0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan21 halaman

Analisis Rasio Profitabilitas Perusahaan

Dokumen ini adalah makalah tentang analisis rasio profitabilitas yang mencakup Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE). Tujuan penulisan adalah untuk memahami dan menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba serta efektivitas manajemen. Makalah ini disusun oleh kelompok mahasiswa dari Program Studi Akuntansi Terapan, Universitas Negeri Makassar.

Diunggah oleh

NADRHATUN NIKMAH
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan21 halaman

Analisis Rasio Profitabilitas Perusahaan

Dokumen ini adalah makalah tentang analisis rasio profitabilitas yang mencakup Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE). Tujuan penulisan adalah untuk memahami dan menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba serta efektivitas manajemen. Makalah ini disusun oleh kelompok mahasiswa dari Program Studi Akuntansi Terapan, Universitas Negeri Makassar.

Diunggah oleh

NADRHATUN NIKMAH
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS RASIO PROFITABILITAS

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Laporan Keuangan


Dosen Pengampuh : Dra. Hariany Idris, [Link].

Disusun Oleh Kelompok 5 :


1. Widia Astuti (210901600004)
2. Sarmila (210901600014)
3. Ayu (210901600015)
4. Nadrhatun Nikmah (210901601003)
5. Muh Agung Ustaman (210901601006)
6. Afriyanti (210901601008)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI TERAPAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kita semua sehingga pada saat ini kita masih diberikan nikmat yang luar
biasa. Dan oleh nikmat itulah kami mampu menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah
tepat pada waktunya yang berjudul “Analisis Rasio Profitabilitas”.

Makalah ini membahas tentang rasio profitabilitas, Return on Assets, dan Return on
Equity. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita dalam mengetahui dan memahami analisis rasio profitabilitas, Sebagai
seorang pelajar kami juga sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
makalah yang telah kami susun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran.

Demikian pengantar ini kami sampaikan dan tidak lupa pula ucapan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai
akhir.

Gowa, 12 November 2022

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................................... i


DAFTAR ISI.................................................................................................................................... ii
BAB I ............................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1
A. LATAR BELAKANG .......................................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ...................................................................................................... 1
C. TUJUAN PENULISAN........................................................................................................ 1
BAB II .............................................................................................................................................. 3
PEMBAHASAN .............................................................................................................................. 3
A. ANALISIS RASIO PROFITABILITAS ............................................................................. 3
B. RETURN ON ASSETS (ROA) ............................................................................................ 4
C. RETURN ON EQUITY (ROE) ......................................................................................... 10
D. MARGIN LABA KOTOR ................................................................................................. 14
BAB III .......................................................................................................................................... 17
PENUTUP...................................................................................................................................... 17
A. KESIMPULAN .................................................................................................................. 17
B. SARAN ............................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 18

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perusahaan adalah sebuah organisasi yang beroperasi dengan tujuan
menghasilkan keuntungan dengan cara menjual produk (barang atau jasa) kepada para
pelanggannya. Tujuan operasional dari sebagian besar perusahaan adalah untuk
memaksimalisasi profit, baik profit jangka pendek maupun profit jangka panjang.
Manajemen dituntut untuk meningkatkan imbal hasil (return) bagi pemiliki perusahaan,
sekaligus juga meningkatkan kesehjateraan karyawan. Ini semua hanya dapat terjadi
jika perusahaan memperoleh laba dalam aktivitas bisnisnya.
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan yang dimaksud diatas. Rasio profitabilitas juga dikenal sebagai rasio
rentabilitas. Disamping bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba selama periode tertentu, rasio ini juga bertujuan untuk mengukur
tingkat efektifitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaan.
Dengan melakukan analisis rasio keuangan secara berkala memungkinkan bagi
manajemen untuk secara efektif menetapkan langkah-langkah perbaikan dan efisiensi.
Selain itu, perbandingan juga dapat dilakukan terhadap target yang telah ditetapkan
sebelumnya, atau bisa juga dibandingkan dengan standar rasio rata-rata industry.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas maka dalam tulisan ini akan mengangkat beberapa
permasalahan yang akan menjadi rumusan masalah dalam tulisan ini,diantaranya yaitu:
1. Jelaskan yang dimaksud dengan rasio profitabilitas?
2. Apa yang dimaksud dengan Return on Assets?
3. Apa yang dimaksud dengan Return on Equity?
4. Apa yang dimaksud dengan margin laba kotor ?

C. TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan perumusan masalah diatas,tujuan yang hendak dicapai adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan memahami Analisis rasio profitabilitas
2. Untuk mengetahui dan memahami Return on Assets

1
3. Untuk mengetahui dan memahami Return on Equity
4. Untuk mengetahui dan memahami margin laba kotor

2
BAB II

PEMBAHASAN
A. ANALISIS RASIO PROFITABILITAS
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan
(Profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham yang tertentu. Rasio
profitabilitas adalah rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran
tentang tingkat efektivitas manajemen dalam melaksanakan kengiatan operasinya.
Profitabilitas dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai keberhasilan suatu
perusahaan dalam menggunakan modal kerja secara efektif dan efisien untuk
menghasilkan tingkat laba tertentu yang diharapkan.
Adapun pandangan para ahli terkait rasio profitabilitas, yaitu :
• Menurut Sutrisno (2009:16) “profitabilitas adalah kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan dengan semua modal yang bekerja
didalamnya.
• Menurut Sofyan Syafri Harahap (2009:304) “Menggambarkan kemampuan
perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya
yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah
cabang perusahaan, dan lain sebagainya”.
• Menurut Brigham dan Houston (2009:109) “Profitabilitas merupakan hasil
akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan”.
• Menurut Hery (2012: 23) “Profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk
menilai kompensasi finansial atas penggunaan aktiva atau ekuitas terhadap
laba”.
• Menurut Irfan Fahmi (2012: 80) “Profitabilitas yaitu untuk mengukur
efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya
tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan
maupun investasi”.
Berdasarkan teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa rasio profitabilitas
merupakan rasio untuk mengukur seberapa besar sebuah perusahaan mampu
menghasilkan laba dengan menggunakan semua faktor perusahaan yang ada
didalamnya untuk menghasilkan laba yang maksimal.

3
Manfaat Rasio Profitabilitas
Profitabilitas perusahaan merupakan salah satu dasar penilaian kondisi suatu
perusahaan, untuk itu dibutuhkan suatu alat analisis untuk bisa menilainya. Alat analisis
yang dimaksud adalah rasio-rasio keuangan. Ratio profitabilitas mengukur efektifitas
manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang diperoleh dari penjualan dan
[Link] juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan
kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukkan
apakah badan usaha tersebut mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang.
Dengan demikian setiap badan usaha akan selalu berusaha meningkatkan
profitabilitasnya, karena semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu badan usaha maka
kelangsungan hidup badan usaha tersebut akan lebih terjamin.
Tujuan Rasio Profitabilitas
Menurut Kasmir (2008: 197) tujuan penggunaan profitabilitas bagi perusahaan maupun
bagi pihak luar perusahaan adalah :
1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu
periode tertentu.
2. Unutk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.
4. Untuk mengukur produktifitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan
baik modal sendiri.
5. Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan,baik
modal pinaman maupun modal sendiri.
6. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan.

B. RETURN ON ASSETS (ROA)


Analisis Return On Asset (ROA) atau sering diterjemahkan kedalam bahasa
indonesia Rentabilitas Ekonomi mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba
pada masa lalu. Analisis ini kemudian di proyeksi ke masa depan untuk melihat
kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada masa-masa mendatang.

