Rencana Kerja Pembangunan Rumah KPP Ketapang
Rencana Kerja Pembangunan Rumah KPP Ketapang
DAN SYARAT-
SYARAT
Material
No Uraian
Pekerjaan Bahan Spesifikasi Yang Di Usulkan Merk
PEKERJAAN
STRUKTUR DAN
ARSITEKTUR
RENCANA KERJA DAN
SYARAT-SYARAT (RKS)
PEKERJAAN :
Satuan Kerja :
Pekerjaan :
SubPekerjaan :
BAB I
I. PERSYARATAN TEKNIS UMUM
PASAL 1
URAIAN PEKERJAAN
1.1 Pekerjaan ini harus diserah terimakan oleh pelaksana pekerjaan konstruksi setelah pekerjaan
selesai dengan bobot realisasi mencapai 100 % (seratus persen) atas persetujuan Direksi
termasuk perbaikan kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi pada bangunan yang dikerjakan
dan pembersihan lokasi.
1.2 Sarana Bekerja
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan harus
menyediakan :
a. Tenaga kerja/ tenaga ahli yang memadai sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan.
b. Alat-alat bantu seperti alat-alat pengangkut dan peralatan lain yang dipergunakan untuk
pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
c. Penyediaan bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap pekerjaan yang
akan dilaksanakan tepat pada waktunya.
1.3 Cara Pelaksanaan
Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam
rencana kerja dan syarat-syarat ( RKS ), gambar-gambar, Berita Acara Penjelasan serta
mengikuti petunjuk dan keputusan Konsultan Pengawas.
PASAL 2
JENIS DAN MUTU BAHAN
2.1 Jenis dan mutu bahan yang dipakai diutamakan dari produksi dalam negeri sesuai dengan
keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi dan Menteri Perindustrian.
RUMAH NEGARA
KPP
PASAL 3
GAMBAR – GAMBAR
PASAL 4
DASAR HUKUM YANG DIGUNAKAN
4.1 Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan syarat-
syarat ( RKS ) ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan di bawah ini termasuk segala
perubahan dan tambahannya yaitu sebagai berikut :
a. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia atau algemene
Voorwaarden Voor De Witvoering Bij Aanneming Van Openbare Werken ( AV ) 1941.
b. Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga kerja.
c. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PPKI ) 1961.
d. UU no.28 tahun 2002 tentang Bangunan dan Gedung
e. Perpres 73 Tahun 2011 tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara
f. Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Pembangunan Gedung Negara oleh Departemen
Pekerjaan Umum (Permen PU No.45 tahun 2007)
g. SNI 034433 1997 Spesifikasi Beton Siap Pakai
h. SNI 031972 1990 Uji Slump
i. SNI 031974 1990 Metode Pengujian Kuat Tekan Beton
j. SNI Beton 2847 : 2013
k. SNI Tulangan Beton 2052 : 2014
l. SNI 030691 1996 Paving Blok
m. Ketentuan dan peraturan lain yang dikeluarkan oleh Instansi pemerintah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan bangunan.
4.2 Pada pelaksanaan pekerjaan dalam pasal 1 ayat (2) tersebut di atas, berlaku dan mengikat pula,
antara lain :
a. Gambar bestek yang dibuat oleh Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh Pemberi
tugas termasuk juga gambar-gambar detail pelaksanaan (shop drawing) yang diselesaikan oleh
Kontraktor dan sudah disyahkan / disetujui oleh Konsultan Pengawas atas persetujuan
Direksi.
b. Rencana kerja dan Syarat-syarat (RKS).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
d. Berita Acara Penunjukan.
e. Surat Keputusan Pemimpin Proyek tentang penunjukan kontraktor.
f. Surat Perintah Kerja (SPK).
g. Surat Penawaran beserta lampiran-lampirannya.
Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang disetujui konsultan Pengawas dan atas
persetujuan Direksi.
