0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan90 halaman

Stress Keluarga Merawat Penderita Stroke

Dokumen ini membahas tentang stroke sebagai penyakit serius yang disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah otak, dengan berbagai faktor risiko yang berkontribusi terhadap meningkatnya insiden stroke di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi stres keluarga dalam merawat penderita stroke, serta memberikan wawasan bagi perawat dan institusi keperawatan. Hasil penelitian diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penderita stroke dan memberikan informasi tambahan untuk penelitian di masa mendatang.

Diunggah oleh

ayifachri.net2021
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan90 halaman

Stress Keluarga Merawat Penderita Stroke

Dokumen ini membahas tentang stroke sebagai penyakit serius yang disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah otak, dengan berbagai faktor risiko yang berkontribusi terhadap meningkatnya insiden stroke di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi stres keluarga dalam merawat penderita stroke, serta memberikan wawasan bagi perawat dan institusi keperawatan. Hasil penelitian diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penderita stroke dan memberikan informasi tambahan untuk penelitian di masa mendatang.

Diunggah oleh

ayifachri.net2021
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stroke merupakan suatu penyakit yang disebabkan

oleh adanya gangguan pada pembuluh darah otak. Gangguan

tersebut dapat berupa sumbatan dan robekan pembuluh

darah otak tersebut. Sehingga pasien akan mengalami

kelumpuhan dalam jangka waktu lama (Depkes RI, 2005).

Stroke merupakan sindrom klinis yang awal timbulnya

mendadak, progresi cepat, berupa defisit neurologis vokal dan

/atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau

langsung menimbulkan kematian. Penyebab stroke sangat

kompleks dengan berbagai faktor resiko seperti hipertensi,

diabetes mellitus, hiperkolesterolemia, gaya hidup dan ada

penyebab yang tidak dapat dimodifikasi seperti umur, jenis

kelamin, genetik (Mansjoer, 2000).

Dewasa ini tingkat kepedulian masyarakat akan

pemeliharaan kesehatan terhadap berbagai resiko yang dapat

menimbulkan stroke masih sangat rendah, terlihat dari

insiden stroke cenderung meningkat setiap tahunnya

sehingga stroke menjadi masalah serius yang dapat

1
menyebabkan kematian dalam waktu singkat, kecacatan dan

biaya yang dikeluarkan sangat besar (Misbach, 2004).

Menurut WHO (2010), setiap tahun 15 juta orang

diseluruh dunia mengalami stroke. Sekitar 5 juta menderita

menunjukan kelumpuhan permanen. Diseluruh kawasan Asia

Tenggara terdapat 4,4 juta orang mengalami stroke. Pada

tahun 2020 diperkirakan 7,6 juta orang akan meninggal

dikarenakan penyakit stroke ini.

Mantan Menteri Kesehatan Indonesia 2011 Endang Sri

Rahayu mengatakan, dari jumlah total penderita stroke di

Indonesia sekitar 2,5% atau 250.000 orang meninggal dunia.

Berdasarkan hasil laporan Riskesdas Indonesia tahun 2013

terkait penyakit stroke di Indonesia menunjukan bahwa

prevalensi stroke di Indonesia terjadi peningkatan dari 8,3

per1000 pada tahun 2007 menjadi 2,1 per 1000 di tahun 2013

(Depkes RI, 2013).

Berdasarkan hasil laporan yang disurvei di daerah

provinsi Aceh, jumlah kematian akibat stroke meningkat dari

25,41% di tahun 2011 menjadi 48,53% di tahun 2012.

Keadaan ini terus meningkat dari tahun ke tahun dengan

kejadian stroke yang terus mewabah yang disebabkan pola

hidup yang salah. Sedangkan hasil Riskesdas tahun 2013,

bahwa prevalensi stroke di provinsi aceh berdasarkan

2
diagnosis tenaga kesehatan sebanyak 6,6% (Aceh Virtual,

2014).

Dari hasil survey awal yang dilakukan di Poli Syaraf Rumah Sakit

Umum Daerah Cut Meutia, penderita stroke yang berkunjung pada tahun 2011

terdapat sebanyak 180 orang, pada tahun 2012 sebanyak 198 orang

dengan rata-rata usia diatas 60 tahun. Sedangkan pada tahun 2013 tardapat

sebanyak 237 orang dengan rata-rata usia diatas 58 tahun (RSU Cut Mutia,

2014).

Umumnya stroke berlanjut dengan depresi, artinya

penderita sadar kondisinya sudah lain untuk melakukan

aktivitas sehari-hari, hal ini disebabkan oleh masalah-masalah

yang timbul pada penderita stroke seperti kelumpuhan pada

salah satu sisi tubuh, menurun atau hilangnya perasaan (tidak

bisa membedakan panas dan dingin), gangguan lapangan

pandang, gangguan persepsi (sulit membedakan bentuk,

ukuran, warna), masalah emosional (tertawa atau menangis

tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya), masalah

komunikasi (kesulitan dalam mengungkapkan pendapat atau

tidak bisa bicara sama sekali). Penderita sering bertanya

mengapa hal ini terjadi, ada yang mengatakan mau segera

mati karena sudah tidak tahan lagi dengan keadaan tersebut

(Idris, 2004).

3
Masa pengobatan adalah masa menyusahkan seperti

goncangan yang disebabkan oleh serangan stroke yang tiba-

tiba, biaya pengobatan yang sangat besar dan memerlukan

perawatan secara terus-menerus dalam waktu yang lama.

Melihat keadaan ini keluarga merasa frustasi dan

mengkhawatirkan tentang apa yang akan terjadi dikemudian

hari (Shimberg, 1998).

Situasi pasca stroke bukanlah situasi yang mudah untuk dihadapi.

Selain mempengaruhi hubungan di antara anggota keluarga dan penderitanya,

kelelahan secara fisik dan mental juga dialami oleh anggota keluarga yang

merawat. Keadaan ini tidak dapat dipastikan akan berlangsung berapa lama,

tergantung pada kondisi penderita (stroke ringan yang menyebabkan pikun

beberapa hal atau stroke berat sampai lumpuh) dan juga penerimaan keluarga

akan kondisi ini serta bagaimana mereka menyesuaikan diri menghadapi

kondisi tersebut. Dengan demikian penyesuaian diri memegang peranan

penting dan penyesuaian ini dimulai dengan menerima kondisi ini baik oleh

penderita maupun keluarga terdekatnya (Henderson, 2004).

Masalah-masalah yang timbul pada penderita stroke

menyebabkan stres berat pada keluarga, persoalan kecil

menjadi masalah besar, terkadang menimbulkan kemarahan

yang akhirnya menyebabkan perpisahan antara anggota

keluarga, saudara laki-laki dan perempuan bertengkar

masalah tanggung jawab, sementara yang lainnya merasa

4
depresi dan ingin bunuh diri, masalah tersebut merupakan hal

yang umum dan normal bila merasakan kemarahan terhadap

orang sakit. Meskipun dalam hati sanubari kita tahu itu tidak

logis. Kelelahan sendiri dapat menyebabkan situasi yang bisa

meledak, yang dapat berakibat keretakan-keretakan

perkawinan atau hubungan keluarga (Henderson, 2004).

Hasil survey awal yang dilakukan di Poli Klinik Rumah

Sakit Umum Daerah Cut Meutia bahwa pasien stroke masih

cukup banyak dan diprediksi akan semakin meningkat setiap

bulannya, dimana penyakit stroke sendiri dapat menimbulkan

hal-hal yang dapat mempengaruhi psikologi maupun fisik baik

pasien sendiri maupun keluarga termasuk dalam hal

pembiayaan serta penyakit stroke sendiri membutuhkan

perawatan yang lama sehingga dapat mempengaruhi

kecemasan keluarga.

Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor Yang

Mempengaruhi Stress Keluarga Dalam Merawat Penderita

Stroke Di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia

Kabupaten Aceh Utara”

B. Rumusan Masalah

5
Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi

permasalahan dalam penelitian ini adalah apa saja faktor-

faktor yang mempengaruhi stress keluarga dalam merawat

penderita stroke di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Cut

Meutia Kabupaten Aceh Utara.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Stress Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke Di Poli

Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten

Aceh Utara Tahun 2014.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui hubungan perubahan keseimbangan dengan stress

keluarga dalam merawat penderita stroke di Poli Syaraf Rumah Sakit

Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara.

b. Untuk mengetahui hubungan biaya yang mahal dengan stress keluarga

dalam merawat penderita stroke di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum

Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara.

c. Untuk mengetahui hubungan lama perawatan dengan stress keluarga

dalam merawat penderita stroke di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum

Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara.

6
d. Untuk mengetahui hubungan serangan yang tiba-tiba dengan stress

keluarga dalam merawat penderita stroke di Poli Syaraf Rumah Sakit

Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara.

e. Untuk mengetahui hubungan ketergantungan pada keluarga dengan

stress keluarga dalam merawat penderita stroke di Poli Syaraf Rumah

Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Diharapkan dapat memberikan masukan bagi peneliti untuk

perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya disiplin ilmu keperawatan

mengenai faktor yang mempengaruhi stress keluarga penderita stroke.

2. Bagi Praktek Keperawatan

Meningkatkan wawasan serta kemampuan perawat

dalam memberikan asuhan keperawatan yang optimal

dirumah sakit pada keluarga dan penderita stroke.

3. Bagi Responden

Sebagai tambahan informasi dan pengetahuan bagi responden

tentang stress keluarga dalam merawat penderita stroke.

7
4. Bagi Institusi Keperawatan

Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang

stress keluarga dalam merawat penderita stroke sehingga

dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi mahasiswa

dalam pengembangan ilmu keperawatan.

5. Bagi Penelitian Selanjutnya

Sebagai informasi tambahan penelitian selanjutnya

dalam meningkatkan kualitas hidup penderita stroke,

sehingga penelitian yang diperoleh dapat dikembangkan

untuk penelitian dimasa mendatang dan sebagai sumber

informasi awal bagi penelitian keperawatan tentang faktor

yang mempengaruhi stress keluarga dalam merawat

penderita stroke.

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Stroke

1. Pengertian Stroke

Stroke atau cedera serebro vaskular adalah

kehilangan fungsi otak yang diakibatkan berhentinya suplai

darah ke bagian otak (Brunner dan Suddrath, 2001).

Menurut Tjahjono, dkk (2000) Stroke adalah sindrom klinis

yang awal timbulnya mendadak, progresi cepat, berupa

defisit neurologis vokal dan atau global yang berlangsung

24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian

dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran

darah otak non traumatik.

2. Jenis Stroke

Menurut Muttaqin (2008), bahwa stroke

dikelompokan atas dua jenis, yaitu :

a. Stroke Hemoragik

Stroke haemorhagi merupakan perdarahan

serebral dan mungkin perdarahan subaraknoid yang

disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada

area otak tertentu. Stroke in biasanya kejadiannya saat

melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga

9
terjadi pada saat istirahat. Biasanya kesadaran klien

umumnya menurun.

b. Stroke Nonhemoragik/Iskhemik

Stroke nonhemoragik dapat berupa iskemia atau

emboli dan thrombosis serebral. Stroke ini biasanya

terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur

atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun

terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan

selanjutnya dapat timbul edema sekunder.

3. Penyebab Stroke

Menurut Suherman (2003), bahwa penyebab stroke

dibagi atas empat bagian, yaitu :

a. Trombosis (bekuan) darah di dalam pembuluh darah

otak leher atau arterosklerosis serebral merupakan

penyebab utama yang merupakan penyebab paling

umum dari stroke. Tanda-tanda trombosit serebral

bervariasi, beberapa pasien dapat mengalami pusing,

perubahan kognitif, kejang dan beberapa mengalami

awitan yang tidak dapat dibedakan dari hemorage

serebral atau embolisme serebral. Trombosis terebral

tidak terjadi dengan tiba-tiba, kehilangan bicara

10
sementara, hemiplegia atau paraspesia pada setengah

tubuh.

b. Embolisme serebral, abnormalitas patologik pada

jantung kiri seperti endokarditis infektif, penyakit

jantungrheumatik, infark miokard serta infeksi primonal

adalah tempat-tempat diasal emboli. Embolus biasanya

menyumbat dari arteri serebral tengah atau cabang-

cabangnya yang merusak sirkulasi serebral.

c. Iskemia serebral (Insufisiensi suplai darah ke otak)

terutama karena konstriksi ateroma pada arteri yang

menyuplai darah ke otak.

d. Hemoragi serebral, hemoragi dapat terjadi di luar dura

mater (hemoragi ekstradural atau epidural), atau di

dalam substansi otak.

4. Faktor Resiko Stroke

Menurut Mansjoer (2000), bahwa faktor resiko stroke

dibagi atas faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak

dapat diubah :

a. Faktor yang dapat diubah

Hipertensi, diabetes mellitus, merokok,

penyalahgunaan alkohol dan obat, kontrasepsi oral,

11
hematokrit meningkat, bruit karotis asimtomatis,

hiperurisemia, dan dislipidemia.

b. Faktor yang tidak dapat diubah

Usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, riwayat

TIA (Transient Ischemic Attack) atau stroke, penyakit

jantung koroner, fibrilasi atrium, dan heterozigot atau

homozigot untuk homosistinuria.

5. Manifestasi Klinis

Brunner & Sudarth (2002) menyatakan, stroke

menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung

pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat),

ukuran area yang perfusinya tidak adekuat dan jumlah

aliran darah kolateral, fungsi otak yang rusak tidak dapat

membaik sepenuhnya. Manifestasi klinis stroke

digolongkan atas lima bagian :

a. Kehilangan motorik.

