MANAJEMEN PEMBANGUNAN DAERAH
SUMBER-SUMBER PENDAPATAN DAERAH
DOSEN PENGAMPU : YUDHA REMOFA,[Link].,[Link]
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
EZA PRATAMA 2110089530211
FARIDA ANDINI 2110089530215
KEYVIN PRASETIO SAORI 2110089530256
SEPTI SULIANI 2110089530402
INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS INDRAGIRI (ITB-I)
[Link] No.14,Sekip Hulu, Rengat, Inhu, Riau 29314
T.A 2024
SUMBER-SUMBER PENDAPATAN DAERAH
Sumbersumber Pendapatan Daerah yang diperoleh dapat dipergunakan untuk
membiayai penyelenggaran urusan Pemerintah Daerah. Belanja daerah dipergunakan untuk
mendanai pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan Provinsi atau
Kabupaten/Kota, yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan, dan urusan yang
penanganannya dalam bidang tertentu. Belanja penyelenggaran urusan wajib diprioritaskan
untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi
kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan,
kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem
jaminan sosial.
Sumber pendapatan daerah menurut UU No.32 Tahun 2004 adalah semua hak daerah
yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan. Pendapatan daerah terdiri dari :
A. PENDAPATAN DAERAH
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah,
Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut
berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. PAD
merupakan komponen untuk menghitung kemandirian keuangan suatu daerah dalam
melaksanakan otonomi daerah.
Semakin tinggi penerimaan PAD suatu daerah, maka tingkat kemandiriannya akan
semakin besar sehingga ketergantungan terhadap transfer dari pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah lainnya menjadi menurun. Peningkatan PAD menunjukkan semakin
tinggi keberhasilan daerah dalam mengelola sumber-sumber penerimaan di daerah.
Dengan adanya PAD, maka dapat dijadikan indikator penting untuk menilai tingkat
kemandirian Pemerintah Daerah di bidang keuangan. Adapun sumber-sumber
Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari:
a) Pajak Daerah
Pajak daerah merupakan salah satu elemen PAD yang memberikan kontribusi yang
besar terhadap penerimaan PAD. Pajak daerah menurut UU No.34 Tahun 2000
adalah: 21 “iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepala daerah
tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan
1
perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan pembangunan daerah”.
Sumber pajak daerah mengacu pada jenis-jenis pajak yang dikenakan oleh
pemerintah daerah untuk mendapatkan pendapatan guna mendukung pengelolaan dan
pembangunan di tingkat lokal. Berikut adalah beberapa contoh sumber pajak daerah
yang umum:
1. Pajak Kendaraan Bermotor
Ini adalah pajak yang dikenakan pada pemilik kendaraan bermotor seperti
mobil, sepeda motor, truk, dan sejenisnya. Besarnya pajak biasanya tergantung
pada jenis dan nilai kendaraan.
2. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Juga dikenal sebagai pajak properti, ini adalah pajak yang dikenakan pada
pemilik tanah dan bangunan yang dimilikinya. Besarnya pajak biasanya
bergantung pada nilai properti tersebut.
3. Pajak Hiburan
Pajak ini dikenakan pada kegiatan hiburan seperti bioskop, konser,
pertunjukan, dan sebagainya. Tarif pajak dapat berbeda tergantung pada jenis
dan ukuran acara.
4. Pajak Restoran dan Hotel
Pajak ini dikenakan pada pendapatan yang dihasilkan oleh restoran, kafe,
hotel, dan tempat-tempat akomodasi lainnya. Biasanya, tarif pajak ditetapkan
sebagai persentase dari pendapatan atau pengeluaran tertentu.
5. Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
Pajak ini dikenakan pada setiap peralihan hak atas tanah dan/atau bangunan.
Besarnya pajak biasanya berdasarkan nilai transaksi atau nilai jual objek
peralihan.
6. Pajak Air Tanah
Pajak ini dikenakan pada pengambilan air tanah dari sumber alam untuk
kebutuhan komersial atau industri. Tujuannya adalah untuk mengatur
penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
2
b) Retribusi Daerah
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 2021 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas
jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Dapat disimpulkan bahwa, retribusi daerah dipungut sehubungan dengan adanya
penggunaan jasa tertentu oleh individu atau kelompok. Contohnya adalah lahan
parkir, penggunaan lapak di pasar, dan retribusi KTP atau akta pencatatan sipil.
Fungsi Retribusi Daerah
Sebagai sumber pendapatan daerah, retribusi berfungsi untuk membiayai
kebutuhan pemerintahan daerah dan untuk pembangunan daerah.
Agar tercapainya stabilitas ekonomi daerah, retribusi daerah juga berfungsi
untuk membuka lapangan pekerjaan baru guna mengurangi jumlah
pengangguran.
Pemerataan pendapatan masyarakat guna menghindari adanya kesenjangan
serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Kekayaan daerah yang dipisahkan adalah suatu badan usaha yang dibentuk oleh
daerah untuk mengembangkan perekonomian daerah dan untuk menambah
penghasilan daerah. Sumber penerimaan ini berasal dari hasil perusahaan milik daerah
dan hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan. Penerimaan PAD
lainnya yang menduduki peran penting setelah pajak Daerah dan retribusi Daerah
adalah bagian pemerintah daerah atas laba BUMD. Tujuan didirikannya BUMD
adalah dalam rangka penciptaan lapangan kerja atau mendukung pembagunan
ekonomi daerah setelah itu, BUMD juga membantu dalam melayani masyarakat dan
merupakan salah satu sumber penerimaan daerah
Jenis pendapatannya meliputi bagian laba perusahaan milik daerah, bagian laba
lembaga keuangan bank, bagian laba lembaga keuangan non bank dan bagian laba
atas penyertaan modal atau investasi.
