Hubungan Body Image dan Status Gizi Atlet Renang
Hubungan Body Image dan Status Gizi Atlet Renang
RESEARCH STUDY
OPEN ACCESS
Versi Bahasa
1Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, Bogor, Indonesia
ABSTRAK
INFO ARTIKEL Latar Belakang: Atlet renang remaja dapat memiliki persepsi tubuh negatif yang
memicu terjadinya gangguan makan. Hal tersebut dapat menimbulkan
Received: 31-05-2022 ketidakseimbangan zat gizi yang berakibat pada perubahan komposisi tubuh dan
Accepted: 22-08-2022 status gizi.
Published online: 03-03-2023 Tujuan: Penelitian ini menganalisis hubungan persepsi tubuh, risiko gangguan makan,
dan tingkat kecukupan gizi dengan status gizi atlet renang remaja di OSC dan POSSI
*Koresponden: Kota Bogor.
Rani Assyifa Metode: Desain penelitian ini Cross-Sectional Study pada 21 orang subjek yang dipilih
rani.assyifa1414@[Link] secara purposive sampling dengan beberapa kriteria sampel. Pengumpulan data
persepsi tubuh menggunakan kuesioner Contextual Body Image Questionnaire for
Athletes (CBIQA), risiko gangguan makan menggunakan kuesioner Eating Disorders
DOI: Screen for Athletes (EDSA), asupan makan menggunakan Food Recall 2x24 jam.
10.20473/amnt.v7i1.2023.98-111 Hasil: Persepsi tubuh subjek memiliki hubungan dengan status gizi (p=0,030 r=0,473)
tetapi tidak berhubungan dengan risiko gangguan makan. Risiko gangguan makan juga
Tersedia secara online: tidak berhubungan dengan tingkat kecukupan gizi (selain cairan) dan status gizi.
[Link] Namun, ditemukan hubungan tingkat kecukupan gizi dengan komposisi tubuh dan
[Link]/AMNT status gizi.
Kesimpulan: Sebagian besar subjek merasa puas terhadap bentuk tubuhnya karena
Kata Kunci: memiliki status gizi baik. Subjek dengan status gizi lebih dan obesitas lebih khawatir
Atlet, Gangguan makan, terkait penampilannya dan lebih berisiko gangguan makan. Namun, kepedulian
Komposisi tubuh, Persepsi tubuh, mereka terhadap penampilan tidak mengubah pola makan mereka.
Remaja
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 99
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
makan yang ekstrim hingga terjadinya gangguan makan profesional yang membina atlet renang remaja di Kota
pada remaja seperti Anorexia Nervosa dan Bulimia Bogor dan sudah meraih berbagai prestasi. Subjek yang
Nervosa yang paling sering terjadi pada atlet8. dipilih merupakan atlet yang berpengalaman karena
Berdasarkan hasil penelitian pada atlet remaja dan sudah mengikuti berbagai perlombaan renang. Atlet yang
dewasa di Perancis, prevalensi Anorexia Nervosa adalah memenuhi kriteria berjumlah 21 orang, setelah
0,5% pada laki-laki dan 2,1% pada perempuan. Prevalensi melakukan seleksi terhadap 2 orang atlet POSSI yang
Bulimia Nervosa pada laki-laki adalah 0,7% sedangkan usianya kurang dari 12 tahun.
pada perempuan adalah 2,6%.9 Prevalensi gangguan Data primer pada penelitian ini meliputi
makan pada atlet lebih tinggi dibandingkan non atlet karakteristik subjek (jenis kelamin, usia, kelas, uang saku
tetapi tuntutan yang khusus di setiap cabang olahraga per bulan), persepsi tubuh, risiko gangguan makan,
menyebabkan variasi yang lebih luas lagi di berbagai antropometri (berat badan, tinggi badan), komposisi
olahraga10. tubuh (persen otot skeletal, persen lemak tubuh) dan
Perilaku makan yang tidak baik dapat konsumsi pangan. Data sekundernya adalah gambaran
menyebabkan atlet remaja mengalami umum mengenai OSC dan POSSI Kota Bogor, jumlah atlet
ketidakseimbangan konsumsi makanan bergizi. Asupan yang akan dijadikan subjek penelitian, jadwal, durasi dan
zat gizi sangat diperlukan oleh atlet, baik zat gizi makro jenis latihan, spesialisasi atlet, perawatan kesehatan
maupun zat gizi mikro. Cairan juga dibutuhkan untuk atlet, informasi terkait gizi atlet, dan data pendukung lain
menjaga performa atlet dan serat untuk memelihara terkait penelitian. Data-data sekunder didapatkan
fungsi saluran cerna. Masalah pada status hidrasi juga melalui wawancara langsung dengan pelatih, tenaga
dapat terjadi pada atlet dengan gangguan makan karena kesehatan, dan orang tua subjek.
keinginan menurunkan berat badan yang berakibat pada Data karakteristik subjek dikumpulkan
berkurangnya asupan cairan. Apabila terjadi menggunakan kuesioner, persepsi tubuh menggunakan
ketidakseimbangan zat gizi, maka dapat berakibat pada kuesioner Contextual Body Image Questionnaire for
perubahan status gizi11. Athletes (CBIQA), dan risiko gangguan makan
Remaja pada umumnya yang tinggal di menggunakan kuesioner Eating Disorders Screen for
perkotaan lebih mudah mengakses berbagai pangan dan Athletes (EDSA). Pengisian kuesioner dilakukan secara
memiliki akses informasi yang lebih cepat sehingga self-administered yang disebarkan pada lembar kertas
remaja lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal baru, dan pengisiannya dipandu oleh peneliti. Kuesioner CBIQA
mengikuti tren dan memengaruhi penilaian persepsi dan EDSA menggunakan bahasa Inggris yang
tubuhnya12. Salah satu klub dan organisasi profesional diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia. Kuesioner ini
yang membina atlet renang remaja di Kota Bogor adalah digunakan secara internasional bagi atlet pada
OSC (Oceanus Swimming Club) dan POSSI (Persatuan umumnya.
Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Bogor. Adanya Contextual Body Image Questionnaire for
faktor usia (remaja), linkungan serta aktivitas sehari-hari Athletes (CBIQA) merupakan kuesioner yang digunakan
membuat atlet renang remaja di OSC dan POSSI berisiko untuk menilai seberapa puas atlet terhadap penampilan
memiliki persepsi tubuh negatif yang akan berdampak tubuh mereka dalam konteks berolahraga dan non-
terhadap aspek lain di kehidupannya. Berdasarkan olahraga (kehidupan sehari-hari)13. Kuesioner ini memiliki
pemaparan tersebut, penting untuk melakukan 30 pertanyaan yang diisi sendiri oleh subjek dengan
penelitian ini dengan tujuan menganalisis hubungan beberapa faktor yang berkaitan dengan persepsi tubuh
persepsi tubuh, risiko gangguan makan, dan tingkat yaitu penampilan, bentuk tubuh, berat badan, persen
kecukupan gizi dengan status gizi atlet renang remaja di lemak dan otot tubuh13. Kuesioner ini melihat kepuasan
OSC dan POSSI Kota Bogor. atlet tentang tubuhnya karena atlet diminta pendapatnya
tentang tubuhnya sendiri, kemudian jika dibandingkan
METODE dengan tubuh orang lain, dan pandangan orang lain
Penelitian ini merupakan studi Cross-sectional tentang tubuhnya sendiri. Kuesioner EDSA merupakan
yang dilakukan bulan November 2020 hingga Maret screening tool risiko gangguan makan pada atlet laki-laki
2021. Lokasinya di Kolam Renang Milakancana dan Kolam dan perempuan. Instrumen ini terdiri atas 6 pertanyaan
Renang Pusdikzi, Lawang Gintung, Kota Bogor. Penelitian yang mewakili masalah inti dari gangguan makan yaitu
ini telah mendapatkan izin etik dari Komisi Etik Penelitian, pentingnya berat badan, bentuk tubuh dan komposisi
Institut Pertanian Bogor dengan nomor etik tubuh bagi subjek, merasa makan berlebihan, serta
319/[Link]-IPB/SK/2021. adanya pembatasan asupan makan14.
Subjek dipilih secara purposive sampling Food Recall dilakukan pada hari sekolah dan
dengan beberapa kriteria sampel yang dibutuhkan, yaitu hari libur. Pada beberapa penelitian recall 2x24 jam dapat
subjek merupakan atlet renang di OSC dan POSSI Kota menggambarkan asupan zat gizi, sehingga dipilih batas
Bogor, berusia 12-18 tahun, melakukan latihan secara minimalnya yaitu 2 hari food recall karena adanya
intensif sesuai jadwal latihan, sudah pernah mengikuti keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Pengumpulan
perlombaan renang, tidak sedang mengalami cedera dan data konsumsi pangan dan pengisian kuesioner dilakukan
bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Terdapat secara luring tetapi tetap menerapkan protokol
keterbatasan yang dihadapi peneliti apabila mengambil kesehatan Covid-19. Wawancara Food Recall 2x24 jam
sampel secara acak pada seluruh klub renang di Kota dilakukan oleh peneliti dibantu 6 orang enumerator dari
Bogor, sehingga dari 10 klub renang di Kota Bogor, dipilih mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat IPB University.
OSC dan POSSI yang dijadikan sasaran pengambilan Pengukuran tinggi badan, penimbangan berat
sampel karena keduanya merupakan klub dan organisasi badan, persen otot skeletal dan persen lemak tubuh
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 100
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
dilakukan secara langsung. Alat yang digunakan adalah Penaksiran ukuran berat dalam pengumpulan
microtoise setinggi 2 m (ketelitian 0,1 cm) dan data konsumsi pangan menggunakan beberapa alat
Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) Omron Body Fat bantu seperti buku foto makanan dari Kemenkes RI tahun
Monitor (HBF-375). Microtoise merupakan alat ukur gold 2004 dan menimbang langsung contoh makanan yang
standar untuk pengukuran tinggi badan.15 Pengukuran dikonsumsi. Buku foto makanan dicetak dan digunakan
berat badan dan komposisi tubuh seperti persen otot langsung saat food recall bersama subjek. Jenis dan
skeletal dan persen lemak tubuh atlet dapat jumlah makanan cukup lengkap, foto alat makan yang
menggunakan BIA16. Alat ukur dirawat dengan baik oleh terdapat dalam buku membantu peneliti dalam
pihak laboratorium antropometri Departemen Gizi mengestimasi konsumsi pangan subjek. Zat gizi yang
Masyarakat IPB University untuk menjaga akurasi dan dihitung kandungannya adalah energi; zat gizi makro
presisinya. Pengukuran dilakukan oleh peneliti dibantu (protein, lemak, karbohidrat); zat gizi mikro (vitamin B1,
oleh 6 enumerator. Setiap orang diukur berat badan, vitamin B2, vitamin B3, vitamin C, vitamin D, kalsium, zat
tinggi badan, persen otot skeletal, dan persen lemak besi, zink); serat dan air. Perhitungan zat gizi
masing-masing 2 kali kemudian dirata-ratakan. Peneliti menggunakan Nutrisurvey 2007 dengan bantuan Tabel
membuat standarisasi dalam pengukuran yang dijelaskan Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2017 dan Nutrition
kepada enumerator untuk mencegah error. Fact dari pangan yang dikonsumsi.
Klasifikasi persen lemak tubuh dan persen otot Perhitungan kebutuhan gizi atlet pada
skeletal untuk atlet terutama atlet renang sangat penelitian ini mengacu pada Buku Pedoman Gizi Olahraga
terbatas, sehingga dipilih klasifikasi berikut ini yang dapat Prestasi21. Kebutuhan energi ditentukan oleh energi basal
digunakan juga untuk orang yang bukan atlet. Klasifikasi metabolic rate, specific dynamic action, aktivitas fisik,
persen lemak tubuh bagi pria dikategorikan menjadi energy expenditure untuk setiap jenis latihan (sesuai
atletis (5-10%); baik (11-14%); cukup baik (15-20%); spesialisasi) dan lama latihan. Atlet remaja masih
gemuk (21-24%); obesitas (>24%)17. Klasifikasi persen mengalami pertumbuhan sehingga membutuhkan energi
lemak tubuh bagi wanita dikategorikan menjadi atletis (8- tambahan. Penambahan energi disesuaikan dengan usia
15%); baik (16-23%); cukup baik (24-30%); gemuk (31- subjek. Baik remaja laki-laki maupun perempuan dengan
36%); obesitas (>37%)17. Klasifikasi persen otot skeletal usia 10-14 tahun ditambah 2 kalori/kg BB, usia 15-16
bagi pria dikategorikan menjadi rendah (5,0-32,8%); tahun ditambah 1 kalori/kg BB, dan usia 17-18 ditambah
normal (32,9-35,7%); tinggi (35,8-37,3%); sangat tinggi 0,5 kalori/kg BB22. Perhitungan kebutuhan protein, lemak
(37,4-60,0%).18 Klasifikasi persen otot skeletal bagi dan karbohidrat subjek menyesuaikan dengan kebutuhan
wanita dikategorikan menjadi rendah (5,0-25,8%); energi setiap individu. Jumlah kebutuhannya mengacu
normal (25,9-27,9%); tinggi (28,0-29,0%); sangat tinggi juga pada beberapa referensi dengan tetap
(29,1-60,0%)18. mempertimbangkan proporsi energi dari setiap zat gizi
Pengolahan data dilakukan menggunakan makro. Kebutuhan protein atlet remaja adalah 1,5 g/kg
Microsoft Excel 2019, Nutrisurvey 2007, WHO Anthroplus BB/hari21. Adapula yang mengatakan bahwa kebutuhan
2007, dan SPSS 16.0 for Windows. Data kuesioner CBIQA protein atlet remaja adalah 1,3-1,8 g/kg BB/hari23.
diolah dengan cara menjumlahkan skor total pada saat Referensi lainnya menganjurkan 2 g/kg BB/hari24.
sehari-hari maupun berolahraga kemudian dihitung rata- Anjuran proporsi energi dari protein untuk anak berusia
ratanya13. Persepsi tubuh subjek dikatakan semakin 4-18 tahun adalah 10-30% dari total energi25. Kebutuhan
positif apabila pada subskala penampilan skornya protein tersebut tidak spesifik untuk atlet renang remaja
semakin tinggi, yaitu menuju skor tujuh atau merasa karena keterbatasan sumber referensi. Namun,
penampilannya semakin menarik. Pada subskala lainnya, kebutuhan tersebut untuk atlet remaja sehingga
persepsi tubuh subjek dikatakan semakin positif pada kebutuhan protein cukup tinggi.
skor empat. Apabila skornya semakin jauh dari skor Atlet renang membutuhkan asupan
empat, yaitu menuju skor satu atau tujuh, maka persepsi karbohidrat sebanyak 3-10 g/kg BB/hari26. Asupan kalori
tubuhnya menjadi semakin negatif19. Pemberian skor yang dikonsumsi anak berusia 4-18 tahun harus terdiri
pada kuesioner EDSA menggunakan Skala Likert. Kategori atas 45% hingga 65% kalori dari karbohidrat25. Namun,
penilaiannya adalah 1 = tidak pernah; 2 = jarang; 3 = atlet remaja minimal 50% dari total asupan energi
kadang-kadang; 4 = sering; 5 = selalu. Skor dari keenam mereka berasal dari karbohidrat27. Kebutuhan lemak
pertanyaan dirata-ratakan, apabila rata-rata ≥ 3,33 maka dihitung berdasarkan jumlah energi yang harus dipenuhi
subjek berisiko tinggi mengalami gangguan makan14. selain dari protein dan karbohidrat dengan tetap
Data status gizi didapat dari hasil perhitungan memperhatikan proporsi energi dari lemak. Proporsi
z-score IMT/U menggunakan software WHO Anthroplus energi dari lemak untuk anak berusia 4-18 tahun adalah
2007, kemudian dikategorikan menjadi gizi buruk (<-3 25-35%25. Namun, konsumsi lemak yang baik bagi atlet
SD); gizi kurang (-3 SD sd <-2 SD); gizi baik (-2 SD sd +1 tidak lebih dari 30% total energi perhari28.
SD); gizi lebih (+1 SD sd +2 SD); obesitas (>+2 SD) 20. Status Asupan energi dan zat gizi subjek dibandingkan
gizi berdasarkan IMT/U pada atlet kurang mampu dengan kebutuhan aktual subjek (untuk energi dan zat
menggambarkan kondisi sebenarnya dari status gizi atlet. gizi makro) serta AKG (untuk zat gizi mikro, serat, cairan).
Maka dari itu, dilakukan pengukuran komposisi tubuh Namun, tingkat kecukupan cairan juga dihitung
untuk melihat lebih spesifik dimensi tubuhnya. berdasarkan kebutuhan cairan 1 mL/kkal/hari.