PERHITUNGAN ROA
Analisis ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan
menggunakan total aset (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan
dengan biaya-biaya untuk menandai aset tersebut. Variasi dalam perhitungan ROA,

4
disamping perhitungan seperti pada bab sebelumnya, adalah dengan memasukkan biaya
pendanaan. Biaya-biaya pendanaan yang dimaksud adalah bunga yang merupakan
biaya pendanaan dengan utang. Dividen yang merupakan biaya pendanaan dengan
saham analisis ROA tidak diperhitungkan. Biaya bunga ditambahkan ke laba yang
diperoleh perusahaan. ROA bisa diinterprestasikan sebagai hasil dari serangkaian
kebijakan perusahaan (strategi) dan pengaruh dari faktor-faktor lingkungan
(environmental factors). Analisis difokuskan pada profitabilitas aset, dan dengan
demikian tidak memperhitungkan cara-cara untuk mendanai aset tersebut.

Formula ROA bisa dihitung sebagai berikut (dengan memasukan pendanaan):

ROA =(Laba bersih+Bunga)/( Total Aset Rata-Rata)

Karena ROA tidak masuk dalam analisis ROA, maka bunga ditambahkan
kembali ke laba bersih. Apabila ingin lebih cepat lagi, maka sebenarnya ada
penghematan pajak yang muncul dari penggunaan bunga, karena bunga bisa dipakai
pengurang pajak. Dengan demikian setelah penyesuaian pajak, formula ROA dihitung
sebagai berikut:

ROA =(Laba bersih+Bunga (1-Tingkat Pajak))/( Total Aset Rata-Rata)

Dalam formula di atas, bunga ditambahkan kembali ke laba bersih, sedangkan


penghematan pajak karena bunga di kurangkan dari laba bersih. Dalam hal ini
digunakan total aset rata-rata digunakan dalam hal ini, bukannta total aset pada akhir
periode. Ini lebih konsisten dengan penggunaan ROA sebagai pengukur prestasi pada
satu periode tertentu. Biasanya aset rata-rata dihitung dengan menjumlahkan aset pada
awal periode dengan aset pada akhir periode dan dibagi dua. Untuk bisnis yang tidak
bersifat musiman, penggunaan semacam itu sudah memadai. Tetapi untuk bisnis
musiman, rata-rata aset pada akhir setiap triwulan lebih baik digunakan.
Laba bersih suatu perusahaan kadang-kadang dipengaruhi oleh dua faktor luar
biasa yang tidak selalu muncul dalam kegiatan bisnis yang normal:
1) Laba karena perubahan prinsip akuntansi
2) Biaya restrukturisasi
Dalam kaitannya dengan perubahan prinsip akuntansi, ada argumen yang bisa
dikemukakan, yaitu laba karena perusahaan akuntansi tidak sering muncul
5
(nonrecurring) dan relatif bukan bagian dari kegiatan bisnis yang normal. Karena itu,
laba yang disebabkan perubahan akuntansi seharusnya tidak diperhitungkan karena
tidak mencerminkan kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam menghasilkan
laba.
Dalam kaitannya dengan Biaya restrukturisasi perusahaan ada beberapa
argumentasi yang bisa dikemukakan:
1) Faktor tersebut muncul relatif tidak sering dan bisa dikatakan sebagai
nonrecurring.
2) Item tersebut bisa dikatakan merupakan bagian normal dari kegiatan bisnis.
3) Jumlah tersebut cukup material.
Dengan beberapa alasan di atas, dalam buku ini di ambil pendekatan untuk
mengeluarkan laba karena perubahan prinsip akuntansi dan memasukkan biaya
restrukturisasi. Perhatikan bahwa kesimpulan semacam itu bisa berbeda dari satu analis
dengan analis lainnya. Tetapi apabila akan melakukan perbandingan cross sectional,
maka konsistensi perlakuan perlu diperhatikan.

