0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan9 halaman

Standar Keselamatan Konstruksi Indonesia

Dokumen ini membahas penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) yang mengacu pada ISO 45001:2018 dan Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi untuk menjamin keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan konstruksi. Selain itu, dokumen ini menjelaskan berbagai peraturan dan kebijakan terkait keselamatan konstruksi, serta pentingnya kompetensi, komunikasi, dan evaluasi dalam pelaksanaan SMKK. Pemantauan, audit internal, dan tinjauan manajemen juga ditekankan untuk memastikan efektivitas sistem keselamatan yang diterapkan.

Diunggah oleh

mukhraja
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan9 halaman

Standar Keselamatan Konstruksi Indonesia

Dokumen ini membahas penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) yang mengacu pada ISO 45001:2018 dan Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi untuk menjamin keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan konstruksi. Selain itu, dokumen ini menjelaskan berbagai peraturan dan kebijakan terkait keselamatan konstruksi, serta pentingnya kompetensi, komunikasi, dan evaluasi dalam pelaksanaan SMKK. Pemantauan, audit internal, dan tinjauan manajemen juga ditekankan untuk memastikan efektivitas sistem keselamatan yang diterapkan.

Diunggah oleh

mukhraja
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

B.

Perencanaan keselamatan konstruksi


B.3 Standar dan peraturan perundangan

Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) merupakan bagian dari


sistem manajemen pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi dalam rangka menjamin terwujudnya
Keselamatan Konstruksi. Keselamatan Konstruksi diartikan segala kegiatan keteknikan untuk
mendukung Pekerjaan Konstruksi dalam mewujudkan pemenuhan standar keamanan,
keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan yang menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja keselamatan publik, harta benda, material, peralatan, konstruksi dan lingkungan. SMKK
ini mengadopsi ISO 45001:2018 dengan beberapa penyesuaian, khususnya di sektor jasa
konstruksi Indonesia pasca-terbitnya Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa
Konstruksi.

Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, mengamanatkan pada pasal 3,
bahwa tujuan penyelenggaraan jasa konstruksi diantaranya memberikan arah pertumbuhan
dan perkembangan Jasa Konstruksi untuk mewujudkan struktur usaha yang kukuh, andal,
berdaya saing tinggi, dan hasil Jasa Konstruksi yang berkualitas.

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi;


2. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum pada 12 Pebruari 2009 tentang Kebijakan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja; (Pimpinan dan Pegawai di semua Unit Kerja
Departemen Pekerjaan Umum bersepakat menciptakan dan memelihara lingkungan kerja
yang Selamat dan Sehat)
4. Peraturan Menteri PUPR Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pedoman SMK3 bidang PU;
5. Peraturan Menteri PUPR Nomor 28 Tahun 2016 tentang Pedoman AHSP bidang PU
dimana Biaya SMKK dimasukkan dalam AHSP sesuai dengan SE Menteri PUPR nomor
11 tahun 2019;
6. Permen PUPR Nomor 86 Tahun 2019 membentuk Komite Keselamatan Konstruksi (K2),
meliputi:
a. KKB (Komisi Keamanan Bendungan) melalui Permen PUPR Nomor 27 Tahun 2015,
b. KKJTJ (Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan) melalui Permen PUPR
Nomor 41 Tahun 2015,
c. KKBG (Komite Keselamatan Bangunan Gedung) melalui Permen PUPR Nomor 93
Tahun 2019.
7. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi
11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan
Sistem Manajemen Keselamatam dan Kesehatan Kerja.
12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 92 Tahun 2010 Tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 Tentang Usaha dan Peran
DAFTAR PUSTAKA Masyarakat Jasa konstruksi.
13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah
14. Keputusan Bersama Meneri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor KEP.
174/MEN/1986 NOMOR: 104/KPTS/1986 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
pada Tempat Kegiatan Konstruksi.
15. Keputusan Menaker RI No Kep.42/MEN/III/2008 tentang Penetapan Standar Kompetensi
Kerja Nasional Indonesia Sektor Ketenagakerjaan Bidang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja:
16. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Tranmigrasi Republik Indonesia Nomor 350 Tahun
2014 Tentang Penetapan standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Katagori Jasa
Profesional, Ilmiah dan Teknis Golongan Pokok Jasa Arsitektur dan Teknik Sipil; Analisis
dan Uji Teknis Bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi
17. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor
07 Tahun 2019 Tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi melalui
Penyedia
18. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor
07 Tahun 2019 Tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi melalui
Penyedia
19. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor
11 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Teknis Biaya Penyelenggaraan Sistem Manajemen
Keselamatan Konstruksi (SMK)
C. Dukungan Keselamatan Konstruksi
C.1 Sumber Daya
NO URAIAN PIC WAKTU PELAKSANAAN
Induksi Keselamatan Konstruksi Petugas K3 Setiap minggu
1
(Safety Induction)
Pertemuan pagi hari (Safety Petugas K3 Setiap Hari
2
Monitoring)
Pertemuan kelompok kerja (Toolbox Petugas K3 Setiap Hari
3
Meeting)
Penyedia jasa menyediakan
Pertemuan kelompok kerja (Toolbox Petugas K3 Rambu Peringatan dan APD
4
Meeting) Lengkap

