0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Analisis Kerawanan Banjir MCDM GIS Tembilahan

Dokumen ini membahas penelitian tentang analisis tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hulu menggunakan pendekatan Multi-criteria Decision-Making (MCDM) dan Geographic Information Systems (GIS). Penelitian ini melibatkan beberapa tahapan mulai dari formulasi masalah, penentuan kriteria, pengumpulan data, hingga pemetaan dan verifikasi hasil analisis untuk mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi yang akurat dan berguna bagi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi risiko banjir.

Diunggah oleh

24360020
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Analisis Kerawanan Banjir MCDM GIS Tembilahan

Dokumen ini membahas penelitian tentang analisis tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hulu menggunakan pendekatan Multi-criteria Decision-Making (MCDM) dan Geographic Information Systems (GIS). Penelitian ini melibatkan beberapa tahapan mulai dari formulasi masalah, penentuan kriteria, pengumpulan data, hingga pemetaan dan verifikasi hasil analisis untuk mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi yang akurat dan berguna bagi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi risiko banjir.

Diunggah oleh

24360020
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Flowchart Penelitian Analisis Tingkat Kerawanan Banjir dengan Pendekatan Multi-criteria

decision-making dan Geographic Information Systems di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan


Hulu.

6
1

8
1

Tidak
9

Ya

10
Pendahuluan

Penelitian yang rencana diangkat berjudul Analisis Tingkat Kerawanan Banjir dengan
Pendekatan Multi-criteria Decision-Making (MCDM) dan Geographic Information Systems
(GIS) di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hulu merupakan upaya ilmiah yang sangat
relevan dalam konteks mitigasi bencana di wilayah pesisir dan dataran rendah Indonesia.
Proses penelitian ini memadukan metode kuantitatif dan spasial untuk menghasilkan peta
kerawanan banjir yang akurat, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan oleh pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

1. Formulasi Masalah dan Studi Literatur

Tahapan awal penelitian dimulai dengan formulasi masalah dan studi literatur. Pada
tahap ini, peneliti mengidentifikasi permasalahan utama yang dihadapi di Kecamatan
Tembilahan dan Tembilahan Hulu, yaitu tingginya frekuensi dan dampak banjir rob yang
mengancam kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Studi literatur dilakukan untuk
memahami teori, konsep, dan hasil penelitian terdahulu terkait analisis kerawanan banjir,
metode MCDM, dan aplikasi GIS. Literatur yang dikaji meliputi jurnal-jurnal internasional dan
nasional yang membahas integrasi AHP (Analytic Hierarchy Process) dan GIS dalam pemetaan
kerawanan banjir, seperti penelitian oleh (Kumar & Jha, 2024) (Salsabillah F et al., 2024;
Saputra et al., 2020)

Tahapan ini sangat penting karena memberikan landasan teoritis dan metodologis yang
kuat, serta membantu peneliti dalam merumuskan tujuan, ruang lingkup, dan pendekatan
penelitian yang tepat. Studi literatur juga menjadi dasar dalam penentuan kriteria dan
subkriteria yang akan digunakan dalam analisis AHP, serta memastikan penelitian yang
dilakukan memiliki kebaruan dan kontribusi ilmiah.

2. Penentuan Kriteria AHP

Setelah perumusan masalah, langkah berikutnya adalah penentuan kriteria AHP. Kriteria
ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kerawanan banjir di wilayah studi,
seperti curah hujan, tutupan lahan, kemiringan dasar saluran, buffer sungai, jenis tanah, dan
kontur. Penentuan kriteria dilakukan melalui kajian literatur, diskusi dengan pakar, dan
analisis kondisi lokal. Kriteria yang dipilih harus memenuhi prinsip relevansi, keterukuran, dan
dapat diolah secara spasial.(Kumar & Jha, 2024; Saputra et al., 2020)

