0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

PBL dalam Pembelajaran IPAS SD

Penelitian ini mengeksplorasi efektivitas model Problem-Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar, menunjukkan bahwa PBL dapat meningkatkan pemahaman konsep, keterampilan berpikir kritis, dan motivasi belajar siswa. Namun, tantangan seperti pengelolaan waktu dan pembimbingan diperlukan untuk keberhasilan implementasi PBL. Penelitian ini merekomendasikan perluasan penelitian empiris untuk memvalidasi efektivitas PBL dalam konteks pembelajaran IPAS di sekolah dasar.

Diunggah oleh

Nurmala Indah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

PBL dalam Pembelajaran IPAS SD

Penelitian ini mengeksplorasi efektivitas model Problem-Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar, menunjukkan bahwa PBL dapat meningkatkan pemahaman konsep, keterampilan berpikir kritis, dan motivasi belajar siswa. Namun, tantangan seperti pengelolaan waktu dan pembimbingan diperlukan untuk keberhasilan implementasi PBL. Penelitian ini merekomendasikan perluasan penelitian empiris untuk memvalidasi efektivitas PBL dalam konteks pembelajaran IPAS di sekolah dasar.

Diunggah oleh

Nurmala Indah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Al-Ihtirafiah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Vol. ..... No. ...... Juni / Desember 202...

MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN


IPAS DI SEKOLAH TINGKAT DASAR
Nurmala Indah; Aisy Salsabila; Silfiya Karima
UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan; UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan; UIN K.H
Abdurrahman Wahid Pekalongan
Nurmalaindah016@[Link] ; Email Penulis 2; Email Penulis 3

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efektivitas penggunaan
model Problem-Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di tingkat dasar. Metode penelitian
yang digunakan adalah studi literatur untuk menganalisis implementasi
PBL dalam konteks pembelajaran IPAS. Temuan menunjukkan bahwa
PBL dapat meningkatkan pemahaman konsep, keterampilan berpikir kritis,
dan motivasi belajar siswa. Namun, tantangan seperti pengelolaan waktu
dan pembimbingan diperlukan untuk memastikan keberhasilan
implementasi PBL. Penelitian ini menyarankan perluasan penelitian
empiris untuk memvalidasi efektivitas PBL dalam konteks dasar
pembelajaran IPAS di sekolah dasar.

Kata Kunci: Model Problem Based Learning (PBL), pembelajaran IPAS,


Sekolah Dasar (SD)

Abstract
This research aims to investigate the effectiveness of using the Problem-
Based Learning (PBL) model in learning Natural and Social Sciences
(IPAS) at the elementary level. The research method used is a literature
study to analyze the implementation of PBL in the context of science and
science learning. The findings show that PBL can improve students'
conceptual understanding, critical thinking skills, and learning motivation.
However, challenges such as time management and guidance are needed
to ensure successful implementation of PBL. This research suggests
empirical research to validate the effectiveness of PBL in the basic context
of science and science learning in elementary schools

Keyword: Problem Based Learning Model (PBL), Science and Science


Laerning, Elementary School.

PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) merupakan mata pelajaran penting di Sekolah
Dasar (SD) yang bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan
ilmiah serta kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif. Pembelajaran IPAS yang efektif
dapat membantu siswa untuk memahami fenomena alam dan sosial di sekitar mereka, serta
mengembangkan rasa ingin tahu dan semangat belajar mereka.. Salah satu model
pembelajaran yang dapat diterapkan di dalam pembelajaran IPAS adalah Problem Based
Learning (PBL).
Al-Ihtirafiah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Vol. ..... No. ...... Juni / Desember 202...

Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan


pada pemecahan masalah sebagai pusat belajar, di mana siswa diajak untuk aktif mencari
solusi atas masalah yang diberikan dengan bimbingan guru. Dalam konteks IPAS, penerapan
PBL diharapkan dapat membantu siswa dalam mengasah kemampuan berpikir kritis,
mengembangkan keterampilan sosial, serta memahami konteks ilmu pengetahuan alam dan
sosial secara menyeluruh.
Penerapan model PBL dalam pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar diharapkan dapat
meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, serta melatih siswa untuk menjadi
pembelajar mandiri. Hal ini juga dapat membantu siswa dalam mengembangkan
keterampilan pemecahan masalah yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena
itu, penerapan PBL dalam pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar menjadi sebuah alternatif
yang menarik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

KAJIAN TEORETIS
Menurut Arends dalam Trianto Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu
pendekatan pembelajaran di mana siswa ddihadapka pada masalah autentik (nyata) sehingga
diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan
keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan
dirinya.(Trianto : 2012)
Model pembelajaran problem based learning berlandaskan pada psikologi kognitif, sehingga
fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa, melainkan
kepada apa yang sedang mereka pikirkan pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Pada
problem based learning peran guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator
sehingga siswa belajar berpikir dan memecahkan masalah mereka sendiri. Belajar berbasis
masalah menemukan akar intelektual. Model pembelajaran PBM dapat diartikan sebagai
rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaikan masalah
yang dihadapi secara ilmiah. Dari beberapa uraian di atas dapat diketahui bahwa
pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang dimana siswa bisa
menyelesaikan masalah yang saling bersangkut-paut dengan pengalaman secara nyata atau
ilmiah. (Sanjaya :2006)
Karakteristik Model pembelajaran Problem Based Learning karakteristik sebagai berikut :
1) Belajar dimulai dengan satu masalah .
2) Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa.
3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan disiplin ilmu
4) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan
menjalankan secara langsung proses belajar.
5) Menggunakan kelompok kecil.
6) Menurut siswa untuk mendemontrasikan yang telah dipelajari untuk bentuk produk atau
kinerja.
Berdasarkan uraian tersebut, tampak jelas bahwa pembelajaran dengan Model Problem Based
Learning dimulai oleh adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru,
kemudian siswa memperdalami pengetahuannya tentang sesuatu yang telah diketahuinya
sekaligus yang perlu diketahuinya untuk untuk memecahkan masalah itu. Siswa juga dapat
memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan, sehingga ia terdorong untuk
berperan aktif dalam belajar. (Sitiatafa : 2013)
Prinsip utama pembelajaran problem Based Learning (PBL) adalah penggunaan masalah
nyata sebagai sarana bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan sekaligus
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah. Masalah
yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat lapangan apabila diselesaikan.
Al-Ihtirafiah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Vol. ..... No. ...... Juni / Desember 202...

Pemilihan atau penentuan masalah nyata dapat dilakukan oleh maupun peserta didik yang
disesuaikan kompetensi dasar tetentu. Masalah ini bersifat terbuka (Open-ended problem),
yaitu masalah yang memilki banyak jawaban atau strategi penyelesaian yang mendorong
keingintahuan peerta didik untuk mengidentifikasi strategi solusi tersebut. (Nurul : 2019)