Stroke adalah penyakit motorneuron atas dan

mengakibatkan kehilangan control volunter terhadap

gerakan motorik. Karena neuron motor atas melintas,

gangguan control motor volunter pada salah satu sisi

tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada motorneuron

12
atas pada sisi yang berlawanan dari otak. Disfungsi

motor paling umum adalah hemiplegia (paralysis pada

salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang

berlawanan. Di awal tahapan stroke gambaran klinis

yang muncul adalah paralysis dan hilang atau menurun

refleks tendon dalam. Apabila refleks tendon dalam ini

kembali (biasanya dalam 48 jam), peningkatan tonus

disertai dengan spastisitis (peningkatan tonus otot

abnormal) pada ekstremitas yang terkena.

Defisit lapang penglihatan homonimus hemianopsia

(kehilangan setengah lapang penglihatan), tidak menyadari orang atau

objek ditempat kehilangan, penglihatan, mengabaikan salah satu sisi

tubuh, kesulitan menilai jarak, kesulitan melihat pada malam hari,

tidak menyadari objek atau batas dan penglihatan ganda.

b. Kehilangan komunikasi.

Fungsi otak lain yang dipengaruhi oleh stroke

adalah bahasa dan komunikasi. Stroke adalah penyebab

afasia paling umum. Disfungsi bahasa dan komunikasi

dapat dimanifestasikan oleh disartria (kesulitan

berbicara), ditunjukkan dengan bicara yang sulit

dimengerti yang disebabkan oleh paralysis otot untuk

menghasilkan bicara. Disfasia atau afasia (bicara

defektif atau kehilangan bicara) yang terutama

13
ekspresif atau reseptif. Apraksia (ketidakmampuan

melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya, tidak

mampu membentuk kata yang dapat dipahami, mungkin mampu bicara

dalam respon kata tunggal, tidak mampu memahami kata yang

dibicarakan, mampu bicara tetapi tidak masuk akal.

c. Gangguan Persepsi.

Stroke dapat mengakibatkan disfungsi persepsi

visual, gangguan dalam hubungan visual-spasial dan

kehilangan sensori. Disfungsi persepsi visual karena

gangguan jaras sensori primer diantara mata dan

korteks visual. Homonimus hemianopsia (kehilangan

setengah lapang pandang) dapat terjadi karena stroke

dan mungkin sementara dan permanen. Sisi visual yang

terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang paralysis dan

kehilangan sensori yang akhir.

d. Disfungsi Kandung Kemih.

Setelah stroke pasien mesngalami inkontinensia

urinarius sementara karena konfusi, ketidakmampuan

mengkomunikasikan kebutuhan, ketidakmampuan

untuk menggunakan urinal karena kerusakan control

motorik dan pastural. Kadang-kadang setelah stroke

kandung kemih menjadi atonik, dengan kerusakan

sensasi dalam respon terhadap pengisisan kandung

14
kemih. Kadang-kadang kontrol sfingter urinarius

eksternal hilang atau berkurang. Inkontinensia ani dan

urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologik

luas.

e. Kerusakan Fungsi Kognitif dan Efek Psikologik.

Bila kerusakan telah terjadi pada lobus frontal,

mempelajari kapasitas, memori, atau fungsi intelektual

kortikal yang lebih tinggi mungkin rusak. Disfungsi ini

dapat ditunjukan dalam lapang perhatian terbatas,

kesulitan dalam pemahaman, lupa, dan kurang motivasi

yang menyebabkan pasien menghadapi masalah

frustasi, depresi umum terjadi dan diperberat oleh

respons alamiah pasien terhadap penyakit katastrofik.

Masalah psikologik lain juga umum terjadi dan

dimanifestasikan oleh labilitas emosional, frustasi,

dendam yang kurang kerja sama.

6. Patofisiologis

Penyakit serebrovaskuler mengacu pada abnormal

fungsi susunan syaraf pusat yang terjadi ketika suplai

darah nornal ke otak terhenti. Patologi ini melibatkan

arteri, vena, atau keduanya. Sirkulasi serebral mengalami

kerusakan sebagai akibat sumbatan partial atau komplek

15
pada pembuluh darah atau hemoragi yang diakibatkan

oleh robekan dinding pembuluh. Penyakit vaskuler susunan

syaraf pusat dapat diakibatkan oleh arteriosklerosis (paling

umum) perubahan hipertensif, malformasi, arterivena,

vasospasme, inflamasi arteritis atau embolisme. Sebagai

akibat penyakit vaskuler pembuluh darah kehilangan

elastisitasnya menjadi keras dan mengalami deposit

ateroma, lumen pembuluh darah secara bertahap tertutup

menyebabkan kerusakan sirkulasi serebral dsan iskemik

otak. Bila iskemik otak bersifat sementara seperti pada

serangan iskemik sementara, biasanya tidak terdapat

defisit [Link] pembuluh darah besar

menimbulkan infark serebral pembuluh ini,suplai dan

menimbulkan hemoragi (Brunner & Suddarth, 2002).

Doengos, (2000), bahwa penurunan suplai darah ke

otak dapat sering mengenai arteriavertebro basilaris yang

akan mempengaruhi [Link] (assesoris) sehingga akan

berpengaruh pada sisitem mukuloskeletal (system motorik)

sehingga terjadi penurunan sistem motorik yang akan

menyebabkan ataksia dan akhirnya menyebabkan

kelemahan pada satu atau empat alat gerak, selain itu juga

pada arteri vetebra basilaris akan mempengaruhi fungsi

dari otot facial (oral terutama ini diakibatkan kerusakan

16
diakibatkan oleh kerusakan [Link] (fasialis), [Link] (glasso

faringeus) [Link] (hipoglossus), karena fungsi otot fasial/oral

tidak terkontrol maka akan terjadi kehilangan dari fungsi

tonus otot fasial/oralsehingga terjadi kehilangan

kemampuan untuk barbicara atau menyebuit kata-kata dan

berakhir dangan kerusakan artikulasi, tidak dapat

berbicara (disatria). Pada penurunan aliran darah ke arteri

vertebra basilaris akan mempengaruhi fuingsi N.X (vagus)

dan [Link] (glasso faringeus) akan mempengaruhi proses

menelan kurang ,sehingga akan mengalami refluk, disfagia

dan pada akhirnya akan menyebabkan anoreksia dan

menyebabkan gangguan nutrisi. Keadaan yang terkait

pada arteri vertebralis yaitu trauma neurologis atau

tepatnya defisit neurologis. N.I (olfaktorius), [Link] (optikus),

[Link] (okulomotorik), [Link] (troklearis), [Link] (hipoglossus) hal

ini menyebabkan perubahan ketajaman pengecapan,

penciuman dan penglihatan. Pada kerusakan [Link]

(assesorius) pada akhirnya akan mengganggu kemampuan

gerak tubuh.

7. Penatalaksanaan

17
Menurut Brunner & Suddarth (2002), cara

penatalaksanaan medis yang dilakukan pada pasien stroke

adalah :

a. Diagnostik seperti angiografi serebral, yang berguna

mencari lesi dan aneurisma.

b. Pengobatan, karena biasanya pasien dalam keadaan

koma, maka pengobatan yang diberikan yaitu :

1) Kortikosteroid, gliserol, valium manitol untuk

mancegah terjadi edema acak dan timbulnya kejang

2) Asam traneksamat 1gr/4 jam pelan-pelan selama tiga

minggu serta berangsur-angsur diturunkan untuk

mencegah terjadinya lisis bekuan darah atau

perdarahan ulang.

c. Operasi bedah syaraf (kraniotomi)

d. Adapun tindakan medis pasien stroke yang lainnya

adalah :

1) Deuretik : untuk menurunkan edema serebral.

2) Antikoagulan : untuk mencegah terjadinya atau

memberatnya trombosis atau emboli dari tempat lain

dalam system kardiovaskuler.

3) Medikasi anti trombosit : Dapat disebabkan karena

trombosit memainkan peran yang sangat penting

dalam pembentukan trombus dan embolisasi.

18
8. Komplikasi

Menurut Brunner & Suddarth (2002), bahwa komplikasi

stroke adalah :

a. Komplikasi Dini (0-48 jam pertama)

1) Edema serebri : defisit neurologis cenderung memberat, dapat

mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, herniasi, dan

akhirnya menimbulkan kematian.

2) Infark miokard : penyebab kematian mendadak pada stroke

stadium awal.

b. Komplikasi Jangka pendek (1-14 hari pertama)

1) Pneumonia : Akibat immobilisasi lama.

2) Infark miokard.

3) Emboli paru : Cenderung terjadi 7 -14 hari pasca stroke, sering kali

pada saat penderita mulai mobilisasi.

4) Stroke rekuren : Dapat terjadi pada setiap saat.

c. Komplikasi Jangka panjang

Stroke rekuren, infark miokard, gangguan vaskular lain:

penyakit vascular perifer.

B. Konsep Stress

1. Pengertian Stress

Stress adalah segala situasi dimana tuntutan non-

spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespons

19
atau melakukan tindakan (Selye dalam Potter, 2005).

Vincent Corneli dalam Grant Brecht (2000) mengatakan

Stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang

disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan yang

dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan

individu di dalam lingkungan tersebut. Menurut Gintings

(2004), stress adalah respon tubuh manusia terhadap

setiap tuntutan yang menimbulkan tekanan, perubahan,

ketegangan emosi dan lain-lain.

Dari beberapa pengertian diatas yang dapat penulis

simpulkan adalah bahwa stress sebagai respons biologis dalam diri

yang disebabkan kejadian pada lingkungan atau yang sedang dialaminya,

dan stress sebagai transaksi antara individu dengan lingkungannya. Stress

bisa terjadi karena manusia begitu kuat dalam mengejar suatu keinginan

serta kebutuhannya dengan mengandalkan segala kemampuan dan potensi

yang dimilikinya, walaupun hal yang diinginkan tersebut belum tentu

didapatkannya, hal ini lah yang dapat menimbulkan stress.

2. Penyebab Stress

Menurut Grant Brecht (2000) dalam Sunaryo (2004),

bahwa berdasarkan penyebab, stress dibedakan atas dua

bagian besar, yaitu :

a. Penyebab Makro

20
Penyebab makro misalnya menyangkut peristiwa

besar yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari

seperti kematian, penyakit, perceraian, pensiun, luka

batin, bangkrut dari usaha serta gagal mencapai usaha.

b. Penyebab Mikro

Menyangkut peristiwa kecil sehari-hari seperti

pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah

pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari/menyangkut

biaya hidup.

3. Sumber Stress

Stress yang dialami manusia berasal dari berbagai

sumber. Menurut Hidayat (2007) ada tiga sumber stress :

a. Dalam Diri

Sumber stress ini pada umumnya disebabkan oleh

konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan

berbeda, dalam hal ini adalah berbagai permasalahan

yang terjadi yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak

mampu diatasi, maka dapat menimbulkan stress.

Hubungan pribadi antara keluarga yang kurang baik akan

menimbulkan stress, sehingga dapat terbawa dalam pekerjaan

seseorang. Karakteristik pribadi dari keturunan bagi tiap individu yang

dapat menimbulkan stress terletak pada watak dasar alami yang

dimiliki oleh seseorang tersebut. Sehingga untuk itu, gejala stress yang

21
timbul pada tiap-tiap pekerjaan harus diatur dengan benar dalam

kepribadian seseorang.

b. Dalam Keluarga

Stress bersumber dari masalah keluarga yang

ditandai dengan adanya perselisihan masalah keluarga

(anggota keluarga sakit, putus sekolah), masalah

keuangan serta adanya tujuan yang berbeda diantara

keluarga. Permasalahan ini akan selalu menimbulkan

suatu keadaan yang dinamakan stress.

Tidak adanya dukungan sosial diartikan bahwa

stress akan cenderung muncul pada para individu yang

tidak mendapat dukungan dari lingkungan sosial

mereka. Dukungan sosial bisa berupa dukungan dari

lingkungan keluarga. Banyak kasus menunjukkan

bahwa, individu yang mengalami stres adalah mereka

yang tidak mendapat dukungan (khususnya moril) dari

keluarga, seperti orang tua, mertua, anak, teman dan

semacamnya.

c. Dalam Masyarakat dan Lingkungan

Sumber stres dapat terjadi di lingkungan atau

masyarakat pada umumnya seperti lingkungan

pekerjaan, secara umum disebut sebagai stress pekerja

karena lingkungan fisik, kurangnya hubungan

22
interpersonal serta kurang adanya pengakuan di

masyarakat sehingga sulit untuk berkembang kearah

yang lebih baik.

Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat

menyebabkan pengaruh pembentukan struktur yang tidak sehat dalam

masyarakat. Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat

menimbulkan stress bagi masyarakat yaitu ekonomi, politik dan

teknologi. Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian

terhadap ketiga hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman

terkena stress. Hal ini dapat terjadi, misalnya perubahan teknologi

yang begitu cepat. Perubahan yang baru terhadap teknologi akan

membuat keahlian seseorang dan pengalamannya tidak terpakai karena

hampir semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat dan dalam

waktu yang singkat dengan adanya teknologi yang digunakannya.

4. Reaksi Tubuh Terhadap Stress

Reaksi terhadap stres berbeda-beda tergantung

tingkat kedewasaan kepribadiaan, pendidikan dan

pengalaman hidup seseorang. Reaksi psikologis yang

mungkin timbul dalam menghadapi stres seperti

menghadapi langsung dengan segala resikonya, menarik

diri dan tidak mau tahu tentang persoalan yang

dihadapinya, menggunakan mekanisme pertahanan diri

(Hadi, 2004).

