi pengembangan perwilayahan pariwisata di Tana Toraja
dalat dijelaskan dalam gambar berikut.

Gambar 5.6
Illustrasi Potensi Pengembangan Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja

Berdasarkan pada gambaran pengembangan perwilayahan atau struktur ruang


pariwisata diatas sesuai dengan potensi tiap bagian kawasan pariwisata tersebut,
maka dapat potensi pengembagan struktur ruang pariwisata dapat dibagi menjadi
4 (empat) bagian yang terdiri dari 1 (satu) pusat pelayanan primer dan 3 (tiga)
subpusat pelayanan/sekunder dengan masing-masing pusat pelayanan memiliki
keunggulan destinasi pariwisata dan juga bertujuan perangsang perkembangan
wilayah dengan upaya mensinergikan bagian-bagian wilayah yang memiliki potensi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 56


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

unggulan dengan bagian wilayah yang dapat berkembang dengan adanya potensi
bagian lain tersebut. Setiap pusat yang dibentuk pada dasarnya juga
mempertimbangkan berbagai perencanaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah
pusat dan pemerintah provinsi yang menjadikan Tana Toraja sebagai salah satu
destinasi pariwisata nasional melalui pengembangan KSPN Tana Toraja.

Berkaitan dengan hal tersebut, pengembangan struktur ruang pariwisata ini pada
setiap pusat dan sub pusat memiliki keunggulan daya tarik wisata baik yang
berpotensi, maupun yang menjadi keunggulan nasional dan provinsi yang
diupayakan bersinergi dalam pengembangan infrastruktur pariwisata. Berikut
dijelaskan peran dan potensi pengembangan masing-masing wilayah sebagai
berikut:

1. PUSAT PELAYANAN PRIMER


Yaitu Kota Makale, yang merupakan Pusat Informasi
Pariwisata/Tourism Information Centre (TIC), Pengembangan
Akomodasi dan usaha pariwisata lainnya, pengembangan Atraksi
seni dan budaya, event pariwisata, serta pengembangan DTW
Buatan, Alam dan Budaya. Lingkup pelayanan kegiatan wisata meliputi
daya tarik wisata yang terdapat di Kecamatan Makale, dan Kecamatan Makale
Utara. DTW Unggulan diantaranya: Buntu Burake, Buntu Tondon,
Permandian Tilangnga, Kuburan Batu lemo, serta DTW Penunjang
antara lain, Taman Hiburan Plaza Kolam Makalle, Panorama Bukit Sion,
Tengko Batu, dan Sirope'.

2. Pusat Pelayanan Sekunder, yang terdiri dari 4 (empat) subpusat pelayanan


pariwisata yang terdiri dari:
1) SUBPUSAT PARIWISATA GERBANG SELATAN yaitu Mengkendek
dan Sekitarnya), dengan pengembangan akomodasi wisata,
transportasi dan DTW Buatan, Alam, Budaya, Buatan serta
Atraksi Budaya. Lingkup kegiatan wisata meliputi DTW yang terdapat
di Kecamatan Mengkendek, dan Kecamatan Makale Selatan. DTW
Unggulan meliputi: Agrowisata Pango Pango, Buntu Kandora,
Sassa’, Potok Tengan, dan Pengembangan Anjungan Cerdas

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 57


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

KSPN/Rest Area. DTW Penunjang meliputi: Rurak (Goa Alam), Alloan


(panorama Alam), Air Terjun (Sarambu) Tipali, Air Terjun (Sarambu)
Marintang, Bumi Perkemahan Marintang, Liang Lo'ko Randanan, To'bai
(Liang Tau-Tau), Mapongka, dan Babakanan.

2) SUBPUSAT PARIWISATA GERBANG TIMUR Yaitu Sangalla dan


sekitarnya, dengan pengembangan akomodasi wisata dan DTW
Alam Budaya, dan Buatan, serta Atraksi budaya dan seni. Lingkup
kegiatan wisata meliputi DTW yang terdapat di Kecamatan Sangalla,
Kecamatan Sangalla Selatan, dan Sangalla Utara melalui pengembangan
ruas jalan lingkar pariwisata yang dapat menghubungkan langsung ke
Bandara Buntu Kuni. DTW Unggulan meliputi: Desa Wisata Bebo'
Tumbang Datu, Permandian Air Panas Makula, Suaya, Museum
Buntu Kalando, To'Puang, Sa’pak bayobayo, dan Pengembangan
Rest Area. Sedangkan DTW Penunjang diantaranya: Kambira Baby
Grave, Tampang Allo, Danau Assa, Lo'ko Tongko, Tongkonan Banua
Kasalle, Goa Sullukan.

3) SUBPUSAT PARIWISATA GERBANG UTARA yaitu Bittuang dan


Sekitarnya, dengan pengembangan daya tarik wisata Alam dan
Budaya, serta Atraksi budaya. Lingkup kegiatan dan pelayanan wisata
meliputi DTW yang terdapat di Kecamatan Bittuang, Kecamatan Saluputti,
Kecamatan Kurra, Kecamatan Masanda dan Kecamatan Rembon. DTW
Unggulan meliputi: Sarambu Assing, Barereng, Sarambu Ratte
(Air Terjun), Papa Batu Tumakke, Arum Jeram Kurra. Sedangkan
DTW Penunjang diantaranya Rumah Adat Pattan, Perkebunan Kopi
Tiroan, Air Panas Balla, Batususu Talion/ Sarapeang, Pa'bakka (Liang Tau-
Tau), Sanduni (Liang) Banga', Kuburan Batu Ullin, dan Batususu Talion/
Sarapeang.

4) SUBPUSAT PARIWISATA LINTAS BARAT yaitu Bonggakaradeng


dan Sekitarnya, dengan pengembangan daya tarik wisata Alam
dan Budaya, serta Atraksi budaya. Lingkup kegiatan wisata meliputi
DTW yang terdapat di Kecamatan Bonggakaradeng, Kecamatan

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 58


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Gandangbatu Silanan, Kecamatan Rano, Kecamatan Malimbong Balepe


dan Kecamatan Rembon. DTW Unggulan meliputi: Perkampungan
Adat Sillanan, Talondo Tallu (Air Terjun), Kampung Tenun, Ollon
Papa Batu Tumakke. Sedangkan DTW Penunjang diantaranya Liang
Saratu’, Saluliang, Batu Kapak (Batu Talla), Ma'dandan (himpuan erong),
Lo'ko Wai (Kuburan Bayi Purba), Perkuburan Kuno Gandang Batu, A'pa'
Pamanukan, Batususu Talion/Sarapeang, Sanduni (Liang) Banga',
Kuburan Batu Ullin, dan Batususu Talion/ Sarapeang.

5.5 ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA


Dalam menyusun Arahan dalam Kebijakan, Strategi dan Program pembangunan
pariwisata di Kabupaten Tana Toraja dipergunakan kajian yang menyeluruh
terhadap komponen-komponen pariwisata dengan menggunakan pendekatan
yang dapat mengkombinasikan berbagai potensi dan permasalahan
kepariwisataan yang ada di Kabupaten Tana Toraja sehingga dapat menjadikannya
sebagai dasar dalam merumuskan program-program pembangunan
kepariwisataan Tana Toraja sampai pada akhir tahun perencanaan sesuai
ketentuan perundangan yang berlaku dengan mempertimbangkan berbagai
kepentingan terhadap pembangunan pariwisata Kabupaten Tana Toraja.

Pendekatan analisis dalam merumuskan strategi pengebangan pariwisata dalam


kajian ini yaitu dengan metode analisis SWOT. Konsep SWOT adalah
menempatkan posisi masa depan (visi) dengan melihat Threats ataupun
Opportunities hanya sebagai ‘peluang semata’ lalu melihat Weaknesses dan
Strengths kondisi saat ini untuk kemudian menarik garis usaha dengan
menghubungkan antara visi dan kondisi saat ini. Analisis ini membagi dua faktor
yaitu faktor ektsternal dan internal, sehingga bisa merumuskan strategi dari dua
faktor tersebut dengan memaksimalkan aspek kekuatan (Strenght) dan
kesempatan (Oportunities) guna meminimalkan aspek kelemahan (Weaknesses)
dan ancaman (Threat).

Analisis SWOT merupakan analisis yang mampu memberikan kemudahan dalam:


1. Memberikan gambaran tentang permasalahan yang perlu diindikasikan untuk
keperluan tertentu.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 59


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Memberikan skenario keadaan sekarang dan masa yang akan datang,


penjelasan tiap-tiap potensi dilakukan dengan analisis deskriptif ( strengths,
weakness, opportunities, dan threats).

Pada kegiatan ini, analisis SWOT ditempuh dengan tujuan untuk mengetahui
kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities) dan
ancaman (threat) yang dimiliki oleh unsur kepariwisataan di Kabupaten Tana
Toraja maupun fungsi Daerah berdasarkan karakteristik dan kondisi eksistingnya
sehingga dapat diperoleh rangkaian konsep dan strategi yang menjadi alternatif
pemecahan masalah.

Input data yang digunakan dirangkum melalui rangkaian analisis-analisis


sebelumnya yang mencakup kajian Lingkungan Eksternal dan Internal
kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja, sehingga ditetapkan prioritas
lingkungan internal dan eksternal sebagai langkah penting dalam memperoleh
gambaran dasar perencanaan stratejik yang selanjutnya digunakan untuk
menyusun rencana pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam
setiap unsur pariwisata tersebut.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 60


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAANKABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.14 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
DESTINASI PARIWISATA
1 Daya tarik wisata ▪ Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya tarik ▪ Aksesibilitas antar DTW masih perlu ditingkatkan
unggulan yang kompetitif dan komparatif bertema budaya sehingga dapat membentuk satu kesatuan perjalanan
dan religi. wisata yang baik.
▪ Pelestarian situs dan kawasan budaya yang sangat baik. ▪ Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung
▪ Morfologi wilayah kabupaten yang menunjang daya tarik kepariwisataan yang ada cukup belum memenuhi
wisata diperkotaan maupun perdesaan. standar.
▪ Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan masih ▪ Belum maksimalnya pengembangan potensi-potensi
eksisnya budaya lokal masyarakat Toraja. desa wisata.
▪ Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang dapat ▪ Belum cukup berkembang daya tarik wisata buatan
dikembangkan untuk menunjang kegiatan wisata. sebagai penganekaragaman jenis DTW.
▪ Dukungan kuat dari masyarakat dan budaya, serta ▪ Masih terdapat potensi daya tarik wisata yang belum
toleransi yang sangat kuat. dikembangkan.
▪ Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi ▪ Kegiatan penataan DTW yang dapat berdampak negatif
beberapa kawasan wisata (jalan lingkar pariwisata). terhadap daya tarik wisata (misalnya penebangan
pohon pinus untuk membuka jalan, dll)
▪ Lingkungan alam dan budaya yang rentan terhadap
dampak berbagai kegiatan wisata.
2 Fasilitas Umum ▪ Dukungan sarana pendidikan tinggi dalam -
mengembangkan sumber daya manusia lokal bidang
kepariwisataan.
▪ Keberadaan fasilitas penunjang lainnya yang relatif sudah
memadai di Kota Makale.
3 Fasilitas Pariwisata ▪ Telah berkembang jasa-jasa pariwisata Terbatasnya pengembangan fasilitas pendukung
▪ Telah dibangun Pusat Informasi Pariwisata (TIC). pariwisata seperti akomodasi, rumah makan/restoran,
souvenir shop.
4 Aksesibilitas Peningkatan pembangunaan jalan menuju sejumlah DTW. Pembangunan akses jalan masih belum menjangkau
seluruh DTW yang tersebar dan cukup banyak.
5 Utilitas ▪ Sudah terlayani oleh jaringan utilitas (air minum, listrik, Jaringan utilitas belum merata ke DTW.
drainase, sampah) terutama di Kota Makale dan kota-kota
kecamatan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 61


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAANKABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.14 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
▪ Telah dikembangkan prasarana umum dan wisata pada
beberapa DTW unggulan.

INDUSTRI PARIWISATA
1 Akomodasi Kuantitas akomodasi sudah cukup memadai. ▪ Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di
Kota Makale.
▪ Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha
pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
2 Biro Perjalanan dan dan Telah berkembang jasa-jasa pelayanan kegiatan wisata di ▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata
Agen Perjalanan Wisat daerah. (angkutan pelayaran, angkutan darat), yang belum
cukup terintegrasi dengan baik
3 Transportasi ▪ Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi secara
dapat dilalui dengan kendaraan roda dua maupun roda maksimal.
empat
▪ Tersedia moda angkutan pariwisata dan kendaraan roda
dua maupun roda empat oleh perorangan atau swasta.
4 Jasa Boga dan Restoran Telah berkembang beberapa restoran Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang di
fasilitas akomodasi.
5 Atraksi Wisata Tersedia cukup banyak kesenian tradisonal, dan budaya lain. Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-DTW
yang berpotensi
6 Oleh-Oleh Atau Cindera Tersedia cukup banyak kerajinan tangan khas Toraja Masih dikembangkan secara sub-subsistem.
Mata
PASAR DAN PEMASARAN PARIWISATA
1 Pasar Pariwisata Terdapat beberapa DTW yang sangat unggul dan direspon ▪ Perlunya studi pasar pariwisata yang lebih mendalam
oleh wisatawan dengan kunjungan yang cukup besar seperti untuk mengetahui karakteristik wisatawan, pola
Buntu Burake, Pango Pango, dll. perjalanan, serta preferensi wisatawan.
▪ Wisatawan masih cenderung hanya melakukan
perjalanan pada DTW tertentu dan terbatas.
2 Pemasaran dan Promosi Adanya upaya pemerintah daerah dalam melakukan promosi ▪ Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang
Pariwisata pariwisata melalui ivent-ivent tahunan dapat dijual/dipromosikan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 62


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAANKABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.14 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
▪ Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan
secara global sebagai salah satu destinasi pariwisata
nasional.
3 Citra Destinasi ▪ Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu wilayah -
dengan kebudayaan yang unik dan konsisten serta
beragam.
▪ Memiliki toleransi sosial yang kuat.
4 Price/Harga - Faktor biaya perjalanan menjadi kendala bagi calon
wisatawan.

SUMBER DAYA MANUSIA DAN KELEMBAGAAN PARIWISATA


1 SDM - ▪ Masih cukup terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM
pariwisata didaerah.
▪ Masyarakat yang relatif belum mengenal dan
memahami tuntutan industri pariwisata Tana Toraja
(Sapta Pesona).
2 Kelembagaan Adanya lembaga adat yang dapat berkontribusi dalam Belum berkembangnya lembaga-lembaga pengembangan
pengembangan daya tarik wisata khususnya budaya dan SDM pariwisata.
atraksi wisata (kesenian, dll)
3 Kebijakan Kepariwisataan Komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan Belum maksimalnya peran sektor didaerah secara
pembangunan pariwisata melalui perencanaan-perencanaan terpadu dalam pembangunan kepariwisataan.
pembangunan didaerah (RPJPD, RPJMD dan RTRW, serta
rencana kawasan).
4 Kemitraan Pada DTW tertentu sudah diterapkan sistem bagi hasil dari Belum optimalnya pengembangan skema kerjasama
retribusi DTW antara Pemda dan masyarakat atau pengelola. antar stakeholders, diantara pelibatan masyarakat dalam
pengembangan pariwisata.

Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 63


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.15 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
DESTINASI PARIWISATA
1 Daya tarik wisata ▪ Tana Toraja memiliki keunikan daya tarik wisata Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara
yang terkenal mendunia. destinasi-destinasi wisata didaerah lain khususnya daerah
▪ Ditunjang dengan perkembangan pariwisata sekitar yang berdampak langsung.
daerah sekitar.
▪ Dukungan pemerintah pusat membangun
Anjungan Cerdas dan Kawasan Inkubasi
Agrowisata Pango Pango sebagai pemicu
pertumbuhan DTW-DTW lain.
▪ Penetapan 17 Simpul-simpul Destinasi Wisata
yang Prioritas di KSPN Toraja.
▪ Adanya kecenderungan para wisatawan untuk
“back to nature”, yang sudah cukup berkembang
didaerah.
2 Fasilitas Umum - -
3 Fasilitas Pariwisata Mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan -
provinsi.
4 Aksesibilitas ▪ Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) telah -
dikembangkan yang akan menghubungkan
berbagai destinasi-destinasi pariwisata nasional.
▪ Aksesibilitas menuju Kabupaten Tana Toraja
sangat berpotensi menghubungkan dari berbagai
simpul transportasi yang dilalui oleh jalan
nasional.
5 Utilitas - -

INDUSTRI PARIWISATA
1 Akomodasi Tingginya angka kunjungan wisatawan Berpotensi turunnya investasi penyediaan akomodasi
wisata akibat kecilnya persentase tingkat hunian.
2 Biro Perjalanan dan dan Agen Ditunjang dengan perkembangan usaha jasa ▪ Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata
Perjalanan Wisat perjalanan wisata regional. dari luar yang mengurangi kesempatan dan persaingan
didaerah.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 64


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.15 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata
(angkutan pelayaran, angkutan darat), yang belum
cukup terintegrasi dengan baik
3 Transportasi ▪ Rute perjalanan darat sangat lancar. Jarak yang jauh dari Kota Makassar melalui akses darat
▪ Rencana pengebangan bandara Buntu Kuni cukup jauh sehingga ada kesan jenuh.
terintegrasi dengan destinasi wisata unggulan
nasional lainnya.
▪ Cukup banyak perusahaan penyedia jasa
pengangkutan ke Tana Toraja.
4 Jasa Boga dan Restoran - -
5 Atraksi Wisata - -
6 Oleh-Oleh Atau Cindera Mata Cukup banyak tersedia -

PASAR DAN PEMASARAN PARIWISATA


1 Pasar Pariwisata ▪ Besarnya jumlah kunjungan wisatawan ▪ Tingginya tingkat persaingan destinasi pariwisata
mancanegara dan nusantara. secara nasional dan regional.
▪ Kecenderungan kebutuhan manusia berwisata ▪ Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan tahun
yang semakin meningkat. terakhir dari 2018 ke tahun 2019 sebesar -24%.
▪ Adanya tren wisatawan yang lebih menghargai ▪ Adanya pengembangan pariwisata didaerah sekitar
perjalanan wisata yang berkualitas. yang juga cukup kuat dan memiliki kesamaan jenis
DTW.
2 Pemasaran dan Promosi Pariwisata Tren pemanfaatan teknologi informasi bagi ▪ Belum dilakukan secara maksimal, wisatawan
pengembangan pariwisata. umumnya mendapatkan informasi dari rekan, media
online.
3 Citra Destinasi ▪ Dukungan Pemerintah Pusat dalam Kekhawatiran masuknya budaya asing yang tidak bisa
mengembangkan citra Tana Toraja sebagai diadopsi masyarakat dengan baik.
destinasi wisata nasional dan global.
▪ Situasi dan kondisi daerah sangat kondusif.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 65


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.15 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
SUMBER DAYA MANUSIA DAN KELEMBAGAAN PARIWISATA
1 SDM Persaingan yang semakin terbuka menghasilkan Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar wilayah akan
kesempatan bagi SDM didaerah lain berkompeten menggeser kedudukan tenaga kerja lokal.
untuk bekerja di sektor kepariwisataan.
2 Kelembagaan Peran sektor-sektor pembangunan menunjang -
pembangunan kepariwisataan Tana Toraja telah
terpadu di tingkat pusat.
3 Kebijakan Kepariwisataan ▪ Dukungan pemerintah pusat dan provinsi Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi
Sulawesi Selatan dalam pengembangan destinasi dan kabupaten dalam pengembangan kepariwisataan di
pariwisata prioritas dan infrastruktur KSPN Toraja Kabupaten Tana Toraja
▪ Koordinasi pelaksanaan pembangunan pariwisata
antar provinsi dan kabupaten cukup baik.
4 Kemitraan - -
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 66


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.16 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya ▪ Aksesibilitas antar DTW masih perlu
tarik unggulan yang kompetitif dan komparatif ditingkatkan sehingga dapat membentuk satu
bertema budaya dan religi. kesatuan perjalanan wisata yang baik.
▪ Pelestarian situs dan kawasan budaya yang sangat ▪ Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung
FAKTOR EKSTERNAL baik. kepariwisataan yang ada cukup belum
memenuhi standar.
▪ Morfologi wilayah kabupaten yang menunjang daya ▪ Belum maksimalnya pengembangan potensi-
tarik wisata diperkotaan maupun perdesaan. potensi desa wisata.
▪ Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan ▪ Belum cukup berkembang daya tarik wisata
masih eksisnya budaya lokal masyarakat Toraja. buatan sebagai penganekaragaman jenis DTW.
▪ Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang ▪ Masih terdapat potensi daya tarik wisata yang
dapat dikembangkan untuk menunjang kegiatan belum dikembangkan.
wisata.
▪ Dukungan kuat dari masyarakat dan budaya, serta ▪ Kegiatan penataan DTW yang dapat berdampak
toleransi yang sangat kuat. negatif terhadap daya tarik wisata (misalnya
penebangan pohon pinus untuk membuka jalan,
dll)
▪ Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi ▪ Lingkungan alam dan budaya yang rentan
beberapa kawasan wisata (jalan lingkar pariwisata). terhadap dampak berbagai kegiatan wisata.
▪ Dukungan sarana pendidikan tinggi dalam ▪ Terbatasnya pengembangan fasilitas pendukung
mengembangkan sumber daya manusia lokal bidang pariwisata seperti akomodasi, rumah
kepariwisataan. makan/restoran, souvenir shop.
▪ Keberadaan fasilitas penunjang lainnya yang relatif ▪ Pembangunan akses jalan masih belum
sudah memadai di Kota Makale. menjangkau seluruh DTW yang tersebar dan
cukup banyak.
▪ Telah berkembang jasa-jasa pariwisata ▪ Jaringan utilitas belum merata ke DTW.
FAKTOR INTERNAL
▪ Telah dibangun Pusat Informasi Pariwisata (TIC).
▪ Peningkatan pembangunaan jalan menuju sejumlah
DTW.
▪ Sudah terlayani oleh jaringan utilitas (air minum,
listrik, drainase, sampah) terutama di Kota Makale
dan kota-kota kecamatan.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 67


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.16 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Telah dikembangkan prasarana umum dan wisata
pada beberapa DTW unggulan.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Tana Toraja memiliki keunikan daya tarik ▪ Memperkaya atau mengembangkan jenis DTW ▪ Memaksimalkan pengembangan aksesibilitas
wisata yang terkenal mendunia. khususnya DTW Buatan, Alam dan minat khusus. yang terintegrasi antar DTW.
▪ Ditunjang dengan perkembangan pariwisata ▪ Mengembangkan berbagai kegiatan wisata dalam ▪ Menyediakan prasarana dan sarana wisata
daerah sekitar. DTW untuk menunjang kegiatan wisatawan untuk sesuai kebutuhan dan memenuhi standar.
menahan wisatawan lebih lama tinggal dan
berbelanja.
▪ Dukungan pemerintah pusat membangun ▪ Mengembangkan perwilayahan pariwisata yang ▪ Mengembangkan desa-desa wisata sebagai
Anjungan Cerdas dan Kawasan Inkubasi mendukung serta terintegrasi dengan pengembangan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat
Agrowisata Pango Pango sebagai pemicu simpul-simpul pariwisata unggulan KSPN Toraja dalam pengelolaan DTW sesuai ketentuan yang
pertumbuhan DTW-DTW lain. berlaku.
▪ Penetapan 17 Simpul-simpul Destinasi ▪ Mengembangkan DTW berpotensi disekitar DTW ▪ Mengembangkan DTW Buatan sebagai wujud
Wisata yang Prioritas di KSPN Toraja. unggulan sebagai paket perjalanan wisata. variasi DTW yang berorientasi pada
pengembangan potensi usaha kecil dan
menengah.
▪ Adanya kecenderungan para wisatawan ▪ Menciptakan image pariwisata dengan keberadaan ▪ Mengembangan DTW dengan tetap
untuk “back to nature”, yang sudah cukup Bandara Bntu Kuni. memperhatikan kelestarian kawasan/lingkungan
berkembang didaerah. alam dan budaya sebagai keunggulan daya tarik
wisata.
▪ Mendapat dukungan dari pemerintah pusat ▪ Mengembangkan atraksi wisata di DTW tertentu ▪ Pembentukan peraturan perundangan didaerah
dan provinsi. sebagai khas destinasi wisata Toraja. terkait ketentuan pemafaatan keanekaragaman
budaya dan sejarah sebagai daya tarik wisata.
▪ Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung
telah dikembangkan yang akan (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
menghubungkan berbagai destinasi- shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang
destinasi pariwisata nasional. dikembangkan.
▪ Aksesibilitas menuju Kabupaten Tana Toraja
sangat berpotensi menghubungkan dari
berbagai simpul transportasi yang dilalui
oleh jalan nasional.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 68


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.16 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Persaingan konsep pariwisata yang sangat ▪ Mengembangkan daya tarik wisata yang memiliki ▪ Membentuk lembaga-lembaga kreatif baik
pesat diantara destinasi-destinasi wisata daya tahan terhadap minat wisatawan. pemerintah, kelompok masyarakat maupun
didaerah lain khususnya daerah sekitar yang kerjasama swasta untuk mengembangkan
berdampak langsung. inovasi produk atau pengemasan produk wisata.
▪ Masih kurang pengertian dan kesadaran ▪ Melakukan kerjasama interregional dengan ▪ Membentuk dan Meningkatkan fungsi
masyarakat terhadap potensi dan pemerintah dan pengelola pariwisata diwilayah kelembagaan desa wisata sebagai bentuk
pentingnya membangun DTW Tana Toraja sekitar Kabupaten Tana Toraja untuk membuka paket pemberdayaan masayarakat dan upaya
sebagai sektor andalan perekonomian d jalur wisata yang didukung dengan keberadaan mengembangkan ekonomi masyarakat.
daerah. Bandara Buntu Kuni.
▪ Adanya asumsi bahwa pembangunan DTW ▪ Mengembangkan pariwisata dengan memberdayakan
adalah tugas Pemerintah atau Dinas masyarakat sebagai tolak ukur keberhasilan
Pariwisata saja. pariwisata daerah melalui pengebangan desa-desa
wisata, pembentukan kelompok-kelompok sadar
wisata, pelatihan, dll
▪ Mengembangkan pariwisata sebagai lokomotif
ekonomi melalui sinergitas program pembangunan
seluruh sektor pemerintah, swasta dan masyarakat
untuk mewujudkan visi misi daerah dan target
nasional sebagai DPN.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 69


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAANKABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.17 Matriks Analisis SWOT Industri Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Kuantitas akomodasi sudah cukup memadai. ▪ Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di
FAKTOR EKSTERNAL Kota Makale.
▪ Telah berkembang jasa-jasa pelayanan kegiatan ▪ Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha
wisata di daerah. pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
▪ Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang ▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung
dapat dilalui dengan kendaraan roda dua maupun pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan darat),
roda empat yang belum cukup terintegrasi dengan baik
▪ Tersedia moda angkutan pariwisata dan kendaraan ▪ Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi
roda dua maupun roda empat oleh perorangan atau secara maksimal.
swasta.
▪ Telah berkembang beberapa restoran ▪ Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang
di fasilitas akomodasi.
FAKTOR INTERNAL ▪ Tersedia cukup banyak kesenian tradisonal, dan ▪ Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-
budaya lain. DTW yang berpotensi
▪ Tersedia cukup banyak kerajinan tangan khas Toraja ▪ Masih dikembangkan secara sub-subsistem.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Tingginya angka kunjungan wisatawan ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi,
standarisasi sesuai ketentuan perundangan yang rumah makan/restoran, souvenir shop) sesuai
berlaku. perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Ditunjang dengan perkembangan ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi ▪ Menetapkan standarisasi pengelolaan usaha
usaha jasa perjalanan wisata regional. pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi, pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan
pelaku usaha.
▪ Rute perjalanan darat sangat lancar. ▪ Peningkatkan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi
pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi,
kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan
pelaku usaha.
▪ Rencana pengebangan bandara Buntu ▪ Melakukan kerjasama interregional dengan ▪ Mengembangkan atraksi wisata di DTW tertentu
Kuni terintegrasi dengan destinasi pemerintah dan pengelola pariwisata diwilayah sebagai khas destinasi wisata Toraja.
wisata unggulan nasional lainnya. sekitar Kabupaten Tana Toraja untuk membuka paket
jalur wisata yang didukung dengan keberadaan
Bandara Buntu Kuni.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 70


RENCANAINDUK
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAANKABUPATEN
KABUPATEN(RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA TORAJA,TAHUN
TAHUN2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.17 Matriks Analisis SWOT Industri Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Cukup banyak perusahaan penyedia ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi,
jasa pengangkutan ke Tana Toraja. rumah makan/restoran, souvenir shop) sesuai
perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Cukup banyak tersedia cinderamata
dan ole-ole khas Toraja.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Berpotensi turunnya investasi ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi,
penyediaan akomodasi wisata akibat standarisasi sesuai ketentuan perundangan yang rumah makan/restoran, souvenir shop) sesuai
kecilnya persentase tingkat hunian. berlaku. perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Berpotensi masuknya biro dan agen ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui
perjalanan wisata dari luar yang pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi, standarisasi sesuai ketentuan perundangan yang
mengurangi kesempatan dan kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan berlaku.
persaingan didaerah. pelaku usaha.
▪ Keberadaan pengelolaan industri ▪ Mengebangkan rute transportasi udara diberbagai ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi
pendukung pariwisata (angkutan daerah sesuai kecenderungan kunjungan wisatawan. pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi,
pelayaran, angkutan darat), yang kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan
belum cukup terintegrasi dengan baik pelaku usaha.
▪ Jarak yang jauh dari Kota Makassar ▪ Mengembangkan berbagai prosedur pelayanan ▪ Mengebangkan rute transportasi udara diberbagai
melalui akses darat cukup jauh wisatawan untuk meningkatkan potensi usaha kecil daerah sesuai kecenderungan kunjungan wisatawan.
sehingga ada kesan jenuh. dan menengah.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 71


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.18 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Terdapat beberapa DTW yang sangat ▪ Belum adanya studi penyeluruh tentang pasar pariwisata
unggul dan direspon oleh wisatawan untuk mengetahui karakteristik wisatawan, pola
FAKTOR EKSTERNAL
dengan kunjungan yang cukup besar perjalanan, serta preferensi wisatawan.
seperti Buntu Burake, Pango Pango, dll.
▪ Adanya upaya pemerintah daerah dalam ▪ Wisatawan masih cenderung hanya melakukan perjalanan
melakukan promosi pariwisata melalui pada DTW tertentu dan terbatas.
ivent-ivent tahunan
▪ Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah ▪ Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang
satu wilayah dengan kebudayaan yang dapat dijual/dipromosikan.
unik dan konsisten serta beragam.
FAKTOR INTERNAL ▪ Memiliki toleransi sosial yang kuat. ▪ Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan secara
global sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional.
▪ Faktor biaya perjalanan menjadi kendala bagi calon
wisatawan.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Besarnya jumlah kunjungan wisatawan ▪ Mengintegrasikan DTW-DTW unggulan ▪ Mengembangkan studi pasar pariwisata sebagai referensi
mancanegara dan nusantara. dengan DTW lain disekitar melalui pengembangan bentuk pemasaran pariwisata
pengembangan aksesibilitas dan penataan
DTW.
▪ Kecenderungan kebutuhan manusia ▪ Mengembangkan inovasi dalam setiap ▪ Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat
berwisata yang semakin meningkat. ivent yang bervariasi atau berbeda. dijalankan oleh seluru pelaku usaha pariwisata
▪ Adanya tren wisatawan yang lebih ▪ Mengembangkan sistem pelayanan ▪ Mengembangkan kerjasama antar lembaga pemerintah
menghargai perjalanan wisata yang pariwisata yang terpadu dengan dan swasta dalam upaya promosi pariwisata.
berkualitas. memanfaatkan teknologi informasi.
▪ Tren pemanfaatan teknologi informasi bagi
pengembangan pariwisata.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 72


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.18 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Dukungan Pemerintah Pusat dalam
mengembangkan citra Tana Toraja sebagai
destinasi wisata nasional dan global.
▪ Situasi dan kondisi daerah sangat kondusif.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Tingginya tingkat persaingan destinasi ▪ Pengembangan produk baru sebagai ▪ Mengelola sistem informasi pariwisata yang komprehensif
pariwisata secara nasional dan regional. magnet kunjungan ke Tana Toraja dan up to date
▪ Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan ▪ Menetapkan standarisasi akomodasi sesuai ▪ Pengembangan atraksi wisata pada DTW tertentu sesuai
tahun terakhir dari 2018 ke tahun 2019 ketentuan perundangan yang berlaku. potensinya.
sebesar -24%.
▪ Adanya pengembangan pariwisata didaerah ▪ Pengembangan investasi yang diarahkan ▪ Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat
sekitar yang juga cukup kuat dan memiliki pada afasilitas akomodasi berskala dijalankan oleh seluru pelaku usaha pariwisata
kesamaan jenis DTW. nasional dan internasional khusus untuk
segmen menengah-atas.
▪ Belum dilakukan secara maksimal, ▪ Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring ▪ Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama
wisatawan umumnya mendapatkan kerjasama pemasaran pariwisata pada pemasaran pariwisata pada skala regional, nasional dan
informasi dari rekan, media online. skala regional, nasional dan internasional. internasional.
▪ Kekhawatiran masuknya budaya asing yang ▪ Mengembangkan kerjasama antar pemerintah dan
tidak bisa diadopsi masyarakat dengan baik. lembaga adat tentang pelaksanaan kegiatan wisata terkait
norma-norma adat istiadat Tana Toraja dan pelestarian
situs budaya sebagai DTW.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 73


RENCANA INDUK
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
TANA TORAJA, TAHUN
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.19 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan dan SDM Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Adanya lembaga adat yang dapat ▪ Masih cukup terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM
FAKTOR EKSTERNAL berkontribusi dalam pengembangan daya pariwisata didaerah.
tarik wisata khususnya budaya dan atraksi
wisata (kesenian, dll)
▪ Komitmen pemerintah daerah dalam ▪ Masyarakat yang relatif belum mengenal dan memahami
meningkatkan pembangunan pariwisata tuntutan industri pariwisata Tana Toraja (Sapta Pesona).
melalui perencanaan-perencanaan
pembangunan didaerah (RPJPD, RPJMD
dan RTRW, serta rencana kawasan).
▪ Pada DTW tertentu sudah diterapkan ▪ Belum berkembangnya lembaga-lembaga pengembangan
sistem bagi hasil dari retribusi DTW antara SDM pariwisata.
Pemda dan masyarakat atau pengelola. ▪ Belum maksimalnya peran sektor didaerah secara terpadu
FAKTOR INTERNAL dalam pembangunan kepariwisataan.
▪ Belum optimalnya pengembangan skema kerjasama antar
stakeholders, diantara pelibatan masyarakat dalam
pengembangan pariwisata.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Persaingan yang semakin terbuka ▪ Kerjasama antar pemerintah dan lembaga ▪ Kerjasama lembaga pendidikan bidang kepariwisataan
menghasilkan kesempatan bagi SDM adat dalam Mengembangkan atraksi- maupun membentuk lembaga-lembaga nonformal.
didaerah lain berkompeten untuk bekerja di atraksi budaya pada DTW berpotensi
sektor pekariwisataan.
▪ Peran sektor-sektor pembangunan ▪ Mengembangkan skema bantuan ▪ Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders
menunjang pembangunan kepariwisataan pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata yang dapat merangkum seluruh pelaku
Tana Toraja telah terpadu di tingkat pusat. pariwisata lokal. pariwisata termasuk masyarakat yang terpadu.
▪ Dukungan pemerintah pusat dan provinsi ▪ Mengembangkan bentuk kerjasama antar
Sulawesi Selatan dalam pengembangan pemerintah daerah dan pemerintah pusat
destinasi pariwisata prioritas dan dalam upaya pengitegrasian pembangunan
infrastruktur KSPN Toraja pariwisata didaerah.
▪ Koordinasi pelaksanaan pembangunan ▪ Mengembangkan berbagai bentuk insentif
pariwisata antar provinsi dan kabupaten bagi masyarakat atau pengelola DTW
cukup baik. untuk meningkatkan daya tarik dalam
kawasan wisata.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 74


RENCANAINDUK
RENCANA
RENCANA INDUKPEMBANGUNAN
INDUK PEMBANGUNANKEPARIWISATAAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAANKABUPATEN
KEPARIWISATAAN KABUPATEN(RIPPARKAB)
KABUPATEN (RIPPARKAB)
(RIPPARKAB)
TANATORAJA,
TANA
TANA TORAJA,TAHUN
TORAJA, TAHUN2021-2030
TAHUN 2021-2030
2021-2030

Tabel: 5.19 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan dan SDM Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar ▪ Membangun system dan jaringan ▪ Mengembangkan skema bantuan pendidikan dan pelatihan
wilayah akan menggeser kedudukan tenaga komunikasi diantara seluruh stakeholders bagi peningkatan SDM pariwisata khususnya SDM lokal.
kerja lokal. didalam melaksanakan pembangunan
pariwisata.
▪ Terbatasnya kemampuan SDM yang ▪ Menciptakan kerangka kerjasama dan ▪ Secara Intens melakukan sosialisasi program-program
bergerak di bidang usaha pariwisata, program-program kerjasama antar rencana pembangunan pariwisata dari pusat, provinsi
sehingga memerlukan pelatihan dalam stakeholders didalam dan di luar negeri maupun kabupaten dengan melibatkan pelaku usaha dan
mengasah skill. yang dapat menunjang pembangunan unsur lainnya sesuai kebutuhan.
pariwisata.
▪ Belum singkronnya kebijakan pemerintah ▪ Membangun organisasi pengeloaan
pusat, provinsi dan kabupaten dalam pariwisata di kawasan dengan melibatkan
pengembangan kepariwisataan di Kabupaten stakeholders yang terkait dan
Tana Toraja menggunakan prinsip good corporate
govermance dan mengembangkan system
pelayanan yang terpadu dan terintegrasi.
▪ Belum berkembangnya kemitraan dan
skema kerjasama antar stakeholder.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 75


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.20 Keterkaitan Alternatif Strategi Terhadap Unsur Pariwisata


No. Alternatif Strategi Unsur Pariwisata
1 Pengembangan produk baru sebagai magnet yang memiliki daya tahan terhadap minat kunjungan wisatawan
2 Mengembangkan DTW Buatan sebagai wujud variasi DTW yang berorientasi pada pengembangan potensi usaha kecil
dan menengah.
3 Mengembangkan berbagai kegiatan wisata (atraksi dan daya tarik penunjang) dalam DTW untuk mendukung kegiatan
wisatawan agar lebih lama tinggal dan berbelanja.
4 Mengembangkan perwilayahan pariwisata yang mendukung serta terintegrasi dengan pengembangan simpul-simpul
pariwisata unggulan KSPN Toraja
5 Mengembangkan DTW berpotensi disekitar DTW unggulan sebagai paket perjalanan wisata.
6 Menciptakan image pariwisata dengan keberadaan Bandara Buntu Kuni melalui penataan lingkungan disekitarnya
Strategi Pembangunan
7 Mengembangkan berbagai bentuk insentif bagi masyarakat atau pengelola DTW untuk meningkatkan daya tarik
Destinasi Pariwisata
dalam kawasan wisata.
8 Memaksimalkan pengembangan aksesibilitas yang terintegrasi antar DTW.
9 Menyediakan prasarana dan sarana wisata sesuai kebutuhan dan memenuhi standar.
10 Mengembangkan desa-desa wisata, kelompok-kelompok sadar wisata, pelatihan, dan lainnya sebagai salah satu
bentuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan DTW sesuai ketentuan yang berlaku.
11 Mengembangan DTW dengan tetap memperhatikan kelestarian kawasan/lingkungan alam dan budaya sebagai
keunggulan daya tarik wisata.
12 Melakukan kerjasama interregional antar pemerintah dan pengelola pariwisata diwilayah sekitar Kabupaten Tana
Toraja untuk membuka paket jalur wisata yang didukung dengan keberadaan Bandara Buntu Kuni.

1 Mengembangkan akomodasi wisata melalui standarisasi sesuai ketentuan perundangan yang berlaku.
2 Menetapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
3 Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi, kerjasama
serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha. Strategi Pembangunan
4 Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir shop) sesuai perwilayahan Industri Pariwisata
pariwisata yang dikembangkan.
5 Pengembangan investasi yang diarahkan pada afasilitas akomodasi berskala nasional dan internasional khusus untuk
segmen menengah-atas.

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 76


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.20 Keterkaitan Alternatif Strategi Terhadap Unsur Pariwisata


No. Alternatif Strategi Unsur Pariwisata
6 Mengembangkan rute transportasi udara diberbagai daerah sesuai kecenderungan kunjungan wisatawan.

1 Mengembangkan inovasi dalam ivent tahunan yang bervariasi atau berbeda. Strategi Pembangunan
2 Mengembangkan studi pasar pariwisata sebagai referensi pengembangan bentuk pemasaran pariwisata Pasar dan Upaya
3 Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat dijalankan oleh seluru pelaku usaha pariwisata Pemasaran pariwisata
4 Mengembangkan berbagai prosedur pelayanan wisatawan untuk meningkatkan potensi usaha kecil dan menengah.
5 Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama pemasaran pariwisata pada skala regional, nasional dan
internasional.
6 Membentuk lembaga-lembaga kreatif baik pemerintah, kelompok masyarakat maupun kerjasama swasta untuk
mengembangkan inovasi produk atau pengemasan produk wisata.

1 Peningkatkan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC Strategi Pembangunan


2 Mengembangkan sistem informasi pelayanan pariwisata yang terpadu dan terintegrasi dan up to date Kelembagaan dan SDM
3 Kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat dalam pembentukan peraturan perundangan didaerah terkait Pariwisata
ketentuan pemafaatan keanekaragaman budaya dan sejarah sebagai daya tarik wisata dan pengembangan raksi-
atraksi budaya pada DTW berpotensi.
4 Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders pariwisata yang dapat merangkum seluruh pelaku pariwisata
termasuk masyarakat yang terpadu.
5 Mengembangkan skema bantuan pendidikan dan kerjasama lembaga pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata
lokal.
6 Meningkatkan koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam upaya pengitegrasian pembangunan
pariwisata didaerah.
7 Membangun system dan jaringan komunikasi diantara seluruh stakeholders didalam melaksanakan pembangunan
pariwisata baik didalam maupun di luar negeri.
8 Meningkatkan fungsi kelembagaan desa wisata sebagai bentuk pemberdayaan masayarakat dan upaya
mengembangkan ekonomi masyarakat.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) V - 77


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6
6.1 KESIMPULAN
Kajian kepariwisataan merupakan rangkaian yang terarah dan komperhensif dari
seluruh sektor pembangunan daerah khususnya yang berperan langsung terkait
dengan pembangunan kepariwisataan didaerah. Kabupaten Tana Toraja dengan
segenap potensi daya tarik wisata memiliki keunggulan namun juga memiliki
sejumlah kelemahan dalam perkembangannya yang harusnya didorong dan
penjadi kekuatan dalam pembangunan kepariwisataan. Hal ini terakumulasi dalam
laporan Fakta dan Analisis ini, dimana pada laporan ini telah dikemukakan berbagai
data dan hasil kajian yang akan mengantarkan dalam perumusan konsep rencana
pada tahap selanjutnya.

Dalam dinamika pembangunan kepariwisataan didaerah khususnya di Kabupaten


Tana Toraja tidak terlepas dari berbagai kepentingan yang mengambil peran dalam
pembangunan kepariwisataan didaerah. Kabupaten Tana Toraja sebagai salah
satu destinasi pariwisata nasional sangat berpotensi menjadi tulang punggung
devisa negara dan daerah serta masyarakat dan pelaku usaha pariwisata lainnya.
Berbagai uraian tersebut telah dikemukakan dalam laporan ini, dan dapat
menyimpulkan sementara beberapa point penting yang menjadi fokus dalam
kajian perumusan konsep rencana kedepannya. Berikut diuraikan sejumlah point
penting yang dirumuskan berdasarkan perkembangan kajian yang telah
melibatkan sejumlah stakeholders pariwisata terutama tim penyusun dan
pemerintah daerah yang dirumuskan sebagai berikut:

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) VI - 1


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. Kabupaten Tana Toraja memiliki keunggulan destinasi pariwisata yang sangat


berpotensi dimasa datang sehingga diperlukan pengelolaan dan manajemen
yang lebih baik dalam pembangunannya;

2. Adanya berbagai kepentingan dalam membangun pariwisata di Kabupaten


Tana Toraja mulai dari kepentingan nasional sampai daerah menjadikan
pemerintah daerah perlu melakukan singkronisasi program pembangunan
pariwisata sehingga terjalinya harmonisasi dalam program pembangunan dan
dapat menghindari tumpang tindih rencana pembangunan yang dilakukan di
daerah;

3. Tingginya angka kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara


merupakan tolak ukur bahwa pariwisata Tana Toraja sangat diminati oleh
wisatawan sehingga hal ini perlu dijaga mahkan ditingatkan mengingat
persaingan destinasi pariwisata sangat berkembang dan membutuhkan
inovasi-inovasi baru dari seluruh pelaku usaha pariwisata yang bersinergi
dengan pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam upaya terus membangun
kepariwisataan daerah yang terus berkembang dan mampu bersaing dengan
daerah lain;

4. Berbagai komponen-komponen pariwisata masih perlu dilakukan pembenahan


dalam menunjang kegiatan wisata didaerah dengan dapat mengacu pada
dasar-dasar teori dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang
pariwisata sehingga dapat meminimalisir kelemahan-kelemahan yang dapat
mengurangi kinerja kepariwisataan secara menyeluruh;

5. Kerjasama antar lembaga pariwisata baik pemerintah maupun swasta dan


masyarakat khususnya lembaga adat di Tana Toraja sebagai karakter daerah
untuk memajukan pariwisata sangat perlu ditingkatkan dalam membangun
berbagai peluang seperti pengembangan atraksi budaya, event-event, bentuk-
bentuk kerjasama, monitoring dan evaluasi serta penguatan database
pariwisata daerah yang menjadikan Tana Toraja maju dalam pelayanan
pariwisatanya;

6. Persaingan pembangunan pariwisata sebagai tolak ukur pembangunan


pariwisata di Tana Toraja perlu mendapat perhatian khusus destinasi

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) VI - 2


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pariwisata yang dikembangkan dapat terus eksis dalam menarik perhatian


wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara sesuai target pasar yang
berkembang kedepannya;

7. Promosi dan pemasaran dengan pemanfaatan teknologi informasi yang handal


masih perlu ditingkatkan dalam pelayanan terhadap wisatawan yang tentunya
dibarengi dengan upaya pembenahan terhadap unsur-unsur pariwisata yang
akan dipromosikan maupun dipasarkan;

6.2 KEGIATAN SELANJUTNYA


Buku Laporan Antara atau Fakta dan Analisis merupakan bentuk penyajian fakta-
fakta lapangan yang diperoleh melalui observasi langsung kelapangan, data-data
sekunder, wawancara, diskusi, dan forum seminar yang dirangkum dan dijadikan
sebagai dasar dalam melakukan kajian analisis potensi pembangunan
kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja yang telah tersedia pada laporan ini.

Dalam upaya perumusan konsep rencana, diperlukan kajian-kajian ilmiah melalui


pendekatan teoritis, maupun normatif terhadap seluruh unsur pariwisata telah
dilakukan sehingga selanjutnya menjadi dasar utama dalam merumuskan rencana
pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja selama masa waktu
perencanaan yang telah diatur dalam pedoman sesuai ketentuan Peraturan
Menteri Pariwisata Nomor 10 tahun 2016 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana
Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Berdasarkan pedoman tersebut, secara sistematika pada laporan akhir akan


memuat sejumlah substansi muatan RIPPARKAB Tana Toraja. Sebagai gambaran
Laporan selanjutnya berikut uraiannya:

BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 2 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
BAB 3 KONDISI WILAYAH KABUPATEN TANA TORAJA DALAM MENDUKUNG
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
BAB 4 KABUPATEN TANA TORAJA SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA
BAB 5 INDUSTRI PARIWISATA

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) VI - 3


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

BAB 6 PASAR PARIWISATA DAN UPAYA PEMASARAN


BAB 7 KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN
BAB 8 PRINSIP DAN KONSEP PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
BAB 9 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
BAB 10 RENCANA PENGEMBANGAN PERWILAYAHAN PARIWISATA
BAB 11 PROGRAM DAN INDIKASI KEGIATAN PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN

LAPORAN ANTARA (Fakta & Analisis) VI - 4


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME, atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan Penyusunan Rencana
Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja ini. Laporan
Pendahuluan ini merupakan tahapan awal yang pada dasarnya merupakan acuan
dasar dalam pelaksanaan kegiatan.
Secara garis besar Buku Laporan Pendahuluan mengacu pada ketentuan
pentujuk teknis yang ditetapkan dalam kerangka acuan kerja dan perundangan
sektor kepariwisataan terkait. Muatan Laporan Pendahuluan ini berisikan
beberapa substansi arahan bagi proses penyelesaian pekerjaan yang diantaranya
merumuskan dasar tujuan dari pelaksanaan kegiatan, gambaran umum daerah
dan data awal potensi kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja, Metodologi
Pelaksanaan, serta rencana kerja tim yang terlibat dalam pekerjaan tersebut.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan Laporan Pendahuluan ini
hingga dapat selesai dengan waktu yang ditentukan. Tak lupa pula kami
menghaturkan permohonan maaf jika terdapat kekeliruan dalam penulisan
laporan ini. Kami juga meminta masukan dan saran kepada pihak terkait demi
tercapainya pelaksanaan kegiatan kedepannya dengan lebih baik.
Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat bagi seluruh stakeholders, atas segala
bantuan dan dukungan yang telah diberikan semua pihak dalam penyelesaian
laporan ini, kami mengucapkan terimakasih.

Makale, 2020

Tim Penyusun

LAPORAN PENDAHULUAN i
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................ ii
DAFTAR TABEL ................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ............................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG .................................................................. I-1
1.2. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN ........................................... I-6
1.3. KELUARAN ............................................................................ I-7
1.4. RUANG LINGKUP ................................................................... I-7
1.4.1. Lungkup Wilayah......................................................... I-7
1.4.2. Lingkup Materi ............................................................ I-7
1.4.3. Lingkup Kegiatan ........................................................ I-8
1.5. JANGKA WAKTU PERENCANAAN ............................................. I-8
1.6. DASAR HUKUM ...................................................................... I-8
1.6.1 Undang-undang .......................................................... I-9
1.6.2 Peraturan Pemerintah .................................................. I-9
1.6.3 Peraturan Menteri ....................................................... I-10
1.6.4 Peraturan Daerah ........................................................ I-10
1.7. PENGERTIAN UMUM .............................................................. I-11
1.8. SISTEMATIKA LAPORAN PENDAHULUAN.................................. I-12

BAB II TINJAUAN WILAYAH & KEPARIWISATAAN

2.1 GAMBARAN UMUM WILAYAH .................................................. II-1


2.1.1 Administratif dan Geografis Wilayah .............................. II-1
2.1.2 Kondisi Fisik Wilayah ................................................... II-4
2.1.3 Aspek Demografi Wilayah ............................................ II-5
2.1.4 Ketersediaan Sumber Daya Alam .................................. II-11
2.1.5 Perekonomian Wilayah ................................................ II-13

LAPORAN PENDAHULUAN ii
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.1.6 Sarana Pelayanan Umum ............................................. II-14


2.1.7 Aspek Historis Wilayah ................................................. II-17
2.1.8 Sistem Transportasi dan Komunikasi ............................. II-18

2.2 DATA AWAL POTENSI KEPARIWISATAAN DAERAH ................... II-19


2.2.1 Potensi Daya Tarik Wisata ............................................ II-20
2.2.2 Perkembangan Kunjungan Wisatawan........................... II-49

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN KEGIATAN


3.1 KAJIAN TEORITIS KONSEP DASAR PEMBANGUNAN
KEPARIWISATAAN ............................................................. III-1
3.1.1 Prinsip Membangun Sektor Pariwisata ....................... III-1
3.1.2 Konsep Pembangunan Kepariwisataan Berkelanjutan . III-2
3.1.3 Pendekatan Kesesuaian Produk Pasar ....................... III-9
3.1.4 Konsep Manajemen Strategis ................................... III-10
3.1.5 Konsep Sinergi Stakeholders .................................... III-12

3.2 LINGKUP KEGIATAN........................................................... III-14


3.2.1 Lingkup Teritorial/Wilayah ........................................ III-14
3.2.2 Lingkup Materi ........................................................ III-15

3.3 TAHAPAN KEGIATAN .......................................................... III-17


3.3.1 Tahap Persiapan ..................................................... III-17
3.3.2 Tahap Pengumpulan Data ........................................ III-18

3.4 TAHAP PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ......................... III-21


3.4.1 Pengolahan Data ..................................................... III-21
3.4.2 Analisis Data ........................................................... III-22
3.5 KELUARAN/OUTPUT ........................................................... III-41

BAB IV RENCANA KERJA


4.1 ORGANISASI PELAKSANA ................................................... IV-1
4.2 RENCANA KERJA TENAGA AHLI........................................... IV-4
4.2.1 Kewajiban Konsultan ............................................... IV-4
4.2.2 Tenaga Ahli ............................................................ IV-4
4.3 WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN....................................... IV-9
4.4 JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI.................................... IV-11

LAPORAN PENDAHULUAN iii


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Luas Wilayah Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 ................. II-2
Tabel 2.2 Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 .. II-4
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 .......... II-6
Tabel 2.4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2019 ......................................................................... II-8
Tabel 2.5 Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten
Tana Toraja, Tahun 2018 ..................................................... II-10
Tabel 2.6 Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten
Tana Toraja, Tahun 2018 ..................................................... II-10
Tabel 2.7 Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2019 ......................................................................... II-15
Tabel 2.8 Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja .............. II-22
Tabel 2.9 Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kabupaten Tana Toraja
Tahun 2009-2019 ................................................................ II-50
Tabel 2.10 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja
Tahun 2010-2019 ................................................................ II-53
Tabel 2.11 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja
Menurut Negara Asal, Tahun 2017 ........................................ II-54
Tabel 4.1 Matriks Jadwal Pelaksanaan .................................................. IV-10
Tabel 4.2 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli ............................................. IV-12

LAPORAN PENDAHULUAN iv
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Tana Toraja ........................ II-3


Gambar 2.2 Grafik Jumlah Penduduk Tiap Kecamatan di Kabupaten
Tana Toraja, 2019 ......................................................... II-7
Gambar 2.3 Grafik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Nusantara,
tahun 2009-2019 ........................................................... II-51
Gambar 2.4 Grafik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Mancanegara,
2010-2019 .................................................................... II-52
Gambar 3.1 Paradigma Konsep Pariwisata Berkelanjutan .................... III-7
Gambar 3.2 Implementasi Konsep Pariwisata Berkelanjutan ................ III-8
Gambar 3.3 Supply Demand ............................................................. III-9
Gambar 3.4 Proses Pengembangan Daya Saing Pariwisata Kabupaten
Tana Toraja Melalui Penerapan Konsep Manajemen
Strategis ....................................................................... III-12
Gambar 3.5 Kerangka Muatan RIPPARKAB......................................... III-17
Gambar 3.6 Skema Metode Peramalan .............................................. III-24
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan ......................... IV-4

LAPORAN PENDAHULUAN v
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1
1.1 LATAR BELAKANG
Pariwisata merupakan kegiatan multi dimensional yang menyentuh berbagai aspek
kehidupan baik politik, hukum, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya
masyarakat. Pengembangan kepariwisataan tidak hanya mempunyai tujuan akhir
berupa output ekonomi atau nilai finansial yang diperoleh tetapi juga menyangkut
persoalan sosial, agama, budaya dan keamanan yang bahkan menjadi nilai utama
pariwisata untuk dieksploitasi menjadi daya tarik wisata yang mempunyai daya jual
tinggi.

Dalam era modern seperti sekarang ini, pariwisata telah menjadi komponen katalis
perkembangan fisik kawasan (tidak merupakan penyebab utama, namun
memberikan kontribusi pada percepatan pertumbuhan dan perubahan kawasan)
baik berupa perkembangan fisik, ekonomi maupun sosial budaya masyarakat.
Industri pariwisata merupakan alternatif kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan
sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
sehingga dituntut untuk berkembang dengan baik dan menghasilkan produk yang
dapat diunggulkan. Hal ini dapat dicapai dengan kemauan politik pemerintah yang
memberikan landasan hukum serta kesadaran masyarakat untuk dapat
berintegrasi serta melibatkan diri sebagai bagian dalam proses sehingga dapat
menghasilkan produksi unggulan dalam seluruh kegiatan industri pariwisata.

Bagi sebagian daerah, pariwisata dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk
meningkatkan kinerja pembangunannya. Namun demikian, untuk mencapai hal

LAPORAN PENDAHULUAN I-1


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

tersebut memerlukan suatu kerja ekstra dari berbagai pihak (stakeholders) baik
pemerintah, swasta dan masyarakat untuk mampu menggali semua potensi-
potensi yang ada dengan berupaya semaksimal mungkin untuk menekan dampak
negatif yang mungkin timbul mengingat pariwisata juga mempunyai energi dobrak
cukup kuat dalam memetamorpose berbagai aspek kehidupan atau bahkan dapat
dipandang sebagai ‘musuh’ yang mengancam pelestarian budaya dan lingkungan.

Salah satu upaya yang dapat mengantisipasi hal tersebut adalah melalui
perencanaan yang matang dan komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak
untuk merumuskan masalah-masalah yang timbul pada proses pengembangan
dan harus dapat menampung dan menanggapi aspirasi-aspirasi masyarakat serta
berusaha menggali potensi-potensi yang terkandung didalamnya. Atas dasar
tersebut, maka konsep pengembangan yang merupakan penentu kebijakan
pengembangan suatu pariwisata dapat disusun. Dengan kata lain konsep rencana
pengembangan kepariwisataan selain merupakan suatu penuntun didalam
menanggulangi berbagai kendala yang muncul diharapkan juga menjadi kerangka
tindak lanjut dalam pemenuhan tuntutan dan kebutuhan serta keinginan bagi
wisatawan dimasa yang akan datang dengan memperhatikan tingkatan budaya,
sejarah dan ekonomi dari daerah tujuan wisata.

Di samping itu, perencanaan juga diharapkan dapat membantu tercapainya


kesesuaian (match) antara ekspektasi pasar dengan produk wisata yang
dikembangkan tanpa harus mengorbankan kepentingan masing-masing pihak.
Mengingat masa depan penuh perubahan, maka perencanaan diharapkan dapat
mengantisipasi perubahan-perubahan lingkungan strategis yang dimaksud dan
menghindari sejauh mungkin dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan-
perubahan lingkungan tersebut.

Kabupaten Tana Toraja yang dikenal sebagai ikon pariwisata di Provinsi Sulawesi
Selatan, memiliki berbagai potensi wisata yang cukup prospektif untuk
dikembangkan. Pembangunan kepariwisataan didaerah ini cukup pesat dalam
mengembangkan kawasan-kawasan wisata yang dianggap menjadi daya tarik
wisata yang cukup diminati oleh wisatawan. Hal ini perlu didukung dengan
perencanaan yang komperhensif dan berkelanjutan terhadap potensi

LAPORAN PENDAHULUAN I-2


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

kepariwisataan yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja. Pembangunan


kepariwisataan tentunya membawa dampak yang menyeluruh terhadap sektor-
sektor lain yang ada disuatu daerah, oleh karena itu dibutuhkan perencanaan yang
matang sehingga hal tersebut dapat tercapai dengan maksimal.

Pembangunan kepariwisataan tidak dapat dilakukan secara parsial, namun harus


menyeluruh terutama dalam pembangunan kawasan-kawasan wisata sehingga
diharapkan dapat menimbulkan “gravitasion effek” terhadap objek wisata lain.
Beberapa obyek dan daya tarik wisata yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat
dan wisatawan di Tana Toraja, sejumlah atraksi budaya dan kesenian yang sangat
unik ini diharapkan dapan menjadi potensi yang tidak hanya berkembang pada
DTW unggulan saja, namun diharapkan dapat menjadi pemicu berkembangnya
data tarik wisata lain yang tersedia, serta dukungan manajemen kepariwisataan
dan sistem pelayanan (akomodasi, transportasi, peran swasta dan masyarakat, dll)
yang menadai. Hal ini dapat dilakukan melalui rencana ini yang memuat tentang
pokok-pokok pembangunan kepariwisataan yang diantaranya strategi-strategi dan
program pembangunan industri, destinasi, pemasaran dan kelembagaan
kepariwisataan yang menjadi pedoman bagi pembangunan kawasan-kawasan
wisata secara bertahap dan bekesinambungan di Kabupaten Tana Toraja.

Tingginya potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja menunjukkan


bahwa masa depan pengembangan pariwisata didaerah ini merupakan prospek
yang sangat cerah. Data yang dikutip dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana
Toraja, kunjungan wisatawan nusantara periode 2009 – 2017 sangat pesat
pertumbuhannya, dimana pada tahun 2009 kunjungan wisatawan hanya sebanyak
5.499 wisatawan meningkat tajam sampai pada tahun 2017 sebanyak 1.173.183
wisatawan. Kualitas daya tarik wisata merupakan salah satu unsur penentu agar
menarik wisatawan untuk datang ke suatu lokasi. Pada umumnya, kualitas
tersebut terdiri dari unsur-unsur yang saling tergantung, yaitu atraksi dan daya
tarik, fasilitas wisata, infrastruktur, transportasi dan pelayanan. Secara khusus
adalah kualitas obyek wisata itu sendiri, apakah layak dikunjungi dan dapat
memberikan kepuasan. Atraksi menarik wisatawan untuk datang kesuatu lokasi,
fasilitas menyediakan kebutuhan wisatawan selama berada jauh dari tempat
tinggalnya, infrastruktur dan transportasi diperlukan untuk memudahkan

LAPORAN PENDAHULUAN I-3


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

wisatawan mengunjungi tempat-tempat tujuan wisata, sedangkan pelayanan


menunjukkan cara dan bagaimana memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Usaha-usaha dalam meningkatkan kualitas obyek wisata ini dapat menarik
wisatawan untuk datang ke kawasan itu dan pada akhirnya akan memberikan
income dan kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitarnya. Potensi dan berbagai
unsur-unsur kepariwisataan tersebut menjadi bagian yang sangat penting dalam
pembangunan kepariwisataan yang maju di Kabupaten Tana Toraja. Oleh karena
itu, diperlukan dorongan semua sektor didaerah untuk bersama-sama memajukan
kepariwisataan Tana Toraja kedepannya karena pariwisata juga merupakan
aktivitas yang beragam dilakukan tidak hanya terfokus pada kegiatan pariwisata,
tetapi aktivitas-aktivitas tersebut berhubungan dengan aktivitas atau kegiatan
sosial kemasyarakatan, bisnis, dan pemerintahan.

Berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah merupakan titik tolak yang sangat


strategis untuk dapat mengoptimalkan dengan menggali, mengembangkan dan
mengelola asset-aset dan sumberdaya yang dimiliki sehingga dapat memberikan
kontribusi bagi perkembangan pembangunan dan perekonomian. Oleh karena itu,
setiap daerah harus mencermati sektor-sektor strategis dan potensial untuk
dikembangkan sehingga produktif dan dapat membantu menopang Pembangunan
Daerah, memberikan nilai manfaat serta menghasilkan produktifitas yang tinggi
bagi Pembangunan Daerah maupun Peningkatan Kesejahteraan. Dalam
mendukung program pemerintah pusat yang ingin menjadikan beberapa daerah di
Nusantara ini menjadi daerah unggulan dalam sektor pariwisata yang mempunyai
daya tarik tersendiri maka masing-masing daerah dituntut untuk mengembangkan
sektor pariwisata unggulan masing-masing daerah. Tidak dapat dipungkiri lagi
bahwa sektor parwisata merupakan salah satu penghasil devisa Negara yang
sangat besar. Upaya tersebut dapat dilaksanakan dengan mengembangkan
daerah/kawasan wisata secara terpola, terpadu dan dengan rencana program yang
baik. Hal ini dimaksudkan agar target pengembangannya dapat dicapai dalam
waktu yang cepat dan dari segi pembiayaan dapat lebih efisien. Salah satu
program yang perlu dilaksanakan agar dapat merealisasikan upaya diatas adalah
dengan membuat suatu Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten

LAPORAN PENDAHULUAN I-4


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

yang dapat digunakan sebagai pedoman pengembangan pariwisata didaerah


sehingga acuan pengembangannya menjadi lebih jelas dan terarah.

Pasca diundangkannya UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan sebagai


pengganti UU No. 9 tahun 1999, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Nasional (RIPPARNAS) Tahun 2010 – 2025, mau tidak mau daerah harus
menyesuaikan diri tentang pengaturan dan pengelolaan bidang kepariwisataan.
Disisi lain, bagi pemerintah sendiri yang diharapkan usaha pariwisata dapat
memberikan kontribusi bagi pendapatan negara/daerah, baik dalam bentuk pajak,
retribsi dan lain sebagainya.

Rencana Pembangunan kepariwisataan mencakup 2 (dua) aspek, yaitu aspek


spasial dan aspek non-spasial. Aspek spasial menyangkut hal-hal yang terkait
dengan perencanaan kawasan-kawasan wisata/daya tarik wisata termasuk, serta
keterkaitan antar kawasan dan keterhubungan atau aksesibilitasnya. Rencana
Induk Pariwisata juga membuat aspek non spasial, khususnya yang terkait dengan
pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan, mekanisme kerjasama
antar lembaga dan hal-hal lainnya yang non spasial, termasuk keterkaitan antar
sector dalam mendukung pengembangan pariwisata.

RIPPAR-KAB Tana Toraja adalah pemanfaatan ruang parawisata yang disusun


untuk penyiapan perwujudan rencana pembangunan kepariwisataan yang
berkualitas serasi, optimum sesuai dengan kebijakan pembangunan daerah, serta
memujudkan kesesuaian antara kebutuhan pembangunan dan kemampuan daya
dukung lingkungan melalui pemanfaatan pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya buatan. Selain itu, dalam penyusunan-nya, RIPPAR-KAB Tana Toraja
merupakan rencana yang mempunyai keterkaitan dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Nasional (RIPPARNAS) Tahun 2010 – 2025 yang telah menetapkan beberapa
potensi unggulan pariwisata di Provinsi Sulawesi Selatan, RIPARP-ROV Sulawesi
Selatan Tahun 2015-2030 dalam Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2015 ini yang
salah satunya menetapkan Toraja sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Daerah

LAPORAN PENDAHULUAN I-5


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

(KSPD) pada DPD Kawasan Utara yaitu KSPD Toraja dan sekitarnya, yang juga
dapat menjadi masukan dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten.

Dengan demikian, maka RIPPAR-KAB Tana Toraja perlu disusun agar sesuai
dengan kondisi kekinian sehingga seluruh potensi daya tarik wisata dapat
dikembangkan dengan baik dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata, mendorong peningkatan ekonomi
masyarakat dari sektor pariwisata, serta pemanfaatan sumber daya alam yang
optimal.

1.2 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN


Maksud dari pekerjaan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten (RIPPAR-KAB) Tana Toraja adalah Menyusun perencanaan
pengembangan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja tahun 2021 – 2030.

Sedang tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Sebagai pedoman dan arah kebijakan pembangunan kepariwisataan Tana
Toraja.
2. Memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai pengembangan potensi
kepariwisataan yang meliputi daya tarik wisata, usaha sarana wisata, usaha
jasa wisata dan usaha lain pendukung pariwisata.
3. Menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders)
kepariwisataan di Tana Toraja agar dapat bersinergi secara positif dalam
pengembangan kepariwisataan.

Adapun sasaran yang harus dicapai untuk mewujudkan tujuan dari pekerjaan
RIPPAR-KAB Tana Toraja adalah sebagai berikut:

1. Mengarahkan pengembangan jalannya pariwisata;


2. Mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat
dan konkrit sesuai dengan tata ruang dan konsep kepariwisataan;
3. Melengkapi aturan daerah tentang pembangunan kepariwisataan;
4. Menjamin implementasi pembangunan kepariwisataan agar sesuai dengan
aspirasi dan kebutuhan masyarakat; dan

LAPORAN PENDAHULUAN I-6


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5. Menjamin terpeliharanya objek/kawasan wisata.

1.3 KELUARAN
Output dari kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10
Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota, dengan muatan rencana diantaranya
sebagai berikut:
1. Pendahuluan;
2. Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Kebijakan Pembangunan
Kepariwisataan;
3. Kondisi Wilayah Kabupaten Tana Toraja Dalam Mendukung Pembangunan
Kepariwisataan;
4. Kabupaten Tana Toraja Sebagai Destinasi Pariwisata;
5. Industri Pariwisata;
6. Pasar pariwisata;
7. Kelembagaan Pariwisata;
8. Prinsip dan Konsep Pembangunan Kepariwisataan;
9. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan;
10. Rencana Pengembangan Perwilayahan Pariwisata; dan
11. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan.

1.4 RUANG LINGKUP


1.4.1 Lingkup Wilayah
Wilayah kajian Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja yaitu seluruh wilayah administrasi Kabupaten Tana Toraja.

1.4.2 Lingkup Materi


RIPPARKAB Tana Toraja memuat potensi dan permasalahan pembangunan
kepariwisataan, isu-isu strategis yang harus dijawab, posisi pembangunan
kepariwisataan dalam kebijakan pembangunan wilayah dan kepariwisataan, visi,
misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi, rencana, dan indikasi program

LAPORAN PENDAHULUAN I-7


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pembangunan kepariwisataan. Rumusan rencana dalam RIPPARKAB Tana Toraja


difokuskan pada rencana pembangunan perwilayahan pariwisata yang merupakan
penjabaran teknis dari strategi pembangunan destinasi pariwisata.

1.4.3 Lingkup Kegiatan


Lingkup kegiatan pada Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja didasarkan pada
Kerangka Acuan Kerja yang terdiri dari :
1. Kajian dan Penyusunan Laporan Pendahuluan;
2. Kajian dan Penyusunan Laporan Fakta dan Analisis; dan
3. Kajian dan Penyusunan Laporan Akhir/Rencana.

1.5 JANGKA WAKTU PERENCANAAN


Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 8
disebutkan bahwa pembangunan kepariwisataan yang dilakukan berdasarkan
rencana induk pembangunan kepariwisataan, merupakan bagian integral dari
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional. Oleh karena itu, jangka waktu
perencanaan RIPPARPROV dan RIPPARKAB/KOTA juga menyesuaikan dengan
periode waktu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten/Kota
yang tentu saja sama dengan periode waktu Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN). Periode waktu untuk RPJPD Kabupaten Tana Toraja
dalam Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2012 yaitu tahun 2010 – 2030, dengan
demikian jangka waktu untuk RIPPARKAB Tana Toraja adalah 10 tahun (tahun
2021-2030).

Evaluasi terhadap implementasi rencana dan perubahan-perubahan yang terjadi,


baik perubahan pada kebijakan pembangunan nasional maupun daerah (provinsi
atau kabupaten) dan dinamika internal daerah yang mempengaruhi
pengembangan kepariwisataan dapat dilakukan setiap 5 (lima) tahun.

1.6 DASAR HUKUM


Ketentuan hukum/peraturan yang mendasari Kegiatan Penyusunan RIPPARKAB
Tana Toraja ini adalah sebagai berikut:
1.6.1 Undang-Undang
1. Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan;

LAPORAN PENDAHULUAN I-8


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam


Hayati Dan Ekosistemnya;
3. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Jalan;
4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan;
5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang;
6. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
8. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan
Jalan;
9. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;
10. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospatial;
11. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
12. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air;

1.6.2 Peraturan Pemerintah


1. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk
Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan
Hutan.
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2018 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2014 tentang
Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Kepariwisataan;
1.6.3 Peraturan Menteri
1. Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 Tahun 2016 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan
Kabupaten/Kota;

LAPORAN PENDAHULUAN I-9


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016


Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan;
3. Peraturan Menteri PU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Kawasan Rawan
Bencana Longsor;
4. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 01 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi;
5. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
27 Nomor 2014 Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;
6. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
9 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Pondok Wisata;
7. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
14 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata;
8. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
17 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Kawasan Pariwista;
9. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
19 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Jasa Konsultan Pariwisata;
10. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
27 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;

1.6.4 Peraturan Daerah


1. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Provinsi Sulawesi
Selatan Tahun 2015-2030;
2. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tana Toraja;
3. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 12 Tahun 2011 Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031;
4. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pajak
Hotel;
5. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2012 tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 3 Tahun
2011 tentang Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame,

LAPORAN PENDAHULUAN I - 10
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batubara, Pajak
Parkir, dan Pajak Air Minum;
6. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 2 tahun 2016 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 tentang
Retribusi Jasa Umum;
7. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2016 tentang
Perlundingan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

1.7 PENGERTIAN UMUM


1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan
rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata
yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai
fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha,
pemerintah, dan pemerintah daerah.
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata
dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud
kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan
masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah,
dan pengusaha.
5. Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten yang selanjutnya
disebut dengan RIPPAR-KAB adalah dokumen perencanaan pembangunan
kepariwisataan kabupaten untuk periode 15-25 tahun.
6. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan,
dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil
buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
7. Daerah Tujuan Pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata
adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah
administratif yang didalamnya terdapat Daya Tarik Wisata, Fasilitas Umum,

LAPORAN PENDAHULUAN I - 11
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Fasilitas Pariwisata, aksesibilitas serta masyarakat yang saling terkait dan


melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
8. Pemasaran Pariwisata adalah serangkaian proses untuk menciptakan,
mengkomunikasikan, menyampaikan produk wisata dan mengelola relasi
dengan wisatawan untuk mengembangkan kepariwisataan dan seluruh
pemangku kepentingannya.
9. Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait
dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan
wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata;
10. Kelembagaan Kepariwisataan adalah kesatuan unsur beserta jaringannya
yang dikembangkan secara terorganisasi meliputi Pemerintah, Pemerintah
Daerah, swasta dan masyarakat, sumber daya manusia, regulasi dan
mekanisme operasional yang secara berkesinambungan guna menghasilkan
perubahan ke arah pencapaian tujuan di bidang kepariwisataan.
11. Fasilitas Umum adalah sarana pelayanan dasar fisik suatu lingkungan yang
diperuntukkan bagi masyarakat umum dalam melakukan aktifitas kehidupan
keseharian.
12. Fasilitas Pariwisata adalah semua jenis sarana yang secara khusus ditujukan
untuk mendukung penciptaan kemudahan, kenyamanan, keselamatan
wisatawan dalam melakukan kunjungan ke destinasi pariwisata.

1.8 SISTEMATIKA LAPORAN PENDAHULUAN


Sistematika Laporan Pendahuluan dalam Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja,
mencakup susunan pokok-pokok pembahasan tiap Bab dan Sub-Bab, mulai dari
Bab I sampai dengan Bab V. Berikut ini rinciannya.

BAB 1 : PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran,
ruang lingkup, dasar hukum kegiatan, istilah dan definisi, dan
sistematika laporan pendahuluan.

LAPORAN PENDAHULUAN I - 12
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

BAB 2 : GAMBARAN UMUM WILAYAH


Menguraikan tentang tinjauan RIPPAR-PROV Sulawesi Selatan,
Rencana Jangka Panjang dan Jangka Menengah Daerah Kabupaten
Tana Toraja, RTRW Kabupaten Tana Toraja, dan RENSTRA Pariwisata
daerah, serta gambaran umum wilayah yaitu aspek administratif dan
geografis kabupaten Tana Toraja, aspek fisik wilayah, aspek
kependudukan, aspek prasarana, aspek sarana, potensi ekonomi
wilayah, dan gambaran umum kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja.

BAB 3 : PENDEKATAN DAN METODOLOGI


Pada bab ini menguraikan pendekatan teknis, metodologi kajian, dan
tahap perumusan konsepsi perwujudan Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja.

BAB 4 : RENCANA KERJA


Menguraikan tentang tahapan-tahapan dan mekanisme pelaksanaan
kegiatan Penyusunan Rencana Induk Kepariwisataan kabupaten Tana
Toraja sesuai ketersediaan sumberdaya manusia dan waktu
pelaksanaan yang telah ditetapkan.

LAPORAN PENDAHULUAN I - 13
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tinjauan Wilayah &


Bab 2
Kepariwisataan
2.1 GAMBARAN UMUM WILAYAH
2.1.1 Administratif dan Geografis Wilayah
Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian
utara Provinsi Sulawesi Selatan dan beribukota Makale dengan luas 2.054,30 km²
persegi dengan elevasi ketinggian 400-3.075 mdpl yang meliputi 19 kecamatan,
47 Kelurahan dan 112 Lembang dimana Kecamatan Malimbong Balepe dan
Kecamatan Bonggakaradeng merupakan dua kecamatan terluas dengan luas
masing-masing adalah 211,47 Km2dan 206,76 Km2, sedangkan wilayah
kecamatan dengan luas terkecil adalah Kecamatan Makale Utara dan Kecamatan
Sangala Utara dengan luas masing-masing adalah 26,08 km2 dan 27,96 Km2.

Kabupaten Tana Toraja adalah sebuah Kabupaten yang dalam peta administratif
masuk ke dalam wilayah Sulawesi Selatan. Kabupaten Tana Toraja adalah salah
satu Kabupaten Dalam Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di
Makale. Kabupaten Ini Terletak antara 2°-3° Lintang Selatan dan 119° - 120°'
Bujur Timur. Letak Kabupaten Tana Toraja berbatasan dengan :
Sebelah Utara berbatasan Kabupaten Toraja Utara dan Provinsi Sulawesi
Barat
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu
Sebelah Selatan berbatasan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat

LAPORAN PENDAHULUAN II - 1
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 2.054,30 Km2 yang meliputi 19
(Sembilan Belas) kecamatan, dimana Kecamatan Malimbong Balepe merupakan
kecamatan yang terluas dengan luas 211,47 Km2. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada table berikut.

Tabel: 2.1 Luas Wilayah Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019


Luas Kecamatan
No. Kecamatan Desa Kelurahan
Km2 %
1. Bonggakaradeng 206,76 10,06 5 1
2. Simbuang 194,82 9,48 5 1
3. Rano 89,43 4,35 5 -
4. Mappak 166,02 8,08 5 1
5. Mengkendek 196,74 9,58 13 4
6. Gandang Batu Sillanan 108.63 5,29 9 3
7. Sangalla 36,24 1,76 3 2
8 Sangalla Selatan 47,80 2,33 4 1
9 Sangalla utara 27,96 1,36 4 2
10 Makale 39.75 1,93 1 14
11 Makale Selatan 61.70 3,00 4 4
12 Makale Utara 26.08 1,27 - 5
13 Saluputti 87,54 4,26 8 1
14 Bituang 163,27 7,95 14 1
15 Rembon 134,47 6,55 11 2
16 Masanda 134,77 6,56 8 -
17 Malimbong Balepe 211,47 10,29 5 1
18 Rantetayo 60,35 2,94 3 3
19 Kurra 60,50 2,94 5 1
Total 2.054,30 100.00 112 47
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

LAPORAN PENDAHULUAN II - 2
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

LAPORAN PENDAHULUAN II - 3
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.1.2 KONDISI FISIK WILAYAH


1. Kondisi Topografi dan Kelerengan
Wilayah Kabupaten Tana Toraja mempunyai topografi yang relatif
bergelombang dan berbukit, sedangkan topografi datar relatif kecil. Kawasan
yang mempunyai kemiringan lahan datar (0-8%) pada umumnya berada di
daerah di sebelah timur dan lahan sepanjang jalan poros. Selanjutnya
kawasan yang mempunyai kemiringan lahan 8-15% tersebar di seluruh
wilayah Kabupaten Tana Toraja, sedangkan kemiringan lahan di atas 40%
pada umumnya berada di sebelah barat Kabupaten Tana Toraja seperti
Kecamatan Simbuang, Kecamatan Bonggakaradeng, Kecamatan Masanda
dan beberapa kecamatan lainnya.

2. Geologi
Struktur geologi batuan Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakteristik
geologi yang kompleks dicirikan oleh adanya jenis satuan batuan yang
bervariasi akibat pengaruh struktur geologi. Beberapa jenis batuan yang
dapat ditemukan di Kabupaten Tana Toraja pada umumnya antara lain batu
gamping terumbu, kelabu dan putih berupa lensa besar, batupasir hijau,
grewake, napal, batu lempung dan tufa, sisipan lava bersisipan andesit-
basal, batu sabak, kuarsit, filit, batu pasir kuarsa malih, pualam granit,
granodiorit, riolit, diorit, aplit, konglomerat, batu pasir glokonit dan serpih,
latit kuarsa, kalkarenit dan batubara.

3. Kondisi Iklim dan Curah Hujan


Kondisi iklim Kabupaten Tana Toraja menunjukkan curah hujan terbanyak
pada tahun 2014 terjadi pada bulan Desember yaitu sekitar 393,5 mm dan
banyaknya hari hujan yang terjadi pada tahun 2014 terbanyak terjadi pada
bulan Desember yaitu sebanyak 29 hari.
Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja,
Tabel: 2.2
Tahun 2019
No. Bulan Hari Hujan Curah Hujan
1. Januari 13,0 203,8
2. Februari 11,0 397,3
3. Maret 9,0 154,5
4. April 9,0 147,5
5. Mei 11,0 356,3

LAPORAN PENDAHULUAN II - 4
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja,


Tabel: 2.2
Tahun 2019
No. Bulan Hari Hujan Curah Hujan
6. Juni 22,0 605,8
7. Juli 17,0 259,5
Agustus 10,0 186,7
September 14,0 305,3
Oktober 8,0 79,0
November 12,0 209,0
Desember - -
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

4. Kondisi Hidrologi
Keadaan Hidrologi di Kabupaten Tana Toraja umumnya dipengaruhi oleh
sumber air yang berasal dari Sungai Sa’dan, Salu Tapparan, Sungai
Saluputti, Sungai Mataallo, Sungai Masuppu’dan anak sungai serta mata air
dengan debit yang bervariasi. DAS Hulu Sungai Sa’dan merupakan sungai
terpanjang di Sulawesi Selatan berada di Kabupaten Tana Toraja merupakan
urat nadi yang vital bagi pengembangan pertanian dan PLTU Bakaru di
Kabupaten Pinrang. Keberadaan sungai-sungai tersebut pada umumnya
digunakan untuk irigasi perdesaan, sumber PLTMH dan sangat potensial
dikembangkan bagi kepentingan pariwisata, misalnya arum jeram dan wisata
rafting.
Kondisi hidrologi Kabupaten Tana Toraja secara umum adalah sebagai
berikut:
Air tanah, air tanah pada umumnya terdapat pada kedalaman 40-100
meter.
Air permukaan, air permukaan pada umumnya berupa sungai dan
genangan-genangan.

2.1.3 Aspek Demografi Wilayah


Penduduk merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan suatu
wilayah, karakteristik penduduk merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
pengembangan atau pembangunan suatu wilayah dengan mempertimbangkan
pertumbuhan penduduk, komposisi struktur kepedudukan serta adat istiadat dan
kebiasaan penduduk. Dengan demikian karakteristik penduduk sangat diperlukan

LAPORAN PENDAHULUAN II - 5
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dalam Penyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten


(RIPPARKAB).

Maju dan berkembangnya suatu wilayah atau kawasan adalah merupakan peran
dari orang atau manusia yang ada didalamnya, sebab pada prinsipnya
sesungguhnya dengan kemapaman atau skill dari setiap manusia tersebutlah
yang mampu mengelola serta melakukan pamnfatan yang bijak serta mapan bagi
daerah tersebut. Kabupaten Tana Toraja dengan segala kekayaan alamnya yang
melimpah serta memiliki jumlah penduduk yang terbilang cukup padat akan
semakin mampu bersaing dalam era globalisasi ini apabila kondisi alam mampu
diseimbangkan dengan kondisi SDM yang memadai pula.

1. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Di Kabupaten Tana Toraja total sebanyak 234.002 jiwa
yang tersebar pada 19 kecamatan, penduduk terbesar berada pada
kecamatan Makale yaitu 35.892 jiwa atau Sekitar 15,34% dan di susul
Kecamatan Mengkendek yaitu sebanyak 28.073 jiwa atau sekitar 12,00%,
sedangkan jumlah penduduk yang paling terkecil adalah pada Kecamatan
Kurra yang hanya berjumlah 5.484 jiwa atau sekitar 2,34%. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun
Tabel: 2.3
2019
No. Kecamatan Jumlah Penduduk Persentase
1. Bonggakaradeng 7.434 3,18
2. Simbuang 6.487 2,77
3. Rano 6.359 2,72
4. Mappak 6.002 2,56
5. Mengkendek 28.073 12,00
6. Gandang Batu Sillanan 20.120 8,60
7. Sangalla 6.969 2,98
8 Sangalla Selatan 7.725 3,30
9 Sangalla utara 7.698 3,29
10 Makale 35.892 15,34
11 Makale Selatan 13.208 5,64
12 Makale Utara 12.300 5,26
13 Saluputti 7.792 3,33
14 Bituang 15.315 6,54
15 Rembon 19.085 8,16
16 Masanda 6.834 2,92

LAPORAN PENDAHULUAN II - 6
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun


Tabel: 2.3
2019
No. Kecamatan Jumlah Penduduk Persentase
17 Malimbong Balepe 9.917 4,24
18 Rantetayo 11.308 4,83
19 Kurra 5.484 2,34
Total 234.002 100,00
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

40000.0
35000.0
30000.0
25000.0
20000.0
15000.0
10000.0
5000.0
.0

Gambar : 2.2
Grafik Jumlah Penduduk Tiap Kecamatan di Kabupaten Tana Toraja, 2019

2. Pertumbuhan Penduduk
Perkembangan atau pertumbuhan penduduk merupakan indeks
perbandingan jumlah penduduk pada suatu tahun terhadap jumlah
penduduk pada tahun sebelumnya. Perkembangan jumlah penduduk dalam
suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian (pertambahan
alami), selain itu juga dipengaruhi adanya faktor migrasi penduduk yaitu
perpindahan keluar dan masuk. Pada dasarnya tingkat pertumbuhan jumlah
penduduk, dapat digunakan untuk mengasumsikan prediksi atau
meramalkan perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang. Prediksi
perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang dilakukan dengan
pendekatan matematis dengan pertimbangan pertumbuhan jumlah
penduduk 5 tahun terakhir.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 7
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Data jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja 5 tahun terakhir


menunjukkan jumlah penduduk pada tahun 2015 sebanyak 228.984 jiwa,
sedangkan pada tahun 2019 mencapai 234.002 jiwa. Hal tersebut
memperlihatkan adanya perkembangan jumlah penduduk yang meningkat
setiap tahunnya. Pertambahan penduduk dari tahun 2018 ke tahun 2019
yaitu sebanyak 1.181 jiwa.

3. Kepadatan Penduduk
Distribusi penduduk terkait dengan jumlah penduduk yang mendiami suatu
wilayah atau pengelompokan jumlah penduduk yang didasarkan pada
batasan administrasi wilayah yang bersangkutan. Jumlah penduduk yang
terdistribusi pada suatu wilayah, akan mempengaruhi tingkat konsentrasi
pelayanan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk melayani kebutuhan
penduduk pada wilayah tersebut.

Jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja pada akhir tahun 2019 berjumlah
234.002 jiwa yang terditribusi pada 19 kecamatan, dengan tingkat
persebaran yang tidak merata pada setiap kecamatan. Distribusi jumlah
penduduk terbanyak terdapat berada pada kecamatan Makale yaitu 35.892
jiwa dengan kepadatan 903 jiwa/km2 dan di susul Kecamatan Mengkendek
yaitu sebanyak 28.073 jiwa dengan kepadatan 143 jiwa/km2, sedangkan
jumlah penduduk yang terkecil adalah pada Kecamatan Kurra yang hanya
berjumlah 5.484 jiwa dengan kepadatan penduduk 91 jiwa/km2. Jumlah
penduduk tiap bagian wilayah di Kabupaten Tana Toraja ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya luas wilayah dan statu administrasi kecamatan,
secara rinci diuraikan pada tabel :

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja,


Tabel: 2.4
Tahun 2019
Jumlah Luas Wilayah Kepadatan
No. Kecamatan
Penduduk (jiwa) (Km2) (jiwa/Km2)
1. Bonggakaradeng 7.434 206,76 36
2. Simbuang 6.487 194,82 33
3. Rano 6.359 89,43 71
4. Mappak 6.002 166,02 36
5. Mengkendek 28.073 196,74 143
6. Gandang Batu Sillanan 20.120 108.63 185
7. Sangalla 6.969 36,24 192

LAPORAN PENDAHULUAN II - 8
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja,


Tabel: 2.4
Tahun 2019
Jumlah Luas Wilayah Kepadatan
No. Kecamatan
Penduduk (jiwa) (Km2) (jiwa/Km2)
8 Sangalla Selatan 7.725 47,80 162
9 Sangalla utara 7.698 27,96 275
10 Makale 35.892 39.75 903
11 Makale Selatan 13.208 61.70 214
12 Makale Utara 12.300 26.08 472
13 Saluputti 7.792 87,54 89
14 Bituang 15.315 163,27 94
15 Rembon 19.085 134,47 142
16 Masanda 6.834 134,77 51
17 Malimbong Balepe 9.917 211,47 47
18 Rantetayo 11.308 60,35 187
19 Kurra 5.484 60,50 91
Total 234.002 2.054,30 114
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

Secara kuantitas tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Tana Toraja


dipengaruhi oleh perbandingan jumlah penduduk yang mendiami setiap
kecamatan terhadap luasan (perubahan luas) wilayah kecamatan.
Sedangkan secara keruangan, pada dasarnya distribusi dan kepadatan
penduduk di Kabupaten Tana Toraja dipengaruhi oleh sistem pelayanan dan
penyediaan sarana dan prasarana penunjang, serta kemudahan aksesibilitas,
sehingga distribusi penduduk lebih terkonsentrasi pada wilayah tertentu
berdekatan dengan kota.

4. Struktur Penduduk Menurut jenis Kelamin


Struktur penduduk menurut jenis kelamin merupakan perbandingan yang
memperlihatkan selisih antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan.
Berdasarkan sumber data yang diperoleh, dapat diuraikan bahwa jumlah
penduduk di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari laki-laki kurang lebih
117.573 jiwa dan jumlah penduduk perempuan kurang lebih 115.248 jiwa.

Dari jumlah penduduk tersebut, dapat dilihat bahwa penduduk untuk jenis
kelamin laki-laki terbesar berada di Kecamatan Makale yaitu 17.666 jiwa,
sedangkan Kecamatan Kurra hanya memiliki jumlah penduduk sebanyak
2.872 jiwa yang berjenis kelamin laki-laki. Secara rinci struktur penduduk
menurut usia diuraikan pada tabel berikut:

LAPORAN PENDAHULUAN II - 9
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten


Tabel: 2.5
Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Kelamin
No. Kecamatan Jumlah Sex Ratio
Laki-laki Perempuan
1. Bonggakaradeng 3.873 3.482 7.355 111
2. Simbuang 3.263 3.197 6.460 102
3. Rano 3.214 3.114 6.328 103
4. Mappak 3.113 2.841 5.954 110
5. Mengkendek 14.133 13.895 28.028 102
6. Gandang Batu Sillanan 10.040 10.010 20.050 100
7. Sangalla 3.490 3.447 6.937 101
8 Sangalla Selatan 3.837 3.858 7.695 99
9 Sangalla utara 3.804 3.862 7.666 98
10 Makale 17.666 18.009 35.675 98
11 Makale Selatan 6.634 6.500 13.134 102
12 Makale Utara 6.110 6.147 12.257 99
13 Saluputti 3.912 3.846 7.758 102
14 Bituang 7.886 7.326 15.212 108
15 Rembon 9.645 9.364 19.009 103
16 Masanda 3.517 3.264 6.781 108
17 Malimbong Balepe 4.897 4.916 9.813 100
18 Rantetayo 5.667 5.588 11.255 101
19 Kurra 2.872 2.582 5.454 111
Total 117.573 115.248 232.821 102
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019

5. Struktur Penduduk Menurut Kelompok Umum


Kajian tentang struktur penduduk menurut usia dimaksudkan untuk
mengetahui jumlah pada setiap kelompok umur tertentu, terutama kelompok
umur yang berkaitan dengan usia sekolah, usia kerja, dan usia produktif
atau usia angkatan kerja. Secara rinci struktur penduduk menurut usia
diuraikan pada tabel berikut:

Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di


Tabel: 2.6
Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Kelamin
No. Kelompok Umur Jumlah Sex Ratio
Laki-laki Perempuan
1. 0 – 4 12.792 12.297 25.093 111
2. 5 – 9 13.499 12.818 26.317 102
3. 10 – 14 12.700 11.897 24.597 103
4. 15 – 19 11.321 9.606 20.927 110
5. 20 – 24 8.387 7.469 15.856 102
6. 25 – 29 7.208 6.999 14.207 100
7. 30 – 34 7.639 7.437 15.076 101
8 35 – 39 7.786 7.541 15.327 99
9 40 – 44 7.598 7.036 14.634 98

LAPORAN PENDAHULUAN II - 10
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di


Tabel: 2.6
Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Kelamin
No. Kelompok Umur Jumlah Sex Ratio
Laki-laki Perempuan
10 45 – 49 6.472 6.329 12.801 98
11 50 – 54 5.230 6.266 11.496 102
12 55 – 59 5.109 5.634 10.743 99
13 60 – 64 4.136 4.563 8.699 102
14 65 + 7.692 9.356 17.048 108
Total 117.573 203.021 232.821 102
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019

2.1.4 Ketersediaan Sumber Daya Alam


1. Pertanian Tanaman Pangan
Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu penghasil tanaman pangan di
Provinsi Sulawesi Selatan. Tanaman pangan mempunyai konstribusi sebesar
8,29% dalam pembentukan PDRB Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2019.
Komoditas terbesar tanaman pangan adalah padi, dengan produktivitas 4,53
ton/Ha dengan luas panen sebesar 21.401 Ha yang menghasilkan 96.935
ton. Angka produksi ini mengalami penurunan 27,54% dari tahun 2019.
Faktor cuaca memiliki andil yang besar dalam penurunan produksi padi
karena jenis sawah yang diminan adalah sawah tadah hujan yang
mengandalkan hujan untuk pengairan. Selain padi, jagung juga merupakan
komoditas dengan produksi cukup tinggi tercatat sebesar 2.535 ton di tahun
2019. Kecamatan Rano dan Bonggakaraeng merupakan daerah penghasil
jagung terbanyak di Kabupaten Tana Toraja.

2. Tanaman Perkebunan
Luas areal tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Tana Toraja pada
tahun 2018 secara keseluruhan sebesar 62.509 ha, dari luas ini sebesar
56.633,48 hektar merupakan luas tanaman perkebunan rakyat yang
menghasilkan. Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Tana Toraja
selama 2010 yang terbesar produksinya adalah tanaman kakao dan kelapa
dalam masing-masing sebesar 27.938,30 ton dan 18.808,27 ton.

Kabupaten Tana Toraja terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi
terbaik. Produksi kopi mencapai 2.410,8 ton yang tidak jauh berbeda dengan

LAPORAN PENDAHULUAN II - 11
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

tahun sebelumnya. Selain kopi, Kabupaten Tana Toraja juga merupakan


daerah penghasil kakao dengan produksi kakao sebesar 2.410,8 ton. Selain
kopi dan kakao, kelapa juga merupakan hasil perkebunan di Kabupaten Tana
Toraja. Pada tahun 2018 produksi Kelapa sebesar 19,1 ton dengan luas
tanaman sebesar 245 Ha.

3. Kehutanan
Luas kawasan hutan di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2019 seluas
51,801 ha yang terdiri dari 27.464 ha hutan negara. Hutan negara di
Kabupaten Tana Toraja didominasi oleh pohon pinus yang beradap di
perbukitan/pegununga. Sementara itu lahan yang di tanami pohon
penduduk/hutan rakyat adalah 24.337 ha. Produksi hasil hutan terdiri dari
kayu dan non kayu (seperti bambu).

4. Peternakan
Kerbau dan babi adalah hewan ternak yang dapat dijumpai dengan mudah di
Tana Toraja karena populasinya cukup banyak. Hampir setiap rumah tangga
di Tana Toraja beternak kerbau ataupun babi. Kedua hewan ternak ini selalu
digunakan masyarakat dalam setiap Acara Pesta, Upacara Adat serta
keagamaan seperti Rambu Solo atau upacara kematian. 26.275 ekor adalah
jumlah Populasi kerbau tahun 2018, jumlahnya mengalami peningkatan
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 0,69%. Sedangkan jumlah populasi
babi tahun 2018 naik 2,40% dari tahun lalu menjadi 306.156 ekor. Jumlah
ini meningkat karena adanya babi dari daerah lain yang didatangkan untuk
memenuhi kebutuhan pesta adat. Ayam kampung mendominasi jumlah
populasi ungags di Tana Toraja sebanyak 995.603 ekor.

5. Perikanan
Kegiatan perikanan di Kabupaten Tana Toraja cukup kecil. Selain merupakan
daerah pegunungan, jumlah Rumah tangga Usaha Perikanan (RUTP) juga
kecil. Pada tahun 2018 jumlah RUTP tercatat sebanyak 1.763 ruta. Usaha
perikanan di Tana Toraja didominasi oleh perikanan budidaya yang di kolam
dan sawah (mina padi) yang produksinya hanya sekitar 469,77 ton. Untuk

LAPORAN PENDAHULUAN II - 12
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

memenuhi kebutuhan masyarakat atas hasil perikanan maka pasokan ikan


lainnya didatangkan dari daerah terdekat seperti Kota palopo.

2.1.5 Perekonomian Wilayah


Produk Domestik Regional (PDRB) merupakan salah satu pencerminan kemajuan
ekonomi suatu daerah, yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah
barang dan jasa yang dohasilkan dalam satu tahun di wilayah tersebut. Nilai
PDRB Tana Toraja atas dasar dasar harga berlaku pada tahun 2019 mencapai
7,48 triliun rupiah. Secara nominal, nilai PDRB ini mengalami kenaikan sebesar
0,65 triliun rupiah dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencapai 6,82 triliun
rupiah. Naiknya nilai PDRB ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di
sebagian besar lapangan usaha dan adanya inflas. Berdasarkan harga konstan
2010, angka PDRB juga mengalami kenaikan, dari 4,25 triliun rupiah pada tahun
2018 menjadi 4,56 triliun rupiah pada tahun 2019. Hal ini menunjukkan selama
tahun 2019 Tana Toraja mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 7,22 persen,
lebih rendah 0,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan PDRB ini
murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di sebagian besar lapangan
usaha, tidak dipengaruhi inflasi.

Konstribusi terbesar dalam embentukan PDRB Tana Toraja pada tahun 2019
dihasilkan oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yaitu
mencapai 23,11 persen (mengalami penurunan dari tahun 2015 yang sebesar
26,20 persen). Kontribusi lapangan usaha ini mengalami fluktuasi namun
cenderung menunjukan trend menurun terhadap PDRB Tana Toraja. Menurunnya
kontribusi lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan disebabkan
karena peningkatan nilai yang cukup signifikan pada kategori Perdagangan Besar
dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sehingga kontribusi kategori ini
terhadap perekonomian juga meningkat. Selain itu, berkurangnya produksi
tanaman pangan padi akibat cuaca ekstrim yang terjadi pada tahun 2019 dan
lambatnya kenaikan harga komoditi pada lapangan usaha tersebut dibandingkan
produk lain juga menjadi penyebab turunnya kontribusi lapangan usaha ini.

Berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019
meningkat dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh

LAPORAN PENDAHULUAN II - 13
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

meningkatnya nilai produksi di hamper semua lapangan usaha tanpa dipengaruhi


perubahan harga. Nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019 atas dasar harga
konstan 2010, mencapai 4,56 triliun rupiah. Angka tersebut naik dari 4,25 triliun
rupiah pada tahun 2018. Hal tersebut menunjukkan bahwa selama tahun 2019
terjadi pertumbuhan ekonomi yang positif sebesar 7,22 persen, namun melambat
0,67 persen jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya
yang mencapai 7,89 persen.

Sedangkan angka PDRB perkapita diperoleh/diturunkan dari angka PDRB. PDRB


per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala PDRB
Per kapita kurang tepat bila digunakan sebagai ukuran tingkat kesejahteraan
penduduk disuatu wilayah. Dengan kata lain, PDRB per kapita ini belum mampu
menggambarkan tingkat kemerataan distribusi pendapatan yang diterima
penduduk di suatu wilayah. PDRB Per kapita lebih tepat digunakan sebagai
ukuran keterbandingan yang menggambarkan potensi ekonomi antar wilayah.
Nilai PDRB per kapita Tana Toraja atas dasar harga berlaku sejak tahun 2015
hingga 2019 selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2015 PDRB per kapita
tercatat sebesar 21,43 juta rupiah. Secara nominal terus mengalami kenaikan
hingga tahun 2019 mencapai 31,96 juta rupiah (lihat tabel 3.3). Kenaikan angka
PDRB per kapita yang cukup tinggi ini masih dipengaruhi oleh faktor inflasi.

Sedangkan terkait dengan indeks pembangunan manusia Kabupaten Tana Toraja


tahun 2018 berada pada level 67,66 (status “Sedang”) dan mengalami
pertumbuhan sebesar 1,25 persen dibandingkan tahun 2017. IPM Tana Toraja
tahun 2018 berada pada peringkat 18 dibandingkan dengan Kabupaten/Kota se-
Sulawesi Selatan (tidak berubah dibandingkan dua tahun sebelumnya)

2.1.6 Sarana Pelayanan Umum


Ketersediaan sarana pelayanan umum merupakan salah satu faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam upaya pengembangan sektor pariwisata pada suatu
daerah yang dapat menjadi suatu faktor pendukung ataupun faktor penghambat
dalam pengembangannya sebagai salah satu wadah dalam meningkatkan
sumber daya manusia. Dengan demikian, diharapkan dengan tersedianya
berbagai sarana sosial yang ada dapat memberikan konstribusi yang besar serta

LAPORAN PENDAHULUAN II - 14
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

nilai-nilai budaya dengan kondisi keamanan yang kondusif. Berikut ini akan
diuraikan data kondisi sarana sosial masyarakat Kabupaten Tana Toraja, antara
lain; sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan, dan kondisi
keamanan, serta budaya masyarakat.

1. Sarana Pendidikan
Pembangunan bidang pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu negara akan
menentukan karakter dari pembangunan ekonomi dan sosial, karena
manusia adalah pelaku aktif dari seluruh kegiatan tersebut. Dari tahun ke
tahun partisipasi seluruh masyarakat dalam dunia pendidikan di Kabupaten
Tana Toraja semakin meningkat, hal ini berkaitan dengan berbagai program
pendidikan yang dicanangkan pemerintah dalam meningkatkan kesempatan
masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Peningkatan partisipasi
pendidikan untuk mencapai bangku pendidikan tertentu harus diikuti dengan
berbagai peningkatan penyediaan sarana fisik pendidikan dan tenaga
pendidik yang baik.

Sarana pendidikan juga memiliki peranan penting dalam mengembangkan


potensi sumber daya manusia untuk bereksplorasi dalam berbagai disiplin
ilmu. Sarana pendidikan yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja secara
universal terdiri dari Taman kanak-kanak 119 unit, Sekola Dasar 213 unit,
SLTP 82 unit, SMU/SMK 47 unit.

Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja,


Tabel: 2.7
Tahun 2019
Jenjang Pendidikan
No. Kelompok Umur
TK SD SMP SMA PT
1. Bonggakaradeng - 10 5 2 -
2. Simbuang 1 10 4 2 -
3. Rano 2 8 2 - -
4. Mappak 3 11 5 3 -
5. Mengkendek 24 25 10 6 1
6. Gandang Batu Sillanan 13 15 8 8 -
7. Sangalla 7 6 3 4 -
8 Sangalla Selatan 7 9 3 - -
9 Sangalla utara 3 9 1 - -
10 Makale 17 16 5 11 -
11 Makale Selatan 5 11 5 2 -

LAPORAN PENDAHULUAN II - 15
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja,


Tabel: 2.7
Tahun 2019
Jenjang Pendidikan
No. Kelompok Umur
TK SD SMP SMA PT
12 Makale Utara 7 9 3 5 -
13 Saluputti 3 9 2 2 -
14 Bituang 3 19 5 1 -
15 Rembon 6 17 7 - -
16 Masanda 1 10 2 - -
17 Malimbong Balepe 2 9 5 - -
18 Rantetayo 11 11 4 - -
19 Kurra 3 9 3 - -
Total 119 213 82 47 1
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019-

2. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan merupakan wadah untuk meningkatan derajat kesehatan
masyarakat, dengan tujuan menciptakan kesehatan masyarakat yang baik
Tersedianya sarana kesehatan merupakan wujud daripada pemenuhan akan
kebutuhan kesehatan masyarakat yang terjangkau sebagai penunjang
berkembangnya kegiatan wisata. Berdasarkan data yang ada, banyaknya
fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Toraja adalah 733 unit yang terdiri
atas Rumah Sakit 4 unit diantaranya RSU 3 unit dan RS. Bersalin 1 unit,
kemudian Puskesmas sebanyak 21 unit, Posyandu 328 unit. Dapat dikatakan
bahwa penyebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Toraja untuk saat
sekarang ini sudah tersebar secara merata disetiap wilayah kecamatan.

3. Sarana Peribadatan
Sarana peribadatan merupakan wadah untuk melakukan aktifitas yang wajib
dilaksanakan oleh setiap umat beragama. Keberadaan fasilitas peribadatan
merupakan salah satu pendorong dan bentuk kepatuhan terhadap Sang
Pencipta serta sebagai keberagaman suku dan agama. Berdasarkan data
tahun 2018, sarana peribadatan yang ada di Kabupaten Tana Toraja
sebanyak 1.017 unit, yang terdiri atas, sarana Mesjid 45 unit, Mushallah 4
unit, Gereja Khatolik 161 unit, Gereja protestan 704 unit. Keberadaan
fasilitas tersebut didominasi oleh Gereja protestan, hal tersebut disebabkan
penganut Agama Kristen Protestan sangat dominan di Kabupaten Tana

LAPORAN PENDAHULUAN II - 16
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Toraja. Selain itu, dari hasil survey lapangan keberadaan akan fasilitas
peribadatan tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

2.1.7 Aspek Historis Wilayah


Asal kata Toraja berawal dari bahasa Bugis Sidendreng yaitu “to ri aja”, yang
berarti “orang pegunungan” atau “orang hulu sungai”. Orang Luwu menyebut
Toraja sebagai “to riajang” yang berarti “orang yang berdiam di sebelah barat”.
Menurut bahasa Makassar, Toraja juga bisa berarti “to = tau” dan “raja =
maraya”, “to atau tau” berarti “orang”, sedangkan “raja atau maraya” dapat
berarti “utara atau besar”, maka Toraja dapat berarti “orang dari utara” atau
“orang besar/bangsawan”. Seiring dengan berjalannya waktu, pada abad ke 20
dikenal nama Toraja yang semakin diperkuat oleh pemerintah kolonial Belanda,
dengan memperkenalkan Toraja pada tahun 1909. Penambahan kata Tana, yang
berarti negeri tempat pemukiman suku Toraja, membuat wilayah Toraja
kemudian lebih dikenal dengan sebutan Tana Toraja.

Menurut hasil penelitian seorang antropolog, Dr. C. Cryut, suku Toraja berasal
dari Indo Cina di sekitar Teluk Tongkin. Mereka merupakan imigran yang
meninggalkan negerinya menuju Asia Tenggara dalam tiga gelombang
keberangkatan. Leluhur suku Toraja merupakan rombongan pelayaran
gelombang terakhir, mereka mendarat di bagian daratan Pulau Sulawesi yang
sebagian pulaunya masih terendam lautan. Tempat pendaratannya yaitu di
sekitar hulu sungai yang diperkirakan berlokasi di daerah Enrekang. Kedatangan
para leluhur suku Toraja ini berbekal aturan keagamaan yang dimilikinya. Salah
satunya yaitu pada arsitektur rumah yang dibangun mirip perahu dan selalu
menghadap ke Utara untuk mengingatkan daerah asal mereka. Proses panjang
akulturasi antara penduduk suku Melayu lokal di Sulawesi dengan imigran
dipercaya merupakan asal suku Toraja. Proses imigrasi yang terus berlanjut
membuat penduduk yang sudah berakulturasi makin terdesak dan kemudian
pindah ke daerah pedalaman bagian atas, yang merupakan wilayah Tana Toraja
sekarang. Menurut cerita lisan turun temurun, disebutkan bahwa leluhur orang
Toraja berasal dari Nirwana (surga). Mereka turun dari langit setelah diciptakan
oleh Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa) dengan cara mengambil bahan

LAPORAN PENDAHULUAN II - 17
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

emas murni dengan menggunakan sepasang embusan yang disebut Sauan


Sibarrung. Para leluhur ini kemudian turun ke bumi dengan menggunakan
”tangga dari langit” atau ”eran di langi”. Tangga tersebut juga berfungsi sebagai
jalur komunikasi antara Puang Matua sebagai Sang Pencipta dengan ciptaannya
yaitu umat manusia. Leluhur yang diturunkan ke bumi dibekali dengan aturan
keagamaan yang disebut aluk.

2.1.8 Sistem Transportasi dan Komunikasi


1. System Transportasi
Sistem transportasi merupakan salah satu aspek utama yang dapat
memberikan konstribusi yang sangat besar dalam perkembangan kegiatan
ekonomi ataupun industri pariwisata, sehingga ketersediaan sarana dan
prasarana transportasi sangat diperlukan dalam pengembangan kegiatan-
kegiatan perkotaan ataupun wilayah. Kabupaten Tana Toraja merupakan
salah satu wilayah yang mampu mengembangkan daerahnya karena
didukung oleh potensi sumberdaya alam yang dimiliki. Salah satu potensi
yang dimiliki yaitu sebagai salah satu daerah tujuan wisata, sehingga
ketersediaan akan sarana dan prasarana transportasi, khususnya
transportasi darat dan udara sangat dibutuhkan. Adapun prasarana dan
sarana transportasi di Kabupaten Tana Toraja, sebagaimana pada
pembahasan berikut;
a. Transportasi Darat
Jalan merupakan sarana angkutan darat yang sangat penting untuk
memperlancar kegiatan perekonomian. Panjang jalan yang terdapat di
Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018 mencapai 1.252 km. Panjang
jalan pada tahun 2018 mengalami peningkatan sepanjang 199,62 km
dari tahun sebelumnya. Jika dilihat dari jenis permukaan jalan maka
terdapat 352,67 km jalan yang telah diaspal, tidak diaspal mencapai
888,79 km, sedangkan sisanya 210,56 km jenis permukaan lainnya. Jika
ditinjau dari kondisi jalan maka, masih banyak jalan dengan kondisi
rusak berat sepanjang 306,69 km dan rusak 210,90 km. Dibandingkan
tahun lalu panjang jalan kondisi baik meningkat 52,17 persen
sepangjang 582,19 km.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 18
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

b. Transportasi Udara
Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan
udara ke Tana Toraja. Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang
berangkat dari bandara pongtiku sebanyak 1.030 orang. Penerbangan di
Tana Toraja melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar
pulau sulawesi. Bandar udara ini direlokasi karena tidak bisa
dikembangkan karena aspek geologi tidak memadai. Bandara Buntu
Kunik disiapkan sebagai pengganti Bandara Pongtiku, dengan landasan
pacu sepanjang 2.600 meter dengan nama Toraja International Airport
yang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kunjungan wisatawan
domestik maupun mancanegara.

2. Komunikasi
Dari segi komunikasi, masih ada beberapa daerah yang tidak terjangkau
sinyal telpon salah satunya di kecamatan mappak. Selain itu kegiatan
komunikasi menggunakan surat masih berlangsung melalui jasa pos. Jumlah
fasilitas pelayanan pos di Kabupaten Tana Toraja hingga tahun 2019 meliputi
dua kantor pos. Masing-masing satu kantor pos di Kecamatan Mengkendek,
dan Kecamatan Makale.

2.2 DATA AWAL POTENSI KEPARIWISATAAN DAERAH


Kabupaten Tana Toraja, sebagai salah satu daerah yang terdapat di Sulawesi
Selatan merupakan salah satu kawasan yang menyimpan beragam kekayaan,
baik yang bersifat kekayaan alam maupun kekayaan adat istiadat yang selalu
mengisi setiap ruang dalam aktivitas tradisional yang terdapat dalam masyarakat
Tana Toraja. Destinasi Toraja telah terkenal sebagai kawasan strategis
pariwisata. Setiap tahunnya berbagai wisatawan baik dalam maupun luar negeri
semakin bertambah. Kekayaan budaya dan sejuta daya tarik wisata unik nan
menarik membuat Toraja dimasukkan dalam daftar sementara warisan budaya
dunia oleh UNESCO (Inscription World Heritage C1038).

Pembangunan kepariwisataan ditunjukkan pada peningkatan kemampuan untuk


menggalakkan kegiatan ekonomi yang melibatkan berbagai sektor. Kegiatan
pariwisata diharapkan mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan

LAPORAN PENDAHULUAN II - 19
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pendapatan bagi pemerintah dan masyarakat di daerah wisata serta penerimaan


devisa bagi negara.

Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja ditunjukkan pada


peningkatan kemampuan untuk menggalakkan kegiatan ekonomi yang
melibatkan berbagai sektor. Kegiatan pariwisata diharapkan mampu membuka
lapangan kerja, meningkatkan pendapatan bagi pemerintah dan masyarakat di
daerah wisata serta penerimaan devisa bagi negara. Pariwisata Tana Toraja
memang memiliki daya tarik yang unik. Peninggalan budaya yang sudah ada
sejak jaman megalitikum, memberikan warna dan makna tersendiri bagi siapa
saja yang mengunjungi daerah ini.

Penduduk yang ramah, budaya yang asli dan lestari menjadikan Tana Toraja
menjadi salah satu dari 15 daerah tujuan wisata Indonesia sekaligus menjadi
salah satu ikon Pariwisata Indonesia. Keunikan inilah yang kemudian pada tahun
2009 dinominasikan sebagai salah satu dari 23 situs dalam daftar World Heritage
Culture oleh UNESCO.

Pengelolaan potensi pariwisata di daerah ini menjadi perhatian khusus


pemerintah daerah, hal ini tercermin dalam arah kebijakan (visi) pemerintah
bahwa tujuan utama pembangunan pariwisata adalah menjadikan Tana Toraja
sebagai destinasi kedua setelah Bali. Di sisi lain, dukungan masyarakat Tana
Toraja sangat positif memberikan respon pengembangan pariwisata.

Sebagian besar objek wisata tersebut adalah objek wisata alam, dan beberapa di
antaranya sudah dikenal oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Selain kedelapan obyek wisata unggulan yang sangat potensial dikembangkan
tersebut, masih ada beberapa tradisi, adat dan budaya yang merupakan ikon
pariwisata di daerah ini yang sudah dikenal hingga ke mancanegara.

