Pembangunan Gudang Springbed Banyumas
Pembangunan Gudang Springbed Banyumas
IDENTITAS PEMRAKARSA
1
R. Serbaguna : 9 m2
Pos jaga : 6 m2
c. Pagar keliling : ... m2
d. Tempat parkir dan lainnya : ... m2
e. Kapasitas produksi : 6.000 unit/hari
f. Sumber air : sumur dangkal
g. Sumber energi listrik utama : PLN 100.000 Watt, cadangan genset 150 kVA
2
bersangkutan. Berdasarkan hasil tinjauan lapangan Tim Teknis Identifikasi
Lahan Milik Negara Terhadap Pemanfaatan Sempadan Sungai dan Irigasi Pada
Wilayah Kerja Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy disebutkan bahwa jarak
rencana kegiatan dengan diluar sempadan sungai bertanggul diluar kawasan
atau lebih dari 5 meter dari tepi luar kanan kaki tanggul
Pemrakarsa telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan No. ..... Nomor
Induk Berusaha (NIB) selain menjadi identitas perusahaan, juga merupakan
bukti pendaftaran penanaman modal atau berusaha yang sekaligus merupakan
pengesahan Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Dalam rencana operasionalnya
terkait dengan Gudang dan Industri Furniture (Springbed) juga telah memiliki
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Izin Usaha Industri (IUI) yang telah
diterbitkan oleh Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS pada tanggal
... ... ....
3
Gambar 1. Foto udara rencana tapak kegiatan.
4
A3
Gambar 2. Peta lokasi rencana tapak kegiatan.
5
A3
Gambar 3. Peta tata ruang lokasi rencana tapak kegiatan.
6
A3
Gambar 4. Layput site plant rencana tapak kegiatan.
7
c. Uraian mengenai komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang dapat
menimbulkan dampak lingkungan
1) Tahap prakonstruksi
2) Tahap konstruksi
8
Jumlah
No. Pekerjaan
(Orang)
3 Administrasi 1
4 Operator alat berat 1
5 Mandor 2
6 Tukang (batu, besi dan kayu) 10
7 Buruh bangunan (kuli bangunan) 20
8 Security 2
Jumah 39
9
Pada akhir konstruksi, peralatan pabrik springbed (proses produksi
perakitan springbed) akan dimobilisasi, agar dapat digunakan untuk
memproduksi. Adapun jenis dan jumlah peralatan poses produksi pupuk
yang akan dimobilisasi disajikan pada tabel berikut ini.
10
kebisingan, dimana kebisingan di tapak kegiatan <70 dBA dan
dipermukiman <55 dBA.
11
Plumbing Sistem dimanfaatkan untuk penyediaan atau pengeluaran
air ke tempat-tempat yang dikehendaki tanpa ada ganguan atau
pencemaran terhadap daerah-daerah yang dilaluinya dan dapat
memenuhi kebutuhan penghuninya dalam masalah air, yakni melalui
kran, kloset, wastafel, dan lain-lain. Untuk bahan plumbing digunakan
pipa besi tuang (galvanize), pipa PVC, dan pipa tembaga (untuk air
panas). Plumbing sistem menggunakan sistem vertikal dan horizontal
melalui sumber air memanfaatkan air tanah yang ditampung dalam
reservoir (roof tank). Sedangkan untuk air minum menggunakan air
dalam kemasan (gallon) yang di beli dari pasaran.
Saluran pembuangan air bekas dan air kotor berasal dari westafel,
dan MCK dan pembuangan tinja berasal dari kloset dialirkan menuju
septic tank. Air hujan yang jatuh ke atap bangunan akan dialirkan
menuju sumur resapan melalui talang air.
12
beberapa titik lokasi dengan kedalaman menyesuaikan tinggi muka air
tanah.
Pembangunan septictank
13
sampah diangkut ke TPA (tempat Pengolahan Akhir) bekerja sama
dengan Dinas terkait.
14
seluas 170 m2. Ruang terbuka hijau yang disediakan pada lahan
gudang dan industri furnitur (springbed) direncanakan seluas 200 m2
atau 12% dari luas tanah. Dengan demikian penyediaan RTH masih
memenuhi KDH yang dipersyaratkan.