23
Stress yang dialami seseorang dapat menimbulkan

reaksi yang ada pada tubuh baik secara fisiologis maupun

psikologi. Di antara reaksi tubuh tersebut seperti terjadi

perubahan warna rambut yang semula hitam lambat laun

dapat mengalami perubahan warna menjadi kecoklatan

dan kusam, perubahan ketajaman mata sering kali

menurun karena kekenduran pada otot-otot mata sehingga

akan mempengaruhi fokus lensa mata, pada telinga terjadi

gangguan seperti adanya suara berdenging, pada daya

pikir sering kali ditemukan adanya penurunan konsentrasi

dan keluhan sakit kepala dan pusing, ekspresi wajah

tampak tegang, mulut dan bibir terasa kering, kulit reaksi

yang dapat dijumpai sering berkeringat dan kadang-

kadang panas, dingin dan juga akan dapat menjadi kering

atau gejala lainnya seperti urtikaria, pada sistem

pernapasan dapat dijumpai gangguan seperti terjadi sesak

karena penyempitan pada saluran pernapasan, sedangkan

pada sistem kardiovaskuler terjadi gangguan seperti

berdebar-debar, pembuluh darah melebar atau menyempit

kadang-kadang terjadi kepucatan atau kemerahan pada

muka dan terasa kedinginan dan kesemutan pada daerah

pembuluh darah perifer seperti pada jari-jari tangan atau

kaki, sistem pencernaan juga dapat mengalami gangguan

24
seperti lambung terasa kembung, mual, perih, karena

peningkatan asam lambung, pada sistem perkemihan

terjadi gangguan seperti adanya frekuensi buang air kecil

yang sering, pada otot dan tulang terjadi ketegangan dan

terasa ditusuk-tusuk, khususnya pada persendian dan

terasa kaku. Pada sistem endokrin dan hormonal sering

kali dijumpai adanya peningkatan kadar gula dan terjadi

penurunan libido dan penurunan kegairahan pada seksual

(Alimul, 2008).

Tubuh selalu berinteraksi dan mengalami sentuhan

langsung dengan lingkungan, baik lingkungan internal

(seperti pengaturan peredaran darah, pernapasan)

maupun lingkungan eksternal (seperti cuaca dan suhu

yang kemudian menimbulkan respons normal atau tidak

normal). Keadaan di mana terjadi mekanisme relative

untuk mempertahankan fungsi normal disebut

homeostasis.

Menurut Wartonah (2006), homeostatis dibagi

menjadi dua yaitu homeostasis fisiologis (misalnya, respon

adanya peningkatan pernapasan saat berolahraga) dan

homeostasis psikologis (misalnya, perasaan mencintai dan

dicintai, perasaan aman dan nyaman).

25
a. Respons Fisiologis terhadap Stress

Respons fisiologis terhadap stress dapat

diidentifikasi menjadi dua yaitu Local Adaptation

Syndrome (LAS) yaitu respons lokal tubuh terhadap

stresor (misalnya kalau kita menginjak paku maka

secara reflex kaki akan diangkat atau misalnya ada

proses peradangan maka reaksi lokalnya dengan

menambahkan sel darah putih pada lokasi peradangan)

dan Genital Adaptation Syndrome (GAS) yaitu reaksi

menyeluruh terhadap stresor yang ada.

Dalam proses GAS terdapat tiga fase : pertama,

reaksi peringatan ditandai oleh peningkatan aktivitas

neuroendokrin yang berupa peningkatan pembuluh

darah, nadi, pernapasan, metabolism, glukosa dan

dilatasi pupil; kedua, fase resisten di mana fungsi

kembali normal, adanya LAS, adanya koping dan

mekanisme pertahanan; ketiga, fase kelelahan ditandai

dengan adanya vasodilatasi, penurunan tekanan darah,

panik dan krisis (Wartonah, 2006).

b. Respons psikologis terhadap Stress

Respons psikologis terhadap stres dapat berupa

depresi, marah dan kecemasan. Kecemasan adalah

respons emosional terhadap penilaian, misalnya cemas

26
mengikuti ujian karena khawatir nilainya buruk

(Wartonah, 2006).

5. Respon menghadapi stress

Respon individu berbeda-beda dalam menghadapi

stres. Menurut Gunarsa (2002), respon individu

menghadapi stres dibagi atas tiga bagian :

a. Flight Response

Suatu kegiatan menghindari stres, kegiatan ini

dapat berupa melamun, mengingkari, pura-pura tidak

ada masalah, menarik diri, menceritakan humor,

menertawakan, atau pergi dari masalah (wisata,

berlibur, pindah). Pada dasarnya upaya menghindar

kurang bermanfaat, khususnya bila masalah tetap ada.

b. Fight Response

Berarti berjuang melawan situasi stres seperti,

konfrontasi orang/situasi pembangkit stres, agresivitas,

penyaluran, pengalihan ke orang/sesuatu yang lain,

mengubah diri, belajar menghadapi pola hidup,

kebiasaan kerja, mengubah lingkungan seperti

pemindahan ke tempat pekerjaan.

c. Freeze Response

27
Respons berupa berdiam diri dengan tegang,

disertai perasaan putus asa, dan tidak berdaya, bila

reaksi ini berkepanjangan maka akan timbul mental

breakdown/ tidak berkembang.

6. Tahapan Stress

Menurut Van Amberg, sebagaimana dikemukakan

oleh Hawari (2001) dalam Hidayat (2004) mengenai

tahapan stress :

a. Stress yang disertai perasaan nafsu bekerja yang besar

dan berlebihan, mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa

memperhitungkan tenaga yang dimiliki dan penglihatan

menjadi tajam.

b. Stress yang disertai keluhan seperti bangun pagi tidak

segar atau letih, lekas capek pada saat menjelang sore,

lekas lelah sesudah makan, tidak dapat rileks, lambung

atau perut tidak nyaman, jantung berdebar, hal tersebut

karena cadangan tenaga tidak memadai.

c. Tahapan stress dengan keluhan, seperti defekasi tidak

teratur (kadang-kadang diare), otot semakin tegang,

emosional, insomnia, mudah terjaga dan sulit tidur

kembali, bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali,

koordinasi tubuh terganggu, dan mau jatuh pingsan.

28
d. Stress dengan keluhan tidak mampu bekerja sepanjang

hari, aktivitas pekerjaan terasa sulit dan menjenuhkan,

respon tidak adekuat, kegiatan rutin terganggu,

gangguan pola tidur, sering menolak ajakan,

konsentrasi dan daya ingat menurun, serta timbul

ketakutan dan kecemasan.

e. Stress yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental,

ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang

ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya rasa

takut dan cemas, bingung dan panik.

f. Stress dengan tanda-tanda seperti jantung berdebar

keras, sesak nafas, badan gemetar, dingin dan banyak

keluar keringat, serta pingsan atau collaps.

7. Cara Mengendalikan Stress

Untuk mengendalikan stress diperlukan berbagai

cara dan usaha. Menurut Grant Brenct (2000) dalam

Sunaryo (2004), ada empat cara mengendalikan stress :

a. Sikap, keyakinan, dan pikiran kita harus positif,

fleksibel, rasional dan adaptif, artinya jangan terlebih

29
dahulu menyalahkan orang lain sebelum introspeksi diri

dengan pengendalian internal.

b. Kendalikan faktor-faktor penyebab stres dengan cara

kemampuan menyadari, kemampuan untuk menerima,

kemampuan untuk menghadapi, kemampuan untuk

bertindak.

c. Perhatikan diri anda, proses interpersonal dan interaktif,

serta lingkungan.

d. Kembangkan sikap efisien, relaksasi, visualisasi atau

angan-angan terarah, mulai nafas perlahan (tarik nafas

dan buang nafas), sambil bernafas pusatkan perhatian

anda pada kegiatan bernafas, tarik nafas dan tahan

sebentar dan buang perlahan, ulangi cara ini sambil

terus memusatkan pikiran, bila sudah terasa rileks,

terus lakukan pernafasan sambil mengatakan rileks

pada diri sendiri.

8. Tingkatan Stress

Potter (2005), membagi tingkatan stres menjadi tiga

lingkaran besar, yaitu :

a. Stress Ringan, stressor yang dihadapi setiap orang

teratur seperti terlalu banyak tidur, kemacetan lalu

lintas situasi seperti ini biasanya berlangsung beberap

30
menit atau jam dan belum berpengaruh kepada fisik

dan mental hanya saja mulai sedikit tegang.

b. Stress Sedang, berlangsung lebih lama, dari beberapa

jam sampai beberapa hari, misalnya perselisihan yang

tidak terselesaikan dengan rekan kerja, anak yang sakit

atau ketidakhadiran yang lama dari anggota keluarga.

c. Stress Berat, situasi kronis yang dapat berlangsung

beberapa minggu sampai beberapa tahun, seperti

perselisihan perkawinan terus-menerus, kesulitan

finansial yang berkepanjangan, penyakit fisik yang

berkepanjangan, pada keadaan stres berat ini individu

sudah mulai ada gangguan fisik dan mental.

B. Konsep Stress Keluarga

1. Pengertian Stress Keluarga

Gangguan pada tubuh dan sikap yang disebabkan

oleh adanya suatu system sosial yang saling berinteaksi

satu sama lain yang menyebabkan perubahan tuntutan

kerja maupun penampilan individu dalam lingkungan

(Leininger dalam Mulyadsi, 2003).

2. Tahapan-tahapan yang Sering Dialami Keluarga

31
Keluarga selalu berhadapan dengan stresor atau

kejadian yang menyebabkan stres dalam kehidupan, baik

yang tidak dapat diduga maupun yang dapat diduga.

Stresor yang tidak dapat diduga misalnya salah satu

anggota keluarga sakit, terkena pemutusan hubungan

kerja, dan kematian. Sedangkan stressor yang dapat

diduga seperti stressor yang ditemui dalam menjalankan

peran sebagai orang tua, dalam menjalankan peran yang

dimiliki sering kali keluarga dihadapkan pada kondisi sulit

yang menyebabkan stres (Mulyadsi, 2003).

Tahapan-tahapan yang sering dialami keluarga

dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke

seperti penolakan, isolasi, kemarahan, perundingan,

depresi dan penerimaan. Bagi kebanyakan penderita

stroke, mengekspresikan amarahnya merupakan hal yang

sulit, amarah yang dipicu oleh rasa frustasi dan depresi

yang kemungkinan disebabkan oleh trauma dan kerusakan

pada otak (Elaine, 2000).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress Keluarga

Menurut Handerson (2002), terdapat lima faktor yang

mempengaruhi stres keluarga merawat anggota keluarga

yang menderita stroke menurut beberapa ahli :

32
a. Perubahan Keseimbangan Pada Penderita Stroke

Perubahan keseimbangan sering terjadi pada

pasien stroke seperti kehilangan kesadaran secara total,

kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh secara tiba-tiba

atau tidak mampu menggerakkan tangan, kaki,

gangguan lapang pandang yaitu pasien memberikan

perhatian hanya pada sesuatu yang berada dalam

lapangan pandang yang dapat dilihatnya, gangguan

persepsi yaitu pasien mengalami kesulitan dalam

mengenal anggota keluarga yang lain, mengenal

bentuk, ukuran, warna, mengalami kesulitan seperti

menyisir rambut, mengenakan pakaian, status mental

terganggu, pasien mengalami kebingungan, hilang atau

berkurangnya daya ingat, masalah-masalah emosional

seperti emosional pasien yang tidak sesuai dengan

keadaan misalnya tertawa atau menangis tidak sesuai

dengan kondisi yang sebenarnya, depresi, frustasi dan

perasaan tidak enak, masalah komunikasi seperti

gangguan bahasa, kesulitan dalam mengungkapkan

pendapat atau kesulitan dalam memahami apa yang

dikatakan orang lain, kemampuan bicara bervariasi dari

hari ke hari dan menjadi lelah setelah berbicara, bahkan

tidak bisa bicara sama sekali, menangis dan tertawa

33
tanpa penyebab yang jelas, perasaan hati berubah-

ubah, perubahan gaya hidup, afasia (gangguan fungsi

bahasa yang disebabkan cedera atau penyakit pusat

otak) seperti gangguan kemampuan membaca, menulis,

mendengar, berhitung dengan baik, mata sulit dibuka,

banyak tidur, gerakan tidak terkoordinasi, dan koma.

Perubahan-perubahan keseimbangan yang terjadi

pada pasien stroke menjadi masalah besar bagi

keluarga. Hal ini sering membuat keluarga terlarut

dalam kesedihan, keputusasaan, kekecewaan. Keluarga

sebagai orang terdekat bagi penderita stroke haruslah

senantiasa merawat dengan penuh kesabaran karena

perubahan keseimbangan yang terjadi pada penderita

stroke membutuhkan perhatian dengan penuh kasih

sayang dari keluarga terutama pendekatan dengan

jalinan komunikasi yang baik.

b. Biaya Yang Mahal

Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan stroke

sangat mahal seperti biaya perawatan Rumah Sakit,

jasa dokter, pemeriksaan laboratorium, fisiotherapi, CT-

Scan serta memerlukan proses perawatan secara terus

menerus dalam jangka waktu yang lama. Keluarga yang

34
merawat anggota keluarga yang menderita stroke

sering merasa putus asa dan mengalami depresi

mengingat besarnya dana yang harus disediakan,

sehingga bertingkah laku kasar terhadap penderita.

Kekerasan emosional keluarga yang sering terjadi

seperti memaki-maki penderita secara langsung,

apalagi beban pekerjaan yang berat harus ditanggung

sendiri, seperti memikirkan penyediaan dana untuk

biaya pengobatan. Stres keluarga akan meningkat

apabila harapan sembuh penderita stroke sangat kecil,

keluarga menghadapi resiko depresi dan perubahan

emosional sehingga memberikan dampak yang sangat

besar terhadap kualitas kehidupan anggota keluarga di

masa yang akan datang (Hariyono, 2006).

c. Perawatan Stroke Memerlukan Waktu Yang Lama

Anggota keluarga perlu memainkan peran dalam

penyembuhan pasien, beberapa cara konseling dan

sistem pendukung harus diketahui oleh keluarga.

