0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan27 halaman

Definisi dan Ciri-Ciri Belajar

Dokumen ini membahas konsep belajar, tujuan, ciri-ciri, dan hasil belajar menurut berbagai ahli, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran matematika di sekolah dasar. Belajar didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang melibatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, sedangkan pembelajaran matematika dipengaruhi oleh faktor guru, peserta didik, fasilitas, dan lingkungan. Karakteristik pembelajaran matematika mencakup pendekatan bertahap, metode spiral, dan penekanan pada pola pikir deduktif.

Diunggah oleh

andrisuryanto11
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan27 halaman

Definisi dan Ciri-Ciri Belajar

Dokumen ini membahas konsep belajar, tujuan, ciri-ciri, dan hasil belajar menurut berbagai ahli, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran matematika di sekolah dasar. Belajar didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang melibatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, sedangkan pembelajaran matematika dipengaruhi oleh faktor guru, peserta didik, fasilitas, dan lingkungan. Karakteristik pembelajaran matematika mencakup pendekatan bertahap, metode spiral, dan penekanan pada pola pikir deduktif.

Diunggah oleh

andrisuryanto11
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI
A. Kajian Teoritis

1. Belajar

a. Pengertian Belajar

Kata istilah belajar bukanlah sesuatu yang baru, sudah sangat

dikenal secara luas, namun dalam pembahasan belajar ini masing-

masing ahli memiliki pemahaman dan definisi yang berbeda-beda,

walaupun secara praktis masing-masing kita sudah sangat memahami

apa yang dimaksud belajar tersebut. Oleh karena itu, untuk menghindari

pemahaman yang beragam tersebut, berikut akan dikemukakan berbagai

definisi belajar menurut para ahli.

Menurut Burton dalam Usman dan Setiawati (dalam Ahmad

Susanto:2013:3) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku

pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan

individu lain dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka

lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara menurut E.

R. Hilgart (dalam Ahmad Susanto:2014:3) belajar adalah suatu

perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungan. Perubahan kegiatan

yang dimaksud mencakup pengetahuan, kecakapan, tingkah laku dan ini

diperoleh melaluli latihan (pengalaman). Hilgard menegaskan bahwa

belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri

seseorang melalui latihan, pembiasaan, pengalaman dan sebagainya.

9
1

Kingsley membagi hasil belajar menjadi tiga macam, yaitu: (1)

keterampilan dan kebiasaan; (2) pengetahuan dan pengertian; (3) sikap

dan cita-cita. Sedangkan Djamarah dan Zain (2002: 120) menetapkan

bahwa hasil belajar telah tercapai apabila telah terpenuhi dua indikator

berikut, yaitu:

1) Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai


prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional
khusus telah dicapai oleh peserta didik baik seacara individu
maupun kelompok.

Dari pengertian belajar menurut para ahli diatas dapat disimpulkan

bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang dari yang

tidak tahu menjadi tahu, dan perubahan tersebut berupa perubahan

dalam pengetahuan, ketrampilan, dan sikap serta proses mental dan

emosional dari seseorang.

b. Tujuan Belajar

Tujuan belajar merupakan komponen yang sangat penting dalam

belajar, karena tujuan menjadi pedoman bagi seluruh aktivitas belajar.

Sebelum proses belajar berlangsung, tujuan belajar harus ditetapkan

lebih dahulu

Sutadi,([Link]

[Link],20/02/2017) Kegunaan tujuan belajar menurut Sutadi

antara lain:

a. Merupakan pedoman bagi guru untuk bahan pelajaran dan metode


mengajar serta memilih aktivitas yang efektif dan efisien.
1

b. Dipakai sebagai kriteria internal bagi peserta didik untuk menilai


keberhasilannya dalam belajar, dengan adanya tujuan belajar peserta
didik mengetahui arah belajarnya.
c. Memandu guru menciptakan kondisi belajar yang menunjang
pencapaian tujuan belajar.
d. Membantu guru menyusun alat evaluasi yang dipergunakan untuk
mengetahui apakah proses belajar dan pembelajaran telah berhasil
atau gagal.

Menurut Sadirman (2006:79) mengemukakan bahwa tujuan belajar

secara umum ada tiga jenis yaitu untuk mendapatkan pengetahuan,

penanaman konsep dan keterampilan serta pembentukan sikap. Pada

dasarnya tujuan belajar peserta didik adalah untuk mendapatkan

pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap mental dan nilai.

Tercapainya pembelajaran apabila pendidik menguasai tujuan

pembelajaran.

