Panduan Awal Penggunaan CAESAR II
Panduan Awal Penggunaan CAESAR II
CAESAR II
Oleh : Yose Ma’ruf @ Juni 2010
Pertama kali menjalankan CaesarII akan muncul dengan “jendela” utama yang di
dalamnya belum bisa menjalankan operasi pemodelan/input, analisa maupun
output. “Jendela” ini berfungsi sebagai jembatan ketika user berpindah dari satu
“sub‐jendela” ke “sub‐jendela” lainnya.
Untuk memulai nya, buat dulu nama file baru dengan menggunakan menu
/File/New atau icon nya yang sudah tersedia.
Akan muncul box menu yang berisi nama file yang akan kita gunakan, jenis input
(piping atau structural – di CaesarII kita bisa memodelkan dan menganalisa secara
sederhana terhadap support struktur yang ada di isometric). Sebelum membuat
nama file, lebih dulu tentukan akan ditempatkan di folder dan drive apa di
komputer.
Akan muncul box menu yang berisi nama file yang akan kita gunakan, jenis input
(piping atau structural – di CaesarII kita bisa memodelkan dan menganalisa secara
sederhana terhadap support struktur yang ada di isometric). Sebelum membuat
nama file, lebih dulu tentukan akan ditempatkan di folder dan drive apa di
komputer.
Akan muncul box menu yang berisi nama file yang akan kita gunakan, jenis input
(piping atau structural – di CaesarII kita bisa memodelkan dan menganalisa secara
sederhana terhadap support struktur yang ada di isometric). Sebelum membuat
nama file, lebih dulu tentukan akan ditempatkan di folder dan drive apa di
komputer.
Setelah membuat nama file baru, CaesarII akan menampilkan otomatis box menu
konfirmasi penggunaan unit file. CaesarII akan menggunakan unit English yang
merupakan default nya, karena belum ada penggunaan CaesarII sebelumnya atau di
folder tempat file ini belum ada file CaesarII / unit file sebelumnya.
Karena unit file yang akan digunakan adalah menggunakan Metric dengan diameter
pipa dengan inch, maka info ini diabaikan (“cancel”)
Sesuai dengan yang ditampilkan di isometric, satuan yang digunakan akan mengikuti
apa yang telah disebutkan. CaesarII memiliki menu untuk menyusun satuan‐satuan
yang akan dipakai di pemodelan. Gunakan /Tools/Make Unit Files.
Box menu ini berisi panduan untuk me‐review atau menambah unit file. Pilih
“Create a New Unit File” untuk menambah atau membuah unit file baru. Kemudian
tentukan unit file yang dimiliki CaesarII (English, Metric, dsb.) untuk acuannya. Jika
tidak dipilih, maka CaesarII akan memilihkan unit English sebagai acuannya. Sesuai
dengan isomteric, kita pilih unit Metric. Dari acuan ini kita bisa mengkonversi ke unit
yang seharusnya.
Box menu ini berisi panduan untuk me‐review atau menambah unit file. Pilih
“Create a New Unit File” untuk menambah atau membuah unit file baru. Kemudian
tentukan unit file yang dimiliki CaesarII (English, Metric, dsb.) untuk acuannya. Jika
tidak dipilih, maka CaesarII akan memilihkan unit English sebagai acuannya. Sesuai
dengan isomteric, kita pilih unit Metric. Dari acuan ini kita bisa mengkonversi ke unit
yang seharusnya.
Box menu ini berisi panduan untuk me‐review atau menambah unit file. Pilih
“Create a New Unit File” untuk menambah atau membuah unit file baru. Kemudian
tentukan unit file yang dimiliki CaesarII (English, Metric, dsb.) untuk acuannya. Jika
tidak dipilih, maka CaesarII akan memilihkan unit English sebagai acuannya. Sesuai
dengan isomteric, kita pilih unit Metric. Dari acuan ini kita bisa mengkonversi ke unit
yang seharusnya.
Selanjutnya muncul menu untuk mengisi angka‐angka konversi dari unit standar
CaesarII (English unit) ke yang diperlukan. Jika satuan nya sudah tersedia, maka
tinggal pilih di “User Units”. Jika belum ada, maka isi angka konversi nya di
“Constant”.
Setelah terisi semua, buat nama unit nya di “Unit File Label” agar ketika CaesarII
mengkonfirmasi unit yang akan digunakan, kita bisa tau unit mana yang sudah kita
susun tersebut.
Setelah itu klik “OK/Save” dan di box menu “Unit Maintenance” klik “Cancel”
Selanjutnya muncul menu untuk mengisi angka‐angka konversi dari unit standar
CaesarII (English unit) ke yang diperlukan. Jika satuan nya sudah tersedia, maka
tinggal pilih di “User Units”. Jika belum ada, maka isi angka konversi nya di
“Constant”.
Setelah terisi semua, buat nama unit nya di “Unit File Label” agar ketika CaesarII
mengkonfirmasi unit yang akan digunakan, kita bisa tau unit mana yang sudah kita
susun tersebut.
Setelah itu klik “OK/Save” dan di box menu “Unit Maintenance” klik “Cancel”
Selanjutnya muncul menu untuk mengisi angka‐angka konversi dari unit standar
CaesarII (English unit) ke yang diperlukan. Jika satuan nya sudah tersedia, maka
tinggal pilih di “User Units”. Jika belum ada, maka isi angka konversi nya di
“Constant”.
Setelah terisi semua, buat nama unit nya di “Unit File Label” agar ketika CaesarII
mengkonfirmasi unit yang akan digunakan, kita bisa tau unit mana yang sudah kita
susun tersebut.
Setelah itu klik “OK/Save” dan di box menu “Unit Maintenance” klik “Cancel”
Berikut nya pilih /Tools/Configure/Setup untuk memilih unit file yang sudah dibuat
tersebut. Disamping itu, dalam menu tersebut juga bisa ditentukan “setting” yang
lain untuk standar penghitungan oleh Caesar II.
Pilih unit file yang dibuat sebelumnya di “Units File Name”. Nama file yang terdapat
dalam box tersebut adalah campuran dari yang dimiliki CaesarII dan unit file yang
masih satu folder dengan file pemodelan yang akan dikerjakan.
Kemudian ke sub‐menu “Miscellaneous” dan pilih untuk tidak memberi check dalam
box “Prompted Autosave”. Dan juga isi waktu penyimpanan otomatis. Ini bukan lah
prosedur wajib, tapi untuk membantu user ketika terjadi putus listrik atau gangguan
dalam komputer sehingga file CaesarII yang sedang dibuat terputus.
Lanjut ke sub‐menu “Computational Control”. Sub‐menu ini untuk panduan CaesarII
dalam menghitung input‐input yang sudah diberikan. Dalam box ini yang akan kita
isikan adalah temperatur ambient yang disebutkan di isometric. Harap diingat, ini
hanya untuk ketika kita belum membuat input model CaesarII nya. Jika sudah
berjalan proses nya dan kita lupa memberikan input temperatur ambient nya, maka
angka ini bisa diinput di menu yang ada di “jendela” piping input.
Di sub‐menu “SIF’s and Stresses”, kita bisa memilih CODE yang hendak digunakan.
Tetapi, ini bukan mutlak. Karena CaesarII bisa menjalankan perhitungan dengan
lebih dari satu CODE.
Yang diperhatikan di sini adalah apakah kita akan menggunakan Liberal Stress
Allowable dan Appendix P, atau tidak. Appendix P dari ASME B31.3 bisa dipilih jika
kita ingin menempatkan analisa terhadap ekspansi thermal dalam bentuk
Operating.
Di bagian ini kita bisa ubah tampilan standar yang akan kita pakai di input nanti.
Perubahan yang ada akan digunakan selalu di setiap file CaesarII yang sedang kita
kerjakan.
Setelah selesai semua, klik “Exit w/ Save”.
Klik /Input/Piping, untuk masuk ke menu input khusus pemodelan Piping dan
komponen‐2 nya. (Ada 3 Input : Piping, Underground dan Structural Steel).
Seperti sebelumnya, setiap ke menu input untuk pertama kali nya, akan ada
konfirmasi unit file yang digunakan, sesuai dengan yang sudah dipilih di
Configuration/Setup. Jika sudah sesuai, klik “OK” untuk lanjut ke menu input piping.
