0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan52 halaman

Perencanaan Sistem Drainase Kota Kupang

Dokumen ini membahas pentingnya sistem drainase di Kota Kupang untuk mengatasi masalah genangan air saat hujan akibat pertumbuhan infrastruktur dan populasi. Tugas ini bertujuan agar mahasiswa memahami dan dapat merencanakan sistem drainase yang efektif, termasuk perhitungan curah hujan dan dimensi saluran. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan jenis, pola, dan sistem drainase yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Diunggah oleh

egennurak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan52 halaman

Perencanaan Sistem Drainase Kota Kupang

Dokumen ini membahas pentingnya sistem drainase di Kota Kupang untuk mengatasi masalah genangan air saat hujan akibat pertumbuhan infrastruktur dan populasi. Tugas ini bertujuan agar mahasiswa memahami dan dapat merencanakan sistem drainase yang efektif, termasuk perhitungan curah hujan dan dimensi saluran. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan jenis, pola, dan sistem drainase yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Diunggah oleh

egennurak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pertumbuhan kota dan perkembangan sektor lainnya menimbulkan dampak yang


cukup besar pada siklus hidrologi, sehingga berpengaruh besar terhadap sistem drainase.
Sistem drainase perkotaan menjadi suatu prasarana untuk menciptakan kehidupan yang
bersih, sehat dan menyenangkan bagi penghuni kota yang dilayaninnya (Mulyanto,
2013:1) Pengembangan dan pembangunan infrastruktur merupakan salah satu kebutuhan
penting untuk mendukung kegiatan Kota kupang seperti sarana, prasarana dan utilitas
pendukung.

Seiring dengan berkembangnya infrastruktur di Kota KUPANG, yang diiringi


pula dengan meningkatnya jumlah penduduk, maka menyebabkan semakin bertambah
pula kegiatan dan kebutuhannya. Saat ini salah satu permasalahan yang sering dihadapi
pada masyarakat yang tinggal di Kelapa Lima, Kota Kupang adalah timbulnya genangan
saat hujan turun. Hal ini dikarenakan dampak perubahan tata guna lahan yang
menyebabkan berkurangnya infiltrasi tanah dan kapasitas drainase, sehingga tidak mampu
menampung debit air saat hujan. Belum lagi kurangnya rasa kedisiplinan dan kepedulian
masyarakat dalam membuang sampah. Sehingga saluran-saluran drainase yang ada
dipenuhi oleh sedimentasi dan juga sampah-sampah, akibatnya saluran tidak dapat
bekerja optimal untuk mengalirkan air hujan yang ada.

Oleh karena itu, diperlukan adanya saluran drainase yang berfungsi menampung
air hujan dan kemudian mengalirkannya ke kolam penampungan atau ke sungai. Guna
mengantisipasi terjadinya genangan atau banjir nantinya, maka perlu dilakukan suatu
perencanaan pembuatan saluran drainase yaitu dengan menghitung kapasitas saluran
sesuai dengan debit rencana sehingga dapat ditentukan dimensi saluran rencana.

Perencanaan sistem drainase dalam perumahan perlu mendapat perhatian yang


penting guna terhindar dari bencana banjir atau genangan air hujan, serta mendukung
kehidupan manusia yang hidup bermukim di perumahan tersebut dengan nyaman, sehat
dan dapat berinteraksi satu dengan lainnya dalam kehidupan sehari – hari. Drainase yang
kurang baik akan mengakibatkan berbagai macam masalah yang bisa merugikan manusia
itu sendiri. Salah satunya adalah masalah banjir.
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari tugas ini adalah agar mahasiswa mampu memahami sistem drainase kota
dan sebagai tugas besar yang menjadi salah satu syarat kelulusan mata kuliah Drainase Kota.
Namun selain itu juga terdapat beberapa tujuan lain, yaitu :

a. Agar mahasiswa dapat menghitung curah hujan maksimum


b. Agar mahasiswa dapat membuat Lay Out Jaringan Drainase
c. Agar mahasiswa dapat memperhitungkan waktu konsentrasi
d. Agar Mahasiswa dapat memperhitungkan dimensi saluran
e. Agar mahasiswa mampu mendesain sistem jaringan drainase

1.3 LINGKUP PEMBAHASAN TUGAS

Dalam penulisan tugas besar mata kuliah Drainase Kota memiliki lingkup
pembahasan mengenai:

a. Perhitungan curah hujan maksimum


b. Lay Out Jaringan Drainase
c. Perhitungan Waktu Konsentrasi
d. Perhitungan dimensi saluran

1.4 SISTEMATIKA PENYUSUNAN LAPORAN

Sistematika penyusunan laporan tugas besar mata kuliah Drainase Kota ini yaitu:

a. BAB I PENDAHULUAN
Memuat latar belakang, maksud dan tujuan, lingkup pembahasan tugas dan
sistematika penyusunan laporan tugas.

b. BAB II LANDASAN TEORI


Memuat teori–teori umum yang menjadi menjadi dasar pemikiran penulis, antara
lain meliputi sistem drainase, drainase berwawasan lingkungan, analisis hidrologi,
analisis hidrolika, dan perencanaan bangunan pelengkap.

c. BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN


Menguraikan urutan pekerjaan secara umum, mulai dari bagan alir perencanaan
drainase kota selanjutnya tentang penjelasan mengenai bagan alir.
d. BAB IV PERENCANAAN DRAINASE KOTA
Memuat gambaran umum lokasi studi, pengumpulan data, pengolahan data dan
lay out drainase, perhitungan curah hujan maksimum, perhitungan debit banjir
rancangan dan debit limpasan, untuk perencanaan drainase berwawasan
lingkungan

e. BAB V PENUTUP

Memberikan kesimpulan dan saran yang berhubungan dengan hasil perencanaan


drainase kota yang berwawasan lingkungan
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Umum
Manusia sudah mulai memikirkan tentang Sistem Pembuangan limpasan air hujan
sejak jaman Romawi Kuno. Bagunan drainase perkotaan pertama kali dibuat di Romawi
berupa saluran bawah tanah yang cukup besar yang digunakan untuk menampung dan
membuang limpasan air hujan. Pada awalnya sistem drainase dibangun hanya untuk
menerima limpasan air hujan dan membuangnya ke badan air terdekat. Desain dan
pembangunannya belum dilakukan dengan baik. Saluran bawah tanah yang terbuat dari
batu dan bata mengalami rembesan yang cukup besar sehingga kapasitasnya berkurang.
Pada beberapa kasus, saluran tidak mempunyai kemiringan yang cukup sehingga air
tidak lancer ( stagnant ) dan terjadi genangan dalam saluran setelah terjadi hujan.

2.1.1 Pengertian Drainase

Drainase berasal dari kata to drain yang berarti mengeringkan atau mengalirkan
air, drainase merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan air limbah dari
daerah pemukiman, industri, pertanian, badan jalan dan permukaan perkerasan
lainnya, serta berupa penyaluran kelebihan air pada umumnya, baik berupa air
hujan, air limbah maupun air kotor lainnya yang keluar dari kawasan yang
bersangkutan baik di atas maupun di bawah permukaan tanah ke badan air atau ke
bangunan resapan buatan.

Dengan adanya suatu sistem drainase di perkotaan maka akan diperoleh


banyak manfaat pada kawasan perkotaan yang bersangkutan, yaitu akan semakin
meningkatnya kesehatan, kenyamanan dan keasrian daerah pemukiman khususnya
dan daerah perkotaan pada umumnya, dan dengan tidak adanya genangan air,
banjir dan pembuangan limbah yang tidak teratur, maka kualitas hidup penduduk
di wilayah bersangkutan akan menjadi lebih baik sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan dan ketentraman seluruh masyarakat.

2.1.2 Jenis, Pola dan Dimensi Drainase


1. Jenis- Jenis Drainase
 Menurut cara terbentuknya
1. Drainase Alamiah (Natural Drainase)
Drainase yang terbentuk secara alamiah dan tidak terdapat
bangunan-bangunan penunjang seperti bangunan pelimpah, pasangan
batu/beton, gorong-gorong dan lain-lain. Saluan ini terbentuk oleh
gerusan air yang bergerak karena grafitasi yang lambat laun
membentuk jalan air yang permanen seperti sungai.
2. Drainase Buatan (Arfical Drainage)
Darainase yang dibuat dengan maksud dan tujuan tertentu
sehingga memerlukan bangunan-bangunan khusus seperti selokan
pasangan batu/beton, gorong-gorong, pipa-pipa dan sebagainya.
 Menurut Letak Saluran
1. Drainase Permukaan Tanah (Surface Drainage)
Saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang
berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan,. Analia alirannya
merupakan analisa open chanel flow.
2. Drainase Bawah Permukaan Tanah (Subsurface Drainage)
Saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan
permukaan melalui media dibawah permukaan tanah (pipa-pipa),
dikarenakan alas an-alasan tertentu. Alas an itu antara lain tuntutan
artistic, tuntutan fungsi permukaan tanah yang membolehkan
adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan sepak bola,
laangan terbang, taman dan lain-lain.
 Menurut Fungsi
1. Single Purpose,
yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air
buangan, misalnya air hujan saja atau jenis air buangan yang lainnya
seperti limbah domestik, air limbah industri dan lain – lain.
2. Multi Purpose,
yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis air
buangan baik secara bercampur maupun bergantian.

 Menurut Konstruksi
1. Saluran Terbuka,
Yaitu saluran yang lebih cocok untuk drainase air hujan yang
terletak di daerah yang mempunyai luasan yang cukup, ataupun
untuk drainase air non-hujan yang tidak membahayakan
kesehatan/ mengganggu lingkungan.
2. Saluran Tertutup,
yaitu saluran yang pada umumnya sering dipakai untuk aliran
kotor (air yang mengganggu kesehatan/lingkungan) atau untuk
saluran yang terletak di kota/permukiman.

