Stabilitas Masker Clay Biji Salak Wedi
Stabilitas Masker Clay Biji Salak Wedi
Yani’ Qoriati1, Romadhiyana Kisno Saputri2*, Akhmad Al-Bari3, Rizka Amelya4, Vilisa Ayu Wulandari5
1,2,3,4,5
Program Studi Farmasi, Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri, Bojonegoro, Indonesia
Email: [Link]@[Link]
*corresponding author
ABSTRAK
Kulit mudah terpapar kotoran, sinar matahari dan polusi sehingga sangat rentan mengalami gangguan. Masker clay
merupakan salah satu jenis masker wajah yang mudah digunakan, populer dan dapat menyebabkan kulit wajah
menjadi bersih dan lebih cerah. Masker clay dengan tambahan ekstrak bahan alam telah dikembangkan dan terbukti
memiliki efektivitas sebagai antioksidan, antibakteri dan antiaging yang berasal dari bahan aktif yang terdapat pada
bahan alam. Biji salak memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri dan antiaging sehingga memiliki potensi besar untuk
dikembangkan menjadi masker clay. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi kestabilan masker clay
serbuk biji salak Wedi dan mengetahui formulasi terbaik masker clay serbuk biji salak Wedi. Pembuatan serbuk biji
salak Wedi dilakukan dengan metode pembuatan simplisia dengan modifikasi penambahan proses perebusan dan
penyangraian. Serbuk biji salak wedi yang dihasilkan berupa butiran halus, berwarna coklat gelap dengan aroma khas
kopi. Masker clay dengan tambahan serbuk biji salak dibuat dengan 4 formulasi dengan perbedaan jumlah serbuk biji
salak. Hasil evaluasi organoleptis menunjukkan bahwa warna sediaan berkisar warna putih kecoklatan hingga warna
abu gelap dengan bau wangi dan tekstur semipadat, nilai pH berkisar 6,13 hingga 7,01. Masker clay tidak stabil secara
organoleptik pada semua formula. Formula masker clay F4 yang paling baik berdasarkan uji pH, homogenitas, daya
sebar, daya lekat dan waktu kering yang sesuai persyaratan masker clay.
ABSTRACT
The skin is easily exposed to dirt, sunlight and pollution so it is very susceptible to disturbances. Clay mask is one
type of face mask that is easy to use, popular and can cause facial skin to become clean and brighter. Clay masks with
additional extracts of natural ingredients have been developed and proven to have effectiveness as antioxidants,
antibacterial and antiaging derived from active ingredients contained in natural ingredients. Salak seeds have
antioxidant, antibacterial and antiaging activities so they have great potential to be developed into clay masks. The
purpose of this study was to evaluate the stability of Wedi salak seed powder clay mask and determine the best
formulation of Wedi salak seed powder clay mask. The preparation of Wedi salak seed powder was carried out by the
method of making simplisia with the modification of adding the boiling and roasting process. Wedi salak seed powder
produced in the form of fine granules, dark brown in colour with a distinctive aroma of coffee. Clay masks with added
salak seed powder were made with 4 formulations with different amounts of salak seed powder. Organoleptic
evaluation results showed that the colour of the preparation ranged from brownish white to dark ash colour with a
fragrant smell and semisolid texture, pH value ranged from 6,13 to 7,01. Clay masks are organoleptically unstable in
all formulas. The best F4 clay mask formula is based on pH, homogeneity, spreadability, stickiness and dry time tests
that meet the requirements for clay masks.
Page | 502
P a g e | 503
PENDAHULUAN
Kulit merupakan bagian tubuh manusia paling luar yang mudah terpapar kotoran, sinar matahari
dan polusi sehingga sangat rentan mengalami gangguan atau permasalahan (Rohmah & Maspiyah, 2016).
Masalah kulit yang umum terjadi pada manusia diantaranya kulit kering, kulit kasar, kulit berjerawat, ruam,
dermatitis kontak/iritasi kulit, lecet/kehilangan lapisan epidermis (Irjayanti et al., 2023). Penelitian yang
dilakukan pada wanita usia 15-60 tahun dengan mayoritas domisili di pulau Jawa menunjukkan 60,7%
responden memiliki komedo, 57,8% responden bermasalah dengan jerawat, 41% responden memiliki kulit
berminyak, 36,1% responden memiliki kulit kusam, 30,3% responden memiliki kulit kering (Kevin et al.,
2018). Gangguan kulit wajah dapat dicegah dengan pengaplikasian kosmetik topikal seperti krim, serum,
masker wajah dan lotion yang dapat melembabkan kulit, memperbaiki struktur kulit, membersihkan pori-
pori, meremajakan dan mengencangkan kulit. Penggunaan kosmetik untuk kesehatan kulit disesuaikan
dengan jenis kulit. Pada kulit berminyak, kosmetik digunakan untuk menurunkan kadar sebum,
melembabkan dan menghaluskan kulit, sedangkan pada kulit kering, kosmetik memiliki peran untama
untuk melembabkan kulit ((Fahruri & Sinta Megasari, 2020)AF & Fidiastuti, 2019).