2.2.1 Potensi Daya Tarik Wisata


Kabupaten Tana Toraja memiliki berbagai DTW yang tersebar pada setiap
wilayah. Berdasarkan hasil survey dapat dikatakan bahwa DTW yang ada relatif
bervariasi dan cukup banyak, namun masih perlu untuk dikembangkan dan
membutuhkan pengelolaan yang lebih profesional sehingga dapat memberikan
kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Adapun objek

LAPORAN PENDAHULUAN II - 20
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dan daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari objek wisata Alam,
objek wisata Sejarah, Seni dan Budaya, objek wisata Agro dan makanan khas.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 21
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 2.8 Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja


Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Pengelolaan
Desa/Lembang Kecamatan
Daya Tarik Wisata Alam (Nature Tourism)
1. Danau As’sa Lembang Turunan Sangalla Pemda Kab. Tana Toraja
2. Permandian Air Panas Makula Lembang To Kesan Sangalla -
3. Permandian Alam Tillangga [Link] Makale Utara -
4. Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek -
5. Panjat Tebing Kandora Mengkendek -
6. Goa Alam Sapa' Bayo Bayo Saluallo Sangalla Utara -
7. Panorama Bukit Sion Bombongan Makale -
8. Air terjun ratte sarambu assing L. Potongloan Bittuang LKMD Potongloan
9. Taman Hiburan Plaza Kolam Makalle Bombongan Makale
10. Alloan Marinding Mengkendek -
Daya Tarik Wisata Sejarah
1 liang lo’ko randanan Rendanan Mengkendek Keluarga (Non Yayasan)
2 Potok Tengan Tengan Mengkendek Keluarga (Non Yayasan)
3 Kuburan Batu Ke’pe Tinoring Lembang Ke’Pe Tinoring Mengkendek -
4 Tampang Allo Tongko Sarappong Sangalla Yayasan Passanan Tengko
5 Suaya Lembang Ka’Ero Sangalla Keluarga (Non Yayasan)
6 Buntu Kalando Museum Ka’Ero Sangalla Yayasan Passanan Tengko
7 Pasiliran panurusan/Kambira (Kuburan Bayi) Be’bo Sangala Utara Keluarga (Non Yayasan)
8 Tongkonan banua kasalle L. kaero Sangella Keluarga (Non Yayasan)
9 Kuburan alam sirope Lion Tondok Kiri Makele Utara Keluarga (Non Yayasan)
10 Lemo Buntang Lemo Makele Utara
11 Buntu Tondon Tondon Makale Keluarga (Non Yayasan)
12 Tumakke Rembon Rembon Keluarga (Non Yayasan)
13 Batususu Tolian/Sarapeang Rembon -
14 Sillanann/Ma’duang Tondok - Mangkendek -
15 Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallumanuk Bare batu Malimbong balepe -

LAPORAN PENDAHULUAN II - 22
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 2.8 Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja


Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Pengelolaan
Desa/Lembang Kecamatan
16 Kuburan Batu Lembang Kole Sanangen Malimbong balepe -
17 Kuburan Batu Sanduni L. Ulluin Rembon -
18 Rumah Adat Tumbang Datu' Be'bo' [Link] Sangala utara -
19 Perkampungan Adat Sillanan (Tongkonan) Lembang Sillanann gandasil -
20 Rumah Adat Dan Benteng To Pada Pindo Tumbang Datu Datu Bebo Sangalla Utara Keluarga (Non Yayasan)
21 Sillanann - gandasil -
22 Pattan - Suluputti Keluarga (Non Yayasan)
23 Sassa' - Mengkendek Keluarga (Non Yayasan)
24 To'Puang - Sangalla Selatan Keluarga (Non Yayasan)
25 Babakanaan Lembang Randanan Mangkendek -
26 A’pa Pamanukan Lembang Pamanukan Gandang batu Sillanann Keluarga (Non Yayasan)
27 Tengko Batu Kel. Kamali Makale Keluarga (Non Yayasan)
28 Lo'ko Tongko/gua alam Kel. saluallo Sangalla Yayasan passanan tongko
29 Baby Grave Kambira Buntu Masakke Sangalla Yayasan Manguda’pa
30 Ma'duang Tondok - gandasil -
31 Perkuburan kuno gandang batu Lembang Gandangbatu Gandang Batu Sillanann -
32 Liang pahat Lembang rano utara Rano -
33 Lo’ko’ wai (kuburan bayi purba) mebali mangkendek -
34 Pantan (tongkonan) saluputti -
35 Gandang batu Sillanann L. gandang batu Gandanga batu Sillanann -
36 Ma’dandan (himpunan erong) Patudu Gandanga batu Sillanann -
37 Kalumpini/kuburan tua Gandang batu Gandanga batu Sillanann -
38 Rumah adat L. Pali Bittuang -
39 Pa’bakka (Liang Tau-Tau) Ulusalu Suluputti -
40 Sanduni (Liang) Banga Rembon -
41 To’bai (Liang Tau-Tau) Tinoring Mengkendek -
42 Liang saratu - Bonggakaradeng -

LAPORAN PENDAHULUAN II - 23
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 2.8 Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja


Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Pengelolaan
Desa/Lembang Kecamatan
Daya Tarik Wisata Seni Dan Budaya
1 Upacara Rambu Tuka’ atau Upacara Rampe - - -
Mataallo
2 Alukna Rampanan Kapa’, Sangka’na Passullean - - -
Allo
3 Upacara Rambu Solo’ atau Upacara Rampe - - -
Matampu
4 Upacara Disilli’ - - -
5 Kerajinan Tenun Tana Toraja - - -
6 Tari Pa’gellu - Makale, Mangkendek, -
Makale Utara.
7 Tarian tirra - K Makale Utara -
8 Tarian To Manimbong - Bittuang -
9 Tarian Ma’randing - Sangala -
10 Tarian Burake - Makale, Masanda -
11 Tarian Dao Bulan - bonggakaradeng -
12 Tarian Ma’nani - rantetayo -
13 Tarian Pa Bondesan - masanda -
14 Tarian Pa’randing - sangalla -
15 Tarian pa tirra k. lion tondok iring - -
16 Tarian Ma’ Badong - gandasil -
17 Tarian masango - simbuang -
18 Tarian Pa’papangngan - Makale Utara -
Daya Tarik Wisata Agro (Agro Tourism)
1 Kawasan Obyek Wisata Pango Pango K. Pasang Makale selatan Keluarga (Non Yayasan)
2 Bolokan (Perkebunan Kopi Arabika) K. Bittuang Bittuang PT. Sulotco Jaya Abadi
Makanan Khas Daerah

LAPORAN PENDAHULUAN II - 24
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 2.8 Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja


Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Pengelolaan
Desa/Lembang Kecamatan
1 Pa’piong - - -
2 Tallo pamarrasan - - -
3 Deppa tori - - -

Sumber: Materi Teknis RIPPARDA Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2011

LAPORAN PENDAHULUAN II - 25
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. Daya Tarik Wisata Alam (Nature Tourism)


Daya tarik wisata alam (nature tourism) adalah kawasan wisata yang
berbasis pada alam, baik panorama alam, kondisi alam, keunikan alam, dan
bentukan alam. Berikut uraian singkat beberapa DTW Alam yang dihimpun
Berdasarkan data sekunder, sebagai berikut;
1) Embung As’sa
Daya tarik wisata Embung As’sa
terletak di Kecamatan Sangalla
Kelurahan Lembang Turunan
dengan jarak ± 4 Km dari ibu kota
Kabupaten Tana Toraja. Objek
wisata ini memiliki daya tarik
tersendiri dengan adanya panorama
alam yang di kelilingi oleh marga
satwa/ flora dan fauna serta batu-batu besar yang mengelilingi objek
wisata danau As’sa. Namun faktor pendukung seperti sarana dan
prasarana di objek wisata ini belum memadai, untuk itu perlu adanya
perhatian khusus dari pemerintah terkait agar dapat di kembangkan
sehingga menarik para wisatawan lokal, nasional maupun wisatawan
mancanegara. Assa adalah tempat penampungan air pada musim hujan,
tetapi pada saat musim kemarau airnya kering.
2) Permandian Air Panas Makula
Kawasan Permandian Air Panas Makula terletak di Kecamatan Sangalla
Selatan Kelurahan Lembang To Kesan dengan jarak ± 12 Km dari
ibukota Kabupaten Tana Toraja. Kawasan wisata permandian air panas
Makula memiliki keunikan tersendiri di antaranya dapat menyembuhkan
penyakit kulit, karena terdapat zat kapur, di kelilingi oleh pepohonan
dan batu-batu yang unik sehingga daerah tersebut dapat di nikmati oleh
wisatawan, namun perlu adanya kelengkapan sarana dan prasarana
penunjang.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 26
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3) Permandian Alam Tilang’nga


Daya tarik wisata Permandian Alam
Tilang’nga memiliki keindahan yang
sangat natural dan di kelilingi oleh
vegetasi bambu yang berada di
lokasi tersebut serta hutan yang
hijau dan di kelilingi oleh bukit kecil
sehingga daerah tersebut
memberikan kesejukan yang cukup
memuaskan. Dilihat dari tata letaknya yang cukup potensial untuk di
kembangkan, untuk itu perlu adanya penataan yang baik oleh
pemerintah terkait agar dapat di manfaatkan oleh para wisatawa. Lokasi
ini terdapat di kecamatan Makale Utara kelurahan Sarira dengan jarak
dari ibu kota Kabupaten Tana Toraja adalah ± 10 Km.

4) Gunung Kandora
Daya tarik wisata Gunung Kandora
memiliki daya tarik yang sangat
indah. Dilihat dari tata letaknya
dengan kondisi alam yang berbukit
- bukit serta panorama alam yang
berada di sekitarnya, pepohonan
yang rindang, hijaunya alam
sehingga memiliki nilai estetika
yang sangat bagus. Di bawah objek wisata gunung Kandora terdapat
tanaman persawahan dan permukiman warga, serta bukit-bukit yang
melintang sehingga wisatawan yang berada di puncak gunung dapat
melihat pemandangan yang menakjubkan. Objek wisata gunung
kandora berada di kecamatan Mengkendek kelurahan Kandora dengan
jarak ± 7 Km dari pusat kota Tana Toraja. Untuk itu perlu adanya
pemeliharaah hutan serta adanya reboisasi kembali sehingga dapat
mempertahankan keaslian objek tersebut.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 27
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5) Goa alam sullukan


Daya tarik wisata Goa alam Sullukan
berada di kecamatan Sangalla
Selatan kelurahan Lembang To
Kesan dengan jarak ± 11 Km dari
ibu kota Kabupaten Tana Toraja.
Objek wisata ini memiliki keunikan
yang sangat indah di dalamnya
serta di depan pintu masuk terdapat
bunga-bungaan yang menarik di pandang mata dan di kelilingi oleh
pepohonan serta hijau, objek wisata alam Sullukan ini sering dikunjungi
oleh wisatawan lokal ketika hari libur. Dengan adanya keterbatasan
sarana penunjang serta jalan tanah yang ditumbuhi rumput, perlu
adanya perhatian dari pemerintah kabupaten agar dapat dikelola dengan
baik serta perlu adanya promosi kepada publik agar dapat menambah
devisa bagi daerah Kabupaten Tana Toraja.
6) Panjat Tebing
Daya tarik wisata Panjat Tebing
memiliki keunikan dengan kondisi
batu yang besar serta di kelilingi
oleh hutan serta marga satwa yang
berada di sekelilinginya. Objek
wisata panjat tebing ini sering di
kunjungi oleh para pecinta alam
untuk melakukan panjat tebing.
Dari puncak tebing wisatawan langsung menikmati keindahan alam yang
eksotik dengan adanya pemandangan yang indah karena di sekitar
objek terdapat pepohonan, tebing-tebing serta kondisi flora dan fauna
yang sangat lestari. Lokasi objek wisata ini terletak di kecamatan
Mengkendek kelurahan Tengan dengan jarak ± 9 Km dari pusat kota
Kabupaten Tana Toraja.
7) Goa Alam Sapa' Bayo-Bayo
Daya tarik wisata Goa Alam Sapa' Bayo-Bayo berada di kecamatan
Sangalla Utara, goa ini memiliki keunikan di dalamnya.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 28
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

8) Panorama Bukit Sion


Daya tarik wisata Panorama Bukit Sion
berada di kecamatan Makale kelurahan
Bombongan dengan jarak 100 m dari pusat
kota Kabupaten Tana Toraja. Dikatakan
bukit Sion karena di atas bukit ini terdapat
gereja Bukit Sion, daerah ini memiliki daya
tarik dengan keindahan alam serta
panorama yang eksotis.
9) Air Terjun Ratte Sarambu Assing
Merupakan air terjun dengan tiga tingkat
dan tinggi sekitar 100 m. Pemandangan
terbaik berada pada jarak sekitar 500-
1000 m dari lokasi air terjun. dari dekat
saat airnya jatuh mencapai ke tanah kita
dapat merasakan anginnya yang memberi
kesegaran tersendiri. Udara disekitarnya
bersih dan sejuk karena dikelilingi oleh hutan pinus, sehingga cocok pula
untuk perkemahan. Jarak dari Ibu Kota Kabupaten ke lokasi wisata
adalah ± 50 Km yang berada pada kelurahan Patongloang kecamatan
Bittuang.
10) Taman Hiburan Plaza Kolam Makale
Taman Hiburan Plaza Kolam Makale berada di pusat kota Makale.
Taman ini memiliki keindahan yang sangat eksotis, karena penataan
objek wisata ini sudah di kembangkan dengan baik dan perlu adanya
kelengkapan sarana pendukung lainnya. Di lokasi ini terdapat bangunan
gereja di atas ketinggian serta gedung DPRD Kabupaten Tana Toraja
dan bangunan-bangunan lain di sekelilinginya. Objek wisata ini terletak
di kecamatan Makale kelurahan Makale yang berada pada pusat kota
Kabupaten Tana Toraja.

2. Objek Wisata Sejarah (History, Tourism)


Daya tarik wisata sejarah, seni dan budaya di Kabupaten Tana Toraja,
merupakan salah satu potensi wisata yang prospektif untuk dikembangkan

LAPORAN PENDAHULUAN II - 29
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dimasa mendatang, karena merupakan aset daerah yang perlu perhatian


dari berbagai pihak, karena objek tersebut merupakan bentuk peradaban
masa lampau. Adapun data objek wisata sejarah, seni dan budaya di
Kabupaten Tana Toraja, sebagai berikut;
1. Liang Lo’ko Randanan
Daya tarik wisata Liang Lo’ko Randanan
merupakan tempat penguburan mayat
atau orang meninggal oleh masyarakat
Toraja. Liang ini berada di dalam gua.
Untuk melakukan penguburan harus
menggunakan obor. Di kaki gunung gua
di perkirakan dahulunya terendam air laut dengan adanya serpihan fosil
karang laut yang melekat pada batu di sekitarnya. Hal ini di lakukan
berdasarkan kultur masyarakat yang di bawahi oleh para leluhur sejak
dibentuk. Dengan adanya penguburan mayat pada lubang-lubang batu
yang terdapat di dalam gua menunjukan keunikan tersendiri bagi daerah
ini. Lokasi objek wisata liang lo’ko randanan terletak di kecamatan
Mengkendek kelurahan Randanan dengan jarak ± 5 Km dari ibu kota
Kabupaten Tana Toraja
2. Potok Tengan
Daya tarik wisata Potok Tengan
merupakan situs purbakala atau
peninggalan bersejarah yang di
dalamnya terdapat barang-barang
bersejarah. Objek wisata Potok
Tengan memiliki daya tarik
arsitektur dengan ukiran pada
bangunan dengan warna yang khas
akan budaya masyarakat Tana Toraja. Objek wisata Potok Tengan
terletak di kecamatan Mengkendek kelurahan Tengan dengan jarak ± 8
Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 30
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. Kuburan Batu Ke’pe Tinoring


Daya tarik wisata Kuburan Batu Ke’pe Tinoring merupakan tempat
kuburan mayat masyarakat Tana Toraja, kuburan ini merupakan tempat
yang diwariskan oleh para leluhur untuk tetap dipertahankan sebagai
tempat kebudayaan masyarakat, objek wisata Kuburan Batu Ke’pe
Tinoring ini memiliki keindahan alam yang baik karena terdapat gunung-
gunung batu besar yang di gunakan untuk tempat menyimpan mayat,
serta dikelilingi oleh hutan dengan hijaunya vegetasi di sekitarnya.
Lokasi ini berada di kecamatan Mengkendek kelurahan Ke’pe Tinoring
dengan jarak ± 10 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.
4. Tampang Allo
Daya tarik wisata Tampang Allo ini terletak 19 km dari Rantepao dan 12
km dari Makale. Tampang Allo berupa gua alam tempat dimakamkannya
salah satu penguasa Sangalla, yaitu Puang Manturino dan istrinya,
Rangga Bulaan yang wafat sekitar pertengahan abad ke-16. Diceritakan
jenazah Puang Manturino menghilang dari erongnya, setelah dikuburkan
terpisah dengan istrinya yang meninggal terlebih dulu, Rangga Bulaan,
dan dikuburkan di Gua Tampang Allo. Menurut cerita jenazah Puang
Manturino kemudian ternyata ditemukan telah bersatu dengan jenazah
istrinya di Gua Tampang Allo. Sejak saat itu keturunan-keturunan
mereka juga kemudian dimakamkan di gua ini bersama dengan
pasangannya sebagai perwujudan perjanjian dan sumpah suami istri:
”sehidup semati, satu kubur kita berdua”. Objek ini memiliki daya tarik
adalah Liang Lo’ko Tau-tau dan tau-tau. Objek wisata ini terletak di
Lembang Turunan Kecamatan Sangalla.
5. Suaya
Objek wisata Suaya merupakan tempat penyimpanan mayat atau
makam para raja-raja sangalla dan di lengkapi oleh makam raja
pantunuan yang kedudukannya berada di atas batu besar, mayat-
mayatnya di susun bereretan di lobang batu. Objek wisata ini memiliki
keunikan terdendiri dengan panorama alam serta dikelilingi oleh

LAPORAN PENDAHULUAN II - 31
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pepohonan dan letaknya berada di atas pegunungan sehinggah


wisatawan yang mengunjungi dapat melihat jelas pamandangan di
daerah tersebut. Tempat ini terletak di kecamatan Sangalla kelurahan
Ka’ero dengan jarak ± 10 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.
Objek ini memiliki daya tarik adalah Liang Lo’ko’, Tau tau dan tau-tau.
6. Buntu Kalando Museum
Objek wisata Buntu Kalando
Museum tempat penyimpanan
barang-barang peninggalan para
leluhur. Lokasi ini terletak di
Kecamatan Sangalla Kelurahan
Ka’ero dengan jarak ± 10 Km dari
pusat kota Kabupaten Tana
Toraja. Di Buntu Kalando ini terdapat tongkonan dari keluarga Puang
Sangalla’. Puang Sangalla’ adalah pemimpin dari kerajaan Sangalla’,
terletak 20 km dari kota Rantepao. Kini tongkonan tersebut telah beralih
fungsi menjadi museum dan homestay. Objek ini memiliki daya tarik
adalah Tongkonan Puang Sangalla dan Museum mini.
7. Pasiliran Panurusan atau Kambira (Kuburan Bayi)
Di Kambira terdapat lokasi pekuburan yang digunakan untuk mengubur
bayi atau anak-anak yang belum tumbuh giginya. Kuburan ini berupa
sebatang pohon kayu Tarra’. Pohon itu sendiri diperkirakan telah
berumur lebih dari 300 tahun. Orang Toraja percaya bahwa bayi belum
bisa menaiki tedong (kerbau) yang akan membawanya ke puya (surga).
Untuk itu, maka ia dikuburkan dengan cara yang berbeda dengan orang
dewasa yaitu dimasukkan dalam posisi berlutut menghadap keluar.
Selama prosesi pemakaman semua pengantar mayat baik laki-laki
maupun perempuan dilarang untuk berbicara sampai seluruh prosesi
pemakaman selesai. Di pohon tarra’ yang memiliki getah ini mereka
dimakamkan sementara. Getah berwarna putih dari pohon ini
merepresentasikan air susu ibu. Objek wisata Pasiliran panurusan ini

LAPORAN PENDAHULUAN II - 32
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

terletak di Kecamatan Sangalla Utara Kelurahan Bebo dengan jarak ± 9


Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.

8. Tongkonan banua Kasalle


Tongkonan Banua Kasalle, bangunan rumah tradisional masyarakat
Toraja, yang memiliki fungsi bukan hanya sekedar hunian, tetapi juga
tempat tumbuh dan berkembangnya sosial budaya masyarakat Toraja,
memiliki bentuk arsitektur yang unik. Menurut cerita yang diyakini
masyarakat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga oleh Puang
Matua, dengan empat tiang utama dan atap yang terbuat dari kain.
Leluhur Toraja kemudian meniru bentuk tongkonan untuk rumah tinggal
mereka. Tongkonan dibangun mirip perahu dan selalu menghadap ke
utara sebagai simbol penghormatan pada Puang Matua serta untuk
mengingatkan daerah asal leluhur suku Toraja. Setiap tongkonan
dilengkapi dengan Alang Sura’ atau lumbung padi yang juga berbentuk
menyerupai tongkonan dengan ukuran yang lebih kecil. Alang Sura’
yang berfungsi sebagai tempat menyimpan padi atau barang-barang
warisan keluarga ini ditempatkan di depan dan saling berhadapan
dengan tongkonan. Objek wisata Tongkonan Banua Kasalle ini terletak
di kecamatan Sangalla Lembang Bulian Masa’bu dengan jarak ± 6 Km
dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.
9. Kuburan Liang Batu Sirope
Keterkaitan antara budaya dan
bentang alam Tana Toraja
ditunjukkan juga dengan budaya
penguburan jenazah di dalam maupun
digantung pada tebing atau gua
batuan karst. Jenazah dalam peti yang
dikuburkan di dalam tebing batu yang
dilubangi pada umumnya berasal dari
keluarga yang berstatus sosial tinggi. Lubang kuburan pada tebing batu
dinamakan Liang Pa’a. Objek wisata Kuburan Alam Sirope ini terletak di

LAPORAN PENDAHULUAN II - 33
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

kecamatan Makale Utara kelurahan Lion Tondok dengan jarak ± 6 Km


dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.
10. Lemo Buntang
Lemo Buntao adalah kawasan pekuburan batu hasil kreasi tangan-
tangan terampil masyarakat Toraja pada abad ke XVI. Kawasan ini
sudah mulai menarik kunjungan wisatawan sejak tahun 1960. Kompleks
pemakaman ini disebut Lemo karena kuburan/liang batu tersebut secara
keseluruhan berbentuk seperti buah jeruk bundar dan berbintik-bintik.
Menurut cerita rakyat setempat, kuburan yang tertua di Lemo berumur
500 tahun, seorang tetua adat bernama Songgi Patalo. Di tempat ini
terdapat sekitar 50 tau-tau sebagai lambang prestise, status, peran dan
kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Areal ini merupakan
kompleks pemakaman terbesar dengan sekitar 30 gua alam yang juga
digunakan sebagai tempat pemakaman. Daya tarik tersendiri yang dapat
ditemukan di tempat ini adalah pemandangan pepohonan-pepohonan
bambu yang tumbuh di sekitarnya, mengunjungi tempat ini kita akan
menemukan kuburan yang mengesankan ketenangan serta merupakan
bentuk nyata tradisi sejak dahulu.
Objek wisata ini terletak di Kecamatan Makale Utara Kelurahan Lemo
dengan jarak dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja adalah ± 9 Km.

11. Buntu Tondon


Terletak di tepi Kota Makale,
Tondon Makale adalah sebuah
lokasi pekuburan bangsawan
Makale. Pada awalnya di dinding
pekuburan tersebut terdapat
beberapa tau tau. Namun seiring
dengan meningkatnya pencurian
tau-tau, maka pihak keluarga
kemudian memindahkannya ke rumah mereka. Akibatnya balkon-balkon
yang dulu diisi tau-tau, kini kosong. Daya Tarik Wisata Utama adalah
Liang Pa’a. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Makale Utara

LAPORAN PENDAHULUAN II - 34
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kelurahan Tondon Mamulu dengan jarak dari pusat kota Kabupaten


Tana Toraja adalah ± 100 Km.
12. Tumakke
Objek wisata Tumakke
merupakan tongkonan beratap
batu berada di kecamatan
Suluputti Kelurahan Rembon
dengan jarak 10 km dari pusat
kota Kabupaten Tana Toraja.
Objek wisata ini memiliki keunikan
dilihat berdasarkan konstruksi
bangunan dengan penyusunan atap bangunan dari batu yang
dikreasikan oleh masyarakat Kabupaten Tana Toraja. Di sekitar objek
juga terdapat keindahan alam yang menarik dengan adanya vegetasi
hijau.
13. Batusura
Terletak sekitar 500 meter dari Batusura, objek ini berdiri di pinggir jalan
raya. Pada dasarnya Batususu adalah sebuah tau-tau yang dibuat dari
batu, sebagai pertanda prestise bangsawan Batusura yang dimakamkan
di dekat tempat tersebut. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Makale.
14. Sillanan/Ma’duang Tondok
Ma’duang Tondok terletak 20 Km ke arah Selatan Makale, di desa
Sillanan. Di tempat ini, kita akan menemui mayat bayi yang dijadikan
mumi, berumur kurang lebih 450 tahun. Seluruh tubuhnya termasuk
kulit, gigi dan rambutnya masih utuh. selain itu juga terdapat tongkonan
dan liang pahat. Namun demikian, pada tahun 1997, mumi bayi tersebut
di curi dan semenjak itu, objek di Sillanan ini tidak aktif lagi. Daya Tarik
Wisata Utama wisata ini adalah Patane khusus mayat bayi purba. Objek
wisata ini terletak di Kecamatan Mengkendek.
15. Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallumanuk
Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallumanuk merupakan rumah adat
yang usianya sudah puluhan tahun, dengan kondisi arsitekturnya masih

LAPORAN PENDAHULUAN II - 35
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

bersifat klasik dengan jenis kayu yang masih kuat sampai sekarang ini,
oyek wisata ini memiliki keunikan dilihat berdasarkan kondisi bangunan
serta daerah sekitarnya dengan pemandangan alam yang cukup indah,
serta di hiasi dengan tanduk atau gading tedong dan atap yang terbuat
dari batu.
16. Kuburan Batu
Objek wisata kuburan batu
merupakan tempat kuburan mayat
masyarakat Tana Toraja di sekitar
Kecamatan Malimbong Balepe. Daya
tarik objek wisata ini adalah keunikan
batu besar yang di pahat atau di
lubang untuk tempat pemakaman,
dan sekelilinginya terdapat pepohonan yang hijau serta suasana alam
yang indah. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Malimbong Balepe
Lembang Kole Sawangan dengan jarak ± 14 Km dari pusat kota
Kabupaten Tana Toraja.

17. Kuburan Batu Sanduri Lo'po


Objek Kuburan Batu Sanduri Lo'po
merupakan tempat pemakaman
para mayat atau orang meninggal
yang di letakan di dalam lubang-
lubang batu yang dipahat atau
kreasi masyarakat setempat pada
masa silam dan dilanjutkan sampai
sekarang, objek ini memiliki
keunikan dapat dilihat pada alam sekitarnya dan dikelilingi oleh pohon-
pohon bambu yang rindang sehingga daerah tersebut sangat sejuk
dengan adanya hijaunya pepohonan di kawasan tersebut. Objek wisata
ini terletak di kecamatan Rembon.
18. Rumah Adat Tumbang Datu' Be'bo'

LAPORAN PENDAHULUAN II - 36
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Objek wisata Adat Tumbang Datu' Be'bo berada di Kecamatan Sangalla


Utara, dengan kondisi bangunan yang unik, dilihat berdasarkan
arsitektur klasik sehingga rumah adat ini memiliki daya tarik tersendiri.
Rumah adat ini di hiasi dengan gading atau tanduk tedong yang
umurnya sudah puluhan tahun. Objek wisata ini terletak di Kelurahan
Be’bo Kecamatan Sangalla Utara.

19. Perkampungan Adat Sillanan (Tongkonan)


Perkampungan Adat Sillanan berada di Kecamatan Mengkendek
Lembang Sillanan dengan jarak ± 15 Km dari pusat kota Kabupaten
Tana Toraja. Tongkanon ini memiliki ukiran warna yang di buat
berdasarkan ciri khas budaya di Kabupaten Tana Toraja, tongkanon ini
juga memiliki daya tarik tersendiri pada bangunan yang mencirikhas
kultur atau budaya masyarakat Tana Toraja.

20. Rumah Adat Dan Benteng To Pada Pindo


Objek wisata Rumah Adat Dan Benteng To Pada Pindo berada di
Kecamatan Sangalla Utara Kelurahan Tumbang Datu Be’bo. Rumah adat
ini memiliki struktur bangunan yang unik yang menciri khas kultur
masyarakat Kabupaten Tana Toraja. Rumah adat ini merupakan tempat
peninggalan barang-barang bersejarah pada masa lalu, barang-barang
ini di pelihara dan ditontonkan di dalam rumah adat.

21. Sillanan
Objek ini adalah salah satu situs peninggalan purbakala berupa
perkampungan adat dengan tradisinya dan juga sebagai daerah yang
dikelilingi dengan perkebunan kopi, sayur-sayur, dan buah-buahan.
Tempat ini terkenal dengan perkampungan adatnya. Disini terdapat
beberapa tongkonan yang memiliki fungsinya masing-masing dalam
pemerintahan, juga liang pahat atau kuburan buatan di tebing-tebing
gunung batu yang terjal dan menjulang tinggi, erong (peti jenazah
purba di Tana Toraja dari kayu), sumur alam, sumur mata air dan
pancuran yang tidak pernah kering, terbuat dari susunan batu gunung.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 37
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tempat ini terkenal dengan panorama alam yang mempesona, disertai


dengan hamparan perkebunan rakyat, fauna dan flora berupa anggrek,
kopi dan vanili. Objek wisata ini terletak di Lembang Sillanan Kecamatan
Gandangbatu Sillanan.

22. Pattan
Di lokasi ini daya tarik berupa tongkonan atau perkampungan tradisonal
Toraja yang memiliki strata kultur/budaya yang sangat di junjung tinggi
serta terdapat Liang atau kuburan dan tau-tau yang memiliki daya tarik
tersendiri serta kondisi alam yang sangat natural sehingga daerah ini
memiliki kenyamanan dan keaslian yang sangat memuaskan. Objek
wisata ini terletak di Kelurahan Kelurahan Pattan Kecamatan Suluputti.
23. Sassa'
Objek wisata ini merupakan tempat rumah adat atau tongkonan tertua
di Kecamatan Mengkendek dan sekitarnya, tongkonan Assa’ ini sebagai
tempat tinggal Tangdilatuk yang membuat aturan adat dan kepercayaan
Sumio’ Sukaran Aluk di kampung/negeri Pangrorean juga kuburan bayi
di pohon besar, perkebunan kopi dan markisa sehingga memberikan
suhu yang sejuk. Objek wisata ini terletak di Lembang Gasing
Kecamatan Mengkendek.
24. To'Puang
Objek wisata ini merupakan tempat rumah/perkampungan tradisonal
Toraja (tongkanon) yang memiliki struktur bangunan yang unik serta
ukiran kayu, rona warna yang khas dengan ciri khas budaya masyarakat
Tana Toraja serta batu bersejarah yang memiliki keunikan serta nilai
historis yang sangat mengagumkan. Objek wisata ini terletak di
Lembang Rentealang Kecamatan Sangalla Selatan.
25. Babakanaan
Objek ini merupakan tempat Liang Lo’ko’ (kuburan dalam gua alam)
yang memiliki keunikan serta daya tarik yang menajubkan dengan
kondisi dalam gua yang gelap sehingga menggunakan lampu untuk
memasuki tempat ini. Liang Pa (kuburan batu pahat) merupakan

LAPORAN PENDAHULUAN II - 38
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

kreatifitas masyarakat Tana Toraja untuk dibuat sebagai tempat


kuburan mayat yang posisinya berada di atas tebing batu serta lokasi
panjat tebing yang memiliki keindahan alam yang sangat eksotis ketika
berada di atas puncak tebing. Objek wisata ini terletak di Lembang
Randanan Kecamatan Mengkendek.
26. A’paa Pemanukan
Objek ini merupakan perkampungan tradisonal yang di dalamnya
terdapat 4 unit tongkonan. Di tempat ini dua wilayah kekuasaan
kampung/negeri bersatu, yaitu dari Tongkonon Karua di Sillanan dan
Tongkanon A’paa di Pemanukan, dikenal dengan nama Ma’duang
Tondok (dua kampung yang bersatu). Rumah kami bersatu adalah
kesan yang menggambarkan wilayah ini. Tempat ini dapat dijadikan
sebagai salah satu alternatif yang dapat memperkaya khasanah kita
untuk mengetahui bentuk kebudayaan yang terdapat di Tana Toraja.
Daya tarik lain dari lokasi ini adalah Liang Lo’ko’ Wai, yaitu tempat
mayat bayi purba yang unik dan awet (mummi). Juga ada patung Tau-
Tau (karopi) di mana orang yang telah mati dibuatkan patungnya. Objek
wisata ini terletak di Lembang Pemanukan Kecamatan Gandangbatu.
27. Tengko Batu
Objek wisata Tengko Batu merupakan
batu keramat yang memiliki nilai
historis tersendiri. Objek ini juga
memiliki kesakralan yang di jadikan
sebagai tempat permintaan/ doa untuk
mengabulkan keinginan masyarakat
berdasarkan keyakinan. Objek ini
memiliki daya tarik dengan keindahan
alam serta di kelilingi oleh pepohonan yang rindang sehingga wisatawan
dapat menikmati kesejukan dan keindahan di objek tersebut. Objek
wisata ini terletak di Kelurahan Kamli Pantalluang Kecamatan Makale.
28. Lo'ko Tongko/gua alam

LAPORAN PENDAHULUAN II - 39
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Objek wisata Lo'ko Tongko/gua alam merupakan kuburan tradisonal


yang di lengkapi dengan (peti jenazah tua tradisonal). Wisatawan akan
mengetahui perkembangan peradaban kuno di sini. Awalnya jenazah
diletakan di dalam gua, namun karena peradaban manusia terus
mengalami kemajuan dengan ditemukannya besi, mereka mulai
membuat erong yakni kuburan yang terbuat dari kayu sebagai kuburan
keluarga. Erong berukir dengan golongan bangsawan yang tidak diukir
dari golongan orang kaya. Namun bagi rakyat biasa tidak di butuhkan
erong. Objek wisata ini terletak di Kelurahan Tongko Serapung
Kecamatan Sangalla.
29. Ma'duang Tondok
Untuk mempertahankan daerah kekuasaan dari gangguan luar termasuk
penjajahan, kedua kekuasaan yakni Tongkonan Karua Sillanan dan
Tongkanan A’paa Pemanukan bersatu. Objek wisata ini merupakan
gabungan dari dua tongkonan yang memiliki nilai historis yang
menakjubkan karena objek ini awalnya dijadikan sebagai pertahanan
daerah kekuasaan di Tana Toraja.
30. Perkuburan kuno Gandangbatu
Objek wisata Perkuburan kuno Gandangbatu berada di Kecamatan
Gandangbatu Sillanan Kelurahan Gandangbatu dengan jarak ± 20 km
dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja. Kuburan kuno ini memiliki daya
tarik yang unik dilihat berdasarkan kondisinya serta di kelilingi oleh
hijaunya pepohonan dan keindahan alam yang natural.
31. Liang Pahat
Objek wisata liang pahat merupakan tempat pemakaman masyarakat
Tana Toraja yang di letakan di dalam lubang batu. Liang ini di buat oleh
masyarakat dengan cara pemahatan di tebing atau batu besar dengan
ukuran lubang yang dapat menampung jenazah atau orang yang sudah
mati. Daya tarik pada objek ini adalah keindahan alam serta di kelilingi
oleh flora dan fauna yang menakjubkan. Objek wisata ini terletak di
Kelurahan Rano Kecamatan Rano dengan jarak ± 40 Km dari pusat Kota
Kabupaten Tana Toraja.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 40
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

32. Lo’ko’ Wai (Kuburan Bayi Purba)


Objek wisata ini merupakan tempat pemakaman bayi purba yang
usianya sudah puluhan tahun dengan keunikan yang menajubkan serta
daya tarik dilihat berdasarkan kondisi alamiah serta vegetasi yang hijau
di sekelilingnya, objek wisata ini memiliki nilai historis tersendiri bagi
masyarakat Tana Toraja. Objek wisata ini terletak di Kelurahan Mebali
Kecamatan Mangkendek dengan jarak ± 28 Km dari pusat Kota
Kabupaten Tana Toraja.
33. Pantan (Tongkonan)
Objek wisata Pantan (tongkonan) berada di kecamatan Makale
kelurahan Patudu Bombongan dengan jarak ± 1 km dari pusat kota
Kabupaten Tana Toraja. Objek wisata ini merupakan
perkampungan/rumah tradisonal masyarakat Tana Toraja. Objek ini
memiliki daya tarik dilihat berdasarkan kondisi arsitekturnya dengan
ukiran pada bangunan serta di beri rona warna yang menciri khas
budaya masyarakat Tana Toraja.
34. Bubun Sillanan
Gandangbatu Sillanan, gabungan beberapa lembang di bagian Selatan
Mengkendek yang menjadi kecamatan yaitu: - Lembang Sillanan,
dikepalai oleh Letnan (Purn) Galigo - Lembang Gandangbatu - Lembang
Pemanukan, dikepalai oleh Daniel Momba’. Jarak dari objek wisata
Gandangbatu Sillanan adala ±17 Km dari pusat Kabupaten Tana Toraja.
35. Ma’dandan (Himpunan Erong)
Erong adalah semacam peti mati yang terbuat dari kayu yang keras dan
kuat. Bagian luar erong ditatah dengan ukiran yang indah. Objek wisata
Ma’ dandan (himpunan erong) berada di kecamatan Gandangbatu
Sillanan kelurahan Patudu. Objek ini merupakan tempat perkumpulan
erong (kuburan kuno) yang yang memiliki usia sudah puluhan tahun.
Himpunan erong ini memiliki daya tarik dengan keindahan alam serta
dikelilingi oleh vegtasi yang hijau. Erong ini memiliki ukuran yang
berbeda-beda dilihat berdasarkan usia jenazah pada masyarakat Tana
Toraja.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 41
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

36. Kalumpini/Kuburan Tua


Objek wisata Kulumpini atau Kuburan Tua berada di kecamatan
Gandangbatu Sillanan kelurahan Gandangbatu dengan jarak ± 15 km
dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja. Objek ini usianya sudah
puluhan tahun dengan daya tarik keindahan alam serta memiliki nilai
historis yang bermakna bagi masyarakat Kabupaten Tana Toraja.
37. Rumah Adat
Objek Rumah adat berada di kecamatan Bittuang Lembang Pali dengan
jarak ± 40 km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja. Rumah adat ini
merupakan peninggalan sejarah yang di bangun oleh para leluhur
masyarakat Tana Toraja. Objek ini memiliki daya tarik dilihat
berdasarkan kondisi arsitekturnya dengan ukiran pada bangunan serta
di beri rona warna yang menciri khas budaya masyarakat Tana Toraja.
38. Pa’bakka (Liang Tau-Tau)
Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah menjadi manusia
(manusia="tau" dalam bahasa Toraja) sesungguhnya dalam konteks
masyarakat Toraja. Filosofi tau memiliki empat pilar utama yang
mengharuskan setiap masyarakat Toraja untuk menggapainya, antara
lain: - Sugi' (Kaya) - Barani (Berani) - Manarang (Pintar) - Kinawa
(memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana) Keempat pilar di atas tidak
dapat di tafsirkan secara bebas karena memiliki makna yang lebih dalam
daripada pemahaman kata secara bebas. Seorang Toraja menjadi
manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup sebagai
Tau. Objek ini berada di Kecamatan Sulluputi Kelurahan Ulusalu.
39. Sanduni (Liang)
Objek wisata Sandini (liang) merupakan tempat kuburan masyarakat
Tana Toraja. Objek ini memiliki daya tarik dengan keindahan alam serta
di kelilingi oleh flora dan fauna, pepohonan yang rindang dan sejuk
sehingga wisatawan dapat menikmatinya dengan baik.

40. To’bai (Liang Tau-Tau)

LAPORAN PENDAHULUAN II - 42
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

To’bai (liang tau-tau) merupakan tempah patung-patung orang yang


suda meninggal di Kabupaten Tana Toraja. Tau-tau ini di merupakan
kreatifitas masyarakat dengan dengan hasil kreasi yang sangat unik.
Tau-tau ini di buat berdasarkan jenis kelamin orang yang sudah
meninggal.

3. Seni dan Budaya (Art, and Culture Tourism)


Tana Toraja dikenal dengan lansekap budayanya (cultural landscape) yang
unik. Diantara sekian banyak budaya Toraja salah satu yang paling khas
yaitu adanya tradisi menguburkan jenazah leluhurnya pada tebing batu.
Keunikan budaya Toraja menjadikan wilayah ini dinominasikan menjadi
UNESCO World Heritage Sites pada tahun 1995 yang lalu. Nilai serta daya
tarik budaya yang ada juga menjadikan Tana Toraja sebagai daerah tujuan
wisata utama kedua setelah Pulau Bali, khususnya bagi wisatawan
mancanegara. Letak Tana Toraja yang dikelilingi pegunungan membuat
kabupaten ini memiliki panorama alam yang sangat indah, yang merupakan
perpaduan antara bebatuan karst dengan sawah dan bukit yang hijau. Selain
itu adanya upacara pemakaman para leluhur, pekuburan di tebing batu,
arsitektur dan kerajinan ukiran kayunya yang khas, serta penduduknya yang
hingga kini masih memegang tradisi adat dengan kuat, merupakan sekilas
gambaran mengenai keutuhan budaya Tana Toraja. Secara garis besar,
ragam budaya yang ada di Tana Toraja dapat dikategorikan ke dalam sub-
bab berikut ini.
1) Kepercayaan dan Upacara Adat
Masyarakat Tana Toraja memiliki kepercayaan/aturan keagamaan yang
dikenal dengan nama Aluk. Kepercayaan ini diperkirakan sudah dianut
oleh masyarakat Toraja sejak abad ke IX Masehi. Aluk merupakan
aturan religi yang menjadi sumber budaya dan pandangan hidup leluhur
Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola
tingkah laku hidup maupun ritual orang Toraja untuk mengabdi kepada
Puang Matua.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 43
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2) Upacara Rambu Tuka’ atau Upacara Rampe Mataallo


Upacara Rambu Tuka atau Upacara Rampe Matallo memiliki arti secara
harfiah yang berarti, “Rambu = Asap” dan “Tuka = Naik”, serta “Rampe
= bagian sebelah” dan “Mataallo = Timur”. Upacara ini merupakan
rangkaian upacara yang dilakukan masyarakat Toraja semasa hidupnya
di dunia untuk tujuan keselamatan dari kehidupan dan juga untuk
memuja pencipta, pemelihara alam semesta serta para leluhurnya.
Adapun jenis upacara yang termasuk ke dalam Upacara Rambu Tuka’
atau Upacara Rampe Mataal.

3) Alukna Rampanan Kapa’, Sangka’na Passullean Allo


Adalah upacara perkawinan adat. Perkawinan dalam tradisi masyarakat
Toraja dipandang sebagai sebuah ikatan yang suci, sakral dan juga
mengandung nilai hukum yang tidak hanya bagi kedua mempelai,
namun juga bagi seluruh keluarga besar mempelai. Adapun rangkaian
upacara perkawinan adat Toraja terdiri dari: - Peminangan, -
Pembicaraan untuk menentukan ikatan hukum (dikapa’i) antara kedua
belah pihak keluarga, - Pelaksanaan perkawinan. Besar kecilnya upacara
perkawinan ditentukan oleh kesepakatan kedua belah pihak keluarga,
yang tentunya tidak terlepas dari status sosial kedua mempelai.
4) Upacara Rambu Solo’ atau Upacara Rampe Matampu
Upacara Rambu Solo’ atau Upacara Rampe Matampu memiliki arti
secara harfiah yang berarti, “Rambu = Asap” dan “Solo = Turun”, serta
“Rampe = bagian sebelah” dan “Matampu = barat”. Upacara Rambu
Solo’ atau Upacara Rampe Matampu merupakan upacara yang berkaitan
dengen kematian dan pemakaman jenazah. Pada jenis upacara ini
hanya terdapat tingkatan upacara berdasarkan status sosial
kemasyarakatan di Toraja.
5) Upacara Disilli’
Yaitu upacara pemakaman bersyarat yang merupakan upacara terendah
dan upacara pemakaman yang sangat sederhana. Upacara ini berlaku
untuk masyarakat yang memiliki ekonomi lemah (kelas hamba sahaya).
Contoh salah satu kesederhanaannya adalah pada saat penguburan,

LAPORAN PENDAHULUAN II - 44
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

hanya dilakukan dengan memukul tempat makan babi (palungan), yang


dikenal dengan istilah didedekan palungan bai. Selain itu, Upacara Disilli
diberlakukan bagi bayi dan anak kecil yang belum memiliki gigi. Pada
upacara bayi yang baru lahir dan meninggal dunia, penguburan
dilakukan dengan plasentanya dan tanpa upacara keagamaan.
Sedangkan anak kecil yang belum memiliki gigi dikuburkan bersama
dalam pohon kayu besar yang disebut kayumate. Mereka dipercaya
masih belum berdosa (masih suci) sehingga dikembalikan lagi pada alam
asalnya melalui pohon, yang dikenal dengan istilah passiliran. Upacara
seperti ini berlaku untuk semua strata kehidupan masyarakat Toraja.
Dari seluruh upacara maupun ritual adat yang ada di Toraja, upacara
pemakaman merupakan upacara sakral terbesar dan termahal diantara
upacara yang lainnya. Semakin tinggi strata sosial yang dianut orang
Toraja, maka semakin besar dan mahal pula upacara yang
dilaksanakannya. Kewajiban dalam melaksanakan upacara pemakaman
dibebankan kepada keluarga yang ditinggalkan, maka sering upacara
pemakaman dilakukan beberapa tahun setelah orang tersebut
meninggal. Kondisi ini memberikan kesempatan kepada keluarga yang
ditinggalkan untuk mencari sejumlah dana yang dibutuhkan bagi
upacara pemakaman tersebut. Oleh karena itu pembalsaman bagi
jenazah perlu dilakukan agar jenazah masih dalam kondisi yang baik
sampai tiba saat upacara pemakamannya. Jenazah tersebut diletakkan
di dalam tongkonan dan dianggap masih hidup bersama dengan
keluarganya.

4. Tarian Adat
1) Tari Pa’gellu
Gellu’ Pangala’ adalah salah satu tarian tradisional dari Tana Toraja yang
dipentaskan pada acara pesta “Rambu Tuka”. Setiap gerakan dalam
tarian ini merupakan simbol-simbol dari falsafat orang toraja. Tetapi
tarian ini tabu atau pamali dipentaskan pada acara “Rambu Solo”. Tarian
Ini terdapat di Kecamatan Makale, Mangkendek dengan jarak (5 Km),

LAPORAN PENDAHULUAN II - 45
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Makale Utara dengan jarak (8 Km), Makale Selatan dengan jarak (10
Km), Malimbong Balepe dengan jarak (11 km).
2) Tarian Ma’ Badong
Tarian ini dilakukan pada upacara kematian dan biasanya berlangsung
berjam-jam, bahkan sering berlangsung semalaman. Tarian yang
terbuka untuk umum ini, ditarikan dengan saling mengkaitkan jari-jari
kelingking dalam lingkaran yang bergerak seiring gerakan langkah dan
dibawakan oleh wanita maupun pria setengah baya. Biasanya penari
memakai pakaian serba hitam sembari silih berganti melantunkan lagu
kadong badong, yang syairnya berisikan riwayat manusia dari lahir
sampai mati, serta doa-doa agar arwah dapat diterima di dunia arwah
(Puya). Tarian Ma’badong ini hanya dilakukan pada upacara pemakaman
kaum bangsawan, yang lamanya minimal 3 (tiga) hari dan 3 (tiga)
malam. Tarian ini berada di Kecamatan Saluputti dengan jarak (19 Km).
3) Tarian To Mangnganda’
Tarian ini dipentaskan oleh kaum pria yang mempergunakan tanduk
kerbau dan hiasan uang-uang logam kuno (oang) sebagai hiasan kepala
ditambah dengan kain mawa’ tua terjumbai ke belakang. Para penari
menggunakan juga lonceng/bel kecil yang selalu dideringkan pada saat
menari dan bunyinya sangat merdu dan ritmik. Gerakan tarinya sering
dibarengi lengking teriakan yang mengejutkan penonton Tarian
Manganda’ adalah tarian pemujaan yang dipentaskan pada upacara
Merok atau Ma’Bua’. Tarian Terdapat di Kecamatan Makale Utara
dengan jarak (7 Km).
4) Tarian To Manimbong
Tarian Manimbong juga merupakan tarian pemujaan dan doa pada
upacara syukuran. Perbedaannya ialah tarian ini hanya ditarikan oleh
kaum pria. Pakaian, hiasan dan perlengkapan mereka terdiri dari
pakaian khusus untuk pria yaitu Bayu Pokko’ dan Seppa Tallu Buku dan
berselempangkan kain tua/antik yakni Mawa’ serta mengenakan hiasan
kepala yang terbuat dari bulu burung bawan atau bulu ayam yang
cantik. Perlengkapan mereka yaitu parang kuno (la’bo’ pinai) dan sejenis

LAPORAN PENDAHULUAN II - 46
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

tameng bundar kecil yang bermotif ukiran Toraja. Gerakan mereka juga
diiringi dengan syair lagu khusus. Tarian Manimbong sering
dikombinasikan dengan Tarian Ma’dandan dengan gerakan yang diiringi
oleh irama yang sama, walaupun tempat penari pria dan wanita saling
bertukaran tempat ke depan dan ke belakang, berdiri dan berlutut,
dengan diiringi sentakan gerakan-gerakan kaki. Tarian ini terdapat pada
Kecamatan Bittuang dengan jarak (25 Km).
5) Tarian Ma’randing
Tarian ini khusus untuk menghormati para pahlawan perang yang akan
pergi berperang atau baru tiba dari medan perang. Tarian ini terdapat
pada Kecamatan Sangala Selatan dengan jarak (15 km).
6) Tarian Boneballa’/Ondo Samalele
Tarian ini adalah tarian kegembiraan yang biasa dipentaskan sebagai
ucapan syukur kepada Sang Pencipta, terkait dengan mampunya sebuah
keluarga besar menyelesaikan renovasi tongkonannya maupun
selesainya penyelenggaraan Upacara Rambu Solo’ yang besar
(mangrapai’/sapurandanan). Tarian Boneballa’ ini dibawakan oleh wanita
dan remaja putri yang berasal dari tongkonan yang telah direnovasi.
Tarian ini diiringi oleh irama gendang yang dikenal dengan sebutan oni
tumburaka dan oni tuntunpitu, selain itu juga diiringi lagu berupa syair-
syair pemujaan kepada Tuhan (passengo). Rangkaian tarian ini ditutup
dengan tari massal yang diikuti oleh seluruh keluarga. Tarian ini berada
di Kecamatan Sangala Utara dengan Jarak 10 Km.
7) Tarian Pa’Bondesan
Tarian Pa’bodesan merupakan tarian penyembuhan terhadap penyakit
cacar yang mewabah. Tarian ini khusus dibawakan oleh kaum pria
dengan bertelanjang dada. Para penari menggunakan kuku palsu yang
disebut kuku setan (kanuku bombo) dan hiasan kepala yang khas dari
bambu yang penuh dengan guntingan kertas (pangngarru’). Gerakan
tarian ini senantiasa berputar ditempatnya dengan diiringi oleh alunan
irama suling yang khusus ditiup oleh 4 (empat) orang pemain suling.
Tarian ini berada di Kecamatan Masanda dengan Jarak (19 Km)

LAPORAN PENDAHULUAN II - 47
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

8) Tarian Pa’papangngan
Merupakan tarian penerimaan tamu yang dipentaskan oleh para gadis
dengan pakaian adat Toraja lengkap berwarna gelap (hitam). Gerakan
tarinya melambangkan ucapan selamat datang dan penyuguhan sekapur
sirih (pangngan) dan diakhiri dengan ucapan terima kasih serta
kemudian para penari berpamitan. Tarian terdapat di Kecamatan Makale
Utara dengan jarak (8 Km).
9) Tarian Burake
Tarian ini berasal dari bagian Barat Tana Toraja yaitu Kecamatan
Bonggakaradeng. Tarian ini merupakan tarian pemujaan kepada Puang
Marua can Deata (Aluk Todolo). Ditarikan oleh gadis-gadis bangsawan
dengan iringan musik yaitu suling lembang, musik gesek yaitu geso’-
geso’, gendang tangan yang kecil yaitu Kamaru (Garapung) dan
gendang besar yaitu Gandang Boro. Tarian ini diantar dengan sebuah
lagu berjudul : Kamma’-kamma’ku To Lino (Lagu khusus pemujaan).
Pakaian yang digunakan sangat spesifik yaitu Bayu Nene’ Barandilau,
Basserarang, Dodo orang. Perhiasannya terdiri dari Sa’pi’ Ulu, Tida-tida,
Ponto Kati, Sassang, Rara’ dan Orang-orang serta hiasan khas yaitu
Kanuku Deata (kuku dewa-dewi). Untuk kaum lelaki menggunakan
Seppa’ Todolo/Seppa’ Tallubuku, Bayu Pokko’ Muane, Sambu’, Talingka’
sapu’, La’bo Pinai, semuanya adalah bagian dari tradisional lelaki
ditambah hiasan dari manik-manik. Tarian ini terdapat Pada Kecamatan
Makale, dan Kecamatan Masanda dengan jarak (35 Km).
10) Tarian Dao Bulan
Tarian bersal dari Kecamatan Bonggakaradeng, tarian ini
menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan dalam menyambut
bulan purnama. judul Dao Bulan Da’mu mallun len, yang berarti
permohonan kepada sang Pencipta agar berkatNya senantiasa
dilimpahkan pada umat manusia sama seperti terangnya bulan yang
senantiasa bersinar.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 48
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

11) Tarian Ma’nani


Tarian ini dilakukan sebagai sarana hiburan yang di sertai dengan
upacara penyambutan selamat datang dan rasa hormat kepada pejuang
pada zaman penjajahan.
12) Tarian Ma’Katia
Tarian ini adalah tarian duka tradisional untuk menyambut keluarga dan
kerabat yang datang untuk menghadiri upacara pemakaman seorang
bangsawan. Tarian diiringi dengan lagu duka untuk menyampaikan
penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan bahwa mereka juga
turut berduka. Tarian ini dilaksanakan pada saat rombongan keluarga
dan kerabat (totongkon) memasuki area penerimaan tamu (lantang
karampoan). Tarian ini berada di Kecamatan Rembon dengan jarak (10
km).

2.2.2 Perkembangan Kunjungan Wisatawan


Kunjungan wisatawan di Kabupaten Tana Toraja bukan hanya wisatawan
nusantara, namun dari berbagai negara lain. Perkembangan jumlah kunjungan
dari tahun ke tahun juga memperlihatkan trand yang meningkat untuk wisatawan
nusantara sebagaimana pada tabel dibawah ini. Jumlah kunjungan wisatawan
jika dilihat pada setiap bulannya, peningkatan kunjungan yang paling besar yaitu
di Bulan Desember yang umumnya merupakan waktu libur serta bertepatan
dengan menjelang tahun baru.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 49
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN
TANA TORAJA, (RIPPARKAB)
TAHUN 2021-2030
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 2.9 Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kabupaten Tana Toraja Tahun 2009-2019
Tahun
No. Bulan
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1. Januari 1,137 1,574 925 2,126 1,154 1,524 1,639 120,914 146,402 123,876 211,056
2. Februari 780 832 761 2,130 1,251 1,062 3,425 65,485 60,692 58,300 36,336
3. Maret 200 725 892 1,015 1,345 1,942 1,509 53,218 52,065 66,908 20,375
4. April 208 893 869 1,063 1,450 1,412 1,987 39,112 50,898 62,852 14,188
5. Mei 647 1,016 825 1,229 1,700 911 2,986 51,742 47,271 44,276 43,709
6. Juni 173 757 865 1,292 1,980 1,334 1,692 47,555 72,840 26,921 120,611
7. Juli 392 1,271 968 1,392 7,650 9,650 10,987 142,135 80,223 105,700 129,024
8 Agustus 369 528 685 1,371 9,066 12,585 18,893 49,239 46,349 73,879 45,321
9 September 775 1,088 1,015 1,052 2,087 4,015 4,642 101,746 38,433 39,806 14,567
10 Oktober 67 510 875 1,677 1,775 1,985 1,289 105,573 34,169 55,128 34,567
11 November 72 966 2,512 2,434 1,512 7,998 9,870 65,297 68,037 245,234 36,567
12 Desember 679 2,471 4,675 4,055 11,349 15,651 23,245 214,576 475,804 453,399 324,500
Total 5,499 12,631 15,867 20,836 42,319 60,069 82,164 1,056,592 1,173,183 1,356,279 1,030,821
Sumber: BPS Kabupaten Tana Toraja, Update Tahun 2020

LAPORAN PENDAHULUAN II - 50
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Perkembangan kunjungan wisatawan nusantara atau dalam negeri mengalami


peningkatan yang sangat drastis dari tahun 2015 ke tahun 2016, dimana pada
tahun 2015 jumlah kunjungan sebanyak 82.164 wisatawan, dan meningkat
ditahun 2016 mencapai 1.056.592 wisatawan dengan selisih peningkatan yang
mencapai 974.428 wisatawan. Selanjutnya pada tahun 2017 ke tahun 2018 yang
mencapai peningkatan sebanyak 183.096 wisatawan dengan jumlah kunjungan
di tahun 2018 sebanyak 1.356.297 wisatawan.

Secara keseluruhan dari tahun 2009 sampai tahun 2019 perkembangan


kunjungan wisatawan sangat bervariasi, namun di tahun terakhir (2019) terjadi
penurunan yang cukup besar yaitu minus 325.458 kunjungan terhadap tahun
2018 yang merupakan tahun kunjungan wisatawan terbesar pada periode yang
sama yang mencapai 1.356.297 kunjungan wisatawan nusantara.

1,600,000
1,356,279
1,400,000
1,173,183
1,200,000
1,056,592 1,030,821
1,000,000

800,000

600,000

400,000

200,000
60,069 82,164
20,836 42,319
-
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Gambar 2.3. Grafik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Nusantara, tahun 2009-2019

Untuk kunjungan wisatawan mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja, terdapat


paling sedikit 22 (dua puluh dua) negara yang telah melakukan kunjungan wisata
ke daerah ini, namun perkembangan jumlah kunjungan cukup fluktuatif. Pada
grafik dan tabel data kunjungan wisatawan mancanegara dibawah ini,
menggambarkan adanya penurunan jumlah kunjungan wisatawan yang sangat
drastis pada tahun terakhir (2019) dan tahun 2018. Penurunan jumlah kunjungan
tersebut cukup besar yaitu pada tahun 2018 angka kunjungan turun mencapai

LAPORAN PENDAHULUAN II - 51
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6.497 wisatawan dari 25.919 wisatawan pada tahun 2017, kemudian di tahun
2019 kembali terjadi penurunan mencapai 8.896 wisatawan dari 19.422
wisatawan ditahun 2018 ke tahun 2019 yang hanya sebanyak 10.526 wisatawan.

30,000
25,919
25,000

20,167 20,267
19,324 19,422
20,000
15,731
15,000 13,532
10,526
10,000 9,015

5,634
5,000

-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Gambar 2.4. Grafik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Mancanegara, 2010-2019

Berdasarkan data akumulasi, daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja telah
dikunjungi oleh paling sedikit berasal dari 18 negara. Wisatawan asal Jerman,
Perancis dan Belanda merupakan negara yang paling banyak kunjungan
wisatawannya, dimana pada tahun 2017 periode Bulan Januari sampai Bulan Juli,
wisatawan dari Negara Perancis yang berkunjung ke Tana Toraja sebanyak 7.571
wisatawan, kemudia dari Negara Jerman sebanyak 5.788 wisatawan, dan Negara
Belanda sebanyak 1.899 wisatawan. Data tersebut menandakan bahawa daya
tarik wisata dan keunikan budaya di Kabupaten Tana Toraja sangat dikenal
didunia khususnya di negara-negara eropa dan asia.

LAPORAN PENDAHULUAN II - 52
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN TAHUN
KABUPATEN 2021-2030
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 2.10 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2009-2019
Tahun
No. Bulan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1. Januari 202 267 658 1,256 565 1,649 1,135 2,932 1,630 1,039
2. Februari 301 288 748 737 537 839 1,360 2,499 994 943
3. Maret 457 336 563 1,117 381 878 1,236 1,114 971 493
4. April 402 256 460 1,114 702 998 1,296 1,783 816 736
5. Mei 545 242 756 1,546 474 1,267 1,382 2,143 1,410 605
6. Juni 504 359 623 951 1,252 1,162 2,018 1,533 1,384 887
7. Juli 845 318 1,426 2,793 2,373 1,898 2,130 2,433 2,848 1,418
8 Agustus 682 736 2,108 3,086 4,355 2,720 2,601 3,650 1,994 1,113
9 September 414 814 1,360 2,040 3,408 1,625 2,311 2,356 2,438 984
10 Oktober 407 1,010 1,567 1,589 1,637 684 1,172 1,331 339 856
11 November 346 2,039 1,369 1,032 1,698 666 1,182 1,724 1,759 442
12 Desember 529 2,350 1,894 2,063 2,785 1,345 2,444 2,421 2,839 1,010
Total 5,634 9,015 13,532 19,324 20,167 15,731 20,267 25,919 19,422 10,526
Rata-rata 10.0% 60.0% 50.1% 42.8% 4.4% -22.0% 28.8% 27.9% -25.1% -45.8%
Sumber: BPS Kabupaten Tana Toraja, Update Tahun 2020

LAPORAN PENDAHULUAN II - 53
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 2.11 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2017
Bulan
No. Negara Asal Jumlah
Jan. Feb. Maret Apr. Mei Juni Juli Agust. Sep. Okt. Nov. Des.
1. AMERIKA SERIKAT 76 43 32 22 15 35 45 56 23 43 53 67 510
2. AUSTRALIA 13 7 17 23 7 17 16 42 34 14 - 34 224
3. AUSTRIA 56 2 9 12 14 3 7 34 26 44 34 42 283
4. BELANDA 165 85 45 20 55 65 234 435 324 78 163 230 1,899
5. BELGIA - - - - - 3 1 5 3 5 - 2 19
6. CANADA 1 - 1 4 - 4 - - 4 3 - 3 20
7. CEKO 33 27 12 3 5 4 5 - 5 2 - 6 102
8 SINGAPURA - - - 1 - - - - - - - - 1
9 SOUTH AFRICA - - - 5 - - - - - - - - 5
10 DENMARK 17 4 3 - 2 - - - - - - - 26
11 INGGRIS 7 14 5 3 2 11 6 65 34 5 5 12 169
12 ISRAEL 16 - 2 - - - - - - - - - 18
13 ITALIA 13 10 14 4 2 12 32 43 34 9 14 22 209
14 JEPANG - - - - 7 7 - - 5 - - - 19
15 JERMAN 982 165 121 67 145 657 876 1,023 432 342 435 543 5,788
16 KOREA 23 - 4 2 - - - 14 - - - - 43
17 MALAYSIA - - - 1 - - - - - - - - 1
18 PERANCIS 1,090 673 354 244 345 546 578 1,114 766 432 564 865 7,571

LAPORAN PENDAHULUAN II - 54
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN TAHUN
KABUPATEN 2021-2030
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 2.11 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2017
Bulan
No. Negara Asal Jumlah
Jan. Feb. Maret Apr. Mei Juni Juli Agust. Sep. Okt. Nov. Des.
19 SPANYOL - 16 9 14 14 24 67 54 12 12 33 52 307
20 SWISS 5 - - 13 - 4 5 - - - - 27
21 Lain-Lain 435 1,453 486 1,345 453 751 561 765 654 342 423 543 8,211
Total 2,932 2,499 1,114 1,783 1,066 2,143 2,433 3,650 2,356 1,331 1,724 2,421 25,452
Sumber: BPS Kabupaten Tana Toraja, Update Tahun 2020

LAPORAN PENDAHULUAN II - 55
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3
3.1 KAJIAN TEORITIS KONSEP DASAR PEMBANGUNAN
KEPARIWISATAAN
3.1.1 Prinsip Membangun Sektor Pariwisata
Membangun pariwisata berarti membangun perekonomian wilayah yang
diakibatkan oleh berkembangnya sektor pariwisata dan menjaga kelestarian
lingkungan. Untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut, maka perlu
dipahami mengenai konsep membangun pariwisata.

Ciri-ciri dari pariwisata yang tepat bahwa mereka memberdayakan masyarakat


lokal untuk memfasilitasi pengalaman akan warisan asli untuk tamu mereka.
Program pariwisata yang tepat dapat diciptakan pada berbagai level pembangunan
pariwisata di area pariwisata umum dibangun dengan baik, atau pada daerah yang
akan mengembangkan pariwisatanya.

Di Kabupaten Tana Toraja terdapat berbagai ragam jenis daya tarik wisata, yang
sangat berpotensi berkembang, terutama daya tarik wisata budaya dan alam,
maupun agro. Untuk itu perlu diperhatikan prinsip-prinsip membangun sektor
pariwisata, sebagai berikut:

1. Secara aktif mendorong kelangsungan peninggalan kebudayaan dan sejarah;


2. Menekankan dan menampilkan identitas daerah sebagai sesuatu yang
berkarakter dan unik;

LAPORAN PENDAHULUAN III - 1


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. Dilakukan berdasarkan pada keterampilan interpretasi peninggalan yang ada;


4. Memberdayakan masyarakat lokal untuk menginterpretasikan warisan mereka
sendiri kepada para tamu;
5. Membangun rasa bangga masyarakat lokal akan warisan mereka dan
meningkatkan hubungan dengan wisatwan serta keterampilan pelayanan;
6. Membantu memelihara gaya hidup dan nilai-nilai sosial budaya setempat;
7. Memberdayakan masyarakat lokal untuk merencanakan dan memfasilitasi
pengalaman berdimensi ganda yang otentik dan bermakna kepada
pengunjung;
8. Menampilkan pendekatan “bernilai tambah” terhadap pariwisata, yang berarti
meningkatkan kedalaman dan level pelayanan yang diberi kepada wisatawan;
dan
9. Menampilkan suatu pendekatan kearah pengembangan pariwisata
berkelanjutan, karena menekankan dan menghormati peninggalan suatu
daerah serta memberdayakan penduduknya sebagai basis pembangunan
pariwisata yang sejati.

3.1.2 Konsep Pembangunan Kepariwisataan Berkelanjutan


Konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan merupakan konsep dasar yang
digunakan sebagai pedoman dalam perumusan rencana induk pembangunan
pariwisata dan kegiatan pengembangannya. Dengan demikian, seluruh rencana
pengembangan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dirumuskan dengan
berpedoman pada konsepsi ini. Untuk lebih optimalnya operasionalisasi konsep ini
dan juga disesuaikan dengan karakteristik dan lingkup perencanaan, maka
didukung pula oleh konsep manajemen strategis, konsep perwilayahan dan klaster
pengembangan, dan konsep sinergi stakeholders.

Sebagaimana dipahami bahwa pariwisata adalah sebuah aktivitas dimana dalam


operasionalisasi maupun pengembangannya perlu adanya keseimbangan dalam
pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karenanya, pelaksanaan pembangunan harus
berdasar pada daya dukung lingkungan; dapat meningkatkan keselarasan dan
keseimbangan dan meningkatkan ketahanan sistem serta tidak menurunkan
kualitas lingkungan hidup.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 2


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pariwisata berkelanjutan merupakan sebuah isu dan telah menjadi visi


pengembangan pariwisata di dunia saat ini dan masa datang. Hal ini secara tegas
telah disampaikan oleh UNWTO dengan merekomendasikan pedoman dan manual
penerapan pembangunan pariwisata secara berkelanjutan. Setiap negara dan
daerah perlu secara bertahap untuk menerapkan pendekatan ini dalam
pembangunan kepariwisataannya. Pembangunan yang berkelanjutan merupakan
pedoman dasar bagi pengelola pariwisata yang berkaitan dengan lingkungan alam,
lingkungan binaan, dan lingkungan sosial budaya agar dapat dimanfaatkan dalam
pembangunan.

Konsep ini merupakan sebuah konsep ideal bagi pengembangan pariwisata dimana
dalam pengembangannya, pariwisata harus mampu melakukan pengembangan
secara seimbang antara aspek ekonomi – lingkungan – sosial budaya, sehingga
pemanfaatan sumberdaya pariwisata dapat dilakukan secara lestari dan
bertanggung jawab tanpa merusak atau mengurangi nilai sumber daya yang
dimiliki. Hal ini dimaksudkan agar upaya komersialisasi (ekonomi) selaras dengan
upaya konservasi sumber daya agar tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi
mendatang.

Disamping itu, perlunya pelaksanaan pembangunan pariwisata berkelanjutan juga


terkait dengan semakin meingkatnya apreasiasi konsumen yang semakin tinggi
dan menuntut suatu destinasi wisata untuk memperhatikan keseimbangan kualitas
lingkungan dan sosial budaya dengan pengembangan ekonomi.

Prinsip-prinsip dan sasaran-sasaran dari Piagam Pariwisata Berkelanjutan yang


direkomendasikan UNWTO tahun 2004 adalah bahwa :
1. Pembangunan pariwisata harus berdasarkan kriteria keberlanjutan dapat
didukung secara ekologis dalam waktu yang lama, layak secara ekonomi, adil
secara etika dan sosial bagi masyarakat setempat.
2. Pariwisata harus berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan dan
diintegrasikan dengan lingkungan alam, budaya dan manusia.
3. Pemerintah dan otoritas yang kompeten, dengan partisipasi lembaga swadaya
masyarakat dan masyarakat setempat harus mengambil tindakan untuk

LAPORAN PENDAHULUAN III - 3


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

mengintegrasikan perencanaan pariwisata sebagai kontribusi kepada


pembangunan berkelanjutan.
4. Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan
memperkuat bantuan, langsung atau tidak langsung, kepada projek-projek
pariwisata yang berkontribusi kepada perbaikan kualitas lingkungan.
5. Ruang-ruang dengan lingkungan dan budaya yang rentan saat ini maupun di
masa depan harus diberi prioritas khusus dalam hal kerja sama teknis dan
bantuan keuangan untuk pembangunan pariwisata berkelanjutan.
6. Promosi/dukungan terhadap berbagai bentuk alternatif pariwisata yang sesuai
dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
7. Pemerintah harus mendukung dan berpartisipasi dalam penciptaan jaringan
untuk penelitian, diseminasi informasi dan transfer pengetahuan tentang
pariwisata dan teknologi pariwisata berkelanjutan.
8. Penetapan kebijakan pariwisata berkelanjutan memerlukan dukungan dan
system pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan, studi kelayakan untuk
transformasi sektor, dan pelaksanaan berbagai proyek percontohan dan
pengembangan program kerjasama internasional.

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, dikembangkan indikator-indikator yang


dapat dipakai untuk mengukur tingkat keberlanjutan suatu destinasi pariwisata,
sebagai arah kemana program pembangunan pariwisata harus dilakukan atau
ukuran keberhasilan yang harus dicapai, jadi bukan semata jumlah kunjungan
wisatawan. Indikator-indikator, yang saat ini berjumlah lebih dari 500 indikator,
dikelompokkan dalam aspek sebagai berikut :
1. kesejahteraan (well being) masyarakat tuan rumah;
2. terlindunginya aset-aset budaya;
3. partisipasi masyarakat;
4. kepuasan wisatawan;
5. jaminan kesehatan dan keselamatan;
6. manfaat ekonomi;
7. perlindungan terhadap aset alami;
8. pengelolaan sumber daya alam yang langka;
9. pembatasan dampak; dan

LAPORAN PENDAHULUAN III - 4


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

10. perencanaan dan pengendalian pembangunan.

Dalam penerapan pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Tana


Toraja, disamping mempertimbangkan kemampuan daya saing Kabupaten Tana
Toraja sebagai destinasi pariwisata, pengembangan pariwisata perlu senantiasa
memperhatikan :
1. Sistem nilai dan identitas DTW dan destinasi;
2. Standarisasi pelayanan dan fasilitas pariwisata;
3. Tingkat pemanfaatan (intensitas) dan perilaku pemanfaatan;
4. Pengaturan kewilayahan, waktu, dan tingkat pengembangan;
5. Daya dukung lingkungan dan sosial;
6. Tingkat keterlibatan masyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, Rachel Dodds and Marion Joppe (2001) di Toronto
mengembangkan “Green Tourism” dengan 4 (empat) elemen pokok, yaitu :
1. Enviromental Resposibility
Elemen ini menyatakan bahwa pelu adanya perlindungan lingkungan dalam
upaya untuk menjamin kelangsungan ekosistem wilayah.
2. Local Economic
Pengembangan pariwisata harus mendukung kelangsungan ekonomi
komunitas.
3. Cultural Diversity
Dalam pengembangan pariwisata harus mengangkat kekayaan budaya dari
masyarakat.
4. Experiental Richness
Perlu dikembangkan aktivitas-aktivitas yang bersifat partisipatif terhadap
lingkungan, masyarakat, serta budaya wilayah tersebut.

Pada tingkat implementasi, penerapan pembangunan pariwisata berkelanjutan di


Kabupaten Tana Toraja dihadapkan pada sederetan tantangan, antara lain :
1. Pengembangan kebijakan dan implementasi kebijakan terhadap
pengembangan pariwisata.
2. Kemampuan pengembangan dan pengemasan produk wisata yang tertuang
dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja

LAPORAN PENDAHULUAN III - 5


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

beserta Rencana Tindak-nya, untuk meningkatkan kreativitas pengembangan


produk wisata yang selaras dengan profil wilayah dan kecenderungan
permintaan wisatawan (factor penentu dan kompetisi).
3. Peran serta aktif stakeholders pariwisata dalam setiap proses pengembangan
pariwisata.
4. Konsistensi dalam melaksanakan dan mengembangkan standard dan kualitas
dalam setiap unsur atribut dan produk wisata.

Dari uraian di atas, pengembangan pariwisata secara berkelanjutan di Kabupaten


Tana Toraja perlu dikembangkan dengan berorientasi pada :
1. Pengembangan kebijakan dan implementasi kebijakan Kabupaten Tana Toraja
terhadap pengembangan pariwisata.
Pengembangan kepariwisataan memiliki tingkat integrasi yang tinggi dengan
sektor-sektor lain (multisektor), dalam hal ini pariwisata di Kabupaten Tana
Toraja harus memiliki peran sebagai attractors. Sebagai attractor Kabupaten
Tana Toraja memiliki fungsi untuk mengemas sumber daya menjadi aktivitas
maupun produk yang mampu menarik wisatawan. Dalam hal ini
pengembangan kebijakan pengembangan pariwisata harus selaras dengan
kebijakan dan pembangunan wilayah.
2. Penggalian dan penerapan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat menjadi unsur
dan atribut produk wisata.
3. Sebagai satu kesatuan wilayah yang utuh, dengan kekhasan dan keragaman
ciri khas masing-masing, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tana
Toraja diharapkan mampu mengakomodir ciri khas wilayah tiap kecamatan
dan mengembangkannya sebagai sebuah daya tarik wisata.
4. Komunikasi dan kerjasama antar stakeholders dalam menumbuhkembangkan
identitas, standar, dan kualitas dalam mengelola kegiatan pariwisata.
5. Dengan makin tingginya tingkat persaingan dalam pengembangan pariwisata,
perlu adanya kesiapan dan komitmen bersama antar stakeholders dalam
upaya menciptakan situasi wilayah yang sangat kondusif bagi kegiatan
pariwisata. Kondisi ini dapat dimungkinkan dengan adanya komunikasi dan
kerjasama yang intensif dan komprehensif dalam penetapan kebijakan
maupun arah pengembangan Kabupaten Tana Toraja.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 6


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6. Pengembangan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja diwujudkan dalam


kerangka pelestarian fungsi-fungsi sosiologis dan ekologis secara konsisten
dan bertanggung jawab.
7. Dalam pelaksanaannya, kebijakan pengembangan pariwisata di Kabupaten
Tana Toraja dilakukan dengan diarahkan kepada pelestarian sumber daya
serta identitas masyarakat. Ini dapat dilakukan secara bertahap, disesuaikan
dengan proyeksi pertumbuhan pasar, serta kesiapan masyarakat dalam
mendukung pengembangan kegiatan pariwisata.
8. Pembangunan pariwisata yang memberikan ruang dan peran serta yang nyata
pada masyarakat.
9. Penetapan atribut produk pariwisata dilakukan dengan mengkonversi aktivitas
pariwisata yang dapat melibatkan masyarakat, dengan mengkombinasikannya
aktivitas masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung yang dapat
mendukung aktivitas pariwisata. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat
mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata sehingga timbulnya kesadaran
akan pentingnya kegiatan pariwisata. Dengan kondisi tersebut diharapkan
akan mampu memberikan kondisi yang kondusif dalam kepariwisataan di
Kabupaten Tana Toraja.

Secara operasional, penerapan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan di


Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1. Paradigma Konsep Pariwisata Berkelanjutan

LAPORAN PENDAHULUAN III - 7


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Untuk menumbuhkan daya saing pada penerapan konsep pariwisata berkelanjutan


dalam pengembangan pariwisata Kabupaten Tana Toraja, secara operasional
dilakukan dengan menggunakan kombinasi resource-based approach dan market-
based approach, dengan pemahaman bahwa secara umum resource-based
approach dikembangkan dengan mengadopsi pemahaman akan kecenderungan
pasar dan lingkungan strategis.

Gambar 3.2. Implementasi Konsep Pariwisata Berkelanjutan

Konsep tersebut dikembangkan dengan kesadaran bahwa pariwisata merupakan


salah satu sektor pembangunan yang memiliki ciri pengembangan melalui
ketersediaan dan kemampuan sumberdaya pariwisata, kemampuan wilayah,
pengorganisasian, dan masyarakat.

Pembangunan pariwisata melalui pendekatan ini diyakini akan lebih dapat diterima
oleh masyarakat dan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab,
dengan tetap memiliki manfaat ekonomi serta menciptakan multiplier effect yang
tinggi. Oleh sebab itu, pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja perlu
mempertimbangkan secara cermat faktor-faktor yang saling berkait dan yang
diperkirakan akan menjadi faktor pengganggu. Dalam mengembangkan
Kabupaten Tana Toraja sebagai destinasi pariwisata, tidak hanya aspek daya tarik
sebuah hal yang paling esensial namun aspek-aspek lain perlu diperhatikan.
Dengan demikian, maka diharapkan bahwa pembangunan pariwisata di Kabupaten

LAPORAN PENDAHULUAN III - 8


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tana Toraja dapat tumbuh berkembang secara dinamis dan produktif dalam
rangka mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

3.1.3 Pendekatan Kesesuaian Produk Pasar


Dalam pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja, perlu
dipertimbangkan kebutuhan pasar (wisatawan) dengan kemampuan sumber daya
pariwisata yang dimilikinya.

Gambar 3.3. Supply Demand

“Demand-Supply Balance. The planning of tourism should strive for a balance


between demand (market) and supply (development). This requires an
understanding of market characteristics and trends as well as the process of
planning development to meet market needs.” (Gunn, 1994).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam perencanaan pariwisata


perlu memperhatikan keseimbangan antara sektor demand dan sektor supply. Hal
ini diperlukan untuk dapat memahami karakteristik pasar dan tren sehingga proses
perencanaan pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja dapat
diarahkan sesuai kebutuhan pasar.

Memetakan antara posisi produk wisata (product) terhadap pasar wisata (market)
yang dimilikinya, perlu dilakukan analisa mengenai karakteristik produk wisata dan
pasar wisata tersebut. Dari hasil analisis, dapat diketahui struktur yang sebenarnya
dari masing-masing produk dan pasar yang dimilikinya. Lebih spesifik, hasil dari
analisis tersebut kemudian diilustrasikan pada suatu bentuk ilustrasi peta produk-
pasar yang menggambarkan tentang posisi produk terhadap pasar dengan
batasan-batasan yang telah ditentukan. Batasan tersebut mengandung semua
kategori produk relevan yang bersaing untuk memenuhi kebutuhan serupa. Dalam
hal ini, memetakan produk-pasar (mapping product-market) sangat membantu
untuk:

LAPORAN PENDAHULUAN III - 9


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. Sebagai identifikasi dasar terhadap para pengunjung/wisatawan mengenai


preferensi produk-pasar (tergantung dari karakteristik masing-masing produk-
pasar itu sendiri).
2. Mengetahui karakteristik dan ukuran pasar.
3. Mengetahui kategori dari produk pesaing sebagai bahan pertimbangan untuk
memenuhi kebutuhan/keinginan para pengunjung/wisatawan.

Keseimbangan antara product dan market diperlukan agar perencanaan


pengembangan yang dilakukan dapat menyesuaikan kondisi product yang dimiliki
dengan kondisi pasar yang sesuai. Selain itu, dengan mengetahui karakteristik
demand kita juga dapat memperoleh arahan pengembangan yang akan dilakukan
agar sesuai dengan kebutuhan pasar.

3.1.4 Konsep Manajemen Strategis


Manajemen Strategis dalam manajemen destinasi pariwisata, dapat diartikan
sebagai sistem dan mekanisme yang dirancang secara sistematik dalam
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, yang terarah pada tujuan strategik
Kabupaten Tana Toraja.

Dalam kaitannya dengan penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata


Kabupaten Tana Toraja, pendekatan manajemen strategis diadopsi untuk
mengkaji aspek-aspek yang terkait dengan lingkungan internal dan eksternal
kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja.

Pendekatan ini digunakan mengingat sifat rencana yang akan dihasilkan


RIPPARKAB merupakan suatu rencana yang bersifat stratejik dan berorientasi pada
jangkauan masa depan (VISI) yang ditetapkan sebagai keputusan manajemen
puncak (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil), agar memungkinkan
organisasi berinteraksi secara efektif (MISI) dalam usaha menghasilkan sesuatu
(Perencanaan Operasi / Program untuk mewujudkan kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja yang berkualitas) dengan diarahkan pada optimalisasi pencapaian
tujuan (Tujuan Strategik) dan berbagai sasaran (Tujuan Operasional).

LAPORAN PENDAHULUAN III - 10


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Secara garis besar, karakteristik pendekatan manajemen strategis yang akan


dioperasionalisasikan dalam penyusunan “Rencana Induk Pengembangan
Pariwisata” ini adalah sebagai berikut :

1. Manajemen Strategis diwujudkan dalam bentuk perencanaan berskala besar


dalam arti mencakup seluruh komponen di lingkungan kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja yang dituangkan dalam bentuk Rencana Induk
Pembangunan Kepariwisataan.
2. Penetapan RIPPARDA harus mampu menampung aspirasi seluruh pemangku
kepentingan karena sifatnya sangat mendasar atau prinsipil dalam
pelaksanaan Visi dan Misi, untuk mewujudkan, mempertahankan dan
mengembangkan eksistensi jangka menengah dan jangka panjang.
3. Rencana ini berorientasi pada jangkauan masa depan, dalam studi ini adalah
untuk kurun waktu 10 tahun sesuai jangka waktu RPJPD Kabupaten Tana
Toraja.
Pertimbangan lain yang melandasi penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja adalah tingkat intensitas dan formalitas
pengimplementasiannya di Kabupaten Tana Toraja, baik bersifat internal maupun
yang terkait dengan pihak-pihak eksternal. Oleh sebab itu, faktor-faktor stratejik
internal dan eksternal akan menjadi pertimbangan utama dalam perumusannya.

Untuk menerapkan manajemen strategis secara tepat, maka perlu


mempertimbangkan langkah-langkah pokok sebagai berikut :

1. Memprakarsai dan mendapat persetujuan terhadap proses penyusunan


rencana induk Pembangunan pariwisata yang dilakukan.
2. Memperjelas kebijakan dan nilai-nilai yang dimiliki Kabupaten Tana Toraja.
Penting untuk diidentifikasi kebutuhan-kebutuhan sebagai tujuan termasuk
didalamnya kebutuhan sosial, ekonomi, dan lain-lain yang ingin dicapai.
3. Menilai lingkungan eksternal yang menyangkut peluang maupun ancaman
yang ada.
4. Menilai lingkungan internal yang berhubungan dengan kekuatan yang dimiliki
maupun kelemahan yang ada.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 11


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5. Mengidentifikasi isu strategis yang dihadapi, yang antara lain menyangkut


tujuan, cara, falsafah, lokasi, keakuratan waktu, kelompok-kelompok yang
berkepentingan terhadap kepariwisataan.
6. Merumuskan visi dan misi serta tujuan dan sasaran yang jelas dan fokus bagi
masa depan.
7. Merumuskan kebijakan dan strategi untuk mengolah atau menangani isu-isu
yang ada.
8. Merumuskan program dan kegiatan sebagai wujud implementasi terhadap
rencana induk yang disusun secara sistematis dan programatik.
Berdasarkan tahapan tersebut, maka rencana pengembangan pariwisata
Kabupaten Tana Toraja yang disusun akan mampu memayungi pengembangan
pariwisata di masa datang dan mampu menumbuhkan daya saing sebagai
destinasi pariwisata.

Gambar 3.4. Proses Pengembangan Daya Saing Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
Melalui Penerapan Konsep Manajemen Strategis

3.1.5 Konsep Sinergi Stakeholders


Pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja memerlukan landasan yang
kokoh antara lain kebijakan strategis untuk dapat menciptakan partisipasi aktif
seluruh lapisan guna memanfaatkan aktivitas pembangunan kepariwisataan secara
luas untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan
masyarakat.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 12


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Arah dan proses pembangunan kepariwisataan dilakukan dengan tetap


berpedoman pada kelestarian lingkungan, meningkatkan pendapatan daerah, dan
mempertahankan budaya, yang melibatkan seluruh stakeholders-nya dalam suatu
sinergi. Dalam pelaksanaannya, permasalahan yang sering muncul adalah sinergi
antar stakeholders pariwisata dalam merumuskan arah pembangunan dan
pengembangan kepariwisataan, antara lain adalah dalam penetapan rencana
pengembangan pariwisata umumnya kurang terjadi suatu koordinasi antar
stakeholders. Sebagai akibatnya, perencanaan dan pengembangan pariwisata
kurang optimal. Kurangnya sinergi antar stakeholders dalam menyusun rencana
serta pengelolaan pariwisata mengakibatkan pengembangan kepariwisataan
kurang optimal. Kondisi ini juga berpotensi terjadi di Kabupaten Tana Toraja.

Dalam rangka mewujudkan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Tana


Toraja sebagai suatu destinasi wisata unggulan, maka dalam proses
perencanaannya harus melibatkan berbagai pihak yang terkait satu dengan
lainnya. Dengan kata lain diperlukan koordinasi yang tinggi antara seluruh
stakeholders kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja maupun dengan pihak lain
yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pembangunan
kepariwisataan di wilayah ini. Selain itu, penyusunan rencana pengembangan
pariwisata di Kabupaten Tana Toraja sesuai dengan karakteristik wilayah dan
keterlibatan stakeholders yang ada.

Masih terbatasnya kinerja kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja seperti kualitas


produk wisata yang sebagian besar masih belum dikembangkan, terbatasnya
kemampuan pengelolaan, serta tingkat investasi yang masih rendah,
memperlihatkan bahwa penetapan pariwisata sebagai sektor prioritas di
Kabupaten Tana Toraja perlu dilakukan secara sistematis dan bertahap.

Salah satu faktor kunci keberhasilannya adalah dalam proses pembangunan


pariwisata harus menyelaraskan kepentingan para stakeholders-nya. Penetapan
sektor pariwisata sebagai sektor prioritas seharusnya didukung oleh tindakan-
tindakan kolektif pembangunan yang mampu menciptakan sinergi para pelakunya
guna diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga,
perencanaan dan implementasi rencana yang efektif merupakan proses kompleks

LAPORAN PENDAHULUAN III - 13


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

yang perlu melibatkan banyak pihak, sehingga membutuhkan komitmen dan


sinergi dengan pihak-pihak terkait.

Mekanisme antar stakeholders yang terlibat perlu dikondisikan sedemikian rupa


untuk dapat menjawab tantangan dan tuntutan pembangunan kepariwisataan di
Kabupaten Tana Toraja. Merujuk pada isu kepariwisataan yang berkembang di
Kabupaten Tana Toraja, maka OPD, Asosiasi Kepariwisataan beserta stakeholders
lainnya, perlu menyelaraskan visi dan langkah pembangunan yang dilakukannya.
Sinergi merupakan kebutuhan yang mendasar, mengingat banyaknya pihak yang
terlibat didalamnya. Perencanaan yang dilakukan harus mampu
mengakomodasikan harapan stakeholders dalam mengelola kompleksitas
pembangunan yang ada, serta mengelola pemanfaatan sumber daya yang
tersedia.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu disusun suatu sistem dan hubungan
kelembagaan yang sesuai dengan kondisi di Kabupaten Tana Toraja. Dengan
demikian diharapkan akan tercipta suatu situasi yang kondusif bagi
pengembangan pariwisata, yang selanjutnya diharapkan memberikan stimulus
positif bagi peningkatan kualitas dan daya saing pariwisata Kabupaten Tana
Toraja.

3.2 LINGKUP KEGIATAN


Lingkup kegiatan adalah keseluruhan menyangkut materi dan teritorial kawasan
perencanaan maupun dasar hukum Penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja, dengan uraian sebagai berikut :

3.2.1 Lingkup Teritorial/Wilayah


Mengacu pada substansi Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Provinsi dan Kabupaten/Kota yang tertuang dalam Peraturan
Menteri Pariwisata Nomor 10 tahun 2016, menekankan pada batasan kawasan
perencanaan dalam penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja yaitu dapat berupa wilayah provinsi maupun wilayah
kabupaten atau kota, dengan demikian lingkup wilayah perencanaan yaitu seluruh
wilayah administrasi Kabupaten Tana Toraja.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 14


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.2.2 Lingkup Materi


Lingkup Materi dalam Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja yang menjadi keluaran atau hasil dari kajian yang minimal
memuat pokok/substansi sebagai berikut:

1. Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam Kebijakan Pembangunan


Kepariwisataan;
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam kebijakan kepariwisataan
nasional;
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam kebijakan Pembangunan
Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan; dan
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam Pembangunan Wilayah
kabupaten.
2. Kondisi Wilayah Kabupaten Tana Toraja, meliputi :
Kondisi Fisik;
Sejarah Sebagai Potensi Pariwisata;
Kekayaan Ekologi sebagai Potensi Pariwisata;
Kondisi Budaya Sebagai Potensi pariwisata;
Perekonomian.
3. Pembangunan Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, meliputi :
Daya tarik dan sumberdaya wisata;
Fasilitas pariwisata;
Aksesibilitas Pendukung Pariwisata;
Prasarana Umum pendukung pariwisata; dan
Penduduk / Sumber daya manusia.
4. Pembangunan Industri pariwisata, meliputi:
Usaha Pariwisata; dan
Usaha pendukung Pariwisata;
5. Pembangunan Pasar Pariwisata dan Upaya Pemasaran, meliputi kajian
tentang:
Jumlah dan Perkembangan pasar;
Karakteristik Pasar Wisatawan; dan
Upaya Pemasaran Yang Dilakukan Pemerintah Kabupaten Tana Toraja.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 15


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6. Kelembagaan Kepariwisataan, meliputi:


Sumber Daya Manusia Pariwisata;
Asosiasi Pariwisata;
Kelembagaan Pemerintah Terkait Pariwisata; dan
Kelembagaan Lain terkait Pariwisata.
7. Prinsip Dan Konsep Pembangunan Kepariwisataan, meliputi:
Tantangan dan Isu Strategis Pembangunan Kepariwisataan;
Prinsip Pembangunan Kepariwisataan;
Konsep Pembangunan Kepariwisataan;
Visi;
Misi; dan
Tujuan.
8. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan, meliputi:
Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan; dan
Strategi Pembangunan kepariwisataan.
9. Rencana Pengembangan Perwilayahan Pariwisata
Rencana Struktur Perwilayahan Pariwisata; dan
Rencana Kawasan pengembangan Pariwisata dan Kawasan Strategis
Pariwisata.
10. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan
Berisikan program-program prioritas pembangunan kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja dalam masa waktu perencanaan.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 16


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Gambar 3.5. Kerangka Muatan RIPPARKAB


(Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10 tahun 2016)

3.3 TAHAPAN KEGIATAN


3.3.1 Tahap Persiapan
Persiapan penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja terdiri atas:
1. Pembentukan tim penyusun;
2. Persiapan awal, yaitu upaya pemahaman terhadap KAK/TOR penyiapan
anggaran biaya;
3. Konsultasi dan koordinasi tim dalam penyusunan kerangka pelaksanaan
kegiatan yang meliputi penyiapan peralatan, pemahaman substansi muatan
pekerjaan, penyusunan metodologi/metode, serta penyiapan rencana
[Link];

LAPORAN PENDAHULUAN III - 17


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4. Kajian awal data sekunder, yaitu review RIPARDA Provinsi dan kabupaten
sebelumnya dan kajian awal RPJMD, Renstra SKPD terkait, RTRW kabupaten
dan kebijakan lainnya;
5. Penyusunan Laporan pendahuluan; dan
6. Pelaksanaan konsultasi, seminar/FGD.

3.3.2 Tahap Pengumpulan Data


Dalam melakukan proses perencanaan, maka perlu didukung suatu informasi data
base dari potensi daya tarik wisata destinasi yang bersangkutan. Data base
tersebut disusun atas dasar identifikasi dan inventarisasi sumber daya wisata.
Survey dilakukan secara mendalam dilapangan, disusul dengan evaluasi pada tim
yang berada dilapangan.

Pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer dan sekunder.


Pengumpulan data primer dilakukan melalui penyebaran kuesioner, wawancara
maupun focus group discussion serta peninjauan lapangan secara langsung untuk
mengenali kondisi fisik, sosial dan ekonomi. Data sekunder dilakukan melalui data
pustaka terkait karakteristik wilayah dan aspek-aspek dalam pengembangan
kepariwisataan.

Survey evaluasi dan analisis harus dilakukan secara teliti agar perencana dapat
menyusun data base yang benar dan jelas. Hal ini merupakan suatu syarat mutlak
untuk dapat menyusun sebuah Rencana Induk Pembangunan Pariwisata yang
baik.

Dalam penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan, pada prinsipnya


menggunakan metode pendekatan, baik dalam penyusunan tahap kompilasi atau
tahap analisis yang diharapkan dapat memberikan hasil perencanaan yang lebih
baik dan terarah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan pada tahap kompilasi data yaitu
observasi lapangan, wawancara, kuesioner, studi dokumentasi, dan studi literatur.
Penerapan teknik tadi bergantung kepada kebutuhan data yang harus
dikumpulkan. Dan untuk lebih jelasnya mengenai teknik-teknik pengumpulan data
yang dilakukan adalah sebagai berikut :

LAPORAN PENDAHULUAN III - 18


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. Persiapan Survey Lapangan


a. Pengumpulan berbagai laporan mengenai ekonomi, pariwisata, budaya,
arus wisatawan, prasarana dan lain-lain yang ada. Para anggota tim yang
akan berangkat kelapangan perlu membaca dan menyusun catatan
seperlunya. Keterangan dan laporan-laporan dapat disilangkan dengan
keterangan yang didapat dilapangan.
b. Tim harus membawa peta untuk kerja survey, dimana ciri khas daerah
dapat dicatat, seperti lokasi, petunjuk seni/budaya,, tempat
pemandangan yang indah, daerah yang perlu dilestarikan dan lain
sebagainya. Setiap tim juga perlu mempelajari peta survey agar
mendapat gambaran umum tentang kondisi fisik lokasi.

2. Observasi Lapangan (Field Observation)


Observasi yang dilakukan dilapangan pada umumnya dapat dibedakan
menjadi dua macam yaitu observasi terkontrol (controlled observation) dan
observasi tidak terkontrol (uncontrolled observation). Untuk kepentingan
melakukan observasi yang terkontrol sesuai dengan masalah yang diteliti dan
sesuai dengan hipotesa yang harus diuji, kita harus melakukan perencanaan
berkenaan dengan observasi tersebut.

Sesuai dengan masalah yang akan diteliti dan sesuai dengan hipotesa yang
akan diuji, dapat menentukan pendekatan mana yang paling cocok (regional,
topik, pendekatan aktivitas manusia, pendekatan historis dan lain-lain
sebagainya). Pendekatan yang telah kita tentukan itu diungkapkan dalam
langkah-langkah observasi yang akan kita lakukan. Sedangkan variabel atau
item-item yang akan kita teliti, dituangkan kedalam alat pengumpul data yang
akan kita gunakan. Jadi, metode pendekatan yang telah kita gunakan dapat
dikatakan menjiwai langkah-langkah atau proses yang dilakukan pada
observasi, sedangkan variabel yang akan diukur atau data yang akan
dikumpulkan dituangkan pada alat pengumpul data.

Alat pengumpul data yang dapat digunakan untuk mengkover data pada
waktu melakukan observasi yaitu ceklist, peta dasar, alat pemotret dan tabel-
tabel blangko. Observasi lapangan yang terkontrol dengan perencanaan yang

LAPORAN PENDAHULUAN III - 19


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

baik yang disesuaikan dengan masalah yang akan diteliti, dan sesuai dengan
hipotesa yang akan diuji, berarti telah tersusun sedemikian rupa, sehingga
analisisnya juga terukur secara terarah.

3. Teknik Wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang membantu dan
melengkapi pengumpulan data yang tidak dapat diungkapkan oleh teknik
observasi. Pada tahapan survey teknik ini bukan merupakan teknik
pengumpulan data yang utama, melainkan hanya sebagai teknik pelengkap.

Jika berdasarkan hasil observasi masih belum diperoleh data yang lengkap,
terutama mengenai data berupa pendapat atau sikap penduduk terhadap
gejala atau masalah yang ada di wilayah perencanaan, maka teknik
wawancara dapat dilaksanakan. Teknik wawancara yang dapat menjamin
kebutuhan kita secara terarah, adalah wawancara yang tertutup. Wawancara
yang tertutup ini pada pelaksanaannya menggunakan pedoman wawancara.
Pada pedoman wawancara ini dituangkan metode pendekatan, variabel, dan
item-item yang akan kita peroleh.

4. Teknik Kuesioner
Jika data yang berupa pendapat atau sikap orang atau penduduk itu
diperlukan dalam jumlah yang sangat banyak, dapat dikatakan tidak efektif
bila menggunakan teknik wawancara. Oleh karena itu kita harus
menggunakan teknik kuesioner.

Teknik kuesioner ini dilakukan dengan menyebarkan daftar pertanyaan


kepada responden sejumlah sampel yang kita butuhkan dalam perencanaan.

5. Studi Dokumentasi
Untuk melengkapi data dalam rangka analisis masalah yang ada di wilayah
perencanaan, kita memerlukan informasi dari dokumen-dokumen yang ada
hubungannya dengan obyek yang menjadi studi. Untuk keperluan ini, kita
harus melakukan studi dokumentasi. Pendekatan historis yang berkenaan
dengan gejala sosial, ekonomi, budaya dan kependudukan lebih banyak
berhubungan dengan sumber-sumber dokumentasi. Membaca, memilih,
menggunakan dan mempelajari sumber-sumber dokumentasi memerlukan

LAPORAN PENDAHULUAN III - 20


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

keterampilan khusus. Dengan keterampilan khusus, kita akan dapat


melakukan seleksi terhadap dokumen-dokumen yang relevan dengan
kepentingan penelitian geografi.

Dalam rangka studi dokumentasi ini kita harus memiliki pengetahuan tentang
pengistilahan pada bahasa dokumentasi. Kita harus terampil untuk
mengalihkan dan menyusun kembali data dari suatu dokumen kedalam tabel
yang sesuai dengan keperluan analisis. Untuk memudahkan pengalihan data
ini kita harus dapat menyusun suatu tabel blangko. Penyusunan item pada
blangko ini sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan kebutuhan dan sesuai
pula dengan data yang tercantum pada sumber dokumentasi. Melalui
penggunaan tabel ini dapat dihindarkan terjadinya kesalahan pemindahan
data dan sekaligus pula sesuai dengan proses analisis yang akan kita lakukan.

6. Studi Kepustakaan
Penelitian geografi yang memenuhi syarat tidak dapat dilakukan tanpa
menguasai teori, prinsip, konsep, dan hukum-hukum yang berlaku pada
bidang geografi dan ilmu penelitian. Kita memerlukan data yang bersifat
teoritis. Pendapat para ahli dalam berbagai yang relevan dengan apa yang
sedang kita kaji, konsep-konsep teoritis dan operasional tentang ketentuan
penelitian dan lain sebagainya, akan kita dapat peroleh dari kepustakaan
tanpa mempelajari bahan-bahan ini kita tidak dapat mencapai hasil yang
memuaskan. Mempelajari kepustakaan selain dituntut ketekunan juga dituntut
keterampilan menyeleksi dan ketrampilan menggunakan kepustakaan yang
berlaku. Dalam hal ini kita harus memiliki kesiapan mental untuk mengunjungi
dan menghadapi orang yang menurut kita memiliki kepustakaan yang kita
perlukan.

3.4 TAHAP PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA


3.4.1 Pengolahan Data
Pengolahan atau interpretasi data merupakan tahapan penguraian data yang
dikumpulkan melalui survey lapangan dan survey instansi terkait serta lembaga-

LAPORAN PENDAHULUAN III - 21


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

lembangan lain yang saling menunjang pembangunan kepariwisataan kabupaten.


Pengolahan data ini dikelompokkan kedalam beberapa kelompok data diantaranya:
1. Data Utama
Data utama dalam perencanaan pembangunan kepariwisataan merupakan
data pokok yang harus tersedia sebagai data dasar dalam kajian perumusan
pembangunan kepariwisataan. Kelompok data pokok diantaranya sebagai
berikut:
Data kebijakan pemerintah;
Data jumlah dan sebaran daya tarik wisata termasuk atraksi dan
kesenian;
Data kunjungan wisatawan;
Data sumber daya manusia pariwisata:
Data aspirasi pelaku dunia kepariwisataan;
Data akomodasi;
Data fasilitas pariwisata;
Data kelembagaan pariwisata (pemerintah dan non pemerintah);
Data sistem pemasaran produk pariwisata;
Data Isu-isu strategis pembangunan kepariwisataan;
Data pembangunan kawasan-kawasan wisata yang telah dan/atau akan
dikembangkan.

2. Data Penunjang dan Pelengkap


Data umum kondisi wilayah;
Data sosial budaya;
Data aksesibilitas pendukung pariwisata;
Data prasarana umum pendukung pariwisata;
Data penduduk;
Data ekonomi; dll.

3.4.2 Analisis Data


Kajian analisis yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja pada dasarnya menggunakan pendekatan
yang lebih komperhensif, karena muatan perencanaan masih cukup umum yaitu

LAPORAN PENDAHULUAN III - 22


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

memberikan arahan strategi dan kebijakan pembangunan kepariwisataan. Namun


pada bagian tertentu akan juga dilakukan analisis yang cukup spesifik diantaranya
terhadap keunggulan beberapa kawasan wisata dengan pertimbangan terhadap
kawasan-kawasan wisata yang unggul di Kabupaten Tana Toraja atau yang
diprioritaskan pemerintah daerah untuk dikembangkan. Metode-metode analisis
yang digunakan adalah sebagai berikut.

1. Proyeksi Perkembangan Kunjungan Wisatawan


Dalam setiap kejadian, seringkali terdapat selang waktu terjadinya kejadian
tersebut. Selang waktu tersebut merupakan salah satu alasan utama adanya
planning (perencanaan) dan forecasting (peramalan). Jika selang waktu tersebut
tidak ada atau nol, maka tidak perlu ada perencanaan. Namun jika terdapat selang
waktu sebelum kejadian, perencanaan merupakan hal yang penting. Dalam hal
perencanaan tersebut, peramalan sangat diperlukan untuk memprediksi terjadinya
suatu kejadian sehingga dapat mengantisipasi hal tersebut dan untuk kemudian
menentukan tindakan yang tepat.

Metode peramalan adalah cara memperkirakan secara kuantitatif apa yang akan
terjadi pada masa depan berdasarkan data yang relevan pada masa lalu yang
dipergunakan dalam peramalan objektif” (Assauri, 1984). Sedangkan menurut
Supranto (2010) Metode peramalan atau forecasting adalah merupakan dugaan
atau perkiraan mengenai terjadinya suatu kejadian atau peristiwa yang akan
datang.

Makridakis (1983) menjelaskan secara umum metode peramalan terbagi dalam


dua pendekatan yaitu metode kualitatif (Qualitative method) dan metode
kuantitatif (Quantitative method). Model kualitatif berupaya memasukkan faktor-
faktor subyektif dalam model peramalan. Model semacam ini diharapkan akan
sangat bermanfaat apabila data kuantitatif yang akurat sulit diperoleh. Salah satu
contoh peramalan model kualitatif adalah metode delphi. Sedangkan pada model
kuantitatif, data masa lalu digunakan sebagai dasar untuk memprediksi masa
depan.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 23


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Gambar 3.6. Skema Metode Peramalan

Dalam penggunaan metode, disesuaikan dengan ketersediaan data terhadap input


setiap metode, sehingga keluaran yang dihasilkan sesuai dengan yang ingin
dicapai. Pola Linier merupakan salah satu metode yang umumnya digunakan
dalam memprediksikan perkembangan kunjungan wisatawan pada tahun
perencanaan. Model ini menggunakan input data dimana terjadi perkembangan
wisatawan dari tahun ke tahun terus meningkat. Secara matematis, metode ini
dapat dituliskan sebagai berikut :

Pn = P0 (1 + r)n
Keterangan:
Pn = Jumlah kunjungan wisatawan setelah n tahun ke depan.
P0 = Jumlah kunjungan wisatawan pada tahun awal.
r = Angka pertumbuhan kunjungan wisatawan.
n = Jangka waktu dalam tahun.

2. Analisis Kebutuhan Pelayanan Akomodasi


Untuk kebutuhan sarana penginapan Nilai rata – rata hunian kamar yang umumnya
digunakan adalah 1.7 dengan asumsi bahwa setiap kamar biasanya lebih banyak
ditempati oleh 2 orang. Formula untuk memproyeksikan akomodasi pada
permintaan rata-rata tahunan dan high season, dirumuskan sebagai berikut:
Kebutuhan tempat tidur:

LAPORAN PENDAHULUAN III - 24


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kebutuhan kamar :

Proyeksi akomodasi digunakan sebagai dasar memproyeksikan kebutuhan lahan,


karena akomodasi salah satu faktor yang membutuhkan lahan terbesar. Analisa
pasar, proyeksi akomodasi, dan kebutuhan lahan dapat dimodifikasi berdasar
analisa daya dukung, evaluasi ekonomi, evaluasi dampak lingkungan dan social
budaya, adaptasi kebijakan pariwisata, dan pertimbangan lainnya.

3. Analisis Daya Tarik Wisata (Analisis Variansi)


Untuk menentukan obyek atau kawasan wisata unggulan serta mengetahui
seberapa besar potensi pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Tana
Toraja, dilakukan pendekatan analisisi Varian yaitu merupakan salah satu alat
anlisis dengan pendekatan gejala geografis dan keruangan, sehingga dapat
ditentukan kawasan-kawasan wisata unggulan. Adapun metode analisis varian
yang akan digunakan dengan melakukan penilaian pada setiap
variabel/indikator penilaian potensi daya Tarik wisata, kemudian
menggunakan persamaan rumus untuk mengetahui perbedaan nilai rata-rata
pada setiap daya tarik wisata. Adapun persamaan rumus adalah :

SS
tot = ∑X2tot – (∑X2tot)2/N

ss = (∑ Xa)2/Na – ( ∑ X2tot)2/N
ss
ssd = tot – ssa
msa = ssa/dfa
msd = ssd/dfd
F = msa/msd
F : df = dfa/dfd
Adapun variabel/indikator yang digunakan dalam analisis varian untuk
mengetahui daya tarik wisata unggulan yang ada di Kabupaten Tana Toraja
adalah sebagai berikut:
Tingkat kealamian; penilaian terhadap tingkat kealamian suatu daya Tarik
obyek wisata adalah terdapat jenis flora dan fauna dengan kekhasan
tertentu yang dapat dinikmati pada habitat alam (hutan). Selain itu,

LAPORAN PENDAHULUAN III - 25


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

kondisi alamnya masih mencirikan kehidupan alami (tidak


tercemar/belum terjamah);
Kenyamanan; dapat dinikmati dengan suasana yang penuh dengan
kenyamanan tanpa adanya aktivitas lain yang mengganggu;
Tingkat keunikan; suatu DTW memiliki daya tarik dan karakteristik alam
yang spesifik yang dapat memberikan nilai eksotik tersendiri.
Tingkat keindahan; yang menjadi faktor penilaian tingkat keindahan suatu
daya tarik wisata adalah panorama alam, daya tarik yang dimiliki serta
karakteristik alam sekitarnya.
Jarak; yang menjadi penilaian yaitu jarak terdekat antara kawasan daya
tarik wisata dengan pusat kota.
Prasarana jalan; kondisi jalan menuju kawasan daya tarik wisata berupa
jalan aspal, pengerasan ataupun jalan tanah yang dapat dilalui oleh
berbagai jenis kendaraan.
Nilai sejarah; yaitu nilai sejarah kawasan daya tarik wisata yang dapat
diketahui dan mempunyai pengaruh terhadap masyarakat setempat.
Daya dukung lahan; yaitu pola penggunaan lahannya masih alami, fungsi
lahannya mendukung pengembangan kawasan dan tersedianya lahan
pengembangan.

4. Analisis Strategi (Metode SWOT)


Pendekatan ini digunakan untuk menemukenali strategi atau program-
program dalam pengembangan pariwisata, yang diidentifikasi sesuai kondisi
kawasan wisata. Semua faktor peluang tentang, kekuatan dan kelemahan
dapat dijabarkan secara matriks sebagai berikut :

INTERNAL
Strengh Weaknes
E (kekuatan) (kelemahan)
X Uraian Daftar Kekuatan Uraian Daftar Kelemahan
T Opportunity Strategi Strategi
E (O) (SO) (SO)
R Gunakan Streng
Tanggulangi Weaknes
N Daftar peluang untuk mendapatkan
dengan
A Opportunity

LAPORAN PENDAHULUAN III - 26


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

L menggunakan
Opportunity
Strategi Strategi
Theats
(ST) (WT)
Gunakan Streng
Uraian Daftar Minimalkan Weaknes
untuk menghindari
ancaman/Tantangan dan hindari theats
theats

a. Matriks IFA dan EFE


Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang termasuk kedalam factor
internal sangat penting untuk dilakukan. Langkah ringkas untuk
mengidentifikasi Internal Factor Evalution (IFE) yang meringkas dan
mengevaluasi faktor internal yakni kekuatan dan kelemahan termasuk
manajemen, pemasaran, dan pengembangan daya tarik wisata, serta
sistem informasi. Tujuan dari penilaian faktor eksternal adalah
mengembangkan daftar terbatas peluang yang dapat dimanfaatkan
dalam pembangunan kepariwisataan dan ancaman yang harus dihindari.
Langkah yang ringkas dalam melakukan kajian eksternal adalah dengan
menggunakan matriks External Factor Evaluation (EFE).

Terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan dalam mengembangkan


matriks IFE maupun matriks EFE, sebagai berikut:
Mengidentifikasi daftar kekuatan dan kelemahan serta peluang dan
ancaman yang dihadapi daerah dalam upaya pengembangnnya.
Penentuan bobot setiap variabel.

Penentuan bobot pada analisis eksternal dan internal dilakukan dengan


cara mengajukan pertanyaan kepada pihak manajemen/ pemerintah atau
stakeholders lain yang berperan dalam pembangunan kepariwisataan
dengan menggunakan metode paired comparison (perbandingan
berpasangan). Metode ini digunakan untuk memberikan penilaian
terhadap bobot setiap faktor penentu internal dan eksternal. Bentuk
penilaian pembobotan tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut. Skala
yang digunakan untuk pengisian kolom adalah; 1 = jika indikator
horizontal kurang penting dari pada indikator vertikal, 2 = jika indikator

LAPORAN PENDAHULUAN III - 27


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

horizontal sama penting dari pada indikator vertikal, 3 = jika indikator


horizontal lebih penting dari pada indikator vertikal.
Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal dan Eksternal
Faktor Strategi Internal A B C .... TOTAL BOBOT
A
B
C
....
FAKTOR STRATEGI K L M .... TOTAL BOBOT
EKSTERNAL
K
L
M
....
TOTAL

b. Penentuan Peringkat
Penentuan peringkat (rating) dilakukan terhadap faktor – faktor dari hasil
analisis situasi. Untuk mengukur pengaruh masing-masing faktor
terhadap kondisi kepariwisataan digunakan nilai peringkat dengan
menggunakan skala 1, 2, 3 dan 4 terhadap masing-masing faktor strategis
yang menandakan seberapa efektif strategi dalam pengembangan saat
ini.

Pemberian nilai rating kekuatan pada matriks IFE menggunakan skala; 1


= sangat lemah, 2 = lemah, 3 = kuat, 4 = sangat kuat. Pemberian nilai
rating untuk faktor kelemahan merupakan kebalikan dari faktor kekuatan.
Sedangkan pemberian nilai rating peluang pada matriks EFE
menggunakan skala; 1 = rendah (respon kurang), 2 = sedang (respon
sama dengan rata – rata), 3 = (respon diatas rata – rata), 4 = sangat
tinggi (respon superior). Pemberian rating untuk factor ancaman
merupakan kebalikan dari faktor peluang.

c. Mengkalikan setiap bobot dengan rating untuk mendapatkan pembobotan


Hasil perkalian setiap bobot dengan rating tersebut, berupa skor
pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai
dari 4,00 sampai 1,00. kemudian menjumlahkan pembobotan untuk

LAPORAN PENDAHULUAN III - 28


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

mendapatkan total skor pembobotan. Nilai total ini menunjukan


bagaimana daerah bereaksi terhadap factor-faktor strategis internal dan
eksternalnya. Total pembobotan akan berkisar antara 1 sampai dengan 4
dengan rata – rata 2,5. nilai 1 pada matriks EFE menunjukan bahwa
wilayah perencanaan dalam posisinya tidak mampu memanfaatkan
peluang-peluang untuk menghindari ancaman-ancaman. Nilai 4
mengidentifikasi bahwa daerah saat ini telah dengan sangat baik
memanfaatkan peluang untuk menghadapi ancaman-ancaman. Niali 2,5
menggambarkan bahwa wilayah perencanaan mampu merespon situasi
eksternal secara rata-rata. Model matriks EFE terdapat pada Tabel
berikut.
Matriks External Factor Evaluation (EFE)
Faktor Strategi Internal BOBOT PERINGKAT SKOR (bobot x peringkat)
Peluang

Ancaman

TOTAL 1,00

Matriks IFE juga hampir serupa dengan matriks EFE, hanya saja yang
menjadi faktor kunci adalah kekuatan dan kelemahan. Nilai 1 pada matriks
IFE menunjukan situasi internal wilayah atau kepariwisataan yang sangat
buruk. Nilai 4 mengindikasikan bahwa situasi internal kabupaten sangat
baik. Nilai 2,5 untuk matriks IFE menunjukan situasi internal wilayah
berada pada tingkat rata-rata. Model matriks EFE terdapat pada Tabel
berikut.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 29


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Matriks External Factor Evaluation (EFE)


Faktor Strategi SKOR (bobot x
BOBOT PERINGKAT
Internal peringkat)
Kekuatan

Kelemahan

TOTAL 1,00

d. Matriks Internal – Eksternal (IE)


Matriks IE merupakan pemetaan skor dari matriks IFE dan EFE yang telah
dihasilkan pada tahap input. Matriks IE didasarkan pada dua dimensi
kunci yaitu total skor bobot IFE pada sumbu horizontal dan total skor
bobot EFE pada sumbu vertikal. Pada sumbu horizontal skor antara 1,00
sampai 1,99 menunjukan posisi internal yang lemah, skor 2,00 hingga
2,99 menunjukan posisi internal yang rata-rata, dan skor 3,00 hingga 4,00
menunjukan posisi internal yang kuat. Pada sumbu vertikal skor 1,00
sampai 1,99 menunjukan posisi eksternal yang rendah, skor dari 2,00
hingga 2,99 menunjukan pengaruh sedang, dan skor dari 3,00 sampai
4,00 menunjukan pegaruh eksternal yang tinggi. Gambar berikut
menunjukan bentuk matriks IE.

Matriks IE terbagi dalam tiga daerah utama yang memiliki implikasi


strategi yang berbeda yaitu;
Growth and build (tumbuh dan kembangkan) terdiri dari sel I, II, dan
IV. Strategi intensif (penetrasi produk wisata, pengembangan produk
wisata, dan pengembangan daya tarik wisata) atau strategi integratif
(integrasi ke belakang, integrasi ke depan dan intergrasi horizontal)
merupakan strategi yang sesuai untuk kepariwisataan daerah.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 30


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Hold and maintain (jaga dan pertahankan) terdiri dari sel III, V, dan
VII. Penetrasi wilayah dan pembangunan kepariwisataan adalah dua
strategi yang umum digunakan.
Harvest or divest (divestasi), ini terdiri dari sel VI, VIII, dan IX.
Strategi yang dapat digunakan diantaranya adalah strategi divestasi
yaitu dengan mempertajam potensi unsur kepariwisataan atau
mengurangi variabel-variabel yang akan dikembangkan.

e. Matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats)


Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi pembangunan kepariwisataan khususnya dalam hal
sisi manajemen. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities),
namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses)
dan ancaman (threats). Matriks SWOT diperoleh dari hasil identifikasi
matriks IFE dan matriks EFE, matriks SWOT juga memperlihatkan
kesesuaian antara kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman.

