0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan4 halaman

Rekomendasi Terapi untuk Pasien TB

Dokumen ini membahas kasus seorang pasien dengan TB pulmoner yang mengalami efek samping dari terapi obat anti-TB, termasuk peningkatan enzim hati dan gejala gastrointestinal. Rekomendasi untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien meliputi perubahan dosis obat, penggantian terapi, dan edukasi tentang gaya hidup sehat. Monitoring rutin juga diperlukan untuk memantau efek samping dan fungsi organ pasien selama terapi.

Diunggah oleh

dian nugra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan4 halaman

Rekomendasi Terapi untuk Pasien TB

Dokumen ini membahas kasus seorang pasien dengan TB pulmoner yang mengalami efek samping dari terapi obat anti-TB, termasuk peningkatan enzim hati dan gejala gastrointestinal. Rekomendasi untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien meliputi perubahan dosis obat, penggantian terapi, dan edukasi tentang gaya hidup sehat. Monitoring rutin juga diperlukan untuk memantau efek samping dan fungsi organ pasien selama terapi.

Diunggah oleh

dian nugra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dian Nugra Nuzulul Fitri

15507050111001
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PEDIDIKAN TINGGI
Kelas A/kelompok 2
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
JURUSAN FARMASI

TUTORIAL FARMAKOTERAPI SISTEM ORGAN


PERNAFASAN: TUBERCULOSIS

Kasus:

Tn. P (45 th / 60 kg) mantan narapidana didiagnosa mengalami TB pulmoner sejak Agustus
2012 dan mendapatkan inisiasi terapi TB berupa INH tab 1 dd 300 mg PO, RIF tab 1 dd 600
mg PO, PZA tab 1 dd 900 mg, EMB tab 1 dd 900 mg. Di awal pemberian terapi, pasien
merasakan nyeri perut tiap kali selesai minum obat TB tersebut dan sering kesemutan.
Hasil pemeriksaan LFT bulan Agustus 2012:
ALT: 42 U/L (N : 10 – 40 U/L)
AST: 61 U/L (N : 15 – 40 U/L)
Pada bulan September 2012 regimen terapi pasien diubah dengan dilakukan Directly
Observed Therapy menjadi: INH tab dua kali seminggu 900 mg, RIF tab dua kali seminggu
600 mg, PZA tab dua kali seminggu 2 gram, terapi EMB dihentikan karena hasil kultur
menunjukkan bahwa bakteri M tuberculosis sensitive terhadap INH, RIF, dan PZA.
Pada bulan November 2012 (4 bulan setelah dimulai terapi anti TB) diperoleh hasil
pemeriksaan LFT:
ALT: 300 U/L (N : 10 – 40 U/L)
AST: 100 U/L (N : 15 – 40 U/L)
Pasien mengalami gejala mual, muntah, jaundice, serta lemas sejak sebulan yang lalu
terutama setelah pasien minum Fludane Plus tab 3 dd 1 saat mengalami flu dan demam.
FH: tidak ada anggota keluarga yang mengalami TB
SH: merokok 1 pack/hari, minum bir 1 botol/hari setelah keluar dari penjara.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PEDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
JURUSAN FARMASI

1. Rekomendasi apa yang sebaiknya anda berikan pada pasien ini untuk mengurangi rasa
tidak nyaman di perut dan kesemutan akibat obat TB?
Jawaban:
Di awal pemberian terapi pasien mendapatkan inisiasi terapi TB berupa INH tab 1 dd
300 mg PO, RIF tab 1 dd 600 mg PO, PZA tab 1 dd 900 mg, EMB tab 1 dd 900 mg
untuk mengobati TB yang diderita maka diberikan obat OAT tersebut. Namun obat
OAT yang diberikan memiliki efek samping yaitu :
 isoniazid memiliki efek samping neuropati perifer sehingga mengalami
kesemutan dan rasa nyeri perut setelah minum obat bisa terjadi karena efek
samping dari rifampin (epigastric distress), cara penggunaan obat Isoniazid
sebaiknya diminum dalam keadaan perut kosong 1 jam sebelum makan/2 jam
sesudah makan, tapi bila terjadi iritasi GI obat diminum bersamaan dengan
makan, walaupun absorpsi obat berkurang.. Untuk mengatasi efek samping
dari Isoniazid maka diberikan Pyridoxine 25-50mg/hari .
 Rifampisin sebaiknya diminum dalam keadaan perut kosong 1 jam sebelum
makan/2 jam sesudah makan
 Hentikan minum alkohol dan mengurangi merokok karena dapat
meningkatkan hepototoksik
2. Lakukanlah interpretasi data lab pada pasien ini! Jelaskan penyebab terjadinya
peningkatan LFT pada pasen ini!
Jawaban :

Hasil pemeriksaan LFT bulan Agustus 2012:


ALT: 42 U/L (N : 10 – 40 U/L)
AST: 61 U/L (N : 15 – 40 U/L)
Nilai ALT dan nilai AST menggambarkan fungsi hati, sehingga dari data tersebut
terlihat nilai AST dan ALT melebihi batas normal yang menandakan terjadinya
kerusakan pada hati pasien namun kerusakan belum terlalu parah yang ditunjukan
dengan nilai ALT dan AST tidak terlalu naik signifikan. Penyebab dari naiknya nilai
LFT ini karena pasien mengkonsumsi obat OAT (HRZE). Efek dari obat OAT yang
diberikan ini yaitu dapat meningkatkan LFT pasien.
Pada bulan November 2012 (4 bulan setelah dimulai terapi anti TB) diperoleh hasil
pemeriksaan LFT:
ALT: 300 U/L (N : 10 – 40 U/L)
AST: 100 U/L (N : 15 – 40 U/L)
Nilai ALT dan ASG meningkat tajam sehingga menggambarkan fungsi hati yang
sudah semakin parah. Dilihat dari gangguan hati yang diderita pasien, kategori
hepatitis kronis (LFT 3x normal) melawati batas tersebut sehingga kerusakan pada
hati pasien tersebut sudah sangat parah. Peningkatan yang sangat tajam ini juga
ditinjau dari penggunaan obat OAT yang diberikan pada pasien dimana pada
penggunaan obat PZA ini kontraindikasi dengan hasil klinik pasien yang menandakan
bahwa pasien mengalami kerusakan hati yang akut, dengan penggunaan obat ini dapat
memperparah kondisi klinis pasien. Diperparah lagi dengan lifestyle pasien yang
sering mengkonsumsi minuman beralkohol 1 botol/hari dan merokok yang
menghabiskan 1 pack/hari.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PEDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
JURUSAN FARMASI

3. Langkah apa yang sebaiknya anda rekomendasikan kepada dokter terkait dengan
terapi TB pada pasien ini?
Jawaban :
 Untuk mengatasi demam dan flu sebaiknya digunakan ibuprofen
 Digunakan Nac agar tidak menambah hepatotoksisitas

 OAT tetap digunakan untuk pengobatan TB, adapun beberapa efek samping
ringan dengan kemungkinan penyebab dan penanganannya

 Dengan melihat hasil LFT disarankan kepada dokter untuk mengganti terapi
yang diberikan karena kondisi penyakit pasien yang semakin memburuk.
Dilakukan kembali kultur sputum pasien apakah masih bakteri M tuberculosis
tidak sensitive terhadap ethambutol karena dalam kondisi ini digunakan terapi
obat untuk TB berat dan Hepatotoksik (streptomycin + ethambutol +
floroquinolon kec. Ciprofloxsasin).
A. Apabila setelah kultur sputum, bakteri M tuberculosis dapat sensitive terhadap
ethambutol maka terapi yang dilakukan adalah disarankan untuk menggunakan
streptomycin 15 mg/kg sehari sekali secara IM, ethambutol ………………. dan
digunakan levofloxacin dengan dosis yang diberikan yaitu 500 mg PO sehari satu
kali.
B. Apabila tetap tidak sensitive terhadap ethambutol maka ethambutol digantikan
dengan salah satu obat OAT yang bersifat bakterisidal sehingga yang disarankan
adalah isoniazid. Terapi yang diberikan yaitu isoniazid tab dua kali seminggu 900
mg, penambahan penggunaan pyridoxine 25-50 mg PO sehari satu kali dan
digunakan levofloxacin dengan dosis yang diberikan yaitu 500 mg PO sehari satu
kali.

4. Untuk mengatasi gejala pada pasien ini terapi apa yang anda rekomendasikan untuk
diberikan?
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PEDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
JURUSAN FARMASI

Jawaban :
Untuk terapi flu direkomendasikan untuk menggunakan antitusif Dextromethorphan
10-20 mg tiap 4 jam dan demam yang dialami pasien diberikan Paracetamol 500 mg
sehari tiga kali sampai suhu tubuh pasie kembali normal. Untuk gejala muntah, mual,
jaundice serta lemas direkomendasikan untuk mengganti obat TB yang digunakan
karena keluhan tersebut merupakan efek samping obat tersebut, seperti penjelasan no
3.

5. Edukasi apa saja yang anda berikan untuk pasien ini?


Jawaban :
 Tinggal di rumah. Jangan pergi kerja atau sekolah atau tidur di kamar dengan
oranglain selama beberapa minggu pertama pengobatan untuk tbc aktif

 Anjuran kepada pasien untuk rutin minum obat, sesuai anjuran resep dari
dokter.
 Menerapkan pola hidup sehat untuk menurunkan resiko terkena obesitas.
 Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein.
 Ventilasi ruangan. Kuman TBC menyebar lebih mudah dalam ruang tertutup
kecil dimana udara tidak bergerak. Jika ventilasi ruangan masih kurang,
membuka jendeladan menggunakan kipas untuk meniup udara dalam ruangan
luar.
 Tutup mulut menggunakan masker. Gunakan masker untuk menutup mulut
kapan sajaketika di diagnosis tb merupakan langkah pencegahan TBC secara
efektif. Janganlupa untuk membuangnya secara tepat.
 Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberi desinfektan (air
sabun).
 Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan.
 Menghindari udara dingin.
 Mengusahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam
tempattidur.
 Menjemur kasur, bantal,dan tempat tidur terutama pagi hari.
 Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga
mencucinya dantidak boleh digunakan oleh orang lain

6. Monitoring apa saja yang perlu rutin dilakukan untuk pasien yang mendapatkan terapi
anti TB seperti pasien ini?
Jawaban :
Monitoring yang dilakukan untuk pasien adalah
 Monitoring LFT untuk mengetahui efek samping dari suatu obat
 Fungsi penglihatan (ES buta warna dari pemakaian ethambutol)
 Monitoring fungsi ginjal karena akan mempengaruhi kerja obat
 Tes system imun

Anda mungkin juga menyukai