KOMPONEN-KOMPONEN ROA
ROA bisa dipecah lagi kedalam dua komponen yaitu: profit margin dan
perputaran total aktiva (aset). Pemecahan (disagregasi) ini bisa menghasilkan analisis
yang lebih tajam lagi.
ROA =(Laba bersih+Bunga (1-Tingkat Pajak))/( Total Aset Rata-Rata)
ROA = profit margin x perputaran total aset
= (Laba bersih+Bunga (1-Tingkat Pajak))/( penjualan ) x penjualan/( Total Aset
Rata-Rata)
Profit margin melaporkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari
tingkat penjualan tertentu. Profit margin bisa diinterprestasi sebagai tingkat perusahaan,
yakni sejauh mana kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya yang ada
diperusahaan. Perputaran total aset mencerminkan kemampuan perusahaan
menghasilkan penjualan dari total investasi tertentu. Rasio ini juga bisa diartikan
sebagai kemampuan perusahaan mengelola aktiva berdasarkan tingkat penjualan
tertentu. Rasio ini mengukur aktivitas penggunaan aktiva (aset) perusahaan.

6
INTERPRESTASI ROA
• Operating leverage
Operating leverage menunjukkan sejauh mana pemakaian beban tetap
dalam suatu perusahaan. Perusahaan yan menggunakan beban tetap yang tinggi
berarti mempunyai operating leverage yang tinggi. Beban tetap operasional
datangnya beban depresiasi peralatan/bangunan (aktiva tetap). Perusahaan yang
mempunyai proporsi aktiva tetap yang besar (yang berarti melakukan investasi
besar pada aktiva tetap) akan mempunyai beban depresiasi yang tinggi, yang
berarti mempunyai beban operasional yang tinggi, dan berarti mempunyai
operating leverage yang tinggi.
Perusahaan-perusahaan atau industri-industri mempunyai struktur biaya
variabel dan biaya tetap yang berbeda-beda. Perusahaan eksplorasi dan
pengolahan minyak, perusahaan baja mempunyai proporsi aktiva tetap yang
besar. Perusahaan-perusahaan semacam ini merupakan perusahaan yang padat
modal (capital-intensive). Sebaliknya, indistri supermarket, grosir, rumah makan
merupakan industri atau perusahaan yang mempunyai proporsi aktiva tetap
relatif lebih kecil di bandingkan industri/perusahaan minyak di atas. Komponen
biaya variabel untuk industry kebih besar.
Perusahaan atau industri dengan operating leverage yang tinggi akan
mempunyai fluktuasi pendapatan yang lebih tinggi pula. Itu berarti risiko
perusahaan tersebut tinggi. Apabila kondisi perekonomian membaik, penjualan
meningkat, perusahaan dengan operating leverage yang tinggi akan mengalami
kenaikan keuntungan (pendapatan) yang tinggi, sebaliknya apabila kondisi
perekonomian menurun, penjual menurun, perusahaan terus akan mengalami
penurunan keuntungan yang tajam pula. Perusahaan operating leverage yang
rendah tidak akan mengalami fluktuasi setajam perusahaan dengan perusahaan
operating leverage yang tinggi.
• Siklus Kehidupan produk
Siklus kehidupan produk akan mempunyai pengaruh terhadap ROA atau
perbedaan-perbedaan ROA. Produk mulai dari muncul sampai menghilang,
bergerak melalui beberapa tahap:
- Tahap perkenalan (Introduction)
- Tahap pertumbuhan (Growth)

