0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan26 halaman

Pembangunan Gudang Springbed Banyumas

Candra Hermawan mengajukan rencana pembangunan gudang dan industri furniture (springbed) di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, pada lahan seluas 1.701 m2. Rencana ini mencakup berbagai aspek seperti perizinan, dampak lingkungan, dan proses konstruksi, serta telah mendapatkan rekomendasi sesuai dengan tata ruang yang berlaku. Kapasitas produksi yang direncanakan adalah 6.000 unit per hari dengan sumber air dari sumur dangkal dan energi listrik dari PLN.

Diunggah oleh

wijeck
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan26 halaman

Pembangunan Gudang Springbed Banyumas

Candra Hermawan mengajukan rencana pembangunan gudang dan industri furniture (springbed) di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, pada lahan seluas 1.701 m2. Rencana ini mencakup berbagai aspek seperti perizinan, dampak lingkungan, dan proses konstruksi, serta telah mendapatkan rekomendasi sesuai dengan tata ruang yang berlaku. Kapasitas produksi yang direncanakan adalah 6.000 unit per hari dengan sumber air dari sumur dangkal dan energi listrik dari PLN.

Diunggah oleh

wijeck
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

IDENTITAS PEMRAKARSA

Nama Pemrakarsa : Candra Hermawan


Alamat : Jl. Jenderal Suprapto, RT.002 RW.007
Kel. Purwokerto Lor, [Link] Timur
Kab. Banyumas, Prov. Jawa Tengah
Telepon/Faksimili : ....
Email : ...

B. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

1. Nama Rencana Usaha dan/atau Keigiatan

Pembangunan Gudang dan Industri Furniture (Springbed).

2. Lokasi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan

Rencana Pembangunan Gudang dan Industri Furniture (Springbed) ini berlokasi di


Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas. Titik koordinat dari
rencana Pembangunan Gudang dan Industri Furniture (Springbed) di Desa
Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas tersebut adalah Long
109.235578 dan Lat -7.47673.

Lahan yang digunakan untuk Pembangunan Gudang dan Industri Furniture


(Springbed) merupakan lahan milik sendiri, dimana saat ini peruntukan adalah
tegalan namun hanya ditumbuhi rumput dan ilalang (lahan kosong). Usaha dan/atau
kegiatan sekitar rencana lokasi Pembangunan Gudang dan Industri Furniture
(Springbed) diantaranya adalah permukiman penduduk, tegalan/kebun, dan lain
sebagainya. Lebih lanjut, foto udara dan peta lokasi rencana Pembangunan Gudang
dan Industri Furniture (Springbed) di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja,
Kabupaten Banyumas disajikan pada Gambar 1 dan 2.

3. Skala/Besaran Rencana Usaha dan/atau Kegiatan

a. Luas tanah/lahan : 1.701 m2


b. Luas bangunan : 682 m2
 R. Pabrik : ... m2
 R. Gudang : ... m2
 R. Kantor : 24 m2
 R. Pimpinan : 25 m2
 R. Admin : 12 m2
 WC/KM : 16,5 m2

1
 R. Serbaguna : 9 m2
 Pos jaga : 6 m2
c. Pagar keliling : ... m2
d. Tempat parkir dan lainnya : ... m2
e. Kapasitas produksi : 6.000 unit/hari
f. Sumber air : sumur dangkal
g. Sumber energi listrik utama : PLN 100.000 Watt, cadangan genset 150 kVA

Proses kegiatan operasional gudang dan industri furniture (springbed) berupa


perakitan produk springbed dan semua bahan baku di datangkan dari luar pabrik.
Produk yang dihasilkan berupa kain quilting dan springbed.

4. Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan/atau Kegiatan

a. Kesesuaian lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan tata ruang

Berdasarkan Surat Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman


Kabupaten Banyumas Nomor: 050/866-OL/PR/2018 Perihal: Keterangan
Rencana Daerah (Advice Planning), disebutkan bahwa: merujuk pada Perda
Kabupaten Banyumas No. 10 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Banyumas Tahun 2011-2031, Perda Kabupaten Banyumas
No. 3 Tahun 2011 tentang Bangunan Gedung, Perda Prov. Jawa Tengah No.9
Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Perda Prov. Jawa Tengah No. 11 Tahun
2004 tentang Garis Sempadan maka rencana pola ruang kawasan yang
dimohon berada pada kawasan permukiman perkotaan. Ketentuan analisis
aturann tata ruang: Pasal 84 Ayat (9) huruf d menyebutkan diperbolehkan
terbatas kegiatan pergudangan dibatasi dengan syarat berada di luar kawasan
pusat kota dan minimal berada pada tepi ruas jalan kolektor. Pasal 84 Ayat (9)
huruf e menyebutkan tidak diperbolehkan untuk kegiatan industri dengan kriteria
mengganggu atau memiliki dampak besar dan/atau industri yang menghasilkan
limbah berkategori B3. Rekomendasi yang diberikan adalah: bahwa lokasi
kegiatan berada di Jl. Gunung Tugel yang merupakan jalan kolektor, sehingga
kegiatan pendirian bangunan gudang yang direncanakan sesuai dengan aturan
tata ruang dan kegiatan Industri Furniture (Springbed) sesuai dengan aturan tata
ruang terbatas dengan syarat mendapatkan rekomendasi dari OPD teknis yang
membidangi.