Matriks SWOT merupakan alat pencocokan yang cukup penting dalam


membantu manager mengembangkan empat tipe strategi: strategi SO,
strategi WO, strategi ST, dan strategi WT. langkah – langkah dalam
menganalisis SWOT adalah:
Menuliskan kekuatan dan kelemahan internal.
Menuliskan peluang dan ancaman eksternal.
Mencocokan kekuatan internal dengan peluang eksternal dan
mencatat hasil strategi SO.
Mencocokan kelemahan internal dengan peluang eksternal dan
mencatat hasil strategi WO.
Mencocokan kekuatan internal dengan ancaman eksternal dan
mencatat hasil strategi ST.
Mencocokan kelemahan internal dengan ancaman eksternal den
mencatat hasil strategi WT.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 31


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Berdasarkan hasil persilangan keempat faktor tersebut maka terdapat


empat kemungkinan alternatif strategi seperti terlihat pada Tabel berikut.

Penyusunan Strategi yang Diterapkan Berdasarkan Matriks SWOT


INTERNAL
Kekuatan atau Strengths Kelemahan atau
(S) Weaknesses (W)
EKSTERNAL
Peluang atau Strategi SO Strategi WO
Oppurtinities (O) Strategi yang Strategi meminimalkan
mengunakan kekuatan kelemahan untuk
untuk memanfaatkan memanfaatkan peluang
peluang
Ancaman atau Thereats Strategi ST Strategi WT
(T) Strategi yang Strategi yang
menggunakan kekuatan meminimalkan
untuk mengatasi kelemahan dan
ancaman menghindari ancaman

f. Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning


Matriks)
Tahap terakhir dalam perumusan strategi adalah tahap keputusan.
Matriks Quantitative Strategic Planning (QSPM) merupakan tahap terakhir
dari ketiga tahap kerangka kerja analitik perumusan strategi. Matriks
Quantitative Strategic Planning (QSPM) adalah alat yang dapat menyusun
strategi untuk mengevaluasi alternatif strategi secara objektif dan dengan
penilaian intuitif yang baik berdasarkan faktor keberhasilan kunci internal
dan eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya. Langkah dalam
pembuatan tahap keputusan ini dengan membuat daftar peluang dan
ancaman dari faktor eksternal serta kekuatan dan kelemahan dari faktor
internal.
Terdapat enam langkah yang diperlukan untuk mengembangkan
QSPM adalah:

LAPORAN PENDAHULUAN III - 32


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Mendaftar peluang/ancaman eksternal dan kekuatan/kelemahan


internal dalam kolom kiri dari QSPM. Informasi tersebut harus diambil
langsung dari matriks IFE dan EFE.
Memberikan bobot untuk masing masing faktor internal dan
eksternal. Bobot tersebut sama dengan yang ada di matris EFE dan
IFE. Bobot disajikan dalam kolom persis disamping kanan faktor
keberhasilan kunci eksternal dan internal.
Memeriksa tahap perumusan strategi dan mengidentifikasi strategi
alternatif yang harus dipertimbangkan untuk diimplementasikan
pengembangan pariwisata.
Menetapkan nilai daya tarik (Attractiveness Score/AS). Tentukan nilai
numerik yang menunjukan daya tarik relatif dari setiap strategi dalam
alternatif strategi – strategi tersebut. Nilai daya tarik ditetapkan
dengan memeriksa setiap faktor sukses kritis internal dan eksternal,
satu persatu. Bila faktor suskses tersebut mempengaruhi strategi
pilihan yang akan dibuat maka strategi harus dibandingkan relatif
terhadap faktor kunci. Nilai daya tarik harus diberikan pada setiap
strategi untuk menunjukan daya tarik relatif dari satu strategi atas
strategi yang lain. Nilai daya tarik tersebut adalah 1 = tidak menarik,
2 = agak menarik, 3 = cukup menarik, dan 4 = amat menarik.
Menghitung total nilai daya tarik (Total Attractiveness Score/TAS).
Total nilai daya tarik ditetapkan sebagai hasil perkalian bobot dengan
nilai daya tarik. Semakin tinggi TAS, maka semakin menarik alternatif
strategi itu.
Menghitung jumlah total nilai daya tarik. Jumlah total daya tarik
mengungkapkan strategi mana yang paling menarik dalam setiap set
strategi. Semakin tinggi TAS menunjukan strategi tersebut semakin
menarik dengan mempertimbangkan semua faktor sukses kritis
eksternal dan internal relevan yang dapat mempengaruhi keputusan
strategi (Tabel berikut).

LAPORAN PENDAHULUAN III - 33


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM)


Alternatif Strategi
Faktor-faktor Bobot Strategi 1 Strategi 2 Strategi 3
kunci AS TAS AS TAS AS TAS
Peluang

Ancaman

Kekuatan

Kelemahan

Tital nilai Daya


Tarik

5. Analisis Keunikan/Kekhasan (Uniqness)


Parameter ini dinilai dengan melihat keberadaan atau kekayaan jenis satwa
clan atau tumbuhan pada suatu kawasan/habitat yang dinilai atau ekosistem
di dalam suatu wilayah biogeografi atau pulau. Nilai keunikan ini
diperhitungkan dengan memperhatikan jenis satwa atau tumbuhan atau
ekosistem yang dinilai terdapat di tempat lain atau tidak. Nilai yang diberikan
untuk masing-masing tingkatan adalah :
Internasional/regional = sangat unik = 5
Nasional = lebih dari unik = 4
Wilayah biogeografi = unik = 3
Propinsi = kurang unik = 2
Lokal = tidak unik = 1

6. Laju Kepunahan (Rate of Exhaustion)


Parameter ini dinilai dengan menghitung kecepatan berkurangnya suatu jenis
satwa clan atau tumbuhan atau ekosistem/habitat dalam suatu satuan waktu
tertentu. Untuk ini diperlukan data keberadaan kawasan yang merupakan data
serf. Laju kepunahan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

LAPORAN PENDAHULUAN III - 34


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

(Eao-Eai)
Lk = ----------------x 100
I

Dimana :
Lk = laju kepunahan
Eao = jumlah jenis atau luasan ekosistem pada tahun ke 0
Eai = jumlah jenis atau luasan ekosistem pada tahun ke I
I = jumlah tahun perubahan berlangsung.

Selain itu, diperlukan pengetahuan mengenai keberadaan jenis satwa atau


tumbuhan atau ekosistem/habitat yang sama di wilayah biogeograf yang
bersangkutan.

7. Keutuhan Kawasan (Intactness)


Parameter ini dinilai dengan menghitung persentase jenis atau kawasan yang
telah dimanfaatkan oleh manusia. Cara perhitungan keutuhan kawasan adalah
dengan menggunakan rumus :

In = (Esm/Eso) x 100 %

Dimana :
In = keutuhan kawasan/sumberdaya alam dalam persen
Esm = jumlah sumberdaya yang dimanfaatkan
Eso = jumlah sumberdaya asal
Nilai yang diberikan terhadap hasil perhitungan di atas adalah :
> 80 % = tidak utuh =5
60-79% = kurang utuh =4
40-59% = utuh =3
20-39% = lebih dari utuh =2
< 20 % = sangat utuh =1

8. Luasan (Size of Area)


Parameter ini dinilai dengan mempertimbangkan wilayah jelajah (home range)
dari satu atau beberapa jenis satwa yang menjadi target perlindungan atau
dengan melihat luasan asosiasi/habitat jenis tumbuhan atau ekosistem

LAPORAN PENDAHULUAN III - 35


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dimaksud. Nilai yang diberikan didasarkan pada persen peliputan dari wilayah
jelajah dan atau ekosistem/habitat. Rumus yang digunakan adalah :

L = (Ele/Elk) x 100
Dimana :
L = nilai luasan dalam persen
Ele= luasan wilayah jelajoh/ekosistem/habitat
Elk = luasan kawasan yang diusulkan.
Nilai yang diberikan terhadap hasil perhitungan di atas adalah :
> 80 % = sangat terliput =5
60-79% = lebih dari terliput =4
40-59% = terliputi =3
20-39% = kurang terliput =2
<20% = tidak terliput =1

9. Tekanan Penduduk (Population Pressure)


Parameter ini dinilai dengan menghitung laju pertambahan tingkat
pemanfaatan sumberdaya kawasan yang dinilai dengan penduduk
disekitarnya. Nilai tekanan penduduk dihitung dengan mencari selisih
pemanfaatan per kapita pada tahun ke I dengan tahun ke 0, kemudian
membandingkan dengan pemanfaatan per kapita pada tahun ke 0. Rumusan
yang digunakan untuk menghitung tekanan penduduk ini adalah;

(Si/Pi) - (So/Po)
PP = ------------------- x 100 %
(So/Po)
Dimana:
PP = laju pertumbuhan tekanan penduduk
So = jumlah sumberdaya yang dimanfaatkan pada tahun ke 0
Si = jumlah sumberdaya yang dimanfaatkan pada tahun ke i
PO = jumlah penduduk/pemanfaatan pada tahun ke 0
Pi = jumlah penduduk/pemanfaatan pada tahun ke i

LAPORAN PENDAHULUAN III - 36


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Nilai tekanan penduduk dari hasil perhitungan di atas dikonversikan ke dalam


nilai sebagai berikut:
> 80 % = sangat serius = 5
60-79% = lebih dari serius = 4
40-59% = serius = 3
20-39% = kurang serius = 2
< 20 % = tidak serius = 1
10. Analisis Sosial-Ekonomi
Analisis ini meliputi sikap penduduk lokal, tenaga kerja, dan pelayanan
pendukung wisata dan produk wisata.
a. Penduduk Lokal
Pengembangan pariwisata akan berdampak pada penduduk lokal seperti;
sikap penduduk lokal, perubahan jumlah/type yang ingin bekerja pada
sektor pariwisata, dan fungsi penduduk dalam bentuk produk wisata. Oleh
karena itu, diperlukan uraian tentang permasalah-permasalah tersebut
untuk menemukan solusi dalam penanganan dan pelibatan masyarakat
dalam pembangunan kepariwisataan.
b. Pelayanan Pendukung dan produk wisata
Yang meliputi apakah ada dan jenis apakah produk tersebut, bagaimana
bentuk keterlibatan tenaga kerja terampil dikembangkan, serta
kemungkinan melibatkan tenaga terampil dari daerah lain di luar wilayah
perencanaan.

11. Analisis Bisnis dan Hukum


Analisis lingkungan bisnis pariwisata meliputi; berbagai sikap sektor-sektor
swasta, pemerintah, dan isntansi-instansi terhadap peningkatan pariwisata.
Apa yang sekarang dilakukan untuk promosi pariwisata, bagaimana dengan
persepsi penduduk mengenai prospek ekonomi dan pentingnya pariwisata
untuk masyarakat.
a. Kelembagaan finansial meliputi;
Sikap lembaga keuangan terhadap perkembangan pariwisata daerah;
Kesediaan pembiayaan pariwisata;
Intensif ekonomi untuk pengembangan;

LAPORAN PENDAHULUAN III - 37


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

b. Lingkungan hukum meliputi; peraturan-peraturan dalam bidang


kepariwisataan secara luas :
Dalam perencanaan dan pengembangan;
Dalam konservasi;
Dalam sanitasi;
Dalam perhotelan;
Dalam transportasi.

12. Aspirasl Masyarakat (Community Aspiration)


Dalam penilaian aspirasi masyarakat, diperlukan daftar pertanyaan
(questionaire) terhadap masyarakat sekitar dan atau yang mempunyai
perhatian terhadap kawasan yang dinilai. Dalam hal ini, keinginan daerah
diasumsikan merupakan aspirasi masyarakat. Nilai yang diberikan untuk
parameter ini sangat bergantung pada jumlah responden (masyarakat sekitar)
yang menyepakati penunjukkan kawasan yang dinilai. Rumusan yang
digunakan dalam perhitungan adalah:

Am = (Eps/Epo) x 100 %
Dimana :
Am = aspirasi masyarakat (dalam persen)
Eps = jumlah penduduk yang setuju dengan penunjukkan
Epo = jumlah responden

Jumlah responden yang diambil harus memperhitungkan jumlah penduduk


setempat. Nilai yang diberikan terhadap hasil perhitungan di atas adalah;
> 80 % = sangat mendukung = 5
60-79% = lebih dari mendukung = 4
40-59% = mendukung = 3
20-39% = kurang mendukung = 2
< 20 % = tidak mendukung = 1

Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana


Toraja dengan melakukan pendekatan-pendekatan terhadap aspek-aspek,
sebagai berikut:
Hubungan berkesinambungan dengan berbagai produk perencanaan lain
yang bersifat makro maupun mikro yang disesuaikan dengan
perencanaan kepariwisataan.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 38


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Posisi Kabupaten Tana Toraja yang terletak pada bagian utara Provinsi
Sulawesi Selatan, dapat memanfaatkan perjalanan wisata yang
merupakan rute perjalanan wisata nasional.
Kabupaten Tana Toraja yang merupakan bagian dari DTW Utama di
provinsi Sulawesi Selatan.

Secara umum pendekatan yang dilakukan dalam mengembangkan dan


merencanakan pariwisata Kabupaten Tana Toraja pendekatan pembangunan
yang berkelanjutan prinsip pada:
Terjaminnya keberlanjutan sumber daya pendukung pembangunan
pariwisata sebagai satu syarat penting bagi terciptanya manajemen
pariwisata yang memadai dan handal.
Pembangunan pariwisata harus berkontribusi pada pembangunan
berkelanjutan dan diintegrasikan dengan lingkungan alam, budaya, dan
manusia. Kegiatan pariwisata harus menjamin perubahan yang dapat
diterima sehubungan dengan pengaruhnya terhadap sumber daya alam,
keanekaragaman hayati, dan kapasitas untuk asimilasi berbagai dampak
dan residu yang ditimbulkan.
Pemerintah dan otoritas yang berwenang dengan partisipasi lembaga
swadaya masyarakat dan masyarakat setempat, harus melakukan
tindakan untuk memadukan perencanaan pariwisata sebagai kontribusi
pada pembangunan berkelanjutan.
Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan
memperkuat bantuan langsung dan tidak langsung untuk proyek-proyek
pariwisata yang berkontribusi pada perbaikan kualitas lingkungan.
Ruang-ruang yang peka lingkungan dan budaya, baik saat ini dan masa
depan, harus diberi prioritas khusus dalam kerjasama teknis dan bantuan
keuangan untuk pembangunan berkelanjutan di suatu daerah.
Promosi berbagai bentuk lain dari pariwisata yang selaras dengan prinsip-
prinsip pembangunan berkelanjutan merupakan jaminan terhadap
stabilitas dalam jangka menengah dan panjang.
Pemerintah harus mempromosikan dan berpartisipasi dalam penciptaan
jaring penelitian yang terbuka, penyebarluasan informasi dan

LAPORAN PENDAHULUAN III - 39


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pengetahuan tepat guna dalam pembangunan pariwisata dan berbagai


teknologi pariwisata yang berkelanjutan.
Pengembangan kebijakan pariwisata berkelanjutan membutuhkan dukungan
dan promosi dari sistem pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan, studi
kelayakan untuk transformasi sektor, sekaligus pelaksanaan proyek-proyek
percontohan dan pengembangan berbagai program kerjasama internasional.

13. Analisis Daya Dukung Kawasan Wisata


Analisis daya dukung kawasan objek wisata dilakukan untuk mengetahui
kemampuan objek wisata dalam menampung jumlah wisatawan pada luas dan
satuan waktu tertentu. Perhitungan daya dukung kawasan pada wisata alam
berdasarkan kegiatan wisata yang di lakukan oleh wisatawan. Setiap kegiatan
wisata memiliki daya dukung kawasan dan perhitunga yang berpeda. Daya
dukung dapat dihitung dengan rumusan Boullon 1985:

Daya dukung =

Koefisien rotasi =

Perhiungan untuk kegitan wisata berdasarkan rumusan Boullon yang di


sesuaikan kondisi lapangan :

Daya dukung = (d1+d2+d3+d4) x (Koenfensi Rotasi)

d1= luas area yang desediakan/rata-rata luas kenyamanan individu


d2= jumlah individu yang difasilitasi oleh saran 1 (orang)
d3= jumlah individu yang difasilitasi oleh sarana 2 (orang)
d4= jumlah individu yang di fasilitasi oleh sarana 3 (orang)

Daya dukung kawasan per hari = DD x koefisien rotasi x IKW

Hasil Analisis minimal menjelaskan tentang :


1. Potensi dan Permasalahan Pembangunan Kepariwisataan
2. Posisi Kepariwisataan Dalam Kebijakan Pembangunan
3. Isu-isu Strategis Pembangunan Kepariwisataan

LAPORAN PENDAHULUAN III - 40


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.5 KELUARAN/OUTPUT
Keluaran berupa produk rencana secara substansi memuat tentang:
1 Potensi dan Permasalahan Pembangunan Kepariwisataan
Dirumuskan berdasarkan:
Potensi kepariwisataan dan terkait dan dimiliki dalam mendukung
pembangunan destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran, dan
kelembagaan kepariwisataan; dan
Permasalahan yang dihadapi dalam mendukung pembangunan destinasi
pariwisata, industri pariwisata, pemasaran, dan kelembagaan
kepariwisataan.

Potensi dan permasalahan pembangunan kepariwisataan memuat:


Potensi kepariwisataan dan terkait dan dimiliki dalam mendukung
pembangunan destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran, dan
kelembagaan kepariwisataan; dan
Permasalahan yang dihadapi dalam mendukung pembangunan destinasi
pariwisata, industri pariwisata, pemasaran, dan kelembagaan
kepariwisataan.

2 Posisi Kepariwisataan Dalam Kebijakan Pembangunan


Dirumuskan berdasarkan:
Posisi sektor kepariwisataan terhadap sektor pembangunan lainnya dalam
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Tana Toraja; dan
Posisi sektor kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam Rencana
Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi (RIPPARPROV) Sulawesi
Selatan dan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional
(RIPPARNAS).

3 Isu-isu Strategis Pembangunan Kepariwisataan


Dirumuskan berdasarkan:
Potensi yang dimiliki kabupaten dalam mendukung pembangunan
destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran dan kelembagaan
kepariwisataan;

LAPORAN PENDAHULUAN III - 41


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Permasalahan yang dihadapi kabupaten dalam mendukung


pembangunan destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran dan
kelembagaan kepariwisataan;
Posisi pembangunan kepariwisataan kabupaten dalam kebijakan
pembangunan wilayah kabupaten dan pembangunan kepariwisataan
nasional dan provinsi; dan
Isu-isu pembangunan wilayah kabupaten.

4 Prinsip-prinsip Pembangunan Kepariwisataan


Dirumuskan berdasarkan:
Isu-isu pembangunan kepariwisataan nasional dan provinsi;
Prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan yang berkembang pada
skala provinsi dan nasional;
Visi dan misi pembangunan wilayah kabupaten;

5 Visi dan Misi Pembangunan Kepariwisataan


Visi, dirumuskan berdasarkan:
Isu-isu strategis pembangunan kepariwisataan kabupaten;
Prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan kabupaten;
Visi pembangunan kepariwisataan provinsi;
Visi pembangunan wilayah kabupaten;
Isu terkini pembangunan kabupaten; dan
Kondisi objektif sumber daya pembangunan dan pariwisata kabupaten.

Misi, dirumuskan berdasarkan:


Visi pembangunan kepariwisataan, dan
Kondisi objektif sumber daya pembangunan dan pariwisata.

6 Tujuan Pembangunan Kepariwisataan


Tujuan pembangunan kepariwisataan kabupaten dirumuskan berdasarkan:
Visi dan misi pembangunan kepariwisataan kabupaten;
Isu-isu strategis pembangunan kepariwisataan kabupaten;
Isu-isu strategis pembangunan wilayah kabupaten;
Posisi kepariwisataan kabupaten dalam kepariwisataan provinsi; dan
Posisi kepariwisataan kabupaten terhadap sektor lain.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 42


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

7 Sasaran Pembangunan Kepariwisataan


Sasaran pembangunan kepariwisataan kabupaten dirumuskan berdasarkan:
Isi dan misi pembangunan kepariwisataan kabupaten;
Tujuan pembangunan kepariwisataan kabupaten;
Sasaran dan target pembangunan kepariwisataan provinsi; dan
Kecenderungan perkembangan pariwisata kabupaten.

8 Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan


Merupakan arahan pembangunan yang dirumuskan untuk mencapai tujuan
pembangunan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan harus
mengintegrasikan aspek destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran
pariwisata, dan kelembagaan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan
kepariwisataan daerah merupakan arah tindakan pembangunan
kepariwisataan yang bersifat multi dimensi dan lintas sektor.

Kebijakan pembangunan kepariwisataan dirumuskan berdasarkan:


visi dan misi pembangunan kepariwisataan;
tujuan pembangunan kepariwisataan; dan
peraturan perundang-undangan yang terkait.

9 Strategi Pembangunan Kepariwisataan


Merupakan penjabaran kebijakan berupa rumusan langkah-langkah
pencapaian yang lebih nyata untuk mewujudkan tujuan pembangunan
kepariwisataan. Strategi pembangunan kepariwisataan terdiri dari strategi
pembangunan destinasi pariwisata, strategi pembangunan industri pariwisata,
strategi pembangunan pemasaran pariwisata, dan strategi pembangunan
kelembagaan kepariwisataan.
Strategi Pembangunan Destinasi Pariwisata
Strategi Pembangunan Industri Pariwisata
Strategi Pembangunan Pemasaran Pariwisata
Strategi Pembangunan Kelembagaan Kepariwisataan

10 Rencana Pembangunan Perwilayahan Pariwisata


Rencana pembangunan perwilayahan pariwisata merupakan rumusan arahan
sistem perwilayahan kepariwisataan, yang mencakup struktur pelayanan

LAPORAN PENDAHULUAN III - 43


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pariwisata, destinasi pariwisata, kawasan pengembangan pariwisata, dan


kawasan strategis pariwisata. Rencana struktur perwilayahan pariwisata
kabupaten terdiri dari:
Rencana Struktur Perwilayahan Pariwisata
Merupakan kerangka perwilayahan pariwisata yang terdiri dari pusat-
pusat pelayanan pariwisata yang berhierarki satu sama lain, yang memiliki
fungsi sesuai dengan karakteristik daya tarik wisata yang
dikembangkannya, dihubungkan oleh jaringan transportasi sebagai
elemen pengikat.
Pusat Pelayanan Primer Kabupaten yang berfungsi sebagai pintu
gerbang kabupaten, pusat penyediaan fasilitas pariwisata di
kabupaten, dan pusat penyebaran kegiatan wisata ke bagian-bagian
wilayah kabupaten;
Pusat Pelayanan Sekunder Kabupaten yang berfungsi sebagai pusat
pertumbuhan pariwisata di bagian wilayah tertentu dari kabupaten;
dan
Jaringan Jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat pelayanan
dan kawasan-kawasan pariwisata kabupaten.

Rencana destinasi pariwisata


Merupakan arahan pembangunan destinasi pariwisata dalam sistem
perwilayahan pariwisata, Terdiri dari :
Delineasi wilayah destinasi pariwisata kabupaten; dan
Kawasan pengembangan pariwisata dan strategis pariwisata
kabupaten di dalamnya.

Rencana Kawasan Pengembangan Pariwisata


Merupakan arahan pembangunan kawasan pariwisata yang menurut hasil
analisis dapat menjadi andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
serta mencapai visi dan misi pengembangan kepariwisataan daerah.
Terdiri dari:
Tema pengembangan produk pariwisata kawasan pengembangan
pariwisata kabupaten,

LAPORAN PENDAHULUAN III - 44


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Jenis wisata yang menjadi unggulan untuk dikembangkan dan jenis


wisata pendukung.
Sasaran pengembangan kawasan pengembangan pariwisata
kabupaten,
Target pasar wisatawan,
Sistem keterkaitan dengan kawasan di sekitarnya dan wilayah
kabupaten lain di sekitarnya,
Rencana peningkatan kualitas daya tarik wisata di KPP kabupaten,
Rencana penyediaan fasilitas pariwisata (kualifikasi dan jumlah) di
KPP kabupaten,
Rencana penyediaan fasilitas umum pendukung KPP kabupaten
(kualifikasi),
Rencana penyediaan prasarana transportasi (kualifikasi dan lokasi)
untuk mendukung pengembangan KPP kabupaten; dan
Rencana penyediaan prasarana lainnya (jika mendesak dan
diperlukan) untuk mendukung KPP kabupaten.
Rencana Kawasan Strategis Pariwisata
Merupakan arahan pengembangan kawasan pariwisata yang dianggap
strategis untuk menjawab isu-isu strategis pembangunan wilayah dan
atau pembangunan kepariwisataan. Rencana kawasan strategis
pariwisata kabupaten terdiri dari:
Fungsi strategis kawasan dalam pembangunan kepariwisataan
kabupaten;
Sasaran pengembangan kawasan strategis pariwisata kabupaten;
Tema pengembangan produk pariwisata kawasan strategis pariwisata
kabupaten;
Jenis wisata yang menjadi unggulan untuk dikembangkan dan jenis
wisata pendukung;
Target pasar wisatawan;
Sistem keterkaitan dengan kawasan di sekitarnya dan wilayah
kabupaten/kota lain di sekitarnya;

LAPORAN PENDAHULUAN III - 45


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Sistem keterkaitan dengan sektor lain di dalam kawasan maupun di


sekitar kawasan strategis;
Rencana peningkatan kualitas daya tarik wisata di KSP kabupaten;
Rencana penyediaan fasilitas pariwisata (kualifikasi dan jumlah) di
KSP kabupaten;
Rencana penyediaan fasilitas umum pendukung KSP kabupaten
(kualifikasi);
Rencana penyediaan prasarana transportasi (kualifikasi dan lokasi)
untuk mendukung pengembangan KSP kabupaten; dan
Rencana penyediaan prasarana lainnya (jika mendesak dan
diperlukan) untuk mendukung KPP kabupaten.

11 Program Pembangunan Kepariwisataan


Program Pembangunan Destinasi Pariwisata
Program Pembangunan Industri Pariwisata
Program Pembangunan Pemasaran Pariwisata
Program Pembangunan Kelembagaan Kepariwisataan

12 Mekanisme Pengendalian Pembangunan Kepariwisataan


Mekanisme pengendalian pembangunan kepariwisataan merupakan tata cara
yang dibuat atau disusun dalam upaya mengendalikan pembangunan
kepariwisataan agar sesuai dengan arahan kebijakan, strategi, rencana, dan
program yang termuat dalam RIPPARKAB.

Mekanisme pengendalian pembangunan kepariwisataan memiliki fungsi:


Sebagai alat pengendali pembangunan kepariwisataan;
Menjaga dan menjamin kesesuaian perkembangan dan pembangunan
kepariwisataan dengan RIPPARPROV; dan
Meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan akibat perkembangan
pariwisata.

Mekanisme pengendalian pembangunan kepariwisataan dirumuskan


berdasarkan:
Strategi, rencana, dan program pembangunan kepariwisataan;
Masalah, tantangan, dan potensi yang dimiliki kepariwisataan;

LAPORAN PENDAHULUAN III - 46


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kesepakatan para pemangku kepentingan, baik itu pemerintah, swasta,


maupun masyarakat; dan
Ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.

Mekanisme pengendalian pembangunan kepariwisataan memuat:


Tujuan dan sasaran pengendalian pembangunan kepariwisataan;
Aspek-aspek pengendalian pembangunan kepariwisataan;
Indikator dan tolok ukur pengendalian pembangunan kepariwisataan;
Tim pengendalian pembangunan kepariwisataan; dan
Prosedur pengendalian pembangunan kepariwisataan.

LAPORAN PENDAHULUAN III - 47


RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Bab 4
Rencana Kerja
4.1 ORGANISASI PELAKSANA
Penyusunan organisasi pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Rencana Induk
Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten (RIPPARKAB) Tana Toraja
Tahun Anggaran 2020 ini menyangkut hubungan antara Pengguna Angaran
/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sebagai
penanggung jawab kegiatan dengan Tim pelaksana pekerjaan.

PPK dalam hal ini sebagai penangung jawab kegiatan adalah Kepala Dinas
Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, sedangkan Tim Perencana, Tim Pelaksana
dan Tim Pengawas. Dalam pelaksanaan pekerjaan, Tim Perencana akan
bertanggung jawab kepada PPK yang telah ditunjuk oleh PA/KPA, dan akan
melakukan tugas sesuai kewenangan yang diberikan oleh PPK.

Pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan tim


perencana tersebut adalah sebagai berikut :

1. PA/KPA penanggung jawab anggaran, selanjutnya disebut PA/KPA.


Mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :
Mengidentifikasi kebutuhan barang/jasa yang diperlukan.
Menetapkan rencana pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan oleh
tim perencana/konsultan.
Menetapkan sasaran, tujuan dan besaran anggaran pekerjaan.
Bila ULP belum dibentuk, mengangkat panitia/pejabat pengadaan
barang/jasa yang dibutuhkan dalam pelaksanaan swakelola.

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 1
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. PPK mempunyai tugas sebagai berikut:


Melaksanakan kebijakan PA/KPA berkaitan dengan pelaksanaan
pengadaan barang/jasa melalui konsultan.
Membantu dan memangkat tim pelaksanaan pekerjaan/konsultan.
Mengadakan kontrak pelaksanaan pengadaan pekerjaan dengan tim
konsultan.

3. Tim Perencana merupakan pemberi tugas :


Menyusun Kerangka Acuan Tugas dan spesifikasi teknis yang jelas
sesuai dengan pekerjaan.
Memberikan informasi yang diperlukan Tim Penyusunan RIPPARKAB
Tana Toraja.
Melakukan konsultasi, perundingan dan negosiasi yang bersifat
administrasi maupun teknis dengan Tim Pelaksana RIPPARKAB Tana
Toraja.
Memberikan saran, usul dan kritik terhadap hasil rancangan yang
dihasilkan Tim Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja apabila kurang
sesuai dengan permasalahan yang ada.
Menyelesaikan urusan administrasi dan keuangan tepat waktu sesuai
dengan kesepakatan (kontrak kerjasama) dengan Tim Penyusunan
RIPPARKAB Tana Toraja.

4. Tenaga Ahli (Tim Pelaksana)


Kewajiban konsultan dan tenaga ahli sebagai pelaksana kegiatan dalam
proses Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja adalah sebagai berikut:
Bersama tim Perencana melakukan pembahasan bersama untuk
mengkaji dan mereview kebijakan pembangunan, RPJMD, RTRW
Kabupaten Tana Toraja, dan literature lainnya terkait dengan
Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja;
Bersama tim Perencana melakukan peninjauan/observasi lapangan,
sebagai bahan masukan dalam perumusan kegiatan Penyusunan
RIPPARKAB Tana Toraja;

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 2
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Melakukan survey lokasi terkait dengan bidang keilmuan masing-masing,


sebagai bahan rujukan perumusan perencanaan;
Menyusun laporan Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja, mulai dari
Laporan Pendahuluan, Laporan Antara Dan Laporan Akhir ;
Melakukan koordinasi dengan tim (PA/KPA, PPK dan Tim Perencana),
dan instansi terkait, untuk memperoleh masukan dan saran dalam
Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja;
Melakukan pembahasan dan seminar secara bersama dengan tim
lainnya (PA/KPA, PPK dan Tim Perencana)
Pelaksanaan pekerjaan konsultan dinyatakan berakhir apabila
Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja dinyatakan selesai secara
keseluruhan;
Melaksanakan kewajiban pekerjaannya dapat meminta bantuan Tim
Teknis untuk memberikan petunjuk dan pengarahan kepada konsultan
untuk mencapai hasil yang optimal. Tim Teknis dapat diminta
bantuannya pula untuk data dan fasilitas ijinnya guna mendukung
kelancaran kerja sejauh tidak membutuhkan biaya.

Struktur organisasi swakelolah Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja, diuraikan


pada diagram berikut :

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 3
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

PA/KPA-PJA

ULP/PEJABAT
PPK
PENGADAAN

TIM TIM TIM


KONSULTAN PELAKSANA PENGAWAS

PA/KPA-PJA = Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran – Penanggung Jawab


Anggaran

Gambar 4.1 : Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan

4.2 RENCANA KERJA TENAGA AHLI


4.2.1 Kewajiban Konsultan
Kewajiban konsultan adalah sebagai berikut :

1. Bertanggung jawab sampai laporan akhir diterima dan disetujui oleh pihak
pemberi tugas.
2. Melaksanakan diskusi dengan tim teknis setiap tahapan laporan.
3. Mengadakan dan melaksanakan diskusi untuk penyajian Rancangan Rencana
kepada pemerintah daerah yang bersangkutan dengan dikoordinasi
penyelenggaraannya oleh pemberi tugas.
4. Berdasarkan hasil diskusi pada laporan akhir harus diadakan revisi sesuai
dengan hasil notulen di atas.

4.2.2 Tenaga Ahli


Dengan berpedoman pada Kerangka Acuan dan agar pelaksana Penyusunan
RIPPARDA Kabupaten Tana Toraja menghasilkan produk yang sesuai dengan

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 4
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

harapan, maka konsultan pelaksana studi ini akan didukung oleh bidang keahlian
pokok sebagai berikut :

1. Ketua Tim (Team Leader)


Ketua tim adalah seorang Sarjana (S1) Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah
Dan Kota lulusan Universitas Negeri atau yang telah disamakan,
berpengalaman sekurang-kurangnya 3 kali sebagai ketua tim dalam
pelaksanaan pekerjaan setara dibidang pariwisata, maupun berpengalaman
dibidang Kepariwisataan serta pemasaran pariwisata sekurang-kurangnya 3
tahun. Sebagai ketua tim tugas utama tugas utamanya adalah memimpin
dan mengkoordinir seluruh kegiatan anggota tim kerja dalam pelaksanaan
pekerjaan selama 4 (empat) bulan penuh sampai dengan pekerjaan
dinyatakan selesai.
2. Ahli Pariwisata
Tenaga ahli tersebut adalah merupakan unsur utama yang disyaratkan
dalam perencanaan kegiatan sehingga diperlukan lulusan adalah seorang
sarjana (D-IV/S1) Pariwisata / Manajemen Pariwisata dan lebih diutamakan
Pascasarjana Pariwisata perguruan tinggi yang disamakan dan memiliki
pengalaman bidang kepariwisataan minimal 3 tahun.
3. Ahli Sipil Prasarana Wilayah
Adalah sarjana Teknik Sipil Strata Satu (S1) lulusan universitas perguruan
tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan
pekerjaan dibidang prasarana wilayah sub bidang perencanaan
pengembangan kota dan wilayah.
4. Ahli GIS
Tenaga ahli yang dimaksud adalah Sarjana Teknik Perencanaan Wilayah Dan
Kota Atau Sarjana Teknik Geodesi (S1) lulusan universitas begeri atau
disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang program
Pemetaan GIS.
5. Ahli Sosial Budaya
Adalah Sarjana Sosiologi Atau Sosial Budaya Strata Satu (S1) lulusan
universitas perguruan tinggi negeri atau yang disamakan yang

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 5
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang program pemberdayaan


masyarakat sekurang-kurangnya 1 tahun.

Uraian singkat tugas masing-masing staf profesional dan staf sub profesional
adalah sebagai berikut :
Team Leader (Manajemen), bertanggung jawab :
Mengkoordinir semua tenaga ahli yang terlibat dalam hal teknis pekerjaan;
Memberi pertanggungjawaban perkembangan pekerjaan kepada project
director;
Mempersentasikan pekerjaan kepada pemberi tugas dibantu dengan tenaga
ahli lainnya terlibat aktif dalam pengumpulan data, analisis wilayah, serta
perumusan konsep dan strategi pengembangan, serta perumusan rencana
dari aspek manajemen pariwisata;
Koordinasi terhadap seluruh kegiatan, tenaga ahli maupun dengan pihak
instansi terkait;
Terlibat aktif dalam menganalisis kebijaksanaan pembangunan dan arahan
pengembangan sektor pariwisata daerah;
Terlibat aktif dalam merumuskan potensi dan masalah pengembangan;
Terlibat aktif dalam menyusun konsep dan strategi pembangunan pariwisata.

Ahli Pariwisata, bertanggung jawab dalam:


Terlibat aktif dalam pengumpulan data-data tentang keadaan dan kondisi
daya tarik wilsata, di wilayah perencanaan;
Mengembangkan keilmuan pariwisata, khususnya cabang kebijakan
pembangunan pariwisata dalam konteks destinasi pariwisata;
Mampu mengembangkan keahlian dalam memformulasikan kebijakan,
pengembangan SDM, perencanaan dan pengelolaan produk wisata &
pelayanan, pemanfaatan sumberdaya dan pengembangan produk pariwisata,
dan tata kelola operasi kepariwisataan dalam pembangunan berkelanjutan
destinasi pariwisata;
Memiliki pola berpikir taktis dan sistematis dalam proses penganalisaan
kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan serta kendala kompleksitas
pariwisata yang bersifat dinamis dan multi dimensi disuatu destinasi
pariwisata;

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 6
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Memiliki daya nalar dan inisiatif realistis dalam memberikan solusi


permasalahan pengembangan pariwisata melalui rekomendasi konseptual
yang aplikatif dan implementable;
Terlibat aktif dalam menganalisis potensi dan peluang pembangunan DTW;
Merumuskan masalah-masalah tiap DTW dan strategi pengendalian serta
kemungkinan pengembangan potensi-potensi DTW;
Membantu leader dalam merumuskan rencana dan pengelolaan pariwisata
yang berkaitan dengan pemanfaatan bagi kegiatan pariwisata;

Ahli Sipil Prasarana Wilayah, Bertanggung jawab dalam :


Mengumpulkan data terkait ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang
mendukung pengembangan dan pembangunan pariwisata;
Melakukan kajian spasial / keruangan terkait sistem dan struktur
pengembangan DTW;
Melakukan kajian analisis prasarana wilayah dan infrastruktur dalam
merumuskan program-program pembangunan dan pengembangan
RIPPARDA di lokasi kegiatan;
Membuat laporan mengenai data-data yang didapat serta menganalisa untuk
mendapatkan output, guna penyusunan buku laporan pada setiap tahap
kegiatan.
Mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan bidang studi yang berhubungan
dengan pere dan arsitetur kota.
Membantu ketua tim dalam merumuskan rencana pembangunan pariwisata
wilayah perencanaan.

Ahli GIS, Bertanggung jawab dalam :


Terlibat aktif dalam pengumpulan data-data potensi pemetaan GIS;
Melakukan interprtasi citra satelit dan menyipkan program GIS;
Bekerjasama dengan tenaga ahli lainnya dalam melakukan tugas dan
tanggungjawabnya;
Membantu membuat peta-peta tematik berdasarkan interpretasi citra;
Membuat peta dasar dan digitasi hasil pengamatan lapangan untuk dijadikan
peta yang dibutuhkan;

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 7
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Bertanggung jawab atas hasil interpretasi citra satelit dan sistem informasi
geografis;
Memeriksa data lapangan dan membantu melakukan analisis data serta
mengarahkan team dalam penggambaran;
Mengikuti staf konservasi ke lapangan untuk mengecek kondisi di lapangan
dibandingkan kondisi yang dilihat dari citra satelit;
Membantu ketua tim dalam merumuskan rencana pembangunan pariwisata
sesuai dengan potensi hasil pemetaan GIS.

Ahli Sosial Budaya, Bertanggung jawab dalam :


Terlibat aktif dalam pengumpulan data-data sosial kelembagaan dan
kemasyarakatan terutama penduduk asli wilayah perencanaan;
Mengamati karakteristik sosial budaya masyarakat ;
Terlibat aktif dalam menganalisis kondisi kebudayaan dan sosial
kemasyarakatan (analisis adat istiadat, peranserta masryarakat/partisipasi
masyarakat, kepedulian terhadap lingkungan, pergeseran nilai/norma, dan
tingkat pelayanan sosial);
Merumuskan masalah-masalah kependudukan dan strategi pembangunan
sosial kemasyarakatan;
Membantu ketua tim dalam merumuskan rencana yang berkaitan dengan
sosial kemasyarakatan;
Terlibat aktif dalam pengumpulan data-data kependudukan dan
penyebarannya;
Terlibat aktif dalam menganalisis kondisi demogografi (perkembangan
penduduk, pergerakan dan mobilitas penduduk, distribusi dan kepadatan
penduduk, struktur pekerjaan, dan struktur umur);
Merumuskan masalah-masalah kependudukan dan strategi pembangunan
kependudukan;
Membantu ketua tim dalam merumuskan rencana yang berkaitan dengan
aspek kependudukan.

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 8
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.3 WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN


Jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja
adalah selama 4 (Empat) bulan atau 120 (Seratus Dua Puluh) hari kalender
terhitung sejak penandatanganan kontrak kerja.
Untuk memudahkan koordinasi tenaga ahli dan tenaga pendukung dalam proses
Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja, maka dibuat jadwal pelaksanaan pekerjaan
sebagai berikut;

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 9
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

TABEL 4.1. MATRIKS JADWAL PELAKSANAAN


JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER
No Aktivitas
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan X

2. Pengumpulan data sekunder dan


X X X
Penyusunan Laporan Pendahuluan

3. Seminar Awal X

4. Survey/ pengumpulan data primer dan


X X X X
Pelengkapan Data Sekunder

5. Kompilasi dan Interpretasi Data X X X X

6. Kajian dan Analisis Data X X X X

7. Penyusunan Laporan Akhir X X X

8. Seminar Akhir X

9. Pengumpulan laporan akhir hasil


X
revisi.

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 10
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.4 JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI


Keterlibatan tenaga ahli dialokasikan berdasarkan jadwal kegiatan yang telah
ditentukan di atas. Keterlibatan tenaga ahli ditunjukkan dengan jumlah bobot
keterlibatan masing-masing tenaga ahli dalam satu jenis komponen kegiatan,
dan lama jumlah keterlibatan setiap personil untuk keseluruhan kegiatan mulai
dari awal hingga akhir pekerjaan. Setiap tenaga ahli ke dalam satu satuan waktu
kegiatan di antara 120 hari waktu pelaksanaan pekerjaan, yang diturunkan
berdasarkan jadwal kegiatan.

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 11
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

TABEL 4.2 : JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI


PENYUSUNAN RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN DAERAH (RIPARDA) KABUPATEN TANA TORAJA
TAHUN ANGGARAN 2020
BULAN / MINGGU KE-
NO. POSISI PERSONIL NAMA PERSONIL KET. O/B
BULAN I BULAN II BULAN III BULAN IV
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
I. TENAGA AHLI
1 Team Leader Abdul Azis Hatuina, ST, MT 1 x 4
2 Ahli Pariwisata Wahyu Triana, SST. Par 1 x 4
3 Ahli Sipil Prasarana Wilayah M. Ulung Bairi, ST 1 x 4
4 Ahli GIS Haryadi, ST 1 x 4
5 Ahli Sosial Budaya Fitriani Gafur, [Link] 1 x 4
SUB TOTAL I 5 X 20
II. TENAGA PENDUKUNG
1 Drafter Syamsul H Basri Tjenno, ST 1 x 4
2 Surveyor 1 M. Ikbal Amahoru, ST 1 x 1
3 Surveyor 2 Rio Kusnadi, ST 1 x 1
4 Surveyor 3 Andi Afdhal Nas, ST 1 x 1
5 Surveyor 4 Ichram, ST 1 x 1
6 Administrasi Rizsty Primula, [Link] 1 x 4
SUB TOTAL II 6 X 12
III. TENAGA ASING
1 - - -
SUB TOTAL III -
TOTAL 11 X 32

Masukan Penuh Waktu Masukan Paruh Waktu

LAPORAN PENDAHULUAN IV - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1
1.1 LATAR BELAKANG
Pariwisata merupakan kegiatan multi dimensional yang menyentuh berbagai aspek kehidupan
baik politik, hukum, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat. Pengembangan
kepariwisataan tidak hanya mempunyai tujuan akhir berupa output ekonomi atau nilai finansial
yang diperoleh tetapi juga menyangkut persoalan sosial, agama, budaya dan keamanan yang
bahkan menjadi nilai utama pariwisata untuk dieksploitasi menjadi daya tarik wisata yang
mempunyai daya jual tinggi.
Dalam era modern seperti sekarang ini, pariwisata telah menjadi komponen katalis
perkembangan fisik kawasan (tidak merupakan penyebab utama, namun memberikan kontribusi
pada percepatan pertumbuhan dan perubahan kawasan) baik berupa perkembangan fisik,
ekonomi maupun sosial budaya masyarakat. Industri pariwisata merupakan alternatif kegiatan
ekonomi yang dapat diandalkan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, sehingga dituntut untuk berkembang dengan baik dan menghasilkan produk yang
dapat diunggulkan. Hal ini dapat dicapai dengan kemauan politik pemerintah yang memberikan
landasan hukum serta kesadaran masyarakat untuk dapat berintegrasi serta melibatkan diri
sebagai bagian dalam proses sehingga dapat menghasilkan produksi unggulan dalam seluruh
kegiatan industri pariwisata.
Bagi sebagian daerah, pariwisata dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan
kinerja pembangunannya. Namun demikian, untuk mencapai hal tersebut memerlukan suatu
kerja ekstra dari berbagai pihak (stakeholders) baik pemerintah, swasta dan masyarakat untuk
mampu menggali semua potensi-potensi yang ada dengan berupaya semaksimal mungkin untuk
menekan dampak negatif yang mungkin timbul mengingat pariwisata juga mempunyai energi
dobrak cukup kuat dalam memetamorpose berbagai aspek kehidupan atau bahkan dapat
dipandang sebagai ‘musuh’ yang mengancam pelestarian budaya dan lingkungan.
Salah satu upaya yang dapat mengantisipasi hal tersebut adalah melalui perencanaan yang
matang dan komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak untuk merumuskan masalah-
masalah yang timbul pada proses pengembangan dan harus dapat menampung dan
menanggapi aspirasi-aspirasi masyarakat serta berusaha menggali potensi-potensi yang

I-1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

terkandung didalamnya. Atas dasar tersebut, maka konsep pengembangan yang merupakan agar menarik wisatawan untuk datang ke suatu lokasi. Pada umumnya, kualitas tersebut terdiri
penentu kebijakan pengembangan suatu pariwisata dapat disusun. Dengan kata lain konsep dari unsur-unsur yang saling tergantung, yaitu atraksi dan daya tarik, fasilitas wisata,
rencana pengembangan kepariwisataan selain merupakan suatu penuntun didalam infrastruktur, transportasi dan pelayanan. Secara khusus adalah kualitas obyek wisata itu
menanggulangi berbagai kendala yang muncul diharapkan juga menjadi kerangka tindak lanjut sendiri, apakah layak dikunjungi dan dapat memberikan kepuasan. Atraksi menarik wisatawan
dalam pemenuhan tuntutan dan kebutuhan serta keinginan bagi wisatawan dimasa yang akan untuk datang kesuatu lokasi, fasilitas menyediakan kebutuhan wisatawan selama berada jauh
datang dengan memperhatikan tingkatan budaya, sejarah dan ekonomi dari daerah tujuan dari tempat tinggalnya, infrastruktur dan transportasi diperlukan untuk memudahkan wisatawan
wisata. mengunjungi tempat-tempat tujuan wisata, sedangkan pelayanan menunjukkan cara dan
bagaimana memberikan pelayanan kepada wisatawan. Usaha-usaha dalam meningkatkan
Di samping itu, perencanaan juga diharapkan dapat membantu tercapainya kesesuaian (match)
kualitas obyek wisata ini dapat menarik wisatawan untuk datang ke kawasan itu dan pada
antara ekspektasi pasar dengan produk wisata yang dikembangkan tanpa harus mengorbankan
akhirnya akan memberikan income dan kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitarnya.
kepentingan masing-masing pihak. Mengingat masa depan penuh perubahan, maka
Potensi dan berbagai unsur-unsur kepariwisataan tersebut menjadi bagian yang sangat penting
perencanaan diharapkan dapat mengantisipasi perubahan-perubahan lingkungan strategis yang
dalam pembangunan kepariwisataan yang maju di Kabupaten Tana Toraja. Oleh karena itu,
dimaksud dan menghindari sejauh mungkin dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan-
diperlukan dorongan semua sektor didaerah untuk bersama-sama memajukan kepariwisataan
perubahan lingkungan tersebut.
Tana Toraja kedepannya karena pariwisata juga merupakan aktivitas yang beragam dilakukan
Kabupaten Tana Toraja yang dikenal sebagai ikon pariwisata di Provinsi Sulawesi Selatan, tidak hanya terfokus pada kegiatan pariwisata, tetapi aktivitas-aktivitas tersebut berhubungan
memiliki berbagai potensi wisata yang cukup prospektif untuk dikembangkan. Pembangunan dengan aktivitas atau kegiatan sosial kemasyarakatan, bisnis, dan pemerintahan.
kepariwisataan didaerah ini cukup pesat dalam mengembangkan kawasan-kawasan wisata yang
Berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah merupakan titik tolak yang sangat strategis untuk
dianggap menjadi daya tarik wisata yang cukup diminati oleh wisatawan. Hal ini perlu didukung
dapat mengoptimalkan dengan menggali, mengembangkan dan mengelola asset-aset dan
dengan perencanaan yang komperhensif dan berkelanjutan terhadap potensi kepariwisataan
sumberdaya yang dimiliki sehingga dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan
yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja. Pembangunan kepariwisataan tentunya membawa
pembangunan dan perekonomian. Oleh karena itu, setiap daerah harus mencermati sektor-
dampak yang menyeluruh terhadap sektor-sektor lain yang ada disuatu daerah, oleh karena itu
sektor strategis dan potensial untuk dikembangkan sehingga produktif dan dapat membantu
dibutuhkan perencanaan yang matang sehingga hal tersebut dapat tercapai dengan maksimal.
menopang Pembangunan Daerah, memberikan nilai manfaat serta menghasilkan produktifitas
Pembangunan kepariwisataan tidak dapat dilakukan secara parsial, namun harus menyeluruh yang tinggi bagi Pembangunan Daerah maupun Peningkatan Kesejahteraan. Dalam mendukung
terutama dalam pembangunan kawasan-kawasan wisata sehingga diharapkan dapat program pemerintah pusat yang ingin menjadikan beberapa daerah di Nusantara ini menjadi
menimbulkan “gravitasion effek” terhadap objek wisata lain. Beberapa obyek dan daya tarik daerah unggulan dalam sektor pariwisata yang mempunyai daya tarik tersendiri maka masing-
wisata yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat dan wisatawan di Tana Toraja, sejumlah masing daerah dituntut untuk mengembangkan sektor pariwisata unggulan masing-masing
atraksi budaya dan kesenian yang sangat unik ini diharapkan dapan menjadi potensi yang tidak daerah. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sektor parwisata merupakan salah satu penghasil
hanya berkembang pada DTW unggulan saja, namun diharapkan dapat menjadi pemicu devisa Negara yang sangat besar. Upaya tersebut dapat dilaksanakan dengan mengembangkan
berkembangnya data tarik wisata lain yang tersedia, serta dukungan manajemen daerah/kawasan wisata secara terpola, terpadu dan dengan rencana program yang baik. Hal ini
kepariwisataan dan sistem pelayanan (akomodasi, transportasi, peran swasta dan masyarakat, dimaksudkan agar target pengembangannya dapat dicapai dalam waktu yang cepat dan dari
dll) yang menadai. Hal ini dapat dilakukan melalui rencana ini yang memuat tentang pokok- segi pembiayaan dapat lebih efisien. Salah satu program yang perlu dilaksanakan agar dapat
pokok pembangunan kepariwisataan yang diantaranya strategi-strategi dan program merealisasikan upaya diatas adalah dengan membuat suatu Rencana Induk Pembangunan
pembangunan industri, destinasi, pemasaran dan kelembagaan kepariwisataan yang menjadi Kepariwisataan Kabupaten yang dapat digunakan sebagai pedoman pengembangan pariwisata
pedoman bagi pembangunan kawasan-kawasan wisata secara bertahap dan bekesinambungan didaerah sehingga acuan pengembangannya menjadi lebih jelas dan terarah.
di Kabupaten Tana Toraja.
Pasca diundangkannya UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan sebagai pengganti UU
Tingginya potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja menunjukkan bahwa masa No. 9 tahun 1999, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011
depan pengembangan pariwisata didaerah ini merupakan prospek yang sangat cerah. Data yang tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) Tahun 2010 –
dikutip dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Toraja, kunjungan wisatawan nusantara 2025, mau tidak mau daerah harus menyesuaikan diri tentang pengaturan dan pengelolaan
periode 2009 – 2017 sangat pesat pertumbuhannya, dimana pada tahun 2009 kunjungan bidang kepariwisataan. Disisi lain, bagi pemerintah sendiri yang diharapkan usaha pariwisata
wisatawan hanya sebanyak 5.499 wisatawan meningkat tajam sampai pada tahun 2017 dapat memberikan kontribusi bagi pendapatan negara/daerah, baik dalam bentuk pajak, retribsi
sebanyak 1.173.183 wisatawan. Kualitas daya tarik wisata merupakan salah satu unsur penentu dan lain sebagainya.

I-2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Rencana Pembangunan kepariwisataan mencakup 2 (dua) aspek, yaitu aspek spasial dan aspek 1. Mengarahkan pengembangan jalannya pariwisata;
non-spasial. Aspek spasial menyangkut hal-hal yang terkait dengan perencanaan kawasan- 2. Mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkrit
kawasan wisata/daya tarik wisata termasuk, serta keterkaitan antar kawasan dan keterhubungan sesuai dengan tata ruang dan konsep kepariwisataan;
atau aksesibilitasnya. Rencana Induk Pariwisata juga membuat aspek non spasial, khususnya 3. Melengkapi aturan daerah tentang pembangunan kepariwisataan;
yang terkait dengan pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan, mekanisme 4. Menjamin implementasi pembangunan kepariwisataan agar sesuai dengan aspirasi dan
kerjasama antar lembaga dan hal-hal lainnya yang non spasial, termasuk keterkaitan antar kebutuhan masyarakat; dan
sector dalam mendukung pengembangan pariwisata. 5. Menjamin terpeliharanya objek/kawasan wisata.
RIPPAR-KAB Tana Toraja adalah pemanfaatan ruang parawisata yang disusun untuk penyiapan
1.3 KELUARAN
perwujudan rencana pembangunan kepariwisataan yang berkualitas serasi, optimum sesuai
Output dari kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten
dengan kebijakan pembangunan daerah, serta memujudkan kesesuaian antara kebutuhan
Tana Toraja mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10 Tahun 2016 tentang
pembangunan dan kemampuan daya dukung lingkungan melalui pemanfaatan pengelolaan
Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota,
sumber daya alam dan sumber daya buatan. Selain itu, dalam penyusunan-nya, RIPPAR-KAB
dengan muatan rencana diantaranya sebagai berikut:
Tana Toraja merupakan rencana yang mempunyai keterkaitan dalam Peraturan Pemerintah
1. Pendahuluan;
Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional
2. Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan;
(RIPPARNAS) Tahun 2010 – 2025 yang telah menetapkan beberapa potensi unggulan pariwisata
3. Kondisi Wilayah Kabupaten Tana Toraja Dalam Mendukung Pembangunan Kepariwisataan;
di Provinsi Sulawesi Selatan, RIPARP-ROV Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030 dalam Peraturan
4. Kabupaten Tana Toraja Sebagai Destinasi Pariwisata;
Daerah Nomor 2 tahun 2015 ini yang salah satunya menetapkan Toraja sebagai Kawasan
5. Industri Pariwisata;
Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) pada DPD Kawasan Utara yaitu KSPD Toraja dan sekitarnya,
6. Pasar pariwisata;
yang juga dapat menjadi masukan dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten.
7. Kelembagaan Pariwisata;
Dengan demikian, maka RIPPAR-KAB Tana Toraja perlu disusun agar sesuai dengan kondisi 8. Prinsip dan Konsep Pembangunan Kepariwisataan;
kekinian sehingga seluruh potensi daya tarik wisata dapat dikembangkan dengan baik dalam 9. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan;
rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata, 10. Rencana Pengembangan Perwilayahan Pariwisata; dan
mendorong peningkatan ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata, serta pemanfaatan sumber 11. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan.
daya alam yang optimal.

1.4 RUANG LINGKUP


1.2 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN 1.4.1 Lingkup Wilayah
Maksud dari pekerjaan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten
Wilayah kajian Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana
(RIPPAR-KAB) Tana Toraja adalah Menyusun perencanaan pengembangan kepariwisataan
Toraja yaitu seluruh wilayah administrasi Kabupaten Tana Toraja.
Kabupaten Tana Toraja tahun 2021 – 2040.
1.4.2 Lingkup Materi
Sedang tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai berikut:
RIPPARKAB Tana Toraja memuat potensi dan permasalahan pembangunan kepariwisataan, isu-
1. Sebagai pedoman dan arah kebijakan pembangunan kepariwisataan Tana Toraja.
isu strategis yang harus dijawab, posisi pembangunan kepariwisataan dalam kebijakan
2. Memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai pengembangan potensi
pembangunan wilayah dan kepariwisataan, visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi,
kepariwisataan yang meliputi daya tarik wisata, usaha sarana wisata, usaha jasa wisata dan
rencana, dan indikasi program pembangunan kepariwisataan. Rumusan rencana dalam
usaha lain pendukung pariwisata.
RIPPARKAB Tana Toraja difokuskan pada rencana pembangunan perwilayahan pariwisata yang
3. Menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) kepariwisataan di Tana
merupakan penjabaran teknis dari strategi pembangunan destinasi pariwisata.
Toraja agar dapat bersinergi secara positif dalam pengembangan kepariwisataan.
Adapun sasaran yang harus dicapai untuk mewujudkan tujuan dari pekerjaan Penyusunan 1.4.3 Lingkup Kegiatan
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Tana Toraja Lingkup kegiatan pada Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja didasarkan pada Kerangka Acuan
adalah sebagai berikut: Kerja yang terdiri dari :
1. Kajian dan Penyusunan Laporan Pendahuluan;

I-3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Kajian dan Penyusunan Laporan Fakta dan Analisis; dan 8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
3. Kajian dan Penyusunan Laporan Akhir/Rencana. Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah terakhir kalinya dengan Undang-Undang
1.5 JANGKA WAKTU PERENCANAAN Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang nomor 23 Tahun
Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 8 disebutkan 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
bahwa pembangunan kepariwisataan yang dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
kepariwisataan, merupakan bagian integral dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang 9. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
Nasional. Oleh karena itu, jangka waktu perencanaan RIPPARPROV dan RIPPARKAB/KOTA juga 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 132);
menyesuaikan dengan periode waktu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 10. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik
Kabupaten/Kota yang tentu saja sama dengan periode waktu Rencana Pembangunan Jangka Indonesia Tahun 2014 Nomor 308, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
Panjang Nasional (RPJPN). Periode waktu untuk RPJPD Kabupaten Tana Toraja dalam Peraturan 5613);
Daerah Nomor 3 tahun 2012 yaitu tahun 2010 – 2030, dengan demikian jangka waktu untuk 11. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran
RIPPARKAB Tana Toraja adalah 10 tahun (tahun 2021-2030). Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4723);
Evaluasi terhadap implementasi rencana dan perubahan-perubahan yang terjadi, baik
12. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (Lembaran
perubahan pada kebijakan pembangunan nasional maupun daerah (provinsi atau kabupaten)
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik
dan dinamika internal daerah yang mempengaruhi pengembangan kepariwisataan dapat
Indonesia Nomor 5025);
dilakukan setiap 5 (lima) tahun.
13. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospatial (Lembaran Negara
1.6 DASAR HUKUM Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5214);
Ketentuan hukum/peraturan yang mendasari Kegiatan Penyusunan RIPPARDA Kabupaten Tana
14. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan
Toraja ini adalah sebagai berikut:
Untuk Kepentingan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 22,
1.6.1 Undang-Undang
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5280);
1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 15. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 190, Tambahan Lembaran Negara Republik
Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Indonesia Nomor 6405);
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara 1.6.2 Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik
1. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona
Indonesia Nomor 3470);
Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam (Lembaran
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik
Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 33, Tambahan Lembaran
Indonesia Nomor 3550);
Negara Republik Indonesia Nomor 4988);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan
5. Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
Indonesia Nomor 4966);
4593);
6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara
3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Indonesia Nomor 4725);
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
7. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 473);
Indonesia Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5168);

I-4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan 1.6.4 Peraturan Daerah
Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Induk
2011 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5262); Pembangunan Kepariwisataan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2012 tentang Sertifikasi Usaha dan Kompetensi; 2. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Tentang Rencana Pembangunan Jangka
6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tana Toraja;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan; 3. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata
8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan. Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031;
9. Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pengawasan dan Pengendalian 4. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pajak Hotel;
Kepariwisataan; 5. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas
10. Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2014 tentang Koordinasi Lintas Sektor Kepariwisataan; Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Hotel, Pajak
11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan
Atas Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2014 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Logam dan Batubara, Pajak Parkir, dan Pajak Air Minum;
Penyelenggaraan Kepariwisataan; 6. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 2 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua
12. Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan Atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum;
dan Pariwisata; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlundingan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
1.6.3 Peraturan Menteri
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pembangunan
1.7 PENGERTIAN UMUM
Ekowisata Di Daerah;
1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang
2. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 37 Tahun 2007 tentang Kriteria Destinasi Unggulan;
dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau
3. Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana
mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota;
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
4. Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta
Destinasi Pariwisata Berkelanjutan;
layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah
5. Peraturan Menteri PU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Kawasan Rawan Bencana Longsor;
daerah.
6. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 01 Tahun 2010 tentang
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat
Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi;
multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan
7. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 27 Nomor
negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan,
2014 Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;
pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha.
8. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014
5. Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten yang selanjutnya disebut dengan
Tentang Standar Usaha Pondok Wisata;
RIPPAR-KAB adalah dokumen perencanaan pembangunan kepariwisataan kabupaten untuk
9. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 14 Tahun
periode 15-25 tahun.
2014 Tentang Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata;
6. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang
10. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 17 Tahun
berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi
2014 Tentang Standar Usaha Kawasan Pariwista;
sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
11. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
7. Daerah Tujuan Pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan
2014 Tentang Standar Usaha Jasa Konsultan Pariwisata;
geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya
12. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 27 Tahun
terdapat Daya Tarik Wisata, Fasilitas Umum, Fasilitas Pariwisata, aksesibilitas serta
2014 Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;
masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

I-5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

8. Pemasaran Pariwisata adalah serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, 22. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda
menyampaikan produk wisata dan mengelola relasi dengan wisatawan untuk buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding,
mengembangkan kepariwisataan dan seluruh pemangku kepentingannya. dan beratap.
9. Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka 23. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung
menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai
penyelenggaraan pariwisata; hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.
10. Kelembagaan Kepariwisataan adalah kesatuan unsur beserta jaringannya yang 24. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar
dikembangkan secara terorganisasi meliputi Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta dan Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang
masyarakat, sumber daya manusia, regulasi dan mekanisme operasional yang secara yang khas.
berkesinambungan guna menghasilkan perubahan ke arah pencapaian tujuan di bidang 25. Desa Wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas
kepariwisataan. pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu
11. Fasilitas Umum adalah sarana pelayanan dasar fisik suatu lingkungan yang diperuntukkan dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.
bagi masyarakat umum dalam melakukan aktifitas kehidupan keseharian. 26. Pemberdayaan masyarakat adalah menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat baik
12. Fasilitas Pariwisata adalah semua jenis sarana yang secara khusus ditujukan untuk secara individu maupun berkelompok dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya
mendukung penciptaan kemudahan, kenyamanan, keselamatan wisatawan dalam peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan kesejahteraannya.
melakukan kunjungan ke destinasi pariwisata.
13. Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan 1.8 SISTEMATIKA LAPORAN
kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata.
Sistematika Laporan Rencana dalam Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja, mencakup susunan
14. Usaha Kawasan Pariwisata adalah usaha pembangunan dan/atau pengelolaan kawasan
pokok-pokok pembahasan tiap Bab dan Sub-Bab, mulai dari Bab I sampai dengan Bab XI.
untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.
Berikut ini rinciannya.
15. Pengusaha Pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan kegiaatan
usaha pariwisata. BAB 1 : PENDAHULUAN
16. Usaha pusat penjualan makanan adalah usaha penyediaan tempat dan fasilitas untuk Menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, ruang lingkup,
restoran, rumah makan, dan/atau kace dilengkapi meja dan kursi. dasar hukum kegiatan, istilah dan definisi, dan sistematika laporan pendahuluan.
17. Usaha Pondok Wisata adalah penyediaan akomodasi berupa bangunan rumah tinggal yang BAB 2 : KABUPATEN TANA TORAJA DALAM KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
dihuni oleh pemiliknya dan dimanfaatkan sebagian untuk disewakan dengan memberikan KEPARIWISATAAN
kesempatan kepada wisatawan untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari pemiliknya. Pada Bab ini menguraikan tentang masukan beberapa kebijakan pembangunan baik
18. Usaha Angkutan Jalan Wisata adalah penyediaan angkutan orang untuk kebutuhan dan nasional, provinsi maupun kabupaten yang mendukung pembangunan
kegiatan pariwisata.. kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja.
19. Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata adalah rumusan kualifikasi Usaha Angkutan Jalan
BAB 3 : KONDISI WILAYAH DALAM MENDUKUNG KEPARIWISATAAN
Wisata dan/atau klasifikasi Usaha Angkutan Jalan Wisata yang mencakup aspek produk,
Pada Bab 3 ini, Menguraikan tentang potensi-potensi wilayah kabupaten yang
pelayanan dan pengelolaan Usaha Angkutan Jalan Wisata.
mendukung kepariwisataan baik kondisi fisik dasar wilayah, kependudukan dan
20. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya,
Sumber Daya Manusia (SDM), ketersediaan sarana dan prasarana, potensi ekonomi
Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar
wilayah, serta kebudayaan.
Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai
penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui BAB 4 : KABUPATEN TANA TORAJA SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA
proses penetapan. Menguraikan tentang potensi sumberdaya pariwisata berupa daya tarik wisata,
21. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak sumberdaya manusia pariwisata, sarana dan prasarana pariwisata, kelembagaan,
maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau maupun sumberdaya lain yang merupakan sub-subsistem yang berperan langsung
sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan terhadap perkembangan dan pembangunan kepariwisataan.
manusia.

I-6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

BAB 5 : INDUSTRI PARIWISATA


Menguraikan tentang usaha-usaha pariwisata yang berkembang di Kabupaten Tana
Toraja berupa daya tarik dan atraksi wisata, usaha penyediaan akomodasi, biro dan
agen perjalanan, transportasi dan aksesibilitas pariwisata, serta Usaha Kecil dan
Menengah Pendukung Pariwisata.
BAB 6 : PASAR DAN UPAYA PEMASARAN YANG DILAKUKAN
Menguraikan tentang Pasar Pariwisata yang berkembang saat ini yang diindikasikan
oleh jumlah dan perkembangan wisatawan, Karakteristik Pasar Wisatawan, dan
Upaya Pemasaran Yang Dilakukan Pemerintah.
BAB 7 : KELEMBAGAAN PARIWISATA
Menguraikan tentang Sumber Daya pariwisata, Asosiasi Pariwisata, Kelembagaan
Pemerintah Terkait Pariwisatam, dan Kelembagaan Lain Terkait Pariwisata di
Kabupaten Tana Toraja.
BAB 8 : PRINSI DAN KONSEP PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Menguraikan tentang Tantangan-tantangan yang dihadapi serta Isu Strategis
Pembangunan Kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja, Prinsip Pembangunan
Kepariwisataan, dan Konsep Pembangunan Kepariwisatan kabupaten yang terdiri
dari Visi, Misi, serta Tujuan.
BAB 9 : KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Menguraikan tentang Kebijakan-kebijakan yang ditempuh dalam pengembangan
kepariwisataan, serta Strategi-strategi yang ditempuh.
BAB 10 : RENCANA PEMBANGUNAN PERWILAYAHAN PARIWISATA
Menguraikan tentang Struktur Ruang pariwisata yang didalamnya terdiri atas
Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK), Kawasan Pengembangan Pariwisata (KPP)
dan Kawasan Strategis Pariwisata (KSP) Kabupaten Tana Toraja.
BAB 11 : PROGRAM DAN INDIKASI KEGIATAN PEMBANGUNAN PERWILAYAHAN
Yang berisikan tentang program-program kegiatan pembangunan kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja berupa Pembangunan Destinasi, Pembangunan Industri,
Pembangunan Pemasaran, serta Pembangunan Kelembagaan dan Sumber Daya
Manusia Pariwisata.

I-7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2
2.1 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM PEMBANGUNAN
KEPARIWISATAAN NASIONAL
Pembangunan kepariwisataan nasional tercermin pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009,
yang menyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan nasional diselenggarakan berdasarkan
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan yang meliputi perencanaan pembangunan
industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran pariwisata, dan kelembagaan
kepariwisataan, dan terdiri atas RIPPARNAS, RIPPAR-PROV, dan RIPPAR-KAB/KOTA.
Landasan normatif ini menjiwai substansi pembangunan pariwisata yang diinterpretasikan
sebagai upaya untuk mengembangkan dan mengamanatkan objek dan daya tarik wisata yang
terwujud, antara lain, dalam bentuk kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna,
kemajemukan tradisi dan seni budaya, serta peninggalan sejarah purbakala yang dimiliki bangsa
Indonesia. Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, pengembangan
kepariwisataan, memiliki:
1. Makna politis, sebagai upaya memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa guna menggalang
persatuan dan kesatuan;
2. Makna ekonomis, sebagai upaya untuk memperkuat perekonomian negara;
3. Makna sosial budaya, sebagai upaya untuk mempertinggi kesadaran dan kesediaan untuk
mempertahankan kebudayaan dan kepribadian bangsa.
Dalam pengembangan kepariwisataan, ada asas-asas yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Asas manfaat, bahwa pengembangan kepariwisataan harus dapat memberikan manfaat
sebesar-besarnya baik secara langsung maupun tidak langsung;
2. Asas usaha bersama dan kekeluargaan, artinya penyelenggaraan kepariwisataan harus
diarahkan dalam rangka pencapaian cita-cita dan aspirasi bangsa dilakukan oleh seluruh
lapisan masyarakat untuk kepentingan bersama dan dijiwai semangat kekeluargaan;

II - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. Asas adil dan merata, pengembangan kepariwisataan nasional harus menghasilkan 5. Perwilayahan
kesejahteraan bagi seluruh rakyat di pelosok tanah air; a. Penyesuaian pembangunan daerah tujuan wisata, dengan potensi masing-masing
4. Asas perikehidupan dan keseimbangan, kepariwisataan nasional harus dapat mewujudkan dengan mempertimbangkan sasaran pasar utama yang akan diraih dan pertimbangan
perikehidupan yang seimbang materiil dan spiritual baik dalam hubungan antara sesama terhadap tahap perkembangan daerah tujuan wisata, yaitu pada tahap lemah, tumbuh,
manusia dengan lingkungan dan antara manusia dengan Tuhannya; kuat dan terancam.
5. Asas kepercayaan pada diri sendiri, kepariwisataan nasional harus mampu meningkatkan b. Pemantapan keterpaduan dan komplementaritas pengembangan antara daerah yang
dan menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga secara keseluruhan dapat satu dengan daerah lain, dan yang didukung oleh pengembangan jaringan
meningkatkan jati diri bangsa Indonesia. perhubungan.
6. Lingkungan
Kebijakan-kebijakan dan strategi yang telah dirumuskan untuk mencapai target sektor
a. Pembangunan pariwisata mengacu pada peningkatan kualitas dan ramah lingkungan
pariwisata, adalah sebagai berikut:
serta melibatkan peranserta masyarakat setempat.
1. Pemasaran
b. Penerapan ketentuan-ketentuan mengenai daya dukung lingkungan dalam
Strategi pemasaran diarahkan pada hal-hal berikut:
pengelolaan dan pembangunan sarana kepariwisataan.
a. Peningkatan efektifitas promosi melalui kampanye promosi pariwisata pada daerah asal
7. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
wisatawan yang potensial, terutama di kawasan Asia Pasifik.
Peningkatan kualitas informasi kepariwisataan dan sistem pelayanan melalui komputerisasi
b. Peningkatan kegiatan promosi terpadu antara sektor pariwisata, perdagangan dan
dan teknologi komunikasi serta pemanfaatan jaringan informasi global (internet, computer
investasi serta jasa tenaga kerja dalam wadah Badan Promosi Indonesia serta
reservation system, dan lainlain).
peningkatan hubungan antar negara (bilateral, sub-regional dan regional).
8. Bina Masyarakat Sadar Wisata
2. Produk Wisata
Penggalangan kampanye nasional sadar wisata secara berkelanjutan guna mendorong dan
Produk wisata diutamakan pada dua kegiatan berikut:
meningkatkan koordinasi dan peran serta masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan
a. Pemantapan pengembangan produk wisata di daerah wisata Kawasan Barat Indonesia
perlu terus dilakukan.
dengan melakukan usaha-usaha ekstensifikasi, intensifikasi dan konsolidasi produk.
9. Sumberdaya Manusia
b. Peningkatan daya saing produk wisata di pasar internasional, melalui inovasi dan
a. Peningkatan keterampilan profesionalisme tenaga kerja pariwisata melalui diklat
diversifikasi (misalnya pengembangan wisata bahari, agrowisata, ecotourism, dan
pariwisata dengan mengacu pada kurikulum yang standar, sertifikasi, dan akreditasi.
wisata minat khusus lainnya), upaya standarisasi dan pemantauan mutu produk.
b. Peningkatan kemampuan aparat pembina kepariwisataan di semua jajaran pemerintah,
3. Prasarana dan Aksesibilitas
khususnya di Kabupaten/Kota.
a. Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana umum seperti jaringan jalan, jaringan
c. Peningkatan peran pihak swasta dalam usaha peningkatan sumber daya manusia
listrik, jaringan air bersih, dan jaringan telekomunikasi untuk mempercepat
dalam penyelenggaraan diklat pariwisata.
pengembangan objek dan daya tarik wisata dan kawasan pariwisata.
10. Kelembagaan dan Pengaturan
b. Peningkatan aksesibilitas (udara, laut, dan darat) ke dan dari negara sumber wisatawan
a. Pemantapan sistem informasi dan manajemen disetiap unit untuk mendukung
dan antar daerah di Indonesia melalui percepatan perluasan fasilitas bandara,
efektivitas proses pengambilan keputusan.
pelabuhan laut, dan terminal darat di lokasi tertentu melalui kemitraan swasta.
b. Penyesuaian produk pengatuan berdasarkan perkembangan dan tantangan yang akan
c. Swastanisasi atau aliansi penerbangan nasional dengan penerbangan asing untuk
dihadapi pada perekonomian terbuka dan perdagangan bebas pada masa yang akan
meningkatkan kapasitas tempat duduk.
datang dengan berlakunya AFTA, APEC dan GATS/WTO.
4. Investasi
a. Pengarahan investasi pada pengembangan pariwisata ke Kawasan Timur Indonesia
melalui pemberian insentif dan kemudahan sesuai dengan kondisi masing-masing
daerah dengan tetap mendorong peningkatan investasi di Kawasan Barat Indonesia,
agar pengembangan pariwisata merata di setiap kawasan.
b. Pengupayaan percepatan penyelesaian penataan ruang dan peruntukan tanah yang
pasti untuk mendukung kemudahan dan keamanan investasi pariwisata.

II - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Untuk mewujudkan visi tersebut ditempuh 4 (empat) strategi pembangunan kepariwisataan,


yang meliputi destinasi pariwisata yang aman, nyaman, menarik, dan mudah dicapai;
pemasaran pariwisata yang sinergis, unggul dan bertanggung jawab; industri pariwisata yang
berdaya saing; dan organisasi pemerintah, Pemda, swasta dan masyarakat yang efektif dalam
mendorong terwujudkan pembangunan kepariwisataan berkelanjutan.
Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam PP No. 50 Tahun 2011 adalah meningkatkan: 1)
jumlah kunjungan wisatawan mancanegara; (2) jumlah pergerakan wisatawan nusantara; (3)
jumlah penerimaan devisa dari wisatawan mancanegara; (4) jumlah pengeluaran wisatawan
nusantara; dan (5) produk domestic bruto di bidang kepariwisataann.
PP No. 50 Tahun 2011 ini menegaskan arah pembangunan kepariwisataan nasional yang
menjadi dasar arah kebijakan, strategi, dan indikasi program kepariwisataan nasional dalam
kurun waktu 2010-2025 yang meliputi pembangunan: (1) Destinasi Pariwisata Nasional (DPN);
(2) Pemasaran Pariwasata Nasional; (3) industri pariwisata nasional; (4) Kelembagaan
Kepariwisataan Nasional.
PP No. 50 Tahun 2011 ini juga membagi perwilayahan DPN, yaitu 50 DPN yang tersebar di 33
provinsi, dan 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang tersebar di 50 DPN. Adapun
syarat untuk menjadi DPN dan KSPN secara rinci dijelaskan dalam ayat 1 dan 2 pasal 10 PP No.
Gambar 2.1 Peta Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Toraja-Lorelindu dan Sekitarnya
(Sumber: PP 50 tahun 2011 tentang RIPPARNAS, Lampiran II) 50/2011, diantaranya yaitu DPN ditentukan dengan kriteria:
1. merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah provinsi dan/atau lintas provinsi
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam konstelasi nasional sangat dikenal sebagai salah yang didalamnya terdapat kawasan-kawasan pengembangan pariwisata nasional, yang
satu destinasi yang mendunia dengan khas daya tarik wisata yang menampilkan diantaranya merupakan KSPN;
keanekaragaman budaya dan sejarah serta potensi alam yang dikemas dalam sumberdaya 2. memiliki Daya Tarik Wisata yang berkualitas dan dikenal secara luas secara nasional dan
pariwisata yang sangat memukau, mendapat bagian yang penting dalam pembangunan internasional, serta membentuk jejaring produk wisata dalam bentuk pola pemaketan
kepariwisataan nasional. Hal ini diwujudkan dalam RIPPARNAS yang menjadikan Tana Toraja produk dan pola kunjungan wisatawan;
sebagai salah satu bagian wilayah pengembangan kepariwisataan diantara 222 KPPN (Kawasan 3. memiliki kesesuaian tema Daya Tarik Wisata yang mendukung penguatan daya saing;
Pengembangan Pariwisatan Nasional) yaitu KPPN Toraja dan sekitarnya serta dengan Destinasi 4. memiliki dukungan jejaring aksesibilitas dan infrastruktur yang mendukung pergerakan
Pariwisata Nasional (DPN) TORAJA–LORELINDU dan sekitarnya. wisatawan dan kegiatan Kepariwisataan; dan
5. memiliki keterpaduan dengan rencana sektor terkait.
Dalam penjelasan PP Nomor 50 Tahun 2011 itu disebutkan, bahwa RIPPARNAS menjadi sangat
penting bagi pembangunan kepariwisataan Indonesia karena (1) memberikan arah Sedangkan KSPN ditentukan dengan kriteria sebagai berikut:
pengembangan yang tepat terhadap potensi kepariwisataan dari sisi produk, pasar, spasial, 1. memiliki fungsi utama pariwisata atau potensi pengembangan pariwisata;
sumber daya manusia, manajemen, dan sebagainya sehingga pariwisata Indonesia dapat 2. memiliki sumber daya pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata unggulan dan
tumbuh dan berkembang secara postif dan berkelanjutan bagi pengembangan wilayah dan memiliki citra yang sudah dikenal secara luas;
kesejahteraan masyarakat, (2) mengatur peran setiap stakeholders terkait baik lintas sektor, 3. memiliki potensi pasar, baik skala nasional maupun khususnya internasional;
lintas pelaku, maupun lintas daerah/wilayah agar dapat mendorong pengembangan pariwisata 4. memiliki posisi dan peran potensial sebagai penggerak investasi;
secara sinergis dan terpadu. 5. memiliki lokasi strategis yang berperan menjaga persatuan dan keutuhan wilayah;
6. memiliki fungsi dan peran strategis dalam menjaga fungsi dan daya dukung lingkungan
PP Nomor 50 Tahun 2011 memuat visi pembangunan kepariwisataan nasional adalah
hidup;
terwujudnya Indonesia sebagi negara tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing,
7. memiliki fungsi dan peran strategis dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan aset budaya,
berkelanjutan dan mampu mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat.
termasuk di dalamnya aspek sejarah dan kepurbakalaan;
8. memiliki kesiapan dan dukungan masyarakat;

II - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

9. memiliki kekhususan dari wilayah; Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu KSPN Toraja merupakan salah satu program
10. berada di wilayah tujuan kunjungan pasar wisatawan utama dan pasar wisatawan potensial pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),
nasional; dan telah didorong beberapa panduan perencanaan infrastruktur yang akan dilakukan dalam
11. memiliki potensi kecenderungan produk wisata masa depan. perwujudan keterpaduan sektor kepariwisataan.
Berdasarkan pada kriteria-kriteria tersebut diatas, maka Tana Toraja dikembangkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya
salah satu KSPN yang meliputi wilayah Kabupaten Tana Toraja dan berbatasan dengan meliputi Kawasan Strategis Toraja (terletak di
Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Luwu. Kabupaten Tana Toraja dan berbatasan dengan
Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang,
Kabupaten Pinrang, Kabupaten Luwu).
Kawasan tersebut dinilai sangat strategis pada
pengembangan di bidang pariwisata. Posisi strategis ini
dapat dipandang sebagai peluang dan potensi pasar,
oleh karena itu kawasan ini dipandang perlu didukung
oleh berbagai rencana pengembangan infrastruktur
dalam upaya meningkatkan potensi pariwisata di
kawasan tersebut. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR)
telah menyusun konsep percepatan pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan
dan Budaya, agar mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan
disekitarnya.
Gambar 2.2. Peta Sebaran 50 DPN, 222 KPPN dan 88 KSPN
(Sumber: PP 50 tahun 2011 tentang RIPPARNAS, Lampiran II) Dalam rangka percepatan pengembangan kawasan tersebut, perlu disusun Rencana
Pengembangan (development plan) yang meliputi rencana jalan akses antarpusat kawasan,
Secara keseluruhan, Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional 2010 – 2015 ini penyiapan infrastruktur pendukung kawasan, dan penyiapan rencana pengembangan pusat-
mencakup: (1) Pembangunan Kepariwisataan Nasional; (2) Pembangunan Destinasi Pariwisata; pusat pertumbuhan, serta prasarana/sarana sektor lainnya dalam rangka pengembangan
(3) Pembangunan Pemasaran Pariwasata Nasional; (4) Pembangunan Industri Pariwisata kawasan untuk keg iatan sektor pariwisata.
Nasional; (5) Pembangunan Kelembagaan Kepariwisataan Nasional; (6) Indikasi Program
Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Pembangunan Kepariwisataan Nasional; dan (7) Pengawasan dan Pengendalian RIPPARNAS.
Rakyat telah menyusun konsep percepatan pengembangan kawasan tersebut. Sehubungan
dengan hal tersebut, dibutuhkan kegiatan untuk menindaklanjutinya dengan penyusunan
2.2 STRATEGI PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR TERPADU KAWASAN STRATEGIS rencana pembangunan Kawasan Pariwisata Pegunungan dan Budaya. Kegiatan rencana
PARIWISATA PEGUNUNGAN DAN BUDAYA KSPN TORAJA pembangunan Kawasan Pariwisata tersebut diharapkan dapat memberi arahan pembangunan
dan perwujudan struktur ruang di kawasan tersebut yang sesuai dengan daya dukung dan daya
Sebagai implikasi atau tindaklanjut dari kebijakan pembangunan kepariwisataaan nasional,
tampung serta potensi ekonomi kawasan tersebut.
pemerintah pusat telah menyusun sejumlah perencanaan-perencanaan dalam mewujudkan
pembangunan pariwisata pada wilayah-wilayah yang termasuk dalam kawasan-kawasan Dalam melakukan kajian Rencana Pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Tana
pariwisatan nasional. Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2011 tentang Rencana Induk Toraja, maka perlu adanya sektor-sektor potensi wilayah sekitar yang mendukung akan
Pengembangan Kepariwisataan Nasional telah menetapkan 50 Destinasi Pariwisata Nasional pengembangan serta pengembangan ruang dikawasan tersebut. Perencanaan pengembangan
(DPN), 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), dan 222 Kawasan Pengembangan kawasan tersebut harus dikembangkan dengan dengan prinsip transparan, responsif, efisien,
Pariwisata Nasional (KPPN). Di dalam konsep WPS, salah satu yang diharapkan dapat menjadi efektif, akuntabel, partisipatif, terukur, berkeadilan dan berkelanjutan.
engine of growth adalah KSPN dengan tipologi kawasan pariwisata pegunungan dan budaya.
Output yang diharapkan adalah peningkatan kinerja dan daya tarik pada kawasan pariwisata
pantai yang diintervensi oleh infrastruktur, yang pada akhirnya akan menjadi engine of growth
perekonomian di destinasi pariwisata.

II - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.2.1 Ultimate Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya Toraja 9. Program Ketahanan Pangan untuk mendukung aktivitas pariwisata dan aktivitas masyarakat
Ultimate ini dibuat untuk mendukung tercapainya sasaran KSPN Toraja sebagai Kawasan Wisata dengan melakukan program O & P bangunan jaringan Irigasi Teknis yang ada di KSPN
Budaya Etnik/Tradisi, pada prinsipnya KSPN ini dipersiapkan untuk mendorong pertumbuhan Toraja.
wisata bagian tengah-selatan sehingga dapat mengurangi disparitas dan kesenjangan antara 10. Handalnya Kondisi jalan Poros Enrekang-Makale-Rotenpao-Palopo untuk mendukung
wilayah yang masuk KSPN Toraja dengan Wilayah Pusat perekonomian sulawesi selatan dan kelancaran aktivitas wisatawan dan aktivitas logistik komoditas unggulan KSPN Toraja.
juga dengan wilayah pariwisata yang sudah maju sebelumnya seperti Bali, Lombok, maupun
Danau Toba. Arahan ultimate untuk Wilayah ini di Kabupaten Tana Toraja sebagai berikut: 2.2.2 Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN Toraja Yang Akan
1. Terbangunnya Amenity wisatawan berupa Hotel/penginapan/homestay dengan jumlah Dikembangkan
yang cukup banyak yaitu sekitar 3000 kamar, sehingga mampu menampung dan melayani 1. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek pendukung:
target pencapaian wisman sebanyak 250.000 orang dan wisnus sebanyak 1 juta ▪ Gua alam
pertahunnya, perlu menggaet pihak investor di sektor pariwisata yang profesional di bidang ▪ Museum
perhotelan. ▪ Monumen Penginjilan
2. Tercapainya Pemenuhan Infrastuktur PUPR dan NON PUPR Pada Jalur Back Bone yang ▪ Panorama Alam
Handal di tahun 2025, dari sektor energi maka optimalisasi PLTD Makale sebesar 25 MW ▪ Rumah Adat
dan Rencana pembangunan PLTA Makale, PLTA Sungai Sadang, dan Rencana ▪ Kuburan Batu Tondon Makale
Pembangunan PLTA Sungai Makalo serta sumber-sumber listrik dari pembangkit listrik ▪ Kuliner 8) Kereta gantung
EBTKE yang sifatnya Off Grid yang nantinya berfungsi secara penuh dapat menjadi ▪ Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
penggerak seluruh kegiatan Pariwisata, perikanan, pertanian, dan sektor-lainnya di ▪ Kolam Alam Assa
kawasan KSPN Toraja. ▪ Pasar Hewan
3. Terbangunnya Industri Agrowisata Kopi Toraja yang sudah mendunia di samping sebagai 2. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjang :
tulang punggung pembangunan Agrowisata di KSPN Toraja juga mampu berorientasi export ▪ Permandian Air Panas Makula
sebagai market driven dibidang komoditi Agroindustri, terutama dengan terbangunnya ▪ Pekuburan batu Suaya
konektivitas logistik internasional melalui bandara baru Buntu Kunik. ▪ Kuburan Bayi/Passilliran Kambira’
4. Terbangunnya Fasilitas atau infrastruktur penyediaan air minum dan air bersih sebesar 100 ▪ Kuburan Gua Alam Tampang Allo
lps untuk masing masing kabupaten yang masuk ke KSPN Tana Toraja, dimana teknisnya ▪ Gua Alam Sullukan
masing-masing SPAM terbagi dengan Kapasitas @20 lps, dengan total layanan masing, ▪ Tongkonan Banua Kasalle Bau
masing 10.000 pelanggan untuk Kabupaten Tana Toraja dan 10.000 pelanggan. ▪ Museum Buntu Kalando
5. Pengembangan 16 Destinasi pariwisata Prioritas KSPN Toraja menjadi destinasi ▪ Atraksi Seni Budaya
Wisata berkelas Dunia lengkap dengan sarana sanitasi, lapangan parkir yang memadai, ▪ Rante Tongko Sarapung
kios kios penjual souvenir yang tertata apik, dan gapura masuk destinasi wisata yang bagus 3. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek penunjang:
dan menarik dimana terdiri dari 9 kawasan Wisata Prioritas di Kabupaten Tana Toraja dan ▪ Sassa’
9 Destinasi Wisata Prioritas di Kabupaten Toraja; dan ▪ Perkampungan Adat Sillanan
6. Pembangunan Jalur Kereta Api Trans Sulawesi yang merupakan jalur logistik dan jalur ▪ Kawasan Hutan Mapongka.
transportasi wisatawan, bagi wisatawan yang mendarat di Makasar dan melanjutkan ke 4. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek penunjang :
KSPN Toraja menggunakan Jalur darat. ▪ Potok Tengan
7. Pengembangan Pelabuhan Pare Pare dan Pelabuhan Mamuju sebagai sarana transportasi ▪ Panorama alam Buntu Kandora
moda laut yang membawa wisatawan baik dari Kalimantan maupun dari wilayah barat pulau ▪ Banua Puan
Sulawesi lainnya, atau sebagai jalur logistik komoditas potensial KSPN Tana Toraja seperti ▪ Liang Lo’ko’ Randanan
Kopi dan Padi. ▪ Panjat Tebing
8. Pengembangan Pelabuhan Pelayaran Yacth di Palopo sebagai alternatif moda transportasi ▪ Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring.
wisatawan mancanegara yang menggunakan kapal yacth/pesiar selama berkunjung di 5. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
kawasan perairan wisata di sekitar sulawesi selatan dan tenggara. ▪ Permandian alam Tilanga’

II - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Makam adat Sirope ▪ Permandian Air Panas


▪ Tongkonan Mandetek ▪ Batu Tindak Sarira
▪ Agrowisata Rante Lingkua’ ▪ Sakean
▪ Makam Bayi –Passilliran Alla ▪ Bulu Pala’
6. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek pendukung: ▪ Lando Tekka.
▪ Rumah Adat Pattan 12. Kawasan Wisata Barereng di Kurra dengan objek pendukung :
▪ Talion ▪ Rafting/Arung Jeram
▪ Benteng Pongtiku, Boronan ▪ Air Terjun
▪ Likunna Makuyo ▪ Kolam Pemancingan
▪ Atraksi Budaya ▪ Tracking
▪ Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’ ▪ Panorama
7. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakadeng dengan objek pendukung: 13. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’ dengan objek pendukung:
▪ Air terjun Salu Bitu ▪ Air terjun
▪ Permandian Air Panas Ratte Buttu ▪ Hutan Wisata
▪ Liang pahat ▪ Perkemahan
▪ Permandian Air Panas Bake’ ▪ Atraksi seni budaya
▪ Panorama Alam. ▪ Kuburan Batu
8. Kawasan Batu Tallu Simbuang di Simbuang dengan objek pendukung : ▪ Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
▪ Panorama Alam 14. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek penunjang:
▪ Kolam Alam Limbong Deata ▪ Desa Wisata
▪ Tedong-tedong ▪ Rumah Adat
▪ Liang pahat ▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
▪ Kolam Alam Kondo Dewata ▪ Benteng To Pada Tindo
▪ Batu Sittene ▪ Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
9. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek pendukung: ▪ Passiliran Kambisa
▪ Agrowisata Bolokan ▪ Kerajinan seni ukir
▪ Hutan Wisata 15. Kawasan Desa Wisata Kete Kesu di Kec. Kete: dengan objek penunjang:
▪ Permandian Air Panas ▪ Desa Wisata
▪ Rumah Adat ▪ Rumah Adat
▪ Air terjun Ratte Sarambu ▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
10. Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan; dengan objek pendukung : ▪ Goa Alam
▪ Panorama Alam ▪ Kerajinan seni ukir
▪ Tracking 16. Kawasan Wisata Batutumonga; dengan objek pendukung :
▪ Sepeda Gunung ▪ Panorama Alam
▪ Wisata Berkuda ▪ Tracking
▪ Monumen Ampang Banu’ ▪ Sepeda Gunung
▪ Atraksi seni budaya ▪ Wisata Berkuda
▪ Agrowisata. ▪ Atraksi seni budaya
11. Kawasan Wisata Alam tondok To Bugi’di Masanda ;dengan objek pendukung: ▪ Agrowisata.
▪ Panorama Alam 17. Kawasan Wisata Lolai; dengan objek pendukung :
▪ Atraksi Seni Budaya ▪ Panorama Alam
▪ Air Terjun Sarambu Sengo’ ▪ Tracking

II - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Sepeda Gunung trasnportasi wisatawan dengan jumlah besar, yang terakhir adalah membangun dan
▪ Wisata Berkuda memperlebar jalan menuju destinasi wisata yang saat ini masih kurang mendukung aktivitas
▪ Atraksi seni budaya wisatawan yaitu dengan lebar jalan hanya 3 – 3,5 meter, dan masih banyak yang dalam
▪ Agrowisata. bentuk konstruksi pemadatan dengan agregat.
▪ Pasar Hewan Bolu; dengan objek pendukung : 2. Harus ada konektifitas antar destinasi wisata satu dengan destinasi wisata lainnya berupa
▪ Pasar Hewan Kerbau infrastruktur jalan.
▪ Pasar Hewan babi 3. Membangun venue dan destinasi wisata di KSPN Toraja menjadi destinasi wisata berkelas
dunia dengan segala macam amenitas dan infratsruktur pendukung yang mampu
2.2.3 Pengembangan Investasi Kawasan Wisata Pegunungan (Agroindustri Kopi memanjakan wisatawan di dalam menikmati daerah wisata yang di tawarkan.
Dan Produk Pertanian Unggulan Lainnya) 4. Selain itu juga perlu di bangunnya venue venue baru yang mampu memperkaya jumlah
Kopi Toraja masuk dalam jajaran lima besar kopi terenak di dunia. Para ahli meneyepakati aktraksi yang di tawarkan kepada wisatawan.
bahwa kopi mulai diperkenalkan di Toraja mulai abad 16 oleh para pedagang dari kerajaan 5. Mengajak dunia usaha perhotelan untuk membangun hotel/penginapan/ homestay untuk
Gowa. Dokumen penguatnya adalah Lontaraq Bilang (catatan harian kerajaan Gowa), dalam menanamkan uangnya membangun sarana hotel dan penginapan bagi wisatawan
literatur itu diceritakan bahwa orang Gowa berlayar membawa kopi ke [Link] yang awal mancanegara dan wisatawan nusantara.
mulanya diperkenalkan oleh para pedagang dari Arab sebagai minuman kekuatan dan 6. Menyediakan infratsruktur pendukung kepariwisataan seperti sarana toilet umum,
penambah vitalitas, membuat mata tetap terjaga. Untuk membiakkannya dibutuhkan tempat penyediaan air bersih dan suplai listrik yang memadai untuk destinasi wisata.
tinggi dan bersuhu dingin, dan Toraja memenuhi kreteria tersebut. 7. Secara kewilayahan dan dukungan dengan provinsi sulawesi selatan , maka perlu di bangun
Terdapat dua jenis dari kopi Toraja yaitu, kopi jenis arabica dan kopi jenis robusta. Kedua kopi dan kembangkan pelabuhan- pelabuhan yang ada seperti di Mamuju, Pare-pare dan Palopo
ini memiliki ciri khasnya sendiri dan sama-sama memiliki rasa yang enak. Kopi Toraja arabica menjadi Pelabuhan yang mampu menampung pendaratan kapal- kapal pesiar yang berasal
memiliki rasa yang kaya, selain itu kopi jenis ini juga memiliki rasa yang kuat sehingga banyak dari destinasi utama wisata baik di sekitar sulawesi selatan seperti, Wakatobi, pulau selayar,
orang yang menyukai kopi ini. Semua kopi mempunyai rasa pahit tersendiri, namun kopi ini pulau bali,pulau kalimantan, maupun kapal pesiar yang berasal langsung dari luar negeri,
memiliki keunggulan di banding dengan kopi yang lain. Kopi arabica memang juga memiliki rasa sehingga para wisman yang mendarat bisa di arahkan untuk menikmati wisata di KSPN
pahit, namun asa pahit yang dimilikinya ini akan cepat hilang seiring kopi yang kita minum Toraja terlebih dahulu.
tertenggak. 8. Usulan pertimbangan akses masuk ke KSPN Toraja memalui Palu (Moda darat Palu–Pasang
Kopi Toraja jenis arabica ini merupakan kopi yang berasal dari Indonesia. Kopi ini sungguh Kayu–Toraja Utara) dengan perkiraan waktu tempuh ± 2,5–3 jam.
membanggakan Indonesia karena dapat diterima di pasar internasional. Eksistensinya di kancah 9. Pengembangan Desa Wisata yang perlu mendapatkan perhatian khusus seperlu Desa
luar negeri nampaknya tidak main- main. Hal ini terbukti dengan masuknya kopi arabica sebagai Wisata di Kec. Parupu
jejeran tiga besar kopi yang terbaik, bahkan mayoritas produksi kopi Toraja jenis arabica di 10. Pengembangan Event dan Atraksi budaya sebagai daya Tarik pariwisata perlu
ekspor semua ke beberapa negara peminum kopi seperti: Jepang, Taiwan, Amerika Serikat dan dikembangkan, seperti Maraton Tour 2 hari 2 malam di Bulan September.
beberapa negara di Eropa. 11. Perlu adanya perhatian pemerintah untuk memelihara keaslian/ originalitas destinasi wisata
baik fisik maupun budaya. (contoh: rumah tongkonan dan lingkungan sekitarnya.
2.2.4 Strategi Pengembangan Destinasi Wisata dan Simpul-simpul Produksi
Industri Kreatif dan Agroindustri
Pada Strategi pengembangan kepariwisataan KSPN Toraja, maka ada 2 hal penting yang harus
dilakukan yaitu:
1. Meningkatkan level Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui Pembangunan bandara baru
Buntu Kunik yang mampu menerbangkan wisatawan Mancanegara dan wisatawan
Nusantara langsung dari Bali sebagai darah transit utama wisman dan daerah daerah lain
di indonesia menuju kawasan pariwisata Toraja, sehingga wisman dan wisnus tidak perlu
lagi melakukan perjalanan darat yang panjang dan melelahkan selama hampir 8 jam dari
Makassar menuju Makale. Selain itu juga menjadikan jalan poros Enrekang-Makale-
Ratenpao-Palopo menjadi jalan dengan status handal dan mampu mendukung aktivitas

II - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

indah dan nyaman bagi wisatawan dan masyarakat di wilayah KSPN Toraja. Konsep yang di
pergunakan adalah konsep Green Infrastruktur.

2.2.7 Pentahapan Pengembangan KSPN Toraja


1. KSPN Toraja dikembangkan berdasarkan tahapan sesuai prioritasnya ditetapkan tiga tahap
pengembangan yaitu:
a. Pengembangan tahun 2018,
b. Pengembangan jangka menengah secara bertahap mulai dari 2018 hingga 2023,
c. Pengembangan jangka Panjang sesuai dengan Ultimate Goals hingga tahun 2026.
Untuk tahapan pengembangan tahun 2018 dan pengembangan jangka menengah
diprioritaskan kepada penyiapan infrastruktur pendukung bagi kegiatan-kegiatan sektor
yang akan dilaksanakan di tahun 2017 hingga tahun 2022.
Persiapan-persiapan yang dilakukan pada infrastruktur pendukung, baik PUPR maupun non
PUPR akan disesuaikan dengan urgensinya sehingga dapat mendukung ultimate goals dan
pertumbuhan wilayah 10 tahun kedepan.
2. Berikut tahapan yang akan dilakukan pada tahun 2018 seperti di lihat pada daftar dan
digambarkan pada gambar berikut :
a. Pembangunan Bandara Buntu Kunik
b. Pembangunan TPA Rantetayo
c. Pembangunan IPLT Makale
d. Pembangunan IPLT Rotenpao
Gambar 2.3. Peta Strategi Pengembangan Pariwisata KSPN Toraja e. Pembangunan 2 buah Spam di KSPN Toraja
f. Pembangunan 16 Destinasi Wisata di KSPN Toraja
2.2.5 Penetapan Kawasan Inkubasi Kepariwisataan g. Peningkatan Jalan Poros Enrekang-Makale-Rotenpao-Palopo
Penempatan kawasan inkubasi dan anjungan cerdas di wilayah KSPN Toraja seperti telah h. Pembangunan Jalan Menuju Bandara Baru Buntu Kunik
dipertimbangkan melalui aspek bisnis dan tantangan yang harus dihadapi akan diusulkan i. Peningkatan Kualitas Jalan ke 16 Destinasi KSPN Toraja di Kab. Tana Toraja
tersebut yang berjarak kurang lebih 7 km dari Jalan Poros Utama Makale-Rotenpao dan 500 j. Peningkatan Jalan Lingkar Pariwisata Kab. Toraja Utara
meter dari Jalan Jalan Poros Utama Makale-Rotenpao, sehingga aksesibilitas terhadap k. Pembangunan Smart Traveller Plaza di KSPN Toraja
kedatangan wisatawan serta akses bahan baku dan terhadap transportasi/pengangkutan hasil l. Pemeliharaan bangunan irigasi di Daerah Irigasi di dalam Lingkup KSPN Toraja
produksi menuju kota-kota utama di Indonesia dan mancanegara menjadi lebih baik. Dalam m. Pembangunan Trotoar di Pusat Kota Makale
layout/pra rencana kawasan inkubasi diusulkan tata letak penempatan setiap bangunan, formasi n. Pembangunan Trotoar di Pusat Kota Rotenpao
jalan akses, jaringan kelistrikan untuk industri pengolahan, pergudangan, posisi anjungan o. Pembangunan TPST 3R di Kawasan Pariwisata KSPN Toraja
cerdas yang berfungsi sebagai etalase dari produk–produk yang di hasilkan oleh industri p. Pembangunan SPAM Pedesaan 2-5 Lt/dt Pedesaan.
pengolahan yang ada didalam kawasan inkubasi.
1. Agrotourism Pango Pango; dan 2.2.8 Rencana Infrastruktur Strategis
2. Wisata Baru Lolai “Negeri di Atas Awan”; [Link] Kebutuhan Infrastruktur Pendukung di KSPN Toraja
Pengembangan KSPN Toraja sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional sedang
2.2.6 Penataan Inftastruktur Kota Penunjang Pariwisata di KSPN Toraja berkembang diarahkan untuk menjadi destinasi wisata unggulan di Indonesia sejajar dengan
Salah satu yang harus di tata dalam rangka meningkatkan daya tarik wisatawan baik wisatawan daerah lain yang telah maju seperti Bali di samping pengembangannya untuk mengurangi
mancanegara dan wisatawan nusantara adalah dengan menata infrastruktur kota yang nyaman disparitas serta kesenjangan pertumbuhan antara Bagian selatan atau kota makasar – Bagian
bagi wisatawan. Pada penataan infrastruktur kota yang di sasar oleh konsultan sebagai upaya utara (Toraja-Toraja Utara-Enrekang-Luwu) khususnya juga selain mengembangkan KSPN
untuk menarik wisatawan adalah dengan membangun sarana pedestrian/pejalan kaki yang Toraja dan sekitarnya juga Mengoptimalkan potensi SDA dan mengolahnya di industri

II - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pengolahan yang direncanakan pada kawasan prioritas. Untuk menjelaskan tentang kebutuhan 12. Infrastruktur sanitasi dan air bersih yang masih tidak memadai di kawasan destinasi wisata
infrastruktur di KSPN Toraja berikut diberikan deskripsi kebutuhan per Kawasan prioritas dan sehingga menyebabkan wisatawan enggan untuk kembali datang (repetitive) ke KSPN
simpul produksi yang diharapkan dapat terpenuhi atau terlayani pada tahun 2026. Toraja.
13. Kondisi Infrastruktur Jalan Backbone KSPN Toraja yang belum memadai mendukung
[Link] Kawasan Prioritas Pengembangan di KSPN Toraja aktivitas Industri Pariwisata.
Identifikasi dan analisa terhadap isu, hambatan dan peluang apa saja yang memicu kebutuhan 14. Kondisi Sanitasi Masyarakat Pedesaan di wilayah destinasi wisata maupun desa / lembang
infrastruktur untuk pengembangan KSPN Toraja, seperti yang ada di daftar berikut ini: di sekitar destinasi wisata yang masih belum baik.
1. Pengembangan Destinasi Wisata Prioritas, dimana dari hasil analisa dan hasil FGD dengan 15. Sistem TPA eksisiting tidak mampu mendukung penangann timbulan sampah akibat
para pemangku kepentingan baik di tingkat pemerintah daerah tingkat 1 dan pemerintah aktivitas masyarakat dan akibat aktivitas wisatawan, dimana TPA eksisting masih
tingkat II serta para pemangku kepentingan lainnya yang terkait dengan KSPN Toraja, menggunakan sistem “Open Dumping” dimana kedepannya di harapakan adanya TPA
maka di putuskan ada 16 Destinasi/Kawasan Pariwisata Prioritas yang akan di kembangkan sanitary Landfill pada sistem Landfill nya dengan luas masing-masing kabupaten di KSPN
pada masa 2018 – 2026 Toraja adalah seluas 6 hektaer di lengkapi infrastruktur TPA yang lengkap dengan konsep
2. Target market Wisman yang masuk menggunakan 3 Pintu Masuk Utama yaitu: 3R.
▪ Pintu Masuk Bandara Sultan Hasanudin di Makasar, 16. Belum adanya Infrastruktur IPLT guna penanganan Limabh Tinja yang di akibatkan dari
▪ Pintu Masuk Bandara Buntu Kunik di Kabupaten Tana Toraja, aktivitas masyarakat dan aktivitas wisatawan dimana di masing- masing kabupaten di
▪ Pintu Masuk Bandara Utama di Kabupaten Palu Provinsi Sulawesi Tengah. rencanakan dalam waktu dekat akan di bangun IPLT dengan kapasitas 30 M3/hari
3. Pelebaran jalan Poros Nasional Enrekang – Makale – Rotenpao - Palopo dari semua 5 meter 17. Masih di buangnya limbah atau kotoran hewan ke sungai, sehingga memerlukan suatu
menjadi 7 meter akan meningkatkan kehandalan konetivitas transportasi wisatawan infrastruktur pengolahan air Limbah ternak dengan kapasitas + 5 M3/hari, terutama di
maupun logistik masuk dan keluar KSPN Toraja. lokasi pasar Bolu.
4. Terbukanya lapangan kerja baru untuk 1000 TK per destinasi akibat operasionalisasi setiap 18. Normalisasi sungai dimana di fungsikan saat ini sebagai sumber air irigasi dan sumber air
Destinasi yang ada di KSPN Tana Toraja sehingga secara Total mampu membangkitkan baku masyarakat.
Tenaga Kerja sejumlah 1500 tenaga kerja sampai tahun 2019. 19. Kebutuhan Infrastruktur jalan yang mampu mendukung Distribusi produk kopi dan produk
5. Target Pengembangan KSPN Toraja yang mencapai 250.000 wisatawan asing, dan 1 juta pertanian serta perkebunan lainnya untuk keperluan eksport keluar negeri maupun
wisatawan domestik (Wisatawan Mancanegara di dominasi berasal dari wisatawan yang pemenuhan kebutuhan dalam negeri
berangkat dari provinsi Bali). 20. Kebutuhan Infrastruktur Energi Listrik untuk mendukung aktivitas masyarakat dan aktivitas
6. Pembukaan jalur konektivitas baru dari Wisman yang di arahkan untuk mendarat di bandara kepariwisataan sebesar 40-50 MWatt.
di Kota Palu kemudian melanjutkan dengan jalur Darat ke Rotenpao yang mempunyai 21. Kebutuhan Infrastruktur Pelabuhan di Palopo, Mamuju, dan Pelabuhan Pare-Pare yang
waktu tempuh 2,5 jam perjalanan, melewati wilayah pegunungan yang asri dan indah. mampu mendukung aktivitas kedatangan wisman yang menggunakan kapal pesiar dan
7. Pembangunan dan pengembangan fasilitas di dalam kawasan atau di destinasi yang perlu yatch
di bangun sebagai destinasi kelas dunia dengan semua fasilitas pendukung nya seperti jalan 22. Infrastruktur non PUPR, Perhubungan
akses masuk kawasan destinasi, lahan parkir yang luas, fasilitas sanitasi yang memadai dan a. Untuk melayani trasnportasi laut menuju Kawasan KSPN Toraja, dibutuhkan dermaga
indah serta fasilitas kepariwisataan lainnya dan fasilitas pendukungnya, Sistim kepelabuhanan di Palopo, Mamuju dan Pare-Pare
8. Perkebunan Kopi yang luas yang menghasilkan kopi Toraja khususnya Kopi Arabika Toraja digunakan untuk melayani persinggahan kapal pesiar dengan frekwensi sekitar 2
yang sudah di kenal luas di mancanegara dengan tingkat produksi mencapai angka 18.000 kapal/hari, dengan draft Depth antara 8 – 15 meter
ton pertahun dimana di kelola baik secara tradisional maupun modern, yang memerlukan b. Untuk melayani kunjungan wisatawan melalui udara dibutuhkan Bandar udara yang
prasarana infrastruktur pertanian perkebunan yang memadai. dapat menampung pesawat jet komersial sekelas Boeing atau Airbus dengan panjang
9. Luas nya lahan pertanian padi di wilayah KSPN Toraja baik di wilayah Kabupaten Tana landasan 2000 m - 2200 m , program ini telah dibuat oleh Kementrian Perhubungan
Toraja maupun Kabupaten Toraja Utara memerlukan infrastruktur irigasi pertanian yang melaluiDirektorat Jenderal Perhubungan Udara .
memadai sehingga kebutuhan air untuk pertanian bisa di penuhi. c. Rencana Pembangunan Terminal Type B di Ratenpao yang di harapkan mampu
10. Belum tersedia SPAM di 8 Kecamatan di wilayah yang memiliki destinasi pariwisata prioritas. menampung aktivitas transportasi penumpang wisatawan maupun masyarakat yang
11. Kebutuhan Air Baku untuk masyarakat untuk setiap spam kapasitas 10 lps - 20 lps menggunakan moda darat dari daerah selatan KSPN Toraja menuju KSPN Toraja
d. Infrastruktur non PUPR: Ketenaga Listrikan

II - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

e. Kebutuhan untuk kawasan pariwisata disekitarnya termasuk masyarakat pada tahun ▪ meningkatkan jaringan energi listrik dengan pengembangan pembangkit
2019 diperkirakan sekitar 50 Mw dan diharapkan dapat dipasok dari PLTD Makale yang tenaga listrik melalui memanfaatkan sumber energi terbarukan dan tidak
saat ini telah beroperasi dengan kapasitas produksi 25 Mw, dan suplay dari beberapa terbarukan secara optimal;
power plant On Grid maupun Off Grid yang rencana akan di bangun sampai tahun 2019 ▪ mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan jaringan energi/kelistrikan
f. Infrastruktur non PUPR: Telekomunikasi merupakan prasarana yang vital di sebuah termasuk jaringan pipa dan kabel dasar laut;
Kawasan wisata integratif seperti KSPN Toraja, Kebutuhan untuk kawasan pariwisata ▪ mengembangkan prasarana telekomunikasi yang dapat menjangkau seluruh
disekitarnya pembangunan infrastruktur telekomunikasi dengan jaringan fiber optic (8 wilayah;
core), dimana infrastrukturnya nantinya akan disiapkan Operator Telekomunikasi ▪ meningkatkan kuantitas dan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan
seperti PT. Telkom, PT. Telkomsel, PT. Indosat. keterpaduan sistem jaringan sumber daya air.
▪ mewujudkan interaksi infrastruktur jaringan transportasi (jalan dan kereta api)
[Link] Arahan Pengembangan Infrastruktur PUPR Berdasar Kebijakan Spasial di Provinsi Sulawesi Selatan yang nyaman sesuai ketentuan teknis, dan
1. Rencana Pengembangan Tingkat Nasional terhubung dengan sistem jaringan prasarana wilayah
KebijakanPengembangan Infrastruktur PUPR didasarkan atas: provinsi/kabupaten/kota dan simpul transportasi antar moda di Kota Makasar,
▪ Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional 2008-2028; Pare-Pare dan kota yang emndukung konektivitas KSPN Toraja. melalui
▪ Rencana Strategis Kementerian PUPR tahun 2015-2019; pembangunan jaringan jalan nasional yang handal; dan Kebijakan
Seluruh Kebijakan yang tertuang didalam rencana-rencana tersebut yang berkaitan dengan pengembangan kawasan pariwisata, diarahkan pada kawasan yang memiliki
wilayah pengembangan Strategis KSPN Toraja merupakan arahan bagi pengembangan objek dengan daya tarik wisata dengan mendukung upaya pelestarian budaya,
pengembangan KSPN Toraja. keindahan alam dan lingkungan. Pengembangan kawasan pariwisata di
a. Kebijakan Berdasarkan RTRWN Sulawesi Selatan meliputi pengembangan kawasan pariwisata alam (TWA) yang
Di dalam Pasal 5 PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional mengandalkan potensi dan kekayaan alam diarahkan pada TWA yang berada
disebutkan kebijakan yang terkait dengan Struktur Ruang Nasional. di kabupaten Luwu Timur, Gowa, Bone, Soppeng, Pangkep, Kepulauan Selayar,
▪ Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Maros, Takalar, Jeneponto, Wajo, Enrekang, Tana Toraja, Sinjai, dan Kota
yang merata dan berhierarki; dan Palopo serta Kota Makassar, pengembangan pariwisata budaya dan sejarah
▪ Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, (TWB) yang mengandalkan kekayaan alam, adat, sejarah dan budaya pada
telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh kawasan permukiman dan perdesaan tradisional maupun kawasan peninggalan
wilayah nasional. kerajaan, serta situs peninggalan sejarah diarahkan pada kabupaten Tana
Kebijakan Berdasarkan Rencana Strategis Kementerian PUPR tahun 2015-2019. Tema Toraja, Toraja Utara, Sinjai, Bone, Bulukumba, Gowa, Bulukumba serta Kota
besar pengembangan wilayah Pulau Jawa adalah: Makassar dan Kota Palopo. Pengembangan kawasan pariwisata dilakukan
▪ Sebagai lumbung pangan nasional; dengan menunjuk pada peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2011 Tentang
▪ Sebagai salah satu pintu gerbang destinasi wisata terbaik dunia; Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPARNAS) yang telah
b. Rencana Pengembangan Tingkat Provinsi menetepkan Daerah Pariwisata Nasional (DPN) Makassar-Takabonerate dan
Strategi pengembangan infrastruktur tingkat Provinsi diuraikan menurut Provinsi sekitarnyakemudian DPN Toraja-Lorelindu dan sekitarnya yang telah meliputi 7
Sulawesi Selatan: Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) yaitu: Maros (karst), Kota
1) Rencana Pengenbangan Provinsi Sulawesi Selatan Makassar, Sengkang, Sinjai, Bulukumba, Selayar, dan Palopo dan 2 Kawasan
Terkait dengan pengembangan infrastruktur di KSPN Toraja di wilayah provinsi Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yaitu: Toraja dan Takabonerate.
sulawesi selatan, Strategi untuk peningkatan kualitas pelayanan dan jangkauan ▪ Strategi pengembangan struktur ruang nasional diarahkan untuk meningkatkan
pelayanan jaringan prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya kualitas dan jangakuan pelayanan jaringan prasarana transportasi,
air yang merata di seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Selatan meliputi: telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata diseluruh
▪ meningkatkan jaringan prasarana transportasi dan keterpaduan pelayanan wilayah nasional. Sebagai upaya mewujudkan strategi pengembangan wilayah
transportasi darat, laut, dan udara; nasional, Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Pulau Sulawesi yang
mengemban peran sebagai lumbung pangan nasional, pusat pegembangan
ekonomi kelautan dan pusat pertambangan mineral dan panas bumi didukung

II - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

oleh keberadaan jaringan jalan arteri primer, jaringan jalan kolektor primer, ▪ Program pengembangan agrowisata, wisata alam, air terjun, arum jeram dan
jaringan jalan bebas hambatan, rencana pembangunan jaringan jalur kereta api wisata alam lainnya,
antar kota lintas Pulau Sulawesi dan jaringan penyeberangan lintas antar ▪ Program pembangunan kawasan destinasi pariwisata,
provinsi di dalam wilayah Pulau Sulawesi. Jaringan transportasi di Provinsi ▪ Program pengembangan kerjasama/ kemitraan pariwisata,
Sulawesi Selatan juga didukung oleh jaringan transportasi laut, jaringan energy ▪ Program pembangunan jembatan beton, rangka beton, jembatan gantung dan
guna mendukung pengembangan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan meliputi jembatan darurat sepanjang 500 m,
pengembangan depo bahan bakar minyak/gas bumi dan jaringan pipa gas dan ▪ Program pemeliharaan infrastruktur,
minyak bumi, dan system jaringan energy yang handal. Pengembangan ▪ Program revitalisasi permukiman dan perumahan.
jaringan telekomunikasi di Sulawesi Selatan berupa jaringan terrestrial, dan
c. DukunganTerhadap Kawasan Hinterland
pengembangan jaringan mikro analog dan digital.
Sesuai dengan usulan pada ultimate goals KSPN Toraja bawa pengembangan pertanian
2) Rencana Pengembangan Tingkat Kabupaten di Kabupaten Tana Toraja
dan perkebunan di kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara di sentra-sentra
Strategi pengembangan infrastruktur:
pertanian dan perkebunan terutama produk padi , palawija dan produk perkebunan kopi
▪ Program pengembangan sistem penanganan jalan dan jembatan
arabika dan robusta adalah untuk mendukung program ketahanan pangan Republik
▪ Program pembangunan kawasan destinasi pariwisata dan wisata alam
Indonesia, perlu dilakukan studi lebih lanjut terhadap kelayakannya. Meskipun
▪ Program pembangunan infrastruktur perdesaan, sentra produksi dan
sekarang telah banyak lahan-lahan persawahan yang terkonsentrasi di bagian utara
pertumbuhan wilayah
kabupaten- kabupaten itu, juga perkebunan dan peternakan untuk meningkatkan
▪ Program peningkatan fasilitas sarana pemerintahan dan umum
ketahanan pangan maka potensi kabupaten yang saat ini masih belum dikembangkan
▪ Program perencanaan tata ruang dan kawasan
secara optimal perlu dipacu serta ditingkatkan dari sisi kualitas kuantitas dan juga
▪ Program pemetaan dan pemanfaatan ruang dan pengelolaan areal pemakaman
manajemen yang baik. Pemerintah juga harus mempersiapkan infrastruktur pendukung
▪ Program peningkatan fasilitas keselamatan transportasi,
berupa saluran irigasi, jaringan jalan pedesaan serta pasokan listrik yang cukup dan ini
▪ Program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan,
juga harus dihitung berdasarkan studi kelayakan dan nilai keekonomisan kegiatan
▪ Program pengembangan promosi dan pemasaran pariwisata,
integrated farming tersebut. Untuk Provinsi banten ada 6 bendung yang dimanfaatkan
▪ Program pengembangan informasi dan komunikasi,
untuk pengembangan pertanian dan perkebunan, yaitu:
▪ Program pelestarian dan penelusuran nilai budaya dan situs-situs budaya,
▪ Bendung Tebang Kab. Tanatoraja Kapasitas 273 M3,
▪ Program pengembangan kerjasama/kemitraan pariwisata,
▪ Bendung Nonongan Kab. Tana Toraja Kapasitas 231 M3,
▪ Program peningkatan kesiagaan mitigasi, penanggulangan bencana alam dan
▪ Bendung Tawai Kab. Tanatoraja Kapasitas 231 M3,
tanggap darurat,
▪ Bendung Saluratte Kab. Tanatoraja Kapasitas 303 M3,
▪ Program lingkungan sehat perumahan dan permukiman,
▪ Bendung Waedalle Kab. Tanatoraja Kapasitas 55 M3,
▪ Program peningkatan pelayanan angkutan,
▪ Bendung Batualang Kab. Tana Toraja Kapasitas 135 M3.
▪ Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja,
▪ Program peningkatan penyediaan fasilitas sarana olahraga, Konsep rencana pembangunan pengelolaan sumber daya air WS, yaitu :
▪ Program pengelolaan areal sarana umum, ▪ Melakukan konservasi vegetatif di lahan kritis yang luasnya mencapai 6.517 km²;
▪ Program peningkatan kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah dan ruang ▪ Pembangunan check dam dan prasarana pengendali sedimen untuk perlindugan
terbuka hijau, kawasan permukiman, sawah, dan kebun di seluruh DAS di WS Saddang terutama
▪ Program peningkatan pasar tradisional, pasar modern dan pasar hewan, di Sungai Lancirang, Sungai Lampoko, Sungai Tabo- Tabo;
▪ Program peningkatan penyediaan fasilitas ketenaga listrikan dan ▪ Melakukan pembangunan bangunan pengendali sedimen di bagian hulu dan tengah
telekomunikasi, Sungai Lancirang, Lampoko, dan Tabo-Tabo;
▪ Program pemeliharaan dan penanganan darurat, ▪ Menyusun Peraturan Daerah pada sungai-sungai strategis terutama di perkotaan dan
▪ Program pengembangan pengelolaan air baku, air bersih dan air limbah, penetapan Peraturan Daerah tentang batas dan peruntukan sempadan sungai dan
▪ Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam, waduk;
▪ Program pengembangan kinerja pengelolaan persampahan, ▪ Melakukan upaya penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran ileggal
▪ Program perencanaan pengembangan wilayah, logging di kawasan konservasi;

II - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Pembangunan bendungan, bendung, waduk, embung, dan check dam diseluruh WS ▪ Strategi Pengembangan sumber daya manusia perkeretaapian;
Saddang. Prioritas utama adalah Bendungan Buttu Batu (Bendungan Saddang) yang ▪ Strategi Pengembangan Kelembagaan; dan
memiliki potensi irigasi sebesar 63.000 ha. Bendungan ini direncanakan memiliki ▪ Strategi Investasi dan Pendanaan.
potensi listrik sebesar 90 MW Program Jarak (KM)
Investasi (Trilyun
Periode
▪ Pembangunan bendungan yang difungsikan sebagai PLTA yaitu Bakkaru, Rp)
Makassar-Pare-Pare 128 3,84 2016-2020
Bendungan Poko, Bendungan Malea, dan Bendungan Bojo;
Makassar-Takalar-Bulukumba 128 3,84 2021-2025
▪ Pembangunan jaringan irigasi permukaan di WS Saddang terutama di DI Saddang Manado-Bitung 48 1,44 2021-2025
seluas 60% dari potensi luasannya. Makassar 160 4,8 2016-2019
▪ Pengembangan jaringan irigasi DI Banteng dan DI Tabo-Tabo. Manado 150 4,5 2021-2024
▪ Melakukan O & P, rehablitasi, upgrading prasarana irigasi baik bendung dan Pel. Bitung (Sulut) - - 2016-2019
Pel. Makassar (Sulsel) - - 2021-2024
jaringannya yaitu DI Matajang, DI Talung, DI Saddang, DI Kalola Kalosi, DI Tabo-
Tabo, DI Rajang. Melalui rehabilitasi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas
Strategi yang terkait dengan penyediaan infrastruktur perkeretaapian adalah strategi yang
DI sebesar 70% selama 20 tahun mendatang;
pertama “Strategi pengembangan jaringan dan layanan perkeretaapian”. Strategi
▪ Melakukan O & P, rehabilitasi, upgrading prasarana air baku untuk air minum dan
pengembangan jaringan untuk Pulau Sulawesi difokuskan pada jaringan kereta api antar
jaringan distribusi air minum untuk suplai kebutuhan Kabupaten Enrekang,
kota yang memiliki pelabuhan dan yang merupakan koridor logistik untuk mendukung
Kabupaten Sidrap, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, Kota Pare-Pare;
layanan angkutan penumpang dan barang. Untuk mencapai sasaran pengembangan
▪ Pembangunan check-dam dan prasarana pengendali sedimen untuk perlindugan
jaringan dan layanan perkeretaapian akan ditempuh kebijakan-kebijakan seperti :
kawasan permukiman, sawah, dan kebun di seluruh DAS di WS Saddang terutama
▪ Meningkatkan kualitas pelayanan, keamanan dan keselamatan perkeretaapian;
di Sungai Lancirang, Sungai Lampoko, Sungai Tabo- Tabo;
▪ Meningkatkan peran kereta api perkotaan dan kereta api antar kota;
▪ Normalisasi Sungai Saddang dan Sungai Mataallo;
▪ Mengintegrasikan layanan kereta api dengan moda lain dengan membangun akses
▪ Pembangunan prasarana pelindung pantai diseluruh DAS di WS Saddang terutama
menuju bandara,pelabuhan dan kawasan industri; dan kawasan Pariwisata strategis;
Pantai Pallameang, Pantai Bojo, Pantai Lero, Pantai Suppa, Pantai Pangkep, Pantai
▪ Meningkatkan keterjangkauan (aksesibilitas)masyarakat terhadap layanan kereta api
Watuwoe, Pantai Barru, Pantai Lapakaka, Pantai Wiringtasi, Pantai Cilellang, yang
melalui mekanisme kewajiban pelayanan publik (publicservices obligation).
dimulai dalam jangka pendek;
Dalam kaitannya dengan pengembangan KSPN Toraja maka peran dari infrastruktur
▪ Pembangunan prasarana pengendali banjir diseluruh DAS di WS Saddang terutama
perkereta apian dapat diusulkan sebagai alternatif untuk mendukung transportasi baik
pembuatan tanggul dan perkuatan tebing di Sungai Saddang, Sungai Bottoe, Sungai
manusia maupun barang dari dan menuju kawasan-kawasan strategis yang diusulkan dalam
Kiru-Kiru, Sungai Saddang Hulu, Sungai Pangkajene, Sungai Ala Karajae, Sungai
ultimate KSPN Toraja ini. Pengembangan dan Pemantapan Jaringan Kereta Api untuk
Saddang Hilir, Sungai Balusu;
mendukung kebutuhan pengembangan WPS 9 yang diusulkan dalam sinkronisasi program
▪ Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dalam kegiatan pemeliharaan
berdasarkan RTRW Provinsi,jaringan rel kereta api Bagian strategi Konektivitas KSPN Toraja
jaringan irigasi;
adalah pengembangan Track Makasar – Pare- Pare, Terkait dengan KSPN Toraja , terutama
▪ Peningkatan Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) dan kemampuan tenaga
pada kawasan-kawasan simpul produksi dan simpul pariwisata yang ditetapkan pada
Sumber Daya Manusia.
ultimate goals, pelayanan jaringan kereta api diusukan dibangun untuk melayani; Kawasan
[Link] Strategi Pengembangan Infrastruktur Non PUPR Pariwisata dan Produk komoditas unggulan seperti Padi, Kopi dan hasil peternakan dimana
jalur kereta api itu harus dapat terkoneksi dengan stasiun pusat di pare pare menggunakan
1. Rencana Induk Perkereta Apian Nasional moda darat dengan kendaraan trucking dan bus dan kemudian di lanjutkan dengan kereta
Salah satu strategi konektivitas KSPN Toraja adalah memanfaatkan keberadaan dan api ke kota kota besar yang di lintasi oleh jalur trans Sulawesi.
rencana pembangunan jaringan kereta Api Trans Sulawesi yang saat ini baru sampai kota
Pare-pare dimana Strategi pengembangan perkeretaapian nasional terdiri dari 6 (enam) 2. Rencana Induk Ketenaga Listrikan Nasional
strategi yaitu: ▪ Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan
▪ Strategi pengembangan jaringan dan layanan perkeretaapian; Kebutuhan Tenaga Listrik.
▪ Strategi peningkatan keamanan dan keselamatan perkeretaapian; ▪ Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit
▪ Strategi Alih Teknologi dan Pengembangan Industri;

II - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi PAMSIMAS. Dalam perkembangannya diperhadapkan berbagai masalah sosial seperti
pertumbuhan beban yang direncanakan, dan pada beberapa wilayah tertentudiutamakan timbulnya kawasan kumuh, air bersih, dan kebutuhan prasarana dan sarana lingkungan
untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik. Pengembangan kapasitas pembangkit lainnya Program yang dianjurkan untuk Peningkatan Kualitas Lingkungan Perkotaan pada
juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan, dengan kawasan- kawasan kumuh ini adalah RTBL Kawasan Perkotaan, SPPIP Kabupaten yang
mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat, terutama energi terbarukan. Untuk dilanjutkan dengan RPKPP. Sehingga dapat diketahui berapa kebutuhan infrastruktur yang
sistem kelistrikan sulawesi, PLN telah merencanakan beberapa pembangunan pembangkit akan diperbaiki atau dibuat khususnya drainase, air limbah, air bersih, sanitasi dan
listrik baru. Di bawah ini beberapa power plant eksisting maupun rencana yang masuk jalan- lingkungan.
kedalam grid listrik nasional di provinsi sulawesi selatan khususnya yang terkait dengan 2. Keterpaduan Infrastruktur PUPR dan Non PUPR dengan Sektoral dan Daerah
kabupaten toraja,kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Luwu, Setiap adanya kegiatan pembangunan di kabupaten/kota tentu juga berdampak terhadap
dimana terdiri dari : kebtuhan infrastruktur baik PUPR maupun non PUPR, keterpaduan disini untuk melihat
▪ PLTP Bittuang, dan Sangalla PLTM Kadundung : SUTT apakah ada sinkronisasi program ke- PUPR-an dan non PUPR yang berdampak terhadap
▪ PLTA Buntu Batu PLTP Sulili : SUTT kabupaten/ kota yang dituju.
▪ PLTM Batu Sitanduk, Rante Bala : SUTT Konektivitas antara kegiatan di KSPN Toraja. Pada simpul-simpul pertumbuhan di kspn
▪ PLTP Parara : SUT Toraja ini akan di usulkan sistim konektivitas antar kawasan dan simpul kegiatan
▪ PLTD Makale ▪ Sistim Permukiman pada kawasan perkotaan dan pedesaan
Dalam rangka pengembangan kapasitas pembangkit yang akan mendukung KSPN Toraja Ke ▪ Persebaran kegiatan pada simpul Industri, Pariwisata, Perikanan Pertambangan
LIMA Pembangkit Listrik ini direncanakan untuk mendukung pasokan listrik grid Sulawesi Pertanian, perkebunan dan Peternakan
khusunya Sulawesi Selatan dan dimasukkan dalam sistim interkoneksi Sulawesi. ▪ Kesiapan infrastruktur PUPR dan Non PUPR sebagai pelayanan antar kawasan.
3. Rencana Strategis Kementerian Perhubungan
Arahan strategis dan kebijakan Kementerian Perhubungan yang terkait dengan strategi 2.2.9 Anjungan Cerdas KSPN Toraja
konektivitas KSPN Toraja adalah pembangunan Pelabuhan Samudera Pare Pare dan [Link] Konsep Pengembangan Anjungan Cerdas
Pembangunan Pelabuhan Nasional Mamuju dan Pelabuhan Palopo. Sedangkan untuk sektor Konsep pengembangan Anjungan Cerdas pada Kawasan Strategis Pariwisata yang ada
perhubungan laut untuk wilayah selatan difokuskan kepada peningkatan layanan, baik di beberapa lokasi di Backbone Jalan Nasional di Masing-Masing Kawasan Strategis
pelabuhan dan jumlah kapal yang melintasinya. Strategi Kementerian Perhubungan Pariwisata baaik itu KSPN Toraja mempunyai konsep Pengelolaan “ Rest Area” Berbasis
diuraikan sebagai berikut: Komunitas dengan Tema Industri Kepariwisataan dan Industri Kreatif”
▪ Melakukan upaya keseimbangan antara transportasi yang berorientasi nasional dengan Berangkat dari pikiran tersebut terciptalah sebuah pra desain Anjungan Cerdas yang
transportasi yang berorientasi lokal dan kewilayahan; menggambarkan suatu fasilitas yang menyediakan tempat beristirahat yang nyaman dan
▪ Membangun sistem dan jaringan transportasi yang terintegrasi untuk mendukung layanan berkualitas lainnya bagi pengguna jalan dengan melibatkan peran serta
investasi pada Koridor Ekonomi, Kawasan Industri Khusus, Kompleks Industri, dan masyarakat/komunitas lokal dengan tujuan untuk memberikan kontribusi terhadap
pusat-pusat pertumbuhan lainnya di wilayah nonkoridor ekonomi. keselamatan dan kenyamanan di jalan serta mempromosikan produk-produk dan
aktivitas [Link]-syarat pembangunan Anjungan Cerdas antara lain:
[Link] Rencana Strategis Infrastruktur KSPN Toraja 1. Lokasi terdapat di tepi jalan raya dan mudah di akses oleh pengguna jalan;
1. Peningkatan Kualitas Permukiman Perkotaan 2. Keindahan Gardu pandang merupakan hal yang penting menjadi perhatian di dalam
Pembangunan pemukiman perkotaan lebih cepat dibanding di pedesaan yang merupakan pengembangan Anjungan Cerdas dimasing-masing KSPN;
kosentrasi penduduk suatu wilayah yang berperan sebagai pusat pelayanaan dan pusat 3. Pelayanan meliputi tempat parkir, toilet, telepon umum, ruang informasi;
pemasaran bagi wilayah yang dipengaruhinya, secara fisik cenderung berkembang ke 4. Konfigurasi layout dari anjungan cerdas yang coba di desain antara lain terdapat
daerah pinggiran kota yang sangat dipengaruhi adanya kegiatan ekonomi, kondisi wilayah tempat parkir yang luas yang bisa digunakan pengendara secara gratis, toilet yang
dan fungsi kawasan yang demikian seperti aktivitas perdagangan industri dan transportasi. bersih, ruang informasi yang menyediakan mengenai informasi lalu lintas dan
Masalah kawasan kumuh perkotaan (kota Makale) belum tertangani dengan baik, baru komunitas serta fasilitas penunjang seperti restoran, mini market yang menyediakan
sebagian kecil melalui Program P2KP. Sedangkan pembangunan pemukiman pedesaan produk-produk lokal seperti produk pertanian, kerajinan dan lain-lain yang di
ditangani secara stimulan melalui program pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP) operasikan oleh masyarakat/komunitas lokal;
program pengembangan kecamatan (PPK) / PNPM Mandiri pedesaan serta Program

II - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5. Penanggung jawab fasilitas yang dioperasikan oleh komunitas adalah pemerintah Anjungan Cerdas menyediakan wahana pembinaan, pengembangan dan dukungan
daerah atau lembaga kemasyarakatan; kemitraan untuk percepatan pertumbuhan ekonomi dan pariwisata;
6. Pertimbangan pendirian Anjungan Cerdas adalah tersediannya akses yang mudah 3. Pertukaran Informasi, Pengetahuan dan Komoditas.
baik oleh anak-anak, orang dewasa, orang tua maupun difable serta memperhatikan Anjungan Cerdas menyediakan informasi infrastruktur dan sarana promosi bagi komoditas
tata ruang setempat. dan budaya lokal, yang didukung oleh fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
7. Toko yang menjual produk-produk lokal Setiap operator anjungan cerdas wajib 4. Keselamatan Pengguna Jalan.
memenuhi standar berikut untuk memastikan pemberian pelayanan yang berkualitas Anjungan Cerdas meningkatkan keselamatan pengguna jalan dengan menyediakan fasilitas
tinggi bagi penggunanya: tempat istirahat.
8. Perawatan fasilitas secara keseluruhan, misalnya adalah toilet harus selalu bersih
Anjungan Cerdas menyediakan fungsi-fungsi sebagai berikut :
dan dapat digunakan secara aman dan nyaman;
1. Tempat istirahat untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan nasional yang
9. Membantu pemerintah dalam hal mengumpulkan dan menyebarkan informasi lalu
dilengkapi dengan berbagai fasilitas layanan;
lintas;
2. Gardu pandang pada berbagai infrastruktur PUPR berestetika tinggi dan keindahan
10. Mendidik dan melatih staff humas dengan tujuan meningkatkan kualitas informasi
lingkungan fisik sekitar;
yang ditawarkan;
3. Sarana pengenalan dan pemasaran berbagai produksi dan budaya lokal kepada pengguna
11. Membuat kolaborasi yang saling menguntungkan untuk meningkatkan fungsi dan
jalan nasional;
fasilitas Michino-eki secara keseluruhan. Produk pertanian /perikanan /kerajinan/
4. Pusat informasi berbagai Produk dan Potensi daerahdi sekitar lokasi;
produk kreatif masyarakat setempat.
5. Pusat informasi infrastruktur PUPR terutama di sekitar lokasi;
Anjungan cerdas yang di usulkan memiliki konsep pengelolaandengan bentuk kerjasama 6. Area inkubasi untuk destinasi wisata baru, secara mandiri maupun sebagai bagian dari
pemerintah dengan swasta dimana masyarakat/komunitas lokal dapat berperan secara destinasi utama;
independen dalam pengelolaannya khususnya didaerah pinggiran dan perdesaan yang dilalui 7. Pusat informasi cerdas, dengan penyediaanfasilitas wifi, informasi lalu lintas, informasi
oleh jalan raya. Peran masyarakat antara lain dalam penyediaan layanan seperti restoran, stan infrastruktur PUPR.
yang menjual produk-produk lokal seperti produk pertanian, makanan tradisional, barang-
barang kerajinan, barang kebutuhan pengendara selama dalam perjalanan dan lain-lain. [Link] Pengelolaan Anjungan Cerdas
Tahap awal dalam pengelolaan Anjungan Cerdas adalah pembentukan lembaga
Hal ini berarti bahwa Anjungan Cerdas yang diusulkan pembangunannnya sepanjang Backbone
pengelola. Lembaga Pengelola Anjungan Cerdas dapat dikelola oleh:
KSPN Masing-masing Lokasi akan memberikan pengendara suatu pengalaman unik dan berciri
1. Pemerintah Pusat maupun Daerah
khas lokal selama beristirahat, sementara disisi lain masyarakat lokal mendapatkan keuntungan
Lembaga Pengelola Anjungan Cerdas yang dikelola oleh Pemerintah Pusat atau
komersial melalui penjualan produk.
Daerah dapat berbentuk:
Dikarenakan Tema Anjungan Cerdas dimaksudkan untuk kawasan wisata, maka harus di buat ▪ Badan Layanan Umum (BLU), ketentuan pengelolaan Anjungan Cerdas oleh BLU
semenarik dan senyaman mungkin bagi wisatawan sehingga dibangun dengan investasi yang merujuk kepada PP No. 23 Tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum.
cukup besar dibandingkan dengan pembangunan rest area secara konvensional dan melibatkan ▪ BLU adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan
peran serta aktif dari masyarakat setempat, sehingga diharapkan mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang
kesejahteraan dan pengetahuan masyarakat lokal, sehingga diharapkan tujuan pemberdayaan dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan
masyarakat lokal dan penciptaan lapangan kerja baru dapat terwujud. kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Pengelolaan
Suatu fasilitas dikatakan sebagai Anjungan Cerdas bilamana memenuhi prinsip-prinsip sebagai Keuangan BLU mengikuti Pola Pengelolaan Keuangan BLU (PPK−BLU) yaitu pola
berikut: pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk
1. Pemberdayaan masyarakat. menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan
Anjungan Cerdas memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk berpartisipasi kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
dalam kegiatan usaha dan pelayanan; mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diatur dalam Peraturan
2. Fungsi Inkubasi. Pemerintah ini, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan
negara pada umumnya. Pendapatan BLU bersumber dari:
▪ APBN atau APBD;

II - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Pendapatan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan kepada 2.3 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM PEMBANGUNAN
masyarakat dan hibah tidak terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan KEPARIWISATAAN PROVINSI SULAWESI SELATAN
lain merupakan pendapatan operasional BLU; dan
▪ Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha lainnya merupakan RIPPARPROV dan RIPPARKAB/KOTA adalah pedoman utama bagi perencanaan, pengelolaan,
pendapatan bagi BLU. dan pengendalian pembangunan kepariwisataan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang
2. Pemerintah Bekerja sama dengan Badan Usaha yaitu Kerjasama Pemerintah dan berisi visi, misi, tujuan, kebijakan, strategi, rencana, dan program yang perlu dilakukan oleh
Badan Usaha (KPBU) dalam penyediaan Infrastruktur, ketentuan pengelolaan para pemangku kepentingan dalam pembangunan kepariwisataan. Oleh karena itu,
pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja tidak terlepas dari kebijakan
Anjungan
kepariwisataan pada tingkat nasional dan Provinsi Sulawesi Selatan, yang didalamnya
Cerdas dalam bentuk KPBU ini merujuk kepada PerPres RI No. 38 Tahun 2015 tentang
mengemban perwujudan tujuan pembangunan kepariwisataan secara berhirarki.
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dalam Penyediaan Infrastruktur.
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disebut sebagai KPBU Kontribusi sektor Pariwisata Sulawesi Selatan dalam Pembangunan ekonomi daerah sebagai
adalah kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan salah instrumen peningkatan perolehan pendapatan asli daerah yang signifikan. Perolehan
Infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang devisa dari kehadiran wisatawan mancanegara ke Sulawesi Selatan dalam beberapa tahun
telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/Badan terakhir ini juga turut memberikan konstribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat.
Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang sebagian atau seluruhnya
Sementara itu, dari perspektif pembangunan sumber daya manusia, Pariwisata mempunyai
menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko
potensi untuk dijadikan instrumen dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya
diantara para pihak. Badan Usaha adalah Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
penduduk sekitar Destinasi Pariwisata. Dengan demikian, Pariwisata dapat meningkatkan
Milik Daerah, badan usaha swasta yang berbentuk Perseroan Terbatas, badan hukum
kesejahteraan masyarakat, bukan saja kesejahteraan material dan spiritual, tetapi juga
asing, atau koperasi. KPBU dilakukan berdasarkan prinsip:
sekaligus meningkatkan kesejahteraan kultural dan intelektual. Ditilik dari perspektif bangsa
▪ Kemitraan, yakni kerjasama antara pemerintah dengan Badan Usaha dilakukan
yang lebih luas, Pariwisata mempunyai potensi yang jauh lebih besar dan juga lebih mulia, yaitu
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan persyaratan yang
dapat meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia dan antarbangsa sehingga terjalin saling
mempertimbangkan kebutuhan kedua belah pihak;
pengertian yang lebih baik, sikap saling menghargai, persahabatan, solidaritas, bahkan
▪ Kemanfaatan, yakni Penyediaan Infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah
perdamaian.
dengan Badan Usaha untuk memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi
masyarakat; RIPPARKAB diperlukan sebagai acuan operasional pembangunan Pariwisata bagi pelaku
▪ Bersaing, yakni pengadaan mitra kerjasama Badan Usaha dilakukan melalui Pariwisata dan pelaku ekonomi, sosial dan budaya, baik di provinsi maupun
tahapan pemilihan yang adil, terbuka, dan transparan, serta memperhatikan kabupaten/kota, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pembangunan
prinsip persaingan usaha yang sehat; kepariwisataan daerah. RIPPARKAB menjadi sangat penting, karena:
▪ Pengendalian dan pengelolaan risiko, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur 1. Menjadi pedoman untuk arah pengembangan yang tepat terhadap potensi Kepariwisataan
dilakukan dengan penilaian risiko, pengembangan strategi pengelolaan, dan dari sisi produk, pasar, spasial, sumber daya manusia, manajemen, dan sebagainya
mitigasi terhadap risiko; sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara positif dan berkelanjutan bagi
▪ Efektif, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur mampu mempercepat pengembangan wilayah dan kesejahteraan masyarakat.
pembangunan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan pengelolaan dan 2. Mengatur peran serta setiap stakeholders terkait baik lintas sektor, lintas pelaku, maupun
pemeliharaan infrastruktur; dan lintas daerah/wilayah agar dapat mendorong pengembangan Pariwisata secara terpadu dan
▪ Efisien, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur mencukupi kebutuhan sinergis.
pendanaan secara berkelanjutan dalam penyediaan Infrastruktur melalui
dengan dana swasta. 2.3.1 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi
Selatan
1. Kebijakan
a. Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antarbangsa;
b. Mengembangkan tata nilai kehidupan dan budaya daerah sebagai bentuk kearifan
lokal;

II - 15
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

c. Memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam; 2. keterpaduan baik dari segi potensi, keterkaitan nilai budaya, maupun dalam rangka
d. Mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah; dan pengembangannya;
e. Memelihara keamanan, ketertiban, dan ketenteraman. 3. jejaring aksesibilitas dan infrastruktur;
2. Strategi 4. Daya Tarik Wisata dengan membentuk jejaring produk wisata dan paket pemasaran serta
Strategi RIPPARDA sebagai berikut: pola kunjungan wisata baik domestik maupun internasional;
a. Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran penting 5. daya dukung dan penguatan daya saing.
pariwisata dalam peningkatan kualitas kehidupan bangsa dalam memasuki era
Penetapan KSPD dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria diantaranya (a). memiliki fungsi
globalisasi;
utama Pariwisata atau potensi pengembangan Pariwisata; dan (b). memiliki sumber daya
b. Mendorong partisipasi aktif masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan dalam rangka
pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata unggulan dan memiliki citra yang sudah
peningkatan pendapatan yang berimplikasi positif pada Peningkatan Pendapatan Asli
dikenal secara luas. Setiap KSPD dapat disusun dan difokuskan pada kawasan pusat
Daerah dan kontribusi sektor Pariwisata terhadap pembangunan Daerah dan nasional;
pertumbuhan ekonomi berdasarkan Master Plan.
c. Menjaga dan mengembangkan budaya lokal yang beraneka ragam sebagai aset wisata
Daerah, sesuai dengan tata nilai dan kelembagaan yang secara turun temurun
dipraktikkan dan dipelihara; 2.4 KEPARIWISATAAN DALAM RPJPD KABUPATEN TANA TORAJA
d. Meningkatkan kualitas produk, sumber daya pariwisata, dan lingkungan secara integral RPJPD adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah periode 20 (dua
berdasarkan prinsip kesinambungan dan apresiasi terhadap norma dan nilai yang puluh) yang ditetapkan dengan maksud sebagai arah dan acuan pelaku pembangunan daerah
berlaku; untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan didaerah yang sesuai dengan visi, misi
e. Menjadikan Destinasi Pariwisata Daerah sebagai daerah tujuan wisata unggulan dan arah pembangunan daerah yang lebih efektif, efisien, terpadu, berkesinambungan dan
nasional dan internasional dengan orientasi pengembangan kearah Pariwisata alam saling melengkapi dalam pola sikap dan tindak bagi pelaku pembangunan.
dan Pariwisata budaya, serta menempatkan jenis Pariwisata yang lain sebagai Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 3 Tahun 2012
penunjang utama berdasarkan keseimbangan antara permintaan pasar dengan potensi Tentang RPJPD Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010-3030, menjadi dasar pembangunan daerah
yang tersedia; jangka panjang yang meliputi seluruh aspek kehidupan yang mampu berkontribusi memajukan
f. Menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan antara manusia dengan Tana Toraja sebagai salah satu daerah otonom di Provinsi Sulawesi Selatan.
lingkungannya untuk meningkatkan kualitas SDM Pariwisata.
RPJPD Kabupaten Tana Toraja merupakan penerjemahan visi, misi dan arah kebijakan
2.3.2 Posisi dan Peran Kabupaten Tana Toraja Dalam Pengembangan pembangunan daerah yang memiliki keterkaitan dan sinergi dengan RPJP Nasional dan RPJP
Kepariwisataan Sulawesi Selatan Provinsi yang menjadi arahan setiap perencanaan pembangunan berikutnya. Kehadiran RPJPD
Kabupaten Tana Toraja menjadi sangat penting mengingat dalam melaksanakan pembangunan
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja sebagaimana arahan RIPPARNAS, mejadi acuan dibutuhkan suatu tindakan yang tepat serta mempertimbangkan kebutuhan daerah dan
pemerintah Privinsi Sulawesi Selatan yang secara berhirarki mengembangkan kepariwisataan di kemampuan sumber daya yang ada. Dengan adanya RPJPD dihapkan agar Pemerintah Daerah
Kabupaten Tana Toraja sebagai bagian pembangunan pariwisata diwilayah provinsi. Hal ini dapat melaksanakan pembangunan yang rasional dan realistik.
diwujudkan dalam RIPPARNAS yang menjadikan Tana Toraja sebagai salah satu bagian wilayah
pengembangan kepariwisataan diantara 222 KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisatan Kabupaten Tana Toraja sebagai icon kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan tentunya
Nasional) yaitu KPPN Toraja dan sekitarnya serta dengan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) mengambil bagian penting dari perencanaan jangka panjang didaerah ini. Berbagai program
TORAJA–LORELINDU dan sekitarnya. yang selanjutnya dituangkan dalam Peraturan Daerah pembangunan kepariwisataan yang digalakkan dalam kurun waktu 20 tahun kedepan menjadi
Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang RIPPAR-PROV Sulawesi Selatan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan dan strategi pembangunan kepariwisataan kabupaten yang
Destinasi Pariwisata Daerah (PDP) Kawasan Utara yaitu Kawasan Strategis Pariwisata Daerah diharapkan dapat bersinergi untuk sama-sama mewujudkan pembangunan daerah yang lebih
(KSPD) Toraja dan Sekitarnya. baik kedepannya.

Penetapan Destinasi Pariwisata Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dalam peraturan tersebut, Sebagai bagian dari perencanaan pembangunan daerah, kepariwisataan di Kabupaten Tana
dilakukan dengan mempertimbangkan aspek: Toraja sesuai arahan perundangan yang berlaku, masa berlaku perencanaan juga mengacu
pada jangka waktu RPJPD sehingga masukan-masukan dalam RPJPD sangat penting menjadi
1. kawasan geografis yang di dalamnya terdapat pengembangan kawasan pariwisata; bagian dari perencanaan ini.

II - 16
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2.4.1 Isu Strategis Daerah Nilai-nilai adalah pedoman yang mengatur tindakan dan perilaku seseorang dalam bekerja
Melihat permasalahan diatas maka isu strategis yang perlu diatasi secara bertahap, menuju pencapain Visi. Nilai-nilai yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan
berkesinambungan dalam dua puluh tahun mendatang di Kabupaten Tana Toraja dapat Kabupaten Tana Toraja harus diangkat dari nilai- nilai agama budaya tradisional yang
dirumuskan sebagai berikut: bersumber dari Tongkonan, seperti yang tercermin dalam ungkapan dibawah ini :
1. Pertumbuhan penduduk dan penyebarannya. 1. Tongkonan ditimba uainna artinya : uai berarti air dan ditimba artinya ditimba. Yang
2. Kualitas dan aksibilitas pendidikan dan kesehatan mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan makanan bagi warganya.
3. Pengangguran dan ketenagakerjaan 2. Tongkonan dikalette’ tanananna : dikelette’ artinya dipetik, dan tanananna berarti tanaman.
4. Peran serta masyarakat terhadap budaya daerah dan penenganan masalah sosial. Yang mengandung arti bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan makanan bagi warganya.
5. Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. 3. Tongkonan dire’tok kayunna artinya : dire’tok artinya ditebang, dan kayunna berarti kayu.
6. Kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur. Yang mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan bangunan bagi
7. Kualitas lingkungan dan kesadaran masyarakat. warganya.
8. Kualitas demokrasi dan pemerintahan daerah. 4. Tongkonan di kumba’ litakna : litakna artinya tanah milik tongkonan pemanfaatannya
berfungsi sosial dalam arti kata seluas – luasnya.
2.4.2 Visi dan Misi Pembangunan Daerah 5. Tongkonan dipoada’ ada’ na, dipoaluk alukna : ada’ artinya adat istiadat, aluk artinya agama
Visi Kabupaten Tana Toraja yang berpijak pada kondisi masyarakat dan lingkungannya sangat (religius) yang mengandung makna bahwa segala tindakan, tata kelakuan, pola hubungan
terkait erat dengan pembangunan kepariwisataan. Hal ini cukup jelas dalam kalimat visi tersebut sosial, norma–norma dan aturan–aturan dalam kehidupan bersama bersumber dari
yaitu ”Tana Toraja, daerah wisata indah berbudaya yang menakjubkan, tempat Tongkonan yang dilandasi oleh nila-nilai keagamaan.
tinggal masyarakat beriman yang kreatif dan sejahtera”. Disamping nilai–nilai budaya tradisional yang bersumber dari Tongkonan tersebut diatas, nilai
yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Tana Toraja juga
Totalitas Tana Toraja mampu ditampilkan dalam kalimat Visi yang pendek. Pemimpin Tana
dikombinasikan dengan cara pandang yang dianut secara global. Nilai berfungsi sebagai rambu–
Toraja adalah mereka yang mendambakan masyarakatnya yang religius dan sangat kreatif
rambu/koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas pembangunan yang dilakukan baik oleh
dalam menciptakan kesejahteraannya, dalam suatu lingkungan wisata yang indah dan
pemerintah maupun masyarakat.
menakjubkan, dengan dukungan budaya yang semarak.
Nilai–nilai Tongkonan yang dikombinasikan dengan cara pandang secara global dan yang akan
Dalam mewujudkan Visi Pembangunan Kabupaten Tana Toraja tersebut maka dirumuskan misi
menjadi koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas pembangunan di Kabupaten Tana Toraja
sebagai berikut :
sebagai berikut :
1. Mewujudkan Masyarakat Tana Toraja yang unggul dengan mengedapankan pembangunan
1. Karapasan
sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing melalui peningkatan
Nilai ini bersumber dari falsafah Tongkonan yaitu usaha mempertahankan dan memelihara
pendidikan, kesehatan, penguasaan iptek.
kedamaian, kerukunan dengan sesama warga masyarakat agar tetap tercipta kehidupan
2. Melestarikan kebudayaan daerah Tana Toraja dengan memperkuat jati diri dan adat istiadat
yang harmonis bahkan mengorbankan harta benda demi terciptanya keharmonisan seperti
masyarakat Tana Toraja melalui pemberdayaan kelembagaan, pemantapan
dalam ungkapan unnalli melo (membeli kebaikan) atau la’biran tallan tu barang apa kela
aktivitas seni budaya dan penerapan nilai-nilai agama.
sisarak mira tu rara buku (orang rela mengorbankan harta bendanya, dari pada
3. Mewujudkan ketentraman daerah dan masyarakat Tana Toraja yang
mengorbankan persaudaraan). Nilai ini juga mengandung makna bahwa segala rencana,
berkeadilan serta demokratis dengan memperkuat system keamanan, meningkatkan
kegiatan dan permasalahan dalam kehidupan bersama harus diselesaikan melalui
peran masyarakat sipil, kesetaraan gender, budaya hukum, politik, dan memantapkan
kombongan (musyawarah) yang memberi kesempatan kepada semua anggota
pelaksanaan otonomi daerah, serta penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
mengemukakan pendapat/aspirasi dalam menentukan arah, tujuan dan makna dari
4. Mewujudkan masyarakat Tana Toraja sejahtera dengan meningkatkan
kehidupan bersama.
pembangunan bidang ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran serta
meningkatkan pendapatan masyarakat. 2. Kerja Keras, Jujur dan Bertanggung Jawab
5. Mewujudkan pembangunan Tana Toraja yang lestari, handal dan merata dengan Nilai ini berbasis pada falsafah Tongkonan yang menempatkan kerja keras sebagai salah
meningkatkan keseimbangan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan hidup, satu nilai utama. Proses mengumpulkan kekayaan harus dilakukan melalui usaha kerja
mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah dan antar sektor, serta keras mulai dari kecil sampai besar, seperti memiliki Ayam menjadi Babi, dari Babi menjadi
meningkatkan pembangunan infrastruktur termasuk kesiagaan menghadapi bencana alam. Kerbau dan dari Kerbau menjadi sawah. Nilai kerja keras ini terungkap dari ungkapan

II - 17
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

seperti la’biran mamma’–mamma’ na iatu leppeng, la’ bimelo tu ma’dokko–dokko na iatu memungkinkan terciptanya kelestarian lingkungan dan terwujudnya pembangunan yang
mamma’bang, mandu melo opa iatu sumalong–sumalong na iatu ma’dokko–dokko, apa berkelanjutan.
la’bi’ melo iatu mengkarang na iatu sumalong–malong. Artinya lebih baik tidur–tiduran dari 7. Kebinekaan
pada tidur nyenyak, lebih baik duduk dari pada tidur–tiduran, jauh lebih baik jalan–jalan Menghargai kebinekaan sosial budaya masyarakat dan menyakini bahwa keragaman
dari pada duduk – duduk, tetapi lebih baik lagi bekerja dari pada jalan–jalan atau lebih merupakan kekayaan sosial budaya yang menjamin terselenggaranya pembangunan yang
baik berbuat sedikit dari pada tidak berbuat sama sekali. Nilai kerja keras ini juga berkelanjutan.
dilambangkan dalam lukisan pa’bareallo dan manuk londong – manukna Lapandek dalam
8. Kesadaran Kosmologis
ukiran Toraja’ matahari terbit dan Ayam Jago.
Manusia adalah bagian integral dari alam semesta oleh karena itu harus senantiasa
Nilai kerja keras ini harus dilandasi oleh kejujuran dan rasa tanggung jawab yang tinggi menjaga interkoneksitas harmonis dengan alam semesta berdasarkan kepercayaan dan
baik kepada sesama manusia, lingkungan dan kepada Tuhan seperti dalam ungkapan kecintaan kepada Sang Pencipta.
maleko lolang dao kuli’na padang male ulleanni buntu unlambanni tasik kalua’. Osokko
9. Kualitas;
rakka’ sangpulomu anna to’do tu ma’pu’mu anna sa’dingngi nene’ Pong Tulak Padang diong
Kami ingin memberikan layanan yang bermutu, di rumah sakit, di kantor, di toko, pada
Tokengkok na tunduiko mangando langngan Puang Matua anna ra’pak passakkena anna
objek-objek pariwisata, dan pada setiap kesempatan.
membura ra’ka’ sangpulomu. Apa lamukilalai iatu pa’barang–barangan lino dilese didudung.
Suleko ma’tangke patomali umpellambi’ lamunan lolomu dio Tongkonan anna sende paiman 10. Lingkungan;
lo’dok to kayangan to ma’rara buku to ma’rapu tallang, to sangka’ponan ao’ umpudi Puang Kami bertekad memelihara lingkungan demi untuk menciptakan masyarakat yang sehat.
titanan tallu tirindu batu lalikan dao langi’ ma’gulung – gulunganna. 11. Komitmen untuk Pelayanan; Kami bertekad untuk segera memberi respon terhadap setiap
3. Siangga’, Siporannu, Sipopa’di’ masalah yang disampaikan oleh warga masyarakat.
Nilai ini berbasis pada falsafah Tongkonan yaitu menjalin kerja sama dan kebersamaan 12. Akuntabilitas; Kami bertekad untuk memberi jawaban atas setiap tindakan kami demi untuk
berdasarkan penghormatan terhadap keberadaan dan jati diri setiap anggota kelompok. mempertanggung jawabkan pelayanan kami.
Nilai ini diungkapan dengan longko’, siri’ : siri’ adalah perkara malu, dipermalukan, sedang Point-point penting yang menjadi landasan/rujukan perencanaan Kepariwisataan Kabupaten
longko’ adalah sikap yang dimotivasi oleh perasaan takut dan segan menyinggung perasaan Tana Toraja sebagaimana arahan visi, misi dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya,
orang lain, atau menyangkut harga diri seperti dalam ungkapan tae’na ditossok matanna diantaranya:
bale artinya pantang mempermalukan orang didepan umum dan menghargai perbedaan 1. Menjadikan kepariwisataan Tana Toraja sebagai wujud dari pelestarian kebudayaan
pendapat. masyarakat, yang berkelanjutan dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah dan
4. Misa’ Kada dipotuo pantan kada dipomate, sangkutu’ banne sangboke amboran kesejahteraan masyarakatnya sebagaimana visi daerah;
Ungkapan tersebut dan hal ini bermakna bahwa keberhasilan pembangunan hanya dapat 2. Memberdayakan kelembagaan serta pengembangan seni budaya dan nilai-nilai keagamaan
diraih jika semua komponen yang ada menjalin hubungan yang kuat sehingga tercipta dalam memperkuat jati diri dan adat istiadat;
persatuan dan kesatuan dalam kebinekaan. 3. Membangun kepariwisataan Tana Toraja yang lestari, handal dan merata untuk mengurangi
kesenjangan antar wilayah dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan hidup;
5. Tallu Bakaa, mencakup Kinaa / Manarang, Sugi’, Barani
4. Memupuk persatuan dan kesatuan serta kesetaraan gender;
▪ Kinaa/Manarang artinya bijaksana, mempunyai komitmen moralitas yang tinggi,
berkepribadian, rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi, menjunjung tinggi, supremasi 2.4.3 Arah Kebijakan Dalam Sektor Kepariwisataan
hukum dan memiliki kualitas intelektual.
1. Arah pembangunan Tana Toraja dipusatkan pada dua sektor utama yaitu pariwisata dan
▪ Sugi’ artinya kaya dalam arti yang luas, kaya dalam pengetahuan, kaya dalam moralitas
pendidikan.
dan keimanan, kaya dalam materi.
2. Kepariwisataan dijadikan sebagai arah pembangunan, karena memang didukung oleh
▪ Barani artinya berani mengambil keputusan, berani bertanggungjawab, terbuka, jujur,
kondisi internal alam dan masyarakatnya. Bahkan seluruh wilayah Tana Toraja dapat
sportif baik dalam hubungan dengan sesama manusia, lingkungan dan kepada Tuhan.
dikategorikan sebagai “Taman Wisata” dan karena itu layak pula dijadikan salah satu dari
6. Tallu Lolona, mencakup lolo tau, Lolo Tanaman, dan Lolo Patuoan
“Taman Wisata Nasional.” Seluruh kelompok pengusaha batu misalnya, bahkan menjadi
Falsafah Tallu Lolona mencakup hubungan timbal balik antara makhluk ciptaan Tuhan yaitu
objek wisata karena para wisatawan dapat langsung menyaksikan orang-orang desa terlibat
manusia, tanaman, dan hewan yang harus terpelihara secara serasi dan seimbang yang

II - 18
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

langsung dalam pengelolaan batu-batu sawah, batu sungai dan batu gunung menjadi akan kurang tertarik untuk menanam modalnya, karena khawatir akan masalah keamanan,
bahan bangunan yang indah-indah. tanah, dan jaminan terhadap iklim usaha yang kondusif.
3. Untuk mendukung kebijakan itu maka pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai 10. Untuk dapat merespon arus wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, perlu
pendidikan tinggi, perlu memperkaya anak didiknya dengan nuansa kepariwisataan, dipersiapkan jalur transportasi yang menyenangkan.
sehingga mulai dari kecil mereka sendirilah yang kelak akan melanjutkan memajukan
kepariwisataan itu. Malahan sebagai wisatawan domestik mereka akan melebihi jumlah 2.4.4 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah II (2015-2020) Akselerasi
wisatawan manca Negara. dan Penendalian Untuk Kepariwisataan
4. Kombinasi pariwisata dan pendidikan bermutu itu akan memberi kontribusi yang besar bagi Prioritas utama dalam tahap ini ialah “Melanjutkan sisa pembangunan Tahap I” karena aktifitas
peningkatan kesejahteraan masyarakat Tana Toraja itu merupakan aktifitas multi-years yang kalau tidak diberi prioritas, bisa menjadi terbengkalai
5. Dalam sektor produktif, hendaknya pembangunan diarahkan pada produk-produk unggulan dan tidak dapat memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan bersama.
yang memiliki keunggulan kompetitif, mampu bersaing pada pasar global, misalnya padi
Dalam kaitannya dengan program pembangunan kepariwisataan, pada tahap II yang
varietas unggul, kopi “Arabica Toraja”, dan produk lain dalam bidang peternakan,
diharapkan telah terwujud yaitu Menyusul pembangunan Pusat Informasi Daerah, Pusat
pertanian, perkebunan, kerajinan rumah tangga, dan pariwisata sendiri, yang semuanya
Informasi Pariwisata, Pusat aktifitas seni dan budaya, serta jaringan komunikasi elektronik
disesuaikan dengan kondisi iklim dan geografis Toraja.
secara terintegrasi. Keempat komponen ini baru dikerjakan pada Tahap II, karena segala
6. Arah pembangunan kepariwisataan menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai salah
sesuatu yang akan menjadi isi dari komponen-komponen tersebut, sudah harus dipersiapkan
satu persyaratan mutlak.
pada Tahap I.
7. Rencana pembangunan dalam sektor kepariwisataan dan pendidikan hanya dapat berhasil
jika ditopang dengan komitmen, terutama komitmen untuk menegakkan hukum (law Filosofi RPJMD II ialah bahwa daya saing perekonomian akan nampak apabila didukung oleh
enforcement) baik bagi masyarakat, maupun bagi birokrasi, dan para aktor pembangunan kualitas sumber daya manusia yang prima termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan
lainnya. Hal ini berkaitan erat dengan pelaksanaan “Good Governance” (kepemerintahan teknologi serta penguatan
yang baik) secara bertanggung jawab yang akan didukung oleh komitmen pemerintah
2.4.5 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah III (2020-2025)
daerah dalam melaksanakan “reformasi birokrasi”. Untuk keperluan itu, maka Pemda akan
Pemantapan
menyusun kerangka regulasi dan perizinan yang efisien, efektif, dan non-diskriminatif;
Tahap ini merupakan tahap memantapkan hasil kerja selama Tahap II, yang mencakup antara
menjaga, mengembangkan, dan melaksanakan iklim persaingan usaha secara sehat serta
lain, pemeliharaan (maintenance), melanjutkan apa yang tersisa dari tahap-tahap sebelumnya.
melindungi konsumen. Pemda juga sebagai fasilitator, regulator, sekaligus sebagai
Sekalipun pemeliharaan baru diberi prioritas pada tahap ini, terutama sesudah banyak aktifitas
katalisator pembangunan daerah akan menggalakkan dan meningkatkan daya saing usaha
pembangunan yang telah selesai, tetapi perumusan “sistem pemeliharaan” (maintenance
kecil dan menengah (UKM) di berbagai kecamatan, serta merancang kebijakan pasaran
system) sudah perlu digarap dari [Link] lagi, kebanyakan aktifitas pembangunan lebih
kerja.
merupakan aktifitas multi-years daripada proyek single-year.
8. Arah pembangunan perlu juga memperhatikan relasi antara pembangunan “agribisnis”,
“arboretum”, dan “resort wisata” dengan kemungkinan diperlukannya relokasi penduduk. Pekerjaan-pekerjaan non-fisik seperti penyebaran berbagai macam informasi kepada
Ini juga dimaksudkan untuk pemerataan penyebaran penduduk. Selain itu perlu pula masyarakat, dan yang sejenis, penyusunan sarana promosi objek wisata, penetapan
pendidikan dan pelatihan khusus kepada para pimpinan desa dan kelurahan dalam pusat pengembangan komoditas unggulan, penugasan tim khusus untuk menyusun
melakukan pencatatan penduduk secara akurat dan berkesinambungan masing-masing “maintenance system” secara integral, sudah harus digarap sejak RPJMD I sekalipun tidak
desa dan kelurahan. Itu dimaksudkan untuk memudahkan membuat perencanaan dalam dimasukkan sebagai prioritas pembangunan. Demikian juga berbagai kegiatan sebagaimana
berbagai sektor pembangunan, misalnya Pemilihan Umum, pembangunan sektor diuraikan dalam Sasaran Pembangunan Jangka Panjang.
pendidikan, kesehatan, pertanian, peternakan, kehutanan, dll.
Filosofi RPJMD II ialah bahwa daya saing kompetitif perekonomian akan menjadi kenyataan
9. Pemda akan berusaha membuat “Masterplan” di berbagai sektor produktif untuk menarik
apabila apabila didukung dengan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia
investasi baik nasional maupun investasi asing. Antara lain, Masteplan Pariwisata,
berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.
Masterplan Pertanian dan Kehutanan, Masterplan air bersih (terutama dalam menaati
pendekatan tanggap kebutuhan- demand responsive approach), masterplan jaringan Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang semakin mantap dicerminkan oleh terjaganya
transportasi, Masterplan pendidikan, dll. Disadari bahwa tanpa masterplan, para investor daya dukung lingkungan dan kemampuan pemulihan untuk mendukung kualitas kehidupan
sosial dan ekonomi secara serasi, seimbang, dan lestari; terus membaiknya pengelolaan dan

II - 19
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pendayagunaan sumber daya alam yang diimbangi dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan memporakporandakan suatu Tahap tertentu. Hal yang termaksud terakhir ini akan terjadi jika
hidup dan didukung oleh meningkatnya kesadaran, sikap mental, dan perilaku masyarakat; potensi atau kokuatan yang kita miliki tidak terkengola dan termanfaatkan dengan baik untuk
serta semakin mantapnya kelembagaan dan kapasitas penataan ruang di seluruh wilayah menangkal setiap ancaman arus globalisasi.
Indonesia.
Filosofi RPJMD ialah bahwa dengan mantapnya pembangunan secara menyeluruh di berbagai
Ketersediaan infrastruktur yang sesuai dengan rencana tata ruang ditandai oleh berkembangnya bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan
jaringan infrastruktur transportasi; terpenuhinya pasokan tenaga listrik yang handal dan efisien keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu
sesuai kebutuhan sehingga elektrifikasi rumah tangga dan elektrifikasi perdesaan dapat dan teknologi yang terus meningkat; dan sejalan dengan kondisi aman dan damai yang makin
tercapai, serta mulai dimanfaatkannya tenaga nuklir untuk pembangkit listrik dengan mantap di seluruh wilayah, kemampuan pertahanan nasional dan keamanan dalam negeri makin
mempertimbangkan faktor keselamatan secara ketat; terselenggaranya pelayanan pos dan menguat yang ditandai dengan terbangunnya profesionalisme institusi pertahanan dan
telematika yang efisien dan modern guna terciptanya masyarakat informasi Indonesia; keamanan negara serta meningkatnya kecukupan kesejahteraan prajurit serta ketersediaan alat
terwujudnya konservasi sumber daya air yang mampu menjaga keberlanjutan fungsi sumber utama sistem persenjataan TNI dan alat utama Polri melalui pemberdayaan industri pertahanan
daya air dan pengembangan sumber daya air serta terpenuhinya penyediaan air minum untuk nasional, maka kehiupan demokrasi bangsa makin mengakar dalam kehidupan masyarakat.
memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Selain itu, pengembangan infrastruktur perdesaan
akan terus dikembangkan, terutama untuk mendukung pembangunan pertanian. Sejalan 2.4.7 Sasaran Pembangunan Jangka Panjang Pembangunan Kepariwisataan
dengan itu, pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana Bertolak dari uraian Visi Tana Tana Toraja tahun 2030 kiranya dapat dikristalisasikan apa yang
pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat karena didukung oleh sistem pembiayaan ingin dicapai dalam jangka panjang 2030 pada sektor kepariwisataan. Secara garis besar
perumahan jangka panjang dan berkelanjutan, efisien, dan akuntabel. Kondisi itu semakin sasaran itu dikelompokkan dalam beberapa bidang:
mendorong terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh. 1. Geomorfologi dan Lingkungan Hidup
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang geomorfologi dan lingkungan hidup
2.4.6 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah IV (2025-2030) yaitu:
Konsolidasi, Monitoring dan Evaluasi a. Peta wilayah secara lengkap dan baku selalu siap untuk dimanfaatkan guna keperluan
Tahap konsolidasi, monitoring dan evaluasi merupakan tahapan yang menekankan bahwa bidang pertanian, kehutanan, perkebunan, perbatasan wilayah, pariwisata, dll.
semua pelaku pembangunan dituntut untuk dapat mengkonsolidasikan dan mensinkronkan b. Membangun arboretum yang juga akan berfungsi sebagai hutan wisata.
aktivitas-aktifitas pembangunan yang telah dan yang masih akan dilakukannya secara c. Kesadaran penduduk dan murid sekolah akan pemeliharaan lingkungan dan kebersihan
komprehensif dengan aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh pihak lain, agar jaringan tali kota, rumah tangga, kantor, gedung pertemuan, sekolah, rumah ibadah, acara pesta
temali antar semua aktivitas pembangunan dapat dinampakkan secara jelas. rambu tuka’ dan acara kedukaan rambu solo’, pasar, jalan raya, objek wisata, dll.
sangat tinggi.
Pada tahap ini tetap tersedia kesempatan dan ruang untuk meneruskan aktifitas-aktivitas
2. Demografi
pembangunan yang belum sempat dirampungkan pada tahap-tahap sebelumnya. Monitoring
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang kependudukan ditandai dengan adanya
dan evaluasi dilakukan agar sungguh-sungguh siap dan mampu memasuki saat mendebarkan,
perkawinan antar ras juga meningkat sebagai dampak dari kemajuan dalam sektor
yaitu mendekatkan diri pada Visi 2030. Visi Kabupaten sebagaimana dibentangkan dalam uraian
pariwisata.
Visi, mungkin saja tidak dapat direalisasikan 100%. Semua itu disebabkan antara lain, oleh tidak
3. Ekonomi dan Sumber Daya Alam
terdeteksinya sejumlah pengaruh global yang kemungkinan dapat saja menerobos
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang ekonomi dan sumber daya alam yaitu:
penyelenggaraan aktifitas pemerintahan secepat kilat. Sejumlah peluang yang dibawa oleh arus
a. Pembukaan berbagai resor kepariwisataan seperti “resor bulan madu” “resor manula”,
global, khususnya pengaruh kemajuan dalam bidang teknologi informasi dan teknologi
agrowisata, “arboretum”, dll, telah mampu mengundang wisatawan secara meyakinkan.
komunikasi yang muncul bagaikan halilintar, dapat saja berubah menjadi ancaman jika tidak
b. Sentra-sentra agribisnis dalam konsep kawasan terpadu berkembang seiring dengan
dicermati dan diantisipasi secara dini.
tumbuhnya “hutan wisata”-arboretum.
Keempat pentahapan ini tidak memiliki kemutlakan, tergantung pada munculnya peluang atau c. Mobilitas penduduk sangat tinggi sebagai dampak dari majunya perekonomian
bahkan ancaman dari lingkungan eksternal. Dapat saja suatu aktifitas pembangunan dalam pembangunan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
suatu Tahap yang tidak dijadikan prioritas, tetapi karena hadirnya “Peluang dadakan” (emerging 4. Prasarana dan Sarana
strategy), maka aktifitas itu harus dimasukkan sebagai prioritas. Begitu sebaliknya, suatu Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang prasarana dan sarana wilayah yaitu:
aktifitas harus dihilangkan (ousted strategy) jika “Ancaman” tiba-tiba tampil

II - 20
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

a. Jaringan jalan pariwisata, jalan ekonomi, transportasi dan komunikasi telah mampu menjalin jaringan (networking) yang tersebar di berbagai tempat. Bukan saja itu, juga
meningkatkan mobilitas penduduk. masih rendahnya kualitas pendidikan dan ketrampilan masyarakat, turut berkontribusi terhadap
b. Membangun dan membenahi jalan pariwisata, jalan ekonomi serta jembatan. kemampuan menangkap Peluang.
c. Mendirikan Pusat Pelatihan dan Ketrampilan
Beberapa Kekuatan lain yang dapat diidentifikasi ialah tersedianya sejumlah warga Toraja
d. Fasilitas teknologi informasi di berbagai Lembaga pemerintahan dan swasta, lembaga
yang memiliki keahlian khusus dalam bidang-bidang pembangunan yang
pendidikan, Pusat pelatihan dan ketrampilan, telah mampu meningkatkan kompetensi
dibutuhkan daerah. Di samping itu, dengan fundasi “Tongkonan”, kerukunan dan
aparat pemerintahan dan komponen pelaku pembangunan.
kekokohan persatuan masih nampak dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan ini
e. Air bersih dan energi listrik termasuk sumber-sumber energi alternatif dinikmati hingga
berpotensi menciptakan keamanan dan perdamaian, yang akan mendorong minat
masyarakat pedesaan.
wisatawan mengunjungi Tana Toraja.
5. Sumber Daya Manusia
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang sumber daya manusia yaitu: Bahkan juga Kekuatan ini dilihat sebagai asset yang telah terbukti berhasil di masa lampau
a. Penyelenggaraan pendidikan profesi terutama yang berkaitan dengan pengelolaan menghindari Ancaman (Threat).
Pariwisata, sumberdaya pertanian, perkebunan, kehutanan, tambang dan mineral, Kekuatan lain seperti kopi Arabica sesungguhnya sejak lama telah mampu menembus
meningkat. pasar di negara-negara Scandinavia akan mampu menangkap Peluang pasar di Jepang,
b. Kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia (medis, paramedis dan non medis)dan khususnya, yaitu keinginan orang kaya tampil beda dengan menikmati kopi Arabica Toraja yang
pemerataan distribusinya meningkat mahal tetapi nikmat.
c. Kuantitas dan kualitas sarana pelayanan kesehatan meningkat yang berdampak pada
Kelemahan-kelemahan yang diuraikan sebelumnya, harus diubah menjadi kekuatan. Oleh sebab
menurunnya frekuensi kunjungan ke Puskesmas, menambah jumlah tenaga kerja yang
itu Pemerintah Daerah hendaknya berusaha keras mendesak pemerintah Pusat melalui berbagai
sehat.
Departemen untuk menyediakan anggaran bagi pembangunan jaringan transportasi
2.4.8 Grand SWOT Analisis Terhadap Sektor Kepariwisataan dan prasarana jalan raya pariwisata/jalan ekonomi. Untuk itu maka perlu dipersiapkan
tenaga yang dapat membuat proposal meyakinkan kepada berbagai lembaga pemerintahan dan
Tana Toraja memiliki kekayaan akan potensi kepariwisataan serta situs-situ budaya yang
lembaga donor. Di samping itu, perbaikan kualitas pendidikan hendaknya disemarakkan di
menarik dan tersebar di semua penjuru. Kekuatan ini memiliki kemampuan untuk menangkap
semua lini lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi.
Peluang berupa minat wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara serta
wisatawan lokal yang sangat tinggi untuk menjelajah zone-zone kepariwisataan alam dan Apabila Peluang tadi sudah bisa ditangkap, maka ini akan mendorong meningkatnya
budaya yang menarik. pembangunan di sektor lain.
Kekuatan ini juga akan mampu mengundang calon investor serta dana yang tersedia untuk Kelemahan lain yang sangat dirasakan oleh Tana Toraja ialah, masih rendahnya kualitas
berbagai jenis program pembangunan daerah di sejumlah departemen. Apabila peluang- sebagian besar sumber daya manusia di berbagai sektor pembangunan tak terkecuali dalam
peluang itu dapat ditangkap, maka jumlah pengunjung wisatawan akan terus menerus kalangan Legislatif dan Eksekutif, ketrampilan manajemen, dll.
bertambah. Ini akan berdampak pada peningkatan penerimaan Negara dari devisa, termasuk Strategi untuk memperbaiki kelemahan itu antara lain dengan merancang pelatihan dan
pendapatan daerah dari berbagai kegiatan masyarakat akan meningkat, sekaligus memperbaiki ketrampilan dengan mendirikan “Pusat Pelatihan dan Ketrampilan” yang akan
taraf hidup masyarakat. beroperasi setiap hari sepanjang tahun.
Sayang, Peluang tadi dihambat oleh Kelemahan besar yang dimiliki oleh daerah, yaitu Sejumlah Kelemahan Sektoral lainnya secara garis besar dapat diidentifikasi sbb:
prasarana jaringan jalan raya menuju atau melalui objek wisata, sarana 1. Sarana dan prasarana berbagai sektor pembangunan masih minim
transportasi, dan rendahnya kualitas manajemen objek-objek wisata, serta 2. Minat mengembangkan peternakan babi dan kerbau secara luas makin menurun, ditambah
rendahnya volume APBD Tana Toraja. Jalan pariwisata sesungguhnya identik dengan belum tersedianya Masterplan peternakan.
dengan jalan ekonomi, karena jalan yang menuju sentra-sentra produksi, justru 3. Benih ikan tawar makin langka, bahkan ada spesis yang mulai hilang
melalui objek-objek wisata. 4. Anggaran yang disediakan untuk masing-masing sektor jauh dari kebutuhan riil.
Kelemahan lain yang menghambat datangnya Peluang yang digambarkan diatas, antara lain, 5. Kualitas produk industri rumah tangga masih rendah.
Masih rendahnya ketrampilan birokrasi termasuk kemampuan membuat Proposal dan 6. Penegakan hukum (Law enforcement) masih jauh dari harapan yang berakibat pada
Rencana maupun untuk mengadakan lobby, di samping masih rendahnya kemampuan rendahnya tingkat disiplin masyarakat dan aparat.

II - 21
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

7. Angka tingkat kejahatan dan pelanggaran hukum masih tinggi. pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, yang bermuara pada
8. Masih terpendamnya beberapa potensi sumber daya pertambangan. peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
9. Pelayanan bermutu dalam berbagai sektor, misalnya bidang kesehatan yang belum mampu
menjamin kualitas hidup sehat, dan sektor lain, masih pada tingkat rendah.
Kebijakan penataan ruang dalam pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja yaitu
10. Manajemen kepariwisataan masih bersifat tradisional.
Kebijakan Pengembangan Potensi Pariwisata, melalui strategi sebagai berikut:
11. Secara umum, tingkat homepay aparat masih belum mampu membiayai kesejahteran
1. Strategi peningkatan fungsi kawasan lindung untuk kepentingan kepariwisataan yaitu
keluarga yang semakin tertekan oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.
mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat
pengembangan kegiatan budidaya, termasuk reboisasi di jalur lingkar wisata Tana Toraja
2.4.9 Program-Program Kepariwisataan Urusan Pemerintahan pada Dinas
dengan menarik partisipasi para wisatawan, dalam rangka mewujudkan dan memelihara
Pariwisata
keseimbangan ekosistem wilayah kabupaten.
1. Penetapan kebijakan tentang Kebudayaan dan Pariwisata (Perda ttg Kepariwisataan,
2. Strategi peningkatan sumber daya lahan pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan
Homestay, penggunaan simbol-simbol budaya, dll) (Pemerintahan, Hukum dan Politik);
untuk kepentingan kepariwisataan yaitu mengembangkan sektor perikanan yang terpadu
2. Pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan (Geomorpologi dan Lingkungan Hidup)
dengan kegiatan wisata serta memenuhi kebutuhan kawasan lain diluar wilayah.
3. Pelibatan semua masyarakat dalam program pariwisata (Demografi)
3. Strategi pengembangan potensi pariwisata, terdiri atas :
4. Pembinaan Kepariwisataan berbasis budaya, Pengembangan wisata alam, wisata agro,
1) Pengembangan industri pariwisata budaya dan alam yang ramah lingkungan untuk
wisata pendidikan, wisata religi, dll, dan Pembuatan Calender of Events (Ekonomi dan
mendukung fungsi Kabupaten Tana Toraja sebagai Kawasan Strategis Nasional
Sumberdaya Alam)
kepentingan Sosial Budaya.
5. Pembinaan kebudayaan (Sosial dan Budaya)
2) meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap nilai budaya lokal yang mencerminkan
6. Penyiapan / pembangunan prasarana dan sarana pariwisatan ((IT, Pusat Informasi,
jati diri komunitas lokal yang berbudi luhur;
pariwisata, dll), serta Pembangunan museum budaya (Prasarana dan Sarana)
3) mengembangkan penerapan ragam nilai budaya lokal dalam kehidupan masyarakat;
4) melestarikan situs warisan budaya komunitas lokal masyarakat Tana Toraja;
2.5 KEPARIWISATAAN DALAM RTRW KABUPATEN TANA TORAJA 5) mempertahankan kawasan situs budaya dan mengembangkan obyek wisata sebagai
Tata ruang wilayah merupakan wujud susunan dari suatu tempat kedudukan yang berdimensi pendukung daerah tujuan wisata yang ada;
luas dan isi dengan memperhatikan struktur dan pola dari tempat tersebut berdasarkan sumber 6) mengembangkan jalur jalan lingkar wisata yang menghubungkan obyek-obyek wisata
daya alam dan buatan yang tersedia serta aspek administratif dan aspek fungsional untuk di wilayah Kabupaten Tana Toraja dan terpadu juga dengan obyek-obyek wisata di
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan demi kepentingan generasi sekarang dan yang Kabupaten Toraja Utara;dan
akan datang (Kodoatie dan Sjarief, 2010). Aspek-aspek yang mempengaruhi dalam penataan 7) mengembangkan promosi dan jaringan industri pariwisata secara global.
ruang dapat meliputi, aspek teknis, ekonomi, sosial, budaya, hukum, kelembagaan dan 4. Strategi pengembangan potensi pertambangan untuk kepentingan kepariwisataan yaitu
lingkungan. Oleh karena itu, rencana tata ruang wilayah menjadi salah satu instrumen melakukan kajian, ekplorasi sampai ke eksploitasi blok minyak Enrekang yang kawasannya
pembangunan yang harus dijadikan acuan oleh setiap daerah sesuai dengan amanat UU 26 termasuk hampir seluruh wilayah Kabupaten, dengan menghindari kemungkinan rusaknya
tahun 2007 tentang penataan ruang. situs dan obyek-obyek wisata budaya dan alam, dengan pertimbangan manfaat bagi rakyat
2.5.1 Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Daerah dan Nasional, menjaga kelestrian lingkungan, dan mengutamakan pemberdayaan
Kabupaten Tana Toraja melalui Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2011 tentang RTRW Sumber Daya Manusia (SDM) Daerah maupun Nasional dengan peningkatan kompetensi
Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031, pada berbagai substansi muatan rencana yang ada, dan kapasitas SDM dengan pendidikan prakerja maupun melalui program alih pengetahuan
sangat jelas menggambarkan fokus pembangunan kepariwisataan. Hal ini terlihat dari rumusan dan teknologi;
tujuan penataan ruang kabupaten yang menjadikan kepariwisataan daerah sebagai lokomotif 5. Strategi pengembangan potensi industri untuk kepentingan kepariwisataan yaitu
pembangunannya dengan rumusan tujuan sebagai berikut: mengembangkan industri kerajinan penunjang pariwisata, seperti ukiran, lukisan, patung,
anyaman, miniatur rumah adat Toraja, T-shirt dan tenun;
Mewujudkan tatanan ruang wilayah kabupaten Tana Toraja, yang nyaman, aman, 6. Strategi pengembangan potensi perdagangan untuk kepentingan kepariwisataan yaitu
produktif, asri dan lestari, melalui peningkatan fungsi kawasan lindung,
penataan ulang kawasan perdagangan di PKL Makale dengan (i) peremajaan kawasan
pengembangan pariwisata budaya dan alam, serta pemanfaatan potensi-potensi
perdagangan lama di pusat kota Makale; (ii) pemindahan pasar Kota Makale agar terpadu

II - 22
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dengan kawasan terminal; dan (iii) pembangunan pasar seni yang terpadu dengan pusat 3) Monumen Penginjilan
seni dan informasi pariwisata; 4) Panorama Alam
7. Strategi pengembangan potensi pendidikan untuk kepentingan kepariwisataan yaitu 5) Rumah Adat
menyelenggarakan pendidikan sebagai pusat ilmu pengetahuan terutama guna mendukung 6) Kuburan Batu Tondon Makale
pengembangan sektor kehutanan, pertanian, industri kerajinan, perdagangan dan 7) Kuliner
pariwisata; 8) Kereta gantung
8. Strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk kepentingan kepariwisataan 9) Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
yaitu membangun kompetensi dan kapasitas baik melalui pendidikan formal maupun non 10) Kolam Alam Assa
formal bagi angkatan kerja di sektor-sektor kehutanan, pertanian, perkebunan, peternakan, 11) Pasar Hewan.
perikanan, pariwisata, industri, perdagangan, permukiman, sarana, prasarana dan 3. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ : dengan objek penunjang :
pemerintahan; 1) Permandian Air Panas Makula
2) Pekuburan batu Suaya
2.5.2 Rencana Struktur Ruang 3) Kuburan Bayi /Passilliran Kambira’
Terdapat sejumlah rencana pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Tana Toraja baik 4) Kuburan Gua Alam Tampang Allo
berupa pusat-pusat pelayanan maupun rencana jaringan prasarana yang memiliki peran dalam 5) Gua Alam Sullukan
membangun kepariwisataan didaerah, diantaranya sebagai berikut: 6) Tongkonan Banua Kasalle Bau
1. Mengembangkan Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) yaitu Kawasan Perkotaan Bittuang 7) Museum Buntu Kalando
yang potensiil dikembangkan sebagai gerbang wisata penghubung kawasan wisata Budaya 8) Atraksi Seni Budaya
di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat dengan kawasan wisata Tana Toraja; dan 9) Rante Tongko Sarapung.
kawasan perkotaan sekitar bandara baru Ge’tengan Kecamatan Mengkendek, yang potensil 4. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan ; dengan objek penunjang :
dikembangkan menjadi kota simpul transportasi udara. 1) Sassa’
2. Mengembangkan Jaringan jalan kolektor primer dan jaringan jalan lokal yang merupakan 2) Perkampungan Adat Sillanan
sistem jaringan jalan kabupaten yang ada di Kabupaten Tana Toraja terdiri atas : jalan 3) Kawasan Hutan Mapongka,
kolektor primer lingkar wisata Tana Toraja; dan jalan lokal primer penghubung jalan 5. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek penunjang ;
kolektor primer ke obyek wisata; 1) Potok Tengan
3. Mengembangkan Jaringan layanan lalu lintas yaitu trayek angkutan penumpang 2) Panorama alam Buntu Kandora
diantaranya adalah pengembangan terminal Makale – Rantepao ke obyek wisata (OW) 3) Banua Puan
Makam Adat Lemo; 4) Liang Lo’ko’ Randanan
4. terminal Makale – Tongkonan Layuk Kaero – Tongkonan Salembe dan Mapissa di Galingtua 5) Panjat Tebing
– Rante di Tongko Sarapung – Tongkonan Solo – Tongkonan Buntu Tongko, ruas jalan 6) Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring
Suaya – Rante di Tongko Sarapung – jalan penghubung Leatung – Makula; 6. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
5. terminal Mengkendek – jalan lingkar wisata – batas Toraja Utara; 1) Permandian alam Tilanga’
6. pengembangan jaringan-jaringan prasarana utama dan prasarana lainnya yang secara 2) Makam adat Sirope
langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada pembangunan kepariwisataan daerah. 3) Tongkonan Mandetek
4) Agrowisata Rante Lingkua’
2.5.3 Rencana Pola Ruang Kawasan Peruntukan Pariwisata 5) Makam Bayi –Passilliran Alla’
Kawasan peruntukan pariwisata yang dikembangkan dalam rencana tata ruang wilayah 7. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon ; dengan objek pendukung:
Kabupaten Tana Toraja diantaranya: 1) Rumah Adat Pattan
1. Kawasan Wisata Ecopolis dan Meeting, Information, Convention Exebition (MICE) Makale; 2) Talion
2. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale ; dengan objek pendukung : 3) Benteng Pongtiku, Boronan
1) Gua alam 4) Likunna Makuyo
2) Museum 5) Atraksi Budaya

II - 23
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6) Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’ 5) Panorama


8. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakadeng ; dengan objek pendukung : 14. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’; dengan objek pendukung :
1) Air terjun Salu Bitu 1) Air terjun
2) Permandian Air Panas Ratte Buttu 2) Hutan Wisata
3) Liang pahat 3) Perkemahan
4) Permandian Air Panas Bake’ 4) Atraksi seni budaya
5) Panorama Alam 5) Kuburan Batu
9. Kawasan Batu Tallu Simbuang di Simbuang ; dengan objek pendukung : 6) Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
1) Panorama Alam 15. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek penunjang :
2) Kolam Alam Limbong Deata 1) Desa Wisata
3) Tedong-tedong 2) Rumah Adat
4) Liang pahat 3) Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
5) Kolam Alam Kondo Dewata 4) Benteng To Pada Tindo
6) Batu Sittene 5) Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
10. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang; dengan objek pendukung : 6) Passiliran Kambisa
1) Agrowisata Bolokan 7) Kerajinan seni ukir.
2) Hutan Wisata
3) Permandian Air Panas 2.5.4 Rencana Pola Ruang Kawasan Peruntukan Lainnya yang menunjang Kegiatan
4) Rumah Adat Kepariwisataan
5) Air terjun Ratte Sarambu 1. Kawasan peruntukan hutan;
11. Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan ; dengan objek pendukung: 2. Kawasan peruntukan perikanan;
1) Panorama Alam 3. Kawasan peruntukan pertanian;
2) Tracking 4. Kawasan peruntukkan industri rumah tangga yaitu kawasan peruntukkan industri kerajinan
3) Sepeda Gunung ditetapkan di seluruh kawasan wisata;
4) Wisata Berkuda 5. Kawasan aglomerasi industri rumah tangga ditetapkan di Kecamatan Makale, Kecamatan
5) Monumen Ampang Banu’ Bittuang, dan Kecamatan mengkendek.
6) Atraksi seni budaya 6. Kawasan peruntukan lainnya.
7) Agrowisata.
12. Kawasan Wisata Alam tondok To Bugi’di Masanda ;dengan objek pendukung: 2.5.5 Kawasan-kawasan Strategis Wilayah Kabupaten
1) Panorama Alam 1. Kawasan Strategis Nasional yaitu kawasan Tana Toraja dan sekitarnya yang merupakan
2) Atraksi Seni Budaya kawasan strategis nasional dengan sudut kepentingan sosial budaya.
3) Air Terjun Sarambu Sengo’ 2. Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dengan sudut kepentingan sosial budaya, adalah kawasan
4) Permandian Air Panas wisata budaya Tana Toraja;
5) Batu Tindak Sarira 3. KSK kawasan strategis dengan sudut kepentingan lingkungan hidup, terdiri atas :
6) Sakean a. kawasan wisata alam hutan Pango-Pango di Kecamatan Makale Selatan;
7) Bulu Pala’ b. kawasan wisata alam dan budaya terpadu di sepanjang jalur jalan lingkar wisata Tana
8) Lando Tekka Toraja di Kecamatan Makale Selatan, Gandangbatu Sillanan, Rano, Bonggakaradeng
13. Kawasan Wisata Barereng di Kurra; dengan objek pendukung : dan Malimbong Balepe;
1) Rafting/Arung Jeram c. Air Terjun Patongloan di Kecamatan Bittuang; dan
2) Air Terjun d. Kawasan wisata alam permandian Tilangga di Kecamatan Makale Utara;
3) Kolam Pemancingan 4. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) dengan sudut kepentingan sosial budaya terdiri atas:
4) Tracking a. kawasan wisata Kuburan Adat Lemo di Kecamatan Makale Utara;

II - 24
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

b. kawasan wisata Kaero di Kecamatan Sangalla;


c. kawasan wisata Sillanan di Kecamatan Gandangbatu Sillanan;
d. kawasan wisata papa batu Tumakke di Kecamatan Rembon;
e. Kawasan Wisata Potok Tengan di Kecamatan Mengkendek;
f. Kawasan Wisata Buntu Burake di Kecamatan Makale;
g. Kawasan Wisata Liang Ba’ba Saratu Ollon di Kecamatan Banggakaradeng;
h. Kawasan Wisata Batu Tallu Simbuang di Kecamatan Simbuang;
i. Kawasan Wisara Sarambu Assing di Kecamatan Bittuang;
j. Kawasan Wisata Panorama Tondok To Bugi’ di Kecamatan Masanda;
k. Kawasan Wisata Pango-pango di Kecamatan Makale Selatan;
l. Kawasan Wisata Barereng di Kecamatan Kurra;
m. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Kecamatan Malimbong Balepe; dan
n. Kawasan Wisata Desa Adat Bebo’ Tumbang Datu di Kecamatan Sangalla Utara.

Gambar 2.4. Peta Rencana Kawasan Strategis Kabupaten


(sumber: RTRW Kabupaten Tana Toraja)

II - 25
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3
KONDISI WILAYAH KABUPATEN
MENDUKUNG KEPARIWISATAAN

3.1 KONDISI FISIK WILAYAH


3.1.1 Administrasi dan Geografis Wilayah
Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian utara Provinsi
Sulawesi Selatan dan beribukota Makale dengan luas 2.054,30 km² persegi dengan elevasi
ketinggian 400-3.075 mdpl yang meliputi 19 kecamatan, 47 Kelurahan dan 112 Lembang
dimana Kecamatan Malimbong Balepe dan Kecamatan Bonggakaradeng merupakan dua
kecamatan terluas dengan luas masing-masing adalah 211,47 Km2dan 206,76 Km2, sedangkan
wilayah kecamatan dengan luas terkecil adalah Kecamatan Makale Utara dan Kecamatan
Sangala Utara dengan luas masing-masing adalah 26,08 km2 dan 27,96 Km2.
Kabupaten Tana Toraja adalah sebuah Kabupaten yang dalam peta administratif masuk ke
dalam wilayah Sulawesi Selatan. Kabupaten Tana Toraja adalah salah satu Kabupaten Dalam
Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di Makale. Kabupaten Ini Terletak antara 2°-
3° Lintang Selatan dan 119° - 120°' Bujur Timur. Letak Kabupaten Tana Toraja berbatasan
dengan :
▪ Sebelah Utara berbatasan Kabupaten Toraja Utara dan Provinsi Sulawesi Barat
▪ Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu
▪ Sebelah Selatan berbatasan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
▪ Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat
Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 2.054,30 Km2 yang meliputi 19 (Sembilan Belas)
kecamatan, dimana Kecamatan Malimbong Balepe merupakan kecamatan yang terluas dengan
luas 211,47 Km2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.

Tabel: 3.1 Luas Wilayah Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019


Luas Kecamatan
No. Kecamatan Desa Kelurahan
Km2 %
1. Bonggakaradeng 206,76 10,06 5 1
2. Simbuang 194,82 9,48 5 1
3. Rano 89,43 4,35 5 -

III - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 3.1 Luas Wilayah Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019


Luas Kecamatan
No. Kecamatan Desa Kelurahan
Km2 %
4. Mappak 166,02 8,08 5 1
5. Mengkendek 196,74 9,58 13 4
6. Gandang Batu Sillanan 108.63 5,29 9 3
7. Sangalla 36,24 1,76 3 2
8 Sangalla Selatan 47,80 2,33 4 1
9 Sangalla utara 27,96 1,36 4 2
10 Makale 39.75 1,93 1 14
11 Makale Selatan 61.70 3,00 4 4
12 Makale Utara 26.08 1,27 - 5
13 Saluputti 87,54 4,26 8 1
14 Bituang 163,27 7,95 14 1
15 Rembon 134,47 6,55 11 2
16 Masanda 134,77 6,56 8 -
17 Malimbong Balepe 211,47 10,29 5 1
18 Rantetayo 60,35 2,94 3 3
19 Kurra 60,50 2,94 5 1
Total 2.054,30 100.00 112 47
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020

III - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

III - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.1.2 Kondisi Topografi dan Kelerengan


Kabupaten Tana Toraja yang berada pada daerah perbukitan yang cukup tinggi merupakan
limitasi dalam pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Tana Toraja. Kondisi geomorfologi
di Kabupaten Tana Toraja dalam 5 tahun terakhir terus mengalami perubahan. Tingginya
frekwensi bencana alam seperti gempa bumi dan tanah longsor telah banyak mengubah kondisi
geomorfologi dan lingkungan hidup di kabupaten ini. Selain oleh alam, perubahan kondisi
geomorfologi dan lingkungan hidup juga turut dipicu oleh pemanfaatan sumber daya tanpa
mengindahkan kaidah-kaidah konservasi yang telah menyebabkan penurunan kualitas dan daya
dukung lingkungan. Kondisi ini antara lain terlihat dari terus berkurangnya luas areal hutan dan
bertambahnya luas lahan kritis. Problematika tersebut turut memicu terjadinya banjir dan longsor.
Kabupaten Tana Toraja mempunyai
topografi yang relatif bergelombang dan
berbukit, sedangkan topografi datar relatif
sedikit. Kawasan yang mempunyai
kemiringan lahan datar (0-8%) pada
umumnya berada di daerah di sebelah
timur dan lahan-lahan sepanjang jalan
poros. Selanjutnya kawasan yang
mempunyai kemiringan lahan 8-15%
Gambar 3.3. Peta Ketinggian Wilayah Kabupaten Tana Toraja
tersebar di seluruh wilayah Kabupaten
(Sumber: Dirjen Penataan Ruang Kementerian PU.)
Tana Toraja, sedangkan kemiringan lahan
di atas 40% pada umumnya berada di
3.1.3 Geologi
sebelah barat Kecamatan Simbuang, Gambar 3.2. Peta Kelerangan Kabupaten Tana Toraja
Struktur geologi batuan Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakteristik geologi yang
Kecamatan Bonggakaradeng, Kecamatan Sumber: Dirjen Penataan Ruang Kementerian PU.

kompleks dicirikan oleh adanya jenis satuan batuan yang bervariasi akibat pengaruh struktur
Masanda dan beberapa kecamatan
geologi. Beberapa jenis batuan yang dapat ditemukan di Kabupaten Tana Toraja pada umumnya
lainnya merupakan kawasan lindung.
antara lain:
▪ batuan epiklastik gunungapi (batupasir andesitan, batulanau, konglomerat dan breksi
▪ batugamping kelabu hingga putih berupa lensa-lensa besar
▪ batugamping terumbu
▪ batupasir hijau, grewake, napal, batulempung dan tuf, sisipan lava bersisipan andesit-basal
▪ batupasir, konglomerat, tufa, batulanau, batulempung, batugamping, napal
▪ batusabak, kuarsit, filit, batupasir kuarsa malih, batulanau malih dan pualam, setempat
batulempung malih
▪ granit, granodiorit, riolit, diorit, dan aplit
▪ hasil erupsi parasit
▪ konglomerat, sedikit batupasir glokonit dan serpih
▪ lava andesit dan basal, dan latit kuarsa
▪ lava, breksi, tufa, konglomerat
▪ Napal diselingi batulanau gampingan dan batupasir gampingan
▪ napal, kalkarenit, batugamping koral bersisipan dengan tuf dan batupasir, setempat dengan
konglomerat

III - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ serpih coklat kemerahan, sepi napalan kelabu, batugamping, batupasir kuarsa, konglomerat, Kata Toraja berasal dari Bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”.
batugamping dan setempat batubara Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal
akan ritual pemakaman, rumah adat Tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja
3.1.4 Iklim dan Curah Hujan
merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung
Kondisi iklim Kabupaten Tana Toraja menunjukkan curah hujan terbanyak pada tahun 2014 selama beberapa hari. Sebelum abad ke-20, Suku Toraja tinggal di desa-desa otonom, mereka
terjadi pada bulan Desember yaitu sekitar 393,5 mm dan banyaknya hari hujan yang terjadi pada masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1990-an,
tahun 2014 terbanyak terjadi pada bulan Desember yaitu sebanyak 29 hari. misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada
Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja,
Tabel: 3.2 dunia luar pada tahun 1970-an, Kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indinesia.
Tahun 2019
No. Bulan Hari Hujan Curah Hujan
Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog.
1. Januari 13,0 203,8 Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya dari masyarakat
2. Februari 11,0 397,3 kepercayaan tradisional dan agraris menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan
3. Maret 9,0 154,5 mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.
4. April 9,0 147,5
Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok
5. Mei 11,0 356,3
etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, Suku Toraja,
6. Juni 22,0 605,8
yang tinggal didaerah dataran tinggi dikenal berdasarkan desa mereka dan tidak beranggapan
7. Juli 17,0 259,5
8 Agustus 10,0 186,7
sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan diantara desa-desa
9 September 14,0 305,3 da banyak keragaman dalam dialek, hirarki sosial, dan berbagai praktik ritual dikawasan dataran
10 Oktober 8,0 79,0 tinggi Sulawesi. Toraja (dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi)
11 November 12,0 209,0 pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran
12 Desember - - tinggi. Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih banyak memiliki hubungan berdagang dengan
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020 orang luar seperti suku Bugis dan Suku Makassar yang menghuni sebagian besar dataran rendah
di Sulawesi Selatan daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris Belanda
3.1.5 Kondisi Hidrologi
di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa’dan Toraja dan
Keadaan Hidrologi di Kabupaten Tana Toraja umumnya dipengaruhi oleh sumber air yang berasal identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi
dari Sungai Sa’dan, Salu Tapparan, Sungai Saluputti, Sungai Mataallo, Sungai Masuppu’dan anak Selatan memiliki empat kelompok etnis utama yaitu Suku Bugis, Suku Makassar, Suku Mandar,
sungai serta mata air dengan debit yang bervariasi. DAS Hulu Sungai Sa’dan merupakan sungai dan Suku Toraja.
terpanjang di Sulawesi Selatan berada di Kabupaten Tana Toraja merupakan urat nadi yang vital
3.2.2 Sejarah
bagi pengembangan pertanian dan PLTU Bakaru di Kabupaten Pinrang. Keberadaan sungai-
Asal kata Toraja berawal dari bahasa Bugis Sidendreng yaitu “to ri aja”, yang berarti “orang
sungai tersebut pada umumnya digunakan untuk irigasi perdesaan, sumber PLTMH dan sangat
pegunungan” atau “orang hulu sungai”. Orang Luwu menyebut Toraja sebagai “to riajang” yang
potensial dikembangkan bagi kepentingan pariwisata, misalnya arum jeram dan wisata rafting.
berarti “orang yang berdiam di sebelah barat”. Menurut bahasa Makassar, Toraja juga bisa berarti
Kondisi hidrologi Kabupaten Tana Toraja secara umum adalah sebagai berikut:
“to = tau” dan “raja = maraya”, “to atau tau” berarti “orang”, sedangkan “raja atau maraya”
▪ Air tanah, air tanah pada umumnya terdapat pada kedalaman 40-100 meter.
dapat berarti “utara atau besar”, maka Toraja dapat berarti “orang dari utara” atau “orang
▪ Air permukaan, air permukaan pada umumnya berupa sungai dan genangan-genangan.
besar/bangsawan”. Seiring dengan berjalannya waktu, pada abad ke 20 dikenal nama Toraja
yang semakin diperkuat oleh pemerintah kolonial Belanda, dengan memperkenalkan Toraja pada
3.2 SEJARAH SEBAGAI POTENSI PARIWISATA
tahun 1909. Penambahan kata Tana, yang berarti negeri tempat pemukiman suku Toraja,
3.2.1 Identitas Etnis membuat wilayah Toraja kemudian lebih dikenal dengan sebutan Tana Toraja.
Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Populasinya
Menurut hasil penelitian seorang antropolog, Dr. C. Cryut, suku Toraja berasal dari Indo Cina di
diantaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.
sekitar Teluk Tongkin. Mereka merupakan imigran yang meninggalkan negerinya menuju Asia
Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen sementara sebagian memeluk agama Islam dan
Tenggara dalam tiga gelombang keberangkatan. Leluhur suku Toraja merupakan rombongan
kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah memeluk
pelayaran gelombang terakhir, mereka mendarat di bagian daratan Pulau Sulawesi yang sebagian
kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
pulaunya masih terendam lautan. Tempat pendaratannya yaitu di sekitar hulu sungai yang

III - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

diperkirakan berlokasi di daerah Enrekang. Kedatangan para leluhur suku Toraja ini berbekal 3.2.3 Bahasa
aturan keagamaan yang dimilikinya. Salah satunya yaitu pada arsitektur rumah yang dibangun Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja dengan Sa'dan Toraja sebagai dialek
mirip perahu dan selalu menghadap ke Utara untuk mengingatkan daerah asal mereka. Proses bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan
panjang akulturasi antara penduduk suku Melayu lokal di Sulawesi dengan imigran dipercaya digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di
merupakan asal suku Toraja. Proses imigrasi yang terus berlanjut membuat penduduk yang Tana Toraja.
sudah berakulturasi makin terdesak dan kemudian pindah ke daerah pedalaman bagian atas,
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , dan Toraja-
yang merupakan wilayah Tana Toraja sekarang. Menurut cerita lisan turun temurun, disebutkan
Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia. Pada
bahwa leluhur orang Toraja berasal dari Nirwana (surga). Mereka turun dari langit setelah
mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa
diciptakan oleh Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa) dengan cara mengambil bahan emas
Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja
murni dengan menggunakan sepasang embusan yang disebut Sauan Sibarrung. Para leluhur ini
menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak
kemudian turun ke bumi dengan menggunakan ”tangga dari langit” atau ”eran di langi”. Tangga
masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.
tersebut juga berfungsi sebagai jalur komunikasi antara Puang Matua sebagai Sang Pencipta
3.2.4 Kearifan Lokal
dengan ciptaannya yaitu umat manusia. Leluhur yang diturunkan ke bumi dibekali dengan aturan
Sesuai data yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2017, Penduduk
keagamaan yang disebut aluk.
Kabupaten Tana Toraja sebagian besar beragama Kristen Protestan yaitu 222.549 jiwa, Katolik
Pada sumber lain, sebagaimana yang dijelaskan dalam dokumen rencana pembangunan 54.149 jiwa, Hindu 5.794 jiwa, Islam 46.014 jiwa dan Budha 1.194 jiwa, Khonghucu 5 jiwa,
infrastruktur terpadu kawasan strategis pegunungan dan budaya Toraja. Sumber tersebut Kepercayaan 37 [Link] keagamaan di Tana Toraja memperlihatkan karakter dari suatu
menjelaskan bahwa Toraja aslinya mempunyai nama tua yang dikatakan dalam literatur kuno masyarakat Pancasila dan kegotongroyongan yang sering ditandai dalam [Link]
mereka sebagai “Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo” yang berarti negeri dengan kekeluargaan seperti pada upacara Rambu Solo' dan Rambu Tuka' (upacara kedukaan dan
pemerintahan dan masyarakat berketuhanan yang bersatu utuh bulat seperti bulatnya matahari upacara syukuran).
dan bulan. Agama asli nenek moyang mereka adalah Aluk Tadolo yang berasal dari sumber Negeri
Adat istiadat masyarakatnya bervariasi yang dipengaruhi oleh lingkungan kesatuan adat masing-
Marinding banua Puan yang dikenal dengan sebutan Aluk Pitung Sa’bu Pitung Pulo. Ketika
masing wilayah. Kebudayaan Toraja adalah segala sesuatu yang terakumulasi dalam bentuk Aluk-
Belanda masuk, agama Aluk Todolo tergeser oleh missionaris Kristen yang menyebarkan agama
Ada'-Pemali atau Aluk Sanda Pitunna, Rambu Tuka'-Rambu Solo' yang dinyatakan dalam
diwilayah ini. Namun adat istiadat yang berakar pada konsep Aluk Todolo hingga kini masih
pergaulan dan kehidupan orang Toraja sehari-hari seperti dalam kehidupan pribadi, sosial,
berjalan, seperti pertunjukan upacara kematian masyarakat Toraja sebagai pengaruh kuat dari
ekonomi, politik, kesenian dan agama.
agama nenek moyang mereka.
Adanya keteraturan dalam mengelola alam dan lingkungan tempat membangun Tongkonan,
Menurut data sejarah, [enduduk yang pertama-tama menduduki/mendiami daerah Toraja pada
memelihara ternak, sumber mates air, tempat upacara dan kegiatan sehari-hari. Tongkonan
zaman purba adalah penduduk yang bergerak dari arah selatan dengan perahu. Mereka datang
berfungsi sebagai sumber norma, sebagai pelaksana pemerintahan dan sebagai penghimpun
dalam bentuk kelompok yang dinamai Arroang (kelompok manusia). setiapArroan dipimpin oleh
kcluarga/kerabat. Mempelajari sejarah perkembangan pembangunan Tongkonan terlihat bahwa
seorang pimpinan yang dinamai Ambe’ Arroang (Ambe’ = bapak, Arroan = kelompok). Setelah
orang Toraja berasal dari Tongkonan Banua Puan, Tongkonan Kaero, Tongkonan Kesu',
itu datang pengasa baru yang dikenal dalam sejarah Toraja dengan nama Puang Lembang yang
Tongkonan Sesean, merupakan Kesatuan Tongkonan makes wajarlah bila orang Toraja tetap
artinya pemilik perahu, karena mereka datang dengan mempergunakan perahu menyusuri
bersatu dan menggalang kesatuan dalam menghadapi segala macam kegiatan pembangunan
sungai-sungai besar. Pada waktu perahu mereka sudah tidak dapat diteruskan karena derasnya
Tana Toraja secara kekeluargaan. Tegasnya antara Makale-Rantepao dan sekitarnya tetap
air sungai dan bebatuan, maka mereka memongkar perahunya untuk dijadikan tempat tinggal
membina keutuhan sebagai satu keluarga [Link]' Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate,
sementara. Tempat mereka menambatkan perahunya dan membuat rumah pertama kali dinamai
artinya Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh.
Bamba Puang yang artinya pangkalan pusat pemilik perahu sampai sekarang. Hingga kini kita
melihat disekitar Rantepao terdapat beberapa Bamba Puang milik keluarga-keluarga paling Kebudayaan Toraja merupakan penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai insani untuk
berpengaruh dan terkaya disitu yang mendirikan Tongkonan beserta belasan lumbung padinya. manusiakan diri dalam lingkungannya baik fisik maupun social Memahami kebudayaan Toraja
Setiap Tongkonan satu keluarga besar dihiasi oleh puluhan tanduk kerbau yang dipakai untuk harus dimulai dari ajakan Alu’ Todolo yaitu ajaran kepercayaan yang diajarkan oleh leluhur orang
menjelaskan status sosial dalam strata masyarakat adat. Tongkonan itulah yang menjadi atraksi Toraja. Aluk Todolo mengandung dua gagasan atau pokok pikiran yang sangat prinsipil yaitu :
budaya dan menjadi objek foto wisatawan yang mendatangi Toraja. (1). Pandangan terhadap alam semesta, Macro-Cosmos. (2). Pandangan terhadap manusia,
Micro-Cosmos.

III - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.2.5 Masyarakat dan Keluarga masih luas, dilembahnya terdapat hamparan persawahan. Tongkonan sendiri bentuknya adalah
Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu rumah panggung yang dibangun dari kombinasi batang kayu dan lembaran papan. Kalau diamati,
keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga denahnya berbentuk persegi panjang mengikuti bentuk praktis dari material kayu. Material kayu
ikut memelihara persatuan desa. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan dari kayu uru, sejenis kayu lokal yang berasal dari Sulawesi. Kualitas kayunya cukup baik dan
seterusnya) adalah praktek umum yang memperkuat hubungan kekerabatan. Suku Toraja banyak ditemui di hutan-hutan di daerah Toraja. Kayu dibiarkan asli tanpa di pelitur atau pernis.
melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk Rumah Toraja/Tongkonan ini dibagi menjadi 3 bagian yang pertama kolong (Sulluk Banua),
bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta. Hubungan kekerabatan berlangsung secara kedua ruangan rumah (Kale Banua) dan ketiga atap (Ratiang Banua). Pada bagian atap,
timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam bentuknya melengkung mirip tanduk kerbau. Di sisi barat dan timur bangunan terdapat jendela
ritual kerbau, dan saling membayarkan hutang. kecil, tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin. Memiliki latar belakang arsitektur rumah
tradisional Toraja menyangkut falsafah kehidupan yang merupakan landasan dari kebudayaan
Kelas Sosial
orang Toraja itu sendiri.
Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga
tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun Dalam pembangunan rumah adat Tongkonan ada hal-hal yang mengikat atau hal yang di
1909 oleh pemerintah Hindia Belanda). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan haruskan dan tidak boleh dilanggar, yaitu Rumah harus menghadap ke utara, letak pintu di bagian
untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi depan rumah, dengan keyakinan bumi dan langit merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi
perempuan dari kelas yang lebih tinggi, ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan dalam 4 penjuru mata angin, yaitu:
berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan
1. Utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia di mana Puang Matua berada (keyakinan
hingga saat ini karena alas an martabat keluarga.
masyarakat Toraja).
Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di tongkonan, sementara 2. Timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan atau kehidupan.
rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut banua). Budak 3. Barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan atau kehidupan,
tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan miik tuan mereka. Rakyat jelata boleh yaitu kesusahan atau kematian.
menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk 4. Selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat melepas segala
menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak dilarang mengadakan perayaan sesuatu yang tidak baik / angkara murka.
kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa
Pembangunan rumah tradisional Toraja biasanya dilakukan secara gotong royong. Rumah Adat
gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan
Toraja di bedakan menjadi 4 macam:
jumlah kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.
1. Tongkonan Layuk, rumah adat tempat membuat peraturan dan penyebaran aturan-aturan.
Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang Toraja 2. Tongkonan Pakamberan atau Pakaindoran, rumah adat tempat melaksanakan aturan- aturan.
menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak. Budak bisa Biasanya dalam satu daerah terdapat beberapa tongkonan, yang semuanya bertanggung
dibawa saat perang, dan perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan jawab pada Tongkonan Layuk.
mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan 3. Tongkonan Batu A’riri, rumah adat yang tidak mempunyai peranan dan fungsi adat, hanya
memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka, sebagai tempat pusat pertalian keluarga.
atauberhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut 4. Barung-barung, merupakan rumah pribadi. Setelah beberapa turunan (diwariskan), kemudian
yaitu hukuman mati. disebut Tongkonan Batu A’riri.
Bangsawan Toraja yang memiliki Tongkonan umumnya berbeda dengan Tongkonan dari orang
3.2.6 Kebudayaan Tongkonan
biasanya. Perbedaan ini bisa kita lihat pada bagian rumah terdapat tanduk kerbau yang disusun
Rumah Adat Toraja disebut Tongkonan. Tongkonan sendiri mempunyai arti tongkonan “duduk”,
rapi menjulang ke atas, semakin tinggi atau banyak susunan tanduk kerbau tersebut semakin
tempat “an” bisa dikatakan tempat duduk tetapi bukan tempat duduk arti yang sebenarnya
menukjukkan tinggi dan penting status sosial si pemilik rumah.
melainkan tempat orang di desa untuk berkumpul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah-
masalah adat. Hamper semua rumah orang Toraja menghadap ke arah utara, menghadap ke Kenapa harus tanduk Kerbau? bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan ternak mereka
arah Puang Matua sebutan orang toraja bagi Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu untuk menghormati juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu tanduk atau tengkorak kepala
leluhur mereka dan dipercaya akan mendapatkan keberkahan di dunia ini. Daerah Tana Toraja kerbau di pajang dan disimpan di bagian rumah karena sebagai tanda bawasannya keberhasilan
umumnya merupakan tanah pegunungan kapur dan batu alam dengan ladang dan hutan yang si pemilik rumah mengadakan sebuah upacara / pesta.

III - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Struktur Kepemimpinan Tongkonan e. kawasan hutan lindung di Kecamatan Malimbong Balepe dengan luas kurang lebih
4.969,98 ha;
Struktur Tongkonan dapat dilihat di bawah ini menggambarkan Tongkonan KESU' sebagai
f. kawasan hutan lindung di Kecamatan Mappak dengan luas kurang lebih 6.759,95 ha;
Panta'nakan Lolo atau sebagai pemimpin Kaparengngesan / Kapeindoran, yaitu Tongkonan
g. kawasan hutan lindung di Kecamatan Masanda dengan luas kurang lebih 13.478,78 ha;
Banua Sura', di To' Bubun, bertindak sebagai ketua Badan Musyawarah. Sedangkan Rinding Batu,
h. kawasan hutan lindung di Kecamatan Mengkendek dengan luas kurang lebih 5.866,65
Tongkonan Kua, di Pao, menangani masalah Pertahanan. Pesungan Banne, Tongkonan Komba
ha;
di Angin-angin, bertugas mengurus kesejahteraan dan [Link] Uai, Tongkonan
i. kawasan hutan lindung di Kecamatan Rano dengan luas kurang lebih 3.984,48 ha;
Baliu', Tadongkon, bertugas sebagai [Link] Katua', Tongkonan Banua Lando, di
j. kawasan hutan lindung di Kecamatan Rembon dengan luas kurang lebih 1.140,89 ha;
La'bo', mengurus masalah [Link] itu yang bertugas melaksanakan keputusan
k. kawasan hutan lindung di Kecamatan Sanggalla Selatan dengan luas kurang lebih
adalah Pa'palumbangan, Tongkonan Tallunglanta' di Randanbatu sebagai Pelindung, bertindak
1.183,68 ha; dan
Petionganan Tongkonan Nonongan di [Link] yang bertindak sebagai Penasehat, pa
l. kawasan hutan lindung di Kecamatan Simbuang dengan luas kurang lebih 16.970,69
paelean, adalah Tongkonan Bamba di [Link]-siapa yang menghuni Tongkonan tersebut
ha;
di atas, dia pulalah yang menjadi pemangku dan penanggung jawab adat.
2. Kawasan perlindungan setempat
Tongkonan di Sangalla', Ma'kale, Mengkendek secara umum menuruti peraturan adat dari Kawasan perlindungan setempat terdiri dari kawasan sempadan sungai, kawasan kearifan
Tongkonan Kesu', Panta'nakan [Link] kelancaran pemerintahan di daerahnya masing-masing lokal, dan RTH, yang meliputi:
diciptakanlah di Sangalla' 4 daerah kuasa adat. a. Kawasan sempadan sungai, berupa sempadan sungai spanjang bantaran Sungai Saddang,
Makale dan Mengkendek mengenal fungsi Tongkonan yaitu Tongkonan Banua Puang yang terdiri Sungai Masuppu, Sungai Noling dan Sungai Mamasa, terdiri atas :
atas (1) Tongkonan Puang, sebagai pelaksana dan penanggungjawab Adat, dan (2) Tongkonan ▪ daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul diluar kawasan permukiman
Tomakaka, sebagai pelaksana [Link] perkembangan Tongkonan begitu pula sejarah dengan lebar 100 (seratus) meter dari tepian sungai
perkembangan manusia Toraja. ▪ daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul diluar kawasan permukiman
dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepian sungai; dan
Rambu Tuka' dan Rambu Solo' mengakumulasi sejumlah nilai, pandangan, pikiran, aktifitas,
▪ untuk sungai dikawasan permukinan berupa sempadan sungai yang diperkirakan
perilaku, atraksi yang telah terseleksi dari pengalaman masa lampau dan dijadikan pegangan dan
cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 meter.
pedoman bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat seperti;
b. Kawasan kearifan lokal, ditetapkan pada semua kawasan sistem kehidupan tongkonan
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan Puang Matua.
yang mempunyai nilai sejarah yang diakui keberadaannya oleh masyarakat adat pada
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan sesama manusia.
setiap wilayah persekutuan adat.
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan alam semesta.
c. Kawasan ruang terbuka hijau, berupa Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP)
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan binatang.
yang ditetapkan menyebar dan seimbang dengan memperhatikan fungsi ekologis, sosial
budaya, estetika, dan ekonomi dengan ketentuan TRH publik paling sedikit 20% dan RTH
3.3 KEKAYAAN EKOLOGI SEBAGAI POTENSI PARIWISATA privat paling sedikit 10% dari luas kawasan perkotaan yaitu PKL, PKLp dan PPK.
3.3.1 Kawasan Lindung 3. Kawasan rawan bencana
Kawasan lindung sebagaimana dalam PERDA RTRW Kabupaten Tana Toraja terdiri dari: a. kawasan rawan tanah longsor ditetapkan di Kecamatan Bittuang, dan Kecamatan Makale
1. Hutan lindung Selatan. dan
Kawasan hutan lindung di Kabupaten Tana Toraja yaitu seluas 92.824, yang terdiri atas :
b. kawasan rawan banjir, ditetapkan di Kecamatan Makale.
a. kawasan hutan lindung di Kecamatan Bittuang dengan luas kurang lebih 20.055,86 ha; 4. Kawasan lindung geologi
b. kawasan hutan lindung di Kecamatan Bonggakaradeng dengan luas kurang lebih a. Kawasan cagar alam geologi, berupa kawasan keunikan bentang alam ditetapkan di:
18.390,39 ha; ▪ kuburan Adat Lemo di kecamatan Makale Utara;
c. kawasan hutan lindung di Kecamatan Gandang Batu Silanan dengan luas kurang lebih ▪ kuburan batu Sillanan dan situs purbakala Silanan di Kecamatan Gandang Batu
5,890 ha; Sillanan;
d. kawasan hutan lindung di Kecamatan Makale Selatan dengan luas kurang lebih 18,480 ▪ kuburan Batu Pattan di Kecamatan Saluputti;
ha; ▪ kuburan dan Gua Tua Saluallo di Kecamatan Sangalla’ Utara;

III - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ kuburan batu Mumy Bayi di Kecamatan Gandangbatu Sillanan; 2. Tanaman Perkebunan


▪ kuburan alam Sirope di Kecamatan Makale Utara; dan Luas areal tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018 secara
▪ situs purbakala Potok Tengan dan situs purbaka Sassa’di kecamatan Mengkendek. keseluruhan sebesar 62.509 ha, dari luas ini sebesar 56.633,48 hektar merupakan luas
b. Kawasan rawan bencana alam geologi, berupa kawasan rawan gempa bumi ditetapkan di tanaman perkebunan rakyat yang menghasilkan. Produksi tanaman perkebunan di
Kecamatan Bittuang, Kecamatan Makale Selatan dan Kecamatan Masanda. Kabupaten Tana Toraja selama 2010 yang terbesar produksinya adalah tanaman kakao dan
kelapa dalam masing-masing sebesar 27.938,30 ton dan 18.808,27 ton.
Kabupaten Tana Toraja terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik. Produksi
kopi mencapai 2.410,8 ton yang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Selain kopi,
Kabupaten Tana Toraja juga merupakan daerah penghasil kakao dengan produksi kakao
sebesar 2.410,8 ton. Selain kopi dan kakao, kelapa juga merupakan hasil perkebunan di
Kabupaten Tana Toraja. Pada tahun 2018 produksi Kelapa sebesar 19,1 ton dengan luas
tanaman sebesar 245 Ha.
3. Kehutanan
Luas kawasan hutan di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2019 seluas 51,801 ha yang
terdiri dari 27.464 ha hutan negara. Hutan negara di Kabupaten Tana Toraja didominasi oleh
pohon pinus yang beradap di perbukitan/pegununga. Sementara itu lahan yang di tanami
pohon penduduk/hutan rakyat adalah 24.337 ha. Produksi hasil hutan terdiri dari kayu dan
non kayu (seperti bambu).
4. Peternakan
Kerbau dan babi adalah hewan ternak yang dapat dijumpai dengan mudah di Tana Toraja
karena populasinya cukup banyak. Hampir setiap rumah tangga di Tana Toraja beternak
kerbau ataupun babi. Kedua hewan ternak ini selalu digunakan masyarakat dalam setiap
Acara Pesta, Upacara Adat serta keagamaan seperti Rambu Solo atau upacara kematian.
Gambar 3.4. Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Tana Toraja 26.275 ekor adalah jumlah Populasi kerbau tahun 2018, jumlahnya mengalami peningkatan
(sumber: RTRW Kabupaten Tana Toraja)
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 0,69%. Sedangkan jumlah populasi babi tahun
2018 naik 2,40% dari tahun lalu menjadi 306.156 ekor. Jumlah ini meningkat karena adanya
3.3.2 Potensi Sumber Daya Alam babi dari daerah lain yang didatangkan untuk memenuhi kebutuhan pesta adat. Ayam
1. Pertanian Tanaman Pangan kampung mendominasi jumlah populasi ungags di Tana Toraja sebanyak 995.603 ekor.
Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu penghasil tanaman pangan di Provinsi 5. Perikanan
Sulawesi Selatan. Tanaman pangan mempunyai konstribusi sebesar 8,29% dalam Kegiatan perikanan di Kabupaten Tana Toraja cukup kecil. Selain merupakan daerah
pembentukan PDRB Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2019. Komoditas terbesar tanaman pegunungan, jumlah Rumah tangga Usaha Perikanan (RUTP) juga kecil. Pada tahun 2018
pangan adalah padi, dengan produktivitas 4,53 ton/Ha dengan luas panen sebesar 21.401 jumlah RUTP tercatat sebanyak 1.763 ruta. Usaha perikanan di Tana Toraja didominasi oleh
Ha yang menghasilkan 96.935 ton. Angka produksi ini mengalami penurunan 27,54% dari perikanan budidaya yang di kolam dan sawah (mina padi) yang produksinya hanya sekitar
tahun 2019. Faktor cuaca memiliki andil yang besar dalam penurunan produksi padi karena 469,77 ton. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas hasil perikanan maka pasokan ikan
jenis sawah yang diminan adalah sawah tadah hujan yang mengandalkan hujan untuk lainnya didatangkan dari daerah terdekat seperti Kota palopo.
pengairan. Selain padi, jagung juga merupakan komoditas dengan produksi cukup tinggi
tercatat sebesar 2.535 ton di tahun 2019. Kecamatan Rano dan Bonggakaraeng merupakan
daerah penghasil jagung terbanyak di Kabupaten Tana Toraja.

III - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3.4 KONDISI SOSIAL BUDAYA SEBAGAI POTENSI PARIWISATA kesehatan di Kabupaten Tana Toraja adalah 733 unit yang terdiri atas Rumah Sakit 4 unit
diantaranya RSU 3 unit dan RS. Bersalin 1 unit, kemudian Puskesmas sebanyak 21 unit, Posyandu
3.4.1 Pendidikan
328 unit. Dapat dikatakan bahwa penyebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Toraja untuk
Pembangunan bidang pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
saat sekarang ini sudah tersebar secara merata disetiap wilayah kecamatan.
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu negara akan menentukan karakter dari
pembangunan ekonomi dan sosial, karena manusia adalah pelaku aktif dari seluruh kegiatan
tersebut. Dari tahun ke tahun partisipasi seluruh masyarakat dalam dunia pendidikan di 3.4.3 Sarana Peribadatan
Kabupaten Tana Toraja semakin meningkat, hal ini berkaitan dengan berbagai program Sarana peribadatan merupakan wadah untuk melakukan aktifitas yang wajib dilaksanakan oleh
pendidikan yang dicanangkan pemerintah dalam meningkatkan kesempatan masyarakat untuk setiap umat beragama. Keberadaan fasilitas peribadatan merupakan salah satu pendorong dan
mengenyam bangku pendidikan. Peningkatan partisipasi pendidikan untuk mencapai bangku bentuk kepatuhan terhadap Sang Pencipta serta sebagai keberagaman suku dan agama.
pendidikan tertentu harus diikuti dengan berbagai peningkatan penyediaan sarana fisik Berdasarkan data tahun 2018, sarana peribadatan yang ada di Kabupaten Tana Toraja sebanyak
pendidikan dan tenaga pendidik yang baik. 1.017 unit, yang terdiri atas, sarana Mesjid 45 unit, Mushallah 4 unit, Gereja Khatolik 161 unit,
Gereja protestan 704 unit. Keberadaan fasilitas tersebut didominasi oleh Gereja protestan, hal
Sarana pendidikan juga memiliki peranan penting dalam mengembangkan potensi sumber daya
tersebut disebabkan penganut Agama Kristen Protestan sangat dominan di Kabupaten Tana
manusia untuk bereksplorasi dalam berbagai disiplin ilmu. Sarana pendidikan yang terdapat di
Toraja. Selain itu, dari hasil survey lapangan keberadaan akan fasilitas peribadatan tersebut
Kabupaten Tana Toraja secara universal terdiri dari Taman kanak-kanak 119 unit, Sekola Dasar
sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
213 unit, SLTP 82 unit, SMU/SMK 47 unit.