RUMAH NEGARA
KPP
PASAL 5
PENJELASAN RKS DAN GAMBAR
5.1 Kontraktor wajib meneliti semua gambar dan rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) termasuk
tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
(Aanwijzing).
5.2 Bila gambar tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan syarat-syarat (RKS), maka yang
mengikat/berlaku adalah ketentuan yang ada dalam RKS. Bila suatu gambar tidak cocok dengan
gambar yang lain, maka gambar yang mempunyai skala besar yang berlaku.
5.3 Bila perbedaan-perbedaan tersebut menimbulkan keragu-raguan sehingga dalam pelaksanaannya
menimbulkan kesalahan, maka kontraktor wajib menanyakan kepada konsultan Pengawas atas
persetujuan Direksi, dan kontraktor harus mengikuti keputusannya.
PASAL 6
JADWAL PELAKSANAAN
6.1 Sebelum memulai pekerjaan nyata di lapangan, kontraktor wajib membuat rencana pelaksanaan
pekerjaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bart-Chart dan CURVA S .
6.2 Rencana kerja tersebut harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas dan
atas persetujuan Direksi, paling lambat 7 ( tujuh ) hari kalender setelah Surat Perintah Kerja
(SPK) diterima oleh kontraktor.
6.3 Kontraktor wajib memberikan salinan rencana kerja sebanyak 4 ( empat ) rangkap kepada Direksi
Lapangan.
6.4 Konsultan Pengawas atas persetujuan Direksi akan menilai prestasi pekerjaan kontraktor
berdasarkan rencana kerja tersebut.
PASAL 7
KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN
7.1 Di lapangan pekerjaan, kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa kontraktor atau biasa disebut
Pelaksana Lapangan yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan di lapangan
dan mendapat kuasa penuh dari kontraktor. Penunjukan atau penugasan tenaga ahli yang bertugas
di lapangan tersebut ditujukan kepada pemberi tugas Pengelola Teknis dan Konsultan Pengawas.
7.2 Dengan adanya Pelaksana Lapangan, tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung jawab dari
sebagian maupun keseluruhan kewajibannya.
7.3 Kontraktor wajib memberitahu secara tertulis kepada Pengelola Teknis Proyek dan Konsultan
Pengawas, nama dan jabatan pelaksana untuk mendapatkan persetujuan.
7.4 Bila kemudian hari, menurut pendapat Pengelola Proyek dan Konsultan Pengawas Pelaksana
kurang mampu atau tidak cakap memimpin pekerjaan, maka akan diberi tahukan kepada
kontraktor secara tertulis untuk mengganti pelaksana pekerjaan.
RUMAH NEGARA
KPP
PASAL 8
JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA
8.1 Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat pertolongan pertama pada
kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap digunakan dilapangan untuk mengatasi segala
kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja yang ada di lapangan.
8.2 Kontraktor wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi syarat-syarat
kesehatan, kamar mandi dan WC serta air yang bersih yang layak bagi semua petugas dan pekerja
yang ada di lapangan. Membuat tempat penginapan di dalam lapangan pekerjaan untuk menjaga
keamanan.
Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan para pekerja wajib diberikan
kontraktor sesuai dengan peraturan yang berlaku.
PASAL 9
SITUASI DAN UKURAN
9.1 SITUASI
Kontraktor wajib meneliti situasi tapak, terutama keadaan tanah bangunan, sifat dan luasnya
pekerjaan dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi harga penawarannya.
Kelalaian atau kurang telitinya Kontraktor dalam hal ini tidak dijadikan alasan untuk
mengajukan alasan tuntutan.
9.2 UKURAN
Ukuran satuan yang digunakan di sini semuanya dinyatakan dalam cm, kecuali ukuran-
ukuran untuk bahan bangunan tertentu yang dinyatakan dalam inci atau mm.
Peil (permukaan atas lantai) ditetapkan 0,00 adalah sama dengan muka lantai dasar
bangunan yang berada didekatnya atau menurut petunjuk dari Direksi.
Pengukuran dilakukan untuk Penentuan lokasi bangunan, jalan, trotoar, door lop, landscaping dan
lain-lain.
PASAL 10
SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN BAHAN BANGUNAN
10.1 Sebelum memulai pekerjaan,kontraktor wajib mengajukan request pekerjaan kepada konsultan
pengawas dan mendapatkan aproval (persetujuan) dari konsultan pengawas dan diketahui oleh
direksi.
10.2 Semua bahan bangunan yang didatangkan harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.
10.3 Konsultan Pengawas berwenang mengetahui asal dan kondisi bahan dan kontraktor wajib
memberitahu dan menjelaskannya.
10.4 Kontraktor wajib memperlihatkan contoh bahan-bahan bangunan sebelum digunakan di
lapangan. Contoh-contoh ini harus mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas.
10.5 Bahan bangunan yang telah didatangkan Kontraktor di lapangan pekerjaan, tetapi ditolak
pemakainnya oleh Konsultan Pengawas, harus segera dikeluarkan dan selanjutnya dibongkar
atas biaya kontraktor dalam waktu 2 x 24 jam, terhitung dari jam penolakan.
RUMAH NEGARA
KPP
10.6 Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilakukan kontraktor tetapi ditolak oleh Konsultan
Pengawas, maka pekerjaan tersebut harus segera dihentikan dan selanjutnya dibongkar atas
biaya kontraktor dalam waktu yang ditetapkan oleh Konsultan Pengawas.
10.7 Apabila Konsultan Pengawas merasa perlu meneliti sesuatu bahan lebih lanjut, Konsultan
Pengawas berhak mengirimkan bahan tersebut kepada Balai Penelitian Bahan (Laboratorium)
yang terdekat untuk diteliti. Biaya pengiriman dan penelitian menjadi tanggungan kontraktor
apapun hasil penelitian bahan tersebut.
PASAL 11
PEMERIKSAAN PEKERJAAN
11.1 Sebelum memulai pekerjaan lanjutannya yang apabila pekerjaan ini telah selesai, akan tetapi
belum diperiksa oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor wajib memintakan persetujuan kepada
Konsultan Pengawas, kemudian apabila Konsultan Pengawas telah menyetujui bagian
pekerjaan tersebut, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaan.
11.2 Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam (dihitung dari diterima surat
permohonan pemeriksaan, tidak dihitung hari raya/libur) tidak dipenuhi oleh Konsultan
Pengawas, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang seharusnya diperiksa
dianggap telah disetujui Konsultan Pengawas, hal ini dikecualikan bila Konsultan Pengawas
minta perpanjangan waktu.
11.3 Bila Kontraktor melanggar ayat 1 pasal ini, Konsultan Pengawas berhak menyuruh
membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk diperbaiki. Biaya
pembongkaran dan pemasangan kembali menjadi tanggungan Kontraktor.
Adanya pekerjaan tambahan yang tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab keterlambatan
penyerahan pekerjaan, tetapi Konsultan Pengawas / Bimbingan Teknik Pembangunan (BTP)
dapat mempertimbangkan perpanjangan waktu karena adanya pekerjaan tambah tersebut.
PASAL 12
PEKERJAAN UNTUK MELINDUNGI KERUSAKAN
PASAL 13
PERLENGKAPAN PELAKSANA DAN ADMINISTRASI TEKNIS PELAKSANA
Shop Drawing
a. Penyedia Jasa konstruksi wajib membuat shop drawing untuk detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun yang diminta oleh
Direksi / Konsultan Pengawas / Perencana.
b. Dalam Shop Drawing ini harus jelas dicantumkan Konsultan Pengawasan dan digambarkan
semua data yang diperlukan termasuk pengajuan contoh bahan, keterangan produk, cara
pemasangan dan / atau spesifikasi / persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik.
