0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Perbedaan Kadar Hemoglobin Merokok di Subang

Dokumen ini membahas tentang rokok, termasuk latar belakang, prevalensi perokok di Indonesia dan ASEAN, serta dampak kesehatan dari merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin antara laki-laki yang merokok dan tidak merokok di daerah Mekarjaya, Subang, Jawa Barat. Selain itu, dokumen ini juga mencakup informasi tentang kandungan berbahaya dalam rokok dan risiko kesehatan yang ditimbulkan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Perbedaan Kadar Hemoglobin Merokok di Subang

Dokumen ini membahas tentang rokok, termasuk latar belakang, prevalensi perokok di Indonesia dan ASEAN, serta dampak kesehatan dari merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin antara laki-laki yang merokok dan tidak merokok di daerah Mekarjaya, Subang, Jawa Barat. Selain itu, dokumen ini juga mencakup informasi tentang kandungan berbahaya dalam rokok dan risiko kesehatan yang ditimbulkan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rokok merupakan hasil olahan tembakau yang terbungkus, berasal dari
tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya yang
mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan(Amelia, Nasrul
and Basyar, 2016).
Secara global, World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah
orang yang merokok sekitar 1,1 miliar. Sebanyak 700 juta perokok pria berada
di negara berkembang. Penduduk dunia yang mengkonsumsi tembakau
diketahui sebanyak 57% pada penduduk Asia dan Australia, 14% pada
penduduk Eropa Timur dan pecahan Uni Soviet, 12% penduduk Amerika, 9%
penduduk Eropa Barat, dan 8% pada penduduk Timur Tengah serta Afrika
(Departemen Kementrian Kesehatan RI, 2017). Sementara itu, ASEAN
merupakan sebuah kawasan yang memiliki persentase 10% dari seluruh jumlah
perokok di dunia. Persentase perokok pada penduduk di negara ASEAN tersebar
di Indonesia (46,16%), Filipina (16,62%), Vietnam (14,11%), Myanmar
(8,73%), Thailand (7,74%), Malaysia (2,90%), Kamboja (2,07%), Laos
(1,23%), Singapura (0,39%) dan Brunei (0,04%). Berdasarkan data tersebut
untuk wilayah ASEAN persentase perokok tertinggi terdapat di
Indonesia(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014)
Jumlah perokok di Indonesia mencapai persentase sekitar 29,3 % dari
seluruh jumlah penduduk yang tersebar. Persentase perokok terbanyak di
Provinsi Kepulauan Riau (27,2%), kemudian Provinsi Bengkulu dan Jawa Barat
(27,1%), diikuti Provinsi Gorontalo dan Nusa Tenggara Barat (26,8%). Provinsi
Sulawesi Utara memiliki persentase perokok sebesar 24,6% (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
2

Provinsi Jawa Barat adalah salah satu provinsi dengan provinsi perokok
terbanyak di Indonesia yang mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Tahun
2013 tercatat proporsi penduduk umur lebih dari sepuluh tahun yang merokok
di Jawa Barat adalah 27,1% yang mana angka itu diatas rata-rata proporsi
perokok di Indonesia, Kota Subang termasuk kota yang memiliki proporsi
perokok aktif sebesar 30,3%(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
Merokok merupakan salah satu faktor resiko terjadinya berbagai macam
penyakit, seperti penyakit jantung, hipertensi, inflamasi, stroke, kelainan
pembekuan darah, dan juga penyakit pernafasan. Merokok juga mempercepat
patogenesis dari berbagai penyakit keganasan, misalnya keganasan paru,
pankreas, payudara, hati, dan ginjal. Merokok juga diduga dapat berpengaruh
pada komponen darah lainnya, misalnya eritrosit, trombosit, hemoglobin, dan
sebagainya (Asif M, 2013).
Rokok mengandung zat adiktif yang dapat membahayakan kesehatan
individu yang mengkonsumsinya. Asap rokok mengandung sekitar 4000
senyawa kimia diantaranya adalah nikotin, tar, 3,4-benozopiren, karbon
monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, amonia dan sulfur (Fidrianny I,
2000). Karbon monoksida adalah zat yang tidak berwarna, tidak berbau dan
tidak mempunyai rasa. Zat ini memiliki afinitas yang tinggi terhadap
hemoglobin, sekitar 210 - 310 kali lebih besar dibandingkan dengan afinitas
terhadap oksigen (Asif M, 2013).
Hemoglobin (Hb) adalah suatu protein tetrametrik dalam eritrosit yang
berikatan dengan oksigen serta bertugas dalam melepaskan oksigen tersebut ke
dalam jaringan. Selain itu, hemoglobin juga nantinya akan berikatan dengan
karbon dioksida untuk mengembalikannya ke paru. Karbon monoksida yang
terkandung dalam rokok memiliki afinitas yang besar terhadap hemoglobin,
sehingga memudahkan keduanya untuk saling berikatan membentuk
karboksihemoglobin, suatu bentuk inaktif dari hemoglobin. Hal ini
mengakibatkan hemoglobin tidak dapat mengikat oksigen untuk dilepaskan ke
3

