0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan15 halaman

Panduan Relaksasi Otot Progresif

Modul ini menjelaskan tentang teknik Progressive Muscle Relaxation yang bertujuan untuk mengurangi stres dan kecemasan melalui relaksasi otot. Prosedur ini melibatkan serangkaian gerakan yang dilakukan secara bertahap untuk merasakan ketegangan dan relaksasi otot. Indikasi dan kontraindikasi juga dibahas, serta manfaat dari teknik ini untuk meningkatkan kualitas hidup.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan15 halaman

Panduan Relaksasi Otot Progresif

Modul ini menjelaskan tentang teknik Progressive Muscle Relaxation yang bertujuan untuk mengurangi stres dan kecemasan melalui relaksasi otot. Prosedur ini melibatkan serangkaian gerakan yang dilakukan secara bertahap untuk merasakan ketegangan dan relaksasi otot. Indikasi dan kontraindikasi juga dibahas, serta manfaat dari teknik ini untuk meningkatkan kualitas hidup.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul Progresive Muscle

Relaxation

Disusun Oleh : Ns. Miko Eka Putri, [Link]

Prodi Ilmu Keperawatan Program Sarjana


TAHUN 2025
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PROGRESIVE MUSCLE RELAXATION

Pengertian Adalah suatu cara yang efektif mengistirahatkan otot-otot melalui cara
yang tepat, diikuti dengan relaksasi mental dan pikiran

Tujuan Digunakan untuk mengurangi berbagai keluhan yang berhubungan dengan


stress, seperti kecemasan

Kebijakan Terapi ini dapat dilakukan pada klien dengan mengajarkan langkah-langkah
latihan secara bertahap, dimulai dengan memberikan instruksi. Apabila
sudah hafal langkah-langkahnya, dapat dilakukan secara mandiri tanpa
instruksi. Prinsip relaksasi yang dilakukan adalah mengatur pola nafas,
meregangkan otot dan relaksasi, diikuti dengan perasaan mengeluarkan
seluruh ketegangan, sehingga dapat dirasakan kenyamanan dan rileks

Prosedur Persiapan

1. Persiapan alat : bantal, kursi, atau kasur


2. Persiapan lingkungan : lingkungan yang hening dan tenang
3. Persiapan klien
 Jelaskan manfaat, prosedur, dan pengisian lembar persetujuan terapi.
 Posisikan klien senyaman mungkin dengan berbaring atau duduk
disandarkan kursi. Hindari posisi tidur
 Apabila posisi klien berbaring, gunakan bantal dibawah kepala dan
lutut. Kepala klien dipotong apabila menggunakan posisi duduk.
 Lepaskan aksesoris dari klien seperti jam, kacamata, dan sepatu
 Longgarkan dasi dam ikat pinggang atau hal lain yang bersifat
mengikat ketat
Prosedur :
1. Posisikan posisi duduk atau berbaring dan rileks
2. Mata dipejamkan secara perlahan-lahan konsentrasi pada latihan
Berikut ini gerakan-gerakan yang dilakukan :

Gerakan 1
Menggemgam tangan kanan sambil membuat suatu kepalan semakin kuat,
rasakan ketega-ngan, kemudian kepalan dilepaskan dan rasakan rileks
selama 10 detik. Setelah selesai tangan kanan kemudian dilanjutkan dengan
kiri.
Gerakan 2
Menekuk lengan kebelakang pada pergelangan tangan sehingga otot-otot di
tangan bagian belakang dan lengan bawah mengang, jari-jari menghadap ke
langit- langit.
Gerakan 3
Gerakan ini diawali dengan menggemgam kedua tangan sehingga menjadi
kepalan kemudian membawa kedua kepalan kepundak sehingga otot-otot
biceps akan menjadi tegang.
Gerakan 4
Mengangkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan bahu akan dibawa
hingga menyentuh kedua telinga. Fokus perhatikan gerakan ini adalah
kontras ketegangan yang terjadi di bahu, punggung atas, dan leher.
Gerakan 5
Mengerutkan dahi dan alis sampai otot-ototnya terasa dan kulitnya keriput
Gerakan 6
Menutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketengangan disekitar
mata dan otot-otot yang mengendalikan gerakan mata.
Gerakan 7
Mengatupkan rahang, diikuti dengan mengigit gigi-gigi sehingga terasa
ketengangan disekitar otot-otot rahang
Gerakan 8
Bibir dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga akan di rasakan ketengangan
disekitar mulut.
Gerakan 9
Meletakan kepala sehingga dapat beristirahat, kemudian diminta untuk
menekankan kepala pada permukaan kepala pada permukaan bantalan kursi
sedemikian rupa sehingga responden dapat merasa-kan ketengangan di
bagian belakang leher dan punggung atas.
Gerakan 10
Membawa kepala ke muka, kemudiasn diminta untuk membenamkan dagu
ke dadanya, sehingga dapat merasakan ketegangan di daerah leher bagian
muka
Gerakan 11
Mengangakat tubuh dari sandaran kursi, kemudian punggung
dilengkungkan, lalu busungkan dada. Pada saat rileks, letakan tubuh
kembali ke kursi, sambil membiarkan otot-otot menjadi lemas
Gerakan 12
Menarik nafas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-
banyaknya. Tahan selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan di
bagian dada kemudian turun ke perut. Pada saat ketegangan dilepas, klien
dapat bernafas normal dengan lega
Gerakan 13
Menarik kuat-kuat perut ke dalam, kemudian tahan sampai perut menjadi
kencang & keras
Gerakan 14
Meluruskan kedua belah telapak kaki sehingga otot paha terasa tegang
Gerakan 15
Meluruskan kedua belah telapak kaki sehingga otot paha terasa tegang.
Gerakan ini dilanjutkan dengan mengunci lutut
Indikator a. Klien merasa nyaman
Pencapaian b. Klien merasa tenang dan rileks
c. Tensi, nadi dalam batas normal
BUKU PANDUAN
RELAKSASI OTOT
PROGRESIF

oleh:
Ns. Miko Eka Putri, [Link]

Program Studi Ilmu Keperawatan Program Sarjana


Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Keperawatan
Jambi
3
2
A. PENGERTIAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF
Richmond (2007 dalam Mashudi, 2011) menyatakan bahwa
relaksasi otot progresif merupakan salah satu teknik relaksasi
yang mudah dan sederhana serta sudah digunakan secara luas.
Relaksasi otot progresif merupakan suatu prosedur untuk
mendapatkan relaksasi pada otot melalui dua langkah, yaitu
dengan memberikan tegangan pada suatu kelompok otot, dan
menghentikan tegangan tersebut kemudian memusatkan
perhatian terhadap bagaimana otot tersebut menjadi relaks,
merasakan sensasi relaks, dan ketegangan menghilang.

B. INDIKASI RELAKSASI OTOT PROGRESIF


Relaksasi otot progresif dapat membantu mengurangi
ketegangan otot, stres, menurunkan tekanan darah,
meningkatkan imunitas, sehingga status fungsional dan kualitas
hidup meningkat (Smeltzer & Bare, 2001). Relaksasi ini telah
menunjukkan manfaat dalam mengurangi kecemasan dan
berkurangnya kecemasan tersebut berpengaruh terhadap
gejala psikologis dan kondisi medis.

C. KONTRAINDIKASI RELAKSASI OTOT PROGRESIF


Beberapa hal yang mungkin menjadi kontraindikasi latihan
relaksasi otot progresif antara lain cidera akut atau
ketidaknyamanan muskuloskeletal, dan penyakit jantung
berat/akut (Fritz, 2005 dalam Mashudi, 2011). Latihan relaksasi
otot progresif dapat meningkatkan kondisi relaks yang dapat
menyebabkan hipotensi, sehingga perlu memeriksa tekanan
darah untuk mengidentifikasi kecenderungan hipotensi (Snyder
& Lindquist, 2002).
D. MANFAAT RELAKSASI OTOT PROGRESIF
Relaksasi otot progresif adalah salah satu teknik yang khusus
didesain untuk membantu meredakan ketegangan otot yang
terjadi ketika sadar. Relaksasi otot progresif digunakan sebagai
terapi untuk membantu meredakan beberapa gejala yang
berkaitan dengan stres, seperti insomnia, hipertensi, sakit
kepala, dan nyeri punggung bawah. Teknik ini, mungkin lebih
unggul dari teknik lain, memperlihatkan pentingnya menahan
respons stres dengan mencoba meredakan ketegangan otot
secara sadar (National Safety Council, 2003).

E. HAL YANG DIPERHATIKAN SEBELUM PELAKSANAAN


1. Selalu latihan ditempat yang tenang, tanpa atau
menggunakan audio untuk membantu konsentrasi pada
kelompok otot.
2. Melepaskan sepatu dan memakai pakaian yang longgar
3. Hindari makan, merokok, minum kopi sebelum latihan
Progress Muscle Relaxation
4. Latihan Progress Muscle Relaxation sebaiknya dilakukan
sebelum makan
5. Tidak boleh latihan setelah minum-minuman keras/alkohol.
6. Latihan dilakukan dengan posisi duduk, tetapi dapat juga
dengan posisi tidur.
7. Jangan terlalu menegangkan otot secara berlebihan karena
dapat melukai diri sendiri
8. Selama lithan mata dipejamkan pelan-pelan dan selalu
konsentrasi pada ketegangan selama 4- 10 detik, dan
relaksasi selama 10-20 detik terhadap otot yang dilatih.
9. Setiap gerakan dilakukan dua kali latihan
10. Latihan memerlukan waktu 15 sampai 20 menit
F. LATIHAN PELAKSANAAN PROGRESS MUSCLE
RELAXATION
Persiapan
1. Persiapan alat : bantal, kursi, atau kasur
2. Persiapan lingkungan : lingkungan yang hening dan tenang
3. Persiapan klien
 Jelaskan manfaat, prosedur, dan pengisian lembar
persetujuan terapi.
 Posisikan klien senyaman mungkin dengan berbaring atau
duduk disandarkan kursi. Hindari posisi tidur
 Apabila posisi klien berbaring, gunakan bantal dibawah
kepala dan lutut. Kepala klien dipotong apabila
menggunakan posisi duduk.
 Lepaskan aksesoris dari klien seperti jam, kacamata, dan
sepatu
 Longgarkan dasi dam ikat pinggang atau hal lain yang
bersifat mengikat ketat

Prosedur :
1. Posisikan posisi duduk atau berbaring dan rileks
2. Mata dipejamkan secara perlahan-lahan konsentrasi pada
latihan
Berikut ini gerakan-gerakan yang dilakukan :
Gerakan 1
Menggemgam tangan kanan sambil membuat suatu kepalan
semakin kuat, rasakan ketega-ngan, kemudian kepalan dilepaskan
dan rasakan rileks selama 10 detik. Setelah selesai tangan kanan
kemudian dilanjutkan dengan kiri.

Gerakan 2
Menekuk lengan kebelakang pada pergelangan tangan sehingga
otot-otot di tangan bagian belakang dan lengan bawah mengang,
jari-jari menghadap ke langit-langit.

Gerakan 3
Gerakan ini diawali dengan menggemgam kedua tangan sehingga
menjadi kepalan kemudian membawa kedua kepalan kepundak
sehingga otot-otot biceps akan menjadi tegang.
Gerakan 4
Mengangkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan bahu
akan dibawa hingga menyentuh kedua telinga. Fokus perhatikan
gerakan ini adalah kontras ketegangan yang terjadi di bahu,
punggung atas, dan leher.

Gerakan 5
Mengerutkan dahi dan alis sampai otot-ototnya terasa dan kulitnya
keriput.

Gerakan 6
Menutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan
ketengangan disekitar mata dan otot-otot yang mengendalikan
gerakan mata.
Gerakan 7
Mengatupkan rahang, diikuti dengan mengigit gigi-gigi sehingga
terasa ketengangan disekitar otot-otot rahang.

Gerakan 8
Bibir dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga akan di rasakan
ketengangan disekitar mulut.

Gerakan 9
Meletakan kepala sehingga dapat beristirahat, kemudian diminta
untuk menekankan kepala pada permukaan kepala pada
permukaan bantalan kursi sedemikian rupa sehingga responden
dapat merasa-kan ketengangan di bagian belakang leher dan
punggung atas.
Gerakan 10
Membawa kepala ke muka, kemudiasn diminta untuk
membenamkan dagu ke dadanya, sehingga dapat merasakan
ketegangan di daerah leher bagian muka.

Gerakan 11
Mengangakat tubuh dari sandaran kursi, kemudian punggung
dilengkungkan, lalu busungkan dada. Pada saat rileks, letakan
tubuh kembali ke kursi, sambil membiarkan otot-otot menjadi
lemas.

Gerakan 12
Menarik nafas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara
sebanyak- banyaknya. Tahan selama beberapa saat, sambil
merasakan ketegangan di bagian dada kemudian turun ke perut.
Pada saat ketegangan dilepas, klien dapat bernafas normal
dengan lega.
Gerakan 13
Menarik kuat-kuat perut ke dalam, kemudian tahan sampai perut
menjadi kencang & keras.

Gerakan 14
Meluruskan kedua belah telapak kaki sehingga otot paha terasa
tegang

Gerakan 15
Meluruskan kedua belah telapak kaki sehingga otot paha terasa
tegang. Gerakan ini dilanjutkan dengan mengunci lutut
REFERENSI

Johnson, Joyce Young, Smith-Temple, Jean, dan Carr, Patricia.


2005. Prosedur Perawatan di Rumah: Pedoman untuk Perawat.
Jakarta: EGC.

Mashudi. 2011. Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap


Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di
Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi. Tidak
Diterbitkan. Tesis. Depok: Program Magister Ilmu
Keperawatan Kekhususan Keperawatan Medikal Bedah,
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.

Smeltzer, Suzanne C., dan Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar


Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8
Volume 2. Jakarta: EGC.

Snyder, Mariah dan Lindquist, Ruth. 2002. Complementary


Alternative Therapies in Nursing. 4th Edition. New York:
Springer Publishing Company, Inc.

Soewondo, Soesmalijah. 2012. Stres, Manajemen Stres, dan


Relaksasi Progresif. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana
Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3), Fakultas
Psikologi, Universitas Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai