0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan21 halaman

Rencana Kerja Pembangunan Rumah KPP Ketapang

Dokumen ini adalah Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) untuk pembangunan Rumah Dinas Negara KPP Ketapang, Kalimantan Barat. Terdapat spesifikasi teknis mengenai material dan prosedur pelaksanaan pekerjaan, termasuk persyaratan keselamatan kerja dan pemeriksaan bahan bangunan. Kontraktor diharuskan mengikuti ketentuan yang berlaku dan mengajukan rencana kerja yang disetujui sebelum memulai pekerjaan.

Diunggah oleh

Rizka Dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan21 halaman

Rencana Kerja Pembangunan Rumah KPP Ketapang

Dokumen ini adalah Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) untuk pembangunan Rumah Dinas Negara KPP Ketapang, Kalimantan Barat. Terdapat spesifikasi teknis mengenai material dan prosedur pelaksanaan pekerjaan, termasuk persyaratan keselamatan kerja dan pemeriksaan bahan bangunan. Kontraktor diharuskan mengikuti ketentuan yang berlaku dan mengajukan rencana kerja yang disetujui sebelum memulai pekerjaan.

Diunggah oleh

Rizka Dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KERJA

DAN SYARAT-
SYARAT

PEMBANGUNAN RUMAH NEGARA


KANTOR PELAYANAN PAJAK
PRATAMA KETAPANG
KALIMANTAN BARAT
DAFTAR SPESIFIKASI TEKNIS

Material
No Uraian
Pekerjaan Bahan Spesifikasi Yang Di Usulkan Merk
PEKERJAAN
STRUKTUR DAN
ARSITEKTUR
RENCANA KERJA DAN
SYARAT-SYARAT (RKS)

PEKERJAAN :

RUMAH DINAS NEGARA KPP KETAPANG


RUMAH NEGARA
KPP

SPESIFIKASI TEKNIS (OUTLINE SPEC)

NO URAIAN PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS - MATERIAL


1 Pekerjaan Elektrikal - Lampu Led 6 W
- Lampu Inbow 12 Wat
- Lampu RM Led 2x16 Wat
- Stop Kontak 200 W
- Saklar 1
- Saklar 2
- Saklar 3
- Box MCB
RUMAH NEGARA
KPP

URAIAN SINGKAT PEKERJAAN

Satuan Kerja :
Pekerjaan :
SubPekerjaan :

Lokasi : Jalan [Link] Kabupaten Ketapang, [Link] Barat


Tahun Angaran : 2023

BAB I
I. PERSYARATAN TEKNIS UMUM

PASAL 1
URAIAN PEKERJAAN

1.1 Pekerjaan ini harus diserah terimakan oleh pelaksana pekerjaan konstruksi setelah pekerjaan
selesai dengan bobot realisasi mencapai 100 % (seratus persen) atas persetujuan Direksi
termasuk perbaikan kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi pada bangunan yang dikerjakan
dan pembersihan lokasi.
1.2 Sarana Bekerja
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan harus
menyediakan :
a. Tenaga kerja/ tenaga ahli yang memadai sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan.
b. Alat-alat bantu seperti alat-alat pengangkut dan peralatan lain yang dipergunakan untuk
pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
c. Penyediaan bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap pekerjaan yang
akan dilaksanakan tepat pada waktunya.
1.3 Cara Pelaksanaan
Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam
rencana kerja dan syarat-syarat ( RKS ), gambar-gambar, Berita Acara Penjelasan serta
mengikuti petunjuk dan keputusan Konsultan Pengawas.

PASAL 2
JENIS DAN MUTU BAHAN

2.1 Jenis dan mutu bahan yang dipakai diutamakan dari produksi dalam negeri sesuai dengan
keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi dan Menteri Perindustrian.
RUMAH NEGARA
KPP

PASAL 3
GAMBAR – GAMBAR

Pada RKS ini dilampirkan antara lain :


3.1 Gambar Kerja :
Gambar konstruksi beserta detailnya,Gambar yang dipakai pada pelaksanaan tercantum dalam
Spesifikasi Khusus / Teknis.

PASAL 4
DASAR HUKUM YANG DIGUNAKAN

4.1 Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan syarat-
syarat ( RKS ) ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan di bawah ini termasuk segala
perubahan dan tambahannya yaitu sebagai berikut :
a. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia atau algemene
Voorwaarden Voor De Witvoering Bij Aanneming Van Openbare Werken ( AV ) 1941.
b. Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga kerja.
c. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PPKI ) 1961.
d. UU no.28 tahun 2002 tentang Bangunan dan Gedung
e. Perpres 73 Tahun 2011 tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara
f. Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Pembangunan Gedung Negara oleh Departemen
Pekerjaan Umum (Permen PU No.45 tahun 2007)
g. SNI 034433 1997 Spesifikasi Beton Siap Pakai
h. SNI 031972 1990 Uji Slump
i. SNI 031974 1990 Metode Pengujian Kuat Tekan Beton
j. SNI Beton 2847 : 2013
k. SNI Tulangan Beton 2052 : 2014
l. SNI 030691 1996 Paving Blok
m. Ketentuan dan peraturan lain yang dikeluarkan oleh Instansi pemerintah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan bangunan.
4.2 Pada pelaksanaan pekerjaan dalam pasal 1 ayat (2) tersebut di atas, berlaku dan mengikat pula,
antara lain :
a. Gambar bestek yang dibuat oleh Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh Pemberi
tugas termasuk juga gambar-gambar detail pelaksanaan (shop drawing) yang diselesaikan oleh
Kontraktor dan sudah disyahkan / disetujui oleh Konsultan Pengawas atas persetujuan
Direksi.
b. Rencana kerja dan Syarat-syarat (RKS).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
d. Berita Acara Penunjukan.
e. Surat Keputusan Pemimpin Proyek tentang penunjukan kontraktor.
f. Surat Perintah Kerja (SPK).
g. Surat Penawaran beserta lampiran-lampirannya.
Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang disetujui konsultan Pengawas dan atas
persetujuan Direksi.
RUMAH NEGARA
KPP

PASAL 5
PENJELASAN RKS DAN GAMBAR

5.1 Kontraktor wajib meneliti semua gambar dan rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) termasuk
tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
(Aanwijzing).
5.2 Bila gambar tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan syarat-syarat (RKS), maka yang
mengikat/berlaku adalah ketentuan yang ada dalam RKS. Bila suatu gambar tidak cocok dengan
gambar yang lain, maka gambar yang mempunyai skala besar yang berlaku.
5.3 Bila perbedaan-perbedaan tersebut menimbulkan keragu-raguan sehingga dalam pelaksanaannya
menimbulkan kesalahan, maka kontraktor wajib menanyakan kepada konsultan Pengawas atas
persetujuan Direksi, dan kontraktor harus mengikuti keputusannya.

