11
TRANSISTOR
Setelah selesai mempelajari bab ini Anda dapat:
1. Memahami pengertian dan simbol transistor
2. Mengidentifikasi tipe transistor
3. Mengenal bentuk pengemasan transistor
4. Membaca nilai parameter transistor
5. Memahami fungsi dan penerapan transistor
6. Memahami hukum berkaitan dengan rangkaian transistor
BAB 5
TRANSISTOR
A. URAIAN MATERI
1. Pengertian dan Simbol Transistor
Transistor pada bab ini adalah Transistor Bipolar (Bipolar
Junction Transistor-BJT) yang merupakan komponen
elektronika yang dibuat dari gabungan dua buah PN junction.
Transistor memiliki tiga kaki atau elektroda yang dinamakan
basis (B), kolektor (C) dan emitor (E). Transistor ini
merupakan komponen elektronika yang mengendalikan arus
yang besar pada kolektor-emitornya melalui arus kontrol yang
kecil di basisnya.
Transistor bipolar ini memiliki dua tipe yaitu NPN dan PNP.
Untuk menentukan tipe transistor apakah NPN atau PNP tidak
dapat dilakukan hanya dengan melihat secara fisik saja tetapi
harus dengan mengecek nomor seri transistor tersebut,
mengecek simbolnya atau dengan mengujinya menggunakan
alat ukur seperti multimeter. Simbol dari dua tipe transistor
tersebut ditunjukkan dalam Gambar 5.1. di bawah ini.
Transistor memiliki bentuk dan ukuran fisik yang beragam,
mulai yang berupa pipih, setengah lingkaran maupun dengan
bentuk-bentuk khusus. Pengemasan transistor juga berbeda-
beda ada yang dikemas dengan logam dan adapula dengan
plastik. Bentuk-bentuk transistor tersebut dapat dilihat dalam
standar pengemasan yang diberi kode salah satunya kode TO
(Transistor Outline). Diantara bentuk transistor yang umum
dijumpai tersebut ditunjukkan dalam Gambar 5.2.
a) Transistor NPN
b) Transistor PNP
Gambar 5.1. Simbol transistor
TO-3 TO-126
contoh: contoh:
M2955 BD139
TO-18 TO-220
contoh: contoh:
BC108 TIP31
TO-52 TO-226
contoh: contoh:
2N3014 C2655
TO-92 TO-202
contoh: contoh:
BC547 BD829
Gambar 5.2. Bentuk kemasan transistor
2. Identifikasi Transistor
Transistor memiliki berbagai seri sesuai dengan pabrik yang
memproduksinya. Seri dari transistor dapat dilihat dari nomor
kode yang tertulis di badan transistor tersebut. Ada beberapa
standar kode yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi
transistor, diantarnya European Electronic Component
Manufacturers Association (EECA), Joint Electron Device
Engineering Council (JEDEC), Japanese Industrial Standards
(JIS).
a. Kode Tansistor Standar EECA
C = frekuensi audio, daya rendah
A = Germanium
D = frekuensi audio, daya
B = Silicon
F = frekuensi tinggi, daya rendah Nomor
C = Galium
L = frekuensi tinggi, daya Seri
Arsenida
S = pensaklaran daya rendah
R = Campuran
U = pensaklaran, daya
Beberapa jenis transistor memiliki kode akhir setelah nomor
seri yang berupa huruf yang menyatakan besarnya penguatan
(gain) seperti A untuk penguatan rendah, B untuk penguatan
sedang, C untuk penguatan tinggi dan jika tidak ada kodenya
maka penguatan tidak diklasifikasikan.
Contoh: kode BC829C berarti transistor untuk frekuensi audio
dengan daya rendah dan penguatan tinggi dengan nomor seri
829.
b. Kode Transistor Standar JEDEC
2 N Nomor Seri Kode khusus
Angka 2 N berarti komponen tersebut dibentuk dari 2 buah
PN junction atau yang tak lain adalah komponen transistor
bipolar. Nomor Seri merupakan nomor dari komponen
tersebut. Kode khusus tidak selalu ada, kode khusus bisa
berarti pabrik pembuatnya atau edisi revisi dari seri
sebelumnya. Misalnya komponen 2N3055 berarti komponen
tersebut adalah transistor bipolar dengan nomor seri 3055.
c. Kode transistor standar JIS
SA = PNP, frekuensi tinggi
2 SB = PNP frekuensi audio Nomor Seri
SC = NPN frekuensi tinggi
SD = NPN frekuensi audio
Sebagai contoh : transistor 2SD313 adalah transistor NPN
untuk frekuensi audio dengan seri 313
d. Kode Transistor Lainnya
Selain standar-standar kode tersebut ada juga kode khusus
yang terkait dengan pabrik pembuatnya misalnya Motorola
yang mengeluarkan MJ untuk transistor daya dengan casing
logam, MJE untuk transistor daya dengan casing plastik. Texas
Instruments juga mengeluarkan seri transistor misalnya TIP
untuk transistor daya dengan casing plastik.
3. Parameter Transistor
Penggunaan transistor perlu memperhatikan beberapa
parameter transistor tersebut agar dalam penggunaanya bisa
maksimal dan tidak menimbulkan kerusakan. Beberapa
parameter penting yang dapat dilihat dalam lembar data
transistor diantaranya:
a) Disipasi Daya
Nilai disipasi daya terkait dengan banyaknya konsumsi daya
yang digunakan saat transistor bekerja secara maksimal. Nilai
daya ini dapat diperoleh dengan mengalikan besarnya arus
kolektor dengan tegangan kolektor emitor. Semakin besar
arus kolektor maka akan semakin besar disipasi dayanya. hal
ini akan menyebabkan transistor semakin panas. Jika panas
yang ada terus menerus dan semakin tinggi maka berpotensi
merusakkan transistor. Maka sangat penting untuk
memperhatikan nilai maksimal daya yang diijinkan bagi
transistor tersebut.
b) Tegangan Balik
Seperti halnya pada dioda, batas maksimal tegangan balik
transistor sangat penting diperhatikan mengingat ini
menyangkut kemampuan transistor menahan besarnya
tegangan balik tersebut. Ada 3 jenis teganga balik, yaitu
tegangan emitor basis VEB, tegangan colektor basis VCB dan
tegangan kolektor emitor VCE. Khusus pada pada penerapan
transistor sebagai saklar, nilai tegangan balik V CE sangat
penting mengingat ini berpengaruh pada kekuatan transistor
saat transistor tersebut dimatikan atau pada kondisi cut off.
c) Arus Kolektor
Arus kolektor penting diketahui untuk memastikan transistor
bekerja dengan aman. Data tentang batas arus kolektor
maksimum yang dibolehkan dapat dilihat dalam lembar data.
Jika batas arus kolektor maksimum dilewati maka transistor
bisa panas dan berakibat terjadi kerusakan.
d) Tegangan Saturasi
Tegangan saturasi adalah tegangan kolektor emitor VCE saat
transistor berada dalam kondisi saturasi. Idealnya nilai
tegangan ini adalah 0V, namun itu tidak mungkin.
e) Nilai Beta
Nilai Beta () sangat penting dalam menentukan penggunaan
transistor khususnya dalam rangkaian penguat sinyal
(amplifier). Nilai Beta dikenal juga dengan nilai hfe untuk
sinyal AC yang kecil dan hFE untuk arus DC. Nilai Beta
menentukan besarnya penguatan arus sebuah transistor. Nilai
Beta diperoleh dari besarnya arus kolektor dibagi dengan arus
basis. Artinya, jika nilai Beta adalah 50 maka kemampuan
menguatkan sinyal input dari transitor tersebut maksimal 50
kali. Pada praktiknya, nilai Beta untuk sebuah transistor
terkadang tidak menunjuk pada angka tertentu, namun nilai
range, misal 50 – 100.