Sarana Kerja
a. Penyedia Jasa konstruksi wajib memasukkan identitas, nama, jabatan, keahlian masing-
masing anggota kelompok kerja pelaksana dan inventarisasi peralatan yang dipergunakan
dalam pekerjaan ini
b. Penyedia Jasa konstruksi wajib memasukkan identifikasi tempat kerja (workshop dan
peralatan yang dimiliki dimana pekerjaan Penyedia Jasa konstruksi akan dilaksanakan serta
jadwal kerja
Transportasi
RUMAH NEGARA
KPP
Penyedia Jasa harus menyediakan kendaraan untuk dipakai oleh Direksi dan stafnya pada
setiap waktu yang dikehendaki, seperti yang terdaftar dalam Spesifikasi Khusus untuk tugas
dinas, sekitar dan berhubungan dengan pekerjaan dalam kontrak ini.
Apabila menurut Direksi Lapangan kendaraan tersebut menjadi tidak bisa dipakai,
Penyedia Jasa harus menggantinya dengan tanpa penundaan.
Penyedia Jasa harus menyediakan pengemudi yang baik serta semua keperluan lainnya
seperti bahan bakar, oli dan sebagainya dan harus menanggung biaya yang berhubungan
dengan jalannya, pemeliharaan, perijinan dan asuransi. Setelah selesainya pekerjaan
kendaraan tersebut dapat dikembalikan kepada Penyedia Jasa.
Kendaraan tersebut tidak boleh ditukar dalam waktu pelaksanaan kecuali dengan ijin dari
Direksi Lapangan.
PASAL 14
PEKERJAAN PEMBONGKARAN DAN PERBAIKAN KEMBALI
a. Penyedia Jasa konstruksi harus sudah memperhitungkan segala kondisi yang ada / existing
di Lapangan yang meliputi dan tidak terbatas pada Saluran Drainase, Pipa Air Bersih, Pipa
lainnya yang masih berfungi dan kabel bawah tanah apabila ada.
Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan harus dilaksanakan pombongkaran untuk pekerjaan
lain, maka Penyedia Jasa konstruksi diwajibkan memperbaiki kembali atau menyelesaikan
pekerjaan tersebut sebaik mungkin tanpa mengganggu sistem yang ada. Dalam kasus ini,
Penyedia Jasa konstruksi tidak dapat menclaim sebagai pekerjaan tambah.
PASAL 15
PERALATAN
Segera setelah penanda tanganan kontrak, Penyedia Jasa harus sudah memobilisasi peralatan
yang akan dibawa dan digunakan dilokasi pekerjaan kepada Direksi Lapangan, sesuai dengan
jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan sebagaimana tertulis dalam daftar peralatan yang telah
disampaikan sebelumnya.
15.1. Persyaratan Umum Tentang Peralatan, Perlengkapan dan Personel
Kontraktor harus menyediakan semua peralatan dan perlengkapan yang diperlukan
untuk melaksanakan pekerjaan ini dan memenuhi semua Persyaratan dalam Kontrak.
Kontraktor diharuskan membuat Daftar Bahan dan Peralatan (checklist) sebelum
melaksanakan setiap jenis pekerjaan untuk disetujui terlebih dahulu oleh Konsultan
Pengawas. Peralatan dan perlengkapan yang digunakan harus benar-benar lengkap,
dapat beroperasi penuh, dan terpelihara dengan baik, secara mekanis berfungsi dengan
sempurna dan sesuai kondisi dan kebutuhan pelaksanaan proyek di site, sehingga
Kontraktor dapat melaksanakan tugasnya dengan aman, dalam waktu yang tepat dan
efisien sesuai dengan persyaratan dalam kontrak.