3) Tahap operasi
15
kompetansi dan kebutuhan. Dengan asumsi tenaga kerja lokal yang akan
direkrut sebesar 35 orang, dimana 15 tenaga kerja lainnya merupakan
pekerja terampil Pemrakrasa. Oleh karena itu, besaran dampak yang
ditimbulkan dari kegiatan rekruitmen tenaga kerja operasi diprakirakan
sebesar 70% dari kebutuhan tenaga kerja.
Bahan Baku
16
pada bagian atas dan bawah rakitan rangka pegas.
Kain motif
Digunakan untuk membuat kain quilt (pelapis foam) yang akan
disatukan dengan foam dan badan matras.
Kain list
Digunakan untuk menutup jahitan antara bagian badan dengan
bagian tabung samping matras, serta sandaran.
Benang jahit
Digunakan untuk menjahit bagian samping dan badan kain,
penjahitan list, dan penjahitan label merk ke bagian matras.
Staples CL 73 dan HR 22 digunakan sebagai penyambung
antarbagian dalam spring bed.
Lubang angin/ ventilator
Digunakan sebagai saluran pertukaran udara saat matras
digunakan.
Bahan Tambahan
17
bahan tambahan ini dalam tahap operasi sudah tentunya bersamaan
dengan pengangkutan atau pendistribusian springbed, sehingga dampak
yang terjadi saling menguatkan.
Dampak gangguan kelancaran lalu lintas akan terjadi pada jalan akses
masuk ke tapak kegiatan dan hanya terjadi pada saat kendaraan masuk
dan keluar dari tapak kegiatan. Gangguan kelancaraan atau tundaan lalu
lintas yang terjadi diprakirakan kurang dari 1 (satu) menit.
Jam kerja di pabrik dan gudang springbed terdiri dari satu shift saja dari
hari Senin-Sabtu, dengan rincian sebagai berikut:
a. Jam Kerja I : 08.30 - 12.00 WIB
b. Istirahat : 12.00 - 13.00 WIB
c. Jam Kerja II : 13.00 - 16.00 WIB
Operasional pabrik
18
Mesin Produksi
Mesin-mesin yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan
produksi perakitan spring bed yaitu:
- Mesin Quilting
Mesin Quilting, digunakan untuk menghasilkan kain quilt.
Proses dimulai dari penyatuan kain bermotif dengan busa
dilanjutkan dengan pembentukkan pola yang dilakukan secara
terkomputerisasi.
- Mesin Obras
Mesin obras, digunakan untuk menjahit kain quilt yang akan
dipasangkan pada spring bed.
- Mesin Corner
Mesin Corner, berfungsi untuk menjahit kain list yang
digunakan sebagai penyambung antara bagian badan kain
dengan bagian tabung kain.
- Automatic spring coiling machine
Mesin Automatic spring coiling machine, berfungsi untuk
mengubah kawat 2,24 mm menjadi per bulat atau per
spring.
- Mesin Assembler
Mesin Assembler, digunakan untuk menyatukan per spring
yang telah dibentuk pada mesin inject mejadi bentuk balok.
- Gun HR 22
Gun HR 22 berfungsi sebagai perekat rangka matras
dengan kain hard pad agar tidak terlepas.
- Gun CL-73
Gun CL-73 berfungsi pada proses perakitan per M dengan
tujuan menguatkan konstruksi per rakitan serta untuk
menambah kekuatan tekan pada per rakitan.
Peralatan
19
Proses Pembuatan Matras Spring Bed
Matras spring bed terdiri atas rangka pegas dan foam. Uraian
pembuatan matras spring bed adalah sebagai berikut.
- Pembuatan kain quilt
Tahapan dalam proses pembuatan kain quilt yaitu :
o Penjahitan dan pembentukan pola kain quilt
Kain quilt dihasilkan dengan menyatukan kain bermotif
dengan busa. Penjahitan kain bermotif dengan busa ini
menggunakan mesin quilting. Selain menjahitkan busa
dengan kain bermotif, dilakukan pembentukan pola pada
kain quilt secara terkomputerisasi pada mesin quilting.
o Pemotongan kain quilt
Proses pemotongan kain quilt secara manual dengan
menggunakan gunting pada stasiun pemotongan kain.
o Penjahitan kain tarikan dan label
Kain quilt pada spring bed terdiri atas 2 bagian yaitu
pada bagian badan spring bed dan tabung spring bed.