Masker clay merupakan salah satu jenis masker wajah yang mudah digunakan dan sedang populer.
Aplikasi masker clay dengan cara mengoleskan pada wajah, menunggu kering dan membilas wajah setelah
beberapa saat (Ginting et al., 2022). Masker clay menggunakan bahan dasar bentonit dan kaolin (Dona
Indriastuti et al., 2022). Masker clay dapat membersihkan pori-pori tersumbat, mengencangkan kulit wajah
dan meremajakan kulit wajah dengan cara mengangkat kotoran serta komedo yang ada di wajah sehingga
kulit wajah menjadi bersih dan lebih cerah (Safilla et al., 2022). Pengembangan masker clay saat ini
mengarah pada penambahan bahan alam yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, khususnya
bakteri penyebab jerawat dan antiaging. Salah satu bahan alam yang dapat dikembangkan menjadi bahan
aktif pada masker clay adalah biji salak Wedi. Salak Wedi merupakan salak lokal yang berasal dari
Kabupaten Bojonegoro. Buah salak memiliki kandungan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan
(Ghofur et al., 2021). Kulit buah salak Wedi terbukti memiliki aktivitas antioksidan dalam kategori kuat
sehingga memungkinkan bagian lain dari buah salak Wedi seperti biji atau daging buah juga memiliki
aktivitas antioksidan (Saputri & Al-bari, 2023). Biji Salak Wedi yang merupakan bagian dari buah salak
Wedi diduga memiliki aktivitas antioksidan dan dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk sediaan
masker clay. Bahan tambahan (additional ingredients) pada kosmetik dapat berupa humektan, vitamin, dan
antioksidan dengan kadar maksimum sebesar 5% dari bobot total sediaan. Masker clay dengan tambahan
serbuk biji salak Wedi diharapkan dapat menambah fungsi masker selain sebagai pembersih tapi juga
sebagai sumber antioksidan alami.
Formulasi masker clay dari bahan alam diharapkan stabil agar efektivitas formula dan kemampuan
penetrasi ke bagian dalam kulit terjaga. Formula yang optimal harus dibarengi dengan stabilitas yang baik
(Sunnah et al., 2019). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi dan evaluasi kestabilan masker
clay dengan tambahan serbuk biji salak Wedi.
METODE PENELITIAN
Pembuatan Serbuk Biji Salak Wedi
Pembuatan serbuk biji salak Wedi dilakukan dengan mengumpulkan biji salak Wedi lalu
dibersihkan dari kotoran dan bagian buah yang masih menempel. Biji salak yang telah bersih kemudian
dikeringkan di bawah sinar matahari hingga kering lalu disangrai selama kurang lebih 30 menit. Biji salak
kering yang telah disangrai kemudian digiling hingga dihasilkan serbuk. Serbuk biji salak diayak
menggunakan mesh 60 (Prayogo et al., 2016).
Pembuatan Masker Clay Serbuk Biji Salak Wedi
Formulasi masker clay serbuk biji salak Wedi dibuat dalam 4 formulasi yang memiliki perbedaan
pada konsentrasi serbuk biji salak Wedi yang digunakan seperti yang disajikan pada tabel 1. Pembuatan
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024
P a g e | 504
masker clay dimulai dengan menimbang bahan sesuai dengan formulasi. Bentonite dimasukkan dalam
mortar dan dilarutkan dengan aquadest. Setelah larut, xanthan gum ditambahkan dan digerus hingga
homogen. Selanjutnya ditambahkan kaolin secara perlahan, titanium dioksida (TiO2) dan gliserin sambil
terus digerus hingga rata. Pada bagian lain, dibuat larutan 1 yang terdiri dari asam askorbat dan natrium
benzoat dilarutkan pada air panas dan larutan 2 yang terdiri dari texapon dengan aquadest. Larutan 1
dimasukkan ke campuran dalam mortar sedikit demi sedikit sambil digerus hingga homogen. Setelah
homogen ditambahkan larutan 2 sedikit demi sedikit dan ditambahkan serbuk biji salak Wedi sambil tetap
digerus sampai terbentuk pasta yang homogen (Ningsih et al., 2023).
