0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Pemecahan Masalah Siswa dan Kecerdasan Emosional

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pemecahan masalah siswa berdasarkan tahapan Polya yang ditinjau dari kecerdasan emosional. Hasil menunjukkan bahwa siswa dengan kecerdasan emosional tinggi mampu menyelesaikan semua tahap pemecahan masalah, sedangkan siswa dengan kecerdasan emosional sedang dan rendah hanya mampu menyelesaikan sebagian atau tidak sama sekali. Penelitian ini menekankan pentingnya pemahaman kecerdasan emosional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam matematika.

Diunggah oleh

smkyasihagubug208
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Pemecahan Masalah Siswa dan Kecerdasan Emosional

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pemecahan masalah siswa berdasarkan tahapan Polya yang ditinjau dari kecerdasan emosional. Hasil menunjukkan bahwa siswa dengan kecerdasan emosional tinggi mampu menyelesaikan semua tahap pemecahan masalah, sedangkan siswa dengan kecerdasan emosional sedang dan rendah hanya mampu menyelesaikan sebagian atau tidak sama sekali. Penelitian ini menekankan pentingnya pemahaman kecerdasan emosional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam matematika.

Diunggah oleh

smkyasihagubug208
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

E-ISSN: 2579-9258 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika

P-ISSN: 2614-3038 Volume 08, Nomor 01, Desember 2023-Maret 2024, pp. 685-697

Profil Pemecahan Masalah Siswa Berdasarkan Tahapan Polya Ditinjau


dari Kecerdasan Emosional

Putri Daiana1, I Nengah Parta2, Sisworo3


1, 2,3 Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang,
Jl. Semarang No 5, Malang, Indonesia
Putri.daiana77@[Link]

Abstract
The purpose of this research is to describe the process of solving student problems based on the stages of Polya
in terms of emotional intelligence. This research is qualitative research with a descriptive type. The selection of
subjects was carried out by purposive sampling with 58 students participating in SMPN 1 Tajinan, namely 32
students from class XI A and 29 students from XI B. The subjects in this study were three students consisting of
one student with high emotional intelligence, one student with moderate emotional intelligence. and one low
emotional intelligence student. Data was collected through emotional intelligence questionnaires, tests and
interviews. The results obtained by students with high emotional intelligence are capable of all stages of problem
solving, namely understanding the problem, making plans, carrying out plans, looking back. Subjects with
moderate emotional intelligence are only capable of understanding the problem stage and have not fulfilled the
stages of making plans, implementing plans, looking back. Meanwhile, subjects with low emotional intelligence
are unable to fulfill all aspects, namely understanding the problem, making plans, carrying out plans, looking
back.
Keywords: Problem Solving, Polya Stages, Emotional Intelligence

Abstrak
Pemecahan masalah merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran matematika dikarenakan
ketika siswa memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik maka akan mampu mentransfer kemampuan
pemecahan masalahnya dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu tujuan penelitian ini
adalah mendeskripsikan proses pemecahan masalah siswa berdasarkan tahapan Polya ditinjau dari kecerdasan
emosional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Pemilihan subjek dilakukan
secara purposive sampling dengan diikuti oleh 58 siswa di SMPN 1 Tajinan yakni 32 siswa dari kelas XI A dan
29 siswa dari XI B. Subjek dalam penelitian ini yaitu tiga siswa yang terdiri dari satu siswa kecerdasan emosional
tinggi, satu siswa kecerdasan emosional sedang dan satu siswa kecerdasan emosional rendah. Data dikumpulkan
melalui angket kecerdasan emosional, tes dan wawancara. Hasil penelitian diperoleh Siswa dengan kecerdasan
emosional tinggi mampu dalam semua tahap pemecahan masalah yaitu memahami masalah, membuat rencana,
melaksanakan rencana, melihat kembali. Subjek dengan kecerdasan emosional sedang hanya mampu dalam
tahap memahami masalah dan belum memenuhi tahap membuat rencana, melaksanakan rencana, melihat
kembali. Sedangkan Subjek dengan dengan kecerdasan emosional rendah tidak mampu memenuhi semua aspek
yakni memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, melihat kembali.
Kata kunci : Pemecahan Masalah, Tahapan Polya, Kecerdasan Emosional

Copyright (c) 2024 Putri Daiana, I Nengah Parta, Sisworo


 Corresponding author: Putri Daiana
Email Address: Putri.daiana77@[Link] (Jl. Semarang No 5, Malang, Indonesia)
Received 21 Decembert 2023, Accepted 30 March 2024, Published 31 March 2024
DoI: [Link]

PENDAHULUAN
Dalam matematika kemampuan memecahkan masalah merupakan aspek penting yang harus
dimiliki oleh setiap siswa. Hal ini didasarkan oleh pendapat Hikmah, dkk. (2022) kemampuan
pemecahan masalah amatlah penting dalam matematika, bukan saja bagi mereka yang dikemudian hari
akan mendalami atau mempelajari matematika, melainkan juga bagi mereka yang akan
menerapkannya, baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bicer, dkk. (2013)
menyatakan bahwa pemecahan masalah merupakan bagian terintegrasi dari pembelajaran matematika.
686 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika,Volume 08, Nomor 01, Desember 2023-Maret 2024, pp. 685-697