Pada bagian badan spring bed, kain quilt dijahit dengan
kain tarikan dengan lebar 15 cm pada setiap sisi kain untuk
mempermudah pemasangan kain ke rangka pegas dengan
menggunakan mesin obras. Kain quilt pada bagian tabung
spring bed dijahitkan label/ merk dengan menggunakan
mesin label. Kedua jenis kain dipindahkan ke stasiun
penembakan matras. Kain quilt yang belum rapi akan
dirapikan penjahitannya dengan menggunakan mesin sisip.
- Pembuatan rangka pegas
Tahapan dalam proses pembuatan rangka pegas yaitu :
o Pembuatan per spring
Kawat berdiameter 2,24 mm dipasang ke mesin inject dan
dibentuk menjadi pegas bulat/ pegas spring dengan
diameter pegas spring 8 cm dan tinggi 16-18 cm.
o Perakitan pegas spring
Pegas spring yang telah jadi dirakit menggunakan Mesin
RAM dengan cara melilitkan pegas spring dengan kawat
berdiameter 1,4 mm hingga berbentuk rakitan rangka
pegas. Banyak pegas spring yang dipasang adalah 16 x 20
20
buah.
o Perakitan kawat samping dan pegas M
Pegas spring yang telah dirakit menjadi bentuk rakitan
rangka pegas direkatkan bagian pinggirnya dengan kawat
berdiamter 4 mm menggunakan gun CL-73 dengan jumlah
kawat samping yang digunakan sebanyak 4 buah. Langkah
pengerjaan setelah perakitan kawat samping pada bagian
pinggir rakitan rangka pegas dilanjutkan dengan perakitan
pegas M sebanyak 30 buah di mana 7 buah pada lebar
pegas spring dan 8 buah pada panjang pegas spring dan
pegas M sudut sebanyak 4 buah pada masing-masing
sudutnya. Perakitan ini menggunakan gun CL-73.
- Penembakan Matras
Tahapan dalam proses penembakan matras yaitu :
o Pemasangan kain hard pad
Rakitan rangka per dipasangkan kain hard pad pada bagian
atas dan bawah rakitan rangka. Klip ditembakkan
dengan gun HR-22 untuk memperkuat pemasangan. Kain
hard pad ini digunakan sebagai peredam tekanan dari
pegas agar tidak langsung terkena ke busa sehingga busa
tidak rusak dan lebih tahan lama.
o Pemasangan busa dan kain quilt
Proses berikutnya yaitu pemasangan busa daging yang
sudah dipotong ke atas kain hard pad dengan
menggunakan gun HR-22 dan pemasangan kain quilt yang
telah direkatkan dengan kain tarikan sebagai penahan.
Proses yang sama diulangi pada sisi bagian bawah dan
tabung samping. Spring bed dibawa ke proses penjahitan
kain list.
o Pemasangan ventilator dan penjahitan kain list
T a h a p a n dalam p r o s e s pemasangan ventilator dan
penjahitan kain list yaitu bagian kain tabung dipasangkan
pada rakitan rangka per dan diberi lubang sbanyak 2 buah
pada masing-masing sisi kiri dan kanan secara manual
dengan menggunakan pisau. Bagian yang telah diberi
lubang tersebut dipasangkan ventilator sebagai saluran
21
pertukaran udara saat matras digunakan untuk
menyeimbangkan tekanan udara yang terjadi di dalam
matras. Proses berikutnya yaitu penjahitan kain list dengan
menggunakan mesin corner. Kain list digunakan sebagai
penyambung antara bagian badan kain dengan bagian
kain tabung. Kain list juga digunakan sebagai aksesoris
dari matras spring bed yang telah jadi.
