BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
2.1. Kajian Pustaka
Kajian pustaka berisi studi pustaka terhadap buku, artikel, jurnal ilmiah,
penitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik penelitian. Uraian kajian
pustaka diarahkan untuk menyusun kerangka pemikiran atau konsep yang akan
digunakan dalam penelitian. Adapun tinjauan pustaka pada penelitian ini meliputi
knowledge sharing, innovation capability dan absorptive capacity.
2.1.1. Knowledge sharing
[Link]. Pengertian Knowledge sharing
Knowledge sharing baik yang bersifat spontan, terstruktu maupun tidak
terstruktur merupakan hal yang sangat vital bagi kesuksesan organisasi.
Knowledge sharing merupakan salah satu aktivitas dalam knowledge management
Sebuah organisasi seyogyanya mengembangkan tenaga kerja untuk mengelola dan
menyusun pengetahuan yang dimilikinya.
Pengombinasian atau pengintegrasian pengetahuan akan mengurangi
pengetahuan yag terlalu berlebihan dan tidak terkoordinasi, meningkatkan
gambaran pengetahuan dengan konsisten, serta akan menngkatkan efisiensi
dengan mengurangi volume yang berlebihan. Perbedaan pengetahuan dari
berbagai macam individu semestinya diintegrasikan untk memaksiamalkan
efisiensi. Oleh karena itu tugas utama organisasi adalah mengintegrasikan
15
16
pengeahuan khusus dari induvidu-individu yang berbeda melalui knowledge
sharing.
Terdapat beberapa pengertian knowledge sharing yang disampaikan oleh
beberapa ahli, sebagai berikut :
1. Lin, 2007
Berbagi pengetahuan dapat didefinisikan sebagai budaya interaksi sosial
yang melibatkan mentransfer pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan
antara anggota organisasi. Semua jenis berbagi pengetahuan dapat terjadi
di kedua tingkat, individu (anggota organisasi) dan organisasi itu sendiri.
Pada tingkat individu, berbagi pengetahuan adalah kegiatan komunikasi
untuk semua rekan kerja untuk saling membantu untuk mendapatkan hasil
yang lebih baik dan lebih cepat atau lebih efisien dalam melakukan tugas
organisasi. Untuk organisasi, berbagi pengetahuan adalah proses yang
terhubung ke menangkap, pengorganisasian, menggunakan kembali, dan
mentransfer pengalaman berdasarkan pengetahuan dalam suatu organisasi
dan membuat pengetahuan diakses untuk semua orang yang membutuhkan
itu.
2. Hansen dan Avital (dalam Hilmi A., et al. 2009)
Knowlege sharing dapat dipahami sebagai perilaku dimana seseorang
secara sukarela menyediakan akses terhadap orang lain mengenai
knowledge dan pengalamannya.
17
3. Hoof dan Ridder (2004)
Knowledge sharing merupakan proses dimana individu saling
mempertuarkan pengetahuan mereka (tacit knowledge dan eksplisit
knowedge)
4. Liebowitz, O’Dell dan Grayson, Song (2008).
Knowledge sharing adalah pengumpulan dari semua knowledge yang ada
dari kelompok, tim, divisi dan unit bisnis, dengan tujuan untuk
menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan. Knowledge sharing
merupakan pendekatan yang efektif untuk mencapai keuntungan
kompetitif yang diperoleh dari pemeliharaan organsisasi.
5. Bock dan Kim, 2002a; Bock dan Kim, 2002b (dalam Hilmi A., et al.
2009)
Secara konseptual knowledge sharing dapat didefinisikan sebagai
tingkatan sejauh mana seseorang secara aktual
6. Van den Hoof dan Van Wenen (dalam Tiurma dan Nungki, 2010)
Knowledge sharing sebagai aktivitas para individu saling bertukar
intellectual capital persons. Selain itu Hoof menjelaskan bahwa
knowledge sharing adalah proses dimana para individu saling
mempertukarkan pengetahuan mereka.
7. Szulanski (dalam Luciana 2008)
Defined knowledge sharing as the exchange or transfer process of facts,
opinions, ideas, theories, principles and models within and between
18
organizations including trial and error, feedback and mutual adjustment
of both the sender and receiver of knowledge.
8. Worldbank (2008)
Berbagi pengetahuan sebagai proses menyerap pengetahuan dari penelitian
dan pengalaman secara sistematis, mengelola dan menyimpan
pengetahuan dan informasi untuk kemudahan akses dan memindahkan
atau diseminasi pengetahuan, termasuk dalam perpindahan dua arah.
9. Ismail Nawawi (2012:61)
Knowledge sharing adalah tahapan disseminasi (penyebaran) dan
penyediaan knowledge pada saat yang tepat untuk karyawan yang
membutuhkan
Knowledge sharing dari seorang individu atas sistem informasi atau
teknologi informasi, semakin lama akan dapat memberikan pembaharuan bagi
keseluruhan knowledge suatu organisasi, yang pada gilirannya akan memberikan
karakteristik organisasi yang unik bagi perusahaan pesaingnya dan selanjutnya
dapat meningkatkan kinerja.
[Link]. Pengelolaan Knowledge sharing
Yuliazmi (2005:15) menyebutkan bahwa ada kecenderungan yang muncul
dalam perusahaan adalah bagaimana kegiatan knowledge sharing yang terjadi
bersifat local dan terpisah. Sehingga dibutuhkan pengelolaan untuk mengalirkan
pengetahuan tersebut ke seluruh komponen dalam organisasi untuk memperbaiki
19
kegiatan saling berbagi pengetahuan. Pengelolaan tersebut tersebar menjadi
delapan bagian, yaitu :
1. Knowledge map
Memetakan dimana knowledge berada dalam perusahaan, rincian
mengenai siapa mengetahui apa dan berada dimana
2. Talk space
Menyediakan tempat yang bertujuan untuk memberikan kesempatan
bagi pegawai untuk berbicara denga yang lain dalam suasana informal.