C.2 Kompetensi
Penyedia Jasa harus:
1. Menentukan kompetensi yang diperlukan pekerja yang mempengaruhi atau dapat
mempengaruhi kinerja Keselamatan Konstruksi;
2. Memastikan bahwa pekerja berkompeten (termasuk kemampuan untuk mengidentifikasi
bahaya) berdasarkan pendidikan, pelatihan atau pengalaman;
3. Jika memungkinkan untuk diterapkan, mengambil tindakan untuk memperoleh dan
mempertahankan kompetensi yang diperlukan, dan mengevaluasi efektivitas tindakan
yang diambil;
4. Menyimpan dan memelihara bukti kompetensi sebagai informasi yang terdokumentasi.

C.3 Kepedulian
Pekerja harus mempunyai kepedulian terhadap:
1. Kebijakan dan sasaran Keselamatan Konstruksi;
2. Kontribusi pekerja terhadap keberhasilgunaan efektivitas SMKK, termasuk manfaat
peningkatan kinerja Keselamatan Konstruksi;
3. Implikasi dan konsekuensi yang terjadi apabila pekerjaan konstruksi tidak memenuhi
sesuai dengan persyaratan ketentuan SMKK;
4. Kejadian dan hasil investigasi yang terkait dengan pekerja;
5. Bahaya, risiko dan tindakan Keselamatan Konstruksi yang ditentukan yang terkait dengan
pekerja;
6. Kemampuan untuk melindungi diri pekerja dari situasi kerja yang berpotensi
menghadirkan bahaya yang serius terhadap kehidupan atau kesehatan pekerja; dan
7. Pengaturan untuk melindungi pekerja dari konsekuensi yang tidak semestinya. Untuk
menumbuhkan kepedulian pekerja terhadap Keselamatan Konstruksi, Penyedia Jasa harus
memberikan informasi dan penjelasan kepada pekerja.

C.4 Komunikasi
1. Penyedia Jasa harus menetapkan, menerapkan dan memelihara komunikasi internal dan
eksternal terkait dengan SMKK dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan peraturan lainnya.
2. Komunikasi internal dan eksternal meliputi:
a. Substansi yang dikomunikasikan yakni informasi SMKK termasuk perubahannya;
b. Waktu pelaksanaan komunikasi;
c. Pihak berkepentingan yang perlu dikomunikasikan terdiri dari:
1) Antara Penyedia Jasa dengan seluruh jajarannya;
2) Antara Penyedia Jasa dengan pengunjung; dan
3) Dengan pihak yang berkepentingan lainnya;
d. Cara melakukan komunikasi.
3. Komunikasi internal dilakukan untuk memungkinkan pekerja berkontribusi pada
perbaikan berkesinambungan.
4. Bukti komunikasi harus disimpan dan dipelihara sebagai informasi terdokumentasi.