Penentuan kriteria yang tepat sangat krusial karena akan mempengaruhi hasil akhir
pemetaan kerawanan banjir. Kriteria yang tidak relevan atau tidak terukur dapat
menyebabkan bias dalam analisis dan menghasilkan peta kerawanan yang tidak akurat. Oleh
karena itu, keterlibatan ahli dan stakeholder lokal dalam proses ini sangat dianjurkan,
sebagaimana dijelaskan dalam penelitian oleh (Mujib et al., 2021; Saputra et al., 2020).
Alat yang digunakan pada tahap ini adalah kuesioner atau instrumen penilaian yang
disusun berdasarkan skala perbandingan berpasangan (pairwise comparison) dari metode
AHP, serta perangkat lunak pengolah data seperti Microsoft Excel untuk mengelola hasil
penilaian.

3. Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data merupakan fondasi utama dalam penelitian ini. Data yang
dikumpulkan meliputi data spasial dan non-spasial, seperti peta curah hujan, peta tutupan
lahan, data kemiringan dasar saluran, data buffer sungai, peta jenis tanah, dan peta kontur.
Sumber data dapat berasal dari instansi pemerintah (BMKG, BIG, Dinas PU), citra satelit, survei
lapangan, dan hasil wawancara dengan masyarakat setempat.

Pengumpulan data yang komprehensif dan valid sangat penting untuk memastikan bahwa
seluruh variabel yang mempengaruhi kerawanan banjir dapat terwakili dengan baik dalam
analisis. Data spasial diolah menggunakan perangkat lunak GIS seperti ArcGIS, sedangkan data
non-spasial diolah menggunakan perangkat lunak statistik atau spreadsheet.

data yang dikumpulkan harus sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan pada tahap
penentuan kriteria AHP. Data yang tidak relevan atau tidak akurat akan mengurangi validitas
hasil analisis.

4. Penyusunan dan Pengolahan Data Spasial

Setelah data terkumpul, dilakukan penyusunan dan pengolahan data spasial. Setiap data
spasial, seperti peta curah hujan, tutupan lahan, kemiringan, buffer sungai, jenis tanah, dan
kontur, diolah dan diklasifikasikan sesuai dengan skala dan kategori yang telah ditentukan.
Proses ini melibatkan digitasi peta, reclassifikasi, dan overlay menggunakan perangkat lunak
GIS.

Pengolahan data spasial bertujuan untuk mengubah data mentah menjadi informasi yang
dapat dianalisis secara kuantitatif dan spasial. Setiap layer peta dikonversi ke dalam format
raster atau vektor yang kompatibel dengan GIS, dan setiap kelas pada peta diberikan skor
sesuai dengan tingkat pengaruhnya terhadap kerawanan banjir.

Tahapan ini sangat penting karena memungkinkan integrasi berbagai jenis data spasial ke
dalam satu sistem analisis, sehingga dapat dilakukan overlay dan analisis spasial secara
komprehensif. Penggunaan GIS pada tahap ini sangat krusial untuk menghasilkan peta
kerawanan banjir yang akurat dan informatif (Nugraha et al., 2024; Saputra et al., 2020).
5. Penilaian AHP oleh Pakar, Ahli, Stakeholder, dan Masyarakat Setempat

Tahap berikutnya adalah penilaian AHP yang melibatkan pakar, ahli, stakeholder, dan
masyarakat setempat. Pada tahap ini, dilakukan penilaian perbandingan berpasangan antar
kriteria dan subkriteria untuk menentukan bobot relatif masing-masing faktor. Penilaian
dilakukan melalui kuesioner atau wawancara, dan hasilnya diolah menggunakan metode AHP.

Keterlibatan berbagai pihak dalam penilaian ini sangat penting untuk memastikan bahwa
bobot yang diberikan pada setiap kriteria mencerminkan kondisi nyata di lapangan dan
pengetahuan lokal. Penilaian yang hanya melibatkan satu pihak berisiko menghasilkan bias
dan mengurangi akurasi hasil analisis. Proses ini juga meningkatkan akuntabilitas dan
legitimasi hasil penelitian di mata masyarakat dan pemangku kepentingan (Mujib et al., 2021;
Nugraha et al., 2024; Wijayanti et al., 2024).

