PROGRAM KERJA TAHUNAN
LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
Disusun Oleh:
GURU BIMBINGAN DAN KONSELING
MAN SANGGAU
KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI
SANGGAU
Jln. Sutan Syahrir No.20 Beringin Sanggau telp. (0564) 22258
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, termasuk juga kemampuan untuk
menyusun Program Bimbingan dan Konseling tahun pelajaran 2013- 2014 berbasis karakter dan
budaya bangsa, serta perencanaan individual peserta didik dalam peminatan Kurikulum 2013.
Program Bimbingan dan Konseling ini kami susun sebagai pedoman dalam pelaksanaan
layanan Bimbingan kepada peserta didik sebagai bagian dari proses pendidikan di sekolah.
Program BK saat ini dituntut untuk mampu mengimbangi dan tetap menjaga eksistensinya
dalam menghadapi setiap perubahan yang sangat memerlukan kreatifitas Guru BK/Konselor
dalam memberikan berbagai layanan yang dibutuhkan peserta didik untuk berkembang secara
wajar dan optimal, terutama berkaitan dengan pemilihan dan penetapan arah peminatan peserta
didik. Oleh karena itu Guru BK/Konselor sekolah melalui Kurikulum 2013 ini dituntut untuk
mampu memberikan skills of life yang sangat diperlukan peserta didik dalam menghadapi
kemungkinan munculnya berbagai persoalan kehidupan sehari-hari sebagai dampak dari
perubahan yang terjadi.
Program bimbingan dan konseling yang disusun di MAN Sanggau mengacu pada
standar kebutuhan siswa hasil dari assesmen dengan didukung oleh fasilitas sekolah yang
memberikan kemudahan untuk terlaksananya seluruh program yang direncanakan. Setiap tahun
selalu ada pertambahan terhadap rencana kegiatan, hal ini sebagai hasil evaluasi dari
pelaksanaan layanan pada tahun-tahun sebelumnya, yang diharapkan pada tahun mendatang
akan semakin lebih efektif dan optimal dalam rangka memenuhi kebutuhan siswa. Aspek yang
memudahkan dalam penyusunan program BK dengan kurikulum 2013 ini tidak memerlukan
ada keseragaman format dan bentuk kegiatan dengan sekolah lain karena seluruh layanan
mengacu pada kebutuhan siswa dengan tujuan yang sama yaitu siswa memiliki tataran
kompetensi dalam keterampilan hidup yang bisa membantu mereka dalam mengatasi persoalan
yang dihadapinya. Diharapkan dari kurikulum 2013 ini akan membantu Guru BK/Konselor dalam
merancang dan mengembangkan program bimbingan dan konseling yang kreatif, inovatif dan
realistik dengan melihat pada kondisi peserta didik. Dengan demikian program yang disusun
dapat memenuhi kebutuhan individu siswa secara maksimal berdasarkan potensi, bakat, minat
yang mereka miliki.
Pada sisi inilah Guru BK/Konselor dituntut untuk terus menambah wawasan, ilmu dan
pengalaman agar semakin profesional dan kompeten dalam melaksanakan tugasnya sebagai
Konselor. Dengan demikian eksistensi Guru BK/Konselor di sekolah yang sangat sentral dapat
diakui oleh seluruh unsur pendidikan. Namun profesionalitas tidaklah berdiri sendiri tapi
hendaknya ditunjang oleh infrastruktur sekolah yang mendukung dengan manajemen yang
kondusif. Sehingga layanan bimbingan dan konseling tidak terhambat oleh sistem yang seolah
tidak memberikan keleluasaan bagi Guru BK/Konselor untuk mengembangkan program dan
kegiatan.
Akhirnya dengan tersusunnya Program Bimbingan dan Konseling diharapkan akan dapat
membantu kinerja kami dan dapat meningkatkan mutu pendidikan di MAN Sanggau khususnya
dan pendidikan nasional pada umumnya. Amien ya Allah ya Robbal ‘alamien.
Sanggau, 01 Juli 2013
Penyusun,
Guru BK MAN Sanggau,,
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................ ........
ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
A. Rasional......................................................................................................... 1
B. Pengertian......................................................................................................
1
C. Visi dan Misi.................................................................................................... 2
D. Landasan BK................................................................................................... 2
E. Assesmen Kebutuhan dan Kompetensi Inti Layanan................................... 4
F. Tujuan BK........................................................................................................ 6
G. Fungsi BK........................................................................................................ 8
H. Prinsip dan Asas BK........................................................................................ 8
I. Struktur Program.............................................................................................
9
J. Format Program Layanan................................................................................. 15
K. Pendekatan Kegiatan Layanan......................................................................... 15
L. Sistematika Program........................................................................................
15
BAB II OPERASIONAL PROGRAM LAYANAN BK........................................................ 16
A. Arah Pelayanan Program.................................................................................. 16
B. Bidang Pelayanan............................................................................................. 17
C. Kegiatan Operasional........................................................................................ 17
D. Prioritas Pelayanan........................................................................................... 19
E. Jadwal Pelaksanaan Program Kerja................................................................. 22
BAB III PENGELOLAAN LAYANAN BK......................................................................... 23
A. Personil Pelaksana Kegiatan dan Subyek Sasaran Layanan BK................. 23
B. Organisasi Layanan BK.................................................................................... 24
C. Mekanisme Kerja Guru MP, Wali Kelas, Guru BK dan Kepala Sekolah....... 26
D. Pola Penanganan Peserta Didik Bermasalah................................................... 28
E. Sarana, Prasarana dan Pembiayaan................................................................ 28
BAB IV EVALUASI, PELAPORAN DAN TINDAK LANJUT.......................................... 30
A. Evaluasi.......................................................................................................... 30
B. Pengawasan dan Pelaporan............................................................................ 31
C. Tindak Lanjut................................................................................................... 31
D. Penutup........................................................................................................... 32
LAMPIRAN
A. Perencanaan Program Bimbingan dan Konseling
1. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Program Kerja Tahunan Layanan BK
2. Program Semester Pelayanan BK
3. Satuan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
4. Alur Peminatan dalam sistem PPDB Kurikulum SMA 2013
B. Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
5. Agenda Kerja Guru BK
6. Daftar Siswa Asuh/Konseli
7. Data Kebutuhan dan Permasalahan Siswa Asuh/Konseli
8. Laporan Bulanan Kegiatan Bimbingan dan Konseling
9. Laporan Semesteran/Tahunan Kegiatan Bimb. & Konseling
10. Satuan Kegiatan Pendukung Pelayanan BK
9.1. Home Visit (Kunjungan Rumah)
9.2. Konferensi Kasus
9.3. Referal/Alih Tangan
9.4. Aplikasi Instrumentasi ITP-ATP
9.5. Sosiometri
9.6 Peta Siswa / Peta Kelas
9.7. Pedoman observasi
9.8. Surat Panggilan Siswa
9.9. Kartu Bimbingan (Status Konseling)
9.10. Angket Pemilihan dan Penetapan Arah Peminatan (Siswa, OT, dan Guru BK)
10. Laporan Konseling Individual dan Kelompok
C. Laporan Hasil Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling
BAB I
PENDAHULUAN
A. RASIONAL
Salah satu peran Guru BK/Konselor di sekolah dalam mengimplementasikan
Kurikulum 2013 adalah mengembangkan program Bimbingan dan Konseling (BK) secara
terintegrasi dan terkoordinasikan dengan baik. Koordinator BK yang diberikan kewenangan
kebijakan di sekolah dalam menatakelola BK tidak berjalan kondusif, maka program BK sulit
diwujudkan dengan baik. Untuk itu kebijakan program BK jangan sampai terpisah-pisah
atau mengabaikan kebijakan program pendidikan lainnya di sekolah, seperti kebijakan
tentang program pembelajaran baik akademik maupun nonakademik, program kesiswaan,
serta program manajemen pendidikan di sekolah lainnya.
Semua komponen program BK harus terintegrasi, terkoordinasi dan saling
mendukung satu sama lain dan terarah pada tujuan akhir yang sama, yaitu perkembangan
peserta didik secara optimal dalam berbagai aspek (fisik, intelektual, bakat, peminatan,
rencana studi, karir, dsb.) sesuai dengan tingkat perkembangan dan peluang
lingkungannya. Pengelola sekolah harus memiliki kesamaan sikap dan orientasi yang sama
tentang kemajuan mutu yang ingin dicapai oleh sekolah secara keseluruhan. Kebijakan
pimpinan sekolah dalam hal program BK sebaiknya ditetapkan berdasarkan atas
pemahaman tentang hasil analisis potensi peserta didik dan karakteristik lingkungan daerah
Kota Cilegon serta sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional, juga
ketersediaan sarana dan prasarana penunjang belajar dan pembelajaran yang memadai di
sekolah.
Untuk itu dalam penyusunan program BK dalam Kurikulum 2013, struktur dan
isi/materi programnya bersifat fleksibel, harus disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan
peserta didik berdasarkan hasil penilaian kebutuhan (needs assessment) di sekolah.
B. PENGERTIAN
Layanan bimbingan dan konseling harus dapat membantu memudahkan siswa
mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya seoptimal mungkin sehingga terwujud
siswa yang tangguh menghadapi masa kini dan masa mendatang, yaitu siswa yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang tinggi, sehat jasmani dan rohani, mempunyai
kepribadian yang mantap, mandiri, serta mempunyai tanggung jawab terhadap diri,
masyarakat dan bangsanya.
Bimbingan dan konseling adalah upaya pengembangan seluruh aspek kepribadian
siswa, pencegahan terhadap timbulnya masalah yang akan menghambat
perkembangannya, dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya baik sekarang
maupun di masa yang akan datang. Sehubungan dengan target populasi layanan
bimbingan dan konseling, layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas pada individu
yang bermasalah tetapi meliputi seluruh siswa, Bimbingan merupakan usaha yang bersifat
rasional, artinya upaya bimbingan dilaksanakan berdasarkan seperangkat landasan
keilmuan dan menggunakan alat-alat tertentu yang harus memenuhi kaidah [Link]
bagian dari sistem pendidikan,kegiatan bimbingan dan konseling memiliki fungsi dan
peranan yang strategis, khususnya dalam menyiapkan peserta didik agar mampu
memahami diri, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depannya.
Dengan demikian Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk
peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok dan klasikal, agar mampu mandiri
dan berkembang secara optimal dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi,
kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis
layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku. Adapun
program bimbingan harus berdiferensiasi baik dari segi pendekatan, teknik, kegiatan,
sumber maupun pihak-pihak yang terlibat.
Dalam pengertian tersebut tersimpul hal-hal pokok bahwa :
a. Bimbingan dan Konseling merupakan pelayanan bantuan.
b. Pelayanan bimbingan dan konseling dilakukan melalui kegiatan secara individual dan
kelompok.
c. Arah kegiatan bimbingan dan konseling ialah membantu peserta didik untuk dapat
melaksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri dan berkembang secara optimal.
d. Ada empat bidang bimbingan yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir.
e. Pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui jenis-jenis layanan tertentu,
ditunjang sejumlah kegiatan pendukung.
f. Pelayanan bimbingan dan konseling harus didasarkan pada norma-norma yang berlaku.
E. VISI DAN MISI
1. Visi: Terwujudnya kemandirian peserta didik secara optimal sesuai dengan hakekat
kemanusiaannya sebagai hamba Allah Tuhan Yang Maha Esa dan mahluk sosial
dalam berhubungan dengan manusia dan alam semesta sehingga dapat meraih
kehidupan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam
pemberian dukungan perkembangan prestasi akademik dan nonakademik,
pengentasan masalah belajar dan pembelajaran, serta perencanaan studi dan karir
peserta didik agar berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.
2. Misi: Misi bimbingan dan konseling di sekolah adalah membantu pengembangan diri
peserta didik secara optimal agar mampu mandiri untuk dapat menjalani kehidupan
sehari-hari secara efektif, kreatif dan dinamis, serta memiliki kecakapan hidup untuk
masa depannya melalui:
1) Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui
pembentukan perilaku afektif-normatif dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa dalam kehidupan keseharian dan masa depan.
2) Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan peminatan
akademik dan nonakademik peserta didik di dalam lingkungan sekolah untuk
berprestasi dan berkarir setinggi-tingginya.
3) Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah pribadi-sosial
peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.