berbagai jaringan sehingga menimbulkan terjadinya hipoksia jaringan. Tubuh


manusia akan berusaha mengkompensasi penurunan kadar oksigen dengan cara
meningkatkan kadar hemoglobin (Mariani, 2018).
Penelitian yang dilakukan Ahmad Asyraf Bin Zulkefli didapatkan
perbedaan kadar hemoglobin rata-rata pada kelompok merokok dan kelompok
tidak merokok. Pada kelompok merokok nilai rata-ratanya 13,77 g/dl dengan
standar deviasi 1,43 nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan kadar hemoglobin
rata-rata pada kelompok tidak merokok yaitu 12,53 g/dl dengan standar deviasi
1,42. Setelah dilakukan uji T independen didapatkan hasil nilai p yaitu 0,000
yang berart lebih kecil dari 0,05 (Makawekes, Kalangi and Pasiak, 2016). Hasil
penelitian ini didukung oleh penletian Mariani yang menyimpulkan bahwa
derajat merokok mempengaruhi kadar hemoglobin (Mariani, 2018). Penelitian
serupa yang dilakukan oleh Amelia et al terhadap 65 orang pendonor darah di
Palang Merah Indonesia cabang Padang, menemukan bahwa tidak terdapat
hubungan bermakna antara derajat merokok dengan hemoglobin (Amelia R,
2016). Hasil penelitian yang sama dilakukan oleh Susiyati yang mendapatkan
tidak adanya hubungan bermakna antara lama merokok dengan jumlah rokok
yang dikonsumsi perhari dengan kadar hemoglobin.
Karena beberapa penelitian mempunyai hasil yang berbeda-beda maka
peneliti ingin melakukan penelitian tentang “Perbedaan kadar Hb antara laki-
laki yang merokok dan tidak merokok pada warga daerah Mekarjaya RT 07/02
Subang, Jawa Barat”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan suatu
permasalahan yaitu : “Apakah ada perbedaan kadar Hb antara laki-laki yang
merokok dan tidak merokok pada warga daerah Mekarjaya RT 07/02 Subang,
Jawa Barat.”
4

1.3 Hipotesa Penelitian


Adapun hipotesa dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan kadar Hb
antara laki-laki yang merokok dan tidak merokok pada warga daerah Mekarjaya
RT 07/02 Subang, Jawa Barat.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan kadar antara laki-laki yang merokok dan tidak
merokok pada warga daerah Mekarjaya RT 07/02 Subang, Jawa Barat.

1.4.2 Tujuan Khusus


a. Mengetahui umur pertama menjadi perokok aktif di kelurahan
Mekarjaya RT07/02 Subang, Jawa Barat.
b. Mengetahui lama tahun merokok pada perokok aktif di kelurahan
Mekarjaya RT07/02 Subang, Jawa Barat.
c. Mengetahuin jumlah rokok yang di hisap pada perokok aktif di
kelurahan Mekarjaya RT07/02 Subang, Jawa Barat.
d. Mengetahui Jenis rokok yang dihisap pada perokok di kelurahan
Mekarjaya RT07/02 Subang, Jawa Barat.
e. Mengetahui kadar Hemoglobin perokok aktif di kelurahan Mekarjaya
RT07/02 Subang, Jawa Barat.
f. Mengetahui index brinkman perokok warga daerah di kelurahan
Mekarjaya RT07/02 Subang, Jawa Barat.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber informasi untuk mengetahui hubungan kadar Hb pada
perokok aktif, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan perpustakaan dalam
pengembangan ilmu pengetahuan.
5