7
- Tahap kedewasaan (Maturity)
- Tahap penurunan (Decline)
Tahapan pertama product life cycle adalah pengenalan. Pada tahap ini,
perusahaan sibuk menyiapkan infrastruktur produk baru dengan melakukan investasi
pada pabrik dan peralatan. Itu semua membutuhkan biaya dan mengakibatkan aliran
kas keluar yang besar. Sementara itu penjualan masih sedikit karena produk tersebut
belum dikenal luas. Akibatnya aliran kas bersih adalah negatif (kas keluar lebih besar
dibandingkan dengan aliran kas masuk).
Tahap kedua product life cycle adalah tahap pertumbuhan. Pada tahap ini
penjualan mulai meningkat tajam. Pengeluaran mulai berkurang; pengeluaran saat ini
ditujukan untuk mengokomodasi permintaan yang semakin meningkat. Aliran kas
masuk bisa negatif (tetapi tidak terlalu besar), bisa juga positif (tetapi belom terlalu
besar).
Tahap ketiga adalah tahap dewasa. Pada tahap ini, aliran kas masuk sudah mulai
meningkat karena produk sudah semakin [Link] kas sudah berkurang jauh
karena adanya faktor learning curve dan skala ekonomi, dan juga pengeluaran investasi
sudah tidak dilakukan lagi pada tahap ini. Sebagai hasilnya, perusahaan bisa
memperoleh aliran kas positif yang cukup besar.
Tahapan terakhir product life cycle adalah tahap penurunan. Pada tahap ini
permintaan produk sudah mulai melemah, kompetesi semakin tajam. Pengeluaran
investasi ditunjukkan untuk mempertahankan posisi produk dipasar. Pada tahap ini
aliran kas bersih masih bisa positif, tetapi mulai mengecil, sampai bisa terjadi aliran kas
negatif.

8
Contoh Kasus
PERHITUNGAN RETURN ON ASSETS
[Link] PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT
TAHUN 2013-2015
( Rp 000.000 )

Tahun Laba Bersih Total Aktiva ROA


(1) (2) (1 : 2) x 100%
2013 312.725 16.237.123 1.92%
2014 293.793 18.017.897 1.63%
2015 317.279 19.448.300 1.63%

a. Tahun 2013

ROA = 312.725 x 100% = 1.92%


16.273.123

Berdasarkan perhitungan diatas tahun 2012 ROA [Link] Pembangnan Daerah


Provinsi Sumatera Barat sebesar 1.92% yang berarti bahwa Rp 1.00 laba bersih
yang diterima berasal dari total aktiva sebesar 0.192.
b. Tahun 2014

ROA = 293.793 x 100% = 1.63%


18.017.897

ROA tahun 2014 berarti bahwa kemampuan [Link] Pembangnan Daerah


Provinsi Sumatera Barat efisien dalam melakukan kegiatan operasinya,ini dapat
dilihat dari ROA sebesar 1.63% dengan analisa bahwa setiap Rp 1.00 laba
bersih yang diterima berasal dari total aktiva sebesar 0.163.
c. Tahun 2015

ROA = 317.279 x 100% = 1.63%


19.448.300

9
ROA tahun 2015 berarti bahwa kemampuan [Link] Pembangnan Daerah
Provinsi Sumatera Barat efisien dalam melakukan kegiatan operasinya,ini
dilihat dari ROA sebesar 1.63% dengan analisa bahwa setiap Rp 1.00 laba
bersih yang diterima berasal dari total aktiva sebesar 0.163.
Dari analisa ROA,ditarik kesimpulan bahwa kinerja bank mengalami
penurunan karena ROA [Link] Pembangnan Daerah Provinsi Sumatera Barat turun
setiap [Link] menurunnya laba bersih yang diterima dari total aktiva
disebabkan karena terlalu besarnya kredit yang diberikan tidak diimbangi dengan
pengembalian kredit yang menyebabkan pendapatan bunga yang akan diterima
menurun. Sehingga persentase laba bersih dibandingkan total aktiva menjadi sedikit.

C. RETURN ON EQUITY (ROE)


Return on equity atau sering disebut juga dengan Return On Common Equity.
Dalam bahasa Indonesia, istilah ini sering juga diterjemahkan sebagai Rentabilitas
Saham Sendiri (Rentabilitas Modal Saham). Investor yang akan membeli saham akan
tertarik dengan ukuran profabilitas ini, atau bagian dari total profitabilitas yang bisa
dialokasikan ke pemegang saham.
Menurut Kasmir hasil pengembalian ekuitas atau Return On Equity (ROE) atau
rentabilitas modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak
dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri.
Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin
kuat, demikian pula sebaliknya.
Return On Equity (ROE) merupakan rasio Profitabilitas yang menunjukkan
perbandingan antara laba (setelah pajak) dengan modal (modal inti) bank, rasio ini
menunjukkan tingkat persentase yang dapat dihasilkan dalam mengelola modal yang
tersedia untuk mendapat net income.

