0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan19 halaman

Analisis Risiko Bunuh Diri RBD-067

Dokumen ini membahas risiko bunuh diri sebagai masalah kesehatan mental yang serius, termasuk definisi, penyebab, dan faktor risiko yang dapat memicu perilaku bunuh diri. Penekanan diberikan pada pentingnya pengetahuan dan keterampilan perawat dalam merawat pasien dengan risiko bunuh diri, serta penatalaksanaan medis dan keperawatan yang diperlukan. Tanda dan gejala, serta klasifikasi bunuh diri juga dijelaskan untuk meningkatkan pemahaman tentang perilaku destruktif ini.

Diunggah oleh

Rinduputri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan19 halaman

Analisis Risiko Bunuh Diri RBD-067

Dokumen ini membahas risiko bunuh diri sebagai masalah kesehatan mental yang serius, termasuk definisi, penyebab, dan faktor risiko yang dapat memicu perilaku bunuh diri. Penekanan diberikan pada pentingnya pengetahuan dan keterampilan perawat dalam merawat pasien dengan risiko bunuh diri, serta penatalaksanaan medis dan keperawatan yang diperlukan. Tanda dan gejala, serta klasifikasi bunuh diri juga dijelaskan untuk meningkatkan pemahaman tentang perilaku destruktif ini.

Diunggah oleh

Rinduputri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO BUNUH DIRI

Oleh :
Nama : Luh Rindu Putri Deviani
NIM : 23089014067
Semester : 4

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2025/2026
A. MASALAH UTAMA

Resiko Bunuh Diri

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Definisi
Risiko bunuh diri adalah risiko untuk mencederai diri sendiri
yang dapat mengancam kehidupan pasien itu sendiri. Bunuh diri
merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk
mengakhiri hidupnya. Perilaku bunuh diri pada seseorang disebabkan
karena stress atau depresi yang berat dan berkepanjangan Dimana
individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan
dalam mengatasi masalahnya. Beberapa alasan individu mengakhiri
hidupnya karena kegagalan dalam beradaptasi sehingga tidak dapat
mengatasi stress, perasaan terisolasi atau dibully, dapat terjadi karena
kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang
berarti dengan orang terdekat, perasaan marah atau bermusuhan, bunuh
diri dapat merupakan sebuah hukuman pada diri sendiri, dan cara untuk
mengakhiri keputusasaan. (Ns Diah Sukaesti, M. Kep, 2020).
Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena pasien
berada dalam keadaan stres yang tinggi dan menggunakan koping yang
maladaptif. Situasi gawat pada bunuh diri adalah saat ide bunuh diri
timbul secara berulang tanpa rencana yang spesifik atau percobaan
bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk bunuh diri. Oleh karena
itu, diperlukan pengetahuan dan keterampilan perawat yang tinggi
dalam merawat pasien dengan tingkah laku bunuh diri, agar pasien tidak
melakukan tindakan bunuh diri.

2. Rentang Respon
ADAFTIF MALADAFTIF

Peningkatan Pertumbuhan Perilaku Pencederaan Bunuh Diri


Diri Peningkatan Destruktif diri diri
beresiko Tak langsung
Keterangan :

a) Peningkatan diri yaitu seorang individu yang mempunyai


pengharapan, yakin, dan kesadaran diri meningkat.
b) Pertumbuhan-peningkatan berisiko, yaitu merupakan posisi
pada rentang yang masih normal dialami individu yang
mengalami perkembangan perilaku.
c) Perilaku destruktif diri tak langsung, yaitu setiap aktivitas yang
merusak kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah
kepada kematian, seperti perilaku merusak, mengebut, berjudi,
tindakan kriminal, terlibat dalam rekreasi yang berisiko tinggi,
penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang secara sosial,
dan perilaku yang menimbulkan stres.
d) Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri
sendiri yang dilakukan dengan sengaja. Pencederaan dilakukan
terhadap diri sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan cedera
tersebut cukup parah untuk melukai tubuh. Bentuk umum
perilaku pencederaan diri termasuk melukai dan membakar
kulit, membenturkan kepala atau anggota tubuh, melukai
tubuhnya sedikit demi sedikit, dan menggigit jari.
e) Bunuh diri, yaitu tindakan agresif yang langsung terhadap diri
sendiri untuk mengakhiri kehidupan.
3. Etiologi
Faktor Risiko

a) Menurut SDKI resiko bunuh diri (D. 0135)