Tujuan belajar seyogyanya meliputi ranah kognitif, psikomotorik,

dan kalau mungkin ranah afektif. Ketiga ranah ini harus berkembang

atau berubah selama proses belajar berlangsung, mengingat tujuan

pendidikan adalah membentuk manusia yang utuh. Jadi pada dasarnya

tujuan belajar peserta didik adalah untuk mendapatkan pengetahuan,

ketrampilan dan penanaman, sikap, mental, dan nilai.

c. Ciri-ciri Belajar

Ciri-Ciri Belajar - Hakekat belajar yaitu sebuah perubahan tingkah

laku yang terjadi pada pembelajar. Belajar memiliki ciri-ciri belajar

diantaranya, perubahan yang terjadi secara sadar, perubahan dalam

belajar bersifat fungsional, perubahan dalam belajar bersifat positif dan


1

aktif, perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara, perubahan

dalam belajar bertujuan atau terarah, perubahan mencakup seluruh

aspek tingkah laku.

Menurut Djamarah (2002) belajar adalah perubahan tingkah laku.

Ciri –ciri belajar tersebut adalah sebagai berikut :

1. Belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar.


2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4. Perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka proses

mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke

peserta didik tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik

merekonstruksi sendiri pengetahuannya dan menggunakan pengetahuan

untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu guru

sangat dibutuhkan untuk membantu belajar peserta didik sebagai

perwujudan perannya sebagai mediator dan fasilitator.

d. Hasil Belajar

Menurut Sudjana “hasil belajar adalah kemampuan–kemampuan

yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman

belajarnya”. Menurut Howard Kingsley, hasil belajar dibedakan dalam

3 kelompok, yaitu (1) keterampilan dan kebiasaan; (2) pengetahuan dan

pengertian serta (3) sikap dan cita-cita. Sementara itu, Arikunto,

mengatakan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami


1

proses belajar, perubahan itu tampak dalam perbuatan yang dapat

diaamati,dan dapat diukur”.

Berdasarkan pengertian tentang hasil belajar tersebut, dapat

disimpulkan bahwa hasil belajar tidak hanya berupa sesuatu yang dapat

diukur secara kuantitatif saja melainkan juga secara kualitatif terkait

dengan perubahan peserta didik dari yang belum bisa menjadi bisa,

sehingga penilaiannya bisa menggunakan tes maupun non tes. Penilaian

berupa tes maupun non tes tersebut bertujuan untuk mengetahui hasil

belajar peserta didik ditinjau dari ranah afektif, kognitif maupun

psikomotorik.

2. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

a. Pengertian Matematika

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang ada pada

semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga

perguruan tinggi. Bahkan matematika diajarkan ditaman kanak-kanak

secara informal.

Belajar matematika merupakan suatu syarat cukup untuk

melanjutkan pedidikan kejenjang berikutnya. Karena dengan belajar

matematika, kita akan belajar bernalar secara kritis, kreatif, da aktif.

Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol,

maka konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu

sebelum memanipulasi simbol-simbol itu.


1

Pada usia peserta didik sekolah dasar ( 7-8 tahun hingga 12-13

tahun), menurut teori kognitif Piaget termasuk pada tahap operasional

konkret. Berdasarkan perkembangan kognitif ni, maka anak usia

sekolah dasar pada umumnya mengalami kesulitan dalam memahami

matematika yang bersifat abstrk. Karena keabstrakannya matematika

relatif tidak mudah untuk dipahami oleh peserat didik sekolah dasar

pada umumnya.

Kata matematika berasal dari bahasa latin, manthanein atau

mathema yang berarti “belajar atau hal yang dipelajari,” sedang dalam

bahasa belanda, matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang

kesemuanya berkaitan dengan penelaran (Depdiknas,2001 : 7),

Matematika memeliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik,

penelaran yang jelas dan sistematis, dan struktur atau keterkaitan antar

konsep yang kuat. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran

dedukatif yang bekerja keras atas dasar asumsi (kebenaran konsistensi).