Tujuan dan manfaat Return On Equity (ROE)


Return On Equity (ROE) memiliki tujuan dan manfaat, tidak hanya bagi pemilik
perusahaan atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak di luar perusahaan terutama
pihak-pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan. Menurut
Kasmir, Return On Equity (ROE) merupakan salah satu jenis rasio profitabilitas.
Tujuan dan manfaat penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan, maupun bagi
pihak luar perusahaan yaitu:

10
1) Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu
periode tertentu.
2) Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
3) Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.
4) Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
5) Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik
modal pinjaman maupun modal sendiri.
Dari beberapa tujuan dan manfaat dari Return On Equity yang dipaparkan di
atas, maka dapat dikatakan bahwa Return On Equity digunakan untuk menghitung dan
mengukur, serta menganalisis laba yang diperoleh perusahaan.

Perhitungan ROE
Return On Equity dihitung sebagai berikut:
ROE =(laba bersih-Deviden Saham Preferen )/(Rata-rata Saham Biasa)

Bagian atas persamaan tersebut (numerator) mencerminkan bagian laba yang


bisa dialokasikan ke pemegang saham untuk periode tertentu, setelah semua hak-hak
kreditur dan saham preferen telah dilunasi. Biaya bunga telah dikurangkan dari laba
bersih, sementara deviden untuk saham preferen belum dikurangkan. Karena itu
dividen untuk saham preferen harus dikurangkan dari laba bersih perusahaan untuk
memperoleh hak bersih pemegang saham biasa. Pembagi (denominator) persamaan
diatas mengukur rata-rata jumlah saham yang digunakan selama periode tersebut.
Untuk menghitung saham biasa, saham preferen biasanya dikurangkan dengan total
saham.

Komponen-kompoen ROE
ROE bisa dipecah-pecah lagi kedalam beberapa komponen yaitu: ROA dan
leverage yang disesuaikan. Leverage yang disesuaikan kemudian dipecah-pecah lagi ke
dalam Common Earning Leverage (Earning Leverage untuk saham biasa) dan Leverage
struktur modal (Capital Struktur Leverage). Berikut ini bagan pemecahan komponen
ROE:

11
ROE = ROA X Leverage yang disesuaikan

Common Earning Leverage Leverage struktur modal

(CEL) (LSM)

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎


𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎 +𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 = X 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ X
𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎
𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎 +𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘

ROA mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan


aset yang dimiliki. Common Earning Leverage mencerminkan proporsi laba bersih
yang menjadi hak pemegang saham biasa dari jumlah total laba bersih operasional.
Sedangkan Leverage struktur modal mencerminkan sejauh mana aset perusahaan
dibiayai oleh saham sendiri. ROE akan semakin besar apa bila ROA tinggi atau
Leverage yang disesuaikan tinggi.

12
Contoh Kasus
PERHITUNGAN RETURN ON EQUITY
[Link] PEMBANGNAN DAERAH PRIVINSI SUMATERA BARAT
TAHUN 2013-2015
( Rp 000.000 )

Tahun Laba Bersih Total Aktiva ROA


(1) (2) (1 : 2) x 100%
2013 312.725 3.201.144 9.76%
2014 293.793 3.015.294 9.74%
2015 317.279 2.814.675 11.27%

a. Tahun 2013

ROE = 312.725 x 100% = 9.76%


3.201.144

Berdasarkan perhitungan diatas tahun 2013 ROE [Link] Pembangnan Daerah


Provinsi Sumatera Barat sebesar 9.76% yang berarti bahwa Rp 1.00 laba bersih
yang diterima diukur dari modal sendiri sebesar 0.976.
b. Tahun 2014

