Rencana Pembangunan Pariwisata Tana Toraja
Rencana Pembangunan Pariwisata Tana Toraja
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME, atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Antara / Fakta dan Analisis
Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja ini dan semoga rangkaian kegiatan pada
proses ini selalu didalam bimbingannya.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam proses penyusunan Laporan ini hingga dapat selesai
dengan waktu yang ditentukan. Tak lupa pula kami menghaturkan permohonan
maaf jika terdapat kekeliruan dalam penulisan laporan ini. Kami juga meminta
masukan dan saran kepada pihak terkait demi tercapainya pelaksanaan kegiatan
kedepannya dengan lebih baik.
Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat bagi seluruh stakeholders, atas segala
bantuan dan dukungan yang telah diberikan semua pihak dalam penyelesaian
laporan ini, kami mengucapkan terimakasih.
Makale, 2020
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG .................................................................... I-1
1.2. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN ............................................. I-6
1.3. KELUARAN ............................................................................... I-7
1.4. RUANG LINGKUP...................................................................... I-7
1.4.1. Lingkup Wilayah............................................................ I-7
1.4.2. Lingkup Materi .............................................................. I-7
1.4.3. Lingkup Kegiatan .......................................................... I-8
1.5. JANGKA WAKTU PERENCANAAN ............................................... I-8
1.6. DASAR HUKUM ........................................................................ I-8
1.6.1 Undang-undang ............................................................ I-8
1.6.2 Peraturan Pemerintah ................................................... I-10
1.6.3 Peraturan Menteri ......................................................... I-11
1.6.4 Peraturan Daerah.......................................................... I-12
1.7. PENGERTIAN UMUM ................................................................ I-13
1.8. SISTEMATIKA LAPORAN ........................................................... I-16
BAB VI PENUTUP
6.1 KESIMPULAN ....................................................................... VI-1
6.2 KEGIATAN SELANJUTNYA..................................................... VI-3
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Luas Wilayah Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 ................. III-2
Tabel 3.2 Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 .. III-6
Tabel 3.3 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku
Kabupaten Tana Toraja, 2015-2019 ........................................ III-35
Tabel 3.4 Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2019 ........................................................................... III-37
Tabel 3.5 Ruas-ruas Jalan di kabupaten Tana Toraja .............................. III-40
Tabel 4.1 Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2020 ........................................................................... IV-4
Tabel 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2020 ........................................................................... IV-20
Tabel 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2020 ........................................................................... IV-49
Tabel 4.4 Fasilitas Perbankan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020..... IV-59
Tabel 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana
Toraja, Tahun 2020................................................................ IV-63
Tabel 4.6 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 IV-69
Tabel 4.7 Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana
Toraja, Tahun 2020................................................................ IV-70
Tabel 4.8 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 .......... IV-79
Tabel 4.9 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2019 ........................................................................... IV-81
Tabel 4.10 Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten
Tana Toraja, Tahun 2018 ....................................................... IV-83
Tabel 4.11 Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten
Tana Toraja, Tahun 2018 ....................................................... IV-83
Tabel 5.1 Dukungan Program Pembangunan Kepariwisataan Nasional dan
Provinsi di Kabupaten Tana Toraja.......................................... V-3
Tabel 5.2 Matriks Analisis Supply (Penawaran) Wisata ............................ V-7
Tabel 5.3 Matriks Analisis Demand (Permintaan) .................................... V-14
Tabel 5.4 Kriteria Mutlak Standar Hotel Berbintang................................. V-19
Tabel 5.5 Kriteria Mutlak Standar Hotel Non Berbintang.......................... V-20
Tabel 5.6 Akomodasi Jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 V-22
Tabel 5.7 Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-30
Tabel 5.8 Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-31
Tabel 5.9 Rangkuman Kajian Komponen Industri Pariwisata Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-33
Tabel 5.10 Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010
– 2019 ................................................................................... V-39
Tabel 5.11 Kunjungan Wisatawan Nusantara di Kabupaten Tana Toraja
Tahun 2009 – 2019 ................................................................ V-40
Tabel 5.12 Kunjungan Wisatawan Mancanegara di Kabupaten Tana Toraja
Tahun 2010 – 2019 ................................................................ V-41
Tabel 5.13 Potensi Kawasan Destinasi Wisata Kabupaten Tana Toraja ...... V-50
Tabel 5.14 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-61
Tabel 5.15 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja ........................................................................... V-64
Tabel 5.16 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana
Toraja.................................................................................... V-67
Tabel 5.17 Matriks Analisis SWOT Industri Pariwisata Kabupaten Tana
Toraja.................................................................................... V-70
Tabel 5.18 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata
Kabupaten Tana Toraja .......................................................... V-72
Tabel 5.19 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan dan SDM Pariwisata
Kabupaten Tana Toraja .......................................................... V-74
Tabel 5.20 Keterkaitan Alternatif Strategi Terhadap Unsur Pariwisata ....... V-76
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR PUSTAKA
Literatur Buku:
Perundang-Undangan:
1. UU. No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
2. UU. No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;
3. UU. No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang;
4. PP. No. 50 Tahun 2011 tentang RIPPARNAS Tahun 2010-2025;
5. Perpres No. 14 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden
Nomor 64 Tahun 2014 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor
Penyelenggaraan Kepariwisataan
6. Permendagri. No. 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pembangunan Ekowisata
Di Daerah;
7. Permenpar. No. 37 Tahun 2007 tentang Kriteria Destinasi Unggulan;
8. Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 Tahun 2016 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan
Kabupaten/Kota;
9. Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi
Pariwisata Berkelanjutan;
10. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 53
Tahun 2013 tentang Standar Usaha Hotel
11. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 27 Nomor 2014
Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;
12. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 9 Tahun 2014 Tentang
Standar Usaha Pondok Wisata;
13. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 14 Tahun 2014 Tentang
Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata;
14. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 17 Tahun 2014 Tentang
Standar Usaha Kawasan Pariwista;
15. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 27 Tahun 2014 Tentang
Standar Usaha Taman Rekreasi;
16. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang
RIPPARPROV Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030;
17. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Tentang RPJMD Kabupaten Tana
Toraja;
18. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja No. 12 Tahun 2011 Tentang RTRW
Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031;
1
1.1 LATAR BELAKANG
Pariwisata merupakan kegiatan multi dimensional yang menyentuh berbagai aspek
kehidupan baik politik, hukum, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya
masyarakat. Pengembangan kepariwisataan tidak hanya mempunyai tujuan akhir
berupa output ekonomi atau nilai finansial yang diperoleh tetapi juga menyangkut
persoalan sosial, agama, budaya dan keamanan yang bahkan menjadi nilai utama
pariwisata untuk dieksploitasi menjadi daya tarik wisata yang mempunyai daya jual
tinggi.
Dalam era modern seperti sekarang ini, pariwisata telah menjadi komponen katalis
perkembangan fisik kawasan (tidak merupakan penyebab utama, namun
memberikan kontribusi pada percepatan pertumbuhan dan perubahan kawasan)
baik berupa perkembangan fisik, ekonomi maupun sosial budaya masyarakat.
Industri pariwisata merupakan alternatif kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan
sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
sehingga dituntut untuk berkembang dengan baik dan menghasilkan produk yang
dapat diunggulkan. Hal ini dapat dicapai dengan kemauan politik pemerintah yang
memberikan landasan hukum serta kesadaran masyarakat untuk dapat
berintegrasi serta melibatkan diri sebagai bagian dalam proses sehingga dapat
menghasilkan produksi unggulan dalam seluruh kegiatan industri pariwisata.
Bagi sebagian daerah, pariwisata dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk
meningkatkan kinerja pembangunannya. Namun demikian, untuk mencapai hal
tersebut memerlukan suatu kerja ekstra dari berbagai pihak (stakeholders) baik
Salah satu upaya yang dapat mengantisipasi hal tersebut adalah melalui
perencanaan yang matang dan komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak
untuk merumuskan masalah-masalah yang timbul pada proses pengembangan
dan harus dapat menampung dan menanggapi aspirasi-aspirasi masyarakat serta
berusaha menggali potensi-potensi yang terkandung didalamnya. Atas dasar
tersebut, maka konsep pengembangan yang merupakan penentu kebijakan
pengembangan suatu pariwisata dapat disusun. Dengan kata lain konsep rencana
pengembangan kepariwisataan selain merupakan suatu penuntun didalam
menanggulangi berbagai kendala yang muncul diharapkan juga menjadi kerangka
tindak lanjut dalam pemenuhan tuntutan dan kebutuhan serta keinginan bagi
wisatawan dimasa yang akan datang dengan memperhatikan tingkatan budaya,
sejarah dan ekonomi dari daerah tujuan wisata.
Kabupaten Tana Toraja yang dikenal sebagai ikon pariwisata di Provinsi Sulawesi
Selatan, memiliki berbagai potensi wisata yang cukup prospektif untuk
dikembangkan. Pembangunan kepariwisataan didaerah ini cukup pesat dalam
mengembangkan kawasan-kawasan wisata yang dianggap menjadi daya tarik
wisata yang cukup diminati oleh wisatawan. Hal ini perlu didukung dengan
perencanaan yang komperhensif dan berkelanjutan terhadap potensi
kepariwisataan yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja. Pembangunan
Dengan demikian, maka RIPPAR-KAB Tana Toraja perlu disusun agar sesuai
dengan kondisi kekinian sehingga seluruh potensi daya tarik wisata dapat
dikembangkan dengan baik dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata, mendorong peningkatan ekonomi
masyarakat dari sektor pariwisata, serta pemanfaatan sumber daya alam yang
optimal.
Sedang tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Sebagai pedoman dan arah kebijakan pembangunan kepariwisataan Tana
Toraja.
2. Memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai pengembangan potensi
kepariwisataan yang meliputi daya tarik wisata, usaha sarana wisata, usaha
jasa wisata dan usaha lain pendukung pariwisata.
3. Menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan ( stakeholders)
kepariwisataan di Tana Toraja agar dapat bersinergi secara positif dalam
pengembangan kepariwisataan.
Adapun sasaran yang harus dicapai untuk mewujudkan tujuan dari pekerjaan
Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA)
Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berikut:
1.3 KELUARAN
Output dari kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10
Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota, dengan muatan rencana diantaranya
sebagai berikut:
1. Pendahuluan;
2. Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Kebijakan Pembangunan
Kepariwisataan;
3. Kondisi Wilayah Kabupaten Tana Toraja Dalam Mendukung Pembangunan
Kepariwisataan;
4. Kabupaten Tana Toraja Sebagai Destinasi Pariwisata;
5. Industri Pariwisata;
6. Pasar pariwisata;
7. Kelembagaan Pariwisata;
8. Prinsip dan Konsep Pembangunan Kepariwisataan;
9. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan;
10. Rencana Pengembangan Perwilayahan Pariwisata; dan
11. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan.
18. Usaha Angkutan Jalan Wisata adalah penyediaan angkutan orang untuk
kebutuhan dan kegiatan pariwisata..
19. Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata adalah rumusan kualifikasi Usaha
Angkutan Jalan Wisata dan/atau klasifikasi Usaha Angkutan Jalan Wisata yang
mencakup aspek produk, pelayanan dan pengelolaan Usaha Angkutan Jalan
Wisata.
20. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya,
dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan
keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.
21. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia,
baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau
bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan
kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
22. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam
atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding
dan/atau tidak berdinding, dan beratap.
23. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang
mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau
Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian
pada masa lalu.
24. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs
Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan
ciri tata ruang yang khas.
25. Desa Wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan
fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan
masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.
26. Pemberdayaan masyarakat adalah menciptakan/meningkatkan kapasitas
masyarakat baik secara individu maupun berkelompok dalam memecahkan
berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan
kesejahteraannya.
BAB 1 : PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran,
ruang lingkup, dasar hukum kegiatan, istilah dan definisi, dan
sistematika laporan pendahuluan.
BAB 6 : PENUTUP
Menguraikan tentang Kesimpulan Laporan Fakta dan Analisis sebagai
dasar dalam perumusan konsep rencana serta arahan pelaporan
selanjutnya yaitu Laporan Rencana.
DAFTAR PUSTAKA
2
2.1 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL
Pembangunan kepariwisataan nasional tercermin pada Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2009, yang menyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan nasional
diselenggarakan berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan yang
meliputi perencanaan pembangunan industri pariwisata, destinasi pariwisata,
pemasaran pariwisata, dan kelembagaan kepariwisataan, dan terdiri atas
RIPPARNAS, RIPPAR-PROV, dan RIPPAR-KAB/KOTA.
1. Makna politis, sebagai upaya memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa guna
menggalang persatuan dan kesatuan;
2. Makna ekonomis, sebagai upaya untuk memperkuat perekonomian negara;
3. Makna sosial budaya, sebagai upaya untuk mempertinggi kesadaran dan
kesediaan untuk mempertahankan kebudayaan dan kepribadian bangsa.
2. Produk Wisata
Produk wisata diutamakan pada dua kegiatan berikut:
a. Pemantapan pengembangan produk wisata di daerah wisata Kawasan
Barat Indonesia dengan melakukan usaha-usaha ekstensifikasi,
intensifikasi dan konsolidasi produk.
b. Peningkatan daya saing produk wisata di pasar internasional, melalui
inovasi dan diversifikasi (misalnya pengembangan wisata bahari,
agrowisata, ecotourism, dan wisata minat khusus lainnya), upaya
standarisasi dan pemantauan mutu produk.
3. Prasarana dan Aksesibilitas
a. Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana umum seperti jaringan
jalan, jaringan listrik, jaringan air bersih, dan jaringan telekomunikasi
untuk mempercepat pengembangan objek dan daya tarik wisata dan
kawasan pariwisata.
b. Peningkatan aksesibilitas (udara, laut, dan darat) ke dan dari negara
sumber wisatawan dan antar daerah di Indonesia melalui percepatan
perluasan fasilitas bandara, pelabuhan laut, dan terminal darat di lokasi
tertentu melalui kemitraan swasta.
c. Swastanisasi atau aliansi penerbangan nasional dengan penerbangan
asing untuk meningkatkan kapasitas tempat duduk.
4. Investasi
a. Pengarahan investasi pada pengembangan pariwisata ke Kawasan Timur
Indonesia melalui pemberian insentif dan kemudahan sesuai dengan
kondisi masing-masing daerah dengan tetap mendorong peningkatan
investasi di Kawasan Barat Indonesia, agar pengembangan pariwisata
merata di setiap kawasan.
b. Pengupayaan percepatan penyelesaian penataan ruang dan peruntukan
tanah yang pasti untuk mendukung kemudahan dan keamanan investasi
pariwisata.
5. Perwilayahan
a. Penyesuaian pembangunan daerah tujuan wisata, dengan potensi
masing-masing dengan mempertimbangkan sasaran pasar utama yang
Gambar 2.1 Peta Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Toraja-Lorelindu dan Sekitarnya
(Sumber: PP 50 tahun 2011 tentang RIPPARNAS, Lampiran II)
sisi produk, pasar, spasial, sumber daya manusia, manajemen, dan sebagainya
sehingga pariwisata Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara postif dan
berkelanjutan bagi pengembangan wilayah dan kesejahteraan masyarakat, (2)
mengatur peran setiap stakeholders terkait baik lintas sektor, lintas pelaku,
maupun lintas daerah/wilayah agar dapat mendorong pengembangan pariwisata
secara sinergis dan terpadu.
Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam PP No. 50 Tahun 2011 adalah
meningkatkan: 1) jumlah kunjungan wisatawan mancanegara; (2) jumlah
pergerakan wisatawan nusantara; (3) jumlah penerimaan devisa dari wisatawan
mancanegara; (4) jumlah pengeluaran wisatawan nusantara; dan (5) produk
domestic bruto di bidang kepariwisataann.
PP No. 50 Tahun 2011 ini juga membagi perwilayahan DPN, yaitu 50 DPN yang
tersebar di 33 provinsi, dan 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang
tersebar di 50 DPN. Adapun syarat untuk menjadi DPN dan KSPN secara rinci
dijelaskan dalam ayat 1 dan 2 pasal 10 PP No. 50/2011, diantaranya yaitu DPN
ditentukan dengan kriteria:
4. Terbangunnya Fasilitas atau infrastruktur penyediaan air minum dan air bersih
sebesar 100 lps untuk masing masing kabupaten yang masuk ke KSPN Tana
Toraja, dimana teknisnya masing-masing SPAM terbagi dengan Kapasitas @20
lps, dengan total layanan masing, masing 10.000 pelanggan untuk Kabupaten
Tana Toraja dan 10.000 pelanggan.
5. Pengembangan 16 Destinasi pariwisata Prioritas KSPN Toraja menjadi
destinasi Wisata berkelas Dunia lengkap dengan sarana sanitasi,
lapangan parkir yang memadai, kios kios penjual souvenir yang tertata apik,
dan gapura masuk destinasi wisata yang bagus dan menarik dimana terdiri
dari 9 kawasan Wisata Prioritas di Kabupaten Tana Toraja dan 9 Destinasi
Wisata Prioritas di Kabupaten Toraja; dan
6. Pembangunan Jalur Kereta Api Trans Sulawesi yang merupakan jalur logistik
dan jalur transportasi wisatawan, bagi wisatawan yang mendarat di Makasar
dan melanjutkan ke KSPN Toraja menggunakan Jalur darat.
7. Pengembangan Pelabuhan Pare Pare dan Pelabuhan Mamuju sebagai sarana
transportasi moda laut yang membawa wisatawan baik dari Kalimantan
maupun dari wilayah barat pulau Sulawesi lainnya, atau sebagai jalur logistik
komoditas potensial KSPN Tana Toraja seperti Kopi dan Padi.
8. Pengembangan Pelabuhan Pelayaran Yacth di Palopo sebagai alternatif moda
transportasi wisatawan mancanegara yang menggunakan kapal yacth/pesiar
selama berkunjung di kawasan perairan wisata di sekitar sulawesi selatan dan
tenggara.
9. Program Ketahanan Pangan untuk mendukung aktivitas pariwisata dan
aktivitas masyarakat dengan melakukan program O & P bangunan jaringan
Irigasi Teknis yang ada di KSPN Toraja.
10. Handalnya Kondisi jalan Poros Enrekang-Makale-Rotenpao-Palopo untuk
mendukung kelancaran aktivitas wisatawan dan aktivitas logistik komoditas
unggulan KSPN Toraja.
▪ Panjat Tebing
▪ Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring.
5. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
▪ Permandian alam Tilanga’
▪ Makam adat Sirope
▪ Tongkonan Mandetek
▪ Agrowisata Rante Lingkua’
▪ Makam Bayi –Passilliran Alla
6. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek pendukung:
▪ Rumah Adat Pattan
▪ Talion
▪ Benteng Pongtiku, Boronan
▪ Likunna Makuyo
▪ Atraksi Budaya
▪ Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’
7. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakadeng dengan objek
pendukung:
▪ Air terjun Salu Bitu
▪ Permandian Air Panas Ratte Buttu
▪ Liang pahat
▪ Permandian Air Panas Bake’
▪ Panorama Alam.
8. Kawasan Batu Tallu Simbuang di Simbuang dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Kolam Alam Limbong Deata
▪ Tedong-tedong
▪ Liang pahat
▪ Kolam Alam Kondo Dewata
▪ Batu Sittene
9. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek pendukung:
▪ Agrowisata Bolokan
▪ Hutan Wisata
▪ Kuburan Batu
▪ Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
14. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek
penunjang:
▪ Desa Wisata
▪ Rumah Adat
▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
▪ Benteng To Pada Tindo
▪ Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
▪ Passiliran Kambisa
▪ Kerajinan seni ukir
15. Kawasan Desa Wisata Kete Kesu di Kec. Kete: dengan objek penunjang:
▪ Desa Wisata
▪ Rumah Adat
▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
▪ Goa Alam
▪ Kerajinan seni ukir
16. Kawasan Wisata Batutumonga; dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Tracking
▪ Sepeda Gunung
▪ Wisata Berkuda
▪ Atraksi seni budaya
▪ Agrowisata.
17. Kawasan Wisata Lolai; dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Tracking
▪ Sepeda Gunung
▪ Wisata Berkuda
▪ Atraksi seni budaya
▪ Agrowisata.
▪ Pasar Hewan Bolu; dengan objek pendukung :
Terdapat dua jenis dari kopi Toraja yaitu, kopi jenis arabica dan kopi jenis robusta.
Kedua kopi ini memiliki ciri khasnya sendiri dan sama-sama memiliki rasa yang
enak. Kopi Toraja arabica memiliki rasa yang kaya, selain itu kopi jenis ini juga
memiliki rasa yang kuat sehingga banyak orang yang menyukai kopi ini. Semua
kopi mempunyai rasa pahit tersendiri, namun kopi ini memiliki keunggulan di
banding dengan kopi yang lain. Kopi arabica memang juga memiliki rasa pahit,
namun asa pahit yang dimilikinya ini akan cepat hilang seiring kopi yang kita minum
tertenggak.
Kopi Toraja jenis arabica ini merupakan kopi yang berasal dari Indonesia. Kopi ini
sungguh membanggakan Indonesia karena dapat diterima di pasar internasional.
Eksistensinya di kancah luar negeri nampaknya tidak main- main. Hal ini terbukti
dengan masuknya kopi arabica sebagai jejeran tiga besar kopi yang terbaik,
bahkan mayoritas produksi kopi Toraja jenis arabica di ekspor semua ke beberapa
negara peminum kopi seperti: Jepang, Taiwan, Amerika Serikat dan beberapa
negara di Eropa.
Indonesia sejajar dengan daerah lain yang telah maju seperti Bali di samping
pengembangannya untuk mengurangi disparitas serta kesenjangan pertumbuhan
antara Bagian selatan atau kota makasar – Bagian utara (Toraja-Toraja Utara-
Enrekang-Luwu) khususnya juga selain mengembangkan KSPN Toraja dan
sekitarnya juga Mengoptimalkan potensi SDA dan mengolahnya di industri
pengolahan yang direncanakan pada kawasan prioritas. Untuk menjelaskan
tentang kebutuhan infrastruktur di KSPN Toraja berikut diberikan deskripsi
kebutuhan per Kawasan prioritas dan simpul produksi yang diharapkan dapat
terpenuhi atau terlayani pada tahun 2026.
15. Sistem TPA eksisiting tidak mampu mendukung penangann timbulan sampah
akibat aktivitas masyarakat dan akibat aktivitas wisatawan, dimana TPA
eksisting masih menggunakan sistem “Open Dumping” dimana kedepannya di
harapakan adanya TPA sanitary Landfill pada sistem Landfill nya dengan luas
masing-masing kabupaten di KSPN Toraja adalah seluas 6 Ha di lengkapi
infrastruktur TPA yang lengkap dengan konsep 3 R.
16. Belum adanya Infrastruktur IPLT guna penanganan Limabh Tinja yang di
akibatkan dari aktivitas masyarakat dan aktivitas wisatawan dimana di masing-
masing kabupaten di rencanakan dalam waktu dekat akan di bangun IPLT
dengan kapasitas 30 M3/hari
17. Masih di buangnya limbah atau kotoran hewan ke sungai, sehingga
memerlukan suatu infrastruktur pengolahan air Limbah ternak dengan
kapasitas + 5 M3/hari, terutama di lokasi pasar Bolu.
18. Normalisasi sungai dimana di fungsikan saat ini sebagai sumber air irigasi dan
sumber air baku masyarakat.
19. Kebutuhan Infrastruktur jalan yang mampu mendukung Distribusi produk kopi
dan produk pertanian serta perkebunan lainnya untuk keperluan eksport
keluar negeri maupun pemenuhan kebutuhan dalam negeri
20. Kebutuhan Infrastruktur Energi Listrik untuk mendukung aktivitas masyarakat
dan aktivitas kepariwisataan sebesar 40-50 MWatt.
21. Kebutuhan Infrastruktur Pelabuhan di Palopo, Mamuju, dan Pelabuhan Pare-
Pare yang mampu mendukung aktivitas kedatangan wisman yang
menggunakan kapal pesiar dan yatch
22. Infrastruktur non PUPR, Perhubungan
a. Untuk melayani trasnportasi laut menuju Kawasan KSPN Toraja,
dibutuhkan dermaga dan fasilitas pendukungnya, Sistim kepelabuhanan
di Palopo, Mamuju dan Pare-Pare digunakan untuk melayani
persinggahan kapal pesiar dengan frekwensi sekitar 2 kapal/hari, dengan
draft Depth antara 8 – 15 meter
b. Untuk melayani kunjungan wisatawan melalui udara dibutuhkan Bandar
udara yang dapat menampung pesawat jet komersial sekelas Boeing atau
Airbus dengan panjang landasan 2000 m - 2200 m , program ini telah
luas, Pariwisata mempunyai potensi yang jauh lebih besar dan juga lebih mulia,
yaitu dapat meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia dan antarbangsa
sehingga terjalin saling pengertian yang lebih baik, sikap saling menghargai,
persahabatan, solidaritas, bahkan perdamaian.
2. Strategi
Strategi RIPPARDA sebagai berikut:
a. Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran
penting pariwisata dalam peningkatan kualitas kehidupan bangsa dalam
memasuki era globalisasi;
b. Mendorong partisipasi aktif masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan
dalam rangka peningkatan pendapatan yang berimplikasi positif pada
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah dan kontribusi sektor Pariwisata
terhadap pembangunan Daerah dan nasional;
c. Menjaga dan mengembangkan budaya lokal yang beraneka ragam
sebagai aset wisata Daerah, sesuai dengan tata nilai dan kelembagaan
yang secara turun temurun dipraktikkan dan dipelihara;
d. Meningkatkan kualitas produk, sumber daya pariwisata, dan lingkungan
secara integral berdasarkan prinsip kesinambungan dan apresiasi
terhadap norma dan nilai yang berlaku;
e. Menjadikan Destinasi Pariwisata Daerah sebagai daerah tujuan wisata
unggulan nasional dan internasional dengan orientasi pengembangan
kearah Pariwisata alam dan Pariwisata budaya, serta menempatkan jenis
Pariwisata yang lain sebagai penunjang utama berdasarkan
keseimbangan antara permintaan pasar dengan potensi yang tersedia;
f. Menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan antara manusia
dengan lingkungannya untuk meningkatkan kualitas SDM Pariwisata.
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang RIPPAR-
PROV Sulawesi Selatan sebagai Destinasi Pariwisata Daerah (PDP) Kawasan Utara
yaitu Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) Toraja dan Sekitarnya.
kehidupan yang mampu berkontribusi memajukan Tana Toraja sebagai salah satu
daerah otonom di Provinsi Sulawesi Selatan.
RPJPD Kabupaten Tana Toraja merupakan penerjemahan visi, misi dan arah
kebijakan pembangunan daerah yang memiliki keterkaitan dan sinergi dengan
RPJP Nasional dan RPJP Provinsi yang menjadi arahan setiap perencanaan
pembangunan berikutnya. Kehadiran RPJPD Kabupaten Tana Toraja menjadi
sangat penting mengingat dalam melaksanakan pembangunan dibutuhkan suatu
tindakan yang tepat serta mempertimbangkan kebutuhan daerah dan kemampuan
sumber daya yang ada. Dengan adanya RPJPD dihapkan agar Pemerintah Daerah
dapat melaksanakan pembangunan yang rasional dan realistik.
Totalitas Tana Toraja mampu ditampilkan dalam kalimat Visi yang pendek.
Pemimpin Tana Toraja adalah mereka yang mendambakan masyarakatnya yang
religius dan sangat kreatif dalam menciptakan kesejahteraannya, dalam suatu
lingkungan wisata yang indah dan menakjubkan, dengan dukungan
budaya yang semarak.
Nilai-nilai adalah pedoman yang mengatur tindakan dan perilaku seseorang dalam
bekerja menuju pencapain Visi. Nilai-nilai yang dianut dalam penyelenggaraan
pembangunan Kabupaten Tana Toraja harus diangkat dari nilai- nilai agama
budaya tradisional yang bersumber dari Tongkonan, seperti yang tercermin dalam
ungkapan dibawah ini :
1. Tongkonan ditimba uainna artinya : uai berarti air dan ditimba artinya ditimba.
Yang mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan makanan
bagi warganya.
2. Tongkonan dikalette’ tanananna : dikelette’ artinya dipetik, dan tanananna
berarti tanaman. Yang mengandung arti bahwa Tongkonan sebagai sumber
bahan makanan bagi warganya.
3. Tongkonan dire’tok kayunna artinya : dire’tok artinya ditebang, dan kayunna
berarti kayu. Yang mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber
bahan bangunan bagi warganya.
4. Tongkonan di kumba’ litakna : litakna artinya tanah milik tongkonan
pemanfaatannya berfungsi sosial dalam arti kata seluas – luasnya.
5. Tongkonan dipoada’ ada’ na, dipoaluk alukna : ada’ artinya adat istiadat, aluk
artinya agama (religius) yang mengandung makna bahwa segala tindakan,
tata kelakuan, pola hubungan sosial, norma–norma dan aturan–aturan dalam
kehidupan bersama bersumber dari Tongkonan yang dilandasi oleh nila-nilai
keagamaan.
Disamping nilai–nilai budaya tradisional yang bersumber dari Tongkonan tersebut
diatas, nilai yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Tana
Toraja juga dikombinasikan dengan cara pandang yang dianut secara global. Nilai
berfungsi sebagai rambu–rambu/koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas
pembangunan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Nilai kerja keras ini harus dilandasi oleh kejujuran dan rasa tanggung jawab
yang tinggi baik kepada sesama manusia, lingkungan dan kepada Tuhan
seperti dalam ungkapan maleko lolang dao kuli’na padang male ulleanni buntu
unlambanni tasik kalua’. Osokko rakka’ sangpulomu anna to’do tu ma’pu’mu
anna sa’dingngi nene’ Pong Tulak Padang diong Tokengkok na tunduiko
mangando langngan Puang Matua anna ra’pak passakkena anna membura
ra’ka’ sangpulomu. Apa lamukilalai iatu pa’barang–barangan lino dilese
didudung. Suleko ma’tangke patomali umpellambi’ lamunan lolomu dio
Tongkonan anna sende paiman lo’dok to kayangan to ma’rara buku to ma’rapu
tallang, to sangka’ponan ao’ umpudi Puang titanan tallu tirindu batu lalikan
dao langi’ ma’gulung – gulunganna.
8. Kesadaran Kosmologis
Manusia adalah bagian integral dari alam semesta oleh karena itu harus
senantiasa menjaga interkoneksitas harmonis dengan alam semesta
berdasarkan kepercayaan dan kecintaan kepada Sang Pencipta.
9. Kualitas;
Kami ingin memberikan layanan yang bermutu, di rumah sakit, di kantor, di
toko, pada objek-objek pariwisata, dan pada setiap kesempatan.
10. Lingkungan;
Kami bertekad memelihara lingkungan demi untuk menciptakan masyarakat
yang sehat.
11. Komitmen untuk Pelayanan; Kami bertekad untuk segera memberi respon
terhadap setiap masalah yang disampaikan oleh warga masyarakat.
12. Akuntabilitas; Kami bertekad untuk memberi jawaban atas setiap tindakan
kami demi untuk mempertanggung jawabkan pelayanan kami.
pendidikan, dll. Disadari bahwa tanpa masterplan, para investor akan kurang
tertarik untuk menanam modalnya, karena khawatir akan masalah keamanan,
tanah, dan jaminan terhadap iklim usaha yang kondusif.
10. Untuk dapat merespon arus wisatawan, baik mancanegara maupun
nusantara, perlu dipersiapkan jalur transportasi yang menyenangkan.
Filosofi RPJMD II ialah bahwa daya saing perekonomian akan nampak apabila
didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang prima termasuk pengembangan
kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan
Filosofi RPJMD II ialah bahwa daya saing kompetitif perekonomian akan menjadi
kenyataan apabila apabila didukung dengan keunggulan sumber daya alam dan
sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus
meningkat.
Ketersediaan infrastruktur yang sesuai dengan rencana tata ruang ditandai oleh
berkembangnya jaringan infrastruktur transportasi; terpenuhinya pasokan tenaga
listrik yang handal dan efisien sesuai kebutuhan sehingga elektrifikasi rumah
tangga dan elektrifikasi perdesaan dapat tercapai, serta mulai dimanfaatkannya
tenaga nuklir untuk pembangkit listrik dengan mempertimbangkan faktor
keselamatan secara ketat; terselenggaranya pelayanan pos dan telematika yang
efisien dan modern guna terciptanya masyarakat informasi Indonesia;
terwujudnya konservasi sumber daya air yang mampu menjaga keberlanjutan
fungsi sumber daya air dan pengembangan sumber daya air serta terpenuhinya
penyediaan air minum untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Selain itu,
pengembangan infrastruktur perdesaan akan terus dikembangkan, terutama untuk
mendukung pembangunan pertanian. Sejalan dengan itu, pemenuhan kebutuhan
hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh
masyarakat terus meningkat karena didukung oleh sistem pembiayaan perumahan
jangka panjang dan berkelanjutan, efisien, dan akuntabel. Kondisi itu semakin
mendorong terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh.
Pada tahap ini tetap tersedia kesempatan dan ruang untuk meneruskan aktifitas-
aktivitas pembangunan yang belum sempat dirampungkan pada tahap-tahap
sebelumnya. Monitoring dan evaluasi dilakukan agar sungguh-sungguh siap dan
mampu memasuki saat mendebarkan, yaitu mendekatkan diri pada Visi 2030. Visi
Kabupaten sebagaimana dibentangkan dalam uraian Visi, mungkin saja tidak dapat
direalisasikan 100%. Semua itu disebabkan antara lain, oleh tidak terdeteksinya
sejumlah pengaruh global yang kemungkinan dapat saja menerobos
penyelenggaraan aktifitas pemerintahan secepat kilat. Sejumlah peluang yang
dibawa oleh arus global, khususnya pengaruh kemajuan dalam bidang teknologi
informasi dan teknologi komunikasi yang muncul bagaikan halilintar, dapat saja
berubah menjadi ancaman jika tidak dicermati dan diantisipasi secara dini.
Kekuatan ini juga akan mampu mengundang calon investor serta dana yang
tersedia untuk berbagai jenis program pembangunan daerah di sejumlah
departemen. Apabila peluang-peluang itu dapat ditangkap, maka jumlah
pengunjung wisatawan akan terus menerus bertambah. Ini akan berdampak pada
peningkatan penerimaan Negara dari devisa, termasuk pendapatan daerah dari
berbagai kegiatan masyarakat akan meningkat, sekaligus memperbaiki taraf hidup
masyarakat.
Sayang, Peluang tadi dihambat oleh Kelemahan besar yang dimiliki oleh
daerah, yaitu prasarana jaringan jalan raya menuju atau melalui objek
wisata, sarana transportasi, dan rendahnya kualitas manajemen objek-
objek wisata, serta rendahnya volume APBD Tana Toraja. Jalan
pariwisata sesungguhnya identik dengan jalan ekonomi, karena jalan
yang menuju sentra-sentra produksi, justru melalui objek-objek wisata.
Bahkan juga Kekuatan ini dilihat sebagai asset yang telah terbukti berhasil di masa
lampau menghindari Ancaman (Threat).
Kekuatan lain seperti kopi Arabica sesungguhnya sejak lama telah mampu
menembus pasar di negara-negara Scandinavia akan mampu menangkap Peluang
pasar di Jepang, khususnya, yaitu keinginan orang kaya tampil beda dengan
menikmati kopi Arabica Toraja yang mahal tetapi nikmat.
Apabila Peluang tadi sudah bisa ditangkap, maka ini akan mendorong
meningkatnya pembangunan di sektor lain.
Kelemahan lain yang sangat dirasakan oleh Tana Toraja ialah, masih rendahnya
kualitas sebagian besar sumber daya manusia di berbagai sektor pembangunan
tak terkecuali dalam kalangan Legislatif dan Eksekutif, ketrampilan manajemen,
dll.
Sejumlah Kelemahan Sektoral lainnya secara garis besar dapat diidentifikasi sbb:
1. Sarana dan prasarana berbagai sektor pembangunan masih minim
2. Minat mengembangkan peternakan babi dan kerbau secara luas makin
menurun, ditambah dengan belum tersedianya Masterplan peternakan.
3. Benih ikan tawar makin langka, bahkan ada spesis yang mulai hilang
4. Anggaran yang disediakan untuk masing-masing sektor jauh dari kebutuhan
riil.
5. Kualitas produk industri rumah tangga masih rendah.
6. Penegakan hukum (Law enforcement) masih jauh dari harapan yang berakibat
pada rendahnya tingkat disiplin masyarakat dan aparat.
7. Angka tingkat kejahatan dan pelanggaran hukum masih tinggi.
8. Masih terpendamnya beberapa potensi sumber daya pertambangan.
9. Pelayanan bermutu dalam berbagai sektor, misalnya bidang kesehatan yang
belum mampu menjamin kualitas hidup sehat, dan sektor lain, masih pada
tingkat rendah
10. Manajemen kepariwisataan masih bersifat tradisional.
11. Secara umum, tingkat homepay aparat masih belum mampu membiayai
kesejahteran keluarga yang semakin tertekan oleh kemajuan teknologi
komunikasi dan informasi.
2. Mengembangkan Jaringan jalan kolektor primer dan jaringan jalan lokal yang
merupakan sistem jaringan jalan kabupaten yang ada di Kabupaten Tana
Toraja terdiri atas : jalan kolektor primer lingkar wisata Tana Toraja; dan jalan
lokal primer penghubung jalan kolektor primer ke obyek wisata;
3. Mengembangkan Jaringan layanan lalu lintas yaitu trayek angkutan
penumpang diantaranya adalah pengembangan terminal Makale – Rantepao
ke obyek wisata (OW) Makam Adat Lemo;
4. terminal Makale – Tongkonan Layuk Kaero – Tongkonan Salembe dan Mapissa
di Galingtua – Rante di Tongko Sarapung – Tongkonan Solo – Tongkonan
Buntu Tongko, ruas jalan Suaya – Rante di Tongko Sarapung – jalan
penghubung Leatung – Makula;
5. terminal Mengkendek – jalan lingkar wisata – batas Toraja Utara;
6. pengembangan jaringan-jaringan prasarana utama dan prasarana lainnya
yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada
pembangunan kepariwisataan daerah.
2) Talion
3) Benteng Pongtiku, Boronan
4) Likunna Makuyo
5) Atraksi Budaya
6) Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’
8. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakadeng ; dengan objek
pendukung :
1) Air terjun Salu Bitu
2) Permandian Air Panas Ratte Buttu
3) Liang pahat
4) Permandian Air Panas Bake’
5) Panorama Alam
9. Kawasan Batu Tallu Simbuang di Simbuang ; dengan objek pendukung :
1) Panorama Alam
2) Kolam Alam Limbong Deata
3) Tedong-tedong
4) Liang pahat
5) Kolam Alam Kondo Dewata
6) Batu Sittene
10. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang; dengan objek pendukung :
1) Agrowisata Bolokan
2) Hutan Wisata
3) Permandian Air Panas
4) Rumah Adat
5) Air terjun Ratte Sarambu
11. Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan ; dengan objek pendukung:
1) Panorama Alam
2) Tracking
3) Sepeda Gunung
4) Wisata Berkuda
5) Monumen Ampang Banu’
6) Atraksi seni budaya
7) Agrowisata.
12. Kawasan Wisata Alam tondok To Bugi’di Masanda ;dengan objek pendukung:
1) Panorama Alam
2) Atraksi Seni Budaya
3) Air Terjun Sarambu Sengo’
4) Permandian Air Panas
5) Batu Tindak Sarira
6) Sakean
7) Bulu Pala’
8) Lando Tekka
13. Kawasan Wisata Barereng di Kurra; dengan objek pendukung :
1) Rafting/Arung Jeram
2) Air Terjun
3) Kolam Pemancingan
4) Tracking
5) Panorama
14. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’; dengan objek
pendukung :
1) Air terjun
2) Hutan Wisata
3) Perkemahan
4) Atraksi seni budaya
5) Kuburan Batu
6) Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
15. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek
penunjang :
1) Desa Wisata
2) Rumah Adat
3) Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
4) Benteng To Pada Tindo
5) Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
6) Passiliran Kambisa
KONDISI WILAYAH
Bab 3
KABUPATEN MENDUKUNG
KEPARIWISATAAN
Kabupaten Tana Toraja adalah sebuah Kabupaten yang dalam peta administratif
masuk ke dalam wilayah Sulawesi Selatan. Kabupaten Tana Toraja adalah salah
satu Kabupaten Dalam Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di
Makale. Kabupaten Ini Terletak antara 2°-3° Lintang Selatan dan 119° - 120°'
Bujur Timur. Letak Kabupaten Tana Toraja berbatasan dengan :
▪ Sebelah Utara berbatasan Kabupaten Toraja Utara dan Provinsi Sulawesi
Barat
▪ Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu
▪ Sebelah Selatan berbatasan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
▪ Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat
Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 2.054,30 Km2 yang meliputi 19
(Sembilan Belas) kecamatan, dimana Kecamatan Malimbong Balepe merupakan
kecamatan yang terluas dengan luas 211,47 Km2. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada table berikut.
3.2.2 Geologi
Struktur geologi batuan Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakteristik
geologi yang kompleks dicirikan oleh adanya jenis satuan batuan yang bervariasi
akibat pengaruh struktur geologi. Beberapa jenis batuan yang dapat ditemukan
di Kabupaten Tana Toraja pada umumnya antara lain:
▪ batuan epiklastik gunungapi (batupasir andesitan, batulanau, konglomerat
dan breksi
▪ batugamping kelabu hingga putih berupa lensa-lensa besar
▪ batugamping terumbu
▪ batupasir hijau, grewake, napal, batulempung dan tuf, sisipan lava
bersisipan andesit-basal
▪ batupasir, konglomerat, tufa, batulanau, batulempung, batugamping, napal
▪ batusabak, kuarsit, filit, batupasir kuarsa malih, batulanau malih dan pualam,
setempat batulempung malih
▪ granit, granodiorit, riolit, diorit, dan aplit
Selatan berada di Kabupaten Tana Toraja merupakan urat nadi yang vital bagi
pengembangan pertanian dan PLTU Bakaru di Kabupaten Pinrang. Keberadaan
sungai-sungai tersebut pada umumnya digunakan untuk irigasi perdesaan,
sumber PLTMH dan sangat potensial dikembangkan bagi kepentingan pariwisata,
misalnya arum jeram dan wisata rafting. Kondisi hidrologi Kabupaten Tana Toraja
secara umum adalah sebagai berikut:
▪ Air tanah, air tanah pada umumnya terdapat pada kedalaman 40-100 meter.
▪ Air permukaan, air permukaan pada umumnya berupa sungai dan genangan-
genangan.
Kata Toraja berasal dari Bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam
di negeri atas”. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun
1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat Tongkonan dan
ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang
penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa
hari. Sebelum abad ke-20, Suku Toraja tinggal di desa-desa otonom, mereka
masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal
tahun 1990-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen.
Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, Kabupaten
Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indinesia. Tana Toraja dimanfaatkan
oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja
sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya dari masyarakat
kepercayaan tradisional dan agraris menjadi masyarakat yang mayoritas
beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.
Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai
sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan
masa pengkristenan, Suku Toraja, yang tinggal didaerah dataran tinggi dikenal
berdasarkan desa mereka dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama.
Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan diantara desa-desa da banyak
keragaman dalam dialek, hirarki sosial, dan berbagai praktik ritual dikawasan
dataran tinggi Sulawesi. Toraja (dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan
Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran
rendah untuk penduduk dataran tinggi. Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih
banyak memiliki hubungan berdagang dengan orang luar seperti suku Bugis dan
Suku Makassar yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi
Selatan daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris
Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah
Sa’dan Toraja dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di
Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama
yaitu Suku Bugis, Suku Makassar, Suku Mandar, dan Suku Toraja.
3.3.2 Sejarah
Asal kata Toraja berawal dari bahasa Bugis Sidendreng yaitu “ to ri aja”, yang
berarti “orang pegunungan” atau “orang hulu sungai”. Orang Luwu menyebut
Toraja sebagai “to riajang” yang berarti “orang yang berdiam di sebelah barat”.
Menurut bahasa Makassar, Toraja juga bisa berarti “ to = tau” dan “raja =
maraya”, “to atau tau” berarti “orang”, sedangkan “raja atau maraya” dapat
berarti “utara atau besar”, maka Toraja dapat berarti “orang dari utara” atau
“orang besar/bangsawan”. Seiring dengan berjalannya waktu, pada abad ke 20
dikenal nama Toraja yang semakin diperkuat oleh pemerintah kolonial Belanda,
dengan memperkenalkan Toraja pada tahun 1909. Penambahan kata Tana, yang
berarti negeri tempat pemukiman suku Toraja, membuat wilayah Toraja
kemudian lebih dikenal dengan sebutan Tana Toraja.
Menurut hasil penelitian seorang antropolog, Dr. C. Cryut, suku Toraja berasal
dari Indo Cina di sekitar Teluk Tongkin. Mereka merupakan imigran yang
meninggalkan negerinya menuju Asia Tenggara dalam tiga gelombang
keberangkatan. Leluhur suku Toraja merupakan rombongan pelayaran
3.3.3 Bahasa
Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja dengan Sa'dan
Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi
bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala'
, dan Toraja- Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari
bahasa Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi
membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya
pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh
oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa
penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa
Toraja.
dua gagasan atau pokok pikiran yang sangat prinsipil yaitu : (1). Pandangan
terhadap alam semesta, Macro-Cosmos. (2). Pandangan terhadap manusia,
Micro-Cosmos.
Kelas Sosial
Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas
sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak
(perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda).
Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk menikahi
perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi
perempuan dari kelas yang lebih tinggi, ini bertujuan untuk meningkatkan status
pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat
jelata masih dipertahankan hingga saat ini karena alas an martabat keluarga.
Dalam pembangunan rumah adat Tongkonan ada hal-hal yang mengikat atau hal
yang di haruskan dan tidak boleh dilanggar, yaitu Rumah harus menghadap ke
utara, letak pintu di bagian depan rumah, dengan keyakinan bumi dan langit
merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi dalam 4 penjuru mata angin, yaitu:
1. Utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia di mana Puang Matua berada
(keyakinan masyarakat Toraja).
2. Timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan
atau kehidupan.
3. Barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan
atau kehidupan, yaitu kesusahan atau kematian.
4. Selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat
melepas segala sesuatu yang tidak baik / angkara murka.
Kenapa harus tanduk Kerbau? bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan
ternak mereka juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu
tanduk atau tengkorak kepala kerbau di pajang dan disimpan di bagian rumah
karena sebagai tanda bawasannya keberhasilan si pemilik rumah mengadakan
sebuah upacara / pesta.
lampau dan dijadikan pegangan dan pedoman bertingkah laku dalam kehidupan
bermasyarakat seperti;
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan Puang Matua.
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan sesama manusia.
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan alam semesta.
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan binatang.
Melihat Rumah Adat Tongkonan Toraja, yang sangat menarik adalah variasi
gambar dan simbol yang diukir menghiasi semua bagiannya. Ukiran-ukiran
tersebut untuk menunjukkan konsep keagamaan dan sosial suku Toraja yang
disebut Pa’ssura (Penyampaian). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan
perwujudan budaya Toraja. Pola yang terukir memiliki makna dengan presentase
simbol tertentu dari pemilik atau rumpun keluarga yang punya nilai magis.
Ukiran-ukiran Toraja itu diyakini memiliki kekuatan alam atau supranatural
tertentu.
Diperkirakan, tidak kurang dari 67 jenis ukiran dengan aneka corak dan makna.
Warna- warna yang dominan adalah merah, kunig, putih dan hitam. Semua
sumber warna berasal dari tanah liat yang disebut Litak kecuali warna hitam
yang berasal dari jelaga atau bagian dalam pisang muda. Pencipta awal mula
ukiran- ukiran magis ini diyakini dari Ne’ Limbongan yang mana simbolnya adalah
berupa lingkaran berbatas bujur sangkar bermakna mata angin. Setiap pola
ukiran abstrak punya nama dan kisah antara lain motif “empat lingkaran yang
ada dalam bujur sangkar” biasanya ada di pucuk rumah yang melambangkan
kebesaran dan keagungan. Makna yang terkandung dalam simbol-simbol itu
antara lain simbol kebesaran bangsawan (motif paku), simbol persatuan (motif
lingkaran 2 angka delapan), simbol penyimpanan harta ( motif empat lingkaran
berpotongan dan bersimpul) dll. Selain motif- motif abstrak itu, beragam pula
pola-pola yang realistis mengikuti bentuk binatang tertentu antara lain burung
bangau (motif Korong), motif bebek (Kotte), Anjing (motif Asu), Kerbau
(Tedong), Babi (Bai) dan ayam (Pa’manuk Londong).
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan
tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma
air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan.
lambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga
memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak,
sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam
kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak
bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan
kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang
bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan
keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja,
selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan
sebagai dasar ukiran dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi
dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika
dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja
membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja
menggunakan bambu untuk membuat jelas ornamen geometris tersebut.
Rambu Solo' merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena
memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Upacara ini biasanya
dilaksanakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan
biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa sampai dua minggu untuk
kalangan bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di
ketinggian bukit batu. Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo (kepercayaan
masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam) di
kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan,
maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.
Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan
sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara
Rambu Solo' maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit
karena statusnya masih 'sakit' maka orang yang sudah meninggal tadi harus
dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti
menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal- hal
yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya.
Seluruh prosesi acara Rambu Solo' selalu dilakukan pada siang hari. Siang itu
sekitar pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita), kami semua tiba di
tongkonan barebatu, karena hari ini adalah hari pemindahan jenazah dari
tongkonan barebatu menuju rante (lapangan tempat acara berlangsung).
Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan
agenda acara berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua
tamu-tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada
di rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan
yang digemari oleh orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari
penguburan. Baik itu yang dikuburkan di tebing maupun yang di patane'
(kuburan dari kayu berbentuk rumah adat).
Dari seluruh upacara maupun ritual adat yang ada di Toraja, upacara
pemakaman merupakan upacara sakral terbesar dan termahal diantara upacara
yang lainnya. Semakin tinggi strata sosial yang dianut orang Toraja, maka
semakin besar dan mahal pula upacara yang dilaksanakannya. Kewajiban dalam
melaksanakan upacara pemakaman dibebankan kepada keluarga yang
ditinggalkan, maka sering upacara pemakaman dilakukan beberapa tahun setelah
orang tersebut meninggal. Kondisi ini memberikan kesempatan kepada keluarga
yang ditinggalkan untuk mencari sejumlah dana yang dibutuhkan bagi upacara
pemakaman tersebut. Oleh karena itu, pembalsaman bagi jenazah perlu
dilakukan agar jenazah masih dalam kondisi yang baik sampai tiba saat upacara
pemakamannya. Jenazah tersebut diletakkan di dalam tongkonan dan dianggap
masih hidup bersama dengan keluarganya.
Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama
musim panen. Tarian Ma'bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan
Syukur dan tarian Ma'gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang
menumbuk beras. Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang
dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma'dandan oleh perempuan.
Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian
yang disebut Ma'bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'bua adalah
upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau
dan menari di sekeliling pohon suci.
Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa'suling. Suling
berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian
Ma'bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari
dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai
alat musik lainnya, misalnya Pa'pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan
pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.
dan matahari yang sudah tetap ada terbit dan terbenam matahari dipakai
sebagai acuan waktu.
2. Pa‟ Londong ( ukiran Ayam Jantan yg bertengger diatas Pa‟Bare‟ Allo) Pa‟
Londong adalah perlambang dari Keadilan karena salah satu dari sembilan
cara memutus permasalahan atau sengketa adalah dengan mengadu ayam
apabila pemimpin dalam kelompok sulit memutuskan pihak mana yg benar
atau salah.
3. Pa‟ Tedong (ukiran berbentuk Kepala Kerbau). Pa‟ Tedong adalah
Perlambang kesejahteraan karena kerbau merupakan hewan yang punyai
nilai ekonomi terutama utk corak tertentu.
4. Sebenarnya ada ukiran ke 4 yg berada paling bawah berbentuk garis-garis
vertikal dan horisontal namun kadang tidak terlalu diperhatikan, ini
sebenarnya ukiran yg pertama dikenal dan dianggap yg tertua (ada cerita
tersendiri untuk ini) yang merupakan perlambang hubungan horisontal
dengan sesama manusia dan vertikal dengan Tuhan.
yang menjaganya sehingga tau-tau dapat dilindungi. Untuk itu perlu adanya
perhatian khusu dari pemerintah setempat.
[Link] Pertenunan
Awalnya corak tenun ini hanya berupa garis lurus yang berwarna selang seling.
Namun, kini tercipta berbagai motif yang semakin menarik. Perkembangan ini
tidak terlepas dari kemampuan para pengrajin menggunakan jenis benang yang
lebih modern. Tetapi tetap ditenun dengan khas Toraja, menggunakan alat tenun
tradisional, bukan mesin.
Pada tiga sentra kerajinan tenun itu, terdapat puluhan kios. Bersanding dengan
tongkonan-tongkonan yang berdiri dengan megahnya. Keistimewaannya,
wisatawan tidak hanya disuguhi berbagai motif yang cantik, tapi juga dapat
menyaksikan demo pembuatan tenun yang dilakukan oleh para pengrajin yang
mahir mengayun balida, alat tenun tradisional. Harga itu tergantung kainnya.
Ada yang terbuat dari sutra. Tapi bahan dasar kain umumnya adalah benang
kapas yang dipintal secara tradisional. Pewarna untuk memperkaya motif berasal
dari kulit pelepah, biji bijian, serta dedaunan. Warna yang sering ditampakan
adalah warna merah, kuning, hitam, hijau dan biru dan putih.
[Link] Miniatur
Miniatur Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung
menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan
menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau.
Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan
juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan berasal dari kata
tongkon (artinya duduk bersamasama).
2. Tanaman Perkebunan
Luas areal tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Tana Toraja pada
tahun 2018 secara keseluruhan sebesar 62.509 ha, dari luas ini sebesar
56.633,48 hektar merupakan luas tanaman perkebunan rakyat yang
menghasilkan. Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Tana Toraja
selama 2010 yang terbesar produksinya adalah tanaman kakao dan kelapa
dalam masing-masing sebesar 27.938,30 ton dan 18.808,27 ton.
Kabupaten Tana Toraja terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi
terbaik. Produksi kopi mencapai 2.410,8 ton yang tidak jauh berbeda dengan
tahun sebelumnya. Selain kopi, Kabupaten Tana Toraja juga merupakan
daerah penghasil kakao dengan produksi kakao sebesar 2.410,8 ton. Selain
kopi dan kakao, kelapa juga merupakan hasil perkebunan di Kabupaten Tana
Toraja. Pada tahun 2018 produksi Kelapa sebesar 19,1 ton dengan luas
tanaman sebesar 245 Ha.
3. Kehutanan
Luas kawasan hutan di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2019 seluas
51,801 ha yang terdiri dari 27.464 ha hutan negara. Hutan negara di
4. Peternakan
Kerbau dan babi adalah hewan ternak yang dapat dijumpai dengan mudah di
Tana Toraja karena populasinya cukup banyak. Hampir setiap rumah tangga
di Tana Toraja beternak kerbau ataupun babi. Kedua hewan ternak ini selalu
digunakan masyarakat dalam setiap Acara Pesta, Upacara Adat serta
keagamaan seperti Rambu Solo atau upacara kematian. 26.275 ekor adalah
jumlah Populasi kerbau tahun 2018, jumlahnya mengalami peningkatan
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 0,69%. Sedangkan jumlah populasi
babi tahun 2018 naik 2,40% dari tahun lalu menjadi 306.156 ekor. Jumlah
ini meningkat karena adanya babi dari daerah lain yang didatangkan untuk
memenuhi kebutuhan pesta adat. Ayam kampung mendominasi jumlah
populasi ungags di Tana Toraja sebanyak 995.603 ekor.
5. Perikanan
Kegiatan perikanan di Kabupaten Tana Toraja cukup kecil. Selain merupakan
daerah pegunungan, jumlah Rumah tangga Usaha Perikanan (RUTP) juga
kecil. Pada tahun 2018 jumlah RUTP tercatat sebanyak 1.763 ruta. Usaha
perikanan di Tana Toraja didominasi oleh perikanan budidaya yang di kolam
dan sawah (mina padi) yang produksinya hanya sekitar 469,77 ton. Untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat atas hasil perikanan maka pasokan ikan
lainnya didatangkan dari daerah terdekat seperti Kota palopo.
0,65 triliun rupiah dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencapai 6,82 triliun
rupiah. Naiknya nilai PDRB ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di
sebagian besar lapangan usaha dan adanya inflas. Berdasarkan harga konstan
2010, angka PDRB juga mengalami kenaikan, dari 4,25 triliun rupiah pada tahun
2018 menjadi 4,56 triliun rupiah pada tahun 2019. Hal ini menunjukkan selama
tahun 2019 Tana Toraja mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 7,22 persen,
lebih rendah 0,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan PDRB ini
murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di sebagian besar lapangan
usaha, tidak dipengaruhi inflasi.
Konstribusi terbesar dalam embentukan PDRB Tana Toraja pada tahun 2019
dihasilkan oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yaitu
mencapai 23,11 persen (mengalami penurunan dari tahun 2015 yang sebesar
26,20 persen). Kontribusi lapangan usaha ini mengalami fluktuasi namun
cenderung menunjukan trend menurun terhadap PDRB Tana Toraja. Menurunnya
kontribusi lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan disebabkan
karena peningkatan nilai yang cukup signifikan pada kategori Perdagangan Besar
dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sehingga kontribusi kategori ini
terhadap perekonomian juga meningkat. Selain itu, berkurangnya produksi
tanaman pangan padi akibat cuaca ekstrim yang terjadi pada tahun 2019 dan
lambatnya kenaikan harga komoditi pada lapangan usaha tersebut dibandingkan
produk lain juga menjadi penyebab turunnya kontribusi lapangan usaha ini.
Berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019
meningkat dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh
meningkatnya nilai produksi di hamper semua lapangan usaha tanpa dipengaruhi
perubahan harga. Nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019 atas dasar harga
konstan 2010, mencapai 4,56 triliun rupiah. Angka tersebut naik dari 4,25 triliun
rupiah pada tahun 2018. Hal tersebut menunjukkan bahwa selama tahun 2019
terjadi pertumbuhan ekonomi yang positif sebesar 7,22 persen, namun melambat
0,67 persen jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya
yang mencapai 7,89 persen.
berbagai sarana sosial yang ada dapat memberikan konstribusi yang besar serta
nilai-nilai budaya dengan kondisi keamanan yang kondusif. Berikut ini akan
diuraikan data kondisi sarana sosial masyarakat Kabupaten Tana Toraja, antara
lain; sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan, dan kondisi
keamanan, serta budaya masyarakat.
primer, ruas jalan kolektor sekunder, ruas jalan lokal, dan jalan-jalan
lingkungan, sebagaimana ditunjukan pada tabel berikut.
2. Terminal
Keberadaan terminal sebagai titik simpul pergerakan arus kendaraan, orang
dan barang adalah penting untuk diamati. Jumlah terminal di Kabupaten
Tana Toraja hanya 1 lokasi, yaitu terminal Makale dengan terminal bertype
C. Lokasi terminal Makale tersebut telah dimanfaatkan sebagai simpul utama
pergerakan angkutan. Kondisi terminal type C Makale saat ini terdiri atas
pelataran-pelataran angkutan umum dan dilengkapi bangunan-bangunan
halte untuk menumpang dengan kondisi belum maksimal.
3. Transportasi Udara
Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan udara
ke Tana Toraja. Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang berangkat dari
Bandara Pongtiku sebanyak 1.030 orang. Penerbangan di Tana Toraja
melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar pulau sulawesi.
Bandar udara ini direlokasi karena tidak bisa dikembangkan karena aspek
geologi tidak memadai. Bandara Buntu Kuni disiapkan sebagai pengganti
Bandara Pongtiku, dengan landasan pacu sepanjang 2.600 meter dengan
nama Toraja International Airport yang diharapkan bisa memacu
pertumbuhan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
4
4.1 POTENSI DAYA TARIK WISATA
Indonesia istilah daya tarik wisata disamaartikan dengan objek wisata yang
merujuk pada istilah tourist attraction. Dari sejumlah definisi mengenai daya Tarik
wisata dapat difahami bahwa daya tarik wisata pada dasarnya berupa segala
sesuatu yang dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Secara legal
formal, batasan pengertian tentang daya tarik wisata tertuang dalam Undang-
Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, yakni
segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa
keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi
sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Berdasarkan pengertian tersebut,
maka potensi daya tarik wisata dapat diartikan sebagai segala sumberdaya alam,
budaya, dan buatan manusia yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daya
tarik wisata.
Tana Toraja yang dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang menonjolkan
keunikan budaya dan adat istiadat sebagai daya tarik wisata ternyata memiliki
berbagai kawasan-kawasan wisata yang berbasis pada alam. Keanekaragaman
daya tarik wisata alam Tana Toraja tersebut dijumpai dalam berbagai jenis baik
itu bentang alam, perkebunan/agrowisata, perairan, maupun gua-gua yang juga
merupakan bagian dari kebudayaan dan adat istiadat masyarakat setempat dalam
menjalankan ritual-ritualnya.
Menurut data yang dihimpun, baik melalui data sekunder maupun tinjauan
lapangan terhadap keberadaan dan potensi-potensi yang dimiliki setiap daya tarik
wisata alam maupun ketersediaan prasarana dan sarana yang telah tersedia serta
bentuk-bentuk pengelolaan kawasan wisata tersebut. DTW alam di Tana Toraja
dewasan ini menjadi salah satu fokus pengembangan pariwisata pemerintah
setempat yang diupayakan menjadi variasi DTW yang dikenal lebih menonjolkan
DTW budaya. Berdasarkan data yang dihimpun melalui observasi lapangan
maupun data-data sekunder dari berbagai sumber, paling sedikit terdapat 22
(duapuluh satu) DTW alam yang telah berkembang maupun masih bersifat potensi
(belum dikembangkan).
Dari sejumlah DTW alam tersebut, terdapat beberapa daya tarik wisata yang cukup
diminati oleh wisatawan dan menjadi fokus pengembangan yang dilakukan oleh
pemerintah dan masyarakat, diantaranya Agrowisata Pango Pango, Gunung
Kandora, Permandian Alam Tilangnga, Rurak, Sarambu Assing, Sarambu Ratte,
Perkebunan Kopi Tiroan, Talondo Tallu, Lo'ko Tongko, dan Arum Jeram, serta
bebrapa lainnya. Daya tarik yang disuguhkan beranekaragam sesuai spesifik daya
tariknya masing-masing. DTW tersebut umumnya dikelola oleh pemerintah
kabupaten dan sebagian oleh masyarakat yang masih bersifat potensi yang belum
secara optimal dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata.
Untuk mewadahi kegiatan wisata didalam setiap kawasan dan daya tarik wisata,
pemerintah maupun pengelola DTW lain telah melakukan pengembangan dan
pembangunan sejumlah sarana dan prasarana wisata baik sarana utama maupun
penunjang dan pendukung kegiatan wisata seperti pembangunan akses jaringan
jalan dalam kawasan, pembangunan gazebo-gazebo, tempat-tempat selfie, villa,
toilet, serta pengembanan daya tarik lain seperti penataan kawasan, penyediaan
rambu-rambu wisata, pembangunan gedung-gedung serbaguna, pengembangan
komoditas-komoditas perkebunan dalam kawasan agrowisata dari berbagai jenis
tanaman, dan lain sebagainya. Berikut rincian tabulasi DTW Alam yang tersedia di
Kabupaten Tana Toraja.
Tabel: 4.1 Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
1 Agrowisata Pango-Pango Tosapan Makale Selatan Kawasan Agrowisata dikelilingi pohon pinus dan kebun kopi,
tamarillo, strawbery dll, pemandangan alam yang indah dan
udara yang dingin
2 Permandian Alam Tilangnga Sarira Makale Utara Kolam Alam untuk rekreasi tirta, Belut Yang Hidup Didalam
Kolam
3 Rurak Ke'pe' Tinoring Mengkendek Goa Alam yang dijadikan kuburan pada zaman yang lalu dan
kuburan tersebut sudah berumur ratusan tahun
4 Sarambu Assing Patongloan Bittuang Air Terjun
5 Sarambu Ratte Balla Bittuang Air Terjun
6 Talondo Tallu Balepe' Malimbong Air Terjun
Balepe
7 Perkebunan Kopi Tiroan Tiroan Bittuang Perkebunan Kopi dan Pemandangan Alam dengan Udara yang
Dingin
8 Lo'ko Tongko Tongko Sarapung Sangalla Goa Alam
9 Arum Jeram Maroson Padakka Kurra Arum Jeram (sungai mai'ting), Panorama Alam
10 Danau Assa’ Lembang Turunan Sangalla Danau alami, panorama, dan batu hamil.
11 Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek Panorama Alam Gunung Karst
12 Panjat Tebing Kandora Mengkendek Tebing Karst Vertikal
13 Panorama Bukit Sion Bombongan Makale Pemandangan Kota Makale
14 Air terjun ratte sarambu L. Potongloan Bittuang -Air terjun
assing -Pemandian alam
15 Alloan Marinding Mengkendek Panorama Alam
16 Air Panas Balla Balla Bittuang Mata air panas
17 Air Terjun (Sarambu) Tipali Uluwai Mengkendek Air Terjun
Tabel: 4.1 Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
18 Air Terjun (Sarambu) Simbuang Mengkendek Air Terjun
Marintang
19 Bumi Perkemahan Simbuang Mengkendek Kolam Pemancingan, Perkemahan
Marintang
20 Ollon Poton Bonggakaradeng Pannorama Alam/Savana
21 Permandian Air Panas Tokesan Sangalla’ Permandian Air Panas Alam
Makula
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020
Dari berbagai DTW alam yang tersedia, potensi daya tarik wisata alam yang di
Kabupaten Tana Toraja cukup menarik dan telah terkenal diberbagai wilayah
nusantara maupun mancanegara. Hal ini dilihat dari adanya kunjungan wisatawan
dari berbagai penjuru yang telah menikmati keindahan alam Tana Toraja.
Beberapa diantaranya telah ditata dengan baik oleh pemerintah serta telah
dilakukannya perencanaan secara rinci dalam bentuk masterplan-masterplan
pengembangan kawasan wisata. Berikut uraian beberapa potensi daya tarik wisata
alam yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja.
1. Agrowisata Pango Pango
Kawasan Agrowisata Pango Pango
merupakan salah satu destinasi wisata
yang memadukan dua unsur pariwisata
yaitu daya tarik wisata alam daya tarik
wisata agro yang menyediakan
beranekaragam sajian wisata yang dapat
dinikmati oleh para wisatawan. Kawasan
Agrowisata Pango-Pango terletak di Kecamatan Makale, Kabupaten Tana
Toraja, menurut arahan pengembangan kawasan memiliki luas sekitar
±190,91 hektar yang mencangkup diantaranya sebagian Kelurahan Pasang
seluas ±116,24 hektar, sebagian Kelurahan Tosapan seluas ±70,63 hektar,
dan sebagian Lembang Randan Batu seluas ±4,04 hektar (sumber: Masterplan
Agrowisata Pango Pango, 2018).
Jarak kawasan perencanaan ini adalah sekitar 7 kilometer dari Kota Kabupaten
atau rata-rata waktu tempuh sekitar 15 menit, yang dapat diakses dengan
kendaraan roda 4 dan roda 2 melalui prasarana jalan beton dan aspal dengan
kondisi baik.
Untuk keamanan kawasan, terdapat satu unit pos keamanan yang terletak di
Gerbang masuk Kawasan sekaligus berfungsi sebagai pos retribusi masuk
kawasan. Beberapa fasilitas lain yang merupakan fasilitas umum dan fasilitas
kegiatan wisatawan yaitu Rumah Kaca, panggung Pentas Seni, Rumah Kelinci,
Villa, dan tempat Selfie.
2. Sarambu Assing
Daya tarik wisata alam Sarambu Assing
merupakan salah satu DTW yang
cukup menarik di Tana Toraja, dengan
potensi daya tariknya yaitu Air Terjun,
serta panorama alam disekitarnya.
DTW tersebut terletak di Kecamatan
Bittuang yaitu di Lembang Patongloan, dengan jarak tempuh menuju Sarambu
Assing dari Kota Makale sekitar 40 kilometer atau sekitar 1 jam perjalanan
menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua melalui jalan utama
sekitar lokasi Tilangnga bahwa untuk memunculkan belut dari celah bebatuan
dilakukan melalui ritual tertentu.
4. Talondo Tallu
DTW Tolondo Tallu sama halnya dengan DTW Sarambu Assing yang memiliki
daya tarik wisata berupa air terjun. Talondo Tallu terletak di Kecamatan
Malimbang Balepe dengan keindahan alam yang menarik wisatawan serta di
kelilingi oleh vegetasi tumbuhan yang hijau. Obyek wisata ini juga di kelilingi
oleh flora dan fauna yang sangat menajubkan bagi wisatawan.
Air Terjun Talondo Tallu memiliki tiga cabang yang membuatnya tampak lebih
unik dibandingkan air terjun lain pada umumnya. Percabangan tersebut terjadi
karena aliran air dari Sungai Pekalian dan Rabung, yang kemudian bertemu
dan menjadi Sungai Talondo. Pemandangan yang tersaji juga begitu unik,
meski untuk mencapai lokasi ini pengunjung harus berjalan kaki selama
kurang lebih delapan kilometer. Tepat di pertemuan tiga aliran terdapat
sebuah kolam dengan air yang begitu jernih. Biasanya pengunjung yang
datang akan menghabiskan waktu untuk berenang dan menyegarkan diri dari
panasnya cuaca sekitar. Tak hanya itu, udara di kawasan ini juga sangat
segar.
Selain indah, Air Terjun Talondo Tallu menyimpan sejumlah kisah menarik
bernuansa mistis. Menurut penuturan penduduk sekitar, didalam kolam air
terjun terdapat sejenis belut berukuran besar yang disebut dengan istilah
Masapi. Hewan tersebut tidak boleh ditangkap apalagi dimakan sehingga perlu
dilindungi sebagai salah satu daya tarik bagi wisatawan yang datang ke
tempat ini. Akses jalan menuju DTW ini masuh cukup sulit karena masih
berupa tanah, disamping itu, sarana penunjang wisata di DTW juga belum
dikembangkan dengan baik untuk kebutuhan wisatawan sehingga dapat
memberikan kenyamanan berwisata serta dapat membawa keuntungan bagi
masyarakat sekitarnya.
5. Gunung Kandora
Gunung Kandora terletak sekitar 1.130 mdpl tepatnya di Kecamatan
Mengkendek. Nama asli dari Gunung Kandora adalah Buntu Kandora, dalam
bahasa Toraja Buntu berarti gunung dan Kandora berarti Karst/batuan kapur.
Sesuai dengan namanya, DTW Gunung Kandora sebagai salah satu destinasi
wisata alam unggulan di Tana Toraja memiliki berbagai daya tarik yang dapat
dinikmati oleh wisatawan, bahkan DTW ini telah banyak dikunjungi wisatawan.
Daya tarik wisata yang ada di Gunung Kandora ini diantaranya panorama alam
dengan keberadaan pegunungan karst dan keindahan alam disekitarnya.
Keberadaan Karst dapat juga dimanfaatkan wisatawan terutama bagi pecinta
adrenalin untuk melakukan pendakian untuk mencapai puncak Gunung
Kandora. Jalur pendakian ke Gunung Kandora dapat ditempuh dari berbagai
wilayah, di antaranya jalur dari Kecamatan Sangalla, jalur Desa Palipu’, dan
jalur via Villa Kandora. Selain itu, terdapat juga jalur via tangga besi namun
jalur ini membutuhkan skill tinggi dan peratan memanjat yang safety serta
pengalaman tentunya.
gunung terdapat villa yang tersedia bagi wisatawan yang ingin menginap
dibawah Kaki Gunung Kandora ini.
6. Danau Assa’
Salah satu kolam alami yang juga
berada di Tana Toraja adalah kolam
alam Assa yang terletak di Desa
Kalembang, Kecamatan Sanggalla.
Kolam alam Assa ini sebenarnya lebih
luas dari kolam alam Tilanga’ sehingga
tidak jarang disebut sebagai danau
kecil. Danau kecil ini terbentuk secara alami dan memberikan pemandangan
yang sangat indah serta masih alami dan segar. Hal ini dikarenakan danau ini
berada di tebing gunung.
Di Danau Assa’ yang terbentuk secara alami ini, terdapat panorama alam yang
cukup indah, dan juga keunikan lain terdapat Batu Hamil yang memiliki cerita
tersendiri yang terkait dengan masyarakat setempat. Berdasarkan hasil
kunjungan tim, DTW ini walaupun sudah dikenal sebagaian wisatawan, namun
belum adanya penataan kawasan yang terlihat dengan baik.
▪ Bangunan cagar budaya, yaitu susunan binaan yang terbuat dari benda
alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang
berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap;
▪ Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda
alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang
kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk
menampung kebutuhan manusia;
▪ Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air
yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya,
dan/atau struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti
kejadian pada masa lalu; dan
▪ Kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki 2
(dua) situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau
memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.
2. Perkampungan tradisional dengan adat dan tradisi budaya masyarakat yang
khas, seperti Kampung Naga, perkampungan Suku Badui, Desa Sade, Desa
Penglipuran, dan sebagainya; dan
3. Museum, seperti Museum Nasional, Museum Bahari, dan sebagainya.
Sedangkan jenis-jenis daya tarik wisata budaya yang bersifat tidak berwujud
antara lain berupa berupa Kehidupan adat dan tradisi masyarakat dan aktivitas
budaya masyarakat yang khas di suatu area/tempat, seperti upacara rambu solo,
dan sebagainya, serta Kesenian-kesenian tradisional.
Keunikan budaya yang ada di Tana Toraja sudah bukan menjadi hal yang asing
lagi di kalangan masyarakat, bahkan sudah menjadi pembahasan di kalangan
wisatawan mancanegara, hal ini ditunjukkan dengan beberapa situs purbakala
yang ada di Tana Toraja sudah menjadi aset dari UNESCO. Keunikan tradisi budaya
masyarakat Tana Toraja secara khusus jika tradisi tersebut berkaitan dengan
upacara rambu solo’ (pemakaman) yang biasanya diadakan selama beberapa hari
dan menghabiskan biaya yang tidaklah sedikit, sama halnya juga dengan upacara
rambu tuka’ (upacara syukuran). Tradisi tersebut masih menjadi salah satu adat
isti adat yang tetap dijaga oleh orang Toraja hingga saat ini. Hal tersebut bisa
dilihat dengan beberapa wisata yang masih tetap terjaga dengan baik dan
merupakan bentuk fisik dari tradisi yang ada.
Daya tarik wisata budaya merupakan ciri khas kepariwisataan Kabupaten Tana
Toraja. Jumlah kawasan wisata budaya yang tersebar diwilayah ini sangat banyak,
berdasarkan hasil observasi dan data sekunder lainnya terdapat paling sedikit 35
(tigapuluh lima) kawasan wisata berbasis daya tarik wisata budaya yang telah
berkembang di Kabupaten Tana Toraja. Keseluruhan daya tarik tersebut sebagian
besar telah berkembang dan dikunjungi oleh wisatawan baik nusantara maupun
mancanegara. Bahkan 3 (tiga) situs budaya telah terdaftar sebagai cagar budaya
peringkat nasional dalam situs Data Referensi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan diantaranya 1 (satu) situs cagar budaya di Kecamatan Makale yaitu
Kuburan Batu dan Rumah Adat Lemo, dan 2 (dua) situs cagar budaya di
Kecamatan Sangalla diantaranya Pemakaman Raja-raja Sangala, Tampang Allo,
dan satu museum yaitu Museum Buntu Kalando.
▪ Likunna Makuyo
▪ Atraksi Budaya
▪ Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’
7. Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakaradeng dengan objek
pendukung:
▪ Air terjun Salu Bitu
▪ Permandian Air Panas Ratte Buttu
▪ Liang pahat
▪ Permandian Air Panas Bake’
▪ Panorama Alam.
8. Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek pendukung:
▪ Agrowisata Bolokan
▪ Hutan Wisata
▪ Permandian Air Panas
▪ Rumah Adat
▪ Air terjun Ratte Sarambu
9. Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan; dengan objek pendukung :
▪ Panorama Alam
▪ Tracking
▪ Sepeda Gunung
▪ Wisata Berkuda
▪ Monumen Ampang Banu’
▪ Atraksi seni budaya
▪ Agrowisata.
10. Kawasan Wisata Barereng di Kurra dengan objek pendukung :
▪ Rafting/Arung Jeram
▪ Air Terjun
▪ Kolam Pemancingan
▪ Tracking
▪ Panorama
11. Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’ dengan objek
pendukung:
▪ Air terjun
▪ Hutan Wisata
▪ Perkemahan
▪ Atraksi seni budaya
▪ Kuburan Batu
▪ Rumah Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk
12. Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek
penunjang:
▪ Desa Wisata
▪ Rumah Adat
▪ Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari
▪ Benteng To Pada Tindo
▪ Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo
▪ Passiliran Kambisa
▪ Kerajinan seni ukir
Potensi-potensi daya tarik wisata budaya Tana Toraja berdasarkan setiap DTW
yang tersebar memiliki keunggulan masing-masing dan diperlukan adanya variasi
daya tarik wisata yang dapat memberikan kenyamanan berwisata bagi wisatawan
sehingga diharapkan wisatawan dapat lebih lama tinggal dan menikmati setiap
suguhan daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja yang tersedia. Untuk lebih
jelasnya, potensi daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja yang berbasis budaya
dapat dilhat pada tabel dan uraian beberapa potensi daya tarik wisata potensi
sebagai berikut.
Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
1 Desa Wisata Bebo' Tumbang Tumbang Datu, Bebo Sangalla Utara Rumah Adat Toraja/ Tongkonan dan Alang Yang
Datu Masih Asli
2 Papa Batu - Rembon Rumah Adat Toraja/ Tongkonan yang Beratap Batu
3 Sassa' Gasing Menkendek Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan
kehidupan masyarakat yang masih tradisional
4 Perkampungan Adat Sillanan Sillanan Gandang Batu Sillanan Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan
kehidupan masyarakat yang masih tradisional,
Kuburan Batu, Rante (tempat upacara kematian)
5 Tampang Allo Tongko Sarapung Sangalla’ Goa Alam dengan peti mati kuno dan patung
patung milik bangsawan yang berada di dalam peti
mati yang sudah berumur ratusan tahun
6 Suaya Kaero Sangalla’ Erong, Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/
Patung orang mati
7 Kambira Baby Grave Tongko Sarapung Sangalla’ Passiliran (Kuburan Bayi yang disimpan di pohon
hidup dengan cara di lubangi)
8 Potok Tengan Tengan Mengkendek Situs Purba Bersejarah dan Rumah Adat Toraja/
Tongkonan
9 Pattan Pattan Saluputti Rumah Adat Toraja/ Tongkonan, Kuburan Batu dan
Tau-Tau/ Patung Orang Mati
10 Kawasan Wisata Buntu Tengan Mengkendek Rumah Adat, Sejarah Orang Toraja, Panorama
Kandora Alam, Gunung/ Batu Kars dan Monyet Asli Toraja
11 Liang Lo'ko Randanan Ke'pe Tinoring Mengkendek Gowa Alam
12 Tongkonan Banua Kasalle Kaero Sangalla’ Tongkonan Cagar Budaya
Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
13 Buntu Tondon Tondon Mamullu Makale Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang
mati
14 Perkuburan Kuno Gandang Gandangbatu Gandangbatu Sillanan Cagar Vudaya Prasejarah / Megalitik Kuburan Batu
Batu
15 Lo'ko Wai (Kuburan Bayi Sillanan Gandangbatu Sillanan Patane khusus mayat bayi purba
Purba)
16 Liang Saratu’ Bau Bonggakaradeng Kuburan Batu Pahat
17 Kampung Tenun Malimbong Balepe Kerajinan Tenun/Tongkonan
18 Tengko Batu Kamali Makale Situs Cagar Budaya, Batu keramat
pentalluan
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Rea Saluputti Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang
mati
20 Sanduni (Liang) Banga' Banga Rembon Kuburan Batu/ Liang Pahat
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Ke'pe Tinoring Mengkendek Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang
mati
22 Liang Pahat Rano Utara Rano Utara Rano Kuburan Batu Pahat
23 Goa Sullukan Tokesan Sangalla Gowa Alam
24 Sirope' Lion Tondok Iring Makale Utara Kuburan Batu/ Liang Pahat, Erong
25 Saluliang Kole Sawangan Balepe Kuburan Batu Pahat
26 Mapongka Marinding Mengkendek Hutan Pinus dan Panorama
27 A'pa' Pamanukan Pamanukan Gandangbatu Sillanan Tongkonan
28 To' Puang Rante Alang Sangalla’ Selatan -Tongkonan
-Batu bersejarah
29 Kuburan Batu Ullin Ullin Rembon Kuburan Batu Pahat
Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
30 Batususu Talion/ Sarapeang Sarapeang Rembon
31 Ma'dandan (himpuan erong)
32 Batu Kapak (Batu Talla) Malimbong Balepe
33 Babakanaan Palipu Mengkendek
34 Kuburan Batu Lemo Lemo Makale Utara Liang/ Lobang Pahat untuk peti mati dan Tau-Tau/
Patung orang mati yang di masukkan kedalam
liang/ lobang pahat
35 Museum Buntu Kalando Tongko Sarapung Sangalla’ Tongkonan Puang Sangalla' dan Museum Mini
36 Sa’pak bayobayo Saluallo Sangalla Utara ▪ Kampung tenun,
▪ wisata religi Sa'pak Bayo-bayo
▪ Gowa Alam
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020
a. Bangunan Tongkonan
Pengembangan Kawasan Bebo dan
Tumbang Datu, sebelumnya telah
dilakukan sosialisasi oleh
pemerintah daerah dalam rangka
meningkatkan peran serta
masyarakat dalam pembangunan
dan pengembangan pariwisata
Tana Toraja yang digelar di
Tongkonan Karuaya Lembang
Tumbang Datu, pada tahun 2017
lalu. Sosialisasi kesiapan
masyarakat dalam menerima
pariwisata ini digelar dalam rangka penetapan Tongkonan Karuaya oleh
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu destinasi
pariwisata baru berupa Perkampungan Adat.
Keunikan lain rumah adat ini terlihat dari ukiran berwarna merah, hitam,
dan kuning. Motif hewan dan tanaman melambangkan kebajikan.
Tanaman gulma air serta hewan seperti kepiting dan kecebong misalnya,
diyakini melambangkan kesuburan. Ada pula ukiran kerbau yang
melambangkan kekayaan.
Selain itu juga terdapat Tongkonan Bebo dan Tongkonan Tumbang Datu,
yang terletak di bagian utara dan selatan kawasan perencanaan. Setiap
tongkonan tersebut merupakan perwakilan dari setiap rumpun/keluarga
yang ada dikawasannya.
2. Papa Batu
Tongkonan Papa Batu yang diprediksi
sudah berumur 417 tahun dan sudah
tercatat sebagai salah satu budaya
warisan dunia oleh UNESCO.
Tongkonan Papa Batu artinya rumah
adat yang beratapkan batu, dan
merupakan satu-satunya Tongkonan yang beratap batu. Sebagai satu-satunya
bangunan Tongkonan beratap batu, tentunya merupakan daya tarik wisata
yang sangat menarik yang ada di Toraja. Seluruh bagian bangunan kecuali
atap menggunakan bahan kayu. Seperti halnya bangunan Tongkonan lain di
Toraja, Papa Batu disakralkan oleh keluarga dan masyarakat setempat
sehingga untuk kepentingan kunjungan wisatawan, diharuskan mendapat izin
dari pemilik jika wisatawan ingin naik ke atap rumah untuk melihat keunikan
bangunan tersebut.
3. Sassa'
Pada Kawasan Sassa’ terdapat salah satu tongkonan yang konon katanya
merupakan Tongkonan Tertua di Tana Toraja, Tongkonan Sassa’ diperkirakan
sudah 500 tahun usianya ini, sudah dikenal sebagai salah satu objek wisata di
Tana Toraja. Selain dari keberadaaan Tongkonan Tertua Kawasan Sassa’ juga
menawarkan keindahan dan panorama alam Tana Toraja yang khas dan unik.
Karena selain secara history Tongkonan ini unik dan cukup tua usianya,
pemandangan alam di Tongkonan ini sungguh luar biasa. Berada di area
perbukitan, dari Tongkonan ini kita bisa memandang ke segala penjuru.
Pemandangan alam persawahan dan perbukitan di bawahnya terlihat begitu
mengagumkan. Dari Tongkonan Sassa’’ wisatawan dapat menyaksikan Patung
Yesus Memberkati di Buntu Burake di kejauhan. Jika tidak terpapar sinar
matahari, patung ini terlihat cukup jelas. Bukit Kandora yang mempersona,
terkadang diselimuti kabut, juga terlihat anggun dari tempat ini. Belum lagi
atap-atap Tongkonan (rumah adat Toraja) di sela-sela pepohonan di
kejauhan.
DTW ini merupakan tempat rumah adat atau tongkonan tertua di Kecamatan
Mengkendek dan sekitarnya, tongkonan Sassa’’ ini sebagai tempat tinggal
Tangdilatuk yang membuat aturan adat dan kepercayaan Sumio’ Sukaran Aluk
di kampung/negeri Pangrorean juga kuburan bayi di pohon besar, perkebunan
kopi dan markisa sehingga memberikan suhu yang sejuk. Objek wisata ini
terletak di Lembang Gasing Kecamatan Mengkendek. Untuk sampai di
Tongkonan Sassa’’ tidaklah sulit. Jarak tempat ini dari Makale, ibukota
Kabupaten Tana Toraja hanya sekitar 20 kilometer, dengan kondisi jalan yang
cukup bagus. Kendaraan roda dua maupun empat, bisa menjangkau tempat
ini. Bagi pengunjung yang datang ke sana, hanya perlu mengarahkan
kendaraan dari Makale menuju ke arah Mengkendek tepatnya di Lembang
Gasing.
5. Tampang Allo
Daya tarik wisata Tampang Allo ini
terletak 19 km dari Rantepao dan 12 km
dari Makale. Tampang Allo berupa gua
alam tempat dimakamkannya salah satu
penguasa Sangalla, yaitu Puang Manturino dan istrinya, Rangga Bulaan yang
Untuk mencapai Kawasan ini jalur yang ditempuh melalui Makale dengan 2
rute yang dapat dalam waktu sekitar 15 menit alternative lain bisa dari Makale-
Tetebassi – Sangalla- Kondoran- Suaya jaraknya sekitar 13 km atau yang dari
Kota Rantepao Kabupaten Toraja Utara bisa melalui Ke’te kesu - La’bo –
Randanbatu – Sangalla – Kondoran - Suaya jaraknya mungkin sekitar 17 km.
Objek wisata ini dekat dengen beberapa objek wisata Suaya King Grave,
Kambira Baby Grave, Museum Buntu Kalando, Sa'pak Bayo-Bayo.
oleh flora dan fauna, pepohonan yang rindang dan sejuk sehingga wisatawan
dapat menikmatinya dengan baik.
8. Suaya
Objek wisata Suaya merupakan tempat
penyimpanan mayat atau makam para
raja-Raja Sangalla dan di lengkapi oleh
Makam Raja Pantunuan yang
kedudukannya berada di atas batu
besar, mayat-mayatnya di susun
bereretan di lobang batu. Objek wisata
ini memiliki keunikan terdendiri dengan panorama alam serta dikelilingi oleh
pepohonan dan letaknya berada diatas pegunungan sehinggah wisatawan
yang mengunjungi dapat melihat jelas pamandangan di daerah tersebut.
Tempat ini terletak di Kecamatan Sangalla kelurahan Ka‟ero dengan jarak ±
10 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja. Objek ini memiliki daya tarik
adalah Liang Lo‟ko‟, Tau tau dan tau-tau.
Untuk mengunjungi DTW Suaya, telah
tersedia sarana wisata berupa tempat
parkiran yang dikelilingi oleh sejumlah
toko-toko souvenir dan makan minum.
Akses menuju kawasan ini dapat
ditempuh dengan mudah karena
berada pada ruas jalan utama kawasan
dengan kondisi aspal dan masih sangat baik untuk dilalui.
9. Buntu Tondon
Objek wisata Buntu Tondon adalah kuburan bangsawan yang ditempatkan di
lubang batu yang dipahat oleh masyarakat untuk meletakkan tau–tau (Patung
Orang yang sudah mati). Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan ditempat
ini adalah liang pa‟a (Kuburan batu pahat) yang dikelilingi batuan alam. Untuk
mengunjungi tempat ini wisatawan akan menemukan kuburan para
bangsawan masyarakat Toraja.
Kawsan wisata ini juga sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai daya tarik
wisata minat khusus pendidikan antropologi sejarah dan adat serta budaya
khas sehingga sangat penting situs-situs tersebut dikembangkan dengan lebih
komprehensive agar dapat dijadikan percontohan sebagai bahan penelitian
sekaligus berwisata.
12. Pattan
Di lokasi ini daya tarik berupa tongkonan
atau perkampungan tradisonal Toraja
yang memiliki strata kultur/budaya yang
sangat di junjung tinggi serta terdapat
Liang atau kuburan dan tau-tau yang
memiliki daya tarik tersendiri serta kondisi
alam yang sangat natural sehingga
daerah ini memiliki kenyamanan dan
keaslian yang sangat memuaskan. Objek wisata ini terletak di Kelurahan
Kelurahan Pattan Kecamatan Suluputti.
sekelilinginya serta marga satwa yang berada dilokasi. Dilihat dari tata
letaknya dengan kondisi alam yang berbukit - bukit serta panorama alam yang
berada di sekitarnya, pepohonan yang rindang, hijaunya alam sehingga
memiliki nilai estetika yang sangat menarik.
dapat dikelola dengan baik serta perlu adanya promosi kepada publik agar
dapat menambah devisa bagi daerah Kabupaten Tana Toraja.
24. Sirope'
Keterkaitan antara budaya dan bentang alam Tana Toraja ditunjukkan juga
dengan budaya penguburan jenazah didalam maupun digantung pada tebing
atau gua batuan karst. Jenazah dalam peti yang dikuburkan di dalam tebing
batu yang dilubangi pada umumnya berasal dari keluarga yang berstatus
sosial tinggi. Lubang kuburan pada tebing batu dinamakan Liang Pa’a. Objek
wisata Kuburan Alam Sirope ini terletak di kecamatan Makale Utara kelurahan
Lion Tondok dengan jarak ± 6 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.
Kawasan ini sudah mulai menarik kunjungan wisatawan sejak tahun 1960.
Kompleks pemakaman ini disebut Lemo karena kuburan/liang batu tersebut
secara keseluruhan berbentuk seperti buah jeruk bundar dan berbintik-bintik.
Menurut cerita rakyat setempat, kuburan yang tertua di Lemo berumur 500
tahun, seorang tetua adat bernama Songgi Patalo. Di tempat ini terdapat
sekitar 50 tau-tau sebagai lambang prestise, status, peran dan kedudukan
para bangsawan di Desa Lemo.
Di Buntu Kalando ini terdapat tongkonan dari keluarga Puang Sangalla‟. Puang
Sangalla‟ adalah pemimpin dari kerajaan Sangalla‟, terletak 20 km dari kota
Rantepao. Kini tongkonan tersebut telah beralih fungsi menjadi museum dan
homestay. Objek ini memiliki daya tarik adalah Tongkonan Puang Sangalla
dan Museum mini.
berbeda dengan objek wisata lain yang sudah ramai dengan wisatawan. Pada
gua alam ini terdapat 4 buah lubang gua, masyarakat Toraja menyebutnya
dengan nama lo'ko' yaitu Lo'ko' Ne' Pendang, Lo'ko' Tarru', Lo'ko' Bekak dan
Lo'ko' Kalumpini.
Salah satu DTW Buatan unggulan di Kabupaten Tana Toraja yang berbasis
religi dan alam yaitu Kawasan Buntu Burake yang merupakan wilayah
perbukitan batu gamping (kars) pada ketinggian 900 – 1.129,9 mdpl terletak
di Keluarahan Buntu Burake, Kecamatan Makale. Secara geografis Obyek
Wisata Buntu Burake terletak antara 119°51’ – 119°52’ BT dan 03°05’ – 03°06’
LS. Luas kawasan Buntu Burake ± 152,36 hektar dengan variasi vegetasi lokal
dan satwa liar dari kelas burung dan beberapa mamalia jenis monyet ekor
panjang menjadikan kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan
menjadi kawasan wisata untuk reat-reat, kamping, jalur-jalur trekking, dan
lain-lain. Kawasan Obyek Wisata Buntu Burake dikelilingi oleh 4 kampung
yaitu: Kampung Buisun di sebelah Utara, Kampung Lea di sebalah Timur,
Kampung Limbong di sebelah Selatan dan Kampung Burake di sebelah Barat.
DTW Buntu Burake ini telah dilakukan pengembangan dan merupakan salah
satu DTW andalan di Tana Toraja. Bentuk pengembangan kawasan tersebut
dibagi menjadi beberapa zona atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik
lingkungan yang spesifik, antara lain :
3. Barereng
Kawasan Barereng merupakan perpaduan jenis daya tarik wisata alam dan
buatan dengan potensi yaitu taman rekreasi, kolam pemancingan ikan, dan
kawasan perkemahan, panorama, air terjun, tracking, dan arum jeram.
Kawasan Barereng yang terletak di Lembang (Desa) Rante Limbong,
kecamatan kura, sangat berpotensi karena telah berkembang disekitarnya
perkebunan holtikultura dan panorama yang indah.
Daftar lengkap daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja yang disajikan dalam
tabel berikut.
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
Daya Tarik Wisata Alam (Nature Tourism)
1 Agrowisata Pango-Pango Tosapan Makale Selatan ▪ Pepohonan pinus Pemda Sudah
▪ Perkebunan agro (kopi, Kabupaten beroperasi
tamarillo, strawbery dll)
▪ Pemandangan alam yang
indah dan udara yang
dingin.
2 Permandian Alam Sarira Makale Utara ▪ Kolam Alam Keluarga (Non Sudah
Tilangnga ▪ Belut Yang Hidup Didalam Yayasan) beroperasi
Kolam
3 Rurak Ke'pe' Tinoring Mengkendek Goa Alam yang dijadikan Keluarga (Non Belum
kuburan pada zaman yang Yayasan) beroperasi
lalu dan kuburan tersebut
sudah berumur ratusan
tahun
4 Sarambu Assing Patongloan Bittuang Air Terjun Pemda Belum
Kabupaten beroperasi
5 Sarambu Ratte Balla Bittuang Air Terjun Pemda Belum
Kabupaten beroperasi
6 Talondo Tallu Balepe' Malimbong Air Terjun Pemda Belum
Balepe Kabupaten beroperasi
7 Perkebunan Kopi Tiroan Tiroan Bittuang ▪ Perkebunan Kopi dan Keluarga Belum
▪ Pemandangan Alam beroperasi
dengan Udara yang
Dingin
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
8 Lo'ko Tongko Tongko Sarapung Sangalla Goa Alam Keluarga Belum
beroperasi
9 Arum Jeram Maroson Padakka Kurra ▪ Arum Jeram (sungai Pemda Belum
mai'ting) Kabupaten beroperasi
▪ Panorama Alam
10 Danau Assa’ Lembang Turunan Sangalla ▪ Danau alami Pemda Belum
▪ panorama, dan Kabupaten beroperasi
▪ batu hamil.
11 Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek Panorama Alam Gunung Pemda Belum
Karst Kabupaten beroperasi
12 Panjat Tebing Kandora Mengkendek Tebing Karst Vertikal Pemda Belum
Kabupaten beroperasi
13 Panorama Bukit Sion ▪ Pemandangan Kota Pemda Sudah
Bombongan Makale Makale Kabupaten beroperasi
▪ Panorama Alam
14 Air terjun ratte sarambu L. Potongloan Bittuang ▪ Air terjun LKMD Potongloan Sudah
assing ▪ Pemandian alam beroperasi
15 Alloan Marinding Mengkendek Panorama Alam Keluarga Belum
beroperasi
16 Air Panas Balla Balla Bittuang Mata air panas Pemda Belum
beroperasi
17 Air Terjun (Sarambu) Uluwai Mengkendek Air Terjun Pemda Belum
Tipali beroperasi
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
18 Air Terjun (Sarambu) Simbuang Mengkendek Air Terjun Pemda Belum
Marintang beroperasi
19 Bumi Perkemahan Simbuang Mengkendek ▪ Kolam Pemancingan Keluarga Sudah
Marintang ▪ Perkemahan beroperasi
20 Ollon Poton Bonggakaradeng Pannorama Alam/Savana Pemda Belum
beroperasi
21 Permandian Air Panas Tokesan Sangalla’ Permandian Air Panas Alam Keluarga Sudah
Makula beroperasi
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
▪ Rante (tempat upacara
kematian)
5 Tampang Allo Tongko Sarapung Sangalla’ ▪ Goa Alam dengan peti Keluarga Sudah
mati kuno dan (Keluarga beroperasi
▪ patung patung milik passanan tengko
bangsawan yang berada
di dalam peti mati yang
sudah berumur ratusan
tahun
▪ Panorama Alam
6 Suaya Kaero Sangalla’ Erong, Kuburan Batu/ Liang Keluarga (non Sudah
Pahat, Tau-Tau/ Patung Yayasan) beroperasi
orang mati
7 Kambira Baby Grave Tongko Sarapung Sangalla’ Passiliran (Kuburan Bayi Keluarga Sudah
yang disimpan di pohon (yayasan beroperasi
hidup dengan cara di mangunda’pa)
lubangi)
8 Potok Tengan Tengan Mengkendek ▪ Situs Purba Bersejarah Belum
▪ Rumah Adat Toraja/ beroperasi
Tongkonan
9 Pattan Pattan Saluputti ▪ Rumah Adat Toraja/ Keluarga Belum
Tongkonan beroperasi
▪ Kuburan Batu dan
▪ Tau-Tau/ Patung Orang
Mati
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
10 Kawasan Wisata Buntu Tengan Mengkendek ▪ Rumah Adat, Sejarah Pemda Belum
Kandora Orang Toraja beroperasi
▪ Panorama Alam,
▪ Gunung/ Batu Kars dan
▪ Monyet
11 Liang Lo'ko Randanan Ke'pe Tinoring Mengkendek Gowa Alam Keluarga Belum
beroperasi
12 Tongkonan Banua Kasalle Kaero Sangalla’ Tongkonan Cagar Budaya Keluarga Belum
beroperasi
13 Buntu Tondon Tondon Mamullu Makale Kuburan Batu/ Liang Pahat, Keluarga Belum
Tau-Tau/ Patung orang mati beroperasi
14 Perkuburan Kuno Gandang Gandangbatu Gandangbatu Cagar Vudaya Prasejarah / Keluarga Belum
Batu Sillanan Megalitik Kuburan Batu beroperasi
15 Lo'ko Wai (Kuburan Bayi Sillanan Gandangbatu Patane khusus mayat bayi Pemda Berhenti
Purba) Sillanan purba beroperasi
16 Liang Saratu’ Bau Bonggakaradeng Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum
beroperasi
17 Kampung Tenun Malimbong Balepe Kerajinan Tenun/Tongkonan Keluarga
18 Tengko Batu Kamali Makale ▪ Situs Cagar Budaya, Keluarga Belum
pentalluan ▪ Batu keramat beroperasi
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Rea Saluputti Kuburan Batu/ Liang Pahat, Keluarga Belum
Tau-Tau/ Patung orang mati beroperasi
20 Sanduni (Liang) Banga' Banga Rembon Kuburan Batu/ Liang Pahat Keluarga Belum
beroperasi
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Ke'pe Tinoring Mengkendek Kuburan Batu/ Liang Pahat, Keluarga Belum
Tau-Tau/ Patung orang mati beroperasi
22 Liang Pahat Rano Utara Rano Utara Rano Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum
beroperasi
23 Goa Sullukan Tokesan Sangalla Gowa Alam Keluarga Belum
beroperasi
24 Sirope' Lion Tondok Iring Makale Utara Kuburan Batu/ Liang Pahat, Keluarga
Erong
25 Saluliang Kole Sawangan Balepe Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum
beroperasi
26 Mapongka Marinding Mengkendek ▪ Hutan Pinus Pemda Belum
▪ Panorama beroperasi
27 A'pa' Pamanukan Pamanukan Gandangbatu Tongkonan Keluarga Belum
Sillanan beroperasi
28 To' Puang Rante Alang Sangalla’ ▪ Tongkonan Keluarga Belum
Selatan ▪ Batu bersejarah beroperasi
29 Kuburan Batu Ullin Ullin Rembon Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum
beroperasi
30 Batususu Talion/ Sarapeang Rembon
Sarapeang
31 Ma'dandan (himpuan Patudu Gandang Batu ▪ Perkumpulan erong Belum
erong) Silanan (kuburan kuno) beroperasi
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
▪ keindahan alam serta
dikelilingi oleh vegtasi
yang hijau.