15.2. Personel pelaksana proyek minimal yang diperlukan dalam pekerjaan konstruksi ini
antara lain :
1. Personil Manajemen Proyek
a. Pelaksana Lapangan
b. Quantity Engineer
c. Ahli K3
d. Drafter
e. Manager Keuangan
f. Logistik
g. Pengawas Lapangan + Dokumentasi
h. Administrasi
j. Satpam
PASAL 16
RUMAH NEGARA
KPP
PASAL 17
PENERAPAN SMKK
konstruksi sementara dengan urutan kerja yang sistematis, guna mempermudah pekerja dan
operator bekerja dan dapat melindungi pekerja, alat dan material dari bahaya dan risiko
kegagalan konstruksi dan kecelakaan kerja;
d. Setiap metode pelaksanaan/konstruksi yang diusulkan penyedia, harus diidentifikasi
bahayanya, diuji efektifitas pelaksanaannya dan efisiensi biayanya. Jika semua faktor kondisi
lokasi/tanah/cuaca, alat, perkakas, material, urutan kerja dan kompetensi pekerja/operator
telah ditinjau dan dianalisis, serta dipastikan dapat menjamin keselamatan, kesehatan dan
keamanan konstruksi dan pekerja/operator, maka metode pelaksanaan dapat disetujui, setelah
dilengkapi dengan gambar dan prosedur kerja yang sistematis dan/atau mudah dipahami oleh
pekerja/operator;
e. Setiap tahapan pelaksanaan konstruksi utama yang mempunyai potensi bahaya dan risiko
tinggi dan sedang, harus dilengkapi dengan metode kerja, yang selamat dan aman. Misalnya
untuk pekerjaan di ketinggian, mutlak harus digunakan perancah, lantai kerja (platform),
papan tepi, tangga kerja, pagar pelindung tepi, serta alat pelindung diri (APD) yang sesuai
antara lain helm dan sabuk keselamatan agar pekerja terlindung dari bahaya jatuh. Untuk
pekerjaan saluran galian tanah berpasir yang mudah longsor dengan kedalaman 1,5 meter atau
lebih, mutlak harus menggunakan turap dan tangga akses bagi pekerja untuk naik/turun;
f. Setiap metoda kerja dan/atau metoda pelaksanaan harus melalui analisis dan perhitungan yang
diperlukan berdasarkan data teknis yang dapat dipertanggung-jawabkan, baik dari standar
yang berlaku, atau melalui penyelidikan teknis dan analisis laboratorium maupun pendapat
ahli terkait yang independen.
e. Setiap identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko dan setiap analisis
keselamatan pekerjaan, sebelum digunakan harus ditinjau dan dievaluasi keandalan dan
ketepatannya oleh Ahli K3 Konstruksi;
f. Apabila tenaga ahli yang berkaitan dengan K3 belum berkompeten melakukan proses
manajemen risiko terkait dengan tugas jabatannya, demikian juga apabila tenaga ahli dan
terampil tersebut belum berkompeten untuk melakukan analisis keselamatan pekerjaannya,
maka mereka wajib meminta atau mendapatkan bantuan atau pelatihan dari Ahli K3
Konstruksi.
PASAL 18
PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan pembersihan lokasi diperlukan untuk menyingkirkan segala sampah dan yang
lainnya yang akan mengganggu pekerjaan serta merusak kekuatan jalan bila tidak dibersihkan.
Pembersihan lokasi juga diperlukan disekitar bangunan untuk melancarkan kegiatan mobilitas
tenaga kerja dan bahan bangunan. Pelaksana harus membersihkan halaman dari segala sesuatu
yang dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan, termasuk pohon-pohon dan
semak-semak yang terdapat pada areal harus ditebang dan dibersihkan sampai keakar-akarnya,
kemudian disingkirkan dari lapangan pekerjaan.
Pengukuran dan pematokan dilakukan dengan seksama agar ukuran bangunan sesuai antara
yang direncanakan dengan yang terpasang.
Pelaksana diwajibkan membuat papan nama proyek atas biaya Pelaksana untuk kepentingan
pelaksanaan proyek. Bentuk dan ukuran isi papan nama berdasarkan ketentuan yang berlaku
dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.