Mendasarkan Informasi Tata Ruang tersebut, maka rencana Pembangunan


Pabrik Pupuk Organik oleh PT. Karya Fertilindo Prima dibutuhkan rekomendasi
teknis terkait dengan sempadan sungai dari pengelola wilayah sungai yang

2
bersangkutan. Berdasarkan hasil tinjauan lapangan Tim Teknis Identifikasi
Lahan Milik Negara Terhadap Pemanfaatan Sempadan Sungai dan Irigasi Pada
Wilayah Kerja Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy disebutkan bahwa jarak
rencana kegiatan dengan diluar sempadan sungai bertanggul diluar kawasan
atau lebih dari 5 meter dari tepi luar kanan kaki tanggul

Dengan demikian, rencana lokasi Pembangunan Gudang dan Industri Furniture


(Springbed) dapat dilaksanakan dengan tetap memenuhi rekomendasi atau
ketentuan teknis mengenai rencana tata bangunan dan lingkungan yang berlaku.
Lebih lanjut, keterangan rencana daerah (advice planning) disajikan pada
Lampiran.

b. Penjelasan persetujuan prinsip atas rencana usaha dan/atau kegiatan

Pemrakarsa telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan No. ..... Nomor
Induk Berusaha (NIB) selain menjadi identitas perusahaan, juga merupakan
bukti pendaftaran penanaman modal atau berusaha yang sekaligus merupakan
pengesahan Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Dalam rencana operasionalnya
terkait dengan Gudang dan Industri Furniture (Springbed) juga telah memiliki
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Izin Usaha Industri (IUI) yang telah
diterbitkan oleh Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS pada tanggal
... ... ....

Dengan demikian, rencana Pembangunan Gudang dan Industri Furniture


(Springbed) di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas
secara prinsip dapat dilaksanaan. Lebih lanjut, perizinan Rencana
Pembangunan Gudang dan Industri Furniture (Springbed) disajikan pada
Lampiran.

3
Gambar 1. Foto udara rencana tapak kegiatan.

4
A3
Gambar 2. Peta lokasi rencana tapak kegiatan.

5
A3
Gambar 3. Peta tata ruang lokasi rencana tapak kegiatan.

6
A3
Gambar 4. Layput site plant rencana tapak kegiatan.

7
c. Uraian mengenai komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang dapat
menimbulkan dampak lingkungan

1) Tahap prakonstruksi

a. Penentuan lokasi dan perizinan

Penentuan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor


dan salah satunya adalah tersedianya akses jalan. Hal tersebut dilakukan
dalam menentukan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan
Pembangunan Gudang dan Industri Furniture (Springbed) di Desa
Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, dimana
rencana lokasi berada di jalan kolektor yaitu Jalan Gunung Tugel. Lahan
yang akan digunakan untuk rencana kegiatan merupakan lahan milik
sendiri, bersetatus Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan Nomor 02195
seluas 1.701 m2.

Dalam rangka melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatan


Pembangunan Gudang dan Industri Furniture (Springbed) di Desa
Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas akan
dilakukan pengurusan perizinan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kegiatan penentuan lokasi dan perizinan diprakirakan akan menimbulkan
dampak terhadap lingkungan hidup berupa perubahan persepsi
masyarakat khususnya masyarakat sekitar tapak kegiatan khususnya
Desa Kedungrandu.

2) Tahap konstruksi

a. Rekruitmen tenaga kerja konstruksi

Dalam mengerjakan konstruksi Gudang dan Industri Furniture (Springbed)


diperlukan tenaga kerja seperti mandor, tukang, buruh bangunan
(pembantu tukang), administrasi, dan sebagainya. Jumlah pekerja atau
tenaga kerja konstruksi ini diprakirakan sebanyak 39 orang. Namun
demikian, dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi ini, pemrakarsa
akan menyerahkan pada pihak ketiga atau kontraktor.

Table 1. Perkiraan kebutuhan tenaga kerja konstruksi.


Jumlah
No. Pekerjaan
(Orang)
1 Site Manager 1
2 Supervisor 2

8
Jumlah
No. Pekerjaan
(Orang)
3 Administrasi 1
4 Operator alat berat 1
5 Mandor 2
6 Tukang (batu, besi dan kayu) 10
7 Buruh bangunan (kuli bangunan) 20
8 Security 2
Jumah 39

Kegiatan rekruitmen tenaga kerja konstruksi tersebut diprakirakan akan


berdampak terhadap terbukanya peluang bekerja khususnya untuk
masyarakat sekitar rancana lokasi kegiatan. Dengan asumsi peluang
kerja untuk tenaga kerja sekitar rencana lokasi kegiatan adalah 60%,
maka peluang kerja yang terbuka sebanyak 24 orang.

b. Mobilisasi peralatan dan material

Peralatan yang akan dimobilisasi untuk konstruksi diantaranya adalan


bulldozer, excavator, dump truck dan peralatan pertukangan lainnya.
Peralatan tersebut khususnya alat berat dan dump truck direncanakan
dimobilisasi dari sekitar rencana lokasi kegiatan. Untuk bulldozer dan
excavator berjumlah masing-masing 1 unit, dimana akan digunakan untuk
pematangan lahan rencana lokasi kegiatan dan penggalian pondasi.
Sedangkan dump truck digunakan untuk mengangkut material bangunan
yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Untuk material bangunan yang akan dimobilisasi diantaranya adalah batu,


pasir, semen, batu pecah, besi, kayu, genteng, keramik, cat dan lain
sebagainya. Material bangunan tersebut direncanakan didatangkan dari
sekitar lokasi kegiatan atau Kecamatan Patikraja dan sekitarnya.

