ANALISIS VEGETASI
(Laporan Praktikum Biologi)
Oleh
Kelompok 6
Anisa Aprilia : 2314151101
Umi Amelia Wati : 2314151096
Reza Asmara : 2314151109
Gita Sari Lusiana Br. Ginting : 2314151102
Reno alfarizki : 2354151013
JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2023
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sebagai ilmu yang mempelajari asal-usul, evolusi dan karakteristik makhluk
hidup, biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang
dipelajari mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Mempelajari
tentang seluruh aspek kehidupan, biologi merupakan ilmu yang berkaitan erat
dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan dasar biologi adalah untuk menetapkan
hukum yang mengatur kehidupan organisme. Biologi memperlajari berbagai
aspek, salah satu nya ialah mengenai tumbuhan dan tanaman (Herdani, 2015).
Tumbuhan ialah salah satu jenis makhluk hidup yang terdapat di alam
semesta. Tumbuhan merupakan mata rantai utama, dan organisme yang sangat
dekat dengan kehidupan manusia. Setiap tumbuhan memiliki ciri dan karakter
sendiri yang membuatnya berbeda satu dengan yang lainnya. Tumbuhan tersebar
di berbagai tempat dengan kondisi yang beragam, umumnya tumbuhan hidup
berdekatan satu sama lain pada suatu areal wilayah tertentu (Ziraluo, 2020).
Kumpulan tumbuh-tumbuhan, yang terdiri dari beberapa jenis dan hidup
bersama-sama pada suatu tempat disebut sebagai vegetasi. Vegetasi pada tiap
wilayah akan berbeda beda mengikuti factor yang mempengaruhi nya. Faktor-
factor tersebut meliputi unsur biotik yaitu makhluk hidup, serta abiotik yaitu unsur
tak hidup, antara lain suhu udara, suhu tanah, kelembaban udara, pH tanah,
intensitas cahaya, dan lain-lain . Pada praktikum kali ini, akan dilakukan kegiatan
analisis vegetasi pada area Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman.
Diharapkan para praktikan dapat memenuhi tujuan dari praktikum yang
dilaksanakan (Natalia, 2013).
I.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa memahami tentang analisis vegetasi
2. Mahasiswa memahami hubungan analisis vegetasi dengan faktor biotik dan
abiotik
II. METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1. Waktu dan Tempat
Praktikum biologi mengenai “Analisis Vegetasi” dilaksanaan pada hari
Minggu 26 November, pukul 07.00 hingga 15.00. Bertempat di Taman Hutan
Raya Wan Abdul Rachman.
2.2. Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini menggunakan alat dan bahan sebagai berikut: Papan
Jalan, alat tulis, tally sheet, tali rafia, dan pita meter.
2.3. Cara Kerja
Cara kerja pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
Disiapkan semua alat dan bahan
Dibentuk plot berturut-turut 20x20, 10x10, 5x5, dan 2x2 di lokasi
praktikum
Dicatat dan di kelompokan semua tanaman pada tally sheet dengan aturan
plot 20x20 (Pohon Dewasa) berukuran D>20 cm dan T>5m, plot 10x10
(Tiang) D<20cm dan 1,5m<T<5m, plot 5x5 (Pancang) D>10cm dan
T>1,5m, lalu plot 2x2 (Semai) T<1,5m
Diameter pohon diukur menggunakan pita meter sedangkan tinggi pohon
diukur menggunakan perkiraan
Dibuat 1 plot lagi dengan jarak 5 meter dari plot yang sebelumnya lalu di
lakukan cara yang sama pukul 07.00 hingga 15.00.
Hasil
[Link] DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil dalam tabel
berikut:
Tabel 1. Plot 20x20
N N. Lokal N. Latin Family T K D Fase
o
1 Kelapa Cocos Palmae 18 84 26,7 Poho
mucifera L. 3 n
2 Durian urio zibethinus Malvaceae 21 14 45,2 Poho
Murr. 2 n
3 Karet Hevea Euphrobiacia 15 73 23,2 Poho
brasiliensis e 3 n
4 Pete Parkia Mimosaceae 17 12 38,5 Poho
speciosa 1 1 n
Hassk.