- Gangguan perilaku mis. Euphoria, mendadak


setelah depresi, perilaku mencari senjata
berbahaya, membeli obat dalam jumlah banyak-
banyak, membuat surat warisan
- Demografi mis. Lansia status perceraian janda atau
duda, ekonomi rendah,pengangguran,
- Gangguan fisik mis. Nyeri kronis, penyakit terminal
- Masalah social mis. Berduka, tidak berdaya,
putus asa, kesepian, kehilangan hubungan yang
penting isolasi social
- Gangguan psikologis mis. Penganiyayan masa
kanak-kanak, Riwayat bunuh diri sebelumnya,
remaja homo seksual, gangguan psikiatrik, penyakit
psikiatrik, penyalagunaan zat
Faktor Perilaku

a) Ketidakpatuhan
Ketidakpatuhan biasanya dikaitkan dengan program pengobatan
yang dilakukan (pemberian obat). Pasien dengan keinginan
bunuh diri memilih untuk tidak memperhatikan dirinya.
b) Pencederaan diri
Cedera diri adalah sebagai suatu tindakan membahayakan diri
sendiri yang dilakukan dengan sengaja. Pencederaan diri
dilakukan terhadap diri sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan
cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh.
c) Perilaku bunuh diri
Biasanya dibagi menjadi tiga kategori, yaitu sebagai
berikut.

o Ancaman bunuh diri, yaitu peringatan verbal dan nonverbal


bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri.
Orang tersebut mungkin menunjukkan secara verbal bahwa
ia tidak akan berada di sekitar kita lebih lama lagi atau
mungkin juga mengomunikasikan secara nonverbal melalui
pemberian hadiah, merevisi wasiatnya, dan sebagainya.
o Upaya bunuh diri, yaitu semua tindakan yang diarahkan
pada diri sendiri yang dilakukan oleh individu yang dapat
mengarahkan pada kematian jika tidak dicegah.
o Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan
terlewatkan atau terabaikan. Orang yang melakukan upaya
bunuh diri dan yang tidak benar-benar ingin mati mungkin
akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat
pada waktunya.
a) Pengkajian lingkungan upaya bunuh diri.