2. Pola Drainase

1. Siku
Dibuat pada daerah yang memiliki topografi sedikt lebih tinggi
daripada sungai. Sungai sebgai saluran pembuang akhir berada ditengah
kota.

Gambar 2.1 Jaringan Drainase Siku


2. Parallel
Saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Dengan
saluran cabang ( sekunder ) yang cukup banyak dan pendek-pendek
apabila terjadi perkembangan kota, saluran-saluran akan dapat
menyesuaikan diri.

Gambar 2.2 Jaringan Drainase Paralel


3. Grid Iron
Untuk daerah dimana sungai terletak dipinggir kota, sehingga
saluran-saluran cabang dikumpulkan dulu pada saluran pengumpul.
Gambar 2.3 Jaringan Drainase Grid Iron
4. Alamiah
Sama seperti saluran siku , hanya sungai pada pola alamiah lebih besar.

Gambar 2.4 Jaringan Drainase Alamiah

5. Radial
Pada daerah berbukit , sehingga pola saluran memencar kesegala arah.

Gambar 2.5 Jaringan Drainase Radial

6. Jaring-jaring
Mempunyai saluran-saluran pembuang yang mengikuti arah jalan
raya dan cocok untuk daerah topografi datar.
Gambar 2.6 Jaringan Drainase Jaring-Jaring

3. Bentuk Penampang dan dimensi saluran

Bentuk-bentuk saluran untuk drainase tidak jauh berbeda dengan


saluran irigasi pada umumnya. Dalam perancangan dimensi harus diusahakan
dapat membentuk dimensi yang ekonomis, sebaiknya dimensi yang terlalu
kecil akan menimbulkan permasalahan karena daya tamping yang tidak
memadai. Adapun bentuk-bentuk dan dimensi saluran antara lain :

1. Trapesium
Pada umumnya saluran ini terbuat dari tanah akan tetapi tidak
menutup kemungkinan dibuat dari pasangan batu dan beton.

Gambar 2.7 Penampang trapezium

2. Persegi
Saluran ini terbuat dari pasangan batu dan beton. Bentuk saluran
ini tidak memerlukan banyak ruang dan areal. Berfungsi untuk
menampung dan menyalurkan limpasan air hujan serta air buangan
domestic dengan debit besar.
Gambar 2.8 Penampang Persegi
3. Segitiga
Saluran ini sangat jarang digunakan tetapi mingkin digunakan
dalam kondisi tertentu.

Gambar 2.9 Penampang Segitiga

4. Setengah Lingkaran
Saluran ini terbuat dari pasangan batu atau dari beton dengan
cetakan yang telah tersedia berfungsi untuk menampung dan menyalurkan
limpasan air hujan serta air buangan dometik dengan debit yang besar.

Gambar 2.10 Penampang Setengah Lingkaran

5. Lingkaran
Saluran ini sama halnya dengan saluran setengah lingkaran yaitu
terbuat dari pasangan batu atau beton dengan cetakan yang telah tersedia.
Berfungsi untuk menyalurkan limpasan air hujan serta air buangan
domestic dengan debit yang besar.

Gambar 2.11 Penampang Lingkaran

2.2 Sistem Drainase

Sistem jaringan drainase perkotaan umumnya dibagi atas 2 bagian, yaitu :

[Link] Drainase Makro

Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan
mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Pada
umumnya sistem drainase makro ini disebut juga sebagai sistem saluran
pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini
menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer,
kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai
dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang
detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.

2. Sistem Drainase Mikro


Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase
yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara
keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro adalah saluran di
sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong,
saluran drainase kota dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat
ditampungnya tidak terlalu besar. Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan
untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan
yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai
sistem drainase mikro.

Menurut sumber dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002) ada
beberapa sarana penunjang bangunan drainase:

1. Lubang air pada dinding saluran (wheep hole) yaitu lubang yang berfungsi untuk
mengalirkan air resapan yang berasal dari tanah sekitar saluran drainase, sehingga
tanah tidak menjadi berlumpur dan becek.

2. Lubang air pada trotoar (street inlet) yaitu lubang yang berfungsi untuk
mengalirkan air yang berasal dari jalan yang beraspal sehingga tidak terjadi
genangan air/banjir.

3. Saringan sampah kasar (bar screen) yaitu saringan sampah yang diletakkan
sebelum terdapatnya kantong lumpur/pasir sehingga sampah yang berukuran
besar tidak dapat masuk ke dalam kantong lumpur/pasir

4. Saringan sampah halus (fine screen) yaitu saringan sampah yang mempunyai
ukuran lebih kecil dari pada ukuran saringan sampah kasar di letakkan pada
gorong-gorong (box culvert) sehingga sampah yang mempunyai ukuran kecil
tidak dapat masuk kedalam gorong-gorong (box culvert).

5. Penutup atas parit (cover slab) yaitu struktur beton bertulang yang diletakkan di
atas bangunan drainase. Umumnya penutup parit ini digunakan pada daerah
perkotaan, hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan untuk pembuatan trotoar
(pedestrian).
Menurut Maryono (2000), pada daerah perkotaan konsep drainase konvensional atau
drainase ramah lingkungan sering dilakukan, dimana dalam konsep drainase konvensional
seluruh air hujan yang jatuh di suatu wilayah harus secapat-cepatnya dibuang ke sungai
dan seterusnya mengalir ke laut. Konsep drainase konvensional untuk permukiman atau
perkotaan dibuat dengan cara membuat saluran-saluran lurus terpendek menuju sungai.

Bila ditinjau deri segi fisik (hirarki susunan saluran) sistem drainase perkotaan
diklasifikasikan atas saluran primer, sekunder, tersier dan seterusnya.
1. Saluran Primer, saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai. Saluran primer
adalah saluran utama yang menerima aliran dari saluran sekunder.
2. Saluran Sekunder, saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan saluran
primer (dibangun dengan beton/ plesteran semen).
3. Saluran Tersier, saluran untuk mengalirkan limbah rumah tangga ke saluran
sekunder, berupa plesteran, pipa dan tanah.
4. Saluran Kwarter, saluran kolektor jaringan drainase lokal.

Gambar 2.12 Jaringan Drainase Perkotaan


(Suhardjono, 2014 )
2.3 Analisis Hidrologi

2.3.1 Pemilihan Data Hujan

Penentuan besar hujan rencana memerlukan data hujan jam-jaman


maksimum tahunan atau kalau data tersebut tidak ada dapat menggunakan data
hujan harian maksimum. Data hujan yang dibutuhkan dalam analisis hidrologi
biasanya adalah data curah hujan rerata dari daerah yang bersangkutan. Secara
teoritis, semakin tinggi kerapatan jaringan, data yang diperoleh semakin baik
dan mewakili, tetapi pada prakteknya akan membutuhkan biaya dan waktu yang
besar. Sehingga para hidrogiwan diharapkan mampu menentukan suatu jaringan
stasiun hujan yang dapat mewakili daerah yang diteliti.

Dalam pemilihan jaringan lokasi stasiun, harus direncanakan untuk


menghasilkan gambaran yang mewakili distribusi daerah hujan. Satu alat ukur
curah hujan dapat mewakili beberapa km persegi, tergantung pada penempatan
letak stasiun dan fungsinya. Jaringan stasiun yang relative renggang cukup
untuk hujan besar yang biasa untuk menentukan nilai rata-rata tahunan di atas
daerah luas yang datar. Sedangkan jaringan yang sangat rapat dibutuhkan guna
menentukan pola hujan dalam hujan yang lebat disertai guntur (Soemarto,
1999). Kerapatan minimum jaringan stasiun curah hujan telah
direkomendasikan World Meteorogical Organization sebagai berikut :

1. Untuk daerah datar pada zona beriklim sedang, mediteranian, dan tropis,
600 km² sampai 900 km² untuk setiap stasiun.
2. Untuk derah pegunungan pada zona beriklim sedang, mediteranian, dan
tropis, 100 km² sampai 250 km² untuk setiap stasiun.
3. Untuk pulau-pulau dengan pegunungan kecil dengan hujan yang tak
beraturan, 25 km² untuk setiap stasiun.
4. Untuk zona-zona kering dan kutub, 1.500 km² sampai 10.000 km² untuk
setiap stasiun.

Sehingga curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan


drainase adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan,
bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. Curah hujan ini disebut curah
hujan wilayah atau daerah dan dinyatakan dalam mm (Soemarto, 1999).

a. Koefisen pengaliran (  )

Koefisien pengaliran merupakan nilai banding antara bagian hujan


yang membentuk limpasan langsung dengan hujan total yang terjadi. Besaran
ini dipengaruhi oleh tata guna lahan, kemiringan lahan, jenis dan kondisi
tanah. Pemilihan koefisien pengaliran harus memperhitungkan kemungkinan
adanya perubahan tata guna lahan di kemudian hari.

Besarnya koefisien pengaliran dapat diambil sebagai berikut :

1. Perumahan tidak begitu rapat ( 20 rumah/ha )  = 0.25 – 0.40


2. Perumahan kerapatan sedang ( 20 – 60 rumah/ha )  = 0.40 – 0.70
3. Perumahan rapat ( 60 – 160 rumah/ha )  = 0.70 – 0.80
4. Taman dan daerah rekreasi  = 0.20 – 0.30
5. Daerah industri  = 0.80 – 0.90
6. Daerah perniagaan  = 0.90 – 0.95

b. Koefisien penyebaran hujan (  )


Koefisien penyebaran hujan () merupakan nilai yang digunakan
untuk mengoreksi pengaruh penyebaran hujan yang tidak merata pada
suatu daerah pengaliran. Nilai besaran ini tergantung dari kondisi dan luas
daerah pengaliran. Untuk daerah yang relatif kecil biasanya kejadian hujan
dianggap merata sehingga nilai koefisien penyebaran hujan  diambil 1.
Besarnya koefisien ini yang tergantung dari luas daerah pengaliran dapat
dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 2. 21 Tabel Koefisien Penyebaran Hujan

Luas daerah pengaliran Koefisien penyebaran


(km2) hujan ()

0–4 1

5 0.995

10 0.980

15 0.955

20 0.920

25 0.875

30 0.820

50 0.500

(Sumber : Priseila Pentewati; Buku Ajar Drainase Perkotaan FT. UNWIRA Jurusan Teknik
Sipil)

2.3.2 Uji Konsistensi

Uji konsistensi bertujuan untuk menguji kebenaran data yang diperoleh,


karena data hasil dari pengukuran curah hujan tidak sepenuhnya benar.
Kesalahan data disebabkan karena perubahan lokasi stasiun hujan,perubahan
sistem lingkungan atau perubahan prosedur pengamatan yang sangat
berpengaruh terhadap pengukuran curah hujan yang ada. Hasil dari pengukuran
tersebut bisa saja tidak sesuai dan tidak konsisten sehingga menyebabkan
penyimpangan terhadap hasil perhitungan.
Data hujan disebut konsisten jika data yang terukur dan dihitung
adalah teliti dan benar serta sesuai dengan fenomena saat hujan itu terjadi.
Konsistensi data dari suatu stasiun pengamatan dapat dilakukan dengan
metode kurva massa ganda (double mass curve). Metode kurva massa ganda
digunakan untuk data curah hujan tahunan dengan jangka waktu pengamatan
yang panjang. Metode ini membandingkan hujan kumulatif dari stasiun hujan
yang diteliti dengan harga-harga kumulatif curah hujan rata-rata dari beberapa
stasiun hujan yang berdekatan. Nilai kumulatif tersebut digambarkan pada
sistem koordinat kartesian x-y, kurva tersebut diperiksa untuk melihat
kemiringan (trend). Jika garis berbentuk lurus, berarti data konsisten. Jika
kemiringan patah/berubah, berarti data tidak konsisten perlu dikoreksi dengan
mengalikan data setelah kurva berubah dengan perbandingan kemiringan
setelah dan sebelum kurva patah.

2.3.3 Pemilihan Distribusi Curah Hujan

Distribusi frekuensi digunakan untuk memperoleh probabilitas besaran curah


hujan rencana dalam berbagai periode ulang. Pada kenyataannya bahwa tidak semua
varian dari suatu variabel hidrologi terletak atau sama dengan nilai rata-ratanya.
Variasi atau dispersi adalah besarnya derajat atau besaran varian di sekitar nilai rata-
ratanya. Cara mengukur besarnya dispersi disebut pengukuran dispersi. Dasar
perhitungan distribusi frekuensi adalah parameter yang berkaitan dengan analisis
data yang meliputi ratarata, simpangan baku, koefisien variasi, dan koefisien
skewness (kecondongan atau kemiringan).

Periode hujan, intensitas, dan luas sebaran hujan mempengaruhi laju volume
aliran permukaan. Jumlah aliran permukaan dari suatu hujan tergantung dari
lamanya hujan pada intensitas tertentu. Hujan maksimum rencana dengan berbagai
periode ulang diperoleh melalui suatu analisis data curah hujan yang akan
dipergunakan untuk menentukan besaran debit banjir rencana dengan kala ulang
tertentu.

Untuk mendapatkan curah hujan rancangan (Rt) dilakukan melalui analisa


frekuensi, seperti:

a) Metode Distribusi Normal

X T =K X . S X ……………… (2.4)
SX=
√ ∑ ( X i− X )2
n−1
(2.5)

Keterangan:

XT = Besarnya curah hujan yang terjadi dengan kala ulang T tahun

X = Rata-rata hitung variat

Sx = Standar deviasi

K = Faktor frekuensi (nilai variabel reduksi Gauss)

b) Metode distribusi log normal

log x =
∑ log x (2.6)
n

SX=
√ ∑ ( log X−log X )2
n−1
(2.7)

log X =S log X + K . S log x (2.8)

Keterangan:

X = Nilai variat pengamatan

S_log⁡X = Standart deviasi dari logaritma

N = Jumlah data

LogX = Logaritma rata-rata

K = Faktor frekuensi

c) Metode distribusi frekuensi gumbel

X T =X rt +
( Sn )
Y −Y n
×S (2.9)

Keterangan:

XT = Besarnya curah hujan rencana

Xrt = Curah hujam rata-rata

S = Standar deviasi

Sn = Standar deviasi ke-n


Y = Koefisien untuk metode gumbel

Yn= Koefisien untuk metode gumbel ke-n

2.3.4 Pemilihan Curah Hujan Rencana

Curah hujan rancangan adalah curah hujan terbesar yang mungkin


terjadi pada suatu daerah tertentu pada periode ulang tertentu, yang dipakai
sebagai dasar perhitungan dalam perencanaan suatu dimensi bangunan air.
Menentukan curah hujan rerata harian maksimum daerah dilakukanberdasarkan
pengamatan beberapa stasiun pencatat hujan. Perhitungan curah hujan rata-rata
maksimum ini dapat menggunakan beberapa metode, diantaranya
menggunakan metode rata –rata aljabar, garis Isohiet, dan poligon Thiessen.

1. Cara rata-rata Aljabar


Cara ini menggunakan perhitungan rata-rata secara aljabar,
tinggi curah hujan diambil dari harga rata-rata dari stasiun
pengamatan di dalam daerah yang ditinjau.

Persamaan rata-rata aljabar :

1
R= ( R 1+ R 2+ …+ Rn ) …………..(2.10)
n
Dimana :
R = Curah hujan rata-rata rendah.
n = Jumlah titik atau pos pengamatan.
R1 + R2 +… + Rn = curah hujan ditiap titik pengamatan.
2. Cara Garis Isohiet

Peta isohiet digambarkan pada peta topografi dengan


perbedaan (interval) 10 mm sampai 20 mm berdasarkan data curah
hujan pada titik-titik pengamatan didalam dan di sekitar daerah
yang dimaksud. Luas daerah antara dua garis isohiet yang
berdekatan diukur dengan planimeter. Demikian pula harga rata-rata
dari garis-garis isohiet yang berdekatan yang termasuk bagian-
bagian daerah itu dapat dihitung. Curah hujan daerah itu dapat
dihitung menurut persamaan sebagai berikut:
R=A 1 R 1+ A 2 R 2+ …+ AnRn …………………(2.11)

A 1+ A 2+…+ An …(2.12)

Dimana :

R = Curah hujan daerah

A1, A2, …, An = Luas daerah yang mewakili titik pengamatan

R1, R2, …,Rn = Curah hujan setiap titik pengamatan.

3. Metode Poligon Thiessen

Cara ini memberikan bobot tertentu untuk setiap stasiun


hujan dengan pengertian bahwa setiap stasiun hujan dianggap
mewakili hujan dalam suatu daerah dengan luas tertentu. Dan luas
tersebut merupakan faktor koreksi (weighing factor) bagi hujan di
stasiun yang bersangkutan. Luas masing-masing daerah tersebut
diperoleh dengan cara berikut:

1. Semua stasiun yang terdapat didalam dihubungkan dengan garis


sehingga terbentuk jaringan segitiga-segitiga.
2. Pada masing-masing segitiga ditarik garis sumbunya, dan semua
garis sumbu tersebut membentuk poligon.
3. Luas daerah yang hujannya dianggap diwakili oleh salah satu
stasiun yang bersangkutan adalah daerah yang dibatasi oleh
garis garis poligon tersebut atau dengan batas DAS.
4. Luas relatif daerah ini dengan luas DAS merupakan faktor
koreksinya. Rumus yang digunakan sebagai berikut :

A1 d 1 + A 2 d 2+ …+ An d n
d= (2.13)
A 1+ A 2 +…+ A n
d= p 1 . d 1 + p 2 . d 2 +…+ p n . d n (2.14)
Dimana:
d = Curah hujan harian rerata maksimum (mm)
dn = Curah hujan pada stasiun penakar (mm)
An = Luas daerah pengaruh stasiun pencatat hujan (km2)
Pn= Faktor koreksi (An/∑ A )

Prosedur untuk mendapatkan curah hujan maksimum harian rata-rata


daerah adalah sebagai berkut :

a. Tentukan curah hujan harian maksimum pada stasiun-stasiun lain


pada bulan untuk masing-masing stasiun
b. Cari besarnya curah hujan pada stasiun-stasiun lain pada bulan
kejadian yang sama dalam tahun sama
c. Dalam tahun yang sama,dicari hujan maksimum tahunan untuk
stasiun berikutnya
d. Dengan metode Thiesen dipilih salah satu yang tertinggi pada setiap
tahun

Data curah hujan yang terpilih adalah merupakan data hujan


[Link] Thiessen ini memberikan hasil yang lebih teliti dari pada cara
aljabar. Akan tetapi penentuan titik pengamatan dan pemilihan ketinggian
akan mempengaruhi ketelitian hasil yang didapat. Kerugian yang lain
umpananya untuk penentuan kembali jaringan segitiga jika terdapat
kekurangan pengamatan pada salah satu titik pengamtan.

