PRINSIP PEMBELAJARAN DAN ASESMEN (UMUM)
PENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING PADA PEMBELAJARAN
1. PENGERTIAN PENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING (CRT)
Culturally Renponsive Teaching merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran
yang fokus pada keberagaman latar belakang budaya peserta didik. Pada pendekatan CRT
ini pembelajaran akan memperhatikan persamaan hak dari setiap peserta didik dengan
capaian untuk mendapatkan pengajaran tanpa membedakan latar belakang budaya peserta
didik. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia tepat pada topik teks narasi fase E akan
digunakan penerapan pendekatan CRT. Hal ini diharapkan terciptanya pembelajaran yang
bermakna, menyenangkan, dan tentunya tetap melestarikan budaya sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang efektif. Pada intinya, melalui pendekatan CRT ini guru akan menyadari
bahwa pembelajaran tidak hanya mementingkan prestasi akademik, tetapi juga
mempertahakan identitas budaya peserta didik.
2. LANGKAH-LANGKAH DALAM PENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE
TEACHING (CRT)
Alur perancangan dan pelaksanaan pembelajaran berbasis pendekatan CRT dapat
dilaksanakan melalui beberapa tahapan berikut ini.
1) Guru merancang pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran, asesmen, dan kegiatan
pembelajaran.
2) Guru mengenalkan identitas budaya peserta didik terkait materi pembelajaran.
3) Guru mengontruksi pemahaman budaya dengan mengaitkan ilmu baru dan budaya
peserta didik.
4) Guru mengajak peserta didik berkolaborasi dalam kelompok membahas konsep budaya.
5) Guru mengembangkan berpikir kritis dengan membandingkan pemahaman transformasi
peserta didik.
6) Guru melakukan asesmen untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran.
3. TUJUAN PENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING (CRT)
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SMK
Tujuan yang akan dicapai dalam perancangan pembelajaran berbasis pendekatan CRT
pada pembealajaran Bahasa Indonesia SMK yakni sebagai berikut.
1) Mengakui keberagaman budaya dan latar belakang peserta didik sebagai bentuk nilai
budaya lingkungan yang positif.
2) Meningkatkan motivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran yang relevan
serta memiliki keterkaitan dengan pengalaman pribadi peserta didik.
3) Melibatkan keterlibatan peserta didik dalam mengakomodasi keberagaman budaya.
4) Menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi
peserta didik.
RANCANGAN PEMBELAJARAN MODUL AJAR
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Fase / Kelas :E/X
Materi : Teks Narasi
Subtopik : Menyelusuri Nilai dalam Cerita Lintas Zaman
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Penyusun : Laras Dien Hutami, [Link].
Sekolah : SMKS Terpadu Putra Jaya Batam
A. KOMPETENSI AWAL
Perangkat pembelajaran ini akan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam
menyimak hikayat, menilai dan mengkritisi karakterisasi plot cerita, memahami
kaidah-kaidah kebahasaan, dan menulis serta menyajaikan teks narasi.
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta didik diharapkan mampu :
1) Memahami dan menganalisis pesan dalam teks narasi berbentuk hikayat.
2) Menilai dan mengkritisi karakterisasi dan plot pada hikayat dan cerpen serta
mengaitkannya dengan nilai-nilai kehidupan yang berlaku pada masa lalu dan
sekarang.
3) Memahami kaidah-kaidah bahasa yang digunakan dalam menyusun teks hikayat
dan cerpen.
4) Menulis gagasan, pikiran, pandangan, arahan, atau pesan tertulis untuk berbagai
tujuan secara logis, kritis, dan reflektif dalam bentuk teks fiksi dan
mempublikasikannya di media cetak maupun digital.
5) Menyajikan teks narasi dalam bentuk monolog secara runut dan kreatif.
C. PROFIL PELAJAR PANCASILA
1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, meyakini adanya relevansi
cerita dan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.
2) Berkebinaan global, ditujukan pada kegiatan mengenal keberagaman budaya dari
cerita lokal.
3) Bergotong-royong, kegiatan kolaborasi bersama teman sekelompok untuk
mnyelesaikan tugas dengan kesepakatan yang baik.
4) Bernalar kritis, ditunjukkan dengan kegiatan analisis, evaluasi, dan menulis teks
narasi.
5) Mandiri, ditnjukkan dengan kegiatan menulis, mepresentasikan teks narasi dan
merefleksikan untuk pengembangan diri.
6) Kreatif, ditunjukkan pada kegiatan mencari sumber informasi dan Menyusun tugas
mandiri.
D. TUJUAN PEMBELAJARAN
1) Menyimak hikayat yang dibacakan yang dibacakan oleh orang lain untuk
memahami dan menganalisis pesan dalam teks narasi berbentuk hikayat.
2) Membaca untuk menilai dan mengkritisi karakterisasi dan plot pada hikayat dan
cerpen serta mengaitkannya dengan nialai-nilai kehidupan yang berlaku pada masa
lalu dan sekarang.
3) Memahami kaida-kaidah bahasa yang digunakan dalam menulis teks hikayat dan
cerpen.
E. PEMAHAMAN BERMAKNA
1) Peserta didik akan mampu mengindentifikasi karakteristik hikayat dan nilai-nilai
yang terkandung dalam hikayat.
2) Peserta didik mampu menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat
untuk membuat cerita pendek.
F. PERTANYAAN PEMANTIK
1) Apakah yang Anda ketahui tentang hikayat?
2) Apakah yang Anda pahami tentang nilai-nilai dalam hikayat?
3) Apakah yang membedakan hikayat dengan cerpen?
G. SARANA DAN PRASARANA
1) Buku teks Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum Merdeka
2) Gawai dan internet
3) Papan tulis, laptop, proyektor LCD
4) Video pembelajaran, Handout materi
5) LKPD
H. MODEL PEMBELAJARAN
1) Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT)
2) Pembelajaran tatap muka
3) Discovery Learning
4) Diskusi dan pengerjaan tugas kelompok
I. TARGET PESERTA DIDIK
1) Peserta didik regular dalam artian tidak memiliki kesulitan dalam memahi materi
ajar.
2) Peserta didik dengan keterbatasan gaya belajaranya.
3) Peserta didik dengan penalaran tinggi dan cepat dalam berpikir.
J. JUMLAH PESERTA DIDIK
Jumlah siswa : 20 siswa / kelas
K. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
a. Kegiatan Awal (15 menit)
1. Guru bersama peserta didik mengawali pembelajaran dengan berdoa terlebih
dahulu.
2. Guru dan peserta didik menyanyikan satu lagu nasional dan satu lagu daerah.
3. Guru menyapa kabar dan memeriksa kehadiran peserta didik.
4. Guru menanyakan kesiapan belajar dengan memberikan pertanyaan pemantik
untuk mengetahui kemmapuan dasar siswa dengan pertanyaan berikut.
✓ Apakah yang Anda ketahui tentang hikayat?
✓ Apakah yang Anda pahami tentang nilai-nilai dalam hikayat?
✓ Apakah yang membedakan antara hikayat dan cerpen?
5. Guru membuat catatan anecdotal terkait jawaban siswa pada asesmen awal
sebagai bahan merancang aktivitas selanjutnya.
b. Kegiatan Inti (60 menit)
1. Guru secara singkat menyampaikan terlebih dahulu tentang materi dasr hikayat.
2. mempersilahkan siswa untuk membentuk 5 kelompok masing-masing
beranggotakan 5 siswa yang dikumpulkan dari perbedaan asal latar budaya
peserta didik. Hal ini nantinya akan berlanjut pada kegiatan berikutnya.
3. Kelompok yang telah terbentuk, akan menyimak terlebih dahulu teks hikayat
yang disediakan oleh guru dari buku teks ajar dan nantinya siswa akan mengisi
tabel yang terdapat pada buku siswa serta disertai dengan ringkasan sesuai yang
dibagikan dalam LKPD.
4. Peserta didik dalam kelompoknya secara begantian akan bertukar peran
menjadi pembaca dan pendengar.
5. Peserta didik diberikan kesempatan untuk menyampaikan kendala yang
dihadapi selama bertukar peran.
6. Guru memberikan apresiasi bagi kelompok yang lebih dahulu tampil
menyampaikan hasil diskusi kelompoknya disertai dengan budaya berpantun di
awal presentasi..
c. Kegiatan Penutup (15 menit)
1. Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi yang telah dipelajari untuk
hari ini sebagai penguatan terhadap pemahaman peserta didik.
2. Guru menyampaikan rencana pembalajaran untuk pertemuan berikutnya.
3. Guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap materi pembelajaran serta
umpan balik dari kegiatan pembelajaran yang sudah dilaksanakan.
4. Guru dan peserta didik mengakhiri pembelajaran dengan berdoa bersama.
L. PENILAIAN
1) Penilaian diagnostik di awal pembelajaran.
2) Penilaian formatif selama kegiatan diskusi dengan metode observasi.
3) Penilaian sumatif dengan memberikan tugas menyelesaikan LKPD.
Batam, 7 Juni 2025
Mengatahui,
Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran,
Masitah Amaliah Iskandar, S. Tr. Keb. Laras Dien Hutami, [Link].
DOKUMENTASI KEGIATAN
Foto disamping adalah dokumentasi dari
kegiatan saat memberikan penjelasan terkait
rancangan modul ajar yang dibuat untuk
pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan
Culturally Responsive Teacing (CRT).
Tiga foto tersebut adalah dokumentasi kegiatan
aksi nyata dari pemebalajaran sebelumnya
yang sudah menerapkan pendekatan Culturally
Responsive Teaching (CRT)
REFLEKSI GURU
Hal yang saya peroleh setelah menerapkan pendekatan Culturally Responsive Teaching
(CRT) adalah menyadari bahwa keberagaman yang ditunjukkan pada peserta didik tidak cukup
untuk dipandang sekilas. Alasan terkuatnya adalah, dengan bermula dari adanya keberagaman
maka akan muncul suatu kejadian unik yang apabila tidak dikelola dengan baik justru akan
menjadi suatu kendala. Begitu pula dalam proses kegiatan mengajar. Guru harus memberi
perhatian baik dari mana saja muncul keberagaman peserta didik. Selain gender, usia, tingkatan
sosial, ada satu hal penting yang sangat berpengaruh yakni keberagaman budaya. Pada hal
ini,dituntut siap untuk memahami keberagaman budaya peserta didik yang nantinya akan terus
bermunculan selama proses pembelajaran berlangsung.
Identitas budaya peserta didik menjadi elemen kuat yang mendukung terlaksananya
proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus menyusun rancangan pembelajaran yang
relevansi dengan jati diri siswa. Guru juga harus lebih aktif untuk menggali lebih dalam
keberagaman budaya peserta didik dalam kegiatan belajar seperti saat berkomunikasi,
berdiskusi, hingga saat peserta didik menampilkan suatu hasil tugasnya. Melalui pendekat CRT
ini pula, terlihat bahwasanya kegiatan belajar bukan semata untuk transfer ilmu, melainkan
transfer identitas budaya juga dilakukan.
Tahap awal dalam menerapkan pendekatan CRT sejatinya muncul rasa ragu. Apakah
saya akan berhasil menciptakan kelas dengan pembelajaran yang bermakna dan
menyenangkan? Apakah reaksi siswa nantinya saat secara logika menghubungkan nilai budaya
pada pembelajaran Bahasa Indonesia?. Namun, setelah dijalani justru menunjukkan respon dan
hasil yang baik. Peserta didik semakin belajar memaknai bahwa dengan adanya keberagaman
budaya yang dimiliki oleh masing-masing identitas justru saling menguatkan. Pseserta didik
juga ikut belajar memahami budaya dan menerimanya yang mungkin saja itu adalah hal baru
bagi dirinya.
Pada implementasinya, berdasarkan beragam pendekatan yang telah dipelajari, saya
semakin yakin bahwa pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) adalah pendekatan
yang relevan pada mata pelajaran yang saya ampu. Saya semakin sadar bahwa guru tidak hanya
fokus memperhatikan perkembangan akademik dalam belajar, namun perkembangan
mempelajari budaya juga perlu disertai karena itu akan menguatkan identitas jati diri siswa.
Pendekatan CRT juga bisa menjadi strategi pendekatan yang fleksibel untuk mengoptimalkan
tujuan pembelajaran dan menciptakan lingkungan belajar yang bekesadaran, bermakna, dan
menyenangkan.
UMPAN BALIK REKAN SEJAWAT
Dengan melakukan pendekatan CRT, murid
akan meraa dihargai dan termotivasi untuk belajr.
Meraka akan lebih terlibat dalm proses
pembelajran karena materi yang diajarkan relevan
dengan kehidupan mereka sehari-hari dan budaya
mereka. (Muhammad Fernanda , S.M.)
Menurut pendapat saya, implementasi
penedkatang yang Bu Laras lakukan sudah sangat
baik untuk mengajarkan siswa untuk menghargai
budaya dan dapat menumbuhkan kreativitas siswa.
Saya menjadi tertarik untuk mengimplementasikan
pendekatan CRT dalam metode pengajaran saya.
(Erika Marianti, [Link].)
Pendekatan CRT yang Bu Laras terapkan sangat
inspiratif. Dengan kegiatan menyanyikan lagu
nasional, lagu daerah, serta pantun, bisa juga
meningkatkan kesadaran dan apresiasi siswa
terhadap budaya lokal dan nasioanl. Saya
terispirasi untuk mencoba pendekatan CRT. Terima
kasih Bu Laras. (Feni Amalia Octasari, [Link].)
Dengan pendekatan CRT peserta didik akan
memiliki kepercayaan diri lebih baik sehingga
dapat mengoptimalkan hasil belajar peserta didik.
Pendekatan ini sangat cocok dalam proses
pembelajaran karena memang peserta didik dalam
satu kelas memiliki budaya yang beragam. (Febri
Sahputri, S. Pd.)