o Presipitasi peristiwa kehidupan yang


menghina/menyakitkan.
o Tindakan persiapan/metode yang dibutuhkan,
mengatur rencana, membicarakan tentang bunuh
diri, memberikan barang berharga sebagai
hadiah, catatan untuk bunuh diri.
o Penggunaan cara kekerasan atau obat/racun yang
lebih mematikan.
o Pemahaman letalitas dari metode yang dipilih.
o Kewaspadaan yang dilakukan agar tidak
diketahui.
b) Petunjuk gejala
o Keputusasaan.
o Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal, dan
tidak berharga.
o Alam perasaan depresi.
o Agitasi dan gelisah.
o Insomnia yang menetap.
o Penurunan berat badan.
o Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari
lingkungan sosial.
c) Penyakit psikiatrik
o Upaya bunuh diri sebelumnya.
o Kelainan afektif.
o Alkoholisme dan atau penyalahgunaan obat.
o Kelainan tindakan dan depresi pada remaja.
o Demensia dini dan status kekacauan mental pada
lansia.
o Kombinasi dari kondisi di atas.
d) Riwayat psikososial
o Baru berpisah, bercerai, atau kehilangan.
o Hidup sendiri.
o Tidak bekerja, perubahan, atau kehilangan
pekerjaan yang baru dialami.
o Stres kehidupan ganda (pindah, kehilangan,
putus hubungan yang berarti, masalah sekolah,
ancaman terhadap krisis disiplin).
o Penyakit medis kronis.
o Minum yang berlebihan dan penyalahgunazat.
e) Faktor-faktor kepribadian
o Impulsif, agresif, rasa bermusuhan
o Kekakuan kognitif dan negatif.
o Keputusasaan.
o Harga diri rendah.
o Batasan atau gangguan kepribadian antisosial.
f) Riwayat keluarga
o Riwayat keluarga berperilaku bunuh diri.
o Riwayat keluarga gangguan afektif, alkoholisme,
atau keduanya.
Faktor Predisposisi
Lima domain faktor risiko menunjang pada pemahaman
perilaku destruktif diri sepanjang siklus kehidupan
a) Diagnosis psikiatri
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya
dengan bunuh diri mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa.
Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko
untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif, skizofrenia, dan
penyalahgunaan zat.
b) Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan
besarnya risiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif,
dan depresi.
c) Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian,
kehilangan yang dini, dan berkurangnya dukungan sosial
merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri.
d) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
merupakan faktor risiko penting untuk perilaku destruktif.
e) Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara serotonegik, opiatergik, dan
dopaminergik menjadi media proses yang dapat menimbulkan
perilaku merusak diri.
Faktor penyebab tambahan terjadinya bunuh diri antara lain
sebagai berikut
a) Penyebab bunuh diri pada anak
o Pelarian dari penganiayaan dan pemerkosaan.
o Situasi keluarga yang kacau.
o Perasaan tidak disayangi atau selalu dikritik
o Gagal sekolah.
o Takut atau dihina di sekolah.
o Kehilangan orang yang dicintai.
o Dihukum orang lain.
b) Penyebab bunuh diri pada remaja.
o Hubungan interpersonal yang tidak bermakna.
o Sulit mempertahankan hubungan interpersonal.
o Pelarian dari penganiayaan fisik atau pemerkosaan.
o Perasaan tidak dimengerti orang lain.
o Kehilangan orang yang dicintai.
o Keadaan fisik.
o Masalah dengan orang tua.
o Masalah seksual.
o Depresi.

c) Penyebab bunuh diri pada mahasiswa.


o Self ideal terlalu tinggi.
o Cemas akan tugas akademik yang terlalu banyak.
o Kegagalan akademik berarti kehilangan penghargaan
dan kasih sayang orang tua.
o Kompetisi untuk sukses.

d) Penyebab bunuh diri pada usia lanjut.


o Perubahan status dari mandiri ke ketergantungan.
o Penyakit yang menurunkan kemampuan berfungsi.
o Perasaan tidak berarti di masyarakat.
o Kesepian dan isolasi sosial.
o Kehilangan ganda, seperti pekerjaan, kesehatan, pasangan.
o Sumber hidup bergantung.

Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat diakibatkan oleh stress
berlebihan yang dirasakan oleh individu. Pencetusnya sering kali
berupa pengalaman hidup yang memalukan. Faktor lainnya yang
dapat menjadi penyebab perilaku destruktif adalah individu
tersebut melihat atau membaca berita melalui media cetak maupun
elektronik mengenai orang yang

melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Pada individu-


individu yang sedang labil emosinya, hal yang seperti itu dapat
memicu individu tersebut melakukan hal yang sama.
4. Tanda dan Gejala
a) Sedih
b) Marah
c) Putus asa
d) Tidak berdaya
e) Memberikan isyarat verbal maupun non verbal
f) Mempunyai ide bunuh diri
g) Mengungkapkan ide untuk bunuh diri
h) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusan
i) Implusif
j) Menunjukkan perilaku mencurigakan ( biasanya menjadi
sangat patuh )
k) Memiliki Riwayat percobaan bunuh diri
l) Verbal terselubung (berbicara kematian, menanyakan
tentang dosis obat kematian)
5. Patofisiologi
Setiap upaya percobaan bunuh diri selalu diawali dengan adanya
motivasi untuk bunuh diri dengan berbagai alasan, berniat
melaksanakan bunuh diri, mengembangkan gagasan sampai akhirnya
melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, adanya percobaan bunuh diri
merupakan masalah keperawatan yang harus mendapatkan perhatian
serius. Sekali pasien berhasil mencoba bunuh diri, maka selesai riwayat
pasien. Untuk itu, perlu diperhatikan beberapa mitos (pendapat yang
salah) tentang bunuh diri.
6. Klasifikasi
Jenis Bunuh Diri
a) Bunuh diri egoistik
Akibat seseorang yang mempunyai hubungan sosial yang
burburu
b) Bunuh diri altruistik
Akibat kepatuhan pada adat dan kebiasaan.
c) Bunuh diri anomik
Akibat lingkungan tidak dapat memberikan kenyamanan bagi
individu

Pengelompokan Bunuh Diri


a) Isyarat bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara
tidak langsung ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan
“Tolong jaga anak-anak karena saya akan pergi jauh!” atau
“Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.” Pada kondisi ini
pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri
hidupnya, tetapi tidak disertai dengan ancaman dan percobaan
bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan perasaan seperti
rasa bersalah/sedih/marah/putus asa/tidak berdaya. Pasien juga
mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang
menggambarkan harga diri rendah.
b) Ancaman bunuh diri
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, yang
berisi keinginan untuk mati disertai dengan rencana untuk
mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan
rencana tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan rencana
bunuh diri, tetapi tidak disertai dengan percobaan bunuh diri.
Walaupun dalam kondisi ini pasien belum pernah mencoba
bunuh diri, pengawasan ketat harus dilakukan. Kesempatan
sedikit saja dapat dimanfaatkan pasien untuk melaksanakan
rencana bunuh dirinya.
c) Percobaan bunuh diri
Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai
atau melukai diri untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi
ini, pasien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung
diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri
dari tempat yang tinggi.

7. Penatalaksanaan

a) Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan

➢ Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada klien
resiko bunuh dirisalah satunya adalah dengan terapi
farmakologi. Menurut (videbeck, 2008), obat-obat yang
biasanya digunakan pada klien resiko bunuh diri adalah :
o SSRI (selective serotonine reuptake inhibitor)
(fluoksetin 20 mg/hari per oral)
o venlafaksin (75-225 mg/hari per oral)
o nefazodon (300-600 mg/hari per oral)
o trazodon (200-300mg/hari per oral)
o bupropion (200-300 mg/hari per oral).

Obat-obat tersebut sering dipilih karena tidak berisiko


letal akibat overdosis. Mekanisme kerja obat tersebut akan
bereaksi dengan sistem neurotransmite monoamin di otak
khususnya norapenefrin dan serotonin. Kedua
neurotransmitter ini dilepas di seluruh otak dan membantu
mengatur keinginan, kewaspadaan, perhataian, mood, proses
sensori, dan nafsu makan.
➢ Penatalaksanaan Keperawata

FSetelah dilakukan pengkajian pada klien dengan resiko


bunuh diri selanjutnya perawat dapat merumuskan diagnosa
dan intervensi yang tepat bagi klien. Tujuan dilakukannya
intervensi pada klien dengan resiko bunuh diri adalah :
o Klien tetap aman dan selamat
o Klien mendapat perlindungan diri dari lingkungannya
o Klien mampu mengungkapkan perasaannya
o Klien mampu meningkatkan harga dirinya
o Klien mampu menggunakan cara penyelesaian yang baik

