0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan28 halaman

Jannor Coffee Bhayangkara: Profil & Menu

Laporan ini menyajikan hasil observasi manajemen operasional Kafe Jannor, yang telah beroperasi sejak 2019 dan baru membuka outlet ketiga pada 2025. Kafe ini menawarkan berbagai menu kopi dan makanan dengan konsep eco-friendly, serta menggunakan teknologi modern untuk pengelolaan operasional dan pemasaran. Selain itu, laporan juga membahas pengelolaan sumber daya manusia, efisiensi penggunaan bahan baku, serta penerapan standar kualitas untuk menjaga kepuasan pelanggan.

Diunggah oleh

rivaljunivan05
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan28 halaman

Jannor Coffee Bhayangkara: Profil & Menu

Laporan ini menyajikan hasil observasi manajemen operasional Kafe Jannor, yang telah beroperasi sejak 2019 dan baru membuka outlet ketiga pada 2025. Kafe ini menawarkan berbagai menu kopi dan makanan dengan konsep eco-friendly, serta menggunakan teknologi modern untuk pengelolaan operasional dan pemasaran. Selain itu, laporan juga membahas pengelolaan sumber daya manusia, efisiensi penggunaan bahan baku, serta penerapan standar kualitas untuk menjaga kepuasan pelanggan.

Diunggah oleh

rivaljunivan05
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN HASIL OBSERVASI MANAJEMEN OPERASIONAL

Laporan ini Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Penilaian Tugas

Mata Kuliah Manajemen Operasional

Dosen Pengampu :

Lika Yulia, S.T.,M.M.

Disusun Oleh :

1. Rival Junivan Putra (223347)


2. A. Ichdal Umam Wachid (223359)
3. M. Rifki (223256)
4. M. Hopid Rohmatulloh (223103)
5. Rifal Aprijan (223505)
6. Irma Dayani (223341)
BAB I
PROFIL TEMPAT USAHA

A. Nama dan Sejarah Tempat Usaha

Sejarah jannor

Kafe yang sudah hadir pertama kali di Kota Cilegon sejak tahun 2019 ini, memiliki menu best
seller yang sudah terkenal oleh masyarakat di Kota Serang, yakni kopi susu jannor. Ini adalah
outlet pertama jannor Dan outlet kedua jannor berada di jalan 45 kaujon serang banten yang
berdiri pada hari minggu, 29 Agustus 2021. Dan outlet ketiga jannor Jalan Bhayangkara
(Samping Kantor Kecamatan Cipocok Jaya), Kota Serang di awal tahun 2025 dengan menyasar
segmen yang lebih luas.

Store Manager Jannor Coffee Anastasya Larawati mengatakan, bentuk inovasi yang dilakukan
ialah membuka kafe lebih awal mulai dari pukul 07.00 WIB, sehingga konsumen yang ingin
sarapan bisa mengunjungi kafe tersebut.
"Kami ingin menjadi kafe yang menyasar segmen yang lebih banyak lagi lebih banyak
customer yang kita ambil, karena tren ini sudah berkembang di Jakarta, setelah olahraga
konsumen sarapan di kafe," kata Riki NurAmbia.

Inovasi sarapan yang baru digagas tiga bulan lalu juga terbilang banyak diminati oleh
pengunjung, salah satu menu yang andalan yang dimiliki oleh Jannor Coffee ialah grill cheese.
"Ini jadi menu andalan kami, roti dengan isian keju dilengkapi saus tomat dan chips kentang,
selain membuat kenyang juga menjadi menu yang sehat," imbuhnya.

Jannor Coffee sendiri, merupakan kepanjangan dari Jungle Noor yang memiliki arti hutan
bercahaya. Cocok dengan konsep kafe yang menempatkan aneka pohon dan tanaman hijau.
"Jadi bukan hanya konsep industrial, kami mengusung konsep eco frendly tanaman yang ada
di ruangan semua hidup, sehingga bisa nyaman seperti di rumah sendiri," jelas Riki.
"Banyak konsumen yang suka juga, karena nyaman di lambung dan tidak terlalu strong. Untuk
harga kita mulai dari Rp28 ribu sampai Rp50 ribu termasuk menu makanan yang disediakan,"
jelasnya.

Selain itu, ada beberapa area yang bisa dipilih oleh pengunjung, baik untuk aktivitas bekerja
maupun hanya sekedar nongkrong saja dengan kapasitas hingga 100 orang.
"Kita punya area meeting, roof top, outdoor, dan area indoor, jadi banyak pilihan untuk
berbagai aktivitas disini. Kalau untuk tutup kita sampai jam 23.00 WIB," ujar Tasya.

Pengunjung kafe Jannor Coffee terbilang cukup tinggi, berdasarkan dua outlet sebelumnya
yang berlokasi di Kaujon dan Cilegon tempat tersebut dikunjungi 100 orang per hari.
"Ini juga menjadi alasan kita buka di Bhayangkara, supaya konsumen yang ada di Ciruas
maupun di Pakupatan bisa datang ke kafe tanpa perlu jauh lagi," kata Tasya.