3. Smart office layout
Merancang ruang keja yang dapat memberikan kontribusi bagi
lingkungayan efektif untuk kegiatan pembelajaran.
4. Dedicated knowledge-sharing event
Mengadakan kegiatan “knowledge fair” atau forum untuk saling
berbagi pengetahuan. Memberikan kesempatan bagi pegawai yang
tidak pernah bertemu dalam kegiatan kerja sehari-hari untuk saling
bertukar pengalaman. Dalam hal ini struktur yang tidak terlalu keta
paling baik dalam knowledge sharing, sehingga peserta dapat
menentukan cara masing-masing dalam memenuhi kebutuhannya.
5. Commom language
Factor utama keberhasilan kegiatan knowedge sharing adalah memiliki
“bahasa umum” dalam berkomunikasi dengan seluruh pegawai dalam
suatu perusahaan. Kegiatan ini dimulai dengan membentuk daftar kata
20
pembendaharaannya, kemudian diterjemahkan dalam bahasa yang
dimengerti bersama.
6. Knowledge leader
Menentukan pihak yang dapat menggunakan sumber daya, menguasai
logika dari knowledge sharing, memonitor partisispasi pegawai dan
menjadi contoh dari sikap saling berbagi
7. A change in culture
Menciptakan budaya dimana pegawai sangat ingin membagi
knowledge yang mereka miliki. Hal ini merupakan tantangan
mengingat sifat dasar dari saling berbagi adalaha suka rela. Cara
termudah adalah dengan menghlangkan penghalang dari kegiatan
penyebaran knowledge
8. Room for tension
Hal ini disebut juga dengan fusion, creative abrasion atau creative
tension. Menyatukan pegawai dari bagian yang bebeda untuk bersama-
sama menyelesaikan suatu permasalahan. Hal ini dibutuhkan karena
pembelajaran dan solusi inovatif kerap terjadi saat seseorang
dikondisikan untuk meluaskan pemikiran mereka dalam cara yang
baru.
Dari pemaparan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam upaya
memperbaiki kegiatan saling berbagi pengetahuan melalui pengelolaan yang
dilakukan dengan langkah-langkah diatas dapat menjadi saran bagi karyawan
21
untuk saling berbagi pengetahuan sehingga tercipta pengetahuan baru bagi
organisasi dan karyawan tersebut.
[Link]. Kegiatan Knowledge Sharing
Menurut Bambang Setiaso (2006), secara umum ada lima jenis kegiatan
knowledge sharing yaitu:
1. Di dalam satu kelompok untuk pekerjaan rutin yang serupa dan terus
menerus,
2. Antar dua atau lebih kelompok yang berbeda tetapi melakukan pekerjaan
yang hampir sama,
3. Antar dua atau lebih kelompok, tetapi yang dibagi bersama adalah
pengetahuan tentang pekerjaan non-rutin,
4. Antar organisasi dalam rangka kelangsungan hidup bersama,
5. Dari luar kelompok, ketika menghadapi persoalan yang belum pernah
mereka jumpai.
[Link]. Konversi Pengetahuan Dalam Knowledge Sharing
Pengetahuan terdiri dari dua jenis yaitu tacit knowledge dan explicit
knowledge. Tacit knowledge sering kali berupa informal dari keterampilan teknis ,
sehingga sulit untuk di definisikan secara jelas. Selain itu pengetahuan tacit
memiliki dimensi kognitiff yang penting, berupa model mental, keyakinan dan
pandangan-pandangan yangbegitu menyatu yang membuat seseorang
menggunakannya tanpa pernah mempertanyakannya. Karena itu tacit knowledge
sulit untuk dijelaskan.
22
Explicit knowledge adalah knowledge yan dapat atau sudah terkodifiasi
dalam bentuk dokumen atau bentuk berwujud lainnya sengga dapat mdah di
bagikan dan didistribusikan dengan menggunakan media (formula, kaset/ cd,
video dan audio, spesifikasi produk atau manual). Dalam upaya meingkatkan daya
saing organisasi bisnis atau organisasi public, diperukan pengeolaan pengetahuan,
disamping pengelolaan keterampilan yang sesuai dengan kompetensi, sesuai
dengan kebutuhan organisasi.
Alvin (2011:20) menjelaskan mengenai konversi pengetahuan yang
dikemukakan oleh Nonaka dan Takeuchi, melalui empat jenis proses konversi
yang disebut dengan SECI Process (S: Socialization, E: Externalization, C:
Combination, I: Internalization) seperti pada gambar berikut ini:
Tacit Knowledge Explicit Knowledge
T<->T T -> E
Tacit Knowledge
Sosialisasi Eksternalisasi
Explicit E ->T E <-> E
Knowledge Internalisasi Kombinasi
Sumber : Ikujiro Nonaka dan Takeuchi (dalam Alvin, 2011:20)
Gambar 2.1
Empat Model Konversi Pengetahuan
23
Konversi pengetahuan ini merupakan siklus hidup dan berkembangnya
suatu pengetahuan. Penjelasan konversi pengetahuan adalah sebagai berikut :
1. Proses Sosialisasi
Proses transfer secara langsung antara tacit knowledge ke tacit
knowledge lain. Praktis tanpa media.
2. Proses Eksternalisasi
Mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge melalui proses
dialog dan refleksi.
3. Proses Kombinasi
Merupakan proses konversi explicit knowledge menjadi explicit
knowledge yang baru melalui sistemasi dan pengaplikasian explicit
knowledge dan informasi
4. Proses Internalisasi
Merupakan proses pembelajaran dan akuisisi knowledge yang
dilakukan oleh anggota organisasi terhadap explicit knowledge yang
disebarkan kesluruh angota organisais melalui pengalaman sendiri
sehingga menjadi tacit knowledge anggota organisasi.