b) Penatalaksanaan Klien Dengan Perilaku Bunuh Diri


Menurut Stuart dan Sundeen (1997, dalam Keliat, 2009:13)
mengidentifikasi intervensi utama pada klien untuk perilaku
bunuh diri yaitu :
o Melindungi
Merupakan intervensi yang paling penting untuk
mencegah klien melukai dirinya. Intervensi yang dapat
dilakukan adalah tempatkan
klien di tempat yang aman, bukan diisolasi dan perlu
dilakukan pengawasan, temani klien terus- menerus sampai
klien dapat dipindahkan ke tempat yang aman dan jauhkan
klien dari semua benda yang berbahaya.
o Meningkatkan harga diri
Klien yang ingin bunuh diri mempunyai harga diri yang
rendah. Bantu klien mengekspresikan perasaan positif dan
negatif. Berikan pujian pada hal yang positif.
o Menguatkan koping yang konstruktif/sehat
Perawat perlu mengkaji koping yang sering dipakai klien.
Berikan pujian penguatan untuk koping yang konstruktif.
Untuk koping yang destruktif perlu dimodifikasi atau
dipelajari koping baru.
o Menggali perasaan
Perawat membantu klien mengenal perasaananya. Bersama
mencari faktor predisposisi dan presipitasi yang
mempengaruhi prilaku klien.
o Menggerakkan dukungan sosial
Untuk itu perawat mempunyai peran menggerakkan sistem
sosial klien, yaitu keluarga, teman terdekat, atau lembaga
pelayanan di masyarakat agar dapat mengontrol prilaku
klien.

c) Penatalaksanaan klien dengan resiko bunuh diri yaitu:

o Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh


diri, yaitu dengan meminta bantuan dari keluarga atau
teman.
o Meningkatkan harga diri klien, dengan cara:

1. Memberi kesempatan klien mengungkapkan


perasaannya.
2. Berikan pujian bila klien dapat mengatakan
perasaan yang positif.
3. Meyakinkan klien bahwa dirinya penting
4. Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya
disyukuri oleh klien
5. Merencanakan aktifitas yang dapat klien lakukan

o Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan


cara:

1. Mendiskusikan dengan klien cara menyelesaikan


masalahnya
2. Mendiskusikan dengan klien efektifitas masing-
masing cara penyelesaian masalah
3. Mendiskusikan dengan klien cara menyelesaikan
masalah yang lebih baik
4.
8. Pohon Masalah

Effect Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan


lingkungan

Core Problem Resiko Bunuh Diri

Couse Isolasi sosial

Gangguan Konsep Diri : HDR

C. MASALAH KEPERAWANAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


Data Subjektif
1. Klien mengatakan keinginan bunuh diri.

2. Klien mengatakan keinginan untuk mati.

3. Klien mengatakan rasa bersalah dan keputusasaan.

4. Keluarga klien mengatakan ada riwayat ulang percobaan


bunuh diri sebelumnya.
5. Klien berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis
obat yang mematikan.
6. Klien mengatakan adanya konflik interpersenoal.

7. Klien mengatakan telah menjadi korban perlaku kekerasaan


saat kecil (trauma).

Data Objektif

1. Implusif

2. Klien menunjukan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi


sangat patuh).
3. Klien memiliki riwayat penyakit mental (depresi
,psikosis, dan penyalahgunaan alcohol).
4. Klien memiliki Riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau
penyakit terminal).
5. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan
dalam karier).

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Resiko Bunuh Diri (D.0135)


E. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

No Hari/Tgl/Jam Diagnosa Perencanaan


Keperawatan SLKI SIKI
Risiko Bunuh Setelah …x dilakukan tindakan Pencegahan bunuh diri (I. 14538)
Diri keperawatan diharapkan kontrol Diri Observasi :
(D.0135) (L.09076) meningkat dengan kriteria - Identifikasi gejala resiko bunuh diri (mis.
hasil : Gangguan mood, halusinasi, delusi, panik,
Gejala tanda - Verbalisasi ancaman kepada menyalagunaan zat, kesedihan
mayor : - orang lain menurun - Identifikasi keinginan dan pikiran rencana
- Verbalisasi umpatan menurun bunuh diri
Tanda minor : - Perilaku menyerang menurun - Monitor lingkungan bebas bahaya secara detail
- - Perilaku melukai diri ( mis. Barang pribadi, pisau cukur, jendela)
sendiri/orang lain menurun - Monitor adanya perubahan mood atau prilaku
- Perilaku merusak lingkungan Terapeutik :
menurun - Libatkan dalam perencanaan perawatan mandiri
- Perilaku agresif amuk - Libatkan keluarga dalam perencanaan
menurun perawatan
- Suara keras menurun
- Bicara ketus - Lakukan mendekatan langsung dann tidak
menghakimi saat membahas bunuh diri
- Berikan lingkungan dengan pengamanan
ketat dan mudah di pantau (mis. Tempat tidur
dekat dengan perawat)
- Tingkatkan pengawasan pada kondisi
tertentu (mis. Rapat staf pergantian shif)
- Lakukan intervensi pelindungan (mis.
Pembatasan area, pengekangan fisik jika
diperlukan)
- Hindari diskusi berulang tentang bunuh diri
sebelumnya
- Diskusi berorientasi pada masa sekarang
dan masa depan
- Diskusikan rencana menghadapi ide bunuh diri
dimasa depan (mis. Orang yang dihubungi
kemana mencari bantuan)
- Pastikan obat ditelan
Edukasi :
- Anjurkan mendiskusikan perasaan yang dialami
kepada orang lain
- Anjurkan mengajarkan sumber pendukung
(mis. Layanan spiritual, penyedia layanan)
- Jelaskan Tindakan pencegahan bunuh diri
kepada keluarga atau orang terdekat
- Informasikan sumber daya masyarakat
dan program yang tersedia
- Latih pencegahan resiko bunuh diri (mis.
Latihan asertif,relaksasi otot progresif)
Kolaborasi :
- Pemberian obat antiansietas atau antipsikotik
sesuai indikasi
- Kolaborasi Tindakan keselamatan kepada PPA
- Rujuk kepelayanan kesehatan mental jika perlu
F. IMPLEMENTASI

Implementasi tindak keperawatan disesuaikan dengan rencana


tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah
direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana
tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh klien saat ini (here and now)
perawat juga menilai diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan
interpersonal, intelektual, dan teknikal yang diperlukan untuk
melaksanakan tindakan. Perawat juga menilai kembali apakah tindakan
aman bagi klien Setelah tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan
boleh dilaksanakan. Pada saat akan melakukan tindakan keperawatan,
perawat membuat kontrak dengan klien yang isinya menjelaskan apa yang
akan dilakukan dan peran serta yang diharapkan klien. Dokumentasikan
semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respon klien.
(Direja,2019)
H. EVALUASI

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan


SOAP sebagai pola pikir:
S : Respon subyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan. Dapat dilakukan dengan menanyakan langsung
kepada klien tentang tindakan yang telah dilakukan.
O : Respon obyektif klien terhadap tindakankeperawatan yang telah
dilakukan. Dapat diukur dengan mengobservasi prilaku klien pada
saat tindakan dilakukan, atau menanyakan kembali apa yang telah
dilaksanakan atau member umpan balik sesuai dengan hasil
observasi.
A : Analisis ulang atas data subyektif dan obyektif untuk
menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah
baru atau ada data kontra indikasi dengan masalah yang ada, dapat
juga membandingkan hasil dengan tujuan.
P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisis pada
respon klien yang terdiri dari tindak lanjut klien dan perawat

Menurut Yusuf, Fitryasari & Nihayati, 2015 adapan evalusia


keperawatan antara lain :
1. Untuk pasien yang memberikan ancaman atau melakukan
percobaan bunuh diri, keberhasilan asuhan keperawatan ditandai
dengan keadaan pasien yang tetap aman dan selamat.
2. Untuk keluarga pasien yang memberikan ancaman atau melakukan
percobaan bunuh diri, keberhasilan asuhan keperawatan ditandai
dengan kemampuan keluarga berperan serta dalam melindungi
anggota keluarga yang mengancam atau mencoba bunuh diri.
3. Untuk pasien yang memberikan isyarat bunuh diri, keberhasilan
asuhan keperawatan ditandai dengan hal berikut.
• Pasien mampu mengungkapkan perasaanya.

• Pasien mampu meningkatkan harga dirinya.


• Pasien mampu menggunakan cara penyelesaian
masalah yang baik.

4. Untuk keluarga pasien yang memberikan isyarat bunuh diri,


keberhasilan asuhan keperawatan ditandai dengan kemampuan
keluarga dalam merawat pasien dengan risiko bunuh diri, sehingga
keluarga mampu melakukan hal berikut.
• Keluarga mampu menyebutkan kembali tanda dan gejala
bunuh diri.
• Keluarga mampu memperagakan kembali cara-cara
melindungi anggota keluarga yang berisiko bunuh
diri
DAFTAR PUSTAKA

Herman, Ade. (2016).Buku Ajar Asuhan Keperawatan [Link]: Medical


Book
Ramadia, N. A., Kep, M., Saswati, N. N., Kep, M., Silalahi, N. M., Kep, M.,
... & Kep, M. (2023). Buku Ajar Jiwa S1 Keperawatan.
Mahakarya Citra Utama Group.
Rosyad, Y. S. Modul keperawatan Jiwa 2 2019/2022.
Yafi Sabila, R. Modul Praktik Keperawatan Jiwa II.
Wenny, B. P., Freska, W., & Refnandes, R. (2023). Buku ajar keperawatan
psikiatri.

Common questions

Didukung oleh AI

Penatalaksanaan medis termasuk penggunaan terapi farmakologi dengan obat-obatan seperti SSRI, venlafaksin, dan bupropion yang bereaksi dengan sistem neurotransmiter monoamin untuk mengatur mood dan keinginan. Dalam hal keperawatan, strategi meliputi perlindungan terhadap pasien dengan memastikan lingkungan aman dan mencegah akses ke benda-benda berbahaya. Peningkatan harga diri dan penguatan koping yang konstruktif juga penting. Penerapan strategi ini meningkatkan keselamatan pasien dengan cara menjaga mereka dari perilaku melukai diri, dan memastikan mereka terlibat dalam proses pemulihan melalui dukungan sosial dan psikososial .

Perubahan dalam lingkungan psikososial seperti kehilangan hubungan, perceraian, atau perubahan kerja dapat menyebabkan stres emosional yang intens, mengurangi dukungan sosial, dan memperburuk gejala depresi. Hal ini dapat memperkuat perasaan putus asa dan ketidakberdayaan. Langkah efektif untuk mengatasi hal ini meliputi dukungan sosial yang aktif, intervensi psikososial untuk membangun kembali hubungan sosial, serta terapi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan koping individu dalam menghadapi perubahan signifikan tersebut .

Faktor risiko yang dapat meningkatkan kecenderungan bunuh diri meliputi gangguan psikologis seperti penganiayaan masa kanak-kanak, riwayat bunuh diri sebelumnya, dan penyakit psikiatrik. Faktor demografi termasuk pada kelompok lansia, status perceraian, ekonomi rendah, dan pengangguran juga berperan. Selain itu, gangguan fisik seperti nyeri kronis atau penyakit terminal, serta masalah sosial seperti kehilangan hubungan penting dan isolasi sosial juga dapat meningkatkan risiko. Pengaruhnya terhadap individu termasuk munculnya perasaan tidak berharga, keputusasaan, dan stres yang tinggi, yang sering kali diikuti oleh perilaku destruktif dan koping yang maladaptif .

Bunuh diri egoistik terjadi ketika seseorang memiliki hubungan sosial yang lemah, merasa terasing dari komunitas atau budaya. Bunuh diri altruistik melibatkan individu yang sangat terikat pada norma dan kebiasaan kelompoknya sehingga bersedia mengorbankan diri demi kelompok. Sedangkan bunuh diri anomik terjadi ketika ada kerusakan dalam tatanan sosial yang menyebabkan disorientasi dan ketidakpuasan individu terhadap lingkungan sosialnya. Implikasinya, individu dapat merasa terisolasi atau tertekan karena perubahan dalam integrasi sosial mereka, serta tekanan sosial untuk berkontribusi dalam cara yang tidak sehat atau mengorbankan diri mereka .

Tantangan utama termasuk mengidentifikasi secara akurat risiko bunuh diri karena gejala yang bervariasi dan subjektif, memastikan keselamatan pasien 24/7, dan menangani potensi resistensi dari pasien yang tidak menyadari atau menolak bantuan. Tantangan ini dapat diatasi dengan pelatihan berkala untuk meningkatkan keahlian klinis perawat, penerapan protokol pengawasan yang ketat, dan kolaborasi dengan profesional kesehatan mental untuk menciptakan lingkungan dukungan yang integratif. Memperkuat komunikasi terbuka dengan pasien dan keluarga juga penting untuk mendorong partisipasi aktif dalam proses perawatan .

Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri punya sejarah dengan penyakit jiwa seperti gangguan afektif, skizofrenia, dan penyalahgunaan zat. Kondisi ini dapat memperburuk regulasi emosi dan koping, meningkatkan kecenderungan bunuh diri. Strategi penanganan termasuk terapi obat-obatan, konseling psikoterapi, latihan untuk meningkatkan koping adaptif, dan meningkatkan jaringan dukungan sosial. Intervensi tersebut bertujuan menstabilkan kondisi mental, mengurangi stres, dan mengajarkan pasien cara-cara baru mengatasi masalah mereka secara konstruktif .

Tanda dan gejala pada individu dengan ide bunuh diri termasuk kesedihan yang mendalam, perasaan marah, putus asa, tidak berdaya, serta isyarat verbal dan non-verbal yang menunjukkan ide untuk bunuh diri. Selain itu, juga terdapat impulsifitas, perilaku mencurigakan, dan riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya. Tanda-tanda ini dapat memprediksi perilaku bunuh diri di masa depan karena menunjukkan ketidakmampuan individu untuk mengatasi stres, serta adanya gangguan psikologis yang signifikan yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut .

Memahami mitos yang salah tentang bunuh diri seperti anggapan bahwa orang yang berbicara tentang bunuh diri tidak akan melakukannya, adalah penting karena dapat mempengaruhi respons dan intervensi kesehatan mental. Mengabaikan ancaman verbal atau perilaku yang menunjukkan niat bunuh diri karena salah kaprah dapat mengakibatkan kurangnya perhatian atau perawatan memadai. Ini berdampak pada siaga dan pengawasan yang tidak cukup, serta kesalahpahaman tentang urgensi dan keterkaitan tanda-tanda awal, sehingga mengurangi efektivitas tindakan pencegahan yang tepat waktu .

Perawat memiliki peran penting dalam melindungi pasien dari cedera diri dengan memastikan lingkungan aman, mengawasi pasien secara ketat, serta memberikan dukungan emosional dan sosial. Pengawasan ketat mencakup memastikan tidak ada benda berbahaya dan pasien dipantau secara terus menerus. Melibatkan keluarga penting karena dapat memberikan dukungan emosional yang kuat, serta membantu memantau perubahan perilaku yang mungkin tidak terdeteksi di fasilitas kesehatan. Keluarga juga dapat berperan aktif dalam manajemen tindakan bunuh diri dengan cara mereduksi isolasi sosial yang sering kali memicu perilaku destruktif .

Tindakan preventif termasuk identifikasi awal gejala risiko bunuh diri seperti gangguan mood dan delusi, pengamanan lingkungan dari benda berbahaya, dan diskusi pencegahan bunuh diri dengan keluarga. Efektivitas tindakan ini dapat diukur melalui pengurangan insiden perilaku melukai diri, peningkatan kontrol diri, dan peningkatan kualitas hidup individu yang terukur melalui penurunan tingkat stres dan kebahagiaan subyektif. Program edukasi dan pelatihan pencegahan untuk meningkatkan asertivitas dan relaksasi juga berperan dalam mendukung langkah-langkah preventif .

Anda mungkin juga menyukai