C.5 Informasi Terdokumentasi


1. SMKK termasuk informasi terdokumentasi dan informasi penting lainnya;
2. Informasi terdokumentasi berisi:
a. Identifikasi dan deskripsi yang terdiri dari judul, tanggal, penulis, nomor referensi, dan
informasi lain yang dibutuhkan;
b. Format (bahasa, versi perangkat lunak, grafik) dan media (kertas, elektronik, atau media
lainnya);
c. Tinjauan ulang dan persetujuan untuk kesesuaian dan kecukupan.
3. Informasi terdokumentasi harus dikendalikan untuk memastikan:
a) Ketersediaan dan kesesuaian untuk digunakan pada saat dibutuhkan;
b) Dilindungi secara memadai terhadap kehilangan, kerahasiaan, penggunaan yang tidak
benar atau penyalahgunaan.
Informasi terdokumentasi dikendalikan dengan cara menentukan:
a. Distribusi, akses, pengambilan dan penggunaan;
b. Penyimpanan dan pemeliharaan, termasuk pemeliharaan untuk tetap terbaca;
c. Pengendalian terhadap perubahan (misalnya pengendalian pada versi penerbitan);
d. Penyimpanan dan disposisi.
D. Operasi Keselamatan Konstruksi
D.1 Perencanaan Operasional

Nama Pekerja : Asrijal


Nama Paket pekerjaan : Rehabilitasi Ruang Kelas Dengan Tingkat Kerusakan
Minimal Sedang Beserta Perabotnya SD Negeri 1 Teubeng
(DAK 2024)
Tanggal Pekerjaan :

Alat Pelindung Diri yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan

1 Topi Pelindung (Safety Helmet); v


2 Pelindung Mata (Googles, Spectacles); v
3 Pelindung Telinga (Ear Plug, Ear Muff); v
4 Pelindung Pernapasan dan Mulut (Masker); v
5 Sarung Tangan (Safety Gloves); v
6 Sepatu Keselamatan (Safety Shoes) v

Uraian Langkah Penanggung


Identifikasi Bahaya Pengendalian
Kerja Jawab
Pekerjaan 1. Terjatuh dari ketinggian Petugas K3
Penutup Atap dan
Plafond 2. Tertimpa material atap Menggunakan Metode
Menyusun
[Link] arus pendek Instruksi kerja -
4. Kecelakaan saat Melakukan pelatihan
pemotongan rangka furing; kerja -Penggunaan APD
5. Kecelakaan pada saat yang sesuai –
pemasangan material plafond Menyediakan Kotak P3K
dan perlengkapan darurat
6. Terkena alat kerja
E. Evaluasi Kerja Keselamatan Konstruksi
E.1 Pemantauan dan evaluasi

BULAN KE
NO. KEGIATAN PIC
1 2 3 4 5 6 7
1 Inspeksi Keselamatan Konstruksi Petugas K3 √ √ √ √
2 Patroli Keselamatan Konstruksi Petugas K3 √ √ √ √
3 Audit Internal Petugas K3 √ √ √ √

A. Pemantauan dan Evaluasi


1 Pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja
Evaluasi kinerja keselamatan konstruksi meliputi kegiatan pemantauan, pengukuran, analisis
dan evaluasi kinerja.
Penyedia jasa harus menetapkan:
a. Hal-hal yang perlu dipantau dan diukur yang meliputi:
1. Tingkat kepatuhan pemenuhan terhadap peraturan dan peraturan lain; perundang-
undangan
2. Penanganan terkait dengan bahaya, risiko, dan peluang yang teridentifikasi;
3. Pencapaian tujuan keselamatan konstruksi; dan
4. Tingkat hasil guna pengendalian dan pelaksanaan.
b. Metode pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja;
c. Kriteria yang akan digunakan untuk mengevaluasi kinerja keselamatan konstruksi;
d. Waktu pemantauan, pengukuran, analisis, dan evaluasi, serta pelaporan;
e. Prosedur pengukuran kinerja Keselamatan Konstruksi.

2 Evaluasi kepatuhan
Evaluasi kepatuhan dilakukan dengan cara:
a. Menentukan frekuensi dan metode evaluasi kepatuhan;
b. Mengevaluasi kepatuhan dan mengambil tindakan jika diperlukan;
c. Menjaga pengetahuan dan pemahaman tentang status kepatuhannya; dan
d. Menyimpan informasi terdokumentasi hasil evaluasi kepatuhan
3 Audit Internal
Penyedia Jasa harus melakukan audit internal untuk memberikan informasi apakah SMKK
telah diterapkan sesuai dengan persyaratan, kebijakan dan tujuan keselamatan konstruksi, dan
telah ditetapkan serta dipelihara secara efektif. Audit internal wajib dilakukan sekurang-
kurangnya 1 (satu) kali dalam jangka waktu 1 (satu) siklus pekerjaan konstruksi.