Alat yang digunakan pada tahap ini adalah kuesioner AHP, perangkat lunak pengolah data
(Excel, BPMSG), dan perangkat dokumentasi untuk merekam hasil wawancara.

6. Pembobotan AHP

Setelah penilaian dilakukan, tahap selanjutnya adalah pembobotan AHP. Pada tahap ini,
hasil penilaian perbandingan berpasangan diolah untuk menghasilkan bobot relatif setiap
kriteria dan subkriteria. Proses perhitungan meliputi normalisasi matriks, penentuan priority
vector, dan uji konsistensi (Consistency Ratio/CR) untuk memastikan bahwa penilaian yang
diberikan konsisten dan dapat diterima secara ilmiah.

Pembobotan yang akurat sangat penting karena akan menentukan kontribusi relatif
setiap faktor dalam analisis kerawanan banjir. Jika bobot yang dihasilkan tidak konsisten (CR
> 0,1), maka penilaian harus diulang hingga diperoleh hasil yang konsisten. Proses ini
memastikan bahwa hasil analisis dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dapat
digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan (Nugraha et al., 2024; Saputra et al., 2020;
Wijayanti et al., 2024).

Perangkat lunak yang digunakan pada tahap ini antara lain Microsoft Excel, BPMSG, atau
perangkat lunak AHP lainnya yang mampu melakukan perhitungan matriks dan uji konsistensi.

7. Penggambaran AHP dan Analisis Spasial dengan GIS

Tahap penggambaran AHP dan analisis spasial dengan GIS merupakan integrasi antara
hasil pembobotan AHP dan data spasial yang telah diolah sebelumnya. Pada tahap ini, setiap
layer peta yang telah diklasifikasikan dan diberi skor dikalikan dengan bobot hasil AHP,
kemudian dilakukan overlay untuk menghasilkan peta kerawanan banjir komposit.
Analisis spasial dengan GIS memungkinkan visualisasi distribusi kerawanan banjir secara
spasial, sehingga dapat diidentifikasi zona-zona dengan tingkat kerawanan rendah, sedang,
tinggi, hingga sangat tinggi. Proses ini juga memungkinkan analisis lebih lanjut, seperti
identifikasi wilayah prioritas untuk intervensi, perencanaan tata ruang, dan mitigasi bencana.

Penggunaan GIS pada tahap ini sangat penting karena memungkinkan analisis multi-layer
dan integrasi berbagai jenis data spasial secara efisien dan akurat. Perangkat lunak yang
digunakan adalah ArcGIS (Mujib et al., 2021; Saputra et al., 2020)

8. Pemeringkatan Zona Rawan Banjir

Setelah peta kerawanan banjir komposit dihasilkan, dilakukan pemeringkatan zona rawan
banjir. Setiap grid atau area pada peta diberi nilai total berdasarkan hasil overlay, kemudian
diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkat kerawanan (sangat rendah, rendah, sedang, tinggi,
sangat tinggi) sesuai dengan skala yang telah ditentukan.

Pemeringkatan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas dan terstruktur
mengenai tingkat kerawanan banjir di setiap wilayah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar
perencanaan dan pengambilan keputusan. Hasil pemeringkatan juga dapat digunakan untuk
prioritas alokasi sumber daya, perencanaan evakuasi, dan penentuan lokasi pembangunan
infrastruktur tahan banjir (Mujib et al., 2021; Saputra et al., 2020)

9. Verifikasi

Tahap verifikasi merupakan proses validasi hasil pemetaan kerawanan banjir dengan
kondisi nyata di lapangan. Verifikasi dilakukan melalui survei lapangan, pengambilan foto
udara (menggunakan drone/UAV). Hasil verifikasi digunakan untuk menguji akurasi dan
validitas peta kerawanan yang telah dihasilkan.

