Nama : Nurul wahdania
Nim : 20400120046
Kelas : PBI B
BAB I Konsep Dasar Evaluasi Pembelajaran
A. Pengertian Pengukuran, Penilaian, Evaluasi, dan Tes/Non tes
1. Pengertian Pengukuran
Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa
dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (system angka) sedemikian rupa sehingga sifat
kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah et
al.1996).
B. Tujuan Evaluasi Pembelajaran
Cittenden (1994) mengemukakan tujuan penilaian (assessment purpose) adalah keeping
track, checking up, finding-out, and summing-up.
1) Keeping track, yaitu untuk menelusuri dan melacak proses belajar peserta didik sesuai
dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2) Checking-up, yaitu untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses
pembelajaran dan kekurangan- kekurangan peserta didik selama mengikuti proses
pembelajaran.
3) Finding-out, yaitu untuk mencari, menemukan, dan mendeteksi kekurangan, kesalahan
atau kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga guru dapat dengan
ucepat mencari alternatif solusinya.
4) Summing-up, yaitu untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap
kompetensi yang telah ditetapkan. Hasil penyimpulan ini dapat digunakan oleh peserta
didik untuk menyusun laporan kemajuan belajar ke berbagai pihak yang berkepentingan.
C. Fungsi Evaluasi Pembelajaran
Berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 58 (1) evaluasi hasil belajar
siswa dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar siswa secara
berkesinambungan.
Adapun fungsi penilaian hasil belajar menurut Djuwita (2012: 14) adalah sebagai berikut.
1. Fungsi formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh
peserta didik setelah menyelesaikan program dalam satuan bahan pelajaran pada
suatu bidang studi tertentu.
2. Fungsi sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik
yang telah selesai mengikuti pelajaran dalam satu semester atau akhir tahun.
BAB II Pengembangan Instrumen Tes Dalam Pelajaran
A. Pengertian Tes Pembelajaran
Kata tes berasal dari bahasa Prancis Kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-
logam mulia yang dimaksud di sini adalah dengan menggunakan alat berupa piring akan
dapat diperoleh jenis-jenis logam mulia yang bernilai tinggi.' Dalam perkembangannya dan
seiring kemajuan zaman tes berarti ujian atau percobaan. Ada beberapa istilah yang
memerlukan penjelasan sehubungan dengan uraian di atas, yaitu test, testing, tester, dan
testee, yang masing-masing mempunyai pengertian berbeda namun erat kaitannya dengan tes.
B. Bentuk-bentuk Tes Pembelajaran
Bentuk tes yang digunakan di lembaga pendidikan dilihat dari segi sistem penskorannya
dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes subjektif dan tes objektif.
1. Tes objektif, memberi pengertian bahwa siapa saja yang memeriksa lembar jawaban tes
akan menghasilkan skor yang sama. Skor tes ditentukan oleh jawaban yang diberikan oleh
peserta tes.
2. Tes subjektif, adalah tes yang penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor, jawaban yang
sama dapat memiliki skor yang berbeda oleh pemberi skor yang berlainan. Dapat dikatakan
bahwa tes objektif adalah tes yang penskorannya bersifat objektif, yaitu hanya dipengaruhi
oleh objek jawaban atau respons yang diberikan oleh peserta tes, sedangkan tes subjektif
adalah tes yang penskorannya selain di pengaruhi oleh jawaban maupun respon peserta tes
juga dipengaruhi oleh subjektif pemberi skor.
C. Prinsip Dasar Tes Pembelajaran
Agar tes yang disusun betul-betul dapat mengukur kemampuan atau keterampilan peserta
didik yang diharapkan atau keterampilan peserta didik yang diharapkan, maka ada beberapa
prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam penyusunan tes.
D. Perencanaan Dalam Menyusun Tes
Tes untuk mengukur hasil belajar siswa, memiliki prinsip-prinsip serta langkah-langkah
perencanaan tersendiri. Dalam merencanakan penyusunan achievement tes diperlukan
adanya langkah-langkah yang harus diikuti secara sistematis sehingga dapat diperoleh tes
yang lebih efektif. Dengan adanya hal ini, diharapkan suatu tes benar-benar dapat Menjadi
instrumen yang dapat mengukur apa yang sebenarnya harus diukur.
BAB III Pengembangan Instrumen Objektuf Tes Dalam Pembelajaran
1. Tes objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scored item) karena
jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Disebut tes objektif karena
penilaiannya objektif. Siapapun yang mengoreksi jawaban tes objektif hasilnya akan sama
karena kunci jawabannya sudah jelas dan pasti. Tes objektif menuntut peserta didik untuk
memilih jawaban yang benar di antara kemungkinan jawaban yang telah disediakan,
memberi jawaban singkat, dan melengkapi pertanyaan atau pernyataan yang belum
sempurna.
2. Ada dua pertimbangan utama dalam memilih tipe soal tes objektif yang digunakan. Pertama,
sifat dasar dari hasil belajar. Butir soal tes harus mengukur hasil belajar secara langsung.
Kedua, kualitas dari butir soal yang dikonstruksi. Oleh karena itu, tes objektif sangat cocok
untuk menilai kemampuan peserta didik yang menuntut proses mental yang tidak begitu
tinggi, seperti mengingat, mengenal, pengertian, dan penerapan prinsip-prinsip karena tes
objektif secara keseluruhan informasi yang diperlukan untuk menjawab tes telah tersedia.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengertian tes objektif adalah tes yang
keseluruhan informasi yag diperlukan untuk menjawab tes (soal) telah tersedia
(Putra, 2012: 226). Tes sebagai salah satu instrumen dalam evaluasi memiliki kriteria
tertentu untuk menjadikannya baik digunakan sebagai alat evaluasi.
3. Instrumen adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur dalam rangka
mengumpulkan data. Dalam pendidikan, instrumen alat ukur yang digunakan untuk
mengumpulkan data dapat berupa tes dan nontes. Tes merupakan alat ukur pengumpulan
data yang mendorong peserta memberikan penampilan maksimal. Nontes merupakan alat
ukur yang mendorong peserta untuk memberikan penampilan tipikal yaitu melaporkan
keadaan dirinya dengan memberikan respons secara jujur sesuai dengan pikiran dan
perasaan.
BAB VI Pengembangan Instrumen Esai Tes Dalam Pembelajaran
A. Pengertian Instrumen Tes Bentuk Uraian Bebas (Extended Instrument Test) dan Uraian
Terbatas (Restricted Instrumen Test)Instrumen yang dipergunakan dalam riset dasar atau terapan
dapat dipergunakan dalam evaluasi. Penulis berpendapat bahwa instrumen merupakan alat yang
digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab
permasalahan penelitian. Salah satu teknik mengembangkan instrumen untuk evaluasi yaitu tes.
Istilah tes diambil dari kata testum suatu pengertian dalam bahasa Prancis Kuno yang berarti
piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Ada pula yang mengartikan sebagai sebuah
piring yang dibuat dari tanah. Tes merupakan alat-alat atau prosedur yang digunakan untuk
mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah
ditentukan.
B. Tata Cara Menskor Tes EsaiMemberikan skor tes esai dapat dikatakan mudah dan juga dapat
dikatakan sukar. Dikatakan mudah, karena setiap guru pasti merasa bisa menilai jawaban yang
diberikan kepada siswanya termasuk penggunaan jawaban yang berasal dari tes esai, karena
dalam pemberian skor pada tes esai tidak ada eksplanasi penilaian angka secara pasti diberikan.
Sebaliknya, sebagian guru juga merasakan sukar dalam memberikan skor pada tes esai, karena
banyak faktor selalu muncul yang sedikit banyak dapat memengaruhi dalam pengambilan
keputusan pada penilaian siswa.
Faktor-faktor tersebut di antaranya subjektivitas, pertimbangan, dan pengaruh interaksi antara
guru dengan para siswa selama dalam proses belajar mengajar berlangsung. Mengatasi adanya
pengaruh tiga faktor di atas. Berikut ini beberapa petunjuk yang dapat digunakan sebagai acuan
para guru.
D. Tata Cara Mengatasi Kelemahan Tes Esai
Agar dapat meminimalkan hal-hal yang membuat lemahnya tes esai, dalam mempersiapkan
soal-soal esai, para guru hendaknya memerhatikan beberapa pertimbangan berikut.