F. LANDASAN BK
Landasan yang Menjadi Acuan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
1) Landasan Formal/ Yuridis
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1
butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, Pasal 3 bahwa
pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan
Pasal 4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan,
membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013, tentang perubahan atas PP No. 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat pengembangan diri
peserta didik dalam struktur kurikulum setiap satuan pendidikan difasilitasi dan/atau
dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan. Dasar Standarisasi Profesi
Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2007
untuk memberi arah pengembangan profesi konseling di sekolah dan di luar sekolah.
4. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan Konseling
Dalam Jalur Pendidikan Profesional Th. 2007.
5. SKB Mendikbud dan kepala BAKN No 0433/F/1993 No. 25 Th. 1993
6. Kebijakan Sekolah
2) Landasan Konseptual
Berlandaskan kepada manusia yang secara hakiki sebagai pribadi dan sebagai makhluk
sosial
a. Landasan Filosofis
1. Manusia sebagai makhluk sosial yang educable perlu mendapatkan pendidikan
untuk menjadikannya manusia dewasa dan mandiri. Manusia juga makhluk unik
yang berbeda antara satu dan lainnya dalam berbagai hal.
2. Bimbingan dan konseling adalah profesi yang menekuni masalah sikap,
kepribadian, serta keunikan manusia berupaya menelusuri dan mewujudkannya
menuju kedewasaan dan kemandirian sesuai bakat, minat serta keunikan
tersebut.
3. Arah peminatan adalah program yang dipilih peserta didik berdasarkan bakat,
minat, serta keunikannya meraih perestasi yang bermakna bagi diri dan masa
depannya.
b. Landasan Religius
Sebagai mahluk ciptaan Allah Tuhan YME dan Tuhan yang telah menunjukkan
bahwa agama adalah pedoman bagi kehidupan seluruh manusia, maka agama
merupakan acuan untuk melaksanakan kaidah-kaidah (aturan-aturan hukum)
keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah Tuhan YME.
c. Landasan Psikologi
Manusia sebagai pribadi memiliki dan membawa “potensi” yang beragam dengan
kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Secara psikologis layanan
bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik
menjalani tugas-tugas perkembangannya secara memadai
Tugas perkembangan peserta didik SMA/SMK/MA dan sederajat dimaksud :
1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME.
2. Mencapai kematangan dalam hubungan dengan teman sebaya, serta
kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita
3. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat
4. Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan seni sesuai dengan program
kutikulum dan persiapan karir atau melanjutkan pendidikan tinggi, serta berperan
dalam kehidupan yang lebih luas
5. Mencapai kematangan dalam pilihan karir
6. Mencapai kematangan gambar dan sikap tentang kehidupan mandiri, secara
emosional, sosial, intelektual dan ekonomi
7. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
8. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi sosial dan intelektual serta
apresiasi seni
9. Mencapai kematangan dalam system etika dan nilai
d. Landasan sosial budaya
1. Bangsa Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai adat ketimuran juga menjunjung
tinggi “budi pekerti” luhur dan kesantunan serta keramahan, syarat dengan
tradisi penuh makna, keragaman budaya bangsa dan negara perlu dipatenkan
dan dilestarikan agar eksistensi bangsa dapat dipertahankan.
2. Bangsa Indonesia juga terdiri dari berbagai suku dan agama namun ada dalam
satu naungan yaitu Pancasila, kendatipun berbeda namun tetap berada dalam
kesatuan Republik Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika.
e. Landasan Ilmiah dan Teknologi
Lembaga pendidikan merupakan lingkungan yang menanamkan ilmu pengetahuan
(knowledge/kognitif), skill (keterampilan) dan peneneman sikap serta nilai-nilai
(afektif/attitude dan values) didukung teknologi pembelajaran yang menunjang
lingkungan pada lembaga pendidikan adalah “ramah” transformasi ilmu secara
ilmiah melalui pemanfaatan.
f. Landasan Pedagogik
1. Pola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, jejaring berbasis alat
multimedia dan interaktif,
2. Pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users)
dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta
didik.
3. Pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal menjadi pembelajaran ilmu
pengetahuan jamak.
4. Pola pasif menjadi pembelajaran kritis yang aktif-mencari dan berbasis kelompok
(tim-work)
5. Pola pembelajaran dengan penerapan didaktik metodik yang tepat agar peserta
didik dapat mengembangkan kemampuan berfikir holistik, kreatif, objektif, inovatif
dan logis sehingga merasa “nyaman” di kelas/di ruang BK yang pada akhirnya
memacu peserta didik untuk mengoptimalkan potensi dan mengembangkan
dirinya.
g. Landasan Manajemen
1. Tata kelola guru yang bersifat individualmenjadi tata kerja kolaboratif
2. Penguatan manajemen sekolah melalui penguatan kemampuan manajemen
kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan.
3. Penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses
pembelajaran
E. ASSESMEN KEBUTUHAN DAN KOMPETENSI INTI LAYANAN
Anilisis kebutuhan layanan BK dilakukan agar program bimbingan dan konseling
dapat menjadi lebih efektif dan efisien sesuai kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi
oleh peserta didik. Penetapan kebutuhan didasarkan atas data yang diperoleh dengan
mempergunakan instrument yang dimiliki seperti Inventori Tugas Perkembangan (ITP).
Inventori Tugas Perkembangan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat
perkembangan dari tiap respondennya. Pada usia remaja terutama pada siswa sekolah
menengah atas terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi, yaitu:
a. Landasan Kehidupan Religius
b. Landasan Perilaku Etis
c. Kematangan Emosional
d. Kematangan Intelektual
e. Kesadaran Tanggung Jawab
f. Peran Sosial sebagai Pria atau Wanita
g. Penerimaan Diri dan Pengembangannya
h. Kemandirian Perilaku Ekonomis
i. Wawasan dan Persiapan Karir
j. Kematangan Hubungan dengan Teman Sebaya, dan
k. Persiapan Diri untuk Pernikahan dan Hidup Berkeluarga
Berikut ini disajikan matrik kompetensi inti layanan bimbingan berdasarkan kajian ITP
Tataran Inti Kompetensi / Internalisasi Tujuan
No Aspek
. perkembangan Pengenalan (Kognitif) Akomodasi (Afektif) Tindakan (Psikomotor)
Mempelajari hal ihwal Mengembangkan Melaksanakan iba-
1 Landasan ibadah pemikiran tentang dah atas keyakinan
Hidup religius Kehidupan beragama sendiri disertai sikap
Toleransi
Mengenal keragaman Menghargai keragam- Berperilaku atas da-
2 Landasan sumber norma yang an sumber norma se- sar keputusan yang
Perilaku etis berlaku di masyarakat bagai rujukan peng- mempertimbangkan
ambilan keputusan aspek-aspek etis
Mempelajari cara-cara Bersikap toleran ter- Mengekspresikan
Kematangan Menghindari konflik hadap ragam ekspresi perasaan dalam
3 Emosi dengan orang lain perasaan diri sendiri cara-cara yang bebas
dan orang lain terbuka dan tidak
menimbulkan konflik
Mempelajari cara-cara Menyadari akan kera- Mengambil keputus-
Kematangan Pengambilan kepu- gaman alternatif ke- an dan pemecahan
4 emosional tusandan pemecahan putusan dan konse- masalah atas dasar
masalah secara kuensi yg dihadapinya Informasi/data
objektif Secara obyektif
Mempelajari Mempelajari nilai-nilai Berinteraksi dengan
Kesadaran Keragaman Persahabatan dan Orang lain atas dasar
5 Tanggungja jawab Interaksi sosial Keharmonisan dalam Kesamaan
sosial Konteks keragaman
Interaksi sosial
Mempelajari perilaku Menghargai keragam- Berkolaborasi secara
6 Kesadaran kolaborasi antar jenis an perasaan laki-laki harmonis dengan lain
gender dalam ragam atau perempuan seba- jenis dalam keragam-
kehidupan gai aset kolaborasi & an peran
keharmonisan hidup
Mempelajari keunikan Menerima keunikan Menampilkan keu-
7 Pengembangan diri dalam konteks diri dengan segala nikan diri secara
Diri Kehidupan sosial kelebihan dan Harmonis dalam
kekurangannya Keragaman
Mempelajari strategi Menerima nilai-nilai Menampilkan hidup
Perilaku dan peluang untuk Hidup hemat, ulet Hemat, ulet
8 Kewirausahaan Berperilaku hemat, Sungguh-sungguh dan Sungguh-sungguh
(Kemandirian ulet, sungguh-sungguh Kompetitif sebagai Dan kompetitif atas
perilaku ekonomis) dan kompetitif dalam aset untuk mencapai Dasar kesadaran
keragaman kehidupan hidup mandiri Sendiri
Mempelajari kemam- Internalisasi nilai-nilai Mengembangan al-
puan diri, peluang dan Yang melandasi per- ternatif perencanaan
Ragam pekerjaan, timbangan pemilihan karir dengan mem-
9 Wawasan dan pendidikan,dan ak- Alternatif karir pertimbangkan ke-
Kesiapan karier tifitas yg terfokus pada mampuan, peluang
pengembangan alter dan ragam karir
natif karir yang lebih
terarah
Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan
Kematangan Membina dan kerja- Kerjasama dan tole- Persahabatan yang
10 Hubungan sama serta toleransi ransi sebagai dasar lebih akrab dengan
Dengan teman dalam pergaulan untuk menjalin persa- Memperhatikan
Sebaya dengan teman sebaya habatan dengan Norma yang berlaku
teman sebaya
Mengenal norma- Menghargai norma- Mengekspresikan
Kesiapan diri Norma pernikahan dan Norma pernikahan Keinginannya untuk
11 untuk menikah berkeluarga dan Berkeluarga sbg Mempelajari lebih
dan Berkeluarga Landasan bagi tercip- Intensif tentang
tanya kehidupan Norma pernikahan
masyarakat yang dan berkeluarga
harmonis
Selain dengan ITP data kebutuhan peserta didik didukung pula oleh data dari hasil
Identifikasi Masalah Siswa (IMS) berdasarkan indikator pendidikan karakter atau DCM
dan Sosiometri. Identifikasi masalah siswa tersusun berdasarkan jenis layanan dan bidang
bimbingan terdiri atas 180 kebutuhan dan masalah yang mungkin dialami peserta didik,
sedangkan dalam sosiometri didapatkan hasil yang menyatakan beberapa siswa yang
dapat dikatakan sebagai ‘popular’ (paling disukai) dan ‘rejected’ (tidak disukai) dalam hal
belajar.
Berikut ini dikemukakan kebutuhan peserta didik berdasarkan analisis tugas
perkembangan dan lingkungan perkembangannya:
1. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk mengenal karakteristik pribadinya yang
menyangkut moral, intelektual dan emosional
2. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk mengenal lingkungan yang menyangkut
nilai-nilai budaya masyarakat, lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja.
3. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk mengarahkan potensi yang dimilikinya
sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungan
4. Peserta didik membutuhkan kmampuan untuk mengembangkan sikap positif terhadap
diri dan lingkungannya.
5. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk membuat pilihan karirnya secara sehat.
6. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk dapat menerima perbedaan pendapat
dengan orang lain.
7. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk memiliki rasa tanggung jawab terhadap
diri dan lingkungannya.
8. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk dapat mengembangkan keterampilan
hubungan antar pribadi.
9. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk dapat menyelesaikan konflik
10. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk dapat membuat keputusan secara
efektif.
11. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk dapat melaksanakan keterampilan
belajar secara efektif.
12. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk dapat menetapkan tujuan dan
perencanaan pendidikannya.
13. Peserta didik membutuhkan keterampilan dan kemampuan dalam melaksanakan proses
belajar efektif dan menghadapi ujian.
14. Peserta didik membutuhkan kemampuan untuk mengenal potensi, kepribadian dan
minatnya yang mendukung terhadap pencapaian cita-cita karir masa depan.
F. TUJUAN BK
Berdasarkan visi dan misi bimbingan dan konseling serta kebutuhan peserta didik,
maka tujuan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :
1) Membantu peserta didik memahami, menerima, mengarahkan, dan mengembangkan
potensi minat, bakat, kreativitas dan kemampuannya, serta kompetensi belajarnya
seoptimal mungkin.
2) Membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebiasaan dalam
kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, serta kemampuan sosial
dalam kehidupan keagamaan.
3) Membantu peserta didik memiliki wawasan terhadap arah peminatan studi dan
perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian dalam rangka
merencanakan kehidupan masa depannya yang sesuai dengan tuntutan pada saat ini
maupun pada saat yang akan datang.
Secara khusus layanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu siswa
atau peserta didik agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek
pribadi, sosial, belajar dan karir. Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengembangan Kehidupan Pribadi
a. Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Pemantapan pemahaman tentang potensi diri dan pengembangannya untuk
kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun untuk peranannya di masa depan.
c. Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan
pengembangan melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif.
d. Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha-usaha
penanggulangannya.
e. Pemantapan kemampuan mengambil keputusan dan mengarahkan diri secara
mandiri sesuai dengan sistem etika dan nilai, serta apresiasi seni.
f. Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat baik secara
rohaniah maupun jasmaniah, termasuk perencanaan hidup berkeluarga.
2. Pengembangan Kehidupan Sosial
a. Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan secara efektif,
efisien dan produktif.
b. Pemantapan kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta
berargumentasi secara dinamis dan kreatif.
c. Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial, baik di rumah,
di sekolah, di tempat latihan/kerja/unit produksi maupun di masyarakat luas dengan
menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, serta nilai-nilai agama, adat istiadat,
hukum, ilmu dan kebiasaan yang berlaku.
d. Pemantapan hubungan yang dinamis, harmonis dan produktif dengan teman
sebaya, baik di sekolah yang sama, di sekolah lain, di luar sekolah, maupun di
masyarakat pada umumnya.
e. Pemantapan pemahaman tentang peraturan, kondisi rumah, sekolah, dan
lingkungan, serta upaya pelaksanaannya secara dinamis dan bertanggung jawab.
f. Orientasi tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
3. Pengembangan Kemampuan Belajar
a. Pemantapan sikap, kebiasaan dan keterampilan belajar yang efektif dan efisien
serta produktif, dengan sumber belajar yang lebih bervariasi dan kaya.
b. Pemantapan disiplin belajar dan berlatih, baik secara mandiri maupun
berkelompok.
c. Pemantapan penguasaan materi program mata pelajaran wajib dan program
peminatan dan pendalaman mata pelajaran di SMA dan sebagai persiapan untuk
mengikuti penidikan yang lebih tinggi.
d. Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya di
lingkungan sekolah, dan alam sekitar, serta masyarakat untuk pengembangan diri.
e. Orientasi belajar untuk pendidikan tambahan yang lebih tinggi baik akademik
maupun akademik.
4. Pengembangan Karir
a. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karir yang
hendak dikembangkan.
b. Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya khususnya karir yang
hendak dikembangkan.
c. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan
untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
d. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMA.
e. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan dan pelatihan tambahan dan
pendidikan yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karir yang hendak
dikembangkan.
G. FUNGSI BK
Pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dilaksanakan untuk
memenuhi secara optimal melalui fungsi-fungsi sebagai berikut.:
1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu peserta didik
memahami diri, tuntutan studi, peminatan dan lingkungannya.
2. Fungsi Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu
peserta didik memelihara dan menumbuhkembangkan berbagai potensi dan kondisi
positif yang dimilikinya secara optimal sesuai dengan tuntutan karakter cerdas yang
terpuji.
3. Fungsi Pencegahan, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu peserta didik mampu
mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat
menghambat perkembangan diri pada umumnya, dan kesuksesan studi serta peminatan
pada khususnya.
4. Fungsi Pengentasan, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu peserta didik
mengatasi atau mengentaskan masalah yang dialaminya.
5. Fungsi Advokasi, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu peserta didik memperoleh
pembelaan atas hak dan/atau kepentingannya, baik berkenaan dengan hak-hak
kehidupan pada umumnya, maupun yang berkenaan dengan hak kependidikan pada
khususnya yang kurang atau tidak mendapat perhatian.
H. PRINSIP DAN ASAS BK
Prinsip dan asas dasar pelayanan BK adalah sebagai berikut:
1. Prinsip-prinsip pelayanan BK berkenaan dengan kondisi diri peserta didik sebagai
sasaran layanan dan permasalahan yang dialaminya, program pelayanan, serta tujuan
dan pelaksanaan pelayanan, mengacu pada pelayanan yang efektif dan efisien, untuk
kehidupan yang cerdas dan berkarakter. Yaitu sebagai berikut:
a. Sasaran layanan; (1) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis
kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi, (2) memperhatikan tahapan
perkembangan individu, (3) perhatian adanya perbedaan individu “individual
defferencies” dalam layanan.
b. Permasalahan yang dialami individu / konseli; (1) menyangkut pengaruh kondisi
mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan baik di
rumah, di sekolah dan masyarakat sekitar, (2) Timbulnya masalah pada individu oleh
karena adanya kesenjangan sosial ekonomi dan budaya.
c. Program Pelayanan BK; (1) BK bagian integral dari upaya pendidikan dan
pengembangan diri konseli, (2) harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan
konseli maupun lingkungan, (3) untuk SMA disusun dengan mempertimbangkan
adanya tahapan perkembangan individu, (4) perlu diadakan penilaian hasil layanan.
d. Tujuan dan pelaksanaan pelayanan; (1) diarahkan untuk pengembangan individu
yang akhirnya mampu secara mandiri, (2) pengambilan keputusan yang diambil oleh
konseli hendaknya atas kemauan diri sendiri, (3) permasalahan individu dilayani
oleh tenaga ahli / profesional yang relevan dengan permasalahan individu, (4) perlu
adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orangtua siswa serta bila perlu
dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu, (5) proses
pelayanan BK melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan
penilaian layanan.
2. Asas-asas pelayanan BK: Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan
konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas kerahasiaan, kesukarelaan,
keterbukaan, kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan,
keahlian, alih tangan kasus, dan tut wuri handayani.
1. Asas kerahasiaan, untuk menjaga kerahasian peserta didik (klien) guru
pembimbing/Konselor berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan
keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2. Asas Kesukarelaan, guru pembimbing/Konselor berkewajiban membina dan
mengembangkan kesukarelaan peserta didik dalam mengikuti layanan yang
diperlukannya.
3. Asas keterbukaan, guru pembimbing/Konselor berkewajiban mengembangkan
keterbukaan peserta didik (klien).
4. Asas Kegiatan, guru pembimbing/Konselor perlu mendorong peserta didik untuk aktif
dalam setiap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukkan baginya.
5. Asas Kemandirian, guru pembimbing/Konselor hendaknya mampu mengarahkan
segenap layanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan bagi
berkembangnya kemandirian peserta didik.
6. Asas Kekinian, asas yang mengacu pada obyek sasaran layanan bimbingan dan
konseling pada permasalahan peserta didik (klien) dalam kondisi sekarang.
7. Asas Kedinamisan, isi layanan terhadap sasaran layanan (klien) hendaknya selalu
bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai
dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
8. Asas keterpaduan, adanya kerja sama antara guru pembimbing/Konselor dan pihak-
pihak yang berperanan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling.
9. Asas Kenormatifan, segenap layanan bimbingan dan konseling tidak boleh
bertentangan dengan nilai dan norma yang ada.
10. Asas Keahlian, layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas
dasar kaidah-kaidah profesional.
11. Asas Alih tangan kasus, layanan yang dilakukan bila pihak-pihak yang tidak mampu
menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas
suatu permasalahan peserta didik (klien) mengalihtangankan permasalahan itu
kepada pihak yang lebih ahli.
12. Asas Tut Wuri Handayani, dapat menciptakan suasana yang mengayomi
(memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan
dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien)
untuk maju.
I. STRUKTUR PROGRAM
Layanan Bimbingan dan Konseling merupakan usaha membantu peserta didik dalam
pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar serta perencanaan dan
pengembangan karir. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan
peserta ddik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan,
potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, Serta peluang-peluang yang dimiliki.
Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang
dihadapi peserta didik.
Muro & Kottman (1995) mengemukakan struktur program bimbingan dan konseling
diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan : 1) Layanan dasar bimbingan, 2) Layanan
responsive, 3) Perencanaan individual, dan 4) Dukungan sistem.
1. Layanan Dasar Bimbingan
Merupakan proses pemberian bantuan kepada peserta didik secara sistematis melalui
kegiatan-kegiatan klasikal atau kelompok. Layanan dasar bimbingan merupakan inti dari
pendekatan perkembangan yaitu layanan bantuan bagi seluruh siswa (for all) melaui
kegiatan-kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam rangka
membantu siswa mengembangkan potensinya secara optimal. Layanan dasar bimbingan
diberikan melaui jenis-jenis layanan pemberian informasi dan diskusi atau sharing pendapat
(brain-storming).
Pemberian informasi dan diskusi ini berkaitan dengan aspek-aspek pribadi, sosial,
belajar dan karir, Layanan pemberian informasi akan berguna bagi pengembangan diri,
penyesuaian diri, dan pengambilan keputusan. Layanan diskusi atau curah pendapat dapat
memfasilitasi para peserta didik untuk belajar menghargai pendapat orang lain, bersikap
respek terhadap orang lain dan membanggakan kepercayaan dirinya.
Layanan dasar bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkem-
bangan yang normal, memiliki mental yang sehat, memperoleh keterampilan dasar hidupnya.
Tujuan layanan dasar ini dapat juga dirumuskan sebagai berikut :
Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan,
sosial budaya, dan agama).
Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau
seperangkat tingkah laku tepat (memadai) bagi penyesuaian dirinya dengan
lingkungannya.
Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Strategi pelaksanaan layanan dasar dapat dilakukan baik melalui kontak langsung
maupun tidak langsung. Strategi ini dapat dilakukan melalui pelayanan klasikal, orientasi,
informasi, bimbingan kelompok, dan pelayanan pengumpulan data. Masing-masing strategi
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;
1) Bimbingan Klasikal
Bimbingan klasikal adalah proses memfasilitasi perkembangan konseli (peserta
didik) dengan cara melakukan kontak langsung di kelas secara terjadwal dalam bentuk
diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).
Tujuan bimbingan klasikal adalah sebagai berikut memfasilitasi konseli
menemukan alternatif pemecahan masalah, menjaga diri agar tidak bermasalah, dan
menemukan alternatif pengembangan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki,
memfasilitasi konseli memperoleh penguatan atas perilaku positif yang dilakukannya, dan
memfasilitasi konseli agar dapat mengembangkan potensi, tanggung jawab, hubungan
interpersonal, motivasi, komitmen, daya juang serta pengembangan karir.
a) Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah suatu kegiatan yang memungkinkan konseli dapat
memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, iklim, dan budaya sekolah. Melalui
layanan orientasi peserta didik diharapkan mengenal lingkungan, personel sekolah
(Kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dewan guru, pegawai tata usaha, petugas
laboratorium, petugas perpustakaan, pengurus OSIS, dan lain-lain), kegiatan di sekolah,
dan budaya sekolah tempat siswa belajar.
b) Layanan Informasi
Layanan informasi adalah pemberian informasi tentang berbagai hal yang
dipandang bermanfaat bagi konseli melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung.
Layanan informasi bertujuan membantu peserta didik memperoleh informasi yang
berkenaan dengan pribadi, sosial, belajar, dan karir.
Berikut ini merupakan materi pengembangan layanan informasi :
(1) Informasi perkembangan potensi, kemampuan, dan kondisi pribadi antara lain
sebagai berikut : Kecerdasan, Bakat, Minat, Karakteristik pribadi, pemahaman diri,
Tugas perkembangan, Gejala perkembangan tertentu, Perbedaan individual,
Keunikan diri, dan sebagainya.
(2) Informasi potensi, kemampuan dan kondisi hubungan sosial antara lain sebagai
berikut :Pemahaman terhadap orang lain, Kiat berteman, Hubungan antar remaja,
Hubungan dalam keluarga, Hubungan dengan guru, orangtua dan pimpinan
masyarakat, Data sosiogram,dll.
(3) Informasi tentang potensi, kemampuan, kegiatan dan hasil belajar antara lain sebagai
berikut : Kiat belajar, Kegiatan belajar di dalam kelas, Belajar kelompok, Belajar
mandiri, Hasil belajar mata pelajaran, Persiapan ujian.