- Pembungkusan
Hasil produk spring bed akan dibawa ke stasiun
pembungkusan untuk kemudian diberikan karton sudut/ label
kertas pada keempat sudut-sudut matras spring bed dan
dimasukkan kartu garansi ke dalamnya. Proses akhir yaitu
pembungkusan dengan menggunakan plastik dan direkatkan
dengan isolasi secara manual.
Proses Pembuatan Divan
Proses pembuatan divan spring bed, sebagai berikut.
- Perakitan rangka divan
Kayu yang sudah dipotong dirakit sesuai dengan ukuran spring
bed.
- Pemasangan kain hard pad
Kain hard pad yang sudah dipotong berdasarkan pola
dipasangkan pada divan dengan menggunakan staples.
- Pemasangan kain quilt
Kain quilt dipasang di atas divan dengan menggunakan
staples.
- Pemasangan karton sudut
Pemasangan karton sudut pada keempat sudut divan dengan
menggunakan staples.
- Pembungkusan divan
Pembungkusan divan dengan plastik mika yang direkatkan
menggunakan staples.
- Pemasangan kain blacu dan mur
Bagian bawah divan dipasangkan kain blacu dengan
menggunakan staples untuk menutupi tampak bagian bawah
rangka divan, kemudian keempat sudut sisi divan dipasangi
mur.
Proses Pembuatan Sandaran Spring Bed
22
- Pemotongan pola busa
Busa ditempelkan dengan lem dan dipotong mengikuti pola
rangka sandaran dengan pisau.
- Pemasangan busa pada rangka sandaran
Busa yang telah dipotong sesuai pola rangka sandaran
kemudian dipasangkan pada rangka sandaran dengan
menggunakan staples.
- Pemasangan kain dan aksesoris list
Kain dipasang pada rangka sandaran dan busa sandaran
dengan menggunakan staples.
- Pembungkusan
Kain blacu dipasang pada bagian belakang sandaran dengan
menggunakan staples, serta pemasangan mur pada sandaran
sebanyak 4 buah. Setelah itu, bagian sandaran dibungkus
dengan menggunakan plastik.
Operasional gudang
23
dibutuhkan air sebanyak 2.500 L/hari (2,5 m3/hari). Dengan asumsi air
sebanyak 2,5 m3/hari tersebut dipakai dan/atau hilang sebanyak 20% (0,5
m3/hari) dan sebanyak 80% mengalir ke septic tank dan saluran drainase
masing-masing 50% (1,0 m3/hari).
Dampak lain yang berpotensi timbul dari operasional pabrik dan gudang
adalah bahaya kebakaran. Besaran akibat bahaya kebakaran ini dapat
menimpa ke seluruh pekerja, sarana penunjang dan seluruh bangunan.
Bahaya kebakaran timbul karena ada tiga faktor yaitu bahan mudah
terbakar, panas dan oksigen. Salah satu penyebab kebakaran dalam
operasional gudang adalah konsleting listrik dan kelalaian pekerja
khususnya yang merokok dalam membuang puntungnya.
d. Pengangkutan (distribusi)
24
dengan pertimbangan agar air yang jatuh di area parkir tidak langsung
hilang, namun dapat terserap ke dalam tanah melalui sela-sela pasangan
grass block, sehingga secara tidak langsung turut menjaga persediaan air
di lokasi peternakan yang berarti ikut serta dalam upaya pemeliharaan
lingkungan hidup. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal
Perhubungan Darat Nomor: 272/HK.105/DRJD/96 tentang Pedoman
Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir, Jika yang menggunakan mobil
golongan I sejumlah 2 unit (tamu), 5 unit kendaraan pengangkut (truk
engkel). dan 1 unit truck kontainer dari suplyer serta karyawan sejumlah
50 orang menggunakan sepeda motor, maka perhitungan luas parkir
adalah sebagai berikut :
25
C. DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA
PENGELOLAAN LINGUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN
HIDUP
Dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan dan upaya pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan Pembangunan Gudang dan
Industri Furniture (Springbed) di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten
Banyumas disajikan pada Tabel 5. Terkait dengan instansi penerima laporan yang
dimaksud dalam matrik adalah laporan pelaksanaan upaya pengelolaan dan
pemantauan lingkungan.
26