PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia secara umum bertujuan agar siswa mampu
mendengarkan, membaca, memirsa, berbicara, dan menulis. Kompetensi dasar dikembangkan
berdasarkan tiga hal lingkup materi yang saling berhubungan dan saling mendukung
pengembangan kompetensi pengetahuan kebahasaan dan kompetensi keterampilan berbahasa
(mendengarkan, membaca, memirsa, berbicara, dan menulis) siswa.
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang digunakan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan atau berinteraksi,
bertukar pikiran dan berbagai hal lain. Bahasa Indonesia sangat beragam, hal ini terjadi karena
bahasa Indonesia sangat luas pemakaiannya, dan bermacam-macam ragam penuturnya, oleh
karena itu kita sebagai penutur harus mampu memilih ragam bahasa yang sesuai dengan
keperluan. Penggunaan bahasa lisan dalam interaksi belajar mengajar merupakan salah satu
bentuk komunikasi yang berlangsung dalam interaksi kelas. Melalui proses komunikasi akan
memunculkan peristiwa tutur dan tindak tutur. Peristiwa tutur merupakan proses terjadinya atau
berlangsungnya interaksi linguistik dalam suatu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua
belah pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat,
dan situasi tertentu.
Menurut Searle dalam Rusminto, 2015 (dalam Julaeha 2016) Tindak tutur adalah teori
yang mencoba mengkaji makna bahasa yang didasari pada hubungan tuturan dengan tindakan
yang dilakukan oleh [Link] satu peristiwa tutur adalah pembelajaran di sekolah.
Pembelajaran di sekolah melibatkan guru dan siswa. Pada saat pembelajaran, guru dan siswa
bertutur. Percakapan guru dan siswa dalam pembelajaran sangatlah menarik. Hal ini dapat
diketahui dari interaksi guru dan siswa yang membawa dampak positif suasana komunikasi di
kelas. Tuturan guru dan siswa meliputi tindak tutur yang bermacam-macam.
Tindak tutur adalah teori yang mencoba mengkaji makna bahasa yang didasari pada
hubungan tuturan dengan tindakan yang dilakukan oleh penuturnya (Searle dalam
Rusminto, 2015). Tindak tutur merupakan tindak yang dilakukan penutur terhadap mitra
tutur dengan tujuan dan maksud. Dalam pragmatik tindak tutur dibagi menjadi tiga yaitu,
lokusi, ilokusi dan perlokusi. Tindak tutur adalah berlangsungnya interaksi manusia yang
melibatkan dua unsur pokok yaitu penutur dan mitra tutur. Penutur adalah seseorang yang
melakukan tindak verbal, sedangkan mitra tutur adalah seseorang yang menjadi lawan dari
penutur. Tindak tutur merupakan salah satu objek kajian pragmatik. Pragmatik mempelajari
bagaimana bahasa digunakan dalam komunikasi, dan menyelidiki makna sebagai konteks
bukan sebagai sesuatu yang abstrak dalam komunikasi (Wijana, 1996).
Ada beberapa hal yang dapat menghambat berhasilnya penggunaan bahasa Indonesia
yang baik dan benar dalam situasi formal, antara lain: (1) masih kurang atau lemahnya motivasi
bagi pemakaian bahasa Indonesia untuk berbahasa yang baik dan benar, baik lisan (tutur)
maupun tulisan; (2) masih adanya anggapan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa sendiri
dan dianggap mudah serta tidak perlu dipelajari akibatnya sering terjadi kesalahan
penggunaan; dan (3) kurang menyadari keberhasilan pengembangan bahasa.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Halmahera
Utara khususnya kelas XII-IPA 1 ditemukan masih banyak tuturan yang ternyata masih kurang
memperhatikan hal-hal yang semestinya dipenuhi dalam tindak tutur, umpamanya kata-kata
yang tepat untuk digunakan dalam tindak tutur yang representatif, seperti mengemukakan,
menyatakan, menjelaskan, menyarankan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dikategorikan dalam penelitian
Pragmatik, menggunakan panduan teori Searle. Data yaitu berupa tuturan siswa kelas XII- IPA 1
Madrasah Aliyah Negeri 2 HalmaheraUtara pada situasi formal, kemudian tuturan tersebut
dikelompokkan berdasarkan jenis dan fungsinya. Peneliti sebagai instrumen utama dalam
penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik catat. Teknik Catat
dilakukan dengan menulis setiap tuturan yang peneliti dengar di dalam kelas.
Teknik analisis data dilakukan dengan cara pemeriksaan data dari sumber data yang
berhubungan dengan masalah yang dikaji dengan cara mengamati, merekam, mengklarifikasi,
dan mengelompokkan data yang diperoleh. (Meleong, 1998) mengatakan bahwa pengamatan
tidak dapat berdiri sendiri artinya tidak dapat dilakukan tanpa pencatatan datanya, oleh karena itu
penulis akan melakukan pengumpulan data dengan cara mencatat, hingga mendokumentasikan
hal-hal ketika terjadi percaakapan atau interaksi pada siswa didalam kelas. Metode analisis
data yang digunakan dalam penganalisan ini adalah metode analisis induktif Menurut Sugiono
(2005) analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data
diperoleh selanjutnya dikembangkan. Sementara Djajasudarma (1993) menyebutkan bahwa data
secara induktif yaitu data dikaji melalui proses yang berlangsung dari kata ke teori.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini adalah Jenis tindak tutur yang ada di kelas XII IPA 1 Madrasah Aliyah
Negeri 2 Halmahera Utara pada situasi Formal, meliputi asertif, direktif, komisif, evaluatif,
dan deklaratif. Jenis tindak tutur direktif memiliki fungsi menyuruh, mengusulkan, memberi
aba- aba, meminta, mendesak. Jenis tindak tutur komisif memiliki fungsi; mendesak,
berjanji, bersumpah, menuntut, menyatakan kesanggupan. Jenis tindak tutur ekspresif
memiliki fungsi memohon maaf, menyampaikan selamat; berterima kasih, mengeritik,
memuji, menasehati. Jenis tindak tutur deklaratif memiliki fungsi melarang, menyatakan
persetujuan, meminta izin; membatalkan. Paparan hasil penelitian tersebut diuraikan sebagai
berikut:
Jenis Tindak Tutur Pada Situasi Formal
Asertif
Asertif atau representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas
hal yang dikatakannya.
1 . Nurmawati : “Baiklah itulah pemaparan materi dari kelompok kami, apakah ada yang ingin
bertanya?”
Diana : “Saya, apa maksud dari karya ilmiah populer memiliki karakteristik yang
khas? Karena saya kurang paham dengan bagian tersebut ”
Konteks : Pada saat diskusi kelas seorang siswa bertanya kepada kelompok yang telah
memparkan materinya, ia mengatakan bahwa ia kurang paham dengan salah
satu argumen yang disampaikan oleh pemateri.
2. Guru :“Kalau begitu moderator, silahkan mulai diskusinya”
Moderator :“Assalamualaikum [Link], nama saya Tasrik, selaku moderator pada hari
ini, yang akan memandu agar berlanjutnya kembali diskusi yang sempat tadi kita laksanakan
sebelumnya, untuk mengefesienkan waktu saya persilahkan kepada kelompok dua untuk
memaparkan materinya”.
Konteks : Sesaat sebelum melanjutkan diskusi, seorang siswa terpilih menjadi moderator,
kemudian guru mempersilahkan moderator terpilih untuk memulai diskusinya, kemudian
moderator secara langsung mengambil peran dan memulai diskusi.
Direktif
Direktif atau impositif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur
melakukan tindakan sesuai apa yang disebutkan di dalam tuturannya
1 . Guru : “Siapkan nak”
Bambang : “ We ketua kelas
siapkan!”(Ketua kelas, siapkan).
Konteks : Sebelum pembelajaran dimulai guru meminta siswanya menyiapkan kelas, dan
direspon oleh salah satu siswa dengan memberikan tuturan tambahan untuk ketua kelas.
