Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2, No. 2 April 2022, Hal.
217-223
DOI: [Link]
Pengolahan Bahan Alam dalam Upaya Meningkatkan Daya Tahan
Tubuh di Era Pandemi
Putu Gita Maya Widyaswari Mahayasih*1, Silviana Dewi2, De Vita Enjelin3, Rafi Perdana Tamher4,
Megawati5, Sri Teguh Rahayu6, Tria Saras Pertiwi7
1,2,3,4,5,6Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia
7Program Studi Management Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul,
Indonesia
*e-mail: [Link]@[Link].id1
Abstrak
Jamu merupakan pengobatan tradisional yang mampu mengatasi masalah kesehatan salah satunya
untuk memperkuat sistem imun tubuh. Pengobatan pada zaman sekarang kebanyakan menggunakan
pengobatan modern tetapi jamu masih banyak peminat dikalangan masyarakat perkotaan maupun
pedesaan. Tujuan dalam kegiatan KKN ini untuk memberikan sosialisasi mengenai pelatihan bagaimana
cara pengolahan bahan alam dalam upaya meningkatkan daya tahan tubuh di era pandemi. Sebagai
sasaran adalah warga Rw.09 Kel. Jembatan Besi Kec. Tambora, Jakarta Barat khususnya ibu rumah tangga.
Metode pelaksaan kegiatan ini yaitu dengan memberikan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat serta
pembagian leaflet, masker, hand sanitizer, pemasangan poster dan pembagaian hasil produksi jamu kepada
masyarakat setempat. Hasil dari kegiatan ini terdapat peningkatan pemahaman pada warga RW. 09 dari
hasil kuesioner yang sudah didapat menunjukkan bahwa warga RW. 09 dapat memahami mengenai macam-
macam jamu, khasiat jamu, cara pembuatan jamu dengan baik dan benar.
Kata kunci: COVID-19, Jamu, Obat Tradisional, Peningkat Imun
Abstract
A Jamu is a traditional medicine that can overcome health problems, one of which is to strengthen
the body's immune system. Medicine today mostly uses modern medicine, but herbal medicine is still a lot of
interest among urban and rural communities. The purpose of this activity is to provide socialization
regarding training on how to manage natural materials to increase body resistance in the pandemic era. As
targets are residents of RW.09, Jembatan Besi, Tambora, West Jakarta, especially housewives. The method of
this activity is by providing socialization and education to the community as well as distributing leaflets,
masks, hand sanitizers, installing posters and distributing herbal products to the local community. The result
of this activity is that there is an increase in the understanding of the residents of RW.09 from the results of
the questionnaires that have been obtained showing that the residents of RW.09 can understand about
various kinds of herbal medicine, the efficacy of herbal medicine, how to make herbal medicine properly and
correctly.
Keywords: COVID-19, Imun booster, Jamu, Traditional medicine
1. PENDAHULUAN
Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama kurang lebih 1 tahun, telah
berdampak pada berbagai aspek kehidupan manusia, baik kesehatan maupun ekonomi. Hingga
saat ini, di Indonesia, jumlah yang telah terkonfirmasi positif COVID-19 telah lebih dari 4 juta
penduduk, sementara jumlah kasus yang meninggal mencapai lebih dari 100.000 jiwa[1]. Data
ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan belum ditemukannya prosedur
pencegahan dan pengobatan COVID-19 yang efektif.
Beberapa upaya pencegahan maupun pengobatan telah diupayakan oleh pemerintah
untuk dapat mengendalikan penyebaran penyakit COVID-19 ini. Selain penerapan 5M (Memakai
masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, Menghindari kerumunan, dan Mengurangi mobilitas),
salah satu cara yang juga disarankan untuk mencegah COVID-19 adalah dengan anjuran menjaga
imunitas tubuh, baik dengan mengkonsumsi vitamin C maupun suplemen atau bahan herbal
peningkat daya tahan tubuh, olahraga yang teratur, maupun secara rutin berjemur dibawah
sinar matahari untuk meningkatkan produksi vitamin D[2][3]. Menanggapi hal ini, Kementerian
P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 217
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2, No. 2 April 2022, Hal. 217-223
DOI: [Link]
Kesehatan RI mengeluarkan surat edaran No. HK.02.02/IV.2243/2020 tentang Pemanfaatan
Obat Tradisional untuk Pemeliharaan Kesehatan, Pencegahan Penyakit, dan Perawatan
Kesehatan[4]. Di dalam surat edaran ini memuat beberapa contoh ramuan tanaman obat yang
dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga cocok untuk dikonsumsi di masa pandemi
COVID-19 ini.
Salah satu daerah yang juga terdampak pandemic COVID-19 dan juga pernah dilaporkan
sebagai salah satu daerah zona merah adalah di Jl. Duri Bangkit RW. 09 Kelurahan Jembatan
Besi, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat. Wilayah ini tergolong wilayah yang padat
penduduk dengan mata pencaharian kepala keluarga penduduk setempat yang beragam, baik
sebagai pedagang, tukang ojek, maupun karyawan swasta. Sementara itu mayoritas profesi ibu-
ibu daerah ini adalah sebagai ibu rumah tangga, dimana beberapa diantaranya memiliki
pekerjaan sampingan sebagai penjahit, buruh cuci maupun jualan aneka aksesoris/bahan
pangan. Tingkat pendidikannya beragam, namun mayoritas lulusan SMA. Akses jalan ke RW 09
kelurahan Jembatan Besi telah beraspal walaupun harus melewati gang kecil dan berjarak
sekitar 500 m dari jalan besar. Jalan cukup mudah diakses oleh pejalan kaki maupun kendaraan
roda dua.
Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama hampir 2 tahun telah mempengaruhi
berbagai aspek kehidupan masyarakat di RW.09 Kelurahan Jembatan Besi, terutama dalam
bidang kesehatan dan ekonomi. Keberagaman kondisi masyarakat seperti tingkat pengetahuan,
usia, jenis kelamin, pekerjaan antara warga yang satu dan yang lain menyebabkan perbedaan
pandangan mengenai penggunaan obat tradisional secara tepat untuk membantu pencegahan
COVID-19[5]. Upaya peningkatan kesehatan yang tepat perlu untuk terus dilakukan untuk
membantu mempercepat pengendalian COVID-19 di Indonesia, salah satunya melalui
penggunaan obat tradisional yang tepat.
Jamu merupakan obat tradisional Indonesia yang berasal dari bahan alam dan diketahui
dapat meningkatkan imunitas tubuh[6]. Beberapa tanaman yang diklaim dapat meningkatkan
daya tahan tubuh pada situasi COVID-19 ini antara lain jahe merah, temulawak, kunyit, kencur,
pegagan, dan masih banyak lainya[2][3]. Kandungan dalam jahe seperti Shogaol dan Gingerol
telah diketahui memiliki banyak khasiat, seperti untuk antioksidan, antiinflamasi,
imunomodulator, dan lainnya[7][8]. Pada kunyit maupun temulawak yang memiliki peranan
penting adalah golongan senyawa Curcuminoidnya[9][10]. Sementara pegagan, selain sebagai
antioksidan dan imunomodulator yang baik, kandungan Asiaticosida dalam pegagan melalui
penelitian secara in silico diketahui memiliki aktivitas yang baik dalam menghambat protein M-
Protease pada virus SARS-Cov 2[11]. Tanaman-tanaman ini dibuat dalam suatu ramuan tertentu
sehingga mudah dan nikmat untuk dikonsumsi.
Melihat situasi dan permasalahan tersebut, maka kegiatan pengabdian kepada
masyarakat yang dilakukan berupa edukasi maupun penyuluhan mengenai khasiat dan
pembuatan ramuan tradisional, khususnya yang dapat meningkatkan imun tubuh berdasarkan
surat edaran Kementrian Kesehatan kepada para ibu-ibu di RW 09 Kelurahan Jembatan Besi,
Kecamatan Tambora. Bahan-bahan alam yang digunakan dalam pembuatan obat tradisional ini
merupakan bahan yang mudah didapat dan murah, bila dibandingkan dengan suplemen-
suplemen kesehatan lain yang cukup mahal
2. METODE
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di RW 09 Kelurahan Jembatan
Besi Kecamatan Tambora dengan sasaran ibu-ibu PKK. Terdapat 3 tahapan pelaksanaan yang
dilakukan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, yaitu:
a. Tahap Pertama: Perijinan
Pada tahap ini dilakukan assesment, FGD bersama perangkat RW setempat dan perijinan
lokasi.
