0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan30 halaman

Arti dan Pengelolaan Knowledge Sharing

Dokumen ini membahas kajian pustaka mengenai knowledge sharing dan absorptive capacity dalam konteks penelitian. Knowledge sharing dianggap penting untuk kesuksesan organisasi dan melibatkan proses berbagi pengetahuan antara individu dan organisasi. Selain itu, absorptive capacity diartikan sebagai kemampuan organisasi untuk menyerap dan memanfaatkan pengetahuan baru dari luar, yang penting untuk inovasi dan daya saing.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan30 halaman

Arti dan Pengelolaan Knowledge Sharing

Dokumen ini membahas kajian pustaka mengenai knowledge sharing dan absorptive capacity dalam konteks penelitian. Knowledge sharing dianggap penting untuk kesuksesan organisasi dan melibatkan proses berbagi pengetahuan antara individu dan organisasi. Selain itu, absorptive capacity diartikan sebagai kemampuan organisasi untuk menyerap dan memanfaatkan pengetahuan baru dari luar, yang penting untuk inovasi dan daya saing.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

2.1. Kajian Pustaka

Kajian pustaka berisi studi pustaka terhadap buku, artikel, jurnal ilmiah,

penitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik penelitian. Uraian kajian

pustaka diarahkan untuk menyusun kerangka pemikiran atau konsep yang akan

digunakan dalam penelitian. Adapun tinjauan pustaka pada penelitian ini meliputi

knowledge sharing, innovation capability dan absorptive capacity.

2.1.1. Knowledge sharing

[Link]. Pengertian Knowledge sharing

Knowledge sharing baik yang bersifat spontan, terstruktu maupun tidak

terstruktur merupakan hal yang sangat vital bagi kesuksesan organisasi.

Knowledge sharing merupakan salah satu aktivitas dalam knowledge management

Sebuah organisasi seyogyanya mengembangkan tenaga kerja untuk mengelola dan

menyusun pengetahuan yang dimilikinya.

Pengombinasian atau pengintegrasian pengetahuan akan mengurangi

pengetahuan yag terlalu berlebihan dan tidak terkoordinasi, meningkatkan

gambaran pengetahuan dengan konsisten, serta akan menngkatkan efisiensi

dengan mengurangi volume yang berlebihan. Perbedaan pengetahuan dari

berbagai macam individu semestinya diintegrasikan untk memaksiamalkan

efisiensi. Oleh karena itu tugas utama organisasi adalah mengintegrasikan

15
16

pengeahuan khusus dari induvidu-individu yang berbeda melalui knowledge

sharing.

Terdapat beberapa pengertian knowledge sharing yang disampaikan oleh

beberapa ahli, sebagai berikut :

1. Lin, 2007

Berbagi pengetahuan dapat didefinisikan sebagai budaya interaksi sosial

yang melibatkan mentransfer pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan

antara anggota organisasi. Semua jenis berbagi pengetahuan dapat terjadi

di kedua tingkat, individu (anggota organisasi) dan organisasi itu sendiri.

Pada tingkat individu, berbagi pengetahuan adalah kegiatan komunikasi

untuk semua rekan kerja untuk saling membantu untuk mendapatkan hasil

yang lebih baik dan lebih cepat atau lebih efisien dalam melakukan tugas

organisasi. Untuk organisasi, berbagi pengetahuan adalah proses yang

terhubung ke menangkap, pengorganisasian, menggunakan kembali, dan

mentransfer pengalaman berdasarkan pengetahuan dalam suatu organisasi

dan membuat pengetahuan diakses untuk semua orang yang membutuhkan

itu.

2. Hansen dan Avital (dalam Hilmi A., et al. 2009)

Knowlege sharing dapat dipahami sebagai perilaku dimana seseorang

secara sukarela menyediakan akses terhadap orang lain mengenai

knowledge dan pengalamannya.


17

3. Hoof dan Ridder (2004)

Knowledge sharing merupakan proses dimana individu saling

mempertuarkan pengetahuan mereka (tacit knowledge dan eksplisit

knowedge)

4. Liebowitz, O’Dell dan Grayson, Song (2008).

Knowledge sharing adalah pengumpulan dari semua knowledge yang ada

dari kelompok, tim, divisi dan unit bisnis, dengan tujuan untuk

menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan. Knowledge sharing

merupakan pendekatan yang efektif untuk mencapai keuntungan

kompetitif yang diperoleh dari pemeliharaan organsisasi.

5. Bock dan Kim, 2002a; Bock dan Kim, 2002b (dalam Hilmi A., et al.

2009)

Secara konseptual knowledge sharing dapat didefinisikan sebagai

tingkatan sejauh mana seseorang secara aktual

6. Van den Hoof dan Van Wenen (dalam Tiurma dan Nungki, 2010)

Knowledge sharing sebagai aktivitas para individu saling bertukar

intellectual capital persons. Selain itu Hoof menjelaskan bahwa

knowledge sharing adalah proses dimana para individu saling

mempertukarkan pengetahuan mereka.

7. Szulanski (dalam Luciana 2008)

Defined knowledge sharing as the exchange or transfer process of facts,

opinions, ideas, theories, principles and models within and between


18

organizations including trial and error, feedback and mutual adjustment

of both the sender and receiver of knowledge.

8. Worldbank (2008)

Berbagi pengetahuan sebagai proses menyerap pengetahuan dari penelitian

dan pengalaman secara sistematis, mengelola dan menyimpan

pengetahuan dan informasi untuk kemudahan akses dan memindahkan

atau diseminasi pengetahuan, termasuk dalam perpindahan dua arah.

9. Ismail Nawawi (2012:61)

Knowledge sharing adalah tahapan disseminasi (penyebaran) dan

penyediaan knowledge pada saat yang tepat untuk karyawan yang

membutuhkan

Knowledge sharing dari seorang individu atas sistem informasi atau

teknologi informasi, semakin lama akan dapat memberikan pembaharuan bagi

keseluruhan knowledge suatu organisasi, yang pada gilirannya akan memberikan

karakteristik organisasi yang unik bagi perusahaan pesaingnya dan selanjutnya

dapat meningkatkan kinerja.

[Link]. Pengelolaan Knowledge sharing

Yuliazmi (2005:15) menyebutkan bahwa ada kecenderungan yang muncul

dalam perusahaan adalah bagaimana kegiatan knowledge sharing yang terjadi

bersifat local dan terpisah. Sehingga dibutuhkan pengelolaan untuk mengalirkan

pengetahuan tersebut ke seluruh komponen dalam organisasi untuk memperbaiki


19

kegiatan saling berbagi pengetahuan. Pengelolaan tersebut tersebar menjadi

delapan bagian, yaitu :

1. Knowledge map

Memetakan dimana knowledge berada dalam perusahaan, rincian

mengenai siapa mengetahui apa dan berada dimana

2. Talk space

Menyediakan tempat yang bertujuan untuk memberikan kesempatan

bagi pegawai untuk berbicara denga yang lain dalam suasana informal.

3. Smart office layout

Merancang ruang keja yang dapat memberikan kontribusi bagi

lingkungayan efektif untuk kegiatan pembelajaran.

4. Dedicated knowledge-sharing event

Mengadakan kegiatan “knowledge fair” atau forum untuk saling

berbagi pengetahuan. Memberikan kesempatan bagi pegawai yang

tidak pernah bertemu dalam kegiatan kerja sehari-hari untuk saling

bertukar pengalaman. Dalam hal ini struktur yang tidak terlalu keta

paling baik dalam knowledge sharing, sehingga peserta dapat

menentukan cara masing-masing dalam memenuhi kebutuhannya.

5. Commom language

Factor utama keberhasilan kegiatan knowedge sharing adalah memiliki

“bahasa umum” dalam berkomunikasi dengan seluruh pegawai dalam

suatu perusahaan. Kegiatan ini dimulai dengan membentuk daftar kata


20

pembendaharaannya, kemudian diterjemahkan dalam bahasa yang

dimengerti bersama.

6. Knowledge leader

Menentukan pihak yang dapat menggunakan sumber daya, menguasai

logika dari knowledge sharing, memonitor partisispasi pegawai dan

menjadi contoh dari sikap saling berbagi

7. A change in culture

Menciptakan budaya dimana pegawai sangat ingin membagi

knowledge yang mereka miliki. Hal ini merupakan tantangan

mengingat sifat dasar dari saling berbagi adalaha suka rela. Cara

termudah adalah dengan menghlangkan penghalang dari kegiatan

penyebaran knowledge

8. Room for tension

Hal ini disebut juga dengan fusion, creative abrasion atau creative

tension. Menyatukan pegawai dari bagian yang bebeda untuk bersama-

sama menyelesaikan suatu permasalahan. Hal ini dibutuhkan karena

pembelajaran dan solusi inovatif kerap terjadi saat seseorang

dikondisikan untuk meluaskan pemikiran mereka dalam cara yang

baru.

Dari pemaparan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam upaya

memperbaiki kegiatan saling berbagi pengetahuan melalui pengelolaan yang

dilakukan dengan langkah-langkah diatas dapat menjadi saran bagi karyawan


21

untuk saling berbagi pengetahuan sehingga tercipta pengetahuan baru bagi

organisasi dan karyawan tersebut.

[Link]. Kegiatan Knowledge Sharing

Menurut Bambang Setiaso (2006), secara umum ada lima jenis kegiatan

knowledge sharing yaitu:

1. Di dalam satu kelompok untuk pekerjaan rutin yang serupa dan terus

menerus,

2. Antar dua atau lebih kelompok yang berbeda tetapi melakukan pekerjaan

yang hampir sama,

3. Antar dua atau lebih kelompok, tetapi yang dibagi bersama adalah

pengetahuan tentang pekerjaan non-rutin,

4. Antar organisasi dalam rangka kelangsungan hidup bersama,

5. Dari luar kelompok, ketika menghadapi persoalan yang belum pernah

mereka jumpai.

[Link]. Konversi Pengetahuan Dalam Knowledge Sharing

Pengetahuan terdiri dari dua jenis yaitu tacit knowledge dan explicit

knowledge. Tacit knowledge sering kali berupa informal dari keterampilan teknis ,

sehingga sulit untuk di definisikan secara jelas. Selain itu pengetahuan tacit

memiliki dimensi kognitiff yang penting, berupa model mental, keyakinan dan

pandangan-pandangan yangbegitu menyatu yang membuat seseorang

menggunakannya tanpa pernah mempertanyakannya. Karena itu tacit knowledge

sulit untuk dijelaskan.


22

Explicit knowledge adalah knowledge yan dapat atau sudah terkodifiasi

dalam bentuk dokumen atau bentuk berwujud lainnya sengga dapat mdah di

bagikan dan didistribusikan dengan menggunakan media (formula, kaset/ cd,

video dan audio, spesifikasi produk atau manual). Dalam upaya meingkatkan daya

saing organisasi bisnis atau organisasi public, diperukan pengeolaan pengetahuan,

disamping pengelolaan keterampilan yang sesuai dengan kompetensi, sesuai

dengan kebutuhan organisasi.

Alvin (2011:20) menjelaskan mengenai konversi pengetahuan yang

dikemukakan oleh Nonaka dan Takeuchi, melalui empat jenis proses konversi

yang disebut dengan SECI Process (S: Socialization, E: Externalization, C:

Combination, I: Internalization) seperti pada gambar berikut ini:

Tacit Knowledge Explicit Knowledge

T<->T T -> E
Tacit Knowledge
Sosialisasi Eksternalisasi

Explicit E ->T E <-> E

Knowledge Internalisasi Kombinasi

Sumber : Ikujiro Nonaka dan Takeuchi (dalam Alvin, 2011:20)

Gambar 2.1
Empat Model Konversi Pengetahuan
23

Konversi pengetahuan ini merupakan siklus hidup dan berkembangnya

suatu pengetahuan. Penjelasan konversi pengetahuan adalah sebagai berikut :

1. Proses Sosialisasi

Proses transfer secara langsung antara tacit knowledge ke tacit

knowledge lain. Praktis tanpa media.

2. Proses Eksternalisasi

Mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge melalui proses

dialog dan refleksi.

3. Proses Kombinasi

Merupakan proses konversi explicit knowledge menjadi explicit

knowledge yang baru melalui sistemasi dan pengaplikasian explicit

knowledge dan informasi

4. Proses Internalisasi

Merupakan proses pembelajaran dan akuisisi knowledge yang

dilakukan oleh anggota organisasi terhadap explicit knowledge yang

disebarkan kesluruh angota organisais melalui pengalaman sendiri

sehingga menjadi tacit knowledge anggota organisasi.

[Link]. Menumbuhkan Budaya Knowledge sharing

Menurut Nungky (dalam Suhitarini dan Togar, 2009), ada beberapa hal

yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan budaya berbagi pengetahuan

diantaranya:

1. Menciptakan know-how dimana setiap pegawai berkesempatan dan

bebas menentukan cara baru untuk menyelesaikan tugas dan berinovasi


24

serta peluang untuk mensinergikan pengetahuan eksternal kedalam

institusi.

2. Menangkap dan mengidentifikasi pengetahuanyang dianggap bernilai

dan direpresentasikan dengan cara yang logis.

3. Penempatan pengetahuan yang baru dalam format yang mudah diakses

oleh seluruh pegawai dan pejabat.

4. Pengelolaan pengetahuan untuk menjamin kekinian informasi agar

dapat direview untuk relevansi dan akurasinya.

5. Format pengetahuan yang disediakan di portal adalah format yang user

friendly agar semua pegawai dapat mengakses dan mengembangkan

setiap saat.

Kemampuan organisasi dalam mendorong knowledge sharing karyawan

menjadi sangat penting, karena melalui knowledge sharing, knowledge dapat

disebarkan, dimplementasikan dan dikembangkan. Disisi lain, sharing

merangsang individu di dalam organisasi untuk dapat berpikir secara kritis dan

kreatif, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan knowledge baru yang berguna

bagi perusahaan. (Lindsay dalam Hilmi et., al., 2009)

2.1.2 Absorptive Capacity

[Link] Pengertian Absorptive Capacity

Absorptive capacity memiliki peranan penting dalam memperbaharui

pengetahuan dasar perusahaan dan keahlian yang diperlukan untuk bersaing.

Perusahaan yang fleksibel dalam menggunakan sumber daya dan kapabilitasnya


25

dapat mengkonfigurasikan kembali sumber daya dasar yang mereka miliki untuk

memperoleh keuntungan dari kesempatan strategis yang muncul.

Cohen dan Levinthal (dalam Tiurma dan Nungki, 2010), absorprive

capacity adalah organizational capacity to treat and learn from external

knowledge – crirical for innovation.

Selanjutnya dijelaskan kembali oleh Cohen dan Levinthal (dalam Eliada,

2008), absorptive capacity seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya

ditujukan untuk memperoleh dan mengasimilasi tapi juga untuk menggunakan

knowledge.

Kemampuan seorang individu untuk mengevaluasi dan memanfatkan

knowledge yang berasal dari luar dengan lebih baik merupakan tingkatan fungsi

dari knowledge terdahulu yang saling berhubungan.

Knowledge terdahulu yang saling berhubungan ini memberikan suatu

kemampuan untuk mengenali nilai knowledge baru dan untuk mengasimilasi dan

menerapkan pengaturan baru. Secara spesifik, knowledge terdahulu tersebut dapat

mencakup keahlian dasar, pembagian bahasa, atau knowledge apapun dari

perkembangan teknologi atau perkembangan ilmiah yang paling terbaru pada

bidang yang berkaitan.

Kwok dan Gao (dalam Lenny, 2011) meyakini bahwa individu

membutuhkan absorptive capacity sampai tingkatan tertentu sebelum memiliki

keinginan untuk bersikap mendukung perilaku berbagi pengetahuan.


26

Duro Kutlaca (2008), Absorptive capacity is the ability to absorb new

knowledge and adapt imported technologies.

Kapasitas penyerapan pengetahuan didefinisikan sebagai efektifitas

kapasitas penyerapan pengetahuan, kemampuan untuk mengenali manfaat dari

pengetahuan baru yang berasal dari luar dirinya, mengasosiasikannya dengan

pengetahuan yang sudah dimilikinya, dan memanfaatkan gabungan pengetahuan

tersebut untuk mencari solusi suatu masalah yang merupakan fungsi dari

pengetahuan dasar yang dimiliki sebelumnya dan intensitas usaha seseorang

dalam menambah kapasitas penyerapan pengetahuannya

Secara spesifik Zahra dan George (dalam Eliada, 2008) menjelaskan :

“Absorptive capacity mencerminkan satu macam dari hubungan


kemampuan individual yang dapat mempengaruhi kinerja dari individu dari
pembelajaran dan pemakaian knowledge. “

Oleh karenanya, absorptive capacity seseorang ditentukan oleh knowledge

yang dahulu telah dimilikinya. Individu-individu telah membentuk absorptive

capacity-nya sendiri sebelum mereka terlibat dengan suatu aktivitas dari sharing

knowledge. Antara individu yang satu dengan yang lainnya akan dapat berbeda

level absorptive capacity-nya, hal tersebut antara lain dikarenakan adanya

perbedaan kondisi seperti pengalaman profesional atau latar belakang pendidikan.

Untuk memiliki tingkat kapasitas penyerapan pengetahuan yang

dibutuhkan tersebut, seorang perlu mengetahui berbagai jenis pengetahuan atau

topik (aspek keluasan pengetahuan), dan juga perlu menguasai dengan mendalam

suatu jenis pengetahuan tertentu (aspek kedalaman pengetahuan). Demikian pula

dalam perannya sebagai penerima pengetahuan, ia perlu mengetahui berbagai


27

jenis pengetahuan walaupun hanya gambaran besarnya saja, untuk dapat

menghubungkannya dengan pengetahuan yang ia kuasai saat ini.

[Link]. Pengembangan Absorptive Capacity

Salah satu komponen adaam absorptive capacity adalah akuisisi. Akuisisi

merupakan pengembangan atau penambahan pengetahuan dari berbagai sumber.

Menurut Ismail Nawawi (2012:71), organisasi dapat memperoleh pengetahuan

dari dalam organisasi yaitu :

1. Menyerap pengetahuan yang berasal dari anggota organisasi

2. Belajar dari pengalaman anggota organisasi maupun pengalaman

organisasi itu sendiri

3. Menerapkan proses perubahan yang terus-menerus

Selain dari dalam organisasi, pengembangan pengetahuan pun dapat

diperoleh dari luar organisasi melalui beberapa metoda, antara lain sebagai

berikut,

1. Patok duga (baenchmarking) dari organisasi lain

2. Menghadiri kegiatan seminar, konferensi, lokakarya, dan lainnya

3. Menyewa konsultan

4. Mengikuti pelatihan dan pendidikan

5. Membaca berbagai materi hasil catakan, misalnya surat kabar, e-mail,

dan berbagai terbitan jurnal

6. Menonton televisi, video, dan film


28

7. Pengamatan beragai kecenderungan persoalan ekonomi, social dan

teknologi keterampilan tertentu

8. Berkolaborasi dengan organisasi lain, membangun aliansi berbagai

kerja sama

Dalam upaya pengembangan pengetahuan, organisasi perlu

memperhatikan hal yang berhubungan denga kebutuhan pengetahuan dalam

oranisasi. Hal ini dilakukan agar dapat meminmalisir pengetahuan yang tidak

sesuai dengan kebutuhan.

2.1.3 Innovation Capability

[Link] Pengertian Innovation Capability

Untuk mencapai keunggulan bersaing terutama di pasar bebas, maka

berbagai macam usaha akan ditempuh oleh perusahaan-perusahaan. Inovasi

merupakan salah satu dari beragam cara yang digunakan oleh perusahaan untuk

tetap eksis atau survive.

Inovasi berangkat dari ide. Berasal dari mana saja, karyawan, pemilik

perusahaan, atau manajemen. Ketika karyawan meyakini bahwa mereka, dan

pemilik perusahaan, memiliki hak kepemilikan ide, mereka dapat memilih untuk

tetap memegang idenya dan tidak menyerahkannya kepada pemilik perusahaan

(Hannah, 2004).

Inovasi diawali dengan ide kreatif. Ide kreatif ini tidak selalu harus berupa

upaya penemuan atau atau pencapaian sesuatu yang “besar” namun dapat juga

berwujud upaya perubahan kecil untuk memperbaiki praktek yang sedang berlaku.
29

Menurut West (2000) inovasi adalah :

“Pengenalan cara baru yang lebih baik dalam mengerjakan berbagai hal di
tempat kerja. Inovasi tidak mengisyaratkan pembaharuan secara absolut dan
perubahan bisa dipandang sebagai suatu inovasi jika perubahan tersebut dianggap
baru bagi seseorang, kelompok, atau organisasi yang memperkenalkannya.
Inovasi bisa bervariasi yaitu dari inovasi kecil sampai inovasi yang sangat
penting. “

Carnegie dan Butlin (dalam Avanti Fontana, 2007) mendefinisikan

inovasi:

“Sebagai sesuatu yang baru atau ditingkatkan yang dihasilkan oleh


perusahaan guna menciptakan nilai tambah yang signifikan baik secara langsung
atau tidak langsung yang memberi manfaat kepada perusahaan.”
Salah satu penentu utama inovasi adalah tantangan dalam lingkungan

organisasi, karena organisasi inovasi memberi tekanan kuat pada kualitas, dan

dukungan manajerial untuk inovasi dan sangat menentukan apabila seluruh

individu ingin mengembangkan dan mengimplementasikan ide mengenai cara

baru yang lebih baik dalam mengerjakan berbagai hal. Mengembangkan inovasi

di tempat kerja dimulai dengan mengembangkan kreativitas individu, sedangkan

ide baru berasal dari motivasi, pemikiran, dan implementasi oleh individu di

tempat kerja.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa

kemampuan berinovasi (innovation capability) merupakan eksploitasi gagasan –

gagasan baru yang diupayakan agar berhasil meraih sukses. Interaksi antara

penggagas, pelaksana dan pengguna inovasi dapat menjadi sebuah mekanisme

dinamis, terjadi transfer nilai (value) di antara elemen inovasi yang saling

mengumpan maju (fedforward) dan mengumpan balik (fedback) Menurut


30

Terziovski (2007), kemampuan inovasi ini menyediakan potensi bagi munculnya

inovasi yang efektif.

Lebih lanjut Lawson dan Samson (2001) menjelaskan tentang kemampuan

inovasi :

“ Kemampuan inovasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mentransformasikan


secara berkelanjutan pengetahuan dan gagasan ke dalam berbagai bentuk proses,
dan sistem yang baru, bagi keuntungan lembaga dan stakeholder.”
Kebutuhan untuk membentuk konsep kegiatan pembelajaran berfokus

pasar sebagai kapabilitas perusahaan memenuhi kebutuhan pasar serta sekaligus

sebagai daya-saing perusahaan. Kemampuan berinovasi juga sebagai kemampuan

melakukan perubahan dari tingkat kebaharuan dan dari tingkat dampak

perubahan.

Lawson dan Samson (2001) mengartikan kemampuan berinovasi :

“Sebagai kapabilitas integrsai pada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu


kemampuan untuk mengintegrasikan kemampuan dan sumber daya utama
perusahaan untuk merangsang inovasi.”
Inovasi bertujuan menciptakan nila-nilai baru. Inovasi juga dikatakan unik

karena tiap proses didalamnya unik. Apabila definisi tersebut dikaitkan dengan

kemampuan inovasi (innovation capability), dapat dikatakan bahwa pengertian

innovation capability merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

ide-ide kreatif yang berguna bagi organisasi dan dapat berdampak pada

keunggulan yang kompetitif.


31

Organisasi yag berhasil adalah organisasi yang mampu menyesuaikan diri

dengan perubahan dengan menerapkan strategi yang tepat untuk membangun

keunggulan yang kompetitif.

Inovasi dapat dinilai dari besar kecilnya inovasi dan pengaruh yang

mungkin ditimbulkan. Semakin besar inovasinya, maka semakin besar pula :

perubahan, konflik, dan ancaman pada posisi masing-masing individu dalam

organisasi.

Kemampuan dalam berinovasi merupakan proses yang terus menerus dan

tidak pernah berakhir sebab selalu ada potensi pengembangan

[Link]. Proses Penciptaan Inovasi

Daft (dalam Denny, 2006), memandang proses inovasi sebagai proses yang

melibatkan lima tahap/unsur, yaitu sebagai berikut:

1. Kebutuhan

Suatu kesenjangan kinerja dikenali dan alternatif inovasi

dipertimbangkan.

2. Ide

Suatu ide cara kerja baru yang lebih baik diketengahkan. Ide ini

kemudian disesuaikan dengan kebutuhan.

3. Adopsi

Terjadi ketika para pembuat keputusan mendukung implementasi ide

yang diajukan.
32

4. Implementasi

Terjadi ketika anggota organisasi mulai menggunakan ide, teknik, atau

proses baru tersebut pada praktek, dalam pekerjaan mereka.

5. Sumber-sumber

Energi manusia dan kegiatan diperlukan untuk menghasilkan

perubahan.

Sedangkan menurut Dennis (dalam Deri Elvira, 2007) proses penciptaan

inovasi memerlukan empat tahap, yaitu:

4
3
Pengajuan gagasan (idea generation)
2
1 Evaluasi

Pengembangan

Implementasi

Sumber: Deri Elvira, 2007


Gambar 2.2
Proses Penciptaan Inovasi

Tahapan ini dimulai dari :

1. Pengajuan gagasan, yaitu mempunyai ide lebih dulu

2. Evaluasi adalah memilih gagasan-gagasan yang ingin ditindaklanjuti


33

3. Pengembangan yaitu memperbaiki gagasan tersebut dari konsep

menjadi realitas yang menghasilkan sesuatu

4. Implementasi yaitu mengupayakan gagasan tersebut

[Link]. Meningkatkan Kemampuan Inovasi

Dalam era globalisasi persoalan-persoalan yang muncul harus diantisipasi

dengan meningkatkan kemampuan inovasi diantaranya :

1. Teknologi merupakan kekuatan pendorong terhadap inovasi dan

kesuksesan. Teknologi memang merupakan salah satu sumber inovasi,

akan tetapi bukanlah satu-satunya.

2. Proyek yang besar akan lebih mengembangkan masalah inovasi daripada

proyek kecil. Akan tetapi, dalam kenyataanya, mitos ini sudah tidak

terpakai lagi. Pada zaman era globalisasi sekarang ini, semakin banyak

perusahaan kecil cenderung membuat tim-tim kecil yang mempermudah

para pegawainya untuk menelorkan gagasan-gagasan, ide-ide, dan

sebagainya.

3. Spesifikasi teknis sebaiknya dipersiapkan secara lengkap. Akan tetapi

kenyataannya sering menggunakan pendekatan dengan uji coba dan

revisinya.

4. Inovasi harus direncanakan terlebih dahulu dan dapat diperkirakan. Tetapi

kenyataannya tidak dapat diprediksi dan dapat dilakukan oleh setiap orang

dalam melakukan inovasi .

5. Ada kreativitas yang tergantung pada mimpi-mimpi dan gagasan gagasan

yang mengawang-ngawang. Akan tetapi, kenyataannya orang yang sangat


34

praktis mengambil peluang peluang yang tercecer dari realitas dan bukan

impian.

[Link]. Sumber Penerapan Kemampuan Inovasi

Dorongan untuk berinovasi merupakan alat yang sangat spesifik. Oleh

karena itu, perusahaan harus memahami dan dapat mengembangkan inovasi-

inovasi sebagai elemen utama. Sebagian besar gagasan inovasi muncul lewat

analisis metodologi peluang-peluang yang ada, baik yang terdapat di dalam,

maupun di luar perusahaan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi sumber penerapan

kemampuan inovasi (Howel dan Heggins,1990) sebagai berikut:

1. Kejadian yang tidak diharapkan

Ada dua hal yang sering muncul dalam usaha, yaitu kesuksesan dan

kegagalan yang lahir begitu saja tanpa pernah diantisipasi dan diramalkan

sebelumnya Kegagalan dan kegagalan biasanya tidak diharapkan, akan

tetapi hal ini sama pentingnya karena bisnis sering mengabaikannya,

bahkan membencinya. Kegagalan ini sebenarnya dapat menjadi sumber

peluang inovasi. Hal inilah yangakan menjadi dasar kuat bagi perusahaan

2. Ketidakharmonisan

Peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan dapat menjadi sumber peluang

yang mudah dan disederhanakan. Hal ini bisa terjadi karena ada jurang

pemisah antara yang diharapkan dengan yang sebenarnya terjadi.

3. Proses sesuai dengan kebutuhan


35

Hal ini dapat terjadi jika permintaan khusus. Untuk menciptakan inovasi

tertentu, karena ada kebutuhan khusus.

4. Perubahan pada industri

Industri selalu berkembang berdasarkan perkembangan yang selalu

berubah-ubah secara struktural, desain, dan definisi.

5. Perubahan demografi

Perubahan demografis merupakan sumber peluang inovasi yang paling

handal di luar perusahaan. Di sini inovasi akan muncul karena adanya

perubahan pada masyarakat tentang jumlah penduduk, umur, pengetahuan,

pendidikan, pekerjaan, lokasi geografis, dan faktor-faktor lainnya.

6. Perubahan persepsi

Adanya sumber peluang inovasi, berbagai rupa keganjilan, dapat menjadi

sumber peluang inovasi. Di sini inovasi akan muncul karena adanya

perubahan interpretasi yang terjadi di masyarakat akan fakta-fakta yang

ada dan konsep yang berlaku

7. Konsep pengetahuan dasar

Pengetahuan baru, apakah itu pengetahuan ilmiah, teknis atau social

merupakan sumber peluang yang paling produktif. Di sini ada beberapa

prinsip yang mendasari kreasi dan inovasi, serta Invensi. Invensi

merupakan salah satu konsep pengetahuan dasar karena adanya hasil

pemikiran baru.
36

2.1.4. Hasil Penelitian Sebelumnya

Tabel 2.1
Hasil Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Penelitian Hasil penelitian Perbedaan Persamaan

1. Tiurma K.F.P Gitanauli, Pengaruh Knowledge Absorptive capacity Menggunakan Terdapat


Ningky Sasanti Munir sharing dan berpengaruh signifikan dua objek kesamaan dalam
(Jornal of Management Absorptive Capacity terhadap innovation penelitian yaitu variabel ini yaitu
and Business Review, terhadap Innovation capability dan knowledge direktorat menggunakan
Vol. 7, No. 1, Januari Capability pada sharing bepengaruh corporate service knowledge
2010) Direktorat Corporate secara signifikan dan dirktorat sharing dan
Service dan terhadap absorptive marketing absorptive
Direktorat Marketing capacity dan knowledge capacity
di PT. Indosat TBk sharing berpengaruh terhadap
signfikan terhadap innovation
absorptive capacity. capability
Hubungan antara
knowledge sharing dan
innovation capability
dimoderasi oleh
absorptive capacity
37

2. Luciana Andrawina, Hubungan antara Knowledge sharing Penelitian ini Terdapat


Rajesri Govindaraju, Knowledge sharing capability berpengaruh menggunakan kesamaan dalam
T.M.A. Ari Samadhi and Capability, signifikan terhadap mekanisme variable
Iman Sudirman (Jurnal Absorptive Capacity potential absorptive formal sebagai independen
Teknik Industri Vol. 10 dan Mekanisme capacity, kemampuan variable knowledge
No. 2 Desember 2008 : Formal: Studi Kasus perusahaan dependen sharing dan
158 – 170.) Industri Teknologi mengakuisisidan absorptive
Informas dan mengasimilasi capacity
Komunikasi di berpengaruh signifikan
Indonesia terhadap kemampuan
mentransformasi dan
mengeksplotasi
pengetahuan.
3. Hilmi Aulawi, Rajesri Hubungan Knowledge sharing Penelitian yang Menggunakan
Govindaraju, Knowledge sharing berpengaruh positif ini hanya variabel
Kadarsah Suryadi, dan Behavior dan terhadap peningkatan menggunakan independen
Iman Sudirman Individual Innovation kemampuan inovasi dua variabel knowledge
(Jurnal teknik industri, Capability individu. sharing dan
Vol. 11, No.2, Desember (Jurnal Teknik Proses tacit Knowledge variabel
2009) Industri Vol. 11 No. sharing yang dinilai dependen yaitu
2 Desember 2009, pp paling efektif adalah indivdual
174 – 187.) yang dilakukan dalam innovation
bentuk informal. capability
4. Lenny Martini, Jann Berbagi Pengetahuan Adanya hubungan Penelitian ini variabel
Hidajat Tjakraatmadja diInstitusi Akademik pengaruh yang signifikan hanya independen yang
antara kekayaan saluran menggunakan diteliti adalah
(Jurnal Manajemen terhadap keinginan untuk satu variabel berbagi
Teknologi, Volume 10 berbagi yaitu berbagi pengetahun
Number 2 2011) pengetahuan. Sementara pengetahuan
hubungan antara
kekayaan saluran dengan
kapasitas penyerapan
pengetahuan serta
hubungan antara
kapasitas penyerapan
pengetahuan dengan
keinginan berbagi
pengetahuan.
5. Suhitarini Soemarto Putri, Knowledge Portal KMS Dinas Sosial Penelitian ini Terdapat
Togar Harapan management system: diharapkan mampu terfokus kepada kesamaan yaitu
Pangaribuan Knowledge sharing memfasilitasi tumbuh system yang knowledge
(Seminar Nasional culture di Dinas kembangnya budaya digunakan untuk sharing sebagai
Aplikasi Teknologi Sosial Provinsi DKI saling berbagi penerapan salah satu factor
Informasi 2009 (SNATI Jakarta pengetahuan (share budaya yang diteliti
2009) ISSN: 1907-5022 knowledge) sehingga knowledge
Yogyakarta, 20 Juni dapat menciptakan sharing
2009) pengetahuan baru yang
kompetitif, decission
support system, sarana
penyampaian aspirasi
dan penyimpanan
dokumen elektronik.
6 Wesley M. Cohen and Absorptive Capacity: Focuses on the Penelitian ini Terdapat
Daniel A. Levinthal A New Perspective implications of menggunakan kesamaan yaitu
38

(Administrative Science on Learning and absorptive satu vaiabel yaitu dalam peneitian
Quarterly, Vol. 35, No. 1, Innovation capacity for the analysis Absoptive ini
Special Issue: of other related Capacity menggunakan
Technology, innovative absorptive
Organizations, and activities, including basic capacity sebagai
Innovation. (Mar., 1990), research, the adoption focus dalam
pp. 128-152.) and diffusion penelitian
of innovations, and
decisions to participate
in cooperative
R&D ventures..
7. Eliada Herwiyanti Pengaruh Extrinsic Hasil uji beda dengan Penelitian ini Kesamaan
Motivation, mempertimbangkan menggunakan terdapat pada
Absorptive Capacity, pengaruh gender ternyata empat variabel variabel
Dan Channel menunjukkan tidak yang terdiri dari independen dua
Richness Terhadap adanya perbedaan tiga variabel yang diteliti
Sikap Individu Atas signifikan untuk variabel independen yaitu yaitu absortive
Perilaku Sharing extrinsic motivation, Extrinsic capacity
Knowledge absorptive capacity, dan Motivation,
sharing knowledge, Absorptive
hanya variabel channel Capacity,
richness Channel
Richness dan
satu variabel
dependen yaitu
Sharing
Knowledge

8. Shu-Hsien. Liao, Chi- Knowledge Indicate that absorptive Penelitian ini Kesamaannya
Chuan. Wu, Da-Chian. Acquisition, capacity is the mediator menggunakan menggunakan
Hu, and Guang An. Tsuei Absorptive Capacity, between knowledge knowledge variabel
and Innovation acquisition and acquisition independen dua
(International Journal of Capability: An innovation capability, sebagai variabel yaitu absorptive
Human and Social Empirical Study and that knowledge independen capacity dan
Sciences 5:12 2010) of Taiwan's acquisition pertama variabel
Knowledge-Intensive has a positive effect on dependen
Industries absorptive capacity. innovation
capability
sebagai
bahasannya

2.2 Kerangka Pemikiran

Seiring dengan majunya suatu perusahaan, maka apabila perusahan ingin

terus konsisten dan terus bisa tetap berkelanjutan serta mampu bersaing maka

perusahaan harus bisa menghasilkan karyawan yang selalu mencptakan inovasi,

hal ini yang meupakan faktor kunci bagi suatu perusahaan untuk dapat bertahan
39

dalam persaingan yang ketat. Salah satu upaya yang dipandang efektif dalam

meningatkan kemampuan inovasi karyawan adalah melalui pengembangan

aktivitas knowledge sharing, karena melalui aktivitas tersebut knowledge dapat

disebarkan, diimplementasikan dan dikembangkan.

Melalui knowledge sharing terjadi peningkatan value dari knowledge yang

dimiiki oleh perusahaan. Seseorang melakukan knowledge sharing tidak akan

kehilangan knowledge yang dimilikinya, tetapi justru melipat gandakan nilai dari

knowledge tersebut, apabila sudah dimiliki, dapat dimanfaatkan oleh banyak

orang (Tobing dalam Ismail Nawawi, 2012).

Berbagi informasi dan sumber daya juga akan meningkatkan penerimaan

ide-ide baru dan inovasi dalam perusahaan. Begitupula Keterbukaan dan

keterlibatan dalam pengambilan keputusan akan memfasilitasi komitmen manajer

untuk inovasi.

Knowledge sharing dapat merangsang individu untuk berfikir lebih kritis

dan kreatif sehingga dapat menghasilkan knowledge baru yang berguna bagi

perusahaan dan menciptakan innovation capability melalui absortive capability.

Absorptive capacity memainkan peranan penting dalam memperbaharui

pengetahuan dasar perusahaan dan keahlian yang diperlukan untuk bersaing dalam

pasar yang dinamis. Perusahaan-perusahaan yang fleksibel dalam menggunakan

sumber daya dan kapabilitasnya dapat mengkonfigurasikan kembali sumber daya

dasar yang mereka miliki untuk memperoleh keuntungan dari kesempatan

strategis yang muncul. Terdapat faktor internal perusahaan yang mempengaruhi

kemampuan perusahaan menyerap pengetahuan.


40

2.2.1 Pengaruh Knowledge Sharing Terhadap Absorptive Capacity

Berdasakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Liao et al (dalam Luciana

et al, 2008), Knowledge sharing berpengaruh terhadap absorptive capacity para

karyawan. Melalui knowledge sharing akan membentuk potensi besar terhadap

stock knowledge yang dimiliki oleh karyawan untuk bersinergi membentuk

pemahaman baru. Proses knowledge sharing dianalogikan dengan transmisi

pengiriman pesan pada proses komunikasi, yaitu dari pengirim kepada penerima.

Pengetahuan saat ini dipandang sebagai sumber daya strategis yang penting bagi

perusahaan untk dapat memiliki keungglan bersaing. Kesuksesan perusahaan

menghasilkan keunggulan bersaing tergantung pada kemampuan perusahaan

mengakuisisi dan mengasimilasi pengetahuan dan mentrasformasi dan

mengeksploitasi pengetahuan.

Kapasitas penyerapan pengetahuan pada dasarnya dimiliki oleh setiap

individu dan dihipotesiskan berperan dalam proses berbagi pengetahuan, baik

dalam peran individu tersebut sebagai contributor maupun sebagai penerima

pengetahuan. Sebagai kontributor pengetahuan, individu perlu memiliki kapasitas

penyerapan pengetahuan sampai tingkat tertentu untuk membuat ia dapat

menghubungkan pengetahuan yang akan ia bagikan sesuai dengan konteks

penerima sehingga penerima yang juga memiliki kapasitas penyerapan

pengetahuan pada tingkat tertentu dapat melihat manfaat dari pengetahuan baru

yang ia terima untuk dirinya sebagai sumber inovasi atau solusi dari permasalahan

yang dihadapi, sehingga penerima pengetahuan berkeinginan untuk berpartisipasi

aktif dalam aktivitas berbagi pengetahuan (Lenny dan Jann, 2011)


41

Pengetahuan akan memberi peran terhadap absorptive capacity apabila

terjadi aktivitas saling bertukar atau berbagi pengetahuan diantara karyawannya.

Untuk mengelola pengetahuan yang ada dibutuhkan kegiatan yang dapat

menfasilitasi hal tersebut, yaitu dengan knowledge sharing (Tiurma dan Nungki,

2010).

Selanjutnya Ismail Nawawi (2012:87) juga menyatakan bahwa Transfer

pengetahuan atau knowledge sharing pada dasarnya mencakup dua tindakan, yaitu

pengirima atau memberikan pengetahuan kepada penerima yang potensial

(transmisi) dan penyerapan oleh seseorang atau kelompok (absorptive).

2.2.2. Pengaruh Absorptive Capacity terhadap Innovation Capability

Seseorang yang memiliki dasar pengetahuan yang beragam dapat semakin

mudah menghubungkanpengetahuan yang ingin ia bagikan dengan konteks

penerima, dan ia juga akan semakin mudahmenghubungkan pengetahuan baru

yang ia terima dengan pengetahuan yang menjadi keahliannyaatau pengetahuan

lain yang ia telah miliki sebelumnya sehingga selain aspek keluasan

ataukeberagaman dan kedalaman pengetahuan, kapasitas berbagi pengetahuan

juga ditentukan olehusaha seseorang dalam menambah pengetahuannya, misalnya

untuk akademisi dengan menghadirikonferensi, melakukan penelitian, menulis

jurnal, artikel, buku dan lainnya. Seluruh usaha ini akan menambah pengetahuan

yang dimiliki oleh seorang individu, baik itu dalam keahliannnya maupun diluar

keahliannya dan pada prinsipnya dapat meningkatkan kapasitas penyerapan


42

pengetahuan. memanfaatkan gabungan pengetahuan tersebut untuk solusi masalah

atau melahirkan inovasi (Lenny dan Jann, 2011).

Keterkaitan antara Absorptive Capacity terhadap Innovation Capability ini

dikemukakan juga oleh Tiurma dan Nungki (2010:67), absorptive capacity akan

menghasilkan innovation capability apabila perusahaan mampu mengeksploitasi

external knowledge yang dimiliki para individunya. Pernyataan ini dikuatkan

dengan hasil penelitiannya yaitu, absorptive capacity memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap innovation capability sebesar 121% sehingga absorptive

capacity memiliki pengaruh yang positif terhadap innovation capability.

Berdasarkan hasil persamaan model struktural oleh Model 2, absorptive capacity

memiliki pengaruh signifikan terhadap innovation capability sebesar 118,81&%.”

2.2.3. Pengaruh Knowledge sharing terhadap Innovation Capability

Melalui Absorptive Capacity

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tiurma dan Nungky

(2010:59). Absorptive capacity berpengaruh signifikan terhadap innovation

capability, dan knowledge sharing berpengaruh signifikan terhadap absorptive

capacity. Hubungan knowledge sharing dan innovation capability dimediasi oleh

absorptive capacity. Absorptive capacity merupakan mediator (perantara) antara

aktivitas knowledge sharing dengan innovation capability.

Proses berbagi pengetahuan menjadi media dalam menciptakan semangat

untuk berinovasi dengan mentransfer pengetahuan antara individu-individu untuk

meningkatkan kompetensi individu dalam membuat inovasi bermanfaat dalam

mendukung penciptaan nilai perusahaan (Marr dkk., 2009). Proses memberi dan
43

menerima, meningkatkan, dan melakukan inovasi setiap individu akhirnya akan

mempengaruhi peningkatan kemampuan inovasi perusahaan (Plessis, 2007)

Kemampuan perusahaan untuk mentransformasi dan mengeksploitasi

pengetahuan dapat menentukan tingkat inovasi organisasi, seperti lebih cepat

pemecahan masalah kemampuan dan reaksi cepat ditingkatkan untuk informasi

baru. Banyak menekankan pentingnya berbagi pengetahuan untuk meningkatkan

kemampuan inovasi (Liebowitz, 2002; Lin, 2006). Kegiatan sharing yang

dilakukan oleh anggota organisasi dapat peningkatan kemampuan inovasi

organisasi.

Dengan melihat hasil penelitian terdahulu dalam tabel yang diatas, maka

didapat paradigma penelitian. Hubungan di antara variabel-variabel tersebut

ditunjukkan pada gambar berikut ini

Tiurma dan Nungky (2010:59)

Tiurma
KNOWLEDGE SHARING Lenny ABSORPTIVE INNOVATION
dan
(X) dan CAPACITY CAPABILITY
1. Peranan kepimpinan (Y) Nungky (Z)
Jann,
2. Iklim kepercayaan dan 1. Employees ability (2010:67) 1. Kreativitas dan
2011
ketebukaan 2. Employees motivation Manajemen gagasan
3. Penghargaan terhadap 2. Manajemen Teknologi
knowledge, Zahra and George (2002), 3. Individu/ Kelompok
pembelajaran dan 4. Iklim Inovasi dan Visi
inovasi 5. Proses Belajar Interaktif
Tobing (dalam Ismail Terziovski; 2007, Susanti;
Nawawi, 2012:169) 2010, James Brian Quinn;
2004

Gambar 2.3
Paradigma Penelitian

2.3 Hipotesis
44

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka dibutuhkan suatu pengujian

hipotesis untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel independent

terhadap variabel dependent.

Hipotesis adalah jawaban sementara yang secara teoritis dianggap paling

mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya.

Dugaan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara

yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

H1 = Knowledge sharing pada PT. Mitra Rajawali Banjaran cukup baik

H2 = Innovation Capability pada PT. Mitra Rajawali Banjaran cukup baik

H3 = Absorptive Capacity pada PT. Mitra Rajawali Banjaran cukup baik

H4 = Knowledge sharing berpengaruh terhadap Absorptive Capacity

pada PT. Mitra Rajawali Banjaran

H5 = Absorptive Capacity berpengaruh terhadap Innovation Capability

pada PT. MitraRajawali Banjaran

H6 = Knowledge sharing berpengaruh secara langsung dan tidak langsung


terhadap Innovation Capability melalui Absorptive Capacity pada PT.
Mitra Rajawali Banjaran

Anda mungkin juga menyukai