[Link]. Menumbuhkan Budaya Knowledge sharing
Menurut Nungky (dalam Suhitarini dan Togar, 2009), ada beberapa hal
yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan budaya berbagi pengetahuan
diantaranya:
1. Menciptakan know-how dimana setiap pegawai berkesempatan dan
bebas menentukan cara baru untuk menyelesaikan tugas dan berinovasi
24
serta peluang untuk mensinergikan pengetahuan eksternal kedalam
institusi.
2. Menangkap dan mengidentifikasi pengetahuanyang dianggap bernilai
dan direpresentasikan dengan cara yang logis.
3. Penempatan pengetahuan yang baru dalam format yang mudah diakses
oleh seluruh pegawai dan pejabat.
4. Pengelolaan pengetahuan untuk menjamin kekinian informasi agar
dapat direview untuk relevansi dan akurasinya.
5. Format pengetahuan yang disediakan di portal adalah format yang user
friendly agar semua pegawai dapat mengakses dan mengembangkan
setiap saat.
Kemampuan organisasi dalam mendorong knowledge sharing karyawan
menjadi sangat penting, karena melalui knowledge sharing, knowledge dapat
disebarkan, dimplementasikan dan dikembangkan. Disisi lain, sharing
merangsang individu di dalam organisasi untuk dapat berpikir secara kritis dan
kreatif, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan knowledge baru yang berguna
bagi perusahaan. (Lindsay dalam Hilmi et., al., 2009)
2.1.2 Absorptive Capacity
[Link] Pengertian Absorptive Capacity
Absorptive capacity memiliki peranan penting dalam memperbaharui
pengetahuan dasar perusahaan dan keahlian yang diperlukan untuk bersaing.
Perusahaan yang fleksibel dalam menggunakan sumber daya dan kapabilitasnya
25
dapat mengkonfigurasikan kembali sumber daya dasar yang mereka miliki untuk
memperoleh keuntungan dari kesempatan strategis yang muncul.
Cohen dan Levinthal (dalam Tiurma dan Nungki, 2010), absorprive
capacity adalah organizational capacity to treat and learn from external
knowledge – crirical for innovation.
Selanjutnya dijelaskan kembali oleh Cohen dan Levinthal (dalam Eliada,
2008), absorptive capacity seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya
ditujukan untuk memperoleh dan mengasimilasi tapi juga untuk menggunakan
knowledge.
Kemampuan seorang individu untuk mengevaluasi dan memanfatkan
knowledge yang berasal dari luar dengan lebih baik merupakan tingkatan fungsi
dari knowledge terdahulu yang saling berhubungan.
Knowledge terdahulu yang saling berhubungan ini memberikan suatu
kemampuan untuk mengenali nilai knowledge baru dan untuk mengasimilasi dan
menerapkan pengaturan baru. Secara spesifik, knowledge terdahulu tersebut dapat
mencakup keahlian dasar, pembagian bahasa, atau knowledge apapun dari
perkembangan teknologi atau perkembangan ilmiah yang paling terbaru pada
bidang yang berkaitan.
Kwok dan Gao (dalam Lenny, 2011) meyakini bahwa individu
membutuhkan absorptive capacity sampai tingkatan tertentu sebelum memiliki
keinginan untuk bersikap mendukung perilaku berbagi pengetahuan.
26
Duro Kutlaca (2008), Absorptive capacity is the ability to absorb new
knowledge and adapt imported technologies.
Kapasitas penyerapan pengetahuan didefinisikan sebagai efektifitas
kapasitas penyerapan pengetahuan, kemampuan untuk mengenali manfaat dari
pengetahuan baru yang berasal dari luar dirinya, mengasosiasikannya dengan
pengetahuan yang sudah dimilikinya, dan memanfaatkan gabungan pengetahuan
tersebut untuk mencari solusi suatu masalah yang merupakan fungsi dari
pengetahuan dasar yang dimiliki sebelumnya dan intensitas usaha seseorang
dalam menambah kapasitas penyerapan pengetahuannya
Secara spesifik Zahra dan George (dalam Eliada, 2008) menjelaskan :
“Absorptive capacity mencerminkan satu macam dari hubungan
kemampuan individual yang dapat mempengaruhi kinerja dari individu dari
pembelajaran dan pemakaian knowledge. “
Oleh karenanya, absorptive capacity seseorang ditentukan oleh knowledge
yang dahulu telah dimilikinya. Individu-individu telah membentuk absorptive
capacity-nya sendiri sebelum mereka terlibat dengan suatu aktivitas dari sharing
knowledge. Antara individu yang satu dengan yang lainnya akan dapat berbeda
level absorptive capacity-nya, hal tersebut antara lain dikarenakan adanya
perbedaan kondisi seperti pengalaman profesional atau latar belakang pendidikan.
Untuk memiliki tingkat kapasitas penyerapan pengetahuan yang
dibutuhkan tersebut, seorang perlu mengetahui berbagai jenis pengetahuan atau
topik (aspek keluasan pengetahuan), dan juga perlu menguasai dengan mendalam
suatu jenis pengetahuan tertentu (aspek kedalaman pengetahuan). Demikian pula
dalam perannya sebagai penerima pengetahuan, ia perlu mengetahui berbagai
27
jenis pengetahuan walaupun hanya gambaran besarnya saja, untuk dapat
menghubungkannya dengan pengetahuan yang ia kuasai saat ini.
[Link]. Pengembangan Absorptive Capacity
Salah satu komponen adaam absorptive capacity adalah akuisisi. Akuisisi
merupakan pengembangan atau penambahan pengetahuan dari berbagai sumber.