Box kumpulan input komponen Box kumpulan input komponen untuk Box kumpulan input komponen untuk
pendukung sistem pipa (fitting, valve, menghasilkan nilai beban reaksi (akibat menghasilkan nilai beban reaksi (akibat
flange, expansion joint, dll.) tahanan / restraint). Juga untuk tahanan / restraint). Juga untuk
pergeseran pipa (displacements). pergeseran pipa (displacements).
Properti Fluida,
temperatur dan
pressure. Plus
Hydrotest pressure.
CaesarII memberikan 9
kotak untuk masing‐
masing case temp. dan
press. ini.
Di bagian ini kita sudah bisa memulai pemodelan sistem pipa. Dari gambar, ada dua
sisi tampilan, tabel/form editor input dan gambar hasil input nya.
Awal pemodelan, buat elemen 10‐20 seperti
yang dicontohkan. Isi juga data properti pipa
dan fluida nya. Input properti tersebut akan
digunakan otomatis di setiap elemen
berikutnya.
Berikutnya, input anchor di node 10. Di isometric
pada node 10 digambarkan terhubung ke
equipment. Setiap pipa terhubung ke equipment
atau ke line pipa yang tidak ada gambar
lanjutannya, dimodelkan sebagai anchor. Anchor
disini dianggap sebagai titik diam pipa. Juga
sebagai acuan supaya sistem tidak “unbalanced
system input”
Setelah input restraint nya, kemudian input
flange nya dengan menu rigid. Isi beratnya
sesuai yang tercantum di isometric.
Setelah semua kondisi di elemen 10‐20 selesai,
kemudian lanjutkan ke elemen 20‐30. Untuk
berpindah ke elemen selanjutnya, gunakan input
“Continue”. Karena tidak ada angka dimensi nya,
maka gunakan cara operasi bilangan langsung di
input dimensi nya. CaesarII bisa melakukan
operasi bilangan penjumlahan, perkalian dan
pembagian tetapi tidak dengan pengurangan.
Untuk itu diakali dengan seperti contoh berikut.
Kemudian karena arahnya berbeda, maka berikan
tanda minus di depan angka dimensi nya agar bisa
terbentuk sesuai isometric.
Lanjutkan ke elemen berikutnya, 30‐40. Di
isometric tidak tercantum juga dimensi untuk
elemen ini. Untuk itu, bisa dengan cara pertama
sebelumnya atau dengan cara kedua berikut.
Pertama, ubah node di “To:” menjadi 50, agar
terbentuk elemen 30‐50.
Kemudian klik icon menu “Break” untuk memecah
elemen yang sudah dibuat.
Isi node baru dan dimensi dari node yang ada
angka dimensi nya (di isometric).
Next Element / Previous Element
Pindah ke elemen 40‐50 dengan meng‐klik dua kali
pada tombol kiri mouse; atau dengan gelincir scroll
pada mouse ketika kursor berada di box menu “From”
dan “To”; atau dengan menggunakan PgUp/PgDn di
keyboard. Atau juga bisa dengan klik tanda panah
untuk next element / previous element.
Di elemen ini input reducer. Di kolom ketiga
(tambahan), box input masing‐2 boleh diisi dan juga
boleh tidak (selama setelah reducer ini ada element.
Jika tidak, maka harus diisi. Misalnya, pada elemen ini
lsg input anchor sebagai end of input.
“Continue” ke elemen 50‐60, input pipa dengan dimensi
yang tercantum dengan diameter dan ketebalan yang
berbeda (6 inch). Di sini bentuk reducer nya mengikuti input
elemen sebelum dan selanjutnya.
“Continue” ke elemen 60‐70, input elemen berupa pipa saja
dengan dimensi yang tercantum.
Elemen 80‐90 tidak memiliki dimensi. Seperti pada
elemen sebelumnya, gunakan elemen total dari 70‐90
dan kurangkan dengan elemen 70‐80. Kali ini gunakan
“break” untuk membiasakan.
Isi data nya di box menu “break”, seperti yang
dicontohkan.
Setelah itu input reducer di elemen 70‐80.
Sama seperti elemen sebelumnya, input di
kolom tambahan tidak wajib diisi.
Di elemen 80‐90, ubah diameter pipa yang
baru (3 inch) dan juga ketebalan pipa nya.
Type disini maksudnya adalah tipe flange yang
digunakan dalam sambungan pipa ke elbow. Input Radius bend/elbow yang tercantum di box menu
ini dikosongkan jika tidak ada input flange kurang menggunakan 1,5 x diameter pipa normal (tipe long
lebih 1 cm dari start /end point elbow. Biasanya ini radius). Jika ingin mengubah ke short radius,
ditemukan pada pipa jenis GRE/GRP/FRP (plastik gunakan 1 x diameter pipa normal. Jika jalur pipa
dengan penguatan material) di proyek‐proyek adalah termasuk pipeline, maka bisa menggunakan
powerplant. 3 atau 5 x diameter normal pipa, tergantung
ketentuan di project. Jika bentuk nya adalah mitter,
maka perlu isi di box mitter points.
Middle point
Elemen 20‐30
seharusnya diinput
sebagai elbow. Tetapi
bisa diubah setelah Start point (“0”)
elemen‐elemen
sesudahnya
dimodelkan. Caranya
adalah dengan hanya
meng‐klik dua kali End point
Di elemen ini jalankan perintah “SIFs & Tees” untuk mengaktifkan SIF pada branch connection.
Letak input perintahnya, cukup pilih satu dari tiga elemen. Kemudian isi node nya dan tipe nya.
(“welding”, untuk memodelkan fitting‐tee).
Setelah diinput bisa aktifkan view SIF/Tee agar muncul tanda berwarna jingga tersebut, sebagai
tanda bahwa di sambungan elemen itu sudah ada nilai SIF sendiri. (bukan = 1.0)
Jalankan perintah “Start Run” lagi untuk mengecek masih ada atau tidaknya Error atau Warning
lainnya. Jika sudah tidak ada, kemudian lanjutkan ke perintah “Batch Run” agar CaesarII melakukan
running analysis / kalkulasi.
Tampilan CaesarII ketika running analysis.
Window Input Piping ditutup otomatis oleh CaesarII.
Kolom #2
Kolom #3
Kolom #4
Kolom #1
Di tampilan Output Statik, ada empat kolom yang bisa dipilih untuk keperluan tertentu. Kolom
pertama adalah case yang kita input berdasarkan node, disini akan kita lihat berdasarkan kondisi‐
kondisi yang diinput di semua node. Kolom kedua adalah untuk pemilihan tampilan report –
berdasarkan analisa apa yang akan dikerjakan. Kolom ketiga adalah untuk report lain yang tidak
tergantung case‐case yang ada. Kolom keempat adalah untuk print‐out report.
Untuk per laporan analisa, perlu dipilih case mana yang akan dilihat dan report mana yang akan
ditampilkan. Sebagai contoh : akan ditampilkan stress rasio tertinggi pada sistem. Case yang dipilih
adalah sustain (SUS) dan ekspansi (EXP). Report yang digunakan adalah Code Compliance. Setelah
itu klik icon “View Reports” untuk menampilkan hasil nya.
“3D‐Plot”
Yang dibaca :
1. Rasio tertinggi dari semua node yang dimodelkan
(sebagai sistem yang dikalkulasi) adalah 101.2 %
2. Rasio tertinggi terjadi di node 289. Yang diketahui,
tidak ada elemen yang ada “289” di “From” atau “To”.
Berarti node ini disimpulkan sebagai bagian dari input
“Bend”.
3. Load case yang terdapat rasio tertinggi ini ada di
Sustain (berat total+ tekanan desain).
Perintah 3D‐plot ini digunakan untuk memudahkan user (PSA Engineer) untuk melihat gambaran
kejadian di pipa agar bisa menganalisa bagian mana saja yang perlu dilakukan pemodifikasian agar
rasio beban dari hasil kalkulasi bisa dikurangi, jika terjadi overstress atau overload.
Mula‐mula tentukan dulu case yang akan ditampilkan gambarnya, kemudian klik icon 3D‐Plot
tersebut.
Deflected Shape
Di menu ini muncul gambar yang mirip dengan tampilan di input piping. Tapi dengan perintah‐
perintah yang berbeda (kecuali pada perintah untuk tampilan‐tampilan). Yang diperlukan pada
menu ini adalah pergeseran pipa nya untuk membantu kita “membayangkan” kemungkinan yang
terjadi dari angka‐angka hasil output. Gunakan perintah “Deflected Shape.
Dalam menu ini ditampilkan pergeseran pipa akibat dari case (SUS) W+P1. Jika kurang besar bisa
menggunkan “Scale” agar lebih ekstrem lagi tampilannya (bukan hasil nya).
Dalam menu ini ditampilkan pergeseran pipa akibat dari case (SUS) W+P1. Jika kurang besar bisa menggunkan
“Scale” agar lebih ekstrem lagi tampilannya (bukan hasil nya).
Dari tampilan terlihat adanya pergeseran vertikal di node 270 s/d 280. Overstress yang terjadi sesuai report ada
di node 290. Kondisi pergeseran pipa itulah yang menyebakan overstress nya. Berdasarkan ini kita bisa mencoba
“trial & error” untuk memodifikasi model awal ke input‐an yang bisa menurunkan overstress nya.
Search
Batch
Run
Berikutnya kembali ke piping input (tutup menu output dan kembali ke window utama. Setelah itu
klik icon Input Piping.
Di menu ini, lsg klik dua kali di elemen 250‐270 atau dengan fasilitas “Search” dan ketik “270”.
Di elemen 250‐270, input restraint tipe resting support (vertical stop : dalam model ini = +Y). Node
yang diisi adalah mid‐point dari perintah “Bend”. Dan lanjutkan kembali proses kalkulasi dengan
meng‐klik “Batch Run”.
Kembali cek output report di Code Compliance. Di sini tercantum bahwa sistem sudah under Code.
Berikutnya cek report Displacements untuk mengetahui pergeseran pipa maksimum di ketiga
sumbu geometrik nya.
“Displacement” report termasuk analisa non‐Code, artinya tidak diatur secara global oleh satu Code untuk
seluruh sistem (seperti pada Stress report). Atau Code tidak membicarakan mengenai masalah ini. Untuk itu
gunakan load case nya adalah yang mencakup keseluruhan kondisi input, yaitu Operating. Pilih “Displacements”
di box perintah Standard Reports dan klik icon View Reports.
Di hasil report nya, klik tombol kiri mouse pada huruf DX, DY, atau DZ untuk mengetahui maksimum dan
minimum displacement yang terjadi. Over displacement atau tidak adalah tergantung dari perbandingan hasil
dengan allowable dari Client’s Specification atau dari Piping Layout.
Untuk cek hasil gaya reaksi pada node‐node yang diberi beban sebagai penahan gerak pipa
(Restraint). Operating case di Load Case Analyzed dan Restraint Summary di Standard Reports.
Hasil nya nanti bisa dibandingkan untuk analisa beban‐beban di sambungan pipa ke nozzle,
sambungan flange, pipa ke support dan lain sebagainya; yang nantinya dibandingkan dengan
beban ijin (allowable load) yang bisa berasal dari standar material, standar equipment,
perhitungan‐perhitungan yang dilakukan pihak lain dan lain sebagainya.
4
Setelah analisa sudah acceptable (dibawah allowable) berikutnya hasilnya di‐print out dengan
menggunakan menu yang ada di CaesarII. Langkah‐langkahnya bisa dilihat di gambar. Pertama,
pilih load case nya. Kedua pilih tipe report nya. Ketiga, klik perintah “add”. Setelah tampilan yang
diinginkan sudah betul, kemudian pilih perintah untuk print‐out, apakah langsung dicetak atau di
transfer dulu. Disini pilih “Send ti MS Word” agar bisa ditampilkan lebih rapi dengan software
spreadsheet dari Windows.
Report siap di‐print
atau dikirim langsung
secara elektronik ke
Client.
Lakukan yang sama
untuk print‐out hasil
analisa Displacements
dan Restraint.
Demikian semua kegiatan dasar dalam
pengenalan CaesarII dari input hingga
laporan output nya. Semoga bermanfaat.
TERIMA KASIH.