Tabel 1. Formulasi Masker Clay Serbuk Biji Salak Wedi
Formulasi (gram)
Bahan Fungsi
F1 F2 F3 F4
Serbuk Biji Salak Wedi Bahan Aktif 0 1 2,5 5
Kaolin Adsorben; suspending agent 25 25 25 25
Bentonite Adsorben; stabilizing agent 1 1 1 1
Xanthan Gum Suspending & stabilizing agent 0,8 0,8 0,8 0,8
Gliserin Humektan, emolien 2 2 2 2
Texapon Pembersih dan pembasah 2 2 2 2
Titanium Dioksida Zat warna 0,5 0,5 0,5 0,5
Asam Askorbat Antioksidan 0,2 0,2 0,2 0,2
Natrium Benzoat Pengawet 0,1 0,1 0,1 0,1
Aquadest Pelarut Add 100 Add 100 Add 100 Add 100
Pengujian pH
Uji pH bertujuan untuk mengetahui pH dari masker clay yaitu bersifat asam ataupun basa
menggunakan pH meter. Pengukuran pH dilakukan dengan menimbang 1 gram masker clay dan dilarutkan
dalam aquades sampai 100 ml. Kemudian diukur pH menggunakan pH meter digital. Sebelum digunakan,
pH meter digital dikalibrasi terlebih dahulu dengan larutan dapar pH 4,01 dan pH 6,86. Selanjutnya
elektroda pH meter diguyur aquades sebelum dimasukkan dalam larutan masker clay dan aquades (Febriani
et al., 2021). Pengukuran pH dilakukan pada minggu ke 1, 2, 3, dan 4.
Pengujian Homogenitas
Uji homogenitas dipraktikkan dengan metode visual, yang melibatkan pemeriksaan terhadap
adanya butiran atau partikel yang kasar dalam masker clay. Prosesnya dimulai dengan penempatan masker
clay di dalam gelas objek yang kemudian ditutup dengan gelas objek lain. Peneliti kemudian melakukan
observasi terhadap keberadaan butiran kasar atau partikel di gelas objek tersebut, dengan melakukan
pengamatan dari minggu ke 1 sampai 4 (Sholikhah & Apriyanti, 2020)
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024
P a g e | 505
gram kemudian dilepaskan, dan waktu yang dibutuhkan bagi kedua kaca objek untuk terlepas dicatat.
Percobaan ini diulang sebanyak 4 kali untuk setiap formula yang diuji (Dipahayu et al., 2021).
Analisis Data
Evaluasi stabilitas dilakukan melalui evaluasi fisik dengan parameter uji organoleptis, uji pH, uji
homogenitas, uji daya lekat, uji daya sebar, dan uji waktu kering selama 4 minggu penyimpanan dengan
perbedaan suhu penyimpanan. Analisis data yang digunakan yaitu secara deskriptif pada uji evaluasi fisik
masker clay dengan tambahan biji kopi salak Wedi.
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024
P a g e | 506
Gambar 2. Formulasi Masker Clay dengan tambahan Sebuk Biji Salak Wedi
Pengujian Organoleptik
Evaluasi stabilitas masker clay serbuk biji salak Wedi dilakukan menggunakan parameter
organoleptik dengan pengamatan pada minggu ke-1, minggu ke-2, minggu ke-3 dan minggu ke-4 dengan
hasil yang disajikan pada tabel 1. Uji organoleptik menunjukkan bahwa warna sediaan berkisar warna putih
kecoklatan hingga warna abu gelap dengan bau wangi dan tekstur semipadat. Namun pada minggu ketiga,
diketahui bahwa mulai tumbuh jamur. Pertumbuhan jamur dihubungkan dengan penggunaan pengawet.