Kegiatan dalam pelaksanaan audit internal, meliputi:


a. Merencanakan, menetapkan, menerapkan dan memelihara program audit, termasuk
frekuensi, metode, tanggung jawab, konsultasi, persyaratan perencanaan dan pelaporan,
serta hasil audit internal sebelumnya;
b. Menentukan kriteria dan ruang lingkup audit untuk setiap kali pelaksanaan audit;
c. Memilih dan menetapkan auditor yang kompeten, objektif dan tidak memihak;
d. Memastikan bahwa hasil audit dilaporkan kepada pimpinan yang berwenang; pekerja,
dan perwakilan pekerja (jika ada), serta pihak terkait lainnya;
e. Mengambil tindakan untuk mengatasi ketidaksesuaian guna meningkatkan kinerja
keselamatan konstruksi;
f. Menyimpan informasi terdokumentasi sebagai bukti pelaksanaan program audit dan hasil
audit.
E.2 Tinjauan manajemen
1. Pimpinan penyedia jasa harus melakukan kaji ulang sistem manajemen keselamatan
konstruksi untuk memastikan keberlanjutan, kesesuaian, kecukupan dan keefektifannya.
2. Kaji ulang manajemen wajib dilakukan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam jangka waktu
siklus pekerjaan konstruksi.
3. Prosedur tinjauan manajemen.
4. Kaji ulang manajemen harus mencakup:
a. Perubahan dalam isu eksternal dan internal yang terkait dengan sistem manajemen
keselamatan konstruksi, termasuk:
 Kebutuhan dan harapan pihak yang berkepentingan;
 Ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan lainnya;
 Risiko dan peluang;
b. Tingkat pencapaian kebijakan dan tujuan keselamatan konstruksi;
c. Informasi tentang kinerja keselamatan konstruksi, termasuk tren dalam:
 Kejadian, ketidaksesuaian, tindakan korektif dan perbaikan berkelanjutan;
 Pemantauan dan hasil pengukuran;
 Hasil evaluasi kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan peraturan
lainnya;
 Hasil audit
 Konsultasi dan partisipasi pekerja; dan
 Risiko dan peluang;
d. Kecukupan sumber daya untuk memelihara SMKK yang efektif;
e. Komunikasi dengan pihak yang berkepentingan;
f. Peluang untuk peningkatan berkelanjutan.
5. Keluaran kaji ulang manajemen harus mencakup keputusan:
a. Kesesuaian berkelanjutan, kecukupan dan efektivitas SMKK dalam pencapaian hasil yang
diharapkan;
b. Peluang peningkatan berkelanjutan;
c. Kebutuhan untuk perubahan SMKK;
d. Sumber daya yang dibutuhkan;
e. Tindakan yang diperlukan;
f. Peluang untuk meningkatkan integrasi SMKK dengan proses bisnis lainnya; dan
g. Implikasi untuk arah strategis bagi penyedia jasa.
6. Kaji ulang manajemen harus disimpan sebagai informasi terdokumentasi sebagai bukti telah
dilaksanakannya tinjauan manajemen.
7. Hasil tinjauan manajemen harus dikomunikasikan kepada pekerja, dan perwakilan pekerja
(jika ada).

E.3 Peningkatan kinerja keselamatan konstruksi


Penyedia jasa harus meningkatkan kesesuaian, kecukupan dan keefektifan SMKK secara
berkesinambungan melalui upaya:
1. Meningkatkan kinerja keselamatan konstruksi;
2. Mempromosikan budaya SMKK;
3. Mempromosikan partisipasi pekerja dalam melaksanakan tindakan untuk perbaikan secara
berkesinambungan pada SMKK;
4. Mengomnikasikan hasil peningkatan berkesinambungan yang terkait kepada para pekerja dan
perwakilan pekerja; dan memelihara dan menyimpan informasi terdokumentasi sebagai bukti
peningkatan berkesinambungan.

Anda mungkin juga menyukai