KASUS
Pada akhir kegiatan tahun pembelajaran, sekolah mengadakan rapat pengesahan nilai kenaikan kelas .
Kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan wali kelas. Wakasek bagian kurikulum dan semua
dewan guru untuk membahas laporan hasil belajar murid selama satu tahun pelajaran. Sebelum wali
kelas menyampaikan nilai yang di peroleh anak didiknya kepala sekolah meminta bagian kurikulum
untuk menyampaikan kriteria kenaikan kelas. Dengan demikian maka di putuskan kriteria kenaikan kelas
sebagai berikut :
Jumlah nilai di bawah KKM maksimal 3 mata pelajaran
Presentasi kehadiran 80% dari total hari efektif belajar
Nilai sikap sekurang – kurangnya baik
Menyelesaikan seluruh program kegiatan belajar yang sudah di tetapkan oleh satuan pendidikan
Mengikuti asesmen formatif dan sumatif
Kepala Sekolahpun meminta dan memerintahkan kepada dewan guru untuk memberikan nilai kepada
seluruh siswa tanpa kecuali, harus minimal KKM karena bila ada siswa yang tidak naik kelas dikarenakan
tidak sampai nilai KKM dia kuatir siswa tersebut malu tinggal kelas dan akhirnya putus sekolah dan hal
tersebut akan bertentangan dengan peraturan yang berlaku sehingga sekolah akan mendapat teguran.
Padahal pada faktanya banyak sekali murid yang nilainya di bawah KKM. Namun jika tetap dinaikkan dan
mendapat nilai yang memenuhi standar KKM seolah – olah tidak ada ketegasan dari pihak sekolah dan
menganggap penilaian yang di lakukan guru sia – sia yang ujung – ujungnya terjadi system “ Tembak
Nilai “ sehingga reputasi sekolah di pertaruhkan.