0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan14 halaman

Tantangan Layanan Publik di Indonesia

Dokumen ini membahas potret layanan publik di Indonesia, tantangan yang dihadapi, serta pentingnya akuntabilitas dan integritas dalam pelayanan publik. Ditekankan bahwa akuntabilitas harus diterapkan di semua tingkatan organisasi untuk mencegah korupsi dan meningkatkan efisiensi. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan mekanisme akuntabilitas dan langkah-langkah untuk menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel.

Diunggah oleh

agungsetiyono78
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan14 halaman

Tantangan Layanan Publik di Indonesia

Dokumen ini membahas potret layanan publik di Indonesia, tantangan yang dihadapi, serta pentingnya akuntabilitas dan integritas dalam pelayanan publik. Ditekankan bahwa akuntabilitas harus diterapkan di semua tingkatan organisasi untuk mencegah korupsi dan meningkatkan efisiensi. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan mekanisme akuntabilitas dan langkah-langkah untuk menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel.

Diunggah oleh

agungsetiyono78
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

POTRET PELAYANAN PUBLIK NEGERI INI

Potret Layanan Publik di Indonesia


Peribahasa ‘Waktu Adalah Uang’ digunakan oleh banyak ‘oknum’
untuk memberikan layanan spesial bagi mereka yang memerlukan waktu
layanan yang lebih cepat dari biasanya. Sayangnya, konsep ini sering
bercampur dengan konsep sedekah dari sisi penerima layanan yang
sebenarnya tidak tepat. Terminologi ‘oknum’ sering dijadikan kambing
hitam dalam buruknya layanan publik, namun, definisi ‘oknum’ itu
seharunya bila hanya dilakukan oleh segelintir personil saja, bila
dilakukan oleh semua, berarti ada yang salah dengan layanan publik di
negeri ini.
Tantangan Layanan Publik
Payung hukum terkait Layanan Publik yang baik tertuang dalam
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Layanan Publik. Pasal 4
menyebutkan Asas Pelayanan Publik yang meliputi:
a. kepentingan Umum, b. kepastian hukum, c. kesamaan hak, d.
keseimbangan hak dan kewajiban, e. keprofesionalan, f. partisipatif, g.
persamaan perlakuan/tidak diskriminatif h. keterbukaan, i. akuntabilitas,
j. fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan, k. ketepatan
waktu, dan l. kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.
Sejak diterbitkannya UU No.25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan
Publik, dampaknya sudah mulai terasa di banyak layanan. Tantangan itu
pun tidak statis, godaan dan mental/pola pikir pihak-pihak yang dahulu
menikmati keuntungan dari lemahnya sektor pengawasan layanan selalu
mencoba menarik kembali ke arah berlawanan.

Keutamaan Mental Melayani


Kentjacaraningrat dan Mochtar Lubis memiliki pandangan ciri-ciri
sikap dan mental Bangsa Indonesia secara umum:
Koentjaraningrat Mochtar Lubis
Lima sikap mental bermuatan Ciri manusia Indonesia yang
pola pikir koruptif yang berkonotasi negatif sebagai
merupakan warisan koloni- al warisan zaman penindasan.
yang “hidup” dalam pola pikir Ciri manusia Indonesia yang
manusia bangsa kita. Kelima disebutkan Mochtar Lubis
sikap mental itu adalah: yakni:
 mentalitas yang  mempunyai penampilan
meremehkan mutu; yang berbeda di depan
 mentalitas yang suka dan di belakang;
menerabas (instan);  segan dan enggan
 tidak percaya pada diri bertanggung jawab atas
sendiri; perbuatannya,
 tidak berdisiplin murni; putusannya, kelakuannya,
 mentalitas yang suka pikirannya, dan
mengabaikan tanggung sebagainya;
jawab.  jiwa feodalistik.

Harus Kita akui, ciri-ciri tersebut masih kental terlihat di


masyarakat di semua tingkatan.

KONSEP AKUNTABILITAS
Akuntabilitas adalah kata yang seringkali kita dengar, tetapi tidak
mudah untuk dipahami. Ketika seseorang mendengar kata akuntabilitas,
yang terlintas adalah sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak
mengetahui bagaimana cara mencapainya. Dalam banyak hal, kata
akuntabilitas sering disamakan dengan responsibilitas atau tanggung
jawab. Namun pada dasarnya, kedua konsep tersebut memiliki arti yang
berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab yang
berangkat dari moral individu, sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban
untuk bertanggung jawab kepada seseorang/ organisasi yang
memberikan amanat. Dalam konteks ASN Akuntabilitas adalah kewajiban
untuk mempertanggungjawabkan segala tindak dan tanduknya sebagai
pelayan publik kepada atasan, lembaga pembina, dan lebih luasnya
kepada publik (Matsiliza dan Zonke, 2017).
Amanah seorang ASN menurut SE Meneteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021 adalah
menjamin terwujudnya perilaku yang sesuai dengan Core Values ASN
BerAKHLAK. Dalam konteks Akuntabilitas, perilaku tersebut adalah:
 Kemampuan melaksanaan tugas dengan jujur, bertanggung jawab,
cermat, disiplin dan berintegritas tinggi
 Kemampuan menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara
bertanggung jawab, efektif, dan efisien
 Kemampuan menggunakan Kewenangan jabatannya dengan
berintegritas tinggi
Aspek-Aspek Akuntabilitas
 Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is a
relationship)
 Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results-
oriented)
 Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability requiers
reporting)
 Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is meaningless
without consequences)
 Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves
performance)
Pentingnya Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang berlaku
pada setiap level/unit organisasi sebagai suatu kewajiban jabatan dalam
memberikan pertanggungjawaban laporan kegiatan kepada atasannya.
Dalam beberapa hal, akuntabilitas sering diartikan berbeda-beda. Adanya
norma yang bersifat informal tentang perilaku PNS yang menjadi
kebiasaan (“how things are done around here”) dapat mempengaruhi
perilaku anggota organisasi atau bahkan mempengaruhi aturan formal
yang berlaku.
Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama (Bovens, 2007), yaitu:
 Untuk menyediakan kontrol demokratis (peran
demokrasi);
 untuk mencegah korupsi dan
penyalahgunaan ekuasaan (peran konstitusional);
 untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran belajar).
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu: akuntabilitas
vertikal (vertical accountability), dan akuntabilitas horizontal (horizontal
accountability). Akuntabilitas vertikal adalah pertanggungjawaban atas
pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi, misalnya
pertanggungjawaban unit-unit kerja (dinas) kepada pemerintah daerah,
kemudian pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, pemerintah
pusat kepada MPR.

Tingkatan Akuntabilitas
Bagan 1 Tingkatan Akuntabilitas

Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda yaitu


akuntabilitas personal, akuntabilitas individu, akuntabilitas kelompok,
akuntabilitas organisasi, dan akuntabilitas stakeholder.
 Akuntabilitas Personal (Personal Accountability)
Akuntabilitas personal mengacu pada nilai-nilai yang ada pada diri
seseorang seperti kejujuran, integritas, moral dan etika.
 Akuntabilitas Individu
Akuntabilitas individu mengacu pada hubungan antara individu dan
lingkungan kerjanya, yaitu antara PNS dengan instansinya sebagai
pemberi kewenangan.
 Akuntabilitas Kelompok
Kinerja sebuah institusi biasanya dilakukan atas kerjasama kelompok.
 AkuntabilitasOrganisasi
Akuntabilitas organisasi mengacu pada hasil pelaporan kinerja yang
telah dicapai, baik pelaporan yang dilakukan oleh individu terhadap
organisasi/institusi maupun kinerja organisasi kepada stakeholders
lainnya.
 Akuntabilitas Stakeholder
Stakeholder yang dimaksud adalah masyarakat umum, pengguna
layanan, dan pembayar pajak yang memberikan masukan, saran, dan
kritik terhadap kinerjanya.

PANDUAN PERILAKU AKUNTABEL


1. Akuntabilitas dan Integritas
Akuntabilitas dan Integritas adalah dua konsep yang diakui oleh
banyak pihak menjadi landasan dasar dari sebuah Administrasi sebuah
negara (Matsiliza dan Zonke, 2017)..
2. Integritas dan Anti Korupsi
Integritas adalah salah satu pilar penting dalam pemberantasan
korupsi. Secara harafiah, integritas bisa diartikan sebagai bersatunya
antara ucapan dan perbuatan. Jika ucapan mengatakan antikorupsi,
maka perbuatan pun demikian.
3. Mekanisme Akuntabilitas
Setiap organisasi memiliki mekanisme akuntabilitas tersendiri.
Untuk memenuhi terwujudnya organisasi sektor publik yang
akuntabel, maka mekanisme akuntabilitas harus mengandung dimensi:
 Akuntabilitas kejujuran dan hukum (accountability for probity and
legality).
 Akuntabilitas proses (process accountability).
 Akuntabilitas program (program accountability)
 Akuntabilitas kebijakan (policy accountability)

4. Mekanisme Akuntabilitas Birokrasi Indonesia


Di Indonesia, alat akuntabilitas antara lain adalah:
 Perencanaan Strategis (Strategic Plans) yang berupa Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP-D), Menengah (Rencana
Pembangunan Jangka Menengah/RPJM-D), dan Tahunan (Rencana
Kerja Pemerintah/ RKP-D), Rencana Strategis (Renstra) untuk
setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Sasaran Kerja
Pegawai (SKP) untuk setiap PNS.
 Kontrak Kinerja. Semua Pegawai Negeri Sipil (PNS) tanpa
terkecuali mulai 1 Januari 2014 menerapkan adanya kontrak kerja
pegawai. Kontrak atau perjanjian kerja ini merupakan
implementasi dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun
2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS hingga Peraturan
Pemerintah terbaru Nomor 30 Tahun 2019 tentang Penilaian
Prestasi Kerja PNS.
 Laporan Kinerja yaitu berupa Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (LAKIP) yang berisi perencanaan dan
perjanjian kinerja pada tahun tertentu, pengukuran dan analisis
capaian kinerja, serta akuntabilitas keuangan.

Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel


1. Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah dimana
pimpinan memainkan peranan yang penting dalam menciptakan
lingkungannya.
2. Transparansi
Tujuan dari adanya transparansi adalah:
 Mendorong komunikasi yang lebih besar dan kerjasama antara
kelompok internal dan eksternal
 Memberikan perlindungan terhadap pengaruh yang tidak
seharusnya dan korupsi dalam pengambilan keputusan
 Meningkatkan akuntabilitas dalam keputusan-keputusan
 Meningkatkan kepercayaan dan keyakinan kepada pimpinan secara
keseluruhan.
3. Integritas
Dengan adanya integritas menjadikan suatu kewajiban untuk
menjunjung tinggi dan mematuhi semua hukum yang berlaku, undang-
undang, kontrak, kebijakan, dan peraturan yang berlaku. Dengan
adanya integritas institusi, dapat memberikan kepercayaan dan
keyakinan kepada publik dan/atau stakeholders.
4. Tanggung Jawab (Responsibilitas)
Responsibilitas institusi dan responsibilitas perseorangan
memberikan kewajiban bagi setiap individu dan lembaga, bahwa ada
suatu konsekuensi dari setiap tindakan yang telah dilakukan, karena
adanya tuntutan untuk bertanggungjawab atas keputusan yang telah
dibuat.
Responsibilitas terbagi dalam responsibilitas perorangan dan
responsibilitas institusi.
a) Responsibiltas Perseorangan
 Adanya pengakuan terhadap tindakan yang telah diputuskan
dan tindakan yang telah dilakukan
 Adanya pengakuan terhadap etika dalam pengambilan
keputusan
 Adanya keterlibatan konstituen yang tepat dalam keputusan
b) Responsibilitas Institusi
 Adanya perlindungan terhadap publik dan sumber daya
 Adanya pertimbangan kebaikan yang lebih besar dalam
pengambilan keputusan
 Adanya penempatan PNS dan individu yang lebih baik sesuai
dengan kompetensinya

5. Keadilan
Keadilan adalah landasan utama dari akuntabilitas. Keadilan harus
dipelihara dan dipromosikan oleh pimpinan pada lingkungan
organisasinya.
6. Kepercayaan
Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas. Dengan kata lain,
lingkungan akuntabilitas tidak akan lahir dari hal- hal yang tidak dapat
dipercaya.
7. Keseimbangan
Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka
diperlukan adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan
kewenangan, serta harapan dan kapasitas.
8. Kejelasan
Kejelasan juga merupakan salah satu elemen untuk menciptakan dan
mempertahankan akuntabilitas.
9. Konsistensi
Konsistensi menjamin stabilitas.

Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan dalam


Menciptakan Framework Akuntabilitas

Bagan 2 Framework Akuntabilitas

Konflik Kepentingan
Konflik kepentingan secara umum adalah suatu keadaan sewaktu
seseorang pada posisi yang diberi kewenangan dan kekuasaan untuk
mencapai tugas dari perusahaan atau organisasi yang memberi penugasan,
sehingga orang tersebut memiliki kepentingan profesional dan pribadi
yang bersinggungan.

Tipe-tipe Konflik Kepentingan


Ada 2 jenis umum Konflik Kepentingan:
a. Keuangan
Penggunaan sumber daya lembaga (termasuk dana, peralatan atau
sumber daya aparatur) untuk keuntungan pribadi.
Contoh :
 Menggunakan peralatan lembaga/ unit/ divisi/ bagian untuk
memproduksi barang yang akan digunakan atau dijual secara
pribadi;
 menggunakan peralatan lembaga/ unit/ divisi/ bagian untuk
memproduksi barang yang akan digunakan atau dijual secara
pribadi;
 menerima hadiah atau pembayaran mencapai sesuatu yang
diinginkan;
 menerima dana untuk penyediaan informasi pelatihan dan/atau
catatan untuk suatu kepentingan;
 menerima hadiah pemasok atau materi promosi tanpa otoritas
yang tepat
b. Non-Keuangan
Penggunaan posisi atau wewenang untuk membantu diri sendiri dan
/ atau orang lain.
Contoh:
 Berpartisipasi sebagai anggota panel seleksi tanpa menggunakan
koneksi, asosiasi atau keterlibatan dengan calon
 Menyediakan layanan atau sumber daya untuk klub, kelompok
asosiasi atau organisasi keagamaan tanpa biaya
 Penggunaan posisi yang tidak tepat untuk
 memasarkan atau mempromosikan nilai-nilai atau keyakinan
pribadi
Pengelolaan Gratifikasi yang Akuntabel
Gratifikasi merupakan salah satu bentuk tindak pidana korupsi. Mari
kita mempelajari lebih dalam mengenai gratifikasi.
Membangun Pola Pikir Anti Korupsi
Pentingnya akuntabilitas dan integritas menurut Matsiliza (2013)
adalah nilai yang wajib dimiliki oleh setiap unsur pelayan publik, dalam
konteks modul ini adalah PNS.
Peran lembaga atau negara dalam membuat regulasi terkait sistem
integritas, dalam hal ini, bisa menggunakan SE Kemenpan-RB Nomor 20
Tahun 2021 tentang Implementasi Core Values dan Employer Branding
Aparatur Sipil Negara, adalah membuat rambu- rambu bagi semua unsur
ASN untuk mengetahui hal yang dapat dan tidak dapat dilakukan.
Apa yang Diharapkan dari Seorang ASN Perilaku Individu
(Personal Behaviour)
 ASN bertindak sesuai dengan persyaratan
legislatif, kebijakan lembaga dan kode etik yang berlaku untuk perilaku
mereka;
 ASN tidak mengganggu, menindas, atau diskriminasi terhadap rekan
atau anggota masyarakat;
 Kebiasaan kerja ASN, perilaku dan tempat kerja pribadi dan
profesional hubungan berkontribusi harmonis, lingkungan kerja yang
aman dan produktif;
 ASN memperlakukan anggota masyarakat dan kolega dengan hormat,
penuh kesopanan, kejujuran dan keadilan, dan memperhatikan tepat
untuk kepentingan mereka, hak-hak, keamanan dan kesejahteraan;
PNS membuat keputusan adil, tidak memihak dan segera, memberikan
pertimbangan untuk semua informasi yang tersedia, undang-undang
dan kebijakan dan prosedur institusi tersebut;
 ASN melayani Pemerintah setiap hari dengan tepat waktu, memberikan
masukan informasi dan kebijakan.

AKUNTABEL DALAM KONTEKS ORGANISASI PEMERINTAHAN


1. Transparansi dan Akses Informasi
Seperti bunyi Pasal 3 UU Nomor 14 Tahun 2008 tercantum
beberapa tujuan, sebagai berikut: (1) Menjamin hak warga negara
untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program
kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta
alasan pengambilan suatu keputusan publik; (2) Mendorong partisipasi
masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik; (3)
Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan
publik dan pengelolaan Badan Publik yang baik; (4) Mewujudkan
penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dan
efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan; (5) Mengetahui
alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak;
(6) Mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan
bangsa; dan/atau (7) Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan
informasi di lingkungan Badan Publik untuk menghasilkan layanan
informasi.
Prinsip keterbukaan informasi publik adalah:
 Maximum Access Limited Exemption (MALE) Pada
prinsipnya semua informasi bersifat terbuka dan bisa diakses
masyarakat. Suatu informasi dapat dikecualikan hanya karena
apabila dibuka, informasi tersebut dapat merugikan kepentingan
publik.
 Permintaan Tidak Perlu Disertai Alasan
 Mekanisme yang Sederhana, Murah, dan Cepat Nilai dan daya guna
suatu informasi sangat ditentukan oleh konteks waktu.
 Informasi Harus Utuh dan Benar
Informasi yang diberikan kepada pemohon haruslah informasi
yang utuh dan benar. Jika informasi tersebut tidak benar dan tidak
utuh, dikhawatirkan menyesatkan pemohon.
 Informasi Proaktif
Badan publik dibebani kewajiban untuk menyampaikan jenis
informasi tertentu yang penting diketahui publik.
 Perlindungan Pejabat yang Beritikad Baik
Perlu ada jaminan dalam undang-undang bahwa pejabat yang
beriktikad baik harus dilindungi.