ROE = 293.793 x 100% = 9.74%


3.015.294

ROE tahun 2014 berarti bahwa kemampuan PT. Bank Pembangnan Daerah
Provinsi Sumatera Barat efisien dalam melakukan kegiatan operasinya, ini
dapat dilihat dari ROE sebesar 9.74% dengan analisa bahwa setiap Rp. 1.00 laba
bersih yang diterima diukur dari modal sebesar 0.974.
c. Tahun 2015

ROE = 317.279 x 100% = 11.27%


2.814.675

13
ROE tahun 2014 berarti bahwa kemampuan [Link] Pembangnan Daerah
Provinsi Sumatera Barat efisien dalam melakukan kegiatan operasinya,ini dapat
dilihat dari ROE sebesar 11.27% dengan analisa bahwa setiap Rp 1.00 laba
bersih yang diterima diukur dari modal sebesar 0.1127.
Dari analisa ROE ditarik kesimpulan bahwa kinerja bank mengalami penurunan
karena ROE [Link] Pembangnan Daerah Provinsi Sumatera Barat turun setiap
tahunnya dari yang diharapkan. Semakin menurunnya laba bersih yang diterima dari
modal sendiri disebabkan karena total pendapatan operasional yang menurun setiap
tahunnya dan biaya-biaya operasional meningkat.

D. MARGIN LABA KOTOR


Margin merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya persentase
laba kotor terhadap penjualan bersih. Syamsuddin menyatakan bahwa "Gross Profit
Margin merupakan persentase dari laba kotor (sales-cost of goods sold) dibandingkan
dengan sales) Margin laba kotor menunjukkan rasio persentase pendapatan yang Anda
simpan untuk setiap penjualan setelah semua biaya dikurangi. Ini digunakan untuk
menunjukkan seberapa sukses perusahaan dalam menghasilkan pendapatan, sambil
menjaga biaya tetap rendah.
Perhitungan dalam margin ini didapatkan dengan cara total pendapatan yang
dikurangi dengan harga pokok penjualan (HPP), lalu dibagi dengan total pendapatan
dan dikali 100 persen untuk melihat hasil persentasenya. Margin adalah istilah yang
sering digunakan dalam bidang keuangan dan bisnis. Margin adalah tingkat selisih
antara biaya produksi dan harga jual di pasar. Dalam dunia investasi, margin diartikan
sebagai deposit oleh investor untuk pembayaran harga beli saham atau komodita.
Margin laba kotor dapat disimpulkan dengan Laba Kotor dibagi dengan
penjualan. Margin Laba Kotor yang tinggi dapat diartikan bahwa secara relatif
perusahaan mencapai efisiensi tinggi dalam pengolalahan produksi dan dinyatakan
perusahaan baik dalam menekan biaya produksi dan memperbesar jumlah penjualan,
namun bila rasio ini semakin rendah semakin kurang baik, karena menunjukkan adanya
pemborosan dalam biaya menghasilkan produk. Dalam menganalisis Margin Laba
Kotor perlu diperhatikan apakah yang menyebabkan rasio tersebut rendah. Jika yang
menyebabkan rasio margin laba kotor adalah laba kotor atau penjualan. Maka untuk
memperoleh laba yang baik maka penjualan harus meningkat.

14
Margin laba kotor yang lebih rendah daripada yang dapat diterima dalam
industri Anda, mungkin ada banyak alasan. Misalnya:
• Anda mungkin memiliki terlalu banyak hal yang perlu di improvisasi yang
menaikkan biaya per unit.
• •Staf Anda mungkin tidak dilatih dengan cara yang efisien untuk memproduksi
barang atau memberikan layanan.
• Peralatan Anda mungkin lambat dan ketinggalan zaman.
• Material bahan baku Anda mungkin mahal.