(4) Informasi tentang potensi, kemampuan, arah, dan kondisi karir antara lain sebagai
berikut : Hubungan antara bakat, minat, pekerjaan dan pendidikan, Persyaratan karir,
Pendidikan umum dan pendidikan kejuruan, Informasi karir / pekerjaan / pendidikan
2) Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok adalah pelayanan yang diberikan oleh konselor kepada
peserta didik melalui kelompok kecil (5 sampai dengan 10 orang). Tujuan bimbingan
kelompok adalah merespon kebutuhan dan minat peserta didik mengenai masalah yang
bersifat umum yang dirasakan sebagai masalah bersama.
a) Layanan Pengumpulan Data
Layanan pengumpulan data adalah kegiatan untuk mengumpulkan data atau
informasi tentang konseli dan faktor-faktor yang terkait dengan perkembangan melalui
proses assesmen baik menggunakan instrumen tes maupun non-tes. Tujuan layanan
pengumpulan data adalah menghimpun berbagai data peserta didik yang dapat djadikan
rujukan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.
Adapun alat pengumpul data / instrumen adalah sebagai berikut : 1) Tes
Inteligensi 2) Tes Bakat, 3) Inventori Minat Karir, 4) Inventori Kreativitas, 5) Inventori
kepribadian, 6) Inventori Hubungan Sosial, 7) Inventori Tugas Perkembangan, 8)
Sosiometri, 9) Alat Ungkap Masalah, 10) Tes Hasil Belajar, 11) Tes Diagnostik, 12)
Instrumen assesmen lainnya baik hasil pengembangan pribadi maupun hasil
pengembangan pribadi .
2 Layanan Responsif
Layanan responsif adalah layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki kebuthan
atau masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Layanan ini bertujuan untuk
membantu para siswa dalam memiliki kebutuhan yang dirasakan pada saat ini, atau para
siswa yang dipandang mengalami hambatan (kegagalan) dalam menyelesaikan tugas-tugas
perkembangannya. Selain itu juga bertujuan membantu para pesera didik agar dapat
memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dihadapinya, baik berupa
hambatan atau kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Indikator dari
kegagalan itu berupa ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau perilaku yang
bermasalah (maladjustment).
Layanan responsif dapat dilakukan dengan beberapa strategi antara lain melalui
konseling individual, konseling kelompok, referal, kolaborasi, bimbingan teman sebaya,
konferensi kasus, dan kunjungan rumah. Masing-masing srtategi tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut :
a. Konseling Individual
Konseling individual adalah proses memfasilitasi konseli agar mampu menyadari
dan berkomitmen terhadap pentingnya keluar dari masalah, menjaga diri agar tidak
bermasalah, dan pentingnya pengembangan diri melalui komunikasi konseling baik secara
berhadapan maupun melalui media.
Tujuan konseling individual adalah membantu konseli dalam mengidentifikasi
masalah yang dihadapinya, membantu konseli dalam menemukan penyebab masalah
membantu konseli dalam menemukan alternatif pemecahan masalah dan membantu
konseli mengambil keputusan secara tepat.
Prediksi masalah dalam konseling individual adalah kurangnya pemahaman konseli
mengenai potensi diri, ketidakmampuan konseli dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungan sosial, kurang motivasi dan solusi dalam menghadapi permasalahan belajar,
dan konseli merasa perlu mendapatkan pengarahan dalam perencanaan karir.
b. Konseling Kelompok
Konseling kelompok merupakan jenis layanan yang memungkinkan konseli
memperoleh kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah yang dialaminya
melalui dinamika kelompok. Tujuan dari konseling kelompok adalah mengurangi rasa
canggung dalam mengungkapkan permasalahan, meminimalisir beban yang diderita
konseli, memunculkan alternatif penyelesaian masalah yang lebih variatif, dan membantu
mengentaskan persoalan berat yang dialami konseli.
Prediksi masalah dalam konseling kelompok adalah sejumlah peserta didik yang
memiliki permasalahan yang sama (disadari atau tidak disadari), konseli yang memiliki
masalah dengan teman di sekolahnya, dan masalah yang meliputi permasalahan pribadi,
sosial, belajar, dan karir.
c. Referal
Referal yaitu kegiatan atau proses mengalihtangankan kasus dari konselor
kepada pihak yang lebih kompeten baik internal maupun eksternal. Tujuannya adalah agar
konseli mendapat pennganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialaminya,
dengan jalan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak kepada pihak lain yang
lebih ahli/kompeten.
d. Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran/Wali kelas
Suatu kegiatan yang memungkinkan konselor/guru pembimbing mendapatkan
informasi yang lebih lengkap dan akurat tentang konseli. Adapun tujuan dari kolaborasi
dengan Guru mata pelajaran atau wali kelas, sebagai berikut :
1) Menciptakan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar konseli.
2) Memahami karakteristik peserta didik yang unik dan beragam
3) Menandai peserta didik yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial
teaching
4) Mereferal (mengalihtangankan) konseli yang memerlukan pelayanan bimbingan dan
konseling kepada guru pembimbing.
5) Memberikan informasi terkini tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang
diminati peserta didik.
6) Memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat
memberikan informasi yang luas kepada konseli tentang dunia kerja.
7) Menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, soisal, maupun moral-
spiritual.
8) Memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikan
secara efektif.
e. Kolaborasi dengan Orang tua
Kolaborasi dengan orang tua adalah suatu kerjasama yang memungkinkan
terjadinya saling memberi informasi, pengertian dan tukar pikiran antara konselor dengan
orang tua, dalam upaya mengembangkan potensi konseli atau memecahkan masalah
yang dihadapi. Tujuan konselor melakukan kolaborasi dengan orang tua adalah untuk
membangun kerja sama yang harmonis dengan orang tua dalam membantu konseli dan
membangun komitmen bersama dalam menangani permasalahan konseli.
f. Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait
Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait dimaksud sebagai upaya menjalin
kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dalam meningkatkan
mutu pelayanan bimbingan konseling. Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun
kerjasama yang harmonis dengan pihak-pihak terkait dalam membantu konseli dan
membangun komitmen bersama dalam menangani permasalahan konseli.
g. Konsultasi
Layanan konsultasi merupakan layanan yang dilaksanakan oleh konselor
terhadap seorang atau lebih pihak (guru, orang tua, pimpinan sekolah) sehingga pihak-
pihak tersebut memahami kondisi, kesamaan sikap dalam menangani permasalahan
konseli. Layanan ini bertujuan agar konselor dapat membantu menyelesaikan
permsalahan konseli.
h. Bimbingan Teman Sebaya
Bimbingan teman sebaya adalah pelayanan bimbingan dan konseling yang
diberikan oleh koneli tertentu terhadap konseli lainnya dalam merealisasikan tugas-tugas
perkembangan serta mengentaskan masalah-masalah yang dihadapi baik bidang pribadi,
sosial,belajar,maupun karir. Tujuan dari bimbingan teman sebaya adalah mengembang-
kan potensi peserta didik secara optimal, mengembangkan hubungan sosial, keakraban,
kepedulian, dan kebersamaan teman sebaya, memotivasi konseli dalam mengentaskan
permasalahan yang dihadapi, dan mengoptimalkan pelayanan bimbingan konseling di
sekolah.
i. Konferensi Kasus
Konferensi kasus yaitu pembahasan permasalahan secara spesifik. Peserta didik
tertentu dalam suatu forum diskusi yang dihadiri oleh pihak-pihak terkait (seperti konselor
sebagai penyelenggara, wali kelas, guru mata pelajaran, kepala sekolah, orang tua dan
tenaga ahli lainnya) untuk memudahkan terentaskannya permasalahan yang dihadapi
konseli. Tujuan dari konferensi kasus adalah terhimpunnya data dan keterangan yang
relevan, jelas, mendalam, dan konperhensif tentang permasalahan konseli kepada pihak-
pihak yang berkepentingan atau yang bersangkutan, sehingga penanganan masalah itu
menjadi lebih mudah dan tuntas.
j. Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah yaitu kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh berbagai
keterangan (data) yang diperluan dalam pemahaman lingkungan dan permasalahan
konseli, yang ditujukan untuk pembahasan serta pengentasan permasalahan konseli.
Kunjungan rumah memiliki tujuan sebagai berikut :
1) Untuk memperoleh berbagai keterangan tambahan yang diperlukan dalam memahami
lingkungan dan permasalahan konseli terutama mengenai keadaan orang
tua/keluarganya.
2) Untuk mengkomunikasikan kepada orang tua tentang permasalahan yang sedang
dihadapi konseli.
3) Membangun komitmen orang tua terhadap pembahasan dan pengentasan
permasalahan konseli.
3 Layanan Perencanaan Individual
Layanan perencanaan individual dapat diartikan sebagai layanan bantuan kepada
semua siswa agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya,
berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahan dirinya. Layanan ini bertujuan
membantu siswa membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir
dan sosial pribadinya Membantu siswa memantau dan memahami pertumbuhan dan
perkembangannya sendiri, kemudian merencanakan dan mengimplementasikan rencana-
rencana itu sesuai pemantauan dan pemahamannya. Selain itu layanan ini juga bertujuan
untuk membimbing siswa agar memiliki kemampuan untuk memutuskan tujuan,
perencanaan, atau pengelolaan terhadap dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial,
belajar, maupun karir. Juga dapat belajar memantau dan memahami perkembangan dirinya.
Dapat melakukan kegiatan atau tindakan berdasarkan pemahamannya atau tujuan yang
telah dirumuskan secara proaktif.
Adapun isi layanan perencanaan individual, sebagai berikut.
a. Bidang pendidikan dengan topik-topiknya belajar yang efektif, belajar memantafkan
program keahlian yang sesuai denganbakat, minat, dan karakteristik kepribadian lainnya.
b. Bidang karir dengan topik-topiknya mengidentifikasi kesempatan karir yang ada di
lingkungan masyarakat, mengembangkan sikap yang positif terhadap dunia kerja dan
merencanakan kehidupan karirnya.
c. Bidang sosial-pribadi yang topik-topiknya adalah mengembangkan konsep diri yang
positif, mengembangkan keterampila-keterampilan sosial yang tepat, belajar menghindari
konflik dengan teman, dan belajar memahami perasaan orang lain.
4. Dukungan Sistem
Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan,
memelihara, dan meningkatkan program bibmbingan dan konseling secara menyeluruh melalui
pengembangan profesional, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf
ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan
pengembangan.
Secara utuh Kerangka Utuh Program Kerja Bimbingan dan Konseling dapat
digambarkan sebagai berikut :
Asesmen Harapan KOMPONEN STRATEGI
Lingkungan dan PROGRAM PELAYANAN
Kondisi
Lingkungan
Pelayanan dasar BK Bimbingan Klasikal
Pelayanan Orientasi
Perangkat Tugas (untuk seluruh Pelayanan Informasi
Perkembangan Peserta didik dan Bimbingan Kelompok
(kompetensi Inti/ Orientasi jangka Pelayanan Pengumpulan Data
Kecakapan hidup Panjang)
Nilai dan moral Konseling Individual dan
Peserta didik) Konseling Kelompok
Referal
Tatanan Tujuan Kolaborasi dengan guru
Pelayanan Responsif
Bimbingan dan Kolaborasi dengan OT
Konseling (Pemecahan Kolaborasi dengan ahli lain
Masalah Remidiasi) Konsultasi
(penyadaran Bimbingan teman sebaya
Akomodasi Konferensi kasus
Tindakan) Kunjungan rumah
Permasalahan Pelayanan
Layanan khusus arah
Yang perlu Perencanaan peminatan akademik siswa
Indiviual Peminatan perguruan tinggi
Peminatan karir
(Perencanaan Pendalaman mata pelajaran
Pendidikan, Karir,
Personal, Sosial)
Akses Informasi dan teknologi
Asesmen Dukungan Sistem Pengembangan Profesi
Perkembangan Harapan dan (Aspek Manajemen Manajemen program
konseli Kondisi Dan pengembangan) Riset dan Pengembangan
Konseli
15
J. FORMAT PROGRAM LAYANAN
1) Program Kerja Umum, yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi
seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing tingkatan kelas di sekolah.
Yang terdiri atas program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan dan harian dalam
bentuk Satuan kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling (Satlan-BK atau RPL/SKL-
BK) dan dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat,
dan pihak-pihak yang terkait. Rencana kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling ini
meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta
didik yang menjadi tanggung jawab Guru BK/konselor masing-masing tingkatan kelas di
sekolah.