Beberapa pengawet atau anti mikroba yang dapat ditambahkan pada sediaan kosmetik antara lain metil
paraben, propil paraben, natrium benzoat dan dmdm hydantoin. Pengawet dapat digunakan untuk
pencegahan pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri, virus dan jamur sehingga dapat memperpanjang
masa simpan sediaan kosmetiks serta dapat meningkatkan stabilitas fisik dan mikrobiologi dari sebuah
sediaan farmasi (Apristasari, 2019). Pengawet yang digunakan adalah natrium benzoat karena mudah larut
dan dianggap lebih aman dibandingkan golongan paraben. Paraben ditemukan berpengaruh pada siklus
menstruasi, efek genotoksik dan efek sitotoksik (Asjur et al., 2023; Fathimah Effendy, 2022). Tumbuhnya
jamur pada masker clay disebabkan karena kurang optimal pemilihan jumlah dan jenis pengawet atau
antimikroba yang digunakan. Pengawet dalam sediaan kosmetik dapat ditambahkan hingga 0,5%, pada
formulasi masker clay dengan tambahan serbuk biji salak Wedi, natrium benzoat yang ditambahkan hanya
0,1%. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang menggunakan natrium benzoat sebagai pengawet
sediaan water based pomade yang menunjukkan sediaan tidak menunjukkan tanda-tanda adanya jamur
hingga minggu keempat. Hal ini karena natrium benzoat yang digunakan konsentrasi 0,2 dan 0,5% (Dewi,
2016).
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024
P a g e | 507
Tabel 2. Hasil Evaluasi Organoleptik Masker Clay dengan tambahan Sebuk Biji Salak Wedi
Pengujian pH
Nilai pH merupakan nilai yang menyatakan tingkat keasaman yang berhubungan dengan keamaan
sediaan saat digunakan. Nilai pH sediaan masker menurut SNI 16-4399-1996 sebsesar 4,5-8,0 (Khoirunnisa
et al., 2022). Nilai pH sediaan disajikan pada gambar 2. Berdasarkan tabel 2, diketahui pH sediaan berkisar
6,2 hingga 7,1 yang menunjukkan semua sediaan memiliki nilai pH yang masih dalam rentang aman bagi
kulit. Setiap formulasi memiliki tren perubahan nilai pH yang berbeda. Hasil analisa statistik menggunakan
one way ANOVA, perubahan nilai pH tidak signifikan pada semua kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa
sediaan stabil. Nilai pH sediaan dipengaruhi oleh beberapa hal seperti bahan yang digunakan, penggunaan
dapat dan suhu penyimpanan. Penambahan bahan yang bersifat asam akan menyebabkan sediaan bersifat
asam (Fauziah et al., 2022; Sutjahjokartiko, 2017). Pada penelitian ini nilai pH dipengaruhi oleh bahan
yang tidak menggunakan sumber asam dan suhu penyimpanan yang menggunakan suhu ruang.
Tabel 3. Hasil Uji pH Masker Clay dengan tambahan Sebuk Biji Salak Wedi
Pengujian Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui adanya butiran kasar yang tidak tercampur sempurna
selama proses pembuatan masker clay. Menurut hasil yang didapat pada uji homogenitas pada formulasi
minggu ke 1 sampai 4 semua sediaan masker clay tidak ditemukan butiran kasar ketika sediaan
ditempatkan diatas gelas objek yang menandakan hasilnya homogen. Homogenitas dalam pembuatan
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024
P a g e | 508
masker clay dengan tambahan serbuk biji salak Wedi dipengaruhi oleh konsistensi ukuran partikelnya.
Keseragaman ini penting untuk memastikan aplikasi masker dapat merata di kulit. Sehingga, kualitas
masker clay serbuk biji salak Wedi dapat terjamin saat digunakan.
Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Masker Clay dengan tambahan Sebuk Biji Salak Wedi
Tabel 5. Hasil Uji Daya Lekat Masker Clay dengan tambahan Sebuk Biji Salak Wedi
Formula Waktu
F1 0,83 detik
F2 0,98 detik
F3 0,82 detik
F4 1,31 detik
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024
P a g e | 509
Tabel 6. Hasil Uji Daya Sebar Masker Clay dengan tambahan Sebuk Biji Salak Wedi
Tabel 7. Hasil Uji Waktu Kering Masker Clay dengan tambahan Sebuk Biji Salak Wedi
Formula Suhu Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3 Minggu ke-4
Ruang 10 menit 11 menit 16.08 menit 17.25 menit
F1
Dingin 10 menit 11.13 menit 12.20 menit 11.33 menit
Ruang 10 menit 11 menit 14.47 menit 9 menit
F2
Dingin 13 menit 15.23 menit 11.53 menit 11.29 menit
Ruang 12 menit 10 menit 16.00 menit 9.07 menit
F3
Dingin 10 menit 17.41 menit 12.08 menit 13.38 menit
Ruang 12 menit 10 menit 15.03 menit 17.31 menit
F4
Dingin 13 menit 17.54 menit 15.32 menit 13.38 menit
KESIMPULAN
Hasil penelitian yang telah dilakukan didapat formula masker clay F4 yang paling baik berdasarkan
uji pH, homogenitas, daya sebar, daya lekat dan waktu kering yang sesuai persyaratan masker clay. Masker
clay dari formula F1, F2, F3, dan F4 tidak stabil secara organoleptik karena pada minggu ke 3 sampai 4
terdapat jamur yang ada pada sediaan masker clay.