Selain itu, matematika juga bekerja melalui penalaran indukatif yang

didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada perkiraan

tertentu. Tetapi perkiraan ini, tetap harus dibuktikan secara dedukatif,

dengan argument yang konsisten.

b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembelajaran Matematika

Dalam setiap kegiatan tidak terlepas dari faktor-faktor yang

mempengaruhi keberhasilan kegiatan tersebut dalam mencapai

tujuannya. Demikian halnya dengan pembelajaran matematika. Faktor-


1

faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain dan memiliki

keterkaitan. Menurut Sofyani, ada beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu:

1) Faktor guru, meliputi latar belakang pendidikan guru, pengalaman


mengajar dan pemanfaatan waktu oleh guru.
2) Faktor peserta didik, meliputi minat dan perhatian, kebiasaan
belajar peserta didik, pengetahuan tambahan dan latar belakang
pendidikan peserta didik.
3) Faktor fasilitas pendidikan.
4) Faktor lingkungan.
Berikut akan dikemukakan satu persatu dari semua faktor diatas

yaitu:

1) Faktor guru

Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada

anak didik, atau siapa saja yang memberikan pengaruh positif

kepada anak didik sebagai akibat reaksi dan interaksi di antara

kedua belah pihak.

2) Faktor peserta didik

Peserta didik adalah objek dalam proses pembelajaran. Tanpa

ada peserta didik, mustahil proses pembelajaran di sekolah dapat

berjalan. Komponen utama dalam proses pembelajaran ini menjadi

faktor penentu terhadap keberhasilan pembelajaran, sehingga dapat

mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai

tujuan pembelajaran. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi

dalam diri peserta didik itu sendiri, diantaranya:


1

a) Minat

Minat adalah rasa lebih suka dan keterikatan akan suatu

hal atau aktifitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada

dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri

sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin luas dan dekat

hubungan tersebut, semankin besar minat.

b) Perhatian

Seorang guru dituntut semaksimal mungkin agar mampu

menyajikan pelajaran sedemikian rupa, supaya selalu menarik

perhatian peserta didik. Adapun cara untuk menark perhatian

peserta didik adalah:

1) pelajaran diupayakan untuk merangsang minat besar anak

didik untuk mengetahui hakikat pengajaran.

2) Hubungkanlah pelajaran itu dengan kejadian-kejadian dan

peristiwa anak didik disekitarnya.

3) Alat peraga atau media pengajaran dapat menarik perhatian

anak didik karena media pengajaran dapat memperjelas

pengertian dan menenangkan anak didik.

4) Pelajaran selalu disesuaikan dengan taraf kamampuan dan

perkembangsn anak didik.

5) Guru hendaknya mempersiapkan bahan pelajaran secara baik

dengan mempergunakan berbagai macam metode yang

bervariasi dan yang cocok.


1

6) Setiap pelajaran guru dapat memberikan ikhtisar dari setiap

pelajaran yang diberikan tersebut.

c) Kebiasaan Belajar

Kebiasaan belajar peserta didik merupakan kegiatan

mengulangi pelajarannya kembali dirumah atau diasrama,

memperhatikan dan mendengarkan setiap pelajaran guru saat

mengajar di kelas, serta selalu mengerjakan tugas yang

diberikan oleh guru. Hal tersebut memungkinkan tingginya

prestasinya belajar peserta didik.

d) Pengetahuan Tambahan

Peserta didik yang menghendaki agar kemampuannya serta

prestasi dalam proses pembelajaran meningkat lebih baik, maka

harus meningkatkan pula aktifitasnya dengan cara belajar sendiri

melalui media-media komunikasi yang canggih saat ini.

e) Latar belakang pendidikan

Perbedaan latar belakang pendidikan peserta didik memberi

pengaruh yang cukup kuat terhadap proses pembelajaran di

kelas.

3) Faktor Fasilitas

Pendidikan fasilitas yang memadai pada sebuah lembaga

pendidikan akan memberikan pengaruh positif bagi aktifitas

belajar. Adapun fasilitas pendidikan yang harus disediakan oleh

pihak sekolah adalah:


1

a) Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan merupakan alat perlengkapan langsung yang

berhubungan dengan mutu pendidikan dalam rangka pencapaian

tujuan karena mempengaruhi efisien proses belajar mengajar.

Jadi dengan adanya perpustakaan di sekolah dapat menunjang

keberhasilan peserta didik dalam mempelajari mata pelajaran

yang diinginkannya.

b) Buku-buku Pelajaran

Faktor fasilitas ini adalah buku-buku pelajaran yang

memuat tentang ilmu matematika yang telah diprogramkan oleh

pemerintah.

4) Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik.

Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam

mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem. Lingkungan adalah

suatu yang berada di luar dari anak dan mempengaruhi terhadap

perkembangannya. Dalam hal ini para ahli pendidikan membagi

lingkungan kepada tiga bagian, yaitu:

a) Lingkungan keluarga

Dalam lingkungan keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-

anak serta famili yang menjadi penghuni rumah. Tinggi

rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan,

cukup atu kurang perhatian dan bimbingan orang tua, tenang


1

tidaknya situasi dalam rumah, semua itu turut mempengaruhi

pencapaian hasil belajar anak. Jadi lingkungan keluarga yang

harmonis akan mampu membangkitkan semangat belajar anak,

dan membantu terhadap keberhasilan belajar anak tersebut.

b) Lingkungan sekolah atau pesantren

Dalam lingkungan sekolah atau pesantren bila semua pihak

yang terkait di dalamnya saling memahami dan mengerti

terhadap hak dan kewajiban masing-masing. Seperti kualitas

guru, metode mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan

kemammpuan anak, keadaan fasilitas atau perlengkapan di

sekolah, keadaan ruangan, jumlah murid perkelas, pelaksanaan

tata tertib sekolah, dan sebagainya.

c) Lingkungan masyarakat

Dalam lingkungan masyarakat, masyarakat tersebut hanya

menjadi pengawas terhadap yang dilakukan oleh setiap subjek

pendidikan dalam arti menilai, mendukung dan ikut

mengantisipasi terhadap segala hal yang tidak diinginkan.

Dengan kata lain bila di sekitar tempat tinggal keadaan

masyarakatnya tergolong orang-orang yang berpendidikan,

terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya

baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar.


2

c. Karakteristik Pembelajaran Matematika

Karakteristik pembelajaran matematika memiliki ciri-ciri khas,

yang berbeda dengan pembelajaran lainnya. Menurut Suherman

(Selasa,21/02/207) karaktersitik pembelajaran matematika di sekolah

yaitu sebagai berikut:

1) Pembelajaran matematika langsung (bertahap).


Materi pembelajaran diajarkan secara berjenjang atau bertarap
yaitu dari hal konkret ke abstrak, hal yang sederhana ke kompleks
atau konsep mudah ke konsep yang lebih sukar.
2) Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral.
Setiap mempelajari konsep baru perlu memperhatikan konsep
atau bahan yang telah dipelajari sebelumnya. Bahan yang baru selalu
dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajari. Pengulangan konsep
dalam bahan ajar dengan cara memperluas dan memperdalam adalah
perlu dalam pembelajaran matematika (spiral melebar dan naik).
3) Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif.
Matematika adalah deduktif, matematika tersusun secara
deduktif,aksiomatik. Namun demikian harus dapat dipilihkan
pendekatan yang cocok dengan kondisi peserta didik. Dalam
pembelajaran belum sepenuhnya menggunakan pendekatan tetapi
masih campur dengan deduktif.
4) Pembelajaran matematika menganti kebenaran konsistensi.
Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya
merupakan kebenaran konsistensi, tidak bertentangan antara
kebenaran suatu konsep dengan yang lainnya. Suatu pernyataan
dianggap benar bila didasarkan atas pernyataan-pernyataan yang
terdahulu yang telah diterima kebenarannya.

d. Tujuan Pembelajaran Matematika

Secara umum, tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar

adalah agar peserta didik mampu dan terampil menggunakan

matematika. Selain itu juga, dengan pembelajaran matematika dapat

memberikan tekanan penataran nalar dalam penerapan matematika.

Menurut Depdiknas (2001:9), kompetensi atau kemampuan umum

pembelajaran matematika disekolah dasar sebagai berikut:


2

1. Melakukan operasi hitung pejumlahan, pemgurangan, perkalian,

pembagianbeserta operasi campurannya, termasuk yang melibatkan

pecahan.

2. Menentukan sifat unsure berbagai bangun datar dan bangun ruang

sedrhana, termasuk penggunaan sudut, keliling, luas, dan volume.

3. Menentukan sifat simetri, kesebangunan, dan sistem koordinat.

4. Menggunakan pengukuran: satuan, kesetaraan antar satuan dan

penaksiran pengukuran.

5. Menentukan dan menafsirkan data sederhana, seperti: ukuran

tinggi, terendah, rata-rata, modus, mengumpulkan, dan menyajikan.

6. Memecahkan masalah, melakukan penalaran, dan

mengomunikasikan gagasan secara matematika.

Secara khusus, tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar,

sebagaimana yang disajikan oleh Depdikans, sebagai berikut:

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar

konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritme.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan

gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami

masalah, merancang model matematika, meyelesaikan model, dan

menafsirkan solusi yang diperoleh.


2

4. Mengomunikasikan gagasan denngan simbol, tabel, diagram atau

media lain untuk mejelaskan keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai penggunaan metamatika dalam

kehidupan sehari-hari.

3. Model dan Media Pembelajaran

a. Pengertian Model Pembelajaran

Istilah model pembelajaran sering dimaknai sama dengan

pendekatan pembelajaran. Bahkan kadang suatu model pembelajaran

diberi nama sama dengan nama pendekatan pembelajaran. Sebenarnya

model pembelajaran mempunyai makana yang lebih luas dari pada

makna pendekatan, strategi, metode, dan teknik. Model pembelajaran

adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai

pedoman dalam perencanaan di kelas. Dengan kata lain, model

pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang dapat kita

gunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap mukadi

dalam kelas dan untuk menentukan material/perangkat pembelajaran

termasuk didalamnya buku-buku, media (film-film), tipe-tipe, program-

program media komputer, dan kurikulum (sebagai kursus untuk

belajar). Hal ini sejalan dengan pendapat Jocye (Ngalimun,:2016:24-

25)”Earch model guides us as we design instruction to helf student

achieve various objectis”. Artinya, setiap model mengarahkan kita

dalam merancang pembelajaran untuk membantu peserta didik

mencapai tujuan pembelajaran. Sejalan dengan Jocye dan Weil (1992:1)


2

menyatakan “ Models of teaching are really models of learning. As we

help student acquire information, ideals, skills, value, ways of thinking

and means of expessing themselves, we are also teaching them how to

learn” . Artinya, model pembelajaran merupakan model belajar. Atau

memperoleh informasi, ide, ketrampilan, cara berpikir, dan

mengekspresikan ide diri sendiri. Selain itu, model belajar juga

mengajarkan bagaimana mereka belajar. . Arend (Ngalimun:2016:24-

25) memilih istilah model pembelajaran didasarkan pada dua alasan

penting. Pertama, istilah model memliki makna yang yang lebih luas

dari pendekatan, strategi, metode, dan teknik. Kedua, apakah yang

dibicarakan tentang mengajar dikelas, atau praktik mengawasi anak-

anak. Atas dasar pendapat di atas, model pembelajaran dapat

didefinisikan sebagai berikut. Model pembelajaran adalah kerangka

konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik (teratur) dalam

pengorganisasian kegiatan (pengalaman) belajar untuk mencapai tujuan

belajar (kompetensi belajar). Dengan kata lain, model pembelajaran

adalah rancangan kegiatan belajar agar pelaksanaan KBM dapat

berjalan dengan baik, menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan

urutan yang logis.

b. Pengertian Model Pembelajaran CORE

Model pembelajaran CORE dalam Ngalimun (2016:238)

Sintaknya adalah Connecting ( C ) koneksi informasi lama-baru dan

antar konsep, Organizing ( O , organisasi ide untuk memahami materi,


2

Reflecting ( R ) memikirkan kembali, mendalami,dan menggali,

Extending ( E ) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan

menemukan. Adapun keempat aspek tersebut adalah :

1. Connecting (C), Merupakan kegiatan mengoneksikan informasi lama

dan informasi baru danantar konsep.

2. Organizing (O), Merupakan kegiatan mengorganisasikan ide-ide

untuk memahami materi.

3. Reflecting (R), Merupakan kegiatan memikirkan kembali,

mendalami, dan menggali informasiyang sudah didapat.

4. Extending (E), Merupakan kegiatan untuk mengembangkan,

memperluas, menggunakan, dan menemukan.

Calfee et al, juga mengungkapkan bahwa yang dimaksud

pembelajaran model CORE adalah model pembelajaran yang

mengharapkan siswa untuk dapat mengontruksi pengetahuannya sendiri

dengan cara menghubungkan (Connecting) dan mengorganisasikan

(Organizing) pengetahuan baru dengan pengetahuan lama kemudian

memikirkan kembali konsep yang sedang dipelajari (Reflecting) serta

diharapkan siswa dapat memperluas pengetahuan mereka selama proses

belajar mengajar berlangsung (Extending).

c. Karakteristik Pembelajaran Model CORE

Dalam ([Link],06/03/2017) Model pembelajaran

yang menekankan kemampuan berpikir peserta didik untuk


2

menghubungkan, mengorganisasikan, mendalami,mengelola, dan

mengembangkan informasi yang didapat. Dalam model ini aktivitas

berpikir sangat ditekankan kepada peserta didik. Peserta didik dituntut

untuk dapat berpikir kritis terhadap informasi yang didapatnya.