PASAL 6
JADWAL PELAKSANAAN

6.1 Sebelum memulai pekerjaan nyata di lapangan, kontraktor wajib membuat rencana pelaksanaan
pekerjaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bart-Chart dan CURVA  S .
6.2 Rencana kerja tersebut harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas dan
atas persetujuan Direksi, paling lambat 7 ( tujuh ) hari kalender setelah Surat Perintah Kerja
(SPK) diterima oleh kontraktor.
6.3 Kontraktor wajib memberikan salinan rencana kerja sebanyak 4 ( empat ) rangkap kepada Direksi
Lapangan.
6.4 Konsultan Pengawas atas persetujuan Direksi akan menilai prestasi pekerjaan kontraktor
berdasarkan rencana kerja tersebut.

PASAL 7
KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN

7.1 Di lapangan pekerjaan, kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa kontraktor atau biasa disebut
Pelaksana Lapangan yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan di lapangan
dan mendapat kuasa penuh dari kontraktor. Penunjukan atau penugasan tenaga ahli yang bertugas
di lapangan tersebut ditujukan kepada pemberi tugas Pengelola Teknis dan Konsultan Pengawas.
7.2 Dengan adanya Pelaksana Lapangan, tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung jawab dari
sebagian maupun keseluruhan kewajibannya.
7.3 Kontraktor wajib memberitahu secara tertulis kepada Pengelola Teknis Proyek dan Konsultan
Pengawas, nama dan jabatan pelaksana untuk mendapatkan persetujuan.
7.4 Bila kemudian hari, menurut pendapat Pengelola Proyek dan Konsultan Pengawas Pelaksana
kurang mampu atau tidak cakap memimpin pekerjaan, maka akan diberi tahukan kepada
kontraktor secara tertulis untuk mengganti pelaksana pekerjaan.
RUMAH NEGARA
KPP

PASAL 8
JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA

8.1 Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat pertolongan pertama pada
kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap digunakan dilapangan untuk mengatasi segala
kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja yang ada di lapangan.
8.2 Kontraktor wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi syarat-syarat
kesehatan, kamar mandi dan WC serta air yang bersih yang layak bagi semua petugas dan pekerja
yang ada di lapangan. Membuat tempat penginapan di dalam lapangan pekerjaan untuk menjaga
keamanan.
Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan para pekerja wajib diberikan
kontraktor sesuai dengan peraturan yang berlaku.

PASAL 9
SITUASI DAN UKURAN

9.1 SITUASI
 Kontraktor wajib meneliti situasi tapak, terutama keadaan tanah bangunan, sifat dan luasnya
pekerjaan dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi harga penawarannya.
 Kelalaian atau kurang telitinya Kontraktor dalam hal ini tidak dijadikan alasan untuk
mengajukan alasan tuntutan.

9.2 UKURAN
 Ukuran satuan yang digunakan di sini semuanya dinyatakan dalam cm, kecuali ukuran-
ukuran untuk bahan bangunan tertentu yang dinyatakan dalam inci atau mm.
 Peil (permukaan atas lantai) ditetapkan  0,00 adalah sama dengan muka lantai dasar
bangunan yang berada didekatnya atau menurut petunjuk dari Direksi.
Pengukuran dilakukan untuk Penentuan lokasi bangunan, jalan, trotoar, door lop, landscaping dan
lain-lain.

PASAL 10
SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN BAHAN BANGUNAN

10.1 Sebelum memulai pekerjaan,kontraktor wajib mengajukan request pekerjaan kepada konsultan
pengawas dan mendapatkan aproval (persetujuan) dari konsultan pengawas dan diketahui oleh
direksi.
10.2 Semua bahan bangunan yang didatangkan harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.
10.3 Konsultan Pengawas berwenang mengetahui asal dan kondisi bahan dan kontraktor wajib
memberitahu dan menjelaskannya.
10.4 Kontraktor wajib memperlihatkan contoh bahan-bahan bangunan sebelum digunakan di
lapangan. Contoh-contoh ini harus mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas.
10.5 Bahan bangunan yang telah didatangkan Kontraktor di lapangan pekerjaan, tetapi ditolak
pemakainnya oleh Konsultan Pengawas, harus segera dikeluarkan dan selanjutnya dibongkar
atas biaya kontraktor dalam waktu 2 x 24 jam, terhitung dari jam penolakan.
RUMAH NEGARA
KPP

10.6 Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilakukan kontraktor tetapi ditolak oleh Konsultan
Pengawas, maka pekerjaan tersebut harus segera dihentikan dan selanjutnya dibongkar atas
biaya kontraktor dalam waktu yang ditetapkan oleh Konsultan Pengawas.
10.7 Apabila Konsultan Pengawas merasa perlu meneliti sesuatu bahan lebih lanjut, Konsultan
Pengawas berhak mengirimkan bahan tersebut kepada Balai Penelitian Bahan (Laboratorium)
yang terdekat untuk diteliti. Biaya pengiriman dan penelitian menjadi tanggungan kontraktor
apapun hasil penelitian bahan tersebut.

PASAL 11
PEMERIKSAAN PEKERJAAN

11.1 Sebelum memulai pekerjaan lanjutannya yang apabila pekerjaan ini telah selesai, akan tetapi
belum diperiksa oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor wajib memintakan persetujuan kepada
Konsultan Pengawas, kemudian apabila Konsultan Pengawas telah menyetujui bagian
pekerjaan tersebut, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaan.
11.2 Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam (dihitung dari diterima surat
permohonan pemeriksaan, tidak dihitung hari raya/libur) tidak dipenuhi oleh Konsultan
Pengawas, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang seharusnya diperiksa
dianggap telah disetujui Konsultan Pengawas, hal ini dikecualikan bila Konsultan Pengawas
minta perpanjangan waktu.
11.3 Bila Kontraktor melanggar ayat 1 pasal ini, Konsultan Pengawas berhak menyuruh
membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk diperbaiki. Biaya
pembongkaran dan pemasangan kembali menjadi tanggungan Kontraktor.
Adanya pekerjaan tambahan yang tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab keterlambatan
penyerahan pekerjaan, tetapi Konsultan Pengawas / Bimbingan Teknik Pembangunan (BTP)
dapat mempertimbangkan perpanjangan waktu karena adanya pekerjaan tambah tersebut.