5 Jengkol Pithecellobium Fabaceae 15 75 23,8 Poho
jiringa 7 n
Tabel 2. Plot 10x10
No [Link] [Link] Family T K D Fase
1 Pisang Musa Musacea 5 39 12,4 Tiang
Paradisiaca e 1
.
Tabel 3. Plot 5x5
No [Link] [Link] Family T K D Fase
1 Mangga Mangifera sp Anacardicea 4 12 3,81 Pancang
e
Tabel 4. Plot 2x2
No [Link] [Link] Family T K D Fase
1 Mangga Mangifera sp Anacardicea 0,7 2 0,63 Semai
e
3.2. Pembahasan
3.2.1. Umi Amelia Wati 2314151096
Analisis vegetasi merupakan suatu metode analisis susunan dan komposisi
vegetasi dari komunitas tumbuhan berdasarkan morfologi (struktur) vegetasi
tersebut. Melalui analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang
struktur dan komposisi komunitas tumbuhan. Analisis vegetasi yang dihitung
terdiri dari kerapatan relatif, kerapatan absolut, kelimpahan relatif, kelimpahan
absolut, dominasi relatif, dominasi absolut, dan indeks nilai penting. Dari sudut
pandang fungsional, analisis vegetasi terutama berguna untuk menyelidiki
struktur atau komposisi dan morfologi vegetasi dalam komunitas tumbuhan,
seperti survei tegakan hutan. Tegakan hutan adalah tipe vegetasi dasar yang
terdapat di bawah tegakan hutan, padang rumput, padang rumput, dan vegetasi
semak belukar. (Shabirin, 2020).
Faktor biologis yang secara langsung mempengaruhi organisme meliputi
interaksi antara predator dan mangsa, persaingan untuk mendapatkan sumber daya
(misalnya makanan, tempat tinggal), dan hubungan simbiosis seperti mutualisme,
parasitisme, dan [Link] abiotik yang secara langsung mempengaruhi
organisme hidup antara lain suhu (yang ekstrim dapat mempengaruhi fungsi
fisiologis), kelembaban (yang dapat mempengaruhi proses hidrasi), pencahayaan
(pH tanah tanaman (yang dapat mempengaruhi ketersediaan unsur hara), pH tanah
(yang dapat mempengaruhi ketersediaan unsur hara), dan pH tanah (yang dapat
mempengaruhi ketersediaan unsur hara), dan jenis tanah. (Kondisi tanah, drainase,
dll). Semua faktor tersebut berperan penting dalam menentukan berhasil tidaknya
organisme di lingkungan. (Aryanti et al, 2021).
Kondisi vegetasi di Tahura terdiri dari vegetasi hutan primer dan sekunder,
semak dan alang-alang, kebun dan tanaman pangan atau agroforestri. Vegetasi
hutan asli umumnya terdapat di daerah perbukitan dan pegunungan yang sulit
dijangkau manusia dan jauh dari gangguan. Hutan sekunder, semak belukar dan
alang-alang merupakan perambahan yang diwariskan atau kawasan yang dikelola
masyarakat. Agroforestri di kawasan ini merupakan kawasan yang ditetapkan oleh
Pemerintah Kota sebagai lahan konversi yang digunakan untuk perhutanan sosial
dan/atau lahan pertanian. (Erwin, 2017).
3.2.2. Gita Sari Lusiana Br. Ginting 2314151102
Analisis vegetasi merujuk pada proses penelitian dan evaluasi yang dilakukan
untuk memahami komposisi, struktur, dan distribusi tanaman dalam suatu
ekosistem atau wilayah tertentu. Tujuan utama dari analisis vegetasi adalah untuk
mengidentifikasi spesies tumbuhan yang ada, mengevaluasi kepadatan populasi,
distribusi spasial, dan hubungan ekologis antar-tumbuhan. Metode analisis
vegetasi melibatkan pengukuran parameter seperti frekuensi, kerapatan, tutupan
tanaman, dan variasi struktural. Data yang dikumpulkan selama analisis vegetasi
dapat memberikan wawasan mendalam tentang keanekaragaman hayati, kesehatan
ekosistem, dan interaksi antar-komponen biotik dalam suatu wilayah. Informasi
ini sering digunakan oleh ahli ekologi, konservasionis, dan manajer lingkungan
untuk merancang strategi perlindungan, pemulihan ekosistem, atau pengelolaan
sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan memahami analisis vegetasi, kita
dapat menggali lebih dalam mengenai dinamika ekosistem dan mempertahankan
keseimbangan lingkungan alam. (Oktaviani, 2017).
Faktor biotik dan abiotik di suatu lokasi penelitian saling berinteraksi dan
membentuk ekosistem yang kompleks. Faktor biotik melibatkan semua organisme
hidup seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme yang saling bergantung satu
sama lain dalam rantai makanan dan jaringan ekologi. Di sisi lain, faktor abiotik
mencakup unsur non-hidup seperti iklim, tanah, topografi, dan cahaya matahari
yang memengaruhi ketersediaan sumber daya dan kondisi lingkungan. Interaksi
antara faktor-faktor ini membentuk ekosistem yang unik, di mana perubahan
dalam satu aspek dapat memiliki dampak luas pada keseluruhan sistem. Misalnya,
perubahan iklim dapat mempengaruhi distribusi spesies dan komposisi vegetasi,
sementara jenis tanah dan topografi memainkan peran dalam penentuan
keberlanjutan ekosistem. Oleh karena itu, pemahaman holistik terhadap
keseimbangan dinamika antara faktor biotik dan abiotik menjadi kunci dalam
menjelajahi dan merawat keberlanjutan suatu lingkungan penelitian. (Nursanti,
2021).
Kondisi vegetasi di Tahura terdiri dari vegetasi hutan primer maupun hutan
sekunder, semak belukar dan alang-alang, kebun dan tanaman pertanian atau
agroforestri. Vegetasi hutan primer pada umumnya berada pada daerah perbukitan
dan pegunungan yang sulit dijangkau masyarakat sehingga jauh dari gangguan.
Hutan sekunder, semak dan alang-alang merupakan daerah perambahan atau
garapan masyarakat yang telah mengalami suksesi. Agroforestri di kawasan ini
merupakan kawasan yang diperuntukkan sebagai social forestry dan atau lahan
rambahan yang dijadikan lahan pertanian oleh masyakarat (Erwin, 2017).
3.2.3. Reza Asmara 2314151109
Analisis vegetasi memainkan peran penting dalam mengungkap rahasia
kehidupan tumbuhan dan dinamika ekosistem. Dengan merinci komposisi spesies,
struktur komunitas, dan pola distribusi tumbuhan, analisis vegetasi memberikan
wawasan mendalam tentang keberagaman hayati dan respons ekosistem terhadap
perubahan lingkungan. Selain itu, melalui teknik pengukuran seperti kerapatan
dan frekuensi relatif, analisis vegetasi memberikan landasan yang kuat untuk
mengevaluasi kesehatan ekosistem, mengidentifikasi spesies invasif, dan
merancang strategi restorasi habitat. Dengan begitu, analisis vegetasi bukan hanya
sekadar alat ilmiah, tetapi juga menjadi kunci untuk merencanakan upaya
konservasi yang efektif dan berkelanjutan serta untuk memahami peran tumbuhan
dalam menjaga keseimbangan alam (Cahyanto, Chairunnisa, dan Sudjarwo,
2014).