Keluarga terkadang mempunyai kesukaran dalam

menerima ketidakmampuan pasien dan mungkin

mempunyai harapan yang tidak realistis, keluarga harus

mengetahui bahwa cinta dan kehangatan mereka

adalah bagian dari terapi pasien. Terapi ini sangat baik

35
untuk perawatan stroke dengan jangka waktu yang

lama, kebanyakan keluarga pasien stroke mempunyai

masalah aspek perawatan emosi, keluarga harus

disiapkan pada labilitas emosi yang kadang terjadi

karena pasien dapat tertawa dan menangis dengan

mudah tanpa alasan yang jelas, menjadi peka rangsang

dan banyak permintaan, depresi dan bingung. Keluarga

perlu mengetahui bahwa pasien yang tertawa, tidak

selalu mengandung arti bahagia, tidak selalu menangis

bila sedih, dan emosi yang labil selalu meningkat

sejalan dengan waktu, keadaan ini membutuhkan

kesabaran dan ketekunan keluarga. Sebahagian

keluarga menggangap penyakit stroke merupakan

penyakit yang mengerikan dengan perawatan dalam

jangka waktu yang lama yang dapat menggangu pikiran

dan emosi anggota keluarga. Tingkatkan komunikasi,

beri perhatian yang tulus dan secara terus menerus

mendukung pasien, memberikan pujian untuk kemajuan

kesehatan yang dicapai (Brunner dan Suddarth, 2002).

d. Serangan yang Tiba-tiba

Stroke dapat menyebabkan kematian dan

kecacatan, tetapi salah satu aspek yang paling

menakutkan adalah serangan yang tiba-tiba.

36
Kebanyakan stroke terjadi didahului hanya dengan

sedikit atau tanpa tanda-tanda yang spesifik. Ketika

terjadi serangan yang tiba-tiba sering keluarga menjadi

panik dan ketakutan akan apa yang terjadi beberapa

hari atau bulan berikutnya (Lumbantobing, 2003).

e. Ketergantungan Pasien Terhadap Keluarga

Perubahan-perubahan yang terjadi pada pasien

stroke mengakibatkan penderita tidak mampu

melakukan banyak hal. Tidak mampu melakukan

aktivitas pemenuhan kebutuhan secara mandiri,

sehingga harus bergantung kepada orang lain

(keluarga) seperti tidak mampu berbicara atau

berkomunikasi, tidak mampu jalan sendiri, memakai

pakaian, harus dibantu makan, memandikan pasien

sehingga tetap merasa nyaman, membantu

mengunakan toilet, dibantu pindah dari tempat tidur ke

kursi, membantu latihan menggerakkan lengan dan

kaki, membantu membalikkan badan penderita untuk

mencegah ruam, dekubitus. Ketergantungan pasien

stroke terhadap keluarga tidak boleh dibiarkan terus-

menerus dalam jangka waktu yang lama, pasien stroke

harus sering melakukan latihan/belajar untuk mandiri

37
dan hal yang terpenting adalah tetaplah jalin

komunikasi sekalipun tidak ada balasan/jawaban dari

pasien stroke. Keluarga yang merawat pasien stroke

haruslah jeli melihat/memenuhi kebutuhan pasien

stroke, serta dengan sabar menerima keberadaan

pasien stroke (Henderson, 2002).

4. Masalah-masalah yang Sering Dialami Keluarga

Bila stroke terjadi, hal tersebut dapat menyebabkan

stres berat pada keluarga. Keluarga akan dipenuhi oleh

goncangan dan ketakutan yang disebabkan oleh sesuatu

hal yang tidak diketahui, masalah-masalah kecil menjadi

masalah besar. Terkadang stres membawa amarah

menyebabkan perpisahan, saudara laki-laki dan saudara

perempuan bertengkar karena tanggung jawab sementara

yang lainnya merasa depresi atau ingin bunuh diri.

Merupakan hal yang umum dan normal bila merasakan

kemarahan terhadap anggota keluarga yang sakit,

meskipun dalam hati sanubari hal tersebut tidak logis.

Kelelahan dalam merawat pasien stroke dapat

mengakibatkan keretakan perkawinan, hubungan tidak

harmonis antar anggota keluarga. Sangat sulit bagi

keluarga untuk tidak sakit hati, frustasi, depresi walaupun

38
secara intelektual keluarga mengetahui hal tersebut tidak

boleh diambil hati (Elaine, 2000).

BAB III
KERANGKA KERJA PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah : Suatu hubungan atau kaitan

antara konsep satu dengan konsep yang lain dari masalah yang ingin diteliti,

39
pada penelitian ini kerangka konsep yang dibuat bertujuan untuk

mengambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi stress keluarga dalam

merawat penderita stroke. Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini

menurut Notoatmodjo (2003) dapat dilihat pada skema 3.1 dibawah ini :

Variabel Independen Variabel Dependen

Faktor Eksternal
- Perubahan Keseimbangan
- Biaya Yang Mahal Stress Keluarga
- Lama Perawatan
- Serangan Yang Tiba-tiba
- Ketergantungan Pada Keluarga

Skema 3.1. Kerangka Penelitian

B. Hipotesis Penelitian

1. H0 : Tidak ada hubungan perubahan keseimbangan dengan stress

keluarga dalam merawat penderita stroke.

2. Ha : Ada hubungan biaya yang mahal dengan stress keluarga dalam

merawat penderita stroke.

3. Ha : Ada hubungan lama perawatan dengan stress keluarga dalam

merawat penderita stroke.

4. H0 : Tidak ada hubungan serangan yang tiba-tiba dengan stress keluarga

dalam merawat penderita stroke.

5. Ha : Tidak ada hubungan ketergantungan pada keluarga dengan stress

keluarga dalam merawat penderita stroke.

40
C. Defenisi Operasional

Definisi Cara
No Variabel Alat ukur Skala Hasil Ukur
Oprasional Ukur
1 2 3 4 5 6 7
Variabel Dependen

41
1 Stress Keluarga Respon emosi dalam diri Wawancara Kuesioner Ordinal 1. Berat
dan perubahan sikap Bila nilainya
keluarga yang disebabkan ( 33 – 45 )
oleh keadaan situasi dan 2. Sedang
kondisi dalam merawat Bila nilainya
penderita stroke. ( 21 – 32 )
3. Ringan
Bila nilainya
( 9 – 20 )
Variabel Independen
1 Perubahan Beban yang dirasakan oleh Wawancara Kuesioner Ordinal 1. Berat
keseimbangan keluarga terhadap Bila nilainya
kehilangan kesadaran ( 31 – 50 )
secara total atau terjadi 2. Ringan
perubahan yang tidak Bila nilainya
normal pada salah satu sisi ( 10 – 30 )
tubuh penderita stroke.
2 Biaya yang Dana yang dikeluarkan Wawancara Kuesioner Ordinal 1. Tinggi
mahal oleh keluarga untuk Bila nilainya
perawatan/pengobatan ( 28 – 45 )
pasien stroke sesuai 2. Rendah
dengan ekonomi keluarga. Bila nilainya
( 9 – 27 )
3 Lama Waktu yang dibutuhkan Wawancara Kuesioner Ordinal 1. Lama
perawatan oleh keluarga dalam proses Bila nilainya
perawatan/ pengobatan ( 16 – 25 )
pasien stroke. 2. Tidak
Bila nilainya
( 5 – 15 )
4 Serangan yang Kekhawatiran keluarga Wawancara Kuesioner Ordinal 1. Ya
tiba-tiba pada kejadian yang terjadi Bila nilainya
secara mendadak/tidak ( 13 – 20 )
diduga yang menyerang 2. Tidak
penderita stroke. Bila nilainya
( 4 – 12 )
5 Ketergantungan Kebutuhan penderita Wawancara Kuesioner Ordinal 1. Ya
pada keluarga stroke terhadap anggota Bila nilainya
keluarga dalam melakukan ( 16 – 25 )
aktivis sehari-hari. 2. Tidak
Bila nilainya
( 5 – 15 )
BAB IV
METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

A. Desain Penelitian

42
Desain penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskritif korelatif

dengan menggunakan pendekatan cross sectional study yang bertujuan untuk

mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi stress keluarga dalam

merawat penderita stroke yang di tinjau dari faktor perubahan keseimbangan,

biaya yang mahal, lama perawatan, serangan yang tiba-tiba dan

ketergantungan pada keluarga di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia

Kabupaten Aceh Utara.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang

diteliti (Notoatmodjo, 2002). Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh keluarga yang menderita stroke yang berkunjung ke poli syaraf

Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia, yaitu sebanyak 237 orang.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang

diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002).

Agar sampel yang diambil mewakili data penelitian, maka perlu adanya

perhitungan besar kecilnya populasi.

Untuk pengambilan sampel menurut Slovin dalam Notoatmodjo

(2002) ditetapkan dengan menggunakan formula sebagai berikut :

N
n=
1+ n(d )²

43
Keterangan :

N = Besarnya populasi

n = Besarnya sampel

d = Tingkat kepercayaan / ketetapan yang diinginkan (0,15)

maka,

237
n=
237 (0,15)² + 1

237
n=
6,33

n = 37,44 dibulatkan jadi 37 orang

Maka berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus Slovin

(Notoatmodjo, 2002) tersebut diatas, maka diperoleh sampel sebanyak 37

orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian dengan metode

accidental sampling, artinya teknik pengambilan sampel berdasarkan

kebetulan, yaitu siapa saja keluarga yang mendampingi pasien stroke pada

saat berobat ke Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia

Kabupaten Aceh Utara.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum

Daerah Cut Meutia pada tanggal 04 Agustus sampai dengan 12 Agustus 2014.

44
D. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengajukan izin kepada

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia, untuk mendapat

persetujuan. Dalam penelitian ini, peneliti akan mengikuti hukum-hukum

yang berlaku. Menurut Setiadi (2007) etika penelitian ini terdiri dari :

1. Lembaran persetujuan menjadi responden

Lembaran persetujuan diserahkan kepada responden supaya subyek

penelitian mengerti maksud dan tujuan penelitian, apabila subyek

penelitian setuju maka harus menandatangani lembar persetujuan

penelitian.

2. Anonimity (tanpa nama)

Kerahasiaan mengacu pada tanggung jawab peneliti untuk

melindungi kerahasiaan responden, peneliti tidak perlu mencantumkan

nama responden pada lembar pengumpulan data.

3. Confidentiality

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subyek dijamin oleh

peneliti, hanya kelompok data saja yang disajikan atau dilaporkan sebagai

hasil riset.

E. Pengumpulan Data

1. Tehnik pengumpulan data

a. Tahap persiapan pengumpulan data

45
Persiapan pengumpulan data dilakukan melalui proses

administrasi dengan cara peneliti telah mendapat izin dari ketua

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah dan izin dari Direktur

Rumah Sakit untuk melakukan pengumpulan data di Poli Syaraf Rumah

Sakit Umum Daerah Cut Meutia.

b. Tahap melakukan pengumpulan data

Setelah peneliti mendapat izin dari Direktur Rumah Sakit

Umum Daerah Cut Meutia, kemudian mengumpulkan data pada

responden penelitian, sebelumnya peneliti telah menjelaskan tentang

prosedur penelitian yang dilakukan. Kemudian peneliti melakukan

wawancara terhadap perawat dengan menggunakan kuesioner sesuai

dengan jumlah responden yang diharapkan. Dan kemudian peneliti

melakukan terminasi dengan mengucapkan terimakasih atas partisipasi

dalam penelitian ini.

2. Instrumen penelitian

Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian berupa

kuesioner yang disusun dengan mengacu pada tinjauan kepustakaan dan

kerangka konsep yang ada dan dikembangkan oleh penulis sendiri yaitu :

a. Bagian A, merupakan data demografi yang digunakan sebagai angket

pembuka, meliputi nomor responden, tanggal pengisian (di isi oleh

petugas), umur, jenis kelamin dan pendidikan responden.

b. Bagian B, merupakan variabel penelitian yang terdiri dari : Untuk

kategori Stress keluarga (perubahan keseimbangan, biaya yang mahal,

46
lama perawatan, serangan yang tiba-tiba dan ketergantungan pada

keluarga) dengan bentuk kuesioner yang dibuat menggunakan skala

likert, dengan alternatif jawaban sangat setuju (SS) diberi nilai 5 (lima),

setuju (S) diberi nilai 4 (empat), ragu-ragu (RR) diberi nilai 3 (tiga),

tidak setuju (TS) diberi nilai 2 (dua) dan sangat tidak setuju (STS) 1

(satu). Adapun hasil ukur untuk stress keluarga dikategorikan dengan

berat, sedang dan ringan. Untuk masing-masing kategori tersebut di

klasifikasikan berdasarkan rumus panjang kelas interval dengan jumlah

pernyataan pertanyaan tersisa sebanyak 9, maka :

skor tertinggi – skor terendah


Panjang kelas interval =
kategori

45 – 9
=
3

36
=
3

= 12

Jadi, untuk kategori berat bila nilainya 33 – 45

untuk kategori sedang bila nilainya 21 – 32

untuk kategori ringan bila nilainya 9 – 20

Sedangkan untuk perubahan keseimbangan dengan jumlah pernyataan

pertanyaan sebanyak 10, di kategorikan berat dengan nilai 31-50 dan

47
kategori ringan nilainya 10-30. Sedangkan untuk biaya yang mahal

dengan jumlah pernyataan pertanyaan yang tersisa sebanyak 9,

dikategorikan tinggi dengan nilai 28-45 dan kategori rendah nilainya 9-

27. Untuk sub variabel lama perawatan terdiri dari 5 pernyataan, di

kategorikan “Lama” dengan nilai 16-25, kategori “tidak” nilainya 5-15.

Untuk serangan tiba-tiba dengan sisa peryataan sebanyak 4,

dikategorikan “Ya” dengan nilai 13-20, kategori “tidak” nilainya 4-12.

Sedangkan ketergantungan terhadap keluarga masing-masing terdiri

dari sebanyak 5 pernyataan, dikategorikan “Ya” dengan nilai 16-25,

kategori “tidak” nilainya 5-15.