PASAL 12
PEKERJAAN UNTUK MELINDUNGI KERUSAKAN

Pekerjaan-pekerjaan untuk melindungi kerusakan:


 Kontrol air di permukaan dan di bawah tanah selama masa pembangunan dan masa
pemeliharaan dengan jaminan. Lindungilah seluruh lapangan terhadap air yang menggenang,
yang mengalir yang dapat menimbulkan erosi, serta tanah longsor. Ini meliputi pembuatan
tanggul-tanggul, selokan-selokan sementara, sumur-sumur, alat-alat pompa dan lain-lain guna
mencegah kerusakan atau dibawah tanah ditempat yang berdekatan, serta pengaruhnya terhadap
bangunan disekitarnya.
 Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kerusakan-kerusakan termasuk kerusakan-
kerusakan bangunan dan infrastruktur disekitarnya akibat pelaksanaan proyek tersebut.
 Perpanjangan jangka waktu kontrak yang disebabkan lapangan belum siap tidak akan
dipertimbangkan, kecuali bila Kontraktor telah melakukan semua usaha-usaha perlindungan
yang mungkin.
RUMAH NEGARA
KPP

PASAL 13
PERLENGKAPAN PELAKSANA DAN ADMINISTRASI TEKNIS PELAKSANA

 Shop Drawing
a. Penyedia Jasa konstruksi wajib membuat shop drawing untuk detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun yang diminta oleh
Direksi / Konsultan Pengawas / Perencana.
b. Dalam Shop Drawing ini harus jelas dicantumkan Konsultan Pengawasan dan digambarkan
semua data yang diperlukan termasuk pengajuan contoh bahan, keterangan produk, cara
pemasangan dan / atau spesifikasi / persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik.

 Sarana Kerja
a. Penyedia Jasa konstruksi wajib memasukkan identitas, nama, jabatan, keahlian masing-
masing anggota kelompok kerja pelaksana dan inventarisasi peralatan yang dipergunakan
dalam pekerjaan ini
b. Penyedia Jasa konstruksi wajib memasukkan identifikasi tempat kerja (workshop dan
peralatan yang dimiliki dimana pekerjaan Penyedia Jasa konstruksi akan dilaksanakan serta
jadwal kerja

c. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/material di lapangan harus aman dari segala


kerusakan, kehilangan dan hal-hal yang dapat mengganggu pekerjaan lain yang sedang
berjalan serta memenuhi persyaratan penyimpanan bahan tersebut.

 Pengajuan Bahan Pekerjaan


a. Semua merk pembuatan atau merk dagang dalam uraian pekerjaan & persyaratan
Pelaksanaan teknis ini dimaksudkan sebagai dasar perbandingan kualitas dan tidak diartikan
sebagai suatu yang mengikat, kecuali bila ditentukan lain.
b. Bahan/material dan komponen jadi yang dipasang/dipakai harus sesuai dengan yang
tercantum dalam Gambar, memenuhi standard spesifikasi bahan tersebut.
c. Dalam pelaksanaanya, setiap bahan/material dan komponen jadi keluaran pabrik harus di
bawah Konsultan Pengawas / supervisi Tenaga Ahli yang ditunjuk.
d. Direksi / Konsultan Pengawas berhak menunjuk Tenaga Ahli yang ditunjuk Pabrik
dan/atau Supplier yang bersangkutan tersebut sebagai pelaksana
e. Diisyaratkan bahwa satu merk pembuatan atau merk dagang yang diperkenankan untuk
setiap jenis bahan yang boleh dipakai dalam pekerjaan ini, kecuali ada ketentuan lain yang
disetujui Direksi / Konsultan Pengawas .
f. Semua bahan sebelum dipasang harus disetujui secara tertulis oleh Direksi / Konsultan
Pengawas / Perencana
g. Contoh bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada Direksi / Konsultan Pengawas
/ Perencana sebanyak empat buah dari satu bahan yang ditentukan untuk menetapkan standard of
appearence.
h. Paling lambat waktu penyerahan contoh bahan adalah dua minggu setelah SP
KONSULTAN PENGAWAS turun.

 Transportasi
RUMAH NEGARA
KPP

Penyedia Jasa harus menyediakan kendaraan untuk dipakai oleh Direksi dan stafnya pada
setiap waktu yang dikehendaki, seperti yang terdaftar dalam Spesifikasi Khusus untuk tugas
dinas, sekitar dan berhubungan dengan pekerjaan dalam kontrak ini.
Apabila menurut Direksi Lapangan kendaraan tersebut menjadi tidak bisa dipakai,
Penyedia Jasa harus menggantinya dengan tanpa penundaan.
Penyedia Jasa harus menyediakan pengemudi yang baik serta semua keperluan lainnya
seperti bahan bakar, oli dan sebagainya dan harus menanggung biaya yang berhubungan
dengan jalannya, pemeliharaan, perijinan dan asuransi. Setelah selesainya pekerjaan
kendaraan tersebut dapat dikembalikan kepada Penyedia Jasa.
Kendaraan tersebut tidak boleh ditukar dalam waktu pelaksanaan kecuali dengan ijin dari
Direksi Lapangan.

PASAL 14
PEKERJAAN PEMBONGKARAN DAN PERBAIKAN KEMBALI

a. Penyedia Jasa konstruksi harus sudah memperhitungkan segala kondisi yang ada / existing
di Lapangan yang meliputi dan tidak terbatas pada Saluran Drainase, Pipa Air Bersih, Pipa
lainnya yang masih berfungi dan kabel bawah tanah apabila ada.
Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan harus dilaksanakan pombongkaran untuk pekerjaan
lain, maka Penyedia Jasa konstruksi diwajibkan memperbaiki kembali atau menyelesaikan
pekerjaan tersebut sebaik mungkin tanpa mengganggu sistem yang ada. Dalam kasus ini,
Penyedia Jasa konstruksi tidak dapat menclaim sebagai pekerjaan tambah.