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024
P a g e | 510
REFERENSI
AF, S. M., & Fidiastuti, H. R. (2019). Efektivitas Natural Face Mask dalam Meningkatkan Kelembaban
Kulit Wajah. Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 7(3), 138–148.
Ambarwati, N., Kiromah, N. Z. W., & Rahayu, T. P. (2021). Formulasi dan Efek Antioksidan Masker Gel
Peel Off Ekstrak Daun Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.). Jurnal Farmasi Klinik Dan Sains,
1(1), 37–45.
Apristasari, O. (2019). Pengaruh Perbandingan Natrium Benzoat dan DMDM Hydantoin Terhadap
Stabilitas Fisik dan Mikrobiologi Sediaan Semprot Wajah Ekstrak Bengkuang dan Ekstrak Kubis
Ungu. In Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.
Hamka.
Ardhany, D. S., Kusmawardani, E., Suling, C. A., Dzuary, H. F., & Novaryantiin, S. (2022). Clay Mask
Papilak (Mussaenda frondosa L .) terhadap Bakteri Penyebab Acne Vulgaris. Jurnal Ilmu
Kefarmasian, 3(2), 110–117.
Asjur, A. V., Santi, E., Musdar, T. A., Saputro, S., & Rahman, R. A. (2023). Formulasi dan Uji Aktivitas
Antioksidan Sediaan Face Mist Ekstrak Etanol Kulit Apel Hijau (Pyrus malus L.) dengan Metode
DPPH. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 5(3), 297–305. [Link]
Dewi, D. P. M. S. (2016). Pengaruh Konsentrasi Pengawet Natrium Benzoat Terhadap Karakteristik,
Stabilitas Fisika & pH pada Water Based Pomade yang Mengandung Ekstrak Aloe Vera. Calyptra:
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 5(2), 1–12.
Dian Ardhany, S., Kusumawardhani, E., Artea Suling, C., Haya Dzuary, F., Novaryatiin, S., Studi DIII
Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, P., Raya, P., &
Tengah, K. (2022). Clay Mask Papilak (Mussaenda frondosa L.) terhadap Bakteri Penyebab Acne
Vulgaris. Jurnal Ilmu Kefarmasian, 3(2).
Dipahayu, D., Ayu, K., & Lestari, P. (2021). Artikel Penelitian Physical Evaluation of Anti Acne Mask
With Ethanol Extract of Purple Sweet Potato Leaf (Ipomoea batatas (L.) Antin-3 Varieties. Journal
Pharmasci (Journal of Pharmacy and Science), 6(2).
Dona Indriastuti, Mentari Luthfika Dewi, & Sani Ega Priani. (2022). Literature Review Formulasi Sediaan
Masker Clay Antioksidan. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2), 1129–1135.
[Link]
Fathimah Effendy, N. A. (2022). Dampak Pengawet Paraben Terhadap Kesehatan Manusia: Literature
Review. Jurnal Penelitian Dan Kajian Ilmiah Kesehatan Politeknik Medica Farma Husada
Mataram, 8(2), 76–82. [Link]
Fauziah, F., Alvanny, N., & Andalia, K. (2022). Formulasi dan Evaluasi Masker Clay Anti Jerawat dari
Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica papaya L.). Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 4(3), 306–
320. [Link]
Febriani, Y., Sudewi, S., & Sembiring, R. (2021). Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Masker
Clay Ekstrak Etanol terong Belanda (Solanum betaceum Cav.). Indonesian Journal of
Pharmaceutical Science and Technology, 1(1), 22–30. [Link]
Ghofur, A., Efendi, Y., Rizal Nur Irawan, M., Manajemen, M., Ekonomi, F., & Islam Lamongan, U.