1.5.2 Bagi Peneliti Selanjutnya


Peneliti dapat mengetahui hubungan kadar Hb pada perokok aktif

1.5.3 Bagi Pelayanan Kesehatan


Diharapkan dapat memberikan informasi kepada pelayanan kesehatan
sehingga pelayanan kesehatan dapat menambah wawasan dan pengetahuan.
6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Definisi Rokok


Rokok merupakan salah satu olahan tembakau dengan menggunakan bahan
atau tanpa bahan tambahan. Rokok dengan bahan tambahan berupa cengkeh disebut
sebagai rokok kretek, sedangkan rokok tanpa bahan tambahan disebut sebagai rokok
putih. Selain sebagai salah satu olahan tembakau, rokok juga merupakan salah satu zat
adiktif yang bila digunakan dapat mengakibatkan bahaya bagi individu dan masyarakat
(Makawekes, Kalangi and Pasiak, 2016).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Pusat Bahasa
Pendidikan Nasional yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 2015 menyebutkan bahwa
Rokok adalah gulungan tembakau (kira-kira sebesar kelingking) yang
dibungkus(Kalemben, 2016).

2.1.2 Kandungan Rokok


Setiap rokok atau cerutu mengandung lebih dari 4.000 jenis bahan kimia dan
400 dari bahan-bahan tersebut dapat meracuni tubuh sedangkan 40 dari bahan tersebut
bisa menyebabkan kanker. Beberapa contoh zat berbahaya di dalam rokok yang perlu
diketahui adalah sebagai berikut (Aula, 2010).
a. Nikotin
Merupakan bahan kimia dalam rokok yang menyebabkan ketergantungan.
Nikotin menstimulasi otak untuk terus menambah jumlah nikotin yang dibutuhkan.
Semakin lama, nikotin dapat melumpuhkan otak dan rasa, serta meningkatkan
adrenalin yang menyebabkan jantung diberi peringatan atas reaksi hormonal yang
membuatnya berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras. Artinya, jantung
membutuhkan lebih banyak oksigen agar dapat terus memompa.
Nikotin juga menyebabkan pembekuan darah lebih cepat dan meningkatkan
7

risiko serangan jantung. Secara perlahan, nikotin akan mengakibatkan perubahan pada
sel-sel otak perokok yang menyebabkan perokok merasa perlu merokok lebih banyak
untuk mengatasi gejala-gejala ketagihan. Nikotin termasuk salah satu jenis obat
perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah, serta nikotin membuat
pemakainya [Link] cepat, nikotin masuk ke dalam otak saat seseorang
merokok. Kadar nikotin yang dihisap akan menyebabkan kematian, apabila kadarnya
lebih dari 30 mg. Setiap batang rokok rata-rata mengandung nikotin 0,1-1,2 mg. Dari
jumlah tersebut kadar nikotin yang masuk ke dalam peredaran darah tinggal 25%.
Namun, jumlah yang kecil itu mampu mencapai otak dalam waktu 15 detik.
b. Karbon Monoksida
Gas berbahaya pada asap rokok ini seperti yang ditemukan pada asap
pembuangan mobil. Karbon monoksida menggantikan sekitar 15% jumlah oksigen,
yang biasanya dibawa oleh sel darah merah, sehingga jantung perokok menjadi
berkurang suplai oksigennya. Hal ini sangat berbahaya bagi orang yang menderita
sakit jantung dan paru-paru, karena ia akan mengalami sesak nafas dan dapat
menurunkan stamina. Karbon monoksida juga dapat merusak lapisan pembuluh
darah dan menaikkan kadar lemak pada dinding pembuluh darah yang dapat
menyebabkan penyumbatan.
c. Tar
Tar digunakan untuk melapisi jalan atau aspal. Pada rokok atau cerutu, tar adalah
partikel penyebab tumbuhnya sel kanker. Sebagian lainnya berupa penumpukan zat
kapur, nitrosmine dan B-naphthyl-amine, serta cadmium dan nikel.
Tar mengandung bahan kimia yang beracun, yang dapat merusak sel paru-paru
dan menyebabkan kanker. Tar bukanlah zat tunggal, namun terdiri atas ratusan bahan
kimia gelap dan lengke, dan tergolong sebagai racun pembuat kanker. Seringkali,
banyak pabrik rokok tidak mencantumkan kadar tar dan nikotin dalam kemasan rokok
produksi mereka.
8

