Modul 4
PRODUK
A. Pengertian Produk
Apa yang dimaksud dengan produk? Kata produk berasal dari bahasa Inggris product
yang berarti sesuatu yang diproduksi oleh tenaga kerja atau sejenisnya. Bentuk kerja dari
kata product, yaitu produce merupakan serapan dari bahasa Latin produce (re), yang
berarti (untuk) memimpin atau membawa sesuatu untuk maju. Produk merupakan suatu
hasil dari kegiatan usaha yang sifatnya esensial dan mampu memenuhi kebutuhan
[Link] ditentukan atau dirancang oleh produsen dan diproduksi untuk kepentingan
pasar, dan produk erat kaitannya dengan pemuasan kebutuhan dan keinginan konsumen,
sehingga ia tidak akan memiliki nilai jual apabila produk tersebut tidak menarik konsumen.
Produk merupakan hasil kegiatan produksi yang berwujud barang atau jasa. Barang
mempunyai wujud tertentu dan mempunyai sifat-sifat fisik, dapat dilihat, diraba, dan
dirasakan. Disamping itu ada tenggang waktu antara saat diproduksi dan dikonsumsinya.
Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian,
dibeli, dipergunakan dan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan konsumen.
a. Definisi Produk menurut para ahli
1) William J. Stanton
Menurut William J. Stanton yang diterjemahkan oleh Rahmat A (1996: 222) , produk secara
sempit dapat diartikan sebagai sekumpulan atribut fisik yang secara nyata terkait dalam
sebuah bentuk yang dapat diidentifikasikan. Sedangkan secara luas, produk merupakan
sekumpulan atribut yang nyata dan tidak nyata yang didalamnya mencakup warna,
kemasan, harga, prestise pengecer, dan pelayanan dari pabrik dan pengecer yang mungkin
diterima oleh pembeli sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginannya.
2) Philip Kotler
Menurut Philip Kotler dalam bahasa Inggris menyatakan, A product as anything that can be
offered to a market for attention, acquisition, us or consumption and the migth satisfy a
want or need. Artinya, produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk
diperhatikan, dibeli/dimiliki, dipakai atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan suatu
keinginan / semua kebutuhan. Produk-produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa,
pengalaman, acara-acara, orang, tempat, property, organisasi, dan [Link] oleh
pembeli sebagai sebuah hal yang dapat memberikan kepuasan atas keinginannya.
3) H. Djaslim Saladin, SE
Menurut H. Djaslim Saladin, SE dalam bukunya yang berjudul “ Unsur-unsur inti
pemasaran dan managemen pemasaran” (2003: 45), produk dapat diartikan ke dalam
tiga pengertian yaitu :
Dalam pengertian yang sempit, produk merupakan sekumpulan sifat fisik dan kimia yang
berwujud dan dihimpun dalam sebuah bentuk serupa dan telah dikenal.
Dalam pengertian yang luas, produk merupakan sekelompok sifat yang berwujud
( Tangible ) maupun tidak berwujud ( Intangible ), yang didalamnya sudah tercakup harga,
warna, kemasan, prestise pengecer, prestice pabrik, serta pelayanan yang diberikan oleh
produsen dan pengecer kepada konsumen dalam rangka pemenuhan kepuasan yang
ditawarkan terhadap keinginan atau kebutuhan konsumen.
Dalam pengertian secara umum, produk dapat diartikan secara ringkas sebagai segala
sesuatu yang mampu memenuhi dan memuaskan kebutuhan atau keinginan manusia, baik
yang memiliki wujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible).
4) Fandy Tjiptono
Menurut Fandy Tjiptono, pengertian produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan
produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, serta dikonsumsi pasar
sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pasar yang bersangkutan.
5) Swastha dan Irawan
Menurut Swastha dan Irawan (1990: 165), produk adalah suatu sifat kompleks, baik
dapat diraba maupun tidak dapat diraba, termasuk bungkus, warna, harga, prestise
perusahaan, pelayanan pengusaha dan pengecer, yang diterima pembeli untuk
memuaskan keinginan dan kebutuhan.
Pengertian lain untuk produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada
pasar agar menarik perhatian, akuisisi, penggunaan, atau konsumsi yang dapat memuaskan
suatu keinginan atau kebutuhan. Produk juga perlu dipahami sebagai salah satu variabel
yang menentukan dalam kegiatan usaha. Hal ini karena tanpa adanya produk suatu
perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Banyaknya persaingan dalam dunia bisnis menuntut produsen untuk berinovasi
mengembangkan produknya menjadi produk yang unggul dan berkualitas. Produk yang
berkualitas memiliki nilai jual lebih dibandingkan dengan produk kompetitor.
B. Karakteristik Produk
Karakteristi produk yaitu keadaan yang berbeda dari suatu produk apabila
dibandingkan dengan produk-produk pesaingnya. Setiap produk pasti memiliki karakteristik
yang berbeda, dan setiap produsen akan berusaha untuk mendesain produk yang memiliki
karakteristik tersendiri, sehingga para pelanggan akan memiliki persepsi khusus terhadap
produk tersebut. Untuk merebut pangsa pasar, biasanya para produsen menawarkan variasi
produk. Karakteristik sebuah produk mengacu pada bentuk penampilan produk atau atribut
produk dan kualitas produk yang ditawarkan.
C. Atribut Produk
Atribut produk merupakan sesuatu yang melekat pada suatu produk. Atribut memegang
peran penting dalam pemasaran. Sebab atribut menjadi salah satu faktor yang dijadikan bahan
pertimbangan oleh konsumen ketika akan membeli produk.
Menurut Kolter dan Amstrong (2003), atribut produk adalah pengembangan atas suatu
produk yang melibatkan penentuan manfaat yang diberikan. Lebih lanjut mereka
mengemukakan bahwa manfaat yang ditawarkan oleh atribut produk dalam bentuk kualitas
produk, fitur produk, dan gaya serta desain produk.
Teguh Budiarto (1993: 68), atribut produk adalah sesuatu yang melengkapi manfaat utama
produk sehingga mampu lebih memuaskan konsumen. Atribut produk meliputi merek (brand),
pembungkusan (packaging), label, garansi atau jaminan (warranty), dan produk tambahan
(service). Atribut dapat dipandang secara objektif (fisik produk) maupun secara subjektif
(pandangan konsumen).
Fandy Tjiptono (2007), atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting
oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Sedangkan unsur-
unsur atribut produk yang dimaksud adalah terdiri dari merek, harga, desain, jaminan, kualitas
dan pelayanan produk.
Unsur unsur atribut produk
a. Merek
Merek merupakan sebuah nama, simbol, istilah, tanda, lambang, warna, desain, atau
kombinasi dari atribut lain yang diharapkan dapat memberikan identitas dan diferensiasi
dari produk pesaing. Pada hakikatnya sebuah merek produk juga merupakan sebuah janji
dari pemasar (perusahaan) untuk secara konsisten menyampaikan serangkaian manfaat,
ciri-ciri, dan jasa tertentu kepada konsumen. Merek yang bagus juga turut menyampaikan
jaminan tambahan berupa jaminan kualitas kepada konsumennya.
Tujuan pembuatan merek produk, antara lain :
1. Identitas suatu produk yang bermanfaat dalam diferensiasi atau pembeda dari produk
suatu perusahaan dengan produk perusahaan lain.
2. Alat promosi atau sebagai daya tarik sebuah produk
3. Pembina citra dengan memberikan keyakinan, jaminan kualitas, dan sebuah prestise
tertentu kepada konsumen.
4. Pengendali pasar
b. Kemasan
Pengemasan (packaging) adalah sebuah proses yang berhubungan dengan perancangan dan
Pembuatan wadah (container) atau pembungkus (wrapper) untuk suatu produk.
Tujuan pemakaian kemasan pada produk :
1. Sebagai pelindung (protection) produk dari kerusakan, perubahan isi, kehilangan,
berkurangnya kadar isi, dsb.
2. Memberikan kemudahan dalam penggunaannya (operating), seperti misalnya kemasan
botol tutup flip agar produk cair tidak mudah tumpah, seperti kemasan parfum didesain
agar mudah menyemprotkan, dsb.
3. Memberikan daya tarik (promotion)
4. Sebagai identitas (image) produk, seperti memberikan kesan mewah, kokoh, awet, dsb.
5. Memudahkan distribusi dan penyimpanan di gudang.
c. Label (labeling)
Labeling berhubungan erat dengan pengemasan. Label adalah bagian dari suatu produk yang
dapat menyampaikan sebuah informasi tentang produk dan perusahaan. Sebuah label dapat
merupakan bagian dari kemasan, atau bisa juga merupakan etiket atau tanda pengenal yang
ditempelkan pada produk.
Secara umum terdapat tiga macam label, yaitu :
1. Brand label, adalah nama merek yang diberikan pada sebuah produk atau dicantumkan
dalam kemasan produk.