Tabel: 3.3 Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 3.5 PEREKONOMIAN DAERAH
Jenjang Pendidikan Produk Domestik Regional (PDRB) merupakan salah satu pencerminan kemajuan ekonomi suatu
No. Kelompok Umur
TK SD SMP SMA PT daerah, yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dohasilkan
1. Bonggakaradeng - 10 5 2 -
dalam satu tahun di wilayah tersebut. Nilai PDRB Tana Toraja atas dasar dasar harga berlaku
2. Simbuang 1 10 4 2 -
3. Rano 2 8 2 - - pada tahun 2019 mencapai 7,48 triliun rupiah. Secara nominal, nilai PDRB ini mengalami kenaikan
4. Mappak 3 11 5 3 - sebesar 0,65 triliun rupiah dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencapai 6,82 triliun rupiah.
5. Mengkendek 24 25 10 6 1 Naiknya nilai PDRB ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di sebagian besar lapangan usaha
6. Gandang Batu Sillanan 13 15 8 8 - dan adanya inflas. Berdasarkan harga konstan 2010, angka PDRB juga mengalami kenaikan, dari
7. Sangalla 7 6 3 4 -
4,25 triliun rupiah pada tahun 2018 menjadi 4,56 triliun rupiah pada tahun 2019. Hal ini
8 Sangalla Selatan 7 9 3 - -
9 Sangalla utara 3 9 1 - - menunjukkan selama tahun 2019 Tana Toraja mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 7,22
10 Makale 17 16 5 11 2 persen, lebih rendah 0,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan PDRB ini murni
11 Makale Selatan 5 11 5 2 - disebabkan oleh meningkatnya produksi di sebagian besar lapangan usaha, tidak dipengaruhi
12 Makale Utara 7 9 3 5 -
inflasi.
13 Saluputti 3 9 2 2 -
14 Bituang 3 19 5 1 - Konstribusi terbesar dalam embentukan PDRB Tana Toraja pada tahun 2019 dihasilkan oleh
15 Rembon 6 17 7 - - lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yaitu mencapai 23,11 persen (mengalami
16 Masanda 1 10 2 - -
penurunan dari tahun 2015 yang sebesar 26,20 persen). Kontribusi lapangan usaha ini mengalami
17 Malimbong Balepe 2 9 5 - -
18 Rantetayo 11 11 4 - - fluktuasi namun cenderung menunjukan trend menurun terhadap PDRB Tana Toraja.
19 Kurra 3 9 3 - - Menurunnya kontribusi lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan disebabkan karena
Total 119 213 82 47 3 peningkatan nilai yang cukup signifikan pada kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019
Mobil dan Sepeda Motor sehingga kontribusi kategori ini terhadap perekonomian juga meningkat.
3.4.2 Sarana Kesehatan Selain itu, berkurangnya produksi tanaman pangan padi akibat cuaca ekstrim yang terjadi pada
Sarana kesehatan merupakan wadah untuk meningkatan derajat kesehatan masyarakat, dengan tahun 2019 dan lambatnya kenaikan harga komoditi pada lapangan usaha tersebut dibandingkan
tujuan menciptakan kesehatan masyarakat yang baik Tersedianya sarana kesehatan merupakan produk lain juga menjadi penyebab turunnya kontribusi lapangan usaha ini.
wujud daripada pemenuhan akan kebutuhan kesehatan masyarakat yang terjangkau sebagai
penunjang berkembangnya kegiatan wisata. Berdasarkan data yang ada, banyaknya fasilitas

III - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019 meningkat dibanding Tabel: 3.4
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Tana
tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya nilai produksi di hamper Toraja, 2015-2019
No. Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019
semua lapangan usaha tanpa dipengaruhi perubahan harga. Nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 10 Informasi dan Komunikasi/Information
192,92 210,83 237,51 269,56 301,93
2019 atas dasar harga konstan 2010, mencapai 4,56 triliun rupiah. Angka tersebut naik dari 4,25 and Communication
triliun rupiah pada tahun 2018. Hal tersebut menunjukkan bahwa selama tahun 2019 terjadi 11 Jasa Keuangan dan Asuransi/Financial
144,29 171,95 186,21 207,42 222,64
and Insurance Activities
pertumbuhan ekonomi yang positif sebesar 7,22 persen, namun melambat 0,67 persen jika 12 Real Estat/Real Estate Activities 246,64 295,41 315,36 340,21 373,67
dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yang mencapai 7,89 persen. 13 Jasa Perusahaan/Business Activities 4,20 4,60 5,08 5,77 6,21
14 Administrasi Pemerintah, Pertahanan,
Sedangkan angka PDRB perkapita diperoleh/diturunkan dari angka PDRB. PDRB per kapita atas dan Jaminan Sosial Wajib/Public
478,53 466,55 503,41 602,35 670,50
dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala PDRB Per kapita kurang tepat bila Administration and Defence,
CompulsorySocial Security
digunakan sebagai ukuran tingkat kesejahteraan penduduk disuatu wilayah. Dengan kata lain, 15 Jasa Pendidikan/Education 264,47 289,11 326,63 368,45 417,18
PDRB per kapita ini belum mampu menggambarkan tingkat kemerataan distribusi pendapatan 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial/Human Health and Social Work 135,13 153,59 171,57 197,06 220,82
yang diterima penduduk di suatu wilayah. PDRB Per kapita lebih tepat digunakan sebagai ukuran
Activities
keterbandingan yang menggambarkan potensi ekonomi antar wilayah. Nilai PDRB per kapita Tana 17 Jasa Lainnya/Other Services 95,59 107,51 121,93 139,99 158,89
Toraja atas dasar harga berlaku sejak tahun 2015 hingga 2019 selalu mengalami kenaikan. Pada Total 4907,68 5460,91 6054,91 6824,87 7479,77
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020
tahun 2015 PDRB per kapita tercatat sebesar 21,43 juta rupiah. Secara nominal terus mengalami
kenaikan hingga tahun 2019 mencapai 31,96 juta rupiah (lihat tabel 3.3). Kenaikan angka PDRB
per kapita yang cukup tinggi ini masih dipengaruhi oleh faktor inflasi.
Sedangkan terkait dengan indeks pembangunan manusia Kabupaten Tana Toraja tahun 2018
berada pada level 67,66 (status “Sedang”) dan mengalami pertumbuhan sebesar 1,25 persen
dibandingkan tahun 2017. IPM Tana Toraja tahun 2018 berada pada peringkat 18 dibandingkan
dengan Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan (tidak berubah dibandingkan dua tahun
sebelumnya).
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Tana
Tabel: 3.4
Toraja, 2015-2019
No. Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019
1. Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan/Agriculture, Forestry, and 1285,70 1435,01 1561,59 1712,90 1728,64
Fishing
2. Pertambangan dan Penggalian/Mining
71,97 81,21 88,22 94,57 102,91
and Quarrying
3. Industri Pengolahan/Manufacturing 356,45 415,97 479,12 513,22 603,24
4. Pengadaan Listrik dan Gas/Electricity and
4,52 5,76 6,83 8,07 8,62
Gas
5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah, dan Daur Ulang/Water Supply,
4,80 5,05 5,68 6,26 6,83
Sewerage, Waste Management, and
Remediation Activities
6. Konstruksi/Construction 600,11 688,75 776,98 889,40 1004,92
7. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor/Whalesale and
801,23 906,14 1021,60 1191,73 1341,10
Retail Trade, Repair of Motor Vehides
and Motorcycles
8 Transportasi dan
125,55 136,81 149,80 167,84 188,92
Perdugangan/Transportaion and Stroge
9 Penyediaan Akomodasi dan Makan
Minum/Accommodation and Food Service 77,56 86,12 97,39 110,09 122,76
Activities

III - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4
KABUPATEN TANA TORAJA
SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA

4.1 POTENSI DAYA TARIK WISATA


Dari sejumlah definisi mengenai daya Tarik wisata dapat difahami bahwa daya tarik wisata pada
dasarnya berupa segala sesuatu yang dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Secara
legal formal, batasan pengertian tentang daya tarik wisata tertuang dalam Undang-Undang
Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, yakni segala sesuatu yang
memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya,
dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Berdasarkan
pengertian tersebut, maka potensi daya tarik wisata dapat diartikan sebagai segala sumberdaya
alam, budaya, dan buatan manusia yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik
wisata.
Penjabaran tentang jenis-jenis daya tarik wisata tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Nasional Tahun 2010 – 2025, yang terdiri dari Daya Tarik Wisata Alam, Daya Tarik Wisata
Budaya, dan Daya Tarik Wisata Buatan. sebagai berikut.

4.1.1 Daya Tarik Wisata Alam


Secara garis besar jenis-jenis daya tarik wisata alam dapat dibedakan atas (1). daya tarik wisata
alam yang berbasis potensi keanekaragaman dan keunikan lingkungan alam diwilayah perairan
laut; dan (2). daya tarik wisata alam yang berbasis potensi keanekaragaman dan keunikan
lingkungan alam diwilayah daratan. Masing-masing daya tarik wisata alam tersebut dapat
dijabarkan secara lebih rinci lagi sebagai berikut.
1. Daya tarik wisata alam yang berbasis potensi keanekaragaman dan keunikan lingkungan
alam diwilayah perairan laut, yang berupa antara lain (a). bentang pesisir pantai; (b).
bentang laut, baik perairan disekitar pesisir pantai maupun lepas pantai yang menjangkau
jarak tertentu yang memiliki potensi bahari; dan (c). kolam air dan dasar laut.
2. Daya tarik wisata alam yang berbasis potensi keanekaragaman dan keunikan lingkungan
alam diwilayah daratan, yang berupa antara lain (a). Pegunungan dan hutan alam/taman

IV - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

nasional/taman wisata alam/taman hutan raya; (b). perairan sungai dan danau; (c). Tabel: 4.1 Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
perkebunan; (d). pertanian; dan (e). bentang alam khusus, seperti gua, karst, padang pasir, Nama Kawasan Lokasi
dan sejenisnya. No. Daya Tarik Wisata
Wisata Kel/Lembang Kecamatan
1 Agrowisata Pango- Tosapan Makale Kawasan Agrowisata dikelilingi pohon
Di Kabupaten Tana Toraja sesuai dengan karakteristik wilayahnya yaitu berada pada daerah
Pango Selatan pinus dan kebun kopi, tamarillo,
pegunungan, maka daya tarik wisata alam yang dimilikinya merupakan DTW yang berbasis pada strawbery dll, pemandangan alam
keanekaraaman dan keunikan lingkungan alam diwilayah daratan yang berupa DTW alam yang indah dan udara yang dingin
pegunungan, sungai, perkebunan, pertanian, dan bentang alam. 2 Permandian Alam Sarira Makale Utara Kolam Alam untuk rekreasi tirta, Belut
Tilangnga Yang Hidup Didalam Kolam
Tana Toraja yang dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang menonjolkan keunikan budaya 3 Rurak Ke'pe' Tinoring Mengkendek Goa Alam yang dijadikan kuburan pada
dan adat istiadat sebagai daya tarik wisata ternyata memiliki berbagai kawasan-kawasan wisata zaman yang lalu dan kuburan tersebut
sudah berumur ratusan tahun
yang berbasis pada alam. Keanekaragaman daya tarik wisata alam Tana Toraja tersebut
4 Sarambu Assing Patongloan Bittuang Air Terjun
dijumpai dalam berbagai jenis baik itu bentang alam, perkebunan/agrowisata, perairan, maupun 5 Sarambu Ratte Balla Bittuang Air Terjun
gua-gua yang juga merupakan bagian dari kebudayaan dan adat istiadat masyarakat setempat 6 Talondo Tallu Balepe' Malimbong Air Terjun
dalam menjalankan ritual-ritualnya. Balepe
7 Perkebunan Kopi Tiroan Bittuang Perkebunan Kopi dan Pemandangan
Menurut data yang dihimpun, baik melalui data sekunder maupun tinjauan lapangan terhadap Tiroan Alam dengan Udara yang Dingin
keberadaan dan potensi-potensi yang dimiliki setiap daya tarik wisata alam maupun 8 Lo'ko Tongko Tongko Sangalla Goa Alam
Sarapung
ketersediaan prasarana dan sarana yang telah tersedia serta bentuk-bentuk pengelolaan
9 Arum Jeram Maroson Kurra Arum Jeram (sungai mai'ting),
kawasan wisata tersebut. DTW alam di Tana Toraja dewasan ini menjadi salah satu fokus Padakka Panorama Alam
pengembangan pariwisata pemerintah setempat yang diupayakan menjadi variasi DTW yang 10 Danau Assaa Lembang Sangalla Danau alami, panorama, dan batu
dikenal lebih menonjolkan DTW budaya. Berdasarkan data yang dihimpun melalui observasi Turunan hamil.
lapangan maupun data-data sekunder dari berbagai sumber, paling sedikit terdapat 22 11 Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek Panorama Alam Gunung Karst
12 Panjat Tebing Kandora Mengkendek Tebing Karst Vertikal
(duapuluh satu) DTW alam yang telah berkembang maupun masih bersifat potensi (belum 13 Panorama Bukit Pemandangan Kota Makale
dikembangkan). Bombongan Makale
Sion
14 Air terjun ratte Se’seng Bittuang -Air terjun
Dari sejumlah DTW alam tersebut, terdapat beberapa daya tarik wisata yang cukup diminati
sarambu Bolong -Pemandian alam
oleh wisatawan dan menjadi fokus pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah dan 15 Alloan Marinding Mengkendek Panorama Alam
masyarakat, diantaranya Agrowisata Pango Pango, Gunung Kandora, Permandian Alam 16 Air Panas Balla Balla Bittuang Mata air panas
Tilangnga, Rurak, Sarambu Assing, Sarambu Ratte, Perkebunan Kopi Tiroan, Talondo Tallu, 17 Air Terjun Uluwai Mengkendek Air Terjun
(Sarambu) Tipali
Lo'ko Tongko, dan Arum Jeram, serta bebrapa lainnya. Daya tarik yang disuguhkan
18 Air Terjun Simbuang Mengkendek Air Terjun
beranekaragam sesuai spesifik daya tariknya masing-masing. DTW tersebut umumnya dikelola (Sarambu)
oleh pemerintah kabupaten dan sebagian oleh masyarakat yang masih bersifat potensi yang Marintang
belum secara optimal dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. 19 Bumi Perkemahan Simbuang Mengkendek Kolam Pemancingan, Perkemahan
Marintang
Untuk mewadahi kegiatan wisata didalam setiap kawasan dan daya tarik wisata, pemerintah 20 Ollon Poton Bonggakarad Pannorama Alam/Savana
maupun pengelola DTW lain telah melakukan pengembangan dan pembangunan sejumlah eng
sarana dan prasarana wisata baik sarana utama maupun penunjang dan pendukung kegiatan 21 Permandian Air Tokesan Sangalla’ Permandian Air Panas Alam
Panas Makula Selatan
wisata seperti pembangunan akses jaringan jalan dalam kawasan, pembangunan gazebo- 22 Panorama Alam Bau Bonggakarad Panorama alam pegunungan
gazebo, tempat-tempat selfie, villa, toilet, serta pengembanan daya tarik lain seperti penataan Kuesta Kendenan eng
kawasan, penyediaan rambu-rambu wisata, pembangunan gedung-gedung serbaguna, 23 Air Terjun Salu Tanete Mappak Air terjun
pengembangan komoditas-komoditas perkebunan dalam kawasan agrowisata dari berbagai Sumassan
24 Batu Tallu Simbuang Simbuang
jenis tanaman, dan lain sebagainya. Berikut rincian tabulasi DTW Alam yang tersedia di
25 Kolam Alam Kondodewata Mappak Kolam alam, dan panorama.
Kabupaten Tana Toraja. Kondodewata
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020

IV - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

IV - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dari berbagai DTW alam yang tersedia, potensi daya tarik wisata alam yang di Kabupaten Tana
Toraja cukup menarik dan telah terkenal diberbagai wilayah nusantara maupun mancanegara. Jarak kawasan perencanaan ini adalah sekitar 7 kilometer dari Kota Kabupaten atau rata-rata
Hal ini dilihat dari adanya kunjungan wisatawan dari berbagai penjuru yang telah menikmati waktu tempuh sekitar 15 menit, yang dapat diakses dengan kendaraan roda 4 dan roda 2
keindahan alam Tana Toraja. Beberapa diantaranya telah ditata dengan baik oleh pemerintah melalui prasarana jalan beton dan aspal dengan kondisi baik.
serta telah dilakukannya perencanaan secara rinci dalam bentuk masterplan-masterplan Fasilitas rekreasi yang dapat dinikmati pengunjung diantaranya panorama pegunungan
pengembangan kawasan wisata. Berikut uraian beberapa potensi daya tarik wisata alam yang dengan berbagai karakteristik dan pada waktu tertentu seperti pagi hari kawasan ini di tutupi
tersedia di Kabupaten Tana Toraja. oleh keindahan awan, selain itu daya tarik wisata dalam kawasan yaitu dengan adanya
1. Agrowisata Pango Pango wahana permainan seperti flying fox, outbound, rumah hobbit yang secara visual merupkan
Kawasan Agrowisata Pango Pango merupakan salah bentuk dari kesukaan anak-anak, namun tempat ini juga berfungsi sebagai tempat menginap
satu destinasi wisata yang memadukan dua unsur atau tidur, dan konsep agrowisata dengan ragam perkebunan seperti kopi, strawberry dan
pariwisata yaitu daya tarik wisata alam daya tarik lainnya yang juga diusahakan oleh masyarakat seperti jagung.
wisata agro yang menyediakan beranekaragam sajian
wisata yang dapat dinikmati oleh para wisatawan.
Kawasan Agrowisata Pango-Pango terletak di
Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja, menurut
arahan pengembangan kawasan memiliki luas sekitar
±190,91 hektar yang mencangkup diantaranya
sebagian Kelurahan Pasang seluas ±116,24 hektar, sebagian Kelurahan Tosapan seluas
±70,63 hektar, dan sebagian Lembang Randan Batu seluas ±4,04 hektar (sumber:
Masterplan Agrowisata Pango Pango, 2018).

Pemerintah telah membuat fasilitas untuk menunjang kenyamanan dari para wisatawan
tersebut, diantaranya yaitu membangun Gazebo untuk ditempati duduk bersama dan
menikmati kesejukan alam sekitar (Total ada 27 Gazebo), selain itu, ada juga faslitas MCK
(Wc), tempat parkir dan beragam fasilitas lainnya, bahkan dalam kawasan ini disediakan pula
tempat-tempat pembuangan sampah agar terjaga kebersihan kawasan walaupun dalam
kawasan hutan.
Untuk keamanan kawasan, terdapat satu unit pos keamanan yang terletak di Gerbang masuk
Kawasan sekaligus berfungsi sebagai pos retribusi masuk kawasan. Beberapa fasilitas lain
yang merupakan fasilitas umum dan fasilitas kegiatan wisatawan yaitu Rumah Kaca,
panggung Pentas Seni, Rumah Kelinci, Villa, dan tempat Selfie.

Gambar 4.2. Peta Kawasan Agrowisata Pango Pango


(sumber: Masterplan Pengembangan Kawasan, 2018)

IV - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Sarambu Assing Keindahan dan keunikan wisata alam Tilangnga cukup


Daya tarik wisata alam Sarambu Assing memberikan suasana yang berbeda dengan objek
merupakan salah satu DTW yang cukup lainnya. Suasana di sekitar kolam Tilangnga cukup teduh
menarik di Tana Toraja, dengan potensi daya dan berudara sejuk. Di sekeliling kolam tumbuh
tariknya yaitu Air Terjun, serta panorama alam pepohonan jati putih dan bambu. Air kolam juga sangat
disekitarnya. DTW tersebut terletak di dingin dan jernih. wisatawan diperbolehkan untuk
Kecamatan Bittuang yaitu di Lembang berenang di kolam, namun tidak diperbolehkan
Patongloan, dengan jarak tempuh menuju menggunakan bahan-bahan kimia seperti sabun dan
Sarambu Assing dari Kota Makale sekitar 40 shampo untuk menjaga kelangsungan hidup Moa.
kilometer atau sekitar 1 jam perjalanan 4. Talondo Tallu
menggunakan kendaraan roda empat maupun DTW Tolondo Tallu sama halnya dengan DTW Sarambu
roda dua melalui jalan utama propinsi yang menjadi Assing yang memiliki daya tarik wisata berupa air terjun.
penghubung antara Kabupaten Mamasa dan Kabupaten Tana Talondo Tallu terletak di Kecamatan Malimbang Balepe dengan keindahan alam yang menarik
Toraja. Untuk akses masuk menuju DTW ini dilalui dengan wisatawan serta di kelilingi oleh vegetasi tumbuhan yang hijau. Obyek wisata ini juga di
berjalan kaki, namun saat ini pemerintah setempat sedang kelilingi oleh flora dan fauna yang sangat menajubkan bagi wisatawan.
melakukan pembanguan akses jalan agar wisatawan dapat
Air Terjun Talondo Tallu memiliki tiga cabang yang membuatnya tampak lebih unik
dengan mudah dan lebih dekat berjalan kaki menuju DTW. Air
dibandingkan air terjun lain pada umumnya. Percabangan tersebut terjadi karena aliran air
Terjun Sarambu Assin masih sangat alami dan hawa sejuk
dari Sungai Pekalian dan Rabung, yang kemudian bertemu dan menjadi Sungai Talondo.
disekitarnya yang ditumbuhi oleh pepohonan pinus dan jauh
Pemandangan yang tersaji juga begitu unik, meski untuk mencapai lokasi ini pengunjung
dari permukiman penduduk sehingga kealamiannya masih
harus berjalan kaki selama kurang lebih delapan kilometer. Tepat di pertemuan tiga aliran
sangat terjaga. Untuk menikmati daya tarik wisata ini,
terdapat sebuah kolam dengan air yang begitu jernih. Biasanya pengunjung yang datang
pemerintah telah mewadahi beberapa sarana dan prasarana
akan menghabiskan waktu untuk berenang dan menyegarkan diri dari panasnya cuaca
wisata selain akses masuk kawasan, juga telah tersedia
sekitar. Tak hanya itu, udara di kawasan ini juga sangat segar.
fasilitas berupa WC/KM yang dapat digunakan wisatawan.
Selain indah, Air Terjun Talondo Tallu menyimpan sejumlah kisah menarik bernuansa mistis.
3. Permandian Alam Tilangnga
Menurut penuturan penduduk sekitar, didalam kolam
Wisata alam Tilangnga yang terletak dikelurahan Sarira kecamatan Makale Utara memiliki
air terjun terdapat sejenis belut berukuran besar yang
jarak tempuh dari Kota Makale sekitar 30 menit atau sekitar 13 kilometer. Daya tarik utama
disebut dengan istilah Masapi. Hewan tersebut tidak
Tilangnga adalah keberadaan beberapa ekor Moa atau belut berkuping yang hidup didalam
boleh ditangkap apalagi dimakan sehingga perlu
kolam alami. Kolam ini sering digunakan pengunjung untuk berenang bahkan ada yang
dilindungi sebagai salah satu daya tarik bagi
datang hanya untuk melihat belut raksasa yang ada dikolam tersebut.
wisatawan yang datang ke tempat ini. Akses jalan
Moa atau Belut Raksasa kerap keluar dari celah-celah bebatuan gamping yang mengelilingi menuju DTW ini masuh cukup sulit karena masih
kolam tersebut. Hanya saja, Moa yang dalam bahasa Toraja disebut "Masapi" tidak mudah berupa tanah, disamping itu, sarana penunjang
keluar setiap saat. Menurut warga sekitar lokasi Tilangnga bahwa untuk memunculkan belut wisata di DTW juga belum dikembangkan dengan baik
dari celah bebatuan dilakukan melalui ritual tertentu. untuk kebutuhan wisatawan sehingga dapat
memberikan kenyamanan berwisata serta dapat membawa keuntungan bagi masyarakat
sekitarnya.
5. Gunung Kandora
Gunung Kandora terletak sekitar 1.130 mdpl tepatnya di Kecamatan Mengkendek. Nama asli
dari Gunung Kandora adalah Buntu Kandora, dalam bahasa Toraja Buntu berarti gunung dan
Kandora berarti Karst/batuan kapur. Sesuai dengan namanya, DTW Gunung Kandora sebagai

IV - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

salah satu destinasi wisata alam unggulan di Tana Toraja memiliki berbagai daya tarik yang Di Danau Assaa yang terbentuk secara alami ini,
dapat dinikmati oleh wisatawan, bahkan DTW ini telah banyak dikunjungi wisatawan. terdapat panorama alam yang cukup indah, dan juga
keunikan lain terdapat Batu Hamil yang memiliki cerita
Daya tarik wisata yang ada di Gunung Kandora ini diantaranya panorama alam dengan
tersendiri yang terkait dengan masyarakat setempat.
keberadaan pegunungan karst dan keindahan alam disekitarnya. Keberadaan Karst dapat
Berdasarkan hasil kunjungan tim, DTW ini walaupun
juga dimanfaatkan wisatawan terutama bagi pecinta adrenalin untuk melakukan pendakian
sudah dikenal sebagaian wisatawan, namun belum
untuk mencapai puncak Gunung Kandora. Jalur pendakian ke Gunung Kandora dapat
adanya penataan kawasan yang terlihat dengan baik.
ditempuh dari berbagai wilayah, di antaranya jalur dari Kecamatan Sangalla, jalur Desa
Palipu’, dan jalur via Villa Kandora. Selain itu, terdapat juga jalur via tangga besi namun jalur Pada bagian kawasan terdapat bangunan gazebo yang
ini membutuhkan skill tinggi dan peratan memanjat yang safety serta pengalaman tentunya. dibangun pemerintah, namun kondisinya sudah rusak
berat. Masyarakat setempat memanfaatkan lahan sekitar kawasan dengan berbagai usaha
Pemandangan dari puncak Gunung Kandora sangat indah, disebelah barat wisatawan dapat
pertanian dan perkebunan seperti tanaman sayuran, perkebunan durian, cengkeh, dan
menyaksikan Kota Makale, hamparan wilayah Toraja Barat dan deretan Pegunungan Buntu
rambutan yang sebenarnya merupakan salah satu potensi daya tarik wisata dikawasan
Karua yang memeiliki ketinggian 2.750 mdpl dan masih termasuk dalam deretan Pegunungan
tersebut. Dokumentasi dibawah ini merupakan kondisi DTW pada saat musim kemarau,
Quarles. Diarah selatan terlihar gunung-gunung batu di kecamatan Mengkendek. Dibawah
sehingga danau tersebut tidak terdapat air didalamnya.
kaki gunung terdapat villa yang tersedia bagi wisatawan yang ingin menginap dibawah Kaki
Gunung Kandora ini.
6. Danau Assaa
Salah satu kolam alami yang juga berada di Tana
Toraja adalah kolam alam Assa yang terletak di Desa
Kalembang, Kecamatan Sanggalla. Kolam alam Assa
ini sebenarnya lebih luas dari kolam alam Tilanga’
sehingga tidak jarang disebut sebagai danau kecil.
Danau kecil ini terbentuk secara alami dan
memberikan pemandangan yang sangat indah serta
masih alami dan segar. Hal ini dikarenakan danau ini
berada di tebing gunung.
4.1.2 Daya Tarik Wisata Budaya
Kolam alam ini juga banyak menyimpan cerita seperti Daya Tarik Wisata budaya adalah daya tarik wisata berupa hasil olah cipta, rasa dan karsa
di Tilanga’ yang mempunyai belut raksasa atau yang manusia sebagai makhluk budaya. Daya tarik wisata budaya dapat dibedakan atas daya tarik
disebut dengan Moa. Namun, tidak jarang kolam yang bersifat berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible). Daya tarik wisata budaya yang
alam ini sering menyisakan korban jika pengunjung bersifat berwujud antara lain berupa:
yang datang untuk berenang tidak mematuhi norma 1. Cagar budaya, yang meliputi:
yang berlaku. Keunikan disisi lain lagi bahwa pada ▪ Benda cagar budaya, yaitu benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak
musim kemarau danau ini akan benar-benar kering maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau
dan hanya menyisakan hamparan rumput hijau. Pada bagian lain kawasan, terdapat daya sisasisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah
tarik yang unik yaitu Batu Hamil yang juga sakral. Hingga saat ini masih banyak wisatawan perkembangan manusia, seperti angklung, keris, gamelan, dan sebagainya;
yang belum mengenal objek danau Assaa ini bahkan pengelolaan dari pemerintah juga masih ▪ Bangunan cagar budaya, yaitu susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda
kurang. buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak
berdinding, dan beratap;
▪ Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau
benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu
dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia;

IV - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung ▪ Museum
benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya sebagai ▪ Monumen Penginjilan
hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu; dan ▪ Panorama Alam
▪ Kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki 2 (dua) situs cagar ▪ Rumah Adat
budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang ▪ Kuburan Batu Tondon Makale
yang khas. ▪ Kuliner
2. Perkampungan tradisional dengan adat dan tradisi budaya masyarakat yang khas, seperti ▪ Kereta gantung
Kampung Naga, perkampungan Suku Badui, Desa Sade, Desa Penglipuran, dan sebagainya; ▪ Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
dan ▪ Kolam Alam Assa
3. Museum, seperti Museum Nasional, Museum Bahari, dan sebagainya. ▪ Pasar Hewan
2. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjang :
Sedangkan jenis-jenis daya tarik wisata budaya yang bersifat tidak berwujud antara lain berupa
▪ Permandian Air Panas Makula
berupa Kehidupan adat dan tradisi masyarakat dan aktivitas budaya masyarakat yang khas di
▪ Pekuburan batu Suaya
suatu area/tempat, seperti upacara rambu solo, dan sebagainya, serta Kesenian-kesenian
▪ Kuburan Bayi/Passilliran
tradisional.
▪ Kuburan Gua Alam Tampang Allo
Keunikan budaya yang ada di Tana Toraja sudah bukan menjadi hal yang asing lagi di kalangan ▪ Gua Alam Sullukan
masyarakat, bahkan sudah menjadi pembahasan di kalangan wisatawan mancanegara, hal ini ▪ Tongkonan Banua Kasalle Bau
ditunjukkan dengan beberapa situs purbakala yang ada di Tana Toraja sudah menjadi aset dari ▪ Museum Buntu Kalando
UNESCO. Keunikan tradisi budaya masyarakat Tana Toraja secara khusus jika tradisi tersebut ▪ Atraksi Seni Budaya
berkaitan dengan upacara rambu solo’ (pemakaman) yang biasanya diadakan selama beberapa ▪ Rante Tongko Sarapung
hari dan menghabiskan biaya yang tidaklah sedikit, sama halnya juga dengan upacara rambu 3. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek penunjang:
tuka’ (upacara syukuran). Tradisi tersebut masih menjadi salah satu adat isti adat yang tetap ▪ SAssaa
dijaga oleh orang Toraja hingga saat ini. Hal tersebut bisa dilihat dengan beberapa wisata yang ▪ Perkampungan Adat Sillanan
masih tetap terjaga dengan baik dan merupakan bentuk fisik dari tradisi yang ada. ▪ Kawasan Hutan Mapongka.
Daya tarik wisata budaya merupakan ciri khas kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja. Jumlah 4. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek penunjang:
kawasan wisata budaya yang tersebar diwilayah ini sangat banyak, berdasarkan hasil observasi ▪ Potok Tengan
dan data sekunder lainnya terdapat paling sedikit 35 (tigapuluh lima) kawasan wisata berbasis ▪ Panorama alam Buntu Kandora
daya tarik wisata budaya yang telah berkembang di Kabupaten Tana Toraja. Keseluruhan daya ▪ Banua Puan
tarik tersebut sebagian besar telah berkembang dan dikunjungi oleh wisatawan baik nusantara ▪ Liang Lo’ko’ Randanan
maupun mancanegara. Bahkan 3 (tiga) situs budaya telah terdaftar sebagai cagar budaya ▪ Panjat Tebing
peringkat nasional dalam situs Data Referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ▪ Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring
diantaranya 1 (satu) situs cagar budaya di Kecamatan Makale yaitu Kuburan Batu dan Rumah 5. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
Adat Lemo, dan 2 (dua) situs cagar budaya di Kecamatan Sangalla diantaranya Pemakaman Raja- ▪ Permandian alam Tilanga’
raja Sangala, Tampang Allo, dan satu museum yaitu Museum Buntu Kalando. ▪ Makam adat Sirope
▪ Tongkonan Mandetek
Selain itu, dalam Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu Kawasan Strategis Pegunungan
▪ Agrowisata Rante Lingkua’
dan Budaya Toraja, Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN Toraja Yang Akan
▪ Makam Bayi –Passilliran Alla.
Dikembangkan terdapat cukup banyak DTW yang diprioritaskan yang diramu dalam satu
6. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek pendukung:
kesatuan kegiatan wisata beserta daya tarikwisata pendukungnya yang terintegrasi, diantaranya
▪ Rumah Adat Pattan
sebagai berikut:
▪ Talion
1. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek pendukung:
▪ Benteng Pongtiku, Boronan
▪ Gua alam
▪ Likunna Makuyo

IV - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Atraksi Budaya ▪ Air terjun


▪ Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’ ▪ Hutan Wisata
7. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakaradeng dengan objek pendukung: ▪ Perkemahan
▪ Air terjun Salu Bitu ▪ Atraksi seni budaya
▪ Permandian Air Panas Ratte Buttu ▪ Kuburan Batu
▪ Liang pahat ▪ Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
▪ Permandian Air Panas Bake’ 12. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek penunjang:
▪ Panorama Alam. ▪ Desa Wisata
8. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek pendukung: ▪ Rumah Adat
▪ Agrowisata Bolokan ▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
▪ Hutan Wisata ▪ Benteng To Pada Tindo
▪ Permandian Air Panas ▪ Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
▪ Rumah Adat ▪ Passiliran
▪ Air terjun Ratte Sarambu ▪ Kerajinan seni ukir
9. Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan; dengan objek pendukung :
Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu di KSPN Toraja diatas, menjadi salah satu masukan
▪ Panorama Alam
dalam pembentukan perwilayahan destinasi pariwisata yang sangat penting dalam
▪ Tracking
mengintegrasikan berbagai program-program pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana
▪ Sepeda Gunung
Toraja yang diharapkan secara bersama-sama dapat mendorong kepariwisataan daerah dan
▪ Wisata Berkuda
nasional secara umum.
▪ Monumen Ampang Banu’
▪ Atraksi seni budaya Potensi-potensi daya tarik wisata budaya Tana Toraja berdasarkan setiap DTW yang tersebar
▪ Agrowisata. memiliki keunggulan masing-masing dan diperlukan adanya variasi daya tarik wisata yang dapat
10. Kawasan Wisata Barereng di Kurra dengan objek pendukung : memberikan kenyamanan berwisata bagi wisatawan sehingga diharapkan wisatawan dapat lebih
▪ Rafting/Arung Jeram lama tinggal dan menikmati setiap suguhan daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja yang
▪ Air Terjun tersedia. Untuk lebih jelasnya, potensi daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja yang berbasis
▪ Kolam Pemancingan budaya dapat dilhat pada tabel dan uraian beberapa potensi daya tarik wisata potensi sebagai
▪ Tracking berikut.
▪ Panorama
11. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’ dengan objek pendukung:

Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
1 Desa Wisata Bebo' Tumbang Datu Tumbang Datu, Bebo Sangalla Utara Rumah Adat Toraja/ Tongkonan dan Alang Yang Masih Asli
2 Papa Batu - Rembon Rumah Adat Toraja/ Tongkonan yang Beratap Batu
3 Sassa' Gasing Menkendek Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional
4 Perkampungan Adat Sillanan Sillanan Gandang Batu Sillanan Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional,
Kuburan Batu, Rante (tempat upacara kematian)
5 Tampang Allo Tongko Sarapung Sangalla’ Goa Alam dengan peti mati kuno dan patung patung milik bangsawan yang berada di dalam peti
mati yang sudah berumur ratusan tahun
6 Suaya Kaero Sangalla’ Erong, Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati
7 Baby Grave Tongko Sarapung Sangalla’ Passiliran (Kuburan Bayi yang disimpan di pohon hidup dengan cara di lubangi)
8 Potok Tengan Tengan Mengkendek Situs Purba Bersejarah dan Rumah Adat Toraja/ Tongkonan
9 Pattan Pattan Saluputti Rumah Adat Toraja/ Tongkonan, Kuburan Batu dan Tau-Tau/ Patung Orang Mati

IV - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
10 Kawasan Wisata Buntu Kandora Tengan Mengkendek Rumah Adat, Sejarah Orang Toraja, Panorama Alam, Gunung/ Batu Kars dan Monyet Asli Toraja
11 Liang Lo'ko Randanan Ke'pe Tinoring Mengkendek Gowa Alam
12 Tongkonan Banua Kasalle Kaero Sangalla’ Tongkonan Cagar Budaya
13 Buntu Tondon Tondon Mamullu Makale Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati
14 Perkuburan Kuno Gandang Batu Gandangbatu Gandangbatu Sillanan Cagar Vudaya Prasejarah / Megalitik Kuburan Batu
15 Benteng Ambeso Benteng Ambeso Gandangbatu Sillanan Sejarah Benteng Benteng Pertahanan
16 Liang Saratu’ Bau Bonggakaradeng Kuburan Batu Pahat
17 Kampung Tenun Malimbong Balepe Kerajinan Tenun/Tongkonan
18 Tengko Batu Kamali, pentalluan Makale Situs Cagar Budaya, Batu keramat
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Rea Saluputti Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati
20 Sanduni (Liang) Banga' Banga Rembon Kuburan Batu/ Liang Pahat
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Ke'pe Tinoring Mengkendek Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati
22 Liang Pahat Rano Utara Rano Utara Rano Kuburan Batu Pahat
23 Goa Sullukan Tokesan Sangalla Selatan Gowa Alam
24 Sirope' Lion Tondok Iring Makale Utara Kuburan Batu/ Liang Pahat, Erong
25 Saluliang Kole Sawangan Balepe Kuburan Batu Pahat
26 Mapongka Marinding Mengkendek Hutan Pinus dan Panorama
27 A'pa' Pamanukan Pamanukan Gandangbatu Sillanan Tongkonan
28 To' Puang Rante Alang Batualu Sangalla’ Selatan Perkampungan Tradisional dan Tempat Bersejarah
29 Kuburan Batu Ullin Ullin Rembon Kuburan Batu Pahat
30 Sarapeang Sarapeang Rembon Panorama Alam
31 Ma'dandan (himpuan erong) Patudu Gandangbatu Sillanan ▪ Perkumpulan erong (kuburan kuno)
keindahan alam serta dikelilingi oleh vegtasi yang hijau
32 Batu Kapak Malimbong Balepe
33 Babakanaan Palipu Mengkendek
34 Kuburan Batu Lemo Lemo Makale Utara Liang/ Lobang Pahat untuk peti mati dan Tau-Tau/ Patung orang mati yang di masukkan kedalam
liang/ lobang pahat
35 Museum Buntu Kalando Tongko Sarapung Sangalla’ Tongkonan Puang Sangalla' dan Museum Mini
36 Sa’pak bayobayo Saluallo Sangalla Utara ▪ Kampung tenun,
▪ wisata religi Sa'pak Bayo-bayo
▪ Gowa Alam
37 Ritual Aluk Todolo Mappak Mappak Perkampungan adat
38 Gereja Tua Simbuang Lembang Simbuang Simbuang Gereja tua.
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020

IV - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

IV - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. Desa Wisata Bebo' dan Tumbang Datu daya tarik wisata Perkampungan Adat. Karakteristik bangunan Tongkonan pada
Kawasan wisata Bebo dan Tumbang Datu memiliki keragaman daya tarik wisata yang perkampungan adat ini memiliki nilai sejarah dengan deretan rumah adat Toraja yang
umumnya belum dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Tana merupakan bagian dari wilayah Tongkonan tertata rapih. Masyarakat sekitar Tumbang
Toraja. Keragaman Daya tarik wisata tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah Datu Bebo’ masih sangat memegang teguh tradisi dan melakukan upacara adat.
sehingga dilakukan perencanaan ini. Kawasan Wisata Bebo dan Tumbang Datu terdapat 2 b. Kawasan Pekuburan Batu
(dua) jenis daya tarik wisata didalamnya yaitu daya tarik wisata alam dan daya tarik wisata Salah satu objek daya tarik wisata Kuburan Batu juga terdapat di kawasan Bebo dan
budaya. DTW tersebut antara lain yaitu bangunan tongkonan, kawasan pekuburan batu, Tumbang Datu yang merupakan variasi dari destinasi wisata yang ada di Kecamatan
kawasan religi/kepercayaan Aluk Todolo, kawasan kampung monyet, kawasan rante, dan Sangalla Utara tepatnya di Kelurahan Bebo sebagai salah satu fasilitas pemakaman yang
kawasan gua kelelawar. berbasis budaya dan dijadikan sebagai destinasi wisata dalam kawasan perencanaan.
Menurut administrasi wilayah desa/lembang di Kawasan Bebo yang terletak di Lembang Bebo c. Kawasan Religi/Kepercayaan Aluk Todolo
terdapat daya tarik wisata berupa Kawasan Kampung Monyet yang merupakan daerah hutan Kepercayaan Aluk Todolo bukan hanya sistem keyakinan, tetapi juga merupakan
yang berkembang habitat Monyet, sedangkan daya tarik lain pada uraian diatas terletak di gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk Todolo mengatur kehidupan
Lembang Tumbang Datu. Secara umum, Tempat wisata ini merupakan salah satu bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk Todolo bisa
perkampungan adat yang letaknya di kecamatan Sangalla utara. Disana terdapat banyak berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah
bangunan rumah adat tongkonan, tempat untuk upacara adat, pemakaman purba peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya
masyarakat Toraja, kuburan bayi pada pohon, ada mata air, benteng pertahanan jaman bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung
purba serta beberapa tempat menarik lainnya yang berhubungan dengan masyarakat Toraja dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya.
jaman dahulu. Dengan adanya peninggalan budaya serta adat yang unik dari jaman purba Aluk Todolo pernah menjadi tali pengikat masyarakat toraja yang begitu kuat, bahkan
tersebut membuat destinasi wisata yang satu ini menjadi semakin menarik untuk dikunjungi. menjadi landasan kesatuan sang torayan yang sangat kokoh sehingga kemanapun orang
Sebab banyak destinasi wisata di dalamnya yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat toraja pergi akan selalu ingat kampung halaman, dan rindu untuk kembali kesana. Ikatan
Toraja hingga saat ini. Bahkan tradisi atau adat masyarakat jaman dahulu masih dipegang batin yang Sangtorayan yang begitu kokoh tentu saja antara lain adalah buah-buah dari
teguh oleh masyarakat sekitar. tempaan Aluk Todolo itu. Karena itu patut prihatin bila aluk todolo itu kini nyaris lenyap
diterpa arus dunia modern.
Bahkan tidak jauh dari kawasan wisata tersebut, pengunjung akan menemukan puncak bukit,
Tradisi Aluk Todolo masih kuat diyakini masyarakat Tana Toraja sebagai warisan sakral.
dimana terdapat pohon cendana di puncak bukit tersebut dan dijadikan sebagai penanda
Tata krama yang terdapat didalamnya masih tetap diindahkan bukan saja oleh generasi
untuk memperingati perjanjian antar suku yaitu Basse Kasalle. Rumah adat ini di hiasi dengan
tua tetapi juga generasi muda yang masih yakin bahwa tradisi Aluk Todolo bisa
gading atau tanduk tedong yang umurnya sudah puluhan tahun.
membawa kebahagiaan dan sekaligus juga bisa membawa malapetaka jika tidak
a. Bangunan Tongkonan
diindahkan. Adat istiadat Aluk Todolo masih amat ampuh mempersatukan masyarakat
Pengembangan Kawasan Bebo dan Tumbang Datu, Tana Toraja, meskipun anggota masyarakatnya sudah menganut agama formal yang
sebelumnya telah dilakukan sosialisasi oleh berbeda-beda. Dalam satu keluarga di Tana Toraja, lazim dijumpai beberapa agama.
pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan peran Boleh jadi dalam satu rumah ada yang beragama Kristen, ada yang beragama Katolik,
serta masyarakat dalam pembangunan dan dan ada juga beragama Islam.
pengembangan pariwisata Tana Toraja yang digelar di d. Kawasan Kampung Monyet
Tongkonan Karuaya Lembang Tumbang Datu, pada Sebagai salah satu habitat yang dilindungi di Indonesia, Monyet merupakan binatang
tahun 2017 lalu. Sosialisasi kesiapan masyarakat yang cukup langka yang tidak ditemui dibanyak daerah. Oleh karena itu, keberadaan
dalam menerima pariwisata ini digelar dalam rangka habitat ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan karena kelangkaan tersebut.
penetapan Tongkonan Karuaya oleh Pemerintah Kawasan Kampung Monyet yang teridentifikasi dalam kawasan perencanaan di Lembang
Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu destinasi Tumbang Datu menjadi bagian dari kawasan perencanaan mengingat jenisdaya tarik
pariwisata baru berupa Perkampungan Adat. wisata tersebut masih cukup langkah didaerah Toraja sehingga memiliki kekuatan
Bangunan Tongkonan di Tumbang Datu merupakan menarik wisatawan apabila dikembangkan.
kumpulan bangunan yang dikembangkan sebagai

IV - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pada umumnya kumpulan habitat alam yang dilindungi oleh Negara seperti Monyet dikalahkan saat perang antarsuku, menunjukkan bahwa masyarakat desa itu kuat,
ditetapkan sebagai kawasan lindung yaitu lindung suaka marga satwa atau taman gagah, dan berani.
nasional, dimana kawasan tersebut tidak diperuntukkan bagi kawasan budidaya namun
Keunikan lain rumah adat ini terlihat dari ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning.
dapat dimanfaatkan dengan fungsi lain selama tidak merubah atau menghilangkan
Motif hewan dan tanaman melambangkan kebajikan. Tanaman gulma air serta hewan
fungsi utamanya tersebut.
seperti kepiting dan kecebong misalnya, diyakini melambangkan kesuburan. Ada pula
e. Kawasan Tongkonan dan Rante
ukiran kerbau yang melambangkan kekayaan.
Beberapa tinggalan khas budaya megalitik dapat ditemukan di Tana Toraja saat ini,
seperti batu tegak (menhir), kubur batu, lumpang batu, umpak batu, dan tempayan Selain itu juga terdapat Tongkonan Bebo dan Tongkonan Tumbang Datu, yang terletak
batu. Dari berbagai jenis tersebut, menhir yang dalam istilah lokal disebut simbuang di bagian utara dan selatan kawasan perencanaan. Setiap tongkonan tersebut
merupakan tinggalan yang mendominasi temuan megalitik di Tana Toraja salah satunya merupakan perwakilan dari setiap rumpun/keluarga yang ada dikawasannya.
di Bebo Tumbang Datu. 2. Papa Batu
Rante Tongkonan Papa Batu yang diprediksi sudah berumur
Simbuang didirikan dalam rangkaian upacara penguburan sekaligus sebagai monumen 417 tahun dan sudah tercatat sebagai salah satu
agar generasi penerus tetap menghormati dan melanjutkan tradisi mengagungkan para budaya warisan dunia oleh UNESCO. Tongkonan Papa
leluhur. Bentuk menhir umumnya persegi panjang atau bulat oval dan meruncing Batu artinya rumah adat yang beratapkan batu, dan
diatasnya. Bentuk tersebut ada yang diperoleh secara alami, namun kebanyakan merupakan satu-satunya Tongkonan yang beratap
dibentuk dengan cara dipahat sampai menjadi bentuk yang diinginkan. Menhir di Toraja batu. Sebagai satu-satunya bangunan Tongkonan
hampir selalu berada di rante, yakni sebuah tempat khusus yang diperuntukkan sebagai beratap batu, tentunya merupakan daya tarik wisata
tempat upacara kematian satu marga. yang sangat menarik yang ada di Toraja. Seluruh
Setiap keluarga besar memiliki rante masing-masing, sehingga rante sering dianggap bagian bangunan kecuali atap menggunakan bahan kayu. Seperti halnya bangunan
sebagai perkampungan kecil. Rante menjadi bagian integral dari tiga komponen penting Tongkonan lain di Toraja, Papa Batu disakralkan oleh keluarga dan masyarakat setempat
dalam pemukiman tradisional Toraja, yaitu rante (tempat upacara), liang (kuburan) dan sehingga untuk kepentingan kunjungan wisatawan, diharuskan mendapat izin dari pemilik
tongkonan (rumah adat). Setiap upacara kematian harus dilakukan di rante agar arwah jika wisatawan ingin naik ke atap rumah untuk melihat keunikan bangunan tersebut.
dapat mencapai kesempurnaan. Hal ini juga terlihat secara fisik dikawasan perencanaan, 3. Sassa'
dimana lokasi rante berdekatan dengan bangunan tongkonan yaitu di Tongkonan Pada Kawasan SAssaa terdapat salah satu tongkonan yang konon katanya merupakan
Karuaya. Tongkonan Tertua di Tana Toraja, Tongkonan SAssaa diperkirakan sudah 500 tahun usianya
Tongkonan ini, sudah dikenal sebagai salah satu objek wisata di
Dikawasan Bebo Tumbang Datu terdapat 3 (tiga) rumah tongkonan yang tersebar pada Tana Toraja. Selain dari keberadaaan Tongkonan
tempat yang berbeda. Ketiga tongkonan tersebut diantaranya Tongkonan Karuaya, Tertua Kawasan SAssaa juga menawarkan keindahan
Tongkonan Bebo dan Tongkonan Tumbang Datu. dan panorama alam Tana Toraja yang khas dan unik.
Tongkonan Karuaya memiliki seni arsitektur masih sangat tradisional, beratap bambu Karena selain secara history Tongkonan ini unik dan
yang disusun sedemikian rupa. Di bagian depan tongkonan, ada alang sura', tempat cukup tua usianya, pemandangan alam di Tongkonan
menyimpan bahan-bahan makanan, terutama padi, gabah, dan beras, sebanyak 6 ini sungguh luar biasa. Berada di area perbukitan, dari
bangunan. Tiang-tiangnya terbuat dari batang pohon palem yang licin sehingga tikus Tongkonan ini kita bisa memandang ke segala penjuru.
tidak dapat naik ke dalam bangunan. Pada sebuah tiang penyangga depan rumah, Pemandangan alam persawahan dan perbukitan di
puluhan tanduk kerbau dipajang rapi dari atas ke bawah yang melambangkan bawahnya terlihat begitu mengagumkan. Dari Tongkonan Sassa’ wisatawan dapat
kemampuan ekonomi pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya. menyaksikan Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake di kejauhan. Jika tidak terpapar
Makin banyak tanduk yang terpasang, makin tinggi pula status sosial keluarga sinar matahari, patung ini terlihat cukup jelas. Bukit Kandora yang mempersona, terkadang
pemiliknya. Selain itu, di sisi kiri dan kanan rumah juga terdapat rahang kerbau dan diselimuti kabut, juga terlihat anggun dari tempat ini. Belum lagi atap-atap Tongkonan
rahang babi. Di sebatang kayu yang melintang di bagian depan rumah, dekat atap, (rumah adat Toraja) di sela-sela pepohonan di kejauhan.
terlihat sejumlah tengkorak manusia yaang merupakan tengkorak para musuh yang

IV - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DTW ini merupakan tempat rumah adat atau tongkonan tertua di Kecamatan Mengkendek Di tempat ini juga terdapat bangunan-bangunan megalit berupa menhir maupun kubur batu
dan sekitarnya, tongkonan Sassa’ ini sebagai tempat tinggal Tangdilatuk yang membuat yang berkaitan dengan tradisi dan upacara-upacara adat masyarakat Toraja yang hingga kini
aturan adat dan kepercayaan Sumio’ Sukaran Aluk di kampung/negeri Pangrorean juga masih diselenggarakan. Dari upacara-upacara adat tersebut, pengunjung akan mendapatkan
kuburan bayi di pohon besar, perkebunan kopi dan markisa sehingga memberikan suhu yang gambaran mengenai fungsi dan peranan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut
sejuk. Objek wisata ini terletak di Lembang Gasing Kecamatan Mengkendek. Untuk sampai terhadap kehidupan masyarakat setempat. Beberapa rumah tongkonan dan lumbung padi
di Tongkonan Sassa’ tidaklah sulit. Jarak tempat ini dari Makale, ibukota Kabupaten Tana yang berusia sangat tua masih bisa ditemukan disini, sementara beberapa diantaranya sudah
Toraja hanya sekitar 20 kilometer, dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Kendaraan roda direnovasi akibat termakan usia. Tidak semua Tongkonan dapat dikunjungi, kecuali
dua maupun empat, bisa menjangkau tempat ini. Bagi pengunjung yang datang ke sana, Tongkonan yang memang secara khusus dijadikan obyek wisata. Sementara Tongkonan milik
hanya perlu mengarahkan kendaraan dari Makale menuju ke arah Mengkendek tepatnya di keluarga Tana Toraja hanya boleh dikunjungi oleh anggota keluarga saja. Wisatawan bisa
Lembang Gasing. menanyakan tetua adat atau penduduk mengenai Tongkonan mana yang boleh dikunjungi.
4. Perkampungan Adat Sillanan Pada Kawasan Sillanan Bubunna, Tintiri Buntu merupakan aset terbaik yang dimiliki oleh desa
Objek wisata Perkampungan Adat Sillanan adalah Sillanan. Mata air ini berbeda dari mata air pada
kampung yang dibuat berdasarkan ciri khas masyarakat umumnya. Sumur ini akan membuat siapa saja yang
Toraja. Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan di mencoba akan merasakan kesejukan air awet muda
tempat ini adalah bangunan yang mencirikan khas dan umur panjang. Di kampung Sillanan juga terdapat
masyarakat Toraja. Perkampungan Adat Sillanan peninggalan sejarah berupa benteng Pertahanan
berada di Kecamatan Mengkendek Lembang Sillanan Sillanan yang bernama Tangdi Rompo di puncak bukit
dengan jarak ± 15 Km dari pusat kota Kabupaten Tana batu Sillanan. Benteng ini menurut Pak Rante terbuat
Toraja. dari batu gunung asli yang disusun rapi. Benteng-
benteng ini digunakan masyarakat Sillanan untuk
Tongkanon ini memiliki ukiran warna yang di buat
mempertahankan diri dari serangan musuh, baik saat perang antar suku di Toraja maupun
berdasarkan ciri khas budaya di Kabupaten Tana
perang melawan pasukan dari luar Toraja termasuk Belanda. Untuk mencapai lokasi benteng
Toraja, tongkanon ini juga memiliki daya tarik tersendiri
ini harus menempuh satu hari satu malam berjalan kaki dari desa Sillanan.
pada bangunan yang mencirikhas kultur atau budaya
masyarakat Tana Toraja. Desa Sillanan juga menawarkan pemandangan alam yang indah dan agrowisata kopi dan
sayur mayur. Sillanan dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum Makale – Mebali,
Objek ini adalah salah satu situs peninggalan purbakala
selanjutnya perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan Mebali -Sillanan, naik ojek atau
berupa perkampungan adat dengan tradisinya dan juga sebagai daerah yang dikelilingi
berjalan kaki. Disekitar perkampungan ini, terdapat juga pemondokan untuk wisatawan.
dengan perkebunan kopi, sayur-sayur, dan buah-buahan. Tempat ini terkenal dengan
Sementara enam kilometer dari Sillanan, terdapat hotel bintang tiga. Usia sumur ini
perkampungan adatnya.
diperkirakan sama dengan usia perkampungan adat tua Sillanan.
Disini terdapat beberapa tongkonan yang memiliki
5. Tampang Allo
fungsinya masing-masing dalam pemerintahan, juga
liang pahat atau kuburan buatan di tebing- tebing Daya tarik wisata Tampang Allo ini terletak 19 km dari
gunung batu yang terjal dan menjulang tinggi, erong Rantepao dan 12 km dari Makale. Tampang Allo berupa
(peti jenazah purba di Tana Toraja dari kayu), sumur gua alam tempat dimakamkannya salah satu penguasa
alam, sumur mata air dan pancuran yang tidak pernah Sangalla, yaitu Puang Manturino dan istrinya, Rangga
kering, terbuat dari susunan batu gunung. Tempat ini Bulaan yang wafat sekitar pertengahan abad ke-16.
terkenal dengan panorama alam yang mempesona, Diceritakan jenazah Puang Manturino menghilang dari
disertai dengan hamparan perkebunan rakyat, fauna erongnya, setelah dikuburkan terpisah dengan istrinya yang meninggal terlebih dulu, Rangga
dan flora berupa anggrek, kopi dan vanili. Objek wisata Bulaan, dan dikuburkan di Gua Tampang Allo. Menurut cerita jenazah Puang Manturino
ini terletak di Lembang Sillanan Kecamatan Gandang kemudian ternyata ditemukan telah bersatu dengan jenazah istrinya di Gua Tampang Allo.
Batu Sillanan. Sejak saat itu keturunan-keturunan mereka juga kemudian dimakamkan di gua ini bersama

IV - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dengan pasangannya sebagai perwujudan perjanjian dan sumpah suami istri: ”sehidup Untuk mengunjungi DTW Suaya, telah tersedia sarana
semati, satu kubur kita berdua”. Objek ini memiliki daya tarik adalah Liang Lo’ko Tau-tau dan wisata berupa tempat parkiran yang dikelilingi oleh
tau-tau, terletak di Lembang Turunan Kecamatan Sangalla. sejumlah toko-toko souvenir dan makan minum.
Akses menuju kawasan ini dapat ditempuh dengan
Untuk mencapai Kawasan ini jalur yang ditempuh melalui Makale dengan 2 rute yang dapat
mudah karena berada pada ruas jalan utama kawasan
dalam waktu sekitar 15 menit alternative lain bisa dari Makale-Tetebassi – Sangalla-
dengan kondisi aspal dan masih sangat baik untuk
Kondoran- Suaya jaraknya sekitar 13 km atau yang dari Kota Rantepao Kabupaten Toraja
dilalui.
Utara bisa melalui Ke’te kesu - La’bo – Randanbatu – Sangalla – Kondoran - Suaya jaraknya
mungkin sekitar 17 km. Objek wisata ini dekat dengen beberapa objek wisata Suaya King
Grave, Baby Grave, Museum Buntu Kalando, Sa'pak Bayo-Bayo.
Selain Goa dan perkuburan batu, Kawasan Tampang 9. Buntu Tondon
Allo juga terdapat Kawasan Tongkonan dan Objek wisata Buntu Tondon adalah kuburan bangsawan yang ditempatkan di lubang batu
perkampungan Adat serta keindahan panorama alam yang dipahat oleh masyarakat untuk meletakkan tau–tau (Patung Orang yang sudah mati).
yag terbentuk dari bebatuan karts yang alami, dari Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan ditempat ini adalah liang pa‟a (Kuburan batu
ketinggian dapat melihat keindahan panorama alam pahat) yang dikelilingi batuan alam. Untuk mengunjungi tempat ini wisatawan akan
sekitar. menemukan kuburan para bangsawan masyarakat Toraja.

Untuk mencapai puncak bebatuan karst tersebut, telah dibangun anak tangga bagi Pada awalnya di dinding pekuburan tersebut terdapat beberapa tau tau. Namun seiring
wisatawan yang ingin melihat panorama alam dari ketinggian kawasan tersebut. dengan meningkatnya pencurian tau-tau, maka pihak keluarga kemudian memindahkannya
ke rumah mereka. Akibatnya balkon-balkon yang dulu diisi tau-tau, kini kosong. Daya Tarik
6. Sanduni (Liang) Banga' Wisata Utama adalah Liang Pa‟a. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Makale Utara
Objek wisata Sandini (liang) merupakan tempat kuburan masyarakat Tana Toraja. Objek ini Kelurahan Tondon Mamulu.
memiliki daya tarik dengan keindahan alam serta di kelilingi oleh flora dan fauna, pepohonan 10. Potok Tengan
yang rindang dan sejuk sehingga wisatawan dapat menikmatinya dengan baik. Kawasan Wisata Alam Budaya Potok Tengan yang
berada di Kelurahan Tengan Kecamatan Mengkendek.
7. To'bai (Liang Tau-Tau)
Pada kawsan ini terdapat beberapa destinasi wisata
Objek wisata To’bai (liang tau- tau) merupakan tempah patung- patung orang yang suda
berupa hamparan alam tebing karts, permukiman adat
meninggal di Kabupaten Tana Toraja. Tau-tau ini di merupakan kreatifitas masyarakat
dan perkampungan tua khas toraja dengan beberaapa
dengan dengan hasil kreasi yang sangat unik. Tau-tau ini di buat berdasarkan jenis kelamin
bangunan tongkonan didalamnya. Serta pemandangan
orang yang sudah meninggal.
alam di atas bukit kandora yang alami dan eksotis khas
8. Suaya toraja.
Objek wisata Suaya merupakan tempat penyimpanan
mayat atau makam para raja-Raja Sangalla dan di
lengkapi oleh Makam Raja Pantunuan yang
kedudukannya berada di atas batu besar, mayat-
mayatnya di susun bereretan di lobang batu. Objek
wisata ini memiliki keunikan terdendiri dengan
panorama alam serta dikelilingi oleh pepohonan dan
letaknya berada diatas pegunungan sehinggah
wisatawan yang mengunjungi dapat melihat jelas
pamandangan di daerah tersebut. Tempat ini terletak di Kecamatan Sangalla kelurahan
Ka‟ero dengan jarak ± 10 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja. Objek ini memiliki daya
tarik adalah Liang Lo’ko‟, Tau tau dan tau-tau.

IV - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Objek wisata Potok Tengan adalah tempat dapat melihat pemandangan yang menakjubkan. Objek wisata gunung kandora berada di
perkampungan Adat dengan bangunan-bangunan yang Kecamatan Mengkendek kelurahan Kandora dengan jarak ± 7 Km dari pusat kota Tana
didirikan diatas areal batu-batu besar yang di susun Toraja. Untuk itu perlu adanya pemeliharaah hutan serta adanya reboisasi kembali sehingga
dengan rapi. Daya tarik tersendiri yang dapat dapat mempertahankan keaslian objek tersebut.
ditemukan di tempat ini adalah batu unik yang
14. Liang Lo'ko Randanan
menyerupai kelamin laki-laki dan perempuan yang di
Objek wisata Liang Lo’ko’ Randanan adalah tempat pemakaman berupa goa alam dimana
yakini memiliki kekuatan magis (gaib). objek wisata
tulang-tulang manusia berserakan. Hal ini menandakan bahwah tempat ini telah
Potok Tengan merupakan situs purbakala atau
dimanfaatkan sebagai tempat pemakaman sejak ratusan tahun yang lalu.
peninggalan bersejarah yang di dalamnya terdapat
barang-barang bersejarah. Objek wisata Potok Tengan Liang ini berada di dalam gua. Untuk melakukan penguburan harus menggunakan obor. Di
memiliki daya tarik arsitektur dengan ukiran pada kaki gunung gua diperkirakan dahulunya terendam air laut dengan adanya serpihan fosil
bangunan dengan warna yang khas akan budaya karang laut yang melekat pada batu di sekitarnya. Hal ini di lakukan berdasarkan kultur
masyarakat Tana Toraja. Objek wisata Potok Tengan masyarakat yang di bawahi oleh para leluhur sejak dibentuk. Dengan adanya penguburan
terletak di kecamatan Mengkendek kelurahan Tengan mayat pada lubang-lubang batu yang terdapat di dalam gua menunjukan keunikan tersendiri
dengan jarak ± 8 Km dari pusat kota Makale. bagi daerah ini. Lokasi objek wisata liang lo’ko randanan terletak di kecamatan Mengkendek
kelurahan Randanan dengan jarak ± 5 Km dari ibu kota Kabupaten Tana Toraja
Kawsan wisata ini juga sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata minat
15. Salu Liang
khusus pendidikan antropologi sejarah dan adat serta budaya khas sehingga sangat penting
situs-situs tersebut dikembangkan dengan lebih komprehensive agar dapat dijadikan Salu Liang merupakan sebutan masyarakat setempat
percontohan sebagai bahan penelitian sekaligus berwisata. terhadap kuburan batu yang terletak di Desa
Malimbong tepatnya di Sawangan disekitar area
11. Perkuburan Kuno Gandang Batu
persawahan. Nama Salu Liang sendiri berasal dari
Objek wisata Perkuburan kuno Gandang Batu berada di Kecamatan Gandang Batu Sillanan
bahasa Toraja yaitu: Salu yang berarti sungai dan
Kelurahan Gandang Batu dengan jarak ± 20 km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.
Liang yang berarti kuburan batu/liang/goa, sehingga
Kuburan kuno ini memiliki daya tarik yang unik dilihat berdasarkan kondisinya serta di kelilingi
Salu Liang artinya kuburan yang sangat banyak. Di
oleh hijaunya pepohonan dan keindahan alam yang natural.
tempat ini banyak terdapat batu-batu besar yang
12. Pattan dibuat kuburan/liang/goa oleh orang-orang dari
Di lokasi ini daya tarik berupa tongkonan atau perkampungan tradisonal Toraja yang memiliki Mareali. Lalu dibeli oleh masyarakat setempat untuk dijadikan pemakaman menurut silsilah
strata kultur/budaya yang sangat di junjung tinggi serta terdapat Liang atau kuburan dan keluarga. Kuburan ini dibuat sekitar tahun 1918 pada Perang Dunia 1.
tau-tau yang memiliki daya tarik tersendiri serta kondisi alam yang sangat natural sehingga Kuburan batu sebagai karakteristik budaya masyarakat Toraja dalam ritual penguburan
daerah ini memiliki kenyamanan dan keaslian yang sangat memuaskan. Objek wisata ini jenazah dan umumnya dapat dijumpai diberbagai bagian wilayah kabupaten, namun Salu
terletak di Kelurahan Kelurahan Pattan Kecamatan Suluputti. Liang ini dapat dikatakan cukup unik karena sebaran bebatuan besar yang dijadikan sebagai
kuburan jenazah tidak seperti umumnya ditempat lain. Berdasarkan wawancara dengan
13. Kawasan Wisata Buntu Kandora
tokoh masyarakat setempat, kuburan liang ini terdapat 107 lubang. Batu-batu tersebut
Objek wisata Gunung Kandora memiliki daya tarik yang sangat indah. Gunung Kandora umumnya bukan bebatuan besar dan tinggi seperti di Londa Toraja Utara dan lainnya.
memiliki potensi wisata yang sangat baik untuk di kembangkan, dengan adanya daya tarik Keunikan lain yaitu dengan bentuk dan karakteristik Salu Liang ini sehingga memberikan
serta keindahan alam yang membentang di sekelilinginya serta marga satwa yang berada ruang bagi wisatawan untuk dapat menikmati keindahan alan disekitarnya berupa hamparan
dilokasi. Dilihat dari tata letaknya dengan kondisi alam yang berbukit - bukit serta panorama persawahan dan pegunungan yang jauh. Kondisi Salu Liang saat ini masih belum terawat
alam yang berada di sekitarnya, pepohonan yang rindang, hijaunya alam sehingga memiliki dengan baik untuk kepentingan wisata.
nilai estetika yang sangat menarik.
Di bawah objek wisata gunung Kandora terdapat tanaman persawahan dan permukiman
warga, serta bukit-bukit yang melintang sehingga wisatawan yang berada di puncak gunung

IV - 15
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

memiliki getah ini mereka dimakamkan


sementara. Getah berwarna putih dari pohon ini
merepresentasikan air susu ibu. Selanjutnya,
lubang ini ditutup dengan menggunakan ijuk
pohon enau. Dalam prosesi ini, masyarakat
Toraja yakin jika bayi yang mereka kuburkan
seperti kembali pada rahim ibunya. Uniknya
lagi, meskipun jasad bayi-bayi ini dikuburkan
tanpa pembungkus, tak tercium bau apapun
dari pohon tersebut. Penempatan jenazah bayi
di pohon ini, sesuai dengan strata sosial
16. Tongkonan Banua Kasalle masyarakat. Makin tinggi derajat sosial
Objek wisata Tongkonan Banua Kasalle adalah bangunan rumah tradisional masyarakat keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang
Toraja. Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan di tempat ini adalah tempat tumbuh dan dikuburkan di batang pohon tarra. Bayi yang
berkembangnya sosial budaya masyarakat Toraja, mengunjungi tempat ini kita akan meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat
menemukan barang barang warisan keluarga masyarakat Toraja. tinggal keluarga yang berduka.
Menurut cerita yang diyakini masyarakat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga oleh Objek wisata Pasiliran panurusan ini terletak di
Puang Matua, dengan empat tiang utama dan atap yang terbuat dari kain. Leluhur Toraja Kecamatan Sangalla dengan jarak ± 9 Km dari
kemudian meniru bentuk tongkonan untuk rumah tinggal mereka. Tongkonan pusat kota Kabupaten Tana Toraja, dan
dibangun mirip perahu dan selalu menghadap ke utara sebagai simbol penghormatan pada berdekatan dengan DTW Suaya sehingga dapat dijadikan satu kesatuan kunjungan
Puang Matua serta untuk mengingatkan daerah asal leluhur suku Toraja. Setiap tongkonan wisatawan. Di DTW ini juga telah dibangun fasilitas untuk kegiatan wisata.
dilengkapi dengan Alang Sura’ atau lumbung padi yang juga berbentuk menyerupai 18. Kampung Tenun
tongkonan dengan ukuran yang lebih kecil. Alang Sura’ yang berfungsi sebagai tempat
Selain alam yang memanjakan mata dengan
menyimpan padi atau barang-barang warisan keluarga ini ditempatkan di depan dan saling
panorama perbukitan kars-nya, keunikan
berhadapan dengan tongkonan. Objek wisata Tongkonan Banua Kasalle ini terletak di
budaya, dll. Toraja juga memiliki keunikan
kecamatan Sangalla Lembang Bulian MAssaabu dengan jarak ± 6 Km dari pusat kota
tradisi lainnya yaitu Kain Tenun Toraja, Warna
Kabupaten Tana Toraja.
alam dan motif yang khas, membuat tenun
Toraja sebagai salah satu tenun yang banyak
17. Baby Grave dicari wisatawan yang berkunjung disana.
Pemakaman bayi pada sebatang pohon dalam bahasa Toraja disebut Passilliran. Tradisi ini Kawasan Kampung tenun yang terletak di
pun hanya dilakukan oleh masyarakat Toraja yang menganut Aluk Todolo (kepercayaan Malimbong Balepe ini cukup unik karena para
terhadap leluhur). pengrajin melakukan aktivitasnya dirumah-
DTW Baby Grave merupakan salah satu pemakaman bayi yang digunakan untuk mengubur rumah tongkonan. Selain itu, kawasan ini telah dikembangkan secara swadaya pembentukan
bayi atau anak-anak yang belum tumbuh giginya, berupa sebatang pohon kayu Tarra‟. Pohon kelompok sadar wisata, namun dibutuhkan perhatian atau campur tangan pemerintah dalam
itu sendiri diperkirakan telah berumur lebih dari 300 tahun. Orang Toraja percaya bahwa pengembangan tersebut agar dapat berjalan dengan optimal.
bayi belum bisa menaiki tedong (kerbau) yang akan membawanya ke puya (surga). Untuk 19. Tengko Batu
itu, maka ia dikuburkan dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa yaitu dimasukkan Objek wisata Tengko Batu merupakan batu keramat yang memiliki nilai historis tersendiri.
dalam posisi berlutut menghadap keluar. Objek ini juga memiliki kesakralan yang dijadikan sebagai tempat permintaan/doa untuk
Selama prosesi pemakaman semua pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan mengabulkan keinginan masyarakat berdasarkan keyakinan. Objek ini memiliki daya tarik
dilarang untuk berbicara sampai seluruh prosesi pemakaman selesai. Di pohon tarra‟ yang dengan keindahan alam serta di kelilingi oleh pepohonan yang rindang sehingga wisatawan

IV - 16
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dapat menikmati kesejukan dan keindahan di objek tersebut. Objek wisata ini terletak di serta nilai historis yang sangat mengagumkan. Objek wisata ini terletak di Lembang Batualu
Kelurahan Kamli Pantalluang Kecamatan Makale. Kecamatan Sangalla Selatan.

20. Pa'bakka (Liang Tau-Tau) 25. Kuburan Batu Lemo


Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah menjadi manusia (manusia="tau" dalam Objek wisata Lemo adalah kuburan liang pahat yang suda tua dalam liang-liang lereng di
bahasa Toraja) sesungguhnya dalam konteks masyarakat Toraja. Filosofi tau memiliki empat tempatkan jasad yang usianya sudah ratusan tahun. Daya tarik tersendiri yang dapat
pilar utama yang mengharuskan setiap masyarakat Toraja untuk menggapainya, antara lain: ditemukan ditempat ini adalah pemandangan pepohonan-pepohonan bambu yang tumbuh
- Sugi (Kaya) - Barani (Berani) - Manarang (Pintar) - Kinawa (memiliki nilai-nilai luhur, disekitarnya, mengunjungi tempat ini kita akan menemukan kuburan yang mengesankan
agamis, bijaksana) Keempat pilar di atas tidak dapat di tafsirkan secara bebas karena ketenangan serta merupakan bentuk nyata tradisi sejak dahulu.
memiliki makna yang lebih dalam daripada pemahaman kata secara bebas. Seorang Toraja
Kawasan ini sudah mulai menarik kunjungan wisatawan sejak tahun 1960. Kompleks
menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup sebagai Tau. Objek
pemakaman ini disebut Lemo karena kuburan/liang batu tersebut secara keseluruhan
ini berada di Kecamatan Sulluputi Kelurahan Ulusalu.
berbentuk seperti buah jeruk bundar dan berbintik-bintik. Menurut cerita rakyat setempat,
21. Liang Pahat Rano Utara kuburan yang tertua di Lemo berumur 500 tahun, seorang tetua adat bernama Songgi Patalo.
Objek wisata liang pahat merupakan tempat pemakaman masyarakat Tana Toraja yang di Di tempat ini terdapat sekitar 50 tau-tau sebagai lambang prestise, status, peran dan
letakan di dalam lubang batu. Liang ini di buat oleh masyarakat dengan cara pemahatan di kedudukan para bangsawan di Desa Lemo.
tebing atau batu besar dengan ukuran lubang yang dapat menampung jenazah atau orang Areal ini merupakan kompleks pemakaman terbesar dengan sekitar 30 gua alam yang juga
yang sudah mati. Daya tarik pada objek ini adalah keindahan alam serta di kelilingi oleh digunakan sebagai tempat pemakaman. Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan di
flora dan fauna yang menakjubkan. Objek wisata ini terletak di Kelurahan Rano Kecamatan tempat ini adalah pemandangan pepohonan-pepohonan bambu yang tumbuh di sekitarnya,
Rano dengan jarak ± 40 Km dari pusat Kota Kabupaten Tana Toraja. mengunjungi tempat ini kita akan menemukan kuburan yang mengesankan ketenangan serta
merupakan bentuk nyata tradisi sejak dahulu. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Makale
22. Goa Sullukan
Utara Kelurahan Lemo dengan jarak dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja adalah ± 9 Km.
Objek wisata Goa alam Sullukan berada di kecamatan Sangalla Selatan kelurahan Lembang
Tokesan dengan jarak ± 11 Km dari ibu kota Kabupaten Tana Toraja. Objek wisata ini
memiliki keunikan yang sangat indah di dalamnya serta di depan pintu masuk terdapat 26. Museum Buntu Kalando
Objek wisata Museum Buntu Kalando adalah tempat penyimpanan barang–barang
bunga-bungaan yang menarik di pandang mata dan di kelilingi oleh pepohonan serta hijau,
peningggalan para leluhur yang usianya sudah ratusan tahun. Daya tarik tersendiri yang
objek wisata alam Sullukan ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal ketika hari libur.
dapat ditemukan di tempat ini adalah Tongkonan Sangalla dan Meseum Mini, kerajaan
Dengan adanya keterbatasan sarana penunjang serta jalan tanah yang ditumbuhi rumput,
Sangalla‟, terletak 10 km dari Kota Makale. Kini tongkonan tersebut telah beralih fungsi
perlu adanya perhatian dari pemerintah kabupaten agar dapat dikelola dengan baik serta
menjadi museum dan homestay.
perlu adanya promosi kepada publik agar dapat menambah devisa bagi daerah Kabupaten
Tana Toraja. Di Buntu Kalando ini terdapat tongkonan dari keluarga Puang Sangalla‟. Puang Sangalla‟
adalah pemimpin dari kerajaan Sangalla‟, terletak 20 km dari kota Rantepao. Kini tongkonan
23. Sirope'
tersebut telah beralih fungsi menjadi museum dan homestay. Objek ini memiliki daya tarik
Keterkaitan antara budaya dan bentang alam Tana Toraja ditunjukkan juga dengan budaya
adalah Tongkonan Puang Sangalla dan Museum mini.
penguburan jenazah didalam maupun digantung pada tebing atau gua batuan karst. Jenazah
dalam peti yang dikuburkan di dalam tebing batu yang dilubangi pada umumnya berasal dari 27. Sa’pak bayobayo
keluarga yang berstatus sosial tinggi. Lubang kuburan pada tebing batu dinamakan Liang Sa'pak Bayo-Bayo adalah objek wisata yang masih sangat minim akan informasi tidak
Pa’a. Objek wisata Kuburan Alam Sirope ini terletak di kecamatan Makale Utara kelurahan sepopuler dengan objek wisata lain di Toraja. DTW Sa'pak Bayo-Bayo merupakan sebuah
Lion Tondok dengan jarak ± 6 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja. objek wisata yang masih sangat alami tidak seperti objek wisata lain yang ramai akan
kunjungan wisatawan objek wisata ini masih sangat sepi bahkan bisa dikatakan yang
24. To' Puang
mengunjungi tempat ini hanya orang-orang tertentu karena belum ada sumber yang
Objek wisata ini merupakan tempat rumah/perkampungan tradisonal Toraja (tongkanon)
menyediakan informasi tentang objek wisata ini bahkan dinas pariwisata toraja sekalipun.
yang memiliki struktur bangunan yang unik serta ukiran kayu, rona warna yang khas dengan
ciri khas budaya masyarakat Tana Toraja serta tempat bersejarah yang memiliki keunikan

IV - 17
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Sama seperti objek wisata kuburan lainnya, di Sa'pak Bayo-Bayo banyak dijumpai tulang 3. Fasilitas rekreasi dan olahraga, seperti Kawasan rekreasi dan olahraga Senayan,
belulang, tengkorak manusia dan erong (peti mayat) yang sudah mulai hancur termakan kawasan padang golf, dan area sirkuit olahraga.
usia, yang membedakan sa'pak bayo-bayo ketika kita mengunjunginya adalah suasana yang
Salah satu DTW Buatan unggulan di Kabupaten Tana Toraja yang berbasis religi dan alam
masih sangat alami jauh berbeda dengan objek wisata lain yang sudah ramai dengan
yaitu Kawasan Buntu Burake yang merupakan wilayah perbukitan batu gamping (kars) pada
wisatawan. Pada gua alam ini terdapat 4 buah lubang gua, masyarakat Toraja menyebutnya
ketinggian 900 – 1.129,9 mdpl terletak di Keluarahan Buntu Burake, Kecamatan Makale.
dengan nama lo'ko' yaitu Lo'ko' Ne' Pendang, Lo'ko' Tarru', Lo'ko' Bekak dan Lo'ko'
Secara geografis Obyek Wisata Buntu Burake terletak antara 119°51’ – 119°52’ BT dan
Kalumpini.
03°05’ – 03°06’ LS. Luas kawasan Buntu Burake ± 152,36 hektar dengan variasi vegetasi
Lo'ko' Bekak merupakan gua yang paling besar dan luas lokal dan satwa liar dari kelas burung dan beberapa mamalia jenis monyet ekor panjang
di banding ketiga gua lainnya bentuknya pun sedIkit menjadikan kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata
berbeda. untuk masuk kedalam gua ini kita harus turun untuk reat-reat, kamping, jalur-jalur trekking, dan lain-lain. Kawasan Obyek Wisata Buntu
melewati tumpukan erong yang berserakan bersama Burake dikelilingi oleh 4 kampung yaitu: Kampung Buisun di sebelah Utara, Kampung Lea di
tulang belulang yang akan membuat suasana sedikit sebalah Timur, Kampung Limbong di sebelah Selatan dan Kampung Burake di sebelah Barat.
berbeda ditambah udara yang sedikit lembab. Di Sa'pak
DTW Buntu Burake ini telah dilakukan pengembangan dan merupakan salah satu DTW
Bayo Bayo terdapat sebuah sumur keramat yang
andalan di Tana Toraja. Bentuk pengembangan kawasan tersebut dibagi menjadi beberapa
terletak di pinggir sungai yang menjadi muara gua tersebut.
zona atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik, antara lain:
28. Ma’dandan (Himpunan Erong) ▪ Zona Inti (sanctuary zone) berfungsi untuk
perlindungan monumen dan pelataran Patung Yesus
Erong adalah semacam peti mati yang terbuat dari kayu
Memberkati (kawasan patung Yesus Kristus
yang keras dan kuat. Bagian luar erong ditatah dengan
memberkati), Kawasan Pelataran Patung , Kaca
ukiran yang indah. Objek wisata Ma‟ dandan (himpunan
Ardrenalin dan Spot Foto
erong) berada di kecamatan Gandang Batu Sillanan
▪ Zona Penyangga (buffer zone) berupa goa purba yang
kelurahan Patudu. Objek ini merupakan tempat
telah dijadikan Goa Bunda Maria, area kuliner, area
perkumpulan erong (kuburan kuno) yang yang memiliki
souvenir, parking area, dan publik area pada kawasan
usia sudah puluhan tahun. Himpunan erong ini memiliki
kars Burake.
daya tarik dengan keindahan alam serta dikelilingi oleh
▪ Zona Pengembangan (development zone) yakni
vegtasi yang hijau. Erong ini memiliki ukuran yang
Lombok Sumpu, hamparan lembah di sebelah timur,
berbeda-beda dilihat berdasarkan usia jenazah pada masyarakat Tana Toraja.
Buntu Sirrang, Buntu Sundallak, Buntu Panduang,
Buntu Pangngumba’, dan lain-lain.
4.1.3 Daya Tarik Wisata Buatan
▪ Zona Permukiman dan Desa Wisata di sekitar kawasan
1. Buntu Burake
Buntu Burake.
Daya tarik wisata buatan ini digolongkan sebagai daya tarik wisata khusus yang merupakan
kreasi artifisial (artificially created) dan kegiatan-kegiatan manusia lainnya di luar ranah Sampai pada tahun 2019 pembangunan sangat gencar dilakukan pemerintah daerah
wisata alam dan wisata budaya. Daya Tarik Wisata hasil buatan manusia/khusus, selanjutnya diantaranya pembangunan akses jalan yang lebar, sarana dan prasarana pendukung,
dapat dijabarkan meliputi antara lain: penataan kawasan pada pelataran, reling bangunan landasan dan patung, pelataran kaca
1. Fasilitas rekreasi dan hiburan atau taman bertema, yaitu fasilitas yang berhubungan adrenalin, jalan-jalan setapak, dan lain-lain sehingga DTW ini sangat layak menjadi unggulan
dengan motivasi untuk rekreasi, hiburan (entertainment) maupun penyaluran hobi, pariwisata Kabupaten Tana Toraja kedepannya. Berbagai variasi daya tarik wisatapun
seperti taman bertema (theme park)/taman hiburan (kawasan Trans Studio, Taman dibangun untuk mendukung kegiatan wisatawan yang sangat memadai.
Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah); 2. Taman Hiburan Plaza Kolam Makalle
2. Fasilitas peristirahatan terpadu (integrated resort), yaitu kawasan peristirahatan dengan Taman Hiburan Plaza Kolam Makale berada di pusat Kota Makale. Taman ini merupakan
komponen pendukungnya yang membentuk kawasan terpadu, seperti Kawasan Nusa landmark Kota Makale yang memiliki keindahan yang sangat eksotis, karena penataan objek
Dua Resort, Kawasan Tanjung Lesung, dan sebagainya; dan wisata ini sudah dikembangkan dengan baik. Di lokasi ini terdapat bangunan gereja di atas

IV - 18
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

ketinggian serta gedung DPRD Kabupaten Tana Toraja dan bangunan-bangunan lain di panorama, air terjun, tracking, dan arum jeram. Kawasan Barereng yang terletak di Lembang
sekelilinginya. Objek wisata ini terletak di kecamatan Makale kelurahan Makale yang berada (Desa) Rante Limbong, kecamatan kura, sangat berpotensi karena telah berkembang
pada pusat kota. Hampir setiap orang yang datang ke Makale mengabadikan moment disekitarnya perkebunan holtikultura dan panorama yang indah.
perjalanannya ke Tana Toraja dengan berfoto menjadikan taman ini sebagai identitas
Daftar lengkap daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja yang disajikan dalam tabel berikut.
kunjungannya.
3. Barereng
Kawasan Barereng merupakan perpaduan jenis daya tarik wisata alam dan buatan dengan
potensi yaitu taman rekreasi, kolam pemancingan ikan, dan kawasan perkemahan,

IV - 19
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

IV - 20
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
Daya Tarik Wisata Alam (Nature Tourism)
1 Agrowisata Pango-Pango Tosapan Makale Selatan ▪ Pepohonan pinus Pemda Kabupaten Sudah beroperasi
▪ Perkebunan agro (kopi, tamarillo, strawbery dll)
▪ Pemandangan alam yang indah dan udara yang dingin.
2 Permandian Alam Tilangnga Sarira Makale Utara ▪ Kolam Alam Keluarga (Non Yayasan) Sudah beroperasi
▪ Belut Yang Hidup Didalam Kolam
3 Rurak Ke'pe' Tinoring Mengkendek Goa Alam yang dijadikan kuburan pada zaman yang lalu Keluarga (Non Yayasan) Belum beroperasi
dan kuburan tersebut sudah berumur ratusan tahun
4 Sarambu Assing Patongloan Bittuang Air Terjun Pemda Kabupaten Belum beroperasi
5 Sarambu Ratte Balla Bittuang Air Terjun Pemda Kabupaten Belum beroperasi
6 Talondo Tallu Balepe' Malimbong Balepe Air Terjun Pemda Kabupaten Belum beroperasi
7 Perkebunan Kopi Tiroan Tiroan Bittuang ▪ Perkebunan Kopi dan Keluarga Belum beroperasi
▪ Pemandangan Alam dengan Udara yang Dingin
8 Lo'ko Tongko Tongko Sarapung Sangalla Goa Alam Keluarga Belum beroperasi
9 Arum Jeram Maroson Padakka Kurra ▪ Arum Jeram (sungai mai'ting) Pemda Kabupaten Belum beroperasi
▪ Panorama Alam
10 Danau Assaa Lembang Turunan Sangalla ▪ Danau alami Pemda Kabupaten Belum beroperasi
▪ panorama, dan
▪ batu hamil.
11 Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek Panorama Alam Gunung Karst Pemda Kabupaten Belum beroperasi
12 Panjat Tebing Kandora Mengkendek Tebing Karst Vertikal Pemda Kabupaten Belum beroperasi
13 Panorama Bukit Sion ▪ Pemandangan Kota Makale Pemda Kabupaten Sudah beroperasi
Bombongan Makale
▪ Panorama Alam
14 Air terjun ratte sarambu assing L. Potongloan Bittuang ▪ Air terjun LKMD Potongloan Sudah beroperasi
▪ Pemandian alam
15 Alloan Marinding Mengkendek Panorama Alam Keluarga Belum beroperasi
16 Air Panas Balla Balla Bittuang Mata air panas Pemda Belum beroperasi
17 Air Terjun (Sarambu) Tipali Uluwai Mengkendek Air Terjun Pemda Belum beroperasi
18 Air Terjun (Sarambu) Marintang Simbuang Mengkendek Air Terjun Pemda Belum beroperasi
19 Bumi Perkemahan Marintang Simbuang Mengkendek ▪ Kolam Pemancingan Keluarga Sudah beroperasi
▪ Perkemahan
20 Ollon Poton Bonggakaradeng Pannorama Alam/Savana Pemda Belum beroperasi
21 Permandian Air Panas Makula Tokesan Sangalla’ Selatan Permandian Air Panas Alam Keluarga Sudah beroperasi
22 Panorama Alam Kuesta Kendenan Bau Bonggakaradeng Panorama alam pegunungan - Belum beroperasi
23 Air Terjun Salu Sumassan Tanete Mappak Air terjun - Belum beroperasi
24 Batu Tallu Simbuang Simbuang Prasasti Batu Bersejarah - Belum beroperasi
25 Kolam Alam Kondodewata Kondodewata Mappak Kolam alam, dan panorama. - Belum beroperasi
26 Sarapeang Sarapeang Rembon Panorama Alam Keluarga Sudah beroperasi

Daya Tarik Wisata Budaya


1 Desa Wisata Bebo' Tumbang Datu Tumbang Datu, Sangalla Utara ▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan dan Sudah beroperasi
Bebo ▪ Alang Yang Masih Asli
2 Papa Batu - Rembon Rumah Adat Toraja/ Tongkonan yang Beratap Batu Keluarga Belum beroperasi
3 Sassa' Gasing Menkendek ▪ Rumah Adat Tongkonan, Keluarga Belum beroperasi
▪ Panorama Alam dan
▪ kehidupan masyarakat yang masih tradisional
4 Perkampungan Adat Sillanan Sillanan Gandang Batu Sillanan ▪ Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan Keluarga Belum beroperasi
▪ kehidupan masyarakat yang masih tradisional,

IV - 21
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
▪ Kuburan Batu,
▪ Rante (tempat upacara kematian)
5 Tampang Allo Tongko Sarapung Sangalla’ ▪ Goa Alam dengan peti mati kuno dan Keluarga (Keluarga Sudah beroperasi
▪ patung patung milik bangsawan yang berada di dalam passanan tengko
peti mati yang sudah berumur ratusan tahun
▪ Panorama Alam
6 Suaya Kaero Sangalla’ Erong, Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang Keluarga (non Yayasan) Sudah beroperasi
mati
7 Baby Grave Tongko Sarapung Sangalla’ Passiliran (Kuburan Bayi yang disimpan di pohon hidup Keluarga (yayasan Sudah beroperasi
dengan cara di lubangi) mangunda’pa)
8 Potok Tengan Tengan Mengkendek ▪ Situs Purba Bersejarah Belum beroperasi
▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan
9 Pattan Pattan Saluputti ▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan Keluarga Belum beroperasi
▪ Kuburan Batu dan
▪ Tau-Tau/ Patung Orang Mati
10 Kawasan Wisata Buntu Kandora Tengan Mengkendek ▪ Rumah Adat, Sejarah Orang Toraja Pemda Belum beroperasi
▪ Panorama Alam,
▪ Gunung/ Batu Kars dan
▪ Monyet
11 Liang Lo'ko Randanan Ke'pe Tinoring Mengkendek Gowa Alam Keluarga Belum beroperasi
12 Tongkonan Banua Kasalle Kaero Sangalla’ Tongkonan Cagar Budaya Keluarga Belum beroperasi
13 Buntu Tondon Tondon Mamullu Makale Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati Keluarga Belum beroperasi
14 Perkuburan Kuno Gandang Batu Gandangbatu Gandangbatu Sillanan Cagar Vudaya Prasejarah / Megalitik Kuburan Batu Keluarga Belum beroperasi
15 Benteng Ambeso Benteng Ambeso Gandangbatu Sillanan Sejarah Benteng Pertahanan Pemda Belum beroperasi
16 Liang Saratu’ Bau Bonggakaradeng Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum beroperasi
17 Kampung Tenun Malimbong Balepe Kerajinan Tenun/Tongkonan Keluarga Berhenti beroperasi
18 Tengko Batu Kamali Makale ▪ Situs Cagar Budaya, Keluarga Belum beroperasi
pentalluan ▪ Batu keramat
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Rea Saluputti Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati Keluarga Belum beroperasi
20 Sanduni (Liang) Banga' Banga Rembon Kuburan Batu/ Liang Pahat Keluarga Belum beroperasi
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Ke'pe Tinoring Mengkendek Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati Keluarga Belum beroperasi
22 Liang Pahat Rano Utara Rano Utara Rano Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum beroperasi
23 Goa Sullukan Tokesan Sangalla Selatan Gowa Alam Keluarga Belum beroperasi
24 Sirope' Lion Tondok Iring Makale Utara Kuburan Batu/ Liang Pahat, Erong Keluarga Belum beroperasi
25 Saluliang Kole Sawangan Balepe Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum beroperasi
26 Mapongka Marinding Mengkendek ▪ Hutan Pinus Pemda Belum beroperasi
▪ Panorama
27 A'pa' Pamanukan Pamanukan Gandangbatu Sillanan Tongkonan Keluarga Belum beroperasi
28 To' Puang Rante Alang Batualu Sangalla’ Selatan Perkampungan Tradisional dan Tempat bersejarah Keluarga Belum beroperasi
29 Kuburan Batu Ullin Ullin Rembon Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum beroperasi
30 Ma'dandan (himpuan erong) Patudu Gandang Batu Silanan ▪ Perkumpulan erong (kuburan kuno) Keluarga Belum beroperasi
▪ keindahan alam serta dikelilingi oleh vegtasi yang hijau.
31 Batu Kapak Malimbong Balepe Belum beroperasi
32 Babakanaan Palipu Mengkendek Tebing Verikal dan Goa Belum beroperasi
33 Kuburan Batu Lemo Lemo Makale Utara Liang/ Lobang Pahat untuk peti mati dan Tau-Tau/ Patung Keluarga Sudah beroperasi
orang mati yang di masukkan kedalam liang/ lobang pahat
34 Museum Buntu Kalando Tongko Sarapung Sangalla’ Tongkonan Puang Sangalla' dan Museum Mini Sudah beroperasi
35 Sa’pak bayobayo Saluallo Sangalla Utara ▪ Kampung tenun, Keluarga Sudah beroperasi

IV - 22
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
▪ Wisata religi Sa'pak Bayo-bayo
▪ Gowa Alam
36 Ritual Aluk Todolo Mappak Mappak Perkampungan adat Rumpun Belum beroperasi
37 Gereja Tua Simbuang Lembang Simbuang Gereja tua. Jemaat Belum beroperasi
Simbuang

Daya Tarik Wisata Buatan


1 Objek Wisata Religi Buntu Burake Burake Makale ▪ Patung Yesus Pemda Sudah beroperasi
▪ Jembatan Kaca
▪ Andrenalin
▪ Panorama Alam
2 Barereng Rante Limbong Kurra ▪ Taman Wisata Keluarga Sudah beroperasi
▪ Kolam pemancingan ikan
▪ kawasan perkemahan
3 Taman Hiburan Plaza Kolam Bombongan Makale Kolam dan air mancur Pemda Sudah beroperasi
Makalle
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020

tempat untuk menginap saat melakukan perjalanan wisata. Setzer Munavizt menyatakan bahwa
4.2 FASILITAS PARIWISATA “Akomodasi adalah sesuatu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan, misalnya tempat
menginap atau tempat tinggal sementara bagi orang yang bepergian.” Lebih jauh Munavizt
Sarana Pariwisata (tourism superstructures) adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan menyatakan bahwa akomodasi wisata dapat berupa tempat dimana wisatawan dapat beristirahat,
pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung dan hidup serta menginap, mandi, makan, minum serta menikmati jasa pelayanan yang disediakan.
kehidupan perusahaan tersebut sangat tergantung pada kedatangan wisatawan. Maju
mundurnya sarana kepariwisataan tergantung pada jumlah kunjungan wisatawan sehingga setiap Undang-Undang Kepariwisataan yang mengatur tentang mekanisme pelaksanaan kegiatan
subsistem yang bekerja dalam kepariwisataan saling berhubungan satu dengan lainnya. pariwisata di Indonesia mengatur tentang usaha-usaha yang dapat dilakukan di bidang
4.2.1 Pusat Informasi Pariwisata pariwisata. Tidak diaturnya pengertian tentang akomodasi wisata dalam Undang-Undang
Pusat Informasi Pariwisata (Tourism Information Center/TIC) merupakan fasilitas pendukung Kepariwisataan membuatnya tidak adanya pengertian akomodasi wisata tersebut. Aturan yang
untuk membantu wisatawan menerima informasi seputar destinasi yang hendak mereka melandasi pentingnya pengadaan jasa akomodasi wisata terdapat pada Pasal 14 UU
kunjungi. Pusat Informasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja telah diresmikan pada tahun 2019, Kepariwisataan mengenai usaha-usaha wisata. Usaha-usaha yang diatur pada Pasal 14 Ayat (1)
yang terletak di kompleks pasar Seni pusat kota Makale Ibukota Kabupaten Tana Toraja. menyebutkan bahwa : “Usaha pariwisata meliputi : (a) daya tarik wisata; (b) kawasan pariwisata;
(c) jasa transportasi wisata; (d) jasa perjalanan wisata; (e) jasa makanan dan minuman; (f)
TIC menjadi sumber segala informasi yang berkaitan dengan Pariwisata Tana Toraja mulai dari penyediaan akomodasi; (g) penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi; (h)
informasi objek wisata, penginapan transportasi, restoran dan lain sebagainya agar setiap penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran; (i) jasa informasi
wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja dapat mengakses informasi dengan mudah. Selain pariwisata; (j) jasa konsultan pariwisata; (k) jasa pramuwisata, (l) wisata tirta; dan (m) spa.”
itu, TIC ini juga dapat berfungsi sebagai administrasi kepariwisataan yang mendata setiap Penyediaan akomodasi sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 14 Ayat (1) huruf (a) UU
kunjungan wisatawan serta tujuan-tujuan ke daya tarik tertentu sehingga Pemerintah Kabupaten Kepariwisataan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan akomodasi wisata merupakan hal yang
Tana Toraja kedepannya akan mendapat gambaran perkembangan wisatawan serta kawasan- perlu disediakan oleh penyedia jasa pariwisata bagi wisatawan untuk menunjang kegiatan
kawasan wisata mana saja yang menjadi unggulan kunjungan wisatawan. wisatawan selama berlibur di tujuan wisata.

4.2.2 Akomodasi Kegiatan pariwisata yang didasari kegiatan bisnis disebut dengan akomodasi komersil. Akomodasi
Akomodasi wisata merupakan hal penting dalam memenuhi kebutuhan wisatawan yang sedang komersil dibidang pariwisata bertujuan mencari keuntungan dengan menawarkan barang
berwisata. Para wisatawan cenderung membutuhkan akomodasi yang memiliki beragam varian maupun jasa kepada wisatawan untuk mendapatkan keuntungan (profit). Setzer Munavizt
harga maupun macamnya. Bentuk akomodasi primer yang dibutuhkan wisatawan yaitu adanya

IV - 23
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

menyatakan, terdapat beberapa jenis akomodasi wisata yang biasa dipakai untuk tujuan komersil, unit penginapan, dan 6 unit Wisma, Home Stay 8 unit serta fasilitas akomodasi lain seperti villa-
yaitu Hotel, Motel (motor hotel), Hostel, Cottage dan Bungalow, Iin, dan Guest House. villa yang tersedia di DTW.
Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Indonesia, peran Hotel yang tersedia dengan berbagai tingkatan dari tingakat melati sampai dengan hotel
akomodasi pariwisata sangat penting peranannya dalam mewadahi kebutuhan wisatawan. Peran berbintang 3 (tiga) yaitu Sahid Hotel yang terletak di Kelurahan Rante Kalua Kecamatan
pihak swasta dalam penyediaan sarana akomodasi sangat tergantung pada perkembangan Mengkendek, kemudian ada Hotel Pantan dengan kelas bintang 2 (dua) terletak di Kota Makale.
investasi didaerah, dimana Kabupaten Tana Toraja dilihat sebagai salah satu potensi yang dapat Selain akomodasi umum, beberapa DTW juga telah tersedia penginapan dan villa-villa terutama
berkembang akomodasi baik bagi kepentingan pariwisata maupun kepentingan lainnya. DTW-DTW alam yang mempunyai daya tarik pada waktu-waktu tertentu dan jarak yang cukup
jauh dari pusat kota seperti DTW Pango Pango yang juga memiliki daya tarik pemandangan alam
Bagi kepentingan pariwisata, keberadaan akomodasi wisata dapat dibagi menjadi 2 kategori
pada pai hari.
berdasarkan pemanfaatannya, yaitu akomodasi umum dan akomodasi khusus. Akomodasi umum
yaitu fasilitas akomodasi yan disediakan bagi berbagai kepentingan sebagai tempat penginap, Berdasarkan rincian data akomodasi yang dikumpulkan melalui Dinas Pariwisata dan beberapa
beristirahat, dan lain sebagaimana pengertian akomodasi secara umum yang pada umumnya diantaranya dilakukan tinjauan kelapangan, data tersebut jika dilihat dari tingkat hunian,
tersedia di pusat-puusat aktivitas wilayah seperti perkotaan, sekitar, perkantoran. Sedangkan menunjukkan bahwa keberadaan akomodasi di Tana Toraja masih cukup kecil pemanfaatannya
akomodasi khusus yaitu jenis akomodasi yang khusus disediakan bagi kegiatan wisatawan dan dimana tingkat hunian umumnya masih dibawah 50% dari ketersediaan fasilitas yang ada disetiap
terletak dikawasan-kawasan wisata serta dalam berbagai bentuk akomodasi seperti hotel, jenis akomodasi, bahkan ada yang hanya mencapai 20%. Kondisi ini menunjukkan bahwa
penginapan, goest house, villa, dan sebagainya. kegiatan wisatawan jika dibandingkan dengan kunjungan wisatawan terdapat beberapa
kemungkinan yang terjadi sehingga tingkat hunian masih relatif rendah, diantaranya wisatawan
Dalam pembahasan ini, secara umum akan diuraikan potensi akmodasi yang tersedia di
yang berkunjung boleh jadi tidak menginap di Tana Toraja, kemungkinan lain memanfaatkan
Kabupaten Tana Toraja yang juga merupakan bagian dari akomodasi pariwisata. Kota Makale
tempat tinggal sanak saudara wisatawan, serta kemungkinan data yang belum terhimpun. Berikut
sebagai pusat informasi pariwisata/TIC merupakan pilihan investasi dalam bidang perhotelan,
rinciannya.
sehingga sebaran hotel-hotel dan akomodasi lainnya lebih cenderung berada di Kota Makale dan
sekitarnya. Berdasarkan hasil observasi lapangan, terdapat kurang lebih sekitar 8 unit hotel, 4

Tabel: 4.4 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat
No. Nama dan Jenis Akomodasi Alamat Fasilitas Ket.
Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
1 Hotel Sahid*** Getengan Kec. Mengkendek. Jl Jurusan ▪ 24 jam room service 16 36 850.000 - 30% Bintang 3
Makassar ▪ Restaurant
▪ Swiming pool
▪ Metting room
2 PantanToraja Hotel** Makale. Jl Pongtiku No. 116 ▪ Laundry 6 31 500.000 500.000 45% Bintang 2
▪ Swimming Pool
▪ Restaurant
▪ Room Service
▪ Wifi
▪ Tv/Kamar
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room
Kapasitas 50 s/d 300
3 Hotel Sangalla' Makale. Jl Pongtiku No. 509 ▪ Meeting Room 14 7 200.000 200.000 20% Melati II
▪ Wi-fi 150.000 150.000
▪ 8 kamar Tv
▪ Restoran
4 Hotel Grand Metro Permai Makale. Jl Pongtiku No. 445 ▪ AC, TV, Air Panas 14 12 380.000 650.000 20% Hotel
▪ Restoran
5 Hotel Batupapan Makale. Jl Pongtiku No. 130 ▪ wi-fi 1 18 330.000 330.000 20% Melati III
▪ Tv /kamar 220.000 220.000

IV - 24
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 4.4 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat
No. Nama dan Jenis Akomodasi Alamat Fasilitas Ket.
Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
110.000 110.000
6 Puri Artha Suites Hotel Toraja Makale. Jl Pongtiku No. 114 ▪ Tv, Kulkas, Shower, 8 24 310.000 275.000 30% Melati III
Air Panas 400.000 350.000
▪ Meeting Room
▪ Restoran
7 Makula Hotel Sangalla Selatan No.37 Kolam Air Panas 3 3 100.000 100.000 20% Melati III
8 Hotel Gosyen Efata Jl. Poros Rantepao-Makale, Sarira, Makale - - - - - - -
Utara.
9 Wisma Louise Lestari Makale. Jl Pongtiku No. 130 - 11 3 200.000 200.000 40% Melati II
10 Wisma Kota Jaya Makale. Jl Pongtiku. - - 15 - 100.000 45% Melati
11 Wisma Litha Makale. Jl Pongtiku No. 97 - 5 4 30.000 80.000 50% Melati
12 Wisma Bungin Makale. Jl Nusantara - - 13 - 50.000 50% Melati
13 Wisma Merry Makale. Jl Pongtiku - - 5 - 150.000 40% Melati
14 Wisma Yani Randanan Makale. Jl Nusantara - 1 6 50.000 75.000 20% Melati
15 Lemo HomeStay Makale Utara ▪ Air Panas / Dingin 4 - 250.000 - 20% Home stay
▪ Tv Ruang Tamu
16 Home Stay Buntu Pantan Makale. Jl. Buntu Pantan No. 52. - 20 4 150.000 250.000 30% Home stay
17 Villa Manggasa Jl. Landa-landa Tv/Kamar 13 - - - 20% Melati
18 Ghitari Lodge Homestay Sangalla - - - - - - Melati
19 HomeStay Kalembang Indah Sangalla Utara - - - - - 40% Home stay
Sangalla
20 Homestay Anugrah Rufus JL. Makale Makassar - 30 - 150.000 - 10% Home stay
21 Santung Mamullu Homestay JL. Makale Makassar - 6 - - - 10% Home stay
22 Homestay Pioner JL. Makale Makassar Km. 16 - 10 - - - - Home stay
23 Penginapan Joni Tandi Makale. JL. Wolter wongsidi no. 106A - - - - - - Home stay
24 Homestay Wilem Somalinggi Makale Utara. Lemo - - - - - - Home stay
25 Villa Pango Pango Makale Utara. Kel. Topasan - 4 - - - 10% Home stay
26 Penginapan Mangga Mengkendek. Kepe Tinoring - 1 4 100.000 - - Home stay
27 Penginapan Micel Samar Pasak Makale. Mandetek - - 6 100.000 - - Melati
28 Villa Tengan Palipu, Mangkendek - - - - - - -
29 Bukit Indah Rintho 7 Jaya Jl Merdeka Km 1, Tondon Mamullu, Makale - - - - - - -
30 Masokan Homestay Jl. Tritura No. 83, Kamali Pentalluan, Makale - - - - - - -
31 Wisma Elsindoe Jl. Nusantara, Makale - - - - - - -
32 Karatuan Homestay Sallualo, Sangalla Utara - - - - - - -
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020

IV - 25
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

IV - 26
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.2.3 Agen dan Biro Perjalanan Wisata Tabel: 4.6 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau Tahun
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
menyediakan/mengusahakan objek wisata dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan Beroperasi
usaha lain yang terkait dengan bidang tersebut. Objek dan daya tarik wisata adalah segala 5 BIRO PERJALANAN WISATA CV. MEGA PERMAI JL. PELITA NO. 83 KEL.
sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Kawasan wisata adalah kawasan dengan luas tertentu BOMBONGAN, KEC. 2014
yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. MAKALE
6 BIRO PERJALANAN WISATA CV. MELONA GRASIA JL. PASAR BARU NO. 52 2015
Soekadijo (2000) mendefinisikan pariwisata sebagai segala kegiatan dalam masyarakat yang 7 JASA BIRO PERJALANAN PT. MANTING JAYA MAMULLU
2015
berhubungan dengan wisatawan. Pariwisata memberikan peluang kepada masyarakat untuk WISATA ANUGRAH
berusaha atau berwirausaha, jenis-jenis usaha yang ada kaitannya dengan pariwisata tergantung 8 JASA BIRO PERJALANAN PT. CELEBES BALI JL. MERDEKA
2015
dari kreativitas para pengusaha swasta baik yang bermodal kecil maupun besar untuk WISATA WISATA
memberikan jasa atau menawarkan produk yang sekiranya diperlukan oleh wisatawan. Usaha 9 BIRO PERJALANAN WISATA KARTINI TRAVEL SALUPUTTI 2018
pariwisata secara menyeluruh dapat dikatakan sebagai industri pariwisata, tetapi tidak 10 BIRO PERJALANAN WISATA AMOS TRAVEL TONDON MAMULLU 2019
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
diibaratkan sebagai pabrik yang mengolah barang mentah menjadi barang jadi, serta ada
produknya. Industri pariwisata adalah keseluruhan usaha-usaha yang dapat dinikmati wisatawan
semenjak awal mula proses ketertarikan untuk berwisata, menikmati lokasi daerah tujuan wisata 4.2.4 Jasa Boga dan Restoran
sampai pada proses akhir wisatawan tersebut pulang menginjakkan kakinya sampai di rumah, Usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan
kemudian mengenangnya. untuk proses pembuatan,penyimpanan dan/atau penyajiannya merupakan standar usaha
makanan dan minuman untuk kegiatan wisata. Kabupaten Tana Toraja memiliki banyak usaha-
Usaha jasa pariwisata adalah suatu bisnis yang kegiatan utamanya menjual jasa-jasa
usaha makanan dan minum yang tersebar dan sebagian besar tersedia di Kota Makale.
pariwisata kepada para wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Agen Perjalanan, Biro
Perjalanan dan Tour Operator (Usaha Jasa Perjalanan) : Kegiatan Biro Perjalanan lebih luas lagi Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun
Tabel: 4.7
2020
dibandingkan dengan Biro Perjalanan. Selain usaha daya tarik wisata, akomodasi, serta
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
transportasi, jenis usaha pariwisata lain dapat berupa Usaha Perjalanan Wisata, Usaha Makanan
1. Rumah Makan Restourant BatuKila Hotel Sahid Toraja Ge'tengan No.1 Kec. Mengkendek. Jl.
dan Minum, penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan Rekreasi, SPA, Pertemuan, dll. Jurusan Makassar
Kabupaten Tana Toraja telah tersedia cukup banyak usaha-usaha yang mendukung kegiatan 2. Restourant Restourant Pantan Toraja Hotel Jl. Pongtiku Makale
3. Rumah Makan Warung Panorama Jl. Sangalla' Makale
kepariwisataan didaerah tersebut. Setidaknya terdapat 10 (sepuluh) agen/biro perjalanan wisata
4. Rumah Makan Warung Makan Kawanua Jl. Poros Makale-Rantepao
dari berbagai perusahaan yang telah beroperasi dari tahun 2012 sampai sekarang, sementara 5. Rumah Makan Warung Makan Hj. Idaman Jl. Merdeka No. 46. Makale
agen-agen perjalanan wisata lain terkait dengan perjalanan wisata ke Tana Toraja juga tersedia 6. Restourant Restouran dan Permandian Air Panas Makula Sangalla Selatan No. 37
di Kota Makassar sebagai TIC Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut rincian beberapa agen perjalanan 7. Rumah Makan Rumah Makan Solata Jl. Poros Makale- Mks Km. 2 Makale
wisata yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja yang dihimpun dari Dinas Pariwisata Kabupaten. 8 Restourant Restourant Hotel Sangalla Makale Jl. Pongtiku
9 Restourant Restourant Puri Artha Makale Jl. Pongtiku No. 114
Tabel: 4.6 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 10 Rumah Makan Lesehan Putri Makale. Jl. Makale-Rantepao
Tahun 11 Rumah Makan Rumah Makan Depot 99 Makale Jl. Pongtiku
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat 12 Rumah Makan Rumah Makan Mitra Fatma Jl. Ampera Makale
Beroperasi
1 AGEN PERJALANAN WISATA TRAVEL MORIA JL. PONGTIKU PANTAN 13 Rumah Makan Rumah Makan Setia Kawan Jl. Km2. poros Makassar Toraja
2012 14 Rumah Makan Café Resto Botang Jl. Poros Makale Makassar/Botang
MAKALE
2 USAHA PENYEDIAAN CV. BINA BUNGIN JL. NUSANTARA NO. 35 15 Rumah Makan Café Bambu Jl. Poros Makale Makassar/Botang
2012 16 Rumah Makan Rumah Makan Tepi Sawah Jl. Poros Makale Makassar
AKOMODASI SEJAHTERA MAKALE
Mengkendek
3 BIRO PERJALANAN WISATA CV. BINA BUNGIN JL. NUSANTARA NO. 35
2012 17 Rumah Makan Restoran/Café Kandean Jl. Makale Rantepao Km.8 Kel. Lemo
SEJAHTERA MAKALE Kec. Makale Utara
4 TOURS & TRAVEL PT. KHATULISTIWA RANTELEMO KEL. 18 Rumah Makan Buli-Buli Café Jl. Pongtiku, No. Pantan
NUSANTARA HIJAU SARIRA, KEC. MAKALE 2013 19 Rumah Makan Astrini Jl. Pongtiku . Makale Utara
UTARA 20 Rumah Makan Burake Hill Resto Jl. Buntu Burake

IV - 27
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun
Tabel: 4.7 Tabel: 4.7
2020 2020
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
21 Rumah Makan Rumah Makan Pango-Pango Kel. Botang Km.3 61 Rumah Makan WARUNG MAKAN PAULINA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
22 Restourant café & resto Jl. Sultan hasanuddin no 9 WARUNG LINGKAR NO.02
23 Rumah Makan Rumah Makan Almas Jl. Pongtiku 62 Rumah Makan STAND WARUNG MAKAN YULI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG
24 Rumah Makan Rumah Makan 52 Jl. Pongtiku No. 52 LINGKAR NO.8
25 Rumah Makan Rumah Makan Sikamali Makale 63 Rumah Makan RUMAH MAKAN REGINA JL. POROS KM.6 MENGKENDEK
26 Rumah Makan Rumah Makan Bukit Indah Jl. Merdeka Makale 64 Rumah Makan DEPOT CHRISTO JL. NUSANTARA
27 Rumah Makan Fearly Resto & Café Jl. Tritura No 80 65 Rumah Makan WARUNG MAKAN SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
28 Rumah Makan Warung Pojok Agung Jl. MERDEKA NO 23 WARUNG LINGKAR/15
29 Rumah Makan Kedai Mamie Jl. Jendral Sudirman No. 22 66 Rumah Makan WARUNG BAKSO SOLO PASAR BARU SALUALLO
30 Rumah Makan Bakso babi alang2 Jl, Merdeka 67 Rumah Makan WARUNG MAKAN FRANSISKA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
31 Rumah Makan Kios Ujung Pandang Kec Makale Utara WARUNG LINGKAR NO.17
32 Rumah Makan Lesehan Topal Kec Makale Utara 68 Rumah Makan WARUNG MAKAN ICHAL BURAKE
33 Rumah Makan Rumah Makan Krita Kec Makale Utara 69 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM WONG SOLO JL. PONGTIKU NO.23
34 Rumah Makan Rama Indah 70 Rumah Makan WARUNG MAKAN SUNAN DRAJAT PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
35 Rumah Makan Harapan Barto WARUNG LINGKAR NO.30
36 Rumah Makan Rumah Makan Marannu Kec Makale Utara 71 Rumah Makan WARUNG MAKAN WARMEL PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
37 Rumah Makan Warung Kopi Kebun Kec. Sangalla Selatan F2/08
38 Rumah Makan Warung Kopi Wala Kec. Sangalla Selatan 72 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM BAKSO WONG SOLO PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
39 Rumah Makan Rumah Makan Rahmat Kec. Rantetayo WARUNG MAKAN/29
40 Rumah Makan Warung Makan Ma Isas Kec. Rantetayo 73 Rumah Makan RUMAH MAKAN BAMBAPUANG JL. NUSANTARA
41 Rumah Makan Rumah Makan Ma Dewi Terminal To Ao Makale 74 Rumah Makan RUMAH MAKAN BOTANG KM. 3 BOTANG
42 Mendoe Selatan, Kel. Tambunan, Kec. 75 Rumah Makan WARUNG MAKAN SAMANTHA KAMALI
rumah Makan WARUNG TIGA SEKAWAN 76 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. NUSANTARA NO.47
Makale Utara
43 Rumah Makan WARUNG MAKAN VITRA JL. JEND. SUDIRMAN 77 Rumah Makan ALMAS "BAKSO BABI" JL. PONGTIKU PANTAN
44 Rumah Makan WARUNG WESTI PASAR BARU 78 Rumah Makan WARUNG SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
45 Rumah Makan WARUNG MAKAN BERKAT INDAH LINGKUNGAN TARA'PA' WARUNG LINGKAR NO.7
46 Rumah Makan WARUNG MAKAN LADIVA [Link] BARU NO.52 79 Rumah Makan WARUNG MKN SABAR TO'KALUKU
47 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK 80 Rumah Makan CITRA DEANY Jl. Tritura No 27
WARUNG GALAMPANG NO.11 81 Rumah Makan RUMAH MAKAN EMILIANA
48 Rumah Makan WARUNG MAKAN TONDON PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/3 82 Rumah Makan Pioner Tampo
49 Rumah Makan WARUNG MAKAN PANTAN JALAN PONGTIKU PANTAN 83 CAFE LARUNA CAFÉ JL. JURUSAN MAKALE NO. 9
50 Rumah Makan WARUNG MAKAN 31 PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG 84 CAFE TEPIAN CAFÉ JL. PONGTIKU KM. 3 SE'PON MAKALE
LINGKAR/31 85 CAFE PRO CAFÉ & BAR JL. PONTIKU NO.49 MAKALE
51 Rumah Makan WARUNG MAKAN LESTARI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG 86 CAFE MASAGENA KARAOKE SE'PON MAKALE
LINGKAR 87 CAFÉ/KARAOKE CAFÉ SAHID JL. RAYA GE'TENGAN NO.7 KEC.
52 Rumah Makan RUMAH MAKAN IDAMAN JL. MERDEKA MENGKENDEK
53 Rumah Makan WARUNG MAKAN TIUR PASAR WILAYAH MAKALE BLOK 88 CAFÉ CAFÉ KANDORA JL. POROS MAKALE- MAKASSAR KM.7
F2/12 TENGAN
54 Rumah Makan WARUNG MAKAN SE'PON SE'PON 89 CAFÉ SENDANA CAFÉ JL. PASAR BARU NO. 165 MAKALE
55 Rumah Makan RUMAH MAKAN KURNIA SUBUR JL. PASAR BARU NO.53 90 Cafe Harvin cristine Jl. Pongtiku
56 Rumah Makan RUMAH MAKAN AROMA TORAJA JL. MERDEKA NO.22 91 Cafe café early Jl. TRITURA
57 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. [Link] NO.166 92 Café, dan
58 Rumah Makan WARUNG MAKAN MAMA ISAS JL. POROS BATUPAPAN rumah MASAGENA CAFÉ Jl. Pongtiku, Kel. Pantan, Kec. Makale
59 Rumah Makan WARMIE MARENDENG JL. PONGTIKU bernyanyi
60 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK 93 RESTAURAN RESTAURAN KAMPUNG WISATA ASTRINI JL. PONGTIKU MANDETEK KEC.
WARUNG LINGKAR NO.05 MAKALE UTARA

