0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan102 halaman

Rehabilitasi Laboratorium SMPN 8 Pasuruan

Dokumen ini adalah daftar pekerjaan rehabilitasi ruang laboratorium di SMPN 8, Kota Pasuruan, yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk tahun anggaran 2024. Terdapat berbagai item pekerjaan yang mencakup persiapan, struktur, dinding, lantai, dan pemasangan pintu serta jendela, dengan rincian spesifikasi material dan nilai TKDN untuk masing-masing item. Setiap item pekerjaan dijelaskan dengan metode pelaksanaan dan persentase komponen lokal yang digunakan.

Diunggah oleh

Yanuar Akbar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan102 halaman

Rehabilitasi Laboratorium SMPN 8 Pasuruan

Dokumen ini adalah daftar pekerjaan rehabilitasi ruang laboratorium di SMPN 8, Kota Pasuruan, yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk tahun anggaran 2024. Terdapat berbagai item pekerjaan yang mencakup persiapan, struktur, dinding, lantai, dan pemasangan pintu serta jendela, dengan rincian spesifikasi material dan nilai TKDN untuk masing-masing item. Setiap item pekerjaan dijelaskan dengan metode pelaksanaan dan persentase komponen lokal yang digunakan.

Diunggah oleh

Yanuar Akbar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DAFTAR SIMAK

PEKERJAAN : REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8


INSTANSI : DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
LOKASI : KOTA PASURUAN
T.A : 2024

Nilai TKDN
No Item Pekerjaan Spesifikasi material Keterangan Link TKDN
(%)

REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMP 8


Lantai 1
I PEKERJAAN PERSIAPAN
1 Pengukuran dan Pemasangan bowplank Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
2 Pek. Membersihkan lokasi Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
3 1m3 Pembongkaran dinding bata merah Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
4 1m3 Pembongkaran beton Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
5 Pembongkaran atap dan Plafond Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
6 Pembongkaran Pintu dan Jendela Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
7 Pembongkaran Lantai keramik lama Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%

II PEKERJAAN STRUKTUR/BETON
1 Pekerjaan Kolom 15/30 ( Peninggian 80cm)
1 m3 beton mutu sedang f'c 20 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm (K225) Mutu beton K-225( molen / site mix ) batu Pecah mesin uk. 2/3.1/2 100,00%
pasir cor Pasir Semeru (Lumajang) 100,00%
Air dari bor / PDAM 100,00%
Semen Gresik 97,01% [Link]

- Besi beton :
Tulangan 6 Ø112 Besi Polos Ø12 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Beugel Ø6-150 mm Besi Polos Ø6 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk kolom (3 kali pakai) Begesting multiplek 9mm multiplek 9mm 85,06% [Link]
rangka kaso 3 x pakai Kayu stegger Meranti campur 100,00%

2 Pekerjaan balok latei 11/12 elv. +2,6 m


1 m3 beton mutu rendah f'c 15 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm secara manual (K 175) Mutu beton K-175( molen / site mix ) batu Pecah mesin uk. 2/3.1/2 100,00%
pasir cor Pasir Semeru (Lumajang) 100,00%
Air dari bor / PDAM 100,00%
Semen Gresik 97,01% [Link]

- Besi beton :
Tulangan 4 Ø10 Besi Polos Ø6 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Beugel Ø6 - 150 Besi Polos Ø6 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk balok (3 kali pakai) Begesting multiplek 9mm multiplek 9mm 85,06% [Link]
rangka kaso 3 x pakai Kayu stegger Meranti campur 100,00%

3 Pekerjaan Ring balok 15/20 elv. +4,50 m


1 m3 beton mutu rendah f'c 15 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm secara manual (K 175) Mutu beton K-175( molen / site mix ) batu Pecah mesin uk. 2/3.1/2 100,00%
pasir cor Pasir Semeru (Lumajang) 100,00%
Air dari bor / PDAM 100,00%
Semen Gresik 97,01% [Link]

- Besi beton :
Tulangan 4 Ø12 Besi Polos Ø12 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Beugel Ø6 - 150 Besi Polos Ø6 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk balok (3 kali pakai) Begesting multiplek 9mm multiplek 9mm 85,06% [Link]
rangka kaso 3 x pakai Kayu stegger Meranti campur 100,00%

4 Pekerjaan Ring gewel 15/20


1 m3 beton mutu rendah f'c 15 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm secara manual (K 175) Mutu beton K-175( molen / site mix ) batu Pecah mesin uk. 2/3.1/2 100,00%
pasir cor Pasir Semeru (Lumajang) 100,00%
Air dari bor / PDAM 100,00%
Semen Gresik 97,01% [Link]

- Besi beton :
Tulangan 4 Ø12 Besi Polos Ø12 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Beugel Ø6 - 150 Besi Polos Ø6 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk balok (3 kali pakai) Begesting multiplek 9mm multiplek 9mm 85,06% [Link]
rangka kaso 3 x pakai Kayu stegger Meranti campur 100,00%
5 Pekerjaan Kolom gewel 15/15
1 m3 beton mutu rendah f'c 15 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm secara manual (K 175) - batu Pecah mesin uk. 2/3.1/2 100,00%
pasir cor Pasir Semeru (Lumajang) 100,00%
Air dari bor / PDAM 100,00%
Semen Gresik 97,01% [Link]

- Besi beton :
Tulangan 4 Ø12 Besi Polos Ø12 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Beugel Ø6 - 150 Besi Polos Ø6 BJTP 280 [Link], KS 43,82% [Link]
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk kolom (3 kali pakai) Begesting multiplek 9mm multiplek 9mm 85,06% [Link]
rangka kaso 3 x pakai Kayu stegger Meranti campur 100,00%

III PEKERJAAN DINDING


1 1 m2 Pasangan Bata Merah tebal 1/2 Bata, 1 Pc : 4 Ps PC / Semen Gresik Semen Gresik 97,01% [Link]
Bata Merah 5 x 11 x 22 cm Lokal. 100,00%
Pasir Pasang Pasir Lokal 100,00%

2 1 m2 Plesteran 1 Pc : 6 Ps, tebal 15 mm PC / Semen Gresik Semen Gresik 97,01% [Link]


Pasir Pasang Pasir Lokal 100,00%

IV PEKERJAAN LANTAI DAN DINDING KERAMIK


1 1 m2 Pasang Lantai Granit 60 x 60 cm motif warna KW I Granit Tile 60x60 cm KW 1 Serenity 69,62% [Link]
PC / Semen Semen Gresik 97,01% [Link]
Pasir Pasang Pasir Lokal 100,00%

2 Pemasangan 1 m2 Lantai Ubin Tuna netra Ukuran 30 cm x 30 cm (1SP : 2PP) guiding blocks 30x30 cm Roman 69,62% [Link]
PC / Semen Semen Gresik 97,01% [Link]
Pasir Pasang Pasir Lokal 100,00%
V PEKERJAAN PINTU dan JENDELA
1 1 m' Pasang Kusen Aluminium 4 " (Coklat) Kusen almunium 4" Inkalum 59,99% [Link]
2 1 bh Pasang Pintu WPC WPC Duma Duma 57,64% [Link]
3 1 m' Slimar almunium 2,5" (Coklat) Almunium 2,5" Inkalum 59,99% [Link]
4 1 m2 Pasang Kaca polos, Tebal 5 mm Asahi 5mm Asahi 55,69% [Link]
5 Pemasangan 1 Buah Engsel Pintu Engsel Pintu Solid 50,75% [Link]
6 1 bh Pasang hak angin casement casement Jendela Solid 25,18% [Link]
7 1 set Pasang engsel jendela Engsel Jendela Solid 50,75% [Link]
8 1 bh Grendel jendela rambuncis Grendel Rambuncis Solid 35,74% [Link]
9 1 bh Pasang Door Holder/ Pegangan Pintu Solid Solid 29,37% [Link]
10 Memasang 1 m' pipa Stainless steel diameter 1 1/2" (Hand Rail) Pipa 1,5" Stainless Steel tebal 1.5mm kualitas di setujui inspektor 60,41% [Link]

VI PEKERJAAN ATAP
1 1 m3 Pasang Konstruksi Kuda-kuda kayu Kruwing bentang 6 m Kayu uk 8/12 jenis Kruwing Kayu Kruwing terbaik lurus dan tidak cacat 100,00%
2 1 m3 Pasang kembali kuda2 lama Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
3 1 m3 Pasang Konstruksi gording kayu Kruwing Kayu uk 8/12 jenis Kruwing Kayu Kruwing terbaik lurus dan tidak cacat 100,00%
4 Pasang Dudukan Gording Kayu uk 8/12 jenis Kruwing Kayu Kruwing terbaik lurus dan tidak cacat 100,00%
5 1 m3 Pasang Konstruksi Gording Lama Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
6 Baut Moer Ø 12mm x 6'' mur baut Ø12 mm HTB - MJS untuk sambungan warna hitam 53,17% [Link]
7 1 m' Pasang papan reuter (3x20) cm, Kayu Kruwing Pasang papan rueter nok kayu Kruwing 3/20 Kayu Kruing terbaik lurus dan tidak cacat 100,00%
8 1 m2 Pasang Atap Usuk Reng Baja Ringan C75 T 0.75 Galvalum canal C 75cm Tebal TCT 0,75mm dan Reng 0.35 0.40 AZ merk Kepuh Kencana 60,14% [Link]
Baja ringan, reng 35.0,4 merk Kepuh Kencana 61,55% [Link]
9 1 m2 Pasang Atap Genteng Genteng Plentong Bambe KW1 100,00%
10 1 m2 Pasang Atap Genteng lama Dilakukan dengan cara manual tenaga manusia/peralatan pertukangan 100,00%
11 1 m Pasang Bubung Genteng Bubungan model Bambe KW1 100,00%
12 Pemasangan 1 m’ Lisplank Non kayu (GRC, Serat Semen) Lebar 30cm Lisplank ukuran 30cm tebal 8mm Kalsiplank 83,84% [Link]

VII PEKERJAAN RANGKA dan PENUTUP PLAFON


1 1 m2 Rangka Langit-langit Kayu kruwing modul 60x60cm kayu Kruing tanpa cacat uk. 5/7 .4/6 modul 60x60cm Kayu Kruwing 100,00%
2 1 m2 Pasang langit-langit kalsiboard 4mm, ( 122 X 244 X 4 ) mm Kalsiboard, ( 121 X 244 ) GRC board, Pink Board 100,00%

VIII PEKERJAAN LISTRIK


1 Pemasangan 1 titik Instalasi Lampu Kabel 3x2.5mm Merek eterna Eterna 90,48% [Link]
2 1 BH Pasang Saklar Tunggal Saklar tunggal Broco 42,63% [Link]
3 1 BH Pasang Saklar Ganda Saklar ganda Broco 44,35% [Link]
4 Pemasangan 1 Unit Fitting E27 + 10 Watt LED Lampu 10 watt + fitting E27 Broco 32,49% [Link]
5 Pemasangan 1 Unit Stop Kontak 1 P, 10 A, 200 W Stop Kontak Broco 28,74% [Link]

IX PEKERJAAN PENGECATAN
1 1 m2 Pengecatan Tembok Baru / KW I ( 1 Lapis Plamir, 1 Lapis Cat Dasar, 2 Lapis cat Penutup) 1 Lapis Plamir, 1 Lapis Cat Dasar, 2 Lapis cat Penutup Dulux Catylac 58,42% [Link]
2 Pengecatan 1 m2 Plafond (1 Lapis Cat Dasar dan 2 Lapis Cat Penutup) 1 Lapis Plamir, 1 Lapis Cat Dasar, 2 Lapis cat Penutup Dulux Catylac 58,42% [Link]
3 Pengecatan 1 m2 Lisplank (1 Lapis Cat Dasar dan 2 Lapis Cat Penutup) 1 Lapis Plamir, 1 Lapis Cat Dasar, 2 Lapis cat Penutup Dulux Catylac 58,42% [Link]
4 1 m2 Pelaburan Bidang Kayu dengan Cat Residu dan Ter cat ter anti rayap Cat anti Rayap 100,00%

Catatan : Total Nilai TKDN minimum adalah 50%

PASURUAN,………............... 2024
PEJABAT PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
PPTK DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

ARIF WIBISONO, SE, MM.


NIP. 19710719 199803 1 006
WINDAHSILVI HIDAYATI,S,Kom,
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
BAB I
SYARAT-SYARAT UMUM

Pasal 01. PENGERTIAN


Kecuali ditentukan lain, yang didefinisikan di bawah ini mempunyai arti sebagai berikut :
1. Pemberi Tugas:
Berarti Pimpinan Proyek
2. Perencana :
Berarti perusahaan berbadan hukum yang ditunjuk oleh pemberi tugas untuk
melaksanakan pekerjaan perencanaan serta bertugas sebagai adviser berkala pada saat
pelaksanaan pekerjaan
Pengawas:
Berarti perusahaan berbadan hukum yang ditunjuk oleh pemberi tugas untuk
melaksanakan pekerjaan pengawasan bertugas sebagai adviser berkala pada
saat melakukan pekerjaan.
3. Pelaksana:
Berarti perusahaan berbadan hukum yang telah mengikat dirinya berdasarkan
suatu kontrak perjanjian dengan Pemberi tugas untuk melaksanakan pekerjaan sesuai
dengan gambar-gambar dan persyaratan-persyaratan sesuai yang tercantum dalam
dokumen kontrak.
4. Kontrak:
Berarti perjanjian yang telah dicapai, yang diatur secara tertulis dalam bentuk tertentu
dan meliputi semua yang tergambar dan tersebut di dalamnya.
5. Nilai Kontrak:
Berarti jumlah yang tersebut dalam kontrak, termasuk provit, pajak-pajak dan sesuai
dengan ketentuan-ketentuan dalam kontrak.
6. Gambar-Gambar:
Berarti gambar-gambar yang tercantum dalam dokumen kontrak.
7. Jadwal Waktu:
Berarti waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak dan menjadi dasar bagi pemberi
tugas dalam menilai prestasi pekerjaan.
8. Disetujui:
Secara tertulis termasuk di dalamnya penegasan (confirmation) tertulis dari persetujuan
secara lisan yang mendahuluinya.

1
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pasal 02. LINGKUP KONTRAK
Kontrak meliputi pekerjaan Belanja Jasa Konsultansi PERENCANAAN TEKNIS
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMP 8 Lingkup Pekerjaan :
I. RKK
II. RUANG LABORATORIUM SMP 8
a. PEKERJAAN PERSIAPAN
b. PEKERJAAN STRUKTUR/BETON
c. PEKERJAAN DINDING
d. PEKERJAAN LANTAI DAN DINDING KERAMIK
e. PEKERJAAN PINTU dan JENDELA
f. PEKERJAAN ATAP
g. PEKERJAAN RANGKA DAN PENUTUP PLAFOND
h. PEKERJAAN LISTRIK
i. PEKERJAAN PENGECATAN

Pasal 03. DOKUMEN KONTRAK


1. Dokumen kontrak terdiri dari Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan dan Lampiran
kontrak berupa dokumen pelelangan sebagai mana diuraikan dalam bagian I
Buku Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini, dokumen penawaran yang diajukan oleh
calon Pelaksana dan lain-lain.
2. Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam kontrak dan lampiran kontrak, harus
dianggap sebagai penjelasan timbal balik antara satu terhadap lainnya.
3. Ketentuan-ketentuan dalam dokumen lampiran kontrak akan merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari kontrak dan mengikat kedua belah pihak sebagaimana
bila ketentuan-ketentuan dalam dokumen dicantumkan secara lengkap dalam
kontrak.
4. Apabila terdapat hal-hal yang tidak jelas dalam ketentuan kontrak dan
dokumen lampiran kontrak, maka Pelaksana berkewajiban menanyakan dalam
rapat penjelasan kepada pemberi tugas yang kemudian akan memberikan
penjelasan mengenai hal tersebut kepada Pelaksana. Segala akibat yang timbul
karena kelalaian Pelaksana melaksanakan kewajiban tersebut menjadi tanggung
jawab Pelaksana.
Pasal 04. PENGAWASAN
1. Sebagai Konsultan pengawas untuk pekerjaan ini akan dilaksanakan oleh Konsultan
Pengawas yang akan ditunjuk kemudian. Tugas-tugas dan perintah-perintah dapat
diberikan secara Lisan dan tertulis dan dimuat dalam buku harian yang dibubuhi tanda
tangan/paraf.
2. Berdasarkan penjelasan wewenang secara tertulis dari Pemberi tugas, konsultan
pengawasan bertugas untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan serta kecakapan para
pekerja yang melaksanakan pekerjaan.

2
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
3. Pelaku pengawasan tidak berwenang untuk :
- Membebaskan Pelaksana dari kewajiban yang ditentukan dalam surat perjanjian
pekerjaan (Kontrak).
- Tidak menolak pelaksanaan suatu pekerjaan atau penggunaan bahan yang tidak
memenuhi syarat-syarat dalam dokumen kontrak, dan mengurangi kekuasaan
Pemberi tugas untuk tidak memerintahkan pembongkarannya.
Pasal 05. KEWAJIBAN PELAKSANA
1. Pelaksana harus memeriksa lokasi tempat bekerja dan harus mencari keterangan-
keterangan yang diperlukan tentang resiko, biaya tak terduga dan keadaan lain yang
mungkin mempunyai pengaruh terhadap penawarannya.
2. Sebelum memasukkan surat penawaran, Pelaksana dianggap telah mengetahui dan
memahami tentang kelengkapan surat penawarannya. Harga-harga satuan yang
dicantumkan dalam daftar harga penawaran harus sudah mencakup semua kewajiban
yang disebut dalam dokumen kontrak.
3. Apabila penawarannya disetujui, Pelaksana harus bersedia menandatangani suatu
perjanjian kontrak sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan, dengan perubahan-
perubahan yang dianggap perlu atas persetujuan kedua belah pihak.
Pasal 06. SUB KONTRAKTOR
1. Pelaksana bila dipandang perlu dibenarkan untuk bekerja sama dengan rekanan/
Pelaksana lain dengan ijin dan persetujuan tertulis dari Konsultan pengawas dan
melaporkan kepada pemberi tugas.
2. Pelaksana wajib memberikan laporan periodik kepada pemberi tugas mengenai
pelaksanaan ayat (1) di atas.
3. Kerja sama sehubungan dengan ayat (1) di atas, hanya untuk sebagian dari pekerjaan
yang akan dilaksanakan, tidak diperkenankan untuk menyerahkan seluruh pekerjaan
pada sub kontraktor.
4. Dalam pelaksanaan ayat (1) di atas, segala biaya yang timbul dan hasil pekerjaan yang
didapat dari penyerahan sebagian pekerjaan kepada sub kontraktor, tetap menjadi
tanggung jawab penuh Pelaksana.

Pasal 07. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN


Jangka waktu pelaksanaan 120 (Seratus Dua Puluh Hari) hari kalender, terhitung sejak
ditanda tanganinya Kontrak. Dan 180 (seratus delapan puluh) hari kalender untuk masa
Pemeliharaan setelah Penyerahan Pertama (PHO).

Pasal 08. WAKTU DIMULAINYA DAN KETERLAMBATAN PELAKSANAAN


PEKERJAAN
1. Pelaksana harus memulai pekerjaan sebagaimana tercantum dalam dokumen kontrak
selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kelender setelah dikerluarkannya Surat
Perintah Kerja dan melaksanakannya dengan baik dan tepat pada waktunya tanpa
keterlambatan, kecuali disebabkan oleh keadaan diluar kemampuan Pelaksana yang
disetujui oleh Konsultan pengawas.

3
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
2. Apabila ternyata Pelaksana tidak dapat melaksanakan pekerjaan sebagai mana telah
ditetapkan dan berdasarkan schedule yang diajukan, maka pemberi tugas berhak untuk
memutuskan kontrak secara sepihak. Segala akibat yang ditimbulkan oleh keadaan
tersebut di atas sepenuhnya tanggung jawab Pelaksana.
3. Apabila terlihat bahwa kemajuan pekerjaan mengalami hambatan dan mungkin akan
mengakibatkan pekerjaan tidak selesai pada waktu yang telah ditetapkan, maka
Pelaksana harus segera memberitahukan secara tertulis kepada pemberi tugas mengenai
alasan dan penyebab hambatan tersebut serta menyebutkan berapa hari diperkirakan
terjadinya keterlambatan tersebut.
4. Atas keterlambatan pekerjaan tersebut, Pelaksana harus mengajukan permohonan
tertulis untuk perpanjangan waktu selambat-lambatnya 1 (satu) minggu sebelum waktu
penyerahan pertama pekerjaan, disertai alasan yang dapat diterima oleh pemberi tugas.
5. Apabila permohonan tersebut disetujui, maka pemberi tugas akan memberikan
perpanjangan waktu yang layak berdasarkan rekomendasi konsultan pengawas untuk
menyelesaikan pekerjaan, dengan catatan bahwa Pelaksana harus berusaha untuk
menyelesaikan pekerjaan.

Pasal 09. RENCANA KERJA


1. Dalam waktu paling lambat 15 (lima belas) hari setelah ditunjuk oleh pemberi tugas,
maka Pelaksana harus segera mengirim rencana kerja untuk disetujui oleh pemberi
tugas, antara lain:
- Jadwal waktu dan urutan pelaksanaan pekerjaan dan metoda yang akan digunakan
dalam melaksanakan pekerjaan, untuk dibicarakan dan disetujui oleh pemberi
tugas.
- Keterangan lengkap mengenai struktur organisasi dan daftar personalia yang akan
ditugaskan di lapangan, untuk diketahui pemberi tugas.
- Jadwal personal yang disusun secara tabelaris serta dalam bentuk diagram.
- Jadwal pengadaan material
- Jadwal pengadaan peralatan
- Tata cara pelaksanaan baik secara teknis maupun secara administratif.
2. Dengan disetujuinya rencana kerja atau keterangan-keterangan lain oleh pemberi
tugas, tidak berarti membebaskan Pelaksana dari suatu tugas pertanggung jawaban
yang tercantum dalam kontrak.

Pasal 10. JAMINAN PELAKSANAAN


1. Sebelum penandatangan kontrak, Pelaksana harus menyerahkan Surat Jaminan
Pelaksanaan Pekerjaan berupa Garansi Bank dari Bank Pemerintah/Swasta besaran
prosentase biaya disesuaikan dari nilai kontrak. Dalam surat jaminan pelaksanaan
tersebut di atas harus ada ketentuan bahwa Garansi Bank akan menjadi milik Negara
dan dapat diuangkan oleh Pemberi Tugas tanpa persetujuan Pelaksana, apabila terjadi
pemutusan hubungan kerja dengan memperhitungkan prestasi pekerjaan yang telah
dilaksanakan.
2. Garansi Bank tersebut harus dialamatkan kepada Bank Setempat.
Garansi Bank tersebut harus dapat diuangkan dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah adanya
permintaan tertulis dari pemberi tugas, serta berlaku sampai dengan penyerahan
pertama pekerjaan.

4
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
3. Apabila Pemberi Tugas memutuskan kontrak sebelum pelaksanaan pekerjaan selesai,
sesuai dengan wewenang tersebut dalam pasal 28 dari buku Syarat-syarat Umum ini,
maka Pemberi Tugas menguangkan Garansi Bank tersebut untuk dijadikan milik
proyek.
4. Selama masa pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana harus tetap mempertahankan agar
Garansi Bank tersebut tetap bernilai utuh sebagai mana ditentukan dalam ayat (1) di
atas.
5. Garansi Bank tersebut akan segera dikembalikan kepada Pelaksana setelah seluruh
pekerjaan yang dinyatakan dalam kontrak selesai dikerjakan dan diserahkan kepada
Pemberi tugas sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam kontrak
dan dokumen lampiran kontrak.

Pasal 11. ASURANSI


1. Dalam waktu paling lambat 2 (dua) minggu setelah kontrak ditanda tangani, Pelaksana
sudah harus mengasuransikan seluruh pekerjaan yang menimbulkan kerusakan atau
kejadian/kecelakaan yang menimbulkan kerusakan atau kerugian.
2. Selain itu Pelaksana juga harus menyelenggarakan Asuransi Sosial Tenaga Kerja
(ASTEK) sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku dan mengadakan asuransi
kecelakaan untuk wakil/staf pemberi tugas, Konsultan pengawas dan stafnya, staf lain
dan tamu-tamu khusus yang akan ditentukan kemudian oleh Pemberi Tugas, yang
berlaku selama pelaksanaan pekerjaan.
3. Apabila Pelaksana tidak mengadakan asuransi tersebut dalam ayat (1) dan (2) di atas
atau tidak memperpanjang sedangkan pekerjaan belum selesai, maka pemberi tugas
akan mengadakan atau memperpanjang asuransi tersebut menggunakan dana yang
seharusnya dibayarkan kepada Pelaksana.

Pasal 12. PERBURUHAN


1. Dalam mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pengerahan tenaga kerja dan
tenaga Pelaksana, maka Pelaksana harus memenuhi segala undang-undang dan
peraturan perburuhan yang berlaku di Indonesia.
2. Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam bidang pemeliharaan kesehatan
tenaga kerja, Pelaksana harus menjamin pemeliharaan kesehatan di tempat pekerjaan,
mencegah dan mengatasi penyakit menular dan menyediakan perlengkapan PPPK yang
memadai.
3. Pelaksana harus bertanggung jawab atas pemenuhan segala ketentuan yang termasuk
dalam pasal ini, terhadap sub kontraktor dan semua orang yang dipekerjakan untuk
keperluan atau yang berhubungan dengan kontrak.
4. Pelaksana harus menghormati dan memberikan perhatian terhadap hari besar resmi dan
hari-hari libur serta menyusun rencana kerja tersebut secara khusus apabila
menghendaki melaksanakan pekerjaan pada hari-hari tersebut.

Pasal 13. BENDA-BENDA ARKHEOLOGIS


1. Segala macam fosil, mata uang, barang-barang, bangunan atau benda lain yang
mempunyai nilai antik serta peninggalan lain yang mempunyai nilai geologis atau
5
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
arkheologis yang ditemukan di tempat pekerjaan harus dianggap sebagai milik negara
dan Pelaksana harus mencegah agar para pekerjanya atau orang-orang lain
memindahkan atau merusak barang-barang tersebut.
2. Pelaksana tidak diperkenankan memindahkan barang-barang tersebut setelah
ditemukan dan harus segera memberitahukan kepada Konsultan pengawas serta
melaksanakan perintah-perintah dari Konsultan pengawas untuk mengangkut barang-
barang tersebut ke tempat yang telah ditentukan atas biaya Negara.

Pasal 14. PERLINDUNGAN TERHADAP KEPENTINGAN UMUM


1. Semua kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan yang menggunakan milik umum,
milik Pemberi tugas atau milik orang lain harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan gangguan terhadap kepentingan umum. Dalam hal terjadi
gangguan terhadap kepentingan umum, maka Pelaksana harus membebaskan pemberi
tugas dari segala macam tuntutan atau klaim.
2. Pelaksana harus bertanggung jawab dan mengganti kerugian yang ditimbulkan akibat
pelaksanaan pekerjaan yang disebabkan kelalaian Pelaksana, pekerja Pelaksana, agen
atau sub kontraktor yang berhubungan.

Pasal 15. PERLINDUNGAN TERHADAP HAK PATEN


1. Pelaksana harus membebaskan Pemberi tugas dari segala macam klaim atau tuntutan
atas pelanggaran suatu hak paten atau cap dagang atau nama dan hak-hak lain yang
dilindungi undang-undang mengenai penggunaan suatu peralatan untuk pelaksanaan
konstruksi, mesin atau bahan-bahan yang digunakan untuk keperluan atau yang
berhubungan dengan kontrak. Semua royalti atau biaya lain yang harus dibayarkan
sehubungan dengan hal tersebut di atas dianggap telah termasuk dalam harga
penawaran.

Pasal 16. MUTU BAHAN DAN HASIL PELAKSANAAN PEKERJAAN


1. Semua bahan yang digunakan dan seluruh hasil pekerjaan harus memenuhi syarat-
syarat yang telah ditetapkan dalam kontrak dan dokumen lampiran kontrak. Demikian
juga halnya dengan cara pelaksanaan dan penggunaan bahan tersebut harus sesuai
dengan ketentuan-ketentuan dalam kontrak dan dokumen lampiran kontrak serta
perintah dan petunjuk pemberi tugas atau konsultan pengawas yang disampaikan
selama pelaksanaan pekerjaan.
2. Atas permintaan konsultan pengawas atau pemberi tugas, Pelaksana harus bersedia
mengirimkan contoh bahan yang akan digunakan, untuk selanjutnya diuji mutunya.
Setiap saat mutu pekerjaan harus siap diuji oleh Konsultan pengawas/pemberi tugas
atau pihak ketiga yang ditentukan kemudian. Untuk memenuhi hal pengujian tersebut,
Pelaksana tidak berhak mengajukan tuntutan (klaim) tambahan biaya.

3. Bila bahan-bahan bangunan yang memenuhi spesifikasi teknis terdapat


beberapa/bermacam-macam jenis (merk) diharuskan untuk memakai jenis dan mutu
bahan dipilih satu jenis.

6
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
a. Atap memakai genteng merk karangpilang Bambe
b. Pekerjaan Beton Memakai Semen Gresik
c. Kusen Pintu Jendala Ukuran 4” Memakai Merk ex Inkalum
d. Usuk dan Reng Baja ringan memakai merk kencana truss,Kepuh Kencana
e. Listplank memakai kalsiplank merk Kalsiplank
f. Kuda-kuda dan Rangka Plafond memakai Rangka Langit-langit kayu
kruwing
g. Penutup plafon calsiboard, ( 120 X 240 ) GRC Board, Pink Board
h. Granite Tile memakai merk serenity

Pasal 17. PEMERIKSAAN PEKERJAAN


1. Pelaksana harus memberi ijin kepada Konsultan pengawas, pemberi tugas untuk
memasuki bengkel kerja (workshop) atau tempat-tempat lain yang ada hubungannya
dengan pelaksanaan pekerjaan, dan melakukan pemeriksaan serta perhitungan hasil
pekerjaan yang telah dan sedang diselesaikan.
2. Konsultan pengawas dan Pemberi tugas mempunyai wewenang memerintahkan
Pelaksana secara tertulis untuk:
- Mengganti bahan-bahan yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan-ketentuan
dalam kontrak dan dokumen lampiran kontrak dengan bahan-bahan yang sesuai
dengan ketentuan dan syarat tersebut.
- Membongkar dan melaksanakan kembali sesuatu pekerjaan yang bahan-bahan, cara
pelaksanaan atau hasil pekerjaannya tidak memenuhi syarat dan ketentuan dalam
dokumen kontrak dan dokumen lampiran kontrak sampai didapat hasil pekerjaan,
cara pelaksanaan dan bahan yang sesuai dengan syarat dan ketentuan tersebut.
Semua hal tersebut di atas menjadi tanggung jawab pelaksana tanpa hak untuk
menuntut (klaim) tambahan biaya.
1. Pelaksana harus memperhatikan dan mengindahkan perintah/peringatan yang diberikan
tersebut ayat (2) di atas dan harus segera melakukan tindakan untuk memperbaiki hal-
hal yang disebut dalam perintah/peringatan tersebut.

Pasal 18. LAPORAN


1. Pelaksana wajib membuat dan menyampaikan laporan mengenai perkembangan
pelaksanaan pekerjaan secara tertulis kepada konsultan pengawas, dan membuat buku
harian yang mencatat semua instruksi, keputusan dan hal-hal lain yang penting dan
dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan tersebut.
2. Dalam laporan harian, dicatat hal-hal berikut:
- Kemajuan pekerjaan setiap hari, bahan-bahan dan peralatan yang datang, jumlah
tenaga kerja yang bekerja, dan kondisi cuaca pada hari itu.
- Tugas dan perintah yang diberikan oleh konsultan pengawas.
- Perubahan pekerjaan yang dilaksanakan, baik pekerjaan tambahan atau pekerjaan
kurang.
3. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan foto-foto yang bertanggal serta dibuat dalam
beberapa rangkap yang akan ditentukan kemudian hari.

7
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pasal 19. RESIKO KENAIKAN HARGA BAHAN DAN UPAH
1. Apabila selama pelaksanaan pekerjaan terjadi kenaikan harga, maka Pelaksana tidak
dapat mengajukan permohonan peninjauan dan perhitungan tambahan harga atau
menuntut tambahan biaya. Pelaksana dianggap telah memperhitungkan faktor-faktor
tersebut di atas pada saat mengajukan harga penawaran.
2. Kenaikan harga tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan atau mengurangi
kualitas pekerjaan, mengurangi volume pekejaan, dan/atau memperlambat waktu
penyelesaian pekerjaan sebagai mana yang telah ditetapkan dalam kontrak.
3. Apabila terjadi kenaikan harga akibat adanya kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
moneter atau lainnya, akan ditentukan kemudian oleh pemberi tugas.

Pasal 20. DENDA DAN PERSELISIHAN


1. Bila jangka waktu pelaksanaan yang telah disepakati dalam kontrak tidak dilaksanakan
oleh Pelaksana karena suatu alasan yang tidak dapat diterima oleh pemberi tugas, maka
Pelaksana akan dikenakan denda atau sanksi yang akan diatur kemudian dalm kontrak.
2. Segala perselisihan yang mungkin timbul antara pemberi tugas dan Pelaksana, pada
prinsipnya akan diselesaikan secara musyawarah. Alternatif penyelesaian akan diatur
kemudian dalam kontrak.

Pasal 21. RESIKO-RESIKO LAIN


1. Jika hasil pekerjaan Pelaksana musnah dengan cara apapun sebelum diserahkan kepada
pemberi tugas, maka Pelaksana bertanggung jawab sepenuhnya atas kerugian yang
timbul, kecuali pemberi tugas lalai menerima pekerjaan tersebut.
2. Jika terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan yang disebabkan oleh kelalaian
Pelaksana, maka segala kerugian yang timbul sehubungan dengan keterlambatan
tersebut menjadi tanggung jawab Pelaksana.

Pasal 22. FORCE MAJURE


1. Kecuali ditentukan lain dalam kontrak, maka Pelaksana tidak bertanggung jawab atas
segala kerugian atau kerusakan yang diakibatkan oleh keadaan khusus (Force Majure)
yang di luar kekuasaan Pelaksana. Yang dianggap dengan keadaan khusus adalah:
- Bencana Alam : Gempa bumi, angin topan, letusan gunung berapi, dan banjir besar
(yang dinyatakan oleh penjabat pemerintah yang berwenang sebagai bencana alam)
- Sabotase berupa peledakan atau pembakaran
- Peperangan baik yang diumumkan atau tidak.
2. Bila selama berlakunya kontrak timbul peperangan (diumumkan atau tidak) di bagian
dunia yang mempengaruhi pelaksanaan kontrak, maka Pelaksana harus tetap
melaksanakan kontrak, kecuali bila pemberi tugas menyatakan bahwa kontrak
dihentikan dan memberitahukan secara tertulis kepada Pelaksana, tanpa merugikan
salah satu pihak.
3. Apabila kontrak sebagai mana tersebut dalam ayat (2) di atas, maka Pelaksana harus
memindahkan alat konstruksi dari daerah kerja.

8
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
4. Apabila kontrak sebagai mana tersebut dalam ayat (2) di atas, maka pemberi tugas akan
membayar kepada Pelaksana semua pekerjaan yang telah dilaksanakan sebelum tanggal
penghetian kontrak, menurut ukuran-ukuran dan harga yang tercantum dalam kontrak
dengan ketentuan tambahan sebagai berikut:
- Jumlah yang akan dibayarkan adalah untuk pekerjaan yang telah dilaksanakan dan
telah disyahkan oleh pelaku pengawas.
- Biaya-biaya bahan yang telah dipesan untuk keperluan pelaksanaan, baik yang
sudah dikirim maupun yang belum, dan sudah disahkan oleh konsultan pengawas
akan menjadi milik pemberi tugas setelah dilakukan pembayaran.

Pasal 23. PEMBAYARAN


1. Pembayaran hasil pekerjaan akan dilakukan secara bertahap berdasarkan kemajuan
pekerjaan.
2. Tahapan angsuran pembayaran akan diatur kemudian dalam kontrak.

Pasal 24. PERINTAH PENUNDAAN DAN PERUBAHAN PEKERJAAN


1. Apabila berdasarkan perintah tertulis dari konsultan pengawas atau pemberi tugas,
Pelaksana harus menunda kelanjutan pekerjaan untuk waktu tertentu, maka selama
waktu penundaan, pekerjaan harus tetap dilindungi dan dijaga dengan petunjuk
konsultan pengawas.
2. Konsultan pengawas berhak mengeluarkan perintah perubahan pekerjaan dan
Pelaksana harus melaksanakannya tanpa dianggap melanggar ketentuan-ketentuan
dalam kontrak. Perintah perubahan tersebut harus dicatat dalam buku harian
yang ditanda tangani/diparaf oleh konsultan pengawas. Pelaksana dilarang
mengadakan perubahan- perubahan dalam pekerjaan kecuali sesuai dengan perintah
perubahan yang diberikan.
3. Dengan persetujuan tertulis dari pemberi tugas, konsultan pengawas dapat mengadakan
perubahan dalam segi kualitas atau besaran lingkup pekerjaan yang dianggap perlu,
dengan memberikan perintah perubahan pekerjaan tertulis kepada Pelaksana.
4. Perintah perubahan pekerjaan tidak boleh merubah pekerjaan pokok dalam kontrak dan
perubahan akan dihitung sesuai dengan harga yang ditentukan dalam kontrak.
5. Pelaksana tidak diperkenankan mengajukan tuntutan tambahan biaya (klaim) karena
adanya perintah perubahan pekerjaan tersebut di atas, kecuali apabila hal itu memakan
biaya yang secara komulatif dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan-
ketetuan dalam Keppres No. 29 Tahun 1984, yang disempurnakan dengan Keppres No.
6 Tahun 1988 dan Inpres No. 1 Tahun 1988.
6. Besarnya biaya perubahan pekerjaan yang dilakukan akan dihitung dengan
menggunakan keterangan-keterangan yang dicantumkan di dalam daftar harga satuan
bahan, upah dan analisa pekerjaan yang diajukan dalam dokumen penawaran.
7. Pemberi tugas akan mengadakan penyesuaian (bila ada) terhadap harga kontrak akibat
suatu perubahan pada pekerjaan yang telah dilaksanakan sesuai dengan surat perintah
perubahan pekerjaan.

9
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pasal 25. PENYELESAIAN PEKERJAAN
1. Semua hasil pekerjaan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam kontrak
dan dokumen lampiran kontrak. Bilamana ada bagian-bagian dari hasil pekerjaan yang
tidak memenuhi syarat atau ketentuan tersebut, maka Pelaksana berkewajiban untuk
segera memperbaikinya tanpa hak untuk mengajukan tuntutan tambahan biaya.
2. Pemeriksaan hasil penyelesaian pekerjaan akan segeradilaksanakan bersama antara
konsultan pengawas dengan Pelaksana setelah diterimanya pemeberitahuan tertulis dari
Pelaksana mengenai selesainya pekerjaan.
3. Hasil pemeriksaan akan dituangkan dalam suatu berita acara pemeriksaan yang
berisikan data mengenai kondisi hasil pekerjaan yang telah diperiksa.
4. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa hasil pekerjaan belum dapat diterima,
maka Pelaksana wajib segera melaksanakan/menyempurnakan bagian-bagian
pekerjaan sesuai dengan berita acara hasil pemeriksaan pekerjaan.
5. Jika hasil pemeriksaan sudah menunjukkan bahwa pekerjaan sudah memenuhi segala
persyaratan dan ketentuan dalam kontrak dan dokumen lampiran kontrak, maka
konsultan pengawas akan membuat berita acara penyerahan pekerjaan pertama yang
akan ditanda tangani oleh pemberi tugas dan Pelaksana, disertai dengan syarat-syarat
pemeliharaan yang harus dilaksanakan oleh Pelaksana.

Pasal 26. MASA PEMELIHARAAN DAN KERUSAKAN PADA MASA


PEMELIHARAAN
1. Masa pemeliharaan ditetapkan selama 180 (seratus delapan puluh) hari kalender dan
dihitung sejak tanggal berita acara penyerahan pekerjaan pertama.
2. Selama masa pemeliharaan, Pelaksana harus melakukan pekerjaan perbaikan yang
diminta secara tertulis oleh konsultan pengawas sesuai dengan hasil pemeriksaan.
Apabila perbaikan yang dilakukan tersebut melampaui masa pemeliharaan, maka masa
pemeliharaan tersebut dihitung sampai berakhirnya perbaikan yang dilakukan.
3. Perbaikan harus dilaksanakan oleh Pelaksana atas biaya sendiri, apabila perbaikan itu
merupakan akibat dari kesalahan Pelaksana dalam penggunaan bahan atau cara
pelaksanaan yang tidak sesuai dengan persyaratan dalam kontrak atau akibat kelalaian
Pelaksana untuk memenuhi kewajaibannya sebagaimana yang tercatum dalam kontrak.
Apabila perbaikan itu disebabkan oleh sebab-sebab lain diluar tanggung jawab
Pelaksana, maka biaya perbaikan akan dihitung sebagai kerja tambahan.
4. Apabila terjadi kerusakan selama masa pemeliharaan dan diminta secara tertulis oleh
konsultan pengawas, maka Pelaksana harus mengadakan penyelidikan mengenai sebab-
sebab terjadinya kerusakan sesuai dengan petunjuk konsultan pengawas. Apabila
kerusakan-kerusakan tersebut merupakan tanggung jawab Pelaksana sesuai dengan
kontrak, maka biaya perbaikan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu akan
menjadi tanggung jawab Pelaksana.
5. Apabila dalam jangka waktu 7 x 24 jam yang ditetapkan dalam surat pemberitahuan
pertama, Pelaksana belum melakukan pekerjaan perbaikan yang diperlukan, maka
pemberi tugas berhak menunjuk pihak ketiga untuk melakukan pekerjaan tersebut
diatas dengan biaya Pelaksana.

10
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pasal 27. HAK PEMBERI TUGAS UNTUK MEMUTUSKAN KONTRAK
1. Pemberi tugas mempunyai hak untuk memutuskan kontrak dan Pelaksana harus
menanggung segala biaya yang diakibatkan oleh pemutusan kontrak ini, apabila:-
Pelaksana tanpa alasan yang dapat diterima oleh pemberi tugas lalai dan gagal untuk
menyelesaikan seluruh pekerjaannya sebagaimana yang telah ditentukan dalam
rencana kerja dan jadwal waktu penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati dalam
kontrak.
- Pelaksana dinyatakan pailit serta tidak dapat lagi memenuhi kewajibannya
terhadap para kreditor atau menyatakan dirinya dalam keadaan likuidasi (bukan
likuidasi untuk mengadakan peleburan atau pembangunan kembali).
- Pelaksana dengan sengaja melalaikan dan tidak mengindakan petunjuk-petunjuk
dan peringatan-peringatan dari pemberi tugas sehingga merugikan
pelaksanaan pekerjaan.
- Pelaksana dinyatakan bersalah karena melakukan sejumlah pelanggaran terhadap
ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat dalam kontrak.
2. Apabila pemberi tugas memutuskan kontrak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
tercantum dalam ayat (1) di atas, maka pemberi tugas berhak menguangkan garansi
Bank yang merupakan jaminan pelaksanaan, serta berhak menunjuk perusahaan lain
sebagai Pelaksana pengganti yang ditugaskan untuk melanjutkan pekerjaan dan
pemberi tugas berhak untuk menguasai semua barang yang sudah berada di daerah
kerja.
3. Setelah adanya pemutusan kontrak dan penguasaan oleh pemberi tugas seperti
ditentukan dalam ayat (1) dan (2) di atas, maka pemberi tugas hanya berkewajiban
untuk membayar kepada Pelaksana jumlah uang (setelah dikurangi dengan jumlah yang
telah dibayarkan dalam angsuran pembayaran sebelumnya) yang menurut konsultan
pengawas layak diterima oleh Pelaksana sebagai pembayaran terhadap pekerjaan yang
telah dapat diselesaikannya sesuai dengan persyaratan dan ketentuan kontrak.

Pasal 28. PENYERAHAN PEKERJAAN


1. Setelah berakhirnya masa pemeliharaan dan setelah mengadakan pemeriksaan terhadap
hasil pekerjaan, maka pelaku pengawasan akan membuat berita acara pemeriksaan
pekerjaan yang akan menyatakan bahwa pekerjaan telah diselesaikan dan diperiksa
dengan baik.
2. Berdasarkan berita acara pemeriksaan pekerjaan, dapat dilakukan penyerahan
pekerjaan kedua dari Pelaksana kepada pemberi tugas dan dituangkan dalam berita
acara penyerahan pekerjaan kedua yang ditanda tangani oleh Pelaksana dan pemberi
tugas.

Pasal 29. KEGAGALAN PELAKSANAAN KONTRAK


1. Apabila Pelaksana gagal untuk memenuhi instruksi konsultan pengawas sesuai dengan
kontrak, maka pemberi tugas akan mengambil tindakan seperlunya terhadap kegagalan
tersebut, dan semua biaya yang dikeluarkan karena kegagalan tersebut harus
ditanggung oleh Pelaksana dengan membayar kembali kepada pemberi tugas atau
dikurangi dari bagian yang menjadi hak Pelaksana.

11
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
2. Apabila kontrak tidak dapat dilaksanakan dan dihentikan menurut ketentuan-ketentuan
dalam pasal 23, maka jumlah yang harus dibayar kepada Pelaksana untuk pekerjaan
yang telah dilaksanakan harus sama besarnya dengan jumlah yang seharusnya
dibayarkan menurut pasal tersebut.

Pasal 30. KETENTUAN UMUM


1. Pelaksana harus mematuhi ketentuan-ketentuan hukum, peraturan-peraturan
pemerintah, propinsi dan daerah hukum lainnya yang berlaku di Indonesia.
2. Selain ketentuan hukum tersebut dalam ayat (1) di atas, maka Pelaksana harus
mematuhi semua peraturan dari badan hukum dan perusahaan-perusahaan yang milik
atau haknya terganggu dalam pelaksanaan pekerjaan. Selain hal tersebut di atas,
Pelaksana juga harus membayar semua ongkos/biaya yang timbul karenanya dan
membebaskan pemberi tugas dari semua denda dan petanggung jawaban.

Pasal 31. PAJAK-PAJAK


1. Pelaksana harus bertanggung jawab atas pembayaran pajak-pajak, sesuai dengan
Undang-undang perpajakan yang berlaku di Indonesia, termasuk Pajak Pertambahan
Nilai ( PPN ).

Pasal 32. TAMBAHAN


1. Pelaksana dalam segala hal diartikan sebagai Pelaksana dari Indonesia yang tunduk
kepada hukum-hukum yang berlaku di Indonesia. Sebagai akibat diterbitkannya
kontrak pelaksanaan ini, pemberi tugas akan mengambil tempat kedudukan
(domisili) di Kota Pasuruan.

A. PERSYARATAN UMUM LAINNYA


Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Pelaksana adalah :
a. Melaksanakan pekerjaan pembersihan lokasi, sesuai yang tertera dalam gambar
teknis dan bill of quantity.
b. Pengadaan, pengamanan dan pengawasan segala macam alat dan bahan yang
digunakan dalam pelaksanaan.
c. Pemasangan, pengetesan dan pemeliharaan semua bahan dan peralatan sesuai batas
waktu yang telah ditentukan.
d. Pengerahan tenaga kerja sesuai kebutuhan, keahlian dan keterampilannya. e. Bersedia
kerja lembur apabila kondisi pekerjaan menuntut untuk itu.

12
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
B. UKURAN DAN NOTASI
a. Semua ukuran dalam gambar arsitektur, struktur, mekanikal dan elektrikal
adalah ukuran jadi / finishing, kecuali ada ketentuan lain yang akan dijelaskan
kemudian.
b. b. Apabila ada perbedaan atau penyimpangan ukuran dan notasi, maka
harus dikonfirmasikan kepada konsultan perencana, atau cukup hanya dengan
memperbandingkan dengan skala gambar.
C. GAMBAR – GAMBAR
a. Seluruh gambar-gambar pelaksanaan Rehabilitasi Ruang Laboratorium SMP 8 Kota
Pasuruan secara lengkap (arsitektur, struktur, mekanikal dan elektrikal, serta
spesifikasi teknis) dapat diperoleh melalui pengawas lapangan atas sepengetahuan
pemberi kerja.
b. Pelaksana wajib meneliti dan memahami seluruh proses dan teknis pekerjaan ini
sehingga dapat menyesuaikan program dan bekerja secara integral dan simultan.
c. Pelaksana wajib membuat gambar kerja pelaksanaan (shop drawing) dibuat dalam
rangkap 3 (tiga); 1 (satu) set untuk Pelaksana, 1 (satu) set untuk pengguna jasa dan 1
(satu) set untuk pengawas lapangan.
d. Selama pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana wajib membubuhkan tanda dengan warna
tertentu pada gambar atas bagian-bagian bangunan yang sudah dilaksanakan,
termasuk apabila ada perubahan dari gambar semula.
e. Sebelum setiap bagian pekerjaan dilaksanakan, Pelaksana wajib mengajukan shop
drawing dan harus mendapatkan persetujuan pengguna jasa dibantu oleh konsultan
pengawas.
f. Apabila ada perbedaan antara gambar kerja dan syarat-syarat teknis/spesifikasi, maka
yang berlaku adalah syarat-syarat teknis dan spesifikasi, kecuali ditentukan lain oleh
Pengguna Jasa/Konsultan Perencana/Pengawas lapangan.
g. Apabila ada keraguan-raguan gambar, maka Pelaksana harus menyampaikan kepada
pengguna jasa/pengawas lapangan paling lambat 1 (satu) minggu sebelum
dilaksanakan.
h. Perbedaan tersebut tidak dapat dijadikan alasan oleh Pelaksana untuk mengadakan
claim atas waktu pelaksanaan.

D. PEKERJAAN SARANA TAPAK


Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi :
a. Penyediaan air dan daya listrik untuk bekerja.
b. Air untuk bekerja harus disediakan penyedia jasa dengan membuat sumur pompa di
tapak proyek atau disuplai dari luar.
c. Air harus bersih, bebas dari bau, lumpur, minyak dan bahan kimia lainnya yang
merusak.
d. Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Pengguna Jasa.
e. Penggunaan diesel pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan sementara atas
persetujuan Pengguna Jasa.
f. Pekerjaan penyediaan alat pemadam kebakaran.

13
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
E. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Lingkup Pekerjaan yang dimaksud meliputi :
a. Pekerjaan pembersihan sebelum pelaksanaan
b. Pekerjaan perlindungan instalasi eksisting
c. Pekerjaan pembuatan Tugu Patok Dasar (Bench Mark)
d. Pekerjaan penentuan peil P  0.00 e. Pengukuran tapak
e. Dan/atau seperti tercantum dalam Gambar Kerja
2. Persyaratan Pelaksanaan
a. Pekerjaan pembersihan sebelum pelaksanaan, Pekerjaan ini meliputi pembersihan
area proyek dari semua kotoran dan sampah baik sampah organik maupun
anorganik yang nantinya akan mengganggu dan atau menurunkan kualitas
pekerjaan diatasnya.
b. Pekerjaan perlindungan terhadap instalasi eksisting
1) Pekerjaan ini meliputi perlindungan instalasi eksisting yang berada di dalam
Tapak Proyek dan dinyatakan oleh Pengguna Jasa/Perencana masih berfungsi.
Dalam hal ini Penyedia Jasa harus menjaga dan memeliharanya dari
gangguan/cacat.
2) Apabila jalur instalasi eksisting yang masih berfungsi harus dipindahkan, maka
Penyedia jasa harus melakukan pekerjaan ini sesuai dengan putusan tertulis dari
Pengguna Jasa/Perencana.
c. Pembuatan Tugu Patok Dasar (Bench Mark)
a. Letak tugu patok dasar ditentukan oleh Pengguna Jasa.
b. Tugu Patok Dasar dibuat dari bahan beton bertulang berpenampang 20 x 20 cm,
tertancap kuat ke dalam tanah sedalam 1,00 m dengan bagian yang muncul di atas
muka tanah secukupnya untuk memudahkan pengukuran selanjutnya.
c. Tugu Patok dasar dibuat permanen, tidak dapat diubah, diberi tanda yang jelas dan
dijaga keutuhannya sampai ada instruksi tertulis dari Pengguna Jasa untuk
membongkarnya.
3. Pekerjaan Penentuan Peil Dasar Bangunan atau P  0.00
a. P  0.00 finishing Arsitektur adalah peil lantai ruang utama dengan acuan bench
mark yang telah dibuat oleh konsultan perencana pada tahap pengukuran tapak.
b. Papan patok ukur/bouwplank dibuat dari kayu dengan ukuran tebal 3 cm dan lebar
15 cm, lurus dan diserut rata pada sisi atasnya. Papan patok ukur dipasang pada
patok kayu 5/7 yang jarak satu sama lain adalah 1.50 m tertancap di tanah sehingga
tidak dapat digerakkan atau diubah.
c. Tinggi sisi atas papan patok ukur harus sama dengan lainnya dan/atau rata
waterpass, kecuali dikehendaki lain oleh Pengguna Jasa/ Perencana.
d. Setelah selesai pemasangan papan patok ukur, Penyedia jasa harus melaporkan
kepada Pengguna Jasa untuk mendapatkan persetujuan.
4. Pengukuran Tapak
a. Penyedia jasa diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran kembali
lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-keterangan mengenai peil
ketinggian tanah, letak bangunan yang ada, letak batas-batas tanah dengan
menggunakan alat optik dan sudah ditera kebenarannya oleh pihak yang terkait.
b. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan di lapangan yang
sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan
untuk dimintakan keputusannya.

14
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
c. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat-alat
waterpass/theodolit tipe T2.
d. Penyedia jasa harus menyediakan Theodolit tipe T2/Waterpass beserta petugas yang
melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
e. Pengukuran sudut siku-siku dengan prisma atau benang secara azas segitiga
phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil yang telah disetujui oleh
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
f. Instalasi yang sudah ada dan masih berfungsi harus diberi tanda yang jelas dan
dilindungi dari kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi akibat pekerjaan proyek
ini, untuk itu harus dicantumkan dalam gambar pengukuran.
g. Penyedia jasa bertanggungjawab atas segala kerusakan akibat pekerjaan yang sudah
dilaksanakannya.
h. Gambar pengukuran tapak harus mendapat persetujuan/pengesahan Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan antara lain memuat :
1) Sistem koordinat, sesuai ketentuan gambar.
2) Peil setiap titik simpul koordinat dan transisi dengan interval ketinggian 25 cm.

15
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
BAB II
SYARAT-SYARAT TEKNIS

PERSYARATAN TEKNIS UMUM PELAKSANAAN


Pasal 01. PERATURAN TEKNIS
1. Untuk pelaksanaan pekerjaan ini digunakan lembar-lembar ketentuan- ketentuan
dan peraturan seperti tercantum di bawah ini :
a. Peraturan-peraturan umum atau Algemene Voorwaarden (A.V)
b. Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002)
c. Peraturan Konstuksi Kayu Indonesia (SNI Kayu 2002)
d. Peraturan Perencanaan Struktur Baja (SNI-03-1729-2002)
e. Peraturan Umum Instalasi Listrik (A.V.E)
f. Peraturan Instalasi Listrik (SNI 0225 : 2011)
g. Pedoman Sistem Plumbing Pada Bangunan (SNI 8153 : 2015)
h. Peraturan Dinas Kebakaran Kota Pasuruan
i. Peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh PLN
j. Peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh PDAM
k. Peraturan Direktorat Jenderal Perawatan Departemen Tenaga Kerja Tentang
Penggunaan Tenaga Kerja, Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja
l. Persyaratan Umum Dewan Teknik Pembangunan Indonesia (PDTPI - 1980)
m. Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Pembangunan Gedung Negara oleh
Departemen Pekerjaan Umum
n. Beban Minimum Untuk Perencanaan Bangunan Gedung dan Struktur Lain (SNI
1726 : 2012)
o. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan
Non Gedung (SNI 1726 : 2012)
p. Peraturan Bahan Bangunan Indonesia (PBBI – 1983)
q. Peraturan Pemerintah Daerah setempat
2. Jika ternyata pada rencana kerja dan syarat-syarat ini terdapat kelainan/
penyimpangan dari peraturan-peraturan sebagaimana dinyatakan dalam ayat (1) di atas,
maka rencana kerja dan syarat-syarat ini yang mengikat.

Pasal 02. PEMAKAIAN UKURAN


1. Pelaksana tetap bertanggung jawab dalam menepati semua ketentuan yang
tercantum dalam rencana kerja dan syarat-syarat dan gambar kerja berikut tambahan
dan perubahannya.
2. Pelaksana wajib memeriksa kebenaran dari ukuran-ukuran keseluruhan maupun
bagiannya dan segera memberitahukan pengawas tentang setiap perbedaan yang
ditemukannya di dalam rencana kerja dan syarat-syarat dan gambar kerja maupun
dalam persetujuan tertulis dari pengawas.
3. Pengambilan ukuran-ukuran yang keliru dalam pelaksanaan, di dalam hal apapun
menjadi tanggung jawab Pelaksana, oleh karena itu Pelaksana diwajibkan mengadakan
pemeriksaan secara menyeluruh terhadap gambar- gambar dan dokumen yang ada.

16
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pasal 03. INFORMASI SITE
1. Sebelum memulai pekerjaan, Pelaksana harus benar-benar memahami kondisi/ keadaan
site atau hal-hal lain yang mungkin akan mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan dan
harus sudah memperhitungkan segala akibatnya.
2. Pelaksana harus memperhatikan secara khusus mengenai peraturan lokasi tempat
kerja, penempatan material, pengamanan dan kelangsungan operasi selama pekerjaan
berlangsung.
3. Pelaksana harus mempelajari dengan seksama seluruh bagian gambar, RKS dan agenda
dalam dokumen lelang, guna penyesuaian dengan kondisi lapangan sehingga pekerjaan
dapat diselesaikan dengan baik.

Pasal 04. KEBERSIHAN DAN KETERTIBAN


1. Penimbunan bahan-bahan yang ada dalam gudang-gudang maupun yang berada di
halaman bebas, harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu kelancaran dan
keamanan pekerjaan/umum dan juga agar memudahkan jalannya pemeriksaan dan
penelitian bahan-bahan oleh pengawas maupun pemberi tugas.
2. Pelaksana wajib membuat urinoir dan WC untuk pekerja pada tempat-tempat tertentu
yang disetujui oleh pengawas demi terjaminnya kebersihan dan kesehatan dalam
proyek.
3. Para pekerja Pelaksana tidak diperkenankan untuk :
a. Menginap ditempat pekerjaan kecuali dengan ijin pengawas/pemberi tugas.
b. Memasak di tempat bekerja kecuali dengan ijin pengawas.
c. Membawa masuk penjual-penjual makanan, minuman, rokok dan sebagainya di
tempat pekerjaan.
d. Keluar masuk lokasi pekerjaan dengan bebas.
4. Peraturan lain mengenai ketertiban akan dikeluarkan oleh pengawas atau pemberi
tugas pada waktu pelaksanaan.

Pasal 05. PEMERIKSAAN DAN PENYEDIAAN BAHAN / BARANG


1. Bila dalam RKS disebut nama dan pabrik pembuat dari suatu bahan dan barang,
maka dalam hal ini dimaksud untuk menunjukkan tingkat mutu bahan dan barang yang
digunakan.
2. Setiap penggatian nama dan pabrik pembuat dari suatu bahan dan barang harus disetujui
oleh perencana/pemberi tugas dan bila tidak ditentukan dalam RKS serta gambar kerja
maka bahan dan barang tersebut diusahakan dan disediakan oleh Pelaksana yang harus
mendapat persetujuan dahulu dari pengawas atau pemberi tugas.
3. Contoh bahan dan barang yang akan digunakan dalam pekerjaan harus segera
disediakan atas biaya Pelaksana, setelah disetujui oleh pengawas atau pemberi tugas,
harus dianggap bahwa bahan dan barang tersebut yang akan dipakai dalam pelaksanaan
pekerjaan nanti.
4. Contoh bahan dan barang tersebut, disimpan oleh pengawas atau pemberi tugas untuk
dijadikan dasar penolakan bila ternyata bahan dan barang yang dipakai tidak sesuai
tidak sesuai kualitas maupun sifatnya.
5. Dalam mengajukan harga penawaran, Pelaksana harus sudah memasukkan Seluruh
keperluan biaya untuk pengujian berbagai bahan dan barang. Tanpa Biya itupun,

17
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pelaksana tetap bertanggung jawab atas biaya pengujian bahan dan barang yang tidak
memenuhi syarat atas perintah pengawas atau pemberi tugas.

Pasal 06. PERBEDAAN DALAM DOKUMEN


1. 1. Jika terdapat perbedaan-perbedaan antara gambar kerja dan RKS ini, maka Pelaksana
harus menanyakannya secara tertulis kepada pengawas dan Pelaksana harus
mentaati keputusan tersebut.
2. Ukuran-ukuran yang terdapat dalam gambar yang terbesar dan terakhirlah yang berlaku
dan ukuran dengan angka adalah yang harus diikuti dari pada ukuran dengan skala dari
gambar-gambar, tetapi jika mungkin ukuran ini harus diambil dari pekerjaan yang
telah selesai.
3. Apabila ada hal-hal yang disebut pada gambar kerja, RKS atau dokumen, yang
berlainan atau bertentangan, maka ini harus diartikan bukan untuk menghilangkan satu
terhadap lainnya. Tetapi untuk menegaskan masalahnya. Kalau terjadi hal ini maka
diambil sebagai patokan adalah yang mempunyai bobot teknis atau yang mempunyai
bobot biaya yang tinggi.
4. Apabila terdapat perbedaan antara:
a. Gambar arsitektur dengan gambar struktur, maka yang dipakai sebagai pegangan
dalam ukuran fungsional adalah gambar arsitektur, sedangkan untuk jenis dan
kualitas bahan dan barang adalah gambar struktur.
b. Gambar struktur dengan gambar mekanikal, maka yang dipakai sebagai pegangan
dalam ukuran kualitas dan jenis bahan adalah gambar mekanikal.
c. Gambar arsitektur dengan gambar elektrikal, maka yang dipakai sebagai pegangan
dalam ukuran fungsional adalah gambar arsitektur, sedangkan untuk ukuran dan
kualitas bahan adalah gambar elektrikal.

Pasal 07. GAMBAR KERJA (SHOP DRAWING)


1. Jika terdapat kekurangan-kekurangan penjelasan dalam gambar kerja, atau
diperlukan gambar tambahan/gambar detail atau untuk memungkinkan Pelaksana
melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan ketentuan, maka
Pelaksana harus membuat gambar tersebut dalam rangkap 3 (tiga) dan biaya atas
pembuatan gambar tersebut menjadi tanggung jawab Pelaksana. Pekerjaan
berdasarkan gambar tersebut baru dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan
dari pengawas.
2. Gambar kerja hanya berubah apabila diperintahkan secara tertulis oleh pemberi tugas,
dengan mengikuti penjelasan dan pertimbangan dari perencana.
3. Perubahan rencana ini harus dibuat gambarnya yang sesuai dengan apa yang
diperintahkan oleh pemberi tugas, yang jelas memperlihatkan perbedaan antara gambar
kerja dan gambar perubahan rencana.
4. Gambar tersebut harus diserahkan kepada pengawas untuk disetujui sebelum
dilaksanakan.

18
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pasal 08. GAMBAR SESUAI PELAKSANAAN PEKERJAAN (ASBUILT DRAWING)
1. Semua yang belum terdapat dalam gambar kerja baik karena penyimpangan, perubahan
atas perintah pemberi tugas/pengawas, maka Pelaksana harus membuat gambar-gambar
yang sesuai dengan apa yang telah dilaksanakan, yang jelas memperlihatkan perbedaan
antara gambar kerja dan pekerjaan yang dilaksanakan.
2. Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga) berikut (gambar
asli) yang biaya pembuatan ditanggung oleh Pelaksana.

19
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
BAB III
SYARAT-SYARAT PEKERJAAN PERSIAPAN

Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN


1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan, pendayagunaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan dan alat-alat bantunya yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembangunan
pada proyek ini.
2. Bagian ini meliputi pembersihan lokasi, pemasangan bowplank, pembuatan Direksi
Keet dan Gudang Material, penyediaan air kerja dan penerangan kerja, serta mobilisasi
dan demobilisasi.
3. Pembongkaran
Setiap Pekerjaan yang membongkar dan terdampak di luar pekerjaan diluar kontrak
yang di akibatkan oleh penyedia, maka setelah pekerjaan selesai penyedia harus
mengembalikan sesuai kondisi awal.

Pasal 02. PEMBERSIHAN LOKASI


Sebelum memulai pekerjaan Pembangunan Gedung baru, Pelaksana wajib membersihkan
lokasi tumbuh-tumbuhan, serta benda lainnya yang dianggap dapat mengganggu pelaksanaan
pembangunan.

Pasal 03. PERALATAN KERJA DAN MOBILISASI


1. Pelaksana harus mempersiapkan dan mengadakan peralatan-peralatan kerja dan
peralatan bantu yang akan digunakan di lokasi proyek sesuai dengan lingkup pekerjaan
serta memperhitungkan segala biaya pengangkutan.
2. Pelaksana harus menjaga ketertiban dan kelancaran selama perjalanan alat-alat berat
yang menggunakan jalanan umum agar tidak mengganggu lalu-lintas.
3. 3. Pengawas atau pemberi tugas berhak memerintahkan untuk menambah
peralatan atau menolak peralatan yang tidak sesuai atau tidak memenuhi persyaratan.
4. Bila pekerjaan telah selesai, Pelaksana diwajibkan untuk segera menyingkirkan alat-
alat tersebut, memperbaiki kerusakan yang diakibatkannya dan membersihkan bekas-
bekasnya.
5. Disamping untuk menyediakan alat-alat yang diperlukan seperti dimaksudkan pada
ayat (1), Pelaksana harus menyediakan alat-alat bantu sehingga dapat bekerja pada
kondisi apapun, seperti : tenda-tenda untuk bekerja pada waktu hari hujan, perancah
(scafolding) pada sisi luar bangunan atau tempat lain yang memerlukan, juga peralatan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta lainnya.
Pasal 04. PENGUKURAN
1. Pelaksana harus sudah memperhitungkan biaya untuk pengukuran dan penelitian
ukuran tata letak atau ketinggian bangunan (Bouwplank), termasuk penyediaan Back
Mark atau Line Offset Mark, pada masing-masing lantai bangunan.

20
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
2. Hasil pengukuran harus dilaporkan kepada pengawas agar dapat ditentukan sebagai
pedoman atau referensi dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar rencana
dan persyaratan teknis.

Pasal 05. SARANA AIR KERJA DAN PENERANGAN


1. Untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan selama proyek berlangsung, Pelaksana
harus memperhitungkan biaya penyediaan air bersih guna keperluan air kerja, air
minum untuk pekerja dan air kamar mandi.
2. Air yang dimaksud adalah bersih, baik yang berasal dari PAM atau sumber air, serta
pengadaan dan pemasangan pipa distribusi air tersebut bagi keperluan pelaksanaan
pekerjaan dan untuk keperluan direksi keet, kantor Pelaksana, kamar mandi/WC atau
tempat-tempat lain yang dianggap perlu.
3. Pelaksana juga harus menyediakan sumber tenaga listrik untuk keperluan
pelaksanaan pekerjaan, kebutuhan direksi keet dan penerangan proyek pada malam hari
sebagai keamanan selama proyek berlangsung selama 24 jam penuh dalam sehari.
4. Pengadaan penerangan dapat diperoleh dari sambungan PLN atau dengan
pengadaan Generator Set, dan semua perijinan untuk pekerjaan tersebut menjadi
tanggung jawab Pelaksana. Pengadaan fasilitas penerangan tersebut termasuk
pengadaan dan pemasangan instalasi dan armatur, stop kontak serta saklar/panel.

Pasal 06. PEMBUATAN LOS KERJA DAN BANGUNAN ISTIRAHAT


1. Pelaksana harus membuat los kerja dan bangunan tempat untuk istirahat dan tempat
shalat bagi pekerja Pelaksana.
2. Los kerja merupakan bangunan dengan luas yang cukup untuk tempat bekerja bagi
tukang/pekerja Pelaksana dan mempunyai kondisi yang cukup baik, terlindung dari
pengaruh cuaca yang dapat menghambat kelancaran pekerjaan.

Pasal 07. KEAMANAN PROYEK


1. Pelaksana harus menjamin keamanan proyek baik untuk barang-barang milik
Pelaksana, pengawas atau pengelola proyek, serta menjaga keutuhan bangunan-
bangunan yang ada dari gangguan para pekerja Pelaksana ataupun kerusakan akibat
pelaksanaan pekerjaan.
2. Pelaksana harus menempatkan petugas-petugas keamanan selama 24 jam penuh
setiap hari, yang dibagi dalam 3 (tiga) shift, dan harus selalu mengadakan
pemeriksaan pengamanan setiap hari setelah selesai pekerjaan.
3. Untuk menguasai dan menjaga ketertiban bekerja para pekerjanya, setiap pekerja
Pelaksana diharuskan mengenakan tanda pengenal khusus yang harus dipakai pada
bagian badan yang mudah terlihat oleh petugas keamanan.
4. 4. Pekerja Pelaksana tidak diijinkan menginap di lokasi kecuali petugas
keamanan yang sedang bertugas pada malam hari.

21
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pasal 08. KANTOR PROYEK (DIREKSI KEET ) DAN PERLENGKAPANNYA
1. Pelaksana harus menyediakan kantor pengelola proyek lengkap dengan peralatan
/ perabotan serta fasilitas-fasilitas kerja lainnya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan
proyek sebagai berikut :
- 3 (tiga) set meja kerja lengkap dengan kursinya
- Meja rapat untuk kapasitas 10 orang
- Calculator sebanyak 2 Buah (Minimal 12 digit)
- 1 (satu) lemari arsip metal terkunci
- 1 (satu) set meja gambar
2. Pelaksana juga harus menyediakan alat-alat kerja pengelola proyek di lapangan,
sebagai berikut :
- Sepatu lapangan yang tahan terhadap paku, helm pengaman dan jas hujan masing-
masing 5 set
- 2 (Dua) buah roll meter tape ukuran 5 meter
- Caliper/schuifmaat dan penyiku besi
3. Direksi keet/kantor pengeloa proyek, kantor dan gudang Pelaksana, pompa air kerja
adalah merupakan sarana penunjang dalam pelaksanaan proyek dan merupakan yang
dipakai habis pada saat selesai pekerjaan.

Pasal 09. KANTOR DAN GUDANG PELAKSANA


1. Pelaksana harus membuat kantor di lokasi proyek untuk tempat bagi wakil Pelaksana
bekerja, dilengkapi dengan peralatan kantor yang dibutuhkan.
2. Pelaksana juga harus menyediakan gudang dengan luas yang cukup untuk
menyimpan bahan-bahan bangunan dan peralatan-peralatan agar terhindar dari
gangguan cuaca dan pencurian.
3. Penempatan kantor dan gedung Pelaksana harus diatur sedemikian rupa, agar mudah
dijangkau dan tidak menghalangi pelaksanaan pekerjaan.

Pasal 10. PENYEDIAAN FASILITAS PROYEK


1. Pelaksana juga harus memperhitungkan biaya-biaya konsumsi untuk rapat- rapat/
pertemuan dengan pemberi tugas atau wakilnya dan tamu-tamu pemberi tugas yang
berkepentingan dengan proyek.
2. Unit tabung pemadam kebakaran harus ditempatkan pada setiap lantai bangunan
dengan radius kurang lebih 50 meter, di dalam direksi keet dan tempat-tempat lain yang
memerlukan.

Pasal 11. PEMADAM KEBAKARAN


1. Selama pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana harus menyediakan alat pemadam kebakaran
berupa tabung pemadam kebakaran yang dapat digunakan untuk memadamkan api
akibat listrik, minyak dan gas dengan kapasitas 7 kg.
2. Unit tabung pemadam kebakaran harus ditempatkan pada setiap lantai bangunan
dengan radius kurang lebih 50 meter, di dalam direksi keet dan tempat-tempat lain yang
memerlukan.

22
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

Pasal 12. JALAN MASUK, JALAN SEMENTARA


1. Apabila dianggap perlu, sesuai dengan kondisi dan situasi lokasi, Pelaksana harus
sudah memperhitungkan pembuatan jalan masuk sementara dan/atau jembatan kerja
sementara yang disetujui oleh pengawas.
2. Pembuatan jalan masuk atau jembatan sementara harus mengikuti peraturan dan semua
perijinan sehubungan dengan pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab Pelaksana.
3. Pelaksana harus menghindari kerusakan pada fasilitas jalan masuk yang ada dengan
mengatur trayek kenderaan yang digunakan serta membatasi/membagi beban muatan.
4. Kerusakan pada jalan atau benda-benda lain yang diakibatkan oleh pekerjaan
Pelaksana, mobilisasi peralatan serta pemasukan bahan akan menjadi tanggung jawab
Pelaksana dan harus segera diperbaiki.

Pasal 13. KESELAMATAN KERJA


1. Pelaksana harus menjamin keselamatan kerja sesuai dengan persyaratan yang
ditentukan dalam peraturan perburuhan atau persyaratan yang diwajibkan untuk setiap
bidang pekerjaan.
2. Di dalam lokasi harus taersedia kotak obat pelengkap untuk pertolongan pertama
pada kecelakaan (PPPK).
3. Pelaksana juga harus menyediakan alat pelindung diri (APD) Seperti ; Helm safety,
Sepatu Safety, Rompi dan Sabuk Pengaman Pekerja.

Pasal 14. IJIN-IJIN


1. Pelaksana harus mengurus dan memperhitungkan biaya untuk membuat ijin- ijin yang
diperlukan dan berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan, antara lain: ijin
penerangan, ijin pengambilan material, ijin pembuangan, ijin pengurugan, ijin trayek
dan pemakaian jalan, ijin penggunaan bangunan serta ijin-ijin lain yang diperlukan
sesuai dengan ketentuan/peraturan daerah setempat.
2. Biaya Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), menjadi tanggung jawab pemilik proyek,
dengan pengurusan dibantu konsultan perencana dan konsultan pengawas serta
Pelaksana.
3. Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang diakibatkan oleh hal tersebut ayat (1) di
atas menjadi tanggung jawab Pelaksana.

Pasal 15. DOKUMENTASI


1. Pelaksana harus memperhitungkan biaya pembuatan dokumentasi serta
pengirimannya ke pemberi tugas serta pihak-pihak lain yang diperlukan.
2. Yang dimaksudkan dengan pekerjaan dokumentasi adalah foto-foto proyek, berwarna,
minimal ukuran postcard, untuk keperluan laporan bulanan yang dibuat oleh konsultan
pengawas, dan 3(tiga) set album yang harus diserahkan pada serah terima pekerjaan
untuk pertama kalinya.

23
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
BAB IV
PEKERJAAN TANAH

Pasal 01. KETENTUAN UMUM


1. Sebelum melakukan pekerjaan tanah, Pelaksana harus membersihkan daerah yang akan
dikerjakan dari perintang yang ada dalam daerah kerja,
2. Pelaksana harus menjamin terjaganya keutuhan barang/benda atau bangunan yang telah
selesai dikerjakan dari segala macam kerusakan dan berhati-hati untuk tidak
mengganggu patok pengukuran atau tanda-tanda yang lainnya.
3. Perbaikan kerusakan pada barang/benda atau bangunan yang harus dijaga akibat
pelaksanaan pekerjaan akan menjadi tanggung jawab Pelaksana.
4. Pelaksana harus melakukan pengukuran dan pematokan terlebih dahulu dan
melaporkannya kepada pengawas, serta meminta ijin untuk memulai pekerjaan.

Pasal 02. LINGKUP PEKERJAAN


Lingkup Pekerjaan ini meliputi penggalian Tanah, Penggalian di bawah muka air tanah
Pengurugan dan Pemadatan.

Pasal 03. PENGGALIAN TANAH


1. Penggalian harus dilaksanakan sampai kedalaman sebagaimana ditentukan dalam
gambar-gambar. Sebelum pekerjaan selanjutnya dilanjutkan, maka semua pekerjaan
penggalian harus disetujui pengawas.
2. Bilamana tidak dinyatakan lain oleh Pengawas, maka penggalian untuk pondasi harus
mempunyai lebar yang cukup (minimum 20 cm lebih lebar dari dasar pondasi) untuk
dapat memasang maupun memindahkan rangka/bekisting yang diperlukan, serta
pembersihan.
3. Apabila terjadi kesalahan dalam penggalian sehingga dicapai kedalaman yang melebihi
apa yang tertera dalam gambar tanpa instruksi tertulis dari pengawas, maka kelebihan
di atas harus diisi kembali dengan adukan beton 1: 3 : 5 tanpa biaya tambahan.
4. Pelaksana harus merawat tebing galian dan menghindarkan dari longsoran. Untuk itu
Pelaksana harus membuat penyangga/penahan tanah yang diperlukan selama masa
penggalian, karena stabilitas selama penggalian merupakan tanggung jawab Pelaksana.
5. Semua galian harus diperiksa terlebih dahulu oleh pengawas sebelum
pelaksanaan pekerjaan selanjutnya. Untuk dapat melaksanakan pekerjaan selanjutnya,
Pelaksana harus mendapat persetujuan/ijin tertulis pengawas.

Pasal 04. PENGGALIAN DI BAWAH MUKA AIR TANAH


1. Penggalian harus dilakukan dalam keadaan kering. Pelaksana bertanggung jawab
untuk merencanakan sistem pemompaan air tanah dan sudah memperhitungkan
biayanya.

24
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
2. Pemompaan dilakukan dengan memompa sumur-sumur bor atau cara lain yang
disetujui oleh pengawas dengan memenuhi persyaratan-persyarataan berikut:
a. Permukaan air tanah yang diturunkan harus dalam keadaan terkontrol penuh setiap
waktu untuk menghindari fluktuasi yang dapat mempengaruhi kestabilan
penggalian tanah.
b. Sistem yang digunakan tidak boleh mengakibatkan penaikan/penurunan tanah
dasar galian secara berlebihan.
c. Harus menyediakan filter-filter secukupnya yang dipasang disekeliling sumur yang
dipompa untuk mencegah kehilangan butir-butir tanah akibat pemompaan.
d. Air yang dipompa harus dibuang sehingga tidak mengganggu penggalian atau
daerah sekitarnya.
e. Sistem pemompaan harus memperhitungkan rencana detail dalam menghadapi
bahaya longsor pada pekerjaan dan daerah sekitarnya pada saat hujan besar.

Pasal 05. PENGURUGAN DAN PEMADATAN


1. Bila tidak dicantumkan dalam gambar-gambar detail, maka pada bagian bawah
pasangan Lantai diurug dengan pasir padat minimal 5 cm atau sesuai dengan gambar
dan petunjuk Pengawas. Pasir urug yang digunakan harus dari jenis pasir pasang yang
bersih/bebas dari lumpur, kotoran-kotoran, sampah dan benda-benda organis lainnya
yang dapat menyebakan tidak sempurnanya pemadatan.
2. Di bawah lapisan pasir tersebut, urugan yang dipakai adalah tanah jenis “silty clay”
yang bersih tanpa potongan-potongan bahan yang bisa lapuk, serta bahan batuan yang
telah dipecahkan (pecahan batuan tersebut maksimal 15 cm).
3. Pelaksana wajib melaksanakan pengurugan dengan semua bahan urugan yang keras
atau mutu bahan yang terbaik dan mengajukan contoh bahan yang akan digunakan
untuk mendapat persetujuan pengawas.
4. Penghamparan dan pemadatan harus dilaksanakan lapis-per lapis yang tidak lebih tebal
dari 15 cm (gembur) dengan alat-alat yang telah disetujui, seperti mesin penggilas getar,
atau alat tumbuk dimana standar kepadatannya dicapai pada kepadatan dimana kadar
airnya 95 % dari kadar air optimal, atau “dry density” nya mencapai 95 % dari dry
density optimal, sesuai dengan petunjuk pengawas.
5. Terhadap hasil pemadatan yang dilaksanakan, Pelaksana harus mengadakan “density
test” di lapangan. Semua biaya seluruh pengujian tersebut menjadi beban Pelaksana.
6. Bila bahan urugan apapun yang digunakan menjadi lapuk/rusak atau bila urugan
yang telah dipadatkan menjadi terganggu, maka bahan tersebut harus digali keluar dan
diganti dengan bahan yang memenuhi syarat serta dipadatkan kembali, sesuai dengan
petunjuk Pengawas, tanpa adanya biaya tambahan.
7. Selama dan sesudah pekerjaan pengurugan dan pemadatan, tidak dibenarkan adanya
genangan air di atas tanah atau sekitar lapangan pekerjaan. Pelaksana harus mengatur
pembuangan air sedemikian rupa agar aliran air hujan atau dari sumur lain dapat
berjalan lancar, baik selama ataupun sesudah pekerjaan selesai.
8. Pelaksana bertanggung jawab atas stabilitas urugan tanah dan Pelaksana harus
mengganti bagian-bagian yang rusak akibat dari kesalahan dan kelalaian Pelaksana atau
akibat dari aliran air.

25
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pasal 06. PEKERJAAN PENYELESAIAN
1. Seluruh daerah kerja termasuk penggalian dan penimbunan harus merupakan daerah
dari yang betul-betul seragam dan bebas permukaan yang tidak merata.
2. Seluruh lapisan akhir, harus benar-benar memenuhi piel yang dinyatakan dalam
gambar. Bila diakibatkan oleh penurunan, timbunan memerlukan tambahan meterial
yang tidak lebih dari 30 cm, maka bagian atas tersebut harus digaruk sebelum material
timbunan tambahan dihamparkan, untuk selanjutnya dipadatkan sampai mencapai
elevasi dan sesuai dengan persyaratan.
3. Seluruh sisa penggalian yang tidak memenuhi syarat untuk bahan pengisi/urugan,
seluruh puing-puing, reruntuhan dan sampah-sampah harus segera disingkirkan dari
lokasi.

26
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB V
PEKERJAAN BETON / BETON BERTULANG

Pasal 01. KETENTUAN UMUM


1. Persyaratan-persyaratan konstruksi beton, istilah teknik dan syarat pelaksanaan beton
secara umum menjadi kesatuan dalam bagian buku persyaratan teknis ini. Kecuali
ditentukan lain dalam buku persyaratan teknis ini, maka semua pekerjaan beton harus
sesuai dengan standar di bawah ini :Peraturan dan Standar Perencanaan berdasarkan:
a. Tata Cara Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung (SNI - 2847-
2013).
b. Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung (SNI 03 - 727-
1989-F).
c. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan
Non-Gedung tahun 2012 (SNI 1726-2012) & Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002).
d. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-
2002).
2. Pelaksana harus melaksanakan pekerjaan ini dengan ketepatan dan kesesuaian yang
tinggi menurut persyaratan teknis ini, gambar rencana dan instruksi- instruksi yang
tidak memenuhi syarat harus dibongkar dan diganti atas biaya Pelaksana sendiri.
3. Semua material harus baru dengan kualitas yang terbaik sesuai dengan persyaratan
dan disetujui oleh pengawas, dan pengawas berhak meminta diadakan pengujian bahan-
bahan tersebut dan Pelaksana bertanggung jawab atas segala biayanya. Semua material
yang tidak disetujui oleh pengawas harus segera dikeluarkan dari lokasi proyek.

Pasal 02. LINGKUP PEKERJAAN


1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan dan pendaya gunaan semua tenaga kerja, bahan-
bahan, upah dan perlengkapan-perlengkapan untuk semua pekerjaan beton/beton
bertulang yang terdapat dalam gambar rencana.
2. Pengadaan, detail, fabrikasi dan pemasangan semua penulangan dan bagian- bagian
dari pekerjaan lain yang tertanam dalam beton.
3. Perancangan, pelaksanaan dan pembongkaran acuan beton, penyelesaian dan
pemeliharaan beton dan semua jenis pekerjaan yang menunjang pekerjaan beton.

Pasal 03. PENGENDALIAN PEKERJAAN


1. Pengendalian mutu pelaksanaan proyek apapun pada dasarnya dilakukan disemua
tahapan. Hal ini dilakukan secara terus menerus dan sistematis untuk menghindari
kegagalan konstruksi (failure). Regulasi yang mengatur ini selain SNI-03-1734-1989
tentang konstruksi beton, juga SNI-03-1737-1989
2. Pelaksana harus bertanggung jawab atas instalasi semua alat yang terpasang, selubung-
selubung dan sebagainya yang tertanam dalam beton.

27
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
3. Pengendalian pekerjaan ini tercantum pada syarat-syarat dalam Peraturan Standar
Nasional Indonesia (SNI 03–2847-2002)
4. Ukuran-ukuran (dimensi) dari bagian-bagian beton bertulang yang tercantum dalam
gambar-gambar rencana pelaksanaan arsitektur adalah ukuran-ukuran dalam garis
besar. Ukuran-ukuran yang tepat, begitu pula besi penulangannya ditetapkan dalam
gambar-gambar struktur konstruksi beton bertulang. Jika terdapat selisih dalam ukuran
antara kedua macam gambar itu, maka ukuran yang berlaku harus dikonsultasikan
terlebih dahulu dengan Pengawas untuk mendapatkan ukuran sesungguhnya.
5. Jika karena keadaan pasaran penulangan perlu diganti guna kelangsungan
pelaksanaan, maka jumlah luas penampang tidak boleh berkurang dengan
memperhatikan syarat-syarat lainnya yang termuat dalam SNI 03–2847-2002. Dalam
hal ini harus mendapatkan persetujuan Pengawas.
Pasal 04. BAHAN-BAHAN
1. Semen Portland Merk Semen Gresik
a. SNI 15-2049-1994, Semen portland
b. Semen Portland harus memenuhi persyaratan Standard Nasional Indonesia atau SNI
03-2847-2002 untuk butir pengikat awal, kekekalan bentuk, kekuatan tekan aduk
dan susunan kimia. Semen yang cepat mengeras hanya boleh digunakan jika atas
petunjuk Pengawas. Semen yang digunakan untuk seluruh pekerjaan pondasi dan
beton harus dari satu merk saja yang disetujui Pengawas.
c. Pelaksana harus mengirim surat pernyataan pabrik yang menyebutkan type, kualitas
dari semen yang digunakan.
d. Penyimpanan semen harus dilaksanakan dalam tempat penyimpanan dan dijaga agar
semen tidak lembab, dengan lantai terangkat bebas dari tanah dan ditumpuk sesuai
dengan syarat penumpukan semen dan menurut urutan pengiriman. Semen yang
telah rusak karena terlalu lama disimpan sehingga mengeras atau tercampur bahan
lain, tidak boleh digunakan dan harus disingkirkan dari tempat pekerjaan. Semen
harus dalam zak-zak yang utuh dan terlindung baik dari pengaruh cuaca, dengan
ventilasi secukupnya dan dipergunakan sesuai dengan urutan pengiriman.
2. Agregat
A. Agregat untuk beton harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:
- Spesifikasi agregat untuk beton” (ASTM C 33).
- SNI 03-2461-1991, Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktur. B. Ukuran
maksimum nominal agregat kasar harus tidak melebihi:
- 1/5 jarak terkecil antara sisi-sisi cetakan, ataupun
- 1/3 ketebalan pelat lantai, ataupun
- 3/4 jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan atau kawat-kawat, bundel
tulangan,atau tendon-tendon prategang atau selongsong-selongsong
1. Agregat Halus (Pasir)
a. Jenis dan syarat campuran agregat harus memenuhi syarat-syarat dalam SNI 03-
4804-1998.
b. Mutu Pasir terdiri dari butir-butir tajam, keras, bersih dan tidak mengandung
lumpur dan bahan-bahan organis.
c. Ukuran sisa di atas ayakan 4 mm harus minimal 2 % berat ; Sisa di atas ayakan 2
mm harus minimal 10 % berat ; Sisa di atas ayakan 0,25 mm harus berkisar antara
80% -90% berat.
2. Agregat Kasar (Koral/Batu Pecah)

28
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
a. Jenis dan syarat campuran agregat harus memenuhi syarat-syarat dalam SNI 03-
4804-1998.
b. Mutu terdiri dari butir-butir keras, bersih dan tidak berpori, jumlah butir-butir pipih
maksimal 20% berat ; tidak pecah atau hancur serta tidak mengandung zat-zat
reaktif alkali.
c. Ukuran sisa di atas ayakan 31,5 mm, harus 0 % berat ; Sisa di atas ayakan 4 mm,
harus berkisar antara 90 % - 98 % berat, selisir antara sisa-sisa kumulatif di atas
dua ayakan yang berurutan, adalah maksimal 60 % dan minimal 10 % berat.
d. Penyimpanan pasir dan kerikil atau batu pecah harus disimpan sedemikian
rupa sehingga terlindung dari pengotoran oleh bahan-bahan lain.
3. Air
a. Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak,
asam, alkali, garam-garam, bahan organis atau bahan lain yang dapat merusak
beton serta baja tulangan atau jaringan kawat baja. Dalam hal ini sebaiknya dipakai
air bersih yang dapat diminum.
b. Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang di
dalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam
agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan.
c. Pengawas dapat memerintahkan untuk diadakan pengujian contoh air di lembaga
pemeriksaan bahan-bahan yang diakui apabila terdapat keragu- raguan mengenai
mutu air tersebut. Biaya pengujian contoh air tersebut untuk keperluan pelaksanaan
proyek ini adalah sepenuhnya menjadi tanggungan Pelaksana.
4. Pembesian/Penulangan
a. Baja tulangan harus memenuhi persyaratan SNI 2847-2002 pasal 9.
b. Besi penulangan beton harus disimpan dengan cara-cara sedemikian rupa sehingga
bebas dari hubungan langsung dengan tanah lembab ataupun basah.
c. Besi yang akan digunakan harus bebas dari karat dan kotoran lain. Apabila terdapat
karat pada bagian permukaan besi, maka besi harus di bersihkan dengan cara
disikat atau digosok tanpa mengurangi diameter penampang besi, atau
menggunakan bahan cairan sejenis “Vikaoxy off” produksi yang telah memenuhi
SII atau yang setaraf dan disetujui Pengawas.
d. Pengawas dapat memerintahkan untuk diadakan pengujian terhadap beton cor di
tempat yang akan digunakan ; dan bahan yang diakui serta yang disetujui
Pengawas. Semua biaya sehubungan dengan pengujian tersebut di atas sepenuhnya
menjadi tanggungan Pelaksana.
e. Apabila baja tulangan yang digunakan telah distel di pabrik dan perlu
penyambungan yang berbeda antara penulangan di lapangan dengan ketentuan dari
pabrik pembuat, maka harus atas persetujuan Pengawas.
Baja tulangan
1. Baja tulangan yang digunakan Tulangan Polos BJTP 280
2. Pengelasan baja tulangan harus memenuhi “Persyaratan pengelasan struktural baja
tulangan” ANSI/AWS D1.4 dari American Welding Society. Jenis dan lokasi
sambungan las tumpuk dan persyaratan pengelasan lainnya harus ditunjukkan pada
gambar rencana atau spesifikasi.
3. Baja tulangan ulir (BJTD)
(1) Baja tulangan ulir harus memenuhi salah satu ketentuan berikut:
a) Spesifikasi untuk batang baja billet ulir dan polos untuk penulangan beton” (ASTM
A 615M).

29
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
b) Spesifikasi untuk batang baja axle ulir dan polos untuk penulangan beton” (ASTM
A 617M).
c) Spesifikasi untuk baja ulir dan polos low-alloy untuk penulangan beton”(ASTM A
706M).
(2) Baja tulangan ulir dengan spesifikasi kuat leleh fy melebihi 400 MPa boleh
digunakan, selama fy adalah nilai tegangan pada regangan 0,35 %.
(3) Anyaman batang baja untuk penulangan beton harus memenuhi “Spesifikasi untuk
anyaman batang baja ulir yang difabrikasi untuk tulangan beton bertulang” (ASTM
A 184M). Baja tulangan yang digunakan dalam anyaman harus memenuhi salah
satu persyaratan.
(4) Kawat ulir untuk penulangan beton harus memenuhi “ Spesifikasi untuk kawat baja ulir
untuk tulangan beton ”(ASTM A 496), kecuali bahwa kawat tidak boleh lebih kecil dari
ukuran D4 dan untuk kawat dengan spesifikasi kuat leleh fy melebihi 400 MPa, maka
fy harus diambil sama dengan nilai tegangan pada regangan 0,35% bilamana kuat leleh
yang disyaratkan dalam perencanaan melampaui 400 MPa.
(5) Jaring kawat polos las untuk penulangan beton harus memenuhi “Spesifikasi untuk
jaring kawat baja polos untuk penulangan beton” (ASTM A 185), kecuali bahwa untuk
tulangan dengan spesifikasi kuat leleh melebihi 400 MPa, maka fy diambil sama
dengan nilai tegangan pada regangan 0,35 %, bilamana kuat leleh yang disyaratkan
dalam perencanaan melampaui 400 MPa. Jarak antara titik-titik persilangan yang
dilas tidak boleh lebih dari 300 mm pada arah tegangan yang ditinjau, kecuali untuk
jaring kawat yang digunakan sebagai sengkang.

4. Kawat Pengikat
Kawat pengikat harus berukuran minimal diameter 1 mm seperti yang disyaratkan
dalam SNI 2847-2002. Kawat polos untuk tulangan harus memenuhi "Spesifikasi untuk
kawat tulanganpolos untuk penulangan beton” (ASTM A 82), kecuali bahwa untuk
kawat dengan spesifikasi kuat leleh fy yang melebihi 400 MPa, maka fy harus diambil
sama dengan nilai tegangan pada regangan 0,35%, bilamana kuat leleh yang
disyaratkan dalam perencanaan melampaui 400 MPa.
5. Bahan Additive
a. Penggunaan Additive tidak diijinkan tanpa persetujuan tertulis dari pengawas.
6. b. Bila diperlukan untuk mempercepat pengerasan beton atau bila slump yang
disyaratkan tinggi, beton dapat digunakan bahan additive yang disetujui
Pengawas. Bahan additive yang digunakan produksi CEMENT–AIDS atau yang
setaraf. Semua perubahan design mix atau penambahan bahan additive, sepenuhnya
menjadi tanggungan Pelaksana dan tidak ada biaya tambahan untuk hal tersebut.

Pasal 05. ADUKAN BETON


1. Sebelumnya, harus diadakan adukan beton percobaan “Trial Mix” yang sesuai dengan
yang dibutuhkan pada setiap bagian konstruksi. Pekerjaan tidak boleh dimulai sebelum
diperiksa dan disetujui Pengawas mengenai kekuatan/kebersihannya. Semua biaya
pengujian tersebut menjadi beban Pelaksana.
2. Mutu beton yang digunakan pada seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan
perencanaan Struktur yang menggunakan

30
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
3. Pencampuran bahan dasar beton harus menggunakan takaran yang telah dikalibrasi.
Penakaran bahan dasar harus memenuhi ketelitian untuk semen dan air 1%, agregat 2%
dan bahan aditive 3%. Ada dua cara pencampuran bahan dasar, yaitu berdasarkan
volume dan berat, untuk mutu beton kurang dari fc 25 MPa, pencampuran dapat
dilakukan berdasarkan volume bahan dasar. Beton mutu tinggi bahan dasarnya ditakar
berdasarkan berat. Pencampuran harus dilakukan dengan alat pencampur mekanis agar
didapatkan mortal yang homogen. Modifikasi campuran dilapangan berupa kebutuhan
penambahan air untuk meningkatkan konsistensi campuran harus selalu disertai dengan
penambahan semen setara dengan faktor air semen yang telah ditetapkan.

Pasal 06. CETAKAN DAN ACUAN


1. Pelaksana harus terlebih dahulu mengajukan gambar-gambar rencana cetakan dan
acuan untuk mendapatkan persetujuan Pengawas, sebelum pekerjaan tersebut
dilaksanakan. Dalam gambar-gambar tersebut harus secara jelas terlihat konstruksi
cetakan atau acuan, sambungan-sabungan dan kedudukan serta sistem rangkanya.
2. Cetakan dan acuan untuk pekerjaan beton harus memenuhi persyaratan dalam SNI 03-
2847-2002.
3. Acuan harus direncanakan agar dapat memikul beban-beban konstruksi dan getaran-
getaran yang ditimbulkan oleh peralatan penggetar. Defleksi maksimal dari cetakan
dan acuan antara tumpuannya harus dibatasi sampai 1/400 bentang antara tumpuan
tersebut.
4. Pembongkaran cetakan dan acuan harus dilaksanakan sedemikian agar
keamanan konstruksi tetap terjamin dan disesuaikan dengan persyaratan SNI 03-2847-
2002.
5. Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari pengawas, atau jika
umur beton telah melampaui waktu sebagai berikut :
- Bagian sisi balok berumur 48 Jam
- Balok tanpa beban konstruksi berumur 7 Hari
- Balok dengan beban konstruksi berumur 21 Hari
- Pelat beton berumur 21 Hari

6. Pembongkaran cetakan harus dilaksanakan dengan hati-hati sehingga tidak


menyebabkan cacat pada permukaan beton. Dalam hal terjadi bentuk beton yang tidak
sesuai dengan gambar rencana, Pelaksana wajib mengadakan perbaikan atau
pembetulan kembali.
7. Cetakan untuk pekerjaan kolom dan pekerjaan beton lainnya harus
menggunakan multliptek 9 mm, balok 5/7, 6/10, 8/10 dari kayu kelas III dan dolken
diameter 8-12 cm.

Pasal 07. PELAKSANAAN


1. Slump
Nilai yang diijinkan untuk beton dalam keadaan mix yang normal adalah 7,5–10 cm
dan disesuaikan terhadap mutu beton yang disyaratkan. Slump yang terjadi diluar batas
tersebut harus mendapatkan persetujuan Pengawas.
31
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
2. Penyambungan Beton dan Grouting
Sebelum melanjutkan pengecoran pada beton yang telah mengeras, maka permukaanya
harus dibersihkan dan dikasarkan terlebih dahulu. Cetakan harus dikencangkan kembali
dan permukaan sambungan disiram dengan bahan “Bonding Agent” untuk maksud
tersebut dengan persetujuan Pengawas.
3. Peralatan Pengadukan
Dalam pelaksanaan pembuatan beton harus digunakan alat pengaduk “Beton Molen”.

Pasal 08. TEBAL PENUTUP BETON MINIMAL


1. Bila tidak disebutkan lain, tebal penutup beton ada pada lampiran pekerjaan struktur di
point H (selimut beton).
2. Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan tebal penutup beton, untuk itu
tulangan harus dipasang dengan penahan jarak yang terbuat dari beton dengan mutu
paling sedikit sama dengan mutu beton yang akan dicor.
3. Penahan-penahan jarak dapat berbentuk blok-blok persegi atau gelang-gelang yang
harus dipasang sebanyak minimal 4 (empat) buah setiap meter persegi cetakan atau
lantai kerja. Penahan-penahan jarak tersebar merata.

Pasal 09. PENGANGKUTAN ADUKAN DAN PENGECORAN


1. Pelaksana harus memberitahukan pengawas selambat-lambatnya 2 (Dua) hari sebelum
pengecoran beton dilaksanakan. Persetujuan untuk melaksanakan pengecoran beton
berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan cetakan dan pemasangan baja tulangan serta
bukti bahwa Pelaksana akan dapat melaksanakan pengecoran tanpa gangguan.
2. Beton harus dicor sesuai dengan persyaratan dalam SNI 03-2847-2002. Bila tidak
disebutkan lain atau persetujuan Pengawas, tinggi jatuh dari beton yang dicor jangan
melebihi 1,5 m.
3. Sebelum pengecoran dimulai, semua bagian-bagian yang akan dicor harus bersih
dan bebas dari kotoran dan bagian beton yang lepas. Bagian-bagian yang akan
ditanam dalam beton sudah harus terpasang (pipa-pipa untuk instalasi listrik,
Plumbing dan pekerjaan lainya serta besi stick dan penyambungannya).
4. Cetakan atau pasangan dinding yang akan berhubungan dengan beton harus sudah
dibasahi dengan air sampai jenuh dan tulangan harus sudah terpasang dengan baik.
Bidang-bidang beton lama yang akan dicor harus dibuat kasar terlebih dahulu dan
kemudian dibersihkan dari segala kotoran yang lepas.
5. Waktu pengangkutan harus diperhitungkan dengan cermat, sehingga waktu antara
pengadukan dan pengecoran tidak lebih dari 1 (satu) jam dan tidak terjadi perbedaan
pengikatan yang mencolok antara beton yang sudah dicor dan akan dicor.
6. Apabila waktu yang dibutuhkan untuk pengangkutan melebihi waktu yang telah
ditentukan, maka harus dipakai bahan-bahan penghambat pengikatan (Retarder)
dengan persetujuan pengawas.
7. Adukan tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampur air pada semen dan agregat
telah melampaui 1,5 jam; dan waktu ini dapat berkurang, bila pengawas
menganggap perlu berdasarkan kondisi tertentu.

32
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
8. Pengecoran harus dilakukan sedemikian rupa untuk menghindarkan terjadinya
pemisahan material (Segresi) dan perubahan letak tulangan. Cara penuangan dengan
alat-alat bantu seperti talang, pipa, chute dan sebagainya harus mendapat
persetujuan pengawas dan alat-alat tersebut harus bersih dan bebas dari sisa-sisa beton
yang mengeras.

Pasal 10. PEMADATAN BETON


1. Pelaksana bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan guna
pengangkutan dan penuangan beton dengan kekentalan secukupnya agar didapat
beton yang padat tanpa perlu penggetaran secara berlebihan.
2. Pemadatan beton seluruhnya hars dilaksanakan dengan Mechanical Vibrator dan
dioperasikan oleh orang yang berpengalaman. Penggetaran dilakukan secukupnya
agar tidak terjadi Over Vibration dan tidak diperkenankan melakukan penggetaran
dengan maksud untuk mengalirkan beton. Hasil beton harus merupakan massa yang
utuh, bebas dari lubang-lubang segresi atau keropos.
3. Pada daerah penulangan yang rapat, penggetaran dilakukan dengan alat penggetar
yang mempunyai frekuensi tinggi untuk menjamin pengisian beton dan pemadatan
beton yang baik. Alat penggetar tidak boleh disentuh pada tulangan yang telah masuk
pada beton yang telah mulai mengeras.
Jika terjadi keropos pada struktur beton bisa melakukan “Core Drill” dan tes kuat tekan ke
Laboratorium Teknologi Beton. Untuk metode perbaikan beton yang menyangkut besarnya
kropos berikut ini ada beberapa tip perbaikannya:
1. Pelaksana wajib memperbaiki dengan biaya sendiri dan tidak dapat iperhitungkan
sebagai pekerjaan tambah keropos-kropos yang terjadi pada betn yang baru dibuka
begistingnya. Antara lain sebagai berikut ini.
2. Berikut ini Pembagian Type-Type Keropos, type keropos dapat dibagi menjadi 4 type:
a. Type I: Keropos hanya pada kulit beton saja, aggregat-aggregat beton tersebut masih
melekat dengan baik.
b. Type II: Bila keropos yang terjadi sampai besi tulangan sebelah luar sudah terlihat
dengan kedalaman 3 s/d 5 cm.
c. Type III: bila keropos yang terjadi sampai besi tulangan sebelah dalam sudah terlihat
dengan kedalaman 5 s/d 7 cm.
d. Type IV: Bila keropos sudah lebih besar 7 cm setengah bagian dari yang di Cor
keropos.
3. Bila hal ini terjadi, Pelaksana harus mengadakan usaha pernbaikan dengan biaya
sendiri. Perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan dalam menanggulangi keempat
jenis keropos tersebut adalah sebagai berikut:
4. Type I: Daerah keropos dibersihkan, diplester kembali dengan adukan 1 Pc : 2 Pasir.
Type II: Mempersiapkan permukaan beton yang akan diperbaiki, Beton yang keropos,
porus di kerik dengan pahat kecil dan runcing. Lubang keropos dibentuk supaya dukan
beton bisa masuk dengan baik kedalamnya dan tidak mudah terlepas lagi. Permukaan
beton dibersihkan dari semua kotoran debu, pasir lepas dan lain-lain engan memakai
sikat kawat baja, kemudian dibersihkan/dicuci dengan air. Permukaan beton dibiarkan
sampai hampir kering. Gunakan epoxy, permukaan beton harus benar-benar kering,
baru ditaburkan epoxy secara baik dan merata.

33
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
a. Perbaikan Pembesian Pembesian yang ada dibersihkan dari semua kotoran,
karat dan lain-lain dengan memakai sikat baja.
b. Pengawasan
Sebelum perbaikan/diplester/di Cor, maka Pelaksana harus minta izin pengawas
dan minta agar pekerjaan yang akan diperbaiki, diperiksa terlebih dahulu.

Pasal 11. BENDA-BENDA YANG DITANAM DALAM BETON


1. Tidak diperkenankan untuk menanam pipa dan lain-lain dalam bagian-bagian struktur
beton bila tidak ditunjukkan secara detail dalam gambar. Dalam beton perlu dipasang
selongsong pada tempat-tempat yang dilewati pipa.
2. Bila tidak ditentukan secara detail atau ditunjukkan dalam gambar/petunjuk pengawas
tidak dibenarkan untuk menanam saluran listrik dalam struktur beton.
3. Semua bagian atau peralatan yang ditanam dalam beton seperti angkur-angkur, kait dan
pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan pekerjaan beton, harus sudah di pasang
sebelum pengecoran beton dilaksanakan.
4. Bagian-bagian atau peralatan tersebut harus dipasang dengan tepat pada posisinya
dan diusahakan agar tidak bergeser selama pengecoran beton dilakukan.
5. Pelaksana utama harus memberitahukan serta memberi kesempatan kepada pihak
lain untuk memasang bagian/peralatan tersebut sebelum pengecoran beton
dilaksanakan.
6. Rongga-rongga kosong atau bagian-bagian yang harus tetap kosong pada benda
atau peralatan yang akan ditanam dalam beton, yang mana rongga tersebut harus tidak
terisi beton, harus ditutupi bahan lain yang mudah dilepas nantinya setelah pelaksanaan
pengecoran beton.

Pasal 12. PEMERIKSAAN / PENGUJIAN MUTU BETON


1. Pengujian nutu beton ditentukan melalui sejumlah benda uji sesuai standar SNI 03-
1974-1990
2. Beberapa ketentuan khusus yang harus diikuti sebagai berikut:
a. untuk benda uji berbentuk kubus ukuran sisi 15 x 15 x 15 cm, cetakandiisi dengan
adukan beton dalam 2 lapis, tiap-tiap lapis dipadatkandengan 32 kali tusukan;
tongkat pemadat diameter 10 mm, panjang 300mm;
b. benda uji berbentuk kubus tidak perlu dilapisi;
3. Bila tidak ada ketentuan lain konversi kuat tekan beton dari bentuk kubus ke bentuk
silinder, maka gunakan angka perbandingan kuat tekan seperti berikut: Daftar Konversi
Bentuk benda uji Perbandingan Kubus : 15 cm x 15 cm x 15 cm: Silinder : 15 cm x 30
cm1,00,950,83 15 cm = diameter silinder20 cm = tinggi silinder5) pemeriksaan
kekuatan tekan beton biasanya pada umur 3 hari, 7 hari, dan28 hari;6) hasil pemeriksaan
diambil nilai rata-rata dari minimum 2 buah benda uji;7) apabila pengadukan dilakukan
dengan tangan (hanya untuk perencanaancampuran beton), isi bak pengaduk
maksimum 7 dm 3 dan pengadukantidak boleh dilakukan untuk campuran beton slump.
4. Hasil pengujian dikeluarkan pada :
- saat benda uji berumur 3 – 7 hari
- saat benda uji berumur 14 hari
34
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
- saat benda uji berumur 28 hari
5. Pelaksana bertanggung jawab sepenuhnya terhadap biaya pengujian beton dan biaya
yang ditimbulkan akibat tidak dapat diterimanya mutu beton tersebut.
6. Pemeriksaan Lanjutan
Pengawas dapat meminta pemeriksaan lanjutan yang dilakukan dengan menggunakan
Hammer test untuk meyakinkan penilaian terhadap kualitas beton yang sudah ada.
Biaya pekerjaan serupa ini sepenuhnya menjadi tanggungan Pelaksana.

Pasal 13. PERAWATAN BETON


1. Secara umum harus memenuhi persyaratan dalam SNI 4810-2013, SNI Beton 2012,
SNI Beton 2010, SNI Beton 2008, SNI Beton 2002,
2. Beton setelah dicor harus dilindungi terhadap preoses pengeringan yang belum saatnya
dengan cara mempretahankan kondisi dimana kehilangan kelembaban adalah minimal
dan suhu yang konstan dalam jangka waktu yang diperlukan untuk preoses hydrasi
semen serta pengerasan beton.
3. Perawatan beton segera dimulai setelah pengecoran beton selesai dilaksanakan dan
harus berlangsung terus menerus selama paling sedikit 2 (dua) minggu jika tidak
ditentukan lain. Suhu beton pada awal pengecoran harus dipertahankan supaya tidak
melebihi 30 C.
4. Dalam jangka waktu tersebut cetakan dan acuan beton pun harus tetap dalam keadaan
basah. Apabila cetakan dan acuan beton dibuka sebelum selesai masa perawatan maka
selama sisa waktu tersebut pelaksanaan perawatan tetap dilakukan dengan membasahi
permukaan beton terus menerus dengan menutupinya dengan karung-karung basah atau
dengan cara lain yang disetujui Pengawas.
5. Cara pelaksanaan perawatan serta alat dipergunakan harus mendapat persetujuan
dulu dari Pengawas.

Pasal 14. CACAT-CACAT PEKERJAAN


1. Bila penyelesaian pekerjaan, bahan yang digunakan atau keahlian dalam pengerjaan
setiap bagian pekerjaan tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang tercantum
dalam Persyaratan Teknis, maka bagian pekerjaan tersebut harus digolongkan
sebagai cacat pekerjaan.
2. Semua pekerjaan yang digolongkan demikian harus dibongkar dan diganti sesuai
dengan yang dikehendaki oleh Pengawas. Seluruh pembongkaran dan pemulihan
pekerjaan yang digolongkan cacat tersebut serta semua biaya yang timbul akibat hal
itu. Seluruhnya menjadi tanggungan Pelaksana.

PEKERJAAN STRUKTUR
A. KETERANGAN UMUM
1. Rencana kerja dan syarat-syarat pekerjaan struktur (spesifikasi struktur) untuk proyek
ini, dibuat dengan maksud agar Konstruksi Struktur yang akan dikerjakan memenuhi

35
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
kualitas/persyaratan-persyaratan yang tertuang dalam spesifikasi struktur ini,
sebagaimana yang direncanakan/dikehendaki oleh Consultant Perencana .
2. Pelaksana berkewajiban untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan struktur sesuai
dengan spesifikasi struktur ini dan gambar-gambar struktur terlampir.
3. Di lain pihak, Pengguna Jasa/Pengawas lapangan berkewajiban untuk mengawasi
pekerjaan-pekerjaan Pelaksana agar sesuai dengan spesifikasi struktur ini dan
gambar-gambar struktur terlampir.
4. Perubahan-perubahan terhadap spesifikasi struktur maupun gambar-gambar
struktur tanpa persetujuan Consultant Perencana sama sekali tidak diperkenankan.
5. Peraturan dan Standar Perencanaan berdasarkan:
a. Tata Cara Pembuatan dan Perawatan Uji Beton di Lapangan (SNI 03 -4010-2013).
b. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan
Non-Gedung tahun 2012 (SNI 1726-2012) & Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002).
c. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-
2002).

B. PEKERJAAN GALIAN PONDASI


1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan/ peralatan- peralatan
dan alat-alat bantu yang diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan
baik.
b. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan galian pondasi untuk pekerjaan sub
struktur, seperti yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai dengan
petunjuk pengguna jasa/pengawas lapangan, termasuk di dalamnya adalah
pekerjaan galian untuk septictank, saluran-saluran dan pekerjaan- pekerjaan
lain sesuai gambar.
2. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Galian tanah untuk septictank, saluran air, pondasi dan galian-galian lainnya
harus sesuai dengan peil-peil yang tercantum di dalam gambar.
b. Apabila ternyata pengalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan, maka
Pelaksana harus mengisi/mengurug kembali daerah tersebut dengan bahan yang
sejenis untuk daerah ybs.
c. Pelaksana harus menjaga agar lubang-lubang galian pondasi tersebut bebas dari
longsoran-longsoran tanah di kiri-kanannya (bila perlu dilindungi oleh alat-alat
penahan tanah dan bebas dari genangan air) sehingga pekerjaan pondasi dapat
dilakukan dengan baik sesuai dengan spesifikasi struktur. Pemompaan, bila
dianggap perlu harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu struktur
bangunan yang sudah ada.
d. Pengurugan/pengisian kembali bekas galian, dilakukan selapis demi selapis, dan
ditumbuk sampai padat sesuai dengan yang disyaratkan pada "Pekerjaan Urugan
Kembali dan Pemadatan"

36
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

C. PEKERJAAN URUGAN PASIR PADAT


1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat- alat
bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini untuk memperoleh hasil
pekerjaan yang baik.
2. Persyaratan Bahan Pasir
a. Pasir yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan keras,
bebas dari lumpur, tanah lempung dan lain sebagainya, serta konsisten
terhadap SNI 03-2847-2002.
b. Untuk air siraman digunakan air tawar yang bersih dan tidak mengandung
minyak, asam alkali dan bahan-bahan organis lainnya, serta memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan dalam NI-3 pasal 10. Apabila dipandang perlu, pengguna
jasa/pengawas lapangan dapat minta kepada Pelaksana, supaya air yang dipakai
untuk keperluan ini diperiksa di laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan
sah, atas biaya Pelaksana.
c. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan di atas dan harus dengan persetujuan pengguna jasa/pengawas
lapangan.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Lapisan pasir urug dilakukan lapis demi lapis maksimum setiap lapis 5 cm hingga
mencapai tebal padat yang disyaratkan dalam gambar.
b. Setiap lapis pasir urug harus diratakan, disiram air dan/atau dipadatkan
dengan alat pemadat yang disetujui pengguna jasa/pengawas lapangan.
Pemadatan dilakukan hingga mencapai tidak kurang dari 95 % dari kepadatan
optimum hasil laboratorium.
c. Tebal pasir urug minimum 10 cm padat atau sesuai yang ditunjukkan dalam
gambar. Ukuran tebal dalam gambar adalah ukuran tebal padat.
d. Lapisan pekerjaan di atasnya, dapat dikerjakan bilamana sudah mendapat
persetujuan pihak Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.

D. PEKERJAAN URUGAN TANAH DAN PEMADATAN


1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, dan alat- alat
bantu lainnya yang diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan urugan kembali untuk pekerjaan
substruktur yang ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk pengguna
jasa/pengawas lapangan.
2. Persyaratan Bahan-bahan
Bahan untuk urugan tersebut menggunakan material bekas galian atau dengan
mendatangkan dari lokasi lain dan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Jenis tanah adalah Silty Clay

37
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
b. Tanah harus bersih dan tidak mengandung akar, kotoran dan bahan organis
lainnya.
c. Tidak mengandung batuan yang lebih besar dari 10 cm.
d. Puing-puing bekas bongkaran dinding bata, beton sama sekali tidak
diperbolehkan digunakan untuk urugan.
Pengguna jasa/pengawas lapangan berhak menolak material yang tidak memenuhi
persyaratan tersebut di atas.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Pengurugan harus diperiksa sebelum disetujui oleh pengawas lapangan.
Pelaksanaan pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan tebal max tiap-
tiap lapisan 20 cm dan dipadatkan sampai mencapai Kepadatan Optimum, dan
mencapai peil permukaan tanah yang direncanakan.
b. Pada lokasi yang diurug harus diberi patok-patok, ketinggian sesuai dengan
ketinggian rencana.
c. Untuk daerah-daerah dengan ketinggian tertentu, dibuat patok dengan warna
tertentu pula. Pada daerah yang basah/ada genangan air, Pelaksana harus
membuat saluran-saluran sementara untuk mengeringkan lokasi-lokasi
tersebut, misalnya dengan bantuan pompa air.
d. Lokasi yang akan diurug harus bebas dari lumpur atau kotoran, sampah dan
sebagainya. Jika tidak ada persetujuan sebelumnya dari pengguna
jasa/pengawas lapangan maka pemadatan tidak boleh dengan dibasahi air.
Pemadatan urugan dilakukan dengan memakai alat stamper/ compactor yang
disetujui oleh pengguna jasa/pengawas lapangan.
e. Bahan galian dapat dipergunakan kembali untuk mengurug bila memenuhi syarat
sebagai tanah urugan dan bila perlu dapat dilakukan penyelidikan laboratorium
mekanika tanah yang disetujui oleh Pengawas Lapangan. Segala biaya-biaya
penyelidikan tersebut menjadi tanggung jawab Pelaksana. Penggalian yang
melebihi batas yang ditentukan, harus diurug kembali sehingga mencapai
perataan yang ditetapkan dengan bahan urugan yang dipadatkan, kecuali untuk
daerah galian pondasi harus mengikuti C.1. mengenai "Pekerjaan Galian
Pondasi".
f. Toleransi pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian dan pengurugan
adalah  50 mm terhadap kerataan yang ditentukan. Semua drainase darurat
harus disetujui oleh pengguna jasa/pengawas lapangan cara kerja yang dilakukan
Pelaksana harus disetujui oleh Pengguna jasa/pengawas lapangan.
g. Bagian permukaan yang telah dinyatakan padat harus dipertahankan dan dijaga
jangan sampai rusak akibat pengaruh luar misalnya basah oleh air hujan dan
sebagainya. Pekerjaan pemadatan dianggap cukup, setelah mendapat
persetujuan tertulis pengguna jasa/pengawas lapangan.
h. Bilamana bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki, lapisan
tersebut harus diulangi kembali pekerjaannya atau diganti, dengan cara-cara
pelaksanaan yang telah ditentukan, guna mendapatkan kepadatan yang
dibutuhkan. Jadwal pengujian akan ditentukan/ditetapkan oleh
perencana/pengguna jasa/pengawas lapangan.
i. Setelah pemadatan selesai, urugan tanah yang kelebihan harus dipindahkan ke
tempat yang ditentukan oleh pengawas lapangan. Ketinggian (peil) disesuaikan
dengan gambar.

38
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
j. Sarana-sarana Darurat : Pelaksana harus mengadakan drainase yang sempurna
setiap saat. Ia harus membangun saluran-saluran memasang parit-parit,
memompa dan atau mengeringkan drainase.
E. PEKERJAAN PONDASI
Persyaratan Bahan
1. Pondasi Tapak dibuat sesuai dengan gambar rencana dimana poer-nya merupakan
beton bertulang yang pekerjaannya dijelaskan lebih lanjut pada uraian Pekerjaan Beton
Bertulang.
2. Untuk pekerjaan pondasi Batu gunung, digunakan campuran 1 Pc : 4 Ps untuk
mengikat batu kali/gunung/belah sehingga tidak ada lagi rongga diantara sambungan
batu kali/gunung/belah.
Pedoman Pelaksanaan
1. Sebelum pondasi dipasang terlebih dahulu diadakan pengukuran-pengukuran untuk as-
as pondasi sesuai dengan gambar konstruksi dan dimintakan persetujuan Direksi
tentang kesempurnaan galian.
2. Sebelum pondasi tapak dikerjakan, Pelaksana Pelaksana harus memastikan galian
pondasi sudah selesai 100%.
3. Pelaksana harus membuang semua air tanah yang ada dalam galian pondasi sebelum
memulai pekerjaan pondasi tapak.
4. Pekerjaan pengecoran pondasi tapak tidak boleh dikerjakan dalam kondisi galian
pondasi tergenang air. Pada bagian paling dasar pondasi dilapisi dengan lantai kerja
dengan ketebalan minimal 10 cm dari campuran 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr, dan lapisan pasir
urug dengan ketebalan minimal 10 cm. Pekerjaan lantai kerja tidak boleh dilakukan
dalam kondisi galian pondasi tergenang air.
5. Pelaksana Pelaksana harus menjamin bahwa galian pondasi tidak akan tergenang air
tanah atau air hujan sampai semua pekerjaan struktur pondasi selesai dikerjakan.
6. Semua bagian pondasi tapak, dibuat dari beton bertulang dengan mutu K-250 untuk
bangunan 2-3 Lantai.
7. Untuk pekerjaan pondasi dikerjakan sesuai dengan ketentuan pekerjaan beton
bertulang.
8. Setelah pondasi tapak selesai, pekerjaan pondasi batu gunung dapat dilakukan
sebelum pemasangan sloof bangunan pekerjaan ini di lakukan di pekerjaan kamar
mandi. Di atas pasangan batu gunung dipasang angker besi minimal diameter 12”
dengan jarak minimal 1,5 – 2 m sebagai pengikat sloof.
9. Hasil pekerjaan pondasi harus disetujui oleh Konsultan supervisi.

F. PEKERJAAN PEMASANGAN LANTAI RABAT BETON


Lingkup Pekerjaan
1. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu untuk
melaksanakan pekerjaan ini sehingga didapat hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
2. Pekerjaan sub lantai ini meliputi seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukan dalam
Gambar Kerja sebagai alas lantai finishing.

39
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

Persyaratan Bahan
1. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan persyaratan Perhitungan
Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002).
2. Bahan yang dipakai sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan contoh-
contohnya kepada pengawas lapangan untuk disetujui.
Pesyaratan Pelaksanaan
1. Untuk pasangan yang langsung di atas tanah, tanah yang akan dipasang sub lantai harus
dipadatkan untuk mendapatkan permukaan yang rata dan padat sehingga diperoleh daya
dukung tanah yang maksimum, pemadatan dipergunakan alat timbres.
2. Pasir urug bawah lantai yang disyaratkan harus merupakan permukaan yang keras,
bersih dan bebas alkali, asam maupun bahan organik lainnya yang dapat mengurangi
mutu pasangan. Tebal lapisan pasir urug yang disyaratkan minimum 10 cm atau sesuai
Gambar Kerja.
3. Di atas pasir urug dilakukan pekerjaan sub lantai setebal min 5 cm atau sesuai yang
ditunjukkan dalam Gambar Detail dengan campuran 1 PC : 3 Pasir : 5 Koral.
4. Untuk pasangan di atas plat beton (lantai atas), plat beton diberi lapisan plester (screed)
campuran 1 PC : 3 Pasir setebal minimal 3 cm dengan memperhatikan kemiringan
lantai, terutama di daerah basah dan teras.
5. Sub lantai beton tumbuk di atas lantai dasar permukaannya harus dibuat benar- benar
rata, dengan memperhatikan kemiringan lantai di daerah basah dan teras.

G. PEKERJAAN KONSTRUKSI BETON


1. Umum
a. Beton adalah campuran antara semen, pasir, split dan air secukupnya dimana akan
didapatkan pemakaian semen yang sedikit mungkin pada penyelesaian pekerjaan.
Beton yang dihasilkan haruslah bermutu baik, padat, tahan lama serta mempunyai
kekuatan sesuai dengan ketentuan dan mempunyai ciri-ciri khusus lain seperti yang
disyaratkan.
b. Perbandingan antara pasir dan split tergantung dari pada gradasi (tingkatan) bahan
itu sendiri, tetapi hasil akhir yang harus dicapai adalah bahwa pasir harus selalu
dalam jumlah sesedikit mungkin sehingga apabila dicampur atau diaduk dengan
semen akan menghasilkan adukan yang cukup untuk mengisi kekosongan yang
terdapat dan ada diantara batuan kasar (split), serta masih ada sedikit kelebihan untuk
penyelesaian akhir daripada beton tersebut.
c. Untuk menjaga agar supaya didapatkan kekuatan beton yang optimal dan ketahanan
daripada beton tersebut, jumlah pemakaian air yang dipakai didalam adukan beton
tersebut haruslah dalam jumlah yang sesedikit mungkin dimana akan memberikan
hasil yang memuaskan di dalam pelaksanaan dan mudah untuk dikerjakan.
d. Semua bahan-bahan, pemeriksaan beton dan lain-lain yang termasuk di dalam
spesifikasi ini akan selalu didasarkan pada Perhitungan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002).

40
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
e. Campuran beton dengan mutu tertentu harus menggunakan job mix yang disyaratkan
atau campuran beton yang dihasilkan oleh perusahaan pencampur beton
(ready mixed) yang memenuhi persyaratan dan sesuai dengan spesifikasi ini dapat
pula diterima dengan adanya persetujuan terlebih dahulu dari Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan.
2. Ketentuan Umum dari Bahan-bahan Beton
a. Semua bahan beton yang akan dipergunakan haruslah bahan-bahan yang benar-
benar mempunyai mutu terbaik diantara semua bahan beton yang tersedia, serta
harus selalu memenuhi persyaratan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan
Gedung (SNI 03-2847-2002).
b. Sebelum memulai pekerjaan beton, terlebih dahulu Pelaksana harus
memberikan contoh dari bahan-bahan beton yang akan dipakai untuk mendapatkan
persetujuan terlebih dahulu dari pengguna jasa/pengawas lapangan.
c. Pelaksana dilarang dan tidak diperbolehkan memesan bahan-bahan beton atau
mendatangkan bahan-bahan beton dalam jumlah besar sebelum pengguna
jasa/pengawas memberikan persetujuan terlebih dahulu untuk setiap macam atau
jenis bahan yang akan dipakai.
d. Pengguna jasa/pengawas lapangan akan menyimpan contoh-contoh bahan beton
yang telah disetujui sebagai standar (patokan), dimana contoh tersebut akan
digunakan sebagai bahan pemeriksa pada saat adanya penerimaan bahan-bahan
beton.
e. Pelaksana dilarang untuk mengadakan penyimpangan dari pengiriman bahan yang
tidak sesuai dengan contoh yang telah disetujui tersebut, kecuali telah
f. ada persetujuan terlebih dahulu dari pihak pengguna jasa/pengawas lapangan.
g. Setiap macam bahan beton yang tidak disetujui dan tidak diterima oleh
pengguna jasa/pengawas lapangan, dengan segera Pelaksana harus mengeluarkan
atau memindahkan bahan beton tersebut dari lokasi proyek atas beban atau biaya
Pelaksana sendiri.
3. Semen
a. Yang dimaksud dari semen adalah portland cement seperti yang disebutkan pada
Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002).
b. Semen yang akan dipergunakan harus merk semen Gresik diperoleh dari pabrik
yang telah disetujui oleh pengguna jasa/pengawas lapangan, serta harus dikirim
pengawas lapangan ke lokasi proyek dengan cara pembungkusan yang baik, atau
dalam kantong yang masih benar-benar tertutup rapat, atau dapat pula dikirimkan
dengan menggunakan container dari pabrik yang telah disetujui oleh pengguna
jasa/pengawas lapangan.
c. Apabila dikehendaki oleh pengguna jasa/pengawas lapangan, Pelaksana agar
mengirimkan kepada pengguna jasa/pengawas lapangan tembusan dari konsinyasi
semen yang menyatakan nama pabrik dari semen tersebut, sertifikat hasil test dari
pabrik yang menyatakan bahwa konsinyasi tersebut telah diadakan testing serta
dianalisa dan sesuai dengan segala sesuatu yang telah disebutkan dalam standarisasi.
d. Semen harus disimpan di dalam tempat yang tertutup bebas dari
kemungkinan kebocoran air, dan dilindungi dari kelembaban sampai waktu
penggunaan. Segala sesuatu yang menyebabkan rusaknya semen seperti menjadi
padat atau menggumpal atau rusaknya kantong semen, maka semen tersebut tidak
bisa diterima dan tidak boleh dipergunakan lagi.
e. Semen akan dikenakan pula terhadap pemeriksaan tambahan yang sesuai dengan
standarisasi yang diperkirakan/dipandang perlu oleh Pengguna Jasa/ pengawas

41
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
lapangan, dan Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan mempunyai hak untuk menolak
atau tidak menggunakan semen yang tidak memenuhi syarat dengan mengabaikan
sertifikat yang diberikan oleh pabrik pembuat.
f. Semua semen yang ditolak atau tidak boleh dipergunakan harus dikeluarkan dari
lokasi proyek dengan segera atas biaya Pelaksana tanpa adanya alasan apapun.
g. Pelaksana harus mengirim hasil test serta mengadakan yang dikehendaki oleh
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan dalam hal yang berhubungan dengan hasil
pemeriksaan.
h. Setiap waktu Pelaksana harus menjaga persediaan semen di lokasi kerja, atau dengan
kata lain persediaan semen harus selalu cukup sesuai dengan kebutuhan dan
mengijinkan untuk diadakan pemeriksaan pada saat diperlukan.
i. Pelaksana harus melengkapi serta mendirikan tempat yang sesuai untuk tempat
penyimpanan semen, yang benar-benar harus kering, mempunyai ventilasi yang
baik, terlindung dari pengaruh cuaca serta cukup untuk menyimpan dan menimbun
semen dalam jumlah yang besar. Lantai dari gudang penyimpanan semen paling
sedikit harus 30 cm diatas tanah, atau setidak-tidaknya diatas genangan air yang
mungkin akan terjadi diatas tanah tersebut. Pengangkutan semen ke lokasi proyek
dengan lori atau kendaraan lainnya harus benar-benar dilindungi dengan terpal atau
bahan penutup yang tahan air lainnya.
j. Semen harus dipergunakan secepat mungkin setelah pengiriman, dan apabila
terdapat semen yang sudah lembab atau menggumpal, yang menurut Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan sudah tidak bisa dipakai lagi dikarenakan pengaruh
kelembaban udara atau hal lain, akan ditolak dan harus dikeluarkan dari lokasi
proyek atas biaya Pelaksana.
4. Split/Batu Pecah
a. Split atau batu pecah yang dipakai harus sesuai dengan Perhitungan Struktur Beton
Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002). Koral tidak diperkenankan untuk
dipakai.
b. Untuk struktur atas atau pembetonan yang mempunyai volume besar, split yang
dipakai harus ukuran 5 mm sampai dengan 30 mm. Penggunaan batuan lain yang
sifatnya campuran tidak diperkenankan.
5. Air
Pelaksana harus merencanakan untuk pengiriman/pengadaan air kerja dalam
jumlah yang cukup untuk segala macam keperluan dari pada pekerjaan, dan air ini
harus sesuai dengan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-
2847-2002).
6. Bahan-bahan Tambahan
Bahan-bahan tambahan apapun yang akan dicampurkan pada adukan beton tidak
diperkenankan, kecuali telah ada ketentuan atau keputusan tertulis dari Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan untuk setiap macam bahan tambahan dan dalam hal
yang tertentu pula.
7. Mutu Beton
Kecuali disebutkan lain, mutu beton adalah sebagai berikut :
a. Pada umur 28 hari, kekuatan karakteristik beton adalah (K-250) berlaku untuk
pondasi tapak, sloof, kolom, balok, plat lantai, ring balok pada struktural

42
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
bangunan dua dan tiga lantai. Sedangkan untuk beton non struktural dengan mutu
K-175.
b. Untuk lantai kerja yang ketebalannya ditunjukkan dalam gambar maka
perbandingan campurannya adalah 1 : 3 : 5 setara dengan mutu K-100, atau
disebutkan lain dalam gambar kerja.
8. Penetapan/Keputusan daripada Perbandingan Campuran Beton
a. Perbandingan daripada campuran beton yang diberikan diatas adalah berdasarkan
perkiraan, dimana setelah 28 hari sesudah pengecoran, beton mempunyai
kekuatan yang diinginkan, kwalitas yang baik serta kontrol yang baik.
b. Beton akan dijelaskan dalam daftar volume serta daftar rencana anggaran biaya
sesuai dengan mutu beton masing-masing struktur, bilamana mutu betonnya
berbeda-beda.
c. Apabila kekuatan beton yang dibutuhkan ternyata tidak dipenuhi atau tidak
memenuhi syarat, Pengawas Lapangan akan mengadakan atau memberikan
syarat tertentu tentang proporsi (perbandingan) campuran beton atas biaya
Pelaksana sendiri, yang mana perencanaan dan kekuatan beton tersebut akan
dicapai.
9. Perencanaan dari pada Campuran Beton
a. Paling tidak atau kurang lebih dalam waktu lima minggu sebelum
mengadakan pekerjaan pengecoran beton yang pertama kali, atas biaya
sendiri Penyedia Jasa harus mengadakan beberapa perencanaan daripada tatacara
kerja dan pemeriksaan/test pendahuluan yang diperlukan untuk menetapkan dari
masing-masing tingkatan beton dengan perbandingan yang sangat sesuai antara
semen, pasir, split dan air untuk setiap mutu beton, serta ukuran daripada batuan
yang telah ditetapkan.
b. Akan diberikan waktu yang cukup untuk mendapatkan hasil daripada
pemeriksaan beton dari campuran-campuran yang diusulkan, dan hasil-hasil
pemeriksaan beton tersebut harus didapat sebelum pekerjaan pembetonan
dimulai. Batching Plant yang dipakai pada saat campuran percobaan haruslah
batching plant yang nantinya akan dipakai selama Kontrak, dan campuran beton
tersebut harus dikerjakan secara keseluruhan dari bathcing plant yang
dipergunakan.
c. Tidak diperkenankan untuk mengadakan pengecoran sampai dengan hasil
pemeriksaan kubus mencapai umur 28 hari yang dibuat dari campuran percobaan
telah didapatkan hasil yang memuaskan, serta campuran tersebut dibuat dari
susunan yang telah disetujui oleh Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
10. Campuran-campuran Percobaan
a. Campuran percobaan beton harus dibuat dari tiga campuran yang sama, dan dari
setiap campuran akan diambil 6 (enam) buah kubus beton. 3 (tiga) buah
diantaranya akan ditest pada umur 7 (tujuh) hari, dan 3 (tiga) selebihnya pada
umum 28 hari.
b. Maksudnya adalah test 7 hari akan dipergunakan untuk menentukan kekuatan
beton diantara umur 7 hari sampai 28 hari untuk memastikan kemungkinan
daripada beton yang telah dikerjakan. Faktor pemadatan dan slump dari masing-
masing ketiga campuran tersebut akan dipakai pula sebagai pembanding.
c. Target kekuatan kubus untuk umur 28 hari yang dibuat dari campuran percobaan,
yang dibuat untuk mutu beton tertentu harus mencapai 1.45 dari kekuatan beton
karakteristik. Rata-rata dari hasil ketiga kubus yang berumur 28 hari dari

43
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
masing-masing campuran tidak boleh kecil dari 1.15 dari kekuatan beton
karakteristik.
d. Apabila campuran-campuran percobaan memberikan hasil yang sangat
minimum sekali, Pelaksana sehubungan dengan hal tersebut diatas harus
memberikan keterangan-keterangan yang lengkap, termasuk dari hasil kekuatan
beton, tingkatan dari masing-masing jenis batuan, tingkatan yang dicampur,
slump dan faktor pemadatan kepada Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan untuk
mendapatkan persetujuan.
e. Pelaksana disyaratkan membuat perencanaan mengenai pengawetan dan
pemeriksaan kubus percobaan biaya sendiri.
f. Apabila ada perubahan mengenai jenis semen atau jenis batuan yang
dipakai, atau apabila karena sesuatu sebab, terpaksa diusulkan adanya perubahan
daripada campuran atau komposisi beton, pemeriksaan pendahuluan daripada
kubus-kubus harus diulangi lagi, dan harus mendapatkan keputusan serta
persetujuan dari pada Pengawas Lapangan sebelum campuran/komposisi beton
yang baru itu dipergunakan.
11. Pemeriksaan Beton dan Bahan-bahan Beton
a. Pelaksana harus menyediakan pula pekerja-pekerja dan pelayanan-pelayanan
untuk semua test atau pemeriksaan-pemeriksaan mengenai beton dan bahan-
bahan beton yang diminta atau dikehendaki oleh Pengguna Jasa/Pengawas
Lapangan.
b. Selama pelaksanaan daripada kontrak atau pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana
harus menyediakan pula alat-alat dan perlengkapan yang tersebut dibawah ini :
slump test tempat pemeriksaan beton (laboratorium pemeriksaan beton) cetakan
pembuat kubus test yang cukup mengingat persyaratan Perhitungan Struktur
Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002). dimana setiap 5 m3 beton
dibuat 1 sample benda uji.
c. Pelaksana harus pula menyediakan alat untuk memeriksa kelembaban yang
terkandung dalam bahan batuan halus (pasir), skala penimbang, pengukur silinder
serta perlengkapan dan peralatan lain yang diperlukan dalam hal-hal pemeriksaan
yang akan ditentukan.
d. Semua peralatan pemeriksaan dan pekerja-pekerja atau usaha usaha untuk semua
pemeriksaan menjadi tanggungan Pelaksana dan harus seijin pengguna
jasa/pengawas lapangan.
e. Pelaksana harus menanggung biaya untuk perawatan dan trans-portasi
daripada semua contoh-contoh yang akan dilakukan pemeriksaan sampai ke
tempat pemeriksaan/laboratorium, yang telah disetujui oleh Pengguna
Jasa/pengawas lapangan untuk mengadakan pemeriksaan kekuatan kubus pada
umur 7 dan 28 hari.
f. Setiap kubus yang akan diperiksa di laboratorium harus diberi kode-kode tertentu
yang jelas dan permanen, seperti nomor-nomor kubus, tanggal pengecoran
beserta tanda atau kode lokasi pekerjaan tersebut. Sistim daripada ukuran
pemberian tanda pada kubus dan sebagainya akan ditentukan kemudian
oleh pengguna jasa/pengawas lapangan.
g. Pelaksana harus mengirimkan semua contoh-contoh daripada bahan-bahan dan
memikul semua ongkos/biaya yang berkenaan dengan pemeriksaan atau testing
yang berhubungan dengan spesifikasi ini, kecuali ada ketentuan lain.

44
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
h. Catatan yang lengkap daripada semua hasil-hasil pemeriksaan/ testing harus
disimpan pula oleh Pelaksana, apabila sewaktu-waktu diinginkan untuk
memenuhi kepentingan pengguna jasa/pengawas lapangan.
i. Pengecoran beton tidak akan diijinkan sebelum semua hal-hal yang
dibutuhkan dalam Bab ini dipenuhi. (Pengecoran beton tidak akan diijinkan/tidak
akan berjalan maju sampai dengan pengaturan-pengaturan yang memuaskan
dibuat untuk memenuhi kebutuhan Bab ini).
12. Kontrol/ Pemeriksaan Kualitas Beton di Lapangan
a. Penyedia Jasa harus bertanggungjawab penuh untuk bisa membuat mutu beton
yang sama, yang dimaksud adalah yang mempunyai kekuatan beton seperti yang
telah ditentukan atau sifat-sifat yang lain. Untuk ini Pelaksana harus menanggung
segala biaya untuk melengkapi dan mempergunakan timbangan yang teliti/tepat
dari instalasi campuran (batching plant), ukuran yang tepat untuk mengukur
volume air, penempatan yang sesuai dari alat- alat, dan semua pemeriksaan yang
dibutuhkan atau dianggap perlu dan fasilitas-fasilitas seperti yang
diperintahkan/diminta oleh Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan. Semen dan
semua bahan batuan harus diukur dan ditimbang sesuai dengan perbandingannya.
Pengadukan dengan mempergunakan selain semen yang dibungkus dalam
kantong semen tidak diperkenankan.
b. Dalam segi umur, kekentalan daripada beton harus diperiksa dengan "slump test"
untuk semua tingkatan daripada beton. Slump atau pemeriksaan penurunan beton
tersebut harus dilakukan setiap saat pengecoran, serta beberapa tambahan
percobaan yang harus dilakukan apabila ini dianggap perlu oleh Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan.
c. Sepanjang pelaksanaan dari kontrak ini, maka pemeriksaan kubus beton
harus selalu dibuat seperti dan kapan saja dikehendaki atau diperintahkan oleh
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
d. Kubus beton harus disediakan dan dipelihara sesuai dengan ketentuan
Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002)
kecuali : suhu selama dua minggu pertama daripada pemeliharaan perendaman
setiap saat berkisar antara 24 dan 29 derajat.
e. Enam buah kubus yang akan dipakai untuk bahan pemeriksaan bisa diambil dari
pengecoran yang mana saja, tiga buah harus diperiksa pada umur 7 (tujuh) hari
dan selebihnya pada umur 28 (dua puluh delapan) hari.
f. Penerimaan daripada pekerjaan beton hanya akan didasarkan pada test
pemeriksaan 28 (dua puluh delapan) hari, yang mana dimaksudkan bahwa
kekuatan rata-rata dari umur kubus 28 (dua puluh delapan) hari tidak boleh lebih
kecil daripada ketentuan minimum dalam butir 7, dan tidak satupun dari
kesemuanya mempunyai kekuatan kurang dari 90% daripada kekuatan minimum
yang disyaratkan. Kalau rata-rata kekuatan kubus pada umur 7 (tujuh) hari dari
waktu pengecoran ternyata dibawah ketentuan yang disebutkan dalam campuran
percobaan Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan mempunyai wewenang untuk
memberhentikan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan hal diatas, sampai
didapatkannya/diketahui hasil test kubus beton setelah 28 (dua puluh delapan)
hari.
13. Penolakan Beton
a. Apabila kuat tekan yang dihasilkan dari beberapa kelompok kubus ternyata tidak
mencapai standard atau ketentuan yang disyaratkan diatas maka Pengguna

45
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Jasa/Pengawas Lapangan berhak untuk memerintahkan untuk menolak atau
membongkar semua pekerjaan beton dimana kubus-kubus tersebut diambil.
b. Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan berwenang pula untuk menolak atau
memerintahkan untuk membongkar pekerjaan beton, apabila ternyata seperti
sarang lebah, berlobang-lobang halus, ataupun kurang baik permukaan yang
dihasilkan, dan setiap sebab dari penolakan tersebut, Pelaksana atas biaya sendiri
membongkar serta membuang beton yang ditolak dan menggantikannya dengan
apa yang baru seperti yang disyaratkan oleh Consultant Perencana serta
memenuhi keinginan Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
14. Penakaran Dari Pada Bahan-bahan Beton
a. Semua bahan-bahan daripada beton haruslah diukur dengan timbangan,
kecuali air yang diukur dengan volume. Setiap takaran daripada batuan halus atau
kasar akan diukur tersendiri dengan mesin penimbang yang telah disetujui,
mempunyai ketepatan yang baik dengan koefisien kurang dari 1% (satu persen).
Volume daripada penakaran diperbolehkan setelah ada persetujuan dari Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan.
b. Alat-alat yang dipergunakan untuk menimbang semua bahan-bahan dan
mengukur tambahan air, serta metoda daripada penetapan atau keputusan
kelembaban yang dikandung harus disetujui terlebih dahulu oleh Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan sebelum adukan beton tersebut dicor pada satu tempat.
c. Ketetapan daripada penimbang yang dipergunakan harus diperiksa atau diteliti
seminggu atau seperti yang disyaratkan/diperintahkan oleh Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan untuk dikalibrasi. Pemeriksaan tersebut harus diketahui
oleh Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
d. Alat tersebut harus selalu disediakan oleh Pelaksana dan harus selalu tersedia
di lokasi kerja selama proyek berjalan.
e. Suatu zak semen yang diketahui beratnya dapat dijadikan dasar pengukuran di
dalam keseimbangan campuran. Ukuran harus diseimbangkan dengan dasar
satu atau lebih zak semen yang baik.
f. Jumlah air yang harus ditambahkan di dalam campuran harus disesuaikan dengan
air yang terkandung dalam masing-masing jenis batuan.
15. Mencampur Beton
a. Beton harus dicampur sedekat mungkin dengan tempat penimbunan didalam type
dan kapasitas mesin pencampur yang telah disetujui oleh Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan, serta dipakai menurut kecepatan yang disarankan
pabrik pembuatnya.
b. b. Penyelenggaraan daripada pengadaan transportasi penakaran
dan pencampuran daripada bahan-bahan beton harus mendapatkan persetujuan
dari Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan terlebih dahulu dan apabila atau dimana
mungkin pelaksanaan dari keseluruhannya hanya akan diperiksa dan diawasi oleh
seorang pengawas.
c. Pencampuran beton yang dilakukan dengan tangan sama sekali tidak
diperbolehkan, kecuali sebelumnya Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan
memberikan persetujuan terlebih dahulu, dan hanya dalam gradasi beton untuk
lantai kerja 1 : 3 : 5.
d. Pencampuran tersebut akan menentukan kesamaan distribusi dari bahan-
bahan menjamin kepadatannya, setiap butir akan dilapisi dengan spasi atau
adukan, dan harus mampu menghasilkan beton yang homogen dan padat tanpa
kelebihan air.

46
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
e. Mesin pencampur atau pengaduk tersebut harus dilengkapi dengan alat pemindah
dan penuang air, dan sebuah bak penampungan air yang cukup serta sebuah alat
untuk mengukur secara tepat dan secara otomatis mengontrol jumlah air yang
dipergunakan pada sebuah alat penakar.
f. Alat ini harus mampu untuk memberikan jumlah air yang dibutuhkan dengan
koefisien kurang dari 1 % dengan pengiriman yang sama, dan alat tersebut harus
mampu menyesuaikan secara cepat disebabkan dengan adanya kandungan air
yang ada didalam setiap jenis batuan atau untuk membetulkan variasi daripada
slump beton.
g. Pengisian pada mesin pencampur harus pula diatur, bahwa semua unsur termasuk
air akan memasuki mesin tersebut sesuai dengan perbandingannya dan tidak ada
salah satupun yang terpisah.
h. Campuran pertama dari bahan-bahan beton yang dimasukkan kedalam mesin
pencampur akan terdiri dari semen, pasir, split dan air dimana hal tersebut
dimaksudkan untuk pelapis pertama daripada bagian dalam mesin pengaduk,
sehingga tidak akan mengurangi jumlah adukan atau spasi yang ada di dalam
campuran beton nantinya.
i. Semua mesin pencampur harus dijaga benar-benar keadaannya selama periode
pelaksanaan dari pada kontrak, dan apabila ada diantaranya yang mengalami
kerusakan atau tidak bisa digunakan sama sekali agar secepatnya dikeluarkan dari
lokasi.
j. Mesin-mesin pencampur tersebut harus benar-benar kosong semuanya
sebelum menerima bahan-bahan campuran beton agar campuran beton
mendapatkan hasil yang baik. dan apabila mesin pencampur tersebut tidak
dipergunakan lagi lebih dari 30 menit, atau telah berpekerjaan, atau sehabisnya
waktu kerja, harus pula dibersihkan dan dicuci.
k. Pengangkut, penakar dan pencampur beton harus dibersihkan benar-benar
sebelum pencampuran beton kwalitas atau mutu lainnya dikerjakan.
l. Pencampuran harus dilakukan terus menerus dalam waktu kurang dari 2 menit
setelah semua bahan-bahan termasuk air dimasukkan kedalam mesin pengaduk
sebelum adukan campuran tersebut dikeluarkan.
m. Mencampur atau mengaduk kembali beton atau spasi/adukan yang telah
mengeras sebagian atau seluruhnya tidak diperkenan-kan sama sekali. Dimana
disebabkan karena adanya penundaan diluar mesin penduduk, maka adukan
tersebut lebih baik masih tetap berada didalam mesin pencampur serta
pengadukan diteruskan sampai batas maksimum 10 menit.
16. Pengiriman Serta Pengecoran Beton
a. Pengecoran dari beton belum diperbolehkan untuk dimulai, sebelum adanya
pemeriksaan dan persetujuan dari Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan mengenai
bekisting, penulangan, pegang keran dan sebagainya, dimana beton tersebut
akan dituangkan.
b. Adukan/campuran beton yang ada didalam mesin pengaduk harus
dikeluarkan terus-menerus, dan diangkut ketempat pengecoran tanpa memisah-
misahkan unsur-unsurnya.
c. Beton tersebut harus diangkut dengan alat pengangkut yang bersih dan tidak
bocor, atau dengan gerobak dorong. Metoda atau cara pengangkutan lain dari
beton tersebut hanya bisa dilakukan, apabila sudah ada persetujuan dari Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan. Tempat untuk mengangkut dan menampung

47
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
beton harus dibersihkan dan dicuci pada akhir pekerjaan atau sehabis waktu kerja,
dan bilamana pengecoran tertunda/terputus untuk lebih 30 menit lamanya.
d. Untuk campuran beton yang diaduk dilapangan, semua campuran/ adukan beton
harus sudah dicor ditempatnya dalam waktu maximum 30 menit setelah
adukan selesai.
e. Beton tidak boleh dituangkan dari ketinggian lebih dari 1,50 meter, tetapi dalam
posisi tertentu yang dibutuhkan di dalam pekerjaannya, beton harus diratakan dari
timbunan tertinggi, dan itu harus dikerjakan untuk mencegah terpisahnya unsur-
unsur beton serta untuk meyakinkan tidak adanya arus dari pada beton yang
terputus. Keseluruhan sistem pekerjaan tersebut harus mendapat persetujuan
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan terlebih dahulu.
f. Pengecoran beton pada suatu bagian atau unit pekerjaan harus dikerjakan secara
terus-menerus atau setelah tercapainya bagian struktural yang diperkenankan.
g. Beton, bekisting atau penulangan yang ada tidak boleh diganggu dengan cara
apapun, kurang lebih selama 48 jam setelah pengecoran dilakukan, tanpa izin dari
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
h. Pengecoran beton harus dilakukan siang hari, dan pengecoran daripada
sebagian pekerjaan tidak boleh dimulai apabila tidak dapat diselesaikan pada
waktu siang hari terkecuali izin untuk bekerja malam (lembur) telah diizinkan
oleh Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan. Dan izin seperti itu tidak akan diberikan
kalau Pelaksana tidak atau belum menyediakan sistem penerangan yang
mencukupi yang telah disetujui oleh Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
i. Catatan lengkap yang terperinci mengenai tanggal, jam dan keadaan daripada
pengecoran setiap bagian pekerjaan harus dibuat dan ditandatangani oleh
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan dan disimpan, dan ini harus selalu tersedia
sewaktu-waktu ada pemeriksaan dari Pengguna Jasa.
j. Sebelum pekerjaan pengecoran dilaksanakan pelaksana harus membuat check
list pekerjaan yang harus di tanda tangan atau disetujui oleh konsultan pengawas.

G. TULANGAN BETON / BESI BETON


1. Umum
a. Semua besi beton harus bebas dan bersih dari karat harus sesuai dengan ukuran
pabrik, harus bersih pula dari oli, gemuk, cat dan lain sebagainya, atau hal lain yang
dapat menyebabkan berkurangnya daya ikat besi beton terhadap beton. Apabila
diinginkan atau dipandang perlu, maka Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan akan
memerintahkan untuk menyikat dengan sikat kawat untuk membersihkan besi beton
tersebut sebelum dipergunakan.
b. Sama sekali tidak diperkenankan mengadakan pengecoran beton sebelum besi yang
terpasang telah diperiksa dan disetujui oleh Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan
c. Semua besi beton yang dipergunakan harus mempunyai mutu sebagai berikut:
Untuk baja tulangan Ø12 mm, Ø10 mm, Ø6 mm baja tulangan polos (plain bar)
BJTP 28 dengan tegangan leleh, fy=280 MPa, di gunakan pada kolom Praktis.
Pada Perencanaan ini baja tulangan Polos BJTP 280 yang digunakan:
1. Fys tegangan leleh tulangan geser/sengkang BJTD 28 = 280 N/mm
Proses pengujian tarik tulangan dilakukan sebagai berikut :

48
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
a. Persyaratan buat benda uji untuk setiap contoh dengan bentuk dan dimensi yang sesuai
dengan ketentuan yaitu Benda uji, Peralatan, dan Perhitungan
b. setiap contoh dibuat 2 (dua) buah benda uji untuk pengujian ganda;
c. setiap benda uji dilengkapi dengan nomor benda uji, nomor contoh serta dimensinya;
d. pasang benda uji dengan cara menjepit dari benda uji pada alat penjepit mesin tarik;
sumbu alat penjepit harus berimpit dengan sumbu benda uji;
e. tarik benda uji dengan penambahan beban sebesar 10 MPa/detik sampai benda uji
putus; catat dan amatilah besarnya perpanjangan yang terjadi setiap penambahan-
penambahan beban 10 MPa;
f. Catat besarnya gaya tarik pada batas leleh Py dan pada batas putus Pmaks , bila benda
uji merupakan baja lunak;
g. buatlah grafik antara gaya tarik yang bekerja dan perpanjang.

a. untuk baja lunak, buat garis DE//AB untuk menentukan besarnya perpanjangan
e = AE; garis AF = batas leleh
b. untuk baja keras, lihat gambar 3-2;
1) Tentukan bagian garis lurus AC, kemudian tarik garis DE//AC untuk
menentukan besarnya perpanjangan e = AE;
2) Tentukan titik F untuk regangan n = 0,2% atau perpanjangan AF = 0,2%.lo
3) Tarik garis FB//DE, sehingga besarnya Py bisa diketahui;
4) Ukur diameter bagian benda uji yang putus (Du) dan panjang setela putus (lu),
lihat Gambar 3;Gambar 3 Penampang bagian yang putus 8) hitung parameter-
parameter penguj ian dengan menggunakan rumus-rumus
2. Pengujian Mutu Pekerjaan
a. Pelaksana harus menguji semua pekerjaan menurut persyaratan teknis dari pabrik/
produser atau menurut uraian di atas. Peralatan untuk pengujian disediakan oleh
Pelaksana.
b. Apabila pengujian tidak dilakukan dengan baik atau kurang memuaskan maka
Pengawas berhak meminta pengulangan pengujian dimana biaya pengujian dan
pengulangan pengujian tersebut adalah tanggung jawab Pelaksana.
Uji sifat tampak Uji sifat tampak dilakukan secara visual tanpa bantuan alat untuk memeriksa
adanya cacat-cacat, Uji ukuran, berat dan bentuk, Baja tulangan beton polos. Baja tulangan
beton polos diukur pada satu tempat diukur pada satu tempat untuk menentukan diameter
minimum dan maksimum. Pengukuran dilakukan pada 3 (tiga) tempat yang berbeda dalam
1 (satu) contoh uji dan dihitung nilai rata-ratanya. Penentuan berat ditetapkan berdasarkan berat
nyata (aktual) yang diperhitungkan dengan panjang contoh uji. Baja tulangan beton sirip
Baja tulangan beton sirip diukur jarak sirip, tinggi sirip, lebar rusuk, diameter dalam
dan tulangan sudut sirip, Jarak sirip Pengukuran jarak sirip dilakukan dengan cara mengukur
10 (sepuluh) jarak sirip yang berderek kemudian dihitung nilai rata- ratanya. Tinggi sirip
Pengukuran tinggi sirip dilakukan terhadap 3 (tiga) kali buah sirip dan dihitung nilai rata-
ratanya. Lebar rusuk Pengukuran terhadap lebar rusuk dilakukan dengan mengukur lebar
semua rusuk atau celah kemudian hasil pengukuran lebar masing-masing rusuk dijumlahkan.
Sudut sirip melintang Pengukuran sudut sirip melintang dilakukan dengan membuat gambar
yang diperoleh dengan cara mengelindingkan potongan uji di atas permukaan
lempengan lilin atau tanah liat, kemudian dilakukan pengukuran sudut sirip pada gambar
lempengan tersebut Uji tarik Uji tarik dilakukan sesuai SNI 07-0408-

49
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
1989, Cara uji tarik untuk logam, dengan batang uji sesuai SNI 07-0371-1998, Batang uji tarik
untuk bahan logam (batang uji tarik no. 2 untuk diameter < 25 mm dan batang uji tarik no. 3
untuk diameter ≥ 25 mm). untuk menghitung batas ulur dan kuat tarik baja tulangan beton polos
dan sirip digunakan nilai luas penampang yang dihitung dari diameter nominal contoh uji. Uji
lengkung Uji lengkung dilakukan dilakukan sesuai SNI 07-0410-1989, Cara uji lengkung
tekan. Setiap batang baja tulangan beton harus diberi tanda (marking) dengan huruf timbul
yang menunjukan inisial pabrik pembuat serta ukuran diameter nominal Setiap batang
baja tulangan beton harus diberi tanda pada ujung-ujung
Besi beton yang ada di lapangan harus disimpan atau ditaruh di bawah penutup yang kedap air
(waterproof), dan harus terangkat dari permukaan tanah atau genangan air tanah yang ada serta
harus dilindungi dari segala terjadinya karat.
3. Penekukan Besi Beton
a. Semua besi beton yang akan dipakai harus ditekuk atau dibentuk sesuai seperti
bentuk dan ukuran yang tertera pada gambar, serta diletakkan dan diikat dengan tepat
pada posisi yang ditunjukkan pada gambar, sehingga selimut beton yang telah
ditetapkan pada spesifikasi atau yang telah ditunjukkan dalam gambar akan selalu
tetap terpelihara dan terpenuhi.
b. Besi beton tersebut dapat ditekuk dan dibentuk dengan mesin penekuk yang telah
disetujui oleh Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan Besi beton tidak boleh ditekuk
atau diluruskan kembali untuk kedua kalinya, dimana hal tersebut akan
mengakibatkan rusaknya besi beton tersebut. Adapun besi beton yang terbelit atau
ditekuk dan tidak sesuai dengan gambar tidak diperkenankan untuk dipakai.
c. Harus benar-benar diperhatikan didalam pembentukan besi beton dengan beberapa
tekukan, bahwa jumlah panjang yang dibutuhkan setelah dilakukan penekukan harus
benar-benar tepat sesuai seperti yang tertera pada gambar, dan setelah besi beton
tersebut terpasang pada posisinya tidak akan ada atau terjadinya tekukan,
bengkokkan ataupun terlilitnya besi beton yang dimaksud.
d. Dimana dibutuhkan adanya tekukan yang berbentuk lengkungan atau belokan,
maka hal tersebut dapat dibentuk dengan cara memakai pen-pen keliling, dan pen-pen
tersebut harus mempunyai diameter 4 (empat) kali diameter besi beton yang dibentuk
atau ditekuk tersebut.
4. Pemasangan Besi Beton
a. Besi beton yang telah dibentuk tersebut harus dipasang tepat pada posisinya seperti
tertera sesuai dengan yang ditunjukkan pada gambar, sama sekali lepas atau tidak
menempel pada bekisting dengan cara mengganjal dengan pengganjal beton yang
dibuat sesuai dengan tebal selimut beton yang diinginkan, atau dengan
mempergunakan penggantung besi apabila dibutuhkan dengan cara mengikatkan
satu dengan yang lainnya pada persilangan diameter tidak kurang dari 1,6 mm, serta
dengan menekukan akhiran dari kawat pengikat baja tersebut kearah dalam badan
beton. Besi begel atau sengkang untuk balok atau kolom harus diletakkan tepat pada
posisinya dengan cara dilas atau dengan cara mengikat dengan kawat baja pada
tulangan utama, pengelasan tersebut harus disaksikan oleh wakil dari Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan. Besi beton pengganjal yang dipakai tidak
diperkenankan diganjal dengan pengganjal besi, yang akan keluar dari permukaan
beton nantinya, tidak diperkenankan diganjal dengan kayu, ataupun batu pecahan
dari batu gunung atau koral.
b. Blok beton pengganjal yang dipakai untuk mendapatkan selimut beton yang
dikehendaki terhadap besi beton, harus paling tidak mempunyai kekuatan yang sama

50
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
dengan mutu beton yang akan dicor pada daerah tersebut, serta dibuat sekecil
mungkin sehingga praktis untuk dipergunakan pada semua tempat. Blok beton
pengganjal tersebut harus diikatkan dengan kuat pada besi tulangan beton sehingga
apabila dilakukan pengecoran dengan penggetaran beton blok tersebut tidak mudah
untuk terlepas. Sebelum digunakan, maka blok beton pengganjal tersebut harus
direndam air untuk waktu yang cukup lama.
c. Sebelum dan selama dilakukannya pengecoran beton, maka pemasang atau tukang
besi beton yang berwenang harus hadir pada saat tersebut untuk memeriksa dan
membetulkan bagian-bagian besi beton yang masih perlu diperbaiki.
d. Besi-besi tulangan beton yang sebagian ada dibagian luar atau keluar dari permukaan
beton, yang dimaksudkan sebagai besi stek atau sambungan konstruksi tidak
diperkenankan untuk ditekuk atau diubah posisinya pada saat pengecoran beton
sedang berlangsung, kecuali sudah ada ijin dari Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
e. Sebelum diadakan atau dilakukan pengecoran, maka besi-besi tulangan beton yang
akan dicor harus dibersihkan terlebih dahulu dari semua atau sebagian beton yang
terdahulu atau sebelumnya.
f. Sebelum dilakukan pengecoran, maka Pelaksana wajib memberitahukan kepada
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan untuk mengadakan pemeriksaan pembesian.
Pelaksana tidak diperkenankan untuk melakukan pengecoran beton sebelum ada
persetujuan dan ijin tertulis dari Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan, bahwa besi
tulangan yang terpasang sesuai dengan gambar serta memenuhi persyaratan
spesifikasi.
H. SELIMUT BETON
Yang dimaksud dengan selimut beton adalah jarak minimum yang terdapat antara permukaan
dari setiap besi beton termasuk begel terhadap permukaan beton yang terkecil atau terdekat
spesifikasi untuk setiap bagian dari masing-masing pekerjaan beton. Pada situasi dan kondisi
tertentu maka Pengguna Jasa/pengawas berhak untuk merubah ketebalan dari selimut beton
yang ada. Adapun ketebalan selimut beton minimum yang disyaratkan pada Tabel 2.1 adalah :
Tabel 2.1: Syarat ketebalan minimum selimut beton
NO KONDISI MINIMAL (mm)
1 Seluruh beton yang berhubungan langsung dengan tanah 50
50
2 Balok pondasi, pelat, pondasi, poer
Balok, kolom yang berhubungan atau terkena langsung 50
3
dengan cuaca
Balok, kolom yang tidak berhubungan atau tidak terkena 40
4
langsung dengan cuaca
Pelat, dinding beton/wall yang berhubungan/terkena 40
5
langsung dengan cuaca
Pelat, dinding beton/wall yang tidak berhubungan atau 25
6
tidak terkena langsung dengan cuaca

I. BEKISTING
1. Umum

51
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
a. Semua bagian dari bekisting atau acuan atau cetakan pembentuk beton harus
direncanakan dan dilaksanakan sebaik mungkin dan sesuai dengan ketentuan
dari Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan. Pelaksana harus memberikan contoh
terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan
dalam waktu yang cukup longgar sebelum dilaksanakannya pekerjaan pengecoran.
b. Semua bagian dari bekisting, atau cetakan pembentuk beton harus benar- benar kuat
dan kukuh, serta harus dilengkapi pula dengan ikatan-ikatan silang dan penguat
lainnya. Hal tersebut dimaksudkan agar supaya tidak terjadi adanya perubahan bentuk
sewaktu dilakukannya pekerjaan pengecoran, pemadatan dan penggetaran beton.
Bekisting yang dibuat dari kayu atau plywood kelas III harus benar-benar dibuat
sebaik mungkin serta dari kayu yang tahan cuaca.
c. Semua sambungan harus benar-benar cukup terikat dan rapat untuk menghindari
adanya kebocoran beton. Untuk menghindari melekatnya beton pada bekisting, maka
lapisan minyak yang tipis sekali atau bahan lainnya yang telah disetujui Pengguna
Jasa/Pengawas Lapangan bisa dipergunakan untuk disapukan pada permukaan
bagian dalam dari bekisting sebelum bekisting tersebut dipasang dan dilakukan
pekerjaan pengecoran.
d. Dalam hal ini harus dijaga pula, bahwa besi tulangan beton tidak boleh sama sekali
terkena lapisan minyak tadi, ataupun lapisan penutup lainnya yang dapat
mempengaruhi daya lekat beton terhadap besi.
e. Diperbolehkan pula untuk mempergunakan pengikat besi atau besi pengisi sela pada
bagian dalam dari beton, tetapi hal tersebut harus mendapat persetujuan terlebih
dahulu dari Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan. Setiap bagian dari pengikat besi atau
besi pengisi celah tersebut yang nantinya akan tertanam pada beton, paling sedikit
harus 50 mm dari muka luar beton. Setiap lobang pada permukaan beton yang
disebabkan karena hal tersebut harus diisi segera dengan baik dan bersih pada saat
pembongkaran bekisting, dengan spasi semen atau hasil adukan yang sama dengan
adukan yang ada.
2. Pembongkaran Bekisting
a. Pembongkaran bekisting atau cetak pembentuk beton bisa dilakukan bahwa sebegitu
jauh hal tersebut tidak akan mengakibatkan dan menimbulkan kerusakan pada beton
yang ada.
b. Paling sedikit dibutuhkan waktu 3 (tiga) hari setelah pengecoran dapat
dilakukan pembongkaran bekisting, tetapi hal ini tidak di-haruskan. Pelaksana dapat
melakukan penundaan pembongkaran bekisting sampai mencapai kekuatan beton
mencukupi. Dalam hal ini Pelaksana harus bertanggung jawab penuh apabila
sampai terjadi adanya kerusakan atau cacat beton yang disebabkan oleh adanya
pembongkaran bekisting sewaktu beton masih belum cukup umur, ataupun
pembongkaran bekisting terlalu cepat sebelum waktunya.
c. Bekisting atau cetakan pembentuk beton yang dipakai pada lantai beton tergantung
harus dibiarkan pada tempatnya paling sedikit dalam waktu 14 hari setelah waktu
pengecoran. Lantai beton yang tergantung harus disangga penuh paling sedikit
dalam waktu 14 hari setelah pengecoran lantai beton diatas lantai yang sedang
disangga tersebut.
d. Apabila terjadi ataupun terdapat adanya lobang seperti keropos ataupun hal- hal lain
pada beton setelah dibongkarnya bekisting, maka Pengguna Jasa/Pengawas
Lapangan harus segera diberitahukan lebih dahulu akan hal tersebut. Tidak
diperbolehkan untuk memperbaiki atau melakukan hal-hal lainnya kecuali telah

52
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
mendapat persetujuan dan ijin dari Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan terlebih
dahulu.
e. Setelah terselesaikannya semua pekerjaan struktur, maka semua bekisting atau
cetakan pembentuk beton serta penyangga-penyangga lainnya harus dibongkar
semuanya dengan mengingat semua persyaratan yang telah ditentukan sebelumnya.
Akan tetapi hal tersebut harus mendapatkan pengarahan, serta persetujuan dari
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan terlebih dahulu.

53
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB VI
PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN + ACIAN

A. PEKERJAAN DINDING
Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat- alat bantunya
yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan pasangan batu bata pada dinding, pasangan
rooster, dan lain-lain sesuai gambar detail dan petunjuk Pengawas.
Pasal 02. BAHAN-BAHAN
Persyaratan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Batu kali/gunung/belah yang keras, ukurannya rata sama, satu dan lain hal sesuai
dengan SNI 03-2461-1991.
2. Semen (merk Semen Gresik) yang dapat dipergunakan dalam pekerjaan ini harus
memenuhi persyaratan yang tersebut dalam SNI 15-2049-1994 satu dan lain hal sama
dengan yang disyaratkan untuk pekerjaan beton dengan pasangan bata.
3. Pasir yang digunakan dalam pekerjaan ini jenis pasir pasang, yang memenuhi
syarat-syarat yang ditentukan dalam SNI 03-2461-1991
4. Air untuk mengaduk semen pasir tersebut di atas harus bersih, satu dan lain hal sesuai
dengan SNI 03-2847-2002.
Pasal 03. PELAKSANAAN
1. Batu bata merah yang digunakan batu bata setempat dengan kualitas terbaik yang
disetujui Pengawas, yaitu siku dan sama ukurannya.
2. Sebelum digunakan batu bata harus direndam dalam bak air atau drum hingga jenuh.
3. Setelah bata terpasang dengan adukan, naad/siar-siar harus dikerok sedalam 1 cm dan
dibersihkan dengan sapu lidi dengan kemudian disiram air.
4. 4. Pemasangan dinding bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri dari
(maksimal) 24 lapis setiap hari, diikuti dengan cor kolom prektis.
5. Bidang dingding bata ½ (setengah) batu yang luasnya lebih besar dari 12 m2 harus
ditambah kolom dan balok penguat (kolom praktis) dengan ukuran 13 xn13 cm, dengan
4 buah tulangan pokok berdiameter 12 mm, beugel diameter 8–20 cm, jarak antara
kolom maksimal 4 m.
6. Bagian pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan beton (kolom)
harus diberi penguat stek-stek besi beton diameter 8 mm. Jarak 40 cm, yang terlebih
dahulu ditanam dalam pasangan bata minimal 30 cm, kecuali ditentukan lain.
7. Pembuatan lubang pada pasangan bata merah yang patah dua melebihi dari dua tidak
boleh digunakan.

54
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
8. Pasangan batu bata merah untuk dinding ½ (setengah) batu harus menghasilkan dinding
finish setebal 15 cm dan untuk dinding 1 (satu) batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan
pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak lurus.
9. Pada bagian/daerah sekitar toilet dan lain-lain yang membutuhkan penempatan barang-
barang yang digantungkan pada dinding, maka di dalam dinding bagian-bagian
tersebut harus dipasang perkuatan yang dibuat dari besi beton secara vertikal dan
horizontal, yang dihubungkan/disambung dengan las.
10. Pemasangan besi beton perkuatan dinding tersebut harus disetujui terlebih dahulu oleh
Pengawas mengenai tempat dan ukurannya.
11. Kelos-kelos yang dibutuhkan dapat ditanam dalam dinding dengan angkur.
12. Pemasangan dinding rooster semen seperti pada pemasangan dinding bata dan
perletakannya sesuai dengan gambar pelaksanaan atau atas petunjuk Pengawas,
sedangkan untuk motifnya akan ditentukan kemudian.

A. Spesifikasi Bahan
1. Batu Bata
Harus matang pembakarannya, bila direndam dalam air akan tetap utuh, tidak pecah
atau hancur. Ukuran batu bata 200 x 100 x 50 mm atau disesuaikan dengan ketentuan
tebal dinding yang disyaratkan dalam Gambar Kerja. Karena itu Penyedia Jasa harus
memberikan contoh pada Pengawas Lapangan sebelumnya untuk diperiksa kualitasnya.
Apabila bahan-bahan yang datang, oleh Pengawas Lapangan dianggap tidak
memenuhi syarat, Pengawas Lapangan berhak menolak bahan-bahan tersebut dan
Penyedia Jasa wajib mengangkutnya ke luar lokasi pembangunan.
2. Semen / Portland Cement (PC) Merk Semen Gresik
Bahan semen yang digunakan sama dengan semen / PC untuk konstruksi beton. Semen
yang datang di lokasi pekerjaan dan menunggu pemakaiannya, harus disimpan di dalam
gudang yang lantainya kering dan 30 cm lebih tinggi dari permukaan tanah di
sekitarnya. Bilamana pada setiap pembukaan kantong, ternyata semennya sudah
membatu, maka semen tersebut harus disingkirkan keluar lokasi pembangunan dan
tidak boleh dipergunakan. Supplier / pedagang yang mengirimkan semen untuk
pekerjaan ini hendaknya dapat menunjukan sertifikasi dari pabriknya. Semen yang
sudah lembab atau menunjukkan gejala membatu akan ditolak. Secepatnya semen yang
ditolak harus dikeluarkan dari lokasi pembangunan untuk menghindari hal-hal yang
tidak diinginkan.
3. Pasir Pasang
Bahan yang digunakan sama dengan pasir yang digunakan untuk konstruksi beton. Pasir
yang dimaksud harus bersih, pasir asli yang bebas dari segala macam kotoran dan
bahan-bahan kimia, satu dan lain hal sesuai dengan NI-3 pasal 14 ayat 2. Bilamana pasir
yang dipakai tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, Pengawas Lapangan berhak
memerintahkan untuk mencuci pasirnya, melihat hasilnya sampai didapat persetujuan.
Khusus untuk plester, harus dicarikan pasir yang lebih halus.
4. Pasangan Kedap Air

55
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Untuk dinding-dinding biasa yang di atas tanah, pasangan kedap air dengan
perbandingan 1 (satu) semen PC dan 2 (dua) pasir dimulai dari sloof sampai 30 cm di
atas lantai. Untuk dinding dapur, pantry, kamar mandi, pasangan kedap air minimum
sampai setinggi keramik ( 175 cm dari lantai), satu dan lain hal sesuai gambar Denah
dan Potongan. Pasangan biasa dengan adukan 1 (satu) semen PC dan 4 (empat) pasir,
berada di atas pasangan kedap air tersebut. Tebal tembok jadi adalah 13-15 cm, satu
dan lain hal sesuai dengan gambar Denah dan Potongan.
B. Persyaratan Pelaksanaan
1. Sebelum dimulai pemasangan, maka batu batanya harus direndam lebih dahulu di
dalam air selama setengah jam atau sampai jenuh dan permukaan yang akan dipasang
harus juga basah.
2. Adukan pasangan harus dibuat secara hati-hati, diaduk di dalam bak kayu yang
besarnya memenuhi syarat. Dalam mencampur semen dan pasir harus di dalam keadaan
kering yang kemudian diberi air sampai didapat campuran plastis. Adukan yang sudah
mengering /kering tidak boleh dicampur dengan adukan yang baru.
3. Dalam satu hari pasangan tidak boleh lebih tinggi dari 1 (satu meter). Dari pengakhiran
pasangan satu hari tersebut harus dibuat bertangga menurun dan tidak tegak berdiri
untuk menghindari retak dikemudian hari. Tebalnya siar batu bata tidak boleh kurang
dari 1 (satu) cm atau 10 mm dan siarnya harus benar-benar pada adukannya.
4. Semua pasangan baru dijaga jangan sampai terkena sinar matahari langsung dengan
menutupnya memakai karung basah.
5. Tempat yang harus dibuat lubang harus dipersiapkan dulu dengan
menyumbatnya memakai batang pisang untuk diameter besar, sedangkan untuk
diameter lebih kecil dipakai potongan bambu.
6. Semua pasangan bata harus rata (horizontal) dan tiap-tiap kali diukur dari lantai,
dengan menggunakan benang. Pemasangan benang tidak boleh lebih dari 30 cm di atas
pasangan di bawahnya. Pada semua pasangan bata setengah batu satu sama lain harus
terdapat pengikat yang sempurna. Tidak dibenarkan menggunakan batu bata pecahan
separuh panjang, kecuali sesuai peraturannya (di sudut). Lapisan yang satu dengan
lapisan yang di atasnya harus berbeda setengah panjang bata. Pada pasangan satu batu
dan pasangannya lebih tebal harus disusun sesuai dengan petunjuk/peraturan
seharusnya.
7. Pada tiap-tiap pertemuan dinding pasangan bata tegak lurus, di atas setiap lubang pintu
dan jendela atau lubang lain serta dimana luas dinding tidak lebih dari 12 m2, baik
tergambar maupun tidak, dipasang kolom/balok beton praktis yang merupakan bingkai,
kecuali satu dan lain hal disesuaikan dengan gambar. Ukuran untuk balok/kolom praktis
tersebut setebal dinding bata dengan pembesian 4 Ø10 sengkang Ø8 - 150. Semua
pertemuan tegak lurus harus benar-benar bersudut 90º.
8. Sebagai persiapan untuk plesteran, maka siarnya harus diketok sedalam 0.5 cm
sehingga adukannya akan cukup mengikat plesteran yang akan dipasang.
9. Bilamana di dalam pemasangan ternyata terdapat batu bata yang cacat atau tidak
sempurna, maka batu bata ini harus diganti dengan yang kondisinya baik atas biaya
kontraktor.
10. Di tempat yang akan terdapat pintu, jendela, lubang ventilasi dan lain-lain, pasangan
bata hendaknya ditinggalkan sampai rangka kusen selesai dan dipasang ditempat yang
tepat.
11. Lubang untuk alat-alat listrik :

56
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
a. Dimana akan dipasang pipa-pipa dan atau alat-alat yang ditanam dalam dinding,
maka harus dibuat pahatan secukupnya pada pasangan bata sebelum diplester.
b. Pahatan tersebut setelah dipasang pipa/alat, harus ditutup dengan adukan plesteran
yang dilaksanakan secara sempurna, dikerjakan bersama-sama dengan plesteran
seluruhnya di bidang tembok.

Pasal 4. PEKERJAAN PLESTERAN + ACIAN


Lingkup Pekerjaan
1. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu untuk
melaksanakan pekerjaan ini sehingga didapat hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
2. Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan plesteran, penyiapan
dinding/tempat yang akan diplester, serta pelaksanaan pekerjaan plesteran termasuk
acian itu sendiri pada dinding yang akan diselesaikan dengan cat, satu dan lain hal
sesuai dengan yang tertera dalam gambar denah dan notasi penyelesaian dinding.
Spesifikasi Bahan
1. Semen yang dapat dipergunakan dalam pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan
seperti pada semen untuk konstruksi beton, satu dan lain hal sesuai dengan NI-8. Merk
Semen Gresik.
2. Pasir yang harus digunakan ini harus halus dengan warna asli. Satu dan lain hal sesuai
dengan persyaratan yang tersebut dalam NI-3 pasal 14 dan setelah mendapatkan
persetujuan dari Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
3. Air untuk mengaduk kedua bahan tersebut di atas satu dan lain hal dengan pasal 10 dari
NI-3.
Persyaratan Pelaksanaan
1. Campuran plesteran yang dimaksud adalah campuran dalam volume. Cara
pembuatannya menggunakan Mixer selama 3 menit.
2. Beraben adalah plesteran kasar dengan campuran adukan kedap air yaitu 1 PC : 2 Pasir.
Dipakai untuk menutup permukaan dinding pasangan batu bata yang tertanam dalam
tanah hingga ke permukaan tanah dan/atau lantai.
3. Plesteran biasa adalah campuran 1 PC : 4 Pasir. Adukan plesteran ini untuk menutup
semua permukaan dinding pasangan batu bata bagian dalam bangunan terkecuali
dinyatakan kedap air seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
4. Plesteran kedap air adalah campuran 1 PC : 2 Pasir. Adukan plesteran ini untuk
menutup semua permukaan dinding pasangan batu bata bagian luar / tepi bangunan,
semua bagian dan keseluruhan permukaan dinding pasangan batu bata seperti
tercantum dalam Gambar Kerja.
5. Plesteran halus/aci halus adalah campuran PC dengan air yang dibuat sedemikian
rupa sehingga mendapatkan campuran yang homogen. Plesteran halus ini adalah
pekerjaan finishing yang dilaksanakan setelah aduk plesteran sebagai lapisan dasar
berumur 7 (tujuh) hari/sudah kering benar.
6. Semua jenis aduk plesteran tersebut di atas harus disiapkan sedemikian rupa sehingga
selalu segar, belum mengering pada waktu pelaksanaan pemasangan.

57
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
7. Terkecuali untuk beraben, permukaan semua aduk plesteran harus diratakan.
Permukaan plesteran tersebut, khususnya plesteran halus, harus rata, tidak
bergelombang, penuh dan padat, tidak berongga serta berlubang, tidak mengandung
kerikil ataupun benda-benda lain yang membuat cacat.
8. Sebelum pelaksanaan plesteran pada permukaan pasangan batu bata dan beton,
permukaan beton harus dibersihkan dari sisa-sisa bekisting kemudian diketrek /
scratched. Semua lubang-lubang bekas pengikat bekisting atau formtie harus tertutup
adukan plesteran.
9. Pekerjaan plesteran halus/acian adalah untuk semua permukaan pasangan batu bata dan
beton yang akan di-finishing dengan cat.
10. Semua permukaan yang akan menerima bahan finishing, misalnya ubin keramik
dan lainnya, maka permukaan plesterannya harus diberi alur-alur garis horizontal untuk
memberi ikatan yang lebih baik terhadap bahan/material finishing tersebut. Pekerjaan
ini tidak berlaku apabila bahan finishing tersebut cat.
11. Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom/lantai yang
dinyatakan dalam Gambar Kerja dan/atau sesuai peil-peil yang diminta dalam Gambar
Kerja. Tebal plesteran minimal 10 mm, maksimal 25 mm. Jika ketebalan melebihi 30
mm, maka diharuskan menggunakan kawat strimin yang diikatkan ke pemukaan
pasangan batu bata atau beton yang bersangkutan untuk memperkuat daya lekat
plesteran.
12. Untuk permukaan yang datar, batas toleransi pelengkungan atau pencembungan bidang
tidak boleh melebihi 2 mm untuk setiap jarak 2 m.
13. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung dengan wajar,
tidak secara tiba-tiba. Hal ini dilaksanakan dengan membasahi permukaan plesteran
setiap kali terlihat kering dan melindunginya dari terik matahari langsung dengan bahan
penutup yang dapat mencegah penguapan air secara cepat. Pembasahan tersebut adalah
selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai, Penyedia Jasa harus selalu menyiram
dengan air sekurang- kurangnya 2 (dua) kali sehari sampai jenuh. Jika terjadi keretakan,
Penyedia Jasa harus membongkar dan memperbaiki sampai hasilnya dinyatakan
diterima Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
14. Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan plesteran dilakukan sebelum
plesteran berumur lebih dari 2 (dua) minggu.

C. PEKERJAAN WATERPROOFING
1. Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu untuk
melaksanakan pekerjaan ini sehingga didapat hasil pekerjaan yang baik dan
sempurna.
b. Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan pemasangan waterprofing pada
treatment, plat lantai atap, daerah basah, trench serta bagian-bagian lain yang
dinyatakan dalam gambar.
2. Persyaratan Bahan
a. Bahan harus sesuai dengan standar yang ditentukan oleh pabrik dan standar
lainnya, seperti NI-3, ASTM D, ASTM E, UNI, UEAtc.
b. Bahan adalah waterproofing type membrane yang terbuat dari Acrylic, Zat
Pewarna dan Filler Komposisi pemakaian adalah 0,6 – 1,0 Kg bahan untuk 1 m2.
c. Jenis bahan yang digunakan produk CRONFLEX, FOSROC, SIKA, atau setara
lainnya.

58
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
d. Perlindungan terhadap waterproofing menggunakan screed (perbandingan 1 Pc :
3 Psr).
e. Dak beton atap dan topi plat beton menggunakan waterprofing type membrane.
f. Waterproofing yang digunakan harus bergaransi 5 tahun, dengan kualitas yang
baik, tahan lama dan tidak bocor.
3. Persyaratan Pelaksanaan
a. Persiapan Permukaan
a) Permukan plat beton yang akan diberi lapisan waterproofing harus benar-benar
bersih, bebas dari minyak, debu serta tonjolan-tonjolan tajam yang permanen
dari tumpahan atau cipratan adukan dan dalam kondisi kering (baik dalam arti
kata kering leveling screed maupun kering permukaan).
b) Semua pertemuan 90° atau sudut yang lebih tajam harus dibuat tumpul,
yaitu penutup sepanjang sudut tersebut dengan aduk kedap air 1 Pc : 3 Psr atau
seperti tercantum dalam gambar kerja.
c) Dalam leveling screed digunakan campuran kedap air 1 Pc : 3 Psr, dibentuk
menggunakan benang waterpass arah kemiringannya (arah kemiringan menuju
ke lubang-lubang talang dan floordrain ± 1%)
d) Khusus lapisan screed pada bagian atap dan talang beton harus menggunakan
tulangan susut wire mesh yang terpasang di tengah ketebalan screed dan
sebelum dipasang harus didatarkan dulu sehingga tidak melengkung.
e) Screed dipasang mengikuti pola-pola yang sudah ditentukan dan diratakan
permukaannya (dihaluskan) dengan menggunakan raskam, digosok sedemikian
rupa dengan raskam tadi sehingga gelembung- gelembung udara yang
terperangkap di dalam adukan screed dapat keluar.
f) Dalam kondisi setengah kering, screed tadi langsung ditaburi semen sambil
digosok lagi dengan roskam besi sehingga merata. Setelah lapisan screed kering
tidak boleh diaci.
g) Setelah kering udara ±24 jam, screed baru ini harus dilindungi dari
kemungkinan pecah-pecah rambut dengan jalan menutupi permukaan atasnya
dengan karung goni yang sudah dibasahi air terlebih dahulu dan dijaga kondisi
basahnya.
h) Waktu yang diperlukan untuk keringnya screed ini minimal 7 (tujuh) hari dalam
kondisi cuaca cerah. Untuk cuaca buruk (hujan) tidak termasuk dalam
perhitungan waktu pengeringan screed.
b. Lapisan Waterprofing
a) Permukaan beton yang akan dipasang waterproofing harus dalam keadaan
kering, bebas dari kotoran dan debu.
b) Perkerjaan undercoat (coating I) sebagai lapisan pertama dengan komposisi 0,2
Kg/m2.
c) Pekerjaan coating yang ke dua dilakukan setelah tenggang waktu ± 1 (satu) jam
dari pekerjaan pertama dengan komposisi 0,3 Kg / m2.
d) Pekerjaan coating yang ke tiga dilakukan setelah tenggang waktu ± 1 (satu) jam
dari pekerjaan ke dua dengan komposisi 0,3 Kg / m2.
e) Pelaksanaan waterproofing pada daerah talang (roof drain) masuk ke dalam
talang sepanjang ± 10 cm.
f) Pada pelaksanaan waterproofing ini, harus dilindungi dari sengatan matahari
dengan menggunakan tenda-tenda.
g) Waterproofing yang sudah terpasang tidak boleh terinjak-injak apalagi oleh
sepatu atau alas kaki yang tajam. Penyedia Jasa harus melindungi dan

59
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
melokalisir daerah yang sudah terpasang waterproofing ini. Pada daerah
listplank beton, waterproofing harus dipasang mengikuti bentuk lisplang.
h) Penyedia Jasa harus menghentikan pekerjaan apabila terjadi hujan dan
melanjutkan kembali setelah lokasi benar-benar kering.
c. Lapisan Pelindung
a) Setelah waterproofing terpasang, maka di atas permukaannya diberi lapisan
perlindungan screed (perbandingan 1 Pc dan 3 Pasir), setebal 3 cm dengan
menggunakan tulangan susut wiremesh yang terletak di tengah-tengah adukan
screed.
b) Untuk mengatur jarak/ketebalan screed, harus digunakan beton decking
setebal 1,5 cm tiap jarak 0.5 m.
c) Permukaan screed ini dihaluskan dengan roskam pada saat kondisi screed
setengah kering dengan jalan menaburkan semen dan menggosoknya hingga
licin.
d) Setelah semua pemasangan lapisan waterproofing dan sebelum palaksanaan
lapisan pelindung, Penyedia Jasa harus melaksanakan pengujian kebocoran
terutama untuk permukaan horizontal plat atap. Cara pengujian adalah dengan
menuangkan air ke area yang tertutup lapisan waterproofing hingga ketinggian
air minimum 50 mm dan dibiarkan selama 3 x 24 jam. Beri tanda bagian-bagian
yang tidak sempurna atau bocor. Untuk plat atap yang miring harus dibagi
menjadi beberapa segmen agar genangan air tidak perlu tinggi di titik plat
terendah.
e) Penyedia Jasa wajib mengadakan pengamanan dan perlindungan terhadap
pemasangan yang telah dilakukan, terhadap kemungkinan pergeseran, lecet
permukaan atau kerusakan lainnya. Apabila terdapat kerusakan yang
disebabkan oleh kelalaian Penyedia Jasa baik pada waktu pekerjaan ini
dilakukan/ dilaksanakan maupun pada saat pekerjaan telah selesai, maka
Penyedia Jasa harus memperbaiki/mengganti bagian yang rusak tersebut
sampai dinyatakan dapat diterima oleh Pengguna Jasa/ Perencana. Biaya yang
timbul untuk pekerjaan perbaikan ini adalah tanggung jawab Penyedia
Jasa.

Pasal 05. PELAKSANAAN


A. Persiapan Plesteran
1. Bersihkan permukaan dasar sampai benar-benar siap untuk dilakukan pekerjaan
plesteran.
2. Untuk daerah yang luas, dibuat pola dasar plesteran (kepala plesteran) dengan
jarak 1 meter arah vertikal sebagai dasar plesteran untuk menjamin adanya ketebalan
yang sama, permukaan yang datar/rata, contour dan profil- profil akurat.
3. Basahi seluruh permukaan bidang yang akan diplester untuk peresapan. Plesteran
dapat dimulai setelah bidang tersebut kering.
4. Pelaksanakan plesteran menunjukkan hasil yang tidak memuaskan seperti tidak rata,
tidak tegak lurus atau bergelombang, adanya pecah atau retak, keropos, maka bagian
tersebut harus dibongkar kembali untuk diperbaiki atas biaya Pelaksana.
B. Pelaksanaan Pekerjaan Plesteran
1. Bersihkan permukaan dinding batu bata atau permukaan beton dari noda debu, minyak
cat, bahan-bahan lain yang dapat mengurangi daya ikat plesteran.

60
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
2. Untuk mendapatkan permukaan yang rata dan ketebalan sesuai dengan yang
disyaratankan, maka dalam memulai pekerjaan plesteran harus dibuat terlebih
dahulu “kepala plesteran”.
3. Pasangkan lapisan plesteran setebal yang disyaratkan (+ 20 mm) dan diratakan
dengan roskam kayu/besi dari kayu halus terserut dan rata permukaannya ataupun
dengan profil aluminium dengan panjang minimal 1,5 m. Kemudian basahkan terus
selama 3 (tiga) hari untuk menghindarkan terjadinya retak akibat penyusutan yang
mendadak.
4. Untuk plesteran pada permukaan beton, mula-mula permukaan beton harus dikasarkan
dengan pahat besi untuk mendapatkan daya ikat yang kuat antara permukaan beton
dengan plesteran. Bilamana perlu permukaan beton yang telah dikasarkan diberi bahan
additive, misalnya “Calbon”.
5. Basahi permukaan beton untuk air hingga jenuh, tunggu sampai aliran air berhenti.
6. Dalam pelaksanaan plesteran permukaan beton dengan ketebalan minimal 2 cm, tidak
diperbolehkan melakukan plesteran sekaligus, tetapi harus dilakukan secara bertahap
yaitu dengan cara menempelkan adukan semen pada bagian yang akan diplester,
kemudian setelah mengering, lakukan plesteran berikutnya dengan adukan semen pasir
hingga mencapai ketebalan yang dikehendaki.
7. Apabila terdapat bagian plesteran pada permukaan beton dengan ketebalan lebih dari 3
cm, sebagai akibat dari kesalahan pada waktu pengecoran atau yang lainnya, maka
plesteran tersebut harus dilapis dengan kawat ayam yang ditempelkan pada permukaan
beton yang akan diplester. Biaya penambahan kawat ayam tersebut menjadi
tanggungan Pelaksana.
8. Hindarkan benda-benda ataupun bahan-bahan lain yang dapat merusak permukaan
acian.
9. Apabila ada pekerjaan plesteran yang harus dibongkar atau diperbaiki, maka hasil akhir
(finishing) dari pekerjaan tersebut harus dapat menyamai pekerjaan yang telah disetujui
oleh Pengawas.

61
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB VII
PEKERJAAN ATAP DAN KUDA-KUDA

Pasal 01. KETENTUAN UMUM

1. Persyaratan-persyaratan konstruksi baja dan istilah-istilah teknik secara umum menjadi


satu-kesatuan dalam bagian dalam buku persyaratan teknis ini. Kecuali ditentukan
lain dalam buku teknis ini, maka semua pekerjaan baja harus mengacu pada standar di
bawah ini:
- Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI 1983)
- Persyaratan Umum Standar Nasional Indonesia (SNI 2010)
- Persyaratan Umum Standar Nasional Indonesia (SNI 03-1729-2002)

Seluruh pekerjaan kayu harus sesuai dengan:


- Persyaratan SNI 2002
- Persyaratan SNI 01-5007-2003
- Persyaratan SNI 7535-2011

2. Pelaksana harus melaksanakan pekerjaan ini dengan ketepatan dan kesesuaian yang
tinggi menurut persyaratan teknis ini, gambar rencana dan instruksi- instruksi yang
diberikan pengawas.
3. Semua material yang digunakan harus baru dengan kualitas terbaik sesuai dengan
persyaratan dan diketahui oleh pengawas. Pengawas berhak untuk meminta diadakan
pengujian atas bahan-bahan tersebut dan Pelaksana harus bertanggung jawab atas
segala biaya untuk keperluan tersebut.

Pasal 02. LINGKUP PEKERJAAN

1. Bagian ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu yang
dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan Kayu dan Canal C galvalum pada atap yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk pengawas.
2. Pelaksanaan pekerjaan Pemasangan atap baja ringan harus sudah melalui perhitungan kekuatan
Struktur kuda-kuda baja ringan oleh Aplikator Atap Baja Ringan.
3. Material Baja ringan harus ada Sertifikasi Material dari pabrik

Pasal 03. BAHAN-BAHAN

1. Spesifikasi Bahan

- Penutup Atap : Genteng Karangpilang (Bambe) + Bubungan Bambe

62
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
: Usuk dan Reng (Merk Kencana)
- Ukuran : Sesuai dengan gambar
- Kuda-kuda : Kayu jenis Kruwing ukuran sesuai Gambar
- Usuk dan reng : Usuk canal C 75 tebal 0.75 dan Reng galvalum R.40 t 0,45mm.
(Merk Kencana)

Perlindungan : Semua kayu yang akan dipasang harus dari kualitas l dan untuk rangka
plafond harus di cat Ter Residu/ Cat Anti Rayap

2. Pelaksana harus menyerahkan sertifikasi test dari pabrik pembuat baja tersebut untuk disetujui
oleh direksi/pengawas sebelum pemesanan material oleh Pelaksana.
3. Pelaksana harus menyerahkan 2 (dua) copy ketentuan dan persyaratan teknis operatif dari
pabrik/produsen sebagai informasi bagi Pengawas.
4. Bahan lain yang tidak terdapat pada daftar di atas, tetapi diperlukan dalam
penyelesaian/penggantian pekerjaan, harus baru, kualitas terbaik dan harus disetujui Pengawas.
5. Semua material Kayu harus bersih dan tidak kropost, serta bebas dari tekukan / lurus, puntiran
dan kerusakan lainnya.
6. Semua material harus disimpan rapi dan diletakkan di atas papan/balok kayu untuk
menghindari kontak langsung dengan permukaan tanah. Dalam penumpukan material,
kontraktor harus menjamin keutuhan material dari kerusakan yang mungkin terjadi.
7. Pengawas berhak menolak material-material atap yang tidak memenuhi syarat tersebut di atas
dan tidak diperkenan untuk difabrikasi.

Pasal 04. PENGUJIAN MATERIAL

1. Apabila dianggap perlu, maka pengawas dapat memerintahkan Pelaksana untuk


menyediakan contoh material baja guna diadakan pengujian material. Semua biaya
yang timbul untuk keperluan tersebut menjadi tanggung jawab Pelaksana.
2. Pengawas akan melakukan pengujian pada hasil pengelasan. Type dan jumlah
pengujian untuk pengelasan disesuaikan dengan kebutuhan serta dilakukan atas biaya
Pelaksana.
3. Apabila ternyata terdapat material yang tidak memenuhi persyaratan seperti pasal 03 di
atas, maka pengawas berhak untuk menolak penggunaan material tersebut.

Pasal 05. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN

1. Gambar Kerja (Shop Drawing)

a. Sebelum fabrifikasi dimulai, Pelaksana harus membuat gambar-gambar kerja yang


diperlukan dan mengirim 4 set copy gambar kerja untuk disetujui oleh pengawas.
Bila mana disetujui, 2 set gambar kerja akan dikembalikan kepada Pelaksana untuk
dapat dimulai pekerjaan fabrikasinya.
b. Pemeriksaan dan persetujuan pengawas atas gambar kerja tersebut hanyalah
menyangkut segi kekuatan struktur baja seperti: ukuran-ukuran/dimensi profil,
ketebalan plat, ukuran/jumlah baut/las, tebal pengelasan.
c. Ketepatan ukuran-ukuran, panjang lebar, tinggi dari elemen konstruksi yang
berhubungan dengan erection menjadi tanggung jawab Pelaksana. Dengan kata lain
walaupun semua gambar kerja telah disetujui oleh pengawas, tidaklah berarti

63
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
mengurangi atau membebaskan Pelaksana dari tanggung jawab ketidak tepatan
serta kemudahan dalam erection elemen-elemen konstruksi kayu.
d. Pengukuran dengan skala dalam gambar sama sekali tidak diperkenankan.

2. Fabrikasi

a. Pelaksana harus memberikan Manual Prosedur Fabrikasi termasuk prosedur


quality control kepada pengawas.
b. Fabrikasi dari elemen-elemen konstruksi baja harus dilaksanakan oleh tukang-
tukang yang berpengalaman dan diawasi oleh mandor-mandor yang ahli dalam
konstruksi baja.
c. Pemotongan-pemotongan elemen-elemen harus dilaksanakan dengan rapi, dan
pemotongan kayu dan Usuk Canal C 75 0.75 harus dilakukan dengan rapi dan
bagian tepi di gerinda hingga halus dan bebas dari bekas-bekas kotoran.
Pemotongan dengan mesin las sama sekali tidak diperbolehkan.

3. Tanda-tanda Pada Konstruksi Kuda-kuda

a. Pelaksana harus memberikan marking prosedur yang akan dipakai kepada


pengawas untuk disetujui.
b. Semua konstruks kayu yang telah selesai difabrikasi harus dibedakan dan diberi
kode dengan jelas sesuai bagian masing-masing agar dapat dipasang mudah. Kode-
kode tersebut harus ditulis dengan cat agar tidak mudah terhapus.
c. Pelat-pelat sambungan dan lain-lain bagian elemen yang diperlukan untuk
sambungan-sambungan dilapangan, harus dibaut/diikat sementara dulu pada
masing-masing elemen dengan tetap diberi tanda.

4. Baut Penyambung

a. Mutu baut penyambung adalah HTB A.325 dengan tegangan tarik putus minimum
133 Psi, tegangan tarik ijin 44 Psi dan tegangan geser ijin 17,5 Psi. Baut
penyambung harus berkualitas baik dan baru, diameter baut, panjang ulir harus
sesuai dengan yang diperlukan.
b. Baut harus dilengkapi dengan 2 ring, masing-masing 1 buah pada kedua sisinya.
Mutu plat ring sesuai dengan mutu baut Tiap Joint Harus ada 3 Baut.
c. Mutu baut hitam dan angkur adalah ST.37 (Fe 360)
d. Pengawas berhak untuk meminta Pelaksana melakukan test baut pada laboratorium
yang disetujui oleh pengawas, sebelum Pelaksana memesan baut yang dipakai.
e. Jumlah baut yang dites untuk masing-masing baut adalah 3 buah.
Walaupun tes baut tersebut memenuhi syarat, pengawas berhak untuk meminta
diadakan tes baut lainnya dengan jumlah 1 baut dari setiap 250 baut yang
digunnakan. Biaya pengetasan baut tersebut ditanggung oleh Pelaksana.
f. Posisi lubang-lubang baut benar-benar tepat dan sesuai dengan diameternya.
Pelaksana tidak boleh merubah atau membuat lubang baru di lapangan tanpa seijin
pengawas.
g. Pembuatan lubang baut harus memakai bor. Untuk konstruksi yang tipis
(maksimum 10 cm) boleh digunakan mesin pons. Pembuatan lubang dengan

64
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
menggunakan api, sama sekali tidak diperkenankan. Lubang baut dibuat 2 mm
lebih lebar dari diameter baut.
h. Pemasangan dan pengencangan baut harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan momen torsi yang berlebihan pada baut yang akan mengurangi
kekuatan baut itu sendiri.
i. Panjang baut harus sedemikian rupa, sehingga setelah dikencangkan masih dapat
paling sedikit 4 ulir yang menonjol pada permukaan, tanpa menimbulkan
kerusakan pada ulir tersebut. Panjang baut yang tidak memenuhi syarat ini harus
diganti dan tidak boleh digunakan.
j. Untuk menghindari adanya baut yang belum dikecangkan, maka baut-baut yang
telah dikencangkan harus diberi tanda dengan cat.

Pasal 06. PEMASANGAN KUDA-KUGA KAYU DAN USUK RENG BAJA RINGAN

1. Pelaksana selambat-lambatnya 2 (dua) minggu sebelum pelaksanaan erection dimulai, harus


mengajukan Erection Schedule/Method untuk diperiksa atau disetujui oleh pengawas
Erection Sechedule harus mencakup antara lain:

- Rencana pengiriman dari workshop/pabrik


- Penyimpanan kayu yang hendak dierection
- Alat-alat yang digunakan
- Urutan erection
- Time schedule erection elemen-elemen konstruksi Kuda-kuda
2. Pelaksana harus memberitahukan terlebih dahulu setiap akan ada pengiriman dari
pabrik/workshop ke lapangan guna pengecekan oleh pengawas. Pengawas akan menolak
setiap pengiriman baja dari workshop/pabrik apabila pengiriman tersebut belum dicek dan
mendapat persetujuan dari pengawas.
3. 3. Penempatan elemen konstruksi baja dilapangan harus ditempat yang kering/cukup
terlindung sehingga tidak merusak elemen-elemen tersebut. Pengawas berhak untuk menolak
elemen-elemen konstruksi kayu yang rusak karena salah penempatan atau rusak karena hal
lainnya.
4. Erection elemen-elemen konstruksi kayu hanya boleh dilakukan setelah Pelaksana
mengajukan erection schedule/method dan telah mendapat persetujuan tertulis dari pengawas.
5. Pelaksana bertanggung jawab atas keselamatan pekerja-pekerjanya di lapangan. Untuk ini
Pelaksana harus menyediakan ikat pinggang pengaman, helm pengaman, sarung tangan dan
tabung pemadam kebakaran.
6. Pelaksanaan erection ini harus dikepalai oleh seorang yang benar-benar ahli dan
berpengalaman dalam erection konstruksi kayu guna mencegah hal-hal yang tidak
menguntungkan bagi struktur .
7. Kegagalan dalam erection menjadi tanggung jawab Pelaksana sepenuhnya, oleh sebab itu
Pelaksana diminta untuk memberi perhatian khusus pada permasalahan erection ini.
8. Semua pelat-pelat atau elemen yang rusak setelah difabrifikasi, tidak diperbolehkan dipakai
untuk erection.
9. Apabila disetujui oleh pengawas maka pemasangan kuda-kuda dan gording yang dilakukan di
lapangan harus diawasi betul-betul oleh mandor dari Pelaksana agar pengelasan dilaksanakan
sesuai dengan gambar rancana baik ukuran panjang maupun dimensinya.

Pasal 07. PEKERJAAN ATAP

65
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
1. Penutup atap menggunakan bahan Genteng Karangpilang (Bambe).
2. Pemasangan dan penyelesaian detail-detail Genteng Karangpilang (Bambe) sesuai
dengan spesifikasi yang dikeluarkan pabriknya.
3. Rangka Kuda-Kuda menggunakam kayu kruwing dilapisi anti rayap
4. Untuk usuk canal C galvalum ukuran 75mm dan tebal 0.75mm dipasng dengan jarak
50 cm dan menggunakan galvalum merk “Kencana”

BAB VIII
PEKERJAAN PENUTUP LANTAI

A. PEKERJAAN LANTAI RABAT BETON


Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan seluruh pekerjaan lantai rabat beton sesuai dengan detail yang
disebutkan dalam gambar atau petunjuk Pengawas.

Pasal 02. PENGENDALIAN PEKERJAAN


Seluruh pekerjaan akan disesuaikan menurut standard
- Persyaratan SNI 7395-2008
- Semen yang digunakan adalah Merk Semen Gresik

Pasal 03. PELAKSANAAN


1. Untuk pemasangan langsung di atas tanah, yang akan dipasang rabat harus dipadatkan
untuk mendapatkan permukaan yang rata dan padat sehingga diperoleh daya dukung
tanah yang maksimum.
2. Pasir urung bawah lantai yang disyaratkan merupakan permukaan yang keras, bersih
dan bebas alkali, asam maupun bahan organik lainnya yang dapat mengurangi mutu
pasangan. Tebal lapisan pasir urug minimum 5 cm atau sesuai dengan gambar, disiram
dengan air sehingga diperoleh kepadatan yang maksimal.
3. Lantai beton rabat dicor 5 cm minimum atau sesuai dengan gambar dengan adukan 1
PC : 3 Ps : 5 Kr.
4. Lantai beton rabat permukaannya harus rata, dengan memperhatikan kemiringan
daerah basah dan teras.
5. Lapisan Wiremesh M6-15 di pasang sebelum dilakukan Pengecoran. Material
wiremesh harus mendapat Approval dari Inspector.

B. PEKERJAAN LANTAI KERAMIK DAN GRANIT


Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN

66
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Bagian ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan seluruh pekerjaan lantai Keramik dan marmer sesuai dengan
detail yang disebutkan dalam gambar atau petunjuk Pengawas.

Pasal 03. PERSYARATAN BAHAN


Spesifikasi Bahan yang digunakan adalah:
Lantai Ruangan

- Jenis : Granit Tile


- Ukuran-ukuran : 60 x 60 cm atau seperti tertera pada gambar
- Produksi : SERENITY
- Warna : Bermotif (tidak Polos/ Akan ditentukan kemudian)

Pasal 04. CONTOH-CONTOH


1. Sebelum diadakan pemasangan, Pelaksana harus memberikan contoh bahan- bahan
yang akan digunakan untuk disetujui Pengawas.
2. Contoh bahan yang telah disetujui akan digunakan sebagai pedoman/standard bagi
Pengawas untuk menerima atau memeriksa bahan yang dikirim oleh Pelaksana ke
lapangan.
Pasal 05. PELAKSANAAN
1. Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor diwajibkan membuat shop drawing pola
keramik yang akan dipasang.
2. Granit yang dipasang adalah yang telah diseleksi dengan baik, warna, motif tiap
keramik harus sama, tidak boleh retak, gompal atau cacat lainnya.
3. Lebar celah lantai Keramik maksimal 4 mm. Pengisi celah/naad/siar diberi warna
dengan warna sesuai keramik yang dipasang atau warna lain atas persetujuan
Pengawas.
4. Pola pemasangan Keramik harus sesuai dengan gambar detail atau sesuai petunjuk
Pengawas.
5. Pemotongan Keramik harus menggunakan alat pemotong khusus, sesuai petunjuk
produsen pembuat.
6. Keramik yang sudah terpasang harus dibersihkan dari segala macam noda- noda yang
melekat sehingga benar-benar bersih (warna keramik tidak kusam/buram).
7. Adukan pengikat untuk pemasangan Keramik pada lantai menggunakan campuran
1 PC : 4 PS, sedangkan untuk daerah basah (toilet) adukan pengikat dengan campuran
1 PC : 2 PS.
8. Lebar siar-siar harus sama dengan kedalaman maksimal 3 mm membentuk garis lurus
atau sesuai dengan gambar atau petunjuk Pengawas. Siar-siar harus diisi bahan pengisi
berwarna (grout semen berwarna) yang sesuai dengan warna lantai.
9. Sebelum Keramik dipasang, terlebih dahulu harus direndam dalam air sampai jenuh.

67
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
10. Keramik yang telah terpasang harus dihindarkan dari sentuhan/beban selama 3 x 24 jam
dan dilindungi dari kemungkinan cacat akibat pekerjaan lain.
11. Hasil pemasangan Keramik/Granit lantai harus merupakan bidang permukaan yang
benar-benar rata, tidak bergelombang dengan memperhatikan kemiringan didaerah
basah dan teras.
12. Keramik plint harus terpasang siku terhadap lantai, dengan memperhatikan siar-siarnya
bertemu siku dengan siar lantai dan dengan ketebalan siar yang sama pula.

Pasal 06. PENGUJIAN MUTU PEKERJAAN


1. Sebelum dilaksanakan pemasangan, Pelaksana diwajibkan memberikan kepada
Pengawas “Certificate Test” bahan keramik dari produsen/pabrik.
2. Bila tidak ada sertifikat tersebut, Pelaksana harus melakukan pengujian bahan tersebut
di laboratorium, yang akan ditunjuk kemudian dengan biaya menjadi tanggungan
Pelaksana.

68
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB IX
PEKERJAAN PINTU dan JENDELA

A. PEKERJAAN PINTU
Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini meliputi pengadaan dan pemasangan Pintu, bagian dalam pekerjaan lainnya yang
tertera dalam gambar.
Pasal 02. PENGENDALIAN PEKERJAAN
- Pintu Menggunakan PINTU Wood Panel Composite Merek DUMA
Pasal 03. BAHAN-BAHAN
Daun Pintu DUMA ( dari Pabrikan) dan Finishing di lokasi Proyek
Pasal 04. PELAKSANAAN
1. Penyimpanan
Pintu WPC di simpan ditempat Yang Kering dan terhindar dari Sinar matahari (
Sebelum Di finishing dan Di pasang)
2. Pengerjaan harus dilakukan pada tempat kerja yang disediakan untuk keperluan ini.
Pengerjaan di tempat pasangan hanya diperbolehkan atas ijin Pengawas.
3. Syarat Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh tukang-tukang kayu terbaik
dengan standard pekerjaan yang disetujui Pengawas. Pengawas berhak menolak
tukang-tukang yang dianggapnya tidak mampu serta meminta pengganti yang
dinilainya mampu.
4. Resiko dalam pelaksana harus memperhatikan serta menjaga pekerjaan yang
berhubungan dengan pekerjaan lain; jika terjadi kerusakan akibat kelalaiannya, maka
Pelaksana tersebut harus mengganti tanpa biaya tambahan.
B. PEKERJAAN ALUMINIUM
Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini meliputi penyediaan tenaga kerja, alat dan pengadaan dan pemasangan kusen
aluminium untuk pintu, jendela dan ventilasi yang tertera dalam gambar.
Pasal 02. BAHAN-BAHAN

69
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Digunakan kosen aluminium profil ukuran 4” dengan bahan campuran AlMgSIO yang
mempunyai kadar tembaga tidak lebih dari 4%, jenis dan warna ditentukan kemudian.
Pasal 03. PELAKSANAAN
1. Sebelum pemasangan, Pelaksana harus memeriksa/meneliti kembali serta mengajukan
gambar kerja untuk disetujui pengawas
2. Bahan aluminium yang dipakai harus diseleksi terlebih dahulu terutama dari segi warna,
sehingga didapat keseragaman dingan toleransi perbedaan yag sekecil mungkin.
3. Pekerjaan fabrifikasi harus menggunakan masimal yang baik dan semua detail
pertemuan runcing, halus dan rata serta bersih dari goresan atau cacat yang
mempengaruhi permukaan aluminium.
4. Selama Fabrifikasi, pengangkutan dan pemasangan, propil harus dilindungi dengan
lapis film yang dapat melindungi propil dari kerusakan atau cacat.
5. Pemasangan harus dilaksanakan oleh tukang yang ahli dan telah
berpengalaman.
6. Pelaksana harus membuat Banch Mark dan Line Offset Mark sebagai pedoman
pemasangan kosen.
7. Setelah pemasangan, pelindung propil harus segera dibersihkan dan Pelaksana wajib
menjaga dan mengamankan kosen dan perlengkapan lain dari bahan aluminium yang
telah terpasang terhadap kotoran atau benturan yang mengakibatkan kerusakan pada
bagian-bagian tersebut.
8. Kerusakan atau cacat yang terjadi akan menjadi tanggung jawab Pelaksana dan harus
segera diganti/diperbaiki.

70
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB X
PEKERJAAN PLAFOND

Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN


1. Bagian ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat- alat bantu
yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan plafond untuk mendapatkan hasil yang
baik.
2. Bagian ini juga meliputi seluruh detail pekerjaan plafond seperti yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Pengawas.

Pasal 03. BAHAN-BAHAN


1. Spesifikasi Bahan
- Rangka Plafond : kayu Kruwing modul 60x60cm (dilapisi Anti Rayap)
- Penutup Plafond : Kalsibord t = 4 mm
- Ukuran : 122 x 242 mm kalsiboard
2. Bahan-bahan yang dipakai, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan contoh-
contohnya untuk mendapatkan persetujuan Pengawas.
3. Pelaksana harus menyerahkan 2 (dua) copy ketentuan dan persyaratan teknis operatif
dari pabrik/produsen sebagai informasi bagi Pengawas.
4. Bahan lain yang tidak terdapat pada daftar di atas, tetapi diperlukan dalam
penyelesaian/penggantian pekerjaan, harus baru kualitas dan harus disetujui Pengawas.

Pasal 04. CONTOH-CONTOH


1. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana harus memberikan contoh-contoh bahan
untuk mendapatkan persetujuan Pengawas.
2. Contoh-contoh yang telah disetujui oleh Pengawas akan digunakan sebagai
standard/pedoman untuk memeriksa/menerima bahan yang dikirim oleh Pelaksana ke
lapangan.

Pasal 05. PELAKSAAAN


1. Pada pekerjaan plafond ini diperlukan adanya pekerjaan lain yang mempunyai
hubungan erat dalam pelaksanaannya. Sebelum pemasangan plafond dilaksanakan,
pekerjaan lain yang terletak di atas plafond harus sudah terpasang.

71
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
2. Bila pekerjaan tersebut tidak tercantum pada gambar rencana plafond harus diteliti
dahulu pada gambar-gambar instalasi yang lain (EL, PL, AC dan lain- lain). Untuk
pemasangan harus konsultasi Perencana.
3. Bahan-bahan penggantung disesuaikan dengan kebutuhan dan gambar.
4. Pada pertemuan bidang plafond dengan dinding harus diperhatikan dan pelaksanaannya
harus sesuai dengan gambar.
5. Rangka plafond terbuat dari Baka Hollow dilakukan sistem kelos dan mur.
6. Permukaan papan GRC reider yang halus, dijadikan permukaan plafond.
7. Pelaksana harus memperhatikan serta menjaga pekerjaan yang berhubungan dengan
pekerjaan lain, jika terjadi kerusakan akibat kelalaiannya, maka Pelaksana tersebut
harus mengganti tanpa biaya tambahan.
Pasal 06. PENGUJIAN MUTU BAHAN
1. Sebelum dilaksanakan pemasangan, Pelaksana wajib memberikan Pengawas
“Certificate Test” bahan-bahan plafond dari produsen.

2. Bila tidak ada sertifikat tersebut, Pelaksana harus melakukan pengujian atas bahan-
bahan di laboratorium yang akan ditunjuk kemudian.
3. Hasil pengujian dari laboratorium diserahkan kepada Pengawas.
4. Seluruh biaya yang berhubungan dengan pengujian bahan tersebut menjadi tanggung
jawab Pelaksana.

WATERPROOFING
1. Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu untuk
melaksanakan pekerjaan ini sehingga didapat hasil pekerjaan yang baik dan
sempurna.
b. Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan pemasangan waterproofing pada
treatment, plat lantai atap, daerah basah, trench serta bagian-bagian lain yang
dinyatakan dalam gambar.
2. Persyaratan Bahan
a. Bahan harus sesuai dengan standar yang ditentukan oleh pabrik dan standar
lainnya, seperti NI-3, ASTM D, ASTM E, UNI, UEAtc.
b. Bahan adalah waterproofing type membrane yang terbuat dari Acrylic, Zat
Pewarna dan Filler Komposisi pemakaian adalah 0,6 – 1,0 Kg bahan untuk 1 m2.
c. Jenis bahan yang digunakan produk CRONFLEX, FOSROC, SIKA, atau setara
lainnya.
d. Perlindungan terhadap waterproofing menggunakan screed (perbandingan 1 Pc
: 3 Psr).
e. Dak beton atap dan topi plat beton menggunakan waterprofing type
membrane.
f. Waterproofing yang digunakan harus bergaransi 5 tahun, dengan kualitas yang
baik, tahan lama dan tidak bocor.
3. Persyaratan Pelaksanaan
a. Persiapan Permukaan

72
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
a) Permukan plat beton yang akan diberi lapisan waterproofing harus benar-
benar bersih, bebas dari minyak, debu serta tonjolan-tonjolan tajam yang
permanen dari tumpahan atau cipratan adukan dan dalam kondisi kering
(baik dalam arti kata kering leveling screed maupun kering permukaan).
b) Semua pertemuan 90° atau sudut yang lebih tajam harus dibuat tumpul,
yaitu penutup sepanjang sudut tersebut dengan aduk kedap air 1 Pc : 3 Psr
atau seperti tercantum dalam gambar kerja.
c) Dalam leveling screed digunakan campuran kedap air 1 Pc : 3 Psr, dibentuk
menggunakan benang waterpass arah kemiringannya (arah kemiringan
menuju ke lubang-lubang talang dan floordrain ± 1%)
d) d) Khusus lapisan screed pada bagian atap dan talang beton harus
menggunakan tulangan susut wire mesh yang terpasang di tengah ketebalan
screed dan sebelum dipasang harus didatarkan dulu sehingga tidak
melengkung.
e) Screed dipasang mengikuti pola-pola yang sudah ditentukan dan diratakan
permukaannya (dihaluskan) dengan menggunakan raskam, digosok
sedemikian rupa dengan raskam tadi sehingga gelembung- gelembung udara
yang terperangkap di dalam adukan screed dapat keluar.
f) Dalam kondisi setengah kering, screed tadi langsung ditaburi semen sambil
digosok lagi dengan roskam besi sehingga merata. Setelah lapisan screed
kering tidak boleh diaci.
g) Setelah kering udara ±24 jam, screed baru ini harus dilindungi dari
kemungkinan pecah-pecah rambut dengan jalan menutupi permukaan
atasnya dengan karung goni yang sudah dibasahi air terlebih dahulu dan
dijaga kondisi basahnya.
h) Waktu yang diperlukan untuk keringnya screed ini minimal 7 (tujuh) hari
dalam kondisi cuaca cerah. Untuk cuaca buruk (hujan) tidak termasuk dalam
perhitungan waktu pengeringan screed.
b. Lapisan Waterprofing
a) Permukaan beton yang akan dipasang waterproofing harus dalam keadaan
kering, bebas dari kotoran dan debu.
b) Perkerjaan undercoat (coating I) sebagai lapisan pertama dengan komposisi
0,2 Kg/m2,
c) Pekerjaan coating yang ke dua dilakukan setelah tenggang waktu ± 1 (satu)
jam dari pekerjaan pertama dengan komposisi 0,3 Kg / m2.
d) Pekerjaan coating yang ke tiga dilakukan setelah tenggang waktu ± 1 (satu)
jam dari pekerjaan ke dua dengan komposisi 0,3 Kg / m2.
e) Pelaksanaan waterproofing pada daerah talang (roof drain) masuk ke dalam
talang sepanjang ± 10 cm.
f) Pada pelaksanaan waterproofing ini, harus dilindungi dari sengatan matahari
dengan menggunakan tenda-tenda.
g) Waterproofing yang sudah terpasang tidak boleh terinjak-injak apalagi oleh
sepatu atau alas kaki yang tajam. Penyedia Jasa harus melindungi dan
melokalisir daerah yang sudah terpasang waterproofing ini. Pada daerah
listplank beton, waterproofing harus dipasang mengikuti bentuk lisplang.
h) Penyedia Jasa harus menghentikan pekerjaan apabila terjadi hujan dan
melanjutkan kembali setelah lokasi benar-benar kering.
c. Lapisan Pelindung

73
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
a) Setelah waterproofing terpasang, maka di atas permukaannya diberi lapisan
perlindungan screed (perbandingan 1 Pc dan 3 Pasir), setebal 3 cm dengan
menggunakan tulangan susut wiremesh yang terletak di tengah-tengah
adukan screed.
b) Untuk mengatur jarak/ketebalan screed, harus digunakan beton decking
setebal 1,5 cm tiap jarak 0.5 m.
c) Permukaan screed ini dihaluskan dengan roskam pada saat kondisi screed
setengah kering dengan jalan menaburkan semen dan menggosoknya hingga
licin.
d) Setelah semua pemasangan lapisan waterproofing dan sebelum palaksanaan
lapisan pelindung, Penyedia Jasa harus melaksanakan pengujian kebocoran
terutama untuk permukaan horizontal plat atap. Cara pengujian adalah
dengan menuangkan air ke area yang tertutup lapisan waterproofing hingga
ketinggian air minimum 50 mm dan dibiarkan selama 3 x 24 jam. Beri tanda
bagian-bagian yang tidak sempurna atau bocor. Untuk plat atap yang
miring harus dibagi menjadi beberapa segmen agar genangan air tidak perlu
tinggi di titik plat terendah.
e) Penyedia Jasa wajib mengadakan pengamanan dan perlindungan terhadap
pemasangan yang telah dilakukan, terhadap kemungkinan pergeseran, lecet
permukaan atau kerusakan lainnya. Apabila terdapat kerusakan yang
disebabkan oleh kelalaian Penyedia Jasa baik pada waktu pekerjaan ini
dilakukan/ dilaksanakan maupun pada saat pekerjaan telah selesai, maka
Penyedia Jasa harus memperbaiki/mengganti bagian yang rusak tersebut
sampai dinyatakan dapat diterima oleh Pengguna Jasa/ Perencana. Biaya
yang timbul untuk pekerjaan perbaikan ini adalah tanggung jawab Penyedia
Jasa.
PEKERJAAN PLAFOND KALSIBOARD
1. Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu untuk
melaksanakan pekerjaan ini sehingga didapat hasil pekerjaan yang baik dan
sempurna.
b. Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjan pemasangan plafond kalsiboard atau
seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
2. Persyaratan Bahan
a. Spesifikasi Kalsiboard
a) Jenis : Kalsiboard atau Sesuai Gambar
b) Tebal : 4 mm
c) Ukuran : 122 x 244 cm
d) Berat : 7,54 Kg/M2
e) Merk : GRC board, Pink Board
b. Rangka plafon dari Kayu Kruwing KW1 dilapisi Anti Rayap
3. Persyaratan Pelaksanaan
a. Sebelum memulai pelaksanaan pemasangan, Penyedia jasa agar meneliti
gambar-gambar dan kondisi/keadaan di lapangan, dan diwajibkan kepada
Penyedia jasa untuk membuat shop drawing menggambarkan mengenai
sistem pemasangan dan juga pola pemasangan plafon.
b. Pada pekerjaan langit-langit dan partisi ini perlu diperhatikan adanya
pekerjaan lain yang dalam pelaksanaannya sangat berkaitan.

74
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
c. Sebelum dilaksanakan pemasangan langit-langit dan partisi, pekerjan lain yang
terletak pada langit-langit dan partisi tersebut harus sudah terpasang dengan
sempurna antara lain elektrikal, AC, sound system, fire alarm/fire detector,
sprinkler, saklar, stop kontak, dan instalasi lain yang diperlukan.
d. Untuk detail pemasangan, Penyedia jasa harus berkonsultasi dengan
Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan/Perencana dan distributor material. Langit-
langit harus sesuai dengan pola gambar kerja dan wajib diperhatikan terhadap
peil rencana, untuk partisi harus dipasang rata dan tidak bergelombang.
Rangka yang datar harus rata air.

75
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB XI
PEKERJAAN PENGECATAN

A. KETENTUAN UMUM
Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini meliputi pengadaan tenaga, bahan cat, peralatan, dan perlengkapan lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan pengecatan pada seluruh detail yang disebutkan dalam gambar dan
sesuai petunjuk Pengawas.

Pasal 02. BAHAN-BAHAN


1. Pengecatan seluruh pekerjaan harus sesuai dengan NI-3 dan NI-4 atau sesuai dengan
spesifikasi dari pabrik cat yang bersangkutan.
2. Pelaksana wajib membuktikan keaslian cat dari pabrik tersebut mengenai hal- hal yang
menunjukkan kemurnian cat yang digunakan, antara lain :
- segel kaleng
- hasil akhir pengecatan
Hasil dari test kemurnian ini harus mendapat rekomendasi tertulis dari produsen untuk
diketahui Pengawas. Biaya test tersebut menjadi tanggungan Pelaksana.
Pasal 03. CONTOH-CONTOH
Sebelum memulai pengecatan, Pelaksana wajib menyerahkan 1 contoh bahan yang masih
dalam kaleng, 3 contoh bahan yang telah dicatkan pada permukaan plywood ukuran 40 x 40
cm, brosur lengkap dan jaminan dari pabrik.
Pasal 04. PELAKSANAAN
1. Umum
a. Sebelum dikerjakan, semua bahan harus ditunjukkan kepada Pengawas beserta
ketentuan/persyaratan/jaminan pabrik untuk mendapatkan persetujuannya. Bahan
yang tidak disetujui harus diganti tanpa biaya tambahan
b. Jika dipandang perlu diadakan penukaran/penggantian, bahan pengganti harus
disetujui oleh Pengawas berdasarkan contoh yang diajukan Pelaksana.
c. Untuk pekerjaan cat di daerah terbuka, jangan dilakukan dalam keadaan cuaca
lembab dan hujan atau keadaan angin berdebu, yang akan mengurangi kualitas
pengecatan. Bilamana waktu mendesak, harap dilakukan pengecatan dalam
keadaan terlindung dari basah dan lembab ataupun debu.
d. Permukaan bahan yang akan dicat harus benar-benar sudah dipersiapkan untuk
pengecatan, sesuai persyaratan pabrik dipersiapkan untuk pengecatan, sesuai

76
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
persyaratan pabrik cat dan bahan yang bersangkutan. Permukaan yang akan dicat
harus benar-benar kering, bersih dari debu, lemak/minyak dan noda-noda yang
melekat.
e. Setiap pengecatan yang akan dimulai pada suatu bidang, harus mendapat
persetujuan dari Pengawas. Sebelum memulai pengecatan, Pelaksana wajib
melakukan percobaan untuk disetujui Pengawas.
f. Pelaksana tidak diperkenankan memulai suatu pekerjaan suatu tempat bila ada
kelainan/perbedaan di tempat itu sebelum kelainan tersebut diselesaikan.
g. Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar dan lain-lainnya, maka
Pelaksana harus segera melaporkannya kepada Pengawas.
h. Pelaksana wajib memperbaiki/mengulangi/mengganti kerusakan yang terjadi
selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas beban biaya Pelaksana, selama
kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan Pemberi Tugas.
2. Teknis
a. Lakukan pengecatan dengan cara terbaik, yang umum dilakukan kecuali spesifikasi
lain. Jadi urutan pengecatan, penggunaan lapisan-lapisan dasar dan tebal lapisan
penutup minimal sama dengan persyaratan pabrik. Pengecatan harus rata, tidak
bertumpuk, tidak bercucuran atau ada bekas- bekas yang menunjukkan tanda-tanda
sapuan, semprotan dan roller.
b. Sapuan semua dasar dengan cat memakai kuas, penyemprotan hanya diijinkan
dilakukan bila disetujui Pengawas.
c. Pengecatan kembali dilakukan bila ada cat dasar atau cat akhir yang kurang
menutupi, atau lepas. Pengulangan pengecatan dilakukan sebagaimana ditunjukkan
oleh Pengawas, serta harus mengikuti petunjuk dan spesifikasi yang dikeluarkan
pabrik yang bersangkutan.
d. Pembersihan permukaan harus mendapat persetujuan, pekerjaan termasuk
penggunaan ongkos, pencucian dengan air, maupun pembersihan dengan kain
kering.
e. Kerapian pekerjaan cat ini dituntut untuk tidak mengotori dan mengganggu
pekerjaan finishing lain, atau pekerjaan lain yang sudah terpasang.
Pekerjaan yang tidak sempurna diulang dan diperbaiki atas tanggungan Pelaksana.

Pasal 05. PENGUJIAN MUTU PEKERJAAN


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Pelaksana wajib melakukan percobaan atas semua
pekerjaan yang akan dilaksanakan atas biaya sendiri. Pengecatan yang tidak disetujui
Pengawas harus diulangi/diganti, atas biaya Pelaksana.
2. Pada waktu penyerahan, pabrik dengan Pelaksana harus memberi jaminan selama
minimal 2 tahun atas semua pekerjaan pengecatan, terhadap kemungkinan cacat karena
cuaca warna dan kerusakan cat lainnya.
3. Pengawas wajib menguji semua hasil berdasarkan syarat-syarat yang telah diberikan
baik oleh pabrik maupun atas petunjuk Pengawas. Peralatan untuk pengujian
disediakan oleh Pelaksana.
4. Pengawas berhak minta pengulangan pengujian bila dianggap perlu.
5. Dalam hal pengujian yang telah dilakukan dengan baik atau kurang
memuaskan, maka biaya pengujian/pengulangan pengujian adalah termasuk tanggung
jawab Pelaksana.

77
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

Pasal 06. PENGAMANAN PEKERJAAN


1. Daerah-daerah yang sedang dicat agar ditutup dari pekerjaan-pekerjaan lain, maupun
kegiatan lain dan juga daerah tersebut terlindung dari debu dan kotoran lainnya
sampai cat tersebut kering.
2. Lindungi pekerjaan ini dan juga pekerjaan atau bahan lain yang dekat dengan pekerjaan
ini seperti fitting-fitting, kosen-kosen dan sebagainya dengan cara menutup/melindungi
bagian tersebut selama pekerjaan pengecatan berlangsung.
3. Pelaksana bertanggung jawab memperbaiki atau mengganti bahan yang rusak akibat
pekerjaan pengecatan tersebut.

B. PEKERJAAN CAT DINDING


Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengecatan dinding (bagian dalam dan luar), atau seperti yang
dinyatakan dalam gambar dan petunjuk Pengawas.

Pasal 02. BAHAN-BAHAN


1. Bahan cat yang digunakan adalah merk Dulux Catylac
2. Pemakaian cat untuk dinding bagian luar menggunakan cat
Pasal 03. PELAKSANAAN
1. Sebelum dilakukan pengecatan pada permukaan dinding tersebut, maka harus
diperhatikan permukaan plesterannya dari :
- Profil yang diminta sesuai dengan gambar sudah dilakukan, berdasarkan peil-peil
yang ditentukan.
- Permukaan plesteran harus datar dan sempurna sesuai dengan pola yang telah
ditentukan.
- Permukaan plesteran telah diberi lapisan aci dengan hasil yang rata dan halus.
- Seluruh bidang pengecatan sudah bersih dari segala noda atau kotoran/debu.
2. Bila pengecatan dilakukan di atas permukaan dinding tidak diplester, maka Pelaksana
harus memeriksa apakah permukaan dinding sudah bersih dari noda, seperti yang
disyaratkan.
3. Setelah permukaan dinding siap untuk dicat, dilakukan pengecatan menurut petunjuk
dari pabrik cat.
4. Setiap kali lapisan pada cat akhir dilakukan harus dihindarkan terjadinya sentuhan-
sentuhan selama 1,5 sampai 1 jam.
5. Pengecatan akhir harus dilakukan secara ulang paling sedikit selama 2 (dua) jam
kemudian.

78
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
PEKERJAAN PENGECATAN LAINNYA
1. Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu untuk
melaksanakan pekerjaan ini sehingga didapat hasil pekerjaan yang baik dan
sempurna.
b. Pekerjaan yang dimaksud meliputi:
1) Pekerjaan pengecatan dinding/permukaan pasangan batu bata, permukaan
beton.
2) Pekerjaan pengecatan kilat pada permukaan kayu dan listplank.
3) Pekerjaan pengecatan besi, dan alumunium.
4) Dan/atau seperti tercantum dalam gambar kerja.
2. Persyaratan Umum
a. Seluruh pelaksanaan dan bahan untuk pekerjaan ini harus sesuai dengan standar
dan/atau spesifikasi pabrik.
b. Pabrik dan kontraktor harus memberi jaminan minimal selama 5 (lima) tahun
terhitung waktu penyerahan atas semua pekerjaan ini terhadap kemungkinan cacat,
warna yang berubah dan kerusakan cat lainnya.
c. Hasil pekerjaan yang tidak disetujui Pengguna Jasa harus diulang dan diganti.
Penyedia Jasa harus melakukan pengecatan kembali bila ada cat dasar atau cat
finish yang kurang menutupi atau lepas sebagaimana ditunjukkan oleh Pengguna
Jasa.
d. Selama pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus diawasi Tenaga Ahli /
Supervisi dari pabrik pembuat.
e. Bahan didatangkan langsung dari pabrik, tiba di Site Konstruksi harus masih
tersegel baik dalam kemasannya dan tidak cacat. Penyedia Jasa wajib
membuktikan keaslian cat dari produk tersebut mengenai kemurnian cat yang
akan dipergunakan. Pembuktian berupa segel kaleng, test BD, test Laboratorium
dan hasil akhir pengecatan. Biaya untuk pembuktian ini dibebankan kepada
Kontraktor. Hasil test kemurnian harus mendapat rekomendasi tertulis dari
produsen dan diserahkan kepada Pengguna Jasa untuk persetujuan pelaksanaan.
3. Persyaratan Teknis
a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa wajib melakukan percobaan
pengecatan (mock up). Biaya percobaan ini ditanggung Penyedia Jasa. Hasil
percobaan tersebut harus diserahkan kepada Pengguna Jasa untuk mendapatkan
persetujuan bagi pelaksanaan pekerjaan.
b. Pengecatan harus rata, tidak bertumpuk, tidak bercucuran atau ada bekas yang
menunjukkan tanda sapuan, roller maupun semprotan. Tebal minimum dari tiap
lapisan jadi/finish minimum sama dengan syarat yang dispesifikasikan pabrik.
c. Apabila dari cat yang dipakai ada mengandung bahan dasar beracun atau
membahayakan keselamatan manusia, maka Penyedia Jasa harus menyediakan
peralatan pelindung misalnya masker, sarung tangan dan sebagainya yang harus
dipakai pada waktu pelaksanaan pekerjaan.
d. Tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan ini dalam keadaan cuaca yang
lembab/hujan, berdebu. Terutama untuk pelaksanaan di dalam ruangan bagi cat
dengan bahan dasar beracun atau membahayakan manusia, maka ruangan
tersebut harus mempunyai ventilasi yang cukup atau pergantian udara
berlangsung lancar. Di dalam keadaan tertentu, misalnya untuk ruangan tertutup,

79
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Penyedia Jasa harus memakai kipas angin/fan untuk memperlancar
pergantian/aliran udara.
e. Peralatan seperti kuas, roller, sikat kawat, kape, pompa udara tekan/vacuum
cleaner, semprotan dan sebagainya harus tersedia dari kualitas/ mutu terbaik.
f. Khusus untuk semua cat dasar harus disapukan dengan kuas. Penyemprotan hanya
boleh dilakukan apabila disetujui Pengguna Jasa.
g. Pemakaian amplas, pencucian dengan air maupun pembersihan dengan kain kering
terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Pengguna Jasa
terkecuali disyaratkan lain dalam pesifikasi ini.
h. Pelaksanaan pekerjaan ini khususnya pengecatan dasar untuk komponen
bahan/material metal, harus dilakukan sebelum komponen tersebut
terpasang.
4. Pelaksanaan Pekerjaan
a. Pekerjaan Pengecatan Dinding Bata, dan Permukaan Beton.
1) Pekerjaan persiapan Sebelum Pengecatan
Sebelum pelaksanaan, seluruh permukaan harus dibersihkan dari debu, lemak,
kotoran atau noda lain, bekas-bekas cat yang terkelupas bagi permukaan yang
pernah dicat dan dalam kondisi kering.
• Pemakaian kuas hanya untuk permukaan dimana tidak mungkin
menggunakan roller.
• Pekerjaan pengecatan semua dinding/permukaan pasangan bata dan
permukaan beton yang tampak/ekspos seperti tercantum dalam Gambar
Kerja.
2) Permukaan Interior dan Exterior
Lapisan Pertama
• Alkalli siller acrylic Sesuai merk cat yang dipakai .
• Pelaksanaan pekerjaan dengan kuas/rol.
• Ketebalan lapisan 25 – 150 micron atau daya sebar 10 m2/liter.
• Tunggu selama minimum 24 jam sebelum pelaksanaan pelapisan
berikutnya.
Lapisan berikut (lapisan kedua dan ketiga) sampai didapatkan permukaan rata
• Cat jenis Vinyl Acrylic Emulsion untuk interior, sedangkan exterior dari
jenis weathershield dengan merk Sesuai merk diatas.
• Pelaksanaan pekerjaan dengan roller.
• Ketebalan lapisan 25 – 40 micron atau daya sebar 11 – 17 m2/liter
per lapis.
• Tenggang waktu antara pelapisan minimum 12 jam.
• Warna ditentukan kemudian.
b. Pekerjaan Pengecatan Permukaan Listplank.
1) Lingkup Pekerjaan
a. Yang termasuk pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan-
bahan, peralatan dan alat – alat bantu lainnya yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan hingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu
baik dan sempurna.

80
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
b. Meliputi pengecatan permukaan listplank yang tampak sesuai yang
ditentukan/ditunjukkan dalam detail gambar.
2) Persyaratan Bahan
a. Untuk pengecatan permukaan listplank GRC atau Kalsiboard digunakan
bahan finishing cat minyak buatan dalam negeri dari mutu terbaik, Sesuai
merk diatas, atau produk lain yang setara dan disetujui Direksi Pengawas.
b. Seluruh permukaan sebelum dilapisi cat awal dan cat akhir, harus
dilicinkan dengan mesin amplas listrik sampai halus dan licin.
c. Bahan yang digunakan harus memenuhi syarat – syarat yang ditentukan
dalam NI-4 serta sesuai ketentuan – ketentuan dari pabrik yang
bersangkutan.
d. Warna cat akhir akan ditentukan kemudian.
3) Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Bahan sebelum digunakan, terlebih dahulu harus diserahkan contoh-
contohnya kepada Direksi Pengawas, minimal 2 (dua) jenis hasil
produk yang berlainan, untuk mendapat persetujuan Direksi Pengawas.
b. Contoh – contoh yang diserahkan harus disertai brosur dari pabrik yang
bersangkutan.
c. Kontraktor harus membuat contoh jadi dari pekerjaan pengecatan dalam
beberapa macam warna, untuk diserahkan kepada Direksi Pengawas.
d. Penukaran/penggantian bahan harus dari mutu sesuai contoh yang
disetujui serta harus dengan persetujuan pihak Direksi Pengawas,
penukaran dan penggantian bahan menjadi tanggung jawab Kontraktor
sepenuhnya tanpa adanya tambahan biaya.
e. Bidang permukaan pengecatan harus diratakan/dihaluskan dengan
bahan/alat mesin amplas elektrik yang bermutu baik, sampai merupakan
bidang permukaan pengecatan telah memenuhi persyaratan dengan baik
dan telah disetujui Direksi Pengawas.
f. Bidang permukaan pengecatan dibersihkan dari debu, serbuk gergaji,
benar-benar bebas dari minyak, dan sebagainya serta kering betul.
g. Adukan dengan sempurna sebelum pemakaian bahan dilakukan.
h. Pengecatan dilakukan minimal 3 (tiga) lapis (1 lapis cat dasar sealer dan
2 lapis cat finishing) atau hingga dicapai hasil pengecatan yang tebal, rata
dan sama warnanya. Lapis pengulangan dilaksanakan setelah 2 hari dari
pengecatan awal.
i. Pengecatan harus dilakukan sejauh mungkin dari pengaruh pekerjaan lain
serta jauh dari tumbuh-tumbuhan.
c. Pekerjaan Pengecatan Metal/Besi
1) Pekerjaan Persiapan Metal Sebelum Pengecatan
 Bersihkan permukaan dari kulit giling (kerak/mill), karat, minyak,
lemak serta kotoran lain secara teliti dan menyeluruh sehingga permukaan
yang dimaksud menampilkan tampak metal yang halus dan mengkilap.
Pekerjaan ini dilaksanakan dengan sikat kawat mekanik. Akhirnya
permukaan dibersihkan dengan vacuum cleaner atau sikat yang bersih.
 Semua metal seperti yang tercantum dalam gambar kerja dengan ketentuan
sebagai berikut :
o Semua bagian/permukaan yang tampak/expose dicat sampai cat
finish.

81
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
o Semua bagian/permukaan yang tidak ditampakkan/ un- exposed,
menempel pada material lain, tertutup oleh material lain, dicat hanya
sampai dengan cat anti karat atau cat dasar primer.

BAB XII
PEKERJAAN KACA

Pasal 01. LINGKUP PEKERJAAN


1. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan
sempurna.
2. Pekerjaan kaca dan cermin meliputi seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam
detail gambar.

Pasal 02. PERSYARATAN BAHAN


1. Kaca adalah benda terbuat dari bahan glass yang pipih pada umumnya mempungai sifat
tembus cahaya, dapat diperoleh dari proses-proses tarik, gilas dan pengambangan (Float
glass).
2. Toleransi lebar dan panjang ukuran panjang dan lebar tidak boleh melampaui toleransi
seperti yang ditentukan oleh pabrik.
3. Kesikuan kaca lembaran yang berbentuk segi empat harus mempunyai sudut serta tepi
potongan yang rata dan lurus, toleransi kesikuan maximum yang diperkenankan adalah
1,5 mm per meter.
4. Cacat-cacat:
- Cacat-cacat lembaran bening yang diperbolehkan harus sesuai ketentuan pabrik
- Kaca yang digunakan harus bebas dari gelembung (ruang-ruang yang berisi gas
yang terdapat pada kaca).
- Kaca yang digunakan harus bebas dari komposisi kimia yang dapat
mengganggu pandangan.
- Kaca harus bebas dari keretakan (garis-garis pecah kaca baik sebagian atau seluruh
tebal kaca).
- Kaca harus bebas dari gumpilan tepi (tonjolan pada sisi panjang dan lebar kearah
luar/masuk).
- Harus bebas dari benang (string) dan gelombang (wave) benang adalah cacat
garis timbul yang tembus pandangan, gelombang adalah permukaan kaca yang
berobah dan mengganggu pandangan.
- Harus bebas dari bintik-bintik (spots), awan (cloud) dan goresan (scratch).
- Bebas lengkungan (lembaran kaca yang bengkok).
- Mutu kaca lembaran yang digunakan mutu AA.
- Ketebalan kaca lembaran yang digunakan tidak boleh melampaui toleransi yang
ditentukan oleh pabrik. Untuk ketebalan kaca 5 mm kira-kira 0,3 mm.
5. Bahan kaca
- Bahan kaca dan cermin, harus sesuai SII 0189/78 dan PBVI 1982. Digunakan
produk Asahi Mas.
82
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
- Bahan untuk kaca interior menggunakan: * Colour (tinted) Float Glass, reflektif
glass 40% tebal sesuai gambar untuk itu.
- Bahan untuk kaca interior menggunakan: * Colour Float Glass sesuai gambar.
- Bahan untuk cermin menggunakan: Clear Float Glass, tebal 5mm disatu
permukaannya dilapisi (Chemical Deposite Silver). Permukaan harus bebas noda
dan cacat, bebas sulfida maupun bercak-bercak lainnya.
6. Semua bahan kaca dan cermin sebelum dan sesudah terpasang harus
mendapatkan persetujuan Perencana/MK.
7. Sisi kaca yang tampak maupun yang tidak tampak akibat pemotongan, harus
digurinda/dihaluskan, hingga membentuk tembereng.
Pasal 03. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN
1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat
pekerjaan dalam buku ini.
2. Pekerjaan ini memerlukan keahlian dan ketelitian.
3. Semua bahan yang telah terpasang harus disetujui oleh MK.
4. Bahan yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan, dan diberi
tanda untuk mudah diketahui, tanda-tanda tidak boleh menggunakan kapur. Tanda-
tanda harus dibuat dari potongan kertas yang direkatkan dengan menggunakan lem aci.
5. Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat-alat
pemotong kaca khusus.
6. Pemotongan kaca harus disesuaikan ukuran rangka, minimal 10 mm kedalam alur kaca
pada kosen.
7. Pembersih akhir dari kaca harus menggunakan kain katun yang lunak dengan
menggunakan cairan pembersih kaca.
8. Hubungan kaca dengan kaca atau kaca dengan material lain tanpa melalui kosen, harus
diisi dengan lem silicon, Warna transparant cara pemasangan dan persiapan-persiapan
pemasangan harus mengikuti petunjuk yang dikeluarkan pabrik.
9. Cermin dan kaca harus terpasang rapi, sisi harus lurus dan rata, tidak
diperkenankan retak dan pecah pada sealant/tepinya, bebas dari segala noda dan bekas
goresan.
10. Cermin yang terpasang sesuai dengan contoh yang diserahkan dan semua yang
terpasang harus disetujui MK, jenis cermin sesuai dengan yang telah
disebutkan dalam syarat pemakaian bahan material dalam uraian dan syarat pekerjaan
tertulis ini type VVV polished, tebal 5mm.
11. Pemotongan cermin harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat potong kaca
khusus.
12. Pemasangan Cermin:
- Cermin ditempel dengan dasar kayu lapis jenis MR yang disekrupkan pada klas-
klas di dinding, kemudian dilapis dengan plastik busa tebal 1 cm. Pemasangan
cermin menggunakan penjepit aluminium siku atau sekrup kaca yang
mempunyai dop penutup stainless steel.
- Setelah terpasang cermin harus dibersihkan dengan cairan pembersih yang
mengandung amonia .
PEKERJAAN KACA
1. Lingkup Pekerjaan

83
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan pemasangan
kaca pada rangka pintu dan jendela, serta pengerjaan dan pemasangan untuk berbagai
macam pekerjaan kaca.
2. Uraian pekerjaan lain yang termasuk/dipakai di dalam pekerjaan ini adalah ;
Persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan pintu dan jendela.
3. Ketentuan:
a. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh tenaga ahli yang telah berpengalaman
di dalam pelaksanaan pekerjaan kaca.
b. Pemotongan, pengangkatan dan penyetelan kaca harus menggunakan
peralatan yang khusus digunakan untuk maksud itu, antara lain peralatan
potong khusus kaca, kop untuk alat pengangkat lembaran kaca dll, peralatan
yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.
c. Ketentuan tipe material lihat pada gambar kerja.
4. Material
a. Kaca
Semua kaca yang dipergunakan di dalam pelaksanaan pekerjaan ini secara
umum harus bebas dari cacat distorsi atau cacat-cacat fisik lainnya. Kaca yang
digunakan adalah kaca bening/polos dengan ketebalan min 5 mm atau sesuai
dengan gambar kerja.
b. Peralatan Pelengkap Pemasangan Kaca
Semua peralatan pelengkap untuk pemasangan kaca harus sesuai dengan rangka
tempat kedudukannya, tepat ukuran serta dari mutu terbaik serta
5. harus mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.
Pelaksanaan
a. Pemeriksaan Keadaan Pekerjaan
Sebelum mulai pemasangan, Pelaksana Pekerjaan diminta untuk memeriksa
keadaan lokasi pemasangan, baik dalam hal kesiapan maupun ketelitian dan
kecermatan pelaksanaan pekerjaan pendahulunya.
b. Penyimpangan
Dalam hal terjadi penyimpangan pada pelaksanaan pekerjaan pendahulunya,
Pelaksana Pekerjaan diminta untuk segera melaporkan keadaan tersebut
guna penyelesaian permasalahannya.
c. Pemotongan, Pengangkatan dan Pemasangan Kaca
Pemotongan kaca harus lurus, rapi dan halus, tepat ukuran, selanjutnya
dipasang pada lokasinya dengan jepitan yang sesuai, terpasang kuat serta tepat
dalam posisinya, baik dalam hal ketegakan ataupun kemiringan sesuai dengan
gambar rancana.
d. Pembersihan
Pada penyelesaian, pekerjaan harus dalam keadaan bersih dan terpasang sesuai
dengan mutu kerja yang disyaratkan.

84
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB XIII
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

Pasal 01. KETENTUAN UMUM


1. Maksud dan tujuan dari spesifikasi ini adalah merupakan pedoman pelaksanaan
pekerjaan instalasi penerangan listrik yang lengkap dan siap pakai, termasuk penyedian
material, pemasangan, testing, dan pemeliharaan selama masa pemeliharaan.
2. Keterangan kecil yang tidak diterangkan dalam spesifikasi ini maupun dalam gambar
akan tetapi perlu untuk dilaksanakan untuk kesempurnaan pekerjaan secara menyeluruh
berdasarkan peraturan yang berlaku, maka hal ini dianggap sudah termasuk dalam
spesifikasi ini.
3. Pelaksana harus memiliki Surat Pengesahan Instalasi (SPI) dan Surat Izin Kerja (SIKA)
yang dikeluarkan oleh PT. PLN masih berlaku, minimal kelas A.
4. Pelaksana harus menyediakan seluruh material dan perlengkapan lainnya yang
diperlukan sesuai standard sehingga seluruh instalasi dapat beroprasi dengan sempurna.
5. Pelaksana harus menyediakan tenaga ahli di lapangan yang setiap saat dapat dihubungi
oleh Pengawas Proyek.
6. Pelaksana harus mengganti material yang rusak atau yang tidak disetujui oleh pemberi
tugas/pengawas proyek, selama proyek belum diserahkan terimakan.
7. Pelaksana harus dapat bekerja sama dengan Pelaksana lainnya yang bekerja pada
preoyek ini.
8. Pelaksana harus mengganti atau memperbaiki bangunan yang rusak akibat
pekerjaan instalasi.
9. Segala sesuatu yang meragukan harus ditanyakan kepada pemberi tugas atau pengawas
lapangan.
Pasal 02. STANDARD PELAKSANAAN
Standard dan referensi yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah :
1. Peraturan Umum Instalasi Listrik 1977 (PUIL).
2. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. 02/P/M/Pertamben/1983, tanggal
3 Nopember 1983; tetang Standard Listrik Indonesia.
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik No. 023/PRT/1978; tentang
Syarat-syarat Penyambungan Listrik (SPL).
4. Juga dijadikan Standard pegangan antara lain adalah:
- AVE Belanda
- VDE Jerman
- British Standard Associates
- USA Standard
- JIS
Pasal 03. LINGKUP PEKERJAAN

85
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Pengadaan dan pemasangan serta pengujian seluruh material listrik sesuai dengan gambar dan
spesifikasi ini.

Pasal 04. SPESIFIKASI TEKNIS


A. INTALASI KABEL POWER
1. Kabel power adalah kabel antar panel yang dipasang di bawah tanah atau dibawah lantai
atau di atas plafon.
2. Untuk pemasangan dibawah tanah harus ditanam dengan kedalaman minimal 80
cm dengan konstruksi lebar galian paling bawah minimal 30 cm dan di atas kabel harus
ditimbun pasir setebal 15 cm dan dilanjutkan pelapisan dengan batu bata dan tanah
timbunan. Pemasangan batu bata melintang atau 10 buah permeter lari.
3. Pada rute tertentu harus diberi tanda AWAS KABEL untuk keamanan.
4. Untuk pemasangan di bawah lantai atau jalan, kabel harus dimasukkan kedalam
pipa sparing yang sesuai, sedangkan untuk diatas plafon dapat diklem pada rangka
plafon atau rak.
5. Jika terjadi persilangan dengan pipa air atau parit atau kabel lainnya, maka kabel juga
harus dimasukkan ke dalam pipa sparing yang sesuai.
6. Jari-jari belokan pada kabel minimal 10 kali diameter terluar dari kabel dan koneksi
dibuat sekokoh mungkin.
B. PANEL DAN KOMPONENNYA
1. Panel dipasang menempel pada dinding dengan tower dengan tinggi maksimum bagian
atas panel adalah 200 cm dari lantai.
2. Output panel pada tower dari atas dan input dari bawah panel.
3. Penyusunan breaker dan komponen lainnya di dalam panel harus mudah dioperasikan
dan mudah dalam pemeriksaan serta semua komponen dapat diganti dari arah depan
panel.
4. Setiap breaker harus diberi tanda nomor atau group untuk memudahkan dalam
pengoperasian.
5. Pada setiap panel ditempelkan wiring diagram panel serta wiring diagram yang
berhubungan dengan input power.
C. PENTANAHAN (GROUNDING)
1. Setiap peralatan yang terbuat dari bahan metal atau yang bersifat konduktor harus
dihubungkan sistem-sistem pentanahan, begitu juga konstruksi baja tower harus
ditanahkan yang disatukan dengan pentanahan penangkal petir.
2. Armor kabel harus dihubungkan dengan sistem pentanahan.
3. Tahanan tanah untuk sistem pentanahan instalasi listrik maksimal 5 ohm.
4. Seluruh sistem pentanahan harus terhubung satu sama lainnya.
5. Elektroda pentanahan ditanam minimal sampai kedalaman 6 M.
Pasal 05. SPESIFIKASI MATERIAL
A. LAMPU
1. Spesifikasi dan jenis lampu yang digunakan seperti tertera dalam gambar.
2. Lampu dan Ballast menggunakan merk Phillips, sedangkan sangkarnya menggunakan
merk Artolite atau setara.
B. KABEL DAN KABEL TRAY

86
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
1. Kabel lampu jenis NYM ukuran sesuai dengan gambar atau minimum luas penampang
2x1,5 mm2 untuk lampu dan 3x2,5 mm2 untuk stop kontak, standard SII merk
ETERNA
2. Kabel pentanahan yang terpisah dari untaian kabel power harus berwarna hijau dari
jenis NYA.
3. Kabel tray menggunakan type heavy duty lengkap dengan support dan asesoris
pendukung lainnya.
4. Kabel power jenis NYY 4x25 mm2 dari panel utama ke panel distribusi dan 4x35 mm2
dari meteran ke panel utama, standard SII merk suprime atau Kabelindo atau Tranka
atau setaranya.
C. PANEL DAN KOMPONENNYA.
1. Panel jenis otdoor dan outbow yang dilengkapi dengan kunci serta papan nama.
2. Breaker jenis 1 phasa 1 pole dan 3 phasa 3 pole setara GAE, AEG, BBC, Mitsubishi.
D. MATERIAL PENDUKUNG LAINNYA.
1. Junction box minimal mempunyai diameter outlet 0,5 inch dan dilengkapi dengan
tutup.
2. Isolasi memakai jenis PVC setara 3M.
3. Material consumable lainnya disesuaikan dengan standard dalam spesifikasi ini.
E. PENGUJIAN DAN PEMERIKSAAN
Kontraktor harus mengadakan pengujian dan pemeriksaan terhadap seluruh pekerjaan dan
menjamin akan bekerja dengan sempurna yang disaksikan oleh pengawas proyek yang
ditunjuk.
Pengujian dan pemeriksaan meliputi :
1. Pengujian Tahanan Isolasi
Pengujian tahanan isolasi terhadap kabel instalasi minimal 2 Mega ohm dengan
menggunakan magger 500 volt.
2. Continuty Test
Dilakukan setelah pengujian tahanan isolasi, hal ini dimaksud untuk meyakinkan dan
memastikan bahwa koneksi kabel sudah benar.
3. Power Receiving Test
Dilakukan untuk memastikan tidak ada kelainan pada peralatan yang telah ipasang
sehingga siap untuk dioperasikan.
4. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan sebelum pelaksanaan, sedang pelaksanaan dan setelah
pelaksanaan dilakukan.
F. MATERIAL PENDUKUNG LAINNYA
1. Juction box minimal mempunyai diameter outlet 0,5 inci dan dilengkapi dengan tutup.
2. Isolasi memakai jenis PVC setara dengan 3M
3. Material consumable lainnya disesuaikan dengan standard dalam spesifikasi ini.
Pasal 06. PENGUJIAN DAN PEMERIKSAAN

87
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN
Kontraktor harus mengadakan pengujian dan pemeriksaan terhadap seluruh pekerjaan dan
menjamin akan bekerja dengan sempurna yang disaksikan oleh pengawas proyek yang
ditunjuk.
Pengujian dan pemeriksaan meliputi :
1. Pengujian Tahanan Isolasi
Pengujian tahanan isolasi terhadap kabel instalasi minimal 2 Mega ohm dengan
menggunakan magger 500 volt.
2. Continuty Test
Dilakukan setelah pengujian tahanan isolasi, hal ini dimaksud untuk
meyakinkan dan memastikan bahwa koneksi kabel sudah benar.
3. Power Receiving Test
Dilakukan untuk memastikan tidak ada kelainan pada peralatan yang telah dipasang
sehingga siap untuk dioperasikan.
4. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan sebelum pelaksanaan, sedang pelaksanaan dan setelah
pelaksanaan dilakukan.
Pasal 07. LAIN-LAIN
Kontraktor harus berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan guna menghindari terjadinya
kecelakaan baik terhadap orang, peralatan maupun material. Jika pada suatu saat peralatan
atau material ditempatkan pada suatu tempat yang bersifat sementara, maka tempatnya harus
jauh dari lalu lintas, jauh dari sumber-sumber yang dapat menimbulkan kebakaran, kerusakan
dan cacat pada peralatan maupun material tersebut.

88
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB XIV
LAIN-LAIN

A. PERSONIL MANAGERIAL
Daftar personil inti/ Tenaga ahli yang diperlukan untuk melaksanakan pengadaan
pekerjaan konstruksi :
DAFTAR PERSONEL MANAJERIAL
Jabatan Pengalaman
Nama
dalam Tingkat Kerja Sertifikat Kompetensi
No Personel Keterangan
Pekerjaan Pendidikan/Ijazah Profesional Kerja*)
Manajerial
ini*) (Tahun)*)
1 Pelaksana Pelaksana 2 SKK TA 022 / TS 051
Bangunan
Gedung /
Pekerjaan
Gedung
atau
Pelaksana SKK TS 052
Lapangan
Pekerjaan
Gedung
atau
Pelaksana Jenjang 4
Lapangan
Pekerjaan
Gedung
Muda
atau
Pelaksana Jenjang 5
Lapangan
Pekerjaan
Gedung
Madya
2 Petugas K3 Petugas K3 0 Sertifikat Kompetensi
Konstruksi K3 Konstruksi

B. BAHAN BANGUNAN SESUAI SPESIFIKASI TEKNIS


a. Pekerjaan Beton Memakai Semen Gresik
b. Kuda-Kuda kayu memakai jenis Kruwing KW1
c. Rangka Plafond Kayu Kruwing KW 1Modul 60x60cm
d. Pekerjaan dinding dan Plesteran aci memakai Semen Gresik
e. Kusen Pintu Jendala Ukuran 4” Memakai Merk Inkalum
f. Guiding Block memakai merk Roman Tebal 2cm
g. Keramik dan Granite Tile 60x60cm memakai merk Serenity

89
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

C. PERALATAN MINIMAL

Daftar Peralatan Minimal yang dibutuhkan :


Nama Merek Kapasita Jumla
Kondisi Status Kepemilikan
No Peralatan dan s h **) **)
Ket.
Utama*) Tipe**) **) **)

1 Pick Up - 1 unit Baik Milik sendiri/ sewa


Pengaduk - 1 unit Baik Milik sendiri/ sewa
2 Beton/ Molen

D. KUALIFIKASI PENYEDIA

a. Memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) kode KBLI 2020:41016 Konstruksi Gedung
Pendidikan dan Sertifikat Standar terverifikasi (untuk Badan Usaha yang memiliki
SBU KBLI 2020);

b. Dalam hal sertifikat standar sebagaimana dimaksud pada angka 1) belum


terverifikasi, peserta menyampaikan NIB, Sertifikat Standar belum terverifikasi dan
tangkapan layar laman OSS yang mencantumkan bahwa Sertifikat Standar sedang
menunggu verifikasi atau
c. Memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) kode KBLI 2017;41016 Konstruksi Gedung
Pendidikan dan SBU yang masih berlaku (untuk Badan Usaha yang memiliki SBU
KBLI 2017)
d. Sertifikat Badan Usaha (SBU) dengan kualifikasi usaha kecil sub bidang
klasifikasi/layanan BG006 Konstruksi Gedung Pendidikan (KBLI 2020;41016) atau
BG007 Jasa Pelaksana Konstruksi Bangunan Pendidikan (KBLI 2017-41016).

E. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

Jangka Waktu Pelaksanaan 105 (Seratus lima) Hari Kalender. Dan Jangka Waktu
Pemeliharaan 180 (Seratus Delapan Puluh ) Hari Kalender

F. Keluaran / Output Performance


Keluaran dari pekerjaan ini adalah terehabnya 1 (satu) ruang laboratorium di SMPN 8
Kota Pasuruan

90
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

BAB XV
PENUTUP

I. Semua material yang merupakan barang produksi yang akan dipasang terlebih dahulu
diajukan contohnya untuk mendapatkan persetujuan Konsultan pengawas.

II. Semua material dari hasil alam akan diperiksa oleh Konsultan pengawas pada saat
didatangkan di lapangan.

III. Material-material yang tidak disetujui harus segera dikeluarkan dari lapangan paling
lambat 2 x 24 jam. Bila penyedia tidak mengindahkan, Konsultan pengawas berhak
menyelenggarakan atas biaya penyedia.

IV. Bagian-bagian yang nyata termasuk dalam pekerjaan ini, tetapi tidak disebutkan
dalam RKS dan gambar tetap harus diselenggarakan oleh penyedia.

V. Kontraktor harus membuat Surat Pernyataan jaminan kegagalan Bangunan/konstruksi


ditandatangani oleh Direktur Penyedia jasa Konstruksi dan bermaterai Rp. 10.000,00.

Bagian-bagian yang secara konstruktif harus ada tetapi tidak disebutkan di dalam RKS dan
gambar tetap harus diselenggarakan oleh penyedia dan pelaksanaannya akan ditentukan
lebih lanjut oleh Konsultan pengawas.

Pasurun, Mei 2024

Pejabat Pembuat KomitmenDinas


Pendidikan dan Kebuadyaan

ARIF WIBISONO, SE, MM


NIP. 19710719 199803 1 006

91
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

LAMPIRAN SPESIFIKASI PINTU WPC DUMA

92
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

93
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

94
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

LAMPIRAN SPESIFIKASI MATERIAL RANGKA


KUDA-KUDA CANAL C, ATAP SPANDECK DAN
RENG USUK BAJA RINGAN

95
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

LAMPIRAN SPESIFIKASI PRODUK RANGKA ATAP


BAJA RINGAN “KENCANA”

96
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

97
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

LAMPIRAN SPESIFIKASI PRODUK ASESORIES


PINTU DAN JENDELA

[Link] Angin jendela Kayu


Rumah dinas Di depan SMP 4

2. Hak Angin sikutan Untuk Jendela


Rumah Dinas Di Kantor Kejaksaan

[Link] Pintu

98
REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMPN 8 KOTA PASURUAN

[Link] Jendela

[Link] Pengunci Jendela

[Link] Pintu untuk semua Rumah

99
RENCANA KESELAMATAN KERJA

PEKERJAAN : REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMP 8


INSTANSI : DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
LOKASI : KOTA PASURUAN
T.A : 2024

No Item Pekerjaan IDENTIFIKASI BAHAYA KETERANGAN


TINGKAT
KEKERAPAN KEPARAHAN
RESIKO

REHABILITASI RUANG LABORATORIUM SMP 8


Lantai 1
I PEKERJAAN PERSIAPAN
1 Pengukuran dan Pemasangan bowplank Tertusuk Paku,Terkena cangkul/lempak/ganco 1 1 1
2 Pek. Membersihkan lokasi Terkena cangkul/lempak/ganco 1 1 1
3 1m3 Pembongkaran dinding bata merah Tertusuk Paku,Terkena Palu/Linggis/pahat 1 1 1
4 1m3 Pembongkaran beton Tertusuk Paku,Terkena Palu/Linggis/pahat 1 1 1
5 Pembongkaran atap dan Plafond Tertusuk Paku,Terkena Palu/Linggis/pahat 1 1 1
6 Pembongkaran Pintu dan Jendela Tertusuk Paku,Terkena Palu/Linggis/pahat 1 1 1
7 Pembongkaran Lantai keramik lama Tertusuk Paku,Terkena Palu/Linggis/pahat 1 1 1

II PEKERJAAN STRUKTUR/BETON
1 Pekerjaan Kolom 15/30 ( Peninggian 80cm)
1 m3 beton mutu sedang f'c 20 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm (K225) Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
- Besi beton :
Tulangan 6 Ø112 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Beugel Ø6-150 mm Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk kolom (3 kali pakai) Tertusuk Potongan Besi, Tertusuk Potongan Kayu 1 2 2

2 Pekerjaan balok latei 11/12 elv. +2,6 m


1 m3 beton mutu rendah f'c 15 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm secara manual (K 175) Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
- Besi beton :
Tulangan 4 Ø10 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Beugel Ø6 - 150 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk balok (3 kali pakai) Tertusuk Potongan Besi, Tertusuk Potongan Kayu 1 2 2

3 Pekerjaan Ring balok 15/20 elv. +4,50 m


1 m3 beton mutu rendah f'c 15 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm secara manual (K 175) Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
- Besi beton :
Tulangan 4 Ø12 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Beugel Ø6 - 150 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk balok (3 kali pakai) Tertusuk Potongan Besi, Tertusuk Potongan Kayu 1 2 2

4 Pekerjaan Ring gewel 15/20


1 m3 beton mutu rendah f'c 15 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm secara manual (K 175) Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
- Besi beton :
Tulangan 4 Ø12 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Beugel Ø6 - 150 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk balok (3 kali pakai) Tertusuk Potongan Besi, Tertusuk Potongan Kayu 1 2 2

5 Pekerjaan Kolom gewel 15/15


1 m3 beton mutu rendah f'c 15 MPa, Slump (100 ± 25) mm, agregat maks 19 mm secara manual (K 175) Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
- Besi beton :
Tulangan 4 Ø12 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Beugel Ø6 - 150 Tertusuk Potongan Besi 1 2 2
Pemasangan 1 m2 bekisting untuk kolom (3 kali pakai) Tertusuk Potongan Besi, Tertusuk Potongan Kayu 1 2 2

III PEKERJAAN DINDING


1 1 m2 Pasangan Bata Merah tebal 1/2 Bata, 1 Pc : 4 Ps Terkena Cetok 1 1 1
2 1 m2 Plesteran 1 Pc : 6 Ps, tebal 15 mm Terkena Cetok 1 1 1

IV PEKERJAAN LANTAI DAN DINDING KERAMIK


1 1 m2 Pasang Lantai Granit 60 x 60 cm motif warna KW I Terkena pecahan potongan granit 1 3 3
2 Pemasangan 1 m2 Lantai Ubin Tuna netra Ukuran 30 cm x 30 cm (1SP : 2PP) Terkena pecahan potongan granit 1 2 2

V PEKERJAAN PINTU dan JENDELA


1 1 m' Pasang Kusen Aluminium 4 " (Coklat) Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 2 2
2 1 bh Pasang Pintu WPC Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1
3 1 m' Slimar almunium 2,5" (Coklat) Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1
4 1 m2 Pasang Kaca polos, Tebal 5 mm Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1
5 Pemasangan 1 Buah Engsel Pintu Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1
6 1 bh Pasang hak angin casement Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1
7 1 set Pasang engsel jendela Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1
8 1 bh Grendel jendela rambuncis Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1
9 1 bh Pasang Door Holder/ Pegangan Pintu Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1
10 Memasang 1 m' pipa Stainless steel diameter 1 1/2" (Hand Rail) Terkena Alat Potong, kelilipan pecahan Material 1 1 1

VI PEKERJAAN ATAP
1 1 m3 Pasang Konstruksi Kuda-kuda kayu Kruwing bentang 6 m Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
2 1 m3 Pasang kembali kuda2 lama Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
3 1 m3 Pasang Konstruksi gording kayu Kruwing Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
4 Pasang Dudukan Gording Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
5 1 m3 Pasang Konstruksi Gording Lama Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
6 Baut Moer Ø 12mm x 6'' Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
7 1 m' Pasang papan reuter (3x20) cm, Kayu Kruwing Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
8 1 m2 Pasang Atap Usuk Reng Baja Ringan C75 T 0.75 Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
9 1 m2 Pasang Atap Genteng karangpilang Jatuh kepleset dari atap 1 1 1
10 1 m2 Pasang Atap Genteng lama Jatuh kepleset dari atap 1 1 1
11 1 m Pasang Bubung Genteng Karangpilang Jatuh kepleset dari atap 1 1 1
12 Pemasangan 1 m’ Lisplank Non kayu (GRC, Serat Semen) Lebar 30cm Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1

VII PEKERJAAN RANGKA dan PENUTUP PLAFON


1 1 m2 Rangka Langit-langit Kayu kruwing modul 60x60cm Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1
2 1 m2 Pasang langit-langit kalsiboard 4mm, ( 122 X 244 X 4 ) mm Terkena Alat Potong,Gergaji/palu/Pahat/pecok 1 1 1

VIII PEKERJAAN LISTRIK


1 Pemasangan 1 titik Instalasi Lampu Kesetrum Listrik 1 1 2
2 1 BH Pasang Saklar Tunggal Kesetrum Listrik 1 1 2
3 1 BH Pasang Saklar Ganda Kesetrum Listrik 1 1 2
4 Pemasangan 1 Unit Fitting E27 + 10 Watt LED Kesetrum Listrik 1 1 2
5 Pemasangan 1 Unit Stop Kontak 1 P, 10 A, 200 W Kesetrum Listrik 1 1 2

IX PEKERJAAN PENGECATAN
1 1 m2 Pengecatan Tembok Baru / KW I ( 1 Lapis Plamir, 1 Lapis Cat Dasar, 2 Lapis cat Penutup) Mata bisa terkena Cipratan Cat 1 1 1
2 Pengecatan 1 m2 Plafond (1 Lapis Cat Dasar dan 2 Lapis Cat Penutup) Mata bisa terkena Cipratan Cat 1 1 1
3 Pengecatan 1 m2 Lisplank (1 Lapis Cat Dasar dan 2 Lapis Cat Penutup) Mata bisa terkena Cipratan Cat 1 1 1
4 1 m2 Pelaburan Bidang Kayu dengan Cat Residu dan Ter

Berdasarkan hasil analisa tingkat resiko keselamatan kerja, Konsultan Perencana menetapkan uraian pekerjaan dan identifikasi bahaya
dengan tingkat resiko terbesar :

1 Pemasangan 1 m2 Lantai Granit ukuran 60 cm x 60 cm (1SP : 2PP) Terkena pecahan potongan granit

PASURUAN, Mei 2024


DISETUJUI OLEH : Dibuat Oleh,
PEJABAT PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
PPTK DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

ARIF WIBISONO, SE, MM.


NIP. 19710719 199803 1 006

Anda mungkin juga menyukai