2.3.5 Debit Banjir Rencana

A. Penentuan Batas DAS

Daerah aliran sungai (DAS) didefinisikan sebagai hamparan wilayah yang


dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan
air hujan, sedimen, dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai
dan keluar pada satu titik (outlet).
Pemilihan metode mana yang cocok dipakai pada suatu DAS dapat ditentukan
dengan mempertimbangkan tiga faktor. Faktor – faktor tersebut adalah sebagai
berikut
1. Jaring-jaring pos penakar hujan dalam DAS
2. Luas DAS
3. Topografi DAS
Tabel 2.3 Cara Memilih Metode Curah Hujan

Faktor-Faktor Syarat-Syarat Jenis Metoda

Metoda Isohiet, Thiessen


Jumlah Pos Penakar
Atau Rata-Rata Aljabar dapat
Hujan Cukup
dipakai
Jaring-Jaring
Pos Penakar Hujan Jumlah Pos Penakar Metoda Rata-Rata
Dalam DAS Hujan Terbatas Aljabar atau Thiessen

Pos Penakar Hujan


Metoda Hujan Titik
Tunggal

DAS Besar (>5000 km2) Metoda Isohiet

DAS Sedang (500 s/d


Metoda Thiessen
Luas DAS 5000 km2)

Metoda Rata-Rata
DAS Kecil (<500 km2)
Aljabar

Metoda Rata-Rata
Pegunungan
Aljabar
Topografi
Dataran Metoda Thiessen
DAS
Berbukit Dan Tidak
Metoda Isohiet
Beraturan

(Sumber : Suripin, 2004)

Catchment area adalah suatu daerah tadah hujan dimana air yang mengalir pada
permukaannya ditampung oleh saluran yang bersangkutan. Sistem drainase yang baik
yaitu apabila ada hujan yang jatuh di suatu daerah harus segera dapat dibuang, untuk itu
dibuat saluran yang menuju saluran utama.
Untuk menentukan daerah tangkapan hujan tergantung kepada kondisi lapangan
suatu daerah dan situasi topografinya / elevasi permukaan tanah suatu wilayah disekitar
saluran yang bersangkutan yang merupakan daerah tangkapan hujan dan mengalirkan
air hujan kesaluran drainase. Untuk menentukan daerah tangkapan hujan (Cathment
area) sekitar drainase dapat diasumsikan dengan membagi luas daerah yang akan
ditinjau.

B. Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi (tc) adalah waktu yang dibutuhkan oleh air untuk mengalir
dari titik terjauh pada suatu daerah pengaliran sampai ke titik yang ditinjau. Untuk
menentukan besarnya waktu konsentrasi dihitung dengan rumus:
T C =¿+td ……… (2.15)
dimana :
to = Waktu pengaliran air pada permukaan tanah (menit)
td = Waktu pengaliran air pada saluran (menit)

Besarnya waktu pegaliran pada permukaan tanah (to) ditentukan oleh beberapa
factor, antara lain: kemiringan lahan, jarak, koefisien pengaliran dan lain- lain.
Sedangkan untuk memprkirakan besarnya waktu pengaliran didalam saluran
dihitung dengan rumus:

Ld
t d= (2.16)
V

Dimana:
Ld = jarak aliran dari tempat masuknya air sampai ketempat yang ditinjau(m)
V = kecepatan pengaliran (mdetik)
Kecepatan pengaliran ditentukan berdasarkan kemiringan rata- rata dasar
saluran.

Tabel 2.4 perkiraan kecepatan rata- rata pengaliran dalam saluran

Kemiringan rata-rata dasar saluran Kecepatan rata-rata


(%) (m/detik)

1,0 0,40

1,0 - 2,0 0,60

2,0 - 4,0 0,90

4,0 - 6,0 1,20


6,0 - 10,0 2,50

10,0 - 15,0 2,40

Sumber: Buku Drainase Perkotaan,[Link]

C. Intensitas Hujan
Intensitas hujan adalah besarnya intensitas hujan maksimum yang mungkin
terjadi pada periode ulang tertentu. Untuk memperoleh besarnya intensitas hujan
rencana dapat dipergunakan rumus mononobe dengan bentuk sebagai berikut:

( )
Rt 24
2/ 3
I= × (2.17)
24 t
Dimana:

I = intensitas hujan (mm/jam)


Rt = curah hujan rencana (mm)
T = waktu konsentrasi

D. Debit Banjir Rencana

Yang dimaksud dengan debit rencana (debit puncak) adalah debit yang
diharapkan akan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Pengesrtian debit rencana (debit
puncak) tidak sama dengan debit terbesar. Debit rencana ini perlu dianalisis, karena
akan dipergunakan dalam perhitungan dimensi saluran. Debit rencana (debit puncak)
dengan periode ulang tertentu untuk studi ini dihitung dengan menggunakan Metode
Rasional yang dimodifikasi (Modified Rational Method).Debit banjir rancangan
adalah (design flood) dalah debit maksimum disungai atau saluran alami dengan
periode ulang tertentu. Debit banjir rencana periode ulang (T), tahun dinotasikan
dengan huruf “QT”. Banjir rencana dengan kala ulang tahun (QT) adalah besaran
banjir yang diperkirakan dapat disamai atau dilampaaui sekali atau lebih dalam waktu
ulang (T) tahun, berarti banjir tersebut terjadi satu kali atau lebih dalam waktu tahun.
Hitungan debit banjir rencana membutuhkan data masukan intensitas hujan (mm/jam),
koefisien pengaliran (run off coefficien)dan luas daerah pengaliran. Analisis debit
banjir dilakukan dilakukan pada suatu titik tinjauan dengan berbagai periode ulang.
Untuk mengetahui besarnay debit banjir rencana dapat ditentukan dengan
menggunakan metode Rasional.
Metode ini menggambarkan hubungan antara debit limpasan dengan
besar curah hujan yang terjadi pada daerah pegaliran sungai. Parameter utama yang
digunakan adalah koefisien pengaliran (α), waktu konsentrasi (tc), intensitas hujan (I)
dan luas daerah pengaliran sungai (A). Persamaan empiris dari metode ini adalah:

Qr =0.278 ×C × I × A (2.18)

Dimana :

Qr = debit banjir rencana (m3/detik)


C = koefisien pengaliran
I = Intensitas hujan (mm/jam)
A = luas daerah pengalirantangkapan hujan (km2)
E. Kapasitas Saluran
Kapasitas rencana saluran dihitung dengan menggunakan rumus Manning, yang
merupakan dasar dalam menentukan dimensi saluran, yaitu sebagai berikut:
2 1
V =K . R 3 . S 2 (m/det) (2.19)

Q=V . F (m3/det) (2.20)

F
R= (m).. (2.21)
P

Keterangan:
V = Kecepatan aliran rata-rata dalam saluran (m/det)
K = Koefisien kekasaran
R = Radius hidrolis (m)
S = Kemiringan rata-rata saluran
F = Luas penampang basah saluran (m²)
P = Keliling basah saluran (m)

Q = Debit aliran (m³/det)

Penurunan rumus perhitungan luas penampang basah saluran (F):

F=( b+ m. y ) . y (2.22)

Keterangan:
b = Lebar dasar saluran (m)
m = Perbandingan kemiringan lining
y = Ketinggian saluran (m)

Penurunan rumus perhitungan keliling basah saluran (P):


P=b+2. y . √ 12+ m2 (2.23)

Keterangan:
B = Lebar dasar saluran (m)
M = Perbandingan kemiringan lining

Y = Ketinggian saluran (m)

Tabel 2.5 Standar Harga Koefisien Kekasaran

No Material Saluran Koefisien Kekasaran Stickler


1 Plesteran halus 77 – 100
2 Plesteran kasar 67 – 91
3 Beton cor dipoles 60 – 77
4 Beton pra cetak 67 – 91
5 Pasangan batu disiar 50 – 67
6 Pasangan batu kosong 42 – 59
7 Pasangan batu bronjong 29 – 50
8 Saluran tanah bersih 30 – 45
9 Saluran tanah dan timbunan 1–3
(Sumber: Haryono, 1999)

F. Dimensi Saluran
Perhitungan dimensi saluran didasarkan pada debit harus ditampung oleh
saluran (Qs dalam m3/det) lebih besar atau sama dengan debit rencana yang
diakibatkan oleh hujan rencana (QT dalam m3/det). Kondisi demikian dapat
dirumuskan dengan persamaan berikut:
Qs≥Qr (2.24)

Debit yang mampu ditampung oleh saluran (Qs) dapat diperoleh dengan rumus
seperti di bawah ini:
Q= A s .V (2.25)
Di mana:
As = luas penampang saluran (m2)
V = Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran (m/det)
Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran dapat dihitung dengan menggunakan
rumus Manning sebagai berikut:
1 2 1
V = . R3. S2 (2.26)
n
As
R= (2.27)
p
Di mana:
V = Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran (m/det)
N = Koefisien kekasaran Manning
R = Jari-jari hidrolis (m)
S = Kemiringan dasar saluran
As = luas penampang saluran (m2)
P = Keliling basah saluran (m)

2.3.6 Waktu Konsentrasi

Waktu konsentrasi adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan air dari
titik yang paling jauh pada daerah aliran ke titik kontrol yang ditentukan di bagian
hilir suatu saluran. Waktu konsentrasi dibagi atas 2 bagian :
a. Inlet time (to) yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di atas
permukaan tanah menuju saluran drainase.

b. Conduit time (td) yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di
sepanjang saluran sampai titik kontrol yang ditentukan di bagian hilir.

Gambar 2.20 Lintasan aliran waktu inlet time (to) dan conduit time (td)
Sehingga waktu konsentrasi dapat dihitung dengan ( Suripin, 2004):

tc = to + td ………………...............................................................(2.28)
Dengan :

t o=¿ .....................................................(2.29)

L
t d= …………………............................................................(2.30)
60 v

Dimana :
S = Kemiringan saluran,
L = panjang saluran (m),
Lo = jarak dari titik terjauh ke fasilitas drainase (m),
V = kecepatan rata-rata didalam saluran (m/det)

nd = Koefisien hambatan berdasarkan tabel 2.10

Tabel 2. 6 Kemiringan Saluran Memanjang (S) Berdasarkan Jenis Material

Jenis Kemiringan Saluran (S)


o Material (%)

Tanah Asli 0–5

Kerikil 5 - 7,5

Pasangan 7,5

(Sumber : Petunjuk desain drainase permukaan jalan No. 008/T/BNKT/1990, BINA


MARGA)

Tabel 2. 7 Koefisien Manning

Bahan nd
Besi tulang dilapis 0,014
Kaca 0,010
Saluran Beton 0,013
Bata dilapis mortar 0,015
Pasangan batu disemen 0,025
Saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
(Sumber : Tata Cara Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan, Nomor 12/Prt/M/2014)

Tabel 2. 8 Kecepatan Aliran Air Yang Diizinkan

Jenis Bahan Diizinkan (m/detik)

Pasir Halus 0,45


Lempung Kepasiran 0,5
Lanau Alluvial 0,6
Kerikil Halus 0,75
Lempung Kokoh 0,75
Lempung Padat 1,1
Kerikil Kasar 1,3
Batu-Batu Besar 1,5
Pasangan Batu 1,5
Beton 1,5
Beton Bertulang 1,5
(Sumber : Tata Cara Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan, Nomor 12/Prt/M/2014)

2.3.7 Intensitas Hujan

Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan persatuan waktu. Sifat
umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya cenderung makin
tinggi dan makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya.