PASAL 15
PERALATAN

Segera setelah penanda tanganan kontrak, Penyedia Jasa harus sudah memobilisasi peralatan
yang akan dibawa dan digunakan dilokasi pekerjaan kepada Direksi Lapangan, sesuai dengan
jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan sebagaimana tertulis dalam daftar peralatan yang telah
disampaikan sebelumnya.
15.1. Persyaratan Umum Tentang Peralatan, Perlengkapan dan Personel
Kontraktor harus menyediakan semua peralatan dan perlengkapan yang diperlukan
untuk melaksanakan pekerjaan ini dan memenuhi semua Persyaratan dalam Kontrak.
Kontraktor diharuskan membuat Daftar Bahan dan Peralatan (checklist) sebelum
melaksanakan setiap jenis pekerjaan untuk disetujui terlebih dahulu oleh Konsultan
Pengawas. Peralatan dan perlengkapan yang digunakan harus benar-benar lengkap,
dapat beroperasi penuh, dan terpelihara dengan baik, secara mekanis berfungsi dengan
sempurna dan sesuai kondisi dan kebutuhan pelaksanaan proyek di site, sehingga
Kontraktor dapat melaksanakan tugasnya dengan aman, dalam waktu yang tepat dan
efisien sesuai dengan persyaratan dalam kontrak.

Daftar peralatan dimaksud yang sudah diperhitungkan oleh Kontraktor dalam


penawarannya adalah jumlah peralatan minimum yang Kontraktor sediakan di site,
adanya daftar tersebut tidak berarti bahwa Pemberi Tugas mengakui bahwa jumlah
peralatan tersebut telah mencukupi kebutuhan pelaksanaan pekerjaan, instruksi
penambahan peralatan sesuai perkembangan kebutuhan pelaksanaan lapangan yang
RUMAH NEGARA
KPP

dikeluarkan Konsultan Pengawas untuk mencapai target pelaksanaan pekerjaan harus


telah diperhitungkan dalam pengajuan penawaran harga pekerjaan sehingga tidak dapat
diperhitungkan sebagai kerja tambah.
Peralatan yang diperlukan dalam pekerjaan konstruksi ini antara lain :

No. Jenis Kapasitas Minimal Jumlah


1. Pick Up Menyesuaikan 1 Unit
2. Dump Truck 3-4 M3 1 Unit
3. Concrete Mixer Minimal 0,3 M3 3 Unit
4. Concrete Vibrator Minimal 5 HP 1 Unit
5. Alat Pertukangan : Menyesuaikan 1 Set
a. Cangkul
b. Tang
c. Catut
d. Bor
e. Palu
f. Gergaji
g. Waterpass
h. Obeng
i. Ember
j. Meteran
k. Penggaris Siku
l. Trowel
m. Sendok Semen
n. Palu Karet
o. Linggis
p. Alat Pemotong Keramik
q. Unting-unting
r. Arko

15.2. Personel pelaksana proyek minimal yang diperlukan dalam pekerjaan konstruksi ini
antara lain :
1. Personil Manajemen Proyek
a. Pelaksana Lapangan
b. Quantity Engineer
c. Ahli K3
d. Drafter
e. Manager Keuangan
f. Logistik
g. Pengawas Lapangan + Dokumentasi
h. Administrasi
j. Satpam

PASAL 16
RUMAH NEGARA
KPP

PEKERJAAN TAMBAH / KURANG


16.1 Tugas mengerjakan pekerjaan tambah / kurang diberitahukan dengan tertulis atau ditulis dalam
buku harian oleh Konsultan Pengawas atas persetujuan Pemberi Tugas.
Pekerjaan tambah / kurang hanya berlaku bila memang ternyata ada perintah tertulis dari
Konsultan pengawas atas persetujuan Pemberi tugas.
16.2 Biaya pekerjaan tambah / kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga satuan yang
dimasukkan oleh Kontraktor dalam suatu daftar, yang pembayarannya diperhitungkan bersama
dengan angsuran terakhir.
16.3 Untuk pekerjaan tambah yang harga satuannya tidak tercantum dalam harga satuan yang
dimasukkan dalam penawaran, harga satuannya akan ditentukan lebih lanjut oleh Konsultan
Pengawas bersama-sama kontraktor dengan persetujuan Pemberi Tugas.

II. PERSYARATAN TEKNIS KHUSUS

PASAL 17
PENERAPAN SMKK

1. Spesifikasi Teknis Proses/Kegiatan:


a. Ahli K3 harus mengidentifikasi bahaya dari setiap jenis proses atau tahapan kegiatan
pekerjaan konstruksi, dan menetapkan spesifikasi proses/kegiatan yang harus dilakukan oleh
penyedia;
b. Setiap jenis proses/kegiatan sedapat mungkin dipilih yang paling kecil bahaya dan risikonya,
dan diberi penjelasan prosedur kerja yang lebih aman dan selamat;
c. Setiap proses/kegiatan harus dilengkapi dengan prosedur kerja, sistem perlindungan terhadap
pekerja, perlengkapan pengaman, dan rambu-rambu peringatan dan kewajiban pekerja
menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya pada proses
tersebut;
d. Setiap jenis proses/kegiatan pekerjaan yang baru, atau pada keadaan yang berbeda, harus
lebih dulu dilakukan analisis bahaya dan risikonya (Job Safety Analysis) dan harus dilakukan
tindakan pengendaliannya;
e. Setiap proses/kegiatan yang berbahaya harus melalui prosedur ijin kerja lebih dulu dari
penanggung-jawab proses dan Ahli K3 Konstruksi;
f. Setiap proses dan kegiatan pekerjaan hanya boleh dilakukan oleh tenaga kerja dan/atau
operator yang telah terlatih dan telah mempunyai kompetensi untuk melaksanakan jenis
pekerjaan/tugasnya, termasuk kompetensi melaksanakan prosedur keselamatan dan kesehatan
kerja yang sesuai pada jenis pekerjaan/tugasnya tersebut.