Menurut Ismail Nawawi (2012:71), organisasi dapat memperoleh pengetahuan
dari dalam organisasi yaitu :
1. Menyerap pengetahuan yang berasal dari anggota organisasi
2. Belajar dari pengalaman anggota organisasi maupun pengalaman
organisasi itu sendiri
3. Menerapkan proses perubahan yang terus-menerus
Selain dari dalam organisasi, pengembangan pengetahuan pun dapat
diperoleh dari luar organisasi melalui beberapa metoda, antara lain sebagai
berikut,
1. Patok duga (baenchmarking) dari organisasi lain
2. Menghadiri kegiatan seminar, konferensi, lokakarya, dan lainnya
3. Menyewa konsultan
4. Mengikuti pelatihan dan pendidikan
5. Membaca berbagai materi hasil catakan, misalnya surat kabar, e-mail,
dan berbagai terbitan jurnal
6. Menonton televisi, video, dan film
28
7. Pengamatan beragai kecenderungan persoalan ekonomi, social dan
teknologi keterampilan tertentu
8. Berkolaborasi dengan organisasi lain, membangun aliansi berbagai
kerja sama
Dalam upaya pengembangan pengetahuan, organisasi perlu
memperhatikan hal yang berhubungan denga kebutuhan pengetahuan dalam
oranisasi. Hal ini dilakukan agar dapat meminmalisir pengetahuan yang tidak
sesuai dengan kebutuhan.
2.1.3 Innovation Capability
[Link] Pengertian Innovation Capability
Untuk mencapai keunggulan bersaing terutama di pasar bebas, maka
berbagai macam usaha akan ditempuh oleh perusahaan-perusahaan. Inovasi
merupakan salah satu dari beragam cara yang digunakan oleh perusahaan untuk
tetap eksis atau survive.
Inovasi berangkat dari ide. Berasal dari mana saja, karyawan, pemilik
perusahaan, atau manajemen. Ketika karyawan meyakini bahwa mereka, dan
pemilik perusahaan, memiliki hak kepemilikan ide, mereka dapat memilih untuk
tetap memegang idenya dan tidak menyerahkannya kepada pemilik perusahaan
(Hannah, 2004).
Inovasi diawali dengan ide kreatif. Ide kreatif ini tidak selalu harus berupa
upaya penemuan atau atau pencapaian sesuatu yang “besar” namun dapat juga
berwujud upaya perubahan kecil untuk memperbaiki praktek yang sedang berlaku.
29
Menurut West (2000) inovasi adalah :
“Pengenalan cara baru yang lebih baik dalam mengerjakan berbagai hal di
tempat kerja. Inovasi tidak mengisyaratkan pembaharuan secara absolut dan
perubahan bisa dipandang sebagai suatu inovasi jika perubahan tersebut dianggap
baru bagi seseorang, kelompok, atau organisasi yang memperkenalkannya.
Inovasi bisa bervariasi yaitu dari inovasi kecil sampai inovasi yang sangat
penting. “
Carnegie dan Butlin (dalam Avanti Fontana, 2007) mendefinisikan
inovasi:
“Sebagai sesuatu yang baru atau ditingkatkan yang dihasilkan oleh
perusahaan guna menciptakan nilai tambah yang signifikan baik secara langsung
atau tidak langsung yang memberi manfaat kepada perusahaan.”
Salah satu penentu utama inovasi adalah tantangan dalam lingkungan
organisasi, karena organisasi inovasi memberi tekanan kuat pada kualitas, dan
dukungan manajerial untuk inovasi dan sangat menentukan apabila seluruh
individu ingin mengembangkan dan mengimplementasikan ide mengenai cara
baru yang lebih baik dalam mengerjakan berbagai hal. Mengembangkan inovasi
di tempat kerja dimulai dengan mengembangkan kreativitas individu, sedangkan
ide baru berasal dari motivasi, pemikiran, dan implementasi oleh individu di
tempat kerja.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa
kemampuan berinovasi (innovation capability) merupakan eksploitasi gagasan –
gagasan baru yang diupayakan agar berhasil meraih sukses. Interaksi antara
penggagas, pelaksana dan pengguna inovasi dapat menjadi sebuah mekanisme
dinamis, terjadi transfer nilai (value) di antara elemen inovasi yang saling
mengumpan maju (fedforward) dan mengumpan balik (fedback) Menurut
30
Terziovski (2007), kemampuan inovasi ini menyediakan potensi bagi munculnya
inovasi yang efektif.
Lebih lanjut Lawson dan Samson (2001) menjelaskan tentang kemampuan
inovasi :
“ Kemampuan inovasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mentransformasikan
secara berkelanjutan pengetahuan dan gagasan ke dalam berbagai bentuk proses,
dan sistem yang baru, bagi keuntungan lembaga dan stakeholder.”
Kebutuhan untuk membentuk konsep kegiatan pembelajaran berfokus
pasar sebagai kapabilitas perusahaan memenuhi kebutuhan pasar serta sekaligus
sebagai daya-saing perusahaan. Kemampuan berinovasi juga sebagai kemampuan
melakukan perubahan dari tingkat kebaharuan dan dari tingkat dampak
perubahan.
Lawson dan Samson (2001) mengartikan kemampuan berinovasi :
“Sebagai kapabilitas integrsai pada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu
kemampuan untuk mengintegrasikan kemampuan dan sumber daya utama
perusahaan untuk merangsang inovasi.”
Inovasi bertujuan menciptakan nila-nilai baru. Inovasi juga dikatakan unik
karena tiap proses didalamnya unik. Apabila definisi tersebut dikaitkan dengan
kemampuan inovasi (innovation capability), dapat dikatakan bahwa pengertian
innovation capability merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
ide-ide kreatif yang berguna bagi organisasi dan dapat berdampak pada
keunggulan yang kompetitif.
31
Organisasi yag berhasil adalah organisasi yang mampu menyesuaikan diri
dengan perubahan dengan menerapkan strategi yang tepat untuk membangun
keunggulan yang kompetitif.
Inovasi dapat dinilai dari besar kecilnya inovasi dan pengaruh yang
mungkin ditimbulkan. Semakin besar inovasinya, maka semakin besar pula :
perubahan, konflik, dan ancaman pada posisi masing-masing individu dalam
organisasi.
Kemampuan dalam berinovasi merupakan proses yang terus menerus dan
tidak pernah berakhir sebab selalu ada potensi pengembangan
[Link]. Proses Penciptaan Inovasi
Daft (dalam Denny, 2006), memandang proses inovasi sebagai proses yang
melibatkan lima tahap/unsur, yaitu sebagai berikut:
1. Kebutuhan
Suatu kesenjangan kinerja dikenali dan alternatif inovasi
dipertimbangkan.
2. Ide
Suatu ide cara kerja baru yang lebih baik diketengahkan. Ide ini
kemudian disesuaikan dengan kebutuhan.
3. Adopsi
Terjadi ketika para pembuat keputusan mendukung implementasi ide
yang diajukan.
32
4. Implementasi
Terjadi ketika anggota organisasi mulai menggunakan ide, teknik, atau
proses baru tersebut pada praktek, dalam pekerjaan mereka.
5. Sumber-sumber
Energi manusia dan kegiatan diperlukan untuk menghasilkan
perubahan.
Sedangkan menurut Dennis (dalam Deri Elvira, 2007) proses penciptaan
inovasi memerlukan empat tahap, yaitu:
4
3
Pengajuan gagasan (idea generation)
2
1 Evaluasi
Pengembangan
Implementasi
Sumber: Deri Elvira, 2007
Gambar 2.2
Proses Penciptaan Inovasi
Tahapan ini dimulai dari :
1. Pengajuan gagasan, yaitu mempunyai ide lebih dulu
2. Evaluasi adalah memilih gagasan-gagasan yang ingin ditindaklanjuti
33
3. Pengembangan yaitu memperbaiki gagasan tersebut dari konsep
menjadi realitas yang menghasilkan sesuatu
4. Implementasi yaitu mengupayakan gagasan tersebut
[Link]. Meningkatkan Kemampuan Inovasi
Dalam era globalisasi persoalan-persoalan yang muncul harus diantisipasi
dengan meningkatkan kemampuan inovasi diantaranya :
1. Teknologi merupakan kekuatan pendorong terhadap inovasi dan
kesuksesan. Teknologi memang merupakan salah satu sumber inovasi,
akan tetapi bukanlah satu-satunya.
2. Proyek yang besar akan lebih mengembangkan masalah inovasi daripada
proyek kecil. Akan tetapi, dalam kenyataanya, mitos ini sudah tidak
terpakai lagi. Pada zaman era globalisasi sekarang ini, semakin banyak
perusahaan kecil cenderung membuat tim-tim kecil yang mempermudah
para pegawainya untuk menelorkan gagasan-gagasan, ide-ide, dan
sebagainya.
3. Spesifikasi teknis sebaiknya dipersiapkan secara lengkap. Akan tetapi
kenyataannya sering menggunakan pendekatan dengan uji coba dan
revisinya.
4. Inovasi harus direncanakan terlebih dahulu dan dapat diperkirakan. Tetapi
kenyataannya tidak dapat diprediksi dan dapat dilakukan oleh setiap orang
dalam melakukan inovasi .
5. Ada kreativitas yang tergantung pada mimpi-mimpi dan gagasan gagasan
yang mengawang-ngawang. Akan tetapi, kenyataannya orang yang sangat
34
praktis mengambil peluang peluang yang tercecer dari realitas dan bukan
impian.
[Link]. Sumber Penerapan Kemampuan Inovasi
Dorongan untuk berinovasi merupakan alat yang sangat spesifik. Oleh
karena itu, perusahaan harus memahami dan dapat mengembangkan inovasi-
inovasi sebagai elemen utama. Sebagian besar gagasan inovasi muncul lewat
analisis metodologi peluang-peluang yang ada, baik yang terdapat di dalam,
maupun di luar perusahaan.
Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi sumber penerapan
kemampuan inovasi (Howel dan Heggins,1990) sebagai berikut:
1. Kejadian yang tidak diharapkan
Ada dua hal yang sering muncul dalam usaha, yaitu kesuksesan dan
kegagalan yang lahir begitu saja tanpa pernah diantisipasi dan diramalkan
sebelumnya Kegagalan dan kegagalan biasanya tidak diharapkan, akan
tetapi hal ini sama pentingnya karena bisnis sering mengabaikannya,
bahkan membencinya. Kegagalan ini sebenarnya dapat menjadi sumber
peluang inovasi. Hal inilah yangakan menjadi dasar kuat bagi perusahaan
2. Ketidakharmonisan
Peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan dapat menjadi sumber peluang
yang mudah dan disederhanakan. Hal ini bisa terjadi karena ada jurang
pemisah antara yang diharapkan dengan yang sebenarnya terjadi.
3. Proses sesuai dengan kebutuhan
35
Hal ini dapat terjadi jika permintaan khusus. Untuk menciptakan inovasi
tertentu, karena ada kebutuhan khusus.
4. Perubahan pada industri
Industri selalu berkembang berdasarkan perkembangan yang selalu
berubah-ubah secara struktural, desain, dan definisi.
5. Perubahan demografi
Perubahan demografis merupakan sumber peluang inovasi yang paling
handal di luar perusahaan. Di sini inovasi akan muncul karena adanya
perubahan pada masyarakat tentang jumlah penduduk, umur, pengetahuan,
pendidikan, pekerjaan, lokasi geografis, dan faktor-faktor lainnya.
6. Perubahan persepsi
Adanya sumber peluang inovasi, berbagai rupa keganjilan, dapat menjadi
sumber peluang inovasi. Di sini inovasi akan muncul karena adanya
perubahan interpretasi yang terjadi di masyarakat akan fakta-fakta yang
ada dan konsep yang berlaku
7. Konsep pengetahuan dasar
Pengetahuan baru, apakah itu pengetahuan ilmiah, teknis atau social
merupakan sumber peluang yang paling produktif. Di sini ada beberapa
prinsip yang mendasari kreasi dan inovasi, serta Invensi. Invensi
merupakan salah satu konsep pengetahuan dasar karena adanya hasil
pemikiran baru.
36
2.1.4. Hasil Penelitian Sebelumnya
Tabel 2.1
Hasil Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Penelitian Hasil penelitian Perbedaan Persamaan
1. Tiurma K.F.P Gitanauli, Pengaruh Knowledge Absorptive capacity Menggunakan Terdapat
Ningky Sasanti Munir sharing dan berpengaruh signifikan dua objek kesamaan dalam
(Jornal of Management Absorptive Capacity terhadap innovation penelitian yaitu variabel ini yaitu
and Business Review, terhadap Innovation capability dan knowledge direktorat menggunakan
Vol. 7, No. 1, Januari Capability pada sharing bepengaruh corporate service knowledge
2010) Direktorat Corporate secara signifikan dan dirktorat sharing dan
Service dan terhadap absorptive marketing absorptive
Direktorat Marketing capacity dan knowledge capacity
di PT. Indosat TBk sharing berpengaruh terhadap
signfikan terhadap innovation
absorptive capacity. capability
Hubungan antara
knowledge sharing dan
innovation capability
dimoderasi oleh
absorptive capacity
37
2. Luciana Andrawina, Hubungan antara Knowledge sharing Penelitian ini Terdapat
Rajesri Govindaraju, Knowledge sharing capability berpengaruh menggunakan kesamaan dalam
T.M.A. Ari Samadhi and Capability, signifikan terhadap mekanisme variable
Iman Sudirman (Jurnal Absorptive Capacity potential absorptive formal sebagai independen
Teknik Industri Vol. 10 dan Mekanisme capacity, kemampuan variable knowledge
No. 2 Desember 2008 : Formal: Studi Kasus perusahaan dependen sharing dan
158 – 170.) Industri Teknologi mengakuisisidan absorptive
Informas dan mengasimilasi capacity
Komunikasi di berpengaruh signifikan
Indonesia terhadap kemampuan
mentransformasi dan
mengeksplotasi
pengetahuan.
3. Hilmi Aulawi, Rajesri Hubungan Knowledge sharing Penelitian yang Menggunakan
Govindaraju, Knowledge sharing berpengaruh positif ini hanya variabel
Kadarsah Suryadi, dan Behavior dan terhadap peningkatan menggunakan independen
Iman Sudirman Individual Innovation kemampuan inovasi dua variabel knowledge
(Jurnal teknik industri, Capability individu. sharing dan
Vol. 11, No.2, Desember (Jurnal Teknik Proses tacit Knowledge variabel
2009) Industri Vol. 11 No. sharing yang dinilai dependen yaitu
2 Desember 2009, pp paling efektif adalah indivdual
174 – 187.) yang dilakukan dalam innovation
bentuk informal. capability
4. Lenny Martini, Jann Berbagi Pengetahuan Adanya hubungan Penelitian ini variabel
Hidajat Tjakraatmadja diInstitusi Akademik pengaruh yang signifikan hanya independen yang
antara kekayaan saluran menggunakan diteliti adalah
(Jurnal Manajemen terhadap keinginan untuk satu variabel berbagi
Teknologi, Volume 10 berbagi yaitu berbagi pengetahun
Number 2 2011) pengetahuan. Sementara pengetahuan
hubungan antara
kekayaan saluran dengan
kapasitas penyerapan
pengetahuan serta
hubungan antara
kapasitas penyerapan
pengetahuan dengan
keinginan berbagi
pengetahuan.
5. Suhitarini Soemarto Putri, Knowledge Portal KMS Dinas Sosial Penelitian ini Terdapat
Togar Harapan management system: diharapkan mampu terfokus kepada kesamaan yaitu
Pangaribuan Knowledge sharing memfasilitasi tumbuh system yang knowledge
(Seminar Nasional culture di Dinas kembangnya budaya digunakan untuk sharing sebagai
Aplikasi Teknologi Sosial Provinsi DKI saling berbagi penerapan salah satu factor
Informasi 2009 (SNATI Jakarta pengetahuan (share budaya yang diteliti
2009) ISSN: 1907-5022 knowledge) sehingga knowledge
Yogyakarta, 20 Juni dapat menciptakan sharing
2009) pengetahuan baru yang
kompetitif, decission
support system, sarana
penyampaian aspirasi
dan penyimpanan
dokumen elektronik.
6 Wesley M. Cohen and Absorptive Capacity: Focuses on the Penelitian ini Terdapat
Daniel A. Levinthal A New Perspective implications of menggunakan kesamaan yaitu
38
(Administrative Science on Learning and absorptive satu vaiabel yaitu dalam peneitian
Quarterly, Vol. 35, No. 1, Innovation capacity for the analysis Absoptive ini
Special Issue: of other related Capacity menggunakan
Technology, innovative absorptive
Organizations, and activities, including basic capacity sebagai
Innovation. (Mar., 1990), research, the adoption focus dalam
pp. 128-152.) and diffusion penelitian
of innovations, and
decisions to participate
in cooperative
R&D ventures..
7. Eliada Herwiyanti Pengaruh Extrinsic Hasil uji beda dengan Penelitian ini Kesamaan
Motivation, mempertimbangkan menggunakan terdapat pada
Absorptive Capacity, pengaruh gender ternyata empat variabel variabel
Dan Channel menunjukkan tidak yang terdiri dari independen dua
Richness Terhadap adanya perbedaan tiga variabel yang diteliti
Sikap Individu Atas signifikan untuk variabel independen yaitu yaitu absortive
Perilaku Sharing extrinsic motivation, Extrinsic capacity
Knowledge absorptive capacity, dan Motivation,
sharing knowledge, Absorptive
hanya variabel channel Capacity,
richness Channel
Richness dan
satu variabel
dependen yaitu
Sharing
Knowledge
8. Shu-Hsien. Liao, Chi- Knowledge Indicate that absorptive Penelitian ini Kesamaannya
Chuan. Wu, Da-Chian. Acquisition, capacity is the mediator menggunakan menggunakan
Hu, and Guang An. Tsuei Absorptive Capacity, between knowledge knowledge variabel
and Innovation acquisition and acquisition independen dua
(International Journal of Capability: An innovation capability, sebagai variabel yaitu absorptive
Human and Social Empirical Study and that knowledge independen capacity dan
Sciences 5:12 2010) of Taiwan's acquisition pertama variabel
Knowledge-Intensive has a positive effect on dependen
Industries absorptive capacity. innovation
capability
sebagai
bahasannya
2.2 Kerangka Pemikiran
Seiring dengan majunya suatu perusahaan, maka apabila perusahan ingin
terus konsisten dan terus bisa tetap berkelanjutan serta mampu bersaing maka
perusahaan harus bisa menghasilkan karyawan yang selalu mencptakan inovasi,
hal ini yang meupakan faktor kunci bagi suatu perusahaan untuk dapat bertahan
39
dalam persaingan yang ketat. Salah satu upaya yang dipandang efektif dalam
meningatkan kemampuan inovasi karyawan adalah melalui pengembangan
aktivitas knowledge sharing, karena melalui aktivitas tersebut knowledge dapat
disebarkan, diimplementasikan dan dikembangkan.
Melalui knowledge sharing terjadi peningkatan value dari knowledge yang
dimiiki oleh perusahaan. Seseorang melakukan knowledge sharing tidak akan
kehilangan knowledge yang dimilikinya, tetapi justru melipat gandakan nilai dari
knowledge tersebut, apabila sudah dimiliki, dapat dimanfaatkan oleh banyak
orang (Tobing dalam Ismail Nawawi, 2012).
Berbagi informasi dan sumber daya juga akan meningkatkan penerimaan
ide-ide baru dan inovasi dalam perusahaan. Begitupula Keterbukaan dan
keterlibatan dalam pengambilan keputusan akan memfasilitasi komitmen manajer
untuk inovasi.
Knowledge sharing dapat merangsang individu untuk berfikir lebih kritis
dan kreatif sehingga dapat menghasilkan knowledge baru yang berguna bagi
perusahaan dan menciptakan innovation capability melalui absortive capability.
Absorptive capacity memainkan peranan penting dalam memperbaharui
pengetahuan dasar perusahaan dan keahlian yang diperlukan untuk bersaing dalam
pasar yang dinamis. Perusahaan-perusahaan yang fleksibel dalam menggunakan
sumber daya dan kapabilitasnya dapat mengkonfigurasikan kembali sumber daya
dasar yang mereka miliki untuk memperoleh keuntungan dari kesempatan
strategis yang muncul. Terdapat faktor internal perusahaan yang mempengaruhi
kemampuan perusahaan menyerap pengetahuan.
40
2.2.1 Pengaruh Knowledge Sharing Terhadap Absorptive Capacity
Berdasakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Liao et al (dalam Luciana
et al, 2008), Knowledge sharing berpengaruh terhadap absorptive capacity para
karyawan. Melalui knowledge sharing akan membentuk potensi besar terhadap
stock knowledge yang dimiliki oleh karyawan untuk bersinergi membentuk
pemahaman baru. Proses knowledge sharing dianalogikan dengan transmisi
pengiriman pesan pada proses komunikasi, yaitu dari pengirim kepada penerima.
Pengetahuan saat ini dipandang sebagai sumber daya strategis yang penting bagi
perusahaan untk dapat memiliki keungglan bersaing. Kesuksesan perusahaan
menghasilkan keunggulan bersaing tergantung pada kemampuan perusahaan
mengakuisisi dan mengasimilasi pengetahuan dan mentrasformasi dan
mengeksploitasi pengetahuan.
Kapasitas penyerapan pengetahuan pada dasarnya dimiliki oleh setiap
individu dan dihipotesiskan berperan dalam proses berbagi pengetahuan, baik
dalam peran individu tersebut sebagai contributor maupun sebagai penerima
pengetahuan. Sebagai kontributor pengetahuan, individu perlu memiliki kapasitas
penyerapan pengetahuan sampai tingkat tertentu untuk membuat ia dapat
menghubungkan pengetahuan yang akan ia bagikan sesuai dengan konteks
penerima sehingga penerima yang juga memiliki kapasitas penyerapan
pengetahuan pada tingkat tertentu dapat melihat manfaat dari pengetahuan baru
yang ia terima untuk dirinya sebagai sumber inovasi atau solusi dari permasalahan
yang dihadapi, sehingga penerima pengetahuan berkeinginan untuk berpartisipasi
aktif dalam aktivitas berbagi pengetahuan (Lenny dan Jann, 2011)
41
Pengetahuan akan memberi peran terhadap absorptive capacity apabila
terjadi aktivitas saling bertukar atau berbagi pengetahuan diantara karyawannya.
Untuk mengelola pengetahuan yang ada dibutuhkan kegiatan yang dapat
menfasilitasi hal tersebut, yaitu dengan knowledge sharing (Tiurma dan Nungki,
2010).