Kegiatan mengoneksikan konsep lama-baru peserta didik dilatih untuk

mengingat informasi lama dan menggunakan informasi/konsep lama

tersebut untuk digunakan dalam informasi/konsep baru. Kegiatan

mengorganisasikan ide-ide, dapat melatih kemampuan peserta didik

untuk mengorganisasikan, mengelola informasi yang telah dimilikinya.

Kegiatan refleksi, merupakan kegiatan memperdalam, menggali

informasi untuk memperkuat konsep yang telah dimilikinya. Extending,

dengan kegiatan ini peserta didik dilatih untuk mengembangkan,

memperluas informasi yang sudah didapatnya dan menggunakan

informasi dan dapat menemukan konsep dan informasi baru yang

bermanfaat.

d. Kelebihan Model CORE

1. Peserta didik aktif dalam belajar.

2. Melatih daya ingat peserta didik tentang suatu konsep/informasi.

3. Melatih daya pikir kritis peserta didik terhadap suatu masalah.

4. Memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik,karena

peserta didik banyak berperan aktif dalam pembelajaran sehingga

pembelajaran menjadi bermakna.


2

e. Kelemahan Model CORE

1. Membutuhkan persiapan matang dari guru untuk menggunakan

model ini.

2. Menuntut peserta didik untuk terus berpikir kritis.

3. Memerlukan banyak waktu.

4. Tidak semua materi pelajaran dapat menggunakan model core.

f. Langkah-Langkah Pembelajaran Model CORE

Dalam Siti Khafidhoh (Selasa,07/03/2017)

1. Connect secara bahasa berarti menyambungkan, menghubungkan,

dan bersambung. Connecting merupakan kegiatan menghubungkan

informasi lama dengan informasi baru atau antar konsep. Informasi

lama dan baru yang akan dihubungkan pada kegiatan ini adalah

konsep lama dan baru. Pada tahap ini peserta didik diajak untuk

menghubungkan konsep baru yang akan dipelajari dengan konsep

lama yang telah dimilikinya, dengan cara memberikan peserta didik

pertanyaan pertanyaan, kemudian peserta didik diminta untuk

menulis hal-hal yang berhubungan dari pertanyaan tersebut. Koneksi

(connection) dalam kaitannya dengan matematika dapat diartikan

sebagai keterkaitan secara internal dan eksternal. Keterkaitan secara

internal adalah keterkaitan antara konsep-konsep matematika yaitu

berhubungan dengan matematika itu sendiri dan keterkaitan secara

eksternal yaitu keterkaitan antara konsep matematika dengan

kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, untuk mempelajari suatu


2

konsep matematika yang baru, selain dipengaruhi oleh konsep lama

yang telah diketahui peserta didik, pengalaman belajar yang lalu dari

peserta didik itu juga akan mempengaruhi terjadinya proses belajar

konsep matematika tersebut. Sebab, seseorang akan lebih mudah

mempelajari sesuatu apabila belajar itu didasari oleh apa yang telah

diketahui orang tersebut.

2. Organize secara bahasa berarti mengatur, mengorganisasikan,

mengorganisir, dan mengadakan. Organizing merupakan kegiatan

mengorganisasikan informasi-informasi yang diperoleh. Pada tahap

ini peserta didik mengorganisasikan informasi-informasi yang

diperolehnya seperti konsep apa yang diketahui, konsep apa yang

dicari, dan keterkaitan antar konsep apa saja yang ditemukan pada

tahap Connecting untuk dapat membangun pengetahuannya (konsep

baru) sendiri. Untuk dapat mengorganisasikan informasi-informasi

yang diperolehnya, setiap peserta didik dapat bertukar pendapat

dalam kelompoknya dengan membuat peta konsep sehingga

membentuk pengetahuan baru (konsep baru) dan memperoleh

pemahaman yang baik.

3. Reflect secara bahasa berarti menggambarkan, membayangkan,

mencerminkan, dan memantulkan. Sagala mengungkapkan refleksi

adalah cara berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan

dalam hal belajar di masa lalu. Reflecting merupakan kegiatan

memikirkan kembali informasi yang sudah didapat. Pada tahap ini


2

peserta didik memikirkan kembali informasi yang sudah didapat dan

dipahaminya pada tahap Organizing. Dalam kegiatan diskusi, peserta

didik diberi kesempatan untuk memikirkan kembali apakah hasil

diskusi/hasil kerja kelompoknya pada tahap organizing sudah benar

atau masih terdapat kesalahan yang perlu diperbaiki.

4. Extend secara bahasa berarti memperpanjang, menyampaikan,

mengulurkan, memberikan, dan memperluas. Extending merupakan

tahap dimana peserta didik dapat memperluas pengetahuan mereka

tentang apa yang sudah diperoleh selama proses belajar mengajar

berlangsung. Perluasan pengetahuan harus disesuaikan dengan

kondisi dan kemampuan yang dimiliki peserta didik. Perluasan

pengetahuan dapat dilakukan dengan cara menggunakan konsep

yang telah didapatkan ke dalam situasi baru atau konteks yang

berbeda sebagai aplikasi konsep yang dipelajari, baik dari suatu

konsep ke konsep lain, bidang ilmu lain, maupun ke dalam

kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan diskusi, peserta didik

diharapkan dapat memperluas pengetahuan dengan cara

mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan konsep yang

dipelajari tetapi dalam situasi baru atau konteks yang berbeda secara

berkelompok.
2

g. Penerapan Model CORE Pada Materi Menyederhanakan Pecahan

dengan Menggunakan Media Konkret ( kertas lingkaran )

Untuk melakasanakan pembelajaran Model CORE, guru perlu

melakukan persiapan yang memadai, agar pelaksanaanya berjalan

dengan lancer sehingga Peserta didik tertarik untuk mengikuti

pembelajaran tersebut.

Langkah-langkah dalam penerapan Model CORE pada materi

pokok menyederhanakan pecahan dengan menggunkan media

Konkret(kertas lingkaran) yaitu :

1. Guru menghubungkan informasi yang lama dengan informasi yang

baru untuk pemahanam peserta didik pada materi menyederhanakan

pecahan.

2. Guru menyajikan informasi kepada peserta didik dengan model

pembelajaran klasikal, kemudian peserta didik diharapakn mampu

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di berikan oleh guru.

3. Guru menyajikan atau mendemonstrasikan dengan menggunakan

media konkret (kertas lingkaran) pada materi menyederhanakan

pecahan dan disertai dengan tanya jawab.

4. Guru meminta peserta didik untuk maju kedepan kelas untuk

menyelesaikan soal yang telah diberikan oleh guru dengan

menggunakan media Konkret (kertas lingkaran).


3

5. Guru membagi peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil. Pada

tahap ini peserta didik menorganisasikan pengetahuan yang telah

dimiliki kesesama temannya sehiingga dapat pengetahuan yang baru.

6. Pada langkah selanjutnya guru memeriksa kembali, hal ini berkaitan

dengan tahap Reflecting. Pada tahap ini peserta didik diberi

kesempatan untuk memikirkan solusi pemecahan masalah yang

sudah mereka dapatkan dari diskusi kelompok maupun diskusi kelas.

Selain itu, guru juga memberi kesempatan kepada peserta didik

untuk menilai kesalahannya sendiri dan belajar dari kesalahan yang

dilakukan.

7. Pada tahap yang terakhir adalah Extending. Peserta didik diberi

kesempatan mengaplikasikan pengetahuan (konsep) yang terbangun

pada tahap sebelumnya ke dalam situasi baru atau konteks yang

berbeda. Pada tahap ini, guru dapat menilai peserta didik yang

mengikuti pembelajaran dengan benar dan peserta didik yang hanya

mengikuti pembelajaran tanpa memahami materi yang sedang

dipelajari. Dengan tahap Extending ini, memberi penguatan kepada

peserta didik atas memori yang terbangun pada tahap sebelumnya

dan membuat peserta didik terbiasa mengaplikasikan

pengetahuannya (konsep yang dipelajari) ke dalam situasi baru atau

konteks yang berbeda.


3

h. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harafiah

berarti ‟tengah‟,‟pertama‟ atau „pengantar‟. Dalam bahasa Arab, media

adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima

pesan. Gerlach & Ely ( dalam Azhar Arsyad:2016:3) mengatakan

bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia,

materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat peserta

didik mampu memperoleh pengetahuan, ketermapilan, atau sikap.

Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah

merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses

belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis,

photografis, atau elektronis untuk menangkap, memperoses, dan

menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Batasan lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian

diantaranya akan diberikan berikut ini. AECT (Associantion of

Education and Communication Tekhnology, 1997) memberi batasan

media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk

menyampaikanpesan atau informasi. Di samping sebagai sistem

penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata

mediator menerut Fleming ( 1987:234 ) adalah penyebab atau alat yang

turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan

istilah mediator media menunjukan fungsi atau perannya, yaitu

mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses
3

belajar-peserta didik dan isi pelajaraan. Di samping itu, mediator dapat

pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pembelajaran yang

melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampaia kepada peralatan

paling canggih, dapat disebut media. Ringkasnya, media adalah alat

yang menyaampaikan atau mengantarkan pesen-pesan pembelajaran.