Verifikasi sangat penting untuk memastikan bahwa hasil analisis benar-benar


mencerminkan kondisi nyata dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Jika
ditemukan ketidaksesuaian antara hasil analisis dan kondisi lapangan, maka perlu dilakukan
revisi pada tahapan sebelumnya, seperti penyesuaian bobot atau klasifikasi data spasial
(Nugraha et al., 2024; Saputra et al., 2020)

Alat yang digunakan pada tahap ini antara lain perangkat GPS, kamera, drone/UAV.

10. Selesai

Tahap akhir adalah penyusunan laporan dan diseminasi hasil penelitian. Pada tahap ini,
seluruh hasil analisis, peta kerawanan, dan rekomendasi disusun dalam bentuk laporan ilmiah
yang dapat diakses oleh pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Laporan ini juga dapat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah untuk memperkaya khazanah
pengetahuan dan menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.

Formulasi masalah dan studi literatur menjadi dasar penentuan kriteria, yang kemudian
digunakan dalam pengumpulan dan pengolahan data. Penilaian dan pembobotan AHP
memastikan bahwa analisis yang dilakukan bersifat objektif dan konsisten. Integrasi hasil AHP
dengan GIS menghasilkan peta kerawanan yang akurat, yang kemudian diverifikasi untuk
memastikan validitasnya. Seluruh proses ini membentuk siklus ilmiah yang iteratif dan dapat
dipertanggungjawabkan secara metodologis.

Penutup

Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi metode AHP dan GIS sangat efektif dalam
menganalisis dan memetakan tingkat kerawanan banjir secara spasial dan objektif. Setiap
tahapan dalam flowchart saling mendukung dan membentuk alur kerja ilmiah yang sistematis,
mulai dari perumusan masalah hingga verifikasi hasil. Dengan dukungan data yang valid,
metode analisis yang tepat, dan keterlibatan berbagai pihak, hasil penelitian ini dapat menjadi
acuan penting dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana banjir rob di Kecamatan
Tembilahan dan Tembilahan Hulu, serta wilayah lain dengan karakteristik serupa.
Daftar Pustaka:

Kumar, A., & Jha, R. (2024). Flood Vulnerability Mapping of the Kosi River Basin using
a Multi-Criteria Decision-Making Approach. Engineering, Technology and Applied Science
Research, 14(5), 16160–16165. [Link]

Mujib, M. A., Apriyanto, B., Kurnianto, F. A., Ikhsan, F. A., Nurdin, E. A., Pangastuti,
E. I., & Astutik, S. (2021). Assessment of Flood Hazard Mapping Based on Analytical
Hierarchy Process (AHP) and GIS: Application in Kencong District, Jember Regency,
Indonesia. Geosfera Indonesia, 6(3), 353. [Link]

Nugraha, N. B., Santosa, Y. M., Puspaningrum, A., & Saiful, I. (2024). Implementasi
Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dalam Sistem Rekomendasi Mitigasi Bencana
Alam. Journal of Computer System and Informatics (JoSYC), 5(4), 775–785.
[Link]

Salsabillah F, Setiawan C, A’rachman Fauzi R, & Oktarina Riska L. (2024). Analisis


Spasial Tingkat Kerawanan Banjir Rob di Wilayah Jakarta Utara. Jurnal Geosains Dan
Remote Sensing, 5(1), 55–68. [Link]

Saputra, N. A., Tarigan, A. P. M., & Nusa, A. B. (2020). Penggunaan Metode AHP dan
GIS Untuk Zonasi Daerah Rawan Banjir Rob di Wilayah Medan Utara. Media Komunikasi
Teknik Sipil, 26(1), 73–82.

Wijayanti, R. P., Wijaya, A. P., & Rahmawaty, M. A. (2024). PEMETAAN ANCAMAN


BENCANA BANJIR DI KOTA PEKALONGAN MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY
PROCESS (AHP). Jurnal Geodesi Undip, 13(4).

Anda mungkin juga menyukai