DISKRIMINASI RASIAL
1. Pengertian
Diskriminasi rasial adalah suatu bentuk diskriminasi yang mengacu kepada
diskriminasi terhadap seseorang atau sekelompok orang atas dasar ras mereka
(Hidayat & Hendriani, 2024).
2. Dasar Hukum Pidana
Dalam hukum pidana, diskriminasi rasial dikenai sanksi pidana yang berat. Pasal 252
KUHP berbunyi bahwa setiap orang yang melakukan pembedaan, pengecualian,
pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis yang mengakibatkan
pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi
manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik,
ekonomi, sosial, dan budaya, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.
Dalam RUUHP, delik diskriminasi rasial juga diatur dengan sanksi pidana yang berat,
termasuk pidana penjara paling lama 4 tahun untuk yang menyiarkan,
mempertunjukkan, atau menempelkan tulisan atau gambar atau memperdengarkan
rekaman sehingga terdengar umum (Kamang, Sepang, & Pinasang, 2021).
3. Bentuk-bentuk diskriminasi rasial (Hidayat & Hendriani, 2024)
Pembedaan:
Pembedaan berdasarkan ras dan etnis dalam berbagai aspek kehidupan, seperti
pendidikan, pekerjaan, dan hak-hak sipil. Pembedaan ini dapat berupa penolakan
terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang
sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Contoh pembedaan ini adalah
pengucilan dalam berbagai kegiatan sosial dan ekonomi, serta penghinaan
terhadap simbol negara dan pemerintahan.
Pengucilan:
Pengucilan berdasarkan ras dan etnis, seperti pengucilan dalam berbagai kegiatan
sosial dan ekonomi. Contoh pengucilan ini adalah pengucilan dalam berbagai
kegiatan sosial dan ekonomi, serta penghinaan terhadap simbol negara dan
pemerintahan.
Pembatasan: Pembatasan berdasarkan ras dan etnis, seperti pembatasan dalam
berbagai kegiatan sipil dan politik. Contoh pembatasan ini adalah, perusahaan
menerapkan kebijakan internal yang secara eksplisit melarang perekrutan atau
promosi karyawan dari kelompok etnis tertentu, bahkan jika karyawan tersebut
memiliki kualifikasi yang sama atau lebih baik daripada karyawan dari kelompok
lain.
Preferensi: Preferensi berdasarkan ras dan etnis, seperti preferensi dalam berbagai
kegiatan sipil dan politik. Contoh preferensi ini adalah, lembaga pemerintah
memberikan preferensi atau perlakuan istimewa kepada satu kelompok etnis
dalam hal alokasi sumber daya atau akses ke layanan publik, sementara
mengabaikan atau merugikan kelompok etnis lain.
Penghinaan: Penghinaan berdasarkan ras dan etnis, seperti penghinaan terhadap
simbol negara dan pemerintahan. Contoh penghinaan ini adalah, Seorang individu
secara terbuka atau melalui media sosial mengungkapkan komentar atau tindakan
yang merendahkan atau merendahkan kelompok etnis tertentu, dengan tujuan
menyakiti atau merendahkan martabat mereka.
Penyebarluasan: Penyebarluasan berdasarkan ras dan etnis, seperti
penyebarluasan yang didasarkan pada diskriminasi rasial sebagai tindak pidana.
Contoh penyebarluasan ini adalah, Sebuah kelompok atau organisasi menyebarkan
propaganda atau narasi yang merendahkan atau menghasut terhadap kelompok
etnis tertentu, mendorong sentimen negatif atau kebencian terhadap mereka.
Penghasutan: Penghasutan berdasarkan ras dan etnis, seperti penghasutan yang
didasarkan pada diskriminasi rasial sebagai tindak pidana. Contoh penghasutan ini
adalah, Seorang pemimpin politik atau tokoh masyarakat secara terbuka
menghasut atau mendorong tindakan kekerasan atau diskriminatif terhadap
kelompok etnis tertentu melalui pidato atau tindakan publik mereka.
Kekerasan: Kekerasan berdasarkan ras dan etnis, seperti kekerasan yang
didasarkan pada diskriminasi rasial sebagai tindak pidana. Contoh kekerasan ini
adalah, Sebuah kelompok melakukan serangan fisik atau vandalisme terhadap
individu atau properti yang terkait dengan kelompok etnis tertentu, dengan tujuan
menyakiti atau menakuti mereka.
Provokasi: Provokasi berdasarkan ras dan etnis, seperti provokasi yang
didasarkan pada diskriminasi rasial sebagai tindak pidana. Contoh provokasi ini
adalah, Sebuah kelompok atau individu melakukan tindakan atau ucapan yang
dirancang untuk memicu reaksi emosional atau tindakan kekerasan dari kelompok
etnis lain, menciptakan konflik dan ketegangan yang lebih besar.
Pengorganisasian: Pengorganisasian berdasarkan ras dan etnis, seperti
pengorganisasian yang didasarkan pada diskriminasi rasial sebagai tindak pidana.
Contoh pengorganisasian ini adalah, Sebuah organisasi atau kelompok
membentuk struktur dan melakukan aktivitas yang secara terorganisir mengarah
pada diskriminasi rasial, seperti memobilisasi massa untuk melakukan tindakan
kekerasan atau penindasan terhadap kelompok etnis tertentu.
4. Contoh diskriminasi rasial yang pernah terjadi di Indonesia (Armiwulan, 2015)
Kasus kerusuhan Mei 1998
Kerusuhan Mei 1998 di Indonesia, terutama di Jakarta, dipicu oleh krisis ekonomi
dan ketidakpuasan terhadap rezim otoriter Soeharto. Faktor lainnya termasuk
pengangguran massal, ketidakadilan sosial, dan ketegangan antar-etnis.
Kerusuhan tersebut menyebabkan kekerasan, penjarahan, dan trauma, terutama
terhadap etnis Tionghoa. Hal ini memicu jatuhnya rezim Orde Baru dan awal dari
periode reformasi di Indonesia, tetapi juga meninggalkan luka yang dalam dalam
sejarah bangsa tersebut.
Kasus Sambas-Kalimantan Barat 1998-1999
Kasus diskriminasi rasial di Sambas pada 1998-1999 melibatkan konflik etnis
antara Melayu dan Madura, dipicu oleh klaim tanah dan masalah ekonomi.
Ketegangan berujung pada kekerasan fisik, pembakaran rumah, dan pengusiran
paksa, menyoroti perlunya penanganan konflik dengan bijaksana dan penegakan
hukum yang adil serta promosi dialog antar-etnis untuk mencegah kekerasan
serupa di masa depan.
Kasus Sampit-Kalimantan Tengah 2001
Kasus Sampit 2001: Kekerasan etnis di Sampit, Kalimantan Tengah, Indonesia,
melibatkan etnis Dayak dan Madura, dipicu oleh sumber daya alam, klaim tanah,
dan masalah ekonomi. Ketegangan berujung pada bentrokan fisik, pembakaran
rumah, dan kekerasan terhadap warga Madura. Kasus ini menekankan perlunya
penanganan konflik dengan bijaksana, penegakan hukum yang adil, serta promosi
dialog antar-etnis untuk mencegah kekerasan serupa di masa depan.
5. Penyebab diskriminasi rasial sering kali berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang
diskriminatif terhadap antar-etnis. Hal ini dapat terjadi melalui berbagai cara, seperti
(Armiwulan, 2015):
Kebijakan Diskriminatif: Pemerintah dapat mengadopsi kebijakan yang secara
langsung atau tidak langsung mendiskriminasi kelompok etnis tertentu dalam hal
akses terhadap pendidikan, pekerjaan, perumahan, atau layanan kesehatan.
Hukum Diskriminatif: Hukum-hukum yang dibuat oleh pemerintah dapat secara
eksplisit atau tersirat menguntungkan satu kelompok etnis sementara merugikan
kelompok lainnya. Contohnya termasuk undang-undang imigrasi atau kebijakan
pengangguran yang secara tidak langsung menghambat akses kesempatan bagi
kelompok tertentu.
Kebijakan Identitas: Pemerintah dapat mengadopsi kebijakan yang mendorong
atau memperkuat identitas etnis tertentu, yang pada gilirannya dapat memicu
sikap dan perilaku diskriminatif terhadap kelompok lain.
Toleransi terhadap Diskriminasi: Ketidakseimbangan dalam penegakan hukum
atau kurangnya tindakan untuk melawan diskriminasi oleh pemerintah dapat
memberi sinyal kepada masyarakat bahwa diskriminasi diterima atau bahkan
didukung.
Ketidakadilan Sosial-Ekonomi: Ketidaksetaraan dalam distribusi sumber daya
dan peluang ekonomi yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah dapat
memperkuat ketegangan antar-etnis dan menciptakan lingkungan yang memicu
perilaku diskriminatif.
References
Armiwulan, H. (2015). Diskriminasi Rasial Dan Etnis Sebagai Persoalan Hukum dan Hak
Asasi Manusia. Masalah-Masalah Hukum, 493-502.
doi:[Link]
Hidayat, T., & Hendriani, T. P. (2024). Penegakan Hukum Pidana Terhadap Konflik Antar
Ras Pada Peristiwa Diskriminasi Rasisme Mahasiswa Papua Di Surabyara Tahun
2019. Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora, 3(4), 289-299.
Kamang, A. E., Sepang, M., & Pinasang, B. (2021). Kajian Tindak Pidana Diskriminasi Ras
dan Etnis Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan
Diskriminasi Ras dan Etnis. Lex Crimen, 10(5), 47-57.