Intensitas hujan diperoleh dengan cara melakukan analisis data hujan baik
secara statistik maupun secara empiris. Biasanya intensitas hujan dihubungkan dengan
durasi hujan jangka pendek misalnya 5 menit, 30 menit, 60 menit dan jam-jaman.
Data curah hujan jangka pendek ini hanya dapat diperoleh dengan menggunakan alat
pencatat hujan otomatis. Apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia, yang ada
hanya data hujan harian, maka intensitas hujan dapat dihitung dengan rumus
Mononobe

R 24 24 23
.I = ( ) ………………………….............................................(2.31)
24 t

Dimana:
I = Intensitas hujan (mm/jam)
t = lamanya hujan (jam)

R24 = curah hujan maksimum harian (selama 24 jam)(mm).

2.3.8 Debit Banjir Rancangan

Debit air hujan / limpasan adalah volume air hujan per satuan waktu yang
tidak mengalami infiltrasi sehingga harus dialirkan melalui saluran drainase.
Debit air limpasan terdiri dari tiga komponen yaitu koefisien run off (C), data
intensitas curah hujan (I), dan catchment area (Aca).

Koefisien yang digunakan untuk menunjukkan berapa banyak bagian dari


air hujan yang harus dialirkan melalui saluran drainase karena tidak mengalami
penyerapan ke dalam tanah (infiltrasi). Koefisien ini berkisar antara 0-1 yang
disesuaikan dengan kepadatan penduduk di daerah tersebut. Semakin padat
penduduknya maka koefisien run-offnya akan semakin besar sehingga debit air
yang harus dialirkan oleh saluran drainase tersebut akan semakin besar pula.

Rumus debit air hujan / limpasan:

Q = 0,278.C.I.A…………...............................................................(2.32)

Dimana :
Q = Debit aliran air limpasan (m3/detik)
C = Koefisien run off (berdasarkan standar baku)
I = Intensitas hujan (mm/jam)
A = Luas daerah pengaliran (m², km², ha)
0,278 = Konstanta

Tabel 2. 9 Kala Ulang Berdasarkan Tipologi Kota


Tipologi Daerah Tangkapan Air (ha)
Kota < 10 - 101 - 500 > 500
10 100
Kota 2 Th 2 - 5 Th 5 - 10 Th 10 - 25 Th
Metropolitan
Kota Besar 2 Th 2 - 5 Th 2 - 5 Th 5 - 20 Th

Kota Sedang 2 Th 2 - 5 Th 2 - 5 Th 5 - 10 Th

Kotak Kecil 2 Th 2 Th 2 Th 2 - 5 Th

(Sumber : Tata Cara Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan, Nomor 12/Prt/M/2014)

Koefisien pengaliran (run-off coefficient) adalah perbandingan antara jumlah


air hujan yang mengalir atau melimpas di atas permukaan tanah (surface run-off)
dengan jumlah air hujan yang jatuh dari atmosfir (hujan total yang terjadi). Besaran
ini dipengaruhi oleh tata guna lahan, kemiringan lahan, jenis dan kondisi tanah.
Pemilihan koefisien pengaliran harus memperhitungkan kemungkinan adanya
perubahan tata guna lahan di kemudian hari.

Tabel 2. 10 Koefisien Limpasan Untuk Metode Rasional

Deskripsi lahan / karakter Koefisien limpasan, C


permukaan
Business 0,70 – 0,95
Perkotaan
Pinggiran 0,50 – 0,70
Perumahan
0,30 – 0,50
rumah tunggal
multiunit, terpisah 0,40 – 0,60
multiunit, tergabung 0,60 – 0,75
Perkampungan 0,25 – 0,40
Apartemen 0,50 – 0,70
Industri
0,50 – 0,80
Ringan
Berat 0,60 – 0,90
Perkerasan
0,70 – 0,65
aspal dan beton
batu bata, paving 0,50 – 0,70
Atap 0,75 – 0,95
Halaman, tanah berpasir
0,05 – 0,10
datar 2 %
rata-rata, 2- 7 % 0,10 – 0,15
curam, 7 % 0,15 – 0,20
Halaman, tanah berat
0,13 – 0,17
datar 2 %
rata-rata, 2- 7 % 0,18 – 0,22
curam, 7 % 0,25 – 0,35
Halaman kereta api 0,10 – 0,35
Taman tempat bermain 0,20 – 0,35
Taman, pekuburan 0,10 – 0,25
Hutan
0,10 – 0,40
datar, 0 – 5 %
bergelombang, 5 – 10 % 0,25 – 0,50
berbukit, 10 – 30 % 0,30 – 0,60
(Sumber : Suripin ,2004)

2.3.9 Limbah Permukiman

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun


2001, air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud
cair. Air limbah dapat berupa bekas dari rumah tangga (domestic) maupun
Industri (industry). Setiap aktivitas produksi dalam suatu industri selalu
menghasilkan air buangan, oleh karena itu diperlukan penanganan lebih lanjut
secara tepat agar tidak mencemari lingkungan. Tchobanoglous (1991)
memberikan batasan air limbah sebagai kombinasi dari cairan dan buangan-
buangan cair yang berasal dari kawasan pemukiman, perkantoran,
perdagangan serta industi yang mempunyai kemungkinan untuk bercampur
dengan air tanah, air permukaan serta air hujan.

Sumber air limbah dari kegiatan rumah tangga seperti dari kegiatan
mandi, mencuci peralatan rumah tangga, mencuci pakaian serta kegiatan dapur
lainnya. Idealnya sebelum air limbah dibuang ke saluran air harus diolah
terlebih dahulu dalam tangki peresapan. Prinsip dasarnya adalah bahwa air
limbah yang dilepas ke lingkungan sudah tidak berbahaya lagi bagi kesehatan
lingkungan. Air Limbah yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak
sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum, meracuni makanan hewan,
menjadi penyebab ketidak seimbangan ekosistem sungai dan sebagainya.

Pada umumnya air limbah dapat menimbulkan dampak, yaitu dampak


terhadap kehidupan biota air, dampak terhadap kualitas air tanah, dampak
terhadap kesehatan, dampak terhadap estetika lingkungan. Pada wilayah
perkotaan mudah terlihat adanya sarana air limbah yang dialirkan melalui
saluran-saluran, dimana air limbah dari rumah tangga tersebut segera dialirkan
ke saluran-saluran yang ada di sekitar wilayah permukiman sampai ke badan
air anak sungai dan sungai terdekat. Selain dialirkan ke saluran-saluran yang
ada, terdapat satu pendekatan dalam usaha pengolahan air limbah rumah
tangga adalah dengan menggunakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL)
Komunal.

Untuk menentukan jumlah air limbah dapat dilakukan dengan mengacu


pada besaran People Equivalent (PE) yaitu untuk rumah biasa perkiraan
jumlah air limbah adalah 120 liter/orang/hari. Debit air limbah rumah tangga
didapat dari 60% - 70% suplai air bersih setiap orang, diambil debit limbah
rumah tangga 70% dan sisanya dipakai pada proses industri, penyiraman
kebun-kebun dan lain-lain.

Besarnya air limbah buangan dipengaruhi oleh :

1. Asumsi jumlah orang setiap rumah 6 orang


2. Asumsi kebutuhan air bersih rata-rata tiap orang untuk perumahan 100 –
200 ltr/orang/hari = 150 ltr/org/hari
3. Asumsi kebutuhan air bersih rata-rata tiap orang untuk sarana ibadah
(masjid) = 20 ltr/orang/hari
4. Faktor puncak (Fp) diperoleh berdasarkan jumlah penduduk yang ada di
perumahan Graha Bukit Rafflesia Palembang, yaitu sebesar 2.5

Air limbah rumah tangga didapat berdasarkan kebutuhan air bersih dan
diambil 70%, sisanya dipakai pada proses industri, penyiraman kebun, dan
lain-lain. Q rata-rata = (70% x Konsumsi Air Bersih/Orang x Jumlah
Penduduk x Fp) liter/hari
Tabel 2. 11 Konsumsi Air Bersih
N Sumber Satuan Jumlah Aliran
o
Antara Rata-Rata
Rumah Orang 200 – 280 220
Pondok Orang 130 - 190 160
Kantin Pengunjung 4 – 10 6
Pekerja 30 – 50 40
Perkemahan Orang 80 – 150 120
Penjuaal Minuman Buah Tempat 50 – 100 75
Buffet (Coffee Shop) Duduk
Pengunjung 15 – 30 20
Pekerja 30 – 50 40
Perkemahan Anak-Anak Pekerja 250 – 500 400
Tempat Perkumpulan Pekerja 40 – 60 50
Orang 40 – 60 50
Ruang Makan Pengunjung 15 – 40 30
Asrama / Perumahan Orang 75 – 175 150
0 Hotel Orang 150 – 240 200
1 Tempat Cuci Otomatis Mesin 1800 – 2200
2 Toko Pengunjung 2600 5 – 20 10
3 Pekerja 30 – 50 40
Kolam Renang Pengunjung 20 – 50 40
4 Pekerja 30 – 50 40
Gedung Bioskop Tempat 10 – 15 10
5 pusat Keramaian Duduk
Pengunjung 15 - 30 20
6 (Sumber :Gunadarma 2011)

a. Proyeksi Jumlah Penduduk


Pada perencanaan drainase tercampur dimana air hujan dialirkan
melalui saluran yang sama dengan limbah rumah tangga, jumlah penduduk
perlu diketahui untuk menghitung debit air kotor. Kecendrungan pertambahan
populasi berdasarkan pertumbuhan penduduk juga tergantung dari rencana
pengembangan tata ruang wilayah. Estimasi populasi untuk masa yang akan
datang merupakan salah satu parameter utama dalam penentuan kebutuhan air
domestik. Pertumbuhan penduduk secara sederhana dapat diperhitungkan
dengan rumus – rumus sebagai berikut :
1. Metode Aritmatik