32 Batu Kapak (Batu Talla) Malimbong Balepe
33 Babakanaan Palipu Mengkendek
34 Kuburan Batu Lemo Lemo Makale Utara Liang/ Lobang Pahat untuk Keluarga Sudah
peti mati dan Tau-Tau/ beroperasi
Patung orang mati yang di
masukkan kedalam liang/
lobang pahat
35 Museum Buntu Kalando Tongko Sarapung Sangalla’ Tongkonan Puang Sangalla' Sudah
dan Museum Mini beroperasi
36 Sa’pak bayobayo Saluallo Sangalla Utara ▪ Kampung tenun, Keluarga Sudah
▪ wisata religi Sa'pak Bayo- beroperasi
bayo
▪ Gowa Alam
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
3 Taman Hiburan Plaza Bombongan Makale Kolam dan air mancur Pemda Sudah
Kolam Makalle beroperasi
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020
TIC menjadi sumber segala informasi yang berkaitan dengan Pariwisata Tana
Toraja mulai dari informasi objek wisata, penginapan transportasi, restoran dan
lain sebagainya agar setiap wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja dapat
mengakses informasi dengan mudah. Selain itu, TIC ini juga dapat berfungsi
sebagai administrasi kepariwisataan yang mendata setiap kunjungan wisatawan
serta tujuan-tujuan ke daya tarik tertentu sehingga Pemerintah Kabupaten Tana
Toraja kedepannya akan mendapat gambaran perkembangan wisatawan serta
kawasan-kawasan wisata mana saja yang menjadi unggulan kunjungan
wisatawan.
Secara eksternal wilayah, Kabupaten Tana Toraja dilayani oleh moda angkutan
darat dan udara (tahap pengembangan bandara). Moda angkutan darat yang
digunakan dari dan ke Tana Toraja dapat dicapai dengan berbagai jenis kendaraan
baik roda dua maupun roda empat dan bus. Kabupaten Tana Toraja dilalui oleh
ruas jalan nasional sehingga dapat ditempuh dari berbagai arah, khususnya dari
Kota Makassar, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan umum bus dari
berbagai perusahaan transportasi yang tersedia seperti Litha and Co, Manggala
Tran, Metro Permai, Bintang Prima, dll yang perwakilannya sudah ada di Kota
Makale dan sekitarnya. Untuk jalur udara saat ini telah dilakukan uji coba
penerbangan dan tahap pengembangan bandara Buntu Kuni telah mencapai tahap
akhir sehingga kedepannya transportasi udara menuju Tana Toraja akan menjadi
moda yang sangat efisien melakukan perjalanan ke Tana Toraja.
Secara internal, sarana transportasi yang dapat digunakan oleh wisatawan menuju
ke tempat-tempat wisata dengan menggunakan jasa travel dan bus-bus pariwisata
yang telah tersedia, serta kendaraan-kendaraan sewa yang disediakan oleh
perusahaan maupun perorangan di Tana Toraja baik roda dua maupun roda
empat.
4.2.4 Akomodasi
Akomodasi wisata merupakan hal penting dalam memenuhi kebutuhan wisatawan
yang sedang berwisata. Para wisatawan cenderung membutuhkan akomodasi
yang memiliki beragam varian harga maupun macamnya. Bentuk akomodasi
primer yang dibutuhkan wisatawan yaitu adanya tempat untuk menginap saat
mereka melakukan perjalanan wisata. Setzer Munavizt menyatakan bahwa
“Akomodasi adalah sesuatu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan,
misalnya tempat menginap atau tempat tinggal sementara bagi orang yang
bepergian.” Lebih jauh Munavizt menyatakan bahwa akomodasi wisata dapat
berupa tempat dimana wisatawan dapat beristirahat, menginap, mandi, makan,
minum serta menikmati jasa pelayanan yang disediakan.
insentif, konferensi, dan pameran; (i) jasa informasi pariwisata; (j) jasa konsultan
pariwisata; (k) jasa pramuwisata, (l) wisata tirta; dan (m) spa.” Penyediaan
akomodasi sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 14 Ayat (1) huruf (a) UU
Kepariwisataan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan akomodasi wisata
merupakan hal yang perlu disediakan oleh penyedia jasa pariwisata bagi
wisatawan untuk menunjang kegiatan wisatawan selama berlibur di tujuan wisata.
Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan di
Indonesia, peran akomodasi pariwisata sangat penting peranannya dalam
mewadahi kebutuhan wisatawan. Peran pihak swasta dalam penyediaan sarana
akomodasi sangat tergantung pada perkembangan investasi didaerah, dimana
Kabupaten Tana Toraja dilihat sebagai salah satu potensi yang dapat berkembang
akomodasi baik bagi kepentingan pariwisata maupun kepentingan lainnya.
Dalam pembahasan ini, secara umum akan diuraikan potensi akmodasi yang
tersedia di Kabupaten Tana Toraja yang juga merupakan bagian dari akomodasi
pariwisata. Kota Makale sebagai pusat informasi pariwisata/TIC merupakan pilihan
investasi dalam bidang perhotelan, sehingga sebaran hotel-hotel dan akomodasi
lainnya lebih cenderung berada di Kota Makale dan sekitarnya. Berdasarkan hasil
observasi lapangan, terdapat kurang lebih sekitar 8 unit hotel, 4 unit penginapan,
dan 6 unit Wisma, Home Stay 8 unit serta fasilitas akomodasi lain seperti villa-villa
yang tersedia di DTW.
Hotel yang tersedia dengan berbagai tingkatan dari tingakat melati sampai dengan
hotel berbintang 3 (tiga) yaitu Sahid Hotel yang terletak di Kelurahan Rante Kalua
Kecamatan Mengkendek, kemudian ada Hotel Pantan dengan kelas bintang 2 (dua)
terletak di Kota Makale. Selain akomodasi umum, beberapa DTW juga telah
tersedia penginapan dan villa-villa terutama DTW-DTW alam yang mempunyai
daya tarik pada waktu-waktu tertentu dan jarak yang cukup jauh dari pusat kota
seperti DTW Pango Pango yang juga memiliki daya tarik pemandangan alam pada
pai hari.
Tabel: 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tabel: 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tabel: 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tabel: 4.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Usaha jasa pariwisata adalah suatu bisnis yang kegiatan utamanya menjual jasa-
jasa pariwisata kepada para wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Agen
Perjalanan, Biro Perjalanan dan Tour Operator (Usaha Jasa Perjalanan) : Kegiatan
Biro Perjalanan lebih luas lagi dibandingkan dengan Biro Perjalanan. Selain usaha
daya tarik wisata, akomodasi, serta transportasi, jenis usaha pariwisata lain dapat
berupa Usaha Perjalanan Wisata, Usaha Makanan dan Minum, penyelenggaraan
Kegiatan Hiburan dan Rekreasi, SPA, Pertemuan, dll.
wisata lain terkait dengan perjalanan wisata ke Tana Toraja juga tersedia di Kota
Makassar sebagai TIC Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut rincian beberapa agen
perjalanan wisata yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja yang dihimpun dari
Dinas Pariwisata Kabupaten.
Tabel: 4.6 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tahun
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
Beroperasi
1 AGEN PERJALANAN TRAVEL MORIA JL. PONGTIKU PANTAN
2012
WISATA MAKALE
2 USAHA PENYEDIAAN CV. BINA JL. NUSANTARA NO. 35
AKOMODASI BUNGIN MAKALE 2012
SEJAHTERA
3 BIRO PERJALANAN CV. BINA JL. NUSANTARA NO. 35
WISATA BUNGIN MAKALE 2012
SEJAHTERA
4 TOURS & TRAVEL PT. RANTELEMO KEL.
KHATULISTIWA SARIRA, KEC. MAKALE
2013
NUSANTARA UTARA
HIJAU
5 BIRO PERJALANAN CV. MEGA JL. PELITA NO. 83 KEL.
WISATA PERMAI BOMBONGAN, KEC. 2014
MAKALE
6 BIRO PERJALANAN CV. MELONA JL. PASAR BARU NO. 52
2015
WISATA GRASIA
7 JASA BIRO PT. MANTING MAMULLU
PERJALANAN JAYA ANUGRAH 2015
WISATA
8 JASA BIRO PT. CELEBES [Link]
PERJALANAN BALI WISATA 2015
WISATA
9 BIRO PERJALANAN KARTINI SALUPUTTI
2018
WISATA TRAVEL
10 BIRO PERJALANAN TONDON MAMULLU
AMOS TRAVEL 2019
WISATA
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Salah satu fasilitas pendidikan tinggi di Kabupaten Tana Toraja yaitu Sekolah
Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Toraja yang terletak di Rante Kalua
Kecamatan Mengkendek, telah merencanakan mengembangan program studi yang
berbasis kepariwisataan dan budaya yang dapat mendukung pengembangan
kepariwisataan Tana Toraja. Bahkan STAKN telah melakukan usulan transformasi
dari sekolah tinggi menjadi institut dengan Nama Institut Agama Kristen Negeri
(IAKN) yang disertai dengan usulan-usulan pengembangan program studi yang
ada serta membuka beberapa program studi yang sangat mendukung
pembangunan kepariwisataan Tana Toraja.
Salah satu ruas jalan misalnya yang dikembangkan yaitu ruas jalan lingkar
pariwisata yang dibangun untuk mengakomodasi perjalanan wisatawan serta
membuka keterisolasian beberapa bagian wilayah kabupaten. Sebagaimana telah
diuraikan dalam bab sebelumnya, perkembangan jaringan transportasi darat
(jalan) di Kabupaten Tana Toraja cukup pesat pertumbuhannya. Sejumlah ruas-
ruas jalan menuju DTW telah dibangun dan pemeliharaan fisik seperti di Pango
Pango, Buntu Burake, dan lain-lain.
Penyebaran daya tarik wisata yang sangat banyak di Tana Toraja menuntut adanya
pengembangan akses yang layak bagi kegiatan pariwisata. Salah satu keunggulan
dari sebaran daya tarik wisata didaerah ini yaitu sebagian besar DTW-DTW
merupakan bagian dari perkampungan-perkampungan yang sekaligus merupakan
bagian dari pelayanan dasar terhadap masyarakat. Secara umum, aksesibilitas
terhadap jangkauan DTW di Tana Toraja terlayani cukup baik dan umumnya
dibangun jalan-jalan beton dan aspal yang dapat menjangkau sampai ke kawasan-
kawasan wisata, bahkan penataan akses internal kawasan wisata telah banyak
dilakukan untuk mendukung kegiatan wisatawan didalam setiap DTW.
2. Terminal
Keberadaan terminal sebagai titik simpul pergerakan arus kendaraan, orang
dan barang adalah penting untuk diamati. Jumlah terminal di Kabupaten Tana
Toraja hanya 1 lokasi, yaitu terminal Makale dengan terminal bertype C. Lokasi
terminal Makale tersebut telah dimanfaatkan sebagai simpul utama
pergerakan angkutan. Kondisi terminal type C Makale saat ini terdiri atas
3. Transportasi Udara
Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan udara ke
Tana Toraja. Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang berangkat dari
Bandara Pongtiku sebanyak 1.030 orang. Penerbangan di Tana Toraja
melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar pulau sulawesi. Bandar
udara ini direlokasi karena tidak bisa dikembangkan karena aspek geologi
tidak memadai. Bandara Buntu Kuni disiapkan sebagai pengganti Bandara
Pongtiku, dengan landasan pacu sepanjang 2.600 meter dengan nama Toraja
International Airport yang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kunjungan
wisatawan domestik maupun mancanegara.
Rasio wartel/warnet terhadap penduduk di Tana Toraja untuk tahun 2010 adalah
sebesar 0,00010. Angka rasio warnet/wartel tahun 2014 menurun dibanding tahun
2010 karena kebutuhan akan akses internet saat ini sudah sangat mudah, antara
lain melalui free hotspot dan modem GSM/CDMA dengan biaya relatif murah.
Jumlah jaringan telepon seluler di Kabupaten Tana Toraja mengalami peningkatan
yaitu pada tahun 2010 hanya ada 3 jaringan sedangkan pada tahun 2014
meningkat menjadi 6 jaringan. Untuk tujuan pengembangan telekomunikasi,
direncanakan pengembangan sistem jaringan Kabupaten Tana Toraja yang
meliputi:
1. Rencana telepon nirkabel berupa lokasi menara Base Transceiver Station
(BTS) dikembangkan penggunaannya secara bersama dan tidak mengganggu
aktifitas disekitarnya termasuk kegiatan penerbangan.
2. Pengembangan pelayanan jasa telekomunikasi diarahkan pada pembangunan
Tower terutama pada wilayah/daerah khusus.
3. Pengembangan pelayanan sistem interkoneksitas secara terpadu lebih
diarahkan pada sistem e-government dan e-library.
Maju dan berkembangnya suatu wilayah atau kawasan adalah merupakan peran
dari orang atau manusia yang ada didalamnya, sebab pada prinsipnya
sesungguhnya dengan kemapaman atau skill dari setiap manusia tersebutlah yang
mampu mengelola serta melakukan pamnfatan yang bijak serta mapan bagi
daerah tersebut. Kabupaten Tana Toraja dengan segala kekayaan alamnya yang
melimpah serta memiliki jumlah penduduk yang terbilang cukup padat akan
semakin mampu bersaing dalam era globalisasi ini apabila kondisi alam mampu
diseimbangkan dengan kondisi SDM yang memadai pula.
40000.0
35000.0
30000.0
25000.0
20000.0
15000.0
10000.0
5000.0
.0
Gambar : 4.7
Grafik Jumlah Penduduk Tiap Kecamatan di Kabupaten Tana Toraja, 2019
Jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja pada akhir tahun 2019 berjumlah
234.002 jiwa yang terditribusi pada 19 kecamatan, dengan tingkat persebaran
yang tidak merata pada setiap kecamatan. Distribusi jumlah penduduk terbanyak
terdapat berada pada kecamatan Makale yaitu 35.892 jiwa dengan kepadatan 903
jiwa/km2 dan di susul Kecamatan Mengkendek yaitu sebanyak 28.073 jiwa dengan
kepadatan 143 jiwa/km2, sedangkan jumlah penduduk yang terkecil adalah pada
Kecamatan Kurra yang hanya berjumlah 5.484 jiwa dengan kepadatan penduduk
91 jiwa/km2. Jumlah penduduk tiap bagian wilayah di Kabupaten Tana Toraja ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya luas wilayah dan statu administrasi
kecamatan, secara rinci diuraikan pada tabel :
Dari jumlah penduduk tersebut, dapat dilihat bahwa penduduk untuk jenis kelamin
laki-laki terbesar berada di Kecamatan Makale yaitu 17.666 jiwa, sedangkan
Kecamatan Kurra hanya memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.872 jiwa yang
berjenis kelamin laki-laki. Secara rinci struktur penduduk menurut usia diuraikan
pada tabel berikut:
5
5.1 PENCERMATAN KARAKTERISTIK PARIWISATA
Analisis karakteristik pariwisata ini bertujuan untuk mengetahui segala potensi dan
permasalahan wisata daerah berdasarkan fakta dan data yang ditemukan
dilapangan. Selain itu, analisis ini diharapkan dapat menggambarkan karakteristik
maupun kondisi, baik dari segi kebijakan yang mendukung kegiatan sektor
pariwisata dan karakteristik dari daya tarik wisata kabupaten.
dan peran Daerah sebagai daerah Wisata serta upaya pengembangan wisata yang
ada di lapangan.
DTW Budaya
1 Desa Wisata Bebo' Tumbang ▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan dan Pentas seni dan
Datu ▪ Alang Yang Masih Asli budaya Kondisi keanekaragaman
wisata:
2 Papa Batu Rumah Adat Toraja/ Tongkonan yang
- ▪ Pengebangan daya tarik sebagai
Beratap Batu
penunjang daya tarik utama di
3 Sassa' ▪ Rumah Adat Tongkonan,
- DTW tertentu.
▪ Panorama Alam dan
DTW Buatan
1 Objek Wisata Religi Buntu ▪ Patung Yesus Kondisi keanekaragaman
Burake ▪ Jembatan Kaca Andrenalin wisata:
▪ Panorama Alam ▪ Pengebangan daya tarik sebagai
2 Barereng ▪ Taman Wisata penunjang daya tarik utama.
▪ Kolam pemancingan ikan Andrenalin ▪ Adanya perpaduan jenis DTW
▪ Perkemahan
Kondisi aksesibilitas daerah
3 Taman Hiburan Plaza Kolam ▪ Kolam dan air mancur wisata:
Makalle ▪ Dapat dijangkau dengan mudah
-
Kondisi pembangunan fasilitas
penunjang:
Berdasarkan hasil uraian potensi dalam matriks supply diatas, maka akan
dirumuskan sebagai bahan masukan dalam pengembangan strategi kemajuan
pariwisata di Kabupaten Tana Toraja secara umum.
3. Kesan Wisatawan
Kesan wisatawan ditentukan berdasarkan pendapat wisatawan berkaitan
dengan kondisi objek wisata yang disampaikan melalui jawaban kuesioner
dengan alternatif sangat memuaskan, memuaskan, cukup memuaskan, biasa
saja, kurang memuaskan, dan tidak memuaskan. Kesan ini diperoleh setelah
wisatawan berkunjung ke suatu lokasi DTW.
Pada kajian ini, analisis Demand lebih difokuskan pada permintaan atau keinginan
wisatawan terhadap DTW Daerah dengan mengidentifikasi tujuan dan motivasi
wisatawan melakukan perjalanan wisata ke Daerah, frekuensi kunjungan
wisatawan ke Daerah, aktivitas wisata yang biasa dilakukan oleh wisatawan selama
berada di Daerah, serta penilaian wisatawan terhadap atraksi dan daya tarik objek
wisata yang menunjukkan tingkat kepuasan wisatawan terhadap objek wisata.
Permintaan/keinginan wisatawan tersebut diketahui melalui wawancara langsung
yang mengambil sampel pada beberapa DTW yang diobservasi dan studi lain yang
telah dilakukan melalui sebaran kuesioner maupun wawancara langsung serta tim
penyusun dan tenaga lainnya sebagai responden dalam kajian ini, yang
diruntutkan berdasarkan variabel kajian.
Industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam
rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan
wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata (Undang-Undang Pariwisata no 10
tahun 2009). Dengan kata lain, Industri Pariwisata dapat diartikan sebagai
sehimpunan bidang usaha yang menghasilkan berbagai jasa dan barang yang
dibutuhkan oleh mereka yang melakukan perjalanan wisata. Menurut S. Medlik,
setiap produk, baik yang nyata maupun maya yang disajikan untuk memenuhi
kebutuhan tertentu manusia, hendaknya dinilai sebagai produk industri. Jika
sejemput kesatuan produk hadir diantara berbagai perusahaan dan organisasi
sedemikian sehingga memberi ciri pada keseluruhan fungsi mereka serta
menentukan tempatnya dalam kehidupan ekonomi, hendaknya dinilai sebuah
industri.
tempat tinggal sementara kepada umum yang memenuhi syarat. Karena jasa itu
diberikan secara komersial, maka dalam rangka konsep industri pariwisata hotel
juga disebut perusahaan penjual jasa.
Penyediaan jenis akomodasi Hotel sebagai bagian dari pelayanan pariwisata telah
dipandu oleh ketentuan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
6 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif Nomor 53 Tahun 2013 tentang Standar Usaha Hotel, dimana ketentuan ini
menjadi acuan bagi daerah yang secara khusus mengembangkan kepariwisataan
sebagai salah satu sektor utama dalam pengembangan wilayahnya.
Syarat-syarat fasilitas yang terpenting mengenai bentuk, fungsi, dan mutu. Bentuk
dan desain fasilitas hotel harus dapat dikenal (recognizable). Seperti hal-hal lain
dalam praktek kepariwisataan bentuk fasilitas itu harus sesuai dengan gaya
kepariwisataan, misalnya mengadopsi bentuk rumah adat atau sesuai dengan adat
dan budaya di Tana Toraja. Hal tersebut dalam mengembangkan sektor
kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja, dengan pembangunan berbagai
akomodasi pariwisata, maka bentuk desain harus sesuai dengan adat istiadat yang
berlaku, sehingga memiliki ciri khas tersendiri.
Sumber: Lampiran Permen. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014.
Menurut data yang dihimpun, akomodasi jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja
terdiri dari 8 (delapan) unit, diantaranya Hotel Sahid, PantanToraja Hotel, Hotel
Sangalla', Hotel Grand Metro Permai, Hotel Batupapan, Puri Artha Suites Hotel
Toraja, Makula Hotel, dan Hotel Gosyen Efata. Hotel-hotel tersebut terdapat juga
yang memiliki sejumlah fasilitas yang cukup memadai jika dilihat dari tebel dibawah
ini. Hotel Sahid dan Pantan Toraja Hotel berdasarkan data tersebut sudah
merupakan hotel dengan kelas bintang 3 (tiga) dan bintang 2 (dua) sehigga sudah
pasti memiliki keunggulan dari fasilitas dan pelayanan serta manajemen yang lebih
baik.
Jika dilihat dari tingkat hunian terhadap keberadaan akomodasi jenis hotel ini,
masih cukup kecil yaitu rata-rata hanya sebesar 26%, hanya Hotel Pantan yang
memiliki persentase tingkat hunian yang besar dibanding yang lain bahkan lebih
dari Hotel Sahid yaitu hanya 45% dan Hotel Sahid sendiri dengan tingkat hunian
hanya 30%.
Tabel: 5.6 Akomodasi Jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tingkat
No. Nama Hotel Fasilitas Ket.
Hunian
1 Hotel Sahid*** ▪ 24 jam room service 30% Bintang 3
▪ Restaurant
▪ Swiming pool
▪ Metting room
2 Pantan Toraja ▪ Laundry 45% Bintang 2
Hotel** ▪ Swimming Pool
▪ Restaurant
▪ Room Service
▪ Wifi
▪ Tv/Kamar
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room Kapasitas 50 s/d 300
3 Hotel Sangalla' ▪ Meeting Room 20% Melati II
▪ Wi-fi
▪ 8 kamar Tv
▪ Restoran
4 Hotel Grand ▪ AC, TV, Air Panas 20% Hotel
Metro Permai ▪ Restoran
5 Hotel ▪ wi-fi 20% Melati III
Batupapan ▪ Tv /kamar
Tabel: 5.6 Akomodasi Jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tingkat
No. Nama Hotel Fasilitas Ket.
Hunian
6 Puri Artha ▪ Tv, Kulkas, Shower, Air Panas 30% Melati III
Suites Hotel ▪ Meeting Room
Toraja ▪ Restoran
7 Makula Hotel Kolam Air Panas 20% Melati III
8 Hotel Gosyen - - -
Efata
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020
Pada umumnya setiap bulan di tahun 2019 tersebut rata-rata kunjungan sebanyak
86.779 wisatawan, dimana jumlah kunjungan terbesar pada Bulan Desember yaitu
sebesar 325.510 kunjungan wisatawan dan Bulan April merupakan jumlah
kunjungan terkecil yaitu hanya sebanyak 14.925 wisatawan. Data perhitungan
tersebut menggambarkan cukup kecilnya penggunaan hotel yang tersedia. Dari
beberapa sumber yang diwawancara dari wisatawan nusantara, salah satu faktor
adalah wisatawan tidak menginap (pulang-pergi), waktu yang digunakan yaitu dari
pagi sampai sore kemudian langsung meninggalkan Tana Toraja, dan
memanfaatkan sanak saudara dan kerabat sebagai tempat menginap.
Namun demikian, akomodasi yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja bukan hanya
hotel, namun terdapat juga beberapa jenis akomodasi lainnya yaitu penginapan,
goest house, wisma, homestay, dan villa yang keseluruhannya berjumlah 32 unit
akomodasi tersebar, namun umumnya tingkat hunian cenderung sama dengan
hotel yaitu dibawah 40%.
terkecil dari kampung. Sesuai dengan maksud dan sifatnya, dusun wisata itu
biasanya memilih tempat di gunung dan daerah adat mengadakan olahraga,
dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan alam. Karena dusun
wisata itu sedikit banyak merupakan masyarakat tertutup, maka hubungannya
dengan dunia luar juga dapat dikatakan terputus. Kabupaten Tana Toraja yang
terdiri atas 19 wilayah kecamatan, dengan potensi wisata yang dimiliki, maka
pembangunan Dusun Wisata sangat prospek dikembangkan, khususnya
ditempat-tempat wisata tersebut. Dengan demikian, maka arahan
pembangunan dusun wisata diarahkan pada bagian wilayah yang
dikembangkan sebagai Desa-Desa Wisata, DTW-DTW berbasis Alam dan
Budaya.
2. Wisma Peristirahatan
Dibandingkan dengan hotel, dimana wisma peristirahatan menunjukkan
perbedaan dan persamaan dengan hotel. Dilihat dari bangunannya yang lebih
sederhana, sering rumah biasa, kapasitasnya untuk menerima tamu juga lebih
kecil. Fasilitas dan pelayanannya lebih sederhana, sehingga kenyamanannya
juga tidak seperti di hotel. Akan tetapi sebaliknya wisama peristirahatan lebih
memberi rasa leluasa, karena lebih banyak hal-hal yang tidak diatur, maka
selera dan kegiatan diserahkan kepada tamu itu sendiri serta tarifnya pun
rendah. Jelaslah bahwa wisma peristirahatan itu termasuk dalam jenis
kegiatan ‘wisata sosial’ dan termasuk bagian yang amat penting. Di lokasi-
lokasi wisata tertentu, terutama di daerah-daerah dengan iklim dan panorama
alam yang indah yang tersedia di Tana Toraja, maka sangat baik
pembangunan wisma.
3. Pondok Liburan (Vacante Kolonie)
Pondok liburan juga semacam wisma peristirahatan, akan tetapi khusus untuk
anak sekolah pada waktu liburan. Pondok liburan semacam itu tujuannya
bersifat pendidikan dan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada
anak-anak sekolah untuk berekreasi dan mengisi liburannya dengan kegiatan-
kegiatan yang bermanfaat. Pondok liburan seperti itu biasanya
diselenggarakan oleh badan sosial atau badan pendidikan maupun
pemerintah. Meskipun diselenggarakan secara nonkomersial, akan tetapi
Usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan
perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpana dan/atau penyajiannya.
Jasa boga adalah usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi
dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan dan
penyajian, untuk disajikan di lokasi yang diinginkan oleh pemesan. Pusat penjualan
makanan adalah usaha penyediaan tempat untuk restoran, rumah makan dan/atau
kafe dilengkapi dengan meja dan kursi.
Didalam bidang restoran, perhatian antara lain dapat diarahkan pada kualitas
pelayanan, baik dari jenis makanan maupun teknik pelayanannya. Disamping itu,
dari segi kandungan gizi, kesehatan makanan dan lingkungan restoran serta
penemuan makanan-makanan baru dan tradisional baik resep, bahan maupun
penyajiannya yang bias dikembangkan secara nasional, regional bahkan
internasional.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa hotel menyediakan jasa memenuhi
kebutuhan wisatawan akan makanan dan minum. Akan tetapi jasa untuk makan
dan minum juga banyak disediakan diluar hotel, dalam benyak rumah makan dan
berbagai fasilitas lainnya. Rumah makan di kota besar biasanya tidak
diselenggarakan khusus untuk wisatawan, bahkan pendapatannya berasal dari
penduduk setempat. Rumah makan atau restoran yang khusus memberikan
jasanya kepada orang yang dalam perjalanan letaknya diluar kota, ditepi jalur
lintas yang penting.
Di Kabupaten Tana Toraja berdasarkan hasil survey terdapat rumah makan serta
warung yang masih terpusat dikawasan pusat Kota Makale dan kawasan
perdagangan. Dalam pembangunan sarana pariwisata tersebut, maka perlu
diperhatikan bagi para pemiliki rumah makan dan warung pada masa yang akan
datang ketika sektor pariwisata sudah berkembang adalah kebersihan, menu yang
bervariasi serta karakter pemilik rumah makan ataupun warung yang ramah dalam
menyambut para pengunjung. Selain itu, perlu mengikuti peraturan pemerintah
yang berkaitan dengan usaha rumah makan dan tetap mempertahankan image
sesuai dengan karakter/ciri dari rumah makan tersebut.
Untuk lebih jelasnya kategori komponen pariwisata secara garis besar dari hasil
analisis dapat diklasifikasikan berdasarkan komponen wisata tersebut,
sebagaimana pada tabel berikut dan hubungan antar komponen wisata.
Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana
Tabel: 5.7
Toraja
Kategori Komponen
No. Komponen Wisata
Utama Pendukung
1 Atraksi Wisata
▪ Ruang atraksi wisata X
▪ Pusat Informasi wisata X
2 Aksesibilitas X
▪ Terminal angkutan X
Ketiga unsur diatas mengandung makna bahwa pengembangan daya tarik wisata
bukan hanya menampilkan potensi daya tariknya suatu kawasan saja, namun lebih
dari itu perlu dilengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan lain sesuai perkembangan
kepariwisataan secara global. Hal ini sangat perlu dilakukan mengingat
karakteristik wisatawan yang memiliki hobi berwisata tentunya sudah mempunyai
referensi-referensi daya tarik wisata yang banyak dan untuk menentukan
pilihannya tentu akan mengacu pada ketiga variabel tersebut diatas yang lebih
layak dikunjungi atau yang belum pernah dikunjungi dari apa yang sudah pernah
dikunjunginya, dalam hal ini wisatawan cenderung selalu mencari hal-hal unik yang
jarang atau belum pernah ditemui.
panorama unik dan menarik lainnya. Perkembangan penataan daya tarik wisata
tersebut tentu akan berjalan dengan baik apabila didukung dengan
pengembangan unsur industri pariwisata lainnya sehingga minat wiatawan akan
semakin berkembang dan bertambah kunjungan wisatawan didaerah.
Agar suatu daya tarik wisata dapat dijadikan sebagai salah satu kawasan wisata
yang menarik, maka faktor yang sangat menunjang adalah kelengkapan dari
sarana dan prasarananya. Karena sarana dan prasarana juga sangat diperlukan
untuk mendukung dari pengembangan DTW, diantaranya 1) Perhubungan: jalan
raya, udara, dan terminal; 2) Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih;
3) Sistem telekomunikasi, baik itu telepon, telegraf, radio, televise, kantor pos; 4)
Pelayanan kesehatan baik itu puskesmas maupun rumah sakit; 5) Pelayanan
keamanan baik itu pos satpam penjaga DTW maupun pos-pos polisi untuk
menjaga keamanan di sekitar DTW; 6) Pelayanan wistawan baik itu berupa pusat
informasi ataupun kantor pemandu wisata; dan lain-lain.
1200%
1000% 1,000%
800%
600%
400%
200% 79%
36% 38% 15%
30% 11%
22% -24.30%
0% 0%
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
-200%
Gambar 5.2.
Grafik Persentase Perkembangan Kunjungan Wisatawan ke Tana Toraja, 2009-2019
80
60
60 50
43
40 29 28
20
4
-
-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
(25)
(20)
(22) (46)
(40)
(60)
Gambar 5.3.
Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kab. Tana Toraja, 2009-2019
1,400
1,186
1,200
1,000
800
600
400
200 103
26 31 42 37 11 16
- (24)
-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
(200)
Gambar 5.4.
Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kab. Tana Toraja, 2009-2019
Tabel: 5.10 Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010 – 2019
Tahun
No. Bulan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 1.776 1.192 2.784 2.410 2.089 3.288 122.049 149.334 125.506 212.095
2 Februari 1.133 1.049 2.878 1.988 1.599 4.264 66.845 63.191 59.294 37.279
3 Maret 1.182 1.228 1.578 2.462 2.323 2.387 54.454 53.179 67.879 20.868
4 April 1.295 1.125 1.523 2.564 2.114 2.985 40.408 52.681 63.668 14.924
5 Mei 1.561 1.067 1.985 3.246 1.385 4.253 53.124 49.414 45.686 44.314
6 Juni 1.261 1.224 1.915 2.931 2.586 2.854 49.573 74.373 28.305 121.498
7 Juli 2.116 1.286 2.818 10.443 12.023 12.885 144.265 82.656 108.548 130.442
8 Agustus 1.210 1.421 3.479 12.152 16.940 21.613 51.840 49.999 75.873 46.434
9 September 1.502 1.829 2.412 4.127 7.423 6.267 104.057 40.789 42.244 15.551
10 Oktober 917 1.885 3.244 3.364 3.622 1.973 106.745 35.500 55.467 35.423
11 November 1.312 4.551 3.803 2.544 9.696 10.536 66.479 69.761 246.993 37.009
12 Desember 3.000 7.025 5.949 13.412 18.436 24.590 217.020 478.225 456.238 325.510
Jumlah 18.265 24.882 34.368 61.643 80.236 97.895 1.076.859 1.199.102 1.375.701 1.041.347
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020
Tabel: 5.11 Kunjungan Wisatawan Nusantara di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2009 – 2019
Tahun
No. Bulan
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 1.137 1.574 925 2.126 1.154 1.524 1.639 120.914 146.402 123.876 211.056
2 Februari 780 832 761 2.130 1.251 1.062 3.425 65.485 60.692 58.300 36.336
3 Maret 200 725 892 1.015 1.345 1.942 1.509 53.218 52.065 66.908 20.375
4 April 208 893 869 1.063 1.450 1.412 1.987 39.112 50.898 62.852 14.188
5 Mei 647 1.016 825 1.229 1.700 911 2.986 51.742 47.271 44.276 43.709
6 Juni 173 757 865 1.292 1.980 1.334 1.692 47.555 72.840 26.921 120.611
7 Juli 392 1.271 968 1.392 7.650 9.650 10.987 142.135 80.223 105.700 129.024
8 Agustus 369 528 685 1.371 9.066 12.585 18.893 49.239 46.349 73.879 45.321
9 September 775 1.088 1.015 1.052 2.087 4.015 4.642 101.746 38.433 39.806 14.567
10 Oktober 67 510 875 1.677 1.775 1.985 1.289 105.573 34.169 55.128 34.567
11 November 72 966 2.512 2.434 1.512 7.998 9.870 65.297 68.037 245.234 36.567
12 Desember 679 2.471 4.675 4.055 11.349 15.651 23.245 214.576 475.804 453.399 324.500
Jumlah 5.499 12.631 15.867 20.836 42.319 60.069 82.164 1.056.592 1.173.183 1.356.279 1.030.821
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020
Tabel: 5.12 Kunjungan Wisatawan Mancanegra di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010 – 2019
Tahun
No. Bulan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 202 267 658 1.256 565 1.649 1.135 2.932 1.630 1.039
2 Februari 301 288 748 737 537 839 1.360 2.499 994 943
3 Maret 457 336 563 1.117 381 878 1.236 1.114 971 493
4 April 402 256 460 1.114 702 998 1.296 1.783 816 736
5 Mei 545 242 756 1.546 474 1.267 1.382 2.143 1.410 605
6 Juni 504 359 623 951 1.252 1.162 2.018 1.533 1.384 887
7 Juli 845 318 1.426 2.793 2.373 1.898 2.130 2.433 2.848 1.418
8 Agustus 682 736 2.108 3.086 4.355 2.720 2.601 3.650 1.994 1.113
9 September 414 814 1.360 2.040 3.408 1.625 2.311 2.356 2.438 984
10 Oktober 407 1.010 1.567 1.589 1.637 684 1.172 1.331 339 856
11 November 346 2.039 1.369 1.032 1.698 666 1.182 1.724 1.759 442
12 Desember 529 2.350 1.894 2.063 2.785 1.345 2.444 2.421 2.839 1.010
Jumlah 5.634 9.015 13.532 19.324 20.167 15.731 20.267 25.919 19.422 10.526
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020
Berdasarkan data yang diperoleh terhadap kunjungan wisatawan pada DTW yang
dikembangkan di Kabupaten Tana Toraja dalam upaya menentukan segmen pasar,
pada dasarnya belum tersedia secara keseluruhan, namun terdapat beberapa DTW
yang telah tersedia diantaranya DTW Lemo, Burake, Pango Pango, Kambira,
Tilangnga’, Makula, dan Tampang Allo, dan yang paling banyak dikunjungi yaitu
DTW Burake (data tahun 2017), namun data tersebut belum dirinci menurut
daerah asal wisatawan (wisnus dan wisman).
a. PKL (Pusat Kegiatan Lokal) yaitu PKL yang telah ditentukan dalam
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang
RTRW Sulawesi Selatan adalah kawasan perkotaan Makale.
yaitu suatu perjalanan wisata ke DTW-DTW yang telah ditentukan dengan tujuan
agar kunjungan wisata menjadi suatu perjalanan wisata yang menyenangkan dan
terfokus pada DTW yang sudah terkenal, sehingga pengembangan kepariwisataan
di Kabupaten Tana Toraja lebih optimal.
Struktur ruang pariwisata terbentuk sebagai akibat adanya sinergis sistem yang
terjadi dalam setiap daya tarik wisata pada tiap bagian wilayah tertentu. Tahapan
pembentukan dalam strukturnya dipengaruhi oleh sistem aktivitas, sistem
transportasi, sistem infrastruktur dan sistem prasarana wisata lainnya, sehingga
membentuk suatu sistem terpadu yang mampu memanfaatkan potensi wisata
Kabupaten Tana Toraja yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing setiap
obyek wisata dalam wilayah Kabupaten Tana Toraja.
Kabupaten Tana Toraja yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing, maka
dibutuhkan hirarki tingkatan pusat dan sub pusat pengembangan ini, nantinya
berfungsi untuk melayani aktivitas setiap DTW. Tiap pusat-pusat yang terbentuk
mempunyai ciri karakteristik dan fungsi yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Kedekatan antar objek wisata yang satu dengan yang lain belum tentu
menjadikan suatu perjalanan wisata yang dapat dilakukan dalam satu hari.
Dengan pertimbangan-pertimbangan yang telah dikemukakan, maka tipe
aktivitas wisatawan menjadi salah satu faktor dalam penentuan cluster wisata
yang dikembangkan. Dengan menjadikan tipe aktivitas wisatawan menjadi
salah satu pertimbangan, dalam penentuan cluster diharapkan mampu
meningkatkan pengembangan dan pembangunan pariwisata daerah ke arah
yang lebih baik. Sebagai indikator keberhasilan pengembangan.
Pada dasarnya, aktivitas wisatawan yang tercermin dalam jenis daya tarik
wisata yang tersebar di Kabupaten Tana Toraja dapat diklasifikasikan menjadi
4 (empat) tipe yaitu (1) kegiatan wisata alam, (2) kegiatan wisata Alam dan
Budaya, (3) kegiatan wisata Budaya, dan (4) kegiatan wisata Buatan, Alam
dan Budaya.
2. Aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan salah satu faktor perkembangan suatu wilayah
maupun kawasan. Semakin mudah pencapaian/akses suatu tempat, maka
semakin besar peluang berkembangnya suatu wilayah/kawasan. Aksesibilitas
dalam analisis ini dipakai sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam
pengembangan cluster wisata yaitu dengan mempertimbangkan aspek jarak
dan waktu tempuh antara satu lokasi DTW dengan DTW lainnya. Hal ini
dipakai dalam pengembangan cluster wisata ini disebabkan karena lokasi daya
tarik wisata yang tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten Tana Toraja
dengan kondisi karakteristik pegunungan, sehingga adanya perlakuan khusus
terhadap beberapa DTW yang lokasinya jauh dan kondisi jalan yang menanjak
sehingga memerlukan waktu yang lebih lama.
penataan kawasan wisata baik alam, buatan maupun budaya menjadi fokus dalam
pengembangan destinasi pariwisata yang tersedia serta merangsang pertumbuhan
dan menggali potensi lain yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Sebagai illustrasi potensi pengembangan perwilayahan pariwisata di Tana Toraja
dalat dijelaskan dalam gambar berikut.
Gambar 5.6
Illustrasi Potensi Pengembangan Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
unggulan dengan bagian wilayah yang dapat berkembang dengan adanya potensi
bagian lain tersebut. Setiap pusat yang dibentuk pada dasarnya juga
mempertimbangkan berbagai perencanaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah
pusat dan pemerintah provinsi yang menjadikan Tana Toraja sebagai salah satu
destinasi pariwisata nasional melalui pengembangan KSPN Tana Toraja.
Berkaitan dengan hal tersebut, pengembangan struktur ruang pariwisata ini pada
setiap pusat dan sub pusat memiliki keunggulan daya tarik wisata baik yang
berpotensi, maupun yang menjadi keunggulan nasional dan provinsi yang
diupayakan bersinergi dalam pengembangan infrastruktur pariwisata. Berikut
dijelaskan peran dan potensi pengembangan masing-masing wilayah sebagai
berikut:
Pada kegiatan ini, analisis SWOT ditempuh dengan tujuan untuk mengetahui
kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities) dan
ancaman (threat) yang dimiliki oleh unsur kepariwisataan di Kabupaten Tana
Toraja maupun fungsi Daerah berdasarkan karakteristik dan kondisi eksistingnya
sehingga dapat diperoleh rangkaian konsep dan strategi yang menjadi alternatif
pemecahan masalah.
Tabel: 5.14 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
DESTINASI PARIWISATA
1 Daya tarik wisata ▪ Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya tarik ▪ Aksesibilitas antar DTW masih perlu ditingkatkan
unggulan yang kompetitif dan komparatif bertema budaya sehingga dapat membentuk satu kesatuan perjalanan
dan religi. wisata yang baik.
▪ Pelestarian situs dan kawasan budaya yang sangat baik. ▪ Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung
▪ Morfologi wilayah kabupaten yang menunjang daya tarik kepariwisataan yang ada cukup belum memenuhi
wisata diperkotaan maupun perdesaan. standar.
▪ Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan masih ▪ Belum maksimalnya pengembangan potensi-potensi
eksisnya budaya lokal masyarakat Toraja. desa wisata.
▪ Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang dapat ▪ Belum cukup berkembang daya tarik wisata buatan
dikembangkan untuk menunjang kegiatan wisata. sebagai penganekaragaman jenis DTW.
▪ Dukungan kuat dari masyarakat dan budaya, serta ▪ Masih terdapat potensi daya tarik wisata yang belum
toleransi yang sangat kuat. dikembangkan.
▪ Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi ▪ Kegiatan penataan DTW yang dapat berdampak negatif
beberapa kawasan wisata (jalan lingkar pariwisata). terhadap daya tarik wisata (misalnya penebangan
pohon pinus untuk membuka jalan, dll)
▪ Lingkungan alam dan budaya yang rentan terhadap
dampak berbagai kegiatan wisata.
2 Fasilitas Umum ▪ Dukungan sarana pendidikan tinggi dalam -
mengembangkan sumber daya manusia lokal bidang
kepariwisataan.
▪ Keberadaan fasilitas penunjang lainnya yang relatif sudah
memadai di Kota Makale.
3 Fasilitas Pariwisata ▪ Telah berkembang jasa-jasa pariwisata Terbatasnya pengembangan fasilitas pendukung
▪ Telah dibangun Pusat Informasi Pariwisata (TIC). pariwisata seperti akomodasi, rumah makan/restoran,
souvenir shop.
4 Aksesibilitas Peningkatan pembangunaan jalan menuju sejumlah DTW. Pembangunan akses jalan masih belum menjangkau
seluruh DTW yang tersebar dan cukup banyak.
5 Utilitas ▪ Sudah terlayani oleh jaringan utilitas (air minum, listrik, Jaringan utilitas belum merata ke DTW.
drainase, sampah) terutama di Kota Makale dan kota-kota
kecamatan.
Tabel: 5.14 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
▪ Telah dikembangkan prasarana umum dan wisata pada
beberapa DTW unggulan.
INDUSTRI PARIWISATA
1 Akomodasi Kuantitas akomodasi sudah cukup memadai. ▪ Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di
Kota Makale.
▪ Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha
pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
2 Biro Perjalanan dan dan Telah berkembang jasa-jasa pelayanan kegiatan wisata di ▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata
Agen Perjalanan Wisat daerah. (angkutan pelayaran, angkutan darat), yang belum
cukup terintegrasi dengan baik
3 Transportasi ▪ Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi secara
dapat dilalui dengan kendaraan roda dua maupun roda maksimal.
empat
▪ Tersedia moda angkutan pariwisata dan kendaraan roda
dua maupun roda empat oleh perorangan atau swasta.
4 Jasa Boga dan Restoran Telah berkembang beberapa restoran Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang di
fasilitas akomodasi.
5 Atraksi Wisata Tersedia cukup banyak kesenian tradisonal, dan budaya lain. Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-DTW
yang berpotensi
6 Oleh-Oleh Atau Cindera Tersedia cukup banyak kerajinan tangan khas Toraja Masih dikembangkan secara sub-subsistem.
Mata
PASAR DAN PEMASARAN PARIWISATA
1 Pasar Pariwisata Terdapat beberapa DTW yang sangat unggul dan direspon ▪ Perlunya studi pasar pariwisata yang lebih mendalam
oleh wisatawan dengan kunjungan yang cukup besar seperti untuk mengetahui karakteristik wisatawan, pola
Buntu Burake, Pango Pango, dll. perjalanan, serta preferensi wisatawan.
▪ Wisatawan masih cenderung hanya melakukan
perjalanan pada DTW tertentu dan terbatas.
2 Pemasaran dan Promosi Adanya upaya pemerintah daerah dalam melakukan promosi ▪ Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang
Pariwisata pariwisata melalui ivent-ivent tahunan dapat dijual/dipromosikan.
Tabel: 5.14 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
▪ Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan
secara global sebagai salah satu destinasi pariwisata
nasional.
3 Citra Destinasi ▪ Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu wilayah -
dengan kebudayaan yang unik dan konsisten serta
beragam.
▪ Memiliki toleransi sosial yang kuat.
4 Price/Harga - Faktor biaya perjalanan menjadi kendala bagi calon
wisatawan.
Tabel: 5.15 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
DESTINASI PARIWISATA
1 Daya tarik wisata ▪ Tana Toraja memiliki keunikan daya tarik wisata Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara
yang terkenal mendunia. destinasi-destinasi wisata didaerah lain khususnya daerah
▪ Ditunjang dengan perkembangan pariwisata sekitar yang berdampak langsung.
daerah sekitar.
▪ Dukungan pemerintah pusat membangun
Anjungan Cerdas dan Kawasan Inkubasi
Agrowisata Pango Pango sebagai pemicu
pertumbuhan DTW-DTW lain.
▪ Penetapan 17 Simpul-simpul Destinasi Wisata
yang Prioritas di KSPN Toraja.
▪ Adanya kecenderungan para wisatawan untuk
“back to nature”, yang sudah cukup berkembang
didaerah.
2 Fasilitas Umum - -
3 Fasilitas Pariwisata Mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan -
provinsi.
4 Aksesibilitas ▪ Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) telah -
dikembangkan yang akan menghubungkan
berbagai destinasi-destinasi pariwisata nasional.
▪ Aksesibilitas menuju Kabupaten Tana Toraja
sangat berpotensi menghubungkan dari berbagai
simpul transportasi yang dilalui oleh jalan
nasional.
5 Utilitas - -
INDUSTRI PARIWISATA
1 Akomodasi Tingginya angka kunjungan wisatawan Berpotensi turunnya investasi penyediaan akomodasi
wisata akibat kecilnya persentase tingkat hunian.
2 Biro Perjalanan dan dan Agen Ditunjang dengan perkembangan usaha jasa ▪ Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata
Perjalanan Wisat perjalanan wisata regional. dari luar yang mengurangi kesempatan dan persaingan
didaerah.
Tabel: 5.15 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata
(angkutan pelayaran, angkutan darat), yang belum
cukup terintegrasi dengan baik
3 Transportasi ▪ Rute perjalanan darat sangat lancar. Jarak yang jauh dari Kota Makassar melalui akses darat
▪ Rencana pengebangan bandara Buntu Kuni cukup jauh sehingga ada kesan jenuh.
terintegrasi dengan destinasi wisata unggulan
nasional lainnya.
▪ Cukup banyak perusahaan penyedia jasa
pengangkutan ke Tana Toraja.
4 Jasa Boga dan Restoran - -
5 Atraksi Wisata - -
6 Oleh-Oleh Atau Cindera Mata Cukup banyak tersedia -
Tabel: 5.15 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
SUMBER DAYA MANUSIA DAN KELEMBAGAAN PARIWISATA
1 SDM Persaingan yang semakin terbuka menghasilkan Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar wilayah akan
kesempatan bagi SDM didaerah lain berkompeten menggeser kedudukan tenaga kerja lokal.
untuk bekerja di sektor kepariwisataan.
2 Kelembagaan Peran sektor-sektor pembangunan menunjang -
pembangunan kepariwisataan Tana Toraja telah
terpadu di tingkat pusat.
3 Kebijakan Kepariwisataan ▪ Dukungan pemerintah pusat dan provinsi Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi
Sulawesi Selatan dalam pengembangan destinasi dan kabupaten dalam pengembangan kepariwisataan di
pariwisata prioritas dan infrastruktur KSPN Toraja Kabupaten Tana Toraja
▪ Koordinasi pelaksanaan pembangunan pariwisata
antar provinsi dan kabupaten cukup baik.
4 Kemitraan - -
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020
Tabel: 5.16 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya ▪ Aksesibilitas antar DTW masih perlu
tarik unggulan yang kompetitif dan komparatif ditingkatkan sehingga dapat membentuk satu
bertema budaya dan religi. kesatuan perjalanan wisata yang baik.
▪ Pelestarian situs dan kawasan budaya yang sangat ▪ Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung
FAKTOR EKSTERNAL baik. kepariwisataan yang ada cukup belum
memenuhi standar.
▪ Morfologi wilayah kabupaten yang menunjang daya ▪ Belum maksimalnya pengembangan potensi-
tarik wisata diperkotaan maupun perdesaan. potensi desa wisata.
▪ Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan ▪ Belum cukup berkembang daya tarik wisata
masih eksisnya budaya lokal masyarakat Toraja. buatan sebagai penganekaragaman jenis DTW.
▪ Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang ▪ Masih terdapat potensi daya tarik wisata yang
dapat dikembangkan untuk menunjang kegiatan belum dikembangkan.
wisata.
▪ Dukungan kuat dari masyarakat dan budaya, serta ▪ Kegiatan penataan DTW yang dapat berdampak
toleransi yang sangat kuat. negatif terhadap daya tarik wisata (misalnya
penebangan pohon pinus untuk membuka jalan,
dll)
▪ Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi ▪ Lingkungan alam dan budaya yang rentan
beberapa kawasan wisata (jalan lingkar pariwisata). terhadap dampak berbagai kegiatan wisata.
▪ Dukungan sarana pendidikan tinggi dalam ▪ Terbatasnya pengembangan fasilitas pendukung
mengembangkan sumber daya manusia lokal bidang pariwisata seperti akomodasi, rumah
kepariwisataan. makan/restoran, souvenir shop.
▪ Keberadaan fasilitas penunjang lainnya yang relatif ▪ Pembangunan akses jalan masih belum
sudah memadai di Kota Makale. menjangkau seluruh DTW yang tersebar dan
cukup banyak.
▪ Telah berkembang jasa-jasa pariwisata ▪ Jaringan utilitas belum merata ke DTW.
FAKTOR INTERNAL
▪ Telah dibangun Pusat Informasi Pariwisata (TIC).
▪ Peningkatan pembangunaan jalan menuju sejumlah
DTW.
▪ Sudah terlayani oleh jaringan utilitas (air minum,
listrik, drainase, sampah) terutama di Kota Makale
dan kota-kota kecamatan.
Tabel: 5.16 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Telah dikembangkan prasarana umum dan wisata
pada beberapa DTW unggulan.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Tana Toraja memiliki keunikan daya tarik ▪ Memperkaya atau mengembangkan jenis DTW ▪ Memaksimalkan pengembangan aksesibilitas
wisata yang terkenal mendunia. khususnya DTW Buatan, Alam dan minat khusus. yang terintegrasi antar DTW.
▪ Ditunjang dengan perkembangan pariwisata ▪ Mengembangkan berbagai kegiatan wisata dalam ▪ Menyediakan prasarana dan sarana wisata
daerah sekitar. DTW untuk menunjang kegiatan wisatawan untuk sesuai kebutuhan dan memenuhi standar.
menahan wisatawan lebih lama tinggal dan
berbelanja.
▪ Dukungan pemerintah pusat membangun ▪ Mengembangkan perwilayahan pariwisata yang ▪ Mengembangkan desa-desa wisata sebagai
Anjungan Cerdas dan Kawasan Inkubasi mendukung serta terintegrasi dengan pengembangan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat
Agrowisata Pango Pango sebagai pemicu simpul-simpul pariwisata unggulan KSPN Toraja dalam pengelolaan DTW sesuai ketentuan yang
pertumbuhan DTW-DTW lain. berlaku.
▪ Penetapan 17 Simpul-simpul Destinasi ▪ Mengembangkan DTW berpotensi disekitar DTW ▪ Mengembangkan DTW Buatan sebagai wujud
Wisata yang Prioritas di KSPN Toraja. unggulan sebagai paket perjalanan wisata. variasi DTW yang berorientasi pada
pengembangan potensi usaha kecil dan
menengah.
▪ Adanya kecenderungan para wisatawan ▪ Menciptakan image pariwisata dengan keberadaan ▪ Mengembangan DTW dengan tetap
untuk “back to nature”, yang sudah cukup Bandara Bntu Kuni. memperhatikan kelestarian kawasan/lingkungan
berkembang didaerah. alam dan budaya sebagai keunggulan daya tarik
wisata.
▪ Mendapat dukungan dari pemerintah pusat ▪ Mengembangkan atraksi wisata di DTW tertentu ▪ Pembentukan peraturan perundangan didaerah
dan provinsi. sebagai khas destinasi wisata Toraja. terkait ketentuan pemafaatan keanekaragaman
budaya dan sejarah sebagai daya tarik wisata.
▪ Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung
telah dikembangkan yang akan (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
menghubungkan berbagai destinasi- shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang
destinasi pariwisata nasional. dikembangkan.
▪ Aksesibilitas menuju Kabupaten Tana Toraja
sangat berpotensi menghubungkan dari
berbagai simpul transportasi yang dilalui
oleh jalan nasional.
Tabel: 5.16 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Persaingan konsep pariwisata yang sangat ▪ Mengembangkan daya tarik wisata yang memiliki ▪ Membentuk lembaga-lembaga kreatif baik
pesat diantara destinasi-destinasi wisata daya tahan terhadap minat wisatawan. pemerintah, kelompok masyarakat maupun
didaerah lain khususnya daerah sekitar yang kerjasama swasta untuk mengembangkan
berdampak langsung. inovasi produk atau pengemasan produk wisata.
▪ Masih kurang pengertian dan kesadaran ▪ Melakukan kerjasama interregional dengan ▪ Membentuk dan Meningkatkan fungsi
masyarakat terhadap potensi dan pemerintah dan pengelola pariwisata diwilayah kelembagaan desa wisata sebagai bentuk
pentingnya membangun DTW Tana Toraja sekitar Kabupaten Tana Toraja untuk membuka paket pemberdayaan masayarakat dan upaya
sebagai sektor andalan perekonomian d jalur wisata yang didukung dengan keberadaan mengembangkan ekonomi masyarakat.
daerah. Bandara Buntu Kuni.
▪ Adanya asumsi bahwa pembangunan DTW ▪ Mengembangkan pariwisata dengan memberdayakan
adalah tugas Pemerintah atau Dinas masyarakat sebagai tolak ukur keberhasilan
Pariwisata saja. pariwisata daerah melalui pengebangan desa-desa
wisata, pembentukan kelompok-kelompok sadar
wisata, pelatihan, dll
▪ Mengembangkan pariwisata sebagai lokomotif
ekonomi melalui sinergitas program pembangunan
seluruh sektor pemerintah, swasta dan masyarakat
untuk mewujudkan visi misi daerah dan target
nasional sebagai DPN.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020
Tabel: 5.17 Matriks Analisis SWOT Industri Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Kuantitas akomodasi sudah cukup memadai. ▪ Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di
FAKTOR EKSTERNAL Kota Makale.
▪ Telah berkembang jasa-jasa pelayanan kegiatan ▪ Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha
wisata di daerah. pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
▪ Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang ▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung
dapat dilalui dengan kendaraan roda dua maupun pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan darat),
roda empat yang belum cukup terintegrasi dengan baik
▪ Tersedia moda angkutan pariwisata dan kendaraan ▪ Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi
roda dua maupun roda empat oleh perorangan atau secara maksimal.
swasta.
▪ Telah berkembang beberapa restoran ▪ Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang
di fasilitas akomodasi.
FAKTOR INTERNAL ▪ Tersedia cukup banyak kesenian tradisonal, dan ▪ Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-
budaya lain. DTW yang berpotensi
▪ Tersedia cukup banyak kerajinan tangan khas Toraja ▪ Masih dikembangkan secara sub-subsistem.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Tingginya angka kunjungan wisatawan ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi,
standarisasi sesuai ketentuan perundangan yang rumah makan/restoran, souvenir shop) sesuai
berlaku. perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Ditunjang dengan perkembangan ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi ▪ Menetapkan standarisasi pengelolaan usaha
usaha jasa perjalanan wisata regional. pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi, pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan
pelaku usaha.
▪ Rute perjalanan darat sangat lancar. ▪ Peningkatkan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi
pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi,
kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan
pelaku usaha.
▪ Rencana pengebangan bandara Buntu ▪ Melakukan kerjasama interregional dengan ▪ Mengembangkan atraksi wisata di DTW tertentu
Kuni terintegrasi dengan destinasi pemerintah dan pengelola pariwisata diwilayah sebagai khas destinasi wisata Toraja.
wisata unggulan nasional lainnya. sekitar Kabupaten Tana Toraja untuk membuka paket
jalur wisata yang didukung dengan keberadaan
Bandara Buntu Kuni.
Tabel: 5.17 Matriks Analisis SWOT Industri Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Cukup banyak perusahaan penyedia ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi,
jasa pengangkutan ke Tana Toraja. rumah makan/restoran, souvenir shop) sesuai
perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Cukup banyak tersedia cinderamata
dan ole-ole khas Toraja.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Berpotensi turunnya investasi ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi,
penyediaan akomodasi wisata akibat standarisasi sesuai ketentuan perundangan yang rumah makan/restoran, souvenir shop) sesuai
kecilnya persentase tingkat hunian. berlaku. perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Berpotensi masuknya biro dan agen ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui
perjalanan wisata dari luar yang pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi, standarisasi sesuai ketentuan perundangan yang
mengurangi kesempatan dan kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan berlaku.
persaingan didaerah. pelaku usaha.
▪ Keberadaan pengelolaan industri ▪ Mengebangkan rute transportasi udara diberbagai ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi
pendukung pariwisata (angkutan daerah sesuai kecenderungan kunjungan wisatawan. pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi,
pelayaran, angkutan darat), yang kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan
belum cukup terintegrasi dengan baik pelaku usaha.
▪ Jarak yang jauh dari Kota Makassar ▪ Mengembangkan berbagai prosedur pelayanan ▪ Mengebangkan rute transportasi udara diberbagai
melalui akses darat cukup jauh wisatawan untuk meningkatkan potensi usaha kecil daerah sesuai kecenderungan kunjungan wisatawan.
sehingga ada kesan jenuh. dan menengah.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020
Tabel: 5.18 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Terdapat beberapa DTW yang sangat ▪ Belum adanya studi penyeluruh tentang pasar pariwisata
unggul dan direspon oleh wisatawan untuk mengetahui karakteristik wisatawan, pola
FAKTOR EKSTERNAL
dengan kunjungan yang cukup besar perjalanan, serta preferensi wisatawan.
seperti Buntu Burake, Pango Pango, dll.
▪ Adanya upaya pemerintah daerah dalam ▪ Wisatawan masih cenderung hanya melakukan perjalanan
melakukan promosi pariwisata melalui pada DTW tertentu dan terbatas.
ivent-ivent tahunan
▪ Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah ▪ Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang
satu wilayah dengan kebudayaan yang dapat dijual/dipromosikan.
unik dan konsisten serta beragam.
FAKTOR INTERNAL ▪ Memiliki toleransi sosial yang kuat. ▪ Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan secara
global sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional.
▪ Faktor biaya perjalanan menjadi kendala bagi calon
wisatawan.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Besarnya jumlah kunjungan wisatawan ▪ Mengintegrasikan DTW-DTW unggulan ▪ Mengembangkan studi pasar pariwisata sebagai referensi
mancanegara dan nusantara. dengan DTW lain disekitar melalui pengembangan bentuk pemasaran pariwisata
pengembangan aksesibilitas dan penataan
DTW.
▪ Kecenderungan kebutuhan manusia ▪ Mengembangkan inovasi dalam setiap ▪ Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat
berwisata yang semakin meningkat. ivent yang bervariasi atau berbeda. dijalankan oleh seluru pelaku usaha pariwisata
▪ Adanya tren wisatawan yang lebih ▪ Mengembangkan sistem pelayanan ▪ Mengembangkan kerjasama antar lembaga pemerintah
menghargai perjalanan wisata yang pariwisata yang terpadu dengan dan swasta dalam upaya promosi pariwisata.
berkualitas. memanfaatkan teknologi informasi.
▪ Tren pemanfaatan teknologi informasi bagi
pengembangan pariwisata.
Tabel: 5.18 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Dukungan Pemerintah Pusat dalam
mengembangkan citra Tana Toraja sebagai
destinasi wisata nasional dan global.
▪ Situasi dan kondisi daerah sangat kondusif.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Tingginya tingkat persaingan destinasi ▪ Pengembangan produk baru sebagai ▪ Mengelola sistem informasi pariwisata yang komprehensif
pariwisata secara nasional dan regional. magnet kunjungan ke Tana Toraja dan up to date
▪ Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan ▪ Menetapkan standarisasi akomodasi sesuai ▪ Pengembangan atraksi wisata pada DTW tertentu sesuai
tahun terakhir dari 2018 ke tahun 2019 ketentuan perundangan yang berlaku. potensinya.
sebesar -24%.
▪ Adanya pengembangan pariwisata didaerah ▪ Pengembangan investasi yang diarahkan ▪ Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat
sekitar yang juga cukup kuat dan memiliki pada afasilitas akomodasi berskala dijalankan oleh seluru pelaku usaha pariwisata
kesamaan jenis DTW. nasional dan internasional khusus untuk
segmen menengah-atas.
▪ Belum dilakukan secara maksimal, ▪ Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring ▪ Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama
wisatawan umumnya mendapatkan kerjasama pemasaran pariwisata pada pemasaran pariwisata pada skala regional, nasional dan
informasi dari rekan, media online. skala regional, nasional dan internasional. internasional.
▪ Kekhawatiran masuknya budaya asing yang ▪ Mengembangkan kerjasama antar pemerintah dan
tidak bisa diadopsi masyarakat dengan baik. lembaga adat tentang pelaksanaan kegiatan wisata terkait
norma-norma adat istiadat Tana Toraja dan pelestarian
situs budaya sebagai DTW.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020
Tabel: 5.19 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan dan SDM Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Adanya lembaga adat yang dapat ▪ Masih cukup terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM
FAKTOR EKSTERNAL berkontribusi dalam pengembangan daya pariwisata didaerah.
tarik wisata khususnya budaya dan atraksi
wisata (kesenian, dll)
▪ Komitmen pemerintah daerah dalam ▪ Masyarakat yang relatif belum mengenal dan memahami
meningkatkan pembangunan pariwisata tuntutan industri pariwisata Tana Toraja (Sapta Pesona).
melalui perencanaan-perencanaan
pembangunan didaerah (RPJPD, RPJMD
dan RTRW, serta rencana kawasan).
▪ Pada DTW tertentu sudah diterapkan ▪ Belum berkembangnya lembaga-lembaga pengembangan
sistem bagi hasil dari retribusi DTW antara SDM pariwisata.
Pemda dan masyarakat atau pengelola. ▪ Belum maksimalnya peran sektor didaerah secara terpadu
FAKTOR INTERNAL dalam pembangunan kepariwisataan.
▪ Belum optimalnya pengembangan skema kerjasama antar
stakeholders, diantara pelibatan masyarakat dalam
pengembangan pariwisata.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Persaingan yang semakin terbuka ▪ Kerjasama antar pemerintah dan lembaga ▪ Kerjasama lembaga pendidikan bidang kepariwisataan
menghasilkan kesempatan bagi SDM adat dalam Mengembangkan atraksi- maupun membentuk lembaga-lembaga nonformal.
didaerah lain berkompeten untuk bekerja di atraksi budaya pada DTW berpotensi
sektor pekariwisataan.
▪ Peran sektor-sektor pembangunan ▪ Mengembangkan skema bantuan ▪ Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders
menunjang pembangunan kepariwisataan pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata yang dapat merangkum seluruh pelaku
Tana Toraja telah terpadu di tingkat pusat. pariwisata lokal. pariwisata termasuk masyarakat yang terpadu.
▪ Dukungan pemerintah pusat dan provinsi ▪ Mengembangkan bentuk kerjasama antar
Sulawesi Selatan dalam pengembangan pemerintah daerah dan pemerintah pusat
destinasi pariwisata prioritas dan dalam upaya pengitegrasian pembangunan
infrastruktur KSPN Toraja pariwisata didaerah.
▪ Koordinasi pelaksanaan pembangunan ▪ Mengembangkan berbagai bentuk insentif
pariwisata antar provinsi dan kabupaten bagi masyarakat atau pengelola DTW
cukup baik. untuk meningkatkan daya tarik dalam
kawasan wisata.
Tabel: 5.19 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan dan SDM Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar ▪ Membangun system dan jaringan ▪ Mengembangkan skema bantuan pendidikan dan pelatihan
wilayah akan menggeser kedudukan tenaga komunikasi diantara seluruh stakeholders bagi peningkatan SDM pariwisata khususnya SDM lokal.
kerja lokal. didalam melaksanakan pembangunan
pariwisata.
▪ Terbatasnya kemampuan SDM yang ▪ Menciptakan kerangka kerjasama dan ▪ Secara Intens melakukan sosialisasi program-program
bergerak di bidang usaha pariwisata, program-program kerjasama antar rencana pembangunan pariwisata dari pusat, provinsi
sehingga memerlukan pelatihan dalam stakeholders didalam dan di luar negeri maupun kabupaten dengan melibatkan pelaku usaha dan
mengasah skill. yang dapat menunjang pembangunan unsur lainnya sesuai kebutuhan.
pariwisata.
▪ Belum singkronnya kebijakan pemerintah ▪ Membangun organisasi pengeloaan
pusat, provinsi dan kabupaten dalam pariwisata di kawasan dengan melibatkan
pengembangan kepariwisataan di Kabupaten stakeholders yang terkait dan
Tana Toraja menggunakan prinsip good corporate
govermance dan mengembangkan system
pelayanan yang terpadu dan terintegrasi.
▪ Belum berkembangnya kemitraan dan
skema kerjasama antar stakeholder.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020
1 Mengembangkan akomodasi wisata melalui standarisasi sesuai ketentuan perundangan yang berlaku.
2 Menetapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
3 Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai bentuk koordinasi, kerjasama
serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha. Strategi Pembangunan
4 Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir shop) sesuai perwilayahan Industri Pariwisata
pariwisata yang dikembangkan.
5 Pengembangan investasi yang diarahkan pada afasilitas akomodasi berskala nasional dan internasional khusus untuk
segmen menengah-atas.
1 Mengembangkan inovasi dalam ivent tahunan yang bervariasi atau berbeda. Strategi Pembangunan
2 Mengembangkan studi pasar pariwisata sebagai referensi pengembangan bentuk pemasaran pariwisata Pasar dan Upaya
3 Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat dijalankan oleh seluru pelaku usaha pariwisata Pemasaran pariwisata
4 Mengembangkan berbagai prosedur pelayanan wisatawan untuk meningkatkan potensi usaha kecil dan menengah.
5 Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama pemasaran pariwisata pada skala regional, nasional dan
internasional.
6 Membentuk lembaga-lembaga kreatif baik pemerintah, kelompok masyarakat maupun kerjasama swasta untuk
mengembangkan inovasi produk atau pengemasan produk wisata.
6
6.1 KESIMPULAN
Kajian kepariwisataan merupakan rangkaian yang terarah dan komperhensif dari
seluruh sektor pembangunan daerah khususnya yang berperan langsung terkait
dengan pembangunan kepariwisataan didaerah. Kabupaten Tana Toraja dengan
segenap potensi daya tarik wisata memiliki keunggulan namun juga memiliki
sejumlah kelemahan dalam perkembangannya yang harusnya didorong dan
penjadi kekuatan dalam pembangunan kepariwisataan. Hal ini terakumulasi dalam
laporan Fakta dan Analisis ini, dimana pada laporan ini telah dikemukakan berbagai
data dan hasil kajian yang akan mengantarkan dalam perumusan konsep rencana
pada tahap selanjutnya.
BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 2 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
BAB 3 KONDISI WILAYAH KABUPATEN TANA TORAJA DALAM MENDUKUNG
PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
BAB 4 KABUPATEN TANA TORAJA SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA
BAB 5 INDUSTRI PARIWISATA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME, atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan Penyusunan Rencana
Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja ini. Laporan
Pendahuluan ini merupakan tahapan awal yang pada dasarnya merupakan acuan
dasar dalam pelaksanaan kegiatan.
Secara garis besar Buku Laporan Pendahuluan mengacu pada ketentuan
pentujuk teknis yang ditetapkan dalam kerangka acuan kerja dan perundangan
sektor kepariwisataan terkait. Muatan Laporan Pendahuluan ini berisikan
beberapa substansi arahan bagi proses penyelesaian pekerjaan yang diantaranya
merumuskan dasar tujuan dari pelaksanaan kegiatan, gambaran umum daerah
dan data awal potensi kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja, Metodologi
Pelaksanaan, serta rencana kerja tim yang terlibat dalam pekerjaan tersebut.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan Laporan Pendahuluan ini
hingga dapat selesai dengan waktu yang ditentukan. Tak lupa pula kami
menghaturkan permohonan maaf jika terdapat kekeliruan dalam penulisan
laporan ini. Kami juga meminta masukan dan saran kepada pihak terkait demi
tercapainya pelaksanaan kegiatan kedepannya dengan lebih baik.
Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat bagi seluruh stakeholders, atas segala
bantuan dan dukungan yang telah diberikan semua pihak dalam penyelesaian
laporan ini, kami mengucapkan terimakasih.
Makale, 2020
Tim Penyusun
LAPORAN PENDAHULUAN i
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG .................................................................. I-1
1.2. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN ........................................... I-6
1.3. KELUARAN ............................................................................ I-7
1.4. RUANG LINGKUP ................................................................... I-7
1.4.1. Lungkup Wilayah......................................................... I-7
1.4.2. Lingkup Materi ............................................................ I-7
1.4.3. Lingkup Kegiatan ........................................................ I-8
1.5. JANGKA WAKTU PERENCANAAN ............................................. I-8
1.6. DASAR HUKUM ...................................................................... I-8
1.6.1 Undang-undang .......................................................... I-9
1.6.2 Peraturan Pemerintah .................................................. I-9
1.6.3 Peraturan Menteri ....................................................... I-10
1.6.4 Peraturan Daerah ........................................................ I-10
1.7. PENGERTIAN UMUM .............................................................. I-11
1.8. SISTEMATIKA LAPORAN PENDAHULUAN.................................. I-12
LAPORAN PENDAHULUAN ii
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Luas Wilayah Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 ................. II-2
Tabel 2.2 Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 .. II-4
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 .......... II-6
Tabel 2.4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2019 ......................................................................... II-8
Tabel 2.5 Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten
Tana Toraja, Tahun 2018 ..................................................... II-10
Tabel 2.6 Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten
Tana Toraja, Tahun 2018 ..................................................... II-10
Tabel 2.7 Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja,
Tahun 2019 ......................................................................... II-15
Tabel 2.8 Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja .............. II-22
Tabel 2.9 Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kabupaten Tana Toraja
Tahun 2009-2019 ................................................................ II-50
Tabel 2.10 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja
Tahun 2010-2019 ................................................................ II-53
Tabel 2.11 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja
Menurut Negara Asal, Tahun 2017 ........................................ II-54
Tabel 4.1 Matriks Jadwal Pelaksanaan .................................................. IV-10
Tabel 4.2 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli ............................................. IV-12
LAPORAN PENDAHULUAN iv
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
DAFTAR GAMBAR
LAPORAN PENDAHULUAN v
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
1
1.1 LATAR BELAKANG
Pariwisata merupakan kegiatan multi dimensional yang menyentuh berbagai aspek
kehidupan baik politik, hukum, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya
masyarakat. Pengembangan kepariwisataan tidak hanya mempunyai tujuan akhir
berupa output ekonomi atau nilai finansial yang diperoleh tetapi juga menyangkut
persoalan sosial, agama, budaya dan keamanan yang bahkan menjadi nilai utama
pariwisata untuk dieksploitasi menjadi daya tarik wisata yang mempunyai daya jual
tinggi.
Dalam era modern seperti sekarang ini, pariwisata telah menjadi komponen katalis
perkembangan fisik kawasan (tidak merupakan penyebab utama, namun
memberikan kontribusi pada percepatan pertumbuhan dan perubahan kawasan)
baik berupa perkembangan fisik, ekonomi maupun sosial budaya masyarakat.
Industri pariwisata merupakan alternatif kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan
sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
sehingga dituntut untuk berkembang dengan baik dan menghasilkan produk yang
dapat diunggulkan. Hal ini dapat dicapai dengan kemauan politik pemerintah yang
memberikan landasan hukum serta kesadaran masyarakat untuk dapat
berintegrasi serta melibatkan diri sebagai bagian dalam proses sehingga dapat
menghasilkan produksi unggulan dalam seluruh kegiatan industri pariwisata.
Bagi sebagian daerah, pariwisata dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk
meningkatkan kinerja pembangunannya. Namun demikian, untuk mencapai hal
tersebut memerlukan suatu kerja ekstra dari berbagai pihak (stakeholders) baik
pemerintah, swasta dan masyarakat untuk mampu menggali semua potensi-
potensi yang ada dengan berupaya semaksimal mungkin untuk menekan dampak
negatif yang mungkin timbul mengingat pariwisata juga mempunyai energi dobrak
cukup kuat dalam memetamorpose berbagai aspek kehidupan atau bahkan dapat
dipandang sebagai ‘musuh’ yang mengancam pelestarian budaya dan lingkungan.
Salah satu upaya yang dapat mengantisipasi hal tersebut adalah melalui
perencanaan yang matang dan komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak
untuk merumuskan masalah-masalah yang timbul pada proses pengembangan
dan harus dapat menampung dan menanggapi aspirasi-aspirasi masyarakat serta
berusaha menggali potensi-potensi yang terkandung didalamnya. Atas dasar
tersebut, maka konsep pengembangan yang merupakan penentu kebijakan
pengembangan suatu pariwisata dapat disusun. Dengan kata lain konsep rencana
pengembangan kepariwisataan selain merupakan suatu penuntun didalam
menanggulangi berbagai kendala yang muncul diharapkan juga menjadi kerangka
tindak lanjut dalam pemenuhan tuntutan dan kebutuhan serta keinginan bagi
wisatawan dimasa yang akan datang dengan memperhatikan tingkatan budaya,
sejarah dan ekonomi dari daerah tujuan wisata.
Kabupaten Tana Toraja yang dikenal sebagai ikon pariwisata di Provinsi Sulawesi
Selatan, memiliki berbagai potensi wisata yang cukup prospektif untuk
dikembangkan. Pembangunan kepariwisataan didaerah ini cukup pesat dalam
mengembangkan kawasan-kawasan wisata yang dianggap menjadi daya tarik
wisata yang cukup diminati oleh wisatawan. Hal ini perlu didukung dengan
perencanaan yang komperhensif dan berkelanjutan terhadap potensi
(KSPD) pada DPD Kawasan Utara yaitu KSPD Toraja dan sekitarnya, yang juga
dapat menjadi masukan dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten.
Dengan demikian, maka RIPPAR-KAB Tana Toraja perlu disusun agar sesuai
dengan kondisi kekinian sehingga seluruh potensi daya tarik wisata dapat
dikembangkan dengan baik dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata, mendorong peningkatan ekonomi
masyarakat dari sektor pariwisata, serta pemanfaatan sumber daya alam yang
optimal.
Sedang tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Sebagai pedoman dan arah kebijakan pembangunan kepariwisataan Tana
Toraja.
2. Memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai pengembangan potensi
kepariwisataan yang meliputi daya tarik wisata, usaha sarana wisata, usaha
jasa wisata dan usaha lain pendukung pariwisata.
3. Menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders)
kepariwisataan di Tana Toraja agar dapat bersinergi secara positif dalam
pengembangan kepariwisataan.
Adapun sasaran yang harus dicapai untuk mewujudkan tujuan dari pekerjaan
RIPPAR-KAB Tana Toraja adalah sebagai berikut:
1.3 KELUARAN
Output dari kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10
Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota, dengan muatan rencana diantaranya
sebagai berikut:
1. Pendahuluan;
2. Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Kebijakan Pembangunan
Kepariwisataan;
3. Kondisi Wilayah Kabupaten Tana Toraja Dalam Mendukung Pembangunan
Kepariwisataan;
4. Kabupaten Tana Toraja Sebagai Destinasi Pariwisata;
5. Industri Pariwisata;
6. Pasar pariwisata;
7. Kelembagaan Pariwisata;
8. Prinsip dan Konsep Pembangunan Kepariwisataan;
9. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan;
10. Rencana Pengembangan Perwilayahan Pariwisata; dan
11. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan.
LAPORAN PENDAHULUAN I - 10
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batubara, Pajak
Parkir, dan Pajak Air Minum;
6. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 2 tahun 2016 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 tentang
Retribusi Jasa Umum;
7. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2016 tentang
Perlundingan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
LAPORAN PENDAHULUAN I - 11
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
BAB 1 : PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran,
ruang lingkup, dasar hukum kegiatan, istilah dan definisi, dan
sistematika laporan pendahuluan.
LAPORAN PENDAHULUAN I - 12
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN I - 13
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Kabupaten Tana Toraja adalah sebuah Kabupaten yang dalam peta administratif
masuk ke dalam wilayah Sulawesi Selatan. Kabupaten Tana Toraja adalah salah
satu Kabupaten Dalam Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di
Makale. Kabupaten Ini Terletak antara 2°-3° Lintang Selatan dan 119° - 120°'
Bujur Timur. Letak Kabupaten Tana Toraja berbatasan dengan :
Sebelah Utara berbatasan Kabupaten Toraja Utara dan Provinsi Sulawesi
Barat
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu
Sebelah Selatan berbatasan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat
LAPORAN PENDAHULUAN II - 1
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 2.054,30 Km2 yang meliputi 19
(Sembilan Belas) kecamatan, dimana Kecamatan Malimbong Balepe merupakan
kecamatan yang terluas dengan luas 211,47 Km2. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada table berikut.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 2
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 3
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2. Geologi
Struktur geologi batuan Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakteristik
geologi yang kompleks dicirikan oleh adanya jenis satuan batuan yang
bervariasi akibat pengaruh struktur geologi. Beberapa jenis batuan yang
dapat ditemukan di Kabupaten Tana Toraja pada umumnya antara lain batu
gamping terumbu, kelabu dan putih berupa lensa besar, batupasir hijau,
grewake, napal, batu lempung dan tufa, sisipan lava bersisipan andesit-
basal, batu sabak, kuarsit, filit, batu pasir kuarsa malih, pualam granit,
granodiorit, riolit, diorit, aplit, konglomerat, batu pasir glokonit dan serpih,
latit kuarsa, kalkarenit dan batubara.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 4
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
4. Kondisi Hidrologi
Keadaan Hidrologi di Kabupaten Tana Toraja umumnya dipengaruhi oleh
sumber air yang berasal dari Sungai Sa’dan, Salu Tapparan, Sungai
Saluputti, Sungai Mataallo, Sungai Masuppu’dan anak sungai serta mata air
dengan debit yang bervariasi. DAS Hulu Sungai Sa’dan merupakan sungai
terpanjang di Sulawesi Selatan berada di Kabupaten Tana Toraja merupakan
urat nadi yang vital bagi pengembangan pertanian dan PLTU Bakaru di
Kabupaten Pinrang. Keberadaan sungai-sungai tersebut pada umumnya
digunakan untuk irigasi perdesaan, sumber PLTMH dan sangat potensial
dikembangkan bagi kepentingan pariwisata, misalnya arum jeram dan wisata
rafting.
Kondisi hidrologi Kabupaten Tana Toraja secara umum adalah sebagai
berikut:
Air tanah, air tanah pada umumnya terdapat pada kedalaman 40-100
meter.
Air permukaan, air permukaan pada umumnya berupa sungai dan
genangan-genangan.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 5
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Maju dan berkembangnya suatu wilayah atau kawasan adalah merupakan peran
dari orang atau manusia yang ada didalamnya, sebab pada prinsipnya
sesungguhnya dengan kemapaman atau skill dari setiap manusia tersebutlah
yang mampu mengelola serta melakukan pamnfatan yang bijak serta mapan bagi
daerah tersebut. Kabupaten Tana Toraja dengan segala kekayaan alamnya yang
melimpah serta memiliki jumlah penduduk yang terbilang cukup padat akan
semakin mampu bersaing dalam era globalisasi ini apabila kondisi alam mampu
diseimbangkan dengan kondisi SDM yang memadai pula.
1. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Di Kabupaten Tana Toraja total sebanyak 234.002 jiwa
yang tersebar pada 19 kecamatan, penduduk terbesar berada pada
kecamatan Makale yaitu 35.892 jiwa atau Sekitar 15,34% dan di susul
Kecamatan Mengkendek yaitu sebanyak 28.073 jiwa atau sekitar 12,00%,
sedangkan jumlah penduduk yang paling terkecil adalah pada Kecamatan
Kurra yang hanya berjumlah 5.484 jiwa atau sekitar 2,34%. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun
Tabel: 2.3
2019
No. Kecamatan Jumlah Penduduk Persentase
1. Bonggakaradeng 7.434 3,18
2. Simbuang 6.487 2,77
3. Rano 6.359 2,72
4. Mappak 6.002 2,56
5. Mengkendek 28.073 12,00
6. Gandang Batu Sillanan 20.120 8,60
7. Sangalla 6.969 2,98
8 Sangalla Selatan 7.725 3,30
9 Sangalla utara 7.698 3,29
10 Makale 35.892 15,34
11 Makale Selatan 13.208 5,64
12 Makale Utara 12.300 5,26
13 Saluputti 7.792 3,33
14 Bituang 15.315 6,54
15 Rembon 19.085 8,16
16 Masanda 6.834 2,92
LAPORAN PENDAHULUAN II - 6
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
40000.0
35000.0
30000.0
25000.0
20000.0
15000.0
10000.0
5000.0
.0
Gambar : 2.2
Grafik Jumlah Penduduk Tiap Kecamatan di Kabupaten Tana Toraja, 2019
2. Pertumbuhan Penduduk
Perkembangan atau pertumbuhan penduduk merupakan indeks
perbandingan jumlah penduduk pada suatu tahun terhadap jumlah
penduduk pada tahun sebelumnya. Perkembangan jumlah penduduk dalam
suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian (pertambahan
alami), selain itu juga dipengaruhi adanya faktor migrasi penduduk yaitu
perpindahan keluar dan masuk. Pada dasarnya tingkat pertumbuhan jumlah
penduduk, dapat digunakan untuk mengasumsikan prediksi atau
meramalkan perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang. Prediksi
perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang dilakukan dengan
pendekatan matematis dengan pertimbangan pertumbuhan jumlah
penduduk 5 tahun terakhir.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 7
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3. Kepadatan Penduduk
Distribusi penduduk terkait dengan jumlah penduduk yang mendiami suatu
wilayah atau pengelompokan jumlah penduduk yang didasarkan pada
batasan administrasi wilayah yang bersangkutan. Jumlah penduduk yang
terdistribusi pada suatu wilayah, akan mempengaruhi tingkat konsentrasi
pelayanan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk melayani kebutuhan
penduduk pada wilayah tersebut.
Jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja pada akhir tahun 2019 berjumlah
234.002 jiwa yang terditribusi pada 19 kecamatan, dengan tingkat
persebaran yang tidak merata pada setiap kecamatan. Distribusi jumlah
penduduk terbanyak terdapat berada pada kecamatan Makale yaitu 35.892
jiwa dengan kepadatan 903 jiwa/km2 dan di susul Kecamatan Mengkendek
yaitu sebanyak 28.073 jiwa dengan kepadatan 143 jiwa/km2, sedangkan
jumlah penduduk yang terkecil adalah pada Kecamatan Kurra yang hanya
berjumlah 5.484 jiwa dengan kepadatan penduduk 91 jiwa/km2. Jumlah
penduduk tiap bagian wilayah di Kabupaten Tana Toraja ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya luas wilayah dan statu administrasi kecamatan,
secara rinci diuraikan pada tabel :
LAPORAN PENDAHULUAN II - 8
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Dari jumlah penduduk tersebut, dapat dilihat bahwa penduduk untuk jenis
kelamin laki-laki terbesar berada di Kecamatan Makale yaitu 17.666 jiwa,
sedangkan Kecamatan Kurra hanya memiliki jumlah penduduk sebanyak
2.872 jiwa yang berjenis kelamin laki-laki. Secara rinci struktur penduduk
menurut usia diuraikan pada tabel berikut:
LAPORAN PENDAHULUAN II - 9
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 10
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2. Tanaman Perkebunan
Luas areal tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Tana Toraja pada
tahun 2018 secara keseluruhan sebesar 62.509 ha, dari luas ini sebesar
56.633,48 hektar merupakan luas tanaman perkebunan rakyat yang
menghasilkan. Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Tana Toraja
selama 2010 yang terbesar produksinya adalah tanaman kakao dan kelapa
dalam masing-masing sebesar 27.938,30 ton dan 18.808,27 ton.
Kabupaten Tana Toraja terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi
terbaik. Produksi kopi mencapai 2.410,8 ton yang tidak jauh berbeda dengan
LAPORAN PENDAHULUAN II - 11
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3. Kehutanan
Luas kawasan hutan di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2019 seluas
51,801 ha yang terdiri dari 27.464 ha hutan negara. Hutan negara di
Kabupaten Tana Toraja didominasi oleh pohon pinus yang beradap di
perbukitan/pegununga. Sementara itu lahan yang di tanami pohon
penduduk/hutan rakyat adalah 24.337 ha. Produksi hasil hutan terdiri dari
kayu dan non kayu (seperti bambu).
4. Peternakan
Kerbau dan babi adalah hewan ternak yang dapat dijumpai dengan mudah di
Tana Toraja karena populasinya cukup banyak. Hampir setiap rumah tangga
di Tana Toraja beternak kerbau ataupun babi. Kedua hewan ternak ini selalu
digunakan masyarakat dalam setiap Acara Pesta, Upacara Adat serta
keagamaan seperti Rambu Solo atau upacara kematian. 26.275 ekor adalah
jumlah Populasi kerbau tahun 2018, jumlahnya mengalami peningkatan
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 0,69%. Sedangkan jumlah populasi
babi tahun 2018 naik 2,40% dari tahun lalu menjadi 306.156 ekor. Jumlah
ini meningkat karena adanya babi dari daerah lain yang didatangkan untuk
memenuhi kebutuhan pesta adat. Ayam kampung mendominasi jumlah
populasi ungags di Tana Toraja sebanyak 995.603 ekor.
5. Perikanan
Kegiatan perikanan di Kabupaten Tana Toraja cukup kecil. Selain merupakan
daerah pegunungan, jumlah Rumah tangga Usaha Perikanan (RUTP) juga
kecil. Pada tahun 2018 jumlah RUTP tercatat sebanyak 1.763 ruta. Usaha
perikanan di Tana Toraja didominasi oleh perikanan budidaya yang di kolam
dan sawah (mina padi) yang produksinya hanya sekitar 469,77 ton. Untuk
LAPORAN PENDAHULUAN II - 12
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Konstribusi terbesar dalam embentukan PDRB Tana Toraja pada tahun 2019
dihasilkan oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yaitu
mencapai 23,11 persen (mengalami penurunan dari tahun 2015 yang sebesar
26,20 persen). Kontribusi lapangan usaha ini mengalami fluktuasi namun
cenderung menunjukan trend menurun terhadap PDRB Tana Toraja. Menurunnya
kontribusi lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan disebabkan
karena peningkatan nilai yang cukup signifikan pada kategori Perdagangan Besar
dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sehingga kontribusi kategori ini
terhadap perekonomian juga meningkat. Selain itu, berkurangnya produksi
tanaman pangan padi akibat cuaca ekstrim yang terjadi pada tahun 2019 dan
lambatnya kenaikan harga komoditi pada lapangan usaha tersebut dibandingkan
produk lain juga menjadi penyebab turunnya kontribusi lapangan usaha ini.
Berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019
meningkat dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh
LAPORAN PENDAHULUAN II - 13
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 14
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
nilai-nilai budaya dengan kondisi keamanan yang kondusif. Berikut ini akan
diuraikan data kondisi sarana sosial masyarakat Kabupaten Tana Toraja, antara
lain; sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan, dan kondisi
keamanan, serta budaya masyarakat.
1. Sarana Pendidikan
Pembangunan bidang pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu negara akan
menentukan karakter dari pembangunan ekonomi dan sosial, karena
manusia adalah pelaku aktif dari seluruh kegiatan tersebut. Dari tahun ke
tahun partisipasi seluruh masyarakat dalam dunia pendidikan di Kabupaten
Tana Toraja semakin meningkat, hal ini berkaitan dengan berbagai program
pendidikan yang dicanangkan pemerintah dalam meningkatkan kesempatan
masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Peningkatan partisipasi
pendidikan untuk mencapai bangku pendidikan tertentu harus diikuti dengan
berbagai peningkatan penyediaan sarana fisik pendidikan dan tenaga
pendidik yang baik.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 15
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan merupakan wadah untuk meningkatan derajat kesehatan
masyarakat, dengan tujuan menciptakan kesehatan masyarakat yang baik
Tersedianya sarana kesehatan merupakan wujud daripada pemenuhan akan
kebutuhan kesehatan masyarakat yang terjangkau sebagai penunjang
berkembangnya kegiatan wisata. Berdasarkan data yang ada, banyaknya
fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Toraja adalah 733 unit yang terdiri
atas Rumah Sakit 4 unit diantaranya RSU 3 unit dan RS. Bersalin 1 unit,
kemudian Puskesmas sebanyak 21 unit, Posyandu 328 unit. Dapat dikatakan
bahwa penyebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Toraja untuk saat
sekarang ini sudah tersebar secara merata disetiap wilayah kecamatan.
3. Sarana Peribadatan
Sarana peribadatan merupakan wadah untuk melakukan aktifitas yang wajib
dilaksanakan oleh setiap umat beragama. Keberadaan fasilitas peribadatan
merupakan salah satu pendorong dan bentuk kepatuhan terhadap Sang
Pencipta serta sebagai keberagaman suku dan agama. Berdasarkan data
tahun 2018, sarana peribadatan yang ada di Kabupaten Tana Toraja
sebanyak 1.017 unit, yang terdiri atas, sarana Mesjid 45 unit, Mushallah 4
unit, Gereja Khatolik 161 unit, Gereja protestan 704 unit. Keberadaan
fasilitas tersebut didominasi oleh Gereja protestan, hal tersebut disebabkan
penganut Agama Kristen Protestan sangat dominan di Kabupaten Tana
LAPORAN PENDAHULUAN II - 16
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Toraja. Selain itu, dari hasil survey lapangan keberadaan akan fasilitas
peribadatan tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menurut hasil penelitian seorang antropolog, Dr. C. Cryut, suku Toraja berasal
dari Indo Cina di sekitar Teluk Tongkin. Mereka merupakan imigran yang
meninggalkan negerinya menuju Asia Tenggara dalam tiga gelombang
keberangkatan. Leluhur suku Toraja merupakan rombongan pelayaran
gelombang terakhir, mereka mendarat di bagian daratan Pulau Sulawesi yang
sebagian pulaunya masih terendam lautan. Tempat pendaratannya yaitu di
sekitar hulu sungai yang diperkirakan berlokasi di daerah Enrekang. Kedatangan
para leluhur suku Toraja ini berbekal aturan keagamaan yang dimilikinya. Salah
satunya yaitu pada arsitektur rumah yang dibangun mirip perahu dan selalu
menghadap ke Utara untuk mengingatkan daerah asal mereka. Proses panjang
akulturasi antara penduduk suku Melayu lokal di Sulawesi dengan imigran
dipercaya merupakan asal suku Toraja. Proses imigrasi yang terus berlanjut
membuat penduduk yang sudah berakulturasi makin terdesak dan kemudian
pindah ke daerah pedalaman bagian atas, yang merupakan wilayah Tana Toraja
sekarang. Menurut cerita lisan turun temurun, disebutkan bahwa leluhur orang
Toraja berasal dari Nirwana (surga). Mereka turun dari langit setelah diciptakan
oleh Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa) dengan cara mengambil bahan
LAPORAN PENDAHULUAN II - 17
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 18
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
b. Transportasi Udara
Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan
udara ke Tana Toraja. Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang
berangkat dari bandara pongtiku sebanyak 1.030 orang. Penerbangan di
Tana Toraja melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar
pulau sulawesi. Bandar udara ini direlokasi karena tidak bisa
dikembangkan karena aspek geologi tidak memadai. Bandara Buntu
Kunik disiapkan sebagai pengganti Bandara Pongtiku, dengan landasan
pacu sepanjang 2.600 meter dengan nama Toraja International Airport
yang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kunjungan wisatawan
domestik maupun mancanegara.
2. Komunikasi
Dari segi komunikasi, masih ada beberapa daerah yang tidak terjangkau
sinyal telpon salah satunya di kecamatan mappak. Selain itu kegiatan
komunikasi menggunakan surat masih berlangsung melalui jasa pos. Jumlah
fasilitas pelayanan pos di Kabupaten Tana Toraja hingga tahun 2019 meliputi
dua kantor pos. Masing-masing satu kantor pos di Kecamatan Mengkendek,
dan Kecamatan Makale.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 19
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Penduduk yang ramah, budaya yang asli dan lestari menjadikan Tana Toraja
menjadi salah satu dari 15 daerah tujuan wisata Indonesia sekaligus menjadi
salah satu ikon Pariwisata Indonesia. Keunikan inilah yang kemudian pada tahun
2009 dinominasikan sebagai salah satu dari 23 situs dalam daftar World Heritage
Culture oleh UNESCO.
Sebagian besar objek wisata tersebut adalah objek wisata alam, dan beberapa di
antaranya sudah dikenal oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Selain kedelapan obyek wisata unggulan yang sangat potensial dikembangkan
tersebut, masih ada beberapa tradisi, adat dan budaya yang merupakan ikon
pariwisata di daerah ini yang sudah dikenal hingga ke mancanegara.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 20
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
dan daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari objek wisata Alam,
objek wisata Sejarah, Seni dan Budaya, objek wisata Agro dan makanan khas.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 21
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 22
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 23
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 24
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 25
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 26
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
4) Gunung Kandora
Daya tarik wisata Gunung Kandora
memiliki daya tarik yang sangat
indah. Dilihat dari tata letaknya
dengan kondisi alam yang berbukit
- bukit serta panorama alam yang
berada di sekitarnya, pepohonan
yang rindang, hijaunya alam
sehingga memiliki nilai estetika
yang sangat bagus. Di bawah objek wisata gunung Kandora terdapat
tanaman persawahan dan permukiman warga, serta bukit-bukit yang
melintang sehingga wisatawan yang berada di puncak gunung dapat
melihat pemandangan yang menakjubkan. Objek wisata gunung
kandora berada di kecamatan Mengkendek kelurahan Kandora dengan
jarak ± 7 Km dari pusat kota Tana Toraja. Untuk itu perlu adanya
pemeliharaah hutan serta adanya reboisasi kembali sehingga dapat
mempertahankan keaslian objek tersebut.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 27
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 28
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 29
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 30
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 31
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 32
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 33
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 34
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 35
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
bersifat klasik dengan jenis kayu yang masih kuat sampai sekarang ini,
oyek wisata ini memiliki keunikan dilihat berdasarkan kondisi bangunan
serta daerah sekitarnya dengan pemandangan alam yang cukup indah,
serta di hiasi dengan tanduk atau gading tedong dan atap yang terbuat
dari batu.
16. Kuburan Batu
Objek wisata kuburan batu
merupakan tempat kuburan mayat
masyarakat Tana Toraja di sekitar
Kecamatan Malimbong Balepe. Daya
tarik objek wisata ini adalah keunikan
batu besar yang di pahat atau di
lubang untuk tempat pemakaman,
dan sekelilinginya terdapat pepohonan yang hijau serta suasana alam
yang indah. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Malimbong Balepe
Lembang Kole Sawangan dengan jarak ± 14 Km dari pusat kota
Kabupaten Tana Toraja.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 36
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
21. Sillanan
Objek ini adalah salah satu situs peninggalan purbakala berupa
perkampungan adat dengan tradisinya dan juga sebagai daerah yang
dikelilingi dengan perkebunan kopi, sayur-sayur, dan buah-buahan.