IV - 28
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun Tabel: 4.8 Fasilitas Perbankan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tabel: 4.7
2020
No. Bank/ATM Nama Kantor Alamat
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
94 SPA PERAWATAN WAJAH TENGAN KK BRI Res Tana Toraja Jl. Bhayangkara No. 1 Makale
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 KC Makale JL. Jend. A. Yani No. 96
UNIT Bombongan JL. Veteran No. 3
4.2.5 Fasilitas Perbankan TERAS BRI Keliling Jl. Veteran No. 3, Kel. Bombongan
Sebagai salah satu fasilitas penting didalam kegiatan pariwisata yang sangat dibutuhkan oleh KCP BRI Tana Toraja Jl. Musa, Kel. Bombongan, Kec. Makale
wisatawan yaitu ketersediaan fasilitas perbankan serta sebarannya. Di Kabupaten Tana Toraja UNIT Mengkendek Makale Jl. Raya Getengan Poros Makale-
terdapat beberapa bank diantaranya: Bank BNI, Bank BRI, Bank BTN, Bank BTPN, Bank Mengkendek
Danamon, Bank Mandiri, Bank Pundi, dan Bank Sulsel (Bank Sulselbar). UNIT Salu Allo Makale Jl. Buntu Masakke No. 56
4 Danamon Tana Toraja – Pasar Makale JL. Pasar Barutana
Sebagai salah satu fasilitas penting dalam kegiatan kepariwisataan didaerah, perbankan bukan ATM Makale 2 JL. Merdeka No. 26
hanya sebagai wadah aliran dana, namun juga dapat berperan aktif dalam promosi dan 5 BTN Makale Jl. Hasanuddin No. 1
kerjasama lain dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja. Oleh karena itu, 6 BTPN Makale Paku Pentalluan, Kel. Kamali Pentalluan
pemerintah daerah dengan berbagai skema kerjasama dapat merangkul pihak perbankan 7 Mandiri ATM/ADM Apotik Sinar Kasih Jl. Nusantara
terutama BUMN dalam upaya tersebut yang diharapkan juga membawa dampak positif bagi KCp Toraja Makale Jl. Sultan Hasanuddin No. 2
kegiatan perbankan di Kabupaten Tana Toraja. Berikut rincian perbankan yang tersedia di 8 Sulselbar ATM/ADM Syariah. Office Channelling Jl. Ampera No. 40
Kabupaten Tana Toraja: Cabang Makale
Cabang Makale Jl. Ampera No. 40
Tabel: 4.8 Fasilitas Perbankan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
9 Bank KCP Makale -
No. Bank/ATM Nama Kantor Alamat Papua
1. BNI ATM Kantor PKK Kab. Tana Toraja Jl. Ampera Sumber: Tana Toraja Archives, Infomasi Bank, 2020
ATM Capem Toraja JL. Ahmad Yani No. 64, Tana Toraja
ATM KLN Tana Toraja 2 JL. Ahmad Yani No. 64, Tana Toraja
ATM KCP Tana Toraja JL. Pangeran Diponegoro NO. 25 4.3 FASILITAS UMUM PENDUKUNG PARIWISATA
ATM RS. Elim JL. Jend. Sudirman 4.3.1 Fasilitas Kesehatan
ATM Kampus I UKI JL. Nusantara No. 12 Makale Fasilitas kesehatan yang dimaksud sebagai pendukung kegiatan pariwisata adalah ketersediaan
ATM KK Makale JL. MERDEKA No. 10, Makale
fasilitas yang dapat digunakan salah satunya untuk mendukung atau menjamin keberadaan
KK Makale JL. MERDEKA No. 10, Makale
wisatawan tetap mendapat pelayanan kesehatan khususnya pada kondisi darurat. Data statistik
KCP Tana Toraja JL. Diponegoro No. 25
Kabupaten Tana Toraja, banyaknya fasilitas kesehatan adalah 733 unit yang terdiri atas Rumah
2 BRI UNIT Salubarani JL. Raya Salubarani
Sakit 4 unit diantaranya RSU 3 unit dan RS. Bersalin 1 unit, kemudian Puskesmas sebanyak 21
UNIT Pangli JL. Salubarani Pangli Pallawa
UNIT Makale JL. Pongtiku
unit, Posyandu 328 unit. Dapat dikatakan bahwa penyebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten
UNIT Rantelemo Makale JL. Poros Rantepao Makale Km 8 Tana Toraja untuk saat sekarang ini sudah tersebar secara merata disetiap wilayah kecamatan.
UNIT Bombongan Jl. Veteran No. 3, Kel. Bombongan, Kec. Potensi tersebut secara umum dapat dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan bagi wisatawan,
Makale namun yang terpenting dalam mendukung kegiatan wisatawan yaitu ketersediaan fasilitas
UNIT Mengkendek Jl. Poros Makale Rantepao, Kel. Rante kesehatan disetiap DTW khususnya yang telah dikembangkan oleh pemerintah, masyarakat,
Kalua
swasta maupun kerjasama diantaranya. Fasilitas yang wajib disediakan yaitu sejenis klinik
UNIT Salu Allo Jl. Psr Lama Sangalla No. 69, Katumbang
pengobatan pada DTW untuk kebutuhan darurat kesehatan bagi wisatawan yang berkunjung ke
TERAS Pasar Makale Jl. Pasar Baru No. 18, Kel. Tondong
DTW yang tersedia.
UNIT Saluputti Jl. Poros Makale Simbuang, Lingkungan
Simbuang
UNIT Salubarani Jl. Poros EnrekangToraja, Kel. Salubarani
UNIT Makale Jl. Poros Makale, Kel. Pantan, Kec. Makale

IV - 29
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.3.2 Fasilitas Pendidikan Sejumlah ruas-ruas jalan menuju DTW telah dibangun dan pemeliharaan fisik seperti di Pango
Pentingnya fasilitas pendidikan dalam mendukung kegiatan pariwisata didaerah bukan hanya Pango, Buntu Burake, dan lain-lain.
dengan ketersediaan fasilitas pendidikan umum saja, namun diharapkan tersedia fasilitas
Penyebaran daya tarik wisata yang sangat banyak di Tana Toraja menuntut adanya
pendidikan yang mengembangkan program-program studi yang berbasis pada kepariwisataan
pengembangan akses yang layak bagi kegiatan pariwisata. Salah satu keunggulan dari sebaran
khususnya pada tingkat pendidikan tinggi seperti sekolah pariwisata, program studi pariwisata,
daya tarik wisata didaerah ini yaitu sebagian besar DTW-DTW merupakan bagian dari
program studi pendidikan seni dan budaya, perhotelan, pengembangan wilayah, tata boga,
perkampungan-perkampungan yang sekaligus merupakan bagian dari pelayanan dasar terhadap
bahasa asing, dan lainnya sehingga secara mandiri Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dapat
masyarakat. Secara umum, aksesibilitas terhadap jangkauan DTW di Tana Toraja terlayani cukup
mengembangkan sumberdaya manusia bidang kepariwisataan didaerahnya.
baik dan umumnya dibangun jalan-jalan beton dan aspal yang dapat menjangkau sampai ke
Salah satu fasilitas pendidikan tinggi di Kabupaten Tana Toraja yaitu Sekolah Tinggi Agama kawasan-kawasan wisata, bahkan penataan akses internal kawasan wisata telah banyak
Kristen Negeri (STAKN) Toraja yang terletak di Rante Kalua Kecamatan Mengkendek, telah dilakukan untuk mendukung kegiatan wisatawan didalam setiap DTW.
merencanakan mengembangan program studi yang berbasis kepariwisataan dan budaya yang
Secara eksternal wilayah, Kabupaten Tana Toraja dilayani oleh moda angkutan darat dan udara
dapat mendukung pengembangan kepariwisataan Tana Toraja. Bahkan STAKN telah melakukan
(tahap pengembangan bandara). Moda angkutan darat yang digunakan dari dan ke Tana Toraja
usulan transformasi dari sekolah tinggi menjadi institut dengan Nama Institut Agama Kristen
dapat dicapai dengan berbagai jenis kendaraan baik roda dua maupun roda empat dan bus.
Negeri (IAKN) yang disertai dengan usulan-usulan pengembangan program studi yang ada serta
Kabupaten Tana Toraja dilalui oleh ruas jalan nasional sehingga dapat ditempuh dari berbagai
membuka beberapa program studi yang sangat mendukung pembangunan kepariwisataan Tana
arah, khususnya dari Kota Makassar, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan umum bus
Toraja.
dari berbagai perusahaan transportasi yang tersedia seperti Litha and Co, Manggala Tran, Metro
Permai, Bintang Prima, dll yang perwakilannya sudah ada di Kota Makale dan sekitarnya. Untuk
4.3.3 Fasilitas Peribadatan
jalur udara saat ini telah dilakukan uji coba penerbangan dan tahap pengembangan Bandara
Berdasarkan data tahun 2018, sarana peribadatan yang ada di Kabupaten Tana Toraja sebanyak
Buntu Kunik telah mencapai tahap akhir sehingga kedepannya transportasi udara menuju Tana
1.017 unit, yang terdiri atas, sarana Mesjid 45 unit, Mushallah 4 unit, Gereja Khatolik 161 unit,
Toraja akan menjadi moda yang sangat efisien melakukan perjalanan ke Tana Toraja.
Gereja protestan 704 unit. Keberadaan fasilitas tersebut didominasi oleh Gereja protestan, hal
tersebut disebabkan penganut Agama Kristen Protestan sangat dominan di Kabupaten Tana Secara internal, sarana transportasi yang dapat digunakan oleh wisatawan menuju ke tempat-
Toraja. Selain itu, dari hasil survey lapangan keberadaan akan fasilitas peribadatan tersebut tempat wisata dengan menggunakan jasa travel dan bus-bus pariwisata yang telah tersedia, serta
sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. kendaraan-kendaraan sewa yang disediakan oleh perusahaan maupun perorangan di Tana Toraja
baik roda dua maupun roda empat.
Untuk kepentingan pariwisata, pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam pengembangan setiap
daya tarik wisatanya terutama DTW yang telah dikembangkan umumnya telah menyediakan
4.5 PRASARANA UMUM PENDUKUNG PARIWISATA
fasilitas peribadatan seperti mushallah.
4.5.1 Prasarana Perhubungan
4.4 AKSESIBILITAS PENDUKUNG PARIWISATA 1. Transportasi Darat
Jalan merupakan sarana angkutan darat yang sangat penting untuk memperlancar kegiatan
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melalui berbagai program pembangunan infrastruktur yang
perekonomian. Panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018
didukung oleh pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tengah gencar
menurut data startistik mencapai 1.252 km. Panjang jalan pada tahun 2018 mengalami
membangun sejumlah prasarana wilayah yang mendukung peningkatan aksesibilitas pelayanan
peningkatan sepanjang 199,62 km dari tahun sebelumnya. Jika dilihat dari jenis permukaan
kegiatan pariwiisata didaerah. Salah satu perwujudan tersebut dilakukan dengan pengembangan
jalan maka terdapat 352,67 km jalan yang telah diaspal, tidak diaspal mencapai 888,79 km,
ruas-ruas jalan yang selain untuk mengakomodasi aktivitas masyarakat, juga diharapkan menjadi
sedangkan sisanya 210,56 km jenis permukaan lainnya. Jika ditinjau dari kondisi jalan maka,
sarana untuk kegiatan pariwisata yang memiliki daya tarik wisata tersebar diberbagai bagian
masih banyak jalan dengan kondisi rusak berat sepanjang 306,69 km dan rusak 210,90 km.
wilayah Kabupaten Tana Toraja.
Dibandingkan tahun lalu panjang jalan kondisi baik meningkat 52,17 persen sepangjang
Salah satu ruas jalan misalnya yang dikembangkan yaitu ruas jalan lingkar pariwisata yang 582,19 km.
dibangun untuk mengakomodasi perjalanan wisatawan serta membuka keterisolasian beberapa
2. Terminal
bagian wilayah kabupaten. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya, perkembangan
Keberadaan terminal sebagai titik simpul pergerakan arus kendaraan, orang dan barang
jaringan transportasi darat (jalan) di Kabupaten Tana Toraja cukup pesat pertumbuhannya.
adalah penting untuk diamati. Jumlah terminal di Kabupaten Tana Toraja hanya 1 lokasi,

IV - 30
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

yaitu terminal Makale dengan terminal bertype C. Lokasi terminal Makale tersebut telah Dengan jarak ± 5 km dari jalan Poros akan memudahkan wisatawan dalam menjangkau
dimanfaatkan sebagai simpul utama pergerakan angkutan. Kondisi terminal type C Makale tempat-tempat wisata di Toraja. Dalam pengembangan KSPN Toraja, salah satu strategi
saat ini terdiri atas pelataran-pelataran angkutan umum dan dilengkapi bangunan-bangunan pengembangannya adalah meningkatkan level Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui
halte untuk menumpang dengan kondisi belum maksimal. Pembangunan bandara baru Buntu Kunik yang mampu menerbangkan wisatawan
Mancanegara dan wisatawan Nusantara langsung dari Bali sebagai darah transit utama
wisman dan daerah daerah lain di indonesia menuju kawasan pariwisata Toraja, sehingga
wisman dan wisnus tidak perlu lagi melakukan perjalanan darat yang panjang dan
melelahkan selama hampir 8 jam dari makasar menuju Makale. Selain itu juga menjadikan
jalan poros Enrekang-Makale-Ratenpao-Palopo menjadi jalan dengan status handal dan
mampu mendukung aktivitas trasnportasi wisatawan dengan jumlah besar. Perkembangan
terakhir terkait pengembangan bandara Buntu Kunik ini belum lama ini telah dilakukan uji
coba penerbangan.
Alur penerbangan Bandara Buntu Kunik (BBK) diharapkan menjadi alur penerbangan regional
meliputi :
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar – Bali – Jogya
Gambar 4.5. Situasi Terminal Makale (sumber: Dokumentasi Survey, 2020)
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Manado – Bali
Pemanfaatan terminal tersebut melayani angkutan kota berupa AKDP dan AKAP. Hal ini ▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar – Singapura – Jepang
memperlihatkan bahwa kategori terminal Makale sudah tidak layak dengan type terminal
Type C. Oleh karena itu, di perlukan peningkatan status terminal dan pengembangan 4.5.2 Pelayanan Energi Kelistrikan
terminal baru seiring dengan bertambahnya alat transportasi darat. Energi listrik sudah menjadi kebutuhan setiap orang dan pemenuhan kebutuhan listrik menjadi
salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan disektor kepariwisataan
3. Transportasi Udara
Kabupaten Tana Toraja. Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Tana Toraja dalam mengatasi
Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan udara ke Tana Toraja.
masalah kelistrikan di daerah perbatasan adalah dengan membangun PLTHM dan PLTS yang
Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang berangkat dari Bandara Pongtiku sebanyak 1.030
akan melayani kebutuhan listrik masyarakat dan kebutuhan pengembangan pariwisata didaerah.
orang. Penerbangan di Tana Toraja melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar
pulau sulawesi. Bandar udara ini direlokasi karena tidak bisa dikembangkan karena aspek
4.5.3 Jaringan Prasarana Telekomunikasi
geologi tidak memadai. Bandara Buntu Kunik disiapkan sebagai pengganti Bandara Pongtiku,
dengan landasan pacu sepanjang 2.600 meter dengan nama Toraja International Airport Kemajuan dibidang informasi dan komunikasi telah mendorong munculnya globalisasi dengan
yang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kunjungan wisatawan domestik maupun berbagai perspektifnya. Perkembangan tersebut diikuti dengan berkembangnya sarana dan
mancanegara. prasarana komunikasi seperti wartel, warnet, maupun informasi dalam bentuk pameran.
Rasio wartel/warnet terhadap penduduk di Tana Toraja untuk tahun 2010 adalah sebesar
0,00010. Angka rasio warnet/wartel tahun 2014 menurun dibanding tahun 2010 karena
kebutuhan akan akses internet saat ini sudah sangat mudah, antara lain melalui free hotspot dan
Modem GSM/CDMA dengan biaya relatif murah. Jumlah jaringan telepon seluler di Kabupaten
Tana Toraja mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2010 hanya ada 3 jaringan sedangkan
pada tahun 2014 meningkat menjadi 6 jaringan. Untuk tujuan pengembangan telekomunikasi,
direncanakan pengembangan sistem jaringan Kabupaten Tana Toraja yang meliputi:
1. Rencana telepon nirkabel berupa lokasi menara Base Transceiver Station (BTS)
dikembangkan penggunaannya secara bersama dan tidak mengganggu aktifitas disekitarnya
termasuk kegiatan penerbangan.
Gambar 4.6. Situasi Perkembangan Pembangunan Bandara Buntu Kunik
2. Pengembangan pelayanan jasa telekomunikasi diarahkan pada pembangunan Tower
(sumber: Dokumentasi Survey, 2020) terutama pada wilayah/daerah khusus.

IV - 31
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. Pengembangan pelayanan sistem interkoneksitas secara terpadu lebih diarahkan pada sistem Tabel: 4.9 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019
e-government dan e-library. No. Kecamatan Jumlah Penduduk Persentase
16 Masanda 6.834 2,92
4.6 PENDUDUK SEBAGAI POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA PARIWISATA 17 Malimbong Balepe 9.917 4,24
18 Rantetayo 11.308 4,83
Penduduk merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan suatu wilayah, karakteristik
19 Kurra 5.484 2,34
penduduk merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan atau pembangunan
Total 234.002 100,00
suatu wilayah dengan mempertimbangkan pertumbuhan penduduk, komposisi struktur
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020
kepedudukan serta adat istiadat dan kebiasaan penduduk. Dengan demikian karakteristik
penduduk sangat diperlukan dalam Penyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten (RIPPAR-KAB). 40000.0
35000.0
Maju dan berkembangnya suatu wilayah atau kawasan adalah merupakan peran dari orang atau
30000.0
manusia yang ada didalamnya, sebab pada prinsipnya sesungguhnya dengan kemapaman atau 25000.0
skill dari setiap manusia tersebutlah yang mampu mengelola serta melakukan pamnfatan yang 20000.0
bijak serta mapan bagi daerah tersebut. Kabupaten Tana Toraja dengan segala kekayaan 15000.0
alamnya yang melimpah serta memiliki jumlah penduduk yang terbilang cukup padat akan 10000.0
semakin mampu bersaing dalam era globalisasi ini apabila kondisi alam mampu diseimbangkan 5000.0
dengan kondisi SDM yang memadai pula. .0

4.6.1 Jumlah Penduduk


Jumlah penduduk Di Kabupaten Tana Toraja total sebanyak 234.002 jiwa yang tersebar pada 19
kecamatan, penduduk terbesar berada pada kecamatan Makale yaitu 35.892 jiwa atau Sekitar
15,34% dan di susul Kecamatan Mengkendek yaitu sebanyak 28.073 jiwa atau sekitar 12,00%,
sedangkan jumlah penduduk yang paling terkecil adalah pada Kecamatan Kurra yang hanya Gambar : 4.7
berjumlah 5.484 jiwa atau sekitar 2,34%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut Grafik Jumlah Penduduk Tiap Kecamatan di Kabupaten Tana Toraja, 2019

ini: 4.6.2 Pertumbuhan Penduduk


Tabel: 4.9 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 Perkembangan atau pertumbuhan penduduk merupakan indeks perbandingan jumlah penduduk
No. Kecamatan Jumlah Penduduk Persentase pada suatu tahun terhadap jumlah penduduk pada tahun sebelumnya. Perkembangan jumlah
1. Bonggakaradeng 7.434 3,18 penduduk dalam suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian (pertambahan
2. Simbuang 6.487 2,77 alami), selain itu juga dipengaruhi adanya faktor migrasi penduduk yaitu perpindahan keluar dan
3. Rano 6.359 2,72 masuk. Pada dasarnya tingkat pertumbuhan jumlah penduduk, dapat digunakan untuk
4. Mappak 6.002 2,56
mengasumsikan prediksi atau meramalkan perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang.
5. Mengkendek 28.073 12,00
Prediksi perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang dilakukan dengan pendekatan
6. Gandang Batu Sillanan 20.120 8,60
matematis dengan pertimbangan pertumbuhan jumlah penduduk 5 tahun terakhir.
7. Sangalla 6.969 2,98
8 Sangalla Selatan 7.725 3,30 Data jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja 5 tahun terakhir menunjukkan jumlah penduduk
9 Sangalla utara 7.698 3,29 pada tahun 2015 sebanyak 228.984 jiwa, sedangkan pada tahun 2019 mencapai 234.002 jiwa.
10 Makale 35.892 15,34 Hal tersebut memperlihatkan adanya perkembangan jumlah penduduk yang meningkat setiap
11 Makale Selatan 13.208 5,64 tahunnya. Pertambahan penduduk dari tahun 2018 ke tahun 2019 yaitu sebanyak 1.181 jiwa.
12 Makale Utara 12.300 5,26
13 Saluputti 7.792 3,33
14 Bituang 15.315 6,54
15 Rembon 19.085 8,16

IV - 32
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.6.3 Kepadatan Penduduk luas) wilayah kecamatan. Sedangkan secara keruangan, pada dasarnya distribusi dan kepadatan
Distribusi penduduk terkait dengan jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah atau penduduk di Kabupaten Tana Toraja dipengaruhi oleh sistem pelayanan dan penyediaan sarana
pengelompokan jumlah penduduk yang didasarkan pada batasan administrasi wilayah yang dan prasarana penunjang, serta kemudahan aksesibilitas, sehingga distribusi penduduk lebih
bersangkutan. Jumlah penduduk yang terdistribusi pada suatu wilayah, akan mempengaruhi terkonsentrasi pada wilayah tertentu berdekatan dengan kota.
tingkat konsentrasi pelayanan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk melayani kebutuhan
penduduk pada wilayah tersebut. 4.6.4 Struktur Penduduk Menurut jenis Kelamin

Jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja pada akhir tahun 2019 berjumlah 234.002 jiwa yang Struktur penduduk menurut jenis kelamin merupakan perbandingan yang memperlihatkan selisih
terditribusi pada 19 kecamatan, dengan tingkat persebaran yang tidak merata pada setiap antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Berdasarkan sumber data yang diperoleh,
kecamatan. Distribusi jumlah penduduk terbanyak terdapat berada pada kecamatan Makale yaitu dapat diuraikan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari laki-laki kurang
35.892 jiwa dengan kepadatan 903 jiwa/km2 dan di susul Kecamatan Mengkendek yaitu lebih 117.573 jiwa dan jumlah penduduk perempuan kurang lebih 115.248 jiwa.
sebanyak 28.073 jiwa dengan kepadatan 143 jiwa/km2, sedangkan jumlah penduduk yang Dari jumlah penduduk tersebut, dapat dilihat bahwa penduduk untuk jenis kelamin laki-laki
terkecil adalah pada Kecamatan Kurra yang hanya berjumlah 5.484 jiwa dengan kepadatan terbesar berada di Kecamatan Makale yaitu 17.666 jiwa, sedangkan Kecamatan Kurra hanya
penduduk 91 jiwa/km2. Jumlah penduduk tiap bagian wilayah di Kabupaten Tana Toraja ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.872 jiwa yang berjenis kelamin laki-laki. Secara rinci
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya luas wilayah dan statu administrasi kecamatan, struktur penduduk menurut usia diuraikan pada tabel berikut:
secara rinci diuraikan pada tabel:
Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Tana Toraja, Tahun
Tabel: 4.11
Tabel: 4.10 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 2018
Jumlah Penduduk Luas Wilayah (Km2) Kepadatan Jenis Kelamin
No. Kecamatan No. Kecamatan Jumlah Sex Ratio
(jiwa) (jiwa/Km2) Laki-laki Perempuan
1. Bonggakaradeng 7.434 206,76 36 1. Bonggakaradeng 3.873 3.482 7.355 111
2. Simbuang 6.487 194,82 33 2. Simbuang 3.263 3.197 6.460 102
3. Rano 6.359 89,43 71 3. Rano 3.214 3.114 6.328 103
4. Mappak 6.002 166,02 36 4. Mappak 3.113 2.841 5.954 110
5. Mengkendek 28.073 196,74 143 5. Mengkendek 14.133 13.895 28.028 102
6. Gandang Batu Sillanan 20.120 108.63 185 6. Gandang Batu Sillanan 10.040 10.010 20.050 100
7. Sangalla 6.969 36,24 192 7. Sangalla 3.490 3.447 6.937 101
8 Sangalla Selatan 7.725 47,80 162 8 Sangalla Selatan 3.837 3.858 7.695 99
9 Sangalla utara 7.698 27,96 275 9 Sangalla utara 3.804 3.862 7.666 98
10 Makale 35.892 39.75 903 10 Makale 17.666 18.009 35.675 98
11 Makale Selatan 13.208 61.70 214 11 Makale Selatan 6.634 6.500 13.134 102
12 Makale Utara 12.300 26.08 472 12 Makale Utara 6.110 6.147 12.257 99
13 Saluputti 7.792 87,54 89 13 Saluputti 3.912 3.846 7.758 102
14 Bituang 15.315 163,27 94 14 Bituang 7.886 7.326 15.212 108
15 Rembon 19.085 134,47 142 15 Rembon 9.645 9.364 19.009 103
16 Masanda 6.834 134,77 51 16 Masanda 3.517 3.264 6.781 108
17 Malimbong Balepe 9.917 211,47 47 17 Malimbong Balepe 4.897 4.916 9.813 100
18 Rantetayo 11.308 60,35 187 18 Rantetayo 5.667 5.588 11.255 101
19 Kurra 5.484 60,50 91 19 Kurra 2.872 2.582 5.454 111
Total 234.002 2.054,30 114 Total 117.573 115.248 232.821 102
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020 Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019

Secara kuantitas tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Tana Toraja dipengaruhi oleh
perbandingan jumlah penduduk yang mendiami setiap kecamatan terhadap luasan (perubahan

IV - 33
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

4.6.5 Struktur Penduduk Menurut Kelompok Umum


Kajian tentang struktur penduduk menurut usia dimaksudkan untuk mengetahui jumlah pada
setiap kelompok umur tertentu, terutama kelompok umur yang berkaitan dengan usia sekolah,
usia kerja, dan usia produktif atau usia angkatan kerja. Secara rinci struktur penduduk menurut
usia diuraikan pada tabel berikut:
Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten Tana Toraja,
Tabel: 4.12
Tahun 2018
Jenis Kelamin
No. Kelompok Umur Jumlah Sex Ratio
Laki-laki Perempuan
1. 0–4 12.792 12.297 25.093 111
2. 5–9 13.499 12.818 26.317 102
3. 10 – 14 12.700 11.897 24.597 103
4. 15 – 19 11.321 9.606 20.927 110
5. 20 – 24 8.387 7.469 15.856 102
6. 25 – 29 7.208 6.999 14.207 100
7. 30 – 34 7.639 7.437 15.076 101
8 35 – 39 7.786 7.541 15.327 99
9 40 – 44 7.598 7.036 14.634 98
10 45 – 49 6.472 6.329 12.801 98
11 50 – 54 5.230 6.266 11.496 102
12 55 – 59 5.109 5.634 10.743 99
13 60 – 64 4.136 4.563 8.699 102
14 65 + 7.692 9.356 17.048 108
Total 117.573 203.021 232.821 102
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019

IV - 34
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5
INDUSTRI PARIWISATA
Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka
menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam
penyelenggaraan pariwisata. Pembangunan industri pariwisata, mencakup pembangunan
struktur (fungsi, hierarki, dan hubungan) industri pariwisata, daya saing produk pariwisata,
kemitraan usaha pariwisata, kredibilitas bisnis, serta tanggungjawab terhadap lingkungan alam
dan sosial budaya. UNWTO (United Nations World Tourism Organiation) menyebutkan Industri
Pariwisata antara lain meliputi Akomodasi untuk pengunjung, Kegiatan layanan makanan dan
minuman, Angkutan penumpang, Agen Perjalanan Wisata dan Kegiatan reservasi lainnya,
Kegiatan Budaya, Kegiatan olahraga dan hiburan.
Dengan kata lain, Industri Pariwisata dapat diartikan sebagai sehimpunan bidang usaha yang
menghasilkan berbagai jasa dan barang yang dibutuhkan oleh mereka yang melakukan
perjalanan wisata. Menurut S. Medlik, setiap produk, baik yang nyata maupun maya yang
disajikan untuk memenuhi kebutuhan tertentu manusia, hendaknya dinilai sebagai produk
industri. Jika sejemput kesatuan produk hadir diantara berbagai perusahaan dan organisasi
sedemikian sehingga memberi ciri pada keseluruhan fungsi mereka serta menentukan
tempatnya dalam kehidupan ekonomi, hendaknya dinilai sebuah industri.
Industri pariwisata mempunyai fungsi yang penting untuk memperluas dan memeratakan
kesempatan berusaha dan lapangan kerja, juga mempunyai fungsi sebagai sarana pendorong
bagi pembangunan daerah, memperbesar pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran raykat serta memupuk rasa cinta tanah air, memperkaya
kebudayaan nasional dan memantapkan pembinaannya dalam rangka memperkokoh jati diri
suatu daerah maupun bangsa. Sehubungan dengan itu, perlu adanya langkah-langkah
pengaturan yang mampu mewujudkan keterpaduan dalam kegiatan penyelenggaraan
kepariwisataan, serta memelihara kelestarian dan mendorong upaya peningkatan mutu
lingkungan hidup serta obyek dan daya tarik wisata.

V-1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

5.1 USAHA PARIWISATA Tabel: 5.1 Potensi Pengembangan Atraksi Wisata di Kabupaten Tana Toraja
Dalam industri pariwisata terdapat berbagai usaha pariwisata, yaitu usaha yang menyediakan No. Jenis Atraksi Nama Atraksi Keterangan
barang atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelengaraan pariwisata. Orang Alukna Rampanan Upacara perkawinan adat
yang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan usaha pariwisata disebut pengusaha Kapa’, Sangka’na
Passullean Allo
pariwisata. Usaha pariwisata merupakan kegiatan bisnis yang berhubungan langsung dengan Upacara Rambu Merupakan upacara yang berkaitan dengan kematian
kegiatan sehingga tanpa keberadaannya, pariwisata tidak dapat berjalan dengan baik. Solo’ atau Upacara dan pemakaman jenazah. Pada jenis upacara ini hanya
Rampe Matampu terdapat tingkatan upacara berdasarkan status sosial
5.1.1 Atraksi Wisata kemasyarakatan di Toraja. Seluruh prosesi acara Rambu
Atraksi wisata adalah satu hasil karya manusia yang dipersembahan sebagai bagian untuk Solo' selalu dilakukan pada siang hari.
menarik minat para wisatawan dan memiliki tujuan demi memberikan kesan kesenangan karena Upacara Disilli’ Yaitu upacara pemakaman bersyarat yang merupakan
masih berisi penghiburan. Ketika ada obyek wisata alam yang merupakan karunia Tuhan, maka upacara terendah dan upacara pemakaman yang sangat
sederhana.
atraksi wisata merupakan obyek yang lebih cenderung menggali pada kemampuan manusia, 2 Musik dan Tari Pa’gellu Tarian tradisional Tana Toraja yang dipentaskan pada
yaitu dengan memberdayakan diri pada kreasi dan inovasi budaya setempat. Atraksi wisata dan Tarian acara pesta “Rambu Tuka”. Setiap gerakan dalam tarian
obyek/kawasan wisata adalah dua hal yang menjadi daya tarik utama dari sebuah tempat tujuan ini merupakan simbol-simbol dari falsafat orang toraja.
wisata. Sementara, tempat tujuan wisata yang baik adalah tempat yang harus mampu Tetapi tarian ini tabu atau pamali dipentaskan pada
acara “Rambu Solo”.
memberikan kesan dan pengalaman berharga bagi wisatawan. Kesan dan pengalaman inilah Tarian Ma’ Badong Tarian ini dilakukan pada upacara kematian dan
yang akan membuat wisatawan mempertimbangkan untuk melakukan kunjungannya kembali. biasanya berlangsung berjam-jam, Tarian yang terbuka
untuk umum ini. Biasanya penari memakai pakaian
Tana Toraja yang dikenal dengan kekayaan budaya dan ritual-ritulnya serta beranekaragam serba hitam sembari silih berganti melantunkan lagu
potensi kesenian menjadikan daerah ini sangat berpotensi mengembangkan atraksi-atraksi kadong badong, yang syairnya berisikan riwayat
budaya untuk menunjang kegiatan wisatanya. Adanya ritual budaya dan keagamaan serta tarian manusia dari lahir sampai mati, serta doa-doa agar
khas Toraja yang menjadi bagian dari kegiatan wisata perlu mendapat perhatian khusus dalam arwah dapat diterima di dunia arwah (Puya). Tarian ini
hanya dilakukan pada upacara pemakaman kaum
memadukannya dengan potensi daya tarik wisata yang tersedia sehingga dapat menimbulkan bangsawan, yang lamanya minimal 3 (tiga) hari dan 3
kesan yang baik bagi wisatawan dan yang lebih penting adalah bisa lebih lama tinggal dan (tiga) malam. Tarian ini berada di Kecamatan Saluputti
berencana untuk melakukan perjalanan wisata ke Tana Toraja lagi. dengan jarak (19 Km).
Tarian To Tarian ini dipentaskan oleh kaum pria yang
Oleh karena itu, pemanfaatan potensi atraksi budaya Tana Toraja sangat strategis karena Mangnganda’ mempergunakan tanduk kerbau dan hiasan uang-uang
keunikan budaya sudah sangat dikenal mendunia, sehingga jika atraksi-atraksi budaya ini tidak logam kuno sebagai hiasan kepala ditambah dengan
kain mawa‟ tua terjumbai ke belakang. Tarian
dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata maka kesan yang dikenal justru akan
Manganda‟ adalah tarian pemujaan yang dipentaskan
menjadi sebaliknya. Wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja selain ingin meninkmati daya pada upacara Merok atau Ma‟Bua‟ di Kecamatan Makale
tarik wisata yang disuguhkan, namun juga ingin menyaksikan berbagai penyelenggaraan Utara dengan jarak (7 Km).
kebudayaan Tana Toraja. Sebagai gambaran, potensi atraksi pariwisata yang dapat Tarian To Merupakan tarian pemujaan dan doa pada upacara
Manimbong syukuran. Perbedaannya ialah tarian ini hanya ditarikan
dikembangkan diantaranya sebagai berikut:
oleh kaum pria. Pakaian, hiasan dan perlengkapan
mereka terdiri dari pakaian khusus untuk pria yaitu Bayu
Tabel: 5.1 Potensi Pengembangan Atraksi Wisata di Kabupaten Tana Toraja Pokko‟ dan Seppa Tallu Buku dan berselempangkan kain
No. Jenis Atraksi Nama Atraksi Keterangan tua/antik yakni Mawa‟ serta mengenakan hiasan kepala
yang terbuat dari bulu burung bawan atau bulu ayam
1 Upacara Upacara Rambu Merupakan rangkaian upacara yang dilakukan
yang cantik. Sering dikombinasikan dengan Tarian
Adat Tuka’ atau Upacara masyarakat Toraja semasa hidupnya di dunia untuk
Ma‟dandan dengan gerakan yang diiringi oleh irama
Rampe Mataallo tujuan keselamatan dari kehidupan dan juga untuk
yang sama, terdapat di Kecamatan Bittuang jarak (25
memuja pencipta, pemelihara alam semesta serta para
Km).
leluhurnya. Adapun jenis upacara yang termasuk ke
dalam Upacara Rambu Tuka’ atau Upacara Rampe Tarian Ma’randing Tarian ini khusus untuk menghormati para pahlawan
perang yang akan pergi berperang atau baru tiba dari
Mataal.
medan perang. Tarian ini terdapat pada Kecamatan
Sangala Selatan dengan jarak (15 km).

V-2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.1 Potensi Pengembangan Atraksi Wisata di Kabupaten Tana Toraja Tabel: 5.1 Potensi Pengembangan Atraksi Wisata di Kabupaten Tana Toraja
No. Jenis Atraksi Nama Atraksi Keterangan No. Jenis Atraksi Nama Atraksi Keterangan
Tarian Adalah tarian kegembiraan yang biasa memasuki area penerimaan tamu (lantang karampoan).
Boneballa’/Ondo dipentaskan sebagai ucapan syukur kepada Sang Tarian ini berada di Kecamatan Rembon dengan jarak
Samalele Pencipta, terkait dengan mampunya sebuah (10 km).
keluarga besar menyelesaikan renovasi 3 Pertenunan - -
tongkonannya maupun selesainya penyelenggaraan Sumber: Hasil Kajian Data, Tahun 2020.
Upacara Rambu Solo’ yang besar (mangrapai’/
sapurandanan). Tarian Boneballa’ ini dibawakan
oleh wanita dan remaja putri yang berasal dari 5.1.2 Usaha Penyediaan Akomodasi
tongkonan yang telah direnovasi. Rangkaian tarian Akomodasi pariwisata sebagai tempat bagi seseorang untuk tinggal sementara, dapat berupa
ini ditutup dengan tari massal yang diikuti oleh
hotel, losmen, guest house, pondok, Villa, Penginapan, cottage inn, perkemahan, caravan, bag
seluruh keluarga. Tarian ini berada di Kecamatan
Sangala Utara dengan Jarak 10 Km. packer dan sebagainya. Saat ini telah berkembang lebih jauh kearah tuntutan pemenuhan
Tarian Pa’Bondesan Merupakan tarian penyembuhan terhadap penyakit kebutuhan manusia lainnya seperti makan, minum rekreasi, olah raga, konvensi, pertemuan-
cacar yang mewabah. Tarian ini khusus dibawakan oleh pertemuan profesi dan asosiasi perjamuan-perjamuan pernikahan dan lainnya. Oleh karena itu,
kaum pria dengan bertelanjang dada. Para penari
dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman juga dapat mempengaruhi jenis, macam
menggunakan kuku palsu yang disebut kuku setan
(kanuku bombo) dan hiasan kepala yang khas dari dan banyaknya fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan dan harus disediakan oleh pengusaha pada
bambu yang penuh dengan guntingan kertas. Gerakan bidang akomodasi.
tarian ini senantiasa berputar ditempatnya dengan
diiringi oleh alunan irama suling yang khusus ditiup oleh Usaha penyediaan pelayanan penginapan untuk wisatawan yang dapat dilengkapi dengan
4 (empat) orang pemain suling. Tarian ini berada di pelayanan pariwisata lainnya. Hotel adalah penyediaan akomodasi secara harian berupa kamar-
Kecamatan Masanda dengan Jarak (19 Km). kamar di dalam 1 (satu) bangunan, yang dapat dilengkapi dengan jasa pelayanan makan dan
Tarian Merupakan tarian penerimaan tamu yang dipentaskan
minum, kegiatan hiburan dan/atau fasilitas lainnya. Bumi perkemahan adalah penyediaan
Pa’papangngan oleh para gadis dengan pakaian adat Toraja lengkap
berwarna gelap (hitam). Gerakan tarinya melambangkan akomodasi di alam terbuka dengan menggunakan [Link] karavan adalah
ucapan selamat datang dan penyuguhan sekapur sirih penyediaan tempat untuk kendaraan yang dilengkapi fasilitas menginap di alam terbuka dapat
(pangngan) dan diakhiri dengan ucapan terima kasih dilengkapi dengan kendaraannya. Vila adalah penyediaan akomodasi berupa keseluruhan
serta kemudian para penari berpamitan. Tarian terdapat
di Kecamatan Makale Utara dengan jarak (8 Km).
bangunan tunggal yang dapat dilengkapi dengan fasilitas, kegiatan hiburan serta fasilitas
Tarian Burake Merupakan tarian pemujaan kepada Puang Marua can lainnya. Pondok wisata adalah penyediaan akomodasi berupa bangunan rumah tinggal yang
Deata (Aluk Todolo). Ditarikan oleh gadis-gadis dihuni oleh pemiliknya dan dimanfaatkan sebagian untuk disewakan dengan memberikan
bangsawan dengan iringan musik yaitu suling lembang, kesempatan kepada wisatawan untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari pemiliknya.
musik gesek yaitu geso‟-geso‟, gendang tangan yang
kecil yaitu Kamaru (Garapung) dan gendang besar yaitu
Gandang Boro. Tarian ini terdapat Pada Kecamatan [Link] Peran Akomodasi Wisata di Kabupaten Tana Toraja
Makale, dan Kecamatan Masanda dengan jarak (35 Km). Diantara bermacam-macam bentuk jasa kepariwisataan yang terpenting dan terlengkap ialah
Tarian Dao Bulan Tarian bersal dari Kecamatan Bonggakaradeng, fasilitas hotel atau sering disebut sebagai ”akomodasi wisata” (turist acomodation). Pada
menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan
umumnya jasa perhotelan tumbuh dengan adanya orang untuk bepergian dan memerlukan jasa
dalam menyambut bulan purnama.
Tarian Ma’nani Tarian ini dilakukan sebagai sarana hiburan yang di untuk makan dan menginap. Dalam praktek kegiatan pariwisata dewasa ini, adalah fasilitas yang
sertai dengan upacara penyambutan selamat datang menyediakan jasa yang paling lengkap untuk wisatawan yang berkunjung atau yang menginap
dan rasa hormat kepada pejuang pada zaman disuatu tempat. Dalam sistem sosial kepariwisataan, hotel adalah jasa yang berupa bangunan
penjajahan.
atau kompleks bangunan yang secara komersial memberi fasilitas tempat tinggal sementara
Tarian Ma’Katia Tarian ini adalah tarian duka tradisional untuk
menyambut keluarga dan kerabat yang datang untuk kepada umum yang memenuhi syarat. Karena jasa itu diberikan secara komersial, maka dalam
menghadiri upacara pemakaman seorang bangsawan. rangka konsep industri pariwisata hotel juga disebut perusahaan penjual jasa.
Tarian diiringi dengan lagu duka untuk menyampaikan
penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan bahwa Penyediaan jenis akomodasi Hotel sebagai bagian dari pelayanan pariwisata telah dipandu oleh
mereka juga turut berduka. Tarian ini dilaksanakan pada ketentuan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 6 Tahun 2014 tentang
saat rombongan keluarga dan kerabat (totongkon) Perubahan Atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 53 Tahun 2013

V-3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

tentang Standar Usaha Hotel, dimana ketentuan ini menjadi acuan bagi daerah yang secara Tabel: 5.2 Kriteria Mutlak Standar Hotel Berbintang
khusus mengembangkan kepariwisataan sebagai salah satu sektor utama dalam pengembangan
No. Aspek No. Unsur No. Sub Unsur
wilayahnya.
24 Pemeliharaan sanitasi, hygiene dan
Syarat-syarat fasilitas yang terpenting mengenai bentuk, fungsi, dan mutu. Bentuk dan desain lingkungan
fasilitas hotel harus dapat dikenal (recognizable). Seperti hal-hal lain dalam praktek 20Sumber Daya 25 Hotel melaksanakan sertifikasi kompetensi
Manusia karyawan
kepariwisataan bentuk fasilitas itu harus sesuai dengan gaya kepariwisataan, misalnya Jumlah Subunsur Aspek Produksi 15
mengadopsi bentuk rumah adat atau sesuai dengan adat dan budaya di Tana Toraja. Hal Jumlah Subunsur Aspek Pelayanan 5
tersebut dalam mengembangkan sektor kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja, dengan Jumlah Subunsur Aspek Pengelolaan 5
pembangunan berbagai akomodasi pariwisata, maka bentuk desain harus sesuai dengan adat JUMLAH TOTAL SUBUNSUR 25
Sumber: Lampiran Permen. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014.
istiadat yang berlaku, sehingga memiliki ciri khas tersendiri dari budaya Tana Toraja.
Tabel: 5.2 Kriteria Mutlak Standar Hotel Berbintang
Tabel: 5.3 Kriteria Mutlak Standar Hotel Non Berbintang
No. Aspek No. Unsur No. Sub Unsur
No. Aspek No. Unsur No. Sub Unsur
1 Produk 1 Bangunan 1 Tersedia suatu bangunan hotel
2 Penanda Arah 2 Tersedia papan nama hotel 1 Produk 1 Bangunan 1 Tersedia suatu bangunan hotel dengan
3 Parkir 3 Tersedia tempat parkir dan pengaturan papan nama dan fasilitas parkir
lalulintasnya 2 Area Penerima Tamu 2 Tersedia area penerima tamu dengan
4 Lobby 4 TersediaLobby dengan sirkulasi udara dan kelengkapannya
pencahayaan 3 Toilet Umum 3 Tersedia toilet umum
5 Toilet Umum 5 Tersedia toilet umum 4 Kamar Tidur Tamu 4 Tersedia kamar tidur dan kamar mandi
6 Front Office 6 Tersedia Gerai atau meja kursi dan Kamar Mandi tamu dengan perlengkapannya
7 Fasilitas Makan dan 7 Tersedia ruangmakan dan minum dengan 5 Kantor 5 Tersedia ruang pengelola hotel dan
Minum sirkulasi udara dan pencahayaan sarana karyawan
8 Kamar Tidur Tamu 8 Tersedia kamar tidur dengan 6 Utilitas 6 Tersedia Air Bersih
perlengkapannya, termasuk kamar mandi 7 Pengelolaan limbah 7 Tempat penampungan sampah sementara
9 Tersedia denah lokasi kamar dan petunjuk dan pengelolaan air limbah
penyelamatan diri 8 Front Office 8 Tersedia pelayanan registrasi dan
9 Dapur/Pantry 10 Tersedia dapur dengan perlengkapanya pembayaran
dan tata letak sesuai dengan kebutuhan 2 Pelayanan 9 Kantor Depan 9 Pelayanan pembersihan fasilitas tamu dan
10 Kantor 11 Tersedia Ruang Pimpinan Hotel public
12 Tersedia Ruang Karyawan 10 Tata Graha 10 Tersedia pelayanan makanan dan
11 Utilitas 13 Tersedia Instalasi Air Bersih minuman
12 Pengelolaan limbah 14 Tempat penampungan sampah sementara 11 Makan dan Minum 11 Tersedia petugas keamanan
15 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) 12 Kesehatan 12 Tersedia Pertolongan Pertama pada
2 Pelayanan 13 Kantor Depan 16 Tersedia pelayanan pemesanan kamar, Kecelakaan (P3K)
pendaftaran, penerimaan dan 3 Pengelolaan 13 Organisasi 13 Hotel memiliki struktur oganisasi dan tata
pembayaran tertib perusahaan
14 Tata Graha 17 Pelayanan pembersihan fasilitas tamu, 14 Pemeliharaan 14 Hotel melaksanakan pemeriksaan
fasilitas publik dan fasilitas karyawan Kesehatan dan kesehatan karyawan
15 Area Makan dan 18 Tersedia pelayanan penyajian makanan Lingkungan 15 Pelaksanaan kebersihan hotel dan
Minum dan minuman lingkungan
16 Keamanan 19 Tersedia pelayanan keamanan 15 Sumber Daya Manusia 16 Hotel memiliki karyawan yang
17 Kesehatan 20 Tersedia pelayanan kesehatan bersertifikat kompetensi
3 Pengelolaan 18 Organisasi 21 Hotel memiliki struktur oganisasi Jumlah Subunsur Aspek Produksi 7
22 Hotel memiliki peraturan perusahaan/PKB Jumlah Subunsur Aspek Pelayanan 5
19 Manajemen 23 Hotel memiliki program pemeriksaan Jumlah Subunsur Aspek Pengelolaan 4
kesehatan karyawan JUMLAH TOTAL SUBUNSUR 16
Sumber: Lampiran Permen. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014.

V-4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Akomodasi jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari 8 (delapan) unit, diantaranya Hotel wisatawan mancanegara, dan sebanyak 1.030.821 wisatawan nusantara, yang lebih kecil
Sahid, PantanToraja Hotel, Hotel Sangalla', Hotel Grand Metro Permai, Hotel Batupapan, Puri dibandingkan tahun sebelumnya (2018) sebanyak 1.375.701 atau sekitar -24%.
Artha Suites Hotel Toraja, Makula Hotel, dan Hotel Gosyen Efata. Hotel-hotel tersebut terdapat
Pada umumnya setiap bulan di tahun 2019 tersebut rata-rata kunjungan sebanyak 86.779
juga yang memiliki sejumlah fasilitas yang cukup memadai jika dilihat dari tebel dibawah ini.
wisatawan, dimana jumlah kunjungan terbesar pada Bulan Desember yaitu sebesar 325.510
Hotel Sahid dan Pantan Toraja Hotel berdasarkan data tersebut sudah merupakan hotel dengan
kunjungan wisatawan dan Bulan April merupakan jumlah kunjungan terkecil yaitu hanya
kelas bintang 3 (tiga) dan bintang 2 (dua) sehigga sudah pasti memiliki keunggulan dari fasilitas
sebanyak 14.925 wisatawan. Data perhitungan tersebut menggambarkan cukup kecilnya
dan pelayanan serta manajemen yang lebih baik.
penggunaan jasa hotel yang tersedia. Faktor yang mempengaruhinya adalah wisatawan tidak
Jika dilihat dari tingkat hunian terhadap keberadaan akomodasi jenis hotel ini, masih cukup kecil menginap (pulang-pergi), waktu yang digunakan yaitu dari pagi sampai sore kemudian langsung
yaitu rata-rata hanya sebesar 26%, hanya Hotel Pantan yang memiliki persentase tingkat hunian meninggalkan Tana Toraja, dan memanfaatkan sanak saudara dan kerabat sebagai tempat
yang besar dibanding yang lain bahkan lebih dari Hotel Sahid yaitu hanya 45% dan Hotel Sahid menginap.
sendiri dengan tingkat hunian hanya 30%.
Namun demikian, akomodasi yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja bukan hanya hotel, tetapi
Tabel: 5.4 Akomodasi Jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 juga terdapat beberapa jenis akomodasi lainnya yaitu penginapan, goest house, wisma,
Tingkat homestay, dan villa yang keseluruhannya berjumlah 32 unit akomodasi tersebar, namun
No. Nama Hotel Fasilitas Ket.
Hunian umumnya tingkat hunian cenderung sama dengan hotel yaitu dibawah 40%.
1 Hotel Sahid*** ▪ 24 jam room service 30% Bintang 3 Dengan demikian, perlunya kajian kecenderungan pemanfaatan akomodasi wisata di Kabupaten
▪ Restaurant
▪ Swiming pool Tana Toraja agar dapat mendapatkan gambaran serta langkah-langkah strategi dalam
▪ Metting room pengembangan akomodasi yang tentunya mempengaruhi investasi penyediaan akomodasi
2 Pantan Toraja ▪ Laundry 45% Bintang 2 untuk meningkatkan pelayanan kepada wisatawan sekaligus manfaat kepada pemerintah,
Hotel** ▪ Swimming Pool
swasta dan masyarakat di Tana Toraja. Upaya lama tinggal atau menahan wisatawan didaerah
▪ Restaurant
▪ Room Service tujuan wisatawan merupakan fokus yang perlu dipertimbangkan dalam meramu setiap daya
▪ Wifi tarik wisata pada kawasan-kawasan wisata yang tersedia agar wisatawan cenderung akan lebih
▪ Tv/Kamar lama tinggal didaerah.
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room Kapasitas 50 s/d 300
[Link] Kebutuhan Akomodasi
3 Hotel Sangalla' ▪ Meeting Room 20% Melati II
▪ Wi-fi Analisis kebutuhan akan akomodasi, terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap tingkat
▪ 8 kamar Tv kebutuhan kamar dan tempat tidur, sebagaimana pada analisis berikut;
▪ Restoran 1. Kebutuhan Fasilitas Kamar
4 Hotel Grand Metro ▪ AC, TV, Air Panas 20% Hotel
Permai ▪ Restoran
Berdasarkan analisis pasar yang memprediksi kunjungan wisatawan hingga tahun 2030,
5 Hotel Batupapan ▪ wi-fi 20% Melati III dengan karakteristik, seperti jenis wisatawan, asumsi lama tinggal, sehingga fasilitas
▪ Tv /kamar pelayanan dapat dianalisis lebih lanjut. Adapun pendekatan analisis yang digunakan adalah;
6 Puri Artha Suites ▪ Tv, Kulkas, Shower, Air Panas 30% Melati III
Hotel Toraja ▪ Meeting Room Jumlah wisatawan (per periode Waktu) X rata-rata lama tinggal (malam)
▪ Restoran Jumlah malam (per periode waktu) X tingkat isian akomodasi
7 Makula Hotel Kolam Air Panas 20% Melati III
8 Hotel Gosyen Efata - - - Berdasarkan persamaan matematis tersebut diatas, maka estimasi kebutuhan kamar tidur
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020
diakhir tahun perencanaan 2030 yakni; 12.825 unit kamar tidur. Jika berdasarkan
kebutuhan normal (data kunjungan tahun 2019) sesuai daya tampung kamar maka
Perbandingan tersebut jika dikaitkan dengan jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Tana
kebutuhan jumlah kamar adalah sebanyak 2.853 unit kamar, dengan asumsi satu kamar
Toraja, dapat tergambarkan eksistensi akomodasi jenis hotel tersebut terhadap penggunaannya
dihuni oleh 2 wisatawan.
oleh wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Berdasarkan data yang diperoleh dari
Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja 10 (sepuluh) tahun terakhir, jumlah kunjungan Mengenai jumlah akomodasi yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan kapasitas daya
wisatawan tahun 2019 di daerah ini berjumlah 1.041.347 wisatawan yang terdiri dari 10.526 tampung akomodasi itu sendiri, namun pembangunannya diupayakan dapat disebarkan ke

V-5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pusat-pusat pelayanan (ibukota kabupaten dan kecamatan atau pada sub pusat pelayanan 2. Wisma Peristirahatan
pariwisata yang akan ditentukan dalam analisis berikutnya). Dibandingkan dengan hotel, dimana wisma peristirahatan menunjukkan perbedaan dan
2. Analisis Spasial Kebutuhan Akomodasi persamaan dengan hotel. Dilihat dari bangunannya yang lebih sederhana, sering rumah
Berdasarkan dari hasil analisis secara spasial kebutuhan akomodasi di setiap wilayah biasa, kapasitasnya untuk menerima tamu juga lebih kecil. Fasilitas dan pelayanannya lebih
kecamatan, maka dilihat dari syarat lokasi pembangunan hotel tersebut, yang terdiri dari sederhana, sehingga kenyamanannya juga tidak seperti di hotel. Akan tetapi sebaliknya
syarat lingkungan semua kecamatan memenuhi, namun pembangunannya dapat wisama peristirahatan lebih memberi rasa leluasa, karena lebih banyak hal-hal yang tidak
disesuaikan dengan arahan pengembangan sistem perkotaan dalam RTRW Kabupaten Tana diatur, maka selera dan kegiatan diserahkan kepada tamu itu sendiri serta tarifnya pun
Toraja yaitu pada PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), PKL (Pusat Kegiatan Lokal) dan PPK rendah. Jelaslah bahwa wisma peristirahatan itu termasuk dalam jenis kegiatan ‘wisata
(Pusat Pelayanan Kawasan), agar terarah sejalan dengan rencana tata ruang wilayah sosial’ dan termasuk bagian yang amat penting. Di lokasi-lokasi wisata tertentu, terutama
Kabupaten Tana Toraja. di daerah-daerah dengan iklim dan panorama alam yang indah yang tersedia di Tana
Toraja, maka sangat baik pembangunan wisma.
Potensi lain yang dapat diupayakan sebagai strategi pengembangan akomodasi pariwisata
3. Pondok Liburan (Vacante Kolonie)
yaitu dengan memanfaatkan bangunan Tongkonan sebagai salah satu alternatif yang dapat
Pondok liburan juga semacam wisma peristirahatan, akan tetapi khusus untuk anak sekolah
digunakan dalam upaya menahan wisatawan, namun konsekuensi dari konsep tersebut
pada waktu liburan. Pondok liburan semacam itu tujuannya bersifat pendidikan dan
yaitu menyediakan berbagai kegiatan wisata pada DTW-DTW tertentu maupun kelompok
dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak sekolah untuk berekreasi
DTW dalam satu destinasi atau perwilayahan pariwisata yang dapat menimbulkan animo
dan mengisi liburannya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Pondok liburan seperti
wisatawan untuk dapat tinggal lebih lama atau menginap.
itu biasanya diselenggarakan oleh badan sosial atau badan pendidikan maupun pemerintah.
Non Hotel
Meskipun diselenggarakan secara nonkomersial, akan tetapi tarifnya pada umumnya begitu
Dalam kegiatan pariwisata dewasa ini kebutuhan hidup wisatawan di lokasi wisata tidak hanya
rendah, disesuaikan dengan biaya penyelenggraannya, sehingga pondok liburan termasuk
ditampung dalam akomodasi yang berbentuk hotel. Ada akomodasi-akomodasi non hotel,
kegiatan wisata sosial.
seperti; tempat berkemah (camping site), rumah penduduk dan sebagainya. Diversifikasi
4. Homestay
akomodasi itu termasuk perkembangan baru dalam pariwisata dan sebenarnya merupakan
Homestay merupakan salah satu akomodasi pariwisata yang penting untuk dikembangkan.
upaya untuk lebih menyempurnakan komplementaritas antara kebutuhan wisatawan dan jasa
Homestay itu juga bukan milik atau diselenggarakan oleh badan atau lembaga tertentu,
kepariwisataan. Oleh karena itu, di Kabupaten Tana Toraja dalam mengembangkan
akan tetapi milik perorangan dengan menggunakan bangunan pribadi yang sebetulnya
kepariwisataan, dimana tidak hanya terbatas pada pembangunan hotel, akan tetapi juga pada
tidak dimaksudkan untuk menampung wisatawan, seperti rumah tinggal atau sebagian dari
tempat-tempat selain hotel, yang dapat memberikan rasa kenyamanan bagi wisatawan
rumah yang didiami sendiri. Melihat pentingnya akan akomodasi pariwisata tersebut, maka
khususnya ditempat-tempat daya tarik wisata.
perlu dilakukan pembangunan homestay di beberapa kawasan wisata yang dinggap
1. Dusun Wisata (Holiday Village)
strategis dan cukup menarik.
Dusun wisata adalah salah satu bentuk akomodasi wisata, dimana bentuk bangunannya
5. Perkemahan
sering meniru bentuk bangunan setempat, disesuaikan dengan kebutuhan dan merupakan
Kawasan perkemahan merupakan tempat yang dianggap sangat penting serta sebagai
sebuah kompleks, seperti; dusun ataupun bagian terkecil dari kampung. Sesuai dengan
salah satu atraksi wisata. Tujuan utama dari perkemahan adalah bagaimana berinteraksi
maksud dan sifatnya, dusun wisata itu biasanya memilih tempat di gunung dan daerah adat
dengan alam bebas, sehingga dapat memberikan kenyamanan dan kepuasan tersendiri.
mengadakan olahraga, dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan alam. Karena
Selain itu, perkemahan juga merupakan wadah dalam pembinaan wisata remaja.
dusun wisata itu sedikit banyak merupakan masyarakat tertutup, maka hubungannya
Kabupaten Tana Toraja, untuk saat sekarang ini perkemahan sudah berkembang pada
dengan dunia luar juga dapat dikatakan terputus. Kabupaten Tana Toraja yang terdiri atas
beberapa DTW seperti di Pango Pango, Kondora dll, namun belum terakomodir dengan baik
19 wilayah kecamatan, dengan potensi wisata yang dimiliki, maka pembangunan Dusun
oleh pemerintah dan pengelola DTW yang masih cenderung hanya menyediakan area
Wisata sangat prospek dikembangkan, khususnya ditempat-tempat wisata tersebut.
namun fasilitas perkemahan belum disediakan, sehingga melihat hal tersebut sangat
Dengan demikian, maka arahan pembangunan dusun wisata diarahkan pada bagian
penting dimasa mendatang perlu dibangun kawasan-kawasan perkemahan dengan
wilayah yang dikembangkan sebagai Desa-Desa Wisata, DTW-DTW berbasis Alam dan
menyediakan fasilitas perkemahan tersebut sehingga dapat memberikan minat wisatawan
Budaya.
untuk berkemah didalam kawasan wisata. Berdasarkan kriteria perkemahan tersebut, maka
arahan pembangunan perkemahan ditujukan pada daya tarik wisata alam yang memiliki
aksesibilitas rendah namun keunggulan daya tariknya sangat menarik untuk dikunjungi.

V-6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat
No. Nama dan Jenis Akomodasi Alamat Fasilitas Ket.
Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
1 Hotel Sahid*** Getengan Kec. Mengkendek. Jl ▪ 24 jam room service 16 36 850.000 - 30% Bintang 3
Jurusan Makassar ▪ Restaurant
▪ Swiming pool
▪ Metting room
2 PantanToraja Hotel** Makale. Jl Pongtiku No. 116 ▪ Laundry 6 31 500.000 500.000 45% Bintang 2
▪ Swimming Pool
▪ Restaurant
▪ Room Service
▪ Wifi
▪ Tv/Kamar
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room Kapasitas 50 s/d 300
3 Hotel Sangalla' Makale. Jl Pongtiku No. 509 ▪ Meeting Room 14 7 200.000 200.000 20% Melati II
▪ Wi-fi 150.000 150.000
▪ 8 kamar Tv
▪ Restoran
4 Hotel Grand Metro Permai Makale. Jl Pongtiku No. 445 ▪ AC, TV, Air Panas 14 12 380.000 650.000 20% Hotel
▪ Restoran
5 Hotel Batupapan Makale. Jl Pongtiku No. 130 ▪ wi-fi 1 18 330.000 330.000 20% Melati III
▪ Tv /kamar 220.000 220.000
110.000 110.000
6 Puri Artha Suites Hotel Toraja Makale. Jl Pongtiku No. 114 ▪ Tv, Kulkas, Shower, Air Panas 8 24 310.000 275.000 30% Melati III
▪ Meeting Room 400.000 350.000
▪ Restoran
7 Makula Hotel Sangalla Selatan No.37 Kolam Air Panas 3 3 100.000 100.000 20% Melati III
8 Hotel Gosyen Efata Jl. Poros Rantepao-Makale, Sarira, - - - - - - -
Makale Utara.
9 Wisma Louise Lestari Makale. Jl Pongtiku No. 130 - 11 3 200.000 200.000 40% Melati II
10 Wisma Kota Jaya Makale. Jl Pongtiku. - - 15 - 100.000 45% Melati
11 Wisma Litha Makale. Jl Pongtiku No. 97 - 5 4 30.000 80.000 50% Melati
12 Wisma Bungin Makale. Jl Nusantara - - 13 - 50.000 50% Melati
13 Wisma Merry Makale. Jl Pongtiku - - 5 - 150.000 40% Melati
14 Wisma Yani Randanan Makale. Jl Nusantara - 1 6 50.000 75.000 20% Melati
15 Lemo HomeStay Makale Utara ▪ Air Panas / Dingin 4 - 250.000 - 20% Home stay
▪ Tv Ruang Tamu
16 Home Stay Buntu Pantan Makale. Jl. Buntu Pantan No. 52. - 20 4 150.000 250.000 30% Home stay
17 Villa Manggasa Jl. Landa-landa Tv/Kamar 13 - - - 20% Melati
18 Ghitari Lodge Homestay Sangalla - - - - - - Melati
19 HomeStay Kalembang Indah Sangalla Utara - - - - - 40% Home stay
Sangalla
20 Homestay Anugrah Rufus JL. Makale Makassar - 30 - 150.000 - 10% Home stay
21 Santung Mamullu Homestay JL. Makale Makassar - 6 - - - 10% Home stay
22 Homestay Pioner JL. Makale Makassar Km. 16 - 10 - - - - Home stay
23 Penginapan Joni Tandi Makale. JL. Wolter wongsidi no. 106A - - - - - - Home stay
24 Homestay Wilem Somalinggi Makale Utara. Lemo - - - - - - Home stay
25 Villa Pango Pango Makale Utara. Kel. Topasan - 4 - - - 10% Home stay
26 Penginapan Mangga Mengkendek. Kepe Tinoring - 1 4 100.000 - - Home stay

V-7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat
No. Nama dan Jenis Akomodasi Alamat Fasilitas Ket.
Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
27 Penginapan Micel Samar Pasak Makale. Mandetek - - 6 100.000 - - Melati
28 Villa Tengan Palipu, Mangkendek - - - - - - -
29 Bukit Indah Rintho 7 Jaya Jl Merdeka Km 1, Tondon Mamullu, - - - - - - -
Makale
30 Masokan Homestay Jl. Tritura No. 83, Kamali Pentalluan, - - - - - - -
Makale
31 Wisma Elsindoe Jl. Nusantara, Makale - - - - - - -
32 Karatuan Homestay Sallualo, Sangalla Utara - - - - - - -
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020

5.1.3 Jasaboga dan Restoran


Di Kabupaten Tana Toraja berdasarkan hasil survey terdapat rumah makan serta warung yang
Jasa boga dan restoran merupakan industri yang bergerak dalam bidang penyediaan makanan
masih terpusat dikawasan pusat Kota Makale dan kawasan perdagangan. Dalam pembangunan
dan minuman, yang dikelola secara komersial. Jenis usaha ini dapat dibedakan dalam
sarana pariwisata tersebut, maka perlu diperhatikan bagi para pemiliki rumah makan dan warung
manajemennya, yaitu cara pengelolaannya, apakah dikelola secara mandiri maupun terkait
pada masa yang akan datang ketika sektor pariwisata sudah berkembang adalah kebersihan,
dengan usaha lain. Industri yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman ini merupakan
menu yang bervariasi serta karakter pemilik rumah makan ataupun warung yang ramah dalam
industri yang paling menjanjikan karena seperti dikatakan banyak orang dalam berwisata, orang
menyambut para pengunjung. Selain itu, perlu mengikuti peraturan pemerintah yang berkaitan
boleh menahan diri untuk tidak membeli pakaian atau jenis sandang lainnya tetapi tidak ada
dengan usaha rumah makan dan tetap mempertahankan image sesuai dengan karakter/ciri dari
wisatawan yang dapat menahan untuk mencicipi makanan dan miunuman. Disamping itu pula
rumah makan tersebut.
industri makanan dan minuman ini juga banyak dikonsumsi atau dibeli untuk kenangan sebagai
ole-ole dan buah tangan menandakan telah melakukan wisata. Kabupaten Tana Toraja memiliki banyak usaha-usaha makanan dan minum yang tersebar dan
sebagian besar tersedia di Kota Makale.
Usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan
Tabel: 5.6 Jasa Usaha Makanan dan Minuman di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
untuk proses pembuatan, penyimpana dan/atau penyajiannya.
Jasa boga adalah usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
1. Rumah Makan Restourant BatuKila Hotel Sahid Toraja Ge'tengan No.1 Kec. Mengkendek. Jl.
dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan dan penyajian, untuk disajikan di Jurusan Makassar
lokasi yang diinginkan oleh pemesan. Pusat penjualan makanan adalah usaha penyediaan tempat 2. Restourant Restourant Pantan Toraja Hotel Jl. Pongtiku Makale
untuk restoran, rumah makan dan/atau kafe dilengkapi dengan meja dan kursi. 3. Rumah Makan Warung Panorama Jl. Sangalla' Makale
4. Rumah Makan Warung Makan Kawanua Jl. Poros Makale-Rantepao
Didalam bidang restoran, perhatian antara lain dapat diarahkan pada kualitas pelayanan, baik 5. Rumah Makan Warung Makan Hj. Idaman Jl. Merdeka No. 46. Makale
6. Restourant Restouran dan Permandian Air Panas Sangalla Selatan No. 37
dari jenis makanan maupun teknik pelayanannya. Disamping itu, dari segi kandungan gizi, Makula
kesehatan makanan dan lingkungan restoran serta penemuan makanan-makanan baru dan 7. Rumah Makan Rumah Makan Solata Jl. Poros Makale- Mks Km. 2 Makale
tradisional baik resep, bahan maupun penyajiannya yang bias dikembangkan secara nasional, 8 Restourant Restourant Hotel Sangalla Makale Jl. Pongtiku
9 Restourant Restourant Puri Artha Makale Jl. Pongtiku No. 114
regional bahkan internasional. 10 Rumah Makan Lesehan Putri Makale. Jl. Makale-Rantepao
11 Rumah Makan Rumah Makan Depot 99 Makale Jl. Pongtiku
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa hotel menyediakan jasa memenuhi kebutuhan 12 Rumah Makan Rumah Makan Mitra Fatma Jl. Ampera Makale
wisatawan akan makanan dan minum. Akan tetapi jasa untuk makan dan minum juga banyak 13 Rumah Makan Rumah Makan Setia Kawan Jl. Km2. poros Makassar Toraja
disediakan diluar hotel, dalam benyak rumah makan dan berbagai fasilitas lainnya. Rumah makan 14 Rumah Makan Café Resto Botang Jl. Poros Makale Makassar/Botang
15 Rumah Makan Café Bambu Jl. Poros Makale Makassar/Botang
di kota besar biasanya tidak diselenggarakan khusus untuk wisatawan, bahkan pendapatannya 16 Rumah Makan Rumah Makan Tepi Sawah Jl. Poros Makale Makassar Mengkendek
berasal dari penduduk setempat. Rumah makan atau restoran yang khusus memberikan jasanya 17 Rumah Makan Restoran/Café Kandean Jl. Makale Rantepao Km.8 Kel. Lemo Kec.
kepada orang yang dalam perjalanan letaknya diluar kota, ditepi jalur lintas yang penting. Makale Utara
18 Rumah Makan Buli-Buli Café Jl. Pongtiku, No. Pantan
19 Rumah Makan Astrini Jl. Pongtiku . Makale Utara
20 Rumah Makan Burake Hill Resto Jl. Buntu Burake

V-8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.6 Jasa Usaha Makanan dan Minuman di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 Tabel: 5.6 Jasa Usaha Makanan dan Minuman di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
21 Rumah Makan Rumah Makan Pango-Pango Kel. Botang Km.3 66 Rumah Makan WARUNG BAKSO SOLO PASAR BARU SALUALLO
22 Restourant café & resto Jl. Sultan hasanuddin no 9 67 Rumah Makan WARUNG MAKAN FRANSISKA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
23 Rumah Makan Rumah Makan Almas Jl. Pongtiku WARUNG LINGKAR NO.17
24 Rumah Makan Rumah Makan 52 Jl. Pongtiku No. 52 68 Rumah Makan WARUNG MAKAN ICHAL BURAKE
25 Rumah Makan Rumah Makan Sikamali Makale 69 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM WONG SOLO JL. PONGTIKU NO.23
26 Rumah Makan Rumah Makan Bukit Indah Jl. Merdeka Makale 70 Rumah Makan WARUNG MAKAN SUNAN DRAJAT PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
27 Rumah Makan Fearly Resto & Café Jl. Tritura No 80 WARUNG LINGKAR NO.30
28 Rumah Makan Warung Pojok Agung Jl. MERDEKA NO 23 71 Rumah Makan WARUNG MAKAN WARMEL PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/08
29 Rumah Makan Kedai Mamie Jl. Jendral Sudirman No. 22 72 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM BAKSO WONG PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
30 Rumah Makan Bakso babi alang2 Jl, Merdeka SOLO WARUNG MAKAN/29
31 Rumah Makan Kios Ujung Pandang Kec Makale Utara 73 Rumah Makan RUMAH MAKAN BAMBAPUANG JL. NUSANTARA
32 Rumah Makan Lesehan Topal Kec Makale Utara 74 Rumah Makan RUMAH MAKAN BOTANG KM. 3 BOTANG
33 Rumah Makan Rumah Makan Krita Kec Makale Utara 75 Rumah Makan WARUNG MAKAN SAMANTHA KAMALI
34 Rumah Makan Rama Indah 76 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. NUSANTARA NO.47
35 Rumah Makan Harapan Barto 77 Rumah Makan ALMAS "BAKSO BABI" JL. PONGTIKU PANTAN
36 Rumah Makan Rumah Makan Marannu Kec Makale Utara 78 Rumah Makan WARUNG SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
37 Rumah Makan Warung Kopi Kebun Kec. Sangalla Selatan WARUNG LINGKAR NO.7
38 Rumah Makan Warung Kopi Wala Kec. Sangalla Selatan 79 Rumah Makan WARUNG MKN SABAR TO'KALUKU
39 Rumah Makan Rumah Makan Rahmat Kec. Rantetayo 80 Rumah Makan CITRA DEANY Jl. Tritura No 27
40 Rumah Makan Warung Makan Ma Isas Kec. Rantetayo 81 Rumah Makan RUMAH MAKAN EMILIANA
41 Rumah Makan Rumah Makan Ma Dewi Terminal To Ao Makale 82 Rumah Makan Pioner Tampo
42 Mendoe Selatan, Kel. Tambunan, Kec. 83 CAFE LARUNA CAFÉ JL. JURUSAN MAKALE NO. 9
rumah Makan WARUNG TIGA SEKAWAN 84 CAFE TEPIAN CAFÉ JL. PONGTIKU KM. 3 SE'PON MAKALE
Makale Utara
43 Rumah Makan WARUNG MAKAN VITRA JL. JEND. SUDIRMAN 85 CAFE PRO CAFÉ & BAR JL. PONTIKU NO.49 MAKALE
44 Rumah Makan WARUNG WESTI PASAR BARU 86 CAFE MASAGENA KARAOKE SE'PON MAKALE
45 Rumah Makan WARUNG MAKAN BERKAT INDAH LINGKUNGAN TARA'PA' 87 CAFÉ/KARAOKE CAFÉ SAHID JL. RAYA GE'TENGAN NO.7 KEC.
46 Rumah Makan WARUNG MAKAN LADIVA [Link] BARU NO.52 MENGKENDEK
47 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK 88 CAFÉ CAFÉ KANDORA JL. POROS MAKALE- MAKASSAR KM.7
WARUNG GALAMPANG NO.11 TENGAN
48 Rumah Makan WARUNG MAKAN TONDON PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/3 89 CAFÉ SENDANA CAFÉ JL. PASAR BARU NO. 165 MAKALE
49 Rumah Makan WARUNG MAKAN PANTAN JALAN PONGTIKU PANTAN 90 Cafe Harvin cristine Jl. Pongtiku
50 Rumah Makan WARUNG MAKAN 31 PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG 91 Cafe café early Jl. TRITURA
LINGKAR/31 92 Café, dan rumah
MASAGENA CAFÉ Jl. Pongtiku, Kel. Pantan, Kec. Makale
51 Rumah Makan WARUNG MAKAN LESTARI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG bernyanyi
LINGKAR 93 RESTAURAN RESTAURAN KAMPUNG WISATA JL. PONGTIKU MANDETEK KEC. MAKALE
52 Rumah Makan RUMAH MAKAN IDAMAN JL. MERDEKA ASTRINI UTARA
53 Rumah Makan WARUNG MAKAN TIUR PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/12 94 SPA PERAWATAN WAJAH TENGAN
54 Rumah Makan WARUNG MAKAN SE'PON SE'PON Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
55 Rumah Makan RUMAH MAKAN KURNIA SUBUR JL. PASAR BARU NO.53
56 Rumah Makan RUMAH MAKAN AROMA TORAJA JL. MERDEKA NO.22
57 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. [Link] NO.166 5.1.4 Biro dan Agen Perjalanan Wisata
58 Rumah Makan WARUNG MAKAN MAMA ISAS JL. POROS BATUPAPAN Kabupaten Tana Toraja telah tersedia cukup banyak usaha-usaha yang mendukung kegiatan
59 Rumah Makan WARMIE MARENDENG JL. PONGTIKU kepariwisataan. Setidaknya terdapat 10 (sepuluh) agen/biro perjalanan wisata dari berbagai
60 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WARUNG LINGKAR NO.05 perusahaan yang telah beroperasi dari tahun 2012 sampai sekarang, sementara agen-agen
61 Rumah Makan WARUNG MAKAN PAULINA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK perjalanan wisata lain terkait dengan perjalanan wisata ke Tana Toraja juga tersedia di Kota
WARUNG LINGKAR NO.02
Makassar sebagai TIC Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut rincian beberapa agen perjalanan wisata
62 Rumah Makan STAND WARUNG MAKAN YULI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG
LINGKAR NO.8 yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja yang dihimpun dari Dinas Pariwisata Kabupaten.
63 Rumah Makan RUMAH MAKAN REGINA JL. POROS KM.6 MENGKENDEK
64 Rumah Makan DEPOT CHRISTO JL. NUSANTARA
65 Rumah Makan WARUNG MAKAN SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WARUNG LINGKAR/15

V-9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.7 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 masih banyak jalan dengan kondisi rusak berat sepanjang 306,69 km dan rusak 210,90 km.
Tahun Dibandingkan tahun lalu panjang jalan kondisi baik meningkat 52,17 persen sepangjang
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
Beroperasi 582,19 km.
1 AGEN PERJALANAN WISATA TRAVEL MORIA JL. PONGTIKU PANTAN
2012 2. Terminal
MAKALE
2 USAHA PENYEDIAAN CV. BINA BUNGIN JL. NUSANTARA NO. 35 Keberadaan terminal sebagai titik simpul pergerakan arus kendaraan, orang dan barang
2012 adalah penting untuk diamati. Jumlah terminal di Kabupaten Tana Toraja hanya 1 lokasi,
AKOMODASI SEJAHTERA MAKALE
3 BIRO PERJALANAN WISATA CV. BINA BUNGIN JL. NUSANTARA NO. 35 yaitu terminal Makale dengan terminal bertype C. Lokasi terminal Makale tersebut telah
2012
SEJAHTERA MAKALE dimanfaatkan sebagai simpul utama pergerakan angkutan. Kondisi terminal type C Makale
4 TOURS & TRAVEL PT. KHATULISTIWA RANTELEMO KEL. saat ini terdiri atas pelataran-pelataran angkutan umum dan dilengkapi bangunan-bangunan
NUSANTARA HIJAU SARIRA, KEC. MAKALE 2013 halte untuk menumpang dengan kondisi belum maksimal.
UTARA
5 BIRO PERJALANAN WISATA CV. MEGA PERMAI JL. PELITA NO. 83 KEL.
BOMBONGAN, KEC. 2014
MAKALE
6 BIRO PERJALANAN WISATA CV. MELONA GRASIA JL. PASAR BARU NO. 52 2015
7 JASA BIRO PERJALANAN PT. MANTING JAYA MAMULLU
2015
WISATA ANUGRAH
8 JASA BIRO PERJALANAN PT. CELEBES BALI JL. MERDEKA
2015
WISATA WISATA
9 BIRO PERJALANAN WISATA KARTINI TRAVEL SALUPUTTI 2018
10 BIRO PERJALANAN WISATA AMOS TRAVEL TONDON MAMULLU 2019
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Gambar 5.1. Situasi Terminal Makale
(sumber: Dokumentasi Survey, 2020)
5.1.5 Transportasi dan Aksesibilitas
[Link] Transportasi Wilayah Pemanfaatan terminal tersebut melayani angkutan kota berupa AKDP dan AKAP. Hal ini
Secara eksternal wilayah, Kabupaten Tana Toraja dilayani oleh moda angkutan darat dan udara memperlihatkan bahwa kategori terminal Makale sudah tidak layak dengan type terminal
(tahap pengembangan bandara). Moda angkutan darat yang digunakan dari dan ke Tana Toraja Type C. Oleh karena itu, di perlukan peningkatan status terminal dan pengembangan
dapat dicapai dengan berbagai jenis kendaraan baik roda dua maupun roda empat dan bus. terminal baru seiring dengan bertambahnya alat transportasi darat.
Kabupaten Tana Toraja dilalui oleh ruas jalan nasional sehingga dapat ditempuh dari berbagai 3. Transportasi Udara
arah, khususnya dari Kota Makassar, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan umum bus Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan udara ke Tana Toraja.
dari berbagai perusahaan transportasi yang tersedia seperti Litha and Co, Manggala Tran, Metro Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang berangkat dari Bandara Pongtiku sebanyak 1.030
Permai, Bintang Prima, dll yang perwakilannya sudah ada di Kota Makale dan sekitarnya. Untuk orang. Penerbangan di Tana Toraja melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar
jalur udara saat ini telah dilakukan uji coba penerbangan dan tahap pengembangan Bandara pulau sulawesi. Bandar udara ini direlokasi karena tidak bisa dikembangkan karena aspek
Buntu Kunik telah mencapai tahap akhir sehingga kedepannya transportasi udara menuju Tana geologi tidak memadai. Bandara Buntu Kunik disiapkan sebagai pengganti Bandara Pongtiku,
Toraja akan menjadi moda yang sangat efisien melakukan perjalanan ke Tana Toraja. dengan landasan pacu sepanjang 2.600 meter dengan nama Toraja International Airport
1. Jaringan Jalan yang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kunjungan wisatawan domestik maupun
Jalan merupakan sarana angkutan darat yang sangat penting untuk memperlancar kegiatan mancanegara.
perekonomian. Panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018
menurut data startistik mencapai 1.252 km. Panjang jalan pada tahun 2018 mengalami
peningkatan sepanjang 199,62 km dari tahun sebelumnya. Jika dilihat dari jenis permukaan
jalan maka terdapat 352,67 km jalan yang telah diaspal, tidak diaspal mencapai 888,79 km,
sedangkan sisanya 210,56 km jenis permukaan lainnya. Jika ditinjau dari kondisi jalan maka,

V - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pembangunan jalan lingkar pariwisata dan penataan prasarana dan sarana kota di Kawasan
Perkotaan Makale.
Secara internal, sarana transportasi yang dapat digunakan oleh wisatawan menuju ke tempat-
tempat wisata dengan menggunakan jasa travel dan bus-bus pariwisata yang telah tersedia, serta
kendaraan-kendaraan sewa yang disediakan oleh perusahaan maupun perorangan di Tana Toraja
baik roda dua maupun roda empat.
Untuk lebih jelasnya kategori komponen pariwisata secara garis besar dapat diklasifikasikan
berdasarkan komponen wisata tersebut, sebagaimana pada tabel berikut dan hubungan antar
komponen wisata.
Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana
Tabel: 5.8
Toraja
Gambar 5.2. Situasi Perkembangan Pembangunan Bandara Buntu Kuni
(sumber: Dokumentasi Survey, 2020) Kategori Komponen
No. Komponen Wisata
Utama Pendukung
1 Atraksi Wisata
Dengan jarak ± 5 km dari jalan Poros akan memudahkan wisatawan dalam menjangkau ▪ Ruang atraksi wisata X
tempat-tempat wisata di Toraja. Dalam pengembangan KSPN Toraja, salah satu strategi ▪ Pusat Informasi wisata X
pengembangannya adalah meningkatkan level Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui 2 Aksesibilitas X
Pembangunan bandara baru Buntu Kuni yang mampu menerbangkan wisatawan ▪ Terminal angkutan X
▪ Bandar Udara X
Mancanegara dan wisatawan Nusantara langsung dari Bali sebagai darah transit utama 3 Sarana dan Prasarana perdagangan
wisman dan daerah daerah lain di indonesia menuju kawasan pariwisata Toraja, sehingga ▪ Restoran X
wisman dan wisnus tidak perlu lagi melakukan perjalanan darat yang panjang dan ▪ Toserba X
melelahkan selama hampir 8 jam dari makasar menuju Makale. Selain itu juga menjadikan ▪ Perdagangan retail X
▪ Pusat perbelanjaan X
jalan poros Enrekang-Makale-Ratenpao-Palopo menjadi jalan dengan status handal dan
▪ SPBU X
mampu mendukung aktivitas trasnportasi wisatawan dengan jumlah besar. Perkembangan 4 Jasa
terakhir terkait pengembangan bandara Buntu Kuni ini belum lama ini telah dilakukan uji ▪ Penginapan X
coba penerbangan. ▪ Travel agen X
▪ Tempat Ibadah X
Alur penerbangan Bandara Buntu Kunik (BBK) diharapkan menjadi alur penerbangan regional ▪ Money Cahanger X
meliputi : ▪ Asuransi X
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar – Bali - Jogya ▪ Penyewaan kendaraan X
▪ Pusat hiburan X
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Manado - Bali.
▪ Pusat Kebugaran X
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar –Singapura – Jepang 5 Lain-lain
▪ Kantor pemerintah X
[Link] Aksesibilitas Pariwisata ▪ Kantor Polisi X
Karakteristik wilayah Kabupaten Tana Toraja yang merupakan daerah pegunungan sebagai salah Sumber; Hasil Analisis Tim, 2020
satu potensi destinasi pariwisata, namun juga menjadi kendala dalam pengembangan Tabel: 5.9 Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana Toraja
aksesibilitas terhadap DTW yang dikembangkan maupun yang berpotensi. Namun demikian, No Komponen Wisata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
pengembangan aksesibilitas melalui pembangunan ruas-ruas jalan pariwisata sangat pesat 1 Atraksi Wisata
berkembang didaerah dengan kondisi yang baik berupa jalan-jalan aspal dan umumnya  Ruang atraksi wisata (1) 1 1 1 2 3 2 2 1 3 1 3 2 1 1 3 1
merupakan jalan-jalan beton.  Pusat Informasi wisata (2) 3 3 2 1 1 2 1 3 3 3 3 2 3 2 1
2 Aksesibilitas
Selain pemerintah Kabupaten Tana Toraja, pemerintah pusat dan Provinsi Sulawesi Selatan juga  Terminal angkutan (3) 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 1 1
mengebangan aksesibilitas untuk kepentingan pembangunan pariwisata di Tana Toraja melalui  Bandar Udara (4) 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 1 1
3 Sarana Prasarana perdagangan

V - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.9 Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana Toraja Kabupaten Tana Toraja dewasa ini telah merespon perkembangan kepariwisataan global yaitu
 Restoran (5) 3 3 3 1 3 1 3 1 1 1 2 2 dengan mulai mengembangkan jenis-jenis daya tarik wisata lain yang berpotensi didaerah seperti
 Toserba (6) 3 3 1 2 1 1 2 1 1 1 1
 Perdagangan retail (7) 3 1 2 1 1 2 1 1 1 1 alam pegunungan, dan agrowisata serta panorama-panorama unik dan menarik lainnya.
 Pusat perbelanjaan (8) 1 2 1 1 2 1 1 1 1 Perkembangan penataan daya tarik wisata tersebut tentu akan berjalan dengan baik apabila
 SPBU (9) 1 1 2 1 1 2 1 1
didukung dengan pengembangan unsur industri pariwisata lainnya sehingga minat wiatawan
4 Jasa
 Penginapan (10) 3 3 2 2 3 3 3 akan semakin berkembang dan bertambah kunjungan wisatawan didaerah. Kondisi sebagaimana
 Travel agen (11) 2 3 3 3 2 2 kajian beberapa komponen penting industri pariwisata diatas, menemukenali beberapa
 Tempat Ibadah (12) 2 2 2 1 1
keunggulan dan juga kendala serta permasalahan yang tengah terjadi. Secara ringkas komponen
 Money Cahanger (13) 3 3 2 1
 Asuransi (14) 2 1 1 industri pariwisata di Kabupaten Tana Toraja tersebut diuraikan sebagai berikut:
 Penyewaan kendaraan (15) 1 1 Rangkuman Potensi dan Kendala Komponen Industri Pariwisata Kabupaten
 Pusat hiburan (16) 2 Tabel: 5.10
Tana Toraja
 Pusat Kebugaran (17) Komponen Industri
Sumber; Hasil Analisis Tim, 2020 No. Keunggulan / Potensi Kendala/Masukan masalah
Pariwisata
[Link] Kurang Erat 2. Hubungannya Erat 1 Akomodasi ▪ Jumlah akomodasi cukup ▪ Tingkat hunian masih cukup rendah
3. Hubungannya sangat Erat banyak telah tersedia dengan dibanding dengan kunjungan wisatawan
berbagai jenis dan kelas. ▪ Masih terfokus di Kota Makale
▪ Kelas akomodasi sudah sampai ▪ Kualifikasi akomodasi masih perlu
berbintang dua dan tiga. dilakukan.
Terkait dengan ulasan beberapa komponen industri pariwisata di Tana Toraja tersebut diatas, ▪ Umumnya hotel menampilkan ▪ Masih dominan jenis akomodasi yaitu
yang menjadi tulang punggung kepariwisataan didaerah yaitu DTW atau kawasan wisata itu karakteristik lokal dari wisma dan homestay.
bangunan, makanan, dan ▪ Belum menampilkan adanya kerjasama
sendiri. Secara teoritis keberadaan dan perkembangan industri pariwisata, sangat bergantung pelayanannya. terkait pemasaran DTW melalui perkenalan
pada daya tarik wisata yang ditawarkan serta kelengkapan sarana dan prasarananya, oleh karena ▪ Dapat mengembangkan jenis paket wisata, dll
suatu daya tarik wisata harus memenuhi tiga kriteria agar kawasan wisata tersebut diminati akomodasi yang berkarakter
lokal.
pengunjung, yaitu: 2 Biro Perjalanan dan ▪ Telah didukung oleh sejumlah ▪ Sesuai fungsinya, belum signifikan
1. Something to see adalah obyek wisata tersebut harus mempunyai sesuatu yang bisa dilihat dan Agen Perjalanan biro perjalanan baik di Tana menyusun dan menyelenggarakan paket
Wisata Toraja maupun Kota Makassar. wisata di Tana Toraja.
atau dijadikan tontonan oleh pengunjung wisata. Dengan kata lain obyek tersebut harus ▪ Peluang investasi cukup terbuka ▪ Masih dibutuhkan peran pemesanan
mempunyai daya tarik khusus yang mampu untuk menyedot minat dari wisatawan untuk dengan adanya rencana akomodasi, restoran dan sarana lainnya.
berkunjung di obyek tersebut; pengembangan simpul-simpul ▪ Masih perlu kerjasama intens dengan
daya tarik unggulan maupun pemerintah maupun pihak lain yang
2. Something to do adalah agar wisatawan dapat melakukan sesuatu yang berguna untuk yang telah tersedia didaerah. menyediakan usaha daya tarik wisata.
memberikan perasaan senang, bahagia, relax berupa fasilitas rekreasi, baik itu arena bermain ▪ Penyediaan jasa layanan perjalanan wisata
salah satu kendala terkait karakteristik
ataupun tempat makan, terutama makanan khas dari tempat tersebut sehingga mampu wilayah dalam pengembangan
membuat wisatawan lebih betah untuk tinggal di DTW tertentu; dan infrastruktur menuju destinasi wisata.
3. Something to buy adalah fasilitas untuk wisatawan berbelanja yang pada umumnya adalah ▪ Bisnis online travel yang berkembang
cukup memberi tantangan agen-agen
ciri khas atau icon dari daerah tersebut, sehingga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh. perjalanan wisata.
▪ Kemajuan teknologi informasi dalam
Ketiga unsur diatas mengandung makna bahwa pengembangan daya tarik wisata bukan hanya penyediaan perjalanan wisata cukup sulit
menampilkan potensi daya tariknya suatu kawasan saja, namun lebih dari itu perlu dilengkapi diadopsi oleh wisatawan.
▪ Kendala belum merata penyediaan fasilitas
dengan kebutuhan-kebutuhan lain sesuai perkembangan kepariwisataan secara global. Hal ini makan dan minum pada DTW.
sangat perlu dilakukan mengingat karakteristik wisatawan yang memiliki hobi berwisata tentunya 3 Transportasi dan ▪ Akan segera dibuka ▪ Masih adanya DTW yang belum terkoneksi
sudah mempunyai referensi-referensi daya tarik wisata yang banyak dan untuk menentukan Aksesibilitas penerbangan langsung ke Tana antar DTW yang bisa diakses dengan baik.
Toraja melalui Bandara Buntu ▪ Masih ada ruas-ruas jalan tertentu yang
pilihannya tentu akan mengacu pada ketiga variabel tersebut diatas yang lebih layak dikunjungi Kuni. sulit dilalui oleh kendaraan.
atau yang belum pernah dikunjungi dari apa yang sudah pernah dikunjunginya, dalam hal ini ▪ Akses darat sangat lancar. ▪
▪ Umumnya akses menuju DTW
wisatawan cenderung selalu mencari hal-hal unik yang jarang atau belum pernah ditemui. yang telah dikembangkan telah
tersedia.

V - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5.10
Rangkuman Potensi dan Kendala Komponen Industri Pariwisata Kabupaten wisatawan. Peningkatan pendapatan rumahtangga atau masyarakat akan mendorong
Tana Toraja peningkatan konsumsi masyarakat, selanjutnya mendorong peningkatan pendapatan masyarakat
Komponen Industri
No. Keunggulan / Potensi Kendala/Masukan masalah lainnya dan memperluas kesempatan kerja. Ini disebut efek yang didorong (induced effects) dari
Pariwisata
▪ Jasa transportasi lokal cukup pengeluaran wisatawan. Indirect effects dan induced effects disebut secondary effects, dan efek
mudah diakses, roda 2 maupun pengganda (multiplier effects) wisatawan mengukur total efek (directs plus secondary) yang
roda 4.
4 Jasa Boga dan ▪ Umumnya tersedia di hotel- Penyediaan tempat-tempat makan masih
dihasilkan dari tambahan pengeluaran wisatawan.
Restoran hotel dan restoran lain. cukup minim tersebar disekitar DTW.
Peningkatan aktivitas produksi sektor-sektor ekonomi yang terkait langsung atau tidak langsung
5 Money Changer / ▪ Telah tersedia fasilitas -
Tempat Penukaran perbankan dengan pariwisata akan menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Ini yang disebut dengan
Uang dan Perbankan keterkaitan penciptaan kesempatan kerja (employment linkages). Usaha kecil menengah (UKM)
6 Atraksi Wisata ▪ Cukup banyak atraksi budaya ▪ Masih minim atraksi wisata pada DTW
yang dapat eksplor khususnya DTW budaya sebagai ciri khas.
dan usaha rumahtangga (URT) baik yang berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum adalah
▪ Masyarakat cukup terbuka ▪ Fasilitas atraksi budaya dan kesenian pelaku-pelaku ekonomi yang tersebar di semua sektor ekonomi, dan merupakan usaha yang
terkait kebudayaan. belum berkembang signifikan di DTW. banyak menciptakan lapangan usaha tanpa harus memiliki jenjang pendidikan tertentu.
7 Oleh-Oleh Atau ▪ Beberapa DTW telah ▪ Pada DTW alam berbasis agro belum
Cindera Mata berkembang dan dikenal tempat cukup tersedia fasilitas penjualan hasil Usaha kecil menengah merupakan peluang usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri dan
penjualan cindera mata. perkebunan masyarakat.
▪ Potensi keanekaragaman ▪ Diperlukan penataan fasilitas perbelanjaan dikerjakan secara mandiri namun memerlukan akses permodalan dalam pengembangan usaha.
kerajinan sangat banyak di DTW. Berdasarkan data Potensi Desa (PODES) tahun 2018, dalam menggambarkan kegiatan UMKM di
tersedia.
Sumber: Hasil Kajian Analisis Tim, Tahun 2020
Kabupaten Tana Toraja yaitu dengan berkembangnya sejumlah sarana ekonomi pada tingkat
mikro wilayah setiap kecamatan. UMKM didaerah ini berkembang usaha perorangan maupun
berbadan usaha diantaranya koperasi, sarana perdagangan dan akomodasi, kelompok pertokoan,
Agar suatu daya tarik wisata dapat dijadikan sebagai salah satu kawasan wisata yang menarik,
pasar, dan kios sarana produksi pertanian, fasilitas perkreditan, industri-industri kecil dan mikro,
maka faktor yang sangat menunjang adalah kelengkapan dari sarana dan prasarananya. Karena
dan lain sebagainya cukup berkembang dikecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Tana
sarana dan prasarana juga sangat diperlukan untuk mendukung dari pengembangan DTW,
Toraja.
diantaranya 1) Perhubungan: jalan raya, udara, dan terminal; 2) Instalasi pembangkit listrik dan
instalasi air bersih; 3) Sistem telekomunikasi, baik itu telepon, telegraf, radio, televisi, kantor pos; 5.2.1 Koperasi
4) Pelayanan kesehatan baik itu puskesmas maupun rumah sakit; 5) Pelayanan keamanan baik Koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum
itu pos satpam penjaga DTW maupun pos-pos polisi untuk menjaga keamanan disekitar DTW; 6) koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Keanggotaannya sukarela;
Pelayanan wistawan baik itu berupa pusat informasi ataupun kantor pemandu wisata; dan lain- Pengelolaannya yang demokratis; Pembagian sisa hasil usahanya dilakukan secara adil;
lain. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal; dan Kemandirian, serta sekaligus sebagai
gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas azas kekeluargaan.
5.2 USAHA KECIL DAN MENENGAH PENDUKUNG PARIWISATA Keberadaan koperasi didaerah terutama didesa-desa menjadi salah satu ukuran berkembangnya
Wisatawan selama didaerah tujuan wisata melakukan berbagai pengeluaran (konsumsi), seperti pola perekonomian di desa yang berkembang. Jenis koperasi yang berkembang di Kabupaten
untuk akomodasi, makanan dan minuman, perjalanan, melihat atraksi budaya, pembelian Tana Toraja diantaranya Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Rakyat
cendramata dan lain-lain. Pengeluaran ini akan ditangkap oleh sektor-sektor ekonomi, sehingga (KIKR), Koperasi Simpan Pinjam (KSP), dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang memiliki
menjadi pendapatan sektor-sektor ekonomi tersebut, dan disebut dengan efek langsung (direct kesamaan prinsip dengan koperasi. Keberadaan koperasi ini perlu mendapat merespons dari
effects) pengeluaran wisatawan. Namun peningkatan pendapatan sektor-sektor ekonomi pemerintah yang dapat menetapkan sektor pariwisata sebagai salah satu tulang punggung
tersebut akan meningkatkan permintaan input yang berasal dari output sektor-sektor ekonomi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penghasil devisa didaerah. Bahkan
lain seperti pertanian, industri, industri kerajinan, jasa transportasi dan sebagainya. pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM mengharapkan pengembangan
destinasi wisata di Indonesia tidak hanya dinikmati investor dari luar wilayah tersebut saja, tetapi
Dengan demikian, peningkatan pendapatan sektor-sektor ekonomi yang satu akan mendorong
mendorong koperasi agar berperan aktif pengembangan sebuah destinasi wisata yang pasti akan
peningkatan produktivitas sektor-sektor ekonomi yang lain. Peningkatan output sektorsektor
bermuara pada meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
ekonomi produksi selanjutnya akan meningkatkan balas jasa faktor produksi yang digunakan
dalam proses produksi, sehingga meningkatkan pendapatan pemilik faktor produksi, yaitu Jumlah dan sebaran usaha koperasi di Kabupaten Tana Toraja cukup tersedia hampir diseluruh
rumahtangga dan perusahaan. Ini disebut efek tidak langsung (indirect effects) pengeluaran kecamatan dengan jenis yang berbeda-beda kecuali di Kecamatan Rano, Mappak dan Malimbong

V - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Baleppe. Hal ini menjadi potensi memanfaatkan kegiatan wisata terutama dalam pengembangan
desa-desa wisata. Sedangkan koperasi yang berbasis pada produksi pertanian terdapat 2 unit 5.2.4 Industri
KUD, 31 BUMDes dan 35 Non KUD dan BUMDes. Industri Kecil dan Mikro dikelompokkan menurut bahan baku utama dengan tenaga kerja kurang
dari dua puluh pekerja. Jenis industri kecil dan mikro ini terdapat kurang lebih sekitar 155 unit
5.2.2 Perdagangan usaha yang terdiri dari 48 unit usaha industri kayu, 9 unit usaha logam, 1 unit usaha keramik, 25
Udaha perdaganan skala mikro kecil dan menengah di Kabupaten Tana Toraja yang cukup unit usaha kain tenun, dan 37 unit usaha makanan dan minuman.
berkembang diseluruh kelurahan, desa dan lembang-lembang yaitu jenis usaha Toko/Warung
Kelontong, dan Toko/Warung Kelontong yang Menjual Bahan Pangan secara perorangan atau
tidak terpusat pada lokasi tertentu, dengan total jumlah sebanyak 139 unit usaha Toko/Warung
Kelontong dan 83 unit usaha Toko/Warung Kelontong. Sedangkan perdagangan dalam bentuk
pengelompokan kawasan terdiri dari kelompok pertokoan sebanyak 6 unit di Kecamatan Makale
dan Kecamatan Gandangbatu Silanan, pasar dengan bangunan sebanyak 28 unit yang tersebar
dikecamatan-kecamatan kecuali Kecamatan Rano, Sangalla, dan Kurra, berikutnya pasar tanpa
bangunan sebanyak 14 unit yang hanya terdapat di 9 kecamatan.
5.2.3 Fasilitas Perkreditan
Fasilitas Perkreditan adalah fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha
untuk meminjam uang untuk membeli produk dan membayarnya kembali dalam jangka waktu
yang ditentukan. Tidak termasuk pinjaman dari perorangan.
Fasilitas perkreditan di Kabupaten Tana Toraja cukup berkembang, diantaranya terdapat jenis Gambar 5.3. Persentase Keberadaan Industri Kecil dan Mikro di Kab. Tana Toraja
usaha perkreditan berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebanyak 128 unit usaha, Kredit Ketahanan (Sumber: BPS Tana Toraja, 2018
Pangan dan Energi (KKP-E) hanya 1 unit usaha di Kecamatan Mengkendek, Kredit Usaha Kecil
(KUK) sebanyak 18 unit usaha, dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebanyak 19 unit usaha.

Tabel: 5. 11 Jenis dan Rincian UMKM Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Usaha
Koperasi Perdagangan Kelompok Perdagangan
No. Lokasi Usaha
KLP. PASAR/ TOKO.
KUD KIKR KSP Lain MM R/ RM Kedai T/ WKL T. WKBP PASAR/B
TOKO TB TANPA KLP.
1 Bonggakaradeng - - 2 - - - 2 6 2 - 1 3 2
2 Simbuang - - - 1 - - - 6 2 - 2 2 2
3 Rano - - - - - - - 5 1 - - 1 4
4 Mappak - - - - - - - 6 - - 2 1 3
5 Mengkendek - - 2 1 2 - 4 15 10 - 2 1 14
6 Gandang Batu Sillanan 1 - 1 - 1 - 6 12 6 5 3 - 7
7 Sangalla 1 - 1 - - - 2 5 2 - - - 5
8 Sangalla Selatan - - - - - 1 2 5 1 - 1 - 4
9 Sangalla utara - - 2 - - 1 3 6 6 - 1 - 5
10 Makale 2 - 4 - 4 - 7 15 15 1 1 1 12
11 Makale Selatan - - - - - - 2 8 8 - 4 3 4
12 Makale Utara - - 2 1 2 2 4 5 4 - 1 1 3
13 Saluputti - - - - - - 1 2 1 - 1 - 8
14 Bituang - - 1 - - - 2 6 6 - 2 - 13
15 Rembon - - 1 1 - - 4 13 7 - 2 - 11

V - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 5. 11 Jenis dan Rincian UMKM Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Usaha
Koperasi Perdagangan Kelompok Perdagangan
No. Lokasi Usaha
KLP. PASAR/ TOKO.
KUD KIKR KSP Lain MM R/ RM Kedai T/ WKL T. WKBP PASAR/B
TOKO TB TANPA KLP.
16 Masanda 1 - - - - - 1 8 2 - 2 - 6
17 Malimbong Balepe - - - - - - - 5 2 - 1 - 5
18 Rantetayo - 1 1 - - - 2 6 3 - 2 - 4
19 Kurra 1 - - - - - - 5 5 - - 1 5
JUMLAH 6 1 17 4 9 4 42 139 83 6 28 14 117
Keterangan:
KUD : Koperasi Unit Desa, KIKR : Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Rakyat, KSP : Koperasi Simpan Pinjam, MM : Mini Market.
R/RM : Restoran/Rumah Makan. T/WKL : Toko/Warong Kelontong. [Link] : Toko/Warong Kelontong yang Menjual Bahan Pangan.
KLP. Toko : Kelompok Pertokoan. Pasar. B : Pasarn dengan Bangunan. Pasar. TB : Pasar Tanpa Bangunan. Toko. Tanpa KLP : Tidak Ada Kelompok Pertokoan dan Pasar.

Tabel: 5.11 Jenis dan Rincian UMKM Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Usaha
Produksi Pertanian Fasilitas Perkreditan Industri Kecil dan Mikro
No. Lokasi Usaha
BUM Anya- Kera- Makan
KUD NON KUR KKP-E KUK KUBE kayu Logam Tenun
DES man mik Minum
1 Bonggakaradeng - 3 1 2 - - - 4 - - - 2 4
2 Simbuang - - - - - - - 4 - - - 6 -
3 Rano - 1 2 5 - 1 - 2 - - 1 2 2
4 Mappak - 2 - - - - - 4 - - - 1 -
5 Mengkendek - 4 5 17 1 1 1 5 4 4 - - 8
6 Gandang Batu Sillanan 1 1 9 11 - - - 2 - - - 1 1
7 Sangalla - - 1 5 - - 4 2 2 1 - - 1
8 Sangalla Selatan - - 1 5 - - 3 1 1 - - 1 5
9 Sangalla utara - - 1 6 - 3 4 4 - 4 - 4 5
10 Makale - - 1 13 - 5 4 9 2 7 - - 4
11 Makale Selatan - - 2 7 - - 2 - - - - - -
12 Makale Utara - - 1 5 - - - 3 - 1 - 3 3
13 Saluputti - - - 5 - 2 - - - - - - -
14 Bituang - 9 3 13 - - - 2 - 1 - 1 2
15 Rembon - 1 4 12 - 2 - 4 - 9 - 2 2
16 Masanda - 6 - 6 - 3 - 1 - 1 - - -
17 Malimbong Balepe - 1 - 6 - - - - - - - 1 1
18 Rantetayo - 1 1 5 - - - - - 2 - 1 -
19 Kurra 1 2 3 5 - 1 1 1 - 5 - - -
JUMLAH 2 31 35 128 1 18 19 48 9 35 1 25 37
Sumber: BPS Kabupaten Tana Toraja. Statistik Potensi Desa, Tahun 2018
Keterangan:
KUD : Koperasi Unit Desa, BUM Des : Badan Usaha Milik Desa, NON : bukan KUD dan BUMDes.
KUR : Kredit Usaha Rakyat. KKP-E : Kredit Ketahanan Pangan dan Energi. KUK : Kredit Usaha Kecil. KUBE : Kelompok Usaha Bersama.

V - 15
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6
PASAR PARIWISATA DAN UPAYA
PEMASARAN YANG DILAKUKAN

6.1 JUMLAH DAN PERKEMBANGAN PASAR WISATAWAN


Pemasaran merupakan suatu ilmu yang dapat diterapkan terhadap objek yang konstekstual.
Pemasaran pada intinya mengenai bagaimana orang atau institusi memasarkan segala
penawarannya kepada konsumen. Penawaran disini adalah segala hal yang dapat memuaskan
kebutuhan konsumen seperti barang, jasa, ide, orang, tempat dan lain-lain termasuk destinasi
pariwisata. Dari definisi umum dan mendasar tersebut, maka dalam konteks pemasaran
destinasi pariwisata, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemasaran destinasi pariwisata adalah
aktivitas destinasi pariwisata dalam menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan dan
menukarkan segala penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan dan dengan memberikan
keuntungan serta tetap bertanggungjawab terhadap masyarakat secara luas. Menurut
ketentuan perundangan sektor pariwisata, pemasaran pariwisata didefinisikan sebagai
serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan produk wisata
dan mengelola relasi dengan wisatawan untuk mengembangkan kepariwisataan dan seluruh
pemangku kepentingannya.

6.1.1 Jumlah Wisatawan


Jumlah kunjungan wisatawan tahun 2019 di Kabupaten Tana Toraja berjumlah 1.041.347
wisatawan yang terdiri dari 10.526 wisatawan mancanegara, dan sebanyak 1.030.821
wisatawan nusantara. Pada umumnya setiap bulan di tahun 2019 tersebut rata-rata kunjungan
sebanyak 86.779 wisatawan, dimana jumlah kunjungan terbesar pada Bulan Desember yaitu
sebesar 325.510 kunjungan wisatawan dan Bulan April merupakan jumlah kunjungan terkecil
yaitu hanya sebanyak 14.925 wisatawan. Secara umum kecenderungan peningkatan kunjungan
wisatawan dilakukan pada waktu-waktu libur sekolah dan liburan kerja, dimana kecenderungan
tersebut terjadi pada bulan Januari, Juni dan Juli serta Desember yang merupakan waktu-waktu
libur.

VI - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

350,000 324,500
Desember 325,510
November 37,009 300,000

Oktober 35,423
250,000
September 15,551 211,056

Agustus 46,434 200,000

Juli 130,442 129,024


150,000
120,611
Juni 121,498
100,000
Mei 44,314
April 43,709 45,321 36,567
14,924 50,000 36,336 34,567
20,375 14,188 14,567
Maret 20,868
0
Februari 37,279
Januari 212,095

- 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000


Gambar 6.2
Gambar 6.1 Grafik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Nusantara Tahun 2019
Grafik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Tahun 2019

1,600
Perkembangan kunjungan wisatawan pada tahun terakhir (2019) untuk wisatawan nusantara
1,418
dengan jumlah 1.030.821 wisnus, memiliki kecenderungan yang sama serta yang 1,400
mempengaruhi total kunjungan wisatawan tersebut diatas, hal ini disebabkan karena
perbandingan antara wisatawan nusantara dan mancanegara yang cukup signifikan, dimana 1,200 1,113
1,039 1,010
jumlah wisatawan mancanegara yang melakukan kunjungan hanya sebanyak 10.526 943
984
1,000 887
kunjungan, dengan angka perbandingan sebesar 98% dari jumlah wisatawan nusantara. 856
800 736
Kondisi tersebut menjadi dasar dalam melihat kesiapan daerah khususnya pada waktu-waktu
605
tersebut atau waktu dimana terjadi kerenggangan pengunjung wisatawan dalam melakukan 600 493
upaya peningkatan pelayanan baik dari sisi manajemen maupun daya tarik wisata maupun 442
mengembangan atraksi dan kegiatan wisata lainnya serta kerjasama kelembagaan pariwisata 400

terkait.
200

Gambar 6.3.
Grafik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Mancanegrara Tahun 2019

VI - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6.1.2 Perkembangan Kunjungan Wisatawan dan 1.506 wisman asal Belanda, sedangkan untuk wilayah Asia terdapat hanya beberapa negara
Kunjugan wisatawan di Kabupaten Tana Toraja dalam waktu 10 tahun terakhir menunjukkan yang berkunjung namun jumlah kunjungan tidak signifikan dibandingkan dengan negara-negara
peningkatan yang sangat pesat, tahun 2010 jumlah kunjungan hanya sebesar 18.265 di Eropa dan Amerika, diantaranya Jepang, Malaysia, Australia, dan Korea.
wisatawan, dan meningkat di tahun 2019 mencapai 1.041.347 kunjungan wisatawan, atau 80
terjadi peningkatan jumlah sebesar 1.023.82 kunjugan wisatawan. Jika diamati perkembangan 60
dari tahun ke tahun selama periode tersebut sebagaimana ditunjukkan pada grafik diatas, 60 50
43
walaupun terjadi peningkatan secara akumulasi 10 tahun diatas, namun setiap tahunnya cukup
40
fluktuatif peningkatan kunjungan wisatawan. 29 28
1200%
20
4
1000% 1,000% -
-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
800% (25)
(20)
(22)
600% (46)
(40)

400% (60)

Gambar 6.5
200% 79%
36% 38% 15% Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kab. Tana Toraja, 2009-2019
30% 11%
22% -24.30%
0% 0%
1,400
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1,186
-200% 1,200
Gambar 6.4
Grafik Persentase Perkembangan Kunjungan Wisatawan ke Tana Toraja, 2009-2019 1,000

800
Terjadinya penurunan jumlah kunjungan wisatawan yang fluktuatif yang dimaksud adalah
perbandingan terhadap jumlah kunjungan dengan setiap tahun sebelumnya. Wisatawan 600
nusantara yang melakukan perjalanan wisatanya ke Tana Toraja terjadi penurunan hanya pada
400
tahun 2019 terhadap tahun 2018. Sedangkan untuk kunjungan wisatawan mancanegara terjadi
penurunan pada tahun 2015, tahun 2018 dan tahun 2019 terhadap tahun-tahun sebelumnya. 200 103
42 37
Jika diamati perkembangan tersebut, penurunan angka kunjungan lebih besar pada wisatawan - 26 31 11 16
(24)
mancanegara yaitu rata-rata sebesar -31,6% dan nusantara sebesar -24% (2018-2019). -
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Tana Toraja merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi negara-negara Eropa, serta (200)
beberapa negara di Benua Afrika dan Amerika. Hal ini terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan Gambar 6.6
mancanegara berdasarkan data yang diperoleh, setidaknya sekitar 40 negara asal wisatawan Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kab. Tana Toraja, 2009-2019
yang pernah melakukan perjalanan wisata ke Tana Toraja. Pada tahun 2017, Negara Perancis,
Jerman dan Belanda merupakan negara asal wisatawan dari benua eropa yang paling banyak
Berikut tabel rincian kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Kabupaten Tana
datang berwisata ke Tana Toraja yaitu 6.142 wisman asal Perancis, 4.810 wisman asal Jerman,
Toraja tahun 2009-2019.