METODE
Sama seperti sublevel kajian teoretis, sublevel metode penelitian hanya digunakan
untuk naskah artikel dari hasil penelitian, sedangkan untuk naskah artikel dari kajian analisis
kritis atau ulasan buku disesuaikan dengan kebutuhan. Metode penelitian berisi tentang
pendekatan apa yang digunakan, data yang digunakan, cara pengumpulan data, dan cara
analisis data.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Problem Based Learning dihadapi dapat diartikan sebagai suatu rangkaian aktivitas
pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara
ilmiah (Lismaya, 2019). Terdapat 3 ciri utama dari PBL yaitu ; 1) PBL merupakan rangkaian
aktivitas pembelajaran, yang berarti dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang
harus dilakukan oleh siswa. PBL tidak mengajarkan siswa hanya sekedar mendengarkan,
mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif
berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data serta bisa menyimpulkan. 2) aktivitas
pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL menempatkan masalah sebagai
kata kunci dari proses pembelajaran. Yang berarti, tanpa masalah maka tidak mungkin ada
proses pembelajaran. 3) yang terakhir, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan
pendekatan berpikir secara ilmiah. Model PBL sangat relevan dalam konteks pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di tingkat sekolah dasar.
Tujuan utama dari model Problem Based Learning (PBL) adalah untuk membantu
siswa mengembangkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah yang kompleks dan
terkait dengan dunia nyata (Lestari, 2023). Tujuan dari model Problem Based Learning
adalah; a) Mendorong keterampilan berpikir kritis: Melalui PBL, siswa diajak untuk
mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah-masalah yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari. Hal ini akan membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan
berpikir kritis dalam mengevaluasi informasi, membuat keputusan, dan menemukan solusi
yang tepat. b) Meningkatkan keterampilan kolaboratif: PBL memberikan kesempatan bagi
siswa untuk bekerja sama dalam kelompok, berbagi ide, dan mencapai kesepakatan dalam
menyelesaikan masalah. Dengan demikian, mereka dapat mengembangkan keterampilan
kolaboratif, komunikasi, dan kerja tim yang sangat penting dalam dunia nyata. c) Mengaitkan
pembelajaran dengan konteks nyata: Melalui PBL, siswa dapat mengaitkan konsep-konsep
IPAS dengan situasi nyata di sekitar mereka. Hal ini akan membantu mereka untuk
memahami relevansi pembelajaran dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-
hari. d) Meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa: PBL memberikan kesempatan bagi
siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran dengan memecahkan masalah yang
menarik dan relevan bagi mereka. Hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar dan minat
siswa terhadap IPAS. e) Memperkuat keterampilan presentasi dan komunikasi: Melalui PBL,
siswa diajak untuk menyampaikan hasil penelitian dan solusi yang mereka temukan kepada
kelas. Hal ini akan membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan presentasi dan
komunikasi secara lisan maupun tertulis.
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, model Problem
Based Learning (PBL) juga memiliki kelebihan dan kekurangan (Rifai, 2020). Kelebihan
model Problem Based Learning yang harus dicermati diantaranya :
Al-Ihtirafiah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Vol. ..... No. ...... Juni / Desember 202...

1. Siswa akan terbiasa menghadapi masalah (problem posing) dan tertantang untuk
menyelesaikan masalah tidak hanya terkait pembelajaran dikelas akan tetapi siswa
juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari (Kulsum, 2023).
2. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, PBL memungkinkan siswa untuk
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menganalisis masalah, karena
siswa harus mengumpulkan dan mengevaluasi informasi untuk memecahkan
masalah yang diberikan.
3. Meningkatkan motivasi belajar siswa, PBL memungkinkan siswa untuk memilih
masalah yang menarik dan relevan bagi mereka, sehingga dapat meningkatkan
motivasi belajar dan minat siswa dalam materi pelajaran.
4. Meningkatkan kemampuan kolaborasi siswa, PBL mengharuskan siswa bekerja
sama dalam kelompok kecil untuk memecahkan masalah, sehingga dapat
membantu siswa mengembangkan kemampuan kerja tim dan komunikasi (Lestari,
2023).
Kekurangan dari model pembelajaran Problem Based Learning dalam penerapannya
diantaranya yaitu :
1. Siswa tidak memiliki minat atau tidak percaya diri bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk
mencoba (Rifai, 2020).
2. Siswa dengan kemampuan kognitif yang rendah akan kesulitan untuk
mengikuti langkah pembelajaran Problem Based Learning.
3. Guru yang kurang cakap dalam memfasilitasi keberjalanan Problem Based
Learning dapat berdampak pada tidak terpenuhinya tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai.
4. Siswa perlu diberikan motivasi lebih atau alasan mengapa masalah yang
diberikan perlu dipecahkan (Sagita, 2024).
Berdasarkan pendapat diatas, bahwa kelebihan model Problem Based Learning yaitu
dengan pemecahan masalah agar siswa dapat berpikir kritis sehingga sangat efektif
digunakan untuk memahami isi pembelajaran, pemecahan masalah akan membangun dan
juga menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan
pengetahuan baru bagi siswa. Sedangkan kekurangan model Problem Based Learning yaitu
bagi siswa yang kurang minat dalam belajar akan merasa kesulitan dalam memecahkan
masalah yang dihadapinya dan juga akan membuat siswa kurang aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
Adapun penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran IPAS
di sekolah dasar dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Identifikasi masalah: Guru memperkenalkan suatu masalah atau situasi yang


