Perencanaan Sistem Drainase Kota Kupang
Perencanaan Sistem Drainase Kota Kupang
PENDAHULUAN
Oleh karena itu, diperlukan adanya saluran drainase yang berfungsi menampung
air hujan dan kemudian mengalirkannya ke kolam penampungan atau ke sungai. Guna
mengantisipasi terjadinya genangan atau banjir nantinya, maka perlu dilakukan suatu
perencanaan pembuatan saluran drainase yaitu dengan menghitung kapasitas saluran
sesuai dengan debit rencana sehingga dapat ditentukan dimensi saluran rencana.
Maksud dari tugas ini adalah agar mahasiswa mampu memahami sistem drainase kota
dan sebagai tugas besar yang menjadi salah satu syarat kelulusan mata kuliah Drainase Kota.
Namun selain itu juga terdapat beberapa tujuan lain, yaitu :
Dalam penulisan tugas besar mata kuliah Drainase Kota memiliki lingkup
pembahasan mengenai:
Sistematika penyusunan laporan tugas besar mata kuliah Drainase Kota ini yaitu:
a. BAB I PENDAHULUAN
Memuat latar belakang, maksud dan tujuan, lingkup pembahasan tugas dan
sistematika penyusunan laporan tugas.
e. BAB V PENUTUP
2.1 Umum
Manusia sudah mulai memikirkan tentang Sistem Pembuangan limpasan air hujan
sejak jaman Romawi Kuno. Bagunan drainase perkotaan pertama kali dibuat di Romawi
berupa saluran bawah tanah yang cukup besar yang digunakan untuk menampung dan
membuang limpasan air hujan. Pada awalnya sistem drainase dibangun hanya untuk
menerima limpasan air hujan dan membuangnya ke badan air terdekat. Desain dan
pembangunannya belum dilakukan dengan baik. Saluran bawah tanah yang terbuat dari
batu dan bata mengalami rembesan yang cukup besar sehingga kapasitasnya berkurang.
Pada beberapa kasus, saluran tidak mempunyai kemiringan yang cukup sehingga air
tidak lancer ( stagnant ) dan terjadi genangan dalam saluran setelah terjadi hujan.
Drainase berasal dari kata to drain yang berarti mengeringkan atau mengalirkan
air, drainase merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan air limbah dari
daerah pemukiman, industri, pertanian, badan jalan dan permukaan perkerasan
lainnya, serta berupa penyaluran kelebihan air pada umumnya, baik berupa air
hujan, air limbah maupun air kotor lainnya yang keluar dari kawasan yang
bersangkutan baik di atas maupun di bawah permukaan tanah ke badan air atau ke
bangunan resapan buatan.
Menurut Konstruksi
1. Saluran Terbuka,
Yaitu saluran yang lebih cocok untuk drainase air hujan yang
terletak di daerah yang mempunyai luasan yang cukup, ataupun
untuk drainase air non-hujan yang tidak membahayakan
kesehatan/ mengganggu lingkungan.
2. Saluran Tertutup,
yaitu saluran yang pada umumnya sering dipakai untuk aliran
kotor (air yang mengganggu kesehatan/lingkungan) atau untuk
saluran yang terletak di kota/permukiman.
2. Pola Drainase
1. Siku
Dibuat pada daerah yang memiliki topografi sedikt lebih tinggi
daripada sungai. Sungai sebgai saluran pembuang akhir berada ditengah
kota.
5. Radial
Pada daerah berbukit , sehingga pola saluran memencar kesegala arah.
6. Jaring-jaring
Mempunyai saluran-saluran pembuang yang mengikuti arah jalan
raya dan cocok untuk daerah topografi datar.
Gambar 2.6 Jaringan Drainase Jaring-Jaring
1. Trapesium
Pada umumnya saluran ini terbuat dari tanah akan tetapi tidak
menutup kemungkinan dibuat dari pasangan batu dan beton.
2. Persegi
Saluran ini terbuat dari pasangan batu dan beton. Bentuk saluran
ini tidak memerlukan banyak ruang dan areal. Berfungsi untuk
menampung dan menyalurkan limpasan air hujan serta air buangan
domestic dengan debit besar.
Gambar 2.8 Penampang Persegi
3. Segitiga
Saluran ini sangat jarang digunakan tetapi mingkin digunakan
dalam kondisi tertentu.
4. Setengah Lingkaran
Saluran ini terbuat dari pasangan batu atau dari beton dengan
cetakan yang telah tersedia berfungsi untuk menampung dan menyalurkan
limpasan air hujan serta air buangan dometik dengan debit yang besar.