Penyedia Jasa harus membuat papan nama proyek di lokasi yang strategis dan mudah [Link]
nama proyek tersebut harus lengkap, minimal meliputi ; Nama Proyek, Jenis Pekerjaan, Waktu
Pelaksanaan, Biaya, dan Nama Pelaksana.
Pelaksana diwajibkan membuat Gudang/bedeng pekerja yang sesuai dengan bahan yang
ditentukan.
Direksi keet merupakan fasilitas kerja untuk Tim teknis yang ditunjuk Pengguna Jasa di lapangan
(Direksi) serta Konsultan Pengawas. Pembuatan direksi keet beserta perangkat pendukungnya
mengikuti instruksi dari Direksi / Konsultan Pengawas . Disamping itu Penyedia Jasa
konstruksi harus menyediakan keet tersendiri untuk kantor Penyedia Jasa konstruksi dan barak
pekerja serta gudang material, serta km/wc untuk pekerja. Pembuatan keet Penyedia Jasa
konstruksi, barak pekerja, gudang material, km/wc untuk pekerja harus seijin Pengguna Jasa.
Kantor direksi minimal dengan bahan dari tiang kayu kruing dan dinding papan/triplex lantai rabat
beton dilapisi karpet plastik dan atap asbes diberi plafond minimal triplek dicat, setelah akhir
pekerjaan kantor direksi menjadi milik proyek ( pemberi tugas ) sedangkan pembongkaran dan
pembersihannya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa konstruksi.
RUMAH NEGARA
KPP
PASAL 19
PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini mencakup pengadaan bahan dan alat-alat, pemasangan dan perbaikan-perbaikan
selama masa pemeliharaan untuk sistem distribusi daya listrik.
d. Konstruksi
Panel terbuat dari pelat baja setebal 2 mm dengan penguat besi siku atau besi kanal. Box panel
dicat dasar tahan karat di bagian luar dan dalam, sebelum dicat akhir dengan cat oven warna
abu-abu muda. Busbar disangga secara kokoh dengan bahan insulator.
Busbar netral dan busbar pentanahan dipasang pada sisi yang berseberangan (atas dan bawah).
Kotak panel dan benda konduktif lain yang tidak boleh bertegangan harus dihubungkan dengan
baik secara elektrik dengan busbar pentanahan.
Circuit breaker hatus tipe Moulded Case Circuit Breaker (MCCB) tiga fasa, quick make break
dan mempunyai range yang ditunjukkan dalam gambar.
Semua bagian yang menghantarkan listrik seperti busbar atau terminal-terminal dan lain-lain
harus silver plated atau dilapisi bahan lain yang mencegah oksidasi. Ujung-ujung kabel harus
mempunyai sepatu kabel tipe compression.
RUMAH NEGARA
KPP
g. Sistem pentanahan
Semua bagian metal yang dalam keadaan normal tidak bertegangan harus dihubungkan menjadi
satu secara elektrik dengan baik. Rel pentanahan sepanjang panel harus disediakan dan bagian
metal yang disebut diatas harus dihubungkan. Rel pentanahan dihubungkan dengan kawat
tembaga (BC) berpenampang 50 mm 2, dihubungkan dengan rod tembaga berdiameter sesuai
denga gambar, ditanam sedalam 6 m atau sampai diperoleh tahanan pentanahan maksimum 5
ohm.
h. Garansi
Sertifikat pengetesan dari pabrik pembuat kabel harus diserahkan. Sertifikat tersebut harus
menunjukkan bahwa kabel yang bersangkutan adaah sesuai dengan standar yang berlaku. Bila
kabel yang bersangkutan mengalami kegagalan, maka pabrik pembuat kabel bertanggung-
jawab terhadap kabel tersebut, sampai kabel tersebut berhasil dalam pengetesan ulang dan
diterima baik oleh konsultan pengawas.
i. Tambahan
Kontraktor harus menambahkan peralatan pembantu yang diperlukan untuk pekerjaan ini
(meskipun tidak disebutkan dalam persyaratan teknis) untuk memberikan performance yang
dikehendaki.
b. Pengetesan
Test penyalaan dilaksanakan setelah instalasi terpasang. Pada test penyalaan ini akan diuji mutu
instalasi.
c. Jaringan instalasi
Proses pemasangan jaringan dengan menggunakan kabel tanah mengikuti ketentuan ketentuan
sebagai berikut :
1. Pemasangan kabel tanah di dalam tanah harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa
sehingga kabel tersebut terhindar dari kerusakan mekanis dan kimiawi yang mungkin
timbul ada tempat dimana kabel tanah tersebut terpasang.