b. Tahap Kedua: Perancangan formula obat tradisional dan penyiapan materi
P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 218
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2, No. 2 April 2022, Hal. 217-223
DOI: [Link]
Pada tahap kedua ini dilakukan perancangan formulasi obat tradisional yang akan
ditransfer ke masyarakat berdasarkan surat edaran Menteri kesehatan. Pada tahap ini
disiapkan pula materi berupa leaflet, poster serta beberapa produk obat tradisional berupa
jamu yang akan dibagikan kepada ibu-ibu RW 09 Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan
Tambora.
c. Tahap Ketiga: Pelaksanaan kegiatan
Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat kepada ibu-ibu RW
09 Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora. Kegiatan yang dilakukan berupa:
- Edukasi/penyuluhan mengenai obat tradisional/bahan alam yang bermanfaat dalam
pengobatan, khususnya untuk meningkatkan daya tahan tubuh di era pandemi COVID-19
ini.
- Pemberian informasi mengenai sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya untuk
obat tradisional.
Pelatihan pembuatan obat tradisional sesuai dengan surat edaran Kementrian Kesehatan
RI. Obat tradisional/jamu hasil olahan kemudian dikemas dalam wadah botol agar dapat
dikonsumsi bersama para keluarga ibu-ibu tersebut.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian masyarakat bersama warga RW.09 Kelurahan Jembatan Besi
memiliki tujuan untuk memberikan sosialisasi dan informasi mengenai jamu yang dapat
meningkatkan imunitas tubuh sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan serta cara
pengolahannya dalam bentuk video tutorial yang dapat diakses kapanpun oleh warga setempat,
maupun dari leaflet serta poster yang dibagikan kepada para warga. Kegiatan ini berlangsung
dengan lancar dan antusias warga setempat terhadap acara ini juga sangat baik. Kegiatan
pengabdian masyarakat dilakukan secara terbatas dan sesuai dengan protokol kesehatan yang
sesuai. Sasaran dalam kegiatan ini warga setempat khususnya ibu rumah tangga.
Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan pada bulan April – Juni 2021. Dikarenakan
protokol kesehatan terkait pengendalian penyebaran COVID-19 yang wajib dipatuhi pada waktu
itu, dan tingkat pengetahuan masyarakat setempat mengenai teknologi yang belum memadai,
maka kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan secara terbatas dengan tidak melakukan
pengumpulan masa dan dengan memanfaatkan sarana-sarana digital yang ada. Tim pengabdian
masyarakat diberi kesempatan untuk bergabung dalam grup WhatsApp kelompok
dharmawanita di RW 09 Kecamatan Tambora untuk memberikan informasi dan menjawab
pertanyaan terkait materi yang telah diberikan.
Pemberian informasi dilakukan dengan penyebaran leaflet maupun poster (Gambar 1)
yang didesain dengan menarik dan isi yang cukup informatif agar dapat menarik perhatian
warga untuk membacanya serta memudahkan warga memahami isi dari informasi yang
diberikan.
Pembagian leaflet langsung dilakukan kepada warga setempat dengan secara personal
mendatangi rumah para warga untuk dapat memberikan informasi terkait penggunaan jamu
tradisional dan menggali informasi dari warga terkait pola penggunaan obat tradisional di
masyarakat setempat, khususnya jamu. Pemasangan poster salah satunya di Balai Desa
setempat dan tempat yang biasanya dilewati banyak orang. Selain itu, dilakukan pula pembagian
handsanitizer, dan masker (Gambar 2) kepada warga RW. 09 Kelurahan Jembatan Besi, serta
pemberian edukasi terkait cara pelaksanaan protokol kesehatan yang baik.
Dalam kegiatan ini, walaupun tidak dipraktekkan secara langsung, harapannya, melalui
pembuatan video digital dan pembagian leaflet serta poster terkait cara pembuatan ramuan
jamu tradisional peningkat imun tubuh, maka dapat memberikan gambaran pada warga RW 09,
khususnya ibu-ibu terkait cara pengolahan jamu ini. Warga juga diberikan sampel ramuan jamu
yang diproduksi sendiri oleh tim pengabdian masyarakat, yang dikemas dengan baik di dalam
botol.
P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 219
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2, No. 2 April 2022, Hal. 217-223
DOI: [Link]
Gambar 1. Kegiatan penempelan poster edukasi
Dari hasil kegiatan pengabdian masyarakat, warga RW. 09 memberikan respon yang
baik serta mendapatkan feedback dari video yang sudah bagikan melalui WhatsApp group,
dimana dapat dilihat dari hasil tanggapan kuesioner. Terdapat 44 responden (warga RW. 09,
Kelurahan Jembatan Besi) yang memberikan respon. Hasil survei yang diperoleh sebanyak
100% warga RW.09 mengetahui tentang jamu. Sebanyak 68,2% warga RW. 09 cukup banyak
yang sering mengkonsumsi jamu sehingga jamu masih dilestarikan oleh warga setempat untuk
pengobatan tradisional walaupun warga bertempat tinggal didaerah perkotaan tetapi jamu
masih digemari oleh warga RW. 09.