VI - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 6.1 Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010 – 2019
No Tahun
Bulan
. 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 1.776 1.192 2.784 2.410 2.089 3.288 122.049 149.334 125.506 212.095
2 Februari 1.133 1.049 2.878 1.988 1.599 4.264 66.845 63.191 59.294 37.279
3 Maret 1.182 1.228 1.578 2.462 2.323 2.387 54.454 53.179 67.879 20.868
4 April 1.295 1.125 1.523 2.564 2.114 2.985 40.408 52.681 63.668 14.924
5 Mei 1.561 1.067 1.985 3.246 1.385 4.253 53.124 49.414 45.686 44.314
6 Juni 1.261 1.224 1.915 2.931 2.586 2.854 49.573 74.373 28.305 121.498
7 Juli 2.116 1.286 2.818 10.443 12.023 12.885 144.265 82.656 108.548 130.442
8 Agustus 1.210 1.421 3.479 12.152 16.940 21.613 51.840 49.999 75.873 46.434
9 September 1.502 1.829 2.412 4.127 7.423 6.267 104.057 40.789 42.244 15.551
10 Oktober 917 1.885 3.244 3.364 3.622 1.973 106.745 35.500 55.467 35.423
11 November 1.312 4.551 3.803 2.544 9.696 10.536 66.479 69.761 246.993 37.009
12 Desember 3.000 7.025 5.949 13.412 18.436 24.590 217.020 478.225 456.238 325.510
Jumlah 18.265 24.882 34.368 61.643 80.236 97.895 1.076.859 1.199.102 1.375.701 1.041.347
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020

Tabel: 6.2 Kunjungan Wisatawan Nusantara di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2009 – 2019
No Tahun
Bulan
. 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 1.137 1.574 925 2.126 1.154 1.524 1.639 120.914 146.402 123.876 211.056
2 Februari 780 832 761 2.130 1.251 1.062 3.425 65.485 60.692 58.300 36.336
3 Maret 200 725 892 1.015 1.345 1.942 1.509 53.218 52.065 66.908 20.375
4 April 208 893 869 1.063 1.450 1.412 1.987 39.112 50.898 62.852 14.188
5 Mei 647 1.016 825 1.229 1.700 911 2.986 51.742 47.271 44.276 43.709
6 Juni 173 757 865 1.292 1.980 1.334 1.692 47.555 72.840 26.921 120.611
7 Juli 392 1.271 968 1.392 7.650 9.650 10.987 142.135 80.223 105.700 129.024
8 Agustus 369 528 685 1.371 9.066 12.585 18.893 49.239 46.349 73.879 45.321
9 September 775 1.088 1.015 1.052 2.087 4.015 4.642 101.746 38.433 39.806 14.567
10 Oktober 67 510 875 1.677 1.775 1.985 1.289 105.573 34.169 55.128 34.567
11 November 72 966 2.512 2.434 1.512 7.998 9.870 65.297 68.037 245.234 36.567
12 Desember 679 2.471 4.675 4.055 11.349 15.651 23.245 214.576 475.804 453.399 324.500
Jumlah 5.499 12.631 15.867 20.836 42.319 60.069 82.164 1.056.592 1.173.183 1.356.279 1.030.821
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020

VI - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 6.3 Kunjungan Wisatawan Mancanegra di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010 – 2019
No Tahun
Bulan
. 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 202 267 658 1.256 565 1.649 1.135 2.932 1.630 1.039
2 Februari 301 288 748 737 537 839 1.360 2.499 994 943
3 Maret 457 336 563 1.117 381 878 1.236 1.114 971 493
4 April 402 256 460 1.114 702 998 1.296 1.783 816 736
5 Mei 545 242 756 1.546 474 1.267 1.382 2.143 1.410 605
6 Juni 504 359 623 951 1.252 1.162 2.018 1.533 1.384 887
7 Juli 845 318 1.426 2.793 2.373 1.898 2.130 2.433 2.848 1.418
8 Agustus 682 736 2.108 3.086 4.355 2.720 2.601 3.650 1.994 1.113
9 September 414 814 1.360 2.040 3.408 1.625 2.311 2.356 2.438 984
10 Oktober 407 1.010 1.567 1.589 1.637 684 1.172 1.331 339 856
11 November 346 2.039 1.369 1.032 1.698 666 1.182 1.724 1.759 442
12 Desember 529 2.350 1.894 2.063 2.785 1.345 2.444 2.421 2.839 1.010
Jumlah 5.634 9.015 13.532 19.324 20.167 15.731 20.267 25.919 19.422 10.526
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020

6.2 KARAKTERISTIK PASAR WISATAWAN


Setiap pemasaran termasuk pemasaran pariwisata pada awalnya dimulai dengan membuat kajian
pasar wisata. Kajian tersebut meliputi analisis persepsi dan preferensi wisatawan. Pada umumnya
calon wisatawan menginginkan suatu produk wisata tertentu.
Faktor sosiodemografi dan psikografi memiliki peran yang sangat besar dalam memilih macam
produk dan destinasi pariwisata. Berawal dari data inilah bagaimana pemasaran harus dilakukan.
Aktivitas pertama yang harus dilakukan oleh destinasi pariwisata adalah memilih pasar sasaran.
Pasar disini bukan hanya pelanggan saja, tetapi didalamnya termasuk arena (market place),
pesaing (competitors) dan atau rakanan (partners). Karena sifat sumberdaya (resources) yang
terbatas, maka destinasi pariwisata harus memfokuskan kepada pasar terpilih yang paling
potensial yang akan memberikan keuntungan. Memilih pasar bukan hanya memilih pelanggan,
tetapi juga harus memilih pasar mana yang akan kita masuki atau dengan kata lain arena tempat
bertanding yang mana yang memungkinkan kita akan memiliki keunggulan. Di dalam pasar
terpilih terdapat juga para pesaing yang harus juga dipilih yang mana yang memungkinkan untuk
kita kalahkan, serta rekanan mana yang dapat kita manfaatkan.
Gambar 6.7. Konsep Pengembangan Pasar dan Pemasaran Pariwisata
(sumber: Morrison, 2013)

Pemasaran sebagai suatu proses social an manajerial dimana individual maupun kelompok
mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan
nilai secara bebas dengan pihak lain. Dari pengertian ini jelas bahwa dalam proses pemasaran
pihak pemilik produk harus bisa menyesuaikan dengan keinginan wisatawan atau menyesuaikan
dengan segmen wisatawan yang berminat pada jenis produk yang dimilikinya.

VI - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Identifikasi pasar wisata dapat dilakukan dengan mempertimbangkan fakta pasar dan mempengaruhi melemahnya pasar pariwisata di Kabupaten Tana Toraja serta unsur pariwisata
kecenderungannya untuk dapat merasionalisasikan ke dalam penetapan pasar sasaran. Data lain yang harus dibenahi seperti akomodasi, pemanfaatan atraksi-atraksi budaya, pembenahan
perkembangan kunjungan wisatawan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata di Kabupaten terhadap kelembagaan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan inovasi-inovasi
Tana Toraja lebih cenderung diminati oleh wisatawan nusantara dengan selisih yang cukup besar yang dapat menangkap peluang pasar terhadap perkembangan pariwisata nasional maupun
yaitu hanya 10.526 kunjungan wisatawan mancanegara, sedangkan wisatawan nusantara global kedepannya.
mencapai 1.030.821 kunjungan. Dengan demikian, pencermatan terhadap kecenderungan pasar
Pemasaran industri pariwisata harus memutuskan segmen mana dan berapa segmen wisata yang
pariwisata Tana Toraja dapat dijelaskan sebagai berikut:
akan dilayani. Pemerintah daerah diharapkan dapat berperan mengevaluasi jumlah wisatawan
1. Wisatawan Nusantara
yang berkunjung ke Kabupaten Tana Toraja guna melakukan strategi pengembangan wisata yaitu
Pengamatan terhadap kunjungan wisatawan nusantara berdasarkan data tabel diatas,
mengindentifikasi segmen pasar wisata untuk setiap obyek wisata yang tersedia,
memiliki kecenderungan berbeda dengan wisatawan mancanegara yang lebih cenderung
mengembangkan produk wisata untuk memperluas segmen pasar wisata, dan meningkatkan
stabil setiap bulan dalam setahun. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan pemerintah daerah
akses ke seluruh kawasan dan obyek daerah tujuan wisata di Kabupaten Tana Toraja guna
dalam mengelola pariwisata harus selalu dilakukan dan berkembang karena perkembangan
meningkatkan lama tinggal wisatawan.
informasi terkait daya tarik wisata, pelayanan jasa pariwisata, akomodasi dan lainnya akan
menjadi incaran calon wisatawan yang sangat cepat terkoreksi. Target nasional terhadap Pemasaran pariwisata di Kabupaten Tana Toraja sebagai destinasi wisata dapat berperan melalui
kunjungan wisatawan nusantara di Tana Toraja yaitu sebesar 1.000.000 kunjungan di tahun penetapan pasar sasaran, serta penanganan dan pengembangan pasar melalui penciptaan,
2019, dimana target nasional telah melebihi capaian hanya di tahun 2019 yang telah pendistribusian, dan pengkomunikasian nilai destinasi wisata. Pentingnya membangun nilai
mencapai 1.030.821 kunjungan wisatawan bahnkan di tahun 2018 sebanyak 1.356.279 destinasi mengharuskan pemasaran pariwisata Tana Toraja untuk selalu outward looking dan
wisnus. Oleh karena itu, pasar pariwisata yang sangat berpotensi yaitu pada wisatawan bersikap proaktif terhadap setiap perubahan lingkungan (Pro-Active Marketing). Pentingnya
nusantara. orientasi pasar diterapkan secara konsisten adalah dalam rangka meningkatkan kemampuan
2. Wisatawan Mancanegara pemahaman terhadap kemampuan sumber daya untuk diselaraskan dengan preferensi
Wisatawan mancanegara sebagai target utama bagi pembangunan kepariwisataan baik pada konsumen. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar maka pariwisata Tana Toraja harus mampu
tingkat nasional maupun daerah, terutama di Kabupaten Tana Toraja yang dikembangkan menerjemahkan perilaku maupun kebutuhan wisatawan secara menyeluruh untuk dapat
sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional, pemerintah pusat melalui pengebangan mengetahui dan memahami harapan dan preferensi wisatawan, agar dapat disesuaikan dengan
KSPN Toraja menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara didaerah ini sebanyak kesediaan produk yang ditawarkan (product-market matching). Aspek-aspek pasar yang
250.000 wisatawan di tahun 2019, namun pada tahun tersebut hanya mencapai 10.526 berfungsi sebagai demand side dalam pemasaran destinasi pariwisata di Kabupaten Tana Toraja.
kunjungan wisman. Berdasarkan data yang diperoleh terhadap kunjungan wisatawan pada DTW yang dikembangkan
Kondisi ini tentu perlu dilihat secara konperhensif terhadap karakteristik wisatawan di Kabupaten Tana Toraja dalam upaya menentukan segmen pasar, pada dasarnya belum
mancanegara dalam melakukan perjalanan wisatanya pada destinasi wisata yang terkait tersedia secara keseluruhan, namun terdapat beberapa DTW yang telah tersedia diantaranya
dengan penyediaan sarana prasarana penunjang dan pelengkap pariwisata, keunggulan dari DTW Lemo, Burake, Pango Pango, Kambira, Tilangnga’, Makula, dan Tampang Allo, dan yang
daya tarik wisata yang ditawarkan, serta pengelolaannya. paling banyak dikunjungi yaitu DTW Burake (data tahun 2017), namun data tersebut belum dirinci
menurut daerah asal wisatawan (wisnus dan wisman).
Kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat Gambaran Minat Kunjugan Wisatawan pada DTW Unggulan di Kabupaten
pesat terutama dari segi destinasi pariwisatanya. Hal ini ditandai oleh beberapa faktor yang dapat Tabel: 6.4
Tana Toraja
menjadi indikator berkembangnya destinasi pariwisata sebagai salah satu tolak ukur penting No. Kunjugan ke DTW 2012 2013 2014 2015 2016
dalam melihat pasar yang berkembang dewasa ini, yaitu adanya pembenahan-pembenahan 1 LEMO 22.421 40.067 40.000 46.000 46.500
terhadap sejumlah daya tarik wisata, adanya perencanaan-perencanaan pembangunan daya tarik 2 BURAKE - - 1.000.000
wisata unggulan, adanya pengembangan infrastruktur pariwisata didaerah, serta adanya 3 PANGO-PANGO - - 23.474 34.000 20.000
4 KAMBIRA 1.360 2.000 2.000 1.590 1.000
pembangunan dan rencana pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun
5 SUAYA 1.500 1.576 1.500 1.800 900
provinsi.
6 TILANGNGA' 3.500 7.000 6.000 10.000 3.000
Namun demikian, terdapat pula kecenderungan yang dapat menjadi kendala apabila 7 MAKULA 4.600 8.000 7.000 5.000 5.000
perkembangan tersebut tidak barengi dengan pemahaman tentang minat wisatawan yang terus 8 TAMPANG ALLO 987 3.000 262 108 463
JUMLAH 34.368 61.643 80.236 98.498 1.076.863
berubah/berkembang dan adanya keseragaman daya tarik wisata didaerah lain yang dapat

VI - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020

6.3 UPAYA PEMASARAN YANG DILAKUKAN PEMERINTAH KABUPATEN


Pemasaran pada destinasi pariwisata sebagai salah satu faktor kunci dalam kesuksesan
pembangunan suatu destinasi pariwisata, dan merupakan ujung tombak dalam penciptaan
awareness dan image pada kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja, sehingga pada akhirnya
peningkatan arus kunjungan wisatawan. Pemasaran pariwisata pada dasarnya terdiri dari dua
aspek pokok yaitu produk yang berperan sebagai supply side dan pasar yang berperan sebagai
demand side. Pemahaman terhadap kedua hal diatas sangat penting dalam menjalankan fungsi
pemasaran pariwisata.
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam mengembangkan kepariwisataannya telah
menjalankan bentuk-bentuk pemasaran yang dilakukan diantaranya melalui event tahunan yaitu
Festival kemilau Budaya yang diselenggarakan di Bulan Desember dalam sebulan penuh dan
diakhiri dengan Festival Budaya yang diselenggarakan pada HUT Tana Toraja setiap akhir tahun,
sedangkan Festival lain yang diselenggarakan sebagai media pemasaran yaitu pada Bulan April
yaitu Even Religi.
Selain even-even yang diselenggarakan didaerah, bentuk pemasaran lain yaitu melalui pameran-
pameran yang dilaksanakan di luar Tana Toraja di Kota Makassar maupun di Bali, serta
memanfaatkan media sosial dan website yang bangun oleh pemerintah daerah melalui Lembaga
Promosi Pariwisata Daerah.

VI - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

7
Kelembagaan pariwisata merupakan salah satu unsur penting dalam pemabngunan
kepariwisataan. Hambatan dalam bidang kelembagaan dalam pembangunan pariwisata di
Kabupaten Tana Toraja yaitu belum optimalnya lembaga-lembaga pendukung sektor pariwisata
dalam hal ini sinergitas antar stakeholders perlu ditingkatkan sehingga pembangunan pariwisata
sejalan dengan pembangunan daerah dan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pendapata
asli daerah. Lembaga-lembaga atau asosiasi yang bergerak dibidang pariwisata seperti ASITA,
PHRI, HPI, dan sebagainya masih kurang memeberikan pelatihan kepada para pelaku usaha
wisata sehingga sumber daya yang kompeten dibidang wisata masih sangat terbatas.
Belum banyaknya kebijakan-kebijakan yang mengatur mengenai bidang pariwisata menajdikan
lemahnya sektor pariwisata untuk dapat menajdi sektor unggulan dalam pembangunan daerah.
Pemangku-pemangku kepentingan yang dapat merumuskan mengenai kebijakan dibidang
kepariwsataan masih sangat minim sehingga belum banyaknya peraturan-peraturan daerah
yang memeberikan arahan dalam pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja.

7.1 SUMBERDAYA MANUSIA PARIWISATA


Pengembangan kegiatan kepariwisataan yang tidak tertata seringkali membawa konotasi
negatif bagi perkembangan adat serta budaya setempat. Salah satu antisipasi dari hal tersebut
dapat dilakukan dengan meletakan dasar yang kokoh terhadap adat serta budaya setempat.
Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembinaan sejak dini nilai-nilai tradisi, budaya serta adat
setempat melalui pendidikan formal, misalnya melalui kurikulum pendidikan. Sehingga pada
masa yang akan datang nilai-nilai budaya tersebut tetap mengakar pada masyarakat dan dapat
menjadi potensi budaya bagi pengembangan kegiatan kepariwisataan.
Secara umum masyarakat Tana Toraja merupakan masyarakat yang ramah dan terbuka
terhadap pendatang. Sikap toleransi masyarakat yang sangat dikenal merupakan kekuatan
utama dalam pembangunan kepariwisataan. Kondisi masyarakat seperti ini akan merupakan
suatu kekuatan, karena dengan keramahan dan keterbukaan dapat memperkecil timbulnya
konflik antara masyarakat dan wisatawan dikemudian hari. Selain itu, sebagian masyarakat
mengharapkan perkembangan pariwisata akan dapat meningkatkan kesejahteraannya. Secara
umum, sumber daya manusia pariwisata dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu

VII - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Pemerintah, Tenaga Kerja/ Usaha Pariwisata, dan Kalangan Masyarakat, khususnya sekitar daya
tarik wisata.
Lembaga pemerintah yang menangani secara langsung pengembangan pariwisata, peningkatan
SDM dapat dilakukan melalui Diklat Penjenjangan dan Diklat Teknis Fungsional. Sedangkan
untuk aparat yang menunjang/tidak langsung terkait dengan pengembangan pariwisata,
dilakukan Diklat Kepariwisataan yang bersifat penyuluhan, peningkatan “Tingkat Sadar Wisata”
dan “Citra Pariwisata”.
Untuk kalangan tenaga kerja/usaha pariwisata, peningkatan kualitas SDM dapat dilakukan
melalui kegiatan-kegiatan pendidikan dan latihan yang bersifat penyegaran, pemantapan dan
pengembangan. Kegiatan diklat pemantapan dapat dilakukan pada kalangan pimpinan tingkat
menengah dan titik berat pada peningkatan wawasan pariwisata. Kegiatan diklat
pengembangan dapat dilakukan pada kalangan pimpinan tingkat bawah atau pelaksana, dan
titik berat pada praktek kerja lapangan.

7.2 KELEMBAGAAN PEMERINTAH TERKAIT PARIWISATA


Sektor kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja merupakan sumberdaya yang sangat penting
didaerah yang mesti menjadi perhatian dalam pembangunan pariwisata di Tana Toraja.
Lembaga kepariwisataan pemerintah di tingkat Kabupaten adalah Dinas Pariwisata Kabupaten
Tana Toraja yang berwenang dalam mengelola kepariwisataan di Tingkat Kabupaten Tana
Toraja. Dinas ini didukung oleh Dinas-dinas lain sebagai lembaga pemerintah tingkat hulu dalam
sektor pariwisata.
Lembaga kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja telah melaksanakan tugasnya sesuai tugas
pokok dan fungsinya. Pada masa yang akan datang tugas dan tanggung jawab lembaga- Gambar 7.1. Struktur Organisasi Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
lembaga tersebut semakin berat. Beban yang berat tersebut terutama untuk mengantisipasi (Sumber: Peraturan Bupati Tana Toraja No. 44 Tahun 2016)

perkembangan kepariwisataan yang berkaitan dengan koordinasi dengan masyarakat atau


Tugas dan tanggungjawab basing-masing bagian dalam struktur organisasi tersebut adalah
stakeholders lainnya. Kondisi Kabupaten Tana Toraja yang wilayahnya bervariasi memerlukan
sebagai berikut:
dukungan sistem kelembagaan yang kuat dan SDM yang handal dan profesional.
1. Kepala Dinas
Kepariwisataan yang terdiri dari berbagai komponen didalamnya yaitu diantaranya Destinasi,
Membantu Bupati melaksanakan urusan pemerintahan di bidang pariwiata yang menjadi
Industri, Pemasaran, dan Kelembagaan merupakan komponen pariwisata yang saling terkait
kewenangan daerah dan tugas pembantuan yang ditugaskan kepada daerah, diantaranya
satu sama lainnya dalam menunjang kegiatan kepariwisataan yang maju. Komponen tersebut
sebagai berikut:
telah dikemas dalam kelembagaan pemerintah di Kabupaten Tana Toraja melalui Dinas
a. Menyusun dan merumuskan kebijakan umum Dinas Pariwisata sebagei pedoman
Pariwisata yang melingkupi beberapa fungsi dan tugas pengembangan pariwisata dikabupaten.
Pelaksanaan tugas;
Berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 44 Taahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi,
b. Mengoordinasikan perumusan Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Pariwisata;
Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja yang terdiri dari
c. Mengoordinasikan perumusan kebijakan
Kepala Dinas membawahi sejumlah bidang pelaksana teknis kedinasan yaitu Bidang
2. Sekretaris
Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Bidang Pengembangan Kapasitas, dan Bidang
Membantu Kepala Dinas menyiapkan bahan dalam rangka penyelenggaraan dan koordinasi
Pemasaran dan Promosi, sebagai mana ditunjukkan pada struktur organisasi dinas dibawah ini.
pelaaksanaan tugas Sub Bagian Program dan Evaluasi, Sub Bagian Umum serta
memberikan pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur dalam lingkungan
Dinas Pariwisata.
3. Bagian Pengembangan Destinasi dan Industri pariwisata

VII - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Membantu Kepala Dinas merumuskan dan mengoordinasikan kebijakan bidang d. Menyusun rancangan, mengoreksi, memaraf dan/atau menandatangani naskah dinas;
pengembangan destinasi dan industri pariwisata. Tugas yang diemban adalah sebagai e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
berikut: f. Mengoordinasikan rumusan kebijakan Bidang kelembagaan dan kemitraan, sumber
a. Menyusun rencana program kegiatan bidang destinasi dan industri pariwisata sebagai daya manusia serta penyuluhan masyrakat sadar wisata;
pedoman dalam pelaksanaan tugas; g. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan program dan kegiatan;
b. Mendistribusikan dan memberikan petunjuk pelaksanaan tugas sehingga berjalan h. Mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan Bidang Pengembangan Kapasitas;
lancar; i. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka kelancaran pelaksanaan
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dalam lingkungan bidang tugas;
pengembangan destinasi dan industri pariwisata; j. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Bidang Pengembangan Kapasitas dan
d. Menyusun rancangan, mengoreksi, memaraf dan/atau menandatangani naskah dinas; memberi saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan; dan
e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya; k. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang
f. Mengoordinasikan rumusan kebijakan pengembangan destinasi, jasa dan industri tugasnya.
pariwisata, pengawasan dan pengendalian bidang pengembangan destinasi dan industri Bidang Bidang Pengembangan Kapasitas pada Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja ini
pariwisata; membawahi 3 (tiga) seksi/bagian yaitu diantaranya:
g. Melakukan pembinaan dan melaksanakan program dan kegiatan dibidang a. Seksi Kelembagaan dan Kemitraan;
pengembangan destinasi dan industri pariwisata; b. Seksi Sumber Daya Manusia;
h. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan program dan kegiatan c. Seksi Pembinaan dan Penyuluhan Kepariwisataan;
pengembangan destinasi, jasa dan industri pariwisata serta pengawasan dan 5. Bidang Pemasaran dan Promosi
mengendalian; Mempunyai tugas membantu Kepala Dinas mengoordinasikan perumusan kebijakan Bidang
i. Memberikan petunjuk, mengawassi dan membimbing pelaksanaan tugas bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata. Rincian tugas yang diemban pada bidang ini antara
pengembangan destinasi dan industri pariwisata; lain:
j. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait sesuai dengan bidang tugasnya dalam a. Menyusun dan merumuskan kebijakan umum Bidang Pemasaran dan Promosi
rangka pelaksanaan tugas; Pariwisata sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas;
k. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas bidang pengembangan destinasi dan industri b. Mengoordinasikan rumusan kebijakan Bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata;
pariwisata dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan c. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas sehingga berjalan lancar;
perumusan kebijakan; dan d. Memantau, mengawasi, dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dalam lingkungan Bidang
l. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata;
tugasnya. e. Menyusun rancangan, mengoreksi, memaraf dan/atau menandatangani naskah dinas;
Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata pada Dinas Pariwisata Kabupaten f. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
Tana Toraja ini membawahi 3 (tiga) seksi/bagian yaitu diantaranya: g. Mengoordinasikan penyelenggaraan kebijakan teknis inovasi dan industri kreatif,
a. Seksi Pengembangan Destinasi promosi dan pengolahan data dan informasi;
b. Seksi Jasa dan Industri Pariwisata h. Membina, mengoordinasikan dan melaksanakan program dan kegiatan Bidang
c. Seksi Pengawasan dan Pengendalian Pemasaran dan Promosi Pariwisata;
4. Bidang Pengembangan Kapasitas i. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan program dan kegiatan
Mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam melaksanakan penyusunan dan Bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata;
pelaksanaan kebijakan, Bidang Pengembangan Kapasitas Kepariwisataan. Tugas yang j. Memberi petunjuk, mengawasi dan membimbing bawahan dalam pelaksanaan tugas
diemban pimpinan bidang ini diantaranya: pemasaran dan promosi;
a. Menyusun rencana kegiatan Bidang Pengembangan Kapasitas sebagai pedoman dalam k. Melakukan dan mengendalikan pelaksanaan program Bidang Pemasaran dan Promosi
pelaksanaan tugas; Pariwisata;
b. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas sehingga berjalan lancar; l. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait sesuai dengan bidang tugasnya dalam
c. Memantau, mengawasi, dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dalam lingkungan Bidang rangka pelaksanaan tugas;
Pengembangan Kapasitas;

VII - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata 2. Strategi peningkatan kapasitas dan kinerja kelembagaan pariwisata, yaitu:
dan memberi saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan; a. Pemantapan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC;
n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan sesuai bidang tugasnya. b. Penguatan tata kelola organisasi kepariwisataan dalam struktur dinas;
Bidang Pengembangan Pemasaran dan Promosi pada Dinas Pariwisata Kabupaten Tana c. Kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat dalam pembentukan peraturan
Toraja ini membawahi 3 (tiga) seksi/bagian yaitu diantaranya: perundangan terkait ketentuan pemafaatan keanekaragaman budaya dan sejarah
a. Seksi Inovasi dan Industri Kreatif sebagai daya tarik wisata serta pengembangan araksi-atraksi budaya pada DTW
b. Seksi Promosi berpotensi;
c. Seksi Data dan Informasi. d. Membentuk dan meningkatkan fungsi kelembagaan desa wisata sebagai bentuk
pemberdayaan masayarakat dan upaya mengembangkan ekonomi masyarakat;
e. Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders pariwisata yang dapat
7.3 PENGUATAN ORGANISASI KEPARIWISATAAN
merangkum seluruh pelaku pariwisata termasuk masyarakat;
Kelembagaan pariwisata didaerah pada dasarnya menjadi tulang punggung perkembangan
kepariwisataan. Koneksitas kelembagaan antar stakeholders yang berperan dalam sektor 3. Strategi pengembangan kerjasama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia
pariwisata baik pemerintah, swasta dan kelompok masyarakat atau kelompok adat di Tana pariwisata, yaitu:
Toraja menjadi bagian dari arahan terhadap penguatan organisasi kepariwisataan yang secara a. Membangun kerjasama antar daerah dengan lembaga pendidikan dalam
umum meliputi: mengembangkan program-program studi berbasis kepariwisataan;
1. Optimalisasi Koordinasi Antar Dinas terkait dalam pembangunan sarana dan prasarana b. Membangun skema bantuan pendidikan dan pelatihan, serta kerjasama lembaga
pariwisata dan dengan kabupaten lain serta provinsi dalam pengembangan paket-paket pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata lokal;
wisata lintas kabupaten dan provinsi yang terkait dengan Kabupaten Tana Toraja c. Melakukan penyuluhan, pelatihan dan bentuk pengembangan kapasitas pelayanan
sehubungan dengan Tana Toraja sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional dan wisatawan terhadap individi-individu, maupun kelompok sadar wisata yang terlibat
provinsi, yang dapat dilakukan melalui perencanaan partisipatif koordinasi lintas sektor dalam kegiatan wisata;
(merujuk pada Inpres 16 tahun 2005 tentang Arah kebijakan Pembangunan Kebudayaan d. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan daya tarik wisata lintas sektor dan institusi;
dan Pariwisata); e. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan pasar wisatawan dalam rangka
2. Optimalisasi organisasi kepariwisataan swasta dan masyarakat di tingkat kabupaten yang pengembangan pasar baru dan pengembangan produk;
dapat dilakukan melalui penguatan peran serta swasta dalam meningkatkan akselerasi f. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan peningkatan promosi pariwisata didalam
pembangunan kepariwisataan melalui Public-private Partnership (PPP); dan negeri dan di luar negeri;
3. Optimalisasi Kemitraan Usaha Pariwisata Antara Pemerintah Daerah, Swasta dan g. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan daya saing produk pariwisata;
Masyarakat dengan mengembangkan dan revitalisasi organisasi masyarakat di bidang h. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan kemitraan usaha pariwisata;
pariwisata; i. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan tanggungjawab terhadap lingkungan;

Berdasarkan pada kajian strategi pembangunan kelembagaan dan sumber daya manusia,
menghasilkan beberapa kebijakan dan trategi-strategi yang akan ditempuh sebagai pengatan
kinerja kelembagaan di Kabupaten Tana Toraja diantaranya sebagai berikut:
1. Strategi peningkatan integrasi dan koordinasi pembangunan kepariwisataan, yaitu:
a. Meningkatkan koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam upaya
pengitegrasian pembangunan pariwisata didaerah;
b. Membangun system dan jaringan komunikasi diantara seluruh stakeholders didalam
melaksanakan pembangunan pariwisata baik didalam maupun di luar negeri;
c. Fasilitasi pembentukan kelembagaan lintas sektor didaerah yang berperan dalam
pembangunan kepariwisataan;
d. Upaya menarik investasi modal asing di bidang pariwisata sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan di bidang keuangan;

VII - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

8
8.1 ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
8.1.1 Isu Strategis Kepariwisataan
Isu pembangunan kepariwisataan merupakan potensi dan permasalahan penting yang menjadi
faktor kunci keberhasilan dan prioritas dalam pembangunan kepariwisataan. Isu pembangunan
kepariwisataan memiliki fungsi untuk memberikan gambaran mengenai permasalahan dan
tantangan utama dalam pembangunan kepariwisataan, sebagai dasar dalam menentukan
prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan yang sesuai dengan kondisi dan situasi
kepariwisataan, serta sebagai dasar dalam menentukan visi pembangunan kepariwisataan yang
sesuai dengan kondisi dan situasi kepariwisataan.
Isu strategis pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dirumuskan berdasarkan:
▪ Potensi yang dimiliki kabupaten dalam mendukung pembangunan destinasi pariwisata,
industri pariwisata, pemasaran dan kelembagaan kepariwisataan;
▪ Permasalahan yang dihadapi kabupaten dalam mendukung pembangunan destinasi
pariwisata, industry pariwisata, pemasaran dan kelembagaan kepariwisataan;
▪ Posisi pembangunan kepariwisataan kabupaten dalam kebijakan pembangunan wilayah
kabupaten dan pembangunan kepariwisataan nasional dan provinsi; dan
▪ isu-isu pembangunan wilayah kabupaten.

[Link] Isu Strategis Pembangunan Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja


1. Tana Toraja memiliki keunikan daya tarik wisata yang terkenal mendunia.
2. Dukungan pemerintah pusat membangun Anjungan Cerdas dan Kawasan Inkubasi
Agrowisata Pango Pango sebagai pemicu pertumbuhan DTW-DTW lain.
3. Penetapan 17 Simpul-simpul Destinasi Wisata yang Prioritas di KSPN Toraja.
4. Adanya kecenderungan para wisatawan untuk “back to nature”, yang sudah cukup
berkembang didaerah.
5. Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya tarik unggulan yang kompetitif dan
komparatif bertema budaya dan religi.

VIII - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

6. Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) telah dikembangkan yang akan menghubungkan 2. Kecenderungan kebutuhan manusia berwisata yang semakin meningkat.
berbagai destinasi-destinasi pariwisata nasional. 3. Adanya tren wisatawan yang lebih menghargai perjalanan wisata yang berkualitas.
7. Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara destinasi-destinasi wisata 4. Tren pemanfaatan teknologi informasi bagi pengembangan pariwisata.
didaerah lain khususnya daerah sekitar yang berdampak langsung. 5. Dukungan Pemerintah Pusat dalam mengembangkan citra Tana Toraja sebagai destinasi
8. Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan masih eksisnya budaya lokal wisata nasional dan global.
masyarakat Toraja. 6. Situasi dan kondisi daerah sangat kondusif.
9. Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang dapat dikembangkan untuk menunjang 7. Tingginya tingkat persaingan destinasi pariwisata secara nasional dan regional.
kegiatan wisata. 8. Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan tahun terakhir dari 2018 ke tahun 2019 sebesar
10. Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi beberapa kawasan wisata (jalan lingkar -24%.
pariwisata). 9. Adanya pengembangan pariwisata didaerah sekitar yang juga cukup kuat dan memiliki
11. Aksesibilitas antar DTW masih perlu ditingkatkan sehingga dapat membentuk satu kesatuan kesamaan jenis DTW.
perjalanan wisata yang baik. 10. Pemasaran belum dilakukan secara maksimal, wisatawan umumnya mendapatkan informasi
12. Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung kepariwisataan belum memenuhi standar. dari rekan, media online.
13. Belum maksimalnya pengembangan potensi-potensi desa wisata. 11. Kekhawatiran masuknya budaya asing yang tidak bisa diadopsi masyarakat dengan baik.
14. Belum cukup berkembang daya tarik wisata buatan sebagai penganekaragaman jenis DTW. 12. Terdapat beberapa DTW yang sangat unggul dan direspon oleh wisatawan dengan
kunjungan yang cukup besar seperti Buntu Burake, Pango Pango, dll.
[Link] Isu Strategis Pembangunan Industri Pariwisata 13. Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu wilayah dengan kebudayaan yang unik dan
1. Tingginya angka kunjungan wisatawan konsisten serta beragam.
2. Rencana pengebangan bandara Buntu Kuni terintegrasi dengan destinasi wisata unggulan 14. Memiliki toleransi sosial yang kuat.
nasional lainnya. 15. Minimnya studi pasar pariwisata yang lebih mendalam untuk mengetahui karakteristik
3. Cukup banyak perusahaan penyedia jasa pengangkutan ke Tana Toraja. wisatawan, pola perjalanan, serta preferensi wisatawan.
4. Cukup banyak tersedia Oleh-Oleh Atau Cindera Mata yang diusahakan masyarakat. 16. Wisatawan masih cenderung hanya melakukan perjalanan pada DTW tertentu dan terbatas.
5. Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata dari luar yang mengurangi 17. Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang dapat dijual/dipromosikan.
kesempatan dan persaingan didaerah. 18. Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan secara global sebagai salah satu
6. Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan destinasi pariwisata nasional.
darat), yang belum cukup terintegrasi dengan baik
7. Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang dapat dilalui dengan kendaraan roda [Link] Isu Strategis Pembangunan Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia
dua maupun roda empat Pariwisata
8. Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di Kota Makale. 1. Persaingan yang semakin terbuka menghasilkan kesempatan bagi SDM didaerah lain
9. Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan perundangan. berkompeten untuk bekerja di sektor kepariwisataan.
10. Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan 2. Peran sektor-sektor pembangunan menunjang pembangunan kepariwisataan Tana Toraja
darat), yang belum cukup terintegrasi dengan baik telah terpadu di tingkat pusat.
11. Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi secara maksimal. 3. Dukungan pemerintah pusat dan provinsi Sulawesi Selatan dalam pengembangan destinasi
12. Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang di fasilitas akomodasi. pariwisata prioritas dan infrastruktur KSPN Toraja
13. Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-DTW yang berpotensi 4. Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar wilayah akan menggeser kedudukan tenaga
14. Usaha-usaha industri pariwisata masih dikembangkan secara sub-subsistem. kerja lokal.
5. Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dalam
[Link] Isu Strategis Pembangunan Pemasaran Pariwisata pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja
1. Ada kecenderungan pemasaran paket wisata yang dilakukan oleh jasa usaha pariwisata 6. Adanya lembaga adat yang dapat berkontribusi dalam pengembangan daya tarik wisata
yang memasarkan destinasi pariwisata Tana Toraja dengan harga yang relatif kecil yang khususnya budaya dan atraksi wisata (kesenian, dll)
disebabkan koordinasi antar stakeholders dan pembangunan kepariwisataan yang belum 7. Masih cukup terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM pariwisata didaerah.
maksimal.

VIII - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

8. Masyarakat yang relatif belum mengenal dan memahami tuntutan industri pariwisata Tana 8.2 PRINSIP PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Toraja (Sapta Pesona).
Prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan merupakan ideologi yang dianut dalam
9. Belum berkembangnya lembaga-lembaga pengembangan SDM pariwisata.
merumuskan arah pembangunan kepariwisataan. Prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan
10. Belum maksimalnya peran sektor didaerah secara terpadu dalam pembangunan
Kabupaten Tana Toraja dirumuskan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya:
kepariwisataan.
▪ Isu-isu pembangunan kepariwisataan nasional dan provinsi;
11. Belum optimalnya pengembangan skema kerjasama antar stakeholders, diantara pelibatan
▪ Prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan yang berkembang pada skala provinsi dan
masyarakat dalam pengembangan pariwisata.
nasional;
▪ Visi dan misi pembangunan wilayah kabupaten;
8.1.2 Tantangan Pembangunan Kepariwisataan
▪ Isu-isu strategis pembangunan kepariwisataan kabupaten; dan
Melihat perkembangan kepariwisataan yang sangat pesat, kecenderungan minat wisatawan baik
▪ Isu-isu strategis pembangunan wilayah kabupaten.
nusantara maunpu mancanegara yang berkembang dan berbeda-beda menyebabkan
pentingnya upaya pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha pariwisata untuk terus Dengan demikian, kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dibangun dengan prinsip:
meningkatkan kinerjanya termasuk dalam merumuskan berbagai kebijakan pembangunan 1. Melestarikan kebudayaan daerah Tana Toraja dengan memperkuat jati diri dan adat istiadat
pariwisata yang konferhensif dan berlaku untuk semua kalangan sesuai perkembangan masyarakat Tana Toraja;
kepariwisataan nasional dan global. Kabupaten Tana Toraja dengan segala potensi, 2. Menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep
permasalahan, kendala serta peluang yang jelaskan dalam isu-isu strategi diatas menjadikan hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan, hubungan antara
semakin terbukanya tantangan pembangunan kepariwisataannya sebagai bagian dari manusia dan sesamanya, dan hubungan antara manusia dan lingkungan;
berkembangnya dunia kepariwisataan. Oleh karena itu, Tana Toraja diperhadapkan pada 3. Menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan lokal;
beberapa tantangan yang dianggap perlu untuk dijadikan sebagai ujung tombak pembenahan 4. Memberdayakan kelembagaan budaya, aktivitas seni budaya dan penerapan nilai-nilai
dan peningkatan kualitas kepariwisataannya baik dari sisi destinasi, industri, pemasaran agama.
maupun kelembagaan pariwisata sehingga kepariwisataan kabupaten dapat tetap maju dan 5. Memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan, kesetaraan, dan proporsionalitas;
diminati oleh wisatawan, yaitu diantaranya: 6. Memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup;
▪ Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara destinasi-destinasi wisata 7. Menjamin keterpaduan antarsektor, antardaerah, antara pusat dan daerah serta
didaerah lain khususnya daerah sekitar yang berdampak langsung; keterpaduan antarpemangku kepentingan;
▪ Berpotensi turunnya investasi penyediaan akomodasi wisata akibat rendahnya tingkat 8. Mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan internasional dalam bidang
hunian pariwisata; dan
▪ Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata dari luar yang mengurangi
kesempatan dan persaingan didaerah 8.3 KONSEP PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
▪ Tingginya tingkat persaingan destinasi pariwisata secara nasional dan regional 8.3.1 Konsep Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
▪ Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan tahun terakhir dari 2018 ke tahun 2019 sebesar Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, adalah pembangunan yang didukung secara
-24%. ekologis dalam jangka panjang, sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial.
▪ Adanya pengembangan pariwisata didaerah sekitar yang juga cukup kuat dan memiliki Potensi sumber daya wisata Kabupaten Tana Toraja sekaligus potensi pasar wisatawan yang
kesamaan jenis DTW tersebar tidak merata di wilayah Tana Toraja, serta kondisi lingkungan fisik, sosial, budaya,
▪ Kekhawatiran masuknya budaya asing yang tidak bisa diadopsi masyarakat dengan baik maupun ekonomi yang beragam menyebabkan pengembangan pariwisata yang sesuai dengan
▪ Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dalam kerangka pembangunan berkelanjutan menjadi tidak bisa ditawar tawar lagi.
pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja.
Pengembangan kepariwisataan harus disesuaikan dengan daya dukung spesifik untuk tiap-tiap
▪ Potensi pengembangan UMKM sebagai penunjang industri pariwisata masih cukup lemah.
wilayahnya. Pembangunan pariwisata Kabupaten Tana Toraja yang berkelanjutan berprinsip
▪ Kerjasama dan koordinasi antar stakeholders bidang pariwisata dengan pemerintah
pada:
kabupaten masih perlu ditingkatkan dalam upaya peningkatan pelayanan dan kualitas
▪ Terjaminnya keberlanjutan sumber daya wisata dan sumber daya pendukung pembangunan
kepariwisataan yang menyeluruh.
pariwisata Kabupaten Tana Toraja untuk kesejahteraan masyarakat;

VIII - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Terintegrasinya pembangunan kepariwisataan Tana Toraja dengan lingkungan alam, 2. Pariwisata harus berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan dan diintegrasikan
budaya, dan manusia, serta menjamin perubahan yang terjadi akibat pembangunan dengan lingkungan alam, budaya dan manusia.
pariwisata dapat diterima oleh lingkungan; 3. Pemerintah dan otoritas yang kompeten, dengan partisipasi lembaga swadaya masyarakat
▪ Terpadunya perencanaan dan pengembangan pariwisata yang disusun pemerintah dan dan masyarakat setempat harus mengambil tindakan untuk mengintegrasikan perencanaan
otoritas yang berwenang dengan seluruh stakeholders pariwisata di Kabupaten Tana Toraja. pariwisata sebagai kontribusi kepada pembangunan berkelanjutan.
4. Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan memperkuat bantuan,
Konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan merupakan konsep dasar yang digunakan
langsung atau tidak langsung, kepada projek-projek pariwisata yang berkontribusi kepada
sebagai pedoman dalam perumusan rencana induk pembangunan pariwisata dan kegiatan
perbaikan kualitas lingkungan.
pengembangannya. Dengan demikian seluruh rencana pengembangan kepariwisataan daerah
5. Ruang-ruang dengan lingkungan dan budaya yang rentan saat ini maupun di masa depan
dirumuskan dengan berpedoman pada konsepsi ini. Untuk lebih optimalnya operasionalisasi
harus diberi prioritas khusus dalam hal kerja sama teknis dan bantuan keuangan untuk
konsep ini dan juga disesuaikan dengan karakteristik dan lingkup perencanaan, maka didukung
pembangunan pariwisata berkelanjutan.
pula oleh konsep manajemen strategis, konsep perwilayahan dan klaster pengembangan, dan
6. Promosi/dukungan terhadap berbagai bentuk alternatif pariwisata yang sesuai dengan
konsep sinergi stakeholders.
prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
Sebagaimana dipahami bahwa pariwisata adalah sebuah aktivitas dimana dalam operasionalisasi 7. Pemerintah harus mendukung dan berpartisipasi dalam penciptaan jaringan untuk
maupun pengembangannya perlu adanya keseimbangan dalam pengelolaan lingkungan hidup. penelitian, diseminasi informasi dan transfer pengetahuan tentang pariwisata dan teknologi
Oleh karenanya, pelaksanaan pembangunan harus berdasar pada daya dukung lingkungan; pariwisata berkelanjutan.
dapat meningkatkan keselarasan dan keseimbangan dan meningkatkan ketahanan sistem serta 8. Penetapan kebijakan pariwisata berkelanjutan memerlukan dukungan dan system
tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup. pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan, studi kelayakan untuk transformasi sektor,
Pariwisata berkelanjutan (Sustainable Development) merupakan sebuah isu dan telah menjadi dan pelaksanaan berbagai proyek percontohan dan pengembangan program kerjasama
visi pengembangan pariwisata di dunia saat ini dan masa datang. Hal ini secara tegas telah internasional.
disampaikan oleh UNWTO dengan merekomendasikan pedoman dan manual penerapan Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, dikembangkan indikator-indikator yang dapat dipakai
pembangunan pariwisata secara berkelanjutan. Setiap negara dan daerah perlu secara bertahap untuk mengukur tingkat keberlanjutan suatu destinasi pariwisata, sebagai arah kemana
untuk menerapkan pendekatan ini dalam pembangunan kepariwisataannya. Pembangunan yang program pembangunan pariwisata harus dilakukan atau ukuran keberhasilan yang harus
berkelanjutan merupakan pedoman dasar bagi pengelola pariwisata yang berkaitan dengan dicapai, jadi bukan semata jumlah kunjungan wisatawan. Indikator-indikator, yang saat ini
lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan sosial budaya agar dapat dimanfaatkan berjumlah lebih dari 500 indikator, dikelompokkan dalam aspek sebagai berikut :
dalam pembangunan. ▪ Kesejahteraan (well being) masyarakat tuan rumah;
Konsep ini merupakan sebuah konsep ideal bagi pengembangan pariwisata dimana dalam ▪ Terlindunginya aset-aset budaya;
pengembangannya, pariwisata harus mampu melakukan pengembangan secara seimbang antara aspek ▪ Partisipasi masyarakat;
ekonomi – lingkungan – sosial budaya, sehingga pemanfaatan sumberdaya pariwisata dapat dilakukan ▪ Kepuasan wisatawan;
secara lestari dan bertanggung jawab tanpa merusak atau mengurangi nilai sumber daya yang dimiliki. Hal ▪ Jaminan kesehatan dan keselamatan;
ini dimaksudkan agar upaya komersialisasi (ekonomi) selaras dengan upaya konservasi sumber daya agar ▪ Manfaat ekonomi;
▪ Perlindungan terhadap aset alami;
tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
▪ Pengelolaan sumber daya alam yang langka;
Disamping itu, perlunya pelaksanaan pembangunan pariwisata berkelanjutan juga terkait dengan semakin ▪ Pembatasan dampak; dan
meingkatnya apreasiasi konsumen yang semakin tinggi dan menuntut suatu destinasi wisata untuk ▪ Perencanaan dan pengendalian pembangunan.
memperhatikan keseimbangan kualitas lingkungan dan sosial budaya dengan pengembangan ekonomi.
Dalam penerapan pembangunan pariwisata berkelanjutan, disamping mempertimbangkan
Prinsip-prinsip dan sasaran-sasaran dari Piagam Pariwisata Berkelanjutan yang direkomendasikan
kemampuan daya saing daerah Kabupaten Tana Toraja sebagai destinasi pariwisata,
UNWTO tahun 2004 adalah bahwa :
pengembangan pariwisata perlu senantiasa memperhatikan :
1. Pembangunan pariwisata harus berdasarkan kriteria keberlanjutan dapat didukung secara
▪ Sistem nilai dan identitas DTW dan destinasi;
ekologis dalam waktu yang lama, layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial bagi
▪ Standarisasi pelayanan dan fasilitas pariwisata;
masyarakat setempat.
▪ Tingkat pemanfaatan (intensitas) dan perilaku pemanfaatan;

VIII - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Pengaturan kewilayahan, waktu, dan tingkat pengembangan; 4. Komunikasi dan kerjasama antar stakeholders dalam menumbuhkembangkan identitas,
▪ Daya dukung lingkungan dan sosial; standar, dan kualitas dalam mengelola kegiatan pariwisata.
▪ Tingkat keterlibatan masyarakat. 5. Dengan makin tingginya tingkat persaingan dalam pengembangan pariwisata, perlu adanya
kesiapan dan komitmen bersama antar stakeholders dalam upaya menciptakan situasi
Sejalan dengan hal tersebut, Rachel Dodds and Marion Joppe (2001) di Toronto
wilayah yang sangat kondusif bagi kegiatan pariwisata. Kondisi ini dapat dimungkinkan
mengembangkan “Green Tourism” dengan 4 (empat) elemen pokok, yaitu :
dengan adanya komunikasi dan kerjasama yang intensif dan komprehensif dalam
▪ Enviromental Resposibility
penetapan kebijakan maupun arah pengembangan daerah.
Elemen ini menyatakan bahwa pelu adanya perlindungan lingkungan dalam upaya untuk
6. Pengembangan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja diwujudkan dalam kerangka pelestarian
menjamin kelangsungan ekosistem wilayah.
fungsi-fungsi sosiologis dan ekologis secara konsisten dan bertanggung jawab.
▪ Local Economic
7. Dalam pelaksanaannya, kebijakan pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja
Pengembangan pariwisata harus mendukung kelangsungan ekonomi komunitas.
dilakukan dengan diarahkan kepada pelestarian sumber daya serta identitas masyarakat.
▪ Cultural Diversity
Ini dapat dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan proyeksi pertumbuhan pasar,
Dalam pengembangan pariwisata harus mengangkat kekayaan budaya dari masyarakat.
serta kesiapan masyarakat dalam mendukung pengembangan kegiatan pariwisata.
▪ Experiental Richness
8. Pembangunan pariwisata yang memberikan ruang dan peran serta yang nyata pada
Perlu dikembangkan aktivitas-aktivitas yang bersifat partisipatif terhadap lingkungan,
masyarakat.
masyarakat, serta budaya wilayah tersebut.
9. Penetapan atribut produk pariwisata dilakukan dengan mengkonversi aktivitas pariwisata
Pada tingkat implementasi, penerapan pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten yang dapat melibatkan masyarakat, dengan mengkombinasikannya aktivitas masyarakat
Tana Toraja dihadapkan pada sederetan tantangan, antara lain: yang secara langsung maupun tidak langsung yang dapat mendukung aktivitas pariwisata.
▪ Pengembangan kebijakan dan implementasi kebijakan terhadap pengembangan pariwisata. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata
▪ Kemampuan pengembangan dan pengemasan produk wisata yang tertuang dalam Rencana sehingga timbulnya kesadaran akan pentingnya kegiatan pariwisata. Dengan kondisi
Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja beserta Rencana Tindak-nya, untuk tersebut diharapkan akan mampu memberikan kondisi yang kondusif dalam kepariwisataan
meningkatkan kreativitas pengembangan produk wisata yang selaras dengan profil wilayah di Kabupaten Tana Toraja.
dan kecenderungan permintaan wisatawan (factor penentu dan kompetisi).
Secara operasional, penerapan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah sebagai berikut :
▪ Peran serta aktif stakeholders pariwisata dalam setiap proses pengembangan pariwisata.
▪ Konsistensi dalam melaksanakan dan mengembangkan standard dan kualitas dalam setiap
unsur atribut dan produk wisata.
Dari uraian di atas, pengembangan pariwisata secara berkelanjutan di Kabupaten Tana Toraja
perlu dikembangkan dengan berorientasi pada :
1. Pengembangan kebijakan dan implementasi kebijakan daerah terhadap pengembangan
pariwisata.
Pengembangan kepariwisataan memiliki tingkat integrasi yang tinggi dengan sektor-sektor
lain (multisektor), dalam hal ini pariwisata di Kabupaten Tana Toraja harus memiliki peran
sebagai attractors. Sebagai attractor Kabupaten Tana Toraja memiliki fungsi untuk
mengemas sumber daya menjadi aktivitas maupun produk yang mampu menarik
wisatawan. Dalam hal ini pengembangan kebijakan pengembangan pariwisata harus
selaras dengan kebijakan dan pembangunan wilayah. Gambar 8.1. Paradigma Konsep Pariwisata Berkelanjutan

2. Penggalian dan penerapan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat menjadi unsur dan atribut Untuk menumbuhkan daya saing pada penerapan konsep pariwisata berkelanjutan dalam
produk wisata. pengembangan pariwisata Kabupaten Tana Toraja, secara operasional dilakukan dengan
3. Sebagai satu kesatuan wilayah yang utuh, dengan kekhasan dan keragaman ciri khas menggunakan kombinasi resource-based approach dan market-based approach, dengan
masing-masing, Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja diharapkan mampu pemahaman bahwa secara umum resource-based approach dikembangkan dengan mengadopsi
mengakomodir ciri khas wilayah tiap kecamatan/lembang dan mengembangkannya sebagai pemahaman akan kecenderungan pasar dan lingkungan strategis. Konsep tersebut
sebuah daya tarik wisata.

VIII - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

dikembangkan dengan kesadaran bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan Penetapan struktur ruang merupakan penjabaran spasial dari strategi pengembangan yang
yang memiliki ciri pengembangan melalui ketersediaan dan kemampuan sumberdaya pariwisata, diambil dan dimaksudkan untuk:
kemampuan wilayah, pengorganisasian, dan masyarakat. ▪ Memaksimalkan peluang kedatangan wisatawan melalui penciptaan kemudahan kunjungan;
▪ Mengefektifkan upaya pengembangan kegiatan pariwisata melalui aglomerasi-aglomerasi
Pembangunan pariwisata melalui pendekatan ini diyakini akan lebih dapat diterima oleh
kegiatan dan alokasi fasilitas penunjang secara efisien;
masyarakat dan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab, dengan tetap memiliki
▪ Meningkatkan citra daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja melalui penyediaan produk yang
manfaat ekonomi serta menciptakan multiplier effect yang tinggi. Oleh sebab itu,
menarik, serta pelayanan yang berkualitas;
pengembangan pariwisata daerah perlu mempertimbangkan secara cermat faktor-faktor yang
▪ Memberi kejelasan kepada berbagai pihak terkait dengan industri pariwisata dan
saling berkait dan yang diperkirakan akan menjadi faktor pengganggu. Dalam mengembangkan
menyelaraskan dengan rencana pengembangan sektor-sektor kegiatan lainnya.
daerah sebagai destinasi pariwisata, tidak hanya aspek daya tarik sebuah hal yang paling
esensial namun aspek-aspek lain perlu diperhatikan. Dengan demikian, maka diharapkan bahwa Ada 3 unsur strategis yang ditetapkan untuk membentuk struktur ruang kegiatan, yaitu:
pembangunan pariwisata di daerah dapat tumbuh berkembang secara dinamis dan produktif 1. Simpul-Simpul Pengembangan, yang merupakan cluster-cluster daya tarik wisata, berfungsi
dalam rangka mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat. sebagai suatu kesatuan wilayah pengembangan kegiatan wisata dimana di dalamnya:
▪ Terdapat kumpulan berbagai objek/ daya tarik wisata
8.3.2 Konsep Keterkaitan Antar sektor dalam Pengembangan Pariwisata ▪ Sebagai pusat pelayanan kepada wisatawan
Pengembangan wilayah melihat sektor-sektor sebagai suatu sistem yang saling berkaitan. ▪ Sebagai tempat pengembangan usaha-usaha pariwisata
Sektor ekonomi yang utama di suatu wilayah perlu dikembangkan dalam kerangka saling
Sebagai pusat pelayanan kepada wisatawan, pada tiap Simpul Pengembangan harus memiliki
melengkapi dan mendukung dengan sektor lain. Pariwisata sangat multisektoral dan tidak dapat
fasilitas pelayanan yang bersifat menunjang aktivitas wisata, yaitu:
maju dan berkembang dengan sendirinya tanpa dukungan dari sektor lain. Di lain pihak, sektor
▪ Akomodasi
lain pun dapat memanfaatkan pariwisata untuk bersinergi secara positif sehingga saling
▪ Logistik
mendukung dan menguntungkan. Dengan kreativitas dan inovasi perencanaan, pariwisata dapat
▪ Transportasi
dikembangkan seiring dengan sektor lainnya tanpa harus memunculkan konflik. Oleh karena itu
▪ Informasi dan komunikasi
pengembangan pariwisata Kabupaten Tana Toraja, harus:
▪ Rekreasi
▪ Dikaitkan dan diselaraskan dengan sektor ekonomi dasar yang berkembang atau berpotensi
di daerah yang bersangkutan, misalnya pengembangan wisata agro perkebunan buah- Simpul pengembangan dengan demikian merupakan suatu kutub pertumbuhan kegiatan
buahan di kawasan agropolitan yang ditetapkan sebagai kawasan budidaya buah-buahan; pariwisata dan suatu wilayah. Sebagai kutub pertumbuhan, tidak diberikan suatu batasan
▪ Secara kreatif menggali potensi, baik yang tangible (teraba) maupun intagible (tak teraba) wilayah yang tegas, sebaliknya diharapkan kutub tersebut akan terus membesar sejauh hal
dari potensi sumber daya sektor-sektor di wilayah; itu memberi keuntungan kepada wilayah secara keseluruhan. Simpul pengembangan juga
▪ Bekerjasama dan berkoordinasi dengan sektor lain dalam berbagai tahapan perencanaan, bukan merupakan suatu alokasi wilayah yang secara eksklusif hanya diperuntukan bagi
implementasi dan pengawasan pembangunan serta dengan jelas menguraikan ’siapa pengembangan kegiatan tertentu.
melakukan apa’ di antara sektor-sektor yang ada dalam pemerintahan, industri pariwisata, 2. Pintu Gerbang Wilayah, sesuai dengan namanya, akan menjadi tempat keluarmasuknya
masyarakat, dan stakeholders pariwisata lainnya. wisatawan dari dan ke suatu wilayah. Penetapan suatu titik sebagai pintu gerbang adalah
Dengan konsep ini pariwisata menjadi alat pemersatu sektor-sektor pembangunan wilayah dan bersangkut-paut dengan ketersediaan prasarana perhubungan antar wilayah serta posisi
mengurangi potensi konflik antar kepentingan. wilayah-wilayah luar yang akan dipandang menjadi sumber wisatawan.

8.3.3 Konsep Struktur Ruang Pariwisata Pintu gerbang wilayah juga menjadi titik lokasi yang memberi kesadaran kepada wisatawan
Sesuai dengan kaidah perencanaan yang baik, penataan suatu wilayah harus mengenai identitas dari suatu wilayah yang akan dimasuki. Dengan demikian pintu gerbang
mempertimbangkan unsur-unsur keterpaduan dan menyeluruh (holistik). Berdasarkan hal itu, dapat juga berfungsi memberikan citra/ impresi mengenai suatu wilayah kepada wisatawan
upaya pengembangan kegiatan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja harus dilakukan dengan yang datang, sebagai "kesan pertama" yang akan membantu wisatawan dalam
memandang Kabupaten Tana Toraja sebagai suatu satuan wilayah pengembangan. mengapresiasi berbagai daya tarik yang ada di dalam wilayah tersebut.
Implikasinya adalah semua komponen penunjang ditata sebagai satu kesatuan yang bekerja 3. Koridor Penghubung, berfungsi menjadi jalur pergerakan wisatawan sejak kedatangan dan
bersama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. pergerakan antar simpul pengembangan. Jika pada masing-masing simpul pengembangan

VIII - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pergerakan wisatawan merupakan perjalanan jarak pendek, yaitu dari tempat akomodasi Inskeep (1991:432), zonasi diciptakan/ dibuat dengan maksud untuk membatasi daerah-daerah
ke berbagai lokasi objek wisata dan daya tarik lainnya, maka pergerakan wisatawan di dengan jenis penggunaan lahan yang berbeda-beda sehingga kepentingan masing-masing
Koridor Penghubung merupakan suatu perjalanan jarak jauh. Perbedaan sifat perjalanan penggunaan lahan tidak bertabrakan dan lebih dapat dikendalikan serta diawasi. Selain itu juga
ini memerlukan jenis pelayanan yang berbeda. zonasi diperlukan sebagai suatu usaha peminimalan dampak kerusakan yang mungkin
ditimbulkan sebagai akibat adanya kunjungan. Zonasi ini berguna dalam membagi konsentrasi
pengunjung, sehingga tidak terjadi konsentrasi di satu tempat yang dapat mengakibatkan
kenyamanan pengunjung menjadi berkurang.

Gambar 8.3. Konsep Zonasi Pengembangan DTW

Gambar 8.2. Konsep Struktur Ruang Pariwisata ▪ Zona Inti, merupakan main attraction suatu ODTW ditempatkan dan aktivitas utama harus
dilengkapi pula dengan fasilitas utama.
8.3.4 Konsep Diversifikasi Daya Tarik ▪ Zona Penyangga (Buffer Zone), berfungsi memisahkan main attraction dengan aktivitas dan
Disamping penetapan ciri daya tarik unggulan, dapat juga dikembangkan suatu ciri daya tarik fasilitas pendukung.
berbeda yang dimaksudkan sebagai diversifikasi produk. Pengembangan ini dilakukan secara ▪ Zona Pelayanan, suatu area dimana seluruh aktivitas dan fasilitas pendukung dikelompokkan
terbatas karena bukan merupakan bagian dari konsentrasi pengembangan yang akan seperti jaringan infrastruktur dasar, akses fasilitas, pelayanan pengunjung dan sebagainya.
dijalankan. Melihat kondisi alam yang banyak diantaranya masih asli, dapat diperkenalkan jenis
wisata ekowisata. 8.3.6 Konsep Fasilitas Wisata
Secara definitif, menurut Witt-Moutinho (1994:338) fasilitas DTW yang kadang juga
Jenis wisata ini pada umumnya diminati oleh jumlah wisatawan yang terbatas jumlahnya.
diterminologikan sebagai amenities, adalah "segala unsur-unsur yang terdapat di suatu daerah
Ekowisata adalah jenis kegiatan wisata yang lebih banyak mengandalkan kepada daya tarik
tujuan wisata, atau yang berhubungan dengannya, yang dimungkinkan digunakan bagi para
alam yang ada dan hanya sesedikit mungkin menampilkan segala sesuatu yang sifatnya buatan
pengunjung yang tidak hanya untuk sekedar tinggal dan menikmati saja, tapi juga ikut
manusia, baik untuk daya tariknya maupun fasilitas-fasilitas wisata. Ekowisata dikembangkan
berpartisipasi dalam DTW atau atraksi tersebut.". Karakteristik ODTW yang mass tourism
menjadi daya tarik minor atau yang jumlahnya hanya sedikit, dan disisi lain tidak perlu dilakukan
dengan area kepadatan medium dan tinggi, menurut Baud-Bovy (101:1977) harus dilengkapi
banyak upaya untuk mengembangkan kegiatan ini.
dengan fasilitas- fasilitas, sebagai berikut:
▪ Fully equipped picnic sites with car parking;
8.3.5 Konsep Zonasi Pembangunan DTW
▪ Grassed area for rest, sunbathing, family groups;
Konsep zonasi ini memiliki tujuan untuk menjaga kelestarian sumberdaya yang ada didalamnya
▪ Limited camp sites (day and weekend use and for organised youth dubs, etc);
dan turut serta memelihara lingkungan agar berkelanjutan. Berkaitan dengan konsep diatas,
▪ Catering, recreational and cultural facilities, zoological gardens, natural history and local
fasilitas yang merupakan faktor pendukung utama suatu atraksi memerlukan penempatan yang
culture museum, etc;
baik. Dengan menggunakan konsep zonasi yang sesuai dapat menciptakan suatu
pengembangan atraksi wisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Menurut

VIII - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Where posssible rivers or reservoir for fishing, swimming and other permitted water based
activities;
▪ At a later phase the park may include open or enclosed swimming pools and spot is fields
for shows and competitions.
Atraksi wisata yang berkualitas harus didukung pula dengan adanya berbagai fasilitas. Fasilitas
wisata yang tersedia di suatu kawasan wisata merupakan faktor pendukung terhadap daya tarik
wisata yang dimiliki, sehingga keberadaan fasilitas wisata yang fungsional dan berkualitas
merupakan kondisi mutlak dalam pengelolaan suatu usaha atraksi wisata. Kemudian dalam
diktat MAW (2000:13) standar yang terdapat dalam fasilitas wisata sangat berkaitan dengan
fasilitas fisik yang tersedia di kawasan wisata seperti : jumlah, jenis, kondisi atau kualitas dan
daya tampung/ kapasitas dari fasilitas wisata tersebut.
Penyediaan jenis dan jumlah fasilitas wisata di suatu atraksi wisata harus mempertimbangkan
beberapa faktor, sebagai berikut:
▪ Karakteristik atraksi wisata;
▪ Profil pengunjung/ wisatawan;
▪ Referensi dan permintaan pasar wisata; Gambar 8.4. Klasifikasi Wisata Berdasarkan UU No. 9 / 2010
▪ Aktivitas wisata yang akan dilaksanakan oleh para pengunjung/wisatawan;
▪ Tingkat pengembangan pariwisata yang direncanakan; 8.3.8 Konsep Pengembangan DTW Alam dan Pegunungan
▪ Dana pengembangan yang tersedia. Obyek wisata alam & pengunungan erat kaitannya dengan hutan baik hutan alami atau hutan
binaan, air terjun, pendakian, kawasan agropolitan dan atraksi yang berkaitan dengan objek
Hal ini juga didukung oleh pendapat Inskeep di bawah ini:
wisata yang berada di kawasan konservasi. Obyek wisata yang memanfaatkan kawasan
“The basic approach for planning of natural tourist attractions is application of the environmental konservasi tidak terlepas dari ketentuan yang telah ditetapkan seperti Undang-Undang
planning approach which emphasizes conservation of the natural environment as well as Kehutanan. Pengembangan kawasan alam dan pengunungan lebih diarahkan pada konservasi
designing visitor facilities and organizing visitor use that fit well into the environment and do kawasan sehingga untuk kegiatan wisata harus dikembangkan sebagai tujuan ekowisata.
not degrade it" (1991:272). Ekowisata merupakan kegiatan perjalanan wisata yang bertanggung jawab di daerah tujuan
Menurut Inskeep pula bahwa konservasi ini diterminologikan sebagai "Management Plan”, wisata yang masih alami atau didaerah tujuan wisata yang dikelola dengan kaidah alam dimana
dimana hal tersebut memiliki konsep manajemen yang selalu berkesinambungan sehingga tujuannya selain menikmati keindahan juga melibatkan unsur pendidikan, pemahaman, dan
pariwisata yang ada didalamnya dapat mendukung fungsl konservasi dan diantara keduanya dukungan terhadap usaha-usaha konservasi alam dan peningkatan pendapatan masyarakat
bisa saling terlaksana seiring sejalan (1991:272). Mengacu pada prinsip-prinsip perencanaan, setempat sekitar daerah tujuan ekowisata.
khususnya dalam perencanaan zonasi, maka perlu dilakukan suatu penetapan perencanaan dan Pemanfaatan kawasan alam dan pegunungan untuk ekowisata harus mempertimbangkan
desain berbagai fasilitas yang dibutuhkan atau sesuai dengan natural attraction resources. dampak yang diakibatkan oleh wisatawan. Kabupaten Tana Toraja mempunyai banyak potensi
Fasilitas yang disediakan di dalam suatu kawasan wisata sangat dibutuhkan wisatawan/ wisata alam dan pegunungan Beberapa pertimbangan penting dalam pemanfaatan ekowisata
pengunjung untuk mendukung aktivitas pengunjung selama pengunjung menikmati atraksi ini antara lain adalah:
wisata yang ada. ▪ Pengunjung kawasan harus bertanggung jawab terhadap ekologi alam tersebut atau
disebut sebagai ekowisatawan. Pelatihan atau pengarahan intensif bagi calon pengunjung
8.3.7 Konsep Pengembangan Daya Tarik Unggulan/Utama perlu dilakukan berkaitan dengan ekowisata dan pentingnya konservasi kawasan.
Pengembangan daya tarik utama bagi para wisatawan diarahkan dengan menjadikan alam ▪ Fasilitas pendakian harus memenuhi persyaratan ekowisata yang berbasis pada sumber
sebagai daya tarik utama (focus of interst) dengan didorong oleh jenis-jenis produk lainnya daya lokal dan alami. Struktur bangunan tidak dibangun yang berlebihan.
seperti unsur penunjang (enrichment factor). Faktor yang dapat dijadikan unsur penunjang, ▪ Setiap kegiatan yang memanfaatkan kawasan konservasi harus ada petunjuk jalan (guide)
adalah sebagai berikut. yang ditunjuk oleh pengelola pariwisata setempat sehingga setiap kegiatan wisata yang
dlakukan wisatawan tercatat di pengelola kawasan.

VIII - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Jumlah kegiatan wisata tidak melebihi daya dukung kawasan. Kajian perlu dilakukan
berkaitan dengan daya dukung kawasan setiap objek wisata yang dimanfaatkan untuk
kegiatan wisata sebagai ekowisata.
▪ Perbaikan aksesibilitas menuju kawasan dan di dalam kawasan. Sirkulasi di dalam kawasan
dibuat sealami mungkin dan membantu konservasi lahan.
Kegiatan wisata alam dan pegunungan merupakan kegiatan ekowisata yang sangat
memperhatikan ekologi kawasan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Pengelolaan
kegiatan di kawasan ini harus mengikuti prosedur dan ketentuan yang ditetapkan pihak
pengelola (Lembaga Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja).
Atraksi lain yang ada di dalam kelompok wisata ini adalah kawasan agrowisata nama umum dari
wisata pertanian, yaitu wisata ke kawasan pertanian baik pertanian secara umum ataupun
pertanian secara khusus. Kawasan pertanian umum yang dimaksud dapat berupa integrated
farming dimana berbagai komoditas seperti sayuran, buahbuahan, tanaman hias, peternakan,
perikanan, dan sebagainya. Pertanian secara khusus yang dimaksud dapat berupa pertanian
khusus buah-buahan, khusus buahbuahan tertentu seperti buah naga, buah stroberi, buah
durian, buah manggis, dan sebagainya. Agrowisata di Kabupaten Tana Toraja lebih diarahkan
pada agrowisata perkebunan. Komoditas agrowisata yang paling potensial di Kabupaten Tana
Toraja adalah perkebunan, yang berada didataran tinggi.
Kegiatan agrowisata yang dapat diakomodasi pada lokasi ini adalah seperti tercantum pada
Gambar berikut. Secara umum, kegiatan agrowisata meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
(1) menikmati lanskap perkebunan, (2) mengikuti proses produksi perkebunan, (3) mengikuti Gambar 8.5. Kegiatan-kegiatan di Kawasan Agrowisata
proses pengolahan hasil perkebunan, dan (4) menikmati produk-produk lainnnya. Kegiatan-
kegiatan tersebut dapat dikunjungi baik secara sendiri-sendiri maupun keseluruhan. Kunjungan
Lanskap Perkebunan. Salah satu daya tarik agrowisata di perkebunan adalah kondisi alam
secara keseluruhan merupakan paket khusus yang ditawarkan dengan berbagai sajian termasuk
atau lanskapnya. Bentukan lahan (landform) yang alami bergelombang sampai berbukit
didalamnya souvenir dan menikmati hidangan makanan khas.
tersebut memungkinkan untuk mengakomodasi kegiatan-kegiatan seperti rekreasi alam, piknik,
dan berkemah. Sirkulasi di dalam perkebunan harus dirancang untuk dapat membawa
pengunjung berkeliling menikmati pemandangan alam perkebunan dan pemandangan pantai
dan laut yang sangat menarik. Sirkulasi ini harus dapat mengakomodasi pergerakan pengunjung
yang beragam mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek. Panjang sirkulasi tidak terlalu jauh
dan tidak memotong kawasan yang mempunyai kemiringan lahan yang sangat tajam. Pola
sirkulasi sebaiknya mengikuti pola alami, yaitu pola organik.
Fasilitas yang mendukung kegiatan rekreasi tersebut adalah gazebo, shelter, bangku taman,
dan ruang terbuka berupa lapangan rumput yang dikelilingi tegakan pohon. Fasilitas ini
disediakan untuk memenuhi kegiatan-kegiatan rekreasi seperti duduk-duduk di hamparan
rumput, duduk-duduk di bawah tegakan atau shelter, lari-lari bagi anak-anak, dan foto-foto.
Beberapa tegakan pohon yang merupakan focal point perlu dihadirkan di kawasan rumput
terbuka. Pohon yang dihadirkan dapat berupa pohon berbunga menarik atau pohon besar yang
mampu memberi naungan yang cukup luas.

VIII - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

1. Pengembangan DTW
Dalam mengembangkan suatu DTW, maka yang perlu diperhatikan antara lain; karakteristik
permintaan dan penawaran konsumen, daya tarik dan kemampuan lokal, pelayanan terhadap
wisatawan dan lain-lain. Secara khusus prinsip pengembangan DTW, adalah:
▪ Mempertimbangkan karakteristik permintaan dan penawaran berdasarkan
kecenderungan pasar (market oriented) dengan melibatkan peran serta masyarakat.
Pengembangan suatu produk harus mempertimbangkan keinginan dari para konsumen
(user oriented) sehingga produk yang dihasilkan atau direncanakan dapat dinikmati;
▪ Menggarisbawahi kepentingan ekonomi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur
Gambar 8.6. Lanskap Perkebunan sebagai Daya Tarik Wisata
dan suprastruktur kepariwisataan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar,
Lapangan rumput terbuka selain sebagai tempat rekreasi jalan-jalan menikmati pemandangan sehingga masyarakat dapat berperan aktif didalamnya;
dapat juga dimanfaatkan untuk kegiatan piknik dengan duduk bersama diatas rumput di bawah ▪ Meningkatkan dan memantapkan kualitas pelayanan untuk kepuasan wisatawan agar
tegakan pohon sambil menikmati hidangan makanan dan minuman. Area piknik dan rekreasi peningkatan daya saing dapat dipertahankan, hal tersebut sangat dipentingkan sebagai
dapat berdampingan dan atau satu kesatuan. pertanda kesiapan dari daerah dalam menyambut wisatawan;
▪ Pengembangan produk yang syarat dengan muatan keingintahuan dan lokal genius
merupakan segment produk yang sangat mengesankan bagi wisatawan;
▪ Mewujudkan kolaborasi sinerjik dalam pengembangan produk pariwisata yang
mencakup berbagai aspek dari komponen yang ada, sehingga tercipta suatu kesatuan
yang utuh dari keterkaitan antar komponen-komponen tersebut;
▪ Pencerminan dari aspek lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya yang
berperan dan mampu mempertahankan suatu produk berkelanjutan di suatu daerah,
keadaan itu merupakan suatu kondisi yang kondusif dalam beradaptasi dengan
lingkungan sekitarnya, sehingga dapat tercipta suatu suasana lingkungan yang asri dan
ramah lingkungan; dan
▪ Bertumpu pada hubungan setara antara tuan rumah, pelaku dan wisatawan, dalam hal
ini pihak pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan swasta untuk
mengelola produk wisata tanpa membedakan sumber daerah asal wisatawan.
Gambar 8.7. Lapangan Rumput di antara Tegakan Pohon
2. Pengembangan Kawasan Wisata
Pemandangan lanskap perkebunan dapat dinikmati dengan mengunjungi lokasi dan mengikuti
Dalam suatu daerah tujuan wisata mempunyai beragam jenis obyek dan daya tarik wisata,
sirkulasi yang direncanakan belum terasa cukup apabila tidak dapat menikmati produk
yang mempunyai karakteristik dan spesifikasi yang berbeda, sehingga mempunyai daya tarik
perkebunan secara langsung. Pengunjung dapat merasakan nikmatnya buah lokalyang tumbuh
yang menarik berbeda pula, ada obyek dan daya tarik wisata yang mempunyai daya tarik yang
di kawasan tersebut, dengan mengunjungi area tertentu yang dirancang khusus untuk memetik
relatif kuat dan ada pula yang mempunyai daya tarik yang lemah, atau suatu obyek dan daya
dan menikmati produk perkebunan secara langsung.
tarik yang mempunyai potensi daya tarik yang berbeda, namun diantara obyek dan daya tarik
Kegiatan lain yang sangat menarik adalah kegiatan berkemah di bawah tegakan pohon di wisata tersebut, letaknya relatif dekat satu sama lainnya, sehingga untuk mengembangkan
perkebunan tersebut. Sebagian areal perkebunan sesuai dengan kebutuhan standar dapat suatu daerah tujuan wisata seperti demikian, maka obyek dan daya tarik wisata tersebut
dimanfaatkan untuk area berkemah. Fasilitas disesuaikan dengan kebutuhan standar bumi dipadukan dalam bentuk suatu kawasan wisata.
perkemahan sederhana. Pengelolaan bumi perkemahan ini masih terintegrasi dengan
Atraksi berkelompok memudahkan wisatawan untuk berkunjung. Mungkin Ia mendatangi
agrowisata.
kelompok atraksi dengan kendaraan, lalu didalam kelompok atraksi melakukan walking tours
8.3.9 Konsep Pengembangan Produk
(berjalan kaki), sehingga secara keseluruhan wisatawan dapat menikmatinya.
Untuk menciptakan produk unggulan terhadap suatu daerah tujuan wisata, maka perlu
dilakukan pengembangan produk dalam bentuk pengembangan DTW dan pengembangan
kawasan wisata.

VIII - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Dengan menawarkan “touring tourism” naik kendaraan maka wisatawan hanya akan melihat akses jalan yang baik saja tidak cukup tanpa diiringi dengan ketersediaan sarana
atraksi utama saja, dan akan tinggal tidak terlampau lama di DTW. Tujuan dilakukannya [Link] individual tourist, transportasi umum sangat penting karena kebanyakan
penggabungan beberapa obyek dan daya tarik wisata dalam suatu kawasan adalah; mereka mengatur perjalanannya sendiri tanpa bantuan travel agent, sehingga sangat
▪ Meningkatkan dan menambah daya tarik suatu obyek wisata. bergantung kepada sarana dan fasilitas publik.
▪ Memberikan pelayanan dan suguhan atraksi wisata kepada pengunjung dengan
Amenity, adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan
berbagai ragam aktraksi.
wisatawan selama berada di [Link] berkaitan dengan ketersediaan sarana
▪ Melestarikan dan menjaga lingkungan dalam kawasan wisata.
akomodasi untuk menginap serta restoran atau warung untuk makan dan minum di suatu
▪ Memudahkan dalam membangun infrastruktur dan supraktruktur pendukung dan
desa wisata. Kebutuhan lain yang mungkin juga diinginkan dan diperlukan oleh wisatawan,
penunjang dalam kawasan wisata yang terbentuk.
seperti toilet umum, rest area, tempat parkir, klinik kesehatan, dan sarana ibadah sebaiknya
juga tersedia di sebuah destinasi. Tentu saja fasilitas-fasilitas tersebut juga perlu melihat
8.3.10 Konsep Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata
dan mengkaji situasi dan kondisi dari destinasi sendiri dan kebutuhan wisatawan. Tidak
1. Komponen Produk Desa Wisata
semua amenitas harus berdekatan dan berada di suatu desa [Link] alam dan
Inti dari produk pariwisata adalah destinasi wisata. Inilah yang menjadi daya tarik utama
peninggalan bersejarah sebaiknya agak berjauhan dari amenitas yang bersifat komersial,
atau core business dari industri [Link] berkaitan dengan sebuah tempat atau
seperti hotel, restoran dan rest area.
wilayah yang mempunyai keunggulan dan ciri khas, baik secara geografi maupun budaya,
sehingga dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi dan [Link] produk Salah satu media interaksi yang paling efektif dan total antara wisatawan dan masyarakat
yang berkaitan dengan perjalanan sebelum, selama, dan sesudah mengunjungi suatu pedesaan adalah apabila wisatawan dimungkinkan tinggal di desa. Beberapa cara yang
destinasi adalah produk-produk pendukung industri [Link]-produk tersebut mungkin bisa ditempuh adalah:
menyatu dan tidak bisa dipisahkan untuk menciptakan pengalaman yang “memuaskan” ▪ Akomodasi yang disiapkan untuk wisatawan hendaknya tetap bernuansa pedesaan. Hal
bagi wisatawan. Jika salah satu produk membuat wisatawan kecewa, maka secara ini dapat dilakukan dengan cara merehabilitasi dan sedikit modifikasi terhadap rumah
keseluruhan wisatawan akan kecewa terhadap destinasi tersebut. Untuk membuat sebuah penduduk yang sudah ada, sehingga memenuhi standar minimal akomodasi dilihat dari
destinasi wisata yang unggul, sebelum sebuah destinasi diperkenalkan dan dijual seperti segi kesehatan dan kenyamanan, meliputi sirkulasi udara, penyinaran, sanitasi dan
halnya desa wisata, terlebih dahulu harus mengkaji empat aspek utama (4A) yang harus penyediaan sarana MCK.
dimiliki, yaitu Attraction (daya tarik), Accessibility (aksesibilitas=keterjangkauan), Amenity ▪ Akomodasi merupakan bagian baru di lingkungan rumah-rumah pedesaan, dengan
(fasilitas pendukung), dan Ancilliary (organisasi/ kelembagaan pendukung). bangunan yang berdiri di lahan milik penduduk lokal. Pengelolaan dari
Attraction, adalah produk utama sebuah [Link] berkaitan dengan what to see penyelenggaraan tempat tinggal seperti itu sepenuhnya ada di tangan penduduk lokal.
dan what to do. Apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan di desa wisata tersebut. Beberapa program penyiapan sebaiknya difasilitasi secara matang sebelumnya.
Atraksi bisa berupa keindahan dan keunikan alam, budaya masyarakat setempat, Program penyiapan tersebut meliputi penyuluhan, pelatihan pengelolaan/manajemen
peninggalan bangunan bersejarah, serta atraksi buatan seperti sarana permainan dan sederhana dan sebagainya.
hiburan. Seharusnya sebuah atraksi harus mempunyai nilai diferensiasi yang tinggi, unik Ancilliary berkaitan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau orang-orang yang
dan berbeda dari desa lainnya. Berbagai macam atraksi yang mungkin untuk dikembangkan mengurus desa wisata tersebut. Ini menjadi penting karena walaupun desa wisata sudah
di suatu desa wisata meliputi: kegiatan persawah/ladangan, (2) kegiatan kesenian desa (3) mempunyai atraksi, aksesibilitas dan amenitas yang baik, tapi jika tidak ada orang atau
kegiatan olah raga dengan masyarakat desa, (4) kegiatan upacara, (5) kegiatan meditasi organisasi yang mengatur dan mengurus, maka ke depannya pasti akan terbengkalai.
lainnya (6) kegiatan pembangunan rumah, (7) kegiatan desa adat lainnya, (8) makanan Organisasi sebuah desa wisata akan melakukan tugasnya seperti sebuah perusahaan.
dan minuman. Mengelola desa wisata agar bisa memberikan keuntungan kepada pihak terkait, seperti
Accessibility, adalah sarana dan infrastruktur untuk menuju ke desa wisata. Akses jalan pemerintah, masyarakat sekitar, wisatawan, lingkungan dan para stakeholder lainnya.
raya, ketersediaan sarana transportasi dan rambu-rambu penunjuk jalan merupakan aspek Empat “A” yang dijelaskan di atas sudah seharusnya menjadi pertimbangan bagi
penting bagi sebuah destinasi desa wisata. Banyak sekali wilayah di Indonesia yang masyarakat desa atau pemerintah atau pemangku kepentingan pariwisata untuk
mempunyai keindahan alam dan budaya yang layak untuk dijual kepada wisatawan, tetapi mengembangkan suatu destinasi wisata menjadi desa wisata yang atraktif.
tidak mempunyai aksesibilitas yang baik, sehingga ketika diperkenalkan dan dijual, tak
banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjunginya. Perlu juga diperhatikan bahwa

VIII - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Kriteria Desa Wisata b. Pendekatan Fisik. Pendekatan fisik merupakan solusi yang umum dalam
Suatu desa akan menjadi desa wisata, diperlukan kriteria tertentu, yaitu: mengembangkan sebuah desa melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-
▪ Atraksi wisata, yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil ciptaan manusia. standar khusus dalam mengontrol perkembangan aktivitas konservasi.
▪ Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di desa. Mengkonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi
▪ Jarak Tempuh, yaitu jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum desa untuk
wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibukota provinsi dan jarak dari menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut.
ibukotakabupaten. c. Mengkonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk menampung
▪ Besaran Desa, menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut
karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan daya dukung sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata.
kepariwisataan pada suatu desa. d. Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi didalam wilayah desa yang dioperasikan
▪ Sistem Kepercayaan dan kemasyarakatan, merupakan aspek penting mengingat oleh penduduk desa sebagai industri skala kecil.
adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa.
4. Peningkatan Kapasitas Masyarakat Desa
Perludipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan sistem
Dalam mengembangkan desa wisata, pelibatan masyarakat menjadi prasyarat mutlak.
kemasyarakatan yang ada.
Namun ketika hendak melibatkan masyarakat agar mau berperan serta dalam proses
▪ Ketersediaan Infrastruktur, meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas
pengembangan desa wisata tidak bisa terjadi begitu saja. Kenapa? Karena setiap
listrik, air bersih, drainase, jaringan telepon dan sebagainya.
masyarakat memiliki karakteristiknya masing-masing. Setiap masyarakat memiliki potensi
Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa untuk konflik dan faksi-faksi, yang ibarat jerami kering, bisa terbakar kapanpun pada saat angin
kemudian menetukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe berhenti sejenak, meniup. Hambatan terbesar biasanya ada pada persoalan kapasitas dan pemahaman
tipe one day trip atau tipe tinggal inap. masyarakat tentang desa wisata.
Karena melibatkan masyarakat menjadi prasyarat utama maka proses pemberian
3. Pendekatan Pengembangan Desa Wisata
pemahaman dan peningkatan kapasitas sering memakan waktu lama. Banyak pihak yang
Pengembangan potensi desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang
menginisiasi desa wisata sering tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu
timbul dapat dikontrol. Berdasarkan hasil penelitian dan studi-studi dari UNDP/WTO dan
kesiapan masyarakat untuk terlibat. Namun sebaiknya memang kesiapan masyarakat
beberapa konsultan Indonesia (UNDP dan WTO, 1981), dicapai dua pendekatan dalam
diupayakan sehingga bisa terlibat menjadi subyek dalam pengembangan desa wisata.
menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi desa
Target utama dalam peningktan kapasitas masyarakat dalam program desa wisata ialah
wisata, yaitu:
agar masyarakat desa mampu membuat perencanaan desa wisata secara mandiri. Artinya,
a. Pendekatan Pasar. Pada pada pendekatan pasar dikenal tiga jenis interaksi, yaitu:
masyarakat akan bisa terorganisir dan mampu menjadi subyek dalam setiap pengambilan
Interaksi tidak langsung. Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa
keputusan, khususnya yang terkait dengan program pengembangan desa wisata didesanya
mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang
masing-masing. Secara rinci tahapan-tahapan kegiatan dapat dijelaskan sebagai berikut :
terjadi semisal penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa,
a. Sosialisasi
seni dan budaya lokal, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu
Tujuan sosialisasi ialah untuk menyamakan persepsi, visi dan misi tentang desa wisata
pos dan sebagainya.
antara masyarakat, konsultan (pendamping) dengan Pemerintah. Disamping itu,
Interaksi setengah langsung, bentuk-bentuk one day trip yang dilakukan oleh
melalui forum sosialisasi program desa wisata tersampaikan kepada masyarakat luas
wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan
atau perwakilan masyarakat.
kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini
b. Pelatihan ToT dan Co
adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk.
Kedua bentuk pelatihan ini bisa dilakukan secara bersama/simultan atau bisa juga
Interakasi langsung, wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam
diadakan secara terpisah. Dalam kegiatan ini kader-kader penggerak desa wisata
akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol
diberikan wawasan dan teknik memimpin pertemuan, memfasilitasi rapat sehingga bisa
dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat.
menghasilkan keputusan-keputusan yang bernas. Tujuan pelatihan ToT adalah
Alternatif lain dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua.
membentuk para kader DW menjadi fasilitator yang hebat. Sedangkan pelatihan CO
bertujuan membekali para pesertanya dengan serangkaian ilmu pengorganisasian

VIII - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

masyarakat sehingga mampu menjadi seorang pengorganisir masyarakat (community ▪ Menentukan segment pasar yang akan diraih;
organizer) yang handal, khususnya dalam hal pengembangan desa wisata. ▪ Menyusun dan membuat tour itinerary dengan pengemasan yang menarik.
c. Pelatihan Pemetaan Potensi Fisik, Sosbud
Sebuah paket wisata terkait erat dengan harga paket, dan harga paket ini harus tertuang
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang
jelas pada brosur paket wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. Penghitungan harga
potensi desa dalam rangka menyusun perencanaan desa wisata. Potensi yang
paket dimulai dengan mengumpulkan kontrak-kontrak yang masih berlaku dan membuat
dipetakan antara lain; potensi fisik (alam), potensi sosial, dan potensi budaya. Berbagai
kontrak-kontrak yang belum ada, terutama yang masuk dalam perhitungan package,
potensi yang diidentifikasi tersebut sangat penting sebagai basis dalam penyusunan
sepert: kontrak dengan hotel-hotel, kontrak dengan restaurant/ rumah makan, kontrak
paket atraksi DW. Selain itu pengetahuan tentang potensi dan kekayaan desa akan
dengan perusahaan transportasi, kontrak dengan pramuwisata yang ditugaskan, terutama
menjadi insight atau wawasan bagi para masyarakat, khususnya yang akan berperan
pada tour-tour minat khusus, seperti tour desa wisata,dll.
sebagai guide lokal.
d. Perencanaan Partisipatif Desa Wisata 6. Menciptakan Branding
Perencanaan partisipatif diikuti oleh perwakilan warga desa dengan memperhatikan Brand adalah merek yang dimiliki oleh perusahaan, sedangkan branding adalah kumpulan
keterlibatan berbagai unsur. kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka proses membangun
dan membesarkan brand. Tanpa dilakukannya kegiatan komunikasi kepada konsumen yang
5. Pengemasan
disusun dan direncanakan dengan baik, maka sebuah merek tidak akan dikenal dan tidak
Hampir semua desa di Indonesia memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata pedesaan,
mempunyai arti apa-apa bagi konsumen atau target konsumennya. Merek (brand)
bukan hanya daerah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali dan Lombok saja, tetapi
merupakan nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semuanya,
juga daerah lainnya di Indonesia. Seperti disinggung sebelumnya, Kementerian Pariwisata
yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa atau kelompok penjual dan
(sebelumnya Kemenparekraft) melaksanakan lomba desa menjadi desa wisata, dan sampai
untuk mendiferensiasikannya (membedakan) dari barang atau jasa pesaing. Dengan
tahun 2014 telah terbina sekitar 10 desa wisata di Indonesia.
demikian, sebuah merek adalah produk atau jasa penambah dimensi yang dengan cara
Namun kenyataannya hanya sedikit di antaranya yang mampu mengemas atraksi (daya
tertentumendifrensiasikannya dari produk atau jasa lain yang dirancang untuk memuaskan
tarik) suasana pedesaan menjadi paket wisata lengkap dengan fasilitas pendukung yang
kebutuhan yang sama. Peranan merek mengidentifikasi sumber atau pembuat produk dan
memadai. Oleh karena itu pengemasan perjalanan wisatawan ke suatu desa wisata menjadi
memungkinkan konsumen baik individu atau organisasi untuk menetapkan tanggung jawab
sebuah paket wisata adalah sangat penting. Komponen pokok yang perlu memperoleh
pada pembuat atau distributor tertentu.
perhatian dalam mengemas desa wisata menjadi paket wisata, antara lain:
Dewasa ini semakin banyak daerah yang memiliki potensi pariwisata berusaha melakukan
A = Akomodasi: Akomodasi macam apa yang akan disediakan kepada wisatwan, apakah
pencitraan dengan memberi penguatan pada symbol atau penanda tertentu. Misal,
homestay, hotel melati, cottage atau bintang
Pemerintah Kota Surakarta menggunakan branding "Solo the Spirit of Jawa" sebagai upaya
T = Tranasportasi: Transportasi macam apa yang digunakan untuk menjangkau desa
merevitalisasi di dataran nilai-nilai, filosofi atau pandangan hidup; sistem kehidupan
wisata.
masyarakat dalam berinteraksi dan menjalani kehidupannya, maupun hasil karya atau
M = Meals = Makan: Makanan jenis apa yang tersedia di desa wisata ybs. Apakah Fullboard/
produk yang dihasilkan dengan semangat budaya [Link] punya branding “Bali Shanti
Halfboard/ - Lokal Rest - Box - Bufeet, Set Menu.
Shanti Shanti”. Malaysia memiliki branding “Truly Asia”.
G = Guide: English/ Japan/ France speaking Guide atau Indonesia
Gejala pariwisata sesungguhnya tidak terlepas dari kebudayaan sebuah masyarakat sebab
O = Objek: Objek apa saja yang dikunjungi dapat dikunjungi di desa wisata ybs dan apak
dalam kunjungan wisata, paling tidak terjadi kontak dan interaksi kebudayaan wisatawan
keunikan desa tsb - berapa enterprise feenya
dengan kebudayaan penduduk setempat. Setiap daerah wisata mempunyai citra (image)
L = Lain-lain: Asuransi, Snack, Souvenir, VCD, Welcome Flower - Lugage Handling.
tertentu, yaitu mental maps seseorang terhadap suatu destinasi yang didalamnya
Jika pengelola desa wisata ingin menyusun paket wisata suatu desa wisata, maka sebaiknya
mengandung keyakinan, kesan dan persepsi (Pitana dan Gayatri, 2005: 64). Citra yang
mengikuti urutan sbb.:
terbentuk di pasar merupakan kombinasi antara berbagai factor yang ada pada destinasi
▪ Survei objek sesuai dengan selera pasar, dengan penekanan pada objek/ daya tarik
yang bersangkutan, seperti iklim, pemandangan alam, keamanan, kesehatan, fasilitas
wisata yang dikehendaki pasar atau disesuaikan dengan trend pasar;
akomodasi, keramahtamahan penduduk, ketersediaan alat-alat transportasi di satu pihak,
▪ Menentukan motive package-nya, apakah leisure, ziarah, kesehatan, study, dll;
dengan informasi yang diterima oleh calon wisatawan dari berbagai pihak atau dari
▪ Survei objek penunjang sebagai penunjang inovasi package;
fantasinya sendiri terhadap pengalamannya selama mengadakan perjalanan wisatanya.
▪ Akses menuju objek wisata yang masuk dalam package;
Pariwisata adalah industri yang berbasiskan citra, karena citra mampu membawa calon

VIII - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

wisatawan ke dunia simbol dan [Link] beberapa ahli pariwisata mengatakan bahwa surat kabar atau televisi. Ketika memasarkan online, tidak hanya menjaring informasi
citra ini memegang peranan yang penting daripada sumberdaya pariwisata yang kasat pelanggan potensial, tetapi dapat mengambil penjualan seketika dengan beberapa klik
[Link] pengertian ini, maka pembangunan brand image menjadi penting bagi sebuah mouse. Ketika datang ke pemasaran offline, membutuhkan lebih banyak waktu untuk
daerah yang hendak mengembangkan diri sebagai tujuan wisata, termasuk menciptakan mengubah pelanggan menjadi penjualan, belum lagi sering membutuhkan tambahan
branding sebuah desa wisata yang hendak dikembangkan. sumberdaya manusia untuk mengurusnya.
7. Pemasaran Online Jadi dalam memasarkan suatu desa wisata dengan segala keindahan alam dan
Dalam memasarkan produk barang dan jasa, di samping dapat dipasarkan metode keunikannya, maka pemasaran secara tradisional harus dilengkapi dengan pemasaran
tradisional melalui biro perjalanan, dapat juga menempuh pemasaran online atau lewat online (website atau blog), karena cara pemasaran ini dapat diakses oleh calon-calon
website. Pemasaran online terbukti telah memberikan banyak manfaat. Misalnya, wisatawan dari belahan dunia di manapu, kapanpun, dan oleh siapapun.
membantu perusahaan melakukan riset pasar sendiri. Memang, gabungan dibidang
pemasaran, baik online maupun offline sangatlah baik. Tapi manfaat dalam pemasaran 8.4 VISI DAN MISI
online ini dapat membantu menciptakan strategi pemasaran tepat, bahkan bisa lebih sukses Visi adalah sesuatu yang diharapkan dan yang dicita-citakan. Dalam kenyataan hal itu bisa saja
dari pemasaran offline. Lebih lanjut dikatakan bahwa pemasaranonline memiliki banyak tidak terwujud karena beberapa faktor. Namun demikian visi itu bukan juga sesuatu yang tidak
manfaat yang tidak tersedia dalam pemasaran tradisional dan offline, termasuk manfaat dapat dicapai karena membuat visi dilakukan berdasarkan kemampuan dan peluang yang ada
yang diperoleh dalam pemasaran paket wisata suatu desa wisata, yang hendak dipasarkan, dengan melihat perkembangan aktual yang terjadi.
al.:
Visi Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja adalah: “Menjadikan Pariwisata
a. Dapat melakukan perubahan dengan cepat. Salah satu manfaat dari pemasaran
Sebagai Andalan Perekonomian Kabupaten Berbasiskan Sumber Daya Alam dan Budaya yang
online adalah dapat melakukan perubahan dengan cepat. Ketika melakukan
Maju dan Agamis”.
pemasangan iklan, dapat mengubahnya dengan cepat jika terjadi kesalahan dengan
cara melakukan pemantauan dan pelacakan apakah iklan dan segala upaya pemasaran Misi Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja, yaitu:
akan bekerja dengan baik, juga dapat memutuskan untuk mengubah grafis atau kata- 1. Mengembangkan destinasi pariwisata yg terpadu dan berkelanjutan;
kata dan melakukan itu semua tanpa ada masalah. Ini yang tidak dimiliki pemasaran 2. Mengembangkan struktur Industri Pariwisata, daya saing produk, kemitraan Usaha,
tradisional dan periklanan. kredibilitas bisnis, serta tanggung jawab terhadap sosial budaya dan lingkungan;
b. Dapat menelusuri hasil secara real-time. Pemasaran online memungkinkan untuk 3. Mengembangkan Pemasaran Pariwisata terpadu, dan berkelanjutan dgn melibatkan seluruh
melacak hasil secara real-time menggunakan analisis secara online untuk membuat pemangku kepentingan;
penentuan bagaimana kampanye pemasaran berkinerja. Ada banyak cara untuk 4. Pengembangan organisasi pemerintah, swasta, dan masyarakat, SDM, regulasi, serta
melacak upaya pemasaran tradisional, tetapi sebagian besar saat itu tidak dapat mekanisme operasional bidang Kepariwisataan yg handal.
dilakukan secara real-time. Hal ini bisa mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan
untuk kampanye. 8.5 TUJUAN
c. Dapat menargetkan demografis tertentu dalam iklan. Pemasaran online Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari misi, yang merupakan hasil akhir yang
memungkinkan untuk menargetkan demografis tertentu seperti halnya gender, usia, akan dicapai. Melalui tujuan ini akan diketahui apa yang harus dilakukan, dengan
dan lokasi, bahkan dapat menargetkan tingkat pendapatan tertentu, tingkat pendidikan memperhitungkan sumber daya, nilai-nilai dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi.
dan pekerjaan. Dapat melakukan ini di bidangpemasaran tradisional, tetapi itu tidak 1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas destinasi pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan
mudah dan seringkali merupakan guessing game. ekonomi, sosial budaya yang disertai dengan peningkatan pemberdayaan masyarakat.
d. Banyak pilihan dalam pemasaran online. Ada begitu banyak pilihan ketika 2. Mewujudkan Industri Pariwisata yg mampu menggerakkan perekonomian masyarakat &
memutuskan untuk melakukan pemasaran online. Bisa menggunakan audio, video, daerah.
blogging, email, media sosial dan newsletter yang sedang berlangsung. Jika melakukan 3. Pemasaran Destinasi Pariwisata yang efektif, efisien dalam membangun citra Tana Toraja
hal yang sama dalam pemasaran tradisional, maka harus memilih beberapa outlet sebagai Destinasi Pariwisata yg unggul dan berdaya saing.
media, tidak demikian halnya ketika datang ke pemasaran online. 4. Mengembangkan kelembagaaan Kepariwisataan dan tata kelola pariwisata yang mampu
e. Kemapuan Konversi Instan. Ketika melakukan pemasaran online, harus memiliki mensinergikan Pembangunan Destinasi, Pemasaran, dan Industri Pariwisata secara efektif,
kemampuan untuk mengubah pelanggan secara instan. Hal ini tidak terjadi ketika efisien dan profesional.
melakukan evaluasi pilihan pemasaran dalam media tradisional seperti iklan majalah,

VIII - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

9
9.1 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Kebijakan pembangunan kepariwisataan merupakan arahan pembangunan yang dirumuskan
untuk mencapai tujuan pembangunan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan
harus mengintegrasikan aspek destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran pariwisata,
dan kelembagaan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan daerah merupakan
arah tindakan pembangunan kepariwisataan yang bersifat multi dimensi dan lintas sektor.
Kebijakan pembangunan kepariwisataan memiliki fungsi:
a. Sebagai dasar dalam perumusan strategi pembangunan kepariwisataan;
b. Memberikan arah bagi perumusan rencana pembangunan perwilayahan pariwisata yang
terdiri dari rencana struktur perwilayahan pariwisata, rencana kawasan pengembangan
pariwisata, dan rencana kawasan strategis pariwisata;
c. Memberikan arah bagi perumusan program pembangunan destinasi pariwisata, industri
pariwisata, pemasaran pariwisata, dan kelembagaan kepariwisataan; dan
d. Sebagai dasar dalam perumusan ketentuan pengendalian kepariwisataan.
Kebijakan pembangunan kepariwisataan dirumuskan berdasarkan visi dan misi pembangunan
kepariwisataan, tujuan pembangunan kepariwisataan, dan peraturan perundang-undangan
Kabupaten Tana Toraja yang telah dirumuskan dengan mempertimbangkan isu-isu strategis
pembangunan kepariwisataan didaerah.

9.1.1 Formulasi Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan


Dalam menyusun Arahan dalam Kebijakan, Strategi dan Program pembangunan pariwisata di
Kabupaten Tana Toraja digunakan kajian yang menyeluruh terhadap komponen-komponen
pariwisata dengan menggunakan pendekatan yang dapat mengkombinasikan berbagai potensi
dan permasalahan kepariwisataan yang ada di Kabupaten Tana Toraja sehingga dapat
menjadikannya sebagai dasar dalam merumuskan program-program pembangunan
kepariwisataan Tana Toraja sampai pada akhir tahun perencanaan sesuai ketentuan

IX - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

perundangan yang berlaku dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan berupa isu-isu 2. Memberikan skenario keadaan sekarang dan masa yang akan datang, penjelasan tiap-tiap
strategis dalam lingkup permaslaahan dan potensi pariwisata Kabupaten Tana Toraja. potensi dilakukan dengan analisis deskriptif (strengths, weakness, opportunities, dan
threats).
Pendekatan kajian tersebut yaitu dengan metode analisis SWOT. Konsep SWOT adalah
menempatkan posisi masa depan (visi) dengan melihat Threats ataupun Opportunities hanya SWOT ditempuh dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan (strength), kelemahan (weakness),
sebagai ‘peluang semata’ lalu melihat Weaknesses dan Strengths kondisi saat ini untuk peluang (opportunities) dan ancaman (threat) yang dimiliki oleh unsur kepariwisataan di
kemudian menarik garis usaha dengan menghubungkan antara visi dan kondisi saat ini. Analisis Kabupaten Tana Toraja maupun fungsi daerah berdasarkan karakteristik dan kondisi
ini membagi dua faktor yaitu faktor ektsternal dan internal, sehingga bisa merumuskan strategi eksistingnya sehingga dapat diperoleh rangkaian strategi yang menjadi alternatif pemecahan
dari dua faktor tersebut dengan memaksimalkan aspek kekuatan (Strenght) dan kesempatan masalah.
(Oportunities) guna meminimalkan aspek kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threat).
Input data yang digunakan dirangkum melalui rangkaian analisis-analisis sebelumnya yang
Analisis SWOT merupakan analisis yang mampu memberikan kemudahan dalam: mencakup kajian Lingkungan Eksternal dan Internal kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja,
1. Memberikan gambaran tentang permasalahan yang perlu diindikasikan untuk keperluan sehingga ditetapkan prioritas lingkungan internal dan eksternal sebagai langkah penting dalam
tertentu. memperoleh gambaran dasar perencanaan stratejik yang selanjutnya digunakan untuk
menyusun rencana pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam setiap unsur
pariwisata tersebut.

Tabel: 9.1 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
DESTINASI PARIWISATA
1 Daya tarik wisata ▪ Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya tarik unggulan yang kompetitif dan komparatif ▪ Aksesibilitas antar DTW masih perlu ditingkatkan sehingga dapat membentuk satu kesatuan
bertema budaya dan religi. perjalanan wisata yang baik.
▪ Pelestarian situs dan kawasan budaya yang sangat baik. ▪ Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung kepariwisataan yang ada cukup belum memenuhi
▪ Morfologi wilayah kabupaten yang menunjang daya tarik wisata diperkotaan maupun perdesaan. standar.
▪ Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan masih eksisnya budaya lokal masyarakat Toraja. ▪ Belum maksimalnya pengembangan potensi-potensi desa wisata.
▪ Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang dapat dikembangkan untuk menunjang kegiatan ▪ Belum cukup berkembang daya tarik wisata buatan sebagai penganekaragaman jenis DTW.
wisata. ▪ Masih terdapat potensi daya tarik wisata yang belum dikembangkan.
▪ Dukungan kuat dari masyarakat dan budaya, serta toleransi yang sangat kuat. ▪ Kegiatan penataan DTW yang dapat berdampak negatif terhadap daya tarik wisata (misalnya
▪ Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi beberapa kawasan wisata (jalan lingkar pariwisata). penebangan pohon pinus untuk membuka jalan, dll)
▪ Lingkungan alam dan budaya yang rentan terhadap dampak berbagai kegiatan wisata.
2 Fasilitas Umum ▪ Dukungan sarana pendidikan tinggi dalam mengembangkan sumber daya manusia lokal bidang -
kepariwisataan.
▪ Keberadaan fasilitas penunjang lainnya yang relatif sudah memadai di Kota Makale.
3 Fasilitas Pariwisata ▪ Telah berkembang jasa-jasa pariwisata Terbatasnya pengembangan fasilitas pendukung pariwisata seperti akomodasi, rumah
▪ Telah dibangun Pusat Informasi Pariwisata (TIC). makan/restoran, souvenir shop.
4 Aksesibilitas Peningkatan pembangunaan jalan menuju sejumlah DTW. Pembangunan akses jalan masih belum menjangkau seluruh DTW yang tersebar dan cukup
banyak.
5 Utilitas ▪ Sudah terlayani oleh jaringan utilitas (air minum, listrik, drainase, sampah) terutama di Kota Makale Jaringan utilitas belum merata ke DTW.
dan kota-kota kecamatan.
▪ Telah dikembangkan prasarana umum dan wisata pada beberapa DTW unggulan.

INDUSTRI PARIWISATA
1 Akomodasi Kuantitas akomodasi sudah cukup memadai. ▪ Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di Kota Makale.
▪ Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
2 Biro Perjalanan dan dan Telah berkembang jasa-jasa pelayanan kegiatan wisata di daerah. ▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan darat),
Agen Perjalanan Wisat yang belum cukup terintegrasi dengan baik
3 Transportasi ▪ Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang dapat dilalui dengan kendaraan roda dua maupun Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi secara maksimal.
roda empat
▪ Tersedia moda angkutan pariwisata dan kendaraan roda dua maupun roda empat oleh perorangan
atau swasta.
4 Jasa Boga dan Restoran Telah berkembang beberapa restoran Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang di fasilitas akomodasi.
5 Atraksi Wisata Tersedia cukup banyak kesenian tradisonal, dan budaya lain. Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-DTW yang berpotensi

IX - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 9.1 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
6 Oleh-Oleh Atau Cindera Tersedia cukup banyak kerajinan tangan khas Toraja Masih dikembangkan secara sub-subsistem.
Mata.
PASAR DAN PEMASARAN PARIWISATA
1 Pasar Pariwisata Terdapat beberapa DTW yang sangat unggul dan direspon oleh wisatawan dengan kunjungan yang ▪ Perlunya studi pasar pariwisata yang lebih mendalam untuk mengetahui karakteristik
cukup besar seperti Buntu Burake, Pango Pango, dll. wisatawan, pola perjalanan, serta preferensi wisatawan.
▪ Wisatawan masih cenderung hanya melakukan perjalanan pada DTW tertentu dan terbatas.
2 Pemasaran dan Promosi Adanya upaya pemerintah daerah dalam melakukan promosi pariwisata melalui ivent-ivent tahunan ▪ Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang dapat dijual/dipromosikan.
Pariwisata ▪ Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan secara global sebagai salah satu destinasi
pariwisata nasional.
3 Citra Destinasi ▪ Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu wilayah dengan kebudayaan yang unik dan konsisten -
serta beragam.
▪ Memiliki toleransi sosial yang kuat.
4 Price/Harga - Faktor biaya perjalanan menjadi kendala bagi calon wisatawan.

SUMBER DAYA MANUSIA DAN KELEMBAGAAN PARIWISATA


1 SDM - ▪ Masih cukup terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM pariwisata didaerah.
▪ Masyarakat yang relatif belum mengenal dan memahami tuntutan industri pariwisata Tana
Toraja (Sapta Pesona).
2 Kelembagaan Adanya lembaga adat yang dapat berkontribusi dalam pengembangan daya tarik wisata khususnya Belum berkembangnya lembaga-lembaga pengembangan SDM pariwisata.
budaya dan atraksi wisata (kesenian, dll)
3 Kebijakan Kepariwisataan Komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan pembangunan pariwisata melalui perencanaan- Belum maksimalnya peran sektor didaerah secara terpadu dalam pembangunan kepariwisataan.
perencanaan pembangunan didaerah (RPJPD, RPJMD dan RTRW, serta rencana kawasan).
4 Kemitraan Pada DTW tertentu sudah diterapkan sistem bagi hasil dari retribusi DTW antara Pemda dan masyarakat Belum optimalnya pengembangan skema kerjasama antar stakeholders, diantara pelibatan
atau pengelola. masyarakat dalam pengembangan pariwisata.

Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

Tabel: 9.2 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
DESTINASI PARIWISATA
1 Daya tarik wisata ▪ Tana Toraja memiliki keunikan daya tarik wisata yang terkenal mendunia. Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara destinasi-destinasi wisata didaerah lain
▪ Ditunjang dengan perkembangan pariwisata daerah sekitar. khususnya daerah sekitar yang berdampak langsung.
▪ Dukungan pemerintah pusat membangun Anjungan Cerdas dan Kawasan Inkubasi Agrowisata Pango
Pango sebagai pemicu pertumbuhan DTW-DTW lain.
▪ Penetapan 17 Simpul-simpul Destinasi Wisata yang Prioritas di KSPN Toraja.
▪ Adanya kecenderungan para wisatawan untuk “back to nature”, yang sudah cukup berkembang
didaerah.
2 Fasilitas Umum - -
3 Fasilitas Pariwisata Mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi. -
4 Aksesibilitas ▪ Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) telah dikembangkan yang akan menghubungkan berbagai -
destinasi-destinasi pariwisata nasional.
▪ Aksesibilitas menuju Kabupaten Tana Toraja sangat berpotensi menghubungkan dari berbagai simpul
transportasi yang dilalui oleh jalan nasional.
5 Utilitas - -
INDUSTRI PARIWISATA
1 Akomodasi Tingginya angka kunjungan wisatawan Berpotensi turunnya investasi penyediaan akomodasi wisata akibat kecilnya persentase tingkat
hunian.
2 Biro Perjalanan dan dan Ditunjang dengan perkembangan usaha jasa perjalanan wisata regional. ▪ Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata dari luar yang mengurangi kesempatan
Agen Perjalanan Wisat dan persaingan didaerah.
▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan darat),
yang belum cukup terintegrasi dengan baik
3 Transportasi ▪ Rute perjalanan darat sangat lancar. Jarak yang jauh dari Kota Makassar melalui akses darat cukup jauh sehingga ada kesan jenuh.

IX - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 9.2 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
▪ Rencana pengebangan bandara Buntu Kuni terintegrasi dengan destinasi wisata unggulan nasional
lainnya.
▪ Cukup banyak perusahaan penyedia jasa pengangkutan ke Tana Toraja.
4 Jasa Boga dan Restoran - -
5 Atraksi Wisata - -
6 Oleh-Oleh Atau Cindera Cukup banyak tersedia -
Mata

PASAR DAN PEMASARAN PARIWISATA


1 Pasar Pariwisata ▪ Besarnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara. ▪ Tingginya tingkat persaingan destinasi pariwisata secara nasional dan regional.
▪ Kecenderungan kebutuhan manusia berwisata yang semakin meningkat. ▪ Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan tahun terakhir dari 2018 ke tahun 2019 sebesar -
▪ Adanya tren wisatawan yang lebih menghargai perjalanan wisata yang berkualitas. 24%.
▪ Adanya pengembangan pariwisata didaerah sekitar yang juga cukup kuat dan memiliki
kesamaan jenis DTW.
2 Pemasaran dan Promosi Tren pemanfaatan teknologi informasi bagi pengembangan pariwisata. ▪ Belum dilakukan secara maksimal, wisatawan umumnya mendapatkan informasi dari rekan,
Pariwisata media online.
3 Citra Destinasi ▪ Dukungan Pemerintah Pusat dalam mengembangkan citra Tana Toraja sebagai destinasi wisata Kekhawatiran masuknya budaya asing yang tidak bisa diadopsi masyarakat dengan baik.
nasional dan global.
▪ Situasi dan kondisi daerah sangat kondusif.

SUMBER DAYA MANUSIA DAN KELEMBAGAAN PARIWISATA


1 SDM Persaingan yang semakin terbuka menghasilkan kesempatan bagi SDM didaerah lain berkompeten untuk Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar wilayah akan menggeser kedudukan tenaga kerja
bekerja di sektor kepariwisataan. lokal.
2 Kelembagaan Peran sektor-sektor pembangunan menunjang pembangunan kepariwisataan Tana Toraja telah terpadu -
di tingkat pusat.
3 Kebijakan Kepariwisataan ▪ Dukungan pemerintah pusat dan provinsi Sulawesi Selatan dalam pengembangan destinasi pariwisata Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dalam pengembangan
prioritas dan infrastruktur KSPN Toraja kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja
▪ Koordinasi pelaksanaan pembangunan pariwisata antar provinsi dan kabupaten cukup baik.
4 Kemitraan - -
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

Tabel: 9.3 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya tarik unggulan yang ▪ Aksesibilitas antar DTW masih perlu ditingkatkan sehingga dapat membentuk satu
kompetitif dan komparatif bertema budaya dan religi. kesatuan perjalanan wisata yang baik.
▪ Pelestarian situs dan kawasan budaya yang sangat baik. ▪ Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung kepariwisataan yang ada cukup belum
memenuhi standar.
FAKTOR EKSTERNAL ▪ Morfologi wilayah kabupaten yang menunjang daya tarik wisata diperkotaan ▪ Belum maksimalnya pengembangan potensi-potensi desa wisata.
maupun perdesaan.
▪ Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan masih eksisnya budaya lokal ▪ Belum cukup berkembang daya tarik wisata buatan sebagai penganekaragaman jenis
masyarakat Toraja. DTW.
▪ Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang dapat dikembangkan untuk ▪ Masih terdapat potensi daya tarik wisata yang belum dikembangkan.
menunjang kegiatan wisata.
▪ Dukungan kuat dari masyarakat dan budaya, serta toleransi yang sangat kuat. ▪ Kegiatan penataan DTW yang dapat berdampak negatif terhadap daya tarik wisata
(misalnya penebangan pohon pinus untuk membuka jalan, dll)
▪ Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi beberapa kawasan wisata ▪ Lingkungan alam dan budaya yang rentan terhadap dampak berbagai kegiatan
(jalan lingkar pariwisata). wisata.
▪ Dukungan sarana pendidikan tinggi dalam mengembangkan sumber daya ▪ Terbatasnya pengembangan fasilitas pendukung pariwisata seperti akomodasi, rumah
manusia lokal bidang kepariwisataan. makan/restoran, souvenir shop.
▪ Keberadaan fasilitas penunjang lainnya yang relatif sudah memadai di Kota ▪ Pembangunan akses jalan masih belum menjangkau seluruh DTW yang tersebar dan
Makale. cukup banyak.
▪ Telah berkembang jasa-jasa pariwisata ▪ Jaringan utilitas belum merata ke DTW.

IX - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 9.3 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Telah dibangun Pusat Informasi Pariwisata (TIC).
▪ Peningkatan pembangunaan jalan menuju sejumlah DTW.
▪ Sudah terlayani oleh jaringan utilitas (air minum, listrik, drainase, sampah)
terutama di Kota Makale dan kota-kota kecamatan.
▪ Telah dikembangkan prasarana umum dan wisata pada beberapa DTW
FAKTOR INTERNAL unggulan.

PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O


▪ Tana Toraja memiliki keunikan daya tarik wisata yang terkenal ▪ Memperkaya atau mengembangkan jenis DTW khususnya DTW Buatan, Alam ▪ Memaksimalkan pengembangan aksesibilitas yang terintegrasi antar DTW.
mendunia. dan minat khusus.
▪ Ditunjang dengan perkembangan pariwisata daerah sekitar. ▪ Mengembangkan berbagai kegiatan wisata dalam DTW untuk menunjang ▪ Menyediakan prasarana dan sarana wisata sesuai kebutuhan dan memenuhi standar.
kegiatan wisatawan untuk menahan wisatawan lebih lama tinggal dan
berbelanja.
▪ Dukungan pemerintah pusat membangun Anjungan Cerdas dan ▪ Mengembangkan perwilayahan pariwisata yang mendukung serta terintegrasi ▪ Mengembangkan desa-desa wisata sebagai salah satu bentuk pemberdayaan
Kawasan Inkubasi Agrowisata Pango Pango sebagai pemicu dengan pengembangan simpul-simpul pariwisata unggulan KSPN Toraja masyarakat dalam pengelolaan DTW sesuai ketentuan yang berlaku.
pertumbuhan DTW-DTW lain.
▪ Penetapan 17 Simpul-simpul Destinasi Wisata yang Prioritas di ▪ Mengembangkan DTW berpotensi disekitar DTW unggulan sebagai paket ▪ Mengembangkan DTW Buatan sebagai wujud variasi DTW yang berorientasi pada
KSPN Toraja. perjalanan wisata. pengembangan potensi usaha kecil dan menengah.
▪ Adanya kecenderungan para wisatawan untuk “back to nature”, ▪ Menciptakan image pariwisata dengan keberadaan Bandara Bntu Kuni. ▪ Mengembangan DTW dengan tetap memperhatikan kelestarian kawasan/lingkungan
yang sudah cukup berkembang didaerah. alam dan budaya sebagai keunggulan daya tarik wisata.
▪ Mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi. ▪ Mengembangkan atraksi wisata di DTW tertentu sebagai khas destinasi wisata ▪ Pembentukan peraturan perundangan didaerah terkait ketentuan pemafaatan
Toraja. keanekaragaman budaya dan sejarah sebagai daya tarik wisata.
▪ Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) telah dikembangkan ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
yang akan menghubungkan berbagai destinasi-destinasi shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
pariwisata nasional.
▪ Aksesibilitas menuju Kabupaten Tana Toraja sangat berpotensi
menghubungkan dari berbagai simpul transportasi yang dilalui
oleh jalan nasional.

ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T


▪ Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara ▪ Mengembangkan daya tarik wisata yang memiliki daya tahan terhadap minat ▪ Membentuk lembaga-lembaga kreatif baik pemerintah, kelompok masyarakat
destinasi-destinasi wisata didaerah lain khususnya daerah wisatawan. maupun kerjasama swasta untuk mengembangkan inovasi produk atau pengemasan
sekitar yang berdampak langsung. produk wisata.
▪ Masih kurang pengertian dan kesadaran masyarakat terhadap ▪ Melakukan kerjasama interregional dengan pemerintah dan pengelola pariwisata ▪ Membentuk dan Meningkatkan fungsi kelembagaan desa wisata sebagai bentuk
potensi dan pentingnya membangun DTW Tana Toraja sebagai diwilayah sekitar Kabupaten Tana Toraja untuk membuka paket jalur wisata pemberdayaan masayarakat dan upaya mengembangkan ekonomi masyarakat.
sektor andalan perekonomian d daerah. yang didukung dengan keberadaan Bandara Buntu Kuni.
▪ Adanya asumsi bahwa pembangunan DTW adalah tugas ▪ Mengembangkan pariwisata dengan memberdayakan masyarakat sebagai tolak
Pemerintah atau Dinas Pariwisata saja. ukur keberhasilan pariwisata daerah melalui pengebangan desa-desa wisata,
pembentukan kelompok-kelompok sadar wisata, pelatihan, dll
▪ Mengembangkan pariwisata sebagai lokomotif ekonomi melalui sinergitas
program pembangunan seluruh sektor pemerintah, swasta dan masyarakat
untuk mewujudkan visi misi daerah dan target nasional sebagai DPN.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

IX - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 9.4 Matriks Analisis SWOT Industri Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Kuantitas akomodasi sudah cukup memadai. ▪ Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di Kota Makale.
FAKTOR EKSTERNAL ▪ Telah berkembang jasa-jasa pelayanan kegiatan wisata di daerah. ▪ Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan
perundangan.
▪ Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang dapat dilalui dengan kendaraan ▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran,
roda dua maupun roda empat angkutan darat), yang belum cukup terintegrasi dengan baik
▪ Tersedia moda angkutan pariwisata dan kendaraan roda dua maupun roda empat ▪ Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi secara maksimal.
oleh perorangan atau swasta.
▪ Telah berkembang beberapa restoran ▪ Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang di fasilitas akomodasi.
▪ Tersedia cukup banyak kesenian tradisonal, dan budaya lain. ▪ Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-DTW yang berpotensi
FAKTOR INTERNAL
▪ Tersedia cukup banyak kerajinan tangan khas Toraja ▪ Masih dikembangkan secara sub-subsistem.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Tingginya angka kunjungan wisatawan ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui standarisasi sesuai ketentuan ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
perundangan yang berlaku. shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Ditunjang dengan perkembangan usaha jasa perjalanan ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai ▪ Menetapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan
wisata regional. bentuk koordinasi, kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha. perundangan.
▪ Rute perjalanan darat sangat lancar. ▪ Peningkatkan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai
bentuk koordinasi, kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha.
▪ Rencana pengebangan bandara Buntu Kuni terintegrasi ▪ Melakukan kerjasama interregional dengan pemerintah dan pengelola pariwisata ▪ Mengembangkan atraksi wisata di DTW tertentu sebagai khas destinasi wisata
dengan destinasi wisata unggulan nasional lainnya. diwilayah sekitar Kabupaten Tana Toraja untuk membuka paket jalur wisata yang Toraja.
didukung dengan keberadaan Bandara Buntu Kuni.
▪ Cukup banyak perusahaan penyedia jasa pengangkutan ke ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
Tana Toraja. shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Cukup banyak tersedia cinderamata dan ole-ole khas Toraja.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Berpotensi turunnya investasi penyediaan akomodasi wisata ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui standarisasi sesuai ketentuan ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
akibat kecilnya persentase tingkat hunian. perundangan yang berlaku. shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata dari ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui standarisasi sesuai ketentuan
luar yang mengurangi kesempatan dan persaingan didaerah. bentuk koordinasi, kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha. perundangan yang berlaku.
▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata ▪ Mengebangkan rute transportasi udara diberbagai daerah sesuai kecenderungan ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai
(angkutan pelayaran, angkutan darat), yang belum cukup kunjungan wisatawan. bentuk koordinasi, kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha.
terintegrasi dengan baik
▪ Jarak yang jauh dari Kota Makassar melalui akses darat ▪ Mengembangkan berbagai prosedur pelayanan wisatawan untuk meningkatkan ▪ Mengebangkan rute transportasi udara diberbagai daerah sesuai kecenderungan
cukup jauh sehingga ada kesan jenuh. potensi usaha kecil dan menengah. kunjungan wisatawan.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

Tabel: 9.5 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Terdapat beberapa DTW yang sangat unggul dan direspon oleh ▪ Belum adanya studi penyeluruh tentang pasar pariwisata untuk mengetahui
FAKTOR EKSTERNAL wisatawan dengan kunjungan yang cukup besar seperti Buntu karakteristik wisatawan, pola perjalanan, serta preferensi wisatawan.
Burake, Pango Pango, dll.
▪ Adanya upaya pemerintah daerah dalam melakukan promosi ▪ Wisatawan masih cenderung hanya melakukan perjalanan pada DTW tertentu dan
pariwisata melalui ivent-ivent tahunan terbatas.
▪ Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu wilayah dengan ▪ Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang dapat dijual/dipromosikan.
kebudayaan yang unik dan konsisten serta beragam.
▪ Memiliki toleransi sosial yang kuat. ▪ Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan secara global sebagai salah satu
destinasi pariwisata nasional.
FAKTOR INTERNAL ▪ Faktor biaya perjalanan menjadi kendala bagi calon wisatawan.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Besarnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara. ▪ Mengintegrasikan DTW-DTW unggulan dengan DTW lain disekitar ▪ Mengembangkan studi pasar pariwisata sebagai referensi pengembangan bentuk
melalui pengembangan aksesibilitas dan penataan DTW. pemasaran pariwisata
▪ Kecenderungan kebutuhan manusia berwisata yang semakin meningkat. ▪ Mengembangkan inovasi dalam setiap ivent yang bervariasi atau ▪ Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat dijalankan oleh seluru pelaku usaha
berbeda. pariwisata

IX - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Tabel: 9.5 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Adanya tren wisatawan yang lebih menghargai perjalanan wisata yang ▪ Mengembangkan sistem pelayanan pariwisata yang terpadu dengan ▪ Mengembangkan kerjasama antar lembaga pemerintah dan swasta dalam upaya
berkualitas. memanfaatkan teknologi informasi. promosi pariwisata.
▪ Tren pemanfaatan teknologi informasi bagi pengembangan pariwisata.
▪ Dukungan Pemerintah Pusat dalam mengembangkan citra Tana Toraja
sebagai destinasi wisata nasional dan global.
▪ Situasi dan kondisi daerah sangat kondusif.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Tingginya tingkat persaingan destinasi pariwisata secara nasional dan ▪ Pengembangan produk baru sebagai magnet kunjungan ke Tana ▪ Mengelola sistem informasi pariwisata yang komprehensif dan up to date
regional. Toraja
▪ Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan tahun terakhir dari 2018 ke ▪ Menetapkan standarisasi akomodasi sesuai ketentuan perundangan ▪ Pengembangan atraksi wisata pada DTW tertentu sesuai potensinya.
tahun 2019 sebesar -24%. yang berlaku.
▪ Adanya pengembangan pariwisata didaerah sekitar yang juga cukup kuat ▪ Pengembangan investasi yang diarahkan pada afasilitas akomodasi ▪ Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat dijalankan oleh seluru pelaku usaha
dan memiliki kesamaan jenis DTW. berskala nasional dan internasional khusus untuk segmen pariwisata
menengah-atas.
▪ Belum dilakukan secara maksimal, wisatawan umumnya mendapatkan ▪ Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama pemasaran ▪ Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama pemasaran pariwisata pada
informasi dari rekan, media online. pariwisata pada skala regional, nasional dan internasional. skala regional, nasional dan internasional.
▪ Kekhawatiran masuknya budaya asing yang tidak bisa diadopsi masyarakat ▪ Mengembangkan kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat tentang pelaksanaan
dengan baik. kegiatan wisata terkait norma-norma adat istiadat Tana Toraja dan pelestarian situs
budaya sebagai DTW.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

Tabel: 9.6 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan dan SDM Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Adanya lembaga adat yang dapat berkontribusi dalam pengembangan daya ▪ Masih cukup terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM pariwisata didaerah.
FAKTOR EKSTERNAL tarik wisata khususnya budaya dan atraksi wisata (kesenian, dll)
▪ Komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan pembangunan pariwisata ▪ Masyarakat yang relatif belum mengenal dan memahami tuntutan industri
melalui perencanaan-perencanaan pembangunan didaerah (RPJPD, RPJMD dan pariwisata Tana Toraja (Sapta Pesona).
RTRW, serta rencana kawasan).
▪ Pada DTW tertentu sudah diterapkan sistem bagi hasil dari retribusi DTW antara ▪ Belum berkembangnya lembaga-lembaga pengembangan SDM pariwisata.
Pemda dan masyarakat atau pengelola. ▪ Belum maksimalnya peran sektor didaerah secara terpadu dalam
pembangunan kepariwisataan.
▪ Belum optimalnya pengembangan skema kerjasama antar stakeholders,
FAKTOR INTERNAL diantara pelibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Persaingan yang semakin terbuka menghasilkan kesempatan bagi SDM ▪ Kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat dalam Mengembangkan atraksi- ▪ Kerjasama lembaga pendidikan bidang kepariwisataan maupun membentuk
didaerah lain berkompeten untuk bekerja di sektor pekariwisataan. atraksi budaya pada DTW berpotensi lembaga-lembaga nonformal.
▪ Peran sektor-sektor pembangunan menunjang pembangunan ▪ Mengembangkan skema bantuan pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata ▪ Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders pariwisata yang dapat
kepariwisataan Tana Toraja telah terpadu di tingkat pusat. lokal. merangkum seluruh pelaku pariwisata termasuk masyarakat yang terpadu.
▪ Dukungan pemerintah pusat dan provinsi Sulawesi Selatan dalam ▪ Mengembangkan bentuk kerjasama antar pemerintah daerah dan pemerintah
pengembangan destinasi pariwisata prioritas dan infrastruktur KSPN pusat dalam upaya pengitegrasian pembangunan pariwisata didaerah.
Toraja
▪ Koordinasi pelaksanaan pembangunan pariwisata antar provinsi dan ▪ Mengembangkan berbagai bentuk insentif bagi masyarakat atau pengelola DTW
kabupaten cukup baik. untuk meningkatkan daya tarik dalam kawasan wisata.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar wilayah akan menggeser ▪ Membangun system dan jaringan komunikasi diantara seluruh stakeholders ▪ Mengembangkan skema bantuan pendidikan dan pelatihan bagi peningkatan
kedudukan tenaga kerja lokal. didalam melaksanakan pembangunan pariwisata. SDM pariwisata khususnya SDM lokal.
▪ Terbatasnya kemampuan SDM yang bergerak di bidang usaha ▪ Menciptakan kerangka kerjasama dan program-program kerjasama antar ▪ Secara Intens melakukan sosialisasi program-program rencana
pariwisata, sehingga memerlukan pelatihan dalam mengasah skill. stakeholders didalam dan di luar negeri yang dapat menunjang pembangunan pembangunan pariwisata dari pusat, provinsi maupun kabupaten dengan
pariwisata. melibatkan pelaku usaha dan unsur lainnya sesuai kebutuhan.
▪ Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten ▪ Membangun organisasi pengeloaan pariwisata di kawasan dengan melibatkan
dalam pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja stakeholders yang terkait dan menggunakan prinsip good corporate govermance
dan mengembangkan system pelayanan yang terpadu dan terintegrasi.
▪ Belum berkembangnya kemitraan dan skema kerjasama antar
stakeholder.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020

IX - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Kebijakan pembangunan kepariwisataan merupakan arahan pembangunan yang dirumuskan 3. Membangun kemitraan usaha pariwisata dalam rangka membangun iklim investasi yang
untuk mencapai tujuan pembangunan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan berkelanjutan;
harus mengintegrasikan aspek destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran pariwisata,
4. Pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah masyarakat mendukung
dan kelembagaan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan daerah merupakan
arah tindakan pembangunan kepariwisataan yang bersifat multi dimensi dan lintas sektor. penganekaragaman produk wisata yang berdaya saing;
Kebijakan pembangunan kepariwisataan memiliki fungsi:
▪ sebagai dasar dalam perumusan strategi pembangunan kepariwisataan; 9.1.4 Kebijakan Pembangunan Pemasaran Pariwisata
▪ memberikan arah bagi perumusan rencana pembangunan perwilayahan pariwisata yang
Arahan kebijakan pembangunan pemasaran pariwisata Kabupaten Tana Toraja ditetapkan
terdiri dari rencana struktur perwilayahan pariwisata, rencana kawasan pengembangan
pariwisata, dan rencana kawasan strategis pariwisata; sebagai berikut:
▪ memberikan arah bagi perumusan program pembangunan destinasi pariwisata, industri 1. Pemantapan segmentasi pasar sasaran pariwisata yang berkelanjutan terhadap
pariwisata, pemasaran pariwisata, dan kelembagaan kepariwisataan; dan perkembangan destinasi pariwisata;
▪ sebagai dasar dalam perumusan ketentuan pengendalian kepariwisataan.
2. Pengembangan kemitraan yang terpadu dan sinergis dengan pemerintah pusat, pemerintah
Kebijakan hasil kajian tersebut diatas, selanjutnya dikelompokkan kedalam satu kesatuan strategi
provinsi, usaha pariwisata, masyarakat dan media;
berdasarkan unsur-unsur pariwisata sesuai ketentuan dan potensi kepariwisataan di Kabupaten
Tana Toraja. Selain itu, kebijakan dan strategi yang terumuskan dibawah ini telah berkembang 3. Pengembangan pemasaran yang berkelanjutan berbasis pada riset dan pemanfaatan
sesuai dengan masukan-masukan yang disampaikan melalui konsultasi/seminar draft akhir. teknologi informasi dan komunikasi; dan
Berikut alternatif kebijakan yang dirumuskan menurut pengelompokan dan pengembangan
4. Pengembangan informasi pariwisata, database dan materi pemasaran berkualitas dalam
strategi dari analisis SWOT dan pertimbangan tujuan dan visi misi kepariwisataan yang telah
ditetapkan dan peraturan perundang-undangan yang terkait. mendukung pemasaran yang berkelanjutan.

9.1.2 Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata 9.1.5 Kebijakan Pembangunan Kelembagaan dan SDM Pariwisata
Arahan kebijakan pembangunan destinasi pariwisata Kabupaten Tana Toraja ditetapkan sebagai Arahan kebijakan pembangunan kelembagaan dan SDM pariwisata Kabupaten Tana Toraja
berikut:
1. Pembangunan perwilayahan destinasi pariwisata yang mendukung pengembangan ditetapkan sebagai berikut:
infrastruktur pariwisata nasional dan daerah berdasarkan keunggulan daya tarik wisata. 1. Peningkatan integrasi dan koordinasi pembangunan kepariwisataan;
2. Pengembangan dan pembinaan atraksi dan daya tarik wisata baru dalam sesuai potensi dan 2. Peningkatan kapasitas dan kinerja kelembagaan pariwisata;
perkembangan pasar wisata serta meningkatkan pemerataan pembangunan kepariwisataan;
3. Pengembangan kerjasama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata;
3. Pembangunan aksesibilitas pariwisata yang menunjang kegiatan masyarakat dan wisatawan
dalam pengembangan daya tarik wisata yang berstruktur dan terpadu; dan 4. Peningkatan partisipasi seluruh stakeholder (Pentahelix) dalam rangka pengembangan
4. Peningkatan kualitas eksisting DTW serta pengembangan DTW yang berbasis pada kepariwisataan;
Community Based Tourism.
5. Pengembangan kaulitas SDM Pariwisata; dan
9.1.3 Kebijakan Pembangunan Industri Pariwisata 6. Peningkatan penelitian yang berorientasi pada pengembangan kelembagaan dan SDM
Arahan kebijakan pembangunan industri pariwisata Kabupaten Tana Toraja ditetapkan sebagai Pariwisata
berikut:
9.2 STRATEGI PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
1. Peningkatan daya saing industri pariwisata kabupaten;
2. Pengendalian dan pemantapan usaha-usaha pariwisata sesuai standar pelayanan pariwisata 9.2.1 Strategi Pembangunan Destinasi Pariwisata
Strategi pembangunan destinasi pariwisata merupakan penjabaran kebijakan terkait destinasi
dan perundangan yang berlaku; pariwisata berupa rumusan langkah-langkah untuk mewujudkan Kabupaten Tana Toraja sebagai
destinasi pariwisata dalam dimensi keruangan. Strategi pembangunan destinasi pariwisata

IX - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

memiliki fungsi sebagai dasar dalam merumuskan rencana pembangunan perwilayahan c. Pengembangan keragaman atau diversifikasi jenis moda transportasi menuju destinasi
pariwisata, yang terdiri dari rencana struktur perwilayahan pariwisata, rencana kawasan dan pergerakan wisatawan sesuai kebutuhan dan perkembangan pasar;
pengembangan pariwisata, dan rencana kawasan strategis pariwisata; sebagai dasar dalam d. Memberdayakan masyarakat sekitar DTW dalam membangun aksesibilitas yang memiliki
merumuskan indikasi program pembangunan destinasi pariwisata; dan sebagai acuan dalam keunggulan/khas dari DTW tertentu;
pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi implementasi RIPPARKAB Tana Toraja untuk 4. Strategi meningkatan kualitas eksisting DTW serta pengembangan DTW yang berbasis pada
aspek destinasi pariwisata. Dengan demikian, strategi yang dikembangkan berdasarkan kebijakan Community Based Tourism
pembangunan destinasi pariwisata Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berkut: a. Menyiapkan mekanisme/instrumen evaluasi terhadap daya tahan kualitas DTW
1. Strategi pembangunan perwilayahan destinasi pariwisata yang mendukung pengembangan berdasarkan kecenderungan minat kunjungan wisatawan.
infrastruktur pariwisata nasional dan daerah berdasarkan keunggulan daya tarik wisata, b. Melibatkan masyarakat sekitar DTW dalam pemeliharaan DTW melalui mekanisme
yaitu: insentif.
a. Membentuk pusat dan sub-subpusat pariwisata yang terintegrasi dengan simpul-simpul c. Pendidikan kepariwisatan bagi masyarakat lokal sebagai upaya membangun kesadaran
pariwisata unggulan KSPN Toraja; masyarakat terhadap pelayanan wisatawan melalui pelatihan dan workshop;
d. Mendorong kemitraan dengan masyarakat dalam pengembangan potensi produk usaha
b. Mengembangkan DTW berpotensi disekitar DTW unggulan sebagai paket perjalanan
mendukung kegiatan wisata.
wisata berdasarkan perwilayahan pariwisata;
e. Mendukung pengembangan Desa Wisata.
c. Mendorong penataan ruang dilingkungan sekitar bandara Buntu Kunik dalam
memberikan kesan visual yang baik terhadap image pariwisata; 9.2.2 Strategi Pembangunan Industri Pariwisata
d. Menggali potensi daya tarik wisata melalui riset database potensi daya tarik wisata Strategi pembangunan industri pariwisata merupakan penjabaran dari kebijakan pembangunan
khususnya pada wilayah lintas barat kabupaten; kepariwisataan tentang industri pariwisata, yang merupakan rumusan langkah-langkah yang
e. Menyediakan prasarana dan sarana wisata sesuai kebutuhan dan memenuhi standar; ditetapkan untuk pembangunan industri pariwisata dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan
2. Strategi pengembangan dan pembinaan atraksi dan daya tarik wisata baru dalam sesuai pembangunan kepariwisataan.
potensi dan perkembangan pasar wisata serta meningkatkan pemerataan pembangunan Strategi pembangunan industri pariwisata memiliki fungsi sebagai dasar dalam merumuskan
kepariwisataan, yaitu: program fasilitasi dan pengembangan industri pariwisata; sebagai acuan dalam pengembangan
a. Mengembangkan produk baru sebagai magnet yang memiliki daya tahan terhadap minat sistem pemantauan dan evaluasi implementasi RIPPARKAB Tana Toraja untuk aspek industri
kunjungan wisatawan; pariwisata, yang dirumuskan berdasarkan kebijakan pembangunan industri pariwisata tersebut
b. Membentuk dan mengembangkan desa-desa wisata, sebagai salah satu bentuk diatas, yaitu diantaranya:
pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan DTW sesuai ketentuan yang berlaku; 1. Strategi peningkatan daya saing industri pariwisata kabupaten, yaitu:
c. Membangun DTW Buatan sebagai wujud variasi DTW yang berorientasi pada a. Peningkatan sinergi dan keadilan distributif antarmata rantai pembentuk industri
pengembangan potensi usaha kecil dan menengah; pariwisata;
d. Menyediakan berbagai kegiatan wisata (atraksi dan daya tarik penunjang) dalam DTW b. Pengembangan manajemen atraksi;
untuk mendukung kegiatan wisatawan agar lebih lama tinggal dan berbelanja; c. Penguatan kualitas produk wisata;
e. Menyediakan berbagai bentuk insentif bagi masyarakat atau pengelola DTW untuk d. Peningkatan pengemasan produk wisata;
meningkatkan daya tarik dalam kawasan wisata; e. Pengatan etika bisnis dan pelayanan prima dalam pelayanan usaha transportasi
f. Penyediaan informasi peluang investasi di destinasi pariwisata daerah; pariwisata;
g. Membangun DTW dengan tetap memperhatikan kelestarian kawasan/lingkungan alam f. Dorongan pemberian insentif untuk menggunakan produk dan tema yang memiliki
dan budaya sebagai keunggulan daya tarik wisata; keunikan dan kekhasan lokal Tana Toraja;
h. Peningkatan pengembangan potensi sumber daya daerah sebagai daya tarik wisata 2. Strategi pengendalian dan pemantapan usaha-usaha pariwisata sesuai standar pelayanan
berbasis kearifan lokal dalam kerangka pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata; pariwisata dan perundangan yang berlaku, yaitu:
3. Strategi pembangunan aksesibilitas pariwisata yang menunjang kegiatan masyarakat dan a. Penetapan dan peningkatan standardisasi dan sertifikasi usaha pariwisata;
wisatawan dalam pengembangan daya tarik wisata yang berstruktur dan terpadu, yaitu: b. Melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha pariwisata dalam meningkatkan
a. Memaksimalkan pengembangan aksesibilitas yang terintegrasi antar DTW; pelayanan pariwisata;
b. Menyediakan sistem aksesibilitas menuju DTW sesuai karakteristiknya sebagai daya tarik
maupun atraksi wisata baru;

IX - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

c. Penguatan fungsi, hierarki, dan hubungan antarusaha pariwisata sejenis untuk 2. Strategi pengembangan kemitraan yang terpadu dan sinergis dengan pemerintah pusat,
meningkatkan daya saing; pemerintah provinsi, usaha pariwisata, masyarakat dan media, yaitu:
3. Strategi membangun kemitraan usaha pariwisata dalam rangka membangun iklim investasi a. Mengembangkan berbagai prosedur pelayanan wisatawan untuk meningkatkan potensi
yang berkelanjutan, yaitu: usaha kecil dan menengah;
a. Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai b. Memperluas jejaringan kerjasama lintas sektor dan wilayah dalam upaya pemasaran
bentuk koordinasi, kerjasama, monitoring dan evaluasi antar pemerintah dan pelaku produk destinasi wisata pada simpul-simpul transportasi, pusat-pusat pelayanan
usaha pariwisata; perdagangan dan jasa, maupun instansi pemerintah;
b. Mengembangan investasi yang diarahkan pada fasilitas akomodasi berskala nasional dan c. Penguatan akses dan jejaring industri kecil dan menengah dan usaha pariwisata skala
internasional khusus untuk segmen menengah-atas; usaha mikro, kecil dan menengah dengan sumber potensi pasar dan informasi global;
c. Dukungan penjaminan usaha melalui regulasi dan fasilitasi; 3. Strategi pengembangan pemasaran yang berkelanjutan berbasis pada riset dan pemanfaatan
4. Strategi pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah masyarakat mendukung teknologi informasi dan komunikasi, yaitu:
penganekaragaman produk wisata yang berdaya saing, yaitu: a. Pembentukan, penguatan dan pelatihan Badan Promosi Pariwisata daerah;
a. Menetapkan kualifikasi penyediaan sarana penunjang pariwisata (akomodasi, rumah b. Melakukan riset pasar pariwisata yang kontinu sebagai referensi pengembangan bentuk
makan/restoran, souvenir shop) berbasis UMKM berdasarkan perwilayahan pariwisata pemasaran pariwisata;
yang dikembangkan; c. Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama pemasaran pariwisata pada skala
b. Dorongan kemitraan antarusaha kepariwisataan dengan industri kecil dan menengah regional, nasional dan internasional;
dan usaha mikro, kecil dan menengah; d. Melakukan updating terhadap perkembangan pembangunan daya tarik wisata didaerah
c. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pengembangan potensi UMKM sebagai produk yang dipasarkan;
pariwisata; e. Menyediakan instrumen evaluasi terhadap perkembangan penyediaan prasarana dan
d. Pemberian insentif dan kemudahan terhadap akses permodalan bagi usaha pariwisata sarana wisata serta kecenderungan minat wisatawan;
skala usaha mikro, kecil dan menengah dalam pengembangan usaha sesuai dengan 4. Strategi mengembankan informasi pariwisata, database dan materi pemasaran berkualitas
ketentuan Peraturan Perundang-undangan; dalam mendukung pemasaran yang berkelanjutan, yaitu:
e. Pengembangan skema fasilitasi untuk mendorong pertumbuhan usaha pariwisata skala a. Pelaksanaan riset tentang pengembangan informasi daya tarik wisata
usaha mikro, kecil dan menengah; b. Pembuatan materi-materi promosi dengan informasi yang berkualitas secara regular
dan berkelanjutan (foto, video, website, e-guide book, dll)
9.2.3 Strategi Pembangunan Pemasaran Pariwisata c. Pembuatan dan pengelolaan aplikasi digitial tentang destinasi Tana Toraja
Strategi pemasaran pariwisata merupakan penjabaran kebijakan pembangunan kepariwisataan d. Penguatan dan pembuatan materi interpretasi tentang daya tarik wisata
tentang pemasaran pariwisata, berupa rumusan langkah-langkah yang ditetapkan untuk
pengembangan pemasaran pariwisata dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan pembangunan 9.2.4 Strategi Pembangunan Kelembagaan dan SDM Pariwisata
kepariwisataan, dengan fungsi sebagai dasar dalam merumuskan indikasi program pemasaran Strategi pembangunan kelembagaan dan sumber daya manusia kepariwisataan merupakan
pariwisata dan acuan dalam pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi implementasi penjabaran kebijakan pembangunan kepariwisataan yang terkait dengan kelembagaan dan
RIPPARKAB Tana Toraja untuk aspek pemasaran pariwisata. Strategi-strategi implementasi peningkatan sumber daya manusia kepariwisataan, berupa rumusan langkah-langkah yang
kebijakan pembangunan pemasaran pariwisata tersebut sebagai berikut: ditetapkan untuk pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia kepariwisataan dalam
1. Strategi pemantapan segmentasi pasar sasaran pariwisata yang berkelanjutan terhadap mewujudkan visi, misi, dan tujuan pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja yang
perkembangan destinasi pariwisata, yaitu: telah dirumuskan dengan fungsi sebagai dasar dalam merumuskan indikasi program dan acuan
a. Mengembangkan sistem informasi pariwisata yang terpadu, terintegrasi dan up to date dalam pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi. Strategi-strategi implementasi kebijakan
terhadap perkembangan pasar pariwisata; tesebut adalah sebagai berikut:
b. Mengembangkan inovasi dalam ivent tahunan yang bervariasi atau berbeda; 1. Strategi peningkatan integrasi dan koordinasi pembangunan kepariwisataan, yaitu:
c. Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat dijalankan oleh seluruh pelaku usaha a. Meningkatkan koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam upaya
pariwisata; pengitegrasian pembangunan pariwisata didaerah;
b. Membangun system dan jaringan komunikasi diantara seluruh stakeholders didalam
melaksanakan pembangunan pariwisata baik didalam maupun di luar negeri;

IX - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

c. Fasilitasi pembentukan kelembagaan lintas sektor didaerah yang berperan dalam 6. Strategi Peningkatan penelitian yang berorientasi pada pengembangan kelembagaan dan
pembangunan kepariwisataan; SDM Pariwisata, yaitu:
d. Upaya menarik investasi modal asing di bidang pariwisata sesuai dengan ketentuan a. Pelaksanaan Survei kepuasan wisatawan di DTW dan usaha pariwisata
Peraturan Perundang-undangan di bidang keuangan; b. Pelaksanaan penelitian akan kebutuhan SDM bagi industri pariwisata
2. Strategi peningkatan kapasitas dan kinerja kelembagaan pariwisata, yaitu: c. Pelaksanaan penelitian akan eksistensi (peran dan kolaborasi) lembaga-lembaga
a. Pemantapan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC; pariwisata dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata.
b. Penguatan tata kelola organisasi kepariwisataan dalam struktur dinas;
c. Kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat dalam pembentukan peraturan
perundangan terkait ketentuan pemafaatan keanekaragaman budaya dan sejarah
sebagai daya tarik wisata serta pengembangan araksi-atraksi budaya pada DTW
berpotensi;
d. Membentuk dan meningkatkan fungsi kelembagaan desa wisata sebagai bentuk
pemberdayaan masayarakat dan upaya mengembangkan ekonomi masyarakat;
e. Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders pariwisata yang dapat
merangkum seluruh pelaku pariwisata termasuk masyarakat;
3. Strategi pengembangan kerjasama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia
pariwisata, yaitu:
a. Membangun kerjasama antar daerah dengan lembaga pendidikan dalam
mengembangkan program-program studi berbasis kepariwisataan;
b. Membangun skema bantuan pendidikan dan pelatihan, serta kerjasama lembaga
pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata lokal;
c. Melakukan penyuluhan, pelatihan dan bentuk pengembangan kapasitas pelayanan
wisatawan terhadap individi-individu, maupun kelompok sadar wisata yang terlibat
dalam kegiatan wisata;
d. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan daya tarik wisata lintas sektor dan institusi;
e. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan kemitraan usaha pariwisata;
f. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan tanggungjawab terhadap lingkungan;
4. Strategi Peningkatan partisipasi seluruh stakeholder (Pentahelix) dalam rangka
pengembangan kepariwisataan, yaitu:
a. Penguatan peran pemerintah dalam dalam pengelolaan pariwisata
b. Penguatan organisasi profesi pariwisata
c. Penguatan organisasi industri pariwisata
d. Penguatan organisasi pariwisata berbasis masyarakat
e. Peningkatan peran dan kerjasama dengan Lembaga-lembaga pendidikan dalam upaya
pengembangan kepariwisataan
f. Peningkatan kapabilitas peran Destination Management Organisation (DMO)
5. Strategi pengembangan kaulitas SDM Pariwisata, yaitu:
a. Peningkatan kapabilitas SDM Pariwisata di tingkat Pemerintah (Pelatihan dan workshop)
b. Peningkatan kapabilitas SDM Pariwisata bagi dunia usaha (pelatihan, workshop dan
sertifikasi kompetensi)
c. Peningkatan kapabilitas masyarakat dalam pengelolaan pariwisata secara khusus
berinovasi dan berkreasi dalam bidang pariwisata (Pelatihan dan pendampingan).

IX - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

10
RENCANA PENGEMBANGAN
PERWILAYAHAN PARIWISATA

Rencana pembangunan perwilayahan pariwisata merupakan rumusan arahan sistem


perwilayahan kepariwisataan, yang mencakup struktur pelayanan pariwisata, destinasi
pariwisata, kawasan pengembangan pariwisata, dan kawasan strategis pariwisata. Rencana
pembangunan perwilayahan pariwisata memiliki fungsi:
1. Sebagai dasar dalam mengembangkan fungsi destinasi pariwisata, kawasan
pengembangan dan strategis pariwisata;
2. Sebagai dasar dalam melakukan pembangunan fisik Kawasan pengembangan dan strategis
pariwisata; dan
3. Memberikan arah dalam perumusan program pembangunan aspek-aspek pembangunan
kepariwisataan, yaitu industry pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran, dan
kelembagaan kepariwisataan.
Rencana pembangunan perwilayahan pariwisata Kabupaten Tana Toraja dirumuskan
berdasarkan:
1. Kebijakan dan strategi pembangunan destinasi pariwisata nasional dan provinsi;
2. Sebaran dan karakteristik daya tarik wisata di kabupaten/kota;
3. Daya dukung lingkungan fisik, sosial budaya, dan ekonomi kepariwisataan daerah;
4. Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Tana Toraja dan kawasan (RTRW kabupaten
dan Rencana Detail Tata Ruang); dan
5. Peraturan perundang-undangan lain yang terkait.
Rencana perwilayahan pariwisata memuat:
1. Rencana struktur perwilayahan pariwisata merupakan kerangka perwilayahan
pariwisata yang terdiri dari pusat-pusat pelayanan pariwisata yang berhierarki satu sama
lain, yang memiliki fungsi sesuai dengan karakteristik daya tarik wisata yang
dikembangkannya, dihubungkan oleh jaringan transportasi sebagai elemen pengikat.
2. Rencana destinasi pariwisata merupakan arahan pembangunan destinasi pariwisata
dalam sistem perwilayahan pariwisata.

X-1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. Rencana kawasan pengembangan pariwisata merupakan arahan pembangunan Enrekang – Tana Toraja – Toraja Utara - Palopo – Luwu – Luwu Utara - Angkona
kawasan pariwisata yang menurut hasil analisis dapat menjadi andalan dalam mendorong (Kabupaten Luwu Timur) – ke perbatasan Provinsi Sulwesi Tengah;
pertumbuhan ekonomi serta mencapai visi dan misi pengembangan kepariwisataan daerah. ▪ Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) regional lintas kabupaten kota yaitu sistem
penyediaan air minum Toraja yang melayani Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten
10.1 INDIKASI POTENSI PEMBENTUKAN PERWILAYAHAN PARIWISATA Tana Toraja;
Rencana perwilayahan pariwisata memuat Rencana struktur perwilayahan pariwisata ▪ Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL) lintas kabupaten kota meliputi: sistem perpipaan
merupakan kerangka perwilayahan pariwisata yang terdiri dari pusat-pusat pelayanan air limbah Provinsi diarahkan ke sistem kluster termasuk Cluster Toraja (Toraja Utara,
pariwisata yang berhierarki satu sama lain, yang memiliki fungsi sesuai dengan karakteristik Tana Toraja);
daya tarik wisata yang dikembangkannya, dihubungkan oleh jaringan transportasi sebagai ▪ Instalasi pengolahan lumpur tinja Provinsi diarahkan ke sistem kluster yang berada di
elemen pengikat. Rencana struktur perwilayahan pariwisata Kabupaten Tana Toraja terdiri: Cluster Toraja (Toraja Utara, Tana Toraja).
1. Pusat pelayanan primer Kabupaten Tana Toraja yang berfungsi sebagai pintu gerbang ▪ Sistem Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) diarahkan melayani
Kabupaten Tana Toraja, pusat penyediaan fasilitas pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, kawasan perkotaan yaitu kawasan perkotaan di Toraja (Toraja Utara, Tana Toraja).
dan pusat penyebaran kegiatan wisata ke bagian-bagian wilayah Kabupaten Tana Toraja; ▪ Sistem Jaringan Prasarana Persampahan yaitu TPA regional diarahkan untuk melayani
2. Pusat pelayanan sekunder Kabupaten Tana Toraja yang berfungsi sebagai pusat kawasan Perkotaan di Toraja (Toraja Utara, Tana Toraja)
pertumbuhan pariwisata di bagian wilayah tertentu dari Kabupaten Tana Toraja; dan ▪ Kawasan Cagar Budaya seluas kurang lebih 137 ha yang juga terdapat di Kabupaten
3. Jaringan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat pelayanan dan kawasan- Tana Toraja;
kawasan pariwisata Kabupaten Tana Toraja. ▪ Kawasan Pariwisata seluas kurang lebih 1.605 ha terutama di Kabupaten Tana Toraja,
Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Selayar, Perkotaan
5.1.1 Sinergitas Antar Perencanaan Mamminasata, dan berbagai kabupaten/kota yang memiliki potensi pengembangan
Struktur ruang pariwisata sangat terkait dengan pengembangan pusat-pusat pelayanan baik wisata.
tata ruang dalam RTRW Kabupaten Tana Toraja, maupun KSPN Toraja yang dikembangkan oleh ▪ KSN dari sudut kepentingan sosial dan budaya Kabupaten Tana Toraja dan sekitarnya;
pemerintah pusat dalam rencana simpul-simpul destinasi wisata unggulan serta rencana- ▪ KSP dari sudut kepentingan sosial dan budaya yaitu Kawasan wisata Budaya dan
rencana yang telah dilakukan pemerintah daerah sendiri. Untuk itu, dalam pembentukan Agrowisata Toraja dan sekitarnya.
struktur ruang pariwisata Kabupaten Tana Toraja ini perlu diintegrasikan seluruh kepentingan 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaen
tersebut sehingga dapat bersinergi dengan baik berikut akan diuraikan pertimbangan tersebut. RTRW Kabupaten Tana Toraja sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 12
tahun 2011 mengembangkan struktur ruang wilayah yang diantaranya terdiri dari rencana
1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Provinsi pusat-pusat pelayanan dan rencana jaringan prasarana wilayah. Sehubungan dengan hal
Beberapa peruntukan pembangunan wilayah yang dikembangkan di Provinsi Sulawesi tersebut, dalam kaitannya dengan pengembangan struktur ruang pariwisata merupakan
Selatan termasuk di Kabupaten Tana Toraja melalui RTRWN dan RTRWP yang dapat bagian yang penting untuk dipertimbangkan, sebab dalam rencana pusat pelayanan
menunjang pembangunan kepariwisataan kabupaten, baik sarana maupun prasarana kabupaten yang berhirarki memiliki fungsi-fungsi pengembangan setiap pusat sesuai
wilayah, serta peruntukan strategis wilayah nasional dan provinsi, diantaranya sebagai perkembangannya masing-masing yang disertai dengan arahan pengebangan pusat
berikut: pelayanan tersebut.
▪ JSN, yang merupakan Rencana jaringan jalan lingkar pariwisata di Kawasan Strategis
Dalam konteks kepariwisataan, pusat-pusat pelayanan pelayanan tersebut dapat menjadi
Nasional (KSN) Toraja dan sekitarnya;
kekuatan dalam memanfaatkan pengembangan sarana dan prasarana yang juga
▪ Bandar udara pengumpan, Bandara Pongtiku dan Bandara Buntu Kunik;
merupakan bagian dari fasilitas pariwisata baik penunjang maupun pendukung. Oleh karena
▪ Bandar udara khusus yaitu Bandara Pongtiku dan Bandara Buntu Kunik;
itu, pusat pelayanan dalam RTRW menjadi pertimbangan dalam pembentukan struktur
▪ Infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan sarana pendukungnya meliputi: PLTD
ruang pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, pusat-pusat tersebut yaitu:
Tana Toraja, PLTA Malea I, PLTM Malea II;
▪ Infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan sarana pendukungnya yaitu Jaringan 1. PKL (Pusat Kegiatan Lokal) yaitu PKL yang telah ditentukan dalam Peraturan Daerah
transmisi tenaga listrik meliputi wilayah: Pinrang – Pangkajene (Kabupaten Sidrap) – Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang RTRW Sulawesi Selatan adalah
kawasan perkotaan Makale.

X-2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. PKLp yaitu Kawasan Perkotaan Bittuang yang potensiil dikembangkan sebagai gerbang 16) Kaero di Kecamatan Sangalla’;
wisata penghubung kawasan wisata Budaya di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi 17) Kandeapi di Kecamatan Sangalla’ Selatan;
Barat dengan kawasan wisata Tana Toraja; dan kawasan perkotaan sekitar bandara 18) Saluallo di Kecamatan Sangalla’ Utara;
baru Ge’tengan Kecamatan Mengkendek, yang potensil dikembangkan menjadi kota 19) Makkodo di Kecamatan Simbuang.
simpul transportasi udara.
3. Rencana Simpul-Simpul Pariwisata Unggulan Nasional
3. PPK (Pusat pelayanan Kawasan), terdiri atas ibukota-ibukota kecamatan yang tidak Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu Kawasan Strategis Pegunungan dan Budaya
termasuk PKL atau PKLp, yang terdiri atas PPK- PPK : Toraja, Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN Toraja Yang Akan
1) Kawasan Perkotaan Rante Kurra di Kecamatan Kurra Dikembangkan terdapat 17 (tujuhbelas) simpul destinasi pariwisata yang diprioritaskan
2) Kawasan Perkotaan Padang Iring di Kecamatan Rantetayo dalam satu kesatuan kegiatan wisata beserta daya tarik wisata pendukungnya yang
3) Kawasan Perkotaan Pattan Ulu Salu di Kecamatan Saluputti terintegrasi, 12 (duabelas) dari seluruh simpul tersebut berada di Kabupaten Tana Toraja,
4) Kawasan Perkotaan Leatung di Kecamatan Sangalla’ Utara diantaranya sebagai berikut:
5) Kawasan Perkotaan Bullian Massa’bu di Kecamatan Sangalla’ 1) Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek pendukungnya (Gua
6) Kawasan Perkotaan Malolin di Kecamatan Rano alam, Museum, Monumen Penginjilan, Panorama Alam, Rumah Adat, Kuburan Batu
7) Kawasan Perkotaan Ratte Buttu di Kecamatan Bonggakaradeng Tondon Makale, Kuliner, Kereta gantung, Taman Hiburan Plasa kolam Makale, Kolam
8) Kawasan Perkotaan Kondo Dewata di Kecamatan Mappak Alam Assa, dan Pasar Hewan).
9) Kawasan Perkotaan Buntu Benteng Ambeso di Kecamatan Gandang Batu Sillanan 2) Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjangnya (Permandian Air
10) Kawasan Perkotaan Batualu di Kecamatan Sangalla’ Selatan Panas Makula, Pekuburan batu Suaya, Kuburan Bayi/Passilliran Kambira’, Kuburan Gua
11) Kawasan Perkotaan Tiromanda di Kecamatan Makale Selatan Alam Tampang Allo, Gua Alam Sullukan, Tongkonan Banua Kasalle Bau, Museum Buntu
12) Kawasan Perkotaan Lion Tondok Iring di Kecamatan Makale Utara Kalando, Atraksi Seni Budaya, Rante Tongko Sarapung.
13) Kawasan Perkotaan Talion di Kecamatan Rembon 3) Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek penunjangnya
14) Kawasan Perkotaan Malimbong di Kecamatan Malimbong Balepe; (Sassa’, Perkampungan Adat Sillanan, Kawasan Hutan Mapongka).
15) Kawasan Perkotaan Pondingao’ di Kecamatan Masanda; dan 4) Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek
16) Kawasan Perkotaan Lekke’ di Kecamatan Simbuang. penunjangnya (Potok Tengan, Panorama alam Buntu Kandora, Banua Puan, Liang
4. PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan), meliputi pusat-pusat permukiman yang berfungsi Lo’ko’ Randanan, Panjat Tebing, Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring).
untuk melayani kegiatan skala antar desa, terdiri atas PPL- PPL: 5) Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjangnya
1) Bau dan Buntu Limbong di Kecamatan Bittuang; (Permandian alam Tilanga’, Makam adat Sirope, Tongkonan Mandetek, Agrowisata
2) Poton, Bau Bonggakaradeng di Kecamatan Bonggakaradeng; Rante Lingkua’, Makam Bayi –Passilliran Alla).
3) Salubarani, Gandangbatu, Mebali, Tangatondok, Perindingan di Kecamatan 6) Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek pendukungnya
Gandangbatu Sillanan; (Rumah Adat Pattan, Talion, Benteng Pongtiku, Boronan, Likunna Makuyo, Atraksi
4) Tabang di Kecamatan Kurra; Budaya, Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’).
5) Pantan, Kamali Pentalluan di Kecamatan Makale; 7) Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakaradeng dengan objek
6) Pa’tekke, di Kecamatan Makale Selatan ; pendukungnya (Air terjun Salu Bitu, Permandian Air Panas Ratte Buttu, Liang pahat,
7) Rantelemo dan Mandetek di Kecamatan Makale Utara; Permandian Air Panas Bake’, Panorama Alam).
8) Balepe’ di Kecamatan Malimbong Balepe’; 8) Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek pendukungnya
9) Tondok Banga di Kecamatan Mappak, (Agrowisata Bolokan, Hutan Wisata, Permandian Air Panas, Rumah Adat, Air terjun
10) Sangratte dan belau di Kec. Masanda; Ratte Sarambu).
11) Uluway, Marinding, Tampo di Kecamatan Mengkendek; 9) Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan; dengan objek pendukungnya
12) Pangalloan di Kecamatan Rano (Panorama Alam, Tracking, Sepeda Gunung, Wisata Berkuda, Monumen Ampang
13) Madandan di Kecamatan Rantetayo; Banu’, Atraksi seni budaya, Agrowisata).
14) Batusura', Palesan di Kecamatan Rembon; 10) Kawasan Wisata Barereng di Kurra dengan objek pendukungnya (Rafting/Arung
15) Tolange di Kecamatan Saluputti; Jeram, Air Terjun, Kolam Pemancingan, Tracking, Panorama).

X-3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

11) Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’ dengan objek pendukungnya Tabel: 5.13 Potensi Kawasan Wisata Unggulan Kabupaten Tana Toraja
(Air terjun, Hutan Wisata, Perkemahan, Atraksi seni budaya, Kuburan Batu, Rumah No. Lokasi Jenis DTW
Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk). 15 Kawasan Objek Wisata Buntu Kalando (Tongkonan dan Museum Mini) Wisata Budaya
12) Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek Kec. Sangalla
Sumber: BAPPEDA Kabupaten Tana Toraja, 2020
penunjangnya (Desa Wisata, Rumah Adat, Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari,
Benteng To Pada Tindo, Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo, Passiliran Kambisa, Kerajinan
5.1.2 Pembagian Wilayah Wisata (Cluster)
seni ukir).
Analisis cluster merupakan salah satu langkah analisis yang bertujuan untuk membagi DTW
Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu di KSPN Toraja diatas, menjadi salah satu kedalam beberapa wilayah pengembangan. Pembagian tersebut didasarkan pada variasi
masukan dalam pembentukan perwilayahan destinasi pariwisata yang sangat penting keragaman wisata (wisata budaya, alam, dan buatan), aktivitas wisatawan, lama kunjungan
dalam mengintegrasikan berbagai program-program pengembangan kepariwisataan di dan aksesibilitas. Selain itu, output dari analisis cluster wisata diharapkan dapat berupa suatu
Kabupaten Tana Toraja yang diharapkan secara bersama-sama dapat mendorong paket perjalanan wisata yaitu suatu perjalanan wisata ke DTW-DTW yang telah ditentukan
kepariwisataan daerah dan nasional secara umum. Potensi-potensi daya tarik wisata dengan tujuan agar kunjungan wisata menjadi suatu perjalanan wisata yang menyenangkan
budaya Tana Toraja berdasarkan setiap DTW yang tersebar memiliki keunggulan masing- dan terfokus pada DTW yang sudah terkenal, sehingga pengembangan kepariwisataan di
masing dan diperlukan adanya variasi daya tarik wisata yang dapat memberikan Kabupaten Tana Toraja lebih optimal.
kenyamanan berwisata bagi wisatawan sehingga diharapkan wisatawan dapat lebih lama
Fenomena perkembangan destinasi wisata akan senantiasa terus tumbuh secara dinamis
tinggal dan menikmati setiap suguhan daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja yang
bergantung pada keterkaitan antara sistem aktivitas pengunjung, sistem jaringan, sistem
tersedia.
pergerakan, sistem infrastruktur, sistem lingkungan dan sistem kelembagaan yang saling terkait
4. Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata Daerah (inter conektion sistem) struktur ruang pariwisata.
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam kebijakan pembangunan kawasan wisata juga
Struktur ruang pariwisata terbentuk sebagai akibat adanya sinergis sistem yang terjadi dalam
telah menetapkan 15 (limabelas) kawasan wisata sebagai daya tarik wisata unggulan.
setiap daya tarik wisata pada tiap bagian wilayah tertentu. Tahapan pembentukan dalam
Tabel: 5.13 Potensi Kawasan Wisata Unggulan Kabupaten Tana Toraja
strukturnya dipengaruhi oleh sistem aktivitas, sistem transportasi, sistem infrastruktur dan
No. Lokasi Jenis DTW
sistem prasarana wisata lainnya, sehingga membentuk suatu sistem terpadu yang mampu
1 Kawasan Objek Patung Kristus Burake Kec. Makale Wisata Religi/Alam
2 Kawasan Objek Wisata Pango-Pango Kec. Makale Selatan Wisata Agro/Alam memanfaatkan potensi wisata Kabupaten Tana Toraja yang pada akhirnya akan meningkatkan
3 Kawasan Objek Wisata Sarira (Kolam Alam Rekreasi) Kec. Makale Wisata Tirta daya saing setiap obyek wisata dalam wilayah Kabupaten Tana Toraja.
Utara
4 Kawasan Objek Wisata Suaya (Erong, Liang Paa, dan Tau-tau) Kec. Wisata Alam/ Budaya
Sangalla
5 Kawasan Wisata Tumbang Datu Bebo’ (Desa Wisata) Kec. Sangalla’ Wisata Alam/Budaya
Utara
6 Kawasan Objek Wisata Lemo (Liang Paa, Tau-tau, Bangunan Sarana Wisata Alam/ Budaya
Budaya) Kec. Makale Utara
7 Kawasan Objek Wisata Air Terjun Sarambu Assing Kec. Bittuang Wisata Alam/Tirta

8 Kawasan Wisata Ollon Kec. Bonggakaradeng Wisata Alam


9 Kawasan Wisata Rumah Adat Sillanan Kecamatan Gandang Batu Wisata Budaya
Sillanan
10 Kawasan Taman Wisata Rekreasi Barereng Kec. Kurra Wisata Tirta

11 Kawasan Objek Wisata Kambira’ Passiliran Kec. Sangalla’ Wisata Agro/ Alam
12 Kawasan Objek Wisata To’puang, (Liang Paa, Tongkonan, Batu Wisata Alam /Budaya
Bersejarah) Kec. Sangalla Selatan
13 Objek Wisata Buntu Tondon (Liang Paa) Kec. Makale Wisata Alam
14 Kawasan Objek Wisata Makula’ (Permandian Air Panas Alam) Kec. Wisata Tirta
Sangalla Selatan

X-4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

faktor dalam penentuan cluster wisata yang dikembangkan. Dengan menjadikan tipe
aktivitas wisatawan menjadi salah satu pertimbangan, dalam penentuan cluster diharapkan
mampu meningkatkan pengembangan dan pembangunan pariwisata daerah ke arah yang
lebih baik. Sebagai indikator keberhasilan pengembangan.
Pada dasarnya, aktivitas wisatawan yang tercermin dalam jenis daya tarik wisata yang
tersebar di Kabupaten Tana Toraja dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) tipe yaitu (1)
kegiatan wisata alam, (2) kegiatan wisata Alam dan Budaya, (3) kegiatan wisata Budaya,
dan (4) kegiatan wisata Buatan, Alam dan Budaya.
Aktivitas wisata di Tana Toraja belum cukup memperlihatkan adanya formulasi
pengembangan kluster menurut aktivitas yang terselenggara masih bergantung pada
keinginan wisatawan. Perjalanan wisatawan belum memiliki arahan kunjungan yang
ditetapkan oleh pemerintah setempat sehingga menyebabkan adanya DTW-DTW yang
dapat diakses namun memiliki keunggulan daya tarik belum terekspose dengan baik belum
signifikan menjadi bagian dari rencana perjalanan wisatawan, walaupun perkembangan
pembangunan infrastruktur terutama aksesibilitas antar DTW telah banyak dikembangkan
oleh pemerintah daerah. Oleh karenanya sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang
Gambar 10.1. Konsep Struktur Ruang pariwisata ditetapkan oleh pemerintah mengarahkan perjalanan wisatawan ke DTW yang lain dan
menjadikan salah satu atau beberapa DTW unggulan sebagai inkubator perjalanan
Guna memaksimalkan struktur ruang pariwisata sehingga dapat membentuk suatu sistem wisatawan.
terpadu yang mampu memanfaatkan potensi setiap daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja Disisi lain, pemerintah secara detail dalam pengembangan tiap kawasan wisata dibutuhkan
yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing, maka dibutuhkan hirarki tingkatan pusat adanya desain akses yang secara internal dan eksternal diupayakan agar tidak melakukan
dan sub pusat pengembangan ini, nantinya berfungsi untuk melayani aktivitas setiap DTW. Tiap perjalanan pada akses yang sama, sehingga waktu dan kesempatan menikmati DTW
pusat-pusat yang terbentuk mempunyai ciri karakteristik dan fungsi yang berbeda satu dengan disekitarnya dan memberi peluang kepada wisatawan untuk melanjutkan perjalanannya ke
yang lainnya. DTW lain dan diupayakan bersinergi dengan variasi jenis DTW lain tersebut.
Pembentukan cluster pariwisata diharapkan dapat mempromosikan kawasan-kawasan wisata Pengembangan desa-desa wisata juga menjadi salah satu peluang yang sangat berpotensi,
yang kurang diminati, sehingga mampu mendorong perkembangan kawasan wisata. Untuk ketersediaan DTW alam dan budaya dapat dipadukan pada beberapa kawasan atau desa
dapat melakukan analisis tersebut, selain mempertimbangkan dasar kebijakan diatas, terdapat yang memiliki sejumlah daya tarik wisata dapat dikembangkan menjadi desa wisata melalui
beberapa variabel yang dapat menjadi pengukuran dan pembagian wilayah wisata didaerah. pembentukan kelembagaan dan pembinaan pengembangan dan penataan daya tarik wisata
Variabel tersebut yakni sebagai berikut: dan atraksi wisata yang tersedia. Salah satu kawasan yang telah dikembangkan seperti
1. Tipe Aktivitas Wisatawan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu, namun diperlukan adanya penguatan kelembagaan desa
Keanekaragam DTW di Kabupaten Tana Toraja berpengaruh terhadap tipe aktivitas wisata yang kuat agar masyarakat setempat dapat berperan aktif dalam mengembangkan
wisatawan yang dilakukan selama berkunjung di DTW tersebut. Aktivitas yang dilakukan pariwisatanya dengan dukungan kelembagaan-kelembagaan adat dan pemerintah. Potensi
oleh wisatawan selama berkunjung ke DTW mempengaruhi perjalanan wisatawan dari lain yang dapat dikembangkan yaitu Perkampungan Adat Sillanan, dan beberapa lainnya
kawasan wisata yang satu menuju kawasan wisata yang lain. DTW-DTW yang mampu perlu didukung agar perjalanan wisatawan sedapat mungkin tidak mejadikan Kota Makale
memberikan atraksi yang dapat menghabiskan waktu kunjungan yang lama, sehingga sebagai tempat akhir atau menginap setelah melakukan perjalanan wisata atau tempat
wisatawan sudah tidak berminat lagi untuk melanjutkan perjalanan ke DTW yang lain transit. Hal ini sangat perlu agar dapat memicu perkembangan wilayah-wilayah kecamatan
dikarenakan kelelahan. di Tana Toraja terutama yang memiliki potensi dan aksesibilitas yang cukup jauh dari Kota
Kedekatan antar objek wisata yang satu dengan yang lain belum tentu menjadikan suatu Makale. Pemanfaatan bangunan-bangunan budaya dan pembangunan akomodasi akan
perjalanan wisata yang dapat dilakukan dalam satu hari. Dengan pertimbangan- berkembang pada simpul-simpul tertentu yang secara langsung berdampak pada
pertimbangan yang telah dikemukakan, maka tipe aktivitas wisatawan menjadi salah satu peningkatan ekonomi masyarakat.

X-5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

2. Aksesibilitas seragam pada DTW alam dan DTW budaya. Kombinasi dari keseragaman ini perlu
Aksesibilitas merupakan salah satu faktor perkembangan suatu wilayah maupun kawasan. mempertimbangkan keunggulan dari daya tarik wisata yang ada didaerah sekitarnya sehingga
Semakin mudah pencapaian/akses suatu tempat, maka semakin besar peluang diperlukan inovasi dalam pengembangan sarana prasarana penunjang serta atraksi wisata
berkembangnya suatu wilayah/kawasan. Aksesibilitas dalam analisis ini dipakai sebagai dalam kawasan wisata yang menjadi khas dalam suatu perjalanan wisatawan.
salah satu dasar pertimbangan dalam pengembangan cluster wisata yaitu dengan
Berdasarkan uraian instrumen pembentuk perwilayahan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja
mempertimbangkan aspek jarak dan waktu tempuh antara satu lokasi DTW dengan DTW
tersebut diatas, pemanfaatan aksesibilitas, keterkaitan antar DTW dan potensi pengembangan
lainnya. Hal ini dipakai dalam pengembangan cluster wisata ini disebabkan karena lokasi
sarana prasarana penunjang kegiatan wisata, pengembangan atraksi budaya dan pemanfaatan
daya tarik wisata yang tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten Tana Toraja dengan
kesenian dan kerajinan serta penataan kawasan wisata baik alam, buatan maupun budaya
kondisi karakteristik pegunungan, sehingga adanya perlakuan khusus terhadap beberapa
menjadi fokus dalam pengembangan destinasi pariwisata yang tersedia serta merangsang
DTW yang lokasinya jauh dan kondisi jalan yang menanjak sehingga memerlukan waktu
pertumbuhan dan menggali potensi lain yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
yang lebih lama.
Sebagai illustrasi potensi pengembangan perwilayahan pariwisata di Tana Toraja dalat
Dengan adanya pengembangan akses jalan lingkar pariwisata yang dikembangkan di Tana dijelaskan dalam gambar berikut.
Toraja yang dapat menjadi pemicu berkembangnya pariwisata sangat strategis karena
akses yang dikembangkan dapat juga menghubungkan ke wilayah kabupaten disekitarnya
dengan simpul transportasi yang tersedia. Oleh karena itu, segala upaya dalam
pengembangan pariwisata Tana Toraja perlu dilakukan agar dapat menahan wisatawan
dengan tujuan ke wilayah kabupaten sekitarnya misalnya yang melalui Bandara Buntu Kuni
pada jalan lingkar pariwisata bagian timur kabupaten. Namun demikian, secara umum pada
ruas-ruas jalan lingkar pariwisata tersebut cukup banyak DTW yang telah dikembangkan
serta memiliki keunggulan ketersediaan sarana umum dan sarana pariwisata yang dapat
menjadi keunggulan daerah. Selain itu, Tana Toraja sangat berpotensi dalam
pengembangan pariwisata karena memiliki keterkaitan dalam penyediaan aksesibilitas
lintas kabupaten yang dapat diakses dari beberapa bagian wilayah kabupaten.
3. Keterkaitan (Linkage System)
Analisis linkage dilakukan dengan mengidentifikasikan perkembangan pariwisata Tana
Toraja dan mengklasifikasikannya sesuai dengan potensi dan ragam wisata yang
ditawarkan yang diupayakan adanya hubungan antara potensi dan ragam yang sudah ada
dengan konsep pengembangan wisata Tana Toraja. Selain itu, untuk mengetahui
keterkaitan antara lokasi DTW dan pengelolaan pariwisata secara umum.
Pengembangan klaster pariwisata ini tentunya diupayakan dapat menghidupkan perjalanan
wisatawan yang bukan hanya menikmati daya tarik wisata yang tersedia, namun lebih jauh
wisatawan dapat berinteraksi dengan masyarakat sekitar DTW melalui strategi menahan
wisatawan untuk dapat melakukan perjalanan pada simpul atau klaster yang dibentuk lebih
dari satu hari dan membutuhkan tempat untuk menginap/bermalam. Setiap klaster
diupayakan adanya studi lebih lanjut terkait potensi daya tarik wisata dan atraksi serta
jenis-jenis daya tarik yang dapat dikembangkan pada setiap DTW dan hubungannya dengan
DTW lain dalam satu satuan perjalanan wisatawan. Gambar 10.2
Illustrasi Potensi Pengembangan Perwilayahan Destinasi Pariwisata Kab. Tana Toraja
Keragaman daya tarik wisata sebagai destinasi pariwisata nasional, perwilayahan pariwisata
Tana Toraja sangat bergantung pada keunggulan atraksi dan daya tarik pendukung dalam satu Berdasarkan pada gambaran pengembangan perwilayahan atau struktur ruang pariwisata diatas
kawasan wisata sangat diperlukan karena umumnya daya tarik wisata yang tersedia cukup sesuai dengan potensi tiap bagian kawasan pariwisata tersebut, maka dapat potensi

X-6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

pengembagan struktur ruang pariwisata yang dapat diwujudkan dalam bentuk Perwilayahan menarik wisatawan yang berkunjung ke dua kabupaten tersebut dapat menginap dan
Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK), Kawasan Pengembangan Pariwisata Kabupaten (KPPK), melakukan aktivitas wisata lainnya di wilayah tersebut.
dan Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten (KSPK) yaitu minimal dapat dibagi berpotensi d. Beberapa daya tarik wisata yang terdapat di Kabupaten Toraja Utara yang berbatasan
menjadi 8 (delapan) bagian yang terdiri dari 1 (satu) pusat pelayanan primer dan 7 (tujuh) dengan Makale Utara sehingga berpotensi menjadi penarik pengembangan sarana
subpusat pelayanan/sekunder dengan masing-masing pusat pelayanan memiliki keunggulan pelayanan pariwisata.
destinasi pariwisata dan juga bertujuan perangsang perkembangan wilayah dengan upaya e. Kedua wilayah kecamatan tersebut memiliki daya tarik unggulan nasional dan daerah
mensinergikan bagian-bagian wilayah yang memiliki potensi unggulan dengan bagian wilayah sehingga diharapkan dapat berperan dalam memberikan pelayanan prima terhadap
yang dapat berkembang dengan adanya potensi bagian lain tersebut. Setiap pusat yang kegiatan pariwisata.
dibentuk pada dasarnya juga mempertimbangkan berbagai perencanaan yang telah ditetapkan
2. Pengembangan Pusat Pelayanan Sekunder, yang melingkupi beberapa bagian wilayah
oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi yang menjadikan Tana Toraja sebagai salah
dengan potensi sebagaimana kriteria yang ditetapkan diatas, pusat pelayanan sekunder
satu destinasi pariwisata nasional melalui pengembangan KSPN Tana Toraja.
pada dasarnya memiliki kekuatan sumberdaya pariwisata dan aksesibilitas yang dapat
bersinergi dalam kegiatan pariwisata.
10.2 RENCANA PENETAPAN DESTINASI PARIWISATA KABUPATEN (DPK) TANA TORAJA
Perwilayahan destinasi pariwisata adalah perwujudan dalam bentuk sub-sub pengembangan Pusat pelayanan sekunder ini terdiri dari 5 (lima) subpusat pelayanan kegiatan wisata yang
Pariwisata daerah dan Destinasi Parawisata unggulan. Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana terdiri dari daya tarik wisata unggulan nasional pada beberapa subpusat dan daya tarik
Toraja adalah merupakan kawasan geografis yang berada dalam satu wilayah administratif yang wisata unggulan daerah, serta DTW yang didorong menjadi unggulan daerah yang
di dalamnya terdapat daya tarik wisata daerah. Perwilayahan destinasi pariwisata kabupaten diharapkan saling terkoneksi salam satu kegiatan wisata sehingga dapat merangsang
ditentukan dengan kriteria sebagai berikut: perkembangan DTW lain disekitarnya.
1. Merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah kabupaten dan/atau lintas Selain keunggulan dan potensi daya tarik wisata, pada sub-subpusat ini juga dikembangkan
kabupaten yang didalamnya terdapat kawasan-kawasan pengembangan pariwisata daerah, sejumlah sarana pariwisata, sarana penunjang dan pendukung pariwisata seperti
yang diantaranya merupakan Peruntukan Kawasan Pariwisata Kabupaten; akomodasi, penjualan souvenir, ukiran-ukiran, atraksi budaya dan seni, event-event, serta
2. Memiliki Daya Tarik Wisata yang berkualitas dan dikenal secara luas secara regional, pengembangan potensi industri dan UMKM diperdesaan dan lainnya yang dapat membawa
nasional maupun internasional, serta membentuk jejaring produk wisata dalam bentuk pola manfaat ekonomi dan manfaat interaksi sosial yang baik antara masyarakat dengan
pemaketan produk dan pola kunjungan wisatawan; wisatawan.
3. Memiliki kesesuaian tema Daya Tarik Wisata yang mendukung penguatan daya saing;
4. Memiliki dukungan jejaring aksesibilitas dan infrastruktur yang mendukung pergerakan
wisatawan dan kegiatan Kepariwisataan; dan
5. Memiliki keterpaduan dengan rencana sektor terkait.
Struktur ruang pariwisata kabupaten garis besar dibagi menjadi pusat pelayanan primer dan
pusat pelayanan sekunder.
1. Pengembangan Pusat Pelayanan Primer ditetapkan di Kota Makale dengan wilayah
pengaruh/pelayanan di Kecamatan Makale dan Kecamatan Makale Utara. Nilai strategis
yang dikembangkan pada pusat pelayanan primer ini yaitu ditunjang dengan potensi
diantaranya:
a. Kota Makale sebagai Ibukota Kabupaten Tana Toraja dan Pusat Informasi Pariwisata
kabupaten.
b. Memiliki kelengkapan sarana prarasana pariwisata seperti akomodasi, transportasi,
usaha pariwisata, sarana penunjang serta pelengkap pariwisata;
c. Kecamatan Makale Utara sebagai jalur utama masuk Kabupaten Toraja Utara dapat
dikembangkan jenis pelayanan pariwisata yaitu akomodasi yang diharapkan dapat

X-7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X-8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DTW dan sarana pariwisata yang terdapat di Kecamatan Mengkendek, Kecamatan


Berkaitan dengan potensi pengembangan perwilayahan destinasi pariwisata serta potensi
Gandangbatu Silanan, dan Kecamatan Makale Selatan.
pengembangan kawasan-kawasan wisata, rencana pengembangan Destinasi Pariwisata
Kabupaten (DPK) yang dikembangkan serta peran dan potensi pengembangan sebagai destinasi DTW Unggulan meliputi:
pariwisata nasional maupun kabupaten di Kabupaten Tana Toraja sehingga diharapkan didalam 1. Kawasan Agrowisata Pango Pango (Kawasan Inkubasi KSPN Toraja/unggulan nasional
pengelolaan daya tarik wisata serta sarana utama dan penunjang serta pendukungnya dapat dan kabupaten), di Tosapan Kecamatan Makale Selatan.
saling terkoneksi dengan baik antara pemangku kepentingan pembangunan destinasi pariwisata 2. Kawasan Wisata Buntu Kandora (unggulan nasional dan kabupaten), di Tengan
di Kabupaten Tana Toraja yang berkesinambungan. Masing-masing bagian wilayah sebagai Kecamatan Mengkendek.
berikut: 3. Kawasan Wisata Sassa’ (unggulan kabupaten), di Gasing Kecamatan Mengkendek.
4. Kawasan Wisata Potok Tengan (unggulan kabupaten), di Tengan Kecamatan
1. DPK MAKALE dan Sekitarnya
Mengkendek.
Yaitu destinasi pariwisata dengan pusat pelayanan di Kota Makale sebagai Pusat Informasi
5. Kawasan Wisata Rumah Adat/Perkampungan (unggulan nasional dan kabupaten),
Pariwisata/Tourism Information Centre (TIC), Pengembangan Akomodasi dan usaha
Sillanan di Sillanan Kecamatan Gandangbatu Sillanan.
pariwisata lainnya, pengembangan Atraksi seni dan budaya, event pariwisata, serta
6. Pengembangan Anjungan Cerdas KSPN/Rest Area, (unggulan nasional dan kabupaten)
pengembangan DTW Buatan, Alam dan Budaya. Lingkup pelayanan kegiatan wisata meliputi
di Kecamatan Gandangbatu Sillanan.
daya tarik wisata yang terdapat di Kecamatan Makale, dan Kecamatan Makale Utara.
7. Pembangunan Desa Wisata Potok Tengan Kandora di Kecamatan Mengkendek.
DTW Unggulan diantaranya:
8. Pembangunan Desa Wisata Sillanan di Kecamatan Gandangbatu Sillanan.
1. Kawasan Wisata Buntu Burake (unggulan nasional dan kabupaten), di Makale Kecamatan
9. Pembangunan Desa Wisata Sassa’ di Kecamatan Mengkendek.
Makale.
2. Kawasan Wisata Buntu Tondon (unggulan kabupaten), di Tondon Mamullu Kecamatan DTW Penunjang meliputi:
Makale. 1. Rurak (Goa Alam), di Ke'pe' Tinoring Kecamatan Mengkendek.
3. Kawasan Wisata Permandian Alam Tilangnga (unggulan kabupaten), di Sariri Kecamatan 2. Liang Lo'ko Randanan, di Ke'pe' Tinoring Kecamatan Mengkendek.
Makale Utara. 3. To'bai (Liang Tau-Tau), di Ke'pe' Tinoring Kecamatan Mengkendek.
4. Kawasan Wisata Kuburan Batu Lemo (unggulan nasional dan kabupaten), di Buntu Lemo 4. Alloan (panorama Alam), di Marinring Kecamatan Mengendek.
Kecamatan Makale Utara. 5. Air Terjun (Sarambu) Marintang, di Simbuang Kecamatan Mengkendek.
5. Pembangunan Desa Wisata Buntu Burake, Kecamatan Makale Utara. 6. Bumi Perkemahan Marintang, di Simbuang Kecamatan Mengkendek.
6. Pembangunan Desa Wisata Lemo, Kecamatan Makale Utara. 7. Mapongka, di Marintang Kecamatan Mengkendek.
7. Pengembangan wisata MICE 8. Tipali, di Uluwai Kecamatan Mengkendek.
8. Pengembangan atraksi wisata seni dan budaya. 9. Babakanaan, di Malimbung Kecamatan Mengkendek.
9. Perumusan Event-event seni dan budaya. 10. Panjat Tebing, di Tengan Kecamatan Mengkendek.
11. Perkuburan Kuno Gandangbatu di Gandangbatu Kecamatan Gandangbatu Sillanan.
DTW Penunjang antara lain:
12. Lo'ko Wai (Kuburan Bayi Purba) di Sillanan Kecamatan Gandangbatu Sillanan.
1. Taman Hiburan Plaza Kolam Makale, di Kota Makale Kecamatan Makale.
13. A'pa' Pamanukan di Pamanukan Kecamatan Gandangbatu Sillanan.
2. Panorama Bukit Sion, di Kota Makale Kecamatan Makale.
14. Ma'dandan (himpuan erong) Patudu Kecamatan Gandangbatu Sillanan.
3. Tengko Batu, di Kamali Pentalluan Kecamatan Makale.
15. DTW dan atraksi wisata lain yang berpotensi.
4. Sirope', di Lion Tondok Iring Kecamatan Makale Utara.
5. DTW dan atraksi wisata lain yang berpotensi.

2. DPK BAGIAN SELATAN (Mengkendek dan Sekitarnya)


Yaitu destinasi pariwisata dengan pusat pelayanan di Rante Kalua (Kecamatan Mengkendek)
yang ditunjang oleh pengembangan Bandara Buntu Kuni serta penataan kawasan perkotaan
disekitarnya, dengan pengembangan akomodasi wisata, transportasi dan DTW
Buatan, Alam, Budaya, Buatan serta Atraksi Budaya. Lingkup kegiatan wisata meliputi

X-9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

3. DPK BAGIAN TIMUR (Sangalla dan sekitarnya) Yaitu destinasi pariwisata dengan pusat pelayanan di Bittuang melalui pengembangan
Yaitu destinasi pariwisata dengan pusat pelayanan di Kecamatan Sangalla (ibukota daya tarik wisata Alam dan Budaya, serta Atraksi budaya. Lingkup kegiatan dan
kecamatan), dengan pengembangan akomodasi wisata dan DTW Alam Budaya, dan pelayanan wisata meliputi DTW yang terdapat di Kecamatan Bittuang, Kecamatan Saluputti,
Buatan, serta Atraksi budaya dan seni. Lingkup kegiatan wisata meliputi DTW dan Kecamatan Kurra, Kecamatan Masanda dan Kecamatan Rembon. DTW Unggulan meliputi:
atraksi wisata yang terdapat di Kecamatan Sangalla, Kecamatan Sangalla Selatan, dan 1. Sarambu Assing (unggulan nasional dan daerah), di Patongloan Kecamatan Bittuang.
Sangalla Utara melalui pengembangan ruas jalan lingkar pariwisata yang dapat 2. Taman Rekreasi Barereng (unggulan nasional dan daerah), di Rante Limbong Kecamatan
menghubungkan langsung ke Bandara Buntu Kuni. Kurra.
DTW Unggulan meliputi: 3. Air Terjun Sarambu Ratte (unggulan daerah), di Balla Kecamatan Bittuang.
1. Kawasan Wisata Bebo' (unggulan nasional dan kabupaten), di Kecamatan Sanglla Utara. 4. Papa Batu Tumakke (unggulan nasional dan daerah), di Rembon.
2. Kawasan Wisata Tumbang Datu (unggulan nasional dan kabupaten), di Kecamatan 5. Arum Jeram Kurra (unggulan nasional dan daerah), di Maroson Padakka Kecamatan
Sanglla Utara. Kurra.
3. Kawasan Wisata Permandian Air Panas Makula (unggulan nasional dan kabupaten), di 6. Pengembangan Rest Area di Kecamatan Bittuang.
Tokesan Kecamatan Sangalla. 7. Pembangunan Desa Wisata Tiroan, Kecamatan Bittuang.
4. Kawasan Wisata Suaya (unggulan nasional dan kabupaten), di Kaero Kecamatan
Sedangkan DTW Penunjang diantaranya:
Sangalla.
1. Rumah Adat Pattan, di Pattan Kecamatan Saluputti.
5. Kawasan Wisata Museum Buntu Kalando (unggulan kabupaten), di Tongko Sarapung
2. Perkebunan Kopi Tiroan, di Tiroan Kecamatan Bittuang.
Kecamatan Sangalla.
3. Air Panas Balla, di Balla Kecamatan Bittuang.
6. Kawasan Wisata To'Puang (unggulan kabupaten), di Rante Alang Kecamatan Sangalla’
4. Pa'bakka (Liang Tau-Tau), di Rea Kecamatan Saluputti.
Selatan.
5. Sanduni (Liang) Banga', di Bunga Kecamatan Rembon. dan
7. Kawasan Wisata Kambira Baby Grave (unggulan kabupaten), di Tongko Sarapung
6. Kuburan Batu Ullin, di Ullin Kecamatan Rembon.
Kecamatan Sangalla.
Serta potensi pariwisata lainnya yang dapat menunjang kegiatan wisata di DPK Bagian Utara.
8. Kawasan Wisata Sa’pak bayobayo (unggulan kabupaten), di Saluallo Kecamatan
Sangalla’ Selatan. dan 5. DPK BAGIAN BARAT (Bonggakaradeng dan Sekitarnya)
9. Pembangunan Rest Area, di Kecamatan Sangalla Utara perbatasan dengan Kabupaten Yaitu destinasi pariwisata dengan pusat pelayanan di Bonggakaradeng melalui
Toraja Utara. pengembangan daya tarik wisata Alam dan Budaya, serta Atraksi budaya. Lingkup
10. Pembangunan Desa Wisata Bebo', di Kecamatan Sanglla’ Utara. kegiatan wisata meliputi DTW yang terdapat di Kecamatan Bonggakaradeng, Kecamatan
11. Pembangunan Desa Wisata Tumbang Datu, di Kecamatan Sanglla Utara. Rano, Kecamatan Simbuang, Kecamatan Mappak, Kecamatan Malimbong Balepe, dan
12. Pembangunan Desa Wisata Saluallo, Kecamatan Sangalla’ Utara. Kecamatan Rembon.
13. Pembangunan Desa Wisata Tongko Sarapung, Kecamatan Sangalla.
DTW Unggulan meliputi:
DTW Penunjang diantaranya: 1. Air Terjun Talondo Tallu (unggulan nasional dan daerah), di Balepe’ Kecamatan
1. Tampang Allo, di Tongko Sarapung Kecamatan Sangalla. Malimbong Balepe.
2. Danau Assa, di Turunan Kecamatan Sangalla. 2. Kampung Tenun (unggulan daerah), Malimbong Kecamatan Malimbong Balepe.
3. Lo’ko Tongko, di Tongko Sarapung Kecamatan Sangalla. 3. Ollon (unggulan nasional dan daerah), di Poton Kecamatan Rembon.
4. Tongkonan Banua Kasalle, di Kaero Kecamatan Sangalla. 4. Papa Batu Tumakke (unggulan nasional dan daerah), di Kecamatan Rembon.
5. Goa Sullukan, di Tokesan Kecamatan Sangalla. 5. Batu Tallu, di Kecamatan Simbuang.
Serta Potensi pariwisata lainnya yang dapat menunjang kegiatan wisata di DPK Bagian Timur, 6. Air Terjun Salu Sumassan, di Tanete Kecamatan Mappak.
dan potensi pariwisata lainnya yang dapat menunjang kegiatan wisata di DPK Bagian Timur. 7. Ritual Aluk Todolo, di Kecaamatan Mappak
8. Panorama Alam Kuesta Kendenan, di Ran Buttu Kecamatan Bonggakaradeng.
9. Pembangunan Desa Wisata Bo’ne Lemo Menduruk, Kecamatan Malimbong Balepe.
10. Pembangunan Desa Wisata Simbuang Batu Tallu, Kecamatan Simbuang.
4. DPK BAGIAN UTARA (Bittuang dan Sekitarnya)

X - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Sedangkan DTW Penunjang diantaranya:


1. Liang Saratu’, di Bau Kecamatan Bonggakaradeng.
2. Saluliang, di Kole Sawangan Kecamatan Malimbong Balepe.
3. Batu Kapak (Batu Talla), di Malimbong Kecamatan Malimbong Balepe.
4. Batususu Talion/Sarapeang, di Sarapeang Kecamatan Rembon.
5. Kolam Alam Kondodewata, di Kondodewata Kecamatan Mappak.
6. Gereja Tua Simbuang, di Lembang Simbuang Kecamatan Simbuang.
7. Liang Pahat, di Rano Utara Kecamatan Rano.
Serta mendorong identifikasi potensi daya tarik wisata lain yang dapat menunjang kegiatan
wisata di DPK Lintas Barat.
Untuk lebih jelasnya digambarkan pada peta-peta sebagai berikut.

X - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 15
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 16
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

10.3 RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PARIWISATA 2. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Selatan
KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Bagian Selatan kabupaten, meliputi:
Rencana pengembangan kawasan pariwisata terdiri dari Kawasan Pengembangan
▪ KPP Kawasan Argowisata dan Alam Pango Pango
Pariwisata (KPP) dan Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten (KSPK) Tana Toraja
▪ KPP Mengkendek
dengan mengacu pada gambaran umum konsep pengembangan perwilayahan destinasi
▪ KPP Gandangbatu Sillanan
pariwisata diatas. Rencana kawasan pengembangan pariwisata merupakan arahan pembangunan
▪ KPP Sarambu - Mengkendek
kawasan pariwisata yang dapat menjadi andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta
mencapai visi dan misi pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja. Kawasan
3. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Timur
pengembangan pariwisata adalah suatu ruang pariwisata yang mencakup luasan area tertentu
KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Bagian Timur kabupaten, meliputi:
sebagai suatu kawasan dengan komponen kepariwisataannya, serta memiliki karakter atau tema
▪ KPP Sangalla Utara
produk pariwisata tertentu yang dominan dan melekat kuat sebagai komponen pencitraan
▪ KPP Sangalla
kawasan tersebut.
▪ KPP Sangalla Selatan
Rencana kawasan pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari:
▪ Tema pengembangan produk pariwisata KPP; 4. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Utara
▪ Jenis wisata yang menjadi unggulan untuk dikembangkan dan jenis wisata pendukungnya; KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Bagian Utara kabupaten, meliputi:
▪ Sasaran pengembangan KPP; ▪ KPP Bittuang
▪ Target pasar wisatawan; ▪ KPP Bittuang – Masanda
▪ Sistem keterkaitan dengan kawasan disekitarnya dan wilayah kabupaten lain disekitarnya; ▪ KPP Salluputi – Rembon
▪ Rencana peningkatan kualitas daya tarik wisata di KPP; ▪ KPP Kurra
▪ Rencana penyediaan fasilitas pariwisata (kualifikasi dan jumlah) di KPP;
▪ Rencana penyediaan fasilitas umum pendukung KPP (kualifikasi); 5. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Barat
▪ Rencana penyediaan prasarana transportasi (kualifikasi dan lokasi) untuk mendukung KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Bagian Barat kabupaten, meliputi:
pengembangan KPP; dan ▪ KPP Rembon – Malimbong
▪ Rencana penyediaan prasarana lainnya (jika mendesak dan diperlukan) untuk mendukung ▪ KPP Mappak – Simbuang
KPP. ▪ KPP Bonggakaradeng – Rano

KSP yang ditetapkan pengembangannya berdasarkan sebaran dan struktur ruang pariwisata
10.4 RENCANA KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA KABUPATEN (KSPK)
didalam satuan Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK) yang dikembangkan diatas. Dengan acuan
tersebut serta mempertimbangkan sebaran DTW yang tersedia, maka KPP dikelompokkan pada Sedangkan Rencana kawasan strategis pariwisata merupakan arahan pengembangan kawasan
setiap DKP dengan pengembangan KPP sebagai berikut: pariwisata yang dianggap strategis untuk menjawab isu-isu strategis pembangunan wilayah dan
1. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DPK Kota Makale dan Sekitarnya, dengan atau pembangunan kepariwisataan. Kawasan strategis pariwisata adalah kawasan yang memiliki
2. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DPK Bagian Selatan fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai
3. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DPK Bagian Timur pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya,
4. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DPK Bagian Utara pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan
5. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Barat. keamanan (UU. No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Pasal 10).
▪ Fungsi strategis KSP;
Berdasarkan kriteria yang ditentapkan diatas, maka KPP yang dikembangkan dirinci sebagai
▪ Sasaran pengembangan KSP;
beriku:
▪ Tema pengembangan produk pariwisata KSP;
1. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Kota Makale dan Sekitarnya
▪ Jenis wisata yang menjadi unggulan untuk dikembangkan dan jenis wisata pendukung;
KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Kota Makale dan Sekitarnya, meliputi:
▪ Target pasar wisatawan;
▪ KPP Makale
▪ Sistem keterkaitan dengan kawasan disekitarnya dan wilayah kabupaten lain disekitarnya;
▪ KPP Makale Utara
▪ Sistem keterkaitan dengan sektor lain didalam kawasan maupun disekitar KSP;
▪ Rencana peningkatan kualitas daya tarik wisata di KSP;

X - 17
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

▪ Rencana penyediaan fasilitas pariwisata (kualifikasi dan jumlah) di KSP; Tabel: 5.13 Rencana Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Rencana penyediaan fasilitas umum pendukung KSP (kualifikasi);
Destinasi Kawasan Kawasan Strategis Tema Pengembangan
▪ Rencana penyediaan prasarana transportasi (kualifikasi dan lokasi) untuk mendukung No. Pariwisata Pengembangan Pariwisata Produk
pengembangan KSP; dan Kabupaten (DPK) Pariwisata (KPP) kabupaten (KSPK)
▪ Rencana penyediaan prasarana lainnya (jika mendesak dan diperlukan) untuk mendukung 4. KPP Kurra 4. KSPK Barereng Alam dan Minat khusus
KPP.
4 DPK Bagian Timur 1. KPP Sangalla 1. KSPK Desa Wisata ▪ Desa wisata
Rencana Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten Tana Toraja meliputi destinasi pariwisata (Sangalla dan Utara Bebo’ – Tumbang ▪ DTW Budaya
dengan mempertimbangkan kriteria diatas, serta pertimbangan kebijakan kepariwisataan Sekitarnya) Datu ▪ DTW Agro
nasional dan daerah dengan menetapkan sejumlah kawasan wisata yang strategis dan 2. KPP Sangalla 2. KSPK Suaya Budaya
diharapkan mampu berperan dalam medorong perkembangan destinasi pariwisata secara 3. KSPK Buntu
Kalando
keseluruhan baik pada KPP maupun DPK dan menjadi unggulan bagi daerah dan nasional, baik
3. KPP Sangalla 4. KSPK To’puang Budaya
pemerintah maupun masyarakat, serta memperkuat daya tarik wisata pada setiap perwilayahan.
Selatan
terdiri dari:
5 DPK Bagian Barat 1. KPP Rembon – 1. KSPK Kampung Minat khusus
Tabel: 5.13 Rencana Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja (Bonggakaradeng Malimbong Tenun
Destinasi Kawasan Kawasan Strategis Tema Pengembangan dan Sekitarnya) 2. KPP Mappak – 2. KSPK Salu Alam dan Minat khusus
No. Pariwisata Pengembangan Pariwisata Produk Simbuang Sumassan
Kabupaten (DPK) Pariwisata (KPP) kabupaten (KSPK) 3. KPP 3. KSPK Ollon
1 DPK Kota Makale dan 1. KPP Makale 1. KSPK Buntu Burake ▪ Desa Wisata
Bonggakaraden 4. KSPKCuesta
Sekitarnya 2. KSPK Buntu ▪ Atraksi Seni & Budaya
g – Rano Kendenan
Tondon ▪ Wisata MICE
Sumber: Hasil Kajian Tim, 2010
▪ Buatan
2. KPP Makale 3. KSPK Tilangnga ▪ Desa Wisata
Utara 4. KSPK Lemo ▪ Atraksi Seni & Budaya
▪ DTW Unggulan

2 DPK Bagian Selatan 1. KPP Pango 1. KSPK Pango Pango Agrowisata dan Minat
(Mengkendek dan Pango khusus
Sekitarnya) 2. KPP 2. KSPK Buntu ▪ Desa wisata
Mengkendek Kandora ▪ Minat khusus
3. KSPK Potok ▪ Atraksi wisata
Tengan
3. KPP 4. KSPK Desa Wisata Desa wisata dan Minat
Gandangbatu Sillanan khusus
Sillanan
4. KPP Sarambu - 5. KSPK Sarambu - Desa wisata dan Minat
Mengkendek Mengkendek khusus

3 DPK Bagian Utara 1. KPP Bittuang 1. KSPK Sarambu Alam dan Minat khusus
(Bittuang dan Assing
Sekitarnya) 2. KPP Bittuang – 2. KSPK Sarambu Alam dan Minat khusus
Masanda Ratte
3. KPP Salluputi – 3. KSPK Papa Batu Budaya dan Minat
Rembon khusus

X - 18
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 19
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 20
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 21
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 22
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

X - 23
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

11
11.1 UMUM
Indikasi program dimaksudkan untuk memberikan arahan kegiatan berdasarkan pengembangan
kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan dalam pembangunan kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja jangka waktu dan tahapan tertentu, sehingga setiap program yang akan dan selesai
dilaksanakan akan memberikan dampak terhadap pengembangan sektor kepariwisataan di
Kabupaten Tana Toraja. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja dalam kurung waktu 10 (sepuluh) tahun yaitu 2021-2030. Dalam
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 8 disebutkan bahwa
pembangunan kepariwisataan yang dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan
kepariwisataan merupakan bagian integral dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional. Oleh karena itu, jangka waktu perencanaan RIPPARKAB Tana Toraja juga
menyesuaikan dengan periode waktu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Kabupaten Tana Toraja yang tentu saja sama dengan periode waktu Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN), sebagaimana tertuang dalam rumusan Peraturan Menteri
Pariwisata Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Program dan indikasi kegiatan pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja yang di
rencanakan dibagi kedalam setiap unsur-unsur kepariwisataan yang terdiri dari:
1. Program Pembangunan Destinasi Pariwisata;
2. Program Pembangunan Pemasara Pariwisata;
3. Program Pembangunan Industri Pariwisata;
4. Program Pembangunan Kelembagaan Pariwisata;

XI - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

11.2 LOKASI, SUMBER PENDANAAN DAN INSTANSI PELAKSANA Program-program yang akan disusun tersebut pada dasarnya masih bersifat indikatif dan
diharapkan menjadi suatu indikator didalam penyusunan program pembangunan
1. Lokasi
kepariwisataan oleh instansi untuk jangka menengah. Susunan program pembangunan
Lokasi merupakan tempat dimana usulan program akan dilaksanakan.
kepariwisataan tersebut, tidak dapat terlepas dari kebijaksanaan pembangunan yang telah
2. Sumber Pendanaan digariskan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang (RPJMD dan RPJPD)
Sumber pendanaan dapat berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tana Toraja, Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja yang terindikasi
Kabupaten Tana Toraja, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dalam program pembangunan daya tarik wisata, dan rencana yang tertuang dalam RENSTRA
Sulawesi Selatan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), swasta, dan/atau Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja.
masyarakat. 1. Nama program dari usulan program dan proyek rencana pembangunan kepariwisataan
3. Instansi Pelaksana Kabupaten Tana Toraja, meliputi: pembangunan destinasi pariwisata, pembangunan
Instansi pelaksana merupakan pihak-pihak pelaksana program prioritas yang meliputi pemasaran pariwisata, pembangunan industri pariwisata maupun pembangunan
pemerintah seperti organisasi perangkat daerah (OPD), dinas teknis terkait, dan/atau kelembagaan;
kementerian/lembaga, swasta, dan/atau masyarakat. 2. Sasaran dari usulan program rencana pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana
Toraja merupakan target yang ingin dicapai, terdiri atas: kesesuaian dengan tujuan, visi
dan misi Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, kesesuaian dengan tujuan pembangunan
11.3 WAKTU DAN TAHAPAN PELAKSANAAN daya tarik wisata dan peningkatan kualitas SDM;
Program direncanakan dalam kurun waktu perencanaan 10 (sepuluh) tahun yang dirinci setiap 3. Komponen kegiatan pada setiap sub program yang bersifat untuk memelihara/peningkatan
5 (lima) tahunan dan masing-masing program mempunyai durasi pelaksanaan yang bervariasi fungsi berbagai item pembangunan kepariwisataan serta berbagai fasilitas pelayanan yang
sesuai kebutuhan. Penyusunan program prioritas disesuaikan dengan pentahapan jangka waktu ada lebih didahulukan untuk menjamin tetap operasionalnya pembangunan kepariwisataan
5 (lima) tahunan Rencana Pembangunan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja. tersebut;
4. Jangka waktu dan tahapan pelaksanaan program dari rencana pembangunan
kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja didasarkan prioritas pembangunan dan berdasarkan
11.4 INDIKASI PROGRAM KEGIATAN PEMBANGUNAN rencana pembangunan jangka menengah dan panjang Kabupaten Tana Toraja pada sektor
Perwujudan Rencana Pembangunan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, pada dasarnya pariwisata;
dilakukan dalam berbagai program pemanfaatan sumberdaya pariwisata atau pelaksanaan 5. Skala prioritas program mengacu kepada permasalahan pengembangan dan kebutuhan
pembangunan sesuai dengan arahan rencana. Untuk menyusun program-program pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja seperti telah diuraikan diatas,
pembangunan kepariwisataan kabupaten, sesuai dengan arahan rencana, maka diperlukan dengan menggunakan metode matriks, skoring dengan pembobotan sederhana, dapat
suatu indikasi program pembangunan yang diturunkan dari berbagai komponen rencana disusun secara indikatif skala prioritas program dan proyek-proyek pembangunan untuk
kegiatan pembangunan yang lebih rinci, yang dalamnya tercakup program-program disusun secara indikatif skala prioritas program dan proyek-proyek pembangunan dalam
pembangunan yang bersifat indikatif, tahapan pelaksanaan, lokasi kegiatan serta institusi perencanaan jangka menengah dan jangka panjang.
pelaksananya. Dalam perumusan indikasi program pembangunan kepariwisataan, Kriteria penilaian yang digunakan untuk penyusunan skala prioritas tersebut adalah:
dipertimbangkan beberapa hal, meliputi: 1. Kesesuaian dengan tujuan pengembangan wilayah Kabupaten Tana Toraja;
1. Adanya komponen-komponen rencana yang perwujudannya membutuhkan implementasi 2. Kesesuaian dengan tujuan mengembangkan/mewujudkan sektor pariwisata yang telah
secara langsung dalam bentuk program-program pembangunan fisik baik berupa rencana direncanakan dan kesesuaiannya dengan upaya pemeliharaan kelestarian lingkungan
pembangunan destinasi pariwisata, pembangunan pemasaran pariwisata, pembangunan hidup;
industri pariwisata maupun pembangunan kelembagaan. 3. Kesesuaian dengan tujuan membuka akses dan mengembangkan sistem transportasi
2. Adanya kebutuhan untuk melakukan prioritas dalam pelaksanaan pembangunan sesuai wilayah; dan
dengan tahapan pembangunan di kabupaten; dan 4. Program dan kegiatan yang bersifat khusus dan atau mendesak seperti misalnya berkenaan
3. Adanya kebutuhan pembiayaan atau sumber dana yang berbeda serta perlunya dukungan dengan masalah bersifat meningkatkan pendapatan asli daerah dan peningkatan ekonomi
kelembagaan untuk melaksanakan program pembangunan kepariwisataan. masyarakat dari sektor pariwisata dan lain-lain, maka pada prinsipnya akan lebih
diprioritaskan.

XI - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

Program Prioritas pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam jangka waktu 7. Diversifikasi daya tarik wisata sebagai penguatan terhadap peluang-peluang perkembangan
perencanaan (10 tahun) kedepan, difokuskan pada beberapa unsur pembangunan dan kecenderungan wisatawan;
kepariwisataan, diantaranya sebagai berikut: 8. Pembangunan sistem informasi pariwisata yang handal;
1. Pembangunan infrastruktur yang terkoneksi antar kepentingan dalam pembangunan 9. Pembentukan peraturan perundang-undangan didaerah dalam upaya koordinasi, sinergitas,
kepariwisataan kabupaten (nasional, provinsi, dan kabupaten); dan pelayanan pariwisata bagi pelaksanaan pembangunan kepariwisataan kabupaten;
2. Pengembangan aksesibilitas antar DTW unggulan dan DTW lain disekitarnya dalam upaya 10. Pengembangan berbagai bentuk insentif bagi pelaku usaha (masyarakat, swasta, dll) dalam
pengembangan paket-paket wisata serta peningkatan daya saing destinasi wisata; menunjang perkembangan kepariwisataan kabupaten;
3. Peningkatan kualitas sarana pariwisata (akomodasi, transportasi, dll) yang menjamin 11. Peningkatan Kualitas dan Keragaman Produk-Produk Usaha Pariwisata;
kebutuhan wisatawan dalam melakukan kegiatan wisata; 12. Penyusunan rencana-rencana rinci kawasan-kawasan pariwisata unggulan;
4. Peningkatan UMKM dalam menunjang industri pariwisata kabupaten; 13. Pelaksanaan penelitin-penelitian dan pengembangan terhadap seluruh unsur pariwisata di
5. Peningkatan kualitas SDM pariwisata baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha kabupaten;
lainnya; 14. Mengembangkan berbagai kerjasama antar sektor, wilayah, dan kepentingan dalam
6. Pembangunan desa-desa wisata serta unsur penunjangnya, baik kelembagaan, bentuk pembangunan kepariwisataan kabupaten. dll
peranserta masyarakat, maupun pengelolaan sumberdaya alam yang tersedia sebagai daya
tarik wisatanya;

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
I PROGRAM LEGALISASI PERENCANAAN
1 Penyusunan dan Penetapan
▪ Dinas Pariwisata
Peraturan Daerah tentang
Kabupaten APBD Kabupaten ▪ BAPPEDA
RIPPARKAB Tana Toraja, Tahun
▪ DPRD Kabupaten
2021-2030
2 Sosialisasi PERDA kepada seluruh Masyarakar, Lintas ▪ Dinas Pariwisata
stakehoders Kepariwisataan. sektor dan lintas APBD Kabupaten ▪ BAPPEDA
wilayah ▪ DPRD Kabupaten

II PROGRAM PERWUJUDAN PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA


1 Penguatan penataan DTW ▪ Kementerian Pariwisata
▪ APBN
Unggulan Nasional dan daerah ▪ Kementerian PUPR
21 KSPK ▪ APBD Provinsi
pada Kawasan Strategis Pariwisata ▪ Pemprov. Sulsel
▪ APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
2 Mendorong Pengembangan Wisata ▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
DPK Makale dan
MICE ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Sekitarnya
▪ Swasta ▪ Usaha Pariwisata
3 Pengembangan artaksi seni dan ▪ Dinas Pariwisata
KSPK sesuai ▪ APBD Kabupaten
budaya pada DTW potensial ▪ Dinas Kebudayaan
karakter dan ▪ Swasta
▪ Paguyuban dan Lembaga Adat
potensi ▪ Masyarakat
▪ Lembaga Pendidikan
4 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ APBN ▪ Kementerian Pariwisata
Sillanan,
Wisata Sillanan ▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten

XI - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Gandangbatu ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
Sillanan ▪ Dinas Perindag.
5 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Buntu Burake ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan Makale
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Utara
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
6 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Bebo’ ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Bebo, Kecamatan
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Sangalla’ Utara
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
7 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Tumbang Datu Tumbang Datu, ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan ▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Sangalla’ Utara ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
8 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Bo’ne Lemo Menduruk ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Malimbong Balepe
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
9 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Potok Tengan Kandora ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Mengkendek
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
10 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Tongko Sarapung ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Sangalla
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
11 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Sassa’ ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Mengkendek
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
12 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Lemo ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan Makale
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Utara
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.

XI - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
13 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Saluallo ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Sangalla Utara
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
14 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Batu Tallu ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Simbuang
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
15 Pembentukan dan Pembinaan Desa ▪ Kementerian Pariwisata
Wisata Tiroan ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Kecamatan
▪ APBD Provinsi ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Bittuang
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
16 Pembangunan dan peningkatan ▪ Kementerian Pariwisata
koridor koneksitas/aksesibilitas ▪ APBN ▪ Kementerian PUPR
Antar KPP dan
▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
Lintas KPP
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
▪ Dinas PUPR
17 Penyediaan Angkutan khusus ▪ Kementerian Pariwisata
▪ APBD Provinsi
wisatawan ▪ Pemprov. Sulsel
▪ APBD Kabupaten
Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
▪ Swasta
▪ Dinas Perhubungan
▪ Masyarakat
▪ Perusahaan Angkutan.
18 Pembangunan Daya Tarik Wisata ▪ Kementerian Pariwisata
Buatan ▪ APBN ▪ Kementerian PUPR
DPK Makale dan
▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
Sekitarnya
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
▪ Dinas PUPR
19 pembangunan pusat wisata kuliner ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Nusantara Kota Makale dan ▪ Dinas PUPR
▪ APBD Kabupaten
sekitarnya ▪ Dinas Komerasi dan UMKM
▪ Dinas Perindag.
20 Pengembangan atraksi wisata Arum ▪ APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata
Jeram DPK Bagian Barat ▪ Swasta
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
▪ Masyarakat
22 Pembangunan Rest Area ▪ Kementerian Pariwisata
▪ APBN ▪ Kementerian PUPR
Setiap DPK Pintu
▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
Masuk Kabupaten
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
▪ Dinas PUPR

XI - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
22 Penyusunan Rencana Rinci/Master
Kecamatan ▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
Plan Kawasan Sekitar Bandara
Mengkendek ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas PUPR
Buntu Kuni.
23 Menyusun Master Plan ▪ Kementerian Lingkungan
▪ APBN
Pengembangan Pariwisata Alam Hidup dan Kehutanan
Kabupaten ▪ APBD Provinsi
Kawasan Hutan (RIPPAKH) ▪ Pemprov. Sulsel
▪ APBD Kabupaten
Kabupaten Tana Toraja ▪ Dinas Pariwisata
24 Kegiatan Kajian Geosite dalam
upaya Pengembangan Geopark
Kabupaten Tana ▪ APBD Provinsi ▪ BAPPEDA
Destinasi Pariwisata Lintas
Toraja ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
Kabupaten (Tana Toraja - Toraja
Utara)
25 Mendorong Pengembangan ▪ Kementerian Lingkungan
Geopark Destinasi Pariwisata Lintas Kabupaten Tana ▪ APBN Hidup dan Kehutanan
Kabupaten (Tana Toraja - Toraja Toraja dan Toraja ▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
Utara) Utara ▪ APBD Kabupaten ▪ BAPPEDA
▪ Dinas Pariwisata
26 Mendorong kerjasama antar ▪ Toraja Utara
kabupaten dalam pengembangan ▪ Pinrang ▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
destinasi pariwisata Lintas ▪ Mamasa ▪ APBD Kabupaten ▪ BAPPEDA Kabupaten
Kabupaten ▪ Palopo.
27 Pembangunan sarana wisata ▪ Kementerian Pariwisata
disetiap DTW ▪ APBN ▪ Kementerian PUPR
DTW Potensi ▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
▪ Dinas PUPR
28 Pengembangan komoditas ▪ Dinas Pertanian
DTW Berbasis ▪ APBD Provinsi
Perkebunan Agro dan Peternakan ▪ Dinas Peternakan
Agro ▪ APBD Kabupaten

29 Kerjasama Pengembangan Moda


▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
Angkutan Pariwisata lokal berbasis -
▪ Swasta ▪ Dinas Perhubungan
digital (Ojek Online)
III PROGRAM PERWUJUDAN PEMBANGUNAN INDUSTRI PARIWISATA
1 Pengembangan manajemen atraksi ▪ APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata
- ▪ Swasta
▪ Dinas Kebudayaan
▪ Masyarakat
2 Pengemasan produk wisata ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
- ▪ Swasta ▪ Dinas Kebudayaan
▪ Masyarakat ▪ Pelaku Usaha Pariwisata

XI - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
3 Fasilitasi akses permodalan usaha ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
pariwisata skala usaha mikro, kecil - ▪ Swasta ▪ Dinas Koperasi dan UMKM.
dan menengah ▪ Masyarakat ▪ Pelaku Usaha Pariwisata
4 Peningkatan Kualitas dan ▪ Dinas Pariwisata
▪ APBD Kabupaten
Keragaman Produk-Produk Usaha ▪ Dinas Koperasi dan UMKM.
- ▪ Swasta
Pariwisata ▪ Dinas Perindag.
▪ Masyarakat
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
5 Penguatan kemitraan antarusaha ▪ Dinas Pariwisata
▪ APBD Kabupaten
kepariwisataan dengan industri ▪ Dinas Koperasi dan UMKM.
- ▪ Swasta
kecil dan UMKM di perdesaan ▪ Dinas Perindag.
▪ Masyarakat
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
6 Fasilitasi pelaksanaan pendidikan ▪ Dinas Pariwisata
▪ APBD Kabupaten
dan pelatihan pengembangan ▪ Dinas Koperasi dan UMKM.
- ▪ Swasta
potensi UMKM sebagai produk ▪ Dinas Perindag.
▪ Masyarakat
pariwisata ▪ Pelaku Usaha Pariwisata
7 Standardisasi akomodasi pariwisata ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
-
▪ Swasta ▪ Pelaku Usaha Pariwisata
8 Pengembangan dan Pelatihan ▪ APBN ▪ Kementerian Pariwisata
penyediaan Homestay Setiap DKP dan ▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
KSP ▪ APBD Kabupaten ▪ BAPPEDA
▪ Masyarakat. ▪ Dinas Pariwisata
9 Menetapkan mekanisme pelayanan ▪ BAPPEDA
- ▪ APBD Kabupaten
pariwisata bagi pelaku usaha. ▪ Dinas Pariwisata
10 Perumusan dan Pelaksanaan ▪ Dinas Pariwisata
▪ APBD Kabupaten
Bentuk insentif dan akses ▪ Dinas Koperasi dan UMKM.
- ▪ Swasta
permodalan bagi usaha pariwisata ▪ Dinas Perindag.
▪ Masyarakat
skala UMKM ▪ Pelaku Usaha Pariwisata
11 Perumusan dan Pelaksanaan ▪ Dinas Pariwisata
▪ APBD Kabupaten
bentuk penjaminan usaha (regulasi) ▪ Dinas Koperasi dan UMKM.
- ▪ Swasta
dan fasilitasi ▪ Dinas Perindag.
▪ Masyarakat
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
12 Dorongan pemberian insentif untuk
▪ BAPPEDA
menggunakan produk dan tema
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
yang memiliki keunikan dan
▪ Dinas Koperasi dan UMKM
kekhasan lokal Tana Toraja
IV PROGRAM PERWUJUDAN PEMBANGUNAN PEMASARAN PARIWISATA
1 Pembuatan dan pengelolaan ▪ Dinas Pariwisata
aplikasi digitial tentang destinasi - APBD Kabupaten ▪ Dinas Kominfo.
Tana Toraja ▪ Dinas Kebudayaan

XI - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
2 Pembuatan materi-materi promosi ▪ Dinas Pariwisata
▪ APBD Kabupaten
yang berkelanjutan (foto, video, - ▪ Dinas Kominfo.
▪ Swasta
website, e-guide book, dll) ▪ Pelaku Usaha Pariwisata
3 Pembuatan materi interpretasi ▪ BAPPEDA
tentang daya tarik wisata ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
-
▪ Swasta ▪ Diskominfo.
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
4 Kerjasama lintas sektor, dan
▪ BAPPEDA
wilayah dalam pemasaran - APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata
pariwisata
6 Pembentukan paket-paket wisata
DPK dan lintas ▪ Dinas Pariwisata
berdasarkan perwilayahan destinasi APBD Kabupaten
DPK ▪ Dinas Kebudayaan
pariwisata.
7 Pengembangan riset terhadap ▪ BAPPEDA
kecenderungan minat wisatawan - APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
▪ Dinas Kebudayaan
8 Pelaksanaan penelitian dan ▪ BAPPEDA
pengembangan pasar wisatawan ▪ Dinas Pariwisata
- APBD Kabupaten
▪ Dinas Kebudayaan
▪ Dinas Pendidikan
9 Pelaksanaan penelitian dan ▪ BAPPEDA
pengembangan daya saing produk ▪ Dinas Pariwisata
- APBD Kabupaten
pariwisata daerah ▪ Dinas Kebudayaan
▪ Dinas Pendidikan
10 Pelaksanaan penelitian dan ▪ BAPPEDA
pengembangan kemitraan usaha ▪ Dinas Pariwisata
- APBD Kabupaten
pariwisata ▪ Dinas Kebudayaan
▪ Dinas Pendidikan
11 Pembuatan instrumen evaluasi
terhadap perkembangan ▪ Dinas Pariwisata
penyediaan prasarana dan sarana APBD Kabupaten ▪ Dinas Kebudayaan
wisata serta kecenderungan minat ▪ Dinas PUPR
wisatawan
12 Pembuatan materi promosi secara ▪ BAPPEDA
regular dan berkelanjutan (foto, ▪ Dinas Kominfo.
▪ APBD Kabupaten
video, website, e-guide book, dll) ▪ Dinas Pariwisata
▪ Swasta
▪ Dinas Kebudayaan
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
13 Pembuatan dan pengelolaan
▪ Dinas Kominfo.
aplikasi digitial tentang destinasi APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata
Tana Toraja

XI - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
V PROGRAM PERWUJUDAN PEMBANGUNAN KELEMBAGAAN DAN SDM PARIWISATA
1 Pembentukan kelembagaan lintas ▪ APBD Kabupaten
sektor didaerah - ▪ Swasta BAPPEDA
▪ Masyarakat
2 Pemantapan fungsi pusat informasi ▪ Kemeterian Pariwosata
▪ APBN
pariwisata/TIC ▪ Pemprov. Sulsel
- ▪ APBD Provinsi
▪ BAPPEDA
▪ APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
3 Penguatan peran pemerintah dalam ▪ Kementerian Pariwisata
▪ APBN
dalam pengelolaan pariwisata ▪ Pemprov. Sulsel
- ▪ APBD Provinsi
▪ BAPPEDA
▪ APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
4 Penguatan organisasi profesi ▪ Kementerian Pariwisata
pariwisata ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
▪ APBD Provinsi ▪ BAPPEDA
-
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
▪ Swasta ▪ Pelaku/organisasi Usaha
Pariwisata
5 Peningkatan kapabilitas peran ▪ BAPPEDA
▪ APBD Kabupaten
Destination Management - ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
▪ Swasta
Organisation (DMO) ▪ Pelaku Usaha Pariwisata
6 Penguatan organisasi industri ▪ BAPPEDA
pariwisata ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
- ▪ Swasta ▪ Dinas Kebudayaan
▪ Masyarakat. ▪ Dinas Koperasi dan UMKM.
▪ Dinas Perindag.
7 Penguatan organisasi pariwisata ▪ Kementerian Pariwisata
▪ APBN
berbasis masyarakat ▪ Pemprov. Sulsel
▪ APBD Provinsi
▪ BAPPEDA
- ▪ APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata
▪ Swasta
▪ Dinas Kebudayaan
▪ Masyarakat.
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
2 Pembentukan dan Pembinaan
komunitas masyarakat/Kelompok Setiap Desa ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Koperasi dan UMKM
Sadar Wisata (POKDARWIS) Wisata ▪ Swasta ▪ Pelaku Usaha Pariwisata
penunjang Desa Wisata
3 Pembentukan peraturan
perundangan tentang ketentuan
▪ BAPPEDA
pemafaatan keanekaragaman - APBD Kabupaten
▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
budaya dan sejarah sebagai daya
tarik dan atraksi wisata.

XI - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
4 Pembangunan skema bantuan ▪ BAPPEDA
pendidikan dan pelatihan, serta ▪ Dinas Pariwisata
- APBD Kabupaten
kerjasama lembaga pendidikan bagi ▪ Dinas Kebudayaan
peningkatan SDM pariwisata lokal ▪ Lembaga Pendidikan
5 Kerjasama antar daerah dengan
▪ BAPPEDA
lembaga pendidikan dalam
▪ Dinas Pariwisata
mengembangkan program-program - APBD Kabupaten
▪ Dinas Kebudayaan
studi berbasis kepariwisataan di
▪ Lembaga Pendidikan
daerah
6 Survei kepuasan wisatawan di DTW ▪ BAPPEDA
dan usaha pariwisata ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
- APBD Kabupaten ▪ Dinas Pendidikan
▪ Lembaga Pendidikan
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
7 Penelitian akan kebutuhan SDM ▪ BAPPEDA
bagi industri pariwisata ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
- APBD Kabupaten
▪ Dinas Pendidikan
▪ Lembaga Pendidikan
8 Penelitian eksistensi (peran dan ▪ BAPPEDA
kolaborasi) lembaga-lembaga ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
APBD Kabupaten
pariwisata dalam pengembangan - ▪ Dinas Kebudayaan
Swasta
dan pengelolaan pariwisata ▪ Lembaga Pendidikan
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
9 Pelatihan, workshop dan sertifikasi ▪ BAPPEDA
kompetensi SDM Pariwisata bagi ▪ Dinas Kebudayaan
APBD Kabupaten
dunia usaha - ▪ Dinas Pariwisata Kabupaten
Swasta
▪ Lembaga Pendidikan
▪ Pelaku Usaha Pariwisata
10 Pemberdayaan masyarakat sekitar ▪ BAPPEDA
DTW dalam pemeliharaan DTW ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
melalui mekanisme insentif ▪ Swasta ▪ Dinas Kebudayaan
▪ Masyarakat. ▪ Dinas Perindag.
▪ Lembaga Usaha Pariwisata
11 Pelatihan dan workshop ▪ Kementerian Pariwisata
Peningkatan kapabilitas SDM ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
Pariwisata di tingkat Pemerintah ▪ APBD Provinsi ▪ BAPPEDA
▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
▪ Dinas Kebudayaan
12 Pelatihan dan pendampingan ▪ APBN ▪ Kementerian Pariwisata
Peningkatan kapabilitas masyarakat ▪ APBD Provinsi ▪ Pemprov. Sulsel
dalam pengelolaan pariwisata ▪ APBD Kabupaten ▪ BAPPEDA
▪ Swasta ▪ Dinas Pariwisata

XI - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

POGRAM KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN


No LOKASI SUMBER DANA INSTANSI PELAKSANA
PEMBANGUNAN 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
secara khusus berinovasi dan ▪ Dinas Kebudayaan
berkreasi dalam bidang pariwisata ▪ Pelaku Usaha Pariwisata
13 Pelatihan dan workshop bagi ▪ Kementerian Pariwisata
masyarakat lokal (upaya ▪ APBN ▪ Pemprov. Sulsel
membangun kesadaran ▪ APBD Provinsi ▪ BAPPEDA
masyarakat) terhadap pelayanan ▪ APBD Kabupaten ▪ Dinas Pariwisata
wisatawan ▪ Swasta ▪ Dinas Kebudayaan
▪ Pelaku Usaha Pariwisata

XI - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030

DAFTAR PUSTAKA T

Literatur Buku: Perundang-Undangan:


1. UU. No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
1. Alastair M. Morrison. (2010). Hospitality & Travel Marketing. Usa : Delmar Cengange
Learning; 2. UU. No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;

2. Badan Pusat Statistik. 2020. Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka. Makale. 3. UU. No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang;

3. Burkart, A.J. dan Medlik, S. 1987. Tourism, Past, Present, and Future. London; 4. PP. No. 50 Tahun 2011 tentang RIPPARNAS Tahun 2010-2025;

4. Bungin, Burhan. 2015. Komunikasi Pariwisata (Tourism Communication) Pemasaran dan 5. Perpres No. 14 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 64
Brand Destinasi. Jakarta: Prenadamedia Group. Tahun 2014 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Kepariwisataan

5. Hainim Bem, Pengantar Pariwisata, STIEPAR, Bandung; 6. Permendagri. No. 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pembangunan Ekowisata Di Daerah;

6. Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar 7. Permenpar. No. 37 Tahun 2007 tentang Kriteria Destinasi Unggulan;
Yogyakarta; 8. Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana
7. Kementerian PUPR. 2016. Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu Kawasan Strategis Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota;
Pariwisata Pegunungan dan Budaya KSPN Toraja. Jakarta; 9. Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata
8. Kusudianto Hadinoto, 1996, Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata, Penerbit Berkelanjutan;
Universitas Indonesia, Jakarta; 10. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014 tentang Perubahan
9. Kotler Philip, Amstrong Gary. 2013. Prinsip-prinsip Pemasaran, Edisi ke-12. Penerbit Atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 53 Tahun 2013 tentang
Erlangga. Standar Usaha Hotel

10. Koentjaraningrat. 2009. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Gramedia 11. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 27 Nomor 2014 Tentang Standar
Usaha Taman Rekreasi;
11. Marpaung. H, 2002, Pengetahuan Kepariwisataan, Penerbit Alfabeta, Bandung;
12. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 9 Tahun 2014 Tentang Standar
12. Pitana, I Gde, 2005, Sosiologi Pariwisata, Penerbit Andi, Yogyakarta
Usaha Pondok Wisata;
13. Rudana, Nyoman. 2008. Strategi Pengembangan Pariwisata Bali. Jakarta: Lembaga
13. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 14 Tahun 2014 Tentang Standar
Administrasi Negara;
Usaha Angkutan Jalan Wisata;
14. Salah Wahab, 1988, Pemasaran Pariwisata, PT. Pradnya Pramita, Jakarta;
14. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 17 Tahun 2014 Tentang Standar
15. Sunaryo. 2013. Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata, Konsep dan Aplikasinya. Usaha Kawasan Pariwista;
Gava Media. Yogyakarta
15. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 27 Tahun 2014 Tentang Standar
16. Swarbrooke. 1996. Pengembangan Pariwisata. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Usaha Taman Rekreasi;
17. Yoeti, Oka, A. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa. 16. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang RIPPARPROV
18. ________. 1997. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Pradnya Paramita. Jakarta; Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030;

19. ________. 2003. Tours and Travel Marketing. Pradnya Paramita. Jakarta; 17. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Tentang RPJMD Kabupaten Tana Toraja;

20. ________. 2008. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita; 18. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja No. 12 Tahun 2011 Tentang RTRW Kabupaten
Tana Toraja Tahun 2011-2031;

Anda mungkin juga menyukai