2. Pelaksanaan penanaman kabel yang tidak dapat memenuhi kedalaman , maka penanaman
kabelnya dilakukan sebagai berikut :
Minimum 0.80 meter di bawah permukaan tanah pada jalan-jalan yang dilewati kendaraan.
Minimum 0.60 meter di bawah permukaan tanah pada jalan-jalan yang tidak dilewati
kendaraan (pedestrian).
Kabel tanah harus diletakkan pada pasir atau tanah halus, galian tanah tersebut harus stabil,
kuat dan rata dengan ketentuan tebal lapisan pasir atau tanah halus tersebut tidak lebih
dari 10 cm di sekeliling kabel tanah tersebut.
Pada kondisi dimana terdapat kabel PLN tegangan menengah atau tinggi dan kabel
telekomunikasi maka kabel tanah harus ditempatkan di atas kabel PLN (jarak 30 cm) dan
kabel telekomunikasi (jarak 3 cm).
Pada persilangan dimana terdapat kabel tanah dan kabel lainnnya harus diambil salah satu
tindakan pengamanan yang disebutkan dalam ketentuan di bawah ini, keculai jika salah
satu kabel tanah yang bersilangan itu terletak dalam satu saluran pasangan batu beton atau
semacam itu yang mempunyai tebal dinding sekurang-kurangnya 6 cm.
1). Di atas kabel tanah yang terletak di bawah, harus dipasang tutup pelindung dari
lempengan atau pipa beton atau sekurang-kurangnya dari bahan yang tahan lama atau
yang sedrajat.
2). Di atas kabel yang terletak di atas, dipasang pipa belah beton atau dari bahan lain yang
cukup kuat, tahan lama dan tahan api. Pipa belah ini harus dipasang menjorok keluar
sekurang-kurangnya 0.5 meter dari kabel yang terletak di bawah diukur dari sisi luar
kabel.
d. Kotak-kontak Biasa (KKB)
Kotak-kontak Biasa (KKB) yang dipakai adalah kotak-kontak satu fasa. Semua kotak-konta
harus memiliki terminal fasa, netral dan pentanahan. Kotak-kontak harus dari satu tipe yaitu
untuk pemasangan rata dinding
dengan rating 250 Volt, 10 Amp.
e. Sakelar dinding
Sakelar harus dari satu tipe yaitu untuk pemasangan rata dinding, tipe rocker, mempunyai rating
250 volt, 10 Amp dari jenis single atau doble gangs atau multiple gangs (grid switches), RCS.
f. Kotak untuk sakelar dan kotak-kontak
Kotak harus dari bahan baja dengan kedalaman minimal 35 mm. Kotak harus mempunyai
terminal pentanahan.
Sakelar dan kotak-kontak terpasang pada kotak dengan menggunakan baut.
RUMAH NEGARA
KPP
PEMASANGAN
A. Pemasangan lampu-lampu
- Semua fixture penerangan dan perlengkapan-perlengkapan harus dipasang oleh tukang-
tukang yang berpengalaman dengan cara yang harus disetujui oleh pengawas dan seperti
yang ditunjukkan dalam gambar.
- Pada waktu diselesaikan pemasangan fixture penerangan, seluruhnya harus dalam keadaan
baik dan siap untuk bekerja dalam kondisi sempurna serta bebas dari semua cacat /
kekurangan.