Berikut ini ditampilkan lembar data transistor BC547.
Mengacu pada tabel tersebut maka daapat diketahui bahwa
transistor BC547 memiliki disipasi daya maksimal sebesar
625 mW dengan besar arus kolektor maksimal 500 mA.
Transistor mampu menahan tegangan balik kolektor emitor
sebesar 45V, tegangan kolektor basis sebesar 50V dan
tegangan emitor basis sebesar 60V. Nilai VCE saturasi sebesar
0,25V. Mampu menguatkan sinyal AC sebesar 125-900 kali
dan sinyal DC sebesar 110 – 800 kali.
Tabel. 5.1. lembar data transistor BC547
(sumber : www. [Link])
4. Bias Transistor
Transistor merupakan komponen elektronika aktif, artinya
transistor membutuhkan catu daya untuk dapat aktif bekerja.
Pengaturan pemberian tegangan DC pada transistor tersebut
dinamakan bias transistor. Mengingat transistor memiliki dua
tipe maka rangkaian bias untuk tipe NPN dan tipe PNP
berbeda. Secara praktik, pemberian bias pada transistor NPN
yaitu kaki B+, E- dan C+, sedangkan pada transistor PNP maka
kaki B-, E+ dan C-. Untuk mengingatnya, perhatikan kaki
emitornya, jika PNP berarti emitor P maka diberi positif dan
kolektor diberi negatif. Jika NPN maka emitor N berarti diberi
negatif dan kolektor diberi positif. Kaki basis merupakan kaki
yang mengendalikan transistor tersebut, transistor PNP
basisnya adalah N maka basis diberi negatif dan transistor
NPN basisnya adalah P maka diberi tegangan positif. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5.3. dan Gambar 5.4.
Gambar 5.3. Bias transistor NPN
Gambar 5.4. Bias transistor PNP
Pemberian bias pada transistor ada beberapa model
diantaranya bias tetap (fixed bias) dan bias pembagi tegangan
(voltage divider bias) atau ada yang menyebut bias sendiri
(self bias). Rangkaian bias tetap untuk transistor NPN
ditunjukkan Gambar 5.5. Mengacu pada gambar tersebut
maka dapat diketahui beberapa rumusan, yaitu:
▪ Arus emitor (IE) merupakan penjumlahan dari arus
kolektor (Ic) dan arus basis (IB) atau dirumuskan IE = IC +
IB. Karena IB sangat kecil maka bisa dikatakan IE mendekati
Ic
▪ Tengangan pada kolektor (Vc) dirumuskan Vc = Vcc – VRC
= Vcc - (Ic x Rc)
▪ Tegangan pada basis (VB) dirumuskan VB = VBE – VE karena
VE = 0V maka VB = VBE
▪ Besarnya arus basis dirumuskan IB = (VCC - VBE)/RB
▪ Besarnya arus kolektor dirumuskan IC = (DC) x IB
Gambar 5.5. Bias tetap transistor NPN
Gambar 5.6. Bias pembagi tegangan transistor NPN
Rangkaian bias pembagi tegangan ditunjukkan pada Gambar
5.6. Rangkaian bias pembagi tegangan banyak digunakan
karena lebih stabil. Mengacu pada gambar tersebut dapat
dihitung besarnya arus dan tegangan pada transistor tersebut
dengan rumus-rumus di bawah ini:
▪ Tengangan pada kolektor (Vc) dirumuskan Vc = Vcc – VRC
= Vcc - (Ic x Rc) = VE + VCE
▪ Tegangan pada basis (VB) dirumuskan VB = VBE + VE
▪ Tegangan pada basis (VB) ini sama dengan VR2 yang
𝑅1
dirumuskan 𝑉𝑅2 = X Vcc
𝑅1+𝑅2
▪ Tegangan kolektor emitor (VCE) dirumuskan VCE = VC-VE
▪ Besarnya arus emitor (IE) dirumuskan IE = IC + IB = VE/RE
▪ Besarnya arus basis dirumuskan:
𝑉𝐵−𝑉𝐵𝐸
𝐼𝐵 =
𝑅𝐵+(1+)RE
▪ Besarnya arus kolektor dirumuskan IC = (DC) x IB
5. Penerapan Transistor
Secara prinsip, kerja transistor dapat dibedakan dalam tiga
kondisi yaitu kondisi aktif, kondisi saturasi dan kondisi
sumbat (cut off). Dikatakan kondisi aktif manakala arus
kolektor Ic = IB x . Pada saat ini transistor difungsikan
sebagai penguat atau amplifier. Dikatakan kondisi saturasi
manakala Ic = Ic sat (maksimal). Dikatakan kondisi sumbat
manakala Ic = 0. Pada saat kondisi saturasi dan sumbat ini
transistor difungsikan sebagai saklar (switch).