memerlukan pemecahan kepada siswa. Misalnya, masalah terkait dengan lingkungan,
keberlanjutan sumber daya alam, atau perubahan iklim.
2. Penelitian: Siswa diberi kesempatan untuk melakukan penelitian mandiri atau
kelompok terkait dengan masalah yang dihadapi. Mereka dapat mencari informasi
dari berbagai sumber, seperti buku, internet, atau wawancara dengan ahli terkait.
3. Kolaborasi: Siswa bekerja sama dalam kelompok untuk mendiskusikan temuan
penelitian mereka dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Kolaborasi ini akan
mengembangkan keterampilan sosial dan kerja sama di antara siswa.
4. Presentasi: Setelah menemukan solusi yang dianggap paling tepat, siswa diminta
untuk menyampaikan hasil penelitian dan solusi yang mereka temukan kepada kelas.
Hal ini akan membantu mereka untuk mengasah keterampilan berbicara di depan
umum dan menyampaikan argumen secara logis.
Al-Ihtirafiah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Vol. ..... No. ...... Juni / Desember 202...

5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
mereka dan proses-proses yang mereka gunakan (Setyo, 2020).
Dengan menerapkan model PBL dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar,
diharapkan siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-
konsep ilmu pengetahuan alam dan sosial, serta mampu mengaitkan pengetahuan tersebut
dengan situasi nyata di sekitar mereka. Selain itu, model PBL juga dapat membantu siswa
untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan kolaboratif yang sangat
penting dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Dengan demikian, penerapan model PBL dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar
dapat menjadi salah satu upaya yang efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan
mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.

PENUTUP
Penutup berisi kesimpulan yang disertai dengan saran yang relevan. Kesimpulan
harus menjawab rumusan permasalahan yang telah disampaikan pada bagian awal secara
padat, singkat, dan jelas. Kesimpulan dan saran disajikan dalam bentuk paragraf (bukan
dalam bentuk pointer/numbering).

DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka ditulis menggunakan Font Times New Roman, spasi 1.15, 12pt yang ditulis
dengan sistem sitasi American Psychological Association (APA) 6 Edition. Ketentuan:
th

Nama penulis, tahun terbit. Judul buku (dimiringkan), tempat terbit: penerbit
Daftar pustaka yang digunakan disarankan berasal dari referensi terbaru, setidaknya enam
tahun terakhir.

Contoh Daftar Pustaka:


Atmazaki, Ali, N. B. V., Muldian, W., Miftahussururi, Hanifah, N., Nento, M. N., & Akbari,
Q. S. (2017). Panduan gerakan literasi nasional [National literacy movement
guidelines]. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Aunurrahman, Hamied, F., & Emilia, E. (2017). Realizing a good education in an Indonesian
university context. In A. G. Abdullah, I. Hamidah, S. Aisyah, A. A. Danuwijaya, G.
Yuliani, & H. S. H. Munawaroh (Eds.), Ideas for 21st Century Education:
Proceedings of the Asian Education Symposium (AES 2016) (pp. 297–300). London:
Routledge. [Link]

Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kuantitatif:Komunikasi Ekonomi dan


Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Edisi Kedua. Jakarta: Kencana
Prenada Media, 2

Nurul Azizah, Berpikir Kritis Dan Problem Based Learning (Surabaya: Media Sahabat
cendikia, 2019). Hal. 23

Sanjaya Winata, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:


Kencana Prendanamedia Group 2006). h. 214

Sitiatava Rizema Putra, Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. (Jogkakarta: Diva
Press, 2013). Hal. 72-73
Al-Ihtirafiah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Vol. ..... No. ...... Juni / Desember 202...

Trianto. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. (Jakarta: Bumi Aksara). Hal. 27.

__zzzzzwz__zzz_aktif_surd|dd&rtyt

Anda mungkin juga menyukai