2. Spesifikasi Teknis Metode Konstruksi/ Metode Pelaksanaan/Metode Kerja


a. Identifikasi bahaya harus dilakukan terhadap setiap metode konstruksi/metode pelaksanaan
pekerjaan, dan persyaratan teknis yang ditetapkan harus dipenuhi oleh penyedia untuk
mencegah terjadinya kegagalan konstruksi dan kecelakaan;
b. Metode pelaksanaan harus disusun secara logis, realistik dan dapat dilaksanakan dengan
menggunakan peralatan, perkakas, material dan konstruksi sementara, yang sesuai dengan
kondisi lokasi/tanah/cuaca, dan dapat dikerjakan oleh pekerja dan oprator yang terlatih;
c. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi penyedia dalam menyusun dan menggunakan metoda
pelaksanaan dapat meliputi penggunaan alat utama dan alat bantu, perkakas, material dan
RUMAH NEGARA
KPP

konstruksi sementara dengan urutan kerja yang sistematis, guna mempermudah pekerja dan
operator bekerja dan dapat melindungi pekerja, alat dan material dari bahaya dan risiko
kegagalan konstruksi dan kecelakaan kerja;
d. Setiap metode pelaksanaan/konstruksi yang diusulkan penyedia, harus diidentifikasi
bahayanya, diuji efektifitas pelaksanaannya dan efisiensi biayanya. Jika semua faktor kondisi
lokasi/tanah/cuaca, alat, perkakas, material, urutan kerja dan kompetensi pekerja/operator
telah ditinjau dan dianalisis, serta dipastikan dapat menjamin keselamatan, kesehatan dan
keamanan konstruksi dan pekerja/operator, maka metode pelaksanaan dapat disetujui, setelah
dilengkapi dengan gambar dan prosedur kerja yang sistematis dan/atau mudah dipahami oleh
pekerja/operator;
e. Setiap tahapan pelaksanaan konstruksi utama yang mempunyai potensi bahaya dan risiko
tinggi dan sedang, harus dilengkapi dengan metode kerja, yang selamat dan aman. Misalnya
untuk pekerjaan di ketinggian, mutlak harus digunakan perancah, lantai kerja (platform),
papan tepi, tangga kerja, pagar pelindung tepi, serta alat pelindung diri (APD) yang sesuai
antara lain helm dan sabuk keselamatan agar pekerja terlindung dari bahaya jatuh. Untuk
pekerjaan saluran galian tanah berpasir yang mudah longsor dengan kedalaman 1,5 meter atau
lebih, mutlak harus menggunakan turap dan tangga akses bagi pekerja untuk naik/turun;
f. Setiap metoda kerja dan/atau metoda pelaksanaan harus melalui analisis dan perhitungan yang
diperlukan berdasarkan data teknis yang dapat dipertanggung-jawabkan, baik dari standar
yang berlaku, atau melalui penyelidikan teknis dan analisis laboratorium maupun pendapat
ahli terkait yang independen.

3. Spesifikasi Jabatan Kerja Konstruksi


a. Setiap kegiatan/pekerjaan perancangan, perencanaan, perhitungan dan gambar-gambar
konstruksi, penetapan spesifikasi dan prosedur teknis serta metode pelaksanaan/
konstruksi/kerja harus dilakukan oleh tenaga ahli yang mempunyai kompetensi yang
dipersyaratkan, baik pekerjaan arsitektur, struktur/sipil, mekanikal, elektrikal, plumbing dan
penataan lingkungan maupun interior dan jenis pekerjaan lain yang terkait;
b. Setiap tenaga ahli tersebut pada butir 1) di atas harus mempunyai kemampuan untuk
melakukan proses manajemen risiko (identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian
risiko) yang terkait dengan disiplin ilmu dan pengalaman profesionalnya, dan dapat
memastikan bahwa semua potensi bahaya dan risiko yang terkait pada bentuk rancangan,
spesifikasi teknis dan metode kerja/konstruksi tersebut telah diidentifikasi dan telah
dikendalikan pada tingkat yang dapat diterima sesuai dengan standar teknik dan standar K3
yang berlaku;
c. Setiap kegiatan/pekerjaan pelaksanaan, pemasangan, pembongkaran, pemindahan,
pengangkutan, pengangkatan, penyimpanan, perletakan, pengambilan, pembuangan,
pembongkaran dsb, harus dilakukan oleh tenaga ahli dan tenaga terampil yang berkompeten
berdasarkan gambar gambar, spesifikasi teknis, manual, pedoman dan standar serta rujukan
yang benar dan sah atau telah disetujui oleh tenaga ahli yang terkait;
d. Setiap tenaga ahli dan tenaga terampil dibidang K3 di atas harus mempunyai kemampuan
melakukan analisis keselamatan pekerjaan (job safety analysis) setiap sebelum memulai
pekerjaannya, untuk memastikan bahwa potensi bahaya dan risiko telah diidentifikasi dan
diberikan tindakan pencegahan terhadap kecelakaan kerja dan/atau pemaparan penyakit di
tempat kerja;
RUMAH NEGARA
KPP

e. Setiap identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko dan setiap analisis
keselamatan pekerjaan, sebelum digunakan harus ditinjau dan dievaluasi keandalan dan
ketepatannya oleh Ahli K3 Konstruksi;
f. Apabila tenaga ahli yang berkaitan dengan K3 belum berkompeten melakukan proses
manajemen risiko terkait dengan tugas jabatannya, demikian juga apabila tenaga ahli dan
terampil tersebut belum berkompeten untuk melakukan analisis keselamatan pekerjaannya,
maka mereka wajib meminta atau mendapatkan bantuan atau pelatihan dari Ahli K3
Konstruksi.

Dalam rangka mengantisipasi penyebaran Virus Covid-19,pelaksana wajib menyiapkan perangkat


safety untuk pekerja ,konsultan pengawas ,direksi dan tamu pada area kerja seperti Wastafel
dan penampung air untuk cuci tangan,hand sanitizer,masker,alat pengecek suhu tubuh.