5. Lingkaran
Saluran ini sama halnya dengan saluran setengah lingkaran yaitu
terbuat dari pasangan batu atau beton dengan cetakan yang telah tersedia.
Berfungsi untuk menyalurkan limpasan air hujan serta air buangan
domestic dengan debit yang besar.
Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan
mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Pada
umumnya sistem drainase makro ini disebut juga sebagai sistem saluran
pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini
menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer,
kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai
dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang
detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.
Menurut sumber dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002) ada
beberapa sarana penunjang bangunan drainase:
1. Lubang air pada dinding saluran (wheep hole) yaitu lubang yang berfungsi untuk
mengalirkan air resapan yang berasal dari tanah sekitar saluran drainase, sehingga
tanah tidak menjadi berlumpur dan becek.
2. Lubang air pada trotoar (street inlet) yaitu lubang yang berfungsi untuk
mengalirkan air yang berasal dari jalan yang beraspal sehingga tidak terjadi
genangan air/banjir.
3. Saringan sampah kasar (bar screen) yaitu saringan sampah yang diletakkan
sebelum terdapatnya kantong lumpur/pasir sehingga sampah yang berukuran
besar tidak dapat masuk ke dalam kantong lumpur/pasir
4. Saringan sampah halus (fine screen) yaitu saringan sampah yang mempunyai
ukuran lebih kecil dari pada ukuran saringan sampah kasar di letakkan pada
gorong-gorong (box culvert) sehingga sampah yang mempunyai ukuran kecil
tidak dapat masuk kedalam gorong-gorong (box culvert).
5. Penutup atas parit (cover slab) yaitu struktur beton bertulang yang diletakkan di
atas bangunan drainase. Umumnya penutup parit ini digunakan pada daerah
perkotaan, hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan untuk pembuatan trotoar
(pedestrian).
Menurut Maryono (2000), pada daerah perkotaan konsep drainase konvensional atau
drainase ramah lingkungan sering dilakukan, dimana dalam konsep drainase konvensional
seluruh air hujan yang jatuh di suatu wilayah harus secapat-cepatnya dibuang ke sungai
dan seterusnya mengalir ke laut. Konsep drainase konvensional untuk permukiman atau
perkotaan dibuat dengan cara membuat saluran-saluran lurus terpendek menuju sungai.
Bila ditinjau deri segi fisik (hirarki susunan saluran) sistem drainase perkotaan
diklasifikasikan atas saluran primer, sekunder, tersier dan seterusnya.
1. Saluran Primer, saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai. Saluran primer
adalah saluran utama yang menerima aliran dari saluran sekunder.
2. Saluran Sekunder, saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan saluran
primer (dibangun dengan beton/ plesteran semen).
3. Saluran Tersier, saluran untuk mengalirkan limbah rumah tangga ke saluran
sekunder, berupa plesteran, pipa dan tanah.
4. Saluran Kwarter, saluran kolektor jaringan drainase lokal.
1. Untuk daerah datar pada zona beriklim sedang, mediteranian, dan tropis,
600 km² sampai 900 km² untuk setiap stasiun.
2. Untuk derah pegunungan pada zona beriklim sedang, mediteranian, dan
tropis, 100 km² sampai 250 km² untuk setiap stasiun.
3. Untuk pulau-pulau dengan pegunungan kecil dengan hujan yang tak
beraturan, 25 km² untuk setiap stasiun.
4. Untuk zona-zona kering dan kutub, 1.500 km² sampai 10.000 km² untuk
setiap stasiun.
a. Koefisen pengaliran ( )
0–4 1
5 0.995
10 0.980
15 0.955
20 0.920
25 0.875
30 0.820
50 0.500
(Sumber : Priseila Pentewati; Buku Ajar Drainase Perkotaan FT. UNWIRA Jurusan Teknik
Sipil)
Periode hujan, intensitas, dan luas sebaran hujan mempengaruhi laju volume
aliran permukaan. Jumlah aliran permukaan dari suatu hujan tergantung dari
lamanya hujan pada intensitas tertentu. Hujan maksimum rencana dengan berbagai
periode ulang diperoleh melalui suatu analisis data curah hujan yang akan
dipergunakan untuk menentukan besaran debit banjir rencana dengan kala ulang
tertentu.