(2021). Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pemanfaatan Limbah Kulit Salak Menjadi Produk
Unggul Melalui Model Industri Kreatif Di Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro. Community
Engagement & Emergence Journal, 2, 91–98. [Link]
Ginting, O.S., & Siregar, S.S. (2022). Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Masker Clay Dari Kombinasi
Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carita papaya L.) Dan Labu Kuning (Cucurbita moschata). Forte
Journal, Vol 2, No. 1, 22-31.
Irjayanti, A., Wambrauw, A., Wahyuni, I., & Maranden, A. A. (2023). Personal Hygiene dengan Kejadian
Penyakit Kulit. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 12(1), 169–175.
Karta, I. W., N K Eva Susila, L. A., Mastra, I. N., & Dikta, P. G. A. (2015). Kandungan Gizi Pada Kopi
Biji Salak (Salacca zalacca) Produksi Kelompok Tani Abian Salak Desa Sibetan yang Berpotensi
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024
P a g e | 511
Sebagai Produk Pangan Lokal Berantioksidan dan Berdaya saing. Jurnal Virgin, Jilid, 1(2), 123–
133.
Kevin, A., Kusuma, C., Hertati, E., Fitriani, K. A., & Wirawan, V. (2018). Analisa Tren Skin Care Natural
Terhadap Preferensi Konsumen. Indonesian Business Review, 1(1), 130–142.
[Link]
Khoirunnisa, S. M., Dirga, D., Setyawan, I. A., & Akhmad, A. D. (2022). Formulasi Sediaan Masker Gel
Peel-off Limbah Kulit Pisang Ambon (Musa paradisiaca [Link]) sebagai Antioksidan.
Jurnal Farmasi Malahayati, 5(1), 33–47. [Link]
Ningsih, W. P., Widiastuti, R., & Eltivitasari, A. (2023). Formulasi dan Uji Karakteristik Fisik Sediaan
Masker Clay Serbuk Biji Kopi Robusta (Coffea robusta. Sinteza, 3(1), 1–8.
[Link]
Prayogo, K., Wulandari, W., & Suhartatik, N. (2016). Pembuatan Kopi Biji Salak (Salacca zalacca)
Dengan Variasi Lama Penynagraian Dan Penambahan Bubuk Jahe. Jurnal Teknologi Dan Industri
Pangan, 1(2), 69–78.
Rohmah, F. A., & Maspiyah. (2016). Pemanfaatan Ampas Kedelai Putih Dan Ampas Kopi Dengan
Perbandingan Berbeda Dalam Pembuatan Lulur Tradisional Untuk Perawatan Tubuh. E-Journal,
05(3), 72–79.
Safilla, A., Ardana, M., & Rijai, L. (2022). Formulasi Masker Clay Ekstrak Kelopak Bunga Rosella
(Hibiscus sabdariffa L.) sebagai Antioksidan. Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals
Conferences, 15, 25–29. [Link]
Saputri, R. K., & Al-bari, A. (2023). Karakteristik dan Uji Antioksidan Sabun Transparan Ekstrak Kulit
Salak Wedi. Forte Journal, 03(2), 183–191.
Saputri, R. K., & Pitaloka, R. I. K. (2021). Buku Ajar Farmakognosi. In Angewandte Chemie International
Edition, 6(11), 951–952.
Sholikhah, M., & Apriyanti, R. (2020). Formulasi Dan Karakterisasi Fisik Masker Gel Peeloff Ekstrak
Lengkuas (Alpinia galanga,(L.) Sw). Jurnal Ilmu Farmasi Dan Farmasi Klinik, 16(02), 99–104.
Sunnah, I., Mulasih, W. S., Mariani, S., & Erwiyani, A. R. (2019). Uji Stabilitas Formula Optimal Sediaan
Topikal Ekstrak Biji Labu Kuning (Cucurbita Maxima). Avicenna : Journal of Health Research,
2(1), 48–57. [Link]
Sutjahjokartiko, S. (2017). Pengaruh Konsentrasi Pengawet DMDM Hydantoin terhadap Karakteristik,
Stabilitas Fisika & pH pada Water Based Pomade yang Mengandung Ekstrak Aloe Vera. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 6(2), 553.
Syamsidi, A., Syamsuddin, A. M., & Sulastri, E. (2021). Formulation and Antioxidant Activity of Mask
Clay Extract Lycopene Tomato (Solanum lycopersicum L.) with Variation of Concentrate
Combination Kaoline and Bentonite Bases. Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of
Pharmacy)(e-Journal), 7(1), 77–90.
Qoriati, Y., [Link] Forte Journal, Vol. 04, No. 02, Juli 2024