• Jenis Usaha : Cafe


• Lokasi : Jl. Bhayangkara (samping kantor kecamatan Cipocok jaya). Alasan memilih
lokasi pada outlet ke tiga jannor ini dikarenakan lebih dekat dari tempat tinggal kami
para peneliti.
• Tahun berdiri : Jannor berdiri pada tahun 2019 pertama kali dan outlet yang kami pilih
yaitu pada outlet ketiga jannor yang baru saja launching pada awal tahun 2025.
• Jumlah karyawan Jannor bhayangkara :18
BAB II
Deskripsi Proses Operasional
A. Produk/Jasa Yang ditawarkan
Jannor Coffee menawarkan berbagai pilihan menu yang menarik untuk pelanggan.
Berikut adalah beberapa produk yang tersedia di kafe ini:
Minuman:
• Kopi: Terdapat berbagai jenis kopi seperti monochrome iced coffee, piccolo, dan
mochaccino.
• Minuman Non-Kopi: Termasuk greentea, chocolate, dan red velvet, dengan pilihan
ukuran hingga 1 liter yang dapat dicustom sesuai selera pelanggan13.
Makanan:
• Makanan Berat:
• Chicken pop rice bowl
• Spaghetti bolognese
• Gyudon Japanese rice bowl
• Makanan Ringan: Cheesy scrambled eggs dan berbagai pilihan lainnya.

B. Tahapan Utama Dalam Proses Produksi


• Tahapan utama produksi
• Planning pembukaan:
Buka jam 7 pagi, sebelum jam 7 udah prepare.
Setengah 6 prepare untuk mencetak tabel, prepare mesin kopi, cleaning area.
• Evaluasi = kekurangan kapasitas tempat, evaluasinya waiting list jika sudah
memenuhi kapasitas 80%.
• Prepare biji kopi untuk membuat expreso.
• Alat penggunaan teknologi: menggunakan lamar zoko, mocca, tablet, printer.

C. Sistem Pengelolaan Persediaan Bahan Baku, Barang Jadi


Bahan baku di kafe mencakup:
Bahan segar: Kopi, susu, buah, sayuran, daging, telur
Bahan kering: Gula, tepung, cokelat bubuk, bumbu
Minuman dan sirup: Teh, sirup, soda
Kemasan dan perlengkapan: Gelas, sedotan, tisu
Persediaan Barang Jadi
Produk yang sudah siap disajikan atau setengah jadi, seperti roti yang telah
dipanggang atau minuman dalam botol siap [Link].
D. Penggunaan teknologi dalam operasional (otomatisasi,software,dll.)
Sistem Kasir Digital (Point of Sale - POS)
Sistem POS membantu mencatat transaksi, mengelola stok, dan menghasilkan laporan
keuangan secara otomatis. Beberapa contoh aplikasi POS yang sering digunakan di
kafe:
MokaPOS – Terintegrasi dengan pembayaran digital dan pengelolaan inventaris.
Pawoon – Memiliki fitur multi-cabang dan pencatatan stok real-time.
iReap POS – Cocok untuk UMKM dengan fitur pelacakan stok dan laporan harian.
Aplikasi Manajemen Inventaris
Menggunakan aplikasi untuk mengelola stok bahan baku dan barang jadi dapat
membantu mengurangi pemborosan dan memastikan ketersediaan bahan.
Stock Inventory Apps – Seperti Zoho Inventory, iReap, atau bahkan Google Sheets
untuk pencatatan manual.
Fitur POS yang Terintegrasi dengan Stok – Seperti di MokaPOS atau Pawoon, yang
langsung mengurangi stok setelah transaksi.
Pemesanan Online dan Reservasi Digital
Aplikasi pemesanan makanan – Seperti GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood,
memungkinkan pelanggan memesan tanpa datang langsung ke kafe.
Sistem reservasi online – Seperti OpenTable atau fitur reservasi di website kafe.
Teknologi Pembayaran Digital
QRIS, E-Wallet (OVO, GoPay, Dana), Kartu Debit/Kredit – Mempermudah pelanggan
dalam bertransaksi.
Self-Checkout Kiosk – Pelanggan dapat memesan dan membayar sendiri tanpa harus
antre di kasir.
Otomatisasi di Dapur dan Barista
Mesin kopi otomatis – Seperti La Marzocco atau Simonelli, yang membantu barista
menyajikan kopi dengan kualitas konsisten.
Kiosk self-order – Pelanggan dapat memesan langsung di mesin tanpa perlu antre di
kasir.
Display Kitchen System – Layar digital yang menampilkan pesanan secara langsung di
dapur untuk mempercepat penyajian.
Pemasaran Digital & Loyalitas Pelanggan
Media sosial & website – Instagram, Facebook, dan Google My Business membantu
promosi kafe.
Sistem loyalty card digital – Seperti aplikasi member dengan poin reward untuk
pelanggan setia.
Email & WhatsApp marketing – Mengirim promo dan informasi terbaru ke pelanggan.
BAB III
Manajemen Sumber Daya