- Pada waktu pemeriksaan akhir semua fixture dan perlengkapan harus siap menyala.
- Semua fixture dan perlengkapan harus bersih dari debu, plester dan lain-lain.
- Semua reflektor, kaca, panil pinggir atau bagian-bagian lain yang rusak sebelum
pemeriksaan akhir harus diganti oleh kontraktor tanpa tambahan biaya.
B. Sakelar dan Kotak-kontak Biasa
Kecuali tercatat dan dipersyaratkan lain, tinggi pemasangan sakelar adalah 150 cm dari
permukaan lantai dan untuk kotak-kontak biasa harus 40 cm dari permukaan lantai.
Apabila ada lebih dari lima sakelar dinding atau kotak-kontak biasa ditempatkan pada lokasi
yang sama, maka dua deret kotak-kontak tunggal, ganda atau multi gangs harus dipasang satu
diatas yang lain dan titik tengah deretan tersebut harus berda 1.45 cm di atas permukaan lantai.
Kotak-kontak biasa dekat pintu atau jendela harus dipasang 20 cm dari pinggir kusen pada sisi
kunci seperti ditunjukkan dalam gambar-gambar arsitektur, kecuali ditunjukkan lain oleh
pengawas.
PENGUJIAN
Pengujian seluruh sistem diselenggarakan setelah seluruh pekerjaan selesai. Pengujian sistem terdiri
dari :
- Pengujian sambungan-sambungan
- Pengujian tahanan isolasi tiap sirkuit
RUMAH NEGARA
KPP
PASAL 20
PEKERJAAN SANITAIR DAN AIR BERSIH (PLUMBING)
1. Lingkup Pekerjaan
a. Termasuk dalam pekerjaan pemasangan sanitair ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan-
bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan dalam pekerjaan ini sehingga
tercapai hasil pekerjaan yang bermutu dan sempurna dalam pemakaiannya.
b. Pekerjaan pemasangan sanitair ini sesuai yang dinyatakan/ditunjukkan dalam detail gambar,
uraian dan syarat-syarat dalam buku ini.
c. Pengadaan, pemasangan dan pengujian secara sempurna unit-unit peralatan utama yang
diperlukan dalam sistim penyediaan air bersih yaitu instalansi pemipaannya beserta alat
bantunya.
d. Pemasangan dan pengujian pipa-pipa distribusi kesetiap peralatan sanitasi dan lain- lain
seperti yang tercantum dalam gambar.
e. Memperbaiki semua kerusakan, semua galian yang diakibatkan baik oleh bobokan- bobokan,
galian-galian maupun oleh kecerobohan para pekerja.
f. Pengujian terhadap kebocoran dan tekanan dari sistim plumbing air bersih secara
keseluruhan dan mengadakan pengamatan sampai sistim berjalan baik, sesuai yang
dikehendaki, yaitu suatu sistim instalasi yang sempurna dan terpadu.
g. Pengadaan Air Bersih bersumber dari Penampung air Hujan
2. Persyaratan Bahan
a. Semua material harus memenuhi ukuran,standard dan mudah didapatkan dipasaran, kecuali bila
ditentukan lain.
b. Semua peralatan dalam keadaan lengkap dengan segala perlengkapannya, sesuai dengan yang
telah disediakan oleh pabrik untuk masing-masing type yang dipilih.
c. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah disediakan oleh pabrik untuk masing-
masing type yang dipilih.
d. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah disyaratkan dalam uraian syarat-syarat
dalam buku
3. Pelaksanaan
a. Semua bahan sebelum dipasang harus ditunjukkan kepada Consultant Construction
Management beserta persyaratan/ketentuan pabrik untukmendapatkan persetujuan. Bahan
yang tidak disetujui harus diganti tanpa biayatambahan.
RUMAH NEGARA
KPP
III. PENUTUP
Demikian persyaratan teknis / bestek ini dibuat untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana
mestinya dengan penuh rasa tanggung jawab.
……………
NIP. ………………