F. Uji Instrumen

1. Uji Validitas

Sebelum menggunakan instrumen penelitian terlebih dahulu

dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada 10 responden yang memiliki

karakteristik sama. Uji instrumen akan dilakukan di Poli Syaraf Rumah

Sakit Umum Fauziah Bireuen. Tehnik korelasi yang dipakai adalah tehnik

korelasi “Product moment”. Berdasarkan tabel validitas, untuk taraf

signifikan 5% dengan 10 responden, maka angka kritis adalah 0,632. Bila

nilai korelasi dari pernyataan dalam kuesioner adalah 0,632 atau diatas

0,632 maka kuesioner tersebut adalah signifikan. Sebaliknya bila nilai

korelasi di bawah 0,632 maka pernyataan dalam kuesioner tersebut tidak

valid. Dari hasil iji validitas didapatkan bahwa sebanyak 3 pernyataan

48
dinyatakan tidak valid, karena nilai korelasi yang didapat dibawah 0,632,

yaitu soal nomor 9 (sering mengeluarkan kata-kata kasar pada penderita

stroke) dengan nilai r hitung 0,375, soal nomor 25 (biaya lain yang mesti

di tanggung untuk memenuhi kebutuhan keluarga) dengan nilai r hitung

0,319 dan soal nomor 40 (menyediakan obat pada keluarga yang

mengalami stroke untuk menghindari serangan yang tiba-tiba) dengan

nilai r hitung 0,384. Adapaun variabel yang tidak valid dibuang, hal ini

tidak mempengaruhi dari pada komponen variabel yang diteliti.

2. Uji Reabilitas

Sedangkan pengukuran reliabilitas dianggap andal apabila nilai

korelasi di atas atau sama dengan 0,632 Arikunto (2006). Suatu instrumen

disebut reliabilitas tinggi jika data tersebut dapat dipercaya

kehandalannya.

Uji kuesioner dilakukan dengan menggunakan komputerisasi. Maka

nilai reliabilitas pada uji instrumen ini dapat langsung dihitung.

Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan dari 42 pernyataan yang

tersisa didapat nilai r Alpha (0,981), berarti hasil nilai r Alpha > r tabel

(0,632), maka ke seluruh pernyataan yang tersisa dinyatakan reliabel.

G. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan secara manual dan komputerisasi oleh

peneliti dengan melakukan tahap-tahap sebagai berikut :

1. Editing, peneliti melakukan memeriksa data-data yang telah terkumpul

dan melakukan pemeriksaan dari hasil pertanyaan.

49
2. Coding, peneliti melakukan pemberian nilai skor pada masing-masing

jawaban.

3. Transvering, peneliti melakukan memindahkan data ke dalam komputer

untuk diolah.

4. Tabulating, peneliti memasukkan data hasil olahan ke dalam tabel untuk

disajikan.

H. Analisa Data

1. Analisa Univariat

Menurut Budiarto (2002), bahwa dalam melakukan analisa data

dapat dilakukan dengan cara univariat yaitu dilakukan untuk mengetahui

distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing sub variabel

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

f
Rumus : P= x 100 %
n

Keterangan : P = Persentase
f = Frekuensi
n = Jumlah Responden

2. Analisa Bivariat

Analisa ini digunakan untuk mengukur hubungan stress keluarga

dalam merawat penderita stroke di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum

Daerah Cut Meutia, dilakukan dengan analisa silang yang dikenal dengan

baris kali kolom (b x k) dengan derajat kebebasan/degree of freedom (df)

50
yang disesuaikan dan peneliti menggunakan tingkat kamaknaan 5% (α =

0,05). Skor diperoleh dengan menggunakan metode statistik Chi-square

test ( x 2) dikutip dari Budiarto (2002) dengan rumus sebagai berikut :

∑ ( O – e )² total baris x total kolom


x² = dimana e =
e grand total

Keterangan : O = Frekuensi observasi


e = Frekuensi harapan

Adapun pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan

system komputerisasi menggunakan program SPSS. Dalam penelitian ini

tabulasi silang yang digunakan adalah b x k atau 2 x 2 dengan derajat

kebebasan (df = (b-1) (k-1)) atau df = 1 dan derajat kemaknaan 5% (α =

0,05), maka didapatkan x 2 table dengan df 1 = 3,841.

Maka pengujian hipotesa dilakukan dengan kriteria bahwa jika x 2

hitung > x 2 table atau prevalue (p) < α (0,05) maka hipotesa alternative

(Ha) diterima atau Ho ditolak dan sebaliknya apabila x 2 hitung < x 2 table

atau p > 0,05 maka Ha ditolak atau Ho diterima.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

51
Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia merupakan Rumah Sakit

Umum milik Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Utara yang berdiri diatas

lahan seluas 79,912 m², telah berdiri bangunan seluas 78.130,60 m².

1. Lokasi Penelitian

Pelayanan kesehatan pada ruang poli syaraf Rumah Sakit Umum

Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh melayani pasien yang berkunjung

dengan gangguan pada persyarafan. Adapun batasan-batasan wilayahnya

adalah sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan ruang rawat kupula

- Sebelah Selatan berbatasan dengan ruang kemoterapi

- Sebelah Barat berbatasan dengan poli penyakit dalam wanita/poli gigi

- Sebelah Timur berbatasan dengan ruang rawat neurologi

2. Visi dan Misi

a. Visi

Visi Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia yaitu

menyelenggarakan pelayanan yang berkualitas, manusiawi dengan

bernuansa Islami dan terjangkau oleh masyarakat Kabupaten Aceh

Utara dan sekitarnya.

b. Misi

1) Sebagai pusat layanan kesehatan yang mendidik.

2) Sebagai pusat layanan yang menjadi kebanggaan pemerintah

daerah dan masyarakat.

52
3) Sebagai tempat pendidikan dan latihan tenaga kesehatan lainnya.

3. Sumber Daya Manusia

Ruang poli syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia

memiliki smber daya manusia yang terdiri dari tenaga dokter spesialis

sebanyak 3 orang, tenaga perawat sebanyak 4 orang dan tenaga

fisioterapisebanyak 2 orang.

B. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan mulai tanggal 04 Agustus

sampai dengan 12 Agustus 2014 tentang faktor-faktor yang mempengaruhi

stress keluarga dalam merawat penderita stroke di Poli Syaraf Rumah Sakit

Umum Daerah Cut Meutia, maka di dapatkan hasil sebagai berikut :

1. Analisa Univariat

Dibawah ini adalah tabel-tabel distribusi frekuensi variabel

dependen dan variable independen yang terdiri dari umur, jenis kelamin,

pendidikan, stress keluarga, perubahan keseimbangan, biaya yang mahal,

waktu yang lama, serangan yang tiba-tiba dan ketergantungan terhadap

keluarga.

a. Umur

Data umur responden dikategorikan ≥ 40 tahun dan < 40 tahun,

berdasarkan penelitian didapatkan hasil sebagai berikut :

53
Tabel 5.1 : Distribusi Umur Responden Di Rumah Sakit Umum
Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara (n=37)
No Umur Frekuensi %
1 ≥ 40 32 86,5
2 < 40 tahun 5 13,5
Total 37 100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui sebagian besar

responden memiliki usia ≥ 40 tahun yaitu sebanyak 86,5%.

b. Jenis Kelamin

Data jenis kelamin responden dikategorikan perempuan dan

laki-laki, berdasarkan penelitian didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 5.2 : Distribusi Jenis Kelamin Responden Di Rumah Sakit


Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara (n=37)
No Jenis Kelamin Frekuensi %
1 Laki-laki 22 59,5
2 Perempuan 15 40,5
Total 37 100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui sebagian besar

responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 59,5%.

c. Pendidikan

Data tingkat pendidikan responden dikategorikan tinggi dan

rendah, berdasarkan penelitian didapatkan hasil sebagai berikut :

54
Tabel 5.3 : Distribusi Tingkat Pendidikan Responden Di Rumah
Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara
(n=37)
No Pendidikan Frekuensi %
1 Tinggi 23 62,2
2 Rendah 14 37,8
Total 37 100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui sebagian besar

responden memiliki tingkat pendidikan tinggi, yaitu sebanyak 62,2%.

d. Stres Keluarga

Data stress keluarga penderita stroke dikategorikan berat dan

sedang dan ringan, berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan

hasil sebagai berikut :

Tabel 5.4 : Distribusi Stres Keluarga Penderita Stroke Di Rumah


Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara
(n=37)
No Stres Keluarga Frekuensi %
1 Berat 16 43,2
2 Sedang 21 56,8
Total 37 100

Dari tabel 5.4 diketahui diketahui bahwa sebagian besar

responden memiliki tingkatan stress pada kategori sedang yaitu

sebanyak 56,8%.

e. Perubahan Keseimbangan

Data perubahan keseimbangan pada penderita stroke

dikategorikan berat dan ringan, berdasarkan penelitian didapatkan hasil

sebagai berikut :

55
Tabel 5.5 : Distribusi Perubahan Keseimbangan Pada Penderita
Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia
Kabupaten Aceh Utara (n=37)
No Perubahan Keseimbangan Frekuensi %
1 Berat 21 56,8
2 Ringan 16 43,2
Total 37 100

Dari tabel 5.5 diketahui diketahui bahwa sebagian besar

responden menyatakan perubahan keseimbangan pada penderita stroke

pada kategori berat yaitu sebanyak 56,8%.

f. Biaya Yang Mahal

Data biaya yang mahal dalam merawat penderita stroke

dikategorikan tinggi dan rendah, berdasarkan penelitian didapatkan

hasil sebagai berikut :

Tabel 5.6 : Distribusi Biaya Yang Mahal Dalam Merawat Penderita


Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia
Kabupaten Aceh Utara (n=37)
No Biaya Yang Mahal Frekuensi %
1 Tinggi 16 43,2
2 Rendah 21 56,8
Total 37 100

Dari tabel 5.6 diketahui diketahui bahwa sebagian besar

responden menyatakan biaya yang mahal dalam merawat penderita

stroke pada kategori rendah yaitu sebanyak 56,8%.

g. Waktu Yang Lama

56
Data lama perawatan dalam merawat penderita stroke

dikategorikan lama dan tidak, berdasarkan penelitian didapatkan hasil

sebagai berikut :

Tabel 5.7 : Distribusi Lama Perawatan Dalam Merawat Penderita


Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia
Kabupaten Aceh Utara (n=37)
No Lama Perawatan Frekuensi %
1 Lama 22 59,5
2 Tidak 15 40,5
Total 37 100

Dari tabel 5.7 diketahui diketahui bahwa sebagian besar

responden menyatakan waktu yang lama dalam merawat penderita

stroke, yaitu sebanyak 59,5%.

h. Serangan Yang Tiba-tiba

Data serangan yang tiba-tiba pada penderita stroke

dikategorikan ya dan tidak, berdasarkan penelitian didapatkan hasil

sebagai berikut :

Tabel 5.8 : Distribusi Serangan Yang Tiba-tiba Pada Penderita


Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia
Kabupaten Aceh Utara (n=37)
No Serangan Yang Tiba-tiba Frekuensi %
1 Ya 20 54,1
2 Tidak 17 45,9
Total 37 100

57
Dari tabel 5.8 diketahui bahwa sebagian besar responden

menyatakan serangan yang tiba-tiba pada kategori ya, yaitu sebanyak

54,1%.

i. Ketergantungan Terhadap Keluarga

Data ketergantungan terhadap keluarga pada penderita stroke

dikategorikan ya dan tidak, berdasarkan penelitian tentang hal tersebut

didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 5.9 : Distribusi Ketergantungan Terhadap Keluarga Pada


Penderita Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut
Meutia Kabupaten Aceh Utara (n=37)
No Ketergantungan Terhadap Keluarga Frekuensi %
1 Ya 22 59,5
2 Tidak 15 40,5
Total 37 100

Dari tabel 5.9 diketahui bahwa sebagian besar responden

menyatakan ketergantungan terhadap keluarga penderita stroke pada

kategori ya, yaitu sebanyak 54,5%.

2. Analisa Bivariat

a. Hubungan Perubahan Keseimbangan Dengan Stress Keluarga Dalam


Merawat Penderita Stroke

58
Hasil penelitian hubungan perubahan keseimbangan dengan

tingkat stress keluarga dalam merawat penderita stroke dapat dilihat

pada tabel silang dibawah ini :

Tabel 5.10 : Tabel Silang Hubungan Perubahan Keseimbangan


Dengan Stress Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke
Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten
Aceh Utara (n=37)
Perubahan Keseimbangan
Stres P
No Berat Ringan ∑ Ex OR
Keluarga value
frek Ex frek Ex
1. Berat 12 9,1 4 6,9 16 16,0
4,000 0,105
2. Sedang 9 11,9 12 9,1 21 21,0
Total 21 21,0 16 16,0 37 37,0

Berdasarkan tabel diatas bahwa hubungan antara perubahan

keseimbangan dengan stress keluarga diperoleh sebanyak 12

responden keluarga menyatakan perubahan keseimbangan berat

dengan stress keluarga berat. Sedangkan sebanyak 9 responden

keluarga menyatakan perubahan keseimbangan berat dengan stress

keluarga sedang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,105 >

dari nilai α = 0,05 sehingga Ha ditolak. Berarti hipotesa alternatif yang

ditegaskan dalam penelitian ini tidak dapat diterima yaitu tidak

terdapat hubungan yang bermakna antara perubahan keseimbangan

dengan stress keluarga dalam merawat penderita stroke. Dari hasil

analisis diperoleh pula nilai OR = 4,000, artinya keluarga yang

menyatakan perubahan keseimbangan berat mempunyai peluang 4,00

59
kali lebih stres dibanding keluarga yang menyatakan perubahan

keseimbangan ringan.

b. Hubungan Biaya Yang Mahal Dengan Stress Keluarga Dalam


Merawat Penderita Stroke

Hasil penelitian hubungan biaya yang mahal dengan tingkat

stress keluarga dalam merawat penderita stroke dapat dilihat pada tabel

silang dibawah ini :

Tabel 5.11 : Tabel Silang Hubungan Biaya Yang Mahal Dengan Stress
Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke Di umah Sakit
Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara (n=37)
Biaya Yang Mahal
Stres P
No Tinggi Rendah ∑ Ex OR
Keluarga value
frek Ex frek Ex
1. Berat 11 6,9 5 9,1 16 16,0
7,040 0,016
2. Sedang 5 9,1 16 11,9 21 21,0
Total 16 16,0 21 21,0 37 37,0

Berdasarkan tabel diatas bahwa hubungan antara biaya yang

mahal dengan stress keluarga diperoleh sebanyak 11 responden

keluarga menyatakan biaya yang tinggi dengan stress keluarga berat.