Tempat ini terkenal dengan perkampungan adatnya. Disini terdapat
beberapa tongkonan yang memiliki fungsinya masing-masing dalam
pemerintahan, juga liang pahat atau kuburan buatan di tebing-tebing
gunung batu yang terjal dan menjulang tinggi, erong (peti jenazah
purba di Tana Toraja dari kayu), sumur alam, sumur mata air dan
pancuran yang tidak pernah kering, terbuat dari susunan batu gunung.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 37
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
22. Pattan
Di lokasi ini daya tarik berupa tongkonan atau perkampungan tradisonal
Toraja yang memiliki strata kultur/budaya yang sangat di junjung tinggi
serta terdapat Liang atau kuburan dan tau-tau yang memiliki daya tarik
tersendiri serta kondisi alam yang sangat natural sehingga daerah ini
memiliki kenyamanan dan keaslian yang sangat memuaskan. Objek
wisata ini terletak di Kelurahan Kelurahan Pattan Kecamatan Suluputti.
23. Sassa'
Objek wisata ini merupakan tempat rumah adat atau tongkonan tertua
di Kecamatan Mengkendek dan sekitarnya, tongkonan Assa’ ini sebagai
tempat tinggal Tangdilatuk yang membuat aturan adat dan kepercayaan
Sumio’ Sukaran Aluk di kampung/negeri Pangrorean juga kuburan bayi
di pohon besar, perkebunan kopi dan markisa sehingga memberikan
suhu yang sejuk. Objek wisata ini terletak di Lembang Gasing
Kecamatan Mengkendek.
24. To'Puang
Objek wisata ini merupakan tempat rumah/perkampungan tradisonal
Toraja (tongkanon) yang memiliki struktur bangunan yang unik serta
ukiran kayu, rona warna yang khas dengan ciri khas budaya masyarakat
Tana Toraja serta batu bersejarah yang memiliki keunikan serta nilai
historis yang sangat mengagumkan. Objek wisata ini terletak di
Lembang Rentealang Kecamatan Sangalla Selatan.
25. Babakanaan
Objek ini merupakan tempat Liang Lo’ko’ (kuburan dalam gua alam)
yang memiliki keunikan serta daya tarik yang menajubkan dengan
kondisi dalam gua yang gelap sehingga menggunakan lampu untuk
memasuki tempat ini. Liang Pa (kuburan batu pahat) merupakan
LAPORAN PENDAHULUAN II - 38
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 39
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 40
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 41
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 42
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 43
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 44
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
4. Tarian Adat
1) Tari Pa’gellu
Gellu’ Pangala’ adalah salah satu tarian tradisional dari Tana Toraja yang
dipentaskan pada acara pesta “Rambu Tuka”. Setiap gerakan dalam
tarian ini merupakan simbol-simbol dari falsafat orang toraja. Tetapi
tarian ini tabu atau pamali dipentaskan pada acara “Rambu Solo”. Tarian
Ini terdapat di Kecamatan Makale, Mangkendek dengan jarak (5 Km),
LAPORAN PENDAHULUAN II - 45
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Makale Utara dengan jarak (8 Km), Makale Selatan dengan jarak (10
Km), Malimbong Balepe dengan jarak (11 km).
2) Tarian Ma’ Badong
Tarian ini dilakukan pada upacara kematian dan biasanya berlangsung
berjam-jam, bahkan sering berlangsung semalaman. Tarian yang
terbuka untuk umum ini, ditarikan dengan saling mengkaitkan jari-jari
kelingking dalam lingkaran yang bergerak seiring gerakan langkah dan
dibawakan oleh wanita maupun pria setengah baya. Biasanya penari
memakai pakaian serba hitam sembari silih berganti melantunkan lagu
kadong badong, yang syairnya berisikan riwayat manusia dari lahir
sampai mati, serta doa-doa agar arwah dapat diterima di dunia arwah
(Puya). Tarian Ma’badong ini hanya dilakukan pada upacara pemakaman
kaum bangsawan, yang lamanya minimal 3 (tiga) hari dan 3 (tiga)
malam. Tarian ini berada di Kecamatan Saluputti dengan jarak (19 Km).
3) Tarian To Mangnganda’
Tarian ini dipentaskan oleh kaum pria yang mempergunakan tanduk
kerbau dan hiasan uang-uang logam kuno (oang) sebagai hiasan kepala
ditambah dengan kain mawa’ tua terjumbai ke belakang. Para penari
menggunakan juga lonceng/bel kecil yang selalu dideringkan pada saat
menari dan bunyinya sangat merdu dan ritmik. Gerakan tarinya sering
dibarengi lengking teriakan yang mengejutkan penonton Tarian
Manganda’ adalah tarian pemujaan yang dipentaskan pada upacara
Merok atau Ma’Bua’. Tarian Terdapat di Kecamatan Makale Utara
dengan jarak (7 Km).
4) Tarian To Manimbong
Tarian Manimbong juga merupakan tarian pemujaan dan doa pada
upacara syukuran. Perbedaannya ialah tarian ini hanya ditarikan oleh
kaum pria. Pakaian, hiasan dan perlengkapan mereka terdiri dari
pakaian khusus untuk pria yaitu Bayu Pokko’ dan Seppa Tallu Buku dan
berselempangkan kain tua/antik yakni Mawa’ serta mengenakan hiasan
kepala yang terbuat dari bulu burung bawan atau bulu ayam yang
cantik. Perlengkapan mereka yaitu parang kuno (la’bo’ pinai) dan sejenis
LAPORAN PENDAHULUAN II - 46
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
tameng bundar kecil yang bermotif ukiran Toraja. Gerakan mereka juga
diiringi dengan syair lagu khusus. Tarian Manimbong sering
dikombinasikan dengan Tarian Ma’dandan dengan gerakan yang diiringi
oleh irama yang sama, walaupun tempat penari pria dan wanita saling
bertukaran tempat ke depan dan ke belakang, berdiri dan berlutut,
dengan diiringi sentakan gerakan-gerakan kaki. Tarian ini terdapat pada
Kecamatan Bittuang dengan jarak (25 Km).
5) Tarian Ma’randing
Tarian ini khusus untuk menghormati para pahlawan perang yang akan
pergi berperang atau baru tiba dari medan perang. Tarian ini terdapat
pada Kecamatan Sangala Selatan dengan jarak (15 km).
6) Tarian Boneballa’/Ondo Samalele
Tarian ini adalah tarian kegembiraan yang biasa dipentaskan sebagai
ucapan syukur kepada Sang Pencipta, terkait dengan mampunya sebuah
keluarga besar menyelesaikan renovasi tongkonannya maupun
selesainya penyelenggaraan Upacara Rambu Solo’ yang besar
(mangrapai’/sapurandanan). Tarian Boneballa’ ini dibawakan oleh wanita
dan remaja putri yang berasal dari tongkonan yang telah direnovasi.
Tarian ini diiringi oleh irama gendang yang dikenal dengan sebutan oni
tumburaka dan oni tuntunpitu, selain itu juga diiringi lagu berupa syair-
syair pemujaan kepada Tuhan (passengo). Rangkaian tarian ini ditutup
dengan tari massal yang diikuti oleh seluruh keluarga. Tarian ini berada
di Kecamatan Sangala Utara dengan Jarak 10 Km.
7) Tarian Pa’Bondesan
Tarian Pa’bodesan merupakan tarian penyembuhan terhadap penyakit
cacar yang mewabah. Tarian ini khusus dibawakan oleh kaum pria
dengan bertelanjang dada. Para penari menggunakan kuku palsu yang
disebut kuku setan (kanuku bombo) dan hiasan kepala yang khas dari
bambu yang penuh dengan guntingan kertas (pangngarru’). Gerakan
tarian ini senantiasa berputar ditempatnya dengan diiringi oleh alunan
irama suling yang khusus ditiup oleh 4 (empat) orang pemain suling.
Tarian ini berada di Kecamatan Masanda dengan Jarak (19 Km)
LAPORAN PENDAHULUAN II - 47
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
8) Tarian Pa’papangngan
Merupakan tarian penerimaan tamu yang dipentaskan oleh para gadis
dengan pakaian adat Toraja lengkap berwarna gelap (hitam). Gerakan
tarinya melambangkan ucapan selamat datang dan penyuguhan sekapur
sirih (pangngan) dan diakhiri dengan ucapan terima kasih serta
kemudian para penari berpamitan. Tarian terdapat di Kecamatan Makale
Utara dengan jarak (8 Km).
9) Tarian Burake
Tarian ini berasal dari bagian Barat Tana Toraja yaitu Kecamatan
Bonggakaradeng. Tarian ini merupakan tarian pemujaan kepada Puang
Marua can Deata (Aluk Todolo). Ditarikan oleh gadis-gadis bangsawan
dengan iringan musik yaitu suling lembang, musik gesek yaitu geso’-
geso’, gendang tangan yang kecil yaitu Kamaru (Garapung) dan
gendang besar yaitu Gandang Boro. Tarian ini diantar dengan sebuah
lagu berjudul : Kamma’-kamma’ku To Lino (Lagu khusus pemujaan).
Pakaian yang digunakan sangat spesifik yaitu Bayu Nene’ Barandilau,
Basserarang, Dodo orang. Perhiasannya terdiri dari Sa’pi’ Ulu, Tida-tida,
Ponto Kati, Sassang, Rara’ dan Orang-orang serta hiasan khas yaitu
Kanuku Deata (kuku dewa-dewi). Untuk kaum lelaki menggunakan
Seppa’ Todolo/Seppa’ Tallubuku, Bayu Pokko’ Muane, Sambu’, Talingka’
sapu’, La’bo Pinai, semuanya adalah bagian dari tradisional lelaki
ditambah hiasan dari manik-manik. Tarian ini terdapat Pada Kecamatan
Makale, dan Kecamatan Masanda dengan jarak (35 Km).
10) Tarian Dao Bulan
Tarian bersal dari Kecamatan Bonggakaradeng, tarian ini
menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan dalam menyambut
bulan purnama. judul Dao Bulan Da’mu mallun len, yang berarti
permohonan kepada sang Pencipta agar berkatNya senantiasa
dilimpahkan pada umat manusia sama seperti terangnya bulan yang
senantiasa bersinar.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 48
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN II - 49
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN
TANA TORAJA, (RIPPARKAB)
TAHUN 2021-2030
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 2.9 Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kabupaten Tana Toraja Tahun 2009-2019
Tahun
No. Bulan
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1. Januari 1,137 1,574 925 2,126 1,154 1,524 1,639 120,914 146,402 123,876 211,056
2. Februari 780 832 761 2,130 1,251 1,062 3,425 65,485 60,692 58,300 36,336
3. Maret 200 725 892 1,015 1,345 1,942 1,509 53,218 52,065 66,908 20,375
4. April 208 893 869 1,063 1,450 1,412 1,987 39,112 50,898 62,852 14,188
5. Mei 647 1,016 825 1,229 1,700 911 2,986 51,742 47,271 44,276 43,709
6. Juni 173 757 865 1,292 1,980 1,334 1,692 47,555 72,840 26,921 120,611
7. Juli 392 1,271 968 1,392 7,650 9,650 10,987 142,135 80,223 105,700 129,024
8 Agustus 369 528 685 1,371 9,066 12,585 18,893 49,239 46,349 73,879 45,321
9 September 775 1,088 1,015 1,052 2,087 4,015 4,642 101,746 38,433 39,806 14,567
10 Oktober 67 510 875 1,677 1,775 1,985 1,289 105,573 34,169 55,128 34,567
11 November 72 966 2,512 2,434 1,512 7,998 9,870 65,297 68,037 245,234 36,567
12 Desember 679 2,471 4,675 4,055 11,349 15,651 23,245 214,576 475,804 453,399 324,500
Total 5,499 12,631 15,867 20,836 42,319 60,069 82,164 1,056,592 1,173,183 1,356,279 1,030,821
Sumber: BPS Kabupaten Tana Toraja, Update Tahun 2020
LAPORAN PENDAHULUAN II - 50
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
1,600,000
1,356,279
1,400,000
1,173,183
1,200,000
1,056,592 1,030,821
1,000,000
800,000
600,000
400,000
200,000
60,069 82,164
20,836 42,319
-
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
LAPORAN PENDAHULUAN II - 51
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
6.497 wisatawan dari 25.919 wisatawan pada tahun 2017, kemudian di tahun
2019 kembali terjadi penurunan mencapai 8.896 wisatawan dari 19.422
wisatawan ditahun 2018 ke tahun 2019 yang hanya sebanyak 10.526 wisatawan.
30,000
25,919
25,000
20,167 20,267
19,324 19,422
20,000
15,731
15,000 13,532
10,526
10,000 9,015
5,634
5,000
-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Berdasarkan data akumulasi, daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja telah
dikunjungi oleh paling sedikit berasal dari 18 negara. Wisatawan asal Jerman,
Perancis dan Belanda merupakan negara yang paling banyak kunjungan
wisatawannya, dimana pada tahun 2017 periode Bulan Januari sampai Bulan Juli,
wisatawan dari Negara Perancis yang berkunjung ke Tana Toraja sebanyak 7.571
wisatawan, kemudia dari Negara Jerman sebanyak 5.788 wisatawan, dan Negara
Belanda sebanyak 1.899 wisatawan. Data tersebut menandakan bahawa daya
tarik wisata dan keunikan budaya di Kabupaten Tana Toraja sangat dikenal
didunia khususnya di negara-negara eropa dan asia.
LAPORAN PENDAHULUAN II - 52
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN TAHUN
KABUPATEN 2021-2030
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 2.10 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2009-2019
Tahun
No. Bulan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1. Januari 202 267 658 1,256 565 1,649 1,135 2,932 1,630 1,039
2. Februari 301 288 748 737 537 839 1,360 2,499 994 943
3. Maret 457 336 563 1,117 381 878 1,236 1,114 971 493
4. April 402 256 460 1,114 702 998 1,296 1,783 816 736
5. Mei 545 242 756 1,546 474 1,267 1,382 2,143 1,410 605
6. Juni 504 359 623 951 1,252 1,162 2,018 1,533 1,384 887
7. Juli 845 318 1,426 2,793 2,373 1,898 2,130 2,433 2,848 1,418
8 Agustus 682 736 2,108 3,086 4,355 2,720 2,601 3,650 1,994 1,113
9 September 414 814 1,360 2,040 3,408 1,625 2,311 2,356 2,438 984
10 Oktober 407 1,010 1,567 1,589 1,637 684 1,172 1,331 339 856
11 November 346 2,039 1,369 1,032 1,698 666 1,182 1,724 1,759 442
12 Desember 529 2,350 1,894 2,063 2,785 1,345 2,444 2,421 2,839 1,010
Total 5,634 9,015 13,532 19,324 20,167 15,731 20,267 25,919 19,422 10,526
Rata-rata 10.0% 60.0% 50.1% 42.8% 4.4% -22.0% 28.8% 27.9% -25.1% -45.8%
Sumber: BPS Kabupaten Tana Toraja, Update Tahun 2020
LAPORAN PENDAHULUAN II - 53
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 2.11 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2017
Bulan
No. Negara Asal Jumlah
Jan. Feb. Maret Apr. Mei Juni Juli Agust. Sep. Okt. Nov. Des.
1. AMERIKA SERIKAT 76 43 32 22 15 35 45 56 23 43 53 67 510
2. AUSTRALIA 13 7 17 23 7 17 16 42 34 14 - 34 224
3. AUSTRIA 56 2 9 12 14 3 7 34 26 44 34 42 283
4. BELANDA 165 85 45 20 55 65 234 435 324 78 163 230 1,899
5. BELGIA - - - - - 3 1 5 3 5 - 2 19
6. CANADA 1 - 1 4 - 4 - - 4 3 - 3 20
7. CEKO 33 27 12 3 5 4 5 - 5 2 - 6 102
8 SINGAPURA - - - 1 - - - - - - - - 1
9 SOUTH AFRICA - - - 5 - - - - - - - - 5
10 DENMARK 17 4 3 - 2 - - - - - - - 26
11 INGGRIS 7 14 5 3 2 11 6 65 34 5 5 12 169
12 ISRAEL 16 - 2 - - - - - - - - - 18
13 ITALIA 13 10 14 4 2 12 32 43 34 9 14 22 209
14 JEPANG - - - - 7 7 - - 5 - - - 19
15 JERMAN 982 165 121 67 145 657 876 1,023 432 342 435 543 5,788
16 KOREA 23 - 4 2 - - - 14 - - - - 43
17 MALAYSIA - - - 1 - - - - - - - - 1
18 PERANCIS 1,090 673 354 244 345 546 578 1,114 766 432 564 865 7,571
LAPORAN PENDAHULUAN II - 54
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA,
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN TAHUN
KABUPATEN 2021-2030
(RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 2.11 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2017
Bulan
No. Negara Asal Jumlah
Jan. Feb. Maret Apr. Mei Juni Juli Agust. Sep. Okt. Nov. Des.
19 SPANYOL - 16 9 14 14 24 67 54 12 12 33 52 307
20 SWISS 5 - - 13 - 4 5 - - - - 27
21 Lain-Lain 435 1,453 486 1,345 453 751 561 765 654 342 423 543 8,211
Total 2,932 2,499 1,114 1,783 1,066 2,143 2,433 3,650 2,356 1,331 1,724 2,421 25,452
Sumber: BPS Kabupaten Tana Toraja, Update Tahun 2020
LAPORAN PENDAHULUAN II - 55
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3
3.1 KAJIAN TEORITIS KONSEP DASAR PEMBANGUNAN
KEPARIWISATAAN
3.1.1 Prinsip Membangun Sektor Pariwisata
Membangun pariwisata berarti membangun perekonomian wilayah yang
diakibatkan oleh berkembangnya sektor pariwisata dan menjaga kelestarian
lingkungan. Untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut, maka perlu
dipahami mengenai konsep membangun pariwisata.
Di Kabupaten Tana Toraja terdapat berbagai ragam jenis daya tarik wisata, yang
sangat berpotensi berkembang, terutama daya tarik wisata budaya dan alam,
maupun agro. Untuk itu perlu diperhatikan prinsip-prinsip membangun sektor
pariwisata, sebagai berikut:
Konsep ini merupakan sebuah konsep ideal bagi pengembangan pariwisata dimana
dalam pengembangannya, pariwisata harus mampu melakukan pengembangan
secara seimbang antara aspek ekonomi – lingkungan – sosial budaya, sehingga
pemanfaatan sumberdaya pariwisata dapat dilakukan secara lestari dan
bertanggung jawab tanpa merusak atau mengurangi nilai sumber daya yang
dimiliki. Hal ini dimaksudkan agar upaya komersialisasi (ekonomi) selaras dengan
upaya konservasi sumber daya agar tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi
mendatang.
Sejalan dengan hal tersebut, Rachel Dodds and Marion Joppe (2001) di Toronto
mengembangkan “Green Tourism” dengan 4 (empat) elemen pokok, yaitu :
1. Enviromental Resposibility
Elemen ini menyatakan bahwa pelu adanya perlindungan lingkungan dalam
upaya untuk menjamin kelangsungan ekosistem wilayah.
2. Local Economic
Pengembangan pariwisata harus mendukung kelangsungan ekonomi
komunitas.
3. Cultural Diversity
Dalam pengembangan pariwisata harus mengangkat kekayaan budaya dari
masyarakat.
4. Experiental Richness
Perlu dikembangkan aktivitas-aktivitas yang bersifat partisipatif terhadap
lingkungan, masyarakat, serta budaya wilayah tersebut.
Pembangunan pariwisata melalui pendekatan ini diyakini akan lebih dapat diterima
oleh masyarakat dan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab,
dengan tetap memiliki manfaat ekonomi serta menciptakan multiplier effect yang
tinggi. Oleh sebab itu, pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja perlu
mempertimbangkan secara cermat faktor-faktor yang saling berkait dan yang
diperkirakan akan menjadi faktor pengganggu. Dalam mengembangkan
Kabupaten Tana Toraja sebagai destinasi pariwisata, tidak hanya aspek daya tarik
sebuah hal yang paling esensial namun aspek-aspek lain perlu diperhatikan.
Dengan demikian, maka diharapkan bahwa pembangunan pariwisata di Kabupaten
Tana Toraja dapat tumbuh berkembang secara dinamis dan produktif dalam
rangka mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Memetakan antara posisi produk wisata (product) terhadap pasar wisata (market)
yang dimilikinya, perlu dilakukan analisa mengenai karakteristik produk wisata dan
pasar wisata tersebut. Dari hasil analisis, dapat diketahui struktur yang sebenarnya
dari masing-masing produk dan pasar yang dimilikinya. Lebih spesifik, hasil dari
analisis tersebut kemudian diilustrasikan pada suatu bentuk ilustrasi peta produk-
pasar yang menggambarkan tentang posisi produk terhadap pasar dengan
batasan-batasan yang telah ditentukan. Batasan tersebut mengandung semua
kategori produk relevan yang bersaing untuk memenuhi kebutuhan serupa. Dalam
hal ini, memetakan produk-pasar (mapping product-market) sangat membantu
untuk:
Gambar 3.4. Proses Pengembangan Daya Saing Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
Melalui Penerapan Konsep Manajemen Strategis
Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu disusun suatu sistem dan hubungan
kelembagaan yang sesuai dengan kondisi di Kabupaten Tana Toraja. Dengan
demikian diharapkan akan tercipta suatu situasi yang kondusif bagi
pengembangan pariwisata, yang selanjutnya diharapkan memberikan stimulus
positif bagi peningkatan kualitas dan daya saing pariwisata Kabupaten Tana
Toraja.
4. Kajian awal data sekunder, yaitu review RIPARDA Provinsi dan kabupaten
sebelumnya dan kajian awal RPJMD, Renstra SKPD terkait, RTRW kabupaten
dan kebijakan lainnya;
5. Penyusunan Laporan pendahuluan; dan
6. Pelaksanaan konsultasi, seminar/FGD.
Survey evaluasi dan analisis harus dilakukan secara teliti agar perencana dapat
menyusun data base yang benar dan jelas. Hal ini merupakan suatu syarat mutlak
untuk dapat menyusun sebuah Rencana Induk Pembangunan Pariwisata yang
baik.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan pada tahap kompilasi data yaitu
observasi lapangan, wawancara, kuesioner, studi dokumentasi, dan studi literatur.
Penerapan teknik tadi bergantung kepada kebutuhan data yang harus
dikumpulkan. Dan untuk lebih jelasnya mengenai teknik-teknik pengumpulan data
yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Sesuai dengan masalah yang akan diteliti dan sesuai dengan hipotesa yang
akan diuji, dapat menentukan pendekatan mana yang paling cocok (regional,
topik, pendekatan aktivitas manusia, pendekatan historis dan lain-lain
sebagainya). Pendekatan yang telah kita tentukan itu diungkapkan dalam
langkah-langkah observasi yang akan kita lakukan. Sedangkan variabel atau
item-item yang akan kita teliti, dituangkan kedalam alat pengumpul data yang
akan kita gunakan. Jadi, metode pendekatan yang telah kita gunakan dapat
dikatakan menjiwai langkah-langkah atau proses yang dilakukan pada
observasi, sedangkan variabel yang akan diukur atau data yang akan
dikumpulkan dituangkan pada alat pengumpul data.
Alat pengumpul data yang dapat digunakan untuk mengkover data pada
waktu melakukan observasi yaitu ceklist, peta dasar, alat pemotret dan tabel-
tabel blangko. Observasi lapangan yang terkontrol dengan perencanaan yang
baik yang disesuaikan dengan masalah yang akan diteliti, dan sesuai dengan
hipotesa yang akan diuji, berarti telah tersusun sedemikian rupa, sehingga
analisisnya juga terukur secara terarah.
3. Teknik Wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang membantu dan
melengkapi pengumpulan data yang tidak dapat diungkapkan oleh teknik
observasi. Pada tahapan survey teknik ini bukan merupakan teknik
pengumpulan data yang utama, melainkan hanya sebagai teknik pelengkap.
Jika berdasarkan hasil observasi masih belum diperoleh data yang lengkap,
terutama mengenai data berupa pendapat atau sikap penduduk terhadap
gejala atau masalah yang ada di wilayah perencanaan, maka teknik
wawancara dapat dilaksanakan. Teknik wawancara yang dapat menjamin
kebutuhan kita secara terarah, adalah wawancara yang tertutup. Wawancara
yang tertutup ini pada pelaksanaannya menggunakan pedoman wawancara.
Pada pedoman wawancara ini dituangkan metode pendekatan, variabel, dan
item-item yang akan kita peroleh.
4. Teknik Kuesioner
Jika data yang berupa pendapat atau sikap orang atau penduduk itu
diperlukan dalam jumlah yang sangat banyak, dapat dikatakan tidak efektif
bila menggunakan teknik wawancara. Oleh karena itu kita harus
menggunakan teknik kuesioner.
5. Studi Dokumentasi
Untuk melengkapi data dalam rangka analisis masalah yang ada di wilayah
perencanaan, kita memerlukan informasi dari dokumen-dokumen yang ada
hubungannya dengan obyek yang menjadi studi. Untuk keperluan ini, kita
harus melakukan studi dokumentasi. Pendekatan historis yang berkenaan
dengan gejala sosial, ekonomi, budaya dan kependudukan lebih banyak
berhubungan dengan sumber-sumber dokumentasi. Membaca, memilih,
menggunakan dan mempelajari sumber-sumber dokumentasi memerlukan
Dalam rangka studi dokumentasi ini kita harus memiliki pengetahuan tentang
pengistilahan pada bahasa dokumentasi. Kita harus terampil untuk
mengalihkan dan menyusun kembali data dari suatu dokumen kedalam tabel
yang sesuai dengan keperluan analisis. Untuk memudahkan pengalihan data
ini kita harus dapat menyusun suatu tabel blangko. Penyusunan item pada
blangko ini sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan kebutuhan dan sesuai
pula dengan data yang tercantum pada sumber dokumentasi. Melalui
penggunaan tabel ini dapat dihindarkan terjadinya kesalahan pemindahan
data dan sekaligus pula sesuai dengan proses analisis yang akan kita lakukan.
6. Studi Kepustakaan
Penelitian geografi yang memenuhi syarat tidak dapat dilakukan tanpa
menguasai teori, prinsip, konsep, dan hukum-hukum yang berlaku pada
bidang geografi dan ilmu penelitian. Kita memerlukan data yang bersifat
teoritis. Pendapat para ahli dalam berbagai yang relevan dengan apa yang
sedang kita kaji, konsep-konsep teoritis dan operasional tentang ketentuan
penelitian dan lain sebagainya, akan kita dapat peroleh dari kepustakaan
tanpa mempelajari bahan-bahan ini kita tidak dapat mencapai hasil yang
memuaskan. Mempelajari kepustakaan selain dituntut ketekunan juga dituntut
keterampilan menyeleksi dan ketrampilan menggunakan kepustakaan yang
berlaku. Dalam hal ini kita harus memiliki kesiapan mental untuk mengunjungi
dan menghadapi orang yang menurut kita memiliki kepustakaan yang kita
perlukan.
Metode peramalan adalah cara memperkirakan secara kuantitatif apa yang akan
terjadi pada masa depan berdasarkan data yang relevan pada masa lalu yang
dipergunakan dalam peramalan objektif” (Assauri, 1984). Sedangkan menurut
Supranto (2010) Metode peramalan atau forecasting adalah merupakan dugaan
atau perkiraan mengenai terjadinya suatu kejadian atau peristiwa yang akan
datang.
Pn = P0 (1 + r)n
Keterangan:
Pn = Jumlah kunjungan wisatawan setelah n tahun ke depan.
P0 = Jumlah kunjungan wisatawan pada tahun awal.
r = Angka pertumbuhan kunjungan wisatawan.
n = Jangka waktu dalam tahun.
Kebutuhan kamar :
SS
tot = ∑X2tot – (∑X2tot)2/N
ss = (∑ Xa)2/Na – ( ∑ X2tot)2/N
ss
ssd = tot – ssa
msa = ssa/dfa
msd = ssd/dfd
F = msa/msd
F : df = dfa/dfd
Adapun variabel/indikator yang digunakan dalam analisis varian untuk
mengetahui daya tarik wisata unggulan yang ada di Kabupaten Tana Toraja
adalah sebagai berikut:
Tingkat kealamian; penilaian terhadap tingkat kealamian suatu daya Tarik
obyek wisata adalah terdapat jenis flora dan fauna dengan kekhasan
tertentu yang dapat dinikmati pada habitat alam (hutan). Selain itu,
INTERNAL
Strengh Weaknes
E (kekuatan) (kelemahan)
X Uraian Daftar Kekuatan Uraian Daftar Kelemahan
T Opportunity Strategi Strategi
E (O) (SO) (SO)
R Gunakan Streng
Tanggulangi Weaknes
N Daftar peluang untuk mendapatkan
dengan
A Opportunity
L menggunakan
Opportunity
Strategi Strategi
Theats
(ST) (WT)
Gunakan Streng
Uraian Daftar Minimalkan Weaknes
untuk menghindari
ancaman/Tantangan dan hindari theats
theats
b. Penentuan Peringkat
Penentuan peringkat (rating) dilakukan terhadap faktor – faktor dari hasil
analisis situasi. Untuk mengukur pengaruh masing-masing faktor
terhadap kondisi kepariwisataan digunakan nilai peringkat dengan
menggunakan skala 1, 2, 3 dan 4 terhadap masing-masing faktor strategis
yang menandakan seberapa efektif strategi dalam pengembangan saat
ini.
Ancaman
TOTAL 1,00
Matriks IFE juga hampir serupa dengan matriks EFE, hanya saja yang
menjadi faktor kunci adalah kekuatan dan kelemahan. Nilai 1 pada matriks
IFE menunjukan situasi internal wilayah atau kepariwisataan yang sangat
buruk. Nilai 4 mengindikasikan bahwa situasi internal kabupaten sangat
baik. Nilai 2,5 untuk matriks IFE menunjukan situasi internal wilayah
berada pada tingkat rata-rata. Model matriks EFE terdapat pada Tabel
berikut.
Kelemahan
TOTAL 1,00
Hold and maintain (jaga dan pertahankan) terdiri dari sel III, V, dan
VII. Penetrasi wilayah dan pembangunan kepariwisataan adalah dua
strategi yang umum digunakan.
Harvest or divest (divestasi), ini terdiri dari sel VI, VIII, dan IX.
Strategi yang dapat digunakan diantaranya adalah strategi divestasi
yaitu dengan mempertajam potensi unsur kepariwisataan atau
mengurangi variabel-variabel yang akan dikembangkan.
Ancaman
Kekuatan
Kelemahan
(Eao-Eai)
Lk = ----------------x 100
I
Dimana :
Lk = laju kepunahan
Eao = jumlah jenis atau luasan ekosistem pada tahun ke 0
Eai = jumlah jenis atau luasan ekosistem pada tahun ke I
I = jumlah tahun perubahan berlangsung.
In = (Esm/Eso) x 100 %
Dimana :
In = keutuhan kawasan/sumberdaya alam dalam persen
Esm = jumlah sumberdaya yang dimanfaatkan
Eso = jumlah sumberdaya asal
Nilai yang diberikan terhadap hasil perhitungan di atas adalah :
> 80 % = tidak utuh =5
60-79% = kurang utuh =4
40-59% = utuh =3
20-39% = lebih dari utuh =2
< 20 % = sangat utuh =1
dimaksud. Nilai yang diberikan didasarkan pada persen peliputan dari wilayah
jelajah dan atau ekosistem/habitat. Rumus yang digunakan adalah :
L = (Ele/Elk) x 100
Dimana :
L = nilai luasan dalam persen
Ele= luasan wilayah jelajoh/ekosistem/habitat
Elk = luasan kawasan yang diusulkan.
Nilai yang diberikan terhadap hasil perhitungan di atas adalah :
> 80 % = sangat terliput =5
60-79% = lebih dari terliput =4
40-59% = terliputi =3
20-39% = kurang terliput =2
<20% = tidak terliput =1
(Si/Pi) - (So/Po)
PP = ------------------- x 100 %
(So/Po)
Dimana:
PP = laju pertumbuhan tekanan penduduk
So = jumlah sumberdaya yang dimanfaatkan pada tahun ke 0
Si = jumlah sumberdaya yang dimanfaatkan pada tahun ke i
PO = jumlah penduduk/pemanfaatan pada tahun ke 0
Pi = jumlah penduduk/pemanfaatan pada tahun ke i
Am = (Eps/Epo) x 100 %
Dimana :
Am = aspirasi masyarakat (dalam persen)
Eps = jumlah penduduk yang setuju dengan penunjukkan
Epo = jumlah responden
Posisi Kabupaten Tana Toraja yang terletak pada bagian utara Provinsi
Sulawesi Selatan, dapat memanfaatkan perjalanan wisata yang
merupakan rute perjalanan wisata nasional.
Kabupaten Tana Toraja yang merupakan bagian dari DTW Utama di
provinsi Sulawesi Selatan.
Daya dukung =
Koefisien rotasi =
3.5 KELUARAN/OUTPUT
Keluaran berupa produk rencana secara substansi memuat tentang:
1 Potensi dan Permasalahan Pembangunan Kepariwisataan
Dirumuskan berdasarkan:
Potensi kepariwisataan dan terkait dan dimiliki dalam mendukung
pembangunan destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran, dan
kelembagaan kepariwisataan; dan
Permasalahan yang dihadapi dalam mendukung pembangunan destinasi
pariwisata, industri pariwisata, pemasaran, dan kelembagaan
kepariwisataan.
Bab 4
Rencana Kerja
4.1 ORGANISASI PELAKSANA
Penyusunan organisasi pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Rencana Induk
Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten (RIPPARKAB) Tana Toraja
Tahun Anggaran 2020 ini menyangkut hubungan antara Pengguna Angaran
/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sebagai
penanggung jawab kegiatan dengan Tim pelaksana pekerjaan.
PPK dalam hal ini sebagai penangung jawab kegiatan adalah Kepala Dinas
Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, sedangkan Tim Perencana, Tim Pelaksana
dan Tim Pengawas. Dalam pelaksanaan pekerjaan, Tim Perencana akan
bertanggung jawab kepada PPK yang telah ditunjuk oleh PA/KPA, dan akan
melakukan tugas sesuai kewenangan yang diberikan oleh PPK.
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 1
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 2
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 3
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
PA/KPA-PJA
ULP/PEJABAT
PPK
PENGADAAN
1. Bertanggung jawab sampai laporan akhir diterima dan disetujui oleh pihak
pemberi tugas.
2. Melaksanakan diskusi dengan tim teknis setiap tahapan laporan.
3. Mengadakan dan melaksanakan diskusi untuk penyajian Rancangan Rencana
kepada pemerintah daerah yang bersangkutan dengan dikoordinasi
penyelenggaraannya oleh pemberi tugas.
4. Berdasarkan hasil diskusi pada laporan akhir harus diadakan revisi sesuai
dengan hasil notulen di atas.
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 4
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
harapan, maka konsultan pelaksana studi ini akan didukung oleh bidang keahlian
pokok sebagai berikut :
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 5
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Uraian singkat tugas masing-masing staf profesional dan staf sub profesional
adalah sebagai berikut :
Team Leader (Manajemen), bertanggung jawab :
Mengkoordinir semua tenaga ahli yang terlibat dalam hal teknis pekerjaan;
Memberi pertanggungjawaban perkembangan pekerjaan kepada project
director;
Mempersentasikan pekerjaan kepada pemberi tugas dibantu dengan tenaga
ahli lainnya terlibat aktif dalam pengumpulan data, analisis wilayah, serta
perumusan konsep dan strategi pengembangan, serta perumusan rencana
dari aspek manajemen pariwisata;
Koordinasi terhadap seluruh kegiatan, tenaga ahli maupun dengan pihak
instansi terkait;
Terlibat aktif dalam menganalisis kebijaksanaan pembangunan dan arahan
pengembangan sektor pariwisata daerah;
Terlibat aktif dalam merumuskan potensi dan masalah pengembangan;
Terlibat aktif dalam menyusun konsep dan strategi pembangunan pariwisata.
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 6
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 7
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Bertanggung jawab atas hasil interpretasi citra satelit dan sistem informasi
geografis;
Memeriksa data lapangan dan membantu melakukan analisis data serta
mengarahkan team dalam penggambaran;
Mengikuti staf konservasi ke lapangan untuk mengecek kondisi di lapangan
dibandingkan kondisi yang dilihat dari citra satelit;
Membantu ketua tim dalam merumuskan rencana pembangunan pariwisata
sesuai dengan potensi hasil pemetaan GIS.
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 8
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 9
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3. Seminar Awal X
8. Seminar Akhir X
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 10
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 11
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPARKAB)
TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
LAPORAN PENDAHULUAN IV - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
1
1.1 LATAR BELAKANG
Pariwisata merupakan kegiatan multi dimensional yang menyentuh berbagai aspek kehidupan
baik politik, hukum, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat. Pengembangan
kepariwisataan tidak hanya mempunyai tujuan akhir berupa output ekonomi atau nilai finansial
yang diperoleh tetapi juga menyangkut persoalan sosial, agama, budaya dan keamanan yang
bahkan menjadi nilai utama pariwisata untuk dieksploitasi menjadi daya tarik wisata yang
mempunyai daya jual tinggi.
Dalam era modern seperti sekarang ini, pariwisata telah menjadi komponen katalis
perkembangan fisik kawasan (tidak merupakan penyebab utama, namun memberikan kontribusi
pada percepatan pertumbuhan dan perubahan kawasan) baik berupa perkembangan fisik,
ekonomi maupun sosial budaya masyarakat. Industri pariwisata merupakan alternatif kegiatan
ekonomi yang dapat diandalkan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, sehingga dituntut untuk berkembang dengan baik dan menghasilkan produk yang
dapat diunggulkan. Hal ini dapat dicapai dengan kemauan politik pemerintah yang memberikan
landasan hukum serta kesadaran masyarakat untuk dapat berintegrasi serta melibatkan diri
sebagai bagian dalam proses sehingga dapat menghasilkan produksi unggulan dalam seluruh
kegiatan industri pariwisata.
Bagi sebagian daerah, pariwisata dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan
kinerja pembangunannya. Namun demikian, untuk mencapai hal tersebut memerlukan suatu
kerja ekstra dari berbagai pihak (stakeholders) baik pemerintah, swasta dan masyarakat untuk
mampu menggali semua potensi-potensi yang ada dengan berupaya semaksimal mungkin untuk
menekan dampak negatif yang mungkin timbul mengingat pariwisata juga mempunyai energi
dobrak cukup kuat dalam memetamorpose berbagai aspek kehidupan atau bahkan dapat
dipandang sebagai ‘musuh’ yang mengancam pelestarian budaya dan lingkungan.
Salah satu upaya yang dapat mengantisipasi hal tersebut adalah melalui perencanaan yang
matang dan komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak untuk merumuskan masalah-
masalah yang timbul pada proses pengembangan dan harus dapat menampung dan
menanggapi aspirasi-aspirasi masyarakat serta berusaha menggali potensi-potensi yang
I-1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
terkandung didalamnya. Atas dasar tersebut, maka konsep pengembangan yang merupakan agar menarik wisatawan untuk datang ke suatu lokasi. Pada umumnya, kualitas tersebut terdiri
penentu kebijakan pengembangan suatu pariwisata dapat disusun. Dengan kata lain konsep dari unsur-unsur yang saling tergantung, yaitu atraksi dan daya tarik, fasilitas wisata,
rencana pengembangan kepariwisataan selain merupakan suatu penuntun didalam infrastruktur, transportasi dan pelayanan. Secara khusus adalah kualitas obyek wisata itu
menanggulangi berbagai kendala yang muncul diharapkan juga menjadi kerangka tindak lanjut sendiri, apakah layak dikunjungi dan dapat memberikan kepuasan. Atraksi menarik wisatawan
dalam pemenuhan tuntutan dan kebutuhan serta keinginan bagi wisatawan dimasa yang akan untuk datang kesuatu lokasi, fasilitas menyediakan kebutuhan wisatawan selama berada jauh
datang dengan memperhatikan tingkatan budaya, sejarah dan ekonomi dari daerah tujuan dari tempat tinggalnya, infrastruktur dan transportasi diperlukan untuk memudahkan wisatawan
wisata. mengunjungi tempat-tempat tujuan wisata, sedangkan pelayanan menunjukkan cara dan
bagaimana memberikan pelayanan kepada wisatawan. Usaha-usaha dalam meningkatkan
Di samping itu, perencanaan juga diharapkan dapat membantu tercapainya kesesuaian (match)
kualitas obyek wisata ini dapat menarik wisatawan untuk datang ke kawasan itu dan pada
antara ekspektasi pasar dengan produk wisata yang dikembangkan tanpa harus mengorbankan
akhirnya akan memberikan income dan kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitarnya.
kepentingan masing-masing pihak. Mengingat masa depan penuh perubahan, maka
Potensi dan berbagai unsur-unsur kepariwisataan tersebut menjadi bagian yang sangat penting
perencanaan diharapkan dapat mengantisipasi perubahan-perubahan lingkungan strategis yang
dalam pembangunan kepariwisataan yang maju di Kabupaten Tana Toraja. Oleh karena itu,
dimaksud dan menghindari sejauh mungkin dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan-
diperlukan dorongan semua sektor didaerah untuk bersama-sama memajukan kepariwisataan
perubahan lingkungan tersebut.
Tana Toraja kedepannya karena pariwisata juga merupakan aktivitas yang beragam dilakukan
Kabupaten Tana Toraja yang dikenal sebagai ikon pariwisata di Provinsi Sulawesi Selatan, tidak hanya terfokus pada kegiatan pariwisata, tetapi aktivitas-aktivitas tersebut berhubungan
memiliki berbagai potensi wisata yang cukup prospektif untuk dikembangkan. Pembangunan dengan aktivitas atau kegiatan sosial kemasyarakatan, bisnis, dan pemerintahan.
kepariwisataan didaerah ini cukup pesat dalam mengembangkan kawasan-kawasan wisata yang
Berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah merupakan titik tolak yang sangat strategis untuk
dianggap menjadi daya tarik wisata yang cukup diminati oleh wisatawan. Hal ini perlu didukung
dapat mengoptimalkan dengan menggali, mengembangkan dan mengelola asset-aset dan
dengan perencanaan yang komperhensif dan berkelanjutan terhadap potensi kepariwisataan
sumberdaya yang dimiliki sehingga dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan
yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja. Pembangunan kepariwisataan tentunya membawa
pembangunan dan perekonomian. Oleh karena itu, setiap daerah harus mencermati sektor-
dampak yang menyeluruh terhadap sektor-sektor lain yang ada disuatu daerah, oleh karena itu
sektor strategis dan potensial untuk dikembangkan sehingga produktif dan dapat membantu
dibutuhkan perencanaan yang matang sehingga hal tersebut dapat tercapai dengan maksimal.
menopang Pembangunan Daerah, memberikan nilai manfaat serta menghasilkan produktifitas
Pembangunan kepariwisataan tidak dapat dilakukan secara parsial, namun harus menyeluruh yang tinggi bagi Pembangunan Daerah maupun Peningkatan Kesejahteraan. Dalam mendukung
terutama dalam pembangunan kawasan-kawasan wisata sehingga diharapkan dapat program pemerintah pusat yang ingin menjadikan beberapa daerah di Nusantara ini menjadi
menimbulkan “gravitasion effek” terhadap objek wisata lain. Beberapa obyek dan daya tarik daerah unggulan dalam sektor pariwisata yang mempunyai daya tarik tersendiri maka masing-
wisata yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat dan wisatawan di Tana Toraja, sejumlah masing daerah dituntut untuk mengembangkan sektor pariwisata unggulan masing-masing
atraksi budaya dan kesenian yang sangat unik ini diharapkan dapan menjadi potensi yang tidak daerah. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sektor parwisata merupakan salah satu penghasil
hanya berkembang pada DTW unggulan saja, namun diharapkan dapat menjadi pemicu devisa Negara yang sangat besar. Upaya tersebut dapat dilaksanakan dengan mengembangkan
berkembangnya data tarik wisata lain yang tersedia, serta dukungan manajemen daerah/kawasan wisata secara terpola, terpadu dan dengan rencana program yang baik. Hal ini
kepariwisataan dan sistem pelayanan (akomodasi, transportasi, peran swasta dan masyarakat, dimaksudkan agar target pengembangannya dapat dicapai dalam waktu yang cepat dan dari
dll) yang menadai. Hal ini dapat dilakukan melalui rencana ini yang memuat tentang pokok- segi pembiayaan dapat lebih efisien. Salah satu program yang perlu dilaksanakan agar dapat
pokok pembangunan kepariwisataan yang diantaranya strategi-strategi dan program merealisasikan upaya diatas adalah dengan membuat suatu Rencana Induk Pembangunan
pembangunan industri, destinasi, pemasaran dan kelembagaan kepariwisataan yang menjadi Kepariwisataan Kabupaten yang dapat digunakan sebagai pedoman pengembangan pariwisata
pedoman bagi pembangunan kawasan-kawasan wisata secara bertahap dan bekesinambungan didaerah sehingga acuan pengembangannya menjadi lebih jelas dan terarah.
di Kabupaten Tana Toraja.
Pasca diundangkannya UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan sebagai pengganti UU
Tingginya potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja menunjukkan bahwa masa No. 9 tahun 1999, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011
depan pengembangan pariwisata didaerah ini merupakan prospek yang sangat cerah. Data yang tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) Tahun 2010 –
dikutip dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Toraja, kunjungan wisatawan nusantara 2025, mau tidak mau daerah harus menyesuaikan diri tentang pengaturan dan pengelolaan
periode 2009 – 2017 sangat pesat pertumbuhannya, dimana pada tahun 2009 kunjungan bidang kepariwisataan. Disisi lain, bagi pemerintah sendiri yang diharapkan usaha pariwisata
wisatawan hanya sebanyak 5.499 wisatawan meningkat tajam sampai pada tahun 2017 dapat memberikan kontribusi bagi pendapatan negara/daerah, baik dalam bentuk pajak, retribsi
sebanyak 1.173.183 wisatawan. Kualitas daya tarik wisata merupakan salah satu unsur penentu dan lain sebagainya.
I-2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Rencana Pembangunan kepariwisataan mencakup 2 (dua) aspek, yaitu aspek spasial dan aspek 1. Mengarahkan pengembangan jalannya pariwisata;
non-spasial. Aspek spasial menyangkut hal-hal yang terkait dengan perencanaan kawasan- 2. Mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkrit
kawasan wisata/daya tarik wisata termasuk, serta keterkaitan antar kawasan dan keterhubungan sesuai dengan tata ruang dan konsep kepariwisataan;
atau aksesibilitasnya. Rencana Induk Pariwisata juga membuat aspek non spasial, khususnya 3. Melengkapi aturan daerah tentang pembangunan kepariwisataan;
yang terkait dengan pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan, mekanisme 4. Menjamin implementasi pembangunan kepariwisataan agar sesuai dengan aspirasi dan
kerjasama antar lembaga dan hal-hal lainnya yang non spasial, termasuk keterkaitan antar kebutuhan masyarakat; dan
sector dalam mendukung pengembangan pariwisata. 5. Menjamin terpeliharanya objek/kawasan wisata.
RIPPAR-KAB Tana Toraja adalah pemanfaatan ruang parawisata yang disusun untuk penyiapan
1.3 KELUARAN
perwujudan rencana pembangunan kepariwisataan yang berkualitas serasi, optimum sesuai
Output dari kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten
dengan kebijakan pembangunan daerah, serta memujudkan kesesuaian antara kebutuhan
Tana Toraja mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10 Tahun 2016 tentang
pembangunan dan kemampuan daya dukung lingkungan melalui pemanfaatan pengelolaan
Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota,
sumber daya alam dan sumber daya buatan. Selain itu, dalam penyusunan-nya, RIPPAR-KAB
dengan muatan rencana diantaranya sebagai berikut:
Tana Toraja merupakan rencana yang mempunyai keterkaitan dalam Peraturan Pemerintah
1. Pendahuluan;
Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional
2. Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan;
(RIPPARNAS) Tahun 2010 – 2025 yang telah menetapkan beberapa potensi unggulan pariwisata
3. Kondisi Wilayah Kabupaten Tana Toraja Dalam Mendukung Pembangunan Kepariwisataan;
di Provinsi Sulawesi Selatan, RIPARP-ROV Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030 dalam Peraturan
4. Kabupaten Tana Toraja Sebagai Destinasi Pariwisata;
Daerah Nomor 2 tahun 2015 ini yang salah satunya menetapkan Toraja sebagai Kawasan
5. Industri Pariwisata;
Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) pada DPD Kawasan Utara yaitu KSPD Toraja dan sekitarnya,
6. Pasar pariwisata;
yang juga dapat menjadi masukan dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten.
7. Kelembagaan Pariwisata;
Dengan demikian, maka RIPPAR-KAB Tana Toraja perlu disusun agar sesuai dengan kondisi 8. Prinsip dan Konsep Pembangunan Kepariwisataan;
kekinian sehingga seluruh potensi daya tarik wisata dapat dikembangkan dengan baik dalam 9. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan;
rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata, 10. Rencana Pengembangan Perwilayahan Pariwisata; dan
mendorong peningkatan ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata, serta pemanfaatan sumber 11. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan.
daya alam yang optimal.
I-3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2. Kajian dan Penyusunan Laporan Fakta dan Analisis; dan 8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
3. Kajian dan Penyusunan Laporan Akhir/Rencana. Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah terakhir kalinya dengan Undang-Undang
1.5 JANGKA WAKTU PERENCANAAN Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang nomor 23 Tahun
Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 8 disebutkan 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
bahwa pembangunan kepariwisataan yang dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
kepariwisataan, merupakan bagian integral dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang 9. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
Nasional. Oleh karena itu, jangka waktu perencanaan RIPPARPROV dan RIPPARKAB/KOTA juga 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 132);
menyesuaikan dengan periode waktu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 10. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik
Kabupaten/Kota yang tentu saja sama dengan periode waktu Rencana Pembangunan Jangka Indonesia Tahun 2014 Nomor 308, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
Panjang Nasional (RPJPN). Periode waktu untuk RPJPD Kabupaten Tana Toraja dalam Peraturan 5613);
Daerah Nomor 3 tahun 2012 yaitu tahun 2010 – 2030, dengan demikian jangka waktu untuk 11. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran
RIPPARKAB Tana Toraja adalah 10 tahun (tahun 2021-2030). Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4723);
Evaluasi terhadap implementasi rencana dan perubahan-perubahan yang terjadi, baik
12. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (Lembaran
perubahan pada kebijakan pembangunan nasional maupun daerah (provinsi atau kabupaten)
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik
dan dinamika internal daerah yang mempengaruhi pengembangan kepariwisataan dapat
Indonesia Nomor 5025);
dilakukan setiap 5 (lima) tahun.
13. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospatial (Lembaran Negara
1.6 DASAR HUKUM Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5214);
Ketentuan hukum/peraturan yang mendasari Kegiatan Penyusunan RIPPARDA Kabupaten Tana
14. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan
Toraja ini adalah sebagai berikut:
Untuk Kepentingan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 22,
1.6.1 Undang-Undang
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5280);
1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 15. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 190, Tambahan Lembaran Negara Republik
Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Indonesia Nomor 6405);
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara 1.6.2 Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik
1. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona
Indonesia Nomor 3470);
Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam (Lembaran
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik
Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 33, Tambahan Lembaran
Indonesia Nomor 3550);
Negara Republik Indonesia Nomor 4988);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan
5. Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
Indonesia Nomor 4966);
4593);
6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara
3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Indonesia Nomor 4725);
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
7. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 473);
Indonesia Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5168);
I-4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
4. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan 1.6.4 Peraturan Daerah
Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Induk
2011 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5262); Pembangunan Kepariwisataan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2012 tentang Sertifikasi Usaha dan Kompetensi; 2. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Tentang Rencana Pembangunan Jangka
6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tana Toraja;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan; 3. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata
8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan. Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031;
9. Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pengawasan dan Pengendalian 4. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pajak Hotel;
Kepariwisataan; 5. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas
10. Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2014 tentang Koordinasi Lintas Sektor Kepariwisataan; Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Hotel, Pajak
11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan
Atas Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2014 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Logam dan Batubara, Pajak Parkir, dan Pajak Air Minum;
Penyelenggaraan Kepariwisataan; 6. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 2 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua
12. Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan Atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum;
dan Pariwisata; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlundingan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
1.6.3 Peraturan Menteri
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pembangunan
1.7 PENGERTIAN UMUM
Ekowisata Di Daerah;
1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang
2. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 37 Tahun 2007 tentang Kriteria Destinasi Unggulan;
dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau
3. Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana
mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota;
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
4. Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta
Destinasi Pariwisata Berkelanjutan;
layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah
5. Peraturan Menteri PU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Kawasan Rawan Bencana Longsor;
daerah.
6. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 01 Tahun 2010 tentang
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat
Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi;
multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan
7. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 27 Nomor
negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan,
2014 Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;
pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha.
8. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014
5. Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten yang selanjutnya disebut dengan
Tentang Standar Usaha Pondok Wisata;
RIPPAR-KAB adalah dokumen perencanaan pembangunan kepariwisataan kabupaten untuk
9. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 14 Tahun
periode 15-25 tahun.
2014 Tentang Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata;
6. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang
10. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 17 Tahun
berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi
2014 Tentang Standar Usaha Kawasan Pariwista;
sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
11. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
7. Daerah Tujuan Pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan
2014 Tentang Standar Usaha Jasa Konsultan Pariwisata;
geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya
12. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 27 Tahun
terdapat Daya Tarik Wisata, Fasilitas Umum, Fasilitas Pariwisata, aksesibilitas serta
2014 Tentang Standar Usaha Taman Rekreasi;
masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
I-5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
8. Pemasaran Pariwisata adalah serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, 22. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda
menyampaikan produk wisata dan mengelola relasi dengan wisatawan untuk buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding,
mengembangkan kepariwisataan dan seluruh pemangku kepentingannya. dan beratap.
9. Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka 23. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung
menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai
penyelenggaraan pariwisata; hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.
10. Kelembagaan Kepariwisataan adalah kesatuan unsur beserta jaringannya yang 24. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar
dikembangkan secara terorganisasi meliputi Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta dan Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang
masyarakat, sumber daya manusia, regulasi dan mekanisme operasional yang secara yang khas.
berkesinambungan guna menghasilkan perubahan ke arah pencapaian tujuan di bidang 25. Desa Wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas
kepariwisataan. pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu
11. Fasilitas Umum adalah sarana pelayanan dasar fisik suatu lingkungan yang diperuntukkan dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.
bagi masyarakat umum dalam melakukan aktifitas kehidupan keseharian. 26. Pemberdayaan masyarakat adalah menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat baik
12. Fasilitas Pariwisata adalah semua jenis sarana yang secara khusus ditujukan untuk secara individu maupun berkelompok dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya
mendukung penciptaan kemudahan, kenyamanan, keselamatan wisatawan dalam peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan kesejahteraannya.
melakukan kunjungan ke destinasi pariwisata.
13. Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan 1.8 SISTEMATIKA LAPORAN
kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata.
Sistematika Laporan Rencana dalam Penyusunan RIPPARKAB Tana Toraja, mencakup susunan
14. Usaha Kawasan Pariwisata adalah usaha pembangunan dan/atau pengelolaan kawasan
pokok-pokok pembahasan tiap Bab dan Sub-Bab, mulai dari Bab I sampai dengan Bab XI.
untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.
Berikut ini rinciannya.
15. Pengusaha Pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan kegiaatan
usaha pariwisata. BAB 1 : PENDAHULUAN
16. Usaha pusat penjualan makanan adalah usaha penyediaan tempat dan fasilitas untuk Menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, ruang lingkup,
restoran, rumah makan, dan/atau kace dilengkapi meja dan kursi. dasar hukum kegiatan, istilah dan definisi, dan sistematika laporan pendahuluan.
17. Usaha Pondok Wisata adalah penyediaan akomodasi berupa bangunan rumah tinggal yang BAB 2 : KABUPATEN TANA TORAJA DALAM KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
dihuni oleh pemiliknya dan dimanfaatkan sebagian untuk disewakan dengan memberikan KEPARIWISATAAN
kesempatan kepada wisatawan untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari pemiliknya. Pada Bab ini menguraikan tentang masukan beberapa kebijakan pembangunan baik
18. Usaha Angkutan Jalan Wisata adalah penyediaan angkutan orang untuk kebutuhan dan nasional, provinsi maupun kabupaten yang mendukung pembangunan
kegiatan pariwisata.. kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja.
19. Standar Usaha Angkutan Jalan Wisata adalah rumusan kualifikasi Usaha Angkutan Jalan
BAB 3 : KONDISI WILAYAH DALAM MENDUKUNG KEPARIWISATAAN
Wisata dan/atau klasifikasi Usaha Angkutan Jalan Wisata yang mencakup aspek produk,
Pada Bab 3 ini, Menguraikan tentang potensi-potensi wilayah kabupaten yang
pelayanan dan pengelolaan Usaha Angkutan Jalan Wisata.
mendukung kepariwisataan baik kondisi fisik dasar wilayah, kependudukan dan
20. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya,
Sumber Daya Manusia (SDM), ketersediaan sarana dan prasarana, potensi ekonomi
Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar
wilayah, serta kebudayaan.
Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai
penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui BAB 4 : KABUPATEN TANA TORAJA SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA
proses penetapan. Menguraikan tentang potensi sumberdaya pariwisata berupa daya tarik wisata,
21. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak sumberdaya manusia pariwisata, sarana dan prasarana pariwisata, kelembagaan,
maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau maupun sumberdaya lain yang merupakan sub-subsistem yang berperan langsung
sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan terhadap perkembangan dan pembangunan kepariwisataan.
manusia.
I-6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
I-7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2
2.1 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM PEMBANGUNAN
KEPARIWISATAAN NASIONAL
Pembangunan kepariwisataan nasional tercermin pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009,
yang menyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan nasional diselenggarakan berdasarkan
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan yang meliputi perencanaan pembangunan
industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran pariwisata, dan kelembagaan
kepariwisataan, dan terdiri atas RIPPARNAS, RIPPAR-PROV, dan RIPPAR-KAB/KOTA.
Landasan normatif ini menjiwai substansi pembangunan pariwisata yang diinterpretasikan
sebagai upaya untuk mengembangkan dan mengamanatkan objek dan daya tarik wisata yang
terwujud, antara lain, dalam bentuk kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna,
kemajemukan tradisi dan seni budaya, serta peninggalan sejarah purbakala yang dimiliki bangsa
Indonesia. Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, pengembangan
kepariwisataan, memiliki:
1. Makna politis, sebagai upaya memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa guna menggalang
persatuan dan kesatuan;
2. Makna ekonomis, sebagai upaya untuk memperkuat perekonomian negara;
3. Makna sosial budaya, sebagai upaya untuk mempertinggi kesadaran dan kesediaan untuk
mempertahankan kebudayaan dan kepribadian bangsa.
Dalam pengembangan kepariwisataan, ada asas-asas yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Asas manfaat, bahwa pengembangan kepariwisataan harus dapat memberikan manfaat
sebesar-besarnya baik secara langsung maupun tidak langsung;
2. Asas usaha bersama dan kekeluargaan, artinya penyelenggaraan kepariwisataan harus
diarahkan dalam rangka pencapaian cita-cita dan aspirasi bangsa dilakukan oleh seluruh
lapisan masyarakat untuk kepentingan bersama dan dijiwai semangat kekeluargaan;
II - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3. Asas adil dan merata, pengembangan kepariwisataan nasional harus menghasilkan 5. Perwilayahan
kesejahteraan bagi seluruh rakyat di pelosok tanah air; a. Penyesuaian pembangunan daerah tujuan wisata, dengan potensi masing-masing
4. Asas perikehidupan dan keseimbangan, kepariwisataan nasional harus dapat mewujudkan dengan mempertimbangkan sasaran pasar utama yang akan diraih dan pertimbangan
perikehidupan yang seimbang materiil dan spiritual baik dalam hubungan antara sesama terhadap tahap perkembangan daerah tujuan wisata, yaitu pada tahap lemah, tumbuh,
manusia dengan lingkungan dan antara manusia dengan Tuhannya; kuat dan terancam.
5. Asas kepercayaan pada diri sendiri, kepariwisataan nasional harus mampu meningkatkan b. Pemantapan keterpaduan dan komplementaritas pengembangan antara daerah yang
dan menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga secara keseluruhan dapat satu dengan daerah lain, dan yang didukung oleh pengembangan jaringan
meningkatkan jati diri bangsa Indonesia. perhubungan.
6. Lingkungan
Kebijakan-kebijakan dan strategi yang telah dirumuskan untuk mencapai target sektor
a. Pembangunan pariwisata mengacu pada peningkatan kualitas dan ramah lingkungan
pariwisata, adalah sebagai berikut:
serta melibatkan peranserta masyarakat setempat.
1. Pemasaran
b. Penerapan ketentuan-ketentuan mengenai daya dukung lingkungan dalam
Strategi pemasaran diarahkan pada hal-hal berikut:
pengelolaan dan pembangunan sarana kepariwisataan.
a. Peningkatan efektifitas promosi melalui kampanye promosi pariwisata pada daerah asal
7. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
wisatawan yang potensial, terutama di kawasan Asia Pasifik.
Peningkatan kualitas informasi kepariwisataan dan sistem pelayanan melalui komputerisasi
b. Peningkatan kegiatan promosi terpadu antara sektor pariwisata, perdagangan dan
dan teknologi komunikasi serta pemanfaatan jaringan informasi global (internet, computer
investasi serta jasa tenaga kerja dalam wadah Badan Promosi Indonesia serta
reservation system, dan lainlain).
peningkatan hubungan antar negara (bilateral, sub-regional dan regional).
8. Bina Masyarakat Sadar Wisata
2. Produk Wisata
Penggalangan kampanye nasional sadar wisata secara berkelanjutan guna mendorong dan
Produk wisata diutamakan pada dua kegiatan berikut:
meningkatkan koordinasi dan peran serta masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan
a. Pemantapan pengembangan produk wisata di daerah wisata Kawasan Barat Indonesia
perlu terus dilakukan.
dengan melakukan usaha-usaha ekstensifikasi, intensifikasi dan konsolidasi produk.
9. Sumberdaya Manusia
b. Peningkatan daya saing produk wisata di pasar internasional, melalui inovasi dan
a. Peningkatan keterampilan profesionalisme tenaga kerja pariwisata melalui diklat
diversifikasi (misalnya pengembangan wisata bahari, agrowisata, ecotourism, dan
pariwisata dengan mengacu pada kurikulum yang standar, sertifikasi, dan akreditasi.
wisata minat khusus lainnya), upaya standarisasi dan pemantauan mutu produk.
b. Peningkatan kemampuan aparat pembina kepariwisataan di semua jajaran pemerintah,
3. Prasarana dan Aksesibilitas
khususnya di Kabupaten/Kota.
a. Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana umum seperti jaringan jalan, jaringan
c. Peningkatan peran pihak swasta dalam usaha peningkatan sumber daya manusia
listrik, jaringan air bersih, dan jaringan telekomunikasi untuk mempercepat
dalam penyelenggaraan diklat pariwisata.
pengembangan objek dan daya tarik wisata dan kawasan pariwisata.
10. Kelembagaan dan Pengaturan
b. Peningkatan aksesibilitas (udara, laut, dan darat) ke dan dari negara sumber wisatawan
a. Pemantapan sistem informasi dan manajemen disetiap unit untuk mendukung
dan antar daerah di Indonesia melalui percepatan perluasan fasilitas bandara,
efektivitas proses pengambilan keputusan.
pelabuhan laut, dan terminal darat di lokasi tertentu melalui kemitraan swasta.
b. Penyesuaian produk pengatuan berdasarkan perkembangan dan tantangan yang akan
c. Swastanisasi atau aliansi penerbangan nasional dengan penerbangan asing untuk
dihadapi pada perekonomian terbuka dan perdagangan bebas pada masa yang akan
meningkatkan kapasitas tempat duduk.
datang dengan berlakunya AFTA, APEC dan GATS/WTO.
4. Investasi
a. Pengarahan investasi pada pengembangan pariwisata ke Kawasan Timur Indonesia
melalui pemberian insentif dan kemudahan sesuai dengan kondisi masing-masing
daerah dengan tetap mendorong peningkatan investasi di Kawasan Barat Indonesia,
agar pengembangan pariwisata merata di setiap kawasan.
b. Pengupayaan percepatan penyelesaian penataan ruang dan peruntukan tanah yang
pasti untuk mendukung kemudahan dan keamanan investasi pariwisata.
II - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
II - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
9. memiliki kekhususan dari wilayah; Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu KSPN Toraja merupakan salah satu program
10. berada di wilayah tujuan kunjungan pasar wisatawan utama dan pasar wisatawan potensial pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),
nasional; dan telah didorong beberapa panduan perencanaan infrastruktur yang akan dilakukan dalam
11. memiliki potensi kecenderungan produk wisata masa depan. perwujudan keterpaduan sektor kepariwisataan.
Berdasarkan pada kriteria-kriteria tersebut diatas, maka Tana Toraja dikembangkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya
salah satu KSPN yang meliputi wilayah Kabupaten Tana Toraja dan berbatasan dengan meliputi Kawasan Strategis Toraja (terletak di
Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Luwu. Kabupaten Tana Toraja dan berbatasan dengan
Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang,
Kabupaten Pinrang, Kabupaten Luwu).
Kawasan tersebut dinilai sangat strategis pada
pengembangan di bidang pariwisata. Posisi strategis ini
dapat dipandang sebagai peluang dan potensi pasar,
oleh karena itu kawasan ini dipandang perlu didukung
oleh berbagai rencana pengembangan infrastruktur
dalam upaya meningkatkan potensi pariwisata di
kawasan tersebut. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR)
telah menyusun konsep percepatan pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan
dan Budaya, agar mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan
disekitarnya.
Gambar 2.2. Peta Sebaran 50 DPN, 222 KPPN dan 88 KSPN
(Sumber: PP 50 tahun 2011 tentang RIPPARNAS, Lampiran II) Dalam rangka percepatan pengembangan kawasan tersebut, perlu disusun Rencana
Pengembangan (development plan) yang meliputi rencana jalan akses antarpusat kawasan,
Secara keseluruhan, Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional 2010 – 2015 ini penyiapan infrastruktur pendukung kawasan, dan penyiapan rencana pengembangan pusat-
mencakup: (1) Pembangunan Kepariwisataan Nasional; (2) Pembangunan Destinasi Pariwisata; pusat pertumbuhan, serta prasarana/sarana sektor lainnya dalam rangka pengembangan
(3) Pembangunan Pemasaran Pariwasata Nasional; (4) Pembangunan Industri Pariwisata kawasan untuk keg iatan sektor pariwisata.
Nasional; (5) Pembangunan Kelembagaan Kepariwisataan Nasional; (6) Indikasi Program
Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Pembangunan Kepariwisataan Nasional; dan (7) Pengawasan dan Pengendalian RIPPARNAS.
Rakyat telah menyusun konsep percepatan pengembangan kawasan tersebut. Sehubungan
dengan hal tersebut, dibutuhkan kegiatan untuk menindaklanjutinya dengan penyusunan
2.2 STRATEGI PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR TERPADU KAWASAN STRATEGIS rencana pembangunan Kawasan Pariwisata Pegunungan dan Budaya. Kegiatan rencana
PARIWISATA PEGUNUNGAN DAN BUDAYA KSPN TORAJA pembangunan Kawasan Pariwisata tersebut diharapkan dapat memberi arahan pembangunan
dan perwujudan struktur ruang di kawasan tersebut yang sesuai dengan daya dukung dan daya
Sebagai implikasi atau tindaklanjut dari kebijakan pembangunan kepariwisataaan nasional,
tampung serta potensi ekonomi kawasan tersebut.
pemerintah pusat telah menyusun sejumlah perencanaan-perencanaan dalam mewujudkan
pembangunan pariwisata pada wilayah-wilayah yang termasuk dalam kawasan-kawasan Dalam melakukan kajian Rencana Pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Tana
pariwisatan nasional. Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2011 tentang Rencana Induk Toraja, maka perlu adanya sektor-sektor potensi wilayah sekitar yang mendukung akan
Pengembangan Kepariwisataan Nasional telah menetapkan 50 Destinasi Pariwisata Nasional pengembangan serta pengembangan ruang dikawasan tersebut. Perencanaan pengembangan
(DPN), 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), dan 222 Kawasan Pengembangan kawasan tersebut harus dikembangkan dengan dengan prinsip transparan, responsif, efisien,
Pariwisata Nasional (KPPN). Di dalam konsep WPS, salah satu yang diharapkan dapat menjadi efektif, akuntabel, partisipatif, terukur, berkeadilan dan berkelanjutan.
engine of growth adalah KSPN dengan tipologi kawasan pariwisata pegunungan dan budaya.
Output yang diharapkan adalah peningkatan kinerja dan daya tarik pada kawasan pariwisata
pantai yang diintervensi oleh infrastruktur, yang pada akhirnya akan menjadi engine of growth
perekonomian di destinasi pariwisata.
II - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2.2.1 Ultimate Kawasan Strategis Pariwisata Pegunungan dan Budaya Toraja 9. Program Ketahanan Pangan untuk mendukung aktivitas pariwisata dan aktivitas masyarakat
Ultimate ini dibuat untuk mendukung tercapainya sasaran KSPN Toraja sebagai Kawasan Wisata dengan melakukan program O & P bangunan jaringan Irigasi Teknis yang ada di KSPN
Budaya Etnik/Tradisi, pada prinsipnya KSPN ini dipersiapkan untuk mendorong pertumbuhan Toraja.
wisata bagian tengah-selatan sehingga dapat mengurangi disparitas dan kesenjangan antara 10. Handalnya Kondisi jalan Poros Enrekang-Makale-Rotenpao-Palopo untuk mendukung
wilayah yang masuk KSPN Toraja dengan Wilayah Pusat perekonomian sulawesi selatan dan kelancaran aktivitas wisatawan dan aktivitas logistik komoditas unggulan KSPN Toraja.
juga dengan wilayah pariwisata yang sudah maju sebelumnya seperti Bali, Lombok, maupun
Danau Toba. Arahan ultimate untuk Wilayah ini di Kabupaten Tana Toraja sebagai berikut: 2.2.2 Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN Toraja Yang Akan
1. Terbangunnya Amenity wisatawan berupa Hotel/penginapan/homestay dengan jumlah Dikembangkan
yang cukup banyak yaitu sekitar 3000 kamar, sehingga mampu menampung dan melayani 1. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek pendukung:
target pencapaian wisman sebanyak 250.000 orang dan wisnus sebanyak 1 juta ▪ Gua alam
pertahunnya, perlu menggaet pihak investor di sektor pariwisata yang profesional di bidang ▪ Museum
perhotelan. ▪ Monumen Penginjilan
2. Tercapainya Pemenuhan Infrastuktur PUPR dan NON PUPR Pada Jalur Back Bone yang ▪ Panorama Alam
Handal di tahun 2025, dari sektor energi maka optimalisasi PLTD Makale sebesar 25 MW ▪ Rumah Adat
dan Rencana pembangunan PLTA Makale, PLTA Sungai Sadang, dan Rencana ▪ Kuburan Batu Tondon Makale
Pembangunan PLTA Sungai Makalo serta sumber-sumber listrik dari pembangkit listrik ▪ Kuliner 8) Kereta gantung
EBTKE yang sifatnya Off Grid yang nantinya berfungsi secara penuh dapat menjadi ▪ Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
penggerak seluruh kegiatan Pariwisata, perikanan, pertanian, dan sektor-lainnya di ▪ Kolam Alam Assa
kawasan KSPN Toraja. ▪ Pasar Hewan
3. Terbangunnya Industri Agrowisata Kopi Toraja yang sudah mendunia di samping sebagai 2. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjang :
tulang punggung pembangunan Agrowisata di KSPN Toraja juga mampu berorientasi export ▪ Permandian Air Panas Makula
sebagai market driven dibidang komoditi Agroindustri, terutama dengan terbangunnya ▪ Pekuburan batu Suaya
konektivitas logistik internasional melalui bandara baru Buntu Kunik. ▪ Kuburan Bayi/Passilliran Kambira’
4. Terbangunnya Fasilitas atau infrastruktur penyediaan air minum dan air bersih sebesar 100 ▪ Kuburan Gua Alam Tampang Allo
lps untuk masing masing kabupaten yang masuk ke KSPN Tana Toraja, dimana teknisnya ▪ Gua Alam Sullukan
masing-masing SPAM terbagi dengan Kapasitas @20 lps, dengan total layanan masing, ▪ Tongkonan Banua Kasalle Bau
masing 10.000 pelanggan untuk Kabupaten Tana Toraja dan 10.000 pelanggan. ▪ Museum Buntu Kalando
5. Pengembangan 16 Destinasi pariwisata Prioritas KSPN Toraja menjadi destinasi ▪ Atraksi Seni Budaya
Wisata berkelas Dunia lengkap dengan sarana sanitasi, lapangan parkir yang memadai, ▪ Rante Tongko Sarapung
kios kios penjual souvenir yang tertata apik, dan gapura masuk destinasi wisata yang bagus 3. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek penunjang:
dan menarik dimana terdiri dari 9 kawasan Wisata Prioritas di Kabupaten Tana Toraja dan ▪ Sassa’
9 Destinasi Wisata Prioritas di Kabupaten Toraja; dan ▪ Perkampungan Adat Sillanan
6. Pembangunan Jalur Kereta Api Trans Sulawesi yang merupakan jalur logistik dan jalur ▪ Kawasan Hutan Mapongka.
transportasi wisatawan, bagi wisatawan yang mendarat di Makasar dan melanjutkan ke 4. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek penunjang :
KSPN Toraja menggunakan Jalur darat. ▪ Potok Tengan
7. Pengembangan Pelabuhan Pare Pare dan Pelabuhan Mamuju sebagai sarana transportasi ▪ Panorama alam Buntu Kandora
moda laut yang membawa wisatawan baik dari Kalimantan maupun dari wilayah barat pulau ▪ Banua Puan
Sulawesi lainnya, atau sebagai jalur logistik komoditas potensial KSPN Tana Toraja seperti ▪ Liang Lo’ko’ Randanan
Kopi dan Padi. ▪ Panjat Tebing
8. Pengembangan Pelabuhan Pelayaran Yacth di Palopo sebagai alternatif moda transportasi ▪ Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring.
wisatawan mancanegara yang menggunakan kapal yacth/pesiar selama berkunjung di 5. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
kawasan perairan wisata di sekitar sulawesi selatan dan tenggara. ▪ Permandian alam Tilanga’
II - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
II - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Sepeda Gunung trasnportasi wisatawan dengan jumlah besar, yang terakhir adalah membangun dan
▪ Wisata Berkuda memperlebar jalan menuju destinasi wisata yang saat ini masih kurang mendukung aktivitas
▪ Atraksi seni budaya wisatawan yaitu dengan lebar jalan hanya 3 – 3,5 meter, dan masih banyak yang dalam
▪ Agrowisata. bentuk konstruksi pemadatan dengan agregat.
▪ Pasar Hewan Bolu; dengan objek pendukung : 2. Harus ada konektifitas antar destinasi wisata satu dengan destinasi wisata lainnya berupa
▪ Pasar Hewan Kerbau infrastruktur jalan.
▪ Pasar Hewan babi 3. Membangun venue dan destinasi wisata di KSPN Toraja menjadi destinasi wisata berkelas
dunia dengan segala macam amenitas dan infratsruktur pendukung yang mampu
2.2.3 Pengembangan Investasi Kawasan Wisata Pegunungan (Agroindustri Kopi memanjakan wisatawan di dalam menikmati daerah wisata yang di tawarkan.
Dan Produk Pertanian Unggulan Lainnya) 4. Selain itu juga perlu di bangunnya venue venue baru yang mampu memperkaya jumlah
Kopi Toraja masuk dalam jajaran lima besar kopi terenak di dunia. Para ahli meneyepakati aktraksi yang di tawarkan kepada wisatawan.
bahwa kopi mulai diperkenalkan di Toraja mulai abad 16 oleh para pedagang dari kerajaan 5. Mengajak dunia usaha perhotelan untuk membangun hotel/penginapan/ homestay untuk
Gowa. Dokumen penguatnya adalah Lontaraq Bilang (catatan harian kerajaan Gowa), dalam menanamkan uangnya membangun sarana hotel dan penginapan bagi wisatawan
literatur itu diceritakan bahwa orang Gowa berlayar membawa kopi ke [Link] yang awal mancanegara dan wisatawan nusantara.
mulanya diperkenalkan oleh para pedagang dari Arab sebagai minuman kekuatan dan 6. Menyediakan infratsruktur pendukung kepariwisataan seperti sarana toilet umum,
penambah vitalitas, membuat mata tetap terjaga. Untuk membiakkannya dibutuhkan tempat penyediaan air bersih dan suplai listrik yang memadai untuk destinasi wisata.
tinggi dan bersuhu dingin, dan Toraja memenuhi kreteria tersebut. 7. Secara kewilayahan dan dukungan dengan provinsi sulawesi selatan , maka perlu di bangun
Terdapat dua jenis dari kopi Toraja yaitu, kopi jenis arabica dan kopi jenis robusta. Kedua kopi dan kembangkan pelabuhan- pelabuhan yang ada seperti di Mamuju, Pare-pare dan Palopo
ini memiliki ciri khasnya sendiri dan sama-sama memiliki rasa yang enak. Kopi Toraja arabica menjadi Pelabuhan yang mampu menampung pendaratan kapal- kapal pesiar yang berasal
memiliki rasa yang kaya, selain itu kopi jenis ini juga memiliki rasa yang kuat sehingga banyak dari destinasi utama wisata baik di sekitar sulawesi selatan seperti, Wakatobi, pulau selayar,
orang yang menyukai kopi ini. Semua kopi mempunyai rasa pahit tersendiri, namun kopi ini pulau bali,pulau kalimantan, maupun kapal pesiar yang berasal langsung dari luar negeri,
memiliki keunggulan di banding dengan kopi yang lain. Kopi arabica memang juga memiliki rasa sehingga para wisman yang mendarat bisa di arahkan untuk menikmati wisata di KSPN
pahit, namun asa pahit yang dimilikinya ini akan cepat hilang seiring kopi yang kita minum Toraja terlebih dahulu.
tertenggak. 8. Usulan pertimbangan akses masuk ke KSPN Toraja memalui Palu (Moda darat Palu–Pasang
Kopi Toraja jenis arabica ini merupakan kopi yang berasal dari Indonesia. Kopi ini sungguh Kayu–Toraja Utara) dengan perkiraan waktu tempuh ± 2,5–3 jam.
membanggakan Indonesia karena dapat diterima di pasar internasional. Eksistensinya di kancah 9. Pengembangan Desa Wisata yang perlu mendapatkan perhatian khusus seperlu Desa
luar negeri nampaknya tidak main- main. Hal ini terbukti dengan masuknya kopi arabica sebagai Wisata di Kec. Parupu
jejeran tiga besar kopi yang terbaik, bahkan mayoritas produksi kopi Toraja jenis arabica di 10. Pengembangan Event dan Atraksi budaya sebagai daya Tarik pariwisata perlu
ekspor semua ke beberapa negara peminum kopi seperti: Jepang, Taiwan, Amerika Serikat dan dikembangkan, seperti Maraton Tour 2 hari 2 malam di Bulan September.
beberapa negara di Eropa. 11. Perlu adanya perhatian pemerintah untuk memelihara keaslian/ originalitas destinasi wisata
baik fisik maupun budaya. (contoh: rumah tongkonan dan lingkungan sekitarnya.
2.2.4 Strategi Pengembangan Destinasi Wisata dan Simpul-simpul Produksi
Industri Kreatif dan Agroindustri
Pada Strategi pengembangan kepariwisataan KSPN Toraja, maka ada 2 hal penting yang harus
dilakukan yaitu:
1. Meningkatkan level Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui Pembangunan bandara baru
Buntu Kunik yang mampu menerbangkan wisatawan Mancanegara dan wisatawan
Nusantara langsung dari Bali sebagai darah transit utama wisman dan daerah daerah lain
di indonesia menuju kawasan pariwisata Toraja, sehingga wisman dan wisnus tidak perlu
lagi melakukan perjalanan darat yang panjang dan melelahkan selama hampir 8 jam dari
Makassar menuju Makale. Selain itu juga menjadikan jalan poros Enrekang-Makale-
Ratenpao-Palopo menjadi jalan dengan status handal dan mampu mendukung aktivitas
II - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
indah dan nyaman bagi wisatawan dan masyarakat di wilayah KSPN Toraja. Konsep yang di
pergunakan adalah konsep Green Infrastruktur.
II - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
pengolahan yang direncanakan pada kawasan prioritas. Untuk menjelaskan tentang kebutuhan 12. Infrastruktur sanitasi dan air bersih yang masih tidak memadai di kawasan destinasi wisata
infrastruktur di KSPN Toraja berikut diberikan deskripsi kebutuhan per Kawasan prioritas dan sehingga menyebabkan wisatawan enggan untuk kembali datang (repetitive) ke KSPN
simpul produksi yang diharapkan dapat terpenuhi atau terlayani pada tahun 2026. Toraja.
13. Kondisi Infrastruktur Jalan Backbone KSPN Toraja yang belum memadai mendukung
[Link] Kawasan Prioritas Pengembangan di KSPN Toraja aktivitas Industri Pariwisata.
Identifikasi dan analisa terhadap isu, hambatan dan peluang apa saja yang memicu kebutuhan 14. Kondisi Sanitasi Masyarakat Pedesaan di wilayah destinasi wisata maupun desa / lembang
infrastruktur untuk pengembangan KSPN Toraja, seperti yang ada di daftar berikut ini: di sekitar destinasi wisata yang masih belum baik.
1. Pengembangan Destinasi Wisata Prioritas, dimana dari hasil analisa dan hasil FGD dengan 15. Sistem TPA eksisiting tidak mampu mendukung penangann timbulan sampah akibat
para pemangku kepentingan baik di tingkat pemerintah daerah tingkat 1 dan pemerintah aktivitas masyarakat dan akibat aktivitas wisatawan, dimana TPA eksisting masih
tingkat II serta para pemangku kepentingan lainnya yang terkait dengan KSPN Toraja, menggunakan sistem “Open Dumping” dimana kedepannya di harapakan adanya TPA
maka di putuskan ada 16 Destinasi/Kawasan Pariwisata Prioritas yang akan di kembangkan sanitary Landfill pada sistem Landfill nya dengan luas masing-masing kabupaten di KSPN
pada masa 2018 – 2026 Toraja adalah seluas 6 hektaer di lengkapi infrastruktur TPA yang lengkap dengan konsep
2. Target market Wisman yang masuk menggunakan 3 Pintu Masuk Utama yaitu: 3R.
▪ Pintu Masuk Bandara Sultan Hasanudin di Makasar, 16. Belum adanya Infrastruktur IPLT guna penanganan Limabh Tinja yang di akibatkan dari
▪ Pintu Masuk Bandara Buntu Kunik di Kabupaten Tana Toraja, aktivitas masyarakat dan aktivitas wisatawan dimana di masing- masing kabupaten di
▪ Pintu Masuk Bandara Utama di Kabupaten Palu Provinsi Sulawesi Tengah. rencanakan dalam waktu dekat akan di bangun IPLT dengan kapasitas 30 M3/hari
3. Pelebaran jalan Poros Nasional Enrekang – Makale – Rotenpao - Palopo dari semua 5 meter 17. Masih di buangnya limbah atau kotoran hewan ke sungai, sehingga memerlukan suatu
menjadi 7 meter akan meningkatkan kehandalan konetivitas transportasi wisatawan infrastruktur pengolahan air Limbah ternak dengan kapasitas + 5 M3/hari, terutama di
maupun logistik masuk dan keluar KSPN Toraja. lokasi pasar Bolu.
4. Terbukanya lapangan kerja baru untuk 1000 TK per destinasi akibat operasionalisasi setiap 18. Normalisasi sungai dimana di fungsikan saat ini sebagai sumber air irigasi dan sumber air
Destinasi yang ada di KSPN Tana Toraja sehingga secara Total mampu membangkitkan baku masyarakat.
Tenaga Kerja sejumlah 1500 tenaga kerja sampai tahun 2019. 19. Kebutuhan Infrastruktur jalan yang mampu mendukung Distribusi produk kopi dan produk
5. Target Pengembangan KSPN Toraja yang mencapai 250.000 wisatawan asing, dan 1 juta pertanian serta perkebunan lainnya untuk keperluan eksport keluar negeri maupun
wisatawan domestik (Wisatawan Mancanegara di dominasi berasal dari wisatawan yang pemenuhan kebutuhan dalam negeri
berangkat dari provinsi Bali). 20. Kebutuhan Infrastruktur Energi Listrik untuk mendukung aktivitas masyarakat dan aktivitas
6. Pembukaan jalur konektivitas baru dari Wisman yang di arahkan untuk mendarat di bandara kepariwisataan sebesar 40-50 MWatt.
di Kota Palu kemudian melanjutkan dengan jalur Darat ke Rotenpao yang mempunyai 21. Kebutuhan Infrastruktur Pelabuhan di Palopo, Mamuju, dan Pelabuhan Pare-Pare yang
waktu tempuh 2,5 jam perjalanan, melewati wilayah pegunungan yang asri dan indah. mampu mendukung aktivitas kedatangan wisman yang menggunakan kapal pesiar dan
7. Pembangunan dan pengembangan fasilitas di dalam kawasan atau di destinasi yang perlu yatch
di bangun sebagai destinasi kelas dunia dengan semua fasilitas pendukung nya seperti jalan 22. Infrastruktur non PUPR, Perhubungan
akses masuk kawasan destinasi, lahan parkir yang luas, fasilitas sanitasi yang memadai dan a. Untuk melayani trasnportasi laut menuju Kawasan KSPN Toraja, dibutuhkan dermaga
indah serta fasilitas kepariwisataan lainnya dan fasilitas pendukungnya, Sistim kepelabuhanan di Palopo, Mamuju dan Pare-Pare
8. Perkebunan Kopi yang luas yang menghasilkan kopi Toraja khususnya Kopi Arabika Toraja digunakan untuk melayani persinggahan kapal pesiar dengan frekwensi sekitar 2
yang sudah di kenal luas di mancanegara dengan tingkat produksi mencapai angka 18.000 kapal/hari, dengan draft Depth antara 8 – 15 meter
ton pertahun dimana di kelola baik secara tradisional maupun modern, yang memerlukan b. Untuk melayani kunjungan wisatawan melalui udara dibutuhkan Bandar udara yang
prasarana infrastruktur pertanian perkebunan yang memadai. dapat menampung pesawat jet komersial sekelas Boeing atau Airbus dengan panjang
9. Luas nya lahan pertanian padi di wilayah KSPN Toraja baik di wilayah Kabupaten Tana landasan 2000 m - 2200 m , program ini telah dibuat oleh Kementrian Perhubungan
Toraja maupun Kabupaten Toraja Utara memerlukan infrastruktur irigasi pertanian yang melaluiDirektorat Jenderal Perhubungan Udara .
memadai sehingga kebutuhan air untuk pertanian bisa di penuhi. c. Rencana Pembangunan Terminal Type B di Ratenpao yang di harapkan mampu
10. Belum tersedia SPAM di 8 Kecamatan di wilayah yang memiliki destinasi pariwisata prioritas. menampung aktivitas transportasi penumpang wisatawan maupun masyarakat yang
11. Kebutuhan Air Baku untuk masyarakat untuk setiap spam kapasitas 10 lps - 20 lps menggunakan moda darat dari daerah selatan KSPN Toraja menuju KSPN Toraja
d. Infrastruktur non PUPR: Ketenaga Listrikan
II - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
e. Kebutuhan untuk kawasan pariwisata disekitarnya termasuk masyarakat pada tahun ▪ meningkatkan jaringan energi listrik dengan pengembangan pembangkit
2019 diperkirakan sekitar 50 Mw dan diharapkan dapat dipasok dari PLTD Makale yang tenaga listrik melalui memanfaatkan sumber energi terbarukan dan tidak
saat ini telah beroperasi dengan kapasitas produksi 25 Mw, dan suplay dari beberapa terbarukan secara optimal;
power plant On Grid maupun Off Grid yang rencana akan di bangun sampai tahun 2019 ▪ mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan jaringan energi/kelistrikan
f. Infrastruktur non PUPR: Telekomunikasi merupakan prasarana yang vital di sebuah termasuk jaringan pipa dan kabel dasar laut;
Kawasan wisata integratif seperti KSPN Toraja, Kebutuhan untuk kawasan pariwisata ▪ mengembangkan prasarana telekomunikasi yang dapat menjangkau seluruh
disekitarnya pembangunan infrastruktur telekomunikasi dengan jaringan fiber optic (8 wilayah;
core), dimana infrastrukturnya nantinya akan disiapkan Operator Telekomunikasi ▪ meningkatkan kuantitas dan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan
seperti PT. Telkom, PT. Telkomsel, PT. Indosat. keterpaduan sistem jaringan sumber daya air.
▪ mewujudkan interaksi infrastruktur jaringan transportasi (jalan dan kereta api)
[Link] Arahan Pengembangan Infrastruktur PUPR Berdasar Kebijakan Spasial di Provinsi Sulawesi Selatan yang nyaman sesuai ketentuan teknis, dan
1. Rencana Pengembangan Tingkat Nasional terhubung dengan sistem jaringan prasarana wilayah
KebijakanPengembangan Infrastruktur PUPR didasarkan atas: provinsi/kabupaten/kota dan simpul transportasi antar moda di Kota Makasar,
▪ Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional 2008-2028; Pare-Pare dan kota yang emndukung konektivitas KSPN Toraja. melalui
▪ Rencana Strategis Kementerian PUPR tahun 2015-2019; pembangunan jaringan jalan nasional yang handal; dan Kebijakan
Seluruh Kebijakan yang tertuang didalam rencana-rencana tersebut yang berkaitan dengan pengembangan kawasan pariwisata, diarahkan pada kawasan yang memiliki
wilayah pengembangan Strategis KSPN Toraja merupakan arahan bagi pengembangan objek dengan daya tarik wisata dengan mendukung upaya pelestarian budaya,
pengembangan KSPN Toraja. keindahan alam dan lingkungan. Pengembangan kawasan pariwisata di
a. Kebijakan Berdasarkan RTRWN Sulawesi Selatan meliputi pengembangan kawasan pariwisata alam (TWA) yang
Di dalam Pasal 5 PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional mengandalkan potensi dan kekayaan alam diarahkan pada TWA yang berada
disebutkan kebijakan yang terkait dengan Struktur Ruang Nasional. di kabupaten Luwu Timur, Gowa, Bone, Soppeng, Pangkep, Kepulauan Selayar,
▪ Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Maros, Takalar, Jeneponto, Wajo, Enrekang, Tana Toraja, Sinjai, dan Kota
yang merata dan berhierarki; dan Palopo serta Kota Makassar, pengembangan pariwisata budaya dan sejarah
▪ Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, (TWB) yang mengandalkan kekayaan alam, adat, sejarah dan budaya pada
telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh kawasan permukiman dan perdesaan tradisional maupun kawasan peninggalan
wilayah nasional. kerajaan, serta situs peninggalan sejarah diarahkan pada kabupaten Tana
Kebijakan Berdasarkan Rencana Strategis Kementerian PUPR tahun 2015-2019. Tema Toraja, Toraja Utara, Sinjai, Bone, Bulukumba, Gowa, Bulukumba serta Kota
besar pengembangan wilayah Pulau Jawa adalah: Makassar dan Kota Palopo. Pengembangan kawasan pariwisata dilakukan
▪ Sebagai lumbung pangan nasional; dengan menunjuk pada peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2011 Tentang
▪ Sebagai salah satu pintu gerbang destinasi wisata terbaik dunia; Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPARNAS) yang telah
b. Rencana Pengembangan Tingkat Provinsi menetepkan Daerah Pariwisata Nasional (DPN) Makassar-Takabonerate dan
Strategi pengembangan infrastruktur tingkat Provinsi diuraikan menurut Provinsi sekitarnyakemudian DPN Toraja-Lorelindu dan sekitarnya yang telah meliputi 7
Sulawesi Selatan: Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) yaitu: Maros (karst), Kota
1) Rencana Pengenbangan Provinsi Sulawesi Selatan Makassar, Sengkang, Sinjai, Bulukumba, Selayar, dan Palopo dan 2 Kawasan
Terkait dengan pengembangan infrastruktur di KSPN Toraja di wilayah provinsi Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yaitu: Toraja dan Takabonerate.
sulawesi selatan, Strategi untuk peningkatan kualitas pelayanan dan jangkauan ▪ Strategi pengembangan struktur ruang nasional diarahkan untuk meningkatkan
pelayanan jaringan prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya kualitas dan jangakuan pelayanan jaringan prasarana transportasi,
air yang merata di seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Selatan meliputi: telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata diseluruh
▪ meningkatkan jaringan prasarana transportasi dan keterpaduan pelayanan wilayah nasional. Sebagai upaya mewujudkan strategi pengembangan wilayah
transportasi darat, laut, dan udara; nasional, Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Pulau Sulawesi yang
mengemban peran sebagai lumbung pangan nasional, pusat pegembangan
ekonomi kelautan dan pusat pertambangan mineral dan panas bumi didukung
II - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
oleh keberadaan jaringan jalan arteri primer, jaringan jalan kolektor primer, ▪ Program pengembangan agrowisata, wisata alam, air terjun, arum jeram dan
jaringan jalan bebas hambatan, rencana pembangunan jaringan jalur kereta api wisata alam lainnya,
antar kota lintas Pulau Sulawesi dan jaringan penyeberangan lintas antar ▪ Program pembangunan kawasan destinasi pariwisata,
provinsi di dalam wilayah Pulau Sulawesi. Jaringan transportasi di Provinsi ▪ Program pengembangan kerjasama/ kemitraan pariwisata,
Sulawesi Selatan juga didukung oleh jaringan transportasi laut, jaringan energy ▪ Program pembangunan jembatan beton, rangka beton, jembatan gantung dan
guna mendukung pengembangan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan meliputi jembatan darurat sepanjang 500 m,
pengembangan depo bahan bakar minyak/gas bumi dan jaringan pipa gas dan ▪ Program pemeliharaan infrastruktur,
minyak bumi, dan system jaringan energy yang handal. Pengembangan ▪ Program revitalisasi permukiman dan perumahan.
jaringan telekomunikasi di Sulawesi Selatan berupa jaringan terrestrial, dan
c. DukunganTerhadap Kawasan Hinterland
pengembangan jaringan mikro analog dan digital.
Sesuai dengan usulan pada ultimate goals KSPN Toraja bawa pengembangan pertanian
2) Rencana Pengembangan Tingkat Kabupaten di Kabupaten Tana Toraja
dan perkebunan di kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara di sentra-sentra
Strategi pengembangan infrastruktur:
pertanian dan perkebunan terutama produk padi , palawija dan produk perkebunan kopi
▪ Program pengembangan sistem penanganan jalan dan jembatan
arabika dan robusta adalah untuk mendukung program ketahanan pangan Republik
▪ Program pembangunan kawasan destinasi pariwisata dan wisata alam
Indonesia, perlu dilakukan studi lebih lanjut terhadap kelayakannya. Meskipun
▪ Program pembangunan infrastruktur perdesaan, sentra produksi dan
sekarang telah banyak lahan-lahan persawahan yang terkonsentrasi di bagian utara
pertumbuhan wilayah
kabupaten- kabupaten itu, juga perkebunan dan peternakan untuk meningkatkan
▪ Program peningkatan fasilitas sarana pemerintahan dan umum
ketahanan pangan maka potensi kabupaten yang saat ini masih belum dikembangkan
▪ Program perencanaan tata ruang dan kawasan
secara optimal perlu dipacu serta ditingkatkan dari sisi kualitas kuantitas dan juga
▪ Program pemetaan dan pemanfaatan ruang dan pengelolaan areal pemakaman
manajemen yang baik. Pemerintah juga harus mempersiapkan infrastruktur pendukung
▪ Program peningkatan fasilitas keselamatan transportasi,
berupa saluran irigasi, jaringan jalan pedesaan serta pasokan listrik yang cukup dan ini
▪ Program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan,
juga harus dihitung berdasarkan studi kelayakan dan nilai keekonomisan kegiatan
▪ Program pengembangan promosi dan pemasaran pariwisata,
integrated farming tersebut. Untuk Provinsi banten ada 6 bendung yang dimanfaatkan
▪ Program pengembangan informasi dan komunikasi,
untuk pengembangan pertanian dan perkebunan, yaitu:
▪ Program pelestarian dan penelusuran nilai budaya dan situs-situs budaya,
▪ Bendung Tebang Kab. Tanatoraja Kapasitas 273 M3,
▪ Program pengembangan kerjasama/kemitraan pariwisata,
▪ Bendung Nonongan Kab. Tana Toraja Kapasitas 231 M3,
▪ Program peningkatan kesiagaan mitigasi, penanggulangan bencana alam dan
▪ Bendung Tawai Kab. Tanatoraja Kapasitas 231 M3,
tanggap darurat,
▪ Bendung Saluratte Kab. Tanatoraja Kapasitas 303 M3,
▪ Program lingkungan sehat perumahan dan permukiman,
▪ Bendung Waedalle Kab. Tanatoraja Kapasitas 55 M3,
▪ Program peningkatan pelayanan angkutan,
▪ Bendung Batualang Kab. Tana Toraja Kapasitas 135 M3.