2) Program Kerja Khusus Peminatan, yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling
yang dilaksanakan mulai siswa diterima di kelas X (sepuluh)
K. PENDEKATAN KEGIATAN LAYANAN
1. Pendekatan Individual, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
peserta didik secara perorangan.
2. Pendekatan Kelompok, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok.
3. Pendekatan Klasikal, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
sejumlah peserta didik dalam satu kelas.
4. Pendekatan Lapangan, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.
5. Pendekatan Diperluas, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
kepentingan peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat
memberikan akses atau kemudahan.
L. SISTEMATIKA PROGRAM
Program ini di buat dalam kerangka garis besar sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan membahas tentang rasional layanan BK, pengertian, visi dan misi,
landasan BK, assesmen kebutuhan dan kompetensi inti layanan, tujuan, fungsi,
prinsip dan azas BK, struktur program, format program layanan, pendekatan
kegiatan layanan dan sistematika program.
Bab II : Operasional program layanan Bimbingan dan Konseling membahas tentang
arah dan bidang pelayanan BK, kegiatan operasional Bimbingan dan Konseling,
prioritas pelayanan, dan jadwal pelaksanaan program kerja.
Bab III : Pengelolaan layanan Bimbingan dan Konseling membahas tentang personil
pelaksana kegiatan, organisasi pelayanan Bimbingan dan Konseling,
mekanisme kerja dan pola penanganan siswa bermasalah di sekolah, sarana,
prasarana dan pembiayaan.
Bab IV : Evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut membahas mengenai kegiatan evaluasi
program, pelaporan dan pengawasan, tindak lanjut serta penutup.
Lampiran-lampiran
BAB II
OPERASIONAL PROGRAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A. ARAH PELAYANAN PROGRAM
Secara keseluruhan pelayanan BK terselenggara dalam lima arah pelayanannya, yaitu:
1) Pelayanan Dasar
Yaitu pelayanan kepada terpenuhinya kebutuhan peserta didik yang paling elementer,
yaitu kebutuhan makan dan minum, udara segar, dan kesehatan, serta kebutuhan
hubungan sosio-emosional. Orangtua, guru, dan orang-orang yang dekat (significant
persons) memiliki peranan paling dominan dalam pemenuhan kebutuhan dasar peserta
didik. Dalam hal ini Guru BK/Konselor pada umumnya berperan secara tidak langsung
dan mendorong para significant persons) berperan optimal dalam memenuhi kebutuhan
paling elementer peserta didik.
2) Pelayanan Pengembangan
Yaitu pelayanan untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan tahap-
tahap dan tugas-tugas perkembangannya. Dengan pelayanan pengembangan yang
cukup baik peserta didik akan dapat menjalani kehidupan dan perkembangan dirinya
dengan wajar, tanpa beban yang membatkan, memperoleh penyaluran bagi
pengembangan potensi yang dimiliki secara optimal, serta menatap masa depan
dengan cerah. Pelayanan BK yang dilaksanakan oleh Guru BK/Konselor selalu
diarahkan dan mengacu kepada tahap dan tugas perkembangan peserta didik.
3) Pelayanan Arah Peminatan Studi
Yaitu pelayanan yang secara khusus tertuju kepada peminatan peserta didik sejak
masuk di kelas X (sepuluh) sesuai dengan konstruk dan isi kurikulum yang ada. Arah
peminatan ini terkait dengan bidang bimbingan pribadi, sosial,belajar, dan karir dengan
menggunakan segenap perangkat (jenis layanan dan kegiatan pendukung) yang ada
dalam pelayanan BK. Pelayanan peminatan peserta didik ini terkait pula dengan aspek-
aspek pelayanan pengembangan tersebut di atas.
4) Pelayanan Teraputik
Yaitu pelayanan untuk menangani permasalahan yang diakibatkan oleh gangguan
terhadap pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan, serta pelayanan peminatan.
Permasalahan tersebut dapat terkait dengan kehidupan pribadi, kehidupan sosial,
kehidupan keluarga,kegiatan belajar, dan karir. Dalam upaya menangani permasalahan
peserta didik, Guru BK/Konselor memiliki peran dominan. Peran pelayanan teraputik
oleh Guru BK/Konselor dapat menjangkau aspek-aspek pelayanan dasar, pelayanan
pengembangan, dan pelayanan peminatan.
5) Pelayanan Diperluas
Yaitu pelayanan dengan sasaran di luar diri peserta didik pada satuan pendidikan,
seperti personil satuan pendidikan,orangtua, dan warga masyarakat lainnya yang
semuanya itu terkait dengan kehidupan satuan pendidikan dengan arah pokok
terselenggaranya dan suksesnya tugas utama satuan pendidikan, proses
pembelajaran, optimalisasi pengembangan potensi peserta didik. Pelayanan diperluas
ini dapat terkait secara langsung ataupun tidak langsung dengan kegiatan pelayanan
dasar,pengembangan peminatan, dan pelayanan teraputik tersebut di atas.
B. BIDANG PELAYANAN
Dengan arah pelayanan sebagaimana tersebut di atas, bidang pelayanan BK pada
satuan pendidikan pada khususnya adalah bidang pengembangan kehidupan pribadi,
sosial, kemampuan belajar dan pengembangan karir. Keempat bidang ini diintegrasikan
secara simultan dan menyeluruh dengan pelayanan pembelajaran oleh guru mata
pelajaran, peserta didik diarahkan untuk menjadi pribadi yang utuh, berkembang secara
optimal, tangguh, mandiri dan berkemampuan mengendalikan [Link]:
1) Pengembangan Kehidupan Pribadi, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu
peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan,
bakat dan minat, serta kondisi kehidupan yang berkarakter cerdas dan beragamana
sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik
2) Pengembangan Kehidupan Sosial, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu
peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan kemampuan hubungan
sosial yang sehat, efektif dan berkarakter-cerdas dengan teman sebaya, anggota
keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
3) Pengembangan Kemampuan Belajar, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu
peserta didik mengembangkan kemampuan belajar sesuai program studi dan arah
peminatannya, berdisiplin, ulet dan optimal dalam rangka mengikuti pendidikan pada
jenjang/jenis satuan pendidikannya, serta belajar secara mandiri.
4) Pengembangan Karir, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu peserta didik dalam
menerima, memahami dan menilai informasi serta memilih dan mengambil keputusan
arah karir secara jelas, objektif dan bijak.
C. KEGIATAN OPERASIONAL
1. Program Harian / Mingguan / Bulanan
Pada dasarnya program kegiatan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan
oleh guru BK berlangsung setiap hari, setiap minggu, sepanjang semester dan sepanjang
tahun.
Oleh karena itu dalam program kegiatan harian / mingguan / bulanan ini kami
mencoba menuangkan ke dalam jenis-jenis layanan yang diperkirakan menjadi kebutuhan
siswa dan perkiraan volume kegiatan yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, sarana dan
prasarana yang tersedia.
MATRIK PROGRAM HARIAN / MINGGUAN / BULANAN
NO Jenis Layanan Volume Kegiatan/ Minggu
Ket
1 2 3 4
1 Layanan Orientasi 2 - - - *
2 Layanan Informasi 1 2 1 1 *
3 Layanan Penepatan/Penyaluran - - 2 - *
4 Layanan Pembelajaran - 1 - 2 **
5 Layanan Konseling Perorangan 3 3 3 3 *
6 Layanan Bimbingan Kelompok 4 4 4 4 *
7 Layanan konseling Kelompok 2 2 2 2 ***
8 Aplikasi Instrumentasi 2 2 2 2 ****
9 Himpunan Data - - - - *****
10 Konferensi Kasus - - - - ***
11 Kunjungan Rumah 1 1 1 1 ****
12 Alih Tangan Kasus - - - - ******
JUMLAH 15 15 15 15
Keterangan :
* : Kemungkinan dilaksanakan di ruang kelas
** : Dilaksanakan di ruang BK
*** : Bekerja sama dengan pihak lain ((wali kelas, guru mata pelajaran)
**** : Kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun
***** : Dilaksanakan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan
****** : Beban tugas maksimal guru BK dengan siswa asuh lebih dari 250 orang adalah
30 jam dan dihargai sama dengan 15 kegiatan
Dari matrik di atas disusun Perencanaan Program Pelayanan BK berupa Satuan
kegiatan layanan (SKL-BK/Satlan-BK) untuk Program Harian, Mingguan dan Bulanan.
Setelah itu Guru BK/Konselor membuat Agenda Kerja Guru BK baik untuk kegiatan
klasikal/kelompok maupun individual, baik kegiatan di kelas maupun di ruang konseling.
Berdasarkan data hasil identifikasi kebutuhan dan/atau masalah siswa yang tertuang
pada program tahunan, guru BK membuat prioritas layanan untuk siswa yang mendesak
dikonseling dan mencatat hasilnya pada Kartu Konseling. Selain kebutuhan layanan yang
mendesak layanan bimbingan melalui program harian, mingguan dan bulanan juga bersifat
insidentil atas kemauan siswa yang bermasalah, baik masalah pribadi, belajar, sosial, karir,
keluarga, ekonomi, kesehatan, dan masalah lainnya.
Layanan konseling juga dapat dilakukan bagi siswa yang mendapatkan rekomendasi
dari guru piket, guru mata pelajaran ataupun wali kelas. Jika hasil konseling melibatkan orang
tua siswa, guru BK berkoordinasi dengan bagian TU, bagian Kesiswaan untuk mengundang
orang tua siswa terkait. Guru BK menjelaskan dari hasil konseling terkait kepada orang tua
agar dapat bekerja sama melakukan pembinaan dari hal yang dikeluhkan siswa. Guru BK
mengkoordinasikan kepada walikelas dan guru mata pelajaran untuk membantu memantau
siswa dengan status out standing student (bermasalah).
Jika diperlukan, oleh karena ketidakmampuan orang tua datang ke sekolah (dengan
alasan ekonomi dan kesehatan atau beberapa kali dipanggil tidak datang) wali kelas mencari
informasi berkunjung ke rumah orang tua siswa (Home Visit). Home visit juga bisa
dilaksanakan apabila dibutuhkan informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang
dihadapi siswa (misal: ketidak hadiran).
Jika masalah tidak terselesaikan karena memerlukan pendapat / perhatian dari guru
lain yang terkait maka diadakan konferensi kasus bersama orang tua siswa, bahkan jika
diperlukan juga melibatkan Waka Bidang Kesiswaan serta Kepala Sekolah.
Sekiranya masalah siswa yang memerlukan penanganan khusus seperti dari Dokter,
Psikolog, Kepolisian maka siswa dialihtangankan (Referal) kepada yang berwenang di antara
tersebut di atas dengan mengisi formulir.
Layanan BK yang telah dilaksanakan dituangkan dalam formulir rekap pelaksanaan
program layanan Bimbingan dan Konseling. Berupa Laporan harian, mingguan dan bulanan
2. Program Semester
Program semester merupakan rekapitulasi dari perkiraan program kegiatan harian /
mingguan / bulanan. Yang tentu saja disesuaikan dengan situasi kondisi dan kebutuhan
siswa masing-masing.
Penyusunan program untuk semester sepenuhnya diserahkan kepada guru BK
masing-masing kelas dengan mengacu kepada kegiatan layanan dan volume kegiatan /
mingguan dalam program kegiatan harian.
Untuk mengamati tingkah laku siswa terkait dengan tingkah lakunya baik di kelas
maupun di luar kelas guru BK berkoordinasi dengan guru-guru mata pelajaran dengan
mengisi formulir pedoman observasi.
Untuk lebih menjelaskan mengenai kegiatan layanan yang akan dilaksanakan oleh
guru BK masing-masing kelas, maka selain garis besar program semester, akan dijabarkan
pula masing-masing kegiatan layanan tersebut kedalam bentuk satuan kegiatan layanan, dan
bentuk satuan kegiatan pendukung untuk masing-masing kegiatannya. Berdasarkan layanan
bimbingan yang tersedia dalam setiap semester tersebut, Koordinator BK menyusun
personel BK yang terdiri dari guru BK beserta pembagian tugasnya. Setiap guru BK membuat
satuan kegiatan layanan bimbingan dan konseling (Satlan-BK) yang selanjutnya diajukan
kepada kepala sekolah untuk mendapatkan persetujuan.
Untuk kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling di kelas dilaksanakan secara
terjadwal berdasarkan kondisi sekolah, dengan ketentuan:
1) Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menye-lenggarakan
bimbingan klasikal, layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten,
kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas.
2) Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah minimal 1 (satu) jam per kelas per minggu
dan dilaksanakan secara terjadwal.
3) Di luar jam pembelajaran terjadwal, dilakukan untuk menyelenggarakan layanan layanan
orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi,
konsultasi, kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan
kepustakaan, dan alih tangan kasus, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di
luar kelas.
4) Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran
ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas.
5) Kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di luar jam pembelajaran sekolah
maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan konseling, diketahui dan dilaporkan
kepada pimpinan sekolah.
6) Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di
dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur oleh konselor dengan persetujuan
pimpinan sekolah.
Berdasarkan program kerja tersebut koordinator BK membuat jadwal kegiatan
layanan bimbingan dan konseling per semester yang memuat program bulanan tentang
operasional pelayanan bimbingan dan konseling. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan
bimbingan dan konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib
konselor di sekolah 18-24 jam, atau 150 – 250 siswa per tahun. Satu kali kegiatan layanan
atau kegiatan pendukung bimbingan dan konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam
pembelajaran.
3. Program Kerja Tahunan
Setiap awal tahun pelajaran baru, Koordinator BK membuat perencanaan program
layanan Bimbingan dan Konseling, berdasarkan hasil analisa assesmen kebutuhan layanan
kepada peserta didik, yang selanjutnya diajukan kepada kepala sekolah untuk mendapatkan
persetujuan. Need assessment dimaksud diperoleh melalui aplikasi instrumentasi atau
kegiatan pendukung layanan bimbingan konseling dengan menggunakan :
Angket Siswa dan orang tua
ATP / ITP
Daftar Cek Masalah
Peta Siswa dan Peta Rawan Kelas
Sosiometri : Lembar Isian Sosiometri, Tabel Sosiometri, dan Lembar Sosiogram.
Program layanan Bimbingan dan Konseling yang telah disetujui dan disahkan kepala sekolah
akan menjadi program kerja operasional Bimbingan dan Konseling.
Program Kerja Tahunan bimbingan dan konseling ini dibuat semata-mata sebagai
pola atau acuan umum bagi pelaksanaan program satuan layanan atau satuan pendukung,
Oleh karena program-program satuan layanan dan satuan pendukung merupakan wujud
nyata dari kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik dengan
segala karakteristik dan kebutuhannya, maka uraian kegiatan yang tertuang dalam program
kerja tahunan ini mungkin saja dalam pelaksanaannya di lapangan akan disesuaikan oleh
guru BK dengan program harian, mingguan atau bulanan melalui satuan kegiatan layanan
dan satuan kegiatan pendukung yang disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kebutuhan
siswa saat ini.
Untuk program khusus BK arah peminatan peserta didik, terlebih dahulu guru BK
memberikan angket tentang program peminatan yang akan dipilih siswa sesuai bakat, minat
dan kemampuan prestasi belajar siswa. Kemudian angket tersebut direkap dalam form Data
minat dan kemampuan siswa sebagai salah satu pertimbangan dalam kriteria peminatan.
Rekapitulasi data peminatan kemudian diserahkan kepada bidang akademik/kurikulum yang
berhubungan dengan peminatan, wali kelas dan bidang kesiswaan. Substansi program
pelayanan peminatan ini sesuai dengan arah dan bidang layanan dan kegiatan pendukung,
format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas konselor.
Program bimbingan dan konseling yang berkaitan dengan pelayanan peminatan
seyogyanya memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antar arah
peminatan, pendalaman kelompok mata pelajaran dan/atau lintas peminatan, serta antar
jenjang kelas. Dan mensinkronisasikan program pelayanan bimbingan dan konseling dengan
kegiatan pembelajaran akademik dan kegiatan ekstra kurikuler (nonakademik), serta
mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah.
Untuk melengkapi data keperluan konseling pada umumnya dan arah peminatan
akademik pada khususnya, guru BK berkoordinasi dengan bagian kesiswaan, kurikulum dan
wali kelas untuk memperoleh data sebagai berikut:
Data ketidakhadiran siswa: Absensi
Data kejadian / pelanggaran tata tertib: Surat Panggilan, Surat Perjanjian, Konfrensi
Kasus, Studi kasus,dll.
Data hasil Psikotes: Hasil Tes IQ, bakat, minat, dan kepribadian
Data nilai UN (SMP/MTs), dan nilai raport hasil belajar SMP/MTs.
Data nilai semester Nilai Prestasi Hasil Belajar di SMA
D. PRIORITAS PELAYANAN
1. Pengembangan Potensi Akademis
a. Layanan Pengayaan dan Pemantapan
Layanan pengayaan dan pemantapan adalah bagian dari pengembangan
potensi akademis seluruh peserta didik khususnya kelas XII agar siap mengikuti Ujian
Nasional dan Ujian Sekolah hingga berimplikasi pada perolehan Nilai UN dan nikai
Akhir yang memuaskan, kelulusan 100%. Layanan ini juga untuk pengembangan
keterampilan akademis merupakan upaya untuk mengembangkan peserta didik agar
dapat melatih diri dalam hal penerapan rumus-rumus, berpidato, membuat konsep,
laporan, proposal, adu argumentasi serta memberi peluang untuk memahami akses-
akses bakat minat peserta didik sehingga terampil belajar mandiri yang pada akhirnya
menjadi insan yang mampu bersaing di era pasar bebas dan era globalisasi seperti
sekarang ini.
b. Layanan Repetition
Program Repetition adalah satu bentuk upaya bimbingan dan konseling untuk
mengantisipasi kegagalan peserta didik yang menghadapi kesulitan belajar pada mata
pelajaran tertentu hingga prestasi peserta didik berada di 27% atau 5 terendah di kelas,
melalui pembimbingan teman sebaya.
c. Layanan SNMPTN, SBMPTN dan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru PTN
Kedinasan.
1) SNMPTN diperuntukkan bagi semua peserta didik yang memiliki nilai semester 1
s.d. 5 di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) berhak untuk mengikuti jalur
Undangan sebagai satu peluang masuk PTN tanpa tes dengan dukungan
fasilitasi akreditasi sekolah dan jaringan alumni (di dalamnya terdapat peluang bagi
peserta didik yang kurang mampu dengan persyaratan yang telah ditetapkan
Bidikmisi, biaya nol rupiah).
2) SBMPTN adalah ujian saringan masuk PTN melalui tes tertulis bagi peserta didik
yang berminat dengan biaya yang telah ditetapkan (di dalamnya terdapat peluang
bagi peserta didik yang kurang mampu dengan persyaratan yang telah ditetapkan
Bidikmisi, biaya nol rupiah)
3) UM, untuk peserta didik yang berminat masuk PTN di luar SNMPTN dan SBMPTN,
dengan kekhususan persyaratan masing-masing PTN.
4) Program penerimaan calon mahasiswa baru dari perguruan tinggi kedinasan,
Layanan diberikan dengan memberikan informasi-informasi tentang sekolah tinggi
kedinasan, diantaranya : STAN, STP, STPDN, IIP, dll.
d, Layanan Pengembangan Diri “Potensi” non akademis
Untuk mengakomodir bakat minat peserta didik maka diinformasikan tentang
kegiatan ekstrakurikuler pengembangan diri yang harus diikuti, akan diarahkan pada
bidang-bidang yang telah dipilih, Layanan pengembangan “potensi” non akademis,
layanan ini bertujuan agar potensi non akademis peserta didik berkembang optimal
dengan merujuk peserta didik pada pihak-pihak terkait (pembina OSIS atau
pembimbing ekstrakurikuler} sesuai bakat minat baik bidang seni, olah raga dan
bidang lainnya (PMR, Paskibra, Pramuka dll} sehingga potensi non akademis peserta
didik mendapat kesempatan untuk dikembangkan serta sebagai wahana memupuk
rasa percaya diri, memperluas insight, menambah pengalaman dan ilmu juga sebagai
wadah untuk mengekspresikan diri, belajar bersosialisasi memanaj waktu), disiplin diri
bertanggung jawab, selalu tepat waktu mampu membuat dan melaksanakan skala
prioritas pada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat tanpa mengganggu kegiatan
akademis.
Layanan Pengembangan “Keterampilan” non akademis layanan seperti tersebut
di atas adalah upaya bantuan pada peserta didik agar terampil dalam bidang non
akademis dengan mengarahkan supaya potensi tersebut berkembang, sehingga
tujuan pendidikan nasional mengenai generasi yang memiliki kecakapan hidup (life
skill) tercapai. Adapun bidang-bidang yang berkenaan dengan pengembangan
keterampilan non akademis terdiri dari :
1) Layanan pengembangan bidang seni budaya (Muatan Lokal)
Manusia adalah yang suka keindahan baik yang didengar maupun yang dilihat
dan manusia adalah pembuat seni budaya, dengan mengembangkan
keterampilan potensi akademis bidang seni budaya, penataan kegiatan
keterampilan seni budaya, informasi akses-akses bakat minat seni budaya serta
merujuk pada pembimbing ekstra kurikuler bidang seni dan budaya sehingga siap
untuk mengikuti perlombaan-perlombaan baik di sekolah, maupun perlombaan-
perlombaan audisi.
2) Pengembangan keterampilan bidang olah raga (Muatan Lokal)
Selain terampil peserta didik diharapkan menjadi generasi yang kuat fisik maupun
mental dengan merujuk pada pembimbing ekstra kurikuler sesuai bakat minat,
seperti : Volley, basket, karate, taekwondo, bulu tangkis dll, sehingga siap untuk
menjadi wakil kelas saat porak (pekan olah raga dan seni) atau menjadi duta
sekolah pada kegiatan lainnya diluar sekolah.
3) Pengembangan keterampilan prakarya dan kewirausahaan (Muatan Lokal)
Dalam kurikulum 2013 peserta didik yang selain harus memiliki kompetensi
akademik, siswa juga harus mampu untuk memiliki jiwa kewirausahaan dan satu
kecakapan khusus yang memungkinkan ia hidup layak di masyarakat (life skill),
selain itu memiliki profil kepribadian yang menarik untuk terjun ke dunia
kerja/dunia usaha, mampu bersosialisasi.
4) Pengembangan kepemimpinan dan berorganisasi siswa
Peserta didik yang “dominance”nya tinggi ia mampu untuk mengatur dan
mendominasi kelompok atau kelas atau komunitas yang lebih luas (sekolah dan
masyarakat) memiliki jiwa pemimpin, profil kepribadian yang menarik, agamis,
memiliki kecerdasan bersosialisasi, terampil membaca situasi, berpenampilan
menarik, bersih dan rapih dirujuk kepada pembina OSIS agar mendapat pelatihan
kepemimpinan (LDKS). Demikian pula bagi peserta didik yang memiliki bakat
minat pada kegiatan berorganisasi dirujuk pada pembina OSIS untuk mengikuti
kegiatan organisasi sekolah untuk pengembangan keterampilan berorganisasi
agar kelak terampil berorganisasi di masyarakat lebih lanjut dapat menjadi
anggota organisasi secara nasional baik organisasi kemasyarakatan maupun
organisasi politik sebagai generasi penerus bangsa yang mampu mempertahan-
kan eksistensi bangsa dan negara.
e. Layanan Beasiswa
Layanan program beasiswa
1) Diprioritaskan bagi peserta didik yang berlatar belakang sosial ekonomi “sangat”
membutuhkan bantuan tanpa persyaratan prestasi akademis.
2) Diprioritaskan untuk peserta didik yang berprestasi masuk 10 besar namun sosial
ekonomi layak mendapat bantuan
3) Diprioritaskan untuk peserta didik yang mendapat prestasi akademis dan non
akademis dalam perlombaan pelajar teladan, olimpiade sains, olahraga, seni dan
pengembangan teknologi.
f. Kerjasama dengan instansi terkait
Untuk memberikan layanan berbagai informasi yang dibutuhkan peserta didik,
maka perlu kiranya mengadakan kerja sama dengan instansi terkait untuk
mengakomodir keperluan di atas, bimbingan dan konseling MAN Sanggau menjalin
kerjasama dengan :
1) MGBK Kab. Sanggau untuk pelaksanaan psikotes Arah Peminatan siswa.
2) BP2KBPA/BKKBN Kabupaten Sanggau untuk menyelenggarakan berbagai
informasi terutama yang berkenaan dengan pengelola PIK-Remaja di Sekolah,
penyalahgunaan pemakaian obat terlarang/narkoba, Program Genre, konseling
remaja, peer counselor, dll. (kerjasama ini dikoordinasikan dengan pembina OSIS,
Wakasek kesiswaan dan Kepala Sekolah).