Berdasarkan data berat badan, status gizi dan data Kebutuhan zat gizi mikro pada atlet sumber referensinya
komposisi tubuh yang dimiliki, maka akan terlihat bahwa masih terbatas. Apabila adapun jumlah kebutuhannya
subjek memang tinggi akan komposisi otot atau masih terlalu umum, sehingga dipilih AKG sebagai
lemaknya. kebutuhannya yang dipersonalisasikan dengan konversi
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 101
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
berat badan, sesuai umur dan jenis kelamin. Harapannya pandemi Covid-19. Sebanyak 14,3% subjek tidak diberi
sebagai atlet seharusnya kebutuhan minimal selayaknya uang saku di masa pandemi Covid-19.
orang normal yang bukan atlet sudah harus terpenuhi.
Perhitungan AKG subjek menggunakan data AKG 201929 Persepsi Tubuh
yang dikonversi terhadap berat badan aktual. Persepsi tubuh terdiri atas persepsi tubuh
Hasil perhitungan Tingkat Kecukupan Gizi (TKG) negatif (tidak puas dengan tubuh) dan positif (puas
dikategorikan “cukup” apabila asupan energi, protein, dengan tubuh). Rata-rata skor total persepsi tubuh subjek
lemak, dan karbohidrat memenuhi ≥100% kebutuhan, adalah 4,77 ± 1,17. Skor tersebut mendekati skor 4
sedangkan “tidak cukup” apabila asupan <100% sehingga dapat dikatakan bahwa persepsi tubuh subjek
kebutuhan. Kategori untuk vitamin, mineral, serat dan air cenderung positif. Subjek cenderung merasa puas
digolongkan menjadi “kurang” (<77% AKG) dan “cukup” terhadap bentuk tubuh, komposisi otot dan lemak, serta
(≥77% AKG)30. Data yang sudah diolah kemudian diuji berat badannya. Pada saat sehari-hari rata-rata persepsi
normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk karena data tubuh subjek lebih positif atau merasa lebih puas
kurang dari 50 sampel31. Kemudian dianalisis dibandingkan pada saat berolahraga, yaitu 4,71 ± 1,25
menggunakan uji deskriptif dan uji statistik. Analisis saat sehari-hari dan 4,83 ± 1,24 pada saat berolahraga.
deskriptif dilakukan terhadap data karakteristik subjek Atlet estetika dan endurance seperti atlet renang dapat
(jenis kelamin, usia, kelas, uang saku per bulan), persepsi mengalami “Body Satisfaction Transiency” yaitu dalam
tubuh, gangguan makan, tingkat kecukupan gizi, kehidupan sehari-hari atlet mungkin saja mengalami
komposisi tubuh dan status gizi. Uji statistik dilakukan kepuasan karena tubuhnya ramping sesuai dengan
menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman. standar yang dibangun secara sosial tetapi pada saat
berolahraga kepuasan tubuh atlet bisa menjadi lebih
HASIL DAN PEMBAHASAN negatif karena tuntutan tubuh yang lebih ketat dalam
olahraga mereka13.
Karakteristik Subjek
Subjek yang diteliti merupakan atlet renang Risiko Gangguan Makan
yang terdaftar dalam Oceanus Swimming Club (OSC) dan Persepsi tubuh negatif dapat memicu
Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) terjadinya gangguan makan (eating disorder). Gangguan
Kota Bogor. Para atlet di POSSI Kota Bogor telah makan yang sering ditemui dalam dunia olahraga adalah
mengikuti perlombaan multievent PORDA, PORPROV, Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa, terutama atlet
PON. Pada PORDA 2018, POSSI meraih 4 perak dan 1 yang membutuhkan tubuh ramping.8 Rata-rata skor risiko
perunggu. OSC juga telah meraih berbagai prestasi gangguan makan subjek adalah 2,6 ± 1,0. Apabila rata-
kejuaraan olahraga renang seperti memenangkan juara rata skor EDSA ≥ 3,33 subjek berisiko tinggi mengalami
umum pada Swimmeet Intern Club di Kota Bogor 2020, gangguan makan. Maka, berdasarkan rata-rata skor
juara umum HAORNAS se-Jabotabek 2017, Juara umum kuesioner EDSA, subjek tidak berisiko gangguan makan.
Dispora Cup 2 se-Jabotabek 2018. Jumlah atlet yang Sebagian besar subjek (66,7%) tidak berisiko gangguan
dijadikan subjek penelitian adalah sebanyak 21 orang. makan, sedangkan 33,3% lainnya berisiko gangguan
Subjek laki-laki berjumlah 14 orang (66,7%), sedangkan makan. Lebih banyak perempuan (19,0%) yang berisiko
subjek perempuan berjumlah 7 orang (33,3%). Usia gangguan makan dibandingkan laki-laki (14,3%).
subjek adalah 12-17 tahun yang bersekolah mulai dari
kelas 6 SD hingga 12 SMA. Rata-rata usia subjek adalah Tingkat Kecukupuan Energi
14,48 ± 1,63 tahun. Sebanyak 23,8% subjek berusia 16 Pengaturan makan atlet dilakukan secara
tahun. mandiri oleh orang tua atlet. Pelatih memberikan
Sebagian besar (66,6%) subjek memperoleh masukan dan saran terkait pengaturan makan para atlet
uang saku yang digunakan untuk membeli makanan dan kepada orang tua mereka. Tidak ada ahli gizi yang
minuman sebanyak ≥Rp300.000 per bulan. Sebanyak mengatur pola makan para atlet, kecuali pada saat
33,3% subjek memperoleh uang saku sebanyak persiapan menjelang pertandingan seperti PON, Porda,
Rp300.000-Rp399.000 per bulan. Sisanya yaitu 33,3% dan Porprov atlet akan tinggal di asrama dan disediakan
subjek memperoleh uang saku dari orang tuanya makanannya. Terdapat satu orang subjek yang
sebanyak ≥Rp400.000 per bulan. Beberapa subjek pengaturan makannya dibantu oleh dokter gizi untuk
mengalami penurunan jumlah uang saku karena sebagian meningkatkan performanya dalam berolahraga. Tingkat
besar aktivitas subjek dilakukan di rumah akibat kondisi kecukupan energi serta zat gizi subjek disajikan dalam
Tabel 1.
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 102
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 103
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
Sebagian besar subjek (90,48%) mengalami penggunaan glikogen otot. Atlet renang memerlukan
ketidakcukupan energi dengan rata-rata tingkat ekstra lemak karena dibutuhkan daya apung lebih tinggi
kecukupan 72,0 ± 31,1%. Hanya 9,52% subjek yang sehingga atlet bergerak lebih cepat24.
asupan energinya sudah memenuhi 100% kebutuhan. Zat gizi lainnya yang menjadi sumber utama
Rata-rata asupan energi subjek adalah 2.487 ± 999 kkal. penghasil energi bagi atlet adalah karbohidrat. Hasil food
Asupan zat gizi makro yang kurang berakibat pada recall 24 jam didapat rata-rata asupan karbohidrat subjek
rendahnya asupan energi. Berdasarkan hasil food recall masih kurang dari kebutuhannya. Sebagian besar subjek
24 jam, subjek yang asupan energinya cukup (85,71%) mengalami ketidakcukupan asupan
mengonsumsi makanan dengan porsi lebih banyak dan karbohidrat. Rata-rata tingkat kecukupan karbohidrat
frekuensi makannya 3-4 kali makan utama serta 1-2 kali subjek adalah 68,3 ± 31,8% dengan jumlah asupan 336,0
makan selingan, sedangkan subjek yang mengalami ± 139,9 g. Sebanyak 14,29% subjek sudah mencukupi
ketidakcukupan energi makan dengan frekuensi 1-3 kali kebutuhan karbohidratnya disebabkan oleh tingginya
makan utama, 0-2 kali makan selingan dengan porsi yang konsumsi makanan sumber karbohidrat yaitu nasi. Subjek
lebih sedikit. Kekurangan energi dalam jangka waktu yang sudah mencukupi asupan karbohidratnya dapat
lama pada atlet remaja menimbulkan risiko mengonsumsi nasi putih 3-4 kali sehari dengan porsi
keterlambatan pertumbuhan, kelelahan, kehilangan besar. Subjek juga biasa mengonsumsi pangan tinggi
massa otot, cedera dan penyakit32. karbohidrat saat waktu selingan, seperti mie, roti,
Salah satu zat gizi makro yang berkontribusi makaroni, donat, keripik singkong, cokelat, minuman
menghasilkan energi adalah protein. Sebanyak 61,90% manis dan minuman bersoda.
subjek mengalami ketidakcukupan asupan protein, Rata-rata asupan karbohidrat subjek adalah 6,4
sedangkan 38,10% subjek sudah memenuhi kebutuhan g/kg BB/hari, sedangkan atlet endurance yang biasa
proteinnya dalam sehari. Rata-rata tingkat kecukupan berlatih dengan intensitas sedang hingga tinggi (1-3
protein 88,7 ± 47,2% dan asupannya 89,1 ± 47,1 g. Subjek jam/hari atau 20 jam/minggu) membutuhkan asupan
dengan asupan protein yang cukup lebih banyak karbohidrat sebanyak 7-10 g/kg BB/hari34,35. Hal tersebut
mengonsumsi makanan sumber protein hewani seperti menunjukan rata-rata asupan karbohidrat subjek belum
telur ayam, ikan, dan daging ayam. Protein hewani mencukupi kebutuhan karbohidrat atlet renang pada
memiliki mutu yang tinggi karena kandungan asam amino umumnya. Asupan karbohidrat yang cukup sangat
esensial lengkap, susunannya sesuai dengan kebutuhan penting bagi atlet untuk mempertahankan cadangan
tubuh serta memiliki daya cerna protein yang tinggi33. energi dan mengurangi kelelahan sehingga dapat
Subjek yang mengalami ketidakcukupan menjaga performa dengan baik. Maka pemenuhan
protein biasa mengonsumsi telur ayam, tempe, dan tahu. asupan karbohidrat atlet sangat dibutuhkan untuk
Mereka lebih banyak mengonsumsi makanan sumber mempertahankan simpanan glikogen pada otot dan
karbohidrat. Atlet yang melakukan latihan rutin, hati36.
pertandingan besar dan usianya remaja memerlukan
protein lebih banyak. Rata-rata asupan protein subjek Tingkat Kecukupan Vitamin
adalah 1,7 gram/kg BB/hari. Hal tersebut menunjukkan Vitamin yang asupannya belum mencapai
bahwa rata-rata asupan protein subjek sudah sesuai kebutuhan adalah vitamin D, sedangkan vitamin B (B1,
dengan kebutuhan protein atlet remaja yaitu 1,3-1,8 g/kg B2, B3), dan vitamin C asupannya sudah memenuhi
BB/hari23. Asupan protein yang cukup dibutuhkan oleh kebutuhan. Atlet memerlukan asupan vitamin yang
atlet untuk memperbaiki serabut otot yang rusak akibat cukup. Vitamin larut air (vitamin B dan vitamin C) adalah
latihan dan pembentukan enzim34. komponen sistem enzim yang banyak terlibat dalam
Sebanyak 76,19% subjek mengalami metabolisme energi37. Subjek yang dikategorikan cukup
ketidakcukupan asupan lemak. Rata-rata tingkat vitamin B1 berjumlah 47,62%, cukup vitamin B2 71,43%,
kecukupan lemak subjek adalah 77,0 ± 39,8% dan dan cukup vitamin B3 52,38%. Rata-rata tingkat
asupannya sebanyak 87,0 ± 35,8 g. Hanya 23,81% subjek kecukupan vitamin B1, B2, dan B3 subjek tergolong
yang dikategorikan cukup asupan lemaknya. Berdasarkan cukup, yaitu vitamin B1 86,69 ± 70,79%, vitamin B2
hasil wawancara food recall 24 jam makanan yang 107,20 ± 59,40%, vitamin B3 89,03 ± 48,16%. Rata-rata
dikonsumsi oleh mereka adalah makanan sumber protein asupan vitamin B1 sebanyak 1,14 ± 1,14 mg, vitamin B2
tinggi lemak dan lemak sedang dengan porsi yang cukup 1,48 ± 1,06 mg, vitamin B3 14,58 ± 8,36 mg.
banyak. Beberapa makanan yang dikonsumsi adalah Sebagian besar subjek memiliki kebiasaan
daging ayam dengan kulit, daging sapi, sosis, telur ayam, mengonsumsi makanan sumber vitamin B seperti daging
kacang tanah, susu full cream dan olahannya (es krim, ayam, daging sapi, ikan, telur ayam, susu, kacang tanah,
keju, yogurt). Sebagian besar cara mengolah makananya pisang, mangga. Konsumsi nasi, roti dan mie dalam porsi
adalah digoreng maupun dipanggang menggunakan yang cukup banyak juga turut menyumbang asupan
tambahan minyak atau margarin, sehingga menambah vitamin B pada subjek. Beberapa subjek juga terbiasa
asupan lemak. Asupan lemak subjek kurang dari mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin B
kebutuhan atlet renang pada umumnya. Rata-rata kompleks, sehingga kebutuhan vitamin B1, B2 dan B3
asupan lemak subjek adalah 1,6 g/kg BB/hari, sedangkan subjek dapat dipenuhi. Asupan vitamin B1, B2 dan B3
kebutuhan lemak bagi atlet renang adalah 2,2-2,4 yang cukup, bermanfaat bagi kinerja atlet karena
gram/kg BB/hari.34 Asupan lemak yang kurang dapat ketiganya berfungsi sebagai kofaktor dan aktivator
memengaruhi kualitas latihan atlet karena lemak metabolisme energi, memengaruhi fungsi saraf,
merupakan sumber energi bagi atlet. Asupan lemak kontraksi otot, dan sintesis lemak34.
dibutuhkan saat latihan agar memberi efek melindungi
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 104
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
Vitamin lainnya yang dibutuhkan oleh atlet pembekuan darah. Asupan kalsium yang kurang dalam
adalah vitamin C. Sebanyak 76,19% subjek mengalami jangka panjang akan meningkatkan risiko osteoporosis
kekurangan vitamin C, sedangkan 23,81% lainnya dapat sehingga menurunkan performa atlet40.
mencukupi kebutuhan hariannya. Rata-rata tingkat Mineral lain yang dibutuhkan untuk menunjang
kecukupan vitamin C subjek adalah 77,47 ± 138,10% performa atlet adalah zat besi. Sebanyak 47,62% subjek
sehingga tergolong cukup. Rata-rata asupan vitamin C sudah mampu memenuhi kebutuhannya akan zat besi.
subjek adalah 65,94 ± 114,88 mg. Namun, masih ada sebanyak 52,38% subjek yang belum
Buah-buahan dan sayuran menjadi makanan memenuhi kebutuhan zat besi hariannya. Rata-rata
sumber vitamin C. Sebagian besar subjek kurang dalam asupan zat besi subjek adalah 12,17 ± 6,72 mg dengan
mengonsumsi sayur dan buah, terutama sayuran. rata-rata tingkat kecukupan 101,67 ± 62,46% sehingga
Beberapa buah dan sayur tinggi vitamin C yang biasa dikategorikan cukup. Hal tersebut disebabkan oleh
dikonsumsi oleh subjek adalah sawi, daun kelor, subjek yang terbiasa mengonsumsi pangan sumber zat
kangkung, daun singkong, kubis, brokoli, jeruk, dan besi yaitu tahu, tempe, udang, paru sapi, kerang, hati
mangga. Beberapa subjek mengonsumsi suplemen ayam, daging ayam, daging sapi, ikan, kacang tanah, dan
vitamin C sehingga asupannya dapat memenuhi telur ayam. Selain itu, beberapa subjek juga biasa
kebutuhan dan rata-rata tingkat kecukupannya tergolong mengonsumsi suplemen yang mengandung zat besi
cukup. Vitamin C berperan dalam perbaikan jaringan sehingga menambah asupan zat besi subjek. Asupan Fe
tubuh dan proses metabolisme38. Konsumsi vitamin C subjek lebih banyak didapat dari pangan sumber protein
yang cukup diperlukan oleh atlet karena vitamin C dapat hewani yang tingkat bioavailabiltasnya lebih tinggi41.
mengurangi stres fisiologis. Kekurangan vitamin C dapat Beberapa subjek terbiasa mengonsumsi susu yang
menyebabkan pelemahan kontraksi otot, penurunan kandungan kalsiumnya mampu menghambat proses
daya tahan tubuh, kelelahan, serta kerusakan sel akibat penyerapan zat besi42.
radikal bebas37. Zink merupakan salah satu mineral yang
Rata-rata subjek belum mampu memenuhi dibutuhkan oleh atlet remaja. Salah satu fungsinya
kebutuhan vitamin D. Subjek yang mengalami adalah untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh.
kekurangan vitamin D berjumlah 85,71%, sedangkan Sebagian besar subjek (52,38%) memiliki tingkat
14,29% lainnya mampu mencukupi asupan vitamin D kecukupan zink yang tergolong cukup, sedangkan 47,62%
hariannya. Rata-rata tingkat kecukupannya adalah 39,52 subjek lainnya belum mampu mencukupi kebutuhan zink
± 44,64%, sehingga belum mencapai batas minimal hariannya. Rata-rata asupan zink subjek adalah 9,57 ±
asupan suatu zat gizi dikatakan cukup yaitu 77%. Rata- 4,29 mg dengan tingkat kecukupan 86,79 ± 34,98%
rata asupan vitamin D subjek adalah 7,04 ± 9,07 mcg. sehingga dikategorikan cukup. Hal tersebut dapat terjadi
Subjek mengonsumsi makanan sumber vitamin karena sebagian besar subjek memiliki kebiasaan
D berupa telur ayam, udang, ikan. Sebagian besar subjek mengonsumsi pangan hewani yang memiliki kandungan
juga biasa mengonsumsi susu, namun belum cukup zink cukup tinggi, seperti daging ayam, daging sapi,
memenuhi kebutuhan vitamin D hariannya. Makanan udang, kerang, cumi-cumi, susu, telur ayam, hati ayam,
sumber vitamin D lainnya adalah ikan salmon, ikan ikan, dan ada pula yang berasal dari tempe. Beberapa
makarel, ikan tuna, jamur, minyak hati ikan cod39. subjek juga biasa mengonsumsi suplemen yang
Beberapa subjek biasa mengonsumsi suplemen yang mengandung zink sehingga dapat menambah asupan
mengandung vitamin D dan minyak ikan sehingga zink. Asupan mineral zink yang cukup diperlukan oleh
membantu mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan atlet karena perannya yang dibutuhkan sebagai
vitamin D subjek. Asupan vitamin D yang kurang pada komposisi enzim dalam metabolisme energi, kofaktor
atlet dapat memengaruhi kesehatan tulang, penyerapan dan aktivator metabolisme energi, berperan dalam
serta pengaturan kalsium dalam tubuh, aktivitas enzim sintesis protein, imunologi dan antioksidan sehingga
dan kontraksi otot para atlet32. dapat menurunkan stres oksidatif akibat berolahraga34.
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 105
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
Referensi lain menyatakan bahwa jumlah kebutuhan program latihan juga dapat mengakibatkan massa otot
cairan adalah 1 mL/kkal kebutuhan energi44. Kebutuhan berkurang46.
energi yang besar pada atlet membuat subjek
membutuhkan cairan lebih banyak. Tubuh seseorang Status Gizi
mampu memperoleh cairan dari makanan maupun Rata-rata berat badan subjek adalah 56,5 ± 13,4
minuman yang dikonsumsinya serta sebagian kecil dari kg, sedangkan rata-rata tinggi badan subjek adalah 162,1
hasil metabolisme45. Total asupan cairan pada penelitian ± 7,2 cm. Sebagian besar subjek (81%) tergolong gizi baik
ini merupakan hasil penjumlahan cairan dari makanan berdasarkan indikator IMT/U. Faktor langsung yang
dan minuman yang dikonsumsi berdasarkan hasil food memengaruhi status gizi remaja adalah asupan makan
recall 2x24 jam. dan penyakit infeksi. Faktor tidak langsung berkaitan
Jumlah rata-rata asupan cairan subjek adalah dengan tingkat konsumsi yaitu faktor persepsi tubuh,
1785,8 ± 791,1 mL. Sebanyak 52,38% subjek sudah dapat besar uang jajan dan pengetahuan gizi51.
mencukupi kebutuhan cairannya sesuai AKG 2019, Subjek secara keseluruhan memiliki persepsi
sedangkan 47,62% lainnya tergolong kurang. Namun, tubuh yang cenderung positif. Remaja dengan persepsi
apabila kebutuhan cairannya berdasarkan kebutuhan tubuh positif terdorong untuk berperilaku sehat,
energi maka sebagian besar subjek (90,48%) mengalami sehingga cenderung memiliki status gizi normal52.
ketidakcukupan asupan cairan dan hanya 9,52% subjek Sebagian besar (66,6%) subjek memperoleh uang saku
yang dapat memenuhi kebutuhan cairannya. Hal tersebut ≥Rp300.000,00 per bulan. Tingginya uang jajan dapat
didukung dengan nilai rata-rata tingkat kecukupan cairan meningkatkan variasi dan daya beli pangan51. Selama
subjek yang tergolong cukup apabila berdasarkan AKG masa pandemi Covid-19, subjek lebih sering berada di
2019, yaitu mencapai 77,3 ± 36,8%. Namun, rata-rata rumah sehingga asupan makan subjek sebagian besar
tingkat kecukupan cairan subjek tergolong kurang apabila disediakan oleh orang tua. Pangan yang tersedia dengan
mengacu pada kebutuhan energinya, yaitu mencapai cukup baik merupakan modal yang sangat penting dalam
52,3 ± 27,3%. Jenis pangan selain air putih yang perbaikan status gizi remaja53. Beberapa hal tersebut
menyumbang cairan cukup tinggi bagi subjek adalah buah merupakan faktor yang dapat menyebabkan 81% subjek
naga dan makanan berkuah seperti mie instan serta tergolong gizi baik dan tidak ada subjek yang tergolong
bakso. gizi kurang maupun gizi buruk.
Terdapat 9,5% subjek tergolong gizi lebih dan
Komposisi Tubuh 9,5% lainnya tergolong obesitas. Kelebihan berat badan
Terdapat 47,6% subjek memiliki persen lemak pada remaja selain dipengaruhi oleh kurangnya aktivitas
tubuh yang tergolong baik dan 28,5% lainnya tergolong fisik, dipengaruhi juga oleh gaya hidup atau kebiasaan
cukup baik. Namun, hanya 4,8% subjek yang memiliki remaja seperti konsumsi makanan cepat saji dan kurang
persen lemak tubuh atletis. Sisanya tergolong gemuk tidur dapat memperburuk kondisi tersebut54. Subjek rutin
(14,3%) dan obesitas (4,8%). Pertambahan usia umumnya melakukan latihan sebanyak lima sampai tujuh kali dalam
diiringi juga dengan peningkatan persen lemak tubuh satu minggu dengan durasi selama dua jam sehingga
seseorang. Menjelang usia dewasa, atlet memiliki faktor aktivitas fisik bukan menjadi faktor utama yang
tanggung jawab dan aktivitas lain seperti kegiatan menyebabkan beberapa subjek mengalami kelebihan
sekolah yang semakin padat sehingga frekuensi olahraga berat badan.
serta pola makan mengalami perubahan. Perubahan Pengukuran status gizi atlet remaja kurang
tersebut dapat mengubah komposisi tubuh seperti massa akurat menggunakan indikator IMT/U karena status gizi
otot berkurang dan lemak tubuh meningkat46. Jenis obesitas lebih mengacu pada kelebihan berat badan
kelamin dan cabang olahraga juga memengaruhi persen bukan pada kelebihan lemak. Maka pengukuran persen
lemak pada atlet. Remaja putra cenderung memiliki lemak tubuh dibutuhkan dalam pengukuran status gizi
jaringan lemak lebih sedikit dibandingkan remaja putri47. atlet. Kelebihan berat badan yang dialami atlet dapat
Atlet renang mempunyai lemak tubuh yang lebih tinggi disebabkan oleh massa otot yang lebih tinggi
daripada olahraga atletik48. Komposisi tersebut dibandingkan lemak. Maka atlet yang berstatus gizi lebih
mengakibatkan atlet renang mempunyai kemampuan dan obesitas belum tentu memiliki persen lemak tubuh
daya apung lebih baik49. Persen lemak tubuh atlet yang yang berlebih55. Namun, berdasarkan hasil pengukuran
berlebih akan memengaruhi komposisi tubuh, sistem komposisi tubuh, subjek yang obesitas dan gizi lebih
imun, kardiovaskuler, daya tahan otot dan kelenturan, memiliki persen lemak tubuh yang tergolong gemuk dan
serta performanya50. Terjadi peningkatan massa tubuh obesitas, serta persen otot skeletal yang rendah. Hasil
sehingga percepatan gerak akan menurun. Suhu tubuh tersebut menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan
meningkat lebih banyak sehingga lebih cepat lelah4. status gizi maupun komposisi tubuh pada beberapa
Sebagian besar subjek (47,62%) memiliki subjek.
persen otot skeletal yang sangat tinggi karena aktivitas
olahraga yang biasa dilakukan sehari-hari. Subjek yang Hubungan Persepsi Tubuh dengan Risiko Gangguan
memiliki persen otot skeletal tinggi dan normal Makan Subjek
berjumlah sama yaitu 19,05%. Namun, sebanyak 14,28% Sebanyak 42,9% subjek memiliki tingkat
subjek memiliki persen otot skeletal yang rendah. Hal kepuasan yang lebih tinggi terhadap bentuk, komposisi
tersebut dapat disebabkan oleh tingginya persen lemak otot dan lemak serta berat badannya dibandingkan
tubuh yang dimiliki oleh subjek. Salah satu dampak dari dengan 57,1% subjek lainnya. Namun, secara
tidak seimbangnya asupan energi terutama defisit energi keseluruhan persepsi tubuh subjek masih cenderung
adalah kehilangan massa otot32. Salah menerapkan positif atau merasa puas dengan bentuk tubuhnya
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 106
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
dengan rata-rata 4,77 ± 1,17 (mendekati skor 4). Selain tubuh yang kurus. Walaupun secara biologis persen
persepsi tubuh subjek yang cenderung positif, sebagian lemak tubuh wanita lebih tinggi dibandingkan laki-laki57.
besar dari subjek juga tidak berisiko gangguan makan. Hal Pada subjek yang merasa kurang puas terhadap
tersebut dapat dipengaruhi oleh subjek penelitian yang tubuhnya, risiko gangguan makan lebih besar. Subjek
mayoritas berjenis kelamin laki-laki karena berdasarkan yang berisiko gangguan makan dan merasa kurang puas
hasil berbagai penelitian, laki-laki lebih memiliki terhadap tubuhnya sebanyak 23,8%. Jumlah tersebut
kepuasan terhadap tubuhnya dibandingkan perempuan. lebih besar dibandingkan jumlah subjek yang berisiko
Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa akan timbul gangguan makan tetapi memiliki persepsi tubuh yang
ketidakpuasan terhadap tubuhnya apabila laki-laki tidak positif atau merasa puas terhadap tubuhnya (9,6%).
memiliki tubuh yang berotot56. Perempuan memiliki Namun, jumlah subjek yang tidak berisiko gangguan
kecenderungan gangguan makan lebih tinggi makan tidak berbeda jauh antara subjek yang memiliki
dibandingkan laki-laki karena perempuan seringkali persepsi tubuh positif maupun negatif. Hal tersebut
mendapat tuntutan dari masyarakat untuk memiliki menandakan bahwa subjek dengan persepsi tubuh
negatif tidak selalu berisiko memiliki gangguan makan.
Tabel 2. Hasil uji korelasi persepsi tubuh dengan risiko gangguan makan
Persepsi Tubuh
Pearson Correlation Sig. (2-tailed)
Risiko Gangguan Makan 0,085 0,714
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson, tidak gangguan makan59. Data subjek dalam penelitian ini tidak
terdapat hubungan persepsi tubuh dengan risiko berhasil membuktikan hubungan tersebut.
gangguan makan (p=0,714 r=0,085). Hasil ini sejalan
dengan penelitian Kurniawan dan Briawan yang tidak Hubungan Risiko Gangguan Makan dengan Tingkat
menemukan hubungan antara persepsi tubuh dengan Kecukupan Gizi
gangguan makan58. Artinya, semakin negatif/positif Uji korelasi dilakukan terhadap risiko gangguan
persepsi tubuh subjek maka belum tentu berisiko makan dengan tingkat kecukupan berbagai zat gizi.
gangguan makan. Hasil tersebut tidak sejalan dengan Hasilnya menunjukan bahwa risiko gangguan makan
penelitian pada atlet di Brazil yang hasilnya terdapat tidak memiliki hubungan dengan tingkat kecukupan zat
hubungan positif antara persepsi tubuh dengan risiko gizi, kecuali cairan. Berikut merupakan hasil uji korelasi
risiko gangguan makan dengan tingkat kecukupan cairan.
Tabel 3. Hasil uji korelasi risiko gangguan makan dengan tingkat kecukupan cairan
Risiko Gangguan Makan
Pearson Correlation -0,596**
Tingkat Kecukupan Cairan (AKG 2019)
Sig. (2-tailed) 0,004
Correlation Coefficient -0,511*
Tingkat Kecukupan Cairan (Sesuai Kebutuhan Energi)
Sig. (2-tailed) 0,018
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
Risiko gangguan makan memiliki hubungan protein, lemak, dan kalsium dengan risiko gangguan
negatif dengan tingkat kecukupan cairan berdasarkan makan60. Artinya, semakin tinggi/rendahnya risiko
AKG (p=0,004 r=-0,596). Selain itu, risiko gangguan gangguan makan maka belum tentu tingkat kecukupan
makan juga berhubungan negatif dengan tingkat energi dan zat gizinya terpenuhi dengan baik karena
kecukupan cairan berdasarkan kebutuhan energi pemenuhan tingkat kecukupan energi dan zat gizi melalui
(p=0,018 r=-0,511). Semakin rendah risiko gangguan konsumsi pangan pada remaja dipengaruhi juga oleh
makan, maka asupan cairannya semakin baik karena pengetahuan, sikap, uang jajan, peran keluarga, dan
subjek yang tidak berisiko gangguan makan lebih peran teman sebaya61.
memiliki kesadaran pentingnya cairan bagi tubuh
mereka. Remaja dengan persepsi tubuh positif terdorong Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Komposisi
berperilaku sehat, sehingga mereka berusaha mencukupi Tubuh Subjek
asupan cairannya sehari-hari52. Pada penelitian ini dilakukan uji korelasi untuk
Risiko gangguan makan tidak memiliki melihat hubungan tingkat kecukupan berbagai zat gizi
hubungan dengan tingkat kecukupan energi, protein, dengan persen lemak tubuh. Terdapat beberapa zat gizi
lemak, karbohidrat, vitamin B (B1, B2, B3), vitamin C, yang memiliki hubungan dengan persen lemak tubuh dan
vitamin D, kalsium, zat besi, zink, dan serat. Hasil ini adapula yang tidak berhubungan. Berikut hasil uji korelasi
sejalan dengan penelitian Oktafiandini yang menyatakan tingkat kecukupan zat gizi yang berhubungan dengan
tidak terdapat hubungan antara tingkat kecukupan persen lemak tubuh.
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 107
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
Tabel 4. Hasil uji korelasi tingkat kecukupan gizi dengan persen lemak tubuh
Persen Lemak Tubuh
Pearson Correlation Sig. (2-tailed)
Energi -0,500* 0,021
Protein -0,492* 0,023
Karbohidrat -0,576** 0,006
Vitamin B3 -0,453* 0,039
Zink -0,585** 0,005
Correlation Coefficient Sig. (2-tailed)
Zat Besi -0,578** 0,006
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson dan jumlah simpanan lemak di tubuh, salah satunya adalah
Spearman, terdapat hubungan negatif yang signifikan tingkat aktivitas fisik. Aktivitas fisik subjek tergolong
antara tingkat kecukupan energi, protein, karbohidrat, tinggi karena latihan rutin yang biasa dilakukannya.
vitamin B3, zink, zat besi dengan persen lemak tubuh. Asupan energi dan zat gizi makro yang tinggi akan
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Nisa digunakan sebagai sumber tenaga sehari-hari dan selama
yaitu terdapat hubungan positif antara asupan energi dan latihan. Oleh karena itu, asupan energi, protein, dan
karbohidrat dengan persen lemak tubuh62. Energi karbohidrat yang cukup tinggi pada subjek belum tentu
merupakan hasil dari metabolisme zat gizi karbohidrat, dapat disimpan menjadi lemak di tubuh subjek. Asupan
lemak serta protein dalam makanan yang dikonsumsi. vitamin B3, zink dan zat besi yang tinggi dimanfaatkan
Apabila energi yang dikonsumsi berlebih maka akan dalam proses metabolisme untuk memenuhi kebutuhan
disimpan dalam bentuk lemak di tubuh62. Selain asupan energi subjek yang tinggi sehingga asupan energi tidak
zat gizi, terdapat faktor lain yang dapat memengaruhi banyak disimpan menjadi lemak di tubuh subjek.
Tabel 5. Hasil uji korelasi tingkat kecukupan gizi dengan persen otot skeletal
Persen Otot Skeletal
Correlation Coefficient Sig. (2-tailed)
Protein 0,472* 0,031
Karbohidrat 0,541* 0,011
Zat Besi 0,525* 0,015
Zink 0,578** 0,006
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman, terdapat karbohidratnya kurang, ketersediaan hormon insulin
hubungan positif antara tingkat kecukupan protein, relatif rendah, pemecahan protein akan meningkat66.
karbohidrat, zat besi, zink dengan persen otot skeletal. Oleh karena itu, terdapat hubungan positif yang
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Andarbeni signifikan antara persen otot skeletal dengan tingkat
yaitu asupan protein berhubungan positif dengan kecukupan karbohidrat karena karbohidrat dibutuhkan
kekuatan otot yang berkaitan juga dengan persen otot sebagai sumber energi utama untuk kontraksi otot
skeletal di dalam tubuh63. Asupan protein sangat skeletal. Karbohidrat yang berlebihan juga akan disimpan
berpengaruh pada masa otot melalui peningkatan dalam otot dalam bentuk glikogen. Asupan karbohidrat
sintesis protein sehingga terjadi hipertropi otot dan yang cukup dibutuhkan menjelang latihan, sehingga
berakibat pula pada peningkatan persen otot skeletal63. asupan protein digunakan untuk meningkatkan sintesis
Pangan sumber protein biasanya mengandung mineral protein otot saat pemulihan67.
zat besi dan zink. Mineral tersebut memiliki hubungan
positif yang signifikan dengan persen otot skeletal karena Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi
dengan asupan zink dan zat besi yang memenuhi Subjek
kebutuhan, pembentukan dan pemeliharaan otot dapat Pada penelitian ini dilakukan uji korelasi untuk
dilakukan dengan baik64. melihat hubungan tingkat kecukupan berbagai zat gizi
Asupan protein yang meningkat harus dengan status gizi. Terdapat beberapa zat gizi yang
diimbangi dengan asupan energi yang cukup karena memiliki hubungan dengan status gizi dan adapula yang
dapat berdampak terhadap peningkatan massa otot65. tidak berhubungan. Berikut hasil uji korelasi tingkat
Apabila asupan energi kurang, maka protein akan kecukupan zat gizi yang berhubungan dengan status gizi
dipecah untuk menghasilkan energi. Apabila asupan (IMT/U).
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 108
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
Tabel 6. Hasil uji korelasi tingkat kecukupan gizi dengan status gizi
Status Gizi (IMT/U)
Pearson Correlation Sig. (2-tailed)
Karbohidrat -0,554** 0,009
Correlation Coefficient Sig. (2-tailed)
Zat Besi -0,466* 0,033
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
Tingkat kecukupan karbohidrat berhubungan tersebut tidak sejalan dengan penelitian Muchlisa yang
negatif dengan status gizi. Hasil tersebut tidak sejalan menyatakan bahwa terdapat hubungan positif yang
dengan hasil penelitian Muchlisa yaitu terdapat signifikan antara asupan zat besi dengan status gizi
hubungan positif antara asupan karbohidrat dengan (p=0,001 r=0,262)68. Defisiensi zat besi berpengaruh
status gizi (p=0,000 r=0,303), artinya apabila asupan terhadap pertumbuhan dan status gizi akibat
karbohidratnya kurang maka akan terjadi penurunan berkurangnya nafsu makan serta memburuknya sistem
status gizi68. Ketidaksesuaian ini dapat terjadi karena data imun70. Ketidaksesuaian ini dikarenakan subjek dengan
asupan makan yang didapat belum mampu skor IMT/U yang lebih rendah melakukan upaya lebih
menggambarkan dengan baik asupan makan subjek untuk memenuhi asupan zat gizi mikro khususnya zat besi
sehari-hari. Metode recall 24 jam memiliki kelemahan the dengan cara mengonsumsi suplemen multivitamin.
flat slope syndrome. Subjek yang kurus cenderung
menyampaikan makanan yang dikonsumsi lebih banyak Hubungan Persepsi Tubuh dan Risiko Gangguan Makan
(over estimate) sedangkan subjek yang gemuk under dengan Status Gizi Subjek
estimate, sehingga terjadi ketidaksesuaian yaitu subjek Variabel persepsi tubuh dan risiko gangguan
dengan z-score IMT/U lebih tinggi memiliki asupan makan diketahui dapat berhubungan dengan status gizi
karbohidrat yang lebih rendah dan begitupun melalui konsumsi pangan. Namun, beberapa penelitian
sebaliknya69. juga menyatakan bahwa persepsi tubuh dapat
Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman, berhubungan dengan status gizi secara langsung. Berikut
terdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat merupakan hasil uji korelasinya pada penelitian ini.
kecukupan zat besi dengan status gizi subjek. Hasil
Tabel 7. Hasil uji korelasi persepsi tubuh, risiko gangguan makan dengan status gizi
Status Gizi (IMT/U)
Pearson Correlation Sig. (2-tailed)
Persepsi Tubuh 0,473* 0,030
Risiko Gangguan Makan 0,275 0,227
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
Hasil uji korelasi membuktikan bahwa terdapat terjadi perubahan perilaku makan akibat risiko gangguan
hubungan positif yang signifikan antara persepsi tubuh makan yang dialami subjek, maka diperlukan waktu
dengan status gizi (p=0,030 r=0,473). Hasil tersebut hingga terjadi perubahan status gizi pada subjek. Status
sesuai dengan penelitian Widianti dan Candra, bahwa gizi merupakan gambaran dari konsumsi pangan dalam
terdapat hubungan positif yang signifikan antara body jangka panjang. Status gizi juga dipengaruhi juga oleh
image dan status gizi (p=0,001 r=0,48271). Semakin tinggi faktor lain seperti keadaan ekonomi dan pengetahuan
ketidakpuasan terhadap body image, ternyata status gizi73. Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu terkait
gizinya semakin tidak normal. Hasil tersebut dibuktikan informasi yang diberikan subjek melalui kuesioner atau
dengan subjek yang mengalami obesitas dan overweight pada saat melakukan Food Recall terkadang kurang
memiliki ketidakpuasan terhadap tubuhnya menunjukkan kondisi yang sebenarnya. Hal tersebut
dibandingkan subjek yang berstatus gizi normal. dapat terjadi karena beberapa faktor seperti pemahaman
Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson, tidak yang berbeda pada setiap subjek, adapula faktor
terdapat hubungan yang signifikan antara risiko kejujuran, ataupun ingatan subjek saat melakukan Food
gangguan makan dengan status gizi (p=0,227 r=0,275). Recall.
Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Merita yaitu tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara KESIMPULAN
kecenderungan gangguan makan dengan status gizi Subjek cenderung merasa puas dengan kondisi
dengan indikator IMT/U pada remaja putri di Kota Jambi tubuhnya yang memiliki status gizi baik. Terdapat
(p=0,657)72. Subjek pada penelitian ini cenderung merasa beberapa subjek yang kurang puas dengan tubuhnya
makan dalam jumlah yang berlebihan dan ingin menjadi karena memiliki status gizi lebih dan obesitas, persen
lebih kurus terutama pada subjek dengan status gizi lemak tubuh yang tinggi dan persen otot skeletal yang
obesitas dan overweight. Namun, sebagian besar subjek rendah. Mereka lebih berisiko mengalami gangguan
berstatus gizi normal karena faktor tertentu seperti makan. Namun, kepeduliannya terhadap penampilan
latihan fisik yang dilakukan subjek. Walaupun asupan zat tidak membuat mereka mengubah pola makan. Saran
gizi cukup tinggi namun bisa diimbangi dengan untuk penelitian selanjutnya adalah perlu
pengeluaran energi akibat aktivitas subjek. Apabila mengidentifikasi metode yang tepat dan sensitif untuk
Copyright ©2023 Faculty of Public Health Universitas Airlangga
Open access under a CC BY – SA license | Joinly Published by IAGIKMI & Universitas Airlangga
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 109
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
penilaian risiko gangguan makan pada atlet di Indonesia. Remaja Putri. J. Online Mhs. 2, 1345–1352 (2015).
Recall 24 jam sebaiknya dilakukan selama 7 hari dan akan 12. Setyawati, V. A. V. & Setyowati, M. Karakter Gizi
lebih baik apabila menambahkan metode SQ-FFQ (Semi Remaja Putri Urban dan Rural di Provinsi Jawa
Quantitative Food Frequency Questionnaire). Perlu Tengah. J. Kesehat. Masy. 11, 43–52 (2015).
meneliti hubungan persepsi tubuh dengan disordered 13. Bruin, A. P. K. de, Oudejans, R. R., Bakker, F. C. &
eating, karena kemungkinan atlet untuk mengalami Woertman, L. Contextual Body Image and
disordered eating lebih tinggi dibandingkan eating Athletes’ Disordered Eating: The Contribution of
disorder. Perlu juga meneliti faktor lain yang Athletic Body Image to Disordered Eating in High
mempengaruhi status gizi, yaitu kebiasaan merokok, Performance Women Athletes. Eur. Eat. Disord.
penyakit infeksi, kualitas tidur, pengetahuan gizi, juga 19, 201–215 (2011).
akibatnya terhadap perfoma atlet. 14. Hazzard, V. M. et al. Development and Validation
of the Eating Disorders Screen for Athletes
ACKNOWLEDGEMENT (EDSA): A Brief Screening Tool for Male and
Terima kasih para atlet renang remaja, pelatih, Female Athletes. Psychol. Sport Exerc. 50, 1–35
manajemen di POSSI dan OSC Kota Bogor dan seluruh (2020).
pihak yang membantu dalam penelitian ini sehingga 15. Resmiati & Putra, M. E. Akurasi dan Presisi Alat
hasilnya dapat tertulis dan diinformasikan kepada Ukur Tinggi Badan Digital untuk Penilaian Status
seluruh masyarakat Indonesia. Gizi. J. Endur. Kaji. Ilm. Probl. Kesehat. 6, 616–621
(2021).
Konflik Kepentingan dan Sumber Pendanaan 16. Ernalia, Y., Azrin, M. & Latni, J. G. Perbedaan
Semua penulis tidak memiliki konflik Massa Lemak antara Pengukuran Skinfold Caliper
kepentingan dalam artikel ini. Para penulis tidak dengan Bioelectrical Impedance Analysis pada
menerima dukungan pendanaan untuk penelitian, Atlet. J. Kesehat. Komunitas 6, 267–271 (2020).
kepenulisan, dan/atau publikasi artikel ini. 17. Jeukendrup, A. & Gleeson, M. Sport Nutrition: An
Introduction to Energy and Performance. (Human
REFERENSI Kinetics, 2010).
1. Widawati. Gambaran Kebiasaan Makan dan 18. Omron. Persentase Otot Skeletal.
Status Gizi Remaja di SMAN 1 Kampar tahun [Link]
2017. J. Gizi 2, 146–159 (2018). [Link]/id/faqs/weight-management/604
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset (2020).
Kesehatan Dasar 2018. (2018). 19. Myers, J. The Relationship between Body Image
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset and Eating Patterns in Collegiate Crosscountry
Kesehatan Dasar 2013. (2013). Runners. (Northern Illinois University, 2017).
4. Setiaputri, K. A., Rahfiludin, M. Z. & Suroto. 20. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Hubungan Konsumsi Zat Gizi, Persentase Lemak Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Tubuh dan Aktivitas Fisik dengan Kebugaran Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar
Jasmani pada Atlet Renang. J. Kesehat. Masy. 5, Antropometri Anak. (2020).
166–174 (2017). 21. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
5. Setiawati, F. S., Mahmudiono, T., Ramadhani, N. Pedoman Gizi Olahraga Prestasi. (Kementerian
& Hidayati, K. F. Intensitas Penggunaan Media Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
Sosial, Kebiasaan Olahraga, dan Obesitas pada 22. Ita, S. Cara Menentukan Kebutuhan Energi
Remaja di SMA Negeri 6 Surabaya tahun 2019. Seorang Atlet. J. Pendidik. Jasm. Olahraga dan
Amerta Nutr 3, 142–148 (2019). Kesehat. 2, 87–91 (2014).
6. Slater, A. & Tiggemann, M. Gender Differences in 23. Desbrow, B. et al. Sports Dietitians Australia
Adolescent Sport Participation, Teasing, Self- Position Statement: Sports Nutrition for the
Objectification and Body Image Concerns. J. Adolescent Athlete. Int J Sport Nutr Exerc Metab
Adolesc. 34, 455–463 (2011). 24, 570–584 (2014).
7. Howells, K. & Grogan, S. Body Image and the 24. Syafrizar & Welis, W. Gizi Olahraga. (Wineka
Female Swimmer: Muscularity but in Media, 2009).
Moderation. Qual. Res. Sport. Exerc. Heal. 4, 98– 25. Purcell, L. K. Sport Nutrition for Young Athletes.
116 (2012). Paediatr. Child Health 18, 200–202 (2013).
8. Rismayanthi, C. Kelainan Perilaku Makan 26. Shaw, G., Boyd, K. T., Burke, L. M. & Koivisto, A.
(Anorexia Nervosa) pada Atlet. (2015). Nutrition for Swimming. Int. J. Sport Nutr. Exerc.
9. Schaal, K. et al. Psychological Balance in High Metab. 24, 360–372 (2014).
Level Athletes: Gender-Based Differences and 27. Smith, J. W., Holmes, M. E. & McAllister, M. J.
Sport-Specific Patterns. PLoS One 6, 1–9 (2011). Nutrition Considerations for Performance in
10. Wells, K. R. et al. The Australian Institute of Sport Young Athletes. J. Sports Med. 2015, 1–13 (2015).
(AIS) and National Eating Disorders Collaboration 28. Hidayat, N. Asuhan Gizi Olahraga. (Rapha
(NEDC) Position Statement on Disordered Eating Publishing, 2015).
in High Performance Sport. Br. J. Sports Med. 54, 29. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
1–13 (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
11. Pujiati, Arneliwati & Rahmalia, S. Hubungan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan
antara Perilaku Makan dengan Status Gizi pada Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 110
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.
e-ISSN: 2580-1163 (Online)
p-ISSN: 2580-9776 (Print) 111
Assyifa dan Riyadi | Amerta Nutrition Vol. 7 Issue 1 (Maret 2023). 98-111
Resistance Exercise in Young Men. J. Am. Coll. Kombinasi Tempe dan Bekatul untuk
Nutr. 24, 1348–1398 (2013). Meningkatkan Kadar Albumin Anak Balita Kurang
67. Genton, L. Clinical Nutrition University : Calorie Gizi dan Anemia. Eksplanasi 5, 1–14 (2010).
and Macronutrient Requirements for Physical 71. Widianti, N. & Candra, A. Hubungan antara Body
Fitness. Eur. e-Journal Clin. Nutr. Metab. 6, 77–84 Image dan Perilaku Makan dengan Status Gizi
(2011). Remaja Putri di SMA Theresiana Semarang. J.
68. Muchlisa, Citrakesumasari & Indriasari, R. Nutr. Coll. 1, 398–404 (2012).
Hubungan antara Asupan Zat Gizi dengan Status 72. Merita, Hamzah, N. & Djayusmantoko. Persepsi
Gizi pada Remaja Putri di Fakultas Kesehatan Citra Tubuh, Kecenderungan Gangguan Makan
Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar dan Status Gizi pada Remaja Putri di Kota Jambi.
tahun 2013. J. MKMI 9, 1–15 (2013). J. Nutr. Coll. 9, 81–86 (2020).
69. Kusharto, C. & Supariasa, I. Survei Konsumsi Gizi. 73. Azis, A. A., Pagarra, H. & Asriani. Hubungan
(Graha Ilmu, 2014). Asupan Zat Gizi dan Status Gizi dvengan Hasil
70. Kurnia, P., Sarbini, D. & Rahmawaty, S. Efek Belajar IPA Siswa Pesantren MTs di Kabupaten
Fortifikasi Fe dan Zn pada Biskuit yang Diolah dari Buru. J. IPA Terpadu 1, 50–56 (2018).
How to cite: Assyifa, R., & Riyadi, H. Correlation Between Body Image, Eating Disorders, and Nutrient Adequacy Level with Nutritional Status of Adolescent
Swimmers in Bogor City, Indonesia: Hubungan Persepsi Tubuh, Gangguan Makan, dan Tingkat Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Atlet Renang Remaja di Kota
Bogor, Indonesia. Amerta Nutrition, 7(1), 98–111.