PASAL 18
PEKERJAAN PERSIAPAN

 Pekerjaan pembersihan lokasi diperlukan untuk menyingkirkan segala sampah dan yang
lainnya yang akan mengganggu pekerjaan serta merusak kekuatan jalan bila tidak dibersihkan.
Pembersihan lokasi juga diperlukan disekitar bangunan untuk melancarkan kegiatan mobilitas
tenaga kerja dan bahan bangunan. Pelaksana harus membersihkan halaman dari segala sesuatu
yang dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan, termasuk pohon-pohon dan
semak-semak yang terdapat pada areal harus ditebang dan dibersihkan sampai keakar-akarnya,
kemudian disingkirkan dari lapangan pekerjaan.
 Pengukuran dan pematokan dilakukan dengan seksama agar ukuran bangunan sesuai antara
yang direncanakan dengan yang terpasang.
 Pelaksana diwajibkan membuat papan nama proyek atas biaya Pelaksana untuk kepentingan
pelaksanaan proyek. Bentuk dan ukuran isi papan nama berdasarkan ketentuan yang berlaku
dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.
Penyedia Jasa harus membuat papan nama proyek di lokasi yang strategis dan mudah [Link]
nama proyek tersebut harus lengkap, minimal meliputi ; Nama Proyek, Jenis Pekerjaan, Waktu
Pelaksanaan, Biaya, dan Nama Pelaksana.
 Pelaksana diwajibkan membuat Gudang/bedeng pekerja yang sesuai dengan bahan yang
ditentukan.
Direksi keet merupakan fasilitas kerja untuk Tim teknis yang ditunjuk Pengguna Jasa di lapangan
(Direksi) serta Konsultan Pengawas. Pembuatan direksi keet beserta perangkat pendukungnya
mengikuti instruksi dari Direksi / Konsultan Pengawas . Disamping itu Penyedia Jasa
konstruksi harus menyediakan keet tersendiri untuk kantor Penyedia Jasa konstruksi dan barak
pekerja serta gudang material, serta km/wc untuk pekerja. Pembuatan keet Penyedia Jasa
konstruksi, barak pekerja, gudang material, km/wc untuk pekerja harus seijin Pengguna Jasa.
Kantor direksi minimal dengan bahan dari tiang kayu kruing dan dinding papan/triplex lantai rabat
beton dilapisi karpet plastik dan atap asbes diberi plafond minimal triplek dicat, setelah akhir
pekerjaan kantor direksi menjadi milik proyek ( pemberi tugas ) sedangkan pembongkaran dan
pembersihannya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa konstruksi.
RUMAH NEGARA
KPP

PASAL 19
PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

 LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini mencakup pengadaan bahan dan alat-alat, pemasangan dan perbaikan-perbaikan
selama masa pemeliharaan untuk sistem distribusi daya listrik.

1. PANEL SUB DISTRIBUSI (SDP)


a. Tipe
JBP (Juntion Box Panel) adalah tipe Outdoor tertutup
b. Standar
Panel harus dibuat mengikuti standar IEC dan standar lainnya seperti VDE/DIN, BS, NEMA,
dan sebagainya.
c. Karakteristik Panel
Tegangan kerja 400 Volt
Tegangan uji 3000 Volt
Tegangan uji impuls 20.000 Volt
Frekuensi 50 Hz
Arus nominal busbar SDP minimal 1.5 kali kapasitas Circuit Breaker utama.

d. Konstruksi
Panel terbuat dari pelat baja setebal 2 mm dengan penguat besi siku atau besi kanal. Box panel
dicat dasar tahan karat di bagian luar dan dalam, sebelum dicat akhir dengan cat oven warna
abu-abu muda. Busbar disangga secara kokoh dengan bahan insulator.
Busbar netral dan busbar pentanahan dipasang pada sisi yang berseberangan (atas dan bawah).
Kotak panel dan benda konduktif lain yang tidak boleh bertegangan harus dihubungkan dengan
baik secara elektrik dengan busbar pentanahan.
Circuit breaker hatus tipe Moulded Case Circuit Breaker (MCCB) tiga fasa, quick make break
dan mempunyai range yang ditunjukkan dalam gambar.
Semua bagian yang menghantarkan listrik seperti busbar atau terminal-terminal dan lain-lain
harus silver plated atau dilapisi bahan lain yang mencegah oksidasi. Ujung-ujung kabel harus
mempunyai sepatu kabel tipe compression.
RUMAH NEGARA
KPP

e. Kabel daya tegangan rendah 1 KV


Kabel daya jenis NYFGBY dan NYY kapasitas seperti ditunjukkan dalam gambar.
f. Pengujian kabel daya tegangan rendah
Sebelum dan sesudah dipasang, kabel TR harus diuji dengan pengujian sebagai berikut :
Test insulasi
Test kontinyuitas
Test tahan pentanahan

g. Sistem pentanahan
Semua bagian metal yang dalam keadaan normal tidak bertegangan harus dihubungkan menjadi
satu secara elektrik dengan baik. Rel pentanahan sepanjang panel harus disediakan dan bagian
metal yang disebut diatas harus dihubungkan. Rel pentanahan dihubungkan dengan kawat
tembaga (BC) berpenampang 50 mm 2, dihubungkan dengan rod tembaga berdiameter sesuai
denga gambar, ditanam sedalam 6 m atau sampai diperoleh tahanan pentanahan maksimum 5
ohm.
h. Garansi
Sertifikat pengetesan dari pabrik pembuat kabel harus diserahkan. Sertifikat tersebut harus
menunjukkan bahwa kabel yang bersangkutan adaah sesuai dengan standar yang berlaku. Bila
kabel yang bersangkutan mengalami kegagalan, maka pabrik pembuat kabel bertanggung-
jawab terhadap kabel tersebut, sampai kabel tersebut berhasil dalam pengetesan ulang dan
diterima baik oleh konsultan pengawas.
i. Tambahan
Kontraktor harus menambahkan peralatan pembantu yang diperlukan untuk pekerjaan ini
(meskipun tidak disebutkan dalam persyaratan teknis) untuk memberikan performance yang
dikehendaki.