E. MATRIK PELAKSANAAN PROGRAM KERJA
(Terlampir)
BAB III
PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A. PERSONIL PELAKSANA KEGIATAN DAN SUBYEK SASARAN LAYANAN
Pada tahun pelajaran 2013/2014, personil pelaksana kegiatan pelayanan bimbingan
dan konseling di MAN Sanggau berjumlah 1 orang, dengan rincian kelas
bimbingan/asuhannya sebagai sasaran layanan bimbingan konseling berkenaan dengan
upaya pemberian bantuan pada peserta didik adalah sebagai berikut :
NO NAMA KELAS JUMLAH SISWA JMLH KET
JAM
1 Ibnu Katsyier, [Link]. Xa 30
Xb 30 90
Xc 30
2 Ibnu Katsyier, [Link]. XI IPA 1 32
XI IPS 1 33 97
XI IPS 2 32
3 Ibnu Katsyier, [Link]. XII IPA 1 32
XII IPS 1 29 91
XII IPS 2 30
1. Pelaksana kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling adalah Guru BK atau konselor
sekolah.
2. Guru BK/Konselor pelaksana kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah
wajib:
a. Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional
bimbingan dan konseling.
b. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak
terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah, sejawat pendidik, dan orang tua.
c. Melaksanakan tugas pelayanan profesional bimbingan dan konseling yang setiap kali
dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah,
orang tua, dan peserta didik.
d. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan kegiatan pelayanan
profesional bimbingan dan konseling.
e. Mengembangkan kemampuan profesional bimbingan dan konseling secara
berkelanjutan.
3. Beban tugas wajib konselor ekuivalen dengan beban tugas wajib pendidik lainnya di
sekolah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
B. ORGANISASI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Organisasi Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 3 Cilegon diselenggarakan oleh
suatu organisasi dengan guru pembimbing/konselor sebagai pelaksana utama. Dalam
organisasi tersebut selain ada guru pembimbing/konselor ada pula pimpinan sekolah,
koordinator bimbingan dan konseling, wali kelas, guru mata pelajaran dan staf administrasi
yang masing-masing memiliki tugas pokok dan fungsi sendiri.
Dalam pengelolaan bimbingan dan konseling dilengkapi fasilitas yang diperlukan, yaitu
ruang kerja, peralatan instrumentasi, peralatan administrasi dan sarana pendukung lainnya.
Organisasi pelayanan bimbingan dan konseling meliputi segenap unsur dengan susunan
seperti tertera pada halaman berikut :
PENGAWAS SEKOLAH
KOMITE SEKOLAH KEPALA SEKOLAH . TENAGA/
.WK. KEPALA SEKOLAH INSTANSI AHLI
TATA USAHA
GURU MP/ KOORD. BK & GURU BK/ WALI KELAS
PIKET/PEMBI- KONSELOR SEKOLAH
NA/PTK LAIN
S I S W A
Keterangan :
= Garis Komando
-------------------------------- = Garis Konsultasi/ Garis Koordinasi
a. Tanggung Jawab, Tugas Pokok dan Fungsi
1. Kepala Sekolah : Penanggung jawab pelaksanaan program pendidikan secara
keseluruhan di sekolah termasuk pelaksanaan layanan
bimbingan dan konseling. Dan mempertanggungjawabkan
pelaksanaan pelayanan bimbingan di sekolah kepada Kepala
Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya.
Tugas Pokok dan Fungsi
Mengkoordinasikan segenap kegiatan yang diprogramkan di sekolah, sehingga
kegiatan pengajaran, pelatihan dan bimbingan merupakan kesatuan yang terpadu,
harmonis dan dinamis
Menyediakan prasarana, tenaga, sarana dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya
layanan bimbingan yang efektif dan efisien.
Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan program, penilaian
dan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan.
Melaksanakan hubungan dengan lembaga-lembaga di luar sekolah dalam rangka
kerjasama pelaksanaan pelayanan bimbingan
Dibantu oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dalam melaksanakan tugas-
tugas kepala sekolah terutama pelaksanaan bimbingan dan konseling
Dibantu Tata Usaha Sekolah dalam penyelenggaraan administrasi, ketatausahaan
dan pelaksanaan administrasi bimbingan dan konseling.
2. Koordinator BK : Penanggung jawab dan pelaksana utama dalam mengkoordi-
nasikan semua kegiatan yang terkait dalam pelaksanaan BK di
sekolah, administrasi dan manajemen pelayanan bimbingan
dan konseling.
Tugas Pokok dan Fungsi :
Memasyarakatkan pelayanan Bimbingan dan Konseling kepada segenap warga
sekolah, orang tua siswa dan masyarakat
Menyusun dan melaksanakan program Bimbingan dan Konseling
Mengadministrasikan pelayanan Bimbingan dan Konseling
Memastikan pelaksanaan program bimbingan konseling berjalan lancar
Mengevaluasi progran dan pelaksanaan kegiatan bimbingan konseling
Memberikan tindak lanjut terhadap hasil penilaian bimbingan dan konseling
3. Guru BK / Konselor Adalah guru yang diberi tugas utama sebagai pelaksana kegiatan
pelayanan Bimbingan dan konseling di sekolah, bertanggung
jawab terhadap semua kegiatan pelayanan yang terkait dengan
perkembangan siswa asuhnya, serta mempertanggungjawabkan
tugas dan kegiatan layanan BK kepada Koordinator BK.
Tugas Pokok dan Fungsi :
Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling
Merencanakan dan melaksanakan layanan Bimbingan dan konseling
Melaksanakan segenap layanan Bimbingan dan konseling
Melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
Menilai proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling dan kegiatan
pendukungnya
Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan penilaian
Mengadministrasikan layanan bimbingan dan konseling pada koordinator
4. Guru Mata Pela- : Adalah pelaksana pembelajaran/pelatihan yang bertanggung
jaran / Pelatih / jawab memberikan informasi tentang siswa untuk kepentingan
Guru Pembina kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Tugas Pokok dan Fungsi :
Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa
Membantu guru bimbingan dan konseling/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang
memrlukan layanan bimbingan dan konseling
Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling
kepada guru bimbingan dan konseling
Menerima alih tangan dari guru BK, yaitu siswa yang menurut guru BK memerlukan
pelayanan pembelajaran khusus (pengayaan, remedial)
Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru siswa dan hubungan
siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling
Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan
bimbingan dan konseling
Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa seperti konferensi
kasus
Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan
bimbingan dan konseling dan upaya tindak lanjutnya.
5. Wali Kelas : Bertanggung jawab membantu Guru BK/Konselor dalam
kegiatan bimbingan konseling di kelasnya masing-masing.
Tugas Pokok dan Fungsi :
Membantu mengelola kelas asuhannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling,
berperan :
Mengumpulkan data tentang siswa
Menyelenggarakan bimbingan kelompok
Menyelenggarakan penyuluhan
Meneliti kemajuan dan perkembangan siswa
Pengaturan dan penempatan siswa
Mengidentifikasi siswa sehari-hari
Kunjungan rumah/konsultasi dengan orang tua/wali
Membantu guru mata pelajaran melaksanakan perannya dalam pelayanan bimbingan
dan konseling khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas
yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengikuti layanan bimbingan dan konseling
6. Siswa : Peserta didik yang berhak menerima pelayanan pembelajaran,
pelatihan dan pelayanan bimbingan dan konseling.
7. Komite Sekolah : Adalah badan yang secara khusus dibentuk untuk menjadi
mitra sekolah dalam pembinaan dan pengembangan sekolah
sekaligus wakil dari orang tua/wali siswa, dan pihak terkait yang
berkewajiban membantu penyelenggaraan pendidikan
termasuk pelaksanaan bimbingan dan konseling.
8. Pengawas : Merupakan unsur Kantor Dinas Pendidikan, adalah personil
Sekolah yang bertugas melakukan pengawasan dan pembinaan
terhadap penyelenggraan, pelayanan bimbingan dan konseling
sekolah.
[Link] Usaha (TU) : Adalah pembantu Kepala Sekolah dalam penyelenggaraan
Sekolah administrasi ke- Tata Usahaan Sekolah dan pelaksanaan
administrasi bimbingan dan konseling di sekolah.
C. MEKANISME KERJA GURU MATA PELAJARAN, WALI KELAS, GURU BK DAN
KEPALA SEKOLAH
1. Guru Mata Pelajaran
Membantu memberikan informasi tentang data siswa yang meliputi daftar nilai siswa,
observasi dan catatan anekdot.
2. Wali Kelas
Disamping sebagai orang tua kedua di sekolah, juga membantu mengkoordinir informasi
dan kelengkapan data yang meliputi : daftar nilai, angket siswa, observasi, catatan
anekdot, laporan observasi siswa, catatan home visit, catatan wawancara, dan laporan
kegiatan pengembangan diri/ekstrakurikuler.
3. Guru BK / Konselor
Disamping bertugas memberikan layanan Bimbingan dan Konseling kepada siswa juga
sebagai sumber data yang meliputi : Data Perkembangan Akademis dan Non Akademis
siswa, Catatan Konseling, Data Psikotes, Catatan Konferensi Kasus, Catatan Kasus dan
Catatan Pribadi Siswa.
4. Kepala Sekolah
Sebagai penanggung jawab pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah, Kepala
Sekolah perlu mengetahui dan memeriksa semua kegiatan yang dilakukan oleh guru
mata pelajaran, wali kelas, guru pembimbing /konselor dalam kaitannya dengan layanan
bimbingan dan konseling di sekolah.
Mekanisme Kerja tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Guru MP Wali Kelas Guru BK Kepala Sekolah
[Link] Nilai [Link] Kelas [Link] Layanan
1.1 Orientasi
1.2 Informasi
1.3 Penempatan /
Penyaluran
[Link]/ [Link] /
Pengamatan Pengamatan
1.4 Pembelajaran
1.5 Konseling
Individual
3. Wawancara 1.6 Bimbingan
Kelompok
Diketahui
1.7 Konseling
3. Remedial Kelompok
Teaching
2. Kegiatan
Pendukung
2.1 aplikasi
Instrumen
4. Kunjungan
Rumah
4. Catatan 2.2 Himpunan Data
Kejadian/anekdot
5. Catatan
kejadian/anekdot 2.3 Alih Tangan
Diketahui
2.4 Kon. Kasus
2.5 Home Visit
3. Pelaporan Diperiksa
D. POLA PENANGANAN PESERTA DIDIK BERMASALAH
Pembinaan peserta didik dilaksanakan oleh seluruh unsur pendidikan di sekolah,
orang tua. Masyarakat dan pemerintah. Pola tindakan terhadap peserta didik yang
menghadapi masalah di MAN Sanggau adalah sebagai berikut :
Seorang siswa yang melanggar tata tertib atau hal-hal lain yang dapat digolongkan
ke dalam permasalahan siswa dapat ditindak oleh guru piket, wali kelas, wakil kepala
sekolah dan petugas lain bahkan langsung oleh Kepala Sekolah. Tindakan tersebut
diinformasikan kepada wali kelas sebagai sentral tindakan. Sementara itu guru BK/konselor
berperan dalam mengetahui sebab-sebab yang melatarbelakangi sikap, tindakan atau
perilaku tersebut. Guru BK/konselor bertugas membantu menangani masalah siswa dengan
meneliti latar belakang tindakan atau perilaku siswa melalui serangkaian wawancara dan
informasi dari sejumlah data, setelah wali kelas merekomendasikannya.
Jika seorang siswa datang langsung ke ruang BK menemui guru BK/konselor
untuk berkonsultasi tentang permasalahannya, maka tindakan guru BK/konselor perlu
segera melayani dengan terlebih dahulu konfirmasi dengan guru pengajar dan atau wali
kelasnya.
Pola penanganan terhadap siswa yang bermasalah tersebut diorganisasikan sbb.:
TENAGA/ KEPALA KOMITE SEKOLAH
INSTANSI AHLI SEKOLAH .