i. Media Benda Konkret

Menurut Ibrahim dann Nana Syaodih “menyatakan bahwa “media

benda konkret adalah objek yang sesungguhnya yang akan

memberikan rangsangan yang amat penting bagi peserta didik

dalam mempelajari berbagai hal, terutama yang menyangkut

pengembangan keterampilan tertentu”.”Pengertian media benda

konkret juga dapat diartikan alat peraga seperti yang dikemukakan

oleh Subari (1994:95), bahwa “alat peraga adalah alat yang

digunakan oleh pengajar untuk mewujudkan atau

mendemonstrasikan bahan pengajaran guna memberikan pengertian

atau gambaran yang sangat jelas tentang pelajaran yang diberikan.”

Selanjutnya Subari juga menjelaskan bahwa ditinjau dari sifatnya alat

peraga dibedakan menjadi tiga, yaitu: alat-alat peraga yang asli, alat-

alat peraga dari benda pengganti, alat-alat yang terbuat dari benda

abstrak. Berdasarkan tiga macam alat peraga yang disebutkan,

masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda-beda.

Pengertian yang berkaitan dengan media benda konkret yaitu alat

peraga yang asli, dimana menurut Subari “alat-alat peraga yang asli
3

maksudnya adalah benda-benda yang digunakan untuk alat peraga itu

benda yang sebenarnya.”

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, dapat

disimpulkan bahwa Benda Konkret ini merupakan benda yang

sebenarnya, benda/media yang membantu pengalaman nyata peserta

didik. Media benda konkret memiliki fungsi selain untuk memberi

pengalaman nyata dalam kehidupan peserta didik juga berfungsi untuk

menarik minat belajar peserta didik.

B. Penelitian Yang Relavan

1. Model pembelajaran CORE ini patut dijadikan salah satu metode yang

digunakan dalam melakukan pembelajaran yang lebih inovatif. Penelitian

yang dilakukan oleh Sumiah (2013) dengan judul Peningkatan

Peningkatan Hasil Belajar IPA Dengan Menerapkan Model CORE

(Connection, Organizing, Reflecting, Extending) Peserta didik kelas V SD

Wonorejo 02 Kabupaten Pati Semester I/2013-2014.

Perbedaan penelitian Relavan dengan penelitian punya peneliti yaitu:

1. Judul ini menggunakan Media konkret yaitu kertas lingkaran.

2. Peserta Didik pada kelas IVB.

3. Penelitian ini dilakukan di SD Muhammadiyah Selat Kuala Kapuas.

4. Penelitian ini dilakukan di semester II pada tahun Pelajaran 2016/2017.


3

C. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir merupakan gambaran pola hubungan antara variabel

atau kerangka konseptual yang akan digunakan untuk memecahkan masalah

yang diteliti. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini disajikan melalui

bagan berikut:
Gambar 1.
Bagan Kerangka Berpikir
Kondisi Guru Menggunakan Model Hasil belajar
awal CORE Matematika
Rendah

Tindakan Guru menggunakan model Siklus I


CORE

Kondisi Hasil belajar Matematika


meningkat Siklus II
akhir
3

D. Hipotesis Tindakan

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), hipotesis adalah sesuatu

yang dianggap benaruntuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori, proposisi,

dan sebagainya) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan.

Nasution (2000), menyatakan bahwa hipotesis adalah pernyataan

tentative yang merupakan dugaan mengenai apa saja yang sedang kita amati

dalam usaha untuk memahaminya.

Zikmund (1997), mengemukakan bahwa hipotesis adalah proposisi atau

dugaan yang belum terbukti yang secara tentative menerangkan fakta-fakta

atau fenomena tertentu dan juga merupakan jawaban yang memungkinkan

terhadap suatu pertanyaan.

Jadi, hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan sementara atas

sesuatu yang belum tentu kebenarannya dan harus dilakukan pembuktian atau

penelitian.

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka hipotesis yang peneliti

berikan adalah sebagai berikut:

1. Aktivitas belajar Matematika dengan menggunakan model pembelajaran

CORE pada peserta didik kelas IVB SDS Muhammadiyah Selat menjadi

baik.

2. Ada peningkatan hasil belajar Matematika dengan menggunakan model

pembelajaran CORE dengan menggunakan media konkret (kertas

lingkaran) pada peserta didik kelas IVB SDS Muhammadiyah.

Anda mungkin juga menyukai