Gambar 2. Jamu, masker dan hand sanitizer yang dibagikan kepada warga
Jenis jamu yang sering dikonsumsi warga RW. 09 yaitu kunyit asam, beras kencur, jahe,
temulawak, sirih, jamu pegal linu dan buyung upik. Jamu yang sering dikonsumsi oleh warga
setempat termasuk jamu gendong atau jamu keliling yang sebenarnya jamu tersebut bisa diolah
sendiri oleh warga setempat. Dari panduan yang sudah diberikan oleh tim pengabdian
masyarakat, warga dapat mengakses panduan pembuatan jamu yang berkhasiat untuk
P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 220
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2, No. 2 April 2022, Hal. 217-223
DOI: [Link]
meningkatkan sistem daya tahan tubuh di youtube dan leaflet yang sudah dibagikan. Sebanyak
93% warga RW. 09 mengetahui bahwa jamu memiliki khasiat untuk meningkatkan daya tahan
tubuh dan sebanyak 75% warga RW. 09 berasumsi bahwa dengan mengkonsumsi jamu secara
rutin dapat mencegah penyakit virus COVID-19. Dengan mengkonsumsi jamu termasuk jamu
yang dapat meningkatkan sistem daya tahan tubuh, maka sistem imun dalam tubuh menjadi
kebal dan tidak rentan terkena penyakit termasuk penyakit virus COVID-19.
Gambar 3. Kegiatan pembagian masker, hand sanitizer dan leaflet
Dari 100% sering atau tidaknya warga mengkonsumsi jamu terdapat 50% warga RW. 09
jarang mengkonsumsi jamu disaat pandemik 34% mengkonsumsi jamu sama seperti kondisi
normal 14% lebih sering mengkonsumsi jamu dibanding kondisi normal, 2% tidak pernah
mengkonsumsi jamu. Sebanyak 98% warga RW. 09 mengetahui contoh bahan alam yang dapat
dijadikan jamu, contoh kunyit, jahe, kencur, temulawak, sereh, sirih. Selanjutnya, setelah
diberikan penyuluhan terkait manfaat dari penggunaan jamu peningkat daya tahan tubuh untuk
pencegahan COVID-19 ini, diperoleh data bahwa sebanyak 95% responden percaya terhadap
khasiat jamu dan berkeinginan meningkatkan konsumsi jamu, khususnya selama pandemi. Hal
ini tentu merupakan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan data sebelum diberi
penyuluhan.
Dari 98% warga RW. 09 mengetahui khasiat dari jahe, kencur dan kunyit seperti
meningkatkan daya tahan tubuh dan meredakan sakit peradangan pada tenggorokan,
menghangatkan tubuh, untuk meredakan nyeri lambung, menyembuhkan masuk angin,
menambahkan nafsu makan, sebagai antiinflamasi dan antioksidan, jahe untuk mengatasi
pencernaan, kencur untuk mengobati diare dan batuk, kunyit untuk mengatasi maag dan
peradangan. Hasil survei video yang sudah bagikan melalui WhatsApp group dalam bentuk link
Youtube, 100% warga RW. 09 memahami isi video dan setelah menonton video sebanyak 93%
warga RW. 09 ingin mencoba membuat jamu sendiri di rumah masing-masing. Maka dengan
hasil dari tanggapan warga RW. 09 sangat antusias untuk memahami isi video panduan
P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 221
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2, No. 2 April 2022, Hal. 217-223
DOI: [Link]
pelatihan pengolahan bahan alam untuk meningkatkan daya tahan tubuh di era pandemik.
Dimasa pandemik ini akan lebih baik untuk mengadakan penyuluhan dan pelatihan pengolahan
jamu yang benar guna meningkatkan kualitas jamu dengan narasumber seorang yang ahli dalam
bidang farmakognosi dan fitokimia. Dari tanggapan tersebut warga RW. 09 paham bahan apa
saja yang dapat dimanfaatkan sebagai jamu dan warga RW. 09 juga paham tanaman herbal
tersebut bagi kesehatan tubuh.