2. Descriptive label, adalah label yang memberikan informasi objektif tentang cara
pemakaian, pembuatan, perawatan, perhatian, kinerja produk, dan karakteristik lainnya
yang berkaitan dengan produk.
3. Grade label, adalah label yang mengidentifikasi penilaian kualitas produk (product’s
judget quality) dengan suatu angka, huruf, atau kata. Contohnya di Amerika, buah persik
dalam kaleng akan diberi label kualitas A, B, C, sedangkan pada jagung dan gandum diberi
label 1 dan 2.
d. Layanan Perlengkapan ( supplementary service)
Dewasa ini sebuah produk tidak terlepas dari unsur jasa dan layanan, baik jasa sebagai produk
inti (jasa Murni) ataupun jasa sebagai pelengkap. Unsur jasa murni pada umumnya sangat
bervariasi di antara setiap tipe usaha, namun layanan pelengkapnya memiliki kesamaan.
Layanan pelengkap dapat diklasifikasikan menjadi 8 kelompok, yaitu :
1. Informasi, misalnya harga, jalan atau arah menuju tempat produsen, jadwal penyampaian
produk, petunjuk penggunaan produk, peringatan, kondisi layanan, pemberitahuan
perubahan, konfirmasi reservasi, dokumentasi, rekapitulasi rekening, tiket, dan tanda
terima.
2. Konsultasi, misalnya pemberian saran, konseling pribadi, auditing, dan konsultasi
manajemen atau teknis.
3. Order taking, mencakup aplikasi (keanggotaan di klub atau program tertentu, jasa berbasis
kualifikasi, misalnya perguruan tinggi, jasa layanan), order entry, dan reservasi (meja,
tempat duduk, ruang, professional appointments, admisi)
4. Hospitality, misalnya sambutan, food and beverages, toilet, perlengkapan kamar mandi,
fasilitas menunggu (koran, majalah, hiburan, ruang tunggu), transportasi, dan keamanan.
5. Caretaking, terdiri atas perhatian dan perlindungan barang milik konsumen yang dibawa
(parkir kendaraan, penanganan bagasi, titipan tas, dsb.), serta perhatian dan perlindungan
barang yang dibeli konsumen (pengemasan, pengantaran, transportasi, instalasi,
pembersihan, diagnosis, inspeksi, pemeliharaan preventif, inovasi, dan upgrades).
6. Exceptions, mencakup permintaan khusus, penyampaian produk menangani komplain atau
saran, pemecahan masalah (jaminan atas kegagalan pemakaian produk, kesulitan yang
muncul dari pemakaian produk, termasuk masalah dengan stafate konsumen lainnya), dan
restitusi (kompensasi, pengembalian uang, dll)
7. Billing, mencakup laporan rekening periodik, laporan verbal mengenai jumlah rekening,
faktur untuk transaksi individual, mesin yang memperlihatkan jumlah rekening, dan self-
billing.
8. Pembayaran, berupa pelangganberinteraksi dengan personil perusahaan yang menerima
pembayaran, kontrol, dan verifikasi, serta pengurangan otomatis atas rekening nasabah.
e. Jaminan ( garansi )
Jaminan adalah sebuah janji dari produsen kepada konsumen berkaitan dengan
produknya. Misalnya,
produsen memberikan jaminan dengan memberikan ganti rugi kepada konsumen jika
produknya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jaminan dapat meliputi reparasi, kualitas
produk, ganti rugi (produk ditukar atau uang kembali), dan sebagainya. Jaminan ada yang
bersifat tertulis dan ada yang tidak tertulis. Unsur jaminan ini sering dimanfaatkan sebagai
aspek promosi, terutama pada produk-produk yang memiliki daya tahan lama.
f. Jenis – jenis Produk
Secara umum, produk dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu produk konsumsi dan produk
industri.
Produk Konsumsi
Produk Konsumsi merupakan setiap produk yang digunakan oleh konsumen akhir. Dalam
hal ini, produk yang dibeli akan dikonsumsi / digunakan secara langsung dan tidak akan
dijual atau pun dibisniskan kembali oleh orang yang bersangkutan.
Produk Industri
Produk Industri merupakan setiap produk yang sengaja dibeli sebagai bahan baku atau pun
sebagai barang yang diperdagangkan kembali oleh pembelinya. Dalam hal ini, produk yang
dibeli akan dibuat menjadi produk lain atau pun dijual kembali dengan tujuan mencari
keuntungan.