Perilaku Berkaitan dengan Transparansi dan Akses Informasi


(Transparency and Official Information Access)
 ASN tidak akan mengungkapkan informasi resmi atau dokumen
yang diperoleh selain seperti yang dipersyaratkan oleh hukum
atau otorisas yang diberikan oleh institusi;
 ASN tidak akan menyalahgunakan informasi resmi untuk
keuntungan pribadi atau komersial untuk diri mereka sendiri
atau yang lain. Penyalahgunaan informasi resmi termasuk
spekulasi saham berdasarkan informasi rahasia dan
mengungkapkan isi dari surat-surat resmi untuk orang yang tidak
berwenang;
 ASN akan mematuhi persyaratan legislatif, kebijakan setiap
instansi dan semua arahan yang sah lainnya mengenai
komunikasi dengan menteri, staf menteri, anggota media dan
masyarakat pada umumnya.

2. Praktek Kecurangan dan Perilaku Korup


Aparat pemerintah dituntut untuk mampu menyelenggarakan
pelayanan yang baik untuk publik. Hal ini berkaitan dengan tuntutan
untuk memenuhi etika birokrasi yang berfungsi memberikan
pelayanan kepada masyarakat. Etika pelayanan publik adalah suatu
panduan atau pegangan yang harus dipatuhi oleh para pelayan publik
atau birokratuntuk menyelenggarakanpelayanan yang baik untuk
publik. Buruknya sikap aparat sangat berkaitan dengan etika.
Laporan Ombudsman Tahun 2020 terkait kasus dugaan
maladministrasi mengilustrasikan hal tersebut.
Tabel 2. Laporan Masyarakat Berdasarkan Dugaan
Maladministrasi

Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang dapat terjadi
secara bersamaan, yaitu:
 Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud. Beberapa contoh
pressure dapat timbul karena masalah keuangan pribadi. Sifat-sifat
buruk seperti berjudi, narkoba, berhutang berlebihan dan tenggat
waktu dan target kerja yang tidak realistis.
 Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud. Hal
ini terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktifitasnya
yang mengandung fraud. Pada umumnya para pelaku fraud
meyakini atau merasa bahwa tindakannya bukan merupakan suatu
kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan haknya,
bahkan kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat
banyak untuk organisasi. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat
pula kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud karena
merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak
menerima sanksi atas tindakan fraud tersebut.
 Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud. Hal
ini terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktifitasnya
yang mengandung fraud. Pada umumnya para pelaku fraud
meyakini atau merasa bahwa tindakannya bukan merupakan suatu
kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan haknya,
bahkan kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat
banyak untuk organisasi. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat
pula kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud karena
merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak
menerima sanksi atas tindakan fraud tersebut.
Perilaku berkaitan dengan menghindari perilaku yang curang dan
koruptif (Fraudulent and Corrupt Behaviour):
 ASN tidak akan terlibat dalam penipuan atau korupsi;
 ASN dilarang untuk melakukan penipuan yang menyebabkan
kerugian keuangan aktual atau potensial untuk setiap orang atau
institusinya;
 ASN dilarang berbuat curang dalam menggunakan posisi dan
kewenangan mereka untuk keuntungan pribadinya;
 ASN akan melaporkan setiap perilaku curang atau korup;
 ASN akan melaporkan setiap pelanggaran kode etik badan
mereka;
 ASN akan memahami dan menerapkan kerangka akuntabilitas
yang berlaku di sektor publik.
3. Penggunaan Sumber Daya Milik Negara
Fasilitas publik dilarang pengunaannya untuk kepentingan
pribadi, sebagai contoh motor atau mobil dinas yang tidak boleh
digunakan kepentingan pribadi. Hal-hal tersebut biasanya sudah diatur
secara resmi oleh berbagai aturan dan prosedur yang dikeluarkan
pemerintah/instansi. Setiap PNS harus memastikan bahwa:
 Penggunaannya diaturan sesuai dengan prosedur yang berlaku
 Penggunaannya dilaklukan secara bertanggung- jawab dan efisien
 Pemeliharaan fasilitas secara benar dan bertanggungjawab.
4. Penyimpanan dan Penggunaan dan Informasi Pemerintah Mulgan (1997)
mengidentifikasikan bahwa proses suatu organisasi akuntabel karena adanya
kewajiban untuk menyajikan dan melaporkan informasi dan data yang dibutuhkan
oleh masyarakat atau pembuat kebijakan atau pengguna informasi dan data
pemerintah lainnya.
Informasi ini dapat berupa data maupun
penyampaian/penjelasan terhadap apa yang sudah terjadi, apa yang
sedang dikerjakan, dan apa yang akan dilakukan. Jadi, akuntabilitas
dalam hal ini adalah bagaimana pemerintah atau aparatur dapat
menjelaskan semua aktifitasnya dengan memberikan data dan
informasi yang akurat terhadap apa yang telah mereka laksanakan,
sedang laksanakan dan akan dilaksanakan. Hal yang tidak kalah
pentingnya adalah akses dan distribusi dari data dan informasi yang
telah dikumpulkan tersebut, sehingga pengguna/stakeholders mudah
untuk mendapatkan informasi tersebut.
Untuk lebih jelasnya, data dan informasi yang disimpan dan
digunakan harus sesuai dengan prinsip sebagai berikut:
 Relevant information diartikan sebagai data dan informasi yang
disediakan dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi
sebelumnya (past), saat ini (present) dan yang akan datang
(future).
 Reliable information diartikan sebagai informasi tersebut dapat
dipercaya atau tidak bias.
 Understandable information diartikan sebagai informasi yang
disajikan dengan cara yang mudah dipahami pengguna (user
friendly) atau orang yang awam sekalipun.
 Comparable information diartikan sebagai informasi yang
diberikan dapat digunakan oleh pengguna untuk dibandingkan
dengan institusi lain yang sejenis.
Perilaku berkaitan dengan Penyimpanan dan Penggunaan Data
serta Informasi Pemerintah (Record Keeping and Use of Government
Information):
 ASN bertindak dan mengambil keputusan secara transparan;
 ASN menjamin penyimpanan informasi yang bersifat rahasia;
 ASN mematuhi perencanaan yang telah ditetapkan;
 ASN diperbolehkan berbagi informasi untuk mendorong efisiensi
dan kreativitas;
 kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan
kedinasan;
 ASN tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari
keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain.
5. Membangun Budaya Anti Korupsi di Organisasi Pemerintahan

Gambar 1. Data Penanganan Perkara TPK Juni 2021

Data dari Komisi Pemberantasn Korupsi Bulan Juni 2021,


perkara Tindak Pidana Korupsi masih banyak dilakukan oleh
unsur Swasta (343 kasus), Anggota DPR dan DPRD (282 kasus),
Eselon I, II, III, dan IV (243 kasus), lain-lain (174 kasus), dan
Walikota/Bupati dan Wakilnya (135 kasus). Dari keseluruhan
kasus, 80% adalah kasus suap, gratifikasi, dan PBJ. Aulich (2011)
mengatakan, terkait pemberantasan korupsi, peran negara dalam
menciptakan sistem antikorupsi dapat dilakukan melalui
peraturan perundangan, legislasi, dan perumusan kode etik
ataupun panduan perilaku. Indonesia tidak kekurangan regulasi
yang mengatur itu semua, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014
Tentang Admnistrasi Pemerintahan, Surat Edaran Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor
20 Tahun 2021, bahkan Undan-Undang Nomor 31 Tahun 1999
Tentang Tindak Pidana Korupsi.
Bila Kita kembali ke pembahasan terkait ‘tanggung jawab’,
dimensi yang melatar belakangi usaha memenuhi Tanggung
Jawab Individu dan Institusi ada 2, yaitu: 1) dimensi aturan,
sebagai panduan bagi setiap unsur pemerintahan hal-hal yang
dapat dan tidak dapat dilakuan, dan 2) dimensi moral individu.
Sebagai ASN, Anda tidak terlepas dari kedua dimensi tersebut.
Oleh sebab itu, (Shafritz et al., 2011) menekankan bahwa fondasi
paling utama dari unsur pegawai ataupun pejabat negara adalah
integritas.

Anda mungkin juga menyukai