A. Pengelolaan sumber daya manusia : pelatihan, pembagian tugas, jadwal kerja


pelatihan= ( melakukan training 1 minggu)
Pembagian tugas = ( pramusaji, barista, kitchen)
Perawatan = perawatan mesin 1 minggu sekali.
Efesiensi penggunaan bahan baku = penggunaan bahan baku dilakukan sesuai sop
yang diterapkan.
Perawatan Peralatan
Jadwal Pemeliharaan Rutin: Buatlah jadwal pemeliharaan untuk semua peralatan,
seperti mesin kopi dan alat masak, agar tetap berfungsi dengan baik. Hal ini
mencegah kerusakan yang dapat mengganggu operasional kafe4.
Checklist Pemeliharaan: Gunakan checklist untuk memastikan semua peralatan
diperiksa secara berkala. Ini termasuk pembersihan dan penggantian.
Penjadwalan Penggunaan
Pengaturan Jadwal Staf: Pastikan ada sistem penjadwalan yang baik untuk staf agar
selalu tersedia saat dibutuhkan, terutama pada jam sibuk atau acara khusus.
Koordinasi Penggunaan Fasilitas: Atur penggunaan ruang dan peralatan secara efisien,
sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam penggunaan fasilitas oleh berbagai tim,
seperti dapur dan barista.
Standar Operasional Prosedur (SOP)
Penyusunan SOP: Buat SOP yang jelas untuk pengelolaan fasilitas dan peralatan,
sehingga setiap staf tahu prosedur yang harus diikuti.
Pelatihan Staf: Berikan pelatihan kepada staf mengenai penggunaan dan pemeliharaan
peralatan untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi kerja.

B. Efisiensi penggunaan bahan baku dan sumber daya lainnya


Pengelolaan Persediaan yang Baik
Memastikan bahan baku, seperti biji kopi, gula, dan susu, dikelola dengan baik agar
tidak terbuang. Menggunakan sistem inventaris yang tepat dapat mengurangi
pemborosan dan memastikan bahan baku selalu tersedia dalam jumlah yang sesuai
dengan permintaan.
Pemilihan Bahan Baku Berkualitas dengan Harga Terjangkau
Menyediakan bahan baku berkualitas tinggi namun dengan harga yang kompetitif dapat
meningkatkan efisiensi biaya. Dalam hal ini, hubungan yang baik dengan pemasok dan
negosiasi harga yang menguntungkan menjadi sangat penting.
pengurangan Pemborosan dalam Proses Produksi
Menggunakan peralatan yang efisien dan menjaga agar semua mesin berfungsi dengan
baik dapat mengurangi kerugian bahan baku. Selain itu, pelatihan karyawan untuk
menggunakan alat dengan benar juga dapat mengurangi pemborosan.
Optimasi Penggunaan Energi
Menggunakan sumber daya energi secara efisien, misalnya dengan menggunakan
mesin espresso hemat energi atau mengoptimalkan penggunaan air, dapat membantu
mengurangi biaya operasional dan dampak lingkungan.
Penggunaan Bahan Kemasan Ramah Lingkungan
Jika Coffe Jannor menggunakan kemasan sekali pakai, beralih ke kemasan yang dapat
didaur ulang atau biodegradable bisa mengurangi dampak lingkungan serta memberi
kesan positif pada konsumen yang peduli lingkungan.
Pemanfaatan Teknologi untuk Monitoring dan Analisis
Menggunakan perangkat lunak untuk memantau penggunaan bahan baku, serta
menganalisis data penjualan, dapat membantu mengatur produksi sesuai dengan
permintaan, sehingga mengurangi pemborosan.
Dengan menerapkan efisiensi dalam penggunaan bahan baku dan sumber daya, Coffe
Jannor dapat menurunkan biaya, mengurangi limbah, dan pada akhirnya meningkatkan
profitabilitas serta daya saing.
BAB IV
Pengendalian Kualitas

A. Pemastian Produk Perusahaan


1. Standar Operasional Prosedur (SOP)
Perusahaan harus menyusun SOP yang jelas dan terperinci untuk setiap proses
produksi. Ini mencakup langkah-langkah dalam pemilihan bahan baku, pengolahan,
hingga penyajian. SOP membantu menjaga konsistensi dan kualitas produk.
2. Pelatihan Karyawan
Pelatihan rutin bagi karyawan, terutama bagi barista dan staf produksi, sangat penting.
Ini memastikan bahwa semua karyawan memahami standar kualitas yang diharapkan
dan dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik.
3. Pengendalian Kualitas
Metode seperti Seven Tools dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dapat
digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi cacat dalam produk.
Dengan cara ini, perusahaan dapat melakukan perbaikan berkelanjutan untuk
mengurangi kesalahan.
4. Pemantauan Bahan Baku
Kualitas bahan baku sangat mempengaruhi hasil akhir produk. Oleh karena itu, penting
untuk melakukan kontrol terhadap penerimaan dan penyimpanan bahan baku agar tetap
segar dan sesuai standar.
5. Konsistensi Rasa
Menjaga konsistensi rasa adalah kunci untuk kepuasan pelanggan. Ini dapat dilakukan
dengan cara kalibrasi ulang peralatan secara berkala dan menerapkan resep standar.
6. Umpan Balik Pelanggan
Mengumpulkan umpan balik dari pelanggan melalui survei atau review online dapat
memberikan wawasan berharga tentang kualitas produk dan pelayanan. Hal ini
memungkinkan perusahaan untuk melakukan perbaikan jika diperlukan.

B. Standar Kualitas yang Diterapkan


1. ISO 22000:2018
Standar ini berfokus pada sistem manajemen keamanan pangan (Food Safety Management
System - FSMS). ISO 22000 menetapkan persyaratan untuk memastikan bahwa makanan yang
disajikan aman untuk dikonsumsi, dengan mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya yang
mungkin ada di seluruh rantai pasokan makanan.

2. ISO 9001:2015
Standar ini berkaitan dengan sistem manajemen mutu (Quality Management System - QMS).
ISO 9001 membantu kafe dalam mengatur prosedur untuk memastikan bahwa produk dan
layanan memenuhi standar kualitas yang konsisten, sehingga meningkatkan kepuasan
pelanggan.
3. ISO 14001:2015
Standar ini berfokus pada sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System
- EMS). ISO 14001 membantu kafe dalam mengelola dampak lingkungan dari operasional
mereka, mendukung keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan.

4. ISO 45001:2018
Meskipun lebih terkait dengan kesehatan dan keselamatan kerja, penerapan standar ini penting
untuk memastikan keselamatan karyawan di kafe, terutama dalam lingkungan kerja yang
melibatkan risiko fisik.

C. Berikut adalah prosedur penanganan komplain yang lebih deskriptif untuk sebuah kafe,
seperti Coffee Jannor
• Mendengarkan dengan Empati: Prosedur pertama yang penting dalam menangani
komplain adalah mendengarkan keluhan pelanggan dengan penuh perhatian. Ketika
seorang pelanggan mengungkapkan masalah mereka, staf kafe harus benar-benar fokus
pada apa yang dikatakan tanpa menginterupsi. Sikap ini menunjukkan bahwa kafe
peduli dengan pengalaman pelanggan dan siap untuk menyelesaikan masalah.
Mendengarkan dengan empati adalah kunci untuk menciptakan suasana yang lebih
nyaman bagi pelanggan yang merasa kecewa atau tidak puas.

Contoh: Misalnya, jika pelanggan mengeluh tentang rasa kopi yang terlalu pahit, staf
dapat mengatakan, "Terima kasih sudah memberitahukan kami. Kami sangat menyesal
mendengar Anda tidak puas dengan rasa kopi yang kami sajikan. Kami akan segera
memperbaiki situasi ini."

• Mencatat Keluhan dengan Rinci: Setelah mendengarkan keluhan pelanggan, langkah


selanjutnya adalah mencatat semua detail penting yang terkait dengan masalah yang
mereka alami. Hal ini tidak hanya membantu memastikan bahwa tidak ada informasi
yang terlupakan, tetapi juga penting untuk menindaklanjuti keluhan tersebut dan
menganalisis pola masalah di masa depan. Dalam proses ini, staf dapat mencatat apakah
keluhan tersebut berkaitan dengan rasa produk, kebersihan, kecepatan layanan, atau
masalah lainnya.
Contoh: Jika pelanggan mengeluhkan kebersihan meja atau ketidak nyamanan suhu
ruangan, staf dapat mencatat, "Meja 3 kotor," atau "Suasana terlalu panas." Pencatatan
yang rinci akan membantu tim kafe mengetahui masalah yang sering muncul.

• Memverifikasi Masalah dan Memahami Ekpektasi Pelanggan: Setelah mendengarkan


keluhan dan mencatat detailnya, penting untuk memverifikasi masalah tersebut dengan
pelanggan. Langkah ini memastikan bahwa staf benar-benar memahami keluhan dan
apa yang diinginkan pelanggan sebagai solusi. Tanyakan dengan sopan dan pastikan
untuk menanyakan lebih lanjut jika ada yang kurang jelas.

Contoh: "Apakah yang Anda maksudkan adalah rasa kopi yang terlalu pahit? Apa ada
hal lain yang membuat Anda kurang puas dengan pelayanan kami? Kami ingin
memastikan bahwa kami bisa memberi solusi yang tepat."

• Menawarkan Solusi yang Memadai dan Sesuai Harapan:


Setelah memverifikasi masalah, langkah berikutnya adalah menawarkan solusi yang
sesuai. Ini sangat bergantung pada jenis masalah yang dihadapi dan apa yang
diharapkan pelanggan. Misalnya, jika masalah berkaitan dengan kualitas makanan atau
minuman, tawarkan penggantian produk. Jika ada kesalahan dalam layanan, beri
penjelasan atau permintaan maaf yang tulus, dan tawarkan solusi seperti diskon atau
layanan gratis untuk menunjukkan bahwa kafe serius memperbaiki kesalahan.

Contoh: Jika pelanggan mengeluh tentang rasa kopi yang kurang sesuai dengan harapan
mereka, staf bisa mengatakan, "Kami akan membuatkan Anda kopi baru dengan rasa
yang lebih sesuai dengan selera Anda. Sebagai permintaan maaf, kami juga akan
memberikan potongan harga untuk pesanan ini."