3
d) Lain-lain PAD yang Sah
Pendapatan ini merupakan penerimaan daerah yang berasal dari luar pajak dan
retribusi daerah atau lain-lain milik Pemerintah Daerah yang sah dan disediakan untuk
menganggarkan penerimaan daerah. Jenis pendapatan ini meliputi hasil penjualan aset
tetap daerah yang tidak dipisahkan, penerimaan jasa giro, penerimaan bunga deposito,
denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, dan penerimaan ganti rugi atas kerugian
atau kehilangan kekayaan daerah, serta keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap
mata uang asing (Halim, 2004).
Lain-lain pendapatan daerah yang sah (LLPAD) merupakan salah satu sumber
pendapatan asli daerah (PAD) yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
LLPAD berbeda dengan pajak daerah dan retribusi daerah. LLPAD tidak dipungut
secara paksa kepada masyarakat, melainkan berasal dari sumber-sumber lain yang
[Link] beberapa contoh LLPAD yang sah:
1) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan:
Tanah dan/atau bangunan yang tidak lagi digunakan untuk penyelenggaraan
pemerintahan daerah
Kendaraan dinas yang sudah tidak layak pakai
Peralatan kantor yang sudah tidak terpakai
2) Hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak
dipisahkan:
Sewa tanah dan/atau bangunan milik daerah
Hasil kerjasama pemanfaatan sumber daya alam
Retribusi pemanfaatan kekayaan daerah
3) Jasa giro:
Bunga deposito bank
Pendapatan dari penempatan kelebihan uang kas di bank
4) Pendapatan bunga:
Bunga dari pinjaman yang diberikan oleh daerah
Bunga dari surat berharga yang dimiliki oleh daerah
4
5) Tuntutan ganti rugi:
Ganti rugi atas kerusakan aset daerah yang disebabkan oleh pihak lain
Ganti rugi atas keterlambatan pembayaran kewajiban kepada daerah
6) Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing:
Keuntungan dari transaksi keuangan daerah yang melibatkan mata uang asing
7) Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan
dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah:
Komisi dari penjualan hasil produksi daerah
Potongan harga dari pembelian barang dan/atau jasa
B. DANA PERIMBANGAN
Dana perimbangan Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan
daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Jumlah dana perimbangan
ditetapkan setiap tahun dalam APBN dan alokasi ke daerah ditetapkan dengan
peraturan presiden tentang rincian APBN.
a) Dana Bagi Hasil
Untuk mengatasi kurangnya sumber pajak, UU Nomor 25 Tahun 1999 menyediakan
dana bagi hasil yang dibagi berdasarkan persentase tertentu bagi Pemerintah Pusat
maupun Pemerintah Daerah. Sementara itu, penerimaan negara yang dibagi hasilkan
terdiri atas: (1) Penerimaan Pajak, yang terdiri dari: pajak bumi dan bangunan (PBB),
bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), PPh orang pribadi. (2)
Penerimaan Bukan Pajak (SDA), yang terdiri dari: sektor kehutanan, sektor
pertambangan, sektor minyak bumi dan gas, dan sektor alam perikanan.
b) Dana Alokasi Umum
Diberikan kepada semua kabupaten dan kota untuk tujuan mengisi kesenjangan antar
kapasitas dan kebutuhan fiskalnya, dan didistribusikan dengan formula berdasarkan
prinsip-prinsip tertentu yang secara umum mengindikasikan bahwa daerah miskin dan
terbelakang harus menerima lebih banyak daripada daerah kaya.
Oleh sebab itu, DAU sebagai bagian dari kebijakan transfer 25 fiskal dari pusat ke
daerah berfungsi sebagai faktor pemerataan fiskal antar daerah-daerah serta
memperkecil kesenjangan kemampuan fiskal atau keuangan antar daerah. DAU yang
dibagikan daerah berasal dari APBN dengan tujuan untuk pemeratan kemampuan
keuangan antar daerah dan nilai minimumnya 25% dari anggaran rutin dalam APBN.
5
c) Dana Alokasi Khusus (DAK)
Dana Alokasi Khusus dialokasikan untuk membantu pembiayaan kebutuhan
tertentu, yaitu merupakan program nasional atau kegiatan yang tidak terdapat di
daerah lain. Dengan kata lain, DAK ditujukan untuk daerah khusus. DAK juga berasal
dari APBN dan dialokasikan ke kabupaten/kota untuk membiayai kebutuhan tertentu
yang sifatnya khusus, tergantung pada tersedianya dana dari APBN. Ditegaskan pula
bahwa untuk DAK ini harus ada dana pendamping yang berasal dari APBD guna
menyatakan komitmen dan tanggung jawab dari Pemerintah Daerah yang
bersangkutan.
C. LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah merupakan penerimaan lain yang diterima
oleh pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
tidak termasuk dalam klasifikasi PAD dan Pendapatan Transfer. Lain-lain Pendapatan
Daerah yang Sah meliputi:
1. Hibah
Pendapatan hibah merupakan bantuan berupa uang, barang atau jasa yang berasal
dari pemerintah pusat, pemerintah daerah lainnya, masyarakat dan badan usaha
dalam atau luar negeri yang tidak mengikat. Pendapatan hibah diberikan untuk
menunjang peningkatan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Dana Darurat
Dana darurat adalah dana yang berasal dari APBN yang diberikan kepada daerah
pada tahap pasca bencana untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan
oleh bencana yang tidak mampu ditanggulangi oleh daerah dengan menggunakan
sumber APBD sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
3. Lain-lain Pendapatan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
Pendapatan lainnya yang diterima oleh daerah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. (MT)
6
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
pendapatan-daerah/
[Link]
membebani-masyarakat