Mobilisasi material bangunan maupun peralatan akan dilaksanakan


bertahap seiring dengan dengan kemajuan bangunan atau konstruksi.
Jalan akses yang digunakan untuk mobilisasi peralatan dan material
bangunan melalui jalan yang sudah ada diantaranya Jalan Gunung Tugel.
Dengan demikian, kegiatan mobilisasi peralatan dan material tersebut
akan pada lalu lintas yang ada, prasarana jalan dan jenis angkutan yang
digunakan.

9
Pada akhir konstruksi, peralatan pabrik springbed (proses produksi
perakitan springbed) akan dimobilisasi, agar dapat digunakan untuk
memproduksi. Adapun jenis dan jumlah peralatan poses produksi pupuk
yang akan dimobilisasi disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Jenis dan jumlah peralatan produksi springbed.


Jumlah
No. Peralatan
(Unit)
1 Mesin Quilting 5
2 Mesin obras 5
3 Mesin corner 5
4 Automatic spring coiling machine 2
5 Mesin Assembler 2
6 Gun HR 22 5
7 Gun CL-73 5

Kegiatan mobilisasi peralatan dan metarial ini diprakirakan akan


menimbulkan dampak meningkatnya lalu lintas yang berakibat pada
kelancaran atau tertundanya lalu lintas khususnya di sekitar rencana
tapak kegiatan. Hal tersebut disebabkan karena bertambahnya jumlah
kendaraan dari kendaraan pengangkut peralatan dan material.

Dampak gangguan kelancaran lalu lintas yang terjadi diprakirakan hanya


di sekitar kular masuk kendaraan pengangkut ke tapak kegiatan. Tundaan
lalu lintas yang terjadi diprakirakan kurang dari 1 menit, dimana hanya
terjadi pada saat kendaraan akan keluar atau masuk ke tapak kegiatan.

Selain itu, moblisasi peralatan dan material diprakirakan akan


menimbulkan dampak penurunan kualitas udara ambien dan peningkatan
kebisingan. Penurunan kualitas udara ambien disebabkan oleh
resuspensi material yang diangkut ataupun pembongkarannya dan gas
buang kendaraan pengangkut. Sedangkan sumber peningkatan
kebisingan adalah bunyi dari kendaraan pengangkut.

Penurunan kualitas udara ambien tersebut diprakirakan hanya terjadi


pada saat mobilisasi peralatan dan material konstruksi berlangsung.
Terkait dengan peningkatan kebisingan diprakirakan hanya terjadi pada
saat adanya kendaraan pengangkut keluar masuk tapak kegiatan.
Peningkatan kebisingan tersebut diprakirakan masih sesuai baku tingkat

10
kebisingan, dimana kebisingan di tapak kegiatan <70 dBA dan
dipermukiman <55 dBA.

c. Pekerjaan konstruksi bangunan

 Penataan lahan dan pembangunan bangunan utama

Sebelum dimulainya pekerjaan sipil atau konstruksi dilaksanakan,


lahan rencana tapak kegiatan yang berupa tanah kosong yang
ditumbuhi vegetasi liar seperti rumput dan ilalang akan dilakukan
pembersihan dan pematangan lahan terlebih dahulu. Pembersihan
dan pematangan lahan ini direncanakan akan menggunakan alat
berat berupa bulldozer dan excavator. Bulldozer digunakan untuk
meratakan lahan dan sekaligus membersihkan lahan dari tanaman
khususnya tanaman perdu dan rumput. Sedangkan excavator
digunakan untuk membuat lubang atau galian pondasi sekaligus
memuat material tanah hasil galian tidak mampu ditampung atau
digunakan di tapak kegiatan.

Setelah lahan telah siap dilanjutkan dengan pekerjaan sipil dengan


membangun struktur bangunan. Pembangunan struktur tersebut
terdapat dua pekerjaan, yaitu: pekerjaan struktur bawah dan struktur
atas. Pekerjaan struktur bawah berupa pembuatan pondasi,
sedangkan pekerjaan struktur atas meliputi pendirian kerangka baja,
pasangan bata dan plesteran, serta perpipaan. Luas bangunan yang
akan dibangun seluas 682 m2, termasuk pos satpam, kamar
kecil/toilet dan ruang serbaguna yang dapat digunakan karyawan
untuk beribadah.

 Bangunan pagar dan drainase

Pembangunan pagar digunakan pagar tembok. Sedangkan saluran


drainase mengeliling pagar dan bangunan bermanfat untuk
penyaluran air larian dari air buangan dan air limpasan hujan ke
badan air permukaan umum. Permukaan jalan harus memiliki
kemiringan tertentu (2 %) untuk memperlancar air hujan masuk ke
dalam saluran. Drainase yang akan dibangun memiliki dimensi lebar
0,5 meter dan kedalaman 0,5 meter.

 Sistem penyediaan air (plumbing sistem)

11
Plumbing Sistem dimanfaatkan untuk penyediaan atau pengeluaran
air ke tempat-tempat yang dikehendaki tanpa ada ganguan atau
pencemaran terhadap daerah-daerah yang dilaluinya dan dapat
memenuhi kebutuhan penghuninya dalam masalah air, yakni melalui
kran, kloset, wastafel, dan lain-lain. Untuk bahan plumbing digunakan
pipa besi tuang (galvanize), pipa PVC, dan pipa tembaga (untuk air
panas). Plumbing sistem menggunakan sistem vertikal dan horizontal
melalui sumber air memanfaatkan air tanah yang ditampung dalam
reservoir (roof tank). Sedangkan untuk air minum menggunakan air
dalam kemasan (gallon) yang di beli dari pasaran.

Saluran pembuangan air bekas dan air kotor berasal dari westafel,
dan MCK dan pembuangan tinja berasal dari kloset dialirkan menuju
septic tank. Air hujan yang jatuh ke atap bangunan akan dialirkan
menuju sumur resapan melalui talang air.