Karena dalam proses pembelajaran, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa diterapkan
ke pemecahan masalah (Misu, 2014). Selain itu Mulyati (2016) menyatakan bahwa pemecahan
masalah sebagai jantungnya matematika karena merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki
siswa, agar siswa mudah dalam belajar matematika. Lebih lanjut Noviantii, dkk. (2020) menyatakan
pemecahan masalah bukan hanya mempermudah siswa dalam mempelajari matematika saja namun
juga dalam pembelajaran lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa salah
satu aspek yang menjadi tujuan pembelajaran matematika adalah pengembangan kemampuan
pemecahan masalah.
Proses pemecahan masalah merupakan jantungnya matematika oleh karena itu pemecahan
masalah merupakan salah satu tujuan penting dalam pembelajaran matematika. Selain itu, (Azizah,
2023) menyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah sangat penting dalam matematika, bukan
saja bagi mereka yang di kemudian hari akan mendalami atau mempelajari matematika, melainkan
juga bagi mereka yang akan menerapkan dalam bidang studi lain dan dalam kehidupan sehari-hari.
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah siswa disebabkan karena minimnya latihan soal yang
diberikan oleh guru. Pemberian permasalahan yang menantang pada siswa dapat melatih kemampuan
matematika serta mampu menumbuhkan cara berpikir kritis pada diri siswa (Kerkman & Johnson,
2014 ; Leader & Middleton, 2004). Lebih lanjut NCTM (2000) menyatakan bahwa memberikan
masalah adalah alternatif cara yang diberikan guru untuk membantu mengembangkan kemampuan
pemecahan masalah siswa. Semakin baik kemampuan pemecahan masalah maka semakin berkembang
pengetahuan matematika siswa. Seperti yang diungkapkan Baraké, dkk., (2015) bahwa pengalaman
pemecahan masalah dapat membantu dalam mengembangkan pengetahuan matematika dan
mempromosikan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Salah satu latihan soal yang cocok untuk melatih kemampuan tingkat tinggi siswa yaitu dengan
memberikan masalah kontektual . Sejalan dengan Fatimah & Zakiah (2018) bahwa membiasakan
siswa memecahkan masalah-masalah kontekstual non-rutin dapat meningkatkan kemampuan berpikir
matematis tingkat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Sugandi (2013) menunjukkan bahwa soal-soal
matematika tidak rutin pada umumnya tidak berhasil dijawab dengan benar oleh siswa Indonesia. Fakta
lain yang menunjukkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah dapat dilihat dari hasil tes yang
diselenggarakan oleh Programme for Internasional Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan
oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2015, rata-rata
nilai siswa Indonesia adalah 386 dan menempati peringkat ke- 62 dari 69 negara peserta. Hal ini juga
didukung oleh hasil keikutsertaan Indonesia dalam Treads in International Matematics and Science
Study (TIMSS) mengatakan bahwa, salah satu indikator yang dinilai dalam TIMSS adalah kemampuan
dalam memecahkan masalah non rutin. Nilai standar rata-rata yang ditetapkan oleh TIMSS adalah 500.
Dalam empat kali keikutsertaan, Indonesia masih ada di peringkat bawah. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa Indonesia masih rendah terutama untuk
Profil Pemecahan Masalah Siswa Berdasarkan Tahapan Polya Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional,Putri Daiana, I
Nengah Parta, Sisworo 687

masalah yang non rutin sehingga perlu diterapkan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah siswa.
Siswono (2008) mengemukan bahwa satu diantara faktor yang mempengaruhi kemampuan
siswa dalam pemecahan masalah adalah motivasi. Keberadaan motivasi sangatlah diperlukan dalam
proses pemecahan masalah matematika. Kemampuan siswa dalam memotivasi dirinya sendiri
merupakan salah satu aspek dalam kecerdasan emosional (Goleman, 2005). Kecerdasan emosional
atau Emotional Quotient (EQ) bukan didasarkan pada kepintaran seorang anak, melainkan pada
sesuatu yang dahulu disebut karakteristik pribadi. Keterampilan sosial dan emosional ini cenderung
lebih diperlukan bagi keberhasilan hidup ketimbang kemampuan intelektual. Dengan kata lain
seseorang memiliki EQ tinggi cenderung lebih dominan berpengaruh dalam pencapaian keberhasilan.
Menurut Salovey Goleman (2005) ada 5 (lima) wilayah utama/domain kecerdasan emosional yaitu
mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan
membina hubungan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 1 Tajinan, kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa rendah, banyak siswa tidak mampu menyelesaikan masalah
matematika dengan cara yang berbeda. Ketika siswa diberikan suatu permasalahan dan dikerjakan
bersama-sama, siswa dengan mudah menyelesaikan soal tersebut. Tetapi jika permasalahan yang
diberikan harus diselesaikan sendiri, banyak siswa malas yang kesulitan untuk menyelesaikannya.
Selain itu, banyak siswa yang kurang memperhatikan terhadap pembelajaran dengan melanggar
aturan sekolah seperti berani membolos dan membuat kegaduhan dalam kelas. Siswa lebih bersikap
tempramen, mudah menyerah dan berpikir masa bodoh dengan dirinya sendiri. Semua sikap yang
ditimbulkan oleh siswa berpusat pada emosi yang ada pada diri mereka. Siswa sekolah menengah
merupakan anak yang memasuki masa pubertas. Pada masa ini anak sangat rawan terpengaruh
pergaulan bebas dan lingkungannya. Oleh karena itu, sekolah dan para guru diharapkan mampu
membantu mengarahkan para siswa untuk lebih bisa mengontrol emosinya agar dapat meraih hasil
belajar yang lebih baik.
Profil pemecahan masalah SPLDV berdasarkan kecerdasan emosional yang dimiliki siswa,
sangatlah penting untuk diketahui khususnya bagi guru. Karena dengan mengetahui bagaimana
kecerdasan emosional siswa, maka guru dapat memberikan metode pengajaran yang terbaik untuk
masing-masing siswa berdasarkan kecerdasan emosional yang dimilikinya. Pemberian metode
pengajaran yang sesuai bagi siswa bertujuan agar segala sesuatu dalam proses pembelajaran dapat
berjalan dengan lancar. Dengan demikian, materi dapat tersampaikan dengan baik sehingga siswa
dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik pula. Hal ini dapat memungkinkan adanya
pencapaian hasil belajar yang optimal. Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan maka peneliti
merasa perlu meneliti lebih lanjut mengenai bagaimana kemampuan pemecahan masalah siswa
ditinjau dari kecerdasan emosional.
688 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika,Volume 08, Nomor 01, Desember 2023-Maret 2024, pp. 685-697

METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini akan dideskripsikan
mengenai proses pemecahan masalah siswa ditinjau dari kecerdasan emosional. Subjek penelitian ini
yaitu siswa kelas XI A dan XI B SMP Negeri 1 Tajinan yang berjumlah 58 siswa dan dipilih dengan
cara purposive sampling sehingga terdapat tiga siswa yang menjadi subjek dalam penelitian ini.
Instrumen yang digunakan yaitu angket Kecerdasan Emosional, tes pemecahan masalah, dan
wawancara. Alur penelitian diawali dengan memberikan angket Kecerdasan Emosional untuk
mengetahui tipe Kecerdasan Emosional dari setiap siswa. Angket terdiri dari 23 butir pertanyaan yang
terdiri dari 14 pertanyaan positif dan 9 pertanyaan negatif. Setiap pernyataan dilengkapi dengan 4
alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju
(STS). Data angket kecerdasan emosional siswa berupa skor numerik untuk setiap pernyataan dalam
angket yang diberikan berdasarkan Data angket kecerdasan emosional siswa berupa skor numerik
untuk setiap pernyataan dalam angket yang diberikan berdasarkan pedoman kategori kecerdasan
emosional. Pengkategorian kecerdasan emosional berguna untuk menentukan siswa memiliki
kecerdasan emosional tinggi, sedang atau rendah.
Peneliti menggunakan kategorisasi jenjang ordinal untuk menempatkan dan mengetahui tingkat
kecerdasan emosional dalam level tinggi, sedang dan rendah dari setiap siswa. Menurut (Azwar, 2003)
pengklasifikasian bertujuan untuk menempatkan individu ke dalam level –level terpisah sesuai
kemampuan masing-masing siswa. Rumus yang digunakan sebagai berikut.
Tabel 1. Pengkategorian Tingkat Kecerdasan Emosional
𝑿 < (𝝁 − 𝟏, 𝟎𝝈) Rendah
(𝝁 − 𝟏, 𝟎𝝈) ≤ 𝑿 < (𝝁 + 𝟏, 𝟎𝝈) Sedang
𝑿 ≥ (𝝁 + 𝟏, 𝟎𝝈) Tinggi
(Azwar, 2003)
Keterangan:
𝑋 = Sekor total item
𝜎 = Standart devisinya
𝜇 = mean teoritisnya
Setelah menganalisis angket kecerdasan emosional, langkah kedua yaitu pemberian tes tulis
materi persamaan linear dua variabel. Tes tulis materi persamaan linear dua variabel bertujuan
bagaimana proses pemecahan masalah siswa tersebut dalam menyelesaikan soal persamaan linear dua
variabel berdasarkan tahapan Polya. Adapun langkah-langkah pemecahan masalah menurut polya
yang digunakan sebagai landasan dalam memecahkan suatu masalah yaitu memahami masalah,
Menyusun atau memikirkan rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, dan
mengevaluasi hasil dan penyelesaiana yang dibuat (Yuwono dkk., 2018).Langkah terakhir yaitu
wawancara untuk menkonfirmasi dan menggali lebih dalam terkait hasil tes tulis yang dilakukan siswa
sebelumnya. Soal tes tulis dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.
Profil Pemecahan Masalah Siswa Berdasarkan Tahapan Polya Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional,Putri Daiana, I
Nengah Parta, Sisworo 689

Tempat parkir mobil dan bus seluas 630 𝑚2 mampu menampung bus dan mobil
sebanyak 60 buah. Tiap mobil rata-rata memerlukan luas 6 𝑚2 dan bus 24 𝑚2 biaya
parkir tiap mobil Rp3.000,00/jam dan bus Rp4.000,00/jam. Jika dalam dua jam terisi
penuh dan tidak ada kendaraan yang pergi dan datang, tentukan dan jelaskan
penghasilan yang diperoleh selama dua jam tersebut !
Gambar 1. Soal Tes Materi Persamaan Linear Dua Variabel.
Kemudian hasil pekerjaan siswa tersebut dianalisis untuk melihat bagaimana pemecahan
masalah siswa dalam menyelesaikan masalah. Pada penelitian ini teknik analisis data yang digunakan
adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data diperoleh dari hasil angket, tes
tulis, dan wawancara. Hasil tes tulis pemecahan masalah dan hasil rekaman wawancara kemudian
dianalisis dengan cara di reduksi terlebih dahulu untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas.
Kemudian data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk tabel dan teks narasi mengenai
pemecahan masalah siswa kecerdasan emosional tinggi, sedang dan rendah dalam menyelesaikan soal
berdasarkan tahapan Polya.

HASIL DAN DISKUSI


Berdasarkan hasil skor angket kecerdasan emosional siswa kelas XIA dan XIB SMP Negeri 1
Tajinan diperoleh tipe kecerdasa emosional pada siswa tersebut. Berikut hasil kategorisasi kecerdasan
emosional yang telah dilaksanakan pada 58 siswa.
Tabel 2. Hasil kecerdasan Emosional siswa Kelas XI SMP Negeri 1 Tajinan
Kategori Banyak Siswa Persentase
Rendah 21 36,20 %
Sedang 34 58,63 %
Tinggi 3 5,17 %

Berdasarkan data pada tabel 2 dari masing-masing tipe akan dipilih satu orang sebagai subjek
penelitian yang telah terpilih pada tabel 3.
Tabel 3. Daftar Subjek Penelitian
No Kode Skor Kategori
1 KET1 (Kecerdasan Emosional Tinggi 1) 85 Tinggi
2 KET2 (Kecerdasan Emosional Tinggi 2) 72 Sedang
3 KET3 (Kecerdasan Emosional Tinggi 3) 55 Rendah

Setelah subjek penelitian ditentukan, lalu dilaksanakan pengambilan data selanjutnya yaitu
dengan tes tulis pemecahan masalah yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara. Berikut deskripsi
proses pemecahan masalah berdasarkan tahapan Polya pada siswa kecerdasan emosional tinggi, sedang
dan rendah.
690 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika,Volume 08, Nomor 01, Desember 2023-Maret 2024, pp. 685-697

Siswa dengan Kecerdasan Emosional Tinggi


Kemampuan pemecahan masalah dengan siswa kecerdasan emosional tinggi dipaparkan pada
Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Hasil Pengerjaan siswa KET


Berdasarkan hasil pekerjaan siswa KET pada Gambar 2 menunjukkan bahwa siswa KET mampu
memahami masalah dengan baik, dibuktikan dengan siswa KET mampu menyebutkan informasi pada
soal yaitu luas parkir 630 𝑚2 dapat menampung 60 kendaraan dan luas yang diperlukan mobil dan bus
yaitu 6𝑚2 dan 24𝑚2 serta biaya parkir bus dan mobil yaitu Rp 5.000,00 dan Rp 12.000,00. Kemudian
pada tahap merencanakan strategi siswa dapat mendefiniskan variabel dan dapat mengubah soal
menjadi bentuk matematika. Tetapi pada tahap melaksanakan strategi penyelesaian awalnya siswa
mengalami kesalahan dan menyadari kesalahan strategi yang dibuatnya dan memperbaikinya.
Kesalahan ini dikarenakan siswa salah dalam oprasi hitung dalam menyelesaikan penyelesaian.
Sehingga siswa mencoret jawaban tersebut dan mengganti dengan strategi lain. Awalnya siswa
melakukan kesalahan dikarenakan siswa tidak teliti dalam menyelesaikan soal yaitu dengan mengubah
“y” menjadi 𝑦 = 606 − 6𝑥 sehingga menemukan hasil 𝑥 = 109,2 tetapi siswa langsung mencoret
jawaban tersebut dan mengganti dengan metode substitusi sehingga siswa mengubah salah satu
persamaan menjadi 𝑦 = 60 − 𝑥 kemudian mensubstitusikan ke persamaan yang lain sehingga
ditemukan nilai 𝑥 = 45. Dalam proses menentukan 𝑥 = 45 siswa melakukan kesalahan dengan tidak
menuliskan salah satu variabel tetapi dapat menjelaskan ditahap wawancara.
Profil Pemecahan Masalah Siswa Berdasarkan Tahapan Polya Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional,Putri Daiana, I
Nengah Parta, Sisworo 691

Selanjutnya peneliti melakukan wawancara untuk menggali lebih dalam bagaimana proses siswa
kecerdasan emosional dalam menyelesaikan soal. Berikut hasil wawancara peneliti (P) dengan siswa
kecerdasan emosional tinggi (KET).
P : Coba jelaskan apa yang diketahui dan ditanya dari soal tersebut?
KET1 : Ya yang ada di soal itu bu, luas parkirnya 530 meter persegi terus dapat menampung 60
buah, mobil memerlukan luas parkir 6 meter persegi dan bus memerlukan 24 meter persegi,
terus biaya parkir mobilnya 5000 rupiah sedangkan parkir bus nya 12000 rupiah. Terus yg
ditanya itu pengahsilanya selama 2 jam bu
P : Ok, coba Jelaskan bagaimana anda bisa menggunakan prosedur atau Langka-langkah
seperti ini untuk menyelesaikan soal?
KET 1 : Saya mengerjakanya dengan menggunakan metode substitusi bu, kemudian
merubah salah satu persamaan menjadi 𝑦 = 60 − 𝑥
P : Ok, terus itu kenapa jawaban pertama kamu coret?
KET 1 : Saya pikir menggunakan persamaan itu lebih mudah tapi ko’ saya tidak yakin
karena hasilnya ada komanya. ahirnya saya coret dan mencoba persamaan satunya dan
ketemu bu.
P : Apakah kamu yakin itu dengan cara substitusi, coba jelaskan?
KET1 : Ya bu saya yakin, karena saya menyamadekan kan y dulu terus saya masukkan
ke persamaan satunya dan ketemu 𝑥. Lalu saya masukan hasil 𝑥 ke persamaan yang tadi.
Setelah ketemu jumlah mobil yang parkir 45 dan jumlah bis yang parkir 15 saya kalikan
dengan tarif parkir mobil dan bus setelah ketemu hasilnya saya kalikan 2 karena itu yang
ditanyakan 2 jam bu, jadi ketemu penghasilan yang diperoleh selama 2 jam 810.000 rupiah.
benar ta bu?
P : Ya benar, apakah itu benar 24 − 6𝑥
KET : ow iya bu, mohon maaf keselip bu 𝑥 nya jadi itu 24𝑥 − 6𝑥.
Berdasarkan hasil wawancara KET1 awalnya mengerjakan untuk mencari nilai 𝑦 dengan
menggunakan persamaan 6𝑥 + 24𝑦 = 630 tetapi subjek ragu dengan jawabanya sehingga mencoret
semua dan mengganti dengan penyelesaian yang benar. Sedangkan pada tahap memeriksa kembali
siswa memproleh jawaban akhir yang sesui dengan masalah yang disajikan.
Sehingga dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah dan wawancara, subjek dengan
kecerdasan emosional tinggi sangat mampu memahami masalah dengan baik secara lisan maupun
tulisan. Mampu menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal permasalahan. Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan Smita, dkk. (2017) yaitu siswa dengan tingkat kecerdasan emosional tinggi
mampu dalam memahami masalah dengan menuliskan dan menyebutkan yang diketahui dan yang
ditanyakan, menceritakan kembali yang diketahui dan yang ditanyakan menggunakan kalimatnya
sendiri.
692 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika,Volume 08, Nomor 01, Desember 2023-Maret 2024, pp. 685-697

Pada tahap membuat rencana dengan kecerdasan emosional tinggi subyek dengan kecerdasan
emosional tinggi dapat menentukan langkah atau cara yang akan digunakan untuk menyelesaikan
masalah. dan dapat menjelaskan dengan benar dan lancar mengenai rencana/rumus yang dipilihnya.
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Supriadi, dkk. (2015) yang menyatakan bahwa siswa yang
memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu melakukan proses berpikir pemecahan masalah dengan
baik.
Pada tahap melaksanakan rencana subjek dengan kecerdasan emosional tinggi dapat
menyelesaikan masalah sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Subyek dapat
menyelesaikan masalah persamaan linear dua variabel dengan benar dan perhitungan yang dilakukan
juga benar. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Hastuti, 2015) juga menyimpulkan bahwa siswa yang
memiliki kecerdasan emosional tinggi akan mudah dalam menyelesaikan soal cerita menggunakan
langkah-langkah penyelesaian masalah.
Pada tahap melihat kembali, berdasarkan hasil wawancara dari subjek dengan kecerdasan
emosional tinggi, dapat diketahui bahwa subyek dapat meyakini kebenaran dari hasil yang telah
diperoleh. Subyek memeriksa kembali hasil jawabannya dengan cara mengoreksi dengan teliti. Dan
pada saat wawancara subjek juga konsisten dengan jawaban yang sudah dikerjakan. Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan (Hakim, 2013) yang menyatakan bahwa siswa dengan tingkat kecerdasan
emosi tinggi merasa yakin terhadap jawaban yang diberikan dan tidak ragu-ragu. Sehingga dapat
disimpulkan siswa kecerdasan emosional dalam menyelesaikan masalah mampu memenuhi tahapan
polya dengan tepat.
Siswa dengan Kecerdasan Emosional Sedang
Kemampuan pemecahan masalah dengan siswa kecerdasan emosional sedang dipaparkan pada
Gambar 3 berikut.

Gambar 3. Hasil Pengerjaan siswa KES


Berdasarkan hasil pekerjaan siswa KES pada Gambar 3 menunjukkan bahwa siswa KES
mampu memahami masalah dengan baik, dibuktikan dengan siswa KES mampu menyebutkan
Profil Pemecahan Masalah Siswa Berdasarkan Tahapan Polya Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional,Putri Daiana, I
Nengah Parta, Sisworo 693

informasi pada soal yaitu luas 630 𝑚2 dapat menampung 60 kendaraan dan luas yang diperlukan mobil
dan bus yaitu 6𝑚2 dan 24𝑚2 serta biaya parkir bus dan mobil yaitu Rp 5.000,00 dan Rp 12.000,00.
Kemudian pada tahap merencanakan strategi siswa dapat mendefiniskan variabel tetapi salah dalam
mengubah soal kedalam bentuk matematika, siswa menuiskan 6𝑚 + 24𝑚 = 630 sehingga melakukan
strategi penyelesaian siswa melakukan kesalahan operasi hitung dalam menyelesaikan masalah yaitu
salah dalam menentukan banyak mobil dan banyak bus. Dikarenakan siswa salah dalam melaksanakan
strategi penyelesaian maka siswa juga salah memproleh jawaban akhir.
Kemudian peneliti melakukan wawancara untuk menggali lebih dalam terkait bagaimana siswa
kecerdasan emosional sedang menyelesaikan soal yang telah diberikan. Berikut hasil wawancara
antara Peneliti (P) dengan siswa kecerdasan emosional sedang (KES)
P : coba jelaskan kamu menulis permisalan dan bentuk matematika
ini?
KES : itu saya nulisnya 𝑥 nya banyaknya mobil dan 𝑦 nya banyaknya
bus
P : Ok, Terus yang bentuk matematikanya itu gimana, coba
dijelaskan yang kamu tulis 6𝑚 + 24𝑚 = 360 itu?
KES1 : Itu 6 meter parkir mobil dan 24 meter parkir bus bu.
P : Kenapa yang kamu misalkan tidak kamu misalkan di meternya itu
KES1 : Sebenarnya saya masih bingung bu bentuk matematikanya kayak
gimana?
P : Ok cooba jelaskan langkah atau cara kamu menyelesaikan soal ini.
KES1 : awalnya saya menghilangkan nilai “x” nya dulu bu supaya
ketemu nilai banyaknya mobil itu, begiru juga yang “y” saya menghilangkan “y” nya supaya
ketemu nilai “y” nya dan ketemu banyaknya busnya itu
P : Kalau kamu menghilangkan nilai “x” nya kenapa itu masih ada
nilai “x” nya? Dan kenapa 24𝑥 𝑑𝑎𝑛 6𝑦 𝑗𝑎𝑑𝑖 − 18𝑥 ?
KES1 : (Siswa diam melihat jawabanya) ya karna saya mau mencari
nilai “x” nya bu jadi itu menjadi nilai −18𝑥 = −270
P : Apakah kamu yakin dengan jawabanmu ini?
KES1 : Awalnya saya yakin bu tapi Sekarang ko saya kurang yakin hehe,
sebenarnya saya masih bingung bu ngerubah bentuk matematika dan eliminasi itu seperti apa
P : Terus yang kamu simpulkan ini gimana?
KES1 : Ya, itu bu pendapatan yang diperoleh itu saya kalikan 2.
Bersumber dari hasil wawancara diatas bahwa KES salah dalam merubah soal kedalam bentuk
matematika dan salah dalam melakukan operasi hitung dan mendapatkan hasil akhir tidak sesuai
dengan masalah. Siswa ini mampu menuliskan dan mengucapkan kalimat kesimpulan yang dibuat
694 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika,Volume 08, Nomor 01, Desember 2023-Maret 2024, pp. 685-697

setelah melakukan penyelesaian dari permasalahan yang ada, tetapi karena langkah penyelesaiannya
salah maka hasil kesimpulan yang mereka buat pasti akan salah. Selain itu subjek tidak melakukan
tahap memeriksa kembali sehingga tidak menyadari adanya kesalahan.
Sehingga dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah dan wawancara, subjek dengan
kecerdasan emosional sedang cukup mampu memahami masalah karena dapat menuliskan hal-hal
yang diketahui dan yang ditanyakan dari masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat Rospitasari, dkk.,
(2017) yang menyatakan bahwa siswa dengan kecerdasan emosional sedang tidak mengalami
gangguan dalam memahami masalah.
Pada tahap membuat rencana dengan kecerdasan emosional sedang subyek menuliskan model
matematika tetapi tidak sesuai dengan informasi yang disajikan. Subyek dapat menjelaskan dengan
benar dan lancar mengenai rencana/rumus yang dipilihnya.
Pada tahap melaksanakan rencana subjek dengan kecerdasan emosional sedang tidak dapat
menyelesaikan masalah disajikan. Subjek tidak dapat menyelesaikan masalah yag ada dengan benar
karena terdapat kesalahan dalam operasi hitung.
Sedangkan pada tahap menata Kembali, berdasarkan hasil wawancara dari subjek dengan
kecerdasan emosional sedang, subyek tidak dapat meyakini kebenaran dari hasil yang telah diperoleh.
Subyek juga tidak memeriksa kembali hasil jawabannya dengan tidak mengoreksi dengan teliti
sehingga tidak mengetahui terjadi kesalahan. Dan pada saat wawancara subjek juga tidak konsisten
dengan jawaban yang sudah dikerjakan. Sehingga dapat disimpulkan siswa hanya mampu sampai
melaksanakan tahap memahami masalah.
Siswa dengan Kecerdasan Emosional Rendah
Kemampuan pemecahan masalah dengan siswa kecerdasan emosional rendah dipaparkan pada
Gambar 4 berikut.

Gambar 4. Hasil Pengerjaan siswa KER


Berdasarkan hasil pekerjaan siswa KER pada Gambar 3 menunjukkan bahwa KER tidak mampu
memahami masalah dengan baik, karena siswa belum memahami maksud dari apa yang diketahui dan
ditanya, dibuktikan dengan siswa kecerdasan emosional rendah menuliskan informasi tetapi tidak
Profil Pemecahan Masalah Siswa Berdasarkan Tahapan Polya Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional,Putri Daiana, I
Nengah Parta, Sisworo 695

sesuai dengan masalah yang disajikan. Melalui tahap wawancara siswa tersebut tidak terbiasa dalam
menuliskan diketahui dan ditanya ketika menyelesaikan masalah.
Sehingga dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah dan wawancara, subjek dengan
kecerdasan emosional rendah kurang memahami masalah karena tidak dapat menuliskan secara
lengkap informasi-informasi yang ada. Sesuai dengan yang dikemukakan (Oeleu dkk., 2019) yaitu
dalam menyelesaikan masalah subjek dengan tingkat kecerdasan emosional rendah tidak memiliki
kecenderungan dalam membangun pemahaman terhadap masalah.
Pada tahap membuat rencana dengan kecerdasan emosional rendah subjek tidak dapat
menentukan langkah atau cara yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan Wahyuni, dkk. (2018) yaitu siswa yang memiliki tingkat kecerdasan
emosional rendah tidak dapat menentukan rencana untuk menyelesaikan soal.
Pada tahap melaksanakan rencana subjek dengan kecerdasan emosional rendah juga tidak dapat
menyelesaikan masalah sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Subyek tidak dapat
menyelesaikan masalah yang ada dengan benar dan perhitungan yang dilakukan juga salah.
Pada tahap melihat kembali, berdasarkan hasil wawancara dari subjek dengan kecerdasan
emosional rendah, subyek tidak dapat meyakini kebenaran dari hasil yang telah diperoleh. Subyek juga
tidak menuliskan dan tidak memeriksa kembali hasil jawabannya. Dan pada saat wawancara subjek
juga tidak konsisten dengan jawaban yang sudah dikerjakan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan tidak
dapat mencapai semua tahapan polya dengan baik.

KESIMPULAN
Berdasarkan deskripsi yang telah di paparkan kemudian dapat disimpulkan bahwa siswa yang
memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis tinggi, sedang, dan rendah memiliki kemampuan
pemecahan masalah yang berbeda-beda pada setiap tahapan penyelesaian, siswa dengan kategori
kemampuan pemecahan masalah matematis tinggi mampu menyelesaikan soal SPLDV sesuai dengan
tahapan pemecahan masalah menurut polya. Yaitu mampu memahami masalah, membuat rencana,
melaksanakan rencana dan memeriksa kembali jawaban.
Kemudian siswa dengan kategori kemampuan pemecahan masalah sedang mampu
menyelesaikan soal SPLDV tetapi dapat mencapai 2 tahapan kemampuan pemecahan masalah menurut
polya, yaitu mampu memahami masalah dan membuat rencana sedangkan pada tahap melaksanakan
rencana melakukan kesalahan dan siswa tidak memeriksa kembali sehingga tidak mengetahui terjadi
kesalahan. Sedangkan siswa dengan kategori kemampuan pemecahan masalah rendah tidak mampu
menyelesaikan soal SPLDV yang sesuai dengan tahapan kemampuan pemecahan masalah menurut
polya, mulai dari memahami masalah, Menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa
Kembali

REFERENSI
696 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika,Volume 08, Nomor 01, Desember 2023-Maret 2024, pp. 685-697

Azizah, N. (2023). Deskripsi Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Materi SPLDV Pada
Siswa Kelas. urnal Penelitian Matematika dan Pendidikan Matematika, 6, 249–259.
Azwar, S. (2003). Metode Penelitian. Pustaka Pelajar.
Baraké, F., El-Rouadi, N., & Musharrafieh, J. (2015). Problem Solving at the Middle School Level: A
Comparison of Different Strategies. Journal of Education and Learning, 4(3), 62–70.
[Link]
Bicer, A., Capraro, R. M., & Capraro, M. M. (2013). Integrating Writing into Mathematics Classroom
to Increase Students ’ Problem Solving Skills. 5(2), 361–369.
Fatimah, A. T., & Zakiah, N. E. (2018). Kelancaran Prosedural Matematis Dalam Pemecahan Masalah
Konteks Pemasaran. M a T H L I N E Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 3(2),
141–150.
Goleman, D. (2005). Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosional. Terjemahan Alex Tri
Kantjono. Gramedia.
Hakim, E. L. (2013). Proses Berpikir Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masakah Matematika Ditinjau
dari Perbedaan Tingkat Kecerdasan Emosi dan Gender. Disertasi. Unesa.
Hastuti, S. P. (2015). Korelasi Kecerdasan Emosional dengan Kemampuan Penyelesaian Soal Cerita
Matematika. Ponorogo: STAIN, 3, 1–80.
Hikmah, D. N., Purwati, H., & ... (2022). Profil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
SMK Ditinjau dari Kecerdasan Emosional. … : Jurnal Matematika dan …, 4(1), 66–73.
[Link]
[Link]/imajiner/article/download/8702/5151
Kerkman, D., & Johnson, A. (2014). Challenging Multiple-Choice Questions to Engage Critical
Thinking. InSight: A Journal of Scholarly Teaching, 9, 92–97.
[Link]
Leader, L. F., & Middleton, J. A. (2004). Promoting Critical-Thinking Dispositions by Using Problem
Solving in Middle School Mathematics. RMLE Online, 28(1), 1–13.
[Link]
Misu, L. (2014). Mathematical Problem Solving of Student by Approach Behavior Learning Theory.
International Journal of Education and Research, 2(10), 181–188.
Mulyati, T. (2016). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Sekolah Dasar.
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru, 3(2), 546–551.
[Link]
NCTM. (2000). Principles and standards for school mathematics. Reston, VA: National Council of
Teachers of Mathematics.
Noviantii, E., Yuanita, P., & Maimunah, M. (2020). Pembelajaran Berbasis Masalah dalam
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Journal of Education and
Learning Mathematics Research (JELMaR), 1(1), 65–73.
Profil Pemecahan Masalah Siswa Berdasarkan Tahapan Polya Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional,Putri Daiana, I
Nengah Parta, Sisworo 697

[Link]
Oeleu, F. M., Leton, S. I., & Fernandez, A. J. (2019). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Ditinjau Berdasarkan Kecerdasan Emosional Siswa Kelas VII SMP. Asimtot : Jurnal
Kependidikan Matematika, 1(1), 51–59. [Link]
Rospitasari, M., Hartoyo, A., & Nursangaji, A. (2017). “Hubungan Kecerdasan Emosional Dan
Kemampuan Menyelesaikan Masalah Matematika Siswa Di Smp Bumi Khatulistiwa.” Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran Untan, 6(8), 1–12.
Siswono, T. Y. E. (2008). Model pembelajaran matematika berbasis pengajuan dan pemecahan
masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Surabaya: Unesa university press.
Smita, A., Jaeng, M., & Bennu, S. (2017). Profil pemecahan masalah sistem persamaan linier dua
variabel siswa sman 1 sindue ditinjau dari kecerdasan emosional. Mitra Sains, 5(4), 25–32.
Sugandi, A. I. (2013). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Setting Kooperatif Jigsaw
Terhadap Kemandirian Belajar Siswa Sma. Infinity Journal, 2(2), 144.
[Link]
Supriadi, D., Mardiyana, & Subanti, S. (2015). Analisis Proses Berpikir Siswa Dalam Memecahkan
Masalah Matematika Berdasarkan Langkah Polya Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional Siswa
Kelas VIII SMP Al Azhar Syifa Budi Tahun Pelajaran 2013/2014. Jurnal Elektronik
Pembelajaran Matematika, 3(2), 204–214.
[Link]
[Link]
Wahyuni, S., Hamdani, & Bistari. (2018). Deskripsi Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita
Matematika Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional Siswa MTs Negeri 1. Jurnal Pendidikan dan
Pembelajaran Khatulistiwa, 7(9), 1–8.
Yuwono, T., Supanggih, M., & Ferdiani, R. D. (2018). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Prosedur Polya. Jurnal Tadris
Matematika, 1(2), 137–144. [Link]

Anda mungkin juga menyukai