• Dokumentasi Komplain dan Solusinya:


Setiap komplain yang masuk, beserta solusi yang diberikan, perlu didokumentasikan
dengan baik. Ini sangat membantu untuk mengidentifikasi tren atau pola keluhan yang
mungkin terjadi di masa depan, serta menjadi bahan evaluasi dalam perbaikan layanan.
Dokumentasi ini tidak hanya berguna bagi staf yang menangani komplain, tetapi juga
memberikan wawasan kepada manajemen kafe mengenai area-area yang perlu
perhatian khusus.

Contoh: Membuat laporan bulanan tentang jumlah komplain yang diterima, kategori
komplain (misalnya kualitas makanan, pelayanan, kebersihan), serta bagaimana setiap
masalah diselesaikan).
BAB V
Pengelolaan Kapasitas
A. Kapasitas Produksi/hari/bulan
1. Kapasitas Produksi Per Hari
Kapasitas produksi per hari dapat dihitung berdasarkan jumlah pelanggan yang datang ke kafe,
jenis pesanan yang mereka buat, dan waktu operasional kafe. Misalnya:
• Jumlah Pelanggan: Jika kafe buka dari pukul 08.00 hingga 20.00, dengan perkiraan 50
pelanggan per jam (tergantung pada lokasi dan popularitas kafe), kafe bisa melayani
sekitar 600 pelanggan per hari.
• Jumlah Pesanan per Pelanggan: Setiap pelanggan mungkin memesan satu hingga dua
produk, misalnya satu kopi dan satu makanan ringan. Jadi, kafe bisa memproduksi
sekitar 600 hingga 1.200 produk per hari (berdasarkan pesanan makanan dan
minuman).

2. Kapasitas Produksi Per Bulan


Untuk menghitung kapasitas per bulan, kita cukup mengalikan kapasitas per hari dengan
jumlah hari operasional dalam sebulan.
• Jumlah Hari Operasional: Misalnya, jika kafe buka setiap hari, maka dalam sebulan ada
sekitar 30 hari operasional.
• Perkiraan Produksi Bulanan: Jika kafe memproduksi sekitar 600 hingga 1.200 produk
per hari, maka kapasitas produksi per bulan bisa berkisar antara 18.000 hingga 36.000
produk.

3. Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Produksi


Jenis Menu: Kafe yang hanya menjual kopi mungkin memiliki kapasitas produksi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kafe yang juga menawarkan makanan berat atau menu khusus.
• Ukuran Staf: Jumlah barista, koki, dan pelayan yang ada di kafe sangat memengaruhi
kecepatan dan jumlah pesanan yang dapat diproses setiap hari.
• Peralatan: Peralatan seperti mesin espresso, oven, dan alat pemanggang bisa membatasi
jumlah produksi, terutama jika peralatan tersebut memerlukan waktu pemanasan atau
pemrosesan yang lama.
• Musiman: Permintaan cenderung berubah sepanjang tahun, dengan lonjakan
permintaan pada akhir pekan, musim liburan, atau selama acara khusus.
• Jenis Menu: Kafe yang hanya menjual kopi mungkin memiliki kapasitas produksi yang
lebih tinggi dibandingkan dengan kafe yang juga menawarkan makanan berat atau
menu khusus.

4. Perkiraan kasar
• Per hari 600-1.200 produk.
• Per Bulan 18.000-36.000 produk
BAB VI
Perencanaan dan Pengendalian Produksi
A. Sitem yang digunakan cafe Janoor (mengguanakan Just In Time).
1. Pengelolaan Persediaan Minimum: Bahan baku seperti kopi, susu, dan bahan lainnya
hanya dipesan saat diperlukan, sesuai permintaan pelanggan. Hal ini mengurangi biaya
penyimpanan dan risiko pemborosan bahan yang rusak atau kedaluwarsa.

2. Penjadwalan Produksi Tepat Waktu: Produksi minuman atau makanan dilakukan


hanya setelah pesanan diterima. Dengan demikian, tidak ada produk yang dibuat
berlebih atau tidak terjual.

3. Kerja Sama dengan Pemasok: Cafe Janoor dapat menjalin hubungan erat dengan
pemasok untuk memastikan bahan baku dikirim tepat waktu dan dalam jumlah yang
sesuai kebutuhan.

4. Peningkatan Kualitas Produk: Dengan persediaan minimum, fokus pada kualitas


bahan baku menjadi lebih penting untuk menghindari cacat produk yang dapat
mengganggu operasional.

B. Pengendalian Produksi di Cafe Janoor


Pengawasan
1. Standar Operasional Prosedur (SOP): Kafe perlu menetapkan SOP yang jelas untuk
setiap proses produksi, mulai dari pemilihan bahan baku hingga penyajian. Ini
membantu memastikan konsistensi dan kualitas produk.

2. Pemeriksaan Kualitas: Melakukan pemeriksaan berkalaterhadap bahan baku dan


produk akhir menggunakan alat seperti check sheet dan peta kendali untuk
memantau kualitas dan mendeteksi cacat.

Pelaporan
1. Dokumentasi Produksi: Setiap proses produksi harus didokumentasikan, termasuk
jumlah produk yang dihasilkan, cacat yang ditemukan, dan waktu produksi. Ini
membantu dalam melacak kinerja dan mengidentifikasi masalah.
2. Laporan Kualitas: Menghasilkan laporan berkala tentang kualitas produk dan
kecacatan yang terjadi, serta langkah-langkah perbaikan yang diambil. Laporan ini
bisa digunakan untuk evaluasi manajemen.

Analisis
1. Analisis Data: Menggunakan metode analisis statistik seperti Diagram Pareto dan
Fishbone Diagram untuk mengidentifikasi penyebab utama dari kecacatan produk.
Ini membantu dalam merumuskan strategi perbaikan yang tepat.

2. Evaluasi Kinerja: Secara rutin mengevaluasi kinerja produksi berdasarkan data


yang dikumpulkan untuk menentukan apakah standar kualitas tercapai dan untuk
mengidentifikasi area yang memerlukan peningkatan.

C. Penggunaan data Evaluasi proses Oprasional


Pengumpulan Data

1. Data Penjualan: Mencatat semua transaksi penjualan untuk menganalisis produk yang paling
laris dan waktu puncak kunjungan pelanggan.

2. Data Persediaan: Memantau jumlah bahan baku yang masuk dan keluar untuk menghindari
kelebihan atau kekurangan stok.

3. Umpan Balik Pelanggan: Mengumpulkan umpan balik dari pelanggan melalui survei atau
media sosial untuk memahami kepuasan dan harapan mereka.

Analisis Data

1. Analisis Kinerja Penjualan: Menggunakan data penjualan untuk mengevaluasi tren dan pola,
membantu dalam perencanaan menu dan promosi.

2. Analisis Persediaan: Mengidentifikasi bahan baku yang sering terbuang atau tidak terpakai,
memungkinkan penyesuaian dalam pemesanan.
3. Analisis Umpan Balik: Menggunakan metode seperti Fishbone Diagram untuk
mengidentifikasi masalah yang dihadapi pelanggan dan mencari solusi yang tepat.

Implementasi Perbaikan

1. Perbaikan Proses Operasional: Berdasarkan analisis, melakukan perubahan pada proses


penyajian atau pengolahan makanan untuk meningkatkan efisiensi.

2. Pelatihan Karyawan: Memberikan pelatihan kepada staf berdasarkan temuan dari analisis
data untuk meningkatkan layanan pelanggan.

3. Pengembangan Menu: Mengadaptasi menu berdasarkan preferensi pelanggan yang


teridentifikasi dari data penjualan dan umpan balik.
BAB VII
Penerapan Lean Manufacturing/Servis (Jika Relevan)
BAB VIII
Pengolaan Logsitik dan Rantai Pasok
A. Proses pengadaan bahan baku
1. Pengecekan Ketersediaan Bahan Baku: Kepala dapur melakukan pengecekan rutin untuk
memastikan ketersediaan bahan baku yang ada dan menentukan kebutuhan yang harus dipesan.

2. Penyusunan Daftar Bahan Baku: Setelah pengecekan, kepala dapur menyusun daftar bahan
baku yang diperlukan beserta jumlahnya berdasarkan analisis penjualan dan kebutuhan menu.

3. Penganggaran Pembelian: Manajer keuangan memberikan anggaran untuk pembelian bahan


baku setelah menyetujui daftar yang disiapkan oleh kepala dapur, memastikan bahwa anggaran
sesuai dengan kebutuhan.

4. Proses Pemesanan: Staf pembelian melakukan pemesanan bahan baku baik secara online
maupun langsung kepada pemasok. Jika pemesanan dilakukan secara online, staf menghubungi
pemasok melalui aplikasi pesan atau email.

5. Penerimaan dan Pemeriksaan Bahan Baku: Setelah bahan baku diterima, kepala dapur
melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa semua item sesuai dengan pesanan dan
dalam kondisi baik.

6. Penyortiran dan Penyimpanan: Bahan baku yang diterima disortir dan disimpan di tempat
yang sesuai untuk menjaga kualitasnya, seperti lemari atau rak dapur.

7. Pencatatan Persediaan: Kepala dapur mencatat semua bahan baku yang diterima dalam form
inventory kitchen untuk memantau persediaan secara akurat.

8. Laporan Pembelian: Manajer keuangan menyusun laporan pembelian (purchase report)


berdasarkan bukti transaksi untuk evaluasi dan perencanaan ke depan.

B. Proses Distribusi dan Pengantaran


1. Pemesanan oleh Pelanggan
Pelanggan dapat melakukan pemesanan melalui aplikasi pemesanan online seperti Gojek
(GoFood) dan Grab (GrabFood) atau langsung di [Link] aplikasi, pelanggan memilih
menu yang diinginkan dan melakukan pembayaran.

2. Penerimaan Pesanan
Staf kafe menerima pesanan yang masuk melalui aplikasi atau secara langsung.
Pesanan dicatat dan diproses sesuai dengan urutan masuknya.

3. Persiapan Produk
Setelah pesanan diterima, dapur mulai mempersiapkan produk sesuai dengan spesifikasi yang
dipesan.
Kualitas bahan baku dan metode penyajian diperhatikan untuk memastikan kepuasan
pelanggan.

4. Pengemasan
Produk yang telah disiapkan dikemas dengan baik untuk menjaga kualitas dan kebersihan,
terutama untuk minuman dan makanan yang sensitif terhadap suhu.

5. Pengiriman
Untuk pesanan yang dilakukan melalui aplikasi, pihak kafe menyerahkan pesanan kepada
driver ojek online yang akan mengantarkan ke alamat pelanggan.
Jika pengiriman dilakukan secara internal, staf kafe akan mengantarkan pesanan langsung ke
pelanggan.

6. Pelacakan Pengiriman
Pelanggan dapat melacak status pengiriman melalui aplikasi, memberikan transparansi
mengenai waktu kedatangan produk.

7. Umpan Balik Pelanggan:


Setelah menerima pesanan, pelanggan didorong untuk memberikan umpan balik mengenai
kualitas produk dan layanan.
Umpan balik ini digunakan untuk perbaikan layanan dan produk di masa mendatang.
C. Kordinasi Supplier dan Distributor
1. Pemilihan Supplier:
Memilih supplier yang dapat memenuhi standar kualitas bahan baku, seperti biji kopi, susu,
atau bahan lainnya, dengan konsistensi dan ketepatan waktu pengiriman, Mempertimbangkan
lokasi geografis supplier untuk mengurangi biaya transportasi dan mempercepat pengiriman
“kata Anastasya Larawati Manager Coffe Janoor”

2. Komunikasi Rutin:
Mengadakan komunikasi rutin melalui pertemuan langsung atau media digital untuk
membahas kebutuhan bahan baku, fluktuasi harga, dan jadwal pengiriman, Berbagi informasi
pasar dengan supplier untuk membantu mereka memahami kebutuhan Cafe Janoor secara lebih
baik.

3. Evaluasi Kinerja Supplier:


Secara berkala mengevaluasi keandalan supplier dalam hal kualitas, ketepatan waktu, dan
fleksibilitas dalam menangani perubahan permintaan.

A. Koordinasi dengan Distributor


Perencanaan Logistik
Menyusun rute distribusi yang optimal untuk mengurangi biaya pengiriman dan memastikan
produk sampai tepat waktu kepada pelanggan. Menggunakan jasa distributor terpercaya yang
berpengalaman dalam pengiriman produk makanan dan minuman.

Integrasi Sistem Informasi


Menggunakan teknologi seperti sistem pelacakan pengiriman untuk memantau status distribusi
secara real-time dan meningkatkan transparansi dalam rantai pasok.

