0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan4 halaman

Literasi Digital untuk CPNS di Era Digital

Dokumen ini membahas pentingnya literasi digital bagi peserta CPNS di Indonesia, yang mencakup empat pilar: etika, keamanan, budaya, dan kecakapan bermedia digital. Literasi digital diperlukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan mempersiapkan SDM talenta digital, serta menghadapi tantangan era digital yang cepat dan instan. Selain itu, kolaborasi positif dan integrasi kearifan lokal dalam budaya digital juga ditekankan untuk menciptakan warga digital yang berkarakter dan bermartabat.

Diunggah oleh

firjatullahelfirman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan4 halaman

Literasi Digital untuk CPNS di Era Digital

Dokumen ini membahas pentingnya literasi digital bagi peserta CPNS di Indonesia, yang mencakup empat pilar: etika, keamanan, budaya, dan kecakapan bermedia digital. Literasi digital diperlukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan mempersiapkan SDM talenta digital, serta menghadapi tantangan era digital yang cepat dan instan. Selain itu, kolaborasi positif dan integrasi kearifan lokal dalam budaya digital juga ditekankan untuk menciptakan warga digital yang berkarakter dan bermartabat.

Diunggah oleh

firjatullahelfirman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESUME MATERI MOOC

NAMA : dr. Andi Firjatullah El Firman

ANGKATAN : IV

NDH : 02

TANGGAL PEMBELAJARAN MANDIRI : 07/06/22

RESUME HASIL PEMBELAJARAN MANDIRI :

SMART ASN

Peran dan tanggung jawab para peserta CPNS sangatlah besar, sehingga kemampuan
menggunakan gawai saja tidaklah cukup, diperlukan kemampuan lainnya yakni literasi digital. Literasi
digital memiliki 4 pilar wajib yang harus dikuasai oleh para peserta CPNS yang terdiri dari etika,
keamanan, budaya, dan kecakapan dalam bermedia digital. Ruang digital adalah lingkungan yang kaya
akan informasi. Keterjangkauan (affordances) yang dirasakan dari ruang ekspresi ini mendorong
produksi, berbagi, diskusi, dan evaluasi opini publik melalui cara tekstual (Barton dan Lee, 2013).

Konsep literasi digital pun semakin berkembang seiring zaman. Menurut definisi UNESCO dalam
modul UNESCO Digital Literacy Framework (Law, dkk., 2018) literasi digital adalah kemampuan untuk
mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, mengkomunikasikan, mengevaluasi, dan
menciptakan informasi secara aman dan tepat melalui teknologi digital untuk pekerjaan, pekerjaan yang
layak, dan kewirausahaan. Ini mencakup kompetensi yang secara beragam disebut sebagai literasi
komputer, literasi TIK, literasi informasi dan literasi media.

Berdasarkan arahan Presiden pada poin pembangunan SDM dan persiapan kebutuhan SDM
talenta digital, literasi digital berperan penting untuk meningkatkan kemampuan kognitif sumber daya
manusia di Indonesia agar keterampilannya tidak sebatas mengoperasikan gawai. Kerangka kerja literasi
digital terdiri dari kurikulum digital skill, digital safety, digital culture, dan digital ethics. Kerangka
kurikulum literasi digital ini digunakan sebagai metode pengukuran tingkat kompetensi kognitif dan
afektif masyarakat dalam menguasai teknologi digital.

Guna mendukung percepatan transformasi digital, ada 5 langkah yang harus dijalankan, yaitu:

1. Perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital.


RESUME MATERI MOOC

2. Persiapkan betul roadmap transportasi digital di sektor-sektor strategis, baik di pemerintahan,


layanan publik, bantuan sosial, sektor pendidikan, sektor kesehatan, perdagangan, sektor industri,
sektor penyiaran.
3. Percepat integrasi Pusat Data Nasional sebagaimana sudah dibicarakan.
4. Persiapkan kebutuhan SDM talenta digital.
5. Persiapan terkait dengan regulasi, skema-skema pendanaan dan pembiayaan transformasi digital
dilakukan secepat-cepatnya

Literasi digital lebih dari sekadar masalah fungsional belajar bagaimana menggunakan komputer
dan keyboard, atau cara melakukan pencarian online. Literasi digital juga mengacu pada mengajukan
pertanyaan tentang sumber informasi itu, kepentingan produsennya, dan cara-cara di mana ia mewakili
dunia; dan memahami bagaimana perkembangan teknologi ini terkait dengan kekuatan sosial, politik
dan ekonomi yang lebih luas.

Terdapat dua poros yang membagi area setiap domain kompetensi yang termasuk dalam pilar-
pilar literasi digital. Poros pertama, yaitu domain kapasitas ‘single–kolektif’ memperlihatkan rentang
kapasitas literasi digital sebagai kemampuan individu untuk mengakomodasi kebutuhan individu
sepenuhnya hingga kemampuan individu untuk berfungsi sebagai bagian dari masyarakat
kolektif/societal. Sementara itu, poros berikutnya adalah domain ruang ‘informal–formal’ yang
memperlihatkan ruang pendekatan dalam penerapan kompetensi literasi digital. Ruang informal
ditandai dengan pendekatan yang cair dan fleksibel, dengan instrumen yang lebih menekankan pada
kumpulan individu sebagai sebuah kelompok komunitas/masyarakat. Sedangkan ruang formal ditandai
dengan pendekatan yang lebih terstruktur dilengkapi instrumen yang lebih menekankan pada kumpulan
individu sebagai ‘warga negara digital.’ Blok-blok kompetensi semacam ini memungkinkan kita melihat
kekhasan setiap modul sesuai dengan domain kapasitas dan ruangnya.

Kolaborasi positif, dapat menjadi sistem pendukung bagi kita dalam menghadapi berbagai
serangan informasi di dunia internet. Sebaliknya kolaborasi negatif dapat menjebloskan kita pada
pusaran perspektif yang salah bahkan ranah hukum. Kolaborasi positif seperti menciptakan konten yang
baik. Pada dasarnya, konten pada media digital adalah produksi budaya, karena terdapat interaksi,
partisipasi, dan kolaborasi antar pengguna di dalamnya. Namun dalam interaksi terkait konten digital,
perlu diingat pertimbangan etis. Pertimbangan etis didasarkan triangle subjek, pencipta karya, dan
audiens.
RESUME MATERI MOOC

Perubahan media komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia tidak terlepas dengan
perubahan teknologi komunikasi. Ketika media komunikasi beranjak cepat menuju digital, maka praktek
budaya kita pun mau tak mau mengalami perubahan. Tantangan dalam menghadapi era digital adalah
terbukanya akses, proses yang cepat dan instan, serta kemudahan akses. Satu hal yang harus diakui:
kecanggihan teknologi digital hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan para pengguna.
Namun, tanpa dibingkai oleh nilai budaya dan karakter, semua itu sia-sia belaka.

Bangsa yang sukses dan berkualitas adalah bangsa yang berbudaya dan bermartabat. Seyogyanya,
saat dunia bertransformasi menjadi budaya digital, maka budaya baru yang terbentuk harus dapat
menciptakan manusia yang berkarakter dan warga digital yang memiliki nilai-nilai kebangsaan untuk
memperkuat bangsa dan negaranya. Kehadiran media dan teknologi digital, dengan kata lain, harus
menjadi sarana memperkuat budaya bangsa dan karakter warganegara.

Tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan modul budaya bermedia digital adalah
menyesuaikan dan mengakomodasi panduan ini dengan keragaman budaya daerah. Pada dasarnya,
Indonesia memiliki modal kearifan lokal yang luar biasa. Kearifan lokal inilah yang perlu diintegrasikan ke
dalam budaya digital Indonesia sehingga memperkaya kita semua. Tantangan lain adalah bagaimana
mengajarkan dan mengaplikasikan budaya digital kepada target sasaran yang bukan hanya berbeda
budaya, tetapi juga memiliki keragaman variabel sosioekonomi. Tidak kalah penting adalah bagaimana
menyentuh kelompok-kelompok minoritas supaya tidak tertinggal dalam pengembangan budaya digital,
yaitu warga difabel, masyarakat di Kawasan 3T, lansia, anak-anak, dan perempuan.

Diperlukan peran berbagai pihak dalam masyarakat untuk mengedukasi budaya digital yang
bermartabat. Diperlukan sinergi dari siapa saja, mulai dari pejabat di lingkungan pemerintah, pemuka
agama, para pendidik, tokoh masyarakat serta para public figure yang memberikan teladan nilai positif
di tengah masyarakat.

Perangkat digital memiliki peran vital dalam melakukan aktivitas digital. Misalnya ketika kita
melakukan komunikasi seringkali kita menggunakan gawai yang terkoneksi dengan jaringan internet
pada keseharian kita, sehingga dalam menggunakan perangkat digital kita perlu melakukan proteksi
terhadap perangkat digital yang kita miliki. Sebuah perangkat digital selalu terdiri dari dua kelompok
komponen utama: perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras adalah perangkat yang secara
fisik bisa kita lihat dan pegang, seperti layar ponsel, monitor, keyboard, hard disk, dan kartu
penyimpanan. Sedangkan perangkat lunak merupakan aplikasi dan program yang ditanamkan di dalam
RESUME MATERI MOOC

perangkat untuk membuatnya mampu bekerja dengan baik. Kedua komponen ini saling terkait sehingga
upaya pengamanannya pun dilakukan secara berkesinambungan.

Perangkat digital memiliki peran vital dalam melakukan aktivitas digital. Misalnya ketika kita
melakukan komunikasi seringkali kita menggunakan gawai yang terkoneksi dengan jaringan internet
pada keseharian kita, sehingga dalam menggunakan perangkat digital kita perlu melakukan proteksi
terhadap perangkat digital yang kita miliki. Sebuah perangkat digital selalu terdiri dari dua kelompok
komponen utama: perangkat keras dan perangkat lunak.

Pengetahuan dasar mengenai lanskap digital meliputi berbagai perangkat keras dan perangkat
lunak. Fungsi perangkat keras dan perangkat lunak saling berkaitan sehingga tidak bisa lepas satu sama
lain. Kita tidak bisa mengakses dunia digital tanpa fungsi jadi keduanya. Dengan demikian, kita perlu
mengetahui dan memahami fungsi perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan dalam
mengakses dunia digital.

Berdasarkan data survei indeks literasi digital nasional 2020 di 34 provinsi di Indonesia, akses
terhadap internet ditemukan kian cepat, terjangkau, dan tersebar hingga ke pelosok (Kominfo, 2020).
Dalam survei tersebut, terungkap pula bahwa literasi digital masyarakat Indonesia masih berada pada
level sedang (Katadata Insight Center & Kominfo, 2020). Adapun, indeks literasi digital yang diukur
dibagi ke dalam 4 subindeks, yaitu subindeks 1 terkait informasi dan literasi data, subindeks 2 terkait
komunikasi dan kolaborasi, subindeks 3 tentang keamanan, dan subindeks 4 mengenai kemampuan
teknologi, dengan skor terbaik bernilai 5 dan terburuk bernilai 1. Dari keempatnya, subindeks dengan
skor tertinggi adalah subindeks informasi dan literasi data serta kemampuan teknologi (3,66), diikuti
dengan subindeks komunikasi dan kolaborasi (3,38), serta informasi dan literasi data (3,17) (Kominfo,
2020).

Anda mungkin juga menyukai