2. Ketua :“Jangan saya dulu, saya lalah
Irawati : “Saya sudah, batamang dulu adelia ” (saya saja, adelia temani yah)
Konteks :Sebelum pembelajaran dimulai, guru menanyakan keberadaan absen yang
dibawah oleh guru yang mengajar sebelumnya, untuk itu siswa yang lain menyuruh ketua
kelas untuk mengambilnya, namun ketua kelas menolak dengan alasan lelah, tuturan itu di
respon oleh salah seorang siswa yag bernama Irawati yang menggantikan ketua kelas
mengambil absen.
Komisif
Komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan segala yang
disebutkan dalam ujarannya.
1 . Farisa : “Bu saya bantu bawa ibu pe buku di ruang guru”.
Konteks : Di akhir kelas, seorang siswa menawarkan bantuan kepada gurunya, untuk
membawakan buku gurunya usai istirahat.
2. Rismawati : “Ganti ka”
Fikram : “Besok saya ganti besok sumpah” sumpahka” (besok aku ganti, sumpah)
Konteks : Di sela-sela pembelajaran seorang siswa meminta ganti rugi atas pulpen yang
dihilangkan oleh temannya, hal itu langsung direspon oleh penutur pada tuturan.
Ekspresif
Ekspresif atau evaluatif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar tuturannya
diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.
1 . Nurafisya :“Tadi kan sudah saya sebutkan bentuk-bentuknya,yaitu yang pertama halaman
judul, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan, simpulan, daftar pustaka, bentuk
formal”
Wulan : “Oh maaf tadi saya kurang fokus, terimakasih pemateri”
Konteks :”Pada saat diskusi berlangsung tampak seorang siswa meminta maaf karena ia
kurang fokus mendengarkan jawaban yang disampaikan oleh pemateri.
Deklaratif
Deklaratif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal
(status, keadaan dan sebagainya) yang baru.
1. Andi Fitria:“We satu-satu bicara, jang baribut” ribut“ (satu per satu bicara, jangan
ribut)
Konteks :Pada saat diskusi dalam kelas, suasana menjadi gaduh, mendorong seorang
siswa untuk menegur teman-temannya.
2. Moderator :“Apakah ada yang ingin memberi pertanyaan ke kelompok tiga?”
Fitri :“Saya” (perwakilan dari kelompok satu)
Moderator : “Ya silahkan“
Konteks : Pada saat diskusi dimulai seorang siswa ingin memberikan pertanyaan, dan
meminta izin terlebih dahulu kepada moderator, moderator pun merespon dengan baik.
B. Pembahasan
Sehubungan dengan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bagian
sebelumnya, berikut ini akan di bahas mencakup jenis-jenis tindak tutur siswa pada
situasi formal,. Penelitian ini mengungkapkan bahwa jenis tindak tutur yang digunakan
siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Halmahera Utara, terdiri atas tindak tutur
asertif/representatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif.
Fungsi menyatakan merupakan jenis tindak tutur yang bermaksud menyatakan
sesuatu, misalnya dengan bertanya. Artinya, tindak tutur ini selai memberi pertanyaan
juga memberi pernyataan yang ditujukan kepada lawan tutur, biasa pertanyaannya
disajikan tanpa perlu dijawab karena telah dijawab oleh penutur sebelumya, bisa juga
berisi pertanyaan murni yang mengharapkan jawaban dari mitra tutur. Tindak tutur
menjelaskan meliputi menjelaskan bertanya, komentar, dan menjelaskan
[Link] bertanya maksutnya adalah tindak tutur yang berisi penjelasan
sekaligus berisi pertanyaan kepada lawan [Link] seperti ini biasanya penutur
memberi penjelasan sekaligus berisi [Link] dengan menjelaskan
komentar, penjelasan yang di isi dengan memberikan komentar oleh [Link]
halnya dengan tindak tutur menjelaskan langsung, pada tindak tutur ini berisi
pernyataan berupa penjelasan secara langsung, artinya tindak tutur ini dilakukan
penutur secara langsung tanpa adanya [Link] ini sejalan dengan pendapat
yang dikemukakan oleh Tarigan (1986) bahwa tindak tutur menjelskan, mengatakan
dengan [Link] aktivitas tertentu diperlukan [Link] siswa perlu juga
dilatih menjelaskan atau berkomentar tentang sesuatu masalah aktivitas diskusi.
Fungsi menyatakan permohonan maaf mencakupi permohonan maaf- komentar,
dan permohonan maaf- langung. Yang dimaksud tindak tutur permohonan maaf-
komentar dalam penelitian ini ialah tindak tutur yang berisi pernyataan mohon
maaf dan menyatakan (berisi) komentar, sedangkan tindak tutur mohon maaf-
langsung ialah penutur secara langsung meminta maad kepada lawan tutur atas
adanya kecurangan.
Fungsi berjanji berisi tuturan yang mengatakan janji, penutur menyampaikan suatu
hal kepada mitra tuturnya, dan berjanji akan melakukan sesuatu hal yang terdapat
dalam tuturannya. Tindak tutur menolak yaitu tindak tutur yang berisi penolakan
terhadap sesuatu, tindak tutur ini muncul karena tidak adanya persetujuan antara
ucapan yang disampaikan mitra tutur ke penutur itu sendiri. Tindak tutur
memberitahukan ialah tuturan yang ingin disampaikan oleh pembicara ke pendengar,
kebanyakan dalam tuturan ini berisi informasi yang akan disampaikan dari penutur ke
pendengar. Tindak tutur mengakui adalah jenis tindak tutur yang pendengar
menaruh kepercayaan penuh terhadap penutur, biasanya tuturan ini muncul karena
sesuatu hal yang [Link] membatalkan, tindak tutur jenis ini biasanya terjadi
jika penutur sudah membuat pernyaataan atau perjanjiann kepada mitra tutur
sebelum pernyataan atau perjanjian dibatalkan sendiri oleh penutur. Tindak tutur
mengajak adalah tuturan yang disampaikan penutur bertujuan agar mitra tutur mau
mengikuti apa yang penutur lakukan.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Tindak tutur siswa dalam pembelajaran
Bahasa Indonesia kelas XII-IPA1 Madrasah Aliyah Negeri 2 Halmahera Utara pada situasi
formal dapat disimpulkan bahwa jenis tindak tutur yang digunakan siswa terdiri atas tindak
tutur: (1) asertif; (2) direktif; (3) komisif; (4) ekspresif dan (5) deklaratif. Fungsi tindak tutur
mahasiswa pada situasi formal dibagi berdasarkan jenis tindak tutur itu sendiri, yaitu jenis
tindak tutur aserif memiliki fungsi (1) menyatakan; (2) menjelaskan; (3) memberitahukan;
(4) melaporkan; (5) mengakui; (6) memberi kesaksian; (7) pernyataan; (8) pertanyaan.
Jenis tindak tutur direktif memiliki fungsi (9) menyuruh; (10) mengusulkan; (11) memberi
aba-aba; (12) meminta; (13) [Link] tindak tutur komisif memiliki fungsi; (13)
mendesak; (14) berjanji; (15) bersumpah; (16) menuntut; (17) menyatakan [Link]
tindak tutur ekspresif memiliki fungsi (18) memohon maaf; (19) menyampaikan selamat;
(20) berterima kasih; (21) mengeritik; (22) memuji; (23) [Link] tindak tutur
deklaratif memiliki fungsi melarang; (25) menyatakan persetujuan; (26) meminta izin; (27)
membatalkan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina. 1995. Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang.
Alwi, Hasan, dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai
Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional.2014. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
[Link] : PT Gramedia Pustaka Utama.
Moleong, Lexy J. 2017. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muslich, Masnur. 2008. Textbook Writing Dasar- dasar Pemahaman, Penulisan, dan
Pemakaian Buku Teks. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rusminto, Nurlaksana Eko. 2015. Analisis Wacana Sebuah Kajian Teoritis dan Praktis.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Rusminto, Nurlaksana Eko. 2010. Memahami Bahasa Anak-Anak. Bandar Lampung:
Universitas Lampung.
Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan.2009. Telaah Buku Teks Bahasa
[Link]: Penerbit Angkasa.