2. PENERANGAN DAN KOTAK-KONTAK


BAHAN DAN PERALATAN
a. Lampu dan armature
Lampu dan armature harus sesuai dengan yang dimaksudkan seperti dalam gambar detail
elektrikal.
- Semua armature lampu yang terbuat dari bahan metal harus mempunyai terminal
pembumian.
- Reflektor harus mempunyai pemantul yang baik.
- Box tempat ballast, starter dan terminal block harus cukup besar dan dibuat sedemikian
rupa sehingga panas yang ditimbulkan tidak mengganggu kelangsungan kerja dan umur
teknis komponen lampu. Ventilasi dalam box harus cukup.
- Kabel-kabel dalam box harus diberikan saluran atau klem-klem tersendiri sehingga tidak
menempel pada [Link] terbuat dari plat baja tebal minimum 0.5 mm di cat warna dasar
tahan karat, kemudian di cat akhir dengan cat oven warna putih atau warna lain yang
disetujui.
- Ballast tipe elektronik harus mempunyai dudukan yang kuat dalam lampu, tetapi mudah
dibuka untuk diperiksa atau diangkat.
- Ballast harus dari satu merk setaraf dengan Phillips, Nais, Atco atau Schwabe.
RUMAH NEGARA
KPP

- Armature Lampu LED menggunakan bahan Diecast (Metal)

b. Pengetesan
Test penyalaan dilaksanakan setelah instalasi terpasang. Pada test penyalaan ini akan diuji mutu
instalasi.
c. Jaringan instalasi
Proses pemasangan jaringan dengan menggunakan kabel tanah mengikuti ketentuan ketentuan
sebagai berikut :
1. Pemasangan kabel tanah di dalam tanah harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa
sehingga kabel tersebut terhindar dari kerusakan mekanis dan kimiawi yang mungkin
timbul ada tempat dimana kabel tanah tersebut terpasang.
2. Pelaksanaan penanaman kabel yang tidak dapat memenuhi kedalaman , maka penanaman
kabelnya dilakukan sebagai berikut :
Minimum 0.80 meter di bawah permukaan tanah pada jalan-jalan yang dilewati kendaraan.
Minimum 0.60 meter di bawah permukaan tanah pada jalan-jalan yang tidak dilewati
kendaraan (pedestrian).
Kabel tanah harus diletakkan pada pasir atau tanah halus, galian tanah tersebut harus stabil,
kuat dan rata dengan ketentuan tebal lapisan pasir atau tanah halus tersebut tidak lebih
dari 10 cm di sekeliling kabel tanah tersebut.
Pada kondisi dimana terdapat kabel PLN tegangan menengah atau tinggi dan kabel
telekomunikasi maka kabel tanah harus ditempatkan di atas kabel PLN (jarak 30 cm) dan
kabel telekomunikasi (jarak 3 cm).
Pada persilangan dimana terdapat kabel tanah dan kabel lainnnya harus diambil salah satu
tindakan pengamanan yang disebutkan dalam ketentuan di bawah ini, keculai jika salah
satu kabel tanah yang bersilangan itu terletak dalam satu saluran pasangan batu beton atau
semacam itu yang mempunyai tebal dinding sekurang-kurangnya 6 cm.
1). Di atas kabel tanah yang terletak di bawah, harus dipasang tutup pelindung dari
lempengan atau pipa beton atau sekurang-kurangnya dari bahan yang tahan lama atau
yang sedrajat.
2). Di atas kabel yang terletak di atas, dipasang pipa belah beton atau dari bahan lain yang
cukup kuat, tahan lama dan tahan api. Pipa belah ini harus dipasang menjorok keluar
sekurang-kurangnya 0.5 meter dari kabel yang terletak di bawah diukur dari sisi luar
kabel.
d. Kotak-kontak Biasa (KKB)
Kotak-kontak Biasa (KKB) yang dipakai adalah kotak-kontak satu fasa. Semua kotak-konta
harus memiliki terminal fasa, netral dan pentanahan. Kotak-kontak harus dari satu tipe yaitu
untuk pemasangan rata dinding
dengan rating 250 Volt, 10 Amp.
e. Sakelar dinding
Sakelar harus dari satu tipe yaitu untuk pemasangan rata dinding, tipe rocker, mempunyai rating
250 volt, 10 Amp dari jenis single atau doble gangs atau multiple gangs (grid switches), RCS.
f. Kotak untuk sakelar dan kotak-kontak
Kotak harus dari bahan baja dengan kedalaman minimal 35 mm. Kotak harus mempunyai
terminal pentanahan.
Sakelar dan kotak-kontak terpasang pada kotak dengan menggunakan baut.
RUMAH NEGARA
KPP

Pemasangan dengan cakar yang mengembang tidak diperbolehkan.


g. Kabel instalasi
Pada umumnya kabel instalasi kotak-kontak dan penerangan harus kabel inti tembaga dengan
insulasi PVC, satu inti atau lebih (NYY dan NYA). Kabel harus mempunyai penampang
minimum 2.5 mm2.
Kode warna insulasi kabel harus mengikuti ketentuan dalam PUIL sebagai berikut :
- fasa R,S,T : merah, kuning, hitam
- netral : biru
- pembumian : kuning Hijau
Sambungan kabel harus dibuat baik secara listrik dengan menggunakan konus penyambungan
(lasdop) plastik atau konektor lain yang disetujui pengawas.
Sambungan kabel hanya boleh dilakukan dalam kotak penyambungan (T-doos) .
Di dalam pipa tidak boleh ada sambungan kabel.
Kabel harus dari merk Supreme, Kabelindo, Tranka dan Kabel Metal.
Lasdop harus dari merk 3M, T&B.
h. Pipa instalasi pelindung kabel
Pipa instalasi pelindung kabel yang dipakai adalah PVC conduit khusus untuk instalasi listrik.
Pipa, elbow, junction box dan kelengkapan lainnya harus seauai antara satu dan lainnya.
Diameter yang dipakai adalah 20 mm dan 25 mm.
Pipa flexible harus dipasang untuk melindungi kabel antara junction box dan armature lampu.