X T =K X . S X ……………… (2.4)
SX=
√ ∑ ( X i− X )2
n−1
(2.5)
Keterangan:
Sx = Standar deviasi
log x =
∑ log x (2.6)
n
SX=
√ ∑ ( log X−log X )2
n−1
(2.7)
Keterangan:
N = Jumlah data
K = Faktor frekuensi
X T =X rt +
( Sn )
Y −Y n
×S (2.9)
Keterangan:
S = Standar deviasi
1
R= ( R 1+ R 2+ …+ Rn ) …………..(2.10)
n
Dimana :
R = Curah hujan rata-rata rendah.
n = Jumlah titik atau pos pengamatan.
R1 + R2 +… + Rn = curah hujan ditiap titik pengamatan.
2. Cara Garis Isohiet
A 1+ A 2+…+ An …(2.12)
Dimana :
A1 d 1 + A 2 d 2+ …+ An d n
d= (2.13)
A 1+ A 2 +…+ A n
d= p 1 . d 1 + p 2 . d 2 +…+ p n . d n (2.14)
Dimana:
d = Curah hujan harian rerata maksimum (mm)
dn = Curah hujan pada stasiun penakar (mm)
An = Luas daerah pengaruh stasiun pencatat hujan (km2)
Pn= Faktor koreksi (An/∑ A )
Metoda Rata-Rata
DAS Kecil (<500 km2)
Aljabar
Metoda Rata-Rata
Pegunungan
Aljabar
Topografi
Dataran Metoda Thiessen
DAS
Berbukit Dan Tidak
Metoda Isohiet
Beraturan
Catchment area adalah suatu daerah tadah hujan dimana air yang mengalir pada
permukaannya ditampung oleh saluran yang bersangkutan. Sistem drainase yang baik
yaitu apabila ada hujan yang jatuh di suatu daerah harus segera dapat dibuang, untuk itu
dibuat saluran yang menuju saluran utama.
Untuk menentukan daerah tangkapan hujan tergantung kepada kondisi lapangan
suatu daerah dan situasi topografinya / elevasi permukaan tanah suatu wilayah disekitar
saluran yang bersangkutan yang merupakan daerah tangkapan hujan dan mengalirkan
air hujan kesaluran drainase. Untuk menentukan daerah tangkapan hujan (Cathment
area) sekitar drainase dapat diasumsikan dengan membagi luas daerah yang akan
ditinjau.
B. Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi (tc) adalah waktu yang dibutuhkan oleh air untuk mengalir
dari titik terjauh pada suatu daerah pengaliran sampai ke titik yang ditinjau. Untuk
menentukan besarnya waktu konsentrasi dihitung dengan rumus:
T C =¿+td ……… (2.15)
dimana :
to = Waktu pengaliran air pada permukaan tanah (menit)
td = Waktu pengaliran air pada saluran (menit)
Besarnya waktu pegaliran pada permukaan tanah (to) ditentukan oleh beberapa
factor, antara lain: kemiringan lahan, jarak, koefisien pengaliran dan lain- lain.
Sedangkan untuk memprkirakan besarnya waktu pengaliran didalam saluran
dihitung dengan rumus:
Ld
t d= (2.16)
V
Dimana:
Ld = jarak aliran dari tempat masuknya air sampai ketempat yang ditinjau(m)
V = kecepatan pengaliran (mdetik)
Kecepatan pengaliran ditentukan berdasarkan kemiringan rata- rata dasar
saluran.
1,0 0,40
C. Intensitas Hujan
Intensitas hujan adalah besarnya intensitas hujan maksimum yang mungkin
terjadi pada periode ulang tertentu. Untuk memperoleh besarnya intensitas hujan
rencana dapat dipergunakan rumus mononobe dengan bentuk sebagai berikut:
( )
Rt 24
2/ 3
I= × (2.17)
24 t
Dimana:
Yang dimaksud dengan debit rencana (debit puncak) adalah debit yang
diharapkan akan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Pengesrtian debit rencana (debit
puncak) tidak sama dengan debit terbesar. Debit rencana ini perlu dianalisis, karena
akan dipergunakan dalam perhitungan dimensi saluran. Debit rencana (debit puncak)
dengan periode ulang tertentu untuk studi ini dihitung dengan menggunakan Metode
Rasional yang dimodifikasi (Modified Rational Method).Debit banjir rancangan
adalah (design flood) dalah debit maksimum disungai atau saluran alami dengan
periode ulang tertentu. Debit banjir rencana periode ulang (T), tahun dinotasikan
dengan huruf “QT”. Banjir rencana dengan kala ulang tahun (QT) adalah besaran
banjir yang diperkirakan dapat disamai atau dilampaaui sekali atau lebih dalam waktu
ulang (T) tahun, berarti banjir tersebut terjadi satu kali atau lebih dalam waktu tahun.
Hitungan debit banjir rencana membutuhkan data masukan intensitas hujan (mm/jam),
koefisien pengaliran (run off coefficien)dan luas daerah pengaliran. Analisis debit
banjir dilakukan dilakukan pada suatu titik tinjauan dengan berbagai periode ulang.
Untuk mengetahui besarnay debit banjir rencana dapat ditentukan dengan
menggunakan metode Rasional.
Metode ini menggambarkan hubungan antara debit limpasan dengan
besar curah hujan yang terjadi pada daerah pegaliran sungai. Parameter utama yang
digunakan adalah koefisien pengaliran (α), waktu konsentrasi (tc), intensitas hujan (I)
dan luas daerah pengaliran sungai (A). Persamaan empiris dari metode ini adalah:
Qr =0.278 ×C × I × A (2.18)
Dimana :
F
R= (m).. (2.21)
P
Keterangan:
V = Kecepatan aliran rata-rata dalam saluran (m/det)
K = Koefisien kekasaran
R = Radius hidrolis (m)
S = Kemiringan rata-rata saluran
F = Luas penampang basah saluran (m²)
P = Keliling basah saluran (m)
F=( b+ m. y ) . y (2.22)
Keterangan:
b = Lebar dasar saluran (m)
m = Perbandingan kemiringan lining
y = Ketinggian saluran (m)
Keterangan:
B = Lebar dasar saluran (m)
M = Perbandingan kemiringan lining
F. Dimensi Saluran
Perhitungan dimensi saluran didasarkan pada debit harus ditampung oleh
saluran (Qs dalam m3/det) lebih besar atau sama dengan debit rencana yang
diakibatkan oleh hujan rencana (QT dalam m3/det). Kondisi demikian dapat
dirumuskan dengan persamaan berikut:
Qs≥Qr (2.24)
Debit yang mampu ditampung oleh saluran (Qs) dapat diperoleh dengan rumus
seperti di bawah ini:
Q= A s .V (2.25)
Di mana:
As = luas penampang saluran (m2)
V = Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran (m/det)
Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran dapat dihitung dengan menggunakan
rumus Manning sebagai berikut:
1 2 1
V = . R3. S2 (2.26)
n
As
R= (2.27)
p
Di mana:
V = Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran (m/det)
N = Koefisien kekasaran Manning
R = Jari-jari hidrolis (m)
S = Kemiringan dasar saluran
As = luas penampang saluran (m2)
P = Keliling basah saluran (m)
Waktu konsentrasi adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan air dari
titik yang paling jauh pada daerah aliran ke titik kontrol yang ditentukan di bagian
hilir suatu saluran. Waktu konsentrasi dibagi atas 2 bagian :
a. Inlet time (to) yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di atas
permukaan tanah menuju saluran drainase.
b. Conduit time (td) yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di
sepanjang saluran sampai titik kontrol yang ditentukan di bagian hilir.
Gambar 2.20 Lintasan aliran waktu inlet time (to) dan conduit time (td)
Sehingga waktu konsentrasi dapat dihitung dengan ( Suripin, 2004):
tc = to + td ………………...............................................................(2.28)
Dengan :
t o=¿ .....................................................(2.29)
L
t d= …………………............................................................(2.30)
60 v
Dimana :
S = Kemiringan saluran,
L = panjang saluran (m),
Lo = jarak dari titik terjauh ke fasilitas drainase (m),
V = kecepatan rata-rata didalam saluran (m/det)
Kerikil 5 - 7,5
Pasangan 7,5
Bahan nd
Besi tulang dilapis 0,014
Kaca 0,010
Saluran Beton 0,013
Bata dilapis mortar 0,015
Pasangan batu disemen 0,025
Saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
(Sumber : Tata Cara Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan, Nomor 12/Prt/M/2014)
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan persatuan waktu. Sifat
umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya cenderung makin
tinggi dan makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya.
Intensitas hujan diperoleh dengan cara melakukan analisis data hujan baik
secara statistik maupun secara empiris. Biasanya intensitas hujan dihubungkan dengan
durasi hujan jangka pendek misalnya 5 menit, 30 menit, 60 menit dan jam-jaman.
Data curah hujan jangka pendek ini hanya dapat diperoleh dengan menggunakan alat
pencatat hujan otomatis. Apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia, yang ada
hanya data hujan harian, maka intensitas hujan dapat dihitung dengan rumus
Mononobe
R 24 24 23
.I = ( ) ………………………….............................................(2.31)
24 t
Dimana:
I = Intensitas hujan (mm/jam)
t = lamanya hujan (jam)
Debit air hujan / limpasan adalah volume air hujan per satuan waktu yang
tidak mengalami infiltrasi sehingga harus dialirkan melalui saluran drainase.
Debit air limpasan terdiri dari tiga komponen yaitu koefisien run off (C), data
intensitas curah hujan (I), dan catchment area (Aca).
Q = 0,278.C.I.A…………...............................................................(2.32)
Dimana :
Q = Debit aliran air limpasan (m3/detik)
C = Koefisien run off (berdasarkan standar baku)
I = Intensitas hujan (mm/jam)
A = Luas daerah pengaliran (m², km², ha)
0,278 = Konstanta
Kota Sedang 2 Th 2 - 5 Th 2 - 5 Th 5 - 10 Th
Kotak Kecil 2 Th 2 Th 2 Th 2 - 5 Th
Sumber air limbah dari kegiatan rumah tangga seperti dari kegiatan
mandi, mencuci peralatan rumah tangga, mencuci pakaian serta kegiatan dapur
lainnya. Idealnya sebelum air limbah dibuang ke saluran air harus diolah
terlebih dahulu dalam tangki peresapan. Prinsip dasarnya adalah bahwa air
limbah yang dilepas ke lingkungan sudah tidak berbahaya lagi bagi kesehatan
lingkungan. Air Limbah yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak
sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum, meracuni makanan hewan,
menjadi penyebab ketidak seimbangan ekosistem sungai dan sebagainya.
Air limbah rumah tangga didapat berdasarkan kebutuhan air bersih dan
diambil 70%, sisanya dipakai pada proses industri, penyiraman kebun, dan
lain-lain. Q rata-rata = (70% x Konsumsi Air Bersih/Orang x Jumlah
Penduduk x Fp) liter/hari
Tabel 2. 11 Konsumsi Air Bersih
N Sumber Satuan Jumlah Aliran
o
Antara Rata-Rata
Rumah Orang 200 – 280 220
Pondok Orang 130 - 190 160
Kantin Pengunjung 4 – 10 6
Pekerja 30 – 50 40
Perkemahan Orang 80 – 150 120
Penjuaal Minuman Buah Tempat 50 – 100 75
Buffet (Coffee Shop) Duduk
Pengunjung 15 – 30 20
Pekerja 30 – 50 40
Perkemahan Anak-Anak Pekerja 250 – 500 400
Tempat Perkumpulan Pekerja 40 – 60 50
Orang 40 – 60 50
Ruang Makan Pengunjung 15 – 40 30
Asrama / Perumahan Orang 75 – 175 150
0 Hotel Orang 150 – 240 200
1 Tempat Cuci Otomatis Mesin 1800 – 2200
2 Toko Pengunjung 2600 5 – 20 10
3 Pekerja 30 – 50 40
Kolam Renang Pengunjung 20 – 50 40
4 Pekerja 30 – 50 40
Gedung Bioskop Tempat 10 – 15 10
5 pusat Keramaian Duduk
Pengunjung 15 - 30 20
6 (Sumber :Gunadarma 2011)
(Pa – P1)
Ka = ................................................................ (2.34)
(T2 – T1)
Q=V . F (m3/det)...........................................................................(2.37)
F
R= (m)……..........................................................................(2.38)
P
Keterangan:
V = Kecepatan aliran rata-rata dalam saluran (m/det)
K = Koefisien kekasaran (tabel 2.8)
R = Radius hidrolis (m)
S = Kemiringan rata-rata saluran
F = Luas penampang basah saluran (m²)
P = Keliling basah saluran (m)
F=( b+ m. y ) . y ……......................................................................(2.39)
Keterangan:
b = Lebar dasar saluran (m)
m = Perbandingan kemiringan lining
y = Ketinggian saluran (m)
Keterangan:
b = Lebar dasar saluran (m)
m = Perbandingan kemiringan lining
Zat cair dapat diangkut dari suatu tempat lain melalui bangunan pembawa
alamiah maupun buatan manusia. Bangunan pembawa ini dapat terbuka maupun
tertutup bagian atasnya. Saluran yang tertutup bagian atasnya disebut saluran tertutup
(closed conduits), sedangkan yang terbuka bagian atasnya disebut saluran terbuka
(open channels).
Pada sistem pengaliran melalui saluran terbuka terdapat permukaan air yang
bebas (free surface) di mana permukaan bebas ini dipengaruhi oleh tekanan udara
luar secara langsung, saluran terbuka umumnya digunakan pada lahan yang masih
memungkinkan (luas), lalu lintas pejalan kakinya relatif jarang, beban kiri dan kanan
saluran relatif ringan. Pada sistem pengaliran melalui saluran tertutup (pipa flow)
seluruh pipa diisi dengan air sehingga tidak terdapat permukaan yang bebas, oleh
karena itu permukaan tidak secara langsung dipengaruhi oleh tekanan udara luar,
saluran tertutup umumnya digunakan pada daerah yang lahannya terbatas (pasar,
pertokoan), daerah yang lalu lintas pejalan kakinya relatif padat, lahan yang dipakai
untuk lapangan parkir.
a. Saluran prismatik (prismatic channel), yaitu saluran yang bentuk penampang melintang
dan kemiringan dasarnya tetap.
Contoh : saluran drainase, saluran irigasi.
b. Saluran non prismatik (non prismatic channel), yaitu saluran yang bentuk penampang
melintang dan kemiringan dasarnya berubah-ubah.
Contoh : sungai.
Aliran pada saluran terbuka terdiri dari saluran alam (natural channel), seperti sungai-
sungai kecil di daerah hulu (pegunungan) hingga sungai besar di muara, dan saluran buatan
(artificial channel), seperti saluran drainase tepi jalan, saluran irigasi untuk mengairi
persawahan, saluran pembuangan, saluran untuk membawa air ke pembangkit listrik tenaga
air, saluran untuk suplay air minum, dan saluran banjir. Saluran buatan dapat berbentuk
segitiga, trapesium, segi empat, bulat, setengah lingkaran, dan bentuk tersusun .
Qs ≥Qr ..................................................................................................(2.41)
Debit yang mampu ditampung oleh saluran (Qs) dapat diperoleh dengan rumus seperti
di bawah ini:
Q= As . V .................................................................................................(2.42)
Di mana :
As
R= …………..................................................................................(2.44)
P
Di mana:
Bangunan pelengkap diperlukan untuk melengkapi suatu sistem saluran untuk fungsi-
fungsi tertentu. Bangunan pelengkap drainase harus kuat, fungsional, tidak menyebabkan
ketidaknyamanan berkendaraan dan tidak merusak keindahan kota. Bagian-bagiannya
meliputi: Catch Basin/watershed, Inlet, Manhole, Headwall, Gorong-gorong, Bangunan
terjun, Siphon, Bangunan got miring.
1. Catch Basin/watershed
Bangunan dimana air masuk ke dalam sistem saluran tertutup, untuk
mempermudah air masuk, lokasi catch basin ditetapkan pada tempat yang rendah,
catch basin dibuat pada tiap persimpangan jalan, tempat-tempat yang rendah dan
tempat parkir.
2. Inlet
Dibuat bila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya akan dimasukkan
ke dalam saluran tertutup yang lebih besar. Inlet harus diberi saringan agar sampah
tidak masuk kedalam saluran tertutup.
Dimana :
D= Jarak antar street inlet (m) : D≤ 50 m
S= Kemiringan(%)
W = Lebar jalan (m)
Q/L = 0,3.....................................................................................................(2.39)
Dimana :
Q= Kapasitas curb inlet (m3/dt)
L= Lebar bukaan Curb (m)
g= Gravitasi (9,81 m/dt2)
d= Kedalaman total air dalam Curb (m)
3) Combination Inlet (Merupakan Gabungan dari Curb inlet dan gutter inlet yang
dipasang sebagai satu unit)
d = 0,0474( DI )0 ,5 / S0 , 2.................................................................................(2.41)
Dimana :
1
d = kedalaman air (mm) pada lebar lebar jalan
4
D = jarak antara street inlet (m)
I = Intensitas Hujan (mm/jam)
S = Kemiringan jalan (m/m)
3. Manhole
Untuk keperluan pemeliharaan sistem saluran drainase tertutup dibuat di setiap
pertemuan, perubahan dimensi, perubahan bentuk selokan, dan setiap jarak 10-25 meter,
lubang manhole dibuat sekecil mungkin supaya ekonomis diameter lubang biasanya 60
cm dengan tutup dari [Link] adalah tabel jarak perletakan manhole menurut
diameter saluran
<200 50 – 100
Sumber : Materi Pelatihan Proyek PLP Sektor Air Limbah, DPU 1986
Kedalaman Diameter
(m) (m)
<0,8 0,75
0,8 – 2,5 1,00 – 1,20
>2,5 1,20 – 1,80
Sumber : Materi Pelatihan Proyek PLP Sektor Air Limbah, DPU 1986
T = 2 + d/2 (inchi)............................................................................................(2.42)
4. Headwall
Konstruksi khusus pada outlet saluran tertutup dan ujung gorong-gorong yang
dimaksudkan untuk melindungi dari longsor dan erosi.
5. Gorong-gorong
Didesain untuk mengalirkan air untuk menembus jalan raya, jalan kereta api,
dan halangan lain. Bentuk penampangnya dapat berupa lingkaran, segiempat, dll,
tergantung dari debit, ruang bebas dari atasnya, perhitungan ekonomi dan peraturan
setempat. Berikut adalah rumus untuk menghitung dimensi gorong-gotong :
Rumus :
Q
a = ...........................................................................................................
V
(2.43)
Dimana :
a = Luas penampang (m3)
Q = Debit (m3/dt)
V = Kecepatan aliran (m/dt)
Hw
Rumus untuk gorong-gorong kotak pendek, bila Bila < 1,2 kira-kira permukaan
D
air pada bagian masuk tidak akan menyinggung bagian atas dari gorong-gorong oleh
karena itu arus menjadi keritis . Oleh karena itu, maka debitnya adalah :
2
Q= x Cb x Hw x
3
2
3 √
x g x Hw ........ (
Hw
D
< 1,2 )..........................
(2.44)
Dimana :
B = lebarlubang
1. Pola detensi (menampung air sementara), yaitu menampung dan menahan air
limpasan permukaan sementara untuk kemudian mengalirkannya ke badan
air misalnya dengan membuat kolam penampungan sementara untuk menjaga
keseimbangan tata air.
2. Pola retensi (meresapkan), yaitu menampung dan menahan air limpasan
permukaan sementara sembari memberikan kesempatan air tersebut untuk
dapat meresap ke dalam tanah secara alami antara lain dengan membuat
bidang resapan (lahan resapan) untuk menunjang kegiatan konservasi air.
1. Wilayah Hulu
2. Wilayah Tengah
Limpasan air hujan dialirkan ke kolam tampungan untuk ditampung sementara atau
diresapkan bila memungkinkan (gabungan pola retensi dan detensi).
3. Wilayah Hilir
Air limpasan dialirkan melalui saluran drainase ke waduk atau kolam untuk
penampungan sementara (pola detensi) sebelum dialirkan atau dipompa ke badan air
(sungai atau laut). Metode Ecodrainage dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
4. Parit Infiltrasi
5. Rorak
2.6.1 Biopori
Tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah (water table) dalam hal
perancangan pembuatan biopori, agar kinetik kerja biopori lebih maksimal perlu
tempat-tempat yang khusus dan tepat, seperti pada alas saluran air hujan di sekitar
rumah, kantor, sekolah, di sekeliling pohon, pada tanah kosong antar tanaman atau
batas tanaman; menggunakan sampah organik agar mudah terurai; adanya
pemantauan untuk mengisi kembali sampah, karena sampah akan menyusut menjadi
kompos; kedalaman dinding paralon tidak usah terlalu dalam, karena fungsinya hanya
untuk menahan tanah jatuh; untuk setiap 100 lahan idealnya Lubang Resapan Biopori
(LRB) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antara 0,5 - 1 m. Dengan kedalam 100
cm dan diameter 10 cm setiap lubang bisa menampung 7,8 liter sampah.
1. Mencegah Banjir
Banjir sendiri telah menjadi bencana yang merugikan bagi warga Jakarta.
Keberadaan lubang biopori dapat menjadi jawaban dari masalah tersebut.
Bayangkan bila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan di Jakarta memiliki
biopori berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan
dapat mencegah terjadinya banjir.
3. Menyuburkan Tanah
Sampah organik yang kita buang di lubang biopori merupakan makanan untuk
organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah
menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya.
Teknologi lubang resapan biopori memiliki manfaat yang sangat banyak namun
secara garis besar adalah Mengurangi genangan, Menambah cadangan air tanah,
Mengurangi volume sampah organic.
[Link] Metode Analisis Penentuan Lokasi Yang cocok Diterapkan Lubang Resapan
Biopori (LBR)
Kinerja Lubang Resapan Biopori (LRB) akan berfungsi dengan baik jika
pembangunannya di suatu kawasan yang memenuhi persyaratan, yaitu: tanah harus
mudah meloloskan air; dibangun tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah
(water table) dalam hal perancangan pembuatan biopori. Maka dalam metode ini
1 Grumoso Lambat 1 5
2 Aluvial Sedang 2
3 Andosol C epa t 3
Analisis jenis tanah ini juga dapat berguna untuk menentukan lokasi
yang cocok, sehingga nantinya dapat dipergunakan dalam superimpose
menurut jumlah skor dalam pembobotan. Permeabilitas adalah kemampuan
tanah dalam diresapi air.
Intensitas hujan adalah tinggi hujan atau volume hujan tiap satuan
waktu. Sifat umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung
intensitasnya cenderung makin tinggi dan semakin besar periode ulangnya
makin tinggi pula intensitasnya. Tujuan analisis ini adalah untuk
mengetahui nilai intensitas hujan yang akan digunakan untuk perhitungan
jumlah lubang resapan biopori di wilayah studi. Perhitungan intensitas
curah hujan di wilayah studi dilakukan dengan menggunakan rumus
Mononobe.
R 24 24 2
I= ( ) ………………………………………..…… (2.1)
24 T 3
Dimana:
Air Limpasan/larian (run off) adalah bagian dari curah hujan yang
mengalir di atas permukaan tanah menuju ke sungai, danau, dan lautan.
Air hujan yang tidak sempat masuk ke dalam tanah dan oleh karenanya
mengalir di atas permukaan tanah ke tempat yang lebih rendah. Air larian
berlangsung ketika jumlah curah hujan melampaui laju infiltrasi air ke
dalam tanah. Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan debit limpasan
(run off) sebagai masukan untuk penentuan jumlah lubang resapan biopori
di wilayah studi.
3. Analisis Infiltrasi
4. Menutup lubang biopori dengan apa saja, dan penutup diberi lubang
untuk sirkulasi udara dan peresapan air.
2.6.2 Sumur Resapan
Sumur Resapan merupakan sumur atau lubang pada permukaan tanah yang
dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah. Sumur
resapan ini kebalikan dari sumur air minum. Sumur resapan merupakan lubang
untuk memasukan air kedalam tanah, sedangkan sumur air minum berfungsi untuk
menaikkan air tanah ke permukaan. Dengan demikian konstruksi kedalamannya
berbeda. Sumur resapan digali dengan kedalaman di atas muka air tanah,
sedangkan sumur air minum digali lebih dalam lagi atau muka air tanah.
Prinsp kerja sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung air hujan
kedalam lubang atau sumur agar air dapat memiliki waktu tinggal dipermukaan
tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat meresap ke dalam tanah.
Tujuan utama dari sumur resapan adalah memperbesar masuknya air kedalam
akuifer tanah sebagai air resapan (infiltrasi). Dengan demikian air akan lebih
banyak masuk kedalam tanah dan sedikit yang mengalir sebagai aliran permukaan
(run off). Pada Gambar berikut ini dapat dilihat proses masuknya air kedalam
akuifer bebas dan tertekan.
2 2
π . K (hw −ho )
Q= ro ……………………………………………………... ( 2.2 )
¿( )
rw
00
Dimana:
Q = Debit Aliran
K = Koefisien Permeabilitas tanah
rw = Jari-jari sumuran
ro = jari-jari pengaruh aliran
ho = Tinggi Muka air tanah
hw = Tinggi Muka air tanah setelah imbuhan
In = Logaritma natural
Gambar 2.18 Proses masuknya air kedalam akuifer tertekan
π . K (hw−ho)
Q= ro …………………………………………………… (2.3)
¿( )
rw
Dimana:
Q = Debit Aliran
rw = Jari-jari sumuran
Semakin banyak air yang mengalir kedalam tanah berarti akan banyak
tersimpan air tanah dibawah permukaan bumi. Air tersebut dapat dimanfaatkan
kembali melalui sumur atau mata air yang dapat dieksplorasi setiap saat.
[Link].1 Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada
tanah berlereng, curam atau labil
[Link].2 Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan
sampah, jauh dari septik tank (minimum 5 m diukur dari tepi)
[Link].3 Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau
maksimal 2 m dibawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air
(water table) tanah minimum 1.5 m pada musim hujan
[Link].4 Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan
tanah menyerap air) lebih besa r atau sama dengan 2.0cm/jam
(artinya genangan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1
jam), dengan tiga klasifikasi yaitu sebagai berikut:
a. Permeabilitas sedang yaitu 2 – 3.6 cm/jam
b. Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus) yaitu 3.6 – 36 cm/jam
c. Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar) yaitu lebih besar dari 36 cm/jam