▪ Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja,
▪ Program peningkatan penyediaan fasilitas sarana olahraga, Konsep rencana pembangunan pengelolaan sumber daya air WS, yaitu :
▪ Program pengelolaan areal sarana umum, ▪ Melakukan konservasi vegetatif di lahan kritis yang luasnya mencapai 6.517 km²;
▪ Program peningkatan kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah dan ruang ▪ Pembangunan check dam dan prasarana pengendali sedimen untuk perlindugan
terbuka hijau, kawasan permukiman, sawah, dan kebun di seluruh DAS di WS Saddang terutama
▪ Program peningkatan pasar tradisional, pasar modern dan pasar hewan, di Sungai Lancirang, Sungai Lampoko, Sungai Tabo- Tabo;
▪ Program peningkatan penyediaan fasilitas ketenaga listrikan dan ▪ Melakukan pembangunan bangunan pengendali sedimen di bagian hulu dan tengah
telekomunikasi, Sungai Lancirang, Lampoko, dan Tabo-Tabo;
▪ Program pemeliharaan dan penanganan darurat, ▪ Menyusun Peraturan Daerah pada sungai-sungai strategis terutama di perkotaan dan
▪ Program pengembangan pengelolaan air baku, air bersih dan air limbah, penetapan Peraturan Daerah tentang batas dan peruntukan sempadan sungai dan
▪ Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam, waduk;
▪ Program pengembangan kinerja pengelolaan persampahan, ▪ Melakukan upaya penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran ileggal
▪ Program perencanaan pengembangan wilayah, logging di kawasan konservasi;
II - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Pembangunan bendungan, bendung, waduk, embung, dan check dam diseluruh WS ▪ Strategi Pengembangan sumber daya manusia perkeretaapian;
Saddang. Prioritas utama adalah Bendungan Buttu Batu (Bendungan Saddang) yang ▪ Strategi Pengembangan Kelembagaan; dan
memiliki potensi irigasi sebesar 63.000 ha. Bendungan ini direncanakan memiliki ▪ Strategi Investasi dan Pendanaan.
potensi listrik sebesar 90 MW Program Jarak (KM)
Investasi (Trilyun
Periode
▪ Pembangunan bendungan yang difungsikan sebagai PLTA yaitu Bakkaru, Rp)
Makassar-Pare-Pare 128 3,84 2016-2020
Bendungan Poko, Bendungan Malea, dan Bendungan Bojo;
Makassar-Takalar-Bulukumba 128 3,84 2021-2025
▪ Pembangunan jaringan irigasi permukaan di WS Saddang terutama di DI Saddang Manado-Bitung 48 1,44 2021-2025
seluas 60% dari potensi luasannya. Makassar 160 4,8 2016-2019
▪ Pengembangan jaringan irigasi DI Banteng dan DI Tabo-Tabo. Manado 150 4,5 2021-2024
▪ Melakukan O & P, rehablitasi, upgrading prasarana irigasi baik bendung dan Pel. Bitung (Sulut) - - 2016-2019
Pel. Makassar (Sulsel) - - 2021-2024
jaringannya yaitu DI Matajang, DI Talung, DI Saddang, DI Kalola Kalosi, DI Tabo-
Tabo, DI Rajang. Melalui rehabilitasi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas
Strategi yang terkait dengan penyediaan infrastruktur perkeretaapian adalah strategi yang
DI sebesar 70% selama 20 tahun mendatang;
pertama “Strategi pengembangan jaringan dan layanan perkeretaapian”. Strategi
▪ Melakukan O & P, rehabilitasi, upgrading prasarana air baku untuk air minum dan
pengembangan jaringan untuk Pulau Sulawesi difokuskan pada jaringan kereta api antar
jaringan distribusi air minum untuk suplai kebutuhan Kabupaten Enrekang,
kota yang memiliki pelabuhan dan yang merupakan koridor logistik untuk mendukung
Kabupaten Sidrap, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, Kota Pare-Pare;
layanan angkutan penumpang dan barang. Untuk mencapai sasaran pengembangan
▪ Pembangunan check-dam dan prasarana pengendali sedimen untuk perlindugan
jaringan dan layanan perkeretaapian akan ditempuh kebijakan-kebijakan seperti :
kawasan permukiman, sawah, dan kebun di seluruh DAS di WS Saddang terutama
▪ Meningkatkan kualitas pelayanan, keamanan dan keselamatan perkeretaapian;
di Sungai Lancirang, Sungai Lampoko, Sungai Tabo- Tabo;
▪ Meningkatkan peran kereta api perkotaan dan kereta api antar kota;
▪ Normalisasi Sungai Saddang dan Sungai Mataallo;
▪ Mengintegrasikan layanan kereta api dengan moda lain dengan membangun akses
▪ Pembangunan prasarana pelindung pantai diseluruh DAS di WS Saddang terutama
menuju bandara,pelabuhan dan kawasan industri; dan kawasan Pariwisata strategis;
Pantai Pallameang, Pantai Bojo, Pantai Lero, Pantai Suppa, Pantai Pangkep, Pantai
▪ Meningkatkan keterjangkauan (aksesibilitas)masyarakat terhadap layanan kereta api
Watuwoe, Pantai Barru, Pantai Lapakaka, Pantai Wiringtasi, Pantai Cilellang, yang
melalui mekanisme kewajiban pelayanan publik (publicservices obligation).
dimulai dalam jangka pendek;
Dalam kaitannya dengan pengembangan KSPN Toraja maka peran dari infrastruktur
▪ Pembangunan prasarana pengendali banjir diseluruh DAS di WS Saddang terutama
perkereta apian dapat diusulkan sebagai alternatif untuk mendukung transportasi baik
pembuatan tanggul dan perkuatan tebing di Sungai Saddang, Sungai Bottoe, Sungai
manusia maupun barang dari dan menuju kawasan-kawasan strategis yang diusulkan dalam
Kiru-Kiru, Sungai Saddang Hulu, Sungai Pangkajene, Sungai Ala Karajae, Sungai
ultimate KSPN Toraja ini. Pengembangan dan Pemantapan Jaringan Kereta Api untuk
Saddang Hilir, Sungai Balusu;
mendukung kebutuhan pengembangan WPS 9 yang diusulkan dalam sinkronisasi program
▪ Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dalam kegiatan pemeliharaan
berdasarkan RTRW Provinsi,jaringan rel kereta api Bagian strategi Konektivitas KSPN Toraja
jaringan irigasi;
adalah pengembangan Track Makasar – Pare- Pare, Terkait dengan KSPN Toraja , terutama
▪ Peningkatan Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) dan kemampuan tenaga
pada kawasan-kawasan simpul produksi dan simpul pariwisata yang ditetapkan pada
Sumber Daya Manusia.
ultimate goals, pelayanan jaringan kereta api diusukan dibangun untuk melayani; Kawasan
[Link] Strategi Pengembangan Infrastruktur Non PUPR Pariwisata dan Produk komoditas unggulan seperti Padi, Kopi dan hasil peternakan dimana
jalur kereta api itu harus dapat terkoneksi dengan stasiun pusat di pare pare menggunakan
1. Rencana Induk Perkereta Apian Nasional moda darat dengan kendaraan trucking dan bus dan kemudian di lanjutkan dengan kereta
Salah satu strategi konektivitas KSPN Toraja adalah memanfaatkan keberadaan dan api ke kota kota besar yang di lintasi oleh jalur trans Sulawesi.
rencana pembangunan jaringan kereta Api Trans Sulawesi yang saat ini baru sampai kota
Pare-pare dimana Strategi pengembangan perkeretaapian nasional terdiri dari 6 (enam) 2. Rencana Induk Ketenaga Listrikan Nasional
strategi yaitu: ▪ Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan
▪ Strategi pengembangan jaringan dan layanan perkeretaapian; Kebutuhan Tenaga Listrik.
▪ Strategi peningkatan keamanan dan keselamatan perkeretaapian; ▪ Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit
▪ Strategi Alih Teknologi dan Pengembangan Industri;
II - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi PAMSIMAS. Dalam perkembangannya diperhadapkan berbagai masalah sosial seperti
pertumbuhan beban yang direncanakan, dan pada beberapa wilayah tertentudiutamakan timbulnya kawasan kumuh, air bersih, dan kebutuhan prasarana dan sarana lingkungan
untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik. Pengembangan kapasitas pembangkit lainnya Program yang dianjurkan untuk Peningkatan Kualitas Lingkungan Perkotaan pada
juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan, dengan kawasan- kawasan kumuh ini adalah RTBL Kawasan Perkotaan, SPPIP Kabupaten yang
mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat, terutama energi terbarukan. Untuk dilanjutkan dengan RPKPP. Sehingga dapat diketahui berapa kebutuhan infrastruktur yang
sistem kelistrikan sulawesi, PLN telah merencanakan beberapa pembangunan pembangkit akan diperbaiki atau dibuat khususnya drainase, air limbah, air bersih, sanitasi dan
listrik baru. Di bawah ini beberapa power plant eksisting maupun rencana yang masuk jalan- lingkungan.
kedalam grid listrik nasional di provinsi sulawesi selatan khususnya yang terkait dengan 2. Keterpaduan Infrastruktur PUPR dan Non PUPR dengan Sektoral dan Daerah
kabupaten toraja,kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Luwu, Setiap adanya kegiatan pembangunan di kabupaten/kota tentu juga berdampak terhadap
dimana terdiri dari : kebtuhan infrastruktur baik PUPR maupun non PUPR, keterpaduan disini untuk melihat
▪ PLTP Bittuang, dan Sangalla PLTM Kadundung : SUTT apakah ada sinkronisasi program ke- PUPR-an dan non PUPR yang berdampak terhadap
▪ PLTA Buntu Batu PLTP Sulili : SUTT kabupaten/ kota yang dituju.
▪ PLTM Batu Sitanduk, Rante Bala : SUTT Konektivitas antara kegiatan di KSPN Toraja. Pada simpul-simpul pertumbuhan di kspn
▪ PLTP Parara : SUT Toraja ini akan di usulkan sistim konektivitas antar kawasan dan simpul kegiatan
▪ PLTD Makale ▪ Sistim Permukiman pada kawasan perkotaan dan pedesaan
Dalam rangka pengembangan kapasitas pembangkit yang akan mendukung KSPN Toraja Ke ▪ Persebaran kegiatan pada simpul Industri, Pariwisata, Perikanan Pertambangan
LIMA Pembangkit Listrik ini direncanakan untuk mendukung pasokan listrik grid Sulawesi Pertanian, perkebunan dan Peternakan
khusunya Sulawesi Selatan dan dimasukkan dalam sistim interkoneksi Sulawesi. ▪ Kesiapan infrastruktur PUPR dan Non PUPR sebagai pelayanan antar kawasan.
3. Rencana Strategis Kementerian Perhubungan
Arahan strategis dan kebijakan Kementerian Perhubungan yang terkait dengan strategi 2.2.9 Anjungan Cerdas KSPN Toraja
konektivitas KSPN Toraja adalah pembangunan Pelabuhan Samudera Pare Pare dan [Link] Konsep Pengembangan Anjungan Cerdas
Pembangunan Pelabuhan Nasional Mamuju dan Pelabuhan Palopo. Sedangkan untuk sektor Konsep pengembangan Anjungan Cerdas pada Kawasan Strategis Pariwisata yang ada
perhubungan laut untuk wilayah selatan difokuskan kepada peningkatan layanan, baik di beberapa lokasi di Backbone Jalan Nasional di Masing-Masing Kawasan Strategis
pelabuhan dan jumlah kapal yang melintasinya. Strategi Kementerian Perhubungan Pariwisata baaik itu KSPN Toraja mempunyai konsep Pengelolaan “ Rest Area” Berbasis
diuraikan sebagai berikut: Komunitas dengan Tema Industri Kepariwisataan dan Industri Kreatif”
▪ Melakukan upaya keseimbangan antara transportasi yang berorientasi nasional dengan Berangkat dari pikiran tersebut terciptalah sebuah pra desain Anjungan Cerdas yang
transportasi yang berorientasi lokal dan kewilayahan; menggambarkan suatu fasilitas yang menyediakan tempat beristirahat yang nyaman dan
▪ Membangun sistem dan jaringan transportasi yang terintegrasi untuk mendukung layanan berkualitas lainnya bagi pengguna jalan dengan melibatkan peran serta
investasi pada Koridor Ekonomi, Kawasan Industri Khusus, Kompleks Industri, dan masyarakat/komunitas lokal dengan tujuan untuk memberikan kontribusi terhadap
pusat-pusat pertumbuhan lainnya di wilayah nonkoridor ekonomi. keselamatan dan kenyamanan di jalan serta mempromosikan produk-produk dan
aktivitas [Link]-syarat pembangunan Anjungan Cerdas antara lain:
[Link] Rencana Strategis Infrastruktur KSPN Toraja 1. Lokasi terdapat di tepi jalan raya dan mudah di akses oleh pengguna jalan;
1. Peningkatan Kualitas Permukiman Perkotaan 2. Keindahan Gardu pandang merupakan hal yang penting menjadi perhatian di dalam
Pembangunan pemukiman perkotaan lebih cepat dibanding di pedesaan yang merupakan pengembangan Anjungan Cerdas dimasing-masing KSPN;
kosentrasi penduduk suatu wilayah yang berperan sebagai pusat pelayanaan dan pusat 3. Pelayanan meliputi tempat parkir, toilet, telepon umum, ruang informasi;
pemasaran bagi wilayah yang dipengaruhinya, secara fisik cenderung berkembang ke 4. Konfigurasi layout dari anjungan cerdas yang coba di desain antara lain terdapat
daerah pinggiran kota yang sangat dipengaruhi adanya kegiatan ekonomi, kondisi wilayah tempat parkir yang luas yang bisa digunakan pengendara secara gratis, toilet yang
dan fungsi kawasan yang demikian seperti aktivitas perdagangan industri dan transportasi. bersih, ruang informasi yang menyediakan mengenai informasi lalu lintas dan
Masalah kawasan kumuh perkotaan (kota Makale) belum tertangani dengan baik, baru komunitas serta fasilitas penunjang seperti restoran, mini market yang menyediakan
sebagian kecil melalui Program P2KP. Sedangkan pembangunan pemukiman pedesaan produk-produk lokal seperti produk pertanian, kerajinan dan lain-lain yang di
ditangani secara stimulan melalui program pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP) operasikan oleh masyarakat/komunitas lokal;
program pengembangan kecamatan (PPK) / PNPM Mandiri pedesaan serta Program
II - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
5. Penanggung jawab fasilitas yang dioperasikan oleh komunitas adalah pemerintah Anjungan Cerdas menyediakan wahana pembinaan, pengembangan dan dukungan
daerah atau lembaga kemasyarakatan; kemitraan untuk percepatan pertumbuhan ekonomi dan pariwisata;
6. Pertimbangan pendirian Anjungan Cerdas adalah tersediannya akses yang mudah 3. Pertukaran Informasi, Pengetahuan dan Komoditas.
baik oleh anak-anak, orang dewasa, orang tua maupun difable serta memperhatikan Anjungan Cerdas menyediakan informasi infrastruktur dan sarana promosi bagi komoditas
tata ruang setempat. dan budaya lokal, yang didukung oleh fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
7. Toko yang menjual produk-produk lokal Setiap operator anjungan cerdas wajib 4. Keselamatan Pengguna Jalan.
memenuhi standar berikut untuk memastikan pemberian pelayanan yang berkualitas Anjungan Cerdas meningkatkan keselamatan pengguna jalan dengan menyediakan fasilitas
tinggi bagi penggunanya: tempat istirahat.
8. Perawatan fasilitas secara keseluruhan, misalnya adalah toilet harus selalu bersih
Anjungan Cerdas menyediakan fungsi-fungsi sebagai berikut :
dan dapat digunakan secara aman dan nyaman;
1. Tempat istirahat untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan nasional yang
9. Membantu pemerintah dalam hal mengumpulkan dan menyebarkan informasi lalu
dilengkapi dengan berbagai fasilitas layanan;
lintas;
2. Gardu pandang pada berbagai infrastruktur PUPR berestetika tinggi dan keindahan
10. Mendidik dan melatih staff humas dengan tujuan meningkatkan kualitas informasi
lingkungan fisik sekitar;
yang ditawarkan;
3. Sarana pengenalan dan pemasaran berbagai produksi dan budaya lokal kepada pengguna
11. Membuat kolaborasi yang saling menguntungkan untuk meningkatkan fungsi dan
jalan nasional;
fasilitas Michino-eki secara keseluruhan. Produk pertanian /perikanan /kerajinan/
4. Pusat informasi berbagai Produk dan Potensi daerahdi sekitar lokasi;
produk kreatif masyarakat setempat.
5. Pusat informasi infrastruktur PUPR terutama di sekitar lokasi;
Anjungan cerdas yang di usulkan memiliki konsep pengelolaandengan bentuk kerjasama 6. Area inkubasi untuk destinasi wisata baru, secara mandiri maupun sebagai bagian dari
pemerintah dengan swasta dimana masyarakat/komunitas lokal dapat berperan secara destinasi utama;
independen dalam pengelolaannya khususnya didaerah pinggiran dan perdesaan yang dilalui 7. Pusat informasi cerdas, dengan penyediaanfasilitas wifi, informasi lalu lintas, informasi
oleh jalan raya. Peran masyarakat antara lain dalam penyediaan layanan seperti restoran, stan infrastruktur PUPR.
yang menjual produk-produk lokal seperti produk pertanian, makanan tradisional, barang-
barang kerajinan, barang kebutuhan pengendara selama dalam perjalanan dan lain-lain. [Link] Pengelolaan Anjungan Cerdas
Tahap awal dalam pengelolaan Anjungan Cerdas adalah pembentukan lembaga
Hal ini berarti bahwa Anjungan Cerdas yang diusulkan pembangunannnya sepanjang Backbone
pengelola. Lembaga Pengelola Anjungan Cerdas dapat dikelola oleh:
KSPN Masing-masing Lokasi akan memberikan pengendara suatu pengalaman unik dan berciri
1. Pemerintah Pusat maupun Daerah
khas lokal selama beristirahat, sementara disisi lain masyarakat lokal mendapatkan keuntungan
Lembaga Pengelola Anjungan Cerdas yang dikelola oleh Pemerintah Pusat atau
komersial melalui penjualan produk.
Daerah dapat berbentuk:
Dikarenakan Tema Anjungan Cerdas dimaksudkan untuk kawasan wisata, maka harus di buat ▪ Badan Layanan Umum (BLU), ketentuan pengelolaan Anjungan Cerdas oleh BLU
semenarik dan senyaman mungkin bagi wisatawan sehingga dibangun dengan investasi yang merujuk kepada PP No. 23 Tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum.
cukup besar dibandingkan dengan pembangunan rest area secara konvensional dan melibatkan ▪ BLU adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan
peran serta aktif dari masyarakat setempat, sehingga diharapkan mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang
kesejahteraan dan pengetahuan masyarakat lokal, sehingga diharapkan tujuan pemberdayaan dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan
masyarakat lokal dan penciptaan lapangan kerja baru dapat terwujud. kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Pengelolaan
Suatu fasilitas dikatakan sebagai Anjungan Cerdas bilamana memenuhi prinsip-prinsip sebagai Keuangan BLU mengikuti Pola Pengelolaan Keuangan BLU (PPK−BLU) yaitu pola
berikut: pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk
1. Pemberdayaan masyarakat. menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan
Anjungan Cerdas memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk berpartisipasi kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
dalam kegiatan usaha dan pelayanan; mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diatur dalam Peraturan
2. Fungsi Inkubasi. Pemerintah ini, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan
negara pada umumnya. Pendapatan BLU bersumber dari:
▪ APBN atau APBD;
II - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Pendapatan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan kepada 2.3 KEPARIWISATAAN KABUPATEN TANA TORAJA DALAM PEMBANGUNAN
masyarakat dan hibah tidak terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan KEPARIWISATAAN PROVINSI SULAWESI SELATAN
lain merupakan pendapatan operasional BLU; dan
▪ Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha lainnya merupakan RIPPARPROV dan RIPPARKAB/KOTA adalah pedoman utama bagi perencanaan, pengelolaan,
pendapatan bagi BLU. dan pengendalian pembangunan kepariwisataan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang
2. Pemerintah Bekerja sama dengan Badan Usaha yaitu Kerjasama Pemerintah dan berisi visi, misi, tujuan, kebijakan, strategi, rencana, dan program yang perlu dilakukan oleh
Badan Usaha (KPBU) dalam penyediaan Infrastruktur, ketentuan pengelolaan para pemangku kepentingan dalam pembangunan kepariwisataan. Oleh karena itu,
pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja tidak terlepas dari kebijakan
Anjungan
kepariwisataan pada tingkat nasional dan Provinsi Sulawesi Selatan, yang didalamnya
Cerdas dalam bentuk KPBU ini merujuk kepada PerPres RI No. 38 Tahun 2015 tentang
mengemban perwujudan tujuan pembangunan kepariwisataan secara berhirarki.
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dalam Penyediaan Infrastruktur.
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disebut sebagai KPBU Kontribusi sektor Pariwisata Sulawesi Selatan dalam Pembangunan ekonomi daerah sebagai
adalah kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan salah instrumen peningkatan perolehan pendapatan asli daerah yang signifikan. Perolehan
Infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang devisa dari kehadiran wisatawan mancanegara ke Sulawesi Selatan dalam beberapa tahun
telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/Badan terakhir ini juga turut memberikan konstribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat.
Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang sebagian atau seluruhnya
Sementara itu, dari perspektif pembangunan sumber daya manusia, Pariwisata mempunyai
menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko
potensi untuk dijadikan instrumen dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya
diantara para pihak. Badan Usaha adalah Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
penduduk sekitar Destinasi Pariwisata. Dengan demikian, Pariwisata dapat meningkatkan
Milik Daerah, badan usaha swasta yang berbentuk Perseroan Terbatas, badan hukum
kesejahteraan masyarakat, bukan saja kesejahteraan material dan spiritual, tetapi juga
asing, atau koperasi. KPBU dilakukan berdasarkan prinsip:
sekaligus meningkatkan kesejahteraan kultural dan intelektual. Ditilik dari perspektif bangsa
▪ Kemitraan, yakni kerjasama antara pemerintah dengan Badan Usaha dilakukan
yang lebih luas, Pariwisata mempunyai potensi yang jauh lebih besar dan juga lebih mulia, yaitu
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan persyaratan yang
dapat meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia dan antarbangsa sehingga terjalin saling
mempertimbangkan kebutuhan kedua belah pihak;
pengertian yang lebih baik, sikap saling menghargai, persahabatan, solidaritas, bahkan
▪ Kemanfaatan, yakni Penyediaan Infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah
perdamaian.
dengan Badan Usaha untuk memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi
masyarakat; RIPPARKAB diperlukan sebagai acuan operasional pembangunan Pariwisata bagi pelaku
▪ Bersaing, yakni pengadaan mitra kerjasama Badan Usaha dilakukan melalui Pariwisata dan pelaku ekonomi, sosial dan budaya, baik di provinsi maupun
tahapan pemilihan yang adil, terbuka, dan transparan, serta memperhatikan kabupaten/kota, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pembangunan
prinsip persaingan usaha yang sehat; kepariwisataan daerah. RIPPARKAB menjadi sangat penting, karena:
▪ Pengendalian dan pengelolaan risiko, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur 1. Menjadi pedoman untuk arah pengembangan yang tepat terhadap potensi Kepariwisataan
dilakukan dengan penilaian risiko, pengembangan strategi pengelolaan, dan dari sisi produk, pasar, spasial, sumber daya manusia, manajemen, dan sebagainya
mitigasi terhadap risiko; sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara positif dan berkelanjutan bagi
▪ Efektif, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur mampu mempercepat pengembangan wilayah dan kesejahteraan masyarakat.
pembangunan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan pengelolaan dan 2. Mengatur peran serta setiap stakeholders terkait baik lintas sektor, lintas pelaku, maupun
pemeliharaan infrastruktur; dan lintas daerah/wilayah agar dapat mendorong pengembangan Pariwisata secara terpadu dan
▪ Efisien, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur mencukupi kebutuhan sinergis.
pendanaan secara berkelanjutan dalam penyediaan Infrastruktur melalui
dengan dana swasta. 2.3.1 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi
Selatan
1. Kebijakan
a. Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antarbangsa;
b. Mengembangkan tata nilai kehidupan dan budaya daerah sebagai bentuk kearifan
lokal;
II - 15
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
c. Memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam; 2. keterpaduan baik dari segi potensi, keterkaitan nilai budaya, maupun dalam rangka
d. Mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah; dan pengembangannya;
e. Memelihara keamanan, ketertiban, dan ketenteraman. 3. jejaring aksesibilitas dan infrastruktur;
2. Strategi 4. Daya Tarik Wisata dengan membentuk jejaring produk wisata dan paket pemasaran serta
Strategi RIPPARDA sebagai berikut: pola kunjungan wisata baik domestik maupun internasional;
a. Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran penting 5. daya dukung dan penguatan daya saing.
pariwisata dalam peningkatan kualitas kehidupan bangsa dalam memasuki era
Penetapan KSPD dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria diantaranya (a). memiliki fungsi
globalisasi;
utama Pariwisata atau potensi pengembangan Pariwisata; dan (b). memiliki sumber daya
b. Mendorong partisipasi aktif masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan dalam rangka
pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata unggulan dan memiliki citra yang sudah
peningkatan pendapatan yang berimplikasi positif pada Peningkatan Pendapatan Asli
dikenal secara luas. Setiap KSPD dapat disusun dan difokuskan pada kawasan pusat
Daerah dan kontribusi sektor Pariwisata terhadap pembangunan Daerah dan nasional;
pertumbuhan ekonomi berdasarkan Master Plan.
c. Menjaga dan mengembangkan budaya lokal yang beraneka ragam sebagai aset wisata
Daerah, sesuai dengan tata nilai dan kelembagaan yang secara turun temurun
dipraktikkan dan dipelihara; 2.4 KEPARIWISATAAN DALAM RPJPD KABUPATEN TANA TORAJA
d. Meningkatkan kualitas produk, sumber daya pariwisata, dan lingkungan secara integral RPJPD adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah periode 20 (dua
berdasarkan prinsip kesinambungan dan apresiasi terhadap norma dan nilai yang puluh) yang ditetapkan dengan maksud sebagai arah dan acuan pelaku pembangunan daerah
berlaku; untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan didaerah yang sesuai dengan visi, misi
e. Menjadikan Destinasi Pariwisata Daerah sebagai daerah tujuan wisata unggulan dan arah pembangunan daerah yang lebih efektif, efisien, terpadu, berkesinambungan dan
nasional dan internasional dengan orientasi pengembangan kearah Pariwisata alam saling melengkapi dalam pola sikap dan tindak bagi pelaku pembangunan.
dan Pariwisata budaya, serta menempatkan jenis Pariwisata yang lain sebagai Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 3 Tahun 2012
penunjang utama berdasarkan keseimbangan antara permintaan pasar dengan potensi Tentang RPJPD Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010-3030, menjadi dasar pembangunan daerah
yang tersedia; jangka panjang yang meliputi seluruh aspek kehidupan yang mampu berkontribusi memajukan
f. Menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan antara manusia dengan Tana Toraja sebagai salah satu daerah otonom di Provinsi Sulawesi Selatan.
lingkungannya untuk meningkatkan kualitas SDM Pariwisata.
RPJPD Kabupaten Tana Toraja merupakan penerjemahan visi, misi dan arah kebijakan
2.3.2 Posisi dan Peran Kabupaten Tana Toraja Dalam Pengembangan pembangunan daerah yang memiliki keterkaitan dan sinergi dengan RPJP Nasional dan RPJP
Kepariwisataan Sulawesi Selatan Provinsi yang menjadi arahan setiap perencanaan pembangunan berikutnya. Kehadiran RPJPD
Kabupaten Tana Toraja menjadi sangat penting mengingat dalam melaksanakan pembangunan
Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja sebagaimana arahan RIPPARNAS, mejadi acuan dibutuhkan suatu tindakan yang tepat serta mempertimbangkan kebutuhan daerah dan
pemerintah Privinsi Sulawesi Selatan yang secara berhirarki mengembangkan kepariwisataan di kemampuan sumber daya yang ada. Dengan adanya RPJPD dihapkan agar Pemerintah Daerah
Kabupaten Tana Toraja sebagai bagian pembangunan pariwisata diwilayah provinsi. Hal ini dapat melaksanakan pembangunan yang rasional dan realistik.
diwujudkan dalam RIPPARNAS yang menjadikan Tana Toraja sebagai salah satu bagian wilayah
pengembangan kepariwisataan diantara 222 KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisatan Kabupaten Tana Toraja sebagai icon kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan tentunya
Nasional) yaitu KPPN Toraja dan sekitarnya serta dengan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) mengambil bagian penting dari perencanaan jangka panjang didaerah ini. Berbagai program
TORAJA–LORELINDU dan sekitarnya. yang selanjutnya dituangkan dalam Peraturan Daerah pembangunan kepariwisataan yang digalakkan dalam kurun waktu 20 tahun kedepan menjadi
Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang RIPPAR-PROV Sulawesi Selatan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan dan strategi pembangunan kepariwisataan kabupaten yang
Destinasi Pariwisata Daerah (PDP) Kawasan Utara yaitu Kawasan Strategis Pariwisata Daerah diharapkan dapat bersinergi untuk sama-sama mewujudkan pembangunan daerah yang lebih
(KSPD) Toraja dan Sekitarnya. baik kedepannya.
Penetapan Destinasi Pariwisata Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dalam peraturan tersebut, Sebagai bagian dari perencanaan pembangunan daerah, kepariwisataan di Kabupaten Tana
dilakukan dengan mempertimbangkan aspek: Toraja sesuai arahan perundangan yang berlaku, masa berlaku perencanaan juga mengacu
pada jangka waktu RPJPD sehingga masukan-masukan dalam RPJPD sangat penting menjadi
1. kawasan geografis yang di dalamnya terdapat pengembangan kawasan pariwisata; bagian dari perencanaan ini.
II - 16
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2.4.1 Isu Strategis Daerah Nilai-nilai adalah pedoman yang mengatur tindakan dan perilaku seseorang dalam bekerja
Melihat permasalahan diatas maka isu strategis yang perlu diatasi secara bertahap, menuju pencapain Visi. Nilai-nilai yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan
berkesinambungan dalam dua puluh tahun mendatang di Kabupaten Tana Toraja dapat Kabupaten Tana Toraja harus diangkat dari nilai- nilai agama budaya tradisional yang
dirumuskan sebagai berikut: bersumber dari Tongkonan, seperti yang tercermin dalam ungkapan dibawah ini :
1. Pertumbuhan penduduk dan penyebarannya. 1. Tongkonan ditimba uainna artinya : uai berarti air dan ditimba artinya ditimba. Yang
2. Kualitas dan aksibilitas pendidikan dan kesehatan mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan makanan bagi warganya.
3. Pengangguran dan ketenagakerjaan 2. Tongkonan dikalette’ tanananna : dikelette’ artinya dipetik, dan tanananna berarti tanaman.
4. Peran serta masyarakat terhadap budaya daerah dan penenganan masalah sosial. Yang mengandung arti bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan makanan bagi warganya.
5. Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. 3. Tongkonan dire’tok kayunna artinya : dire’tok artinya ditebang, dan kayunna berarti kayu.
6. Kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur. Yang mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan bangunan bagi
7. Kualitas lingkungan dan kesadaran masyarakat. warganya.
8. Kualitas demokrasi dan pemerintahan daerah. 4. Tongkonan di kumba’ litakna : litakna artinya tanah milik tongkonan pemanfaatannya
berfungsi sosial dalam arti kata seluas – luasnya.
2.4.2 Visi dan Misi Pembangunan Daerah 5. Tongkonan dipoada’ ada’ na, dipoaluk alukna : ada’ artinya adat istiadat, aluk artinya agama
Visi Kabupaten Tana Toraja yang berpijak pada kondisi masyarakat dan lingkungannya sangat (religius) yang mengandung makna bahwa segala tindakan, tata kelakuan, pola hubungan
terkait erat dengan pembangunan kepariwisataan. Hal ini cukup jelas dalam kalimat visi tersebut sosial, norma–norma dan aturan–aturan dalam kehidupan bersama bersumber dari
yaitu ”Tana Toraja, daerah wisata indah berbudaya yang menakjubkan, tempat Tongkonan yang dilandasi oleh nila-nilai keagamaan.
tinggal masyarakat beriman yang kreatif dan sejahtera”. Disamping nilai–nilai budaya tradisional yang bersumber dari Tongkonan tersebut diatas, nilai
yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Tana Toraja juga
Totalitas Tana Toraja mampu ditampilkan dalam kalimat Visi yang pendek. Pemimpin Tana
dikombinasikan dengan cara pandang yang dianut secara global. Nilai berfungsi sebagai rambu–
Toraja adalah mereka yang mendambakan masyarakatnya yang religius dan sangat kreatif
rambu/koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas pembangunan yang dilakukan baik oleh
dalam menciptakan kesejahteraannya, dalam suatu lingkungan wisata yang indah dan
pemerintah maupun masyarakat.
menakjubkan, dengan dukungan budaya yang semarak.
Nilai–nilai Tongkonan yang dikombinasikan dengan cara pandang secara global dan yang akan
Dalam mewujudkan Visi Pembangunan Kabupaten Tana Toraja tersebut maka dirumuskan misi
menjadi koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas pembangunan di Kabupaten Tana Toraja
sebagai berikut :
sebagai berikut :
1. Mewujudkan Masyarakat Tana Toraja yang unggul dengan mengedapankan pembangunan
1. Karapasan
sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing melalui peningkatan
Nilai ini bersumber dari falsafah Tongkonan yaitu usaha mempertahankan dan memelihara
pendidikan, kesehatan, penguasaan iptek.
kedamaian, kerukunan dengan sesama warga masyarakat agar tetap tercipta kehidupan
2. Melestarikan kebudayaan daerah Tana Toraja dengan memperkuat jati diri dan adat istiadat
yang harmonis bahkan mengorbankan harta benda demi terciptanya keharmonisan seperti
masyarakat Tana Toraja melalui pemberdayaan kelembagaan, pemantapan
dalam ungkapan unnalli melo (membeli kebaikan) atau la’biran tallan tu barang apa kela
aktivitas seni budaya dan penerapan nilai-nilai agama.
sisarak mira tu rara buku (orang rela mengorbankan harta bendanya, dari pada
3. Mewujudkan ketentraman daerah dan masyarakat Tana Toraja yang
mengorbankan persaudaraan). Nilai ini juga mengandung makna bahwa segala rencana,
berkeadilan serta demokratis dengan memperkuat system keamanan, meningkatkan
kegiatan dan permasalahan dalam kehidupan bersama harus diselesaikan melalui
peran masyarakat sipil, kesetaraan gender, budaya hukum, politik, dan memantapkan
kombongan (musyawarah) yang memberi kesempatan kepada semua anggota
pelaksanaan otonomi daerah, serta penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
mengemukakan pendapat/aspirasi dalam menentukan arah, tujuan dan makna dari
4. Mewujudkan masyarakat Tana Toraja sejahtera dengan meningkatkan
kehidupan bersama.
pembangunan bidang ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran serta
meningkatkan pendapatan masyarakat. 2. Kerja Keras, Jujur dan Bertanggung Jawab
5. Mewujudkan pembangunan Tana Toraja yang lestari, handal dan merata dengan Nilai ini berbasis pada falsafah Tongkonan yang menempatkan kerja keras sebagai salah
meningkatkan keseimbangan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan hidup, satu nilai utama. Proses mengumpulkan kekayaan harus dilakukan melalui usaha kerja
mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah dan antar sektor, serta keras mulai dari kecil sampai besar, seperti memiliki Ayam menjadi Babi, dari Babi menjadi
meningkatkan pembangunan infrastruktur termasuk kesiagaan menghadapi bencana alam. Kerbau dan dari Kerbau menjadi sawah. Nilai kerja keras ini terungkap dari ungkapan
II - 17
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
seperti la’biran mamma’–mamma’ na iatu leppeng, la’ bimelo tu ma’dokko–dokko na iatu memungkinkan terciptanya kelestarian lingkungan dan terwujudnya pembangunan yang
mamma’bang, mandu melo opa iatu sumalong–sumalong na iatu ma’dokko–dokko, apa berkelanjutan.
la’bi’ melo iatu mengkarang na iatu sumalong–malong. Artinya lebih baik tidur–tiduran dari 7. Kebinekaan
pada tidur nyenyak, lebih baik duduk dari pada tidur–tiduran, jauh lebih baik jalan–jalan Menghargai kebinekaan sosial budaya masyarakat dan menyakini bahwa keragaman
dari pada duduk – duduk, tetapi lebih baik lagi bekerja dari pada jalan–jalan atau lebih merupakan kekayaan sosial budaya yang menjamin terselenggaranya pembangunan yang
baik berbuat sedikit dari pada tidak berbuat sama sekali. Nilai kerja keras ini juga berkelanjutan.
dilambangkan dalam lukisan pa’bareallo dan manuk londong – manukna Lapandek dalam
8. Kesadaran Kosmologis
ukiran Toraja’ matahari terbit dan Ayam Jago.
Manusia adalah bagian integral dari alam semesta oleh karena itu harus senantiasa
Nilai kerja keras ini harus dilandasi oleh kejujuran dan rasa tanggung jawab yang tinggi menjaga interkoneksitas harmonis dengan alam semesta berdasarkan kepercayaan dan
baik kepada sesama manusia, lingkungan dan kepada Tuhan seperti dalam ungkapan kecintaan kepada Sang Pencipta.
maleko lolang dao kuli’na padang male ulleanni buntu unlambanni tasik kalua’. Osokko
9. Kualitas;
rakka’ sangpulomu anna to’do tu ma’pu’mu anna sa’dingngi nene’ Pong Tulak Padang diong
Kami ingin memberikan layanan yang bermutu, di rumah sakit, di kantor, di toko, pada
Tokengkok na tunduiko mangando langngan Puang Matua anna ra’pak passakkena anna
objek-objek pariwisata, dan pada setiap kesempatan.
membura ra’ka’ sangpulomu. Apa lamukilalai iatu pa’barang–barangan lino dilese didudung.
Suleko ma’tangke patomali umpellambi’ lamunan lolomu dio Tongkonan anna sende paiman 10. Lingkungan;
lo’dok to kayangan to ma’rara buku to ma’rapu tallang, to sangka’ponan ao’ umpudi Puang Kami bertekad memelihara lingkungan demi untuk menciptakan masyarakat yang sehat.
titanan tallu tirindu batu lalikan dao langi’ ma’gulung – gulunganna. 11. Komitmen untuk Pelayanan; Kami bertekad untuk segera memberi respon terhadap setiap
3. Siangga’, Siporannu, Sipopa’di’ masalah yang disampaikan oleh warga masyarakat.
Nilai ini berbasis pada falsafah Tongkonan yaitu menjalin kerja sama dan kebersamaan 12. Akuntabilitas; Kami bertekad untuk memberi jawaban atas setiap tindakan kami demi untuk
berdasarkan penghormatan terhadap keberadaan dan jati diri setiap anggota kelompok. mempertanggung jawabkan pelayanan kami.
Nilai ini diungkapan dengan longko’, siri’ : siri’ adalah perkara malu, dipermalukan, sedang Point-point penting yang menjadi landasan/rujukan perencanaan Kepariwisataan Kabupaten
longko’ adalah sikap yang dimotivasi oleh perasaan takut dan segan menyinggung perasaan Tana Toraja sebagaimana arahan visi, misi dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya,
orang lain, atau menyangkut harga diri seperti dalam ungkapan tae’na ditossok matanna diantaranya:
bale artinya pantang mempermalukan orang didepan umum dan menghargai perbedaan 1. Menjadikan kepariwisataan Tana Toraja sebagai wujud dari pelestarian kebudayaan
pendapat. masyarakat, yang berkelanjutan dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah dan
4. Misa’ Kada dipotuo pantan kada dipomate, sangkutu’ banne sangboke amboran kesejahteraan masyarakatnya sebagaimana visi daerah;
Ungkapan tersebut dan hal ini bermakna bahwa keberhasilan pembangunan hanya dapat 2. Memberdayakan kelembagaan serta pengembangan seni budaya dan nilai-nilai keagamaan
diraih jika semua komponen yang ada menjalin hubungan yang kuat sehingga tercipta dalam memperkuat jati diri dan adat istiadat;
persatuan dan kesatuan dalam kebinekaan. 3. Membangun kepariwisataan Tana Toraja yang lestari, handal dan merata untuk mengurangi
kesenjangan antar wilayah dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan hidup;
5. Tallu Bakaa, mencakup Kinaa / Manarang, Sugi’, Barani
4. Memupuk persatuan dan kesatuan serta kesetaraan gender;
▪ Kinaa/Manarang artinya bijaksana, mempunyai komitmen moralitas yang tinggi,
berkepribadian, rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi, menjunjung tinggi, supremasi 2.4.3 Arah Kebijakan Dalam Sektor Kepariwisataan
hukum dan memiliki kualitas intelektual.
1. Arah pembangunan Tana Toraja dipusatkan pada dua sektor utama yaitu pariwisata dan
▪ Sugi’ artinya kaya dalam arti yang luas, kaya dalam pengetahuan, kaya dalam moralitas
pendidikan.
dan keimanan, kaya dalam materi.
2. Kepariwisataan dijadikan sebagai arah pembangunan, karena memang didukung oleh
▪ Barani artinya berani mengambil keputusan, berani bertanggungjawab, terbuka, jujur,
kondisi internal alam dan masyarakatnya. Bahkan seluruh wilayah Tana Toraja dapat
sportif baik dalam hubungan dengan sesama manusia, lingkungan dan kepada Tuhan.
dikategorikan sebagai “Taman Wisata” dan karena itu layak pula dijadikan salah satu dari
6. Tallu Lolona, mencakup lolo tau, Lolo Tanaman, dan Lolo Patuoan
“Taman Wisata Nasional.” Seluruh kelompok pengusaha batu misalnya, bahkan menjadi
Falsafah Tallu Lolona mencakup hubungan timbal balik antara makhluk ciptaan Tuhan yaitu
objek wisata karena para wisatawan dapat langsung menyaksikan orang-orang desa terlibat
manusia, tanaman, dan hewan yang harus terpelihara secara serasi dan seimbang yang
II - 18
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
langsung dalam pengelolaan batu-batu sawah, batu sungai dan batu gunung menjadi akan kurang tertarik untuk menanam modalnya, karena khawatir akan masalah keamanan,
bahan bangunan yang indah-indah. tanah, dan jaminan terhadap iklim usaha yang kondusif.
3. Untuk mendukung kebijakan itu maka pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai 10. Untuk dapat merespon arus wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, perlu
pendidikan tinggi, perlu memperkaya anak didiknya dengan nuansa kepariwisataan, dipersiapkan jalur transportasi yang menyenangkan.
sehingga mulai dari kecil mereka sendirilah yang kelak akan melanjutkan memajukan
kepariwisataan itu. Malahan sebagai wisatawan domestik mereka akan melebihi jumlah 2.4.4 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah II (2015-2020) Akselerasi
wisatawan manca Negara. dan Penendalian Untuk Kepariwisataan
4. Kombinasi pariwisata dan pendidikan bermutu itu akan memberi kontribusi yang besar bagi Prioritas utama dalam tahap ini ialah “Melanjutkan sisa pembangunan Tahap I” karena aktifitas
peningkatan kesejahteraan masyarakat Tana Toraja itu merupakan aktifitas multi-years yang kalau tidak diberi prioritas, bisa menjadi terbengkalai
5. Dalam sektor produktif, hendaknya pembangunan diarahkan pada produk-produk unggulan dan tidak dapat memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan bersama.
yang memiliki keunggulan kompetitif, mampu bersaing pada pasar global, misalnya padi
Dalam kaitannya dengan program pembangunan kepariwisataan, pada tahap II yang
varietas unggul, kopi “Arabica Toraja”, dan produk lain dalam bidang peternakan,
diharapkan telah terwujud yaitu Menyusul pembangunan Pusat Informasi Daerah, Pusat
pertanian, perkebunan, kerajinan rumah tangga, dan pariwisata sendiri, yang semuanya
Informasi Pariwisata, Pusat aktifitas seni dan budaya, serta jaringan komunikasi elektronik
disesuaikan dengan kondisi iklim dan geografis Toraja.
secara terintegrasi. Keempat komponen ini baru dikerjakan pada Tahap II, karena segala
6. Arah pembangunan kepariwisataan menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai salah
sesuatu yang akan menjadi isi dari komponen-komponen tersebut, sudah harus dipersiapkan
satu persyaratan mutlak.
pada Tahap I.
7. Rencana pembangunan dalam sektor kepariwisataan dan pendidikan hanya dapat berhasil
jika ditopang dengan komitmen, terutama komitmen untuk menegakkan hukum (law Filosofi RPJMD II ialah bahwa daya saing perekonomian akan nampak apabila didukung oleh
enforcement) baik bagi masyarakat, maupun bagi birokrasi, dan para aktor pembangunan kualitas sumber daya manusia yang prima termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan
lainnya. Hal ini berkaitan erat dengan pelaksanaan “Good Governance” (kepemerintahan teknologi serta penguatan
yang baik) secara bertanggung jawab yang akan didukung oleh komitmen pemerintah
2.4.5 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah III (2020-2025)
daerah dalam melaksanakan “reformasi birokrasi”. Untuk keperluan itu, maka Pemda akan
Pemantapan
menyusun kerangka regulasi dan perizinan yang efisien, efektif, dan non-diskriminatif;
Tahap ini merupakan tahap memantapkan hasil kerja selama Tahap II, yang mencakup antara
menjaga, mengembangkan, dan melaksanakan iklim persaingan usaha secara sehat serta
lain, pemeliharaan (maintenance), melanjutkan apa yang tersisa dari tahap-tahap sebelumnya.
melindungi konsumen. Pemda juga sebagai fasilitator, regulator, sekaligus sebagai
Sekalipun pemeliharaan baru diberi prioritas pada tahap ini, terutama sesudah banyak aktifitas
katalisator pembangunan daerah akan menggalakkan dan meningkatkan daya saing usaha
pembangunan yang telah selesai, tetapi perumusan “sistem pemeliharaan” (maintenance
kecil dan menengah (UKM) di berbagai kecamatan, serta merancang kebijakan pasaran
system) sudah perlu digarap dari [Link] lagi, kebanyakan aktifitas pembangunan lebih
kerja.
merupakan aktifitas multi-years daripada proyek single-year.
8. Arah pembangunan perlu juga memperhatikan relasi antara pembangunan “agribisnis”,
“arboretum”, dan “resort wisata” dengan kemungkinan diperlukannya relokasi penduduk. Pekerjaan-pekerjaan non-fisik seperti penyebaran berbagai macam informasi kepada
Ini juga dimaksudkan untuk pemerataan penyebaran penduduk. Selain itu perlu pula masyarakat, dan yang sejenis, penyusunan sarana promosi objek wisata, penetapan
pendidikan dan pelatihan khusus kepada para pimpinan desa dan kelurahan dalam pusat pengembangan komoditas unggulan, penugasan tim khusus untuk menyusun
melakukan pencatatan penduduk secara akurat dan berkesinambungan masing-masing “maintenance system” secara integral, sudah harus digarap sejak RPJMD I sekalipun tidak
desa dan kelurahan. Itu dimaksudkan untuk memudahkan membuat perencanaan dalam dimasukkan sebagai prioritas pembangunan. Demikian juga berbagai kegiatan sebagaimana
berbagai sektor pembangunan, misalnya Pemilihan Umum, pembangunan sektor diuraikan dalam Sasaran Pembangunan Jangka Panjang.
pendidikan, kesehatan, pertanian, peternakan, kehutanan, dll.
Filosofi RPJMD II ialah bahwa daya saing kompetitif perekonomian akan menjadi kenyataan
9. Pemda akan berusaha membuat “Masterplan” di berbagai sektor produktif untuk menarik
apabila apabila didukung dengan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia
investasi baik nasional maupun investasi asing. Antara lain, Masteplan Pariwisata,
berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.
Masterplan Pertanian dan Kehutanan, Masterplan air bersih (terutama dalam menaati
pendekatan tanggap kebutuhan- demand responsive approach), masterplan jaringan Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang semakin mantap dicerminkan oleh terjaganya
transportasi, Masterplan pendidikan, dll. Disadari bahwa tanpa masterplan, para investor daya dukung lingkungan dan kemampuan pemulihan untuk mendukung kualitas kehidupan
sosial dan ekonomi secara serasi, seimbang, dan lestari; terus membaiknya pengelolaan dan
II - 19
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
pendayagunaan sumber daya alam yang diimbangi dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan memporakporandakan suatu Tahap tertentu. Hal yang termaksud terakhir ini akan terjadi jika
hidup dan didukung oleh meningkatnya kesadaran, sikap mental, dan perilaku masyarakat; potensi atau kokuatan yang kita miliki tidak terkengola dan termanfaatkan dengan baik untuk
serta semakin mantapnya kelembagaan dan kapasitas penataan ruang di seluruh wilayah menangkal setiap ancaman arus globalisasi.
Indonesia.
Filosofi RPJMD ialah bahwa dengan mantapnya pembangunan secara menyeluruh di berbagai
Ketersediaan infrastruktur yang sesuai dengan rencana tata ruang ditandai oleh berkembangnya bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan
jaringan infrastruktur transportasi; terpenuhinya pasokan tenaga listrik yang handal dan efisien keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu
sesuai kebutuhan sehingga elektrifikasi rumah tangga dan elektrifikasi perdesaan dapat dan teknologi yang terus meningkat; dan sejalan dengan kondisi aman dan damai yang makin
tercapai, serta mulai dimanfaatkannya tenaga nuklir untuk pembangkit listrik dengan mantap di seluruh wilayah, kemampuan pertahanan nasional dan keamanan dalam negeri makin
mempertimbangkan faktor keselamatan secara ketat; terselenggaranya pelayanan pos dan menguat yang ditandai dengan terbangunnya profesionalisme institusi pertahanan dan
telematika yang efisien dan modern guna terciptanya masyarakat informasi Indonesia; keamanan negara serta meningkatnya kecukupan kesejahteraan prajurit serta ketersediaan alat
terwujudnya konservasi sumber daya air yang mampu menjaga keberlanjutan fungsi sumber utama sistem persenjataan TNI dan alat utama Polri melalui pemberdayaan industri pertahanan
daya air dan pengembangan sumber daya air serta terpenuhinya penyediaan air minum untuk nasional, maka kehiupan demokrasi bangsa makin mengakar dalam kehidupan masyarakat.
memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Selain itu, pengembangan infrastruktur perdesaan
akan terus dikembangkan, terutama untuk mendukung pembangunan pertanian. Sejalan 2.4.7 Sasaran Pembangunan Jangka Panjang Pembangunan Kepariwisataan
dengan itu, pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana Bertolak dari uraian Visi Tana Tana Toraja tahun 2030 kiranya dapat dikristalisasikan apa yang
pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat karena didukung oleh sistem pembiayaan ingin dicapai dalam jangka panjang 2030 pada sektor kepariwisataan. Secara garis besar
perumahan jangka panjang dan berkelanjutan, efisien, dan akuntabel. Kondisi itu semakin sasaran itu dikelompokkan dalam beberapa bidang:
mendorong terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh. 1. Geomorfologi dan Lingkungan Hidup
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang geomorfologi dan lingkungan hidup
2.4.6 Tahapan Rencana Pembangunan Jangka Penengah IV (2025-2030) yaitu:
Konsolidasi, Monitoring dan Evaluasi a. Peta wilayah secara lengkap dan baku selalu siap untuk dimanfaatkan guna keperluan
Tahap konsolidasi, monitoring dan evaluasi merupakan tahapan yang menekankan bahwa bidang pertanian, kehutanan, perkebunan, perbatasan wilayah, pariwisata, dll.
semua pelaku pembangunan dituntut untuk dapat mengkonsolidasikan dan mensinkronkan b. Membangun arboretum yang juga akan berfungsi sebagai hutan wisata.
aktivitas-aktifitas pembangunan yang telah dan yang masih akan dilakukannya secara c. Kesadaran penduduk dan murid sekolah akan pemeliharaan lingkungan dan kebersihan
komprehensif dengan aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh pihak lain, agar jaringan tali kota, rumah tangga, kantor, gedung pertemuan, sekolah, rumah ibadah, acara pesta
temali antar semua aktivitas pembangunan dapat dinampakkan secara jelas. rambu tuka’ dan acara kedukaan rambu solo’, pasar, jalan raya, objek wisata, dll.
sangat tinggi.
Pada tahap ini tetap tersedia kesempatan dan ruang untuk meneruskan aktifitas-aktivitas
2. Demografi
pembangunan yang belum sempat dirampungkan pada tahap-tahap sebelumnya. Monitoring
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang kependudukan ditandai dengan adanya
dan evaluasi dilakukan agar sungguh-sungguh siap dan mampu memasuki saat mendebarkan,
perkawinan antar ras juga meningkat sebagai dampak dari kemajuan dalam sektor
yaitu mendekatkan diri pada Visi 2030. Visi Kabupaten sebagaimana dibentangkan dalam uraian
pariwisata.
Visi, mungkin saja tidak dapat direalisasikan 100%. Semua itu disebabkan antara lain, oleh tidak
3. Ekonomi dan Sumber Daya Alam
terdeteksinya sejumlah pengaruh global yang kemungkinan dapat saja menerobos
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang ekonomi dan sumber daya alam yaitu:
penyelenggaraan aktifitas pemerintahan secepat kilat. Sejumlah peluang yang dibawa oleh arus
a. Pembukaan berbagai resor kepariwisataan seperti “resor bulan madu” “resor manula”,
global, khususnya pengaruh kemajuan dalam bidang teknologi informasi dan teknologi
agrowisata, “arboretum”, dll, telah mampu mengundang wisatawan secara meyakinkan.
komunikasi yang muncul bagaikan halilintar, dapat saja berubah menjadi ancaman jika tidak
b. Sentra-sentra agribisnis dalam konsep kawasan terpadu berkembang seiring dengan
dicermati dan diantisipasi secara dini.
tumbuhnya “hutan wisata”-arboretum.
Keempat pentahapan ini tidak memiliki kemutlakan, tergantung pada munculnya peluang atau c. Mobilitas penduduk sangat tinggi sebagai dampak dari majunya perekonomian
bahkan ancaman dari lingkungan eksternal. Dapat saja suatu aktifitas pembangunan dalam pembangunan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
suatu Tahap yang tidak dijadikan prioritas, tetapi karena hadirnya “Peluang dadakan” (emerging 4. Prasarana dan Sarana
strategy), maka aktifitas itu harus dimasukkan sebagai prioritas. Begitu sebaliknya, suatu Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang prasarana dan sarana wilayah yaitu:
aktifitas harus dihilangkan (ousted strategy) jika “Ancaman” tiba-tiba tampil
II - 20
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
a. Jaringan jalan pariwisata, jalan ekonomi, transportasi dan komunikasi telah mampu menjalin jaringan (networking) yang tersebar di berbagai tempat. Bukan saja itu, juga
meningkatkan mobilitas penduduk. masih rendahnya kualitas pendidikan dan ketrampilan masyarakat, turut berkontribusi terhadap
b. Membangun dan membenahi jalan pariwisata, jalan ekonomi serta jembatan. kemampuan menangkap Peluang.
c. Mendirikan Pusat Pelatihan dan Ketrampilan
Beberapa Kekuatan lain yang dapat diidentifikasi ialah tersedianya sejumlah warga Toraja
d. Fasilitas teknologi informasi di berbagai Lembaga pemerintahan dan swasta, lembaga
yang memiliki keahlian khusus dalam bidang-bidang pembangunan yang
pendidikan, Pusat pelatihan dan ketrampilan, telah mampu meningkatkan kompetensi
dibutuhkan daerah. Di samping itu, dengan fundasi “Tongkonan”, kerukunan dan
aparat pemerintahan dan komponen pelaku pembangunan.
kekokohan persatuan masih nampak dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan ini
e. Air bersih dan energi listrik termasuk sumber-sumber energi alternatif dinikmati hingga
berpotensi menciptakan keamanan dan perdamaian, yang akan mendorong minat
masyarakat pedesaan.
wisatawan mengunjungi Tana Toraja.
5. Sumber Daya Manusia
Sasaran pembangunan kepariwisataan pada bidang sumber daya manusia yaitu: Bahkan juga Kekuatan ini dilihat sebagai asset yang telah terbukti berhasil di masa lampau
a. Penyelenggaraan pendidikan profesi terutama yang berkaitan dengan pengelolaan menghindari Ancaman (Threat).
Pariwisata, sumberdaya pertanian, perkebunan, kehutanan, tambang dan mineral, Kekuatan lain seperti kopi Arabica sesungguhnya sejak lama telah mampu menembus
meningkat. pasar di negara-negara Scandinavia akan mampu menangkap Peluang pasar di Jepang,
b. Kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia (medis, paramedis dan non medis)dan khususnya, yaitu keinginan orang kaya tampil beda dengan menikmati kopi Arabica Toraja yang
pemerataan distribusinya meningkat mahal tetapi nikmat.
c. Kuantitas dan kualitas sarana pelayanan kesehatan meningkat yang berdampak pada
Kelemahan-kelemahan yang diuraikan sebelumnya, harus diubah menjadi kekuatan. Oleh sebab
menurunnya frekuensi kunjungan ke Puskesmas, menambah jumlah tenaga kerja yang
itu Pemerintah Daerah hendaknya berusaha keras mendesak pemerintah Pusat melalui berbagai
sehat.
Departemen untuk menyediakan anggaran bagi pembangunan jaringan transportasi
2.4.8 Grand SWOT Analisis Terhadap Sektor Kepariwisataan dan prasarana jalan raya pariwisata/jalan ekonomi. Untuk itu maka perlu dipersiapkan
tenaga yang dapat membuat proposal meyakinkan kepada berbagai lembaga pemerintahan dan
Tana Toraja memiliki kekayaan akan potensi kepariwisataan serta situs-situ budaya yang
lembaga donor. Di samping itu, perbaikan kualitas pendidikan hendaknya disemarakkan di
menarik dan tersebar di semua penjuru. Kekuatan ini memiliki kemampuan untuk menangkap
semua lini lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi.
Peluang berupa minat wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara serta
wisatawan lokal yang sangat tinggi untuk menjelajah zone-zone kepariwisataan alam dan Apabila Peluang tadi sudah bisa ditangkap, maka ini akan mendorong meningkatnya
budaya yang menarik. pembangunan di sektor lain.
Kekuatan ini juga akan mampu mengundang calon investor serta dana yang tersedia untuk Kelemahan lain yang sangat dirasakan oleh Tana Toraja ialah, masih rendahnya kualitas
berbagai jenis program pembangunan daerah di sejumlah departemen. Apabila peluang- sebagian besar sumber daya manusia di berbagai sektor pembangunan tak terkecuali dalam
peluang itu dapat ditangkap, maka jumlah pengunjung wisatawan akan terus menerus kalangan Legislatif dan Eksekutif, ketrampilan manajemen, dll.
bertambah. Ini akan berdampak pada peningkatan penerimaan Negara dari devisa, termasuk Strategi untuk memperbaiki kelemahan itu antara lain dengan merancang pelatihan dan
pendapatan daerah dari berbagai kegiatan masyarakat akan meningkat, sekaligus memperbaiki ketrampilan dengan mendirikan “Pusat Pelatihan dan Ketrampilan” yang akan
taraf hidup masyarakat. beroperasi setiap hari sepanjang tahun.
Sayang, Peluang tadi dihambat oleh Kelemahan besar yang dimiliki oleh daerah, yaitu Sejumlah Kelemahan Sektoral lainnya secara garis besar dapat diidentifikasi sbb:
prasarana jaringan jalan raya menuju atau melalui objek wisata, sarana 1. Sarana dan prasarana berbagai sektor pembangunan masih minim
transportasi, dan rendahnya kualitas manajemen objek-objek wisata, serta 2. Minat mengembangkan peternakan babi dan kerbau secara luas makin menurun, ditambah
rendahnya volume APBD Tana Toraja. Jalan pariwisata sesungguhnya identik dengan belum tersedianya Masterplan peternakan.
dengan jalan ekonomi, karena jalan yang menuju sentra-sentra produksi, justru 3. Benih ikan tawar makin langka, bahkan ada spesis yang mulai hilang
melalui objek-objek wisata. 4. Anggaran yang disediakan untuk masing-masing sektor jauh dari kebutuhan riil.
Kelemahan lain yang menghambat datangnya Peluang yang digambarkan diatas, antara lain, 5. Kualitas produk industri rumah tangga masih rendah.
Masih rendahnya ketrampilan birokrasi termasuk kemampuan membuat Proposal dan 6. Penegakan hukum (Law enforcement) masih jauh dari harapan yang berakibat pada
Rencana maupun untuk mengadakan lobby, di samping masih rendahnya kemampuan rendahnya tingkat disiplin masyarakat dan aparat.
II - 21
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
7. Angka tingkat kejahatan dan pelanggaran hukum masih tinggi. pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, yang bermuara pada
8. Masih terpendamnya beberapa potensi sumber daya pertambangan. peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
9. Pelayanan bermutu dalam berbagai sektor, misalnya bidang kesehatan yang belum mampu
menjamin kualitas hidup sehat, dan sektor lain, masih pada tingkat rendah.
Kebijakan penataan ruang dalam pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja yaitu
10. Manajemen kepariwisataan masih bersifat tradisional.
Kebijakan Pengembangan Potensi Pariwisata, melalui strategi sebagai berikut:
11. Secara umum, tingkat homepay aparat masih belum mampu membiayai kesejahteran
1. Strategi peningkatan fungsi kawasan lindung untuk kepentingan kepariwisataan yaitu
keluarga yang semakin tertekan oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.
mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat
pengembangan kegiatan budidaya, termasuk reboisasi di jalur lingkar wisata Tana Toraja
2.4.9 Program-Program Kepariwisataan Urusan Pemerintahan pada Dinas
dengan menarik partisipasi para wisatawan, dalam rangka mewujudkan dan memelihara
Pariwisata
keseimbangan ekosistem wilayah kabupaten.
1. Penetapan kebijakan tentang Kebudayaan dan Pariwisata (Perda ttg Kepariwisataan,
2. Strategi peningkatan sumber daya lahan pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan
Homestay, penggunaan simbol-simbol budaya, dll) (Pemerintahan, Hukum dan Politik);
untuk kepentingan kepariwisataan yaitu mengembangkan sektor perikanan yang terpadu
2. Pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan (Geomorpologi dan Lingkungan Hidup)
dengan kegiatan wisata serta memenuhi kebutuhan kawasan lain diluar wilayah.
3. Pelibatan semua masyarakat dalam program pariwisata (Demografi)
3. Strategi pengembangan potensi pariwisata, terdiri atas :
4. Pembinaan Kepariwisataan berbasis budaya, Pengembangan wisata alam, wisata agro,
1) Pengembangan industri pariwisata budaya dan alam yang ramah lingkungan untuk
wisata pendidikan, wisata religi, dll, dan Pembuatan Calender of Events (Ekonomi dan
mendukung fungsi Kabupaten Tana Toraja sebagai Kawasan Strategis Nasional
Sumberdaya Alam)
kepentingan Sosial Budaya.
5. Pembinaan kebudayaan (Sosial dan Budaya)
2) meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap nilai budaya lokal yang mencerminkan
6. Penyiapan / pembangunan prasarana dan sarana pariwisatan ((IT, Pusat Informasi,
jati diri komunitas lokal yang berbudi luhur;
pariwisata, dll), serta Pembangunan museum budaya (Prasarana dan Sarana)
3) mengembangkan penerapan ragam nilai budaya lokal dalam kehidupan masyarakat;
4) melestarikan situs warisan budaya komunitas lokal masyarakat Tana Toraja;
2.5 KEPARIWISATAAN DALAM RTRW KABUPATEN TANA TORAJA 5) mempertahankan kawasan situs budaya dan mengembangkan obyek wisata sebagai
Tata ruang wilayah merupakan wujud susunan dari suatu tempat kedudukan yang berdimensi pendukung daerah tujuan wisata yang ada;
luas dan isi dengan memperhatikan struktur dan pola dari tempat tersebut berdasarkan sumber 6) mengembangkan jalur jalan lingkar wisata yang menghubungkan obyek-obyek wisata
daya alam dan buatan yang tersedia serta aspek administratif dan aspek fungsional untuk di wilayah Kabupaten Tana Toraja dan terpadu juga dengan obyek-obyek wisata di
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan demi kepentingan generasi sekarang dan yang Kabupaten Toraja Utara;dan
akan datang (Kodoatie dan Sjarief, 2010). Aspek-aspek yang mempengaruhi dalam penataan 7) mengembangkan promosi dan jaringan industri pariwisata secara global.
ruang dapat meliputi, aspek teknis, ekonomi, sosial, budaya, hukum, kelembagaan dan 4. Strategi pengembangan potensi pertambangan untuk kepentingan kepariwisataan yaitu
lingkungan. Oleh karena itu, rencana tata ruang wilayah menjadi salah satu instrumen melakukan kajian, ekplorasi sampai ke eksploitasi blok minyak Enrekang yang kawasannya
pembangunan yang harus dijadikan acuan oleh setiap daerah sesuai dengan amanat UU 26 termasuk hampir seluruh wilayah Kabupaten, dengan menghindari kemungkinan rusaknya
tahun 2007 tentang penataan ruang. situs dan obyek-obyek wisata budaya dan alam, dengan pertimbangan manfaat bagi rakyat
2.5.1 Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Daerah dan Nasional, menjaga kelestrian lingkungan, dan mengutamakan pemberdayaan
Kabupaten Tana Toraja melalui Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2011 tentang RTRW Sumber Daya Manusia (SDM) Daerah maupun Nasional dengan peningkatan kompetensi
Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011-2031, pada berbagai substansi muatan rencana yang ada, dan kapasitas SDM dengan pendidikan prakerja maupun melalui program alih pengetahuan
sangat jelas menggambarkan fokus pembangunan kepariwisataan. Hal ini terlihat dari rumusan dan teknologi;
tujuan penataan ruang kabupaten yang menjadikan kepariwisataan daerah sebagai lokomotif 5. Strategi pengembangan potensi industri untuk kepentingan kepariwisataan yaitu
pembangunannya dengan rumusan tujuan sebagai berikut: mengembangkan industri kerajinan penunjang pariwisata, seperti ukiran, lukisan, patung,
anyaman, miniatur rumah adat Toraja, T-shirt dan tenun;
Mewujudkan tatanan ruang wilayah kabupaten Tana Toraja, yang nyaman, aman, 6. Strategi pengembangan potensi perdagangan untuk kepentingan kepariwisataan yaitu
produktif, asri dan lestari, melalui peningkatan fungsi kawasan lindung,
penataan ulang kawasan perdagangan di PKL Makale dengan (i) peremajaan kawasan
pengembangan pariwisata budaya dan alam, serta pemanfaatan potensi-potensi
perdagangan lama di pusat kota Makale; (ii) pemindahan pasar Kota Makale agar terpadu
II - 22
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
dengan kawasan terminal; dan (iii) pembangunan pasar seni yang terpadu dengan pusat 3) Monumen Penginjilan
seni dan informasi pariwisata; 4) Panorama Alam
7. Strategi pengembangan potensi pendidikan untuk kepentingan kepariwisataan yaitu 5) Rumah Adat
menyelenggarakan pendidikan sebagai pusat ilmu pengetahuan terutama guna mendukung 6) Kuburan Batu Tondon Makale
pengembangan sektor kehutanan, pertanian, industri kerajinan, perdagangan dan 7) Kuliner
pariwisata; 8) Kereta gantung
8. Strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk kepentingan kepariwisataan 9) Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
yaitu membangun kompetensi dan kapasitas baik melalui pendidikan formal maupun non 10) Kolam Alam Assa
formal bagi angkatan kerja di sektor-sektor kehutanan, pertanian, perkebunan, peternakan, 11) Pasar Hewan.
perikanan, pariwisata, industri, perdagangan, permukiman, sarana, prasarana dan 3. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ : dengan objek penunjang :
pemerintahan; 1) Permandian Air Panas Makula
2) Pekuburan batu Suaya
2.5.2 Rencana Struktur Ruang 3) Kuburan Bayi /Passilliran Kambira’
Terdapat sejumlah rencana pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Tana Toraja baik 4) Kuburan Gua Alam Tampang Allo
berupa pusat-pusat pelayanan maupun rencana jaringan prasarana yang memiliki peran dalam 5) Gua Alam Sullukan
membangun kepariwisataan didaerah, diantaranya sebagai berikut: 6) Tongkonan Banua Kasalle Bau
1. Mengembangkan Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) yaitu Kawasan Perkotaan Bittuang 7) Museum Buntu Kalando
yang potensiil dikembangkan sebagai gerbang wisata penghubung kawasan wisata Budaya 8) Atraksi Seni Budaya
di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat dengan kawasan wisata Tana Toraja; dan 9) Rante Tongko Sarapung.
kawasan perkotaan sekitar bandara baru Ge’tengan Kecamatan Mengkendek, yang potensil 4. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan ; dengan objek penunjang :
dikembangkan menjadi kota simpul transportasi udara. 1) Sassa’
2. Mengembangkan Jaringan jalan kolektor primer dan jaringan jalan lokal yang merupakan 2) Perkampungan Adat Sillanan
sistem jaringan jalan kabupaten yang ada di Kabupaten Tana Toraja terdiri atas : jalan 3) Kawasan Hutan Mapongka,
kolektor primer lingkar wisata Tana Toraja; dan jalan lokal primer penghubung jalan 5. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek penunjang ;
kolektor primer ke obyek wisata; 1) Potok Tengan
3. Mengembangkan Jaringan layanan lalu lintas yaitu trayek angkutan penumpang 2) Panorama alam Buntu Kandora
diantaranya adalah pengembangan terminal Makale – Rantepao ke obyek wisata (OW) 3) Banua Puan
Makam Adat Lemo; 4) Liang Lo’ko’ Randanan
4. terminal Makale – Tongkonan Layuk Kaero – Tongkonan Salembe dan Mapissa di Galingtua 5) Panjat Tebing
– Rante di Tongko Sarapung – Tongkonan Solo – Tongkonan Buntu Tongko, ruas jalan 6) Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring
Suaya – Rante di Tongko Sarapung – jalan penghubung Leatung – Makula; 6. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
5. terminal Mengkendek – jalan lingkar wisata – batas Toraja Utara; 1) Permandian alam Tilanga’
6. pengembangan jaringan-jaringan prasarana utama dan prasarana lainnya yang secara 2) Makam adat Sirope
langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada pembangunan kepariwisataan daerah. 3) Tongkonan Mandetek
4) Agrowisata Rante Lingkua’
2.5.3 Rencana Pola Ruang Kawasan Peruntukan Pariwisata 5) Makam Bayi –Passilliran Alla’
Kawasan peruntukan pariwisata yang dikembangkan dalam rencana tata ruang wilayah 7. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon ; dengan objek pendukung:
Kabupaten Tana Toraja diantaranya: 1) Rumah Adat Pattan
1. Kawasan Wisata Ecopolis dan Meeting, Information, Convention Exebition (MICE) Makale; 2) Talion
2. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale ; dengan objek pendukung : 3) Benteng Pongtiku, Boronan
1) Gua alam 4) Likunna Makuyo
2) Museum 5) Atraksi Budaya
II - 23
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
II - 24
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
II - 25
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3
KONDISI WILAYAH KABUPATEN
MENDUKUNG KEPARIWISATAAN
III - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
III - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
III - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
kompleks dicirikan oleh adanya jenis satuan batuan yang bervariasi akibat pengaruh struktur
Masanda dan beberapa kecamatan
geologi. Beberapa jenis batuan yang dapat ditemukan di Kabupaten Tana Toraja pada umumnya
lainnya merupakan kawasan lindung.
antara lain:
▪ batuan epiklastik gunungapi (batupasir andesitan, batulanau, konglomerat dan breksi
▪ batugamping kelabu hingga putih berupa lensa-lensa besar
▪ batugamping terumbu
▪ batupasir hijau, grewake, napal, batulempung dan tuf, sisipan lava bersisipan andesit-basal
▪ batupasir, konglomerat, tufa, batulanau, batulempung, batugamping, napal
▪ batusabak, kuarsit, filit, batupasir kuarsa malih, batulanau malih dan pualam, setempat
batulempung malih
▪ granit, granodiorit, riolit, diorit, dan aplit
▪ hasil erupsi parasit
▪ konglomerat, sedikit batupasir glokonit dan serpih
▪ lava andesit dan basal, dan latit kuarsa
▪ lava, breksi, tufa, konglomerat
▪ Napal diselingi batulanau gampingan dan batupasir gampingan
▪ napal, kalkarenit, batugamping koral bersisipan dengan tuf dan batupasir, setempat dengan
konglomerat
III - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ serpih coklat kemerahan, sepi napalan kelabu, batugamping, batupasir kuarsa, konglomerat, Kata Toraja berasal dari Bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”.
batugamping dan setempat batubara Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal
akan ritual pemakaman, rumah adat Tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja
3.1.4 Iklim dan Curah Hujan
merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung
Kondisi iklim Kabupaten Tana Toraja menunjukkan curah hujan terbanyak pada tahun 2014 selama beberapa hari. Sebelum abad ke-20, Suku Toraja tinggal di desa-desa otonom, mereka
terjadi pada bulan Desember yaitu sekitar 393,5 mm dan banyaknya hari hujan yang terjadi pada masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1990-an,
tahun 2014 terbanyak terjadi pada bulan Desember yaitu sebanyak 29 hari. misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada
Intensitas Curah Hujan Kabupaten Tana Toraja,
Tabel: 3.2 dunia luar pada tahun 1970-an, Kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indinesia.
Tahun 2019
No. Bulan Hari Hujan Curah Hujan
Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog.
1. Januari 13,0 203,8 Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya dari masyarakat
2. Februari 11,0 397,3 kepercayaan tradisional dan agraris menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan
3. Maret 9,0 154,5 mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.
4. April 9,0 147,5
Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok
5. Mei 11,0 356,3
etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, Suku Toraja,
6. Juni 22,0 605,8
yang tinggal didaerah dataran tinggi dikenal berdasarkan desa mereka dan tidak beranggapan
7. Juli 17,0 259,5
8 Agustus 10,0 186,7
sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan diantara desa-desa
9 September 14,0 305,3 da banyak keragaman dalam dialek, hirarki sosial, dan berbagai praktik ritual dikawasan dataran
10 Oktober 8,0 79,0 tinggi Sulawesi. Toraja (dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi)
11 November 12,0 209,0 pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran
12 Desember - - tinggi. Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih banyak memiliki hubungan berdagang dengan
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020 orang luar seperti suku Bugis dan Suku Makassar yang menghuni sebagian besar dataran rendah
di Sulawesi Selatan daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris Belanda
3.1.5 Kondisi Hidrologi
di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa’dan Toraja dan
Keadaan Hidrologi di Kabupaten Tana Toraja umumnya dipengaruhi oleh sumber air yang berasal identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi
dari Sungai Sa’dan, Salu Tapparan, Sungai Saluputti, Sungai Mataallo, Sungai Masuppu’dan anak Selatan memiliki empat kelompok etnis utama yaitu Suku Bugis, Suku Makassar, Suku Mandar,
sungai serta mata air dengan debit yang bervariasi. DAS Hulu Sungai Sa’dan merupakan sungai dan Suku Toraja.
terpanjang di Sulawesi Selatan berada di Kabupaten Tana Toraja merupakan urat nadi yang vital
3.2.2 Sejarah
bagi pengembangan pertanian dan PLTU Bakaru di Kabupaten Pinrang. Keberadaan sungai-
Asal kata Toraja berawal dari bahasa Bugis Sidendreng yaitu “to ri aja”, yang berarti “orang
sungai tersebut pada umumnya digunakan untuk irigasi perdesaan, sumber PLTMH dan sangat
pegunungan” atau “orang hulu sungai”. Orang Luwu menyebut Toraja sebagai “to riajang” yang
potensial dikembangkan bagi kepentingan pariwisata, misalnya arum jeram dan wisata rafting.
berarti “orang yang berdiam di sebelah barat”. Menurut bahasa Makassar, Toraja juga bisa berarti
Kondisi hidrologi Kabupaten Tana Toraja secara umum adalah sebagai berikut:
“to = tau” dan “raja = maraya”, “to atau tau” berarti “orang”, sedangkan “raja atau maraya”
▪ Air tanah, air tanah pada umumnya terdapat pada kedalaman 40-100 meter.
dapat berarti “utara atau besar”, maka Toraja dapat berarti “orang dari utara” atau “orang
▪ Air permukaan, air permukaan pada umumnya berupa sungai dan genangan-genangan.
besar/bangsawan”. Seiring dengan berjalannya waktu, pada abad ke 20 dikenal nama Toraja
yang semakin diperkuat oleh pemerintah kolonial Belanda, dengan memperkenalkan Toraja pada
3.2 SEJARAH SEBAGAI POTENSI PARIWISATA
tahun 1909. Penambahan kata Tana, yang berarti negeri tempat pemukiman suku Toraja,
3.2.1 Identitas Etnis membuat wilayah Toraja kemudian lebih dikenal dengan sebutan Tana Toraja.
Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Populasinya
Menurut hasil penelitian seorang antropolog, Dr. C. Cryut, suku Toraja berasal dari Indo Cina di
diantaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.
sekitar Teluk Tongkin. Mereka merupakan imigran yang meninggalkan negerinya menuju Asia
Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen sementara sebagian memeluk agama Islam dan
Tenggara dalam tiga gelombang keberangkatan. Leluhur suku Toraja merupakan rombongan
kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah memeluk
pelayaran gelombang terakhir, mereka mendarat di bagian daratan Pulau Sulawesi yang sebagian
kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
pulaunya masih terendam lautan. Tempat pendaratannya yaitu di sekitar hulu sungai yang
III - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
diperkirakan berlokasi di daerah Enrekang. Kedatangan para leluhur suku Toraja ini berbekal 3.2.3 Bahasa
aturan keagamaan yang dimilikinya. Salah satunya yaitu pada arsitektur rumah yang dibangun Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja dengan Sa'dan Toraja sebagai dialek
mirip perahu dan selalu menghadap ke Utara untuk mengingatkan daerah asal mereka. Proses bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan
panjang akulturasi antara penduduk suku Melayu lokal di Sulawesi dengan imigran dipercaya digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di
merupakan asal suku Toraja. Proses imigrasi yang terus berlanjut membuat penduduk yang Tana Toraja.
sudah berakulturasi makin terdesak dan kemudian pindah ke daerah pedalaman bagian atas,
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , dan Toraja-
yang merupakan wilayah Tana Toraja sekarang. Menurut cerita lisan turun temurun, disebutkan
Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia. Pada
bahwa leluhur orang Toraja berasal dari Nirwana (surga). Mereka turun dari langit setelah
mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa
diciptakan oleh Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa) dengan cara mengambil bahan emas
Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja
murni dengan menggunakan sepasang embusan yang disebut Sauan Sibarrung. Para leluhur ini
menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak
kemudian turun ke bumi dengan menggunakan ”tangga dari langit” atau ”eran di langi”. Tangga
masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.
tersebut juga berfungsi sebagai jalur komunikasi antara Puang Matua sebagai Sang Pencipta
3.2.4 Kearifan Lokal
dengan ciptaannya yaitu umat manusia. Leluhur yang diturunkan ke bumi dibekali dengan aturan
Sesuai data yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2017, Penduduk
keagamaan yang disebut aluk.
Kabupaten Tana Toraja sebagian besar beragama Kristen Protestan yaitu 222.549 jiwa, Katolik
Pada sumber lain, sebagaimana yang dijelaskan dalam dokumen rencana pembangunan 54.149 jiwa, Hindu 5.794 jiwa, Islam 46.014 jiwa dan Budha 1.194 jiwa, Khonghucu 5 jiwa,
infrastruktur terpadu kawasan strategis pegunungan dan budaya Toraja. Sumber tersebut Kepercayaan 37 [Link] keagamaan di Tana Toraja memperlihatkan karakter dari suatu
menjelaskan bahwa Toraja aslinya mempunyai nama tua yang dikatakan dalam literatur kuno masyarakat Pancasila dan kegotongroyongan yang sering ditandai dalam [Link]
mereka sebagai “Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo” yang berarti negeri dengan kekeluargaan seperti pada upacara Rambu Solo' dan Rambu Tuka' (upacara kedukaan dan
pemerintahan dan masyarakat berketuhanan yang bersatu utuh bulat seperti bulatnya matahari upacara syukuran).
dan bulan. Agama asli nenek moyang mereka adalah Aluk Tadolo yang berasal dari sumber Negeri
Adat istiadat masyarakatnya bervariasi yang dipengaruhi oleh lingkungan kesatuan adat masing-
Marinding banua Puan yang dikenal dengan sebutan Aluk Pitung Sa’bu Pitung Pulo. Ketika
masing wilayah. Kebudayaan Toraja adalah segala sesuatu yang terakumulasi dalam bentuk Aluk-
Belanda masuk, agama Aluk Todolo tergeser oleh missionaris Kristen yang menyebarkan agama
Ada'-Pemali atau Aluk Sanda Pitunna, Rambu Tuka'-Rambu Solo' yang dinyatakan dalam
diwilayah ini. Namun adat istiadat yang berakar pada konsep Aluk Todolo hingga kini masih
pergaulan dan kehidupan orang Toraja sehari-hari seperti dalam kehidupan pribadi, sosial,
berjalan, seperti pertunjukan upacara kematian masyarakat Toraja sebagai pengaruh kuat dari
ekonomi, politik, kesenian dan agama.
agama nenek moyang mereka.
Adanya keteraturan dalam mengelola alam dan lingkungan tempat membangun Tongkonan,
Menurut data sejarah, [enduduk yang pertama-tama menduduki/mendiami daerah Toraja pada
memelihara ternak, sumber mates air, tempat upacara dan kegiatan sehari-hari. Tongkonan
zaman purba adalah penduduk yang bergerak dari arah selatan dengan perahu. Mereka datang
berfungsi sebagai sumber norma, sebagai pelaksana pemerintahan dan sebagai penghimpun
dalam bentuk kelompok yang dinamai Arroang (kelompok manusia). setiapArroan dipimpin oleh
kcluarga/kerabat. Mempelajari sejarah perkembangan pembangunan Tongkonan terlihat bahwa
seorang pimpinan yang dinamai Ambe’ Arroang (Ambe’ = bapak, Arroan = kelompok). Setelah
orang Toraja berasal dari Tongkonan Banua Puan, Tongkonan Kaero, Tongkonan Kesu',
itu datang pengasa baru yang dikenal dalam sejarah Toraja dengan nama Puang Lembang yang
Tongkonan Sesean, merupakan Kesatuan Tongkonan makes wajarlah bila orang Toraja tetap
artinya pemilik perahu, karena mereka datang dengan mempergunakan perahu menyusuri
bersatu dan menggalang kesatuan dalam menghadapi segala macam kegiatan pembangunan
sungai-sungai besar. Pada waktu perahu mereka sudah tidak dapat diteruskan karena derasnya
Tana Toraja secara kekeluargaan. Tegasnya antara Makale-Rantepao dan sekitarnya tetap
air sungai dan bebatuan, maka mereka memongkar perahunya untuk dijadikan tempat tinggal
membina keutuhan sebagai satu keluarga [Link]' Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate,
sementara. Tempat mereka menambatkan perahunya dan membuat rumah pertama kali dinamai
artinya Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh.
Bamba Puang yang artinya pangkalan pusat pemilik perahu sampai sekarang. Hingga kini kita
melihat disekitar Rantepao terdapat beberapa Bamba Puang milik keluarga-keluarga paling Kebudayaan Toraja merupakan penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai insani untuk
berpengaruh dan terkaya disitu yang mendirikan Tongkonan beserta belasan lumbung padinya. manusiakan diri dalam lingkungannya baik fisik maupun social Memahami kebudayaan Toraja
Setiap Tongkonan satu keluarga besar dihiasi oleh puluhan tanduk kerbau yang dipakai untuk harus dimulai dari ajakan Alu’ Todolo yaitu ajaran kepercayaan yang diajarkan oleh leluhur orang
menjelaskan status sosial dalam strata masyarakat adat. Tongkonan itulah yang menjadi atraksi Toraja. Aluk Todolo mengandung dua gagasan atau pokok pikiran yang sangat prinsipil yaitu :
budaya dan menjadi objek foto wisatawan yang mendatangi Toraja. (1). Pandangan terhadap alam semesta, Macro-Cosmos. (2). Pandangan terhadap manusia,
Micro-Cosmos.
III - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3.2.5 Masyarakat dan Keluarga masih luas, dilembahnya terdapat hamparan persawahan. Tongkonan sendiri bentuknya adalah
Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu rumah panggung yang dibangun dari kombinasi batang kayu dan lembaran papan. Kalau diamati,
keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga denahnya berbentuk persegi panjang mengikuti bentuk praktis dari material kayu. Material kayu
ikut memelihara persatuan desa. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan dari kayu uru, sejenis kayu lokal yang berasal dari Sulawesi. Kualitas kayunya cukup baik dan
seterusnya) adalah praktek umum yang memperkuat hubungan kekerabatan. Suku Toraja banyak ditemui di hutan-hutan di daerah Toraja. Kayu dibiarkan asli tanpa di pelitur atau pernis.
melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk Rumah Toraja/Tongkonan ini dibagi menjadi 3 bagian yang pertama kolong (Sulluk Banua),
bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta. Hubungan kekerabatan berlangsung secara kedua ruangan rumah (Kale Banua) dan ketiga atap (Ratiang Banua). Pada bagian atap,
timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam bentuknya melengkung mirip tanduk kerbau. Di sisi barat dan timur bangunan terdapat jendela
ritual kerbau, dan saling membayarkan hutang. kecil, tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin. Memiliki latar belakang arsitektur rumah
tradisional Toraja menyangkut falsafah kehidupan yang merupakan landasan dari kebudayaan
Kelas Sosial
orang Toraja itu sendiri.
Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga
tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun Dalam pembangunan rumah adat Tongkonan ada hal-hal yang mengikat atau hal yang di
1909 oleh pemerintah Hindia Belanda). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan haruskan dan tidak boleh dilanggar, yaitu Rumah harus menghadap ke utara, letak pintu di bagian
untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi depan rumah, dengan keyakinan bumi dan langit merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi
perempuan dari kelas yang lebih tinggi, ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan dalam 4 penjuru mata angin, yaitu:
berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan
1. Utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia di mana Puang Matua berada (keyakinan
hingga saat ini karena alas an martabat keluarga.
masyarakat Toraja).
Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di tongkonan, sementara 2. Timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan atau kehidupan.
rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut banua). Budak 3. Barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan atau kehidupan,
tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan miik tuan mereka. Rakyat jelata boleh yaitu kesusahan atau kematian.
menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk 4. Selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat melepas segala
menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak dilarang mengadakan perayaan sesuatu yang tidak baik / angkara murka.
kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa
Pembangunan rumah tradisional Toraja biasanya dilakukan secara gotong royong. Rumah Adat
gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan
Toraja di bedakan menjadi 4 macam:
jumlah kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.
1. Tongkonan Layuk, rumah adat tempat membuat peraturan dan penyebaran aturan-aturan.
Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang Toraja 2. Tongkonan Pakamberan atau Pakaindoran, rumah adat tempat melaksanakan aturan- aturan.
menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak. Budak bisa Biasanya dalam satu daerah terdapat beberapa tongkonan, yang semuanya bertanggung
dibawa saat perang, dan perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan jawab pada Tongkonan Layuk.
mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan 3. Tongkonan Batu A’riri, rumah adat yang tidak mempunyai peranan dan fungsi adat, hanya
memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka, sebagai tempat pusat pertalian keluarga.
atauberhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut 4. Barung-barung, merupakan rumah pribadi. Setelah beberapa turunan (diwariskan), kemudian
yaitu hukuman mati. disebut Tongkonan Batu A’riri.
Bangsawan Toraja yang memiliki Tongkonan umumnya berbeda dengan Tongkonan dari orang
3.2.6 Kebudayaan Tongkonan
biasanya. Perbedaan ini bisa kita lihat pada bagian rumah terdapat tanduk kerbau yang disusun
Rumah Adat Toraja disebut Tongkonan. Tongkonan sendiri mempunyai arti tongkonan “duduk”,
rapi menjulang ke atas, semakin tinggi atau banyak susunan tanduk kerbau tersebut semakin
tempat “an” bisa dikatakan tempat duduk tetapi bukan tempat duduk arti yang sebenarnya
menukjukkan tinggi dan penting status sosial si pemilik rumah.
melainkan tempat orang di desa untuk berkumpul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah-
masalah adat. Hamper semua rumah orang Toraja menghadap ke arah utara, menghadap ke Kenapa harus tanduk Kerbau? bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan ternak mereka
arah Puang Matua sebutan orang toraja bagi Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu untuk menghormati juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu tanduk atau tengkorak kepala
leluhur mereka dan dipercaya akan mendapatkan keberkahan di dunia ini. Daerah Tana Toraja kerbau di pajang dan disimpan di bagian rumah karena sebagai tanda bawasannya keberhasilan
umumnya merupakan tanah pegunungan kapur dan batu alam dengan ladang dan hutan yang si pemilik rumah mengadakan sebuah upacara / pesta.
III - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Struktur Kepemimpinan Tongkonan e. kawasan hutan lindung di Kecamatan Malimbong Balepe dengan luas kurang lebih
4.969,98 ha;
Struktur Tongkonan dapat dilihat di bawah ini menggambarkan Tongkonan KESU' sebagai
f. kawasan hutan lindung di Kecamatan Mappak dengan luas kurang lebih 6.759,95 ha;
Panta'nakan Lolo atau sebagai pemimpin Kaparengngesan / Kapeindoran, yaitu Tongkonan
g. kawasan hutan lindung di Kecamatan Masanda dengan luas kurang lebih 13.478,78 ha;
Banua Sura', di To' Bubun, bertindak sebagai ketua Badan Musyawarah. Sedangkan Rinding Batu,
h. kawasan hutan lindung di Kecamatan Mengkendek dengan luas kurang lebih 5.866,65
Tongkonan Kua, di Pao, menangani masalah Pertahanan. Pesungan Banne, Tongkonan Komba
ha;
di Angin-angin, bertugas mengurus kesejahteraan dan [Link] Uai, Tongkonan
i. kawasan hutan lindung di Kecamatan Rano dengan luas kurang lebih 3.984,48 ha;
Baliu', Tadongkon, bertugas sebagai [Link] Katua', Tongkonan Banua Lando, di
j. kawasan hutan lindung di Kecamatan Rembon dengan luas kurang lebih 1.140,89 ha;
La'bo', mengurus masalah [Link] itu yang bertugas melaksanakan keputusan
k. kawasan hutan lindung di Kecamatan Sanggalla Selatan dengan luas kurang lebih
adalah Pa'palumbangan, Tongkonan Tallunglanta' di Randanbatu sebagai Pelindung, bertindak
1.183,68 ha; dan
Petionganan Tongkonan Nonongan di [Link] yang bertindak sebagai Penasehat, pa
l. kawasan hutan lindung di Kecamatan Simbuang dengan luas kurang lebih 16.970,69
paelean, adalah Tongkonan Bamba di [Link]-siapa yang menghuni Tongkonan tersebut
ha;
di atas, dia pulalah yang menjadi pemangku dan penanggung jawab adat.
2. Kawasan perlindungan setempat
Tongkonan di Sangalla', Ma'kale, Mengkendek secara umum menuruti peraturan adat dari Kawasan perlindungan setempat terdiri dari kawasan sempadan sungai, kawasan kearifan
Tongkonan Kesu', Panta'nakan [Link] kelancaran pemerintahan di daerahnya masing-masing lokal, dan RTH, yang meliputi:
diciptakanlah di Sangalla' 4 daerah kuasa adat. a. Kawasan sempadan sungai, berupa sempadan sungai spanjang bantaran Sungai Saddang,
Makale dan Mengkendek mengenal fungsi Tongkonan yaitu Tongkonan Banua Puang yang terdiri Sungai Masuppu, Sungai Noling dan Sungai Mamasa, terdiri atas :
atas (1) Tongkonan Puang, sebagai pelaksana dan penanggungjawab Adat, dan (2) Tongkonan ▪ daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul diluar kawasan permukiman
Tomakaka, sebagai pelaksana [Link] perkembangan Tongkonan begitu pula sejarah dengan lebar 100 (seratus) meter dari tepian sungai
perkembangan manusia Toraja. ▪ daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul diluar kawasan permukiman
dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepian sungai; dan
Rambu Tuka' dan Rambu Solo' mengakumulasi sejumlah nilai, pandangan, pikiran, aktifitas,
▪ untuk sungai dikawasan permukinan berupa sempadan sungai yang diperkirakan
perilaku, atraksi yang telah terseleksi dari pengalaman masa lampau dan dijadikan pegangan dan
cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 meter.
pedoman bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat seperti;
b. Kawasan kearifan lokal, ditetapkan pada semua kawasan sistem kehidupan tongkonan
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan Puang Matua.
yang mempunyai nilai sejarah yang diakui keberadaannya oleh masyarakat adat pada
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan sesama manusia.
setiap wilayah persekutuan adat.
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan alam semesta.
c. Kawasan ruang terbuka hijau, berupa Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP)
▪ Bagaimana manusia mengatur hubungan dengan binatang.
yang ditetapkan menyebar dan seimbang dengan memperhatikan fungsi ekologis, sosial
budaya, estetika, dan ekonomi dengan ketentuan TRH publik paling sedikit 20% dan RTH
3.3 KEKAYAAN EKOLOGI SEBAGAI POTENSI PARIWISATA privat paling sedikit 10% dari luas kawasan perkotaan yaitu PKL, PKLp dan PPK.
3.3.1 Kawasan Lindung 3. Kawasan rawan bencana
Kawasan lindung sebagaimana dalam PERDA RTRW Kabupaten Tana Toraja terdiri dari: a. kawasan rawan tanah longsor ditetapkan di Kecamatan Bittuang, dan Kecamatan Makale
1. Hutan lindung Selatan. dan
Kawasan hutan lindung di Kabupaten Tana Toraja yaitu seluas 92.824, yang terdiri atas :
b. kawasan rawan banjir, ditetapkan di Kecamatan Makale.
a. kawasan hutan lindung di Kecamatan Bittuang dengan luas kurang lebih 20.055,86 ha; 4. Kawasan lindung geologi
b. kawasan hutan lindung di Kecamatan Bonggakaradeng dengan luas kurang lebih a. Kawasan cagar alam geologi, berupa kawasan keunikan bentang alam ditetapkan di:
18.390,39 ha; ▪ kuburan Adat Lemo di kecamatan Makale Utara;
c. kawasan hutan lindung di Kecamatan Gandang Batu Silanan dengan luas kurang lebih ▪ kuburan batu Sillanan dan situs purbakala Silanan di Kecamatan Gandang Batu
5,890 ha; Sillanan;
d. kawasan hutan lindung di Kecamatan Makale Selatan dengan luas kurang lebih 18,480 ▪ kuburan Batu Pattan di Kecamatan Saluputti;
ha; ▪ kuburan dan Gua Tua Saluallo di Kecamatan Sangalla’ Utara;
III - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
III - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3.4 KONDISI SOSIAL BUDAYA SEBAGAI POTENSI PARIWISATA kesehatan di Kabupaten Tana Toraja adalah 733 unit yang terdiri atas Rumah Sakit 4 unit
diantaranya RSU 3 unit dan RS. Bersalin 1 unit, kemudian Puskesmas sebanyak 21 unit, Posyandu
3.4.1 Pendidikan
328 unit. Dapat dikatakan bahwa penyebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Toraja untuk
Pembangunan bidang pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
saat sekarang ini sudah tersebar secara merata disetiap wilayah kecamatan.
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu negara akan menentukan karakter dari
pembangunan ekonomi dan sosial, karena manusia adalah pelaku aktif dari seluruh kegiatan
tersebut. Dari tahun ke tahun partisipasi seluruh masyarakat dalam dunia pendidikan di 3.4.3 Sarana Peribadatan
Kabupaten Tana Toraja semakin meningkat, hal ini berkaitan dengan berbagai program Sarana peribadatan merupakan wadah untuk melakukan aktifitas yang wajib dilaksanakan oleh
pendidikan yang dicanangkan pemerintah dalam meningkatkan kesempatan masyarakat untuk setiap umat beragama. Keberadaan fasilitas peribadatan merupakan salah satu pendorong dan
mengenyam bangku pendidikan. Peningkatan partisipasi pendidikan untuk mencapai bangku bentuk kepatuhan terhadap Sang Pencipta serta sebagai keberagaman suku dan agama.
pendidikan tertentu harus diikuti dengan berbagai peningkatan penyediaan sarana fisik Berdasarkan data tahun 2018, sarana peribadatan yang ada di Kabupaten Tana Toraja sebanyak
pendidikan dan tenaga pendidik yang baik. 1.017 unit, yang terdiri atas, sarana Mesjid 45 unit, Mushallah 4 unit, Gereja Khatolik 161 unit,
Gereja protestan 704 unit. Keberadaan fasilitas tersebut didominasi oleh Gereja protestan, hal
Sarana pendidikan juga memiliki peranan penting dalam mengembangkan potensi sumber daya
tersebut disebabkan penganut Agama Kristen Protestan sangat dominan di Kabupaten Tana
manusia untuk bereksplorasi dalam berbagai disiplin ilmu. Sarana pendidikan yang terdapat di
Toraja. Selain itu, dari hasil survey lapangan keberadaan akan fasilitas peribadatan tersebut
Kabupaten Tana Toraja secara universal terdiri dari Taman kanak-kanak 119 unit, Sekola Dasar
sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
213 unit, SLTP 82 unit, SMU/SMK 47 unit.
Tabel: 3.3 Fasilitas Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 3.5 PEREKONOMIAN DAERAH
Jenjang Pendidikan Produk Domestik Regional (PDRB) merupakan salah satu pencerminan kemajuan ekonomi suatu
No. Kelompok Umur
TK SD SMP SMA PT daerah, yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dohasilkan
1. Bonggakaradeng - 10 5 2 -
dalam satu tahun di wilayah tersebut. Nilai PDRB Tana Toraja atas dasar dasar harga berlaku
2. Simbuang 1 10 4 2 -
3. Rano 2 8 2 - - pada tahun 2019 mencapai 7,48 triliun rupiah. Secara nominal, nilai PDRB ini mengalami kenaikan
4. Mappak 3 11 5 3 - sebesar 0,65 triliun rupiah dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencapai 6,82 triliun rupiah.
5. Mengkendek 24 25 10 6 1 Naiknya nilai PDRB ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di sebagian besar lapangan usaha
6. Gandang Batu Sillanan 13 15 8 8 - dan adanya inflas. Berdasarkan harga konstan 2010, angka PDRB juga mengalami kenaikan, dari
7. Sangalla 7 6 3 4 -
4,25 triliun rupiah pada tahun 2018 menjadi 4,56 triliun rupiah pada tahun 2019. Hal ini
8 Sangalla Selatan 7 9 3 - -
9 Sangalla utara 3 9 1 - - menunjukkan selama tahun 2019 Tana Toraja mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 7,22
10 Makale 17 16 5 11 2 persen, lebih rendah 0,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan PDRB ini murni
11 Makale Selatan 5 11 5 2 - disebabkan oleh meningkatnya produksi di sebagian besar lapangan usaha, tidak dipengaruhi
12 Makale Utara 7 9 3 5 -
inflasi.
13 Saluputti 3 9 2 2 -
14 Bituang 3 19 5 1 - Konstribusi terbesar dalam embentukan PDRB Tana Toraja pada tahun 2019 dihasilkan oleh
15 Rembon 6 17 7 - - lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yaitu mencapai 23,11 persen (mengalami
16 Masanda 1 10 2 - -
penurunan dari tahun 2015 yang sebesar 26,20 persen). Kontribusi lapangan usaha ini mengalami
17 Malimbong Balepe 2 9 5 - -
18 Rantetayo 11 11 4 - - fluktuasi namun cenderung menunjukan trend menurun terhadap PDRB Tana Toraja.
19 Kurra 3 9 3 - - Menurunnya kontribusi lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan disebabkan karena
Total 119 213 82 47 3 peningkatan nilai yang cukup signifikan pada kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019
Mobil dan Sepeda Motor sehingga kontribusi kategori ini terhadap perekonomian juga meningkat.
3.4.2 Sarana Kesehatan Selain itu, berkurangnya produksi tanaman pangan padi akibat cuaca ekstrim yang terjadi pada
Sarana kesehatan merupakan wadah untuk meningkatan derajat kesehatan masyarakat, dengan tahun 2019 dan lambatnya kenaikan harga komoditi pada lapangan usaha tersebut dibandingkan
tujuan menciptakan kesehatan masyarakat yang baik Tersedianya sarana kesehatan merupakan produk lain juga menjadi penyebab turunnya kontribusi lapangan usaha ini.
wujud daripada pemenuhan akan kebutuhan kesehatan masyarakat yang terjangkau sebagai
penunjang berkembangnya kegiatan wisata. Berdasarkan data yang ada, banyaknya fasilitas
III - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 2019 meningkat dibanding Tabel: 3.4
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Tana
tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya nilai produksi di hamper Toraja, 2015-2019
No. Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019
semua lapangan usaha tanpa dipengaruhi perubahan harga. Nilai PDRB Tana Toraja pada tahun 10 Informasi dan Komunikasi/Information
192,92 210,83 237,51 269,56 301,93
2019 atas dasar harga konstan 2010, mencapai 4,56 triliun rupiah. Angka tersebut naik dari 4,25 and Communication
triliun rupiah pada tahun 2018. Hal tersebut menunjukkan bahwa selama tahun 2019 terjadi 11 Jasa Keuangan dan Asuransi/Financial
144,29 171,95 186,21 207,42 222,64
and Insurance Activities
pertumbuhan ekonomi yang positif sebesar 7,22 persen, namun melambat 0,67 persen jika 12 Real Estat/Real Estate Activities 246,64 295,41 315,36 340,21 373,67
dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yang mencapai 7,89 persen. 13 Jasa Perusahaan/Business Activities 4,20 4,60 5,08 5,77 6,21
14 Administrasi Pemerintah, Pertahanan,
Sedangkan angka PDRB perkapita diperoleh/diturunkan dari angka PDRB. PDRB per kapita atas dan Jaminan Sosial Wajib/Public
478,53 466,55 503,41 602,35 670,50
dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala PDRB Per kapita kurang tepat bila Administration and Defence,
CompulsorySocial Security
digunakan sebagai ukuran tingkat kesejahteraan penduduk disuatu wilayah. Dengan kata lain, 15 Jasa Pendidikan/Education 264,47 289,11 326,63 368,45 417,18
PDRB per kapita ini belum mampu menggambarkan tingkat kemerataan distribusi pendapatan 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial/Human Health and Social Work 135,13 153,59 171,57 197,06 220,82
yang diterima penduduk di suatu wilayah. PDRB Per kapita lebih tepat digunakan sebagai ukuran
Activities
keterbandingan yang menggambarkan potensi ekonomi antar wilayah. Nilai PDRB per kapita Tana 17 Jasa Lainnya/Other Services 95,59 107,51 121,93 139,99 158,89
Toraja atas dasar harga berlaku sejak tahun 2015 hingga 2019 selalu mengalami kenaikan. Pada Total 4907,68 5460,91 6054,91 6824,87 7479,77
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020
tahun 2015 PDRB per kapita tercatat sebesar 21,43 juta rupiah. Secara nominal terus mengalami
kenaikan hingga tahun 2019 mencapai 31,96 juta rupiah (lihat tabel 3.3). Kenaikan angka PDRB
per kapita yang cukup tinggi ini masih dipengaruhi oleh faktor inflasi.
Sedangkan terkait dengan indeks pembangunan manusia Kabupaten Tana Toraja tahun 2018
berada pada level 67,66 (status “Sedang”) dan mengalami pertumbuhan sebesar 1,25 persen
dibandingkan tahun 2017. IPM Tana Toraja tahun 2018 berada pada peringkat 18 dibandingkan
dengan Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan (tidak berubah dibandingkan dua tahun
sebelumnya).
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Tana
Tabel: 3.4
Toraja, 2015-2019
No. Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019
1. Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan/Agriculture, Forestry, and 1285,70 1435,01 1561,59 1712,90 1728,64
Fishing
2. Pertambangan dan Penggalian/Mining
71,97 81,21 88,22 94,57 102,91
and Quarrying
3. Industri Pengolahan/Manufacturing 356,45 415,97 479,12 513,22 603,24
4. Pengadaan Listrik dan Gas/Electricity and
4,52 5,76 6,83 8,07 8,62
Gas
5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah, dan Daur Ulang/Water Supply,
4,80 5,05 5,68 6,26 6,83
Sewerage, Waste Management, and
Remediation Activities
6. Konstruksi/Construction 600,11 688,75 776,98 889,40 1004,92
7. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor/Whalesale and
801,23 906,14 1021,60 1191,73 1341,10
Retail Trade, Repair of Motor Vehides
and Motorcycles
8 Transportasi dan
125,55 136,81 149,80 167,84 188,92
Perdugangan/Transportaion and Stroge
9 Penyediaan Akomodasi dan Makan
Minum/Accommodation and Food Service 77,56 86,12 97,39 110,09 122,76
Activities
III - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
4
KABUPATEN TANA TORAJA
SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA
IV - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
nasional/taman wisata alam/taman hutan raya; (b). perairan sungai dan danau; (c). Tabel: 4.1 Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
perkebunan; (d). pertanian; dan (e). bentang alam khusus, seperti gua, karst, padang pasir, Nama Kawasan Lokasi
dan sejenisnya. No. Daya Tarik Wisata
Wisata Kel/Lembang Kecamatan
1 Agrowisata Pango- Tosapan Makale Kawasan Agrowisata dikelilingi pohon
Di Kabupaten Tana Toraja sesuai dengan karakteristik wilayahnya yaitu berada pada daerah
Pango Selatan pinus dan kebun kopi, tamarillo,
pegunungan, maka daya tarik wisata alam yang dimilikinya merupakan DTW yang berbasis pada strawbery dll, pemandangan alam
keanekaraaman dan keunikan lingkungan alam diwilayah daratan yang berupa DTW alam yang indah dan udara yang dingin
pegunungan, sungai, perkebunan, pertanian, dan bentang alam. 2 Permandian Alam Sarira Makale Utara Kolam Alam untuk rekreasi tirta, Belut
Tilangnga Yang Hidup Didalam Kolam
Tana Toraja yang dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang menonjolkan keunikan budaya 3 Rurak Ke'pe' Tinoring Mengkendek Goa Alam yang dijadikan kuburan pada
dan adat istiadat sebagai daya tarik wisata ternyata memiliki berbagai kawasan-kawasan wisata zaman yang lalu dan kuburan tersebut
sudah berumur ratusan tahun
yang berbasis pada alam. Keanekaragaman daya tarik wisata alam Tana Toraja tersebut
4 Sarambu Assing Patongloan Bittuang Air Terjun
dijumpai dalam berbagai jenis baik itu bentang alam, perkebunan/agrowisata, perairan, maupun 5 Sarambu Ratte Balla Bittuang Air Terjun
gua-gua yang juga merupakan bagian dari kebudayaan dan adat istiadat masyarakat setempat 6 Talondo Tallu Balepe' Malimbong Air Terjun
dalam menjalankan ritual-ritualnya. Balepe
7 Perkebunan Kopi Tiroan Bittuang Perkebunan Kopi dan Pemandangan
Menurut data yang dihimpun, baik melalui data sekunder maupun tinjauan lapangan terhadap Tiroan Alam dengan Udara yang Dingin
keberadaan dan potensi-potensi yang dimiliki setiap daya tarik wisata alam maupun 8 Lo'ko Tongko Tongko Sangalla Goa Alam
Sarapung
ketersediaan prasarana dan sarana yang telah tersedia serta bentuk-bentuk pengelolaan
9 Arum Jeram Maroson Kurra Arum Jeram (sungai mai'ting),
kawasan wisata tersebut. DTW alam di Tana Toraja dewasan ini menjadi salah satu fokus Padakka Panorama Alam
pengembangan pariwisata pemerintah setempat yang diupayakan menjadi variasi DTW yang 10 Danau Assaa Lembang Sangalla Danau alami, panorama, dan batu
dikenal lebih menonjolkan DTW budaya. Berdasarkan data yang dihimpun melalui observasi Turunan hamil.
lapangan maupun data-data sekunder dari berbagai sumber, paling sedikit terdapat 22 11 Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek Panorama Alam Gunung Karst
12 Panjat Tebing Kandora Mengkendek Tebing Karst Vertikal
(duapuluh satu) DTW alam yang telah berkembang maupun masih bersifat potensi (belum 13 Panorama Bukit Pemandangan Kota Makale
dikembangkan). Bombongan Makale
Sion
14 Air terjun ratte Se’seng Bittuang -Air terjun
Dari sejumlah DTW alam tersebut, terdapat beberapa daya tarik wisata yang cukup diminati
sarambu Bolong -Pemandian alam
oleh wisatawan dan menjadi fokus pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah dan 15 Alloan Marinding Mengkendek Panorama Alam
masyarakat, diantaranya Agrowisata Pango Pango, Gunung Kandora, Permandian Alam 16 Air Panas Balla Balla Bittuang Mata air panas
Tilangnga, Rurak, Sarambu Assing, Sarambu Ratte, Perkebunan Kopi Tiroan, Talondo Tallu, 17 Air Terjun Uluwai Mengkendek Air Terjun
(Sarambu) Tipali
Lo'ko Tongko, dan Arum Jeram, serta bebrapa lainnya. Daya tarik yang disuguhkan
18 Air Terjun Simbuang Mengkendek Air Terjun
beranekaragam sesuai spesifik daya tariknya masing-masing. DTW tersebut umumnya dikelola (Sarambu)
oleh pemerintah kabupaten dan sebagian oleh masyarakat yang masih bersifat potensi yang Marintang
belum secara optimal dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. 19 Bumi Perkemahan Simbuang Mengkendek Kolam Pemancingan, Perkemahan
Marintang
Untuk mewadahi kegiatan wisata didalam setiap kawasan dan daya tarik wisata, pemerintah 20 Ollon Poton Bonggakarad Pannorama Alam/Savana
maupun pengelola DTW lain telah melakukan pengembangan dan pembangunan sejumlah eng
sarana dan prasarana wisata baik sarana utama maupun penunjang dan pendukung kegiatan 21 Permandian Air Tokesan Sangalla’ Permandian Air Panas Alam
Panas Makula Selatan
wisata seperti pembangunan akses jaringan jalan dalam kawasan, pembangunan gazebo- 22 Panorama Alam Bau Bonggakarad Panorama alam pegunungan
gazebo, tempat-tempat selfie, villa, toilet, serta pengembanan daya tarik lain seperti penataan Kuesta Kendenan eng
kawasan, penyediaan rambu-rambu wisata, pembangunan gedung-gedung serbaguna, 23 Air Terjun Salu Tanete Mappak Air terjun
pengembangan komoditas-komoditas perkebunan dalam kawasan agrowisata dari berbagai Sumassan
24 Batu Tallu Simbuang Simbuang
jenis tanaman, dan lain sebagainya. Berikut rincian tabulasi DTW Alam yang tersedia di
25 Kolam Alam Kondodewata Mappak Kolam alam, dan panorama.
Kabupaten Tana Toraja. Kondodewata
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020
IV - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
IV - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Dari berbagai DTW alam yang tersedia, potensi daya tarik wisata alam yang di Kabupaten Tana
Toraja cukup menarik dan telah terkenal diberbagai wilayah nusantara maupun mancanegara. Jarak kawasan perencanaan ini adalah sekitar 7 kilometer dari Kota Kabupaten atau rata-rata
Hal ini dilihat dari adanya kunjungan wisatawan dari berbagai penjuru yang telah menikmati waktu tempuh sekitar 15 menit, yang dapat diakses dengan kendaraan roda 4 dan roda 2
keindahan alam Tana Toraja. Beberapa diantaranya telah ditata dengan baik oleh pemerintah melalui prasarana jalan beton dan aspal dengan kondisi baik.
serta telah dilakukannya perencanaan secara rinci dalam bentuk masterplan-masterplan Fasilitas rekreasi yang dapat dinikmati pengunjung diantaranya panorama pegunungan
pengembangan kawasan wisata. Berikut uraian beberapa potensi daya tarik wisata alam yang dengan berbagai karakteristik dan pada waktu tertentu seperti pagi hari kawasan ini di tutupi
tersedia di Kabupaten Tana Toraja. oleh keindahan awan, selain itu daya tarik wisata dalam kawasan yaitu dengan adanya
1. Agrowisata Pango Pango wahana permainan seperti flying fox, outbound, rumah hobbit yang secara visual merupkan
Kawasan Agrowisata Pango Pango merupakan salah bentuk dari kesukaan anak-anak, namun tempat ini juga berfungsi sebagai tempat menginap
satu destinasi wisata yang memadukan dua unsur atau tidur, dan konsep agrowisata dengan ragam perkebunan seperti kopi, strawberry dan
pariwisata yaitu daya tarik wisata alam daya tarik lainnya yang juga diusahakan oleh masyarakat seperti jagung.
wisata agro yang menyediakan beranekaragam sajian
wisata yang dapat dinikmati oleh para wisatawan.
Kawasan Agrowisata Pango-Pango terletak di
Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja, menurut
arahan pengembangan kawasan memiliki luas sekitar
±190,91 hektar yang mencangkup diantaranya
sebagian Kelurahan Pasang seluas ±116,24 hektar, sebagian Kelurahan Tosapan seluas
±70,63 hektar, dan sebagian Lembang Randan Batu seluas ±4,04 hektar (sumber:
Masterplan Agrowisata Pango Pango, 2018).
Pemerintah telah membuat fasilitas untuk menunjang kenyamanan dari para wisatawan
tersebut, diantaranya yaitu membangun Gazebo untuk ditempati duduk bersama dan
menikmati kesejukan alam sekitar (Total ada 27 Gazebo), selain itu, ada juga faslitas MCK
(Wc), tempat parkir dan beragam fasilitas lainnya, bahkan dalam kawasan ini disediakan pula
tempat-tempat pembuangan sampah agar terjaga kebersihan kawasan walaupun dalam
kawasan hutan.
Untuk keamanan kawasan, terdapat satu unit pos keamanan yang terletak di Gerbang masuk
Kawasan sekaligus berfungsi sebagai pos retribusi masuk kawasan. Beberapa fasilitas lain
yang merupakan fasilitas umum dan fasilitas kegiatan wisatawan yaitu Rumah Kaca,
panggung Pentas Seni, Rumah Kelinci, Villa, dan tempat Selfie.
IV - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
IV - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
salah satu destinasi wisata alam unggulan di Tana Toraja memiliki berbagai daya tarik yang Di Danau Assaa yang terbentuk secara alami ini,
dapat dinikmati oleh wisatawan, bahkan DTW ini telah banyak dikunjungi wisatawan. terdapat panorama alam yang cukup indah, dan juga
keunikan lain terdapat Batu Hamil yang memiliki cerita
Daya tarik wisata yang ada di Gunung Kandora ini diantaranya panorama alam dengan
tersendiri yang terkait dengan masyarakat setempat.
keberadaan pegunungan karst dan keindahan alam disekitarnya. Keberadaan Karst dapat
Berdasarkan hasil kunjungan tim, DTW ini walaupun
juga dimanfaatkan wisatawan terutama bagi pecinta adrenalin untuk melakukan pendakian
sudah dikenal sebagaian wisatawan, namun belum
untuk mencapai puncak Gunung Kandora. Jalur pendakian ke Gunung Kandora dapat
adanya penataan kawasan yang terlihat dengan baik.
ditempuh dari berbagai wilayah, di antaranya jalur dari Kecamatan Sangalla, jalur Desa
Palipu’, dan jalur via Villa Kandora. Selain itu, terdapat juga jalur via tangga besi namun jalur Pada bagian kawasan terdapat bangunan gazebo yang
ini membutuhkan skill tinggi dan peratan memanjat yang safety serta pengalaman tentunya. dibangun pemerintah, namun kondisinya sudah rusak
berat. Masyarakat setempat memanfaatkan lahan sekitar kawasan dengan berbagai usaha
Pemandangan dari puncak Gunung Kandora sangat indah, disebelah barat wisatawan dapat
pertanian dan perkebunan seperti tanaman sayuran, perkebunan durian, cengkeh, dan
menyaksikan Kota Makale, hamparan wilayah Toraja Barat dan deretan Pegunungan Buntu
rambutan yang sebenarnya merupakan salah satu potensi daya tarik wisata dikawasan
Karua yang memeiliki ketinggian 2.750 mdpl dan masih termasuk dalam deretan Pegunungan
tersebut. Dokumentasi dibawah ini merupakan kondisi DTW pada saat musim kemarau,
Quarles. Diarah selatan terlihar gunung-gunung batu di kecamatan Mengkendek. Dibawah
sehingga danau tersebut tidak terdapat air didalamnya.
kaki gunung terdapat villa yang tersedia bagi wisatawan yang ingin menginap dibawah Kaki
Gunung Kandora ini.
6. Danau Assaa
Salah satu kolam alami yang juga berada di Tana
Toraja adalah kolam alam Assa yang terletak di Desa
Kalembang, Kecamatan Sanggalla. Kolam alam Assa
ini sebenarnya lebih luas dari kolam alam Tilanga’
sehingga tidak jarang disebut sebagai danau kecil.
Danau kecil ini terbentuk secara alami dan
memberikan pemandangan yang sangat indah serta
masih alami dan segar. Hal ini dikarenakan danau ini
berada di tebing gunung.
4.1.2 Daya Tarik Wisata Budaya
Kolam alam ini juga banyak menyimpan cerita seperti Daya Tarik Wisata budaya adalah daya tarik wisata berupa hasil olah cipta, rasa dan karsa
di Tilanga’ yang mempunyai belut raksasa atau yang manusia sebagai makhluk budaya. Daya tarik wisata budaya dapat dibedakan atas daya tarik
disebut dengan Moa. Namun, tidak jarang kolam yang bersifat berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible). Daya tarik wisata budaya yang
alam ini sering menyisakan korban jika pengunjung bersifat berwujud antara lain berupa:
yang datang untuk berenang tidak mematuhi norma 1. Cagar budaya, yang meliputi:
yang berlaku. Keunikan disisi lain lagi bahwa pada ▪ Benda cagar budaya, yaitu benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak
musim kemarau danau ini akan benar-benar kering maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau
dan hanya menyisakan hamparan rumput hijau. Pada bagian lain kawasan, terdapat daya sisasisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah
tarik yang unik yaitu Batu Hamil yang juga sakral. Hingga saat ini masih banyak wisatawan perkembangan manusia, seperti angklung, keris, gamelan, dan sebagainya;
yang belum mengenal objek danau Assaa ini bahkan pengelolaan dari pemerintah juga masih ▪ Bangunan cagar budaya, yaitu susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda
kurang. buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak
berdinding, dan beratap;
▪ Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau
benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu
dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia;
IV - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung ▪ Museum
benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya sebagai ▪ Monumen Penginjilan
hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu; dan ▪ Panorama Alam
▪ Kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki 2 (dua) situs cagar ▪ Rumah Adat
budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang ▪ Kuburan Batu Tondon Makale
yang khas. ▪ Kuliner
2. Perkampungan tradisional dengan adat dan tradisi budaya masyarakat yang khas, seperti ▪ Kereta gantung
Kampung Naga, perkampungan Suku Badui, Desa Sade, Desa Penglipuran, dan sebagainya; ▪ Taman Hiburan Plasa kolam Makale.
dan ▪ Kolam Alam Assa
3. Museum, seperti Museum Nasional, Museum Bahari, dan sebagainya. ▪ Pasar Hewan
2. Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjang :
Sedangkan jenis-jenis daya tarik wisata budaya yang bersifat tidak berwujud antara lain berupa
▪ Permandian Air Panas Makula
berupa Kehidupan adat dan tradisi masyarakat dan aktivitas budaya masyarakat yang khas di
▪ Pekuburan batu Suaya
suatu area/tempat, seperti upacara rambu solo, dan sebagainya, serta Kesenian-kesenian
▪ Kuburan Bayi/Passilliran
tradisional.
▪ Kuburan Gua Alam Tampang Allo
Keunikan budaya yang ada di Tana Toraja sudah bukan menjadi hal yang asing lagi di kalangan ▪ Gua Alam Sullukan
masyarakat, bahkan sudah menjadi pembahasan di kalangan wisatawan mancanegara, hal ini ▪ Tongkonan Banua Kasalle Bau
ditunjukkan dengan beberapa situs purbakala yang ada di Tana Toraja sudah menjadi aset dari ▪ Museum Buntu Kalando
UNESCO. Keunikan tradisi budaya masyarakat Tana Toraja secara khusus jika tradisi tersebut ▪ Atraksi Seni Budaya
berkaitan dengan upacara rambu solo’ (pemakaman) yang biasanya diadakan selama beberapa ▪ Rante Tongko Sarapung
hari dan menghabiskan biaya yang tidaklah sedikit, sama halnya juga dengan upacara rambu 3. Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek penunjang:
tuka’ (upacara syukuran). Tradisi tersebut masih menjadi salah satu adat isti adat yang tetap ▪ SAssaa
dijaga oleh orang Toraja hingga saat ini. Hal tersebut bisa dilihat dengan beberapa wisata yang ▪ Perkampungan Adat Sillanan
masih tetap terjaga dengan baik dan merupakan bentuk fisik dari tradisi yang ada. ▪ Kawasan Hutan Mapongka.
Daya tarik wisata budaya merupakan ciri khas kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja. Jumlah 4. Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek penunjang:
kawasan wisata budaya yang tersebar diwilayah ini sangat banyak, berdasarkan hasil observasi ▪ Potok Tengan
dan data sekunder lainnya terdapat paling sedikit 35 (tigapuluh lima) kawasan wisata berbasis ▪ Panorama alam Buntu Kandora
daya tarik wisata budaya yang telah berkembang di Kabupaten Tana Toraja. Keseluruhan daya ▪ Banua Puan
tarik tersebut sebagian besar telah berkembang dan dikunjungi oleh wisatawan baik nusantara ▪ Liang Lo’ko’ Randanan
maupun mancanegara. Bahkan 3 (tiga) situs budaya telah terdaftar sebagai cagar budaya ▪ Panjat Tebing
peringkat nasional dalam situs Data Referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ▪ Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring
diantaranya 1 (satu) situs cagar budaya di Kecamatan Makale yaitu Kuburan Batu dan Rumah 5. Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjang:
Adat Lemo, dan 2 (dua) situs cagar budaya di Kecamatan Sangalla diantaranya Pemakaman Raja- ▪ Permandian alam Tilanga’
raja Sangala, Tampang Allo, dan satu museum yaitu Museum Buntu Kalando. ▪ Makam adat Sirope
▪ Tongkonan Mandetek
Selain itu, dalam Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu Kawasan Strategis Pegunungan
▪ Agrowisata Rante Lingkua’
dan Budaya Toraja, Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN Toraja Yang Akan
▪ Makam Bayi –Passilliran Alla.
Dikembangkan terdapat cukup banyak DTW yang diprioritaskan yang diramu dalam satu
6. Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek pendukung:
kesatuan kegiatan wisata beserta daya tarikwisata pendukungnya yang terintegrasi, diantaranya
▪ Rumah Adat Pattan
sebagai berikut:
▪ Talion
1. Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek pendukung:
▪ Benteng Pongtiku, Boronan
▪ Gua alam
▪ Likunna Makuyo
IV - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
1 Desa Wisata Bebo' Tumbang Datu Tumbang Datu, Bebo Sangalla Utara Rumah Adat Toraja/ Tongkonan dan Alang Yang Masih Asli
2 Papa Batu - Rembon Rumah Adat Toraja/ Tongkonan yang Beratap Batu
3 Sassa' Gasing Menkendek Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional
4 Perkampungan Adat Sillanan Sillanan Gandang Batu Sillanan Rumah Adat Tongkonan, Panorama Alam dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional,
Kuburan Batu, Rante (tempat upacara kematian)
5 Tampang Allo Tongko Sarapung Sangalla’ Goa Alam dengan peti mati kuno dan patung patung milik bangsawan yang berada di dalam peti
mati yang sudah berumur ratusan tahun
6 Suaya Kaero Sangalla’ Erong, Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati
7 Baby Grave Tongko Sarapung Sangalla’ Passiliran (Kuburan Bayi yang disimpan di pohon hidup dengan cara di lubangi)
8 Potok Tengan Tengan Mengkendek Situs Purba Bersejarah dan Rumah Adat Toraja/ Tongkonan
9 Pattan Pattan Saluputti Rumah Adat Toraja/ Tongkonan, Kuburan Batu dan Tau-Tau/ Patung Orang Mati
IV - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 4.2 Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
10 Kawasan Wisata Buntu Kandora Tengan Mengkendek Rumah Adat, Sejarah Orang Toraja, Panorama Alam, Gunung/ Batu Kars dan Monyet Asli Toraja
11 Liang Lo'ko Randanan Ke'pe Tinoring Mengkendek Gowa Alam
12 Tongkonan Banua Kasalle Kaero Sangalla’ Tongkonan Cagar Budaya
13 Buntu Tondon Tondon Mamullu Makale Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati
14 Perkuburan Kuno Gandang Batu Gandangbatu Gandangbatu Sillanan Cagar Vudaya Prasejarah / Megalitik Kuburan Batu
15 Benteng Ambeso Benteng Ambeso Gandangbatu Sillanan Sejarah Benteng Benteng Pertahanan
16 Liang Saratu’ Bau Bonggakaradeng Kuburan Batu Pahat
17 Kampung Tenun Malimbong Balepe Kerajinan Tenun/Tongkonan
18 Tengko Batu Kamali, pentalluan Makale Situs Cagar Budaya, Batu keramat
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Rea Saluputti Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati
20 Sanduni (Liang) Banga' Banga Rembon Kuburan Batu/ Liang Pahat
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Ke'pe Tinoring Mengkendek Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati
22 Liang Pahat Rano Utara Rano Utara Rano Kuburan Batu Pahat
23 Goa Sullukan Tokesan Sangalla Selatan Gowa Alam
24 Sirope' Lion Tondok Iring Makale Utara Kuburan Batu/ Liang Pahat, Erong
25 Saluliang Kole Sawangan Balepe Kuburan Batu Pahat
26 Mapongka Marinding Mengkendek Hutan Pinus dan Panorama
27 A'pa' Pamanukan Pamanukan Gandangbatu Sillanan Tongkonan
28 To' Puang Rante Alang Batualu Sangalla’ Selatan Perkampungan Tradisional dan Tempat Bersejarah
29 Kuburan Batu Ullin Ullin Rembon Kuburan Batu Pahat
30 Sarapeang Sarapeang Rembon Panorama Alam
31 Ma'dandan (himpuan erong) Patudu Gandangbatu Sillanan ▪ Perkumpulan erong (kuburan kuno)
keindahan alam serta dikelilingi oleh vegtasi yang hijau
32 Batu Kapak Malimbong Balepe
33 Babakanaan Palipu Mengkendek
34 Kuburan Batu Lemo Lemo Makale Utara Liang/ Lobang Pahat untuk peti mati dan Tau-Tau/ Patung orang mati yang di masukkan kedalam
liang/ lobang pahat
35 Museum Buntu Kalando Tongko Sarapung Sangalla’ Tongkonan Puang Sangalla' dan Museum Mini
36 Sa’pak bayobayo Saluallo Sangalla Utara ▪ Kampung tenun,
▪ wisata religi Sa'pak Bayo-bayo
▪ Gowa Alam
37 Ritual Aluk Todolo Mappak Mappak Perkampungan adat
38 Gereja Tua Simbuang Lembang Simbuang Simbuang Gereja tua.
Sumber: Hasil Idektifikasi Lapangan dan Data Sekunder, Tahun 2020
IV - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
IV - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
1. Desa Wisata Bebo' dan Tumbang Datu daya tarik wisata Perkampungan Adat. Karakteristik bangunan Tongkonan pada
Kawasan wisata Bebo dan Tumbang Datu memiliki keragaman daya tarik wisata yang perkampungan adat ini memiliki nilai sejarah dengan deretan rumah adat Toraja yang
umumnya belum dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Tana merupakan bagian dari wilayah Tongkonan tertata rapih. Masyarakat sekitar Tumbang
Toraja. Keragaman Daya tarik wisata tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah Datu Bebo’ masih sangat memegang teguh tradisi dan melakukan upacara adat.
sehingga dilakukan perencanaan ini. Kawasan Wisata Bebo dan Tumbang Datu terdapat 2 b. Kawasan Pekuburan Batu
(dua) jenis daya tarik wisata didalamnya yaitu daya tarik wisata alam dan daya tarik wisata Salah satu objek daya tarik wisata Kuburan Batu juga terdapat di kawasan Bebo dan
budaya. DTW tersebut antara lain yaitu bangunan tongkonan, kawasan pekuburan batu, Tumbang Datu yang merupakan variasi dari destinasi wisata yang ada di Kecamatan
kawasan religi/kepercayaan Aluk Todolo, kawasan kampung monyet, kawasan rante, dan Sangalla Utara tepatnya di Kelurahan Bebo sebagai salah satu fasilitas pemakaman yang
kawasan gua kelelawar. berbasis budaya dan dijadikan sebagai destinasi wisata dalam kawasan perencanaan.
Menurut administrasi wilayah desa/lembang di Kawasan Bebo yang terletak di Lembang Bebo c. Kawasan Religi/Kepercayaan Aluk Todolo
terdapat daya tarik wisata berupa Kawasan Kampung Monyet yang merupakan daerah hutan Kepercayaan Aluk Todolo bukan hanya sistem keyakinan, tetapi juga merupakan
yang berkembang habitat Monyet, sedangkan daya tarik lain pada uraian diatas terletak di gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk Todolo mengatur kehidupan
Lembang Tumbang Datu. Secara umum, Tempat wisata ini merupakan salah satu bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk Todolo bisa
perkampungan adat yang letaknya di kecamatan Sangalla utara. Disana terdapat banyak berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah
bangunan rumah adat tongkonan, tempat untuk upacara adat, pemakaman purba peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya
masyarakat Toraja, kuburan bayi pada pohon, ada mata air, benteng pertahanan jaman bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung
purba serta beberapa tempat menarik lainnya yang berhubungan dengan masyarakat Toraja dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya.
jaman dahulu. Dengan adanya peninggalan budaya serta adat yang unik dari jaman purba Aluk Todolo pernah menjadi tali pengikat masyarakat toraja yang begitu kuat, bahkan
tersebut membuat destinasi wisata yang satu ini menjadi semakin menarik untuk dikunjungi. menjadi landasan kesatuan sang torayan yang sangat kokoh sehingga kemanapun orang
Sebab banyak destinasi wisata di dalamnya yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat toraja pergi akan selalu ingat kampung halaman, dan rindu untuk kembali kesana. Ikatan
Toraja hingga saat ini. Bahkan tradisi atau adat masyarakat jaman dahulu masih dipegang batin yang Sangtorayan yang begitu kokoh tentu saja antara lain adalah buah-buah dari
teguh oleh masyarakat sekitar. tempaan Aluk Todolo itu. Karena itu patut prihatin bila aluk todolo itu kini nyaris lenyap
diterpa arus dunia modern.
Bahkan tidak jauh dari kawasan wisata tersebut, pengunjung akan menemukan puncak bukit,
Tradisi Aluk Todolo masih kuat diyakini masyarakat Tana Toraja sebagai warisan sakral.
dimana terdapat pohon cendana di puncak bukit tersebut dan dijadikan sebagai penanda
Tata krama yang terdapat didalamnya masih tetap diindahkan bukan saja oleh generasi
untuk memperingati perjanjian antar suku yaitu Basse Kasalle. Rumah adat ini di hiasi dengan
tua tetapi juga generasi muda yang masih yakin bahwa tradisi Aluk Todolo bisa
gading atau tanduk tedong yang umurnya sudah puluhan tahun.
membawa kebahagiaan dan sekaligus juga bisa membawa malapetaka jika tidak
a. Bangunan Tongkonan
diindahkan. Adat istiadat Aluk Todolo masih amat ampuh mempersatukan masyarakat
Pengembangan Kawasan Bebo dan Tumbang Datu, Tana Toraja, meskipun anggota masyarakatnya sudah menganut agama formal yang
sebelumnya telah dilakukan sosialisasi oleh berbeda-beda. Dalam satu keluarga di Tana Toraja, lazim dijumpai beberapa agama.
pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan peran Boleh jadi dalam satu rumah ada yang beragama Kristen, ada yang beragama Katolik,
serta masyarakat dalam pembangunan dan dan ada juga beragama Islam.
pengembangan pariwisata Tana Toraja yang digelar di d. Kawasan Kampung Monyet
Tongkonan Karuaya Lembang Tumbang Datu, pada Sebagai salah satu habitat yang dilindungi di Indonesia, Monyet merupakan binatang
tahun 2017 lalu. Sosialisasi kesiapan masyarakat yang cukup langka yang tidak ditemui dibanyak daerah. Oleh karena itu, keberadaan
dalam menerima pariwisata ini digelar dalam rangka habitat ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan karena kelangkaan tersebut.
penetapan Tongkonan Karuaya oleh Pemerintah Kawasan Kampung Monyet yang teridentifikasi dalam kawasan perencanaan di Lembang
Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu destinasi Tumbang Datu menjadi bagian dari kawasan perencanaan mengingat jenisdaya tarik
pariwisata baru berupa Perkampungan Adat. wisata tersebut masih cukup langkah didaerah Toraja sehingga memiliki kekuatan
Bangunan Tongkonan di Tumbang Datu merupakan menarik wisatawan apabila dikembangkan.
kumpulan bangunan yang dikembangkan sebagai
IV - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Pada umumnya kumpulan habitat alam yang dilindungi oleh Negara seperti Monyet dikalahkan saat perang antarsuku, menunjukkan bahwa masyarakat desa itu kuat,
ditetapkan sebagai kawasan lindung yaitu lindung suaka marga satwa atau taman gagah, dan berani.
nasional, dimana kawasan tersebut tidak diperuntukkan bagi kawasan budidaya namun
Keunikan lain rumah adat ini terlihat dari ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning.
dapat dimanfaatkan dengan fungsi lain selama tidak merubah atau menghilangkan
Motif hewan dan tanaman melambangkan kebajikan. Tanaman gulma air serta hewan
fungsi utamanya tersebut.
seperti kepiting dan kecebong misalnya, diyakini melambangkan kesuburan. Ada pula
e. Kawasan Tongkonan dan Rante
ukiran kerbau yang melambangkan kekayaan.
Beberapa tinggalan khas budaya megalitik dapat ditemukan di Tana Toraja saat ini,
seperti batu tegak (menhir), kubur batu, lumpang batu, umpak batu, dan tempayan Selain itu juga terdapat Tongkonan Bebo dan Tongkonan Tumbang Datu, yang terletak
batu. Dari berbagai jenis tersebut, menhir yang dalam istilah lokal disebut simbuang di bagian utara dan selatan kawasan perencanaan. Setiap tongkonan tersebut
merupakan tinggalan yang mendominasi temuan megalitik di Tana Toraja salah satunya merupakan perwakilan dari setiap rumpun/keluarga yang ada dikawasannya.
di Bebo Tumbang Datu. 2. Papa Batu
Rante Tongkonan Papa Batu yang diprediksi sudah berumur
Simbuang didirikan dalam rangkaian upacara penguburan sekaligus sebagai monumen 417 tahun dan sudah tercatat sebagai salah satu
agar generasi penerus tetap menghormati dan melanjutkan tradisi mengagungkan para budaya warisan dunia oleh UNESCO. Tongkonan Papa
leluhur. Bentuk menhir umumnya persegi panjang atau bulat oval dan meruncing Batu artinya rumah adat yang beratapkan batu, dan
diatasnya. Bentuk tersebut ada yang diperoleh secara alami, namun kebanyakan merupakan satu-satunya Tongkonan yang beratap
dibentuk dengan cara dipahat sampai menjadi bentuk yang diinginkan. Menhir di Toraja batu. Sebagai satu-satunya bangunan Tongkonan
hampir selalu berada di rante, yakni sebuah tempat khusus yang diperuntukkan sebagai beratap batu, tentunya merupakan daya tarik wisata
tempat upacara kematian satu marga. yang sangat menarik yang ada di Toraja. Seluruh
Setiap keluarga besar memiliki rante masing-masing, sehingga rante sering dianggap bagian bangunan kecuali atap menggunakan bahan kayu. Seperti halnya bangunan
sebagai perkampungan kecil. Rante menjadi bagian integral dari tiga komponen penting Tongkonan lain di Toraja, Papa Batu disakralkan oleh keluarga dan masyarakat setempat
dalam pemukiman tradisional Toraja, yaitu rante (tempat upacara), liang (kuburan) dan sehingga untuk kepentingan kunjungan wisatawan, diharuskan mendapat izin dari pemilik
tongkonan (rumah adat). Setiap upacara kematian harus dilakukan di rante agar arwah jika wisatawan ingin naik ke atap rumah untuk melihat keunikan bangunan tersebut.
dapat mencapai kesempurnaan. Hal ini juga terlihat secara fisik dikawasan perencanaan, 3. Sassa'
dimana lokasi rante berdekatan dengan bangunan tongkonan yaitu di Tongkonan Pada Kawasan SAssaa terdapat salah satu tongkonan yang konon katanya merupakan
Karuaya. Tongkonan Tertua di Tana Toraja, Tongkonan SAssaa diperkirakan sudah 500 tahun usianya
Tongkonan ini, sudah dikenal sebagai salah satu objek wisata di
Dikawasan Bebo Tumbang Datu terdapat 3 (tiga) rumah tongkonan yang tersebar pada Tana Toraja. Selain dari keberadaaan Tongkonan
tempat yang berbeda. Ketiga tongkonan tersebut diantaranya Tongkonan Karuaya, Tertua Kawasan SAssaa juga menawarkan keindahan
Tongkonan Bebo dan Tongkonan Tumbang Datu. dan panorama alam Tana Toraja yang khas dan unik.
Tongkonan Karuaya memiliki seni arsitektur masih sangat tradisional, beratap bambu Karena selain secara history Tongkonan ini unik dan
yang disusun sedemikian rupa. Di bagian depan tongkonan, ada alang sura', tempat cukup tua usianya, pemandangan alam di Tongkonan
menyimpan bahan-bahan makanan, terutama padi, gabah, dan beras, sebanyak 6 ini sungguh luar biasa. Berada di area perbukitan, dari
bangunan. Tiang-tiangnya terbuat dari batang pohon palem yang licin sehingga tikus Tongkonan ini kita bisa memandang ke segala penjuru.
tidak dapat naik ke dalam bangunan. Pada sebuah tiang penyangga depan rumah, Pemandangan alam persawahan dan perbukitan di
puluhan tanduk kerbau dipajang rapi dari atas ke bawah yang melambangkan bawahnya terlihat begitu mengagumkan. Dari Tongkonan Sassa’ wisatawan dapat
kemampuan ekonomi pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya. menyaksikan Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake di kejauhan. Jika tidak terpapar
Makin banyak tanduk yang terpasang, makin tinggi pula status sosial keluarga sinar matahari, patung ini terlihat cukup jelas. Bukit Kandora yang mempersona, terkadang
pemiliknya. Selain itu, di sisi kiri dan kanan rumah juga terdapat rahang kerbau dan diselimuti kabut, juga terlihat anggun dari tempat ini. Belum lagi atap-atap Tongkonan
rahang babi. Di sebatang kayu yang melintang di bagian depan rumah, dekat atap, (rumah adat Toraja) di sela-sela pepohonan di kejauhan.
terlihat sejumlah tengkorak manusia yaang merupakan tengkorak para musuh yang
IV - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
DTW ini merupakan tempat rumah adat atau tongkonan tertua di Kecamatan Mengkendek Di tempat ini juga terdapat bangunan-bangunan megalit berupa menhir maupun kubur batu
dan sekitarnya, tongkonan Sassa’ ini sebagai tempat tinggal Tangdilatuk yang membuat yang berkaitan dengan tradisi dan upacara-upacara adat masyarakat Toraja yang hingga kini
aturan adat dan kepercayaan Sumio’ Sukaran Aluk di kampung/negeri Pangrorean juga masih diselenggarakan. Dari upacara-upacara adat tersebut, pengunjung akan mendapatkan
kuburan bayi di pohon besar, perkebunan kopi dan markisa sehingga memberikan suhu yang gambaran mengenai fungsi dan peranan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut
sejuk. Objek wisata ini terletak di Lembang Gasing Kecamatan Mengkendek. Untuk sampai terhadap kehidupan masyarakat setempat. Beberapa rumah tongkonan dan lumbung padi
di Tongkonan Sassa’ tidaklah sulit. Jarak tempat ini dari Makale, ibukota Kabupaten Tana yang berusia sangat tua masih bisa ditemukan disini, sementara beberapa diantaranya sudah
Toraja hanya sekitar 20 kilometer, dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Kendaraan roda direnovasi akibat termakan usia. Tidak semua Tongkonan dapat dikunjungi, kecuali
dua maupun empat, bisa menjangkau tempat ini. Bagi pengunjung yang datang ke sana, Tongkonan yang memang secara khusus dijadikan obyek wisata. Sementara Tongkonan milik
hanya perlu mengarahkan kendaraan dari Makale menuju ke arah Mengkendek tepatnya di keluarga Tana Toraja hanya boleh dikunjungi oleh anggota keluarga saja. Wisatawan bisa
Lembang Gasing. menanyakan tetua adat atau penduduk mengenai Tongkonan mana yang boleh dikunjungi.
4. Perkampungan Adat Sillanan Pada Kawasan Sillanan Bubunna, Tintiri Buntu merupakan aset terbaik yang dimiliki oleh desa
Objek wisata Perkampungan Adat Sillanan adalah Sillanan. Mata air ini berbeda dari mata air pada
kampung yang dibuat berdasarkan ciri khas masyarakat umumnya. Sumur ini akan membuat siapa saja yang
Toraja. Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan di mencoba akan merasakan kesejukan air awet muda
tempat ini adalah bangunan yang mencirikan khas dan umur panjang. Di kampung Sillanan juga terdapat
masyarakat Toraja. Perkampungan Adat Sillanan peninggalan sejarah berupa benteng Pertahanan
berada di Kecamatan Mengkendek Lembang Sillanan Sillanan yang bernama Tangdi Rompo di puncak bukit
dengan jarak ± 15 Km dari pusat kota Kabupaten Tana batu Sillanan. Benteng ini menurut Pak Rante terbuat
Toraja. dari batu gunung asli yang disusun rapi. Benteng-
benteng ini digunakan masyarakat Sillanan untuk
Tongkanon ini memiliki ukiran warna yang di buat
mempertahankan diri dari serangan musuh, baik saat perang antar suku di Toraja maupun
berdasarkan ciri khas budaya di Kabupaten Tana
perang melawan pasukan dari luar Toraja termasuk Belanda. Untuk mencapai lokasi benteng
Toraja, tongkanon ini juga memiliki daya tarik tersendiri
ini harus menempuh satu hari satu malam berjalan kaki dari desa Sillanan.
pada bangunan yang mencirikhas kultur atau budaya
masyarakat Tana Toraja. Desa Sillanan juga menawarkan pemandangan alam yang indah dan agrowisata kopi dan
sayur mayur. Sillanan dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum Makale – Mebali,
Objek ini adalah salah satu situs peninggalan purbakala
selanjutnya perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan Mebali -Sillanan, naik ojek atau
berupa perkampungan adat dengan tradisinya dan juga sebagai daerah yang dikelilingi
berjalan kaki. Disekitar perkampungan ini, terdapat juga pemondokan untuk wisatawan.
dengan perkebunan kopi, sayur-sayur, dan buah-buahan. Tempat ini terkenal dengan
Sementara enam kilometer dari Sillanan, terdapat hotel bintang tiga. Usia sumur ini
perkampungan adatnya.
diperkirakan sama dengan usia perkampungan adat tua Sillanan.
Disini terdapat beberapa tongkonan yang memiliki
5. Tampang Allo
fungsinya masing-masing dalam pemerintahan, juga
liang pahat atau kuburan buatan di tebing- tebing Daya tarik wisata Tampang Allo ini terletak 19 km dari
gunung batu yang terjal dan menjulang tinggi, erong Rantepao dan 12 km dari Makale. Tampang Allo berupa
(peti jenazah purba di Tana Toraja dari kayu), sumur gua alam tempat dimakamkannya salah satu penguasa
alam, sumur mata air dan pancuran yang tidak pernah Sangalla, yaitu Puang Manturino dan istrinya, Rangga
kering, terbuat dari susunan batu gunung. Tempat ini Bulaan yang wafat sekitar pertengahan abad ke-16.
terkenal dengan panorama alam yang mempesona, Diceritakan jenazah Puang Manturino menghilang dari
disertai dengan hamparan perkebunan rakyat, fauna erongnya, setelah dikuburkan terpisah dengan istrinya yang meninggal terlebih dulu, Rangga
dan flora berupa anggrek, kopi dan vanili. Objek wisata Bulaan, dan dikuburkan di Gua Tampang Allo. Menurut cerita jenazah Puang Manturino
ini terletak di Lembang Sillanan Kecamatan Gandang kemudian ternyata ditemukan telah bersatu dengan jenazah istrinya di Gua Tampang Allo.
Batu Sillanan. Sejak saat itu keturunan-keturunan mereka juga kemudian dimakamkan di gua ini bersama
IV - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
dengan pasangannya sebagai perwujudan perjanjian dan sumpah suami istri: ”sehidup Untuk mengunjungi DTW Suaya, telah tersedia sarana
semati, satu kubur kita berdua”. Objek ini memiliki daya tarik adalah Liang Lo’ko Tau-tau dan wisata berupa tempat parkiran yang dikelilingi oleh
tau-tau, terletak di Lembang Turunan Kecamatan Sangalla. sejumlah toko-toko souvenir dan makan minum.
Akses menuju kawasan ini dapat ditempuh dengan
Untuk mencapai Kawasan ini jalur yang ditempuh melalui Makale dengan 2 rute yang dapat
mudah karena berada pada ruas jalan utama kawasan
dalam waktu sekitar 15 menit alternative lain bisa dari Makale-Tetebassi – Sangalla-
dengan kondisi aspal dan masih sangat baik untuk
Kondoran- Suaya jaraknya sekitar 13 km atau yang dari Kota Rantepao Kabupaten Toraja
dilalui.
Utara bisa melalui Ke’te kesu - La’bo – Randanbatu – Sangalla – Kondoran - Suaya jaraknya
mungkin sekitar 17 km. Objek wisata ini dekat dengen beberapa objek wisata Suaya King
Grave, Baby Grave, Museum Buntu Kalando, Sa'pak Bayo-Bayo.
Selain Goa dan perkuburan batu, Kawasan Tampang 9. Buntu Tondon
Allo juga terdapat Kawasan Tongkonan dan Objek wisata Buntu Tondon adalah kuburan bangsawan yang ditempatkan di lubang batu
perkampungan Adat serta keindahan panorama alam yang dipahat oleh masyarakat untuk meletakkan tau–tau (Patung Orang yang sudah mati).
yag terbentuk dari bebatuan karts yang alami, dari Daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan ditempat ini adalah liang pa‟a (Kuburan batu
ketinggian dapat melihat keindahan panorama alam pahat) yang dikelilingi batuan alam. Untuk mengunjungi tempat ini wisatawan akan
sekitar. menemukan kuburan para bangsawan masyarakat Toraja.
Untuk mencapai puncak bebatuan karst tersebut, telah dibangun anak tangga bagi Pada awalnya di dinding pekuburan tersebut terdapat beberapa tau tau. Namun seiring
wisatawan yang ingin melihat panorama alam dari ketinggian kawasan tersebut. dengan meningkatnya pencurian tau-tau, maka pihak keluarga kemudian memindahkannya
ke rumah mereka. Akibatnya balkon-balkon yang dulu diisi tau-tau, kini kosong. Daya Tarik
6. Sanduni (Liang) Banga' Wisata Utama adalah Liang Pa‟a. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Makale Utara
Objek wisata Sandini (liang) merupakan tempat kuburan masyarakat Tana Toraja. Objek ini Kelurahan Tondon Mamulu.
memiliki daya tarik dengan keindahan alam serta di kelilingi oleh flora dan fauna, pepohonan 10. Potok Tengan
yang rindang dan sejuk sehingga wisatawan dapat menikmatinya dengan baik. Kawasan Wisata Alam Budaya Potok Tengan yang
berada di Kelurahan Tengan Kecamatan Mengkendek.
7. To'bai (Liang Tau-Tau)
Pada kawsan ini terdapat beberapa destinasi wisata
Objek wisata To’bai (liang tau- tau) merupakan tempah patung- patung orang yang suda
berupa hamparan alam tebing karts, permukiman adat
meninggal di Kabupaten Tana Toraja. Tau-tau ini di merupakan kreatifitas masyarakat
dan perkampungan tua khas toraja dengan beberaapa
dengan dengan hasil kreasi yang sangat unik. Tau-tau ini di buat berdasarkan jenis kelamin
bangunan tongkonan didalamnya. Serta pemandangan
orang yang sudah meninggal.
alam di atas bukit kandora yang alami dan eksotis khas
8. Suaya toraja.
Objek wisata Suaya merupakan tempat penyimpanan
mayat atau makam para raja-Raja Sangalla dan di
lengkapi oleh Makam Raja Pantunuan yang
kedudukannya berada di atas batu besar, mayat-
mayatnya di susun bereretan di lobang batu. Objek
wisata ini memiliki keunikan terdendiri dengan
panorama alam serta dikelilingi oleh pepohonan dan
letaknya berada diatas pegunungan sehinggah
wisatawan yang mengunjungi dapat melihat jelas
pamandangan di daerah tersebut. Tempat ini terletak di Kecamatan Sangalla kelurahan
Ka‟ero dengan jarak ± 10 Km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja. Objek ini memiliki daya
tarik adalah Liang Lo’ko‟, Tau tau dan tau-tau.
IV - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Objek wisata Potok Tengan adalah tempat dapat melihat pemandangan yang menakjubkan. Objek wisata gunung kandora berada di
perkampungan Adat dengan bangunan-bangunan yang Kecamatan Mengkendek kelurahan Kandora dengan jarak ± 7 Km dari pusat kota Tana
didirikan diatas areal batu-batu besar yang di susun Toraja. Untuk itu perlu adanya pemeliharaah hutan serta adanya reboisasi kembali sehingga
dengan rapi. Daya tarik tersendiri yang dapat dapat mempertahankan keaslian objek tersebut.
ditemukan di tempat ini adalah batu unik yang
14. Liang Lo'ko Randanan
menyerupai kelamin laki-laki dan perempuan yang di
Objek wisata Liang Lo’ko’ Randanan adalah tempat pemakaman berupa goa alam dimana
yakini memiliki kekuatan magis (gaib). objek wisata
tulang-tulang manusia berserakan. Hal ini menandakan bahwah tempat ini telah
Potok Tengan merupakan situs purbakala atau
dimanfaatkan sebagai tempat pemakaman sejak ratusan tahun yang lalu.
peninggalan bersejarah yang di dalamnya terdapat
barang-barang bersejarah. Objek wisata Potok Tengan Liang ini berada di dalam gua. Untuk melakukan penguburan harus menggunakan obor. Di
memiliki daya tarik arsitektur dengan ukiran pada kaki gunung gua diperkirakan dahulunya terendam air laut dengan adanya serpihan fosil
bangunan dengan warna yang khas akan budaya karang laut yang melekat pada batu di sekitarnya. Hal ini di lakukan berdasarkan kultur
masyarakat Tana Toraja. Objek wisata Potok Tengan masyarakat yang di bawahi oleh para leluhur sejak dibentuk. Dengan adanya penguburan
terletak di kecamatan Mengkendek kelurahan Tengan mayat pada lubang-lubang batu yang terdapat di dalam gua menunjukan keunikan tersendiri
dengan jarak ± 8 Km dari pusat kota Makale. bagi daerah ini. Lokasi objek wisata liang lo’ko randanan terletak di kecamatan Mengkendek
kelurahan Randanan dengan jarak ± 5 Km dari ibu kota Kabupaten Tana Toraja
Kawsan wisata ini juga sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata minat
15. Salu Liang
khusus pendidikan antropologi sejarah dan adat serta budaya khas sehingga sangat penting
situs-situs tersebut dikembangkan dengan lebih komprehensive agar dapat dijadikan Salu Liang merupakan sebutan masyarakat setempat
percontohan sebagai bahan penelitian sekaligus berwisata. terhadap kuburan batu yang terletak di Desa
Malimbong tepatnya di Sawangan disekitar area
11. Perkuburan Kuno Gandang Batu
persawahan. Nama Salu Liang sendiri berasal dari
Objek wisata Perkuburan kuno Gandang Batu berada di Kecamatan Gandang Batu Sillanan
bahasa Toraja yaitu: Salu yang berarti sungai dan
Kelurahan Gandang Batu dengan jarak ± 20 km dari pusat kota Kabupaten Tana Toraja.
Liang yang berarti kuburan batu/liang/goa, sehingga
Kuburan kuno ini memiliki daya tarik yang unik dilihat berdasarkan kondisinya serta di kelilingi
Salu Liang artinya kuburan yang sangat banyak. Di
oleh hijaunya pepohonan dan keindahan alam yang natural.
tempat ini banyak terdapat batu-batu besar yang
12. Pattan dibuat kuburan/liang/goa oleh orang-orang dari
Di lokasi ini daya tarik berupa tongkonan atau perkampungan tradisonal Toraja yang memiliki Mareali. Lalu dibeli oleh masyarakat setempat untuk dijadikan pemakaman menurut silsilah
strata kultur/budaya yang sangat di junjung tinggi serta terdapat Liang atau kuburan dan keluarga. Kuburan ini dibuat sekitar tahun 1918 pada Perang Dunia 1.
tau-tau yang memiliki daya tarik tersendiri serta kondisi alam yang sangat natural sehingga Kuburan batu sebagai karakteristik budaya masyarakat Toraja dalam ritual penguburan
daerah ini memiliki kenyamanan dan keaslian yang sangat memuaskan. Objek wisata ini jenazah dan umumnya dapat dijumpai diberbagai bagian wilayah kabupaten, namun Salu
terletak di Kelurahan Kelurahan Pattan Kecamatan Suluputti. Liang ini dapat dikatakan cukup unik karena sebaran bebatuan besar yang dijadikan sebagai
kuburan jenazah tidak seperti umumnya ditempat lain. Berdasarkan wawancara dengan
13. Kawasan Wisata Buntu Kandora
tokoh masyarakat setempat, kuburan liang ini terdapat 107 lubang. Batu-batu tersebut
Objek wisata Gunung Kandora memiliki daya tarik yang sangat indah. Gunung Kandora umumnya bukan bebatuan besar dan tinggi seperti di Londa Toraja Utara dan lainnya.
memiliki potensi wisata yang sangat baik untuk di kembangkan, dengan adanya daya tarik Keunikan lain yaitu dengan bentuk dan karakteristik Salu Liang ini sehingga memberikan
serta keindahan alam yang membentang di sekelilinginya serta marga satwa yang berada ruang bagi wisatawan untuk dapat menikmati keindahan alan disekitarnya berupa hamparan
dilokasi. Dilihat dari tata letaknya dengan kondisi alam yang berbukit - bukit serta panorama persawahan dan pegunungan yang jauh. Kondisi Salu Liang saat ini masih belum terawat
alam yang berada di sekitarnya, pepohonan yang rindang, hijaunya alam sehingga memiliki dengan baik untuk kepentingan wisata.
nilai estetika yang sangat menarik.
Di bawah objek wisata gunung Kandora terdapat tanaman persawahan dan permukiman
warga, serta bukit-bukit yang melintang sehingga wisatawan yang berada di puncak gunung
IV - 15
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
IV - 16
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
dapat menikmati kesejukan dan keindahan di objek tersebut. Objek wisata ini terletak di serta nilai historis yang sangat mengagumkan. Objek wisata ini terletak di Lembang Batualu
Kelurahan Kamli Pantalluang Kecamatan Makale. Kecamatan Sangalla Selatan.
IV - 17
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Sama seperti objek wisata kuburan lainnya, di Sa'pak Bayo-Bayo banyak dijumpai tulang 3. Fasilitas rekreasi dan olahraga, seperti Kawasan rekreasi dan olahraga Senayan,
belulang, tengkorak manusia dan erong (peti mayat) yang sudah mulai hancur termakan kawasan padang golf, dan area sirkuit olahraga.
usia, yang membedakan sa'pak bayo-bayo ketika kita mengunjunginya adalah suasana yang
Salah satu DTW Buatan unggulan di Kabupaten Tana Toraja yang berbasis religi dan alam
masih sangat alami jauh berbeda dengan objek wisata lain yang sudah ramai dengan
yaitu Kawasan Buntu Burake yang merupakan wilayah perbukitan batu gamping (kars) pada
wisatawan. Pada gua alam ini terdapat 4 buah lubang gua, masyarakat Toraja menyebutnya
ketinggian 900 – 1.129,9 mdpl terletak di Keluarahan Buntu Burake, Kecamatan Makale.
dengan nama lo'ko' yaitu Lo'ko' Ne' Pendang, Lo'ko' Tarru', Lo'ko' Bekak dan Lo'ko'
Secara geografis Obyek Wisata Buntu Burake terletak antara 119°51’ – 119°52’ BT dan
Kalumpini.
03°05’ – 03°06’ LS. Luas kawasan Buntu Burake ± 152,36 hektar dengan variasi vegetasi
Lo'ko' Bekak merupakan gua yang paling besar dan luas lokal dan satwa liar dari kelas burung dan beberapa mamalia jenis monyet ekor panjang
di banding ketiga gua lainnya bentuknya pun sedIkit menjadikan kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata
berbeda. untuk masuk kedalam gua ini kita harus turun untuk reat-reat, kamping, jalur-jalur trekking, dan lain-lain. Kawasan Obyek Wisata Buntu
melewati tumpukan erong yang berserakan bersama Burake dikelilingi oleh 4 kampung yaitu: Kampung Buisun di sebelah Utara, Kampung Lea di
tulang belulang yang akan membuat suasana sedikit sebalah Timur, Kampung Limbong di sebelah Selatan dan Kampung Burake di sebelah Barat.
berbeda ditambah udara yang sedikit lembab. Di Sa'pak
DTW Buntu Burake ini telah dilakukan pengembangan dan merupakan salah satu DTW
Bayo Bayo terdapat sebuah sumur keramat yang
andalan di Tana Toraja. Bentuk pengembangan kawasan tersebut dibagi menjadi beberapa
terletak di pinggir sungai yang menjadi muara gua tersebut.
zona atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik, antara lain:
28. Ma’dandan (Himpunan Erong) ▪ Zona Inti (sanctuary zone) berfungsi untuk
perlindungan monumen dan pelataran Patung Yesus
Erong adalah semacam peti mati yang terbuat dari kayu
Memberkati (kawasan patung Yesus Kristus
yang keras dan kuat. Bagian luar erong ditatah dengan
memberkati), Kawasan Pelataran Patung , Kaca
ukiran yang indah. Objek wisata Ma‟ dandan (himpunan
Ardrenalin dan Spot Foto
erong) berada di kecamatan Gandang Batu Sillanan
▪ Zona Penyangga (buffer zone) berupa goa purba yang
kelurahan Patudu. Objek ini merupakan tempat
telah dijadikan Goa Bunda Maria, area kuliner, area
perkumpulan erong (kuburan kuno) yang yang memiliki
souvenir, parking area, dan publik area pada kawasan
usia sudah puluhan tahun. Himpunan erong ini memiliki
kars Burake.
daya tarik dengan keindahan alam serta dikelilingi oleh
▪ Zona Pengembangan (development zone) yakni
vegtasi yang hijau. Erong ini memiliki ukuran yang
Lombok Sumpu, hamparan lembah di sebelah timur,
berbeda-beda dilihat berdasarkan usia jenazah pada masyarakat Tana Toraja.
Buntu Sirrang, Buntu Sundallak, Buntu Panduang,
Buntu Pangngumba’, dan lain-lain.
4.1.3 Daya Tarik Wisata Buatan
▪ Zona Permukiman dan Desa Wisata di sekitar kawasan
1. Buntu Burake
Buntu Burake.
Daya tarik wisata buatan ini digolongkan sebagai daya tarik wisata khusus yang merupakan
kreasi artifisial (artificially created) dan kegiatan-kegiatan manusia lainnya di luar ranah Sampai pada tahun 2019 pembangunan sangat gencar dilakukan pemerintah daerah
wisata alam dan wisata budaya. Daya Tarik Wisata hasil buatan manusia/khusus, selanjutnya diantaranya pembangunan akses jalan yang lebar, sarana dan prasarana pendukung,
dapat dijabarkan meliputi antara lain: penataan kawasan pada pelataran, reling bangunan landasan dan patung, pelataran kaca
1. Fasilitas rekreasi dan hiburan atau taman bertema, yaitu fasilitas yang berhubungan adrenalin, jalan-jalan setapak, dan lain-lain sehingga DTW ini sangat layak menjadi unggulan
dengan motivasi untuk rekreasi, hiburan (entertainment) maupun penyaluran hobi, pariwisata Kabupaten Tana Toraja kedepannya. Berbagai variasi daya tarik wisatapun
seperti taman bertema (theme park)/taman hiburan (kawasan Trans Studio, Taman dibangun untuk mendukung kegiatan wisatawan yang sangat memadai.
Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah); 2. Taman Hiburan Plaza Kolam Makalle
2. Fasilitas peristirahatan terpadu (integrated resort), yaitu kawasan peristirahatan dengan Taman Hiburan Plaza Kolam Makale berada di pusat Kota Makale. Taman ini merupakan
komponen pendukungnya yang membentuk kawasan terpadu, seperti Kawasan Nusa landmark Kota Makale yang memiliki keindahan yang sangat eksotis, karena penataan objek
Dua Resort, Kawasan Tanjung Lesung, dan sebagainya; dan wisata ini sudah dikembangkan dengan baik. Di lokasi ini terdapat bangunan gereja di atas
IV - 18
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
ketinggian serta gedung DPRD Kabupaten Tana Toraja dan bangunan-bangunan lain di panorama, air terjun, tracking, dan arum jeram. Kawasan Barereng yang terletak di Lembang
sekelilinginya. Objek wisata ini terletak di kecamatan Makale kelurahan Makale yang berada (Desa) Rante Limbong, kecamatan kura, sangat berpotensi karena telah berkembang
pada pusat kota. Hampir setiap orang yang datang ke Makale mengabadikan moment disekitarnya perkebunan holtikultura dan panorama yang indah.
perjalanannya ke Tana Toraja dengan berfoto menjadikan taman ini sebagai identitas
Daftar lengkap daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja yang disajikan dalam tabel berikut.
kunjungannya.
3. Barereng
Kawasan Barereng merupakan perpaduan jenis daya tarik wisata alam dan buatan dengan
potensi yaitu taman rekreasi, kolam pemancingan ikan, dan kawasan perkemahan,
IV - 19
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
IV - 20
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
Daya Tarik Wisata Alam (Nature Tourism)
1 Agrowisata Pango-Pango Tosapan Makale Selatan ▪ Pepohonan pinus Pemda Kabupaten Sudah beroperasi
▪ Perkebunan agro (kopi, tamarillo, strawbery dll)
▪ Pemandangan alam yang indah dan udara yang dingin.
2 Permandian Alam Tilangnga Sarira Makale Utara ▪ Kolam Alam Keluarga (Non Yayasan) Sudah beroperasi
▪ Belut Yang Hidup Didalam Kolam
3 Rurak Ke'pe' Tinoring Mengkendek Goa Alam yang dijadikan kuburan pada zaman yang lalu Keluarga (Non Yayasan) Belum beroperasi
dan kuburan tersebut sudah berumur ratusan tahun
4 Sarambu Assing Patongloan Bittuang Air Terjun Pemda Kabupaten Belum beroperasi
5 Sarambu Ratte Balla Bittuang Air Terjun Pemda Kabupaten Belum beroperasi
6 Talondo Tallu Balepe' Malimbong Balepe Air Terjun Pemda Kabupaten Belum beroperasi
7 Perkebunan Kopi Tiroan Tiroan Bittuang ▪ Perkebunan Kopi dan Keluarga Belum beroperasi
▪ Pemandangan Alam dengan Udara yang Dingin
8 Lo'ko Tongko Tongko Sarapung Sangalla Goa Alam Keluarga Belum beroperasi
9 Arum Jeram Maroson Padakka Kurra ▪ Arum Jeram (sungai mai'ting) Pemda Kabupaten Belum beroperasi
▪ Panorama Alam
10 Danau Assaa Lembang Turunan Sangalla ▪ Danau alami Pemda Kabupaten Belum beroperasi
▪ panorama, dan
▪ batu hamil.
11 Gunung Kandora Kel. Tengan Mengkendek Panorama Alam Gunung Karst Pemda Kabupaten Belum beroperasi
12 Panjat Tebing Kandora Mengkendek Tebing Karst Vertikal Pemda Kabupaten Belum beroperasi
13 Panorama Bukit Sion ▪ Pemandangan Kota Makale Pemda Kabupaten Sudah beroperasi
Bombongan Makale
▪ Panorama Alam
14 Air terjun ratte sarambu assing L. Potongloan Bittuang ▪ Air terjun LKMD Potongloan Sudah beroperasi
▪ Pemandian alam
15 Alloan Marinding Mengkendek Panorama Alam Keluarga Belum beroperasi
16 Air Panas Balla Balla Bittuang Mata air panas Pemda Belum beroperasi
17 Air Terjun (Sarambu) Tipali Uluwai Mengkendek Air Terjun Pemda Belum beroperasi
18 Air Terjun (Sarambu) Marintang Simbuang Mengkendek Air Terjun Pemda Belum beroperasi
19 Bumi Perkemahan Marintang Simbuang Mengkendek ▪ Kolam Pemancingan Keluarga Sudah beroperasi
▪ Perkemahan
20 Ollon Poton Bonggakaradeng Pannorama Alam/Savana Pemda Belum beroperasi
21 Permandian Air Panas Makula Tokesan Sangalla’ Selatan Permandian Air Panas Alam Keluarga Sudah beroperasi
22 Panorama Alam Kuesta Kendenan Bau Bonggakaradeng Panorama alam pegunungan - Belum beroperasi
23 Air Terjun Salu Sumassan Tanete Mappak Air terjun - Belum beroperasi
24 Batu Tallu Simbuang Simbuang Prasasti Batu Bersejarah - Belum beroperasi
25 Kolam Alam Kondodewata Kondodewata Mappak Kolam alam, dan panorama. - Belum beroperasi
26 Sarapeang Sarapeang Rembon Panorama Alam Keluarga Sudah beroperasi
IV - 21
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
▪ Kuburan Batu,
▪ Rante (tempat upacara kematian)
5 Tampang Allo Tongko Sarapung Sangalla’ ▪ Goa Alam dengan peti mati kuno dan Keluarga (Keluarga Sudah beroperasi
▪ patung patung milik bangsawan yang berada di dalam passanan tengko
peti mati yang sudah berumur ratusan tahun
▪ Panorama Alam
6 Suaya Kaero Sangalla’ Erong, Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang Keluarga (non Yayasan) Sudah beroperasi
mati
7 Baby Grave Tongko Sarapung Sangalla’ Passiliran (Kuburan Bayi yang disimpan di pohon hidup Keluarga (yayasan Sudah beroperasi
dengan cara di lubangi) mangunda’pa)
8 Potok Tengan Tengan Mengkendek ▪ Situs Purba Bersejarah Belum beroperasi
▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan
9 Pattan Pattan Saluputti ▪ Rumah Adat Toraja/ Tongkonan Keluarga Belum beroperasi
▪ Kuburan Batu dan
▪ Tau-Tau/ Patung Orang Mati
10 Kawasan Wisata Buntu Kandora Tengan Mengkendek ▪ Rumah Adat, Sejarah Orang Toraja Pemda Belum beroperasi
▪ Panorama Alam,
▪ Gunung/ Batu Kars dan
▪ Monyet
11 Liang Lo'ko Randanan Ke'pe Tinoring Mengkendek Gowa Alam Keluarga Belum beroperasi
12 Tongkonan Banua Kasalle Kaero Sangalla’ Tongkonan Cagar Budaya Keluarga Belum beroperasi
13 Buntu Tondon Tondon Mamullu Makale Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati Keluarga Belum beroperasi
14 Perkuburan Kuno Gandang Batu Gandangbatu Gandangbatu Sillanan Cagar Vudaya Prasejarah / Megalitik Kuburan Batu Keluarga Belum beroperasi
15 Benteng Ambeso Benteng Ambeso Gandangbatu Sillanan Sejarah Benteng Pertahanan Pemda Belum beroperasi
16 Liang Saratu’ Bau Bonggakaradeng Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum beroperasi
17 Kampung Tenun Malimbong Balepe Kerajinan Tenun/Tongkonan Keluarga Berhenti beroperasi
18 Tengko Batu Kamali Makale ▪ Situs Cagar Budaya, Keluarga Belum beroperasi
pentalluan ▪ Batu keramat
19 Pa'bakka (Liang Tau-Tau) Rea Saluputti Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati Keluarga Belum beroperasi
20 Sanduni (Liang) Banga' Banga Rembon Kuburan Batu/ Liang Pahat Keluarga Belum beroperasi
21 To'bai (Liang Tau-Tau) Ke'pe Tinoring Mengkendek Kuburan Batu/ Liang Pahat, Tau-Tau/ Patung orang mati Keluarga Belum beroperasi
22 Liang Pahat Rano Utara Rano Utara Rano Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum beroperasi
23 Goa Sullukan Tokesan Sangalla Selatan Gowa Alam Keluarga Belum beroperasi
24 Sirope' Lion Tondok Iring Makale Utara Kuburan Batu/ Liang Pahat, Erong Keluarga Belum beroperasi
25 Saluliang Kole Sawangan Balepe Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum beroperasi
26 Mapongka Marinding Mengkendek ▪ Hutan Pinus Pemda Belum beroperasi
▪ Panorama
27 A'pa' Pamanukan Pamanukan Gandangbatu Sillanan Tongkonan Keluarga Belum beroperasi
28 To' Puang Rante Alang Batualu Sangalla’ Selatan Perkampungan Tradisional dan Tempat bersejarah Keluarga Belum beroperasi
29 Kuburan Batu Ullin Ullin Rembon Kuburan Batu Pahat Keluarga Belum beroperasi
30 Ma'dandan (himpuan erong) Patudu Gandang Batu Silanan ▪ Perkumpulan erong (kuburan kuno) Keluarga Belum beroperasi
▪ keindahan alam serta dikelilingi oleh vegtasi yang hijau.
31 Batu Kapak Malimbong Balepe Belum beroperasi
32 Babakanaan Palipu Mengkendek Tebing Verikal dan Goa Belum beroperasi
33 Kuburan Batu Lemo Lemo Makale Utara Liang/ Lobang Pahat untuk peti mati dan Tau-Tau/ Patung Keluarga Sudah beroperasi
orang mati yang di masukkan kedalam liang/ lobang pahat
34 Museum Buntu Kalando Tongko Sarapung Sangalla’ Tongkonan Puang Sangalla' dan Museum Mini Sudah beroperasi
35 Sa’pak bayobayo Saluallo Sangalla Utara ▪ Kampung tenun, Keluarga Sudah beroperasi
IV - 22
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 4.3 Daftar Potensi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Lokasi
No. Nama Kawasan Wisata Daya Tarik Wisata Pengelolaan Keterangan
Desa/Kel/Lembang Kecamatan
▪ Wisata religi Sa'pak Bayo-bayo
▪ Gowa Alam
36 Ritual Aluk Todolo Mappak Mappak Perkampungan adat Rumpun Belum beroperasi
37 Gereja Tua Simbuang Lembang Simbuang Gereja tua. Jemaat Belum beroperasi
Simbuang
tempat untuk menginap saat melakukan perjalanan wisata. Setzer Munavizt menyatakan bahwa
4.2 FASILITAS PARIWISATA “Akomodasi adalah sesuatu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan, misalnya tempat
menginap atau tempat tinggal sementara bagi orang yang bepergian.” Lebih jauh Munavizt
Sarana Pariwisata (tourism superstructures) adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan menyatakan bahwa akomodasi wisata dapat berupa tempat dimana wisatawan dapat beristirahat,
pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung dan hidup serta menginap, mandi, makan, minum serta menikmati jasa pelayanan yang disediakan.
kehidupan perusahaan tersebut sangat tergantung pada kedatangan wisatawan. Maju
mundurnya sarana kepariwisataan tergantung pada jumlah kunjungan wisatawan sehingga setiap Undang-Undang Kepariwisataan yang mengatur tentang mekanisme pelaksanaan kegiatan
subsistem yang bekerja dalam kepariwisataan saling berhubungan satu dengan lainnya. pariwisata di Indonesia mengatur tentang usaha-usaha yang dapat dilakukan di bidang
4.2.1 Pusat Informasi Pariwisata pariwisata. Tidak diaturnya pengertian tentang akomodasi wisata dalam Undang-Undang
Pusat Informasi Pariwisata (Tourism Information Center/TIC) merupakan fasilitas pendukung Kepariwisataan membuatnya tidak adanya pengertian akomodasi wisata tersebut. Aturan yang
untuk membantu wisatawan menerima informasi seputar destinasi yang hendak mereka melandasi pentingnya pengadaan jasa akomodasi wisata terdapat pada Pasal 14 UU
kunjungi. Pusat Informasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja telah diresmikan pada tahun 2019, Kepariwisataan mengenai usaha-usaha wisata. Usaha-usaha yang diatur pada Pasal 14 Ayat (1)
yang terletak di kompleks pasar Seni pusat kota Makale Ibukota Kabupaten Tana Toraja. menyebutkan bahwa : “Usaha pariwisata meliputi : (a) daya tarik wisata; (b) kawasan pariwisata;
(c) jasa transportasi wisata; (d) jasa perjalanan wisata; (e) jasa makanan dan minuman; (f)
TIC menjadi sumber segala informasi yang berkaitan dengan Pariwisata Tana Toraja mulai dari penyediaan akomodasi; (g) penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi; (h)
informasi objek wisata, penginapan transportasi, restoran dan lain sebagainya agar setiap penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran; (i) jasa informasi
wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja dapat mengakses informasi dengan mudah. Selain pariwisata; (j) jasa konsultan pariwisata; (k) jasa pramuwisata, (l) wisata tirta; dan (m) spa.”
itu, TIC ini juga dapat berfungsi sebagai administrasi kepariwisataan yang mendata setiap Penyediaan akomodasi sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 14 Ayat (1) huruf (a) UU
kunjungan wisatawan serta tujuan-tujuan ke daya tarik tertentu sehingga Pemerintah Kabupaten Kepariwisataan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan akomodasi wisata merupakan hal yang
Tana Toraja kedepannya akan mendapat gambaran perkembangan wisatawan serta kawasan- perlu disediakan oleh penyedia jasa pariwisata bagi wisatawan untuk menunjang kegiatan
kawasan wisata mana saja yang menjadi unggulan kunjungan wisatawan. wisatawan selama berlibur di tujuan wisata.
4.2.2 Akomodasi Kegiatan pariwisata yang didasari kegiatan bisnis disebut dengan akomodasi komersil. Akomodasi
Akomodasi wisata merupakan hal penting dalam memenuhi kebutuhan wisatawan yang sedang komersil dibidang pariwisata bertujuan mencari keuntungan dengan menawarkan barang
berwisata. Para wisatawan cenderung membutuhkan akomodasi yang memiliki beragam varian maupun jasa kepada wisatawan untuk mendapatkan keuntungan (profit). Setzer Munavizt
harga maupun macamnya. Bentuk akomodasi primer yang dibutuhkan wisatawan yaitu adanya
IV - 23
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
menyatakan, terdapat beberapa jenis akomodasi wisata yang biasa dipakai untuk tujuan komersil, unit penginapan, dan 6 unit Wisma, Home Stay 8 unit serta fasilitas akomodasi lain seperti villa-
yaitu Hotel, Motel (motor hotel), Hostel, Cottage dan Bungalow, Iin, dan Guest House. villa yang tersedia di DTW.
Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Indonesia, peran Hotel yang tersedia dengan berbagai tingkatan dari tingakat melati sampai dengan hotel
akomodasi pariwisata sangat penting peranannya dalam mewadahi kebutuhan wisatawan. Peran berbintang 3 (tiga) yaitu Sahid Hotel yang terletak di Kelurahan Rante Kalua Kecamatan
pihak swasta dalam penyediaan sarana akomodasi sangat tergantung pada perkembangan Mengkendek, kemudian ada Hotel Pantan dengan kelas bintang 2 (dua) terletak di Kota Makale.
investasi didaerah, dimana Kabupaten Tana Toraja dilihat sebagai salah satu potensi yang dapat Selain akomodasi umum, beberapa DTW juga telah tersedia penginapan dan villa-villa terutama
berkembang akomodasi baik bagi kepentingan pariwisata maupun kepentingan lainnya. DTW-DTW alam yang mempunyai daya tarik pada waktu-waktu tertentu dan jarak yang cukup
jauh dari pusat kota seperti DTW Pango Pango yang juga memiliki daya tarik pemandangan alam
Bagi kepentingan pariwisata, keberadaan akomodasi wisata dapat dibagi menjadi 2 kategori
pada pai hari.
berdasarkan pemanfaatannya, yaitu akomodasi umum dan akomodasi khusus. Akomodasi umum
yaitu fasilitas akomodasi yan disediakan bagi berbagai kepentingan sebagai tempat penginap, Berdasarkan rincian data akomodasi yang dikumpulkan melalui Dinas Pariwisata dan beberapa
beristirahat, dan lain sebagaimana pengertian akomodasi secara umum yang pada umumnya diantaranya dilakukan tinjauan kelapangan, data tersebut jika dilihat dari tingkat hunian,
tersedia di pusat-puusat aktivitas wilayah seperti perkotaan, sekitar, perkantoran. Sedangkan menunjukkan bahwa keberadaan akomodasi di Tana Toraja masih cukup kecil pemanfaatannya
akomodasi khusus yaitu jenis akomodasi yang khusus disediakan bagi kegiatan wisatawan dan dimana tingkat hunian umumnya masih dibawah 50% dari ketersediaan fasilitas yang ada disetiap
terletak dikawasan-kawasan wisata serta dalam berbagai bentuk akomodasi seperti hotel, jenis akomodasi, bahkan ada yang hanya mencapai 20%. Kondisi ini menunjukkan bahwa
penginapan, goest house, villa, dan sebagainya. kegiatan wisatawan jika dibandingkan dengan kunjungan wisatawan terdapat beberapa
kemungkinan yang terjadi sehingga tingkat hunian masih relatif rendah, diantaranya wisatawan
Dalam pembahasan ini, secara umum akan diuraikan potensi akmodasi yang tersedia di
yang berkunjung boleh jadi tidak menginap di Tana Toraja, kemungkinan lain memanfaatkan
Kabupaten Tana Toraja yang juga merupakan bagian dari akomodasi pariwisata. Kota Makale
tempat tinggal sanak saudara wisatawan, serta kemungkinan data yang belum terhimpun. Berikut
sebagai pusat informasi pariwisata/TIC merupakan pilihan investasi dalam bidang perhotelan,
rinciannya.
sehingga sebaran hotel-hotel dan akomodasi lainnya lebih cenderung berada di Kota Makale dan
sekitarnya. Berdasarkan hasil observasi lapangan, terdapat kurang lebih sekitar 8 unit hotel, 4
Tabel: 4.4 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat
No. Nama dan Jenis Akomodasi Alamat Fasilitas Ket.
Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
1 Hotel Sahid*** Getengan Kec. Mengkendek. Jl Jurusan ▪ 24 jam room service 16 36 850.000 - 30% Bintang 3
Makassar ▪ Restaurant
▪ Swiming pool
▪ Metting room
2 PantanToraja Hotel** Makale. Jl Pongtiku No. 116 ▪ Laundry 6 31 500.000 500.000 45% Bintang 2
▪ Swimming Pool
▪ Restaurant
▪ Room Service
▪ Wifi
▪ Tv/Kamar
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room
Kapasitas 50 s/d 300
3 Hotel Sangalla' Makale. Jl Pongtiku No. 509 ▪ Meeting Room 14 7 200.000 200.000 20% Melati II
▪ Wi-fi 150.000 150.000
▪ 8 kamar Tv
▪ Restoran
4 Hotel Grand Metro Permai Makale. Jl Pongtiku No. 445 ▪ AC, TV, Air Panas 14 12 380.000 650.000 20% Hotel
▪ Restoran
5 Hotel Batupapan Makale. Jl Pongtiku No. 130 ▪ wi-fi 1 18 330.000 330.000 20% Melati III
▪ Tv /kamar 220.000 220.000
IV - 24
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 4.4 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat
No. Nama dan Jenis Akomodasi Alamat Fasilitas Ket.
Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
110.000 110.000
6 Puri Artha Suites Hotel Toraja Makale. Jl Pongtiku No. 114 ▪ Tv, Kulkas, Shower, 8 24 310.000 275.000 30% Melati III
Air Panas 400.000 350.000
▪ Meeting Room
▪ Restoran
7 Makula Hotel Sangalla Selatan No.37 Kolam Air Panas 3 3 100.000 100.000 20% Melati III
8 Hotel Gosyen Efata Jl. Poros Rantepao-Makale, Sarira, Makale - - - - - - -
Utara.
9 Wisma Louise Lestari Makale. Jl Pongtiku No. 130 - 11 3 200.000 200.000 40% Melati II
10 Wisma Kota Jaya Makale. Jl Pongtiku. - - 15 - 100.000 45% Melati
11 Wisma Litha Makale. Jl Pongtiku No. 97 - 5 4 30.000 80.000 50% Melati
12 Wisma Bungin Makale. Jl Nusantara - - 13 - 50.000 50% Melati
13 Wisma Merry Makale. Jl Pongtiku - - 5 - 150.000 40% Melati
14 Wisma Yani Randanan Makale. Jl Nusantara - 1 6 50.000 75.000 20% Melati
15 Lemo HomeStay Makale Utara ▪ Air Panas / Dingin 4 - 250.000 - 20% Home stay
▪ Tv Ruang Tamu
16 Home Stay Buntu Pantan Makale. Jl. Buntu Pantan No. 52. - 20 4 150.000 250.000 30% Home stay
17 Villa Manggasa Jl. Landa-landa Tv/Kamar 13 - - - 20% Melati
18 Ghitari Lodge Homestay Sangalla - - - - - - Melati
19 HomeStay Kalembang Indah Sangalla Utara - - - - - 40% Home stay
Sangalla
20 Homestay Anugrah Rufus JL. Makale Makassar - 30 - 150.000 - 10% Home stay
21 Santung Mamullu Homestay JL. Makale Makassar - 6 - - - 10% Home stay
22 Homestay Pioner JL. Makale Makassar Km. 16 - 10 - - - - Home stay
23 Penginapan Joni Tandi Makale. JL. Wolter wongsidi no. 106A - - - - - - Home stay
24 Homestay Wilem Somalinggi Makale Utara. Lemo - - - - - - Home stay
25 Villa Pango Pango Makale Utara. Kel. Topasan - 4 - - - 10% Home stay
26 Penginapan Mangga Mengkendek. Kepe Tinoring - 1 4 100.000 - - Home stay
27 Penginapan Micel Samar Pasak Makale. Mandetek - - 6 100.000 - - Melati
28 Villa Tengan Palipu, Mangkendek - - - - - - -
29 Bukit Indah Rintho 7 Jaya Jl Merdeka Km 1, Tondon Mamullu, Makale - - - - - - -
30 Masokan Homestay Jl. Tritura No. 83, Kamali Pentalluan, Makale - - - - - - -
31 Wisma Elsindoe Jl. Nusantara, Makale - - - - - - -
32 Karatuan Homestay Sallualo, Sangalla Utara - - - - - - -
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020
IV - 25
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
IV - 26
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
4.2.3 Agen dan Biro Perjalanan Wisata Tabel: 4.6 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau Tahun
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
menyediakan/mengusahakan objek wisata dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan Beroperasi
usaha lain yang terkait dengan bidang tersebut. Objek dan daya tarik wisata adalah segala 5 BIRO PERJALANAN WISATA CV. MEGA PERMAI JL. PELITA NO. 83 KEL.
sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Kawasan wisata adalah kawasan dengan luas tertentu BOMBONGAN, KEC. 2014
yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. MAKALE
6 BIRO PERJALANAN WISATA CV. MELONA GRASIA JL. PASAR BARU NO. 52 2015
Soekadijo (2000) mendefinisikan pariwisata sebagai segala kegiatan dalam masyarakat yang 7 JASA BIRO PERJALANAN PT. MANTING JAYA MAMULLU
2015
berhubungan dengan wisatawan. Pariwisata memberikan peluang kepada masyarakat untuk WISATA ANUGRAH
berusaha atau berwirausaha, jenis-jenis usaha yang ada kaitannya dengan pariwisata tergantung 8 JASA BIRO PERJALANAN PT. CELEBES BALI JL. MERDEKA
2015
dari kreativitas para pengusaha swasta baik yang bermodal kecil maupun besar untuk WISATA WISATA
memberikan jasa atau menawarkan produk yang sekiranya diperlukan oleh wisatawan. Usaha 9 BIRO PERJALANAN WISATA KARTINI TRAVEL SALUPUTTI 2018
pariwisata secara menyeluruh dapat dikatakan sebagai industri pariwisata, tetapi tidak 10 BIRO PERJALANAN WISATA AMOS TRAVEL TONDON MAMULLU 2019
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
diibaratkan sebagai pabrik yang mengolah barang mentah menjadi barang jadi, serta ada
produknya. Industri pariwisata adalah keseluruhan usaha-usaha yang dapat dinikmati wisatawan
semenjak awal mula proses ketertarikan untuk berwisata, menikmati lokasi daerah tujuan wisata 4.2.4 Jasa Boga dan Restoran
sampai pada proses akhir wisatawan tersebut pulang menginjakkan kakinya sampai di rumah, Usaha penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan
kemudian mengenangnya. untuk proses pembuatan,penyimpanan dan/atau penyajiannya merupakan standar usaha
makanan dan minuman untuk kegiatan wisata. Kabupaten Tana Toraja memiliki banyak usaha-
Usaha jasa pariwisata adalah suatu bisnis yang kegiatan utamanya menjual jasa-jasa
usaha makanan dan minum yang tersebar dan sebagian besar tersedia di Kota Makale.
pariwisata kepada para wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Agen Perjalanan, Biro
Perjalanan dan Tour Operator (Usaha Jasa Perjalanan) : Kegiatan Biro Perjalanan lebih luas lagi Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun
Tabel: 4.7
2020
dibandingkan dengan Biro Perjalanan. Selain usaha daya tarik wisata, akomodasi, serta
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
transportasi, jenis usaha pariwisata lain dapat berupa Usaha Perjalanan Wisata, Usaha Makanan
1. Rumah Makan Restourant BatuKila Hotel Sahid Toraja Ge'tengan No.1 Kec. Mengkendek. Jl.
dan Minum, penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan Rekreasi, SPA, Pertemuan, dll. Jurusan Makassar
Kabupaten Tana Toraja telah tersedia cukup banyak usaha-usaha yang mendukung kegiatan 2. Restourant Restourant Pantan Toraja Hotel Jl. Pongtiku Makale
3. Rumah Makan Warung Panorama Jl. Sangalla' Makale
kepariwisataan didaerah tersebut. Setidaknya terdapat 10 (sepuluh) agen/biro perjalanan wisata
4. Rumah Makan Warung Makan Kawanua Jl. Poros Makale-Rantepao
dari berbagai perusahaan yang telah beroperasi dari tahun 2012 sampai sekarang, sementara 5. Rumah Makan Warung Makan Hj. Idaman Jl. Merdeka No. 46. Makale
agen-agen perjalanan wisata lain terkait dengan perjalanan wisata ke Tana Toraja juga tersedia 6. Restourant Restouran dan Permandian Air Panas Makula Sangalla Selatan No. 37
di Kota Makassar sebagai TIC Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut rincian beberapa agen perjalanan 7. Rumah Makan Rumah Makan Solata Jl. Poros Makale- Mks Km. 2 Makale
wisata yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja yang dihimpun dari Dinas Pariwisata Kabupaten. 8 Restourant Restourant Hotel Sangalla Makale Jl. Pongtiku
9 Restourant Restourant Puri Artha Makale Jl. Pongtiku No. 114
Tabel: 4.6 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 10 Rumah Makan Lesehan Putri Makale. Jl. Makale-Rantepao
Tahun 11 Rumah Makan Rumah Makan Depot 99 Makale Jl. Pongtiku
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat 12 Rumah Makan Rumah Makan Mitra Fatma Jl. Ampera Makale
Beroperasi
1 AGEN PERJALANAN WISATA TRAVEL MORIA JL. PONGTIKU PANTAN 13 Rumah Makan Rumah Makan Setia Kawan Jl. Km2. poros Makassar Toraja
2012 14 Rumah Makan Café Resto Botang Jl. Poros Makale Makassar/Botang
MAKALE
2 USAHA PENYEDIAAN CV. BINA BUNGIN JL. NUSANTARA NO. 35 15 Rumah Makan Café Bambu Jl. Poros Makale Makassar/Botang
2012 16 Rumah Makan Rumah Makan Tepi Sawah Jl. Poros Makale Makassar
AKOMODASI SEJAHTERA MAKALE
Mengkendek
3 BIRO PERJALANAN WISATA CV. BINA BUNGIN JL. NUSANTARA NO. 35
2012 17 Rumah Makan Restoran/Café Kandean Jl. Makale Rantepao Km.8 Kel. Lemo
SEJAHTERA MAKALE Kec. Makale Utara
4 TOURS & TRAVEL PT. KHATULISTIWA RANTELEMO KEL. 18 Rumah Makan Buli-Buli Café Jl. Pongtiku, No. Pantan
NUSANTARA HIJAU SARIRA, KEC. MAKALE 2013 19 Rumah Makan Astrini Jl. Pongtiku . Makale Utara
UTARA 20 Rumah Makan Burake Hill Resto Jl. Buntu Burake
IV - 27
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun
Tabel: 4.7 Tabel: 4.7
2020 2020
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
21 Rumah Makan Rumah Makan Pango-Pango Kel. Botang Km.3 61 Rumah Makan WARUNG MAKAN PAULINA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
22 Restourant café & resto Jl. Sultan hasanuddin no 9 WARUNG LINGKAR NO.02
23 Rumah Makan Rumah Makan Almas Jl. Pongtiku 62 Rumah Makan STAND WARUNG MAKAN YULI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG
24 Rumah Makan Rumah Makan 52 Jl. Pongtiku No. 52 LINGKAR NO.8
25 Rumah Makan Rumah Makan Sikamali Makale 63 Rumah Makan RUMAH MAKAN REGINA JL. POROS KM.6 MENGKENDEK
26 Rumah Makan Rumah Makan Bukit Indah Jl. Merdeka Makale 64 Rumah Makan DEPOT CHRISTO JL. NUSANTARA
27 Rumah Makan Fearly Resto & Café Jl. Tritura No 80 65 Rumah Makan WARUNG MAKAN SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
28 Rumah Makan Warung Pojok Agung Jl. MERDEKA NO 23 WARUNG LINGKAR/15
29 Rumah Makan Kedai Mamie Jl. Jendral Sudirman No. 22 66 Rumah Makan WARUNG BAKSO SOLO PASAR BARU SALUALLO
30 Rumah Makan Bakso babi alang2 Jl, Merdeka 67 Rumah Makan WARUNG MAKAN FRANSISKA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
31 Rumah Makan Kios Ujung Pandang Kec Makale Utara WARUNG LINGKAR NO.17
32 Rumah Makan Lesehan Topal Kec Makale Utara 68 Rumah Makan WARUNG MAKAN ICHAL BURAKE
33 Rumah Makan Rumah Makan Krita Kec Makale Utara 69 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM WONG SOLO JL. PONGTIKU NO.23
34 Rumah Makan Rama Indah 70 Rumah Makan WARUNG MAKAN SUNAN DRAJAT PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
35 Rumah Makan Harapan Barto WARUNG LINGKAR NO.30
36 Rumah Makan Rumah Makan Marannu Kec Makale Utara 71 Rumah Makan WARUNG MAKAN WARMEL PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
37 Rumah Makan Warung Kopi Kebun Kec. Sangalla Selatan F2/08
38 Rumah Makan Warung Kopi Wala Kec. Sangalla Selatan 72 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM BAKSO WONG SOLO PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
39 Rumah Makan Rumah Makan Rahmat Kec. Rantetayo WARUNG MAKAN/29
40 Rumah Makan Warung Makan Ma Isas Kec. Rantetayo 73 Rumah Makan RUMAH MAKAN BAMBAPUANG JL. NUSANTARA
41 Rumah Makan Rumah Makan Ma Dewi Terminal To Ao Makale 74 Rumah Makan RUMAH MAKAN BOTANG KM. 3 BOTANG
42 Mendoe Selatan, Kel. Tambunan, Kec. 75 Rumah Makan WARUNG MAKAN SAMANTHA KAMALI
rumah Makan WARUNG TIGA SEKAWAN 76 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. NUSANTARA NO.47
Makale Utara
43 Rumah Makan WARUNG MAKAN VITRA JL. JEND. SUDIRMAN 77 Rumah Makan ALMAS "BAKSO BABI" JL. PONGTIKU PANTAN
44 Rumah Makan WARUNG WESTI PASAR BARU 78 Rumah Makan WARUNG SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
45 Rumah Makan WARUNG MAKAN BERKAT INDAH LINGKUNGAN TARA'PA' WARUNG LINGKAR NO.7
46 Rumah Makan WARUNG MAKAN LADIVA [Link] BARU NO.52 79 Rumah Makan WARUNG MKN SABAR TO'KALUKU
47 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK 80 Rumah Makan CITRA DEANY Jl. Tritura No 27
WARUNG GALAMPANG NO.11 81 Rumah Makan RUMAH MAKAN EMILIANA
48 Rumah Makan WARUNG MAKAN TONDON PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/3 82 Rumah Makan Pioner Tampo
49 Rumah Makan WARUNG MAKAN PANTAN JALAN PONGTIKU PANTAN 83 CAFE LARUNA CAFÉ JL. JURUSAN MAKALE NO. 9
50 Rumah Makan WARUNG MAKAN 31 PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG 84 CAFE TEPIAN CAFÉ JL. PONGTIKU KM. 3 SE'PON MAKALE
LINGKAR/31 85 CAFE PRO CAFÉ & BAR JL. PONTIKU NO.49 MAKALE
51 Rumah Makan WARUNG MAKAN LESTARI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG 86 CAFE MASAGENA KARAOKE SE'PON MAKALE
LINGKAR 87 CAFÉ/KARAOKE CAFÉ SAHID JL. RAYA GE'TENGAN NO.7 KEC.
52 Rumah Makan RUMAH MAKAN IDAMAN JL. MERDEKA MENGKENDEK
53 Rumah Makan WARUNG MAKAN TIUR PASAR WILAYAH MAKALE BLOK 88 CAFÉ CAFÉ KANDORA JL. POROS MAKALE- MAKASSAR KM.7
F2/12 TENGAN
54 Rumah Makan WARUNG MAKAN SE'PON SE'PON 89 CAFÉ SENDANA CAFÉ JL. PASAR BARU NO. 165 MAKALE
55 Rumah Makan RUMAH MAKAN KURNIA SUBUR JL. PASAR BARU NO.53 90 Cafe Harvin cristine Jl. Pongtiku
56 Rumah Makan RUMAH MAKAN AROMA TORAJA JL. MERDEKA NO.22 91 Cafe café early Jl. TRITURA
57 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. [Link] NO.166 92 Café, dan
58 Rumah Makan WARUNG MAKAN MAMA ISAS JL. POROS BATUPAPAN rumah MASAGENA CAFÉ Jl. Pongtiku, Kel. Pantan, Kec. Makale
59 Rumah Makan WARMIE MARENDENG JL. PONGTIKU bernyanyi
60 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK 93 RESTAURAN RESTAURAN KAMPUNG WISATA ASTRINI JL. PONGTIKU MANDETEK KEC.
WARUNG LINGKAR NO.05 MAKALE UTARA
IV - 28
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Jenis Usaha-usaha Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun Tabel: 4.8 Fasilitas Perbankan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Tabel: 4.7
2020
No. Bank/ATM Nama Kantor Alamat
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
94 SPA PERAWATAN WAJAH TENGAN KK BRI Res Tana Toraja Jl. Bhayangkara No. 1 Makale
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 KC Makale JL. Jend. A. Yani No. 96
UNIT Bombongan JL. Veteran No. 3
4.2.5 Fasilitas Perbankan TERAS BRI Keliling Jl. Veteran No. 3, Kel. Bombongan
Sebagai salah satu fasilitas penting didalam kegiatan pariwisata yang sangat dibutuhkan oleh KCP BRI Tana Toraja Jl. Musa, Kel. Bombongan, Kec. Makale
wisatawan yaitu ketersediaan fasilitas perbankan serta sebarannya. Di Kabupaten Tana Toraja UNIT Mengkendek Makale Jl. Raya Getengan Poros Makale-
terdapat beberapa bank diantaranya: Bank BNI, Bank BRI, Bank BTN, Bank BTPN, Bank Mengkendek
Danamon, Bank Mandiri, Bank Pundi, dan Bank Sulsel (Bank Sulselbar). UNIT Salu Allo Makale Jl. Buntu Masakke No. 56
4 Danamon Tana Toraja – Pasar Makale JL. Pasar Barutana
Sebagai salah satu fasilitas penting dalam kegiatan kepariwisataan didaerah, perbankan bukan ATM Makale 2 JL. Merdeka No. 26
hanya sebagai wadah aliran dana, namun juga dapat berperan aktif dalam promosi dan 5 BTN Makale Jl. Hasanuddin No. 1
kerjasama lain dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja. Oleh karena itu, 6 BTPN Makale Paku Pentalluan, Kel. Kamali Pentalluan
pemerintah daerah dengan berbagai skema kerjasama dapat merangkul pihak perbankan 7 Mandiri ATM/ADM Apotik Sinar Kasih Jl. Nusantara
terutama BUMN dalam upaya tersebut yang diharapkan juga membawa dampak positif bagi KCp Toraja Makale Jl. Sultan Hasanuddin No. 2
kegiatan perbankan di Kabupaten Tana Toraja. Berikut rincian perbankan yang tersedia di 8 Sulselbar ATM/ADM Syariah. Office Channelling Jl. Ampera No. 40
Kabupaten Tana Toraja: Cabang Makale
Cabang Makale Jl. Ampera No. 40
Tabel: 4.8 Fasilitas Perbankan di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
9 Bank KCP Makale -
No. Bank/ATM Nama Kantor Alamat Papua
1. BNI ATM Kantor PKK Kab. Tana Toraja Jl. Ampera Sumber: Tana Toraja Archives, Infomasi Bank, 2020
ATM Capem Toraja JL. Ahmad Yani No. 64, Tana Toraja
ATM KLN Tana Toraja 2 JL. Ahmad Yani No. 64, Tana Toraja
ATM KCP Tana Toraja JL. Pangeran Diponegoro NO. 25 4.3 FASILITAS UMUM PENDUKUNG PARIWISATA
ATM RS. Elim JL. Jend. Sudirman 4.3.1 Fasilitas Kesehatan
ATM Kampus I UKI JL. Nusantara No. 12 Makale Fasilitas kesehatan yang dimaksud sebagai pendukung kegiatan pariwisata adalah ketersediaan
ATM KK Makale JL. MERDEKA No. 10, Makale
fasilitas yang dapat digunakan salah satunya untuk mendukung atau menjamin keberadaan
KK Makale JL. MERDEKA No. 10, Makale
wisatawan tetap mendapat pelayanan kesehatan khususnya pada kondisi darurat. Data statistik
KCP Tana Toraja JL. Diponegoro No. 25
Kabupaten Tana Toraja, banyaknya fasilitas kesehatan adalah 733 unit yang terdiri atas Rumah
2 BRI UNIT Salubarani JL. Raya Salubarani
Sakit 4 unit diantaranya RSU 3 unit dan RS. Bersalin 1 unit, kemudian Puskesmas sebanyak 21
UNIT Pangli JL. Salubarani Pangli Pallawa
UNIT Makale JL. Pongtiku
unit, Posyandu 328 unit. Dapat dikatakan bahwa penyebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten
UNIT Rantelemo Makale JL. Poros Rantepao Makale Km 8 Tana Toraja untuk saat sekarang ini sudah tersebar secara merata disetiap wilayah kecamatan.
UNIT Bombongan Jl. Veteran No. 3, Kel. Bombongan, Kec. Potensi tersebut secara umum dapat dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan bagi wisatawan,
Makale namun yang terpenting dalam mendukung kegiatan wisatawan yaitu ketersediaan fasilitas
UNIT Mengkendek Jl. Poros Makale Rantepao, Kel. Rante kesehatan disetiap DTW khususnya yang telah dikembangkan oleh pemerintah, masyarakat,
Kalua
swasta maupun kerjasama diantaranya. Fasilitas yang wajib disediakan yaitu sejenis klinik
UNIT Salu Allo Jl. Psr Lama Sangalla No. 69, Katumbang
pengobatan pada DTW untuk kebutuhan darurat kesehatan bagi wisatawan yang berkunjung ke
TERAS Pasar Makale Jl. Pasar Baru No. 18, Kel. Tondong
DTW yang tersedia.
UNIT Saluputti Jl. Poros Makale Simbuang, Lingkungan
Simbuang
UNIT Salubarani Jl. Poros EnrekangToraja, Kel. Salubarani
UNIT Makale Jl. Poros Makale, Kel. Pantan, Kec. Makale
IV - 29
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
4.3.2 Fasilitas Pendidikan Sejumlah ruas-ruas jalan menuju DTW telah dibangun dan pemeliharaan fisik seperti di Pango
Pentingnya fasilitas pendidikan dalam mendukung kegiatan pariwisata didaerah bukan hanya Pango, Buntu Burake, dan lain-lain.
dengan ketersediaan fasilitas pendidikan umum saja, namun diharapkan tersedia fasilitas
Penyebaran daya tarik wisata yang sangat banyak di Tana Toraja menuntut adanya
pendidikan yang mengembangkan program-program studi yang berbasis pada kepariwisataan
pengembangan akses yang layak bagi kegiatan pariwisata. Salah satu keunggulan dari sebaran
khususnya pada tingkat pendidikan tinggi seperti sekolah pariwisata, program studi pariwisata,
daya tarik wisata didaerah ini yaitu sebagian besar DTW-DTW merupakan bagian dari
program studi pendidikan seni dan budaya, perhotelan, pengembangan wilayah, tata boga,
perkampungan-perkampungan yang sekaligus merupakan bagian dari pelayanan dasar terhadap
bahasa asing, dan lainnya sehingga secara mandiri Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dapat
masyarakat. Secara umum, aksesibilitas terhadap jangkauan DTW di Tana Toraja terlayani cukup
mengembangkan sumberdaya manusia bidang kepariwisataan didaerahnya.
baik dan umumnya dibangun jalan-jalan beton dan aspal yang dapat menjangkau sampai ke
Salah satu fasilitas pendidikan tinggi di Kabupaten Tana Toraja yaitu Sekolah Tinggi Agama kawasan-kawasan wisata, bahkan penataan akses internal kawasan wisata telah banyak
Kristen Negeri (STAKN) Toraja yang terletak di Rante Kalua Kecamatan Mengkendek, telah dilakukan untuk mendukung kegiatan wisatawan didalam setiap DTW.
merencanakan mengembangan program studi yang berbasis kepariwisataan dan budaya yang
Secara eksternal wilayah, Kabupaten Tana Toraja dilayani oleh moda angkutan darat dan udara
dapat mendukung pengembangan kepariwisataan Tana Toraja. Bahkan STAKN telah melakukan
(tahap pengembangan bandara). Moda angkutan darat yang digunakan dari dan ke Tana Toraja
usulan transformasi dari sekolah tinggi menjadi institut dengan Nama Institut Agama Kristen
dapat dicapai dengan berbagai jenis kendaraan baik roda dua maupun roda empat dan bus.
Negeri (IAKN) yang disertai dengan usulan-usulan pengembangan program studi yang ada serta
Kabupaten Tana Toraja dilalui oleh ruas jalan nasional sehingga dapat ditempuh dari berbagai
membuka beberapa program studi yang sangat mendukung pembangunan kepariwisataan Tana
arah, khususnya dari Kota Makassar, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan umum bus
Toraja.
dari berbagai perusahaan transportasi yang tersedia seperti Litha and Co, Manggala Tran, Metro
Permai, Bintang Prima, dll yang perwakilannya sudah ada di Kota Makale dan sekitarnya. Untuk
4.3.3 Fasilitas Peribadatan
jalur udara saat ini telah dilakukan uji coba penerbangan dan tahap pengembangan Bandara
Berdasarkan data tahun 2018, sarana peribadatan yang ada di Kabupaten Tana Toraja sebanyak
Buntu Kunik telah mencapai tahap akhir sehingga kedepannya transportasi udara menuju Tana
1.017 unit, yang terdiri atas, sarana Mesjid 45 unit, Mushallah 4 unit, Gereja Khatolik 161 unit,
Toraja akan menjadi moda yang sangat efisien melakukan perjalanan ke Tana Toraja.
Gereja protestan 704 unit. Keberadaan fasilitas tersebut didominasi oleh Gereja protestan, hal
tersebut disebabkan penganut Agama Kristen Protestan sangat dominan di Kabupaten Tana Secara internal, sarana transportasi yang dapat digunakan oleh wisatawan menuju ke tempat-
Toraja. Selain itu, dari hasil survey lapangan keberadaan akan fasilitas peribadatan tersebut tempat wisata dengan menggunakan jasa travel dan bus-bus pariwisata yang telah tersedia, serta
sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. kendaraan-kendaraan sewa yang disediakan oleh perusahaan maupun perorangan di Tana Toraja
baik roda dua maupun roda empat.
Untuk kepentingan pariwisata, pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam pengembangan setiap
daya tarik wisatanya terutama DTW yang telah dikembangkan umumnya telah menyediakan
4.5 PRASARANA UMUM PENDUKUNG PARIWISATA
fasilitas peribadatan seperti mushallah.
4.5.1 Prasarana Perhubungan
4.4 AKSESIBILITAS PENDUKUNG PARIWISATA 1. Transportasi Darat
Jalan merupakan sarana angkutan darat yang sangat penting untuk memperlancar kegiatan
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melalui berbagai program pembangunan infrastruktur yang
perekonomian. Panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018
didukung oleh pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tengah gencar
menurut data startistik mencapai 1.252 km. Panjang jalan pada tahun 2018 mengalami
membangun sejumlah prasarana wilayah yang mendukung peningkatan aksesibilitas pelayanan
peningkatan sepanjang 199,62 km dari tahun sebelumnya. Jika dilihat dari jenis permukaan
kegiatan pariwiisata didaerah. Salah satu perwujudan tersebut dilakukan dengan pengembangan
jalan maka terdapat 352,67 km jalan yang telah diaspal, tidak diaspal mencapai 888,79 km,
ruas-ruas jalan yang selain untuk mengakomodasi aktivitas masyarakat, juga diharapkan menjadi
sedangkan sisanya 210,56 km jenis permukaan lainnya. Jika ditinjau dari kondisi jalan maka,
sarana untuk kegiatan pariwisata yang memiliki daya tarik wisata tersebar diberbagai bagian
masih banyak jalan dengan kondisi rusak berat sepanjang 306,69 km dan rusak 210,90 km.
wilayah Kabupaten Tana Toraja.
Dibandingkan tahun lalu panjang jalan kondisi baik meningkat 52,17 persen sepangjang
Salah satu ruas jalan misalnya yang dikembangkan yaitu ruas jalan lingkar pariwisata yang 582,19 km.
dibangun untuk mengakomodasi perjalanan wisatawan serta membuka keterisolasian beberapa
2. Terminal
bagian wilayah kabupaten. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya, perkembangan
Keberadaan terminal sebagai titik simpul pergerakan arus kendaraan, orang dan barang
jaringan transportasi darat (jalan) di Kabupaten Tana Toraja cukup pesat pertumbuhannya.
adalah penting untuk diamati. Jumlah terminal di Kabupaten Tana Toraja hanya 1 lokasi,
IV - 30
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
yaitu terminal Makale dengan terminal bertype C. Lokasi terminal Makale tersebut telah Dengan jarak ± 5 km dari jalan Poros akan memudahkan wisatawan dalam menjangkau
dimanfaatkan sebagai simpul utama pergerakan angkutan. Kondisi terminal type C Makale tempat-tempat wisata di Toraja. Dalam pengembangan KSPN Toraja, salah satu strategi
saat ini terdiri atas pelataran-pelataran angkutan umum dan dilengkapi bangunan-bangunan pengembangannya adalah meningkatkan level Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui
halte untuk menumpang dengan kondisi belum maksimal. Pembangunan bandara baru Buntu Kunik yang mampu menerbangkan wisatawan
Mancanegara dan wisatawan Nusantara langsung dari Bali sebagai darah transit utama
wisman dan daerah daerah lain di indonesia menuju kawasan pariwisata Toraja, sehingga
wisman dan wisnus tidak perlu lagi melakukan perjalanan darat yang panjang dan
melelahkan selama hampir 8 jam dari makasar menuju Makale. Selain itu juga menjadikan
jalan poros Enrekang-Makale-Ratenpao-Palopo menjadi jalan dengan status handal dan
mampu mendukung aktivitas trasnportasi wisatawan dengan jumlah besar. Perkembangan
terakhir terkait pengembangan bandara Buntu Kunik ini belum lama ini telah dilakukan uji
coba penerbangan.
Alur penerbangan Bandara Buntu Kunik (BBK) diharapkan menjadi alur penerbangan regional
meliputi :
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar – Bali – Jogya
Gambar 4.5. Situasi Terminal Makale (sumber: Dokumentasi Survey, 2020)
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Manado – Bali
Pemanfaatan terminal tersebut melayani angkutan kota berupa AKDP dan AKAP. Hal ini ▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar – Singapura – Jepang
memperlihatkan bahwa kategori terminal Makale sudah tidak layak dengan type terminal
Type C. Oleh karena itu, di perlukan peningkatan status terminal dan pengembangan 4.5.2 Pelayanan Energi Kelistrikan
terminal baru seiring dengan bertambahnya alat transportasi darat. Energi listrik sudah menjadi kebutuhan setiap orang dan pemenuhan kebutuhan listrik menjadi
salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan disektor kepariwisataan
3. Transportasi Udara
Kabupaten Tana Toraja. Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Tana Toraja dalam mengatasi
Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan udara ke Tana Toraja.
masalah kelistrikan di daerah perbatasan adalah dengan membangun PLTHM dan PLTS yang
Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang berangkat dari Bandara Pongtiku sebanyak 1.030
akan melayani kebutuhan listrik masyarakat dan kebutuhan pengembangan pariwisata didaerah.
orang. Penerbangan di Tana Toraja melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar
pulau sulawesi. Bandar udara ini direlokasi karena tidak bisa dikembangkan karena aspek
4.5.3 Jaringan Prasarana Telekomunikasi
geologi tidak memadai. Bandara Buntu Kunik disiapkan sebagai pengganti Bandara Pongtiku,
dengan landasan pacu sepanjang 2.600 meter dengan nama Toraja International Airport Kemajuan dibidang informasi dan komunikasi telah mendorong munculnya globalisasi dengan
yang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kunjungan wisatawan domestik maupun berbagai perspektifnya. Perkembangan tersebut diikuti dengan berkembangnya sarana dan
mancanegara. prasarana komunikasi seperti wartel, warnet, maupun informasi dalam bentuk pameran.
Rasio wartel/warnet terhadap penduduk di Tana Toraja untuk tahun 2010 adalah sebesar
0,00010. Angka rasio warnet/wartel tahun 2014 menurun dibanding tahun 2010 karena
kebutuhan akan akses internet saat ini sudah sangat mudah, antara lain melalui free hotspot dan
Modem GSM/CDMA dengan biaya relatif murah. Jumlah jaringan telepon seluler di Kabupaten
Tana Toraja mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2010 hanya ada 3 jaringan sedangkan
pada tahun 2014 meningkat menjadi 6 jaringan. Untuk tujuan pengembangan telekomunikasi,
direncanakan pengembangan sistem jaringan Kabupaten Tana Toraja yang meliputi:
1. Rencana telepon nirkabel berupa lokasi menara Base Transceiver Station (BTS)
dikembangkan penggunaannya secara bersama dan tidak mengganggu aktifitas disekitarnya
termasuk kegiatan penerbangan.
Gambar 4.6. Situasi Perkembangan Pembangunan Bandara Buntu Kunik
2. Pengembangan pelayanan jasa telekomunikasi diarahkan pada pembangunan Tower
(sumber: Dokumentasi Survey, 2020) terutama pada wilayah/daerah khusus.
IV - 31
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3. Pengembangan pelayanan sistem interkoneksitas secara terpadu lebih diarahkan pada sistem Tabel: 4.9 Jumlah Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019
e-government dan e-library. No. Kecamatan Jumlah Penduduk Persentase
16 Masanda 6.834 2,92
4.6 PENDUDUK SEBAGAI POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA PARIWISATA 17 Malimbong Balepe 9.917 4,24
18 Rantetayo 11.308 4,83
Penduduk merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan suatu wilayah, karakteristik
19 Kurra 5.484 2,34
penduduk merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan atau pembangunan
Total 234.002 100,00
suatu wilayah dengan mempertimbangkan pertumbuhan penduduk, komposisi struktur
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020
kepedudukan serta adat istiadat dan kebiasaan penduduk. Dengan demikian karakteristik
penduduk sangat diperlukan dalam Penyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten (RIPPAR-KAB). 40000.0
35000.0
Maju dan berkembangnya suatu wilayah atau kawasan adalah merupakan peran dari orang atau
30000.0
manusia yang ada didalamnya, sebab pada prinsipnya sesungguhnya dengan kemapaman atau 25000.0
skill dari setiap manusia tersebutlah yang mampu mengelola serta melakukan pamnfatan yang 20000.0
bijak serta mapan bagi daerah tersebut. Kabupaten Tana Toraja dengan segala kekayaan 15000.0
alamnya yang melimpah serta memiliki jumlah penduduk yang terbilang cukup padat akan 10000.0
semakin mampu bersaing dalam era globalisasi ini apabila kondisi alam mampu diseimbangkan 5000.0
dengan kondisi SDM yang memadai pula. .0
IV - 32
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
4.6.3 Kepadatan Penduduk luas) wilayah kecamatan. Sedangkan secara keruangan, pada dasarnya distribusi dan kepadatan
Distribusi penduduk terkait dengan jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah atau penduduk di Kabupaten Tana Toraja dipengaruhi oleh sistem pelayanan dan penyediaan sarana
pengelompokan jumlah penduduk yang didasarkan pada batasan administrasi wilayah yang dan prasarana penunjang, serta kemudahan aksesibilitas, sehingga distribusi penduduk lebih
bersangkutan. Jumlah penduduk yang terdistribusi pada suatu wilayah, akan mempengaruhi terkonsentrasi pada wilayah tertentu berdekatan dengan kota.
tingkat konsentrasi pelayanan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk melayani kebutuhan
penduduk pada wilayah tersebut. 4.6.4 Struktur Penduduk Menurut jenis Kelamin
Jumlah penduduk Kabupaten Tana Toraja pada akhir tahun 2019 berjumlah 234.002 jiwa yang Struktur penduduk menurut jenis kelamin merupakan perbandingan yang memperlihatkan selisih
terditribusi pada 19 kecamatan, dengan tingkat persebaran yang tidak merata pada setiap antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Berdasarkan sumber data yang diperoleh,
kecamatan. Distribusi jumlah penduduk terbanyak terdapat berada pada kecamatan Makale yaitu dapat diuraikan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari laki-laki kurang
35.892 jiwa dengan kepadatan 903 jiwa/km2 dan di susul Kecamatan Mengkendek yaitu lebih 117.573 jiwa dan jumlah penduduk perempuan kurang lebih 115.248 jiwa.
sebanyak 28.073 jiwa dengan kepadatan 143 jiwa/km2, sedangkan jumlah penduduk yang Dari jumlah penduduk tersebut, dapat dilihat bahwa penduduk untuk jenis kelamin laki-laki
terkecil adalah pada Kecamatan Kurra yang hanya berjumlah 5.484 jiwa dengan kepadatan terbesar berada di Kecamatan Makale yaitu 17.666 jiwa, sedangkan Kecamatan Kurra hanya
penduduk 91 jiwa/km2. Jumlah penduduk tiap bagian wilayah di Kabupaten Tana Toraja ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.872 jiwa yang berjenis kelamin laki-laki. Secara rinci
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya luas wilayah dan statu administrasi kecamatan, struktur penduduk menurut usia diuraikan pada tabel berikut:
secara rinci diuraikan pada tabel:
Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Tana Toraja, Tahun
Tabel: 4.11
Tabel: 4.10 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2019 2018
Jumlah Penduduk Luas Wilayah (Km2) Kepadatan Jenis Kelamin
No. Kecamatan No. Kecamatan Jumlah Sex Ratio
(jiwa) (jiwa/Km2) Laki-laki Perempuan
1. Bonggakaradeng 7.434 206,76 36 1. Bonggakaradeng 3.873 3.482 7.355 111
2. Simbuang 6.487 194,82 33 2. Simbuang 3.263 3.197 6.460 102
3. Rano 6.359 89,43 71 3. Rano 3.214 3.114 6.328 103
4. Mappak 6.002 166,02 36 4. Mappak 3.113 2.841 5.954 110
5. Mengkendek 28.073 196,74 143 5. Mengkendek 14.133 13.895 28.028 102
6. Gandang Batu Sillanan 20.120 108.63 185 6. Gandang Batu Sillanan 10.040 10.010 20.050 100
7. Sangalla 6.969 36,24 192 7. Sangalla 3.490 3.447 6.937 101
8 Sangalla Selatan 7.725 47,80 162 8 Sangalla Selatan 3.837 3.858 7.695 99
9 Sangalla utara 7.698 27,96 275 9 Sangalla utara 3.804 3.862 7.666 98
10 Makale 35.892 39.75 903 10 Makale 17.666 18.009 35.675 98
11 Makale Selatan 13.208 61.70 214 11 Makale Selatan 6.634 6.500 13.134 102
12 Makale Utara 12.300 26.08 472 12 Makale Utara 6.110 6.147 12.257 99
13 Saluputti 7.792 87,54 89 13 Saluputti 3.912 3.846 7.758 102
14 Bituang 15.315 163,27 94 14 Bituang 7.886 7.326 15.212 108
15 Rembon 19.085 134,47 142 15 Rembon 9.645 9.364 19.009 103
16 Masanda 6.834 134,77 51 16 Masanda 3.517 3.264 6.781 108
17 Malimbong Balepe 9.917 211,47 47 17 Malimbong Balepe 4.897 4.916 9.813 100
18 Rantetayo 11.308 60,35 187 18 Rantetayo 5.667 5.588 11.255 101
19 Kurra 5.484 60,50 91 19 Kurra 2.872 2.582 5.454 111
Total 234.002 2.054,30 114 Total 117.573 115.248 232.821 102
Sumber: BPS Kab. Tana Toraja, Tahun 2020 Sumber : Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2019
Secara kuantitas tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Tana Toraja dipengaruhi oleh
perbandingan jumlah penduduk yang mendiami setiap kecamatan terhadap luasan (perubahan
IV - 33
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
IV - 34
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
5
INDUSTRI PARIWISATA
Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka
menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam
penyelenggaraan pariwisata. Pembangunan industri pariwisata, mencakup pembangunan
struktur (fungsi, hierarki, dan hubungan) industri pariwisata, daya saing produk pariwisata,
kemitraan usaha pariwisata, kredibilitas bisnis, serta tanggungjawab terhadap lingkungan alam
dan sosial budaya. UNWTO (United Nations World Tourism Organiation) menyebutkan Industri
Pariwisata antara lain meliputi Akomodasi untuk pengunjung, Kegiatan layanan makanan dan
minuman, Angkutan penumpang, Agen Perjalanan Wisata dan Kegiatan reservasi lainnya,
Kegiatan Budaya, Kegiatan olahraga dan hiburan.
Dengan kata lain, Industri Pariwisata dapat diartikan sebagai sehimpunan bidang usaha yang
menghasilkan berbagai jasa dan barang yang dibutuhkan oleh mereka yang melakukan
perjalanan wisata. Menurut S. Medlik, setiap produk, baik yang nyata maupun maya yang
disajikan untuk memenuhi kebutuhan tertentu manusia, hendaknya dinilai sebagai produk
industri. Jika sejemput kesatuan produk hadir diantara berbagai perusahaan dan organisasi
sedemikian sehingga memberi ciri pada keseluruhan fungsi mereka serta menentukan
tempatnya dalam kehidupan ekonomi, hendaknya dinilai sebuah industri.
Industri pariwisata mempunyai fungsi yang penting untuk memperluas dan memeratakan
kesempatan berusaha dan lapangan kerja, juga mempunyai fungsi sebagai sarana pendorong
bagi pembangunan daerah, memperbesar pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran raykat serta memupuk rasa cinta tanah air, memperkaya
kebudayaan nasional dan memantapkan pembinaannya dalam rangka memperkokoh jati diri
suatu daerah maupun bangsa. Sehubungan dengan itu, perlu adanya langkah-langkah
pengaturan yang mampu mewujudkan keterpaduan dalam kegiatan penyelenggaraan
kepariwisataan, serta memelihara kelestarian dan mendorong upaya peningkatan mutu
lingkungan hidup serta obyek dan daya tarik wisata.
V-1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
5.1 USAHA PARIWISATA Tabel: 5.1 Potensi Pengembangan Atraksi Wisata di Kabupaten Tana Toraja
Dalam industri pariwisata terdapat berbagai usaha pariwisata, yaitu usaha yang menyediakan No. Jenis Atraksi Nama Atraksi Keterangan
barang atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelengaraan pariwisata. Orang Alukna Rampanan Upacara perkawinan adat
yang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan usaha pariwisata disebut pengusaha Kapa’, Sangka’na
Passullean Allo
pariwisata. Usaha pariwisata merupakan kegiatan bisnis yang berhubungan langsung dengan Upacara Rambu Merupakan upacara yang berkaitan dengan kematian
kegiatan sehingga tanpa keberadaannya, pariwisata tidak dapat berjalan dengan baik. Solo’ atau Upacara dan pemakaman jenazah. Pada jenis upacara ini hanya
Rampe Matampu terdapat tingkatan upacara berdasarkan status sosial
5.1.1 Atraksi Wisata kemasyarakatan di Toraja. Seluruh prosesi acara Rambu
Atraksi wisata adalah satu hasil karya manusia yang dipersembahan sebagai bagian untuk Solo' selalu dilakukan pada siang hari.
menarik minat para wisatawan dan memiliki tujuan demi memberikan kesan kesenangan karena Upacara Disilli’ Yaitu upacara pemakaman bersyarat yang merupakan
masih berisi penghiburan. Ketika ada obyek wisata alam yang merupakan karunia Tuhan, maka upacara terendah dan upacara pemakaman yang sangat
sederhana.
atraksi wisata merupakan obyek yang lebih cenderung menggali pada kemampuan manusia, 2 Musik dan Tari Pa’gellu Tarian tradisional Tana Toraja yang dipentaskan pada
yaitu dengan memberdayakan diri pada kreasi dan inovasi budaya setempat. Atraksi wisata dan Tarian acara pesta “Rambu Tuka”. Setiap gerakan dalam tarian
obyek/kawasan wisata adalah dua hal yang menjadi daya tarik utama dari sebuah tempat tujuan ini merupakan simbol-simbol dari falsafat orang toraja.
wisata. Sementara, tempat tujuan wisata yang baik adalah tempat yang harus mampu Tetapi tarian ini tabu atau pamali dipentaskan pada
acara “Rambu Solo”.
memberikan kesan dan pengalaman berharga bagi wisatawan. Kesan dan pengalaman inilah Tarian Ma’ Badong Tarian ini dilakukan pada upacara kematian dan
yang akan membuat wisatawan mempertimbangkan untuk melakukan kunjungannya kembali. biasanya berlangsung berjam-jam, Tarian yang terbuka
untuk umum ini. Biasanya penari memakai pakaian
Tana Toraja yang dikenal dengan kekayaan budaya dan ritual-ritulnya serta beranekaragam serba hitam sembari silih berganti melantunkan lagu
potensi kesenian menjadikan daerah ini sangat berpotensi mengembangkan atraksi-atraksi kadong badong, yang syairnya berisikan riwayat
budaya untuk menunjang kegiatan wisatanya. Adanya ritual budaya dan keagamaan serta tarian manusia dari lahir sampai mati, serta doa-doa agar
khas Toraja yang menjadi bagian dari kegiatan wisata perlu mendapat perhatian khusus dalam arwah dapat diterima di dunia arwah (Puya). Tarian ini
hanya dilakukan pada upacara pemakaman kaum
memadukannya dengan potensi daya tarik wisata yang tersedia sehingga dapat menimbulkan bangsawan, yang lamanya minimal 3 (tiga) hari dan 3
kesan yang baik bagi wisatawan dan yang lebih penting adalah bisa lebih lama tinggal dan (tiga) malam. Tarian ini berada di Kecamatan Saluputti
berencana untuk melakukan perjalanan wisata ke Tana Toraja lagi. dengan jarak (19 Km).
Tarian To Tarian ini dipentaskan oleh kaum pria yang
Oleh karena itu, pemanfaatan potensi atraksi budaya Tana Toraja sangat strategis karena Mangnganda’ mempergunakan tanduk kerbau dan hiasan uang-uang
keunikan budaya sudah sangat dikenal mendunia, sehingga jika atraksi-atraksi budaya ini tidak logam kuno sebagai hiasan kepala ditambah dengan
kain mawa‟ tua terjumbai ke belakang. Tarian
dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata maka kesan yang dikenal justru akan
Manganda‟ adalah tarian pemujaan yang dipentaskan
menjadi sebaliknya. Wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja selain ingin meninkmati daya pada upacara Merok atau Ma‟Bua‟ di Kecamatan Makale
tarik wisata yang disuguhkan, namun juga ingin menyaksikan berbagai penyelenggaraan Utara dengan jarak (7 Km).
kebudayaan Tana Toraja. Sebagai gambaran, potensi atraksi pariwisata yang dapat Tarian To Merupakan tarian pemujaan dan doa pada upacara
Manimbong syukuran. Perbedaannya ialah tarian ini hanya ditarikan
dikembangkan diantaranya sebagai berikut:
oleh kaum pria. Pakaian, hiasan dan perlengkapan
mereka terdiri dari pakaian khusus untuk pria yaitu Bayu
Tabel: 5.1 Potensi Pengembangan Atraksi Wisata di Kabupaten Tana Toraja Pokko‟ dan Seppa Tallu Buku dan berselempangkan kain
No. Jenis Atraksi Nama Atraksi Keterangan tua/antik yakni Mawa‟ serta mengenakan hiasan kepala
yang terbuat dari bulu burung bawan atau bulu ayam
1 Upacara Upacara Rambu Merupakan rangkaian upacara yang dilakukan
yang cantik. Sering dikombinasikan dengan Tarian
Adat Tuka’ atau Upacara masyarakat Toraja semasa hidupnya di dunia untuk
Ma‟dandan dengan gerakan yang diiringi oleh irama
Rampe Mataallo tujuan keselamatan dari kehidupan dan juga untuk
yang sama, terdapat di Kecamatan Bittuang jarak (25
memuja pencipta, pemelihara alam semesta serta para
Km).
leluhurnya. Adapun jenis upacara yang termasuk ke
dalam Upacara Rambu Tuka’ atau Upacara Rampe Tarian Ma’randing Tarian ini khusus untuk menghormati para pahlawan
perang yang akan pergi berperang atau baru tiba dari
Mataal.
medan perang. Tarian ini terdapat pada Kecamatan
Sangala Selatan dengan jarak (15 km).
V-2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 5.1 Potensi Pengembangan Atraksi Wisata di Kabupaten Tana Toraja Tabel: 5.1 Potensi Pengembangan Atraksi Wisata di Kabupaten Tana Toraja
No. Jenis Atraksi Nama Atraksi Keterangan No. Jenis Atraksi Nama Atraksi Keterangan
Tarian Adalah tarian kegembiraan yang biasa memasuki area penerimaan tamu (lantang karampoan).
Boneballa’/Ondo dipentaskan sebagai ucapan syukur kepada Sang Tarian ini berada di Kecamatan Rembon dengan jarak
Samalele Pencipta, terkait dengan mampunya sebuah (10 km).
keluarga besar menyelesaikan renovasi 3 Pertenunan - -
tongkonannya maupun selesainya penyelenggaraan Sumber: Hasil Kajian Data, Tahun 2020.
Upacara Rambu Solo’ yang besar (mangrapai’/
sapurandanan). Tarian Boneballa’ ini dibawakan
oleh wanita dan remaja putri yang berasal dari 5.1.2 Usaha Penyediaan Akomodasi
tongkonan yang telah direnovasi. Rangkaian tarian Akomodasi pariwisata sebagai tempat bagi seseorang untuk tinggal sementara, dapat berupa
ini ditutup dengan tari massal yang diikuti oleh
hotel, losmen, guest house, pondok, Villa, Penginapan, cottage inn, perkemahan, caravan, bag
seluruh keluarga. Tarian ini berada di Kecamatan
Sangala Utara dengan Jarak 10 Km. packer dan sebagainya. Saat ini telah berkembang lebih jauh kearah tuntutan pemenuhan
Tarian Pa’Bondesan Merupakan tarian penyembuhan terhadap penyakit kebutuhan manusia lainnya seperti makan, minum rekreasi, olah raga, konvensi, pertemuan-
cacar yang mewabah. Tarian ini khusus dibawakan oleh pertemuan profesi dan asosiasi perjamuan-perjamuan pernikahan dan lainnya. Oleh karena itu,
kaum pria dengan bertelanjang dada. Para penari
dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman juga dapat mempengaruhi jenis, macam
menggunakan kuku palsu yang disebut kuku setan
(kanuku bombo) dan hiasan kepala yang khas dari dan banyaknya fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan dan harus disediakan oleh pengusaha pada
bambu yang penuh dengan guntingan kertas. Gerakan bidang akomodasi.
tarian ini senantiasa berputar ditempatnya dengan
diiringi oleh alunan irama suling yang khusus ditiup oleh Usaha penyediaan pelayanan penginapan untuk wisatawan yang dapat dilengkapi dengan
4 (empat) orang pemain suling. Tarian ini berada di pelayanan pariwisata lainnya. Hotel adalah penyediaan akomodasi secara harian berupa kamar-
Kecamatan Masanda dengan Jarak (19 Km). kamar di dalam 1 (satu) bangunan, yang dapat dilengkapi dengan jasa pelayanan makan dan
Tarian Merupakan tarian penerimaan tamu yang dipentaskan
minum, kegiatan hiburan dan/atau fasilitas lainnya. Bumi perkemahan adalah penyediaan
Pa’papangngan oleh para gadis dengan pakaian adat Toraja lengkap
berwarna gelap (hitam). Gerakan tarinya melambangkan akomodasi di alam terbuka dengan menggunakan [Link] karavan adalah
ucapan selamat datang dan penyuguhan sekapur sirih penyediaan tempat untuk kendaraan yang dilengkapi fasilitas menginap di alam terbuka dapat
(pangngan) dan diakhiri dengan ucapan terima kasih dilengkapi dengan kendaraannya. Vila adalah penyediaan akomodasi berupa keseluruhan
serta kemudian para penari berpamitan. Tarian terdapat
di Kecamatan Makale Utara dengan jarak (8 Km).
bangunan tunggal yang dapat dilengkapi dengan fasilitas, kegiatan hiburan serta fasilitas
Tarian Burake Merupakan tarian pemujaan kepada Puang Marua can lainnya. Pondok wisata adalah penyediaan akomodasi berupa bangunan rumah tinggal yang
Deata (Aluk Todolo). Ditarikan oleh gadis-gadis dihuni oleh pemiliknya dan dimanfaatkan sebagian untuk disewakan dengan memberikan
bangsawan dengan iringan musik yaitu suling lembang, kesempatan kepada wisatawan untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari pemiliknya.
musik gesek yaitu geso‟-geso‟, gendang tangan yang
kecil yaitu Kamaru (Garapung) dan gendang besar yaitu
Gandang Boro. Tarian ini terdapat Pada Kecamatan [Link] Peran Akomodasi Wisata di Kabupaten Tana Toraja
Makale, dan Kecamatan Masanda dengan jarak (35 Km). Diantara bermacam-macam bentuk jasa kepariwisataan yang terpenting dan terlengkap ialah
Tarian Dao Bulan Tarian bersal dari Kecamatan Bonggakaradeng, fasilitas hotel atau sering disebut sebagai ”akomodasi wisata” (turist acomodation). Pada
menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan
umumnya jasa perhotelan tumbuh dengan adanya orang untuk bepergian dan memerlukan jasa
dalam menyambut bulan purnama.
Tarian Ma’nani Tarian ini dilakukan sebagai sarana hiburan yang di untuk makan dan menginap. Dalam praktek kegiatan pariwisata dewasa ini, adalah fasilitas yang
sertai dengan upacara penyambutan selamat datang menyediakan jasa yang paling lengkap untuk wisatawan yang berkunjung atau yang menginap
dan rasa hormat kepada pejuang pada zaman disuatu tempat. Dalam sistem sosial kepariwisataan, hotel adalah jasa yang berupa bangunan
penjajahan.
atau kompleks bangunan yang secara komersial memberi fasilitas tempat tinggal sementara
Tarian Ma’Katia Tarian ini adalah tarian duka tradisional untuk
menyambut keluarga dan kerabat yang datang untuk kepada umum yang memenuhi syarat. Karena jasa itu diberikan secara komersial, maka dalam
menghadiri upacara pemakaman seorang bangsawan. rangka konsep industri pariwisata hotel juga disebut perusahaan penjual jasa.
Tarian diiringi dengan lagu duka untuk menyampaikan
penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan bahwa Penyediaan jenis akomodasi Hotel sebagai bagian dari pelayanan pariwisata telah dipandu oleh
mereka juga turut berduka. Tarian ini dilaksanakan pada ketentuan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 6 Tahun 2014 tentang
saat rombongan keluarga dan kerabat (totongkon) Perubahan Atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 53 Tahun 2013
V-3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
tentang Standar Usaha Hotel, dimana ketentuan ini menjadi acuan bagi daerah yang secara Tabel: 5.2 Kriteria Mutlak Standar Hotel Berbintang
khusus mengembangkan kepariwisataan sebagai salah satu sektor utama dalam pengembangan
No. Aspek No. Unsur No. Sub Unsur
wilayahnya.
24 Pemeliharaan sanitasi, hygiene dan
Syarat-syarat fasilitas yang terpenting mengenai bentuk, fungsi, dan mutu. Bentuk dan desain lingkungan
fasilitas hotel harus dapat dikenal (recognizable). Seperti hal-hal lain dalam praktek 20Sumber Daya 25 Hotel melaksanakan sertifikasi kompetensi
Manusia karyawan
kepariwisataan bentuk fasilitas itu harus sesuai dengan gaya kepariwisataan, misalnya Jumlah Subunsur Aspek Produksi 15
mengadopsi bentuk rumah adat atau sesuai dengan adat dan budaya di Tana Toraja. Hal Jumlah Subunsur Aspek Pelayanan 5
tersebut dalam mengembangkan sektor kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja, dengan Jumlah Subunsur Aspek Pengelolaan 5
pembangunan berbagai akomodasi pariwisata, maka bentuk desain harus sesuai dengan adat JUMLAH TOTAL SUBUNSUR 25
Sumber: Lampiran Permen. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014.
istiadat yang berlaku, sehingga memiliki ciri khas tersendiri dari budaya Tana Toraja.
Tabel: 5.2 Kriteria Mutlak Standar Hotel Berbintang
Tabel: 5.3 Kriteria Mutlak Standar Hotel Non Berbintang
No. Aspek No. Unsur No. Sub Unsur
No. Aspek No. Unsur No. Sub Unsur
1 Produk 1 Bangunan 1 Tersedia suatu bangunan hotel
2 Penanda Arah 2 Tersedia papan nama hotel 1 Produk 1 Bangunan 1 Tersedia suatu bangunan hotel dengan
3 Parkir 3 Tersedia tempat parkir dan pengaturan papan nama dan fasilitas parkir
lalulintasnya 2 Area Penerima Tamu 2 Tersedia area penerima tamu dengan
4 Lobby 4 TersediaLobby dengan sirkulasi udara dan kelengkapannya
pencahayaan 3 Toilet Umum 3 Tersedia toilet umum
5 Toilet Umum 5 Tersedia toilet umum 4 Kamar Tidur Tamu 4 Tersedia kamar tidur dan kamar mandi
6 Front Office 6 Tersedia Gerai atau meja kursi dan Kamar Mandi tamu dengan perlengkapannya
7 Fasilitas Makan dan 7 Tersedia ruangmakan dan minum dengan 5 Kantor 5 Tersedia ruang pengelola hotel dan
Minum sirkulasi udara dan pencahayaan sarana karyawan
8 Kamar Tidur Tamu 8 Tersedia kamar tidur dengan 6 Utilitas 6 Tersedia Air Bersih
perlengkapannya, termasuk kamar mandi 7 Pengelolaan limbah 7 Tempat penampungan sampah sementara
9 Tersedia denah lokasi kamar dan petunjuk dan pengelolaan air limbah
penyelamatan diri 8 Front Office 8 Tersedia pelayanan registrasi dan
9 Dapur/Pantry 10 Tersedia dapur dengan perlengkapanya pembayaran
dan tata letak sesuai dengan kebutuhan 2 Pelayanan 9 Kantor Depan 9 Pelayanan pembersihan fasilitas tamu dan
10 Kantor 11 Tersedia Ruang Pimpinan Hotel public
12 Tersedia Ruang Karyawan 10 Tata Graha 10 Tersedia pelayanan makanan dan
11 Utilitas 13 Tersedia Instalasi Air Bersih minuman
12 Pengelolaan limbah 14 Tempat penampungan sampah sementara 11 Makan dan Minum 11 Tersedia petugas keamanan
15 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) 12 Kesehatan 12 Tersedia Pertolongan Pertama pada
2 Pelayanan 13 Kantor Depan 16 Tersedia pelayanan pemesanan kamar, Kecelakaan (P3K)
pendaftaran, penerimaan dan 3 Pengelolaan 13 Organisasi 13 Hotel memiliki struktur oganisasi dan tata
pembayaran tertib perusahaan
14 Tata Graha 17 Pelayanan pembersihan fasilitas tamu, 14 Pemeliharaan 14 Hotel melaksanakan pemeriksaan
fasilitas publik dan fasilitas karyawan Kesehatan dan kesehatan karyawan
15 Area Makan dan 18 Tersedia pelayanan penyajian makanan Lingkungan 15 Pelaksanaan kebersihan hotel dan
Minum dan minuman lingkungan
16 Keamanan 19 Tersedia pelayanan keamanan 15 Sumber Daya Manusia 16 Hotel memiliki karyawan yang
17 Kesehatan 20 Tersedia pelayanan kesehatan bersertifikat kompetensi
3 Pengelolaan 18 Organisasi 21 Hotel memiliki struktur oganisasi Jumlah Subunsur Aspek Produksi 7
22 Hotel memiliki peraturan perusahaan/PKB Jumlah Subunsur Aspek Pelayanan 5
19 Manajemen 23 Hotel memiliki program pemeriksaan Jumlah Subunsur Aspek Pengelolaan 4
kesehatan karyawan JUMLAH TOTAL SUBUNSUR 16
Sumber: Lampiran Permen. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014.
V-4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Akomodasi jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari 8 (delapan) unit, diantaranya Hotel wisatawan mancanegara, dan sebanyak 1.030.821 wisatawan nusantara, yang lebih kecil
Sahid, PantanToraja Hotel, Hotel Sangalla', Hotel Grand Metro Permai, Hotel Batupapan, Puri dibandingkan tahun sebelumnya (2018) sebanyak 1.375.701 atau sekitar -24%.
Artha Suites Hotel Toraja, Makula Hotel, dan Hotel Gosyen Efata. Hotel-hotel tersebut terdapat
Pada umumnya setiap bulan di tahun 2019 tersebut rata-rata kunjungan sebanyak 86.779
juga yang memiliki sejumlah fasilitas yang cukup memadai jika dilihat dari tebel dibawah ini.
wisatawan, dimana jumlah kunjungan terbesar pada Bulan Desember yaitu sebesar 325.510
Hotel Sahid dan Pantan Toraja Hotel berdasarkan data tersebut sudah merupakan hotel dengan
kunjungan wisatawan dan Bulan April merupakan jumlah kunjungan terkecil yaitu hanya
kelas bintang 3 (tiga) dan bintang 2 (dua) sehigga sudah pasti memiliki keunggulan dari fasilitas
sebanyak 14.925 wisatawan. Data perhitungan tersebut menggambarkan cukup kecilnya
dan pelayanan serta manajemen yang lebih baik.
penggunaan jasa hotel yang tersedia. Faktor yang mempengaruhinya adalah wisatawan tidak
Jika dilihat dari tingkat hunian terhadap keberadaan akomodasi jenis hotel ini, masih cukup kecil menginap (pulang-pergi), waktu yang digunakan yaitu dari pagi sampai sore kemudian langsung
yaitu rata-rata hanya sebesar 26%, hanya Hotel Pantan yang memiliki persentase tingkat hunian meninggalkan Tana Toraja, dan memanfaatkan sanak saudara dan kerabat sebagai tempat
yang besar dibanding yang lain bahkan lebih dari Hotel Sahid yaitu hanya 45% dan Hotel Sahid menginap.
sendiri dengan tingkat hunian hanya 30%.
Namun demikian, akomodasi yang tersedia di Kabupaten Tana Toraja bukan hanya hotel, tetapi
Tabel: 5.4 Akomodasi Jenis Hotel di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 juga terdapat beberapa jenis akomodasi lainnya yaitu penginapan, goest house, wisma,
Tingkat homestay, dan villa yang keseluruhannya berjumlah 32 unit akomodasi tersebar, namun
No. Nama Hotel Fasilitas Ket.
Hunian umumnya tingkat hunian cenderung sama dengan hotel yaitu dibawah 40%.
1 Hotel Sahid*** ▪ 24 jam room service 30% Bintang 3 Dengan demikian, perlunya kajian kecenderungan pemanfaatan akomodasi wisata di Kabupaten
▪ Restaurant
▪ Swiming pool Tana Toraja agar dapat mendapatkan gambaran serta langkah-langkah strategi dalam
▪ Metting room pengembangan akomodasi yang tentunya mempengaruhi investasi penyediaan akomodasi
2 Pantan Toraja ▪ Laundry 45% Bintang 2 untuk meningkatkan pelayanan kepada wisatawan sekaligus manfaat kepada pemerintah,
Hotel** ▪ Swimming Pool
swasta dan masyarakat di Tana Toraja. Upaya lama tinggal atau menahan wisatawan didaerah
▪ Restaurant
▪ Room Service tujuan wisatawan merupakan fokus yang perlu dipertimbangkan dalam meramu setiap daya
▪ Wifi tarik wisata pada kawasan-kawasan wisata yang tersedia agar wisatawan cenderung akan lebih
▪ Tv/Kamar lama tinggal didaerah.
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room Kapasitas 50 s/d 300
[Link] Kebutuhan Akomodasi
3 Hotel Sangalla' ▪ Meeting Room 20% Melati II
▪ Wi-fi Analisis kebutuhan akan akomodasi, terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap tingkat
▪ 8 kamar Tv kebutuhan kamar dan tempat tidur, sebagaimana pada analisis berikut;
▪ Restoran 1. Kebutuhan Fasilitas Kamar
4 Hotel Grand Metro ▪ AC, TV, Air Panas 20% Hotel
Permai ▪ Restoran
Berdasarkan analisis pasar yang memprediksi kunjungan wisatawan hingga tahun 2030,
5 Hotel Batupapan ▪ wi-fi 20% Melati III dengan karakteristik, seperti jenis wisatawan, asumsi lama tinggal, sehingga fasilitas
▪ Tv /kamar pelayanan dapat dianalisis lebih lanjut. Adapun pendekatan analisis yang digunakan adalah;
6 Puri Artha Suites ▪ Tv, Kulkas, Shower, Air Panas 30% Melati III
Hotel Toraja ▪ Meeting Room Jumlah wisatawan (per periode Waktu) X rata-rata lama tinggal (malam)
▪ Restoran Jumlah malam (per periode waktu) X tingkat isian akomodasi
7 Makula Hotel Kolam Air Panas 20% Melati III
8 Hotel Gosyen Efata - - - Berdasarkan persamaan matematis tersebut diatas, maka estimasi kebutuhan kamar tidur
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020
diakhir tahun perencanaan 2030 yakni; 12.825 unit kamar tidur. Jika berdasarkan
kebutuhan normal (data kunjungan tahun 2019) sesuai daya tampung kamar maka
Perbandingan tersebut jika dikaitkan dengan jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Tana
kebutuhan jumlah kamar adalah sebanyak 2.853 unit kamar, dengan asumsi satu kamar
Toraja, dapat tergambarkan eksistensi akomodasi jenis hotel tersebut terhadap penggunaannya
dihuni oleh 2 wisatawan.
oleh wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Berdasarkan data yang diperoleh dari
Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja 10 (sepuluh) tahun terakhir, jumlah kunjungan Mengenai jumlah akomodasi yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan kapasitas daya
wisatawan tahun 2019 di daerah ini berjumlah 1.041.347 wisatawan yang terdiri dari 10.526 tampung akomodasi itu sendiri, namun pembangunannya diupayakan dapat disebarkan ke
V-5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
pusat-pusat pelayanan (ibukota kabupaten dan kecamatan atau pada sub pusat pelayanan 2. Wisma Peristirahatan
pariwisata yang akan ditentukan dalam analisis berikutnya). Dibandingkan dengan hotel, dimana wisma peristirahatan menunjukkan perbedaan dan
2. Analisis Spasial Kebutuhan Akomodasi persamaan dengan hotel. Dilihat dari bangunannya yang lebih sederhana, sering rumah
Berdasarkan dari hasil analisis secara spasial kebutuhan akomodasi di setiap wilayah biasa, kapasitasnya untuk menerima tamu juga lebih kecil. Fasilitas dan pelayanannya lebih
kecamatan, maka dilihat dari syarat lokasi pembangunan hotel tersebut, yang terdiri dari sederhana, sehingga kenyamanannya juga tidak seperti di hotel. Akan tetapi sebaliknya
syarat lingkungan semua kecamatan memenuhi, namun pembangunannya dapat wisama peristirahatan lebih memberi rasa leluasa, karena lebih banyak hal-hal yang tidak
disesuaikan dengan arahan pengembangan sistem perkotaan dalam RTRW Kabupaten Tana diatur, maka selera dan kegiatan diserahkan kepada tamu itu sendiri serta tarifnya pun
Toraja yaitu pada PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), PKL (Pusat Kegiatan Lokal) dan PPK rendah. Jelaslah bahwa wisma peristirahatan itu termasuk dalam jenis kegiatan ‘wisata
(Pusat Pelayanan Kawasan), agar terarah sejalan dengan rencana tata ruang wilayah sosial’ dan termasuk bagian yang amat penting. Di lokasi-lokasi wisata tertentu, terutama
Kabupaten Tana Toraja. di daerah-daerah dengan iklim dan panorama alam yang indah yang tersedia di Tana
Toraja, maka sangat baik pembangunan wisma.
Potensi lain yang dapat diupayakan sebagai strategi pengembangan akomodasi pariwisata
3. Pondok Liburan (Vacante Kolonie)
yaitu dengan memanfaatkan bangunan Tongkonan sebagai salah satu alternatif yang dapat
Pondok liburan juga semacam wisma peristirahatan, akan tetapi khusus untuk anak sekolah
digunakan dalam upaya menahan wisatawan, namun konsekuensi dari konsep tersebut
pada waktu liburan. Pondok liburan semacam itu tujuannya bersifat pendidikan dan
yaitu menyediakan berbagai kegiatan wisata pada DTW-DTW tertentu maupun kelompok
dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak sekolah untuk berekreasi
DTW dalam satu destinasi atau perwilayahan pariwisata yang dapat menimbulkan animo
dan mengisi liburannya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Pondok liburan seperti
wisatawan untuk dapat tinggal lebih lama atau menginap.
itu biasanya diselenggarakan oleh badan sosial atau badan pendidikan maupun pemerintah.
Non Hotel
Meskipun diselenggarakan secara nonkomersial, akan tetapi tarifnya pada umumnya begitu
Dalam kegiatan pariwisata dewasa ini kebutuhan hidup wisatawan di lokasi wisata tidak hanya
rendah, disesuaikan dengan biaya penyelenggraannya, sehingga pondok liburan termasuk
ditampung dalam akomodasi yang berbentuk hotel. Ada akomodasi-akomodasi non hotel,
kegiatan wisata sosial.
seperti; tempat berkemah (camping site), rumah penduduk dan sebagainya. Diversifikasi
4. Homestay
akomodasi itu termasuk perkembangan baru dalam pariwisata dan sebenarnya merupakan
Homestay merupakan salah satu akomodasi pariwisata yang penting untuk dikembangkan.
upaya untuk lebih menyempurnakan komplementaritas antara kebutuhan wisatawan dan jasa
Homestay itu juga bukan milik atau diselenggarakan oleh badan atau lembaga tertentu,
kepariwisataan. Oleh karena itu, di Kabupaten Tana Toraja dalam mengembangkan
akan tetapi milik perorangan dengan menggunakan bangunan pribadi yang sebetulnya
kepariwisataan, dimana tidak hanya terbatas pada pembangunan hotel, akan tetapi juga pada
tidak dimaksudkan untuk menampung wisatawan, seperti rumah tinggal atau sebagian dari
tempat-tempat selain hotel, yang dapat memberikan rasa kenyamanan bagi wisatawan
rumah yang didiami sendiri. Melihat pentingnya akan akomodasi pariwisata tersebut, maka
khususnya ditempat-tempat daya tarik wisata.
perlu dilakukan pembangunan homestay di beberapa kawasan wisata yang dinggap
1. Dusun Wisata (Holiday Village)
strategis dan cukup menarik.
Dusun wisata adalah salah satu bentuk akomodasi wisata, dimana bentuk bangunannya
5. Perkemahan
sering meniru bentuk bangunan setempat, disesuaikan dengan kebutuhan dan merupakan
Kawasan perkemahan merupakan tempat yang dianggap sangat penting serta sebagai
sebuah kompleks, seperti; dusun ataupun bagian terkecil dari kampung. Sesuai dengan
salah satu atraksi wisata. Tujuan utama dari perkemahan adalah bagaimana berinteraksi
maksud dan sifatnya, dusun wisata itu biasanya memilih tempat di gunung dan daerah adat
dengan alam bebas, sehingga dapat memberikan kenyamanan dan kepuasan tersendiri.
mengadakan olahraga, dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan alam. Karena
Selain itu, perkemahan juga merupakan wadah dalam pembinaan wisata remaja.
dusun wisata itu sedikit banyak merupakan masyarakat tertutup, maka hubungannya
Kabupaten Tana Toraja, untuk saat sekarang ini perkemahan sudah berkembang pada
dengan dunia luar juga dapat dikatakan terputus. Kabupaten Tana Toraja yang terdiri atas
beberapa DTW seperti di Pango Pango, Kondora dll, namun belum terakomodir dengan baik
19 wilayah kecamatan, dengan potensi wisata yang dimiliki, maka pembangunan Dusun
oleh pemerintah dan pengelola DTW yang masih cenderung hanya menyediakan area
Wisata sangat prospek dikembangkan, khususnya ditempat-tempat wisata tersebut.
namun fasilitas perkemahan belum disediakan, sehingga melihat hal tersebut sangat
Dengan demikian, maka arahan pembangunan dusun wisata diarahkan pada bagian
penting dimasa mendatang perlu dibangun kawasan-kawasan perkemahan dengan
wilayah yang dikembangkan sebagai Desa-Desa Wisata, DTW-DTW berbasis Alam dan
menyediakan fasilitas perkemahan tersebut sehingga dapat memberikan minat wisatawan
Budaya.
untuk berkemah didalam kawasan wisata. Berdasarkan kriteria perkemahan tersebut, maka
arahan pembangunan perkemahan ditujukan pada daya tarik wisata alam yang memiliki
aksesibilitas rendah namun keunggulan daya tariknya sangat menarik untuk dikunjungi.
V-6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 5.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat
No. Nama dan Jenis Akomodasi Alamat Fasilitas Ket.
Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
1 Hotel Sahid*** Getengan Kec. Mengkendek. Jl ▪ 24 jam room service 16 36 850.000 - 30% Bintang 3
Jurusan Makassar ▪ Restaurant
▪ Swiming pool
▪ Metting room
2 PantanToraja Hotel** Makale. Jl Pongtiku No. 116 ▪ Laundry 6 31 500.000 500.000 45% Bintang 2
▪ Swimming Pool
▪ Restaurant
▪ Room Service
▪ Wifi
▪ Tv/Kamar
▪ Air Panas/Kamar
▪ Meeting Room Kapasitas 50 s/d 300
3 Hotel Sangalla' Makale. Jl Pongtiku No. 509 ▪ Meeting Room 14 7 200.000 200.000 20% Melati II
▪ Wi-fi 150.000 150.000
▪ 8 kamar Tv
▪ Restoran
4 Hotel Grand Metro Permai Makale. Jl Pongtiku No. 445 ▪ AC, TV, Air Panas 14 12 380.000 650.000 20% Hotel
▪ Restoran
5 Hotel Batupapan Makale. Jl Pongtiku No. 130 ▪ wi-fi 1 18 330.000 330.000 20% Melati III
▪ Tv /kamar 220.000 220.000
110.000 110.000
6 Puri Artha Suites Hotel Toraja Makale. Jl Pongtiku No. 114 ▪ Tv, Kulkas, Shower, Air Panas 8 24 310.000 275.000 30% Melati III
▪ Meeting Room 400.000 350.000
▪ Restoran
7 Makula Hotel Sangalla Selatan No.37 Kolam Air Panas 3 3 100.000 100.000 20% Melati III
8 Hotel Gosyen Efata Jl. Poros Rantepao-Makale, Sarira, - - - - - - -
Makale Utara.
9 Wisma Louise Lestari Makale. Jl Pongtiku No. 130 - 11 3 200.000 200.000 40% Melati II
10 Wisma Kota Jaya Makale. Jl Pongtiku. - - 15 - 100.000 45% Melati
11 Wisma Litha Makale. Jl Pongtiku No. 97 - 5 4 30.000 80.000 50% Melati
12 Wisma Bungin Makale. Jl Nusantara - - 13 - 50.000 50% Melati
13 Wisma Merry Makale. Jl Pongtiku - - 5 - 150.000 40% Melati
14 Wisma Yani Randanan Makale. Jl Nusantara - 1 6 50.000 75.000 20% Melati
15 Lemo HomeStay Makale Utara ▪ Air Panas / Dingin 4 - 250.000 - 20% Home stay
▪ Tv Ruang Tamu
16 Home Stay Buntu Pantan Makale. Jl. Buntu Pantan No. 52. - 20 4 150.000 250.000 30% Home stay
17 Villa Manggasa Jl. Landa-landa Tv/Kamar 13 - - - 20% Melati
18 Ghitari Lodge Homestay Sangalla - - - - - - Melati
19 HomeStay Kalembang Indah Sangalla Utara - - - - - 40% Home stay
Sangalla
20 Homestay Anugrah Rufus JL. Makale Makassar - 30 - 150.000 - 10% Home stay
21 Santung Mamullu Homestay JL. Makale Makassar - 6 - - - 10% Home stay
22 Homestay Pioner JL. Makale Makassar Km. 16 - 10 - - - - Home stay
23 Penginapan Joni Tandi Makale. JL. Wolter wongsidi no. 106A - - - - - - Home stay
24 Homestay Wilem Somalinggi Makale Utara. Lemo - - - - - - Home stay
25 Villa Pango Pango Makale Utara. Kel. Topasan - 4 - - - 10% Home stay
26 Penginapan Mangga Mengkendek. Kepe Tinoring - 1 4 100.000 - - Home stay
V-7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 5.5 Daftar Akomodasi Umum dan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Jumlah Kamar Tarif Kamar Tingkat
No. Nama dan Jenis Akomodasi Alamat Fasilitas Ket.
Tunggal Dobel Tunggal Dobel Hunian
27 Penginapan Micel Samar Pasak Makale. Mandetek - - 6 100.000 - - Melati
28 Villa Tengan Palipu, Mangkendek - - - - - - -
29 Bukit Indah Rintho 7 Jaya Jl Merdeka Km 1, Tondon Mamullu, - - - - - - -
Makale
30 Masokan Homestay Jl. Tritura No. 83, Kamali Pentalluan, - - - - - - -
Makale
31 Wisma Elsindoe Jl. Nusantara, Makale - - - - - - -
32 Karatuan Homestay Sallualo, Sangalla Utara - - - - - - -
Sumber: Dinas Pariwisata dan Observasi Lapangan, Tahun 2020
V-8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 5.6 Jasa Usaha Makanan dan Minuman di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 Tabel: 5.6 Jasa Usaha Makanan dan Minuman di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
21 Rumah Makan Rumah Makan Pango-Pango Kel. Botang Km.3 66 Rumah Makan WARUNG BAKSO SOLO PASAR BARU SALUALLO
22 Restourant café & resto Jl. Sultan hasanuddin no 9 67 Rumah Makan WARUNG MAKAN FRANSISKA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
23 Rumah Makan Rumah Makan Almas Jl. Pongtiku WARUNG LINGKAR NO.17
24 Rumah Makan Rumah Makan 52 Jl. Pongtiku No. 52 68 Rumah Makan WARUNG MAKAN ICHAL BURAKE
25 Rumah Makan Rumah Makan Sikamali Makale 69 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM WONG SOLO JL. PONGTIKU NO.23
26 Rumah Makan Rumah Makan Bukit Indah Jl. Merdeka Makale 70 Rumah Makan WARUNG MAKAN SUNAN DRAJAT PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
27 Rumah Makan Fearly Resto & Café Jl. Tritura No 80 WARUNG LINGKAR NO.30
28 Rumah Makan Warung Pojok Agung Jl. MERDEKA NO 23 71 Rumah Makan WARUNG MAKAN WARMEL PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/08
29 Rumah Makan Kedai Mamie Jl. Jendral Sudirman No. 22 72 Rumah Makan WARUNG MIE AYAM BAKSO WONG PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
30 Rumah Makan Bakso babi alang2 Jl, Merdeka SOLO WARUNG MAKAN/29
31 Rumah Makan Kios Ujung Pandang Kec Makale Utara 73 Rumah Makan RUMAH MAKAN BAMBAPUANG JL. NUSANTARA
32 Rumah Makan Lesehan Topal Kec Makale Utara 74 Rumah Makan RUMAH MAKAN BOTANG KM. 3 BOTANG
33 Rumah Makan Rumah Makan Krita Kec Makale Utara 75 Rumah Makan WARUNG MAKAN SAMANTHA KAMALI
34 Rumah Makan Rama Indah 76 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. NUSANTARA NO.47
35 Rumah Makan Harapan Barto 77 Rumah Makan ALMAS "BAKSO BABI" JL. PONGTIKU PANTAN
36 Rumah Makan Rumah Makan Marannu Kec Makale Utara 78 Rumah Makan WARUNG SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
37 Rumah Makan Warung Kopi Kebun Kec. Sangalla Selatan WARUNG LINGKAR NO.7
38 Rumah Makan Warung Kopi Wala Kec. Sangalla Selatan 79 Rumah Makan WARUNG MKN SABAR TO'KALUKU
39 Rumah Makan Rumah Makan Rahmat Kec. Rantetayo 80 Rumah Makan CITRA DEANY Jl. Tritura No 27
40 Rumah Makan Warung Makan Ma Isas Kec. Rantetayo 81 Rumah Makan RUMAH MAKAN EMILIANA
41 Rumah Makan Rumah Makan Ma Dewi Terminal To Ao Makale 82 Rumah Makan Pioner Tampo
42 Mendoe Selatan, Kel. Tambunan, Kec. 83 CAFE LARUNA CAFÉ JL. JURUSAN MAKALE NO. 9
rumah Makan WARUNG TIGA SEKAWAN 84 CAFE TEPIAN CAFÉ JL. PONGTIKU KM. 3 SE'PON MAKALE
Makale Utara
43 Rumah Makan WARUNG MAKAN VITRA JL. JEND. SUDIRMAN 85 CAFE PRO CAFÉ & BAR JL. PONTIKU NO.49 MAKALE
44 Rumah Makan WARUNG WESTI PASAR BARU 86 CAFE MASAGENA KARAOKE SE'PON MAKALE
45 Rumah Makan WARUNG MAKAN BERKAT INDAH LINGKUNGAN TARA'PA' 87 CAFÉ/KARAOKE CAFÉ SAHID JL. RAYA GE'TENGAN NO.7 KEC.
46 Rumah Makan WARUNG MAKAN LADIVA [Link] BARU NO.52 MENGKENDEK
47 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK 88 CAFÉ CAFÉ KANDORA JL. POROS MAKALE- MAKASSAR KM.7
WARUNG GALAMPANG NO.11 TENGAN
48 Rumah Makan WARUNG MAKAN TONDON PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/3 89 CAFÉ SENDANA CAFÉ JL. PASAR BARU NO. 165 MAKALE
49 Rumah Makan WARUNG MAKAN PANTAN JALAN PONGTIKU PANTAN 90 Cafe Harvin cristine Jl. Pongtiku
50 Rumah Makan WARUNG MAKAN 31 PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG 91 Cafe café early Jl. TRITURA
LINGKAR/31 92 Café, dan rumah
MASAGENA CAFÉ Jl. Pongtiku, Kel. Pantan, Kec. Makale
51 Rumah Makan WARUNG MAKAN LESTARI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG bernyanyi
LINGKAR 93 RESTAURAN RESTAURAN KAMPUNG WISATA JL. PONGTIKU MANDETEK KEC. MAKALE
52 Rumah Makan RUMAH MAKAN IDAMAN JL. MERDEKA ASTRINI UTARA
53 Rumah Makan WARUNG MAKAN TIUR PASAR WILAYAH MAKALE BLOK F2/12 94 SPA PERAWATAN WAJAH TENGAN
54 Rumah Makan WARUNG MAKAN SE'PON SE'PON Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
55 Rumah Makan RUMAH MAKAN KURNIA SUBUR JL. PASAR BARU NO.53
56 Rumah Makan RUMAH MAKAN AROMA TORAJA JL. MERDEKA NO.22
57 Rumah Makan WARUNG SOLO JL. [Link] NO.166 5.1.4 Biro dan Agen Perjalanan Wisata
58 Rumah Makan WARUNG MAKAN MAMA ISAS JL. POROS BATUPAPAN Kabupaten Tana Toraja telah tersedia cukup banyak usaha-usaha yang mendukung kegiatan
59 Rumah Makan WARMIE MARENDENG JL. PONGTIKU kepariwisataan. Setidaknya terdapat 10 (sepuluh) agen/biro perjalanan wisata dari berbagai
60 Rumah Makan WARUNG MAKAN SILVA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WARUNG LINGKAR NO.05 perusahaan yang telah beroperasi dari tahun 2012 sampai sekarang, sementara agen-agen
61 Rumah Makan WARUNG MAKAN PAULINA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK perjalanan wisata lain terkait dengan perjalanan wisata ke Tana Toraja juga tersedia di Kota
WARUNG LINGKAR NO.02
Makassar sebagai TIC Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut rincian beberapa agen perjalanan wisata
62 Rumah Makan STAND WARUNG MAKAN YULI PASAR WILAYAH MAKALE WARUNG
LINGKAR NO.8 yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja yang dihimpun dari Dinas Pariwisata Kabupaten.
63 Rumah Makan RUMAH MAKAN REGINA JL. POROS KM.6 MENGKENDEK
64 Rumah Makan DEPOT CHRISTO JL. NUSANTARA
65 Rumah Makan WARUNG MAKAN SEDERHANA PASAR WILAYAH MAKALE BLOK
WARUNG LINGKAR/15
V-9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 5.7 Biro Perjalanan Wisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020 masih banyak jalan dengan kondisi rusak berat sepanjang 306,69 km dan rusak 210,90 km.
Tahun Dibandingkan tahun lalu panjang jalan kondisi baik meningkat 52,17 persen sepangjang
No. Jenis Usaha Nama Usaha Lokasi/Alamat
Beroperasi 582,19 km.
1 AGEN PERJALANAN WISATA TRAVEL MORIA JL. PONGTIKU PANTAN
2012 2. Terminal
MAKALE
2 USAHA PENYEDIAAN CV. BINA BUNGIN JL. NUSANTARA NO. 35 Keberadaan terminal sebagai titik simpul pergerakan arus kendaraan, orang dan barang
2012 adalah penting untuk diamati. Jumlah terminal di Kabupaten Tana Toraja hanya 1 lokasi,
AKOMODASI SEJAHTERA MAKALE
3 BIRO PERJALANAN WISATA CV. BINA BUNGIN JL. NUSANTARA NO. 35 yaitu terminal Makale dengan terminal bertype C. Lokasi terminal Makale tersebut telah
2012
SEJAHTERA MAKALE dimanfaatkan sebagai simpul utama pergerakan angkutan. Kondisi terminal type C Makale
4 TOURS & TRAVEL PT. KHATULISTIWA RANTELEMO KEL. saat ini terdiri atas pelataran-pelataran angkutan umum dan dilengkapi bangunan-bangunan
NUSANTARA HIJAU SARIRA, KEC. MAKALE 2013 halte untuk menumpang dengan kondisi belum maksimal.
UTARA
5 BIRO PERJALANAN WISATA CV. MEGA PERMAI JL. PELITA NO. 83 KEL.
BOMBONGAN, KEC. 2014
MAKALE
6 BIRO PERJALANAN WISATA CV. MELONA GRASIA JL. PASAR BARU NO. 52 2015
7 JASA BIRO PERJALANAN PT. MANTING JAYA MAMULLU
2015
WISATA ANUGRAH
8 JASA BIRO PERJALANAN PT. CELEBES BALI JL. MERDEKA
2015
WISATA WISATA
9 BIRO PERJALANAN WISATA KARTINI TRAVEL SALUPUTTI 2018
10 BIRO PERJALANAN WISATA AMOS TRAVEL TONDON MAMULLU 2019
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2020
Gambar 5.1. Situasi Terminal Makale
(sumber: Dokumentasi Survey, 2020)
5.1.5 Transportasi dan Aksesibilitas
[Link] Transportasi Wilayah Pemanfaatan terminal tersebut melayani angkutan kota berupa AKDP dan AKAP. Hal ini
Secara eksternal wilayah, Kabupaten Tana Toraja dilayani oleh moda angkutan darat dan udara memperlihatkan bahwa kategori terminal Makale sudah tidak layak dengan type terminal
(tahap pengembangan bandara). Moda angkutan darat yang digunakan dari dan ke Tana Toraja Type C. Oleh karena itu, di perlukan peningkatan status terminal dan pengembangan
dapat dicapai dengan berbagai jenis kendaraan baik roda dua maupun roda empat dan bus. terminal baru seiring dengan bertambahnya alat transportasi darat.
Kabupaten Tana Toraja dilalui oleh ruas jalan nasional sehingga dapat ditempuh dari berbagai 3. Transportasi Udara
arah, khususnya dari Kota Makassar, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan umum bus Bandara Pongtiku di Rantetayo adalah satu-satunya akses angkutan udara ke Tana Toraja.
dari berbagai perusahaan transportasi yang tersedia seperti Litha and Co, Manggala Tran, Metro Pada Tahun 2018 jumlah penumpang yang berangkat dari Bandara Pongtiku sebanyak 1.030
Permai, Bintang Prima, dll yang perwakilannya sudah ada di Kota Makale dan sekitarnya. Untuk orang. Penerbangan di Tana Toraja melayani beberapa rute ke luar daerah bahkan ke luar
jalur udara saat ini telah dilakukan uji coba penerbangan dan tahap pengembangan Bandara pulau sulawesi. Bandar udara ini direlokasi karena tidak bisa dikembangkan karena aspek
Buntu Kunik telah mencapai tahap akhir sehingga kedepannya transportasi udara menuju Tana geologi tidak memadai. Bandara Buntu Kunik disiapkan sebagai pengganti Bandara Pongtiku,
Toraja akan menjadi moda yang sangat efisien melakukan perjalanan ke Tana Toraja. dengan landasan pacu sepanjang 2.600 meter dengan nama Toraja International Airport
1. Jaringan Jalan yang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kunjungan wisatawan domestik maupun
Jalan merupakan sarana angkutan darat yang sangat penting untuk memperlancar kegiatan mancanegara.
perekonomian. Panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018
menurut data startistik mencapai 1.252 km. Panjang jalan pada tahun 2018 mengalami
peningkatan sepanjang 199,62 km dari tahun sebelumnya. Jika dilihat dari jenis permukaan
jalan maka terdapat 352,67 km jalan yang telah diaspal, tidak diaspal mencapai 888,79 km,
sedangkan sisanya 210,56 km jenis permukaan lainnya. Jika ditinjau dari kondisi jalan maka,
V - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
pembangunan jalan lingkar pariwisata dan penataan prasarana dan sarana kota di Kawasan
Perkotaan Makale.
Secara internal, sarana transportasi yang dapat digunakan oleh wisatawan menuju ke tempat-
tempat wisata dengan menggunakan jasa travel dan bus-bus pariwisata yang telah tersedia, serta
kendaraan-kendaraan sewa yang disediakan oleh perusahaan maupun perorangan di Tana Toraja
baik roda dua maupun roda empat.
Untuk lebih jelasnya kategori komponen pariwisata secara garis besar dapat diklasifikasikan
berdasarkan komponen wisata tersebut, sebagaimana pada tabel berikut dan hubungan antar
komponen wisata.
Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana
Tabel: 5.8
Toraja
Gambar 5.2. Situasi Perkembangan Pembangunan Bandara Buntu Kuni
(sumber: Dokumentasi Survey, 2020) Kategori Komponen
No. Komponen Wisata
Utama Pendukung
1 Atraksi Wisata
Dengan jarak ± 5 km dari jalan Poros akan memudahkan wisatawan dalam menjangkau ▪ Ruang atraksi wisata X
tempat-tempat wisata di Toraja. Dalam pengembangan KSPN Toraja, salah satu strategi ▪ Pusat Informasi wisata X
pengembangannya adalah meningkatkan level Konektivitas lokasi KSPN Toraja melalui 2 Aksesibilitas X
Pembangunan bandara baru Buntu Kuni yang mampu menerbangkan wisatawan ▪ Terminal angkutan X
▪ Bandar Udara X
Mancanegara dan wisatawan Nusantara langsung dari Bali sebagai darah transit utama 3 Sarana dan Prasarana perdagangan
wisman dan daerah daerah lain di indonesia menuju kawasan pariwisata Toraja, sehingga ▪ Restoran X
wisman dan wisnus tidak perlu lagi melakukan perjalanan darat yang panjang dan ▪ Toserba X
melelahkan selama hampir 8 jam dari makasar menuju Makale. Selain itu juga menjadikan ▪ Perdagangan retail X
▪ Pusat perbelanjaan X
jalan poros Enrekang-Makale-Ratenpao-Palopo menjadi jalan dengan status handal dan
▪ SPBU X
mampu mendukung aktivitas trasnportasi wisatawan dengan jumlah besar. Perkembangan 4 Jasa
terakhir terkait pengembangan bandara Buntu Kuni ini belum lama ini telah dilakukan uji ▪ Penginapan X
coba penerbangan. ▪ Travel agen X
▪ Tempat Ibadah X
Alur penerbangan Bandara Buntu Kunik (BBK) diharapkan menjadi alur penerbangan regional ▪ Money Cahanger X
meliputi : ▪ Asuransi X
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar – Bali - Jogya ▪ Penyewaan kendaraan X
▪ Pusat hiburan X
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Manado - Bali.
▪ Pusat Kebugaran X
▪ Bandara Buntu Kunik Tana Toraja – Makassar –Singapura – Jepang 5 Lain-lain
▪ Kantor pemerintah X
[Link] Aksesibilitas Pariwisata ▪ Kantor Polisi X
Karakteristik wilayah Kabupaten Tana Toraja yang merupakan daerah pegunungan sebagai salah Sumber; Hasil Analisis Tim, 2020
satu potensi destinasi pariwisata, namun juga menjadi kendala dalam pengembangan Tabel: 5.9 Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana Toraja
aksesibilitas terhadap DTW yang dikembangkan maupun yang berpotensi. Namun demikian, No Komponen Wisata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
pengembangan aksesibilitas melalui pembangunan ruas-ruas jalan pariwisata sangat pesat 1 Atraksi Wisata
berkembang didaerah dengan kondisi yang baik berupa jalan-jalan aspal dan umumnya Ruang atraksi wisata (1) 1 1 1 2 3 2 2 1 3 1 3 2 1 1 3 1
merupakan jalan-jalan beton. Pusat Informasi wisata (2) 3 3 2 1 1 2 1 3 3 3 3 2 3 2 1
2 Aksesibilitas
Selain pemerintah Kabupaten Tana Toraja, pemerintah pusat dan Provinsi Sulawesi Selatan juga Terminal angkutan (3) 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 1 1
mengebangan aksesibilitas untuk kepentingan pembangunan pariwisata di Tana Toraja melalui Bandar Udara (4) 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 1 1
3 Sarana Prasarana perdagangan
V - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 5.9 Kategori Komponen Pariwisata yang Tersedia di Kabupaten Tana Toraja Kabupaten Tana Toraja dewasa ini telah merespon perkembangan kepariwisataan global yaitu
Restoran (5) 3 3 3 1 3 1 3 1 1 1 2 2 dengan mulai mengembangkan jenis-jenis daya tarik wisata lain yang berpotensi didaerah seperti
Toserba (6) 3 3 1 2 1 1 2 1 1 1 1
Perdagangan retail (7) 3 1 2 1 1 2 1 1 1 1 alam pegunungan, dan agrowisata serta panorama-panorama unik dan menarik lainnya.
Pusat perbelanjaan (8) 1 2 1 1 2 1 1 1 1 Perkembangan penataan daya tarik wisata tersebut tentu akan berjalan dengan baik apabila
SPBU (9) 1 1 2 1 1 2 1 1
didukung dengan pengembangan unsur industri pariwisata lainnya sehingga minat wiatawan
4 Jasa
Penginapan (10) 3 3 2 2 3 3 3 akan semakin berkembang dan bertambah kunjungan wisatawan didaerah. Kondisi sebagaimana
Travel agen (11) 2 3 3 3 2 2 kajian beberapa komponen penting industri pariwisata diatas, menemukenali beberapa
Tempat Ibadah (12) 2 2 2 1 1
keunggulan dan juga kendala serta permasalahan yang tengah terjadi. Secara ringkas komponen
Money Cahanger (13) 3 3 2 1
Asuransi (14) 2 1 1 industri pariwisata di Kabupaten Tana Toraja tersebut diuraikan sebagai berikut:
Penyewaan kendaraan (15) 1 1 Rangkuman Potensi dan Kendala Komponen Industri Pariwisata Kabupaten
Pusat hiburan (16) 2 Tabel: 5.10
Tana Toraja
Pusat Kebugaran (17) Komponen Industri
Sumber; Hasil Analisis Tim, 2020 No. Keunggulan / Potensi Kendala/Masukan masalah
Pariwisata
[Link] Kurang Erat 2. Hubungannya Erat 1 Akomodasi ▪ Jumlah akomodasi cukup ▪ Tingkat hunian masih cukup rendah
3. Hubungannya sangat Erat banyak telah tersedia dengan dibanding dengan kunjungan wisatawan
berbagai jenis dan kelas. ▪ Masih terfokus di Kota Makale
▪ Kelas akomodasi sudah sampai ▪ Kualifikasi akomodasi masih perlu
berbintang dua dan tiga. dilakukan.
Terkait dengan ulasan beberapa komponen industri pariwisata di Tana Toraja tersebut diatas, ▪ Umumnya hotel menampilkan ▪ Masih dominan jenis akomodasi yaitu
yang menjadi tulang punggung kepariwisataan didaerah yaitu DTW atau kawasan wisata itu karakteristik lokal dari wisma dan homestay.
bangunan, makanan, dan ▪ Belum menampilkan adanya kerjasama
sendiri. Secara teoritis keberadaan dan perkembangan industri pariwisata, sangat bergantung pelayanannya. terkait pemasaran DTW melalui perkenalan
pada daya tarik wisata yang ditawarkan serta kelengkapan sarana dan prasarananya, oleh karena ▪ Dapat mengembangkan jenis paket wisata, dll
suatu daya tarik wisata harus memenuhi tiga kriteria agar kawasan wisata tersebut diminati akomodasi yang berkarakter
lokal.
pengunjung, yaitu: 2 Biro Perjalanan dan ▪ Telah didukung oleh sejumlah ▪ Sesuai fungsinya, belum signifikan
1. Something to see adalah obyek wisata tersebut harus mempunyai sesuatu yang bisa dilihat dan Agen Perjalanan biro perjalanan baik di Tana menyusun dan menyelenggarakan paket
Wisata Toraja maupun Kota Makassar. wisata di Tana Toraja.
atau dijadikan tontonan oleh pengunjung wisata. Dengan kata lain obyek tersebut harus ▪ Peluang investasi cukup terbuka ▪ Masih dibutuhkan peran pemesanan
mempunyai daya tarik khusus yang mampu untuk menyedot minat dari wisatawan untuk dengan adanya rencana akomodasi, restoran dan sarana lainnya.
berkunjung di obyek tersebut; pengembangan simpul-simpul ▪ Masih perlu kerjasama intens dengan
daya tarik unggulan maupun pemerintah maupun pihak lain yang
2. Something to do adalah agar wisatawan dapat melakukan sesuatu yang berguna untuk yang telah tersedia didaerah. menyediakan usaha daya tarik wisata.
memberikan perasaan senang, bahagia, relax berupa fasilitas rekreasi, baik itu arena bermain ▪ Penyediaan jasa layanan perjalanan wisata
salah satu kendala terkait karakteristik
ataupun tempat makan, terutama makanan khas dari tempat tersebut sehingga mampu wilayah dalam pengembangan
membuat wisatawan lebih betah untuk tinggal di DTW tertentu; dan infrastruktur menuju destinasi wisata.
3. Something to buy adalah fasilitas untuk wisatawan berbelanja yang pada umumnya adalah ▪ Bisnis online travel yang berkembang
cukup memberi tantangan agen-agen
ciri khas atau icon dari daerah tersebut, sehingga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh. perjalanan wisata.
▪ Kemajuan teknologi informasi dalam
Ketiga unsur diatas mengandung makna bahwa pengembangan daya tarik wisata bukan hanya penyediaan perjalanan wisata cukup sulit
menampilkan potensi daya tariknya suatu kawasan saja, namun lebih dari itu perlu dilengkapi diadopsi oleh wisatawan.
▪ Kendala belum merata penyediaan fasilitas
dengan kebutuhan-kebutuhan lain sesuai perkembangan kepariwisataan secara global. Hal ini makan dan minum pada DTW.
sangat perlu dilakukan mengingat karakteristik wisatawan yang memiliki hobi berwisata tentunya 3 Transportasi dan ▪ Akan segera dibuka ▪ Masih adanya DTW yang belum terkoneksi
sudah mempunyai referensi-referensi daya tarik wisata yang banyak dan untuk menentukan Aksesibilitas penerbangan langsung ke Tana antar DTW yang bisa diakses dengan baik.
Toraja melalui Bandara Buntu ▪ Masih ada ruas-ruas jalan tertentu yang
pilihannya tentu akan mengacu pada ketiga variabel tersebut diatas yang lebih layak dikunjungi Kuni. sulit dilalui oleh kendaraan.
atau yang belum pernah dikunjungi dari apa yang sudah pernah dikunjunginya, dalam hal ini ▪ Akses darat sangat lancar. ▪
▪ Umumnya akses menuju DTW
wisatawan cenderung selalu mencari hal-hal unik yang jarang atau belum pernah ditemui. yang telah dikembangkan telah
tersedia.
V - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 5.10
Rangkuman Potensi dan Kendala Komponen Industri Pariwisata Kabupaten wisatawan. Peningkatan pendapatan rumahtangga atau masyarakat akan mendorong
Tana Toraja peningkatan konsumsi masyarakat, selanjutnya mendorong peningkatan pendapatan masyarakat
Komponen Industri
No. Keunggulan / Potensi Kendala/Masukan masalah lainnya dan memperluas kesempatan kerja. Ini disebut efek yang didorong (induced effects) dari
Pariwisata
▪ Jasa transportasi lokal cukup pengeluaran wisatawan. Indirect effects dan induced effects disebut secondary effects, dan efek
mudah diakses, roda 2 maupun pengganda (multiplier effects) wisatawan mengukur total efek (directs plus secondary) yang
roda 4.
4 Jasa Boga dan ▪ Umumnya tersedia di hotel- Penyediaan tempat-tempat makan masih
dihasilkan dari tambahan pengeluaran wisatawan.
Restoran hotel dan restoran lain. cukup minim tersebar disekitar DTW.
Peningkatan aktivitas produksi sektor-sektor ekonomi yang terkait langsung atau tidak langsung
5 Money Changer / ▪ Telah tersedia fasilitas -
Tempat Penukaran perbankan dengan pariwisata akan menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Ini yang disebut dengan
Uang dan Perbankan keterkaitan penciptaan kesempatan kerja (employment linkages). Usaha kecil menengah (UKM)
6 Atraksi Wisata ▪ Cukup banyak atraksi budaya ▪ Masih minim atraksi wisata pada DTW
yang dapat eksplor khususnya DTW budaya sebagai ciri khas.
dan usaha rumahtangga (URT) baik yang berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum adalah
▪ Masyarakat cukup terbuka ▪ Fasilitas atraksi budaya dan kesenian pelaku-pelaku ekonomi yang tersebar di semua sektor ekonomi, dan merupakan usaha yang
terkait kebudayaan. belum berkembang signifikan di DTW. banyak menciptakan lapangan usaha tanpa harus memiliki jenjang pendidikan tertentu.
7 Oleh-Oleh Atau ▪ Beberapa DTW telah ▪ Pada DTW alam berbasis agro belum
Cindera Mata berkembang dan dikenal tempat cukup tersedia fasilitas penjualan hasil Usaha kecil menengah merupakan peluang usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri dan
penjualan cindera mata. perkebunan masyarakat.
▪ Potensi keanekaragaman ▪ Diperlukan penataan fasilitas perbelanjaan dikerjakan secara mandiri namun memerlukan akses permodalan dalam pengembangan usaha.
kerajinan sangat banyak di DTW. Berdasarkan data Potensi Desa (PODES) tahun 2018, dalam menggambarkan kegiatan UMKM di
tersedia.
Sumber: Hasil Kajian Analisis Tim, Tahun 2020
Kabupaten Tana Toraja yaitu dengan berkembangnya sejumlah sarana ekonomi pada tingkat
mikro wilayah setiap kecamatan. UMKM didaerah ini berkembang usaha perorangan maupun
berbadan usaha diantaranya koperasi, sarana perdagangan dan akomodasi, kelompok pertokoan,
Agar suatu daya tarik wisata dapat dijadikan sebagai salah satu kawasan wisata yang menarik,
pasar, dan kios sarana produksi pertanian, fasilitas perkreditan, industri-industri kecil dan mikro,
maka faktor yang sangat menunjang adalah kelengkapan dari sarana dan prasarananya. Karena
dan lain sebagainya cukup berkembang dikecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Tana
sarana dan prasarana juga sangat diperlukan untuk mendukung dari pengembangan DTW,
Toraja.
diantaranya 1) Perhubungan: jalan raya, udara, dan terminal; 2) Instalasi pembangkit listrik dan
instalasi air bersih; 3) Sistem telekomunikasi, baik itu telepon, telegraf, radio, televisi, kantor pos; 5.2.1 Koperasi
4) Pelayanan kesehatan baik itu puskesmas maupun rumah sakit; 5) Pelayanan keamanan baik Koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum
itu pos satpam penjaga DTW maupun pos-pos polisi untuk menjaga keamanan disekitar DTW; 6) koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Keanggotaannya sukarela;
Pelayanan wistawan baik itu berupa pusat informasi ataupun kantor pemandu wisata; dan lain- Pengelolaannya yang demokratis; Pembagian sisa hasil usahanya dilakukan secara adil;
lain. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal; dan Kemandirian, serta sekaligus sebagai
gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas azas kekeluargaan.
5.2 USAHA KECIL DAN MENENGAH PENDUKUNG PARIWISATA Keberadaan koperasi didaerah terutama didesa-desa menjadi salah satu ukuran berkembangnya
Wisatawan selama didaerah tujuan wisata melakukan berbagai pengeluaran (konsumsi), seperti pola perekonomian di desa yang berkembang. Jenis koperasi yang berkembang di Kabupaten
untuk akomodasi, makanan dan minuman, perjalanan, melihat atraksi budaya, pembelian Tana Toraja diantaranya Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Rakyat
cendramata dan lain-lain. Pengeluaran ini akan ditangkap oleh sektor-sektor ekonomi, sehingga (KIKR), Koperasi Simpan Pinjam (KSP), dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang memiliki
menjadi pendapatan sektor-sektor ekonomi tersebut, dan disebut dengan efek langsung (direct kesamaan prinsip dengan koperasi. Keberadaan koperasi ini perlu mendapat merespons dari
effects) pengeluaran wisatawan. Namun peningkatan pendapatan sektor-sektor ekonomi pemerintah yang dapat menetapkan sektor pariwisata sebagai salah satu tulang punggung
tersebut akan meningkatkan permintaan input yang berasal dari output sektor-sektor ekonomi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penghasil devisa didaerah. Bahkan
lain seperti pertanian, industri, industri kerajinan, jasa transportasi dan sebagainya. pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM mengharapkan pengembangan
destinasi wisata di Indonesia tidak hanya dinikmati investor dari luar wilayah tersebut saja, tetapi
Dengan demikian, peningkatan pendapatan sektor-sektor ekonomi yang satu akan mendorong
mendorong koperasi agar berperan aktif pengembangan sebuah destinasi wisata yang pasti akan
peningkatan produktivitas sektor-sektor ekonomi yang lain. Peningkatan output sektorsektor
bermuara pada meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
ekonomi produksi selanjutnya akan meningkatkan balas jasa faktor produksi yang digunakan
dalam proses produksi, sehingga meningkatkan pendapatan pemilik faktor produksi, yaitu Jumlah dan sebaran usaha koperasi di Kabupaten Tana Toraja cukup tersedia hampir diseluruh
rumahtangga dan perusahaan. Ini disebut efek tidak langsung (indirect effects) pengeluaran kecamatan dengan jenis yang berbeda-beda kecuali di Kecamatan Rano, Mappak dan Malimbong
V - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Baleppe. Hal ini menjadi potensi memanfaatkan kegiatan wisata terutama dalam pengembangan
desa-desa wisata. Sedangkan koperasi yang berbasis pada produksi pertanian terdapat 2 unit 5.2.4 Industri
KUD, 31 BUMDes dan 35 Non KUD dan BUMDes. Industri Kecil dan Mikro dikelompokkan menurut bahan baku utama dengan tenaga kerja kurang
dari dua puluh pekerja. Jenis industri kecil dan mikro ini terdapat kurang lebih sekitar 155 unit
5.2.2 Perdagangan usaha yang terdiri dari 48 unit usaha industri kayu, 9 unit usaha logam, 1 unit usaha keramik, 25
Udaha perdaganan skala mikro kecil dan menengah di Kabupaten Tana Toraja yang cukup unit usaha kain tenun, dan 37 unit usaha makanan dan minuman.
berkembang diseluruh kelurahan, desa dan lembang-lembang yaitu jenis usaha Toko/Warung
Kelontong, dan Toko/Warung Kelontong yang Menjual Bahan Pangan secara perorangan atau
tidak terpusat pada lokasi tertentu, dengan total jumlah sebanyak 139 unit usaha Toko/Warung
Kelontong dan 83 unit usaha Toko/Warung Kelontong. Sedangkan perdagangan dalam bentuk
pengelompokan kawasan terdiri dari kelompok pertokoan sebanyak 6 unit di Kecamatan Makale
dan Kecamatan Gandangbatu Silanan, pasar dengan bangunan sebanyak 28 unit yang tersebar
dikecamatan-kecamatan kecuali Kecamatan Rano, Sangalla, dan Kurra, berikutnya pasar tanpa
bangunan sebanyak 14 unit yang hanya terdapat di 9 kecamatan.
5.2.3 Fasilitas Perkreditan
Fasilitas Perkreditan adalah fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha
untuk meminjam uang untuk membeli produk dan membayarnya kembali dalam jangka waktu
yang ditentukan. Tidak termasuk pinjaman dari perorangan.
Fasilitas perkreditan di Kabupaten Tana Toraja cukup berkembang, diantaranya terdapat jenis Gambar 5.3. Persentase Keberadaan Industri Kecil dan Mikro di Kab. Tana Toraja
usaha perkreditan berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebanyak 128 unit usaha, Kredit Ketahanan (Sumber: BPS Tana Toraja, 2018
Pangan dan Energi (KKP-E) hanya 1 unit usaha di Kecamatan Mengkendek, Kredit Usaha Kecil
(KUK) sebanyak 18 unit usaha, dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebanyak 19 unit usaha.
Tabel: 5. 11 Jenis dan Rincian UMKM Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Usaha
Koperasi Perdagangan Kelompok Perdagangan
No. Lokasi Usaha
KLP. PASAR/ TOKO.
KUD KIKR KSP Lain MM R/ RM Kedai T/ WKL T. WKBP PASAR/B
TOKO TB TANPA KLP.
1 Bonggakaradeng - - 2 - - - 2 6 2 - 1 3 2
2 Simbuang - - - 1 - - - 6 2 - 2 2 2
3 Rano - - - - - - - 5 1 - - 1 4
4 Mappak - - - - - - - 6 - - 2 1 3
5 Mengkendek - - 2 1 2 - 4 15 10 - 2 1 14
6 Gandang Batu Sillanan 1 - 1 - 1 - 6 12 6 5 3 - 7
7 Sangalla 1 - 1 - - - 2 5 2 - - - 5
8 Sangalla Selatan - - - - - 1 2 5 1 - 1 - 4
9 Sangalla utara - - 2 - - 1 3 6 6 - 1 - 5
10 Makale 2 - 4 - 4 - 7 15 15 1 1 1 12
11 Makale Selatan - - - - - - 2 8 8 - 4 3 4
12 Makale Utara - - 2 1 2 2 4 5 4 - 1 1 3
13 Saluputti - - - - - - 1 2 1 - 1 - 8
14 Bituang - - 1 - - - 2 6 6 - 2 - 13
15 Rembon - - 1 1 - - 4 13 7 - 2 - 11
V - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 5. 11 Jenis dan Rincian UMKM Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Usaha
Koperasi Perdagangan Kelompok Perdagangan
No. Lokasi Usaha
KLP. PASAR/ TOKO.
KUD KIKR KSP Lain MM R/ RM Kedai T/ WKL T. WKBP PASAR/B
TOKO TB TANPA KLP.
16 Masanda 1 - - - - - 1 8 2 - 2 - 6
17 Malimbong Balepe - - - - - - - 5 2 - 1 - 5
18 Rantetayo - 1 1 - - - 2 6 3 - 2 - 4
19 Kurra 1 - - - - - - 5 5 - - 1 5
JUMLAH 6 1 17 4 9 4 42 139 83 6 28 14 117
Keterangan:
KUD : Koperasi Unit Desa, KIKR : Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Rakyat, KSP : Koperasi Simpan Pinjam, MM : Mini Market.
R/RM : Restoran/Rumah Makan. T/WKL : Toko/Warong Kelontong. [Link] : Toko/Warong Kelontong yang Menjual Bahan Pangan.
KLP. Toko : Kelompok Pertokoan. Pasar. B : Pasarn dengan Bangunan. Pasar. TB : Pasar Tanpa Bangunan. Toko. Tanpa KLP : Tidak Ada Kelompok Pertokoan dan Pasar.
Tabel: 5.11 Jenis dan Rincian UMKM Pendukung Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2018
Jenis Usaha
Produksi Pertanian Fasilitas Perkreditan Industri Kecil dan Mikro
No. Lokasi Usaha
BUM Anya- Kera- Makan
KUD NON KUR KKP-E KUK KUBE kayu Logam Tenun
DES man mik Minum
1 Bonggakaradeng - 3 1 2 - - - 4 - - - 2 4
2 Simbuang - - - - - - - 4 - - - 6 -
3 Rano - 1 2 5 - 1 - 2 - - 1 2 2
4 Mappak - 2 - - - - - 4 - - - 1 -
5 Mengkendek - 4 5 17 1 1 1 5 4 4 - - 8
6 Gandang Batu Sillanan 1 1 9 11 - - - 2 - - - 1 1
7 Sangalla - - 1 5 - - 4 2 2 1 - - 1
8 Sangalla Selatan - - 1 5 - - 3 1 1 - - 1 5
9 Sangalla utara - - 1 6 - 3 4 4 - 4 - 4 5
10 Makale - - 1 13 - 5 4 9 2 7 - - 4
11 Makale Selatan - - 2 7 - - 2 - - - - - -
12 Makale Utara - - 1 5 - - - 3 - 1 - 3 3
13 Saluputti - - - 5 - 2 - - - - - - -
14 Bituang - 9 3 13 - - - 2 - 1 - 1 2
15 Rembon - 1 4 12 - 2 - 4 - 9 - 2 2
16 Masanda - 6 - 6 - 3 - 1 - 1 - - -
17 Malimbong Balepe - 1 - 6 - - - - - - - 1 1
18 Rantetayo - 1 1 5 - - - - - 2 - 1 -
19 Kurra 1 2 3 5 - 1 1 1 - 5 - - -
JUMLAH 2 31 35 128 1 18 19 48 9 35 1 25 37
Sumber: BPS Kabupaten Tana Toraja. Statistik Potensi Desa, Tahun 2018
Keterangan:
KUD : Koperasi Unit Desa, BUM Des : Badan Usaha Milik Desa, NON : bukan KUD dan BUMDes.
KUR : Kredit Usaha Rakyat. KKP-E : Kredit Ketahanan Pangan dan Energi. KUK : Kredit Usaha Kecil. KUBE : Kelompok Usaha Bersama.
V - 15
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
6
PASAR PARIWISATA DAN UPAYA
PEMASARAN YANG DILAKUKAN
VI - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
350,000 324,500
Desember 325,510
November 37,009 300,000
Oktober 35,423
250,000
September 15,551 211,056
1,600
Perkembangan kunjungan wisatawan pada tahun terakhir (2019) untuk wisatawan nusantara
1,418
dengan jumlah 1.030.821 wisnus, memiliki kecenderungan yang sama serta yang 1,400
mempengaruhi total kunjungan wisatawan tersebut diatas, hal ini disebabkan karena
perbandingan antara wisatawan nusantara dan mancanegara yang cukup signifikan, dimana 1,200 1,113
1,039 1,010
jumlah wisatawan mancanegara yang melakukan kunjungan hanya sebanyak 10.526 943
984
1,000 887
kunjungan, dengan angka perbandingan sebesar 98% dari jumlah wisatawan nusantara. 856
800 736
Kondisi tersebut menjadi dasar dalam melihat kesiapan daerah khususnya pada waktu-waktu
605
tersebut atau waktu dimana terjadi kerenggangan pengunjung wisatawan dalam melakukan 600 493
upaya peningkatan pelayanan baik dari sisi manajemen maupun daya tarik wisata maupun 442
mengembangan atraksi dan kegiatan wisata lainnya serta kerjasama kelembagaan pariwisata 400
terkait.
200
Gambar 6.3.
Grafik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Mancanegrara Tahun 2019
VI - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
6.1.2 Perkembangan Kunjungan Wisatawan dan 1.506 wisman asal Belanda, sedangkan untuk wilayah Asia terdapat hanya beberapa negara
Kunjugan wisatawan di Kabupaten Tana Toraja dalam waktu 10 tahun terakhir menunjukkan yang berkunjung namun jumlah kunjungan tidak signifikan dibandingkan dengan negara-negara
peningkatan yang sangat pesat, tahun 2010 jumlah kunjungan hanya sebesar 18.265 di Eropa dan Amerika, diantaranya Jepang, Malaysia, Australia, dan Korea.
wisatawan, dan meningkat di tahun 2019 mencapai 1.041.347 kunjungan wisatawan, atau 80
terjadi peningkatan jumlah sebesar 1.023.82 kunjugan wisatawan. Jika diamati perkembangan 60
dari tahun ke tahun selama periode tersebut sebagaimana ditunjukkan pada grafik diatas, 60 50
43
walaupun terjadi peningkatan secara akumulasi 10 tahun diatas, namun setiap tahunnya cukup
40
fluktuatif peningkatan kunjungan wisatawan. 29 28
1200%
20
4
1000% 1,000% -
-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
800% (25)
(20)
(22)
600% (46)
(40)
400% (60)
Gambar 6.5
200% 79%
36% 38% 15% Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Kab. Tana Toraja, 2009-2019
30% 11%
22% -24.30%
0% 0%
1,400
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1,186
-200% 1,200
Gambar 6.4
Grafik Persentase Perkembangan Kunjungan Wisatawan ke Tana Toraja, 2009-2019 1,000
800
Terjadinya penurunan jumlah kunjungan wisatawan yang fluktuatif yang dimaksud adalah
perbandingan terhadap jumlah kunjungan dengan setiap tahun sebelumnya. Wisatawan 600
nusantara yang melakukan perjalanan wisatanya ke Tana Toraja terjadi penurunan hanya pada
400
tahun 2019 terhadap tahun 2018. Sedangkan untuk kunjungan wisatawan mancanegara terjadi
penurunan pada tahun 2015, tahun 2018 dan tahun 2019 terhadap tahun-tahun sebelumnya. 200 103
42 37
Jika diamati perkembangan tersebut, penurunan angka kunjungan lebih besar pada wisatawan - 26 31 11 16
(24)
mancanegara yaitu rata-rata sebesar -31,6% dan nusantara sebesar -24% (2018-2019). -
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Tana Toraja merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi negara-negara Eropa, serta (200)
beberapa negara di Benua Afrika dan Amerika. Hal ini terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan Gambar 6.6
mancanegara berdasarkan data yang diperoleh, setidaknya sekitar 40 negara asal wisatawan Grafik Persentase Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kab. Tana Toraja, 2009-2019
yang pernah melakukan perjalanan wisata ke Tana Toraja. Pada tahun 2017, Negara Perancis,
Jerman dan Belanda merupakan negara asal wisatawan dari benua eropa yang paling banyak
Berikut tabel rincian kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Kabupaten Tana
datang berwisata ke Tana Toraja yaitu 6.142 wisman asal Perancis, 4.810 wisman asal Jerman,
Toraja tahun 2009-2019.
VI - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 6.1 Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010 – 2019
No Tahun
Bulan
. 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 1.776 1.192 2.784 2.410 2.089 3.288 122.049 149.334 125.506 212.095
2 Februari 1.133 1.049 2.878 1.988 1.599 4.264 66.845 63.191 59.294 37.279
3 Maret 1.182 1.228 1.578 2.462 2.323 2.387 54.454 53.179 67.879 20.868
4 April 1.295 1.125 1.523 2.564 2.114 2.985 40.408 52.681 63.668 14.924
5 Mei 1.561 1.067 1.985 3.246 1.385 4.253 53.124 49.414 45.686 44.314
6 Juni 1.261 1.224 1.915 2.931 2.586 2.854 49.573 74.373 28.305 121.498
7 Juli 2.116 1.286 2.818 10.443 12.023 12.885 144.265 82.656 108.548 130.442
8 Agustus 1.210 1.421 3.479 12.152 16.940 21.613 51.840 49.999 75.873 46.434
9 September 1.502 1.829 2.412 4.127 7.423 6.267 104.057 40.789 42.244 15.551
10 Oktober 917 1.885 3.244 3.364 3.622 1.973 106.745 35.500 55.467 35.423
11 November 1.312 4.551 3.803 2.544 9.696 10.536 66.479 69.761 246.993 37.009
12 Desember 3.000 7.025 5.949 13.412 18.436 24.590 217.020 478.225 456.238 325.510
Jumlah 18.265 24.882 34.368 61.643 80.236 97.895 1.076.859 1.199.102 1.375.701 1.041.347
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020
Tabel: 6.2 Kunjungan Wisatawan Nusantara di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2009 – 2019
No Tahun
Bulan
. 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 1.137 1.574 925 2.126 1.154 1.524 1.639 120.914 146.402 123.876 211.056
2 Februari 780 832 761 2.130 1.251 1.062 3.425 65.485 60.692 58.300 36.336
3 Maret 200 725 892 1.015 1.345 1.942 1.509 53.218 52.065 66.908 20.375
4 April 208 893 869 1.063 1.450 1.412 1.987 39.112 50.898 62.852 14.188
5 Mei 647 1.016 825 1.229 1.700 911 2.986 51.742 47.271 44.276 43.709
6 Juni 173 757 865 1.292 1.980 1.334 1.692 47.555 72.840 26.921 120.611
7 Juli 392 1.271 968 1.392 7.650 9.650 10.987 142.135 80.223 105.700 129.024
8 Agustus 369 528 685 1.371 9.066 12.585 18.893 49.239 46.349 73.879 45.321
9 September 775 1.088 1.015 1.052 2.087 4.015 4.642 101.746 38.433 39.806 14.567
10 Oktober 67 510 875 1.677 1.775 1.985 1.289 105.573 34.169 55.128 34.567
11 November 72 966 2.512 2.434 1.512 7.998 9.870 65.297 68.037 245.234 36.567
12 Desember 679 2.471 4.675 4.055 11.349 15.651 23.245 214.576 475.804 453.399 324.500
Jumlah 5.499 12.631 15.867 20.836 42.319 60.069 82.164 1.056.592 1.173.183 1.356.279 1.030.821
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020
VI - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 6.3 Kunjungan Wisatawan Mancanegra di Kabupaten Tana Toraja Tahun 2010 – 2019
No Tahun
Bulan
. 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Januari 202 267 658 1.256 565 1.649 1.135 2.932 1.630 1.039
2 Februari 301 288 748 737 537 839 1.360 2.499 994 943
3 Maret 457 336 563 1.117 381 878 1.236 1.114 971 493
4 April 402 256 460 1.114 702 998 1.296 1.783 816 736
5 Mei 545 242 756 1.546 474 1.267 1.382 2.143 1.410 605
6 Juni 504 359 623 951 1.252 1.162 2.018 1.533 1.384 887
7 Juli 845 318 1.426 2.793 2.373 1.898 2.130 2.433 2.848 1.418
8 Agustus 682 736 2.108 3.086 4.355 2.720 2.601 3.650 1.994 1.113
9 September 414 814 1.360 2.040 3.408 1.625 2.311 2.356 2.438 984
10 Oktober 407 1.010 1.567 1.589 1.637 684 1.172 1.331 339 856
11 November 346 2.039 1.369 1.032 1.698 666 1.182 1.724 1.759 442
12 Desember 529 2.350 1.894 2.063 2.785 1.345 2.444 2.421 2.839 1.010
Jumlah 5.634 9.015 13.532 19.324 20.167 15.731 20.267 25.919 19.422 10.526
Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, tahun 2020
Pemasaran sebagai suatu proses social an manajerial dimana individual maupun kelompok
mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan
nilai secara bebas dengan pihak lain. Dari pengertian ini jelas bahwa dalam proses pemasaran
pihak pemilik produk harus bisa menyesuaikan dengan keinginan wisatawan atau menyesuaikan
dengan segmen wisatawan yang berminat pada jenis produk yang dimilikinya.
VI - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Identifikasi pasar wisata dapat dilakukan dengan mempertimbangkan fakta pasar dan mempengaruhi melemahnya pasar pariwisata di Kabupaten Tana Toraja serta unsur pariwisata
kecenderungannya untuk dapat merasionalisasikan ke dalam penetapan pasar sasaran. Data lain yang harus dibenahi seperti akomodasi, pemanfaatan atraksi-atraksi budaya, pembenahan
perkembangan kunjungan wisatawan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata di Kabupaten terhadap kelembagaan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan inovasi-inovasi
Tana Toraja lebih cenderung diminati oleh wisatawan nusantara dengan selisih yang cukup besar yang dapat menangkap peluang pasar terhadap perkembangan pariwisata nasional maupun
yaitu hanya 10.526 kunjungan wisatawan mancanegara, sedangkan wisatawan nusantara global kedepannya.
mencapai 1.030.821 kunjungan. Dengan demikian, pencermatan terhadap kecenderungan pasar
Pemasaran industri pariwisata harus memutuskan segmen mana dan berapa segmen wisata yang
pariwisata Tana Toraja dapat dijelaskan sebagai berikut:
akan dilayani. Pemerintah daerah diharapkan dapat berperan mengevaluasi jumlah wisatawan
1. Wisatawan Nusantara
yang berkunjung ke Kabupaten Tana Toraja guna melakukan strategi pengembangan wisata yaitu
Pengamatan terhadap kunjungan wisatawan nusantara berdasarkan data tabel diatas,
mengindentifikasi segmen pasar wisata untuk setiap obyek wisata yang tersedia,
memiliki kecenderungan berbeda dengan wisatawan mancanegara yang lebih cenderung
mengembangkan produk wisata untuk memperluas segmen pasar wisata, dan meningkatkan
stabil setiap bulan dalam setahun. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan pemerintah daerah
akses ke seluruh kawasan dan obyek daerah tujuan wisata di Kabupaten Tana Toraja guna
dalam mengelola pariwisata harus selalu dilakukan dan berkembang karena perkembangan
meningkatkan lama tinggal wisatawan.
informasi terkait daya tarik wisata, pelayanan jasa pariwisata, akomodasi dan lainnya akan
menjadi incaran calon wisatawan yang sangat cepat terkoreksi. Target nasional terhadap Pemasaran pariwisata di Kabupaten Tana Toraja sebagai destinasi wisata dapat berperan melalui
kunjungan wisatawan nusantara di Tana Toraja yaitu sebesar 1.000.000 kunjungan di tahun penetapan pasar sasaran, serta penanganan dan pengembangan pasar melalui penciptaan,
2019, dimana target nasional telah melebihi capaian hanya di tahun 2019 yang telah pendistribusian, dan pengkomunikasian nilai destinasi wisata. Pentingnya membangun nilai
mencapai 1.030.821 kunjungan wisatawan bahnkan di tahun 2018 sebanyak 1.356.279 destinasi mengharuskan pemasaran pariwisata Tana Toraja untuk selalu outward looking dan
wisnus. Oleh karena itu, pasar pariwisata yang sangat berpotensi yaitu pada wisatawan bersikap proaktif terhadap setiap perubahan lingkungan (Pro-Active Marketing). Pentingnya
nusantara. orientasi pasar diterapkan secara konsisten adalah dalam rangka meningkatkan kemampuan
2. Wisatawan Mancanegara pemahaman terhadap kemampuan sumber daya untuk diselaraskan dengan preferensi
Wisatawan mancanegara sebagai target utama bagi pembangunan kepariwisataan baik pada konsumen. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar maka pariwisata Tana Toraja harus mampu
tingkat nasional maupun daerah, terutama di Kabupaten Tana Toraja yang dikembangkan menerjemahkan perilaku maupun kebutuhan wisatawan secara menyeluruh untuk dapat
sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional, pemerintah pusat melalui pengebangan mengetahui dan memahami harapan dan preferensi wisatawan, agar dapat disesuaikan dengan
KSPN Toraja menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara didaerah ini sebanyak kesediaan produk yang ditawarkan (product-market matching). Aspek-aspek pasar yang
250.000 wisatawan di tahun 2019, namun pada tahun tersebut hanya mencapai 10.526 berfungsi sebagai demand side dalam pemasaran destinasi pariwisata di Kabupaten Tana Toraja.
kunjungan wisman. Berdasarkan data yang diperoleh terhadap kunjungan wisatawan pada DTW yang dikembangkan
Kondisi ini tentu perlu dilihat secara konperhensif terhadap karakteristik wisatawan di Kabupaten Tana Toraja dalam upaya menentukan segmen pasar, pada dasarnya belum
mancanegara dalam melakukan perjalanan wisatanya pada destinasi wisata yang terkait tersedia secara keseluruhan, namun terdapat beberapa DTW yang telah tersedia diantaranya
dengan penyediaan sarana prasarana penunjang dan pelengkap pariwisata, keunggulan dari DTW Lemo, Burake, Pango Pango, Kambira, Tilangnga’, Makula, dan Tampang Allo, dan yang
daya tarik wisata yang ditawarkan, serta pengelolaannya. paling banyak dikunjungi yaitu DTW Burake (data tahun 2017), namun data tersebut belum dirinci
menurut daerah asal wisatawan (wisnus dan wisman).
Kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat Gambaran Minat Kunjugan Wisatawan pada DTW Unggulan di Kabupaten
pesat terutama dari segi destinasi pariwisatanya. Hal ini ditandai oleh beberapa faktor yang dapat Tabel: 6.4
Tana Toraja
menjadi indikator berkembangnya destinasi pariwisata sebagai salah satu tolak ukur penting No. Kunjugan ke DTW 2012 2013 2014 2015 2016
dalam melihat pasar yang berkembang dewasa ini, yaitu adanya pembenahan-pembenahan 1 LEMO 22.421 40.067 40.000 46.000 46.500
terhadap sejumlah daya tarik wisata, adanya perencanaan-perencanaan pembangunan daya tarik 2 BURAKE - - 1.000.000
wisata unggulan, adanya pengembangan infrastruktur pariwisata didaerah, serta adanya 3 PANGO-PANGO - - 23.474 34.000 20.000
4 KAMBIRA 1.360 2.000 2.000 1.590 1.000
pembangunan dan rencana pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun
5 SUAYA 1.500 1.576 1.500 1.800 900
provinsi.
6 TILANGNGA' 3.500 7.000 6.000 10.000 3.000
Namun demikian, terdapat pula kecenderungan yang dapat menjadi kendala apabila 7 MAKULA 4.600 8.000 7.000 5.000 5.000
perkembangan tersebut tidak barengi dengan pemahaman tentang minat wisatawan yang terus 8 TAMPANG ALLO 987 3.000 262 108 463
JUMLAH 34.368 61.643 80.236 98.498 1.076.863
berubah/berkembang dan adanya keseragaman daya tarik wisata didaerah lain yang dapat
VI - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
VI - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
7
Kelembagaan pariwisata merupakan salah satu unsur penting dalam pemabngunan
kepariwisataan. Hambatan dalam bidang kelembagaan dalam pembangunan pariwisata di
Kabupaten Tana Toraja yaitu belum optimalnya lembaga-lembaga pendukung sektor pariwisata
dalam hal ini sinergitas antar stakeholders perlu ditingkatkan sehingga pembangunan pariwisata
sejalan dengan pembangunan daerah dan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pendapata
asli daerah. Lembaga-lembaga atau asosiasi yang bergerak dibidang pariwisata seperti ASITA,
PHRI, HPI, dan sebagainya masih kurang memeberikan pelatihan kepada para pelaku usaha
wisata sehingga sumber daya yang kompeten dibidang wisata masih sangat terbatas.
Belum banyaknya kebijakan-kebijakan yang mengatur mengenai bidang pariwisata menajdikan
lemahnya sektor pariwisata untuk dapat menajdi sektor unggulan dalam pembangunan daerah.
Pemangku-pemangku kepentingan yang dapat merumuskan mengenai kebijakan dibidang
kepariwsataan masih sangat minim sehingga belum banyaknya peraturan-peraturan daerah
yang memeberikan arahan dalam pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja.
VII - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Pemerintah, Tenaga Kerja/ Usaha Pariwisata, dan Kalangan Masyarakat, khususnya sekitar daya
tarik wisata.
Lembaga pemerintah yang menangani secara langsung pengembangan pariwisata, peningkatan
SDM dapat dilakukan melalui Diklat Penjenjangan dan Diklat Teknis Fungsional. Sedangkan
untuk aparat yang menunjang/tidak langsung terkait dengan pengembangan pariwisata,
dilakukan Diklat Kepariwisataan yang bersifat penyuluhan, peningkatan “Tingkat Sadar Wisata”
dan “Citra Pariwisata”.
Untuk kalangan tenaga kerja/usaha pariwisata, peningkatan kualitas SDM dapat dilakukan
melalui kegiatan-kegiatan pendidikan dan latihan yang bersifat penyegaran, pemantapan dan
pengembangan. Kegiatan diklat pemantapan dapat dilakukan pada kalangan pimpinan tingkat
menengah dan titik berat pada peningkatan wawasan pariwisata. Kegiatan diklat
pengembangan dapat dilakukan pada kalangan pimpinan tingkat bawah atau pelaksana, dan
titik berat pada praktek kerja lapangan.
VII - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Membantu Kepala Dinas merumuskan dan mengoordinasikan kebijakan bidang d. Menyusun rancangan, mengoreksi, memaraf dan/atau menandatangani naskah dinas;
pengembangan destinasi dan industri pariwisata. Tugas yang diemban adalah sebagai e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
berikut: f. Mengoordinasikan rumusan kebijakan Bidang kelembagaan dan kemitraan, sumber
a. Menyusun rencana program kegiatan bidang destinasi dan industri pariwisata sebagai daya manusia serta penyuluhan masyrakat sadar wisata;
pedoman dalam pelaksanaan tugas; g. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan program dan kegiatan;
b. Mendistribusikan dan memberikan petunjuk pelaksanaan tugas sehingga berjalan h. Mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan Bidang Pengembangan Kapasitas;
lancar; i. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka kelancaran pelaksanaan
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dalam lingkungan bidang tugas;
pengembangan destinasi dan industri pariwisata; j. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Bidang Pengembangan Kapasitas dan
d. Menyusun rancangan, mengoreksi, memaraf dan/atau menandatangani naskah dinas; memberi saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan; dan
e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya; k. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang
f. Mengoordinasikan rumusan kebijakan pengembangan destinasi, jasa dan industri tugasnya.
pariwisata, pengawasan dan pengendalian bidang pengembangan destinasi dan industri Bidang Bidang Pengembangan Kapasitas pada Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja ini
pariwisata; membawahi 3 (tiga) seksi/bagian yaitu diantaranya:
g. Melakukan pembinaan dan melaksanakan program dan kegiatan dibidang a. Seksi Kelembagaan dan Kemitraan;
pengembangan destinasi dan industri pariwisata; b. Seksi Sumber Daya Manusia;
h. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan program dan kegiatan c. Seksi Pembinaan dan Penyuluhan Kepariwisataan;
pengembangan destinasi, jasa dan industri pariwisata serta pengawasan dan 5. Bidang Pemasaran dan Promosi
mengendalian; Mempunyai tugas membantu Kepala Dinas mengoordinasikan perumusan kebijakan Bidang
i. Memberikan petunjuk, mengawassi dan membimbing pelaksanaan tugas bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata. Rincian tugas yang diemban pada bidang ini antara
pengembangan destinasi dan industri pariwisata; lain:
j. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait sesuai dengan bidang tugasnya dalam a. Menyusun dan merumuskan kebijakan umum Bidang Pemasaran dan Promosi
rangka pelaksanaan tugas; Pariwisata sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas;
k. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas bidang pengembangan destinasi dan industri b. Mengoordinasikan rumusan kebijakan Bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata;
pariwisata dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan c. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas sehingga berjalan lancar;
perumusan kebijakan; dan d. Memantau, mengawasi, dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dalam lingkungan Bidang
l. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata;
tugasnya. e. Menyusun rancangan, mengoreksi, memaraf dan/atau menandatangani naskah dinas;
Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata pada Dinas Pariwisata Kabupaten f. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
Tana Toraja ini membawahi 3 (tiga) seksi/bagian yaitu diantaranya: g. Mengoordinasikan penyelenggaraan kebijakan teknis inovasi dan industri kreatif,
a. Seksi Pengembangan Destinasi promosi dan pengolahan data dan informasi;
b. Seksi Jasa dan Industri Pariwisata h. Membina, mengoordinasikan dan melaksanakan program dan kegiatan Bidang
c. Seksi Pengawasan dan Pengendalian Pemasaran dan Promosi Pariwisata;
4. Bidang Pengembangan Kapasitas i. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan program dan kegiatan
Mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam melaksanakan penyusunan dan Bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata;
pelaksanaan kebijakan, Bidang Pengembangan Kapasitas Kepariwisataan. Tugas yang j. Memberi petunjuk, mengawasi dan membimbing bawahan dalam pelaksanaan tugas
diemban pimpinan bidang ini diantaranya: pemasaran dan promosi;
a. Menyusun rencana kegiatan Bidang Pengembangan Kapasitas sebagai pedoman dalam k. Melakukan dan mengendalikan pelaksanaan program Bidang Pemasaran dan Promosi
pelaksanaan tugas; Pariwisata;
b. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas sehingga berjalan lancar; l. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait sesuai dengan bidang tugasnya dalam
c. Memantau, mengawasi, dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dalam lingkungan Bidang rangka pelaksanaan tugas;
Pengembangan Kapasitas;
VII - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata 2. Strategi peningkatan kapasitas dan kinerja kelembagaan pariwisata, yaitu:
dan memberi saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan; a. Pemantapan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC;
n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan sesuai bidang tugasnya. b. Penguatan tata kelola organisasi kepariwisataan dalam struktur dinas;
Bidang Pengembangan Pemasaran dan Promosi pada Dinas Pariwisata Kabupaten Tana c. Kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat dalam pembentukan peraturan
Toraja ini membawahi 3 (tiga) seksi/bagian yaitu diantaranya: perundangan terkait ketentuan pemafaatan keanekaragaman budaya dan sejarah
a. Seksi Inovasi dan Industri Kreatif sebagai daya tarik wisata serta pengembangan araksi-atraksi budaya pada DTW
b. Seksi Promosi berpotensi;
c. Seksi Data dan Informasi. d. Membentuk dan meningkatkan fungsi kelembagaan desa wisata sebagai bentuk
pemberdayaan masayarakat dan upaya mengembangkan ekonomi masyarakat;
e. Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders pariwisata yang dapat
7.3 PENGUATAN ORGANISASI KEPARIWISATAAN
merangkum seluruh pelaku pariwisata termasuk masyarakat;
Kelembagaan pariwisata didaerah pada dasarnya menjadi tulang punggung perkembangan
kepariwisataan. Koneksitas kelembagaan antar stakeholders yang berperan dalam sektor 3. Strategi pengembangan kerjasama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia
pariwisata baik pemerintah, swasta dan kelompok masyarakat atau kelompok adat di Tana pariwisata, yaitu:
Toraja menjadi bagian dari arahan terhadap penguatan organisasi kepariwisataan yang secara a. Membangun kerjasama antar daerah dengan lembaga pendidikan dalam
umum meliputi: mengembangkan program-program studi berbasis kepariwisataan;
1. Optimalisasi Koordinasi Antar Dinas terkait dalam pembangunan sarana dan prasarana b. Membangun skema bantuan pendidikan dan pelatihan, serta kerjasama lembaga
pariwisata dan dengan kabupaten lain serta provinsi dalam pengembangan paket-paket pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata lokal;
wisata lintas kabupaten dan provinsi yang terkait dengan Kabupaten Tana Toraja c. Melakukan penyuluhan, pelatihan dan bentuk pengembangan kapasitas pelayanan
sehubungan dengan Tana Toraja sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional dan wisatawan terhadap individi-individu, maupun kelompok sadar wisata yang terlibat
provinsi, yang dapat dilakukan melalui perencanaan partisipatif koordinasi lintas sektor dalam kegiatan wisata;
(merujuk pada Inpres 16 tahun 2005 tentang Arah kebijakan Pembangunan Kebudayaan d. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan daya tarik wisata lintas sektor dan institusi;
dan Pariwisata); e. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan pasar wisatawan dalam rangka
2. Optimalisasi organisasi kepariwisataan swasta dan masyarakat di tingkat kabupaten yang pengembangan pasar baru dan pengembangan produk;
dapat dilakukan melalui penguatan peran serta swasta dalam meningkatkan akselerasi f. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan peningkatan promosi pariwisata didalam
pembangunan kepariwisataan melalui Public-private Partnership (PPP); dan negeri dan di luar negeri;
3. Optimalisasi Kemitraan Usaha Pariwisata Antara Pemerintah Daerah, Swasta dan g. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan daya saing produk pariwisata;
Masyarakat dengan mengembangkan dan revitalisasi organisasi masyarakat di bidang h. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan kemitraan usaha pariwisata;
pariwisata; i. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan tanggungjawab terhadap lingkungan;
Berdasarkan pada kajian strategi pembangunan kelembagaan dan sumber daya manusia,
menghasilkan beberapa kebijakan dan trategi-strategi yang akan ditempuh sebagai pengatan
kinerja kelembagaan di Kabupaten Tana Toraja diantaranya sebagai berikut:
1. Strategi peningkatan integrasi dan koordinasi pembangunan kepariwisataan, yaitu:
a. Meningkatkan koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam upaya
pengitegrasian pembangunan pariwisata didaerah;
b. Membangun system dan jaringan komunikasi diantara seluruh stakeholders didalam
melaksanakan pembangunan pariwisata baik didalam maupun di luar negeri;
c. Fasilitasi pembentukan kelembagaan lintas sektor didaerah yang berperan dalam
pembangunan kepariwisataan;
d. Upaya menarik investasi modal asing di bidang pariwisata sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan di bidang keuangan;
VII - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
8
8.1 ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
8.1.1 Isu Strategis Kepariwisataan
Isu pembangunan kepariwisataan merupakan potensi dan permasalahan penting yang menjadi
faktor kunci keberhasilan dan prioritas dalam pembangunan kepariwisataan. Isu pembangunan
kepariwisataan memiliki fungsi untuk memberikan gambaran mengenai permasalahan dan
tantangan utama dalam pembangunan kepariwisataan, sebagai dasar dalam menentukan
prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan yang sesuai dengan kondisi dan situasi
kepariwisataan, serta sebagai dasar dalam menentukan visi pembangunan kepariwisataan yang
sesuai dengan kondisi dan situasi kepariwisataan.
Isu strategis pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dirumuskan berdasarkan:
▪ Potensi yang dimiliki kabupaten dalam mendukung pembangunan destinasi pariwisata,
industri pariwisata, pemasaran dan kelembagaan kepariwisataan;
▪ Permasalahan yang dihadapi kabupaten dalam mendukung pembangunan destinasi
pariwisata, industry pariwisata, pemasaran dan kelembagaan kepariwisataan;
▪ Posisi pembangunan kepariwisataan kabupaten dalam kebijakan pembangunan wilayah
kabupaten dan pembangunan kepariwisataan nasional dan provinsi; dan
▪ isu-isu pembangunan wilayah kabupaten.
VIII - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
6. Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) telah dikembangkan yang akan menghubungkan 2. Kecenderungan kebutuhan manusia berwisata yang semakin meningkat.
berbagai destinasi-destinasi pariwisata nasional. 3. Adanya tren wisatawan yang lebih menghargai perjalanan wisata yang berkualitas.
7. Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara destinasi-destinasi wisata 4. Tren pemanfaatan teknologi informasi bagi pengembangan pariwisata.
didaerah lain khususnya daerah sekitar yang berdampak langsung. 5. Dukungan Pemerintah Pusat dalam mengembangkan citra Tana Toraja sebagai destinasi
8. Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan masih eksisnya budaya lokal wisata nasional dan global.
masyarakat Toraja. 6. Situasi dan kondisi daerah sangat kondusif.
9. Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang dapat dikembangkan untuk menunjang 7. Tingginya tingkat persaingan destinasi pariwisata secara nasional dan regional.
kegiatan wisata. 8. Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan tahun terakhir dari 2018 ke tahun 2019 sebesar
10. Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi beberapa kawasan wisata (jalan lingkar -24%.
pariwisata). 9. Adanya pengembangan pariwisata didaerah sekitar yang juga cukup kuat dan memiliki
11. Aksesibilitas antar DTW masih perlu ditingkatkan sehingga dapat membentuk satu kesatuan kesamaan jenis DTW.
perjalanan wisata yang baik. 10. Pemasaran belum dilakukan secara maksimal, wisatawan umumnya mendapatkan informasi
12. Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung kepariwisataan belum memenuhi standar. dari rekan, media online.
13. Belum maksimalnya pengembangan potensi-potensi desa wisata. 11. Kekhawatiran masuknya budaya asing yang tidak bisa diadopsi masyarakat dengan baik.
14. Belum cukup berkembang daya tarik wisata buatan sebagai penganekaragaman jenis DTW. 12. Terdapat beberapa DTW yang sangat unggul dan direspon oleh wisatawan dengan
kunjungan yang cukup besar seperti Buntu Burake, Pango Pango, dll.
[Link] Isu Strategis Pembangunan Industri Pariwisata 13. Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu wilayah dengan kebudayaan yang unik dan
1. Tingginya angka kunjungan wisatawan konsisten serta beragam.
2. Rencana pengebangan bandara Buntu Kuni terintegrasi dengan destinasi wisata unggulan 14. Memiliki toleransi sosial yang kuat.
nasional lainnya. 15. Minimnya studi pasar pariwisata yang lebih mendalam untuk mengetahui karakteristik
3. Cukup banyak perusahaan penyedia jasa pengangkutan ke Tana Toraja. wisatawan, pola perjalanan, serta preferensi wisatawan.
4. Cukup banyak tersedia Oleh-Oleh Atau Cindera Mata yang diusahakan masyarakat. 16. Wisatawan masih cenderung hanya melakukan perjalanan pada DTW tertentu dan terbatas.
5. Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata dari luar yang mengurangi 17. Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang dapat dijual/dipromosikan.
kesempatan dan persaingan didaerah. 18. Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan secara global sebagai salah satu
6. Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan destinasi pariwisata nasional.
darat), yang belum cukup terintegrasi dengan baik
7. Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang dapat dilalui dengan kendaraan roda [Link] Isu Strategis Pembangunan Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia
dua maupun roda empat Pariwisata
8. Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di Kota Makale. 1. Persaingan yang semakin terbuka menghasilkan kesempatan bagi SDM didaerah lain
9. Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan perundangan. berkompeten untuk bekerja di sektor kepariwisataan.
10. Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan 2. Peran sektor-sektor pembangunan menunjang pembangunan kepariwisataan Tana Toraja
darat), yang belum cukup terintegrasi dengan baik telah terpadu di tingkat pusat.
11. Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi secara maksimal. 3. Dukungan pemerintah pusat dan provinsi Sulawesi Selatan dalam pengembangan destinasi
12. Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang di fasilitas akomodasi. pariwisata prioritas dan infrastruktur KSPN Toraja
13. Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-DTW yang berpotensi 4. Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar wilayah akan menggeser kedudukan tenaga
14. Usaha-usaha industri pariwisata masih dikembangkan secara sub-subsistem. kerja lokal.
5. Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dalam
[Link] Isu Strategis Pembangunan Pemasaran Pariwisata pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja
1. Ada kecenderungan pemasaran paket wisata yang dilakukan oleh jasa usaha pariwisata 6. Adanya lembaga adat yang dapat berkontribusi dalam pengembangan daya tarik wisata
yang memasarkan destinasi pariwisata Tana Toraja dengan harga yang relatif kecil yang khususnya budaya dan atraksi wisata (kesenian, dll)
disebabkan koordinasi antar stakeholders dan pembangunan kepariwisataan yang belum 7. Masih cukup terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM pariwisata didaerah.
maksimal.
VIII - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
8. Masyarakat yang relatif belum mengenal dan memahami tuntutan industri pariwisata Tana 8.2 PRINSIP PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Toraja (Sapta Pesona).
Prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan merupakan ideologi yang dianut dalam
9. Belum berkembangnya lembaga-lembaga pengembangan SDM pariwisata.
merumuskan arah pembangunan kepariwisataan. Prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan
10. Belum maksimalnya peran sektor didaerah secara terpadu dalam pembangunan
Kabupaten Tana Toraja dirumuskan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya:
kepariwisataan.
▪ Isu-isu pembangunan kepariwisataan nasional dan provinsi;
11. Belum optimalnya pengembangan skema kerjasama antar stakeholders, diantara pelibatan
▪ Prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan yang berkembang pada skala provinsi dan
masyarakat dalam pengembangan pariwisata.
nasional;
▪ Visi dan misi pembangunan wilayah kabupaten;
8.1.2 Tantangan Pembangunan Kepariwisataan
▪ Isu-isu strategis pembangunan kepariwisataan kabupaten; dan
Melihat perkembangan kepariwisataan yang sangat pesat, kecenderungan minat wisatawan baik
▪ Isu-isu strategis pembangunan wilayah kabupaten.
nusantara maunpu mancanegara yang berkembang dan berbeda-beda menyebabkan
pentingnya upaya pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha pariwisata untuk terus Dengan demikian, kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dibangun dengan prinsip:
meningkatkan kinerjanya termasuk dalam merumuskan berbagai kebijakan pembangunan 1. Melestarikan kebudayaan daerah Tana Toraja dengan memperkuat jati diri dan adat istiadat
pariwisata yang konferhensif dan berlaku untuk semua kalangan sesuai perkembangan masyarakat Tana Toraja;
kepariwisataan nasional dan global. Kabupaten Tana Toraja dengan segala potensi, 2. Menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep
permasalahan, kendala serta peluang yang jelaskan dalam isu-isu strategi diatas menjadikan hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan, hubungan antara
semakin terbukanya tantangan pembangunan kepariwisataannya sebagai bagian dari manusia dan sesamanya, dan hubungan antara manusia dan lingkungan;
berkembangnya dunia kepariwisataan. Oleh karena itu, Tana Toraja diperhadapkan pada 3. Menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan lokal;
beberapa tantangan yang dianggap perlu untuk dijadikan sebagai ujung tombak pembenahan 4. Memberdayakan kelembagaan budaya, aktivitas seni budaya dan penerapan nilai-nilai
dan peningkatan kualitas kepariwisataannya baik dari sisi destinasi, industri, pemasaran agama.
maupun kelembagaan pariwisata sehingga kepariwisataan kabupaten dapat tetap maju dan 5. Memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan, kesetaraan, dan proporsionalitas;
diminati oleh wisatawan, yaitu diantaranya: 6. Memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup;
▪ Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara destinasi-destinasi wisata 7. Menjamin keterpaduan antarsektor, antardaerah, antara pusat dan daerah serta
didaerah lain khususnya daerah sekitar yang berdampak langsung; keterpaduan antarpemangku kepentingan;
▪ Berpotensi turunnya investasi penyediaan akomodasi wisata akibat rendahnya tingkat 8. Mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan internasional dalam bidang
hunian pariwisata; dan
▪ Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata dari luar yang mengurangi
kesempatan dan persaingan didaerah 8.3 KONSEP PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
▪ Tingginya tingkat persaingan destinasi pariwisata secara nasional dan regional 8.3.1 Konsep Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
▪ Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan tahun terakhir dari 2018 ke tahun 2019 sebesar Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, adalah pembangunan yang didukung secara
-24%. ekologis dalam jangka panjang, sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial.
▪ Adanya pengembangan pariwisata didaerah sekitar yang juga cukup kuat dan memiliki Potensi sumber daya wisata Kabupaten Tana Toraja sekaligus potensi pasar wisatawan yang
kesamaan jenis DTW tersebar tidak merata di wilayah Tana Toraja, serta kondisi lingkungan fisik, sosial, budaya,
▪ Kekhawatiran masuknya budaya asing yang tidak bisa diadopsi masyarakat dengan baik maupun ekonomi yang beragam menyebabkan pengembangan pariwisata yang sesuai dengan
▪ Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dalam kerangka pembangunan berkelanjutan menjadi tidak bisa ditawar tawar lagi.
pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja.
Pengembangan kepariwisataan harus disesuaikan dengan daya dukung spesifik untuk tiap-tiap
▪ Potensi pengembangan UMKM sebagai penunjang industri pariwisata masih cukup lemah.
wilayahnya. Pembangunan pariwisata Kabupaten Tana Toraja yang berkelanjutan berprinsip
▪ Kerjasama dan koordinasi antar stakeholders bidang pariwisata dengan pemerintah
pada:
kabupaten masih perlu ditingkatkan dalam upaya peningkatan pelayanan dan kualitas
▪ Terjaminnya keberlanjutan sumber daya wisata dan sumber daya pendukung pembangunan
kepariwisataan yang menyeluruh.
pariwisata Kabupaten Tana Toraja untuk kesejahteraan masyarakat;
VIII - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Terintegrasinya pembangunan kepariwisataan Tana Toraja dengan lingkungan alam, 2. Pariwisata harus berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan dan diintegrasikan
budaya, dan manusia, serta menjamin perubahan yang terjadi akibat pembangunan dengan lingkungan alam, budaya dan manusia.
pariwisata dapat diterima oleh lingkungan; 3. Pemerintah dan otoritas yang kompeten, dengan partisipasi lembaga swadaya masyarakat
▪ Terpadunya perencanaan dan pengembangan pariwisata yang disusun pemerintah dan dan masyarakat setempat harus mengambil tindakan untuk mengintegrasikan perencanaan
otoritas yang berwenang dengan seluruh stakeholders pariwisata di Kabupaten Tana Toraja. pariwisata sebagai kontribusi kepada pembangunan berkelanjutan.
4. Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan memperkuat bantuan,
Konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan merupakan konsep dasar yang digunakan
langsung atau tidak langsung, kepada projek-projek pariwisata yang berkontribusi kepada
sebagai pedoman dalam perumusan rencana induk pembangunan pariwisata dan kegiatan
perbaikan kualitas lingkungan.
pengembangannya. Dengan demikian seluruh rencana pengembangan kepariwisataan daerah
5. Ruang-ruang dengan lingkungan dan budaya yang rentan saat ini maupun di masa depan
dirumuskan dengan berpedoman pada konsepsi ini. Untuk lebih optimalnya operasionalisasi
harus diberi prioritas khusus dalam hal kerja sama teknis dan bantuan keuangan untuk
konsep ini dan juga disesuaikan dengan karakteristik dan lingkup perencanaan, maka didukung
pembangunan pariwisata berkelanjutan.
pula oleh konsep manajemen strategis, konsep perwilayahan dan klaster pengembangan, dan
6. Promosi/dukungan terhadap berbagai bentuk alternatif pariwisata yang sesuai dengan
konsep sinergi stakeholders.
prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
Sebagaimana dipahami bahwa pariwisata adalah sebuah aktivitas dimana dalam operasionalisasi 7. Pemerintah harus mendukung dan berpartisipasi dalam penciptaan jaringan untuk
maupun pengembangannya perlu adanya keseimbangan dalam pengelolaan lingkungan hidup. penelitian, diseminasi informasi dan transfer pengetahuan tentang pariwisata dan teknologi
Oleh karenanya, pelaksanaan pembangunan harus berdasar pada daya dukung lingkungan; pariwisata berkelanjutan.
dapat meningkatkan keselarasan dan keseimbangan dan meningkatkan ketahanan sistem serta 8. Penetapan kebijakan pariwisata berkelanjutan memerlukan dukungan dan system
tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup. pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan, studi kelayakan untuk transformasi sektor,
Pariwisata berkelanjutan (Sustainable Development) merupakan sebuah isu dan telah menjadi dan pelaksanaan berbagai proyek percontohan dan pengembangan program kerjasama
visi pengembangan pariwisata di dunia saat ini dan masa datang. Hal ini secara tegas telah internasional.
disampaikan oleh UNWTO dengan merekomendasikan pedoman dan manual penerapan Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, dikembangkan indikator-indikator yang dapat dipakai
pembangunan pariwisata secara berkelanjutan. Setiap negara dan daerah perlu secara bertahap untuk mengukur tingkat keberlanjutan suatu destinasi pariwisata, sebagai arah kemana
untuk menerapkan pendekatan ini dalam pembangunan kepariwisataannya. Pembangunan yang program pembangunan pariwisata harus dilakukan atau ukuran keberhasilan yang harus
berkelanjutan merupakan pedoman dasar bagi pengelola pariwisata yang berkaitan dengan dicapai, jadi bukan semata jumlah kunjungan wisatawan. Indikator-indikator, yang saat ini
lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan sosial budaya agar dapat dimanfaatkan berjumlah lebih dari 500 indikator, dikelompokkan dalam aspek sebagai berikut :
dalam pembangunan. ▪ Kesejahteraan (well being) masyarakat tuan rumah;
Konsep ini merupakan sebuah konsep ideal bagi pengembangan pariwisata dimana dalam ▪ Terlindunginya aset-aset budaya;
pengembangannya, pariwisata harus mampu melakukan pengembangan secara seimbang antara aspek ▪ Partisipasi masyarakat;
ekonomi – lingkungan – sosial budaya, sehingga pemanfaatan sumberdaya pariwisata dapat dilakukan ▪ Kepuasan wisatawan;
secara lestari dan bertanggung jawab tanpa merusak atau mengurangi nilai sumber daya yang dimiliki. Hal ▪ Jaminan kesehatan dan keselamatan;
ini dimaksudkan agar upaya komersialisasi (ekonomi) selaras dengan upaya konservasi sumber daya agar ▪ Manfaat ekonomi;
▪ Perlindungan terhadap aset alami;
tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
▪ Pengelolaan sumber daya alam yang langka;
Disamping itu, perlunya pelaksanaan pembangunan pariwisata berkelanjutan juga terkait dengan semakin ▪ Pembatasan dampak; dan
meingkatnya apreasiasi konsumen yang semakin tinggi dan menuntut suatu destinasi wisata untuk ▪ Perencanaan dan pengendalian pembangunan.
memperhatikan keseimbangan kualitas lingkungan dan sosial budaya dengan pengembangan ekonomi.
Dalam penerapan pembangunan pariwisata berkelanjutan, disamping mempertimbangkan
Prinsip-prinsip dan sasaran-sasaran dari Piagam Pariwisata Berkelanjutan yang direkomendasikan
kemampuan daya saing daerah Kabupaten Tana Toraja sebagai destinasi pariwisata,
UNWTO tahun 2004 adalah bahwa :
pengembangan pariwisata perlu senantiasa memperhatikan :
1. Pembangunan pariwisata harus berdasarkan kriteria keberlanjutan dapat didukung secara
▪ Sistem nilai dan identitas DTW dan destinasi;
ekologis dalam waktu yang lama, layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial bagi
▪ Standarisasi pelayanan dan fasilitas pariwisata;
masyarakat setempat.
▪ Tingkat pemanfaatan (intensitas) dan perilaku pemanfaatan;
VIII - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Pengaturan kewilayahan, waktu, dan tingkat pengembangan; 4. Komunikasi dan kerjasama antar stakeholders dalam menumbuhkembangkan identitas,
▪ Daya dukung lingkungan dan sosial; standar, dan kualitas dalam mengelola kegiatan pariwisata.
▪ Tingkat keterlibatan masyarakat. 5. Dengan makin tingginya tingkat persaingan dalam pengembangan pariwisata, perlu adanya
kesiapan dan komitmen bersama antar stakeholders dalam upaya menciptakan situasi
Sejalan dengan hal tersebut, Rachel Dodds and Marion Joppe (2001) di Toronto
wilayah yang sangat kondusif bagi kegiatan pariwisata. Kondisi ini dapat dimungkinkan
mengembangkan “Green Tourism” dengan 4 (empat) elemen pokok, yaitu :
dengan adanya komunikasi dan kerjasama yang intensif dan komprehensif dalam
▪ Enviromental Resposibility
penetapan kebijakan maupun arah pengembangan daerah.
Elemen ini menyatakan bahwa pelu adanya perlindungan lingkungan dalam upaya untuk
6. Pengembangan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja diwujudkan dalam kerangka pelestarian
menjamin kelangsungan ekosistem wilayah.
fungsi-fungsi sosiologis dan ekologis secara konsisten dan bertanggung jawab.
▪ Local Economic
7. Dalam pelaksanaannya, kebijakan pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja
Pengembangan pariwisata harus mendukung kelangsungan ekonomi komunitas.
dilakukan dengan diarahkan kepada pelestarian sumber daya serta identitas masyarakat.
▪ Cultural Diversity
Ini dapat dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan proyeksi pertumbuhan pasar,
Dalam pengembangan pariwisata harus mengangkat kekayaan budaya dari masyarakat.
serta kesiapan masyarakat dalam mendukung pengembangan kegiatan pariwisata.
▪ Experiental Richness
8. Pembangunan pariwisata yang memberikan ruang dan peran serta yang nyata pada
Perlu dikembangkan aktivitas-aktivitas yang bersifat partisipatif terhadap lingkungan,
masyarakat.
masyarakat, serta budaya wilayah tersebut.
9. Penetapan atribut produk pariwisata dilakukan dengan mengkonversi aktivitas pariwisata
Pada tingkat implementasi, penerapan pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten yang dapat melibatkan masyarakat, dengan mengkombinasikannya aktivitas masyarakat
Tana Toraja dihadapkan pada sederetan tantangan, antara lain: yang secara langsung maupun tidak langsung yang dapat mendukung aktivitas pariwisata.
▪ Pengembangan kebijakan dan implementasi kebijakan terhadap pengembangan pariwisata. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata
▪ Kemampuan pengembangan dan pengemasan produk wisata yang tertuang dalam Rencana sehingga timbulnya kesadaran akan pentingnya kegiatan pariwisata. Dengan kondisi
Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja beserta Rencana Tindak-nya, untuk tersebut diharapkan akan mampu memberikan kondisi yang kondusif dalam kepariwisataan
meningkatkan kreativitas pengembangan produk wisata yang selaras dengan profil wilayah di Kabupaten Tana Toraja.
dan kecenderungan permintaan wisatawan (factor penentu dan kompetisi).
Secara operasional, penerapan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah sebagai berikut :
▪ Peran serta aktif stakeholders pariwisata dalam setiap proses pengembangan pariwisata.
▪ Konsistensi dalam melaksanakan dan mengembangkan standard dan kualitas dalam setiap
unsur atribut dan produk wisata.
Dari uraian di atas, pengembangan pariwisata secara berkelanjutan di Kabupaten Tana Toraja
perlu dikembangkan dengan berorientasi pada :
1. Pengembangan kebijakan dan implementasi kebijakan daerah terhadap pengembangan
pariwisata.
Pengembangan kepariwisataan memiliki tingkat integrasi yang tinggi dengan sektor-sektor
lain (multisektor), dalam hal ini pariwisata di Kabupaten Tana Toraja harus memiliki peran
sebagai attractors. Sebagai attractor Kabupaten Tana Toraja memiliki fungsi untuk
mengemas sumber daya menjadi aktivitas maupun produk yang mampu menarik
wisatawan. Dalam hal ini pengembangan kebijakan pengembangan pariwisata harus
selaras dengan kebijakan dan pembangunan wilayah. Gambar 8.1. Paradigma Konsep Pariwisata Berkelanjutan
2. Penggalian dan penerapan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat menjadi unsur dan atribut Untuk menumbuhkan daya saing pada penerapan konsep pariwisata berkelanjutan dalam
produk wisata. pengembangan pariwisata Kabupaten Tana Toraja, secara operasional dilakukan dengan
3. Sebagai satu kesatuan wilayah yang utuh, dengan kekhasan dan keragaman ciri khas menggunakan kombinasi resource-based approach dan market-based approach, dengan
masing-masing, Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja diharapkan mampu pemahaman bahwa secara umum resource-based approach dikembangkan dengan mengadopsi
mengakomodir ciri khas wilayah tiap kecamatan/lembang dan mengembangkannya sebagai pemahaman akan kecenderungan pasar dan lingkungan strategis. Konsep tersebut
sebuah daya tarik wisata.
VIII - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
dikembangkan dengan kesadaran bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan Penetapan struktur ruang merupakan penjabaran spasial dari strategi pengembangan yang
yang memiliki ciri pengembangan melalui ketersediaan dan kemampuan sumberdaya pariwisata, diambil dan dimaksudkan untuk:
kemampuan wilayah, pengorganisasian, dan masyarakat. ▪ Memaksimalkan peluang kedatangan wisatawan melalui penciptaan kemudahan kunjungan;
▪ Mengefektifkan upaya pengembangan kegiatan pariwisata melalui aglomerasi-aglomerasi
Pembangunan pariwisata melalui pendekatan ini diyakini akan lebih dapat diterima oleh
kegiatan dan alokasi fasilitas penunjang secara efisien;
masyarakat dan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab, dengan tetap memiliki
▪ Meningkatkan citra daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja melalui penyediaan produk yang
manfaat ekonomi serta menciptakan multiplier effect yang tinggi. Oleh sebab itu,
menarik, serta pelayanan yang berkualitas;
pengembangan pariwisata daerah perlu mempertimbangkan secara cermat faktor-faktor yang
▪ Memberi kejelasan kepada berbagai pihak terkait dengan industri pariwisata dan
saling berkait dan yang diperkirakan akan menjadi faktor pengganggu. Dalam mengembangkan
menyelaraskan dengan rencana pengembangan sektor-sektor kegiatan lainnya.
daerah sebagai destinasi pariwisata, tidak hanya aspek daya tarik sebuah hal yang paling
esensial namun aspek-aspek lain perlu diperhatikan. Dengan demikian, maka diharapkan bahwa Ada 3 unsur strategis yang ditetapkan untuk membentuk struktur ruang kegiatan, yaitu:
pembangunan pariwisata di daerah dapat tumbuh berkembang secara dinamis dan produktif 1. Simpul-Simpul Pengembangan, yang merupakan cluster-cluster daya tarik wisata, berfungsi
dalam rangka mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat. sebagai suatu kesatuan wilayah pengembangan kegiatan wisata dimana di dalamnya:
▪ Terdapat kumpulan berbagai objek/ daya tarik wisata
8.3.2 Konsep Keterkaitan Antar sektor dalam Pengembangan Pariwisata ▪ Sebagai pusat pelayanan kepada wisatawan
Pengembangan wilayah melihat sektor-sektor sebagai suatu sistem yang saling berkaitan. ▪ Sebagai tempat pengembangan usaha-usaha pariwisata
Sektor ekonomi yang utama di suatu wilayah perlu dikembangkan dalam kerangka saling
Sebagai pusat pelayanan kepada wisatawan, pada tiap Simpul Pengembangan harus memiliki
melengkapi dan mendukung dengan sektor lain. Pariwisata sangat multisektoral dan tidak dapat
fasilitas pelayanan yang bersifat menunjang aktivitas wisata, yaitu:
maju dan berkembang dengan sendirinya tanpa dukungan dari sektor lain. Di lain pihak, sektor
▪ Akomodasi
lain pun dapat memanfaatkan pariwisata untuk bersinergi secara positif sehingga saling
▪ Logistik
mendukung dan menguntungkan. Dengan kreativitas dan inovasi perencanaan, pariwisata dapat
▪ Transportasi
dikembangkan seiring dengan sektor lainnya tanpa harus memunculkan konflik. Oleh karena itu
▪ Informasi dan komunikasi
pengembangan pariwisata Kabupaten Tana Toraja, harus:
▪ Rekreasi
▪ Dikaitkan dan diselaraskan dengan sektor ekonomi dasar yang berkembang atau berpotensi
di daerah yang bersangkutan, misalnya pengembangan wisata agro perkebunan buah- Simpul pengembangan dengan demikian merupakan suatu kutub pertumbuhan kegiatan
buahan di kawasan agropolitan yang ditetapkan sebagai kawasan budidaya buah-buahan; pariwisata dan suatu wilayah. Sebagai kutub pertumbuhan, tidak diberikan suatu batasan
▪ Secara kreatif menggali potensi, baik yang tangible (teraba) maupun intagible (tak teraba) wilayah yang tegas, sebaliknya diharapkan kutub tersebut akan terus membesar sejauh hal
dari potensi sumber daya sektor-sektor di wilayah; itu memberi keuntungan kepada wilayah secara keseluruhan. Simpul pengembangan juga
▪ Bekerjasama dan berkoordinasi dengan sektor lain dalam berbagai tahapan perencanaan, bukan merupakan suatu alokasi wilayah yang secara eksklusif hanya diperuntukan bagi
implementasi dan pengawasan pembangunan serta dengan jelas menguraikan ’siapa pengembangan kegiatan tertentu.
melakukan apa’ di antara sektor-sektor yang ada dalam pemerintahan, industri pariwisata, 2. Pintu Gerbang Wilayah, sesuai dengan namanya, akan menjadi tempat keluarmasuknya
masyarakat, dan stakeholders pariwisata lainnya. wisatawan dari dan ke suatu wilayah. Penetapan suatu titik sebagai pintu gerbang adalah
Dengan konsep ini pariwisata menjadi alat pemersatu sektor-sektor pembangunan wilayah dan bersangkut-paut dengan ketersediaan prasarana perhubungan antar wilayah serta posisi
mengurangi potensi konflik antar kepentingan. wilayah-wilayah luar yang akan dipandang menjadi sumber wisatawan.
8.3.3 Konsep Struktur Ruang Pariwisata Pintu gerbang wilayah juga menjadi titik lokasi yang memberi kesadaran kepada wisatawan
Sesuai dengan kaidah perencanaan yang baik, penataan suatu wilayah harus mengenai identitas dari suatu wilayah yang akan dimasuki. Dengan demikian pintu gerbang
mempertimbangkan unsur-unsur keterpaduan dan menyeluruh (holistik). Berdasarkan hal itu, dapat juga berfungsi memberikan citra/ impresi mengenai suatu wilayah kepada wisatawan
upaya pengembangan kegiatan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja harus dilakukan dengan yang datang, sebagai "kesan pertama" yang akan membantu wisatawan dalam
memandang Kabupaten Tana Toraja sebagai suatu satuan wilayah pengembangan. mengapresiasi berbagai daya tarik yang ada di dalam wilayah tersebut.
Implikasinya adalah semua komponen penunjang ditata sebagai satu kesatuan yang bekerja 3. Koridor Penghubung, berfungsi menjadi jalur pergerakan wisatawan sejak kedatangan dan
bersama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. pergerakan antar simpul pengembangan. Jika pada masing-masing simpul pengembangan
VIII - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
pergerakan wisatawan merupakan perjalanan jarak pendek, yaitu dari tempat akomodasi Inskeep (1991:432), zonasi diciptakan/ dibuat dengan maksud untuk membatasi daerah-daerah
ke berbagai lokasi objek wisata dan daya tarik lainnya, maka pergerakan wisatawan di dengan jenis penggunaan lahan yang berbeda-beda sehingga kepentingan masing-masing
Koridor Penghubung merupakan suatu perjalanan jarak jauh. Perbedaan sifat perjalanan penggunaan lahan tidak bertabrakan dan lebih dapat dikendalikan serta diawasi. Selain itu juga
ini memerlukan jenis pelayanan yang berbeda. zonasi diperlukan sebagai suatu usaha peminimalan dampak kerusakan yang mungkin
ditimbulkan sebagai akibat adanya kunjungan. Zonasi ini berguna dalam membagi konsentrasi
pengunjung, sehingga tidak terjadi konsentrasi di satu tempat yang dapat mengakibatkan
kenyamanan pengunjung menjadi berkurang.
Gambar 8.2. Konsep Struktur Ruang Pariwisata ▪ Zona Inti, merupakan main attraction suatu ODTW ditempatkan dan aktivitas utama harus
dilengkapi pula dengan fasilitas utama.
8.3.4 Konsep Diversifikasi Daya Tarik ▪ Zona Penyangga (Buffer Zone), berfungsi memisahkan main attraction dengan aktivitas dan
Disamping penetapan ciri daya tarik unggulan, dapat juga dikembangkan suatu ciri daya tarik fasilitas pendukung.
berbeda yang dimaksudkan sebagai diversifikasi produk. Pengembangan ini dilakukan secara ▪ Zona Pelayanan, suatu area dimana seluruh aktivitas dan fasilitas pendukung dikelompokkan
terbatas karena bukan merupakan bagian dari konsentrasi pengembangan yang akan seperti jaringan infrastruktur dasar, akses fasilitas, pelayanan pengunjung dan sebagainya.
dijalankan. Melihat kondisi alam yang banyak diantaranya masih asli, dapat diperkenalkan jenis
wisata ekowisata. 8.3.6 Konsep Fasilitas Wisata
Secara definitif, menurut Witt-Moutinho (1994:338) fasilitas DTW yang kadang juga
Jenis wisata ini pada umumnya diminati oleh jumlah wisatawan yang terbatas jumlahnya.
diterminologikan sebagai amenities, adalah "segala unsur-unsur yang terdapat di suatu daerah
Ekowisata adalah jenis kegiatan wisata yang lebih banyak mengandalkan kepada daya tarik
tujuan wisata, atau yang berhubungan dengannya, yang dimungkinkan digunakan bagi para
alam yang ada dan hanya sesedikit mungkin menampilkan segala sesuatu yang sifatnya buatan
pengunjung yang tidak hanya untuk sekedar tinggal dan menikmati saja, tapi juga ikut
manusia, baik untuk daya tariknya maupun fasilitas-fasilitas wisata. Ekowisata dikembangkan
berpartisipasi dalam DTW atau atraksi tersebut.". Karakteristik ODTW yang mass tourism
menjadi daya tarik minor atau yang jumlahnya hanya sedikit, dan disisi lain tidak perlu dilakukan
dengan area kepadatan medium dan tinggi, menurut Baud-Bovy (101:1977) harus dilengkapi
banyak upaya untuk mengembangkan kegiatan ini.
dengan fasilitas- fasilitas, sebagai berikut:
▪ Fully equipped picnic sites with car parking;
8.3.5 Konsep Zonasi Pembangunan DTW
▪ Grassed area for rest, sunbathing, family groups;
Konsep zonasi ini memiliki tujuan untuk menjaga kelestarian sumberdaya yang ada didalamnya
▪ Limited camp sites (day and weekend use and for organised youth dubs, etc);
dan turut serta memelihara lingkungan agar berkelanjutan. Berkaitan dengan konsep diatas,
▪ Catering, recreational and cultural facilities, zoological gardens, natural history and local
fasilitas yang merupakan faktor pendukung utama suatu atraksi memerlukan penempatan yang
culture museum, etc;
baik. Dengan menggunakan konsep zonasi yang sesuai dapat menciptakan suatu
pengembangan atraksi wisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Menurut
VIII - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Where posssible rivers or reservoir for fishing, swimming and other permitted water based
activities;
▪ At a later phase the park may include open or enclosed swimming pools and spot is fields
for shows and competitions.
Atraksi wisata yang berkualitas harus didukung pula dengan adanya berbagai fasilitas. Fasilitas
wisata yang tersedia di suatu kawasan wisata merupakan faktor pendukung terhadap daya tarik
wisata yang dimiliki, sehingga keberadaan fasilitas wisata yang fungsional dan berkualitas
merupakan kondisi mutlak dalam pengelolaan suatu usaha atraksi wisata. Kemudian dalam
diktat MAW (2000:13) standar yang terdapat dalam fasilitas wisata sangat berkaitan dengan
fasilitas fisik yang tersedia di kawasan wisata seperti : jumlah, jenis, kondisi atau kualitas dan
daya tampung/ kapasitas dari fasilitas wisata tersebut.
Penyediaan jenis dan jumlah fasilitas wisata di suatu atraksi wisata harus mempertimbangkan
beberapa faktor, sebagai berikut:
▪ Karakteristik atraksi wisata;
▪ Profil pengunjung/ wisatawan;
▪ Referensi dan permintaan pasar wisata; Gambar 8.4. Klasifikasi Wisata Berdasarkan UU No. 9 / 2010
▪ Aktivitas wisata yang akan dilaksanakan oleh para pengunjung/wisatawan;
▪ Tingkat pengembangan pariwisata yang direncanakan; 8.3.8 Konsep Pengembangan DTW Alam dan Pegunungan
▪ Dana pengembangan yang tersedia. Obyek wisata alam & pengunungan erat kaitannya dengan hutan baik hutan alami atau hutan
binaan, air terjun, pendakian, kawasan agropolitan dan atraksi yang berkaitan dengan objek
Hal ini juga didukung oleh pendapat Inskeep di bawah ini:
wisata yang berada di kawasan konservasi. Obyek wisata yang memanfaatkan kawasan
“The basic approach for planning of natural tourist attractions is application of the environmental konservasi tidak terlepas dari ketentuan yang telah ditetapkan seperti Undang-Undang
planning approach which emphasizes conservation of the natural environment as well as Kehutanan. Pengembangan kawasan alam dan pengunungan lebih diarahkan pada konservasi
designing visitor facilities and organizing visitor use that fit well into the environment and do kawasan sehingga untuk kegiatan wisata harus dikembangkan sebagai tujuan ekowisata.
not degrade it" (1991:272). Ekowisata merupakan kegiatan perjalanan wisata yang bertanggung jawab di daerah tujuan
Menurut Inskeep pula bahwa konservasi ini diterminologikan sebagai "Management Plan”, wisata yang masih alami atau didaerah tujuan wisata yang dikelola dengan kaidah alam dimana
dimana hal tersebut memiliki konsep manajemen yang selalu berkesinambungan sehingga tujuannya selain menikmati keindahan juga melibatkan unsur pendidikan, pemahaman, dan
pariwisata yang ada didalamnya dapat mendukung fungsl konservasi dan diantara keduanya dukungan terhadap usaha-usaha konservasi alam dan peningkatan pendapatan masyarakat
bisa saling terlaksana seiring sejalan (1991:272). Mengacu pada prinsip-prinsip perencanaan, setempat sekitar daerah tujuan ekowisata.
khususnya dalam perencanaan zonasi, maka perlu dilakukan suatu penetapan perencanaan dan Pemanfaatan kawasan alam dan pegunungan untuk ekowisata harus mempertimbangkan
desain berbagai fasilitas yang dibutuhkan atau sesuai dengan natural attraction resources. dampak yang diakibatkan oleh wisatawan. Kabupaten Tana Toraja mempunyai banyak potensi
Fasilitas yang disediakan di dalam suatu kawasan wisata sangat dibutuhkan wisatawan/ wisata alam dan pegunungan Beberapa pertimbangan penting dalam pemanfaatan ekowisata
pengunjung untuk mendukung aktivitas pengunjung selama pengunjung menikmati atraksi ini antara lain adalah:
wisata yang ada. ▪ Pengunjung kawasan harus bertanggung jawab terhadap ekologi alam tersebut atau
disebut sebagai ekowisatawan. Pelatihan atau pengarahan intensif bagi calon pengunjung
8.3.7 Konsep Pengembangan Daya Tarik Unggulan/Utama perlu dilakukan berkaitan dengan ekowisata dan pentingnya konservasi kawasan.
Pengembangan daya tarik utama bagi para wisatawan diarahkan dengan menjadikan alam ▪ Fasilitas pendakian harus memenuhi persyaratan ekowisata yang berbasis pada sumber
sebagai daya tarik utama (focus of interst) dengan didorong oleh jenis-jenis produk lainnya daya lokal dan alami. Struktur bangunan tidak dibangun yang berlebihan.
seperti unsur penunjang (enrichment factor). Faktor yang dapat dijadikan unsur penunjang, ▪ Setiap kegiatan yang memanfaatkan kawasan konservasi harus ada petunjuk jalan (guide)
adalah sebagai berikut. yang ditunjuk oleh pengelola pariwisata setempat sehingga setiap kegiatan wisata yang
dlakukan wisatawan tercatat di pengelola kawasan.
VIII - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Jumlah kegiatan wisata tidak melebihi daya dukung kawasan. Kajian perlu dilakukan
berkaitan dengan daya dukung kawasan setiap objek wisata yang dimanfaatkan untuk
kegiatan wisata sebagai ekowisata.
▪ Perbaikan aksesibilitas menuju kawasan dan di dalam kawasan. Sirkulasi di dalam kawasan
dibuat sealami mungkin dan membantu konservasi lahan.
Kegiatan wisata alam dan pegunungan merupakan kegiatan ekowisata yang sangat
memperhatikan ekologi kawasan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Pengelolaan
kegiatan di kawasan ini harus mengikuti prosedur dan ketentuan yang ditetapkan pihak
pengelola (Lembaga Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja).
Atraksi lain yang ada di dalam kelompok wisata ini adalah kawasan agrowisata nama umum dari
wisata pertanian, yaitu wisata ke kawasan pertanian baik pertanian secara umum ataupun
pertanian secara khusus. Kawasan pertanian umum yang dimaksud dapat berupa integrated
farming dimana berbagai komoditas seperti sayuran, buahbuahan, tanaman hias, peternakan,
perikanan, dan sebagainya. Pertanian secara khusus yang dimaksud dapat berupa pertanian
khusus buah-buahan, khusus buahbuahan tertentu seperti buah naga, buah stroberi, buah
durian, buah manggis, dan sebagainya. Agrowisata di Kabupaten Tana Toraja lebih diarahkan
pada agrowisata perkebunan. Komoditas agrowisata yang paling potensial di Kabupaten Tana
Toraja adalah perkebunan, yang berada didataran tinggi.
Kegiatan agrowisata yang dapat diakomodasi pada lokasi ini adalah seperti tercantum pada
Gambar berikut. Secara umum, kegiatan agrowisata meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
(1) menikmati lanskap perkebunan, (2) mengikuti proses produksi perkebunan, (3) mengikuti Gambar 8.5. Kegiatan-kegiatan di Kawasan Agrowisata
proses pengolahan hasil perkebunan, dan (4) menikmati produk-produk lainnnya. Kegiatan-
kegiatan tersebut dapat dikunjungi baik secara sendiri-sendiri maupun keseluruhan. Kunjungan
Lanskap Perkebunan. Salah satu daya tarik agrowisata di perkebunan adalah kondisi alam
secara keseluruhan merupakan paket khusus yang ditawarkan dengan berbagai sajian termasuk
atau lanskapnya. Bentukan lahan (landform) yang alami bergelombang sampai berbukit
didalamnya souvenir dan menikmati hidangan makanan khas.
tersebut memungkinkan untuk mengakomodasi kegiatan-kegiatan seperti rekreasi alam, piknik,
dan berkemah. Sirkulasi di dalam perkebunan harus dirancang untuk dapat membawa
pengunjung berkeliling menikmati pemandangan alam perkebunan dan pemandangan pantai
dan laut yang sangat menarik. Sirkulasi ini harus dapat mengakomodasi pergerakan pengunjung
yang beragam mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek. Panjang sirkulasi tidak terlalu jauh
dan tidak memotong kawasan yang mempunyai kemiringan lahan yang sangat tajam. Pola
sirkulasi sebaiknya mengikuti pola alami, yaitu pola organik.
Fasilitas yang mendukung kegiatan rekreasi tersebut adalah gazebo, shelter, bangku taman,
dan ruang terbuka berupa lapangan rumput yang dikelilingi tegakan pohon. Fasilitas ini
disediakan untuk memenuhi kegiatan-kegiatan rekreasi seperti duduk-duduk di hamparan
rumput, duduk-duduk di bawah tegakan atau shelter, lari-lari bagi anak-anak, dan foto-foto.
Beberapa tegakan pohon yang merupakan focal point perlu dihadirkan di kawasan rumput
terbuka. Pohon yang dihadirkan dapat berupa pohon berbunga menarik atau pohon besar yang
mampu memberi naungan yang cukup luas.
VIII - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
1. Pengembangan DTW
Dalam mengembangkan suatu DTW, maka yang perlu diperhatikan antara lain; karakteristik
permintaan dan penawaran konsumen, daya tarik dan kemampuan lokal, pelayanan terhadap
wisatawan dan lain-lain. Secara khusus prinsip pengembangan DTW, adalah:
▪ Mempertimbangkan karakteristik permintaan dan penawaran berdasarkan
kecenderungan pasar (market oriented) dengan melibatkan peran serta masyarakat.
Pengembangan suatu produk harus mempertimbangkan keinginan dari para konsumen
(user oriented) sehingga produk yang dihasilkan atau direncanakan dapat dinikmati;
▪ Menggarisbawahi kepentingan ekonomi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur
Gambar 8.6. Lanskap Perkebunan sebagai Daya Tarik Wisata
dan suprastruktur kepariwisataan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar,
Lapangan rumput terbuka selain sebagai tempat rekreasi jalan-jalan menikmati pemandangan sehingga masyarakat dapat berperan aktif didalamnya;
dapat juga dimanfaatkan untuk kegiatan piknik dengan duduk bersama diatas rumput di bawah ▪ Meningkatkan dan memantapkan kualitas pelayanan untuk kepuasan wisatawan agar
tegakan pohon sambil menikmati hidangan makanan dan minuman. Area piknik dan rekreasi peningkatan daya saing dapat dipertahankan, hal tersebut sangat dipentingkan sebagai
dapat berdampingan dan atau satu kesatuan. pertanda kesiapan dari daerah dalam menyambut wisatawan;
▪ Pengembangan produk yang syarat dengan muatan keingintahuan dan lokal genius
merupakan segment produk yang sangat mengesankan bagi wisatawan;
▪ Mewujudkan kolaborasi sinerjik dalam pengembangan produk pariwisata yang
mencakup berbagai aspek dari komponen yang ada, sehingga tercipta suatu kesatuan
yang utuh dari keterkaitan antar komponen-komponen tersebut;
▪ Pencerminan dari aspek lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya yang
berperan dan mampu mempertahankan suatu produk berkelanjutan di suatu daerah,
keadaan itu merupakan suatu kondisi yang kondusif dalam beradaptasi dengan
lingkungan sekitarnya, sehingga dapat tercipta suatu suasana lingkungan yang asri dan
ramah lingkungan; dan
▪ Bertumpu pada hubungan setara antara tuan rumah, pelaku dan wisatawan, dalam hal
ini pihak pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan swasta untuk
mengelola produk wisata tanpa membedakan sumber daerah asal wisatawan.
Gambar 8.7. Lapangan Rumput di antara Tegakan Pohon
2. Pengembangan Kawasan Wisata
Pemandangan lanskap perkebunan dapat dinikmati dengan mengunjungi lokasi dan mengikuti
Dalam suatu daerah tujuan wisata mempunyai beragam jenis obyek dan daya tarik wisata,
sirkulasi yang direncanakan belum terasa cukup apabila tidak dapat menikmati produk
yang mempunyai karakteristik dan spesifikasi yang berbeda, sehingga mempunyai daya tarik
perkebunan secara langsung. Pengunjung dapat merasakan nikmatnya buah lokalyang tumbuh
yang menarik berbeda pula, ada obyek dan daya tarik wisata yang mempunyai daya tarik yang
di kawasan tersebut, dengan mengunjungi area tertentu yang dirancang khusus untuk memetik
relatif kuat dan ada pula yang mempunyai daya tarik yang lemah, atau suatu obyek dan daya
dan menikmati produk perkebunan secara langsung.
tarik yang mempunyai potensi daya tarik yang berbeda, namun diantara obyek dan daya tarik
Kegiatan lain yang sangat menarik adalah kegiatan berkemah di bawah tegakan pohon di wisata tersebut, letaknya relatif dekat satu sama lainnya, sehingga untuk mengembangkan
perkebunan tersebut. Sebagian areal perkebunan sesuai dengan kebutuhan standar dapat suatu daerah tujuan wisata seperti demikian, maka obyek dan daya tarik wisata tersebut
dimanfaatkan untuk area berkemah. Fasilitas disesuaikan dengan kebutuhan standar bumi dipadukan dalam bentuk suatu kawasan wisata.
perkemahan sederhana. Pengelolaan bumi perkemahan ini masih terintegrasi dengan
Atraksi berkelompok memudahkan wisatawan untuk berkunjung. Mungkin Ia mendatangi
agrowisata.
kelompok atraksi dengan kendaraan, lalu didalam kelompok atraksi melakukan walking tours
8.3.9 Konsep Pengembangan Produk
(berjalan kaki), sehingga secara keseluruhan wisatawan dapat menikmatinya.
Untuk menciptakan produk unggulan terhadap suatu daerah tujuan wisata, maka perlu
dilakukan pengembangan produk dalam bentuk pengembangan DTW dan pengembangan
kawasan wisata.
VIII - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Dengan menawarkan “touring tourism” naik kendaraan maka wisatawan hanya akan melihat akses jalan yang baik saja tidak cukup tanpa diiringi dengan ketersediaan sarana
atraksi utama saja, dan akan tinggal tidak terlampau lama di DTW. Tujuan dilakukannya [Link] individual tourist, transportasi umum sangat penting karena kebanyakan
penggabungan beberapa obyek dan daya tarik wisata dalam suatu kawasan adalah; mereka mengatur perjalanannya sendiri tanpa bantuan travel agent, sehingga sangat
▪ Meningkatkan dan menambah daya tarik suatu obyek wisata. bergantung kepada sarana dan fasilitas publik.
▪ Memberikan pelayanan dan suguhan atraksi wisata kepada pengunjung dengan
Amenity, adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan
berbagai ragam aktraksi.
wisatawan selama berada di [Link] berkaitan dengan ketersediaan sarana
▪ Melestarikan dan menjaga lingkungan dalam kawasan wisata.
akomodasi untuk menginap serta restoran atau warung untuk makan dan minum di suatu
▪ Memudahkan dalam membangun infrastruktur dan supraktruktur pendukung dan
desa wisata. Kebutuhan lain yang mungkin juga diinginkan dan diperlukan oleh wisatawan,
penunjang dalam kawasan wisata yang terbentuk.
seperti toilet umum, rest area, tempat parkir, klinik kesehatan, dan sarana ibadah sebaiknya
juga tersedia di sebuah destinasi. Tentu saja fasilitas-fasilitas tersebut juga perlu melihat
8.3.10 Konsep Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata
dan mengkaji situasi dan kondisi dari destinasi sendiri dan kebutuhan wisatawan. Tidak
1. Komponen Produk Desa Wisata
semua amenitas harus berdekatan dan berada di suatu desa [Link] alam dan
Inti dari produk pariwisata adalah destinasi wisata. Inilah yang menjadi daya tarik utama
peninggalan bersejarah sebaiknya agak berjauhan dari amenitas yang bersifat komersial,
atau core business dari industri [Link] berkaitan dengan sebuah tempat atau
seperti hotel, restoran dan rest area.
wilayah yang mempunyai keunggulan dan ciri khas, baik secara geografi maupun budaya,
sehingga dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi dan [Link] produk Salah satu media interaksi yang paling efektif dan total antara wisatawan dan masyarakat
yang berkaitan dengan perjalanan sebelum, selama, dan sesudah mengunjungi suatu pedesaan adalah apabila wisatawan dimungkinkan tinggal di desa. Beberapa cara yang
destinasi adalah produk-produk pendukung industri [Link]-produk tersebut mungkin bisa ditempuh adalah:
menyatu dan tidak bisa dipisahkan untuk menciptakan pengalaman yang “memuaskan” ▪ Akomodasi yang disiapkan untuk wisatawan hendaknya tetap bernuansa pedesaan. Hal
bagi wisatawan. Jika salah satu produk membuat wisatawan kecewa, maka secara ini dapat dilakukan dengan cara merehabilitasi dan sedikit modifikasi terhadap rumah
keseluruhan wisatawan akan kecewa terhadap destinasi tersebut. Untuk membuat sebuah penduduk yang sudah ada, sehingga memenuhi standar minimal akomodasi dilihat dari
destinasi wisata yang unggul, sebelum sebuah destinasi diperkenalkan dan dijual seperti segi kesehatan dan kenyamanan, meliputi sirkulasi udara, penyinaran, sanitasi dan
halnya desa wisata, terlebih dahulu harus mengkaji empat aspek utama (4A) yang harus penyediaan sarana MCK.
dimiliki, yaitu Attraction (daya tarik), Accessibility (aksesibilitas=keterjangkauan), Amenity ▪ Akomodasi merupakan bagian baru di lingkungan rumah-rumah pedesaan, dengan
(fasilitas pendukung), dan Ancilliary (organisasi/ kelembagaan pendukung). bangunan yang berdiri di lahan milik penduduk lokal. Pengelolaan dari
Attraction, adalah produk utama sebuah [Link] berkaitan dengan what to see penyelenggaraan tempat tinggal seperti itu sepenuhnya ada di tangan penduduk lokal.
dan what to do. Apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan di desa wisata tersebut. Beberapa program penyiapan sebaiknya difasilitasi secara matang sebelumnya.
Atraksi bisa berupa keindahan dan keunikan alam, budaya masyarakat setempat, Program penyiapan tersebut meliputi penyuluhan, pelatihan pengelolaan/manajemen
peninggalan bangunan bersejarah, serta atraksi buatan seperti sarana permainan dan sederhana dan sebagainya.
hiburan. Seharusnya sebuah atraksi harus mempunyai nilai diferensiasi yang tinggi, unik Ancilliary berkaitan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau orang-orang yang
dan berbeda dari desa lainnya. Berbagai macam atraksi yang mungkin untuk dikembangkan mengurus desa wisata tersebut. Ini menjadi penting karena walaupun desa wisata sudah
di suatu desa wisata meliputi: kegiatan persawah/ladangan, (2) kegiatan kesenian desa (3) mempunyai atraksi, aksesibilitas dan amenitas yang baik, tapi jika tidak ada orang atau
kegiatan olah raga dengan masyarakat desa, (4) kegiatan upacara, (5) kegiatan meditasi organisasi yang mengatur dan mengurus, maka ke depannya pasti akan terbengkalai.
lainnya (6) kegiatan pembangunan rumah, (7) kegiatan desa adat lainnya, (8) makanan Organisasi sebuah desa wisata akan melakukan tugasnya seperti sebuah perusahaan.
dan minuman. Mengelola desa wisata agar bisa memberikan keuntungan kepada pihak terkait, seperti
Accessibility, adalah sarana dan infrastruktur untuk menuju ke desa wisata. Akses jalan pemerintah, masyarakat sekitar, wisatawan, lingkungan dan para stakeholder lainnya.
raya, ketersediaan sarana transportasi dan rambu-rambu penunjuk jalan merupakan aspek Empat “A” yang dijelaskan di atas sudah seharusnya menjadi pertimbangan bagi
penting bagi sebuah destinasi desa wisata. Banyak sekali wilayah di Indonesia yang masyarakat desa atau pemerintah atau pemangku kepentingan pariwisata untuk
mempunyai keindahan alam dan budaya yang layak untuk dijual kepada wisatawan, tetapi mengembangkan suatu destinasi wisata menjadi desa wisata yang atraktif.
tidak mempunyai aksesibilitas yang baik, sehingga ketika diperkenalkan dan dijual, tak
banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjunginya. Perlu juga diperhatikan bahwa
VIII - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2. Kriteria Desa Wisata b. Pendekatan Fisik. Pendekatan fisik merupakan solusi yang umum dalam
Suatu desa akan menjadi desa wisata, diperlukan kriteria tertentu, yaitu: mengembangkan sebuah desa melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-
▪ Atraksi wisata, yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil ciptaan manusia. standar khusus dalam mengontrol perkembangan aktivitas konservasi.
▪ Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di desa. Mengkonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi
▪ Jarak Tempuh, yaitu jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum desa untuk
wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibukota provinsi dan jarak dari menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut.
ibukotakabupaten. c. Mengkonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk menampung
▪ Besaran Desa, menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut
karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan daya dukung sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata.
kepariwisataan pada suatu desa. d. Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi didalam wilayah desa yang dioperasikan
▪ Sistem Kepercayaan dan kemasyarakatan, merupakan aspek penting mengingat oleh penduduk desa sebagai industri skala kecil.
adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa.
4. Peningkatan Kapasitas Masyarakat Desa
Perludipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan sistem
Dalam mengembangkan desa wisata, pelibatan masyarakat menjadi prasyarat mutlak.
kemasyarakatan yang ada.
Namun ketika hendak melibatkan masyarakat agar mau berperan serta dalam proses
▪ Ketersediaan Infrastruktur, meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas
pengembangan desa wisata tidak bisa terjadi begitu saja. Kenapa? Karena setiap
listrik, air bersih, drainase, jaringan telepon dan sebagainya.
masyarakat memiliki karakteristiknya masing-masing. Setiap masyarakat memiliki potensi
Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa untuk konflik dan faksi-faksi, yang ibarat jerami kering, bisa terbakar kapanpun pada saat angin
kemudian menetukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe berhenti sejenak, meniup. Hambatan terbesar biasanya ada pada persoalan kapasitas dan pemahaman
tipe one day trip atau tipe tinggal inap. masyarakat tentang desa wisata.
Karena melibatkan masyarakat menjadi prasyarat utama maka proses pemberian
3. Pendekatan Pengembangan Desa Wisata
pemahaman dan peningkatan kapasitas sering memakan waktu lama. Banyak pihak yang
Pengembangan potensi desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang
menginisiasi desa wisata sering tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu
timbul dapat dikontrol. Berdasarkan hasil penelitian dan studi-studi dari UNDP/WTO dan
kesiapan masyarakat untuk terlibat. Namun sebaiknya memang kesiapan masyarakat
beberapa konsultan Indonesia (UNDP dan WTO, 1981), dicapai dua pendekatan dalam
diupayakan sehingga bisa terlibat menjadi subyek dalam pengembangan desa wisata.
menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi desa
Target utama dalam peningktan kapasitas masyarakat dalam program desa wisata ialah
wisata, yaitu:
agar masyarakat desa mampu membuat perencanaan desa wisata secara mandiri. Artinya,
a. Pendekatan Pasar. Pada pada pendekatan pasar dikenal tiga jenis interaksi, yaitu:
masyarakat akan bisa terorganisir dan mampu menjadi subyek dalam setiap pengambilan
Interaksi tidak langsung. Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa
keputusan, khususnya yang terkait dengan program pengembangan desa wisata didesanya
mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang
masing-masing. Secara rinci tahapan-tahapan kegiatan dapat dijelaskan sebagai berikut :
terjadi semisal penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa,
a. Sosialisasi
seni dan budaya lokal, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu
Tujuan sosialisasi ialah untuk menyamakan persepsi, visi dan misi tentang desa wisata
pos dan sebagainya.
antara masyarakat, konsultan (pendamping) dengan Pemerintah. Disamping itu,
Interaksi setengah langsung, bentuk-bentuk one day trip yang dilakukan oleh
melalui forum sosialisasi program desa wisata tersampaikan kepada masyarakat luas
wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan
atau perwakilan masyarakat.
kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini
b. Pelatihan ToT dan Co
adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk.
Kedua bentuk pelatihan ini bisa dilakukan secara bersama/simultan atau bisa juga
Interakasi langsung, wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam
diadakan secara terpisah. Dalam kegiatan ini kader-kader penggerak desa wisata
akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol
diberikan wawasan dan teknik memimpin pertemuan, memfasilitasi rapat sehingga bisa
dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat.
menghasilkan keputusan-keputusan yang bernas. Tujuan pelatihan ToT adalah
Alternatif lain dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua.
membentuk para kader DW menjadi fasilitator yang hebat. Sedangkan pelatihan CO
bertujuan membekali para pesertanya dengan serangkaian ilmu pengorganisasian
VIII - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
masyarakat sehingga mampu menjadi seorang pengorganisir masyarakat (community ▪ Menentukan segment pasar yang akan diraih;
organizer) yang handal, khususnya dalam hal pengembangan desa wisata. ▪ Menyusun dan membuat tour itinerary dengan pengemasan yang menarik.
c. Pelatihan Pemetaan Potensi Fisik, Sosbud
Sebuah paket wisata terkait erat dengan harga paket, dan harga paket ini harus tertuang
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang
jelas pada brosur paket wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. Penghitungan harga
potensi desa dalam rangka menyusun perencanaan desa wisata. Potensi yang
paket dimulai dengan mengumpulkan kontrak-kontrak yang masih berlaku dan membuat
dipetakan antara lain; potensi fisik (alam), potensi sosial, dan potensi budaya. Berbagai
kontrak-kontrak yang belum ada, terutama yang masuk dalam perhitungan package,
potensi yang diidentifikasi tersebut sangat penting sebagai basis dalam penyusunan
sepert: kontrak dengan hotel-hotel, kontrak dengan restaurant/ rumah makan, kontrak
paket atraksi DW. Selain itu pengetahuan tentang potensi dan kekayaan desa akan
dengan perusahaan transportasi, kontrak dengan pramuwisata yang ditugaskan, terutama
menjadi insight atau wawasan bagi para masyarakat, khususnya yang akan berperan
pada tour-tour minat khusus, seperti tour desa wisata,dll.
sebagai guide lokal.
d. Perencanaan Partisipatif Desa Wisata 6. Menciptakan Branding
Perencanaan partisipatif diikuti oleh perwakilan warga desa dengan memperhatikan Brand adalah merek yang dimiliki oleh perusahaan, sedangkan branding adalah kumpulan
keterlibatan berbagai unsur. kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka proses membangun
dan membesarkan brand. Tanpa dilakukannya kegiatan komunikasi kepada konsumen yang
5. Pengemasan
disusun dan direncanakan dengan baik, maka sebuah merek tidak akan dikenal dan tidak
Hampir semua desa di Indonesia memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata pedesaan,
mempunyai arti apa-apa bagi konsumen atau target konsumennya. Merek (brand)
bukan hanya daerah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali dan Lombok saja, tetapi
merupakan nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semuanya,
juga daerah lainnya di Indonesia. Seperti disinggung sebelumnya, Kementerian Pariwisata
yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa atau kelompok penjual dan
(sebelumnya Kemenparekraft) melaksanakan lomba desa menjadi desa wisata, dan sampai
untuk mendiferensiasikannya (membedakan) dari barang atau jasa pesaing. Dengan
tahun 2014 telah terbina sekitar 10 desa wisata di Indonesia.
demikian, sebuah merek adalah produk atau jasa penambah dimensi yang dengan cara
Namun kenyataannya hanya sedikit di antaranya yang mampu mengemas atraksi (daya
tertentumendifrensiasikannya dari produk atau jasa lain yang dirancang untuk memuaskan
tarik) suasana pedesaan menjadi paket wisata lengkap dengan fasilitas pendukung yang
kebutuhan yang sama. Peranan merek mengidentifikasi sumber atau pembuat produk dan
memadai. Oleh karena itu pengemasan perjalanan wisatawan ke suatu desa wisata menjadi
memungkinkan konsumen baik individu atau organisasi untuk menetapkan tanggung jawab
sebuah paket wisata adalah sangat penting. Komponen pokok yang perlu memperoleh
pada pembuat atau distributor tertentu.
perhatian dalam mengemas desa wisata menjadi paket wisata, antara lain:
Dewasa ini semakin banyak daerah yang memiliki potensi pariwisata berusaha melakukan
A = Akomodasi: Akomodasi macam apa yang akan disediakan kepada wisatwan, apakah
pencitraan dengan memberi penguatan pada symbol atau penanda tertentu. Misal,
homestay, hotel melati, cottage atau bintang
Pemerintah Kota Surakarta menggunakan branding "Solo the Spirit of Jawa" sebagai upaya
T = Tranasportasi: Transportasi macam apa yang digunakan untuk menjangkau desa
merevitalisasi di dataran nilai-nilai, filosofi atau pandangan hidup; sistem kehidupan
wisata.
masyarakat dalam berinteraksi dan menjalani kehidupannya, maupun hasil karya atau
M = Meals = Makan: Makanan jenis apa yang tersedia di desa wisata ybs. Apakah Fullboard/
produk yang dihasilkan dengan semangat budaya [Link] punya branding “Bali Shanti
Halfboard/ - Lokal Rest - Box - Bufeet, Set Menu.
Shanti Shanti”. Malaysia memiliki branding “Truly Asia”.
G = Guide: English/ Japan/ France speaking Guide atau Indonesia
Gejala pariwisata sesungguhnya tidak terlepas dari kebudayaan sebuah masyarakat sebab
O = Objek: Objek apa saja yang dikunjungi dapat dikunjungi di desa wisata ybs dan apak
dalam kunjungan wisata, paling tidak terjadi kontak dan interaksi kebudayaan wisatawan
keunikan desa tsb - berapa enterprise feenya
dengan kebudayaan penduduk setempat. Setiap daerah wisata mempunyai citra (image)
L = Lain-lain: Asuransi, Snack, Souvenir, VCD, Welcome Flower - Lugage Handling.
tertentu, yaitu mental maps seseorang terhadap suatu destinasi yang didalamnya
Jika pengelola desa wisata ingin menyusun paket wisata suatu desa wisata, maka sebaiknya
mengandung keyakinan, kesan dan persepsi (Pitana dan Gayatri, 2005: 64). Citra yang
mengikuti urutan sbb.:
terbentuk di pasar merupakan kombinasi antara berbagai factor yang ada pada destinasi
▪ Survei objek sesuai dengan selera pasar, dengan penekanan pada objek/ daya tarik
yang bersangkutan, seperti iklim, pemandangan alam, keamanan, kesehatan, fasilitas
wisata yang dikehendaki pasar atau disesuaikan dengan trend pasar;
akomodasi, keramahtamahan penduduk, ketersediaan alat-alat transportasi di satu pihak,
▪ Menentukan motive package-nya, apakah leisure, ziarah, kesehatan, study, dll;
dengan informasi yang diterima oleh calon wisatawan dari berbagai pihak atau dari
▪ Survei objek penunjang sebagai penunjang inovasi package;
fantasinya sendiri terhadap pengalamannya selama mengadakan perjalanan wisatanya.
▪ Akses menuju objek wisata yang masuk dalam package;
Pariwisata adalah industri yang berbasiskan citra, karena citra mampu membawa calon
VIII - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
wisatawan ke dunia simbol dan [Link] beberapa ahli pariwisata mengatakan bahwa surat kabar atau televisi. Ketika memasarkan online, tidak hanya menjaring informasi
citra ini memegang peranan yang penting daripada sumberdaya pariwisata yang kasat pelanggan potensial, tetapi dapat mengambil penjualan seketika dengan beberapa klik
[Link] pengertian ini, maka pembangunan brand image menjadi penting bagi sebuah mouse. Ketika datang ke pemasaran offline, membutuhkan lebih banyak waktu untuk
daerah yang hendak mengembangkan diri sebagai tujuan wisata, termasuk menciptakan mengubah pelanggan menjadi penjualan, belum lagi sering membutuhkan tambahan
branding sebuah desa wisata yang hendak dikembangkan. sumberdaya manusia untuk mengurusnya.
7. Pemasaran Online Jadi dalam memasarkan suatu desa wisata dengan segala keindahan alam dan
Dalam memasarkan produk barang dan jasa, di samping dapat dipasarkan metode keunikannya, maka pemasaran secara tradisional harus dilengkapi dengan pemasaran
tradisional melalui biro perjalanan, dapat juga menempuh pemasaran online atau lewat online (website atau blog), karena cara pemasaran ini dapat diakses oleh calon-calon
website. Pemasaran online terbukti telah memberikan banyak manfaat. Misalnya, wisatawan dari belahan dunia di manapu, kapanpun, dan oleh siapapun.
membantu perusahaan melakukan riset pasar sendiri. Memang, gabungan dibidang
pemasaran, baik online maupun offline sangatlah baik. Tapi manfaat dalam pemasaran 8.4 VISI DAN MISI
online ini dapat membantu menciptakan strategi pemasaran tepat, bahkan bisa lebih sukses Visi adalah sesuatu yang diharapkan dan yang dicita-citakan. Dalam kenyataan hal itu bisa saja
dari pemasaran offline. Lebih lanjut dikatakan bahwa pemasaranonline memiliki banyak tidak terwujud karena beberapa faktor. Namun demikian visi itu bukan juga sesuatu yang tidak
manfaat yang tidak tersedia dalam pemasaran tradisional dan offline, termasuk manfaat dapat dicapai karena membuat visi dilakukan berdasarkan kemampuan dan peluang yang ada
yang diperoleh dalam pemasaran paket wisata suatu desa wisata, yang hendak dipasarkan, dengan melihat perkembangan aktual yang terjadi.
al.:
Visi Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja adalah: “Menjadikan Pariwisata
a. Dapat melakukan perubahan dengan cepat. Salah satu manfaat dari pemasaran
Sebagai Andalan Perekonomian Kabupaten Berbasiskan Sumber Daya Alam dan Budaya yang
online adalah dapat melakukan perubahan dengan cepat. Ketika melakukan
Maju dan Agamis”.
pemasangan iklan, dapat mengubahnya dengan cepat jika terjadi kesalahan dengan
cara melakukan pemantauan dan pelacakan apakah iklan dan segala upaya pemasaran Misi Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja, yaitu:
akan bekerja dengan baik, juga dapat memutuskan untuk mengubah grafis atau kata- 1. Mengembangkan destinasi pariwisata yg terpadu dan berkelanjutan;
kata dan melakukan itu semua tanpa ada masalah. Ini yang tidak dimiliki pemasaran 2. Mengembangkan struktur Industri Pariwisata, daya saing produk, kemitraan Usaha,
tradisional dan periklanan. kredibilitas bisnis, serta tanggung jawab terhadap sosial budaya dan lingkungan;
b. Dapat menelusuri hasil secara real-time. Pemasaran online memungkinkan untuk 3. Mengembangkan Pemasaran Pariwisata terpadu, dan berkelanjutan dgn melibatkan seluruh
melacak hasil secara real-time menggunakan analisis secara online untuk membuat pemangku kepentingan;
penentuan bagaimana kampanye pemasaran berkinerja. Ada banyak cara untuk 4. Pengembangan organisasi pemerintah, swasta, dan masyarakat, SDM, regulasi, serta
melacak upaya pemasaran tradisional, tetapi sebagian besar saat itu tidak dapat mekanisme operasional bidang Kepariwisataan yg handal.
dilakukan secara real-time. Hal ini bisa mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan
untuk kampanye. 8.5 TUJUAN
c. Dapat menargetkan demografis tertentu dalam iklan. Pemasaran online Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari misi, yang merupakan hasil akhir yang
memungkinkan untuk menargetkan demografis tertentu seperti halnya gender, usia, akan dicapai. Melalui tujuan ini akan diketahui apa yang harus dilakukan, dengan
dan lokasi, bahkan dapat menargetkan tingkat pendapatan tertentu, tingkat pendidikan memperhitungkan sumber daya, nilai-nilai dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi.
dan pekerjaan. Dapat melakukan ini di bidangpemasaran tradisional, tetapi itu tidak 1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas destinasi pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan
mudah dan seringkali merupakan guessing game. ekonomi, sosial budaya yang disertai dengan peningkatan pemberdayaan masyarakat.
d. Banyak pilihan dalam pemasaran online. Ada begitu banyak pilihan ketika 2. Mewujudkan Industri Pariwisata yg mampu menggerakkan perekonomian masyarakat &
memutuskan untuk melakukan pemasaran online. Bisa menggunakan audio, video, daerah.
blogging, email, media sosial dan newsletter yang sedang berlangsung. Jika melakukan 3. Pemasaran Destinasi Pariwisata yang efektif, efisien dalam membangun citra Tana Toraja
hal yang sama dalam pemasaran tradisional, maka harus memilih beberapa outlet sebagai Destinasi Pariwisata yg unggul dan berdaya saing.
media, tidak demikian halnya ketika datang ke pemasaran online. 4. Mengembangkan kelembagaaan Kepariwisataan dan tata kelola pariwisata yang mampu
e. Kemapuan Konversi Instan. Ketika melakukan pemasaran online, harus memiliki mensinergikan Pembangunan Destinasi, Pemasaran, dan Industri Pariwisata secara efektif,
kemampuan untuk mengubah pelanggan secara instan. Hal ini tidak terjadi ketika efisien dan profesional.
melakukan evaluasi pilihan pemasaran dalam media tradisional seperti iklan majalah,
VIII - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
9
9.1 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Kebijakan pembangunan kepariwisataan merupakan arahan pembangunan yang dirumuskan
untuk mencapai tujuan pembangunan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan
harus mengintegrasikan aspek destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran pariwisata,
dan kelembagaan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan daerah merupakan
arah tindakan pembangunan kepariwisataan yang bersifat multi dimensi dan lintas sektor.
Kebijakan pembangunan kepariwisataan memiliki fungsi:
a. Sebagai dasar dalam perumusan strategi pembangunan kepariwisataan;
b. Memberikan arah bagi perumusan rencana pembangunan perwilayahan pariwisata yang
terdiri dari rencana struktur perwilayahan pariwisata, rencana kawasan pengembangan
pariwisata, dan rencana kawasan strategis pariwisata;
c. Memberikan arah bagi perumusan program pembangunan destinasi pariwisata, industri
pariwisata, pemasaran pariwisata, dan kelembagaan kepariwisataan; dan
d. Sebagai dasar dalam perumusan ketentuan pengendalian kepariwisataan.
Kebijakan pembangunan kepariwisataan dirumuskan berdasarkan visi dan misi pembangunan
kepariwisataan, tujuan pembangunan kepariwisataan, dan peraturan perundang-undangan
Kabupaten Tana Toraja yang telah dirumuskan dengan mempertimbangkan isu-isu strategis
pembangunan kepariwisataan didaerah.
IX - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
perundangan yang berlaku dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan berupa isu-isu 2. Memberikan skenario keadaan sekarang dan masa yang akan datang, penjelasan tiap-tiap
strategis dalam lingkup permaslaahan dan potensi pariwisata Kabupaten Tana Toraja. potensi dilakukan dengan analisis deskriptif (strengths, weakness, opportunities, dan
threats).
Pendekatan kajian tersebut yaitu dengan metode analisis SWOT. Konsep SWOT adalah
menempatkan posisi masa depan (visi) dengan melihat Threats ataupun Opportunities hanya SWOT ditempuh dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan (strength), kelemahan (weakness),
sebagai ‘peluang semata’ lalu melihat Weaknesses dan Strengths kondisi saat ini untuk peluang (opportunities) dan ancaman (threat) yang dimiliki oleh unsur kepariwisataan di
kemudian menarik garis usaha dengan menghubungkan antara visi dan kondisi saat ini. Analisis Kabupaten Tana Toraja maupun fungsi daerah berdasarkan karakteristik dan kondisi
ini membagi dua faktor yaitu faktor ektsternal dan internal, sehingga bisa merumuskan strategi eksistingnya sehingga dapat diperoleh rangkaian strategi yang menjadi alternatif pemecahan
dari dua faktor tersebut dengan memaksimalkan aspek kekuatan (Strenght) dan kesempatan masalah.
(Oportunities) guna meminimalkan aspek kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threat).
Input data yang digunakan dirangkum melalui rangkaian analisis-analisis sebelumnya yang
Analisis SWOT merupakan analisis yang mampu memberikan kemudahan dalam: mencakup kajian Lingkungan Eksternal dan Internal kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja,
1. Memberikan gambaran tentang permasalahan yang perlu diindikasikan untuk keperluan sehingga ditetapkan prioritas lingkungan internal dan eksternal sebagai langkah penting dalam
tertentu. memperoleh gambaran dasar perencanaan stratejik yang selanjutnya digunakan untuk
menyusun rencana pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam setiap unsur
pariwisata tersebut.
Tabel: 9.1 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
DESTINASI PARIWISATA
1 Daya tarik wisata ▪ Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya tarik unggulan yang kompetitif dan komparatif ▪ Aksesibilitas antar DTW masih perlu ditingkatkan sehingga dapat membentuk satu kesatuan
bertema budaya dan religi. perjalanan wisata yang baik.
▪ Pelestarian situs dan kawasan budaya yang sangat baik. ▪ Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung kepariwisataan yang ada cukup belum memenuhi
▪ Morfologi wilayah kabupaten yang menunjang daya tarik wisata diperkotaan maupun perdesaan. standar.
▪ Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan masih eksisnya budaya lokal masyarakat Toraja. ▪ Belum maksimalnya pengembangan potensi-potensi desa wisata.
▪ Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang dapat dikembangkan untuk menunjang kegiatan ▪ Belum cukup berkembang daya tarik wisata buatan sebagai penganekaragaman jenis DTW.
wisata. ▪ Masih terdapat potensi daya tarik wisata yang belum dikembangkan.
▪ Dukungan kuat dari masyarakat dan budaya, serta toleransi yang sangat kuat. ▪ Kegiatan penataan DTW yang dapat berdampak negatif terhadap daya tarik wisata (misalnya
▪ Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi beberapa kawasan wisata (jalan lingkar pariwisata). penebangan pohon pinus untuk membuka jalan, dll)
▪ Lingkungan alam dan budaya yang rentan terhadap dampak berbagai kegiatan wisata.
2 Fasilitas Umum ▪ Dukungan sarana pendidikan tinggi dalam mengembangkan sumber daya manusia lokal bidang -
kepariwisataan.
▪ Keberadaan fasilitas penunjang lainnya yang relatif sudah memadai di Kota Makale.
3 Fasilitas Pariwisata ▪ Telah berkembang jasa-jasa pariwisata Terbatasnya pengembangan fasilitas pendukung pariwisata seperti akomodasi, rumah
▪ Telah dibangun Pusat Informasi Pariwisata (TIC). makan/restoran, souvenir shop.
4 Aksesibilitas Peningkatan pembangunaan jalan menuju sejumlah DTW. Pembangunan akses jalan masih belum menjangkau seluruh DTW yang tersebar dan cukup
banyak.
5 Utilitas ▪ Sudah terlayani oleh jaringan utilitas (air minum, listrik, drainase, sampah) terutama di Kota Makale Jaringan utilitas belum merata ke DTW.
dan kota-kota kecamatan.
▪ Telah dikembangkan prasarana umum dan wisata pada beberapa DTW unggulan.
INDUSTRI PARIWISATA
1 Akomodasi Kuantitas akomodasi sudah cukup memadai. ▪ Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di Kota Makale.
▪ Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan perundangan.
2 Biro Perjalanan dan dan Telah berkembang jasa-jasa pelayanan kegiatan wisata di daerah. ▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan darat),
Agen Perjalanan Wisat yang belum cukup terintegrasi dengan baik
3 Transportasi ▪ Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang dapat dilalui dengan kendaraan roda dua maupun Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi secara maksimal.
roda empat
▪ Tersedia moda angkutan pariwisata dan kendaraan roda dua maupun roda empat oleh perorangan
atau swasta.
4 Jasa Boga dan Restoran Telah berkembang beberapa restoran Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang di fasilitas akomodasi.
5 Atraksi Wisata Tersedia cukup banyak kesenian tradisonal, dan budaya lain. Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-DTW yang berpotensi
IX - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 9.1 Matriks Analisis Lingkungan Internal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
6 Oleh-Oleh Atau Cindera Tersedia cukup banyak kerajinan tangan khas Toraja Masih dikembangkan secara sub-subsistem.
Mata.
PASAR DAN PEMASARAN PARIWISATA
1 Pasar Pariwisata Terdapat beberapa DTW yang sangat unggul dan direspon oleh wisatawan dengan kunjungan yang ▪ Perlunya studi pasar pariwisata yang lebih mendalam untuk mengetahui karakteristik
cukup besar seperti Buntu Burake, Pango Pango, dll. wisatawan, pola perjalanan, serta preferensi wisatawan.
▪ Wisatawan masih cenderung hanya melakukan perjalanan pada DTW tertentu dan terbatas.
2 Pemasaran dan Promosi Adanya upaya pemerintah daerah dalam melakukan promosi pariwisata melalui ivent-ivent tahunan ▪ Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang dapat dijual/dipromosikan.
Pariwisata ▪ Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan secara global sebagai salah satu destinasi
pariwisata nasional.
3 Citra Destinasi ▪ Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu wilayah dengan kebudayaan yang unik dan konsisten -
serta beragam.
▪ Memiliki toleransi sosial yang kuat.
4 Price/Harga - Faktor biaya perjalanan menjadi kendala bagi calon wisatawan.
Tabel: 9.2 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
DESTINASI PARIWISATA
1 Daya tarik wisata ▪ Tana Toraja memiliki keunikan daya tarik wisata yang terkenal mendunia. Persaingan konsep pariwisata yang sangat pesat diantara destinasi-destinasi wisata didaerah lain
▪ Ditunjang dengan perkembangan pariwisata daerah sekitar. khususnya daerah sekitar yang berdampak langsung.
▪ Dukungan pemerintah pusat membangun Anjungan Cerdas dan Kawasan Inkubasi Agrowisata Pango
Pango sebagai pemicu pertumbuhan DTW-DTW lain.
▪ Penetapan 17 Simpul-simpul Destinasi Wisata yang Prioritas di KSPN Toraja.
▪ Adanya kecenderungan para wisatawan untuk “back to nature”, yang sudah cukup berkembang
didaerah.
2 Fasilitas Umum - -
3 Fasilitas Pariwisata Mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi. -
4 Aksesibilitas ▪ Transportasi udara (Bandara Buntu Kuni) telah dikembangkan yang akan menghubungkan berbagai -
destinasi-destinasi pariwisata nasional.
▪ Aksesibilitas menuju Kabupaten Tana Toraja sangat berpotensi menghubungkan dari berbagai simpul
transportasi yang dilalui oleh jalan nasional.
5 Utilitas - -
INDUSTRI PARIWISATA
1 Akomodasi Tingginya angka kunjungan wisatawan Berpotensi turunnya investasi penyediaan akomodasi wisata akibat kecilnya persentase tingkat
hunian.
2 Biro Perjalanan dan dan Ditunjang dengan perkembangan usaha jasa perjalanan wisata regional. ▪ Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata dari luar yang mengurangi kesempatan
Agen Perjalanan Wisat dan persaingan didaerah.
▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran, angkutan darat),
yang belum cukup terintegrasi dengan baik
3 Transportasi ▪ Rute perjalanan darat sangat lancar. Jarak yang jauh dari Kota Makassar melalui akses darat cukup jauh sehingga ada kesan jenuh.
IX - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 9.2 Matriks Analisis Lingkungan Eksternal Kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja
No. Aspek Peluang (Opportinities) Ancaman (Threats)
▪ Rencana pengebangan bandara Buntu Kuni terintegrasi dengan destinasi wisata unggulan nasional
lainnya.
▪ Cukup banyak perusahaan penyedia jasa pengangkutan ke Tana Toraja.
4 Jasa Boga dan Restoran - -
5 Atraksi Wisata - -
6 Oleh-Oleh Atau Cindera Cukup banyak tersedia -
Mata
Tabel: 9.3 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Perpaduan wisata alam dan budaya menjadi daya tarik unggulan yang ▪ Aksesibilitas antar DTW masih perlu ditingkatkan sehingga dapat membentuk satu
kompetitif dan komparatif bertema budaya dan religi. kesatuan perjalanan wisata yang baik.
▪ Pelestarian situs dan kawasan budaya yang sangat baik. ▪ Prasarana dan sarana/fasilitas pendukung kepariwisataan yang ada cukup belum
memenuhi standar.
FAKTOR EKSTERNAL ▪ Morfologi wilayah kabupaten yang menunjang daya tarik wisata diperkotaan ▪ Belum maksimalnya pengembangan potensi-potensi desa wisata.
maupun perdesaan.
▪ Beragamnya kegiatan masyarakat yang adaptif dan masih eksisnya budaya lokal ▪ Belum cukup berkembang daya tarik wisata buatan sebagai penganekaragaman jenis
masyarakat Toraja. DTW.
▪ Beragam musik, tarian dan kerajinan/souvenir yang dapat dikembangkan untuk ▪ Masih terdapat potensi daya tarik wisata yang belum dikembangkan.
menunjang kegiatan wisata.
▪ Dukungan kuat dari masyarakat dan budaya, serta toleransi yang sangat kuat. ▪ Kegiatan penataan DTW yang dapat berdampak negatif terhadap daya tarik wisata
(misalnya penebangan pohon pinus untuk membuka jalan, dll)
▪ Telah dikembangkan aksesibilitas yang terkoneksi beberapa kawasan wisata ▪ Lingkungan alam dan budaya yang rentan terhadap dampak berbagai kegiatan
(jalan lingkar pariwisata). wisata.
▪ Dukungan sarana pendidikan tinggi dalam mengembangkan sumber daya ▪ Terbatasnya pengembangan fasilitas pendukung pariwisata seperti akomodasi, rumah
manusia lokal bidang kepariwisataan. makan/restoran, souvenir shop.
▪ Keberadaan fasilitas penunjang lainnya yang relatif sudah memadai di Kota ▪ Pembangunan akses jalan masih belum menjangkau seluruh DTW yang tersebar dan
Makale. cukup banyak.
▪ Telah berkembang jasa-jasa pariwisata ▪ Jaringan utilitas belum merata ke DTW.
IX - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 9.3 Matriks Analisis SWOT Destinasi Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Telah dibangun Pusat Informasi Pariwisata (TIC).
▪ Peningkatan pembangunaan jalan menuju sejumlah DTW.
▪ Sudah terlayani oleh jaringan utilitas (air minum, listrik, drainase, sampah)
terutama di Kota Makale dan kota-kota kecamatan.
▪ Telah dikembangkan prasarana umum dan wisata pada beberapa DTW
FAKTOR INTERNAL unggulan.
IX - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 9.4 Matriks Analisis SWOT Industri Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Kuantitas akomodasi sudah cukup memadai. ▪ Akomodasi pariwisata masih cenderung terpusat di Kota Makale.
FAKTOR EKSTERNAL ▪ Telah berkembang jasa-jasa pelayanan kegiatan wisata di daerah. ▪ Perlu diterapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan
perundangan.
▪ Aksesibilitas menuju DTW sudah cukup tersedia yang dapat dilalui dengan kendaraan ▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata (angkutan pelayaran,
roda dua maupun roda empat angkutan darat), yang belum cukup terintegrasi dengan baik
▪ Tersedia moda angkutan pariwisata dan kendaraan roda dua maupun roda empat ▪ Moda angkutan pariwisata belum terakomodasi secara maksimal.
oleh perorangan atau swasta.
▪ Telah berkembang beberapa restoran ▪ Restoran dan jasa boga masih dominan berkembang di fasilitas akomodasi.
▪ Tersedia cukup banyak kesenian tradisonal, dan budaya lain. ▪ Belum berkembangnya atraksi wisata pada DTW-DTW yang berpotensi
FAKTOR INTERNAL
▪ Tersedia cukup banyak kerajinan tangan khas Toraja ▪ Masih dikembangkan secara sub-subsistem.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Tingginya angka kunjungan wisatawan ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui standarisasi sesuai ketentuan ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
perundangan yang berlaku. shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Ditunjang dengan perkembangan usaha jasa perjalanan ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai ▪ Menetapkan standarisasi pengelolaan usaha pariwisata sesuai ketentuan
wisata regional. bentuk koordinasi, kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha. perundangan.
▪ Rute perjalanan darat sangat lancar. ▪ Peningkatkan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai
bentuk koordinasi, kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha.
▪ Rencana pengebangan bandara Buntu Kuni terintegrasi ▪ Melakukan kerjasama interregional dengan pemerintah dan pengelola pariwisata ▪ Mengembangkan atraksi wisata di DTW tertentu sebagai khas destinasi wisata
dengan destinasi wisata unggulan nasional lainnya. diwilayah sekitar Kabupaten Tana Toraja untuk membuka paket jalur wisata yang Toraja.
didukung dengan keberadaan Bandara Buntu Kuni.
▪ Cukup banyak perusahaan penyedia jasa pengangkutan ke ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
Tana Toraja. shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Cukup banyak tersedia cinderamata dan ole-ole khas Toraja.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Berpotensi turunnya investasi penyediaan akomodasi wisata ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui standarisasi sesuai ketentuan ▪ Mengembangkan fasilitas pendukung (akomodasi, rumah makan/restoran, souvenir
akibat kecilnya persentase tingkat hunian. perundangan yang berlaku. shop) sesuai perwilayahan pariwisata yang dikembangkan.
▪ Berpotensi masuknya biro dan agen perjalanan wisata dari ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai ▪ Mengembangkan akomodasi wisata melalui standarisasi sesuai ketentuan
luar yang mengurangi kesempatan dan persaingan didaerah. bentuk koordinasi, kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha. perundangan yang berlaku.
▪ Keberadaan pengelolaan industri pendukung pariwisata ▪ Mengebangkan rute transportasi udara diberbagai daerah sesuai kecenderungan ▪ Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai
(angkutan pelayaran, angkutan darat), yang belum cukup kunjungan wisatawan. bentuk koordinasi, kerjasama serta monitoring antar pemerintah dan pelaku usaha.
terintegrasi dengan baik
▪ Jarak yang jauh dari Kota Makassar melalui akses darat ▪ Mengembangkan berbagai prosedur pelayanan wisatawan untuk meningkatkan ▪ Mengebangkan rute transportasi udara diberbagai daerah sesuai kecenderungan
cukup jauh sehingga ada kesan jenuh. potensi usaha kecil dan menengah. kunjungan wisatawan.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020
Tabel: 9.5 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Terdapat beberapa DTW yang sangat unggul dan direspon oleh ▪ Belum adanya studi penyeluruh tentang pasar pariwisata untuk mengetahui
FAKTOR EKSTERNAL wisatawan dengan kunjungan yang cukup besar seperti Buntu karakteristik wisatawan, pola perjalanan, serta preferensi wisatawan.
Burake, Pango Pango, dll.
▪ Adanya upaya pemerintah daerah dalam melakukan promosi ▪ Wisatawan masih cenderung hanya melakukan perjalanan pada DTW tertentu dan
pariwisata melalui ivent-ivent tahunan terbatas.
▪ Citra Kabupaten Tana Toraja sebagai salah satu wilayah dengan ▪ Belum terbentuk dengan baik paket-paket wisata yang dapat dijual/dipromosikan.
kebudayaan yang unik dan konsisten serta beragam.
▪ Memiliki toleransi sosial yang kuat. ▪ Belum maksimalnya promosi wisata yang dilakukan secara global sebagai salah satu
destinasi pariwisata nasional.
FAKTOR INTERNAL ▪ Faktor biaya perjalanan menjadi kendala bagi calon wisatawan.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Besarnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara. ▪ Mengintegrasikan DTW-DTW unggulan dengan DTW lain disekitar ▪ Mengembangkan studi pasar pariwisata sebagai referensi pengembangan bentuk
melalui pengembangan aksesibilitas dan penataan DTW. pemasaran pariwisata
▪ Kecenderungan kebutuhan manusia berwisata yang semakin meningkat. ▪ Mengembangkan inovasi dalam setiap ivent yang bervariasi atau ▪ Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat dijalankan oleh seluru pelaku usaha
berbeda. pariwisata
IX - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Tabel: 9.5 Matriks Analisis SWOT Pasar dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Adanya tren wisatawan yang lebih menghargai perjalanan wisata yang ▪ Mengembangkan sistem pelayanan pariwisata yang terpadu dengan ▪ Mengembangkan kerjasama antar lembaga pemerintah dan swasta dalam upaya
berkualitas. memanfaatkan teknologi informasi. promosi pariwisata.
▪ Tren pemanfaatan teknologi informasi bagi pengembangan pariwisata.
▪ Dukungan Pemerintah Pusat dalam mengembangkan citra Tana Toraja
sebagai destinasi wisata nasional dan global.
▪ Situasi dan kondisi daerah sangat kondusif.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Tingginya tingkat persaingan destinasi pariwisata secara nasional dan ▪ Pengembangan produk baru sebagai magnet kunjungan ke Tana ▪ Mengelola sistem informasi pariwisata yang komprehensif dan up to date
regional. Toraja
▪ Terjadinya penurunan kunjungan wisatawan tahun terakhir dari 2018 ke ▪ Menetapkan standarisasi akomodasi sesuai ketentuan perundangan ▪ Pengembangan atraksi wisata pada DTW tertentu sesuai potensinya.
tahun 2019 sebesar -24%. yang berlaku.
▪ Adanya pengembangan pariwisata didaerah sekitar yang juga cukup kuat ▪ Pengembangan investasi yang diarahkan pada afasilitas akomodasi ▪ Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat dijalankan oleh seluru pelaku usaha
dan memiliki kesamaan jenis DTW. berskala nasional dan internasional khusus untuk segmen pariwisata
menengah-atas.
▪ Belum dilakukan secara maksimal, wisatawan umumnya mendapatkan ▪ Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama pemasaran ▪ Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama pemasaran pariwisata pada
informasi dari rekan, media online. pariwisata pada skala regional, nasional dan internasional. skala regional, nasional dan internasional.
▪ Kekhawatiran masuknya budaya asing yang tidak bisa diadopsi masyarakat ▪ Mengembangkan kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat tentang pelaksanaan
dengan baik. kegiatan wisata terkait norma-norma adat istiadat Tana Toraja dan pelestarian situs
budaya sebagai DTW.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020
Tabel: 9.6 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan dan SDM Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
KEKUATAN (STREANGTHS) KELEMAHAN (WEAKNESSES)
▪ Adanya lembaga adat yang dapat berkontribusi dalam pengembangan daya ▪ Masih cukup terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM pariwisata didaerah.
FAKTOR EKSTERNAL tarik wisata khususnya budaya dan atraksi wisata (kesenian, dll)
▪ Komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan pembangunan pariwisata ▪ Masyarakat yang relatif belum mengenal dan memahami tuntutan industri
melalui perencanaan-perencanaan pembangunan didaerah (RPJPD, RPJMD dan pariwisata Tana Toraja (Sapta Pesona).
RTRW, serta rencana kawasan).
▪ Pada DTW tertentu sudah diterapkan sistem bagi hasil dari retribusi DTW antara ▪ Belum berkembangnya lembaga-lembaga pengembangan SDM pariwisata.
Pemda dan masyarakat atau pengelola. ▪ Belum maksimalnya peran sektor didaerah secara terpadu dalam
pembangunan kepariwisataan.
▪ Belum optimalnya pengembangan skema kerjasama antar stakeholders,
FAKTOR INTERNAL diantara pelibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata.
PELUANG (OPPORTINITIES) STRATEGI S-O STRATEGI W-O
▪ Persaingan yang semakin terbuka menghasilkan kesempatan bagi SDM ▪ Kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat dalam Mengembangkan atraksi- ▪ Kerjasama lembaga pendidikan bidang kepariwisataan maupun membentuk
didaerah lain berkompeten untuk bekerja di sektor pekariwisataan. atraksi budaya pada DTW berpotensi lembaga-lembaga nonformal.
▪ Peran sektor-sektor pembangunan menunjang pembangunan ▪ Mengembangkan skema bantuan pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata ▪ Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders pariwisata yang dapat
kepariwisataan Tana Toraja telah terpadu di tingkat pusat. lokal. merangkum seluruh pelaku pariwisata termasuk masyarakat yang terpadu.
▪ Dukungan pemerintah pusat dan provinsi Sulawesi Selatan dalam ▪ Mengembangkan bentuk kerjasama antar pemerintah daerah dan pemerintah
pengembangan destinasi pariwisata prioritas dan infrastruktur KSPN pusat dalam upaya pengitegrasian pembangunan pariwisata didaerah.
Toraja
▪ Koordinasi pelaksanaan pembangunan pariwisata antar provinsi dan ▪ Mengembangkan berbagai bentuk insentif bagi masyarakat atau pengelola DTW
kabupaten cukup baik. untuk meningkatkan daya tarik dalam kawasan wisata.
ANCAMAN (TREATHS) STRATEGI S-T STRATEGI W-T
▪ Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar wilayah akan menggeser ▪ Membangun system dan jaringan komunikasi diantara seluruh stakeholders ▪ Mengembangkan skema bantuan pendidikan dan pelatihan bagi peningkatan
kedudukan tenaga kerja lokal. didalam melaksanakan pembangunan pariwisata. SDM pariwisata khususnya SDM lokal.
▪ Terbatasnya kemampuan SDM yang bergerak di bidang usaha ▪ Menciptakan kerangka kerjasama dan program-program kerjasama antar ▪ Secara Intens melakukan sosialisasi program-program rencana
pariwisata, sehingga memerlukan pelatihan dalam mengasah skill. stakeholders didalam dan di luar negeri yang dapat menunjang pembangunan pembangunan pariwisata dari pusat, provinsi maupun kabupaten dengan
pariwisata. melibatkan pelaku usaha dan unsur lainnya sesuai kebutuhan.
▪ Belum singkronnya kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten ▪ Membangun organisasi pengeloaan pariwisata di kawasan dengan melibatkan
dalam pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja stakeholders yang terkait dan menggunakan prinsip good corporate govermance
dan mengembangkan system pelayanan yang terpadu dan terintegrasi.
▪ Belum berkembangnya kemitraan dan skema kerjasama antar
stakeholder.
Sumber: Hasil Kajian Tim, Tahun 2020
IX - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Kebijakan pembangunan kepariwisataan merupakan arahan pembangunan yang dirumuskan 3. Membangun kemitraan usaha pariwisata dalam rangka membangun iklim investasi yang
untuk mencapai tujuan pembangunan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan berkelanjutan;
harus mengintegrasikan aspek destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran pariwisata,
4. Pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah masyarakat mendukung
dan kelembagaan kepariwisataan. Kebijakan pembangunan kepariwisataan daerah merupakan
arah tindakan pembangunan kepariwisataan yang bersifat multi dimensi dan lintas sektor. penganekaragaman produk wisata yang berdaya saing;
Kebijakan pembangunan kepariwisataan memiliki fungsi:
▪ sebagai dasar dalam perumusan strategi pembangunan kepariwisataan; 9.1.4 Kebijakan Pembangunan Pemasaran Pariwisata
▪ memberikan arah bagi perumusan rencana pembangunan perwilayahan pariwisata yang
Arahan kebijakan pembangunan pemasaran pariwisata Kabupaten Tana Toraja ditetapkan
terdiri dari rencana struktur perwilayahan pariwisata, rencana kawasan pengembangan
pariwisata, dan rencana kawasan strategis pariwisata; sebagai berikut:
▪ memberikan arah bagi perumusan program pembangunan destinasi pariwisata, industri 1. Pemantapan segmentasi pasar sasaran pariwisata yang berkelanjutan terhadap
pariwisata, pemasaran pariwisata, dan kelembagaan kepariwisataan; dan perkembangan destinasi pariwisata;
▪ sebagai dasar dalam perumusan ketentuan pengendalian kepariwisataan.
2. Pengembangan kemitraan yang terpadu dan sinergis dengan pemerintah pusat, pemerintah
Kebijakan hasil kajian tersebut diatas, selanjutnya dikelompokkan kedalam satu kesatuan strategi
provinsi, usaha pariwisata, masyarakat dan media;
berdasarkan unsur-unsur pariwisata sesuai ketentuan dan potensi kepariwisataan di Kabupaten
Tana Toraja. Selain itu, kebijakan dan strategi yang terumuskan dibawah ini telah berkembang 3. Pengembangan pemasaran yang berkelanjutan berbasis pada riset dan pemanfaatan
sesuai dengan masukan-masukan yang disampaikan melalui konsultasi/seminar draft akhir. teknologi informasi dan komunikasi; dan
Berikut alternatif kebijakan yang dirumuskan menurut pengelompokan dan pengembangan
4. Pengembangan informasi pariwisata, database dan materi pemasaran berkualitas dalam
strategi dari analisis SWOT dan pertimbangan tujuan dan visi misi kepariwisataan yang telah
ditetapkan dan peraturan perundang-undangan yang terkait. mendukung pemasaran yang berkelanjutan.
9.1.2 Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata 9.1.5 Kebijakan Pembangunan Kelembagaan dan SDM Pariwisata
Arahan kebijakan pembangunan destinasi pariwisata Kabupaten Tana Toraja ditetapkan sebagai Arahan kebijakan pembangunan kelembagaan dan SDM pariwisata Kabupaten Tana Toraja
berikut:
1. Pembangunan perwilayahan destinasi pariwisata yang mendukung pengembangan ditetapkan sebagai berikut:
infrastruktur pariwisata nasional dan daerah berdasarkan keunggulan daya tarik wisata. 1. Peningkatan integrasi dan koordinasi pembangunan kepariwisataan;
2. Pengembangan dan pembinaan atraksi dan daya tarik wisata baru dalam sesuai potensi dan 2. Peningkatan kapasitas dan kinerja kelembagaan pariwisata;
perkembangan pasar wisata serta meningkatkan pemerataan pembangunan kepariwisataan;
3. Pengembangan kerjasama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata;
3. Pembangunan aksesibilitas pariwisata yang menunjang kegiatan masyarakat dan wisatawan
dalam pengembangan daya tarik wisata yang berstruktur dan terpadu; dan 4. Peningkatan partisipasi seluruh stakeholder (Pentahelix) dalam rangka pengembangan
4. Peningkatan kualitas eksisting DTW serta pengembangan DTW yang berbasis pada kepariwisataan;
Community Based Tourism.
5. Pengembangan kaulitas SDM Pariwisata; dan
9.1.3 Kebijakan Pembangunan Industri Pariwisata 6. Peningkatan penelitian yang berorientasi pada pengembangan kelembagaan dan SDM
Arahan kebijakan pembangunan industri pariwisata Kabupaten Tana Toraja ditetapkan sebagai Pariwisata
berikut:
9.2 STRATEGI PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
1. Peningkatan daya saing industri pariwisata kabupaten;
2. Pengendalian dan pemantapan usaha-usaha pariwisata sesuai standar pelayanan pariwisata 9.2.1 Strategi Pembangunan Destinasi Pariwisata
Strategi pembangunan destinasi pariwisata merupakan penjabaran kebijakan terkait destinasi
dan perundangan yang berlaku; pariwisata berupa rumusan langkah-langkah untuk mewujudkan Kabupaten Tana Toraja sebagai
destinasi pariwisata dalam dimensi keruangan. Strategi pembangunan destinasi pariwisata
IX - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
memiliki fungsi sebagai dasar dalam merumuskan rencana pembangunan perwilayahan c. Pengembangan keragaman atau diversifikasi jenis moda transportasi menuju destinasi
pariwisata, yang terdiri dari rencana struktur perwilayahan pariwisata, rencana kawasan dan pergerakan wisatawan sesuai kebutuhan dan perkembangan pasar;
pengembangan pariwisata, dan rencana kawasan strategis pariwisata; sebagai dasar dalam d. Memberdayakan masyarakat sekitar DTW dalam membangun aksesibilitas yang memiliki
merumuskan indikasi program pembangunan destinasi pariwisata; dan sebagai acuan dalam keunggulan/khas dari DTW tertentu;
pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi implementasi RIPPARKAB Tana Toraja untuk 4. Strategi meningkatan kualitas eksisting DTW serta pengembangan DTW yang berbasis pada
aspek destinasi pariwisata. Dengan demikian, strategi yang dikembangkan berdasarkan kebijakan Community Based Tourism
pembangunan destinasi pariwisata Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berkut: a. Menyiapkan mekanisme/instrumen evaluasi terhadap daya tahan kualitas DTW
1. Strategi pembangunan perwilayahan destinasi pariwisata yang mendukung pengembangan berdasarkan kecenderungan minat kunjungan wisatawan.
infrastruktur pariwisata nasional dan daerah berdasarkan keunggulan daya tarik wisata, b. Melibatkan masyarakat sekitar DTW dalam pemeliharaan DTW melalui mekanisme
yaitu: insentif.
a. Membentuk pusat dan sub-subpusat pariwisata yang terintegrasi dengan simpul-simpul c. Pendidikan kepariwisatan bagi masyarakat lokal sebagai upaya membangun kesadaran
pariwisata unggulan KSPN Toraja; masyarakat terhadap pelayanan wisatawan melalui pelatihan dan workshop;
d. Mendorong kemitraan dengan masyarakat dalam pengembangan potensi produk usaha
b. Mengembangkan DTW berpotensi disekitar DTW unggulan sebagai paket perjalanan
mendukung kegiatan wisata.
wisata berdasarkan perwilayahan pariwisata;
e. Mendukung pengembangan Desa Wisata.
c. Mendorong penataan ruang dilingkungan sekitar bandara Buntu Kunik dalam
memberikan kesan visual yang baik terhadap image pariwisata; 9.2.2 Strategi Pembangunan Industri Pariwisata
d. Menggali potensi daya tarik wisata melalui riset database potensi daya tarik wisata Strategi pembangunan industri pariwisata merupakan penjabaran dari kebijakan pembangunan
khususnya pada wilayah lintas barat kabupaten; kepariwisataan tentang industri pariwisata, yang merupakan rumusan langkah-langkah yang
e. Menyediakan prasarana dan sarana wisata sesuai kebutuhan dan memenuhi standar; ditetapkan untuk pembangunan industri pariwisata dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan
2. Strategi pengembangan dan pembinaan atraksi dan daya tarik wisata baru dalam sesuai pembangunan kepariwisataan.
potensi dan perkembangan pasar wisata serta meningkatkan pemerataan pembangunan Strategi pembangunan industri pariwisata memiliki fungsi sebagai dasar dalam merumuskan
kepariwisataan, yaitu: program fasilitasi dan pengembangan industri pariwisata; sebagai acuan dalam pengembangan
a. Mengembangkan produk baru sebagai magnet yang memiliki daya tahan terhadap minat sistem pemantauan dan evaluasi implementasi RIPPARKAB Tana Toraja untuk aspek industri
kunjungan wisatawan; pariwisata, yang dirumuskan berdasarkan kebijakan pembangunan industri pariwisata tersebut
b. Membentuk dan mengembangkan desa-desa wisata, sebagai salah satu bentuk diatas, yaitu diantaranya:
pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan DTW sesuai ketentuan yang berlaku; 1. Strategi peningkatan daya saing industri pariwisata kabupaten, yaitu:
c. Membangun DTW Buatan sebagai wujud variasi DTW yang berorientasi pada a. Peningkatan sinergi dan keadilan distributif antarmata rantai pembentuk industri
pengembangan potensi usaha kecil dan menengah; pariwisata;
d. Menyediakan berbagai kegiatan wisata (atraksi dan daya tarik penunjang) dalam DTW b. Pengembangan manajemen atraksi;
untuk mendukung kegiatan wisatawan agar lebih lama tinggal dan berbelanja; c. Penguatan kualitas produk wisata;
e. Menyediakan berbagai bentuk insentif bagi masyarakat atau pengelola DTW untuk d. Peningkatan pengemasan produk wisata;
meningkatkan daya tarik dalam kawasan wisata; e. Pengatan etika bisnis dan pelayanan prima dalam pelayanan usaha transportasi
f. Penyediaan informasi peluang investasi di destinasi pariwisata daerah; pariwisata;
g. Membangun DTW dengan tetap memperhatikan kelestarian kawasan/lingkungan alam f. Dorongan pemberian insentif untuk menggunakan produk dan tema yang memiliki
dan budaya sebagai keunggulan daya tarik wisata; keunikan dan kekhasan lokal Tana Toraja;
h. Peningkatan pengembangan potensi sumber daya daerah sebagai daya tarik wisata 2. Strategi pengendalian dan pemantapan usaha-usaha pariwisata sesuai standar pelayanan
berbasis kearifan lokal dalam kerangka pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata; pariwisata dan perundangan yang berlaku, yaitu:
3. Strategi pembangunan aksesibilitas pariwisata yang menunjang kegiatan masyarakat dan a. Penetapan dan peningkatan standardisasi dan sertifikasi usaha pariwisata;
wisatawan dalam pengembangan daya tarik wisata yang berstruktur dan terpadu, yaitu: b. Melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha pariwisata dalam meningkatkan
a. Memaksimalkan pengembangan aksesibilitas yang terintegrasi antar DTW; pelayanan pariwisata;
b. Menyediakan sistem aksesibilitas menuju DTW sesuai karakteristiknya sebagai daya tarik
maupun atraksi wisata baru;
IX - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
c. Penguatan fungsi, hierarki, dan hubungan antarusaha pariwisata sejenis untuk 2. Strategi pengembangan kemitraan yang terpadu dan sinergis dengan pemerintah pusat,
meningkatkan daya saing; pemerintah provinsi, usaha pariwisata, masyarakat dan media, yaitu:
3. Strategi membangun kemitraan usaha pariwisata dalam rangka membangun iklim investasi a. Mengembangkan berbagai prosedur pelayanan wisatawan untuk meningkatkan potensi
yang berkelanjutan, yaitu: usaha kecil dan menengah;
a. Menetapkan mekanisme pelayanan pariwisata bagi pelaku usaha pariwisata sebagai b. Memperluas jejaringan kerjasama lintas sektor dan wilayah dalam upaya pemasaran
bentuk koordinasi, kerjasama, monitoring dan evaluasi antar pemerintah dan pelaku produk destinasi wisata pada simpul-simpul transportasi, pusat-pusat pelayanan
usaha pariwisata; perdagangan dan jasa, maupun instansi pemerintah;
b. Mengembangan investasi yang diarahkan pada fasilitas akomodasi berskala nasional dan c. Penguatan akses dan jejaring industri kecil dan menengah dan usaha pariwisata skala
internasional khusus untuk segmen menengah-atas; usaha mikro, kecil dan menengah dengan sumber potensi pasar dan informasi global;
c. Dukungan penjaminan usaha melalui regulasi dan fasilitasi; 3. Strategi pengembangan pemasaran yang berkelanjutan berbasis pada riset dan pemanfaatan
4. Strategi pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah masyarakat mendukung teknologi informasi dan komunikasi, yaitu:
penganekaragaman produk wisata yang berdaya saing, yaitu: a. Pembentukan, penguatan dan pelatihan Badan Promosi Pariwisata daerah;
a. Menetapkan kualifikasi penyediaan sarana penunjang pariwisata (akomodasi, rumah b. Melakukan riset pasar pariwisata yang kontinu sebagai referensi pengembangan bentuk
makan/restoran, souvenir shop) berbasis UMKM berdasarkan perwilayahan pariwisata pemasaran pariwisata;
yang dikembangkan; c. Memantapkan prioritas bentuk dan jejaring kerjasama pemasaran pariwisata pada skala
b. Dorongan kemitraan antarusaha kepariwisataan dengan industri kecil dan menengah regional, nasional dan internasional;
dan usaha mikro, kecil dan menengah; d. Melakukan updating terhadap perkembangan pembangunan daya tarik wisata didaerah
c. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pengembangan potensi UMKM sebagai produk yang dipasarkan;
pariwisata; e. Menyediakan instrumen evaluasi terhadap perkembangan penyediaan prasarana dan
d. Pemberian insentif dan kemudahan terhadap akses permodalan bagi usaha pariwisata sarana wisata serta kecenderungan minat wisatawan;
skala usaha mikro, kecil dan menengah dalam pengembangan usaha sesuai dengan 4. Strategi mengembankan informasi pariwisata, database dan materi pemasaran berkualitas
ketentuan Peraturan Perundang-undangan; dalam mendukung pemasaran yang berkelanjutan, yaitu:
e. Pengembangan skema fasilitasi untuk mendorong pertumbuhan usaha pariwisata skala a. Pelaksanaan riset tentang pengembangan informasi daya tarik wisata
usaha mikro, kecil dan menengah; b. Pembuatan materi-materi promosi dengan informasi yang berkualitas secara regular
dan berkelanjutan (foto, video, website, e-guide book, dll)
9.2.3 Strategi Pembangunan Pemasaran Pariwisata c. Pembuatan dan pengelolaan aplikasi digitial tentang destinasi Tana Toraja
Strategi pemasaran pariwisata merupakan penjabaran kebijakan pembangunan kepariwisataan d. Penguatan dan pembuatan materi interpretasi tentang daya tarik wisata
tentang pemasaran pariwisata, berupa rumusan langkah-langkah yang ditetapkan untuk
pengembangan pemasaran pariwisata dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan pembangunan 9.2.4 Strategi Pembangunan Kelembagaan dan SDM Pariwisata
kepariwisataan, dengan fungsi sebagai dasar dalam merumuskan indikasi program pemasaran Strategi pembangunan kelembagaan dan sumber daya manusia kepariwisataan merupakan
pariwisata dan acuan dalam pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi implementasi penjabaran kebijakan pembangunan kepariwisataan yang terkait dengan kelembagaan dan
RIPPARKAB Tana Toraja untuk aspek pemasaran pariwisata. Strategi-strategi implementasi peningkatan sumber daya manusia kepariwisataan, berupa rumusan langkah-langkah yang
kebijakan pembangunan pemasaran pariwisata tersebut sebagai berikut: ditetapkan untuk pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia kepariwisataan dalam
1. Strategi pemantapan segmentasi pasar sasaran pariwisata yang berkelanjutan terhadap mewujudkan visi, misi, dan tujuan pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja yang
perkembangan destinasi pariwisata, yaitu: telah dirumuskan dengan fungsi sebagai dasar dalam merumuskan indikasi program dan acuan
a. Mengembangkan sistem informasi pariwisata yang terpadu, terintegrasi dan up to date dalam pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi. Strategi-strategi implementasi kebijakan
terhadap perkembangan pasar pariwisata; tesebut adalah sebagai berikut:
b. Mengembangkan inovasi dalam ivent tahunan yang bervariasi atau berbeda; 1. Strategi peningkatan integrasi dan koordinasi pembangunan kepariwisataan, yaitu:
c. Merumuskan paket perjalanan wisata yang dapat dijalankan oleh seluruh pelaku usaha a. Meningkatkan koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam upaya
pariwisata; pengitegrasian pembangunan pariwisata didaerah;
b. Membangun system dan jaringan komunikasi diantara seluruh stakeholders didalam
melaksanakan pembangunan pariwisata baik didalam maupun di luar negeri;
IX - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
c. Fasilitasi pembentukan kelembagaan lintas sektor didaerah yang berperan dalam 6. Strategi Peningkatan penelitian yang berorientasi pada pengembangan kelembagaan dan
pembangunan kepariwisataan; SDM Pariwisata, yaitu:
d. Upaya menarik investasi modal asing di bidang pariwisata sesuai dengan ketentuan a. Pelaksanaan Survei kepuasan wisatawan di DTW dan usaha pariwisata
Peraturan Perundang-undangan di bidang keuangan; b. Pelaksanaan penelitian akan kebutuhan SDM bagi industri pariwisata
2. Strategi peningkatan kapasitas dan kinerja kelembagaan pariwisata, yaitu: c. Pelaksanaan penelitian akan eksistensi (peran dan kolaborasi) lembaga-lembaga
a. Pemantapan fungsi pusat informasi pariwisata/TIC; pariwisata dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata.
b. Penguatan tata kelola organisasi kepariwisataan dalam struktur dinas;
c. Kerjasama antar pemerintah dan lembaga adat dalam pembentukan peraturan
perundangan terkait ketentuan pemafaatan keanekaragaman budaya dan sejarah
sebagai daya tarik wisata serta pengembangan araksi-atraksi budaya pada DTW
berpotensi;
d. Membentuk dan meningkatkan fungsi kelembagaan desa wisata sebagai bentuk
pemberdayaan masayarakat dan upaya mengembangkan ekonomi masyarakat;
e. Mengembangkan pola kerjasama dengan stakeholders pariwisata yang dapat
merangkum seluruh pelaku pariwisata termasuk masyarakat;
3. Strategi pengembangan kerjasama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia
pariwisata, yaitu:
a. Membangun kerjasama antar daerah dengan lembaga pendidikan dalam
mengembangkan program-program studi berbasis kepariwisataan;
b. Membangun skema bantuan pendidikan dan pelatihan, serta kerjasama lembaga
pendidikan bagi peningkatan SDM pariwisata lokal;
c. Melakukan penyuluhan, pelatihan dan bentuk pengembangan kapasitas pelayanan
wisatawan terhadap individi-individu, maupun kelompok sadar wisata yang terlibat
dalam kegiatan wisata;
d. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan daya tarik wisata lintas sektor dan institusi;
e. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan kemitraan usaha pariwisata;
f. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan tanggungjawab terhadap lingkungan;
4. Strategi Peningkatan partisipasi seluruh stakeholder (Pentahelix) dalam rangka
pengembangan kepariwisataan, yaitu:
a. Penguatan peran pemerintah dalam dalam pengelolaan pariwisata
b. Penguatan organisasi profesi pariwisata
c. Penguatan organisasi industri pariwisata
d. Penguatan organisasi pariwisata berbasis masyarakat
e. Peningkatan peran dan kerjasama dengan Lembaga-lembaga pendidikan dalam upaya
pengembangan kepariwisataan
f. Peningkatan kapabilitas peran Destination Management Organisation (DMO)
5. Strategi pengembangan kaulitas SDM Pariwisata, yaitu:
a. Peningkatan kapabilitas SDM Pariwisata di tingkat Pemerintah (Pelatihan dan workshop)
b. Peningkatan kapabilitas SDM Pariwisata bagi dunia usaha (pelatihan, workshop dan
sertifikasi kompetensi)
c. Peningkatan kapabilitas masyarakat dalam pengelolaan pariwisata secara khusus
berinovasi dan berkreasi dalam bidang pariwisata (Pelatihan dan pendampingan).
IX - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
10
RENCANA PENGEMBANGAN
PERWILAYAHAN PARIWISATA
X-1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3. Rencana kawasan pengembangan pariwisata merupakan arahan pembangunan Enrekang – Tana Toraja – Toraja Utara - Palopo – Luwu – Luwu Utara - Angkona
kawasan pariwisata yang menurut hasil analisis dapat menjadi andalan dalam mendorong (Kabupaten Luwu Timur) – ke perbatasan Provinsi Sulwesi Tengah;
pertumbuhan ekonomi serta mencapai visi dan misi pengembangan kepariwisataan daerah. ▪ Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) regional lintas kabupaten kota yaitu sistem
penyediaan air minum Toraja yang melayani Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten
10.1 INDIKASI POTENSI PEMBENTUKAN PERWILAYAHAN PARIWISATA Tana Toraja;
Rencana perwilayahan pariwisata memuat Rencana struktur perwilayahan pariwisata ▪ Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL) lintas kabupaten kota meliputi: sistem perpipaan
merupakan kerangka perwilayahan pariwisata yang terdiri dari pusat-pusat pelayanan air limbah Provinsi diarahkan ke sistem kluster termasuk Cluster Toraja (Toraja Utara,
pariwisata yang berhierarki satu sama lain, yang memiliki fungsi sesuai dengan karakteristik Tana Toraja);
daya tarik wisata yang dikembangkannya, dihubungkan oleh jaringan transportasi sebagai ▪ Instalasi pengolahan lumpur tinja Provinsi diarahkan ke sistem kluster yang berada di
elemen pengikat. Rencana struktur perwilayahan pariwisata Kabupaten Tana Toraja terdiri: Cluster Toraja (Toraja Utara, Tana Toraja).
1. Pusat pelayanan primer Kabupaten Tana Toraja yang berfungsi sebagai pintu gerbang ▪ Sistem Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) diarahkan melayani
Kabupaten Tana Toraja, pusat penyediaan fasilitas pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, kawasan perkotaan yaitu kawasan perkotaan di Toraja (Toraja Utara, Tana Toraja).
dan pusat penyebaran kegiatan wisata ke bagian-bagian wilayah Kabupaten Tana Toraja; ▪ Sistem Jaringan Prasarana Persampahan yaitu TPA regional diarahkan untuk melayani
2. Pusat pelayanan sekunder Kabupaten Tana Toraja yang berfungsi sebagai pusat kawasan Perkotaan di Toraja (Toraja Utara, Tana Toraja)
pertumbuhan pariwisata di bagian wilayah tertentu dari Kabupaten Tana Toraja; dan ▪ Kawasan Cagar Budaya seluas kurang lebih 137 ha yang juga terdapat di Kabupaten
3. Jaringan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat pelayanan dan kawasan- Tana Toraja;
kawasan pariwisata Kabupaten Tana Toraja. ▪ Kawasan Pariwisata seluas kurang lebih 1.605 ha terutama di Kabupaten Tana Toraja,
Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Selayar, Perkotaan
5.1.1 Sinergitas Antar Perencanaan Mamminasata, dan berbagai kabupaten/kota yang memiliki potensi pengembangan
Struktur ruang pariwisata sangat terkait dengan pengembangan pusat-pusat pelayanan baik wisata.
tata ruang dalam RTRW Kabupaten Tana Toraja, maupun KSPN Toraja yang dikembangkan oleh ▪ KSN dari sudut kepentingan sosial dan budaya Kabupaten Tana Toraja dan sekitarnya;
pemerintah pusat dalam rencana simpul-simpul destinasi wisata unggulan serta rencana- ▪ KSP dari sudut kepentingan sosial dan budaya yaitu Kawasan wisata Budaya dan
rencana yang telah dilakukan pemerintah daerah sendiri. Untuk itu, dalam pembentukan Agrowisata Toraja dan sekitarnya.
struktur ruang pariwisata Kabupaten Tana Toraja ini perlu diintegrasikan seluruh kepentingan 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaen
tersebut sehingga dapat bersinergi dengan baik berikut akan diuraikan pertimbangan tersebut. RTRW Kabupaten Tana Toraja sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 12
tahun 2011 mengembangkan struktur ruang wilayah yang diantaranya terdiri dari rencana
1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Provinsi pusat-pusat pelayanan dan rencana jaringan prasarana wilayah. Sehubungan dengan hal
Beberapa peruntukan pembangunan wilayah yang dikembangkan di Provinsi Sulawesi tersebut, dalam kaitannya dengan pengembangan struktur ruang pariwisata merupakan
Selatan termasuk di Kabupaten Tana Toraja melalui RTRWN dan RTRWP yang dapat bagian yang penting untuk dipertimbangkan, sebab dalam rencana pusat pelayanan
menunjang pembangunan kepariwisataan kabupaten, baik sarana maupun prasarana kabupaten yang berhirarki memiliki fungsi-fungsi pengembangan setiap pusat sesuai
wilayah, serta peruntukan strategis wilayah nasional dan provinsi, diantaranya sebagai perkembangannya masing-masing yang disertai dengan arahan pengebangan pusat
berikut: pelayanan tersebut.
▪ JSN, yang merupakan Rencana jaringan jalan lingkar pariwisata di Kawasan Strategis
Dalam konteks kepariwisataan, pusat-pusat pelayanan pelayanan tersebut dapat menjadi
Nasional (KSN) Toraja dan sekitarnya;
kekuatan dalam memanfaatkan pengembangan sarana dan prasarana yang juga
▪ Bandar udara pengumpan, Bandara Pongtiku dan Bandara Buntu Kunik;
merupakan bagian dari fasilitas pariwisata baik penunjang maupun pendukung. Oleh karena
▪ Bandar udara khusus yaitu Bandara Pongtiku dan Bandara Buntu Kunik;
itu, pusat pelayanan dalam RTRW menjadi pertimbangan dalam pembentukan struktur
▪ Infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan sarana pendukungnya meliputi: PLTD
ruang pariwisata di Kabupaten Tana Toraja, pusat-pusat tersebut yaitu:
Tana Toraja, PLTA Malea I, PLTM Malea II;
▪ Infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan sarana pendukungnya yaitu Jaringan 1. PKL (Pusat Kegiatan Lokal) yaitu PKL yang telah ditentukan dalam Peraturan Daerah
transmisi tenaga listrik meliputi wilayah: Pinrang – Pangkajene (Kabupaten Sidrap) – Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang RTRW Sulawesi Selatan adalah
kawasan perkotaan Makale.
X-2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2. PKLp yaitu Kawasan Perkotaan Bittuang yang potensiil dikembangkan sebagai gerbang 16) Kaero di Kecamatan Sangalla’;
wisata penghubung kawasan wisata Budaya di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi 17) Kandeapi di Kecamatan Sangalla’ Selatan;
Barat dengan kawasan wisata Tana Toraja; dan kawasan perkotaan sekitar bandara 18) Saluallo di Kecamatan Sangalla’ Utara;
baru Ge’tengan Kecamatan Mengkendek, yang potensil dikembangkan menjadi kota 19) Makkodo di Kecamatan Simbuang.
simpul transportasi udara.
3. Rencana Simpul-Simpul Pariwisata Unggulan Nasional
3. PPK (Pusat pelayanan Kawasan), terdiri atas ibukota-ibukota kecamatan yang tidak Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu Kawasan Strategis Pegunungan dan Budaya
termasuk PKL atau PKLp, yang terdiri atas PPK- PPK : Toraja, Simpul-simpul Destinasi Wisata Yang Prioritas di KSPN Toraja Yang Akan
1) Kawasan Perkotaan Rante Kurra di Kecamatan Kurra Dikembangkan terdapat 17 (tujuhbelas) simpul destinasi pariwisata yang diprioritaskan
2) Kawasan Perkotaan Padang Iring di Kecamatan Rantetayo dalam satu kesatuan kegiatan wisata beserta daya tarik wisata pendukungnya yang
3) Kawasan Perkotaan Pattan Ulu Salu di Kecamatan Saluputti terintegrasi, 12 (duabelas) dari seluruh simpul tersebut berada di Kabupaten Tana Toraja,
4) Kawasan Perkotaan Leatung di Kecamatan Sangalla’ Utara diantaranya sebagai berikut:
5) Kawasan Perkotaan Bullian Massa’bu di Kecamatan Sangalla’ 1) Kawasan Wisata Religi Buntu Burake di Makale dengan objek pendukungnya (Gua
6) Kawasan Perkotaan Malolin di Kecamatan Rano alam, Museum, Monumen Penginjilan, Panorama Alam, Rumah Adat, Kuburan Batu
7) Kawasan Perkotaan Ratte Buttu di Kecamatan Bonggakaradeng Tondon Makale, Kuliner, Kereta gantung, Taman Hiburan Plasa kolam Makale, Kolam
8) Kawasan Perkotaan Kondo Dewata di Kecamatan Mappak Alam Assa, dan Pasar Hewan).
9) Kawasan Perkotaan Buntu Benteng Ambeso di Kecamatan Gandang Batu Sillanan 2) Kawasan Wisata Kaero di Sangalla’ dengan objek penunjangnya (Permandian Air
10) Kawasan Perkotaan Batualu di Kecamatan Sangalla’ Selatan Panas Makula, Pekuburan batu Suaya, Kuburan Bayi/Passilliran Kambira’, Kuburan Gua
11) Kawasan Perkotaan Tiromanda di Kecamatan Makale Selatan Alam Tampang Allo, Gua Alam Sullukan, Tongkonan Banua Kasalle Bau, Museum Buntu
12) Kawasan Perkotaan Lion Tondok Iring di Kecamatan Makale Utara Kalando, Atraksi Seni Budaya, Rante Tongko Sarapung.
13) Kawasan Perkotaan Talion di Kecamatan Rembon 3) Kawasan Wisata Sillanan Gandang Batu Sillanan dengan objek penunjangnya
14) Kawasan Perkotaan Malimbong di Kecamatan Malimbong Balepe; (Sassa’, Perkampungan Adat Sillanan, Kawasan Hutan Mapongka).
15) Kawasan Perkotaan Pondingao’ di Kecamatan Masanda; dan 4) Kawasan Wisata Mengkendek di Kecamatan Mengekendek; dengan objek
16) Kawasan Perkotaan Lekke’ di Kecamatan Simbuang. penunjangnya (Potok Tengan, Panorama alam Buntu Kandora, Banua Puan, Liang
4. PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan), meliputi pusat-pusat permukiman yang berfungsi Lo’ko’ Randanan, Panjat Tebing, Kuburan Batu Ke’ Pe’ dan Tinoring).
untuk melayani kegiatan skala antar desa, terdiri atas PPL- PPL: 5) Kawasan Wisata Makam Adat Lemo di Makale Utara dengan objek penunjangnya
1) Bau dan Buntu Limbong di Kecamatan Bittuang; (Permandian alam Tilanga’, Makam adat Sirope, Tongkonan Mandetek, Agrowisata
2) Poton, Bau Bonggakaradeng di Kecamatan Bonggakaradeng; Rante Lingkua’, Makam Bayi –Passilliran Alla).
3) Salubarani, Gandangbatu, Mebali, Tangatondok, Perindingan di Kecamatan 6) Kawasan Wisata Papa Batu Tumakke di Rembon dengan objek pendukungnya
Gandangbatu Sillanan; (Rumah Adat Pattan, Talion, Benteng Pongtiku, Boronan, Likunna Makuyo, Atraksi
4) Tabang di Kecamatan Kurra; Budaya, Pekuburan Batu Sanduri, Lo’po’).
5) Pantan, Kamali Pentalluan di Kecamatan Makale; 7) Kawasan Kuburan Liang Ba’ba Saratu Ollon di Bonggakaradeng dengan objek
6) Pa’tekke, di Kecamatan Makale Selatan ; pendukungnya (Air terjun Salu Bitu, Permandian Air Panas Ratte Buttu, Liang pahat,
7) Rantelemo dan Mandetek di Kecamatan Makale Utara; Permandian Air Panas Bake’, Panorama Alam).
8) Balepe’ di Kecamatan Malimbong Balepe’; 8) Kawasan Air terjun Sarambu Assing di Bittuang dengan objek pendukungnya
9) Tondok Banga di Kecamatan Mappak, (Agrowisata Bolokan, Hutan Wisata, Permandian Air Panas, Rumah Adat, Air terjun
10) Sangratte dan belau di Kec. Masanda; Ratte Sarambu).
11) Uluway, Marinding, Tampo di Kecamatan Mengkendek; 9) Kawasan Wisata Pango-pango di Makale Selatan; dengan objek pendukungnya
12) Pangalloan di Kecamatan Rano (Panorama Alam, Tracking, Sepeda Gunung, Wisata Berkuda, Monumen Ampang
13) Madandan di Kecamatan Rantetayo; Banu’, Atraksi seni budaya, Agrowisata).
14) Batusura', Palesan di Kecamatan Rembon; 10) Kawasan Wisata Barereng di Kurra dengan objek pendukungnya (Rafting/Arung
15) Tolange di Kecamatan Saluputti; Jeram, Air Terjun, Kolam Pemancingan, Tracking, Panorama).
X-3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
11) Kawasan Wisata Talondo Tallu di Malimbong Balepe’ dengan objek pendukungnya Tabel: 5.13 Potensi Kawasan Wisata Unggulan Kabupaten Tana Toraja
(Air terjun, Hutan Wisata, Perkemahan, Atraksi seni budaya, Kuburan Batu, Rumah No. Lokasi Jenis DTW
Adat Papa Batu Tongkonan Tallu Manuk). 15 Kawasan Objek Wisata Buntu Kalando (Tongkonan dan Museum Mini) Wisata Budaya
12) Kawasan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu di Sangalla Utara: dengan objek Kec. Sangalla
Sumber: BAPPEDA Kabupaten Tana Toraja, 2020
penunjangnya (Desa Wisata, Rumah Adat, Tradisi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari,
Benteng To Pada Tindo, Goa Alam Sa’pak Bayo-Bayo, Passiliran Kambisa, Kerajinan
5.1.2 Pembagian Wilayah Wisata (Cluster)
seni ukir).
Analisis cluster merupakan salah satu langkah analisis yang bertujuan untuk membagi DTW
Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu di KSPN Toraja diatas, menjadi salah satu kedalam beberapa wilayah pengembangan. Pembagian tersebut didasarkan pada variasi
masukan dalam pembentukan perwilayahan destinasi pariwisata yang sangat penting keragaman wisata (wisata budaya, alam, dan buatan), aktivitas wisatawan, lama kunjungan
dalam mengintegrasikan berbagai program-program pengembangan kepariwisataan di dan aksesibilitas. Selain itu, output dari analisis cluster wisata diharapkan dapat berupa suatu
Kabupaten Tana Toraja yang diharapkan secara bersama-sama dapat mendorong paket perjalanan wisata yaitu suatu perjalanan wisata ke DTW-DTW yang telah ditentukan
kepariwisataan daerah dan nasional secara umum. Potensi-potensi daya tarik wisata dengan tujuan agar kunjungan wisata menjadi suatu perjalanan wisata yang menyenangkan
budaya Tana Toraja berdasarkan setiap DTW yang tersebar memiliki keunggulan masing- dan terfokus pada DTW yang sudah terkenal, sehingga pengembangan kepariwisataan di
masing dan diperlukan adanya variasi daya tarik wisata yang dapat memberikan Kabupaten Tana Toraja lebih optimal.
kenyamanan berwisata bagi wisatawan sehingga diharapkan wisatawan dapat lebih lama
Fenomena perkembangan destinasi wisata akan senantiasa terus tumbuh secara dinamis
tinggal dan menikmati setiap suguhan daya tarik wisata Kabupaten Tana Toraja yang
bergantung pada keterkaitan antara sistem aktivitas pengunjung, sistem jaringan, sistem
tersedia.
pergerakan, sistem infrastruktur, sistem lingkungan dan sistem kelembagaan yang saling terkait
4. Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata Daerah (inter conektion sistem) struktur ruang pariwisata.
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam kebijakan pembangunan kawasan wisata juga
Struktur ruang pariwisata terbentuk sebagai akibat adanya sinergis sistem yang terjadi dalam
telah menetapkan 15 (limabelas) kawasan wisata sebagai daya tarik wisata unggulan.
setiap daya tarik wisata pada tiap bagian wilayah tertentu. Tahapan pembentukan dalam
Tabel: 5.13 Potensi Kawasan Wisata Unggulan Kabupaten Tana Toraja
strukturnya dipengaruhi oleh sistem aktivitas, sistem transportasi, sistem infrastruktur dan
No. Lokasi Jenis DTW
sistem prasarana wisata lainnya, sehingga membentuk suatu sistem terpadu yang mampu
1 Kawasan Objek Patung Kristus Burake Kec. Makale Wisata Religi/Alam
2 Kawasan Objek Wisata Pango-Pango Kec. Makale Selatan Wisata Agro/Alam memanfaatkan potensi wisata Kabupaten Tana Toraja yang pada akhirnya akan meningkatkan
3 Kawasan Objek Wisata Sarira (Kolam Alam Rekreasi) Kec. Makale Wisata Tirta daya saing setiap obyek wisata dalam wilayah Kabupaten Tana Toraja.
Utara
4 Kawasan Objek Wisata Suaya (Erong, Liang Paa, dan Tau-tau) Kec. Wisata Alam/ Budaya
Sangalla
5 Kawasan Wisata Tumbang Datu Bebo’ (Desa Wisata) Kec. Sangalla’ Wisata Alam/Budaya
Utara
6 Kawasan Objek Wisata Lemo (Liang Paa, Tau-tau, Bangunan Sarana Wisata Alam/ Budaya
Budaya) Kec. Makale Utara
7 Kawasan Objek Wisata Air Terjun Sarambu Assing Kec. Bittuang Wisata Alam/Tirta
11 Kawasan Objek Wisata Kambira’ Passiliran Kec. Sangalla’ Wisata Agro/ Alam
12 Kawasan Objek Wisata To’puang, (Liang Paa, Tongkonan, Batu Wisata Alam /Budaya
Bersejarah) Kec. Sangalla Selatan
13 Objek Wisata Buntu Tondon (Liang Paa) Kec. Makale Wisata Alam
14 Kawasan Objek Wisata Makula’ (Permandian Air Panas Alam) Kec. Wisata Tirta
Sangalla Selatan
X-4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
faktor dalam penentuan cluster wisata yang dikembangkan. Dengan menjadikan tipe
aktivitas wisatawan menjadi salah satu pertimbangan, dalam penentuan cluster diharapkan
mampu meningkatkan pengembangan dan pembangunan pariwisata daerah ke arah yang
lebih baik. Sebagai indikator keberhasilan pengembangan.
Pada dasarnya, aktivitas wisatawan yang tercermin dalam jenis daya tarik wisata yang
tersebar di Kabupaten Tana Toraja dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) tipe yaitu (1)
kegiatan wisata alam, (2) kegiatan wisata Alam dan Budaya, (3) kegiatan wisata Budaya,
dan (4) kegiatan wisata Buatan, Alam dan Budaya.
Aktivitas wisata di Tana Toraja belum cukup memperlihatkan adanya formulasi
pengembangan kluster menurut aktivitas yang terselenggara masih bergantung pada
keinginan wisatawan. Perjalanan wisatawan belum memiliki arahan kunjungan yang
ditetapkan oleh pemerintah setempat sehingga menyebabkan adanya DTW-DTW yang
dapat diakses namun memiliki keunggulan daya tarik belum terekspose dengan baik belum
signifikan menjadi bagian dari rencana perjalanan wisatawan, walaupun perkembangan
pembangunan infrastruktur terutama aksesibilitas antar DTW telah banyak dikembangkan
oleh pemerintah daerah. Oleh karenanya sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang
Gambar 10.1. Konsep Struktur Ruang pariwisata ditetapkan oleh pemerintah mengarahkan perjalanan wisatawan ke DTW yang lain dan
menjadikan salah satu atau beberapa DTW unggulan sebagai inkubator perjalanan
Guna memaksimalkan struktur ruang pariwisata sehingga dapat membentuk suatu sistem wisatawan.
terpadu yang mampu memanfaatkan potensi setiap daya tarik wisata di Kabupaten Tana Toraja Disisi lain, pemerintah secara detail dalam pengembangan tiap kawasan wisata dibutuhkan
yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing, maka dibutuhkan hirarki tingkatan pusat adanya desain akses yang secara internal dan eksternal diupayakan agar tidak melakukan
dan sub pusat pengembangan ini, nantinya berfungsi untuk melayani aktivitas setiap DTW. Tiap perjalanan pada akses yang sama, sehingga waktu dan kesempatan menikmati DTW
pusat-pusat yang terbentuk mempunyai ciri karakteristik dan fungsi yang berbeda satu dengan disekitarnya dan memberi peluang kepada wisatawan untuk melanjutkan perjalanannya ke
yang lainnya. DTW lain dan diupayakan bersinergi dengan variasi jenis DTW lain tersebut.
Pembentukan cluster pariwisata diharapkan dapat mempromosikan kawasan-kawasan wisata Pengembangan desa-desa wisata juga menjadi salah satu peluang yang sangat berpotensi,
yang kurang diminati, sehingga mampu mendorong perkembangan kawasan wisata. Untuk ketersediaan DTW alam dan budaya dapat dipadukan pada beberapa kawasan atau desa
dapat melakukan analisis tersebut, selain mempertimbangkan dasar kebijakan diatas, terdapat yang memiliki sejumlah daya tarik wisata dapat dikembangkan menjadi desa wisata melalui
beberapa variabel yang dapat menjadi pengukuran dan pembagian wilayah wisata didaerah. pembentukan kelembagaan dan pembinaan pengembangan dan penataan daya tarik wisata
Variabel tersebut yakni sebagai berikut: dan atraksi wisata yang tersedia. Salah satu kawasan yang telah dikembangkan seperti
1. Tipe Aktivitas Wisatawan Desa Wisata Bebo’ Tumbang Datu, namun diperlukan adanya penguatan kelembagaan desa
Keanekaragam DTW di Kabupaten Tana Toraja berpengaruh terhadap tipe aktivitas wisata yang kuat agar masyarakat setempat dapat berperan aktif dalam mengembangkan
wisatawan yang dilakukan selama berkunjung di DTW tersebut. Aktivitas yang dilakukan pariwisatanya dengan dukungan kelembagaan-kelembagaan adat dan pemerintah. Potensi
oleh wisatawan selama berkunjung ke DTW mempengaruhi perjalanan wisatawan dari lain yang dapat dikembangkan yaitu Perkampungan Adat Sillanan, dan beberapa lainnya
kawasan wisata yang satu menuju kawasan wisata yang lain. DTW-DTW yang mampu perlu didukung agar perjalanan wisatawan sedapat mungkin tidak mejadikan Kota Makale
memberikan atraksi yang dapat menghabiskan waktu kunjungan yang lama, sehingga sebagai tempat akhir atau menginap setelah melakukan perjalanan wisata atau tempat
wisatawan sudah tidak berminat lagi untuk melanjutkan perjalanan ke DTW yang lain transit. Hal ini sangat perlu agar dapat memicu perkembangan wilayah-wilayah kecamatan
dikarenakan kelelahan. di Tana Toraja terutama yang memiliki potensi dan aksesibilitas yang cukup jauh dari Kota
Kedekatan antar objek wisata yang satu dengan yang lain belum tentu menjadikan suatu Makale. Pemanfaatan bangunan-bangunan budaya dan pembangunan akomodasi akan
perjalanan wisata yang dapat dilakukan dalam satu hari. Dengan pertimbangan- berkembang pada simpul-simpul tertentu yang secara langsung berdampak pada
pertimbangan yang telah dikemukakan, maka tipe aktivitas wisatawan menjadi salah satu peningkatan ekonomi masyarakat.
X-5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
2. Aksesibilitas seragam pada DTW alam dan DTW budaya. Kombinasi dari keseragaman ini perlu
Aksesibilitas merupakan salah satu faktor perkembangan suatu wilayah maupun kawasan. mempertimbangkan keunggulan dari daya tarik wisata yang ada didaerah sekitarnya sehingga
Semakin mudah pencapaian/akses suatu tempat, maka semakin besar peluang diperlukan inovasi dalam pengembangan sarana prasarana penunjang serta atraksi wisata
berkembangnya suatu wilayah/kawasan. Aksesibilitas dalam analisis ini dipakai sebagai dalam kawasan wisata yang menjadi khas dalam suatu perjalanan wisatawan.
salah satu dasar pertimbangan dalam pengembangan cluster wisata yaitu dengan
Berdasarkan uraian instrumen pembentuk perwilayahan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja
mempertimbangkan aspek jarak dan waktu tempuh antara satu lokasi DTW dengan DTW
tersebut diatas, pemanfaatan aksesibilitas, keterkaitan antar DTW dan potensi pengembangan
lainnya. Hal ini dipakai dalam pengembangan cluster wisata ini disebabkan karena lokasi
sarana prasarana penunjang kegiatan wisata, pengembangan atraksi budaya dan pemanfaatan
daya tarik wisata yang tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten Tana Toraja dengan
kesenian dan kerajinan serta penataan kawasan wisata baik alam, buatan maupun budaya
kondisi karakteristik pegunungan, sehingga adanya perlakuan khusus terhadap beberapa
menjadi fokus dalam pengembangan destinasi pariwisata yang tersedia serta merangsang
DTW yang lokasinya jauh dan kondisi jalan yang menanjak sehingga memerlukan waktu
pertumbuhan dan menggali potensi lain yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
yang lebih lama.
Sebagai illustrasi potensi pengembangan perwilayahan pariwisata di Tana Toraja dalat
Dengan adanya pengembangan akses jalan lingkar pariwisata yang dikembangkan di Tana dijelaskan dalam gambar berikut.
Toraja yang dapat menjadi pemicu berkembangnya pariwisata sangat strategis karena
akses yang dikembangkan dapat juga menghubungkan ke wilayah kabupaten disekitarnya
dengan simpul transportasi yang tersedia. Oleh karena itu, segala upaya dalam
pengembangan pariwisata Tana Toraja perlu dilakukan agar dapat menahan wisatawan
dengan tujuan ke wilayah kabupaten sekitarnya misalnya yang melalui Bandara Buntu Kuni
pada jalan lingkar pariwisata bagian timur kabupaten. Namun demikian, secara umum pada
ruas-ruas jalan lingkar pariwisata tersebut cukup banyak DTW yang telah dikembangkan
serta memiliki keunggulan ketersediaan sarana umum dan sarana pariwisata yang dapat
menjadi keunggulan daerah. Selain itu, Tana Toraja sangat berpotensi dalam
pengembangan pariwisata karena memiliki keterkaitan dalam penyediaan aksesibilitas
lintas kabupaten yang dapat diakses dari beberapa bagian wilayah kabupaten.
3. Keterkaitan (Linkage System)
Analisis linkage dilakukan dengan mengidentifikasikan perkembangan pariwisata Tana
Toraja dan mengklasifikasikannya sesuai dengan potensi dan ragam wisata yang
ditawarkan yang diupayakan adanya hubungan antara potensi dan ragam yang sudah ada
dengan konsep pengembangan wisata Tana Toraja. Selain itu, untuk mengetahui
keterkaitan antara lokasi DTW dan pengelolaan pariwisata secara umum.
Pengembangan klaster pariwisata ini tentunya diupayakan dapat menghidupkan perjalanan
wisatawan yang bukan hanya menikmati daya tarik wisata yang tersedia, namun lebih jauh
wisatawan dapat berinteraksi dengan masyarakat sekitar DTW melalui strategi menahan
wisatawan untuk dapat melakukan perjalanan pada simpul atau klaster yang dibentuk lebih
dari satu hari dan membutuhkan tempat untuk menginap/bermalam. Setiap klaster
diupayakan adanya studi lebih lanjut terkait potensi daya tarik wisata dan atraksi serta
jenis-jenis daya tarik yang dapat dikembangkan pada setiap DTW dan hubungannya dengan
DTW lain dalam satu satuan perjalanan wisatawan. Gambar 10.2
Illustrasi Potensi Pengembangan Perwilayahan Destinasi Pariwisata Kab. Tana Toraja
Keragaman daya tarik wisata sebagai destinasi pariwisata nasional, perwilayahan pariwisata
Tana Toraja sangat bergantung pada keunggulan atraksi dan daya tarik pendukung dalam satu Berdasarkan pada gambaran pengembangan perwilayahan atau struktur ruang pariwisata diatas
kawasan wisata sangat diperlukan karena umumnya daya tarik wisata yang tersedia cukup sesuai dengan potensi tiap bagian kawasan pariwisata tersebut, maka dapat potensi
X-6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
pengembagan struktur ruang pariwisata yang dapat diwujudkan dalam bentuk Perwilayahan menarik wisatawan yang berkunjung ke dua kabupaten tersebut dapat menginap dan
Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK), Kawasan Pengembangan Pariwisata Kabupaten (KPPK), melakukan aktivitas wisata lainnya di wilayah tersebut.
dan Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten (KSPK) yaitu minimal dapat dibagi berpotensi d. Beberapa daya tarik wisata yang terdapat di Kabupaten Toraja Utara yang berbatasan
menjadi 8 (delapan) bagian yang terdiri dari 1 (satu) pusat pelayanan primer dan 7 (tujuh) dengan Makale Utara sehingga berpotensi menjadi penarik pengembangan sarana
subpusat pelayanan/sekunder dengan masing-masing pusat pelayanan memiliki keunggulan pelayanan pariwisata.
destinasi pariwisata dan juga bertujuan perangsang perkembangan wilayah dengan upaya e. Kedua wilayah kecamatan tersebut memiliki daya tarik unggulan nasional dan daerah
mensinergikan bagian-bagian wilayah yang memiliki potensi unggulan dengan bagian wilayah sehingga diharapkan dapat berperan dalam memberikan pelayanan prima terhadap
yang dapat berkembang dengan adanya potensi bagian lain tersebut. Setiap pusat yang kegiatan pariwisata.
dibentuk pada dasarnya juga mempertimbangkan berbagai perencanaan yang telah ditetapkan
2. Pengembangan Pusat Pelayanan Sekunder, yang melingkupi beberapa bagian wilayah
oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi yang menjadikan Tana Toraja sebagai salah
dengan potensi sebagaimana kriteria yang ditetapkan diatas, pusat pelayanan sekunder
satu destinasi pariwisata nasional melalui pengembangan KSPN Tana Toraja.
pada dasarnya memiliki kekuatan sumberdaya pariwisata dan aksesibilitas yang dapat
bersinergi dalam kegiatan pariwisata.
10.2 RENCANA PENETAPAN DESTINASI PARIWISATA KABUPATEN (DPK) TANA TORAJA
Perwilayahan destinasi pariwisata adalah perwujudan dalam bentuk sub-sub pengembangan Pusat pelayanan sekunder ini terdiri dari 5 (lima) subpusat pelayanan kegiatan wisata yang
Pariwisata daerah dan Destinasi Parawisata unggulan. Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana terdiri dari daya tarik wisata unggulan nasional pada beberapa subpusat dan daya tarik
Toraja adalah merupakan kawasan geografis yang berada dalam satu wilayah administratif yang wisata unggulan daerah, serta DTW yang didorong menjadi unggulan daerah yang
di dalamnya terdapat daya tarik wisata daerah. Perwilayahan destinasi pariwisata kabupaten diharapkan saling terkoneksi salam satu kegiatan wisata sehingga dapat merangsang
ditentukan dengan kriteria sebagai berikut: perkembangan DTW lain disekitarnya.
1. Merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah kabupaten dan/atau lintas Selain keunggulan dan potensi daya tarik wisata, pada sub-subpusat ini juga dikembangkan
kabupaten yang didalamnya terdapat kawasan-kawasan pengembangan pariwisata daerah, sejumlah sarana pariwisata, sarana penunjang dan pendukung pariwisata seperti
yang diantaranya merupakan Peruntukan Kawasan Pariwisata Kabupaten; akomodasi, penjualan souvenir, ukiran-ukiran, atraksi budaya dan seni, event-event, serta
2. Memiliki Daya Tarik Wisata yang berkualitas dan dikenal secara luas secara regional, pengembangan potensi industri dan UMKM diperdesaan dan lainnya yang dapat membawa
nasional maupun internasional, serta membentuk jejaring produk wisata dalam bentuk pola manfaat ekonomi dan manfaat interaksi sosial yang baik antara masyarakat dengan
pemaketan produk dan pola kunjungan wisatawan; wisatawan.
3. Memiliki kesesuaian tema Daya Tarik Wisata yang mendukung penguatan daya saing;
4. Memiliki dukungan jejaring aksesibilitas dan infrastruktur yang mendukung pergerakan
wisatawan dan kegiatan Kepariwisataan; dan
5. Memiliki keterpaduan dengan rencana sektor terkait.
Struktur ruang pariwisata kabupaten garis besar dibagi menjadi pusat pelayanan primer dan
pusat pelayanan sekunder.
1. Pengembangan Pusat Pelayanan Primer ditetapkan di Kota Makale dengan wilayah
pengaruh/pelayanan di Kecamatan Makale dan Kecamatan Makale Utara. Nilai strategis
yang dikembangkan pada pusat pelayanan primer ini yaitu ditunjang dengan potensi
diantaranya:
a. Kota Makale sebagai Ibukota Kabupaten Tana Toraja dan Pusat Informasi Pariwisata
kabupaten.
b. Memiliki kelengkapan sarana prarasana pariwisata seperti akomodasi, transportasi,
usaha pariwisata, sarana penunjang serta pelengkap pariwisata;
c. Kecamatan Makale Utara sebagai jalur utama masuk Kabupaten Toraja Utara dapat
dikembangkan jenis pelayanan pariwisata yaitu akomodasi yang diharapkan dapat
X-7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X-8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X-9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
3. DPK BAGIAN TIMUR (Sangalla dan sekitarnya) Yaitu destinasi pariwisata dengan pusat pelayanan di Bittuang melalui pengembangan
Yaitu destinasi pariwisata dengan pusat pelayanan di Kecamatan Sangalla (ibukota daya tarik wisata Alam dan Budaya, serta Atraksi budaya. Lingkup kegiatan dan
kecamatan), dengan pengembangan akomodasi wisata dan DTW Alam Budaya, dan pelayanan wisata meliputi DTW yang terdapat di Kecamatan Bittuang, Kecamatan Saluputti,
Buatan, serta Atraksi budaya dan seni. Lingkup kegiatan wisata meliputi DTW dan Kecamatan Kurra, Kecamatan Masanda dan Kecamatan Rembon. DTW Unggulan meliputi:
atraksi wisata yang terdapat di Kecamatan Sangalla, Kecamatan Sangalla Selatan, dan 1. Sarambu Assing (unggulan nasional dan daerah), di Patongloan Kecamatan Bittuang.
Sangalla Utara melalui pengembangan ruas jalan lingkar pariwisata yang dapat 2. Taman Rekreasi Barereng (unggulan nasional dan daerah), di Rante Limbong Kecamatan
menghubungkan langsung ke Bandara Buntu Kuni. Kurra.
DTW Unggulan meliputi: 3. Air Terjun Sarambu Ratte (unggulan daerah), di Balla Kecamatan Bittuang.
1. Kawasan Wisata Bebo' (unggulan nasional dan kabupaten), di Kecamatan Sanglla Utara. 4. Papa Batu Tumakke (unggulan nasional dan daerah), di Rembon.
2. Kawasan Wisata Tumbang Datu (unggulan nasional dan kabupaten), di Kecamatan 5. Arum Jeram Kurra (unggulan nasional dan daerah), di Maroson Padakka Kecamatan
Sanglla Utara. Kurra.
3. Kawasan Wisata Permandian Air Panas Makula (unggulan nasional dan kabupaten), di 6. Pengembangan Rest Area di Kecamatan Bittuang.
Tokesan Kecamatan Sangalla. 7. Pembangunan Desa Wisata Tiroan, Kecamatan Bittuang.
4. Kawasan Wisata Suaya (unggulan nasional dan kabupaten), di Kaero Kecamatan
Sedangkan DTW Penunjang diantaranya:
Sangalla.
1. Rumah Adat Pattan, di Pattan Kecamatan Saluputti.
5. Kawasan Wisata Museum Buntu Kalando (unggulan kabupaten), di Tongko Sarapung
2. Perkebunan Kopi Tiroan, di Tiroan Kecamatan Bittuang.
Kecamatan Sangalla.
3. Air Panas Balla, di Balla Kecamatan Bittuang.
6. Kawasan Wisata To'Puang (unggulan kabupaten), di Rante Alang Kecamatan Sangalla’
4. Pa'bakka (Liang Tau-Tau), di Rea Kecamatan Saluputti.
Selatan.
5. Sanduni (Liang) Banga', di Bunga Kecamatan Rembon. dan
7. Kawasan Wisata Kambira Baby Grave (unggulan kabupaten), di Tongko Sarapung
6. Kuburan Batu Ullin, di Ullin Kecamatan Rembon.
Kecamatan Sangalla.
Serta potensi pariwisata lainnya yang dapat menunjang kegiatan wisata di DPK Bagian Utara.
8. Kawasan Wisata Sa’pak bayobayo (unggulan kabupaten), di Saluallo Kecamatan
Sangalla’ Selatan. dan 5. DPK BAGIAN BARAT (Bonggakaradeng dan Sekitarnya)
9. Pembangunan Rest Area, di Kecamatan Sangalla Utara perbatasan dengan Kabupaten Yaitu destinasi pariwisata dengan pusat pelayanan di Bonggakaradeng melalui
Toraja Utara. pengembangan daya tarik wisata Alam dan Budaya, serta Atraksi budaya. Lingkup
10. Pembangunan Desa Wisata Bebo', di Kecamatan Sanglla’ Utara. kegiatan wisata meliputi DTW yang terdapat di Kecamatan Bonggakaradeng, Kecamatan
11. Pembangunan Desa Wisata Tumbang Datu, di Kecamatan Sanglla Utara. Rano, Kecamatan Simbuang, Kecamatan Mappak, Kecamatan Malimbong Balepe, dan
12. Pembangunan Desa Wisata Saluallo, Kecamatan Sangalla’ Utara. Kecamatan Rembon.
13. Pembangunan Desa Wisata Tongko Sarapung, Kecamatan Sangalla.
DTW Unggulan meliputi:
DTW Penunjang diantaranya: 1. Air Terjun Talondo Tallu (unggulan nasional dan daerah), di Balepe’ Kecamatan
1. Tampang Allo, di Tongko Sarapung Kecamatan Sangalla. Malimbong Balepe.
2. Danau Assa, di Turunan Kecamatan Sangalla. 2. Kampung Tenun (unggulan daerah), Malimbong Kecamatan Malimbong Balepe.
3. Lo’ko Tongko, di Tongko Sarapung Kecamatan Sangalla. 3. Ollon (unggulan nasional dan daerah), di Poton Kecamatan Rembon.
4. Tongkonan Banua Kasalle, di Kaero Kecamatan Sangalla. 4. Papa Batu Tumakke (unggulan nasional dan daerah), di Kecamatan Rembon.
5. Goa Sullukan, di Tokesan Kecamatan Sangalla. 5. Batu Tallu, di Kecamatan Simbuang.
Serta Potensi pariwisata lainnya yang dapat menunjang kegiatan wisata di DPK Bagian Timur, 6. Air Terjun Salu Sumassan, di Tanete Kecamatan Mappak.
dan potensi pariwisata lainnya yang dapat menunjang kegiatan wisata di DPK Bagian Timur. 7. Ritual Aluk Todolo, di Kecaamatan Mappak
8. Panorama Alam Kuesta Kendenan, di Ran Buttu Kecamatan Bonggakaradeng.
9. Pembangunan Desa Wisata Bo’ne Lemo Menduruk, Kecamatan Malimbong Balepe.
10. Pembangunan Desa Wisata Simbuang Batu Tallu, Kecamatan Simbuang.
4. DPK BAGIAN UTARA (Bittuang dan Sekitarnya)
X - 12
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 13
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 14
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 15
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 16
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
10.3 RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PARIWISATA 2. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Selatan
KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Bagian Selatan kabupaten, meliputi:
Rencana pengembangan kawasan pariwisata terdiri dari Kawasan Pengembangan
▪ KPP Kawasan Argowisata dan Alam Pango Pango
Pariwisata (KPP) dan Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten (KSPK) Tana Toraja
▪ KPP Mengkendek
dengan mengacu pada gambaran umum konsep pengembangan perwilayahan destinasi
▪ KPP Gandangbatu Sillanan
pariwisata diatas. Rencana kawasan pengembangan pariwisata merupakan arahan pembangunan
▪ KPP Sarambu - Mengkendek
kawasan pariwisata yang dapat menjadi andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta
mencapai visi dan misi pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tana Toraja. Kawasan
3. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Timur
pengembangan pariwisata adalah suatu ruang pariwisata yang mencakup luasan area tertentu
KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Bagian Timur kabupaten, meliputi:
sebagai suatu kawasan dengan komponen kepariwisataannya, serta memiliki karakter atau tema
▪ KPP Sangalla Utara
produk pariwisata tertentu yang dominan dan melekat kuat sebagai komponen pencitraan
▪ KPP Sangalla
kawasan tersebut.
▪ KPP Sangalla Selatan
Rencana kawasan pengembangan pariwisata di Kabupaten Tana Toraja terdiri dari:
▪ Tema pengembangan produk pariwisata KPP; 4. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Utara
▪ Jenis wisata yang menjadi unggulan untuk dikembangkan dan jenis wisata pendukungnya; KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Bagian Utara kabupaten, meliputi:
▪ Sasaran pengembangan KPP; ▪ KPP Bittuang
▪ Target pasar wisatawan; ▪ KPP Bittuang – Masanda
▪ Sistem keterkaitan dengan kawasan disekitarnya dan wilayah kabupaten lain disekitarnya; ▪ KPP Salluputi – Rembon
▪ Rencana peningkatan kualitas daya tarik wisata di KPP; ▪ KPP Kurra
▪ Rencana penyediaan fasilitas pariwisata (kualifikasi dan jumlah) di KPP;
▪ Rencana penyediaan fasilitas umum pendukung KPP (kualifikasi); 5. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Barat
▪ Rencana penyediaan prasarana transportasi (kualifikasi dan lokasi) untuk mendukung KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Bagian Barat kabupaten, meliputi:
pengembangan KPP; dan ▪ KPP Rembon – Malimbong
▪ Rencana penyediaan prasarana lainnya (jika mendesak dan diperlukan) untuk mendukung ▪ KPP Mappak – Simbuang
KPP. ▪ KPP Bonggakaradeng – Rano
KSP yang ditetapkan pengembangannya berdasarkan sebaran dan struktur ruang pariwisata
10.4 RENCANA KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA KABUPATEN (KSPK)
didalam satuan Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK) yang dikembangkan diatas. Dengan acuan
tersebut serta mempertimbangkan sebaran DTW yang tersedia, maka KPP dikelompokkan pada Sedangkan Rencana kawasan strategis pariwisata merupakan arahan pengembangan kawasan
setiap DKP dengan pengembangan KPP sebagai berikut: pariwisata yang dianggap strategis untuk menjawab isu-isu strategis pembangunan wilayah dan
1. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DPK Kota Makale dan Sekitarnya, dengan atau pembangunan kepariwisataan. Kawasan strategis pariwisata adalah kawasan yang memiliki
2. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DPK Bagian Selatan fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai
3. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DPK Bagian Timur pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya,
4. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DPK Bagian Utara pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan
5. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Bagian Barat. keamanan (UU. No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Pasal 10).
▪ Fungsi strategis KSP;
Berdasarkan kriteria yang ditentapkan diatas, maka KPP yang dikembangkan dirinci sebagai
▪ Sasaran pengembangan KSP;
beriku:
▪ Tema pengembangan produk pariwisata KSP;
1. Kawasan Pengembangan Pariwisata pada DKP Kota Makale dan Sekitarnya
▪ Jenis wisata yang menjadi unggulan untuk dikembangkan dan jenis wisata pendukung;
KPP pada perwilayah destinasi pariwisata Kota Makale dan Sekitarnya, meliputi:
▪ Target pasar wisatawan;
▪ KPP Makale
▪ Sistem keterkaitan dengan kawasan disekitarnya dan wilayah kabupaten lain disekitarnya;
▪ KPP Makale Utara
▪ Sistem keterkaitan dengan sektor lain didalam kawasan maupun disekitar KSP;
▪ Rencana peningkatan kualitas daya tarik wisata di KSP;
X - 17
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
▪ Rencana penyediaan fasilitas pariwisata (kualifikasi dan jumlah) di KSP; Tabel: 5.13 Rencana Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja
▪ Rencana penyediaan fasilitas umum pendukung KSP (kualifikasi);
Destinasi Kawasan Kawasan Strategis Tema Pengembangan
▪ Rencana penyediaan prasarana transportasi (kualifikasi dan lokasi) untuk mendukung No. Pariwisata Pengembangan Pariwisata Produk
pengembangan KSP; dan Kabupaten (DPK) Pariwisata (KPP) kabupaten (KSPK)
▪ Rencana penyediaan prasarana lainnya (jika mendesak dan diperlukan) untuk mendukung 4. KPP Kurra 4. KSPK Barereng Alam dan Minat khusus
KPP.
4 DPK Bagian Timur 1. KPP Sangalla 1. KSPK Desa Wisata ▪ Desa wisata
Rencana Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten Tana Toraja meliputi destinasi pariwisata (Sangalla dan Utara Bebo’ – Tumbang ▪ DTW Budaya
dengan mempertimbangkan kriteria diatas, serta pertimbangan kebijakan kepariwisataan Sekitarnya) Datu ▪ DTW Agro
nasional dan daerah dengan menetapkan sejumlah kawasan wisata yang strategis dan 2. KPP Sangalla 2. KSPK Suaya Budaya
diharapkan mampu berperan dalam medorong perkembangan destinasi pariwisata secara 3. KSPK Buntu
Kalando
keseluruhan baik pada KPP maupun DPK dan menjadi unggulan bagi daerah dan nasional, baik
3. KPP Sangalla 4. KSPK To’puang Budaya
pemerintah maupun masyarakat, serta memperkuat daya tarik wisata pada setiap perwilayahan.
Selatan
terdiri dari:
5 DPK Bagian Barat 1. KPP Rembon – 1. KSPK Kampung Minat khusus
Tabel: 5.13 Rencana Perwilayahan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja (Bonggakaradeng Malimbong Tenun
Destinasi Kawasan Kawasan Strategis Tema Pengembangan dan Sekitarnya) 2. KPP Mappak – 2. KSPK Salu Alam dan Minat khusus
No. Pariwisata Pengembangan Pariwisata Produk Simbuang Sumassan
Kabupaten (DPK) Pariwisata (KPP) kabupaten (KSPK) 3. KPP 3. KSPK Ollon
1 DPK Kota Makale dan 1. KPP Makale 1. KSPK Buntu Burake ▪ Desa Wisata
Bonggakaraden 4. KSPKCuesta
Sekitarnya 2. KSPK Buntu ▪ Atraksi Seni & Budaya
g – Rano Kendenan
Tondon ▪ Wisata MICE
Sumber: Hasil Kajian Tim, 2010
▪ Buatan
2. KPP Makale 3. KSPK Tilangnga ▪ Desa Wisata
Utara 4. KSPK Lemo ▪ Atraksi Seni & Budaya
▪ DTW Unggulan
2 DPK Bagian Selatan 1. KPP Pango 1. KSPK Pango Pango Agrowisata dan Minat
(Mengkendek dan Pango khusus
Sekitarnya) 2. KPP 2. KSPK Buntu ▪ Desa wisata
Mengkendek Kandora ▪ Minat khusus
3. KSPK Potok ▪ Atraksi wisata
Tengan
3. KPP 4. KSPK Desa Wisata Desa wisata dan Minat
Gandangbatu Sillanan khusus
Sillanan
4. KPP Sarambu - 5. KSPK Sarambu - Desa wisata dan Minat
Mengkendek Mengkendek khusus
3 DPK Bagian Utara 1. KPP Bittuang 1. KSPK Sarambu Alam dan Minat khusus
(Bittuang dan Assing
Sekitarnya) 2. KPP Bittuang – 2. KSPK Sarambu Alam dan Minat khusus
Masanda Ratte
3. KPP Salluputi – 3. KSPK Papa Batu Budaya dan Minat
Rembon khusus
X - 18
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 19
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 20
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 21
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 22
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
X - 23
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
11
11.1 UMUM
Indikasi program dimaksudkan untuk memberikan arahan kegiatan berdasarkan pengembangan
kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan dalam pembangunan kepariwisataan Kabupaten
Tana Toraja jangka waktu dan tahapan tertentu, sehingga setiap program yang akan dan selesai
dilaksanakan akan memberikan dampak terhadap pengembangan sektor kepariwisataan di
Kabupaten Tana Toraja. Program dan Indikasi Kegiatan Pembangunan Kepariwisataan
Kabupaten Tana Toraja dalam kurung waktu 10 (sepuluh) tahun yaitu 2021-2030. Dalam
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 8 disebutkan bahwa
pembangunan kepariwisataan yang dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan
kepariwisataan merupakan bagian integral dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional. Oleh karena itu, jangka waktu perencanaan RIPPARKAB Tana Toraja juga
menyesuaikan dengan periode waktu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Kabupaten Tana Toraja yang tentu saja sama dengan periode waktu Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN), sebagaimana tertuang dalam rumusan Peraturan Menteri
Pariwisata Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Program dan indikasi kegiatan pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja yang di
rencanakan dibagi kedalam setiap unsur-unsur kepariwisataan yang terdiri dari:
1. Program Pembangunan Destinasi Pariwisata;
2. Program Pembangunan Pemasara Pariwisata;
3. Program Pembangunan Industri Pariwisata;
4. Program Pembangunan Kelembagaan Pariwisata;
XI - 1
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
11.2 LOKASI, SUMBER PENDANAAN DAN INSTANSI PELAKSANA Program-program yang akan disusun tersebut pada dasarnya masih bersifat indikatif dan
diharapkan menjadi suatu indikator didalam penyusunan program pembangunan
1. Lokasi
kepariwisataan oleh instansi untuk jangka menengah. Susunan program pembangunan
Lokasi merupakan tempat dimana usulan program akan dilaksanakan.
kepariwisataan tersebut, tidak dapat terlepas dari kebijaksanaan pembangunan yang telah
2. Sumber Pendanaan digariskan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang (RPJMD dan RPJPD)
Sumber pendanaan dapat berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tana Toraja, Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja yang terindikasi
Kabupaten Tana Toraja, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dalam program pembangunan daya tarik wisata, dan rencana yang tertuang dalam RENSTRA
Sulawesi Selatan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), swasta, dan/atau Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja.
masyarakat. 1. Nama program dari usulan program dan proyek rencana pembangunan kepariwisataan
3. Instansi Pelaksana Kabupaten Tana Toraja, meliputi: pembangunan destinasi pariwisata, pembangunan
Instansi pelaksana merupakan pihak-pihak pelaksana program prioritas yang meliputi pemasaran pariwisata, pembangunan industri pariwisata maupun pembangunan
pemerintah seperti organisasi perangkat daerah (OPD), dinas teknis terkait, dan/atau kelembagaan;
kementerian/lembaga, swasta, dan/atau masyarakat. 2. Sasaran dari usulan program rencana pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana
Toraja merupakan target yang ingin dicapai, terdiri atas: kesesuaian dengan tujuan, visi
dan misi Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, kesesuaian dengan tujuan pembangunan
11.3 WAKTU DAN TAHAPAN PELAKSANAAN daya tarik wisata dan peningkatan kualitas SDM;
Program direncanakan dalam kurun waktu perencanaan 10 (sepuluh) tahun yang dirinci setiap 3. Komponen kegiatan pada setiap sub program yang bersifat untuk memelihara/peningkatan
5 (lima) tahunan dan masing-masing program mempunyai durasi pelaksanaan yang bervariasi fungsi berbagai item pembangunan kepariwisataan serta berbagai fasilitas pelayanan yang
sesuai kebutuhan. Penyusunan program prioritas disesuaikan dengan pentahapan jangka waktu ada lebih didahulukan untuk menjamin tetap operasionalnya pembangunan kepariwisataan
5 (lima) tahunan Rencana Pembangunan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja. tersebut;
4. Jangka waktu dan tahapan pelaksanaan program dari rencana pembangunan
kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja didasarkan prioritas pembangunan dan berdasarkan
11.4 INDIKASI PROGRAM KEGIATAN PEMBANGUNAN rencana pembangunan jangka menengah dan panjang Kabupaten Tana Toraja pada sektor
Perwujudan Rencana Pembangunan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, pada dasarnya pariwisata;
dilakukan dalam berbagai program pemanfaatan sumberdaya pariwisata atau pelaksanaan 5. Skala prioritas program mengacu kepada permasalahan pengembangan dan kebutuhan
pembangunan sesuai dengan arahan rencana. Untuk menyusun program-program pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja seperti telah diuraikan diatas,
pembangunan kepariwisataan kabupaten, sesuai dengan arahan rencana, maka diperlukan dengan menggunakan metode matriks, skoring dengan pembobotan sederhana, dapat
suatu indikasi program pembangunan yang diturunkan dari berbagai komponen rencana disusun secara indikatif skala prioritas program dan proyek-proyek pembangunan untuk
kegiatan pembangunan yang lebih rinci, yang dalamnya tercakup program-program disusun secara indikatif skala prioritas program dan proyek-proyek pembangunan dalam
pembangunan yang bersifat indikatif, tahapan pelaksanaan, lokasi kegiatan serta institusi perencanaan jangka menengah dan jangka panjang.
pelaksananya. Dalam perumusan indikasi program pembangunan kepariwisataan, Kriteria penilaian yang digunakan untuk penyusunan skala prioritas tersebut adalah:
dipertimbangkan beberapa hal, meliputi: 1. Kesesuaian dengan tujuan pengembangan wilayah Kabupaten Tana Toraja;
1. Adanya komponen-komponen rencana yang perwujudannya membutuhkan implementasi 2. Kesesuaian dengan tujuan mengembangkan/mewujudkan sektor pariwisata yang telah
secara langsung dalam bentuk program-program pembangunan fisik baik berupa rencana direncanakan dan kesesuaiannya dengan upaya pemeliharaan kelestarian lingkungan
pembangunan destinasi pariwisata, pembangunan pemasaran pariwisata, pembangunan hidup;
industri pariwisata maupun pembangunan kelembagaan. 3. Kesesuaian dengan tujuan membuka akses dan mengembangkan sistem transportasi
2. Adanya kebutuhan untuk melakukan prioritas dalam pelaksanaan pembangunan sesuai wilayah; dan
dengan tahapan pembangunan di kabupaten; dan 4. Program dan kegiatan yang bersifat khusus dan atau mendesak seperti misalnya berkenaan
3. Adanya kebutuhan pembiayaan atau sumber dana yang berbeda serta perlunya dukungan dengan masalah bersifat meningkatkan pendapatan asli daerah dan peningkatan ekonomi
kelembagaan untuk melaksanakan program pembangunan kepariwisataan. masyarakat dari sektor pariwisata dan lain-lain, maka pada prinsipnya akan lebih
diprioritaskan.
XI - 2
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
Program Prioritas pembangunan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja dalam jangka waktu 7. Diversifikasi daya tarik wisata sebagai penguatan terhadap peluang-peluang perkembangan
perencanaan (10 tahun) kedepan, difokuskan pada beberapa unsur pembangunan dan kecenderungan wisatawan;
kepariwisataan, diantaranya sebagai berikut: 8. Pembangunan sistem informasi pariwisata yang handal;
1. Pembangunan infrastruktur yang terkoneksi antar kepentingan dalam pembangunan 9. Pembentukan peraturan perundang-undangan didaerah dalam upaya koordinasi, sinergitas,
kepariwisataan kabupaten (nasional, provinsi, dan kabupaten); dan pelayanan pariwisata bagi pelaksanaan pembangunan kepariwisataan kabupaten;
2. Pengembangan aksesibilitas antar DTW unggulan dan DTW lain disekitarnya dalam upaya 10. Pengembangan berbagai bentuk insentif bagi pelaku usaha (masyarakat, swasta, dll) dalam
pengembangan paket-paket wisata serta peningkatan daya saing destinasi wisata; menunjang perkembangan kepariwisataan kabupaten;
3. Peningkatan kualitas sarana pariwisata (akomodasi, transportasi, dll) yang menjamin 11. Peningkatan Kualitas dan Keragaman Produk-Produk Usaha Pariwisata;
kebutuhan wisatawan dalam melakukan kegiatan wisata; 12. Penyusunan rencana-rencana rinci kawasan-kawasan pariwisata unggulan;
4. Peningkatan UMKM dalam menunjang industri pariwisata kabupaten; 13. Pelaksanaan penelitin-penelitian dan pengembangan terhadap seluruh unsur pariwisata di
5. Peningkatan kualitas SDM pariwisata baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha kabupaten;
lainnya; 14. Mengembangkan berbagai kerjasama antar sektor, wilayah, dan kepentingan dalam
6. Pembangunan desa-desa wisata serta unsur penunjangnya, baik kelembagaan, bentuk pembangunan kepariwisataan kabupaten. dll
peranserta masyarakat, maupun pengelolaan sumberdaya alam yang tersedia sebagai daya
tarik wisatanya;
XI - 3
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
XI - 4
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
XI - 5
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
XI - 6
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
XI - 7
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
XI - 8
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
XI - 9
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
XI - 10
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
XI - 11
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN (RIPPARKAB) TANA TORAJA, TAHUN 2021-2030
DAFTAR PUSTAKA T
2. Badan Pusat Statistik. 2020. Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka. Makale. 3. UU. No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang;
3. Burkart, A.J. dan Medlik, S. 1987. Tourism, Past, Present, and Future. London; 4. PP. No. 50 Tahun 2011 tentang RIPPARNAS Tahun 2010-2025;
4. Bungin, Burhan. 2015. Komunikasi Pariwisata (Tourism Communication) Pemasaran dan 5. Perpres No. 14 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 64
Brand Destinasi. Jakarta: Prenadamedia Group. Tahun 2014 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Kepariwisataan
5. Hainim Bem, Pengantar Pariwisata, STIEPAR, Bandung; 6. Permendagri. No. 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pembangunan Ekowisata Di Daerah;
6. Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar 7. Permenpar. No. 37 Tahun 2007 tentang Kriteria Destinasi Unggulan;
Yogyakarta; 8. Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Rencana
7. Kementerian PUPR. 2016. Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu Kawasan Strategis Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota;
Pariwisata Pegunungan dan Budaya KSPN Toraja. Jakarta; 9. Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata
8. Kusudianto Hadinoto, 1996, Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata, Penerbit Berkelanjutan;
Universitas Indonesia, Jakarta; 10. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 6 Tahun 2014 tentang Perubahan
9. Kotler Philip, Amstrong Gary. 2013. Prinsip-prinsip Pemasaran, Edisi ke-12. Penerbit Atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 53 Tahun 2013 tentang
Erlangga. Standar Usaha Hotel
10. Koentjaraningrat. 2009. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Gramedia 11. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 27 Nomor 2014 Tentang Standar
Usaha Taman Rekreasi;
11. Marpaung. H, 2002, Pengetahuan Kepariwisataan, Penerbit Alfabeta, Bandung;
12. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 9 Tahun 2014 Tentang Standar
12. Pitana, I Gde, 2005, Sosiologi Pariwisata, Penerbit Andi, Yogyakarta
Usaha Pondok Wisata;
13. Rudana, Nyoman. 2008. Strategi Pengembangan Pariwisata Bali. Jakarta: Lembaga
13. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 14 Tahun 2014 Tentang Standar
Administrasi Negara;
Usaha Angkutan Jalan Wisata;
14. Salah Wahab, 1988, Pemasaran Pariwisata, PT. Pradnya Pramita, Jakarta;
14. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 17 Tahun 2014 Tentang Standar
15. Sunaryo. 2013. Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata, Konsep dan Aplikasinya. Usaha Kawasan Pariwista;
Gava Media. Yogyakarta
15. Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No. 27 Tahun 2014 Tentang Standar
16. Swarbrooke. 1996. Pengembangan Pariwisata. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Usaha Taman Rekreasi;
17. Yoeti, Oka, A. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa. 16. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2015 tentang RIPPARPROV
18. ________. 1997. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Pradnya Paramita. Jakarta; Sulawesi Selatan Tahun 2015-2030;
19. ________. 2003. Tours and Travel Marketing. Pradnya Paramita. Jakarta; 17. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Tentang RPJMD Kabupaten Tana Toraja;
20. ________. 2008. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita; 18. Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja No. 12 Tahun 2011 Tentang RTRW Kabupaten
Tana Toraja Tahun 2011-2031;