Faktor biotik yang berpengaruh langsung terhadap organisme termasuk
interaksi dengan organisme lain seperti predator-mangsa, kompetisi untuk sumber
daya (misalnya makanan, tempat berlindung), serta hubungan simbiosis seperti
mutualisme, parasitisme, dan komensalisme. Sementara itu, faktor abiotik yang
berpengaruh langsung terhadap organisme meliputi suhu (pada suhu ekstrem
dapat memengaruhi fungsi fisiologis), kelembaban (memengaruhi proses hidrasi),
pencahayaan (dapat memengaruhi fotosintesis pada tumbuhan), pH tanah
(pengaruh pada ketersediaan nutrisi), dan jenis tanah (misalnya, tekstur dan
drainase tanah). Semua faktor ini memainkan peran penting dalam menentukan
keberhasilan atau kegagalan organisme dalam suatu lingkungan (Aryanti et al,
2021).
Kondisi vegetasi di hutan Taman Hutan Raya (Tahura) berbeda-beda
tergantung lokasi, iklim, dan tipe hutan. Hutan-hutan ini biasanya merupakan
rumah bagi berbagai macam tumbuhan dan hewan, termasuk pohon berdaun lebar
dan pepohonan lainnya, semak belukar, dan berbagai spesies tumbuhan lainnya.
Pemerintah daerah dan instansi terkait sering melakukan pemantauan dan
pemeliharaan untuk melindungi hutan Tahula. (Erwin,2017).
3.2.4. Anisa Aprilia 2314151101
Analisis vegetasi berperan sebagai jendela ilmiah yang membuka wawasan
kita terhadap keanekaragaman dan interaksi antara tumbuhan dalam suatu
ekosistem. Dengan menggali lebih dalam tentang jenis tumbuhan, struktur
komunitas, dan cara penyebarannya, analisis vegetasi memberikan pemahaman
mendalam tentang ekologi suatu wilayah. Fungsi utamanya mencakup
pemantauan perubahan alamiah atau dampak aktivitas manusia terhadap
komposisi tumbuhan, serta membantu kita memahami adaptasi dan respons
tumbuhan terhadap perubahan lingkungan. Secara praktis, analisis vegetasi
menjadi instrumen yang tak ternilai dalam manajemen lahan, rehabilitasi hutan,
dan desain taman konservasi. Dengan begitu, analisis vegetasi bukan hanya
sebagai alat pengukur biodiversitas, tetapi juga sebagai kunci untuk melihat ke
dalam kehidupan tumbuhan dan menjaga kelestarian lingkungan (Laely,
Widyastut, dan Widodo, 2020).
Faktor biotik dan abiotik di suatu lokasi penelitian saling membentuk
kerangka ekosistem yang selaras. Faktor biotik, yang mencakup semua organisme
hidup seperti flora, fauna, dan mikroba, berinteraksi dalam jaringan makanan dan
dinamika ekologi. Sebaliknya, faktor abiotik, seperti iklim, tanah, relief, dan
elemen-elemen non-organik lainnya, memberikan fondasi yang mempengaruhi
distribusi dan kelangsungan hidup organisme. Keseimbangan antara faktor biotik
dan abiotik ini menciptakan lingkungan yang unik dengan dinamika yang unik
pula. Perubahan dalam satu elemen, seperti perubahan suhu atau kondisi tanah,
dapat memicu efek domino pada komunitas biotik, mengubah pola perkembangan
dan interaksi di dalam ekosistem. Dengan demikian, memahami interaksi
kompleks antara faktor biotik dan abiotik menjadi kunci untuk mengurai rahasia
ekologi suatu lokasi penelitian dan merancang strategi pelestarian yang efektif
(Aryanti, et al. 2021).
Situasi vegetasi di kawasan Tahra One Abdul Rachman dibagi menjadi blok
pengelolaan yang meliputi blok koleksi tanaman yang digunakan untuk
mengumpulkan tanaman asli dan eksotik. Refuge block sebagai tempat
perlindungan tumbuhan, satwa dan ekosistem. Gunakan blok untuk kegiatan
pendidikan, penelitian dan pengelolaan hutan bersama masyarakat lokal
(Erwin,2017).
3.2.5. Reno Alfarizki 2354151013
Analisis vegetasi merupakan pilar esensial dalam memahami jaringan
kehidupan tumbuhan dan dinamika ekosistem. Dengan menyelidiki komposisi,
distribusi spasial, dan struktur populasi tumbuhan, analisis vegetasi memberikan
pemahaman holistik tentang ekologi suatu wilayah. Fungsi utamanya melibatkan
pengungkapan pola keanekaragaman hayati, dinamika pertumbuhan tumbuhan,
dan interaksi kompleks antara spesies. Selain itu, analisis vegetasi menjadi
instrumen kunci dalam mendukung pemulihan ekosistem yang terganggu atau
terdegradasi. Dengan memberikan data yang mendalam tentang aspek-aspek
tersebut, analisis vegetasi tidak hanya memberikan gambaran ilmiah tentang
kondisi lingkungan, tetapi juga membantu merancang strategi keberlanjutan dalam
pengelolaan lahan dan konservasi sumber daya alam. Sehingga, dapat dikatakan
bahwa analisis vegetasi tidak hanya menguraikan kehidupan tanaman, tetapi juga
membuka jalan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang harmoni
ekosistem (Oktaviani, 2017).
Faktor-faktor abiotik di lokasi praktikum mencakup iklim, tanah, dan
topografi. Iklim memengaruhi suhu, kelembaban, dan curah hujan, berdampak
pada pertumbuhan tumbuhan dan aktivitas hewan. Tanah, dengan kandungan
nutrien, tekstur, dan pH-nya, mempengaruhi jenis tumbuhan yang dapat tumbuh.
Topografi, seperti kemiringan dan ketinggian, memengaruhi kondisi mikro-iklim.
Faktor-faktor biotik melibatkan organisme hidup seperti tumbuhan, hewan, dan
mikroorganisme. Tumbuhan bersaing untuk sumber daya, sementara hewan
berperan sebagai konsumen, pemangsa, atau polinator. Interaksi kompleks antara
faktor-faktor ini membentuk ekosistem yang dinamis, seperti adaptasi pohon
pisang pada hutan hujan tropis dan keterkaitan makaka serta kumbang dengan
keanekaragaman tumbuhan dan jenis hutan yang berbeda. (Utomo, Sutriyono, dan
Rizal, 2013).
Di lokasi ini, kondisi vegetasi mencerminkan keragaman yang khas. Meskipun
pohon-pohonnya tidak terlalu padat, topografi yang beragam di dataran tinggi
memainkan peran penting dalam menentukan struktur vegetasi. Sebagian daerah
menampilkan tumbuhan yang tumbuh jarang dengan semak di lapisan bawah,
sementara daerah lain mungkin memiliki kepadatan pohon yang lebih tinggi di
dataran yang lebih datar. Faktor abiotik seperti tanah dan topografi, bersama
dengan faktor biotik seperti jenis tumbuhan lokal, menciptakan ekosistem yang
heterogen. Variasi ini dapat memengaruhi keanekaragaman hayati dan
mencerminkan adaptasi organisme terhadap kondisi lingkungan yang berbeda di
dataran tinggi tersebut (Hidayat, 2014).
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat di ambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Praktikum ini berhasil mencapai tujuan dengan memberikan pemahaman
mendalam kepada mahasiswa tentang metode analisis vegetasi. Melalui
pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan, mahasiswa dapat
mengidentifikasi komposisi tumbuhan, kerapatan, dan distribusi spesies,
serta memahami teknik ilmiah yang digunakan dalam menganalisis
vegetasi suatu area.
2. Praktikum ini juga membuka wawasan mahasiswa tentang keterkaitan erat
antara analisis vegetasi, faktor biotik, dan abiotik. Mahasiswa dapat
melihat bagaimana struktur vegetasi dipengaruhi oleh elemen-elemen tidak
hidup seperti iklim, tanah, dan topografi (faktor abiotik), serta bagaimana
interaksi dengan organisme hidup, seperti tumbuhan dan hewan (faktor
biotik), membentuk ekosistem yang dinamis. Dengan demikian,
mahasiswa dapat mengapresiasi kompleksitas hubungan antara analisis
vegetasi dan faktor-faktor lingkungan dalam suatu ekosistem.
DAFTAR PUSTAKA
Aryanti, N. A., Wibowo, F. A. C., Mahidi, M., Wardhani, F. K., dan Kusuma, I.
K. T. W. 2021. Hubungan Faktor Biotik dan Abiotik Terhadap
Keanekaragaman Makrobentos di Hutan Mangrove Kabupaten Lombok
Barat. Jurnal Kelautan Tropis, 24(2), 185-194.
Cahyanto, T., Chairunnisa, D., dan Sudjarwo, T. (2014). Analisis Vegetasi Pohon
Hutan Alam Gunung Manglayang Kabupaten Bandung.
Jurnal Istek, 8(2):23-31.
Erwin, E., Bintoro, A., dan Rusita, R. 2017. Keragaman Vegetasi Di Blok
Pemanfaatan Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu (HPKT) TAHURA
Wan Abdul Rachman, Provinsi Lampung. Jurnal Sylva Lestari, 5(3), 1-11.
Herdani, P.T., Sartono, N., Evriyani, D. 2015. Pengembangan Permainan
Monopoli Termodifikasi Sebagai Media Pembelajaran pada Materi Sistem
Hormon (Penelitian dan Pengembangan di SMAN 1 Jakarta).Biosfer.
8(1) : 20-29.
Hidayat, S. 2014. Kondisi vegetasi di hutan lindung Sesaot, Kabupaten Lombok
Barat, Nusa Tenggara Barat, sebagai informasi dasar pengelolaan
kawasan. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 3(2), 97-105.
Laely, S. N., Widyastuti, A., & Widodo, P. 2020. Keanekaragaman tumbuhan
paku terestrial di cagar alam pemalang Jawa Tengah. BioEksakta: Jurnal
Ilmiah Biologi Unsoed, 2(1), 116-122.
Natalia, D., Handayani, T., 2013. Analisis Vegetasi Strata Semak Di Plawangan
Taman Nasional Gunung Merapi Pasca Erupsi Merapi 2010. Jurnal
Bioedukatika. 1(1) : 62-71.
Nursanti, Ade,A. dan Sai'in. 2021. Komponen Faktor Abiotik Lingkungan Tempat
Tumbuh Puspa di Kawasan Hutan Adat Bulian Kabupaten Musirawas.
Jurnal Silva Tropika. 5(2):1-8.
Oktaviani, S. I., Hanum, L., Negara, Z,.P. 2017. Analisis Vegetasi di Kawasan
Terbuka Hijau Industri Gasing. Jurnal Penelitian Sains. 19(3) :124.
Shabirin, A., Puteri, Y., Syafira, H., Mayasari, T., dan Nurkhasanah, M. 2020.
Analisis Vegetasi di Kawasan Petilasan Mbah Maridjan Taman Nasional
Gunung Merapi. Biotropic The Journal of Tropical Biology, 4(1), 14-22.
Utomo, S. W., Sutriyono, I., dan Rizal, R. 2012. Pengertian, ruang lingkup
ekologi dan ekosistem. Jakarta: Universitas Terbuka.
Ziraluo, Y.P.B., Duha, M. 2020. Diversity Study Of Fruit Producer Plant In Nias
Islands. Jurnal Inovasi Penelitian. 1(8) : 683-694.
LAMPIRAN
DOKUMENTASI
Gambar 1. Pemasangan Plot Gambar 2. Tally Sheet
PROGRES PENGERJAAN
Umi Amela Wati Pendahuluan dan Pembahasan
Anisa Aprilia Metodologi,dan Pembahasan
Reza Asmara Hasil dan Pembahasan
Gita Sari Lusiana Br. ginting Kesimpulan Lampiran dan
Pembahasan
Reno Alfarizki Daftar Pustaka Print dan Pembahasan