Cara Menghitung Margin Laba Kotor


Margin laba kotor dihitung dengan mengambil total pendapatan perusahaan dan
membaginya dengan biaya untuk langsung memproduksi barang atau jasa yang dijual
(atau dikenal sebagai harga pokok penjualan). Perhitungan margin laba kotor adalah:

Margin laba kotor = (pendapatan – harga pokok) / pendapatan

Misalnya, jika Anda memiliki pendapatan $ 100.000 dalam satu tahun dan dikenakan
biaya $ 30.000 untuk memproduksi barang-barang tersebut, maka laba kotornya adalah
70%.
Pada rumus margin laba kotor ini tidak hanya mencakup pada beberapa biaya
variabel yang mempunyai kaitan dengan produksi barang atau jasa. Formula dan rumus
yang digunakan untuk cara menghitung laba kotor sebagai berikut:

Laba Kotor = Pendapatan – Harga Pokok Penjualan (HPP)

Ketika anda hanya melihat rumusnya saja pasti akan merasa bingung. Untuk contoh
dari cara menghitung laba kotor bisa lihat penjelasan lebih lengkapnya sebagai di
bawah ini:
Ada seorang pebisnis yang memproduksi sepatu dan juga menjual sepasang
produk sepatunya dengan harga Rp.250.000,00. Pada saat pembuatan sepatu tersebut,
perusahaan membutuhkan atau memakan biaya sebesar Rp.100.000,00.
Maka dari itu, untuk pendapatan kotor yang didapatkan di dalam bisnis tersebut
adalah Rp.150.000,00. Sedangkan untuk perhitungan laba kotornya adalah:

Laba kotor = Rp.250.000,00 – Rp.100.000,00 = Rp.150.000,00.

15
Sedangkan, untuk perhitungan margin dari laba kotornya adalah “( Laba Kotor /
Pendapatan) x 100 %”. Untuk perhitungan laba kotor setelah dimasukkan ke dalam rumus
adalah:

Margin Laba Kotor = ( Laba Kotor / Pendapatan Perusahaan ) x 100%

= ( Rp.150.000,00 / Rp.250.000,00 ) x 100%

= 60%.

Cara menghitung laba kotor dengan margin kali ini, akan menunjukkan rasio persentase
pendapatan yang sudah anda simpan sebelumnya. Setiap penjualan yang dilakukan oleh
perusahaan ini akan dikurangi lagi dengan biaya produksi. Melakukan cara menghitung laba
kotor kali ini, bisa menunjukkan seberapa sukses perusahaan tersebut dalam menghasilkan
pendapatan. Selain itu, dengan perhitungan tersebut bisa dijadikan sebagai alat untuk menjaga
biaya tetap berada di harga rendah.

16
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN

1. Rasio Profitabilitas mengukur keberhasilan manajemen sebagaimana ditunjukkan oleh laba


yang dihasilkan oleh penjualan dan investasi.
2. Manfaat Rasio Profitabilitas antara lain: Mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh
perusahaan dalam satu periode, Mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan
tahun sekarang, Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu, Mengetahui besarnya
laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri, mengetahui produktivitas dari seluruh dana
perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.
3. Adapun jenis antara lain:
a) Profit margin (profit margin on sales
b) Return on investment (ROI)
c) Return on equity (ROE)

B. SARAN

Pembelajaran Analisis Laporan Keuangan tentang Analisis Rasio Profitabilitas sangat penting
untuk dipahami. Maka dari itu sebaiknya disiapkan metode pembelajaran yang tepat agar seluruh
mahasiswa bisa memahami materi tersebut dengan mudah.

17
DAFTAR PUSTAKA

Fernos. (2017). Analisis Rasio Profitabilitas. Jurnal Pundi, Vol. 01, No 02, 112-118.
Hanafi, M. M., & Halim, A. (2016). Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: UPP STIM
YKPN.
Harahap, & s., S. (2010). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajawali pers.
Hery. (2016). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Grasindo.

18

Anda mungkin juga menyukai