Rencana pembangunan gudang dan industri furniture (springbed) ini


akan dilengkapi dengan prasarana air bersih yang dapat memenuhi
standar kualitas dan cukup jumlahnya. Sumber air bersih berasal dari
sumur bor (air tanah dangkal). Jumlah pengambilan air bersih
disesuaikan dengan kebutuhan atau menurut ketentuan sebagaimana
yang ditentukan dalam ijin pemanfaatan air tanah yang dikeluarkan
oleh dinas/instansi yang berwenang. Pada akhir pelaksanaan tahap
konstruksi ini dilakukan pembuatan jaringan instalasi air dan
pembuatan instalasi pompa filter pada bak penampungan.
Pemasangan water meter dan perlengkapan lainnya dipasang pada
instalasi air untuk mempermudah kontrol pengawasan dan pemakaian
volume air yang terpompa.

 Pembangunan sumur resapan

Pada pekerjaan sipil ini dilakukan pula pembuatan sumur resapan


sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Banyumas Nomor: 38
Tahun 2007 tentang Ketentuan Teknis Pembuatan Peresapan Air
Hujan. Dengan luasan bangunan atau tertutupnya tanah oleh
bangunan kandang dan bangunan lainnya seluas 682 m2, maka
sesuai dengan ketentuan peraturan total volume sumur resapan yang
harus disediakan sebesar 28 m3. Sumur resapan akan dibuat pada

12
beberapa titik lokasi dengan kedalaman menyesuaikan tinggi muka air
tanah.

Tabel 3. Panduan kebutuhan sumur resapan dengan berbagai luasan


lahan di Kabupaten Banyumas.
Luas Penampang Atap Bangunan/luas Volume
No
lahan yang tertutup (m2) (m3)
1. ≤ 50 2
2. 51 s.d 99 4
3. 100 s.d 149 6
4. 150 s.d 199 8
5. 200 s.d 299 12
6. 300 s.d 399 16
7. 400 s.d 499 20
8. 500 s.d 599 24
9. 600 s.d 699 28
10. 700 s.d 799 32
11. 800 s.d 899 36
12. 900 s.d 999 40
13. Dst dst
Sumber: Peraturan Bupati Banyumas Nomor: 38 Tahun 2007 tentang
Ketentuan Teknis Pembuatan Peresapan Air Hujan.

 Pembangunan septictank

Septic tank dibuat sesuai standar yang disyaratkan agar tidak


menyebabkan bau dan tidak mengalami kebocoran yang
menyebabkan penurunan kualitas air tanah. Septic tank ini
direncanakan dapat menampung semua limbah buangan tinja yang
dihasilkan dari karyawan.

 Pembangunan sarana persampahan

Sarana persampahan yang disediakan oleh pemrakarsa adalah


sarana persampahan yang dibuat secara permanen dan non-
permanen. Tempat sampah terpilah yang non-permanen akan
disiapkan pada masing-masing ruangan sebanyak 5 unit. Selain itu,
juga dibangun secara permanen berupa TPS (Tempat Penampungan
Sementara Sampah) yang akan ditempatkan dengan posisi mudah
dijangkau petugas pengangkut sampah. Untuk kemudian secara rutin

13
sampah diangkut ke TPA (tempat Pengolahan Akhir) bekerja sama
dengan Dinas terkait.

 Pekerjaan elektrikal dan mekanikal

Untuk pekerjaan elektrikal akan dilakukan seiring dengan kemajuan


pekerjaan sipil. Pekerjaan elektrikal dilakukan dengan membuat
jaringan listrik dalam tapak kegiatan. Sumber listrik utama yang
digunakan adalah listrik PT. PLN (Persero) dan sebagai cadangan
akan digunakan generator set (genset). Genset tersebut akan
ditempatkan pada satu ruang yang berada pada bangunan gudang
pakan. Kelengkapan instalasi listrik berupa kabel, fitting maupun
sakelar yang digunakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia
(SNI). Pekerjaan mekanikal terdiri dari pemasangan peralatan yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan kandang, seperti: sistem
ventilasi dan sistem pencahayaan, sistem pemadam kebakaran, dan
pemasangan peralatan penunjang lainnya.

 Sistem ventilasi dan pencahayaan

Setiap ruangan akan disediakan ventilasi dan pencahayaan yang


cukup. Pada tempat tertentu yang tertutup atau membutuhkan
ventilasi ekstra akan disediakan ventilasi mekanik (exhaust fan).

 Sistem pemadaman kebakaran

Di dalam gedung yang akan dibangun akan ditempatkan tabung


pemadam portable (APAR). Tabung pemadan kebakaran tersebut
menggunakan bahan yang tidak merusak ozon. Jumlah dan lokasi
tata letak penempatan APAR akan mengacu pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Setelah pekerjaan mekanikal dan elektrikal selesai, maka dilanjutkan


dengan pekerjaan instrument yaitu memasang instalasi air, peralatan
mesin dan peralatan lainnya.

 Penyediaan RTH (Ruang Terbuka Hijau)

Sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas


Nomor: 3 Tahun 2011 tentang Bangunan Gedung, Ruang Terbuka
Hijau (RTH) yang wajib disediakan adalah dengan Koefisien Dasar
Hijau (KDH) minimal 10% dari luas lahan/tanah. Dengan luas
lahan/tanah 1.701 m2, maka luas RTH yang harus disediakan minimal

14
seluas 170 m2. Ruang terbuka hijau yang disediakan pada lahan
gudang dan industri furnitur (springbed) direncanakan seluas 200 m2
atau 12% dari luas tanah. Dengan demikian penyediaan RTH masih
memenuhi KDH yang dipersyaratkan.

Pekerjaan konstruksi bangunan diprakirakan akan brdampak terhadap


peningkatan air larian atau run off. Hal tersebut dikarenakan tertutupnya
tanah dengan bangunan total seluas 682 m2. Selain itu juga berdampak
pada berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH), gangguan keselamatan
dan kehandalan bangunan, dan resiko kecelakaan kerja

3) Tahap operasi

a. Rekruitmen tenaga kerja operasi

Pada tahap operasi seiring akan beroperasinya gudang dan industri


furniture (springbed) sudah tentu dibutuhkan tenaga kerja dalam produksi
maupun pendistribusiannya. Perkiraan kebutuhan tenaga kerja
operasional gudang dan industri furniture (springbed) diprakirakan
berjumlah 50 orang sebagaimana table dibawah ini.

Tabel 4. Perkiraan kebutuhan tenaga kerja operasi.


No Jabatan Jumlah
1 Direktur 1
2 General Manager 1
3 Manager HRD 1
4 Manager Financial and Accounting 1
5 Marketing 2
6 Manager Produksi 1
7 Design 1
8 Logistik 1
9 Technology & Maintenance 2
10 Pembelian 1
11 Karyawan Bagian Produksi 36
12 Security 2
Jumlah 50

Untuk memenuhi tenaga kerja tersebut, dilakukan perekrutan tenaga


kerja. Perekrutan tenaga kerja direncanakan akan dilakukan dengan
memprioritaskan tenaga kerja lokal sekitar tapak kegiatan sesuai dengan

15
kompetansi dan kebutuhan. Dengan asumsi tenaga kerja lokal yang akan
direkrut sebesar 35 orang, dimana 15 tenaga kerja lainnya merupakan
pekerja terampil Pemrakrasa. Oleh karena itu, besaran dampak yang
ditimbulkan dari kegiatan rekruitmen tenaga kerja operasi diprakirakan
sebesar 70% dari kebutuhan tenaga kerja.

b. Pengadaan bahan baku dan bahan tambahan

Memproduksi suatu produk tidak dapat dilakukan tanpa adanya bahan


baku, dan bahan tambahan begitu pula dengan rencana produksi
perakitan springbed ini. Bahan-bahan yang digunakan dalam
melaksanakan proses produksi perakitan springbed adalah sebagai
berikut:

 Bahan Baku

Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dalam


pembuatan produk dan memiliki persentase yang besar dalam
produk dibandingkan bahan-bahan lainnya. Bahan baku yang
digunakan pada proses pembuatan spring bed yaitu:
 Busa matras
Merupakan bahan utama pembuatan springbed
 Kawat diameter 2,24 mm
Digunakan untuk pembuatan pegas spring berdiamter 8 cm dan
tinggi 16-18 cm menggunakan mesin inject.
 Kawat diameter 1,4 mm
Digunakan untuk melilitkan rakitan di tepi pegas spring dengan
menggunakan mesin Ram.
 Kawat list diameter 4 mm
Digunakan sebagai pengikat pada sisi-sisi samping rakitan pegas
spring.
 Benang nylon
Digunakan untuk penjahitan kain quilting (pelapis foam).
 Pegas M
Digunakan sebagai penahan tekanan dari pegas spring yang
sudah dirakit dan di ujung sisi-sisi rakitan pegas spring.
 Kain hard pad
Digunakan untuk memperkecil tekanan pegas ke busa, diletakkan

16
pada bagian atas dan bawah rakitan rangka pegas.
 Kain motif
Digunakan untuk membuat kain quilt (pelapis foam) yang akan
disatukan dengan foam dan badan matras.
 Kain list
Digunakan untuk menutup jahitan antara bagian badan dengan
bagian tabung samping matras, serta sandaran.

 Benang jahit
Digunakan untuk menjahit bagian samping dan badan kain,
penjahitan list, dan penjahitan label merk ke bagian matras.
 Staples CL 73 dan HR 22 digunakan sebagai penyambung
antarbagian dalam spring bed.
 Lubang angin/ ventilator
Digunakan sebagai saluran pertukaran udara saat matras
digunakan.

 Bahan Tambahan

Bahan tambahan adalah bahan yang digunakan untuk memberi


nilai tambah pada produk. Bahan tambahan dalam produksi spring
bed antara lain:
 Plastik
Digunakan untuk membungkus produk spring bed.
 Isolasi
Digunakan untuk merekatkan plastik pembungkus produk.
 Label
Bertuliskan merk spring bed.
 Karton sudut
Digunakan sebagai pembungkus bagian sudut spring bed.
 Kartu garansi
Berisi formulir keterangan garansi produk.

Sumber bahan baku dan bahan tambahan direncanakan akan dicukupi di


sekitar Kabupaten Banyumas dan dimobilisasi melalui jalur darat
menggunakan truck. Dengan demikian, kegiatan pengadaan bahan baku
dan bahan tambahan diprakirakan akan berdampak terhadap penurunan
kualitas udara ambien, peningkatan kebisingan, serta gangguan
kelancaran atau tundaan lalu lintas. Kegiatan pengadaan bahan baku dan

17
bahan tambahan ini dalam tahap operasi sudah tentunya bersamaan
dengan pengangkutan atau pendistribusian springbed, sehingga dampak
yang terjadi saling menguatkan.

Penurunan kualitas udara ambien diprakirakan masih sesuai baku mutu


Keputusan Gubernur Jateng No. 8 Tahun 2001 tentang Baku Mutu Udara
Ambien di Provinsi Jawa Tengah, yaitu SO 2 <632 µg/Nm3, CO <15000
µg/Nm3, NO2 <316 µg/Nm3, Ox <200 µg/Nm3 dan debu (TSP) <230
µg/Nm3. Untuk peningkatan kebisingan juga masih memenuhi batu tingkat
kebisingan <70 dBA di tapak kegiatan dan <55 dBA di permukiman
penduduk sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.

Dampak gangguan kelancaran lalu lintas akan terjadi pada jalan akses
masuk ke tapak kegiatan dan hanya terjadi pada saat kendaraan masuk
dan keluar dari tapak kegiatan. Gangguan kelancaraan atau tundaan lalu
lintas yang terjadi diprakirakan kurang dari 1 (satu) menit.

c. Operasional pabrik dan gudang

Jam kerja di pabrik dan gudang springbed terdiri dari satu shift saja dari
hari Senin-Sabtu, dengan rincian sebagai berikut:
a. Jam Kerja I : 08.30 - 12.00 WIB
b. Istirahat : 12.00 - 13.00 WIB
c. Jam Kerja II : 13.00 - 16.00 WIB

Kegiatan lembur dapat dilaksanakan untuk memenuhi permintaan agar


produk bisa diterima oleh konsumen sesuai dengan kesepakatan
transaksi. Kegiatan lembur dengan penambahan waktu kerja yang
disesuaikan dengan jumlah permintaan produk.

 Operasional pabrik

Operasional pabrik perakitan springbed tidak lepas dari pembuatan


proses produksi, dimana bahan baku yang datang dibongkar di area
pabrik untuk diproses menjadi springbed. Produk utama pabrik
perakitan springbed ini adalah kain quilting dan springbed.

 Kain Quilting : ... /tahun


 Springbed : 6.000 unit/tahun

Mesin dan Peralatan yang digunakan dalam proses produksi


springbed diantaranya adalah :

18
 Mesin Produksi
Mesin-mesin yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan
produksi perakitan spring bed yaitu:
- Mesin Quilting
Mesin Quilting, digunakan untuk menghasilkan kain quilt.
Proses dimulai dari penyatuan kain bermotif dengan busa
dilanjutkan dengan pembentukkan pola yang dilakukan secara
terkomputerisasi.
- Mesin Obras
Mesin obras, digunakan untuk menjahit kain quilt yang akan
dipasangkan pada spring bed.
- Mesin Corner
Mesin Corner, berfungsi untuk menjahit kain list yang
digunakan sebagai penyambung antara bagian badan kain
dengan bagian tabung kain.
- Automatic spring coiling machine
Mesin Automatic spring coiling machine, berfungsi untuk
mengubah kawat 2,24 mm menjadi per bulat atau per
spring.
- Mesin Assembler
Mesin Assembler, digunakan untuk menyatukan per spring
yang telah dibentuk pada mesin inject mejadi bentuk balok.
- Gun HR 22
Gun HR 22 berfungsi sebagai perekat rangka matras
dengan kain hard pad agar tidak terlepas.
- Gun CL-73
Gun CL-73 berfungsi pada proses perakitan per M dengan
tujuan menguatkan konstruksi per rakitan serta untuk
menambah kekuatan tekan pada per rakitan.

 Peralatan

Peralatan yang digunakan adalah alat- alat yang digunakan secara


manual untuk membantu proses produksi, antara lain yaitu alat
meteran, gunting, tang potong, parang, dan martil.

Secara garis besar proses perakitan atau produksi springbed sebegai


berikut:

19
 Proses Pembuatan Matras Spring Bed

Matras spring bed terdiri atas rangka pegas dan foam. Uraian
pembuatan matras spring bed adalah sebagai berikut.
- Pembuatan kain quilt
Tahapan dalam proses pembuatan kain quilt yaitu :
o Penjahitan dan pembentukan pola kain quilt
Kain quilt dihasilkan dengan menyatukan kain bermotif
dengan busa. Penjahitan kain bermotif dengan busa ini
menggunakan mesin quilting. Selain menjahitkan busa
dengan kain bermotif, dilakukan pembentukan pola pada
kain quilt secara terkomputerisasi pada mesin quilting.
o Pemotongan kain quilt
Proses pemotongan kain quilt secara manual dengan
menggunakan gunting pada stasiun pemotongan kain.
o Penjahitan kain tarikan dan label
Kain quilt pada spring bed terdiri atas 2 bagian yaitu
pada bagian badan spring bed dan tabung spring bed.
Pada bagian badan spring bed, kain quilt dijahit dengan
kain tarikan dengan lebar 15 cm pada setiap sisi kain untuk
mempermudah pemasangan kain ke rangka pegas dengan
menggunakan mesin obras. Kain quilt pada bagian tabung
spring bed dijahitkan label/ merk dengan menggunakan
mesin label. Kedua jenis kain dipindahkan ke stasiun
penembakan matras. Kain quilt yang belum rapi akan
dirapikan penjahitannya dengan menggunakan mesin sisip.
- Pembuatan rangka pegas
Tahapan dalam proses pembuatan rangka pegas yaitu :
o Pembuatan per spring
Kawat berdiameter 2,24 mm dipasang ke mesin inject dan
dibentuk menjadi pegas bulat/ pegas spring dengan
diameter pegas spring 8 cm dan tinggi 16-18 cm.
o Perakitan pegas spring
Pegas spring yang telah jadi dirakit menggunakan Mesin
RAM dengan cara melilitkan pegas spring dengan kawat
berdiameter 1,4 mm hingga berbentuk rakitan rangka
pegas. Banyak pegas spring yang dipasang adalah 16 x 20

20
buah.
o Perakitan kawat samping dan pegas M
Pegas spring yang telah dirakit menjadi bentuk rakitan
rangka pegas direkatkan bagian pinggirnya dengan kawat
berdiamter 4 mm menggunakan gun CL-73 dengan jumlah
kawat samping yang digunakan sebanyak 4 buah. Langkah
pengerjaan setelah perakitan kawat samping pada bagian
pinggir rakitan rangka pegas dilanjutkan dengan perakitan
pegas M sebanyak 30 buah di mana 7 buah pada lebar
pegas spring dan 8 buah pada panjang pegas spring dan
pegas M sudut sebanyak 4 buah pada masing-masing
sudutnya. Perakitan ini menggunakan gun CL-73.
- Penembakan Matras
Tahapan dalam proses penembakan matras yaitu :
o Pemasangan kain hard pad
Rakitan rangka per dipasangkan kain hard pad pada bagian
atas dan bawah rakitan rangka. Klip ditembakkan
dengan gun HR-22 untuk memperkuat pemasangan. Kain
hard pad ini digunakan sebagai peredam tekanan dari
pegas agar tidak langsung terkena ke busa sehingga busa
tidak rusak dan lebih tahan lama.
o Pemasangan busa dan kain quilt
Proses berikutnya yaitu pemasangan busa daging yang
sudah dipotong ke atas kain hard pad dengan
menggunakan gun HR-22 dan pemasangan kain quilt yang
telah direkatkan dengan kain tarikan sebagai penahan.
Proses yang sama diulangi pada sisi bagian bawah dan
tabung samping. Spring bed dibawa ke proses penjahitan
kain list.
o Pemasangan ventilator dan penjahitan kain list
T a h a p a n dalam p r o s e s pemasangan ventilator dan
penjahitan kain list yaitu bagian kain tabung dipasangkan
pada rakitan rangka per dan diberi lubang sbanyak 2 buah
pada masing-masing sisi kiri dan kanan secara manual
dengan menggunakan pisau. Bagian yang telah diberi
lubang tersebut dipasangkan ventilator sebagai saluran

21
pertukaran udara saat matras digunakan untuk
menyeimbangkan tekanan udara yang terjadi di dalam
matras. Proses berikutnya yaitu penjahitan kain list dengan
menggunakan mesin corner. Kain list digunakan sebagai
penyambung antara bagian badan kain dengan bagian
kain tabung. Kain list juga digunakan sebagai aksesoris
dari matras spring bed yang telah jadi.
- Pembungkusan
Hasil produk spring bed akan dibawa ke stasiun
pembungkusan untuk kemudian diberikan karton sudut/ label
kertas pada keempat sudut-sudut matras spring bed dan
dimasukkan kartu garansi ke dalamnya. Proses akhir yaitu
pembungkusan dengan menggunakan plastik dan direkatkan
dengan isolasi secara manual.
 Proses Pembuatan Divan
Proses pembuatan divan spring bed, sebagai berikut.
- Perakitan rangka divan
Kayu yang sudah dipotong dirakit sesuai dengan ukuran spring
bed.
- Pemasangan kain hard pad
Kain hard pad yang sudah dipotong berdasarkan pola
dipasangkan pada divan dengan menggunakan staples.
- Pemasangan kain quilt
Kain quilt dipasang di atas divan dengan menggunakan
staples.
- Pemasangan karton sudut
Pemasangan karton sudut pada keempat sudut divan dengan
menggunakan staples.
- Pembungkusan divan
Pembungkusan divan dengan plastik mika yang direkatkan
menggunakan staples.
- Pemasangan kain blacu dan mur
Bagian bawah divan dipasangkan kain blacu dengan
menggunakan staples untuk menutupi tampak bagian bawah
rangka divan, kemudian keempat sudut sisi divan dipasangi
mur.
 Proses Pembuatan Sandaran Spring Bed

22
- Pemotongan pola busa
Busa ditempelkan dengan lem dan dipotong mengikuti pola
rangka sandaran dengan pisau.
- Pemasangan busa pada rangka sandaran
Busa yang telah dipotong sesuai pola rangka sandaran
kemudian dipasangkan pada rangka sandaran dengan
menggunakan staples.
- Pemasangan kain dan aksesoris list
Kain dipasang pada rangka sandaran dan busa sandaran
dengan menggunakan staples.
- Pembungkusan
Kain blacu dipasang pada bagian belakang sandaran dengan
menggunakan staples, serta pemasangan mur pada sandaran
sebanyak 4 buah. Setelah itu, bagian sandaran dibungkus
dengan menggunakan plastik.

produksi perakitan springbed menghasilkan jenis sisa hasil produksi


berupa limbah padat yang dapat diproduksi kembali. Jenis limbah
tersebut antara lain sisa produksi berupa kain, busa, dan kain
quilt yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku
kerajinan rumah tangga.

 Operasional gudang

Operasional gudang pada pabrik perakitan springbed sama halnya


dengan operasional gudang pada umumnya. Sistem pergudangan
yang digunakan adalah prinsip FIFO (First In First Out), dimana bahan
baku maupun produk yang disimpan terlebih dahulu di gudang akan
dikeluarkan terlebih dahulu. Dalam operasionalnya, secara rutin
maupun berkala gudang akan dibersihkan dan diberantas vektor
penyakit seperti lalat, kecoa dan tikus.

Dalam operasional pabrik dan gudang sudah tentunya dibutuhkan air


bersih untuk aktivitas pekerja maupun produksi. Dengan kata lain dalam
produksi perakitan springbed tidak menghasilkan air limbah. Kebutuhan
air di dalam kegiatan pabrik perakitan springbed untuk memenuhi
kebutuhan karyawan. Kebutuhan air untuk 50 orang karyawan melalui
pendekatan kegiatan kantor/pabrik (SNI 03-7065-2005 tentang Tata Cara
Perencanaan Sistem Plumbing) sebesar 50 L/orang/hari, maka

23
dibutuhkan air sebanyak 2.500 L/hari (2,5 m3/hari). Dengan asumsi air
sebanyak 2,5 m3/hari tersebut dipakai dan/atau hilang sebanyak 20% (0,5
m3/hari) dan sebanyak 80% mengalir ke septic tank dan saluran drainase
masing-masing 50% (1,0 m3/hari).

Gambar 5. Neraca kebutuhan air.

Operasional pabrik dan gudang ini diprakirakan akan menimbulkan


potensi peningkatan timbulan sampah, resiko keselamatan dan kesehatan
kerja, potensi berkembangnya vektor penyakit, serta bahaya kebakaran.

Dampak peningkatan timbulan sampah bersumber dari aktivitas pekerja


yaitu dari sisa makanan dan minuman. Melalui pendekatan kegiatan
kantor/pabrik (Damanhuri, dkk., 1989) besaran sampah yang timbul
sebesar 0,1 Kg/orang/hari dengan jumlah pekerja sebanyak 50 orang,
maka sampah yang dihasilkan sebanyak 5 Kg/hari.

Dampak lain yang berpotensi timbul dari operasional pabrik dan gudang
adalah bahaya kebakaran. Besaran akibat bahaya kebakaran ini dapat
menimpa ke seluruh pekerja, sarana penunjang dan seluruh bangunan.
Bahaya kebakaran timbul karena ada tiga faktor yaitu bahan mudah
terbakar, panas dan oksigen. Salah satu penyebab kebakaran dalam
operasional gudang adalah konsleting listrik dan kelalaian pekerja
khususnya yang merokok dalam membuang puntungnya.

d. Pengangkutan (distribusi)

Produk yang berada di gudang akan dimuat dalam kendaraan


pengangkut. Pengangkutan untuk mendestribusi produk akan digunakan
kendaraan berupa truck. truck yang digunakan adalah truck angkutan
barang yang memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta tata cara
pemuatan yang sesuai dengan ketentuan. Untuk itu, tempat parkir
kendaraan yang memadai khususnya kendaraan pengangkut sangat
diperlukan guna mempermudah pekerjaan pemuatan produk.

Di dalam lokasi tapak kegiatan, rencana perkerasan area parkir di dalam


lokasi akan menggunakan pasangan grass block. Hal ini dilakukan

24
dengan pertimbangan agar air yang jatuh di area parkir tidak langsung
hilang, namun dapat terserap ke dalam tanah melalui sela-sela pasangan
grass block, sehingga secara tidak langsung turut menjaga persediaan air
di lokasi peternakan yang berarti ikut serta dalam upaya pemeliharaan
lingkungan hidup. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal
Perhubungan Darat Nomor: 272/HK.105/DRJD/96 tentang Pedoman
Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir, Jika yang menggunakan mobil
golongan I sejumlah 2 unit (tamu), 5 unit kendaraan pengangkut (truk
engkel). dan 1 unit truck kontainer dari suplyer serta karyawan sejumlah
50 orang menggunakan sepeda motor, maka perhitungan luas parkir
adalah sebagai berikut :

SRP Mobil Golongan I (3,2 x 8,4 m) = 11,5 m2


Kebutuhan lahan untuk parkir mobil Gol I = 2 SRP x 11,5 m2
= 23 m2
SRP mobil truk (2,8 x 5 m) = 14 m2
Kebutuhan lahan parkir mobil Truk = 5 SRP x 14 m2
= 70 m2
SRP truk kontainer = 42,5 m2
= 1 SRP x 42,5 m2
= 42,5 m2
SRP Sepeda Motor = 1,5 m2
Kebutuhahan lahan parkir sepeda motor = 50 SRP x 1,5 m2
= 75 m2
Kebutuhan lahan parkir = 23m2+70 m2+42,5m2+75 m2
= 210,5 m2
Untuk manuver sebesar 30% = 210,5 x 0,3
= 63,15 m2
Kebutuhan parkir total (lahan+manuver) = 210,5 m2 + 63,15 m2
= 273,65 m2
Dengan lahan parkir yang tersedia seluas 300 m2, maka lahan parkir
tersebut telah mencukupi.

Pengangkutan (distribusi) ini diprakirakan akan berdampak terhadap


timbulnya gangguan kelancaraan atau tundaan lalu lintas. lintas.
Gangguan kelancaran lalu lintas tersebut hanya terjadi di jalan keluar
masuk pabrik dan gudang dan hanya pada saat kendaraan pengangkut
tersebut keluar atau masuk. Besaran dampak gangguan kelancaran lalu
lintas akibat keluar masuk kendaraan pengangkut rongsok tersebut
diprakirakan ≤1 menit.

25
C. DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA
PENGELOLAAN LINGUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN
HIDUP

Dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan dan upaya pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan Pembangunan Gudang dan
Industri Furniture (Springbed) di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten
Banyumas disajikan pada Tabel 5. Terkait dengan instansi penerima laporan yang
dimaksud dalam matrik adalah laporan pelaksanaan upaya pengelolaan dan
pemantauan lingkungan.

26

Anda mungkin juga menyukai