Pn = P0 + Ka (Tn – T0) ........................................................... (2.33)

(Pa – P1)
Ka = ................................................................ (2.34)
(T2 – T1)

Dimana : Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n


P0 = jumlah penduduk pada tahun dasar
Ka = konstanta arithmatik
Tn = tahun ke n
T0 = tahun dasar
T2 = tahun ke-1 yang diketahui jumlah penduduknya
T1 = tahun ke-2 yang diketahui jumlah penduduknya b.
2. Metode Geometri
Pn = P0 (1+r)n.................................................................... (2.35)
Dimana : Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n
P0 = jumlah penduduk pada tahun dasar
n = jumlah interval
r = laju pertumbuhan penduduk
b. Kebutuhan Air Bersih
Kebutuhan air yang dimaksud adalah kebutuhan air yang digunakan untuk
menunjang segala kegiatan manusia, meliputi air bersih domestik dan non
domestik, air irigasi baik pertanian maupun perikanan, dan air untuk
penggelontoran kota. Air bersih digunakan untuk memenuhi kebutuhan air
domestik seperti keperluan rumah tangga dan kebutuhan air non domestik untuk
industri, pariwisata, tempat ibadah, tempat sosial, serta tempat – tempat komersial
atau tempat umum lainnya. Kebutuhan air domestik ditentukan oleh jumlah
penduduk, dan konsumsi perkapita. Daerah perkotaan atau semi perkotaan, daerah
rural perlu dianalisis mengingat karakteristik kebutuhan airnya di tiga daerah
tersebut berbeda. Secara rata – rata jumlah kebutuhan air bersih domestik adalah
120 – 140 liter/orang/hari. Kebutuhan air domestik yang meliputi pemanfaatan
komersial, kebutuhan institusi, dan kebutuhan industri dapat mencapai 20 %
samapai 25 % dari total suplai air. Kebutuhan air komersial untuk suatu daerah
cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan penduduk dan perubahan tata
guna lahan. Kebutuhan institusi meliputi kebutuhan – kebutuhan air untuk
sekolah, rumah sakit, gedung – gedung pemerintah, tempat ibadah, dan lain – lain.
Besaran kebutuhan air diasumsikan sebesar 5 % dari total suplai air. Kebutuhan
untuk industri sangat beragam, tergantung pada jenis dan macam kegiatan
industri. Sebagai estimasi, 2 % total suplai air dapat dipakai sebagai dasar dan
acuan perhitungan.(Kodoatie dan Sjarief, 2005).
c. Kapasitas Saluran

Menurut Haryono (1999), kapasitas rencana saluran dihitung dengan


menggunakan rumus Manning, yang merupakan dasar dalam menentukan dimensi
saluran, yaitu sebagai berikut:
2 1
V =K . R 3 . S 2 (m/det) ……........................................................(2.36)

Q=V . F (m3/det)...........................................................................(2.37)

F
R= (m)……..........................................................................(2.38)
P

Keterangan:
V = Kecepatan aliran rata-rata dalam saluran (m/det)
K = Koefisien kekasaran (tabel 2.8)
R = Radius hidrolis (m)
S = Kemiringan rata-rata saluran
F = Luas penampang basah saluran (m²)
P = Keliling basah saluran (m)

Q = Debit aliran (m³/det)

Penurunan rumus perhitungan luas penampang basah saluran (F):

F=( b+ m. y ) . y ……......................................................................(2.39)

Keterangan:
b = Lebar dasar saluran (m)
m = Perbandingan kemiringan lining
y = Ketinggian saluran (m)

Penurunan rumus perhitungan keliling basah saluran (P) :

P=b+2. y . √ 12+ m2..............................................................(2.40)

Keterangan:
b = Lebar dasar saluran (m)
m = Perbandingan kemiringan lining

y = Ketinggian saluran (m)

Tabel 2. 12 Standar Harga Koefisien Kekasaran

No. Material Saluran Koefisien Kekasaran


Stickler
1 Plesteran halus 77 - 100
2 Plesteran kasar 67 - 91
3 Beton cor dipoles 60 - 77
4 Beton pra cetak 67 - 91
5 Pasangan batu disiar 50 - 67
6 Pasangan batu kosong 42 - 59
7 Pasangan batu bronjong 29 - 50
8 Saluran tanah bersih 30 - 45
9 Saluran tanah dan 1 -3
timbunan

(Sumber: Haryono, 1999)

2.4 Analisis Hidrolika

Zat cair dapat diangkut dari suatu tempat lain melalui bangunan pembawa
alamiah maupun buatan manusia. Bangunan pembawa ini dapat terbuka maupun
tertutup bagian atasnya. Saluran yang tertutup bagian atasnya disebut saluran tertutup
(closed conduits), sedangkan yang terbuka bagian atasnya disebut saluran terbuka
(open channels).

Pada sistem pengaliran melalui saluran terbuka terdapat permukaan air yang
bebas (free surface) di mana permukaan bebas ini dipengaruhi oleh tekanan udara
luar secara langsung, saluran terbuka umumnya digunakan pada lahan yang masih
memungkinkan (luas), lalu lintas pejalan kakinya relatif jarang, beban kiri dan kanan
saluran relatif ringan. Pada sistem pengaliran melalui saluran tertutup (pipa flow)
seluruh pipa diisi dengan air sehingga tidak terdapat permukaan yang bebas, oleh
karena itu permukaan tidak secara langsung dipengaruhi oleh tekanan udara luar,
saluran tertutup umumnya digunakan pada daerah yang lahannya terbatas (pasar,
pertokoan), daerah yang lalu lintas pejalan kakinya relatif padat, lahan yang dipakai
untuk lapangan parkir.

Berdasarkan konsistensi bentuk penampang dan kemiringan dasarnya saluran terbuka


dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Saluran prismatik (prismatic channel), yaitu saluran yang bentuk penampang melintang
dan kemiringan dasarnya tetap.
Contoh : saluran drainase, saluran irigasi.
b. Saluran non prismatik (non prismatic channel), yaitu saluran yang bentuk penampang
melintang dan kemiringan dasarnya berubah-ubah.
Contoh : sungai.

Aliran pada saluran terbuka terdiri dari saluran alam (natural channel), seperti sungai-
sungai kecil di daerah hulu (pegunungan) hingga sungai besar di muara, dan saluran buatan
(artificial channel), seperti saluran drainase tepi jalan, saluran irigasi untuk mengairi
persawahan, saluran pembuangan, saluran untuk membawa air ke pembangkit listrik tenaga
air, saluran untuk suplay air minum, dan saluran banjir. Saluran buatan dapat berbentuk
segitiga, trapesium, segi empat, bulat, setengah lingkaran, dan bentuk tersusun .

Gambar 2.21 Bentuk-bentuk Profil Saluran


(Sumber: Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan ( 2003: 121))
Perhitungan dimensi saluran didasarkan pada debit harus ditampung oleh saluran (Qs
dalam m3/det) lebih besar atau sama dengan debit rencana yang diakibatkan oleh hujan
rencana (QT dalam m3/det). Kondisi demikian dapat dirumuskan dengan persamaan berikut:

Qs ≥Qr ..................................................................................................(2.41)

Debit yang mampu ditampung oleh saluran (Qs) dapat diperoleh dengan rumus seperti
di bawah ini:
Q= As . V .................................................................................................(2.42)

Di mana :

As=luas penampang saluran (m2)

V =Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran (m/det)

Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran dapat dihitung dengan menggunakan


rumus Manning sebagai berikut:
2 1
1
V= .R3.S2 …………......................................................................(2.43)
n

As
R= …………..................................................................................(2.44)
P

Di mana:

V = Kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran (m/det)

N = Koefisien kekasaran Manning (Tabel 2.10)

R = Jari-jari hidrolis (m)

2.5 Perencanaan Bangunan Pelengkap

Bangunan pelengkap diperlukan untuk melengkapi suatu sistem saluran untuk fungsi-
fungsi tertentu. Bangunan pelengkap drainase harus kuat, fungsional, tidak menyebabkan
ketidaknyamanan berkendaraan dan tidak merusak keindahan kota. Bagian-bagiannya
meliputi: Catch Basin/watershed, Inlet, Manhole, Headwall, Gorong-gorong, Bangunan
terjun, Siphon, Bangunan got miring.

1. Catch Basin/watershed
Bangunan dimana air masuk ke dalam sistem saluran tertutup, untuk
mempermudah air masuk, lokasi catch basin ditetapkan pada tempat yang rendah,
catch basin dibuat pada tiap persimpangan jalan, tempat-tempat yang rendah dan
tempat parkir.
2. Inlet
Dibuat bila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya akan dimasukkan
ke dalam saluran tertutup yang lebih besar. Inlet harus diberi saringan agar sampah
tidak masuk kedalam saluran tertutup.

Rumus Untuk Menghitung Jumlah Inlet :


D=(280√ S ¿ /W..........................................................................................(2.38)

Dimana :
D= Jarak antar street inlet (m) : D≤ 50 m
S= Kemiringan(%)
W = Lebar jalan (m)

Inlet dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu :


1) Curb Inlet (Mempunyai bukaan Verikal)

Rumus untuk menghitung Kapasitas Curb Inlet :

Q/L = 0,3.....................................................................................................(2.39)

Dimana :
Q= Kapasitas curb inlet (m3/dt)
L= Lebar bukaan Curb (m)
g= Gravitasi (9,81 m/dt2)
d= Kedalaman total air dalam Curb (m)

2) Gutter Inlet (terdiri dari bukaan Horizontal )

Rumus untuk menghitung kapasitas Guttr Inlet :

Q = 0,56 (z/n) .............................................................................................(2.40)


Dimana :
Q= Kapasitas gutter Inlet (m3/dt)
Z= Kemiringan potongan melintang jalan (m/m)
n= koefisien kekasaran manning = 0,016
S= kemiringan longitudinal gutter (m/m)
d= kedalaman aliran di dalam hutter (m)

3) Combination Inlet (Merupakan Gabungan dari Curb inlet dan gutter inlet yang
dipasang sebagai satu unit)

Rumus untuk menghitung tinggi air pada Combination Inlet :

d = 0,0474( DI )0 ,5 / S0 , 2.................................................................................(2.41)

Dimana :
1
d = kedalaman air (mm) pada lebar lebar jalan
4
D = jarak antara street inlet (m)
I = Intensitas Hujan (mm/jam)
S = Kemiringan jalan (m/m)

3. Manhole
Untuk keperluan pemeliharaan sistem saluran drainase tertutup dibuat di setiap
pertemuan, perubahan dimensi, perubahan bentuk selokan, dan setiap jarak 10-25 meter,
lubang manhole dibuat sekecil mungkin supaya ekonomis diameter lubang biasanya 60
cm dengan tutup dari [Link] adalah tabel jarak perletakan manhole menurut
diameter saluran

Tabel 2.17 Jarak Diameter Manhole Menurut Diameter

Diameter Jarak antara


(mm) Manhole (m)

<200 50 – 100

200 – 500 100 – 125


500 – 1000 125 – 150

>1000 150 – 200

Sumber : Materi Pelatihan Proyek PLP Sektor Air Limbah, DPU 1986

Tabel 2.18 Diameter Monhole Berdasarkan Kedalaman

Kedalaman Diameter
(m) (m)

<0,8 0,75
0,8 – 2,5 1,00 – 1,20
>2,5 1,20 – 1,80

Sumber : Materi Pelatihan Proyek PLP Sektor Air Limbah, DPU 1986

Umumnya ketebalan manhole adalah 5’’-9’’ (125-225) mm


Rumus ketebalan dinding (Babbit, Harold E) :

T = 2 + d/2 (inchi)............................................................................................(2.42)

Dimana : d = diameter manhole (ft)

4. Headwall
Konstruksi khusus pada outlet saluran tertutup dan ujung gorong-gorong yang
dimaksudkan untuk melindungi dari longsor dan erosi.
5. Gorong-gorong
Didesain untuk mengalirkan air untuk menembus jalan raya, jalan kereta api,
dan halangan lain. Bentuk penampangnya dapat berupa lingkaran, segiempat, dll,
tergantung dari debit, ruang bebas dari atasnya, perhitungan ekonomi dan peraturan
setempat. Berikut adalah rumus untuk menghitung dimensi gorong-gotong :
Rumus :

Q
a = ...........................................................................................................
V
(2.43)

Dimana :
a = Luas penampang (m3)
Q = Debit (m3/dt)
V = Kecepatan aliran (m/dt)

Hw
Rumus untuk gorong-gorong kotak pendek, bila Bila < 1,2 kira-kira permukaan
D
air pada bagian masuk tidak akan menyinggung bagian atas dari gorong-gorong oleh
karena itu arus menjadi keritis . Oleh karena itu, maka debitnya adalah :

2
Q= x Cb x Hw x
3
2
3 √
x g x Hw ........ (
Hw
D
< 1,2 )..........................

(2.44)

Dimana :

B = lebarlubang

Cb = koefisien yang menyatakan pengaruh lebar penyempitan aliran.

Gambar 2.13 Bangunan Pelengkap Drainase


(Sumber ; [Link])

2.6 Drainase Berwawasan Lingkungan

Drainase berwawasan lingkungan dimaksudkan sebagai upaya mengelola


kelebihan air dengan cara meresapkan sebanyak-banyaknya air ke dalam tanah secara
alamiah atau mengalirkan air ke sungai dengan tanpa melampaui kapasitas sungai
sebelumnya (Kementerian PU, 2011). Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan
sebagai pembuangan air permukaan, baik secara gravitasi maupun dengan pompa
dengan tujuan untuk mencegah terjadinya genangan, menjaga dan menurunkan
permukaan air sehingga genangan air dapat dihindarkan. Menurut Dr. Ir. Suripin
[Link] dari Universitas Diponegoro, berdasarkan fungsinya, terdapat dua pola yang
dipakai untuk menahan air hujan, yaitu:

1. Pola detensi (menampung air sementara), yaitu menampung dan menahan air
limpasan permukaan sementara untuk kemudian mengalirkannya ke badan
air misalnya dengan membuat kolam penampungan sementara untuk menjaga
keseimbangan tata air.
2. Pola retensi (meresapkan), yaitu menampung dan menahan air limpasan
permukaan sementara sembari memberikan kesempatan air tersebut untuk
dapat meresap ke dalam tanah secara alami antara lain dengan membuat
bidang resapan (lahan resapan) untuk menunjang kegiatan konservasi air.

Arahan penanganan drainase dapat dibagi menjadi 3 wilayah penanganan sebagai


berikut (Kementerian PU, 2011):

1. Wilayah Hulu

Limpasan air hujan dialirkan untuk kemudian diresapkan (pola retensi).

2. Wilayah Tengah

Limpasan air hujan dialirkan ke kolam tampungan untuk ditampung sementara atau
diresapkan bila memungkinkan (gabungan pola retensi dan detensi).

3. Wilayah Hilir

Air limpasan dialirkan melalui saluran drainase ke waduk atau kolam untuk
penampungan sementara (pola detensi) sebelum dialirkan atau dipompa ke badan air
(sungai atau laut). Metode Ecodrainage dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

1. Lubang Resapan Biopori


2. Sumur Resapan

3. Kolam Konservasi (detensi atau retensi)

4. Parit Infiltrasi

5. Rorak

6. Side River Polder

7. Penampung Air Hujan (PAH).

2.6.1 Biopori

Lubang biopori menurut [Link] adalah lubang yang dengan diameter 10


sampai 30 cm dengan panjang 30 sampai 100 cm yang ditutupi sampah organik yang
berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi
sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga
membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk
tumbuh-tumbuhan. Prinsip kerja biopori relatif mudah yaitu, air diserapkan ke dalam
tanah dengan cara diberi sampah organik di dasar saluran atau dengan membuat
cekungan berisi sampah organik

Dalam rangka menerapkan lubang resapan biopori perlu diperhatikan beberapa


persyaratan, meliputi: tanah harus mudah meloloskan air; dibangun

Tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah (water table) dalam hal
perancangan pembuatan biopori, agar kinetik kerja biopori lebih maksimal perlu
tempat-tempat yang khusus dan tepat, seperti pada alas saluran air hujan di sekitar
rumah, kantor, sekolah, di sekeliling pohon, pada tanah kosong antar tanaman atau
batas tanaman; menggunakan sampah organik agar mudah terurai; adanya
pemantauan untuk mengisi kembali sampah, karena sampah akan menyusut menjadi
kompos; kedalaman dinding paralon tidak usah terlalu dalam, karena fungsinya hanya
untuk menahan tanah jatuh; untuk setiap 100 lahan idealnya Lubang Resapan Biopori
(LRB) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antara 0,5 - 1 m. Dengan kedalam 100
cm dan diameter 10 cm setiap lubang bisa menampung 7,8 liter sampah.

Lubang Resapan Biopori (LBR) memiliki manfaat berupa :

1. Mencegah Banjir
Banjir sendiri telah menjadi bencana yang merugikan bagi warga Jakarta.
Keberadaan lubang biopori dapat menjadi jawaban dari masalah tersebut.
Bayangkan bila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan di Jakarta memiliki
biopori berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan
dapat mencegah terjadinya banjir.

2. Tempat Pembuangan Sampah Organik Banyaknya sampah yang bertumpuk


juga telah menjadi masalah tersendiri di kota. Kita dapat pula membantu
mengurangi masalah ini dengan memisahkan sampah rumah tangga kita
menjadi sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik dapat kita
buang dalam lubang biopori yang kita buat.

3. Menyuburkan Tanah

Sampah organik yang kita buang di lubang biopori merupakan makanan untuk
organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah
menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya.

4. Meningkatkan Kualitas Air Tanah Organisme dalam tanah mampu membuat


samapah menjadi mineral-mineral yang kemudian dapat larut dalam air.
Hasilnya, air tanah menjadi berkualitas karena mengandung mineral

5. Memperbaiki Ekosistem tanah

Terpeliharanya biopori dan terbentuknya perbandingan tanah yang mantap


menunjukan terpeliharanya struktur tanah yang baik. Pada akhirnya, kondisi ini
akan mendukung terpeliharanya fungsi hidrologis kawasan permukiman sebagai
kawasan tangkapan air.

Teknologi lubang resapan biopori memiliki manfaat yang sangat banyak namun
secara garis besar adalah Mengurangi genangan, Menambah cadangan air tanah,
Mengurangi volume sampah organic.

[Link] Metode Analisis Penentuan Lokasi Yang cocok Diterapkan Lubang Resapan
Biopori (LBR)

Kinerja Lubang Resapan Biopori (LRB) akan berfungsi dengan baik jika
pembangunannya di suatu kawasan yang memenuhi persyaratan, yaitu: tanah harus
mudah meloloskan air; dibangun tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah
(water table) dalam hal perancangan pembuatan biopori. Maka dalam metode ini

Perlu dilakukan penentuan lokasi kawasan yang memiliki persyaratan tersebut


dengan melihat jenis tanah, curah hujan, serta kepadatan bangunan di wilayah

1. Analisi Jenis Tanah

Analisis kualitatif ini dilakukan untuk menganalisis jenis tanah sehingga


dapat diketahui daya serap tanah terhadap air hujan di wilayah studi dapat
dilihat pada Tabel berikut ini.

