BAB I
PENDAHULUAN
A. Etika Politik
Ketika kita melihat dan membaca tentang pristiwa-pristiwa dalam kehidupan
sehari-hari kita seolah dibanjiri oleh sederetan fakta,angka,sudut pandang,dan
biasanya kita akan percaya, atau menerima,beberapa informasi serta
mempertanyakan informasi lainnya. Istilah dari etika adalah watak atau cara
seseorang mengungkapkan dengan apa yang ingin diungkapkan atau ilmu yang
membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral
tertentu,atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab
berhadapan dengan berbagai ajaran moral.
Sedangkan politik adalah seperangkat hipotesa mengenai proses atau institusi
pemerintahan, atau ia juga bisa merujuk pada prinsip-prinsip dan norma-norma
moral yang mengontrol prilaku [Link] kaitan di atas etika politik adalah
suatu prinsip-prinsip atau norma-norma yang mendasari dalam berpolititik atau
pengontrolan prilaku dalam berpolitik.
Selama lebih dari 2000 tahun konsep hukum alam telah memainkan peran yang
cukup besar dalam pemikiran politik dan sosial. Ide bahwa tatanan politik harus
didasarkan atas kode moral yang melampoi waktu dan tempat menjadi kunci bagi
pemahaman etika berpolitik.
Lisa Harrison, edisi pertama/judul “Metodologi Penelitian Politik” /2007 halaman 85
Jika manusia ingin memiliki standar untuk mengukur legitimasi tertinggi
institusi-institusi sosial dan kelayakan prilaku politik atau etika dalam
berpolitik,dia harus berupaya untuk menemukan standar tersebut baik dalam
tatanan obyektif yang tidak terikat dengan kecenderungan manusia harus melihat
pada dirinya sebagai sumber dan penciptanya Etika politik di sini adalah
dimaksudkan ada dalam pengertiannya yang lebih luas. Bukan hanya
berkenaan dengan sistem kenegaraan atau hubungan antar negara misal,
yang mencangkup kehidupan kenegaraan, pemerintahan, penentuan dan
pelaksanaan kebijakan negara tentang berbagai hal menyangkut
kepentingan publik, serta kegiatan-kegiatan lain dari berbagai lembaga
sosial, partai politik dan organisasi keagamaan yang berkaitan langsung
dengan kehidupan kemasyarakatan dan negara yang dibatasi oleh
konsep-konsep negara (state), kekuasaan (power), pengambilan
keputusan (decission making), pembagian (distribution), dan alokasi
(alocation), tetapi di sini pengertian itu diperluas lagi ke dalam tataran
manusia sebagai makhluk yang berpolitik. Secara kasar dapat disebutkan
bahwa segala tindakan manusia atau bahkan manusia itu sendiri tidak
akan lepas dari orientasi dan moda-moda politik. Manusia hidup karena
berpolitik. Secara kodrati sebagai makhluk individual atau sosial
manusia akan memerlukan aturan-aturan atau norma-norma untuk dapat
menjalani hidupnya.
B .Rumusan Masalah
1. Wew
2. Ss
3. Saa
4. Sas
5. Saas
6. Ass
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pancasila Sebagi Sumber Etika Politik
Tataran nilai yang terkandung dalam Pancasila sesuai dengan system nilai dalam
kehidupan manusia. Secara teoritis nilai-nilai pancasila dapat dirinci menurut
jenjang dan jenisnya.
1 .Menurut jenjangnya sebagai berikut:
a. Nilai Religius
Nilai ini menempati nilai yang tertinggi dan melekat atau dimiliki Tuhan Yang
Maha Esa,yaitu nilai yang Maha Agung, Maha Suci, Absolud yang tercermin pada
Sila pertamapancasila yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
b. Nilai Spiritual
Nilai ini melekat pada manusia, yaitu budi pekerti, perangai, kemanusiaan dan
kerohanian yang tercermin pada sila kedua pancasila yaitu ”Kemanusiaan yang
adil dan beradab”.
c. Nilai Vitalitas
Nilai ini melekat pada semua makhluk hidup, yaitu mengenai daya hidup,
kekuatanhidup dan pertahanan hidup semua makhluk. Nilai ini tercermin pada sila
ketiga dan keempat dalam pancasila yaitu “Persatuan Indonesia” dan “Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”
Rahman, Budhi Munawar, Ensiklopedia Cak Nur, Jakarta; Paramadina,
2007 halaman 60
d. Nilai Moral
Nilai ini melekat pada prilaku hidup semua manusia, seperti asusila, perangai,
akhlak,budi pekerti, tata adab, sopan santun, yang tercermin pada sila kedua
Pancasila yaitu“Kemanusiaan yang adil dan Beradab”.
e. Nilai Materil
Nilai ini melekat pada semua benda-benda dunia. Yang wujudnya yaitu jasmani,
badani, lahiriah, dan kongkrit. Yang tercermin dalam sila kelima pancasila yakni
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
2. Menurut jenisnya sebagai berikut:
a. Nilai Ilahiah ialah nilai yang dimiliki Tuhan Yang Maha Esa, yang
melekat pada manusia yaitu berwujud harapan, janji, keyakinan,
kepercayaan, persaudaraan, persahabatan.
b. Nilai Etis ialah nilai yang dimiliki dan melekat pada manusia, yaitu
berwujudkeberanian, kesabaran, rendah hati, murah hati, suka menolong,
kesopanan,keramahan.
c. Nilai Estetis melekat pada semua makhluk duniawi, yaitu berupa
keindahan,seni, kesahduan, keelokan, keharmonisan.
d. Nilai Intelek yaitu melekat pada makhluk manusia, berwujud ilmiah,
rasional, logis, analisis, akaliah. Selanjutnya secara konsepsional nilai-
nilai yang terkandung dalam pancasila terdiri dari nilai dasar, nilai
instrumental, nilai praksis.
Rahman, Budhi Munawar, Ensiklopedia Cak Nur, Jakarta; Paramadina,
2007 halaman 60