D. Tingkatan Produk
Sebelum merencanakan penawaran penjualan, seorang pemasar perlu memahami lima
tingkatan produk. Setiap tingkatan produk akan menambah nilai pelanggan yang lebih besar.
Kelima tingkatan ini merupakan bagian dari hirarki nilai pelanggan (customer value hierarchy).
Lima tingkatan tersebut adalah :
1. Manfaat inti (core benefit)
Manfaat inti berada pada tingkat dasar dalam hierarki nilai pelanggan. Yaitu manfaat yang
sebenarnya
dibutuhkan dan akan dikonsumsi oleh pelanggan dari setiap produk. Misalnya, dalam dunia
hiburan orang membeli tiket bioskop dengan tujuan utama untuk menonton film.
2. Produk dasar (basic product)
Pada tingkat kedua pemasar harus dapat mengubah manfaat inti menjadi produk dasar.
Produk dasar
disini mengandung makna bentuk dasar dari suatu produk yang minimal dapat dirasakan oleh
panca indera manusia. Misalnya, di mall-mall dalam kita berbelanja, selalu dilengkapi full AC,
full musik, ada troly, toilet di dalam, lift.
3. Produk yang diharapkan (expected product)
Pada tingkat ketiga, pemasar perlu mempersiapkan produk sesuai dengan harapan konsumen.
Produk
Perlu dirancang dengan berbagai atribut yang menarik. Misalnya, dalam setiap kita berbelanja
ingin selalu ke mall, sebab kita ingin bisa berbelanja dengan kenyamanan-kenyamanan.
4. Produk tambahan (augmented product)
Pada tingkat keempat adalah produk tambahan, yaitu atribut produk yang khas dan berbeda
dengan
atribut produk pesaing. Pada tingkat ini pemasaran menyiapkan tambahan berbagai manfaat
dan layanan kepada konsumen, sehingga mampu menambah kepuasan konsumen dan
membedakan dengan produk pesaing. Misalnya, pelayanan menunjukkan barang yang
dibutuhkan.
5. Produk potensial (potencial product)
Tingkat kelima adalah produk potensial, yaitu berbagai macam tambahan dan perubahan
penawaran
yang mungkin dikembangkan untuk suatu produk di masa mendatang. Tingkatan ini
merupakan tempat perusahaan mencari cara baru dalam memuaskan pelanggan dan
membedakan penawaran mereka dari para pesaing. Misalnya, produk barang-barang yang
ditawarkan selalu premier.
E. Kualitas produk
Menurut Kotler dan Amstrong (2006), kualitas produk merupakan salah satu sarana positioning
utama pasar. Kualitas produk mempunyai dampak langsung pada kinerja produk atau jasa, oleh
karena itu kualitas berhubungan erat dengan nilai pelanggan. Dalam arti sempit kualitas bisa
didefinisikan sebagai bebas dari kerusakan. Kualitas produk mengandung pengertian bahwa
produk tersebut memiliki keunggulan dibandingkan produk pesaing.
1. Dimensi Kualitas Produk
Untuk mempertahankan keunggulan produk di pasaran, perusahaan perlu memahami
beberapa dimensi yang digunakan konsumen untuk membedakan produk yang satu dengan yang
lainnya.
Menurut Tjiptono, dimensi kualitas produk meliputi :
a. Kinerja (performance)
Kinerja adalah karakteristik operasi pokok dari produk inti (core product) yang dibeli,
misalnya dalam produk mobil meliputi kecepatan, konsumsi bahan bakar, jumlah
penumpang yang dapat diangkut, kemudahan, dan kenyamanan dalam mengemudi.
b. Keistimewaan tambahan (features)
Adalah karakteristik sekunder atau pelengkap. Misalnya, dalam produk mobil meliputi
kelengkapan interior dan eksterior seperti dash board, AC, sound system, door lock system,
dan power steering.
c. Keandalan (reliability)
Yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai, misalnya, produk
mobil tersebut tidak sering ngadat / macet / rewel / rusak.
d. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications)
Yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah
ditetapkan sebelumnya. Misalnya, produk mobil tersebut memenuhi standar keamanan
dan emisi.
e. Daya tahan (durability)
Daya tahan ini berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.
Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis penggunaan mobil.
f. Estetika (asthethic)
Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera, misalnya bentuk fisik mobil yang menarik,
model atau desain yang artistik, serta warna yang menarik.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Produk
Kepuasan konsumen merupakan salah satu tujuan dari proses produksi barang/jasa. Untuk
itu, perusahaan menetapkan kualitas produksinya pada kondisi terbaik produk tersebut yang
dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Artinya proses penetapkan kualitas
suatu produk perlu memperhatikan faktor dan sifat produk yang bersangkutan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk, yaitu :
a. Fungsi suatu barang, dalam memproduksi barang perlu memperhatikan fungsinya,
sehingga barang yang diproduksi benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya.
b. Wujud luar suatu barang, terkadang konsumen memilih barang berdasarkan tampilan
wujud luar barang tersebut.
c. Biaya barang, biaya produksi dan harga jual suatu barang akan menentukan kualitas barang
bersangkutan. Umumnya, barang yang memiliki biaya produksi mahal, maka kualitasnya
pun tinggi dibandingkan dengan barang sejenis dengan biaya produksi lebih rendah.
3. Tahap-tahap Mengelola Kualitas Produk
Menurut Griffin, ada beberapa tahap untuk mengelola kualitas produk, yaitu :
1. Perencanaan untuk kualitas,
Perencanaan kualitas meliputi dua hal, yaitu kinerja kualitas dan keandalan kualitas. Kinerja
kualitas berkaitan dengan keistimewaan kinerja suatu produk. Adapun keandalan kualitas
mengacu pada konsistensi kualitas produkdari unit ke unit.
2. Mengorganisasi untuk kualitas,
Dalam memproduksi barang/jasa yang berkualitas memerlukan usaha dari seluruh bagian
dalam sebuah organisasi (perusahaan).
3. Pengarahan untuk kualitas,
Pengarahan kualitas memiliki arti bahwa seluruh manajer harus memotivasi para pegawai
bekerja dengan baik untuk mencapai tujuan, yaitu kualitas produk yang baik.
4. Pengendalian untuk kualitas,
Pengendalian kualitas dilakukan dengan mengadakan kegiatan monitor produk. Dengan
melakukan monitor barang/jasa, maka suatu perusahaan dapat mendeteksi kesalahan dan
membuat koreksinya.
F. Klasifikasi Produk
Klasifikasi produk adalah pembagian produk berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.
Produsen melakukan Klasifikasi produk dengan tujuan untuk mendapatkan kelompok produk
yang memiliki perilaku seragam ataupun hampir seragam.
Secara umum para pemasar mengklasifikasikan produk berdasarkan :
1. Klasifikasi Produk Berdasarkan Keberwujudan (Tangibility)
Dapat diklasifikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu :
a. Barang, merupakan produk yang berwujud fisik, barang dapat dilihat, diraba, dirasa,
dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
b. Jasa, merupakan produk yang tidak memiliki bentuk (abstrak) yang berupa kegiatan atau
aktivitas yang bermanfaat dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Produk jasa dapat
dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik. Contoh produk dalam bentuk jasa,
yaitu ojek online, taksi online, travel, servis mobil/motor, kursus menjahit, dan bimbingan
belajar.
2. Klasifikasi Produk Berdasarkan Daya Tahan (Durability)
Dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Barang tidak tahan lama (nondurable goods), adalah barang berwujud yang habis
dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain umur ekonomisnya
kurang dari satu tahun. Contoh, sabun, pasta gigi, minuman dan makanan.
b. Barang tahan lama (durable goods), adalah barang berwujud yang dapat bertahan lama
dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun
lebih). Misalnya, sepatu, Hp, laptop, TV LED/LCD, lemari es, AC.
3. Klasifikasi Produk Berdasarkan Kegunaan
Berdasarkan kriteria ini Fandy Tjiptono (1999: 9-101), mengklasifikasikan produk menjadi dua
kelompok, yaitu produk konsumen dan produk industrial
a. Produk konsumen (Consumer’s Goods)
Adalah produk yang dibeli konsumen untuk dikonsumsi sendiri (individu atau rumah
tangga). Produk ini dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu :
1. Convenience goods atau produk sehari-hari, adalah produk konsumen yang pada
umumnya memiliki frekuensi pembelian tinggi, dibutuhkan dalam waktu segera dan
memerlukan usaha yang minimum dalam perbandingan dan pembeliannya.