Ketiga kondisi kerja tersebut ditunjukkan dalam kurva
karakteristik output transistor seperti ditampilkan dalam
Gambar 5.7. Pada kurva karakteristik transistor tersebut
tersebut terdapat garis beban DC yang merupakan tanggapan
rangkaian transistor tersebut terhadap tegangan DC. Pada
garis beban tersebut terdapat 3 kondisi kerja yang telah
disebutkan yaitu kondisi saturasi atau jenuh, kondisi aktif dan
kondisi sumbat. Titik saturasi terdapat pada sumbu vertikal
yaitu titik dimana nilai Ic maksimal. Titik sumbat terdapat di
sumbu horisontal yaitu titik dimana VCE maksimal. Daerah
diantara kedua titik tersebut termasuk dalam daerah aktif.
Pada daerah aktif terdapat satu titik kerja yang disebut
dengan titik Q (Quiescent). Letak titik Q ini sangat
mempengaruhi keluaran dari rangkaian transistor sebagai
penguat sinyal. Jika titik kerja Q ini terlalu ke atas atau ke
bawah maka bisa menyebabkan sinyal keluaran cacat dan juga
panas pada transistor. Letak titik Q yang paling baik adalah
ditengah-tengah seperti pada gambar tersebut. Dengan letak
di tengah-tengah maka sinyal masukan akan dapat dikuatkan
secara maksimal tanpa cacat.
Gambar 5.7 . Kurva karakteristik transistor
(sumber: [Link]
a. Transistor Sebagai Saklar
Transistor sebagai saklar merupakan penerapan yang umum
digunakan dalam dunia elektronika digital. Perilaku transistor
sebagai saklar seperti halnya saklar mekanik yang dapat
berada dalam kondisi menutup atau ON untuk mengalirkan
arus listrik maupun kondisi membuka atau OFF untuk
memutus aliran arus listrik. Kondisi ON diperoleh saat
transistor pada titik saturasi dan kondisi OFF diperoleh saat
transistor pada titik cut off. Kondisi saturasi diperoleh saat
tegangan VCE = 0V yang mana pada saat itu arus kolektor
maksimum Ic = Icmax. Kondisi cut off diperoleh saat tegangan
VCE = VCC yang mana pada saat itu arus kolektor tidak
mengalir (Ic = 0). Kondisi saturasi dapat dicapai dengan
memberikan masukan tegangan +VBB pada basis transistor
NPN atau masukan 0V pada basis transistor PNP. Kondisi cut
off atau sumbat dapat dicapai dengan memberi masukan 0V
pada basis transistor NPN atau masukan +VBB pada basis
transistor PNP. Rangkaian transistor dan analoginya dapat
dilihat pada Gambar 5.8. di bawah ini.
a) Transistor NPN kondisi OFF
b) Transistor PNP kondisi OFF
c) Transistor NPN kondisi ON
d) Transistor PNP kondisi ON
Gambar 5.8. Konsep transistor saklar
Secara prinsip untuk membuat transistor cut off maka basis-
emitor (BE) perlu diberikan bias balik (reverse bias). Pada
kondisi itu maka tidak ada arus yang mengalir, dengan
demikian besarnya tegangan VCE = VCC. Kondisi saturasi atau
kondisi jenuh yakni kondisi dimana arus kolektor Ic sudah
tidak bisa bertambah lagi ketika arus basis IB ditambah.
Kondisi ini dapat dicapai pada saat arus kolektor sebesar:
IC(sat) = VCC/RC.
Untuk membuat Ic saturasi maka perlu arus basis yang cukup
mampu membuat kondisi transistor jenuh. Besarnya arus
basis tersebut minimal adalah
IB = IC(sat)/DC
Untuk memastikan transistor pada kondisi ON maka perlu
diatur agar transistor berada pada kondisi “hard saturation”.
Kondisi in dapat dicapai bila:
DC rangkaian <<< DC minimal transistor
DC minimal transistor dapat dilihat pada lembar data,
terkadang disebut dengan hFE. Kondisi hard saturasi pasti
tercapai jika perbandingan arus kolektor dan arus basis
minimal 10 kali. Untuk lebih jelas dapat dilihat contoh pada
Gambar 5.9. Pada rangkaian tersebut besarnya arus Ic saturasi
dapat dihitung dengan cara:
Ic (sat) = Vcc/Rc = 5V/1KΩ = 0,005A atau 5mA
Agar bisa mencapai hard saturasi maka nilai IB harus
sepersepuluh Ic maka:
IB(sat) = Ic(sat)/10 = 5mA/10 = 0,5mA
Untuk menentukan nilai resistansi RB, jika tegangan masukan
sebesar 5V maka:
RB = VBB/IB(sat) = 5V/0,5mA = 5V/0,0005A = 10.000Ω = 10KΩ
Dengan demikian untuk membuat transistor sebagai saklar
dengan rangkaian tersebut maka nilai RB adalah 10 KΩ
dengan RC 1KΩ dan tegangan masukan 5V dan tegangan
sumber 5V.
Gambar 5.9. Konsep transistor saklar
Adanya prinsip saklar ini, transistor dapat diterapkan untuk
keperluan menyalakan dan mematikan LED indikator, lampu
DC, menghidupkan dan mematikan relai, motor DC, dapat juga
sebagai antarmuka sensor yang memberikan data masukan
logik “high” dan “low” pada perangkat pengendali digital
seperti pada mikrokontroler atau PLC (Programmable Logic
Controller). Gambar di bawah ini menunjukkan contoh
rangkaian transistor sebagai saklar yang diterapkan untuk
menghidupkan dan mematikan kipas 220VAC melalui relay.
Gambar 5.10. Rangkaian kendali kipas
b. Transistor Sebagai Penguat
Penerapan transistor yang lainnya adalah sebagai penguat
sianyal (amplifier). Sinyal yang memiliki besar tegangan yang
sangat kecil misalnya dalam orde miliVolt (mV) atau bahkan
mikroVolt (µV) diperkuat sehingga memiliki level yang lebih
tinggi. Transistor sebagai penguat ini digunakan dalam
berbagai rangkaian seperti pre-amplifier atau penguat awal
untuk mikrofon atau penguat sinyal dari sensor, dapat juga
untuk power amplifier atau penguat daya.
Pada transistor sebagai penguat terdapat tiga konfigurasi
rangkaian yaitu common emitor (CE), common base (CB) dan
common colector (CC). Ketiga konfigurasi tersebut ditunjukkan
pada Gambar 5.11. Mengacu pada gambar tersebut, rangkaian
CE dicirikan dengan jalur masukan pada basis dan keluaran
pada kolektor. Rangkaian CB dicirikan dengan jalur masukan
pada emitor dan keluaran pada kolektor. Rangkaian CC
dicirikan dengan jalur masukan pada basis dan keluaran pada
emitor. Masing-masing konfigurasi ini memiliki karakteristik
sebagaimana ditunjukkan Tabel 5.1.
Tabel 5.2. Karakteristik konfigurasi transistor
Karakteristik CE CB CC
Impedansi Sedang Rendah Besar
masukan (2,5KΩ) (200Ω) (100 KΩ)
Impedansi Besar Besar Rendah
keluaran (20KΩ) (100KΩ) (100Ω)
Pergeseran
1800 00 00
Fasa
Penguatan Sedang Besar Rendah
tegangan (40) (200) (1)
Penguatan Besar Rendah Besar
arus (200) (1) (200)
Sangat
Penguatan Besar Besar
besar
Daya (200) (200)
(8000)
Penyesuai
umum,
Penguat RF impedansi,
Aplikasi penguat AF
dan VHF tingkat input
dan RF
dan output
a) Common Emitor
b) Common Base
c) Common Colector
Gambar 5.11. Konfigurasi rangkaian transistor
Sebagaimana ditulis diawal bahwa transistor dapat bekerja
sebagai penguat jika ia berada dalam daerah aktif. Letak titik
kerja Q dalam daerah aktif mempengaruhi kualitas penguatan.
Letak titik Q dalam rangkaian transistor penguat menjadi ciri
dari jenis-jenis kelas penguat transistor, yaitu kelas A, kelas B,
kelas AB dan kelas C. Setiap kelas penguatan ini memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung pada
kebutuhan dalam penerapannya. Contoh penguat transistor
kelas A ditunjukkan pada Gambar 5.12. di bawah ini.
Gambar 5.12. Penguat transistor kelas A
Penguat transistor kelas A seperti ditunjukkan gambar
tersebut sangat sederhana. Penguat ini kelas A akan selalu
aktif pada semua periode gelombang masukan (3600), dengan
demikian arus kolektor selalu tersedia, tidak dalam kondisi
saturasi dan tidak pula dalam kondisi sumbat. Untuk menjaga
kondisi ini dipasangnya resistor basis R1 yang selalu
memberikan bias. Titik kerja yang diharapkan (operating
point) dari kelas A adalah di tengah-tengahh garis beban,
sehingga diharapkan penguat dapat menguatkan sinyal secara
utuh, baik saat gelombang positif maupun gelombang negatif.
Penentuan letak titik kerja sangat tergantung pada nilai IB, IC
dan VCE seperti ditunjukkan kurva keluaran transistor pada
Gambar 5.13.
Kapasitor C1 berfungsi untuk coupling, yaitu meneruskan
sinyal ac dari masukan dan memblokir arus DC dari tingkat
sebelumnya sehingga tidak mengganggu kerja transistor.
Begitu juga dengan C2 berfungsi untuk kopling, meneruskan
sinyal ac hasil penguatan dan memblokir arus dc dari penguat
agar tidak membebani tingkat selanjutnya.
Gambar 5.13. Penguat transistor kelas A
(Sumber: John Bird, 2007)
6. Menentukan Transistor Pengganti
Penggantian transistor diperlukan manakala transitor
tersebut rusak atau sudah tidak bisa bekerja dengan normal.
Penggantian transistor sebaiknya dilakukan dengan transistor
yang sama persis. Jika tidak bisa maka dapat mencari dalam
buku atau searching di internet tentang ekivalen transistor.
Hal-hal berikut perlu diperhatikan dalam menentukan
pengganti transistor, yaitu:
▪ Memiliki tipe yang sama, NPN dengan NPN, PNP dengan
PNP
▪ Memiliki fungsi yang sama, misalnya untuk audio maka
transistor pengganti sebaiknya juga transistor audio.
▪ Memiliki disipasi daya minimal yang sama
▪ Memiliki tegangan breakdown minimal yang sama
▪ Memiliki pin out dan kemasan yang sama
▪ Memiliki nilai hfe yang sama
B. RANGKUMAN
1. Transistor merupakan komponen elektronika yang dibuat dari
dua buah PN junction yang memiliki tiga kaki yang dinamai
basis (B), kolektor (C) dan emitor (E).