Kolaborasi Strategis
Menjalin hubungan jangka panjang dengan distributor untuk memastikan pengelolaan stok
yang efisien dan respons cepat terhadap perubahan permintaan pasar.
BAB IX
Strategi Oprasional dalam Menghadapi Persaingan
A. Persaingan Pasar
Cafe Janoor menanggapi persaingan pasar dengan berbagai strategi yang dirancang untuk
meningkatkan daya saing dan menarik pelanggan.
• Strategi Diferensiasi
Menu Unik: Cafe Janoor menawarkan menu yang berbeda dan inovatif, termasuk pilihan
makanan dan minuman yang tidak tersedia di kafe lain, untuk menarik perhatian pelanggan.
Kualitas Produk: Fokus pada penggunaan bahan baku berkualitas tinggi dan penyajian yang
menarik untuk memastikan kepuasan pelanggan.
• Pemasaran Digital
Media Sosial: Memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram untuk
mempromosikan produk, menawarkan diskon, dan berinteraksi dengan pelanggan. Ini
membantu menjangkau audiens yang lebih luas dan meningkatkan keterlibatan.
Promosi Online: Menawarkan promosi melalui aplikasi pemesanan online untuk menarik
pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama.
• Pengalaman Pelanggan
Pelayanan Berkualitas: Meningkatkan kualitas pelayanan dengan melatih staf agar lebih
responsif dan ramah, menciptakan pengalaman bersantap yang menyenangkan bagi pelanggan.
Umpan Balik Pelanggan: Mengumpulkan umpan balik dari pelanggan untuk memahami
kebutuhan dan preferensi mereka, serta melakukan perbaikan berdasarkan masukan tersebut.
• Adaptasi terhadap Tren Pasar
Menu Sehat: Menyediakan pilihan menu sehat untuk mengikuti tren gaya hidup sehat
yang semakin populer di kalangan konsumen.
Layanan Pengantaran: Mengembangkan layanan pengantaran melalui kemitraan dengan
aplikasi ojek online untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas.
BAB X
Tantangan Operasional
A. Tantangan Utama Operasional
Caffe Jannor, seperti bisnis kafe lainnya, pasti menghadapi berbagai tantangan dalam
operasionalnya. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi:
• Persaingan yang Ketat:
Industri kafe sangat kompetitif, dengan banyak pesaing yang menawarkan produk serupa.
Caffe Jannor perlu terus berinovasi untuk menarik dan mempertahankan pelanggan.
• Manajemen Stok dan Persediaan:
Mengelola stok bahan baku seperti kopi, susu, dan bahan makanan lainnya bisa menjadi
tantangan, terutama jika ada fluktuasi permintaan. Pemborosan atau kekurangan stok dapat
memengaruhi operasional.
• Kualitas Konsisten:
Menjaga kualitas produk dan layanan secara konsisten adalah tantangan besar. Pelanggan
mengharapkan rasa dan pengalaman yang sama setiap kali mereka berkunjung.
• Manajemen Tenaga Kerja:
Merekrut, melatih, dan mempertahankan staf yang berkualitas bisa menjadi sulit. Turnover
yang tinggi di industri F&B dapat mengganggu operasional dan kualitas layanan.
• Biaya Operasional:
Biaya sewa, utilitas, bahan baku, dan upah karyawan bisa sangat tinggi. Mengelola biaya
operasional sambil tetap menjaga profitabilitas adalah tantangan yang terus-menerus.
• Kepuasan Pelanggan:
Memenuhi dan melebihi harapan pelanggan adalah kunci kesuksesan. Setiap keluhan atau
masalah harus ditangani dengan cepat dan efektif untuk menjaga reputasi.
• Perubahan Tren dan Preferensi Konsumen:
Tren dalam industri makanan dan minuman berubah dengan cepat. Caffe Jannor perlu terus
memantau dan beradaptasi dengan preferensi konsumen yang berubah.
• Regulasi dan Kepatuhan:
Mematuhi peraturan kesehatan, keselamatan, dan perizinan bisa menjadi rumit dan memakan
waktu. Ketidakpatuhan dapat mengakibatkan denda atau penutupan.
• Pemasaran dan Promosi:
Menciptakan strategi pemasaran yang efektif untuk menarik pelanggan baru dan
mempertahankan pelanggan lama adalah tantangan tersendiri. Media sosial dan ulasan online
memainkan peran besar dalam reputasi kafe.
• Teknologi dan Sistem:
Mengintegrasikan teknologi seperti sistem POS (Point of Sale), pemesanan online, dan
manajemen inventaris bisa menjadi tantangan, terutama jika ada masalah teknis atau kebutuhan
pelatihan.
• Lokasi dan Aksesibilitas:
Lokasi yang strategis sangat penting untuk menarik pelanggan. Jika lokasi kurang strategis,
bisa menjadi tantangan untuk menarik pelanggan yang cukup.
• Keberlanjutan dan Tanggung Jawab Sosial:
Semakin banyak konsumen yang peduli dengan praktik bisnis yang berkelanjutan dan etis.
Caffe Jannor perlu mempertimbangkan aspek-aspek ini dalam operasionalnya.

Dengan mengidentifikasi dan mengatasi tantangan-tantangan ini, Caffe Jannor dapat


meningkatkan efisiensi operasional dan memberikan pengalaman yang lebih baik kepada
pelanggannya.

B. Solusi untuk mengahadapi tantangan utama Caffe Janoor


1. Manajemen Staf yang Efektif
Pelatihan Rutin: Berikan pelatihan keterampilan dan layanan pelanggan secara berkala untuk
meningkatkan kompetensi staf. Ini penting untuk memastikan pelayanan yang konsisten dan
berkualitas. Sistem Komunikasi yang Baik: Pastikan ada komunikasi yang jelas antara semua
bagian, seperti dapur dan pelayanan, agar operasional berjalan lancar.

2. Menjaga Kualitas Produk


Standar Operasional Prosedur (SOP): Buat dan terapkan SOP yang ketat untuk penyajian
makanan dan minuman. Ini termasuk pemilihan bahan baku hingga teknik penyajian.
Pemeriksaan Kualitas: Lakukan pemeriksaan rutin terhadap bahan baku dan produk akhir untuk
memastikan bahwa semuanya memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.
3. Pengelolaan Bahan Baku
Manajemen Inventaris: Gunakan sistem manajemen inventaris yang efisien untuk menghindari
kehabisan atau kelebihan stok bahan baku. Ini juga membantu dalam mengurangi pemborosan.
Diversifikasi Pemasok: Pertimbangkan untuk bekerja dengan beberapa pemasok untuk
mengurangi risiko fluktuasi harga dan memastikan ketersediaan bahan baku.

4. Adaptasi terhadap Tren Pasar


Riset Pasar: Lakukan riset pasar secara rutin untuk memahami preferensi pelanggan dan tren
terbaru dalam industri kopi. Ini membantu dalam pengembangan menu dan strategi pemasaran.
Inovasi Menu: Secara berkala perbarui menu dengan pilihan baru yang menarik dan sesuai
dengan tren, seperti opsi vegan atau minuman musiman.

5. Pemasaran Digital
Kehadiran Online: Manfaatkan media sosial dan platform digital untuk mempromosikan
produk dan berinteraksi dengan pelanggan. Ini juga dapat membantu dalam menarik pelanggan
baru. Kampanye Promosi: Adakan kampanye promosi atau acara khusus untuk menarik
perhatian pelanggan, seperti diskon atau acara live music di cafe.
DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai