0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan6 halaman

Potensi MICE untuk Pariwisata Bali

Penelitian ini mengevaluasi potensi MICE sebagai tulang punggung pariwisata Bali, yang menyumbang 43% dari total kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2016. Meskipun Bali memiliki fasilitas yang memadai untuk MICE, tantangan seperti kurangnya infrastruktur, sumber daya manusia terlatih, dan strategi pemasaran yang kurang fokus perlu diatasi. Kerja sama antara pemerintah dan stakeholder industri diperlukan untuk mengembangkan Bali sebagai destinasi MICE utama di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan6 halaman

Potensi MICE untuk Pariwisata Bali

Penelitian ini mengevaluasi potensi MICE sebagai tulang punggung pariwisata Bali, yang menyumbang 43% dari total kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2016. Meskipun Bali memiliki fasilitas yang memadai untuk MICE, tantangan seperti kurangnya infrastruktur, sumber daya manusia terlatih, dan strategi pemasaran yang kurang fokus perlu diatasi. Kerja sama antara pemerintah dan stakeholder industri diperlukan untuk mengembangkan Bali sebagai destinasi MICE utama di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Gemawisata: Jurnal Ilmiah Pariwisata

Vol.19, No.1 Januari 2023


e-ISSN: 2774-8987; p-ISSN: 1411-5077, Hal 49-54

Potensi Mice Sebagai Tulang Punggung Pariwisata Bali


( Potential As The Backbone Of Bali Tourism)
Kameda Delen
Universitas Nasional
Jl. Sawo Manila No.61, RW.7, Pejaten Bar., Kec. Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12520
E-mail: delen1007@[Link]

Abstract
This study aims to evaluate the potential of Meetings, Incentives, Conferences and
Exhibitions (MICE) as the backbone of tourism in Bali. Bali is one of the most popular
tourist destinations in the world, contributing 43% of total foreign tourist visits to
Indonesia in 2016. MICE is an important sector for tourism as it can increase revenue
and create jobs. The research method used in this study is qualitative, using data from
literature review and interviews with industry stakeholders. The results showed that Bali
has the potential to be a leading MICE destination in Indonesia. To improve the potential
of MICE in Bali, the government and industry stakeholders need to work together to
address these challenges and develop strategies to promote Bali as a MICE destination.

Keywords: MICE, tourisLm, Bali, potential, challenges, strategies, promotion.

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi Meetings, Incentives,
Conferences and Exhibitions (MICE) sebagai tulang punggung pariwisata di Bali. Bali
adalah salah satu destinasi wisata paling populer di dunia, menyumbang 43% dari total
kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2016. MICE merupakan sektor
penting bagi pariwisata karena dapat meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan
kerja. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah kualitatif, menggunakan
data dari tinjauan pustaka dan wawancara dengan stakeholder industri. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Bali memiliki potensi untuk menjadi destinasi MICE utama di
Indonesia. Untuk meningkatkan potensi MICE di Bali, pemerintah dan stakeholder
industri perlu bekerja sama untuk mengatasi hambatan tersebut dan mengembangkan
strategi untuk mempromosikan Bali sebagai destinasi MICE.

Kata kunci: MICE, pariwisata, Bali, potensi, kendala, promosi.

Received November 30, 2022; Revised Desember 2, 2022; Januari 30, 2023
* Kameda Delen, delen1007@[Link]
POTENSI MICE SEBAGAI TULANG PUNGGUNG PARIWISATA BALI
(POTENTIAL AS THE BACKBONE OF BALI TOURISM)

I. PENDAHULUAN
Pariwisata merupakan sektor yang menyumbang pendapatan yang cukup besar
bagi negara. Di Indonesia, pariwisata menjadi salah satu sumber pendapatan yang cukup
penting, khususnya di Bali yang merupakan salah satu destinasi wisata yang paling
populer di dunia. Selain itu, sektor pariwisata juga dapat meningkatkan perekonomian
melalui sektor Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE). MICE
merupakan sektor yang menyediakan fasilitas dan layanan untuk acara-acara seperti
pertemuan, seminar, pameran, dan acara-acara lainnya. MICE sangat penting bagi sektor
pariwisata karena dapat meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja. Dalam
perkembangannya, Bali telah menjadi salah satu destinasi MICE yang paling populer di
Indonesia.
Pemerintah telah mengumumkan bahwa pariwisata menjadi salah satu sektor yang
akan dikembangkan dan akan meningkatkan alokasi anggarannya agar sektor pariwisata
menjadi salah satu penopang ekonomi yang signifikan. Pada tahun 2017, pariwisata
menjadi prioritas keempat setelah sektor pangan, energi, dan maritim. Dalam upaya untuk
menarik 20 juta wisatawan asing pada tahun 2019, Presiden Jokowi menekankan
pentingnya pengembangan produk yang berbeda, membangun brand destinasi, dan
menempatkan Indonesia sebagai tujuan wisata yang diakui di dunia. Untuk dapat
mencapai target 15 juta wisatawan asing pada tahun 2019, pemerintah akan terus
berupaya semaksimal mungkin untuk mengembangkan sektor pariwisata.
Untuk dapat mencapai target 15 juta wisatawan asing pada tahun 2017, kerjasama
antar kementerian sangat diperlukan. Pariwisata di Indonesia menyumbang sebesar 10%
dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan menjadi yang tertinggi di ASEAN. Dalam hal
devisa, pariwisata di Indonesia menyumbang sebesar 9,3% dari devisa nasional dan
merupakan penyumbang keempat devisa tertinggi dengan pertumbuhan devisa sebesar
13%. Dari segi tenaga kerja, pariwisata menyumbang 9,8 juta lapangan kerja atau sebesar
8,4%. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, lapangan kerja di sektor pariwisata meningkat
sebesar 30%. Namun, Indonesia masih kalah jauh dalam perolehan devisa pariwisata
dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia dan Thailand.
Pada tahun 2015, Thailand menghasilkan devisa sebesar USD 44,553 juta,
Malaysia sebesar USD 17,597 juta, dan Indonesia hanya sebesar USD 12,578 juta. Pada
tahun 2016, jumlah kunjungan wisatawan ke Thailand sebesar 32,5 juta orang; ke

50 GEMAWISATA - VOLUME 19, NO. 1, JANUARI 2023


Gemawisata: Jurnal Ilmiah Pariwisata
Vol.19, No.1 Januari 2023
e-ISSN: 2774-8987; p-ISSN: 1411-5077, Hal 49-54

Malaysia sebesar 22 juta orang; ke Singapura sebesar 16 juta orang; dan ke Indonesia
hanya sebesar 12 juta orang. Meskipun demikian, sebagai sektor andalan Indonesia yang
keempat setelah minyak bumi, batubara, dan minyak kelapa sawit, diproyeksikan bahwa
penerimaan devisa dari sektor pariwisata akan menjadi yang terbesar pada tahun 2020.
Bali tetap menjadi barometer penting dalam menjual pariwisata Indonesia di luar negeri
bagi Kementerian Pariwisata (Arief Yahya, 2017).
Pada tahun 2017, Tripadvisor telah memberikan penghargaan kepada Bali sebagai
destinasi utama dunia, mengalahkan destinasi lain seperti London, Paris, Roma, New
York, Kreta, Barcelona, Siem Riep, Praha, dan Phuket. Pariwisata Bali telah menjadi ikon
pariwisata nasional Indonesia. Pada tahun 2016, Bali menyumbang 43% dari jumlah
kunjungan wisatawan ke Indonesia dari total 12 juta wisatawan asing. Dalam
perkembangannya, Bali masih lebih populer sebagai destinasi untuk liburan dibandingkan
dengan wisatawan bisnis. Menurut Waver & Lawton (2006), terdapat tiga kategori
wisatawan yaitu wisatawan bisnis (MICE), Visiting Friend and Relative (VFR) dan
wisatawan liburan (leisure). Dalam era digital yang berbasis online, media dan jaringan
sosial memiliki peran penting dalam mengubah perilaku wisatawan dalam memilih
destinasi wisatanya. Sebagai destinasi MICE utama di Indonesia, Bali telah memberikan
kontribusi yang signifikan pada jumlah kunjungan wisatawan.

II. METODE PENELITIAN


Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif sebagai berikut:
 Observasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengadakan pengamatan secara langsung pada obyek pelaksanaan penelitian.
 Interview yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melalui proses
Tanya jawab (wawancara) dengan pihak-pihak yang terkait langsung dengan
obyek (penelitian)
 Studi Pustaka yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
melakukan pengambilan data/arsip/formulir/catatan yang berkaitan dengan obyek
penelitian melalui buku, internet, jurnal, dan sumber rujukan ilmiah lainnya.
POTENSI MICE SEBAGAI TULANG PUNGGUNG PARIWISATA BALI
(POTENTIAL AS THE BACKBONE OF BALI TOURISM)

III. HASIL PENELITIAN


Hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa Bali memiliki potensi
untuk menjadi destinasi MICE yang kuat di Indonesia. Informan menyatakan bahwa Bali
memiliki sejumlah venue konferensi dan pameran yang memadai, namun masih perlu
lebih banyak pilihan hotel dan transportasi untuk mengakomodasi jumlah wisatawan
MICE yang semakin meningkat. Selain itu, informan menyatakan bahwa meskipun ada
banyak penyedia jasa MICE lokal di Bali, mereka kurang memiliki pengalaman dan
keahlian yang dibutuhkan untuk bersaing di tingkat internasional. Informan juga
menyatakan bahwa masih kurangnya profesional yang terlatih dan berbakat dalam
industri MICE di Bali, seperti manajer acara yang terakreditasi dan kurangnya
kemampuan berbahasa Inggris di antara penyedia jasa. Dalam hal strategi pemasaran,
informan menyatakan bahwa Bali masih lebih banyak dipromosikan sebagai destinasi
liburan daripada destinasi MICE, meskipun Bali memiliki potensi untuk menjadi
destinasi MICE utama di Indonesia. Informan menyatakan bahwa strategi pemasaran
yang lebih fokus pada promosi Bali sebagai destinasi MICE diperlukan untuk
meningkatkan potensi Bali sebagai destinasi MICE. Informan juga menyarankan bahwa
pemerintah dan stakeholder industri harus bekerja sama untuk mengatasi kendala yang
ada dan mengembangkan strategi promosi yang efektif untuk meningkatkan potensi Bali
sebagai destinasi MICE.
Potensi Bali sebagai destinasi MICE terutama terletak pada popularitasnya
sebagai destinasi wisata dunia. Pada tahun 2016, Bali menyumbang 43% dari total
kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Selain itu, Bali juga memiliki sejumlah venue
konferensi dan pameran yang memadai, yang dapat digunakan untuk acara-acara MICE.
Namun, untuk meningkatkan potensi Bali sebagai destinasi MICE, masih ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan. Kendala utama yang diidentifikasi dalam penelitian ini
adalah infrastruktur, sumber daya manusia, dan strategi pemasaran. Dalam hal
infrastruktur, Bali memerlukan lebih banyak pilihan hotel dan transportasi untuk
mengakomodasi jumlah wisatawan MICE yang semakin meningkat. Dalam hal sumber
daya manusia, Bali kurang memiliki profesional yang terlatih dan berbakat dalam industri
MICE, seperti manajer acara yang terakreditasi dan kurangnya kemampuan berbahasa
Inggris di antara penyedia jasa. Dalam hal strategi pemasaran, Bali masih lebih banyak

52 GEMAWISATA - VOLUME 19, NO. 1, JANUARI 2023


Gemawisata: Jurnal Ilmiah Pariwisata
Vol.19, No.1 Januari 2023
e-ISSN: 2774-8987; p-ISSN: 1411-5077, Hal 49-54

dipromosikan sebagai dest inasi liburan daripada destinasi MICE. Hal ini menyebabkan
potensi Bali sebagai destinasi MICE belum terpenuhi secara maksimal.
Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, pemerintah dan stakeholder industri
harus bekerja sama untuk mengembangkan infrastruktur yang lebih baik, meningkatkan
kualitas sumber daya manusia, dan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih fokus
pada promosi Bali sebagai destinasi MICE. Hal ini akan membantu meningkatkan potensi
Bali sebagai destinasi MICE yang kuat di Indonesia dan dapat meningkatkan penerimaan
devisa dari sektor pariwisata.

IV. KESIMPULAN
Bali memiliki potensi yang besar untuk menjadi destinasi MICE yang kuat di
Indonesia. Destinasi wisata paling populer di dunia ini menyumbang 43% dari total
kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2016. Bali memiliki sejumlah venue
konferensi dan pameran yang memadai, yang dapat digunakan untuk acara-acara MICE.
Namun, untuk meningkatkan potensi Bali sebagai destinasi MICE, masih ada beberapa
kendala yang perlu diatasi seperti kurangnya pilihan hotel dan transportasi, kurangnya
profesional yang terlatih dan berbakat dalam industri MICE, serta kurangnya fokus dalam
strategi pemasaran untuk promosi Bali sebagai destinasi MICE. Pemerintah dan
stakeholder harus bekerja sama untuk mengatasi kendala tersebut dan meningkatkan
potensi Bali sebagai destinasi MICE yang kuat di Indonesia.
POTENSI MICE SEBAGAI TULANG PUNGGUNG PARIWISATA BALI
(POTENTIAL AS THE BACKBONE OF BALI TOURISM)

REFERENSI
Brunt, P. 1997. Penelitian Pasar dalam Perjalanan dan Pariwisata. Oxford: Butterworth
Heinemann
Buhalis, D, Amaranggana, A. 2013. Tujuan Wisata yang Pintar. Teknologi Informasi dan
Komunikasi dalam Pariwisata 2014, DOI: 10.1007/978-3-319-03973-2_40,
Springer International Publishing Switzerland
Chourabi, H. Nam. T. Gracia, JRG. Walker, S. Mellouli, S. Nahon, K. Pardo, TA. Scholl,
HJ. 2012. Memahami Kota Pintar: Kerangka Integratif. Konferensi Internasional
Sistem Hawaii ke-45
Chon, K-S. (1990). Peran citra tujuan dalam pariwisata: Tinjauan dan diskusi. Tourist
Review, 45 (2), 2-9
Kotler, P. Gertner, D. 2002. Negara sebagai Merek, Produk, dan Lebih Jauh: Perspektif
Pemasaran Tempat dan Manajemen Merek. Journal of Brand Management
Ritchie, J. Couch, G. 2000. Tujuan yang Bersaing: Perspektif Keberlanjutan. Manajemen
pariwisata.
Ritchie, J. R. B. 1984. Menilai Dampak Acara Utama: Masalah Konceptual dan
Pengukuran. Journal of Travel Research, Vol.-1, No-23.
Ritchie, J. R. B. Smith, B. 1991. Dampak Mega Acara pada Kabar Host Wilayah: Studi
Longitudinal. Journal of Travel Research.
Bren, K-S. (1992). Peran citra tujuan dalam pariwisata: Tinjauan dan diskusi. Tourist
Review, 45 (2), 2-9
Richi, J. Co, G. 2001. Tujuan yang Bersaing: Perspektif Manajemen pariwisata.
Chourabi, H. Nam. T. Gracia, JRG. Walker, S. Mellouli, S. Nahon, K. Pardo, TA. Scholl,
HJ. 2013. Memahami Kota Pintar: Kerangka Integratif. Konferensi Internasional
Sistem Hawaii ke-46.
Brunt, P. 1997. Penelitian Pasar dalam Perjalanan dan Pariwisata. Oxford: Butterworth
Heinemann.
Kotler, P. Gertner, D. 2004. Negara sebagai Merek, Produk, dan Lebih Jauh: Perspektif
Pemasaran Tempat Wisata dan Manajemen.

54 GEMAWISATA - VOLUME 19, NO. 1, JANUARI 2023

Anda mungkin juga menyukai