GURU PIKET
KOORD. BK &
GURU BK/
GURU MP
WALI KELAS
KONSELOR
SEKOLAH
PTK LAIN
SISWA YANG BERPERILAKU
MENYIMPANG
E. SARANA-PRASARANA DAN PEMBIAYAAN
Sarana dan prasarana yang diperlukan disesuaikan dengan kondisi SMA Negeri 3
Cilegon, Agar layanan Bimbingan dan Konseling berjalan dengan lancar, maka sarana dan
prasarana yang diperlukan sebelum tahun pelajaran baru sudah dikonsultasikan oleh guru
BK/konselor, melalui Koordinator Bimbingan dan Konseling kepada bagian Sarana . Sarana
dan Prasarana yang diperlukan antara lain :
1. Sarana untuk menunjang pelayanan bimbingan adalah :
a. Alat pengumpul data, seperti: Instrumen Tugas Perkembangan, instrumen
penelusuran potensi akademik-bakat-minat-sikap, format-format layanan, pedoman
observasi, pedoman wawancara, angket peminatan (siswa, orangtua, guru BK) ,
catatan harian, laporan prestasi belajar, kartu konsultasi, laporan absensi, dsb.
b. Alat penyimpan data, seperti: foklder peserta didik, clip kartu konseling, map
peserta didik baru, loker, dsb.
c. Pelengkapan teknis, seperti : buku Satlan BK, buku referensi BK, buku agenda
kerja, buku pedoman/juklak BK, buku informasi (pribadi-sosial-belajar-karir), modul
layanan peminatan, LKS BK.
d. Perlengkapan teknis lainnya, seperti : blangko surat, agenda surat, buku tamu,
alat-alat tulis, himpunan data, format-format layanan, dan sebagainya.
e. Perangkat Elektronik :
- Komputer untuk mengolah data hasil aplikasi instrumen
- Program khusus pengolahan hasil instrumen melalui komputer
- Program khusus BK melalui komputer/internet. Seperti ; bimbingan belajar,
informasi lanjutan studi, informasi lowongan kerja dan sebagainya.
2. Prasarana penunjang layanan bimbingan antara lain :
a. Ruangan kerja konselor dengan ukuran : 5 x 8 meter
b. Ruang konseling ukuran 5 x 3 meter
c. Satu stel kursi tamu
d. Satu buah lemari
e. Satu buah rak loker-data
f. Tiga buah meja kursi guru
g. Enam buah kursi siswa
h. Papan data, Program dan Papan Pengumuman, whiteboard
i. Jam dinding, Kipas Angin dan Timbangan badan
j. Satu set komputer
k. Perlengkapan lain yang tidak disebutkan satu persatu
3. Pembiayaan
Untuk dapat terselenggara kegiatan-kegiatan yang telah diprogramkan khususnya
kegiatan yang memerlukan biaya/dana, seperti mendatangkan nara sumber tokoh
berkarier, transportasi untuk pelatihan/seminar guru-guru BK, penelusuran tamatan,
kunjungan/studi banding, home visit dan lain-lain.
Kebutuhan biaya yang diperlukan untuk melengkapi dan melaksanakan pelayanan
bimbingan dan konseling di MAN Sanggau tidak mendapat kesulitan, dan anggaran biaya
tidak diberikan pertahun melainkan dapat diambil sewaktu-waktu berdasarkan kebutuhan,
termasuk biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan Home Visit (kunjungan rumah), ATK,
dan kegiatan MGBK/seminar, workshop atau lokakarya Bimbingan dan Konseling.
Keseluruhan dana tersebut dibebankan kepada sekolah melalui dana Pemerintah
Kota Cilegon yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan yang [Link]
biaya aplikasi instrumen psikotes diselenggrajan atas kerjasama MAN Sanggau dengan
lembaga MGBK. Untuk keperluan ini biaya dibebankan kepada orang tua siswa melalui
persetujuan Kepala Sekolah dan Komite Sekolah.
BAB III
EVALUASI, PELAPORAN DAN TINDAK LANJUT
A. Evaluasi
1. Tujuan Evaluasi
Dalam keseluruhan kegiatan layanan bimbingan dan konseling penilaian atau
evaluasi diperlukan untuk memperoleh umpan baik terhadap keefektifan layanan bimbingan
yang telah dilaksanakan. Dengan informasi dapat diketahui sampai sejauh mana derajat
keberhasilan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Berdasarkan informasi dapat
ditetapkan langkah tindak lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program
selanjutnya.
2. Jenis Evaluasi
Ada tiga macam kegiatan penilaian program bimbingan konseling yaitu :
a. Penilaian Program
Setelah pelaksanaan Bimbingan dan Konseling dievaluasi, ternyata hasilnya tidak
sesuai dengan yang diharapkan dalam program, maka dianalisa atau dicari penyebab
ketidakberhasilan layanan atau kegiatan Bimbingan dan Konseling tersebut, dengan
melihat hasil penilaian program, apakah terdapat ketidaksesuaian dengan yang
dibutuhkan atau apakah prosesnya atau pelaksanaannya tidak sesuai dengan waktu,
suasana, tempat dan lingkungan.
b. Penilaian Proses
Yang dimaksud dengan penilaian proses adalah untuk mengetahui sampai sejauh
mana keefektifan layanan bimbingan konseling dilihat dari prosesnya.
Layanan bimbingan dan konseling perlu dinilai untuk mengetahui efektifitas layanan
dan dampak positif yang diperoleh siswa. Penilaian proses juga perlu dilaksanakan
yang hasilnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas proses layanan tersebut.
c. Penilaian Hasil
Penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan layanan
konseling dilihat dari hasilnya.
Penilaian hasil layanan meliputi tiga jenis yaitu penilaian segera, jangka pendek, dan
jangka panjang yang masing-masing dapat dilaksanakan melalui format lisan dan
tertulis. Misalnya fokus penilaian segera hasil layanan adalah diperolehnya
pemahaman baru, berkembangnya perasaan positif dan rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan pasca layanan demi terentasnya masalah.
3. Aspek-Aspek yang di evaluasi
a. Kesesuaian antara program dengan pelaksanaan
b. Keterlaksanaan program
c. Hambatan-hambatan yang dijumpai
d. Dampak bimbingan konseling terhadap kegiatan belajar mengajar
e. Respon siswa, personil sekolah, orang tua dan masyarakat terhadap layanan
bimbingan konseling.
f. Perubahan kemajuan siswa dilihat dari pencapaian tujuan layanan bimbingan
konseling, pencapaian tugas-tugas perkembangan dan hasil belajar.
g. Keberhasilan siswa setelah menamatkan sekolah baik pada studi lanjutan maupun
pada kehidupan di masyarakat.
4. Sumber Informasi untuk Evaluasi
Sumber informasi untuk evaluasi dapat kita peroleh dari : siswa, orangtua, Kepala
Sekolah, Wali kelas, Guru Mata Pelajaran, para Pengawas atau pejabat Dinas Pendidikan
kota, Organisasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN dan MGBK), perguruan tinggi, dll.
5. Penilai
Di tingkat sekolah, dilakukan oleh Kepala Sekolah dibantu Guru senior. Penilai di
Tingkat kota dilakukan oleh : Pengawas BK atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk
Dinas pendidikan.
6. Teknik Penilaian
Penilaian dilakukan melalui teknik : wawancara, observasi, studi dokumenter, angket, tes
analisa hasil kerja siswa. (melalui pemantauan dan/atau pengamatan)
Penilaian perlu diprogramkan secara sistematis dan terpadu. Kegiatan penilaian baik
mengenai proses maupun hasil perlu dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar dalam
tindak lanjut untuk perbaikan dan pengembangan program layanan bimbingan konseling.
B. PENGAWASAN DAN PELAPORAN
1. Kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dipantau, dievaluasi, dan
dibina melalui kegiatan pengawasan.
2. Pengawasan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling dilakukan secara:
1) interen, oleh kepala sekolah.
3. Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional guru BK/konselor dan
implementasi kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling yang menjadi kewajiban
dan tugas konselor di sekolah.
4. Pengawasan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling dilakukan secara berkala
dan berkelanjutan.
5. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan
mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di
SMA Negeri 3 Cilegon tahun berikutnya.
6. Hasil penilaian dituangkan dalam form Laporan Hasil Evaluasi Program Kerja
Pelayanan BK.
7. Hasil kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dalam satu
semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif sebagai bukti fisik
kegiatan pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling.
8. Pelaporan secara berkala dilaksanakan melalui koodinator Bk kepada Kepala Sekolah
dengan tidak menutup kemungkinan untuk melaporkan secara lisan periha-perihal
yang harus diketahui oleh Kepala Sekolah, Wali Kelas dan guru mata pelajaran pada
saat rapat rutin bulanan. Dan hasil analisa ini dituangkan dalam form Laporan Analisis
Hasil Evaluasi.
9. TINDAK LANJUT
Bila hasil evaluasi dari layanan Bimbingan dan Konseling tidak memberikan
peningkatan, maka sesuai dengan analisis akan diadakan perbaikan program dan
perbaikan proses untuk program di masa mendatang, yaitu program yang tidak perlu dicoret
dengan menggantinya dengan yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan siswa. Dan
mengenai pelaksanaannya akan sangat memperhatikan waktu, suasana, tempat dan
lingkungan dan kegiatan ini dituangkan dalam Tindak Lanjut Pelaksanaan Layanan
Bimbingan dan Konseling.
Dari hasil evaluasi Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling tahun yang lalu
kiranya sebagai tindak lanjut kami mengembangkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Guru BK/konselor bagi siswa diatur secara berkelanjutan dari mulai masuk hingga yang
bersangkutan menamatkan sekolah di MAN Sanggau
2. Pelayanan Bimbingan dan konseling secara klasikal diselenggarakan secara terjadwal
sekurang-kurangnya 1 jam setiap minggu setiap kelasnya sesuai dengan pegangannya
kelas masing-masing guru BK/konselor.
3. Guru BK/Konselor bertanggung jawab terhadap siswa bimbingannya perihal administrasi
layanan BK yang bersangkutan.
4. Pengembangan Diri siswa diselenggarakan melalui kerja sama guru BK/konselor dengan
Wakil Kepala Sekolah terutama bidang kurikulum dan kesiswaan yang programnya
disesuaikan dengan bakat, minat siswa yang diidentifikasi melalui angket peminatan
siswa dalam meilih arah peminatan studi, pendalaman mata pelajaran, dan peminatan
kegiatan pengembangan diri ekstrakurikuler (nonakademik).
5. Dalam rangka meningkatkan wawasan karir sekolah menjalin hubungan dengan dunia
industri dan dunia usaha dan wawasan lanjutan studi kami menjalin hubungan dengan
Lembaga Perguruan Tinggi Negeri dan swasta dengan harapan para siswa lebih
mendapatkan informasi yang aktual sekaligus dapat memotivasi dalam mencapai cita-
cita dan pilihan karirnya.
6. Penyelenggaraan psikotes dilakukan dengan menginformasikan terlebih dahulu kepada
orang tua dengan penjelasan oleh Kepala sekolah tentang pentingnya data psikotes
dalam pemilihan dan penetapan arah peminatan akademik melalui rapat pertemuan
orang tua siswa baru kelas X dan pembiayaan psikotes dibebankan sepenuhnya kepada
orang tua siswa.
10. PENUTUP
Layanan bimbingan dan konseling yang efektif tidak mungkin terlaksana dengan
baik tanpa adanya kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait, baik di dalam maupun di
luar sekolah.
Untuk menjamin terlaksananya layanan bimbingan dan konseling secara tepat
diperlukan pengawasan baik secara teknis maupun administratif. Pengawasan dilakukan
oleh pengawas khusus yang profesional, artinya mengerti dan memahami profesi
bimbingan dan konseling secara keseluruhan.
Demikian program ini kami susun dan kami menyadari bahwa program ini masih
belum sempurna, namun tahap demi tahap kami bertekad untuk mengadakan evaluasi demi
tercapainya visi, misi, dan tujuan yang diharapkan.
Tidak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Kepala
Sekolah dan Pengawas Sekolah yang telah memberikan pengarahan demi perbaikan dan
keberhasilan layanan bimbingan dan konseling di MAN Sanggau ini.
Semoga program kerja bimbingan dan konseling ini bermanfaat bagi semua yang
berkepentingan.
Amiin Yaa Allah Robbal Alamiin.
Mengetahui Sanggau, 1 Juli 2013
Kepala Madrasah Koordinator BK MAN Sanggau,
Drs. Ismatullah Ibnu Katsyier, [Link]
NIP. 19670301993031007