Berdasarkan cara pembeliannya convenience goods dikelompokkan menjadi tiga jenis,
yaitu :
a. Staples, adalah barang yang dibeli oleh konsumen secara rutin, contoh : sabun mandi,
pasta gigi, sampo, dll.
b. Impulse goods, adalah produk yang dibeli tanpa perencanaan terlebih dahulu atau
tanpa usaha mencarinya. Biasanya impulse goods selalu tersedia dan ditawarkan di
banyak tempat tersebar, sehingga konsumen tidak perlu mencarinya. Contoh, permen,
coklat, dll.
c. Emergency goods, yaitu produk yang dibeli konsumen karena dibutuhkan secara
mendesak, contoh jas hujan, payung disaat musim hujan.
2. Shooping Goods, adalah produk konsumen yang pembeliannya dipilih dan dibandingkan di
antara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria pembanding tersebut seperti harga,
kualitas, dan model.
Produk shopping terdiri dari dua jenis, yaitu :
a. Homogeneous shopping goods, adalah barang yang dianggap serupa dalam hal kualitas
namun berbeda harga. Dengan begitu konsumen akan berusaha mencari harga yang
paling murah dengan membandingkannya dari satu toko ke toko lain. Contoh TV, mesin
cuci, tape recorder, dll.
b. Heterogeneous shopping goods, yaitu produk-produk yang karakteristik atau features
(ciri-ciri) dianggap lebih penting oleh konsumen dibandingkan harganya. Contoh
pakaian, perlengkapan rumah tangga, mebel dll.
3. Speciality Goods (Produk Spesial)
Yaitu produk konsumen yang memiliki karakteristik atau identifikasi merek yang unik.
Umumnya jenis barang mewah dengan merek dan model yang spesifik, misalnya mobil
mewah, pakaian yang dirancang oleh desainer terkenal, dll.
4. Unsought Goods (Produk Yang Tidak Dicari)
Yaitu produk yang keberadaannya tidak diketahui oleh konsumen, konsumen belum tentu
tertarik untuk membelinya.
Unsought goods ada dua jenis, yaitu :
a. Regularly Unsought Product, yaitu produk yang sebenarnya sudah ada dan telah
diketahui oleh konsumen, tetapi tidak dipikirkan oleh konsumen untuk membelinya.
Contoh ensiklopedia, batu nisan, asuransi jiwa, dan tanah kuburan.
b. New Unsought Product, yaituproduk yang memang benar-benar baru dan sama sekali
belum pernah diketahui oleh konsumen. Jenis barang ini biasanya merupakan hasil
inovasi serta pengembangan produk baru, sehingga belum banyak diketahui oleh
konsumen.
Pengelompokan produk konsumen tersebut didasari atas kebiasaan konsumen berbelanja
barang yang tercermin dalam tiga aspek.
1. Aspek usaha yang dilakukan konsumen untuk sampai pada sebuah keputusan pembelian.
2. Aspek atribut-atribut yang dipakai konsumen dalam pembelian.
3. Tercermin dalam aspek frekuensi pembelian itu sendiri.
b. Produk Industri (Industrial’s Goods)
Adalah produk yang dibeli untuk pemrosesan lebih lanjut atau penggunaan yang
terkait bisnis. Jadiperbedaan antara produk konsumen dengan produk industri
didasarkan pada tujuan dibelinya produk.
Produk industri diklasifikasikan dalam lima kategori, yaitu :
1. Bahan Mentah, adalah barang yang akan menjadi bagian dari suatu produk,
berupa sumber daya alam seperti barang tambang, hasil hutan, hasil
pertanian, hasil perkebunan, dan hasil peternakan.
2. Bahan Manufaktur, produk industri yang menjadi bagian dari produk jadi.
Produk ini telah diproses dalam kondisi tertentu, dan menjadi bahan dalam
proses lebih lanjut, misalnya besi tuang untuk dijadikan batangan baja,
benang yang dipintal menjadi kain, dan tepung yang diolah menjadi roti.
3. Instalasi, adalah produk perusahaan yang dibuat tahan lama, berharga
mahal, merupakan sarana utama bagi perusahaan pengguna. Misalnya
bangunan pabrik, mesin diesel, kereta api, bus untuk perusahaan
transportasi, dan pesawat terbang untuk perusahaan penerbangan komersil.
4. Perlengkapan operasi, digunakan dalam operasi produksi sebuah
perusahaan, namun tidak berpengaruh secara signifikan pada skala operasi.
Perlengkapan operasi tidak menjadi bagian nyata dari produk jadi.
5. Alat bantu, tergolong convenience products pada sektor perusahaan. Alat
bantu berumur pendek berupa produk berharga murah dan dapat diperoleh
dengan mudah. Barang ini digunakan dalam operasi perusahaan, tetapi tidak
menjadi bagian dari produk jadi.