4. KESIMPULAN
Kegiatan KKN yang bertempat di Jl. Duri Bangkit RW. 09 Kel. Jembatan Besi Kec.
Tambora Kota Jakarta Barat telah terlaksana dengan baik dan mendapat sambutan yang baik
pula oleh warga RW. 09. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk kegiatan sosialisasi dan edukasi
mengenai penyuluhan dan pelatihan pengolahan bahan alam untuk meningkatkan daya tahan
tubuh di era pandemik. Perencanaan program kegiatan dilakukan dalam waktu singkat dan
disesuaikan dengan kondisi pandemi yang sedang terjadi. Berdasarkan hasil dari hasil kuesioner
dapat menunjukkan bahwa melalui kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan warga RW. 09
mengenai macam-macam jamu, khasiat jamu, serta cara pembuatan jamu.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Infeksi Emerging, “COVID-19 Indonesia,” 2021. [Link] (accessed:
Jan. 15, 2022)
[2] A. R. Kusumo, F. Y. Wiyoga, H. P. Perdana, I. Khairunnisa, R. I. Suhandi, and S. S. Prastika,
“Jamu Tradisional Indonesia: Tingkatkan Imunitas Tubuh Secara Alami Selama Pandemi,”
Jurnal Layanan Masyarakat (Journal of Public Services), vol. 4, no. 2, p. 465, Nov. 2020, doi:
10.20473/jlm.v4i2.2020.465-471.
[3] R. F. Syamsu, S. Nuryanti, Arafah, and Muh. F. Jamal, “Herbal Yang Berpotensi Sebagai Anti
Virus pada COVID-19,” Molucca Medica, vol. 14, no. 1, pp. 76–85, 2021.
[4] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Pemanfaatan Obat Tradisional Untuk
Pemeliharaan Kesehatan, Pencegahan Penyakit, Dan Perawatan Kesehatan,” 2020.
[Link]
content/uploads/2021/05/surat_edaran_direktur_jenderal_pelayanan_kesehatan_nomor
_hk_02_02_iv_2243_2020_tahun_2020.pdf
[5] D. Wulandari, N. Triswanti, and V. Yulyani, “Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan
Perilaku Pencegahan COVID-19 di Desa Lebak Peniangan Lampung,” ARTERI J. Ilmu
Kesehatan, vol. 2, no. 2, 2021.
[6] L. Sekolah, T. Ilmu, K. Kendal, K. S. Artini, and W. Veranita, “Tamanam Herbal untuk
Meningkatkan Sistem Imun Tubuh: Literature Review,” Jurnal Farmasetis, vol. 1, no. 10,
pp. 15-20, 2021. doi: 10.32583/farmasetis.v10i1.1383
[7] R. Singh and K. Singh, “Zingiber Officinale: A Spice with Multiple Roles,” RJLBPCS, 2019.
doi: 10.26479/2019.0502.09.
[8] S. Zhang, X. Kou, H. Zhao, K. K. Mak, M. K. Balijepalli, and M. R. Pichika, “Zingiber officinale
var. rubrum: Red Ginger’s Medicinal Uses,” Molecules, vol. 27, no. 3, p. 775, Jan. 2022, doi:
10.3390/molecules27030775.
[9] D. Azimah, Yuswanto, Wahyono, D. Santosa, and E. P. Setyowati, “Efek Imunomodulator
dari Kombinasi Ekstrak Etanol Herba Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. f.)
Nees) dan Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap Proliferasi Sel
Limfosit Mencit Balb/c secara In Vitro,” Traditional Medicine Journal, vol. 21, no. 3, pp.
157-168, 2015.
[10] N. Hidayah, R. Puspita, and M. Mujahidah, “Pengaruh Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica
Val) Terhadap Berat Badan, Jumlah Eosinofil dan Basofil Ayam Petelur yang Diinfeksi
P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 222
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2, No. 2 April 2022, Hal. 217-223
DOI: [Link]
Salmonella pullorum,” Jurnal Medik Veteriner, vol. 3, no. 2, p. 230, 2020, doi:
10.20473/jmv.vol3.iss2.2020.230-235.
[11] P. G. M. W. Mahayasih, Harizal, Herman, and I. Ahmad, “Erratum: In silico identification of
natural products from Centella asiatica as severe acute respiratory
syndrome-coronavirus 2 main protease inhibitor,” Adv Pharm Technol Res, vol. 12, pp.
261–266, 2021.
P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 223