PEMASANGAN
A. Pemasangan lampu-lampu
- Semua fixture penerangan dan perlengkapan-perlengkapan harus dipasang oleh tukang-
tukang yang berpengalaman dengan cara yang harus disetujui oleh pengawas dan seperti
yang ditunjukkan dalam gambar.
- Pada waktu diselesaikan pemasangan fixture penerangan, seluruhnya harus dalam keadaan
baik dan siap untuk bekerja dalam kondisi sempurna serta bebas dari semua cacat /
kekurangan.
- Pada waktu pemeriksaan akhir semua fixture dan perlengkapan harus siap menyala.
- Semua fixture dan perlengkapan harus bersih dari debu, plester dan lain-lain.
- Semua reflektor, kaca, panil pinggir atau bagian-bagian lain yang rusak sebelum
pemeriksaan akhir harus diganti oleh kontraktor tanpa tambahan biaya.
B. Sakelar dan Kotak-kontak Biasa
Kecuali tercatat dan dipersyaratkan lain, tinggi pemasangan sakelar adalah 150 cm dari
permukaan lantai dan untuk kotak-kontak biasa harus 40 cm dari permukaan lantai.
Apabila ada lebih dari lima sakelar dinding atau kotak-kontak biasa ditempatkan pada lokasi
yang sama, maka dua deret kotak-kontak tunggal, ganda atau multi gangs harus dipasang satu
diatas yang lain dan titik tengah deretan tersebut harus berda 1.45 cm di atas permukaan lantai.
Kotak-kontak biasa dekat pintu atau jendela harus dipasang 20 cm dari pinggir kusen pada sisi
kunci seperti ditunjukkan dalam gambar-gambar arsitektur, kecuali ditunjukkan lain oleh
pengawas.
PENGUJIAN
Pengujian seluruh sistem diselenggarakan setelah seluruh pekerjaan selesai. Pengujian sistem terdiri
dari :
- Pengujian sambungan-sambungan
- Pengujian tahanan isolasi tiap sirkuit
RUMAH NEGARA
KPP

- Pengujian tahanan pembumian


- Pengujian pemberian tegangan
Paling lambat 2 (dua) minggu sebelum pengujian dilaksanakan, kontraktor harus sudah mengajukan
jadwal dan prosedur pengujian kepada pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
Pengujian harus disaksikan oleh pengawas.
Kontraktor harus membuat catatan mengenai hasil pengujian. Segala biaya untuk penyelenggaraan
pengujian ditanggung oleh kontraktor.
Kontraktor harus melakukan general test penerangan selama 3 x 24 jam.

PASAL 20
PEKERJAAN SANITAIR DAN AIR BERSIH (PLUMBING)

1. Lingkup Pekerjaan
a. Termasuk dalam pekerjaan pemasangan sanitair ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan-
bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan dalam pekerjaan ini sehingga
tercapai hasil pekerjaan yang bermutu dan sempurna dalam pemakaiannya.
b. Pekerjaan pemasangan sanitair ini sesuai yang dinyatakan/ditunjukkan dalam detail gambar,
uraian dan syarat-syarat dalam buku ini.
c. Pengadaan, pemasangan dan pengujian secara sempurna unit-unit peralatan utama yang
diperlukan dalam sistim penyediaan air bersih yaitu instalansi pemipaannya beserta alat
bantunya.
d. Pemasangan dan pengujian pipa-pipa distribusi kesetiap peralatan sanitasi dan lain- lain
seperti yang tercantum dalam gambar.
e. Memperbaiki semua kerusakan, semua galian yang diakibatkan baik oleh bobokan- bobokan,
galian-galian maupun oleh kecerobohan para pekerja.
f. Pengujian terhadap kebocoran dan tekanan dari sistim plumbing air bersih secara
keseluruhan dan mengadakan pengamatan sampai sistim berjalan baik, sesuai yang
dikehendaki, yaitu suatu sistim instalasi yang sempurna dan terpadu.
g. Pengadaan Air Bersih bersumber dari Penampung air Hujan

2. Persyaratan Bahan
a. Semua material harus memenuhi ukuran,standard dan mudah didapatkan dipasaran, kecuali bila
ditentukan lain.
b. Semua peralatan dalam keadaan lengkap dengan segala perlengkapannya, sesuai dengan yang
telah disediakan oleh pabrik untuk masing-masing type yang dipilih.
c. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah disediakan oleh pabrik untuk masing-
masing type yang dipilih.
d. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah disyaratkan dalam uraian syarat-syarat
dalam buku

3. Pelaksanaan
a. Semua bahan sebelum dipasang harus ditunjukkan kepada Consultant Construction
Management beserta persyaratan/ketentuan pabrik untukmendapatkan persetujuan. Bahan
yang tidak disetujui harus diganti tanpa biayatambahan.
RUMAH NEGARA
KPP

b. Jika dipandang perlu diadakan penukaran/pengganti bahan, penggantian harusdisetujui oleh


Consultant Construction Management Berdasarkan contoh yangdiusulkan oleh Panitia
Pengembangan.
c. Sebelum pemasangan dimulai, Panitia Pengembangan harus meneliti gambar-gambar
yang ada dan kondisi dilapangan, termasuk mempelajari bentuk, pola, penempatan,
pemasangan sparing-sparing, cara pemasangan dan detail-detail sesuai gambar.
d. Bila ada kelainan dalam hal ini apapun antar gambar dengan gambar, gambar dengan
spesifikasi dan sebagainya, maka Panitia Pengembangan harus segeramelaporkannya kepada
Consultant Construction Management.
e. Panitia Pengembangan tidak dibenarkan memulai pekerjaan disuatu tempat bila ada
kelainan/perbedaan ditempat itu sebelum kelainan tersebut diselesaikan. Selama pelaksanaan
harus selalu diadakan pengujian/pemeriksaan untuk kesempurnaan hasil pekerjaan dan
fungsinya.
f. Panitia Pengembangan wajib memperbaiki/mengulangi/mengganti bila ada kerusakan yang
terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, selama tindakan Pemimpin Proyek atau
Consultant Construction Management.
g. Sistim Penyambungan Pipa Sambungan pipa PVC untuk air bersih dengan sambungan lem
PVC (solvent) untuk pipa diameter 3” ke bawah. Untuk katup/valve yang mempunyai diameter
2” ke bawah menggunakan katup penutup dengan sistim penyambungan pakai ulir/
[Link] untuk katub diameter % ‘’ kebawah dipakai katup type bola (globevalve).
Untuk katup yang lebih besar dari diameter % ‘’ dipakai katup pintu (gatevalve) yang disetujui
oleh Pimpro dan Consultant Construction Management.

III. PENUTUP

Demikian persyaratan teknis / bestek ini dibuat untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana
mestinya dengan penuh rasa tanggung jawab.

Pontianak, 21 Maret 2024


PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
,

……………
NIP. ………………

Anda mungkin juga menyukai