2. Transistor memiliki dua tipe yaitu NPN dan PNP
3. Beberapa parameter penting yang dapat dilihat dalam lembar
data transistor diantaranya disipasi daya, tegangan balik, arus
kolektor, tegangan saturasi, nilai Beta
4. Transistor bisa aktif jika diberikan tengagan bias. Tegangan
bias untuk transistor NPN adalah kaki kolektor mendapat
tegangan positif, emitor mendapat negatif dan basis mendapat
positif. Tegangan bias untuk transistor PNP adalah kaki
kolektor mendapat tegangan negatif, emitor mendapat positif
dan basis mendapat negatif.
5. Penerapan transistor pada umumnya adalah untuk rangkaian
saklar (switch) dan rangkaian penguat (amplifier)
6. Ada tiga konfigurasi rangkaian transistor yaitu common base,
common emitor dan common kolektor.
7. Transistor pengganti dapat ditentukan dengan mencari seri
transistor yang memiliki kesamaan tipe dan spesifikasi
C. CONTOH PERMASALAHAN
1. Jelaskan kapan transistor bisa aktif bekerja?
Jawaban:
Transistor akan aktif jika diberikan tegangan bias yang sesuai.
Untuk NPN : kolektor positif, emitor negatif dan basis positif
Untuk PNP : kolektor negatif, emitor positif dan basis negatif
2. Jelaskan jenis rangkaian bias yang dapat digunakan untuk
mengaktifkan transistor?
Jawaban:
Rangkaian bias yang dapat digunakan diantaranya bias tetap
yaitu mengambil tegangan dari sebuah resistor yang
terhubung basis dan sumber. Rangkaian bias pembagi
tegangan juga dapat digunakan dengan cara merangkai dua
buah resistor yang dirangkai pembagi tegangan dan
dimasukkan ke basis.
3. Mengacu pada lembar data di bawah ini maka berapakah daya
maksimal yang diperbolehkan ditangani oleh transistor?
Jawaban:
Konsumsi daya dapat dilihat dari Collector Power Dissipation
(Pc). Dalam lembar data tersebut nilai Pc adalah 625mW. Jadi
nilai maksimal daya yang diijinkan untuk transistor tersebut
adalah 625mW.
4. Sebuah transistor digunakan untuk saklar elektronik dengan
rangkaian seperti pada gambar di bawah ini. Jika diharapkan
besarnya arus kolektor saat ON adalah 10 mA, berapakahnilai
RC dan RB yang sesuai?
Jawaban:
Rc = Vcc/ Ic(sat) = 5V/10mA = 5V/0,01A = 500Ω, resistor yang
mendekati adalah 470Ω
Agar bisa mencapai hard saturasi maka nilai IB harus
sepersepuluh Ic maka:
IB(sat) = Ic(sat)/10 = 10mA/10 = 0,1mA
Untuk menentukan nilai resistansi RB, jika tegangan masukan
sebesar 5V maka:
RB = VBB/IB(sat) = 5V/0,1mA = 5V/0,0001A = 50.000Ω = 50KΩ
resistor yang mendekati adalah 47KΩ
Jadi resistor basis RB = 47KΩ dan RC= 470Ω.
D. SOAL LATIHAN
1. Perhatikan lembar data di bawah ini dan tentukan:
a. Arus beban maksimum
b. Daya maksimum yang diijinkan
2. Jelaskan kelebihan penggunaan rangkaian bias pembagi
tegangan untuk memberikan tegangan bias pada transistor!
3. Sebuah transistor digunakan untuk kontrol relay dengan
rangkaian seperti pada gambar di bawah ini. Jika diharapkan
besarnya arus untuk menghidupkan relay adalah adalah 30
mA, berapakah RB yang sesuai?
4. Jelaskan prinsip kerja dari rangkaian menggunakan transistor
pada gambar soal nomor 4 !