d. Arsenic
Merupakan sejenis unsur kimia yang digunakan untuk membunuh serangga,
yang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
1. Nitrogen Oksida, yaitu unsur kimia yang dapat mengganggu saluran
pernafasan, bahkan merangsang terjadinya kerusakan dan perubahan kulit
tubuh.
2. Amonium Karbonat, yaitu zat yang bisa membentuk plak kuning pada
permukaan lidah, serta mengganggu kelenjar makanan dan perasa yang
terdapat pada permukaan lidah.
e. Amonia
Merupakan gas tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini
sangat tajam baunya. Amonia sangat mudah memasuki sel – sel tubuh. Jika
disuntikkan sedikit saja ke dalam tubuh, racun yang terdapat dalam zat ini dapat
menyebabkan seseorang pingsan.
f. Arcolein
Sejenis zat tidak berwarna, sebagaimana aldehid. Zat ini diperoleh dengan cara
mengambil cairan dari gliserol dengan menggunakan metode pengeringan. Zat
tersebut sedikit banyak mengandung kadar alkohol. Cairan ini sangat mengganggu
kesehatan.
g. Hydrogen Cyanide
Merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki
rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar, dan sangat efisien
untuk menghalangi [Link] adalah salah satu zat yang mengandung racun
yang sangat berbahaya. Sedikit saja cyanide dimasukkan ke dalam tubuh, maka dapat
mengakibatkan kematian.

h. Nitrous Oksida
Sejenis gas yang tidak berwarna. Jika gas ini terisap maka dapat menimbulkan
rasa sakit.
9

i. Formaldehyde
Zat ini banyak digunakan sebagai pengawet dalam laboratorium (formalin).
j. Phenol
Merupakan campuran yang terdiri dari kristal yang dihasilkan dari destilasi
beberapa zat organik, seperti kayu dan arang. Phenol terikat pada protein dan
menghalangi aktivitas enzim.
k. Hydrogen Sulfide
Sejenis gas beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini
menghalangi oksidasi enzim (zat besi yang berisi pigmen).
l. Pyiridine
Cairan ini tidak berwarna dan memiliki bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan
untuk mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama.
m. Methyl chloride
Campuran dari zat-zat bervalensi satu, yang unsur-unsur utamanya berupa
hidrogen dan karbon. Zat ini merupakan compound organic yang dapat beracun.
n. Methanol
Sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan terbakar. Meminum atau
mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan, bahkan kematian.

2.1.3 Bahaya Menghisap Rokok


Rokok adalah benda beracun yang memberi efek [Link], dibalik itu
terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang yang
ada di sekitar perokok yang bukan [Link] memiliki bahan kandungan yang
[Link] masyarakat umum pun tahu bahwa rokok dapat membahayakan
kesehatan. Berikut ini adalah berbagai bahaya yang mengancam kesehatan yang
disebabkan oleh rokok (Aula, 2010)
10

a. Kanker
Merokok dapat menyebabkan [Link] akibat kanker yang
disebabkan oleh merokok pun semakin [Link] karena kanker (terutama
kanker paru-paru) meningkat 20 kali lebih besar dibandingkan orang yang tidak
merokok. Berbagai jenis kanker yang risikonya meningkat akibat merokok antara lain
kanker trakea, bronkus, paru-paru, kanker mulut dan ofofaring, kanker lambung,
kanker hati, kanker pankreas, kanker rahim, kanker kandung kemih, kanker esofagus,
leukemia, myeloid akut, kanker ginjal dan ureter serta kanker usus besar (kanker
kolon).
b. Penyakit Paru-Paru
Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran nafas
dan jaringan [Link] saluran nafas besar, sel mukosa membesar dan kelenjar
mukus bertambah [Link] saluran nafas kecil, terjadi radang ringan dan
penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-
paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan [Link] terjadinya
perubahan anatomi saluran nafas, perokok akan mengalami perubahan pada fungsi
paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya Hal ini menjadi dasar utama
terjadinya Penyakit Obstruksi Paru-paru Menahun (POPM). Merokok dianggap
sebagai penyebab utama timbulnya POPM termasuk emfisema paru-paru, bronkritis
kronis, dan asma. dengan segala macam gejala klinisnya.
c. Penyakit Jantung Koroner
Merokok terbukti sebagai faktor risiko terbesar untuk mati mendadak,
sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya mengenai zat-zat yang terkandung
dalam rokok. Pengaruh utama pada penyakit jantung disebabkan oleh dua bahan kimia
penting yang terdapat di dalam rokok, yakni nikotin dan karbon monoksida. Nikotin
dapat mengganggu irama jantung dan menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah
jantung, sedangkan karbon monoksida dapat mangakibatkan suplai oksigen untuk
jantung berkurang lantaran berikatan dengan Hb darah. Inilah yang menyebabkan
gangguan pada jantung, termasuk timbulnya penyakit jantung koroner (PJK).
11

Risiko terjadinya penyakit jantung meningkat 2-4 kali pada perokok


dibandingkan dengan bukan perokok. Risiko ini meningkat dengan bertambahnya
usia dan jumlah rokok yang diisap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko
merokok bekerja sinergis dengan faktor-faktor lain, seperti hipertensi dan kadar lemak
atau gula darah yang tinggi terhadap tercetusnya PJK
d. Impotensi
Nikotin yang beredar melalui darah akan dibawa ke seluruh tubuh, termasuk
organ reproduksi. Zat ini akan mengganggu proses spermatogenesis sehingga kualitas
sperma menjadi buruk. Selain merusak kualitas sperma, rokok juga menjadi faktor
risiko gangguan fungsi seksual, khususnya gangguan disfungsi ereksi. Sekitar
seperlima dari penderita Disfungsi Ereksi disebabkan oleh karena kebiasaan merokok
e. Mengamcam kehamilan
Hal ini terutama ditujukan kepada wanita perokok. Banyak hasil penelitian
yang mengungkapkan bahwa wanita hamil yang merokok memiliki risiko melahirkan
bayi dengan berat badan yang rendah, kecacatan, keguguran, bahkan bayi meninggal
saat dilahirkan.

2.2 Hemoglobin
2.2.1 Definisi Hemoglobin
Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4
subunit. Setiap subunit mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu
polipeptida. Heme merupakan derivat porifirin yang mengandung besi. Polipeptida itu
secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin. Ada dua
pasang polipeptida di dalam setiap molekul hemoglobin (Ganong, 2002). Hemoglobin
adalah protein yang kaya akan zat besi yang memiliki afinitas (daya gabung) terhadap
oksigen dengan membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Hemoglobin
merupakan pigmen yang memberikan warna merah pada darah.
Hemoglobin adalah parameter status besi yang memberikan suatu ukuran
kuantitatif tentang beratnya kekurangan zat besi setelah anemia berkembang.
12

Hemoglobin yang normal pada orang dewasa adalah hemoglobin A yang terdiri dari
4 kelompok heme dan empat rantai polipeptida dengan jumlah keseluruhan 547 asam
amino. Rantai polipeptida ini mempunyai dua rantai alfa dan dua rantai beta. Setiap
rantai ini akan mengikat satu kelompok heme. Satu rantai alfa terbentuk dari 141 asam
amino yang mana satu rantaibeta pula terbentuk dari 146 asam amino (Turgeon,
2005).
2.2.2 Struktur Hemoglobin
Molekul hemoglobin terdiri atas empat sub unit: dua rantai α (warna terang)
dan dua rantai β (warna gelap). Masing-masing rantai globin membentuk sebuah
kantong untuk molekul heme sehingga memiliki kapasitas mengikat sampai empat
molekul oksigen (Sacher and McPherson, 2004).

Gambar 2.2 Struktur Hemoglobin (Guyton dan Hall, 2007)

2.2.3 Proses Pembentukan Hemoglobin


Sintesis hemoglobin dimulai dalam proeritoblast dan kemudian dilanjutkan
sampai tingkat retikulosit, karena ketika retikulosit meninggalkan sumsum tulang dan
13

masuk kedalam aliran darah, maka retikulosit tetap membentuk hemoglobin selama
beberapa hari berikutnya. Tahap dasar kimiawi pembentukan hemoglobin adalah yang
pertama, suksinil-KoA, yang dibentuk dalam siklus krebs berikatan dengan klisin
untuk membentuk molekul pirol. Selanjutnya, empat senyawa pirol bersatu
membentuk senyawa protoporfirin, yang kemudian berikatan dengan besi membentuk
molekul heme.
Akhirnya empat molekul heme berikatan dengan satu molekul globin, suatu
globulin yang disintesis dalam ribosom reticulum endoplasma, membentuk
hemoglobin. Terdapat beberapa variasi kecil pada rantai sub unit hemoglobin yang
berbeda, bergantung pada susunan asam amino dibagian polipeptida. Tipe-tipe rantai
itu disebut rantai alfa, rantai beta, rantai gamma, dan rantai delta (Guyton and Hall,
2007).
2.2.4 Fungsi Hemoglobin
a. Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian membawa keseluruh jaringan tubuh
untuk dipakai sebagai bahan bakar.
b. Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida dalam jaringan tububuh
melalui daya afinitasnya terhadap oksigen dan karbondioksida dalam jaringan.
c. Membawa karbondioksida dari jaringan-jaringan tubuh sebagai hasil metabolisme
ke paru-paru untuk dibuang.
d. Untuk mengetahui apakah seseorang kekurangan darah atau tidak, dapat diketahui
dengan pengukuran kadar hemoglobin.

2.2.5 Hubungan Merokok dengan Kadar Hemoglobin


Hemoglobin adalah suatu protein tetrametrik dalam eritrosit yang berikatan
dengan oksigen serta bertugas dalam melepaskan oksigen tersebut ke dalam jaringan.
Hemoglobin juga nantinya akan berikatan dengan karbondioksida untuk
mengembalikannya ke paru. Karbon monoksida yang terkandung dalam rokok
mempunyai afinitas yang besar terhadap hemoglobin, sehingga memudahkan
keduanya untuk saling berikatan membentuk karboksihemoglobin, suatu bentuk
14

inaktif dari hemoglobin. Hal ini mengakibatkan hemoglobin tidak dapat mengikat
oksigen untuk dilepaskan ke berbagai jaringan sehingga menimbulkan terjadinya
hipoksia jaringan. Tubuh manusia akan berusaha mengkompensasi penurunan kadar
oksigen dengan cara meningkatkan kadar hemoglobin (Wibowo. D, dkk, 2017).
Nilai derajat merokok akan mempengaruhi seberapa banyak zat kimia dalam
kandungan rokok, seperti nikotin, tar, dan gas karbon monoksida (CO) dari hasil
pembakaran rokok yang dihisap oleh tubuh. Kadar hemoglobin dan
karboksihemoglobin (HbCO) meningkat sesuai dengan banyaknya rokok yang dihisap
perhari. Pada seorang perokok, terjadinya peningkatan kadar hemoglobin
kemungkinan dimediasi oleh paparan CO. Seseorang yang merokok 40 batang atau
lebih perhari terjadi peningkatan kadar hemoglobin
15

2.3 Kerangka Teori

Rokok

Merokok Tidak Merokok

Kadar Hemoglobin

Tinggi Normal Rendah

Gambar 2.3 Kerangka Teori

2.4 Kerangka Konsep

Laki-laki merokok dan tidak


Kadar Hemoglobin
merokok

Gambar 2.4 Kerangka Konsep

Anda mungkin juga menyukai