Selanjutnya Ismail Nawawi (2012:87) juga menyatakan bahwa Transfer
pengetahuan atau knowledge sharing pada dasarnya mencakup dua tindakan, yaitu
pengirima atau memberikan pengetahuan kepada penerima yang potensial
(transmisi) dan penyerapan oleh seseorang atau kelompok (absorptive).
2.2.2. Pengaruh Absorptive Capacity terhadap Innovation Capability
Seseorang yang memiliki dasar pengetahuan yang beragam dapat semakin
mudah menghubungkanpengetahuan yang ingin ia bagikan dengan konteks
penerima, dan ia juga akan semakin mudahmenghubungkan pengetahuan baru
yang ia terima dengan pengetahuan yang menjadi keahliannyaatau pengetahuan
lain yang ia telah miliki sebelumnya sehingga selain aspek keluasan
ataukeberagaman dan kedalaman pengetahuan, kapasitas berbagi pengetahuan
juga ditentukan olehusaha seseorang dalam menambah pengetahuannya, misalnya
untuk akademisi dengan menghadirikonferensi, melakukan penelitian, menulis
jurnal, artikel, buku dan lainnya. Seluruh usaha ini akan menambah pengetahuan
yang dimiliki oleh seorang individu, baik itu dalam keahliannnya maupun diluar
keahliannya dan pada prinsipnya dapat meningkatkan kapasitas penyerapan
42
pengetahuan. memanfaatkan gabungan pengetahuan tersebut untuk solusi masalah
atau melahirkan inovasi (Lenny dan Jann, 2011).
Keterkaitan antara Absorptive Capacity terhadap Innovation Capability ini
dikemukakan juga oleh Tiurma dan Nungki (2010:67), absorptive capacity akan
menghasilkan innovation capability apabila perusahaan mampu mengeksploitasi
external knowledge yang dimiliki para individunya. Pernyataan ini dikuatkan
dengan hasil penelitiannya yaitu, absorptive capacity memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap innovation capability sebesar 121% sehingga absorptive
capacity memiliki pengaruh yang positif terhadap innovation capability.
Berdasarkan hasil persamaan model struktural oleh Model 2, absorptive capacity
memiliki pengaruh signifikan terhadap innovation capability sebesar 118,81&%.”
2.2.3. Pengaruh Knowledge sharing terhadap Innovation Capability
Melalui Absorptive Capacity
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tiurma dan Nungky
(2010:59). Absorptive capacity berpengaruh signifikan terhadap innovation
capability, dan knowledge sharing berpengaruh signifikan terhadap absorptive
capacity. Hubungan knowledge sharing dan innovation capability dimediasi oleh
absorptive capacity. Absorptive capacity merupakan mediator (perantara) antara
aktivitas knowledge sharing dengan innovation capability.
Proses berbagi pengetahuan menjadi media dalam menciptakan semangat
untuk berinovasi dengan mentransfer pengetahuan antara individu-individu untuk
meningkatkan kompetensi individu dalam membuat inovasi bermanfaat dalam
mendukung penciptaan nilai perusahaan (Marr dkk., 2009). Proses memberi dan
43
menerima, meningkatkan, dan melakukan inovasi setiap individu akhirnya akan
mempengaruhi peningkatan kemampuan inovasi perusahaan (Plessis, 2007)
Kemampuan perusahaan untuk mentransformasi dan mengeksploitasi
pengetahuan dapat menentukan tingkat inovasi organisasi, seperti lebih cepat
pemecahan masalah kemampuan dan reaksi cepat ditingkatkan untuk informasi
baru. Banyak menekankan pentingnya berbagi pengetahuan untuk meningkatkan
kemampuan inovasi (Liebowitz, 2002; Lin, 2006). Kegiatan sharing yang
dilakukan oleh anggota organisasi dapat peningkatan kemampuan inovasi
organisasi.
Dengan melihat hasil penelitian terdahulu dalam tabel yang diatas, maka
didapat paradigma penelitian. Hubungan di antara variabel-variabel tersebut
ditunjukkan pada gambar berikut ini
Tiurma dan Nungky (2010:59)
Tiurma
KNOWLEDGE SHARING Lenny ABSORPTIVE INNOVATION
dan
(X) dan CAPACITY CAPABILITY
1. Peranan kepimpinan (Y) Nungky (Z)
Jann,
2. Iklim kepercayaan dan 1. Employees ability (2010:67) 1. Kreativitas dan
2011
ketebukaan 2. Employees motivation Manajemen gagasan
3. Penghargaan terhadap 2. Manajemen Teknologi
knowledge, Zahra and George (2002), 3. Individu/ Kelompok
pembelajaran dan 4. Iklim Inovasi dan Visi
inovasi 5. Proses Belajar Interaktif
Tobing (dalam Ismail Terziovski; 2007, Susanti;
Nawawi, 2012:169) 2010, James Brian Quinn;
2004
Gambar 2.3
Paradigma Penelitian
2.3 Hipotesis
44
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka dibutuhkan suatu pengujian
hipotesis untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel independent
terhadap variabel dependent.
Hipotesis adalah jawaban sementara yang secara teoritis dianggap paling
mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya.
Dugaan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara
yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
H1 = Knowledge sharing pada PT. Mitra Rajawali Banjaran cukup baik
H2 = Innovation Capability pada PT. Mitra Rajawali Banjaran cukup baik
H3 = Absorptive Capacity pada PT. Mitra Rajawali Banjaran cukup baik
H4 = Knowledge sharing berpengaruh terhadap Absorptive Capacity
pada PT. Mitra Rajawali Banjaran
H5 = Absorptive Capacity berpengaruh terhadap Innovation Capability
pada PT. MitraRajawali Banjaran
H6 = Knowledge sharing berpengaruh secara langsung dan tidak langsung
terhadap Innovation Capability melalui Absorptive Capacity pada PT.
Mitra Rajawali Banjaran