1. Menyediakan waktu yang cukup untuk menyusun pertanyaan dalam setiap soal. Walaupun
banyak anggapan bahwa mengonstruksi tes esai adalah sangat mudah, karena setiap guru bisa
membuat, soal- soal esai yang baik pembuatannya memerlukan kecermatan selain dilihat dari
unsur bahasa juga perlu dilihat aspek substansi dari setiap item pertanyaan.
2. Item pertanyaan yang direncanakan hendaknya memuat persoalan penting yang telah
diajarkan dalam proses belajar mengajar.
3. Permasalahan yang hendak dirumuskan memiliki arti yang ditanyakan secara eksplisit dalam
tujuan instruksional.
BAB V Prosedur Pengembangan Evaluasi Pembelajaran
A. Perencanaan Evaluasi Pembelajaran Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam kegiatan
evaluasi adalah membuat perencanaan. Perencanaan ini penting karena akan memengaruhi
langkah-langkah selanjutnya, bahkan memengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara
menyeluruh. Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan secara jelas dan
spesifik, terurai, dan komprehensif, sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan
langkah-langkah selanjutnya. Berdasarkan perencanaan evaluasi yang matang inilah, Anda dapat
menetapkan tujuan-tujuan tingkah laku (behavioral objective) atau indikator yang akan dicapai,
dapat mempersiapkan pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dapat
menggunakan waktu yang tepat. Pembicaraan mengenai perencanaan evaluasi pendidikan pada
bab ini dibatasi tentang hasil belajar, utamanya evaluasi yang menggunakan tes objektif.
Evaluasi yang menggunakan tes uraian, observasi, dan wawancara, dalam perencanaannya
menggunakan alur berpikir tes objektif dengan meniadakan beberapa langkah yang tidak
diperlukan.
Pelaksanaan Evaluasi Pembelajaran Tahapan pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran adalah
penentuan tujuan, menentukan desain evaluasi, pengembangan instrumen evaluasi,
pengumpulan informasi/data, analisis dan interpretasi, dan tindak lanjut.
1. Menentukan Tujuan
Tujuan evaluasi proses pembelajaran dapat dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau
pertanyaan. Secara umum tujuan evaluasi proses pembelajaran untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan berikut: (1) Apakah strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan oleh dosen
efektif?: (2) Apakah media pembelajaran yang digunakan oleh dosen efektif?: (3) Apakah cara
mengajar dosen menarik dan sesuai dengan pokok materi sajian yang dibahas, mudah diikuti
dan berdampak mahasiswa mudah mengerti materi sajian yang dibahas?: (4) Bagaimana
persepsi mahasiswa terhadap materi sajian yang dibahas berkenaan dengan kompetensi dasar
yang akan dicapai?; (5) Apakah mahasiswa antusias untuk mempelajari materi sajian yang
dibahas?; (6) Bagaimana mahasiswa menyikapi pembelajaran yang dilaksanakan oleh dosen?; (7)
Bagaimanakah cara belajar mahasiswa mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan oleh dosen.
2. Menentukan Desain Evaluasi Desain evaluasi proses pembelajaran mencakup rencana evaluasi
proses dan pelaksana evaluasi. Rencana evaluasi proses pembelajaran berbentuk matriks dengan
kolom-kolom berisi tentang: No. Urut, Informasi yang dibutuhkan, indikator, metode yang
mencakup teknik dan instrumen, responden dan waktu. Selanjutnya, pelaksana evaluasi proses
adalah dosen mata kuliah yang bersangkutan.
B. Pengolahan Data Evaluasi Pembelajaran Dalam pengolahan data biasanya sering digunakan
analisis statistik Analisis statistik digunakan jika ada data kuantitatif, yaitu data-data yang
berbentuk angka-angka, sedangkan untuk data kualitatif, yaitu data yang berbentuk kata-kata,
tidak dapat diolah dengan statistik. Jika data kualitatif itu akan diolah dengan statistik, maka
data tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi data kuantitatif (kuantifikasi data). Meskipun
demikian, tidak semua data kualitatif dapat diubah menjadi data kuantitatif, sehingga tidak
mungkin diolah dengan statistik. Ada empat langkah pokok dalam mengolah hasil evaluasi.
C. Pelaporan Hasil Evaluasi Pembelajaran Data hasil penilaian, baik penilaian formatif maupun
penilaian sumati ada pada guru bidang studi atau mata pelajaran masing-masing Sungguh pun
demikian, data hasil penilaian tersebut, bukan semata mata untuk kepentingan guru yang
bersangkutan, melainkan juga harus dimanfaatkan oleh semua pihak yang terlibat dalam
penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Oleh sebab itu, data hasil penilaian yang dilakukan dan
ada pada guru perlu dilaporkan agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan. Melalui
laporan hasil penilaian tersebut, semua pihak dapat mengetahui kemampuan dan perkembangan
siswa, sekaligus dapat mengetahui tingkat keberhasilan pendidikan di sekolahnya. Atas dasar itu
pula semua pihak dapat menentukan langkah dan upaya yang harus dilakukan dalam
meningkatkan kualitas proses dan data hasil pendidikan di sekolahnya.
BAB VI Analasis Kualitas Tes Dan Butir Soal Dalam Pembelajaran
A. Validitas
1. Pengertian Validitas
Validitas sering diartikan dengan kesahihan, sedangkan reliabilitas diartikan dengan
keterandalan. Suatu alat ukur disebut memiliki validitas bilamana sifat alat ukur tersebut isinya
layak mengukur objek yang seharusnya diukur dan sesuai dengan kriteria tertentu. Artinya,
adanya kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran.
2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Validitas
a. Faktor Instrumen Evaluasi
Mengembangkan instrumen evaluasi memang tidaklah mudah, apalagi jika seorang evaluator
tidak atau kurang memahami prosedur dan teknik evaluasi itu sendiri. Instrumen evaluasi yang
kurang baik akan menghasilkan hasil evaluasi yang kurang baik pula. Dalam mengembangkan
instrumen evaluasi, seorang evaluator harus memperhatikan hal-hal yang memengaruhi validitas
instrumen dan berkaitan dengan prosedur penyusunan instrumen. Seperti silabus, kisi-kisi soal,
petunjuk mengerjakan soal dan pengisian lembar jawaban, kunci jawaban, penggunaan kalimat
efektif, bentuk alternatif jawaban, tingkat kesukaran, daya pembeda, dan sebagainya.
B. Reliabilitas
1. Pengertian Reliabilitas
Reliabilitas berasal dari kata reliable yang berarti dapat dipercaya. Reliabilitas suatu tes
menunjukkan derajat ketetapan, keterandalan, atau kemantapan (the level of consistency) tes
yang bersangkutan dalam mendapatkan data (score) yang dicapai seseorang, apabila tes tersebut
diberikan kepadanya pada waktu yang berbeda, atau dengan tes yang paralel (ekuivalen) pada
waktu yang sama. Dengan kata lain, sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut
menunjukkan ketetapan, keajegan, atau konsisten. Artinya, siswa diberikan tes yang sama pada
waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (rangking) yang sama
dalam kelompoknya."
C. Kepraktisan
Kepraktisan merupakan syarat suatu tes standar. Kebanyakan orang membuat tes hanya untuk
kepentingan dirinya sendiri, tidak berpikir untuk orang lain. Akibatnya, ketika tes tersebut
digunakan orang lain, maka orang tersebut akan merasa kesulitan. Kepraktisan mengandung arti
kemudahan suatu tes, baik dalam mempersiapkan, menggunakan, mengolah dan menafsirkan,
maupun mengadministrasikannya. Dimyati dan Mudjiono (1994) mengemukakan faktor-faktor
yang memengaruhi kepraktisan instrumen evaluasi meliputi "kemudahan mengadministrasi,
waktu yang disediakan untuk mencerahkan evaluasi, kemudahan menskor, kemudahan
interpretasi dan aplikasi, tersedianya bentuk instrumen evaluasi yang ekuivalen atau sebanding."
D. Objektivitas
Objektivitas di sini menunjukkan skor tes kemampuan yang sama antara peserta didik yang satu
dengan peserta didik lainnya. Peserta didik memperoleh hasil yang sama dalam mengerjakan
suatu tes, Jika peserta didik memiliki tingkat kemampuan yang sama, maka akan memperoleh
hasil tes yang sama pada saat mengerjakan tes yang sama.