Sedangkan sebanyak 5 responden keluarga menyatakan biaya yang

rendah dengan stress keluarga sedang. Hasil uji statistik diperoleh nilai

p value = 0,016 < dari nilai α = 0,05 sehingga H0 ditolak. Berarti

hipotesa alternatif yang ditegaskan dalam penelitian ini dapat diterima

yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara biaya yang mahal

dengan stress keluarga dalam merawat penderita stroke. Dari hasil

60
analisis diperoleh pula nilai OR = 7,040, artinya keluarga yang

menyatakan biaya yang tinggi mempunyai peluang 7,04 kali lebih stres

dibanding keluarga yang menyatakan biaya yang rendah.

c. Hubungan Lama Perawatan Dengan Stress Keluarga Dalam Merawat


Penderita Stroke

Hasil penelitian hubungan lama perawatan dengan tingkat

stress keluarga dalam merawat penderita stroke dapat dilihat pada tabel

silang dibawah ini :

Tabel 5.12 : Tabel Silang Hubungan Lama Perawatan Dengan Stress


Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke Di Rumah
Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara
(n=37)
Lama Perawatan
Stres P
No Lama Tidak ∑ Ex OR
Keluarga value
frek Ex frek Ex
1. Berat 13 9,5 3 6,5 16 16,0
5,778 0,044
2. Sedang 9 12,5 12 8,5 21 21,0
Total 22 22,0 15 15,0 37 37,0

Berdasarkan tabel diatas bahwa hubungan antara lama

perawatan dengan stress keluarga diperoleh sebanyak 13 responden

keluarga menyatakan perawatan yang lama dengan stress keluarga

berat. Sedangkan sebanyak 9 responden keluarga menyatakan

perawatan yang tidak lama dengan stress keluarga sedang. Hasil uji

statistik diperoleh nilai p value = 0,044 < dari nilai α = 0,05 sehingga

H0 ditolak. Berarti hipotesa alternatif yang ditegaskan dalam

penelitian ini dapat diterima yaitu terdapat hubungan yang bermakna

61
antara lama perawatan dengan stress keluarga dalam merawat

penderita stroke. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 5,778,

artinya keluarga yang menyatakan perawatan yang lama mempunyai

peluang 5,77 kali lebih stres dibanding keluarga yang menyatakan

perawatan tidak lama.

d. Hubungan Serangan Yang Tiba-tiba Dengan Stress Keluarga Dalam


Merawat Penderita Stroke

Hasil penelitian hubungan serangan yang tiba-tiba dengan

tingkat stress keluarga dalam merawat penderita stroke dapat dilihat

pada tabel silang dibawah ini :

Tabel 5.13 : Tabel Silang Hubungan Serangan Yang Tiba-tiba Dengan


Stress Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke Di
Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh
Utara (n=37)
Serangan Yang Tiba-tiba
Stres P
No Ya Tidak ∑ Ex OR
Keluarga value
frek Ex frek Ex
1. Berat 12 8,6 4 7,4 16 16,0
4,875 0,058
2. Sedang 8 11,4 13 9,6 21 21,0
Total 20 20,0 17 17,0 37 37,0

Berdasarkan tabel diatas bahwa hubungan antara serangan yang

tiba-tiba dengan stress keluarga diperoleh sebanyak 12 responden

keluarga menyatakan serangan yang tiba-tiba ya dengan stress

keluarga berat. Sedangkan sebanyak 8 responden keluarga menyatakan

serangan yang tiba-tiba tidak dengan stress keluarga sedang. Hasil uji

statistik diperoleh nilai p value = 0,058 > dari nilai α = 0,05 sehingga

62
Ha ditolak. Berarti hipotesa alternatif yang ditegaskan dalam penelitian

ini tidak dapat diterima yaitu tidak terdapat hubungan yang bermakna

antara serangan yang tiba-tiba dengan stress keluarga dalam merawat

penderita stroke. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 4,875,

artinya keluarga yang menyatakan serangan yang tiba-tiba ya

mempunyai peluang 4,87 kali lebih stres dibanding keluarga yang

menyatakan serang yang tiba-tiba tidak.

e. Hubungan Ketergantungan Terhadap Keluarga Dengan Stress


Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke

Hasil penelitian hubungan ketergantungan terhadap keluarga

dengan tingkat stress keluarga dalam merawat penderita stroke dapat

dilihat pada tabel silang dibawah ini :

Tabel 5.14 : Tabel Silang Hubungan Ketergantungan Terhadap


Keluarga Dengan Stress Keluarga Dalam Merawat
Penderita Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut
Meutia Kabupaten Aceh Utara (n=37)
Ketergantungan Terhadap
Stres Keluarga P
No Ya Tidak ∑ Ex OR
Keluarga value
frek Ex frek Ex
1. Berat 14 9,5 2 6,5 16 16,0
11,375 0,007
2. Sedang 8 12,5 13 8,5 21 21,0
Total 22 22,0 15 15,0 37 37,0

Berdasarkan tabel diatas bahwa hubungan antara

ketergantungan terhadap keluarga dengan stress keluarga diperoleh

sebanyak 14 responden keluarga menyatakan ketergantungan terhadap

keluaraga dengan stress keluarga berat. Sedangkan sebanyak 8

63
responden keluarga menyatakan tidak ketergantungan terhadap

keluarga dengan stress keluarga sedang. Hasil uji statistik diperoleh

nilai p value = 0,007 < dari nilai α = 0,05 sehingga H0 ditolak. Berarti

hipotesa alternatif yang ditegaskan dalam penelitian ini dapat diterima

yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara ketergantungan

terhadap keluarga dengan stress keluarga dalam merawat penderita

stroke. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 11,375, artinya

keluarga yang menyatakan ketergantungan terhadap keluarga

mempunyai peluang 11,37 kali lebih stres dibanding keluarga yang

menyatakan tidak ketergantungan terhadap keluaraga.

C. Pembahasan

1. Stres Keluarga

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa stres keluarga pada

kategori berat sebanyak 16 responden (43,2%) dan pada kategori sedang

sebanyak 21 responden (56,8%). Hasil ini sesuai dengan pendapat Elaine

(2000), bahwa tahapan-tahapan yang sering dialami keluarga

dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke

seperti penolakan, isolasi, kemarahan, perundingan, depresi

dan penerimaan. Bagi kebanyakan penderita stroke,

mengekspresikan amarahnya merupakan hal yang sulit,

amarah yang dipicu oleh rasa frustasi dan depresi yang

64
kemungkinan disebabkan oleh trauma dan kerusakan pada

otak.

Asumsi peneliti bahwa stress yang terjadi pada keluarga sangat

dipengaruhi pada tingkat kesembuhan respoden dalam menjalani

perawatan/pengobatan penderita stroke, dimana keluarga akan merasa banyak

waktu yang terbuang dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam masa

pengobatan penderita stroke.

Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Cut

Meutia dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat

stress pada kategori sedang, yaitu dijumpai sebanyak 56,8%. Hal ini

dikarenakan sebagian responden mencoba berusaha untuk lebih sabar dalam

merawat penderita stroke dalam memenuhi kebutuhan hari-harinya.

2. Perubahan Keseimbangan

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa yang menyatakan

perubahan keseimbangan pada kategori berat sebanyak 21 responden (56,8%)

dan pada kategori ringan sebanyak 16 responden (43,2%). Hasil ini sesuai

dengan pendapat Handerson (2002), bahwa perubahan keseimbangan

sering terjadi pada pasien stroke seperti kehilangan

kesadaran secara total, kelumpuhan pada salah satu sisi

tubuh secara tiba-tiba atau tidak mampu menggerakkan

tangan, kaki, gangguan lapang pandang yaitu pasien

memberikan perhatian hanya pada sesuatu yang berada

dalam lapangan pandang yang dapat dilihatnya, gangguan

65
persepsi yaitu pasien mengalami kesulitan dalam mengenal

anggota keluarga yang lain, mengenal bentuk, ukuran dan

warna.

Asumsi peneliti bahwa perubahan keseimbangan yang terjadi pada

penderita stroke dapat meningkatkan stress pada keluarga yang merawatnya,

hal tersebut dikarenakan kaluarga harus memberikan perhatian lebih

dikarenakan penderita stroke sudah tidak mampu lagi mengerjakan sesuatu

sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Cut

Meutia dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menyatakan

perubahan keseimbangan penderita stroke pada kategori berat, yaitu dijumpai

sebanyak 56,8%. Hal ini dikarenakan penderita stroke sangat ketergantungan

terhadap keluarga dalam melakukan sesuatu dan penderita stroke

membutuhkan teman pendamping dalam menjalani pengobatannya.

3. Biaya Yang Mahal

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa yang menyatakan

biaya yang dibutuhkan pada kategori tinggi sebanyak 16 responden (42,3%)

dan pada kategori rendah sebanyak 21 responden (56,8%). Menurut pendapat

Hariyono (2006), bahwa biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan

stroke sangat mahal seperti biaya perawatan Rumah Sakit,

jasa dokter, pemeriksaan laboratorium, fisiotherapi, CT-Scan

serta memerlukan proses perawatan secara terus menerus

dalam jangka waktu yang lama. Stres keluarga akan

66
meningkat apabila harapan sembuh penderita stroke sangat

kecil, keluarga menghadapi resiko depresi dan perubahan

emosional sehingga memberikan dampak yang sangat besar

terhadap kualitas kehidupan anggota keluarga.

Asumsi peneliti bahwa biaya pengobatan yang mahal dalam marawat

penderita stroke dapat meningkatkan stress pada keluarga, dimana keluarga

akan bertambah stress jika penderita stroke tidak mengalami perubahan

sedangkan biaya sudah banyak dikeluarkan.

Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Cut

Meutia dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menyatakan

membutuhkan biaya yang rendah dalam merawat penderita stroke, yaitu

dijumpai sebanyak 56,8%. Hal ini dikarenakan keluarga hanya manggunakan

asuransi kesehatan yang tersedia sekarang ini dalam merawat penderita stroke.

Jadi hanya sebagian responden yang mencoba pengobatan alternatif lain dalam

mengobati penderita stroke, sehingga membutuhkan biaya tambahan.

4. Lama Perawatan

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa responden

menyatakan waktu yang dibutuhkan dalam merawat penderita stroke pada

kategori lama sebanyak 22 responden (59,5%) dan pada kategori tidak lama

sebanyak 15 responden (40,9%). Hasil ini sesuai dengan pendapat Brunner

dan Suddarth (2002), bahwa sebahagian keluarga menggangap

penyakit stroke merupakan penyakit yang mengerikan

dengan perawatan dalam jangka waktu yang lama yang dapat

67
menggangu pikiran dan emosi anggota keluarga. Tingkatkan

komunikasi, beri perhatian yang tulus dan secara terus

menerus mendukung pasien, memberikan pujian untuk

kemajuan kesehatan yang dicapai.

Asumsi peneliti bahwa waktu yang lama dalam marawat penderita

stroke dapat meningkatkan stress pada keluarga, dimana keluarga merasa

putus asa jika penderita stroke tidak mengalami kemajuan dalam

pengobatannya.

Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Cut

Meutia dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menyatakan

membutuhkan waktu yang lama dalam merawat penderita stroke, yaitu

dijumpai sebanyak 59,5%. Hal ini dikarenakan penderita stroke sangat

bergantung pada keluarga dalam menjalani pengobatan serta perawatan

dengan waktu yang cukup lama.

5. Serangan Yang Tiba-tiba

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa responden

menyatakan serangan yang tiba-tiba dalam merawat penderita stroke pada

kategori ya sebanyak 20 responden (54,1%) dan pada kategori tidak sebanyak

17 responden (45,9%). Hasil ini sesuai dengan pendapat Mansjoer (2000),

bahwa stroke merupakan sindrom klinis yang awal timbulnya

mendadak/tiba-tiba, progresi cepat, berupa defisit neurologis

vokal dan /atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih

atau langsung menimbulkan kematian. Penyebab stroke

68
sangat kompleks dengan berbagai faktor resiko seperti

hipertensi, diabetes mellitus, hiperkolesterolemia, gaya hidup

dan ada penyebab yang tidak dapat dimodifikasi seperti

umur, jenis kelamin, genetik.

Asumsi peneliti bahwa dengan adanya serangan yang tiba-tiba

terhadap penderita stroke yang dapat menyebabkan kelumpuhan sampai

dengan kematian membuat keluarga merasa khawatir dan stress akan

meningkat akibat dari hal tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Cut

Meutia dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menyatakan

serangan yang tiba-tiba dalam merawat penderita stroke dapat membuat

keluarga stres, yaitu dijumpai sebanyak 54,1%. Hal ini dikarenakan keluarga

khawatir terhadap serangan tiba-tiba yang dapat membuat perubahan

keseimbangan dalam dirinya.

6. Ketergantungan Terhadap Keluarga

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa responden

menyatakan ketergantungan terhadap keluarga pada kategori ya sebanyak 22

responden (59,5%) dan pada kategori tidak sebanyak 15 responden (40,9%).

Hasil ini sesuai dengan pendapat Henderson (2002), bahwa Perubahan-

perubahan yang terjadi pada pasien stroke mengakibatkan

penderita tidak mampu melakukan banyak hal. Tidak mampu

melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan secara mandiri,

sehingga harus bergantung kepada orang lain (keluarga)

69
seperti tidak mampu berbicara atau berkomunikasi, tidak

mampu jalan sendiri, memakai pakaian, harus dibantu makan,

memandikan pasien sehingga tetap merasa nyaman,

membantu mengunakan toilet, dibantu pindah dari tempat

tidur ke kursi, membantu latihan menggerakkan lengan dan

kaki, membantu membalikkan badan penderita untuk

mencegah ruam, dekubitus.

Asumsi peneliti bahwa dengan penderita stroke sangat bergantung

terhadap keluarga dalam menjalani perawatan, dimana penderita sering tidak

mampu lagi mengerjakan sesuatu akibat dari perubahan keseimbangan yang

terjadi pada dirinya. Pengawasan juga harus dilakukan secara baik

dikarenakan stroke dapat menyerang penderita secara tiba-tiba.

Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Cut

Meutia dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menyatakan

penderita stroke sangat tergantung kepada keluarga, yaitu dijumpai sebanyak

59,5%. Hal ini dikarenakan penyakit stroke dapat menyerang penderita yang

dapat membuat penderita lumpuh sehingga membutuhkan waktu yang lama

dan biaya yang banyak dalam menjalani pengobatan dan perawatannya.

7. Hubungan Perubahan Keseimbangan Dengan Stress Keluarga Dalam


Merawat Penderita Stroke

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan antara

perubahan keseimbangan dengan stress keluarga diperoleh sebanyak 12

responden menyatakan perubahan keseimbangan berat dengan stress keluarga

70
berat. Sedangkan sebanyak 9 responden menyatakan perubahan keseimbangan

berat dengan stress keluarga sedang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value

= 0,105 > dari nilai α = 0,05 sehingga Ha ditolak. Berarti hipotesa alternatif

yang ditegaskan dalam penelitian ini tidak dapat diterima yaitu tidak terdapat

hubungan yang bermakna antara perubahan keseimbangan dengan stress

keluarga dalam merawat penderita stroke. Dari hasil analisis diperoleh pula

nilai OR = 4,000, artinya keluarga yang menyatakan perubahan keseimbangan

berat mempunyai peluang 4,00 kali lebih stres dibanding keluarga yang

menyatakan perubahan keseimbangan ringan.

Menurut pendapat Handerson (2002), bahwa perubahan-

perubahan keseimbangan yang terjadi pada pasien stroke

menjadi masalah besar bagi keluarga. Hal ini sering membuat

keluarga terlarut dalam kesedihan, keputusasaan,

kekecewaan. Keluarga sebagai orang terdekat bagi penderita

stroke haruslah senantiasa merawat dengan penuh kesabaran

karena perubahan keseimbangan yang terjadi pada penderita

stroke membutuhkan perhatian dengan penuh kasih sayang

dari keluarga terutama pendekatan dengan jalinan

komunikasi yang baik.

Halini berbeda dengan penelitian yang dilakukan

Drummond dan kawan-kawan (2007) mengenai stress

keluarga dalam merawat suami yang mengalami stroke,

menyebutkan bahwa perubahan keseimbangan yang dialami

71
suami yang mengalami stroke mengeluh munculnya perasaan

depresi yang diakibatkan banyaknya peran dan fungsi mereka

untuk membantu suami dalam melakukan sesuatu.

Asumsi peneliti bahwa terjadinya stress keluarga dipengaruhi oleh

perubahan keseimbangan yang terjadi oleh penderita stroke, dengan semakin

besarnya perubahan keseimbangan yang terjadi maka akan semakin besar juga

ketergantungan penderita terhadap keluarga dalam menjalani pengobatan serta

perawatannya, sehingga banyak waktu dan tenaga yang harus dikerahkan oleh

keluarga, dimana penderita sudah tidak mampu lagi mengerjakan segala

sesuatu tampa bantuan keluarganya.

8. Hubungan Biaya Yang Mahal Dengan Stress Keluarga Dalam


Merawat Penderita Stroke

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan antara

biaya yang mahal dengan stress keluarga diperoleh sebanyak 11 responden

menyatakan biaya yang tinggi dengan stress keluarga berat. Sedangkan

sebanyak 5 responden menyatakan biaya yang rendah dengan stress keluarga

sedang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,016 < dari nilai α = 0,05

sehingga H0 ditolak. Berarti hipotesa alternatif yang ditegaskan dalam

penelitian ini dapat diterima yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara

biaya yang mahal dengan stress keluarga dalam merawat penderita stroke.

Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 7,040, artinya keluarga yang

menyatakan biaya yang tinggi mempunyai peluang 7,04 kali lebih stres

dibanding keluarga yang menyatakan biaya yang rendah.

72
Hasil ini sesuai dengan pendapat Hariyono (2006), bahwa

keluarga yang merawat anggota keluarga yang menderita

stroke sering merasa putus asa dan mengalami depresi

mengingat besarnya dana yang harus disediakan, sehingga

bertingkah laku kasar terhadap penderita. Kekerasan

emosional keluarga yang sering terjadi seperti memaki-maki

penderita secara langsung, apalagi beban pekerjaan yang

berat harus ditanggung sendiri, seperti memikirkan

penyediaan dana untuk biaya pengobatan. Stres keluarga

akan meningkat apabila harapan sembuh penderita stroke

sangat kecil, keluarga menghadapi resiko depresi dan

perubahan emosional sehingga memberikan dampak yang

sangat besar terhadap kualitas kehidupan anggota keluarga di

masa yang akan datang.

Penelitian yang dilakukan price dan kawan-kawan

(2007) mengenai sisi kehidupan keluarga yang mengalami

stroke, menyebutkan dimana keluarga merasa terbebani

dengan biaya yang mesti dikeluarkan setiap kali melakukan

terapi, karena keluarga mesti memikirkan kebutuhan lain

untuk kehidupan hari-harinya.

Asumsi peneliti bahwa biaya yang mahal sangat mempengaruhi

terjadinya stress pada keluarga dalam merawat penderita stroke, dengan

semakin besarnya biaya yang telah dikeluarkan dalam pengobatan maka

73
keluarga akan berharap akan adanya perubahan yang terjadi pada diri

penderita. Namun jika hal tersebut tidak terjadi maka keluarga sering

mengalami emosi yang tidak terkontrol, dimana keluarga akan mengeluarkan

banyak biaya tampa adanya kepastian akan kesembuhan penderita stroke.

9. Hubungan Lama Perawatan Dengan Stress Keluarga Dalam Merawat


Penderita Stroke

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan antara lama

perawatan dengan stress keluarga diperoleh sebanyak 13 responden

menyatakan perawatan yang lama dengan stress keluarga berat. Sedangkan

sebanyak 9 responden menyatakan perawatan yang tidak lama dengan stress

keluarga sedang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,044 < dari nilai

α = 0,05 sehingga H0 ditolak. Berarti hipotesa alternatif yang ditegaskan

dalam penelitian ini dapat diterima yaitu terdapat hubungan yang bermakna

antara lama perawatan dengan stress keluarga dalam merawat penderita

stroke. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 5,778, artinya keluarga

yang menyatakan perawatan yang lama mempunyai peluang 5,77 kali lebih

stres dibanding keluarga yang menyatakan perawatan tidak lama.

Hasil ini sesuai dengan pendapat Shimberg (1998), bahwa masa

pengobatan adalah masa menyusahkan seperti goncangan

yang disebabkan memerlukan perawatan secara terus-

menerus dalam waktu yang lama. Melihat keadaan ini

keluarga merasa frustasi dan mengkhawatirkan tentang apa

yang akan terjadi dikemudian hari.

74
Penelitian yang dilakukan price dan kawan-kawan

(2007) mengenai sisi kehidupan keluarga yang mengalami

stroke, menyebutkan dimana keluarga merasa terbebani dan

tidak punya cukup waktu untuk diri mereka sendiri sehingga

mengalami gangguan psikososial.

Penelitian lain yang dilakukan Schilz dan Sherwood

(2008) mengenai efek fisik dan mental keluarga dalam

mengalami stroke, menyebutkan dimana keluarga dapat

terjadi stres akibat dari lamanya durasi dan jenis perawatan

yang diberikan.

Asumsi peneliti bahwa waktu yang lama dalam merawat penderita

stroke sangat mempengaruhi terjadinya stress pada keluarga, kelelahan secara

fisik dan mental akan dialami oleh keluarga yang merawat. Keadaan ini tidak

dapat dipastikan akan berlangsung berapa lama, tergantung pada kondisi

penderita dan juga penerimaan keluarga akan kondisi ini serta bagaimana

mereka menyesuaikan diri menghadapi kondisi tersebut.

10. Hubungan Serangan Yang Tiba-tiba Dengan Stress Keluarga Dalam


Merawat Penderita Stroke

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan antara

serangan yang tiba-tiba dengan stress keluarga diperoleh sebanyak 12

responden menyatakan serangan yang tiba-tiba ya dengan stress keluarga

berat. Sedangkan sebanyak 8 responden menyatakan serangan yang tiba-tiba

75
tidak dengan stress keluarga sedang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value

= 0,058 > dari nilai α = 0,05 sehingga Ha ditolak. Berarti hipotesa alternatif

yang ditegaskan dalam penelitian ini tidak dapat diterima yaitu tidak terdapat

hubungan yang bermakna antara serangan yang tiba-tiba dengan stress

keluarga dalam merawat penderita stroke. Dari hasil analisis diperoleh pula

nilai OR = 4,875, artinya keluarga yang menyatakan serangan yang tiba-tiba

ya mempunyai peluang 4,87 kali lebih stres dibanding keluarga yang

menyatakan serang yang tiba-tiba tidak.

Hasil ini sesuai dengan pendapat Lumbantobing (2003), bahwa

stroke dapat menyebabkan kematian dan kecacatan, tetapi

salah satu aspek yang paling menakutkan adalah serangan

yang tiba-tiba. Kebanyakan stroke terjadi didahului hanya

dengan sedikit atau tanpa tanda-tanda yang spesifik. Ketika

terjadi serangan yang tiba-tiba sering keluarga menjadi panik

dan ketakutan akan apa yang terjadi beberapa hari atau bulan

berikutnya.

Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan price

dan kawan-kawan (2007) mengenai sisi kehidupan keluarga

yang mengalami stroke, menyebutkan dimana keluarga

merasa kwatir terhadap serangan tiba-tiba yang dialami oleh

suami yang mengalami stroke. Keluarga sering merasa stres

jika mengingat penyakit stroke dapat menyebabkan

kelumpuhan dan kematian.

76
Asumsi peneliti bahwa serangan yang tiba-tiba terjadi pada penderita

stroke sangat mempengaruhi terjadinya stress pada keluarga, hal tersebut

dikarenakan serangan yang menyerang penderita dapat menyebabkan

kelumpuhan bahkan kematian, sehingga keluarga sering merasa cemas

terhadap apa yang akan terjadi dikemudian hari.

11. Hubungan Ketergantungan Terhadap Keluarga Dengan Stress


Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan antara

ketergantungan terhadap keluarga dengan stress keluarga diperoleh sebanyak

14 responden menyatakan ketergantungan terhadap keluaraga dengan stress

keluarga berat. Sedangkan sebanyak 8 responden menyatakan tidak

ketergantungan terhadap keluarga dengan stress keluarga sedang. Hasil uji

statistik diperoleh nilai p value = 0,007 < dari nilai α = 0,05 sehingga H0

ditolak. Berarti hipotesa alternatif yang ditegaskan dalam penelitian ini dapat

diterima yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara ketergantungan

terhadap keluarga dengan stress keluarga dalam merawat penderita stroke.

Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 11,375, artinya keluarga yang

menyatakan ketergantungan terhadap keluarga mempunyai peluang 11,37 kali

lebih stres dibanding keluarga yang menyatakan tidak ketergantungan

terhadap keluaraga.

Henderson (2002), bahwa ketergantungan pasien stroke

terhadap keluarga tidak boleh dibiarkan terus-menerus dalam

jangka waktu yang lama, pasien stroke harus sering

77
melakukan latihan/belajar untuk mandiri dan hal yang

terpenting adalah tetaplah jalin komunikasi sekalipun tidak

ada balasan/jawaban dari pasien stroke. Keluarga yang

merawat pasien stroke haruslah jeli melihat/memenuhi

kebutuhan pasien stroke, serta dengan sabar menerima

keberadaan pasien stroke.

Penelitian lain yang dilakukan Schilz dan Sherwood

(2008) mengenai efek fisik dan mental keluarga dalam

mengalami stroke, menyebutkan dimana keluarga

seringmerasa depresi dengan ketergantungan keluarga yang

mengalami stroke. Ketergantungan tersebut membuat

keluarga tidak dapat melakukan aktivitas lain diluar rumah.

Asumsi peneliti bahwa ketergantungan terhadap keluarga oleh

penderita stroke sangat mempengaruhi terjadinya stress pada keluarga, hal

tersebut dikarenakan waktu yang lama membuat keluarga tersita waktu untuk

kegiatan lain dan biaya yang dikeluarkan membuat keluarga harus bekerja

lebih ekstra dalam mencukupi kebutuhan pengobatan dan perawatan yang

sedang dijalani.

78
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat di ambil

kesimpulan bahwa sebagian besar keluarga mengalami tingkat stres pada

kategori sedang. Dimana peneliti menemukan bahwa stres yang terjadi

terhadap keluarga sangat dipengaruhi oleh biaya yang dikeluarkan dalam

merawat penderita stroke, disamping itu masa pengobatan merupakan

masa menyusahkan yang dialami oleh keluarga karena

penderita memerlukan perawatan secara terus-menerus dan

ketergantungan terhadap keluarga dalam waktu yang lama

sehingga banyak waktu keluarga yang terbuang. Melihat

keadaan ini keluarga merasa frustasi dan mengkhawatirkan

tentang apa yang akan terjadi dikemudian hari. Namun dijumpai

bahwa perubahan keseimbangan dan serangan yang tiba-tiba terjadi pada

penderita stroke tidak mempengaruhi terjadinya stress terhadap keluarga.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penyusun mengambil saran

sebagai berikut :

1. Untuk Peneliti

Diharapkan peneliti mampu memberikan informasi serta

bimbingan yang didapat dibangku kuliah kepada keluarga agar keluarga

79
mengerti bagaimana cara merawat anggota keluarga yang mengalami

stroke dan dapat mengatasi tekanan yang dialami dalam merawat penderita

stroke.

2. Untuk Perawat

Bagi seorang perawat sebaiknya harus memahami dan mengerti

baik secara teoritis maupun praktek tentang perawatan penderita stroke

agar dapat menerapkan dan memberikan pelayanan yang efektif kepada

pasien dan keluarga yang mungkin mengalami stress, cemas, takut, sedih

dan bahkan marah.

3. Untuk Keluarga

Kepada keluarga diharapakan agar dapat meningkatkan

pengetahuan tentang merawat penderita stroke, sehingga mampu

mengatasi stress yang dialami, maka sebagai orang terdekat dengan

penderita harus memberikan support dan dorongan yang efektif kepada

penderita stroke agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

4. Untuk Institusi Keperawatan

Kepada institusi pendidikan agar lebih meningkatkan informasi

yang diberikan kepada mahasiswa tentang perawatan penderita stroke

dalam segi mata kuliah yang diberikan ataupun dari segi referensi yang

tersedia di kampus.

5. Untuk Peneliti Selanjutnya

80
Diharapkan ada penelitian lanjutan tentang faktor-faktor yang

mempengaruhi stress keluarga dalam merawat penderita stroke dilokasi

berbeda dengan jumlah sampel yang lebih luas dan variabel yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul Aziz, H. (2008). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Edisi 2. Jakarta:


Salemba Medika.

Aceh Virtual, (2014). Pengidap Diabetes Juga Rentan Stroke.


[Link] diakses 25 Mei
2014.

Brunner & Suddath. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC.

Budiarto. (2002). Biostatistik untuk Kedokteran dan Kesehatan


Masyarakat. Jakart: penerbit buku kedokteran EGC.

Depkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

_________. (2006). Stroke. [Link] diakses 26 Mei 2014.

Elaine S. (2000). Stroke Petunjuk Penting Bagi Keluarga. Jakarta: Pustaka


Delapratasa.

Gintings D. (2004). Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya. Jakarta:


Salemba Medika.

Grant, B, (2000). Megenal dan Menanggulangi Stress. Jakarta: PT. Prenhallindo.

Gunarsa, S. D. & Gunarsa, Y. (2002). Psikologi praktis: Anak, Remaja &


Keluarga. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Henderson, Leila. (2002). Stroke Panduan Perawatan. Jakarta: Arcan.

Hadi, Pranowo.(2004). Depresi dan Solusinya. Jakarta: Tugu Publisher.

Hidayat A. (2004). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta. Slemba


Medika.

81
Hawari, Dadang. (2001). Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Haryono, S. (2006). Meningkatnya Penduduk Rawan Stroke,


[Link] diakses 26 Mei 2014.

Idris. (2004). Stroke rehabilitation. [Link]/usia/[Link].


diakses 25 Mei 2014.

Lumban Tobing S.M.(2003). Stroke Bencana Peredaran Darah di Otak. Jakarta:


FK UI.

Mansjoer, Triyanti, dkk. (2000), Kapitia Selekta Kedokteran. Jakarta: Media


Aeskulapius, FK UI.

Mulyadsi. (2003). Petunjuk Praktis bagi Pengasuh dan Keluarga Pasien


Stroke. Jakarta: EGC.

Muttaqin. A (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan


System Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Notoatmodjo, S. (2002). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Potter, Patricia A. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.

RSU Cut Mutia. (2014). Profil Kesehatan. Aceh Utara.

Setiadi. (2007). Riset Keperawatan. Surabaya: Graha Ilmu.

Shimberg Fantle. (1998). Stroke: Apa Yang Seharusnya Keluarga Ketahui.


Jakarta: Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular&Penyehatan.

Sunaryo. (2004). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Suherman, K. (2003). Pencegahan Stroke Dan Serangan Jantung Pada Usia


Muda. Jakarta: FK UI.

Tjahjono, dkk. (2000). Kepribadian Pengaruhi Pulihnya Stroke, Semarang:


Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Wartonah & Tarwoko. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses


Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

82
World Health Organization. (2010). Global Burden of Stroke.
[Link]
[Link]. diakses 25 Mei 2014.

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN

Saya setelah mendapat penjelasan dari peneliti dan saya bersedia untuk

berpartisipasi sebagai responden penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Stress Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke Di Poli

Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara

Tahun 2014” yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa program S1 Keperawatan

STIKes Lhokseumawe.

Oleh peneliti, saya diharapkan untuk menjawab dan mengisi daftar

pertanyaan tentang hal-hal yang berhubungan dengan penelitian ini. Saya

mengerti bahwa tidak ada resiko yang akan terjadi, karena itu jawaban yang saya

berikan adalah yang sebenarnya.

Saya mengetahui bahwa catatan data mengenai penelitian ini akan

dirahasiakan, semua berkas yang mencantumkan identitas saya akan dijaga

kerahasiaannya.

Demikian hal ini saya perbuat, dengan ini saya menyatakan kesediaan saya

secara sukarela dan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini tanpa ada

unsur paksaan dari siapa pun.

83
Lhokseumawe, Agustus 2014
Responden,

(………………………)

LEMBARAN PERMOHONAN KESEDIAAN MENJADI


RESPONDEN PENELITIAN

Kepada Yth :
Calon Responden
di-
Tempat

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Miftahul Rizka Vonna
NPM : 1007201066
Alamat : Desa Cot Kumbang, Alue Ie Puteh Kec.
Baktiya
Kab. Aceh Utara
Pekerjaan : Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes
Muhammadiyah Lhokseumawe

Dengan ini menjelaskan kepada saudara (i) untuk bersedia kiranya menjadi
responden penelitian saya yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Stress Keluarga Dalam Merawat Penderita Stroke Di Poli Syaraf Rumah
Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014”.
Sehubungan dengan hal tersebut, saya memerlukan data dan informasi yang nyata
dari saudara (i) yaitu dengan cara mengisi identitas responden dan menjawab
pernyataan dalam alat pengumpulan data (Lembaran Wawancara/Kuesioner) yang
telah disediakan. Identitas dan informasi yang saudara (i) berikan dalam penelitian
ini saya jamin kerahasiannya dan tidak membawa pengaruh apapun terhadap
saudara (i).
Oleh karena itu saya mohon kesediaan saudara (i) untuk dapat
berpartisipasi dalam penelitian ini dengan menjadi responden. Jika setuju untuk
berpartisipasi, maka saya mohon untuk dapat menjawab beberapa pertanyaan
yang akan saya ajukan sebagai peneliti.
Demikian penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian ini
disampaikan. Atas partisipasi dan kerjasama yang baik saya ucapkan terimakasih.

84
Lhokseumawe, Agustus 2014
Hormat Saya

( Miftahul Rizka Vonna )

LEMBARAN KUESIONER

Judul Penelitian : Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Stress Keluarga


Dalam Merawat Penderita Stroke Di Poli Syaraf
Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten
Aceh Tahun 2014

No. Responden :
Tanggal Pengisian :
*) Di isi oleh petugas pengambil data

I. Data Umum Responden


1. Umur : tahun
2. Pendidikan : a. SD/SMP
b. SMU/sederajat
c. D III/S1
3. Jenis Kelamin : Pr Lk

[Link] Khusus

Petunjuk Pengisian

Berilah tanda contreng(√) pada salah satu kotak pilhan jawaban

pernyataan yang sesuai menurut yang Bapak/Ibu rasakan.

Keterangan :

85
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
RR : Ragu-ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS S RR TS STS

Stress Keluarga
1. Saya sering merasa sedih jika melihat
keluarga yang mengalami stroke.
2. Dalam melakukan aktivitas keluarga yang
mengalami stroke harus meminta bantuan
saya.
3. Saya harus kehilangan sebagian waktu
saya untuk mengurus keluarga yang
mengalami stroke.
4. Saya sering tidak konsentrasi dalam
bekerja karena memikirkan masalah
proses penyebuhan pada keluarga yang
mengalami stroke.
5. Nafsu makan saya jadi menurun
dikarenakan perasaan sedih pada saat
melihat penderitaan yang dialami oleh
keluarga yang mengalami stroke.
6. Saya sering mengalami gangguan tidur
karena memikirkan keluarga yang
mengalami stroke.
7. Emosi saya sering tidak stabil karena
kelelahan dan rasa putus asa yang saya
rasakan.
8. Saya merasa kesulitan dalam memahami
apa yang diinginkan oleh keluarga yang
mengalami stroke.
9. Saya sering mengeluarkan kata-kata kasar
pada keluarga yang mengalami stroke.
10. Saya merasa kesulitan untuk mengatur/
mengarahkan setiap aktivitas yang
dilakukan keluarga yang mengalami
stroke.

86
Perubahan Keseimbangan
11. Saya merasa kesulitan dengan gangguan
komunikasi yang dialami penderita stroke.
12. Keluarga yang mengalami stroke sering
menagis dan tertawa tanpa alasan yang
jelas yang membuat saya bingung harus
berbuat apa.
13. Sekarang saya harus membantu keluarga
yang mengalami stroke dari tempat tidur
ke kursi dan sebaliknya.
14. Saya melihat keluarga yang menderita
stroke tidak mampu lagi mengigat sesuatu
yang saya katakan.
15. Saya sering membacakan sesuatu untuk
keluarga yang mengalami stroke karena
ketidak mampuanya untuk membaca dan
menulis seperti dulu.
16. Saya kesusahan mengerti bahasa yang
disampaikan oleh keluarga yang
mengalami stroke.
17. Saya sering memperhatikan keluarga yang
mengalami stroke pada saat melihat
sesuatu dengan pandangan yang tidak
fokus.
18 Saya sering melihat keluarga yang
mengalami stroke sulit menggerakan
tangan untuk mengambil sesutu.
19. Keluarga yang mengalami stroke kadang-
kadang tidak mampu mengenal diri saya
lagi.
20. Saya merasa kesulitan dengan perubahan
yang dialami keluarga yang mengalami
stroke karena ketidak mampuannya lagi
mengenal warna dan bentuk.
Biaya Yang Mahal
21. Saya yang selalu memikirkan biaya
pengobatan/perawatan untuk keluarga
yang mengalami stroke.
22. Keluarga lain tidak ikut membantu dalam
menanggung biaya pengobatan/ perawatan
pada keluarga yang mengalami stroke.
23. Saya merasa putus asa karena telah
mengeluarkan baiaya yang banyak tetapi
hasilnya belum sesuai harapan.

87
24. Biaya yang saya keluarkan tidak
terkontrol karena memerlukan proses
pengobatan/perawatan secara terus
menerus.
25. Ada biaya lain yang mesti saya tanggung
untuk memenuhi kebutuhan keluarga
selain untuk pengobatan/ perawatan pada
keluarga yang mengalami stroke.
26. Saya sering merasa kebingungan dalam
memikirkan biaya pengobatan/ perawatan
keluarga yang mengalami stroke.
27. Saya pernah meminta bantuan dana dari
keluarga/famili untuk pengobatan/
perawatan keluarga yang mengalami
stroke.
28. Kami tidak memiliki asuransi kesehatan
untuk menanggung pembiayaan
perawatan/pengobatan pada keluarga yang
mengalami stroke.
29. Saya sering merasa kesulitan dengan biaya
yang tidak terduga dalam
pengobatan/perawatan untuk keluarga
yang mengalami stroke.
30. Saya merasa harus bekerja lebih ekstra
untuk mencukupi kebutuhan keluarga
yang mengalami stroke.
Waktu Yang Lama
31. Saya yang selalu mengantar keluarga yang
mengalami stroke ke pelayanan kesehatan
untuk melakukan konsultasi medis dalam
waktu yang tidak jelas.
32. Saya merasa kecewa karena waktu saya
banyak terbuang percuma dalam merawat
keluarga yang mengalami stroke.
33. Saya merasa harus terus bersabar dalam
menjalani proses pengobata/perawatan
keluarga yang mengalami stroke.
34. Saya merasa jenuh karena waktu saya
banyak terpakai untuk merawat keluarga
yang mengalami stroke.
35. Saya merasa putus asa karena
pengobatan/perawatan keluarga yang
mengalami stroke membutuhkan waktu
yang lama.

88
Serangan Yang Tiba-tiba
36. Saya merasah gelisah terhadap kecacatan
yang tiba-tiba dialami keluarga yang
mengalami stroke.
37. Saya sering merasa cemas terhadap
keluarga yang mengalami stroke karena
penyakit tersebut dapat menyebabkan
kematian.
38. Saya sering merasa resah terhadap
penyakit stroke karena menyerang
penderita secara tiba-tiba.
39. Jika terjadi serangan yang tiba-tiba saya
merasa khawatir atas apa yang akan terjadi
beberapa hari/bulan berikutnya.
40. Saya selalu menyediakan obat pada
keluarga yang mengalami stroke untuk
menghindari serangan yang tiba-tiba.
Ketergantungan Terhadap Keluarga
41. Saya yang membantu keluarga yang
mengalami stroke dalam hal melakukan
aktivitas berjalan.
42. Saya yang membantu keluarga yang
mengalami stroke dalam hal melakukan
aktivitas mandi.
43. Saya yang membantu keluarga yang
mengalami stroke dalam hal melakukan
aktivitas berpakaian.
44. Saya yang membantu keluarga yang
mengalami stroke dalam hal menggunakan
toilet.
45. Saya yang membantu keluarga yang
mengalami stroke dalam hal menyuapkan
makanan.

89
90

Anda mungkin juga menyukai