Tabel 2.1 Analisis Jenis Tanah

NO Jenis Tanah P e rm ea bilitas Nilai Bobot

1 Grumoso Lambat 1 5

2 Aluvial Sedang 2

3 Andosol C epa t 3

Sumber: Pusat Penelitian Tanah,1982

Analisis jenis tanah ini juga dapat berguna untuk menentukan lokasi
yang cocok, sehingga nantinya dapat dipergunakan dalam superimpose
menurut jumlah skor dalam pembobotan. Permeabilitas adalah kemampuan
tanah dalam diresapi air.

2. Analisis Curah Hujan


Analisis ini dilakukan untuk menentukan lokasi yang cocok diterapkan
lubang resapan biopori. Karena semakin tinggi curah hujannya maka air
(limpasannya) semakin banyak oleh sebab itu diperlukan biopori untuk
mengurangi limpasan tersebut.

3. Analisis Kepadatan Penduduk


Analisis ini dilakukan untuk menentukan lokasi yang cocok
diterapkannya lubang resapan biopori. Analisis yang dipakai untuk
mengetahui kepadatan bangunan di wilayah penelitian adalah analisis KWT
(Koefisien Wilayah Terbangun). KWT (Koefisien Wilayah Terbangun)
adalah angka prosentase luas kawasan atau blok peruntukan yang terbangun
terhadap luas kawasan atau luas blok peruntukan yang direncanakan. Untuk
mempermudah menganalisis KWT (koefisien Wilayah Terbangun) dilakukan
pembagian blok berdasarkan jalan, fungsi dominan, kepadatan bangunan

[Link] Metode Analisis Jumlah Kebutuhan Lubang Resapan Biopori (LBR)


yang Ideal

Untuk mengetahui kebutuhan Jumlah Lubang Resapan Biopori (LRB),


perlu diketahui intensitas curah hujan terlebih dahulu, debit limpasan curah
hujan, serta laju peresapan infiltrasi. Analisis ini dilakukan setelah diketahui
kawasan yang cocok diterapkannya bagi penempatan LRB.

1. Analisis Intensitas Curah Hujan

Intensitas hujan adalah tinggi hujan atau volume hujan tiap satuan
waktu. Sifat umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung
intensitasnya cenderung makin tinggi dan semakin besar periode ulangnya
makin tinggi pula intensitasnya. Tujuan analisis ini adalah untuk
mengetahui nilai intensitas hujan yang akan digunakan untuk perhitungan
jumlah lubang resapan biopori di wilayah studi. Perhitungan intensitas
curah hujan di wilayah studi dilakukan dengan menggunakan rumus
Mononobe.

R 24 24 2
I= ( ) ………………………………………..…… (2.1)
24 T 3

Dimana:

I = Intensitas Hujan (mm/jam)


t= Durasi hujan dalam menit

R24 = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm)

2. Analisis Debit Limpasan Air Hujan

Air Limpasan/larian (run off) adalah bagian dari curah hujan yang
mengalir di atas permukaan tanah menuju ke sungai, danau, dan lautan.
Air hujan yang tidak sempat masuk ke dalam tanah dan oleh karenanya
mengalir di atas permukaan tanah ke tempat yang lebih rendah. Air larian
berlangsung ketika jumlah curah hujan melampaui laju infiltrasi air ke
dalam tanah. Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan debit limpasan
(run off) sebagai masukan untuk penentuan jumlah lubang resapan biopori
di wilayah studi.

3. Analisis Infiltrasi

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui laju infiltrasi air daerah


penelitian, untuk itu dibutuhkan data hasil pengukuran laju infiltrasi
dilapangan dengan mengunakan ring infiltrometer.

[Link]. Proses Pembuatan Biopori

1. Membuat lubang silindris secara vertical ke dalam tanah dengan diameter


10 cm. Kedalaman dari lubang resapan biopori ini kurang lebih 100 cm.
Jarak antar lubang antara 50 hingga 100 cm.
2. Memperkuat mulut lubang menggunakan semen dengan pembatas pipa
PVC selebar 2 hingga 3 cm dengan tebal 2 cm disekeliling mulut lubang.
3. Mengisi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur,
sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput. Sampah organik perlu
selalu di tambah ke dalam lubang biopori, karena sampah organik akan
berkurang dikarenakan menjadi kompos.

4. Menutup lubang biopori dengan apa saja, dan penutup diberi lubang
untuk sirkulasi udara dan peresapan air.
2.6.2 Sumur Resapan
Sumur Resapan merupakan sumur atau lubang pada permukaan tanah yang
dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah. Sumur
resapan ini kebalikan dari sumur air minum. Sumur resapan merupakan lubang
untuk memasukan air kedalam tanah, sedangkan sumur air minum berfungsi untuk
menaikkan air tanah ke permukaan. Dengan demikian konstruksi kedalamannya
berbeda. Sumur resapan digali dengan kedalaman di atas muka air tanah,
sedangkan sumur air minum digali lebih dalam lagi atau muka air tanah.

[Link] Kegunaan Sumur Resapan

Beberapa fungsi sumur resapan bagi kehidupan manusia adalah sebagai


pengendali banjir, melindungi dan memperbaiki (konservasi) air tanah, serta
menekan laju erosi.

Sumur resapan dapat dikatakan sebagai suatu rekayasa teknik konservasi


air, berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk
sumur galian dengan kedalaman tertentu. Fungsi utama dari sumur resapan ini
adalah sebagai tempat menampung air hujan dan meresapkannya ke dalam
tanah. Sementara itu, manfaat yang dapat diperoleh dari pembuatan sumur
resapan air adalah:

1. Mengurangi aliran permukaan dan mencegahnya terjadinya genangan air


sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi.
2. Mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air
tanah
3. Mengurangi atau menahan terjadinya kenaikan air laut bagi daerah yang
berdekatan dengan wilayah pantai
4. Mencegah penurunan atau amblasan lahan sebahai akibat pengambilan
air tanah yang berlebihan
5. Mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah.

[Link] Prinsip Kerja Sumur Resapan

Prinsp kerja sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung air hujan
kedalam lubang atau sumur agar air dapat memiliki waktu tinggal dipermukaan
tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat meresap ke dalam tanah.
Tujuan utama dari sumur resapan adalah memperbesar masuknya air kedalam
akuifer tanah sebagai air resapan (infiltrasi). Dengan demikian air akan lebih
banyak masuk kedalam tanah dan sedikit yang mengalir sebagai aliran permukaan
(run off). Pada Gambar berikut ini dapat dilihat proses masuknya air kedalam
akuifer bebas dan tertekan.

Gambar 2.17 Proses Masuknya air kedalam akuifer bebas

2 2
π . K (hw −ho )
Q= ro ……………………………………………………... ( 2.2 )
¿( )
rw
00
Dimana:

Q = Debit Aliran
K = Koefisien Permeabilitas tanah
rw = Jari-jari sumuran
ro = jari-jari pengaruh aliran
ho = Tinggi Muka air tanah
hw = Tinggi Muka air tanah setelah imbuhan
In = Logaritma natural
Gambar 2.18 Proses masuknya air kedalam akuifer tertekan

π . K (hw−ho)
Q= ro …………………………………………………… (2.3)
¿( )
rw

Dimana:

Q = Debit Aliran

K = Koefisien Permeabilitas tanah

rw = Jari-jari sumuran

ro = jari-jari pengaruh aliran

ho = Tinggi Muka air tanah

hw = Tinggi Muka air tanah setelah imbuhan

Semakin banyak air yang mengalir kedalam tanah berarti akan banyak
tersimpan air tanah dibawah permukaan bumi. Air tersebut dapat dimanfaatkan
kembali melalui sumur atau mata air yang dapat dieksplorasi setiap saat.

Jumlah aliran permukaan akan menurun karena adanya sumur resapan.


Pengaruh posistifnya bahaya banjir dapat dihindari karena terkumpulnya air
permukaan yang berlebihan di suatu tempat dapat dihindarkan. Menurunnya aliran
permukaan ini juga akan menurunkan tingkat erosi tanah.
Gambar 2.19 Prinsip kerja sumur resapan penampungan air hujan

[Link] Standardisasi Sumur Resapan

Dapat diketahui bahwa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah


sumur resapan untuk lahan pekarangan rumah adalah sebagai berikut:

[Link].1 Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada
tanah berlereng, curam atau labil
[Link].2 Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan
sampah, jauh dari septik tank (minimum 5 m diukur dari tepi)
[Link].3 Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau
maksimal 2 m dibawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air
(water table) tanah minimum 1.5 m pada musim hujan
[Link].4 Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan
tanah menyerap air) lebih besa r atau sama dengan 2.0cm/jam
(artinya genangan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1
jam), dengan tiga klasifikasi yaitu sebagai berikut:
a. Permeabilitas sedang yaitu 2 – 3.6 cm/jam
b. Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus) yaitu 3.6 – 36 cm/jam
c. Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar) yaitu lebih besar dari 36 cm/jam

[Link] Jenis-jenis sumur resapan


Jenis bangunan sumur resapan cenderung bervariasi. Bentuk dan
jenis bangunan sumur resapan dapat berupa bangunan sumur resapan
air yang dibuat segiempat atau silinder dengan kedalaman tertentu dan
dasar sumur terletak diatas permukaan air tanah. Berikut ini merupakan
berbagai jenis konstruksi sumur resapan yang sering dipakai.
1. Sumur tanpa pasangan didinding sumur, dasar sumur tidak disi
apapun (kosong)
2. Sumur tanpa pasangan didinding sumur, dasar sumur disi dengan
batu belah dan ijuk
3. Sumur dengan susunan bata batu, batu kali atau batako di dinding
sumur. Dasar sumur disi dengan batu belah dan ijuk atau kosong
4. Sumur menggunakan besi beton didinding sumur
5. Sumur menggunakan blawong (batu cadas yang dibentuk khusus
untuk dinding sumur)

Anda mungkin juga menyukai